RASM USMANI A. Pendahuluan Alquran adalah salah satu kitab suci yang paling otentik.

Keotentikan serta orisinilitas Alquran benar-benar dapat dipertanggung jawabkan. Karena ia merupakan kalam Allah baik dari segi lafadz maupun dari segi maknanya. Pemeliharaan keotentikannya selain dilakukan dengan hafalan, juga dilakukan dengan tulisan. Sejak awal hingga akhir turunnya, seluruh ayat Alquran telah ditulis dan didokumentasikan oleh para penulis wahyu yang ditunjuk oleh Rasulullah Saw.1 Rasullullah Saw telah mengangkat para penulis wahyu Alquran dari sahabatsahabat terkemuka, seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Ali bin Thalib, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Abban bin Sa’id, Khalid bin al-Walid, Ubayy bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Tsabit bin Qais, Arqam bin Ubayy, Hanzhalah bin ar-Rabi’, dan lain-lainnya. Setiap ada ayat turun, beliau memerintahkan mereka menulisnya dan menunjukkan tempat ayat tersebut dalam surah, sehingga penulisan pada lembar itu membantu penghafalan didalam hati. Disamping itu sebagian sahabat juga menuliskan Alquran yang turun itu atas kemauan mereka sendiri, tanpa diperintah oleh Rasulullah SAW. Mereka menuliskannya pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Setelah Rasulullah saw wafat, Abu Bakar memerintahkan agar catatan-catatan tersebut dikumpulkan dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat dan surah-surah yang tersusun serta dituliskan dengan sangat berhati-hati dan mencakup tujuh huruf yang dengan itu Qur’an diturunkan. Dengan demikian Abu Bakar adalah orang pertama yang mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf dengan cara seperti ini, disamping terdapat pula mushaf-mushaf pribadi pada sebagian sahabat, seperti mushaf Ali ra, Ubai
Hasanuddin AF, Anatomi Al-Quran Perbedaan dan Pengaruhnya Terhadap Istinbath Hukum Dalam Al-Qur’an (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1995), h. 2.
1

1

serta menentang setiap orang yang menyalahi bacaannya dan bahkan mereka saling mengkafirkan. sedang diantara mereka terdapat perbedaan dalam qiraat. Mereka bersepakat untuk menyalin lembaran-lembaran yang pertama yang ada pada Abu Bakar dan menyatukan umat islam pada lembaran-lembaran itu dengan bacaan tetap pada satu huruf. Makalah ini akan mencoba membahas usaha yang dilakukan oleh Usman untuk menyatukan umat islam pada satu bentuk bacaan yang tetap. Cara-cara pembacaan (qiraat) Alquran yang mereka bawakan berbeda-beda sejalan dengan perbedaan ‘huruf ‘ yang dengannya Al-Qur’an diturunkan. Juga tidak dihimpun secara tertib yang hanya memuat ayat-ayat yang bacaannya tidak dimansuk dan secara ijma’ sebagaimana mushaf Abu Bakar. Ketika terjadi perang Armenia dan Azarbaijan dengan penduduk Iraq. Melihat kenyataan demikian Huzaifah segara menghadap Usman dan melaporkan kepadanya apa yang telah dilihatnya.dan Ibn Mas’ud ra. 2 . Sebagian bacaan itu bercampur dengan kesalahan. Usman juga memberitahukan kepada Huzaifah ra bahwa sebagian perbedaan itu pun akan terjadi pada orang-orang yang mengajarkan qiraat pada anak-anak. Anak-anak itu akan tumbuh. Dan penduduk di setiap wilayah itu mempelajari qira’at (bacaan) dari qari yang dikirim kepada mereka. tetapi masing-masing mempertahankan dan berpegang pada bacaannya. Tetapi mushaf-mushaf itu tidak ditulis dengan cara-cara diatas dan tidak pula dikerjakan dengan penuh ketelitian dan kecermatan. Penyebaran Islam bertambah dan para penghafal Alquran pun tersebar di berbagai wilayah. yang dikenal dengan istilah Rasm Usmani. Apabila mereka berkumpul di suatu pertemuan atau di suatu medan peperangan. sebagian mereka merasa heran dengan adanya perbedaan qiraat ini. Beliau banyak melihat perbedaan dalam cara-cara membaca Al-Qur’an. diantara orang yang ikut menyerbu kedua tempat itu ialah Huzaifah bin al-Yaman ra. Para sahabat amat memprihatinkan kenyataan ini karena takut kalau-kalau perbedaan itu akan menimbulkan penyimpangan dan perubahan.

Ali Al-Shobuni membagi kedalam dua masa tentang pengumpulan dan penulisan Alquran yaitu masa Rasulullah Saw dan masa Khulafaurrasyidin. Ikhtisar Ulumul Qur’an (Jakarta: Pustaka).p 1954). yaitu menulis dan mengukirnya.2 Kata rasm ini juga biasa diartikan sebagai sesuatu yang resmi atau menurut aturan. dilakukan dengan dua cara. yang menulis Alquran yaitu Abu bakar. dan Muawiyah Bin Abi Sofyan. Kamus Al-Munawir (Yogyakarta: t. Khalid Bin Walid. Rasm Usmani adalah tulisan yang dinisbatkan kepada sayyidina Usman ra. karena umumnya dimaksudkan hanya untuk kebutuhan pribadi. dan 2) pengumpulan dalam wujud tulisan. Adapun yang dimaksud rasm dalam makalah ini adalah pola penulisan Alquran yang mengumpulkan dan membukukan dalam satu mushaf. dan lainnya untuk penulis.3 Telah diketahui bahwa pengumpulan Alquran pada masa Rasulullah Saw.6 Ahmad Warson Munawir. Usman. At-Tibyan Fi Ulum Al-Qur’an. Wahyu yang ditulisnya. Umar. h. dan lain-lain. Istilah ini muncul setelah rampungnya penyalinan Alquran yang dilakukan oleh tim yang dibentuk oleh Usman pada tahun 25 H. tidak direncanakan akan diwariskan kepada generasi sesudahnya. memanggil para juru tulis ( kaatibul wahyi ) untuk menulis wahyu yang baru diterimanya. namun belum terkumpul dalam satu mushaf melainkan dalam keadaan terpisah pisah. Abban Bin Said. 4 Ibid. 163.4 Penulisan AlQur’an pada masa Nabi adalah penyusunan surah dan ayat secara sistematis. Dalam proses penulisan di zaman Rasulullah Saw. 533. Muhammad Ali Al-Shobuni. satu naskah disimpan Nabi Saw. yang berarti menggambar atau melukis. Ilmu Tafsir (Bandung: Pustaka Setia.B. Mereka mencatat wahyu Alquran tanpa pola penulisan standar. rasman.5 Setiap kali menerima wahyu Rasulullah SAW. Pada mulanya mushaf para sahabat berbeda antara satu dengan yang lainnya. yarsamu. h. Seluk Beluk Al-Qur’an (Jakarta: Rineka Cipta. 41. 2005). 1992). 69 5 Rosihan Anwar. h. Pengertian Rasm Usmani Rasm berasal dari kata rasama. 69. 3 2 3 . h. Ali. 6 Zainal Abidin. Jadi rasm berarti tulisan atau penulisan yang mempunyai metode tertentu. Diterjemahkan oleh Muhammad Qodirun Nur dengan Judul. h. yaitu 1) pengumpulan dalam dada dengan cara menghafal.

sehingga Alquran akan hilang dan musnah. mengingat kedudukannya dalam masalah qiraat.Pada masa khalifah Abu Bakar. h. Karena itu ia segera menyiapkan pasukan dan mengirimkannya untuk memerangi orang-orang yang murtad itu. Sejarah Al-Qur’an (Semarang: Dina Utama. Dalam peperangan ini tujuh puluh qari’ (penghafal Alquran) dari para sahabat gugur. sehingga hafalannya itu sedikit mengurangi bebannya namun demikian Zaid tidaklah mencukupkan dengan hafalannya dalam menetapkan ayat yang terdapat perselisihan kecuali dengan saksi. sampai akhirnya Zaid dapat menerima dengan lapang dada perintah penulisan Alquran itu. Pada mulanya Zaid menolak seperti halnya Abu Bakar sebelum itu. Peperangan Yamamah yang terjadi pada tahun 12 H melibatkan sejumlah besar sahabat yang hafal Alquran. Umar bin Khatab ra merasa sangat kuatir melihat kenyataan ini. Zaid melalui tugasnya yang berat ini dengan bersandar pada hafalan yang ada dalam hati para qari’ dan catatan yang ada pada para penulis. pemahaman dan kecerdasannya. kemampuan dalam masalah penulisan. Terus meneruslah Zaid meneliti Alquran dengan mengumpulkan dan menulisanya dan Zaid sendiri orang yang hafal Alquran. Keduanya lalu bertukar pendapat. awalnya Abu Bakar menolak usulan itu dan berkeberatan melakukan apa yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah.7 Begitu pula dalam melaksanakan amanah menulis Alquran tidak mengandalkan hanya hafalannya saja atau melalui pendengaranya saja akan tetapi bertitik tolak dari pada penyelidikan yang mendalam dari dua sumber. sehingga Allah membukakan hati Abu Bakar ra. kemudian Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Sabit. terjadi peristiwa-peristiwa besar berkenaan dengan kemurtadan sebagian orang Arab. Di segi lain Umar merasa khawatir juga kalau-kalau peperangan di tempat-tempat lain akan membunuh banyak qari’ pula. yakni: 7 Ibrahim Al -Abyari. serta kehadirannya pada pembacaan yang terakhir kali. Abu Bakar menceritakan kepadanya kekhawatiran dan usulan Umar. lalu ia menghadap Abu Bakar dan mengajukan usul kepadanya agar mengumpulkan dan membukukan Alquran karena dikhawatirkan akan musnah. untuk menerima usulan tersebut. 69-70. 1993). Tetapi Umar tetap membujuknya. sebab peperangan Yamamah telah banyak membunuh para qari’. 4 .

sebagian mereka merasa heran dengan adanya perbedaan qiraat ini. Fitnah yang demikian ini harus segera diselesaikan. Cara-cara pembacaan (qiraat) Alquran yang mereka bawakan berbeda-beda sejalan dengan perbedaan ‘huruf ‘ yang dengannya Al-Qur’an diturunkan. 24. Tetapi keadaan demikian bukan berarti tidak akan menyusupkan keraguan kepada generasi baru yang tidak melihat Rasulullah sehingga terjadi pembicaraan bacaan mana yang baku dan mana yang lebih baku. Apabila mereka berkumpul di suatu pertemuan atau di suatu medan peperangan. diantara orang yang ikut menyerbu kedua tempat itu ialah Huzaifah bin al-Yaman. Terkadang sebagian mereka merasa puas. dan 2) sumber tulisan yang ditulis pada zaman Rasulullah Saw. Al-Quran dari Masa Kemasa (Semarang: Ramadhani. h. Membumikan Al-Qur’an. karena mengetahui bahwa perbedaanperbedaan itu semuanya disandarkan kepada Rasulullah. serta menentang setiap orang yang menyalahi bacaannya dan bahkan mereka saling mengkafirkan.8 Setelah selesai Alquran dikumpulkan dan ditulis kemudian diserahkan kepada Abu Bakar. Beliau banyak melihat perbedaan dalam cara-cara membaca Alquran. naskah itu kemudian berada ditangan Hafsah binti Umar. 1952). Dan setelah wafatnya Umar Bin Khattab. ia digantikan oleh Umar Bin Khattab yang kemudian disimpannya naskah itu. tetapi masing-masing mempertahankan dan berpegang pada bacaannya. 25.1) sumber hafalan yang tersimpan dalam dada hati para sahabat. 9 Munawir Khalil.9 Penyebaran Islam bertambah dan para penghafal Alquran pun tersebar di berbagai wilayah. 8 5 . Dan penduduk di setiap wilayah itu mempelajari qira’at (bacaan) dari qari yang dikirim kepada mereka. Melihat kenyataan demikian Huzaifah segara menghadap Usman dan melaporkan kepadanya apa yang telah dilihatnya. Sebagian bacaan itu bercampur dengan kesalahan. Dan pada gilirannya akan menimbulkan saling bertentangan bila terus tersiar. Usman juga memberitahukan M. Bahkan akan menimbulkan permusuhan dan perbuatan dosa. h.Quraish Shihab. Sepeninggal Abu Bakar. Ketika terjadi perang Armenia dan Azarbaijan dengan penduduk Iraq. 1994). Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan. dan beliau menyimpan baik-baik hingga wafatnya.

Anak-anak itu akan tumbuh. menggambarkan peristiwa itu dengan mengatakan : “Demi Allah. 2005) h. beliau kemudian melakukan beberapa langkah penting sebelum kemudian mendistribusikan mushafmushaf itu ke beberapa wilayah Islam. karena Alquran turun dengan logat mereka. Mereka bersepakat untuk menyalin lembaran-lembaran yang pertama yang ada pada Abu Bakar dan menyatukan umat islam pada lembaran-lembaran itu dengan bacaan tetap pada satu huruf. Para sahabat amat memprihatinkan kenyataan ini karena takut kalau-kalau perbedaan itu akan menimbulkan penyimpangan dan perubahan. serta memerintahkan pula agar apa yang diperselisihkan Zaid dengan ketiga orang Quraisy itu ditulis dalam bahasa Quraisy. 10 6 .a. Ketiga orang terakhir ini adalah orang Quraisy. keberadaan pecahan-pecahan tulisan Alquran dianggap tidak diperlukan lagi. al-A’zhamy. Membakar seluruh manuskrip Alquran lain. dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam.kepada Huzaifah bahwa sebagian perbedaan itu pun akan terjadi pada orang-orang yang mengajarkan qiraat pada anak-anak. Ini dimaksudkan sebagai langkah verifikasi. Abdullah bin Az-Zubair. 105 – 106. terutama dengan suhuf yang dipegang oleh Hafshah binti Umar. Said bin ‘As. 2. lalu memerintahkan mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf.” M. sedang diantara mereka terdapat perbedaan dalam qiraat. ( Jakarta. Setelah panitia penulisan mushaf Alquran yang ditunjuk dan diawasi langsung oleh Khalifah Utsman bin ‘Affan selesai menunaikan tugasnya. Membacakan naskah final tersebut di hadapan para sahabat. Usman kemudian mengirimkan utusan kepada Hafsah untuk meminjamkan mushaf Abu Bakar yang ada padanya dan Hafsah pun mengirimkan lembaran-lembaran itu kepadanya. dia (‘Utsman) tidak melakukan apa yang ia lakukan terhadap mushaf-mushaf itu kecuali (ia melakukannya) di hadapan kami semua. Ali bin Abi Thalib r. The History of The Qur’anic Text from Revelation to Compilation. Sebab dengan selesainya mushaf resmi tersebut. Kemudian Usman memanggil Zaid bin Tsabit. Gema Insani Press.M. Langkah-langkah penting itu adalah10 : 1. Dan itu sama sekali tidak mengundang keberatan para sahabat.

tulisannya secara maksimal 7 . Dalam kerja penyalinan Alquran. sebab naskahnaskah mushaf ‘Utsmani tersebut hanya mengandung huruf-huruf konsonan. mengabaikan ayat-ayat mansukh dan tidak diyakini dibaca kembali di masa hidup Nabi Saw. kesalahan baca sangat mungkin terjadi. yang diperuntukkan untuk Kufah dan Bashrah disebut sebagai Mushaf ‘Iraqy. Usman kemudian mulai melakukan pengiriman mushaf Alquran ke beberapa wilayah Islam. Ini sekaligus menegaskan bahwa pewarisan pembacaan alQur’an –yang juga berarti pewarisan al-Qur’an itu sendiri. Yaitu menyertakan seorang qari’ dari kalangan sahabat Nabi saw bersama dengan mushaf-mushaf tersebut. Tanpa adanya para qari’ penuntun itu. Mushaf-mushaf tersebut oleh para ahli al-Rasm kemudian diberi nama sesuai dengan kawasannya. Sebagian ulama mengatakan ditulis di atas lembaran kulit rusa. Ini tentu saja sangat beralasan.sepenuhnya didasarkan pada proses talaqqi. ada langkah penting lainnya yang juga tidak lupa dilakukan oleh Usman. bukan pada realitas rasm yang tertuang pada lembaran-lembaran mushaf belaka. Semua naskah itu ditulis di atas kertas. Ada yang berpendapat sebanyak 4 eksemplar dan ada juga yang berpendapat 7 eksemplar. Tujuannya tentu saja untuk menuntun kaum muslimin agar dapat membaca mushaf-mushaf tersebut sebagaimana diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya. Naskah yang diperuntukkan untuk Madinah dan Mekkah kemudian dikenal dengan sebutan Mushaf Hijazy. tim yang diangkat oleh Usman mengikuti ketentuan-ketentuan yang disetujui oleh khalifah Usman. Ketentuan itu adalah bahwa mereka menyalin ayat berdasarkan riwayat mutawatir. Dalam proses pendistribusian ini. Para ulama Islam sendiri berbeda pendapat tentang jumlah eksemplar mushaf yang ditulis dan disebarkan pada waktu itu. tanpa dibubuhi baris maupun titik.Setelah melakukan dua langkah tersebut. kecuali naskah yang dikhususkan Usman untuk dirinya –yang kemudian dikenal juga dengan al-Mushaf al-Imam-. dan yang dikirim ke Syam dikenal dengan sebutan Mushaf Syamy.

Para ulama menyebut cara penulisan ini sebagai Rasm Al-Mushaf. seperti (‫ )مسجد( .11 1. Cairo: Maktabah Isa Al-Babi Al-Halabi Wa Syirkah. seperti penghapusan huruf-huruf sebagai berikut: 1. Karena cara penulisan disetujui Usman sehingga sering pula dinisbatkan kepada Usman. C.(‫ )الفنثاث( . seperti . serta huruf alif yang terdapat pada setiap bentuk jamak yang menyerupai wazan mafa_i’lu dan yang serupa dengannya. seperti ( ‫ )انجينكم‬dan (‫ . Penghapusan (Al-Hadzf). baik dalam keadaan rafa’ (berharakat dhammah) maupun jarr (ber-harakat Muhammad Ibnu Abdillah Al-Zarqazi.)المسلماث‬dan lainlain. 1972). baik untuk jama’ mudzakakar atau jama’ muannats.)ياايهننا الننناس‬huruf alif yang terdapat pada ha at-tanbih ْ (peringatan) sebagaimana tercantum dalam bunyi ayat (‫ . Para ulama merumuskan kaidah-kaidah tersebut menjadi enam istilah. h.)واثينه‬huruf alif terdapat setiap bentuk jama‘ shahih. 376-403. 11 8 . Huruf “yaa” yang terdapat pada setiap lafazh “Al-manqush yang bertanwin. b.mampu mengakomodasikan qira’at yang berbeda-beda.)النصري‬selain lafaz-lafaz yang memiliki kekecualian. Para penulis dan para sahabat setuju dengan tulisan yang mereka gunakan ini.) هانثم هو لء‬huruf alif yang terdapat (‫ )نا‬apabila diikuti oleh suatu dhamir (kata ganti). I. dan menghilangkan semua tulisan sahabat yang tidak termasuk ayat Alquran. Huruf alif yang terdapat pada (ya’ seruan) sebagaimana yang tercantum dalam bunyi ayat (‫ . Al-Burhan Fi Ulum Al-Quran (Jilid. sehingga mereka sebut Rasm Usman atau Rasm Usmani. Kaidah-Kaidah Rasm Usmani Rasm Usmani ditulis menurut kaidah-kaidah tulisan tertentu yang berbeda dengan kaidah tulisan imlak (Rasm Imla’i).

seperti (‫ )فادارءثم‬dan (‫ )ورءيا‬maka kedua kata tersebut hurufnya dihilangkan dan hamzah ditulis menyendiri. seperti ungkapan: (‫ )يعباد فاثقون‬kecuali dalam ّ ungkapan (‫. baik dalam keadaan fatah. seperti .)والسماء بنيناهاباييد‬ 3. Penambahan huruf alif diakhir isim yang dijamakan atau dalam hukum yang serupa dengannya.)جئنك‬ ‫))اقرأ‬ kecuali dalam kata-kata tertentu. sebagaimana yang terdapat didalam ungkapan: ‫وايثنناءي ذي‬ ‫ . Penambahan (az-ziyadah). dan kekejian (tafdhi). seperti ungkapan (‫) اولوااللباب(. seperti ungkapan (‫ )غيرباغ ولعاد‬dan ungkapan (‫ )ولكل قوم‬dan huruf “yaa” dalam ungkapan seruan. ketakutan (at-tahwil). baik di awal. seperti kata ( ‫)أولوا(. tengah.)نباي المرسلين‬di dalam surah Al-Nahl). Al-Hamzah al-Sakinah yang aslinya ditulis di atas huruf yang sesuai dengan harakat sebelumnya. Aturan hamzah yang terdiri atas beberapa macam.)با يبكم المفثننون‬ dan ungkapan (‫.)مل ءيهم( . b.)إذا(.)قل ياعبادي الذين اسرفوا‬ 2.(‫الربننوا‬ ‫))الزكواث(.)الصلواث(. yaitu: a.)سأصرف‬ 4. Al-Hamzah al-Mutaharrikah apabila berada di awal kata atau digabungkan dengan huruf tambahan. maupun akhir.)القربي ( .)أيوب(. yaitu sebagimana berikut ini: a. Penambahan huruf “yaa’. sebagaimana penambahan huruf-huruf berikut ini: a.)ومن اناءي الليل( . Aturan Al-Badhal (penggantian) yang terdiri atas beberapa macam aturan. dammah maupun kasrah. hamzah tersebut ditulis dengan alif secara pasti (mutlak). ) بنوااسرائيل‬ b. Gambar alif ditulis dengan al-wawu untuk menyatakan keagungan (altafkhim). (‫.)الحيواث‬ 9 .kashrah).(‫هيء . seperti kata (.

Penyambungan kata (‫ . dan firman-Nya (‫ )عن من ثولي‬dalam surah al-Najm. Al-imran.)عما‬kecuali di dalam . seperti kata (‫ )رحمة‬dalam surah alBaqarah. dan sebagian lagi tertulis dalam satu keadaan tertentu: a.12 5.)مما‬kecuali di dalam ungkapan (‫ )من ماملكث أيمانكم‬dalam surah al-Nisa dan al-Rum. c. Penyambungan kata (‫ )أل‬dengan harakat fatah dalam hamzah dan syiddah dalam lam dan pemisahannya yang terjadi pada sepuluh tempat. Penyambungan kata (‫ . Di dalam ditulisan terkadang.(‫)عن مانهواعنه‬ d. diterjemahkan oleh Taufiqurrahman dengan judul. sebagian lafaz ditulis secara bersambung dan terkadang ditulis secara terpisah. Penyambungan kata (‫ . kata (‫ )وان لثعلواعلي ال‬dalam surah al-Dukhan. h. ungkapan (‫ )من مارزقناكم‬dalam surah al-Munafiqun. Ha’ at-Ta’nis ditulis dengan huruf ta (‫ )ث‬yang berbeda dengan huruf aslinya dibeberapa tempat di dalam al-Qur’an. diantaranya adalah kata-kata (‫)أن لثقولوا‬ dalam surah al-A’raf. Penyambungan kata (‫ . Aturan pemisahan (al-fashl) dan penyambungan (al-washl). e. al-Maidah. Penyambungan kata (‫ .)من كل ماسألثموه‬ f. firmanMuhammad Bin muhammad Abu Syuhbah. penyambungan kata (‫ )ممن‬secara mutlak. kata (‫ )أن لثعبدوا‬dalam surah Hud dan surah Yasin. b. 123-124. dan lain-lain. 12 10 .b.)عمن‬kecuali di dalam firman-Nya (‫)ويصرفه عن من يشاء‬ dalam surah Al-Nur.)كلما‬kecuali dalam firman-Nya (‫ )كل ماردواالي الفثنة‬dan firman-Nya (‫. firman-Nya (‫ )أن من أسس‬dalam surah al-Taubah. 2003). Studi Ulumul Qur’an: Telaah Atas Mushaf Ustmani (Bandung: Pustaka Setia. Al-Madkhal Li Dirasah Al-Qur’an Al-Karim.)أمننن‬kecuali dalam firman-Nya (‫)أمننن يكننون عليهننم وكيل‬ dalam surah al-Nisa.

h. ungkapan (‫ )الصراط‬bagaimana pun terjadinya.)في ما‬ 6. 11 .)المصيطر‬yang ditulis dengan huruf shad.)ثفدون(.)أن لن‬kata (‫ .)لكي ل‬dan kata (‫. tetapi dibaca dengan alif atau tanpa alif.))قرية(. kecuali dalam ungkapan (‫ )ومانرينك‬dalam surah al-Ra’du. ثظهرون‬dan ungkapan lainnya. (‫ )بصطة‬dalam surah al-A’raf: 1. seperti ungkapan ( ‫ولولدفع ال الناس(.)وعدنا(. (‫ . ungkapan (‫ )غيبث الجب‬dalam surah yusuf: 15. Lafadz-lafadz yang memiliki dua bacaan dan dituliskan pada salah satunya. Penyambungan kata (‫ )أنمننا‬dengan harakat fatah pada huruf hamzah secara mutlak.)وحرم علنني‬ ‫ .)النساء(. tetapi dibaca dengan alif atau dengan menghilangkan alif.Nya (‫ . tetapi dibaca dengan huruf shad atau sin. (‫)شمرة من أكمامها‬ dalam surah fushilat. Kesimpulan 13 Ibid. g. dan dibaca dengan bentuk jama’ dan mufrad. Dan lafaz-lafaz lainnya yang sewaktu-waktu ditulis secara bersambung dan sewaktu-sewaktu terpisah.13 C. ungkapan (‫ )فكهون‬yang ditulis tanpa alif. 128-129.)أن من خلقنا‬penyambungan kata (‫ )اما‬dengan harakat kasrah pada huruf hamzah dan syiddah.)أولسثم(.)وهم في الغرفث امنو‬semua ungkapan tersebut telah ditulis dengan ta’maftutah dan tanpa alif. seperti kata (‫ .)فرهن(. kata (‫ . h.)يخدعون(. semuanya ditulis di dalam mushaf Usmani tanpa alif.)عقدث أيمانكم(.)وماهم بسكري(. ungkapan (‫ )مصيطر(.)أين ما‬kata (‫ .)ملك يوم الدين(. tanpa kecuali.)أنما‬kata (‫ )أن لم‬dengan harakat dan kasrah. tetapi yang kita maksudkan bukan bacaan yang janggal (syaddzah).)سكري(.

sampai Khalifah Usman Bin Affan keotentikan Alquran masih tetap terpelihara dan terjaga sebab.Pengumpulan mushaf oleh Abu Bakar berbeda dengan pengumpulan yang dilakukan Usman dalam motif dan caranya. itupun atas dasar kesepakatan antara dia dengan kaum muhajirin dan anshar yang hadir dihadapannya. Rasm Usmani mempunyai beberapa kaida-kaidah antara lain : a. Dengan usahanya itu Usman telah berhasil menghindarkan timbulnya fitnah dan mengikis sumber perselisihan serta menjaga isi Alquran dari penambahan dan penyimpangan sepanjang zaman. Sedang motif Usman adalah karena banyaknya perbedaan dalam cara-cara membaca Alquran yang disaksikannnya sendiri di daerah-daerah dan mereka saling menyalahkan antara satu dengan yang lain. Motif Abu Bakar adalah kekhawatiran beliau akan hilangnya Alquran karena banyaknya para penghafal Alquran yang gugur dalam peperangan yang banyak menelan korban. Kaidah buang (Al_Hadzf) b. Sebelum itu mushaf-mushaf itu dibaca dengan berbagai macam qiraat yang didasarkan pada tujuh huruf dengan mana Alquran diturunkan. Usman hanyalah berusaha menyatukan umat pada satu macam (wajah) qiraat. Kaidah panambahan (Al-Ziyadah) c. Serta setelah ada kekhawatiran timbulnya kemelut karena perbedaan yang terjadi karena penduduk Iraq dengan Syam dalam cara qiraat. Proses perkembangan penulisan Alquran dari zaman Rasullullah Saw. Kaidah penggantian (Al-Badal) e. 12 . Sedang yang lebih dahulu mengumpulkan Alquran secara keseluruhan (lengkap) adalah Abu Bakar asSidiq. Zaid Bin Tsabit tidak pernah lepas dari perannya sebagai penulis baik di zaman Abu Bakar maupun di zaman Usman bin Affan. Yang masyhur di kalangan orang banyak ialah bahwa pengumpul Alquran itu Usman. padahal sebenarnya tidak demikian. salah satu sekertaris penulis Alquran di zaman Rasullah. Kaidah sambung dan pisah (Washl Wa A-Fashl). Ini membuktikan bahwa Allah selalu dan senatiasa memelihara Alquran. Kaidah hamzah (Al-Hamzah) d.

13 .

Cet. Muhammad Ali. 1992.Grafindo Persada. T. Yogyakarta: t.Quraish. Ihktisar Ulmul Qur’an. III. diterjemaahkan oleh Muhammad Qodirun Nur.DAFTAR PUSTAKA Af. Ilmu Tafsir. Abdul Wahid. 2002 14 . Cet.tp 1954. I. Al-shobuni. I. Semarang: Dina Utama. Ulum Al-Qur’an. Kamus Al-Munawir. Abidin.Munawir. Jakarta: PT. Ahmad Warson. M. IV. 1995. 1993.Th. Bandung: Pusta Setia. Al-Abyani. Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Anwar. Raja Grafindo Persada. Jakarta: Pustaka. 2005. Cet. Ibrahim. Rosihan. Jakarta: Rineka Cipta. Ramli. Membumikan Al-Qur’an. Edisi revisi. Seluk Beluk Al-Qur’an. Anatomi Al-Qur’an Perbedaa Qiraat dan Pengaruhnya terhadap Istinmbath Hukum dalam Al-Qura’n. M. At-Tibyan Fi Ulum Al-Qur’an. Sejarah Al-Qur’an. Hasanuddin. Shihab. Jakarta: PT. Zainal. Cet. Bandung: Mizan. 1994.

15 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful