1.

Teori belajar kognitif

Belajar seharusnya menjadi kegiatan yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Belajar merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia yang paling penting dalam upaya mempertahankan hidup dan mengembangkan diri. Dalam dunia pendidikan belajar merupakan aktivitas pokok dalam penyelenggaraan proses belajar-mengajar. Melalui belajar seseorang dapat memahami sesuatu konsep yang baru, dan atau mengalami perubahan tingkah laku, sikap,dan ketrampilan. Pada dasarnya terdapat dua pend apat tentang teori belajar yaitu teori belajar aliran behavioristik dan teori belajar kognitif. Teori belajar behavioristik menekankan pada pengertian belajar merupakan perubahan tingkah laku, sehingga hasil belajar adalah sesuatu yang dapat diamati dengan indra manusia langsung tertuangkan dalam tingkah laku. Seperti yang dikemukakan oleh Ahmadi dan Supriono (1991: 121) bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya´. Sedangkan teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Seperti juga diungkapkan oleh Winkel (1996: 53) bahwa ³Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas´. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas. Sesuai dengan karakteristik matematika maka belajar matematika lebih cenderung termasuk ke dalam aliran belajar kognitif yang proses dan hasil nya tidak dapat dilihat langsung dalam konteks perubahan tingkah laku. Berikut adalah beberapa teori belajar kognitif menurut beberapa pakar teori belajar kognitif: Teori Belajar Piaget Jean Piaget adalah seorang ilmuwan perilaku dari Swiss, ilmuwan yang sangat terkenal dalam penelitian mengenai perkembangan berpikir khususnya proses berpikir pada anak. Menurut Piaget setiap anak mengembangkan kemampuan berpikirnya menurut tahap yang teratur. Pada satu tahap perkembangan tertentu akan muncul skema atau struktur tertentu yang keberhasilannya pada setiap tahap amat bergantung pada tahap sebelumnya. Adapun tahapan -tahapan tersebut adalah: a. Tahap Sensori Motor(dari lahir sampai kurang lebih umur 2 tahun)

mereka dapat membuat hipotesis dan membuat kaidah mengenai hal -hal yang bersifat abstrak. meraba atau memegang. Dalam upaya mengerti tentang alam sekelilingn ya mereka tidak terlalu menggantungkan diri pada informasi yang datang dari pancaindra. Pemikirannya tidak jauh karena selalu terikat kepada hal-hal yang besifat konkrit. Mereka dapat mengembangkan hukum hukum yang berlaku umum dan pertimbangan ilmiah. mencium dan menggerakan. b. Imp likasi dari hal ini adalah ketika seorang anak sudah dapat mengawetkan besaran suatu unsur dengan mengenali bahwa besaran dari benda tersebut sama terlepas dari bentuknya anak secara rasional dapat diduga akan mengawetkan konsep berat. dapat saja berbeda tanpa harus mempengaruhi misalnya kuantitas. Dengan kata lain mereka mengandalkan kemampuan sensorik serta motoriknya. Beberapa kemampuan kognitif yang penting muncul pada saat ini. Anak dengan operasi formal ini sudah dapat memikirkan beberapa alternatif pemecahan masalah. Berdasarkan uraian diatas. mengecap. karena struktur anta ra konsep besaran dan berat sama. Tahap Pra-operasional ( kurang lebih umur 2 tahun hingga 7 tahun) Dalam tahap ini sangat menonjol sekali kecenderungan anak -anak itu untuk selalu mengandalkan dirinya pada persepsinya mengenai realitas. dia dapat se dikit memahami lingkungannya dengan jalan melihat. c. Ternyata bersadar pada studi eksperimental yang dilakukan oleh para peneliti hal ini tidak sepenuhnya benar. Dengan adanya perkembangan bahasa dan ingatan anakpun mampu mengingat banyak hal tentang lingkungannya. Misalnya dengan menendang -nendang dia tahu bahwa selimutnya akan bergeser darinya. Anak tersebut mengetahui bahwa perilaku yang tertentu menimbulkan akibat tertentu pula bagi dirinya. Taxonomy SOLO Teori belajar Piaget memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap perkembangan teori pembelajaran kognitif. Tahap Operasi Konkrit (kurang lebih 7 sampai 11 tahun) Dalam tahap ini anak-anak sudah mengembangkan pikiran logis. tetapi jarang mengetahui bila membuat kesalahan. Tahap Operasi Formal (kurang lebih umur 11 tahun sampai 15 t ahun) Selama tahap ini anak sudah mampu berpikir abstrak yaitu berpikir mengenai gagasan. Intelek anak dibatasi oleh eg osentrisnya yaitu ia tidak menyadari orang lain mempunyai pandangan yang berbeda dengannya. Anak -anak sering kali dapat mengikuti logika atau penalaran. Anak -anak yang sudah mampu berpikir secara operasi konkrit sudah menguasai sebuah pelajaran yang penting yaitu bahwa ciri yang ditangkap oleh pancaindra seperti besar d an bentuk sesuatu. Piaget membagi tahapan perkembangan kemampuan kognitif anak menjadi empat tahap yang didasarkan pada usia anak tesebut.Dalam dua tahun pertama kehidupan bayi ini. Hal ini dianggap sebagai . d. salah satu kritik yang cukup tajam terhadap teori Piaget adalah berkenaan dengan asumsi bahwa pengertian akan suatu struktur yang sama akan diperoleh pada usia yang sama dalam berbagai domain intelektual. Hal ini terbukti dengan banyaknya peneliti yang tertarik mela kukan analisis serta memperluas teori tersebut.

pembelajaran. Menurut mereka HCS ini relative lebih stabil dari waktu ke waktu serta bebas dari pengaruh pembelajaran disaat anak diukur menggunakan taxonomi SOLO dalam menyelesaikan suatu tugas tertentu. bukan seluruh penampilan yang harus menyesuaikan dengan level -nya. ini tidak akan menggantikan level yang lama begitu saja melainkan dapat berkembang bersamaan. Salah satu isu utama yang dikaji oleh kedua peneliti ini berkaitan dengan struktur kognitif. hal ini berkaitan erat dengan logika yang mendasarinya. penampilan atau motivasi. Dari beberapa hasil pengembangan penelitian dalam teori ini ternyata penyimpangan ini lazim terjadi sebagaimana diungkapkan oleh Biggs dan Collis (1982). ketika semakin banyak mode yang memungkinkan maka multi-modal fungsioning menjadi normanya. . Level terakhir adalah batas tertinggi dari proses abstraksi yang dapat ditunju kkan anak. tetapi sedikit pertukaran terjadi pada konstruksi yang lebih proximal . atau bahkan dapat terjadi. Penekan pada suatu tugas tertentu sangat penting seperti yang diasumsikan dalam taksonomi SOLO bahwa penampilan seseorang sangatlah beragam dalam menyelesaikan satu tugas dengan tugas lainnya. Dan butir-butir rangsangan dalam konteks ini tidak difokuskan untuk melihat kebenaran dari jawaban saja melainkan lebih pada melihat struktur alamiah dari respon siswa dan perubahannya dari waktu ke waktu. Bagaimanapun juga terdapat satu perbedaan penting dari teori yang dikemukakan Piaget yaitu ketika mode atau level baru mulai muncul. suatu hari siswa berada pada level formal di matematika namun dilain hari dia masih berada pada level yang konkrit pada topik yyang berbeda. Penyimpangan yang dimaksud adalah terjadinya perbedaan cara dalam memperoleh sebuah struktur yang sama oleh seorang individu. Untuk menjelaskan konsep ³pertukaran´ yang terjadi dalam pertumbuhan kognitif yang tidak biasa diantara anak-anak sekolah. Hasil observasi seperti ini tidak dapat mengindikasikan terdapatnya ³pertukaran´ dalam perkembangan kognitif yang berlangsung. Oleh karena itu mode-model tersebut tumbuh sejak lahir hingga dewasa. Biggs & Collis (1991: 60)menyediakan suatu level tersendiri yang diberi nama ³ post formal mode´. Biggs & Collis (1991:60) Dari uraian di atas maka dapat dikatakan bahwa teori tersebut lebih menekankan pada analisis terhadap kualitas respon anak. Secara khusus. selanjutnya asumsi ini juga meliputi penyimpangan yang dalam model ini dikatakan: Siswa dapat saja berada pada awal level formal dalam matematika namun berada pada level awal konkrit dalam sejarah. Biggs dan Collis (1982: 22) membedakan antara ³generalized cognitive structure´ atau struktur kognitif umum anak dengan ³actual respon´ atau respon langsung anak ketika diberikan perintah -perintah. Untuk melihat respon anak diperlukan butir-butir rangsangan. Teori mereka dikenal dengan Structure of Observed Learning Outcomes (SOLO). Biggs dan Collis adalah peneliti yang turut melakukan dan analisis teori belajar Piaget. Mereka menerima kebeadaan konsep struktur kognitif umum namun mereka menyakini bahwa hal tersebut tidak dapat diukur langsung sehingga perlu mengacu pada sebuah ³hypothesized cognitive structure´ (HCS) atau struktur kognitif hipotesis. Fakta ini memicu sebuah pengembangan teori dari teori Piaget yang dikenal dengan neoPiagetian theories.sebuah penyimpangan.

Berikut adalah 5 mode yang diutarakan oleh Biggs dan Collis: 1. Mode concrete symbolic adalah mode terbesar sebagai target dari matematika sekolah. Mode Post Formal Keberadaan mode ini lebih menekankan pada pembuatan hipotesis secara deduktif dari pada penyusunan teori berdasarkan bukti-bukti empiris. 4. Anak membangun kemampuan untuk melakukan koordinasi dan mengatur interaksinya dengan lingkungan sekitar. 2. Sedangkan target pertama dari sekolah formal ada pada mode concrete symbolic. Mode Sensorimotor Focus perhatian pada mode ini adalah lingkungan fisik sekitar anak. Mereka mulai merepresentasikan dunia fisik melalui bahasa oral ke dalam bentuk tulisan. senang menggunakan alat peraga dan senang membuat gambaran-gambaran mental. Tanda-tanda tersebut digunakan sebagai peran pengganti dari komunikasi oral. Kemampuan berpikir pada tahap ini meliputi membuat formula hipotesis dan mem buat penalaran yang proporsional. 3. Mode Concrete Symbolic Pada mode ini anak mengalami ³pertukaran´ dalam proses abstraksi. Karena dalam matematika anak menggambarkan dan mengoperasikan objek-objek yang berada di sekitarnya. Karakteristik terpenting dari mode ini adalah kemampuan untuk bertanya tentang prinsip -prinsip mendasar dari sesuatu hal. Mode sensorimotor dan iconic adalah mode -mode alamiah dari seorang manusia yang berkembang secara alamiah juga. Taksonomi SOLO ini terdiri dari lima tahap yang dapat menggambarkan perkembangan kemampuan berpikir kompleks pada siswa dan dapat diterapkan di berbagai bidang. Mode Iconic Pada mode ini symbol-simbol dan gambar digunakan untuk merepresentasikan elemen-elemen yang diperolehnya pada mode sensorimotor. yaitu sebuah system symbol yang akan mereka gunakan dalam kehidupannya di dunia. . 5. Oleh karena itu kemampuan ini dituntut pada mahasiswa -mahasiswa di Perguruan Tinggi. Perkembangan yang berkelanjutan pada mode ini ditunjukkan oleh kegiatan -kegiatan fisik ketika diperolehnya tacit knowledge. Sebuah system symbol memiliki tingkatan dan logika internal yang dapat memfasilitasi sebuah hubungan antara sistem simbol dan li ngkungan fisik di sekitarnya. Sistem symbol yang digunakan di sekolah antara lain adalah matematika dan bahasa. Mode Formal Pada mode ini titik berat kemampuan sesorang adalah pada kemampuan mengkonstruksi teori tanpa bantuan contoh benda konkrit. Cirri-ciri dari anak yang berada pada mode ini antara lain sering menggunakan strategi menebak.

memahami peran bagian -bagian bagi keseluruhan serta telah dapat mengaplikasikan sebuah konsep pada keadaan keadaan yang serupa. Adapun kata kerja yang mengidikasikan kemampuan pada tahap ini antara lain. 2. Beberapa koneksi sederhana sudah terbentuk namun demikian kemampuan meta-kognisi belum tampak pada tahap ini. membuat suatu teori. menghubungkan. membandingkan. menjelaskan. 5. Hasil penelitiannya . Pada tahap ini siswa hanya memiliki sangat sedikit sekali informasi yang bahkan tidak saling berhubungan. menganalisis. mengaplikasikan. mengingat dan melakukan prosedur sederhana. membilang atau mencacah. mengindentifikasikan. Beberapa kata kerja yang dapat mengindikasi aktivitas pada tahap ini adalah. Dapat membuat generalisasi serta dapat melakukan sebuah perumpamaan-perumpamaan pada situasi-situasi spesifik. yang menguraikan tahap -tahap perkembangan mental anak dalam belajar geometri. Tahap Pre-Structural. Kata-kerja yang merefleksikan kemampuan pada tahap ini antara lain. mengurutkan. membuat daftar. membuat hipotesis. membedakan. Tahap Extended Abstract Pada tahap ini siswa melakukan koneksi tidak hanya sebatas pada konsepkonsep yang sudah diberikan saja melainkan dengan konsep -konsep diluar itu. Van Hiele adalah seorang guru bangsa Belanda yang mengadakan penelitian dalam peg ajaran geometri. mengklasifikasikan. menggabungkan. 1. sehingga tida k membentuk sebuah kesatuan konsep sama sekali dan tidak mempunyai makna apapun. Teori Belajar Van Hiele Dalam belajar pengajaran geometri terdapat teori belajar yang dikemukakan oleh Van Hiele (1954). Pada tahap ini terlihat adanya hubungan yang jelas dan sederhana antara satu konsep dengan konsep lainnya tetapi inti konsep tersebut secara luas belu m dipahami. Pada tahap ini siswa dapat menghubungkan antara fakta dengan teori serta tindakan dan tujuan. Tahap Uni-Structural. melakukan refleksi serta membangun suatu konsep. menjelaskan hubungan sebab akibat. Pada tahap ini siswa sudah memahami beberapa komponen namun hal ini masih bersifat terpisah satu sama lain sehingga belum membentuk pemahaman secara komprehensif.Berikut adalah tahapan respon berpikir berdasar taksonomi SOLO. menggabungkan dan melakukan algoritma. Tahap relational. 3. Pada tahap ini siswa dapat menunjukan pemahaman beberapa komponen dari satu kesatuan konsep. Adapun beberapa kata kerja yang mendeskripsikan kemampuan siswa pada tahap ini antara lain. Tahap Multi-Structural. membuat generalisasi. 4.

tiga unsur utama dalam pengajaran geometri yaitu waktu.Tahap Analisis Pada tahap ini anak sudah mulai dapat mengenal sifat -sifat yang dimiliki benda geomeri yang diamatinya. Misalnya anak telah mampu memahami dalil. Selain itu. yang dikenal dengan sebutan berpikir deduktif. Pola pikir anak pada tahap ini masih belum mampu menerangkan mengapa diagonal suatu persegi panjang itu sama panjang. Dalam tahap ini anak belum mampu mengetahui hubungan yang terkait antara suatu benda geometri dengan benda geometri lainnya. Demikian pula dalam pengenalan benda -benda ruang. bahwa bujur sangkar adalah belah ketupat dan sebagai nya. a. ia telah mengetahui bahwa terdapat dua pasang sisi yang berhadapan. namun kemapuan ini belum berkembang secara penuh. yang dirumuskan dalam disertasinya. Anak mungkin belum memahami bahwa belah ketupat dapat dibentuk dari dua segitiga yang kongruen. pada tahap ini anak telah mampu menggunakan postulat atau aksioma yang digunakan dalam pembuktian. dan kedua pasang sisi tersebut saling sejaja r. . bahwa belah ketupat adalah layang -layang. diperoleh dari kegiatan tanya jawab dan pengamatan. Sebagai contoh jika kepada seorang anak diperlihatkan sebuah kubus. Mereka juga telah mengerti peranan unsur -unsur yang tidak didefinisikan. di samping unsur-unsur yang telah didefinisiskan. Van Hiele menyatakan bahwa terdapat lima tahapan berpikir dalam belajar geometri yaitu. yaitu bahwa semua sisinya berben tuk bujursangkar. anak-anak memahami bahwa kubus adalah balok juga.itu. Misalnya disaat dia mengamati persegi panjang. anak belum mengetahui bahwa bujur sangkar adalah persegi panjang. jika ditata secara terpadu akan dapat meningkatkan kemampuan berpikir anak kepada tingkatan berpikir yang lebih tinggi. c. yakni penarikan kesimpulan dari hal-hal yang umum menuju hal-hal yang bersifat khusus. materi pengajaran dan metode pengajaran yang ditera pkan.Tahap Pengenalan Dalam tahap ini anak mu lai belajar mengenali suatu bentuk geometri secara keseluruhan. dengan keistimewaannya. d. Misalnya ia sudah mulai mengenali bahwa bujur sangkar adalah jajargenjang. Pada tahap ini anak telah mulai mampu mengurutkan. Ia sudah mampu menyebutkan keteraturan yang terdapat pada benda geometri tersebut. Menurut Van Hiele.Tahap Deduksi Dalam tahap ini anak sudah mampu menarik kesimpulan secara deduktif. Misalnya. ia belum mengetahui sifat-sifat atau keteraturan yang dimiliki oleh kubus itu.Tahap Pengurutan Pada tahap ini anak telah mampu melaksanakan penarikan kesimpulan. namun belum mampu mengetahui adanya sifat -sifat dari bentuk geometri yang dilihatnya itu. Ia belum menyadari bahwa kubus mempunyai sisi -sisi yang berupa bujur sangkar. bahwa sisinya ada 6 buah. b.

namun belum mengerti mengapa postulat tersebut benar dan mengapa dapat dijadikan sebagai postulat dalam cara -cara pebuktian dua segitiga yang sama dan sebangun(kongruen). Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir siswa y Siswa ± siswa akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan yang baik. meskipun sudah duduk dibangku sekolah lanjutan atas. mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan Implikasi dalam belajar y Bahasa dan cara berfikir siswa berbeda dengan orang dewasa. yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyakan tilikan dari guru y Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada perserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif. Oleh karena itu tidak mengherankan jika tidak semua anak. Aplikasi Teori Belajar Kognitif Teori belajar kognitif bisa di aplikasikan kedalam konsentrasi belajar apa saja karena sebenarnya dasar dari teori tersebut ada 3 hal yaitu : y Belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik y Peserta didik hendaknya di beri kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik. Guru harus membantu siswa agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik baiknya y Bahan yang harus dipalajari siswa hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing .Tahap Akurasi Dalam tahap ini anak telah mulai menyadari betapa pentingnya ketepatan dari prinsip-prinsip dasar yang melandasi suatu pembuktian. Bloom. dapat dipahaminya. Tahap akurasi merupakan tahap berpikir yang tinggi. rumit dan kompleks. selai n itu masih banyak teori belajar konitif yang diungkapkan oleh beberapa pakar seperti Bruner. Misalnya ia mengetahui pentingnya aksioma -aksioma atau postulat-postulat dari geometri Euclid. Paparan di atas baru beberapa teori pembelajaran kognitif.Postulat dalam pembuktian segitiga yang sama dan sebangun. e. Freudenthal dan lain -lain. seperti postulat sudut-sudut-sudut. sisi-sisi-sisi atau sudut-sisi-sudut. masih belum sampai pada tahap berpikir ini.

Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. 2000:143). Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon . Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon. Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.y y Berikan peluang agar siswa belajar sesuai bertahap Di dalam kelas. oleh karena itu apa yang diberik an oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif . Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. siswa hendaknya diberi pelua ng untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman ± temanya 2. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik.Teori belajar behavioristik Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh gage dan berlier tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin. sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhada p stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Teori ini mengutamakan pengukuran.

Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme (Slavin. Watson. menurut Thorndike yakni (1) hukum efek. (2) Primary and Secondary Reinforcement. atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran. perasaan. yang dapat pula berupa pikiran. Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antaranya adalah Thorndike. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar. dan Skinner. Ada tiga hukum belajar yang utama. 2000). belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Beberapa prinsip dalam teori belajar behavioristik. perasaan. meliputi: (1) Reinforcement and Punishment. Begitu pula bila respon dikur angi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat. 1991). (5) Stimulus Control in Operant Learning. Menurut Thorndike. Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh aliran behavioristik dan analisis serta peranannya dalam pembelajaran. Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana hal -hal tertentu dapat memperkuat resp on Aplikasi teori belajar behaviouristik . (4) Contingency Management. atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. (6) The Elimination of Responses (Gage. Clark Hull. atau ge rakan/tindakan.akan semakin kuat. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran. yaitu yang dapat diamati. Edwin Guthrie. Gredler. (2) hukum latihan dan (3) hukum kesiapan (Bell. 1984). Berliner. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit. (3) Schedules of Reinforcement. tetapi tidak dapat menjela skan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati.

Dasar Teori Konstruktivisme Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri -ciri tertentu dalam . Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling memengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru. 4. apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. 3. yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada. 5. Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik m iknat pelajar.3. Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada. pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka. 2. 6. Pendekatan konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum seperti: 1. Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakangagasan yang baru. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis. Dalam konteks pembelajaran.

. Selanjutnya. John Dewey menguatkan lagi teori konstruktivisme ini dengan mengatakan bahawa pendidik yang cakap harus melaksanakan pengajaran dan pembelajaran sebagai proses menyusun atau membina pengalaman secara lanjut/kontinyu. Rutherford dan Ahlgren berpendapat bahawa murid mempunyai ide mereka sendiri tentang semua hal. Misalnya. Vygotsky berpendapat tidak jauh dengan Piaget. Beliau juga menekankan kepentingan penyertaan murid di dalam setiap aktivitas pengajaran dan pembelajaran. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Menurutnya. Jika pemahaman dan miskonsepsi ini diabaikan atau tidak di tangani dengan baik. Piaget menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Teori Vygotsky lebih menekankan pada aspek social dari pembelajaran.mengkonstruksi ilmu pengetahuan. namun tugas tersebut masih dalam jangkauan anak yang disebut dengan zone of proximal development (daerah tingkat perkembangan sedikit di atas aerah perkembangan seseorang sendiri. akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru. Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. di mana ada yang betul dan ada yang salah. Vygotsky yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam percakapan dan kerjasama antar individu sebelum fungsi mental yang lebih tinggi terserap dalam individu tersebut. proses pembelajaran akan terjadi bila anak beekrja atau menangani tugas yang belum dipelajari. sehingga informasi tersebut mempunyai tempat atau ruang. pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan. pemahaman atau kepercayaan asal mereka itu akan tetap kekal walaupun dalam pemeriksaan mereka mungkin memberi jawapan seperti yang dikehendaki oleh guru. Sedangkan. bahwa tiap siswa membentuk pengetahuan sebagai hasil dari pemikiran dan kegiatan siswa itu sen diri melalui bahasa.

Dari pengertian di atas. selanjutnya guru juga mampu mengarahkan siswa untuk memfungsikan hasil pengetahuan yang diperolehnya. guru mengajak siswa untuk keluar kelas dan menuju lab sekolah. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambatlaun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Guru selanjutnya menyuruh siswa untuk tetap berada di lab dan mengintruksikan agar siswa mencari solusi apa saja yang dapat mencegah panasnya hambatan (resistor) seperti yang mereka rasakan di lapangan (Discovery). kemudian siswa disuruh merangkum hasil pembelajaran materi tersebut sesuai yang dipahaminya.Siswa diajak kembali ke kelas dan disuruh membacakan hasil pemikirannya satu per satu mengenai solusi panas dan mengintruksikan agar siswa lain mencatat solusi yang belum ditulisnya (Asimilasi). Aplikasi tentang teor i belajar kontruktifisme Guru menyampaikan pengantar materi pada siswa di dalam kelas.Di dalam lab. .Pada kegiatan penutup guru mengintruksikan agar setiap siswa mendemonstrasikan hasil penelitian tadi kepada warga sekitar dan mencatat respon warga tersebut sebagai tugas di rumah (Akomodasi). seorang guru ha rus memahami maksud dan tujuan siswa belajar. guru menegaskan dasar pengertian hambatan. sehingga melahirkan perubahan tingkah laku. Oleh karenanya.Teori belajar humanistik Menurut Teori humanistik.Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menanyakan s ecara kritis berkenaan dengan hasil pengamatannya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya. 4. dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang berlangsung secara interaktif antara faktor intern pada diri pebelajar dengan faktor ekstern atau lingkungan. \proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. fungsi. dan berbagai penjelasan tentang hambatan.Guru menyimpulkan hasil pengamatan siswa. bukan dari sudut pandang pengamatnya. tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia.

Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan -tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan -tujuan kelompok yang bersifat umum. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa guidenes(petunjuk): 1. Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok. Dia mempercayai adanya keinginan dari masing -masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya. yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal. Di dalam menanggapi ungkapan -ungkapan di dalam kelompok kelas.Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya. seorang . baik bagi individual ataupun bagi kelompok 7. atau pengalaman kelas 2. sebaga i kekuatan pendorong. Guru Sebagai Fasilitator Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator yang berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kem udahan belajar dan berbagai kualitas sifasilitator. 4. 5. Personalia informasi ini pada individu. dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap -sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai. situasi kelompok. Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap. 3. Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada proses belajar. ialah : 1. fasilitator berangsur -sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi. 2. Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber -sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka. Proses pemerolehan informasi baru. Implikasi Teori Belajar Humanistik a. 6. yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.

tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunak an atau ditolak oleh siswa 9. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah : 1. 3. jujur dan positif. Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan -ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar 10. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi. Diharapkan siswa memahami potensi diri . Aplikasi Teori Humanistik Terhadap Pembelajaran Siswa Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode -metode yang diterapkan. perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan. Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator. dan turut menyatakan pendangann ya sebagai seorang individu. Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas . kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. memaknai proses pembelajaran secara mandiri . mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif. pimpinan harus mencoba untuk menganali dan menerima keterbatasan -keterbatasannya sendiri. seperti siswa yang lain. Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok. Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri 4. Merumuskan tujuan belajar yang jelas 2. Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis. 8.anggota kelompok. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.

6. Guru menerima siswa apa adanya. berusaha memahami jalan pikiran siswa. tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya. melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan. . Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterpkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian. berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir. memilih pilihannya sendiri. disiplin atau etika yang berlaku. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas. dan analisis terhadap fenomena sosial. norma . perilaku d an sikap atas kemauan sendiri. Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat. tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan . Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah. berani. Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya 8. 7.5. hati nurani. perubahan sikap.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful