Tipikorisasi Kontrak Kerja Konstruksi Tipikorisasi Kontrak Kerja Konstruksi: Tinjauan Normatif Atas Penyelesaian Sengketa Jasa Konstruksi

Dengan Menggunakan Hukum Pidana I. Pendahuluan Jasa konstruksi merupakan salah satu problematika dalam perkembangan hukum di Indonesia yang menuntut keteraturan hukum dikarenakan kompleksitas persoalannya. Persoalan-persoalan yang kompleks tersebut menyangkut peranan berbagai subjek hukum dalam proses pelaksanaan jasa konstruksi. Kecenderungan untuk melakukan penyimpangan di dalam persoalan jasa konstruksi atau pada proyek-proyek pengadaan barang dan jasa di Indonesia menjadi sesuatu yang patut dicermati. Selain itu, pengenaan hukum yang tepat dalam penyelesaian sengketa jasa konstruksi menjadi titik tolak utama bagaimana penyidik, jaksa penuntut umum, dan hakim di Indonesia menerapkan ketentuanketentuan hukum yang berkaitan dengan masalah jasa konstruksi. Di dalam konsep jasa konstruksi dikenal adanya kontrak kerja konstruksi yang merupakan landasan bagi penyelenggaraan jasa konstruksi di Indonesia. Kontrak kerja ini menjadi fokus dalam mengadakan suatu kegiatan jasa konstruksi, dikarenakan substansi kontrak yang memuat kepentingan hak dan kewajiban para pihak dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Namun, pelaksanaan kontrak tersebut seringkali memunculkan persoalan, ketika diperhadapkan pada suatu intervensi negara dalam konteks tindak pidana korupsi. Masalah utama yang kemudian perlu dijawab adalah apakah penyimpangan pelaksanaan kontrak kerja konstruksi yang tidak sesuai, bisa dituntut sebagai suatu tindak pidana korupsi? Dapatkan tindak pidana korupsi dikenakan pada proses pelaksanaan kontrak kerja konstruksi? Permasalahan-permasalah ini layak diangkat sebagai topik yang menarik dan secara normatif dapat ditemukan jawabannya. II. Tentang Kontrak Kerja Konstruksi Masalah jasa konstruksi di Indonesia diatur dalam UU No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi, dimana jasa konstruksi diberikan arti adalah layanan jasa konsultansi perencanaan pekerjaan konstruksi, layanan jasa pelaksanaan pekerjaan konstruksi, dan layanan jasa konsultansi pengawasan pekerjaan konstruksi (Pasal 1 angka 1). Kemudian yang dimaksud dengan pekerjaan konstruksi adalah keseluruhan atau sebagian rangkaian kegiatan perencanaan dan/atau pelaksanaan beserta pengawasan yang mencakup pekerjaan arsitektural, sipil, mekanikal, elektrikal, dan tata lingkungan masing-masing beserta kelengkapannya. untuk mewujudkan suatu bangunan atau bentuk fisik lain (Pasal 1 angka 2). Sementara secara khusus, terdapat Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003

Tipikorisasi Kontrak Kerja Konstruksi yang mengatur tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang mengatur mengenai pengadaan barang/jasa di lingkungan pemerintah, dan Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi. Di dalam undang-undang tersebut pula, diatur mengenai kontrak kerja konstruksi, sebagai landasan adanya hubungan antar subyek hukum pelaku jasa konstruksi atau pengadaan barang/jasa. Letak keterhubungan tersebut ada pada konsep perjanjian antar subyek hukum dalam proyek jasa konstruksi, pelaksanaan, dan pengawasan. Kontrak kerja konstruksi diartikan sebagai keseluruhan dokumen yang mengatur hubungan hukum antara pengguna jasa dan penyedia jasa dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi (Pasal 1 angka 5). Sementara di dalam Pasal 1 angka 15, Keppres 80 Tahun 2003, Kontrak adalah perikatan antara pengguna barang/jasa dengan penyedia barang/jasa dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa. Di dalam kontrak kerja konstruksi terdapat beberapa substansi kontrak menurut Pasal 22 ayat (2), UU No. 18 Tahun 1999, yakni1 : a. para pihak, yang memuat secara jelas identitas para pihak; b. rumusan pekerjaan, yang memuat uraian yang jelas dan rinci tentang lingkup kerja, nilai pekerjaan, dan batasan waktu pelaksanaan; c. masa pertanggungan dan/atau pemeliharaan, yang memuat tentang jangka waktu pertanggungan dan/atau pemeliharaan yang menjadi tanggung jawab penyedia jasa; d. tenaga ahli, yang memuat ketentuan tentang jumlah, klasifikasi dan kualifikasi tenaga ahli untuk melaksanakan pekerjaan konstruksi; e. hak dan kewajiban, yang memuat hak pengguna jasa untuk memperoleh hasil pekerjaan konstruksi serta kewajibannya untuk memenuhi ketentuan yang diperjanjikan serta hak penyedia jasa 1 Terkait dengan Keppres No. 80 Tahun 2003, terdapat pengaturan mengenai perjanjian pengadaan barang/jasa yang harus dibuat secara tertulis (kontrak) dengan isi perjanjian antara lain : a. para pihak yang menandatangani kontrak yang meliputi nama, jabatan, dan alamat; b. pokok pekerjaan yang diperjanjikan dengan uraian yang jelas mengenai jenis dan jumlah barang/jasa yang diperjanjikan; c. hak dan kewajiban para pihak yang terikat di dalam perjanjian; d. nilai atau harga kontrak pekerjaan, serta syarat-syarat pembayaran; e. persyaratan dan spesifikasi teknis yang jelas dan terinci; f. tempat dan jangka waktu penyelesaian/penyerahan dengan disertai jadual waktu penyelesaian/penyerahan yang pasti serta syarat-syarat penyerahannya;

g. jaminan teknis/hasil pekerjaan yang dilaksanakan dan/atau ketentuan mengenai kelaikan; h. ketentuan mengenai cidera janji dan sanksi dalam hal para pihak tidak memenuhi kewajibannya; i. ketentuan mengenai pemutusan kontrak secara sepihak; j. ketentuan mengenai keadaan memaksa; k. ketentuan mengenai kewajiban para pihak dalam hal terjadi kegagalan dalam pelaksanaan pekerjaan; l. ketentuan mengenai perlindungan tenaga kerja; m. ketentuan mengenai bentuk dan tanggung jawab gangguan lingkungan. (Lihat Pasal 29 ayat (1), Keppres No. 80 Tahun 2003

untuk memperoleh informasi dan imbalan jasa serta kewajibannya melaksanakan pekerjaan konstruksi; f. cara pembayaran, yang memuat ketentuan tentang kewajiban pengguna jasa dalam melakukan pembayaran hasil pekerjaan konstruksi; g. cidera janji, yang memuat ketentuan tentang tanggung jawab dalam hal salah satu pihak tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana diperjanjikan; h. penyelesaian perselisihan, yang memuat ketentuan tentang tata cara penyelesaian perselisihan akibat ketidaksepakatan; i. pemutusan kontrak kerja konstruksi, yang memuat ketentuan tentang pemutusan kontrak kerja konstruksi yang timbul akibat tidak dapat dipenuhinya kewajiban salah satu pihak; j. keadaan memaksa (force majeure), yang memuat ketentuan tentang kejadian yang timbul di luar kemauan dan kemampuan para pihak, yang menimbulkan kerugian bagi salah satu pihak; k. kegagalan bangunan, yang memuat ketentuan tentang kewajiban penyedia jasa dan/atau pengguna jasa atas kegagalan bangunan; l. perlindungan pekerja, yang memuat ketentuan tentang kewajiban para pihak dalam pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja serta jaminan sosial; m. aspek lingkungan, yang memuat kewajiban para pihak dalam pemenuhan ketentuan tentang lingkungan. III. Tinjauan Normatif Tindak Pidana Korupsi di dalam Kontrak Kerja Konstruksi Pertanyaan awal yang diajukan adalah apakah kontrak kerja konstruksi dapat dimasuki oleh hukum pidana, terutama pada saat terjadinya pelanggaran dan/atau penyimpangan pelaksanaan kontrak

Fakta yuridisnya adalah di dalam UU No. 10. harus memuat secara tegas tentang tuntutan tindak pidana korupsi. Akan tetapi perlu dilihat alasan lain mengapa UU No. 3. 7. 20 Tahun 2001 tidak dapat dikenakan pada pengaturan tindak pidana dalam jasa konstruksi: (1) Bahwa UU No. kecuali yang sudah terdapat pada Pasal 2. terhadap perbuatan hukum yang melanggar ketentuan di dalam peraturan perundangan tersebut hanya dinyatakan dapat diajukan gugatan dan tuntutan pidana umum. dinyatakan bahwa setiap orang yang melanggar ketentuan Undang-undang yang secara tegas menyatakan bahwa pelanggaran terhadap ketentuan Undang-undang tersebut sebagai tindak pidana korupsi berlaku ketentuan yang diatur dalam Undang-undang ini. 31 Tahun 1999 jo UU No. 31 Tahun 1999. 12. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi. 20 tahun 2001 tersebut dapat dijelaskan empat hal yang dapat dikemukakan. juga termasuk ketentuan yang terdapat di dalam undang-undang lain. tetapi dengan syarat bahwa di dalam undang-undang lain tersebut terdapat ketentuan . sebagai landasan bahwa Pasal ini tidak dapat diberlakukan pada UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 31 Tahun 1999. bukan tindak pidana khusus tertentu yang dalam hal ini adalah tindak pidana korupsi. 12B. 18 Tahun 1999 telah sah dan berlaku efektif pada tanggal 7 Mei 1999. Pada Pasal 14 UU No. bilamana terjadi pelanggaran terhadap UU Jasa Konstruksi tersebut. 18 Tahun 1999.tersebut. apa yang dimaksud dengan tindak pidana korupsi. 8. dimana kontrak merupakan bagian dalam hukum perdata di Indonesia. yakni2 : . 31 Tahun 1999 telah disahkan dan berlaku efektif pada tanggal 16 Agustus 1999. 18 Tahun 1999. 11. Pertanyaan ini menjadi titik tolak utama apakah sebenarnya negara dapat mengintervensi (secara pidana) atau masuk dalam ranah kontrak kerja konstruksi. 31 Tahun 1999 dapat dikenakan tuntutan tindak pidana korupsi.Dengan adanya ketentuan yang terdapat dalam Pasal tersebut. 5. sebagaimana dipersyaratkan dalam Pasal 14 UU No. Layak dicermati bahwa pada Pasal 14 UU No. Sekaligus juga dapatkah subyek/pihak dalam kontrak kerja konstruksi dapat dituntut dengan ancaman tindak pidana korupsi bilamana subyek/pihak tersebut tidak memenuhi isi dari kontrak kerja konstruksi? Hal-hal semacam inilah yang kemudian menyebabkan ada beragam persoalan dalam kasus-kasus tindak pidana korupsi di bidang jasa konstruksi. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi. tidak terdapat satu Pasalpun mengenai tuntutan pidana korupsi. Hal ini secara otentik dapat diartikan bahwa UU No. 9. Hal ini berarti bahwa undang-undang jasa konstruksi telah terlebih dahulu berlaku dan tidak ada ketentuan peralihan yang menyatakan bahwa undang-undang yang dibentuk sebelum UU No. dan 13. Yurisprudensi yang berkaitan dengan kasus-kasus korupsi jasa konstruksi layak dilihat kembali berkaitan dengan pengenaan hukum pidana dalam kontrak kerja konstruksi. sementara UU No. (2) Bahwa dalam UU No.

31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No. Pasal 19 : Jika pengguna jasa mengubah atau membatalkan penetapan tertulis. Pasal 18 ayat (1) dan Pasal 19 UU No. (3) Dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) bersifat mengikat bagi kedua pihak dan salah satu pihak tidak dapat mengubah dokumen tersebut secara sepihak sampai dengan penandatanganan kontrak kerja konstruksi. karena undang-undang dengan peraturan pemerintah pengganti undang-undang mempunyai hirearki setingkat. tetapi juga dapat dituangkan dalam peraturan perundang-undangan. jelas dan benar serta dapat dipahami. 31 Tahun 1999 untuk melihat apakah ada peluang pengenaan tuntutan pidana. 18 Tahun 1999 meyatakan bahwa: Pasal 18: (1) Kewajiban pengguna jasa dalam pengikatan mencakup: a. menerbitkan dokumen tentang pemilihan penyedia jasa yang memuat ketentuan-ketentuan secara lengkap. atau penyedia jasa mengundurkan diri setelah .Maksud dari Pasal 14 tersebut tidak hanya dapat dituangkan dalam peraturan perundang-undangan yang berbentuk µundang-undang¶. . penyedia jasa wajib menyusun dokumen penawaran berdasarkan prinsip keahlian untuk disampaikan kepada pengguna jasa. 20 Tahun 2001 jo UU No. b. . Apabila dicermati ketentuan di dalam UU No. yang berbentuk peraturan pemerintah pengganti undang-undang.yang menyatakan secara tegas bahwa pelanggaran yang terdapat di dalam undang-undang lain tersebut merupakan tindak pidana korupsi. menetapkan penyedia jasa secara tertulis sebagai hasil pelaksanaan pemilihan. maka berlaku ketentuan-ketentuan baik yang merupakan hukum pidana materiil maupun yang merupakan hukum pidana formil yang terdapat di dalam UU No. ada terdapat Pasal 18 ayat (1) dan Pasal 19 yang dapat dikaitkan dengan Pasal 14 UU No. 30 Tahun 2002. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi.Sampai sekarang undang-undang yang dimaksud oleh Pasal 14 tersebut belum ada. (2) Dalam pengikatan. Dengan demikian Pasal 14 hendak menentukan jika di dalam suatu undang-undang terdapat ketentuan bahwa pelanggaran terhadap ketentuan yang terdapat dalam undang-undang tersebut dinyatakan sebagai tindak pidana korupsi. . khususnya tindak pidana korupsi. (4) Pengguna jasa dan penyedia jasa harus menindaklanjuti penetapan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dengan suatu kontrak kerja konstruksi untuk menjamin terpenuhinya hak dan kewajiban para pihak yang secara adil dan seimbang serta dilandasi dengan itikad baik dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi.Penjelasan Pasal 14 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan µketentuan yang berlaku dalam undang-undang ini¶ dalam Pasal 14 adalah baik yang hukum pidana materiil maupun hukum pidana formil.

18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi. Hak dan kewajiban di dalam kontrak kerja konstruksi merupakan suatu prestasi yang dilaksanakan masingmasing pihak. Jadi di dalam konteks Jasa Konstruksi. atauoverennkomst dalam bahasa Belanda. Di dalam Pasal tersebut. atau mengundurkan diri wajib dikenai ganti rugi atau bisa dituntut secara hukum. perjanjian diatur dalam Pasal 1313 Kitab Undang-undang Hukum Perdata. adalah tidak bisa dipisahkan dengan makna kalimat sebelumnya yang menunjuk Pasal 18 ayat (1) huruf b.. tidak memenuhi persyaratan ketegasan pernyataan dalam Pasal 14 UU No 31 Tahun 1999 jo UU No. Di Indonesia. dan kemudian ada putusan penetapan lelang. Akibatnya adalah bahwa pihak-pihak di dalam kontrak kerja konstruksi harus memenuhi hak dan kewajiban yang dibebankan kepadanya di dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi.diterbitkannya penetapan tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) huruf b. yakni berbunyi: ³suatu persetujuan adalah suatu perbuatan dengan mana satu pihak atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih.´ Perjanjian dalam pengertian lain adalah hubungan hukum antara subjek hukum yang satu dengan yang lain dalam bidang harta kekayaan. kontrak kerja konstruksi merupakan ukuran pasti dalam mengadakan pekerjaan konstruksi. yang berarti perjanjian. 20 Tahun 2001. bisa dituntut secara hukum´ yakni melalui pidana. Hal ini bisa diargumentasikan pula berdasarkan konstruksi PasalPasal mengenai upaya hukum di dalam undang-undang ini yang menyebutkan secara tegas dengan kata ³gugatan perdata´ atau ³pidana´ bilamana yang dimaksudkan memang merupakan perbuatan perdata atau pidana. dalam pelaksanaan lelang. yang merupakan ganti rugi secara perdata terhadap pihak yang dirugikan oleh karena pengubahan atau pembatalan penetapan.Tentang Kontrak dan Kontrak kerja konstruksi Kontrak merupakan istilah yang menunjuk pada konsep perjanjian pada umumnya. di mana subjek hukum yang satu berhak atas prestasi dan begitu juga subjek hukum yang lain berkewajiban untuk melaksanakan prestasinya sesuai . karena alasan yang dapat dikemukakan. Oleh karena frasa tersebut. yakni bahwa Pasal 19 UU No..´ tidak menunjuk pada arti kata ³. dinyatakan bahwa ³«. dan hal tersebut terbukti menimbulkan kerugian bagi salah satu pihak. Artinya. Kontrak sendiri berasal dari bahasa Inggris yaknicon tra ct. Yang mana memang terdapat berbagai macam/jenis ganti rugi dalam hukum perdata. maka pihak yang mengubah atau membatalkan penetapan. khususnya pada Pasal 19.3 Pasal ini berpotensi dapat ditafsirkan sebagai Pasal yang dapat dikenakan ancaman pidana. atau pengunduran diri.wajib dikenai ganti rugi atau bisa dituntut secara hukum´ yang dapat dikaitkan dengan Pasal 18 ayat (1) huruf b. a.. sehingga konteks ini merupakan bagian dari ranah hukum perdata. 31 Tahun 1999. yakni menetapkan penyedia jasa secara tertulis sebagai hasil pelaksanaan pemilihan. Namun yang perlu dipahami bahwa konteks pada ³«hal tersebut terbukti menimbulkan kerugian bagi salah satu pihak. Pasal ini belum memenuhi syarat sebagaimana pada Pasal 14 UU No. Maka frasa ³bisa dituntut secara hukum´ bukanlah upaya hukum pidana.

Tentang suatu sebab yang halal. yakni terdiri atas Tipikorisasi Kontrak Kerja Konstruksi dua hal: (1) obyek yang aka nada (kecuali warisan).Tentang sepakat atau konsesus yakni keseuaian. terdapat dua syarat subyektif (kesepakatan dan kecakapan) yang disebut juga kausa individualis. yakni : adanya hubungan hukum. . dan kekhilafan.6 . . dan (2) obyek yang dapat diperdagangkan (barang-barang yang dipergunakan untuk kepentingan umum tidak dapat menjadi obyek perjanjian). apabila ia oleh undang-undang tidak dinyatakan tidak cakap. perjanjian dapat dibatalkan. memberikan hak. danacceptasi (penerimaan) adalah pernyataan pihak yang menerima penawaran. yakni syarat tentang obyeknya.´ Dalam pasal tersebut. kecakapan untuk membuat suatu perikatan. Jadi kesepakatan itu penting diketahui karena merupakan awal perjanjian. suatu sebab yang tidak terlarang. meletakkan kewajiban pada pihak lain. mengenai kekayaan. asalkan dapat ditentukan jenis dan dapat dihitung. . Di mana unsur kesepakatan ada dua. antara 2 Orang/lebih. Yang dimaksud dengan cakap dalam Pasal 1320 ini adalah bahwa pihak yang melakukan perbuatan hukum memenuhi kualifikasi sebagaimana pada Pasal 1330 KUHPerdata.5 kesepakatan ini juga dapat dilihat dari Pasal 1321 yang mana menyatakan bahwa kata sepakat harus diberikan secara bebas. yakni pendukung hak dan kewajiban. dan 1334 KUHPerdata. yang bilamana tidak terpenuhinya syarat ini. pertemuan kehendak dari yang mengadakan perjanjian atau pernyataan kehendak yang disetujui antara pihak-pihak. . masing-masing syaratnya sahnya perjanjian dapat diterangkan sebagai berikut. Kemudian untuk sahnya perjanjian dapat dilihat dalam Pasal 1320 KUHPerdata yang menyatakan bahwa : ³Supaya terjadi persetujuan yang sah. dan kesusilaan. apabila orang tersebut telah berusia 18 tahun atau sebelumnya telah melangsungkan perkawinan atau mereka yang tidak berada di bawah pengampuan. suatu pokok persoalan tertentu. kecocokan. adalah isi perjanjian itu sendiri atau tujuan dari para pihak mengadakan perjanjian (1337 KUHPerdata).Tentang kecakapan ini menyangkut dengan keberadaan subyek hukum pelaku perjanjian. dapat dilihat pada Pasal 1332. ketertiban umum. perlu dipenuhi empat syarat: kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya. yaitu syarat yang menyangkut mengenai subyeknya dan tidak terpenuhinya syarat ini dapat menyebabkan perjanjian batal demi hukum (secara hukum dianggap tidak pernah ada). Adapun secara sederhana. atau setiap orang adalah cakap untuk membuat perikatanperikatan. yaitu :of f e rte (penawaran) adalah pernyataan pihak yang menawarkan. Selain itu juga terdapat dua syarat obyektif. adanya prestasi. dan konsepsi halal menjadi bagian dalam pasal ini yang dapat diartikan sebagai tidak bertentangan dengan undang-undang.dengan yang telah disepakatinya.4 Dalam pengertian-pengertian tersebut terdapat beberapa unsur. 1333. penipuan. dalam arti tidak ada paksaan.Tentang obyek/suatu hal tertentu yang menjadi objek perjanjian. disebut juga kausa finalis.

Bilamana terjadi pelanggaran terhadap kontrak. telah ditentukan isi dari suatu kontrak kerja jasa konstruksi. Hal ini diperjelas dengan ketentuan-ketentuan di dalam UU No. b. Gugatan ini berupa gugatan ganti kerugian atau gugatan perbuatan melawan hukum. dan pengawas konstruksi). Berdasarkan pasal 1338 KUHPdt. hubungan hukum antar para pihak dalam jasa konstruksi sebagaimana diatur dalam UU No. dengan tujuan untuk menjaga agar kontrak dan pelaksanaan tetap mengikuti ketentuan peraturan perundangundangan. Dalam konteks ini. yang diartikan sebagai keseluruhan dokumen yang mengatur hubungan hukum antara pengguna jasa dan penyedia jasa dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi (Pasal 1 angka 5 UU No. Keppres 80 Tahun 2003. Sementara di dalam Pasal 1 angka 15. pelaksana konstruksi. sebagaimana diatur dalam hukum acara perdata di Indonesia. para pihak bebas untuk menentukan bentuk dan isi perjanjian. atau mengajukan gugatan ke pengadilan negeri. 18 Tahun 1999. namun kebebasan untuk menentukan bentuk dan isi perjanjian sekiranya telah hilang karena di dalam Pasal 22 UU No. Pihak pengguna jasa dalam hal ini terutama pemerintah dan atau lembaga negara lebih dominan untuk menentukan isi perjanjian. 18 Tahun 1999 yang tidak mencantumkan tuntutan pidana terhadap pelanggaran isi kontrak kerja konstruksi. keterlambatan penyelesaian .Sementara itu di dalam hukum jasa konstruksi dikenal adanya kontrak kerja konstruksi.Sengketa Kontrak Kerja Konstruksi dan Kegagalan Bangunan Sengketa konstruksi dapat timbul antara lain karena klaim yang tidak dilayani misalnya keterlambatan pembayaran.7 Penjelasan ini berarti bahwa dimensi hukum dalam kontrak kerja konstruksi adalah dimensi hukum perdata. Para pihak dalam pekerjaan konstruksi terdiri dari: pengguna jasa dan penyedia jasa (perencana konstruksi. Para pihak terutama pihak penyedia jasa tidak mempunyai kebebasan dalam menentukan kontrak kerja konstruksi. Bentuk perjanjian jasa konstruksi yang ada adalah bentuk kontrak standar. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi. bukan hukum pidana karena dalam hukum pidana tidak dikenal adanya kontrak. 18 Tahun 1999). maka persoalan tersebut dapat diajukan penyelesaiannya melalui mekanisme yang diatur dalam isi kontrak yang berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak pembuatnya. adalah hubungan kontraktual (berdasarkan kontrak) yang harus memenuhi persyaratan sahnya perjanjian dalam Pasal 1320 KUH Perdata. Dengan demikian dapat dilihat bahwa pengertian kontrak kerja konstruksi adalah suatu perbuatan hukum antara pihak pengguna jasa dengan pihak penyedia jasa konstruksi dalam melaksanakan pekerjaan jasa konstruksi dimana dalam hubungan hukum tersebut diatur mengenai hak dan kewajiban para pihak.8 Meskipun demikian kedudukan hukum pihak-pihak tersebut adalah kedudukan sebagai pihak-pihak dalam hukum privat. Karena semua proses dari tahapan awal dari pendaftaran sampai dengan penetapan pemenang lelang semuanya telah diatur oleh undang-undang berikut peraturan pelaksanaannya termasuk dalam perjanjian kontrak kerja konstruksi telah diatur dalam bentuk standar kontrak. yakni tidak terpenuhinya prestasi (hak dan kewajiban). kontrak adalah perikatan antara pengguna barang/jasa dengan penyedia barang/jasa dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa. kontrak kerja konstruksi tunduk pada Pasal 1313 KUHPerdata jo Pasal 1320 KUHPerdata. Oleh karena tunduk pada hukum perdata.

28. Selain sanksi pidana. ditandatangani. Sanksi pidana tersebut merupakan pilihan dan merupakan jalan terakhir bilamana terjadi kegagalan bangunan. dan 29 UU No. dan sanksi perdata bagi pelanggaran norma-norma hukum perdata belum mencukupi untuk mencapai Alternatif Penyelesaian Sengketa Jasa Konstruksi tujuan hukum. khususnya Pasal 41 dan Pasal 43 ayat (1). (2). Selain itu sengketa konstruksi dapat pula terjadi apabila pengguna jasa ternyata tidak melaksanakan tugas-tugas pengelolaan dengan baik dan mungkin tidak memiliki dukungan dana yang cukup. 18 Tahun 1999. baik bertek tertulis (kontrak kerja) dan atau bestek gambar (lampiran-lampiran kontrak). yakni Pasal 25. Sengketacontractu al terjadi pada saat pekerjaan pelaksanaan sedang berlangsung. dan (3) sengketapasca con tr actu al yaitu sengketa yang terjadi setelah bangunan beroperasi atau dimanfaatkan selama 10 (sepuluh) tahun. Dalam kaitannya dengan tindak pidana korupsi. (2) sengketa contractual yaitu sengketa yang terjadi pada saat berlangsungnya pekerjaan pelaksanaan konstruksi. perbedaan penafsiran dokumen kontrak. dan dilaksanakan di lapangan. para profesional (tenaga ahli) teknik juga akan dikenai sanksi administrasi sebagaimana yang diatur Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2000 Pasal 31. Dalam istilah umum sering orang mengatakan bahwa pelaksanaan proyek di lapangan tidak sesuai dengan bestek. melaksanakan maupun mengawasi pekerjaan konstruksi yang tidak memenuhi persyaratan keteknikan dan mengakibatkan kegagalan pekerjaan konstruksi (pada saat berlangsungnya pekerjaan konstruksi) atau kegagalan bangunan (setelah bangunan beroperasi). ditambah perintah-perintah direksi/pengawas proyek (manakala bestek tertulis dan bestek gambar masih ada yang belum lengkap). yaitu rasa keadilan. Pada pinsipnya barang siapa yang merencanakan.11 Pasal mengenai sanksi pidana tersebut berkaitan erat dengan keberadaan Pasal-Pasal yang mengatur mengenai kegagalan bangunan. Tujuan undang-undang ini adalah untuk melindungi masyarakat yang menderita sebagai akibat penyelenggaraan pekerjaan konstruksi sedemikian rupa. dan/atau cidera janji seringkali dihubungkan dengan kerugian negara. ketidak mampuan baik teknis maupun manajerial dari para pihak. Kerugian negara sendiri terkait . 27.pekerjaan. dan dalam tahap proses tawar menawar. 26. disepakati.9 Sengketa jasa konstruksi terdiri dari 3 (tiga) bagian : (1) sengketa precontractual yaitu sengketa yang terjadi sebelum adanya kesepakatan kontraktual. dan 33ju n cto PP Nomor 30 Tahun 2000 Pasal 6 ayat (4). maka akan dikenai sanksi pidana paling lama 5 (lima) tahun penjara atau dikenakan denda paling banyak 10% (sepuluh persen) dari nilai kontrak. 32. Artinya tahapan kontraktual sudah selesai. dan (3). Dengan singkat dapat dikatakan bahwa sengketa konstruksi timbul karena salah satu pihak telah melakukan tindakan cidera (wanprestasi atau default). Sengketa terjadi manakala apa yang tertera dalam kontrak tidak sesuai dengan apa yang dilaksanakan di lapangan. kegagalan pekerjaan konstruksi. Sanksi pidana dirasakan perlu mengingat bahwa sanksi lain seperti sanksi administrasi bagi pelanggaran norma-norma hukum Tata Negara dan Tata Usaha Negara.10 Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 mengatur mengenai sanksi pidana bagi pelaku jasa konstruksi.

15 Tindak pidana korupsi di dalam Pasal 2 ayat (1) tersebut. Agar seseorang kemudian dapat dinyatakan bersalah telah melakukan tindak pidana korupsi. dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan atau denda paling sedikit Rp50. dipidana penjara dengan penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp200. tidak diperlukan alat-alat bukti untuk membuktikan bahwa memang telah terjadi kerugian keuangan negara atau perekonomian negara. kerugian atas tindakan tersebut telah diganti atau dikembalikan. Pasal 313 : Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi. Artinya dapat dilakukan oleh siapa saja dari masyarakat umum.000.dengan UU No. kerugian atas tindakan tersebut telah diganti atau .000. menyalahgunakan kewenangan.000. Tindak pidana korupsi di dalam Pasal 2 ayat (1) tersebut. yakni tindak pidana korupsi yang dilakukan bukan oleh orang yang mempunyai jabatan atau kekuasaan atau aparat pemerintah/negara. bukan pada akibat dari perbuatan tersebut dilakukan (delik materiil).000. bukan pada akibat dari perbuatan tersebut dilakukan (delik materiil).000. Tujuannya yang lain adalah untuk tidak menghapus tuntutan pidana meskipun bilamana tindak korupsi telah dilakukan seseorang.000.000. merupakan tindak pidana umum. merupakan tindak pidana umum. Tujuannya yang lain adalah untuk tidak menghapus tuntutan pidana meskipun bilamana tindak korupsi telah dilakukan seseorang. Artinya dapat dilakukan oleh siapa saja dar masyarakat umum.000.000. kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. yakni tindak pidana korupsi yang dilakukan bukan oleh orang yang mempunyai jabatan atau kekuasaan atau aparat pemerintah/negara. 31 Tahun 1999 jo UU No 20 Tahun 2001.000.00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp1. yakni : Pasal 2 ayat (1)12 : Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. tidak diperlukan alat-alat bukti untuk membuktikan bahwa memang telah terjadi kerugian keuangan negara atau perekonomian negara.00 (satu milyar rupiah). Kerugian ini dapat ditemukan dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 undang-undang tersebut.16 Bahwa yang dilarang adalah tindakan atau perbuatan yang telah dilakukan.00 (satu milyar rupiah).14 Bahwa yang dilarang adalah tindakan atau perbuatan yang telah dilakukan. Agar seseorang kemudian dapat dinyatakan bersalah telah melakukan tindak pidana korupsi.00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp1.

tidak dapat dikategorikan sebagai perbuatan tercela sebagaimana diatur di dalam UU No. perbuatan-perbuatan hukum . secara tegas dapat dinyatakan bahwa perbuatan-perbuatan hukum di dalam kontrak kerja konstruksi atau perbuatan-perbuatan hukum yang termuat di dalam kontrak kerja konstruksi. baik secara materiil dan formil. Persoalannya kemudian apakah perbuatan-perbuatan hukum di dalam kontrak kerja konstruksi yang diatur dalam UU No. 20 Tahun 2001.dikembalikan. 20 Tahun 2001. adalah perbuatan melawan hukum. maka perbuatan tersebut dapat dipidana. 20 Tahun 2001.18 bahwa suatu perbuatan. Dengan berlandaskan pada dua alasan tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa kontrak kerja konstruksi secara materiil bukan merupakan perbuatan yang tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma-norma kehidupan sosial dalam masyarakat. 31 Tahun 1999 jo UU No. dikarenakan di dalam kontrak kerja konstruksi tersebut tidak diatur mengenai perbuatan tercela yang dapat dituntut dengan tindak pidana korupsi. 20 Tahun 2001. Dengan penjelasan yang demikian. tidak bertentangan dengan undang-undang dan/atau norma-norma kehidupan masyarakat. bukanlah perbuatan melawan hukum sebagaimana diatur di dalam Pasal 2 UU No. 18 Tahun 1999 dapat dikategorikan sebagai perbuatan melawan hukum sebagaimana diatur Pasal 2 UU 31 Tahun 1999 jo UU No. Artinya bahwa untuk dapat dipidana sebagai tindak pidana korupsi. Dengan demikian perbuatan-perbuatan hukum yang diperjanjikan tersebut. 31 Tahun 1999 jo UU No. ‡ Segala perbuatan hukum yang diperjanjikan di dalam kontrak kerja konstruksi.17 Salah satu unsur dalam Pasal 2 UU 31 Tahun 1999 jo UU No. bukan merupakan suatu perbuatan melawan hukum sebagaimana diatur di dalam Pasal 2 ayat (1) UU No. yakni meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan. adalah perbuatan-perbuatan hukum yang dinyatakan secara tegas sebagai suatu hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh pihak-pihak dalam pelaksanaan kerja kontruksi yang disepakati secara bersama dan diatur di dalam UU No. 18 Tahun 1999. tetapi jika menurut penilaian masyarakat perbuatan tersebut bersifat melawan hukum. 20 Tahun 2001? Pada penjelasan Pasal 2 ayat (1) diterangkan bahwa yang dimaksud dengan ³secara melawan hukum´ mencakup perbuatan melawan hukum dalam arti formil maupun dalam arti materiil. namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma-norma kehidupan sosial dalam masyarakat. 31 Tahun 1999 jo UU No. karena : ‡ Segala perbuatan hukum yang diperjanjikan di dalam kontrak kerja konstruksi. sehingga perbuatan-perbuatan hukum yang diperjanjikan di dalam kontrak kerja konstruksi. meskipun oleh peraturan perundangundangan tidak ditentukan sebagai melawan hukum. perbuatan yang dimaksud tetap merupakan perbuatan yang bersifat melawan hukum. Dengan demikian. maka konsep µmelawan hukum¶ tersebut terkait dengan ajaran tentang sifat melawan hukum materiil dalam fungsinya yang positif.

dimana istilah kerugian yang dijabarkan dalam penjelasan undang-undangnya. Dalam menentukan kerugian negara perlu dicermati muatan dalam Pasal 32 tersebut. Dan Pasal 32 ayat (2) hanya menegaskan tentang putusan bebas dalam perkara tindak pidana korupsi tidak menghapuskan hak untuk menuntut kerugian terhadap keuangan negara. maka penyidik segera menyerahkan berkas perkara hasil penyidikan tersebut kepada Jaksa Pengacara Negara untuk dilakukan gugatan perdata atau diserahkan kepada instansi yang dirugikan untuk mengajukan gugatan. tidak perlu ada kerugian yang nyata. (2) Putusan bebas dalam perkara tindak pidana korupsi tidak menghapuskan hak untuk menuntut kerugian terhadap keuangan negara. Undangundang tersebut.di dalam kontrak kerja konstruksi tidak memenuhi syarat formil dan materiil tentang perbuatan melawan hukum. Pasal 32 ayat (1) memberi jalan keluar dalam hal µsecara nyata telah ada kerugian keuangan negara¶ tetapi µpenyidik menemukan dan berpendapat satu atau lebih unsur tindak pidana korupsi tidak terdapat cukup bukti¶. jadi kontrak kerja konstruksi tidak dapat di-tipikorisasi-kan. Tindak pidana korupsi dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU No. Pasal ini juga terkait dengan Pasal 32. atau mempunyai potensi (µdapat¶) terjadi. 31 Tahun 1999 jo UU No. Penjelasannya: Yang dimaksud dengan ³secara nyata telah ada kerugian keuangan negara´ adalah kerugian yang sudah dapat dihitung jumlahnya berdasarkan hasil temuan instansi yang berwenang atau akuntan publik yang ditunjuk. 20 Tahun 2001 di atas berkenaan dengan kerugian keuangan dan perekonomian negara. Perumusannya yang menggunakan frasa µdapat¶. sedangkan secara nyata telah ada kerugian keuangan negara. 20 Tahun 2001 menganut kerugian keuangan negara secara formil. Masalahnya adalah apakah Pasal ini juga dapat untuk mengenakan . sangat tegas. Penjelasannya: Yang dimaksud dengan ³putusan bebas´ adalah putusan pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 191 ayat (1) dan ayat (2) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. artinya kerugian keuangan negara bisa sudah terjadi. 31 Tahun 1999 jo UU no. Jalan keluarnya adalah µpenyidik segera menyerahkan berkas perkara hasil penyidikan tersebut kepada Jaksa Pengacara Negara untuk melakukan gugatan perdata atau diserahkan kepada instansi yang dirugikan untuk mengajukan gugatan¶. yakni : Pasal 32 : (1) Dalam hal penyidik menemukan dan berpendapat bahwa satu atau lebih unsur tindak pidana korupsi tidak terdapat cukup bukti. Perumusan Pasal 2 dan Pasal 3 UU No.

merupakan perbuatan cidera janji20 maka penyelesaian ganti kerugian pengguna jasa berhak untuk memperoleh kompensasi. ada sejumlah metode yang menurut Keppres No. 20 Tahun 2001. namun perbuatan tersebut dapat dan/atau berpotensi menimbulkan kerugian negara. metode pemilihan langsung. dan tidak menyerahkan hasil pekerjaan. Dengan adanya penjelasan tersebut. 20 Tahun 2001 sebenarnya adalah ketentuan yang membatasi diskresi penyidik (jaksa pengacara negara) untuk memaksa adanya pemenuhan syarat unsur-unsur tindak pidana korupsi di dalam kontrak kerja konstruksi. Untuk pengadaan barang dan jasa. 31 Tahun 1999 jo UU No. namun tidak terbukti unsur-unsurnya. Sehingga sebagai perbuatan perdata. tidak memenuhi kuantitas (volume). pelaksanaan ulang hasil pekerjaan yang tidak sesuai dengan yang diperjanjikan atau pemberian ganti rugi. 31 Tahun 1999 jo UU No. metode swakelola dan metodeseleksi dengan persaingan. 80 Tahun 2003. Jadi di dalam tindak pidana korupsi pun dimungkinkan bahwa seseorang yang disangka korupsi. tetapi merupakan perbuatan perdata.21 Dengan demikian maka jika terjadi cidera janji kontrak kerja konstruksi. karena penyedia jasa konstruksi tidak menyelesaikan tugas. penyelesaiannya harus secara kontraktual dan tidak dapat diselesaikan dengan tindak pidana korupsi. penggantina biaya. maka dia dituntut dengan gugatan perdata berdasar kategori 1365 KUHPerdata. Dalam Pasal 32 ayat (1) UU No. Pasal ini justru memberikan peluang adanya gugatan perdata untuk perbuatan hukum yang tidak memenuhi unsur tindak pidana korupsi. dan atau perpanjangan waktu. maka perbuatan yang dilakukan oleh tersangka tersebut bukan merupakan tindak pidana korupsi.kerugian negara dalam sengketa kontrak kerja konstruksi? Dalam Pasal 32 ayat (1) tersebut justru dapat dianalisis bahwa bila penyidik dalam melakukan penyidikan menemukan dan berpendapat bahwa satu atau lebih dari unsur tindak pidana korupsi tidak cukup bukti . perbuatan yang dilakukan oleh tersangka dapat saja merupakan perbuatan melawan hukum sebagaimana diatur dalam 1365 KUHPerdata. Dalam Keppres No. Diantara perumusan tindak pidana korupsi di dalam UU No. maka untuk menentukan berapa jumlah kerugian negara perlu diajukan alat bukti berupa keterangan ahli (Pasal 184 aat (1) huruf b KUHAP). juga dikenal beberapa tahapan yang harus dilalui berkaitan . yang dapat dijadikan dasar hukum bagi Jaksa Pengacara Negara untuk melakukan gugatan perdata. perbaikan. Namun demikian tentang temuan adanya kerugian negara. Maka dengan demikian dapat diketahui bahwa apa yang dimaksud dengan tindak pidana korupsi dalam Pasal 32 ayat (1) adalah hanya tindak pidana korupsi seperti pada Pasal 2 dan Pasal 3 saja. unsur kerugian negara hanya ditemukan di dalam perumusan tindak pidana korupsi yang terdapat pada Pasal 2 dan Pasal 3. tidak memenuhi mutu. yakni: metode lelang. metode penunjukan langsung.19 Frasa µsecara nyata telah ada kerugian negara¶ juga harus dipahami bahwa pada penjelasan Pasal itu. boleh dipergunakan. dinyatakan bahwa frasa itu menunjuk pada kerugian negara yang sudah dapat dihitung jumlahnya berdasarkan hasil temuan instansi yang berwenang atau akuntan yang ditunjuk oleh penyidik. 80 Tahun 2003.

20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No. maka undang-undang tersebut tidak dapat diberlakukan di dalam UU No.dengan pengadaan barang dan jasa. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Bahwa berdasarkan Pasal 32 ayat (1) UU No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi sebab Pasal 14. sebelum atau asal tidak ada kerugian keuangan negara. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No. 3. Kepala Dinas/Badan/Kantor) dapat dipidana sebagi melangggar ketentuan UndangUndang Pengadaan barang dan jasa serta dapat dituduh melanggar UU No. semua tahapannya sering terjadi penyimpanganpenyimpangan yang menyebabkan marak terjadinya korupsi disektor pengadaaan barang dan jasa. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo UU No. 20 Tahun 2001.22 Jika diatur dengan Undang-Undang. 31 Tahun 1999 jo UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo UU No. UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo UU No. Bahwa di dalam UU No. Pengguna anggaran di daerah (Gubernur.Kesimpulan dan Rekomendasi a. Pimpro. Kesimpulan 1. Benpro). 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. UU No. Bupati/Walikota. Di dalam Keppres kesalahan prosedur pengadaan barang dan jasa belum atau tidak digolongkan sebagai tindak korupsi. dari ke-15 (Lima Belas) tahapan ini. IV. Karenanya dalam rangka pemberantasan korupsi. Bahwa berdasarkan Pasal 14 UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No. tidak terdapat satu Pasal pun yang menyatakan bahwa pelanggaran terhadap undang-undang tersebut merupakan tindak pidana korupsi. pelanggaran prosedur dan tidak ada kehati-hatian untuk memastikan kepatuhan hukum pada pelaksana proyek (Panitia Lelang. sebagaimana diatur dalam Pasal 14. Pengadaan barang dan jasa selama ini hanya diatur dalam Keppres. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi. sudah seharusnya pengadaan barang dan jasa diatur dengan Undang-Undang. Ironisnya. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No. cidera janji yang dimuat di dalam kontrak kerja konstruksi merupakan masalah perdata. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi merupakan ketentuan yang membatasi keberlakuan seluruh Pasal-Pasal dalam UU No. 2. . 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo UU No.

terlebih tindak pidana korupsi. UU No. maka terdapat ketentuan yang harus dilakukan terlebih dahulu. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No. Sehingga tidak semestinya ditempuh upaya penuntutan tindak pidana korupsi dengan mengesampingkan perintah undang-undang untuk menempuh gugatan perdata. bukan dengan dipaksakan pidana. dikarenakan ada cara penyelesaian yang lain. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo UU No. Bahwa 32 ayat (1). 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo UU No. 5. yang terkait kontrak kerja konstruksi supaya penyidik dapat menegakkan ketentuan yang benar. . 4. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo UU No. b. sesuai yang diatur di dalam Pasal 32 ayat (1). yaitu jaksa penuntut umum menjalankan upaya hukum gugatan perdata. Rekomendasi Dalam penegakan tindak pidana korupsi. yakni di dalam hal cidera janji kontrak kerja kontruksi. maka tindak pidana korupsi bukanlah merupakan satu-satunya cara penyelesaian masalah. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No. Atau instansi yang dirugikan mengajukan gugatan perdata. UU No. bilaman terjadi adanya kerugian negara. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.sehingga penyelesaiannya harus melalui upaya hukum perdata. yakni cara penyelesaian masalah melalui gugatan perdata. Bahwa dengan demikian. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi membatasi pemberlakuan Pasal 2 dan Pasal 3 UU No. oleh karena bilamana dalam penyelidikan tidak ditemukan unsur tindak pidana korupsi.

Asas Itikad baik 5. Yurisprudensi dan Kebiasaan Sementara Amerika. Asas Pacta Sunt Servanda 4. Seperti kita ketahui bahwa banyak peraturan perundang-undangan kita yang masih berasal dari masa pemerintahan Hindia Belanda.2 Asas hukum kontrak 1. diarahkan pada pembentukan peraturan perundang-undangan yang memfasilitasi kehidupan berbangsa dan bernegara dalam. Statutory Law/perundang-undangan. 2. Pada masa reformasi ini telah banyak dihasilkan produk perundang-undangan seperti UU No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. seperti politik & ekonomi dan menegakkan hukum tersebut. Sumber hukum kontrak dalam Civil Law (Indonesia dan sebagian besar Negara Eropa) adalah Undang-undang. Hukum kontrak kita masih mengacu pada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata atau Burgerlijk Wetboek Bab III tentang Perikatan (selanjutnya disebut buku III) yang masuk dan diakui oleh Pemerintahan Hindia Belanda melalui asas Konkordansi yaitu asas yang menyatakan bahwa peraturan yang berlaku di negeri Belanda berlaku pula pada pemerintahan Hindia Belanda (Indonesia). . Asas kebebasan berkontrak yaitu asas yang membebaskan para pihak untuk: mengadakan perjanjian dengan siapapun. Asas Kepribadian yaitu asas yang menentukan bahwa seseorang yang akan membuat kontrak hanya untuk kepentingn persoon itu sendiri. Inggris (juga Negeri Persemakmuran) yang menganut system Common Law adalah Judicial Opinion/Keputusan Hakim. Dalam bidang hukum. 2.1. PENDAHULUAN Era reformasi adalah era perubahan. UU No 18 Tahun 1999 Tentang Jasa Konstruksi Dll dimana semua itu rata-rata adalah bentukan hukum dibidang sektoral dan bukan paada pembaharuan hukum yang bersifat dasar (Basic Law). menentukan bentuknya mau tertulis atau cukup lisan.1 Pengertian Para pakar banyak yang memberikan definisi tentang kontrak. 2. pelaksanaan dan persyaratan. Asas konsensualisme 3. Salah satunya adalah dibidang hukum. menentukan isi perjanjian. KONTRAK 2. Perjanjian antar Negara. Dan seiring berjalannya waktu maka pelaku bisnis lokal pun harus pula mengerti isi peraturan dari KUHPerdata terutama Buku III yang masih merupakan acuan umum bagi pembuatan kontrak di Indonesia. Perubahan disegala bidang kehidupan demi tercapainya kehidupan yang lebih baik. hal tersebut untuk memudahkan para pelaku bisnis eropa/ Belanda agar lebih mudah dalam mengerti hukum. UU No 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan. the Restatement (rumusan ulang tentang hukum dikeluarkan oleh Institut Hukum Amerika/ALI). dan Legal commentary. Menurut penulis bahwa kontrak adalah ´ Kaidah/aturan hukum yang mengatur hubungan hukum antar para pihak berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum untuk melaksanakan suatu prestasi/obyek perjanjian´ Pengaturan umum tentang kontrak diatur dalam KUHPerdata buku III.

3. menuntut pembatalan perjanjian disertai ganti kerugian. 2. Agar mereka tenang dan mengetahui dengan jelas akan hak dan kewajiban mereka. Fungsi kontrak adalah demi memberikan kepastian hukum bagi para pihak. hibah dll. Kontrak menurut penulis ada 2 macam yaitu Kontrak Nominaat atau bernama dan Innominaat atau tidak bernama. menuntut prestasi dilakukan disertai ganti kerugian. 2. Ganti rugi ini timbul karena salah satu pihak telah wanprestasi atau tidak memenuhi isi perjanjian yang telah disepakati bersama. meminta ganti kerugian saja. Tuntutan atas dasar wanprestasi dapat berupa: meminta pemenuhan prestasi dilakukan. Sementara itu Innominaat adalah franchise. production sharing dll yang akan muncul sesuai perkembangan zaman dan sesuai kebutuhan manusia.4.3 Syarat sahnya kontrak menurut KUHPerdata adalah 1. kontrak rahim. Maksud dari kontrak Nominaat adalah bahwa kontrak tersebut telah dikenal dan diatur oleh KUHPerdata sedang Innominaat maksudnya adalah bahwa jenis kontrak tersebut belum dikenal dalam KUHPerdata dan pengaturannya diluar KUHPerdata. 4. Ganti kerugian yang dapat dituntut berupa: kerugian yang telah nyata-nyata .2. Somasi adalah teguran dari si berpiutang (kreditur) kepada si berutang (debitur) agar dapat memenuhi prestasi sesuai dengan isi perjanjian yang telah disepakati bersama. kekhilafan maupun penipuan Cakap dalam melakukan perbuatan hukum Mengenai hal tertentu Suatu sebab yang halal Momentum terjadinya kontrak pada umumnya adalah ketika telah tercapai kata sepakat yang ditandai dengan penandatanganan kontrak sebagai bentuk kesepakatan oleh para pihak. tukar menukar.4. 2.4.4 Ketentuan-ketentuan Umum dalam Hukum Kontrak. Kontrak Nominaat contohnya adalah tentang jual beli. belisewa. leasing. Dapat dikatakan wanprestasi jika sebelumnya pihak berhutang telah diberi surat teguran atau somasi sebanyak minimal tiga kali. 2. Somasi timbul karena debitur tidak melaksanakan prestasi sesuai yang diperjanjikan. Sifat pengaturan buku III ini adalah terbuka (open) artinya dimungkinkan dilakukan suatu bentuk perjanjian lain selain yang telah diatur dalam KUHPerdata. 2. joint venture.1 Somasi Diatur dalam pasal 1238 KUHPerdata dan 1243 KUHPerdata. Sepakat : Tanpa paksaan.3 Ganti rugi Ganti rugi karena wanprestasi diatur dalam pasal 1243 hingga 1252 KUHPerdata. Hal ini didasarkan pada asas kebebasan berkontrak sehingga seiring kebutuhan hidup manusia dalam memenuhi kebutuhannya ada saja suatu bentuk kontrak/perjanjian yang belum dikenal oleh KUHPerdata.2 Wanprestasi Adalah tidak terpenuhinya suatu prestasi oleh salah satu pihak. menuntut pembatalan perjanjian. sewa menyewa.

c. Dalam negosiasi inilah proses tawar menawar berlangsung. 2. Penulisan naskah akhir.4 Keadaan memaksa/force majeur Diatur dalam pasal 1244 KUHPerdata dan 1245 KUHPerdata. d.4. Penulisan naskah awal. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Prakontrak a. baru . penting sebagai pegangan untuk digunakan lebih lanjut di dalam negosiasi lanjutan atau sebagai dasar untuk melakukan studi kelayakan atau pembuatan kontrak. ganti kerugian ataupun bunga kepada kreditur oleh karena suatu keadaan yang berada diluar kekuasaanya dalam upayanya melakukan prestasi.5 Risiko Adalah suatu ketentuan yang mengatur mengenai pihak mana yang memikul kerugian/menanggung akibat. MoU merupakan pencatatan atau pendokumentasian hasil negosiasi awal tersebut dalam bentuk tertulis. Pascakontrak a. b. Misal ketika telah terjadi suatu kesepakatan pembangunan gedung. Kontrak a. jika ada sesuatu kejadian diluar kesalahan salah satu pihak yang menimpa obyek perjanjian. d. Negosiasi (lanjutan). c. Penandatanganan. 2. 2. Jika terjadi kebakaran sebelum diserahkan maka itu risiko pihak asuransi yang harus dipertanggungjawabkan.4. kerugian berupa keuntungan yang seharusnya dapat diperoleh (ditujukan kepada bungabunga). maka segala sesuatu akibat sebelum penyerahan terjadi menjadi tanggung jawab pihak ketiga selaku risk insurance. Tahapan berikutnya pembuatan Memorandum of Understanding (MoU). c. MoU walaupun belum merupakan kontrak. biasanya terlebih dahulu dilakukan negosiasi awal. Pelaksanaan. Perbaikan naskah. Penyelesaian sengketa. b. Negosiasi merupakan suatu proses upaya untuk mencapai kesepakatan dengan pihak lain. Setelah pihak-pihak memperoleh MoU sebagai pegangan atau pedoman sementara. 2. Memorandum of Understanding (MoU). Penafsiran. Ketentuan ini memberikan kelonggaran kepada debitur untuk tidak melakukan penggantian biaya.diterima. Negosiasi. Sebelum kontrak disusun atau sebelum transaksi bisnis berlangsung. Studi kelayakan. 3. b.5 Penyusunan Kontrak [2] Penyusunan suatu kontrak bisnis meliputi bebrapa tahapan sejak persiapan atau perencanaan sampai dengan pelaksanaan isi kontrak.

. 2... Sewa Menyewa. Nama ........ Sebutkan nama pekerjaan atau jabatan. (4) Latar belakang kesepakatan (Recital).. tempat tinggal.. Penulisan kontrak perlu mempergunakan bahasa yang baik dan benar dengan berpegang pada aturan tata bahasa yang berlaku. Judul harus dirumuskan secara singkat. berkedudukan di . keuangan..dilanjutkan dengan tahapan studi kelayakan (feasibility study. dengan ciriciri berikut ini : Engine No. tipe .... juga memahami aspek hukum... Dalam penulisan naskah kontrak di samping diperlukan kejelian dalam menangkap berbagai keinginan pihak-pihak. Chasis . Pada bagian berikutnya diuraikan secara ringkas latar belakang terjadinya kesepakatan (recital). singkat. (2) Pembukaan.. dan bahasa kontrak. Bertempat tinggal di . Contoh penulisan identitas pihak-pihak pada perjanjian jual beli sebagai berikut : 1. Pekerjaan ... Joint Venture Agreement atau License Agreement.. dan jelas misalnya Jual Beli Sewa. Pekerjaan . dan bertindak untuk siapa... padat. Tahun Pembuatan .... ... (3) Pihak-pihak...´ Setelah itu dijelaskan identitas lengkap pihak-pihak. jelas dan sistematis.. baik bahasa Indonesia maupun bahasa asing harus tepat. dan Faktur Kendaraan . dalam hal ini bertindak untuk diri sendiri/untuk dan atas nama . selanjutnya disebut pembeli.. berkedudukan di .. (6) Penutupan. dalam hal ini bertindak untuk diri sendiri/selaku kuasa dari dan oleh karenanya bertindak untuk atas nama . dalam praktek biasanya penulisan kontrak bisnis mengikuti suatu pola umum yang merupakan anatomi dari sebuah kontrak. lingkungan. Bagi perusahaan/badan hukum sebutkan tempat kedudukannya sebagai pengganti tempat tinggal. Contoh perumusannya seperti ini : ³dengan menerangkan penjual telah menjual kepada pembeli dan pembeli telah membeli dari penjual sebuah mobil/sepeda motor baru merek ..... due diligent) untuk melihat tingkat kelayakan dan prospek transaksi bisnis tersebut dari berbagai sudut pandang yang diperlukan misalnya ekonomi.. kami yang bertanda tangan di bawah ini. misalnya dirumuskan sebagai berikut : ³Yang bertanda tangan di bawah ini atau Pada hari ini Senin tanggal dua Januari tahun dua ribu.. Walaupun tidak ditentukan suatu format baku di dalam perundang-undangan.. Dalam penggunaan bahasa. sebagai berikut : (1) Judul. apabila diperlukan. teknik..... selanjutnya disebut penjual. Bertempat tinggal di ... akan diadakan negosiasi lanjutan dan hasilnya dituangkan dalam kontrak. Hasil studi kelayakan ini diperlukan dalam menilai apakah perlu atau tidaknya melanjutkan transaksi atau negosiasi lanjutan... sosial budaya dan hukum.. pemasaran. Nama . (5) Isi. Berikutnya pembukaan terdiri dari kata-kata pembuka.

. PENUTUP . angka-angka tertentu.. Untuk perusahaan/badan hukum memakai cap lembaga masingmasing. 8. Jika semua hal yang diperlukan telah tertampung di dalam bagian isi tersebut. Dan akhirnya diberikan materai.. ayat-ayat.´ Menurut UU No 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi pasal 22 ayat (2) kontrak minimal harus terdiri atas: 1. dimana putusan mereka didasarkan dalil-dalil dalam perkara. alamat ... Di bagian bawah kontrak dibubuhkan tanda tangan kedua belah pihak dan para saksi (kalau ada). 3. 13. 9.. huruf-huruf.. dengan syarat-syarat yang telah disepakati oleh penjual dan pembeli seperti berikut ini. misalnya: ³Dibuat dan ditandatangani di . Isi kontrak paling banyak mengatur secara detail hak dan kewajiban pihak-pihak..tertulis atas nama . tanggal . 7. 2... 12. dan bebagai janji atau ketentuan atau klausula yang disepakati bersama. Arbitrase menurut Frank Alkoury dan Eduar Elkoury adalah suatu proses yang mudah dan simple yang dipilih oleh para pihak secara sukarela yang ingin agar perkaranya diputus oleh juru sita yang netral sesuai dengan pilihan mereka. tanpa paksaan dengan dibantu mediator yang ditunjuk oleh para pihak namun mediator tersebut tidak memiliki kekuatan apapun untuk memutus ia hanya berfungsi untuk mencari jalan tengah. Para pihak Rumusan pekerjaan Nilai pekerjaan Masa pertanggungan/pemeliharaan Tenaga ahli Hak dan kewajiban Cara pembayaran Cedera janji Penyelesaian perselisihan Pemutusan kontrak kerja Keadaan memaksa Perlindungan pekerja Aspek lingkungan 2. pada hari ini .6 Pola Penyelesaian Sengketa dalam kontrak Pada umumnya dibagi dua yaitu melalui pengadilan dan alternatif penyelesaian sengketa (Alternative Dispute Resolution/ADR). 11. 10.. Para pihak setuju sejak semula untuk menerima putusan tersebut secara final dan mengikat Mediasi menurut penulis adalah metode penyelesaian yang dilakukan dengan sukarela. 3.´ Pada bagian inti dari sebuah kontrak diuraikan panjang lebar isi kontrak yang dapat dibuat dalam bentuk pasal-pasal. baru dirumuskan penutupan dengan menuliskan kata-kata penutup. 5.. 6... 4. ADR yang biasa digunakan adalah Arbitrase dan Mediasi. jadi keputusan akhir dan eksekusi tetap ada di para pihak..

[1] Moral dan hukum harus secara tegas dipisahkan. tidak memiliki tempat dalam doktrin ini. rapi dan jelas.Banyak permasalahan yang terjadi pada suatu kontrak bila tidak tersusun dengan baik. Menurut Ridwan Khairandi. harus . tidak ada salahnya bagi kita para praktisi. Mengingat pengaturan hukum kontrak kita yang memang tidak berubah sejak masa pemerintahan Hindia Belanda. Hukum ini memusatkan perhatian pada kewajiban untuk melaksanakan kewajiban sendiri (self imposed obligation). Permasalahan tersebut akan semakin merugikan pihak yang lemah kedudukannya dalam kontrak tersebut bila terjadi perselisihan dan terpaksa memasuki jalur pengadilan. Prinsip-prinsip Hukum Kontrak Hukum kontrak merupakan bagian hukum privat. dipandang sebagai ekspresi kebebasan manusia untuk memilih dan mengadakan perjanjian. masyarakat maupun akademis untuk mempelajari dan mengerti. Konsep seperti justum pretum laesio enomis (harga yang adil dapat berarti kerugian terbesar) atau penyalahgunaan hak. Apabila seseorang dirugikan oleh suatu perjanjian disebabkan kesalahannya sendiri. setiap perjanjian kontraktual yang diadakan adalah sah (geoorloofd). Muncul adagium summun jus summa injuria (hukum tertinggi dapat berarti ketidakadilan yang terbesar). setiap perjanjian kontraktual yang diadakan secara bebas adalah adil dan memerlukan sanksi undang-undang. Dipandang sebagai hukum privat karena pelanggaran terhadap kewajiban-kewajiban yang ditentukan dalam kontrak. Oleh karena itu. paradigma baru hukum kontrak timbul dari dua dalil di bawah ini: 1. Kontrak dalam bentuk yang paling klasik. harus memikulnya sendiri karena ia menerima kewajiban itu secara sukarela (volenti non fit injuria). murni menjadi urusan pihakpihak yang berkontrak. Tak kalah penting pula untuk memperhatikan peratuan perundang-undangan lain yang terkait dengan kontrak yang hendak dilakukan. dan 2. kita harus memperhatikan dengan seksama efek atau akibat kontrak tersebut sebelum menandatanganinya. Apakah kita telah memiliki kedudukan yang seimbang atau tidak. bisnis.

pelaksanaan dan berakhirnya harus tetap memenuhi asas-asas hukum kontrak.asas akan mengakibatkan perjanjian yang tidak fair atau tidak sehat. Asas itikad baik sebagai landasan bangunan hukum secara menyeluruh. Masing ± masing pihak baik pengusaha maupun serikat pekerja / buruh harus memasukkan seluruh bidang hukum perburuhan dalam PKB. lengkap dengan syarat-syarat.dipenuhi meskipun orang itu mengalami kerugian. persetujuan timbal balik. Sejauh yang dapat kita ketahui. pokok yang disetujui. Dalam kerangka hukum internasional publik. sebaliknya. Kontrak dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai ³perjanjian´ Meskipun demikian.[5] Terdapat tiga pilar utama penyanggah bangunan hukum perjanian yaitu asas konsensualisme. Upaya mewujudkan bidang hukum perburuhan yang meliputi bidang pengerahan / penempatan tenaga kerja. tidak pernah terekam dua negara yang diwakili oleh pemerintah masing-masing membuat suatu contract.[3] Kontrak mengandung unsur-unsur: pihak-pihak yang berkompeten.[6] Selanjutnya menurut Moch Isnaeni ketiga asas itu berkembang menjadi asas kebebasan berkontrak. Unsur-unsur kontrak seperti dirinci di atas. Istilah contract digunakan dalam kerangka hukum nasional atau internasional yang bersifat perdata. asas daya mengikatnya kontrak dan asas perjanjian hanya menciptakan perikatan diantara para pihak yang berkontrak. Masing-masing harus mempunyai kedudukan yang besar. keamanan kerja dan . dalam bahasa Inggris tidak selalu sepadan dengan contract. asas kebebasan berkontrak dan asas kekuatan mengikatnya perjanjijan. yang kita sebut ³perjanjian´. asas pacta sunt servanda.sama diwujudkan dalam setiap perjanjian. tidak boleh ada salah satu asas yang diunggulkan. asas persamaan kontrak dan asas itikad baik. perjanjian tetap berlaku sebagai Undang-Undang bagi para pihak yang membuatnya. asas konsensualisme. asas persamaan kontrak harus berjalan seiringan. selama pelaksanaan kontrak dan pada saat akhir kontrak. apa yang dalam bahasa Indonesia disebut perjanjian. asas itikad baik. secara tegas memberikan gambaran yang membedakan antara kontrak dengan pernyataan sepihak. ³Contract: An agreement between two or more persons which creates an obligation to do or not to do a peculiar thing´. Tidak ada salah satu yang ditonjolkan atau ditenggelamkan. dalam bahasa Inggris seringkali disebut treaty atau kadang-kadang juga covenant. dan kewajiban timbal balik. prinsip private of contract. Kontrak adalah persetujuan yang dibuat secara tertulis yang melahirkan hak dan kewajiban para pihak yang membuat kontrak. sama porsinya. Diunggulkannya salah satu asas akan mengakibatkan asas yang lainnya tenggelam sehingga akan merugikan salah satu pihak. asas konsensualisme. Keenam asa hukum kontrakitu harus mendapat porsi yang sama. serta yang berfungsi sebagai alat bukti tentang adanya kewajiban. PKB adalah salah satu jenis perjanjian. Wujud adanya harmonisasi hukum kontrak pada PKB dapat dilihat dalam klausula ± klausula atau isi PKB. hubungan kerja. Proses pembuatan PKB. atau dengan kata lain harus tercipta harmonisasi dalam PKB. Asas itikad baik harus menjadi dasar yang dipegang teguh masingmasing pihak selama proses pembuatan kontrak. prinsip private of contract. Ketidak sederajatan perwjudan asas.[4] Asas hukum kontrak pada dasarnya ada tiga yaitu asas kebebasan berkontrak. pertimbangan hukum. kesehatan kerja. asas itikad baik. tidak pernah ada dua pihak swasta atau lebih membuat treaty atau covenant. Ciri kontrak yang utama adalah dia merupakan satu tulisan yang memuat persetujuan dari para pihak. Keseluruhan asas itu harus secara bersama. Penerapan Prinsip Hukum Kontrak pada Perjanjian Kerja Bersama Asas kebebasan berkontrak.[2] Kontrak adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh dua atau lebih pihak dimana masing-masing pihak yang ada didalamnya dituntut untuk melakukan satu atau lebih prestasi. asas pacta sunt servanda.

pihak yang terikat dalam PKB yaitu pengusaha dan serikat pekerja/ serikat buruh. Keinginan pekerja untuk meningkatkan kesejahteraan melalui peningkatn upah yang diterimanya. Tahapan pekerjaan terdiri dari: ‡ Perencanaan ( Engineering ± E) ‡ Pengadaan Bahan & Peralatan (Procurement ± P) . Penerapan asas. petro kimia).asas hukum kontrak dapat diperjuangkan oleh masing-masing pihak. Pekerja melalui keterwakilannya dalam serikat pekerja/ serikat buruh mempunyai kedudukan yang sama dalam memperjuangkan keinginannya. Keenam bidang itu harus mencerminkan hak dan kewajiban pengusaha. (Engineering. bedanya bentuk inibiasanya dipakai untuk industri (minyak. tetapi meliputi pula hal hal lain yang sesuai dengan tuntutan globalisasai. Fungsi serikat pekerja/ serikat buruh dalam proses pembuatan PKB harus lebih optimal dan berkualitas. misalnya berusaha mewujudkan fungsi serikat pekerja/ serikat buruh lainnya dalam rangka pemilikan saham oleh pekerja 13 Copyright NY-SS/HK-BKK/V/07 Bentuk EPC . serikat pekerja/ serikat buruh dan pekerja. gas. Procurement & Construction) Bentuk ini mirip dengan Design-Build. Keinginan pengusaha prinsipnya untuk memperoleh keuntungan dari usaha yang dijalankannya.Undang saja.bidang jaminan sosial buruh ke dalam PKB harus memperhatikan harmonisasi prinsip hukum kontrak yang enam itu. Tidak hanya merumuskan sesuatu yang normatif dalam ketentuan Undang.

tapi unjuk kerja yangharus sesuai TOR (Term Of Reference) yang diminta olehPengguna Jasa. Penjelasan UU.18/1999 Pasal 16 ayat 3 berbuyi : Penggabungan ketiga fungsi tersebut dikenal antara lain dalammodel penggabungan. Bedanya terletak pada masakonsesi yang di perlukan untuk pengembalian investasi. mengoperasikan danmengembalikan fasilitas yang biasa disebut kontrak BOT ataukontrak Konsesi.dst Bentuk kontrak ini banyak dipakai di Indonesia dalam duniaperminyakan dan gas bumi (PERTAMINA) Bentuk Kontrak BOT/BLT . procurement and construction) serta model ««««««. Investor mendapatkan konsesiuntuk mengoperasikan dan memungut hasil (Operate) dalam kurunwaktu tertentu. pengadaan dan pembangunan (engineering. . perencanaan. No. 14 Copyright NY-SS/HK-BKK/V/07 Setelah konsesi selesai. Pola kerjasama antara Pemilik lahan dan Investor yang punyamodal/dana Setelah fasilitas dibangun (Build). Jadi perlu kontrak untuk membangun.‡ Konstruksi/Pembangunan (Construction ± C) Pembayaran dilaksanakan sesuai tahapan pekerjaan yang telahdiselesaikan Yang dinilai bukan saja pekerjaan selesai. Mirip dengan Rancang Bangun. fasilitas dikembalikan ke Pemilik (Transfer).

Sesungguhnya bukan kontrak Pekerjaan dilakukan sendiri ± dibayar sendiri ³Gilbreath : ³Force Account´. Build. Lease & Transfer (BLT) beda sedikit dengan BOT dimanaPemilik seolah-olah menyewa kepada Investor (Lease) untuk mengembalikan dana Investor secara bertahap Bentuk Swakelola . menggunakan tenaga sendiri.Dalam kontrak Konsesi biasanya lebih disukai termasuk masamembangun agar ada rangsangan mempercepat pembangunan masa konsesi lebih lama menambah keuntungan. ‡ Melaksanakan sendiri. ‡ Variasinya menyewa pemborong upah ‡ Pemborong upah tidak memikul resiko ‡ Pembayaran atas dasar prosentase 15 Copyright NY-SS/HK-BKK/V/07 ‡ Banyak kendala : . Selain itu perlu kontrak operasi & pemeliharaan untuk menjaminfasilitas dikembalikan kepada pemilik dalam kondisi yang masihmemiliki nilai.

logistik.Reaksi pihak luar Keterbatasan SDM Biaya pelatihan pegawai Kesulitan pekerjaan konstruksi Resiko kenaikan biaya. transport. dsb Bagan Organisasi Swakelola(Gilbreath 1992 Keterangan Pemilik Pro ek .

Hukum memberikan sanksi terhadap pelaku pelanggaran kontrak atau ingkar janji (wanprestasi).dan perjanjian pinjam-meminjam. Di dalamnya diterangkan mengenai perjanjian. Isi perjanjian ini disebut prestasi yang berupa penyerahan suatu barang. Sebagaimana diatur dalam buku III Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Secara hukum. melakukan suatu perbuatan. berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain. Perikatan adalah suatu perhubungan hukum antara dua orang berdasarkan mana yang satu berhak menuntut hal dari pihak lain dan pihak lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu. Itikad baik yang sudah mendapat kesepakatan terdapat dalam isi perjanjian untuk ditaati oleh kedua belah pihak sebagai suatu peraturan bersama. dan tidak melakukan suatu perbuatan. Dengan kata lain. Pengertian perjanjian secara umum adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada seorang lainnya atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal. Dari peristiwa itulah maka timbul suatu hubungan antara dua orang tersebut yang dinamakan perikatan. dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan Perikatan adalah suatu pengertian yang abstrak. atau karena alasan-alasan yang ditentukan oleh undang-undang. perjanjian merupakan suatu rangkaian perkataan yang mengandung janji-janji atau kesanggupan yang diucapkan atau ditulis. Melalui kontrak terciptalah perikatan atau hubungan hukum yang menimbulkan hak dan kewajiban pada masing-masing pihak yang membuat kontrak. para pihak terikat untuk mematuhi kontrak yang telah mereka buat tersebut. kontrak dapat dipaksakan berlaku melalui pengadilan.BAB I PENDAHULUAN Perjanjian adalah salah satu bagian terpenting dari hukum perdata. . lahir karena suatu persetujuan atau karena undang-undang. Persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan kesepakatan kedua belah pihak. Semua persetujuan yang dibuat sesuai dengan undang-undang berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. kemudian mereka mengadakan negosiasi dengan pihak lain. Sedangkan definisi dari perikatan adalah suatu perhubungan hukum antara dua orang atau dua pihak. perjanjian sewa menyewa. Persetujuan harus dilaksanakan dengan itikad baik yaitu keinginan subyek hukum untuk berbuat sesuatu. Dalam hal ini fungsi kontrak sama dengan perundang-undangan. sedangkan perjanjian adalah suatu hal yang konkret atau suatu peristiwa. termasuk di dalamnya perjanjian khusus yang dikenal oleh masyarakat seperti perjanjian jual beli. Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada orang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal. dan sudah barang tentu keinginan itu sesuatu yang baik. Dalam bentuknya. Kontrak (perjanjian) adalah suatu ³peristiwa di mana seorang berjanji kepada orang lain atau di mana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal ³. (Subekti. tetapi hanya berlaku khusus terhadap para pembuatnya saja. 1983:1). Perikatan.

mengikat kepentingan umum dan ketertiban. tukar-menukar. yang menyiratkan adanya 3 (tiga asas) yang seyogyanya dalam perjanjian : 1. Tentang isi perjanjian Sepenuhnya diserahkan kepada para pihak (contractsvrijheid atau partijautonomie) yang bersangkutan. Selain KUH Perdata. di samping mengatur mengenai perikatan yang timbul dari perjanjian. juga dalam jurisprudensi misalnya tentang sewa beli. yang menentukan bahwa : . 1. kesusilaan. Tentang akibat perjanjian Bahwa perjanjian mempunyai kekuatan yang mengikat antara pihak-pihak itu sendiri. juga mengatur perikatan yang timbul dari undang-undang misalnya tentang perbuatan melawan hukum. pemberian kuasa dan perburuhan. Artinya pihak-pihak bebas untuk membuat kontrak apa saja. pemborongan. Dengan kata lain selama perjanjian itu tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku. Di samping itu. Mengenai terjadinya perjanjian Asas yang disebut konsensualisme. Contoh perjanjian khusus : jual beli. kebebasan tersebut tidak mutlak karena terdapat pembatasannya. tepatnya dalam Buku III. pinjam-meminjam. ketertiban umum. Asas ini ditegaskan dalam Pasal 1338 ayat (1) BW yang menegaskan bahwa perjanjian dibuat secara sah diantara para pihak. Aspek-aspek kebebasan berkontrak dalam Pasal 1338 KUH Perdata (BW) . Namun. yaitu tidak boleh bertentangan dengan undang-undang. maka perjanjian itu diperbolehkan. Misalnya : Undang-undang Perbankan dan Keputusan Presiden tentang Lembaga Pembiayaan. berlaku sebagai Undang-Undang bagi pihak-pihak yang melakukan perjanjian tersebut. Suatu asas hukum penting berkaitan dengan berlakunya kontrak adalah asas kebebasan berkontrak. artinya menurut BW perjanijan hanya terjadi apabila telah adanya persetujuan kehendak antara para pihak (consensus. consensualisme).Pengaturan tentang kontrak diatur terutama di dalam KUH Perdata (BW). sewa menyewa. Dalam KUH Perdata terdapat aturan umum yang berlaku untuk semua perjanjian dan aturan khusus yang berlaku hanya untuk perjanjian tertentu saja (perjanjian khusus) yang namanya sudah diberikan undang-undang. dan kesusilaan. Berlakunya asas kebebasan berkontrak dijamin oleh oleh Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata. dan sumber hukum lainnya. masih ada sumber hukum kontrak lainnya di dalam berbagai produk hukum. 1. baik yang sudah ada pengaturannya maupun yang belum ada pengaturannya dan bebas menentukan sendiri isi kontrak.

setidak tidaknya dapat ditentukan. Jadi. Pihak-pihak bebas untuk membuat perjanjian apa saja dan menuangkan apa saja di dalam isi sebuah kontrak BAB II 1. kecakapan. 2. Pasal 1320 KUH Perdata menentukan empat syarat sahnya perjanjian yaitu harus ada kesepakatan. dan atau kesusilaan. dan sebagainya. Supaya sah pembuatan perjanjian harus mempedomani Pasal 1320 KUH Perdata. Meskipun belum berumur 18 (delapan belas) tahun. 4. orang dewasa yang ditempatkan di bawah pengawasan (curatele). Anak-anak adalah mereka yang belum dewasa yang menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan belum berumur 18 (delapan belas) tahun. 1. Kecakapan Kecakapan di sini artinya para pihak yang membuat kontrak haruslah orang-orang yang oleh hukum dinyatakan sebagai subyek hukum. berarti cakap untuk membuat perjanjian. Pada dasarnya semua orang menurut hukum cakap untuk membuat kontrak. Misalnya jual beli sebuah mobil. harus jelas merk apa. tanpa penjelasan lebih lanjut. dan orang sakit jiwa. Hal ini penting untuk memberikan jaminan atau kepastian kepada pihak-pihak dan mencegah timbulnya kontrak fiktif. Yang tidak cakap adalah orang-orang yang ditentukan hukum.³setiap perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya´. Syarat Sahnya Kontrak Dari bunyi Pasal 1338 ayat (1) jelas bahwa perjanjian yang mengikat hanyalah perjanjian yang sah. Jadi tidak boleh samar-samar. 3. yaitu anak-anak.sama seperti perundang-undangan. Misalnya jual beli bayi adalah tidak sah karena bertentangan dengan norma-norma tersebut. hal tertentu dan sebab yang diperbolehkan. Semakin jelas semakin baik. 1. Hal tertentu Hal tertentu maksudnya objek yang diatur kontrak tersebut harus jelas. Tidak boleh misalnya jual beli sebuah mobil saja. semua perjanjian atau seluruh isi perjanjian. penipuan atau kekhilafan. 3. warna apa. Kesepakatan tidak ada apabila kontrak dibuat atas dasar paksaan. berlaku bagi para pembuatnya. A. nomor mesinnya berapa. . 1. asalkan pembuatannya memenuhi syarat. 2. Kesepakatan Yang dimaksud dengan kesepakatan di sini adalah adanya rasa ikhlas atau saling memberi dan menerima atau sukarela di antara pihak-pihak yang membuat perjanjian tersebut. buatan tahun berapa. ketertiban umum. Sebab yang dibolehkan Maksudnya isi kontrak tidak boleh bertentangan dengan perundang-undangan yang sifatnya memaksa. apabila seseorang telah atau pernah kawin dianggap sudah dewasa.

Negosiasi (lanjutan). Pascakontrak 1. B. Negosiasi merupakan suatu proses upaya untuk mencapai kesepakatan dengan pihak lain. Tahapan berikutnya pembuatan Memorandum of Understanding (MoU). Setelah pihak-pihak memperoleh MoU sebagai pegangan atau pedoman sementara. pemasaran. 2. Perbaikan naskah. Pelaksanaan. 4. kontrak tidak harus dibuat secara tertulis 1. 3. Penulisan naskah awal. Studi kelayakan. Idealnya sejak negosiasi bisnis persiapan tersebut sudah dimulai. 3. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut : 1. penting sebagai pegangan untuk digunakan lebih lanjut di dalam negosiasi lanjutan atau sebagai dasar untuk melakukan studi kelayakan atau pembuatan kontrak. 2. Penulisan naskah akhir.KUH Perdata memberikan kebebasan berkontrak kepada pihak-pihak membuat kontrak secara tertulis maupun secara lisan. Prakontrak 1. Penafsiran. lingkungan. teknik. Dalam negosiasi inilah proses tawar menawar berlangsung. MoU walaupun belum merupakan kontrak. Kontrak 1. 3. Penandatanganan. 3. Baik tertulis maupun lisan mengikat. baru dilanjutkan dengan tahapan studi kelayakan (feasibility study. keuangan. Memorandum of Undersatnding (MoU). Negosiasi. 2. Penyelesaian sengketa. 4. MoU merupakan pencatatan atau pendokumentasian hasil negosiasi awal tersebut dalam bentuk tertulis. due diligent) untuk melihat tingkat kelayakan dan prospek transaksi bisnis tersebut dari berbagai sudut pandang yang diperlukan misalnya ekonomi. Penyusunan suatu kontrak bisnis meliputi bebrapa tahapan sejak persiapan atau perencanaan sampai dengan pelaksanaan isi kontrak. 2. biasanya terlebih dahulu dilakukan negosiasi awal. Sebelum kontrak disusun atau sebelum transaksi bisnis berlangsung. Hasil studi kelayakan ini diperlukan dalam menilai apakah perlu atau tidaknya melanjutkan transaksi . Jadi. sosial budaya dan hukum. asalkan memenuhi syaratsyarat yang diatur dalam Pasal 1320 KHU Perdata. Penyusunan Kontrak Untuk menyusun suatu kontrak bisnis yang baik diperlukan adanya persiapan atau perencanaan terlebih dahulu.

dalam hal ini bertindak untuk diri sendiri/untuk dan atas nama «. dalam praktek biasanya penulisan kontrak bisnis mengikuti suatu pola umum yang merupakan anatomi dari sebuah kontrak. tempat tinggal. Bagi perusahaan/badan hukum sebutkan tempat kedudukannya sebagai pengganti tempat tinggal. misalnya dirumuskan sebagai berikut : Yang bertanda tangan di bawah ini atau Pada hari ini Senin tanggal dua Januari tahun dua ribu. Dalam penulisan naskah kontrak di samping diperlukan kejelian dalam menangkap berbagai keinginan pihak-pihak. Contoh perumusannya seperti ini : . dan jelas misalnya Jual Beli Sewa. Bertempat tinggal di «. Berikutnya pembukaan terdiri dari kata-kata pembuka. sebagai berikut : (1) Judul. (5) Isi. Pekerjaan «. berkedudukan di «. dan bertindak untuk siapa. selanjutnya disebut pembeli. selanjutnya disebut penjual. dalam hal ini bertindak untuk diri sendiri/selaku kuasa dari dan oleh karenanya bertindak untuk atas nama «. Penulisan kontrak perlu mempergunakan bahasa yang baik dan benar dengan berpegang pada aturan tata bahasa yang berlaku.. jelas dan sistematis. Nama «. (2) Pembukaan. singkat. Judul harus dirumuskan secara singkat. Pekerjaan «. Pada bagian berikutnya diuraikan secara ringkas latar belakang terjadinya kesepakatan (recital). kami yang bertanda tangan di bawah ini. Bertempat tinggal di «.atau negosiasi lanjutan. (4) Latar belakang kesepakatan (Recital). padat. 2.. berkedudukan di «. Sebutkan nama pekerjaan atau jabatan. Sewa Menyewa. baik bahasa Indonesia maupun bahasa asing harus tepat.. (3) Pihak-pihak. Contoh penulisan identitas pihak-pihak pada perjanjian jual beli sebagai berikut : 1. Walaupun tidak ditentukan suatu format baku di dalam perundang-undangan. Dalam penggunaan bahasa. dan bahasa kontrak. Joint Venture Agreement atau License Agreement. Nama «.. juga memahami aspek hukum. akan diadakan negosiasi lanjutan dan hasilnya dituangkan dalam kontrak. (6) Penutupan. apabila diperlukan. Setelah itu dijelaskan identitas lengkap pihak-pihak.

misalnya. baru dirimuskan penutupan dengan menuliskan kata-kata penutup. pelaksanaan. yang berbunyi: ³Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. . 4. dan Faktur Kendaraan tertulis atas nama «. 2. Misalnya : Dibuat dan ditandatangani di «. Jika semua hal yang diperlukan telah tertampung di dalam bagian isi tersebut. maka ditulis pada penutupan. tanggal «. menentukan isi perjanjian. dan persyaratannya. Di bagian bawah kontrak dibubuhkan tanda tangan kedua belah pihak dan para saksi (kalau ada). Dan akhirnya diberikan materai. a) Asas Kebebasan Berkontrak (freedom of contract) Asas kebebasan berkontrak dapat dianalisis dari ketentuan Pasal 1338 ayat (1) KUHPer. Isi kontrak paling banyak mengatur secara detail hak dan kewajiban pihak-pihak.dengan menerangkan penjual telah menjual kepada pembeli dan pembeli telah membeli dari penjual sebuah mobil/sepeda motor baru merek «. alamat «. membuat atau tidak membuat perjanjian. Kelima asas itu antara lain adalah: asas kebebasan berkontrak (freedom of contract).´ Asas ini merupakan suatu asas yang memberikan kebebasan kepada para pihak untuk: 1. Pada bagian inti dari sebuah kontrak diuraikan panjang lebar isi kontrak yang dapat dibuat dalam bentuk pasal-pasal. C. Asas Asas Hukum Perjanjian Di dalam suatu hukum kontrak terdapat 5 (lima) asas yang dikenal menurut ilmu hukum perdata. asas konsensualisme (concsensualism). dan bebagai janji atau ketentuan atau klausula yang disepakati bersama. Jika kontrak sudah ditandatangani berarti penyusunan sudah selesai tinggal pelaksanaannya di lapangan yang kadangkala isinya kurang jelas sehingga memerlukan penafsiran-penafsiran. asas itikad baik (good faith) dan asas kepribadian (personality). 3. menentukan bentuk perjanjiannya apakah tertulis atau lisan.. asas kepastian hukum (pacta sunt servanda). Chasis «. mengadakan perjanjian dengan siapa pun. huruf-huruf. dengan syarat-syarat yang telah disepakati oleh penjual dan pembeli seperti berikut ini. Tahun Pembuatan «. pada hari ini «. dengan ciri-ciri berikut ini : Engine No. tipe «. Untuk perusahaan/badan hukum memakai cap lembaga masing-masing. «. angka-angka tertentu. Demikianlah perjanjian ini dibuat untuk dipergunakan seperlunya atau kalau pada pembukaan tidak diberikan tanggal. ayat-ayat.

yaitu tertulis (baik berupa akta otentik maupun akta bawah tangan). Didalam hukum Jerman tidak dikenal istilah asas konsensualisme. Asas pacta sunt servanda merupakan asas bahwa hakim atau pihak ketiga harus menghormati substansi kontrak yang dibuat oleh para pihak.Latar belakang lahirnya asas kebebasan berkontrak adalah adanya paham individualisme yang secara embrional lahir dalam zaman Yunani. Dalam hukum Romawi dikenal istilah contractus verbis literis dan contractus innominat. asas ini diwujudkan dalam ³kebebasan berkontrak´. yang diteruskan oleh kaum Epicuristen dan berkembang pesat dalam zaman renaissance melalui antara lain ajaran-ajaran Hugo de Grecht. setiap orang bebas untuk memperoleh apa saja yang dikehendakinya. Sedangkan perjanjian formal adalah suatu perjanjian yang telah ditentukan bentuknya. Dalam hukum gereja itu disebutkan bahwa terjadinya suatu perjanjian bila ada kesepakatan antar pihak yang melakukannya dan dikuatkan dengan sumpah. Karena pemerintah sama sekali tidak boleh mengadakan intervensi didalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Kesepakatan adalah persesuaian antara kehendak dan pernyataan yang dibuat oleh kedua belah pihak. Asas ini pada mulanya dikenal dalam hukum gereja. Asas konsensualisme yang dikenal dalam KUHPer adalah berkaitan dengan bentuk perjanjian. Asas konsensualisme muncul diilhami dari hukum Romawi dan hukum Jerman. c) Asas Kepastian Hukum (Pacta Sunt Servanda) Asas kepastian hukum atau disebut juga dengan asas pacta sunt servanda merupakan asas yang berhubungan dengan akibat perjanjian. Thomas Hobbes. Yang artinya bahwa terjadinya perjanjian apabila memenuhi bentuk yang telah ditetapkan. Asas pacta sunt servanda dapat disimpulkan dalam Pasal 1338 ayat (1) KUHPer. Pada pasal tersebut ditentukan bahwa salah satu syarat sahnya perjanjian adalah adanya kata kesepakatan antara kedua belah pihak. Pihak yang kuat menentukan kedudukan pihak yang lemah. Perjanjian riil adalah suatu perjanjian yang dibuat dan dilaksanakan secara nyata (dalam hukum adat disebut secara kontan). Hal ini mengandung makna bahwa setiap perjanjian yang diadakan oleh kedua pihak . Dalam hukum kontrak. melainkan cukup dengan adanya kesepakatan kedua belah pihak. John Locke dan J. Asas ini merupakan asas yang menyatakan bahwa perjanjian pada umumnya tidak diadakan secara formal. b) Asas Konsensualisme (Concensualism) Asas konsensualisme dapat disimpulkan dalam Pasal 1320 ayat (1) KUHPer. Paham individualisme memberikan peluang yang luas kepada golongan kuat ekonomi untuk menguasai golongan lemah ekonomi. sebagaimana layaknya sebuah undang-undang.J. Teori leisbet fair in menganggap bahwa the invisible hand akan menjamin kelangsungan jalannya persaingan bebas. Menurut paham individualisme. Pihak yang lemah berada dalam cengkeraman pihak yang kuat seperti yang diungkap dalam exploitation de homme par l¶homme. tetapi lebih dikenal dengan sebutan perjanjian riil dan perjanjian formal. Mereka tidak boleh melakukan intervensi terhadap substansi kontrak yang dibuat oleh para pihak. Rosseau.

bila suatu perjanjian yang dibuat untuk diri sendiri. Sedangkan di dalam Pasal 1318 KUHPer.´ Asas ini merupakan asas bahwa para pihak. yaitu pihak kreditur dan debitur harus melaksanakan substansi kontrak berdasarkan kepercayaan atau keyakinan yang teguh maupun kemauan baik dari para pihak. Pasal 1317 KUHPer mengatur tentang pengecualiannya. atau suatu pemberian kepada orang lain. Pasal 1340 KUHPer berbunyi: ³Perjanjian hanya berlaku antara pihak yang membuatnya. e) Asas Kepribadian (Personality) Asas kepribadian merupakan asas yang menentukan bahwa seseorang yang akan melakukan dan/atau membuat kontrak hanya untuk kepentingan perseorangan saja. penilaian terletak pada akal sehat dan keadilan serta dibuat ukuran yang obyektif untuk menilai keadaan (penilaian tidak memihak) menurut norma-norma yang objektif. Dengan demikian. Namun. Pasal 1315 KUHPer menegaskan: ³Pada umumnya seseorang tidak dapat mengadakan perikatan atau perjanjian selain untuk dirinya sendiri. ketentuan itu terdapat pengecualiannya sebagaimana dalam Pasal 1317 KUHPer yang menyatakan: ³Dapat pula perjanjian diadakan untuk kepentingan pihak ketiga. dalam perkembangan selanjutnya asas pacta sunt servanda diberi arti sebagai pactum. Pada itikad yang kedua. seseorang memperhatikan sikap dan tingkah laku yang nyata dari subjek. yakni itikad baik nisbi dan itikad baik mutlak. Sedangkan istilah nudus pactum sudah cukup dengan kata sepakat saja. Namun demikian. tidak hanya mengatur perjanjian untuk diri sendiri. melainkan juga untuk kepentingan ahli warisnya dan untuk orang-orang yang memperoleh hak daripadanya. yang berarti sepakat yang tidak perlu dikuatkan dengan sumpah dan tindakan formalitas lainnya. Asas itikad baik terbagi menjadi dua macam. Pada itikad yang pertama. sedangkan Pasal 1318 KUHPer memiliki ruang lingkup yang luas. dengan adanya suatu syarat yang ditentukan. PENUTUP .´ Inti ketentuan ini sudah jelas bahwa untuk mengadakan suatu perjanjian. ahli warisnya dan orang-orang yang memperoleh hak dari yang membuatnya.´ Hal ini mengandung maksud bahwa perjanjian yang dibuat oleh para pihak hanya berlaku bagi mereka yang membuatnya.merupakan perbuatan yang sakral dan dikaitkan dengan unsur keagamaan. sedangkan dalam Pasal 1318 KUHPer untuk kepentingan dirinya sendiri. mengandung suatu syarat semacam itu.Berbagai putusan Hoge Raad (HR) yang erat kaitannya dengan penerapan asas itikad baik dapat diperhatikan dalam kasuskasus posisi berikut ini. Jika dibandingkan kedua pasal itu maka Pasal 1317 KUHPer mengatur tentang perjanjian untuk pihak ketiga. orang tersebut harus untuk kepentingan dirinya sendiri. Hal ini dapat dilihat dalam Pasal 1315 dan Pasal 1340 KUHPer.´ Pasal ini mengkonstruksikan bahwa seseorang dapat mengadakan perjanjian/kontrak untuk kepentingan pihak ketiga. d) Asas Itikad Baik (Good Faith) Asas itikad baik tercantum dalam Pasal 1338 ayat (3) KUHPer yang berbunyi: ³Perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik.

´ Kata ³mengikatkan´ merupakan kata kerja yang sifatnya hanya datang dari satu pihak saja. di mana hak merupakan suatu kenikmatan. Sedangkan maksud dari perjanjian itu mengikatkan diri dari kedua belah pihak. Jadi jelas nampak adanya konsensus/kesepakatan antara kedua belah pihak . yang mana pihak satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain.yang membuat perjanjian. Jenis kontrak ini belum dikenal pada saat KUHPerdata diundangkan. perjanjian menurut namanya dibagi menjadi dua macam. Hanya menyangkut perjanjian sepihak saja. Adapun kelemahan tersebut dapatlah diperinci: Pertama. sedangkan kewajiban merupakan beban. Perjanjian atau kontrak adalah sumber perikatan dan hubungan hukum adalah hubungan yang menimbulkan akibat hukum. Perjanjian batasannya diatur dalam pasal 1313 KUHPerdata yang berbunyi: ³Suatu persetujuan adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih´. yaitu kontrak nominaat (bernama) dan inominaat (tidak bernama). Bentuk perjanjian berupa suatu rangkaian perkataan yang mengandung janji-janji atau kesanggupan yang diucapkan atau ditulis. Sedangkan ³Perikatan´ adalah suatu perhubungan hukum antara dua orang atau dua pihak. sedangkan dalam bahasa Belanda disebut dengan istilah overeenscomsrech. Dari peristiwa ini. perjanjian digolongkan ke dalam hukum tentang diri seseorang dan hukum kekayaan karena hal ini merupakan perpaduan antara kecakapan seseorang untuk bertindak serta berhubungan dengan hal-hal yang diatur dalam suatu perjanjian yang dapat berupa sesuatu yang dinilai dengan uang. Di sini dapat diketahui dari rumusan ³satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih lainnya. Mengenai batasan tersebut para sarjana hukum perdata umumnya berpendapat bahwa definisi atau batasan atau juga dapat disebut rumusan perjanjian yang terdapat di dalam ketentuan pasal 1313 KUH Perdata kurang lengkap dan bahkan dikatakan terlalu luas yang mengandung banyak kelemahan-kelemahan. . Maka hubungan hukum antara perikatan dan perjanjian adalah bahwa perjanjian itu menerbitkan perikatan. Kontrak nominaat (bernama) merupakan kontrak yang dikenal di dalam KUHPerdata. Istilah hukum perjanjian atau kontrak dalam bahasa Inggris yaitu contract law. Sedangkan menurut teori ilmu hukum. Kedua. sehingga nampak kekurangannya di mana setidaktidaknya perlu adanya rumusan ³saling mengikatkan diri´. di mana hal tersebut mengatur dan memuat tentang hukum kekayaan yang mengenai hak-hak dan kewajiban yang berlaku terhadap orang-orang atau pihak-pihak tertentu. Pada dasarnya. tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. kata perbuatan mencakup juga tanpa konsensus/kesepakatan.Dalam Burgerlijk Wetboek (BW) yang kemudian diterjemahkan oleh Subekti dan Tjitrosudibio menjadi Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer) bahwa mengenai hukum perjanjian diatur dalam Buku III tentang Perikatan. Dengan demikian perjanjian itu menerbitkan suatu perikatan antara dua orang yang membuatnya. Dalam pengertian perbuatan termasuk juga tindakan mengurus kepentingan orang lain dan perbuatan melawan hukum. Kontrak inominaat adalah kontrak yang timbul. dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu. Suatu perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seseorang berjanji kepada seorang lain atau di mana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal. Akibat hukum disebabkan karena timbulnya hak dan kewajiban. timbul suatu hubungan antara dua orang tersebut yang dinamakan perikatan. tidak dari kedua belah pihak.

Atas dasar alasan-alasan tersebut di atas. Untuk kedua bentuk tersebut sama kekuatannya dalam arti sama kedudukannya untuk dapat dilaksanakan oleh para pihak. Bila secara lisan sampai terjadi perselisihan. yaitu perbuatan yang menimbulkan akibat hukum. kalau tidak maka perjanjian tidak akan terjadi. Yang penting dalam persesuaian kehendak itu adalah bahwa kehendak dari kedua pihak bertujuan untuk terjadinya akibat hukum tertentu yang sesuai dengan peraturan hukum. . Juga perbuatan itu sendiri pengertiannya sangat lugas. perbuatan hukum adalah perbuatan-perbuatan di mana untuk terjadinya atau lenyapnya hukum atau hubungan hukum sebagai akibat yang dikehendaki oleh perbuatan orang atau orang-orang itu. karena sebetulnya maksud perbuatan yang ada dalam rumusan tersebut adalah perbuatan hukum. Jadi kehendak itu harus diketahui oleh pihak lain. di samping harus dapat menunjukkan sanksi-sanksi. Dalam perumusan pasal itu tidak disebutkan apa tujuan untuk perjanjian sehingga pihak-pihak mengikatkan dirinya itu tidaklah jelas maksudnya untuk apa. maka perlu dirumuskan kembali apa yang dimaksud dengan perjanjian itu.Dari kedua hal tersebut di atas merupakan perbuatan yang tidak mengandung adanya konsensus atau tanpa adanya kehendak untuk menimbulkan akibat hukum. juga itikad baik pihak-pihak diharapkan dalam perjanjian itu. Perjanjian adalah merupakan perbuatan hukum. rumusan Rutten adalah perjanjian merupakan perbuatan hukum yang terjadi sesuai dengan formalitas-formalitas dari peraturan hukum yang ada. Hanya saja bila perjanjian dibuat dengan tertulis dapat dengan mudah dipakai sebagai alat bukti bila sampai terjadi persengketaan. tergantung dari persesuaian pernyataan kehendak dua atau lebih orang-orang yang ditujukan untuk timbulnya akibat hukum demi kepentingan salah satu pihak atas beban pihak lain atau demi kepentingan dan atas beban masing-masing pihak secara timbal balik. Selanjutnya untuk adanya suatu perjanjian dapat diwujudkan dalam dua bentuk yaitu perjanjian yang dilakukan dengan tertulis dan perjanjian yang dilakukan cukup secara lisan. Untuk dapat mencerminkan apa yang dimaksud perjanjian itu. maka sebagai alat pembuktian akan lebih sulit.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful