UNIVERSITAS INDONESIA

KEBIJAKAN PEMBAHARUAN AGRARIA DI INDONESIA ³Studi Pilihan Kebijakan Landreform Pada Pola Kepemilikan Lahan Komunal´

TESIS

Dwi Kristianto NPM : 0806482346

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PROGRAM PASCASARJANA KESEJAHTERAAN SOSIAL DEPOK DESEMBER 2010

1

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Permasalahan kemiskinan dan ketimpangan sosial di Indonesia selayaknya diselesaikan dari akar masalahnya. Dengan sebagian besar penduduknya adalah petani dan nelayan maka permasalahan ketersediaan lahan di Indonesia merupakan masalah kunci sebagai salah satu pintu masuk menyelesaikan permasalahan sosial dan kemiskinan. Dewasa ini masalah pertanahan belum dapat dipecahkan sebagimana yang diharapkan, bahkan semakin rumit sejalan dengan meningkatnya berbagai kegiatan pembangunan dan aktivitas masyarakat itu sendiri. Media massa cetak maupun elektronik telah melaporkan berbagai sengketa pertanahan yang terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia, dengan berbagai variasi masalah dan kecenderungan dampak buruk lainya. (Cholid, 2004). Disampaikan juga bahwa sesungguhnya negara memiliki mandat untuk mengelola seluruh sumber daya agraria, untuk mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Seperti tercantum dalam pasal 33 ayat 3 amandemen keempat UndangUndang Dasar 1945 dan Undang-Undang Pokok Agraria 1960 (UUPA 1960) bahwa bumi, air, ruang angkasa dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai negara dan digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Akan tetapi, dalam kurun waktu dekade terakhir ini, masalah pertanahan di Indonesia telah mencuat kepermukaan. Salah satu permasalahan dibidang pertanahan yang perlu mendapat perhatian semua pihak, yaitu semakin terkonsentrasinya pemilikan dan penguasaan tanah pada sekelompok kecil masyarakat. Perbedaan penguasaan dan kepemilikan atas tanah-tanah pertanian tiap tahunnya semakin tampak. Konsentrasi kepemilikan lahan pun semakin tajam. Hasil Sensus Pertanian 2003 menyebutkan, jumlah rumah tangga petani gurem dengan penguasaan lahan kurang dari 0,5 hektar-milik sendiri maupun menyewa

2

meningkat 2.6 persen per tahun dari 10.8 juta rumah tangga (1993) menjadi 13.7 juta rumah tangga (2003). Untuk jumlah petani gurem saja, pada 1983

persentasenya mencapai 40.8 persen. Pada 1993 meningkat menjadi 48.5 persen dan pada 2003 kembali meningkat menjadi 56.5 persen. Dari 24.3 juta rumah tangga petani berbasis lahan, terdapat 20.1 juta (82.7 persen) di antaranya dapat dikategorikan miskin. Itu menunjukkan ketimpangan distribusi pemilikan tanah. Menurut Berita Resmi Statistik (Maret 2010) Jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada Maret 2010 mencapai 31,02 juta (13,33 persen), turun 1,51 juta dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2009 yang sebesar 32,53 juta (14,15 persen). Selama periode Maret 2009-Maret 2010, penduduk miskin di daerah perkotaan berkurang 0,81 juta (dari 11,91 juta pada Maret 2009 menjadi 11,10 juta pada Maret 2010), sementara di daerah perdesaan berkurang 0,69 juta orang (dari 20,62 juta pada Maret 2009 menjadi 19,93 juta pada Maret 2010). Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah selama periode ini. Pada Maret 2009, 63,38 persen penduduk miskin berada di daerah perdesaan, sedangkan pada Maret 2010 sebesar 64,23 persen (BPS 2010). Dari data tersebut artinya dari keseluruhan pengangguran di Indonesia, lebih dari setengahnya berada di wilayah perdesaan. Sensus pertanian tahun 1993 menunjukan bahwa 69% luas tanah pertanian dikuasai oleh 16% rumah tangga pedesaan, sementara 31% luas tanah pertanian sisanya dikuasai oleh sebagian besar petani kecil dan tunakisma (84% rumah tangga pedesaan). Fenomena tersebut semakin diperburuk dengan adanya fragmentasi tanah yang semakin tidak bisa dihindari, alih fungsi tanah pertanian ke-pengunaan non pertanian yang tidak terkendali, masalah lingkungan sebagai akibat eksploitasi yang berlebihan dan masalah lainnya. Maka dalam penelitian ini akan fokus mengkaji tentang Kebijakan Pembaharuan Agraria di Indonesia ³Studi Pilihan Kebijakan Landreform Pada Pola Kepemilikan Lahan Komunal´. Sebagai upaya menjawab berbagai permasalahan pengelolaan sumberdaya agraria di Indonesia.

3

1.2. Masalah Penelitian. Perlu disadari bersama bahwa akses masyarakat terhadap sumberdaya lahan telah menjadi isu yang sangat penting, karena permasalahan ini tidak saja menyangkut faktor produksi namun menjadi faktor yang menentukan hubungan sosial dan perkembangan masyarakat. Satu hal yang menarik untuk dikaji adalah masalah ketimpangan akses masyarakat terhadap sumberdaya agraria khususnya lahan yang menyangkut masalah penguasaan, kepemilikan dan pengusahaan

lahan. Kondisi tersebut telah menyebabkan ketimpangan pada pemanfaatan yang diikuti pada perbedaan tingkat kesejahteraan antara masyarakat yang mempunyai akses dan yang tidak mempunyai akses terhadap sumber daya lahan yang ada khususnya pada masyarakat agraris di daerah pedesaan. Dalam kebijakan redistrbusi lahan di Indonesia hal yang penting diperhatikan adalah bagaimana pola kepemilikan lahan masyarakat di Indonesia. Mengacu pada beberapa kajian menyimpulkan bahwa ada dua model kepemilikan lahan oleh masyarakat yaitu pola kepamilikan individu(private) dan kepemilikan kelompok/komunal. Pola kepemilikan ini mempengaruhi pola pengelolaan dan hubungan masyarakat dengan lahan. Sehingga apabila kebijakan landreform lahan ini tidak memperhatikan pola-pola kepemilikan dan budaya masyarakat dalam mengelola sumberdaya lahan ditakutkan program tersebut justru akan merusak struktur dan budaya masyarakat setempat dalam mengelola sumberdaya lahan. Masalah lain yang juga perlu diperhatikan dalam program pembaharuan agraria adalah bagaimana program pembaharuan agraria di Indonesia memberikan pengakuan dan perlindungan terhadap penguasaan tanah adat yang dikuasai secara komunal dan turun-temurun, seperti di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Papua. Penggelolaan sumberdaya lahan yang terlalu pro terhadap investasi khususnya usaha produksi hutan (HPH/HTI), perkebunan skala besar dan pertambangan telah menghilangkan kesempatan masyarakat lokal memanfaatkan tanah dan hutan(sumberdaya agraria) yang meraka miliki. Berdasarkan latar belakang diatas dan tanpa mengesampingkan berbagai pokok-pokok masalah dalam pelaksanaan program pembaharuan agraria di Indonesia, penelitian ini akan membatasi pada: untuk

4

1. Seperti apa pola penguasaan, kepemilikan dan pemanfaatan lahan komunal di Indonesia. 2. Pilihan kebijakan landreform seperti apa yang cocok diterapkan pada masyarakat komunal. Latar belakang budaya dan tradisi masyarakat dalam mengelola lahan harus menjadi dasar penentuan model landreform di Indonesia, kelompok

masyarakat yang memiliki kepemilikan secara komunal tentunya tidak sama dengan masyarakat yang pola kepemilikan lahannya secara individu. Penelitian ini diharapkan bisa memberi informasi pada operasionalisasi program landreform di Indonesia dan untuk memberikan hasil yang komprehensif dalam menjawab berbagai pertanyaan, maka penelitian ini akan mengacu pada penelitan dan studi yang pernah dilakukan sebelumnya.

1.3. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitan Kebijakan Pembaharuan Agraria di Indonesia ³Studi Pilihan Kebijakan Landreform Pada Pola Kepemilikan Lahan Komunal´. adalah : 1. Memetakan berbagai pola penguasaan, kepemilikan dan pemanfaatan lahan komunal di Indonesia. 2. Merumuskan pilihan kebijakan landreform pada pola kepemilikan lahan komunal sebagai referensi program pembaharuan agraria di Indonesia.

1.4. Manfaat Penelitian. 1.1.1. Manfaat Akademik. Hasil penelitian ini secara akademis diharapkan dapat dijadikan salah satu pijakan informasi, referensi dan kajian bagi para akademisi serta pihak-pihak lain yang berkepentingan untuk memperkaya kajian akademis dalam upaya pelaksanaan landreform di Indonesia. Selain itu penelitian ini untuk memperkaya kajian tentang isu-isu pembangunan sosial dalam pembangunan Indonesia.

5

1.1.2. Manfaat Praktis. Penelitian ini secara praktis diharapkan dapat memberikan informasi akademis kepada para perancang, perencana dan pelaksana pembaharuan agraria dalam rangka pelasanaan landreform jika kebijakan tersebut benar akan dijalankan. 1.5. Metode Penelitian. Pendekatan penelitian yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Dipilihnya metode kualitatif dalam penelitian ini agar penelitian ini bisa mendapatkan gambaran tentang pengelolaan lahan komunal di Indonesia, bagaimana bentuk-bentuk penguasaan pemilikan dan pengelolaan lahan. Ada nilai dan norma-norma seperti apa yang berkembang pada masyarakat komunal sehingga distribusi aset dan kerjasama antar individu dalam kelompok komunal terjalin dengan baik. Diharapkan dengan metode ini akan didapat gambaran tentang pola kepemilikan komunal di Indonesia. Definisi umum tentang penelitian kualitatif adalah suatu metode berganda dalam fokus, yang melibatkan suatu pendekatan interpretif dan wajar terhadap setiap pokok permasalahannya. Ini berarti penelitian kualitatif bekerja dalam setting yang alami yang berupaya untuk memahami, memberi tafsiran pada fenomena yang dilihat dari arti yang diberikan orang-orang kepadanya. Penelitian kualitatif melibatkan penggunaan dan pengumpulan berbagai bahan empiris seperti studi kasus, pengalaman pribadi, introspeksi, riwayat hidup, wawancara, pengamatan, teks sejarah, interaksional dan visual yang menggambarkan momen rutin dan problematis, serta maknanya dalam kehidupan individual dan kolektif (Denzin & Lincoln, 1994, hal.2).

6

Gambar: 1.1 Kerangka Operasioanal Penelitian

1.6. Tipe Penelitian. Tipe eksploratif dipilih karena informasi berupa literatur, baik itu dari buku maupun sumber-sumber lain seperti hasil penelitan, artikel masih sangat minim sehingga tipe penelitian dipilih untuk mendapatkan informasi dan data sebanyak-banyaknya terkait dengan budaya pengelolaan lahan meliputi pola penguasaan, pemilikan dan pengusahaan lahan khususnya pada pola kepemilikan komunal sehingga dapat mendukung rumusan pilihan kebijakan yang akan dirumuskan dalam penelitian ini. Penelitian eksploratif atau yang bersifat menjelajah. Penelitian ini

dilakukan bila pengetahuan tentang gejala yang diteliti masih sangat kurang atau tidak ada sama sekali. Menurut Mantra, (2004) Dalam penelitian eksploratif, peneliti belum memiliki gambaran akan definisi atau konsep penelitian. Penelitian eksploratif seringkali digunakan untuk meneliti fenomena sosial dari suatu kelompok atau golongan tertentu, yang masih kurang diketahui orang. Kajian

7

tentang pola penguasaan, pemilikan, dan pengusahaan lahan secara komunal masih sangat sedikit, sehingga tipe penelitian eksploratif ini dipilih dalam penelitian ini.

1.7. Ruang Lingkup Penelitian. Indonesia merupakan bangsa yang majemuk, terdiri dari beraneka suku bangsa, kondisi tersebut mempengaruhi pola kepemilikan terhadap sumberdaya yang ada. Di beberapa tempat kepemilikan sumberdaya agraria /lahan dimiliki secara komunal, sedang di tempat lain kepemilikan sumberdaya agraria seperti petani di pulau Jawa kepemilikan lahan dimiliki secara individu. Untuk itu penelitian ini fokus mengkaji berbagai pola penguasaan, kepemilikan dan pemanfaatan lahan komunal di Indonesia, seperti apa tipe dan ciri-ciri pengelolaan lahan komunal di Indonesia. Fokus kajian tersebut ditujukan untuk merumuskan model pilihan kebijakan landreform di Indonesia dalam upaya mendorong kebijakan operasional program pembaharuan agraria di Indonesia khususnya pada wilayah-wilayah yang tidak mengenal kepemilikan individu.

1.1.3. Teknik Pemilihan Informan. Definisi informan menurut Moleong (2006 , hal.132) adalah orang yang dapat memberi informasi tentang situasi dan kondisi dari latar penelitian. Menurutnya informan akan memberi pandangan dari segi orang tentang nilai, sikap, pandangan, proses dan kebudayaan yang menjadi latar dari lingkungan penelitian dilakukan. Dalam penelitian ini penentuan informan mengunakan model purposive. Purposive adalah pemilihan informan bertujuan yang dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas strata, random atau daerah, tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu (Arikunto, 2006, hal.228). Dasar dari pemilihan informan adalah individu-individu yang mengetahui dan memahami tentang program pembaharuan agraria di Indonesia baik itu pejabat pemerintah, peneliti/akademisi, penggiat program reforma agraria maupun masyarakat.

8

Tabel 1.1 Theoretical Sampling N O 1. 1. Diskripsi kepemilikan, pemanfaatan dan pengusahaan lahan komunal di Indonesia INFORMASI YANG DIBUTUHKAN 2 Pentingnya kajian sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam menentukan model landreform Bagaimana pola kepemilikan, pengelolaan dan pengusahaan lahan komunal di Indonesia. Diskripsi dan Model kepemilikan analisis terkait lahan komunal yang dengan model sesuai dengan karateristik kebijakan masyarakat landreform Indonesia. lahan pada Model pengelolaan pola lahan komunal yang sesuai dengan kepemilikan tanah komunal karateristik masyarakat Indonesia, dalam kerangka optimalisasi lahan. Mekanisme seperti apa yang dibuat untuk melakukan kontrol dalam menjaga distribusi lahan INFORMAN 3 1. Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara(AMAN) 2. Ketua Dewan Nasional Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA) 3. Direktor Landreform Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 4. Tokoh Muda Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia. 5. Kepala Divisi Sumberdaya Alam Yayasan Kekal 6. Tokoh Muda Timor (Anggota Yayasan Kekal) 7. Tokoh Muda Suku Dani Wamena (Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Negeri Papua) 8. Project Leader FFI Kalimantan 9. Direktur Yayasan Titian Kalimantan Barat 10. Kementerian Kehutanan Republik Indonesia(Planologi) JM L 4

2

10

1.1.4. Unit Analisis. Unit analisis adalah berbagai bentuk atau pola penguasaan, kepemilikan dan pemanfaatan lahan komunal dan seperti apa tipe dan ciri-ciri pengelolaan

9

lahan komunal di Indonesia. Selain itu juga opini model ideal dalam perspektif pemerintah, penelitian dan akademisi, lembaga riset dan NGO dalam upaya mendorong kebijakan operasional program Pembaharuan Agraria di Indonesia. Semua kajian akan didasarkan atau diklarifikasi dengan UUPA tahun 1960 dan paradigma Pembangunan Sosial. 1.1.5. Teknik Pengumpulan Data. Ada dua tenik pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini, antara lain adalah: a. Studi Pustaka (library research) Studi pustaka bertujuan untuk memperoleh kerangka pemikiran atau konsep untuk penelitian ini. Studi pustaka dilakukan dengan mengumpulkan data dan informasi yang diperoleh dari referensi yang bersumber dari berbagai literatur seperti buku-buku, jurnal, majalah, peraturan perundang-undangan, hasil penelitian sebelumnya yang nantinya akan menjadi acuan dalam analisis. b. Wawancara Para Ahli (expert panel) Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang akan memberikan jawaban atas pertanyaan (Moleong 1998, hal.135). wawancara ini merupakan wawancara tidak berstruktur, yaitu wawancara yang dilakukan berdasarkan pedoman wawancara yang berisi butir-butir atau pokok pikiran mengenai hal-hal yang akan ditanyakan pada waktu wawancara berlangsung sehingga dapat menunjang dari data yang didapat. eknik pengumpulan data ini dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap informan. Informan dalam expert sampling terdiri dari orang yang diketahui mempunyai pengalaman atau keahlian dalam suatu bidang, oleh karena itu sempel ini dikenal juga dengan "panel of experts". Menurut Gerris&Locey (2010, hal.228) disampaikan bahwa: ³choosing an appropriate expert panel is critical for success. It is the first stage of the of delphi proses and regarded as the µlynchipin of the method'´

10

Yang dimaksud adalah, penentuan informan menjadi sangat penting karena hal ini sangat mempengaruhi hasil yang diinginkan sesuai dengan tujuan penelitian. Ada dua alasan kenapa expert sampling digunakan. Pertama, ini adalah cara terbaik untuk memperoleh sampel orang yang punya specific expertise. Dalam hal ini, expert sampling adalah hal yang khusus dari purposive sampling. Alasan kedua, adalah expert tersebut dapat digunakan sebagai bukti penguat validitas sampel yang dipilih mengunakan metoda non probabilistik lainya. Berdasarkan pada teknik pengumpulan data ini maka Interview langsung dilakukan terhadap: 1). Direktur Landreform BPN RI, dan Staf Ahli Kementerian Kehutanan Republik Indonesia 2). Penggiat Pembaharuan Agraria di Indonesia, 3). Akademisi Pemberharuan Agraria di Indonesia, 4). Tokoh Masyarakat yang mempunyai pengalaman dalam pola pengelolaan lahan komunal. 1.1.6. Teknik Analisis Data. Dalam menganalisis data, dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: pertama, pengumpulan data mentah, dilanjutkan dengan transkrip data, Pembuatan koding, kategori data dan penyimpulan sementara. Setelah semua proses tersebut dilakukan selanjutnya dilakukan trianggulasi dari data yang diperoleh, tahap ini adalah kegiatan untuk check dan recheck antara satu sumber data dengan sumber data lainnya. Trianggulasi yang dilakukan, baik dalam hal sumber data, metode maupun teori. Tahap terakhir adalah penyimpulan akhir, langkah ini dilakukan karena data telah dianggap sudah jenuh, dimana ketika dilakukan penambahan data baru dari responden justru akan membuat tumpang tindih data (Irawan, 2006:89). Berbagai data dan temuan yang diperoleh, dikaji kembali secara berulang dan diverifikasi selama penelitian berlangsung hingga akhirnya sampai pada kesimpulan akhir. Analisis data dalam penelitian ini akan mengunakan metode analisis

deskriptif. Metode analisis ini dipilih untuk membuat analisis secara sistimatis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta yang berkaitan dengan pola kepemilikan lahan dan model-model landreform yang dikembangkan di Indonesia. Pendekatan

11

ini dipilih untuk menyajikan berbagai aspek yang terkait dengan program landreform dimana aspek ekonomi, sosial budaya dan politik dapat dipadukan dalam pelaksanaan program ini. 1.8. Sistematika Penulisan. BAB I Pendahuluan: Bab ini menyampaikan bagaimana menyelesaikan permasalahan kemiskinan di Indonesa malalui program landreform sebagai salah satu akar masalah kemiskinan. Kemudian bab ini akan menyampaikan Perumusan Masalah Pembaharuan Agraria yang akan menjadi fokus dalam penelitian ini, Tujuan penelitian, Manfaat Penelitian, Metode Penelitian, dan Sistematika penulisan BAB II Kerangka Pemikiran: Pada bab ini berisi tentang konsep pembangunan, paradigma pembangunan nasional yang bertumpu pada

pertumbuhan ekonomi sampai paparan konsep paradigma pembangunan sosial, hubungan manusia dengan tanah dan meliputi hak akan tanah dan monopoli tanah hubungan dengan kesejahteraan. Bagian terakhir adalah berbagai hal yang menyangkut program landreform di Indonesia dan kajian literatur lainya yang

dilakukan secara mendalam sehingga akan memperkaya dalam analis. BAB III Gambaran Umum Penelitian: Bab ini akan menyampaikan tentang pengelolaan tanah negara dan tanah ulayat (tanah ulayat dan hak ulayat serta istilah dan pengertian tanah negara). Inti yang ingin disampaikan dalam bab ini adalah berbagai model pola kepemilikan, pengelolaan, sistem pewarisan, pada masyarakat yang pengelolaan lahannya dilakukan secara komunal. Informasi ini akan digali dari studi pustaka meliputi laporan penelitian, buku, artikel dan sumber-sumber lain yang mendukung. BAB IV Hasil temuan lapangan: Meliputi hasil wawancara dan eksplorasi informasi terkait dengan pola-pola penguasaan, kepemilikan, dan pengelolaan lahan komunal serta gagasan tentang kebijakan landreform komunal dengan narasumber/responden yang sudah ditentukan. BAB V Hasil dan Pembahasan: Dalam bab ini berisi tentang analisis polapola penguasaan, kepemilikan, dan pengelolaan lahan komunal, dimana hasil temuan penelitian diinterpretasikan dengan gugus teori yang digunakan pada bab pada masyarakat

12

sebelumnya yaitu kajian berbagai model landreform di Indonesia, yang susuai dengan tujuan pembangunan sosial dan prespektif UUPA 1960. BAB VI Penutup: Bab ini berisi tentang kesimpulan dan rekomendasi, yakni tentang kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian yang dilakukan, serta saran yang dapat direkomendasikan dari hasil analisis yang dilakukan.

13

BAB 2 KERANGKA PEMIKIRAN

Pada bagian ini akan memaparkan tentang teori-teori yang melandasi penelitian ini, meliputi paradigma pembangunan nasional, paradigma pembangunan sosial, reforma agraria dan landreform.

2.1. Paradigma Pembangunan Nasional Tak bisa dipungkiri lagi bahwa pembangunan secara fisik tidak bisa lepas dari lahan dan ruang, maka lahan menjadi kunci dari proses sebuah pembangunan. Bagaimana menempatkan lahan sebagai modal pembangunan yang menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat dan kestabilan ekosistem, tergantung dari paradigma dan bagaimana menempatkan lahan sebagai sumber daya yang bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan. Untuk itu, bab ini akan menguraikan pemahaman kembali apa arti pembangunan yang sesungguhnya. Istilah ´pembangunan´ pada mulanya adalah sekadar terjemahan dari bahasa Inggris development. Sebelum Perang Dunia II, istilah pembangunan juga telah dipakai oleh tokoh pergerakan Indonesia. Akan tetapi makna yang dimaksudkan mungkin sedikit berbeda dari apa yang sekarang dimengerti secara umum. Saat itu, makna pembangunan mengacu pada tiga makna sekaligus antara lain(Wiradi, 2000, hal.152): (a) Membangkitkan semangat kemandirian, membangun jiwa merdeka,

membebaskan diri dari mentalitas bangsa penjajah. (b) Membangun susunan masyarakat baru yang bebas dari penindasan, adil dan demokratis. (c) Membangun secara fisik, bagi kesejahteraan rakyat. Tujuan pokok yang harus difasilitasi pemerintah melalui pembangunan untuk setiap individu masyarakatnya adalah : Kecukupan, Harga Diri dan Kebebasan dari Sikap Menghamba. a). Kecukupan adalah kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar, sedangkan yang disebut sebagai kebutuhan dasar adalah segala sesuatu yang jika tidak dipenuhi akan

14

menghentikan kehidupan seseorang. Kebutuhan dasar ini meliputi pangan, sandang, papan, kesehatan, dan keamanan, b). Harga Diri yaitu menjadi manusia seutuhnya yaitu adanya dorongan dari diri sendiri untuk maju, menghargai diri sendiri, untuk merasa diri pantas dan layak melakukan atau mengejar sesuatu, dan seterusnya, c). Kebebasan dari Sikap Menghamba adalah kemampuan untuk memilih nilai universal, kemerdekaan atau kebebasan di sini hendaknya diartikan secara luas sebagai kemampuan untuk berdiri tegak sehingga tidak diperbudak oleh pengejaran aspek-aspek materiil dalam kehidupan ini (Todaro dan Smith, 2006, hal.27-28) Pada awal kemerdekaan paradigma pembangunan nasional dipengaruhi oleh kondisi politik dunia di mana berakhirnya Perang Dunia II, dunia memasuki masa perang dingin. Kondisi tersebut berpengaruh pada tatanan politik dan ekonomi di Indonesia, antara tahun 1959-1965 dalam bayang-bayang perang dingin antara kubu kapitalis dan sosialis/komunis. Indonesia ingin keluar dari tarikan kedua kubu tersebut, hal ini ditandai dengan semboyan trisakti dan semangat berdikari; semboyan tersebut berimplikasi pada beberapa hal antara lain(Wiradi, 2000, hal.152): 1. Sangat selektif dalam mencari bantuan luar negeri 2. Sangat berhati-hati dalam melaksanakan business deal 3. Sangat berhati-hati dalam menyerap pengaruh asing (Pendidikan, seni budaya, dan lain-lain). Perubahan peta politik dan pergantian kepemimpinan nasional dari Presiden Soekarno kepada Presiden Soeharto berdampak pada arah dan cara pembangunan yang dijalankan. Paradigma pembangunan nasional pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto mengacu pada pembangunan yang bertumpu pada pembangunan ekonomi. Paradigma tersebut didasarkan pada teori pertumbuhan yang digagas oleh Rostow. Teorinya yang terkenal ialah teori ´lima tahapan pertumbuhan ekonomi´ (Rostow dalam Fakih, 1960). Dalam teori pembangunan ekonomi, pembangunan mengacu pada permasalahan kemiskinan yang dipecahkan dengan membantu orang-orang kaya. Berdasarkan ideologi pembangunan yang mengutamakan pertumbuhan, para

15

pengusahalah yang harus didukung supaya pertumbuhan ekonomi menjadi lebih tinggi. Menurut analisis teori ini, kalau pertumbuhan ekonomi tinggi, orang-orang miskin pasti akan mendapatkan bagian juga, melalui penetesan ke bawah (trickle down effect), karena itu, semakin miskin sebuah masyarakat, semakin gencar upaya memberi fasilitas kepada pengusaha untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Dalam konteks pembangunan di Indonesia, pembangunan ekonomi nasional selama ini masih belum mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat secara luas. Indikator utamanya adalah tingginya ketimpangan dan kemiskinan. Dalam siaran berita BPS (2007), bahwa 97,5 persen aset nasional dimiliki oleh 2,5 persen bisnis konglomerat. Sementara itu hanya 2,5 persen aset nasional yang dimiliki oleh kelompok ekonomi kecil yang jumlahnya mencapai 97,5 persen dari keseluruhan dunia usaha. Ini menjadi bukti nyata bahwa pembangunan yang terlampau mengutamakan pada pembangunan ekonomi merugikan masyarakat kecil. Dari kondisi tersebut maka selayaknya kita perlu meninjau kembali konsep dan arah pembangunan dengan pendekatan yang dilakukan selama ini. Kritik terhadap kegagalan pembangunan yang hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi ini telah melahirkan paradigma baru, yaitu paradigma pembangunan sosial, dimana tingkat pertumbuhan ekonomi bukan diukur dari GNP saja tapi juga pemerataan pertumbuhan tersebut sehingga pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dapat dicapai, yang mensyararatkan pertumbuhan juga diikuti dengan pemerataan. 2.2. Paradigma Pembangunan Sosial Pembangunan pada dasarnya bertujuan untuk menyejahterakan manusia walaupun dengan paradigma proses yang berbeda ketika banyak kalangan membahasnya. Proses pembangunan akan diawali dengan menggali sumbersumber daya yang ada, kemudian dilanjutkan dengan pengolahan sumber daya melalui perencanaan kebijakan pembangunan hingga sampai pada keluaran (output) atau hasil yang akan dicapai (outcome).

16

Setiap negara menerapkan teori pembangunan yang berbeda dan dengan paradigma yang berbeda pula, baik itu didasarkan atas teori modernisasi ataupun teori dependensi. Jika ditelaah lebih lanjut terlihat bahwa selama ini Indonesia menganut strategi pembangunan yang berorientasi pada strategi trickle down effect yang memeratakan hasil pembangunan dilakukan dengan mempertinggi pertumbuhan ekonomi. Fenomena yang terjadi dewasa ini memperlihatkan bahwa strategi tersebut tidak memperlihatkan hasilnya karena pertumbuhan ekonomi yang dimotori oleh konglomerasi selalu membuat wadah-wadah kapital baru baru - tapi tetesan yang diharapkan tak kunjung mengucur. Berkaitan dengan hal tersebut terdapat beberapa strategi pembangunan yang perlu dipertimbangkan untuk dapat diimplementasikan menurut (Widiowati, 2009), yaitu : 1. Strategi pertumbuhan dengan pemerataan (growth with equity). 2. Strategi pembangunan, yang diarahkan pada perbaikan sumber daya manusia (human factor). 3. Strategi pembangunan yang berpusat pada rakyat. Strategi pembangunan ini merupakan strategi yang berorientasi pada manusianya (people centered development). Pendapat serupa berasal dari (Midgley, 2005, hal.139) tentang tujuan pembangunan, bahwa ´usaha untuk mendefinisikan hasil akhir dari pembangunan sosial ini lebih pada bagaimana cara mencapai sesuatu yang diinginkan yang bersifat ´material´ versus tujuan ´idealis´ pada konsep paham materialisme, kemajuan ke arah tercapainya tujuan-tujuan pembangunan sosial diukur dengan istilah kuantitatif. Pada pendekatan ini, indikator sosial juga secara luas dipergunakan untuk menentukan sejauh mana kebutuhan material dapat terpenuhi pada sisi lain konsep ideasional tentang tujuan pembangunan sosial jarang sekali didefinisikan dengan menggunakan indikator kuantitatif. Tetapi tujuan ini digambarkan dengan istilah abstrak dan melibatkan penjelasan deskriptif dan normatif yang melibatkan metode kualitatif tentang interaksi manusia, arti hidup dan partisipasi dalam pembuatan putusan pembangunan´. Komponen spesifik atas "kehidupan yang serba lebih baik" itu, bertolak

17

dari tiga nilai pokok di atas, proses pembangunan di semua masyarakat paling tidak harus memiliki tiga tujuan inti sebagai berikut (Todaro dan Smith, 2006, hal.28-29): 1. Peningkatan ketersediaan serta perluasan distribusi berbagai barang kebutuhan hidup yang pokok seperti pangan, sandang, papan, kesehatan, dan perlindungan keamanan. 2. Peningkatan standar hidup yang tidak hanya berupa peningkatan pendapatan, tetapi juga meliputi penambahan penyediaan lapangan kerja, perbaikan kualitas pendidikan, serta peningkatan perhatian atas nilai-nilai kultural dan kemanusiaan, yang kesemuanya itu tidak hanya untuk memperbaiki kesejahteraan materiil, melainkan juga menumbuhkan harga diri pada pribadi dan bangsa yang bersangkutan. 3. Perluasan pilihan-pilihan ekonomis dan sosial bagi setiap individu serta bangsa secara keseluruhan, yakni dengan membebaskan mereka dari belitan sikap menghambat dan ketergantungan, bukan hanya terhadap orang atau negara-bangsa lain, namun juga terhadap setiap kekuatan yang berpotensi merendahkan nilai-nilai kemanusiaan mereka. Untuk melengkapi konsep pembangunan nasional, pembangunan adalah upaya meningkatkan kemampuan manusia untuk mempengaruhi masa depannya, dengan lima implikasi yang timbul dari proses pendefinisian tersebut (Bryant dan White dalam Ndraha, 1990, hal16): 1. Capacity. Pembangunan berarti membangkitkan kemampuan optimal

manusia, baik individu maupun kelompok. 2. Equity. Pembangunan berarti mendorong tumbuhnya kebersamaan dan kemerataan nilai dan kesejahteraan. 3. Empowerment. Pembangunan berarti menaruh kepercayaan kepada

masyarakat untuk membangun dirinya sendiri sesuai dengan kemampuan yang ada padanya. Kepercayaaan ini dinyatakan dalam bentuk kesempatan yang sama, kebebasan memilih, dan kekuasaan yang memutuskan. 4. Sustainability. Pembangunan berarti membangkitkan kemampuan untuk membangun secara mandiri.

18

5. Independence. Pembangunan berarti mengurangi ketergantungan negara yang satu dengan negara yang lain dan menciptakan hubungan saling

menguntungkan dan saling menghormati. Secara umum, istilah kesejahteraan sosial sering diartikan sebagai kondisi sejahtera (well-being). Pengertian ini biasanya menunjuk pada istilah

kesejahteraan sosial (social welfare) sebagai kondisi terpenuhinya kebutuhan material dan non-material. (Midgley, et al 2000:xi) mendefinisikan kesejahteraan sosial sebagai ´...a condition or state of human well-being´. Kondisi sejahtera terjadi manakala kehidupan manusia aman dan bahagia karena kebutuhan dasar akan gizi, kesehatan, pendidikan, tempat tinggal, dan pendapatan dapat terpenuhi; serta manakala manusia memperoleh perlindungan risiko-risiko utama yang mengancam kehidupannya (Suharto, 2008, hal.104). Orientasi pembangunan sosial itu menjadi mainstream secara global. Pembangunan sosial tidak hanya menjadi sebuah dimensi dalam pembangunan, tetapi juga menjadi cara pandang alternatif dalam pembangunan (yang umumnya dimaknai sebagai pembangunan ekonomi) untuk mencapai kesejahteraan rakyat (human well being). Ketika para kepala negara seluruh belahan dunia berkumpul di Copenhagen 1995 dalam World Summit on Social Development, mereka

merumuskan tujuan secara bersama memperkuat tindakan nasional untuk mempromosikan pembangunan sosial dan sebuah komitmen global kepada pembangunan keberlanjutan. Mereka membangun komitmen untuk mengurangi kemiskinan, meningkatkan tenaga kerja yang produktif, mengurangi

pengangguran dan memperkuat integrasi sosial (Eko et al., 2005, hal.82). Pembangunan sosial, seperti halnya pembangunan manusia (human development) yang diusung oleh UNDP, dapat juga sebagai bentuk alternatif atas pembangunan yang selama ini mengutamakan pembangunan ekonomi. Ada keyakinan yang kuat bahwa kesejahteraan rakyat (human well being) tidak

semata diukur dari pertumbuhan ekonomi (material) tetapi juga diukur dengan indikator-indikator kesejateraan sosial. Karena itu pembangunan sosial juga hendak mengatasi korban-korban pembangunan ekonomi yang berideologi

19

developmentalism seperti ketimpangan sosial, kemiskinan, pengangguran, penggusuran, maupun kerentanan sosial yang lain. Inti dari pembangunan sosial adalah bagaimana pembangunan itu dapat memfasilitasi masyarakat untuk membangun dirinya sendiri, menyelesaikan masalah mereka sendiri, membangun semangat kemandirian, baik di dalam diri masyarakat maupun dalam komunitas mereka. Keberhasilan dari pendekatan ini adalah lahirnya masyarakat madani. 2.3. Pembangunan yang Berpusat pada Rakyat Pembangunan adalah proses di mana anggota-anggota suatu masyarakat meningkatkan kapasitas perorangan dan institusional/pranata mereka untuk memobilisasi dan mengelola sumber daya untuk menghasilkan perbaikanperbaikan yang berkelanjutan dan merata dalam kualitas hidup sesuai dengan apresiasi mereka sendiri (Korten1993, hal.110). Definisi ini mencakup asas keadilan, keberlanjutan dan kecakapan. Hanya rakyat sendiri yang bisa menentukan apa sebenarnya yang mereka anggap sebagai perbaikan dalam kualitas mereka. Pencapaian dan Elemen dalam People-Centred Development menyebutkan delapan kondisi utama yang harus dicapai oleh pelaksanaan people-centred development, yaitu: (1) rendahnya kemiskinan, (2) rendahnya pengangguran, (3) relatif ada kesetaraan, (4) demokratisasi dalam kehidupan politik, (5) kemerdekaan nasional yang sesungguhnya, (6) baiknya tingkat pendidikan masyarakat, (7) status perempuan yang relatif setara dengan laki-laki dan partisipasi perempuan, dan (8) keberlanjutan, kemampuan untuk memenuhi kebutuhan masa depan (Seers. Dudley 1979 dalam Chasan. 2008). Pembangunan yang berpusat pada rakyat adalah pembangunan yang berbasis masyarakat untuk membantu menyelesiakan permasalahan-permasalahan masyarakat, pembangunan yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas

kehidupan dari masyarakat. Bukan sesuatu yang dirancang dari luar yang sering kali justeru meminggirkan kepentingan dan keberadaan dari masyarakat.

20

2.4.Pembangunan Sebagai Pembebasan Perlu disadari bersama bahwa pembangunan yang telah dilakukan ternyata membuahkan banyak masalah baru yang jauh dari esensi dan tujuan pembangunan nasional yaitu kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bukan hanya di Indonesia, di beberapa negara berkembang juga menghadapi masalah yang sama. Meminjam istilah yang disampaikan oleh PBB dalam The Human Development Report 1996 bahwa buah dari pembangunan justru menghasilkan:

a).Pengangguran (Jobless growth) : ada pembangunan tetapi tidak menciptakan peluang pekerjaan, padahal pekerjaan merupakan kebutuhan mendasar karena kalau manusia tidak bekerja kemanusiaannya akan hilang (dehumanization), dengan bekerja manusia bisa berkreasi untuk mendapat harkat dan martabat, b). Kekejaman (Ruthless growth) : pembangunan itu kejam karena justru

pembangunan harus mengorbankan kelompok-kelompok tertentu, c). Tidak Mengakar (Rootless growth) : pembangunan telah membuat masyarakat

tercerabut dari akar budayanya atau pembangunan yang tidak berakar atau tidak berdampak pada masyarakat lokal, d) Kebisuan (Voiceless growth) :

pembangunan tanpa suara, pembangunan yang tanpa peran serta masyarakat yaitu meniadakan peran masyarakat miskin dan kaum perempuan, e). Tanpa Masa Depan (Future-less growth) pembangunan yang tidak melihat masa depan pembangunan yang menghabiskan aset budaya, energi sosial dan merusak sumber daya alam. Kegelisahan tersebut coba dijawab oleh Sen. Menurut Sen pembangunan bukanlah proses yang dingin dan menakutkan dengan mengorbankan darah, keringat serta air mata, at all cost. Pembangunan adalah sesuatu yang "bersahabat". Pembangunan seharusnya merupakan proses yang memfasilitasi manusia mengembangkan hidup sesuai dengan pilihannya (development as a process of expanding the real freedoms that people enjoy) (Sen, 2000). Bila manusia mampu mengoptimalkan potensinya, maka akan bisa maksimal pula kontribusinya untuk kesejahteraan bersama. Dengan demikian, kemakmuran sebuah bangsa dicapai berbasiskan kekuatan rakyat yang berdaya dan menghidupinya. Salah satu penyebab dari langgengnya kemiskinan,

21

ketidakberdayaan maupun keterbelakangan adalah persoalan aksesibilitas. Karena keterbatasan akses menyebabkan manusia mempunyai keterbatasan atau hampir tak ada pilihan untuk mengembangkan hidupnya. Akibatnya, manusia hanya menjalankan apa yang terpaksa dapat dilakukan bukan apa yang seharusnya bisa dilakukan. Dengan demikian, potensi manusia mengembangkan hidup menjadi terhambat dan kontribusinya pada kesejahteraan bersama menjadi lebih kecil. Aksesibilitas yang dimaksud adalah terfasilitasinya kebebasan politik, kesempatan ekonomi, kesempatan sosial (pendidikan, kesehatan, dan lain-lain), transparansi, serta adanya jaring pengaman sosial. Temuan lapangan di Indonesia, tak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan Sen. Pembelajaran yang diperoleh dari Yayasan Pemulihan Keberdayaan Masyarakat (konsorsium 27 jaringan dan ornop besar yang membantu masyarakat keluar dari krisis), menyimpulkan, penyebab kemiskinan adalah akibat ketiadaan akses yang dapat menunjang pemenuhan kehidupan manusiawi. Pada dimensi ekonomi, akibat distribusi akses sumber daya ekonomi yang tak merata menyebabkan rakyat miskin tak dapat mengembangkan usaha produktifnya. Pada dimensi politik, akibat rakyat miskin sangat sulit mengakses dan terlibat berbagai kebijakan publik, maka kebijakan tersebut tak

menguntungkan mereka (Budiantoro Setyo, 2003). Pendapat yang dikemukakan Sen agar tercapainya kesejahteraan, adalah melalui kebebasan sebagai cara dan tujuan (Development as Freedom) tak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan Soedjatmoko (Development and Freedom). Freedom menurut Soedjatmoko dalam Budiantoro Setyo (2003) merupakan kebebasan dari rasa tak berdaya, rasa ketergantungan, rasa cemas, rasa keharusan untuk mempertanyakan apakah tindakan-tindakan mereka diizinkan atau tidak diizinkan oleh yang lebih tinggi ataupun adat kebiasaan (misalnya: patriarki, sikap nrimo,dan lain-lainnya). Untuk memecahkan hal tersebut, diperlukan aspek emansipatoris ; yaitu aspek pembebasan masyarakat dari struktur-struktur yang menghambat sehingga memungkinkan masyarakat mengembangkan kemampuan atas dasar kekuatan

22

sendiri (self reliance). Dengan demikian, terfasilitasilah kemanusiaan yang penuh dan sanggup mengungkapkan diri (humanitas expleta et eloquens). Dengan demikian, yang dimaksud pembangunan sebagai pembebasan adalah: Pembangunan yang merangsang suatu masyarakat sehingga gerak majunya menjadi otonom, berakar dari dinamika sendiri dan dapat bergerak atas kekuatan sendiri. Tidak ada model pembangunan yang berlaku universal. Dalam jangka panjang, suatu pembangunan tak akan berhasil dan bertahan, jika pembangunan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai dasar yang dianut masyarakat. 2.5. Hubungan Manusia dengan Tanah Seperti dinyatakan oleh Singgih Praptodiharjo (1951) dalam Sinambela (1997), bahwa hubungan manusia dengan sumber daya tanah adalah hubungan yang bersifat mutlak, karena apa pun bentuk kegiatan pembangunan yang dikerjakan manusia selalu membutuhkan tanah. Tanah tidak dapat dipisahkan dengan manusia, bahkan tidak saja semasa hidupnya tetapi setelah meninggalpun masih membutuhkan tanah sebagai tempat pemakamanya. "Tanah adalah pusaka, tanah adalah sumber kekuatan dan jaminan hidup bagi bangsa sejak purbakala sampai ke akhir jaman"(Singgih Praptodiharjo (1951) dalam Sinambela (1997)). Kuatnya hubungan ini tergambar pada budaya berbagai suku bangsa di Indonesia dengan ungkapan-ungkapan antara lain: Pada orang Jawa, "sedumuk batuk senyari bumi, yen perlu den tohi wutahing ludiro", oleh orang Batak Karo mengatakan "Uissi la pernah maringat" dan Batak Toba, "Ulos la pernah maringat". Untuk orang lampung sebelah Utara justru lebih sakral. "Karena asal manusia adalah tanah, maka dia akan kembali ke tanah dan oleh karenanya tanah bagi orang Lampung merupakan hidup mati manusia itu", dan oleh orang Aceh, menyatakan bahwa tanah berasal dari Tuhan, tanah-tanah bebas yang belum digarap oleh manusia disebut "Haqqullah" sedang tanah-tanah yang telah digarap disebut "Haqquladam" (Singgih Praptodiharjo, 1951 dalam Sinambela,1997).

23

Ungkapan-Ungkapan tersebut di atas merupakan bukti bahwa hubungan masyarakat Indonesia dengan tanah sangat kuat, sakral dan merupakan pusaka bangsa bahkan akan mempertahankan sekali pun dengan pertumpahan darah. Tegasnya, berbicara mengenai tanah sama dengan membicarakan berbagai aspek kehidupan manusia (Jhon Salindeho; 1993: 3 dalam Sinambela 1997), sedang orang Papua tanah diartikan sebagai Ibu mereka. Tanah adalah suatu benda bernilai ekonomi, sekaligus magis-religiokonis menurut pandangan bangsa Indonesia; ia pula yang sering memberikan getaran di dalam kedamaian dan dering pula memberikan kegoncangan dalam masyarakat, lalu ia sering pula menimbulkan sendatan dalam pembangunan, (Sinambela 1997). Kondisi tersebut disadari oleh para pemimpin bangsa, karena itulah dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 ayat 3, sebagai berikut bahwa "Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat". Hal yang berkaitan dengan pasal ini, kemudian diperjelas dan dijabarkan lagi dalam Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) dan peraturan-peraturan pelaksanaannya di lapangan. Dari uraian di atas, dapat dipahami bagaimana pentingnya tanah bukan hanya untuk manusia atau satu komunitas masyarakat tapi juga bagi sebuah bangsa. Permasalahan tanah menjadi masalah mendasar dalam setiap kehidupan manusia dan pembangunan suatu bangsa. 2.5.1. Hak Atas Tanah Dalam pasal 4 UUPA telah telah diatur dasar pemberian hak-hak atas tanah baik kepada perorangan, kelompok masyarakat maupun kepada badan hukum dan pada pasal 16 - UUPA telah dijelaskan macam-macam hak atas sebagai dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) antara lain : a. hak milik, b. hak gunausaha, c. hak guna-bangunan, d. hak pakai, e. hak sewa, f. hak membuka tanah, g. hak memungut-hasil hutan, h. hak-hak lain yang tidak termasuk dalam hak-hak tersebut di atas yang akan ditetapkan dengan Undang-undang serta hak-hak yang sifatnya sementara sebagai yang disebutkan dalam pasal 53. Sementara, pasal 16

24

ayat 2 menjelaskan hak-hak atas ruang angkasa sebagai yang dimaksud dalam pasal 4 ayat (3) yaitu :Hak-hak atas air dan ruang angkasa sebagai yang dimaksud dalam pasal 4 ayat (3) ialah:a. hak guna air, b. hak pemeliharaan dan penangkapan ikan, c. hak guna ruang angkasa. Selain hak-hak tersebut di atas, masih ada hak pengelolaan yang berasal dari hak pengusahaan tanah-tanah negara sebagai dimaksud dalam Peraturan Pemerintah No.8 Tahun 1953. Hak pengelolaan ini tidak ditemukan dalam UUPA, tetapi telah diatur dengan Peraturan Menteri Agraria No 9 tahun 1965, tentang : "Pelaksanaan konversi hak penguasaan atas tanah negara dan ketentuan-ketentuan tentang kebijaksanaan selanjutnya". Hak pengelolaan diberikan kepada instansiinstansi Pemerintah seperti Departemen-Departemen dan Lembaga-Lembaga Non Departemen serta Badan Milik Daerah yang selain dipergunakan sendiri juga dapat diberikan kepada pihak ketiga. Hak pegelolaan ini memberikan wewenang kepada pemegang hanya untuk merencanakan peruntukan dan penggunaan tanah tersebut, menggunakan tanah tersebut untuk keperluan tugasnya, menyerahkan bagian-bagian dari tanah tersebut kepada pihak ketiga dan menerima uang pemasukan/ganti rugi dan/atau uang wajib tahunan. Jangka waktu hak pengelolaan tidak terbatas dan berlaku sepanjang dipergunakan sesuai dengan tujuan pemberian haknya. Hak-hak yang dapat diberikan di atas hak pengelolaan adalah hak guna bangunan, hak pakai dan hak-hak lainya dengan jangka waktu tertentu. Namun demikian, apapun hak yang dimiliki oleh seseorang, masyarakat hukum atau badan-badan hukum, selalu ditandai hubungan yang kuat antara manusia dengan tanah yang dikuasainya sebagaimana tergambar pada ungkapanungkapan dan budaya beberapa suku masyarakat Indonesia. Sebaliknya, apa pun hak yang dimiliki dan betapapun kuatnya hubungan itu, harus mempunyai fungsi sosial sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 UUPA, tidak boleh dipergunakan semuanya, tetapi harus sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Kalau mendalami permasalahan hak tanah di Indonesia sebenarnya telah tertuang baik dalam UUD 1945 maupun UUPA 1960 dengan jelas mengatur

25

ketentuan tersebut, sehingga kepemilikan maupun hak terhadap sumber daya tanah, semua bermuara pada bagaimana hak tersebut memberikan jaminan untuk menghadirkan kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyat. 2.5.2. Monopoli Tanah dan Kesejahteraan Dalam era pasar bebas, saat ini siapapun boleh memiliki tanah tanpa ada batasan luasan, ini dampak bahwa tanah dianggap sebagai komoditas. Saat ini tanah memiliki nilai baru, tanah tidak saja dipandang sebagai alat produksi semata melainkan juga sebagai alat untuk berspekulasi untuk keuntungan ekonomi. Tanah telah menjadi ´barang dagangan´ dimana transaksi ekonomi berlangsung dengan pengharapan akan ´margin´ atau ´rente´ perdagangan atas komoditas yang dipertukarkan itu. Kondisi ini sebenarnya muncul sebagai reaksi terhadap perebutan penarikan modal asing ke berbagai negara berkembang yang semakin marak belakangan ini. Beberapa negara seperti Vietnam, RRC, Malaysia, dan lain-lain saling berebut investor dengan cara memberikan fasilitas pengadaan tanah yang cepat dan murah. Akibatnya, Indonesia yang sangat giat menarik modal, terutama modal asing, merasa perlu pula memberikan fasilitas yang sama. Kalau tidak, beberapa pengamat mengatakan Indonesia akan kehilangan atau ditinggalkan investor. Oleh karena itu, sejak paruh kedua 1980-an, berbagai deregulasi terhadap peraturan yang sekiranya menghambat perolehan tanah, dihilangkan. Indonesia telah menempatkan kemudahan perolehan tanah sebagai suatu keunggulan komparatif dan menjadikan tanah sebagai komoditas strategis (Wiradi, 1996). Tentunya kondisi ini bukan kondisi yang diinginkan. Karena kondisi ini akan semakin menjadikan adanya ketimpangan dalam penguasaan dan kepemilikan tanah. Seperti dikutip dalam Wiradi (1996), dalam salah satu pidato Bung Hatta di Yogyakarta pada tahun 1946, terkandung suatu pandangan mengenai masalah pertanahan. Apabila diperinci, pesan itu terdiri dari 10 butir, 4 (empat) butir di antaranya relevan disebutkan di sini yaitu:

26

(1) Tanah tidak boleh menjadi alat kekuasaan orang seorang untuk menindas dan memeras hidup orang banyak. (2) Tanah yang dipakai oleh kebun-kebun besar itu pada dasarnya adalah tanahtanah milik masyarakat. (3) Tanah tidak boleh menjadi "obyek perniagaan" yang diperjualbelikan sematamata untuk mencari keuntungan (dalam bahasa sekarang: tanah tidak boleh diperlakukan sebagai komoditi). (4) Seharusnya tidak terjadi pertentangan antara masyarakat dan negara, karena negara itu alat masyarakat untuk menyempurnakan keselamatan umum.

Jika diperhatikan, pesan-pesan Bung Hatta di atas (termasuk enam butir lainnya yang tak disebutkan di sini) ternyata serupa benar dengan jiwa dan isi pasal-pasal UUPA 1960. Jiwa UUPA jelas mengamanatkan tanah seharusnya tidak diperlakukan sebagai komoditi. Menurut Tjondronegoro (1996), disampaikan bahwa tanah adalah aset bukan komoditas. Yang dimaksud dengan komoditas adalah suatu barang atau ciptaan yang merupakan hasil produksi atau pemikiran yang dapat diperjualbelikan. Sebenarnya aset mempunyai kemiripan dengan komoditas dalam arti bisa diperjualbelikan. Akan tetapi beda dan kelebihan aset adalah dapat turut berperan aktif dalam proses produksi. Artinya juga aset turut membuat nilai tambah. Suatu kemampuan yang tidak dimiliki komoditas. Tanah sebagai aset mempunyai ciri-ciri yang khas ditentukan oleh lokasi, komposisi, dan struktur partikel-partikel di dalamnya. Daya produksi itulah yang menjadikan tanah bukan komoditas yang dapat diperjualbelikan begitu saja. Karena sukar diganti (replaced), oleh segenap bangsa tanah diperlakukan dan dilindungi secara khusus. Peperangan antar bangsa atau revolusi dalam masyarakat dapat meletus bila penguasaan atas tanah tidak diatur secara adil dan baik (Tjondronegoro, 1996). Bila dibandingkan dengan komoditas apapun, replacement value tanah memang lebih tinggi dan sukar disamakan dengan komoditas apapun. Menyamakan aset tanah dengan komoditas berarti menghapus berbagai ikatan

27

batin yang berakar dari tanah. Tjondronegoro menyimpulkan bahwa tanah bukan komoditas, melainkan aset Jiwa UUD 1945 khususnya pasal 33 dan UUPA No. 5 1960 mencerminkan kelebihan dan kekhususan asset ini. Baik dari sudut pandang legal maupun dari sudut pandang kebangsaan, tanah jangan sekali-kali disamakan dengan komoditas lain yang setiap saat bisa diperjualbelikan. Apabila tetap memandang tanah sebagai komoditas maka sebenarnya tidak ada gunanya lagi membanggakan, mempertahankan, dan memajukan tanah air atau memupuk rasa kebangsaan. Permasalahan penguasaan tanah ini sangat vital karena berpengaruh pada akses terhadap sumber-sumber kesejahteraan dan kontrol terhadap pemerataan hak terhadap seluruh masyarakat. Jika mengacu pada UUD 1945, negara berkewajiban untuk mendistribusikan sumber daya agraria khusunya tanah. Dari Undang-undang ini, telah ditulis pentingnya pembaharuan agraria dalam kerangka merombak struktur penguasaan tanah yang dimonopoli oleh beberapa orang untuk bisa didistribusikan kepada seluruh masyarakat, sesuai dengan konsep yang disusun dalam arah pembangunan bangsa. 2.6. 2.6.1 Reforma Agraria. Urgensi Reforma Agraria Pembangunan nasional yang telah dilakukan selama ini ternyata belum bisa menghadirkan kesejahteraan rakyat. Kemiskinan masih saja membelenggu sebagian besar penduduk Indonesia, wajar kiranya jika permasalahan kemiskinan semakin sulit dicari jalan keluarnya, sementara program pembangunan yang telah dilakukan hanya menguntungkan sebagian kecil masyarakat yang sebenarnya secara ekonomi sudah sangat mapan. Sungguh ironis, Indonesia sebagai negara agraris yang sebagian besar masyarakatnya adalah petani dengan sumber daya lahan yang di miliki, justru sebagian besar masyarakatnya tunakisma (landless) atau hanya menguasai tanah sempit yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup petani secara minimal. Padahal konstitusi telah mengamanatkan secara tegas bahwa negara harus menjadi pembela dan memastikan terpenuhinya kepentingan, kesejahteraan dan kedaulatan akan sumber daya. Di sinilah kenapa

28

Reforma Agraria (landreform) menjadi penting untuk dilakukan sebagai upaya menyelesaikan permasalahan kemiskinan di Indonesia dari akar masalahnya. Laporan sensus pertanian tahun 2003 menyampaikan bahwa saat ini jumlah petani di Indonesia paling tidak sekitar 44,3 juta jiwa. Dari jumlah itu, menurut Sensus Pertanian (SP) 2003, kaum tani yang menggarap tanah kurang dari 0,4 ha berjumlah 56,5 persen. Dari sensus ini juga menunjukkan semakin miskinnya petani Indonesia. Selama sepuluh tahun terakhir, jumlah petani gurem meningkat 2,6% per tahun, yaitu dari 10,8 juta rumah tangga menjadi 13,7 juta tahun 2003. Data BPS menunjukkan sejak 1960-2002 melalui landreform ala pemerintah telah didistribusikan 885 ribu hektar dan itu tidak lebih dari 2% dari total luas tanah pertanian. Namun tanah seluas itu dibagikan pada 1,3 juta keluarga petani atau 7% dari total rumah tangga pertanian. Tanah yang diredistribusikan itu hanya 52%, sehingga tanah objek landreform yang belum didistribusikan masih 48%. Hal di atas menunjukkan, di satu sisi kebutuhan masyarakat untuk memanfaatkan tanah guna kelangsungan hidupnya sangat tinggi, tetapi di sisi lain terdapat tanah dalam skala besar yang belum dimanfaatkan secara optimal. Selanjutnya, dapat dibandingkan akses kepemilikan tanah yang dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar, misal hingga tahun 1993, perkebunan-perkebunan besar menguasai sekitar 3,80 juta hektar tanah, dalam hal ini oleh 1.206 perusahaan. Setiap perusahaan rata-rata menguasai 3.150 hektar. Jika

dibandingkan dengan rata-rata luas usaha mayoritas kaum tani yang hanya 0,5 hektar (SP 1993) dan 0,4 hektar (SP 2003). Kalau membaca data-data tersebut di atas maka kehadiran pembaharuan agraria dalam konteks landreform perlu optimalisasi melalui model-model yang adaptif terhadap kondisi dominan masyarakat yang kebanyakan masih menganut sistem komunal. Permasalahan akses terhadap sumber daya agraria ini sangat berpengaruh pada proses produksi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup

29

mereka, selain itu juga akan memberikan kontrol yang cukup berarti terhadap keberlanjutan usaha serta keberlangsungan hidup mereka sehari-hari. 2.6.2 Definisi Reforma Agraria Sumber daya Agraria adalah : bumi, air dan seluruh kekayaan alam yang terkandung didalamnya, yang ada adalah karunia Tuhan yang pemanfaatanya untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia yang ada dimuka bumi ini secara adil,bijaksana dan merata serta tidak melahirkan pertentangan antar manusia. Menurut Wiradi (2006;35) Reforma Agraria bersumber dari bahasa Spanyol yang berarti pengaturan kembali pengunaan tanah, atau yang secara luas dikenal dengan agraria reform dalam bahasa Inggris. Sedang istilah landreform mempunyai arti yang sangat luas dan berbeda-beda menurut pengertian tertentu yang berlainan pada setiap disiplin ilmu. Menurut King menunjukan bahwa pada umunya perbedaan pengertian dan definisi menyoroti 2 pengertian secara umum (King 1977) : 1. Landreform is a inveriably a more t, publiciy controlled change in the existing character of land ownership. 2. It normally attempt a diffusion of wealth and produstive capacity Bila dilihat dari arti tersebut, pada dasarnya landreform memerlukan program redistribusi tanah untuk keuntungan pihak yang mengerjakan tanah dan pembatasan dalam hak-hak individu atas sumber-sumber tanah. Di Indonesia terdapat perbedaan antara agrarian reform dan landreform . Agrarian reform diartikan sebagai landreform dalam arti luas yang meliputi 5 program : 1. Pembaharuan Hukum Agraria; 2. Penghapusan hak-hak asing dan konsepsi-konsepsi kolonial atas tanah; 3. Mengakhiri penghisapan feodal secara berangsur-angsur; 4. Perombakan mengenal pemilikan dan penguasaan tanah serta hubunganhubungan hukum yang bersangkutan dengan penguasaan tanah; 5. Perencanaan persediaan, peruntukan dan penggunaan bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya itu secara berencana sesuai dengan daya kesanggupan kemampuanya(Harsono 1973;2-3).

30

Program keempat dikenal sebagai landreform dalam arti sempit. Selanjutnya dalam pembahasan ini istilah landreform akan digunakan untuk mengarah ke program pemerintah menuju peraturan penguasaan tanah. Sementara Gunawan Wiradi (2001) menyampaikan bahwa pembaruan Agraria bukanlah gagasan baru. Usianya sudah lebih dari 2500 tahun. ´Landreform ´ yang pertama di dunia, terjadi di Yunani Kuno, 594 tahun Sebelum Masehi. Slogan land-to-the-tillers (tanah untuk penggarap), itu sudah

berkumandang 565 tahun sebelum Masehi! Selanjutnya, melalui tonggak-tonggak sejarah: ´landreform´ dijaman Romawi Kuno (134 SM); gerakan pencaplokan tanah-tanah pertanian oleh peternak biri-biri di Inggris, selama lebih 5 abad; dan Revolusi Perancis (1789 ± 1799), maka sejak itu hampir semua negara-negara di Eropa melakukan ´landreform´. Apalagi setelah Perang Dunia Kedua, pembaruan agraria dilakukan dimana-mana Amerika Latin. Selama perjalanan sejarah yang panjang itu, tentu saja konsepnya menjadi berkembang, sesuai dengan konteks waktu, kondisi fisik lingkungan alam dan sistem politik serta orientasi kebijakan pemerintah, di masing-masing negara. Meskipun demikian, inti pengertiannya tetap sama, yaitu: ´Suatu penataan kembali, atau penataan ulang, struktur pemilikan, penguasaan, dan penggunaan tanah, agar tercipta suatu strutkur masyarakat yang adil dan sejahtera´ (Wiradi 2001). Wiradi (2001) juga menyampaikan bahwa istilah yang semula dipakai adalah ´landreform´. Sesuai dengan kondisi sosial budayanya, dan orientasi pandangan ekonomi dari para perencananya di masing-masing negara, maka pola ´landreform´ di berbagai negara itu bisa dibedakan menjadi tiga, yaitu: yang bersifat redistributif; yang bersifat kolekivist; dan yang campuran dari keduanya itu. (Di negara-negara sosialis, ³landreform´ nya bersifiat kolektivist; di Negaranegara non-sosialis pada umumnya bersifat redistributive) Pengalaman sejarah memberi pelajaran bahwa suatu pembaruan agraria yang hanya berhenti pada masalah redistribusi tanah ternyata justru menyebabkan produksi menurun untuk beberapa tahun. Hal ini disebabkan karena infrastruktur yang menunjang pembaruan itu semula belum dipikirkan sejak awal. Karena itu baik di negara-negara Asia, Afrika, maupun

31

kemudian disadari bahwa program-program penunjang itu harus menjadi satu paket dengan program pembaruan secara keseluruhan, termasuk ke dalamnya program-program pasca redistribusi (antara lain: perkreditan, penyuluhan, pendidikan dan latihan, teknologi, pemasaran, dan lain-lain). Jadi, ³landreform ´ plus program-program penyiapan berbagai infrastruktur itulah yang kemudian diberi istilah dalam bahasa Inggris Agrarian Reform. Negara pertama yang berusaha menerapkan pembaruan agraria dengan paket lengkap seperti itu adalah Bulgaria yaitu pada tahun 1880-an (King, 1977, hal.34). Namun kemudian, Wiradi (2006) mempertegas bahwa istilah Agrarian Reform yang sering digunakan secara bergantian dengan Landreform itu, dirancukan lagi oleh mereka yang berpandangan bahwa (karena luasnya isi) Agrarian Reform itu pada hakekatnya sama dengan pembangunan pedesaan secara menyeluruh, maka berangsur-angsur istilah tersebut tergeser oleh istilah Agricultural Development. Akibatnya, intinya (yaitu ³Landreform´) terabaikan. Karena itu sekarang, dalam lingkaran wacana dunia, istilah yang lebih populer digunakan adalah Reforma Agraria (bahasa Spanyol), untuk menghindari kerancuan istilah tersebut di atas. Pendapat lain mendefinisikan pembaharuan agraria sebagai ³upaya perubahan atau perombakan sosial yang dilakukan secara sadar, guna mentransformasikan struktur agraria yang lebih sehat dan merata bagi masyarakat desa´. Sering pembaharuan agraria juga diartikan sebagai landreform dalam arti luas, (Eko et.,al2005). Dengan kata lain program pembaharuan agraria adalam merupakan upaya pemerintah yang bekerjasama dengan masyarakat untuk mengubah struktur penguasaan tanah, memperbaiki tata guna tanah dan sumber daya alam yang menyertainya, dengan memperbaiki kepastian penguasaan tanah bagi rakyat yang memanfaatkan tanah dan sumber daya alam yang menyertainya. Dengan demikian menurut Eko pembaharuan agraria dapat dikonsepsikan sebagai ´upaya-upaya yang dilakukan oleh negara dan masyarakat dalam menguasai tanah dan sumber daya alam ke arah keadilan dan pemerataan, melalui mekanisme dan sistim politik yang demokratis dan terbuka, bagi sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat´. Pengertian ini tidak sekedar perubahan

32

dari penguasaan tanah dan hubungan-hubungan sosial yang ada didalamnya, tetapi pembaharuan agraria harus pula mengakui keberadaan tanah-tanah adat hal yang sangat penting dalam pembaharuan agraria, sehingga kiranya sangat perlu diadakan peraturan yang khusus mengenai hal tersebut. Dalam perkembanganya program landreform terus mengalami modifikasi dan penyempurnaan, dari situlah mucul istilah landreform plus. Pada tahun 2006 pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan penguatan kelembagaan pada Badan Pertanahan Nasional melalui Perpres No.10 Tahun 2006, maka keluarnya kebijakan redistribusi tanah seluas 8,15 juta hektar yang dinyatakan Presiden SBY merupakan momentum politik berikutnya yang strategis dalam rangka perjuangan pelaksanaan reforma agraria di Indonesia. Pelaksanaan kebijakan redistribusi tanah ini akan dijalankan oleh Pemerintah dalam sebuah kerangka program terpadu yang disebut Program Pembaruan Agraria Nasional (PPAN). PPAN ini bukanlah sekedar proyek bagi-bagi tanah, melainkan suatu program terpadu untuk mewujudkan keadilan sosial dan peningkatan

kesejahteraan rakyat melalui penataan akses terhadap tanah sebagai basis untuk revitalisasi pertanian dan aktivitas ekonomi pedesaan (Winoto¶ 2006 lihat Reforma Agraria: Kepastian yang Harus Dijaga lihat hal. 34 Napiri M 2006). Program terpadu ini mencakup dua komponen pokok. Pertama adalah redistribusi tanah untuk menjamin hak rakyat atas sumber-sumber agraria. Kedua adalah upaya pembangunan lebih luas yang melibatkan multipihak untuk menjamin agar aset tanah yang telah diberikan tadi dapat berkembang secara produktif dan berkelanjutan. Yang terakhir ini mencakup pemenuhan hak-hak dasar dalam arti luas (pendidikan, kesehatan, dan lain-lain), penyediaan dukungan finansial, infrastruktur dan teknologi, peningkatan manajemen, pembukaan akses pasar, dll. Komponen yang pertama disebut sebagai asset reform, sedangkan yang kedua disebut access reform. Gabungan antara kedua jenis reform inilah yang diistilahkan dengan ³Landreform Plus´ sebagai ciri dasar yang membedakan PPAN ini dari program landreform yang pernah dilakukan pemerintah

33

sebelumnya. ³Landreform plus artinya landreform yang sesuai dengan kerangka undang-undang, ditambah dengan acces reform.(Napiri M, 2006). Untuk memahami definisi dari reforma agraria (Agraria reform) adalah suatu program yang dibuat untuk menghadapi masalah-masalah struktur agraria yang timpang. Sementara, landreform adalah bagian dari reforma agraria, landreform plus adalah program landreform yang bukan hanya membagi tanah saja tapi juga diikuti dengan program-program lain untuk mendorong pengelolaan lahan yang didistribusikan agar lebih produktif sehingga memunculkan inovasiinovasi baru dalam pengelolaannya. 2.6.3 Tujuan dan Prasyaratnya Dalam pelaksanaan landreform perlu dirumuskan tujuan dan prasyarat mengacu pada penyelesaian masalah dan visi dari pelaksanaan landreform. Dalam hal ini Wiradi menyampaikan bahwa tujuan pembaruan agraria adalah untuk membangun susunan masyarakat yang lebih adil. Jadi, awalnya, kebijakan ³landreform ´ adalah lebih merupakan kebijakan sosial (pemeraatan) dan bukan kebijakan ekonomi (produksi). Namun kemudian, orang pun sadar bahwa untuk itu diperlukan adanya economic rationale yang dapat memberi alasan mengapa pembaruan agraria perlu dilakukan. Karena itu, khususnya setelah Perang Dunia Kedua, pembaruan agraria di berbagai negara pada umumnya, memasukkan berbagai aspek dalam pertimbangannya (sosial, ekonomi, politik, hukum dan budaya). Karena itu, selalu dipertimbangkan agar pembaruan agaria itu: (a) ³politically tolerable´; (b) ³economically viable´; (c) ³culturally

understandable´; (d) ³socially acceptable´; (e) ³legally justifiable´; (f) ³ technically applicable´ ( Wiradi, 2001). Tetapi perlu diingat bahwa pertimbangan-pertimbangan tersebut tidak harus melahirkan suatu "quasi-reform" atau "pseudo-reform", yaitu suatu pembaruan yang "sopan" tetapi pada hakekatnya bukan pembaruan. Atau menurut istilah Lipton nicely-behaved non-landreform (Michael Lipton dalam David Lehmann (ed), 1974:269-81). Karena itu, bagaimanapun juga, "genuine reform" hanya bisa dilakukan jika ada "kemauan politik" (Michael Lipton, 1974). Atas dasar tujuan umum dan pertimbangan seperti itu, maka Wiradi (2001)

34

menegaskankan bahwa terutama di negara-negara non-sosialis, muatan konkrit dari pembaruan agraria adalah: (a) mengatur-ulang alokasi penyediaan tanah (b) menata-ulang status dan luas pemilikan, penguasaan, dan penggunaan tanah (c) mengatur-ulang tata-cara perolehan tanah (d) menata-ulang penggunaan tanah Atas dasar pengalaman sejarah berbagai negara yang pernah melaksanakan pembaruan agraria, maka pakar-pakar dunia pada umumnya sepakat bahwa, agar suatu pembaruan agraria berpeluang untuk berhasil, diperlukan sejumlah prasyarat. Yang terpenting, antara lain adalah(King, 1977): (a) ³Kemauan politik´ dari pemerintah harus ada; (b) Organisasi rakyat, khususnya organisasi tani yang kuat dan pro-reform, harus ada; (c) Data mengenai keagrariaan yang lengkap dan teliti, harus tersedia; (d) Elit penguasa harus terpisah dari elit bisnis. Aparat birokrasi, bersih, jujur dan ³mengerti´. Eko (2005) menyampaikan ada 3 tujuan yang hendak dicapai dalam pembaharuan agraria adalah keadilan agraria, yaitu keadaan di mana: (1) Tidak adanya konsentrasi yang berarti dalam penguasaan dan pemanfaatan tanah beserta kekayaan alam yang menjadi hajat hidup orang banyak; (2) Terjaminnya kepastian hak penguasaan dan pemanfaatan rakyat setempat terhadap tanah dan kekayaan alam lainnya; dan (3) Terjaminnya keberlangsungan dan kemajuan sistem produksi rakyat setempat yang menjadi sumber penghidupan mereka. Menurut Napiri M, et.al. (2006), ada 5 (lima) tujuan utama yang hendak dicapai dari program landreform plus yang akan dilaksanakan pemerintah melalui pelaksanaan Program Pembaruan Agraria Nasional (PPAN) dengan komponen asset reform, access reform yang kemudian diistilahkan dengan ´Landreform Plus´, yaitu: (a). Menata kembali struktur penguasaan, pemilikan, pemanfaatan dan penggunaan tanah dan kekayaan alam lainnya sehingga menjadi lebih berkeadilan sosial, (b). Meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, khususnya kaum tani dan rakyat miskin di perdesaan, (c). Mengatasi

35

pengangguran dengan membuka kesempatan kerja baru di bidang pertanian dan ekonomi perdesaan, (d). Membuka akses bagi rakyat terhadap sumber-sumber ekonomi dan politik, dan (e). Mewujudkan mekanisme sistematis dan efektif untuk mengatasi sengketa dan konflik agraria. Pembaharuan agraria khusunya landreform bukan hanya membagi lahan tapi juga memberi peluang masyarakat untuk mengusahakan lahan tersebut secara produktif. Selain lima tujuan di atas, pemerintah juga menyatakan bahwa pelaksanaan PPAN diharapkan juga dapat mewujudkan ketahanan pangan dan energi, serta dapat memperbaiki dan menjaga kelestarian serta keberlanjutan lingkungan, sehingga pembaharuan agraria bisa benar benar dapat meningkatkan kualitas kehidupan dari masyarakat khusunya masyarakat petani. 2.6.4 Prinsip dan Landasan Landreform Di Indonesia prinsip dan landasan landreform beralasan Prinsip Hak Menguasai dari Negara. Dengan landreform diatur siapa-siapa yang berhak mempunyai hak milik, pembatasan luas minimal dan maksimal luas tanah, pencegahan tanah menjadi terlantar dan tanda bukti pemilikan atas tanah (Fauzi 1999). Jika diperinci, landasan landreform antara lain adalah : a. Adalah hak negara untuk menguasai seluruh kekayaan alam Indonesia yang bersumber dari pasal 33 ayat 3 UUD 1945. Hak menguasai dari negara bukan hak pemilikan dari negara (kolonial) seperti asas domain, tetapi sama dengan hak ulayat dalam hukum adat. Dalam kaitanya dengan itu, negara diberi wewenang untuk mengatur antara lain kekayaan itu menyejahterakan rakyat, antara lain dengan mengatur peruntukan, penggunaan, persediaan, dan pemeliharaan bumi, air, dan ruang angkasa (pasal 2 UUPA). b. Memberikan kewenangan pada negara untuk mengeluarkan tanda bukti pemilikan tanah, Pemegang hak milik atas tanah hanya warga negara Indonesia tanpa membedakan jenis kelamin. Warga negara asing tak diberi hak yang demikian itu (prinsip nasionalitas-pasal 9 jo.21 ayat 1 UUPA). Pasal ini membatasi kewenangan warga negara asing untuk menguasai tanah Indonesia. Hal ini untuk mencegah beralihnya keuntungan sumber daya alam Indonesia, seperti tanah partikelir yang menyebabkan rakyat Indonesia harus

36

menjadi buruh tani di tanah milik warga negara asing. Pemilik adalah penguasa yang mengambil hasil kerja buruh tani. c. Luas tanah dengan status hak milik dibatasi luasnya, luas minimal maupun maksimal pemilikan tanah dibatasi agar tidak tumbuh lagi tuan tanah yang menghisap tenaga kerja petani melalui sistim persawahan tanah atau gadai tanah (pasal 7jo. Pasal 17 UUPA). Pengaturan batas minimal ditujukan agar keluarga petani tidak hidup dari luas tanah yang kecil. Terdapat korelasi yang saling menguatkan antara kecilnya produktivitas dengan kecilnya pemilikan atas tanah. Pemilikan tanah yang terlalu kecil, tidak hanya berakibat kecilnya pendapatan pemiliknya (baca:petani), juga secara mikro (nasional) merugikan karena rendahnya karena rendahnya produktivitas (pasal 13 jo pasal 17 UUPA). Pemilikan tanah yang tidak terbatas (tanpa batas maksimal) akan membuka peluang bagi sekelompok kecil orang menguasai tanah dalam luas yang sangat besar dan sebagian besar yang lain terpaksa hanya mengandalkan tenaga untuk menjadi buruh. Ketimpangan pendapatan dan ketidakadilan senantiasa akrab dalam struktur masyarakat yang demikian. Sebaliknya, jika tanah didistribusikan kepada semua orang, setiap orang memperoleh tanah meski sedikit, memang lebih menjamin pemerataan tetapi resikonya adalah produktivitas menjadi rendah, atau rata dalam ³kemiskinan´. d. Pemilikan yang berhak atas tanah haruslah menggarap sendiri tanahnya secara aktif (pasal 10 UUPA) sehingga dapat membawa manfaat bagi dirinya, keluarga maupun masyarakat banyak. UUPA melarang pemilikan tanah pertanian yang tidak dikerjakan sendiri oleh pemiliknya karena akan menimbulkan tanah terlantar (tanah guntai/absentee) atau meluasnya hubungan buruh tani dan pemilik tanah yang mempunyai kecenderungan yang memeras (pasal 10 ayat 1 jo. pasal 11 ayat 1). e. Panitia landreform akan mendaftar mereka yang mendapatkan pemilikan tanah, untuk selanjutnya mereka akan diberikan suatu tanda bukti pemilikan hak atas tanah. Alat bukti pemilikan itu, untuk menjamin kepastian hukum atas tanah. Selain berbagai hal diatas Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia NOMOR IX/MPR/2001 Tentang Pembaruan Agraria dan

37

Pengelolaan Sumber Daya Alam juga memberi landasan yang kuat tentang landreform . Beberapa yang menjadi pertimbangan kenapa landreform penting adalah terdapat : 1. bahwa sumber daya agraria dan sumber daya alam sebagai Rahmat Tuhan Yang Maha Esa kepada Bangsa Indonesia, merupakan kekayaan Nasional yang wajib disyukuri. Oleh karena itu harus dikelola dan dimanfaatkan secara optimal bagi generasi sekarang dan generasi mendatang dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur; 2. bahwa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia mempunyai tugas konstitusional untuk menetapkan arah dan dasar bagi pembangunan nasional yang dapat menjawab berbagai persoalan kemiskinan, ketimpangan dan ketidakadilan sosial-ekonomi rakyat serta kerusakan sumber daya alam; 3. bahwa pengelolaan sumber daya agraria dan sumber daya alam yang berlangsung selama ini telah menimbulkan penurunan kualitas lingkungan, ketimpangan struktur penguasaan, pemilikan, penggunaan dan

pemanfaatannya serta menimbulkan berbagai konflik; 4. bahwa peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya agraria dan sumber daya alam saling tumpang tindih dan bertentangan; 5. bahwa pengelolaan sumber daya agraria dan sumber daya alam yang adil, berkelanjutan, dan ramah lingkungan harus dilakukan dengan cara terkoordinasi, terpadu dan menampung dinamika, aspirasi dan peran serta masyarakat, serta menyelesaikan konflik; 6. bahwa untuk mewujudkan cita-cita luhur bangsa Indonesia sebagaimana tertuang dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, diperlukan komitmen politik yang sungguh-sungguh untuk memberikan dasar dan arah bagi pembaruan agraria dan pengelolaan sumber daya alam yang adil, berkelanjutan dan ramah lingkungan; Untuk menterjemahkan hal tersebut maka Pemerintah telah menyusun beberapa Peraturan Perundang-Undangan Mengenai Hak Atas Tanah. Ketentuan peraturan perundang-undangan tertinggi yang mengatur pengelolaan sumber daya alam dan agraria adalah Pasal 28 H UUD 1945 yang melindungi hak atas properti.

38

Dua pasal tersebut, bila dipahami secara eksplisit, bertujuan untuk melindungi hak masyarakat adat atas tanah dan sumber daya. Namun, pasal tersebut bertentangan dengan Pasal 33 UUD 1945, yang melegitimasi Negara untuk mengatur dan mengelola pemanfaatan sumber daya alam. Pasal 33 menyatakan bahwa: 1. Perekonomian kekeluargaan. 2. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. 3. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. 4. Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. 5. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam UndangUndang. Perdebatan di atas harus ditarik dalam sebuah pertanyaan apa sebenarnya dampak positif yang diharapkan dari Reforma Agraria? Karena itu Wiradi (2001) menyatakan bahwa secara umum yang diharapkan dari reforma agraria adalah: (a) Aspek hukum: akan tercipta kepastian hukum mengenai hak-hak rakyat terutama kaum tani. (b) Aspek sosial: akan tercipta suatu struktur sosial yang dirasakan lebih adil. (c) Aspek psikologis: kedua hal tersebut pada gilirannya akan menimbulkan social euphoria dan family security sehingga para petani termotivasi untuk mengelola usaha taninya dengan lebih baik. (d) Aspek politik: semua itu akhirnya dapat meredam keresahan sehingga gejolak kekerasan dapat terhindari. Terciptalah stabilitas yang genuine, bukan stabilitas semu akibat represi (seperti masa Orde Baru). (e) Semuanya itu akhirnya bermuara kepada ketahanan ekonomi. disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas

39

Sementara pemerintah melalui Program Pembaruan Agraria Nasional (PPAN) Kepala BPN RI juga menekankan empat prinsip di dalam menjalankan kebijakan, program dan proses pengelolaan pertanahan di masa depan, yaitu (Winoto dalam Napiri M et.al., 2006b): 1. Pertanahan berkontribusi secara nyata untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, penciptaan sumber-sumber baru kemakmuran rakyat, pengurangan kemiskinan dan kesenjangan pendapatan, serta pemantapan ketahanan pangan. (Prosperity) 2. Pertanahan berkontribusi secara nyata dalam peningkatan tatanan kehidupan bersama yang lebih berkeadilan dan bermartabat dalam kaitannya dengan penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T). (Equity) 3. Pertanahan berkontribusi secara nyata untuk mewujudkan tatanan kepastian yang harus dijaga kehidupan bersama yang harmonis dengan mengatasi berbagai sengketa, konflik dan perkara pertanahan di seluruh tanah air dan penataan perangkat hukum dan sistem pengelolaan pertanahan sehingga tidak melahirkan sengketa, konflik dan perkara di kemudian hari. (Social Welfare) 4. Pertanahan berkontribusi secara nyata bagi terciptanya keberlanjutan sistem kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan Indonesia dengan memberikan akses seluas-luasnya pada generasi yang akan datang terhadap tanah sebagai sumber kesejahteraan masyarakat. (Sustainability)

2.6.5

Model-Model Reforma Agraria Secara garis besar, pola reforma agraria itu secara normatif dapat

dibedakan menjadi tiga model (dan masing-masing model itu tentu saja ada varian-variannya sendiri-sendiri), yaitu: (Cf. Ghose, 1983; Prosterman, et.al., 1987; juga J. Harris, 1982 dalam Wiradi 2001). y y y Kolektivisasi model sosialis ³Family Farm´ model kapitalis ³Family Farm´ model Neo-Populis. Atas dasar arah transaksinya model landreform dapat dibedakan dalam dua model yaitu : 40

y

³collective reform´ prinsipnya mengambil dari yang kecil untuk diberikan kepada yang besar.

y

³redistributive reform´. Mengambil dari yang besar untuk diberikan kepada yang kecil. Pola ini di bagi menjadi tiga kreteria teknis yaitu: (a) luas batas maksimum dan minimum ditentukan (b) batas luas maksimum ditentukan batas minimum diambangkan (c) luas batas masksimum dan minimum diambangkan Sedangkan atas dasar peran, baik dalam hal perencanaan program maupun

pelaksanaan, dapat dibedakan dalam dua model yaitu : (a) reform-by-grace, dalam model ini peran negara sangat dominan. (b) reform-by-leverage, peran rakyat secara terorganisir melalui organisasiorganisasi tani sangat besar, dan jaminan oleh undang-undang nasional. Sekalipun sesuatu negara sudah menetapkan secara normatif memilih sesuatu model, namun dalam proses pelaksanaannya terjadi suatu perkembangan yang mengubah arah. Contoh-contohnya misalnya (lihat, R. King, 1977): y y Italia, semula memilih model (b), yang terjadi kemudian mirip model (a); Yugoslavia (sebagai negara sosialis), memakai model (a), namun yang berkembang kemudian adalah mirip model (c). y Jepang, sengaja atau tidak, semula pola landreform nya cenderung berciri (c), tapi kemudian menjadi (b).

41

Tabel 2.1 Pelaksanaan Landreform di Beberapa Negara (Italia, Mesir, India, Jepang) Mulai Negara Tahun Itali 1946 Objek Landreform tanah pemilikan luas, tetapi tidak digarap dan sedikit menghasilkan

Program Instrumen

Cara/Metode y pembelian tanah dari pemiliknya berdasarkan harga menurut pajak. y penerimaan tanah membayar harga asal 42% biaya peningkatan unit pertanian. 50% dibiayai oleh dana publik y dijual kepada pengarap biaya 40% dari bantuan Amerika. y +3. Kompensasi sebesar 70 kali dari pajak tahunan, dengan obligasi selama 30 tahun y penyitaan dan setelahnya menjualnya berdasarkan biaya yang keluar plus 15% tanan non kerajaan, selama masa 30 tahun lewat kompensasi pembayaran yang rendah dan pemberian tanah kecil.

Mesir

1953

y penyitaan tanah dari kaum tuan tanah y distribusi tanah y pengembangan tanah y program pemindahan keluarga y pembukaan tanah pertanian melalui peningkatan dan pembaharuan tanah 1 tanah y redistribusi tanah penguasaan y pengaturan publik penyakapan 2 tanah yang y resettlement telah digarap y penetapan upah 3 pengusahaan minimum bagi tanah buruh tani berskala y penyediaan kredit besar pertanian (>200acre) y penguatan koperasi 4 tanah bekas pertanian milik y penataan kampung keluarga y reklamasi tanah kerajaan pentai dan padang tanpa pasir kompensasi

India

1952

tanah tuan tanah (zamindari)

y program penghapusan zamin y pengurangan sebagain penyakapan tuan tanah menjadi 1/3 atau ¼ atau kurang

42

Jepang

1945

Tanah penyakapan

y distribusi tanah distribusi tanah

y sebagian tanah penyakapan diberikan kepada pengarap aktual melalui pembelian oleh pemerintah dan penjualan kembali y tanah dijual kepada pengarap pada harga fix berdasarkan harga dan sewa sebelum perang.

Sumber: Eko , 2000. Bagaimana pola penerapan di Indonesia? Landreform yang pernah dicoba untuk dilaksanakan pada awal dekade 1960-an itu sebenarnya belum selesai. Bukan saja pelaksanaannya yang belum selesai, tapi juga bahkan design programnya pun sebenarnya belum tuntas. Penjabaran UUPA-1960 berupa UU No.56/1960 (yang dikenal sebagai UU landreform ) itu baru menyangkut pertanian rakyat. Sedangkan sektor-sektor lain seperti perkebunan, pertambangan, kelautan, kehutanan, dan lain-lain, belum sempat tergarap. Dengan demikian, tidak mudah untuk memberikan penilaian. Namun kalau dilihat dari isi UUPA1960 itu, jelas, semangatnya adalah semangat Neo-Populis (walaupun BK memakai istilah ³sosialisme Indonesia´). Tetapi sayangnya, ciri ini sedikit dipudarkan oleh UU No.56/1960 yang menetapkan batas minimum penguasaan tanah seluas 2 ha, sehingga jumlah beneficiaries relatif kecil (29%) jika dibanding dengan negara-negara lain yang dianggap berhasil (misalnya, Jepang 71%; Korea Selatan 66%; Meksiko 66%; Peru 37%; Bolivia 34%; Vietnam 72%) (Lihat, Rehman Sobhan, 1993). Dengan demikian, tingkat ketimpangannya pun tetap tinggi (diukur dengan Indeks Gini, pada tahun 1973: 0.53). Apalagi sekarang, jelas kondisinya jauh lebih parah. Pilihan model yang dipilih akan sangat berpengaruh pada konsep dan teknik operasionalisasinya. Hal Ini menjadi arah ke mana dan bagaimana sumber daya agraria dikelola dalam konteks pembaharuan yang akan dilakukan.

43

2.6.6

Pendekatan Reforma Agraria untuk Indonesia Salah satu isu krusial dalam rangka membangun konsensus untuk

implementasi agenda reforma agraria ini menyangkut model reforma agraria seperti apa yang akan dijalankan di Indonesia. Setiap negara memiliki model reforma agraria yang berlainan. Secara umum, ada model reforma agraria sosialis/komunis seperti yang diterapkan di Cina, Kuba, dan lain-lain. Dalam tipe idealnya, orientasi restrukturisasi dari model reforma agraria ini adalah hilangnya kelas sosial melalui penghapusan hak pemilikan pribadi atas tanah. Dan penggantinya adalah jenis kepemilikan kolektif dalam bentuk badan koperasi dan sejenisnya, yang sekaligus menjadi unit usaha tani yang bersifat kolektif pula. Sebaliknya, model reforma agraria kapitalis: orientasi restrukturisasi dimaksudkan untuk memberikan kesempatan seluas mungkin bagi lahirnya kelaskelas kapitalis dan model yang lain adalah yang disebut sebagai neopopulis: orientasi restrukturisasi agraria ditujukan bukan untuk kolektivisasi ataupun pembentukan kelas pengusaha, melainkan untuk redistribusi penguasaan dan pemilikan tanah kepada rumah tangga petani (miskin). Menurut Soertarto (2006), menyampaikan bahwa model reforma agraria di Indonesia seperti dalam ketentuan Undang-Undang Pokok Agraria, menganut model gabungan neopopulis dan kapitalis. Dalam model ini, redistribusi lahan kepada rumah tangga petani menjadi inti dari pelaksanaan reforma agraria. Namun, pada saat yang sama, ruang bagi perkebunan swasta juga tidak ditutup sama sekali dengan tetap diakuinya hak guna usaha ataupun hak lain. Rencana pembaruan agraria atas lahan seluas 8,15 juta hektar yang dialokasikan untuk rakyat (seluas 6 juta hektar) dan pengusaha (2,15 juta hektar) harus dilihat dalam rangka model gabungan semacam ini. Yang kemudian mesti dipikirkan dan disepakati adalah bagaimana skema alokasi semacam ini dapat terintegrasi secara utuh untuk menjamin akses petani bukan saja kepada tanah, melainkan juga kepada keseluruhan proses produksi dari hulu ke hilir.

44

Itu berarti menuntut untuk memikirkan organisasi produksi yang tepat untuk mengintegrasikan sektor perkebunan swasta dengan sektor perkebunan rakyat ini, sehingga pola eksploitatif ala Perkebunan Inti Rakyat (PIR) di masa lalu tidak terulang. Pada saat yang sama petani dapat turut terlibat dalam manajemen usaha perkebunan dari hulu hingga ujung hilirnya (entah melalui kepemilikan saham, perwakilan koperasi dalam manajemen, pembentukan badan usaha milik petani, dan lain-lain). Kalau hal ini dapat dikaji dan ditemukan modelnya, barangkali itulah model reforma agraria ala Indonesia yang paling tepat dan handal di lapangan.Mengacu pendapat Soertarto (2006), pengelolaan sumber daya agraria di Indonesia seperti dalam ketentuan Undang-Undang Pokok

Agraria, menganut model gabungan neopopulis dan kapitalis. Hal ini belum tuntas dalam cara dan mekanisme operasionalisasinya di lapangan, sehingga pihak swasta telah mencuri ´start´ dan akhirnya mempunyai kesempatan yang berlebih dibandingkan dengan masyarakat petani. Kondisi ini yang menimbulkan ketimpangan dalam pengelolaan sumber daya agraria di Indonesia sehingga tantangan dari para perancang, perencana dan pelaksana pembaharuan agraria di Indonesia dalam menemukan model yang tepat dan operasionalisasi pun handal.

45

BAB 3 POLA PEMILIKAN, PENGUASAAN DAN PENGELOLAAN TANAH DI INDONESIA

Di Indonesia terdapat perbedaan mengenai pola atau sistem pemilikan tanah antara di pulau Jawa dengan daerah-daerah lain seperti pulau Sumatera, Kalimantan dan Papua serta pulau-pulau lainya. Pada masyarakat pulau Jawa, tanah dahulunya dimiliki oleh Kerajaan, sementara masyarakat diberikan hak untuk memanfaatkannya. Pengaruh hukum Belanda pada masa penjajahan telah berdampak pada model pemilikan, sehingga selain dikuasai raja-raja lahan juga dimiliki secara personal. Pada tahun 1811 di pulau Jawa pernah dilakukan pendataan tanah oleh pemerintahan Belanda, ini menjadi dasar pengelolaan dan pendataan tanah di Jawa. Sementara untuk di luar Pulau Jawa pemilikan lahan dimiliki secara komunal oleh suku, klan, atau komunitas pedesaan kecuali untuk tanah tempat tinggal. Dalam sistem ini tidak dikenal pemilikan secara porsonal, dalam pengelolaan dan pengaturanya berada ditangan kepala suku atau sesepuh disuatu kampung. Untuk mencari model landreform yang sesuai dengan pola pemilikan komunal di Indonesia maka dalam bab ini akan disampaikan tentang pola-pola pemilikan lahan dari beberapa daerah di Indonesia. Sebelumnya akan disampaikan bagaimana pengelolaan tanah negara dan tanah ulayat dalam kaitanya dengan pengelolaan lahan secara komunal.

3.1. Pengelolaan Tanah Negara dan Tanah Ulayat 3.1.1. Tanah Negara Pengunaan istilah tanah negara ini bermula pada zaman Hindia Belanda. Sesuai konsep hubungan antara (Pemerintah Hindia Belanda) dengan tanah yang berupa hubungan pemilikan, maka dikeluarkan suatu pernyataan yang terkenal dengan nama Domeian Varklaring pada tahun 1870 dengan isi bahwa semua

46

tanah yang tidak bisa dibuktikan dengan hak eigendomnya adalah domein Negara (Sumardjono, 2005, hal. 60). Sementara menurut Abna & Sulaiman (2007) memahami asal usul dari tanah negara ini menurutnya kita harus mengembalikan ingatan kita kepada sejarah terbentuknya Indonesia. Sesuai dengan apa yang diungkapkan Van Vollenhoven dalam bukunya Adatrecht van Nederland Indie, sebelum datangnya kapal dengan bendara tiga warna ke nusantara, wilayah ini tidak kosong akan tata hukum. Menurutnya masyarakat di wilayah ini telah hidup teratur dalam masingmasing wilayah hukum adat (adatechtkringen) yang berjumlah 19 lingkaran. Artinya seluruh wilayah yang sekarang menjadi teritori Republik Indonesia telah terbagi habis ke dalam wilayah-wilayah hukum adat itu, mulai dari Aceh, Batak, Minangkabau sampai ke Irian(Papua). Melalui kolonialisasi dengan kekuatan senjata, akhirnya Belanda dapat menguasai seluruh wilayah Hindia Belanda, kecuali Aceh. Awalnya, karena seluruh tanah telah tebagi habis ke dalam wilayah hukum adat yang terbagi habis pula ke dalam tanah ulayat masyarakat hukum adat, tanah negara Hindia Belanda tidak ada. Setelah Indonesia merdeka, atas kekuatan dari Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945, kekuasaan Belanda atas tanah beheer tersebut dilanjutkan oleh Pemerintah RI. Sementara menurut Ketentuan-ketentuan Konversi UUPA Pasal III. (1). Hak erfpacht untuk perusahaan kebun besar, yang ada pada mulai berlakunya Undang-undang ini, sejak saat tersebut menjadi hak guna usaha tersebut dalam Pasal 28 ayat 1 yang akan berlangsung selama sisa waktu hak erfpacht tersebut, tetapi selama-lamanya 20 tahun. (2). Hak erfpacht untuk pertanian kecil yang ada pada mulai berlakunya Undang-undang ini sejak saat tersebut hapus dan selanjutnya diselesaikan menurut ketentuan-ketentuan yang diadakan oleh Menteri Agraria. Menurut Undang-undang Pokok Agraria Bab II Bagian IV , Pasal 28. (1). Hak Guna Usaha adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh Negara, dalam jangka waktu sebagaimana tersebut dalam pasal 29, guna perusahaan pertanian, perikanan atau pertenankan. Dalam ayat dan pasal-pasal selanjutnya ditetapkan bahwa HGU diberikan atas tanah

47

dengan luas 5 hektar untuk waktu 25 tahun yang dapat diperpanjang, dapat beralih dan dialihkan, subyeknya WNI atau BHI, terjadi karena penetapan pemerintah, dan dapat dijadikan jaminan hutang (Abna & Sulaiman 2007). PP No. 8 Tahun 1953, LN. 1953-14. Pas. 1. Didalam Peraturan ini yang dimaksud dengan: a. tanah Negara, ialah tanah yang dikuasai penuh oleh Negara. Sementara dalam UUPA 1960 sebagai sumber hukum dalam pengelolaan sumbersumber agraria justru tidak ditemukan istilah tanah negara. UUPA 1960 hanya menyampaikan khusunya Pasal 2. UUPA : Atas dasar ketentuan dalam pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar dan hal-hal sebagai yang dimaksud dalam pasal 1, bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya itu pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh Negara, sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat. Hak menguasai dari Negara termaksud dalam ayat (1) pasal ini memberi wewenang untuk : a. mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa tersebut; b. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan bumi, air dan ruang angkasa, c. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air dan ruang angkasa. Sedangkan dalam PP No. 24 Tahun 1997 Pasal 1 angka 3 tentang Pendaftaran Tanah. Tanah Negara atau tanah yang dikuasai langsung oleh Negara adalah tanah yang tidak dipunyai dengan sesuatu hak atas tanah. Dari redaksi Abna & Sulaiman (2007) tersebut mencoba mempertanyaan, apakah memang ada tanah yang di atasnya tidak melekat suatu hak tertentu, setidak-tidaknya pada suatu bidang tanah tententu akan melekat hak ulayat dari masyarakat hukum adat. Sementara kalau kita mengacu pada ketentuan UUD 1945 terdapat kerancuan pada istilah ³dikuasai oleh negara´ antara Pasal 33 ayat 2 dengan Pasal 33 ayat 3. Menurut Pasal 33 ayat 2, cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Istilah dikuasai oleh negara dalam pasal ini berarti dimiliki dan dikelola oleh negara secara langsung, yang sekarang dalam bentuk BUMN. Sementara makna

48

³dikuasai oleh negara´ dalam UUD 1945 Pasal 33 ayat (3) dijelaskan oleh Pasal 2 UUPA, sebagai ³Hak Menguasai Negara´, yang sesuai dengan penjelasan Umum UUPA, istilah ³dikuasai´ dalam pasal ini tidak berarti ³dimiliki´, akan tetapi adalah pengertian, yang memberi wewenang kepada Negara, sebagai organisasi kekuasaan dari Bangsa Indonesia itu. Kerancuan terhadap pemahaman makna ³dikuasai oleh negara´ seperti yang dimuat dalam UUD 45 dan UUPA itu, sering timbul salah faham bagi para penyelenggara negara, yang memandang bahwa hak menguasai negara atas tanah sama dengan hak negara atas cabang produksi yang diurus oleh Badan Usaha Milik Negara, yakni diartikan sebagai milik negara, yang kemudian disebut dengan istilah tanah negara. LMPDP mendefinisikan perbedaan pengertian menggenai tanah negara, yang menurutnya dapat dipahami dari adanya pendefinisian yang berbeda yaitu: a. Tanah yang langsung dikuasai Negara b. Tanah hak yang habis jangka waktunya c. Tanah yang belum pernah dilekati hak d. Tanah yang berupa hutan alam, cagar alam dan cagar budaya e. Tanah yang dikuasai dan atau digunkan instansi Pemerintah f. Tanah yang langsung dikuasai oleh negara yaitu tanah-tanah yang bukan tanah hak (menurut UUPA), bukan anah ulayat, bukan tanah kaum, bukan tanah hak pengelolaan dan bukan pula tanah kawasan hutan g. Semua bidang tanah yang tidak diduduki, dikuasai oleh seseorang atau diurus oleh badan/lembaga pemerintah maupun swasta tertentu h. Semua bidang tanah yang tidak dinyatakan sebagai tanah hak milik perorangan, milik desa, tanah ulayat, tanah dengan status hak erfpacht, tanah konsesi dan sebagainya i. Tanah yang dikuasai dan atau digunakan instansi pemerintah dan belum dilekati hak j. Tanah bentukan baru, termasuk tanah yang terbentuk karena proses reklamasi. Perterjemahan definisi tanah negara ini sangat mempengaruhi pola pengelolaan tanah negara, karena faktanya bahwa didalam tanah yang diklim sebagai tanah negara ada tanah-tanah adat atau komunal yang diatasnya melekat hak ulayat dan hukum adat.

49

3.1.2. Tanah Ulayat dan Hak Ulayat Berbicara tentang pengelolaan sumberdaya agraria khususnya lahan dangan pemilikan komunal, hal yang tidak bisa dilepaskan dari pembahasan tersebut adalah bagaimana posisi Tanah Ulayat dan Hak Ulayat ditinjau dari kebijakan pengelolaan agraria dan berbagai masalahnya. Menurut hukum adat di Indonesia, ada 2 (dua) macam hak yang timbul atas tanah, antara lain (Haar. Bzn. Ter. 1981) yaitu; Hak persekutuan, yaitu hak yang dimiliki, dikuasai, dimanfaatkan, dinikmati, diusahai oleh sekelompok manusia yang hidup dalam suatu wilayah tertentu yang disebut dengan masyarakat hukum (persekutuan hukum). Lebih lanjut, hak persekutuan ini sering disebut dengan hak ulayat, hak dipertuan, hak purba, hak komunal, atau beschikingsrecht dan Hak Perseorangan, yaitu hak yang dimiliki, dikuasai, dimanfaatkan, dinikmati, diusahai oleh seseorang anggota dari persekutuan tertentu. Secara umum, Haar. Bzn. Ter (1981) mengatakan bahwa hubungan antara hak persekutuan dengan hak perseorangan adalah seperti µteori balon¶. Artinya, semakin besar hak persekutuan, maka semakin kecillah hak perseorangan. Dan sebaliknya, semakin kecil hak persekutuan, maka semakin besarlah hak perseorangan. Ringkasnya, hubungan diantara keduanya bersifat kembang kempis. Hak ulayat menunjukkan hubungan hukum antara masyarakat hukum (subjek hak) dan tanah/wilayah tertentu (objek hak). Hak ulayat tersebut berisi wewenang untuk: 1. Mengatur dan menyelenggarakan penggunaan tanah(untuk pemukiman, bercocok tanam, dan lain-lain), persediaan (pembuatan

pemukiman/persawahan baru dan lain-lain). dan pemeliharaan tanah; 2. Mengatur dan menentukan hubungan hukum antara orang dengan tanah (memberikan hak tertentu pada subjek tertentu); Regulasi hak ulayat masyarakat hukum adat dapat ditemukan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (Undang-Undang Pokok Agraria- selanjutnya disingkat UUPA) serta

50

Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat, dalam paradigma Hukum Adat, tanah ulayat yang didalamnya terdapat hak dari masyarakat hukum adat, yang kerap dikenal sebagai hak ulayat (Basuki 2007). Abna & Sulaiman (2007) membagi tiga bentuk persekutuan hukum adat, yakni : a. genealogis, seperti suku dan paruik di Minangkabau, marga di Tanah Batak, Klebu di Kerinci; b. teritorial seperti desa di Jawa dan Bali, dusun dan marga di Sumatera Selatan, dan c. genealogis teritorial, seperti nagari di Minangkabau. Dalam pengelolaan sumberdaya agrarai di Indonesia khusunya dalam implementasinya dibutuhkan pemahamann yang utuh terhadap tanah ulayat dan hak ulayat. Hal ini penting pengelolaan tanah ulayat yang seringkali dikelola secara komunal dalam masyarakat hukum adat benar-benar ada pengakuan dan penghormatan terhadap hak ulayat dalam masyarakat hukum adat(lihat Sumardjono (2005).

3.2. Definisi Lahan Komunal Dalam artikata.com komunal berasal dari kata dasar komune(commune) dengan definisi: tempat sekelompok orang untuk tinggal dan hidup bersama-sama, di mana mereka bekerja bersama dan membagi hasil kerja itu rata-rata. Mengacu pada definisi tersebut maka tanah komunal adalah tanah yang diusahakan, dikelola dan dimiliki secara bersama untuk mewujudkan kesejateraan diantara anggota komunal. Kesediaan hidup bersama, berusaha bersama dan memiliki lahan secara bersama inilah yang menjadi ciri dari masyarakat komunal di Indonesia. Bagaimana sistem ini bertahan, faktor-faktor dan ciri-ciri apa yang

melatarbelakanginya. Keragaman budaya tradisi dan perbedaan geografis

51

memberikan pola yang berbeda dalam bentuk-bentuk pengelolaan, pengusahaan dan pemilikan tanah komunal di Indonesia. 3.3. Pola Pemilikan Lahan Komunal di Indonesia Karateristik lingkungan dan budaya berpengaruh kepada pola-pola pengelolaan dan pemilikan lahan pada masyarakat. Definisi Tanah komunal menurut FAO (2002) adalah : tanah jenis dimiliki secara komunal yang hanya dapat digunakan oleh anggota dari masyarakat tersebut. Misalnya tanah itu digunakan untuk menggembalakan ternak oleh masyarakat yang merupakan anggota kelompok. Anggota masyarakat dari luar hanya dapat memperoleh akses atas tanah komunal bila memenuhi syarat yang berlaku dalam komunal tersebut. Berbicara program landreform di Indonesia hal yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana bentuk-bentuk pemilikan dan pola pengelolaan lahan yang berlaku pada masyarakat Indonesia yang majemuk. Karena kemajemukan pola kehidupan masyarakat Indonesia mendasari bagaimana pola-pala pemilikan dan pengelolaan lahan yang berbeda pada setiap suku dan wilayah geografis tertentu. Dalam bab ini akan membahas bagaimana pola-pola pemilikan lahan, pengelolaan lahan dan dibeberapa tempat di wilayah Indonesia, sebagai gambaran bagaimana pola pengelolaan Sumberdaya Agraria dilakukan oleh masyarakat di penjuru nusantara khusunya pada masyarakat komunal/masyarakat adat.

3.3.1. Pola Pemilikan Lahan Pada Masyarakat Batak Pada Masyarakat Batak khusunya di sekitar kawasan DTA Danau Toba Pola pemanfaatan lahan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti hak pemilikan, modal, tenaga kerja, pengetahuan, kepastian akses terhadap hasil, serta faktor kelestarian lingkungan. Pola pemanfaatan lahan yang dimiliki oleh individu berbeda dengan pola pemanfaatan yang dilakukan oleh komunal maupun negara. Oding, Alfonsus dan Harianja (2008) menyampaikan bahwa secara umum aturan tradisional dalam pemilikan dan penguasaan lahan di kawasan DTA Danau Toba

52

berdasarkan adat dan budaya Batak yang bersifat patrilineal (didasarkan pada sistem kekerabatan dari pihak laki-laki). Adapun sistem kekerabatan yang ada pada sistem kekerabatan masyarakat Batak Toba dengan sebutan Dalihan Natolu, Batak Karo dengan sebutan Daliken Sitelu, dan Batak Simalungun dengan sebutan Tolu Sahundulan. Sistem kekerabatan patrilineal atau patrialchal adat Batak secara umum memiliki ciriciri: a. Hubungan kekerabatan diperhitungkan melalui garis ayah, anak menjadi hak ayah dan seorang ayah memegang peranan penting dalam pengaturan kehidupan keluarga. b. Hak milik diwariskan melalui suatu garis di dalam susunan kekerabatan yang ditentukan oleh para anggota kerabat dari pria. c. Pengantin baru bertempat tinggal atau hidup menetap pada pusat kediaman kekerabatan dari suami. d. Para pria mempunyai kedudukan yang tinggi dalam kehidupan masyarakat. Pada pengelolaan lahan di kawasan DTA Danau Toba menunjukan bahwa pola pemilikan dan penguasaan lahan pada masyarakat hukum adat di masyarakat Batak tidak jauh berbeda antara satu suku dengan suku lainnya di Indonesia. Pemilikan lahan dapat oleh individu maupun kelompok atau komunal melalui penemuan, pembukaan hutan, pemberian atau pewarisan, tukar menukar, dan pembelian. Dalam perkembangannya pola-pola tersebut disesuaikan berdasarkan pada budaya dan adat masing-masing masyarakat adat tersebut (Oding, Alfonsus, Harianja 2008). Sejarah singkat Batak Toba Sibisa Porsea dapat diketahui berdasarkan sejarah asal mula bagi orang batak adalah perkembangan suatu desa dari masa kemasa. Hal ini erat hubungan silsilah yaitu perasaan komunal (komunitas) yang tebal dikalangan penduduk disuatu desa. Hal itu tampak sekali dalam kehidupan sehari ± hari pada masyarakat setempat seperti penggunaan bahasa, adat istiadat, dan silsilah dari keturunannya. Sebelum dikemukakan tentang uraian desa perlulah diketahui bahwa perinsip adat istiadat dan asal mula suku batak tidak terlepas dari Dalihan Na Tolu.

53

Dalihan Na Tolu adalah suatu aturan yang mengatur sistem kekerabatan marga ± marga yang ada pada suku batak dan merupakan acuan hidup masyarakat batak yang merupakan sebagai berikut : Hula ± hula (Tulang), Dongan Sabutuha (Semarga), Boru (Anak Perempuan). Keuntungan lainnya terkait dengan warisan adalah (a) dengan pemberian klen, khususnya bila calon pengantin itu wanita, bila kelak suaminya meninggal dunia, dia berhak mewarisi tanah adat yang dimiliki suaminya dan (b) kedudukan orang yang diberi klen (marga/beru) menjadi jelas dalam struktur adat Karo. Anak-anak yang dilahirkan dari keluarga pembaruan ini, kedudukannya sama di dalam adat dengan keluarga yang kedua orang tuanya sama-sama satu etnis. Aturun-aturan yang terkait dengan Dalihan na tolu dalam hal pemilikan dan penguasaan lahan, terutama tanah di Tanah Batak antara lain: a). Warisan. Tanah warisan diberikan orang tua kepada anaknya yang laki-laki, setelah orang tua meninggal, b). Pauseang. Sebidang lahan (khususnya sawah) yang diberikan pihak hula-hula pada anak perempuannya pada saat anak perempuannya tersebut menikah. c).Ulos Nasora Buruk´ (Kain batak yang tidak akan usang). Ungkapan ini dipakai sebagai lahan yang diberikan oleh hula-hula kepada borunya untuk dimiliki dan dikelola. d). Indahan Arian (sumber makanan). Lahan ini diberikan oleh hula-hula kepada borunya dengan dibarengi hak pemilikan, namun tidak boleh dipindahtangankan kepada pihak lain. ). Panjaean (batu loncatan). Sebidang tanah yang diberikan oleh orang tua, ketika orang tuanya masih hidup, kepada anak laki-laki setelah anak laki-laki tersebut menikah. f). Dondontua. Tanah yang diberikan pada cucu laki-laki tertua dari anak laki-laki tertuanya. g) Upasuhut. Sebidang tanah yang diberikan pada cucu laki-laki tertua dari anak laki-laki bungsu, h).Marga di luar marga pemilik tanah dapat memilki tanah jika mereka telah menikah dengan perempuan dari marga pemilik tanah. Mereka biasanya disebut Sonduk hela. Apabila terjadi penyimpangan dalam perkawinan (bila salah seorang calon pengantin bukan berasal dari etnis Karo), pihak daliken si telu calon pengantin yang beretnis Karo, selalu menyarankan agar calon pengantin etnis non Karo tersebut disyahkan menjadi ³orang Karo´ yaitu diberikan klen (marga/beru), dan sekaligus diberikan orang tua adatnya. Peranan orang tua adat dalam bidang-

54

bidang tertentu (di luar adat istiadat Karo) sama dengan orang tua kandungnya, tetapi dalam bidang-bidang tertentu (di dalam adat istiadat Karo) jelas jauh melebihi orang tua kandungnya yang bukan berasal dari etnis Karo. Pemberian klen/marga ini tidak bertujuan untuk mengkaronisasikan etnis non Karo yang ingin berjodoh dengan etnis Karo, tetapi bertujuan agar mekanisme daliken sitelu tetap berfungsi semestinya. Pola pemanfaatan lahan seperti ini, menunjukkan bahwa pemanfaatan lahan yang dilakukan oleh masyarakat di kawasan DTA Danau Toba masih berorientasi para tujuan ekonomi. Hal ini dilakukan karena masyarakat tidak mempunyai alternatif sumber pendapatan lain di luar pertanian dan luas lahan yang dimiliki sempit (rata-rata 0,25 Ha). Kalaupun di lahan mereka ditanami pohon, pohon tersebut tidak merupakan tanaman utama dan dominan yang akan menjadi sumber pendapatan masyarakat. Dalam memanfaatkan lahan pertanian/sawah para petani masyarakat Batak banyak melakukan penanaman tanaman pertanian seperti padi palawija, dan sayur-sayuran. Sementara pada lahan kebun/ladang para petani juga menanami lahannya dengan tanaman yang cepat menghasilkan (crash crop) seperti tanaman pertanian (padi gogo, jagung, kacang tanah, cabai rawit) dan tanaman perkebunan (seperti kopi dan coklat). Masyarakat Batak di DTA Danau Toba mengunakan pohon sebagai batas lahan dan jarang diusahakan secara komersil.

3.3.2. Pola Penguasaan Lahan pada Masyarakat Minangkabau. Adat Minangkabau pada dasarnya sama seperti adat pada suku-suku lain, tetapi dengan beberapa perbedaan atau kekhasan yang membedakannya. Kekhasan ini terutama disebabkan karena masyarakat Minang sudah menganut sistem garis keturunan menurut Ibu, matrilinial, sejak kedatangannya di wilayah Minangkabau sekarang ini. Kekhasan lain yang sangat penting ialah bahwa adat Minang merata dipakai oleh setiap orang di seluruh pelosok nagari dan tidak menjadi adat para bangsawan dan raja-raja saja. Setiap individu terikat dan terlibat dengan adat, hampir semua laki-laki dewasa menyandang gelar adat, dan semua hubungan kekerabatan diatur secara adat. Pada tataran konseptional, adat Minang terbagi pada empat kategori: a). Adat nan sabana adat, b). Adat nan teradat, c).

55

Adat nan diadatkan, d). Adat istiadat. Adat mengatur interaksi dan hubungan antar sesama anggota masyarakat Minangkabau, baik dalam hubungan yang formal maupun yang tidak formal. Sementara bentuk penguasaan tanah dan pemanfaatan sumber alam dimaksud adalah (1) Bauduah, suatu perajahan dimana setiap wilayah di bawah penguasaan suku baik berupa bentangan punggung yang di atasnya tumbuh pohon produktif maupun aliran air sungai yang bertaburan ikan selain dibangun batas fisik antar kaum dan juga batas bathin (internal power). Selain itu, (2) Balega (bergilir), setiap warga kaum dapat memanfaatkan hasil sumber alam, menggarap tanah dimaksud secara bergilir sesuai dengan kesepakatan bersama kaum. Perubahan kesepakatan dimaksud dapat dilakukan jika telah dibangun suatu kesepakatan baru berikutnya. Kemudian, (3) Pagang-Gadai- Susuik merupakan kesepakatan baru berikutnya dalam pemanfaatan sumber alam, yang secara kultural boleh dilakukan dengan cara menyewakan kepada anggota kaum lain sampai beberapa langkah yang masih sesuku selama jangka waktu tertentu dengan perjanjian tertentu pula (Saptomo. 1995) .Penguasaan tanah dan pemanfaatan sumber alam semestinya mendasarkan pada potensi lokal tempatan mengingat secara kultural, potensi lokal mewujudkan prinsip-prinsip matrilineal; sosial, mengintegrasikan anak kemanakan akibat praktik perkawinan eksogami; ekonomi, mempertinggi tingkat kesejahteraan lahir batin; politis, menunjukkan praktik ideologi komunal secara benar; keamanan, menjaga keutuhan baik fisik dan bathin sosial masyarakat tempatan. Menurut Saptomo (1995) Kekuatan bathin (internal power), pembagian hasil sumber alam secara bergilir sesuai alam, penyewaan kepada anggota kaum sesuku selama jangka waktu tertentu, merupakan bentuk penguasaan tanah dan pemanfaatan sumber alam dimaksud. Kondisi geografis, homogenitas dan jumlah penduduk, kultur merantau merupakan faktor-faktor pendorong kurangnya pengaruh pada percepatan perubahan. Sementara, orientasi pada hukum negara, interaksi antara hukum dan kedatangan etnik lain menjadikan interaksi antar etnik dan antar tata hukum lokal memproduk beragam pandangan hukum baru yang mendorong pergeseran model legalitas sosial ke legalitas formal.

56

Pada adat Minang cara untuk mempertahankan dan memanfaatkan sumber alam dilandasi kesepakatan-kesepakatan yang dikonstruksi aturan lokal dalam mengatur siapa, apa, bagaimana, dan mengapa penguasaan dan pemanfaatan sumber alam demikian. Dalam konsep lokal, keamanan tanah tidak diukur dengan selembar kertas yang disebut sertifikat, tetapi riwayat penggarapan tanah secara turun temurun, pengakuan tokoh- tokoh adat, dan kesaksian orang lain menjadi faktor penentu. ³Tanah yang disertifikatkan berarti liar karena akan berakibat bahwa hak atas tanah dimaksud akan berpindah-pindah dan dapat digunakan secara bebas oleh orang yang namanya tercantum dalam sertikfat tersebut sehingga sulit dikontrol.´ Artinya terdapat pandangan bahwa setiap bidang tanah yang disertifikatkan dianggap sebagai sebagai tanah ³liar´ dengan alasan tanah yang sudah disertifikatkan akan menjadi bebas bagi orang yang namanya

tercantum di atas lembar sertifikat untuk dijual, disewa, digadai, dijadikan jaminan bank, dan sejenisnya. Dalam konteks interaksi secara kultural matrilineal berlaku prinsip perkawinan eksogami suku (subetnik) dan endogami suku bangsa (etnik). Namun, dalam konteks adat Minangkabau hambatan matrilineal itu dibuka melalui praktik malakok (melekat). Dalam malakok ini, siapapun dan apapun etniknya dapat menikah dengan etnik Minangkabau apabila, terutama laki-laki dimaksud, telah mengaku kepada dan diakui oleh salah satu mamak yang bersuku berbeda dengan calon pasangan dalam nagari dimaksud. Dalam studinya Saptomo. (1995) membagi tiga macam kepemimpinan dalam masyarakat Minangkabau yaitu dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Kepemimpinan Penghulu Penghulu di dalam adat Minangkabau disebut penghulu dengan panggilan sehari-hari ³Datuak³. Penghulu itu hulu (ketua) dalam kaum suku di nagari. 2. Kepemimpinan Mamak Mamak adalah saudara laki-laki dari pihak ibu. Semua saudara laki-laki ibu baik adik maupun kakaknya yang sudah dewasa/ menikah disebut mamak. 3. Kepemimpinan Tungku Tigo Sajarangan (Tali Tigo Sapilin)

57

Filosofinya, ketiga unsur kepemimpinan Minang itu bila bermusyawarah dapat menghasilkan keputusan yang bulat dan punya kekuatan menghadapi persoalan yang dihadapi. y Ninik Mamak (Di dalam urusan adat Minangkabau Ninik Mamak adalah orang yang dituakan berfungsi KK dalam rumah tangga kaum paruk/ jurai). y Alim Ulama (Kedudukan alim ulama dihormati kerena ilmu dan keteladanan imannya). y Cerdik Pandai (Cerdik pandai artinya kumpulan orang pandai-pandai atau disebut cerdik cendikia). Dalam perspektif kultural atau hukum lokal model perajahan merupakan hukum yang hidup (living law) berkenaan dengan cara membangun batas-batas non fisik. Selain itu, model penyelesaian lewat kesepakatan antar mamak di suatu tempat yang disebut Surau merupakan kebiasaan yang telah melembaga. Ini menunjukkan bahwa hukum negara tidak dijadikan sebagai rujukan, bahkan dihindari, untuk menyelesaikan persoalan konflik antar kaum berbeda suku, namun diselesaikan lewat saluran kultural masyarakat tempatan. Dengan keyakinan demikian, mereka tidak mengeluh, konflik, apalagi sengketa. Dalam konteks ekonomi, potensi lokal dapat mempertinggi dan menjaga tingkat kesejahteraan dengan cara membagi hasil sumber alam secara µmerata¶ sesuai kehendak alam. Antara kaum satu dan yang lain dalam menerima apa yang diterima dipandang sebagai kehendak alam diyakini sebagai perwujudan Alam Takambang Jadi Guru. Dengan keyakinan demikian, mereka tidak mengeluh, konflik, apalagi sengketa. Praktik demikian, secara politis, dapat menunjukkan kepada komunitas luar bahwa warga komunitasnya mampu mempraktikkan bagaimana ideologi komunal diterapkan secara benar dan dapat mempertemukan berbagai kepentingan berbeda.

3.3.3. Pola Penguasaan Lahan pada Masyarakat Dayak Kalimantan. Pada masyarakat Suku Dayak dalam pengaturan tanah/lahannya dibagi menjadi beberapa, yaitu: tanah keramat, hutan adat, daerah tempat berladang, daerah tempat bersawah, daerah perkebunan rakyat dan cagar budaya. Berdasar 58

konsep ini, masyarakat membagi wilayah kampung menjadi a). Kawasan hutan yang dilindungi atau dicanangkan untuk masa depan, b). kebun buah-buahan; c). lahan perkebunan karet, d). sawah, e). ladang dan bawas (lahan yang

diistirahatkan dengan tujuan untuk mengembalikan kesuburan tanah), f). tanah pekuburan dan tanah keramat, g). lahan perkampungan dan h). sungai serta danau untuk perikanan (Noveria, Gayatri, & Mashudi, 2004). Pada sistim Dayak Tara,n di Tae (Kabupaten Sanggau) dan Dayak Salaka di Bangak Sahwa (Kabupaten Sambas) di Kalimantan Barat pada komunitas masyarakat didua tempat tersebut, lahan yang semula dimiliki secara komunal bisa berubah statusnya menjadi milik pribadi jika sudah dibersihkan, ditanami dengan jenis-jenis tanaman tertentu dan dipelihara. Sistem pemilikan ini sudah di praktekan dan diakui oleh masyarakat. Karena sudah bersifat pribadi, maka pemilikan lahan ini dapat diwariskan kepada keturunannya(Noveria, Gayatri, & Mashudi, 2004). Peluso & Padoch (1996) dalam Noveria, Gayatri, & Mashudi, (2004). menyampaikan bahwa pada komunitas Dayak, lahan untuk bertani dan berladang diperoleh dengan cara membersihkan/membabat hutan. Pada masyarakat Dayak Kayan yang tinggal di daerah sungai Mendalam wilayah Kalimantan Barat, misalnya, mengakui bahwa mereka yang membuka hutan primer mempunyai hak untuk bertani dan berladang diareal yang dibuka. Hak penguasaan lahan ini dapat diturunkan kepada keturunan dari individu-individu yang pertama kali membuka lahan. Pada masyarakat Dayak di Kabupaten Gunung Mas berkembang pola penguasaan dan pemilikan lahan yang diakui oleh masyarakat secara turuntemurun, pola tradisional dan turun temurun, warga desa menguasai dan memanfaatkan lahan di sekitar pemukiman mereka. Dalam mengelola sumberdaya lahan yang ada penguasaan dan pemanfaatan lahan dapat bersifat perorangan dan juga dapat bersifat komunal. Pola pemanfaatan dan penguasaan lahan tersebut diakui dalam konteks lokal tradisional, tetapi tidak secara hukum formal. Pola tani masyarakat Dayak yang pengusahakan ladang secara berpindah dalam rotasi tiga sampai sepuluh tahun ini dianggap tidak permanen menurut Undang-Undang Pokok Pertanahan (UUPA) Nomor 5 Tahun 1960. Akibatnya secara hukum,

59

petani ladang berpindah sulit untuk mendapat jaminan penguasaan lahan, meskipun secara lokal ditingkat desa terdapat pengakuan pemanfaatan ini. Pada masyarakat Dayak lembaga adat dan pengertiannya adalah seperangkat aturan, norma dan nilai budaya yang mengatur upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat termasuk mengorganisir kearah peningkatan kesejahteraan masyarakat dan lembaga juga dapat diartikan sebagai wadah atau organisasi tradisional dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat melalui berbagai kegiatan. Meski terdapat beberapa kelembagaan yang hidup di tengah masyarakat. Namun secara umum kelembagaan lokal yang kuat pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat hanya 2 (dua) yakni : Pemerintahan desa dan badan perwakilan desa serta Kelembagaan Adat. Kelembagaan lokal ini memiliki peran dan fungsi masing-masing. Pemerintah Desa dan badan perwakilan desa memiliki kewenangan menyangkut tata pemerintahan formal. Sementara Kelembagaan adat dalam hal ini Ketemanggungan Kayaan Mendalam, bertanggungjawab untuk mengurus urusan yang berhubungan dengan adat Pada masyarakat Dayak Kanayant di Kalimantan Barat dalam mengelola lahan mereka mempunyai konsep Palasar Palaya yang mengatur pemanfaatan dan pengelolaanya lahan serta sumberdaya alam yang lainya, sesuai dengan fungsinya dengan memperhatikan keseimbangan serta kemampuan daya dukung alam dalam suatu lingkungan komunitas. Pada prinsipnya, tanah yang sudah ditinggalkan dapat dimanfaatkan oleh semua orang untuk kegiatan berladang sejauh lahan yang ditingalkan tersebut tidak ditanamai oleh tanaman tahunan seperti karet, buahbuahan yang oleh masyarakat dikenal dengan "tanam tumbuh", maka lahan di anggap tanah tak bertuan dan siapapun yang berkeinginan untuk menanaminya dapat mengunakan lahan tersebut. Sedangkan pemilikan lahan untuk bertani dan berladang dikalangan Masyarakat Sembuluh Kalimantan Tengah ditentukan berdasarkan kegiatan penanaman tanaman tumbuh, praktek tersebut sudah berlangsung lama dalam masyarakat dan semua penduduk menghormati segala kesepakatan yang berlaku, sehingga masing-masing dapat menjalankan kehidupan mereka. Mengingat pentingya lahan lahan bagi masyarakat, maka pemilikan lahan dapat diartikan sebagai wujud keberadaan, penguasaan, status dan juga

60

menunjukan harta yang dimiliki. Oleh karena itu kehilangan lahan dapat dianggap sebagai ancaman terhadap kelangsungan hidup masyarakat. Bagi masyarakat Dayak, sungai, tanah dan hutan merupakan bagian yang terpenting dari identitas sebagai seorang Dayak. Pandangan yang sama juga tercermin dalam pola penggunaan tanah masyarakat Dayak dalam ekosistem hutan tempat tinggal mereka. Tanah bukan hanya sebagai sumberdaya ekonomi, namun juga merupakan basis untuk kegiatan budaya, sosial, politik dan spiritual (Andasputra, 2001). Bagi masyarakat Dayak ³hak´ tersebut tepatnya berupa ³kewajiban´ - karena bila hubungan antara tanah dan yang bersangkutan sempat terhenti dalam satuan waktu tertentu, maka aksesnya terhadap tanah menjadi hilang, meski seringkali bersifat sementara. Berbeda dengan pola pengelolaan pada masyarakat modern yang didahulukan adalah ³hak´ (misalnya diberi hak untuk mengelola HPH selama 25 tahun), baru kemudian muncul hubungan dengan tanahnya. Hubungan yang terjadi pada visi tradisional, seperti telah disebutkan, lebih berupa ³kewajiban´, namun pada dunia modern justru dibelokkan menjadi ³hak´ (Admajaya, 1998). Cara pemindah-tanganan hak atas tanah pada masyarakat Dayak pada umumnya melalui : (1) Jual-beli (hajual haili), (2) perwarisan, (3) pemberian (panenga), (4) tukar-menukar (tangkiri ramu), (5) gadai (sanda, hasanda) dan (6) perkawinan (petak palaku). Pemindahan hak atas tanah terjadi bilamana seorang keluarga tertentu sangat membutuhkan uang untuk keperluan yang mendesak, seperti biaya sekolah anak di kota, biaya pengobatan, perkawinan, pesta upacara Tiwah, dan lain-lain. Dayak Ribun memiliki kebiasaan memberi tanda dengan cara tanda alam sebagai batas yang memisahkan dengan tanah milik orang lain, misalnya bambu, bersamaan dengan proses penghutanan kembali secara alamiah bekas ladangnya, maka tanda-tanda alam yang menjadi batas pemilikan tanah menjadi berubah sulit dikenali, bahkan seringkali telah hilang. Pohon bambu sebagai batas, dalam beberapa tahun telah menjadi rumpun bambu yang meluas sehingga titik batas yang sebetulnya sulit ditemukan. Model atau sistem penguasaan tanah secara tradisional di desa-desa yang berkembang pada masyarakat Dayak yang sudah

61

berjalan ini ternyata mampu meminimalkan konflik penguasaan lahan. Sistem itu justru menjamin terpeliharanya integrasi sosial tingkat lokal. Apabila terjadi sengketa lazimnya diselesaikan secara adat atau melalui jalur hukum nasional yang berlaku. Meskipun demikian, nampaknya cara adat masih lebih diutamakan. Kasus apa pun yang terjadi di dalam masyarakat, apabila para pihak yang terlibat sengketa ingin menyelesaikannya secara adat, maka ini menjadi kewenangan demang, walaupun sengketa tersebut sudah berada dalam penanganan polisi atau camat. Artinya, kalau suatu kasus yang sudah ditangani oleh polisi dicabut oleh para pihak yang terlibat perkara karena kasusnya ingin diselesaikan secara adat, kasus tersebut kemudian diserahkan oleh polisi kepada demang untuk diselesaikan secara adat. Baik itu Dayak Kayaan atau Dayak Bukat. Peran sentral pemimpin adat menyangkut mulai dari urusan tata upacara adat, menjatuhkan hukum adat kepada pelanggar, hingga mengorganisir masyarakat juga memutuskan kapan mulai penanaman padi dilakukan. Kelembagaan Dayak Mudu dan Dayak Bukit (Sinosis) ada tiga yaitu: organisasi tingkat rumah tangga, organisasi sosial tingkat kampung dan organisasi sosial tingkat desa. pada umumnya didalam masyarakat adat

Dayak dikenal adanya dualisme kepemimpinan yaitu disamping ada pemimpin formal, seperti; Camat, Kepala Desa, Kepala Dusun dan RT, juga ada pemimpin non formal yang tersusun mulai dari tingkat RT.sampai ke Tingkat Kabupaten, yaitu; 1) Pengurus adat (ketua adat) yang mempunyai kewenangan menyelesaikan masalah adat pada tingkat dusun; 2) Tumenggung; yang mempunyai kewenangan menyelesaikan masalah adat pada tingkat desa; dan 3) Dewan Adat yang mempunyai kewenangan menyelesaikan masalah adat pada tingkat kecamatan. 3.3.4. Pola Penguasaan Lahan pada Masyarakat Papua. Pada sebagian masyarakat adat di Papua, pola penguasaan lahan awalnya dilakukan berdasarkan siapa yang pertama kali membuka dan mengerjakan areal hutan yang belum dikuasai oleh orang lain. Pada sebagian yang lain, awal

penguasaan wilayah oleh suatu marga didasarkan pada lokasi yang dijelajahinya pertama kali pada saat berburu binatang di areal hutan yang belum dikuasai marga lain. Begitu areal belum bertuan tersebut dikerjakan oleh suatu kelompok marga,

62

maka secara ulayat lahan tersebut adalah milik marga yang bersangkutan (hak ulayat) dan penguasaan ini dapat diwariskan kepada keturunannya, terutama keturunan laki-laki (hak waris) (Tokede, et a1., 2005 dalam Wiliam, et al.,2005). Konsep lain yang penting diperhatikan adalah konsep pemilikan tanah. Bagi masyarakat adat Papua, pemilikan tanah itu bersifat komunal. Bukan hanya milik satu garis keturunan tertentu, akan tetapi pemilikan lahan merupakan milik satu suku. Masing-masing suku memiliki tradisi, bahasa dan tata cara adat yang berbeda-beda. Persilangan antar suku melalui perkawinan dan peperangan juga mengubah konsep komunalitas pemilikan lahan. Masing-masing suku memiliki catatan sejarah umumnya tersimpan dalam tradisi lisan mengenai batas wilayah hak ulayat. Lebih kompleks lagi, apabila catatan klaim pemilikan hak ulayat didasarkan pada sejarah peperangan antar suku (Rahman 2007). Tanah dan hutan bagi masyarakat adat Papua dan juga masyarakat adat pada umumnya bukan saja merupakan sumber kehidupan ekonomi semata, namun juga merupakan sentral kebutuhan spiritual. Terdapat konsep kunci dalam tradisi masyarakat adat Papua, bahwa tanah adalah ³ibu´. Hingga kini sesungunya bagi masyarakat adat Papua, tanah tidak bisa diperjualbelikan (Rahman 2007). Hak ulayat maupun hak waris pada dasarnya tidak dapat diperjualbelikan, hanya boleh dipinjampakaikan antara sesama warga yang masih dalam satu rumpun adat (suku). Berdasarkan sistem penguasaan lahan seperti ini, secara informal masyarakat Papua mengakui bahwa seluruh kawasan hutan yang ada di daerah tersebut merupakan hak ulayat kelompok-kelompok masyarakat hukum adat (marga) tertentu, dimana ketentuan-ketentuan penggunaannya di antara anggota marga diatur oleh norma hukum adat yang berlaku di masing-masing marga. Pada Suku Muyu setiap memulai kegiatan bercocok tanam maka masyarakat terlebih dahulu berdoa dan memohon restu kepada Ibu Pertiwi. Mereka meyakini bahwa hari dan angka tujuh adalah hari keberuntungan sehingga dihari tersebut masyarakat Suku Muyu selalu memulai ritual penenaman atau budidaya tanaman di lahan mereka tersebut.

63

Kearifan lokal masyarakat Adat Papua dalam mengelola lahan menjadi basis pengelelolaan yang memperhatikan kaidah-kaidah lingkungan dan sosial itu tercermin dalam berbagai pemahaman mereka, contohnya: y Kepercayaan dan Pantangan Pantangan dalam menebang pohon jenis Merbau yang perawakannya tinggi besar dan berbeda dengan jenis yang sama pada suatu luasan (suku Bugui). Wanita yang dalam keadaan Menstruasi tidak diperbolehkan ke kebun, karena diyakini dapat mendatangkan babi yang dapat merusak tanaman (suku Arfak). y Etika dan Aturan Menebang Pohon hanya sebatas kebutuhan saja dan jika terjadi kebakaran dan menimbulkan kerusakan pohon pemilik lainnya, maka orang yang

menyebabkan kerusakan tersebut diwajibkan menanam kembali (suku Mooi) y Teknik dan Teknologi Menumpukkan pohon yang baru ditebas disekeliling lahan yang berfungsi sebagai sekat bakar pada saat pembukaan lahan pertanian (sebagian besar suku di Papua). Membuat berbagai perlengkapan alat rumah tangga, pertanian dan berburu (sebagian besar suku di Papua). Terdapatnya jenis pohon bembuk dan ciskua menunjukkan lahan tersebut subur (suku Arfak y Praktek dan Tradisi Pengelolaan Hutan/Lahan Melindungi wilayah sekitar sungai dan budaya ³sasi´ sebagai masa bera dalam memanfaatkan sumber daya alam (sebagian besar suku di Papua) Sistem kepemimpinan atas dasar pewarisan merupakan system kerajaan (perdagangan di waktu lalu) di Raja Ampat, di Fak Fak, Kaimana atau system Ondoafi atau Ondofolo di Sentani dan wilayan Kebudayaan Tabi termasuk Genyem yakni Demou Tru merupakan jabatan tertinggi dalam masyarakat Namblong yang hanya diduduki oleh Wai Iram, kadangkala dianggap jabatan kekal. Konsep kepemimpinan adat di Papua adalah tunggal dan otonom, struktur dari orangnya atau individu, memiliki karisma dalam kepemimpinan, taat dan patuh karena sangsi adatnya tegas dan jelas, berakar dari adat, wilayah serta batasbatas yang jelas, memiliki harta pusaka, merasaka terikat pada satu kesatuan territorial adat. Peran kepala suku sangat penting dalam komunitas Suku Mayu, kepala suku yang mengkoordiner anggota suku untuk membuka lahan, selain itu 64

Suku Muyu memilih tanah berwarna hitam karena mereka meyakini tanah tersebut subur dan cocok untuk hampir semua jenis tanaman: pisang (jum), jemen andu (keladi), kombili (wan), ubi jalar (bonding), sayur-sayuran, dan lain-lain. Kepala suku yang menjadi penengah ketika terjadi konflik di masyarakat. Membahas pola pemilikan tanah di Papua tidak bisa dipisahkan dari keberadaan masyarakat Papua, karena bagi masyarakat Papua sejengkal tanahpun itu milik adat. Secara detail terdapat tujuh wilayah adat di Papua daerah daerah antara lain, wilayah adat 1 (Mamta) meliputi Port Numbay, Sentani, Genyem, Depapre, Demta, Sarmi, Bonggo, Mamberamo. Wilayah adat 2 (Saireri) yakni Biak Numfor, Supiori, Yapen, Waropen, Nabire bagian pantai. Wilayah adat 3 (Domberay) antara lain Manokwari, Bintuni, Babo, Wondama, Wasi, Sorong, Raja Ampat, Teminabuan, Inawantan, Ayamaru,Aifat,Aitinyo.Wilayah adat 4 kawasan Bomberay meliputi Fakfak, Kaimana,Kokonao dan Mimika. Wilayah adat 5 kawasan Ha Anim meliputi Merauke, Digoel, Muyu, Asmat dan Mandobo. Wilayah adat 6 kawasan Me Pago antara lain Pegunungan Bintang, Wamena, Tiom, Kurima, Oksibil, Okbibab. Wilayah adat 7 kawasan La Pago antara lain, Puncak Jaya, Tolikara, Paniai, Nabire pedalaman. PETA SUKU BANGSA DI TANAH PAPUA

Gambar: 3.1 Peta Suku Bangsa di tanah Papua ( Sumber Dinas Kebudayaan Propinsi Papua 2008)

65

Dalam proses pengerjaan pembukaan lahan masyarakat Suku Muyu mengundang warga dan kerabat untuk meminta izin akan membuka lahan dengan membaca mantera yang dibaca dalam hati. Pemanenan dilakukan oleh warga kampung sementara pemilik hanya mengawasi saja. Hasil-hasil panen dikumpulkan dan tidak boleh dilangkahi atau diinjak, karena dia yang menghidupi, diangkut dengan baik ke rumah masing-masing, dijunjung atau dijinjing oleh mama-mama, bukan kaum laki-laki. Karena keladi dan kombili dalam adat mereka tinggi derajatnya maka hasil panen tanaman tersebut lebih dahulu dibawa pulang dari pada sagu dan umbi-umbian lainnya. Keladi dan kombili dianggap suci sehingga tidak boleh dijual, hanya dibagi-bagi kepada warga Suku Muyu, menjualnya sama dengan hina, sebelum dikonsumsi masyarakat harus memanjatkan do¶a atas berkah dari hasil panen tersebut. Jenis tanaman yang dibudidayakan oleh warga Suku Muyu antara lain: pisang (jum), jemen andu (keladi), kombili (wan), ubi jalar (bonding), sayur-sayuran, dan lainlain. Untuk masyarakat Papua lembaga adat dan pengertiannya adalah seperangkat aturan, norma dan nilai budaya yang mengatur upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat termasuk mengorganisir ke arah peningkatan kesejahteraan masyarakat dan lembaga juga dapat diartikan sebagai wadah atau organisasi tradisional dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat melalui berbagai kegiatan.

66

BAB 4 TEMUAN LAPANGAN

Temuan lapangan adalah hasil wawancara dengan beberapa narasumber yang sudah ditentukan sebelumnya. Narasumber dari penelitian ini adalah expert atau ahli-ahli agraria baik peneliti, akademisi, pegiat pembaharuan agraria maupun pejabat pemerintah yang terkait dengan pengelolaan sumber daya agraria di Indonesia.

4.1. Urgensi Pembaharuan Agraria di Indonesia Pembaharuan hadir ketika ketimpangan sumber daya agraria terjadi, dimana sebagian kecil masyarakat menguasai sebagian besar sumber daya agraria sementara sebagian besar masyarakat tidak memiliki akses dan kepemilikan terhadap sumber daya agraria tersebut. Menurut wawancara dengan salah seorang pegiat pembaharuan agraria berskala nasional: ³... kalau kita bicara konsep umum mengenai pembaharuan agraria, atau reforma agraria dalam bahasa Inggris agrarian reform itu sebenarnya satu konsep yang luas, menyangkut banyak sektor dan juga mendasar´ (US, Ketua KPA 28 Agustus 2010). Kalau kita lihat definisi yang ada, misalnya di dalam lembaga Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) telah dikembangkan definisi reforma agraria atau pembaharuan agraria adalah suatu upaya untuk menata ulang struktur agraria dari yang sebelumnya tidak adil menjadi lebih berkeadilan sosial. Struktur agraria sendiri adalah potret pemilikan dan penguasaan tanah yang terjadi di masyarakat. Dalam bahasa sederhananya, ketika struktur agraria di masyarakat diketahui kondisinya timpang, dalam arti sebagaian besar tanah yang ada di republik ini dikuasai oleh sebagian kecil penduduknya, maka sebagaian besar penduduknya itu tidak menguasai tanah khususnya kaum tani, maka disitulah urgensi pembaharuan agraria itu hadir. Artinya reforma agraria adalah jalan bagaimana memastikan sumber daya agraria dikelola dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat secara berkeadilan.

67

Menurut salah seorang pegiat lembaga nirlaba regional, menyatakan bahwa, ´saat ini pada tataran teknis pembaharuan agraria di Indonesia dibutuhkan, hal ini didasarkan adanya posisi yang tidak seimbang dalam otoritas penguasaan, pemilikan dan pengusahaan sumber-sumber agraria antara rakyat, swasta dan pemerintah. Berikut ini kutipan wawancaranya: ´Kondisi di lapangan menunjukan tidak cukupnya tanah yang dikuasai masyarakat baik secara individu maupun komunal, sementara sektor swasta dan negara menguasai tanah sangat luas. Saya melihat ada kelemahan dari negara dalam hal ini sebagai pihak yang punya otoritas untuk mendistribusi sumber-sumber agraria untuk rakyat.´ (YK, Direktur Titian 1 Oktober 2010). Kalau boleh saya simpulkan saat ini otoritas petani terhadap sumber daya agraria khususnya tanah sangat lemah dibandingkan dengan otoritas yang dimiliki oleh swasta dan pemerintah. Ada tiga hal yang menjadikan posisi rakyat sangat lemah dibandingkan dengan swasta dan pemerintah dalam penguasaan tanah dari tahun ke tahun, khususnya petani. Penyebab kondisi tersebut, pertama adanya permasalahan internal dalam masyarakat yang tidak dapat mendapatkan perlindungan hasil-hasil pertanian karena mekanisme pasar bebas dan maraknya korupsi yang seringkali menyudutkan posisi masyarakat dengan kebijakan yang kurang atau tidak berpihak pada masyarakat, kedua adalah sangat besar pengaruhnya adalah tingginya kepentingan swasta melalui mekanisme pasar melakukan alih fungsi lahan yang seringkali mendapat legitimasi dari pemerintah, ketiga adalah kewenangan negara yang besar dan sepihak dalam mekanisme hukum formal. 4.1.1. Pembaharuan Agraria dan Pembangunan Nasional Pembaharuan agraria sesungguhnya merupakan fondasi dari pembangunan sebuah bangsa, sebab setiap pembangunan memerlukan lahan dan ruang. Pembaharuan agraria selain sebagai cara mendistribusi sumber daya agraria secara adil juga memberikan kepastian hukum bagi berbagai pihak terhadap kepemilikan, pengelolaan dan penggunaan sumber daya agraria. Wawancara dengan salah

68

seorang pengurus dewan pembaharuan agraria nasional bahwa lebih jauh pembaharuan agraria didefinisikan sebagai upaya untuk meletakkan dasar bagi pembangunan nasional, berikut petikan wawancaranya: ³Jadi pembaharuan agraria adalah dasar atau fondasi bagi dijalankannya pembangunan nasional, termasuk didalamnya industrialisasi nasional, sehingga kalau negeri ini disebut sebagai negeri agraris dan bangsanya sebagai bangsa agraris karena sebagian besar penduduknya tergantung pada tanah dan kekayaan alam khususnya kaum tani di pedesaan, masyarakat adat yang ada di pedalaman yang kehidupannya sangat tergantung pada kekayaan alam, pada satu wilayah kelola yang mereka tinggali´(US, Ketua KPA 28 Agustus 2010). Ketika kita menginginkan transformasi sosial di Indonesia, pemerintah menyebutnya sebagai pembangunan yang diharapkan dapat meningkatkan kondisi sosial ekonomi masyarakat, misalnya dari kondisi yang tidak sejahtera, dari yang miskin menjadi tidak miskin dari yang terbelakang menjadi lebih maju dan sebagainya. Transformasi sosial dalam arti dan tujuan atau upaya untuk memajukan kondisi kehidupan masyarakat, maka pembaharuan agraria

sebenarnya dimaksudkan untuk meletakkan dasar-dasarnya menuju fase masyarakat yang lebih meningkat kualitas hidupnya dan lebih berkembang cara memenuhi kebutuhan hidupnya . Saat ini berbagai investasi asing sudah masuk ke Indonesia terutama investasi yang memanfaatkan sumber-sumber daya agraria baik itu sektor kehutanan, pertambangan, perkebunan, properti maupun infrastruktur baik berupa jalan, pelabuhan ataupun bandara, meski reforma agraria belum dijalankan. Fenomena ini di satu sisi telah meminggirkan kepentingan masyarakat lokal, di sisi lain juga tidak menjamin investasi yang telah ditanam, artinya tidak ada jaminan keamanan terhadap investasi skala besar tersebut, karena setiap saat akan timbul konflik dengan masyarakat yang hanya terabaikan. Wawancara dengan pegiat lembaga nirlaba regional bahwa pentingya landreform juga bukan hanya untuk masyarakat tapi juga sektor swata untuk

69

mendapatkan kepastian terhadap status hukum terhadap pengelolaan lahan, bukan saja dari negara tapi juga masyarakat setempat. Setidaknya ketika perusahaan ingin bermitra dengan masyarakat lokal yang memiliki lahan. Para pemilik hak guna usaha (HGU), IUPHHK atau dulunya HPH, seringkali menghadapi konflik dengan masyarakat terkait dengan pengusahaan lahan. Di satu sisi masyarakat merasa memiliki karena telah mengelola dan tinggal di satu kawasan secara turuntemurun yang diwariskan oleh leluhurnya, di lain sisi pengusaha mendapatkan hak dari pemerintah melalui ijin HGU atau HPH. Kondisi tersebut disebabkan karena banyak kawasan yang overlap tumpang tindih dari sisi kepemilikan maupun peruntukannya. Di beberapa tempat bahkan banyak kasus di mana pemerintah daerah Pemerintah Kabupaten, Dinas Kehutanan terkesan lepas tangan jika terjadi masalah-masalah seperti ini. Dari beberapa pernyataan dan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa proses pembangunan akan terhambat ketika tidak ada kepastian hukum terhadap sumber daya agraria. 4.1.2. Konsep Pembaharuan Agraria Sebelum melihat lebih jauh pilihan kebijakan landreform di Indonesia, penelitian ini akan menggali informasi terkait dengan konsep pembaharuan agraria. Hal ini penting untuk memberikan pemahaman kepada semua pihak terkait dengan apa itu reforma agraria. Pembaharuan agraria adalah bagaimana menghadirkan keadilan dan kesejateraan rakyat melalui penataan ulang struktur agraria dengan pengelolaan, pemanfaatan dan distribusi sumber-sumber agraria. Dalam konteks lahan atau pembaharuan agraria dalam arti sempit sering disebut dengan landreform. Menurut pendapat salah satu pengurus Dewan Nasional Konsorsium Pembaharuan Agraria dijelaskan bahwa: ³Setelah pembaharuan agraria, reforma agraria atau agrarian reform, istilah kedua adalah landreform. Landreform itu sering dimaknai sebagai agenda yang inti, dari pembaharuan agraria. Karena dia inti maka dia

70

menjadi vital dalam setiap program agraria yang dijalankan dimanapun dan oleh siapapun(US, Ketua KPA, 28 Agustus 2010). Reforma agraria tanpa landreform itu bukan reforma agraria yang sesungguhnya, karena inti dari reforma agraria itu didalamnya landreform maka setiap pembaharuan agraria harus ada landreform.Landreform pada intinya adalah upaya untuk merombak struktur penguasaan tanah. Landreform itu selalu dijalankan dengan maksud untuk menciptakan struktur agraria yang baru, dalam pengertian struktur kepemilikan dan penguasaan tanah yang baru di mana disitu relatif tidak ada konsentrasi penguasaan tanah di satu pihak dan di sisi yang lain tidak ada realitas di mana mayoritas petani tidak punya tanah sama sekali atau tanahnya terlalu sempit. Jadi landreform itu merombak struktur penguasaan tanah, dari yang timpang menjadi lebih merata dan lebih berkeadilan sosial´ Dari pernyataan di atas maka kalau pembaharuan agraria atau agrarian reform itu menyangkut pendistribusian keseluruhan sumber daya agraria sedangkan landreform itu memang terbatas pada aspek tanah. Landreform itu dimaksudkan untuk memastikan bahwa masyarakat yang tadinya tidak punya tanah menjadi punya tanah, masyarakat yang tadinya miskin karena terbatasnya akses dan kontrol terhadap tanah itu menjadi terselesaikan akar penyebab kemiskinannya. Landreform juga bermakna membatasi kepemilikan dan penguasaan tanah dalam skala yang luas jadi ketika kita bicara landreform dua aspek itu yang tidak boleh kita lupakan. Satu aspek menyediakan tanah bagi rakyat yang tidak punya tanah atau yang lahannya sempit, aspek yang kedua adalah membatasi penguasaan dan pemilikan tanah yang melampaui batas yang skalanya terlalu luas. Landreform dikategorikan sebagai program yang inti dari pembaharuan agraria, karena dengan landreform maka alat produksi yang utama bagi rakyat khususnya kaum tani itu dapat dikuasai dan dimiliki. wawancaranya: Berikut ini kutipan

71

´Tanah adalah alat produksi utama di sektor pertanian, alat produksi yang lain itu dapat berbentuk sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk pengembangan produksivitas pertanian, seperti permodalan, bibit, pupuk teknologi dan sarana-sarana produksi yang lain, itu adalah sifatnya pendukung atau penunjang tapi tanah adalah faktor produksi yang utama sehingga dia harus diutamakan agar tersedia dahulu, caranya yaitu melalui landreform´ (US, Ketua KPA, 28 Agustus 2010). Dari wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa pembaharuan agraria adalah satu upaya untuk menata ulang struktur agraria dari yang sebelumnya tidak atau kurang adil menjadi lebih berkeadilan sosial. Sementara landreform itu merombak struktur penguasaan tanah, dari yang timpang menjadi lebih merata, lebih ada kepastian hukum dan lebih berkeadilan sosial. 4.1.3. Berbagai istilah dalam Pembaharuan Agraria Banyak istilah dalam pembaharuan agraria, meski demikian kalau ada beberapa istilah kunci dalam pembaharuan agraria khususnya terkait dengan penelitian ini yaitu Landreform, distribusi, redistribusi dan konsolidasi. Empat istilah ini akan memberikan gambaran dan posisi di mana pentingnya penelitian ini dalam konteks persiapan program pembaharuan agraria nantinya. Di depan sudah dijelaskan dengan terang apa itu landreform selanjutnya akan disampaikan apa itu distribusi, redistribusi dan konsolidasi tanah. Tiga istilah ini menjadi kata kunci dalam program landreform. Menurut pegiat pengurus Dewan Nasional Konsorsium Pembaharuan Agraria dalam wawancara kami menjelaskan: ´Redistribusi tanah, kalau kita pelajari program-program landreform di berbagai negara yang telah menjalankannya itu memang sangat beragam bentuknya, mereka sama menyebut reforma agraria atau agrarian reform dan bagian di dalamya ada landreform tetapi bicara model

implementasinya lain-lain´ (US, Ketua KPA, 28 Agustus 2010).

72

Istilah distribusi, redistribusi dan konsolidasi tanah, itu menjadi istilahistilah yang sering digunakan, setiap negara atau setiap wilayah di suatu negara yang menjalankan landreform. Ada beberapa model, misalnya model distribusi, dapat redistribusi dapat juga konsolidasi tapi juga dapat kombinasi diantara tiga model ini, kombinasinya dapat redistribusi juga distribusi dapat juga redistribudikonsolodasi, dapat juga distribusi-konsolidasi. Kombinasi model ini sangat tergantung satu desain yang dibuat oleh pelaksana landreform itu sendiri, selain itu sangat tergantung dari konteks sosial ekonomi, konteks sosial politik bahkan sosial budaya dimana landreform itu akan dijalankan. Dalam penerapan distribusi lahan dilakukan ketika tanah yang di distribusikan adalah tanah negara di mana tidak ada keterkaitan sejarah dengan masyarakat sebagai subjek landreform, hal ini ditegaskan oleh salah satu pegiat Pembaharuan Agraria untuk memberi gambaran tentang model-model landreform berikut petikan wawancaranya : ³Program distribusi tanah itu dilakukan ketika di wilayah itu terjadi konsentrasi penguasaan tanah di satu pihak, sementara di pihak lain terlalu banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada tanah itu tapi mereka tidak punya akses pemilikan atas tanah. Ini yang penting di garis bawahi tidak punya keterkaitan sejarah maupun kultural dengan tanah yang ada di situ´ (US, Ketua KPA,28 Agustus 2010). Sedangkan redistribusi tanah biasanaya dilakukan di satu wilayah yang masyarakatnya punya keterikatan sejarah terhadap tanah dan wilayahnya. Lebih lanjut dijelaskan: ³... Misal, pada periode waktu tertentu masuk salah satu pihak biasanya badan-badan usaha baik negeri maupun swasta yang menguasai dan mengusahakan tanah dalam skala luas dalam waktu yang cukup lama. Kalau di cermati petikan di atas, dapat ditarik benang merah bahwa ada konteks sejarah dari sisi masyarakatnya keterikatan atas tanah di situ, ada konteks sejarah masuknya perusahaan-perusahaan, jadi kalau tanahnya bukan tanah negara murni kalau distribusi pada tanah negara murni kalau redistribusi itu tanah negara

73

yang sudah diserahkan penguasaan maupun pengusahaannya pada badan usaha tertentu baik milik negara maupun swata´. Redistribusi mirip dengan distribusi hampir sama bentuknya yaitu pembagian tanah kepada rakyat. Subyeknya sama yaitu rakyat miskin rakyat yang tidak memiliki tanah atau rakyat yang mempunyai tanah yang sempit tapi background dari asal usul kepemilikan dan pengelolaan tanah masyarakat itu yang membedakan antara distribusi dan redistribusi. Sementara kalau konsolidasi itu biasanya terjadi sebagai bentuk dari landreform di satu wilayah itu sudah terjadi fragmentasi kepemilikan penguasaan tanah yang sudah sedemikian rupa sehingga di wilayah itu tidak lagi ekonomis bagi kegiatan usaha tani dan usaha-usaha lain karena sudah terlampau sempit penguasaan dan kepemilikan tanah masyarakat di situ.Seperti petikan pendapat salah satu pegiat Pembaharuan Agraria ini: ´...konsolidasi dilakukan dimana penguasaan dan pemilikan tanah persilpersil kecil digabungkan disatukan dalam satu kepemilikan atau pengusahaan bersama jadi konsolidasi itu dapat dalam konteks kepemilikan atau pengelolaannya.´ (US, Ketua KPA,28 Agustus 2010). Lahan-lahan yang tadinya persilnya sempit-sempit dengan konsolidasi dapat digabungkan, sehingga di atas tanah yang sudah digabungkan dijalankan usaha bersama proses produksi bersama sehingga nilai ekonominya menjadi lebih meningkat lebih baik, keuntungan dapat lebih baik dan itu jadi sumber kesejahteraan. Itu contoh dari konsolidasi di lahan pertanian, konsolidasi lahan juga dapat terjadi di sektor-sektor yang lain. Program pembaharuan agraria adalah program yang sangat luas (baca:definisi agraria), sehingga penelitian ini membatasi pada program landreform pada pola kepemilikan lahan komunal, baik melalui distribusi, redistribusi maupun konsolidasi tanah. Faktor-faktor sejarah asal-usul

kepemilikan lahan, tradisi, budaya, dinamika ekonomi dan sosial menjadi kajian utama dalam menentukan model landreform yang akan dijalankan. Istilah lain yang harus juga dikenal adalah apa itu yang disebut pengakuan hak (recognize) akan sumber daya lahan yang mereka miliki secara turun-temurun

74

dan diwariskan oleh garis leluhur pada suatu masyarakat Adat. Seperti penegasan salah satu pegiat pemberdayaan masyarakat adat nusantara, berikut kutipannya: Selain istilah distribusi, redistribusi dan konsolidasi adalah recognize. Artinya semestinya negara mengakui keberadaan dan wilayah teritori dari masyarakat, karena mereka jauh sebelum negara ini ada dan berbagai kebijakan pemerintah melalui Undang-undang, masyarakat sudah tinggal di satu kawasan secara turun-temurun. Nenek moyang mereka mewariskan sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup anak cucu mereka (AN, Sekjen AMAN ,1 Oktober 2010) Pendapat di atas juga selaras dengan isi Undang-Undang Dasar 1945 amandemen IV pada pasal 18B butir 2 jelas berbunyi, ´Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang´. Sementara pasal 28C butir 2, ´Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya. Ini yang menjadikan alasan bagi para pegiat pemberdayaan masyarakat adat kenapa istilah recognize menurutnya harus dikenal dalam program pembaharuan agraria khusunya landreform. Pengakuan tehadap keberadaan dan kemilikan, sayangnya masih kurang nampak dalam Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) Tahun 1960, terutama pada pasal 3 UUPA hanya mencantumkan redaksi, ´Dengan mengingat ketentuanketentuan dalam pasal 1 dan 2 pelaksanaan hak ulayat dan hak-hak yang serupa itu dari masyarakat-masyarakat hukum adat, sepanjang menurut kenyataan masih ada, harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan Negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan Undang-undang dan peraturan lain yang lebih tinggi´ ini yang sampai sekarang masih menjadi perdebatan dan selayaknya UUPA dapat memperjelas maksud dari UUD 1945 khusunya amendment IV pada pasal 18B butir 2.

75

4.2. Pentingnya Memperhatikan Struktur dan Budaya Masyarakat dalam menentukan Model Operasionalisasi Landreform Kekayaan budaya merupakan ciri dari negara kepulauan seperti di Indonesia ini. Berbagai budaya tumbuh dan berkembang di setiap pulau-pulau baik kecil maupun besar yang tersebar di seluruh penjuru nusantara. Keragaman budaya tersebut mempengaruhi pola pengusahaan dan pengelolaan dan pemilikan tanah, sehingga wajar kiranya jika program pembaharuan agraria semestinya memperhatikan budaya-budaya yang berkembang di masyarakat tersebut. Hal ini seiring dengan pernyataan seorang pegiat Pembaharuan Agraria seperti di bawah ini: Tapi intinya yang ingin saya katakan bahwa baik distribusi, redistribusi maupun konsolidasi tanah ini semuanya membutuhkan koneksitas yang kuat antara model yang dirancang oleh pemerintah dengan kondisi sosial ekonomi, politik dan budaya yang ada di masyarakat itu.´ (US, Ketua KPA, 28 Agustus 2010). Tanpa ada koneksitas itu, misalnya pemerintah hanya memikirkan satu model aja untuk diterapkan di seluruh Indonesia tanpa melihat keragaman sosial ekonomi, politik dan budaya maka, besar kemungkinan bahwa program itu akan gagal. Tidak akan sampai pada tujuannya, dan bahkan kita mengkhawatirkan kalau itu dipaksakan model yang hanya satu bentuk saja itu dapat menimbulkan konflik baru. Keberhasilan program landreform tidak lepas dari desain model atau pola yang mau dilaksanakan. Karena konsep ini yang akan menjadi panduan operasionalisasi dalam pelaksanaan landreform, desain model operasionalisasi adalah hal yang harus disiapkan bagi perancang dan pelaksana landreform berdasarkan potensi-potensi yang dimiliki masyarakat. Misalnya distiribusi atau redistribusi tanah, kalau diterapkan tanpa memperhatikan kondisi sosial, politik dan budaya dimana program itu dijalankan, maka konflik sosial sangat besar kemungkinan terjadi. Hal tersebut hendaknya menjadi pemikiran dan kajian, baik para perancang, perencana dan pelaksana program pembaharuan agraria sekarang atau program pembaharuan agraria nasional sekarang. Penemuan model yang

76

kompatibel, yang cocok dengan kondisi di lapangan, dengan prinsip-prinsip yang harus terlebih dahulu ditetapkan di dalam dokumen resmi yang disepakat beberapa pihak. Ketika proses perencanaan program landreform yang di dalamnya distribusi dan redistribusi serta konsolidasi tanah bagi rakyat itu meski dibuat prinsip-prinsip yang harus dipegang baik dalam pelaksanaannya maupun dalam proses evaluasinya. Model operasionalisasi landreform seyogyanya

memperhatikan kondisi sosial, politik dan budaya pada setiap komunitas masyarakat. Ketika program distribusi dan redistribusi serta konsolidasi tanah yang mau dilakukan di suatu wilayah maka harus dipastikan ini tidak bertabrakan dengan nilai-nilai sosial budaya yang ada disitu. Dapat dicontohkan jika ada disatu komunitas A diluar Jawa, di suatu komunitas masyarakat adat, di situ sama sekali tidak dikenal kepemilikan individual yang dikenal adalah kepemilikan kolektif atau kepemilikan komunal atau kepemilikan bersama yang semua anggota masyarakat adat yang ada di wilayah itu punya hak dan kewajiban yang sama atas tanah di situ, dan punya kesempatan yang sama untuk memberikan akses atau memberikan kontrol terhadap sumber daya yang ada di situ. Hal ini selaras dengan salah satu pegiat pembaruan agraria: ³Terhadap wilayah-wilayah yang komunitas masyarakatnya memegang pola penguasaan tanah semacam itu dan memegang nilai-nilai adat semacam itu, maka model landreform dalam bentuk redistribusi tanah yang individual jelas tidak cocok, jelas tidak kompatibel kalau dipaksakan justru membahayakan´ (US, Ketua KPA, 28 Agustus 2010). Struktur sosial yang tumbuh dan berkembang di masyarakat lahir dari satu peradaban yang sudah melembaga dalam kehidupan masyarakat tersebut, perubahan struktur sosial tidak dapat dilakukan dengan cepat, karena akan berbenturan dengan kultur dan kebiasaan kehidupan sosial dari suatu komunitas masyarakat. Menurut US hal ini yang harus menjadi perhatian bagi perancang dan pelaksana program landreform. ³Kalau penguasaan tanah dan pemilikan tanah individual ini dipaksakan harus dijalankan demi komunitas itu maka yang namanya struktur sosial disitu akan goyah, yang namanya setiap masyarakat adat

77

punya struktur sosial punya kepemimpinan disana dan juga nilai-nilai kolektivitas nilai-nilai kebersamaan dari komunitas itu juga akan runtuh´. Jika satu wilayah atau satu hamparan tanah yang semula semua orang dapat mengaksesnya secara leluasa, tetapi dengan bertangung jawab sesuai dengan norma-norma adat yang berlaku disitu, dengan program landreform yang individual malah terjadi pemecahan sistim dan pola pemilikan dan penguasaan tanah menjadi individual dimana disitu ada kapling-kapling, ada batas-batas individual, teritori bagi individu tertentu atas wilayah tertentu maka ini dapat menimbulkan shock culture atau gegar budaya. Jadi biasanya dapat mengakses satu bidang tanah sekarang menjadi tidak boleh karena sudah di kapling itu milik si A, Si B, si C dan seterunya Ini esensi dari pentingnya konsep model dalam operasinoalisasi program landreform. Ketua Dewan Nasional Konsorsium Pembaharuan Agraria memberi gambaran bahwa perlunya memperhatikan kultur dan budaya yang berkembang di masyarakat. Budaya komunal yang didasari dengan kegotong-royongan didorong untuk individualistik karena pola kepemilikan lahan-nya yang individual akan merubah budaya yang berdampak terhadap kehidupan sosial masyarakat. sebuah ilustrasi jika kamunitas masyarakat yang tadinya komunal, lalu dilakukan kebijakan pembaharuan agraria atau landreform dengan pola yang dikembangkan sekarang mereka menanam sendiri, di lahanya sendiri yang sudah disertifikat, dan dia tidak lagi peduli dengan tetangnya dengan saudaranya yang lain yang juga mempunyai kewajiban untuk menggarap tanahnya, begitu juga pada saat panen pada sebelum panen, saat pengelolaan-pengelolaan, perawatan tanaman, dari yang biasanya bersama-sama kolektif, saling gotong-royong, dan dengan pola pemanfaatan yang individual juga itu akan terdorong menjadikan masyarakat menjadi lebih individualistik lebih mementingkan kepentingan diri sendiri atau keluarganya saja. Ini sebuah gambaran bagaimana dampak landreform pola individu ketika diterapkan pada masyarakat komunal. Hal ini dicontohkan oleh seorang pegiat pembaruan agraria:

78

´...dalam saat panen juga begitu, penjualan bagi hasilnya tidak akan lagi dilakukan secara bersama secara kolektif, singkat kata model pemilikan penguasaan tanah yang individual sekalipun itu diklem sebagai bagian dari reforma agraria atau landreform itu belum tentu akan berdampak baik terhadap masyarakatnya apabila itu tidak memperhatikan kondisi sosial budaya, kondisi sosial ekonomi dan kondisi sosial politik yang ada disitu´. (US, Ketua KPA,28 Agustus 2010). Oleh karena itu, pembaharuan agraria yang akan atau yang sedang disiapkan oleh pemerintah itu mutlak harus memperhatikan pola pemilikan penguasaan dan pengusahaan tanah yang berlaku di setiap masyarakat yang pasti beragam. Menurut US yang harus dibuat oleh pemerintah adalah prinsipprinsipnya nilai-nilai mendasarnya. Misalnya saja ia harus melindungi dan

menghormati sistem hukum Adat yang berlaku di komunitas setempat reforma agraria juga harus menjunjung tinggi hak asasi manusia, sehingga jangan sampai dengan program pembaharuan agraria itu hanya beberapa pihak saja yang diuntungkan. Program pembaharuan agraria itu hendaknya dapat dinikmati oleh masyarakat yang selama ini tidak punya tanah sama sekali, dan tanahnya sempit, satu komunitas masyarakat baik adat atau bukan yang tanahnya dirampas demi kepentingan golongan tertentu atas nama pembangunan. Jadi yang perlu menjadi perhatian juga adalah jangan sampai program ini jadi salah sasaran. Prinsipnya model pembaharuan agraria itu harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang ada di lapangan dan dijalankan secara demokratis, partisipatif tidak menjadi program yang top-down yang ditentukan semua dari atas, dari pemerintah dan masyarakat tingal menerima begitu saja. Idealnya masyarakat terlibat aktif sejak awal termasuk dalam menentukan model desain, perencanaan, pengusahaan dan pemilikan tanahnya. 4.3. Deskripsi Pola Penguasaan, Kepemilikan dan Pemanfaatan Lahan Komunal Di Indonesia Keragaman dan kekayaan budaya yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia berpengaruh pada banyaknya ragam model pengelolaan lahan di Indonesia.

79

Keragaman tersebut menjadi menarik sebagai sebuah realitas sosial dimana komunitas-komunitas masyarakat tersebut mampu mengelola lahan secara bersama dan dapat memberi jaminan distribusi pada seluruh anggota komunitas tersebut. Untuk memotret bentuk komunal di Indonesia penelitian ini melakukan studi pustaka yang menjadi gambaran umum penelitian di Bab 3, penelitian ini juga melakukan wawancara dengan berbagai nara sumber, selain pemerhati dan peneliti agraria, juga orang-orang yang memang pelaku atau bagian dari pola-pola kepemilikan komunal di Indonesia. Dari penelusuran dengan para nara sumber tersebut setidaknya ada 4(empat) lokasi yang dikaji dalam upaya mengambarkan bentuk-bentuk pengelolaan lahan komunal di Indonesia. yaitu Wilayah Adat Masyarakat Penunggu Sumatera Utara, Desa Adat Tenganan Pegringsingan di Bali, Wilayah adat Timor dan Wilayah Adat Suku Dani di Wamena Papua. 4.3.1. Adat Penunggu. Pengelolaan lahan di masyarakat adat Penunggu memang cukup menarik untuk dikaji karena kuatnya kebutuhan komunal itu membuat masyarakat Adat Penunggu membuat organisasi Moderen. Masuknya Belanda untuk melakukan investasi di wilayah Sumatera Timur untuk tanaman tembakau. Investasi ini mengontrak tanah-tanah masyarakat adat rakyat Penunggul (sekarang rakyat Penunggu) yang disebut sebagai Akta Van Konsesi. Ketika Indonesia merdeka, asset-aset perkebunan Belanda ini di nasionalisasi. Nasionalisasi juga termasuk mengambil tanah-tanah Ulayat rakyat Penunggu tanpa melakukan negosiasi

dengan masyarakat adat, tanah-tanah tersebut kemudian di jadikan Perkebunan Negara yaitu PTPN IX kemudian merger menjadi PTPN II sampai sekarang. Akibat sistem ini maka tahun 1953 (tepatnya tanggal 19 april 1953) rakyat Penunggu yang terdiri dari 67 kampong yang berada di 4 wilayah (Serdang, Deli, Medan, Binjai, Langkat) yang di batasi oleh Sungai Wampu (langkat) dan Sungai Ular (Serdang) membentuk organisasi perjuangan yaitu BPRP (Badan Perjuangan Rakyat Penunggu) yang kemudian menjadi BPRPI (Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia). Tujuan dibentuknya organisasi ini adalah untuk meminta

80

kembali tanah ulayat mereka (rakyat Penunggu) seluas 350.000 ha yang sudah dikuasai oleh PTPN II. Masa perjuangan dari 1953 sampai 1997, tanah ulayat yang diduduki kembali untuk dijadikan lahan-lahan pertanian tidak pernah bertahan lama karena terus menerus digempur dan diduduki oleh pihak Perkebunan. Dari tahun 1998 sampai tahun 2010 (saat ini) ada beberapa kampong yang berhasil bertahan menduduki tanah ulayat dengan hak kepemilikan komunal dan mengelolanya menjadi lahan pertanian yang bersifat individual. Proses perjuangan ini satu kampong rakyat Penunggu Tanjung Mulia berhasil memenangkan kasus melawan PTPN II sampai putusan Mahkamah Agung. Menurut wawancara dengan tokoh muda masyarakat adat penunggu bahwa Tanah Ulayat yang di kuasai oleh rakyat Penunggu kepemilikannya adalah komunal namun sistem pengelolaannya adalah individu-individu yang di berikan kepada satu orang penanggungjawab di satu keluarga. Sistem ini dilakukan karena tanah-tanah ulayat yang dikuasai masih dalam status perjuangan, sehingga pembagian tanggung jawab per-individu di keluarga terjadi. Pembagian pengelolaan tanah ulayat tergantung dari berapa jumlah luas yang berhasil di kuasai dan jumlah individu yang berjuang (individu ini merupakan anggota BPRPI), sambil terus berjuang untuk mengambil lagi tanah mereka dari PTPN II masyarakat mengusahakan tanah tersebut untuk tanaman Holtikultura. Sehingga jumlah tanah ulayat yang di kelola per-individu di masingmasing kampung berbeda-beda, paling besar haknya 0,5 ha (12.5 rante). Jumlah ini menang masih terlalu kecil untuk menjadi sumber utama dalam kemajuan ekonomi satu keluarga. Setiap masyarakat mempunyai hak yang sama terhadap luasan lahan tetapi ketika mereka tidak lagi mengusahakan lahan tersebut secara produktif mereka kehilangan hak pengelolaannya untuk dikembalikan kepada Adat yang kemudian diberikan kepada masyarakat yang lain yang ingin mengusahakan lahan tersebut secara produktif. Lebih jauh ia menjelaskan beberapa aturan yang dibangun secara tertulis oleh Komunitas Adat Masyarakat Penunggu dalam kutipan berikut ini :

81

Sedikit saya gambarkan aturan tertulis yang dicantumkan dalam AD/ART sebagai berikut: a). bahwa tanah masyarakat Adat Penunggu adalah milik Adat dan tidak dapat dimiliki secara pribadi baik oleh individu masyarakat penunggu maupun orang luar, b). setiap masyarakat berhak mengelola dan mewariskan hak kelola kepada anak turunnya´. (AS, Tokoh Muda Penunggu, 5 Oktober 2010). Lebih lanjut dijelaskan bahwa ´Hak kelola tersebut gugur ketika keluarga tersebut tidak lagi mengusahakan lahan untuk usaha pertanian, setiap masyarakat yang ada di komunitas tersebut tidak memiliki lahan atau tempat tinggal di kampung lain´ Dari latar belakang silsilah masyarakat Penunggu terdiri atas tiga yaitu: Mustotin, klan ini merupakan keturunan orang asli Penunggu, sementara Semenda merupakan campuran klan orang asli Penunggu dengan orang luar, sedangkan Resam, merupakan masyarakat atau orang pendatang. Meski terbagi dalam tiga klan tapi dalam hak pengelolaan tidak ada pembedaan mereka juga mempunyai kewajiban yang sama dalam kehidupan sosial dan pengelolaan lahan di wilayah adat Penunggu. Semenjak organisasi modern terbentuk, masyarakat mengelola lahan tersebut dengan sistem komunal. Untuk melakukan proses kontrol terhadap kepemilikan atas pengelolaan individu-individu rakyat Penunggu adalah memakai aturan AD/ART organisasi rakyat Penunggu (BPRPI). AD/ART ini sesungguhnya adalah sebagian besar isinya merupakan aturan-aturan adat yang diadopsi

menjadi peraturan organisasi. Tokoh muda masyarakat penunggu memberi contoh: ³...di dalam Anggaran Dasar BPRPI memuat pasal yang mengatur bahwa satu individu (anggota BPRPI) haknya berhak mendapat pengelolaan di satu kampong saja atau di 1 wilayah adat. Di pasal lain AD menyatakan

82

bahwa tanah ulayat yang di kelola tidak dapat diperjualbelikan, akan tetapi berlaku hukum sewa menyewa, belahan atau jika terjadi pengalihan pengelolaan wajib dilaporkan ke Pengurus Kampung´ (AS, Tokoh Muda Penunggu, 5 Oktober 2010). Pengurus organisasi di tingkat kampong terdiri dari Petua Adat, Pimpinan Kampung, Sekretaris, Bendahara dan Pimpinan Blok. Untuk mewujudkan pasal ini maka organsisasi kemudian mengeluarkan Surat Keterangan kepemilikan pengelolaan lahan dengan memakai Kepala Surat masing-masing Pengurus Kampung. Kebijakan ini dilakukan untuk mencegah individu-individu melakukan tindakan yang melanggar AD/ART organisasi dan mengontrol anggota terutama dalam proses pengalihan hak kepemilikan pengelolaan tanah ulayat. Pengurus juga memastikan anggota tidak menelantarkan lahan-lahan yang dibagikan untuk dikelola, jika ini terjadi maka petua adat dan pimpinan kampung akan memberikan teguran dan sanksi pencabutan atas hak pengelolaan tanah yang kemudian dialihkan kepada anggota lain. Tak dapat dipungkiri lagi, bahwa anggota dalam pengelolaan lahan ada yang berhasil dan ada yang gagal Untuk menyeimbangkan hal ini, maka pengurus organisasi melakukan intervensi dengan menerapkan subsidi dengan sistem kerjasama antar anggota dengan sistem bagi hasil, sistem zakat dan sistem sumbangan kepada organisasi untuk mendampingi penyaalurannya kepada anggota yang kurang berhasil atau gagal panen atau belum maksimal dalam pengelolaan tanah ulayatnya. Dalam kehidupan komunal masyarakat adat Penunggu membangun norma-norma untuk membangun relasi sosial di masyarakat adat Penunggu. Norma-norma tersebut berjalan dan melembaga di masyarakat. Mereka menganggap bahwa tanah bukan semata-mata dianggap sebagai barang produksi dan barang ekonomi semata, melainkan lebih dari itu tanah sebagai tempat ritual, menjaga dan mengelola titipan leluhur dan memperkuat hubungan sosial dan kolektivitas rakyat Penunggu. Oleh sebab itu, bagi rakyat Penunggu tanah ulayat tidak boleh diperjual belikan. Bentuk kepemilikan tanah ulayat ini adalah kolektif sedangkan bentuk pengelolaannya bersifat individual. Tanah harus dikelola untuk mendapatkan manfaat yang memperkuat ekonomi keluarga., maka bagi anggota

83

yang mengabaikan hak pengelolaan atas tanah adat akan kehilangan hak pengelolaannya termasuk Mustotin (orang asli rakyat Penunggu) untuk dialihkan kepada anggota lain. Adat penunggu dipimpin oleh Petua Adat. Petua Adat bertugas sebagai pemangku adat dalam satu kampung, petua adat juga menjadi utusan atau perwakilan anggota-anggota rakyat Penunggu dalam hubungan eksternal dan menentukan kebijakan terhadap pengelolaan tanah ulayat yang diawali oleh hasil musyawarah dan mufakat anggota. Sementara, Pimpinan Kampong atau Ketua Kampong; bertugas untuk mengatur anggota-anggota yang melakukan

pengelolaan atas tanah ulayat yang dikuasai. Ketua Kampong, selain mengurus internal juga membantu petua adat secara eksternal tertuma dalam melakukan proses-proses advokasi, lobi dan negosiasi dalam perjuangan merebut kembali tanah ulayat. Ketua Kampong dibantu oleh sekrertaris, bendahara dan pimpinan kelompok, dengan tugas masing-masing antara lain: sekretaris : bertugas untuk penataan dan manajemen organisasi terutama mengatur dan memastikan anggota taat terhadap AD/ART organisasi, bendahara ; bertugas mencari dan mengelola keuangan organisasi seperti iuran wajib anggota dan pimpinan kelompok : bertanggung jawab dan mengontrol anggota-anggota yang lebih kecil atau dalam kelompoknya. Tokoh muda Penunggu menjelaskan tentang tata batas wilayah adat

Penunggu selalu mengacu pada luas wilayah adat yang dimiliki secara komunal dan setiap komunitas tahu batas-batas tanah adatnya untuk pengelolaan ini diatur oleh pimpinan atau petua adat. Berapa jumlah areal tanah ulayat yang dikuasai kemudian akan dibagi dengan jumlah warga adat yang siap mengelola dengan baik dan produktif. Dari wawancara dinyatakan bahwa : ³Dalam menentukan tata batas diatur melalui musyawarah adat dan diselesaikan dengan mengacu pada hukum adat. Sementara kalau ada konflik tata batas menyelesaikannya mengacu pada AD/ART organisasi, jika ada masalah yang belum diatur terkait dengan tata batas dan

84

pengelolaannya maka ini akan diputuskan lewat kebijakan-kebijakan petua adat dan pimpinan organisasi´ (AS, Tokoh Muda Penunggu, 5 Oktober 2010). Selain norma-norma yang tertulis masyarakat Adat Penunggu juga memiliki norma-norma yang lain yang mereka junjung tinggi dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya iuran wajib masyarakat yang mempunyai hasil tani yang berlebih, lewat organisasi memberikan bantuan pada masyarakat dalam komunitas mereka yang sedang gagal panen, ini dilakukan supaya tidak ada kesenjangan sosial dan menjalin silaturahmi di antara masyarakat. Komoditas tanaman yang dikembangkan oleh masyarakat adat Penunggu adalah tanaman hortikultura, seperti cabe, sayur-sayuran, dan berbagi komoditas lain yang mempunyai daur pendek. Hal ini karena luas lahan yang masih sangat sempit sehingga hanya tanaman hortikultura yang mempunyai nilai ekonomi untuk dikembangkan pada lahan-lahan masyarakat adat Penunggu. 4.3.2. Pengelolaan Tanah Desa Adat Tenganan Pegringsingan di Bali Persoalan tanah di Bali menjadi menarik untuk dilihat dan diteliti, terutama keterkaitannya dengan dinamika sosial masyarakat Bali. Dari penelusuran sebuah lembaga pegiat pemerhati tanah nasional, persoalan tanah terkait erat dengan stratifikasi kultural yang ada pada masyarakat Hindu Bali. Atau dengan kata lain, sistem kebudayaan Bali yang sangat kuat mengatur tata laku masyarakat Bali, terutama yang terkait dengan kepemilikan tanah pribadi dan komunal. Mulai disusunnya Undang Undang Pokok Agraria Tahun 1960, yang di dalamnya memiliki dua hasrat yang saling tarik menarik satu sama lain. Antara lain adalah hasrat untuk mempertahankan tatanan lama, yakni soal adat, dan iktikad modernisasi yang secara rasional mengarahkan pada satu bentuk transformasi sosial dimasyarakat. Pada akhirnya kehadiran negara menjadi persoalan baru bagi masyarakat Bali yang memegang teguh adat dan agama mereka. Terutama ketika persoalan kepemilikan tanah dalam UUPA 1960 tidak memuat kepemilikan yang sifatnya komunal. Sementara, bagi masyarakat adat

85

Bali yang diperkuat dengan institusi desa adat di seluruh Bali, baik di perdesaan maupun di perkotaan, masalah hak komunal yang tidak diakui ini pada gilirannya mendorong penyiasatan-penyiasatan tersendiri dari desa adat Bali. A. Pembelajaran pengelolaan tanah di Bali Desa adat di Bali merupakan satu kesatuan masyarakat yang di dalamnya masih memegang teguh peraturan mengenai adat istiadat setempat. Dalam budaya atau adat Bali sangat sulit membedakan mana adat dan mana agama, sementara di banyak tempat di Indonesia persoalan adat dan agama sering kali adalah persoalan ketegangan antara keduanya. Yang dapat kita lihat adalah kesatuan kultur masyarakat terkesan sangat lengkap, dimensi adat dan religi menyatu saling melengkapi dan melebur jadi satu kesatuan. Demikian pula dengan persoalan tanah. Hal ini juga ditegaskan salah seorang pegiat lembaga yang perhatian terhadap sumber daya alam terutama tanah, petikannya: ³Membicarakan soal penguasaan dan pemilikan tanah di Bali tidak lepas dari kesatuan masyarakat adat Bali yang otonom sampai hari ini, yakni Desa Pakraman atau Desa Adat´ (GSP, Yayasan Kekal 25 Oktober 2010) Dalam konteks Tri Hita Karana adalah tiga hal pokok yang menyebabkan kesejahteraan dan kemakmuran hidup manusia. Konsep ini muncul berkaitan erat dengan keberadaan hidup bermasyarakat di Bali. Berawal dari pola hidup ini muncul dan berkaitan dengan terwujudnya suatu desa adat di Bali. Bukan saja berakibat terwujudnya persekutuan teritorial dan persekutuan hidup atas kepentingan bersama dalam bermasyarakat, juga merupakan persekutuan dalam kesamaan kepercayaan untuk memuja Tuhan atau Sang Hyang Widhi. Dengan demikian suatu ciri khas desa adat di Bali minimal mempunyai tiga unsur pokok, yakni wilayah, masyarakat dan tempat suci untuk memuja Tuhan Perpaduan tiga unsur itu secara harmonis sebagai landasan untuk terciptanya rasa hidup yang nyaman,tenteram, dan damai secara lahiriah maupun bathiniah. Seperti inilah gambaran kehidupan desa adat di Bali yang berpolakan Tri Hita Karana.

86

B. Pariwisata dan pengaruhnya terhadap pengelolaan sumber daya agraria khususnya tanah di Bali. Perkembangan industri pariwisata di Bali, pada gilirannya membutuhkan sistem pendukung yang cukup kuat. Kebutuhan akan fasilitas pendukung bagi para turis mutlak diperlukan. Dari mulai hotel dan penginapan, restoran, tempat hiburan dan infrastruktur lainnya yang memudahkan para turis untuk hidup di Bali sampai pada produk-produk pariwisata yang harus terus dilestarikan. Produk pariwisata yang dimaksud di sini adalah juga produk kebudayaan masyarakat Bali. Produk kebudayaan yang dipertahankan bukan hanya demi pariwisata, namun juga terlebih demi kebutuhan religiositas-kultural masyarakat Bali itu sendiri. Seperti kata pegiat lembaga pemerhati sumber daya alam terutama tanah, petikannya : ³Memang betul perkembangan pariwisata di Bali tentunya berpengaruh pada penguasaan tanah di Bali, sehingga dalam pengelolaan tanah di Bali mesti melihat relasi yang kuat antara negara, desa adat dan pariwisata, ini bagian dari hal yang akan kita kaji diharapkan penelitian dapat memotret aspirasi masyarakat dalam pengelolaan sumber daya lahan yang mereka miliki´. (GSP, 25 Oktober 2010) C. Pola Penguasaan tanah di dalam Desa Adat di Bali Salah satu desa yang menjadi obyek penelitian adalah Desa Adat Tenganan Pegringsingan. Berdasarkan Peta Tata Guna Lahan yang dibuat masyarakat desa setempat, diketahui bahwa luas wilayah Desa Adat Tenganan Pegringsingan adalah seluas 917,200 ha seluruh tanah adalah milik desa adat. Menurut salah satu pegiat lembaga yang perhatian terhadap sumber daya alam terutama tanah, menegaskan bahwa: ´Seluruh tanah tersebut adalah milik desa adat meskipun sebagian atas nama individu atau kelompok. Awig-awig desa mengatur tentang pengelolaan tanah di desa tersebut dan orang Tenganan Pegringsingan tidak boleh menjual atau menggadaikan tanah kepada orang luar Tenganan´. (GSP, Yayasan Kekal 25 Oktober 2010)

87

Wilayah Desa Tenganan Pegringsingan sejak abad ke-11 hingga sekarang tetap sama. Kalaupun mengalami perubahan itu lebih karena faktor alam, misalnya longsor atau terkikis, mengingat bahwa wilayah Tenganan yang berbukit-bukit dan masih menggunakan batas alam sebagai batas desa. Jadi dapat dikatakan kalau Desa Tenganan Pegeringsingan merupakan desa yang kaya akan sumber daya alam. Apabila seseorang menikah, maka setelah satu bulan dia akan mendapatkan hak atas tanah pekarangan untuk dibangun rumah dengan luas 2 are. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar dia dapat mendapatkan tanah tersebut. Pernikahan harus sesama orang Desa Adat Tenganan Pegeringsingan, Apabila pasangan suami-istri berasal dari banjar yang sama, maka mereka bebas memilih pekarangan pada banjar tersebut, tidak boleh banjar yang lain, dan apabila pasangan suami-istri berasal dari banjar yang berbeda, maka mereka hanya boleh memilih pekarangan di banjar asal pasangan yang sebelah timur. Hal ini senada dengan wawancara salah satu pegiat pengamat tanah adat: ´Misalnya warga dari Banjar Kauh menikah dengan warga dari Banjar Pande, maka mereka hanya boleh memilih pekarangan yang terdapat di banjar Pande, sehingga khusus di Banjar Pande pertumbuhan

penduduknya lebih cepat dari dua banjar lainnya, disamping memang juga beranggotakan orang-orang pendatang yang memperoleh ijin tinggal dan menjadi warga adat. (GSP, Yayasan Kekal 25 Oktober 2010) Kawasan persawahan merupakan daerah lahan basah yang letaknya berada di balik bukit hutan Tenganan sehingga tidak tampak dari permukiman. Sebagian sawah yang ada merupakan milik desa adat dan sebagian merupakan milik pribadi orang Tenganan yang kebanyakan orang dari Banjar Kauh dan Banjar Tengah. Proses pengelolaannya dilakukan oleh orang lain yang kebanyakan berasal dari luar Desa Tenganan dengan sistem bagi hasil. Namun demikian, warga Banjar Pande juga ada yang memiliki tanah sawah meskipun sedikit. Meskipun milik pribadi, namun pemiliknya tidak dapat mengubah statusnya, karena memang sudah diatur di dalam adat. Artinya, orang tidak dapat mengeringkan sawah secara

88

permanen. Namun demikian, pemilik atau penggarap boleh mengeringkan tanah untuk sementara ditanam palawija selama satu daur tanam. Kawasan perkebunan merupakan daerah lahan kering yang berada di atas permukiman yang pengerjaannya diserahkan kepada penyakap apabila yang ditanam berupa palawija. Sama seperti sawah, tanah perkebunan ini sebagian besar juga milik desa adat dan sebagian ada yang dikuasai oleh perseorangan meskipun segala sesuatunya (misal alih fungsi atau perubahan status kepemilikan) masih berada di bawah aturan adat. Di samping itu, dalam tanah perkebunan juga terdapat tanah Negara yang oleh warga Tenganan Pegeringsingan dinamakan tanah GG (Government Ground). D. Kepemilikan dan Hak Milik Tanah Desa Tenganan Pegringsingan tidak mengenal istilah hak milik individu bebas. Artinya bahwa kepemilikan individu ada, namun segala sesuatunya masih berada di bawah aturan adat. Bidang-bidang tanah yang dikuasai dan diatur itu diberi nama sesuai dengan peruntukannya yang dapat dikuasai dengan hak milik individu terikat dan hak milik komunal. Dari penelusuran sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di kajian tanah adat menemukan bahwa pembagian hak atas tanah di Desa Adat Tenganan Pegeringsingan terbagi menjadi dua Pertama Tanah dengan Hak Milik Individu Terikat meliputi : Tanah Pekarangan Rumah, Tanah Sekehe, (sekehe adalah perkumpulan yang mempunyai tujuan tertentu yang berada di bawah naungan organisasi besar/induk dan keanggotaanya bersifat sukarela), Tanah Milik Pribadi, yang kedua Hak Milik Komunal, Hak milik komunal disebut juga dalam hal ini hak milik adat, yaitu hak milik desa adat sebagai suatu

persekutuan atau badan hukum. Dengan kata lain, hak milik komunal adalah tanah yang dikuasai adat, penggunaannya dan pengelolaannya diatur secara bersama. Tanah yang dikuasai dengan hak milik komunal ini dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu hak milik komunal murni dan hak milik komunal tidak murni. E. Kelembagaan dan Peraturan Desa Adat Awig-awig desa mengatur semua kepemilikan tanah kepada warga adat, baik dari tingkatan krama desa maupun sampai pada tingkatan Gumi pulangan.

89

Menurut salah satu pegiat pengamat tanah adat dari sebuah organisasi nirlaba bahwasanya: ´Aturan tersebut seperti wajib tunduk pada kekuasaan desa adat atas tanah (Hak pertuanan desa), aturan melarang atau mengubah pola permukiman yang ada tanpa seijin desa adat, apabila menyelenggarakan upacara ritual keagamaan, desa berhak ngerampag, ngalang, ngambeng, ngambang, atau mengambil dengan Cuma Cuma dari warga´. (GSP, Yayasan Kekal 25 Oktober 2010) Aturan-aturan yang lain dalam kehidupan sosial lebih lanjut dijelaskan: ´...Aturan untuk tidak boleh mengembalakan hewan, aturan untuk tidak boleh menjual atau memberikan ijuk kepada orang, aturan untuk warisan, aturan untuk pemberian tanah oleh adat, aturan tentang hak desa adat, aturan untuk penjualan tanah, aturan untuk perkawinan, aturan bagi pendatang, hukuman/sangsi´. Lembaga Adat Tenganan merupakan lembaga tertinggi yang mengatur tata kehidupan warganya dalam kegiatan kehidupan sehari-hari maupun dalam upacara ritual keagamaan. Struktur desa adat Tenganan terdiri atas :

Gambar: 4.1 Kelembagaan Desa Adat Tanganan (diolah dari wawancara dengan responden)

90

Penjelasan struktur adat Tenganan : Krama desa bertugas untuk melakukan upacara, mengelola pemerintahan dan pembangunan desa. Jabatan dibagi empat tingkat yaitu : 1. Luanan : merupakan tingkat teratas yang terdiri atas 6 pasang sebagai penasehat. Akan tetapi yang duduk saat ini, hanya 5 pasang sebagai luanan, karena tidak ada yang dapat memenuhi syarat sebagai Mangku atau pemimpin upacara yang resmi. Syarat untuk jadi Mangku yang resmi adalah dari keturunan Sanghyang, menduduki luanan tertinggi. Saat ini hanya sebagai ungguan atau symbol. keturunan sanghyang hanya ada satu yaitu : Wayan Mangku Widya, yang saat ini sudah keluar dari luanan. Belum dapat menjadi luanan tertinggi karena

perkawinan anak pertamanya. 2. Bahan Rolas Bahan Duluan : : merupakan bagian dari bahan Roras yang terdiri atas atas 6 pasang pertama sebagai keliang desa. Tugasnya pengambil keputusan dalam pemerintahan. Bahan Tebenan : merupakan bagian dari bahan roras yang terdiri atas 6 pasang yang akan menjadi keliang desa. 3. Tambalapu Tambalapu Duluan : merupakan bagian dari tambalapu roras, yang terdiri atas 6 pasang informasi yang kepada bertugas warga

menyampaikan lainnya. Tambalapu Tebenan

: terdiri atas 6 pasang, tugasnya sama dengan tambalapu duluan

4. Pengluduan

: tugasnya adalah sebagai pelaksana kegiatan.

91

F. Perpindahan Kepemilikan pada Adat Tenganan Luas tanah di Desa Adat Tenganan Pegringsingan adalah tetap, hal ini juga berlaku untuk luas dan letak tanah berdasarkan penggunaannya. Adanya awigawig yang mengatur semuanya, maka tanah desa tidak akan mengalami perubahan. Yang mungkin terjadi perubahan adalah tanah hak milik, itu pun hanya sebatas pergeseran kepemilikan diantara sesama warga adat. Beberapa hal yang mungkin menjadi penyebab berubahnya status kepemilikan tanah seperti pendapat salah satu pegiat pengamat tanah adat dalam wawancara berikut: ´Perubahan status lahan di Tanganan dari penelusuran yang kami lakukan ada tiga setidaknya yaitu: pertama jual lepas adalah penyerahan sebidang tanah untuk selama-lamanya dengan menerima uang kontan. Kedua, hibah yang dimaksud diartikan sebagai pemberian seseorang kepada orang lain, baik ahli waris maupun orang lain yang bukan ahli warisnya, atas dasar kerelaan, ketiga adalah gadai. Gadai adalah menyerahkan tanah sementara kepada orang lain dengan menerima uang kontan, dengan maksud orang yang punya tetap mempunyai hak atas kembalinya tanah tersebut dengan membayar sejumlah uang yang sama. Namun demikian, sama seperti jual beli, gadai tanah tidak diijinkan di lakukan kepada orang luar desa Tenganan.´(GSP, Yayasan Kekal 25 Oktober 2010). Di Tenganan Pegringsingan, menjual lepas atau ngadol tidak dapat dilakukan sekehendak hati pemilik tanah. Hak-hak si pemilik masih dibatasi oleh kekuasaan desa. Hal ini diatur dalam awig-awig pasal 7 dan 37. Pada prinsipnya jual-beli tanah hanya diijinkan antara sesama warga desa adat dan inipun harus memperhatikan siapa yang mempunyai hak lebih dulu untuk membeli tanah tersebut. Diutamakan pembelinya adalah keluarga, apabila anggota keluarga tidak mampu membelinya, barulah dapat dijual kepada warga desa yang lain. Proses jual beli dilakukan di bale agung dalam sangkepan kliang desa. Kliang desa melihat apakah tanah tersebut memang haknya dan disetujui keluarganya

92

Jika seorang janda ataupun seorang yang tidak mempunyai anak tidak diperbolehkan memberikan hibah. Proses pengurusannya hampir sama dengan jual-beli, dimana orang yang akan menghibahkan hartanya kepada seseorang harus melaporkan ke bale agung pada sangkepan krama desa dan disaksikan oleh kliang desa. Bila syarat-syarat telah terpenuhi, maka kliang adat akan membuat surat hibah yang dibubuhi cap kliang desa, tanggal, hari dan tahun dibuatnya. Hal ini senada dengan wawancara salah satu pegiat pengamat tanah adat bahwa: ´Berbeda dengan hibah dan jual beli, gadai dilaksanakan secara lisan antara para pihak tanpa harus lewat sepengetahuan kliang adat. Dengan demikian susah dikontrol apakah ada gadai yang dilakukan kepada pihak luar´. (GSP, Yayasan Kekal 25 Oktober 2010) Selain tiga mekanisme tersebut di atas, ada pula proses perpindahan kepemilikan karena proses warisan. Ada 2 (dua) jenis tanah yang dapat diwariskan yaitu tanah pekarangan rumah (Hak Milik Individu Terikat) dan tanah yang merupakan hak milik pribadi (sawah dan tegalan). Hal ini senada dengan wawancara salah satu pegiat pengamat tanah adat : ´Tanah milik pribadi diwariskan kepada keturunannya tanpa membedakan jenis kelamin. Artinya baik anak laki-laki maupun perempuan

mendapatkan bagian yang sama. Apabila kedua orang tuanya meninggal maka tanah tersebut akan diatur oleh desa untuk ´diluruskan´. Jika ternyata pasangan tersebut tidak memiliki keturunan (camput), ketika meninggal tanah tersebut akan di ambil oleh desa untuk diluruskan´. (GSP, Yayasan Kekal 25 Oktober 2010) G. Hubungan Penggarap dan Pemilik Tanah Sebagian besar warga Tenganan, terutama yang menempati Banjar Kauh dan Banjar Tengah memiliki tanah pribadi di sawah maupun ladang. Pada

awalnya sebagian dari mereka menggarap sendiri tanah-tanah tersebut. Namun karena pesatnya kemajuan industri pariwisata menyebabkan orang Tenganan tidak mau lagi menggarap tanahnya dan beralih profesi di bidang pariwisata misalnya

93

membuat lukisan lontar, lukisan telor, anyaman pandan, dan yang paling terkenal adalah membuat kain gringsing dan lain-lain. Seperti keterangan salah satu pegiat pengamat tanah adat: ´Saat ini tanah sawah dan ladang di Tenganan Pegringsingan digarap oleh orang lain yang berasal dari luar Tenganan dengan sistem bagi hasil. Dalam pengelolaannya mereka tinggal di dalam areal lahan tegalan atau hutan dan membangun bangunan permanen sebagai tempat tinggal. Pada mulanya mereka mendapat persetujuan dari desa adat karena memang sudah terjadi secara turun temurun, jadi mungkin sawah yang digarap sekarang merupakan sawah garapan kakeknya dulu´. (GSP, Yayasan Kekal 25 Oktober 2010) Jika berbicara perihal penggarap dan pemilik tanah, yang paling menarik untuk dibahas adalah seputar hukum agraria nasional tentang Tanah Kelebihan. Desa Tenganan Pegringsingan memiliki awig yang melarang orang menjual tanah milik pribadi kepada orang luar Tenganan. Begitu pula sebaliknya, orang dari luar tidak boleh membeli tanah yang berada di wilayah Tenganan Pegringsingan. Sedangkan dalam ketentuan UU No. 56 Prp. Tahun 1960 tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian disebutkan bahwa seorang atau orang-orang yang dalam pernghidupannya merupakan suatu keluarga bersama-sama hanya diperbolehkan menguasai tanah pertanian yang luasnya tidak melebihi batas maksimum. Berlakunya dua hukum nasional tersebut dan ditambah kenyataan bahwa penggarap sawah dan tegalan berasal dari orang luar Tenganan Pegringsingan, maka dapat dipastikan bahwa ada penggarap yang akhirnya mempunyai hak kepemilikan pribadi dan bebas dari aturan awig-awig´. 4.3.3. Pengelolaan Lahan Komunal di Nusa Tenggara Timur Wilayah Nusa Tenggara Timur sebagian besar lahan di kawasan ini dimiliki secara komunal. Hal ini tidak lepas dari pengaruh adat yang kuat yang diwariskan secara turun-temurun. Pengelolaan lahan yang tadinya secara komunal ini mulai bergeser pada pola kepemilikan individu, hal ini dapat terjadi jika individu tersebut sudah lama mengelola lahan secara intensif di satu wilayah. Ini menjadi dasar untuk setiap individu masyarakat Timor untuk mengusulkan kepada

94

Petua adat agar lahan yang sudah dikelola tersebut dapat menjadi miliknya. Jika Petua adat atau kepala suku sudah memperbolehkan maka individu tersebut dapat mensertifikatkan dan sah menurut hukum negara dan hukum adat bahwa lahan tersebut menjadi milik individu. Kondisinya tanah-tanah komunal di Timor itu mulai terkikis, meski demikian norma-norma adat yang tertuang dalam aturan-aturan adatnya yang mengatur tentang pengelolaan lahan masih sangat kuat dan dihormati oleh komunitas masyarakat Timor. Ini tercermin dari salah satunya ketika panen pertama dari setiap komuditas yang ditanam masyarakat selalu disumbangkan ke rumah besar atau rumah adat. Saat ini, tanah-tanah adat di Timor tinggal sedikit dan itu pun jarang di kelola karena masih berupa hutan. Ini yang belum ada solusinya antara adat dan pemerintah, apakah itu milik negara atau milik adat. Pemerintah lokal Timor dalam mengelola sumber daya lahan selalu tunduk kepada hukum adat meski sudah ada hukum formal. Contohnya ketika Bupati atau pemerintah daerah akan menmanfaatkan satu areal lahan maka pemerintah daerah selalu meminta ijin Petua Adat. Kalau Petua Adat mengijinkan maka penggunaan lahan tersebut baru dapat dilakukan. Di sini tergambarkan bahwa kepemilikan tanah adat itu eksistensinya masih punya kekuatan yang bukan hanya ditaati oleh masyarakat tapi juga pemerintah, khususnya pemerintah daerah. Kepemilikan individu ini memang berdampak pada tidak adanya kemampuan adat untuk mengintervensi lahan-lahan yang sudah diberikan kepada individu. Artinya kontrol terhadap perpindahan kepemilikan lahan ini sudah tidak dapat dilakukan oleh otoritas adat. Meski demikian karena ikatan antara tanah dengan masyarakat ini sangat tinggi dalam pemahaman masyarakat Timor menjual tanah ini menjadi hal yang diharamkan. Dari wawancara dengan tokoh muda Timor yang juga peneliti agraria mengatakan bahwa: ´Penjualan tanah di Timor jarang ditemui kecuali di daerah perkotaan karena perkembangan dari kota tersebut, tapi untuk di daerah-daerah pedalaman atau di desa-desa norma adat itu, masih sangat kuat sekali

95

sehingga penjualan tanah jarang ditemui´ (YEM, Tokoh Muda Timor 25 Oktober 2010) A. Peran Petua Adat dalam Pengelolaan Lahan Pada lahan-lahan yang belum dikelola atau masih kosong itu menjadi otoritas adat, sehingga siapa pun yang akan menggunakan lahan tersebut harus seijin Petua Adat atau kepala suku. Misalnya kawasan yang akan dikelola sumber daya alamnya pemerintah harus berkoordinasi dengan Kepala Suku yang secara adat menguasai lahan tersebut. Keputusan tentang pengelolaan lahan tersebut dibawah otoritas ketua adat sepenuhnya. Semua anggota-anggota suku tetap percaya pada ketua adat, struktur adat yang ada di Timor adalah suku besar yang dipimpin oleh Ketua Adat atau Nai. Nai memiliki wakil yaitu kepala suku-kepala suku. Perwakilan di wilayah ini, Nai bersama pemerintah mendiskusikan tentang pengelolaan dan pemanfaatan lahan komunal yang akan digunakan oleh pemerintah. Pembangunan untuk fasilitas publik seperti jalan raya, Sekolah, tempat peribadatan (gereja). Keputusan kepala suku mengikat karena hirarkinya dari atas ke bawah (top down) dalam masyarakat Adat Timor. B. Kelembagaan Masyarakat Timor Adat Timor dipimpin oleh Raja., dalam keseharian Raja disebut Liurai atau Raja. Di setiap satu kecamatan biasanya ada satu raja, dia mempunyai 12 Nai, 12 Nai ini wakil raja atau gubernur (analogi) tugasnya dari Nai yaitu memantau seluruh sumber daya alam maupun aturan nilai-nilai adat yang ada di daerah itu. Jika ada pelanggaran-pelanggaran adat, misalnya yang dilanggar oleh anggota suku Nai-lah yang akan memberi sangsi atau menjadi penengah dalam setiap perkara. Sementara dalam konteks lahan seperti dari wawancara dengan tokoh muda Timor di dapat gambaran sebagai berikut: ´Sementara dalam konteks pemilikan lahan meski beberapa tanah adat sudah menjadi tanah milik tapi kepatuhan masyarakat Timor dalam memegang aturan adat, menjadikan masyarakat Timor tidak mudah memindahtangankan lahan atau menjual tanah yang telah dibagikan oleh adat. Biasanya lahan-lahan yang sudah disertifikatkan selalu diwariskan kepada anak keturunannya´ (YEM, Tokoh Muda Timor 25 Oktober 2010)

96

. C. Pembagian Wilayah, Tata Batas, dan Penyelesaian Konflik Tata Batas Tokoh muda Timor mengatakan bahwa batas wilayah milik komunal dan individu masih menggunakan tanda alam seperti batu besat, sungai, dan pohon. Masyarakat Timor belum mendokumentasikan tata batas wilayah baik komunal maupun individu, dalam bentuk peta yang tergambar ataupun tertulis. Di sini, tugas Nai-Nai tersebut mengenali dan mengidentifikasi batas-batas kepemilikan, meski demikian permasalahan perbatasan jarang terjadi konflik. Apabila terjadi konflik tata batas, biasanya diselesaikan dengan rapat adat atau dibilang omongan-omongan sirih pinang. Apabila kepala suku memutuskan sebuah konflik tata batas biasanya masyarakat menerima dan menjujung tinggi keputusan tersebut. Kalau sudah tidak dapat didamaikan dalam adat, baru permasalahan ini dibawa ke pengadilan tapi hal ini jarang sekali terjadi. Berikut petikan wawancara bagaimana adat menyelesaikan konflik: ³...karena otoritas adatnya itu masih mengatur itu, dia cari tahu sejarahnya dulu kepemilikan tanah ini dikelola oleh siapa suku mana dicari tahu sehingga yang berhak mengelola tanah ini adalah suku ini´ (YEM, Tokoh Muda Timor 25 Oktober 2010) Menurut salah seorang tokoh muda Timor menjelaskan bahwa ketika terjadi konflik sering diselesaikan dengan kesepakatan adat dengan norma-norma adat. Sedangkan konflik antar suku itu tadi jarang terjadi karena ada otoritas adat yang dapat menyelesaikan. Berikut kutipannya: ³Misalnya antara suku ini dengan suku itu berbatasan, di sana suku A kamu yang menggarap sampai di sini, suku B biar di sana. Di dalam suku ini kan ada individu lagi yang mengelola, individu ini dia yang meneruskan terus-terus. Nah di Timor itu sukunya sangat banyak sehingga dia tahu batas-batas alam itu. Jadi individu ini bukan orang di luar suku´(YEM, Tokoh Muda Timor 25 Oktober 2010).

97

Saat ini masyarakat adat Timor belum mendokumentasikan berbagai aturan adat dan batas-batas kepemilikan lahan secara tertulis, semua diatur oleh sistem yang diatur oleh adat melalui Nai-Nai tersebut, seperti disampaikan dalam wawancara : ³Kalau secara administrasi, kelemahan mereka di situ adaministrasi dalam bidang catat mencatat itu lemah tapi mereka biasanya serahkan pada masing-masing suku untuk mengetahui secara detail. Kalau dokumen mereka nggak punya´ (YEM, Tokoh Muda Timor 25 Oktober 2010)

Bagi kita yang terbiasa dengan tulis-menulis dan mendokumentasikan dalam bentuk tulisan ini sebenarnya masalah yang susah dan banyak tafsirnya alias ribet, tapi menjadi sangat mudah ketika mereka mengetahui hak dan peran masing-masing, ini pembelajaran menarik bagi generasi sekarang. D. Budidaya Tanaman oleh Masyarakat di Timor Di Timor merupakan daerah yang boleh dikatakan wilayahnya gersang, masyarakat di daerah Timor lebih banyak budidaya tanaman-tanaman musim seperti kacang tanah kacang, kacang hijau, dan jagung. Karena hujan paling empat lima bulan dalam satu tahun. Padi sawah jarang dibudidayakan karena tidak punya sungai yang mengalir sepanjang tahun. Masyarakat Timor umumnya pengelolaan lahannya dilakukan secara gotong royong karena lahan yang dikelola sangat luas. Yang menarik dari wawancara dengan tokoh muda Timor adalah : ´... jangan heran kalau di Timor orang punya ladang jagung itu luas-luas, karena mulai dari mengolah lahan, penanaman sampai pemanenan dilakukan secara bergotong royong, paling hanya perawatan saja yang dilakukan sendiri oleh individu petani pemilik lahan (YEM, Tokoh Muda Timor 25 Oktober 2010).

4.3.4. Pengelolaan Lahan Komunal di Suku Dani Wamena Papua Wawancara dengan tokoh muda dari Suku Dani di Kabupaten Wamena, setidaknya dapat memberi gambaran tentang bagaimana suku-suku di Papua mengelola sumber daya tanah di wilayahnya. Suku Dani tinggal di daerah wilayah

98

adat Me Pago, di mana wilayah Me Pego meliputi wilayah Pegunungan Bintang, Wamena, Tiom, Kurima, Oksibil, dan Okbibab. Aturan kepemilikan tanah di Suku Dani Wamena didasarkan pada keturunan, diwariskan dari nenek moyang atau leluhur mereka. Berikut kutipan wawancara dengan tokoh muda Suku Dani: ´Aturan kepemilikan itu berdasarkan keturunan berdasarkan marga, misalnya seperti saya.. saya itu fam Huby berati di situ kalau untuk saya memiliki tanah sebidang tanah itu, saya harus biasa dari orang-orang tua itu biasa kasih tahu´ (YH, 25 Oktober 2010)

Tanah-tanah suku Dani itu diperoleh dari membuka ladang didapat dari perang antar suku lebih jauh dijelaskan: ³... Jadi kau pu Tete tuh punya kerja kebun di sini, tempat di sini jadi tempat honey. Jadi di sana tempat tinggal itu namanya honey jadi ketika kebun sudah tumbuh lain-lain tanah itu nanti yang itu otomatis milik saya dan itu otomatis saya wariskan ke keturunan saya. Jadi tanah itu tetap jadi tadi yang sempat saya utarakan dapat juga pada saat perang, perang sampai.. jalan kemana, berapa kilo jalan tapi disaat mereka disitu mereka jalan perang istirahat di tempat itu hisap rokok itu ahhh itu anggaplah tanah itu milik fam/marga yang sempat hisap rokok disitu karena pada saat dia hisap rokok bikin api ada yang melihat berarti oooo dari isu-isu dari siapa saja´ (YH, Direktur Titian 1 Oktober 2010).

Pengakuan terhadap satu lahan milik untuk suku dihormati dan diakui oleh suku lain, yang menarik dari kepercayaan masyarakat di Wamena khususnya wilayah Me Pego seperti dijelaskan tokoh muda Suku Dani sebagai berikut: ´...dulu ko pu Tete hisap rokok di sini jadi secara tidak langsung saya, dan ketika ada orang yang kena sakit atau macam dapat tabrak jatuh dari pohon di tempat itu orang lain tidak dapat sembuhkan, yang dapat sembuhkan karena tadi tempat itu yang hisap rokok saya Pu Tete macam begitu jadi kekuatan dari adat sudah ada di situ. Jadi sakit-sakit itu macam

99

orang lain tidak dapat obati, jadi tanah itu secara tidak langsung jadi milik marga itu´ (YH, Direktur Titian 1 Oktober 2010).

Aturan-aturan dan norma-norma itu mengikat kuat dan dihormati oleh suku-suku di daerah Wamena, sehingga hukuman itu selain dari kepala suku lebih sering hukuman itu muncul dari individu dari masyarakat Wamena. Aturan hukum pada Masyarakat Suku Dani itu memang ada meskipun tidak tertulis. Ketika ada yang melanggar aturan atau norma-norma berdampak pada kehidupan dia seharihari. Lebih jauh tokoh muda Suku Dani menjelaskan: ´Jadi ketika kita contohnya mengambil hasil hutan yang itu memang sudah dilarang dan kita biar ambil sembunyi-sembunyi ambil hasil hutan kayu atau yang lain-lain tapi yang terjadi yang jelas nanti pengaruh ke ternaknya, terus ada pengaruh ke tanamannya. Jadi ada pengaruh pada makanan pokok di sana itu petata, jadi selama ini petata di sana itu besarbesar ketika kita melanggar hal itu nanti petata itu hasilnya kecil-kecil, itu nanti terlihat disitu. Petata dalam bahasa Indonesia berarti Ubi, jadi macam petata itu nanti pu isi tidak besar, kecil-kecil jadi dia pu daun tidak subur itu menandakan orang ini berarti dia sempat ambil hasil hutan, tempattempat larangan, tempat-tempat sakral larangan begitu´ (YH, Tokoh Muda Suku Dani, 25 Oktober 2010).

Leluhur masyarakat Papua meyakini bahwa di beberapa tempat itu ada yang dari hewan, karena itu masyarakat Papua begitu melindungi hewan-hewan yang mereka anggap adalah nenek moyang mereka. Mereka mengharamkan untuk memakan hewan-hewan yang mereka yakini sebagai leluhur mereka. Apabila dilanggar akan berpengaruh pada kesehatan mereka. Hal tersebut juga dijelaskan oleh tokoh muda Suku Dani: ´Itu macam kepercayaan Totem itu begitu, macam di Papua bagian selatan itu kan orangnya tinggi-tinggi, hal itu menandakan bahwa dia leluhur mereka dari burung Kaswari jadi ada fam Kaise, Kaise itu artinya Kaswari jadi orangnya tinggi-tinggi. Trus fam asegof, trus fam Kepno itu kan

100

mereka juga orangnya tinggi-tinggi jadi mereka leluhur mereka itu rusa seperti itu´ (YH, Tokoh Muda Suku Dani, 25 Oktober 2010)

Kalau pada masyarakat suku-suku di Wamena khususnya fam Loka, Huby leluhur mereka adalah anjing. Ada kepercayaan juga bahwa Anjing itu juga yang membawa bibit seperti jagung, petata (ubi) itu menurut cerita dongeng, anjing diyakini yang membawa masuk bibit tersebut, sehingga anjing menjadi binatang yang sangat dilindungi. Berikut petikan wawancara dengan tokoh muda Papua: ³Kalau di tempat saya itu Anjing itu kan biasa fam dari Loka, Huby itu dari itu anjing jadi fam-fam itu tidak perlu makan Anjing jadi kalau makan biasa tulang-tulang ini sakit. Ada gejala-gejala itu´ (YH, Tokoh Muda Suku Dani, 25 Oktober 2010)

Menurut tokoh muda Suku Dani tidak semua masyarakat Papua mengenal Totem hanya suku-suku tertentu saja, khususnya suku Dani itu bilang usameke. itu yang jadi hukum. Usameke itu mengatur untuk melindungi apa saja semacam hewan-hewan, tumbuhan pohon-pohon dan lahan. Masyarakat suku Dani dalam mengusahakan lahannya tidak hanya untuk memenuhi kehidupan mereka seharihari, hasil panen untuk komuditas tertentu di jual ke pasar untuk ditukar dengan kebutuhan hidup yang lain. Masyarakat kebanyakan berkebun untuk tanaman sayuran dan jagung dan lain-lain. Hal ini senada apa yang dikatakan tokoh muda Papua: ´kalau masyarakat itu kebanyakan berkebun dan bercocok tanam yang tadi saya cerita itu, saya cerita petata karena makannya pokok, tapi cara berkebun itu kalau biasa lihat di TV-TV itu dengan bedengan´. Untuk dijual itu macam sayur-sayur kol, jagung, sayur bayam, sayur sawi itu biasa ditanam terus di jual´.(YH, Tokoh Muda Suku Dani, 25 Oktober 2010)

Komoditas andalan dari Wamena dari tanaman perkebunan adalah kopi. Kopi merupakan produk unggulan karena bukan hanya untuk dijual di Indonesia

101

kopi juga diekspor dan menjadi oleh-oleh khas Wamena saat ini. berikut dijelaskan: ´Kopi ada, sekarang punya apa punya pabrik sendiri Kopi Wamena ada, Carabika Wamena, kan sekarang itu sudah ada gambar honey baru kopinya ada masyarakat pakai koteka baru ada Kopinya sudah dipublikasikan mungkin diseluruh Indonesia sudah. Yang sudah ada itu, sudah ada memang itu Kopi´ (YH, Tokoh Muda Suku Dani, 25 Oktober 2010)

Seperti realitas sosial di mana saja bahwa konflik selalu menjadi bagian hidup dari kehidupan manusia. Perselisihan juga menjadi bagian hidup dari sukusuku di Wamena. Konflik tanah seringkali menyebabkan perang antar suku ketika masing-masing suku tidak dapat menyepakati batas wilayah adat mereka. Berikut dijelaskan oleh tokoh muda Suku Dani: ´Yang sering masyarakat Wamena itu ada perang suku itu masalah yang pertama itu masalah pembagian hak ulayat itu di sini suku ini punya disani suku ini punya dan juga paling sering itu masalah perempuan, masalah perempuan contohnya istrinya saya diganggu oleh ada satu suku biasanya jadi perang. Dan kalau itu dari pihak istri itu jalan bongkar babi di pihak pelaku, pelaku tidak terima terjadi peselisihan itu terjadi perang di Suku Dani itu´ (YH, Tokoh Muda Suku Dani, 25 Oktober 2010)

Jadi ada dua faktor

yang sering menyebabkan suku-suku di Wamena

berkonflik yang juga berujung pada perang suku. Yaitu masalah perebutan perempuan atau perebutan tanah. Pada konteks tanah ini dijelaskan seperti kutipan berikut: ´Tanah yaa yang tadi saya utarakan kalau macam pembagian dari satu suku ini kita Pu batas wilayah sampai batas wilayah dari suku sebelah tidak dapat ini punya artinya diantara itu baku-perang baku-perang satu suku kalah berarti dia undur tanah itu berarti milik suku yang menang´ (YH, Tokoh Muda Suku Dani, 25 Oktober 2010)

102

Dalam menyelesaikan konflik mereka biasanya dilakukan dengan jalan musyawarah. Perang terjadi ketika kedua belah pihak tidak menemukan titik temu dari perselisihan tersebut barujung dengan perang. Kemenangan satu suku berarti suku tersebut yang berhak memiliki lahan tersebut. Berikut keterangannya: ´Cara menyelesaikanya itu tadi dengan perang, jadi kalau mereka kalah jadi suku yang ini ambil, tapi memang biasanya diselesaikan dengan damai itu biasanya panggil kepala suku terus Tua-Tua adat trus yang sudah tahu informasi sejak awal jadi dipanggil semua dari Ketua Suku dari kedua suku ini jadi sempat cerita-cerita dulu itu begini Ko Pu Nenek pernah apa punya hak di sini jadi yang berhak dapat tanah ini. Kau jadi yang satu mengalah itu berdasar ada Kepala-Kepala Suku dari kedua suku itu terus ada Tua-Tua yang sudah tahu informasi tentang sebelumnya jadi. tanah ini sebenarnya bagaimana dulu tanah ini Nenek moyang pernah begini, jadi yang pertama itu dikumpulkan kalau bicara-bicara tidak ada solusi jadi perang, perang itu agak ini utamakan dulu ditanyakan siapa pemilik tanah sebenarnya seperti itu´ (YH, Tokoh Muda Suku Dani, 25 Oktober 2010)

Dalam pengelolaan sumber daya alam suku-suku di Wamena memiliki kearifan budaya lokal di mana mereka membagi-bagi wilayah pengelolaan. Selain untuk melindungi sumber daya alam, melidungi daerah-daerah yang disakralkan jugan dicadangkan untuk anak cucu mereka. Berikut keterangan oleh tokoh muda Suku Dani: ´...kan begini kalau seperti itu pembagian-pembagian itu dapat berdasarkan dia Pu tempat, macam ini kita dapat terus dijadikan untuk berkebun saja untuk tanaman petata makanan pokok petata. Suku-suku membuat kebun itu dibuat seluas-luanya jadi kebun itu nanti dibagi menurut sampai ini nanti kau yang buat ini nanti kau yang buat sampai nanti selesai buat kebun kan akan tumbuh pohon-pohon itu nanti kau yang tebang jadi itu nanti dari itu masudnya yang membuka kebun itu´. (YH, 25 Oktober 2010)

103

Yang disampaikan di atas adalah untuk berkebun dan ada tanah untuk ditinggalkan lagi untuk tempat ternak. Karena luasnya kebun yang dibuat pada awal pembukaan lahan dan pembuatan pagar agar tidak diganggu oleh hewan liar, seluruh pekerjaan dikerjakan secara bersama-sama (bergotong-royong). ³Pengolahan tanah yang untuk berkebun itu biasanya sama-sama, karena itu membutuhkan ini untuk buat itu karena di sana babi itu diliarkan jadi untuk buat pagar itu membutuhkan banyak orang jadi buka kebun itu tujuh puluh hektar besar-besaran´ (YH, 25 Oktober 2010),

Setelah pembuatan pagar selesai tanah baru dibagi-bagi secara adil per keluarga, setelah ini tangungjawab pengelolaan, baik untuk penanaman, perawatan menjadi tangung jawab keluarga masing-masing. ³Itu nanti dibagi perkeluarga karena tangungjawab untuk bekerja itu babat cangkul tanam itu kan masing-masing. Jadi dibuat dulu padar keliling baru selesai pagar jadi masih ada rumput pohon-pohon besar itu sudah mulai bagi. batas ini sampai sini nanti keluarga ini batas ini sampai sini nanti keluarga ini setelah dibagi semua kebun selesai semua sudah mulai panen´ (YH, Tokoh Muda Suku Dani, 25 Oktober 2010)

Lebih jauh dijelaskan bahwa setiap hasil panen pertama selalu diserahkan atau disumbangkan pada honey dan gereja-geraja. Berikut petikannya: ´...Panen pertama itu harus kasih masuk di honey adat di gereja-geraja sering dikasih begitu. Itu hasil pertama tanam pertama selanjutnya itu dapat di nikmati. Tanah setelah itu jadi hal milik dari yang membuka kebun, batas-batas kebun, itu kan pohon-pohon sering tumbuh trus alangalang jadi di Pohon-pohon disekitar kebun itu orang lain tidak dapat masuk tebang sembarang´ (YH, Tokoh Muda Suku Dani, 25 Oktober 2010)

Menurut pendapat tokoh muda Suku Dani bahwa pemindahan hak akan tanah selain tadi disampaikan turun-temurun juga karena proses jual-beli. Jual beli

104

umumnya hanya dilakukan pada masyarakat pendatang. Ini tidak aneh karena hampir semua suku-suku di Papua khusunya di Wamena masih mempunyai tanah yang cukup luas, apalagi kalau kita bandingkan dengan populasi penduduknya. Seperti kutipan berikut: ´Kalau gadai itu jarang. Yang terjadi itu jual...jual saja dengan orang dari luar biasanya. Kalau di Wamena itu biasanya yang dijual itu hanya daerah kota saja´ (YH, Tokoh Muda Suku Dani, 25 Oktober 2010)

Kepemimpinan kepala suku tidak dipilih biasanya Tokoh-Tokoh yang mempunyai keahlian berperang, selain itu kekayaan juga menjadi ukuran untuk menjadi kepala suku. Yang pasti saat ini kepala suku itu diwariskan dari leluhurnya. Seperti keterangan dalam kutipan ini: ´Kepala itu tidak dipilih, kepala itu dari awal dari nenek moyang sana, jadi macam saya kebetulan saya ini anaknya dari kepala suku jadi macam saya Pu Tete itu dulunya dia orangnya jago perang, jago perang dan itu punya banyak babi dan punya istri banyak bahkan dua puluh sampai dua puluh lima itu, itu istri kepala suku. Kalau babinya paling banyak itu secara tidak langsung itu anggap jadi kepala suku jadi tidak dipilih´(YH, Tokoh Muda Suku Dani, 25 Oktober 2010).

Ketika kepala suku meninggal biasanya diwariskan kepada anaknya, anak laki-laki pertama. Kalau anaknya banyak biasanya anak laki-laki yang pekerja keras dan banyak wanita yang melamarnya maka biasanya dia yang akan ditunjuk untuk menjadi kepala suku menggantikan ayahnya. Berikut keterangan dalam petikan ini: ´... itu nanti diwariskan kepada anak pertama laki-laki. Anak kalau ada sepuluh-lima belas itu nanti dilihat biasanya kepala suku itu diwariskan jadi dilihat mana yang paling rajin berkebun dan punya istri banyak ada perempuan melamar banyak. ...itu dia Pu anak nanti ganti orang tua jadi secara langsung´ (YH, Tokoh Muda Suku Dani, 25 Oktober 2010)

105

Pada masayarakat adat suku-suku di Wamena, ada tradisi yang melamar adalah pihak perempuan. Di sana masih sering terjadi poligami meski demikian saat ini mulai ada ajaran dari gereja bahwa diharuskan hanya menikah satu kali. 4.3.5. Model Kepemilikan Lahan Komunal yang Sesuai dengan Karateristik Masyarakat Indonesia. Sangat tidak mungkin jika kita mau menyamaratakan satu konsep model kepemilikan, pengelolaan dan pengusahaan tanah di Indonesia. Hal ini didasarkan pada wilayah Indonesia yang sangat luas dengan berbagai karateristik baik biofisik, sosial dan budaya pengelolaan yang berbeda-beda. Model yang dikembangkan pun tidak dapat seragam, tergantung pada potensi dan budaya yang berkembang di masyarakat. Peran negara dan pemerintah adalah mendorong optimalisasi dan produktivitas lahan untuk meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Selain melakukan kajian-kajian terhadap pola kepemilikan lahan komunal pada berbagai wilayah di Indonesia seperti disampaikan oleh salah seorang pegiat sumber daya alam di Kalimantan, ada baiknya juga belajar dari pengalaman negara lain yang dalam menyusun kebijakan landreformnya, petikannya: ´Sekarang ada banyak pujian untuk sistem yang dikembangkan Filipina. Di sana itu undang-undang agrarianya menghasilkan dua jenis kebijakan. Yang pertama private yang kayak landreform biasa itu dibagikan individu land administration ada yang sertivikat komunal tapi bukan kolektif. Komunalnya melalui dua: satu memberikan sertifikat pada tanah leluhur Ancestral domains claim (kesepakatan bersama tentang warisan leluhur)´ (AK, 1 Oktober 2010). Ada satu komunitas dari satu leluhur diberikan sertifikat sehingga menghalangi pihak luar menguasai tanah mereka, tapi didalamnya ada penguasaan individu untuk yang usaha tani, yang lain adalah non alienable land sertificate yaitu tanah yang bersertifikasi yang tidak dapat diperjual belikan itu diberikan pada pengguna lahan.

106

Dalam lahan komunal lahan dimilik secara bersama. Ada yang istilahnya kolektif dimana tidak ada kepemilikan individu tidak ada penguasaan individu didalam kepemilikan lahan itu. Ada komunal yang didalamnya ada kepemilikan individu, tetapi individu itu harus anggota masyarakat dalam komunitas komunal tersebut sementara tidak boleh diperjual-belikan oleh individu-individu.´ Sebagai gambaran salah seorang pegiat sumber daya alam di Kalimantan memberti gambaran terhadap model kebijakan agraria yang menurutnya dapat menjadi pijakan dalam mendorong kebijakan agraria di Indonesia. Berikut kutipannya: ´Dalam kebijakan agraria di Filipina, disana milik komunal tapi tidak berarti tidak ada individu, ada individu didalamnya selagi itu masih anggota masyarakat kalau dia tidak lagi menjadi anggota masyarakat dan tidak lagi mengelola dia kehilangan haknya itu kembali ke komunitas masyarakat itu dan tidak dijual. .....bagaimana dengan Indonesia, untuk kasus yang bukan usaha tani ada kepemilikan komunal, misalnya perairan, hutan, danau yang dimiliki bersama-sama secara kolektif tidak ada individu didalamnya, jadi orang mengambil saja tinggal norma-norma adat yang mengaturnya, tapi kasus usaha tani yang mendekati itu adalah perladangan berputar itu. (AK, 1 Oktober 2010). Di Indonesia kalau di kelompokkan setidaknya ada 3 (tiga) pola yang dapat di kembangkan yaitu: a). Komunal, b). Individual, c). Campuran/modifikasi antara komunal dan Individual. Pada pilihan kebijakan kepemilikan, penguasaan, pengusahaan maupun pengelolaan komunal dapat di kelompokan menjadi dua pilihan antara lain: 1. Komunal Murni. Komunal murni ini dapat diterapkan pada sumber daya agraria yang dapat dimanfaatkan bersama dan atau yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak seperti hutan dan danau. Jika kawasan komunal ini berfungsi sebagai kawasan perlindungan alam dan pemanfaatan dibolehkan asal sesuai dengan kaidahkaidah konservasi alam, maka peran negara dalam memantau akses dan

107

melindungi kawasan menjadi dominan. Misal pada kawasan taman nasional dan hutan lindung. 2. Komunal yang didalamnya ada individu. Pada pola ini khususnya dapat diterapkan pada usaha tani di mana kepemilikan dipegang oleh komunal atau komunitas sementara

pengelolaannya diserahkan pada individu dalam sebuah keluarga, dengan didasarkan pada kesepakatan dan norma-norma yang berlaku pada masyarakat komunal. 4.3.6. Model Pengelolaan Lahan Komunal yang sesuai dengan Karateristik Masyarakat Indonesia, dalam Kerangka Optimalisasi Lahan Menurut pendapat pegiat pembaharuan agraria program pembaharuan

agraria khusunya landreform di Indonesia dari sisi produktifitas tanah pasca landreform, dalam rumus kepala BPN reforma agraria itu sama dengan

landreform +akses reform. Berikut petikan keterangannya: ´.... model-modelnya macam-macam ada yang distributif-redistributif, konsolidatif. Ketika kita bicara soal produktifitas itu sebenarnya sudah masuk pada segi yang lain dari pembaharuan agraria. Jadi ketika penataan struktur tanah sudah selesai ketika petani dipastikan punya tanah dan kita berharap pemilikan, penguasaan dan pemilikan tanah ini secara kolektif secara bersama misalnya untuk menghindari jual beli atau lepasnya tanah dari rakyat miskin atau menghindari dari spekulasi komoditisasi atau komersialisasi tanah´(US, Ketua KPA, 28 Agustus 2010). Program landreform saja belum menjamin peningkatan kesejateraan masyarakat petani ketika faktor-faktor yang mempengaruhi produktifitas petani tidak ditunjang. Berikut petikan selanjutnya: ´....kepemilikan yang kolektif, setelah landreform selesai reforma agraria belum selesai, kenapa karena tanah yang sudah

didistribusikan/redistribusikan kepada masyarakat itu belum tentu atau tidak secara langsung meningkatkan kesejahteraan rakyat yang menerima tanah. Oleh karena itu diperlukan sejumlah input istilah pak Wiradi itu

108

input-input pasca landreform sarana dan prasarana pendukung terhadap tanah´(US, Ketua KPA, 28 Agustus 2010). Salah seorang pegiat pembaharuan agraria menyampaikan bahwa model pengelolaan lahan komunal yang sesuai dengan karateristik masyarakat Indonesia, dalam kerangka optimalisasi lahan dan beberapa contoh input-input yang mendukung landreform. Misalnya yang diperlukan adalah permodalan dalam bentuk kredit, dapat juga dalam bentuk teknologi, untuk mengolah tanah supaya lebih produktif lebih masif dan sebagainya. Bitit-bibit, benih-benih unggul yang dapat ditanamkan disini kemudian pupuknya, misalnya kita dorong pupuknya yang sifatnya organik pupuk yang bukan pupuk kimia buatan pabrik tetapi pupuk yang dikembangkan petani sendiri untuk meningkatkan produksi disatu sisi tapi juga untuk memelihara keberlanjutan pelayanan alam, pelestarian alam dan lingkungan. Jadi ini pupuknya yang ramah lingkungan, teknologinya juga mudah dan meringankan petani tidak menjerat petani. Hal ini ditegaskan seperti kutipan berikut ini : ´Sebenarnya kalau bentuk dan model penguasaan, pengusahaan dan pengelolaan lahan dapat kita dorong seperti ini. Sebenarnya usaha pengusahaan, nah ini juga sebenarnya kita dorong secara kolektif secara bersama-sama oleh rakyat khususnya kaum tani yang menerima tanah melalui program landreform. (US, Ketua KPA, 28 Agustus 2010). Oleh karena itu, yang perlu dilakukan supaya usaha ini sesuai konteks pengembangan usaha tani agar terjadi peningkatan produktifitasnya maka pengelolaan pertanian ini dikembangkan dalam bentuk badan-badan usaha milik petani dalam bentuk koperasi-koperasi petani baik melalui Badan Usaha Milik Petani (BUMP) dan koperasi-koperasi petani. Pengusahaan tanah yang sudah dikuasai itu akan dilakukan secara bersama sehingga pencarian bibit-bibit, pencarian pupuk dan sarana produksi yang lain yang menunjang produktivitas tanah ini dilakukan secara bersama juga. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa sebenarnya pendekatan komunal ini kalau bicara produktifitas maka akan lebih produktif. Sekarang

109

tinggal bagaiman landreform dibangun dengan pendekatan-pendekatan yang lebih komprehensif atau menyeluruh atau bagaimana hulu-hilir ini dapat lebih sinergis sehingga tujuan akhir dari landreform bahwa tanah untuk keadilan dan kesejahteraan itu akan terwujud. Ketakutan-ketakutan bahwa masyarakat adat yang masih subsisten itu tidak perlu lagi ada. Artinya kesempatan komunitaskomunitas masyarakat dalam pengelolaan lahan secara kolektif justru lebih efektif. Pendapat serupa juga disampaikan oleh pegiat masyarakat adat, menurutnya salah satu nilai budaya yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia adalah kegotong-royongan, fakta itu dapat dibuktikan dalam berbagai tradisi dan budaya masyarakat di berbagai kepulauan di Indonesia. Berikut petikan penegasannya: ´Sesuatu yang khas dan jarang dimiliki oleh komunitas masyarakat di negara lain adalah kehidupan sosial bersama pada masyarakat Indonesia. Gotong-royang tidak hanya dikenal pada masyarakat Jawa. Di Bali misalnya pengelolaan lahan dilakukan secara bersama-sama, bahkan masyarakat Dayak di pedalaman Kalimantan, masyarakat Papua dan Timor. Mereka dalam pengelolaan lahan dilakukan secara bersama-sama, mereka juga tinggal secara bersama seperti rumah Betang pada masyarakat Dayak dan Honey pada masyarakat Papua´. (AN, Sekjen AMAN ,1 Oktober 2010) 4.4. Sumber Daya Agraria dan Pengelolaannya Kalau mengacu pada arah pengelolaan sumber daya agraria di Indonesia pola yang menterjemahkan konstitusi yaitu Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 cenderung menggunakan konsep neopopulis, negara memiliki kewenangan penuh terhadap sumber daya alam yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Dalam penterjemahanya melalui Undang-undang Pokok Kehutanan, saat ini kawasan hutan adalah suatu kawasan yang dikuasai negara sehingga tidak dapat diperjualbelikan. Ketika tanah sudah menjadi komoditi, kemungkina besar tanah tersebut cenderung dikuasai oleh satu atau sekelompok orang saja.

110

Kalau kita melihat kembali wilayah Indonesia saat ini hampir 70% merupakan kawasan hutan, yang otoritas pengelolaannya ada di tangan negara. Hal senada juga dikatakan oleh salah seorang pejabat di Ahli Bidang Revitalisasi Industri Kehutanan (Pernah menjabat Dirjen Planologi) Kementerian Kehutanan bahwa: Masalah tenurual ini memang masalah besar, meski demikian pemerintah sudah mempunyai framework untuk menjalankannya. Berangkat dari satu framework yang juga sudah dipegang oleh negara menurut hukum formal ada dua. Kalau saya lihat kawasan atau tanah Indonesia itu 185 juta hektar 133 Juta hektar itu di kawasan hutan, by law adalah kawasan hutan. Berarti hampir 60-70% luas daratan di Indonesia itu dikuasai negara, di bawah Kementerian Kehutanan. (S, 27 September 2010) Meski demikian terjadi ironi dalam pemberian kewenangan pengelolaan penguasaan dan pengusahaan hutan, di mana Kementerian Kehutanan yang dulu Departemen Kehutanan justru memberikan akses yang luas terhadap sektor swasta untuk mengelola wilayah-wilayah hutan produksi yang seringkali itu merupakan wilayah adat yang dikelola secara komunal. Ada pendapat yang berbeda dengan pendapat salah seorang pejabat Kementerian Kehutanan, menurut pegiat sumber daya alam di tingkat regional mengatakan: ´Kalau kita tinjau kepemilikan ownership kawasan hutan di Indonesia memang secara formal dipegang oleh Kementerian Kehutanan sedangkan secara informal masyarakat di beberapa tempat mengklaim satu kawasan hutan menjadi wilayah adat mereka yang dikelola secara komunal, tapi secara akses pengusahaan dan pengelolaan saat ini telah dipegang oleh swasta´ (YK, Direktur Titian 1 Oktober 2010). Kementerian Kehutanan mengklaim bahwa total luas daratan di Indonesia hampir 191 juta ha, sebagian besar (66,16 persen) merupakan kawasan hutan, sedangkan untuk budidaya pertanian (sawah, tegalan dan perkebunan) adalah 36,35 juta ha (18,72 persen). Berikut pendapat salah seorang pegiat lingkungan:

111

³Buat saya ini omong kosong kalau di kawasan hutan itu tidak dapat berjalan land market. Boleh jadi secara aturan begitu, tapi faktanya, berapa luasan lahan hutan yang dikuasakan kepada sektor swasta dibandingkan akses yang diberikan kepada masyarakat. Bahkan masyarakat yang sudah tinggal turun-temurun ratusan tahun di satu kawasan yang masuk kawasan hutan seringkali di anggap pemerintah sebagai perambah. Ketika memotong kayu dianggap mencuri padahal mereka mewarisi lahan dan kayu-kayu tersebut dari nenek moyang mereka´ (YK, Direktur Titian 1 Oktober 2010). Dari dua pendapat yang berbeda tersebut menjadikan dasar bahwa ini merupakan tantangan atau menjadi perhatian bagi perancang, penyusun dan pelaksana landreform nantinya. Kajian terhadap obyek dan subyek landreform semestinya tidak hanya didasarkan saja pada hukum formal tapi kajian sosial, kajian kesejarahan kepemilikan dan pengelolaan hendaknya dapat nenjadi indikator dalam penentuan model landreform.

112

BAB 5 PEMBAHASAN

a.

Bentuk-bentuk

Penguasaan,

Kepemilikan,

Penggunaan

dan

Pemanfaatan Tanah Komunal di Indonesia. Untuk mencari pilihan kebijakan model landreform di Indonesia khususnya pada pola komunal, maka dalam penelitian ini dilakukan eksplorasi melalui studi pustaka dari hasil-hasil penelitan, buku dan artikel yang dapat menggambarkan pola-pola kepemilikan komunal di berbagai komunitas

masyarakat Indonesia. Untuk memperdalam kajian, maka telah dilakukan wawancara dengan beberapa nara sumber yang berkecimpung langsung di dalam isu-isu agraria di Indonesia Dari eksplorasi tersebut, terdapat informasi yang memberi gambaran bagaimana pola penguasaan, pemilikan dan pengusahaan tanah pada masyarakat komunal dari berbagai daerah di Indonesia. Dari studi pustaka dan wawancara dengan nara sumber ahli maka data yang didapat dikategorikan menjadi tujuh kategori antara lain: a). pola penguasaan, pemilikan dan pengusahaan. b). kelembagaan, c). nilai dan norma, d). kepemimpinan e). Wilayah, tata batas dan penyelesaian konflik, f). relasi sosial. Dari pengkategorian data ini akan memberi gambaran tentang pengelolaan sistem komunal berbagai wilayah di Indonesia.

4.3.1. Pola penguasaan, pemilikan dan pengusahaan lahan komunal. Pada suku Minangkabau penguasaan tanah dan pemanfaatan sumber alam mendasarkan pada potensi lokal tempatan mengingat secara budaya, potensi lokal mewujudkan prinsip-prinsip matrilineal; (didasarkan pada sistem kekerabatan dari pihak perempuan), dari sisi sosial ditujukan untuk mengintegrasikan anak kemenakan akibat praktik perkawinan eksogami. Jika ditinjau dari sisi ekonomi, hal ini mempertinggi tingkat kesejahteraan lahir batin, sedang dari sisi politis, menunjukkan praktik ideologi komunal secara benar. Sementara, dari sisi keamanan, hal ini dapat menjaga keutuhan baik fisik maupun batin sosial masyarakat tempatan. Pembagian hasil sumber alam secara bergilir sesuai alam,

113

penyewaan kepada anggota kaum sesuku selama jangka waktu tertentu, merupakan bentuk penguasaan tanah dan pemanfaatan sumber alam dimaksud. Berbeda dengan masyarakat adat Minangkabau, masyarakat Batak menurut Oding, Alfonsus dan Harianja (Bab 3, h.49) menyampaikan bahwa secara umum aturan tradisional dalam kepemilikan dan penguasaan lahan di kawasan daerah tangkapan air Danau Toba berdasarkan adat dan budaya Batak yang mengacu pada prinsip-prinsip kekerabatan dari pihak laki-laki (patrilineal). Adapun sistem kekerabatan masyarakat Batak Toba dengan sebutan Dalihan Natolu, Batak Karo dengan sebutan Daliken Sitelu, dan Batak Simalungun dengan sebutan Tolu Sahundulan. Pola pemanfaatan lahan didasarkan pada berbagai faktor seperti hak kepemilikan, modal, tenaga kerja, pengetahuan, kepastian akses terhadap hasil, serta faktor kelestarian lingkungan. Pola pemilikan dan penguasaan lahan pada masyarakat hukum adat di masyarakat Batak tidak jauh berbeda antara satu suku dengan suku lainnya di Indonesia. Kepemilikan lahan oleh individu maupun kelompok atau komunal melalui penemuan, pembukaan hutan, pemberian atau pewarisan, tukar menukar, dan pembelian. Dalam perkembangannya pola-pola tersebut disesuaikan berdasarkan pada budaya dan adat masing-masing masyarakat adat tersebut. Sementara itu, pada masyarakat Dayak Kalimantan pola penguasaan, pemilikan dan pengusahaan tanah atau lahan pengaturannya dibagi menjadi tanah keramat, hutan adat, daerah tempat berladang, daerah tempat bersawah, daerah perkebunan rakyat dan cagar budaya. Seperti disampaikan Noveria, Gayatri, & Mashudi (Bab 3, h.55), masyarakat Dayak juga membagi wilayah kampung menjadi a). Kawasan hutan yang dilindungi atau dicanangkan untuk masa depan, b). kebun buah-buahan; c). lahan perkebunan karet, d). sawah, e). ladang dan bawas (lahan yang diistirahatkan dengan tujuan untuk mengembalikan kesuburan tanah), f). tanah pekuburan dan tanah keramat, g). lahan perkampungan dan h). sungai serta danau untuk perikanan. Pada sistem Dayak Taran di Tae (Kabupaten Sanggau) dan Dayak Salaka di Bangak Sahwa (Kabupaten Sambas) di Kalimantan Barat, pada komunitas masyarakat di dua tempat tersebut, lahan yang

114

semula dimiliki secara komunal dapat berubah statusnya menjadi milik pribadi jika sudah dibersihkan, ditanami dengan jenis-jenis tanaman tertentu dan dipelihara. Sistem kepemilikan ini sudah dipraktikkan dan diakui oleh masyarakat, oleh karena sudah bersifat pribadi, maka kepemilikan lahan ini dapat diwariskan kepada keturunannya. Menurut kajian Peluso & Padoch (1996) Menyampaikan bahwa pada komunitas Dayak, lahan untuk bertani dan berladang diperoleh dengan cara membersihkan atau membabat hutan(Bab 3, h.56). Pada masyarakat Dayak Kayan yang tinggal di daerah sungai Mendalam wilayah Kalimantan Barat, misalnya, mengakui bahwa mereka yang membuka hutan primer mempunyai hak untuk bertani dan berladang di areal yang dibuka. Hak penguasaan lahan ini dapat diturunkan kepada keturunan dari individu-individu yang pertama kali membuka lahan. Sementara itu. masyarakat Dayak di Kabupaten Gunung Mas berkembang pola penguasaan dan pemilikan lahan yang diakui oleh masyarakat secara turun temurun (Bab 3, h.56), pola tradisional dan turun temurun, warga desa menguasai dan memanfaatkan lahan di sekitar pemukiman mereka. Dalam mengelola sumber daya lahan yang ada penguasaan dan pemanfaatan lahan dapat bersifat perorangan dan juga dapat bersifat komunal. Pola pemanfaatan dan penguasaan lahan tersebut diakui dalam konteks lokal tradisional, tetapi tidak secara hukum formal. Pola tani masyarakat Dayak yang pengusahaan ladang secara berpindah dalam rotasi tiga sampai sepuluh tahun. Antara suku Dayak dan suku-suku di Papua hampir memiliki kemiripan bahwa penguasaan, pemilikan dan pengusahaan tanah yang berlaku secara turun temurun, diwariskan dari leluhur mereka. Pada sebagian masyarakat adat di Papua, pola penguasaan lahan awalnya dilakukan berdasarkan siapa yang pertama kali membuka dan mengerjakan areal hutan yang belum dikuasai oleh orang lain. Pada sebagian yang lain, awal penguasaan wilayah oleh suatu suku didasarkan pada lokasi yang dijelajahinya pertama kali pada saat berburu binatang di areal hutan yang belum dikuasai suku lain. Begitu areal itu belum bertuan, maka boleh dikerjakan oleh suatu kelompok suku, maka secara ulayat, lahan tersebut adalah

115

milik suku yang bersangkutan (hak ulayat) dan penguasaan ini dapat diwariskan kepada keturunannya, terutama keturunan laki-laki (hak waris).

Tabel 5.1 Struktur Masyarakat Hukum Adat di Indonesia Pengelolaan Sumber Daya Agraria Struktur Masyarakat Hukum Adat Berdasar Genealogis (keturunan) Patrilineal (pertalian darah garis bapak) Matrilineal (pertalian darah garis ibu) Parental (pertalian darah garis bapak dan garis ibu)

Contoh : Suku Batak dan Suku Papua

Contoh : Suku Minangkabau

Contoh : Suku Dayak

Konsep lain yang perlu diperhatikan adalah konsep kepemilikan tanah, bagi masyarakat adat Papua, kepemilikan tanah itu bersifat komunal. Bukan hanya milik satu garis keturunan tertentu, akan tetapi kepemilikan lahan merupakan milik satu suku. Masing-masing suku memiliki tradisi, bahasa dan tata cara adat yang berbeda-beda. Persilangan antar suku melalui perkawinan dan peperangan juga telah mengubah konsep komunalitas kepemilikan lahan. Masing-masing suku memiliki catatan sejarah yang umumnya tersimpan dalam tradisi lisan mengenai batas wilayah hak ulayat. Lebih kompleks lagi, apabila catatan klaim kepemilikan hak ulayat didasarkan pada sejarah peperangan antar suku. Hasil wawancara dengan Tokoh muda Adat Penunggu di Sumatera Utara bahwa dalam aturan tertulis yang tercantum dalam Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) sebagai berikut: a).tanah masyarakat Adat Penunggu adalah milik Adat dan tidak dapat dimiliki secara pribadi baik oleh

116

individu masyarakat penunggu maupun orang luar, b). setiap masyarakat berhak mengelola dan mewariskan hak kelola kepada anak turunnya, tetapi hak tersebut gugur ketika keluarga tersebut tidak lagi mengusahakan lahan untuk usaha pertanian. Setiap masyarakat yang ada di komunitas tersebut tidak memiliki lahan atau tempat tinggal di kampung lain´ (Bab 4, h.79). Tanah Ulayat yang dikuasai oleh rakyat Penunggu kepemilikannya adalah komunal namun sistem pengelolaannya adalah individu-individu yang diberikan kepada satu orang penanggung jawab di satu keluarga. Sistem ini dilakukan karena tanah-tanah ulayat yang dikuasai masih dalam status perjuangan, sehingga pembagian tanggung jawab per individu di keluarga terjadi. Pembagian pengelolaan tanah ulayat tergantung dari berapa jumlah luas yang berhasil dikuasai. Adat Penunggu ini menjadi menarik untuk terus dikaji karena organisasi adat telah melebur dan membuat organisasi moderen dengan tetap

mempertahankan nilai-nilai adat dengan mengadopsinya dalam aturan-aturan organisasi. Selain itu, model komunal ini telah menjadi pembelajaran bersama bagaimana pola landreform dijalankan, karena mereka membangun kesepakatan pengelolaan secara bersama melalui musyawarah dan aturan-aturan adat penunggu. Pada masyarakat adat di Bali kepemilikan lahan oleh Desa Adat, yang menarik membicarakan soal penguasaan dan pemilikan tanah di Bali tidak lepas dari kesatuan masyarakat adat Bali yang otonom. Sampai sekarang, Desa Pakraman atau Desa Adat, meyakini bahwa seluruh tanah adalah milik desa adat meskipun sebagian atas nama individu atau kelompok (Bab 4, h.85). Awig-awig desa mengatur tentang pengelolaan tanah di desa tersebut dan orang Tenganan Pegringsingan tidak boleh menjual atau menggadaikan tanah kepada orang luar Tenganan. Wilayah Desa Tenganan Pegringsingan sejak abad ke-11 hingga sekarang tetap sama. Walaupun mengalami perubahan itu lebih karena faktor alam, misalnya longsor atau terkikis, mengingat bahwa wilayah Tenganan yang berbukit-bukit dan masih menggunakan batas alam sebagai batas desa.

117

Hal ini memberikan gambaran bagi perancang, perencana dan pelaksana bahwa program pelaksanaan landreform, jika tidak memperhatikan struktur dan budaya masyarakat dalam pengelolaan sumber daya agraria untuk memenuhi kehidupan sosial maupun spiritual akan merusak struktur budaya yang sudah bertahun-tahun bahkan ratusan tahun masih tetap bertahan dan lestari. Pada masyarakat Timur wilayah Nusa Tenggara Timur sebagian besar akses terhadap lahan dimiliki secara komunal, meski saat ini ada juga beberapa yang boleh dimiliki secara individu. Hal ini akibat pewarisan adat yang kuat secara turun-temurun. Pemerintah lokal Timor dalam mengelola sumber daya lahan selalu tunduk kepada hukum adat meski sudah ada hukum formal. Kepemilikan individu ini memang berdampak pada tidak adanya kemampuan adat untuk mengintervensi lahan-lahan yang sudah diberikan kepada individu. Artinya kontrol terhadap perpindahan kepemilikan lahan ini sudah tidak dapat dilakukan oleh otoritas adat secara penuh. Meski demikian, karena ikatan antara tanah dengan masyarakat ini sangat tinggi, maka dalam benak masyarakat Timor menjual tanah menjadi hal yang di haramkan. Konsekuensi dari hal tersebut, yaitu jarang sekali ditemui transaksi penjualan tanah di Timor terutama di daerah pedalaman atau perdesaan. Hasil penelusuran pustaka dan wawancara tentang pola penguasaan, pemilikan dan pengusahaan lahan komunal di beberapa daerah di Indonesia menunjukkan kecenderungan yang sama yaitu hak tanah didapat dari akses pertama kali dalam membuka lahan-lahan hutan yang di kemudian hari diwariskan secara turun temurun.

118

Tabel 5.2 Bentuk Pengelolaan Sumber daya Agraria

Wilayah Kajian

Penguasaan dan Pemilikan

Bentuk Pengelolaan

Batak Toba

Tanah Komunal dikelola secara individu, dan diwariskan menurut garis keturunan Ayah (patrilineal)

Aturun Dalihan na tolu dalam hal kepemilikan dan penguasaan lahan, terutama tanah di Tanah Batak antara lain: a). Warisan, b). Pauseang, c).Ulos Nasora Buruk, d). Indahan Arian, e). Dondontua, f) Upasuhut, g).Marga,

Minangkabau

Tanah Komunal dikelola secara individu, dan diwariskan menurut garis keturunan Ibu (matrilineal)

Bentuk kelola dibagi tiga antara lain: y Bauduah (Wilayah dibawah kelola Suku) y Balega (bergilir) y Pagang-Gadai- Susuik Model demikian memperlihatkan cara mempertahankan dan memanfaatkan sumber alam dilandasi kesepakatan-kesepakatan yang dikonstruksi oleh mamak atas dasar aturan lokal dalam mengatur siapa, apa, bagaimana, dan mengapa penguasaan dan pemanfaatan sumber alam demikian

Masyarakat Penunggu

Kepemilikan komunal dengan sistem pengelolaan individu

Lahan yang tidak lagi dikelola, akan diambil lagi oleh Adat. Untuk dikelola oleh warga adat secara produktif

119

Dayak

Kepemilikan komunal dengan sistem pengelolaan individu, dengan model ladang berpindah

Masyarakat Dayak mempunyai konsep Palasar Palaya mengatur pemanfaatan dan pengelolaanya lahan dan sumber daya alam yang lainya sesuai dengan fungsinya dengan memperhatikan keseimbangan serta kemampuan daya dukung alam dalam suatu lingkungan komunitas

Bali

Seluruh tanah adalah milik Desa Adat

Dikelola oleh Desa Adat untuk didistribusikan kepada warga adat sesuai dengan norma-norma hukum adat yang ada.(awig-awig)

Timor

Tanah Komunal dikelola secara individu

Pengelolaan lahan yang tadinya secara komunal ini, mulai bergeser pada pola kepemilikan individu. Hal ini dapat terjadi jika individu tersebut sudah lama mengelola lahan secara intensif di satu wilayah

Papua

Tanah milik Adat/Komunal dikelola secara individu

Kebijakan pengelolaan lahan dipegang oleh Ketua Suku.

4.3.2. Pola Kelembagaan Kelembagaan Adat Minangkabau pada dasarnya sama seperti adat sukusuku yang lain, tetapi ada kekhasan yang tidak ditemui pada suku yang lain (Bab 3, h.53). Kekhasan ini ada karena masyarakat Minang menganut sistem garis keturunan menurut Ibu, matrilineal. Kekhasan lain yang sangat penting adalah

120

adat Minang merata dipakai oleh setiap orang di seluruh pelosok nagari dan tidak menjadi adat yang eksklusif berlaku bagi para bangsawan dan raja-raja saja. Pada Adat Minangkabau setiap individu terikat dan terlibat dengan adat, hampir semua laki-laki dewasa menyandang gelar adat, dan semua hubungan kekerabatan diatur secara adat. Pada tataran konsepsional, adat Minang terbagi pada empat kategori: a). Adat nan sabana adat, b). Adat nan teradat, c). Adat nan diadatkan, d). Adat istiadat. Adat mengatur interaksi dan hubungan antar sesama anggota masyarakat Minangkabau, baik dalam hubungan formal maupun tidak formal. Pada Batak Toba sebelum diuraikan tentang desa, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa prinsip adat istiadat dan asal mula suku batak tidak terlepas dari Dalihan Na Tolu (Bab 3, h.50). Dalihan Na Tolu adalah suatu aturan yang mengatur sistem kekerabatan marga-marga yang ada pada suku batak dan merupakan acuan hidup masyarakat batak yang merupakan sebagai berikut: Hulahula (Tulang), Dongan Sabutuha (Semarga), Boru (Anak Perempuan). Dalam masyarakat Dayak Kayan Mendalam Kalimantan, pengertian lembaga adat adalah seperangkat aturan, norma dan nilai budaya yang mengatur upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat (Bab 3, h.56), termasuk didalamnya mengorganisir ke arah peningkatan kesejahteraan masyarakat dan lembaga juga dapat diartikan sebagai wadah atau organisasi tradisional dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat melalui berbagai kegiatan. Meski terdapat beberapa kelembagaan yang hidup di tengah masyarakat Dayak, namun secara umum kelembagaan lokal yang kuat pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat hanya 2 (dua) yakni : Pemerintahan desa dan badan perwakilan desa serta Kelembagaan Adat. Kelembagaan lokal ini memiliki peran dan fungsi masing-masing. Pemerintah Desa dan badan perwakilan desa memiliki kewenangan menyangkut tata pemerintahan formal. Sementara, Kelembagaan Adat dalam hal ini Ketumenggungan Kayan Mendalam, bertanggung jawab untuk urusan yang berhubungan dengan adat.

121

Lain lagi dengan kelembagaan di Bali, hal ini sangat unik karena Desa Adat di Bali merupakan satu kesatuan masyarakat yang di dalamnya masih memegang teguh peraturan mengenai adat istiadat setempat. Dalam adat Bali sangat sulit membedakan mana adat dan mana agama, sementara di tempat-tempat yang lain di Indonesia, persoalan adat dan agama sering kali dipisahkan secara jelas garis demarkasinya, malah kadang keduanya timbul ketegangan bahkan bertabrakan. Dalam adat Bali ini, ada kesatuan budaya masyarakat yang sangat lengkap, dimana dimensi adat dan agama menyatu berkelindan. Untuk menyiasati jarak antara struktur lama dengan struktur baru, sehingga untuk membedakan ini maka antara desa adat dengan tata pemerintahan pasca kemerdekaan di Bali, maka kelembaagan adat tetap mempunyai struktur lama sementara struktur baru atas nama desa menjadi desa dinas yang sifatnya administratif seperti desa-desa umumnya di Indonesia. Lembaga Adat Tenganan merupakan lembaga tertinggi yang mengatur tata kehidupan warganya dalam kegiatan kehidupan sehari-hari maupun dalam upacara ritual keagamaan. Krama desa bertugas untuk melakukan upacara, mengelola pemerintahan dan pembangunan desa. Jabatan dibagi empat tingkat yaitu (lihat Bab 4, h.85): Luanan, Bahan Duluan, Bahan Tebenan, Tambalapu duluan, Tambalapu Tebenan, Pengluduan. Bagi masyarakat Papua, pengertian lembaga adat adalah seperangkat aturan, norma dan nilai budaya yang mengatur upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat, termasuk mengorganisir ke arah peningkatan kesejahteraan

masyarakat (Bab 3, h.63). Lembaga ini juga dapat diartikan sebagai wadah atau organisasi tradisional dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat melalui berbagai kegiatan. Pada kelembagaan masyarakat Adat Penunggu masyarakat membuat organisasi modern dengan nama Badan Perjuangan Rakyat Penunggu

Indonesia(BPRPI). Sejak itu, masyarakat mengelola lahan tersebut dengan sistem komunal. Proses kontrol terhadap kepemilikan atas pengelolaan individu-individu

122

rakyat Penunggu memakai aturan AD/ART organisasi rakyat Penunggu (BPRPI). Pengurus juga memastikan anggota tidak menelantarkan lahan-lahan yang dibagikan untuk dikelola. Jika hal ini terjadi maka petua adat dan pimpinan kampung akan memberikan teguran dan sangsi pencabutan atas hak pengelolaan tanah yang kemudian akan dialihkan kepada anggota lain. Pada masyarakat Timor, di tiap-tiap Adat dipimpin oleh Raja. Raja ini sama masyarakat setempat sering disebut Liurai, biasanya satu kecamatan itu ada satu Raja. Ia mempunyai 12 Nai, 12 Nai ini wakil raja atau gubernur mereka, yang bertugas memantau seluruh sumber daya alam maupun aturan nilai-nilai adat yang ada dan masih berlaku di daerah itu. Dari penelusuran tentang kelembagaan masyarakat komunal di beberapa daerah di Indonesia dapat diperoleh kesimpulan bahwa eksistensi mereka tidak lepas dari kelembagaan yang terbangun secara turun-temurun dan dipegang teguh oleh masyarakat. Kelembagaan yang sudah mapan ini harus dihormati dan diperhatikan dalam membangun model operasionalisasi landreform yang nantinya berlaku berbeda-beda di tiap suku atau pun di tiap daerah.

4.3.3. Nilai-nilai dan Norma yang Berkembang di Masyarakat Pada masyarakat Minangkabau khususnya suku Anduring dalam penggarapan sawah dan hasil panen padi menurut musim panen, pembagian durian antara kaum satu dan kaum lain dalam satu suku menurut urutan hari. Kasus tersebut memperlihatkan gambaran bahwa pola penguasaan tanah dan pemanfaatan sumber alam dibangun dengan model Balega (bergilir). Model demikian memperlihatkan cara mempertahankan dan memanfaatkan sumber alam dilandasi kesepakatan-kesepakatan yang dikonstruksi oleh Mamak atas dasar aturan lokal dalam mengatur siapa, apa, bagaimana, dan mengapa penguasaan dan pemanfaatan sumber alam demikian (Bab 3, h.53). Dalam konteks interaksi sosial masyarakat Minangkabau, sebenarnya secara budaya matrilineal berlaku prinsip perkawinan eksogami suku (sub etnik) dan endogami suku bangsa (etnik). Namun, dalam konteks adat Minangkabau

123

hambatan matrilineal itu dibuka melalui praktik malakok (melekat), bahwa siapapun dan apapun etniknya dapat menikah dengan etnik Minangkabau, bila terutama laki-laki dimaksud telah mengaku kepada dan diakui oleh salah satu Mamak yang bersuku berbeda dengan calon pasangan. Dalam nagari menunjukkan bahwa adat Minang yang komunal membuka ruang bagi interaksi masyarakat luar untuk masuk dalam kehidupan masyarakat Minang, satu nilai budaya yang menarik dan menujukan kearifan budaya yang luhur. Sementara pada masyarakat Batak Toba relasi sosial terlihat dalam adat perkawinan ini mirip dengan masyarakat adat Minangkabau. Apabila terjadi penyimpangan dalam perkawinan (bila salah seorang calon pengantin bukan berasal dari etnis Karo), pihak daliken si telu calon pengantin yang beretnis Karo, selalu menyarankan agar calon pengantin etnis non Karo tersebut disyahkan menjadi ´orang Karo´ yaitu diberikan klan (marga/beru), dan sekaligus diberikan orang tua adatnya. Peranan orang tua adat dalam bidang-bidang tertentu (di luar adat istiadat Karo) sama dengan orang tua kandungnya, tetapi dalam bidangbidang tertentu (di dalam adat istiadat Karo) jelas jauh melebihi orang tua kandungnya yang bukan berasal dari etnis Karo (Bab 3, h.51). Pemberian klan ini tidak bertujuan untuk mengkaronisasikan etnis non Karo yang ingin berjodoh dengan etnis Karo, tetapi bertujuan agar mekanisme daliken sitelu tetap berfungsi semestinya. Meski berbeda caranya antara Adat Minang dan Batak tapi esensi normanarma yang berkembang mempunyai nilai-nilai yang boleh dikata relatif sama. Pada masyarakat Batak salah satu keuntungan terkait dengan warisan adalah (a) dengan pemberian klan, khususnya bila calon pengantin itu wanita, bila kelak suaminya meninggal dunia, dia berhak mewarisi tanah adat yang dimiliki suaminya dan (b) kedudukan orang yang diberi klan (marga/beru) menjadi jelas dalam struktur adat Karo. Anak-anak yang dilahirkan dari keluarga pembaruan ini, kedudukannya sama di dalam adat dengan keluarga yang kedua orang tuanya sama-sama satu etnis. Aturun-aturan yang terkait dengan Dalihan na tolu dalam hal kepemilikan dan penguasaan lahan, terutama tanah di Tanah Batak antara lain (Bab 3, h.51):

124

a). Warisan. Tanah warisan diberikan orang tua kepada anaknya yang laki-laki, setelah orang tua meninggal, b). Pauseang. Sebidang lahan (khususnya sawah) yang diberikan pihak hula-hula pada anak perempuannya pada saat anak perempuannya tersebut menikah. c).Ulos Nasora Buruk´ (Kain batak yang tidak akan usang). Ungkapan ini dipakai sebagai lahan yang diberikan oleh hula-hula kepada borunya untuk dimiliki dan dikelola. d). Indahan Arian (sumber makanan). Lahan ini diberikan oleh hula-hula kepada borunya dengan dibarengi hak kepemilikan, namun tidak boleh dipindahtangankan kepada pihak lain. e).Panjaean (batu loncatan). Sebidang tanah yang diberikan oleh orang tua, ketika orang tuanya masih hidup, kepada anak laki-laki setelah anak laki-laki tersebut menikah. f). Dondontua. Tanah yang diberikan pada cucu laki-laki tertua dari anak laki-laki tertuanya. g) Upasuhut. Sebidang tanah yang diberikan pada cucu laki-laki tertua dari anak laki-laki bungsu, h).Marga di luar marga pemilik tanah dapat memilki tanah jika mereka telah menikah dengan perempuan dari marga pemilik tanah. Mereka biasanya disebut Sonduk hela. Begitu masyarakat Batak membangun budaya yang berpengaruh pada pola-pola pengusahaan dan pemilikan tanah. Nilai-nilai tersebut berkembang untuk memastikan anak-cucu mereka bisa memenuhi kehidupan mereka, Bagi kehidupan Orang Batak, tanah tidak hanya berfungsi secara sosial saja tapi sekaligus fungsi ekonomis, selain itu tanah bagi masyarakat Batak menjadi simbol dari eksistensi suatu suku. Hal ini tercermin dalam relasi antara masyarakat hukum adat Batak (khususnya sub-suku Batak Toba) terhadap pola pemilikan tanah adat mereka. Adapun norma-norma masyarakat Dayak khususnya Dayak Kanayant di Kalimantan Barat dalam mengelola tanahnya, mereka mempunyai konsep Palasar Palaya (Bab 3, h.57). Palasar Palaya mengatur pemanfaatan dan pengelolaan lahan dan sumber daya alam yang lainnya sesuai dengan fungsinya dengan memperhatikan keseimbangan serta kemampuan daya dukung alam dalam suatu lingkungan komunitas. Pada masyarakat Dayak, pada prinsipnya tanah yang sudah ditinggalkan dapat dimanfaatkan oleh semua orang untuk kegiatan berladang sejauh lahan yang

125

ditinggalkan tersebut tidak ditanami oleh tanaman tahunan seperti karet, buahbuahan yang oleh masyarakat dikenal dengan ´tanam tumbuh´, maka lahan dianggap tanah tak bertuan dan siapapun yang berkeinginan untuk menanaminya dapat menggunakan lahan tersebut. Pola kepemilikan lahan untuk bertani dan berladang di kalangan Masyarakat Sembuluh Kalimantan Tengah ditentukan berdasarkan kegiatan penanaman tanaman tumbuh. Praktik tersebut sudah berlangsung lama dalam masyarakat dan semua penduduk menghormati segala kesepakatan yang berlaku, sehingga masing-masing dapat menjalankan kehidupan mereka. Mengingat pentingnya lahan bagi masyarakat, maka kepemilikan lahan dapat diartikan sebagai wujud keberadaan, penguasaan, status dan juga menunjukan harta yang dimiliki. Oleh karena itu, kehilangan lahan dapat dianggap sebagai ancaman terhadap kelangsungan hidup masyarakat. Pandangan masyarakat Dayak terhadap sungai, tanah dan hutan merupakan bagian yang terpenting dari identitas sebagai seorang Dayak. Pandangan yang sama juga tercermin dalam pola penggunaan tanah masyarakat Dayak dalam ekosistem hutan tempat tinggal mereka. Tanah bukan hanya sebagai sumber daya ekonomi, namun juga merupakan basis untuk kegiatan budaya, sosial, politik dan spiritual (Janis dalam Andasputra, 2001). Bagi masyarakat Dayak ´hak´ tersebut tepatnya berupa ´kewajiban´ karena bila hubungan antara tanah dan yang bersangkutan sempat terhenti dalam satuan waktu tertentu, maka aksesnya terhadap tanah menjadi hilang, meski seringkali bersifat sementara (Bab 3, h.58). Berbeda dengan pola pengelolaan pada masyarakat modern yang didahulukan adalah ´hak´ (misalnya diberi hak untuk mengelola HPH selama 25 tahun), baru kemudian muncul hubungan dengan tanahnya. Hubungan yang terjadi pada visi tradisional, seperti telah disebutkan lebih berupa ´kewajiban´, namun pada dunia modern justru dibelokkan menjadi ´hak´ (Admajaya, 1998). Cara pemindah-tanganan hak atas tanah melalui : (1) Jual-beli (hajual haili), (2) perwarisan, (3) pemberian (panenga), (4) tukar-menukar (tangkiri

126

ramu), (5) gadai (sanda, hasanda) dan (6) perkawinan (petak palaku). Pemindahan hak atas tanah terjadi bilamana seorang keluarga tertentu sangat membutuhkan uang untuk keperluan yang mendesak, seperti biaya sekolah anak di kota, biaya pengobatan, perkawinan, pesta upacara Tiwah, dan lain-lain. Fenomena ini menunjukkan bagaimana masyarakat Dayak membangun harmoni dalam kehidupan mereka bukan saja antar manusia tapi juga dengan alam, mereka dapat bergilir bergantian dalam mengelola dengan tetap menjaga kelestarianya. Dalam konsep kehidupan di Bali mengacu pada istilah Tri Hita Karana, yaitu tiga hal pokok yang menyebabkan kesejahteraan dan kemakmuran hidup manusia (Bab 4, h.80). Konsep ini muncul berkaitan erat dengan keberadaan hidup bermasyarakat di Bali. Berawal dari pola hidup ini muncul dan berkaitan dengan terwujudnya suatu desa adat di Bali. Bukan saja berakibat terwujudnya persekutuan teritorial dan persekutuan hidup atas kepentingan bersama dalam bermasyaraakat, tapi juga merupakan persekutuan dalam kesamaan kepercayaan untuk memuja Tuhan atau Sang Hyang Widhi. Dengan demikian suatu ciri khas desa adat di Bali minimal mempunyai tiga unsur pokok, yakni: wilayah, masyarakat dan tempat suci untuk memuja Tuhan/Sang Hyang Widhi. Perpaduan tiga unsur itu secara harmonis sebagai landasan untuk terciptanya rasa hidup yang nyaman, tenteram dan damai secara lahiriah maupun batiniah. Seperti inilah gambaran kehidupan desa adat di Bali yang berpolakan Tri Hita Karana. Kalau mengkaji norma dan nilai-nilai budaya masyarakat Papua seperti disampaikan Rahman (Bab 3, h.60) masyarakat Adat di Papua tanah dan hutan bagi masyarakat adat Papua bukan saja merupakan sumber kehidupan ekonomi semata, namun juga merupakan sentral kebutuhan spiritual. Konsep kunci dalam tradisi masyarakat adat Papua, bahwa tanah adalah ´ibu´, hingga kini sesungguhnya bagi masyarakat adat Papua, tanah tidak dapat diperjualbelikan. Hak ulayat maupun hak waris pada dasarnya tidak dapat diperjualbelikan, hanya boleh pinjam-pakai (dipinjampakaikan) antara sesama warga yang masih dalam satu rumpun adat (suku). Berdasarkan sistem penguasaan lahan seperti ini,

127

secara informal masyarakat Papua mengakui bahwa seluruh kawasan hutan yang ada di daerah tersebut merupakan hak ulayat kelompok-kelompok masyarakat hukum adat (marga) tertentu, dimana ketentuan-ketentuan penggunaannya di antara anggota marga diatur oleh norma hukum adat yang berlaku di masingmasing marga. Pada Suku Muyu setiap memulai kegiatan bercocok tanam maka masyarakat terlebih dahulu berdoa dan memohon restu kepada Ibu Pertiwi. Mereka meyakini bahwa hari dan angka tujuh adalah hari keberuntungan sehingga di hari tersebut masyarakat Suku Muyu selalu memulai ritual penanaman atau budidaya tanaman di lahan mereka tersebut. Pantangan dalam menebang pohon jenis Merbau yang perawakannya tinggi besar dan berbeda dengan jenis yang sama pada suatu luasan (suku Bugui). Wanita yang dalam keadaan menstruasi tidak diperbolehkan ke kebun, karena diyakini dapat mendatangkan babi yang dapat merusak tanaman (suku Arfak). Kearifan lokal masyarakat adat Papua seperti a). etika dan aturan, b). teknik dan teknologi, c).praktik dan tradisi pengelolaan Hutan/Lahan. Merupakan bukti bahwa pola-pala pengusahaan dan pengelolaan lahan layak menjadi kajian bagaimana model dan pola-pla pengusahaan lahan di Indonesia diadopsi dalam operasionalisasi pembaharuan agraria di Indonesia. Pada masyarakat Penunggu mereka mengangap bahwa tanah bukan semata-mata dianggap sebagai barang produksi dan barang ekonomi semata, melainkan lebih dari itu tanah sebagai tempat ritual, menjaga dan mengelola titipan leluhur dan memperkuat hubungan sosial dan kolektivitas rakyat Penunggu (Bab 4, h.77) . Oleh sebab itu bagi rakyat Penunggu tanah ulayat tidak boleh di perjual belikan. Bentuk kepemilikan tanah ulayat ini adalah kolektif sedangkan bentuk pengelolaannya bersifat individual. Tanah harus dikelola untuk mendapatkan manafaat yang memperkuat ekonomi keluarga. Oleh karena itu bagi anggota yang mengabaikan hak pengelolaan atas tanah adat akan kehilangan hak pengelolaannya termasuk Mustotin (orang asli rakyat Penunggu) untuk dialihkan kepada anggota lain.

128

Pada masyarakat Timor Kepatuhan masyarakat Timor dalam memegang aturan adat yang menjadikan masyarakat Timor tidak mudah berpindah tangan lahan atau menjualnya. Lahan-lahan yang sudah disertifikatkan selalu diwariskan kepada anak keturunanya, ini salah satu norma yang selama ini terus dipertahankan. 4.3.4. Faktor Kepemimpinan dalam Penguasaan, Pemilikan dan

Pengusahaan Lahan Komunal Ada tiga macam kepemimpinan dalam masyarakat Minangkabau yaitu: a). kepemimpinan penghulu, b). kepemimpinan mamak, c).kepemimpinan tungku tigo sajarangan (Tali Tigo Sapilin) terbagi menjadi tiga yaitu Ninik Mamak, Alim Ulama, Cerdik Pandai (Bab 3, h.54). Sedangkan kepemimpinan pada masyarakat Dayak baik itu Dayak Kayaan atau Dayak Bukat. Peran sentral pemimpin adat menyangkut mulai dari urusan tata upacara adat, menjatuhkan hukum adat kepada pelanggar, hingga mengorganisir masyarakat juga memutuskan kapan mulai penanaman padi dilakukan(Bab 3, h.59). Pada Kelembagaan Dayak Mudu dan Dayak Bukit (Sinosis) ada tiga yaitu: organisasi tingkat rumah tangga, organisasi sosial tingkat kampung dan organisasi sosial tingkat desa. Dalam masyarakat adat Dayak dikenal adanya dualisme kepemimpinan (Bab 3, h.60). Di samping ada pemimpin formal, seperti; Camat, Kepala Desa, Kepala Dusun dan RT, juga ada pemimpin non formal yang tersusun mulai dari tingkat RT sampai ke Tingkat Kabupaten, yaitu; 1) Pengurus adat (ketua adat) yang mempunyai kewenangan menyelesaikan masalah adat pada tingkat dusun; 2) Tumenggung; yang mempunyai kewenangan menyelesaikan masalah adat pada tingkat desa; dan 3) Dewan Adat yang mempunyai kewenangan menyelesaikan masalah adat pada tingkat kecamatan. Dalam masyarakat Desa Adat di Bali khususnya di Desa Adat Tenganan Pegringsingan tata pemerintahanya di sebut Krama desa bertugas untuk melakukan upacara, mengelola pemerintahan dan pembangunan desa (Bab 4,

129

h.85). Dipimpin oleh Luanan merupakan tingkat teratas yang terdiri atas 6 pasang sebagai penasehat. Pada masyarakat Papua menurut Mansoben sistem kepemimpinan atas dasar pewarisan merupakan sistem kerajaan (perdagangan di waktu lalu) di Raja Ampat, Fak Fak, Kaimana atau sistem Ondoafi atau Ondofolo di Sentani dan wilayah Kebudayaan Tabi termasuk Genyem yakni Demou Tru merupakan jabatan tertinggi dalam masyarakat Namblong yang hanya diduduki oleh Wai Iram, kadangkala dianggap jabatan kekal. Konsep kepemimpinan adat di Papua adalah tunggal dan otonom, pada umumnya orang atau individu yang menjadi pemimpin biasanya memiliki karisma dalam kepemimpinan, taat dan patuh karena sanksi adatnya tegas dan jelas, berakar dari adat, wilayah serta batas-batas yang jelas, memiliki harta pusaka, serta merasa terikat pada satu kesatuan teritorial adat (Bab 3, h. 51). Pada Suku Mayu di Papua peran kepala suku sangat penting dalam komunitas, kepala suku yang mengkoordinir anggota suku untuk membuka lahan. Selain itu, Suku Muyu memilih tanah berwarna hitam karena mereka meyakini tanah tersebut subur dan cocok untuk semua jenis tanaman: pisang (jum), jemen andu (keladi), kombili (wan), ubi jalar (bonding), sayur-sayuran, dan lain-lain. Kepala suku yang menjadi penengah ketika terjadi konflik di masyarakat. Masyarakat Adat Penunggu dipimpin oleh seorang Petua Adat. Petua Adat Berfungsi atau bertugas sebagai pemangku adat dalam satu kampung, petua adat juga menjadi utusan atau perwakilan anggota-anggota rakyat Penunggu dalam hubungan eksternal dan menentukan kebijakan terhadap pengelolaan tanah ulayat yang diawali oleh hasil musyawarah dan mufakat anggota (Bab 4, h.81). Pimpinan Kampong atau Ketua Kampong bertugas untuk mengatur anggotaanggota yang melakukan pengelolaan atas tanah ulayat yang di kuasai. Ketua Kampong juga, mengurus internal dengan membantu petua adat secara ekternal tertutama dalam melakukan proses-proses advokasi, lobby dan negosiasi dalam perjuangan merebut tanah ulayat.

130

Masyarakat Timor di setiap Adat dipimpin oleh Raja (Bab 4, h.93). Raja disebut Liurai. Pada lahan-lahan yang belum dikelola atau masih kosong itu menjadi otoritas adat, sehingga siapapun yang akan mengunakan lahan tersebut harus seijin Petua Adat atau kepala suku. Misalnya kawasan yang akan dikelola sumber daya alamnya pemerintah harus berkoordinasi dengan Kepala Suku yang secara adat menguasai lahan tersebut. Keputusan tentang pengelolaan lahan tersebut di bawah otoritas ketua adat sepenuhnya. Semua anggota-anggota suku tetap percaya pada ketua adat, struktur adat yang ada di Timor adalah suku besar yang dipimpin oleh ketua adat atau Nai. Nai ini memiliki wakil yaitu kepala sukukepala suku. Dengan perwakilan di wilayah ini Nai bersama pemerintah mendiskusikan tentang pengelolaan dan pemanfaatan lahan komunal yang akan digunakan oleh pemerintah. Pembangunan untuk fasilitas publik seperti jalan raya, sekolah, tempat peribadatan (gereja). Keputusan kepala suku mengikat karena hirarkinya top-down dalam masyarakat Adat Timor. 4.3.5. Wilayah, Tata batas dan Model Penyelesaian Konfik Wilayah dan tata-batas dan pengunaan lahan pada masyarakat Nagari di Minangkabau membaginya menjadi tiga antara lain: (1) Bauduah, suatu perajahan dimana setiap wilayah di bawah penguasaan suku baik berupa bentangan punggung yang di atasnya tumbuh pohon produktif maupun aliran air sungai yang bertaburan ikan selain dibangun batas fisik antar kaum dan juga batas bathin (internal power) selain itu, (2) Balega (bergilir), setiap warga kaum dapat memanfaatkan hasil sumber alam, menggarap tanah dimaksud secara bergilir sesuai dengan kesepakatan bersama kaum. Perubahan kesepakatan dimaksud dapat dilakukan jika telah dibangun suatu kesepakatan baru berikutnya. Kemudian, (3) Pagang-Gadai- Susuik merupakan kesepakatan baru berikutnya dalam pemanfaatan sumber alam, yang secara budaya boleh dilakukan dengan cara menyewakan kepada anggota kaum lain sampai beberapa langkah yang masih satu suku selama jangka waktu tertentu dengan perjanjian tertentu pula (Bab 3, h.53).. Dalam perspektif budaya, masyarakat Nagari pada daerah Minangkabau mempunyai hukum lokal yang diperoleh dari pemahaman bahwa model perajahan

131

merupakan hukum yang hidup (living law) berkenaan dengan cara membangun batas-batas non fisik. Selain itu, model penyelesaian lewat kesepakatan antar Mamak di suatu tempat yang disebut Surau merupakan kebiasaan yang telah melembaga. Ini menunjukkan bahwa hukum negara tidak dijadikan sebagai rujukan, bahkan dihindari (avoidance), untuk menyelesaikan persoalan konflik antar kaum berbeda suku, namun diselesaikan lewat saluran budaya masyarakat tempatan. Dalam konsep lokal, keamanan tanah tidak diukur dengan selembar kertas yang disebut sertifikat, tetapi riwayat penggarapan tanah secara turun temurun, pengakuan tokoh- tokoh adat, dan kesaksian orang lain menjadi faktor penentu. Dengan demikian, masyarakat merasa tidak perlu menyertifikatkan tanahnya yang diperoleh dari warisan, mereka hanya menyertifikatkan tanah-tanah yang dibeli dari pihak lain. Dalam pandangan tanah yang disertifikatkan berarti liar karena akan berakibat bahwa hak atas tanah dimaksud akan berpindah-pindah dan dapat digunakan secara bebas oleh orang yang namanya tercantum dalam sertikfat tersebut sehingga sulit dikontrol. Artinya terdapat pandangan bahwa setiap bidang tanah yang disertifikatkan dianggap sebagai sebagai tanah ´liar´ dengan alasan tanah yang sudah disertifikatkan akan menjadi bebas bagi orang yang namanya tercantum di atas lembar sertifikat untuk dijual, disewa, digadai, dijadikan jaminan bank dan sejenisnya (Bab 3, h.53). Untuk masyarakat Batak yang tinggal di daerah tangkapan air, seperti Danau Toba masyarakat di sana hanya menggunakan pohon sebagai tata batas lahan dan jarang diusahakan secara komersial. Sama halnya dengan masyarakat Dayak Ribun di Kalimantan memiliki kebiasaan memberi tanda dengan cara tanda alam sebagai batas yang memisahkan dengan tanah milik orang lain, misalnya bambu, bersamaan dengan proses penghutanan kembali secara alamiah bekas ladangnya, maka tanda-tanda alam yang menjadi batas pemilikan tanah menjadi berubah sulit dikenali, bahkan seringkali telah hilang (Bab 3, h.59). Pohon bambu sebagai batas, dalam beberapa tahun telah menjadi rumpun bambu yang meluas sehingga titik batas semula sulit ditemukan.

132

Pada masyarakat Dayak sengketa lazimnya diselesaikan secara adat atau melalui jalur hukum nasional yang berlaku. Meskipun demikian, nampaknya cara adat masih lebih diutamakan. Kasus apapun yang terjadi di dalam masyarakat, walaupun sengketa tersebut sudah berada dalam penanganan polisi atau camat, jika para pihak yang terlibat sengketa ingin menyelesaikannya secara adat, maka ini menjadi kewenangan Demang. Artinya, kalau suatu kasus yang sudah ditangani oleh polisi dicabut oleh para pihak yang terlibat perkara karena kasusnya ingin diselesaikan secara adat, kasus tersebut kemudian diserahkan oleh polisi kepada Demang untuk diselesaikan secara adat. Membahas pola kepemilikan tanah di Papua tidak dapat dipisahkan dari keberadaan masyarakat Papua, karena bagi masyarakat Papua sejengkal tanah itu tanah milik adat. Secara detail terdapat tujuh wilayah adat di Papua daerah daerah antara lain, wilayah adat 1 (Mamta) meliputi Port Numbay, Sentani, Genyem, Depapre, Demta, Sarmi, Bonggo, Mamberamo. Wilayah adat 2 (Saireri) yakni Biak Numfor, Supiori, Yapen, Waropen, Nabire bagian pantai. Wilayah adat 3 (Domberay) antara lain Manokwari, Bintuni, Babo, Wondama, Wasi, Sorong, Raja Ampat, Teminabuan, Inawantan, Ayamaru,Aifat,Aitinyo.Wilayah adat 4 kawasan Bomberay meliputi Fakfak, Kaimana,Kokonao dan Mimika. Wilayah adat 5 kawasan Anim meliputi Merauke, Digoel, Muyu, Asmat dan Mandobo. Wilayah adat 6 kawasan Me Pago antara lain Pegunungan Bintang, Wamena, Tiom, Kurima, Oksibil, Okbibab. Wilayah adat 7 kawasan La Pago antara lain, Puncak Jaya, Tolikara, Paniai, Nabire pedalaman (Bab 3, h.53). Seperti realitas sosial di mana saja bahwa konflik selalu menjadi bagian hidup dari kehidupan manusia. Perselisihan juga menjadi bagian hidup dari sukusuku di Papua. Konflik tanah seringkali menyebabkan perang antar suku ketika masing-masing suku tidak dapat menyepakati batas wilayah adat mereka (Bab 4, h.100). Meski demikian, sengketa tata batas antar suku selalu diawali dengan musyawarah yang menghadirkan Tetua-Tetua dan tokoh adat yang memahami permasalahan tata batas, baru setelah tidak ada kesepakatan perang suku tersebut terjadi. Perang antar suku biasanya baru selesai setelah ada pihak yang kalah dan mengakui wilayah yang menjadi konfik menjadi wilayah suku yang menang.

133

Dalam masyarakat Desa Adat Bali khususnya di desa Tanganan, tanah dan luas tanah di Desa Adat Tenganan Pegringsingan adalah tetap, hal ini juga berlaku untuk luas dan letak tanah berdasarkan penggunaannya. Adanya awig-awig yang mengatur semuanya, maka tanah desa tidak akan mengalami perubahan (Bab 4, h.85). Yang mungkin terjadi perubahan adalah tanah hak milik, itu pun hanya sebatas pergeseran kepemilikan diantara sesama warga adat. Di sini menunjukkan bahwa hampir tidak pernah terjadi konflik tentang tata batas pada wilayah desa Adat. Keteguhan dan konsistensi masyarakat Bali dalam memegang nilai-nilai leluhur termasuk menjaga warisan yang sudah diwariskan oleh leluhur mereka, menjadikan urusan distribusi lahan dapat dikelola dengan baik. Ini dapat dibuktikan dengan luas lahan Desa Adat tidak terjadi perubahan meski sudah ratusan tahun. Dalam mengelola tata batas masyarakat Adat Penunggu selalu mengacu pada luas wilayah adat yang dimiliki secara komunal dan setiap komunitas tahu batas-batas tanah adatnya untuk pengelolaan ini diatur oleh pimpinan atau Petua Adat (Bab 4, h.81). Berapa jumlah areal tanah ulayat yang dikuasai kemudian akan dibagi dengan jumlah warga adat yang siap mengelola dengan baik dan produktif. Dalam menentukan tata batas diatur melalui musyarawah adat dan diselesaikan dengan mengacu pada hukum adat. Sementara kalau ada konflik tata batas menyelesaikannya mengacu pada AD/ART organisasi, jika ada masalah yang belum diatur terkait dengan tata batas dan pengelolaannya maka ini akan diputuskan lewat kebijakan-kebijakan Petua Adat dan pimpinan organisasi. Pada masyarakat Timor batas wilayah milik komunal dan individu masih menggunakan tanda alam seperti batu besar, sungai, dan pohon. Masyarakat Timor belum mendokumentasikan tata batas wilayah baik komunal maupun individu, dalam bentuk peta yang tergambar atau pun tertulis. Di sini tugas NaiNai tersebut mengenali dan mengidentifikasi batas-batas kepemilikan, meski demikian permasalahan perbatasan jarang terjadi konflik (Bab 4, h.94). Apabila terjadi konflik, tata batas biasanya diselesaiakan dengan rapat adat atau dibilang omongan-omongan sirih pinang. Apabila kepala suku memutuskan sebuah konflik tata batas biasanya masyarakat menerima dan menjunjung tinggi

134

keputusan tersebut. Kalau sudah tidak dapat didamaikan dalam adat, baru permasalahan ini dibawa ke pengadilan tapi ini jarang sekali terjadi untuk di wilayah Timor.

4.3.6. Relasi sosial (gotong-royong) Pada masyarakat Nagari di Minangkabau dalam konteks ekonomi, potensi lokal dapat mempertinggi dan menjaga tingkat kesejahteraan dengan cara membagi hasil sumber alam secara ¶merata¶ sesuai kehendak alam. Antara kaum satu dan yang lain dalam menerima apa yang diterima dipandang sebagai kehendak alam diyakini sebagai perwujudan Alam Takambang Jadi Guru (Bab 3, h.55). Dengan keyakinan tersebut, mereka tidak mengeluh, konflik, apalagi sengketa. Praktik demikian, secara politis, dapat menunjukkan kepada komunitas luar bahwa warga komunitasnya mampu mempraktikkan bagaimana ideologi komunal diterapkan secara benar dan dapat mempertemukan serta menyelaraskan berbagai kepentingan yang berbeda. Pada masyarakat Dayak Kalimantan model atau sistem penguasaan tanah secara tradisional di desa-desa meminimalkan konflik penguasaan lahan (Bab 3, h.58). Sistem itu justru menjamin terpeliharanya integrasi sosial tingkat lokal. Pada umumnya lahan yang sudah tidak dikelola serta tidak ditanami oleh tanam tumbuh dan telah ditinggalkan oleh penggarap sebelumnya, akan dapat dikelola atau dimanfaatkan oleh orang lain. Pada Masyarakat Papua khususnya suku Muyu dalam proses pengerjaan pembukaan lahan masyarakat Suku Muyu mengundang warga dan kerabat untuk meminta izin akan membuka lahan dengan membaca mantera yang dibaca dalam hati. Ini bukan hanya untuk membangun relasi dengan alam tapi juga menjaga dan membangun silaturahmi antar warga suku. Pemanenan dilakukan oleh warga kampung sementara pemilik hanya mengawasi saja. Hasil-hasil panen dikumpulkan dan tidak boleh dilangkahi atau diinjak, karena dia yang menghidupi, diangkut dengan baik ke rumah masingmasing, dijunjung atau dijinjing oleh mama-mama, bukan kaum laki-laki. Karena keladi dan kombili dalam adat mereka tinggi derajatnya maka hasil panen 135

tanaman tersebut lebih dahulu dibawa pulang dari pada sagu dan umbi-umbian lainnya. Keladi dan kombili dianggap suci sehingga tidak boleh dijual, hanya dibagi-bagi kepada warga Suku Muyu, menjualnya sama dengan hina, sebelum dikonsumsi masyarakat harus memanjatkan do¶a atas berkah dari hasil panen tersebut. Masyarakat Adat Penunggu yang memperoleh lahannya melalui perjuangan dalam membangun dan menata kehidupan sosial komunal. Normanorma yang tertulis masyarakat Adat Penunggu juga memiliki norma-norma yang lain yang mereka junjung tinggi dan dipraktikkkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya selain iuran wajib masyarakat yang mempunyai hasil tani yang berlebih, lewat organisasi memberikan bantuan pada masyarakat dalam komunitas mereka yang sedang gagal panen. Hal ini dilakukan supaya tidak ada kesenjangan sosial dan menjalin silaturahmi diantara masyarakat. Pola gotong-royang dan relasi sosial di Bali, seperti pemaparan di atas bahwa dalam budaya atau adat Bali sangat sulit membedakan, mana adat dan mana agama. Kita melihat kesatuan kultur masyarakat yang lengkap, dimana dimensi adat dan agama menyatu. Mungkin berlebihan kalau dalam Desa Adat merupakan sistem yang sempurna, mulai dari pengaturan air yang dikelola dengan sistem Subak, upacara adat dilakukan secara gotong-royong dan pembagian lahan Desa Adat untuk anggota adat, menjadikan potret desa-desa adat di Bali menarik sebagai sebuah kajian sekaligus referensi yang hidup bagaimana negara mendistribusi lahan tanpa takut tertinggal dengan arus modernisasi. Masyarakat Timor dalam pengelolaan lahannya dilakukan secara kelompok atau dilakukan dengan gotong-royong. Kegiatan gotong-royong bukan hanya waktu mengelola lahan saja pada waktu panen, misalnya panen pertama itu hasilnya dibawa ke rumah besar. Setelah Petua Adat menikmati hasil panen itu seluruh masyarakat boleh menikmati hasilnya. 4.3.7. Batas Wilayah Komunal dan Permasalahnnya Batas wilayah pada masyarakat komunal saat ini memang belum ada data yang otentik menyajikan informasi tersebut. Pendekatan pemetaan partisipatif

136

diyakini dapat memfasilitasi masyarakat komunal untuk mengenal dan mendokumentasikan wilayah komunal mereka. Minimnya informasi tentang batas wilayah komunal ini juga karena perbedaan wilayah administrasi(baik desa, kecamatan, kabupaten maupun propinsi) dengan wilayah komunal, bahkan di wilayah tertentu adat mereka juga masuk dalam wilayah negara lain. Wilayah administrasi komunal berbeda dengan wilayah administrasi tata pemerintah baik itu pada tingkat desa, kecamatan, kabupaten maupun propinsi. Beberapa wilayah suku Dayak, misalnya ada wilayah komunalnya di wilayah negara lain seperti Malaysia. Menurut wawancara dengan salah seorang pegiat sumber daya alam regional, pada masyarakat Dayak di Kalimantan seringkali wilayah komunalnya berada pada wilayah administrasi pemerintahan yang berbeda. Hal ini seringkali menimbulkan perbedaan pendapat diantara masyarakat komunal dengan pemerintah. Dalam penentuan tata batas tidak hanya didasarkan pada tanda-tanda alam tapi juga lebih dari itu, misalnya pada suku Dayak dalam menentukan batas wilayah ini ditujukan untuk membangun kebersamaan (sense of

community) sekaligus untuk menjamin rasa aman (physical safety) dan lahan untuk mewadahi kegiatan bersama dalam mengusahakan kesejahteraan (material well-being). Di lain pihak, pengakuan akan eksistensi sub-suku lain yang juga dihormati haknya untuk hidup berdampingan secara damai. Masyarakat Suku Dani juga begitu, penghormatan terhadap wilayah adat suku lain bukan hanya dilihat dari batas-batas fisik tapi juga batas spiritual dimana suku lain yang mengakses, mengambil atau mengusahakan wilayah yang bukan wilayah sukunya diyakini akan berdampak pada kehidupan mereka. Ini menunjukan betapa kearifan budaya mereka begitu luhur dalam menghormati batas-batas wilayah suku mereka. Keterbatasan data dan informasi terhadap kepemilikan lahan komunal ini berdampak pada status kepemilikan tanah komunal belum dapat dibuktikan dengan dokumen seperti surat sertifikasi tanah oleh negara. Hal ini dikarenakan data dan informasi yang ada hanya bersumber dari silsilah sejarah keberadaan komunitas marga atau suku yang memiliki suatu wilayah, serta hanya didasarkan

137

pada batas-batas alam, yang seringkali tidak terdokumentasi dengan baik. Meski demikian, hal ini semestinya tidak dijadikan alasan bagi perancang, perencana dan pelaksana landreform untuk tidak mengakomodir pengakuan hak bagi

masyarakat-masyarakat komunal. Tidak dapat dipungkiri bahwa permasalahan tata batas yang belum terdokumentasi dengan baik hanya menjadi permasalahan masyarakat komunal saja, tapi juga menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dimana batas-batas dari pengelolaan agraria dalam berbagai fungsinya juga belum selesai. b. Pilihan Kebijakan Landreform Pada Pola Kepemilikan Tanah Komunal di Indonesia. Peran negara dalam pengelolaan sumber daya agraria sesuai Undangundang Dasar 1945 dan hal-hal sebagai yang dimaksud dalam pasal 1, bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya itu pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh negara, sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat. Hak menguasai dari negara dimaksud dalam ayat (1) pasal ini memberi wewenang kepada negara untuk: d. mengatur dan menyelenggarakan peruntukkan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa tersebut; e. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan bumi, air dan ruang angkasa, f. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air dan ruang angkasa. Makna ´dikuasai oleh negara´ di dalam UUD 1945 Pasal 33 ayat (3) dijelaskan oleh Pasal 2 UUPA, sebagai ´Hak Menguasai Negara´, yang sesuai dengan penjelasan Umum UUPA, istilah ´dikuasai´ dalam pasal ini tidak berarti ´dimiliki´, akan tetapi adalah pengertian, yang memberi wewenang kepada negara, sebagai organisasi kekuasaan dari bangsa Indonesia itu. Dalam konteks penyusunan kebijakan pengelolaan sumber daya agraria, pemahaman tersebut harus sangat dipahami sehingga peran negara tidak sebatas menjaga kawasan sesuai dengan kewewenangan yang dimilikinya, tapi mampu

138

memfasilitasi masyarakat agar dalam memanfaatkan dan mengelola lahan sumber daya agraria lebih optimal. 5.2.1. Membangun Model Landreform di Indonesia. Dari penelusuran data dan wawancara serta mengacu pada UUPA 1960 maka didapat gambaran awal pola landreform di Indonesia. Kesuksesan program pembaharuan agraria dalam konteks landreform, salah satunya adalah pola dari pelaksanaan landreform dan pilihan-pilihan operasionalisasinya. Kalau di kelompokkan, maka ada 3 pola yang dapat dikembangkan yaitu: a. Komunal b. Individual c. Campuran/modifikasi antara Komunal dan Individual Pada pilihan kebijakan kepemilikan, penguasaan, pengusahaan maupun pengelolaan komunal dapat di kelompokan menjadi dua pilihan antara lain: a. Komunal Murni. Komunal murni ini dapat diterapkan pada sumber daya agraria yang dapat dimanfaatkan bersama dan atau yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak seperti hutan dan danau. Jika kawasan komunal ini berfungsi sebagai kawasan perlindungan alam dan pemanfaatan dibolehkan asal sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi alam, maka peran negara dalam memantau akses dan melindungi kawasan menjadi dominan. Misal pada kawasan taman nasional dan hutan lindung. b. Komunal yang didalamnya ada individu. Pada pola ini khususnya dapat diterapkan pada usaha tani di mana kepemilikan dipegang oleh komunal atau komunitas sementara pengelolaannya diserahkan pada individu dalam sebuah keluarga, dengan didasarkan pada kesepakatan dan norma-norma yang berlaku pada masyarakat komunal.

139

4.3.8. Pengelolaan Lahan Komunal yang Sesuai dengan Karateristik Masyarakat Indonesia, dalam Kerangka Optimalisasi Lahan. Pengalaman sejarah memberi pelajaran bahwa suatu pembaruan agraria yang hanya berhenti pada masalah distribusi maupun redistribusi tanah, ternyata menyebabkan produktivitas tanahnya cenderung menurun untuk beberapa tahun. Hal ini disebabkan karena infrastruktur yang menunjang pembaruan itu semula belum dipikirkan sejak awal (Bab 2, h.29). Oleh karena itu, hal ini disadari bahwa program-program penunjang itu harus menjadi satu paket dengan program pembaruan secara keseluruhan, termasuk di dalamnya program-program pasca landreform (antara lain: perkreditan, penyuluhan, pendidikan dan latihan, teknologi, pemasaran, dan lain-lain). Jadi, ³landreform´ plus program-program penyiapan berbagai infrastruktur itulah yang kemudian diberi istilah dalam bahasa Inggris Agrarian Reform. Negara pertama yang berusaha menerapkan pembaruan agraria dengan paket lengkap seperti itu adalah Bulgaria yaitu pada tahun 1880-an (King, 1977:34). Pendapat yang ada dalam Napiri M, (Bab 2, h.31), menyampaikan ada 5 (lima) tujuan utama yang hendak dicapai dari program landreform plus yang akan dilaksanakan pemerintah melalui pelaksanaan Program Pembaruan Agraria Nasional (PPAN) dengan komponen asset reform, access reform yang kemudian diistilahkan dengan ³Landreform Plus´, yaitu: 1) Menata kembali struktur penguasaan, pemilikan, pemanfaatan dan

penggunaan tanah dan kekayaan alam lainnya sehingga menjadi lebih berkeadilan sosial, 2) Meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, khususnya kaum tani dan rakyat miskin di pedesaan, 3) Mengatasi pengangguran dengan membuka kesempatan kerja baru di bidang pertanian dan ekonomi pedesaan, 4) Membuka akses bagi rakyat terhadap sumber-sumber ekonomi dan politik, dan 5) Mewujudkan mekanisme sistematis dan efektif untuk mengatasi sengketa dan konflik agraria.

140

Selain lima tujuan di atas, pemerintah juga menyatakan bahwa pelaksanaan PPAN diharapkan juga dapat mewujudkan ketahanan pangan dan energi, serta dapat memperbaiki dan menjaga kelestarian dan keberlanjutan lingkungan. Menurut wawancara dengan pegiat pembaharuan agraria nasional, program pembaharuan agraria khususnya landreform di Indonesia dari sisi produktivitas tanah pasca landreform, dalam rumus kepala BPN bahwa reforma agraria itu sama dengan landreform + akses reform (Bab 4, h.106). Ketika penataan strutur tanah sudah selesai ketika petani dipastikan punya tanah dan kita berharap pemilikan, penguasaan dan pemilikan tanah ini secara kolektif atau secara bersama misalnya untuk menghindari jual beli atau lepasnya tanah dari rakyat miskin atau menghindari dari spekulasi komoditisasi atau komersialisasi tanah. Landreform dapat selesai, tapi reforma agraria belum selesai. Hal ini dapat terjadi karena tanah yang sudah didistribusikan/redistribusikan kepada masyarakat itu belum tentu atau tidak secara langsung meningkatkan kesejahteraan rakyat yang menerima tanah, belum tentu dan tidak otomatis. Oleh karena itu, diperlukan sejumlah input istilah Wiradi (guru besar Agraria IPB), berupa input-input pasca landreform berupa sarana dan prasarana pendukung terhadap tanah. Pendapat pegiat pembaharuan agraria nasional, mengatakan model pengelolaan lahan komunal yang sesuai dengan karateristik masyarakat Indonesia, dalam kerangka optimalisasi lahan dan beberapa contoh input-input yang mendukung landreform, idealnya program landreform itu merupakan satu program yang tidak hanya pembagian lahan. Banyak dimensi yang harus medukung kebijakan ini misalnya kebijakan pemerintah terkait dengan akses pasar dan perlindungan produk-produk pertanian, ketersediaan fasilitas yang mendukung dalam usaha pertanian seperti teknologi, dan fasilitas pendukungnya (Bab 4, h.84). Sementara itu, permasalahan-permasalahan pupuk dan dan faktorfaktor produksi yang lain terus diupayakan melalui pengetahuan-pengetahuan yang berkembang di masyarakat yang terus digali dan diakui keberadaannya. Seperti perlindungan produk-produk bibit unggul yang ditemukan atau dimiliki petani dan semacamnya.

141

Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa sebenarnya pendekatan komunal ini kalau bicara produktif, tentu sangat produktif. Dalam usaha-usaha pertanian modern yang biasanya dilakukan oleh sektor swasta juga sangat efektif. Sekarang tinggal bagaimana landreform dibangun dengan pendekatan-pendekatan yang lebih komprehensif atau menyeluruh atau bagaimana hulu-hilir ini dapat bertemu sehingga tujuan akhir dari landreform, bahwa tanah untuk keadilan dan kesejahteraan itu akan terwujud. Ketakutan-ketakutan bahwa masyarakat adat yang masih subsisten tidak perlu lagi, karena telah ada kesempatan komunitaskomunitas masyarakat untuk dapat ikut mengelola secara kolektif, dan hal ini justru lebih efektif dalam pengelolaan lahan. Pendapat serupa juga disampaikan oleh penggiat masyarakat adat nusantara, bahwa salah satu nilai budaya yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia adalah kegotong-royongan, fakta itu dapat dibuktikan dalam berbagai tradisi dan budaya masyarakat di berbagai pulau di Indonesia. Ia menegaskan lagi bahwa, sesuatu yang khas dan jarang dimilki oleh komunitas masyarakat di negara lain adalah kehidupan sosial bersama pada masyarakat Indonesia. Gotong-royong tidak hanya dikenal pada masyarakat Jawa, di Bali misalnya pengelolaan lahan dilakukan secara bersama-sama, bahkan masyarakat Dayak di pedalaman Kalimantan dalam pengelolaan lahan dilakukan secara bersama-sama, mereka juga tinggal secara bersama di rumah Betang. Masyarakat di pulau Papua juga hidup berkelompok.

142

BAB 6 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

6.1. Kesimpulan Dari kajian literatur dan wawancara yang telah dilakukan, maka penelitian ini menyimpulkan beberapa poin penting yang sangat mendasar kenapa pembangunan ekonomi di Indonesia seperti tidak tahu arah, proses pembangunan berjalan tetapi transformasi sosial untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat tidak terjadi. Hal ini dikarenakan persoalan

pembaharuan agraria dengan perangkat kebijakannya yang dikenal dengan UUPA 1960 tidak dijalankan dalam operasionalisasinya. Saat ini tingkat kemiskinan di Indonesia masih tinggi, peluangpeluang untuk menciptakan lapangan kerja rendah dan akhirnya jadi masalah yang tak pernah berakhir dan terselesaikan secara tuntas. Salah satu akar masalah kemiskinan yaitu akses dalam pengelolaan sumber daya agraria, khususnya tanah tidak diberikan keleluasaan yang besar kepada rakyat untuk diolah, dikelola dan diusahakan demi mencukupi kehidupannya. Sementara kebijakan-kebijakan yang dijalankan sekarang ini dalam upaya

menyelesaikan permasalahan kemiskinan, hanya terbatas pada penanganan dampak-dampak dari kemiskinan, bukan pada akar masalah dari kemiskinan, bahkan bukannya mencari penyebab kemiskinan itu sendiri, tapi malah menggusur, mengusir dan menyingkirkan orang-orang miskin yang memang sudah tak berdaya. Hal tersebut disebabkan adanya distorsi pemahaman hak negara untuk menguasai seluruh kekayaan alam Indonesia yang bersumber dari pasal 33 ayat 3 UUD 1945. Hak menguasai dari negara tersebut bukan hak pemilikan dari negara, seperti asas domain, tetapi sama dengan hak ulayat dalam hukum adat. Dalam kaitanya dengan itu, negara diberi wewenang untuk mengatur antara lain kekayaan untuk menyejahterakan rakyat, antara lain dengan mengatur peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan bumi, air, serta ruang angkasa (lihat pasal 2 UUPA).

143

Konflik agraria di Indonesia berpotensi menjadi masalah sosial yang laten, bergejolak sporadis dan sulit untuk diselesaikan dengan tuntas, akibat ketimpangan akses masyarakat dalam penguasaan dan pengusahaan tanah. Ketidakjelasan status kepemilikan dan pengusahaan tanah menjadikan masyarakat mempunyai posisi tawar yang lemah (powerlessness) baik di hadapan negara maupun sektor swasta. Hal tersebut yang mendasari kenapa pelaksanaan program pembaruan agraria menjadi agenda yang mendesak untuk segera dilaksanakan. Pembaharuan agraria sebagai fondasi pembangunan yang dimaksud adalah pembaharuan agraria selain sebagai cara mendistribusi sumber daya agraria secara adil, juga memberikan kepastian hukum bagi berbagai pihak terhadap kepemilikan, pengelolaan dan penggunaan sumber daya agraria. Pembaharuan agraria itu didefinisikan sebagai upaya untuk meletakkan dasar bagi pembangunan nasional yang lebih lanjut. Pembaharuan agraria juga dasar atau fondasi bagi dijalankannya pembangunan nasional, termasuk didalamnya industrialisasi nasional dimana peran masyarakat dominan. Sementara, kejelasan status kepemilikan, penguasaan, dan pengusahaan lahan merupakan bagian dari jaminan kepastian investasi bagi sektor swasta dan bagi masyarakat ada kepastian hak sehingga mereka tidak tergusur oleh sebuah proses pembangunan. Dalam konteks operasionalisasinya seluruh kebijakan Pembaharuan Agraria khususnya landreform, seharusnya memiliki koneksitas yang kuat antara model yang dirancang dengan kondisi sosial ekonomi, politik dan budaya yang ada di dalam masyarakat. Tanpa ada koneksi itu, tanpa melihat keragaman sosial, ekonomi, politik dan budaya, maka dapat dipastikan bahwa program itu akan gagal atau tidak sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Ada empat faktor yang dapat menjadi bahan pertimbangan penting yaitu adanya ³Kemauan politik´ dari pemerintah, adanya Organisasi Rakyat, khususnya organisasi tani yang kuat dan pro-reform, adanya data mengenai keagrariaan yang lengkap dan teliti, dan kondisi elit penguasa yang terpisah dari elit bisnis (Aparat birokrasi, bersih, jujur dan ³mengerti´). Faktor lain yang juga

144

menentukan kesuksesan program pembaharuan agraria dalam konteks land reform adalah desain dari pelaksanaan landreform dan pilihan-pilihan operasionalisasinya. Jika dikelompokkan setidaknya ada 3 pola yang dapat di kembangkan yaitu: (a). Komunal, (b). Individual, (c). Campuran/modifikasi antara Komunal dan Individual. Pada pilihan kebijakan kepemilikan, penguasaan, pengusahaan maupun pengelolaan komunal dapat di kelompokan menjadi dua pilihan antara lain: c. Komunal Murni. Komunal murni ini dapat diterapkan pada sumber daya agraria yang dapat dimanfaatkan bersama dan atau yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak seperti hutan dan danau. Jika kawasan komunal ini berfungsi sebagai kawasan perlindungan alam dan pemanfaatan dibolehkan asal sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi alam, maka peran negara dalam memantau akses dan melindungi kawasan menjadi dominan. Misal pada kawasan taman nasional dan hutan lindung. d. Komunal yang didalamnya ada individu. Pada pola ini khususnya dapat diterapkan pada usaha tani di mana kepemilikan dipegang oleh komunal atau komunitas sementara pengelolaannya diserahkan pada individu dalam sebuah keluarga, dengan didasarkan pada kesepakatan dan norma-norma yang berlaku pada masyarakat komunal.

Model kepemilikan komunal yang didesain idealnya mampu memformulasikan dan mewadahi kepentingan berbagai sektor dan para pemangku kepentingan (stakeholder) sehingga model idealnya harus: a. Adaptif pada kepentingan masyarakat komunal (Adat) b. Adaptif pada proses pembangunan c. Adaptif terhadap individu-individu yang ingin mengukuhkan

kepemilikan secara komunal.

145

d. Adaptif terhadap perkembangan sektor swasta Minimnya data yang dapat menyediakan informasi terhadap kepemilikan lahan komunal ini berdampak pada status kepemilikan tanah komunal tidak dapat dibuktikan dengan materi empiris baik berupa berkasberkas dokumen seperti surat sertifikat tanah oleh Negara. Hal ini disebabkan, informasi yang menyajikan kebutuhan data tersebut hanya bersumber dari silsilah sejarah keberadaan komunitas marga atau suku yang memiliki suatu wilayah dan hanya didasarkan pada batas-batas alam, yang seringkali tidak terdokumentasi dengan baik. Meski demikian, hal ini semestinya tidak dijadikan alasan bagi perancang, perencana dan pelaksana landreform untuk tidak mengakomodir pengakuan hak bagi masyarakat-masyarakat komunal. Tidak dapat dipungkiri bahwa permasalahan tata batas yang belum terdokumentasi dengan baik bukan hanya menjadi permasalahan masyarakat komunal saja, tapi juga menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dimana batas-batas dari pengelolaan agraria dalam berbagai fungsinya juga belum selesai. Hal tersebut yang mendasari perlu adanya pengakuan keberadaan dan wilayah teritori dari masyarakat, komunal/adat (recognize) karena jauh sebelum negara ini ada dan berbagai kebijakan pemerintah melalui undangundang, masyarakat sudah tinggal di suatu kawasan secara turun-temurun. Selain itu, mereka juga telah mempunyai seluruh perangkat yang mengatur pengelolaan sumber daya agraria yang mereka miliki. Meski demikian kebijakan pengakuan terhadap bentuk-bentuk kelola masyarakat khususnya pada sitem komunal akan sulit terjadi jika tidak ada payung hukum yang melindungi sistem ini. Undang-undang Dasar 1945 amendment IV pada pasal 18B butir 2 menjelaskan : Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang. Sementara pasal 28C butir 2 Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam

146

memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya. Sementara dalam UUPA 1960 pada pasal 3 UUPA hanya mencantumkan redaksi ´dengan mengingat ketentuan-ketentuan dalam pasal 1 dan 2 pelaksanaan hak ulayat dan hak-hak yang serupa itu dari masyarakat-masyarakat hukum adat, sepanjang menurut kenyataan masih ada, harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan Negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan Undang-undang dan peraturan lain yang lebih tinggi´ ini yang sampai sekarang masih menjadi perdebatan dan selayaknya UUPA dapat memperjelas maksud dari UUD 1945 khususnya amendment IV pada pasal 18B butir 2. Seperti disampaikan oleh PBB dalam The Human Development

Report 1996 bahwa buah dari pembangunan justru menghasilkan: Job-less growth, Ruth-less growth, Root-less growth, Voice-less growth, Future-less growth. Berdasarkan hal tersebut maka pembaharuan agraria khusunya landreform harus dapat menjawab semua persoalan di atas, sehingga pola kepemilikan komunal yang berbasis adat dantradisi kearifan lokal, hendaknya terus diupayakan untuk dilindungi dan dikembangkan kualitasnya guna mewujudkan pembangunan yang ber sosial.

6.2. Rekomendasi Dari temuan lapangan, pembahasan dan berdasarkan pada kajian pustaka yang dilakukan maka, penelitian ini merekomendasikan beberapa poin terkait dengan pilihan kebijakan landreform pada pola komunal antara lain : 1. Keanekaragaman pola pengelolaan tanah di Indonesia khususnya pada pola-pola komunal menjadikan tidak mudahnya pelaksanaan landreform khususnya operasionalisasi landreform sehingga perlu kajian pilihan model landreform yang tidak hanya mendistribusi aset tapi juga memberikan kepastian hukum dan perlidungan terhadap masyarakat.

147

Selain itu kebijakan landreform harus diikuti dengan kebijakan-kebijakan di sektor lain yang mendorong pertumbuhan dunia usaha pertanian seperti perlindungan produk dan pengelolaan akses pasar baik nasional maupun internasional, sarana dan sarana pertanian dari mulai irigasi dan akses transportasi dan sektor-sektor yang mendukung lainnya. 2. Program pembaruan agraria harus memperbaiki kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial. Model pembaruan agraria harus dapat menghadirkan pemenuhan hak azasi manusia baik itu hak politik, hak ekonomi maupun hak sosial dan budaya. Yang juga harus diperhatikan bagi perancang, perencana dan pelaksana pembaruan agrarian adalah bagaimana

landreform memberikan pemenuhan harga diri, harkat dan martabat (human dignity) serta hak sosial-budaya. 3. Tidak adanya payung kebijakan nasional yang menjadi acuan terhadap setiap kebijakan yang dilahirkan dalam pengelolaan sumber daya agraria sehingga diperlukan segera untuk memperkuat posisi UUPA dalam berbagai kebijakan nasional. 4. Perlu studi-studi tentang model-model pelaksanaan landreform khususnya pada pola kepemilikan komunal dengan mengkaji lebih dalam tentang kondisi sosial ekonomi, sosial politik dan budaya. Studi-studi tersebut dalam upaya mendukung informasi dan keberhasilan program landreform pada pola-pola komunal maka penggalian silsilah kepemilikan hak atas suatu kawasan yang merupakan lokasi hidup komunitas adat setempat melalui proses penelitian dan kajian sosial budaya. 5. Perlu dilakukan pemetaan wilayah kepemilikan berdasarkan komunitas suku maupun marga untuk memastikan batas-batas wilayah antar suku maupun marga. Pemetaan ini dilakukan dengan metode partisipatif sehingga pengakuan satu wilayah tidak menjadi konflik dengan komunitas komunal yang lain. 6. Pilihan Kebijakan Landreform di Indonesia Pada Pola Kepemilikan Komunal adalah sebagai berikut: A. Recognize (pengakuan terhadap tanah yang dimiliki secara

komunal/adat/ulayat) oleh Negara,

148

Dilakukan ketika seluruh prasyarat sudah dimiliki oleh satu komunitas komunal, sehingga pemerintah tinggal memberikan pengakuan terhadap wilayah komunal tersebut. B. Recognize + Distribusi untuk komunal, Dilakukan pada wilayah komunal yang memiliki lahan terbatas dan tidak lagi mampu memberi jaminan akses bagi seluruh anggota komunitas komunal. Sehingga perlu diberikan lahan tambahan dari lahan yang dikuasai negara untuk didistribusikan. C. Recognize + Redistribusi untuk komunal, Dilakukan ketika satu wilayah komunal yang dimiliki terbatas sementara sebagain lahan komunal dikelola oleh negara atau swasta. Sehingga pemerintah berkewajiban untuk meredistribusi lahan tersebut. D. Konsolidasi. Satu komunitas yang tinggal di satu tempat, karena kondisi politik ekonomi, sosial ekonomi, sosial budaya , membuat mereka melakukan pengelolaan secara bersama. Dalam konsolidasi ini sertifikat bisa individu bisa komunal sesuai dengan klaim yang ajukan.

Rinciannya dapat dilihat dalam tabel berikut :

Tabel: 6.1. Rekomendasi Pilihan Kebijakan Landreform di Indonesia Pada Pola Kepemilikan Komunal

No 1

Model Land Reform Pola Komunal Recognize (pengakuan terhadap tanah yang dimiliki secara komunal/adat/ulayat) oleh Negara.

Ciri-ciri Yang Dimiliki a. Satu komunitas yang tinggal di satu tempat secara turuntemurun dan memiliki keterkaitan sejarah dengan lahan. b. Adanya satu sistem, seperangkat aturan, yang menjamin distribusi lahan

Program Ikutan a. Sertifikasi lahan komunal. b. Dukungan dokumentasi tata batas (partisipatif). c. Intervensi kelembagaan berbasis norma dan nilai-nilai 149

c.

d.

e. f.

g.

h.

bagi komunitasnya. Adanya seperangkat nilai atau norma yang dapat dijadikan acuan untuk menyelesaikan konflik kepemilikan, pengelolaan dan pengusahaan lahan. Adanya kelembagaan yang menjalankan dan menjaga norma dan aturan yang ada. Memiliki model kelola yang mapan. Adanya relasi sosial yang mendukung distribusi aset bersama baik lahan maupun produksinya Adanya tata batas yang mengatur kelola-kelola anggota komunitas maupun batas dengan pihak luar. Kecukupan sumber daya lahan yang dikelola.

lokal. d. Dukungan akses pasar/dan pelindungan untuk komoditi dan hasil budidaya.

2

Recognize + distribusi untuk komunal( pengakuan terhadap tanah yang dimiliki secara komunal/adat/ulayat dibarengi dengan pembagian tanah negara).

a. Satu komunitas yang tinggal di satu tempat secara turuntemurun dan memiliki keterkaitan sejarah dangan lahan. b. Adanya satu sistem, seperangkat aturan, yang menjamin distribusi lahan bagi komunitasnya. c. Adanya Kelembagaan yang menjalankan dan menjaga norma dan hukum yang ada. d. Memiliki model kelola yang mapan. e. Adanya relasi sosial yang mendukung distribusi aset bersama baik lahan maupun produksinya f. Adanya tata batas yang mengatur kelola-kelola anggota komunitas maupun batas dengan pihak luar. g. Kecukupan sumber daya lahan terbatas. h. Ada ketersediaan lahan di

a. Sertifikasi lahan komunal. b. Dukungan dokumentasi tata batas(partisipatif). c. Intervensi kelembagaan berbasis norma dan nilai-nilai lokal. d. Dukungan akses pasar/dan pelindungan untuk komoditi dan hasil budidaya.

150

luar hak milik komunitas komunal. 3 Recognize + Redistribusi a. Satu komunitas yang tinggal di satu tempat secara turununtuk komunal temurun dan memiliki (pengakuan terhadap keterkaitan sejarah dangan tanah yang dimiliki lahan. secara b. Adanya satu sistem, komunal/adat/ulayat seperangkat aturan, yang dibarengi dengan menjamin distribusi lahan bagi komunitasnya. pengembalian/pembagian c. Adanya kelembagaan yang tanah yang pernah menjalankan dan menjaga dikelola oleh negara atau norma dan hukum yang ada. swasta) d. Memiliki model kelola yang mapan. e. Adanya relasi sosial yang mendukung distribusi aset bersama baik lahan maupun produksinya f. Adanya tata batas yang mengatur kelola-kelola anggota komunitas maupun batas dengan pihak luar. g. Kecukupan sumber daya lahan terbatas, sebagain lahan yang pernah dikelola telah dikelola oleh pemerintah atau pihak swasta. Konsolidasi a. Satu komunitas yang tinggal di satu tempat, karena kondisi politik ekonomi, sosial ekonomi, sosial budaya , membuat mereka melakukan pengelolaan secara bersama. b. Adanya satu sistem, seperangkat aturan, yang menjamin distribusi lahan bagi komunitasnya. c. Adanya kelembagaan yang menjalankan dan menjaga norma dan hukum yang ada. d. Memiliki model kelola yang mapan. a. Sertifikasi lahan komunal. b. Dukungan dokumentasi tata batas(partisipatif). c. Intervensi kelembagaan berbasis norma dan nilai-nilai lokal. d. Dukungan akses pasar/dan pelindungan untuk komoditi dan hasil budidaya.

4

a. Sertifikasi lahan dapat individu dapat komunal. b. Dukungan dokumentasi tata batas(partisipatif). c. Intervensi kelembagaan berbasis norma dan nilai-nilai komunal. d. Dukungan akses pasar/dan pelindungan untuk komoditi dan hasil budidaya. e. Dukungan akses pendanaan kredit/mitra

151

e. Adanya relasi sosial yang mendukung distribusi aset bersama baik lahan maupun produksinya f. Adanya tata batas yang mengatur kelola-kelola anggota komunitas maupun batas dengan pihak luar. g. Kecukupan sumber daya lahan terpenuhi.

kerja.

Hasil studi ini merupakan penelitian awal untuk menyusun panduan dalam menentukan kriteria-indikator/ciri-ciri kepemilikan komunal, untuk dikenali dan mendapat pengakuan atau perlindungan dari negara. Sehingga perlu ada studi lebih mendalam dan empiris terkait dengan ciri-ciri pengelolaan komunal. Studi lain yang juga diperlukan adalah menguji hasil penelitian ini dalam menyempurnakan pendekatan penilaian.

152

PUSTAKA

I.

Buku-Buku Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian: Suatu Pengantar. (Edisi Revisi). Jakarta : PT Rineka Cipta Colchester, Marcus; Jiwan, Norman; Andiko; Sirait, Martua ; Firdaus, Asep Yunan; Surambo,A.; Pane, Herbert. (2006). Tanah yang Dijanjikan: Minyak Sawit dan Pembebasan Tanah di Indonesia±Implikasi terhadap Masyarakat Lokal dan Masyarakat Adat. Bogor: Forest Peoples Programme, Perkumpulan Sawit Watch, HuMA dan the World Agroforestry Centre. Eko Sutoro, Chandra Ade, Hudayana Bambang , Widiputranti Sri Cristine, Sadhan Gregorius, Hostowiyono, M.Borori, Marliyantoro Oelin, Purwanto, Aksa Sahrul, Suharyanto, Sumarjono, dan Murdiyanto Hari Widyo. (2005).Manifesto Pembaharuan Desa. Yogyakarta: APMD Press, Fakih, Mansoer. (2002). Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi. Jogjakarta: INSIST PRESS FAO. (2002). Land Tenure and Rural Development. Roma: Food and Agriculture Organization Fauzi, Noer. (1999). Petani dan Penguasa ³Dinamika Perjalanan Politik Agraria Indonesia´ Yogyakarta: INSIST, KPA & Pustaka Pelajar. Gerrish, Kate & Lacey, Anne. (2010). The Research process in Nursing. (Sixth Edition). Singapore. Blackweell Publishing Ltd, Haar, B.Ter. (1981). Asas ? Asas dan Sunan Hukum Adat. Jakarta: Pradnya Paramita. Harsono. (1973). Hukum Agraria Indonesia. (Bagian Pertama, Jilid I). Jakarta: Penerbit Djambatan, Mantra. (2004). Filsafat Penelitian dan Metode Penelitian Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Irawan, Prasetya. (2006). Penelitian kualitatif dan kuantitatif untuk ilmu-ilmu sosial, Depok: Departemen Ilmu Administrasi FISIP-UI. King, Russel. (1977). Land Reform : A World Survey. Colorado : West New Press, Boulder. Korten, C David. (1993). Menuju Abad ke-21 ³Tindakan Sukarela dan Agenda Global. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia LIPTON, Michael .(1974).: "Towards a Theory of Land Reform" dalam David Lehmann (ed) (1974): Agrarian Reform and Agrarian Reformism. London. Faber & Faber.

153

Tokede,Max J.; Wiliam, Dede; Widodo; Gandhi, Yosias; Imburi, Christian; Patriahadi; Marwa, Jonni;Yufuai, Martha Ch.(2005). Dampak Otonomi Khusus di Sektor Kehutanan ³Papua Pemberdayaan Masyarakat Hukum Adat dalam Pengusahaan Hutan di Kabupaten Manokwari´ Bogor : Center for International Forestry Research Midgley, James. (2005). Pembangunan Sosial : Perspektif Pembangunan dalam Kesejahteraan Sosial. Jakarta: Ditperta Islam Departemen Agama RI Moleong, J. Lexy. (1998). Metodologi Penelitian Kualitatif. (Edisi Revisi.) Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Moleong, J.Lexy. (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung : Remaja Rosdakarya. Ndraha, Taliziduhu, (1990). Pembangunan Masyarakat : Mempersiapkan Masyarakat Tinggal Landas, Jakarta : Rineka Cipta Noveria, Gayatri, & Mashudi, (2004). Berbagi Ruang dengan Masyarakat : Upaya Resolusi Konflik Sumberdaya Hutan di Kalimantan Tengah. Jakarta: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PMB)-LIPI, Salim, Agus .(2001). Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, Yogya : PT. Tiara Wacana, Sen, Amartya .(2000). Development As Freedom New Delhi, : Oxford Universiyt Press Suharto, Edy. (2008). Kebijakan Sosial Sebagai Kebijakan Publik Bandung: Alfabeta, Sumardjono. (2005). Kebijakan implementasi Jakarta: Kompas pertanahan: antara regulasi dan

Todaro & Smith. (2006). Pembangunan Ekonomi, Edisi 9, Jilid 1 (Haris Munandar, Penerjemah). Jakarta : Erlangga. Warriner, Doreen (1969). Land Reforms in Principle and Practice. Oxford: Oxford University Press. Wiliam, (2005). Dampak Otonomi Khusus di Sektor Kehutanan Papua Pemberdayaan Masyarakat Hukum Adat dalam Pengusahaan Hutan di Kabupaten Manokwari. Bogor : Center for International Forestry Research Wiradi, Gunawan .(2000). Reformasi Agraria Perjalanan yang Berakhir. Yogyakarta: INSIST Press Belum

II. DOKUMEN

154

Affandi, Oding & Harianja, Alfonsus H (2008) Sistem Tenurial dan Pengelolaan Lahan Secara Kolaboratif. Centre of Forest and Nature Conservation Research and Development (CFNCRD) and International Tropical Timber Organization (ITTO) Andasputra, N. Bamba, J, Petebang, E. 2001. Pelajaran dari Masyarakat Dayak: Gerakan Sosial dan rekonsoliasi Ekologi di Kalimantan Barat. WWF-Biodeversity Support Program (BPS) and Institute Dayakologi. Pontianak Admajaya, (1998). Pola Penguasaan Tanah Masyarakat Tradisional dan Problema Pembangunan Masyarakat Admajaya dan Puslitbang Badan Pertanahan Nasional. Jakarta. BPS (1999), Penduduk Miskin: Berita Resmi Statistik Penduduk Miskin, No. 04/Th.II/9, July, Jakarta: BPS. Laboratorium Kebudayaan Papua Dinas Kebudayaan Propinsi Papua Sinambela (1997) Analisis Kebijakan Publik Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum di DKI Jakarta. Depok. FISIP Universiatas Indonesia III. ARTIKEL Abna Bachtiar & Sulaiman, Dt. Rajo (2007). Pengelolaan Tanah Negara dan Tanah Ulayat .Masukan Dalam Lokakarya Regional Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Kementrian Negara Perencanaan Pembangunan Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM): Sumatera Barat Padang. Budiantoro, Setyo.(2003, 29 November). Pembangunan Artikel Sinar Harapan. Manusia, Kebebasan, dan

Munsi Lampe .( 2006, Agustus10). ³Kearifan Lingkungan dalam Wujud Kelembagaan, Kepercayaan/Keyakinan, dan Praktik´ Laboratorium Jurusan Antropologibekerjasama dengan Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) Regional Sulawesi, Maluku, dan Papua. Napiri, M Yusup;Sohibuddin, Mohamad ;Nurdin, Iwan; Syahyuti (2006). Reforma Agraria: Kepastian Yang Harus Dijaga. Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Widiowati, Didiet. (2009). Tantangan Pembangunan Sosial di Indonesia Pusat Pengkajian Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Sekretariat Jenderal DPR RI Wiradi, Gunawan. (2001, 20-23 Agustus). Reforma Agraria Sebagai Basis Pembangunan. Makalah Seminar dan Lokakarya: "Arah Kebijakan Nasional Mengenai Tanah dan Sumberdaya Alam Lainnya", diselenggarakan oleh Kelompok Studi Pembaruan Agraria (KSPA)

155

bekerjasama dengan Kelompok Kerja Pengelolaan Sumberdaya Alam (Pokja PSDA) dan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), di Bandung.

IV. JURNAL Budiantoro, Setyo (2003). Manusia, Kebebasan, dan Pembangunan. Jurnal Ekonomi Rakyat. November. Cholid Sofyan. (2006).³Redistribusi Tanah Dalam Usaha Pengentasan Kemiskinan Masyarakat Petani´ Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial, Jilid 4, Nomor 2, , 166-187. Irma Yeny (2007). Implikasi Ketentuan Adat dalam Pemanfaatan Hutan Alam Produksi di Papua. Jurnal Info Sosial Ekonomi, Vol 7 No 1. Muh. Abdul Halim, S.E. (2006). Mengkaji Peran Negara Dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial di Indonesia Jurnal Equilibrium ± STIE Ahmad Dahlan Jakarta. September-Desember Ngalo (1997). Hak Atas Tanah : Luka Sejarah Anak Suku Pedalaman "Sebuah Catatan Masyarakat Adat di Indonesia Timur" Wacana No. 1. September - Oktober Tjondronegoro, S.M.P. (1996). ³Tanah : Aset Utama Pembangunan´ Jurnal Analisis Sosial AKATIGA Edisi 3. Juli. Wiradi, Gunawan (1996). ³Jangan Pelakukan Tanah Sebagai Komuditi´ Jurnal Analisis Sosial AKATIGA Edisi 3. Juli. V. PUBLIKASI ELEKTRONIK Arkanudin,( 2009, 30 Maret) Resolusi Konflik Pertanahan Berdasarkan Pranata Adat. http://www.unka.ac.id/ Basuki (2007) Pengakuan Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat (Antara Regulasi dan Implementasi). http://eprints.undip.ac.id/6723/ Brahmandita , Nyoman (2010). Kebuntuan Landreform Jebol: Menuju Reforma Agraria. http://www.kpa.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=490 &Itemid=107 Chasan . (2008, 8 Agustus, ) Dari Development Menjadi Empowerment. http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=20&dn=20080808105753 Definisi Komunal. http://www.artikata.com/arti-335890-komune.php

156

Wahab, Oki Hajiansyah. (2000, 24 Maret).Reforma Agraria: Isu dan Kebutuhan.http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009032406 414764 Selasa, Land Management and Policy Development Projek. Penyederhanaan Perangkat Penguasaan Tanah. (2007, 29 Agustus) http://www.landpolicy.or.id/kajian/13/ Mampioper, Dominggus A. (2008, 4 Agustus). Kelunturan Nilai Adat Masyarakat Papua. http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=26&jd=Kelunturan+Nilai+ Adat+Masyarakat+Papua&dn=20080804130004

Rahman ,Taufik. (2007 19 Juli). Memulai Bisnis Sawit di Tanah Papua. Lingkar Studi CSR Jakarta, www.csrindonesia.com Saptomo, Ade.(2004). Potensi Lokal dalam Penguasaan Tanah dan Pemanfaatan Sumber Alam. Makalah pada International Conference on Land and Resource Tenure in Changing. http://www.huma.or.id Soetarto, Endriatmo (2006,18, Desember) . Perlunya Konsensus Reforma Agraria ala Indonesia http://www.korantempo.com/korantempo/2006/12/18/Opini/krn,20061218, 53.id.ht Sylviani. (2005) Kajian Sistem Penguasaan dan Pemanfaatan Lahan Adat Info Sosial Ekonomi : Volume 5 No.2 ; Halaman 171-185. ,http://puslitsosekhut.web.id/download.php?page=publikasi&sub=info&id =62 UN. (1996). Human Development Report Growth for human development. http://hdr.undp.org/en/media/hdr_1996_en_overview.pdf ³ Dt. Rajo Bagindo.Yulizal Yunus (2010). Kepemimpinan Minangkabau http://artnculture.ilmci.com/kepemimpinan-minangkabau VI. Undang-Undang dan Kebijakan Negara Undang-Undang Dasar 1945 Amandemen ke 4 Undang-Undang Pokok Agraria tahun 1960 Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang ³ Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria´ Pereturan Pemerintah No. 8 Tahun 1953 tentang ³Pengusahaan Tanah-tanah Negara´

157

Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 tentang ³Pendaftaran Tanah´ Peraturan Menteri Agraria No 9 tahun 1965, tentang : "Pelaksanaan konversi hak penguasaan atas tanah negara dan ketentuan-ketentuan tentang kebijaksanaan selanjutnya".

158

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful