2 Pengertian etika Etika dan moral Amoral dan immoral Etika dan etiket

Kelompok: 3 Moralitas: cirri khas manusia Etika : ilmu tentang moralitas Hakekat etika filosofis 4 Etika deskriptif Etika normative Mataetika ….. 5 Peranan etika dalam dunia modrn 6 Etika kewajiban dan keutamaan 7 Hedonism Eudemonisme Utilitarisme ….. sma mahasiswa 9-11

Teleology dan deontology 12-15 Contoh2 kasus etika dalam praktek komunikasi saat ini

5/24/2009 2:14:34 PM domba jantan Secara umum istilah gender digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial budaya. Secara umum, istilah sex mengacu pada alat kelamin laki-laki dan perempuan. Berikut adalah konsep Gender yang dirumuskan oleh para penulis Konsep Gender Istilah gender berasal dari bahasa Inggris yang berarti "jenis kelamin". Dalam Webster's New World Dictionary, gender diartikan sebagai perbedaan yang kentara antara laki-laki dan perempuan bila dilihat dari segi nilai dan tingkah laku. Dalam Women's Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat. Sedangkan Hilary M. Lips dalam bukunya yang terkenal Sex & Gender: an Introduction mengartikan gender sebagai harapan-harapan budaya terhadap lakilaki dan perempuan (cultural expectations for women and men). Pendapat ini sejalan dengan pendapat kaum feminis, seperti Lindsey yang menganggap semua ketetapan masyarakat perihal penentuan seseorang sebagai laki-laki atau perempuan adalah termasuk bidang kajian gender atau sering disebut juga dengan What a given society defines as masculine or feminin is a component of gender. Sedangkan H. T. Wilson dalam Sex and Gender mengartikan gender sebagai suatu dasar untuk menentukan pengaruh faktor budaya dan kehidupan kolektif dalam membedakan laki-laki dan perempuan. Agak sejalan dengan pendapat yang dikutip Showalter yang mengartikan gender lebih dari sekedar pembedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari konstruksi sosial budaya, tetapi menekankan gender sebagai konsep analisa dimana kita dapat menggunakannya untuk menjelaskan sesuatu atau istilah lain Gender is an analityc concept whose meanings we work to elucidate, and a subject matter we proceed to study as we try to define it ( Juliet Mitchell,1971:11). Secara umum istilah gender digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial budaya, maka istilah sex secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi. Istilah sex ini lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek biologi seseorang, meliputi perbedaan komposisi kimia dan hormon dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi, dan karakteristik biologis lainnya. Sedangkan gender lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek sosial, budaya, psikologis, dan aspek-aspek non biologis lainnya. Pengertian gender lebih menekankan pada aspek maskulinitas (masculinity) atau feminitas (femininity) seseorang. Berbeda dengan pengertian sex

yang lebih menekankan kepada aspek anatomi biologi dan komposisi kimia dalam tubuh laki-laki (maleness) dan perempuan (femaleness). Proses pertumbuhan anak (child) menjadi seorang laki-laki (being a man) atau menjadi seorang perempuan (being a woman), lebih banyak digunakan istilah gender daripada istilah sex. Istilah sex umumnya digunakan untuk merujuk kepada persoalan reproduksi dan aktivitas seksual (love-making activities), selebihnya digunakan istilah gender (Floyd T.Cullop, 1969:87). Konsep-konsep yang telah dijabarkan di atas kurang lebih sudah menjelaskan pengertian Gender dan Sex secara umum. Dengan demikian kita dapat membedakan mana yang termasuk dalam konteks Gender mau pun Sex dalam tataran konkretnya. Sex dalam arti ini adalah mengenai penis, hormon testosterone, testis dan lain sebagainya pada laki-laki dan vagina, hormon estrogen, ovarium dan lain sebagainya pada perempuan. Gender mengacu pada pandangan, penilaian, dan stereotype yang dikenakan pada laki-laki mau pun perempuan. Dari segi peran; laki-laki itu menjadi tulang punggung ekonomi keluarga sedangkan perempuan mengurus anak di rumah, pekerjaan kasar (berat) adalah pekerjaan laki-laki dan pekerjaan perempuan adalah pekerjaan ringan. Dalam pandangan masyarakat Jawa pada zaman dahulu, perempuan lebih dipandang dalam tiga peran yaitu, macak (berdandan), masak (memasak), dan manak (melahirkan). Karena pandangan tersebut, maka tidaklah mengherankan jika perempuan dipandang tidak perlu mengenyam pendidikan. Dari segi perilaku; perempuan dianggap lebih lembut dibandingkan dengan laki-laki yang kasar. Perempuan itu lebih teliti dan laki-laki itu ceroboh. Laki-laki lebih menggunakan rasio dan perempuan lebih menggunakan perasaan dalam menghadapi persoalan. Dari segi Mentalitas; perempuan itu dianggap lemah dan lelaki itu kuat. Dari karakteristik emosional; perempuan itu mudah menangis dan lelaki itu tegar. Semua pandangan yang bias gender tersebut dapat berubah tergantung dalam proses yang terjadi dalam masyarakat. Berkaitan dengan peran, perilaku, mentalitas dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan senantiasa dapat berubah. Ini bukanlah hal yang kodrati. Ada perempuan yang kuat dan laki-laki yang lemah dan ada pula laki-laki yang sabar dan teliti dalam bekerja. Semuanya dapat dipelajari dan dapat diubah. Sex adalah hal kodrati (yang tidak dapat diubah). Transplantasi organ tidaklah mengubah orang secara esensial meskipun bentuk tubuhnya berubah. Laki-laki yang transplantasi organ menjadi perempuan tetap tidak dapat melahirkan karena tidak memiliki rahim. Perilaku yang bias gender ( dalam hal ini tindakan diskriminasi) dapat merugikan pihak perempuan atau pun laki-laki dalam bermasyarakat. Berkaitan dengan peran, umumnya pekerjaan kasar dilakukan oleh laki-laki meskipun perempuan juga dapat mengerjakannya. Yang paling membahayakan adalah ketika perlakukan diskriminatif yang bias gender itu masuk dalam tataran Undang-Undang seperti Undang-Undang Ketenagakerjaan yang memberikan gaji lebih rendah kepada perempuan dibanding laki-laki dalam peran yang sama. diskriminasi

Ya saat itu. lemah.” Katanya sambil menggerutu. ras. besok ada dua ulangan lagi. Tapi penyebab lain juga berkaitan dengan kemampuan otak nyerap sesuatu. adaada aja.5/24/2009 2:13:15 PM domba jantan Diskriminasi merujuk kepada pelayanan (perlakukan dan tindakan) yang tidak adil (dalam arti membeda-bedakan) terhadap individu tertentu.” Pikir gw dalam ati. Diskriminasi tidak langsung. Tetapi dalam perjalanan waktu. Apanya yang bolong? Ndasmu (kepalamu) ya?” Canda gw ketika itu. seperti jenis kelamin. Ibaratnya kayak komputer yang lagi diisi . “Waduh Lagi Bolong Nih” 3/19/2009 11:53:40 AM domba jantan Begitulah kata teman gw saat belajar bareng di kelas 2 SMA Seminari Mertoyudan. Waduh bingung aku. Perasaan sama (dengan kelompoknya sendiri). Ya. Diskriminasi ini disebabkan karena kecenderungan manusia untuk membeda-bedakan yang lain.. Kecenderungan itu berasal dari perasaan atau emosional pribadi atau kelompok. (kecuali kipernya lagi bengong trus bolanya malah masuk ke gawangnya. Kelelahan fisik pun bisa mempengaruhi kerja otak. merugikan. Setiap saat kita bisa ngendaliin pikiran dan gw ngerasa bahwa otak gw bisa nyerep apa yang gw pelajari. dan menghambat adanya peluang yang sama. Masakan ada otak yang nggak bisa mikir dan nyerap pelajaran saat belajar. kalau dia sedang lelah banget. “Ah. di mana layanan ini dibuat berdasarkan karakteristik (ciri-ciri atau kekhasan) yang diwakili oleh individu tersebut. Layaknya seorang Del Piero yang jago main bola sekalipun. kuat. Ketika otak sudah telalu lelah untuk mikir maka daya kerjanya pun semakin turun. Red-). iri. agama dan kepercayaan. paling nggak ketika kita lelah. terjadi saat peraturan yang bersifat netral menjadi diskriminatif saat diterapkan di lapangan. Bola akan gampang ditangkap oleh kiper lawan atau meleset ke kanan kiri gawang. gw berpikir bahwa peristiwa “bolong” yang dialami oleh teman gw adalah hal yang dibuat-buat. tendangannya pun nggak akan maksimal.” Kok bisa ya? Ternyata sebenarnya hal ini logis juga lho. mengancam dan lain sebagainya. pengalaman “bolong” ada benarnya juga. aliran politik. superior dan lain sebagainya menjadi bibit tindak diskriminatif bagi orang lain yang dianggap berbeda. peraturan atau kebijakan jelas-jelas menyebutkan karakteristik tertentu. ras. terjadi saat hukum. Diskriminasi langsung.” Ya sangat-sangat bisa “bolong. –ini mah kipernya geblek. “Wooo gak paham ya? Bolong itu kalo lagi belajar tapi ndak masuk-masuk. takut. dan sebagainya. kondisi fisik atau karateristik lain yang diduga merupakan dasar dari tindakan diskriminatif. otak pun nggak akan bekerja maksimal. “Apa? Bolong. Ketika seseorang diperlakukan secara tidak adil karena karakteristik kelamin. Orang bisa “bolong.

Heheheee…. Cay… Coy…. Mmmmmmm………Sayang banget kan kalo hidup gak bisa dinikmatin. Santai Bro…… Santai Coy. Orang yang terlalu santai . hipertensi. Stress sama kerjaan jadi bikin hipertensi dan akhirnya stroke. Dan banyak juga efek yang diakibatin sama kata ini. “saklek” de el el perkedel. Nah.. Pokoknya dikit-dikitlah. gw mesti berpikir gimana caranya biar kagak ngalamin yang namanya “BOLONG. meremehkan segala hal dan kurang fokus dalam belajar ama kerjaan. Kemampuan orang kan beda-beda. Kalo belajar ya mesti setiap hari dan nggak cuma saat mau ulangan. fisik serta banyaknya data yang dipaksa masuk saat bersamaan yang melebihi kemampuan otak. Cuy… Udah biasa banget kita denger kata ini.kira-kira gw udah manage waktu belajar belom ya? Merenunglah!!! Santai Coy!!! 3/18/2009 11:52:54 AM domba jantan Santai Coy!!! Santai aje Man……. Nggak kebayang deh kalo pas minggu atau hari ulangan. “strik”. Pergilah dan lihatlah ke lapangan futsal dan bermainlah (inget. apalagi kalo sampe mati. tegang. Orang yang terlalu serius. Sekarang tuh banyak orang stress. (hehehe…kata Mazmur dalam Kitab Suci. Ada yang langsung tapi ada yang bertahap. Kamu bisa juga pergi ke taman menikmati indahnya bungabunga dan warna rumput yang segar. Buat orang yang kerja mulu dari pagi sampe malem…saatnya bilang STOP dan santailah sebentar. butuh yang namanya keseriusan. di jalan dan juga di rumah. ini kalo ada temennya ya). hidup tuh cuma 70 atau 80 tahun jika kuat. orang gak bisa nikmatin lagi yang namanya idup. Jadi NOTHING deh. Sayang banget waktu yang dikasi Tuhan cuma dipake buat hal-hal yang gak bermakna. lebai nggak ya?). Kok bisa ya? Ya iyalah…masa ya iya dong. di kantor. masalahnya terletak pada kelelahan otak. menunda pekerjaan. (Hati-hati banyak semut!!!) Banyak cara deh buat nikmatin hidup…. Ketauan banget kalo gw Katolik hahaha…). masuk angin dan akhirnya error. stroke. jadi cara loadingnya juga beda-beda. butuh yang namanya rileks…santai cuy!!! Kalo serius mulu. kalo begitu. Ada yang positif dan ada yang negative. otak kita malah “bolong.” Bisa-bisa kita hanya ndomblong (bengong sambil mangap).SADAR!!! HIdup tuh cuma sebentar. pasti kita udah pernah denger kata itu. Padahal banyak banget karya Tuhan yang begitu bagus untuk kita rasain. Gila Man.Cuy………. hiperbola (eh salah) sampe akhirnya orang BUNUH DIRI karena gak bisa nikmatin hidupnya. So. Orang gak tahan sama masalah hidup jadi stress dan bunuh diri.dengan berpuluh-puluh giga data dalam waktu yang sama.” Yah. Jangan mimpi kayak Chairil Anwar yang pengen hidup seribu tahun lagi. Bab berapa ya?…mmm. maka komputer itu bisabisa muntah. Di sekolah. pasti nggak jauh-jauh dari yang namanya manajemen waktu belajar. (berpuluh-puluh giga.dan kamu tahu ke mana kamu harus pergi… Orang yang terlalu santai.

di kelas. Buat orang yang seharian di depan komputer buat nge game doang…. mengambil tuhan lain dan menyembah pujaannya atau patung. (Sumber Wikipedia) Berhala-berhala di zaman ini 1. emas. Orang terlalu santai akhirnya gak lulus ujian. Pada saat ini. kata kerja dari memberhalakan berarti memuja dan mendewakan.. Kira-kira gw diposisi mana ya? Merenunglah!!!!!!!! Berhala 3/18/2009 10:37:01 AM domba jantan Berhala adalah patung yang berbentuk makhluk hidup atau benda yg didewakan. sebagai simbol.bunuh diri deh. selalu ada manusia yang meduakan Allah. menyembah berhala dapat berarti rasa suka seseorang terhadap sesuatu melebihi rasa sukanya kepada Allah. masih ada pula sebagian etnis yang membuat berhala untuk disembah. Acara televisi (Doraemon. Di setiap masa. bahkan hanya sekedar untuk dipajang sebagai barang koleksi. Sedih amat! Jadi NOTHING juga. yang bukan atas perintah Tuhan. Dipecat deh.. kayu atau bahan baku yang lainnya. orang menjadi malas ke Gereja) 5. Pekerjaan yang berlebihan (workaholic) yang menyebabkan dia lupa akan kewajibannya sebagai orang beriman. Pada zaman ini. Uang.akhirnya gak beres kerjaannya. Sekarang saatnya kita bertanya sama diri sendiri.. Sinchan dan lain-lain di pagi hari yang membuat anak-anak enggan ke gereja). 2. Idola-idola (gara-gara nonton Peterpan di hari Minggu. 6. Orang mencari uang terus-menerus dalam seluruh waktu hidupnya dan melupakan Tuhan.. bisa pula dijadikan menjadi kata kerja yang artinya berbeda lagi. di kantor. berhala juga termasuk mahkluk hidup yang disembah. Orang Kristen tetap bekerja di Hari Minggu sehingga seakanakan tidak ada lagi waktu untuk mengikuti misa atau kebaktian. Dibuat oleh tangan manusia terbuat dari batu. lebih takut kepada seseorang/benda dibanding rasa takut kepada Allah. disembah dan dipuja. 3. Dalam hal ini termasuk karier yang diagung-agungkan.BANGUN. Ambil Paket C deh. Eh gak lulus juga…jadi stress dan…. Wuihhh uda berbusa ni mulut. seperti memberhalakan sesuatu tidak selalu berarti bahwa pemujanya mengatakan “inilah tuhan yang harus disembah”. Buat mereka yang tidur mulu sepanjang hari. Harta yang dianggap sebagai segala-galanya. Belajar dan kerja buat memuji dan memuliakan Tuhan. Tidak juga berarti bahwa ia mesti bersujud dihadapannya. Tentunya acara televisi lain yang membuat orang lupa akan Tuhannya. di rumah. Misalnya.Truzzz ngapainzzz? Ya belajar atau kerjalah. Akan tetapi. atau lebih mencintai seseorang/benda dibanding cintanya kepada Allah. di kebon dan sebuagainya…. Game dan internet yang membuat orang lupa akan segalanya sehingga anak-anak dapat . Pada dasarnya. 4.Saatnya untuk berhenti maen dan SHUT DOWN komputernya…. didewakan dan dipuja bukan atas perintah Tuhan.

Kita menjumpai bahwa justru mereka yang mampu memilih untuk mengikatkan diri pada peraturan. Akan tetapi kebebasan sering disalahartikan dengan bebas berbuat apa saja sekehendak hatinya sehingga adanya peraturan dan kehadiran seseorang yang berwenang dipandang sebagai penghalang atau penghambat bagi kebebasannya.) Peraturan menjamin kebebasan yang tertib Dalam arti ini ingin dijelaskan bahwa kebebasan benar-benar berkembang hanya berkat adanya peraturan. Karena kalau orang boleh berbuat apa saja pasti akan mengganggu kebebasan orang lain. sehingga dimungkinkan kehidupan bersama yang lebih tertib. Contoh : bayangkan kalau tidak ada peraturan lalu lintas.) Peraturan bukan hanya menjamin kebebasan tetapi juga mengembangkan dan mematangkan kebebasan. Peraturan mempunyai fungsi yang sangat penting dalam kehidupan manusia. . Ia menjamin keadilan sehingga dengan demikian terciptalah suasana yang lapang dan bebas. salah satunya adalah melindungi kebebasan seseorang dari tindakan sewenang-wenang orang lain. b. bersikap sosial dan lain sebagainya. c. Apa yang akan terjadi. Anda dapat mencarinya sendiri….menghabiskan waktu sehari penuh di depan layar computer. d. kewajiban. tenggang rasa.) Peraturan dapat membangun kepribadian seseorang dalam soal kedisiplinan. • Hubungan antara kebebasan dan peraturan 1. . tugas dan orang lain.Kebebasan pribadi juga tidak akan terjamin kalau dalam masyarakat tidak ada peraturan. Kebebasan dan Peraturan 3/16/2009 8:26:42 AM domba jantan Kebebasan pada zaman ini menjadi harapan bagi banyak orang.) Peraturan berfungsi menyalurkan kuasa atau wewenang untuk mengatur tingkah laku manusia. Bagaimana bisa menjadi orang yang disiplin kalau kita di sekolah tidak punya peraturan yang mendidik orang menjadi pribadi yang disiplin. kalau tidak maka akan terjadi kekacauan dan kalau terjadi kekacauan maka kebebasan dalam masyarakat tidak terjamin lagi. tahu menahan diri. Ia menjamin kepentingan atau kesejahteraan setiap orang dan kepentingan dan kesejahteraan bersama secara adil.) Peraturan berfungsi menjamin kebebasan yang tertib. Peraturan menjamin kebebasan yang bertanggungjawab. Contoh : bagaimana kita dapat belajar kalau suasana sekolah ramai dan tidak teratur.) Peraturan berfungsi untuk menjamin ketertiban dalam kebebasan. (tuh moderator penting kan) 2. Secara singkat fungsi peraturan dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Karena dengan kebebasan ini manusia bisa mengarahkan kepada kesempurnaan. Keinginan dan cita-cita tidak akan tersalur kalau kita tidak merasa bebas.Kebebasan masyarakat sungguh terjamin kalau setiap orang mengikuti peraturan yang ada. Dengan . Dll. merekalah yang sungguh-sungguh memiliki kebebasan itu. Kebebasan yang bertenggang rasa dengan kepentingan orang lain.

Oleh karena itu. Tujuannya adalah bahwa sesama berhak mengecapi kebebasan yang sama seperti dia dan bermartabat seperti dia.peraturan orang dapat menghayati kebebasan yang lebih bertanggung jawab yang dengan begitu kebebasan menjadi lebih dewasa. Arti dan Fungsi Kebebasan • Arti Kebebasan Sudah dikatakan di atas bahwa kebebasan dapat dimengerti sebagai kemampuan untuk bertindak dengan tanpa paksaan. orang yang matang dalam kebebasan justru menciptakan banyak peraturan untuk dirinya sendiri. Itu berarti bahwa . akal budi yang sehat menuntut setiap orang supaya tunduk kepada hukum susila dan hukum pergaulan. Hanya penguasaan dirilah yang membuat kita menjadi manusia yang bebas. Kebebasan tidak dimengerti hanya sebagai sebuah situasi atau suasana di mana manusia dengan leluasa melakukan sesuatu tetapi dipahami sebagai sebuah kemampuan. menjadi tanggung jawab orang itu dan masyarakat atau kelompok yang bersangkutan. Kebebasan adalah salah satu ciri khas dari manusia. Bahkan. kebebasan tidak dipisahkan dari tanggung jawab. kebebasan manusia terbatas juga. bahwa ia mengakui Yang Maha Tinggi sebagai pencipta. Manusia dikaruniai kebebasan sebagai anugrah yang luar biasa dari Tuhan selain akal budi. .Kita perlu kritis terhadap peraturan sebab banyak peraturan yang tidak sah dan tidak adil. manusia mengarahkan kepada kesempurnaan. Akhirnya perlu disadari bahwa manusia adalah makhluk yang terbatas jasmani-rohani dan sosial. . Tetapi di lain pihak. Selanjutnya.Peraturan kadang kala tidak dapat diterapkan secara sama begitu saja di mana-mana dan bagi segala orang. Secara singkat alasan mengapa kita harus mempunyai daya kritis terhadap peraturan dan kebebasan adalah sebagai berikut: .Kita perlu kristis terhadap kebebasan sebab kebebasan sering disalahartikan dan disalahtafsirkan. Bukan karena terpaksa tetapi karena rela dan sadar. Kebebasan 3/16/2009 8:25:56 AM domba jantan Setiap manusia pada dasarnya menginginkan adanya suatu kebebasan dalam dirinya. I. Oleh karena itu. • Sikap kritis terhadap peraturan dan kebebasan Untuk sampai pada kebebasan dan peraturan yang sejati dan tidak terjerumus dalam kebebasan yang disalahartikan. kita perlu mempunyai daya kritis terhadap peraturan dan kebebasan. Kebebasan baik orang perseorangan maupun bangsa merupakan nilai yang sangat luhur.Kebebasan tidak dapat diterapkan secara sama di mana-mana. Anugerah-anugerah ini sungguh sangat meninggikan martabat manusia. Menggunakan kebebasan secara salah atau tidak menggunakannya. Dengan kebebasan inilah. . segala pembatasan yang tidak wajar dan tidak perlu seharusnya ditentang. sekurang-kurangnya oleh ruang gerak bebas yang menjadi hak sesama manusia. Kiranya penting bagi kita untuk menyadari dan mendalami kebebasan sejati dalam arti yang sesungguhnya.

Bahkan negara pun tidak punya hak untuk mencabut hak ini. • Kebebasan dapat dilihat dalam arti negatif mau pun positif. ia dapat juga menghendaki apa saja. dengan kesadarannya bahwa hanya sayalah yang berhak menentukan tindakan ini akan saya lakukan atau tidak. maka rasa dan kemampuan bertanggungjawab pun akan menyurut. Kebebasan memungkinkan manusia bertindak dan melakukan sesuatu dengan sengaja. Mentaati hukum moral secara otonom (tanpa dipaksa atau disuruh) sedikitpun tidak merendahkan martabat yang dimiliki oleh manusia. # Kebebasan Kehendak artinya kebebasan untuk menghendaki sesuatu. Inilah tanggung jawab dan tugas manusia yang pokok dan utama. Sehingga kebebasan itu dapat berbentuk: # Kebebasan Jasmaniah (fisik) artinya bebas dari suatu ikatan atau paksaan yang bersifat lahiriah seperti : belenggu. penjara dll. b. Mentaati hukum moral berarti mentaati dirinya sendiri. Karena kebebasan merupakan kemampuan untuk menentukan diri kita sendiri. # Tidak dipaksa/terikat untuk membuat sesuatu yang tidak dipilihnya sendiri atau pun dicegah untuk melakukan apa yang dipilihnya sendiri oleh kehendak orang lain.) Kebebasan dalam arti positif berarti bebas untuk berbuat sesuatu. 2. a. kebebasan dapat dirumuskan sebagai kemampuan manusia untuk mengatur perilaku dan kehidupannya menurut kehendaknya sendiri tanpa dibatasi atau dihalangi oleh kemampuan intern (psikis) atau pun oleh hambatan ekstern (paksaan dari pihak luar) yang dapat bersifat sah dan wajar. Seseorang dikatakan bebas kalau: # Ia bebas untuk menentukan sendiri tujuantujuan dan apa yang mau dilakukannya. khususnya bebas untuk berbuat baik. merealisasikan dirinya menjadi orang yang baik. 3. Dengan kata lain. Seseorang yang memiliki kebebasan yang sejati akan melihat setiap kewajiban moral sebagai sesuatu yang sangat berguna bagi dirinya dan dikehendaki untuk dilakukan. misalnya bebas dari suatu ikatan atau paksaan untuk menjalankan sesuatu. Kebebasan berfungsi untuk memupuk kesadaran moral manusia. Jangkauan kebebasan kehendak adalah sejauh jangkauan kemungkinan untuk berpikir.) Kebebasan dalam arti negatif berarti bebas dari. hanya kalau manusia berhadapan dengan kewajiban moral manusia dapat menghayati kebebasannya dengan penuh. # Kebebasan Moral artinya bebas dari ikatan atau tindakan yang berupa ancaman-ancaman. sebaliknya kalau tidak ada kebebasan. tetapi juga dapat bersifat tidak sah dan jahat. Suasana bebas meninggikan rasa tanggung jawab. larangan dan desakan yang tidak sampai kepada paksaan fisik. Kebebasan mempertebal rasa tanggung jawab manusia. maka kita pun terbentuk dalam tindakan yang bebas. Maka kebebasan untuk berbuat sesuai dengan keyakinan mengenai yang baik dan yang buruk adalah suatu hak asasi manusia (kebebasan untuk mengikuti suara hati) yang tidak dapat diberi atau diminta orang lain. Sebaliknya. Dengan melihat bagaimana kita bersikap terhadap kewajiban moral. • Fungsi Kebebasan 1. Singkatnya kebebasan adalah suatu kemampuan positif sehingga manusia dengan berbuat baik (atau sekurang-kurangnya dengan tidak berbuat jahat). Karena .yang namanya kebebasan sudah ada dalam diri manusia secara hakiki. Karena manusia memikirkan apa saja. Dengan maksud dan tujuan tertentu. # Ia bebas untuk memilih antara kemungkinan-kemungkinan yang tersedia baginya. sekaligus dapat kita lihat orang macam apakah kita ini. Inilah arti hidup manusia.

Dengan kata lain sikap moral yang dewasa adalah sikap yang bertanggung jawab. Karena perlunya kebebasan bagi perkembangan hidup manusia maka kebebasan perlu dibina dan diarahkan dengan cara konkret. Sebab. Hewan juga tidak pernah bisa bertanggung jawab. pengertian dan penghayatan yang keliru mengenai kebebasan itu perlu diluruskan dengan pengarahan-pengarahan dan pembinaan-pembinaan yang baik.menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan orang banyak sehingga mereka dapat belajar bertenggang rasa dengan orang lain. Oleh karena itu. Bertanggung jawab agar kita sedapat mungkin mencapai yang baik dan bernilai untuk diri kita sendiri dan orang lain.) Kebebasan masih sering disalah-artikan dan disalah-gunakan. Oleh karena itu. ditafsirkan dan dihayati secara baru sesuai zaman dan lingkungan. • Kebebasan sebagai unsur khas manusiawi. akal budi dan kebebasan adalah ciri khas manusia.melakukan kewajiban seharusnya tidak hanya disadari oleh susuatu yang diwajibkan (harus dilakukan) melainkan dengan sadar bahwa saya melakukan ini demi suatu kebaikan yang mau dijamin oleh kewajiban itu. Singkatnya bahwa hewan itu tidak akan pernah bisa maju. bisa memupuk kesadaran moral dan mempertebal rasa tanggung jawab. Oleh karena itu. misalnya: . Dengan demikian mereka menemukan kebebasan dan keinginan pribadi dalam kepentingan bersama. Sudah kita bahas bersama bahwa seorang manusia dikaruniai Tuhan dengan dua anugerah istimewa yaitu akal budi dan kebebasan. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa ternyata kebebasan sesungguhnya dapat memanusiakan manusia itu. Suara Hati 3/16/2009 8:24:08 AM domba jantan . ia hanya mempunyai naluri. Kecuali itu. • Perlunya pengarahan dan pembinaan kebebasan Kebebasan perlu dibina dan diarahkan karena: a. adanya kebebasan memungkinkan manusia untuk melakukan sesuatu dengan sadar.Mengikutsertakan sebanyak mungkin orang dalam menyusun suatu peraturan sehingga semua orang merasa bertanggung jawab dan juga gembira mentaatinya tanpa merasakan bahwa kebebasannya dibatasi. b. hewan tidak pernah merasa tahu apakah ia bertindak benar atau salah. padahal kebebasan sangat penting dan berarti dalam perkembangan manusia. Tidak mungkin ada tanggung jawab tanpa ada kebebasan dan baru dalam sikap yang bertanggung jawab kebebasan mencapai pelaksanaannya yang menyeluruh. Oleh sebab itu. maka kebebasan itu perlu dipelajari. Bila kita bandingkan dengan makhluk lain (misalnya hewan). kebebasan sangat erat hubungannya dengan tanggung jawab.) Pengaruh lingkungan dan pengaruh zaman dapat mengaburkan pandangan yang tepat mengenai kebebasan. . kebebasan mampu memperkaya kepribadian seseorang dengan kesadaran moral dan tanggung jawab yang tinggi.

sekolah. Institusi Masyarakat (keluarga. wajib kita tolak. hanya Tuhan yang mutlak. suatu perintah melawan suarah hati. (dalam hal ini nilai-nilai agama juga termasuk di dalamnya). melainkan harus mencari informasi dan pertimbangan yang relevan. Nilai-nilai ini dibatinkan dalam diri kita dan dikenal dengan superego. 2. Tiga Lembaga Normatif 1. Suara hati menuntut pertanggungjawaban rasional. 3. Tuntutan lembaga-lembaga normatif bisa saja membelenggu fisik kita. sebaiknya kita tidak berpedoman atas dasar pendapat kita saja saat itu. manusia tidak diizinkan untuk menjadi pembeo atau kerbau yang mudah digiring menurut pendapat orang lain. sedangkan perasaan adalah urusan masing-masing orang. negara) Kita belajar dari keluarga. sekolah. terbuka terhadap pihak lain dan menanggapinya. Suara hati bersifat objektif dan selalu memiliki alasan masuk akal mengapa kita mengikutinya.Suara Hati I. Suara hati membuat kita sadar bahwa kita selalu berhak untuk mengambil sikap sendiri. sekolah dan sebagainya yang dibatinkan). tentang nilai-nilai dasar dan tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak. Suara Hati Suara hati adalah kesadaran moral dalam situasi konkret. Oleh karena itu. bertanya kepada orang yang lebih banyak pengalaman (bimbingan rohani) dan lain sebagainya. • Apakah suara hati sama dengan perasaan? Suara hati bukanlah perasaan. • Bagaimana mendidik suara hati? Mendidik suara hati itu dengan membaca banyak buku. Oleh karena itu. Kesadaran akan yang baik dan yang buruk dalam situasi nyata yaitu situasi seseorang berhadapan dengan pilihan-pilihan. (berasal dari nilai-nilai yang diberikan keluarga. Oleh karena itu. II. tetapi tidak dengan hati kita. Suara hati adalah pusat kemandirian manusia. Dengan suarah hati. penilaian kita perlu terbuka terhadap sangkalan dan tantangan. suara hati bukanlah suara Tuhan. Superego Superego (yang merupakan teori dari Sigmund Freud) adalah perasaan moral spontan di dalam batin kita. Senang atau tidak. • Apakah suara hati sama dengan suara Tuhan? Suara hati disebut sebagai suara Tuhan karena kemutlakannya. Akan tetapi manusia tidaklah mutlak. suara hati masih dapat diperdebatkan. Tuhan tidak dapat salah. Kekuatannya terletak pada pegangannya terhadap hati dan akal kita. Superego menyatakan diri dalam perasaan malu dan bersalah yang muncul secara otomatis dalam diri kita apabila melanggar norma-norma yang telah dibatinkan. dari mana pun datangnya. Suara hati adalah kewajiban mutlak yang harus kita lakukan. Namun. Kita tidak dapat menolak adanya suara dalam hati kita yang berbicara. Dan suara hati itu mengarah kepada sesuatu yang baik. belajar dari pengalaman. negara dan sebagainya tentang apa yang baik dan yang buruk serta nilai-nilai lain. Maka. ateisme . Tandanya adalah bahwa kita merasa bersalah apabila kita mengelak dari suara hati meskipun suara hati masih dapat keliru. Dalam mengambil keputusan pun. Ideologi Ideologi adalah segala macam ajaran tentang makna kehidupan. suara hati bukan merupakan suara Tuhan karena suara hati itu dapat salah. Sedangkan perasaan adalah penilaian subjektif seseorang terhadap kenyataan tertentu. toh suara hati kita akan berbicara saat kita berada pada suatu pilihan. Suara hati harus selalu ditaati.

Maka manusia menyembah Allah agar mendapat berkah kesempurnaan darinya.3/13/2009 11:25:46 AM domba jantan Kritik Agama Ludwig Feuerbach (1804-1872) Feuerbach mendasarkan pemikirannya berdasarkan kritiknya atas pemikiran seorang filsuf bernama Hegel. manusia mengharapkan akan menerima keutuhannya dari Allah dan kesempurnaannya di surga. Agama hanyalah sebuah proyeksi manusia. pengertian dan kemauan sendiri. Agama bagi Feuerbah mempunyai nilai positif karena merupakan proyeksi hakekat manusia. Para pelaku. Allahlah ciptaan angan-angan manusia. kita merasa berpikir dan bertindak menurut kehendak atau selera kita tetapi di belakangnya Allah mencapai tujuannya. pengalaman yang tidak terbantahkan adalah pengalaman inderawi dan bukan pikiran spekulatif. Hegel seakan-akan memutarbalikan fakta bahwa yang nyata adalah Allah (yang tidak kelihatan) dan manusia (yang kelihatan) adalah wayangnya. wayang-wayang yang memang dengan kesadaran. Apakah benar bahwa agama tidak lebih dari pada . dan mahatahu supaya ia sendiri kuat. Sang Dalang. Oleh karena itu. Dalam agama. Maksudnya begini (dalam kaca mata tafsiran Feuerbach). Manusia hendaknya berusaha keras dalam mencapai kesempurnaan itu. Ia menyembah Allah agar Allah memberikan kesempurnaan itu. Ia harus menolak kepercayaan kepada Allah yang mahakuat. Tanggapan atas kritik Feuerbach. misalkan bahwa dia itu kuasa. sedangkan Allah berada sebagai objek pikiran manusia. Seakan-akan kita ini wayang. Menurut Feuerbach. mahaadil. Meskipun di tingkatannya sendiri manusia bebas dan mandiri. baik dan tahu. Feuerbah berpendapat bahwa manusia hanya dapat mengakhiri keterasingannya dan menjadi diri sendiri apabila ia meniadakan agama. Menurut Feuerbach. tidak sadar bahwa mereka di dalangi olehNya. namun yang sebenarnya tetap di tangan Allah. Jadi Allahlah pelaku sejarah yang sebenarnya tetapi seakan-akan ada di belakang layer. Proyeksi itu hakekatnya sangat sempurna (karena manusia selalu mencitacitakan diri secara sempurna). Feuerbach mengkritik pemikiran inti Hegel ini. Menurut Hegel (1770-1831) dalam kesadaran manusia. dari pada berusaha untuk menjadi seutuh dan sesempurna mungkin. adil. Ia begitu terkesan dengan proyeksi itu sehingga menganggapnya sebagai sesuatu yang berada di luar dirinya. baik. Bukan Allah yang menciptakan manusia melainkan manusialah yang menciptakan Allah. Kepastian inderawi adalah satu-satunya penjelasan yang tidak terbantahkan. Allah mengungkapkan diri. manusia. akan tetapi dengan kemandiriannya itu Allah menyatakan kehendaknya. hal itu dapat menghalangi manusia untuk bertindak social. manusia dapat melihat siapa dia. Namun sayangnya manusia tidak sadar bahwa proyeksi itu adalah diri sendiri. Karena merasa tidak mampu dan ingin mengharapkan kesempurnaan akhirnya manusia melekatkan diri ideal itu pada sesuatu yang disebut “Allah”. Secara sederhana. berbelaskasihan dan lain sebagainya. kreatif. mahabaik. Padahal yang nyata adalah manusia. oleh karena itu tidak heran jika manusia beragama sering tampak intoleran dan fanatik.

soalnya dirinya sendiri berdasarkan pada Allah. Hanya saja menurutnya. Jika memang Allah ada. “Agama adalah realisasi dari hakikat manusia dalam anganangan karena hakikat manusia tidak mempunyai realitas yang sungguhsungguh…. Ia akan menemukan diri sendiri jika ia menemukan Allah. Agama adalah ilusi manusia tentang keadaannya. Manusia melarikan diri ke dunia khayalan karena dunia nyata menindasnya. Allah sebenarnya tidak dibunuh. Ia masih belum menyentuh pada pertanyaan apakah Allah itu ada atau tidak. Agama Candu Rakyat : Karl Marx Marx setuju dengan Feuerbach. Pengalaman inderawi bukan segala-galanya. melainkan merupakan hasil kreatifitas maupun kepicikan umat yang bersangkutan sendiri. Ia tidak membuktikan akan ketiadaannya Allah. Oleh karena itu. agama seakan-akan melumpuhkan semangat melawan dari kelas-kelas tertindas kepada kelas-kelas atas. memuji serta mohon bantuan Allah. Betul bahwa agama hanyalah khayalan manusia tetapi Marx menjelaskan mengapa manusia melarikan diri ke dalam khayalan tersebut..” Kritik agama tidaklah bermanfaat dan yang diperlukan untuk mengubah dunia adalah mengubah keadaan masyarakat yang membuat manusia lari ke agama. melainkan interpretasi yang miring atau tambahan kontektual kemudian. Banyak institusionalisasi dalam agama-agama berkembang di kemudian hari. Banyak hal yang dipercayai dan dilakukan atas nama agama yang sebenarnya tidak ditemukan dalam wahyu aseli agama yang bersangkutan.” Mengapa Allah harus dibunuh dan bagaimana pembunuhan Allah dilakukan. maka menghormati dan menyembah Allah tidaklah menjauhkan manusia dari dirinya sendiri. Tanggapan atas kritik Karl Marx. Andaikan Allah ada. emosi manusia. Dengan penindasan. Banyak kenyataan dalam hidup umat beragama tidak berdasarkan wahyu dari Allah. Jika demikian. Kemudian. Agama adalah keluhan makhluk terdesak. tentulah Allah yang mencipta segalanya. sangatlah rasional jika manusia menyembah.Penderitaan religius adalah ekspresi penderita nyata dan sekaligus protes terhadap penderita nyata. Bahwa dalam agama-agama ada proyeksi manusia. Maka pernyatan Feuerbach tidak dapat dipertahankan dan dianggap sebagai pernyataan yang sewenang-wenang. kritik tidak hanya berhenti pada agama melainkan pada keadaan sosial politik yang mendorong manusia kepada agama. tidak berarti bahwa agama tidak lebih dari pada sebuah proyeksi. Semua unsur manusiawi itu memang proyeksi manusia. Nietzche tidak . Manusia lari dari kehidupan nyata karena struktur kekuasaan masyarakat tidak mengijinkan manusia untuk mewujudkan kekayaan hakikatnya. sebagaimana dia adalah roh keadaan yang tanpa roh. prasangka. Tetapi masalahnya apakah agama itu tidak lebih dari proyeksi manusia? Itulah yang tidak pernah dibuktikan oleh Feuerbach.sebuah proyeksi manusia? Ada benarnya karena dalam agama-agama mudah ditemukan banyak unsur yang mencerminkan cita-cita. Jadi agama adalah protes manusia terhadap keadaannya yang terhina dan tertindas. tidak semua orang beragama menjadikan agama sebagai pelarian dari situasi sosial politik. hati dunia tanpa hati. Allah Telah Mati : Friedrich Nietzche “Allah telah mati dan kamilah pembunuhnya. Agama adalah candu rakyat. Jadi Feuerbach ada benarnya. Feuerbach berhenti di tengah jalan. Pertanyaan yang tidak diajukan Feuerbach “Apakah ada Allah atau tidak?” Feuerbach belum menyentuh pertanyaan ini.

Hal itu semua tidak perlu disangkal. Moralitas itu kemenangan sentimen mereka yang diperbudak atas para tuan mereka karena nilainya justru menjunjung tinggi sifatsifat para budak (berbahagialah orang miskin dsb). Ia menguasai manusia dan mengasingkannya dari diri sendiri dan dari dunianya. Namun apakah kepercayaan kepada Allah hanya itu saja yang berisi tentang pelarian dan kebohongan? Bukankah ada ratusan. Agama itu berkaitan erat dengan moralitas 2000 tahun terakhir yang dicirikannya sebagai moralitas budak seperti kerendahan hati. menawarkan “pipi kiri” jika ditampar “pipi kanan” dan lain sebagainya. Allah itu dianggap sebagai kebenaran sehingga manusia hidup dalam kebohongan. semua pelarian dan kelelahan jiwa. Allah pada akhirnya tetap dan harus dibunuh karena sesudah Allah diciptakan manusia. Ateisme Sigmund Freud Freud mengkritik bahwa agama adalah pelarian neurotis dan infantil dari realitas. kekejaman dan kebengisan atau sebagai dalih yang paling mudah untuk bersikap sok tahu. bersedia berkurban dengan tidak menggerutu atau minta belas kasihan. sikap rela. kesediaan untuk tidak membalas. picik. atau bahkan agama menjadi saluran kebencian kerdil. tidak toleran serta lari dari otentisitas diri dan lain sebagainya. untuk membuka diri. Nietzche berpendapat bahwa yang menciptakan Allah adalah manusia. Ia mengatakan bahwa Allah telah mati bukan karena memang Dia pernah ada. manusia mencari keselamatan dari “Tuhan” yang tidak kelihatan dan tidak nyata. ribuan dan bahkan tak terhitung banyaknya orang yang percaya pada Tuhan karena merasa didukung olehNya lalu berani menjadi manusia bagi orang lain dengan gembira. Tanggapan atas Kritik Nietzche Struktur kritik Nietzche searah dengan kritik agama Feuerbach dan Karl Marx dan ia tetap tidak dapat menunjukkan atau membuktikan tidak adanya Allah. Oleh karena itu jika manusia mau jujur. Namun menurutnya. Allah membuat manusia menjadi kerdil dan mengkorupsikan moralitasnya. kecurigaannya. tetapi karena diciptakan oleh manusia. menerima. Moralitas ini meluhurkan mereka yang sakit. ia harus menolak kepercayaan akan Allah. Maka bagi Nietzche. Ada benarnya bahwa dalam sejarah hidupnya manusia menjadikan Allah atau agama sebagai tameng dari perasaan-perasaannya seperti rasa takut. Dari pada berani menghadapi dunia nyata dengan segala tantangannya. kecenderungan untuk lari dari tanggung jawab.pernah mau mengatakan bahwa Allah itu ada. Agama adalah ciptaan mereka yang kalah. yang tidak berani melawan. lumpuh dan kaum gagal. Semuanya itu harus ditolak dengan penuh kejijikan oleh semua orang yang masih memiliki harga diri. Penuh . agama dan moralitasnya adalah sosok buruk yang membenarkan semua naluri dekaden (penurunan). Bukankah agama telah membebaskan tak terhitung banyaknya manusia untuk membuka hati untuk menghadapi realitas hidup dengan segala risiko dan tantangannya tanpa harus menghindar bahaya atau membuat suatu dendam atau kebencian pada orang lain. kemalasannya. dan tidak berani berkuasa. Manusia beragama seperti itu apakah berhati budak. Agama menurutnya adalah sentiment mereka yang dalam hidup nyata itu kalah sehingga mengharapkan bahwa sesudah hidup ini mereka akan dimenangkan oleh kekuatan di alam baka. kelemahannya untuk berusaha berkembang. Penilaian Nietzche begitu keras karena baginya agama tak lain adalah pelarian dari dunia yang seharusnya dihadapi (jika ia mau jujur). dogmatis.

Sumber "menalar tuhan" Franz Magnis_Suseno <No Title> . neurosis dapat terjadi apabila orang bereaksi tidak benar atas suatu pengalaman yang amat emosional dan memalukan. Ada orang beragama yang berusaha dalam hidupnya untuk meraih mimpi-mimpinya. tetapi tidak bisa karena ibu sudah memiliki ayahnya. Karena merasa amat malu. yang tidak dapat diatasinya. Itulah ilusi dimana ada keyakinan bahwa suatu harapan akan terpenuhi. saingannya itu sekaligus dikagumi keperkasaannya. neurosis itu berkaitan dengan superego. Namun perlindungan itu hanyalah ilusi. ia tidak menanggapinya. sifat infantil memang ada. ia waktu itu langsung menyingkirkan kejadian itu dari ingatannya. Superego membonceng suara hati. Superego itu berasal dari apa yang diterima dari norma orang tua dan masyarakat. Ada orang religious yang tidak menunjukkan tanda-tanda neurotik sama sekali. Ia menjadi pasif dengan mengharapkan keselamatan dari Tuhan dari pada mencari jalan untuk mengusahakan sendiri dan mengembangkannya sendiri. membuat orang menerima kekejaman nasibnya dan menjanjikan ganjaran atas penderitaan dan frustrasi yang dituntut dari manusia. melainkan menyangkalnya. tetapi tidak semua orang. bukan karena kenyataan mendukung harapan itu melainkan karena orang menginginkannya. Pengangkalan itulah yang dapat menghasilkan neurosis. Freud pun tidak dapat menunjukkan tidak adanya Allah. Misalnya.ketakutan manusia tunduk terhadap sesuatu yang ada kaitannya dengan dunia nyata dan tantangannya. Menurut Freud. ada anak diperkosa. Superego muncul untuk memberi penilaian dan orang tidak lagi melihat permasalahan secara rasional dan aktual. Freud bertolak dari fungsi agama. Misalnya. manusia mau melindungi diri terhadap segala macam ancaman dan penderitaan. Agama membuat manusia percaya akan adanya dewa-dewa yang mengatasi ancaman-ancaman alam. terus menerus mencuci tangan dan lain sebagainya. Namun karena keinginan itu ditegur keras oleh superego sebagai buruk dan memalukan. Tidak. Oleh karena itu. seakan-akan tidak ada yang terjadi. Ada orang yang dengan beragama dan beriman pada Tuhan semakin bertindak secara rasional dalam menghadapi permasalahan. orang tidak dapat berkomunikasi dengan normal. bahagia dan terbuka karena beriman. maka ia ingin membunuh ayahnya. Penyebab neurosis yang paling penting adalah Kompleks Oedipus yaitu anak kecil laki-laki ingin kawin dengan ibunya. Ilusi itu infantile (kekanak-kanakan) karena mengharapkan apa yang diinginkan sungguh-sungguh akan terpenuhi adalah ciri khas anak kecil. agama melumpuhkan manusia. Menurut Freud. Mereka gembira. Agama membawa orang pada sikap infantil dimana mereka menghadapi permasalahan nyata dengan wishful thinking. Tetapi rasa malu yang tertekan seakan-akan ribut terus dalam bagian jiwa tak sadar dan sesudah waktu tertentu akan muncul kembali ke permukaan kesadaran sebagai suatu kelakuan yang aneh. takut tanpa alasan. Dewa-dewa bukannya sungguh-sungguh melindungi manusia melainkan hanya diinginkan agar melindunginya. Dalam dunia nyata. Tanggapan Apakah semua orang neurosis. Jadi melalui agama. Neurosis itu menyebabkan ia tidak dapat mengembangkan diri secara dewasa (berpikir rasional terhadap masalah).

yaitu "sifat kudus" dari agama dan "praktek-praktek ritual" dari agama. karena ia akan menjadi bukan agama lagi." Dari definisi ini ada dua unsur yang penting. ketika salah satu unsur tersebut . Definisi Agama Menurut Durkheim Definisi agama menurut Durkheim adalah suatu "sistem kepercayaan dan praktek yang telah dipersatukan yang berkaitan dengan hal-hal yang kudusÉ kepercayaankepercayaan dan praktek-praktek yang bersatu menjadi suatu komunitas moral yang tunggal.3/6/2009 9:54:09 AM domba jantan Selamat dating Sosiologi Agama Durkheim oleh Mohamad Zaki Hussein Indeks Islam | Indeks Artikel ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota A. yang menjadi syarat sesuatu dapat disebut agama. Agama tidak harus melibatkan adanya konsep mengenai suatu mahluk supranatural. tetapi agama tidak dapat melepaskan kedua unsur di atas.

Kita juga akan melihat nanti bahwa menurut Durkheim agama selalu memiliki hubungan dengan masyarakatnya. yaitu kekudusan." Sifat kudus ini dibayangkan sebagai suatu kesatuan yang berada di atas segala-galanya. dan memiliki sifat yang historis. Tetapi di Amerika Utara dan Melanesia. Di dalam totemisme. yang memaksakan pemisahan radikal dari yang duniawi. ada tiga obyek yang dianggap kudus. Sebuah aturan moral hanya bisa hidup apabila ia memiliki sifa "kudus" seperti di atas. Dunia modern dengan moralitas rasionalnya juga tidak menghilangkan sifat kudus daripada moralitasnya sendiri. tetap terdapat pada moralitas rasional. B. "kekudusan"-pun merupakan prasyarat bagi suatu aturan moral untuk dapat hidup di masyarakat. Ini menunjukkan bahwa "kekudusan" suatu obyek itu tidak tergantung dari sifat-sifat obyek itu an sich tetapi tergantung dari pemberian sifat "kudus" itu oleh masyarakatnya. lambang totem dan para anggota suku itu sendiri. C. Sifat Kudus Dari Agama Sifat kudus yang dimaksud Durkheim dalam kaitannya dengan pembahasan agama bukanlah dalam artian yang teologis. Ritual Agama . Ciri khas yang sama. melainkan sosiologis. benda-benda yang berada di dalam alam semesta dianggap sebagai bagian dari kelompok totem tertentu. yaitu totem. yang melibatkan dua ciri tadi. sehingga memiliki tempat tertentu di dalam organisasi masyarakat. Karena itu semua benda di dalam totemisme Australia memiliki sifat yang kudus. kekuatan kudus itu jelas terlihat berbeda dari obyek-obyek totemnya. Pada totemisme Australia.terlepas. Sifat kudus itu dapat diartikan bahwa sesuatu yang "kudus" itu "dikelilingi oleh ketentuan-ketentuan tata cara keagamaan dan larangan-larangan. Pada totemisme Australia ini tidak ada pemisahan yang jelas antara obyek-obyek totem dengan kekuatan kudusnya. sehingga setiap upaya untuk menghilangkan sifat "kudus" dari moralitas akan menjurus kepada penolakan dari setiap bentuk moral. Di sini dapat kita lihat bahwa sesuatu itu disebut agama bukan dilihat dari substansi isinya tetapi dari bentuknya. Dengen demikian. dan hal ini akan dibahas nanti. dan disebut sebagai mana. Ini terlihat dari rasa hormat dan perasaan tidak bisa diganggu-gugat yang diberikan oleh masyarakat kepada moralitas rasional tersebut. Durkheim menyambungkan lahirnya pengkudusan ini dengan perkembangan masyarakat.

itu memang timbul secara langsung dari pengamatan panca-indera. "burung kakatua". Tetapi ide mengenai "klasifikasi" itu sendiri tidak merupakan hasil dari pengamatan panca-indera secara langsung. Di dalam hal ini agama menurut Durkheim adalah sebuah fakta sosial yang penjelasannya memang harus diterangkan oleh fakta-fakta sosial lainnya. serta praktek ritual yang positif.Selain daripada melibatkan sifat "kudus". Adapun praktek-praktek ritual yang positif. Praktek ritual ini ditentukan oleh suatu bentuk lembaga yang pasti. yang adalah upacara keagamaan itu sendiri. Hubungan Antara Agama Dengan Kondisi Masyarakat Di atas tadi sudah dijelaskan bahwa agama dan masyarakat memiliki hubungan yang erat. D. yang berwujud dalam bentuk pantangan-pantangan atau larangan-larangan dalam suatu upacara keagamaan. Orang yang taat terhadap praktek negatif ini berarti telah menyucikan dan mempersiapkan dirinya untuk masuk ke dalam lingkungan yang kudus. Hal ini misalnya ditunjukkan oleh penjelasan Durkheim yang menyatakan bahwa konsep-konsep dan kategorisasi hierarkis terhadap konsep-konsep itu merupakan produk sosial. Menurut Durkheim totemisme mengimplikasikan adanya pengklasifikasian terhadap alam yang bersifat hierarkis. sehingga berfungsi untuk memperbaharui tanggung-jawab seseorang terhadap ideal-ideal keagamaan. dan pemisahan ini justru adalah dasar dari eksistensi "kekudusan" itu. berupaya menyatukan diri dengan keimanan secara lebih khusyu. praktek ritual yang negatif. Praktek ini menjamin agar kedua dunia. Obyek dari klasifikasi seperti "matahari". yang berwujud dalam bentuk upacara-upacara keagamaan itu sendiri dan merupakan intinya. yaitu yang "kudus" dengan yang "profan" tidak saling mengganggu. Praktek-praktek ritual yang negatif itu memiliki fungsi untuk tetap membatasi antara yang kudus dan yang duniawi. Di sini perlu diketahui bahwa itu tidak mengimplikasikan pengertian bahwa "agama menciptakan masyarakat." Tetapi hal itu mencerminkan bahwa agama adalah merupakan implikasi dari perkembangan masyarakat.. Ada dua jenis praktek ritual yang terjalin dengan sangat erat yaitu pertama. begitu pula dengan pemasukkan suatu obyek ke dalam bagian klasifikasi tertentu. Contoh dari praktek negatif ini misalnya adalah dihentikannya semua pekerjaan ketika sedang berlangsung upacara keagamaan. suatu agama itu juga selalu melibatkan ritual tertentu. . dll. Menurut Durkheim ide tentang "klasifikasi yang hierarkis" muncul sebagai akibat dari adanya pembagian masyarakat menjadi suku-suku dan kelompok-kelompok analog.

Seperti misalnya konsep kekuatan kekudusan pada totem itu jugalah yang di kemudian hari berkembang menjadi konsep dewa-dewa. Masyarakat menjadi "masyarakat" karena fakta bahwa para anggotanya taat kepada kepercayaan dan pendapat bersama. individu dibawa ke suatu alam yang baginya nampak berbeda dengan dunia sehari-hari. tetapi dapat kita lihat bahwa kesadaran akan yang kudus itu. yang terwujud dalam pengumpulan orang dalam upacara keagamaan. dan praktek ritual secara terus menerus menekankan ketaatan manusia terhadap agama. Menurut Durkheim totemisme adalah agama yang paling tua yang di kemudian hari menjadi sumber dari bentuk-bentuk agama lainnya. Upacaraupacara keagamaan. dsb. Di dalam suatu upacara. yang memiliki ciri-ciri dan memainkan peran yang sama seperti agama. beserta pemisahannya dengan dunia sehari-hari. Kemudian perubahan-perubahan sosial di masyarakat juga dapat merubah bentukbentuk gagasan di dalam sistem-sistem kepercayaan. Kesatuan masyarakat pada masyarakat tradisional itu sangat tergantung kepada conscience collective (hati nurani kolektif). di mana diikuti perubahan dari "agama" ke moralitas rasional individual. walaupun di dalam buku Giddens tidak dijelaskan penjelasan Durkheim secara rinci mengenai asal-usul sosial dari konsep "kekudusan'. dilahirkan dari keadaan kolektif yang bergejolak. menurut Durkheim dari pengatamannya terhadap totemisme. melambangkan kelebihan daripada masyarakat dibandingkan dengan individu-individu. Konsep "kudus" seperti yang sudah dibicarakan di atas tidak muncul karena sifat-sifat dari obyek yang dikuduskan itu. yang dengan begitu turut serta di dalam memainkan fungsi penguatan solidaritas. di atas mana solidaritas mekanis itu bergantung. yang merupakan obyek kudus. atau dengan kata lain sifat-sifat daripada obyek tersebut tidak mungkin bisa menimbulkan perasaan kekeramatan masyarakat terhadap obyek itu sendiri. Di dalam totemisme juga. Ritual. Dengan demikian. Ini terlihat dalam transisi dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern. E. Moralitas Individual Modern . Di sini agama nampak sebagai alat integrasi masyarakat. memiliki suatu fungsi untuk tetap mereproduksi kesadaran ini dalam masyarakat. Agama juga memiliki sifatnya yang historis. dengan demikian. dan agama nampak memainkan peran ini. di mana totem pada saat yang sama merupakan lambang dari Tuhan dan masyarakat. menekankan lagi kepercayaan mereka atas orde moral yang ada.Hal yang sama juga terjadi pada konsep "kudus". Hubungan antara agama dengan masyarakat juga terlihat di dalam masalah ritual. maka Durkheim berpendapat bahwa sebenarnya totem itu.

tetapi ia tidak mengikutsertakan suatu bentuk anarki. yang menekankan "kultus individu" tidak muncul dari egoisme. Durkheim menyebutkan bahwa sumber dari moralitas individual yang modern ini adalah agama Protestan. Di sini perlu ditekankan bahwa moralitas individual tidak sama dengan egoisme. Walaupun begitu. disiplin atau penguasaan gerak hati. menyimpan satu ciri khas dari agama yaitu "kekudusan". suatu penelitian ilmiah dengan kebebasan penelitiannya justru hanya bisa berlangsung dalam kerangka peraturan-peraturan moral. Moralitas individual itu memiliki sifat kudus. Dan ini merupakan suatu bentuk "kekudusan" yang dinisbahkan oleh masyarakat kepada moralitas individual tersebut. seperti rasa hormat terhadap pendapat-pendapat orang lain dan publikasi hasil-hasil penelitian serta tukar menukar informasi. Dengan demikian. Adanya anggapan bahwa moralitas individual itu berada di atas individu itu sendiri. merupakan komponen yang penting di dalam semua peraturan moral. melalui perlindungan masyarakat. Demikian pula Revolusi Perancis telah mendorong tumbuhnya moralitas individual itu. karena moralitas itu hanya bisa hidup apabila orang memberikan rasa hormat kepadanya dan menganggap bahwa hal itu tidak bisa diganggu-gugat. seperti yang juga telah disebutkan di atas. Bagaimanakah dengan sisi egoistis manusia yang tidak bisa dilepaskan dari diri manusia yang diakui oleh Durkheim sendiri? Setiap manusia memang memulai kehidupannya dengan dikuasai oleh kebutuhan akan rasa yang memiliki kecenderungan egoistis. hanya bisa mendapatkan kebebasannya melalui masyarakat. moralitas individual itu. sehingga pantas untuk ditaati (sifat kudus dari moralitas individual). Tetapi egoisme yang menjadi permasalahan kebanyakan . yang tidak memungkinkan bentuk solidaritas apapun.Transisi dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern --yang melibatkan pembagian kerja yang semakin kompleks-. menunjukkan perbedaan antara moralitas individual dengan egoisme. Ilmu pengetahuan menekankan penelitian bebas yang merupakan salah satu bagian dari moralitas individual. tidak ada masyarakat yang bisa hidup tanpa aturan yang tetap. Menurut Durkheim. Moralitas individual. yang pada hakekatnya adalah juga mahluk sosial. Di dalam hal ini. Seseorang. Contoh konkrit dari hal ini adalah dalam bidang ilmu pengetahuan. yang berarti juga mengimplikasikan subordinasi dirinya oleh otoritas moral. sehingga peraturan moral adalah syarat bagi adanya suatu kehidupan sosial. melalui keanggotaannya dalam masyarakat. melalui pengambilan keuntungan dari masyarakatnya. otoritas moral dan kebebasan individual sebenarnya bukanlah dua hal yang saling berkontradiksi.seperti yang telah disebutkan di atas melibatkan adanya perubahan otoritas moral dari agama ke moralitas individual yang rasional.

Studi Weber tentang agama-agama dunia. yaitu moralitas individual. 'ekonomi . pada tingkat tertentu merangsang keinginan-keinginan egoistis tertentu dan juga merangsang anomi. sebagai hasil perkembangan sosial. Bryan S Turner adalah sarjana Barat pertama yang studi sistematis. pasar kerja bebas. sampai Buddha jauh lebih sempurna dan sistematis. Weber keburu meninggal dunia. Hal ini dapat diselesaikan dengan konsolidasi moral dari pembagian kerja. kota yang otonom. dan Katolik abad pertengahan. Dari sini dapat dikatakan bahwa moralitas individual yang rasional itu dapat dijadikan sebagai otoritas pengganti agama pada masyarakat modern. riset akademis tema ini masih relatif langka.id Etika Protestan Muslim Puritan Muhammadiyah sebagai Reformasi Islam Model Protestan Sukidi LEBIH pendek dan berserakan. (1974:2). yang menghalangi munculnya prakondisi kapitalisme. Hindu. Sumber Acuan: Anthony Giddens.adalah bukan egoisme jenis ini. melalui bentuk otoritas moral yang sesuai dengan individualisme itu sendiri. Kristen. Turner berargumen bahwa bagi Weber "ini adalah sifat alami institusi politik Muslim yang patrimonial. Subject: [is-lam] Sosiologi Agama Durkheim Date: Fri. Padahal. Kristen periode awal. ITU sebabnya. (1964). 01 Dec 2000 11:08:59 +0700 From: Mohamad Zaki Hussein zaki@centrin. Weber and Islam. menurut Talcott Parsons. Jakarta: UI-Press. Itulah komentar akademikus Barat atas catatan Max Weber (1864-1920) tentang Islam. diterjemahkan oleh Soeheba Kramadibrata. Individualisme masyarakat modern. Durkheim dan Max Weber. 1986. ia merencanakan studi perbandingan antara Islam. Kapitalisme dan teori sosial modern: suatu analisis karya-tulis Marx.net. yang dihasilkan oleh masyarakat. yakni hukum rasional. melainkan adalah keinginan-keinginan egoistis yang merupakan produk sosial. mulai dari Yahudi kuno. Dalam karyanya.

Calvinisme dan Islam dalam Pemikiran Weber Catatan Weber tentang Islam akan dibandingkan dengan Calvinisme melalui empat kerangka pemikiran: doktrin predestinasi. Sejumlah sarjana keislaman--mulai Lapidus. Robinson. tidaklah muncul di masyarakat Islam Timur Tengah." Semua prakondisi kapitalisme rasional-modern di Barat ini. Buku ini hasil konferensi tahun 1984 tentang sosiologi Islam Weber. Namun. model hukum-hakim teokratik dan patrimonial. Wolfgang Schluchter di Universitas Heidelberg. Hardy. Doktrin Predestinasi Dalam The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (selanjutnya disingkat The Protestant Ethic). . dan kelas borjuis. yang kini tersedia dalam edisi Inggris. Tahun 1987. asketisisme dunia-sini. dan keterkaitan antara tatanan-tatanan itu dengan kekuasan-sentralisme. faktanya. Calvinisme dan Islam menjadi perumpamaan predestinasi yang berlawanan. Metcalf. Max Weber & Islam. dan SN Eisenstadt-. Crone. catatan Weber tentang Islam dibandingkan langsung dengan Calvinisme. Schluchter merekonstruksi catatan Weber tentang Islam yang berserakan melalui empat model perbandingan: model etika agama-penguasaan dunia sebagai penaklukan dan penyesuaian dunia. Peters. Jerman menyunting buku Max Webers Sicht des Islams. Interpretation und Kritik. Weber melihat doktrin predestinasi sebagai argumen utama dalam menjelaskan keterkaitan antara suatu bentuk etika agama dan spirit kapiralisme di Barat. model kota-anarki urban dunia Timur. Levtzion. (1999). dan konsep rasionalisasi. Cook. model dominasi politik-feudalisme prebendel dunia Timur. yang sekaligus menjadi fokus tulisan ini: Pertama.uang'. tak satu pun di antara mereka yang fokus pada dua hal berikut. tulisan ini menguji sejauh mana muncul Muslim Puritan Muhammadiyah mirip dengan Protestan asketis. Eaton. Kedua. terutama Calvinis.diundang mempresentasikan tafsiran dan kritik mereka terhadap Weber dan Islam. pencarian keselamatan.

Pencarian Keselamatan Ada sejumlah agama yang dikategorikan Weber sebagai agama keselamatan. Kristen. perilaku asketis dan kerja etos kerja keras dipandang sebagai sebuah tanda keselamatan di dunia kelak. menurut Weber (2005:185). atau dalam istilah Weber "suatu tanda keberkahan Tuhan". Situasi ini memaksa para Calvinis mencari certitudo salutis. Agama-agama ini punya cara pandang yang berbeda terhadap dunia. Islam memiliki keyakinan pada predeterminasi. bukan predestinasi. semuanya dipakai sebagai jalan pembebas dari penderitaan dan sebagai respons terhadap ketegangan yang terus berlangsung antara dunia dan agama (Weber. Pencarian individu pada keselamatan inilah. Karena itu. Jika doktrin predestinasi diyakini Calvinis untuk memotivasi etos kerja keras.Dalam The Protestant Ethic (2005:56). Ide utamanya terletak pada: bagaimana para Calvinis yakin bahwa mereka termasuk di antara orang-orang terpilih? Dalam teologi Calvinis. berlawanan dengan Calvinisme. menurutnya. Ketertarikan Weber lebih terletak pada sejauh mana usaha manusia mencari keselamatan itu berdampak langsung terhadap suatu perilaku hidup tertentu di dunia ini. dan seterusnya. Dalam Economy and Society (1978) Weber berpendapat "perhatian kita pada dasarnya adalah pada usaha pencarian keselamatan. menurut Weber. Weber menekankan betapa penting predestinasi dalam keyakinan Calvinis. Bagi para Calvinis. sejauh hal itu menciptakan konsekuensi tertentu pada perilaku praktis di dunia". 1978:527). doktrin predestinasi tidak memainkan peran dalam Islam. Hindu. mulai dari Yahudi. Malahan. Akibatnya. Islam. hal demikian tidak terjadi pada Muslim. . Namun. terdapat predestinasi ganda yang membuat para Calvinis tidak tahu secara pasti apakah mereka termasuk orang terpilih atau terkutuk? Karena Tuhan Calvinis adalah begitu transenden. bukan di akhirat kelak. maka mereka menghadapi masalah serius tentang ketidakpastian keagamaan. Islam. Malahan. sukses di dunia bisnis dan pengumpulan harta kekayaan demi pemuliaan Tuhan diyakini sebagai "tanda" atau "konfirmasi" bahwa mereka termasuk di antara orangorang terpilih. yang didefinisikan Weber (1978:1198-99) sebagai suatu indikasi bahwa mereka termasuk orang terpilih yang selamat ke surga. lanjut Weber. yang menjadi karakteristik utama Calvinis. apa pun bentuknya. Muslim bersikap kurang positif terhadap aktivitas di dunia-sini dan pada akhirnya terjatuh pada sikap fatalistik. Tidak ada predestinasi ganda dalam Islam. dan berlaku pada nasib seorang Muslim di dunia ini.

Calvinis berperan penting dalam asal-mula munculnya kapitalisme modern sejak akhir abad ke-16 dan sesudahnya. mereka tidak dapat dikategorikan . Absennya upaya pencarian keselamatan di kalangan Muslim ini berpengaruh terhadap metode dan perilaku hidup yang sistematis di dunia ini. Usaha pencarian keselamatan benar-benar asing dalam Islam. etika konsep keselamatan benar-benar tak dikenal dalam Islam. sikap asketisisme dunia-sini secara kuat memotivasi Calvinis untuk bekerja keras. yang memakai metode asketik untuk mengubah dunia. Malahan. terdapat "afinitas elektif" antara asketisisme dan sikap disiplin-diri.Islam. menurut Weber (1965:263). Dengan asketisisme dunia-sini. menurut Weber (2005:140). Namun. Pada periode Mekah. menurut Weber. Tidak terdapat asketisisme duniasini dalam Islam." Asketisisme Dunia-Sini Asketisisme. menurut Weber (1978:624). mencari uang. berlawanan dengan Calvinisme. Karena itu. tapi tidak untuk mengubah dunia. yang sama-sama memakai cara asketik. Islam segera menjadi agama penakluk dan agama pejuang nasional Arab pada periode Madinah. Islam tidak pernah menjadikan akumulasi harta kekayaan sebagai tanda keselamatan. Weber mengakui munculnya sektesekte asketis dalam sejarah Islam. Sementara asketisisme dunia-sana menjadi karakteristik utama kehidupan monastik dan meditasi Yoga India. terbagi dua: asketisisme dunia-sini (innerweltliche Askese) dan asketisisme dunia-sana (ausserweltliche Askese). Kata Weber. Namun. Asketisisme dunia-sini menjadi karakteristik Calvinis. Islam mendukung etika prajurit dan pejuang di dunia-sini di bawah panji jihâd melalui pembagian klasik antara 'wilayah Islam' (dâr al-Islâm) dan 'wilayah yang diperangi' (dâr al-Harb). Karena itu. sebagai lawan terhadap ausserweltliche Askese. lagi-lagi. "Islam sesungguhnya tidak pernah menjadi agama keselamatan. Islam. yang menarik diri dari kehidupan dunia. menabung apa yang diperoleh dan menginvestasikan lagi nilai keuntungannya untuk keuntungan yang lebih besar. "Islam berkembang ke orientasi untuk memisahkan diri dari dunia." Sebagaimana sekte-sekte dalam Protestan. berlawanan dengan Calvinisme. Parsons menerjemahkan innerweltliche Askese sebagai asketisisme yang dipraktikkan dalam dunia ini.

tapi kerja baik yang dikombinasikan dengan suatu sistem terpadu. Calvinis merasionalisasikan perilaku hidup melalui disiplin-diri. Rasionalisasi Weber memakai konsep rasionalisasi dalam beragam makna dan cakupan. kelompok prajurit dan pejuang Muslim berhasil menarik Islam ke arah apa yang disebut Weber "asketisisme militer". secara teoretis. Inilah yang oleh Weber disebut Entzauberung der Welt: yakni demagifikasi atau demistifikasi dunia. para Calvinis merasionalisasikan doktrinnya untuk mengatasi problem makna mendasar: akankah mereka diselamatkan ke surga? Tuhan Calvinis menetapkan predestinasi ganda pada setiap orang: sebagai yang terpilih atau terkutuk? Para Calvinis mulai meyakinkan diri bahwa mereka termasuk di antara orang-orang terpilih yang terselamatkan ke surga. terutama Calvinis.sebagai Muslim asketis yang memakai cara-cara asketik untuk mengubah dunia. dan dipraktikkan secara sistematik. Di sini rasionalisasi dipakai untuk merujuk dua tipe: rasionalisasi doktrin dan perilaku hidup." Berbeda dengan Protestan asketis. kalkulasi rasional. Kedua. Pertama. Calvinis menunjukkan sikap anti-magis dengan memilih kalkulasi rasional dalam hidup. Rasionalisasi doktrin Calvinisme dapat dilihat pada upaya menghilangkan unsur magis dari dunia modern. berkurangnya sakramen secara drastis." . Menurut Weber (1958:139). bukannya ke arah sistematisasi perilaku hidup asketis pada kelas menengah Muslim. dengan tidak adanya sistem Imamat. terutama Calvinis. Dalam Protestant Ethic (2005:71). "pada prinsipnya. Weber berpendapat. Dua tipe ini dipakai Weber untuk menjelaskan Protestan asketis. seseorang dapat menguasai segala sesuatu melalui kalkulasi rasional". individualisme. "Tuhan Calvinis menuntut penganutnya bukan semata-mata dengan kerja baik. Hilangnya elemen magis yang berpuncak pada doktrin dan perilaku Calvinis ditandai. sekte-sekte asketik dalam Islam tidaklah menghasilkan sistem perilaku hidup yang sistematis dan terkontrol. dan hilangnya sistem perantara yang memediasi hubungan Calvinis dan Tuhan. Malah.

Dan perilaku hidup rasional dalam kerja profesional dan keseharian." lanjut Weber (1978:575). Mereka tidak memberlakukan perilaku hidup asketis dan rasional. Rasionalisasi doktrin dan perilaku hidup benar-benar asing dalam Islam. Mereka ini. yang berakar kuat pada Protestan asketis." Dan Franklin dijadikan Weber sebagai personifikasi ideal etika Protestan itu sendiri. Inilah yang memberi inspirasi kepada Weber (2005:19) untuk berkesimpulan bahwa "kebajikan dan kecakapan" dalam mencari dan menabung uang sebagai panggilan hidup adalah benar-benar bentuk Alpa dan Omega dari etika Franklin. "justru dialihkan sepenuhnya dari perilaku hidup yang rasional dengan munculnya pemujaan terhadap orang-orang suci. . 29). Kelompok ini telah menggeser Islam ke arah etika militeristik untuk penaklukan dunia. Hal ini akibat dominannya peran pejuang Muslim dalam penyebaran Islam di Timur Tengah. Keyakinan Islam atas predestinasi tidaklah menghasilkan rasionalisasi doktrin dan perilaku hidup. "waktu adalah uang. Malahan. Benjamin Franklin. Namun. dan kejujuran bermanfaat dalam bisnis. "Ingat. Islam. Weber memilih "Nasihat kepada Saudagar Muda" yang disampaikan salah satu Bapak Amerika.Pada bagian awal The Protestant Ethic." Inti pesan Franklin adalah menghasilkan uang-melalui etos kerja keras dalam bisnis. Calvinis yakin bahwa motivasi moral-keagamaan untuk bekerja keras dan menghasilkan uang adalah benar-benar diberkati Tuhan. misalnya. Di Calvinisme. kata Weber. magis". Karena itu. hal demikian tidak terjadi di Islam. "Islam." demikian nasihat Franklin. dan menginvestasikannya demi keuntungan yang lebih besar-dimaknai sebagai panggilan hidup (Beruf. Doktrin Islam tentang predestinasi. doktrin predestinasi mengarahkan umat Islam ke arah perilaku hidup yang nonrasional dan fatalistik. berlawanan dengan Calvinisme. Sebaliknya. Inilah asal-mula munculnya spirit kapitalisme rasional modern di Barat. Calvinis bukanlah tipe orang yang boros dan suka berpesta-pora. sebagai fondasi keagamaan untuk perilaku hidup rasional. menabung hasil. bukan dalam pengertian Luther yang tradisionalistik). kata Weber. Perlu diingat. memandang akumulasi harta kekayaan sebagai suatu tanda diberkati Tuhan. keyakinan pada predestinasi berhasil membangkitkan etika kerja dan perilaku hidup yang legal-rasional. hidup dengan sikap hura-hura dinilai berdosa. menghasilkan kelebihan produksi atas konsumsi. kredit adalah uang. Franklin menyandarkan rujukan teologis: "Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam bisnisnya? Dia akan berdiri di hadapan raja-rajanya" (Prov xxii. menurut Weber (1978:573). Weber memakai doktrin predestinasi sebagai konsep kunci untuk menjelaskan rasionalisasi doktrin dan perilaku hidup. dan akhirnya. terutama Calvinis. pada gilirannya. "sering menghasilkan kelalaian penuh terhadap diri (seorang Muslim) demi memenuhi kewajiban jihad untuk penaklukan dunia".

Inilah doktrin sola fide. beriman kepada Allah juga disertai etos kerja keras di dunia ini. Karena Muslim puritan muncul di lingkungan Jawa yang sinkretik. Tidak ada sistem perantara keagamaan yang memediasi hubungan Muslim dengan Allah. dengan argumen berikut. dan penolakan terhadap gereja yang hierarkis dan korup. mirip dengan Reformasi Protestan Calvinis. Kedua. ." kata Weber (2005:68). baik Calvinis maupun Muslim puritan Muhammadiyah sama-sama mengajarkan skripturalisme: bersandarkan semata-mata pada kitab suci (Bibel dan Alquran). Muslim puritan berdiri dan bertanggung jawab langsung kehadirat Allah. sementara Muslim puritan Muhammadiyah kembali dan bersandar pada sumber asli Islam. "ingin selamat melalui pembenaran hanya dengan Iman". "Kembali pada Kitab Suci" sama-sama dipakai dalam gerakan reformasi Protestan dan Muhammadiyah. pada tingkat tertentu. Tidak ada lagi perantara antara Tuhan dan Calvinis. sebagai konsekuensi atas slogan "Kembali pada Kitab Suci". "Para Calvinis. Muhammadiyah pantas disebut sebagai Reformasi Islam model Protestan. yakni Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad. Argumen utamanya adalah prinsip-prinsip dasar gerakan reformasi Islam Muhammadiyah. deligitimasi radikal atas sistem Imamat. Seperti apa yang dilakukan Calvinis. perkenankan saya membawa arah baru studi Muhammadiyah dalam cahaya Reformasi Protestan.Muhammadiyah sebagai Reformasi Islam Model Protestan Mirip Reformasi Protestan di Eropa. baik Calvinis maupun Muslim Puritan berdiri di hadapan Tuhan. kini Muhammadiyah hampir berusia satu abad. Inilah doktrin sola scriptura. Sebagai sebuah kado pemikiran kader muda Muhammadiyah untuk Muktamar ke-45 di Malang. Absennya perantara keagamaan ini dapat disimak pada: minimalisasi unsur sakramen. Muhammadiyah dinilai sarjana dalam dan luar negeri sebagai model gerakan reformasi keagamaan dalam konteks Islam Indonesia. Karena itu. Calvinis sepenuhnya menyandarkan diri pada pembacaan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Muslim puritan Muhammadiyah berbagi prinsip dasar dengan Calvinis. terutama pada Calvinis. Bibel dan Alquran diletakkan sebagai sumber utama otoritas dan legitimasi. Pertama-tama. Didirikan tahun 1912 oleh Ahmad Dahlan di Yogyakarta. maka karakter reformasi-puritannya dapat dilihat pada usaha purifikasi Islam dari unsur magis dan aspek sinkretik lainnya.

rasionalisasi perilaku hidup dapat disimak pada upaya reinterpretasi doktrin keislaman agar sejalan dengan aspirasi dunia modern yang bernafaskan pada rasionalitas dan kemajuan. Jadi. dan. Sementara Calvinisme. rasionalisasi organisasi Muhammadiyah dapat disimak gerakan yang terorganisasi secara sistematik dan melalui birokrasi modern. Menurut Weber. Spirit rasional ini diyakini sebagai sumber kemajuan umat Islam dalam memasuki dunia modern. dipandang sebagai sumber konservatisme dan stagnasi dalam Islam. Muslim puritan merasionalisasikan doktrin keislaman melalui purifikasi iman dari unsur mistik dan Islam-Jawa-Hindu.Ketiga. telah menunjukkan pencapaian secara lebih jenius untuk organisasi sosial dibandingkan Lutheran. Kebangkitan Muslim puritan Muhammadiyah pada dasarnya sebagai respons langsung terhadap takhayul. Keempat. harus dibersihkan dari praktik Islam puritan dan konsepsi keduniaan. Proses ini berpuncak pada teologi dan praktik Calvinis dengan menolak semua piranti magis dalam pencarian keselamatan. proses ini dimulai dalam tradisi Yahudi Kuno yang sejalan dengan pemikiran dan gerakan ilmiah Yunani. Islam dan kemajuan direkonsiliasikan. tentunya. Muslim puritan pun menganut asketisisme dunia-sini melalui tasawuf modern tanpa melarikan diri dari kehidupan duniawi. . Semua elemen magis ini adalah nonrasional. baik Calvinis maupun Muslim puritan mengadopsi apa yang oleh Weber disebut "innerworldy asceticism". menurut Kemper Fullerton (1928). Spirit kapiralisme muncul dari proses yang disebut "afinitas elektif" antara asketisisme dan disiplin diri di kalangan Calvinis. bid'ah. dan khurafat. sebagai konsekuensi atas konsep "disenchantment of the world". sejalan dengan kebutuhan efisiensi dan administrasi dunia modern. Mirip Calvinisme. Sikap tak kritis dalam memeluk Islam. taqlîd. Sebagai organisasi modernis-reformis. terutama Calvinis. Protestan asketis. Muslim puritan berjuang pada dua hal: eksklusi unsur-unsur magis dari Islam dan demistifikasi konsepsi keduniaan dengan mendasarkan diri pada kalkulasi rasional dan perilaku hidup asketis di dunia modern. Semua ini. Muslim puritan mirip Calvinis dalam hal rasionalisasi. mengikuti tesis Weber. Dan taklid harus diganti dengan tradisi pemikiran rasional dan independen (ijtihâd). Kelima. memakai metode asketis untuk mengubah dunia. baik Calvinis maupun Muslim puritan mengikuti apa yang diteoritisasikan Weber sebagai "disenchantment of the world". maka Muhammadiyah mungkin sebagai organisasi sosial Islam terkaya di dunia saat ini.

"Dalam kerangka teori Max Weber tentang peran Protestanisme dalam menstimulasi pertumbuhan komunitas bisnis di Barat. ahli keuangan. "bahwasanya para pemimpin komunitas bisnis di Mojokuto adalah sebagian besar Muslim reformis". dan tenaga kerja yang cakap di bidang industri lainnya.Etika Protestan di Kalangan Muslim Puritan Dalam The Protestant Ethic. Jika demikian." demikian laporan Geertz (1963:49). Pietis. Dan Weber tampak sengaja ingin meletakkan "kekuatan ide" sebagai wacana tandingan atas doktrin materialisme sejarah Marx. Fakta-fakta ini menginspirasi Weber menarik kesimpulan adanya "afinitas elektif" antara Protestan asketis. Geertz pun terbayang-bayangi tesis Weber untuk studi agama Jawa. serta sejumlah toko dan perusahaan justru didominasi Muslim . dan puritan Inggris. Ia lagi-lagi dibayangi tesis Weber. Nama Karl Marx tentu ada dalam pikiran Weber. Weber meletakkan Protestan asketis sebagai "suatu kontribusi terhadap pemahaman atas masalah-masalah umum di mana ide menjadi kekuatan efektif dalam sejarah". terutama Calvinis. dan sekte Baptis) menjadi kekuatankekuatan efektif dalam menumbuhkan spirit kapitalisme rasional modern di Barat. Dengan alasan demikian. tesis Weber dapat dipakai sebagai model: adakah "afinitas elektif" antara etika/keyakinan Islam dan perilaku ekonomi di kalangan Muslim puritan? "Ya" jawab Clifford Geertz. Belanda. antropolog Amerika terkemuka di Universitas Princeton. tembakau. Geertz studi perbandingan dua kota: Mojokuto di Jawa Timur dan Tabanan di Bali. Dalam Peddlers and Princes. Ia memang menemukan sebagian besar pemimpin usaha bisnis tekstil. Weber (2005:3) lalu menunjuk fakta empiris: mereka yang menjadi industriwan. Tingginya pertumbuhan aktivitas kapitalisme juga lazim terjadi di antara gereja protestan dan Calvinis Perancis. pengusaha. Suatu kesimpulan yang mirip antara pertumbuhan kapitalisme dengan Reformasi Protestan di kalangan Calvinis. Yang terakhir ini malah sering diasosiasikan dengan pekerja kasar dan bawahan. yang melihat ekonomi sebagai faktor determinan dalam perubahan sejarah. Ia datang ke Mojokuto awal 1950-an dengan kesimpulan: "pertumbuhan ekonomi dan pembaharuan Islam berjalan secara beriringan". terbit pertama kalinya tahun 1904-1905. dan spirit kapitalisme. Methodis. Weber hadir dengan tesis baru: bagaimana ide dan keyakinan di antara protestan asketis (Calvinis. ternyata jumlahnya jauh lebih besar Protestan ketimbang Katolik. Seperti halnya Robert N Bellah yang datang ke Jepang untuk studi agama Tokugawa. (1963).

seperti pentingnya kembali kepada Alquran dan Sunnah. Rinkes. Sesudah haji. pendiri Muhammadiyah. penalaran rasional. purifikasi Islam. Etika kerja ini telah terefleksikan dalam perilaku hidup Dahlan. suka membantu" dan "luar biasa cerdas dan tekunnya" (Peacock. serta kontekstualisasi ajaran Islam yang selaras dengan tuntutan dunia modern. dikenal sebagai Muslim reformis-puritan yang asketis sekaligus seorang saudagar. dengan mengejutkan menilai Dahlan sebagai "prototipe warga Indonesia yang memiliki etika Calvinis: tekun. dan naik haji ke Mekkah. dan . Ia berpendidikan di sekolah Islam. 1963:150). Tulisan ini memang mengikuti tesis Geertz. Ini memperkuat asumsi bahwa nilai simbolis haji menjadi kekuatan penggerak Dahlan menumbuhkan kebajikan dan etos kerja keras dalam aktivitas bisnis. Mojokuto bagi Geertz dan Yogyakarta bagi saya. Selama di Mekkah tahun 1890 dan 1903. "Tujuh dari pertokoan modern yang berdiri kokoh di Mojokuto. Meminjam tesis Geertz (1963:56). jujur. Dahlan lahir di tengah keluarga beragama dan sikap hidup asketis mewarnai hidupnya. Dengan telah meletakkan kerangka pemikiran Muhammadiyah sebagai reformasi Islam model Protestan. minat keilmuan Dahlan. dan Tafsîr al-Manâr (Solichin. antara lain. Tafsîr Juz’ ‘Amma. 1978:34). Ahmad Dahlan (1868-1923). bidah dan khurafat.reformis-puritan. seperti Risalât al-Tawhîd. dalam bentuknya Muslim puritan. pada tulisan-tulisan Muslim reformis Mesir Muhammad 'Abduh (1849-1905). bahwasanya masyarakat Jawa yang telah menunaikan ibadah haji lebih memiliki modal dan jiwa berwirausaha ketimbang rekan-rekan mereka di pedesaan. "enam di antaranya dijalankan oleh Muslim reformis-puritan. namun beda dalam studi kasus. Kepergian Dahlan untuk haji ke Mekkah ternyata sangat menentukan tahap penting dalam hidupnya." lanjut Geertz. pada tahun 1913. yang "rajin. rajin salat lima waktu. Nilai kebajikan kerja keras dan kejujuran dalam bisnis telah mengantarkan Dahlan dalam kemiripan dengan etika Calvinis. pejabat Belanda yang bertugas di Indonesia waktu itu. Dahlan menjalani hidup sebagai sebuah panggilan: sebagai khatib di Kraton Yogyakarta dengan gaji 7 gulden per bulan sekaligus sebagai saudagar batik. Asketisisme dan disiplin-diri dipadukan secara sistematis. maka tulisan ini diakhiri dengan adanya beberapa elemen mendasar Etika Protestan yang berakar kuat dalam Muslim puritan Muhammadiyah. berpuasa Senin dan Kamis. Bahkan. militan. adalah doktrin majoritas para saudagar" (Geertz. penolakan takhayul. ia pulang ke tanah air dan mendirikan Muhammadiyah pada 18 November 1912 untuk mengemban misi pembaharuan Islam. 1963:6). Pertama." Ia lalu berkesimpulan "Reformisme Islam. Barangkali terinspirasi Abduh. al-Islâm wa al-Nasranîyah.

Siti Walidah. yang meniti karir sebagai khatib asketis dan saudagar batik. Muslim reformis-puritan dapat digambarkan. SUKIDI Mahasiswa Teologi di Fakultas Teologi. maka tak seorang pun yang akan membangun fondasi ini. Seperti Calvinis. apa yang tersisa dapat disempurnakan oleh yang lain" (Peacock. Amerika Serikat. jika saya bekerja secepat mungkin." kata Wertheim. Mereka ini sering pula disebut Muslim borjuis. karenanya. Universitas Harvard.cerdas". Yogyakarta perlu dingat karena kota kelahiran Muhammadiyah dan Dahlan." Mereka menjadi Muslim puritan yang asketis dengan mengabdikan dirinya secara rajin dan jujur pada aktivitas bisnis dan sosialkeagamaan sekaligus.F. Terakhir. Ia jawab: "saya harus bekerja keras sebagai upaya meletakkan batu pertama dalam gerakan mulia ini. Saya sudah merasa bahwa waktuku sudah hampir lewat. Kedua. Hawkins (1961:12-52) menggelar survei terhadap perusahaan batik tahun 1960 dengan kesimpulan yang mengejutkan: semua perusahaan batik di Yogyakarta mayoritas dimiliki dan dijalankan oleh Muslim puritan Muhammadiyah. istrinya. Pendiri Pusat Studi Agama dan Peradaban [PSAP] Muhammadiyah Sosiologi Agama Durkheim oleh Mohamad Zaki Hussein Indeks Islam | Indeks Artikel . dengan harta kekayaan yang diperolehnya sendiri. meminjam tesis W. Jika saya terlambat atau berhenti. Di usia senjanya. sebagai "saudagar urban pada tahun-tahun awal abad sekarang". Wertheim (1969:212). "afinitas elektif" Weber antara Protestanisme asketis dengan spirit kapitalisme memiliki kemiripan antara Muslim puritan Muhammadiyah dan keterlibatan ekonomi secara aktif pada usaha pabrik Batik di Yogyakarta. "didorong ke arah hidup sederhana dan etos kerja yang saleh-asketis. etika kerja dan sikap Muslim asketis mengindikasikan model etika kaum borjuis yang individualis dan rasional. akibat sakit. menasihati Dahlan beristirahat. 1978:38-9). "Seorang Muhammadiyah. Cambridge.

. benda-benda yang berada di dalam alam semesta dianggap sebagai bagian dari kelompok totem tertentu. Di sini dapat kita lihat bahwa sesuatu itu disebut agama bukan dilihat dari substansi isinya tetapi dari bentuknya. yang menjadi syarat sesuatu dapat disebut agama. ketika salah satu unsur tersebut terlepas. lambang totem dan para anggota suku itu sendiri. Definisi Agama Menurut Durkheim Definisi agama menurut Durkheim adalah suatu "sistem kepercayaan dan praktek yang telah dipersatukan yang berkaitan dengan hal-hal yang kudusÉ kepercayaankepercayaan dan praktek-praktek yang bersatu menjadi suatu komunitas moral yang tunggal." Sifat kudus ini dibayangkan sebagai suatu kesatuan yang berada di atas segala-galanya. yang memaksakan pemisahan radikal dari yang duniawi. yang melibatkan dua ciri tadi. B. ada tiga obyek yang dianggap kudus." Dari definisi ini ada dua unsur yang penting. Durkheim menyambungkan lahirnya pengkudusan ini dengan perkembangan masyarakat. Karena itu semua benda di dalam totemisme Australia memiliki sifat yang kudus. tetapi agama tidak dapat melepaskan kedua unsur di atas. dan disebut sebagai mana. Pada totemisme Australia ini tidak ada pemisahan yang jelas antara obyek-obyek totem dengan kekuatan kudusnya. Sifat kudus itu dapat diartikan bahwa sesuatu yang "kudus" itu "dikelilingi oleh ketentuan-ketentuan tata cara keagamaan dan larangan-larangan. Kita juga akan melihat nanti bahwa menurut Durkheim agama selalu memiliki hubungan dengan masyarakatnya. Di dalam totemisme. sehingga memiliki tempat tertentu di dalam organisasi masyarakat. karena ia akan menjadi bukan agama lagi. dan memiliki sifat yang historis. dan hal ini akan dibahas nanti. Sifat Kudus Dari Agama Sifat kudus yang dimaksud Durkheim dalam kaitannya dengan pembahasan agama bukanlah dalam artian yang teologis. yaitu totem.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota A. kekuatan kudus itu jelas terlihat berbeda dari obyek-obyek totemnya. yaitu "sifat kudus" dari agama dan "praktek-praktek ritual" dari agama. Pada totemisme Australia. Tetapi di Amerika Utara dan Melanesia. Agama tidak harus melibatkan adanya konsep mengenai suatu mahluk supranatural. melainkan sosiologis.

Di dalam hal . Praktek ini menjamin agar kedua dunia. yang berwujud dalam bentuk upacara-upacara keagamaan itu sendiri dan merupakan intinya. Ritual Agama Selain daripada melibatkan sifat "kudus". sehingga setiap upaya untuk menghilangkan sifat "kudus" dari moralitas akan menjurus kepada penolakan dari setiap bentuk moral. serta praktek ritual yang positif. berupaya menyatukan diri dengan keimanan secara lebih khusyu.Dunia modern dengan moralitas rasionalnya juga tidak menghilangkan sifat kudus daripada moralitasnya sendiri. Ciri khas yang sama. C. D. Ini terlihat dari rasa hormat dan perasaan tidak bisa diganggu-gugat yang diberikan oleh masyarakat kepada moralitas rasional tersebut. Dengen demikian. yang adalah upacara keagamaan itu sendiri. tetap terdapat pada moralitas rasional. Ada dua jenis praktek ritual yang terjalin dengan sangat erat yaitu pertama. dan pemisahan ini justru adalah dasar dari eksistensi "kekudusan" itu. "kekudusan"-pun merupakan prasyarat bagi suatu aturan moral untuk dapat hidup di masyarakat." Tetapi hal itu mencerminkan bahwa agama adalah merupakan implikasi dari perkembangan masyarakat. praktek ritual yang negatif. yaitu kekudusan. Orang yang taat terhadap praktek negatif ini berarti telah menyucikan dan mempersiapkan dirinya untuk masuk ke dalam lingkungan yang kudus. Contoh dari praktek negatif ini misalnya adalah dihentikannya semua pekerjaan ketika sedang berlangsung upacara keagamaan. Hubungan Antara Agama Dengan Kondisi Masyarakat Di atas tadi sudah dijelaskan bahwa agama dan masyarakat memiliki hubungan yang erat. Praktek ritual ini ditentukan oleh suatu bentuk lembaga yang pasti. Praktek-praktek ritual yang negatif itu memiliki fungsi untuk tetap membatasi antara yang kudus dan yang duniawi. Ini menunjukkan bahwa "kekudusan" suatu obyek itu tidak tergantung dari sifat-sifat obyek itu an sich tetapi tergantung dari pemberian sifat "kudus" itu oleh masyarakatnya. yaitu yang "kudus" dengan yang "profan" tidak saling mengganggu. Adapun praktek-praktek ritual yang positif. suatu agama itu juga selalu melibatkan ritual tertentu. sehingga berfungsi untuk memperbaharui tanggung-jawab seseorang terhadap ideal-ideal keagamaan. Sebuah aturan moral hanya bisa hidup apabila ia memiliki sifa "kudus" seperti di atas. yang berwujud dalam bentuk pantangan-pantangan atau larangan-larangan dalam suatu upacara keagamaan. Di sini perlu diketahui bahwa itu tidak mengimplikasikan pengertian bahwa "agama menciptakan masyarakat.

Menurut Durkheim ide tentang "klasifikasi yang hierarkis" muncul sebagai akibat dari adanya pembagian masyarakat menjadi suku-suku dan kelompok-kelompok analog. melambangkan kelebihan daripada masyarakat dibandingkan dengan individu-individu. dengan demikian. itu memang timbul secara langsung dari pengamatan panca-indera. Kesatuan masyarakat pada masyarakat tradisional itu sangat tergantung kepada conscience collective (hati nurani kolektif). di atas mana solidaritas mekanis itu bergantung. dan agama nampak memainkan peran ini. Upacaraupacara keagamaan.. memiliki suatu fungsi untuk tetap mereproduksi kesadaran ini dalam masyarakat. Hubungan antara agama dengan masyarakat juga terlihat di dalam masalah ritual. menekankan lagi kepercayaan mereka atas orde moral yang ada. individu dibawa ke suatu alam yang baginya nampak berbeda dengan dunia sehari-hari. begitu pula dengan pemasukkan suatu obyek ke dalam bagian klasifikasi tertentu. yang merupakan obyek kudus. tetapi dapat kita lihat bahwa kesadaran akan yang kudus itu. yang terwujud dalam pengumpulan orang dalam upacara keagamaan. walaupun di dalam buku Giddens tidak dijelaskan penjelasan Durkheim secara rinci mengenai asal-usul sosial dari konsep "kekudusan'. Dengan demikian. maka Durkheim berpendapat bahwa sebenarnya totem itu. Konsep "kudus" seperti yang sudah dibicarakan di atas tidak muncul karena sifat-sifat dari obyek yang dikuduskan itu. Tetapi ide mengenai "klasifikasi" itu sendiri tidak merupakan hasil dari pengamatan panca-indera secara langsung. dilahirkan dari keadaan kolektif yang bergejolak. Ritual. Di dalam suatu upacara. Obyek dari klasifikasi seperti "matahari". Masyarakat menjadi "masyarakat" karena fakta bahwa para anggotanya taat kepada kepercayaan dan pendapat bersama. Hal yang sama juga terjadi pada konsep "kudus". dan praktek ritual secara . menurut Durkheim dari pengatamannya terhadap totemisme. Hal ini misalnya ditunjukkan oleh penjelasan Durkheim yang menyatakan bahwa konsep-konsep dan kategorisasi hierarkis terhadap konsep-konsep itu merupakan produk sosial. "burung kakatua". atau dengan kata lain sifat-sifat daripada obyek tersebut tidak mungkin bisa menimbulkan perasaan kekeramatan masyarakat terhadap obyek itu sendiri. Di sini agama nampak sebagai alat integrasi masyarakat. Menurut Durkheim totemisme mengimplikasikan adanya pengklasifikasian terhadap alam yang bersifat hierarkis. di mana totem pada saat yang sama merupakan lambang dari Tuhan dan masyarakat. Di dalam totemisme juga. dll. beserta pemisahannya dengan dunia sehari-hari.ini agama menurut Durkheim adalah sebuah fakta sosial yang penjelasannya memang harus diterangkan oleh fakta-fakta sosial lainnya.

Moralitas Individual Modern Transisi dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern --yang melibatkan pembagian kerja yang semakin kompleks-. Demikian pula Revolusi Perancis telah mendorong tumbuhnya moralitas individual itu. . yang tidak memungkinkan bentuk solidaritas apapun. di mana diikuti perubahan dari "agama" ke moralitas rasional individual. yang menekankan "kultus individu" tidak muncul dari egoisme. yang dengan begitu turut serta di dalam memainkan fungsi penguatan solidaritas. dsb.seperti yang telah disebutkan di atas melibatkan adanya perubahan otoritas moral dari agama ke moralitas individual yang rasional. Walaupun begitu.terus menerus menekankan ketaatan manusia terhadap agama. Ini terlihat dalam transisi dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern. E. Kemudian perubahan-perubahan sosial di masyarakat juga dapat merubah bentukbentuk gagasan di dalam sistem-sistem kepercayaan. Contoh konkrit dari hal ini adalah dalam bidang ilmu pengetahuan. menunjukkan perbedaan antara moralitas individual dengan egoisme. seperti rasa hormat terhadap pendapat-pendapat orang lain dan publikasi hasil-hasil penelitian serta tukar menukar informasi. tetapi ia tidak mengikutsertakan suatu bentuk anarki. Moralitas individual itu memiliki sifat kudus. Di sini perlu ditekankan bahwa moralitas individual tidak sama dengan egoisme. Seperti misalnya konsep kekuatan kekudusan pada totem itu jugalah yang di kemudian hari berkembang menjadi konsep dewa-dewa. yang memiliki ciri-ciri dan memainkan peran yang sama seperti agama. karena moralitas itu hanya bisa hidup apabila orang memberikan rasa hormat kepadanya dan menganggap bahwa hal itu tidak bisa diganggu-gugat. Durkheim menyebutkan bahwa sumber dari moralitas individual yang modern ini adalah agama Protestan. Dan ini merupakan suatu bentuk "kekudusan" yang dinisbahkan oleh masyarakat kepada moralitas individual tersebut. Menurut Durkheim totemisme adalah agama yang paling tua yang di kemudian hari menjadi sumber dari bentuk-bentuk agama lainnya. Moralitas individual. suatu penelitian ilmiah dengan kebebasan penelitiannya justru hanya bisa berlangsung dalam kerangka peraturan-peraturan moral. Agama juga memiliki sifatnya yang historis. Ilmu pengetahuan menekankan penelitian bebas yang merupakan salah satu bagian dari moralitas individual. moralitas individual itu. Adanya anggapan bahwa moralitas individual itu berada di atas individu itu sendiri. menyimpan satu ciri khas dari agama yaitu "kekudusan". seperti yang juga telah disebutkan di atas. sehingga pantas untuk ditaati (sifat kudus dari moralitas individual).

hanya bisa mendapatkan kebebasannya melalui masyarakat. Tetapi egoisme yang menjadi permasalahan kebanyakan adalah bukan egoisme jenis ini. sebagai hasil perkembangan sosial. No. diterjemahkan oleh Soeheba Kramadibrata.Dengan demikian. yang pada hakekatnya adalah juga mahluk sosial. merupakan komponen yang penting di dalam semua peraturan moral. 1986. Durkheim dan Max Weber. melainkan adalah keinginan-keinginan egoistis yang merupakan produk sosial. melalui pengambilan keuntungan dari masyarakatnya. yang dihasilkan oleh masyarakat. Kapitalisme dan teori sosial modern: suatu analisis karya-tulis Marx. Seseorang. tidak ada masyarakat yang bisa hidup tanpa aturan yang tetap. Sumber Acuan: Anthony Giddens. Dari sini dapat dikatakan bahwa moralitas individual yang rasional itu dapat dijadikan sebagai otoritas pengganti agama pada masyarakat modern. pada tingkat tertentu merangsang keinginan-keinginan egoistis tertentu dan juga merangsang anomi. yang berarti juga mengimplikasikan subordinasi dirinya oleh otoritas moral. melalui bentuk otoritas moral yang sesuai dengan individualisme itu sendiri. melalui perlindungan masyarakat. otoritas moral dan kebebasan individual sebenarnya bukanlah dua hal yang saling berkontradiksi. Individualisme masyarakat modern.3. Menurut Durkheim. September 2003 International Institute of Islamic Thought Indonesia Membongkar Hegemoni Wacana Sosiologi Barat . © Jurnal Pemikiran Islam Vol. melalui keanggotaannya dalam masyarakat. Bagaimanakah dengan sisi egoistis manusia yang tidak bisa dilepaskan dari diri manusia yang diakui oleh Durkheim sendiri? Setiap manusia memang memulai kehidupannya dengan dikuasai oleh kebutuhan akan rasa yang memiliki kecenderungan egoistis. Hal ini dapat diselesaikan dengan konsolidasi moral dari pembagian kerja. Di dalam hal ini.1. yaitu moralitas individual. disiplin atau penguasaan gerak hati. Jakarta: UI-Press. sehingga peraturan moral adalah syarat bagi adanya suatu kehidupan sosial.

Apalagi. dan Globalisme. Turner. “merasa paling benar”. untuk konteks “Islamisasi” ilmu-ilmu sosial dalam “garapan besar” The International Institute of Islamic Thought (IIIT). dan analisis dalam sosiologi Barat selama ini. Apa yang kita terima dalam berbagai literatur dari wacana mereka adalah sebuah bentuk “kolonialisme” wacana. pendapat. sehingga memunculkan laju pertumbuhan masyarakat industri dan urban. Turner. Penulis : Bryan S. Postmodernism. tidak demokratis. Inyiak Ridwan Muzir. dan menganggap Timur adalah irrasional.Happy Susanto Judul Buku : Runtuhnya Universalitas Sosiologi Barat. sosiolog kondang kenamaan abad ini. Tebal : 453 halaman. Bryan S. Hal demikian pernah dianalisis Max Weber dalam bukunya. langkah strategisnya adalah—seperti apa yang dilakukan Turner ini—yaitu membongkar superiority Barat dalam kajian akademis dan keilmuan. Maaf. hegemonisasi kultural. membongkar universalitas sosiologi Barat ini dalam bukunya yang versi aslinya berjudul. Timur. dan sangat mistik. jika kata-kata ini penulis kemukakan dalam tulisan ini karena memang demikianlah apa yang menjadi realitas saat ini. Gejala modernitas dan kapitalisme global telah mengeruskan kekuatan religiusitas yang dilakukan agama-agama selama ini. Orientalism. Turner mencoba menunjukkan bahwa “sikap manis” Barat itu sesungguhnya memendam kelemahan. Agama Kristen telah melakukan perombakan total dengan jalan sekularisasi general yang memadukan apa yang telah menjadi komitmen dan keyakinan religiusitas sebagai bagian kebudayaan Barat. Keangkuhan Barat mesti kita “lawan” (lewat wacana) karena jika tidak maka mustahil kita mampu memberikan alternatif bagi kemunculan keilmuan yang lebih memihak pada obyektivitas dan kemanusiaan. Penerbit : Ar-Ruzz Press Yogyakarta. dan “pemaksaan” pendapat yang menganggap “yang lain” (otherness. Postmodernisme. bahwa mereka belum tentu diklaim sebagai satu-satunya kebenaran. dan independen. Soal keangkuhan Barat dalam menilai Timur dan Islam. universal. dan “klaim universalitas”. Orientalisme. The Protestant Ethic and . and Globalism. bisa diamati dari berbagai analisis akademik kaum orientalis yang mencibir kebudayaan non-Barat. Cetakan I Tahun : Agustus 2002. Penerjemah : Sirojuddin Arif. adalah kata-kata yang pas untuk kita alamatkan kepada wacana. Bongkar Wacana atas Islam vis a vis Barat. Islam) sebagai “barang rendahan”. “Keangkuhan”. dan Muhammad Syukri.

Orientalism : Western Conceptions of the Orient (1979). arti orientalisme terkait dengan tiga fenomena yang melatarbelakanginya. Pertama.The Spirit of Capitalism (1958). tidak hanya di Timur tapi juga pada kebudayaan Barat. Menurut Edward Said. baik orang yang bersangkutan adalah seorang ahli antropologi. Postmodernisme. Banyak kritikan tajam diarahkan pada kalangan akademik Barat yang memahami non-Barat dengan pandangan sebelah mata bahwa mereka (Timur. suatu gaya berfikir yang . Dalam buku ini. seperti diklaim Turner. Kedua. mulai tumbuh menjadi kekuatan dominan dalam bidang politik dan kebudayaan. Di sisi lain. dan hasil analisisnya menjadi universal. Perlu diingat bahwa rasionalisme instrumental Barat telah menancap kuat pada ingatan akademisi manapun disebabkan karena kuatnya arus globalisme (juga dalam hal pemikiran) yang membantu angapan-anggapan orientalisme. para akademisi tertarik untuk menyoroti tentang bagaimana masyarakat-masyarakat Barat memahami dan menafsirkan masyarakat-masyarakat Timur selama masa kolonialisme dan ekspansi kekuasaan kolonial Barat. sosiologi. baik dari segi umum maupun khususnya. telah menggoncangkan dunia. Kajian orientalisme juga mulai dipertanyakan. Bersamaan dengan hegemonisasi pandangan ini. Kemunculan karya Edward Said. kemunculan Postmodernisme menjadi menarik untuk diapresiasi. maupun disebabkan oleh konotasi sikap eksekutif yang congkak dari kolonialisme. maupun filologi. Dalam wacana orientalisme termuat nilai-nilai kekuasaan. baik karena terlalu samar-samar. Orientalisme lebih mengacu pada wacana-wacana khusus dalam mengkonseptualisasikan Timur sehingga menyebabkan Timur mudah untuk dikendalikan. dan Globalisme Pada tahun 1970-an. Orientalisme. Istilah “orientalisme”.. seorang orientalis adalah orang yang mengajarkan. menulis tentang. seperti dirasakan Said. dan lebih mengurusi hal-hal yang berbau spiritual. Anggapan demikian ternyata masuk pada mayoritas kajian sosiologis mereka. atau meneliti Timur. kurang begitu disukai oleh para spesialis di masa sekarang ini. di samping ada nilai emansipasinya juga. terlepas beberapa ketidaksetujuan kita kepadanya. Said mengemukakan sebuah kritik pedas terhadap konsep-konsep Barat tentang masyarakat Timur dan terhadap bagaimana wacana orientalisme mengukuhkan proses kolonialisme dan supremasi politik dunia Barat. sejarah. Islam) menafikan rasionalitas modernisasi. dengan mengklaim bahwa dirinya memiliki pengetahuan dan memahami kebutuhan-kebutuhan Timur. ternyata Islam. Postmodernisme ingin mendekonstruksi “narasi besar” (grand narrative) ini dengan mengajukan pluralitas pemikiran dan kebudayaan.

membenarkan pandangan-pandangan tentang Timur. namun secara praksis dia dikenal sebagai tokoh garis depan dalam perjuangan politik Palestina dan Timur Tengah. melalui sejumlah wacana. Penyatuan ini kemudian memproduksi serangkaian obyek analisis yang terus menerus mempengaruhi kesarjanaan sekarang ini tanpa bisa diamati dan diantisipasi. yang karya-karyanya menjadi sumber penting bagi penelitian humaniora dan ilmu-ilmu sosial. dan memaparkan secara gamblang kaitan antara pengetahuan dan kekuasaan yang menyatu padu. pemikiran Said sangat memukau . dan pola-pola pengetahuan telah membentuk “fakta-fakta” yang akan dipelajari oleh para sarjanawan sebagai sesuatu yang independen. Ketiga. Menurut Turner. merestrukturasi dan menguasai Timur. dan dia pun mampu menunjukkan bagaimana wacana-wacana. Kritik lain Turner terhadap Said adalah . Kiernan. memposisikannya. dengan gaya pemikiran Anglo-Saxon dia memperkenalkan kita pemikiran yang mengagumkan dari Michel Foucault. Menurut Turner.berdasarkan pembedaan ontologis dan epistemologis yang dibuat antara ‘Timur” (the Orient) dan (hampir selalu) “Barat” (the Occident). bahkan di Indonesia sudah banyak bukunya yang telah diterjemahkan. Pada tahun 1970-an ini. Dengan mengadopsi pemikiran Foucault. yang berkepentingan membuat pernyataan tentang Timur.G. Said berupaya mengetengahkan kritik-kritik yang sangat tajam terhadap liberalisme. Hal ini pernah dikritik V. Pendeknya orientalisme adalah cara Barat untuk mendominasi. artinya dia tidak hanya berada pada studi sastra dan penelitian analitis. yang disayangkan dari Said adalah kritik-kritiknya terasa lemah bagi orientalisme Jerman dan Inggris. Pendekatan Said dikatakan menarik karena dia mampu menghadirkan dirinya sebagai sosok intellectual hero (seorang pahlawan intelektual –istilah yang diberikan Turner sendiri). dan yang paling signifikan bagi Said : Orientalisme dapat didiskusikan dan dianalisis sebagai institusi yang berbadan hukum untuk menghadapi Timur. nilai-nilai. Karya Said ini amat menarik sekali karena dia mampu menghadirkan cara pandang baru dalam menganalisis sejarah dan fenomena sosial. mendeskripsikannya. dengan alasan bahwa Said menggunakan metode “dekonstruksionime” (deconstructionism). menguasainya. “metodologi teks” adalah tantangan yang menarik dan penting dari karya Said. dalam bukunya Lords of Human Kind (1972). dengan mengajarkannya. termasuk orientalime.

tidak adanya posisi budaya yang memungkinkan Arab untuk mengidentifikasikan dirinya dengan baik karena Timur Tengah kini telah begitu diidentikkan dengan politik negara-negara adikuasa. yang menghubungkan anpengetahuan dan sikap politik yang merupakan buah dari pemikirannya. Said berpendirian bahwa dirinya. pergulatan antara orang-orang Arab dan Zionisme Israel. seperti dalam bukunya. Kedua. dan terjadi ambivalensi antara kritik yang radikal dan Faucaudian terhadap representasi dan pendirian humanistik. 34). ingin membela sebuah kasus demi orang-orang yang dicabut hak miliknya oleh wacana-wacana kolonialis. Pertama. Orang Arab menjadi dirugikan karena stereotip negatif yang melekat padanya. Padahal penilaian Foucault terhadap cita-cita abad pencerahan adalah untuk menciptakan pengetahuan pokok tentang kebenaran yang obyektif dan menghalangi kemungkinan wacana universal yang mampu menggulingkan kekuatan opresif. yang sesungguhnya sangat tidak sesuai dengan karya Faucault sendiri. karena dorongan rasa kemanusiaan. sejarah prasangka antiArab atau anti-Islam yang populer di kalangan akademik dan pengambil kebijakan Barat. yang sangat tercermin dalam sejarah orientalisme. Ambivalensi dalam karya Said telah dianggap oleh sejumlah peresensi buku Orientalism dalam kalangan post-strukturalis sebagai sebuah gerakan catechrestic yang telah menggoncangkan bangunan-bangunan rezim pengetahuan kolonial dan neo-kolonial. Said memang berbeda dengan Foucault. dan ini terjadi pada Said. Dan berdasarkan pengalaman yang dialami Said. ekonomi minyak. karena Foucault tidak berangkat dari epistemologi. Penggunaan metode Foucault menyebabkan Said tidak memungkinkan untuk melakukan perlawanan terhadap kekuatan kolonialis. Yang ingin ditantang oleh Foucault adalah klaim pengetahuan yang absolut dan bisa diterapkan secara universal sebagai landasan aksi politik seutuhnya. tapi menganalisis arkeologi sebuah pengetahuan secara kritis dan obyektif. dan perbedaan antara Israel yang dianggap demokratis dan cinta damai dan orangorang Arab yang biadab. Covering Islam. Tulisan Foucault tentang psikiatri di Soviet dan analisisnya tentang tradisi hukuman di Perancis memungkinkan orang untuk beralih dari pemikiran analitis kepada sebuah posisi politis. Orientalism (hal. Said.berkaitan dengan masalah hubungan Michel Foucault dan politik. totaliter dan teroris. Dalam hal ini terasa sulit untuk menghubungkan antara sikap politik Said terhadap Palestina dengan posisi epistemologi bukunya. ditambah dengan analisanya yang tajam terhadap kerancuan- . Yang melatarbelakangi aksi praksis Said adalah karena pembentukan persepsi Barat terhadap bangsa Arab dan Islam menjadi masalah yang sangat politis dan keras. dan pengaruh terhadap penduduk-penduduk Yahudi Amerika maupun terhadap budaya liberal dan penduduk pada umumnya. mengadopsi pemikiran “epistemologi realis”. Ketiga.

Timur) dalam menghadapi the other (Barat). khususnya kritik filsafat metafisiknya. Perlu ada penegasan identitas. Bukan justru berkehendak untuk menampilkan sisi normativitas Islam.kerancuan orientalisme. apabila bersifat modernis maka sesungguhnya gerakan islamisasi pengetahuan berbeda dengan gerakan oksidentalisme. Sikap penolakan anti Barat ini sejalan dengan kemunculan gagasan “indigenisasi” (indigenization) pengetahuan yang tumbuh dan berkembang pada “masyarakat dunia-ketiga” (the third-world society) akhir-akhir ini. dan . Di samping melandaskan konsepnya pada Foucault. untuk dianggap sebagai sebuah ilmu yang mandiri dan independen. kemudian hal ini mendorong dia untuk berjuang melawan kolonialisme Barat --bahkan menjadi tokoh garis depan. jawabannya adalah antimodernis. Oksedentalisme menjadi menarik dikaji bersamaan dengan maraknya perbncangan tentang “islamisasi ilmu pengetahuan” (islamization of knowledge). Hassan Hanafi. Jika. Menurut Turner. Kritik lain yang dikemukakan Turner terhadap pendekatan sejarah Said adalah konsentrasinya terhadap “tekstualitas” dan “tektualisme”. maka apakah mungkin melakukan islamisasi pengetahuan tanpa menggunakan perangkat teknologi yang telah lama diproduksi oleh Barat. Tekstualisme menyebabkan solipsisme—yaitu teori yang mengatakan bahwa satu-satunya pengetahuan yang mungkin adalah pengetahuan diri sendiri-. menyatakan bahwa dalam oksidentalisme yang menjadi persoalan adalah problem identitas. Jika boleh berpendapat. Turner juga mengkaitkan pemikiran Said antara fasisisme dan dekonstruksionisme. 35). penegasan eksistensi ego (Islam. oksidentalisme berisikan penolakan terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan Barat dan penolakan tak langsung terhadap warisan modernisasi. sebenarnya Turner juga melancarkan kritiknya terhadap gerakan islamisasi ilmu pengetahuan.buta yang tidak dapat membedakan mana tulisan yang bersifat rekaan dan mana yang memang sebuah rekaman atas kenyataan sosial nyata (hal. Sebaliknya. yaitu oksidentalisme. Said juga mengadopsi pemikiran Heidegger. penulis buku Muqaddimah fi Ilm al-Istighrab (Oksidentalisme). secara real kekuatan yang sangat bernilai strategis apabila gerakan islamisasi ilmu pengetahun diproyeksikan untuk melawan hegemonisasi pengetahuan Barat yang mengklaim sebagai universalis dan instrumentalis. yang sesungguhnya masih kabur. dan di dalamnya tentu memuat nilai-nilai Barat yang mesti diadopsi pula. Dalam buku yang kita bedah ini.36). Kemunculan orientalisme menyebabkan kemunculan wacana baru sebagai tandingannya. dengan mengajukan sebuah pertanyaan penting : apakah klaim fundamentalis terhadap islamisasi pengetahuan bersifat modernis atau anti-modernis? (hal 37). yang memiliki kaitan erat dengan fasisme (hal.

dalam bidang filsafat postmodernisme diartikan sebagai “segala bentuk refleksi kritis atas paradigma-paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya”. perbincangan terakhir itu telah ditinggalkan oleh wacana orientalisme yang sudah ketinggalan zaman dan melangkah pada sosiologi global. Bagi dia. F. mengartikan postmodernisme secara sederhana sebagai “incredulity towards metanarratives” (ketidakpercayaan terhadap matanarasi). munculnya globalisasi akan menyulitkan pemahaman kita tentang istilah ini apabila masih membicarakan kebudayaan-kebudayaan Timur dan Barat yang terpisah. Pengertian ini juga yang dimaksud Turner. postmodernisme itu sepertinya adalah sebuah “intensifikasi dinamisme”. Banyak orang menyederhankan pengertian globalisasi (globalization) dengan westernisasi (westernization). atau independen (hal 40). Sedangkan yang kedua merupakan situasi dan tata sosial produk teknologi informasi. globalisasi. epistemologi dan ideologi-ideologi modern. yang menjadi media bagi perlawanan dan perubahan. Terkadang orang menyamakan postmodernisme dengan postmodernitas. Apa yang membedakan keduanya? Menurut I. dan postmodernitas adalah realitas yang merupakan hasil dari pemikiran yang diproduksi. emansipasi kaum proletar. konsumerisme yang berlebihan. otonom. Kenapa? Karena. Dengan kata lain. dan menjadi dasar kritikannya terhadap Ernest Gellner yang meyamakan kedua arti tersebut. . deregulasi pasar uang dan sarana publik. upaya tak henti-hentinya untuk mencari kebaruan. postmodernisme menunjuk pada kritik-kritik filosofis atas gambaran dunia (world view). kemajuan. Metanarasi yang dimaksud. dan sebagainya. misalnya : kebebasan. Menurut Turner. bagaimana mungkin melepaskan secara penuh dari pengaruh-pengaruh Barat? Kelemahan yang terasa dalam wacana orientalisme menyebabkan para pengkaji dari barat untuk menggiring wacana itu kepada globalisasi atau disebut dengan sosiologi global. Apa itu “postmodernisme”? J. eksperimentasi. Apakah islamisasi pengetahuan berupaya untuk meneguhkan identitas? Jika iya. dan revolusi kehidupan terus.penegasan orisionalitas dalam menghadap modernisasi dan alienasi yag terkait dengan westernisasi. fragmentasi gaya hidup. Bambang Sugiharto. postmodernisme bermakna pemikiran filosofis yang menyerang modernisme. Singkatnya. Perdebatan-perdebatan postmodern menekankan pentingnya perbedaan dan “ke-yanglain-an” (otherness). Lyotard adalah filosof yang memperkenalkan istilah postmodernisme ke dalam bidang filsafat. Akan menarik apabila wacana orientalisme yang menuju globalisasi ini dihubungkan dengan perbincangan mengenai postmodernisme. usangnya negara bangsa dan penggalian kembali inspirasi-inspirasi tradisi. Lyotard dalam bukunya La Condition Postmoderne (1979).

perkembangan-perkembangan politik dan intelektual dalam postmodernisme menjadi tantangan besar bagi orientalisme (hal 46). dipahami bahwa kalangan orientalis (yang dianggap pihak Barat) memahami Timur (mayoritas adalah Islam) sebagai suatu pemahaman dan analisa yang tidak berimbang. dan sama-sama dianggap sebagai “narasi-narasi besar” (grand narrative) yang menyebabkan kegersangan bagi dunia sosial modern. Lebih lanjut Huntington menyatakan : . Cita-cita yang ingin diusung oleh postmodernisme adalah terjalinnya kehidupan yang plural. demokratis. Turner mencoba menjelaskan di mana letak ambiguisitas antara keduanya (Islam dan Barat). Umumnya. Dalam buku ini. cenderung menyudutkan pihak yang kedua. Menurut Turner. Menyoal Hubungan antara Islam dan Barat Kajian mengenai orientalisme tidak terlepas dari wacana hubungan Islam dan Barat. egaliter. Menurut Huntington. Buku ini menjelaskan bagaimana Barat dan non-Barat (Timur) adalah dua wilayah yang saling berbenturan.Upaya yang dilakukan postmodernisme adalah membongkar dan menghancurkan meta. dan menjamin bagi emansipasi sebuah ideologi tanpa memasung rasa kemanusiaan. yang berjudul The Clash of Civilization and the Remaking of world Order.narasi yang dihasilkan dari sebuah ideologi dan pemikiran mainstream yang hegemonik dan menguasai kultur pengetahuan masyarakat. Kita pernah diguncangkan oleh bukunya Samul Huntington. membuat posisi global Islam menjadi kembali diperhitungkan. dengan catatan bahwa perlu ada reformasi di dalam tubuh Islam dengan menghilangkan kecenderungan mengarah pada “narasi besar” yang disebabkan dari citra keseragaman dan ortodoksi keagamaan yang secara fundamental memegang teguh gagasan rasionalisme universal. adalah memungkinkan bagi Islam untuk “bergandengan tangan” dengan postmodernisme. dan asketis. disiplin. filsafat postmodern menyalahkan kapitalisme yang eksploitatif dan sosialisme yang birokratik. Pasca runtuhnya Komunisme Soviet (yang menurunkan citra sosialisme dan tumbuhnya pengaruh postmodernisme). Menurut Turner. mana yang menjadi persamaan dan perbedaannya. Orientalisme yang merupakan bagian dari meta-narasi menjadi memungkinkan untuk dilawan bagi kalangan postmodern. pasca runtuhnya Komunisme maka Islam memiliki peluang untuk berbenturan dengan Barat. Secara bersamaan. Konflik yang terjadi lebih pada kebudayaan yang berbeda antar keduanya.

tapi konflik antara orang-orang yang memiliki entitasentitas budaya yang berbeda-beda”. dan “negara patrimonial” (patrimonial state). Orientalisme berhak kita “gugat” karena meta-wacana ini telah menyebabkan pembedaan yang sangat timpang antara Timur dan Barat. “kamp-kamp militer” (military camps). apa yang membedakan antara Barat (West) dan Timur (East)? Keduanya merupakan konsep yang tidak jelas dan sering terjadi pertukaran makna. “kota-kota bebas” (free cities).“Dalam dunia baru tersebut. Bagi Weber. dan “negara modern” (modern state). Berbeda dengan Islam. antara golongan kaya dengan golongan miskin. Dalam sosiologi Weberian. dan asketik. timbul pertanyaan selanjutnya : apakah kemudian pemikiran Karl Marx menyiratkan sebuah pemihakan terhadap budaya dan masyarakat Timur? Pertanyaan ini dijawab oleh Turner bahwa keduanya (Weber dan Marx) sama-sama menganut pola-pola penjelasan yang agak mirip dalam menjelaskan keberadaan sejarah dalam masyarakat-masyarakat Barat dan ketiadaannya (sejarah) dalam masyarakat Timur (hal 104). “borjuis perkotaan” (urban bourgeoisie). dan tidak ada hak milik (hal 101). sebagai ciri-ciri dalam masyarakat Timur. profetik. istilah orientalisme muncul. masyarakat Timur digambarkan secara sederhana sebagai masyarakat yang tidak memiliki unsur-unsur positif rasionalitas Barat. Lalu. Sebaliknya. atau antara kelompok-kelompok (kekuatan) ekonomi lainnya. “pedagang yang dikontrol negara” (state-controled merchants). Orang sering menganggap Islam itu identik dengan Timur. sistem yang berbentuk “hukum dan ad hoc” (ad hoc law). Sebuah perbandingan sosiologis yang dilakukan melalui fakta yang tidak berimbang. Penjelasan Weber dan Marx adalah bentuk lain dari . Sebenarnya. Pandangan sosiologi Barat menggambarkan sebuah bentuk idealisme subyektif yang tanpa disadarinya telah mereproduksi unsur-unsur pemikiran borjuis. konflik-konflik yang paling mudah menyebar dan sangat penting sekaligus paling berbahaya bukanlah konflik antarkelas sosial. sebagai ciri-ciri pada masyarakat Barat. fakta Islam yang direkam adalah monotheistik. asketisme Protestan secara khusus memainkan peran yang sangat penting bagi pertumbuhan rasionalitas Barat. tidak ada lembaga-lembaga perkotaan yang otonom. Weber membandingkan dunia Timur dan Barat dengan sistem penjelasan yang menggunakan “hukum rasional” (rational law). Weber dikenal sebagai pencetus “rasionalisme instrumental” sehingga metode pemikiran sosiologinya menjadi begitu dominan bagi masyarakat Barat sampai saat ini. Sejak dibukanya sejumlah jabatan untuk mengembangkan pemahaman tentang bahasa-bahasa dan kebudayaan Timur oleh Dewan Gereja Wina (Church Council of Vienna). Masyarakat Timur didefinisikan sebagai sebuah sistem ketiadaan --tidak ada kota. tidak ada kelas menengah.

memahami. bisa dipandang sebagai agama Timur. bisa mengarah pada universalitas pandangan orientalis. Jadi. Menurut Turner. penjelasan sosiologi weberian dan Marxisme strukturalis tidak mengembangkan tanggapan-tanggapan yang memuaskan terhadap prosedur-prosedur penjelasan mengenai orientalisme. Apa alasan Turner? Ia melihatnya secara geografis dan kultural bahwa Kristen. Dan juga disebabkan karena analisa Weber yang menyebut Timur serba keterblakangan dan Barat serba rasional. Islam meberikan sumbangan kultural yang berharga bagi Barat dan menjadi kebudayaan dominan di beberapa masyarakat Mediteranian. seperti diadopsi Said. Pembedaan antara Islam dan Barat sangat ditentukan oleh keberhasilan orientalisme dalam menancapkan wacana hegemoniknya pada masyarakat Barat. kekuasaan dan pengetahuan ternyata saling mempengaruhi satu sama lain. kata Turner. dengan pijakan rasionalisme instrumentalnya. Kristen pun sebenarnya tidak bisa dikategorikan begitu saja sebagai agama Barat. sebaliknya dapat dipandang sebagai agama Barat (hal 66). “Mengkategorikan Islam dengan Timur (oriental religion) akan meinmbulkan kesulitan-kesulitan besar dalam wacana orientalis”. Islam tidak selamanya Timur. Sisilia. Akhirnya. Hal ini disebabkan karena wacana orientalisme yang membuat jurang pembedaan yang besat antara keduanya.“despotisme Timur” karena keduanya sama-sama menganut pandangan bahwa politik negara di Timur bersewenang-sewenang dan tidak menentu. Dan Said berhasil menunjukkan bahwa sebagai sebuah wacana. Politik penjajahan yang dilakukan Barat sangat berpengaruh kuat dalam membentuk citra Barat tentang Islam dan analitis mereka tentang masyarakatmasyarakat ketimuran atau oriental society. tidak seperti Hinduisme dan Konfusianisme. Sementara Islam yang menjadi bagian penting dari kebudayaan Spanyol. Dengan meminjam kerangka analisis Foucault. . dikotomi Timur/Barat yang secara sekilas tampak netral sebenarnya merupakan ekspresi dari suatu relasi kekuasaan tertentu (hal 64). dan Eropa Timur. dan mengotrol dunia. sebagai kepercayaan Smitik yang berakar pada agama Abrahamik. pengertian Barat-Islam terasa ambigu sekali. Turner mengklaim bahwa Islam memiliki ikatan keagamaan yang kuat dengan Yahudi dan Kristen. Dan dengan jelas sekali orientalisme mengungkapkan ciri-ciri progresif Barat dan menunjukkan kemandekan sosial masyarakat Timur. Ada sebuah paradoks membuat perbedaan antara Islam dan Barat. Kekuasaan sebenarnya melekat dalam bahasa dan institusi yang kita gunakan untuk mendeskripsikan.

yaitu asosiasi-asosiasi sukarela (masyarakat sipil itu sendiri) yang kuat yang menjaga individu dari kontrol mayoritas dan memelihara keanekaragaman kepentingan dan kebudayaan. ekonomis. Ia membedakan Islam sebagai ajaran (iman) dengan Islam sebagai sebuah konteks sejarah. Hodgson membedakan antara kajian-kajian tentang Islam an sich dan kajian-kajian tentang dunia Islam (Islamdom). Konsep dalam masyarakat sipil mengandung pengertian bahwa individualitas dan hak-hak individu menjadi penyeimbang bagi kekuasaan despotisme mayoritas. pendekatan Turner ternyata masih gagal untuk melepaskan dirinya secara total dari asumsi-asumsi asosiologis orientalisme tradisional.Turner juga mencatat tentang problematika orientalisme yang menganggap ketiadaan masyarakat sipil (civil society) pada Islam. Turner membedah beberapa orientalis yang mengkaji tentang masalah Islam. pandangan orientalis yang menganggap tidak adanya masyarakat sipil dalam Islam sesungguhnya merupakan refleksi dari kegelisahan-kegelisahan politik yang mendasar tentang kondisi kebabasan politik di Barat (hal 90). Hodgson berusaha melampaui pendekatan-pendekatan filosofis tradisional terhadap Islam dengan memberikan perhatian penuh terhadap sejumlah daerah yang di dalamnya Islam ditentukan oleh faktor-faktor sosiologis. Kita mengenal Marshal Hodgson melalui karya monumentalnya tiga jilid berjudul The Venture of Islam (1974). Beberapa Pandangan Orientalis Mengenai Islam Dalam tulisannya. Dalam pandangan Hodgson. yang pendangannya “dilempar” ke dalam Islam. apa sebenarnya penjelasan kritis Turner mengenai hal ini. Hati nurani dianggap sebagai sebuah aktivitas kreatif paling kecil bagi seorang muslim ketika menghadapi realitas di luarnya. Dalam buku itu. Bagi Hodgson. Entah. Menurut Turner. Dalam ungkapan yang sederhana. namun juga dengan despotisme politik (hal 82). dan lemahnya kebudayaan borjuis dalam kaitannya dengan keterbelakangan ekonomi. siapa saja . bukan masyarakat. kebutuhan untuk membedakan antara keduanya cukup mendesak karena. konsep “masyarakat sipil” selama ini telah digunakan sebagai dasar pemikiran bahwa Timur sesungguhnya adalah negara. sebagai agama maupun sistem sosial. Sebuah kajian sejarah tentang Islam yang sangat lengkap. menurutnya. diperlakukan sebagai perjalanan kesadaran nurani personal yang bersifat batin dalam menciptakan peradaban yang impersonal dan lahiriah. Kata Turner. melainkan persoalan masyarakat Barat sendiri. Islam. Turner kembali menegaskan bahwa persoalan orientalisme sesungguhnya bukan persoalan Timur. Menurut Turner. “despotisme Timur sesungguhnya hanyalah penulisan ulang besar-besaran tentang monarkhi Barat”. dan geografis yang melingkupinya.

dan menjadi sangat penting pada beberapa arti untuk membentuk kebudayaan bersama. Islam gagal disebabkan karena konservatisme dan tidak adanya integrasi kultural. karena jawabannya tidak meyakinkan (hal 135). “Islamdom” adalah masyarakat di mana kaum muslimin dan kepercayaan yang diakuinya sebagai yang berlaku umum dan dominan secara sosial. Jadi. karena Hodgson sendiri adalah pemeluk Kristen yang kuat sehingga dia menolak setiap usaha untuk memilih elemen tertentu dari Kristen dan Islam yang dapat dianggap sama dan dapat diperbandingkan. seorang sejarahwan tentang dekadensi dan kemunduran Islam. tapi dalam analisis sejarah kegamaan banyak berhutang budi pada Rudolf Otto dan Mircea Eliade. sedangkan kesalehan adalah bagian dalam. kemunduran Islam dari perwujudan kebajikan agama yang ideal diperparah dengan masalah-masalah yang ada dalam tradisi hukum sucinya yang tidak dapat dikembangkan untuk memberikan kondisi baru bagi perkembangan sosial (hal 163). Turner menyimpulkan pendekatan Hodgson terhadap kesalehan/agama memunculkan apa yang disebut “kekebalan” (imunitas) sosiologis bagi keimanan. Menurut Hodgson. menurut Turner. kekakuan hukum dan gap atau ruang kosong antara ideal keagamaan (secara normatif) dan praktik politik kekuasaan (secara empirik) dalam Islam. Istilah “Islamdom” dapat saja diperbandingkan dengan “Christendom”. atau bisa . Alasannya. agama adalah kulit luar yang dapat dijelaskan secara sosiologis. Dia memandang bahwa umat Islam hanya melakukan pengulangan sejarah. Pendapat Hodgson memisahkan mana yang merupakan ruang privat (keimanan) dan mana ruang publik (agama yang membudaya dalam konteks sosial). Menurut Turner. Setelah membedah Hodgson. Dalam pandangan Hodgson. Dia adalah penganut Kristen yang yakin dan mengikuti ajakan Quaker. inti yang tak dapat dijelaskan secara sosiologis. Turner kemudian mengkaji pemikiran Von Grunebaum. Seperti kata Hodgson : “Pada akhirnya seluruh kepercayaan adalah hal privat…Kita terutama adalah anak manusia. setiap usaha ke arah sinkretis. Tapi. kesalehan spiritual (ketaatan spiritual seseorang) adalah “cara seseorang merespon ilahi”. Menurut Von Grunebaum. menunjukkan kegagalan teologis Islam. sedangkan agama mencangkup “percabangan yang bermacam-macam dari tradisi-tradisi yang dimaksudkan untuk mewadahi respon-respon semacam itu”. penjelasan Hodgson terhadap bagaimana memahami sistem kepercayaan asing tampak tidak memuaskan.sering terjebak untuk menyamakan antara Islam sebagai agama dan sebagai budaya. dan secara sekunder saja kita kita berpartisipasi dalam tradisi ini atau tradisi itu”. Kritik minor terhadap Hodgson adalah bahwa dia tidak mengemukakan komitmennya sendiri secara tepat dan sistematik. Baginya. atau setiap pandangan yang menganggap bahwa semua agama adalah sama karena semuanya berpijak pada suatu respon kemanusiaan terhadap yang ilahi ditolak oleh Hodgson.

Pernyataannya tentang gap antara cita dan realitas dalam Islam tidak berimbang dengan yang terjadi Kristen. Filsafat Cartesian membuka jalan bagi modernisasi yang didasarkan pada nilai-nilai pencapaian dan tindakan. Turner menganggap bahwa pespektif Grunebaum penuh dengan “sikap tidak suka yang jahat terhadap Islam” (hal 169). dari logika Hellenistik. munculnya dunia modern ditandai dengan deklarasi tentang pikiran aktif mencari. misalnya tentang orientalisme. Dengan mengutip Edward Said. yang seharusnya mendapat sorotan pula. sifat terus-menerus mengulang dari sejarah Islam menunjukkan sisi lebih lanjut dari daya memiliki kultural dan imitasi sosial Islam (cultural mimicry social imitation). . Wacana yang dikemukan dibumbui dengan keanehan literatur. dia sekali lagi menuduh bahwa Islam itu gersang.disebut dengan “romantisme historis”. sehingga hakikat realitas Islam adalah tidak berubah. baik di Timur maupun Barat. dapat penulis kemukakan bahwa sudah saatnya sosiologi menjadi sebuah kajian yang terbuka bagi keseragaman pandangan dalam menilai masyarakat-masyarakat. Bagi Grunebaum. therefore I am (aku berfikir maka aku ada). Turner menganggap Grunebaum mengkaji Islam dari luar dan benar-benar menganggapnya sebagai tugas akademik untuk ikut memberikan penilaian atas Islam. Ketika Grunebaum beralih kepada permasalahan-permasalahan tentang kepercayaan dan praktik peribadatan dalam Islam. Jika di Islam sikap kesalehan ritual diorientasikan untuk mencari kehidupan yang damai dan tenang sehingga meminimalisir kegiatan berfikir dan etos kerja. Secara singkat. Ia juga melakukan pengulangan dengan mereproduksi seluruh tema mimetik orientalisme. Grunebaum memberikan kepada kita sebuah tesis bahwa kegagalan Islam pada akhirnya adalah kegagalan pemikiran dan keinginan. Islam kemudian dipandang sebagai barang pinjaman yang tak ada habisnya dari masa lalu pagan Arab. dan dari teknologi Cina. dan aturanaturan komposisi puisi Arab dianggap hanya membuat pengulangan-pengulangan dan tidak adanya penemuan baru (hal 164). dari teologi monotheistik Yahudi-Kristen. Sebagai catatan akhir untuk mengakhiri tulisan ini. soal pernyatan Grunebaum tentang romantisme atau pengulangan sejarah dalam Islam. di mana ia menggambungkan antara antropologi dan filologi. tidak bisa lagi dianggap sebagai sebuah pengamatan yang final. dan secara emosional tidak memuaskan. Fenomena modernitas juga pernah ditunjukkan oleh Weber tentang etos kapitalisme Barat yang berasal dari doktrin Protestanisme. Turner kemudian mengkritik pendapat Grunebaum dengan dua catatan. Hampir secara keseluruhan masyarakat Islam dianggap tidak kreatif dan tidak memiliki pengaruh sama sekali. sederhana. Kedua. Di zaman postmodern ini maka kajian mengenai sebuah persoalan. yakni I think. sedangkan di Barat. Pertama.

Turner kurang mampu membuat tulisannya itu secara sistematis untuk membidik mana saja persoalan yang layak dikritisi. Hanya saja. (Bandung : Pustaka. hampir mirip dengan gagasannya George Ritzer yang menulis buku Sociology : A Multiple Paradigm Science (1980) --walaupun dalam buku ini Turner tidak menyebut satupun nama Ritzer. Turner cukup berhasil dalam menghadirkan analisa Foucault dan Edward Said untuk “menghabisi” kerancuankerancuan kalangan orientalis yang memahami Timur dan Islam secara tidak adil. Orientalisme. Tapi. dan menjadi satu-satunya kebenaran. plural. berguna sekali untuk mengindentifikasi orientalisme. dan penuh keterbukaan. Said mengakui bahwa penggunaan wacana (discourse) dari Foucault. buku ini adalah sebuah “karya agung” untuk memunculkan bagi kajian sosiologi alternatif yang bisa mengajukan analisa-analisa baru secara obyektif. Dengan keluasan wawasan dan literatur yang sangat dalam. Edward W. hal. Dalam buku ini Turner mengajukan sebuah pandaagan sosiologi yang multi-paradigmatik. Kata Said : “tanpa memeriksa . Catatan: Disampaikan pada diskusi rutin internal IIIT Indonesia pada Hari Senin.2-4. 10 Maret 2003. iii. Asep Hikmat. dalam persoalan orientalisme. sebagaimana dijelaskan dalam The Archeology of Knowlodge dan dalam Discipline and Punish. Said. Wacana orientalisme yang telah mengakar kuat pada masyarakat Barat menjadi kajian sosiologi yang sangat hegemonik. hal. Turner berupaya mengkaji secara kritis beberapa pemikir ilmu-ilmu sosial modern dengan amat komprehensif dan berimbang. terj. Apapun yang dilakukannya. cet.universal. Kemunculan oksidentalisme menjadi penting untuk dihadirkan. Sikap kritisnya pun belum begitu mampu menjatuhkan analisa-analisa dari obyek kritikannya. di samping kurang halusnya bahasa terjemahannya. 2-3. Buku ini terasa sulit untuk dibaca secara lengkap dan tuntas karena kerumitan yang suguhkan oleh Turner sendiri. Ibid. 1996). dan kini layak untuk “dibongkar” kembali untuk mebuat keseimbangan pandangan tentang Islam dan Barat yang obyektif.

orientalisme sebagai suatu discourse, kita tidak akan mungkin bisa memahami disiplin yang snagat sistematis ini, dengan mana budaya Barat mampu mengatur --bahkan menciptakan-- dunia Timur secara politis, sosiologis, militer, ideologis, saintifik, dan imajinatif selama masa pasca-Pencerahan”. Ibid, hal. 4

Richard King, Agama, Orientalisme, dan Postkolonialisme, terj. Agung Prihantoro (Yogyakarta : Qalam, 2001), hal. 164-5.

Ibid, hal. 166.

Edward Said, op.cit. hal. 34-5.

Lihat Hassan Hanafi, Oksidentalisme, Sikap Kita terhadap Barat, terj. M. Najib Buchori (Jakarta : Paramadina, 2000), hal. 20.

I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme, Tantangan Bagi Filsafat, (Yogyakarta : Kanisius, 1996), hal. 27-8.

Ibid, hal. 24.

Samuel P. Huntington, Benturan antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia, terj. M. Sadat Ismail (Yogyakarta : Qalam, 2000), hal. 9.

Lihat Marshal G.S. Hodgson, The Venture of Islam, Iman dan Sejarah dalam Peradaban Islam, terj. Mulyadi Kartanegara, (Jakarta : Paramadina, 1999), hal. 81.

Happy Susanto, lahir di Jakarta, 3 April 1980, tercatat sebagai mahasiswa akhir Jurusan Administrasi Negara FISIP Universitas Islam ’45 (UNISMA) Bekasi. Pernah belajar Bahasa Arab (I’dad Lughawy) di Lembaga Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta (1998-2000). Kini aktif sebagai peneliti Bidang Sosiologi pada International Institute of Islamic Thought (IIIT) Indonesia, Jakarta, dan menjadi Ketua

Bidang Komunikasi Umat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bekasi, dan pengurus di Youth Islamic Study Club (YISC) Al-Azhar Jakarta

© Jurnal Pemikiran Islam Vol.1, No.3, September 2003

International Institute of Islamic Thought Indonesia

© Jurnal Pemikiran Islam Vol.1, No.2, Juni 2003

International Institute of Islamic Thought Indonesia

Menggagas “Sosiologi Profetik”:

Sebuah Tinjauan Awal

Happy Susanto Abstract

Prophetic sociology is academic study in sociology that tries to explore prophetic idea into observation or social research. By exploring history of prophets critically, scientific idea of prophecy included in sociological studies. Basic principle of the study is its character that is not-value-free and based on interdisciplinary sociology, as well as having multi-paradigms. Reflecting on realities those are showed by prophets, sociologist should involved in “historical activism” to create valuable social change. Three main principles of this project are: liberation, emancipation, and transcendence. The principles are being integral part of prophet process in reflecting social realities they faced. Henceforth, disenchantment of meaningful life to be explored critically through prophetic sociology

Keywords: prophetic sociology, value-free, multi-disciplines, liberation, emancipation, transcendence, activism, history, consciousness, paradigm

“Kenekadan”, adalah sebuah ungkapan yang akan terlontar dari beberapa orang ketika mendengar istilah “Sosiologi” disandingkan dengan kata “Profetik”. Adalah sebuah “omong kosong” manakala sosiologi sebagai sebuah disiplin ilmu sosial yang ilmiah, obyektif, dan rasional diletakkan “bermesraan” dengan sebuah term yang memang masih bersifat teologis-keagamaan –begitulah tanggapan dari beberapa orang bila mendengar istilah “baru” ini. Sebenarnya, tulisan ini merupakan sambungan dari wacana yang sedang berkembang dalam sebuah milis (www.groups.yahoo.com/group/sosiologi_profetik), yang telah beberapa bulan ini penulis gagas. Tapi, pencetus awal ide seperti ini adalah Pak Kuntowijoyo, sejarawah dan budayawan dari Yogya, lewat gagasan “Ilmu Sosial Profetik” (ISP) yang pernah mencuat dan dilontarkannya pada tahun 1997-an.

Berangkat dari gagasan awal Pak Kunto itulah penulis mencoba menariknya secara lebih spesifik pada bidang sosiologi. Pak Kunto sendiri baru melontarkan gagasan ISP-nya melalui sebuah artikel beruntun dalam Harian Republika pada tanggal 7-9 Agustus 1997, dengan judul “Menuju Ilmu Sosial Profetik”. Tapi, embrio dari wacana ISP yang digagas Pak Kunto ini sebenarnya pernah mencuat lama sekali dalam buku magnum opus-nya, Paradigma Islam, Interpretasi untuk Aksi (1991). Yang menarik dalam gagasan Pak Kunto adalah beliau memandang bahwa sesungguhnya substansi ajaran universal agama (profetika --sebagai adjective dari agama) bisa menjadi ilmiah dan dipakai sebagai pisau analisa dan paradigma keilmuan apabila memulainya melalui proses “obyektivikasi” berserta ilmu-ilmu modern lainnya. Dalam profetika terjadi --katakalah-- “melampaui teologi” (beyond theological) dan bernuansa transformatif dalam ranah keilmuan yang obyektif, tidak lagi bernuansa normatif, melulu persoalan teologis. Penamaan dengan “ilmu sosial” akan lebih efektif dibandingkan dengan “teologi sosial”. Makanya, Pak Kunto tidak sepakat dengan penamaan “Teologi Islam Transformatif”. Ia berbeda pendapat dengan Dawam Rahardjo dan Moeslim Abdurrahman.

Apa sih yang digagas Pak Kunto melalui ISP-nya? Beliau memandang bahwa paradigma yang dipakai dalam ilmu-ilmu sosial selama ini tidak efektif karena tidak ada muatan transformatif keilmuannya. Sebuah ilmu (sosial) hanya bersikap diam dan observatif ketika diperhadapkan dengan realitas obyek penelitiannya. Prinsipprinsip yang dibangun dalam paradigma Ilmu Sosial Profetik berangkat dari penterjemahan secara ilmiah terhadap bunyi sebuah teks ayat Al-Qur’an, yang berbunyi: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (Ali Imron, 3 : 110). Ada beberapa term filosofis yang terkandung pada ayat ini, yaitu “masyarakat utama” (khairu ummah), “kesadaran sejarah” (ukhrijat linnas),

tapi juga mencatat bahwa hal-hal tersebut bukan satu-satunya faktor dalam perkembangan tersebut. Kristen) memiliki dampak besar dalam perkembangan sistem ekonomi Eropa dan Amerika Serikat. dan “transendensi” (al-iman billah). Kitab Yakub. Karyanya tentang agama-agama lain terhenti oleh kematiannya yang mendadak pada 1920. studi tentang sosiologi agama. “emansipasi” (nahy munkar). Yahudi Talmudi. Agama India: Sosiologi Hindu dan Buddha. Karya Weber dalam sosiologi agama bermula dari esai Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme dan berlanjut dengan analisis Agama Tiongkok: Konfusianisme dan Taoisme. hubungan antara stratifikasi sosial dan pemikiran agama. semata-mata hanyalah meneliti meneliti satu fase emansipasi dari magi. yakni "pembebasan dunia dari pesona" ("disenchanment of the world") yang dianggapnya sebagai aspek pembeda yang penting dari budaya Barat. menggabungkan pengamatan dengan matematika. ilmu tentang pembelajaran dan yurisprudensi. dan Yudaisme Kuno. Dalam analisis terhadap temuannya. Weber berpendapat bahwa pemikiran agama Puritan (dan lebih luas lagi. sistematisasi terhadap administrasi pemerintahan dan usaha ekonomi. Tujuannya adalah untuk menemukan alasan-alasan mengapa budaya Barat dan Timur berkembang mengikuti jalur yang berbeda. menurut Weber. Tiga tema utamanya adalah efek pemikiran agama dalam kegiatan ekonomi. Kekristenan dan Islam perdana. hingga ia tidak dapat melanjutkan penelitiannya tentang Yudaisme Kuno dengan penelitian-penelitian tentang Mazmur.“liberasi” (amr ma’ruf). dan pembedaan karakteristik budaya Barat. Faktor-faktor penting lain yang dicatat oleh Weber termasuk rasionalisme terhadap upaya ilmiah. Adalah “keberanian” Pak Kunto yang telah mampu menterjemahkan proposisi pada makna teks ayat disesuaikan dengan konteks keilmiahan. Pada akhirnya. [sunting] Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme .

Sampul salah satu edisi The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism.

Esai Weber Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme (Die protestantische Ethik und der Geist des Kapitalismus) adalah karyanya yang paling terkenal. Dikatakan bahwa tulisannya ini tidak boleh dipandang sebagai sebuah penelitian mendetail terhadap Protestanisme, melainkan lebih sebagai perkenalan terhadap karya-karya Weber selanjutnya, terutama penelitiannya tentang interaksi antara berbagai gagasan agama dan perilaku ekonomi.

Dalam Etika Protestan dan Semangant Kapitalisme, Weber mengajukan tesis bahwa etika dan pemikiran Puritan mempengaruhi perkembangan kapitalisme. Bakti keagamaan biasanya disertai dengan penolakan terhadap urusan duniawi, termasuk pengejaran ekonomi. Mengapa hal ini tidak terjadi dalam Protestanisme? Weber menjelaskan paradoks tersebut dalam esainya.

Ia mendefinisikan "semangat kapitalisme" sebagai gagasan dan kebiasaan yang mendukung pengejaran yang rasional terhadap keuntungan ekonomi. Weber menunjukkan bahwa semangat seperti itu tidak terbatas pada budaya Barat, apabila dipertimbangkan sebagai sikap individual, tetapi bahwa individu-individu seperti itu -- para wiraswasta yang heroik, begitu Weber menyebut mereka -- tidak dapat dengan sendirinya membangun sebuah tatanan ekonomi yang baru (kapitalisme). Di antara kecenderungan-kecenderungan yang diidentifikasikan oleh Weber adalah keserakahan akan keuntungan dengan upaya yang minimum, gagasan bahwa kerja adalah kutuk dan beban yang harus dihindari, khususnya apabila hal itu melampaui apa yang secukupnya dibutuhkan untuk hidup yang sederhana. "Agar suatu cara hidup yang teradaptasi dengan baik dengan ciri-ciri khusus kapitalisme," demikian Weber menulis, "dapat mendominasi yang lainnya, hidup itu harus dimulai di suatu tempat, dan bukan dalam diri individu yang terisolasi semata, melainkan sebagai suatu cara hidup yang lazim bagi keseluruhan kelompok manusia."

Setelah mendefinisikan semangat kapitalisme, Weber berpendapat bahwa ada banyak alasan untuk mencari asal-usulnya di dalam gagasan-gagasan keagamaan dari Reformasi. Banyak pengamat seperti William Petty, Montesquieu, Henry Thomas Buckle, John Keats, dan lain-lainnya yang telah berkomentar tentang hubungan yang dekat antara Protestanisme dengan perkembangan semangat perdagangan.

Weber menunjukkan bahwa tipe-tipe Protestanisme tertentu mendukung pengejaran rasional akan keuntungan ekonomi dan aktivitas duniawi yang telah diberikan arti rohani dan moral yang positif. Ini bukanlah tujuan dari ide-ide keagamaan, melainkan lebih merupakan sebuah produk sampingan – logika turunan dari doktrin-doktrin tersebut dan saran yang didasarkan pada pemikiran mereka yang secara langsung dan tidak langsung mendorong perencanaan dan penyangkalan-diri dalam pengejaran keuntungan ekonomi.

Weber menyatakan dia menghentikan riset tentang Protestanisme karena koleganya Ernst Troeltsch, seorang teolog profesional, telah memulai penulisan buku The Social Teachings of the Christian Churches and Sects. Alasan lainnya adalah esai tersebut telah menyediakan perspektif untuk perbandingan yang luas bagi agama dan masyarakat, yang dilanjutkannya kelak dalam karya-karyanya berikutnya.

Frase "etika kerja" yang digunakan dalam komentar modern adalah turunan dari "etika Protestan" yang dibahas oleh Weber. Istilah ini diambil ketika gagasan tentang etika Protestan digeneralisasikan terhadap orang Jepang, orang Yahudi, dan orang-orang non-Kristen. [sunting] Agama Tiongkok: Konfusianisme dan Taoisme

Agama Tiongkok: Konfusianisme dan Taoisme adalah karya besar Weber yang kedua dalam sosiologi agama. Weber memusatkan perhatian pada aspek-aspek dari masyarakat Tiongkok yang berbeda dengan masyarakat Eropa Barat dan khususnya dikontraskan dengan Puritanisme. Weber melontarkan pertanyaan, mengapa kapitalisme tidak berkembang di tiongkok. Dalam Seratus Aliran Pemikiran Masa Peperangan Antar-Negara, ia memusatkan pengkajiannya pada tahap awal sejarah Tiongkok. Pada masa itu aliran-aliran pemikiran Tiongkok yang besar (Konfusianisme dan Taoisme) mengemuka.

Pada tahun 200 SM, negara Tiongkok telah berkembang dari suatu federasi yang kendur dari negara-negara feodal menjadi suatu kekaisaran yang bersatu dengan pemerintahan Patrimonial, sebagaimana digambarkan dalam Masa Peperangan Antar-Negara.

Seperti di Eropa, kota-kota di Tiongkok dibangun sebagai benteng atau tempat tinggal para pemimpinnya, dan merupakan pusat perdagangan dan kerajinan. Namun, mereka tidak pernah mendapatkan otonomi politik, dan para warganya tidak mempunyai hak-hak politik khusus. Ini disebabkan oleh kekuatan ikatanikatan kekerabatan, yang muncul dari keyakinan keagamaan terhadap roh-roh leluhur. Selain itu, gilda-gilda saling bersaing memperebutkan perkenan Kaisar, tidak pernah bersatu untuk memperjuangkan lebih banyak haknya. Karenanya, para warga kota-kota di Tiongkok tidak pernah menjadi suatu kelas status terpisah seperti para warga kota Eropa.

Weber membahas pengorganisasian konfederasi awal, sifat-sifat yang unik dari hubungan umat Israel dengan Yahweh, pengaruh agama-agama asing, tipe-tipe ekstasi keagamaan, dan perjuangan para nabi dalam melawan ekstasi dan penyembahan berhala. Ia kemudian menggambarkan masa-masa perpecahan Kerajaan Israel, aspek-aspek sosial dari kenabian di zaman Alkitab, orientasi sosial para nabi, para pemimpin yang sesat dan penganjur perlawanan, ekstasi dan politik, dan etika serta teodisitas (ajaran tentang kebaikan Allah di tengah penderitaan) dari para nabi.

Weber mencatat bahwa Yudaisme tidak hanya melahirkan agama Kristen dan Islam, tetapi juga memainkan peranan penting dalam bangkitnya negara Barat modern, karena pengaruhnya sama pentingnya dengan pengaruh yang diberikan oleh budaya-budaya Helenistik dan Romawi.

Reinhard Bendix, yang meringkas Yudaisme Kuno, menulis bahwa "bebas dari spekulasi magis dan esoterik, diabdikan kepada pengkajian hukum, gigih dalam upaya melakukan apa yang benar di mata Tuhan dalam pengharapan akan masa depan yang lebih baik, para nabi membangun sebuah agama iman yang menempatkan kehidupan sehari-hari manusia di bawah kewajiban-kewajiban yang ditetapkan oleh hukum moral yang telah diberikan Tuhan. Dengan cara ini, Yudaisme kuno ikut membentuk rasionalisme moral dari peradaban Barat." [sunting] Referensi

Karya Weber pada umumnya dikutip menurut Gesamtausgabe kritis (edisi kumpulan tulisan), yang diterbitkan oleh Mohr Siebeck di Tübingen, Jerman.

1890-1920. Malkov A. Doubleday. New Brunswick: Transaction Books.C. Mohr (Paul Siebeck). Marianne (1926/1988). ISBN 0226425606 Mommsen. ISBN 0471923338 Richard Swedberg "Max Weber as an Economist and as a Sociologist". Mohr (Paul Siebeck). Max Webers deutsch-englische Familiengeschichte. University of Chicago Press. Max Weber The most important Weber-biography on Max Weber's life and torments since Marianne Weber. Guenther (2001). Moscow: URSS. ISBN 5-484-00414-4 [1] (Chapter 6: Reconsidering Weber: Literacy and "the Spirit of Capitalism"). 20 Juli 2007] Ahmad SahidahKandidat . ISBN 3161475577 Weber. J. July 21. Radkau. Wolfgang (1959/1974). Max Weber and the Idea of Economic Sociology. 2007 Mengenang Pemikir Pejuang [Sumber Republika. Max Weber: An Intellectual Portrait. Joachim (2005).. American Journal of Economics and Sociology Richard Swedberg. 2006. Khaltourina D.. Princeton: Princeton University Press. pakan jawaban terhadap krisis epistemologis yang melanda bukan hanya dunia Islam tapi juga budaya dan peradaban Barat. Dirk (1989).B.B. Max Weber: An Introduction to His Life and Work. Max Weber and German Politics. aturday. ISBN 0226533999 Roth. Reinhard (1960). ISBN 069107013X Korotayev A.C. Introduction to Social Macrodynamics. Max Weber: A Biography.Bendix. J. ISBN 052003194 Kaesler.

Karya-karya penting Dengan komitmennya yang tinggi. . Tentu saja. Prestasi ini tak bisa dilepaskan dari latar belakang pendidikan doktornya dalam bidang ilmu sosial dan politik di Belanda serta kegiatan organisasi keislaman di negeri ini. 1982) telah banyak diapresiasi dan mempengaruhi para aktivis pada tahun 1980-an tentang bahaya penyalahgunaan kekuasaan. tulisan beliau memberikan perhatian pada persoalan agama. Jawa Barat. meskipun keduanya pernah berbeda pendapat mengenai hubungan genetik dan kemunduran kaum Melayu pada tahun 1970-an. Tak pelak lagi. Tun Mahathir Mohammad. beliau menyatakan mempunyai ikatan spiritual dengan Mohammad Hatta dan Mohammad Natsir. Selain itu. tetapi juga sebuah karyanya Sosiologi Korupsi (terjemahan LP3ES. pembangunan. Tidak saja karena beliau dilahirkan di Bogor.Doktor Kajian Peradaban Islam dan Graduate Research Assistant di Universitas Sains Malaysia Pada 30 Juli 2007 Universitas Sains Malaysia akan menggelar seminar bertema 'Mitos Pribumi Malas' sebagai penghormatan terhadap sepak terjang dan pemikiran Profesor Syed Hussein Alatas di Asia Tenggara. Bahkan. Kepergiannya (23/1/07) telah meninggalkan banyak kenangan bagi rakyat Malaysia. turut hadir dalam upacara pemakaman. Lebih-lebih. peran intelektual. saya tidak melihat pemerintah memberikan penghormatan yang layak bagi seorang intelektual sekaliber beliau. jurnal Progressive Islam yang dirintis oleh Alatas di Belanda mendapat bantuan keuangan dari Natsir. pluralisme. korupsi. kapitalisme kolonial. kalangan pegiat dan akademisi di Indonesia seyogianya turut merasakan kehilangan. bekas perdana menteri. Namun demikian. yang pada masa itu menjadi perdana menteri. dan teori sosial. kiprah intelektualnya bisa dikenal di kancah internasional. terutama kalangan intelektual. Beliau adalah segelintir intelektual Asia Tenggara yang dikenal di dunia internasional. Tema tersebut adalah judul karya cemerlang sarjana keturunan Arab ini yang menjadi ilham bagi lahirnya disiplin orientalisme. ideologi. Sebagian besar karya ini ditulis dalam bahasa Inggris.

Sebuah bukti lain tentang kepeduliannya untuk menunjukkan bagaimana bangsa-bangsa Asia Tenggara tidak lagi hanya dijadikan sebagai objek kajian. Keteguhan pendapatnya diperlihatkan ketika beliau harus berseberangan dengan saudaranya sendiri. . Alatas memberikan pandangannya yang sejalan dengan kondisi Malaysia yang terdiri dari masyarakat multikultur. pahlawan yang acapkali dijadikan rujukan. Pelekatan sifat tidak beradab ini tidak bisa dilepaskan dari upaya ideologi kapitalisme Barat yang berusaha untuk mencari pembenaran dalam memajukan dan mengadabkan bangsa jajahan. Filipina. Lebih parah lagi. Sikap ini bisa dipahami karena meskipun Syed Hussein pernah tertarik dengan gagasan fundamentalisme Hassan al-Banna. tidak lebih dari pahlawan Melayu feodal dan berani berbuat apa saja demi kesetiaan. dan Amerika. ketaatan. bagi Alatas. Buku tersebut berusaha menganalisis asal-usul dan fungsi 'mitos pribumi malas' dari abad ke-16 hingga ke-20 di Malaysia.Sebagai salah satu perintis penyelidikan sosiologi di Asia Tenggara paling utama. Bahkan dalam bukunya Culture and Imperialism (1993). kolonialis juga memberikan makanan buruk dan opium. termasuk islamisasi sosiologi. beliau juga menulis artikel di pelbagai jurnal internasional yang diterbitkan di Jerman. adalah sebuah karangan yang berusaha mementahkan 'mitos pribumi malas' dan sekaligus mengritik warisan feodalisme yang menghinggapi masyarakat Melayu. Syed Naquib Al Attas. tentang islamisasi pengetahuan. dan pemisahan dari lingkungan alamiahnya agar pribumi merada rendah diri dan tidak cukup sehat untuk menjadi manusia. dan Indonesia. cendekiawan Muslim ternama. Tokyo. beliau menulis kurang lebih 14 buku. Religion and Modernization in Southeast Asia. Sebagai intelektual. Karya lain. Hang Tuah. Ironisnya. Said menyebut karya Alatas sebagai startingly original dan di dalam buku ini juga Said banyak merujuk kepada pemikirannya. Justru sikap ini diambil ketika yang terakhir didukung oleh pemerintah melalui Anwar Ibrahim. Mitos Pribumi Malas adalah sebuah kritik terhadap pandangan bias Barat terhadap Timur sebelum Edward Said menulis Orientalism: Western Conception of the Orient (1978). Prancis. dan penghormatan terhadap penguasa. ia membunuh kawannya sendiri secara tidak jantan karena ingin memenangkan sebuah pertarungan. Selain buku. tetapi sekaligus menempatkan metodologi Barat sebagai cara mengritik bangsanya dan sekaligus mitos yang diciptakan 'penjajah'.

sebagaimana diungkapkan oleh koleganya. Sosiologis dan Antropologis1 Oleh P. Pendek kata.beliau adalah seorang pemikir sekuler yang memisahkan peran agama dan negara dalam kehidupan masyarakat. Dr. 29/1/07). SVD Pendahuluan . Hal ini ditunjukkan dengan pengangkatan dekan berkebangsaan India dan Cina. Bahkan. Gagasannya diwujudkan dalam sebuah partai politik Pekemas (Partai Keadilan Malaysia). beliau merasa kecewa karena tidak mendapatkan kemudahan akses dan hambatan dari perpustakaan. beliau adalah pemikir sekaligus aktivis. beliau juga sekaligus pegiat praksis dunia politik. Hebatnya lagi. beliau rela berhenti sebagai 'orang nomor satu' di Universitas Malaya karena tidak mau tunduk terhadap tekanan. di usia senja beliau masih menunjukkan kepeduliannya untuk melahirkan sebuah karya tentang kaitan perpustakaan dan tradisi kesarjanaan dalam sejarah dan peradaban manusia. Bahkan. Sesuatu yang seharusnya tidak terjadi di sebuah negara yang mencanangkan negara maju pada LAKUM DINUKUM WA LIYA DINI Nuansa Dasariah Buku Islamku Islam Anda Islam Kita: Sebuah Tinjauan Teologis. Shaharom TM Sulaiman (Utusan. beliau juga pernah menjadi anggota parlemen mewakili partai ini. Sayangnya. Tidak hanya bergulat dengan wacana ilmiah. yang menimbulkan kemarahan orang-orang Melayu. Philipus Tule. Langkah kontroversi lain yang dilakukan semasa beliau menjadi 'rektor' Universitas Malaya adalah kebijakan bahwa prestasi seharusnya dijadikan ukuran dalam penentuan jabatan struktural di universitas.

cendekiawan dan aneka LSM di Indonesia untuk mencarikan solusi. bersama-sama memprognosis masa depan kehidupan bermasyarakat dan beragama yang lebih kondusif serta memungkinkan kita membuat pilihan tepat dalam menata kehidupan yang aman. data sosiologis agama-agama di dunia (internasional dan nasional). Syafi’i Anwar). tentram dan sejahtera (dkl maslahah ’ammah atau bonum commune). Pergumulan akademis seperti itu.dan antropologis. M.inklusif dari KH Abdurrahman Wahid. untuk bersama-sama mendiagnosis situasi nasional dan umat masa kini yang ditandai oleh aneka bentuk konflik bernuansa SARA. Makalah ini dikemas dalam kerangka pikir sebagai berikut: pendahuluan. teori-teori sosiologi agama. politik dan agama yang telah dirajut oleh Bapak KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam bukunya. mosaik pemikiran toleran . baik secara preventif maupun kuratif. dan beberapa kesimpulan praktis untuk konteks kehidupan beragama dan bermasyarakat di Indonesia. Selanjutnya.Pengalaman konflik antaragama yang sering dialami di persada nusantara ini. saya coba menyoroti eksistensi agama dalam masyarakat dari perspektif teologis. Saya menawarkan sebuah judul sebagaimana tertera diatas. karena kebanggaan akan profesi saya sebagai seorang pastor Katolik yang sambil menekuni studi Islamologi dan Antropologi Agama-Agama. Data Sosiologis Agama-Agama . serta menambah secercah sinar pada makalah Pembahas Pertama (bpk Dr. Acara bedah buku karya KH Abdurrahman Wahid. saya pun tetap setia pada iman dan keyakinanku pada aspek teologis dari agama wahyu (Agama Revelasi seperti Kristen dan Islam). yang diprakarsai oleh PADMA Indonesia dan The Wahid Institute ini merupakan inisiatif positif untuk mensosialisasikan karya monumental seorang Kiyai Intelektual dan Negarawan berwawasan kosmopolitan itu. telah mendorong pemerintah. menghimpun para alim ulama dan cendekiawan. sosiologis. Demi memperkaya telaah sosial. tentu saja tidak menggiring aku kepada posisi merelativisir ataupun mengabsolutir dimensi tertentu. Lalu disusul dengan pembahasan mengenai arti agama dan masyarakat. tokoh agama. tapi justeru membimbing aku kepada sikap yang lebih seimbang dalam memahami dan menghayati kehidupan keagamaan sebagai yang berdimensi wahyu (revelasi) dan yang berdimensi sosial (masyarakat) dan budaya (kultural) sebagaimana juga dilakukan oleh Gus Dur.

36 %. Tak Beragama: 14. Di Bali misalnya. Sikh: 00.4 persen dari total penduduk 3. jumlah pemeluk Hindu sekitar 87.22 %. Papua.Indonesia adalah negara dengan konsentrasi penduduk Islam terbesar di dunia yakni 88.1 juta sedangkan Muslim hanya 10.185. Muslim justru minoritas hanya 9. [ Total Penduduk dunia: 6. Ini juga terjadi di Poso. Jikalau di pulau Jawa dan Sumatra.00 %.00 %. Agama Asli: 06. maka di Minahasa.” Data Statistik Agama di Dunia Kristen : 33. Bali.00 %. Jumlah orang Kristen juga besar di Sulawesi Utara.00 %. Maluku. Hindu: 13. Kalimantan Barat dan Sumatra Utara. isu yang mencemaskan adalah “Islamisasi.000 orang mati dalam sengketa sektarian di Maluku sejak 1999. sering berdampak pada munculnya sikap-sikap emosional dan primordial.” Isue agama yang sering dipolitisasi seperti itu. konservatif ataupun modern). NTT. sbagaimana di beberapa kawasan Indonesia lainnya. Di Bali. Tao : 06. 2004). sebuah suratkabar di Manado.42 %. Arifin dan Aris Ananta. mendorong tokoh dan organisasi di pulau Dewata itu melontarkan ide “merdeka dari Indonesia.00 %. Menurut sensus Badan Pusat Statistik tahun 2000.00 %. orang sering dicemaskan oleh isue “Kristenisasi”.07 %. Yudaisme : 00. jumlah penduduk beragama Katolik dan Protestan sebesar 89. ribut-ribut RUU Pornografi. Evi N. baik secara kwantitatif (minoritas ataupun mayoritas) maupun kwalitatif (toleran ataupun fanatik/radikal. yang dianalisis dalam buku “ Indonesia’s Population” oleh Leo Surjadinata. Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah provinsi paling tinggi persentase orang Kristen di Indonesia. Masalah perbedaan agama. Data Statistik Agama di Indonesia (Nasional) . telah menimbulkan dampak samping dalam kehidupan bermasyarakat dalam bentuk konflik dan mencemarkan nama baik bangsa Indonesia yang secara historis berkarakter toleran dan damai. Flores. Sumba dan kawasan Indonesia Timur lainnya. Buddha : 06.” Harian Komentar. menulis dalam lembaran editorialnya bahwa kalau “daerah lain” bisa menjalankan syariat Islam maka Minahasa seharusnya juga boleh “merdeka. Papua. Lebih dari 10.22 % dari total 210 jiwa (BPS.000]. Timor.000.7 persen dari populasi 3. Islam: 21.3 persen.8 Juta (BPS 2000).

Disiplin ilmu yang secara khusus ditata untuk menafsir apakah agama itu rasional atau irasional dan apakah agama itu mengatasi pelbagai ujian inkoherensi dan sesuai dengan Realitas Tertinggi. Katolik: 3. Terluas dan Terdalam (yang disebut ALLAH. Kata masyarakat itu berkaitan erat dengan kata bahasa Arab MUSYAARAKAT yang berarti kemitraan. Ngga’e Ndewa) dinamakan Teologi. Tetapi suatu perkembangan baru dalam filsafat . Protestant 34.Islam : 88. 2 Teologi itu menafsir agama-agama dan keseluruhan peradaban ataupun kultur yang dipengaruhinya dalam standar etis.8 juta (Sumber BPS. teologi menjadi mitra perbincangan utama bagi sosiologi agama karena keduanya dibutuhkan dalam pengembangan civil society (masyarakat berkebudayaan) di masa depan. sahabat. baiklah kita menyimak refleksi teologis tentang konsep atau nuansa kata masyarakat itu. 3 Dewasa ini. God.88% [Total penduduk NTT: 3. Kata masyarakat (bhs Indonesia) merupakan terjemahan dari kata society (bhs Inggeris). Oleh karena itu term MUSYARAKAT (SOCIETY) diartikan sebagai suatu persekutuan sosial. term bahasa Arab MUSYAARAKAT itu berkaitan erat dengan kata MA (yang berarti YANG) dan SYARIKA (yang berarti BERSEKUTU). komunitas.2 % [ Total Penduduk Indonesia: 210 juta pada 2004] Data Statistik Agama di NTT Catholic 55. haruslah ditinggalkan demi Yang Suci itu sendiri. sekutu dan teman. Protestan: 5. Hindu: 1. Muslim 9. 4 Dalam artian sosiologis. Budha: 0. yang berkaitan erat dengan kata socius (bhs Latin) yang berarti kawan. kolaborasi.84 %.49%.22 %.81 %. Lain-lain: 0. kooperasi.07%. Jihad dan kemartiran dalam abad pertengahan) ataupun genocide sebagai usaha pemusnahan secara sistematis dan teratur terhadap suatu kelompok masyarakat atas nama agama dengan penindasan serta korban-korban dehumanisasi ataupun aktivitas yang menuntut kita berbohong kepada diri sendiri ataupun sesama demi agama.46%. Pelbagai orientasi keagamaan yang cenderung melahirkan perang suci dalam artian harafiah (mis. persekutuan dari insan-insan yang bersahabat (Socius) dan yang berakal budi (LOGICUS). Other 0. 2000)] Masyarakat Beragama: Tinjauan Teologis dan Sosiologis Sebelum kita menggumuli makna sosiologisnya.05 %.87 %. Selanjutnya arti kata masyarakat baik secara etimologis maupun terminologis kiranya membantu kita memahami secara lebih baik karakter teologisnya dalam aktivitas pembangunan.

Kelompok pertama mengatakan bahwa agama berasal dari a (tidak) dan gam (kacau). Ad-Din juga berarti syariah. Agama berarti tidak pergi. Manusia adalah insaninsan sosial yang menyadari keterbatasan dirinya sendiri serta membutuhkan sesama dan kekuatan supranatural yaitu ALLAH. dinul-ummah (agama yang diwajibkan agar umat manusia memeluknya). Agama berarti tidak kacau. term SYARIKA senantiasa dihubungkan dengan ide teologis tidak mempersekutukan Allah Esa (TAWHID) dengan dewa/i lainnya. membagi. Dalam arti itulah masyarakat mengandung konsep persekutuan insan-insan rasional yang percaya akan Allah Esa. 5 Aneka Definisi Agama Kata agama berasal dari bahasa Sanskerta yang ternyata mempunyai beberapa arti. dan yang ditautkan dengan SYARIKA (mempersekutukan. tetap di tempat. Oleh sebab itu. Karena itu. kata din mengandung arti menguasai. Dalam Islam. kebiasaan. utang. Dalam bahasa Arab. Ad-Din juga berarti millah. tapi juga ens sociale dan ens teologicus. Secara terminologis agama juga didefinisikan sbb: Agama sebagai ad-Din: Din dalam bahasa Semit berarti undang-undang atau hukum. mendudukkan. patuh. Pandangan kedua mengatakan bahwa a (tidak) dan gam (pergi). Yang lain mengatakan bahwa agama berarti teks atau kitab suci. karena agama biasanya mempunyai Kitab Suci. Malahan implikasi teologis itu lebih jelas bila dipahami kata MA sebagai sinonim dengan LA yang berarti TIDAK. berpartisipasi). yang mengikat hubungan mereka dengan Allah dan sesamanya. Masyarakat adalah persekutuan insan-insan beragama. balasan. din Nabi (agama dari Nabi). Dengan kata lain. nilai-nilai keagamaan. sedari kodratnya isi konsep MASYARAKAT (persekutuan sosiologis) senantiasa berimplikasi teologis. agama itu berdampak sosial. Bila kata din dihubungkan dengan kata Allah jadi din Allah (agama dari Allah).manusia menggaris-bawahi bahwa manusia itu bukan saja merupakan ens rationale (atau ens logicus). atau mengikat yakni mengikat dan memepersatukan segenap pemeluknya dalam satu ikatan yang erat (ummat) dan juga dengan Allah mereka. nilainilai iman harus dihayati dan diamalkan dalam kebersamaan. diwarisi turun temurun. yakni nama bagi perarturan-peraturan dan hukum-hukum yang telah disyariatkan Allah selengkapnya (ataupun prinsipprinsip saja) dan diwajibkan kepada umat Islam untuk melaksanakannya. . Agama dan nilainilainya harus menjadi sumbangan bagi pembangunan masyarakat bangsa umumnya dan pelestarian alam dan lingkungan hidup khususnya.

yang mencakup kenyataan bahwa semua agama punya harapan yang standard (umum) namun setiap pribadi penganutnya bisa memperoleh suatu pengalaman langsung dan pribadi (subyektif) dalam berkomunikasi dengan realitas ultimate (supranatural) itu. Namun hampir semua pakar agama mengemukakan bahwa ada lima dimensi dasar yang paling menonjol dalam setiap agama dan dapat dipakai untuk mengukur atau menguji kadar/mutu keagamaan (religiositas) seseorang. Dalam Islam dan Katolik…… contoh konkrit) Dimensi pengalaman keagamaan (the experience dimension or religious experience). yang mencakup ekspektasi (harapan) bahwa seorang penganut agama menganut dan memahami suatu pandangan teologis yang menyebabkan dia mengakui dan menerima kebenaran agama tertentu.6 Bertolak dari konsep literer itu. Cicero yang berpendapat bahwa religion (religio) berasal dari kata legare yang berarti mengambil (menjemput). Glock dan Stark 8 mengemukakan bahwa betapa sulit mengukur religiositas seseorang ataupun komunitas (umat) karena setiap agama bisa mengukurnya dengan rujukan pada hal-hal seperti: keanggotaan. memperhatikan tanda-tanda tentang suatu hubungandengan ketuhanan atau membaca alamat. Emosi keagamaan yang menyebabkan manusia menjadi religius. dewadewi atau makhluk halus yang mendiami alam gaib. Sistem upacara religius yang bertujuan mencari hubungan manusia dengan Tuhan. Emile Durkheim dari Perancis memberikan definisi sbb: Religion is an interdependent whole composed of beliefs and rites (faith and practices) related to sacred things. 7 Dari definisi tersebut terungkaplah empat komponen berikut: (1). mengumpulkan. yang menjadi kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap penganut agama.Agama juga didefinisi sebagai Religi: dari bahasa Latin (religio). unites adherents in a single community known as a church. (3). (4). Kelima dimensi komitmen keagamaan (dimensions of religious commitment) itu adalah sbb: Dimensi iman (belief dimension). Sistem kepercayaan yang mengandung keyakinan serta bayangan-bayangan manusia tentang sifat-sifat Tuhan. etika dan moralitas. Namun para pakar masih berbeda pendapat tentang asal dan akar katanya yang asali serta artinya. . yang mencakup ibadat (rituals) dan devosi. pandangan dan cara hidup. Diantara para penulis Romawi. Dimensi praktis keagamaan (religious practice). dll. (bdk. kepercayaan pada doktrin agama. Kelompok-kelompok religius atau kesatuan-kesatuan sosial yang menganut sistem kepercayaan tersebut dan yang melakukan sistem upacara-upacara. menghitung atau memperhatikan sebagai contoh. (2). serta wujud dari alam gaib (supranatural).

Durkheim dan Max Weber.Dimensi pengetahuan (the knowledge dimension). Kitab Suci dan tradisi. ritus. agama pun akan tetap lestari. agama adalah cara khas berpikir tentang eksistensi kolektif. Setiap masyarakat dalam proses menghayati cita-citanya yang tertinggi akan menumbuhkan ”kebaktian” pada representasi-diri simboliknya. Dimensi ini mengidentifikasi efek dari keempat dimensi diatas dalam praktek. agama adalah proyeksi masyarakat sendiri dalam kesadaran manusiawi para anggotanya.” 12 Pandangan Durkheim tersebut tercermin pula dalam teori R. yang merujuk pada ekspektasi bahwa penganut agama tertentu hendaknya memiliki pengatahuan minimum mengenai hal-hal pokok dalam agama: iman. yang mempengaruhi sikap hidup dalam penghayatan agamanya setiap hari. yang tampak dalam dokumen-dokumen berdirinya Negara Amerika Serikat. seperti upacara-upacara dalam pengukuhan jabatan-jabatan kenegaraan dan hari-hari pesta yang memperingati peristiwa-peristiwa penting yang memupuk America’s national self understanding. 14 . menegaskan dan meneguhkan perasaan dan gagasan kolektifnya yang menciptakan kesatuan dan kepribadiannya. menjadikan agama sebagai suatu yang sentral dalam teori sosial. Bellah mengenai agama sipil (civil religion). 13 Menurut pengamatan Bellah. Dimensi iman dan pengetahuan memiliki hubungan timbal balik. Sejauh masyarakat masih ada dan berlangsung. yaitu suatu unsur penting yang menciptakan stabilitas serta perubahan sosial. Sebagai “realitas intra-sosial”. Aneka Teori Sosiologi Agama 9 Salah satu aliran sosiologi yang berbicara mengenai prospek agama-agama adalah sosiologi fungsional. Bagi Bellah. 10 Aliran sosiologi modern sebagaimana dipelopori oleh E. pengalaman serta kehidupan sehari-hari. agama menjadi faktor esensial bagi identitas dan integrasi masyarakat. civil religion adalah subordinasi bangsa pada prinsip-prinsip etis yang mengatasi bangsa itu sendiri dan atas dasar prinsip itu martabat bangsa dinilai.” 11 Dengan kata lain. Durkheim memusatkan telaahnya pada pertanyaan dasar: bagaimana masyarakat dapat menghasilkan dan mempertahankan kohesi sosialnya? Bagi Durkheim. agama itu terpengaruh oleh proses sosial itu sendiri. di Amerika ada gejala yang disebutnya civilreligion. Agama merupakan suatu sistem interpretasi-diri kolektif. suatu konsep yang berasal dari Rousseau. Dimensi konsekwensi sosial (the consequences dimension). Aliran ini memandang agama sebagai realitas sosial.

Ritus keagamaan pun berfungsi meningkatkan terus menerus. Marx menekankan peranan institusi (ekonomi dan sosial) dalam membentuk kesadaran. Selanjutnya bagi Peter Berger. of a sacred that will be capable of maintaining itself in the ever present face of chaos”. Seperti Heidegger. Agama juga berpautan dengan penciptaan budaya. agama merupakan langit-langit sakral (the Sacred Canopy) yang terbentang di atas kerapuhan (vulnerabilitas) eksistensi manusia. of an all embracing sacred order. Untuk tujuan itu. Ia menelaah agama dari segi dampaknya terhadap masyarakat. tetapi juga dalam proses melestarikannya. waktu yang mengatur hidupnya dan masa depannya. tetapi dari tulisannya dapat dibaca bahwa baginya agama memberikan ”kerangka makna” pada dunia dan perilaku manusia. Bukunya The Protestan Ethics and the Spirit of Capitalism 16 merupakan rintisan penelitian dan pendekatan baru dalam abad XX mengenai peranan kreatif agama dalam pembentukan kebudayaan. lewat pengingatan kembali (perayaan) dan legitimasi religius sehingga dapat berinteraksi dengan perbuatan manusia seharihari. Kekuatan yang dapat meredakan kecemasan ini adalah agama. Pada kesimpulannya Berger mengingatkan pengertian agama dalam uraiannya sebagai: “the establishment through human activity. yang berpuncak pada kematian. Kesadaran tidak dapat lain daripada eksistensi yang sadar dan eksistensi manusia adalah . Parsons. Ia justeru menemukan bahwa agama merupakan faktor penggerak perubahan sosial. setiap tradisi religius membutuhkan komunitas religius untuk dapat mempertahankan kredibilitasnya: jemaah.” 15 Kendatipun Weber tidak memberikan definisi eksplisit mengenai agama. sangha dan lain-lain. termasuk kematiannya. 18 Kritik terhadap Agama Pembicaraan mengenai sosiologi agama serta prospek agama-agama tidak akan lengkap bila kita mengabaikan kritik atas agama oleh Marxisme. suatu perspektif dengan mana manusia memahami dunia.Max Weber memusatkan perhatiannya pada masalah bagaimana masyarakat berubah dan mengalami kemajuan. Berger melihat kecemasan manusia ketika menghadapi maut yang merupakan ciri ”eksistensialis”-nya. that is. Agama secara historis merupakan alat legitimasi institusí sosial paling efektif dengan memberikan status ontologis padanya. ummat. ruang di mana ia ada. dengan menempatkannya dalam suatu kerangka sacral dan kosmis. ”Perhatian utama Weber adalah agama sebagai sumber dinamika perubahan social dan bukan sebagai instrumen peneguhan struktur masyarakat. Menurut T. kegiatannya. 17 Agama tidak hanya penting dalam proses konstruksi dunia manusiawi.

sebagai kesadaran palsu yang mencerminkan dan melindungi ketidakadilan tatanan sosial. terkadang sarkastis dan heroik (pemberani) mosaik ide brilian seputar ISLAM dalam tautannya dengan masyarakat. 2006: 66-ss). Negara. perang dan ketidakadilan sosial. tapi kesadaran ditentukan oleh kehidupan. . ISLAM ANDA. Mosaik Pemikiran Agama yang toleran – inklusif dari KH Abdurrahman Wahid: Lakum Dinukum wa Liya Dini Melengkapi aneka pandangan para pakar sosiologi dan sejarahwan tersebut. kehidupan tidak ditentukan oleh kesadaran. agama. Demokrasi (Wahid. untuk pertama kalinya dalam sejarah oleh penyebaran secara mondial peradaban modern. yang sekaligus menjadi judul bukunya ISLAMKU. 21 Dalam gaya bahasanya yang plastis. plural dan inklusif itu terungkap baik secara eksplisit maupun implisit dalam artikelnya berjudul ISLAMKU. kontekstual. Masalah masa depan agama muncul..proses hidup yang aktual . 20 Toynbee mengharapkan bahwa agama yang baru itu adalah agama yang memungkinkan bangsa manusia mengatasi kejahatan yang paling mengerikan dan mengancam kelestarian bangsa manusia seperti keserakahan. secara sosial. kiranya mungkin bahwa agama itu ditransformasikan sedemikian radikal sehingga hampir tak dikenal lagi. Hal ini dapat merupakan versi baru dari agama lama. tampil dengan wawasan religius yang ”Kosmopolitan yang menyejarah (historis).. ISLAM ANDA. 19 Marx memandang agama sebagai proyeksi diri masyarakat dalam kesadaran. agama akan digantikan oleh pemahaman yang realistik tentang kehidupan sosial. Mosaik pemikiran religius yang kontekstual. Manakala manusia dibebaskan dari penindasan ekonomis dan dari konsekwensi dehumanisasinya. ISLAM KITA yang dimuat dalam koran Kedaulatan Rakyat 29 April 2003).q. Masyarakat. KH Abdurrahman Wahid).. Kiyai dan Cendekiawan (c.. lingkungan artifisial yang diciptakan bangsa manusia lewat penerapan ilmu pada teknologi untuk memuaskan keserakahan. toleran..... kesadaran dari awal adalah produk sosial dan akan tetap begitu selama manusia masih ada. karena semua agama yang ada sekarang terbukti tidak memuaskan. kenyamanan dan kedamaian”.. Toynbee dalam dialog dengan Ikeda sampai pada kesimpulan bahwa ”bangsa manusia telah disatukan.. Agama di masa depan tidak harus merupakan agama yang sama sekali baru. plural dan inklusif serta menawarkan kesejukan.. ISLAM KITA: Agama. Tetapi bila agama lama harus dihidupkan dalam suatu bentuk yang mampu menjawab kebutuhan baru bangsa manusia.

saya ingin menggaris-bawahi beberapa pokok pikiran berikut ini... 22 batas wilayah dan agama 23 serta ideologi. maupun secara intelektual telah membuktikan kepiwaiannya untuk belajar tanpa kenal batas waktu.. Itulah yang dinamakannya ISLAMKU. M. Tanpa mengelaborasi semua pemikiran positif dan universal sebagaimana terkandung dalam karya monumental itu. 2006: 66). Pengembaraan individualnya ini. Syafi’i Anwar. Sepantasnyalah kita tidak malumalu lagi untuk menerapkan suatu kebenaran (al-haqq) dalam kebijaksanaan legal (istihsan). hingga tahun 1960-an di Mesir dan Baghdad. sekalipun dari bangsa-bangsa lain yang menjadi saingan kita”. dan Islam Perdamaian dan Masalah Internasional (Bab VII). yang sering berdampak pada pembentukan sikap fanatisme atau radikalisme yang terwujud dalam aneka bentuk . ataupun yang telah dipaparkan oleh Pemakalah Pertama (Bpk Dr. dan meyakini kebenaran itu darimana pun asalnya. Islam dan Ekonomi Kerakyatan (Bab IV). Islam Pendidikan dan Masalah Sosial Budaya (Bab V). Penguatan ISLAMKU Mengantisipasi Pendangkalan Agama Pada penghujung pengembaraan intelektual dan imannya. 24 Dengan wawasan demikian. Sikap demikian mengisyaratkan apa yang telah dicanangkan filsuf kondang Al-Kindi (800 – 870M) dari Kufa (Arab) bahwa ”kita patut bersyukur kepada usaha atau jasa para filsuf yang telah berhasil mengembangkan pengetahuan yang benar.. Kultural dan Gerakan (Bab I). baik secara geografis spasial sejak dari tahun 1950-an di Jombang. Gus Dur sampai pada suatu titik kesadaran akan watak kosmopolitannya. dapatlah diyakini kemampuan untuk mengatasi pendangkalan pemahaman keagamaan.politik dan kebudayaan dikemasnya menjadi 7 (tujuh) bab sebagai berikut: Islam dalam Diskursus Ideologi.. termasuk saling belajar dan saling mengambil berbagai ideologi non-agama serta agama-agama lain (Wahid. Islam Keadilan dan Hak Asasi Manusia (Bab III). Islam Negara dan Kepemimpinan Umat (Bab II). baik dalam Kata Pengantar Buku maupun dalam paparan lisan hari ini). dengan pemikirannya yang khas dan berbeda dari orang-orang lain. Islam Tentang Kekerasan dan Terorisme (Bab VI).

Kadar penghormatan terhadap Islam seperti ini ditentukan oleh banyaknya orang yang melakukannya sebagai keharusan dan kebenaran (Wahid. bagiku agamaku (bdk. dalam pandangan Islam tidak diwajibkan adanya suatu sistem Islam. 2006: 99). Menurut pengamatanku. yang berbeda dari penghayatan Islam pribadinya. 28. Q. apresiasi Gus Dur terhadap pluralitas pemahaman dan penghayatan Islam itu telah menjadi sumber inspirasinya juga untuk mengapresiasi pluralitas agama-agama dunia serta respeknya terhadap kebebasan beragama. maupun karena Mukhtamar NU 1935 di Banjarmasin menegaskan hal itu. 2006: 299). Penghargaan akan ISLAM ANDA Menjadi Buaian Toleransi dan Pengakuan Akan Pluralitas Gus Dur menyadari bahwa Islam sebagai agama Wahyu itu dihayati dalam konteks pribadi. sebagai kebenaran religius yang diperoleh atas dasar keyakinan. Bali dan Jakarta (Wahid. 107: ”Tiadalah Ku-utus engkau kecuali sebagai penyambung tali persaudaraan dengan sesama umat manusia // wa maa arsalnaaka illaa rahmatan li al-’aalamiin” (Wahid. Sebagai tokoh agama dan negararawan. sebagaimana diamanatkan dalam beberapa ayat Quran: Lakum dinukum wa liya dini // bagimu agamamu. 14.2. 25 Penolakan terhadap Negara Agama dan Terorisme Agama Secara tegas dan explisit Gus Dur menyatakan bahwa dia menolak ’ide pembentukan sebuah negara agama’ dan ’aneka bentuk terorisme atas nama agama’. dan bukan pengalaman.56). Baginya. tambahan pula karena ketika NU mendeklarasikan berdirinya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tidak disebutkan bahwa partai itu adalah Partai Islam. 256. Gus Dur sangat menghargai penghayatan Islam sesamanya yang lain. 2006: 78). Hal itu berarti tidak ada keharusan untuk mendirikan sebuah negara Islam. Aceh dan Sampit. Menurut Gus Dur. Poso. Fenomena Islam yang demikianlah yang dinamakannya ISLAM ANDA. 4.tindak kekerasan di pelbagai tempat seperti di Maluku. 8. sebagaimana ditegaskan pula dalam Q. karena NU sejak semula telah menerima kehadiran upaya berbeda-beda dalam sebuah negara atau kehidupan sebuah bangsa dan tidak mau terjebak dalam . Sikap inilah yang bakal menjadi buaian bagi toleransi dan pengakuan akan pluralitas Islam itu sendiri dan pluralitas agama serta kepercayaan lainnya didalam masyarakat dunia dewasa ini. 29. toleransi dan respek terhadap kebebasan beragama itu merupakan salah satu amanat dasar dalam Quran. baik karena tidak adanya pengaturan yang jelas dalam Quran tentang sistem Islam itu (Wahid. 2006: 67-68). baik religius maupun sosial dan budaya yang unik.21.

agama Islam sebagai AGAMA KITA bukanlah sebuah agama politik semata-mata. 2006: 5-7. 307-308). 84. Kesadaran akan fungsi agama Islam dan semua agama lainnya dalam penegakan HAM.. terjadilah aneka bentuk terorisme yang mengatas-namai agama Islam. teristimewa dalam zaman dimana korupsi. Oleh karena itu. 2006: 304). Para pelaksana kegiatan teror itu menganggap diri mereka bertindak atas nama Islam (Wahid.. Bahkan dapat dikatakan bahwa porsi politik dalam ajaran Islam itu sangatlah kecil. Gus Dur menulis bahwa dalam jenis-jenis tindakan teroristik itu. yang terkait langsung dengan kepentingan orang banyak. Dengan kata lain. Mengupayakan AGAMA KITA sebagai Sarana Kemasyarakatan. 106 – 110. Perjuangan penegakan hukum dan keadilan harus menjadi agenda utama dari semua agama dan pemerintahan.tasyis an-nushush al-muqaddasah atau politisasi terhadap teks keagamaan (Wahid. Keadilan dan Perdamaian Dunia Bagi Gus Dur.. para pemuda muslim jelas-jelas terlibat dalam terorisme yang dipersiapkan. maka dia dengan tegas membela kaum minoritas dan menolak semua tindakan terorisme yang mengatasnamai Islam mayoritas.. Oleh karena itu. keadilan dan Perdamaian Dunia menjadi opsinya yang fundamental dari agama Islam. karena mayoritas Muslim di berbagai negeri tidak terlibat dalam pertikaian dengan tindakan kekerasan seperti itu (Wahid. penegakan Hak Asasi Manusia (HAM). dialog terus menerus tentang penegakan hukum dan keadilan. Islam menjadi sarana kemasyarakatan. Islam lebih mementingkan masyarakat adil dan makmur. maka politik akan menjadi panglima bagi gerakan-gerakan Islam dan terkait dengan institusi yang bernama kekuasaan. 2006: 304).33). masyarakat sejahtera.. pelanggaran hukum. peremehan nilai-nilai religius merajalela di dunia. 2006: 32 . Sebagaimana terungkap dalam artikelnya berjudul ”NU dan Terorisme Berkedok Islam” (Duta Masyarakat. yang lebih mementingkan fungsi pertolongan kepada kaum miskin dan menderita (Wahid... Keadilan dan Perdamaian Dunia juga ditegaskan oleh Gus Dur pada kesempatan menjadi Keynote Speaker dalam sebuah konferensi mengenai Good Governance and Global Ethics. perusakan Mesjid Babri oleh warga Hindu di India. Sebagaimana halnya Gus Dur menolak tindakan kekerasan di Irlandia Utara antara penganut Protestan dan Katolik.. 26 Di hadapan konsep pembentukan Negara Islam dan penolakannya baik oleh sekelompok Muslim sendiri maupun oleh Pemerintah dan warga minoritas. Kalau hal ini tidak disadari. Penegakan HAM... 100-102. di Paris pada Mei 2003. serta sharing spiritualitas baru . 12 April 2003).

391). Dengan demikian. praktik dan cita-cita yang ada dalam masyarakat Islam di pelbagai zaman dan tempat. 30 Bowen (1993). Memperkaya Wawasan Keagamaan dengan Pendekatan Akademis dan Kultural Tak dapat disangkal bahwa para kerabat yang beriman Muslim senantiasa memandang agama Islam sebagai norma dan ideal. Dari sudut pandangan ilmiah (akademis) dengan pendekatan kultural ini. termasuk Indonesia. 355-359). 32 Barnes (1995. 33 Tule (2004) 34 dan lain-lain merupakan . Sealur dengan pandangan Gus Dur itulah. kita tak beralasan untuk mengatakan bahwa suatu masyarakat Islam tertentu dapat mewakili Islam normatif ataupun Islam ideal lebih baik daripada masyarakat Islam lainnya. Di dalam Islam aktual itulah tercakup aneka gerakan. studi kawasan Islam atau Islamic Area Studies sangat dibutuhkan dan mendesak (Wahid. tetapi yang belum tentu terwujud dalam tingkah laku sosial politik umat Islam sehari-hari. Sedangkan sebagai cendekiawan. 2006: 22-23. norma-norma dan nilai-nilai yang diterima umat Islam sebagai perwujudan wahyu ilahi. Dalam kaitan dengan ‘norma’. politik. Oleh karena itu. maka studi antropologi Islam sebagaimana dirintis oleh Evans-Pritchard (1949). studi tentang ajaran (doktrin) Islam yang universal hendaknya senantiasa dibarengi dengan usaha memahami aneka pola penghayatan iman di pelbagai komunitas muslim lokal yang diharapkan mampu menjelaskan pelbagai cita-cita dan praktik ke-Islaman yang beraneka ragam (pluralitas).antara para tokoh dan pemeluk berbagai agama sangatlah bermanfaat (Wahid. 31 Heffner (1985). 29 Siegel (1969). Dalam Islam normatif itu termuat segala ketentuan. 28 Geertz (1960). Islam normatif adalah Islam ideal atau Islam yang dicita-citakan sebagaimana tersurat dan tersirat dalam kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah yang autentik. 27 Gus Dur menyadari hal itu sehingga dia menandaskan bahwa kendati pun Islam diterima sebagai kebenaran abadi yang bersifat universal dan berlaku di segala tempat dan zaman. namun cita-cita dan praktiknya harus dipelajari sebagaimana ‘adanya’ pada tempat dan zaman yang berbeda-beda sesuai komunikasi kultural timbal balik yang terjadi antara budaya Islam dengan budaya lokal dalam nuansa akomodatif. 2006: 280 – 283. ekonomi dan budayanya. 1996). baik Muslim maupun non-Muslim bisa memandang Islam sebagai suatu objek studi dan sasaran penelitian. suatu distingsi jelas hendaknya dibuat antara Islam normatif dan Islam aktual. Sedangkan Islam aktual adalah Islam historis atau sejarah sebagaimana yang telah dipahami dan diterjemahkan kedalam konteks sejarah oleh umat Islam dalam menjawabi aneka tantangan yang kompleks dalam bidang sosial.

baik dalam tataran nasional maupun mondial. jahiliyah modern. yang riil dan partikular. Dalam rangka ini pula menjadi penting peranan para pemikir agama. Maka dapat dikatakan bahwa masa depan agama dan masyarakatnya dalam arti tertentu tergantung pada pengembangan wawasan falsafah dan teologinya yang kontekstual. yang sedang menghadapi tantangan ateisme. antara lain : Penghargaan akan nilai-nilai duniawi serta otonomi manusia dan nilai-nilai yang berkaitan dengannya. Faktor lain yang perlu diperhitungkan juga ialah persepsi insan beragama itu sendiri mengenai dirinya dalam proses sosio-kulturalnya: bagaimana ia mendefenisikan dirinya. 35 Dalam konteks global setiap agama memiliki dimensi yang normatif-ideal. namun selalu ada dimensi yang dinamis dan berubah. hak-hak asasi dan lain sebagainya. . reformulasi visi keagamaan dan berbagai gerakan reformasi agamaagama termasuk apa yang dilakukan oleh para pakar Indonesia (semisal bapak KH Abdurrahman Wahid) mempunyai pengaruh terhadap masa depan agama. Praksis dalam arti perlunya selalu memuat refleksi atau kajian yang memungkinkan perkembangan dan kreativitas. sosiologi dan antropologi agama. Meskipun demikian. terutama para teolog (alim ulama) dan para mahasiswa/i dari aneka agama di Indonesia. dari pengamatan sosiologis makro atau mikro dapat ditunjuk faktor-faktor utama perubahan struktur dan perilaku agama manusia zaman sekarang. Tendensi agama masa depan hendaknya lebih memberi tekanan pada orthopraksis daripada orthodoksi. Budaya reflektif ini lebih mendesak lagi dalam dunia dan masyarakat yang sedang mengalami perubahan pesat dan mendalam dalam agama. politik dan ekonomi itu. Penilaian mengenai agama-agama harus ditempatkan dalam konteksnya yang spesifik. tugasnya dan sikap imannya terhadap perkembangan situasi sosial-budaya. seperti kemandirian. dapatlah ditarik kesimpulan sebagai berikut : Masa depan agama-agama di dunia ini tidak lagi ditentukan hanya oleh wahyu (revelasi) dan instrumen legitimasi (seperti institusionalisasi teologis) serta fenomena sosial kwantitatif (minoritas-mayoritas) sebagaimana diwacanakan para sosiolog dan teolog. Kesimpulan Dari khasanah pemikiran Gus Dur sebagaimana terungkap dalam karya monumentalnya itu serta berdasarkan analisis yang dikedepankan dari perspektif teologi. yang sama dan konstan. radikalisme atau fanatisme sempit.sumbangan besar demi memperkaya pemahaman agama Islam yang lebih kontekstual dan kultural. Berbagai macam usaha pembaharuan. kebebasan.

Tapi lebih lanjut setiap warga pun akan dapat berkata dan lebih memahami apa artinya LAKUM DINUKUM WA LIYA DINI (Bagimu Agamamu dan Bagiku Agamaku). Islam Kita. Untuk itu. Dibutuhkan spiritualitas baru. Perjumpaan antaragama dan antarpenganut agama dengan latar kebudayaan beraneka seperti di Indonesia merupakan kesempatan akulturasi yang luas dan membuka kemungkinan pembaruan. khususnya para pemimpin agama (Wahid.Pandangan yang ”pluralistik”. perilaku serta orientasi pada nilai baru dari kebanyakan insan beragama. . Etika normative Pertama. 2006: 280). munculnya aneka stratifikasi sosial sebagai akibat proses modernisasi. Islam Anda. Setiap warganya yang beragama akan dapat berkata: Islamku. Migrasi dan urbanisasi manusia serta konsentrasi penduduk pada pusat-pusat produksi serta kota-kota besar telah melahirkan perubahan struktur sosial. dibutuhkan suatu ’spiritualitas baru’ (religiositas universal atau perennial) yang harus dihayati oleh semua umat beriman. teologis. Perjumpaan antarbudaya dan antaragama selalu memuat proses hermeneutik. Etika Deskriptif.[] tahun 2020. Akhirnya kemampuan agama untuk memberikan makna pada hidup manusia dan kemampuan untuk bersama-sama memecahkan masalah-masalah kemanusiaan zaman sekarang dalam semangat CINTA SEJATI dan dengan SPIRITUALITAS BARU akan merubah masa depan Indonesia. Hanya dengan modal ’spiritualitas baru’ itu. antropologis-kultural) terhadap dialog antaragama dapat berjalan dengan spirit atau jiwa yang menghidupkan. yang membawa kepada pemahaman baru baik mengenai agamanya sendiri maupun agama serta budaya yang lain dan yang ikut menentukan corak penghayatan keagamaan yang terbuka dan inklusif di masa depan. Manusia merupakan makhluk yang terus menerus menafsirkan situasinya. pelbagai pendekatan interdisipliner (politis. Ini berkaitan dengan semakin berkembangnya sarana dan prasarana transportasi dan komunikasi.

Kedua. tanpa menilai. Berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola perilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia. Ia menghimbau manusia untuk bertindak yang baik dan menghindari yang jelek. Sedangkan Etika Normatif memberi penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan diputuskan.Berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan pola prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Ia berbicara mengenai kenyataan penghayatan nilai. serta memberi penilaian dan himbauan kepada manusia untuk bertindak sebagaimana seharusnya berdasarkan norma-norma. dalam suatu masyarakat. dan tentang kondisi-kondisi yang memungkinkan manusia bertindak secara etis. Bedanya dari kedua macam etika : Etika Deskriptif memberi fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang perilaku atau sikap yang mau diambil. . Etika Deskriptif berbicara mengenai fakta apa adanya. tentang sikap orang dalam menghadapi hidup ini. Etika Normatif berbicara mengenai norma-norma yang menuntun tingkah laku manusia. atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia. yaitu mengenai nilai dan pola perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas konkrit yang membudaya. dan apa tindakan yang seharusnya diambil untuk mencapai apa yang bernilai dalam hidup ini. Etika Normatif.

Pimpinan STIKOM Wangsa Jaya Banten. Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini. diposkan oleh Herry Erlangga pada 19:39 3 Komentar Mengenai Saya Herry Erlangga Indonesia Dosen. Lihat profil lengkapku Link Google News Prilaku Konsumen Tutorial Blog Wirsausaha Studi Kelayakan Bisnis Posting Sebelumnya . Etika pada akhirnya membantu kita untuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang mau kita lakukan dalam situasi tertentu dalam hidup kita sehari-hari. Etika membantu kita untuk membuat pilihan.Jadi dapat dikatakan bahwa etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan sehari-hari. pilihan nilai yang terjelma dalam sikap dan perilaku kita yang sangat mewarnai dan menentukan makna kehidupan kita.

sementara etika normatif berkenaan sama ada ia adalah betul bagi memegang kepercayaan sedemikian. yang merupakan penyiasatan empirik berkenaan kepercayaan etika manusia. Etika normatif ialah satu cabang etika falsafah yang menyiasat persoalan yang timbul apabila kita memikirkan mengenai soalan "bagaimana seseorang patut bertindak. etika normatif kadang kala dikatakan bersifat preskriptif. etika normatif boleh dibahagi kepada lapangan-kecil teori moral dan etika diguna (applied ethics). ensiklopedia bebas. bukannya deskriptif. . sedangkan meta-etika mengkaji erti bahasa moral dan metafizik fakta moral.PEMIKIRAN-PEMIKIRAN FILSAFAT KOMUNIKASI Evasi Komunikasi Faktor-Faktor Penunjang Komunikasi Efektif Proses Komunikasi Komunikasi. Bagaimanapun. Dengan kata lain. Secara umum. Nilai dan Norma Pengantar dan Pengertian Etika Etika normatif Daripada Wikipedia. pada versi tertentu padangan meta-etika yang dipanggil realisme moral.Pengertian dan Hakikatnya Hakikat Filsafat Komunikasi Etika. etika perihalan adalah berkenaan menentukan berapa bahagian orang yang percaya membunuh sentiasa salah. sempadan antara displin-disiplin kecil ini semakin kabur apabila ahli teori moral menjadi lebih berminat dalam masaalah kegunaan (applied problem) dan etika diguna menjadi semakin berpengaruh. Dengan itu.. Etika normatif juga berbeza dari etika perihalan (descriptive ethics). fakta moral adalah kedua-dua preskriptif dan deskriptif pada masa yang sama. Pada tahun kebelakangan. secara moral?" Etika normatif berbeza dengan meta-etika kerana ia menyiasat piawaian bagi tindakan salah atau betul.

Ekoran daripada A Theory of Justice dan karya utma lain teori normatif yang diteritkan pada 1970-an. cuba untuk tiba kepada kesimpulan normatif melalui renungan meta-etika. atau keadilan (dia menggelarnya sebagai tugas prima facie separa betul). Selajutnya. ahli falsafah telah mempersoalkan sama ada tugas prima facie juga boleh dijelaskan pada tahap teori. seperti R. Kantianisme. teori moral menjadi semakin rumit dan tidak lagi hanya berkenaan betul atau salah. Menjelang abad ke-20. Ross dalam bukunya. The Right and the Good. D. sementara yang lain mempertahankan teori berdasarkan bahawa ia tidak perlu sempurna bagi merangkumi kesedaran moral penting.Teori moral tradisi menumpu kepada mencari prinsip moral yang membenarkan seseorang menentukan sama ada sesuatu tindakan adalah betul ataupun salah. Teori klasik dalam aliran ini termasuk utilitarianisme. Pada pertengahan abad terdapat kerumpangan lama dalam pembagunan etika normatif semasa di mana ahli falsafah sebahagian besarnya mengalih dari soalan normatif kepada meta-etika. bidang teah melihat pembaharuan luar biasa yang kekal hingga ke hari ini. dan sesetengah ahli falsafah mendesak agar menjauhi dari membuat teori umum sama sekali. Pada 1971. Gaya ini mungkin bermula pada 1930 dengan W. Di sini Ross menegaskan bahawa teori moral tidak boleh mengatakan secara umum sama ada sesuatu tindakan adalah salah atau betul tetapi hanya sama ada ia cenderung kepada betul atau salah menurut jenis tugas moral tertentu seperti kebergantungan kedermawanan. M. sebahagiannya kerana ia hampir tidak kisah langsung akan meta-etika dan sebaliknya memburu hujah moral secara langsung. John Rawls menentang aliran toeri normatif dengan menerbitkan A Theory of Justice. . kesetiaan. Fokus kepada meta-etika ini sebahagiannya disebabkan oleh pusingan linguistik kuat dalam falsafah analitik dan sebahagian lagi disebabkan adjmerebaknya positivisme logis. Teori-teori ini menawarkan prinsip moral melampaucapai (overarching) yang seseorang boleh pertimbangkan bagi menyelesaikan keputusan moral yang sukar. Malah ahli falsafah semasa zaman ini yang mengekalkan minat terhadap moral prescriptif. Hare. dan sesetengah bentuk kontraktarianisme. tetapi berminat dengan pelbagai jenis status moral. Karya ini sungguh revolusioner.

Dengan menggunakan pelbagai teori perlakuan manusia dan sistem sosial. kerja sosial terlibat pada pelbagai tahap interaksi manusia dengan persekitaran kehidupan. budaya dan . iaitu politik. Umumnya. all. sila lihat [[{{{1}}}]]. Kategori: Etika | Etika normatif | Falsafah kehidupan Mata etika Saturday. geografi. Permulaan praktis kerja sosial berfokus untuk mencapai keperluan manusia dan mengembangkan potensi dan sumber-sumbernya. Ianya bukan sesuatu yang baru dan tidak mungkin pupus oleh kerana profesion ini berteraskan prinsip dan falsafah kemanusiaan sejagat yang diperkukuhkan dengan ikatan ilmu hasil daripada penyelidikan dan pemerhatian yang saintifik dan empirikal dan seterusnya wujud dalam kerangka amalan kerja yang mantap. Kerja sosial boleh di definisikan sebagai satu seni (art). Kerja sosial menjalankan praktis dalam 5 konteks. 2010 Pengenalan Kepada Kerja Sosial 1. dan sebagai satu profesion yang menolong manusia untuk menyelesaikan masalah mereka sama ada secara personal.Untuk lebih terperinci berkenaan dengan topik ini. kerja sosial adalah satu profesion yang ingin membawa perubahan sosial kepada masyarakat secara umum pada peringkat pembentukan perkembangan individu. sosioekonomi. kumpulan (terutamanya keluarga) dan juga masalah-masalah komuniti (Farley & Etc. January 2. sains. 2006).0 PENGENALAN Kerja sosial Ia merupakan satu bidang yang mempunyai keistimewaannya tersendiri dari segi tugas dan tanggungjawab mereka terhadap pelbagai pihak yang memerlukan.

“Apakah Pemikiran?". prinsip etika dan praktis yang dipegang oleh profesion tersebut. ideologi serta perkara-perkara yang abstrak.spiritual.0 FALSAFAH. dan ia memerlukan pemikiran yang bersungguh-sungguh. falsafah merupakan pengetahuan tentang pengertian yang dianggap sebagai ilmu yang tertinggi yang menjadi dasar ilmu-ilmu lain. Prinsip etika kerja sosial juga adalah sesuatu yang begitu penting yang perlu diamalkan oleh pekerja sosial dalam menjamin kejayaan terhadap praktis serta profesion kerja sosial itu sendiri. nilai. Ia juga berlandaskan etika kerja sosial yang menjadi garis panduan dalam melaksanakan profesion ini. Persoalan falsafah sentiasa disifatkan sebagai soalan yang sangat rumit. "Apakah kebenaran?”. Profesion kerja sosial mempunyai falsafah yang tersendiri yang merangkumi pelbagai pengertian ilmu. Prinsip asas kerja sosial adalah prinsip kemanusiaan dan keadilan sejagat (definisi yang diterima pakai IFSW General Meeting in Montreal Canada. . Ia boleh diibaratkan sebagai isi dalam falsafah. Persoalan falsafah ataupun masalah falsafah ialah topik yang dibincangkan dalam bidang falsafah. "Apakah ilmu pengetahuan?". "Apakah Kehidupan?" dan sebagainya.1 FALSAFAH KERJA SOSIAL Berdasarkan Kamus Dewan. sikap. Sesuatu soalan itu akan menjadi persoalan falsafah apabila soalan itu tidak dapat diselesaikan melalui kaedah saintifik. darjat. July 2000). Biasanya. usia. Falsafah merangkumi gugusan kepercayaan. Kelima-lima konteks ini mampu memberikan matlamat yang terarah dalam praktis kerja sosial. Di samping itu. ETIKA DAN HAK ASASI MANUSIA DI DALAM KERJA SOSIAL 2. bidang ini menitikberatkan hak asasi yang dimiliki oleh setiap individu yang patut dijaga dan dipertahankan tanpa mengira status. 2. persoalan falsafah akan melibatkan persoalan tentang konsep. pangkat dan warna kulit. Contoh-contoh persoalan falsafah adalah seperti.

b) Epistemologi . Sebagai contoh. . perbezaan tindakan moral dan tidak bermoral. serta tindakan yang betul dan salah. d) Logik – Bidang falsafah yang mengkaji penaakulan manusia. iaitu soalan yang mempunyai nilai falsafah. c) Etika – Bidang falsafah yang memikirkan tentang persoalan moral pada manusia seperti tindakan yang dilakukan. Bidang falsafah boleh dikategorikan kepada 5 cabang yang berlainan berdasarkan persoalan-persoalan tertentu iaitu: a) Metafizik – Bidang falsafah yang memikirkan tentang sesuatu kewujudan di dunia ini meliputi aspek semula jadi. “apakah ilmu pengetahuan?" sebenarnya telah memajukan sains dan teknologi manusia pada hari ini.Bidang falsafah yang memikirkan tentang ilmu pengetahuan. persoalan epistemologi yang ditanyakan pada zaman dahulu seperti "apakah kebenaran?”. Falsafah kerja sosial amat berkait rapat dengan pegangan nilai. manusia dan ketuhanan. Ini adalah kerana soalan yang baik menjanjikan penghuraian yang baik. e) Estetika – Bidang falsafah yang memikirkan tentang keindahan. Terdapat 8 nilai falsafah yang menjadi prinsip utama.Bidang falsafah memberikan nilai yang tinggi kepada persoalan yang baik.

pekerja sosial tidak seharusnya melabelkan klien mahupun memandang prejudis kerana rasa hormat ini mampu memberi implikasi terhadap khidmat kerja sosial yang diberikan. (Capuzzi & Gross. 2003). pekerja sosial perlu membantu klien mengenali dan menerima kebolehan yang ada pada diri klien itu sendiri agar keunikan klien dapat dijadikan sebagai panduan untuk memberikannya sumber-sumber yang bersesuaian. Semua individu cuba untuk memajukan diri dan melakukan dalam dunianya hasil dari penglihatannya sebagai kelakuan yang mulia. Hal ini memerlukan klien mengetahui kualiti yang unik tentang klien yang boleh dimanfaatkan dalam proses intervensi. Tanpa prinsip ini. Klien ada hak untuk menentukan perubahan. Pegangan nilai ketiga ialah individu mempunyai keupayaan. klien mungkin berasa dirinya tidak diterima. Setiap klien mampu untuk berubah ke arah positif.Pegangan nilai pertama ialah menghormati individu. Pekerja sosial seharusnya menghormati klien dari segi pandangan dan perasaan klien tanpa mengira sebarang aspek dengan menunjukkan bagaimana kita menerimanya. Pekerja sosial perlu menanamkan kepercayaan bahawa klien mempunyai keupayaan untuk berkembang dan berubah dan membuat penyelesaian terhadap permasalahan yang dihadapi. Pekerja sosial perlu mengetahui bahawa setiap orang adalah unik dan mempunyai keupayaan yang berbeza. Dalam hal ini. oleh itu. Setiap klien ada hak dan keperluan. ruang kepada klien untuk berubah perlu diberikan. Pegangan nilai kedua ialah mempercayai setiap individu mempunyai keunikannya tersendiri. tidak bernilai dan membuatkan dia sukar untuk mencapai kefungsian sosial mereka. . Pekerja sosial seharusnya mengetahui potensi-potensi yang dimiliki oleh klien. Pegangan nilai keempat merupakan aspek berkaitan perubahan adalah ditentukan oleh diri individu. ia boleh digunakan untuk perkembangan dan perubahan diri klien itu sendiri.

Melalui prinsip etika yang ditekankan. Hak kemanusiaan ini adalah berasaskan kepada tuntutan manusia untuk berkembang dan hidup seterusnya menggunakan kualiti yang ada pada diri mereka. Pegangan nilai keenam menekankan kepada keadilan sosial. pekerja sosial perlu memperjuangkan keadilan tersebut melalui sumber-sumber dari pelbagai pihak. Ia boleh ditakrifkan sebagai suatu tatacara atau garis panduan yang telah ditetapkan pada sesuatu unit. doktor. Bidang etika berperanan membahaskan secara sistematik. guru.2 ETIKA KERJA SOSIAL Etika merupakan satu disiplin ilmu dan sains yang membicarakan apakah baik dan buruk. peguam. Etika merujuk kepada apa yang dilihat oleh manusia sama ada betul mahupun salah. kaunseling. . tugas dan tanggungjawab akan lebih mudah dipikul dan dilaksanakan. Etika amat berkait rapat dengan falsafah kerja sosial dan nilai. Keadilan sosial perlu dilakukan dan diterima oleh masyarakat.Pegangan nilai kelima berkaitan prinsip hak kemanusiaan. status mahupun warna kulit. Etika begitu diutamakan dalam sesebuah profesion seperti kerja sosial. Sekiranya berlaku ketidakadilan. 2. salah dan benar serta apa yang dikehendaki dengan tanggungjawab dan kewajipan. Setiap individu mempunyai hak dan maruah tanpa mengira darjat. seterusnya menyarankan dan dalam keadaan tertentu mempertahankan konsep-konsep yang dibina tentang perlakuan baik dan buruk. polis dan sebagainya.

Sesuatu tindakan itu sama ada diterima atau tidak oleh masyarakat. Sebagai contoh. organisasi serta klien yang meliputi individu. Sekiranya pekerja sosial sudah memegang sesuatu kes. pekerja sosial perlu melaksanakannya dengan bersungguh dan mereka perlu bertanggungjawab terhadap etika kerja sosial yang dipegang. rakan setugas.Pekerja sosial perlu bersedia untuk melaksanakan proses menolong mikro. Etika boleh diketengahkan sebagai garis panduan yang perlu diikuti bagi setiap individu dalam melakukan sesuatu tugasan. Pelbagai tujuan etika yang terdapat dalam profesion kerja sosial. diri sendiri. Etika dalam kerja sosial merangkumi etika terhadap profesion. etika normatif dan etika gunaan. kumpulan dan komuniti. Etika juga memastikan pekerja sosial mengutamakan tanggung jawab moral sekali gus melindungi klien daripada ketidakfungsian. Manakala etika gunaan merujuk kepada sesuatu keadaan atau perbuatan tertentu yang dilakukan pada waktu dan tempat tertentu. etika sentiasa dititikberatkan. namun etika gunaan sering menimbulkan kontroversi atau konflik dalam membuat sesuatu keputusan. mezzo dan makro. pekerja sosial tidak akan menentukan apa masalah dan isu yang mereka ingin tumpukan. Terdapat tiga cabang asas dalam perbincangan etika iaitu etika mataetika. Di dalam profesion kerja sosial. antaranya pegangan etika memberi perlindungan kepada pekerja sosial sebagai pemberi perkhidmatan dan klien sebagai penerima perkhidmatan. Ia penting agar tidak berlaku sebarang penyelewengan dan penyalahgunaan kuasa atau kepentingan yang dimiliki pekerja sosial serta membantu dalam menjamin keberkesanan tugas yang dilaksanakan dalam sebarang situasi yang dihadapi sama ada mudah mahupun sukar. dalam menghadapi sesuatu kes. Etika normatif pula bersifat normal seperti yang diamalkan dalam norma-norma masyarakat. mereka tetap menghadapi situasi tersebut walaupun rumit tetapi cuba untuk menyelesaikannya melalui etika yang terdapat dalam kerja sosial. .Etika juga merujuk kepada apa yang dilihat sebagai satu tindakan yang betul atau salah.Mataetika merujuk kepada dari mana datangnya sumbersumber dan prinsip etika sebagai rujukan sama ada benar atau salah.

kebuntuan dan perasaan merontaronta dalam dirinya. keganasan mahupun konflik dalam masyarakat yang meliputi rusuhan. hak asasi merupakan hak yang dasar seperti hak kebebasan dalam menyuarakan pendapat. Mengikut perundangan. Berdasarkan kamus dewan. malah mendatangkan ketidakselesaan terhadap politik. Hak asasi manusia dan kebebasan merupakan asas yang membenarkan setiap individu untuk berkembang dan membangun serta menggunakan kualiti diri sebagai manusia. Hak asasi manusia ini wujud berasaskan tuntutan manusia dalam kehidupan mereka untuk membantu manusia berkembang dan terus hidup. ianya boleh mendatangkan kemurungan. hidup dan sebagainya. . bergerak. hak asasi ini mempunyai batas tersendiri yang perlu dipatuhi. Dari satu segi moral. hak asasi manusia bersifat universal dan dimiliki oleh semua orang tanpa diskriminasi. adanya kebebasan maka adanya hak asasi manusia. mogok dan sebagainya. mungkin akan membawa kepada tindakan undang-undang yang sewajarnya. Penafian tentang hak asasi manusia bukan sahaja sebagai satu tragedi kepada manusia. ianya boleh mendatangkan kepuasan dan ketenangan dalam dirinya. Sekiranya ianya tidak dipenuhi. Sebagai contoh. ekonomi dan sosial. Apabila hak asasi seseorang individu itu dimiliki. Contohnya. Pentakrifan hak asasi manusia dari segi undang-undang adalah berbeza mengikut negara masing-masing. Hak asasi manusia boleh difahamkan dari dua segi. Hak Kemanusiaan merupakan satu tanggapan moral yang didukung oleh anggota masyarakat.3 HAK ASASI MANUSIA Hak asasi merupakan hak-hak yang semula jadi yang ada pada diri setiap individu tanpa mengira sebarang perbezaan. Walau bagaimanapun.2. dalam perlembagaan Malaysia terdapat penerangan mengenai hak asasi manusia yang terlindung di bawah perlembagaan. iaitu dari segi perundangan dan juga dari segi moral. Pencabulan hak kemanusiaan yang berkenaan. penghormatan kepada hak dan maruah manusia merupakan asas kebebasan. hak asasi manusia merupakan satu bentuk hak yang dinikmati oleh seorang warganegara seperti apa yang telah termaktub dalam undang-undang negara berkenaan.

Terdapat juga teori yang dikemukakan berkaitan hak asasi manusia iaitu teori Mc Closkey yang menerangkan bahawa pemberian hak adalah untuk dilakukan. Konvensyen Antarabangsa Hak Politik dan Sivil (ICCPR) 1966. Kesemua dokumen tersebut melindungi hak manusia daripada dicerobohi. ruang lingkup penerapan hak dan pihak yang bersedia dalam penerapan hak. atau percerobohan ke atas maruah dan nama baiknya. anggota masyarakat akan mengakui wujudnya hak tertentu yang harus dinikmati oleh setiap individu.0 PRINSIP ETIKA KERJA SOSIAL . dengan adanya hak asasi ini akan mampu untuk membangunkan kefungsiaan dan kecekapan individu. kumpulan dan komuniti dari pelbagai aspek. James W. iaitu pemilik hak. Konvensyen Antarabangsa Hak-hak Ekonomi. Ketiga-tiga unsur tersebut kemudiannya disatukan dalam satu dasar hak yang kemudiannya menjelaskan hak sebagai satu unsur normatif yang ada pada diri manusia yang dalam penerapannya berada dalam ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan. Nickel telah mengemukakan beberapa unsur hak. Sebagai contoh di dalam Hak Asasi Manusia Sejagat. keluarga. Sosial Dan Budaya (ICESCR) 1966 dan sebagainya. Tiada sesiapa pun yang boleh dikenakan kepada sebarang gangguan sewenang-wenangnya terhadap keadaan peribadi. Oleh yang demikian. dimiliki dan dinikmati atau sudah dilakukan. rumah tangga atau surat-menyuratnya. Sebagai mana yang telah dinyatakan. Pelbagai dokumen yang telah menggariskan hak asasi manusia di peringkat antarabangsa.Sehubungan dengan perkara ini. Perkara 12 menerangkan. 3. adalah menjadi tanggungjawab pekerja sosial melaksanakan perkhidmatan mereka dengan memperjuangkan hak asasi manusia. antaranya Hak Asasi Manusia Sejagat PBB 1948. Maka anggota-anggota masyarakat berkenaan akan cuba mengelakkan diri daripada mencabuli hak masing-masing dengan penuh perasaan moral. Setiap orang berhak kepada perlindungan undangundang terhadap gangguan atau percerobohan sedemikian.

Nilai mungkin berlaku dalam hubungan dan juga tidak berlaku dalam hubungan. ekonomi dan sosial. Perkhidmatan yang diberikan juga tidak seharusnya mengharapkan balasan atau menyimpan motif tertentu kerana ia boleh mempengaruhi dari segi tanggungjawab yang dilaksanakan. Prinsip etika kedua ialah keadilan sosial (social justice). 1979). Pekerja sosial memindahkan nilai ke dalam tindakan konkrit dalam situasi tertentu yang disebut sebagai prinsip etika kerja sosial. Dalam prinsip ini juga. Selain itu. Pemberian perkhidmatan oleh pekerja sosial bermatlamatkan untuk menolong manusia dengan telus. Pekerja sosial perlu sentiasa bersedia dalam memberikan perkhidmatan selagi mana diperlukan. tetapi etika berlaku dalam hubungan. Terdapat dua nilai yang sering dilakukan oleh manusia iaitu nilai normatif (peraturan) dan nilai non-normatif (bukan bersifat peraturan). antara aspek yang perlu diambil kira ialah keadilan dari segi perundangan. nilai dan kemahiran yang ada untuk membantu masyarakat menyelesaikan permasalahan dan kekurangan yang dihadapi. ia memerlukan tugas sesuatu pihak untuk bertindak secara beretika terhadap individu lain yang boleh dikatakan sebagai tanggungjawab etika di dalam peranan sosial termasuklah hubungan pekerja sosial dengan klien. Terdapat 6 prinsip etika di dalam kerja sosial yang di kemukakan oleh National Association of Social Work (NASW). pekerja sosial perlu menghubungkan klien dengan sumber-sumber yang dapat membantu mereka. Etika adalah nilai dalam tindakan kita (Levy. Prinsip Etika NASW pertama ialah perkhidmatan (service). Sekiranya sesuatu hubungan itu ada nilainya. pekerja sosial mesti menggunakan segala pengetahuan.Prinsip etika dalam kerja sosial merupakan suatu prinsip yang amat mementingkan nilai untuk memandu pekerja sosial bertindak dalam proses menolong klien. Keadilan sosial ini mungkin boleh menjadi suatu cabaran yang besar kepada .

kumpulan mahupun komuniti menghadapi penindasan atau penganiayaan. Pekerja sosial juga perlu memfokuskan isu yang menjadi ancaman keadilan sosial ini seperti isu gender. Pekerja sosial seharusnya berusaha menegakkan keadilan dan bersikap adil. perhubungan pekerja sosial dengan klien seharusnya berlaku dengan baik agar klien dapat merasakan pekerja sosial dapat dipercayai dan mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Pekerja sosial perlu menerima klien seadanya. budaya. pekerja sosial perlu bangun untuk membantu yang memerlukan dengan memberikan perlindungan dan menghubungkan klien dengan sumber-sumber yang dapat membantu. pekerja sosial seharusnya sentiasa bersedia dengan ilmu pengetahuan yang banyak tentang pelbagai isu di dalam keadilan sosial. kemiskinan dan sebagainya. diskriminasi. Perhubungan ini perlu difahami oleh pekerja sosial dalam proses menolong klien. Semua manusia mempunyai maruah dan harga diri. oleh itu. menerima dan merawat klien dengan penuh kemanusiaan dan pertimbangan serta memperjuangkan maruah dan harga diri klien. Prinsip etika yang keempat ialah kepentingan perhubungan kemanusiaan (importance of human relationships). Pekerja sosial perlu mengetengahkan isu klien dalam menyuarakan ketidakadilan sosial yang berlaku kerana ia termaktub di dalam hak asasi manusia yang dimiliki oleh setiap orang. kelompok dan komuniti. Sekiranya individu.pekerja sosial kerana mereka terpaksa berhadapan dengan pelbagai situasi yang bertentangan dengan ketidakadilan dalam pelbagai situasi. etnik. pandangan dan keputusan yang dibuat adalah hak mereka dan ia perlu dihormati. usia. Prinsip etika ketiga ialah menghormati maruah dan harga diri individu (dignity and worth of the person). Pekerja sosial perlu menganggap proses menolong klien sebagai misi utama yang perlu dititikberatkan dan bernilai. Apabila klien merasakan pekerja sosial dipercayai. ras. warna kulit mahupun gender. agama. Permasalahan dan hak mereka perlu diselesaikan tanpa mengira siapa pun diri klien kerana setiap klien mempunyai maruah dan hak tanpa mengira pangkat. Perhubungan kemanusiaan meliputi perhubungan antara manusia di dalam pelbagai peringkat seperti peringkat individu. Di samping itu. Sikap prejudis dan menghakimi klien harus dielakkan. klien akan memberikan kerjasama yang sepenuhnya dan meluahkan konflik yang dihadapi dengan baik seterusnya kepada .

Prinsip etika yang kelima dalam kerja sosial ialah kejujuran dan integriti (integrity). klien akan dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dan berupaya untuk berkembang ke arah positif dengan bantuan pekerja sosial tersebut. Sekiranya kesemua prinsip . prinsip etika kerja sosial sebagaimana yang digariskan oleh NASW sememangnya begitu penting untuk diikuti sebagai panduan dalam menjalankan praktis. prinsip etika. Selain itu. Prinsip ini menekankan kepada sikap jujur dan amanah pekerja sosial dalam melaksanakan proses menolong. Pekerja sosial perlu berusaha meningkatkan pengetahuan dan kemahiran di dalam profesion dari semasa ke semasa dan seterusnya mengaplikasikannya ke dalam praktis untuk menampakkan kecekapan pekerja sosial itu sendiri. Secara keseluruhannya. Perhubungan kemanusiaan yang harmonis membantu kejayaan perkhidmatan di dalam kerja sosial. Sekiranya pekerja sosial mempunyai kecekapan dalam melaksanakan praktis.penyelesaian permasalahan yang dihadapi. Pekerja sosial jua perlu sentiasa bertindak jujur dan mengamalkan etika sebagaimana yang telah digariskan. meningkatkan pengetahuan. meningkatkan profesion serta membantu klien. kecekapan yang dituntut dapat membantu pekerja sosial bertindak lebih bijak untuk melakukan apa yang perlu dan menghindarkan diri daripada perkara-perkara yang melanggarkan perundangan profesion. Kecekapan yang dimaksudkan adalah kecekapan dalam melaksanakan tanggungjawab yang dipegang. Klien perlu diberikan maklumat yang betul sebagaimana yang sepatutnya tanpa melakukan sebarang penyelewengan agar klien dapat membangun dan mengalami perubahan yang positif berdasarkan suber-sumber yang diberikan. piawaian etika dan praktis profesion dalam cara yang bersesuaian dengan mereka. Pekerja sosial secara terusmenerus perlu menyedari tentang misi profesion. nilai. Prinsip etika yang keenam dan terakhir dalam kerja sosial ialah kecekapan (competence).

emosi dan fizikal.socialworkers. prinsip etika yang dikemukakan sememangnya berupaya membangunkan pekerja sosial.. Social work and social philosophy: A guide for practice. 4. L. C. Tanggungjawab yang dipikul bukanlah semudah yang disangka.wikipedia. & Asquith.org http://www. etika dan hak asasi manusia dalam kerja sosial yang dapat memberi kefahaman asas tentang profesion ini. Namun begitu.etika ini diamalkan dan difahami. Ethical decision making in social work: London.C. pelbagai aspek yang telah dibincangkan di atas meliputi falsafah. profesion dan klien. Oleh itu.org/wiki/Hak_asasi_manusia http://www.dbp. mezzo dan makro. W.wikipedia. berkesan dan mementingkan “win-win situation” di samping penggunaan teori untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan di dalam praktis dalam situasi yang berbeza. terdapat juga yang tidak menyedari akan peranan yang telah dimainkan oleh pekerja sosial.0 PENUTUP Kesimpulannya. sudah tentu profesion kerja sosial terus maju ke hadapan dan membantu masyarakat. kumpulan dan komuniti. RUJUKAN Clark. Routledge & Kegan Paul: London.ifsw. Setiap penyelesaian sesuatu masalah akan menggunakan perancangan yang sistematik. & Reeser. http://ms. Selain itu juga. masyarakat perlu menghargai profesion kerja sosial sebagai suatu profesion yang mulia dan sentiasa menjaga kepentingan individu.org/wiki/Falsafah http://ms. (2000)..org Posted by wanie at 11:21 AM 0 comments Home . L. Kerja sosial adalah suatu bidang profesional dalam membantu pelbagai klien di peringkat mikro. Robinson. S.gov. Ia memerlukan satu pengorbanan yang besar dari segi mental.my http://www.

Subscribe to: Posts (Atom) .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful