PEMBANGUNAN HUKUM DAN KONFLIK UNDANG-UNDANG BIDANG SEKTORAL

Oleh: Pusat Studi Kebijakan Hubungan Pusat dan Daerah Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Kerjasama Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia

Palembang 2009

IDENTITAS PENELITIAN
1. Judul Penelitian 2. Aspek 3. 4. 5. 6. Peneliti Utama Jenis Kelamin Unit Kerja Alamat Unit Kerja : Pembangunan Hukum dan Konflik Undang-Undang Sektoral : Integrasi Bangsa dan Harmoni Aturan Hukum : Dr. Febrian, S.H. MS. : Laki-laki : Fakultas Hukum : Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, Jl. Jl. Raya Palembang Prabumulih, Inderalaya Ogan Ilir : Telp. (0711) 442001 Fax. (0711) 353373 : febrian_zen@yahoo.com.sg : 081 63285762

7. Telepon /Fax 8. Alamat e-mail 9. Telepon Seluler/HP Anggota Penelitian
No. 1 2 3 4 5 6 7 Nama

Ridwan, SH., M.Hum. Indah Febriani, SH., M.Hum. Dr. M. Syaefuddin, SH., M.Hum. Drs. Murzal, SH., M.Hum. Firman Muntaqo, SH., M.Hum. Zulhidayat, SH. Mada Apriandi Zuhir, SH., MCL.

Kedudukan Wakil Ketua/ Anggota Sekretaris/Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

Tenaga Pendukung: 1. Mardiana, SH. 2. Mariana, SE. 3. Mardani, S. Kom.

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur peneliti haturkan ke hadirat Allah yang Maha Mengetahui yang telah memberi ilmu dan hikmah, sehingga proses penelitian dan penulisan laporan akhir penelitian yang berjudull “Pembangunan Hukum dan Konflik Undang-Undang Bidang Sektoral, dalam rangka studi hubungan pusat dan daerah, dapat diselesaikan dengan baik. Salah satu aspek mendasar dalam otonomi daerah adalah hubungan antara pusat dan daerah, di antaranya mengenai pembagian urusan dan pembagian wewenang pemerintahan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pembagian urusan pemerintahan terdiri atas; urusan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah pusat; urusan yang dibagi antar tingkatan dan/atau susunan pemerintahan, yang selanjutnya dikenal adanya urusan pemerintah daerah terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan. Hal inilah yang akan menentukan sejauhmana pemerintah pusat dan pemerintah daerah memiliki wewenang untuk menyelenggarakan urusan-urusan pemerintahan. Lebih lanjut, objek urusan pemerintahan bisa sama, tetapi wewenang atau ruang lingkupnya berbeda. Pembagian wewenang pemerintahan tersebut di atas, secara umum ditaur dalam UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Secara khusus juga diatur dalam berbagai UU sektoral, namun seringkali menimbulkan persoalan karena kurang tepat dalam pembagian wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Terjadi tumpang tindih dan tarik menarik wewenang, misalnya masalah pertanahan di daerah, pengelolaan hutan, dan pertambangan. Di tengah-tengah sumber daya alam yang melimpah, kehadiran otonomi daerah yang luas belum memberikan manfaat (positif) bagi masyarakat di daerah termasuk masyarakat adat, bahkan sebaliknya banyak menimbulkan dampak negatif. Pembagian wilayah Indonesia ke dalam daerah-daerah otonom, tidak menjadikan masyarakat adat sebagai salah satu faktor penentu. Bahkan, pembagian daerah-daerah otonom tersebut mengakibatkan struktur masyarakat adat dan budayanya menjadi terpecah-pecah dalam (fragmented) dalam beberapa daerah otonom. Penelitian ini merupakan kerjasama DPD RI dengan Pusat kajian Hubungan Pusat dan Daerah Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya melalui Surat Perintah Kerja, Penelitian Pusat Studi Kebijakan Hukum Pusat-Daerah Tentang Pembangunan Hukum Dan Pengawasan Terhadap Produk Hukum Daerah Nomor: HM. 320/440/DPD/VI/2009, tanggal: 22 Juni 2009. Untuk dapat mencapai tujuan penelitian yang diharapkan, penelitian ini disusun dalam beberapa kajian yang bermuara pada pembangunan hukum terkait
iv

. Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. Peraturan-peraturan yang berkaitan dengan hubungan pusat dan daerah. Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa tiada gading yang tak retak. topik-topik kajian tersebut disusun sebagai berikut. pembagian wewenang antara pusat dan daerah.B. dampak pembagian wewenang yang tidak seimbang antara pusat dan daerah. dan 4. S. baik dalam UU No. Badia Perizade. Palembang. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Dalam pelaksanaannya. M. PhD. kajian tentang konflik aturan hukum di bidang kehutanan. dan hukum bidang pertambangan. lembaga tempat peneliti bernaung.. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya. kajian tentang konflik aturan hukum di bidang pertanahan. LLM. kajian tentang konflik aturan hukum di bidang pengelolaan kesehatan. Konsep dan prinsip yang adil dan selaras dengan prinsip otonomi yang luas dan hak-hak masyarakat adat dan pengaturannya terkait dengan masing-masing topik. yaitu: 1.. yaitu hukum bidang kesehatan. 2009 Peneliti v .dengan berbagai konflik substansial dari sejumlah UU sektoral. peneliti menghaturkan terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah banyak membantu selama proses penelitian dan penulisan laporan akhir. yang dengan tulus ikhlas telah membantu peneliti dalam proses penelitian ini. Dr. 33 Tahun 2004 maupun dalam berbagai UU sektoral. dan bidang hukum lainnya.H. 3. Amzulian Rifai. semoga dapat berlanjut dimasa-masa yang akan datang. atas kepercayaan dan kerjasamanya. kajian tentang konflik aturan hukum di bidang pengelolaan sumber daya alam kelautan. Untuk itu.A. kajian tentang konflik aturan hukum di bidang lingkungan hidup. saran dan kritik membangun dari para pembaca guna perbaikan di masa mendatang sangat penulis harapkan. kajian tentang konflik aturan hukum di bidang pengelolaan sumber keuangan negara. 2. hukum bidang pendidikan. Topik-topik tersebut kemudian dijabarkan menjadi deskripsi lebih lanjut hubungan pusat dan daerah yang lebih selaras dengan cita-cita UUD 45. Prof. Dalam kesempatan ini. selaku Rektor Universitas Sriwijaya. review sejumlah peraturan yang tidak sesuai dengan prinsip pembagian wewenang yang selaras dan adil. Prof. 32 Tahun 2004 dan UU No. terutama bidang-bidang sektoral.

............................... Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945: Politik Agraria dan Landasan Konstitusional Pengelolaan Tanah ....................................................................... 5................................ Permasalahan ................................................. D......................... 25 27 30 31 31 36 43 43 49 vi . jenis dan Hirarki Peraturan Perundang-undangan Menurut UU No....................................................... Kata Pengantar ......................................... Istilah dan Jenis Peraturan Perundang-undangan ........... Perubahan Masyarakat dan Perubahan Hukum .... B............................... E.............. D.................. BAB II LANDASAN PEMIKIRAN TEORITIS A................................................................................................. BAB III ANALISIS ATURAN HUKUM SEKTOR PERTANAHAN A............... Deskripsi Penelitian/Ruang Lingkup ........................... C................................... Metode Penelitian ............... 1.. 4. B.............DAFTAR ISI Halaman Judul .... B......... Daftar Tabel ......................................................... Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945: Politik Agraria dan Landasan Konstitusional Pengelolaan Tanah .................................................................. D........................ Tujuan Penelitian .................................................................... Otonomi Daerah dan Desentralisasi .................. Quo Vadis Ideologi Populis Agraria .......... Asas-asas Peraturan Perundang-undangan .............. Urgensi Pemerintahan Daerah ... E............ Desentralisasi atau Sentralisasi Urusan Bidang Pertanahan....... Out Put/Hasil Penelitian ........ 3................................................. Aspek Teoritis Peraturan Perundang-undangan ....... Politik Hukum ................................. 2............ 10 Tahun 2004 ...................................... C........................................... C........... BAB I PENDAHULUAN A........................................... F............................................... E..... Latar Belakang ................................................................................. Tanah Menjadi Komoditas dan Sarat Sengketa ........................ Daftar Isi ....... Landasan Peraturan Perundang-undangan .. F............................................... Pembangunan Hukum ....... i ii iii iv viii 1 1 3 3 6 6 7 8 8 10 14 15 17 19 19 24 Identitas Penelitian .... Sinkronisasi dan Konsistensi (Konflik) Aturan Hukum Sektoral .........

...... D......................................................... 65 1............ 70 3....... Ketidakjelasan dan Ketidakkonsistenan Aturan Hukum dan Kebijakan Sanksi Administrasi ...................... 6................ Kelemahan Struktur dan Kapasitas Kelembagaan Hukum (Pemerintah) Sektor Kesehatan . 8.................................................... Asas-asas Hukum yang Mendasari Fungsi dan Wewenang Pemerintah dala Otonomi Daerah Sektor Kesehatan .................. Produk Aturan Hukum Pertanahan Era Reformasi (19982006) ....... Aspek Historis .... Keterlambatan Penjabaran Fungsi dan Wewenang Pemerintah Daerah Sektor Kesehatan dan Peraturan Daerah .......................... Ketidakjelasan dan Keteterlambatan Aturan Hukum dan Kebijakan Audit Medis Rumah Sakit ...................F................................................... Penjabaran Fungsi dan Wewenang Pemerintah Daerah Sektor Kesehatan Kesehatan dalam Peraturan Daerah ......... E.................................................................................................... Pembagian Fungsi dan Wewenang Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam Otonomi Daerah Sektor Kesehatan .......................................................... Konflik Aturan Hukum Sektor Kesehatan ......... Isu Hukum Aktual dala Konflik Aturan Hukum Sektor Kesehatan ................ Ketidakkonsistenan Aturan Hukum dan Kebijakan Akreditasi ................ Pergeseran Nilai dan Asas dari Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 .. 65 2. 58 G... Aturan Hukum Sektor Pertanahan ...... 56 3............................................................. 95 95 100 103 104 104 105 106 106 107 107 109 109 112 114 121 vii ......................................... C..................... Ketidakjelasan dan Ketidakkonsistenan Aturan Hukum dan Kebijakan Tarif Pelayanan Kesehatan .................. B.............. Ketikonsistenan dan Keterlambatan Aturan Hukum dan Kebijakan Pengendalian Mutu dan Biaya Pelayanan Kesehatan .... Keterlambatan Aturan Hukum dan Kebijakan Fungsi Sosial Pelayanan Kesehatan ......................................... 1................................ Dikuasai oleh Negara atau Hak Menguasai Negara ............. 7........................ 53 1.......................................... 5.......... Keterlambatan dan Ketidakkonsistenan Aturan Hukum dan Kebijakan Perizinan ............................................ 3.............. Produk Aturan Hukum Pertanahan Orde Baru (19671998) ..................................................... 81 BAB IV ANALISIS ATURAN HUKUM SEKTOR KESEHATAN A................................................... F.............................. 2................... Asas Kekeluargaan . Hakikat Ketentuan Pasal 33 UUD 1945 .... 9. 4.................................................. 53 2... Konflik Aturan Hukum Sektor Pertanahan Terhadap Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 ..............

...................... Penguatan Asas Kejelasan dan Kesegeraan Aturan Hukum dan Kebijakan Fungsi Sosial Pelayanan Kesehatan .... L...... K............. H. Pengkaitan Sistem Pelayanan Kesehatan Nasional dan Daerah ................................ B......... Wilayah Pesisir yang Tak Terpisahkan ..................... Penguatan Asas Konsistensi............. Sektor Kelautan Aset yang Melimpah .. D...... R........................... J............................................................................................................................. BAB V ANALISIS ATURAN HUKUM PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM SEKTOR KELAUTAN A..... 2.................................. Pengembangan Potensi Sumber Pembiayaan dari Pemerintah Pusat dan Alokasi “Subsidi” dari Pemerintah Pusat di Sektor Kesehatan ....................................................... 121 123 124 124 125 126 126 127 127 128 128 131 131 132 133 136 136 137 140 141 viii ..... N................. Tata Kelola Wilayah Pesisir dan laut oleh Daerah ... Penguatan Kapasitas Kelembagaan Kementerian Kesehatan di Pusat dan Dinas Kesehatan di Daerah ................................. M....... Percepatan Penjabaran Fungsi dan Wewenang Pemerintah Daerah Sektor Kesehatan dalam Peraturan Daerah ...............................................G.. C.. Penguatan Asas Konsisten dan Kesegeraan Aturan Hukum dan Kebijakan Pengendalian Mutu dan Biaya Pelayanan Kesehatan ..................... Penguatan Asas Konsistensi dan Kejelasan Aturan Hukum dan Kebijakan Tarif Pelayanan Kesehatan ... I.... Sinkronisasi........... Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam Otonomi Sektor Kesehatan .... Penguatan Asas Kejelasan dan Konsistensi Aturan Hukum dan Kebijakan Sanksi Administrasi ......... 1...... Penegakan Hukum dan kebijakan Sektor Kelautan Multi Dimensi ....... 3.................... dan Kesegeraan Aturan Hukum dan Kebijakan Perizinan ......... Penataan Struktur dan Kapasitas Kelembagaan (Pemerintah) Sektor Kesehatan Mengacu Konsep Good Governance .... Penguatan Asas Konsistensi Aturan Hukum dan Kebijakan Akreditasi ..... Penguatan Asas Konsistensi dan Kejelasan Aturan Hukum dan Kebijakan Pengelolaan Perbekalan Kesehatan .... P........................................... O............. Q........ Perubahan Struktur dan Fungsi Kementerian Kesehatan di Pusat dan Dinas Kesehatan di Daerah ................................................................... Penguatan Asas Kejelasan dan Kesegeraan Aturan Hukum Audit Medis ...

..... C...................... B.............. 148 D Langkah Penyempurnaan Hubungan Keuangan Antara Pusat dan Daerah .............................................................................................................. Pembagian Wewenang yang Timpang Antara Pusat dan Daerah .................... Khusus ..................... 3............. Dana Perimbangan .. Dekonsentrasi ................. ix .............................................................................. Titik Tolak Penyelarasan Hubungan Pusat dan Daerah Berdasarkan Prinsip Otonomi yang Luas ....... Tugas Pembantuan ....... 162 162 163 169 DAFTAR PUSTAKA .... 143 143 144 145 146 146 147 B Konflik Aturan Hukum dan Disharmoni Tata Kelola Sektor Keuangan Pusat dan Daerah ....................... 4............................ 2................................................................. Desentralisasi Fiskal ......... 1........... Umum ...................................BAB VI ANALISIS ATURAN HUKUM HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH A............................................................................................................................... 5............. Hubungan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah ................................................................................................. 150 BAB VII PROBLEM DAN LANDASAN PIJAK PENATAAN HUBUNGAN PUSAT DAN DAERAH DAN PERAN MASYARAKAT ADAT A............ Masyarakat Adat Beserta Hak Komunalnya dalam Perspektif Desentralisasi .. B.......................................... Pinjaman Daerah ..... 153 153 156 159 BAB VIII PENUTUP A....................................................... 147 C Isu Mendasar dan Aktual dalam Pengaturan Keuangan Pusat dan Daerah ....................................

DAFTAR TABEL No 1 2 3 4 5 6 7 Judul Sifat Kebijakan Pemerintah Berdasarkan Kondisi Struktural dan Corak Penguasa Karakteristik Sengketa Tanah di Indonesia Tahun 1970-2001 Jenis Sengketa yang Objeknya Tanah Perusahaan Besar Pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) Distribusi Rumah Tangga Petani (RTP) Pengguna Lahan dan Luas Lahan yang Dikuasai (1983-1993) Penduduk Miskin di Pedesaan dan Perkotaan Tahun1990-2003 (Juta Orang) Pembagian Wewewnang Pemerintah Sektor Kesehatan Berdasarkan Fungsi Mengatur. Mengarahkan dan Melaksanakan Fungsi dan Wewenang Pengawasan Pemerintah Terhadap Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Hlm 18 37 38 39 40 41 117 8 120 x .

BAB I PENDAHULUAN A. Kekhususan dan keragaman daerah (Pasal 18A ayat (1)). Pengakuan dan penghormatan atas kesatuan masyarakat hukum adat dan hak tradisionalnya (Pasal 18B ayat (2)). diselenggarakan untuk sebagian urusan secara sentralisasi. 4. 3. eenheidsstaat) Indonesia. 7. 5. 2. Di samping itu. Otonomi yang seluas-luasnya (Pasal 18 ayat (5)). perlu dijalankan sistem mekanisme yang baik tentang hubungan antara pusat dan daerah dalam kerangka negara kesatuan. Latar Belakang Dalam sistem negara kesatuan (unitary state. diletakkan dasar konstitusional tentang hubungan antara pusat dan daerah. 1 . Wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah (Pasal 18A ayat (1)). diselenggarakan pula sebagian urusan pemerintahan secara desentralisasi. yakni wewenang mengatur dan mengurus penyelenggaraan pemerintahan oleh satuansatuan pemerintahan di tingkat yang lebih rendah dan bersifat otonom. yaitu berupa prinsip-prinsip. Daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otoonmi dan tugas pembantuan (Pasal 18 ayat (2)). Dalam rangka otonomi tersebut. 8. Dalam Pasal 18 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dan perubahannya. antara lain: 1. 6. dan diselenggarakan pula pemencaran kekuasaan kepada organ-organ yang menjalankan sebagian wewenang pemerintah pusat di daerah yang dikenal sebagai dekosentrasi. Hubungan pusat dan daerah harus dilaksanakan secara selaras dan adil (Pasal 18A ayat (2)). Badan perwakilan dipilih langsung melalui suatu pemilu (Pasal 18 ayat (3)). Pengakuan dan penghormatan atas pemerintahan daerah yang bersifat khusus dan istimewa (Pasal 18B ayat (1)).

Terjadi tumpang tindih dan tarik menarik wewenang. pengelolaan hutan. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. pelayanan umum. Adapun pembagian kewenangan untuk menyelenggarakan urusan-urusan pemerintah tersebut di atas. yang selanjutnya dikenal adanya urusan Pemerintah daerah terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan. Dalam hal inilah akan menentukan sejauhmana pemerintah pusat dan pemerintah daerah memiliki wewenang untuk menyelenggarakan urusan-urusan pemerintahan. secara umum ditaur dalam UU No. Pembagian urusan pemerintahan tersebut. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (serta perubahannya) dan UU No. bahkan sebaliknya banyak menimbulkan dampak 2 . Salah satu aspek mendasar dalam otonomi daerah adalah hubungan antara pusat dan daerah. Di tengah-tengah sumber daya alam yang melimpah. Hubungan keuangan. dan pertambangan. secara khusus juga diatur dalam berbagai UU sektoral. tetapi wewenang atau ruang lingkupnya berbeda. sebagai lex generalis dan undang sektoral sebagai lex specialis. misalnya masalah pertanahan di daerah. urusan yang dibagi antar tingkatan dan/atau susunan pemerintahan. terutama undang-undang tentang pemerintahan daerah dan undang-undang tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Prinsip-prinsip tersebut di atas menjadi dasar dalam penyusunan undang- undang terkait dengan otonomi. di antaranya mengenai pembagian urusan dan pembagian wewenang pemerintahan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. kehadiran otonomi daerah yang luas belum memberikan manfaat (positif) bagi masyarakat di daerah termasuk masyarakat adat. namun pengaturan tersebut seringkali menimbulkan persoalan karena kurang tepat dalam pembagian wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dilaksanakan secara adil dan selaras (Pasal 18A ayat (2)). Objek urusan pemerintahan bisa sama. Pembagian wewenang pemerintahan tersebut di atas.9. Pembagian urusan pemerintahan terdiri atas: urusan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah pusat.

C. Tujuan dari desentralisasi yang digariskan prinsip-prinsipnya dalam UUD 1945 adalah untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan. UU yang diterbitkan sebelum tahun 1999. Deskripsi Penelitian/Ruang Lingkup Beranjak dari tujuan penelitian tersebut di atas. Topik-topik kajian disusun sebagai berikut: 3 . Pembagian wilayah Indonesia ke dalam daerah-daerah otonom. pemberdayaan. maka dalam hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. baik urusan yang diatur dalam UU Pemerintahan daerah dan UU Perimbangan Keuangan. tidak menjadikan masyarakat adat sebagai salah satu faktor penentu. dan keadilan. sangat potensial terjadi ketidaksinkronan. Disamping itu sebagai perwujudan demokratisasi di daerah. B. Idealnya. terdapat permasalahan pokok adalah bagaimana mensikronkan hubungan kewenangan dalam menyelenggarakan urusan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. sehingga selaras dengan prinsip otonomi yang luas. Permasalahan Beranjak dari tujuan desentralisasi tersebut. Bahkan. bahwa UU yang diterbit setelah itu sudah pasti sinkron. Sebagai pemetaan. belum tentu. antara lex generalis dan undang sektoral (lex specialis) tersusun dalam bingkai yang sinkron. maka penelitian ini disusun dalam beberapa kajian yang kesemuanya bermuara pada pembangunan hukum yang bagaimana terkait dengan berbagai konflik substansial dari sejumlah UU sektoral. dan peran serta masyarakat. aplikasi desentralisasi dalam undangundang terkait dengan otonomi. maupun urusan-urusan yang diatur dalam berbagai UU sektoral.negatif. pemerataan. Tidak berarti dengan sendirinya. pembagian daerah-daerah otonom tersebut mengakibatkan struktur masyarakat adat dan budayanya menjadi terpecah-pecah dalam (fragmented) dalam beberapa daerah otonom. serta memperhatikan keragaman daerah.

Peraturan-peraturan yang berkaitan dengan hubungan pusat dan daerah. 2. Review sejumlah peraturan yang tidak sesuai dengan prinsip pembagian wewenang yang selaras dan adil. baik dalam UU No. 4 .1. Review sejumlah peraturan yang tidak sesuai dengan prinsip pembagian wewenang yang selaras dan adil di bidang pertanahan. Pembagian wewenang antara pusat dan daerah. Peraturan-peraturan yang berkaitan dengan hubungan pusat dan daerah. Deskripsi lebih lanjut hubungan pusat dan daerah yang lebih selaras dengan cita-cita UUD 45. terutama bidang/sektora kesehatan. Dampak pembagian wewenang yang tidak seimbang antara pusat dan daerah dalam urusan kesehatan. Konsep dan prinsip yang adil dan selaras dengan prinsip otonomi yang luas. khususnya sektor pertanahan. Mengkaji: Deskripsi lebih lanjut hubungan pusat dan daerah yang lebih selaras dengan cita-cita UUD 45. Analisis aturan hukum di sektor kesehatan. Dampak pembagian wewenang yang tidak seimbang antara pusat dan daerah. khususnya bidang kesehatan. Hak masyarakat adat dan pengaturannya terkait dengan pertanahan. baik dalam UU No. 32 Tahun 2004 dan UU No. 32 Tahun 2004 maupun dalam berbagai UU sektoral lainnya terkait dengan urusan pertanahan. Pembagian wewenang antara pusat dan daerah. 33 Tahun 2004 maupun dalam berbagai UU sektoral terkaitan dengan pelayanan kesehatan. Konsep dan prinsip yang adil dan selaras dengan prinsip otonomi yang luas. Analisis aturan hukum di sektor pertanahan.

Konsep dan prinsip yang adil dan selaras dengan prinsip otonomi yang luas. Dampak pembagian wewenang yang tidak seimbang antara pusat dan daerah. Review sejumlah peraturan yang tidak sesuai dengan prinsip pembagian wewenang yang selaras dan adil. Review sejumlah peraturan yang tidak sesuai dengan prinsip pembagian wewenang yang selaras dan adil. baik dalam UU No. Peraturan-peraturan yang berkaitan dengan hubungan pusat dan daerah. Deskripsi lebih lanjut hubungan pusat dan daerah yang lebih selaras dengan cita-cita UUD 45. 32 Tahun 2004 maupun dalam berbagai UU sektoral terkait pengelolaan sumber daya kelautan. Pembagian wewenang antara pusat dan daerah.3. 32 Tahun 2004 dan UU No. Konsep dan prinsip yang adil dan selaras dengan prinsip otonomi yang luas. khususnya bidang kelautan. Analisis aturan hukum di bidang pengelolaan sumber keuangan Negara. 33 Tahun 2004 maupun dalam berbagai UU sektoral terkait bidang keuangan. Peraturan-peraturan yang berkaitan dengan hubungan pusat dan daerah. Analisis aturan hukum di bidang pengelolaan sumber daya alam kelautan. terutama bidang keuangan. Hak masyarakat adat (masyarakat pesisir) dan pengaturannya terkait dengan sumber daya kelautan. Pembagian wewenang antara pusat dan daerah. Dampak pembagian wewenang yang tidak seimbang antara pusat dan daerah. terutama di bidang pengelolaan sumber daya kelautan. 5 . Deskripsi lanjut hubungan pusat dan daerah yang lebih selaras dengan cita-cita UUD 45. 4. baik dalam UU No.

Mendeskripsikan lebih lanjut hubungan pusat dan daerah yang lebih selaras dengan cita-cita UUD 45. 7. yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder. perbandingan hukum. Me-review sejumlah peraturan yang tidak sesuai dengan prinsip pembagian wewenang yang selaras dan adil. Penelitian terhadap asas-asas hukum dilakukan dengan cara menafsirkan kaidah-kaidah hukum yang dirumuskan di dalam peraturan perundangn-undangan 6 . terutama bidang-bidang sektoral. 5. Penelitian hukum normatif atau kepustkaan tersebut mencakup penelitian terhadap asas-asas hukum. dalam studi ini juga digunakan pendekatan hukum normatif atau penelitian hukum kepustakaan. Mendefinisikan ulang peraturan-peraturan yang berkaitan dengan hubungan pusat dan daerah. baik pada tataran dogmatik. maupun filasafat hukum. baik dalam UU No. Memaparkan dampak yang terjadi sehubungan dengan permasalahan yang timbul akibat pembagian wewenang yang tidak seimbang antara pusat dan daerah. penelitian terhadap semantik hukum. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Merumuskan konsep dan prinsip yang adil dan selaras dengan prinsip otonomi yang luas. Pendekatan Penelitian Kajian penelitian ini didekati dari sisi ilmu hukum. Metode Penelitian 1.D. Mendeskripsikan hak masyarakat adat dan pengaturannya. 4. Selain menggunakan penelitian hukum. E. 33 Tahun 2004 maupun dalam berbagai UU sektoral. Mendeskripsikan pembagian wewenang antara pusat dan daerah. 3. 2. teori hukum. 32 Tahun 2004 dan UU No. penelitian terhadap taraf sinkronisasi vertikal dan horizontal. dan sejarah hukum. 6.

yang terkait dengan Pemerintahan Daerah. Penelitian terhadap taraf sinkronisasi vertikal bertujuan untuk menelaah keserasian peraturan perundang-undangan secara hirarki peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penelitian sejarah hukum mengkaji latar belakang tujuan pembentukan peraturan perundang-undangan tentang pemerintahan daerah yang menjadi obyek materiil dari studi ini. juga untuk mengetahui perkembangan muatan desentralisasi dalam setiap kebijakan pemerintahan daerah yang pernah berlaku di Indonesia. dan bahan hukum tertier. Output/Hasil Penelitian Penelitian ini akan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang ditujukan kepada pihak-pihak terkait. Metode ini tidak terlepas dari penetapan obyek material dan obyek formal penelitian. Penelitian terhadap taraf sinkronisasi vertikal dan horizontal dilakukan untuk menelaah sampai sejauh manakah hukum positif tertulis yang ada serasi. tujuannya adalah untuk menelaah indikasi kebijakan hubungan pusat dan daerah terutama terhadap undang-undang bidang sektoral yang tidak sejalan dengan asas-asas desentralisasi dan demokratisasi. yaitu UU bidang sektoral dan UU tentang Pemerntahan Daerah. dimulai sejak jaman colonial sampai sekarang termasuk UU Otonomi Khusus Papua (UU Nomor 21 Tahun 2001). F. bahan hukum sekunder. Penelitian terhadap taraf sinkronisasi horizontal bertujuan untuk menelaah kesrasian peraturan perundang-undangan yang sederajat yang mengatur substansi materi yang sama. 7 . 2. Bahan Penelitian Bahan hukum yang digunakan terdiri dari bahan hukum primer. khususnya bagi Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia untuk dijadikan sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan. dan UU Pemerintahan Aceh (UU Nomor 11 Tahun 2006). Penelitian terhadap sistematik hukum bertujuan untuk menelaah pengertianpengertian pokok atau dasar dari sistem hukum yang terdapat di dalam UU yang berkaitan dengan Hubungan Pusat dan dan Daerah.

adalah lingkungan wilayah dan pribadi keberlakuan dari tertib hukum. New York. hlm.. Urgensi Pemerintahan Daerah Keberadaan pemerintah dalam suatu negara adalah suatu yang urgen (penting) bagi proses kehidupan masyarakat. bahkan individu sekalipun membutuhkan pelayanan pemerintah. melalui pemerintahnya menyelenggarakan tertib hukum dalam rangka memberikan perlindungan hukum bagi warga.. Jika tidak ada pemerintah. Russell & Russell. siapa yang kuat dialah yang akan menang dan mampu mempertahankan kehidupan dan miliknya. 26-27 1 8 . General Theory of Law and State.…. The Ipswich Book Company. are the territorial and personal spheres of validity of that legal order… The “power” of the state is validity and efficacy of legal order. Elemen negara. 1973. Inderalaya. Reprinted. 8 Desember 2006. a legal order. Negara. 1997. Hukum rimbalah yang akan terjadi. wilayah dan rakyat. hlm. karena tidak ada institusi yang memberikan perlindungan hukum bagi warga beserta harta benda milik mereka. Sebaliknya. Suffolk. 303 3 Alan Norton. Kekuasaan negara adalah keberlakuan dan kemanfaatan dari tertib hukum. It is element. 1. Makalah pada Seminar Bagian Hukum Tata Negara. “Pemerintahan Daerah Setelah Perubahan Kedua UUD 1945”. Dikatakan oleh Hans Kelsen: “The state is. Great Britain. dan aset negara. para penulis kontitusi Amerika. seperti dikemukakan Alan Norton: “The separation of territorial powers could be seen as a check on the power of central state: . 2 Hans Kelsen.the American stress on the division of powers between levels of government could be extended to some extent to local government as mitigating the dominant of the sovereign”3. maka masyarakat akan hidup dalam ketidakteraturan1. Sekecil apapun kelompok masyarakat. Ridwan. kerjasama Fakultas Hukum Universitas Sriwiijaya dengan Program HEDS. aparatur pemerintah. hlm.BAB II LANDASAN PEMIKIRAN TEORITIS A. International Handbook of Local and Regional Government: a comparative analysis of advanced democracies.…”2 Negara adalah tertib hukum. territory and people.

hlm. kebudayaan dan ragam bahasa daerahnya masing-masing. Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah. 2000. sampai pada sistem pemerintahan yang diberlakukan oleh pemerintah penjajah.H. 16. dan dikelilingi oleh lautan yang luas. bagi Amerika pembagian kekuasaan tersebut adalah sebagai pengurangan dominasi kedaulatan. dipandang akan lebih efisien dan efektif apabila pengelolaan berbagai urusan pemerintahan ditangani oleh unit atau perangkat pemerintah yang berada di wilayah masing-masing. 5 Ibid. Keterbatasan kemampuan pemerintah. alasan keterbatasan pemerintah. alasan situasi dan kondisi wilayah. Tidak mungkin pemerintah dapat menangani semua urusan pemerintahan yang menyangkur\t kepentingan masyarakat yang mendiami ribuan pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. ekssistensi pemerintahan daerah telah dikenal sejak masa pemerintahan kerajaan-kerajaan nenek moyang dahulu. 21-25. 3. Indonesia merupakan gugusan kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau besar dan kecil. yaitu alasan sejarah. karena keterbatasan kemampuan pemerintah. maka pendelegasian kewenangan kepada unit pemerintahan di daerah-daerah suatu keniscayaan. Alasan Situasi dan Kondisi Wilayah Secara geografis. Apapun bentuknya suatu negara dan seberapa pun luas wilayahnya. disarikan bahwa pemisahan kekuasaan teritorial dapat dilihat sebagai pengawasan terhadap kekuasaan negara.Dari kutipan di atas.4 Pemencaran atau distribusi urusan-urusan pemerintahan kepada satuan-satuan dan unit-unit pemerintahan yang lebih kecil. Sarundajang. 2. menimbulkan konsekwensi logis bagi distribusi urusanurusan pemerintahan negara kepada pemerintah daerah. Kondisi wilayah yang demikian. Alasan sejarah Secara historis. S. 4 9 . Bagi negara Indonesia. Oleh karena itu. Jakarta. kebiasaan. dan alasan politis dan psikologis:5 1. Alasan Keterbatasan Pemerintah Tidak semua urusan pemerintah dapat dilaksanakan sendiri oleh pemerintah pusat. tidak akan mampu menyelenggarakan pemerintahan secara sentral terus-menerus. terdapat beberapa alasan mengenai perlu atau pentingnya pemerintahan daerah. Demikian pula keadaan dan kekayaan alam dan potensi permasalahan yang satu sama lain memiliki kekhususan tersendiri.. memunculkan sistem-sistem pemerintahan daerah yang merupakan bagian dari sistem pemerintahan nasional negara yang bersangkutan. satu sama lain dihubungkan oleh sela dan laut. Pustaka Sinar Harapan. hlm. mempunyai konsekwensi logis terhadap lahirnya berbagai suku dengan adat istiadat.

Karena itu. 6 maka pilihan menggunakan asas desentralisasi adalah keniscayaan. memikul beban yang berat dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat. Lihat J. Otonomi sudah menjadi suatu keniscayaan. Kaloh. Persoalan otonomi daerah (yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah) bukan persoalan yang berdiri sendiri. B. hlm. bahwa sekian lamanya bangsa Indonesia hidup di bawah pemerintah penjajah. terus menjadi bahan perbincangan sejak masa penyusunan UUD 1945 sampai sekarang. demokratis. 7 Talizuduhu Ndraha. Permasalahannya. terdapat pandangan yang menonjol pada saat itu adalah wawasan integralistis. bukan hanya masalah ketatanegaraan. masalah pengaturan tentang pemerintahan daerah dan pelaksanaannya. disebabkan faktor utama. Sekretariat Tim P-7. terletak bagaimana menyelenggarakan pemerintahan Daerah dalam negara kesatuan sehingga tujuan akhir. dan semangat persatuan dan kesatuan nasional. tetapi banyak segi dan berkaitan dengan aspek kehidupan manusia. budaya. pemerintah pusat dapat menyerahkan sebagian urusan atau kekuasaannya kepada daerah menjadi urusan rumah tangganya. dikenalnya adanya pemerintahan daerah otonom yaitu daerah yang diberi wewenang untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Dengan desentralisasi. 2002. Makalah pada Seminar Gagasan Otonomi Daerah dalam Konteks Negara Kesatuan RI. Otonomi Daerah dan Desentralisasi Desentralisasi dan otonomi Daerah adalah instrumen untuk mencapai tujuan dan bukan tujuan itu sendiri. hlm 4.7 Berdasarkan asas desentralisasi yang dianut. bersifat nusantara. “Sebuah Catatan tentang Otonomi dalam Penyelenggaraan Negara”. Rineka Cipta. 69. dan heterogenitas sosial budaya penduduk. Sejarah membuktikan. 20-21 Maret 1992. yaitu kesejahteraan masyarakat akan meningkat.4. Jakarta. Negara Republik Indonesia yang menganut faham negara kesatuan. Alasan Politis dan Psikologis Ketika UUD 1945 dalam masa penyusunan. karena pelaksanaan otonomi daerah memberikan eksistensi bagi keberagaman sosial. hal ini mengingat wilayah yang luas. Jakarta. 6 10 . Mencari Bentuk Otonomi Daerah. Pembentukan dan pembinaan pemerintahan daerah adalah sarana efektif yang memungkinkan semangat persatuan dan kesatuan tetap terpelihara dalam ikatan negara kesatuan Republik Indonesia. dan adat isitiadat. yaitu lemahnya persatuan dan kesatuan bangsa pada waktu itu.

Makalah pada Diskusi Panel tentang Hubungan Luar Negeri oleh Pemerintah Daerah. Delegasi wewenang kepada badan semi otonomi. padahal secara teoritis pengertian kedua istilah itu dapat dibedakan. selanjutnya disingkat otonomi. Sedangkan pada unintegrated local administration. sebagaimana dikutip Gustam Idris8. Otonomi daerah. Kordinasi dilakukan secara informal. Auditorium Pemda Prop. namun dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan antara keduannya tidak dapat dipisahkan. Devolusi kepada pemerintahan lokal. Ciri-ciri khususnya yaitu: bersifat otonom 3. 2. bahkan untuk itu dilakukan perubahan terhadap ketentuan UUD 1945. Pada integrated local administration tenaga staf departemen pusat yang ditempatkan di daerah berada langsung dibawah perintah dan pengawasan dari kepala eksekutif di daerah yang diangkat oleh dan bertanggung jawab kepada pemerintah pusat. 2. Badan Diklat Provinsi Sumatera Selatan. Gustam Idris. bersifat field (lapangan) dan local administration (integrated local administration dan unintegrated local administration) Dekonsentrasi adalah pembagian kewenangan dan tanggung jawab administrastif antara departemen pusat di lapangan. Pada tipe field administration. namun para pejabatnya tetap pegawai departemen pusat. 8 11 . Sumatera Selatan. adalah dalam rangka menginterpretasikan dan menemukan solusi terbaik atas permasalahan tersebut di atas.Silih berganti diundangkan undang-undang pemerintahan daerah sejak tahun 1945. pejabat lapangan diberi keleluasaan untuk mengambil keputusan. Rondinelli. kerjasama Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya. pejabat pusat dan pemda berdiri sendiri.4. Pemerintah pusat membentuk unit-unit pemerintahan di luar pemerintah pusat dengan menyerahkan sebagian fungsi-fungsi tertentu untuk dilaksanakan secara mandiri. Istilah desentralisasi dan otonomi sering dipakai untuk makna yang sama secara bergantian. secara teknis bertanggung jawab kepada Pemda. mengemukakan tiga bentuk desentralisasi: 1. merupakan satu sistem dalam kerangka desentralisasi penyelenggaraan pemerintahan. Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan dan Departemen Luar Negeri Republik Indonesia cq. Palembang. 4 Agustus 2001. Merupakan pelimpahan pengambilan keputusan dan kewenangan manajerial untuk melakukan tugas khusus kepada suatu organisasi yang tidak secara langsung dibawah pengawasan pemerintah pusat (ingat BUMN di Indonesia). Dekonsentrasi (deconcentration). “Otonomi dan Hubungan Luar Negeri”. Pada mulanya makna “otonomi” (otonomi daerah) adalah pengundangan sendiri. mereka bertanggung jawab kepada departemen masing-masing. yang dalam perkembangan selanjutnya diartikan juga pemerintahan. hlm.

Alih fungsi pemerintahan kepada badan non pemerintah (privatisasi). 4 9 12 . Jakarta. Soal Pembentukan Daerah Otonom Dan Tingkatan Daerah Otonom. wewenang untuk melakukan tugas umum pemerintahan. Menurut teori center-peripheral relationships.9 Sedangkan pinggiran/ daerah adalah lokasi di mana wewenang digunakan/ dioperasionalkan. hlm. adanya kenyataan bahwa kebutuhan masyarakat makin kompleks diikuti makin luasnya kegiatan pemerintahan sehingga makin sulit tercapainya efisiensi dan efektivitas fungsi pemerintahan. perlunya dikembangkan cara-cara baru dalam pengelolaan program dan proyek serta administrasi pembangunan. 4. ketiga. Sistem nilai tersebut adalah konsensus bersama tetapi juga berarti melemahkan daerah yang bisa dianggap agak beragam dan bercabang dalam sistem nilai-nilai tersebut. Nasroen. yang dilatarbelakangi oleh: pertama. 11 . pengambilan keputusan serta administrasi kepada badan non pemerintah atau pemindahan fungsi-fungsi pemerintahan kepada lembaga-lembaga non pemerintah”.11 Pembentukan daerah otonom tentu tidak dapat diadakan dengan menarik garis-garis di atas peta saja dan hanya Arend Lijphart. tidak diawasi secara langsung pemerintahan pusat. 1954. pusat adalah bagian dari masyarakat yang kewenangannya dikontrol. 20-21. 10 Ibid. diantaranya sekepentingan bersama.10 Menurut M. Pusat adalah sistem nilai karena didukung oleh kewenangan-kewenangan berkuasa dari masyarakat. daerah otonom adalah suatu bentuk pergaulan hidup juga dan oleh sebab itu antara rakyat yang merupakan penduduk daerah otonom itu harus pula ada ikatan. hlm. dalam pendekatan formulasi wewenang pusat dan daerah. Pusat adalah fenomena dari dunia nilainilai dan kepercayaan belaka (phenomenon of the realm of values and beliefs). EndaNG. New Haven and London Yale University Press. Uraian di atas menegaskan bahwa konsep desentralisasi timbul karena adanya perhatian yang makin besar untuk memberikan keleluasaan dalam perencanaan dan administrasi. 1980. Democracy In Plural Societies.dan mandiri. wilayah jelas dan legal. Penyerahan kewenangan perencanaan. Nasroen. kurang memuaskannya hasil perencanaan pembangunan dan kontrol administrasi yang terpusat. kedua. unit pemerintahan daerah berstatus sebagai badan hukum berwenang mengelola sumber daya.M.

4 .16 medebewind dipahamkan sebagai pembantu penyelenggaraan kepentingan-kepentingan dari Pusat atau daerah yang tingkatnya lebih atas oleh alat perlengkapan pemerintahan daerah yang lebih rendah tingkatannya.. Tresna mengemukakan. Desentralisasi jabatan (dekonsentrasi) adalah pemberian kekuasaan dari atas ke bawah di dalam rangka kepegawaian. 9 14 .Ibid. menurut Nasroen. 13 . Syarat obyektif tentu perlu.memperhitungkan syarat-syarat obyektif saja. Urusan itu tidak beralih. Syarat subyektif itu adalah dasar kepentingan bersama dan dasar seperasaan anatara anggota pergaulan hidup itu (daerah). 16 . Di Belanda. Daerah otom harus berada dalam lingkungan negara sebagai negara yang berbentuk kesatuan.Ibid. sungguh demikian ke semua suku bangsa itu mempunyai dasar yang sama dan satu. namun cara kebijakan dan pengaturannya berada sepenuhnya pada daerah yang memberi bantuan. Desentralisasi ketatanegaraan merupakan pemberian kekuasaan untuk mengatur bagi daerah di dalam lingkungannya guna mewujudkan asas demokrasi pemerintahan. adalah daerah otonom tidak boleh bertentangan atau merusakkan dasar kesatuan dari Negara Kesatuan RI.12 Syarat yang dikehendaki oleh hukum. yaitu dasar keindonesiaan.14 R. sedangkan medebewind merupakan tugas pembantuan. 12 13 . hlm.Ibid..Ibid. Tresna15. Pertanggungan jawab tetap kepada kepala daerah setempat. tetapi syarat subyektif tidak kalah pentingnya. hlm. desentralisasi dapat pula berbentuk “otonomi” dan medebewind. harus lebih dahulu diadakan analisis mengenai keadaan masyarakat dan bangsa Indonesia. Masyarakat Indonesia yang terdiri atas bermacam suku bangsa mempunyai corak hidup dan pendirian sendiri-sendiri. Lebih lanjut R. guna kelancaran pekerjaan semata-mata. Desentralisasi ketatanegaraan dapat berbentuk “desentralisasi territorial” dan “desentralisasi fungsional”. menggolongkan desentralisasi menjadi ambtelijke decentralisatie (dekonsentrasi) dan staatskundige decentralisatie (desentralisasi ketatanegaraan). hlm.13 Bagaimana kebijaksanaan yang harus dijalankan dalam pembentukan daerah otonom? Menurut Nasroen. .. 4 15 .Ibid. tetapi tetap urusan pusat atau daerah atasan. Otonomi mengandung makna regeling dan bestuur.

konsep (desain) hukum -pembentukan hukum (lembaga pembentuk hukum)-. Konstruksi sistem hukum memiliki susunan sebagai berikut: masyarakat hukum-. Hingga saat ini masih berkembang berbagai pandangan tentang ruang lingkup ilmu hukum. tempat dimana hukum itu akana diterapkan. Untuk itu diperlukan pendekatan yang mampu mengkonstruksi keseluruhan komponden sistem hukum dan menggambarkan hukum sebagai suatu keutuhan. akan berpengaruh buruk terhadap pembangunan hukum di Indonesia. hal ini tak lepas dari kuatnya pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan secara keseluruhan terhadap ilmu hukum. Pendekatan mekanis-analitis yang dikembangkan dalam ilmu fisika. telah mengakibatkan makna hukum tercabut dari keutuhan sistemnya dan menjadi sebagai norma yang sangat sempit. Hanya dengan desain sistem hukum yang tepatlah dapat diciptakan desain pembangunan hukum secara tepat pula. Akibat yang harus diterima oleh hukum sebagai akibat perkembangan itu yaitu terjadinya reduksi hukum sebagai objek ilmu hukum dan terhadap hukum sebagai suatu keutuhan. yaitu pemahaman yang tepat terhadap karakteristik objek pembangunan tersebut. yaitu pendekatan sistem. Hukum yang dikonsepkan sebagai norma belaka. Pendefinisian hukum secara sempit oleh berbagai ahli.pendidikan hukum (ilmu hukum) -. Sebab utamanya adalah besarnya pengaruh dari perkembangan ilmu pengetahuan (abad 17 sd 19) terhadap ilmu hukum. Dengan cara seperti itu akan menghasilkan pembangunan hukum yang berlangsung dalam proses yang tidak dapat ditentukan efektivitasnya.C.budaya hukum -filsafat hukum -.bentuk hukum (tertulis/tidak 14 . Hukum dipandang hanya sebagai norma belaka dan terpisah dari keutuhuan sistem hukum sebagai suatu keseluruhan (utuh). maka pembangunan juga akan berorientasi pada pembangunan komponenkomponen hukum yang hanya terbatas pada sistem pembentukan norma dan penerapan norma itu. Di kalangan ahli hukum sendiri masih sangat kuat cara pandang yang sempit terhadap hukum tersebut. Jika hukum dikonsepkan sebagai norma belaka. Pembangunan Hukum Pembangunan hukum secara tepat memerlukan desain pembangunan hukum secara tepat pula. Suatu sistem hukum itu bermula dari masyarakat dan berakhir pada masyarakat pembentuknya. yang meneliti suatu objek yang dipisahkan dari aspek aksiologisnya. misalnya oleh ahli politik dan ahli ilmu sosial. dimanfaatkan pula dalam pengembangan ilmu hukum pada abad ke-18.

Konstruksi sistem hukum tersebut di atas. Perubahan Masyarakat dan Perubahan Hukum Masyarakat senantiasa mengalami perubahan. Perbedaan perubahan yang satu dengan yang lain ditentukan pada sifat atau tingkat perubahan itu sendiri. Komponen bentuk perundang-undangan di Indonesia tersusun atas UUD. Komponen pendidikan hukum membawahi sub-sistem pendidikan hukum dan sub-sistem penelitian hukum. Perubahan hukum terjadi apabila dua unsurnya telah bertemu pada satu titik singgung. Masing-masing komponen sistem tersebut bersifat otonom yang integralis. D. Kualitas hukum yang dibentuk sangat ditentukan oleh komponen pendidikan hukum yang bersinergis dengan komponen pembentukan hukum. masing-masing menentukan kualitas profesionalisme ahli hukum. Komponen pembentukan hukum membawahi sub-sistem pembentukan hukum yang akan mempengaruhi kualitas hukum yang akan dibentuk dan diterapkan. Presiden. kualitas pembentuk hukum. Perpres. baik pada sistem masyarakat yang sangat sederhana maupun sampai pada masyarakat bangsa (negara) dan masyarakat global.evaluasi hukum -masyarakat hukum --. misalnya dalam pembentukan UU. maka lembaga pembentuknya terdiri atas DPR. dan (DPD). selaras dengan kenyataan hukum. UU/Perpu.tertulis) -. Pembentukan hukum merupakan masalah yang menonjol dalam peta permasalahan hukum. dan penerapan hukum. Menurut Sinzheimer: “Syarat-syarat bagi terjadinya perubahan pada hukum itu baru ada. yaitu: (1) keadaan baru yang timbul dan (2) kesadaran akan perlunya perubahan pada masyarakat yang bersangkutan itu sendiri. Dalam perspektif permasalahan ini. PP. begitu juga halnya dengan perubahan hukum.penerapan hukum (lembaga penyelenggara hukum)-. dan seterusnya. manakala dengan terjadinya perubahan-perubahan (timbulnya hal-hal yang baru) itu 15 . Penelitian hukum merupakan proses pembentukan hukum dalam kerangka desain sistem. Perda. maka profesionalisme dalam bidang legal drafting memegang peranan penting. Penelitian hukum juga memainkan peranan penting sebagai proses awal yang mendahului pembentukan hukum. Komponen pembentuk hukum.

ia tidak dirancang untuk memikirkan dan memberikan keadilan yang luas kepada masyarakat. Angkasa Bandung. dari abad kegelapan. Arnold M. pertengahan. 1986. melainkan untuk melindungi kemerdekaan individu. 2004. Teorisasi Hukum. Pokok-Pokok Sosiologi Hukum. tanggal 3 Januari 2001. 20 Satjipto Rahardjo. apakah itu kontruksi sosial. (2) kontak atau konflik antara kebudayaan. Surakarta. Hukum modern melembagakan perkembangan idiologi pembebasan individu. dan modern. Hal ini dapat dilihat dari periodesasi sejarah Eropa. Hal inilah yang kemudian mendorong sistem perekonomian menjadi kapitalistik dan sangat agresif. Bandung. Kelahiran negara modern pada abad ke-19 dengan atmosfer politik liberalisme.20 Sistem hukum modern yang dilambangkan dengan doktrin “Rule of Law”. 108. feodal. puncak dari kontruksi tersebut (abad ke-19) adalah lahirnya konsep Rule of Law. 101. Salah satu faktor eksternal yang menimbulkan perubahan pemikiran hukum tersebut ialah munculnya fenomena negara modern. dengan ciri kehausan dimana-mana. Dengan demikian Satjipto Rahardjo. hlm. maka hukum lebih merupakan akibat daripada faktor penyebab terjadinya perubahan-perubahan sosial. Tidak dapat dipungkiri bahwa hukum merupakan konstruksi manusia. Hukum Kita Liberal (Apa Yang Dapat Kita Lakukan). 18 17 16 .18 Menurut ketiga teori tersebut. Jakarta. yang dengan demikian akan mengadakan langkah-langkah menghadapi keadaan itu serta menuju kepada bentuk-bentuk kehidupan yang baru. 2004. Harian Umum Kompas. Studi Tentang Perkembangan Pemikiran Hukum di Indonesia 1945-1990. pencerahan. Soerjono Soekanto. Raja Grafindo Persada. politik atau kultural. Sistem hukum liberal dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap kemerdekaan individu. 91-92. hlm. Periodeisasi itu menunjukkan adanya akselerasi menuju pembebasan individu. yang kemudian dihubungkan dengan hukum.timbul emosi-emosi pada pihak-pihak yang terkena. Lahirnya perubahan hukum biasanya diawali dengan perubahan ditingkat pemikiran hukum itu sendiri. berimplikasi di bidang teknologi dan industri.”17 Selain itu. dan (3) gerakan sosial (social movement). Rose mengemukakan adanya tiga teori umum perihal perubahan-perubahan sosial. Muhammadiyah University Press. Hukum dan Masyarakat. hlm. 19 Khudzaifah Dimyati. salah satunya adalah “industrialisasi yang lapar lahan” 19 Di bidang hukum nilai-nilai liberal terpusat pada jaminan atas kemerdekaan individu yang menjadi paradigma dalam sistem hukum. yaitu: (1) kumulasi yang progresif daripada penemuan-penemuan di bidang teknologi. adalah suatu perkembangan yang bermuatan nilai atau budaya yang khas.

karena politik hukum merupakan disiplin yang mendasari aktifitas memilih dan menyerasikan berbagai nilai. Melalui politik hukum. 23 Abdul Hakim G Nusantara. Ahsin Thohari. Penegasan fungsi lembaga penegak atau pelaksana hukum dan pembinaan anggotanya. 4. “Politik Hukum Nasional”. 3. Politik hukum nasional bisa meliputi: 1.23 Keempat faktor tersebut menjelaskan secara gamblang wilayah kerja politik hukum yang mencakup teritorial berlakunya politik hukum dan proses pembaruan Satjipto Rahardjo. 2002. 5 Tahun ke VII Januari-Februari. Universitas Diponegoro. September 1985. cara. mempunyai peranan penting. hlm. politik hukum nasional secara harfiah diartikan sebagai kebijakan hukum (legal policy) yang hendak diterapkan atau dilaksanakan secara nasional oleh suatu pemerintahan negara tertentu. atau model yang akan digunakan dalam melaksanakan pembangunan hukum dalam rangka mencapai tujuan maupun untuk kepentingan terhadap perubahan hukum yang direncanakan. 21 17 . dalam: Firman Muntaqo. “Dasar-Dasar Politik Hukum” Raja Grafindo Persada. Jakarta. hlm. 2.22 Abdul Hakim G Nusantara dan Arief Budiman mengemukakan konsep yang dapat digunakan untuk memahami perspektif pemikiran politik hukum.21 E. 2006. Dalam Majalah Hukum dan Keadilan No. 45-46. 22 Sudarto. hlm. 37. Menurut Abdul Hakim G Nusantara. hlm. dalam: Imam Syaukani & A. YLBHI & LBH Surabaya. Makalah pada Karya Latihan Bantuan Hukum (Kalabahu). 2006.dapat dikatakan bahwa perkembangan menuju doktrin “Rule of Law” adalah sisi lain dari perkembangan individu menuju pembebasannya. Usulan Penelitian untuk Disertasi. 30-31. Semarang. Meningkatkan kesadaran hukum masyarakat menurut persepsi kelompok elit pengambil kebijakaan. “Perkembangan Ilmu Hukum dan Politik Hukum”. maupun yang memberikan arah pada pembangunan hukum yang dicita-citakan (ius constituendum). Pembangunan hukum yang intinya adalah pembaruan terhadap ketentuan hukum yang telah ada dan yang dianggap usang. Politik Hukum Politik hukum sebagai kerangka umum yang akan membentuk hukum (legal frame work). 14-17. Pelaksanaan ketentuan hukum yang telah ada secara konsisten. Sosiologi Hukum Perkembangan Metode dan Pilihan Masalah. dan penciptaan ketentuan hukum baru yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat. “Harmonisasi Hukum Investasi di Bidang Perkebunan”. dikaji hukum yang berlaku (ius constitutum). Muhammadiyah University Press. Surakarta.

Lihat dalam: Arief Budiman. Bantuan ekonomi dan militer dari negara-negara adidaya dan lembaga-lembaga keuangan internasional untuk mendukung sebuah negara tentunya merupakan kondisi yang memperkokoh kekuasaan negara yang dibantu. Pemerintah. Aparat Politik & Birokratik. Kapitalisme. namun apakah perubahan itu bersifat substansial atau tidak itu persoalan lain. Teori Negara. Birokrasi. 31 Kondisi Struktural dari negara. Perlu dicatat juga bahwa dalam konsep kondisi struktural ini. karena kebijakan publik merupakan hasil interaksi dari kondisi struktural (proses politik antara pemerintah yang berkuasa dengan dan proses politik yang ditempuh) Ibid. hlm. Kebijakan juga ditentukan oleh rezim yang ada. Gramedia Pustaka Utama. hlm. Aspek Personel dari Post Birokratik26 Pelaksana Negara Rezim. Hubungan dan sebagainya. termasuk jugakekuatan-kekuatan internasional yang berpengaruh pada pengaturan kekayaan dan pakta dominasi di sebuah negara tertentu. San Francisco. Negara. London. 16. 90-93. Pra-Birokratik. baik secara Nasional maupun Internasional. Unsur dominan dalam suatu perubahan kebijakan adalah kondisi struktural. Feodalisme. Jakarta. . Harper & Row. Demokrasi Hasil Represif. Publishers New York. Kebijakan Publik Responsif27 Sumber: Arief Budiman. hlm. 27 Ibid. Sosial.dan pembuatan hukum. cara Totaliter. Sosialisme. Otonom. 22. 1997. tetapi tetap ditentukan oleh “kondisi struktural”25 dari pemerintahan sendiri. dengan sikap kritis terhadap hukum yang berdimensi ius constitutum dan menciptakan hukum yang berdimensi isu constituendum. Hagerstown. Philippe Nonet & Philip Selznick. Sistem Politik. kondisi struktural meliputi aspek-aspek hubungan sosial. meliputi pakta dominasi dari kekuatan-kekuatan masyarakat yang ada dengan negara di mana pengaturan kekayaan—yakni siapa yang mendapat apa dan berapa banyak. Sifat Kebijakan Pemerintah Berdasarkan Kondisi Struktural dan Corak Penguasa Aspek Uraian Sifat Kondisi Struktural. Tabel 1. 1978. politik dan ekonomi. serta cara-cara mendapatkan kekayaan itu diatur.24 Mengacu pada pendapat Arief Budiman. Kekuasaan dan Ideologi. pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan tidak semata-mata ditentukan oleh pemerintah secara mandiri. Ekonomi dan Politik dari Konteks Kekuatan Produksi. dikutip dari. Pakta Dominasi. Law & Society in Transition: Toward Responsive Law. 26 18 . hlm. Otoriter. Dengan lain perkataan. 25 24 Tambahan dari penulis. Jadi kebijakan dalam sebuah rezim yang otoriter akan mengalami perubahan dibawah rezim yang demokrasi. 1997. Pengaturan Kekayaan. SemiPenyelenggaraan Kekuasaan Demokrasi.

Surabaya. Untuk kebijakan tertentu mungkin kondisi struktural yang paling dominan. 2004. 1992. 59. Jakarta. Istilah peraturan perundang-undangan dalam praktik dan wacana akademik kadang digunakan dengan memaknainya tidak secara tepat. yaitu wewenang untuk mengatur yang langsung mengikat umum29. Jogjakarta. hlm. Oleh karena itu. dalam: H. makna aturan hukum yang dimaksud. mendapat akhiran “an“ yang bermakna kata benda. hlm. Padahal. Program Studi Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Airlangga. hlm. Ind-Hill.PP .30 Di Bagir Manan.yang ada. ia terdiri dari undangundang dan berbagai peraturan perundang-undangan lainnya seperti. Hirarki Aturan Hukum di Indonesia. hlm. disamping kaidah hukum lainnya seperti hukum adat. 30 Ibid. 35-36. ditambah kata hukum. Disertasi. dalam Disertasinya menggunakan istilah “aturan hukum” untuk istilah “peraturan perundangundangan”. Dasar-dasar Perundang-undangan Indonesia. dan hukum yurisprudensi. Hal ini sekali lagi didasarkan kepada permasalahan hirarki adalah permasalahan bentuk hukum yang membentuk pola jenjang aturan hukum (UUD . Undang-undang adalah hukum. sebab undang-undang adalah salah satu bentuk dari kaidah hukum. 28 19 . “undang-undang“ dan “hukum“28. Hukum dan Peraturan Kebijaksanaan (Beleidsregel) pada Pemerintahan Daerah. Dari kata dasar “atur“.Co. 65. Faktor dominan dari kondisi struktural yang mempengaruhi kebijakan tergantung pula dengan jenis kebijakannya. atau sama dengan hokum. sering terjadi kekeliruan dalam mengartikan istilah-istilah “peraturan perundang-undangan“. Aspek Teoritis Peraturan Perundang-undangan 1. tetapi hukum tidak sama dengan undang-undang. F. Abdul Latief. undangundang adalah bagian dari peraturan perundang-undangan. Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah. Istilah dan Jenis Peraturan Perundangan-Undangan Di kalangan awam. Febrian. UII Press. tetapi untuk lain kebijakan mungkin unsur pemerintah atau proses politiknya yang menjadi faktor dominan. hukum kebiasaan.Perda) dan wewenang aturan hukum. 29 Febrian.UU/Perpu . Kekeliruan terjadi karena terbentuknya konsep berpikir yang menyamakan peraturan perundangundangan dengan undang-undang. menjadi “aturan hukum“. 2005. 1. yaitu dari segi bentuk adalah tertulis dan dari segi substansi dan sifat adalah mengikat umum atau keluar.

5 ayat (2). Peraturan Pemerintah. Peraturan Pemerintah. dilakukan oleh Pemerintah bersama-sama Dewan Perwakilan Rakyat. 119 Konstitusi RIS 1949 33 Pasal 89 UUDS 1950: kecuali apa yang ditentukan dalam pasal 140 maka kekuasaan perundang-undangan. digunakan secara bersamaan atau secara bergantian. yang ada hanyalah jenis atau bentuk dari ”Peraturan Perundangan-undangan”. 32 ayat (2). UUD 1945 (sebelum amandemen).31 Pada Konstitusi Republik Indonesia Serikat 1949. dan Peraturan Pemerintah. 97. Pada masa berlakunya UUDS 1950. Undang-Undang Darurat.undang”. 34 Pasal 13 ayat (2). 32 31 20 . yaitu: “Undang. 51 ayat (3). 31.dalam uraian selanjutnya. yaitu: Ketetapan MPR. ”Peraturan-peraturan Undang-undang”. Undang-undang. 17 ayat (2). 5 ayat (1). Undang-undang. Yang membedakan dengan Konstitusi RIS 1949 ialah jenis atau bentuk dari peraturan-peraturan tersebut. Peraturan Presiden yaitu peraturan untuk melaksanakan Penetapan Pasal 3. 26. “Aturan-aturan hukum (yang tak tertulis)”. Aturan-aturan Undang-undang”. istilah “perundangundangan” dapat ditemukan pada Pasal 127 Bagian II judul Perundang-undangan. 5. “Keputusan Presiden”. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 tidak ditemukan istilah “Peraturan Perundang-undangan”. dan Keputusan Presiden32. 139. 51 ayat (4). Penetapan Presiden yaitu: peraturan untuk melaksanakan Dekrit Presiden. Istilah-istilah lainnya tidak jauh berbeda dengan yang diatur dalam Konstitusi RIS 1949. 31. lain halnya dengan apa yang diatur dalam Konstitusi RIS 1949. Dalam Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia 1950. 41 ayat (2). kedua istilah peraturan perundang-undangan dan aturan hukum. dengan menyebutkan kekuasaan perundang-undangan federal. Undang-undang Darurat. kekuasaan perundangundangan dalam UUDS 1950 dilakukan pemerintah bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat33. sesuai dengan ketentuan-ketentuan bagian ini. “Peraturan Undang-undang”. Pasal 20. 21. 91. 27 ayat (1). “Perundang-undangan federal”. 90. istilah “perundang-undangan” ditemukan pada Bagian II judul Perundang-undangan. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. 30 ayat (3). “Undang-undang darurat”. Selain itu terdapat juga istilah “Peraturan-peraturan Undang-undang”. Undang-undang daerahdaerah bagian. 84. Jika merujuk pada jenisnya terdapat: Undang-undang federal. 96 ayat (1). 141. “Aturan-aturan Undang-undang”. 98 UUDS 1950. Undang-Undang. 22 ayat (1). “Peraturan Pemerintah”34. seperti: “Aturan-aturan hukum”. jenis peraturan perundang-undangan yang ada meliputi: Undang-Undang Dasar.

dan III. No. diawali dengan Ketetapan MPRS No. Jenis-jenis peraturan Perundang-undangan selain yang telah disebutkan dalam UUDS keberadaanya didasarkan pada Surat Presiden No. yaitu: I. II. Jadi. XIX/MPRS/1966 tentang Peninjauan Kembali Produk-Produk Legislatif Negara di luar produk MPRS yang tidak sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945. Bagian II Tata Urutan Peraturan Perundangan Republik Indonesia dari Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 berisikan bentuk-bentuk atau jenis-jenis peraturan perundang-undangan Republik Indonesia secara hirarki: 21 . dalam hal ini terjadi berbagai kerancuan dan tumpang tindih mengenai materi muatan maupun tata urutan peraturan perundang-undangan. Penetapan Presiden dan Peraturan Presiden mengatur materi Undang-undang dan Peraturan Pemerintah. terjadi kesemerawutan dalam tata urutan peraturan perundang-perundangan. 3639/HK/1959 tanggal 26 Nopember 1959. Terdapat Peraturan Pemerintah yang ternyata sebagai peraturan pelaksanaan dari Peraturan Presiden. Peraturan Menteri.33 Pada masa berlakunya UUDS 1950. Peraturan Perdana Menteri. Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia. Memasuki tahun 1966 “kesemerawutan” jenis dan tata urutan peraturan perundang-undangan mulai dibenahi. dan surat No. 2775/HK/1959 tanggal 22 September 1959. relatif membuka ruang untuk menyelesaikan kesemerawutan tersebut. Bagan atau Skema Susunan Kekuasaan di dalam Negara Republik Indonesia. seperti. Tata Urutan Peraturan Perundangan Republik Indonesia. didasarkan atas alasan adanya jenis peraturan perundang-undangan yang tidak mempunyai dasar hukum dalam UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan yang isinya tidak sesuai atau bertentangan dengan isi UUD 1945. Munculnya Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 tentang Memorandum DPR-GR mengenai Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan Peraturan Perundangan Republik Indonesia. Peraturan Daerah Tingkat I dan II. Keputusan Menteri. Ketetapan ini meliputi tiga bagian. Keputusan Presiden. Terjadi kerancuan menyangkut jenis dan substansi peraturan perundang-undangan. 2262/HK/1959 tanggal 20 Agustus 1959. Peninjauan kembali terhadap produk-produk hukum tersebut.Presiden.

jenis-jenis peraturan perundang-undangan yang ditetapkan mulai dari TAP MPR No. 2. Yogyakarta. 35 22 . Kemudian pada tahun 2004 lahir undang-undang yang khusus mengatur tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. karena menempatkan UUD 1945 dalam pengertian Peraturan Perundang-undangan yang tertinggi. Ketetapan MPR. 10 Tahun 2004 mengandung kerancuan bahkan kesalahan yang perlu diperbaiki dan disempurnakan. jika kita cermati Memorandum DPR-GR tertanggal 9 Juni 1966 Bagian I. XX/MPR/1966 sampai dengan UU No. 2. merupakan tindakan pertama dari Tata Hukum Indonesia. seperti: a. Undang-undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang. pengertian Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum. Peraturan-peraturan pelaksanaan lainnya. IX/MPR/1978 dan TAP MPR No. di tetapkan dengan TAP MPR No. 6. Berkenaan dengan pendapat Abdul Latief di atas.1. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Abdul Latief. 5. dan 4. UII Press. Peraturan Menteri. Peraturan Pemerintah. Surat Perintah 11 Maret 1966. Hukum dan Peraturan Kebijaksanaan (Beleidsregel) pada Pemerintahan Daerah. Berdasarkan Pasal 1 angka 2 undang-undang tersebut. Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945. yaitu Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004. Instruksi Menteri. Undang-Undang Dasar 1945. diterangkan lebih lanjut bahwa sebagai perwujudan cita-cita Pancasila yang merupakan Sumber Segala Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia berturut-turut ialah: 1. 3. b. hlm. dan disisi lain UUD 1945 juga sebagai Hukum Dasar Negara35 . Selanjutnya tata urutan dan jenis-jenis Peraturan Perundang-undangan. IV/MPR/2000. Menurut Abdul Latief. 45. 4. 2005. 3. Keputusan Pemerintah. V/MPR/1973 diulangi dengan TAP MPR No.

UUD 1945 bukan merupakan pangkal atau ketentuan pertama yang melegitimasi berdirinya Republik Indonesia.Berdasarkan urutan tersebut di atas.36 Penempatan UUD 1945 dalam pengertian Peraturan Perundang-undangan yang tertinggi dan UUD 1945 sebagai Hukum Dasar Negara. dasar wewenangnya kepada aturan-aturan lainnya secara konstitusionil. 36 23 . hlm. untuk merealisasikan tujuan perjuangannya dengan membentuk negara nasional yang bebas merdeka dan berdaulat. dalam hal ini penulis sepakat dengan pendapat Joeniarto. Artinya UUD 1945 dibentuk dengan sengaja oleh lembaga yang berwenang. Liberty. sebagaimana pendapat Abdul Latief di atas. Oleh karena itu. Tata Hukum Indonesia merupakan dasar penyelenggaraan Tertib Hukum Indonesia. Selama sesuatu ketentuan secara konstitusionil masih dapat dicari dasar hukumnya kepada sesuatu aturan atau ketentuan yang telah ada sebelumnya. yaitu tata hukum Indonesia dengan Proklamasi sebagai “tindakan pertama” atau “ketentuan pertama” atau “norma pertama” atau dapat juga disebut sebagai “ketentuan pangkalnya”. Yogyakarta. Selayang Pandang Tentang Sumber-Sumber Hukum Tata Negara Di Indonesia. yaitu tata hukum kolonialisme. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 merupakan perwujudan pertama untuk merealisasikan citacita Pancasila sebagai Sumber Segala Sumber Tertib Hukum Indonesia. karena justru penempatan UUD 1945 pada urutan tertinggi pada Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan sudah tepat. UUD 1945 haruslah dipahami sebagai hukum dasar yang tertulis dan merupakan sebagian dari hukum dasar. Dilihat dari proses sejarah. Sejak Proklamasi. oleh karena itu UUD 1945 dilihat dari bentuk dan proses pembentukannya merupakan Peraturan Perundang-undangan. Proklamasi tidak dapat dicari dasar hukumnya. 19-20. Konsekuensinya ialah menjebol tertib Joeniarto. 1983. Hal ini di dasarkan pada Proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 yang merupakan titik kulminasi dari amanat penderitaan rakyat. berdirilah tata hukum baru. Struktur yang demikian sangat tidak beralasan. Proklamasi berfungsi sebagai keputusan bangsa Indonesia secara menyeluruh untuk tidak lagi mengakui adanya ikatan dengan tata hukum yang sebelumnya. yang berisikan aturan-aturan pokok atau dasar-dasar mengenai ketatanegaraan dari suatu negara. mengandung kerancuan bahkan kesalahan. maka itu bukan ketentuan pertama atau ketentuan pangkal.

diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. yautu: a. Peraturan Daerah. c. antara lain. Pada Pasal 7 ayat (4) disebutkan bahwa “Jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud ayat (1). 10 Tahun 2004: “Jenis Peraturan Perundang-undangan selain dalam ketentuan ini. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. Jenis dan Hirarki Peraturan Perundang-Undangan Menurut UU No. sudah tepat jika UUD 1945 ditempatkan pada posisi Peraturan Perundang-undangan yang tertinggi di dalam Tata Hukum Indonesia. Adapun jenis-jenis Peraturan Perundang-undangan selain yang ditentukan oleh Pasal 7 (1) dimaksud. 2. peraturan yang dikeluarkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Dewan Perwakilan Daerah. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. lembaga. seakan-akan kedudukan Peraturan MPR. telah ditetapkan lewat Pasal 7 ayat (1) UU No. terlihat bahwa pengaturan yang dibuat oleh organ negara tersebut tidak lebih rendah dari Peraturan Daerah. Dengan demikian. kepala badan. atau komisi yang setingkat yang dibentak oleh undang-undang atau pemerintah atas perintah undang-undang. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Sekilas ketentuan dari penjelasan tersebut (Pasal 7 ayat (4)) dan dikaitkan dengan Pasal 7 (1). dan sekaligus juga menjadi Hukum Dasar Negara (yang tertulis). Akan tetapi bila dicermati secara seksama ketentuan Pasal 7 ayat (4).hukum kolonial dan membangun tertib hukum yang baru. Peraturan Presiden. Gubernur. e. Mahkamah Konstitusi. Hal 24 . Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. Peraturan Pemerintah. b. d. Menteri. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota. Mahkamah Agung dan organ negara lainnya secara hierarkis berada dibawah Peraturan Daerah. merujuk ke Penjelasan Pasal 7 ayat (4) UU No. Mahkamah Agung. Kepala Desa atau yang setingkat”. 10 Tahun 2004 Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia. Bank Indonesia. Bupati/Walikota. Badan Pemeriksa Keuangan.

hlm.38 3. maka harus diambil ketentuan yang paling menguntungkan pihak yang terkena. Alumni. 38 37 25 . Penelitian Hukum. Hal ini sangat berbeda dengan yang pernah ditentukan di dalam Ketetapan MPRS No. bukan lembaga yang menerbitkan peraturan perundangan itu yang menentukan kedudukannya. 1979. 48. yang menentukan kedudukan peraturan perundangundangan dalam hierarki peraturan perundang undangan Republik Indonesia. apabila diperintahkan oleh Peraturan Pemerintah. Perundang-Undangan & Yurisprudensi. Asas-Asas Peraturan Perundang-Undangan a. hlm. dalam: Rosjidi Ranggawidjaja. Opcit. 39 Purnadi Purbacaraka & Soerjono Soekanto. melainkan peraturan perundang-undangan yang mana yang memerintahkan.39 b. hlm. III tahun 2000. Jakarta. “tiada peristiwa dapat dipidana. Peraturan Bank Indonesia. Jika suatu peraturan perundang-undangan akan diberlakukan surut. Bandung. misalnya dapat dikatakan setingkat dengan Peraturan Pemerintah karena sama-sama diperintahkan oleh Undang-Undang (regulation). mensyaratkan peraturan perundang-undangan hanya berlaku bagi peristiwa atau perbuatan yang dilakukan sejak peraturan perundang-undangan tersebut dinyatakan berlaku atau berlaku atas peristiwa sebelum peraturan perundang-undangan itu diberlakukan.37 Dengan demikian. jika diperintahkan oleh Undang-Undang. 98. Sebagaimana dalam ketentuan Pasal 1 ayat (1) KUH Pidana yang menyatakan. 2005. Prenada Media. Lex superior derogat legi inferiori Asas ini berlaku apabila terjadi pertentangan antara peraturan perundangundangan yang secara hierarkis berbeda (yang lebih rendah dengan yang lebih Peter Mahmud Marzuki. Undang-Undang tidak berlaku surut Asas yang menyatakan bahwa ”undang-undang tidak berlaku surut“.itu bergantung kepada diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang mana. Ibid. sebaliknya. 16. kecuali atas dasar kekuatan suatu aturan perundangundangan pidana yang mendahulukan“ (Geen feit is strafbaar dan uit kracht van eene daaraan voorafgegane wettelijke strafbepaling). XX/MPRS/1966 dan Ketetapan MPR-RI No. Peraturan Bank Indonesia berada dibawah Peraturan Pemerintah (delegated regulation).

misalnya Undang-undang dengan Undang-undang. d. Asas ini berkaitan dengan dua Peraturan Perundang-undangan yang mengatur masalah yang sama. hlm. Jika sebaliknya. Perbedaannya hanya pada ruang lingkup materi muatannya yang tidak sama. 99. Asas ini dapat dipahami bahwa. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas dengan UU No. Lex specialis derogat legi generali Berbeda dengan asas lex superiori derogat legi inferiori. Dalam hal demikian. peraturan perundang-undangan yang baru tidak memuat ketentuan yang dibutuhkan untuk situasi yang sedang dihadapi. misalnya UU No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasan Kehakiman. 26 . 14 Tahun 1970 dengan UU No. harus di identifikasi ruang lingkup materi muatan kedua peraturan perundang-undangan. sepanjang tidak diatur lain dalam perundang-undangan di bidang pasar modal“. c. Akan tetapi. maka dengan demikian peraturan perundang-undangan yang hierarkinya lebih rendah harus disisihkan. 10 Tahun 2004.tinggi). peraturan perundang-undangan yang baru lebih mencerminkan kebutuhan dan situasi yang sedang berlangsung. Op. Sebagaimana yang terjadi pada asas lex specialis derogat legi generali. tidak semua peraturan perundang-undangan menyebutkan posisinya sebagaimana ketentuan-ketentuan transitor tersebut. sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. 1 Tahun 199540.cit. dan ketentuan itu justru termuat 40 Peter Mahmud Marzuki. Lex posterior derogat legi priori Peraturan Perundang-undangan yang lahir kemudian menyisihkan Peraturan Perundang-undangan yang lahir sebelumnya. sebagaimana dirumuskan pada Pasal 127 UU No. penggunaan asas ini mensyaratkan bahwa yang diperhadapkan adalah dua Peraturan Perundangundangan dalam hierarki yang sama. “Bagi perseroan yang melakukan kegiatan tertentu dibidang pasar modal berlaku ketentuan Undang-undang ini. asas lex specialis derogat legi generali ini mengatur tentang dua peraturan perundang-undangan yang secara hierarkis mempunyai kedudukan yang sama. Misalnya antara UU No. Dalam penerapan asas ini perlu dirujuk Pasal 7 ayat (1) jo ayat (4) UU No. yaitu yang satu merupakan pengaturan secara khusus dari yang lain.

Undang-undang harus mencerminkan gagasan yang ada di belakangnya. di Negara Republik Indonesia ialah Pancasila. yaitu keadilan. sebagaimana dalam bahasa latin disebutkan: “Est autem just a justitia. Oleh karena itu kaidah hukum yang dibentuk harus mencerminkan filsafat hidup bangsa itu atau sekurang-kurangnya tidak bertentangan dengan nilai-nilai moral bangsa. Jika tidak. Landasan Filosofis (Filosofische grondslag) Filsafat atau pandangan hidup suatu bangsa berisi nilai-nilai moral dan etika dari suatu bangsa tersebut. walaupun secara hukum sebenarnya ia tidak pernah ada. Misalnya. 4. ia menjadi dasar filsafat dalam pembentukan perundangundangannya.dalam peraturan perundang-undangan yang telah digantikan. landasan sosiologis. Undang-undang bukan sekedar produk tawar menawar politik dan jika undang-undang yang dihasilkan cuma merupakan legitimasi dari tawar menawar politik dan tidak memuat nilai-nilai keadilan. dan landasan yuridis. yang di dalamnya terdiri dari nilai-nilai kebenaran. a. Landasan Peraturan Perundang-Undangan Secara umum suatu peraturan perundang-undangan yang baik sekurangkurangnya harus memiliki landasan filosofis. Landasan filosofis adalah dasar filsafat atau pandangan atau idee yang menjadi dasar cita-cita sewaktu menuangkan hasrat dan kebijaksanaan (pemerintahan) ke dalam suatu rencana atau draft peraturan negara. maka harus dinyatakan bahwa ketentuan itu tetap berlaku melalui aturan peralihan peraturan perundang-undangan yang baru. Dalam hal ini perlu dipelajari landasan filosofis dari setiap Peraturan Perundang-undangan yang diacunya. Filsafat hidup suatu bangsa harus menjadi landasan di dalam pembentukan hukum dalam kehidupan bernegaranya. kesusilaan dan nilai-nilai lainnya yang dianggap baik oleh suatu bangsa. maka undang-undang itu memang diundangkan dan sah. keadilan. maka harus dilihat dahulu apakah ketentuan yang termuat di dalam peraturan perundang-undangan yang lama tersebut tidak bertentangan dengan landasan filosofis peraturan perundangundangan yang baru. 27 .

Op. Penerbit Bina Aksara. 44 Ibid. Op. 1992. untuk itulah kecendrungan dan harapan masyarakat harus dapat diprediksi dan diakomodir dalam peraturan perundangundangan yang berorientasi masa depan.41 b. 92. Rosdjidi Ranggawidjaya. Oleh karena itu.cit. Landasan Sosiologis (Sociologische grondslag) Suatu peraturan perundang-undangan dikatakan mempunyai landasan sosiologis. Produk perundang-undangan tidak sekedar merekam keadaan seketika (moment opname). dalam: H. ergo prius fruit justitia quam jus“ (tetapi hukum timbul dari keadilan sebagai ibunya sehingga telah ada keadilan sebelum adanya hukum). Rosjidi Ranggawidjaja. Perundang-undangan: Dasar. 42 41 28 . Landasan yuridis formil. 104. landasan hukum juga merupakan dasar keberadaan dari suatu jenis Peraturan Perundang-undangan.43 Karena masyarakat berubah. dalam: H. Dasar-dasar Perundang-undangan Indonesia. tidak menjadi huruf-huruf mati belaka42. Selain menentukan dasar kewenangan pembentukannya. tidak berarti bahwa apa yang ada pada suatu saat pada suatu masyarakat. hlm. apabila ketentuan-ketentuannya sesuai dengan keyakinan umum atau kesadaran hukum masyarakat. Landasan Yuridis (Juridische grondslag) Landasan yuridis adalah landasan hukum (yuridische gelding) yang menjadi dasar kewenangan (bevoegdheid. peraturan perundang-undangan yang dibuat harus sesuai dengan kenyataan hidup masyarakat atau hukum yang hidup (living law) dimana peraturan itu diterapkan. c. IND-HILL. Hal ini penting agar perundang-undangan yang dibuat di taati oleh masyarakat. Ibid. Misalnya Pasal 20 ayat (1) UUD Peter Mahmud Marzuki.cit. Tanpa dasar hukum tersebut pembentukan dan keberadaan suatu peraturan perundang-undangan menjadi tidak sah secara hukum. Jakarta.sicut a matre sua. Amiroeddin Syarif. Namun. yakni landasan yuridis yang memberikan wewenang (bevoegdheid) kepada badan tertentu untuk membentuk peraturan tertentu.CO. Jenis dan Teknik Membuatnya.44 Landasan hukum kewenangan membentuk dan keberadaan suatu Peraturan Perundang-undangan sangat diperlukan. hlm 15. 43 Bagir Manan. akan menjadi nilai kehidupan selanjutnya. Landasan yuridis meliputi segi formil dan segi materil. hlm 44. hlm. compententie) pembuatan Peraturan Perundangundangan. nilai-nilai pun terus berubah.

45 Pada tahun 1999 garis politik otonomi kembali ditegaskan dalam TAP MPR Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah. Op. terdapat TAP MPR Nomor IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam. misalnya Pasal 25 UUD 1945 adalah landasan yuridis materil dalam menyusun materi muatan peraturan perundangundangan yang berkenaan dengan syarat-syarat menjadi hakim dan pemberhentiannya. Pada tahun 2001. Pengaturan. dimana 45 M. Solly Lubis. serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.1945 (perubahan pertama) menjadi landasan yuridis bagi DPR untuk membentuk undang-undang. Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan. yaitu landasan yuridis yang merujuk kepada materi muatan tertentu yang harus dimuat dalam suatu peraturan perundang-undangan. Hal ini seiring dengan perubahan UUD 1945 yang berimplikasi terhadap perubahan ketatanegaraan Republik Indonesia. 5 Tahun 1974 yang mengatur pokok-pokok pemerintahan di daerah. 29 . dan makin nyata sejak adanya UU No.cit. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. hlm. Landasan Politis Menurut Solly Lubis. Sedangkan landasan yuridis dari segi materil. landasan politis dalam pembentukan peraturan perundang-undangan adalah garis kebijaksanaan politik yang menjadi dasar selanjutnya bagi kebijaksanaan-kebijaksanaan dan pengarahan ketatalaksanaan pemerintahan negara. Selanjutnya ia mencontohkan garis politik otonomi yang tercantum dalam TAP MPR No. Pada Pasal 1 ketentuan ini ditegaskan bahwa: “Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumberdaya Alam merupakan landasan peraturan perundang-undangan mengenai pembaruan agraria dan pengelolaan sumber daya alam”. IV Tahun 1973 (GBHN) menjadi landasan politis pembuatan UU No. 10 Tahun 2004. Tap MPR tersebut menjadi landasan politis pembentukan UU No. d. Misalnya Pasal untuk segi isi (materi) yakni dasar hukum untuk mengatur hal-hal tertentu. Namun ketentuan ini tidak melahirkan peraturan perundang-undangan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1 ketentuan tersebut. 20.

tidak terlepas dari konflik yang terjadi pada tataran hukum yang lebih tinggi (konflik antar nilai. yaitu UUD 1945 yang telah mengalami perubahan sebanyak 4 (empat) kali. 5. dan antar asas). Nilai dan asas yang dimaksud berkedudukan sebagai norma hukum yang lebih tinggi dan menjadi dasar pembentukan aturan hukum yang lebih rendah. konflik pada level nilai dan asas yang terkandung dalam hukum dasar tertulis (konstitusi tertulis). Terlebih bila pemerintahan demokratis tidak dilaksanakan berdasarkan makna hakikinya sebagai pemerintahan dari rakyat. Oleh karena itu. oleh rakyat. maka konflik aturan hukum juga dapat diakibatkan oleh karena aturan hukum yang lebih rendah dibuat atau dirumuskan tidak selaras dengan aturan hukum yang lebih tinggi yang seharusnya menjadi dasar perumusan aturan hukum tersebut. Berdasarkan uraian di atas. dan untuk rakyat. maka konflik norma hukum antar aturan hukum yang lebih rendah atau antara aturan hukum yang lebih rendah terhadap aturan hukum yang lebih tinggi. analisis terhadap konflik aturan hukum (peraturan perundang-undangan) hanya dapat dilakukan apabila. dikaji terlebih dahulu dan dijadikan patokan dalam pengkajian sinkronisasi dan konsistensi aturan hukum (peraturan perundang-undangan) yang lebih rendah. maka konflik aturan hukum (sinkronisasi dan konsistensi aturan hokum. Sinkronisasi dan Konsistensi (Konflik) Aturan Hukum Sektoral Jika hukum dimaknakan sebagai tata hukum (sistem peraturan perundangundangan. Oleh karena pembentukan aturan hukum pada kenyataannya dipengaruhi oleh berbagai kekuatan dan kepentingan pada lembaga pembentuk aturan hukum (legislatif dan eksekutif).pada ketentuan Pasal 7 ayat (1) mengenai jenis dan hierarki Peraturan Perundangundangan tidak lagi memasukkan TAP MPR. namun dimaknakan sebagai pemerintah yang didasarkan pada suara terbanyak (pemegang kekuasaan politik terbesar). aturan hukum). 30 . peraturan perundang-undangan) merupakan lanjutan/turunan konflik nilai-nilai dan asas-asas yang terkandung pada sumber hukum tertinggi.

Secara formal selalu diupayakan untuk menyerasikan kedua orientasi tersebut. hlm. Kedua. Quo Vadis Idelogi Populis Agraria Berlakunya aturan hukum suatu negara paling tidak ditentukan oleh dua faktor: Pertama. sedangkan masyarakat sebagian besar belum siap dengan visi tersebut. bahwa pemerintah mempunyai orientasi sendiri. dan yang terlalu maju (bervisi global). Orientasi politik penguasa seringkali tidak berjalan paralel dengan kesadaran hukum (orientasi hukum) masyarakat yang cenderung tradisional. kesadaran atau keyakinan anggota-anggota masyarakat terhadap hukum dalam makna nilai-nilai keadilan. dengan tetap berpegang pada tujuan nasional. banyak peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan pemerintah dinilai tidak memihak kepentingan rakyat. konservatif.BAB III ANALISIS ATURAN HUKUM SEKTOR PERTANAHAN A. Orientasi politik hukum penguasa bersifat progresif. yaitu masyarakat adil dan makmur. secara substansial pertarungan orientasi politik hukum antara pemerintah dan masyarakat tercermin dari adanya konflik di antara norma tertulis (peraturan perundang-undangan). Yogyakarta. seyogyanya pemerintah sangat memperhatikan kondisi senyatanya masyarakat Indonesia yang sangat Maria R Ruwiastuti. Akibatnya. antisipatif terhadap perkembangan kedepan dan berwawasan nasional. Pustaka Pelajar.yang bersifat pluralis . 46 31 . politik hukum yang ditetapkan oleh penguasa negara. namun lebih memihak pada dunia perdagangan yang bersifat global/perdagangan bebas. namun secara subtansi yang tercermin dari berbagai rumusan pasal dalam peraturan perundang-undangan belum tentu demikian. Membongkar Alas Penguasaan Negara Atas Hak-Hak Adat. Pada akhirnya akan menimbulkan ekses dalam penerapan peraturan perundang-undangan. Di bidang pertanahan. Sesat Pikir Politik Hukum Agraria. berorientasi historis dengan lingkup wilayah budaya terbatas (budaya lokal)46. Padahal. dan para investor. 2000. Idealnya pemerintah mampu mengakomodir orientasi politik hukum/kesadaran hukum masyarakat . yaitu dalam bentuk sengketa pertanahan. 109-110.dan mengharmonisasikannya dengan kebutuhan pemerintah dan dunia internasional. Kenyataan yang terjadi hingga saat ini mengindikasikan.

bervariasi tingkat perkembangannya, mulai dari yang sangat maju sampai yang masih sangat sederhana, bahkan masih ada yang hidup di “alam bebas”. Pertarungan orientasi yang menjadi dasar politik pertanahan antara pemerintah dengan masyarakat (rakyat) tersebut di atas, bermuara pada makin meningkatnya sengketa pertanahan di Indonesia yang melibatkan rakyat, pemerintah dan swasta. Sejarah membuktikan bahwa, pemerintah mempunyai orientasi politik tersendiri yang terkesan dipaksakan keberlakuannya pada masyarakat sebagaimana tercatat dalam sejarah pertanahan di Indonesia pada masa penjajahan, baik oleh Inggris maupun Belanda.47 Berangkat dari kenyataan pada zaman kolonial, dan perbedaan antar wilayah, tingkat kepadatan penduduk, budaya agraris, sistem produksi, penguasaan teknologi, dan konsep hak atas tanah, maka setelah kemerdekaan pemerintah mencoba untuk merumuskan orientasi baru sebagai dasar politik hukum agraria/pertanahan Indonesia. Landasan politik hukum agraria Indonesia tersebut secara tegas dituangkan pada rumusan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, bahwa “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Dari ketentuan tersebut di atas, timbul pertanyaan yaitu bagaimana kekuasaan Negara itu dilaksanakan, sedangkan konstitusi tidak menjelaskan secara spesifik?. Konsekwensi vulgar yang dapat ditarik adalah penguasa Negara/pemerintah mendapat kesempatan luas untuk merumuskan Peraturan Perundang-undangan yang rinci mengenai pelaksanaan kekuasaan tersebut. Dengan kata lain, penguasa negara berwenang menetapkannya melalui politik hukum dalam sejumlah undang-undang maupun peraturan pelaksana undang-undang
48

. Yang terpenting dalam hal

ditetapkannya suatu peraturan ialah implikasi-implikasi atau ekses negatif yang muncul dari penerapan tersebut. Pertanyaannya ialah siapa yang paling diuntungkan dengan ditetapkannya suatu peraturan?. Pertanyaan ini menjadi penting mengingat proses pembentukan peraturan sangat tergantung dengan orientasi pemerintah,

Banyak hal yang dapat diidentifikasi sebagai permasalahan politik pertanahan sejak zaman Hindia Belanda, misalnya penerapan sistem Landrente, Cultuurstelsel atau tanam paksa dan asas Domeinverklaring. Pada intinya politik pertanahan tersebut tidak ditujukan untuk kemakmuran rakyat (Indonesia), melainkan untuk pemerintah Belanda dan kaum modal asing lainnya. 48 Maria R Ruwiastuti. Op.cit, hlm. 111.

47

32

tingkat partisipasi politik masyarakat, pertarungan kepentingan, dan konfigurasi politik nasional maupun global. Perkembangan politik hukum agraria di Indonesia, ditandai dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar PokokPokok Agraria pada tanggal 24 September 1960. Peraturan ini lebih dikenal dengan sebutan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA), yang diundangkan dalam Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104 dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 2043. UUPA memuat perubahan-perubahan yang revolusioner, dalam arti perubahan yang terkandung di dalam materi muatannya bersifat mendasar dan fundamental terhadap stelsel hukum agraria warisan kolonial. Misalnya, penyatuan hukum agraria dengan jalan unifikasi, yang dilatarbelakangi oleh sifat dualisme hukum agraria yang berlaku sebelumnya sebagai warisan zaman kolonialisme. Namun, karena sebagian besar rakyat Indonesia masih dipengaruhi hukum adat, maka hukum agraria yang baru tersebut didasarkan pula pada ketentuan-ketentuan hukum adat dan bersandar pada hukum agama, yang disempurnakan dan disesuaikan dengan kepentingan masyarakat dalam negara yang modern dan hubungannya dengan dunia internasional, serta disesuaikan dengan Sosialisme Indonesia.49 Pilihan ideologi politik sosialisme daripada UUPA dapat ditemukan dalam Pasal 5 dan Pasal 14 ayat (1) UUPA, sebagai berikut: “Hukum agraria yang berlaku atas bumi, air dan ruang angkasa ialah hukum adat, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan Negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa, dengan sosialisme Indonesia serta dengan peraturan-peraturan yang tercantum dalam Undang-undang ini dan dengan peraturan perundangan lainnya, segala sesuatu dengan mengindahkan unsur-unsur yang bersandar pada hukum agama”. “Dengan mengingat ketentuan-ketentuan dalam pasal 2 ayat (2) dan (3) , pasal 9 ayat (2) serta pasal 10 ayat (1) dan (2) Pemerintah dalam rangka sosialisme Indonesia, membuat suatu rencana umum mengenai persediaan, peruntukan dan penggunaan bumi, air dan ruang angkasa serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya:”. Kata-kata Sosialisme Indonesia juga ditemukan di dalam Penjelasan Umum UUPA. Penjelasan otentik Sosialisme Indonesia terdapat dalam Ketetapan MPRS No. II/MPRS/1960 tentang Garis-Garis Besar Pola Pembangunan Nasional Semesta Berentjana Tahapan Pertama 1961-1969, yang dirumuskan dengan:
49

Lihat Konsiderans UUPA, Berpendapat huruf a, (cetak miring dari pen).

33

Bahwa Pembangunan Nasional Semesta Berentjana adalah suatu pembangunan dalam masa peralihan, jang bersifat menjeluruh untuk menudju tertjapainja masjarakat – adil – dan – makmur – berdasarkan – Pantjasila atau Masjarakat Sosialis Indonesia dimana tidak terdapat penindasan atau penghisapan atas manusia oleh manusia, guna memenuhi Amanat Penderitaan Rakjat:50 Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa ideologi politik dari UUPA adalah Sosialisme Indonesia yang artinya disamakan dengan tatanan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Sosialisme Indonesia tidak sama dengan sosialisme di negara-negara sosialis Barat, ia bersendikan pada keadilan, kerakyatan dan kesejahteraan. Ideologi politik sosialisme Indonesia selanjutnya direalisasikan menjadi konsepsi politik hukum politik hukum (politico-legal concept) berupa Hak Menguasai Negara (HMN).51 Di bidang agraria, dalam Hukum Agraria Nasional, Hak Menguasai Negara merupakan hak tertinggi yang dikenakan terhadap tanah melebihi hak apapun juga, seperti yang dirumuskan dalam Pasal 2 ayat (1) UUPA, sebagai berikut: Atas dasar ketentuan dalam Pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar dan halhal sebagai yang dimaksud dalam Pasal 1, bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya itu pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh Negara, sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat. Disimak dari ruh atau semangatnya, maka UUPA mengusung semangat reformasi agraria dengan strategi (Neo) populis, sebagaimana dirumuskan dalam tujuan UUPA, yaitu: (a) Meletakkan dasar-dasar bagi penyusunan hukum agraria nasional, sebagai alat untuk membawakan kemakmuran, kebahagiaan dan keadilan bagi negara dan rakyat, terutama rakyat tani, dalam rangka masyarakat yang adil dan makmur; (b) Meletakkan dasar-dasar untuk mengadakan kesatuan dan kesederhanaan dalam hukum pertanahan, dan; (c) Meletakkan dasar-dasar untuk memberikan kepastian hukum mengenai hakhak atas tanah bagi rakyat seluruhnya.52

.Konsiderans Menimbang, angka 2, Ketetapan MPRS No. II/MPRS/1960. Pada perkembangannya kemudian Ketetapan ini dicabut lewat TAP MPRS No. XXXVIII/MPRS/1968. Lihat pada: “Ringkasan Ketetapan MPRS Republik Indonesia No. I dan II/MPRS/1960, M.P.R.S, dan Departemen Penerangan, Bandung, 1961, hlm. 51 51 Dianto Bachriadi & Noer Fauzi, “Sistem dan Konflik Tenurial, Lagi-Lagi Negara versus Rakyat”, Jurnal Suara JAGAT No. I/th. I/1998, Yayasan Pikul, hlm. 18. 52 Penjelasan Umum, angka I, UUPA

50

34

globaljust. bahwa pengaturan dalam lapangan agraria merupakan usaha pemerintah untuk meninggikan produksi. Tenaga kerja adalah barang dagangan (komoditi). “AT THE END OF GLOBALISATION. untuk itu penguasaan tanah dan sarana produksi lainnya tersebar pada masyoritas keluarga tani. kemakmuran rakyat. Kalau dulu sekitar tahun 1980-an. Dengan demikian istilah “Globalisation” secara sederhana dapat dipahami sebagai suatu proses pengintegrasian ekonomi nasional bangsa-bangsa ke dalam suatu sistem ekonomi global. Lihat dalam: Bonnie. walaupun tanggung jawab atas akumulasi biasanya diatur oleh negara. strategi (Neo) populis menekankan pada satuan usaha keluarga. Jakarta. Selain itu. 54 Globalisation. pemerintah wajib mencegah adanya monopoli dari pihak swasta maupun usaha pemerintah atas penguasaan tanah. 2. Penggarap yang langsung mengerjakan tanah adalah pekerja upahan “bebas”. sarana produksi yang utama (tanah) dikuasai oleh individu-individu non-penggarap. WE ARE ALL DEAD”. Hubungan antara penguasaan/pemilikan tanah dan pekerjaan sifatnya terpisah. padahal tanah tidak hanya mempunyai arti secara ekonomis (komoditas).53 Seiring dengan munculnya liberalisasi dalam bidang perdagangan yang ditandai dengan diberlakukannya secara global (globalisation)54 kebijakan perdagangan bebas lewat suatu perjanjian perdagangan internasional. Dalam strategi kapitalis. berkat electronic mail. dengan batasan bahwa usaha-usaha pemerintah yang bersifat monopoli hanya dapat diselenggarakan dengan undang-undang. di tahun 1990-an meningkat tajam menjadi 1 trilyun dollar sehari! Kalau dulu transaksi memerlukan waktu berhari-hari. Perubahan Politik. Dengan demikian produksi secara keseluruhan merupakan pekerjaan keluarga tani tersebut. Tanggung jawab. diupah oleh penguasa/pemilik tanah. transaksi keuangan dunia hanya sekitar 300 juta dollar sehari.org/. Hal inilah yang membedakannya dengan strategi kapitalis. Globalisasi merupakan kelanjutan dari kolonialisme. tetapi juga mempunyai makna kultural. Dulu bernama kapitalisme internasional.org.Watak (Neo) populis dari UUPA juga dapat dibaca pada Pasal 13 UUPA yang pada intinya menyatakan. www.S. hlm. “Reformasi Agraria. Sengketa. adalah pasar yang meng-global atau kapitalisme global. Lihat dalam: Dianto Bachriadi. 53 35 . 68. karena secara kuantitatif telah membesar secara luar biasa. Menurut Noer Fauzi. et-al). dan penerapan asas keadilan sosial yang berprikemanusiaan dalam bidang agraria. saat ini hanya ditempatkan sebagai komoditas semata. pengambilan keputusan produksi sepenuhnya ditangan pemilik/penguasa tanah. maka milyaran dollar bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain. hlm. sekarang cukup dalam hitungan per-detik. dan Agenda Pembaruan Agraria di Indonesia”. Tanah yang pada mulanya merupakan faktor yang sangat penting bagi kehidupan rakyat Indonesia. sekarang berubah menjadi kapitalisme global.igj@globaljust. sosial. Lembaga Penerbit FE-UI.1997. politis dan religius. tenaga kerjanya adalah tenaga kerja keluarga. (editor.

56 Ketertindasan rakyat karena tidak mampu bertarung secara finansial apabila berhadapan dengan swasta. pada tahun 1998 tanah-tanah yang sudah dialokasikan untuk sektor-sektor tertentu. Dilihat dari intensitas konflik. namun perlu diatur dengan mempertimbangkan keadilan dalam hal akses rakyat tani terhadap tanah garapan.189. namun Gunawan Wiradi. Artinya. “Tantangan dan Agenda Kerja bagi Pemerintahan Baru 2004-2009”.753 kasus konflik tanah di Indonesia. ataupun pemerintah. tercatat bahwa dalam kurun waktu tahun 1970 sampai tahun 2001 telah terjadi 1. 55 36 . Sumatera Selatan 157 kasus.482 keluarga. jasa/pariwisata 86%.615 hektar. 224 Tahun XVIII/1998. Hal itu pula yang menjadi salah satu penyebab mengapa akhirnya kita terpaksa mengimpor beras. Tanah terlantar untuk perumahan sebesar 85%.55 Pada prakteknya. alih fungsi lahan tak mungkin dielakkan. sebagian besar motifnya adalah spekulasi. hlm. Jakarta. 2-3. tanah-tanah yang sudah digusur (“dibebaskan”) ternyata tidak dimanfaatkan sesuai dengan “peruntukannya”. September 2004.000 (dua puluh dua ribu) hektar per tahun tanah pertanian di Pulau Jawa beralih fungsi. Paling sedikit jumlah kasus sengketa pertanahan adalah Provinsi Papua hanya berjumlah 28 kasus. 2.892. Tanah Menjadi Komoditas dan Sarat Sengketa Di era Orde Baru perubahan fungsi tanah terjadi sangat cepat. Pada data base Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA). sampai dengan Desember 2001. YLBHI.B. intensitas tertinggi terjadi di Provinsi Jawa Barat dengan jumlah 484 kasus. Berdasarkan catatan Majalah Informasi No. Cakupan luas lahan sengketa tersebut sebesar 10.203 hektar dan jumlah korban akibat sengketa ini sebanyak 1. tanah hasil alih fungsi tersebut sebagian besar justru menjadi obyek spekulasi. karena tanah diperlakukan sebagai komoditi (barang dagangan). Jawa Timur 169 kasus. makalah Semiloka Reforma Agraria. Lebih dari 60% total produksi pangan nasional Indonesia (khususnya beras) dihasilkan dari pulau Jawa. hlm. sebagian besar diterlantarkan. setelah itu Provinsi DKI dengan jumlah 175 kasus yang meliputi luas tanah 60. Sumatera Utara 121 kasus. memunculkan berbagai sengketa pertanahan. 56 Ibid. Memang pada dasarnya. industri 88%. terutama alih fungsi lahan pertanian ke non-pertanian. dan untuk perkebunan 74%. disisi lain sampai tahun 1995 sekitar 22.

571 134.548 72.904 10.296 305.073.012.428 71. 54.100 32. kota baru dan fasilitas perkotaan. 37 .597 4.1% akibat pengembangan sarana perumahan.134 35.494 51.753 Luas Lahan Sengketa 184.885 1.036.753 kasus yang terekam.dengan luas lahan sengketa paling luas yaitu 4. Tabel 2. Edisi 20 Oktober 2002.676.202 Jumlah Korban 237.481 Pihak yang Terlibat Sengketa Pemerintah 197 96 77 27 39 57 21 23 25 11 28 8 13 14 15 68 719 Militer 12 5 9 1 8 1 1 3 3 1 2 0 1 1 2 9 59 Perusahaan Negara Swasta 60 225 9 31 18 26 23 4 4 4 9 4 2 5 4 0 16 219 66 59 116 57 25 34 25 17 26 22 23 16 15 12 95 833 Sumber: Data Base KPA.194 187.2001 Provinsi Daerah JABAR JAKARTA JATIM SUMSEL SUMUT JATENG SULTENG LAMPUNG SULSEL ACEH NTT RIAU KALTIM SUMBAR PAPUA LAINNYA JUMLAH Jumlah Kasus 484 175 169 157 121 99 58 54 48 47 44 33 33 32 28 171 1. dan 19% merupakan pengembangan areal perkebunan besar.994 61.943 57.955 120.615 390.484 60.57 Untuk lebih jelas tentang konfigurasi konflik pertanahan di Indonesia dapat dilihat pada table 2.059 2.840 16.716 54. Karakteristik Sengketa Tanah di Indonesia Tahun 1970 .589 320.417 1.224 1. hlm.323 509.6% merupakan pengembangan kawasan industri dan pabrik. 5% berkenaan dengan konflik pemanfaatan hutan yang diklaim sebagai kawasan hutan negara oleh pemerintah yang kemudian menjadi kawasan hutan produksi maupun kawasan hutan lindung/konservasi.012.170 1.614 266.027 472.830 89.482 117. Dari 1. sebanyak 27. 2001. Nomor 27.955 14.189.555 362.056 22. Sepanjang tahun 1980-an eskalasi sengketa pertanahan terus meningkat di daerah pedesaan maupun perkotaan. 57 Forum Keadilan. dan sebanyak 6.684 29. Sebanyak 10.224 hektar.892.

4 2.2 3. sebagaimana terlihat Tabel 4.1 0. Kondisi demikian akhirnya menimbulkan polarisasi struktur penguasaan tanah yang timpang.2 8. 66. Untoro Hariadi & Masruchah (Editor). tetapi konflik antara sektor pertanian dan sektor industri sebagai akibat dari transformasi agraria. Jenis Sengketa yang Objeknya Tanah No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Jenis Sengketa Perkebunan Sarana Umum/Fasiltas Perkotaan Perumahan/Kota Baru Kehutan Produksi Kawasan Industri/Pabrik Bendungan/Pengairan Turisme/Hotel/Resort Pertambangan Sarana Militer Kehutanan Konservasi/Lindung Pertambakan Sarana Pemerintahan Perairan Transmigrasi Lain-lain Jumlah Jumlah 344 243 232 141 115 77 73 59 47 44 36 33 20 11 278 1. adalah sengketa tanah skala besar dengan karakter yang rumit.6 4.5 2. Konflik yang terjadi bukanlah konflik kelas di pedesaan. 58 38 .6 15.1 1.9 100 Sumber: Data Base KPA.9 13. 2001. 1995.Tabel 3.4 4.7 2. Forum LSM – LPSM DIY. Masalah besar yang dihadapi bangsa Indonesia.9 1. “Tanah. Dominasi tersebut dilegitimasi oleh kebijakan-kebijakan pertanahan yang secara substansi menguntungkan orang yang melakukan kegiatan usaha di luar pertanian. hlm.6 13. berupa dominasi sektor industri atas sektor pertanian dan perkebunan58. Rakyat Dan Demokrasi”.0 6.753 Dalam % 19. Yogyakarta.

000 427.000 Sumber: Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI).800 3.000 609.500 835.190.4 juta hektare hanya dikuasai oleh 25 kelompok perusahaan dan dua perusahaan perorangan.000 345.000 1.189.000 544. Bakrie Soenaryo Akie Setiawan Much.Tabel 4.000 796.455 597.026.353.800 2.000 1. 1998. Tabel 4 menggambarkan struktur penguasaan tanah dan sumber daya alam oleh segelintir orang dengan cakupan lahan yang sangat luas.000 438.805.142.000 329. Bayangkan tanah seluas 27.300 672.000 659. Jamal Sumarta Hutomo Mandala P Sigit Harjojudanto Jumlah Anak Perusahaan 39 Perusahaan 17 Perusahaan 20 Perusahaan 15 Perusahaan 8 Perusahaan 6 Perusahaan 7 Perusahaan 7 Perusahaan 8 Perusahaan 8 Perusahaan 8 Perusahaan 6 Perusahaan 7 Perusahaan 8 Perusahaan 6 Perusahaan 6 Perusahaan 5 Perusahaan 5 Perusahaan 6 Perusahaan 6 Perusahaan 6 Perusahaan 4 Perusahaan 5 Perusahaan 5 Perusahaan 4 Perusahaan Perorangan Perorangan Luas Lahan (ha) 3. sampai tahun 1999 terdapat 620 unit produksi 39 . Menurut BP-KPA. Perusahaan Besar Pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Nama Perusahaan Barito Pacifik Timber Kayu Lapis Indonesia Djayanti Alas Kusuma Korindo Kalimanis Budhi Nusa Satya Djaja Surya Dumai Kalamur Panca Eka Bina Pywood Sumalindo Daya Sakti Raja Garuda Mas Hutrindo Wanabangun Bumi Raya Utama Sumber Mas Benua Indah Dayak Besar Kayu Mas Tanjung Raya Bumi Indah Raya Hutrindo Prajen Bhara Induk Siak Raya Rante Mario Wahana Sari Bakti Pemilik Prajogo Pangestu Andi Sutanto Burhan Uray Suwandi In Yong Sun Bob Hasan Burhan Uray Asbert Lyman Martias Anthony Salim Supendi Winarto Oetomo Widya Rachman Sukanto Tanoto Alex Karampis Pintarso Adiyanto Yos Sutomo Budiono Yusuf Hamka Tekman H.000 969.000 519.108.536.500 649.500 2.000 1.500 1. Badan Pengurus Konsorsium Pembaruan Agraria (BP-KPA) mempunyai data yang berbeda.000 563.700 1.000 114.000 100.000 476.493.A.

0 1983 1990 1993 Jawa 1983 1990 1993 Bali & NTT 1983 1990 1993 Kalimantan 1983 1990 1993 Sulawesi 1983 1990 1993 Maluku & 1983 Irian Jaya 1990 1993 Sumber : BPS Tahun 2003.9 35.74 1483.01 60.6 28.77 51.47 69. “Ketimpangan Penguasaan Tanah.5 11564 1498.95 74.2 0.10 191.32 8070.0 29.05 425.26 58.92 64. dan produktifitas tenaga kerjanya. persediaan. Palembang.98 368.23 147.4 27. 8% dikuasai hanya oleh 12 konglomerat.0 240. Makalah pada pertemuan: Konsultasi dan Konsolidasi Organisasi Rakyat di Sumatera Selatan dalam Rangka Promosi Nasional untuk Penyelesaian Konflik Agraria. hlm. Konflik Agraria.98 36. pemanfaatan.75 71.6 48.9 41.99 203.3 766.02 72.0 905.6 3568.2 811.7 307. Makin luas lahan pertanian yang dikuasai.13 7183.0 4078.0 69. tanah pertanian yang dikuasai RTP-lah yang paling menentukan tingkat pendapatan yang diperoleh dari kegiatan usaha tani.4 1665 344.7 10361. Kemampuan petani mencari nafkah sangat dipengaruhi oleh aspek penguasaan tanah. sebagaimana yang disajikan pada tabel 5.0 42.53 104. Oleh karena itu.0 153.5 1240.68 30.90 99.02 6983.51 80.9 859.0 580.yang mempunyai Hak Penguasaan Hutan atau Hak Penguasaan Hutan Tanaman Industri (HPH/HPHTI) seluas 48 juta hektare.2 28.5 3178.3 510.0 991.9 652.59 Jumlah ini sangat kontras jika dibandingkan dengan luas lahan yang dikuasai Rumah Tangga Petani (RTP).20 JUMLAH 3700.42 70.75 449.0 % 71.6 juta hektare dan di klaim sebagai Hutan Negara.0 301.5 3494.6 1101.5 1206 1360.0 25. Dari keseluruhan (10 konsesi) yang dikuasai sebanyak 16.7 37.0 39.49 241.0 2085.87 30.80 > 0. 3. Juni 2004. makin tinggi Dianto Bachriadi.25 59.58 1383.9 4765 11061.0 3382.25 231.4 1323 906.2 63.79 565.5 Ha RTP % 1063.21 62.08 463.0 30. Pendapatan yang diperoleh RTP adalah keseluruhan penjumlahan dari total pendapatan angkatan kerja yang dimiliki dalam berbagai kegiatan produktif yang dilakukan terutama oleh anggota keluarga yang sudah dewasa.3 965. 59 40 .1 40. termasuk Perhutani (perusahaan negara) yang menguasai tanah di pulau Jawa seluas 2.0 932.78 557. dan Mal Adminitrasi: Hasil Perkawinan Dominasi Negara dan Modal”.3 1323.22 57. Tabel 5. Distribusi Rumah Tangga Petani (RTP) Pengguna Lahan dan Luas Lahan yang Dikuasai (1983-1993) Golongan Luas Tanah yang Dikuasai Pulau Sumatera Tahun < 0. 7 juta hektare atau 34.0 19.5 hA RTP 2637.0 69.

2 24.44 17.3 25. Dengan melakukan kajian demikian. Ekonomi Politik Penguasaan Tanah.9 38.total pendapatan yang akan diperolehnya.9 31.4 34. 61 41 .22 77.36 67. tetapi akibat dari struktur sosial yang menentukan kehidupan golongan mereka. dan munculnya berbagai sengketa 60 Ali S Husein.6 12.3 8. hlm.11 Kota + Desa 27. Kekalahan Manusia Petani Dimensi Manusia dalam Pembangunan Pertanian. penguasaan tanah seorang petani itu biasanya sejajar dengan tingkat kecukupan keluarganya. Lihat dalam: G.1 66. Kanisius.5 47.4 37. Jakarta.57 31.17 64.56 8.59 27.9 38. Mereka menjadi miskin bukan karena kelemahan atau nasib malang individual yang buruk. Soetomo.69 34.6 15. Berdasarkan fakta-fakta yang diuraikan. Dalam beberapa hal.60 Hal ini didukung dengan kenyataan bahwa sejumlah besar kemiskinan (kemiskinan struktural)61 terdapat pada strata penguasaan tanah.41 72.83 35.1 25.44 67. Problem kemiskinan petani merupakan masalah moral dan keadilan juga. Yogyakarta.31 65. perlu dikaji kembali politik agraria sebagaimana yang dirumuskan dalam Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 dan bagaimana implementasinya dalam UUPA dan Peraturan Perundang-undangan lainnya.64 32.9 32.8 65.9 34.7 9. akan diperoleh gambaran mengenai konflik penormaan pada berbagai peraturan perundang-undangan (sinkronisasi).5 49.89 Pedesaan Jumlah Persentase 17. melainkan karena menjadi bagian dari golongan masyarakat itu.78 22.3 33. Berdasarkan kenyataan yang ada (tataran penerapan) diindikasikan.7 37. Tabel 6.3 26.43 68.2 25.3 Sumber : Indikator Kesejahteraan Rakyat. Pustaka Sinar Harapan. paling rendah yaitu petani gurem dan buruh tani.6 13. BPS. 2003. 9.6 17.3 12. bahwa salah satu faktor penyebab terjadinya penguasaan tanah yang timpang. 55. 1997.4 29. Penduduk Miskin di Pedesaan dan Perkotaan Tahun 1990 – 2003 (Juta Orang) Tahun 1990 1993 1996 1998 1999 2000 2001 2002 2003 Perkotaan Jumlah Persentase 9. 1995. Jelaslah bahwa problem utama kemiskinan petani bukan karena kemiskinan yang ada dengan sendirinya.56 32. Kemiskinan Struktural berarti kemiskinan yang melekat pada kelas-kelas sosial tertentu. hlm.

2. yang mencerminkan dominasi interpretasi ilmuwan liberal terhadap kongsep pembangunan. Tugas utama mereka adalah melakukan studi tentang bagaimana kebijakan pemerintah Amerika dalam era ‘perang dingin’. hlm. Developmentalism dilontarkan dalam era perang dingin untuk membendung sosialisme. hlm. 4. yaitu: 1. akar konflik agraria yang paling dasar adalah adanya sejumlah ketidakserasian. dapat ditemukan konflik penormaan (taraf sinkronisasi) peraturan perundang-undangan penguasaan tanah terhadap politik agraria nasional. The Unpromised Land. sumber. khususnya tanah. Sesat Pikir Teori Pembangunan dan Globalisasi. dan strategi ekonomi “Tricle Down Effect” lewat paket undang-undang politiknya. Awal kemunculannya dapat dilacak dari pertemuan para ilmuawan sosial dalam suatu lokakarya tentang “The implementation of Title IX of the foreign Assistance Act of 1961. 1990. Orde Baru dalam merumuskan dan melaksanakan peraturan kebijakan pertanahannya menerapkan paradigma “Pembangunanisme” (developmentalism). Zed Books. sedikitnya ada empat ketidakserasian atau ketimpangan. Ketidakserasian antara berbagai produk hukum. sebagai akibat kebijakan sektoral. Ketidakserasian antara persepsi dan konsepsi mengenai agraria. 62 42 . Agraria Reform and Conflict Worldwide. pola.pertanahan adalah ketidaksinkronan pengaturan mengenai penguasaan tanah. Pada akhir pertemuan mereka berhasil melahirkan the Foreign Assitance Act of 1966. sudah menjadi rahasia umum bahwa saat ini kita mendapat “waris” dari rejim Orde Baru. Menurut. dan skala konflik yang sangat beragam. 61. London and New Jersey. 201. hlm. Demitrius Chirstodoulou (mantan pakar FAO). berupa ribuan sengketa pertanahan dalam bentuk sifat. dalam: Gunawan Wiradi.63 Dengan memahami karakteristik peraturan perundang-undangan di bidang pertanahan. Untuk mengawal proses akumulasi modal ini Orde Baru menerapkan kebijakan stabilitas politik dan keamanan. Yogyakarta. ia merupakan bungkus baru dari kapitalisme. 2001. dan diperparah oleh mekanisme globalisasi yang memungkinkan modal asing masuk ke sektor-sektor perkebunan dan pertanian tanpa batas.. Insist Press & Pustaka Pelajar. 2. Developmentalism adalah paradigma yang bertujuan membendung pengaruh dan semangat anti kapitalisme di negara dunia ketiga.62 bahwa pembangunan akan berjalan hampir secara otomatis melalui akumulasi modal lewat bantuan dan investasi dengan motor utamanya ada pada elite swasta. yang berkaitan dengan tata guna tanah. 3. Di Indonesia. Op cit. Ketidakserasian dalam hal “peruntukan” sumber-sumber agraria. Ketimpangan dalam hal pemilikian dan penguasaan tanah. 63 Demitrius Christodoulou. Kajian demikian mendesak dan penting dilakukan karena. Lihat dalam: Mansour Fakih. dengan ciri-ciri melakukan penaklukan ideologi dan teoritis terhadap negara-negara dunia ketiga.

hlm. (ed). 1995. Mohammad Hatta memaknai Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945. Dikuasai oleh negara tidak berarti negara sendiri menjadi penguasa. Reformasi Agraria. nyata-nyata bahwa masalah yang diurusnya ialah politik perkonomian Republik Indonesia”. 36 65 Ibid. dalam: Abdurrahman. 1985. peraturan yang melarang pula “penghisapan” orang yang lemah oleh orang yang bermodal. sebagai berikut: Apabila kita pelajari pasal 33 UUD 1945. yaitu tiap-tiap Warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”65 Sehubungan dengan itu juga Mohammad Hatta dalam “Dasar Pre-advis kepada Panitia Penyelidik Adat Istiadat dan Tata-usaha lama” di tahun 1943. Menurut Lemaire. 120. Hal tersebut menunjukkan adanya hubungan erat dengan usaha menciptakan kesejahteraan sosial bagi masyarakat Indonesia. hlm. Lemaire. Untuk mencapai kemakmuran rakyat di masa datang. maka hendaklah peraturan milik tanah memperkuat kedudukan tanah sebagai sumber kemakmuran bagi rakyat umumnya”. Negara mempunyai kewajiban pula supaya penetapan UUD 1945. Alumni. bahwa kekuasaan negara terdapat pada membuat peraturan guna kelancaran jalan ekonomi.66 W. yaitu Indonesia sebagai negeri agraria.L. 66 Noer Fauzi.C. Dalam bagian kedua dan ketiga daripada pasal 33 UUD disebut dikuasai oleh negara. juga mengungkapkan bahwa: Indonesia dimasa datang mau menjadi negeri yang makmur. Lebih tepat dikatakan. supaya rakyatnya dapat serta pada kebudayaan dunia dan ikut serta mempertinggi peradaban. 64 43 . Tebaran Pikiran Mengenai Hukum Agraria.al. Bandung. 37. Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 adalah suatu “deze bepalingen geven vorm aan eigen Indonesisch”64 atau ketentuan yang bersifat khas Indonesia. Penghancuran Populisme dan Pembangunan Kapitalisme: Dinamika Politik Agraria Indonesia Pasca Kolonial. dalam: Dianto Bachriadi. Oleh karena tanah faktor produksi yang terutama. yaitu sebagai ketentuan yang hanya dijumpai di Indonesia yang memberikan kewenangan yang begitu besar kepada Negara. usahawan atau “ondernemer”. Sejalan dengan itu. et. pasal 27 ayat 2 terlaksana. Het Recht in Indonesia. ketentuan Pasal 33 tersebut di atasi ditempatkan dalam Bab XIV tentang Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial.G. NV Uitgeverij. Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945: Politik Agraria dan Landasan Konstitusional Pengelolaan Tanah Politiknya agraria Indonesia dikonsepsikan dalam Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945: Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya di kuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Bandung. politik perekonomian mestilah disusun di atas dasar yang ternyata sekarang. Di dalam UUD 1945. 1997. hlm.

67. sehingga semua tanah yang berada diseluruh wilayah Indonesia dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 menjadi landasan.67 Perubahan Politik. sekaligus merupakan arah dan tujuan kebijakan pengelolaan tanah di Indonesia. pemerintah berhasil menetapkan suatu undang-undang Agraria Nasional. dan sebagainya. Lembaga Penerbit FEUI. yaitu Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria atau yang lebih dikenal dengan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA). rumusan Pasal 33 ayat (3) tersebut kemudian diimplementasikan melalui beberapa Peraturan Perundang-Undangan agraria yang bersifat ”parsial”. UU No. yang meletakkan penguasaan sumber daya alam untuk kepentingan publik pada negara. atas dasar konsep pemberian kuasa/mandat. antara lain: UU No. hlm. Intinya peraturan-peraturan tersebut dibuat dengan tujuan jangka pendek yaitu menghapuskan secara cepat lembaga-lembaga feodal dan lembaga-lembaga kolonial yang masih ada. UUPA memuat azas-azas dan ketentuan-ketentuan pokok Hukum Agraria Nasional yang sekaligus merupakan manifestasi cita-cita bangsa Indonesia untuk menghentikan hukum agraria kolonial. Sengketa. 44 . Ketentuan ini berdasarkan anggapan bahwa pemerintah adalah pemegang mandat yang melaksanakan kehidupan bernegara di Indonesia. UU No. 13 Tahun 1948 tentang Penghapusan Hak-Hak Konversi. perjuangan merombak struktur hukum agraria kolonial dan menyusun hukum agraria nasional tidak dapat dilepaskan dari perjuangan bangsa Indonesia yang ingin melepaskan diri dari cengkraman dan pengaruh sisa-sisa sistem feodalisme dan kolonialisme. dan Agenda Pembaruan Agraria di Indonesia. bahwa mandat yang diberikan kepada pemerintah itu melahirkan konsekuensi berupa kewajiban untuk mengatur segala hal yang berkaitan tanah. Jakarta. Pada awal kemerdekaan. yang disusun berdasarkan sendi-sendi pemerintahan jajahan. Maka dari itu dapat ditarik kesimpulan. “Ruh” dari Pasal 33 ayat (3) tersebut didasarkan pada semangat menciptakan keadilan sosial. 13 Tahun 1946 tentang Penghapusan Desa Perdikan. 1 Tahun 1958 tentang Penghapusan Tanah-Tanah Partikelir. 67 Pidato Pengantar Menteri Agraria Sadjarwo sewaktu mengajukan RUU Pokok Agraria di DPRGR tahun 1960. Barulah pada akhir tahun 1960 tepatnya tanggal 24 September 1960. Karena.

hlm. Aneka Hukum Agraria. (b) menentukan dan mengatur hakhak yang dapat dipunyai atas (bagian dari) bumi.68 Pasal 33 ayat (3) UUD 45 yang menjadi landasan konstitusional penguasaan tanah ini (Pasal 33 ayat 3) diadopsi UUPA dan dimuat pada Pasal 2 ayat (1): “Atas dasar ketentuan dalam pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar dan hal-hal sebagai yang dimaksud dalam pasal 1. tidak berarti penambahan terhadap rumusan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. sebagai organisasi kekuasaan dari bangsa Indonesia untuk pada tingkatan yang tertinggi: (a) mengatur dan menyelenggarakan peruntukan. (c) 68 69 Konsiderans Menimbang. termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya itu pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh Negara. yang menyatakan bahwa hukum agraria yang masih berlaku sekarang ini sebagian tersusun berdasarkan tujuan dan sendi-sendi dari pemerintahan jajahan dan sebagian dipengaruhi olehnya. 2. 70 Penjelasan Umum. dan bukan konstitutif. Selanjutnya mengenai hak menguasai negara yang merupakan politik hukum dari Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. UUPA. persediaan dan pemeliharaannya.Kebulatan tekad tersebut dicantumkan dalam konsiderans menimbang UUPA. Adanya penambahan kata-kata “ruang angkasa” pada Pasal 2 (1) UUPA. huruf b. air dan ruang angkasa. A.69 Penambahan yang bersifat deklaratif merupakan penegasan bahwa ruang angkasa adalah bagian yang integral dari bumi dan air tersebut dan jika dikaitkan dengan doktrin wawasan nusantara maka Pasal 2 ayat (1) dari UUPA memberikan kejelasan yang mendalam tentang doktrin wawasan nusantara itu70. sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat”. Alumni. Sesuai dengan pangkal pendirian tersebut diatas perkataan “dikuasai” dalam pasal ini bukanlah berarti “dimiliki”. Parlindungan (b). 1983. bumi. sebagai organisasi kekuasaan dari seluruh rakyat (bangsa) bertindak selaku Badan Penguasa. UUPA. Bandung. penggunaan. air dan ruang angkasa itu. angka II (2). UUPA juga memberikan penjelasan bahwa untuk mencapai apa yang ditentukan dalam Pasal 33 ayat 3 UUD 1945. tidak perlu negara bertindak sebagai pemilik tanah dan lebih tepat jika negara.P. akan tetapi pengertiannya adalah memberi wewenang kepada negara. penambahan tersebut hanya bersifat deklaratif. 45 . sehingga bertentangan dengan kepentingan rakyat dan negara di dalam menyelesaikan revolusi nasional sekarang ini serta pembangunan semesta.

P. persediaan (reservation) dan pemeliharaannya (maintenance) dari bumi. budaya. Sumber daya alam berupa tanah mempunyai nilai sempurna apabila formasi nilai tanah mencakup ke-enam jenis nilai tersebut di atas. Landasan ideal ini. Untuk mencapai cita-cita ini prasyaratnya adalah adanya sebuah negara yang kuat. dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya” merupakan cita-cita ideal yang menempatkan negara sebagai sentral yang mengatur pemanfaatan kekayaan negeri untuk kemakmuran rakyat. nilai social. Tanah mempunyai makna yang sangat strategis karena di dalamnya terkandung tidak saja aspek fisik akan tetapi juga aspek sosial. ”Menuju Penegakan Hak-Hak Rakyat atas Sumber-Sumber Agraria”. Jakarta. hlm. ruang angkasa dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. 37. 2.73 A.menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi. Konsep “Negara menguasai bumi. nilai politik. ekonomi. Parlindungan (a). Secara teoritis sumber daya tanah memiliki 6 (enam) jenis nilai. nilai produksi. 1991. dan 6. hlm. memandang tanah sebagai karunia Tuhan mempunyai sifat magis-religius harus dipergunakan sesuai dengan fungsinya untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. air. Parlindungan (a). yaitu: 1. nilai hukum. 71 46 . dalam: “Usulan Revisi UUPA 1960.Mandar Maju. air dan ruang angkasa71. 39. 5. Hak Menguasai dari Negara (HMN) Persoalan Sejarah yang Harus Diselesaikan. 214. 72 A. air. Bandung. nilai lingkungan 4. 73 Noer Fauzi & Dianto Bachriadi. KRHN & KPA. Juga untuk menentukan dan mengatur (menetapkan dan membuat peraturan-peraturan) hak-hak apa saja yang dapat dikembangkan dari Hak Menguasai dari Negara tersebut72. bahkan politik serta pertahanan-keamanan dan aspek hukum.P. Dengan demikian negara sebagai organisasi kekuasaan “mengatur” sehingga membuat peraturan. hlm. Komentar atas Undang-Undang Pokok Agraria. 1998. nilai lokasi 3. karena akan menjadi pusat dari segala hal. paling tidak dalam hal ini persoalan keagrariaan. kemudian “menyelenggarakan” artinya melaksanakan (execution) atas penggunaan/peruntukan (use).

beranjak dari Prasaran Seksi Agraria Universitas Gadjah Mada pada Seminar Agraria dari Kementrian Agraria di Tretes bulan November tahun 1958. sehingga dalam konsepsi ini negara tidak lepas dari rakyat. tetapi sebagai negara. dalam arti tidak sebagai perseorangan dan tidak sebagai badan kenegaraan. hlm. b. 1987. Jika ditelaah lebih mendalam. negara hanya menjadi pendiri. negara sebagai pemilik. kiranya yang paling tepat karena kalau ditinjau dari sudut perikemanusiaan. yang dirumuskan dalam Bagian B angka 32: Dalam mengadakan hubungan langsung antara negara dengan tanah. Mahfud MD. konsepsi negara menguasai ini. Yang terpenting ialah dalam negara yang berdasar aliran pikiran integral ialah penghidupan bangsa seluruhnya (dalam: Moh. Apabila demikian. 2. 34-5. Hak negara adalah hak dominium juga dan disamping itu dapat juga digunakan istilah hak publique. dapat dipilih tiga kemungkinan: 1. pada kenyataannya tidak Iman Soetiknjo. Lebih lanjut: “Negara ialah suatu susunan masyarakat yang integral. Yogyakarta. sehingga dengan demikian hubungan antara negara dan tanah itu mempunyai sifat privaat rechtelijk. Proses Terjadinya UUPA. hak kommunes. hak emperium. Negara sebagai subyek. Konsep yang tersebut pada angka 2 di atas menjadi prinsip dari politik hukum UUPA. 74 47 . Peran Serta Seksi Agraria Universitas Gadjah Mada. 3. yang kita persamakan dengan perseorangan. diberi kedudukan tidak sebagai perseorangan. negara sebagai personafikasi rakyat bersama. segala golongan. mengasumsikan “negara berdiri di atas kepentingan semua golongan”75 atau dalam istilah Kuntowijoyo “Negara Budiman”. jadi sebagai badan kenegaraan. Negara sebagai subyek. Dasar dan Struktur Ketatanegaraan Indonesia. yang diajarkan oleh Spinoza. kalau negara sebagai personafikasi yang memegang kekuasaan atas tanah. segala bagian. apabila memegang kekuasaan tentang pemakaiannya tanah saja. intinya Badan Pembuat undang-undang meminta saran dari akademisi mengenai dasar-dasar filosofis yang membenarkan kekuasaan negara atas sumber-sumber agraria di seluruh wilayah negeri ini. Gadjah Mada University Press. hlm. 2001. a. Padahal. Penerbit Rineka Cipta. Hak negara adalah hak dominium.Ide politik hukum hak menguasai daripada negara di dalam UUPA. sebagai badan yang publiek rechtelijk. akan tetapi menjamin kepentingan masyarakat seluruhnya sebagai satu kesatuan. sesuai dengan sifat makhluk sosial juga dengan sifat perseorangan yang merupakan kesatuan daripada individu-individunya74. Negara sebagai subyek. Hegel dan lain-lain yang berpendapat bahwa negara bukan dimaksudkan untuk menjamin kepentingan seseorang atau golongan. 37-38. Adam Muller. akan tetapi negara sebagai personafikasi rakyat seluruhnya. Hubungan yang tersebut pada no. dan. Jakarta. menjadi pendukung daripada kesatuankesatuan rakyat. 75 Paham ini sangat dipengaruhi oleh teori integralistik. maka hak negara dapat berupa. segala anggotanya berhubungan erat satu sama lain dan merupakan persatuan masyarakat yang organis. 3.

maupun yang memberikan arah pada pembangunan hukum yang dicita-citakan (ius constituendum). dalam rangka masyarakat yang adil dan makmur. 76 48 . Majalah Hukum dan Keadilan No.76 Menurut Abdul Hakim G Nusantara. politik hukum nasional. Konflik peraturan perundang-undangan yang pada akhirnya secara signifikan. Universitas Diponegoro. Politik hukum nasional bisa meliputi: 1. bahwa UUPA merupakan dasar berpijak bagi penyusunan hukum agraria nasional sebagai alat untuk membawakan kemakmuran. karena negara merupakan organisasi kekuasaan yang sarat dengan sejumlah kepentingan kelompok atau individu yang mengatasnamakan kepentingan rakyat atau kepentingan negara. cara. 37. Pelaksanaan ketentuan hukum yang telah ada secara konsisten. 2006. Semarang. 14-17. dan penciptaan ketentuan hukum baru yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat. kebahagiaan dan keadilan bagi negara dan rakyat. Sementara politik hukum agraria tidak bisa dilepaskan dari ideologi dan paradigma yang menopang struktur dan sistem sosial yang dianut negara tersebut. Penegasan fungsi lembaga penegak atau pelaksana hukum dan pembinaan anggotanya. tidak dapat dipisahkan dari pilihan terhadap politik hukum agraria. dikaji hukum yang berlaku (ius constitutum). karena politik hukum merupakan disiplin yang mendasari aktifitas memilih dan menyerasikan berbagai nilai. mempunyai peranan penting. secara harfiah diartikan sebagai kebijakan hukum (legal policy) yang hendak diterapkan atau dilaksanakan secara nasional oleh suatu pemerintahan negara tertentu. Melalui politik hukum. Berangkat dari tujuan pokok UUPA yang dirumuskan dalam penjelasannya. 5 Tahun ke VII Januari-Februari. dalam: Firman Muntaqo.demikian. Usulan Penelitian Disertasi. dapat menjadi pemicu timbulnya sengketasengketa tanah. hlm. terutama rakyat tani. hlm. 2. “Perkembangan Ilmu Hukum dan Politik Hukum”. 3. “Harmonisasi Hukum Investasi di Bidang Perkebunan”. Sudarto. Pembangunan hukum yang intinya adalah pembaruan terhadap ketentuan hukum yang telah ada dan yang dianggap usang. Politik hukum sebagai kerangka umum yang akan membentuk hukum (legal frame work). atau model yang akan digunakan dalam melaksanakan pembangunan hukum dalam rangka mencapai tujuan maupun untuk kepentingan terhadap perubahan hukum yang direncanakan.

80 Penjelasan Umum. 30-31. Ahsin Thohari. Penerbit Djambatan. 78 Ibid. semangat dan visi dari Pasal 33 ayat (3) UUD 1945.80 Ketentuan Pasal 2 UUPA yang merupakan turunan langsung dari Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Demikian juga politik pertanahan nasional yang digariskan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 tetap relevan digunakan sebagai landasan untuk meluruskan pembangunan hukum agraria/pertanahan. Jilid 1 Hukum Tanah Nasional. Oleh karena itu. UUPA. merumuskan: Abdul Hakim G Nusantara. Di bidang agraria. Raja Grafindo Persada. YLBHI & LBH Surabaya. terutama di bidang ekonomi yang berkarakter liberal-individualistik. dengan sikap kritis terhadap hukum yang berdimensi ius constitutum dan menciptakan hukum yang berdimensi isu constituendum. 77 49 . Makalah pada Karya Latihan Bantuan Hukum (Kalabahu). D. agar perjalanan bangsa Indonesia bisa sampai pada tujuan yang kita cita-citakan79. “Politik Hukum Nasional”. Edisi Revisi 2005. Jakarta. Desentralisasi atau Sentralisasi Wewenang Bidang Pertanahan Legal issu yang dominan di bidang pertanahan adalah apakah urusan pemerintahan di bidang pertanahan wajib dilaksanakan oleh pemerintah daerah dalam bentuk desentralisasi. Isi dan Peaksanaannya”. hlm. dapat dan harus digunakan juga untuk melindungi kepentingan nasional dalam menghadapi akibat arus globalisasi. Meningkatkan kesadaran hukum masyarakat menurut persepsi kelompok elit pengambil kebijakaan77. 237. Keempat faktor tersebut di atas menjelaskan secara gamblang wilayah kerja politik hukum yang mencakup teritorial berlakunya politik hukum dan proses pembaruan dan pembuatan hukum. September 1985. Karakter yang liberal-individualistik tersebut tidak selaras dengan konsepsi Pancasila yang telah mendasari dan menjiwai pembangunan bangsa dan negara.4. dan tugas pembantuan (medebewind). (II angka 2). sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria. 79 Boedi Harsono. Jakarta. dekonsentrasi.78 Konsepsi hukum tanah nasional dan ketentuan UUPA masih relevan untuk meluruskan pembangunan. Dasar-Dasar Politik Hukum. karena ketentuan-ketentuan dalam UUPA merupakan penjabaran sila-sila Pancasila di bidang pertanahan. hlm. hlm. dalam: Imam Syaukani & A. melalui UUPA sebenarnya sudah menyediakan rambu-rambu. 31. ”Hukum Agraria Indonesia. 2006.

adil dan makmur. menentukan dan mengatur hak-hak yang dapat dipunyai atas (bagian dari) bumi. kesejahteraan dan kemerdekaan dalam masyarakat dan Negara hukum Indonesia yang merdeka berdaulat. air dan ruang angkasa itu. dalam arti kebahagiaan. b. Sejalan dengan Penjelasan Umum angka II (2) UUPA. air dan ruang angkasa. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orangorang dengan bumi.(1) Atas dasar ketentuan dalam pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar dan hal-hal sebagai yang dimaksud dalam pasal 1. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orangorang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi. air dan ruang angkasa. penggunaan. (2) Hak menguasai dari Negara termaksud dalam ayat (1) pasal ini memberi wewenang untuk: a. ”Dikuasai” berarti memberi wewenang kepada negara. sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat. Pasal 2 Ayat (1) tersebut di atas menegaskan sikap. c. persediaan dan pemeliharaannya. air dan ruang angkasa. ”adalah lebih tepat jika negara sebagai organisasi kekuasaan dari seluruh rakyat (bangsa) bertindak selaku Badan Penguasa”. negara tidak perlu bertindak sebagai pemilik tanah dan yang lebih tepat adalah bertindak selaku badan penguasa. air dan ruang angkasa. b. ruang angkasa dan kekayaan alam yang 50 . (4) Hak menguasai dari Negara tersebut di atas pelaksanaannya dapat dikuasakan kepada daerah-daerah Swatantra dan masyarakat-masyarakat hukum adat. persediaan dan pemeliharaan bumi. sekedar diperlukan dan tidak bertentangan dengan kepentingan nasional. Dengan demikian kewenangan negara sebagai organisasi kekuasaan adalah ”mengatur” artinya membuat peraturan. persediaan (reservation) dan pemeliharaan (maintenance) bumi. termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya itu pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh Negara. dan ”menyelenggarakan” yang artinya melaksanakan (execution) penggunaan/peruntukkan (use). air dan ruang angkasa tersebut. mengatur dan menyelenggarakan peruntukan. sebagai organisasi kekuasaan dari Bangsa Indonesia. bumi. untuk pada tingkatan yang tertinggi: a. penggunaan. (3) Wewenang yang bersumber pada hak menguasai dari Negara tersebut pada ayat (2) pasal ini digunakan untuk mencapai sebesar-besar kemakmuran rakyat. mengatur dan menyelenggarakan peruntukan. air. Perkataan ”dikuasai” dalam ayat (2) pasal ini bukanlah berarti dimiliki. c. menurut ketentuan-ketentuan Peraturan Pemerintah. bahwa untuk mencapai ketentuan di dalam Pasal 33 ayat (3) UUUD 1945.

Berdasarkan Pasal 14 UUPA.P. disebutkan bahwa perlu adanya suatu rencana ("planning") yang dimulai dari rencana umum ("national planning") yang kemudian dirinci menjadi rencana-rencana khusus ("regional planning") dari tiaptiap daerah mengenai peruntukan.82 Berdasarkan memori penjelasan UUPA. pelimpahan wewenang untuk melaksanakan hak penguasaan negara atas tanah merupakan medebewind. air serta ruang angkasa untuk daerahnya. hlm. Selain itu. Parlindungan. peruntukan. air dan ruang angkasa. maka Pasal 2 ayat (4) UUPA menegaskan. mengingat akan corak perekonomian negara di kemudian hari dimana industri dan pertambangan menjadi penting. Komentar atas Undang-Undang Pokok Agraria. 1991. bahwa wewenang agraria dalam sistem UUPA ada pada pemerintahan pusat. dan penggunaan bumi. arti dari ”menentukan dan mengatur” (huruf b) yaitu: menetapkan dan membuat peraturan-peraturan mengenai hak-hak apa saja yang dapat dikembangkan dari hak menguasai negara tersebut. dan pemerintahan daerah tidak boleh melakukan tindakantindakan di bidang agraria jika tidak ditunjuk ataupun dilimpahkan kewenangannya oleh pemerintah pusat (asas medebewind). Selanjutnya. berdasarkan rencana umum tersebut berwenang mengatur persediaan. Bandung. penggunaan dan persediaan bumi. maka di samping perencanaan pertanian. Namun. industri dan pertambangan perlu diperhatikan. Mandar Maju. maka pengertian pelimpahan wewenang untuk melaksanakan hak penguasaan negara atas tanah menurut Pasal 2 ayat (4) di atas menjadi berbeda. Dengan demikian. 39. Sedangkan yang berkaitan A. 81 51 . air dan ruang angkasa serta kekayaan alam yang terkandung didalamnya. 82 Periksa Pasal 14 ayat (1) dan (2) UUPA. peruntukan dan penggunaan bumi. karena Pasal 14 secara eksplisit memerintahkan otonomisasi di bidang agraria. penjelasan dari Pasal 2 ayat (4) berkaitan dengan asas ekonomi dan medebewind dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Sedangkan pemerintah daerah. Berdasarkan penafsiran otentik (authentieke atau officiele interpretatie) atau sesuai dengan tafsir yang dinyatakan dalam undang-undang itu sendiri. maka persoalan agraria merupakan tugas pemerintah pusat. jika argumentasinya didasarkan pada Pasal 14 UUPA. sesuai dengan keadaan daerah masing-masing. pemerintah pusat mempunyai kewenangan membuat suatu rencana umum mengenai persediaan.terkandung di dalamnya. Jika argumentasi didasarkan pada Pasal 2 ayat (4).81 Sedangkan.

yang dinyatakan bahwa: “…desentralisasi memberi kemungkinan pengaturan masalah yang sama secara berbeda untuk daerah-daerah yang berbeda. pengesahannya harus dilakukan dalam rangka rencana umum yang dibuat oleh pemerintah pusat. dan Penjelasan Pasal 14 UUPA. bahwa penyelenggaraan kewenangan di bidang pertanahan dapat dilaksanakan secara dekonsentrasi (yang merupakan penghalusan dari sentralisasi). 370. air serta ruang angkasa untuk daerah. air serta ruang angkasa harus pula disesuaikan dengan kondisi geografis atau keadaan tertentu dari daerah masing-masing. penguasaan dan perbuatan-perbuatan hukum mengenai tanah serta pendaftaran tanah. General Theory of Law and State. Hans Kelsen. medebewind atau asas pembantuan dan secara desentralisasi. peruntukan dan penggunaan bumi. dan semakin bervariasi kondisi-kondisi sosial. 84 83 52 . nasional atau keagamaan. Jakarta. Artinya pembuat undang-undang sadar bahwa perencanaan peruntukan dan penggunaan akan bumi. Untuk selanjutnya ditindaklanjuti dengan menetapkan dan membuat peraturan-peraturan daerah yang mengacu pada rencana umum (national planning) yang dibuat oleh pemerintah. Alih Bahasa oleh Somardi. Pertimbangan yang membuat perbedaan tata hukum nasional semacam itu lebih dikehendaki mungkin karena pertimbangan-pertimbangan geografis. Teori Umum Hukum dan Negara (Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif Sebagai Ilmu Hukum DeskriptifEmpirik). Semakin besar teritorial negara. maka akan semakin diharuskan desentralisasi melalui pembagian teritorial. Hal ini sejalan dengan salah satu alasan utama dari desentralisasi yang dikemukakan oleh Hans Kelsen.84 Berdasarkan uraian di atas. dalam bukunya ”General Theory of Law and State”. maka Pasal 14 UUPA tersebut memerintahkan. hlm. untuk itulah pengaturannya di desentralisasikan kepada daerah. Kalaupun ada pelimpahan Memori Penjelasan Umum Angka II (8). Kewenangan pertanahan yang dilaksanakan secara sentralisasi oleh pemerintahan pusat adalah mengenai hal-hal yang berkaitan dengan rencana umum (national planning) seperti pengaturan dan penetapan hukum tanah nasional yang meliputi perencanaan dan peruntukan tanah. Bee Media Indonesia. bahwa urusan-urusan bidang pertanahan yang berkaitan dengan regional planning yang meliputi persediaan.dengan ayat (3) di atas mengenai pemerintah daerah dapat membentuk peraturan daerah.83 Jika ditafsirkan secara gramatikal atau interpretasi bahasa yang menekankan pada makna teks yang dinyatakan di dalam kaidah hukum. 2007. dapat dilaksanakan dengan asas desentralisasi sesuai dengan keadaan daerahnya masing-masing.

ditetapkan dengan peraturan pemerintah (PP). sedangkan UUD 45 setelah amandemen tidak dilengkapi dengan penjelasan. Inilah yang menjadi pangkal tolak kerancuan peraturan perundang-undangan bidang pertanahan yang dikeluarkan setelah tahun 2000. serta penempatan Penjelasan UUD 1945 tidak lagi sebagai penjelasan otentik dari UUD 1945. nilai-nilai. karena setiap pasal dari peraturan perundang-undangan yang akan dianalisis menjadi sangat terbuka penafsirannya. salah satunya bidang pertanahan kepada Pemerintah Kabupaten/Kota. dalam PP tersebut masih menyisahkan persoalan. 40. Hakikat Ketentuan Pasal 33 UUD 1945 1. Aspek Historis Sejak dilakukannya amandemen terhadap UUD 45 sebanyak 4 (empat) kali. 53 .kewenangan dalam pelaksanaannya. 25 Tahun 2000. Untuk pengaturan penjabarannya berdasarkan Pasal 12.cit. Jika kita menengok kembali kepada UU No. sebenarnya telah selaras dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. dikarenakan dalam materi muatannya tidak menegaskan bentuk kewenangan yang didesentralisasikan tersebut. sulit untuk menemukan dan menentukan dasar filosofi hukum. 85 Arie S. Meskipun demikian. E. Hal ini didasarkan pada Pasal 11 UU 22/1999 yang mengatur masalah desentralisasi. Op.85 Sedangkan desentralisasi kewenangan di bidang pertanahan memerlukan suatu ketentuan perudang-undangan yang secara jelas mengatur pembagian kewenangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. pelimpahan itu dalam rangka dekonsentrasi kepada pejabat-pejabat Pemerintah Pusat yang ada di Daerah ataupun kepada Pemerintah Daerah dalam rangka medebewind bukan otonomi.Hutagalung. teramasuk peraturan perundang-undangan di bidang pertanahan. yang mana pelaksanaan kebijakannya dapat dituangkan dalam bentuk Peraturan Daerah maupun Keputusan Kepala Daerah. konsep-konsep yang dapat menjadi pegangan untuk melakukan analisis sinkronoisasi dan konsistensi suatu peraturan perundang-undangan dalam rangka menentukan ada tidaknya konflik peraturan perundang-undangan. hlm. asas-asas. dalam hal ini PP No. 22 Tahun 1999 (sudah tidak berlaku lagi) dengan merujuk pada Pasal 2 dan 14 UUPA.

Tetapi. sampai kemudian ditetapkan menjadi UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945 pada Rapat Panitia Persiapan Kemedekaan Indonesia (PPKI). Djilid Pertama. maka suasana dan realitas objektif pada waktu Undang-Undang Dasar itu dirumuskan. Jajasan Prapantja.86 Rumusan Pasal 32 Rancangan UUD tersebut mencakup nilai-nilai yang terkandung di dalam dasar negara yaitu sistem kekeluargaan. harus dimengerti terlebih dahulu. dan dirumuskan sebagai berikut: (1) Perékonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas kekeluargaan. Secara histories. yaitu suatu aliran pikiran yang menyatukan negara dengan seluruh rakyat. BAB mengenai kesejahteraan sosial ditempatkan pada BAB XIII Tentang Kesedjahteraan Sosial. perumusan Rancangan UUD 1945 dilakukan oleh Panitia Perancang Undang-undang Dasar yang ditetapkan pada rapat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) bulan Juli 1945. Untuk menelaah hakikat dalam rangka memperoleh pengertian maksud dari Undang-Undang Dasar suatu negara. sesuai dengan pengertian negara sebagai suatu keluarga besar. Jakarta. 86 54 . termasuk aspek ideologi dari perancangnya yang tentunnya sedikit banyak mempengaruhi proses perumusannya. termasuk di bidang pertanahan. namun masih berperan signifikan untuk menggali hakikat Pasal 33 UUD 1945 yang menjadi landasan konstitusionil pengaturan hukum di bidang agraria. Di dalam Rancangan Undang-Undang Dasar yang dibahas dalam Rapat Panitia Hukum Dasar tanggal 11 Juli 1945.Walaupun penjelasan UUD 45 tidak lagi berkedudukan sebagai penafsiran otentik UUD 45. (2) Tjabang-tjabang produksi jang penting bagi negara dan jang menguasai hadjat hidup orang banjak dikuasai oléh Pemerintah. hlm. yang mengatasi segala faham golongan dan Risalah Rapat Panitia Perantjang Undang-undang Dasar tanggal 11 Juli 1945. (3) Bumi dan air dan kekajaan alam jang terkandung didalamnja dikuasai oléh negara dan harus dipergunakan untuk sebesar-besarnja kemakmuran rakjat. materimateri pokok (dasar-dasar negara) dari rancangan UUD itu telah dibahas sejak tanggal 29 Mei 1945 dalam sidang-sidang pertama BPUPKI. 1959. Kitab Naskah Undang-undang Dasar Républik Indonésia. Lihat dalam: Muhammad Yamin. Bukankah pemahaman atas Pasal 33 UUD 1945 itu tidak cukup dilakukan hanya dengan membaca teks maupun penjelasan suatu peraturan perundang-undangan. 268. dengan nomor Pasal 32.

dan falsafah yang terkadung dalam Rancangan UUD. jaitu individualisme dan liberalisme. Ibid. terdapat beberapa perubahan dan penambahan. Setelah Rancangan UUD ini dibagikan dikalangan anggota. Inilah jang mendjadi sumber malapetaka-malapetaka didunia ini…Tuan-tuan dan njonja-njonja jang terhormat! Kita semua mengetahui bahwa faham atau dasar individulisme telah mendjadi sumber économisch liberalisme Adam Smith…jang sebenarnja tidak lain tidak bukan mendjalankan téori-téori ékonomi diatas dasar-dasar falsafah jang individualistis…Dengan adanja ékonomisch liberalisme. lewat pidatonya yang menerangkan dan menjelaskan pertanyaan-pertanyaan itu sebagai berikut: “…Undang-undang Dasar dari pada negara-negara (Eropa dan Amérika) didasarkan atas dasar falsafah pikiran jang dikemukakan oléh revolutie Perantjis. tuan-tuan dan njonja-njonja jang terhormat. Selanjutnya Soekarno pada sidang pertama Dokuritu Zyunbi Tyoosakai juga membicarakan dasar kekeluargaan atau yang disebutnya gotong-royong yang merupakan dasar sistem. Misalnya. laissez fasser”…. Inilah sebabnja suburnja kapitalisme dan imperialisme di Eropa dan Amérika itu”. 55 . Timbulah itu oléh karena ékonomisch liberalisme itu sistim jang memberi hak sepenuh-penuhnja kepada beberapa orang manusia sadja.. panitia penyusun Rancangan UUD ini banyak mendapat pertanyaan seputar dasar dan falsafah dari rancangan UUD tesebut. semula dirumuskan “Tjabang-tjabang produksi jang penting bagi negara dan jang menguasai hadjat hidup orang banjak 87 88 Risalah Rapat Besar tanggal 15 Juli 1945. bahwa dasar falsafah negara-negara Eropa dan Amérika itu adalah benar falsafah jang salah.. jang bersembojan: “laissez faire. hlm. 287. memeras. Muhammad Yamin. kita 350 tahun tidak merdéka…Nyata tuan-tuan njonja-njonja jang terhormat. 287-294. hlm. bahwa kitapun menghendaki di dalam UUD itu apa yang dinamakan “droits de l’homme et du citoyen” atau “rights of the citizen”. pertanyan-pertanyaan apa sebab undang-undang dasar yang kita rancang tidak memasukkan hak-hak asasi manusia dan hak-hak warga-negara. timbullah kapitalisme jang sehébat-hébatnja di negeri-negeri jang merdéka. Ibid. Apakah kita hendak menuliskan dasar jang demikian itu dalam Undang-undang Dasar kita?88. Pasal 33 ayat (2). Setelah Rancangan Undang-Undang Dasar di atas ditetapkan menjadi UndangUndang Dasar 1945 (18 Agustus 1945). Misalnya.faham perseorangan (kollektivisme) sebagaimana pikiran Soepomo (negara integralistik).87 Hal ini kemudian dijawab oleh Soekarno dalam Rapat Besar tanggal 15 Juli 1945. menindas sesama manusia jang lain. untuk menghisap.…Dengan adanja imperialisme itulah..

jelaslah bahwa di dalam rumusan Pasal 33 UUD 1945 terkandung nilai-nilai dan falsafah Negara.G. Dikaji dari tempatnya di dalam UUD ketentuan ini ditempatkan dalam Bab XIV tentang Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial. Kollektivitas atau dasar kesatuan dalam sebuah keluarga besar. Van Hoeve. 1955. terdapat tiga kata kunci yang merupakan sari dari tiga ayat yang dinaungi oleh Pasal 33. 89 56 . 120. dalam: Abdurrahman. artinya persoalan ini erat hubungannya dengan usaha menciptakan kesejahteraan sosial bagi masyarakat Indonesia89. Berdasarkan uraian di atas. W. Jika dikonversikan dengan konsepkonsep yang diutarakan di atas. yaitu sebagai ketentuan yang hanya dijumpai di Indonesia yang memberikan kewenangan yang begitu besar kepada Negara. Bandung.1985. Kedua adalah Sosialisme yang merupakan turunan dari sistem ekonomi kekeluargaan dan antitesa daripada kapitalisme. banyak bermunculan pendapat-pendapat yang berupaya memaknai rumusan dari Pasal 33.dikuasai oléh Pemerintah”. Lemaire dalam bukunya“Het Recht in Indonesia”. Misalnya. 2. konsep ini dirumuskan pada ayat (1) yaitu: “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan”. S’Gravenhage. 36. Pertama. dirumuskan dalam ayat (2) “cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara”. yang dirumuskan sebagai berikut: ayat (3) “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Pasca Proklamasi Kemerdekaan. memberikan makna bahwa Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 adalah suatu “deze bepalingen geven vorm aan eigen Indonesisch” atau ketentuan yang bersifat khas Indonesia. Tebaran Pikiran Mengenai Hukum Agraria. kata “dikuasai oleh Pemerintah” kemudian dirubah dengan “dikuasai oleh Negara”. dan Ketiga adalah Politik Agraria Nasional yang bertujuan menciptakan keadilan sosial lewat jalan meningkatkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Het Recht in Indonesia.L. Bandung. Asas Kekeluargaan Asas kekeluargaan yang tercantum dalam Pasal 33 ayat (1). yaitu. hlm. Alumni. Hal ini adalah sintesa dari ayat (1) dan (2). NV Uitgeverij W. secara umum erat sekali hubungannya dengan teori “integralistik” atau “negara integralistik” yang Lemaire. hlm.

Lebih tepatnya lagi.dilontarkan oleh Soepomo dalam pidatonya pada sidang-sidang BPUPKI antara bulan Mei–Juni 1945 yang padat dengan agenda sidang BPUPKI untuk membahas dasar-dasar (falsafah) dan tujuan pembentukan negara. “Menapaki Jejak Pemikiran Soepomo Tentang Negara Indonesia”. dan Hegel (filsuf abad 18 dan 19). “in the political order the whole body of citizens must be thoughts of as equivalent or an individual in the state of nature”. Untuk itulah negara dijadikan alat bagi kaum kapitalis untuk menindas kaum buruh.90 sebagaimana dikemukakan oleh Spinoza. antara mikrokosmos dan makrokosmos. (London: Verso. Spencer. hlm. 92 Muhammad Yamin. persatuan kawulo dan gusti yaitu persatuan antara dunia luar dan dunia batin. Dengan demikian. negara bukan dimaksudkan untuk menjamin kepentingan orang perorang atau golongan tertentu. Secara khusus makna dari kalimat “usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan” adalah sebuah bangunan perusahaan yang berbentuk “koperasi”. mendasarkan pendirian negara pada teori perseorangan yang diajarkan oleh Hobbes. Engels. hlm. 91 Spinoza yang dikutip oleh Etienne Balibar. Ajaran ini berasal dari Karl Marx. Jakarta. untuk menghisap golongan yang lemah secara ekonomi. 110-111. Oktober 2005. inti dari teori integralistik adalah. “Spinoza and Politics”. dalam: Ibid. Jentera (Jurnal Hukum). Menurut Spinoza. tetapi satu kesatuan yang bersatu jiwa. ide integralistik dari bangsa Indonesia. 90 57 . Muhammad Yamin. PSHK. antara rakjat dan pemimpin-pemimpinnya…Inilah ide totaliter. dalam: Daniel Hutagalung. 1998). Inti dari teori ini menyatakan bahwa negara merupakan masyarakat hukum yang disusun atas kontrak antara seluruh orang dalam masyarakat dengan susunan hukum negara yang berdasar individualisme.91 negara (the state) mestilah dibayangkan sebagai sebuah individu. Negara adalah alat dari golongan yang kuat secara ekonomis. Lihat dalam: Pidato Soepomo dalam Rapat BPUPKI tanggal 31 Mei 1945. Pilihan Soepomo jatuh pada “Teori Integralistik”. keseluruhan warga negara haruslah dilihat sebagai satu individu yang tidak terpisah. individu dari individu-individu (individual of indivduals) yang memiliki “tubuh” dan “jiwa” atau pikiran. 64. dan V. Adam Muller. Teori Individualistik. 109-121. 129.J. teori ini dipraktekkan di Eropa Barat dan Amerika. menurut teori integralistik negara diartikan sebagai susunan masyarakat yang integral. akan tetapi negara harus menjamin kepentingan masyarakat secara keseluruhan sebagai satu kesatuan. yang berwujud dalam susunan tatanegaranya jang asli”92. segala golongan. Laski. segala bagian. Dengan demikian. Edisi 10 – tahun III. dan H. hlm. Soepomo tidak mau terjebak antara staatside yang didasarkan pada “Teori Individualistik” dan “Teori Golongan”. Ajaran ini mennganjurkan revolusi politik dari kaum buruh untuk merebut kekuasaan. sebagaimana yang dinyatakan oleh Soepomo: “…struktur kerochanian dari bangsa Indonesia bersifat dan bercita-cita persatuan hidup. Lenin. Sebagaimana ditekankan olehnya.cit. Sedangkan Teori Golongan (teori kelas). teori ini menganggap bahwa negara sebagai alat dari sesuatu golongan (kelas) untuk menindas kelas lainnya. khususnya hlm. Menurut Soepomo staatside dari UUD 1945 tidak didasarkan pada teori Trias Politica yang dikemukakan oleh Motesquieu. Jadi. dan ajarannya disebut “Marxisme”. Op. F. segala anggotanya berhubungan erat satu sama lain dan merupakan persatuan masyarakat organis yang harmonis.

3. hlm. 195. G. 95 Z. 94 93 58 . Op.sebagaimana yang disebutkan juga dalam Penjelasan Pasal 33 paragraf pertama. Bandung. bahwa yang sesuai dengan azas kekeluargaan ialah hanya koperasi saja. dengan “hak menguasai negara” sebagai konsep politik hukumnya Abdurrahman. dan jika kekuasaan Pemerintah terlalu besar maka akan melahirkan totaliterisme95. Sebab itu terimalah pernyataan saya. Jakarta. hlm Wirjono Prodjodikoro 1983. artinya koperasi hanya sebagai contoh tetapi sebagai contoh sebagai utama. Dalam Musyawarah Nasional Pembangunan yang dilaksanakan di Jakarta pada tahun 1957. Dengan demikian berdasarkan penafsiran enunciative. Asikin Kusuma Atmadja memaknai azas kekeluargaan dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang sesuai dengan Pasal 33 ayat (1). sedangkan penafsiran enunciative menganggap hal-hal yang disebutkan sebagai “enunciated” atau sekedar menerangkan. tetap dimungkinkan bangunan perusahaan selain koperasi yang juga sesuai dengan azas kekeluargaan ini. Politik Hukum Nasional.94 Berkaitan dengan penafsiran terhadap azas kekeluargaan sebagaimana yang telah diuraikan di atas. Dian Rakyat. hal ini ditegaskan kembali oleh Mohammad Hatta. Dalam: A. bahwa hal itulah yang dimaksudkan. Penafsiran limitatief. tetapi juga tidak menginginkan totaliterisme”. Beberapa Pemikiran Pembangunan Hukum di Indonesia. Asikin Kusuna Atmadja. bahwa “buah pikiran yang tertanam di dalam Pasal 33 UUD 1945 sekarang ini berasal dari saya sendiri. 1980.cit. bahwa yang sesuai dengan azas kekeluargaan paling utama adalah koperasi. hlm. Sedangkan menurut penafsiran enunciative. menganggap hal-hal yang disebutkan sebagai “gelimiteerd” atau terbatas pada hal itu saja. jika liberalisme tidak dikendalikan. Alumni. Azas-Azas Hukum Tata Negara Indonesia. Hakim Nusantara & Nasroen Yasabari.93 Dalam ilmu pengetahuan hukum terdapat penafsiran “limitatief” dan penafsiran “enunciative”. berdasarkan penafsiran limitatief. maka akan menjurus kepada anarchie. Dikuasai oleh Negara atau Hak Menguasai Negara Pasal 33 UUD 1945 dikenal sebagai ideologi politik ekonomi Indonesia [ayat (1) dan (2)]. 38. bahwa memang koperasilah yang dimaksud dengan usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan”. Dengan demikian. Menurutnya. adalah: “menolak faham liberalisme mutlak.

negara hanya melakukan pengurusan (bestuursdaad) dan pengolahan (beheersdaad). harus secara nyata meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Pembahasan mengenai makna kata-kata “dikuasai oleh negara” secara lebih mendalam dapat didekati dengan memahami pengertian-pengertian yang diberikan para ahli. sehingga kepadanya diberikan wewenang atau kekuasaan untuk mengatur. Segala bentuk pemanfaatan (bumi dan air) serta hasil yang didapat (kekayaan alam). karena pemiliknya adalah Bangsa Indonesia. tidak untuk melakukannya sendiri (eigensdaad). Melindungi dan menjamin segala hak-hak rakyat yang terdapat di dalam atau di atas bumi.com/. Pasal 33 ayat (3) terkandung konsep politik agraria dirumuskan: “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara”. memelihara dan mengawasi pemanfaatan seluruh potensi sumber daya agraria yang ada dalam wilayahnya secara intensif. melahirkan kewajiban Negara untuk mengatur: 1. mengurus. antara lain: Pan Mohamad Faiz.jurnalhukum. http://www. Mencegah segala tindakan dari pihak manapun yang akan menyebabkan rakyat tidak mempunyai kesempatan atau akan kehilangan haknya dalam menikmati kekayaan alam. 2. 3. dan pemanfaatan sumbersumber agraria terpusat pada kekuasaan yang begitu besar daripada negara. Sedangkan rumusan ayat (3)-nya merupakan arah dan tujuan politik ekonomi Indonesia yaitu untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Penafsiran Konasep Penguasaan Negara Berdasarkan Pasal 33 UUD 1945 dan Putusan Mahkamah Konstitusi.blogspot. 96 59 . air dan berbagai kekayaan alam tertentu yang dapat dihasilkan secara langsung atau dinikmati langsung oleh rakyat. Dalam hal ini negara dipandang sebagai yang memiliki karakter lembaga masyarakat umum.(political legal concept). Rumusan kalimat “dikuasai oleh negara” inilah yang kemudian dikenal sebagai konsep “Hak Menguasai Negara” (HMN) yang berarti penguasaan. Secara teoritik kekuasaan negara atas sumber-sumber agraria bersumber dari rakyat yang dikenal dengan hak bangsa. namun tidak sebagai pemilik. Adapun kaitan hak penguasaan negara dengan tujuan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.96 Ketiga kewajiban di atas menjelaskan segala jaminan bagi tujuan hak penguasaan negara atas sumber daya alam yang sekaligus memberikan pemahaman bahwa dalam hak penguasaan itu.

dalam bukunya “Pelaksanaan Undang-undang Dasar 1945 Pasal 33” memaknai dikuasai oleh negara tidak berarti negara sendiri menjadi penguasa. Walaupun “Sosialisme Indonesia” mengenal milik swasta perseorangan (privaatbezit. Op. memelihara dan 97 98 Abdurrahman. peraturan yang melarang pula “penghisapan” orang yang lemah oleh orang yang bermodal. Notonagoro menyatakan pendapatnya tentang kata-kata “dikuasai oleh negara” dalam tema pokok “hak menguasai daripada negara” sebagai dasar baru hukum agraria di Indonesia. kita harus mendasarkan diri menurut kedudukan hak menguasai tanah oleh negara itu dalam rangkaian kekuasaan negara pada umumnya”. maka sudah tentu tidak boleh mengurangi dan mengubah kedudukan negara terhadap segala sesuatu itu. menurutnya Pasal 33 ayat (3) melarang organisasi-organisasi yang bersifat monopoli partikelir yang merugikan ekonomi nasional. hlm. hlm. Selain itu. yang tidak lain ialah membangun. privaat eigendom) karena sesuai dengan kepribadian Indonesia dan tidak dilarang Pasal 33. dan UUPA merupakan aturan pelaksana dari Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. mengusahakan memelihara dan mengatur hidup bersama. Muhammad Yamin. atau diawasi.a. Menurut Notonagoro “untuk menentukan hakekat sifat hak menguasai tanah. 60 . Notonagoro. diselenggarakan. Ia mendasarkan argumentasinya ini pada pandangan Van Vollenhoven yang menyatakan bahwa. Mohammad Hatta. Tanah merupakan suatu spesmen (hal khusus). 37 Ibid. usahawan atau “ondernemer”. adalah salah seorang konseptor dari Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Pokok Agraria (UUPA). Lebih tepat dikatakan. kita melihat kepada kekuasaan negara.cit. baginya perkataan “dikuasai oleh negara” tidaklah berarti dimiliki. 38. jika dalam hal ini perlu diberi bentuk lain. Khusus mengenai tanah berarti membangun mengusahakan. sebenarnya hak negara terhadap tanah ialah untuk mengatur dan sebagainya itu. ia menyatakan bahwa untuk menentukan hakikat sifat hak menguasai tanah.97 b. melainkan berarti diperlakukan dengan tindakan-tindakan yang berdasarkan pada kekuasaan tertinggi dalam tangan negara. Selanjutnya.98 c. bahwa kekuasaan negara terdapat pada membuat peraturan guna kelancaran jalan ekonomi. tidak lain daripada kekuasaan negara terhadap segala sesuatu.

penambahan dua ayat terakhir pada Pasal 33 berimplikasi pada perubahan makna Pasal 33 secara keseluruhan. ialah: “dalam membangun. Bina Aksara. 99 61 . 1984. Belum lagi masalah Penjelasan dari UUD 1945 yang tidak lagi menjadi Penjelasan Otentik. Artinya istilah “dikuasai” dalam ayat ini bukan berarti “dimiliki”. yang diadopsi dalam Pasal 2 ayat (1) UUPA “bumi. Sudargo Gautama. Istilah dikuasai ini berarti bahwa negara sebagai organisasi kekuasaan daripada bangsa Indonesia. walaupun tidak merubah tiga ayat yang asli. Tafsiran Undang-Undang Pokok Agraria. hlm. Dengan adanya pendirian semacam ini tidaklah diperlukan bagi negara untuk bekerja dengan pengertian milik. dalam menafsirkan hak menguasai negara mendasarkan argumentasinya pada pandangan yang melihat negara sebagai organisasi kekuasaan dari seluruh rakyat (bangsa). sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat”.99 d. 47-48. negara bertindak selaku Badan Penguasa. perubahan ke empat UUD 1945 (2002) khususnya mengenai Pasal 33 telah mengalami pengembangan makna dari yang sebelumnya. mengusahakan. juga berfungsi mengawal konstitusi (the guardian of costitution) agar dilaksanakan secara bertanggung jawab sesuai dengan kehendak rakyat dan cita-cita demokrasi. kepentingan rakyat sama dan membantu kepentingan perseorangan”. diberikan wewenang untuk mengatur sesuatu yang berkenaan dengan tanah. Jakarta. 100 Sudargo Gautama. Keberadaan Mahkamah Konstitusi di samping untuk menjaga terselenggaranya pemerintahan negara yang stabil. air dan ruang angkasa. termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya itu pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh Negara. Dengan demikian dapatlah kita rumuskan hakikat dan sifat hak menguasai tanah itu. Oleh karenanya berdasarkan kwalitasnya itu. Pikirannya ini dipararelkan dengan susunan kata-kata dalam Pasal 33 ayat (3). Alumni. Politik Hukum dan Pembangunan Agraria di Indonesia. Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga negara yang berfungsi menangani perkara tertentu di bidang ketatanegaraan. hlm. juga Notonagoro.100 Pada perkembangan selanjutnya.mengatur segala sesuatu mengenai tanah. 117-119. 1973. seperti halnya dengan teori domein. Bandung. memelihara dan mengatur tanah untuk kepentingan negara kepentingan umum.

dan konsesi (concessie). Pertimbangan Hukum. oleh rakyat dan untuk rakyat”. Dalam paham kedaulatan rakyat itu. Perlu dicermati kembali dari putusan Mahkamah Konstitusi tersebut di atas yang menyatakan. baik di bidang politik (demokrasi politik) maupun ekonomi (demokrasi ekonomi). sebagai berikut: “Pengertian “dikuasai oleh negara” dalam Pasal 33 UUD 1945 mengandung pengertian yang lebih tinggi atau lebih luas daripada pemilikan dalam konsepsi hukum perdata. bahwa pengertian “dikuasai oleh negara” dalam Pasal 33 UUD 1945 mengandung pengertian yang lebih tinggi atau lebih luas daripada pemilikan Mahkamah Konstitusi. Putusan Perkara Nomor 001-021-022/PUUI/2003. pengelolaan (beheersdaad) dan pengawasan (toezichthoudensdaad) untuk tujuan sebesarbesarnya kemakmuran rakyat. Dengan tidak adanya lagi penjelasan otentik terhadap UUD 1945.q. Pemerintah mendayagunakan penguasaannya atas sumber-sumber kekayaan itu untuk digunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. mengharuskan Mahkamah Konstitusi berperan untuk menafsirkan UUD 1945 apabila munculnya pertentangan norma antara undang-undang dengan UUD 1945. dan regulasi oleh Pemerintah (eksekutif). pengaturan (regelendaad). Demikian pula fungsi pengawasan oleh negara (toezichthoudensdaad) dilakukan oleh negara c. Dalam salah satu putusannya Mahkamah Konstitusi telah memberikan pengertian atau makna dari kalimat “dikuasai oleh negara”. 101 62 . pemilik dan sekaligus pemegang kekuasaan tertinggi dalam kehidupan bernegara. Fungsi pengurusan (bestuursdaad) oleh negara dilakukan oleh pemerintah dengan kewenangannya untuk mengeluarkan dan mencabut fasilitas perizinan (vergunning).merupakan koreksi terhadap pengalaman kehidupan ketatanegaraan di masa lalu yang ditimbulkan oleh tafsir ganda terhadap konstitusi. Pemerintah dalam rangka mengawasi dan mengendalikan agar pelaksanaan penguasaan oleh negara atas cabang produksi yang penting dan/atau yang menguasai hajat hidup orang banyak dimaksud benar-benar dilakukan untuk sebesar-besarnya kemakmuran seluruh rakyat101. …Rakyat secara kolektif itu dikonstruksikan oleh UUD 1945 memberikan mandat kepada negara untuk mengadakan kebijakan (beleid) dan tindakan pengurusan (bestuursdaad). Dalam pengertian kekuasaan tertinggi tersebut. lisensi (licentie). hlm. sesuai dengan doktrin “dari rakyat. rakyatlah yang diakui sebagai sumber. Konsepsi penguasaan oleh negara merupakan konsepsi hukum publik yang berkaitan dengan prinsip kedaulatan rakyat yang dianut dalam UUD 1945.q. Fungsi pengaturan oleh negara (regelendaad) dilakukan melalui kewenangan legislasi oleh DPR bersama dengan Pemerintah. tercakup pula pengertian kepemilikan publik oleh rakyat secara kolektif. 332-334. Fungsi pengelolaan (beheersdaad) dilakukan melalui mekanisme pemilikan saham (share-holding) dan/atau melalui keterlibatan langsung dalam manajemen Badan Usaha Milik Negara atau Badan Hukum Milik Negara sebagai instrumen kelembagaan melalui mana negara c.

Dalam praktiknya. hak menguasai negara cenderung ditafsirkan sebagai hak milik negara. secara normatif tidak pernah ada kontrak sosial yang berisi penyerahan kekuasaan atas agraria/tanah dari rakyat kepada negara/pemerintah. tidak secara otomatis hak-hak bangsa beralih menjadi hak negara. konsepsi yang berhubungan dengan hak-hak agraria. tetapi lahir dari masyarakat dengan tatatan individualis. liberalis. Karakter bangsa Indonesia yang pluralis. Bahkan apabila dikaji dari sudut Pancasila. Pada volente de generalle. secara sosio-yuridis tidaklah hapus akibat dibentuknya negara dan pemerintah yang bernama Indonesia102. 102 63 . dengan demikian. (2) Negara mengakkui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia. karena pengertian negara tidak sama dengan pengertian bangsa. Pemaknaan yang demikian merupakan pemaknaan yang keliru. Tatanan tersebut tidak mengenal konsepsi eigendom. Negara itu sendiri adalah organisasi kekuasaan yang dibentuk oleh bangsa agar tujuan berbangsa dapat dicapai. negara adalah produk dari budaya dari bangsa. yang sekarang dengan hak menguasai negara. konsep eigendom tidak lahir dari struktur masyarakat yang komunalis. dan materialis. Selain itu. Dilihat dari sudut sejarah. dan semboyan Bhinnika Ketentuan Pasal 18B UUD 1945: (1) Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang. …”. sedangkan pada volente de tour adalah perjanjian yang berisikan seberapa besar kedaulatan/kekuasaan yang ada pada rakyat akan diserahkan kepada negara agar pemerintah sebagai organ negara dapat menyelenggarakan kewajibannya untuk mencapai tujuan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian. yang diatur dalam undang-undang. atau dengan sebutan lain. termasuk hak atas tanah bersumber pada hukum yang hidup sebagai ciri khas tatanan kerakyatan Indonesia (sebagai peculiar form of social life). namun mengenal konsepsi komunal yang dikenal dengan hak ulayat/hak ulaya. Dalam teori kenegaraan dikenal teori kontrak sosial yang terdiri dari perjanjian umum (volente de generalle) dan perjanjian khusus (volente de tour). perjanjian dibuat berbentuk perjanjian antar sesama (rakyat) untuk membentuk negara. Pendapat dari Mahkamah Konstitusi tersebut. Namun demikian. telah mempersamakan pengertian negara dengan bangsa.dalam konsepsi hukum perdata (konsepsi eigendom-pen). terutama sila ketiga: Persatuan Indonesia.

namun tidak berkedudukan sebagai pemilik. dan konsep “eigendom” untuk hak yang dapat dimiliki oleh individu/rakyat. Menafsirkan Menguasai Negara sebagai lembaga hukum yang lebih tinggi dari eigendom adalah bersifat destruktif. Oleh karena itu. Dasar filosofis dan sosiologis lahirnya eigendom yaitu faham individualis. menggunakan konsep eigendom sebagai acuan untuk menafsirkan makna Hak Menguasai Negara adalah tidak tepat. Dengan demikian. serta magisch religius. Seangkan secara abstrak umum. tidak sesuai dengan faham yang dianut Bangsa Indonesia. tidak berkedudukan sebagai sebagai pemilik agraria. pemberian suatu hak atas agraria oleh negara/pemerintah kepada subjek hukum tertentu. penguasa adat yang dapat disamakan dengan negara/pemerintah. untuk memberikan suatu hak kepada subjek hukum tertentu. c. Penguasa adat adalah sebagai pemegang mandat untuk memanfaatkan agraria untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. yaitu manusia sebagai mahkluk mono-dualis. konsep eigendom yang dijadikan dasar dari hak menguasai negara oleh Mahkamah Konstitusi tidak dapat diterima.Tunggal Ika. dan materialis. Faham individualis yang menghasilkan konsep eigendom menempatkan negara dan rakyat pada dua posisi yang berhadapan dengan kedudukan yang sama. dibandingkan dengan hak eigendom. pemilikan agraria tersebut tetap menjadi hak rakyat. oleh karena itu lahir konsep “Staatdomein” untuk eigendom yang dimiliki oleh negara. dengan alasan: a. karena negara hanya merupakan salah satu unsur dari bangsa. Dengan demikian. Dengan demikian. dapat ditafsirkan bahwa konsep kesatuan adalah konsep politik. konsep hak ulayat lebih tepat digunakan untuk menjadi acuan penafsiran bagi Hak Menguasai Negara. namun tidak berarti bahwa negara memperoleh seluruh asset yang dimiliki Bangsa Indonesia. Benar bahwa negara adalah organisasi seluruh rakyat Indonesia. sedangkan konsep pelaksanaan pemerintahan adalah konsep persatuan. terlebih apabila yang berkuasa adalah 64 . (Perlu ada ditegaskan) negara hanya berkedudukan sebagai lembaga yang memperoleh mandat untuk menguasai pada tingkatan tertinggi. komunal. harus dimaknakan sebagai pelaksanaan peran negara/pemerintah sebagai penerima/pemegang kuasa dari bangsa sebagai pemilik agraria. liberalis. Hal tersebut dikarenakan dalam konsepsi masyarakat (hak menguasai masyarakat adat). b. dan gotong royong.

Walaupun harus diakui. khususnya di bidang pertanahan. Jika konsep HMN diterapkan dibawah rezim yang populis. sehingga sangat potensial mempengaruhi rumusan berbagai peraturan perundang-undangan. termasuk di bidang agraria. Konflik Peraturan Perundang-undangan Bidang Pertanahan Terhadap Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 1. maka penguasaan oleh negara akan didistribusikan kepada segelintir orang yang kuat secara ekonomi maupun politik. Namun. bertentangan dengan Pasal 33 UUD 45. F. Tentu akan lebih merusak lagi apabila “Hak Menguasai Negara” dimaknakan sebagai hak yang lebih tinggi dari eigendom. yaitu UUD 45. Pergeseran Nilai dan Asas dari Pasal 33 UUD 1945 Pengkajian terhadap konflik peraturan perundang-undangan (aturan hukum) di bidang pertanahan. Kondisi demikian dapat mengakibatkan berbagai peraturan perundang-undangan yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari Konstitusi. tidak pernah dapat dipastikan bahwa rezim yang muncul dan berkuasa untuk melaksanakan pemerintahan adalah rezim populis. terutama peraturan perundangundangan di bidang agraria/pertanahan. atau dalam bahasa Kuntowijoyo “negara budiman”. dalam hal ini Pasal 33 UUD 45. Pengkajian nilai-nilai dan asas-asas tersebut di atas diperlukan mengingat konflik peraturan perundang-undangan di bidang agraria. diyakini akibat adanya 65 . Tetapi jika penyelenggara pemerintah dibawah rezim yang kapitalistik. mengharuskan terlebih dahulu melakukan kajian terhadap nilainilai dan asas-asas yang terkandung dalam konstitusi. bahwa konsep “Hak Menguasai Negara” mengacu pada pemikiran bahwa negara/pemerintahan diselenggarakan oleh rezim yang populis.rezim kapitalis. Kajian atas nilai dan asas-asas tersebut bertujuan untuk menemukan hakikat konsep hukum yang menjadi dasar pembangunan ekonomi di Indonesia. Pemaknaan “Hak Menguasai Negara” bukan berarti “Negara adalah pemilik agraria” saja sebagaimana pengertian-pengertian yang diberikan para ahli dapat memberikan dampak destruktif apabila pemerintah dikuasai oleh rezim kapitalis. maka penguasaan negara atas bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya ditujukan pada sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Tanah adalah modal dasar yang strategis dan vital dalam rangka menciptakan masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan (mayarakat adil dan makmur).perubahan nilai dan asas dari amandemen UUD 1945. dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Asumsi tersebut di atas didasarkan banyaknya kritik yang diajukan. Dalam Penjelasan Umum UUD 1945. Sebelum Amandemen UUD 1945 Pada alenia keempat Pembukaan UUD 1945 dirumuskan tujuan pembentukan Negara Indonesia dan prinsip-prinsip dasar untuk mencapai tujuan tersebut. Nilai-nilai Pancasila tersebut. perdamaian abadi. berarti aspirasi akan terciptanya suatu tata bina negara dan tata pemerintahannya yang mampu mencerminkan. oleh karena itu pembahasan terhadap pengaturan hukum di bidang pertanahan dalam rangka menentukan taraf sinkronisasi dan konsistensinya tidak dapat lepas dari pembahasan karena politik agraria/pertanahan yang secara konkrit dituangkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan di bawah UUD 1945 merupakan bagian dari pengembanan politik kesejahteraan dan keadilan sosial. bahwa aspirasi akan terciptanya kesejahteraan umum. yaitu: (1) Melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. hanya dinyatakan bahwa: “Negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat”. khususnya di bidang pertanahan. a. dan keadilan sosial. Solly Lubis menafsirkan. yang sekaligus merupakan suatu tekad perlawanan terhadap tata kehidupan kolonial dan tekad bulat (ekaprasetia) untuk menata pemerintahan dan masyarakat 66 . masalah kesejahteraan umum dan keadilan sosial tidak dijelaskan secara panjang lebar. terutama kemanusiaan yang adil dan beradab. dan (3) Ikut serta memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. lebih banyak melindungi penanam modal. mengemban dan mengejewantah suatu negara kesejahteraan (welfare state). (2) Memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. bahwa peraturan perundang-undangan di bidang agraria. dan melemahkan rakyat untuk dapat mengakses hak atas tanah. Perubahan nilai dan asas tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung pada Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum di Indonesia.

Rumusan Pasal tersebut berdasarkan ejaan lama. Sebab itu. dan membina kemakmuran yang merata adil dan makmur. untuk semua dibawah pimpinan atau penilikan anggauta-anggauta masjarakat. (2) Tjabang-tjabang produksi yang penting bagi Negara dan jang menguasai hadjat hidup orang banjak dikuasai oleh Negara. tampuk produksi djatuh ketangan orang seorang jang berkuasa dan rakjat jang banjak ditindasnja. dan (3). yaitu pada Bab XIV yang sebelum perubahan berjudul Kesejahteraan Sosial.. perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas usaha kekeluargaan. Solly Lubis. Sebab itu tjabang-tjabang produksi jang penting bagi Negara dan jang menguasai hidup orang banjak harus dikuasai oleh Negara. maka bidang ekonomi menjadi faktor utama dalam kehidupan bernegara. bidang ekonomi diatur dalam bab tersendiri dalam UUD 1945. Penjelasan Pasal 33: Dalam pasal 33 tertjantum dasar demokrasi ekonomi.yang merdeka. Bandung. adalah lawan daripada sistem ekonomi kapitalisme yang mengutamakan perseorangan/individu (individualism). berdaulat.103 Sebagai negara yang bertujuan memberikan kesejahteraan bagi rakyat. melarang adanya penguasaan cabang-cabang produksi yang 103 M. 25 dan 63. Di bawah Bab XIV tersebut tercantum Pasal 33 yang sebelum perubahan terdiri dari ayat (1). Oleh karena itu. Kalau tidak. produksi dikerdjakan oleh semua. Makna kata-kata produksi dikerjakan oleh semua. hlm. (3) Bumi dan air dan kekajaan alam jang terkandung di dalamnja dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnja kemakmuran rakjat”. Bumi dan air dan kekajaan alam jang terkandung dalam bumi adalah pokokpokok kemakmuran rakjat. Bangun perusahaan jang sesuai dengan itu ialah koperasi.yang diutamakan bukan kemakmuran orang perorang. Sistem ekonomi kapitalisme hanya akan melahirkan ketimpangan sosial yang sangat tajam atau hanya memakmurkan segelintir orang saja. sebagai berikut: (1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan. Sebab itu harus dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakjat.Alumni. (2). secara tegas Pasal 33 UUD 1945.. Pembahasan UUD 1945. Hanja perusahaan jang tidak menguasai hadjat hidup orang banjak boleh ditangan orang seorang. 1985. untuk semua. Kemakmuran masjarakatlah jang diutamakan bukan kemakmuran orang seorang. 67 . Perekonomian berdasar atas demokrasi ekonomi. kemakmuran bagi segala orang. oleh karena itu. berhak menetukan nasib sendiri (self determination).

Setelah Amandemen UUD 1945 UUD 1945 mengalami perubahan sebagaimana tuntutan reformasi tahun 1998. Dan bentuk perusahaan yang sesuai bagi prinsip-prinsip demokrasi ekonomi sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 33 adalah koperasi. kemandirian. 104 Berpengalaman sebagai legal drafter mewakili F-PPP di DPR Rl pada Badan Pekerja MPR Rl dan Pansus pelbagai RUU dalam periode DPR/MPR Rl periode 1977-1982 dan 1982-1987.104 menyatakan. serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. Setelah perubahan. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. adanya keinginan sebagian masyarakat untuk kembali ke UUD 1945. Perubahan penting lainnya adalah Penjelasan UUD 1945 tidak lagi ditempatkan sebagai penjelasan otentik dari UUD 1945. berkelanjutan. menjadi Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial. dengan pasal yang diliputinya yaitu: Pasal 33. 68 . Rumusan Pasal 33 UUD 1945 setelah diamandemen selengkapnya adalah: Secara umum amandemen UUD 1945 perubahan pertama sampai dengan perubahan ke empat menimbulkan ‘kontroversi’ di kalangan cendekiawan (intellectual) maupun dari masyarakat sipil lainnya. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. efisiensi berkeadilan. Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan. judul BAB XIV dirubah dari Kesejahteraan Sosial.penting bagi negara oleh orang perorang (individu) secara terpusat (monopoli dan oligopoli) maupun praktek-praktek cartel dalam hal pengelolannya. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang. Pasal 33 yang semula terdiri dari tiga ayat diubah menjadi 5 (lima) ayat. Pembahasan rancangan peruabahannya dilakukan oleh Badan Pekerja Majelis Permusyawaratan Rakyat (BP-MPR). mulai dari tahun 1999 sampai tahun 2002 yang menghasilkan empat kali perubahan. yaitu berkisar pada materi perubahan (substansial) maupun dari segi proses amandemen. (1) (2) (3) (4) (5) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Ridwan Saidi. Pasal 34 danPasal 37. b. berwawasan lingkungan.

memperoleh. faham ekonomi kekeluargaan yang dianut bangsa Indonesia juga menjadi tidak jelas kedudukannya. yaitu Pasal 28E ayat (2). masyarakat menyakini bahwa UUD 1945 hasil amandemen MPR tahun 1999–2002 membawa semangat ‘(Neo) Liberalisme’ dalam kehidupan kenegaraan. 105 69 . Mubyarto menyatakan. Mubyarto menyatakan. para pendiri negara tidak pernah ragu dalam pendiriannya. oleh karena itu perubahan BAB XIV dirumuskan dalam 2 (dua) variable. karena pada saat disahkannya UUD 1945. Jika makna demikian dijadikan patokan untuk memahami makna demokrasi ekonomi. Sedangkan penambahan ayat pada Pasal 33 dengan Pasal 33 ayat (4) yang intinya mengedepankan prinsip demokrasi ekonomi. Pendapat lain yang muncul berkaitan dengan penambahan ayat pada Pasal 28. Indonesia Pasca Reformasi menganut sistem ekonomi kapitalis. esensinya adalah mayoritas suara yang menentukan. bahwa baik buruknya perekonomian nasional akan ikut menentukan tinggi rendahnya kesejahteraan sosial. yaitu “Perekonomian Nasional” dan “Kesejahteraan Sosial”. mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia”. serta berhak untuk mencari. Pasal 33.terutama tdisebabkan.105 Perubahan Pasal 28 mengakibatkan aspek ideologi dan keamanan nasional menjadi tidak jelas kedudukannya (vide: pasal 28E ayat (4) dan pasal 28F). menimbulkan pertanyaan: demokrasi ekonomi yang bagaimana yang menjadi faham ekonomi Indonesia sekarang setelah terjadi penambahan ayat tersebut?. maka tafsir yang didapat adalah mayoritas (kekuatan) kapital yang menentukan. menyatakan pikiran dan sikap. sesuai dengan hati nuraninya”. perubahan Judul BAB XIV UUD 1945 tentang “Kesejahteraan Sosial” menjadi “Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial” adalah perubahan yang menyesatkan. Hal ini berarti. Pasal 28F: “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya. memiliki. Perumusan demikian bertentangan dengan pendirian founding fathers. yaitu penambahan Pasal 33 ayat (4). Jika merujuk pada pengertian asasi demokrasi politik. Pasal 28E ayat (2): “Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan. Konsekwensi penambahan ayat pada Pasal 28 tersebut adalah. menyimpan. perubahan tersebut terjadi karena (anggota MPR) menganggap bahwa perekonomian nasional bisa dilepaskan kaitannya dengan kesejahteraan sosial. Pasal 28F dan.

Mubyarto berpendapat sebagai kekeliruan fatal dan dapat dianggap sebagai “pengkhianatan” terhadap ikrar para pendiri negara. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 Tentang Ketentuan Pokok Pertambangan. www. Mereka yang ingin menggusur asas kekeluargaan mengira asas kekeluargaan menolak sistem ekonomi pasar yang berprinsip efisiensi. Jurnal Ekonomi Rakyat.org. yaitu: (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 Tentang Penanaman Modal Asing. (5) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1972 Tentang Ketentuan Pokok Transmigrasi Mubyarto adalah salah satu pakar ekonomi yang awalnya terlibat dalam perumusan perubahan Pasal 33 UUD 1945.Lebih jauh Mubyarto menyatakan. (4) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1970 Tentang Penghapusan Pengadilan Landreform.“Paradigma Kesejahteraan Rakyat dalam Ekonomi Pancasila“. Produk Aturan Hukum Pertanahan Orde Baru (1967 – 1998) Peraturan Perundang-undangan yang dikaji pada era Orde Baru terdiri: (i) Undang-Undang.II–No. berarti hilangnya pengertian ‘demokrasi ekonomi’ dan hilangnya kata ‘koperasi’ sebagai bangunan perusahaan yang sesuai dengan demokrasi ekonomi. Terdapat 12 (dua belas) Peraturan Perundang-undangan yang diterbitkan. Padahal.ekonomirakyat. Penghapusan penjelasan Pasal 33. Artikel–Th. Berkaitan dengan penghapusan Penjelasan UUD 1945. yang kemudian mengundurkan diri karena ada perbedaan pandangan dengan anggota tim pakar ekonomi lainnya. dan (v) Peraturan Menteri Dalam Negeri. (2) (3) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Kehutanan. (ii) Peraturan Pemerintah.106 2. perekonomian yang berasaskan kekeluargaan (ekonomi Pancasila) tidak berarti sistem ekonomi “bukan pasar”. (iii) Keputusan Presiden.4–Juli 2003. amandemen Pasal 33 dengan menambahkan ayat (4) tentang “penyelenggaraan perekonomian nasional” yang dibedakan dari “penyusunan perekonomian” pada ayat (1) adalah sekedar mencari kompromi antara mereka yang ingin mempertahankan dan yang ingin menggusur asas kekeluargaan pada ayat (1). Argumentasinya mengenai Perubahan BAB IXV UUD 1945 secara lengkap dapat dilihat dalam:Mubyarto. 106 70 . (iv) Instruksi Presiden.

yaitu: a. pendekatan yang dipakai ialah dengan cara mengukur taraf sinkronisasi dan konsistensi Peraturan Perundang-undangan yang dimaksud dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 dengan mendalami karakteristiknya berdasarkan periodesasi diterbitkannya aturan hukum tersebut. (12) Keputusan Pesiden Nomor 55 Tahun 1993 Tentang Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum. (11) Keputusan Pesiden Nomor 53 Tahun 1989 Tentang Kawasan Industri. Kajian terhadap kedua belas peraturan perundang-undangan tersebut akan dibagi menjadi 3 (tiga) periodesasi. (10) Keputusan Pesiden Nomor 26 Tahun 1988 Tentang Badan Pertanahan Nasional.(6) Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1973 Tentang Acara Penetapan Ganti Kerugian Oleh Pengadilan Tinggi Sehubungan Dengan Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah dan Benda-Benda yang ada di Atasnya. (8) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 1975 Tentang Ketentuan-Ketentuan Mengenai Tata Cara Pembebasan Tanah. Untuk menjawab pertanyaan apakah terdapat konflik peraturan perundangundangan di bidang pertanahan pada era Pemerintahan Orde Baru dalam rangka menentukan keselarasannya dengan Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945. Periode Stabilitas Politik Demi Pertumbuhan Ekonomi (1967 – 1973) Produk hukum mengenai penguasaan tanah yang dikaji pada periode stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi adalah: 71 . (7) Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1973 Tentang Pelaksanaan Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah dan Benda-Benda yang ada di Atasnya. (9) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1976 Tentang Penggunaan Acara Pembebasan Tanah Untuk Kepentingan Pemerintah Bagi Pembebasan Tanah Oleh Pihak Swasta. yaitu: (1) (2) (3) Periode stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi Periode produktivitas dengan sistem modernisasi dan Periode deregulasi pertanahan.

bagaimanakah jika peraturanperaturan yang dimaksud di atas bertentangan dengan asas-asas yang tecantum dalam UUPA. (3) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan Pokok Pertambangan. (5) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1972 tentang Ketentuan Pokok Transmigrasi. apakah dapat disimpulkan bahwa peraturan perundangan-undangan tersebut tidak selaras dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 ? 72 . oleh karenanya disebut Undang-Undang Pokok Agraria. Asas ini merujuk kepada dua peraturan perundang-undangan yang secara hierarkis mempunyai kedudukan yang sama. yaitu yang satu merupakan pengaturan secara khusus dari yang lain. Beranjak dari hal ini. (4) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1970 tentang Penghapusan Pengadilan Landreform. maka yang dimuat hanyalah azas-azas serta soal-soal garis besarnya saja. peraturan-peraturan yang tersebut di atas materi muatannya merupakan pengaturan secara khusus dari UUPA. (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Kehutanan (UUPK). tetapi di dalam konsiderans mengingat masing-masing peraturan-peraturan ini tidak sama sekali mencantumkan UUPA. dan. Dengan demikian. pertanyaannya adalah. Mengingat akan sifatnya (UUPA) sebagai peraturan dasar bagi hukum agraria yang baru. Peraturan Perundang-Undangan yang dikaji pada bagian ini seluruhnya berkaitan erat dengan sumber-sumber agraria.(1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 Tentang Penanaman Modal Asing. artinya Peraturan Perundang-undangan yang berkaitan dengan agraria yang ditetapkan setelah lahirnya UUPA berlaku asas “lex specialis derogat legi generali”. akan tetapi ruang lingkup materi muatan antara kedua peraturan perundang-undangan itu tidak sama. Adapun pelaksanaannya akan diatur didalam berbagai undang-undang. peraturan-peraturan Pemerintah dan peraturan-perundangan lainnya. Oleh karena itu. untuk itulah materi muatan yang diaturnya tidak boleh bertentangan dengan asas-asas yang telah ditetapkan oleh UUPA. Padahal di dalam Penjelasan Umum UUPA telah ditetapkan bahwa UUPA merupakan dasar bagi penyusunan peraturan-peraturan lainnya yang berkaitan dengan dengan agraria.

jika disimak dari Konsiderans Berpendapat huruf d dari UUPA dinyatakan secara tegas bahwa UUPA merupakan pelaksanaan dari ketentuan dalam Pasal 33 Undang-undang Dasar dan Manifesto Politik Republik Indonesia. Jadi jelaslah bahwa semangat yang terkandung dalam Pasal 33 ayat (3) adalah sosialisme Indonesia (populisme) yang mementingkan dan memperjuangkan rakyat 73 . sistem sosialisme yang merupakan turunan dari asas kekeluargaan di atas merupakan antitesis dari sistem perekonomian kapitalistik. Kedua. baik modal asing maupun dalam negeri. dapat ditarik pengertian bahwa. Pertama. seluruh asas tersebut bermuara pada peningkatan kemakmuran rakyat. pertama-pertama harus dilihat apakah UUPA merupakan delegasi dari Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. hingga semua tanah diseluruh wilayah kedaulatan bangsa dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Jika dilihat dari muatannnya. jika peraturan-peraturan tersebut tidak di dasarkan pada asas-asas yang ada di dalam UUPA maka peraturan tersebut akan tidak selaras dengan UUPA yang otomatis juga tidak selaras dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Sedangkan jika kita merujuk pada karakteristik dari Pasal 33 ayat (3). yang mewajibkan Negara untuk mengatur pemilikan tanah dan memimpin penggunaannya. berkaitan dengan ayat (1) menekankan pada asas kollektivitas atau dasar kekeluargaan yang dimaksudkan bahwa corak perusahaan yang nantinya akan menguasai cabang-cabang produksi yang penting bagi negara yang sesuai adalah koperasi. Namun. artinya peraturan-peraturan yang berkaitan dengan agraria yang ditetapkan setelah lahirnya UUPA harus sejalan dengan asas-asas yang tercantum dalam UUPA. Sangat berpihak pada sistem ekonomi kapitalis (akumulasi modal). kedua belas aturan hukum tersebut berkarakter: (1) (2) Sangat eksploitatif terhadap sumber daya alam. baik secara perseorangan maupun secara gotong-royong. Kemudian Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 di adopsi oleh Pasal 2 ayat (1) UUPA. Ketiga. Bagaimanakah karakteristik dari kedua belas aturan hukum tersebut. hukum menjadi alat yang ampuh bagi pelaksanaan ideologi dan program negara (Positivis Instrumentalis) yang dalam hal ini diposisikan sebagai alat peningkatan pendapatan dan devisa negara demi tercapainya pertumbuhan ekonomi. (3) Konservatif/Ortodoks.Untuk menjawab pertanyaan di atas.

dan. Pasal 18. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 1975 tentang Ketentuan-Ketentuan Mengenai Tata Cara Pembebasan Tanah. yang mana seluruh ormas petani diikut sertakan untuk mengontrol program tersebut. Undang-undang ini merupakan peraturan pelaksana dari Pasal 18 UUPA107 sebagaimana yang rumusan dari Konsiderans Menimbang huruf a peraturan tersebut: 197 “bahwa perlu diadakan peraturan baru mengenai pencabutan hak-hak atas tanah dan benda-benda yang ada diatasnya sebagai yang dimaksud dalam pasal 18 Undang-undang Pokok Agraria (Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960. Politik populis berarti menonjolkan prinsip-prinsip partisipasi atau mengikutsertakan kekuatan-kekuatan politik yang ada di masyarakat dalam melaksanakan program-program agraria. 2. Hal ini terlihat jelas pada saat pemerintahan Orde Lama melaksanakan program landreform (1960-1965). Periode Produktivitas dengan Sistem Modernisasi (1973 – 1984) Pada periode ini Peraturan Perundangan-undangan yang dikaji ada empat. 3. 107 74 . 4. misalnya harus disertai pemberian ganti-kerugian yang layak”. terutama dalam rangka melaksanakan usaha-usaha pembangunan Negara”. tetapi diikat dengan syarat-syarat. UUPA: “Pasal ini merupakan jaminan bagi rakyat mengenai hak-haknya atas tanah. Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1973 tentang Pelaksanaan Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah dan Benda-Benda yang ada di Atasnya. Seluruh Peraturan Perundang-undangan di atas berkaitan erat pada UndangUndang Nomor 20 tahun 1961 tentang Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah dan BendaBenda yang ada di Atasnya. b. Pencabutan hak dimungkinkan. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1973 tentang Acara Penetapan Ganti Kerugian Oleh Pengadilan Tinggi Sehubungan Dengan Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah dan Benda-Benda yang ada di Atasnya. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1976 tentang Penggunaan Acara Pembebasan Tanah Untuk Kepentingan Pemerintah Bagi Pembebasan Tanah oleh Pihak Swasta. yaitu: 1. Dengan demikian dapat disimpulkan Peraturan Perundang-undangan yang dikaji pada periode ini tidak selaras dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Lembaran-Negara Tahun 1966 Nomor 104).kecil yang lemah.

Artinya prosedur pencabutan hak itu telah pula diatur dalam peraturan ini. pemerintah Orde Baru menganggap undang-undang pencabutan hak atas tanah dirasakan bertele-tele—tidak efisien. karena terlihat hanya sekedar ingin melegalisasi perbuatannya agar kelihatan konstitusional dan tidak melanggar hukum. 39 tahun 1973 yang kemudian diatur lebih lanjut dengan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1973.Rumusan Pasal 18 UUPA dan materi muatan UU No. atau tidak secara sepihak ditetapkan oleh pemerintah. Mereka menilai Permendagri No. Pasal 5 dan 6 UU No. Artinya proses pelepasan hak atas tanah untuk kepentingan umum. hanya dapat dilakukan melalui pencabutan hak berdasarkan ketentuan yang dituangkan ke dalam undang-undang. dan tidak menguntungkan pihak “pencabut” hak yang ingin menguasai tanah dengan cepat dan murah. memuat prinsip.108 Hal ini sejalan dengan semangat pemerintah pada periode tahun Kontroversi masalah ini telah diangkat oleh kalangan pakar hukum. Berkaitan dengan alasan-alasan inilah. Jika disimak dari penjelasan Pasal 6 UU No. Oleh karena itulah dibuat deregulasi dalam hal pencabutan hak atas tanah. yang pada intinya mereduksi prosedur pencabutan hak atas tanah untuk kepentingan pembangunan pada saat itu. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 1975 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1976. 20 Tahun 1961 dibuatkan peraturan pelaksananya lewat PP No. 20 Tahun 1961. 20 tahun 1961. secara tegas dinyatakan bahwa “Pasal ini memuat ketentuan mengenai acara pencabutan hak yang khusus sebagai yang telah diuraikan di dalam Penjelasan Umum…”. tercium itikad yang kurang baik dalam pembentukan peraturan-peraturan pelaksana itu. memerlukan tanah untuk keperluan pembangunan. 15 tahun 1975 108 75 . Peraturan-peraturan yang lebih operasional ini sebenarnya hanya dimaksudkan untuk merekayasa atau melicinkan program-program pembangunan yang telah ditargetkan pemerintah. Argumentasi ini didasari pada prinsip bahwa peraturan yang sangat menyentuh kehidupan vital dimasyarakat (tanah) pembuatannya harus dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan DPR. Namun pada era pemerintahan Orde Baru. penguasa maupun pengusaha. maka cara untuk memperoleh tanah yang diperlukan harus ditempuh musyawarah dengan pemegang hak atas tanah hingga tercapai kata mufakat yang benar-benar keluar dari maksud baik antara kedua belah pihak. apabila pihak lain. ketika diadakan Seminar Nasional di Ambon tahun 1977 oleh BPHN. Menurut Ali Sofwan Husein.

sebagaimana argumentasi Hannah Arendt yang dikutip Philippe Nonet. dengan ciri pemerintah sangat dominan dalam pembentukkan hukum dan menentukan arah perkembangan hukum masyarakat. terutama terhadap rakyat miskin di pedesaan maupun di perkotaan. 38-40. Semangat inilah yang mendorong pemerintah mengeluarkan peraturan pelaksana (yang dilepaskan kaitannya) dari UU No. “In general. 20 tahun 1961 tentang Pencabutan Hak Atas Tanah dalam upaya memfasilitasi proyek-proyek pembangunan yang akan dilaksanakannya. Konservatif/Ortodoks. Pada periode orde baru tingkat refresifitas hukum diperlihatkan secara mencolok. 1997. sehingga membuat kekuasaan semakin efektif. Konflik Pertanahan (Dimensi Keadilan dan Kepentingan Ekonomi). Secara umum potensi represif dimunculkan ketika tugas yang mendesak harus dihadapi dengan kondisi adanya kekuasaan yang cukup namun kekurangan sumber daya. Dalam: Ali Sofwan Husein. Dampak yang sangat terasa dari karakter hukum yang refresif ialah “ketidak adilan yang tegas” atau keberadaan hukum tidak menjamin keadilan. hlm. Tetapi adakalanya represi diterapkan dengan sangat halus dan dilakukan secara tidak langsung. apalagi keadilan substantif.1973-1983 yaitu memacu produktivitas di pedesaan dengan proyek-proyek pembangunan yang dipicu dengan meningkatnya penerimaan negara dari sektor migas (oil boom). 3. Berdasarkan uraian di atas dapat ditemukan karakteristik Peraturan Perundangundangan pada periode ini adalah sebagai berikut: 1. 76 . Pragmatis dan sangat akomodatif terhadap kekuatan modal (capitalism). misalnya penggunaan kekerasan dengan melibatkan aparat keamanan (tentara) dalam melakukan pembebasan tanah. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. a repressive potential is generated when urgent task must be met under sebagai peraturan yang cacat yuridis dan menyalahi jenjang hierarkis peraturan perundang-undangan sebagaimana yang diatur oleh TAP MPR. terutama kekuatan modal asing lewat negara donor maupun lembagalembaga keuangan Internasional. 2. misalnya dengan mendorong dan mengorganisir persetujuan pasif dalam rangka musyawarah penetapan ganti rugi dalam hal pencabutan hak atas tanah. Karena tatanan hukum refresif sangat terikat pada status quo dengan otoritas yang sangat kuat kepada penguasa. Represif.

apabila dicermati secara apriori orang awam pun akan menuding pada masalah besaran ganti kerugian yang tidak disepakati. 134-155. 15 tahun 1975: “bahwa untuk memenuhi kebutuhan akan tanah dalam usaha-usaha Pembangunan…dirasakan perlu adanya ketentuan mengenai pembebasan tanah dan sekaligus menentukan besarnya ganti rugi atas tanah yang diperlukan secara teratur. Hagerstown. tertib dan seragam”. Permendagri No. Sebagaimana yang dinyatakan di dalam penjelasan maupun konsideransnya. maka tidak mengherankan jika pada periode ini (1974-1983) atau katakanlah selama 32 tahun masa pemerintahan orde baru bermunculan sengketa tanah disetiap proses pembebasannya. 39 tahun 1973: “tujuan utama dari acara ini adalah untuk mendapatkan putusan secara cepat. Sedangkan dari tinjauan yang lebih mendalam akan bermuara pada Hannah Arendt. Konsiderans Menimang huruf b Permendagri No. untuk pembangunan proyek-proyek yang bersifat menunjang kepentingan umum…”. Penjelasan Umum PP No. Philippe Nonet & Philip Selznick. karena semua pihak berkepentingan terhadap putusan yang cepat tersebut”. 1972). peran pemerintah lebih mengutamakan kepentingan investor demi mensukseskan program pembangunannya. New York.36. 109 77 . Argumentasi ini menjadi sejalan dengan alasan ditetapkannya peraturan perundang-undangan di atas. 1978. London. 2 tahun 1976: “bahwa untuk merangsang pihak swasta dalam pelaksanaan pembangunan dipandang perlu adanya bantuan fasilitas dari Pemerintah yang berbentuk jasa-jasa dalam pembebasan tanah rakyat dalam rangka penyediaan tanah. b. San Fransisco. 1972. hal ini makin diperparah dengan peranan pemerintah (daerah) sebagai negosiator dan penyedia tanah murah bagi investor. Law and Society in Transition-Toward Responsive Law. “On Violence” in Crisis of Republic (New York: Harcourt Brace Jovanovich. hlm. sebagai berikut: a. Harper & Row. Konsiderans Menimbang huruf a. Harper Colophon Books. Dan hampir disetiap konflik tanah yang ada.conditions of adequate power but scarce resources”109. antara rakyat dengan pemerintah atau rakyat dengan investor yang diwakili oleh pemerintah. hlm. Berdasarkan paparan di atas. Sengketa-sengketa yang timbul ini. c.

hlm.110 Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan bahwa produk hukum yang berkaitan dengan penguasaan tanah pada era pemerintahan orde baru periode tahun 1974–1983 cenderung berkarakter represif dan bersifat positivis-instrumentalis. Jakarta. banyak mendapat pelajaran dari akibat yang ditimbulkan kebijakan-kebijakan yang telah dikeluarkannya. 5 tahun 1960). Sifat dan karakter represif produk hukum pada periode ini merupakan konsekuensi logis dari paradigma “modernisasi/pembangunanisme” (ekonomi) yang dianut pemerintah orde baru. 110 78 . Artinya hukum hanya menjadi alat (instrumen) untuk memaksakan program-program pemerintah. Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum. dan menentukan arah perkembangan hukum dimasyarakat. Kebijakan-kebijakan pada periode ini sebenarnya lebih kepada upaya-upaya menanggulangi dan meminimalisasi dampak. Lembaga Pemberdayaan Hukum Indonesia.Hutagalung. Keputusan Pesiden Nomor 26 Tahun 1988 tentang Badan Pertanahan Nasional. Karena pemerintahan Orde Baru pada masa ini. 2005. c. yang mana justru sangat melindungi keberadaan petani kecil dan petani tak bertanah dari penghisapan yang sangat potensial dilakukan oleh kelompok berekonomi kuat (investor).kondisi dimana warganegara/rakyat dihadapkan pada pilihan menerima ganti kerugian (diganti tapi rugi) yang ditetapkan oleh penguasa. merebaknya konflik pertanahan yang memicu aksi-aksi protes petani pada tahun 1980-an hingga tahun 1990-an dan menjadi salah satu issu politik nasional yang paling menonjol pada saat itu. nyata-nyata telah bertentangan dengan semangat dan makna yang terkandung di dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 junto UndangUndang Pokok Agraria (UU No. 3. Periode Derugulasi Pertanahan (1984 – 1990-an) Pada periode ini Peraturan Perundangan-undangan yang dikaji ada tiga. Arie S. 174. Kesimpulan di atas membawa impliksi bahwa produk hukum mengenai penguasaan tanah pada periode ini. yaitu: 1. Tebaran Pemikiran Seputar Masalah Hukum Tanah. 2. Keputusan Pesiden Nomor 53 Tahun 1989 tentang Kawasan Industri. dari kebijakan masa sebelumnya. Misalnya. dan.

26 Tahun 1988 tentang Badan Pertanahan Nasional. 111 79 . pemerintah tetap ingin mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Mula-mula dikeluarkan kebijakan untuk meningkatkan kedudukan dan fungsi Derektorat Jenderal Agraria Departemen Dalam Negeri menjadi Badan Pertanahan Nasional lewat Keppres No. Pada sisi lain. 15 Tahun 1975 tentang Ketentuan-Ketentuan Mengenai Tata Cara Pembebasan Tanah. kebijakan-kebijakan mengenai penguasaan tanah pada periode ini tujuannya semata-mata untuk mempermudah perusahaanperusahaan swasta asing (PMA) maupun dalam negeri (PMDN) untuk mendapatkan hak atas tanah. Upaya untuk meningkatkan penanaman modal ini tentunya harus disertai dengan deregulasi beberapa paket kebijakan untuk melancarkan jalan pihak swasta dalam menanamkan modalnya. 2 Tahun 1976 tentang Pengunaan Acara Pembebasan Tanah Untuk Kepentingan Pemerintah Bagi Pembebasan Tanah oleh Pihak Swasta. Pembiayaan pembangunan pada sektor agro-industri ini ternyata tidak mampu ditopang oleh RAPBN pada masa itu (1986/1987) karena turunnya harga minyak di pasaran Internasional. Untuk menjawab permasalahan tersebut pemerintah mengeluarkan Keppres No. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum. Kaitannya dengan bidang agro-industri adalah masalah pengadaan tanah harus menjadi prioritas utama. terjadi juga pergeseran fokus pembangunan ke sektor agro-industri khususnya ekspor non migas. 53 Tahun 1989 tentang Kawasan Industri.Munculnya konflik-konflik pertanahan pada periode ini. Pada perkembangan selanjutnya penyediaan kawasan industri ini menemui hambatanhambatan terutama mengenai penyediaan lahan sebagai kawasan industri. Adapun karateristik atau watak dari ketiga Permendagri No. dan Permendagri No. Selain itu peraturan-peraturan yang ada mengenai pembebasan hak atas tanah111 memunculkan reaksi dari berbagai pihak sehingga dapat menghambat proses pembangunan. Oleh karena itu. selain disebabkan karena meningkatnya pertumbuhan penduduk. Setelah itu. maka salah satu jalannya adalah mendorong pihak swasta untuk menanamkan modalnya disektor agro-industri. untuk merangsang investasi dalam kaitannya dengan pembiayaan pembangunan. Permendagri No. 2 Tahun 1985 tentang Tata Cara Pengadaaan Tanah untuk Keperluan Proyek Pembangunan di Wilayah Kecamatan. Ketiga keputusan presiden di atas mewakili kebijakan mengenai penguasaan tanah pada periode tahun 1984-1990-an. pemerintah perlu menyediakan kawasan industri dengan berbagai kemudahannya lewat Keppres No.

Kasus-kasus pertanahan semata-mata hanya dianggap sebagai persoalan administratif belaka. Misalnya. rumusan mengenai kepentingan umum tetap menjadi issu krusial. yaitu: Pertama. bersifat defensifreaktif. dikutip oleh Maria S.. Kedua. yaitu: Pertama. Menurut Michail G. 55 tahun 1993. baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun untuk ekspor.. bahwa dengan meningkatnya kebutuhan. artinya peraturan yang dikeluarkan bersifat reaksioner terhadap berbagai sengketa agraria yang muncul. Dalam Konsiderans Menimbang Keppres No. 53 Tahun 1989 disebutkan: ”bahwa dalam rangka mempercepat pertumbuhan industri. kemudian dalam Pasal 2 disebutkan tujuan dari pembangunan kawasan industri.meningkat pula permasalahan yang timbul di bidang pertanahan. (c) mendorong kegiatan industri untuk berlokasi di Kawasan Industri. Anatomi Keppres 55 Tahun 1993 112 80 .. Land Acquisition In Developing Countries. Lincoln Institute of Land Policy.112 Michael G Kitay. dan sesuai dengan sifatnya sebagai pedoman. dipetakan menjadi dua karakter. yang secara umum menyebutkan bahwa pengadaan tanah harus berdasarkan kepentingan umum. Karateristik tersebut terlihat jelas dari rumusan-rumusan di dalam konsiderans maupun materi muatannya. maka hal ini mudah menyebabkan kebebasan eksekutif untuk menyatakan suatu proyek memenuhi kepentingan umum dimasyarakat dengan menafsirkan pedoman tersebut. pada periode ini sifat pragmatis dan sangat akomodatif terhadap kepentingan modal tetap bertahan. pedoman umum.dirasakan makin meningkat.W. dan (c) menyediakan fasilitas lokasi industri yang berwawasan lingkungan. penguasaan. Boston. penguasaan. adanya kebutuhan. Istilah kepentingan umum yang dipakai dapat bervariasi. Sumardjono. dalam bukunya ”Land Acquisition in Developing Countries”. Kitay. dan penggunaan tanah. sebagaimana periode sebelumnya. Kedua. dipandang perlu untuk mengatur pengusahaan kawasan industri secara produktif dan efisien. dan penggunaan tanah. Sedangkan di dalam Keppres No. pada umumnya terdapat dua cara untuk mengungkapkan tentang doktrin kepentingan umum itu. (b) memberikan kemudahan bagi kegiatan industri.aturan hukum ini. penyebutan kepentingan umum dalam suatu daftar kegiatan yang secara jelas mengidentifikasikan tujuannya (list provitions).. 26 Tahun 1988 disebutkan: ”bahwa dalam pelaksanaan pembangunan nasional. yaitu: (a) mempercepat pertumbuhan industri. di dalam Konsiderans Menimbang Keppres No.

(g) Pasar Umum atau Pasar INPRES. semua Peraturan Perundang-undangan yang dikeluarkan mengenai penguasaan tanah pada periode ini ditujukan untuk mempermudah perolehan tanah dalam hal penanaman modal demi mengejar pertumbuhan ekonomi. 105. (b) Waduk. (f) Pendidikan atau sekolahan. Selanjutnya batasan ini disertai dengan penyebutan kepentingan umum dalam suatu daftar kegiatan (list provision). (n) Fasilitas Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. 3. 55 tahun 1993. 81 . TentangPengadaan Tanah. yang dibagi dalam dua periodesasi. Yogyakarta. dan (2) Periode resentralisasi kewenangan pertanahan. Forum LSM-LPSM DIY. (e) Peribadatan.113 Tetapi rumusan norma ini menjadi kabur dengan dirumuskannya Pasal 5 ayat (2) yang menyatakan bahwa kegiatan pembangunan untuk kepentingan umum selain yang dimaksud dalam daftar kegiatan sebagaimana diatur pada ayat (1) dapat ditetapkan dengan Keputusan Presiden. (j) Pos dan Telekomunikasi. dan Pasal 5 ayat (1) Keppres No. hlm. 1995. Tanah. Dengan demikian. Hal ini tidak selaras dengan semangat yang terkandung dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menolak faham liberalisme mutlak. 113 Daftar kegiatan kepentingan umum tersebut adalah: (a) Jalan umum. (k) Sarana Olah Raga. Produk Aturan Hukum Pertanahan Era Reformasi (1998–2006) Peraturan Perundang-undangan yang dikaji pada era Reformasi berjumlah 6 peraturan. sedangkan pembangunan untuk kepentingan umum di dibatasi pada: (i) kegiatan pembangunan yang dilakukan dan (ii) selanjutnya dimiliki Pemerintah serta (iii) tidak digunakan untuk mencari keuntungan. (l) Stasiun penyiaran radio. (d) Pelabuhan atau bandar udara atau terminal. saluran pembuangan air. (m) Kantor Pemerintah. Lihat Pasal 1 angka 3. lahar lain-lain bencana. yaitu: (1) Periode desentralisasi kewenangan pertanahan. (c) Rumah Sakit Umum dan Pusat-pusat Kesehatan Masyarakat. (h) Fasilitas pemakaman umum. bendungan dan bangunan pengairan lainnya termasuk saluran irigasi. Keputusan Pesiden Nomor 48 Tahun 1999 tentang Tim Pengkajian Kebijaksanaan Peraturan Perundang-undangan dalam Rangka Pelaksanaan Landreform.Pada Pasal 1 angka 3 kepentingan umum didefinisikan sebagai kepentingan seluruh lapisan masyarakat. televisi beserta sarana pendukungnya. Adapun Peraturan Perundang-Undangan yang dikaji adalah sebagai berikut: 1. tetapi juga tidak menginginkan totaliterisme. Rakyat dan Dmokrasi. (i) Fasilitas Keselamatan Umum seperti antara lain tanggul penanggulangan bahaya banjir. Dalam Untoro Hariadi & Masruchah (editor).

2. namun analisisnya akan ditulis dalam satu kerangka. 5. Satu tahun setelah Reformasi Mei 1998. Peraturan Perundang-undangan mengenai penguasaan tanah pada era Reformasi dibagi atas dua periodesasi yaitu periode tahun 1998–2003 dan periode tahun 2004–2006. mengingat issu yang muncul pada era pemerintahan reformasi masih dalam satu issu pokok yaitu apakah desentralisasi atau sentralisasi di bidang pertanahan selaras dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. 3. 3. dan. Keputusan Pesiden Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan. tepatnya tanggal 7 Mei 1999 ditetapkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang menganut asas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Keputusan Pesiden Nomor 48 Tahun 1999 tentang Tim Pengkajian Kebijaksanaan Peraturan Perundang-Undangan dalam Rangka Pelaksanaan Landreform. Perubahan dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan ini 82 . 6. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2006 tentang Badan Pertanahan Nasional. Periode Desentralisasi Kewenangan Pertanahan (1998 – 2003) Pada periode ini Peraturan Perundang-undangan yang dikaji adalah. Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Aturan hukum ini sangat berbeda dengan aturan hukum sebelumnya tentang pemerintahan daerah. a. 2. Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2001 tentang Pelaksanaan Otonomi Daerah dibidang Pertanahan. Keputusan Pesiden Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan. dengan memberikan kesempatan kepada daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah. 4. 1. Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2001 tentang Pelaksanaan Otonomi Daerah di Bidang Pertanahan.

membawa implikasi pada perubahan pranata dan struktur pemerintahan daerah. pendidikan dan kebudayaan. Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota mencakup semua kewenangan pemerintahan selain kewenangan yang dikecualikan dalam Pasal 7 dan yang diatur dalam Pasal 9. Melakukan pengkajian terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pertanahan. Keppres ini di dasari pada kondisi Peraturan Perundang-undangan di bidang pertanahan yang berlaku belum sepenuhnya sejalan dengan UUPA dan belum mendukung terciptanya penguasaan dan pemanfaatan tanah yang sesuai dengan nilai-nilai kerakyatan dan norma-norma yang berkeadilan sosial. Melakukan pengkajian dan penelaahan terhadap pelaksanaan kebijaksanaan dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan landreform. yang salah satunya adalah perubahan-perubahan kewenangan di bidang pertanahan. b. 22 Tahun 1999. penanaman modal. Secara tersirat Keppres tersebut di atas menginginkan dilaksanakannya landreform dengan terlebih dahulu melakukan sinkronisasi seluruh peraturan perundang-undangan bidang pertanahan dengan UUPA. Tim ini selanjutnya disebut Tim Landreform dengan tugas-tugasnya sebagaimana yang dirumuskan dalam Pasal 3 Keppres tersebut. Menyusun dan merumuskan kebijaksanaan dan rancangan peraturan perundang-undangan yang diperlukan untuk terlaksananya Landreform. sebagai berikut: a. perhubungan. lingkungan hidup. kesehatan. yakni: a. Bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota meliputi pekerjaan umum. koperasi. pemerintah mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 48 Tahun 1999 yang mengamanatkan pembentukan Tim Pengkajian Kebijaksanaan dan Peraturan Perundang-undangan dalam Rangka Pelaksanaan Landreform. b. pertanahan. pertanian. Hal ini merupakan konsekuensi dari rumusan Pasal 11 UU No. industri dan perdagangan. Dalam rangka merespon perubahan-perubahan yang menjadi tuntuan reformasi di bidang pertanahan. dan tenaga kerja. sekaligus merumuskan 83 . c.

154 adalah mengembalikan pimpinan Badan Pertanahan kepada Menteri Dalam Negeri.kebijaksanaan dan rancangan peraturan yang diperlukan untuk melaksanakan landreform. 22 tahun 1999 yang menyatakan bahwa: “Dengan diberlakukannya undang-undang ini. Pasal I Beberapa ketentuan dalam Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1988 tentang Badan Pertanahan Nasional diubah sebagai berikut: Ketentuan Pasal 1 diubah. Menteri Dalam Negeri selaku Kepala Badan Pertanahan segera mengambil langkah-langkah penyesuaian tugas dan fungsi Badan Pertanahan Nasional dalam kaitannya dengan pelaksanaan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. pada dasarnya seluruh kewenangan sudah berada pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. yang menetapkan kewenangan di bidang pertanahan ada pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. yang dijabat oleh Menteri Dalam Negeri." Pasal II Dengan berlakunya Keputusan Presiden ini. Oleh karena itu. sehingga Pasal 1 seluruhnya berbunyi sebagai berikut: (1) Badan Pertanahan Nasional dalam Keputusan Presiden ini selanjutnya disebut Badan Pertanahan adalah Lembaga Pemerintah Non-departemen yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Maka dari itulah materi muatan pasal perubahan dari Keppres No. (3) Dalam melaksanakan tugasnya. Kepala dibantu oleh seorang Wakil Kepala. apalagi jika merujuk pada penjelasan Pasal 11 ayat (1) UU No. Pada level kelembagaan penyesuaian dilakukan dengan merubah Keppres No. 154 Tahun 1999 tentang Perubahan Keppres No. (2) Badan Pertanahan dipimpin oleh seorang Kepala. tetapi dilakukan melalui pengakuan oleh Pemerintah”. 22 tahun 1999. Selanjutnya penjelasan ayat (2) menegaskan pula bahwa: “…untuk menghindarkan terjadinya kekosongan penyelenggaraan 84 . penyerahan kewenangan tidak perlu dilakukan secara aktif. Perubahan ini berkaitan dengan Pasal 11 UU No. seperti yang dirumuskan dalam Pasal I dan Pasal II. 26 Tahun 1988 tentang BPN dengan Keppres No. penyerahan dan peralihan kewenangan di bidang pertanahan dari pemerintah kepada daerah Kabupaten/Kota sudah dapat dilaksanakan. Seharusnya berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang telah diuraikan di atas. 26 Tahun 1988.

114 Persoalan lain muncul ketika pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom yang secara tidak langsung justru mengaburkan pelaksanaan otonomi daerah khususnya kewenangan di bidang pertanahan yang menjadi tidak jelas oleh rumusan Pasal 2 ayat (3) angka 14 PP No. Arti dari kata-kata “melalui pengakuan oleh pemerintah” menurut hemat penulis merupakan syarat terjadinya peralihan kewenangan. dan wujud pengakuan tersebut berkaitan erat dengan norma hukum pada Pasal 8 ayat (1) yang menyatakan bahwa: “Kewenangan Pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah dalam rangka desentralisasi harus disertai dengan penyerahan dan pengalihan pembiayaan. Penetapan persyaratan pemberian hak atas tanah Penetapan persyaratan landreform Penetapan standar administrasi pertanahan Penetapan pedoman biaya pelayanan pertanahan Penetapan Kerangka Dasar Kadastral Nasional dan pelaksanaan pengukuran Kerangka Dasar Kadastral Orde I dan II 114 . 2006. Jakarta. dengan kantor wilayah ditiap Propinsi dan ditingkat Kabupaten/Kota. Daerah Kabupaten dan Daerah Kota wajib melaksanakan kewenangan dalam Bidang pemerintahan tertentu menurut pasal ini. jadi tidak adanya pengakuan berarti tidak adanya penyerahan atau peralihan kewenangan. sesuai dengan kondisi Daerah masing-masing…”. XXXVI–XXXVIII. Artinya kewenangan di bidang pertanahan masih tetap ada pada pemerintah.pelayanan dasar kepada masyarakat. sarana dan prasarana. pengakuan dalam bentuk pengalihan pembiayaan. Fakta tersebut mengandung kenyataan bahwa penyerahan kewenangan di bidang pertanahan kepada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak ada pengakuan dari pemerintah. yang dilaksanakan oleh BPN baik dipusat maupun di daerah. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia tidak pernah dilaksanakan oleh Kepala BPN. 85 . serta sumber daya manusia sesuai dengan kewenangan yang diserahkan tersebut”. Pasal 2 ayat (3) angka 14 PP No. 4. 5. 25 Tahun 2000. Pada kenyataannya. Hukum Agraria Indonesia-Himpunan Peraturan-Peraturan Hukum Tanah. Hal ini semakin rancu dengan munculnya pembentukan Dinas Agraria/Pertanahan ditingkat Kabupaten/Kota. 3. Lihat dalam: Boedi Harsono. 2.25 Tahun 2000 yang mengatur tentang kewenangan pemerintah pusat dibidang pertanahan. meliputi: 1. sarana dan prasarana. serta sumber daya manusia sesuai dengan kewenangan yang diserahkan. Djambatan. Dengan demikian. hlm. penyerahan dan peralihan kewenangan pemerintah kepada daerah melalui pengakuan yang dilakksanakan dalam bentuk penyerahan dan pengalihan pembiayaan.

25 Tahun 2000 tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2001 tentang Pelaksanaan Otonomi Daerah dibidang Pertanahan. selambat-lambatnya 2 (dua) tahun”. Kesimpulannya. 22 Tahun 1999. Keputusan. Keppres ini sebenarnya diposisikan sebagai jawaban pemerintah atas sikap pesimistik yang ditunjukkan beberapa kalangan dalam kaitannya dengan desentralisasi kewenangan di bidang pertanahan.22/99. Tidak konsistennya pemerintah dalam upaya penyerahan kewenangan pertanahan kepada daerah semakin jelas dengan diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 62 Tahun 2001. pelaksanaan otonomi daerah di bidang pertanahan. Keppres ini hanya terdiri dari dua pasal yaitu Pasal 1 dan 2. Instruksi. 115 Pasal I "Pasal 109 Ayat (6). 22 Tahun 1999 mengenai penyerahan kewenangan di bidang pertanahan kepada Daerah Kabupaten/Kota belum terlaksana terlaksana namun telah keluar peraturan perundang-undangan baru yang muatannya bertentangan dengan semangat otonomi daerah di bidang pertanahan yang diamanatkan oleh UU No. berlaku Peraturan. adapun materi inti dari Keppres ini dirumuskan pada Pasal 1 sebagai berikut: Sebelum ditetapkan peraturan yang baru berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom.115 Dengan demikian sampai pada titik ini terjadi ambivalensi kebijakan mengenai kewenangan bidang pertanahan yang berpangkal tolak pada UU No. dan Surat Edaran Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional yang telah ada. yang mana salah satu ketentuannya menyatakan bahwa: ”Sebagian tugas pemerintahan yang dilaksanakan oleh BPN di daerah tetap dilaksanakan oleh Pemerintah sampai dengan ditetapkannya seluruh peraturan perundang-undangan di bidang pertanahan. terutama tuntutan-tuntutan penyelesaian sengketa pertanahan. Hal ini diakibatkan karena masih adanya tarik ulur kewenangan pertanahan (inconsistence). yang mengakibatkan instabilitas pelayanan di bidang pertanahan. apa yang ditetapkan dalam UU No. Karena proses otonomi daerah yang telah berjalan dua tahun dan telah melahirkan landasan hukum yang penting bagi penyelenggaraan otonomi di bidang pertanahan ternyata belum mampu memenuhi tuntutan masyarakat.PP No. 86 .

c. penyelesaian sengketa tanah garapan. maka terkesan bahwa lahirnya Keppres No. pemberian ijin membuka tanah. bahwa karateristik Peraturan Perundang-undangan pada periode tahun 1998–2003 bersifat pragmatis-reaktif. 62 Tahun 2001. dan i. pemerintah dalam hal ini BPN telah gagal menyusun seluruh Peraturan Perundang-undangan di bidang pertanahan dalam rangka desentralisasi di bidang pertanahan. Seharusnya pekerjaan rumah ini sudah dapat diselesaikan oleh pemerintah dalam kurun waktu dua tahun (2001-2003). penetapan subyek dan obyek redistribusi tanah. yaitu mengamanatkan kepada BPN untuk melakukan langkah-langkah percepatan dalam hal penyusunan Rancangan Undang-Undang Penyempurnaan UUPA dan Rancangan Undang-Undang tentang Hak Atas Tanah serta Peraturan Perundang-undangan lainnya di bidang pertanahan dan pelaksanaan paling lambat tanggal 1 Agustus 2004 (Pasal 1 dan 4 Keppres No. 62 Tahun 2001. g. 34 Tahun 2003 merupakan jawaban dari pelaksanaan penyerahan kewenangan bidang pertanahan kepada daerah. d. perencanaan penggunaan tanah wilayah Kabupaten/Kota. hal ini dapat disimak dari Pasal 2 ayat (1) dan (2) Kepres No. penetapan dan penyelesaian masalah tanah ulayat. sebagaimana yang telah ditentukan dalam Pasal I jo ”Pasal 109 ayat (6) Keppres No. Meskipun demikian. 34 Tahun 2003: (1) Sebagian kewenangan Pemerintah di bidang pertanahan dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten /Kota. (2) Kewenangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah: a. Berdasarkan uraian di atas. penyelesaian masalah ganti kerugian dan santunan tanah untuk pembangunan. Artinya 87 . Artinya. dan parsial. b. serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee. dipecahkan dengan kemunculan Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 2003 Tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan. Keppres No. pemanfaatan dan penyelesaian masalah tanah kosong. penyelenggaraan pengadaan tanah untuk kepentingan pembangunan. f. 34 tahun 2003). Keppres ini merupakan pelaksanaan dari TAP MPR Nomor IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam. h. pemberian ijin lokasi. 34 Tahun 2003 tetap menyisakan pekerjaan rumah. Jika kita hubungkan dengan ketentuan Pasal I jo “Pasal 109 ayat (6) Keppres No.Kebekuan terhadap aturan hukum mengenai penyerahan kewenangan pertanahan. e.

32 Tahun 2004. Peraturan Perundang-undangan yang dikaji adalah: 1. Kajian Peraturan Perundang-undangan pada periode ini meliputi dua issu pokok yang dominan pada saat itu.peraturan-peraturan yang dikeluarkan tidak didasarkan pada suatu format tertentu yang secara integral berkesinambungan dan sistematis. Jika ditelusuri 88 . bahkan Komisi II DPR dalam rapat dengar pendapat dengan Sekretaris Kabinet meminta pemerintah mencabut ketentuan tersebut. Dampak dari karakter hukum sebagaimana diuraikan di atas. 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum yang mendapat sorotan tajam dan ditolak dari berbagai kalangan melalui aksi unjuk rasa hampir diseluruh kota di Indoensia. sehingga terkesan pembentukannya sarat dengan kepentingan jangka pendek. 3. berkaitan dengan perubahan UU No. 36 Tahun 2005 merupakan peraturan pengganti dari Keputusan Presiden (Keppres) No. Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2006 tentang Badan Pertanahan Nasional. melahirkan tatanan hukum yang disharmoni atau tidak ada kesinkronan diantara produk hukum yang dihasilkan. Dalam bidang pertanahan hal ini menjadi faktor yang menghambat proses penyelesaian sengketa pertanahan karena prosedurnya dan kewenangannya menjadi tidak jelas. yaitu. Pertama. mengenai ditetapkannya Peraturan Presiden No. mengenai ditetapkannya Peraturan Presiden No. 65 Tahun 2005. b. Peraturan Presiden (Perpres) No. Peraturan ini kemudian dirubah dengan Peraturan Presiden No. Periode Resentralisasi Kewenangan Pertanahan (2004 – 2006) Pada periodesasi Resentralisme Kewenangan Pertanahan (2004 – 2006). Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. 10 Tahun 2006 tentang BPN yang aromanya sangat kental sekali ingin mengembalikan kewenangan bidang pertanahan secara sentralisme. Kedua. 22 Tahun 1999 ke UU No. 2. Hal tersebut mencerminkan tidak adanya konsistensi (ambivalence) pemerintah. 55 Tahun 1993.

116 Hal ini dapat dibaca pada Pasal 2 ayat (1) Keppres tersebut :”. 55/1993 sebagaimana yang dinyatakan dalam pertimbangan Perpres No. Namun. Apalagi disinyalir keluarnya Perpres ini adalah sebagai komitmen pemerintah untuk memfasilitasi hasil infrastructure summit (Januari 2005). 55/1993 terlalu lunak. ”Perpres No.. pemerintah mengundang investor luar negeri untuk mencari sumber pembiayaan yang dapat menutupi kebutuhan dana pembangunan infrastruktur di Indonesia. Beberapa kalangan menganggap bahwa. Dilihat dari semangatnya Perpres No. bahwa Keppres No.secara vertikal Perpres No. adalah karena Keppres No. Fajrimei A Gofar. Pada pertemuan tersebut. 36 Tahun 2005 merupakan turunan dari UU No. oleh karena itu Keppres tersebut perlu diganti dengan peraturan yang lebih represif.. maka dari itu pengadaan akan tanah perlu dilakukan secara cepat dan transparan. 36 Tahun 2005 dinyatakan bahwa. 55 Tahun 1993 yang tujuannya semata-mata untuk mempermudah dan melancarkan para investor dalam mendapatkan hak atas tanah. 36 Tahun 2005-pen) didasarkan pada realitas meningkatnya pembangunan untuk kepentingan umum yang berjalan pararel dengan kebutuhan akan tanah. Pengadaan tanah adalah setiap kegiatan untuk mendapatkan tanah dengan cara memberikan ganti rugi kepada yang melepaskan atau menyerahkan tanah. Harian Kompas. 36 Tahun 2005 sebenarnya hanya merupakan kelanjutan dari Keppres No. serta tidak jelas batasannya. Hal ini diprediksi akan menjadi hambatan dalam pelaksanaan pembangunan kedepan. yaitu. 36/2005. 36 Tahun 2005 Melegalkan Penggusuran Paksa?”. 55 Tahun 1993 sudah tidak sesuai lagi sebagai landasan hukum dalam rangka melaksanakan pembangunan untuk kepentingan umum. Pada Konsiderans Perpres No. batasan pengadaan tanah yang di atur dalam Perpres sangat luas sekali. alias kurang represif ditengah kondisi masyarakat yang mulai kritis akan hak-haknya. Juga dinyatakan. 20 Tahun 1961 tentang Pecabutan Hak-Hak atas Tanah dan Benda-Benda yang ada di atasnya yang merupakan peraturan pelaksana dari Pasal 18 UUPA. tanggal 25 Juni 2005.semata-mata hanya digunakan untuk pemenuhan kebutuhan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum”. penetapannya (Perpres No. alasan penggantian Keppres No. Hal ini dapat dibaca pada Pasal 1 angka 3 Perpres. 116 89 .

sedemikian pula kepentingan pembangunan. yaitu: ”pengadan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum oleh pemerintah dilaksanakan dengan cara pelepasan atau penyerahan hak atas tanah”. ini dapat diartikan bahwa pelaksanaan pengadaan tanah dengan cara pencabutan hak atas tanah merupakan pilihan terakhir dan dalam kondisi yang sangat terpaksa. Lihat: Pasal 2 ayat (2) Keppres No. Tata cara pengadaan tanah diatur dalam Pasal 2 ayat (1) Perpres. tanaman. Selain itu. Perpres lebih menonjolkan semangat represif. dirumuskan sebagai berikut: “”Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dilaksanakan dengan cara: a. hal ini dapat telihat dari penempatan ketentuan tersebut pada pasal awal (Pasal 2). tetapi juga untuk hal lain yang dianggap pemerintah sebagai kepentingan umum. dengan rumusan sebagai berikut: Untuk kepentingan umum. Menteri Kehakiman dan Menteri yang bersangkutan dapat mencabut hak-hak atas tanah dan benda-benda yang ada diatasnya.117 Dalam hal ini. die ment 117 118 Lihat: Pasal 3 ayat (2) dan Pasal 18 Perpres No. dan . 90 .118 Walaupun kemudian Keppres juga mengadopsi cara pencabutan hak atas tanah yang dirumuskan pada Pasal 21. sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Opzoomer (Nederland) di tahun 1873:”Er is geen kunst. 55 Tahun 1993. Sedangkan Keppres menempatkan ketentuan tersebut dipasal akhir (Pasal 21).bangunan. Makna kata ”pengadaan tanah adalah setiap kegiatan untuk mendapatkan tanah” dapat ditasirkan pengadaan tanah tidak semata-mata untuk pembangunan. Khusus mengenai tata cara pencabutan hak atas tanah (Pasal 2 ayat (1) huruf b) dilakukan berdasarkan UU No. Inilah yang disebut dengan seni membuat peraturan. pencabutan hak atas tanah.benda-benda yang berkaitan dengan tanah atau dengan pencabutan hak atas tanah”. watak represif dari Perpres ini juga dapat dilihat dari cara merumuskan ketentuan yang mengatur tata cara pengadaan tanah. b. rumusan di dalam Keppres sedikit lebih lunak. sesuai dengan peraturan induknya yaitu UU No. atau. maka Presiden dalam keadaan yang memaksa setelah mendengar Menteri Agraria. 20 Tahun 1961 yang merumuskan syarat pencabutan hak atas tanah pada Pasal 1. 20 tahun 1961. 36 Tahun 2005. pelepasan atau penyerahan hak atas tanah. termasuk kepentingan Bangsa dan Negara serta kepentingan bersama dari rakyat. Tetapi menurut hemat penulis ada semangat yang berbeda dilihat dari strategi (seni) perumusannya.

maka panitia pengadaan tanah akan menetapkan besaran ganti rugi dan dititipkan kepada pengadilan negeri sementara pelepasan atau pencabutan hak akan tanah akan terus berlangsung. Teknik Membuat Undang-Undang. Pradnya Paramita. 1988. Jakarta. sebagaimana yang diinginkan oleh praktek. hanya menyebutkan pembangunan untuk kepentingan umum yang dilaksanakan oleh pemerintah. Op. Disamping harus mengetahui secara mendalam masalah yang akan diatur (soal pengetahuan). Penitipan ganti kerugian di pengadilan sebelum adanya kesepakatan 119 Irawan Soejito. tetapi juga membuka peluang bagi perkembangan dimasa yang akan datang. 121 120 91 . Sedangkan Perpres 36/2005 pada Pasal 5. Artinya bisa saja pembangunan yang dimaksud selanjutnya tidak dimiliki oleh pemerintah (swasta) dan digunakan untuk mencari keuntungan. 13.119 Selanjutnya jika diperhatikan benar-benar apa yang diuraikan di atas ini.bij ons minder veerstaat dan den kunst van wetgeving” (di negara kita tidak ada suatu kesenian yang kurang kita pahami selain seni membuat undang-undang). akan tetapi ada pula soal seninya. masalah ganti rugi yang diselesaikan melalui musyawarah yang dibatasi waktunya paling lama 90 hari jelas akan berbenturan dengan rasa keadilan yang ada dimasyarakat. Karena jika lewat dari jangka waktu ini. hlm. tidak disebutkan apakah bangunan yang dibangun tersebut untuk selanjutnya akan dimiliki oleh pemerintah atau tidak.121 Keppres 55/1993 membatasi arti kegiatan pembangunan untuk kepentingan umum yang boleh dilakukan adalah yang selanjutnya dimiliki oleh pemerintah serta tidak digunakan untuk mencari keuntungan. maka merancang undang-undang itu tidak hanya merupakan soal pengetahuan saja. sedangkan Perpres mengidentifikasi 21 (dua puuh satu) kegiatan. Keppres menyebutkan 14 (empat belas) kegiatan.122 Selain itu.. sehingga peraturan itu tidak hanya cukup memberi kepastian.cit. Ibid. 122 Fajrimei A Gofar. 17. serta digunakan untuk mencari keuntungan. 55 Tahun 1993 dan Pasal 5 Perpres No. hlm. 36 Tahun 20065. Rumusan Kepentingan Umum dalam Keppres maupun Perpres disertai dengan penyebutan kepentingan umum dalam suatu daftar kegiatan yang secara jelas mengidentifikasikan tujuannya (list provitions). kecakapan menguraikan bagian-bagian yang essensiil adalah soal seni meng-ikhtisarkan (samenvatten).120 Materi lainnya yang menjadi issu krusial dalam Perpres ini adalah masalah rumusan kepentingan umum. Untuk lebih jelasnya dapat dibandingkan dengan melihat Pasal 5 Keppres No.

dibuat terkesan agak lunak atau terlihat tidak se-represif dari sebelumnya.124 Selain itu. 123 124 Pasal 10 Perpres No. dan sebagian besar memandang Perpres 65/2006 secara substansi tetap berpihak pada kepentingan modal (capital). Secara umum perubahan-perubahan pada Perpres 65/2006 sebatas pada tampilannya saja (appearance). proses musyawarah dengan kondisi di atas menjadi bias dan cenderung manipulatif. Jika dalam waktu yang telah ditentukan tersebut tidak tercapai kesepakatan. Sebagai contoh. artinya peserta musyawarah tetap didominasi oleh pihak yang menginginkan tanah. secara kualitas proses musyawarahnya sendiri tetap tidak seimbang. Perubahan pasal ini hanya menambahkan unsur Badan Pertanahan Nasional ke dalam panitia pengadaan tanah. dikarenakan lemahnya posisi tawar rakyat (pemegang hak atas tanah) yang tanahnya terkena proyek pengadaan tanah untuk pembangunan terhadap keinginan pemerintah.125 Prakteknya. Perubahan-perubahan Perpres 36/2005 yang dituangkan ke dalam Perpres 65/2006 mencakup 11 (sebelas) poin dengan dua pasal penambahan yaitu Pasal 7A dan Pasal 18A. Pasal 10 ayat (1) dan ayat (2) Perpres No. Namun. Perubahan-perubahan di maksud langsung mendapat respon dari berbagai pihak. khususnya bidang infrastruktur. perubahan pada ”Pasal 1 angka 3 yang sebenarnya hanya mengembalikan ketentuan yang diatur sebelumnya dalam Keppres 55/1993. 36 Tahun 2005. 92 . 65 Tahun 2006. (ii) pihak yang menginginkan tanah (pemerintah) dan (iii) mediator yaitu panitia pengadaan tanah yang terdiri dari perangkat daerah terkait dan unsur Badan Pertanahan Nasional (Pemerintah). yaitu: (i) pemegang hak atas tanah. Perpres Nomor 36 Tahun 2005 diubah dengan Perpres Nomor 65 Tahun 2006. setelah ditolak dari berbagai kalangan melalui aksi unjuk rasa hampir diseluruh kota di Indonesia. 36 Tahun 2006. maka panitia pengadaan tanah tetap dapat langsung menetapkan besarnya ganti rugi dan menitipkan ganti rugi uang kepada pengadilan negeri yang wilayah hukumnya lokasi tanah yang bersangkutan.123 Pada perkembangan selanjutnya. 125 Pasal 6 ayat (5) Perpres No.kedua belah pihak nyata-nyata merupakan bentuk pemaksaan oleh pemerintah terhadap warganegaranya. seperti pembatasan waktu musyawarah hanya diubah kuantitasnya dari 90 (sembilan puluh) hari menjadi 120 (seratus dua puluh) hari. pasal-pasal yang bermasalah masih tetap dipertahankan. walaupun pasal yang mengatur tentang panitia pengadaan tanah telah diubah.

”. Pasal tersebut mengindikasikan bahwa daerah tidak mempunyai kewenangan lagi atas bidang pertanahan. 32 Tahun 2004. Berdasarkan ketentuan Pasal 2 Perpres tersebut: ”Badan Pertanahan Nasional mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pertanahan secara nasional. 34 Tahun 2003. 129 Pasal 11 ayat (2) UU No. Pasal 13 ayat (1) UU No.126 Pada periode 2004–2006 muncul permasalahan. tanpa disertai dengan kata pelayanan.pertanahan. Inkonsistensi ini relatif dapat dicairkan dengan ditetapkannya Keputusan Presiden Nomor 34 tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan pada bulan Mei 2003. 22 Tahun 1999. bahwa bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota meliputi: ”. regional maupun sektoral.. merujuk pada UU No. 32 Tahun 2004. 22 tahun 1999 menyatakan. peraturan perundang-undangan mengenai penguasaan tanah pada periode tahun 2004–2006 berkarakter represif. Sebagaimana yang telah diuraikan. kewenangan yang menjadi urusan wajib Pemerintahan Propinsi dalam skala Propinsi meliputi: ”k. 93 . 32 Tahun 2004 128 Pasal 14 ayat (1) UU No. 32 Tahun 2004.Pembahasan mengenai Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2006 tentang Badan Pertanahan Nasional. 22 Tahun 1999. bahwa periode tahun 1998– 2003 telah terjadi inkonsistensi terhadap aturan hukum yang mengatur desentralisasi kewenangan di bidang pertahanan sebagaimana yang diamanatkan oleh UU No. yang memberikan sembilan kewenangan pemerintah di bidang pertanahan yang dapat dilaksanakan oleh pemerintah Kabupaten/Kota. karena semua tugas yang berhubungan dengan bidang pertanahan diatur dari pusat lewat Badan Pertanahan Nasional secara nasional. 32 Tahun 2004. Dalam UU No. 22 Tahun 1999 dan UU No.128 Sedangkan UU No.127 kewenangan yang menjadi urusan wajib Pemerintahan Kabupaten/Kota yang berskala Kabupaten/Kota meliputi: ”k. pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/kota”.. yaitu ditetapkannya Perpres No. Terdapat perbedaan dalam pengaturan penyerahan kewenangan di bidang pertanahan kepada pemerintah daerah berdasarkan UU No. regional dan sektoral”. Dari sisi lain. 22 Tahun 1999 ke UU No. 10 Tahun 2006 yang mengembalikan kewenangan di bidang pertanahan sepenuhnya menjadi urusan pemerintahan pusat (resentralisme)..129 Ketentuan 126 127 Pasal 2 ayat (2) Keppres No. Uraian selanjutnya berkaitan erat dengan peralihan UU No. pelayanan pertanahan”. 32 Tahun 2004.

lebih luas jika dibandingkan dengan UU No. sebenarnya UU No. Dari segi lingkup kewenangan. Kewenangan yang wajib dilaksanakan oleh Kabupaten dan Kota tidak dapat dialihkan ke Propinsi. dipandang sebagai suatu perubahan yang besar dalam pelaksanaan hukum tanah nasional dan menjadi bagian dari urusan pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota. 32 Tahun 2004. 22 Tahun 1999 dalam hal penyerahan kewenangan di bidang pertanahan kepada pemerintah daerah (Pemerintah Kabupaten/ Kota). UU No. Daerah Kabupaten dan Daerah Kota wajib melaksanakan kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu menurut pasal ini. Meskipun demikian.” Pemberian otonomi di bidang pertanahan kepada Kabupaten dan Kota berdasarkan UU No. 94 . 22 Tahun 1999 tersebut masih bersifat kedaerahan. untuk menghindarkan terjadinya kekosongan penyelenggaraan pelayanan dasar kepada masyarakat.ini diberikan penjelasan bahwa: ”Tanpa mengurangi arti dan pentingnya prakarsa Daerah dalam penyelenggaraan otonominya. 32 Tahun 2004 telah mereduksi kewenangan bidang pertanahan menjadi sebatas pelayanan pertanahan. 22 Tahun 1999. perubahan yang diusung oleh UU No. sesuai dengan kondisi Daerah masingmasing. Sebaliknya. tidak bersifat nasional secara utuh.

95 . yaitu: 1. 23/1992. Aturan Hukum Sektor Kesehatan Aturan pokok bidang kesehatan saat ini adalah Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (LNRI Tahun 1992 Nomor 100). mengenai tindakan medis tertentu yang boleh dilakukan dalam keadaan darurat sebagai upaya menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya. 2. Asas dan tujuan yang menjadi landasan dan memberi arah pembangunan kesehatan yang dilaksanakan melalui upaya kesehatan untuk meningkatkan kesadaran. membina. Hak dan kewajiban setiap orang untuk memperoleh derajat kesehatan yang optimal serta wajib untuk ikut serta di dalam memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan. Ketentuan pidana untuk melindungi pemberi dan penerima jasa pelayanan kesehatan bila terjadi pelanggaran terhadap Undang-Undang ini. UU No. Pasal 15. Upaya kesehatan dilaksanakan secara menyeluruh. dengan pengertian bahwa sarana pelayanan kesehatan harus tetap memperhatikan golongan masyarakat yang kurang mampu dan tidak semata-mata mencari keuntungan. dan pemulihan kesehatan. dan kemampuan hidup sehat bagi orang. mengenai persyaratan penyelenggaraan kehamilan di luar cara alami sebagai upaya terakhir untuk membantu suami istri mendapat keturunan. 4. Berdasarkan Penjelasan Umum. Tugas dan tanggung jawab Pemerintah pada dasarnya adalah mengatur. selanjutnya disingkat UU No. Sumber daya kesehatan sebagai pendukung penyelenggaran upaya kesehatan.BAB IV ANALISIS ATURAN HUKUM SEKTOR KESEHATAN A. 23/1992 hanya mengatur hal-hal yang bersifat pokok. sedangkan yang bersifat teknis operasional diatur dalam Peraturan Pemerintah dan peraturan pelaksanaan lainnya. 2. Sejumlah pasal memerlukan Aturan pelaksanaan dengan Peraturan Pemerintah. dan berkesinambungan melalui pendekatan peningkatan kesehatan. terpadu. UU kesehatan ini menyempurnakan dan mengintegrasikan perangkat hukum yang sudah ada. 3. mulai berlaku pada 17 September 1992. Pasal 16. kemauan. penyembuhan penyakit. 5. harus tetap melaksanakan fungsi dan tanggung jawab sosialnya. dan mengawasai penyelenggaraan upaya kesehatan serta menggerakkan peran serta masyarakat. sehingga terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal tanpa membedakan status sosialnya. 6. pencegahan penyakit. yang pengaturan hukumnya mencakup: 1.

dan kualifikasi tenaga kesehatan yang bertugas menyelenggarakan atau melakukan kegiatan kesehatan sesuai 96 . 14. mengenai kesehatan matra sebagai bentuk khusus upaya kesehatan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal dalam lingkungan matra yang selalu berubah. sehingga peserta didik dapat belajar. Pasal 35. Pasal 27. mengenai syarat dan tata cara penyelenggaraan transplantasi organ atau jaringan tubuh oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan di sarana kesehatan tertentu. mengenai syarat dan tata cara penyelenggaran implan obat atau alat kesehatan ke dalam tubuh manusia oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan di sarana kesehatan tertentu. Pasal 45. dan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat dan aktif berperan serta dalam upaya kesehatan. masyarakat. jenis. mengenai kesehatan olah raga untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan melalui kegiatan olah raga. Pasal 36. 7. tumbuh. Pasal 23. 9. 18. 6. 8. Pasal 37. 10.3. mengenai pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan untuk melindungi masyarakat dari bahaya yang disebabkan oleh penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan mutu dan atau keamanan dan atau kemanfaatan. mengenai penyelenggaraan kesehatan lingkungan untuk mewujudkan kualitas hidup yang sehat. Pasal 43. mengenai penyelenggaraan kesehatan kerja untuk mewujudkan produktivitas kerja yang optimal. mengenai pengobatan tradisional sebagai upaya pengobatan dan atau perawatan cara lain di luar ilmu kedokteran dan atau ilmu keperawatan. Pasal 44. mengenai pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif agar tidak mengganggu dan membahayakan kesehatan perorangan. Pasal 21. kemauan. 11. Pasal 50. Pasal 47. mengenai syarat dan tata cara transfusi darah oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan di sarana kesehatan tertentu. Pasal 46. mengenai kategori. mengenai kesehatan sekolah untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat. mengenai kesehatan jiwa dan upaya penanggulangannya untuk mewujudkan jiwa yang sehat secara optimal. kesadaran. dan berkembang secara optimal menjadi sumber daya manusia yang lebih berkualitas. mengenai pengamanan makanan dan minuman untuk melindungi masyarakat dari manakan dan minuman yang tidak memenuhi ketentuan mengenai standar dan atau persyaratan kesehatan. dan lingkungannya. Pasal 38. mengenai syarat dan tata cara bedah plastik dan rekonstruksi oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan di sarana kesehatan tertentu. 17. 12. keluarga. baik intelektual maupun emosional. Pasal 34. Pasal 48. 15. 13. 16. 5. Pasal 22. 4. mengenai penyuluhan kesehatan masyarakat guna meningkatkan pengetahuan.

Pasal 52. mengenai kewenangan Pemerintah dalam pembinaan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan upaya kesehatan. Pasal 71. Pasal 72.19. 23/1992 juga merujuk pengaturan di bidang kesehatan kepada aturan hukum positif lainnya. 29. yaitu: 97 . tugas. fungsi. mengenai pembentukan. 24. Pasal 59. Selain Peraturan Pemerintah. berasaskan usaha bersama dan kekeluargaan. mengenai pelaksanaan penelitian dan pengembangan yang dilakukan dengan bedah mayat untuk penyelidikan sebab penyakit dan atau sebab kematian serta pendidikan tenaga kesehatan. tugas pokok. mengenai standar profesi tenaga kesehatan dan hak-hak pasien sebagai bentuk perlindungan hukum tenaga kesehatan dan pasien. pengembangan. Pasal 53. fungsi. mengenai perbekalan kesehatan yang dilakukan agar dapat terpenuhinya kebutuhan sediaan farmasi dan alat kesehatan serta perbekalan lainnya terjangkau oleh masyarakat. mengenai syarat dan tata cara memperoleh izin penyelenggaraan sarana kesehatan. Pasal 55. Pasal 70. Pasal 66. dan penerapan hasil penelitian yang harus dilakukan dengan memperhatikan kesehatan dan keselamatan serta norma yang berlaku dalam masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. 27. mengenai penelitian. mengenai pembentukan. dengan bidang keahlian dan atau kewenangan tenaga kesehatan yang bersangkutan. Pasal 69. Selanjutnya. baik yang dilakukan oleh Pemerintah maupun swasta. produksi. UU No. 23/1992 juga memerintahkan pengaturan di bidang kesehatan lebih lanjut dalam bentuk Keputusan Presiden. 21. 23. Pasal 58. mengenai penempatan tenaga kesehatan dalam rangka pemerataan pelayanan kesehatan. 2. dan tata kerja Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan yang berwenang menentukan ada tidaknya kesalahan atau kelalaian tenaga kesehatan dalam melaksanakan profesinya. Pasal 64. mengenai sarana kesehatan tertentu yang diselenggarakan oleh masyarakat yang harus berbentuk badan hukum. mengenai penyelenggaraan jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat yang dilaksanakan secara praupaya. distribusi. 20. Pasal 78. yaitu: 1. dan tata kerja Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional. 28. UU No. 22. mengenai kewenangan Pemerintah melakukan pengawasan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan upaya kesehatan. Pasal 75. dan pelayanan sediaan farmasi yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu. mengenai syarat dan tata cara peran serta masyarakat di bidang kesehatan. 26. 30. Pasal 63. 25. mengenai pelaksanaan pekerjaan kefarmasian dalam pengadaan.

3. penghilangan sumber dan perantara penyakit. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. 4. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. 6. antara lain: Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 1.. Berdasarkan hasil inventarisasi. yaitu: “Setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan”. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. mengenai ganti rugi kepada setiap orang akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. ditemukan aturan hukum positif di bidang kesehatan. yang kemudian terbukti tidak memenuhi persyaratan mutu dan atau keamanan dan atau kemanfaatan. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Undang-Undang. 4. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1960 tentang Lafal Sumpah Dokter Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1966 tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran. perlu mengacu kepada Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (selanjutnya disingkat UU No.. Peraturan Pemerintah.”. penyelidikan. tindakan karantina. Pasal 34 ayat (3).. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Pasal 51. dan upaya lain yang diperlukan. mengenai penyitaan dan pemusnahan sediaan farmasi dan alat kesehatan yang telah memperoleh izin edar. 98 . yaitu: “Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas kesehatan untuk setiap orang yang berhak memperoleh pelayanan kesehatan tersebut”. Pasal 31. 3. yaitu: ”.. Pasal 28 H ayat (1). pengebalan.. Dalam melakukan inventarisasi terhadap aturan hukum positif di bidang kesehatan. 2.. 10/2004). 7.. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan. 2. Pasal 55. 5. mencerdaskan kehidupan bangsa. 3. Pasal 41. 3. meliputi: 1. mengenai penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan yang dilaksanakan oleh Pemerintah dan atau masyarakat. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. 2.keadilan sosial.melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. meliputi: 1. Pembukaan alinea keempat.1. mengenai pemberantasan penyakit menular dengan upaya penyuluhan.

6. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 772/ MENKES/SK/VI/2002 tentang Pedoman Peraturan Internal Rumah Sakit (Hospital Bylaw). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1333/ Menkes/SK/XII/1999 tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 983/ MenKes/SK/XI/1992 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit Umum. 7. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1173/ MENKES/PER/X/2004 tentang Rumah Sakit Gigi dan Mulut. 2. dan Pemerintah Kabupaten/Kota. 5. 8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/ MENKES/PER/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 595/ MenKes/SK/VII/1993 tentang Standar Pelayanan Kesehatan. meliputi: 1. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. Pemerintah Provinsi. 8. 9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 378/ MENKES/PER/V/1993 tentang Pelaksanaan Fungsi Sosial Rumah Sakit Swasta. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 585/ Men. 3. 6. 5. 6. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 004/ MENKES/SK/I/2003 tentang Kebijakan dan Strategi Desentralisasi Bidang Kesehatan. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 920/ MENKES/PER/XII/1986 tentang Upaya Pelayanan Kesehatan Swasta di Bidang Medik. 3. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 756/ MENKES/SK/VI/2004 tentang Tim Persiapan Liberalisasi Perdagangan Jasa di Bidang Kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 131/ Menkes/SK/II/2004 tentang Sistem Kesehatan Nasional. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269/ MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam Medis. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 282/ MENKES/SK/III/1993 tentang Pola Tarif Rumah Sakit Swasta.4. 7. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 84/ MenKes/II/Per/1990 tentang Legalisasi Keberadaan Rumah Sakit Swasta Pemodal. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 512/ MENKES/PER/IV/2007 tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Kedokteran. meliputi: 1. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 806b/ MenKes/SK/XII/1987 tentang Klasifikasi Rumah Sakit Umum Swasta. 4. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 159b/ MENKES/PER/II/1988 tentang Rumah Sakit. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan. Keputusan Menteri. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 363/ MENKES/PER/IV/1993 tentang Pengujian dan Kalibrasi Alat-alat Kesehatan. 9.Kes/Per/IX/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medis. 5. 10. 99 . Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. 4. Peraturan Menteri.

kewenangan-kewenangan pusat telah ditentukan secara jelas terlebih dahulu. Berdasarkan hukumk positif. 17. desentralisasi menunjuk pada distribusi kekuasaan secara teritorial (spatial). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 332/ Men.Kes/SK/VIII/2005 tentang Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan di Puskesmas. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 125/ Menkes/SK/II/2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Masyarakat Tahun 2008. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1202/ Men. 12.10. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 631/ MENKES/IV/2005 tentang Pengorganisasian Staf Medis dan Komite Medis. 16. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1197/ MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. 14. Konflik Aturan Hukum Sektor Kesehatan Secara leksikografi.Kes/SK/V/2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin. 13. 18. 15. Pada sisi hukum positif. 32/2004 menggunakan sistem residu ketika menentukan apa saja yang menjadi kewenangan daerah. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 069/ Menkes/SK/II/2006 tentang Pencantuman Harga Eceran Tertinggi pada Label Obat. 32/2004 memaknai desentralisasi kesehatan sebagai penyerahan kewenangan pemerintahan oleh Pemerintah (Pusat) kepada daerah otonom dalam rangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan sistem residu. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 496/ MENKES/SK/IV/2006 tentang Pedoman Audit Medis di Rumah Sakit. pelaksanaannya dapat dilakukan dengan penyerahan kewenangan dan/atau urusan kepada Pemerintah Daerah yang lebih rendah tingkatannya. Kewenangan yang didelegasikan tersebut sangat luas. yang umumnya menjadi fokus dalam suatu negara kesatuan. Pasal 1 UU No. NKRI telah ”memilih” untuk menyerahkan sebagian kewenangannya kepada daerah otonom. sebab UU No. 100 . 11. Oleh karena itu. desentralisasi adalah pembalikan dari konsekuensi administrasi pada satu pusat sekaligus ”pemberian” kekuasaan kepada daerah. B. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 720/ MENKES/SK/IX/2006 tentang Harga Obat Generik. Rujukan Rawat Jalan dan Rawat Inap Kelas III di Rumah Sakit yang Dijamin Pemerintah. Konsekuensi hukum desentralisasi. sedangkan sisanya merupakan kewenangan daerah otonom. Oleh sebab itu. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1165A/ MENKES/SK/X/2004 tentang Komisi Akreditasi Rumah Sakit.

Ketika suara suatu industri yang terletak di salah satu daerah mengeluarkan limbah yang mempengaruhi kondisi kesehatan di daerah-daerah lain. di sisi lain pemberian kewenangan yang didasarkan pada teritori ini telah mengakibatkan ”pengkotakkotakan” wilayah yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Namun.130 Selain konflik dalam pengendalian dampak polusi industri lintas batas daerah sebagaimana ditengarai di atas. seorang staf di dinas kesehatan kota mengeluh karena puskesmas meminta otonomi. maupun limbah. Staf dinas kesehatan Kota S tersebut dengan nada pesimistis menyatakan bahwa apa jadinya dinas kesehatan kota apabila puskesmas menjadi otonom? Apa tugas dinas kesehatan kota di masa depan? Andi Sandi dan Vivi Lignawati. sehingga perlu dilakukan secara komprehensif dan lintas batas wilayah. sebagai berikut: Kasus 1: Di Kota S. Disampaikan dalam Seminar Desentralisasi Kesehatan di Indonesia: Apa yang Sudah Dicapai dan Apa yang Belum? Apakah lebih baik Resentralisasi? Tanggal 17-19 Maret 2004 di Fakultas Kedokteran. suara. Akibatnya. 130 101 . pelaksanaannya cenderung parsial dan hanya dilakukan pada teritori yang menjadi wilayah kerja pemerintah daerah yang bersangkutan. Hal ini pada satu sisi menguntungkan pemerintah daerah sebab dengan menggunakan kewenangannya.kewenangan di bidang kesehatan telah dijadikan kewenangan pemerintah daerah otonom karena kewenangan itu tidak ditentukan sebgai kewenangan pemerintah pusat. baik air. Satu contoh yang menunjukkan borderless-nya kewenangan di bidang kesehatan adalah masalah polusi. pemerintah daerah dapat mengatur bidang kesehatan sesuai aspirasi dan kemampuan yang dimilikinnya. Dalam kenyataan memang sudah terjadi adanya pemberian dana langsung dari pemerintah kota ke puskesma tanpa melalui dinas kesehatan kota. ternyata juga terjadi konflik dalam pengawasan rumah sakit di daerah sebagaimana diungkapkan oleh Laksono Trisnantono merujuk hasil penelitian mengenai reformasi sistem kesehatan yang dilakukan oleh Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan FK-UGM. pihak pemerintah daerah yang terkena dampak tidak mempunyai kewenangan untuk menindak industri tersebut karena industri tersebut berkedudukan di luar yurisdiksinya. Padahal pelaksanaan pelayanan dibidang kesehatan tidak mengenal batas wilayah (borderless). “Desentralisasi dan Perkembangan Peraturan Perundangundangan di Bidang Kesehatan: Sebuah Evaluasi Normatif”. Makalah. Universitas Gajah Mada.

Sepertinya direject. sebagai berikut: ”Setelah kami menjadi Lembaga Teknis Daerah. Kasus 3: Dalam suatu pertemuan antar direktur rumah sakit swasta di Kota M. Proyek-proyek pengembangan kelembagaan tidak pernah masuk ke rumah sakit. Hal ini dapat dilihat pada kenyataan bahwa sudah 4 bulan ini seksi pelayanan di dinas kesehatan kosong karena pejabat lama. 2005. Kami tidak kebagian. ada pertanyaan menggelitik mengenai fungsi dinas kesehatan kota dan propinsi. kami jalan sendiri-sendiri. dijelaskan ada beberapa hambatan pelaksanaan desentralisasi kesehatan di Indonesia. ditemukan kepala dinas kesehatan dan direktur rumah sakit daerah dalam rangka berdiskusi mengenai perkembangan rumah sakit sebagai Lembaga Teknis Daerah. Akan tetapi harapan ini terlihat sulit dipenuhi. Rumah sakit seperti tempat pembuangan sampah tenaga kerja manusia. 131 102 . Yogyakarta. jangan sampai konflik. Aspek Strategis dalam Manajemen Rumah Sakit. Kepala Dinas mengacuhkan kami. Unit Desentralisasi Departemen Kesehatan RI. Jadi. hlm. dan meningkatkan mutu pelayanan. memberi subsidi. Ya kami sama-sama tahu diri. dan World Health Organization. ANDI. pada 2005. 176. Tetap menjaga perasaan masing-masing”. seorang perawat senior. Sebenarnya apa fungsi mereka? Pada intinya direktur rumah sakit swasta berharap bahwa dinas kesehatan dapat membantu mereka dalam pengembangan sumber daya manusia. Seksi rumah sakit di Dinas sulit memeriksa rumah sakit dan kaim tidak tahu memeriksanya dengan dasar apa?” Adapun kutipan pernyataan dari Direktur rumah sakit daerah Kabupaten X tentang perkembangan rumah sakit sebagai Lembaga Teknis Daerah. Berikut ini kutipan pernyataan dari kepala dinas kesehatan Kabupaten X tentang perkembangan rumah sakit sebagai Lembaga Teknis Daerah: ”Setelah rumah sakit menjadi Lembaga Teknis Daerah. di Makassar. kami sulit masuk ke rumah sakit. Salah satu tandanya adalah perhatian dinas kesehatan terhadap rumah sakit tidaklah besar. yaitu: Laksono Trisnantoro. pensiun dan belum ada orang yang siap menggantikan”131. Selain itu. Universitas Gajah Mada. berdasarkan laporan hasil Seminar Nasional Desentralisasi Kesehatan di Indonesia” yang diselenggarakan oleh Universitas Hasanuddin. Peralatan radiologi Puskesmas saat ini malah lebih canggih dibanding rumah sakit karena ada dana dari pusat.Kasus 2: Dalam suatu kegiatan penelitian ke Kabupaten X.

32/2004 sampai dengan tahun 2007 desentralisasi kesehatan masih mendasarkan pada PP No. Pada tingkat nasional. 32/2004 dan UU No.q.1. hlm. 8/2003 yang pembentukannya masih mengacu kepada UU No. 132 Memperhatikan adanya kasus-kasus sebagaimana diungkapkan oleh Laksono Trisnantoro dan adanya hambatan-hambatan pelaksanaan desentralisasi kesehatan di Indonesia sebagaimana dijelaskan oleh laporan hasil ”Seminar Nasional Desentralisasi Kesehatan di Indonesia” di atas. 3. maka dapat disimpulkan bahwa ada banyak konflik yang terjadi di dinas kesehatan dan rumah sakit di daerah yang perlu segera diatasi agar pelaksanaan desentralisasi di bidang kesehatan dapat terwujud sesuai arahan normatif UU No. terhitung sejak pembentukan UU No. dan WHO.q. 25/2000 dan PP No. Ada problem serius dalam kemampuan dan keterlambatan DEPKES dan DINKES untuk menyusun peraturan yang mendukung desentralisasi. ternyata Menkes Tim Perumus. 33/2004 hanyalah suatu konsep yang sangat ideal. Isu Hukum Aktual dalam Konflik Aturan Hukum Sektor Kesehatan Pelaksanaan desentralisasi di bidang kesehatan berdasarkan UU No. Memperhatikan PP yang menjabarkan desentralisasi. yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan ketatanegaraan dan otonomi daerah. 5-6. 32/2004 dan UU No. Unit Desentralisasi DEPKES RI. 4. Makassar. Idealnya. 2. Belum dilakukan pembagian urusan secara jelas dalam hubungan pemerintah pusat dan propinsi/kabupaten/kota. pascatahun 2007. Diselenggarakan oleh UNHAS. Departemen Kesehatan terlihat telah berupaya untuk mempertahankan watak sentralisasi dalam pelaksanaan desentralisasi di bidang kesehatan. “Perubahan Fungsi Pemerintah dalam Sektor Kesehatan di Berbagai Tingkat Setelah Penetapan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004”. UGM. 22/1999. Saat ini. C. konsep ini disebabkan tidak adanya kesiapan Pemerintah Pusat c. “Seminar Nasional 4 Tahun Desentralisasi Kesehatan di Indonesia”. 33/2004. Pemerintah Pusat c. Komitmen pemerintah pusat untuk mengembangkan peraturan dan standar yang mendukung desentralisasi terlihat lemah. dapat diuraikan bahwa dalam kurun waktu lebih dari 2 (dua) tahun. 132 103 . 7-8-9 Juni 2005. Laporan. Departemen Kesehatan maupun Pemerintah Daerah untuk melaksanakan ”hasil kesepakatan nasional” dalam pelaksanaan desentralisasi di bidang kesehatan. Kebijakan kesehatan di Indonesia cenderung menganggap semua daerah sama.

32/2004 jo. antara lain.belum juga menerapkan kebijakan dalam bentuk norma. karena Pasal 71 UU No. dan sertifikasi di bidang kesehatan yang diperintahkan oleh Pasal 1 UU No. prosedur. 2. Pasal 4 PERMENKES No.133 sehingga menjadi hambatan normatif bagi pemerintahan daerah Propinsi/Kabupaten/Kota dalam menyusun Perda dan Kepkada yang substansinya secara teknis (untuk Perda Propinsi) dan sangat teknis (untuk Perda Kota) menjabarkan fungsi dan wewenangnya di bidang kesehatan. Departemen Kesehatan mempertahankan watak sentralisasi dalam pelaksanaan desentralisasi di bidang kesehatan itu dilakukan melalui beberapa aturan kebijakan sebagai aturan pelaksana desentralisasi di bidang kesehatan yang secara tidak langsung mengurangi kewenangan Pemerintah Daerah. akreditasi. yang seharusnya sudah ditetapkan selambat-lambatnya dalam waktu 6 (enam) bulan sejak pembentukan PP No. Ketidakkonsistenan dan Keterlambatan Aturan Hukum dan Kebijakan Pengendalian Mutu dan Biaya Pelayanan Kesehatan Terdapat ketidakkonsistenan aturan kebijakan sebagai peraturan pelaksana pengendalian mutu dan biaya pelayanan kesehatan. 25/2000. Upaya Pemerintah Pusat c. 25/2000 tersebut. 1575/2005. standarisasi. standar. Ketidakjelasan dan Ketidakkonsistenan Aturan Hukum dan Kebijakan Pola Tarif Pelayanan Kesehatan Pasal 2 angka 3 Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 282/ MENKES/SK/III/1993 tentang Pola Tarif Rumah Sakit Swasta yang mengharuskan fungsi sosial dalam bentuk pemberian keringanan/pembebasan biaya pelayanan rumah sakit diatur oleh direktur rumah sakit swasta sampai saat ini ketentuan atau pedomannya ternyata belum ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 496/ MENKES/SK/IV/2006 tentang Pedoman Audit Medis di Rumah Sakit tidak memuat sanksi hukum yang tegas terhadap rumah sakit yang tidak mengendalikan mutu dan biaya pelayanan Keharusan bagi PEMPUS untuk menetapkan kebijakan pengawasan dalam bentuk NSPK perizinan. 38/2007 jo.q. yaitu: 1. dan kriteria perizinan. standarisasi. Pasal 2 ayat (4) huruf b dan Pasal 11 PP No. yaitu Pasal 9 ayat (2) PP No. 133 104 . 29/2004 jo. akreditasi dan sertifikasi pelayanan kesehatan RSS-BHPT sebenarnya sudah diperintahkan oleh PP yang lama.

tetapi praktiknya tidak pernah direalisasikan. dalam 105 . ternyata mengandung kelemahan normatif jo. Keterlambatan Aturan Hukum dan Kebijakan Fungsi Sosial Pelayanan Kesehatan Bentuk-bentuk fungsi sosial pelayanan kesehatan rumah sakit swasta yang dijabarkan dalam Pasal 4 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 378/ MENKES/PER/V/1993 tentang Pelaksanaan Fungsi Sosial Rumah Sakit Swasta. dalam melaksanakan pembebasan atau keringanan biaya pelayanan kesehatan dalam rangka fungsi sosialnya berdasarkan Surat Keterangan Kurang dan Tidak Mampu (SKTM) atau bukti lain yang mendukung.kesehatan. Selanjutnya. Pemerintah Provinsi. belum ada pedoman berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan yang menjabarkan Pasal 71 UU No. juga terdapat kelemahan normatif. 3. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 496/ MENKES/SK/IV/2006 tentang Pedoman Audit Medis di Rumah Sakit sebagai acuan bagi aparatur hukum pada Direktur Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI dan Dinas Kesehatan Propinsi/Kota/Kabupaten. termasuk RSS-BHPT. serta Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) setempat dalam melakukan audit medis eksternal terhadap rumah sakit. UU No. karena tidak ada pedoman berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan yang menjabarkan pejabat/badan berwenang dan mekanisme pemberian dan penggunaan SKTM atau bukti lain yang mendukung tersebut. dan Pemerintah Kabupaten/Kota jis. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1173/ MENKES/PER/X/2004 tentang Rumah Sakit Gigi dan Mulut jis. 29/2004 jo. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. Selain itu. terkait dengan Pasal 5 angka 2 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 378/ MENKES/PER/V/1993 tentang Pelaksanaan Fungsi Sosial Rumah Sakit Swasta yang mengharuskan RSS. setelah berkonsultasi dengan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) setempat. 32/2004 telah memberikan wewenang kepada Kepala Dinas Kesehtan Propinsi setempat untuk menetapkan ketentuan besaran tarif pelayanan kelas III/kelas terendah bagi masyarakat kurang dan tidak mampu.

ketidaksinkronan. Menteri Kesehatan mempunyai wewenang menetapkan standar perizinan rumah sakit yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah. maka perizinan rumah sakit ditentukan sebagai berikut: izin mendirikan adalah wewenang Pemerintah Kabupaten/Kota. dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 920/ MENKES/PER/XII/1986 tentang Upaya Pelayanan Kesehatan Swasta di Bidang Medik. Namun. Ini berarti bahwa Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) yang dibentuk berdasarkan KEPMENKES No. 1165A/2004. 22/1999 dan PP No. ternyata belum ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. “Semangat resentralisasi” dalam Surat Edaran Menteri Kesehatan ini mengandung ketidakkonsistenan. karena menyimpangi asas desentralisasi kesehatan dalam UU No. 5. yang diperkuat oleh Pasal 9 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. 32/2004. izin penyelenggaraan sementara adalah wewenang Pemerintah Propinsi. Pemerintah Provinsi. Keterlambatan dan Ketidakkonsistenan Aturan Hukum dan Kebijakan Perizinan Berdasarkan Pasal 4 huruf g Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/ MENKES/PER/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan. Ketidakkonsistenan Aturan Hukum dan Kebijakan Akreditasi Secara yuridis pembentukan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1165A/ MENKES/SK/X/2004 tentang Komisi Akreditasi Rumah Sakit (selanjutnya disingkat KEPMENKES No. yang menghendaki agar wewenang melaksanakan akreditasi rumah sakit diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten/Kota. 106 .4. 25/2000 (yang masih berlaku saat itu). dan izin penyelenggaraan adalah wewenang Pemerintah Pusat. Menteri Kesehatan justru menerbitkan Surat Edaran Nomor 725/MENKES/E/VI/2004 yang isi pokoknya menyatakan bahwa sambil menunggu proses penyelesaian Revisi. memang mengabaikan ”semangat desentralisasi”. dan menimbulkan konflik kewenangan. 1165A/2004) tidak mengacu kepada UU No. standar perizinan rumah sakit.

32/2004. Pemerintah Daerah. Selain itu.Menurut buku Pedoman Akreditasi Rumah Sakit (PARSI). pelibatan Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota dalam pembinaan pra dan pascaakreditasi rumah sakit tidak berdasar hukum yang kuat. audit medis eksternal sifatnya hanya ”fakultatif”. 5 dan 29. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI). 4. 6. 2007. Selanjutnya. KKI. Pemerintah Daerah. Selain itu. Pasal Tim Perumus. telah menyimpangi ”asas desentralisasi” dalam UU No. DITJEN YANMEDIK-DEPKES R. dalam pelaksanaan audit medis eksternal di rumah sakit yang diatur dalam Pasal 71. monitoring dan evaluasi pelaksanaan audit medis eksternal yang diintegrasikan dengan akreditasi rumah sakit oleh KARS berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 496/ MENKES/SK/IV/2006 tentang Pedoman Audit Medis di Rumah Sakit. sedangkan keterlibatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam pembinaan pascaakreditasi rumah sakit meskipun bersifat ”imperatif” tetapi fungsinya hanya ”asistensi” saja terhadap tugas pokok KARS.134 keterlibatan Dinas Kesehatan Propinsi dalam pembinaan praakreditasi rumah sakit hanya bersifat ”fakultatif”. Jakarta. Komisi Akreditasi Rumah Sakit. 29/2004. 134 107 . ternyata tidak dijelaskan dengan Peraturan Menteri Kesehatan. Ketidakjelasan dan Ketidakkonsistenan Aturan Hukum dan Kebijakan Sanksi Administrasi Menurut Pasal 22 jis Pasal 23 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 512/ MENKES/PER/IV/2007 tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Kedokteran jo. IDI dan PDGI.I. hlm. Ketidakjelasan dan Keterlambatan Aturan Hukum dan Kebijakan Audit Medis Rumah Sakit Ketidakjelasan ruang lingkup dan rincian fungsi dan tugas Pemerintah Pusat. yang menghendaki agar wewenang melaksanakan akreditasi rumah sakit diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota. yang pelaksanaannya tergantung kepada sikap normatif Pemerintah Pusat. 7. tetapi hanya berdasarkan buku PARSI. Pedoman Akreditasi Rumah Sakit di Indonesia. Pasal 72 dan Pasal 74 UU No. Konsil Kedokteran Indonesia (KKI).

Pasal 71 UU No. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 378/ MENKES/PER/V/1993 tentang Pelaksanaan Fungsi Sosial Rumah Sakit Swasta.77 UU No. Kepala Dinas Kesehatan Propinsi di Tingkat Pertama dan Menteri Kesehatan di Tingkat Banding berwenang memeriksa dan memutus kasus pelanggaran kewajiban hukum oleh dokter berdasarkan pertimbangan Tim yang terdiri dari unsur-unsur profesi yang dibentuk oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi dan Menteri Kesehatan. 23/1992 dan UU No. kelemahan normatif timbul. Selanjutnya. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota baru dapat mencabut Surat Izin Praktik (SIP) dokter jika pelanggaran kewajiban-kewajiban hukumnya dalam UU No. maka berdasarkan Pasal 83 UU No. Tim yang terdiri dari unsur-unsur profesi itu sifatnya ”aksidental”. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 496/ MENKES/SK/IV/2006 tentang Pedoman Audit Medis di Rumah Sakit. yang hanya (akan) dibentuk oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi dan Menteri Kesehatan jika ada pengaduan dari setiap orang yang mengetahui atau kepentingannya dirugikan karena pelanggaran kewajiban hukum oleh dokter. 23/1992. terhadap rumah sakit yang melanggar kewajiban-kewajiban hukum dalam UU No. Jika MKDKI belum terbentuk baik di tingkat pusat maupun di tingkat propinsi. 29/2004. tidak konstitutif. atau MKDKI telah terbentuk di tingkat pusat tetapi belum terbentuk di tingkat propinsi. karena: pertama. terdapat ketidakjelasan fungsi dan tugas para pihak dalam proses pembuktian pelanggaran kewajiban hukum oleh dokter dan pengenaan sanksi administrasinya. Direktur Jenderal 108 . 29/2004. sanksi administrasi yang diatur dalam menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 282/ MENKES/SK/III/1993 tentang Pola Tarif Rumah Sakit Swasta. 23/1992 jo. 29/2004 berikut aturan kebijakan sebagai peraturan pelaksananya. kedua. dapat dikenakan sanksi administrasi oleh Pemerintah. 29/2004 berikut aturan kebijakan sebagai peraturan pelaksananya.q. dan ”pasif”. Artinya. pencabutan SIP dokter oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota hanya bersifat ”deklaratif”. adalah wewenang Menteri Kesehatan c. Namun. 23/1992 dan UU No. Namun. maka berdasarkan Pasal 77 UU No. dan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1197/ MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. telah terbukti berdasarkan putusan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI).

disebabkan oleh ketidakkonsistenan Pemerintah Pusat menegakkan ”asas desentralisasi” dalam UU No. dalam UU No. Padahal. standar. ada 2 (dua) fungsi penting Depkes yang memerlukan perubahan struktur Depkes terkait dengan 109 . 32/2004 yang menghendaki agar wewenang melaksanakan pengawasan berikut pengenaan sanksi administrasinya diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten/Kota. 32/2004 dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/ MENKES/PER/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan PERMENKES No. namun perubahan yang bermakna belum terjadi. 8. Pemerintah Provinsi. Menteri Kesehatan. dalam arti mengarahkan dan menetapkan kebijakan kesehatan dalam bentuk NSPK mengacu asas desentralisasi. standarisasi. 32/2004 ternyata belum tercermin dalam struktur organisasi Depkes yang ditetapkan dalam Pasal 5 Permenkes No. dan Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota. 1575/2005. Kelemahan Struktur dan Kapasitas Kelembagaan Hukum (Pemerintah) Sektor Kesehatan Fungsi steering dan regulating Depkes. yang kemudian diperkuat oleh Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah.Pelayanan Medik untuk mengenakannya. Hingga kini. prosedur dan kriteria perizinan. 1575/2005. 9. Meskipun ada Staf Ahli Menteri Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Desentralisasi. Keterlambatan Penjabaran Fungsi dan Wewenang Pemerintah Daerah Sektor Kesehatan dalam Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah Terdapat keterlambatan Pemerintah Daerah Propinsi/Kota/Kabupaten membentuk Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang menjabarkan fungsi dan wewenangnya di bidang kesehatan dikarenakan norma. mengandung ketidakkonsistenan dengan ”asas desentralisasi” dalam UU No. direktorat jenderal khusus yang berwenang dan bertanggung jawab atas kebijakan dan strategi desentralisasi kesehatan belum dibentuk dalam struktur organisasi Depkes.q. akreditasi dan sertifikasi di bidang kesehatan yang menjadi acuan hukumnya ternyata belum ditetapkan oleh Pemerintah Pusat c.

Op. terdapat temuan beberapa kelemahan struktur dan kapasitas (daya dukung) kelembagaan hukum (pemerintah) di bidang kesehatan dalam rangka otonomi daerah. namun hingga kini belum ada action yang nyata. di Indonesia.. 135 110 . Satu-satunya perubahan struktur Depkes terkait dengan desentralisasi kesehatan. dan supervisi di bidang kesehatan.net/buletin. hlm. sehingga tidak mendukung pelaksanaan kebijakan desentralisasi. bahkan kompetisi yang menimbulkan konflik. ada yang netral. dan 2) penyelesaian perselisihan antar Propinsi di bidang kesehatan. 7.136 2. yaitu: 1. 4. Sampai kini. Yang terjadi adalah situasi saling curiga. dan Departemen Dalam Azrul Azwar. yang dibentuk berdasarkan KEPMENKES. Selain itu. 3. Ada pihak dan individu yang mendukung kebijakan desentralisasi. dan ada yang menentang kebijakan ini. pelatihan. 136 Tim Perumus. dalam kapasitasnya sebagai Dirjen Kesmas Depkes-RI. tidak ada perubahan bermakna dalam struktur DEPKES. cit. diakses tanggal 15 Januari 2005. Belum ada pembinaan sistematis. arahan. Azrul Azwar. kedudukan Unit Desentralisasi hanya sebagai unit nonstruktural dan bersifat ad-hoc (untuk periode 1 tahun saja). serta Kandep dan Dinkes Kabupaten-Kota. Volume III/02/2005. bimbingan.kebijakan dan strategi desentralisasi kesehatan. Departemen Keuangan.desentralisasi-kesehatan. pemberdayaan dan pelatihan staf DINKES propinsi dan Kab/Kota agar mampu menjalankan urusannya dalam konteks desentralisasi. Namun. Departemen Kesehatan. struktur pemerintahan yang sangat sentralistik masih tercermin di sektor kesehatan yang masih didominasi oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.135 Namun. komunikasi yang sedikit mengenai masalah pembagian urusan. sehingga perlu terus dipantau dan dievaluasi oleh Menkes. desentralisasi kesehatan di tingkat kelemahannya. yaitu: 1) pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan OTODA yang meliputi pemberian pedoman. Kapasitas DepKes RI untuk mengelola anggaran pusat menjadi terbatas karena sudah tidak ada lagi Kanwil. “Peran DEPKES di Era Desentralisasi Kesehatan”. Terjadi perubahan radikal di propinsi dan kabupaten/kota dengan ditandai merger Kanwil dan DINKES Propinsi. guna ditetapkan tindak lanjut untuk tahun berikutnya. adalah pembentukan Unit Desentralisasi untuk mendukung keberhasilan Propinsi dan Kabupaten/Kota. menjelaskan bahwa sebenarnya sudah ada wacana mengubah struktur Depkes terkait dengan desentralisasi kesehatan.php. dalam www. Manajemen.

Negeri. Selain itu, sistem pelayanan kesehatan nasional, dengan segala keterbatasan sumber dayanya, tidak ada saling keterkaitan antarprogram dan unit dalam Departemen Kesehatan sendiri, dan antarunit di pusat dan daerah, sehingga tidak berkerja sebagai suatu sistem, tetapi justru saling berkompetisi untuk mempengaruhi daerah.137 Struktur organisasi dinas kesehatan-dinas kesehatan ternyata memiliki kelemahan supratruktural, yaitu tidak/belum dibentuknya Bagian atau Subbagian Hukum, yang tentunya dapat menghambat upaya hukum Pemerintah Daerah dalam merancang, membentuk, mengawasi dan mengevaluasi Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah di bidang kesehatan. Kelemahan supratruktural itu, juga terkait dengan keterbatasan jumlah dan kualifikasi sumber daya manusia di bidang hukum kesehatan serta ilmu dan teknologi kesehatan, termasuk segi-segi teknis perumahsakitan, sehingga menemui kesulitan dalam menetapkan persyaratan teknis dalam Peraturan Daerah apalagi Keputusan Kepala Daerah yang menjabarkan fungsi dan wewenang pengawasan Pemerintah Daerah Propinsi/Kabupaten/Kota di bidang perizinan, standarisasi, akreditasi dan sertifikasi di bidang kesehatan.138 Dwidjo Susono, dalam kapasitasnya sebagai Staf Ahli Menkes Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Desentralisasi, menegaskan bahwa hambatan dan tantangan dalam penerapan kebijakan dan strategi desentralisasi kesehatan, adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Komitmen dari semua pihak terkait; Kelangsungan dan keselarasan pembangunan kesehatan; Ketersediaan dan pemerataan SDM yang berkualitas; Kecukupan pembiayaan kesehatan; Kelengkapan sarana dan prasarana kesehatan; Kejelasan pembagian kewenangan dan pengaturan kelembagaan; Kemampuan manajemen kesehatan dalam penerapan desentralisasi.139

Selain itu, Dwidjo Susono menjelaskan bahwa rendahnya wewenang antara pusat dan daerah, rendahnya kerja sama antara pusat dan daerah, rendahnya
Soedarmono Soejitno, Ali Alkatiri, Emil Ibrahim. 2002. Reformasi Perumahsakitan Indonesia. PT. Grasindo, Jakarta, hlm. 191. 138 Muhammad Syaifuddin. 2009. Menggagas Hukum Humanistis-Komersial: Upaya Perlindungan Hak Masyarakat Kurang dan Tidak Mampu atas Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Swasta Berbadan Hukum Perseroan Terbatas. Bayu Media, Malang, hlm. 197. 139 Dwidjo Susono (Staf Ahli MENKES Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Desentralisasi), “Kebijakan & Strategi Desentralisasi Kesehatan dan KW/SPM”, Makalah, Disampaikan dalam Rapat Koordinasi Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur, pada 21 Juni 2007, di Surabaya, hlm. 32.
137

111

kapasitas aparatur pemerintah, terbatasnya keuangan, dan otonomi menjadi masalah yang harus dihadapi oleh desentralisasi di Indonesia.140 Penjelasan yang sama juga dikemukakan oleh Bachtiar Oesman, dalam kapasitasnya sebagai Direktur Usaha dan Pemasaran Lembaga Asosiasi Dinkes Indonesia, yang menjelaskan bahwa perubahan dari sentralistik ke desentralistik membawa perubahan yang mendasar kepada Dinkes. Untuk itu, perlu adanya peningkatan pengetahuan, keterampilan dan kompetensi kepada kepala Dinkes dan staf agar dapat meningkatkan kinerja Dinkes.141 Jadi, perubahan fungsi dan wewenang pemerintah pusat dan pemerintah daerah belum ditindaklanjuti dengan perubahan dan penguatan struktur, SDM, dana, sarana dan prasarana pada Depkes di pusat dan Dinkes Propinsi/Kabupaten/Kota di daerah, sehingga menjadi kendala strultur dan kapasitas kelembagaan hukum (pemerintah) di bidang kesehatan, yang dapat menghambat upaya hukum melindungi hak setiap warga negara atas derajat kesehatan yang optimal.

D. Asas-asas Hukum yang Mendasari Fungsi dan Wewenang Pemerintah dalam Otonomi Daerah Sektor Kesehatan Fungsi dan wewenang pemerintah dalam otonomi daerah di bidang kesehatan terikat pada asas-asas hukum dalam UU No. 32/2004 yang memberikan otonomi daerah seluas-luasnya sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 18 ayat (2) dan ayat (5) UUD NRI Tahun 1945. Pemberian otonomi seluas-luasnya pada daerah, menurut Penjelasan Umum angka 1 huruf a UU No. 32/2004 didasarkan alasan fundamental, yaitu: ”...mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat....daerah diharapkan mampu meningkatkan daya saing dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan, dan kekhususan serta potensi dan keanekaragaman dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia”.

Ibid. Bachtiar Oesman. “Pengembangan Eksekutif Kepala Dinas Kesehatan dalam Upaya Peningkatan Kinerja Dinas Kesehatan Daerah di Era Desentralisasi”. Makalah, Disampaikan pada Seminar Desentralisasi Bidang Kesehatan: ”Reformasi Sektor Kesehatan dalam Desentralisasi di Indonesia”, Bandung, 6 Juni 2006.
141

140

112

Asas otonomi daerah dalam UU No, 32/2004, menurut Penjelasan Umumnya, adalah ”prinsip otonomi seluas-luasnya”, dalam arti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan di luar yang menjadi urusan Pemerintah Pusat yang ditetapkan dalam UU No. 32/2004. Berdasarkan Pasal 2 ayat (2) jo. Pasal 10 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) UU No. 32/2004, ditentukan bahwa kecuali politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional. serta agama sebagai urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah Pusat, maka Pemerintah Daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut “asas otonomi dan tugas pembantuan”, sehingga ada keseimbangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dan mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat berdasarkan keadilan. Adapun makna “asas otonomi dan tugas pembantuan” menurut Pasal 2 ayat (2) UU No. 32/2004 adalah “pelaksanaan urusan pemerintahan oleh daerah dapat

diselenggarakan secara langsung oleh pemerintahan daerah itu sendiri dan dapat pula penugasan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota dan Desa atau penugasan dari Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota ke Desa”. Selanjutnya, sesuai dengan Pasal 12 ayat (1) jis. Pasal 11 ayat (3) UU No. 32/2004, maka penyelenggaraan urusan pemerintahan berdasarkan “asas

desentralisasi”, yang maknanya menurut pasal 1 angka 7 UU No. 32/2004, yaitu “penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah Pusat kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Kini, desentralisasi, khususnya desentralisasi di bidang kesehatan, secara tegas telah dinyatakan dalam Pasal 13 ayat (1) huruf e UU No. 32/2004 yang menetapkan “penanganan bidang kesehatan” sebagai 1 (satu) di antara 16 (enam belas) urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah propinsi, dan Pasal 14 ayat (2) huruf e UU No. 32/2004 yang menetapkan “penanganan bidang kesehatan” sebagai 1 (satu) di antara 16 (enam belas) urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah kabupaten/kota. Kemudian, sesuai dengan Pasal 14 ayat (1) huruf e UU No. 32/2004 penyelenggaraan penanganan bidang kesehatan oleh Pemerintah Daerah didasarkan

113

“Pemerintah” berwenang melakukan pengawasan dan pembinaan di bidang kesehatan. adalah asas-asas hukum yang menjadi landasan filosofis fungsi dan wewenang pemerintah dalam otonomi daerah di bidang kesehatan. 23/1992. mencakup: 114 . berdasarkan Pasal 2 ayat (4) huruf b jo. prosedur. dan asas keserasian. 23/1992. Khusus di bidang kesehatan. 32/2004 dan Penjelasannya. mempunyai wewenang berdasarkan fungsi mengatur (regulating) dan mengarahkan (steering). yaitu “Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia beserta para Menteri sebagaimana dimaksud dalam UUD NRI Tahun 1945”. asas otonomi. dan kriteria (selanjutnya disingkat NSPK) yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 38/2007). 38/2007. atau propinsi dengan kabupaten/kota. Pasal 238 (yang memuat asas hukum peralihan) UU No. E. Pasal 1 angka 1 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. yang antara lain. dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (selanjutnya disingkat PP No. standar. Menteri Kesehatan sebagai unsur pelaksana Pemerintah Pusat di bidang kesehatan. adalah “Pemerintah Pusat” menurut Pasal 1 angka 1 jo. kabupaten/kota dengan kabupaten/kota. harus memperhatikan “keserasian hubungan antar susunan pemerintahan”. 32/2004 jis. Pemerintah Daerah Propinsi. asas desentralisasi. Pasal 5 ayat (3) PP No. menurut Pasal 11 ayat (1) UU No. dalam arti menetapkan kebijakan di bidang kesehatan dalam bentuk norma. Pembagian Fungsi dan Wewenang Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam Otonomi Daerah Sektor Kesehatan Berdasarkan Pasal 76 dan Pasal 78 UU No. “Pemerintah” yang dimaksud dalam Pasal 76 dan Pasal 78 UU No.pada asas desentralisasi dengan peletakan titik berat otonomi di daerah kabupaten/kota. Jadi. dalam arti keserasian hubungan antar propinsi dengan propinsi. Penanganan bidang kesehatan sebagai urusan wajib pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah propinsi/kabupaten/kota.

7. memiliki wewenang di bidang kesehatan berdasarkan fungsi melaksanakan sesuai dengan kebijakan kesehatan dalam bentuk NSPK yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. dan pembinaan. dan sertifikasi tenaga kesehatan skala nasional. pemberian rekomendasi izin sarana kesehatan tertentu yang diberikan oleh Pemerintah Pusat. 8. pedoman pembiayaan pelayanan kesehatan. pedoman sertifikasi teknologi kesehatan dan gizi. pemberian izin sarana kesehatan tertentu. antara lain. dalam arti Departemen Kesehatan tidak berfungsi sebagai pelaksana (operating). Selanjutnya. akreditasi. 6. tetapi berfungsi sebagai pengatur dan pengarah. akreditasi. 4. 6. pengembangan dan penerapan teknologi kesehatan. 2. 4. 3. pemberian izin tenaga kesehatan asing. registrasi. 1575/2005) Departemen Kesehatan tidak memiliki wewenang di bidang kesehatan yang bersifat operasional. 115 . pedoman penapisan. sehingga Depertemen Kesehatan hanya memiliki wewenang menetapkan: 1. yaitu: 5. registrasi. 6. Pemerintah Propinsi sebagai daerah otonom menurut Pasal 2 ayat (4) huruf b. registrasi. 5. akreditasi. sertifikasi sarana kesehatan sesuai peraturan perundang-undangan. evaluasi dan pengawasan skala nasional. dengan Pasal 4 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor Sesuai 1575/MENKES/PER/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan (selanjutnya disingkat Permenkes No. registrasi. persyaratan sertifikasi tenaga profesional/ahli serta persyaratan jabatan di bidang kesehatan. 3. monitoring. Pasal 11 PP No. ayat (5) dan ayat (6) jo. 5. dan sertifikasi komoditi kesehatan. persyaratan kualifikasi usaha jasa di bidang kesehatan. akreditasi. pedoman standar pendidikan dan pendayagunaan tenaga kesehatan. 38/2007. 2. standar pemberian izin oleh daerah di bidang kesehatan. dan standar akreditasi sarana dan prasarana kesehatan. sertifikasi sarana kesehatan.1.

evaluasi dan pengawasan skala kabupaten/kota. sesuai dengan PP No. dalam arti hanya merumuskan 116 . dan 11. akreditasi. 6) sertifikasi alat kesehatan. memiliki wewenang di bidang kesehatan berdasarkan fungsi melaksanakan sesuai dengan kebijakan di bidang kesehatan dalam bentuk NSPK yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. 1575/2005. 9. pemberian rekomendasi izin tenaga kesehatan asing. Kemudian. 38/2007. ayat (5) dan ayat (6) jo. pembinaan. 3) pemberian izin sarana kesehatan meliputi rumah sakit swasta yang setara dengan rumah sakit pemerintah Kelas C dan Kelas D. akreditasi. 41/2007) dikaji dalam hubungannya dengan fungsi dan wewenang Pemerintah Daerah di bidang kesehatan. 5) pemberian izin praktik tenaga kesehatan tertentu. monitoring. Pasal 11 PP No. dan 7) pembinaan. maka Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebagai organisasi perangkat daerah Propinsi dan Kabupaten/Kota di bidang kesehatan. sertifikasi tenaga kesehatan tertentu skala propinsi sesuai peraturan perundang-undangan. pemberian izin sarana kesehatan rumah sakit swasta khusus dan rumah sakit swasta yang setara dengan rumah sakit pemerintah Kelas B nonpendidikan. 38/2007 dan Permenkes No. Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota juga memiliki wewenang di bidang kesehatan berdasarkan fungsi mengatur tetapi “terbatas”. yaitu: 1) registrasi. sertifikasi sarana produksi dan distribusi alat kesehatan.7. 4) registrasi. akreditasi. monitoring. mempunyai wewenang di bidang kesehatan berdasarkan fungsi melaksanakan saja yang berpedoman kepada NSPK yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan selaku unsur pelaksana Pemerintah Pusat di bidang kesehatan. 2) pemberian rekomendasi izin sarana kesehatan tertentu yang diberikan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Propinsi. Jika rumusan Pasal 7 dan Pasal 14 Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (selanjutnya disingkat PP No. sertifikasi sarana kesehatan sesuai peraturan perundang-undangan. antara lain. evaluasi dan pengawasan skala propinsi. Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota sebagai daerah otonom menurut Pasal 2 ayat (4) huruf b. registrasi. 8. 10. sertifikasi tenaga kesehatan tertentu skala kabupaten/kota sesuai peraturan perundang-undangan.

Propinsi Pada dasarnya hanya memiliki wewenang di bidang kesehatan berdasarkan fungsi melaksanakan saja. dan melaksanakan. sesuai dengan asas hukum peralihan. 23/1992 dan UU No. tetapi terbatas pada perumusan kebijakan di bidang kesehatan yang bersifat “teknis” sebagai penjabaran lebih lanjut dari kebijakan di bidang kesehatan dalam bentuk NSPK yang ditetapkan Pemerintah Pusat. dapat ditabulasikan dalam tabel 7. Mengarahkan dan Melaksanakan No. Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota juga memiliki wewenang di bidang kesehatan yang dijabarkan dalam beberapa Permenkes dan Kepmenkes sebagai aturan pelaksana dari UU No. Pembagian wewenang Pemerintah di bidang kesehatan berdasarkan fungsi mengatur. dalam arti melaksanakan wewenang di bidang kesehatan sesuai dengan kebijakan di bidang kesehatan dalam bentuk NSPK yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. Sumber: Bahan hukum primer. Tabel 7. Kabupaten/ Pada dasarnya memiliki wewenang di bidang kesehatan Kota berdasarkan fungsi melaksanakan saja. Juga memiliki wewenang di bidang kesehatan berdasarkan fungsi mengatur. Pemerintah Fungsi dan Wewenang di Bidang Kesehatan Pusat Pada dasarnya memiliki wewenang di bidang kesehatan berdasarkan fungsi mengatur dan mengarahkan. masih 117 . Pembagian Wewenang Pemerintah Sektor Kesehatan Berdasarkan Fungsi Mengatur.kebijakan yang bersifat teknis sebagai penjabaran dari kebijakan di bidang kesehatan yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. Juga memiliki wewenang di bidang berdasarkan fungsi mengatur. yaitu hanya menetapkan kebijakan di bidang kesehatan saja dalam bentuk NSPK. sebagaimana dijelaskan di atas. mengarahkan. 1. Pemerintah Pusat. 3. kecuali perizinan rumah sakit swasta khusus dan rumah sakit swasta yang (kelasnya) setara dengan rumah sakit pemerintah Kelas B nonpendidikan. diolah. tetapi hanya terbatas pada perumusan kebijakan di bidang kesehatan yang bersifat “teknis” sebagai penjabaran lebih lanjut dari kebijakan di bidang kesehatan dalam bentuk NSPK yang ditetapkan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Propinsi. 29/2004 yang secara yuridis. dalam arti melaksanakan wewenang di bidang kesehatan sesuai dengan kebijakan di kesehatan dalam bentuk NSPK yang ditetapkan Pemerintah Pusat. 2.

29/2004. 32/2004. ayat (2). penggunaan standar pelayanan kedokteran dan standar pelayanan rumah sakit yang berorientasi hak pasien sebagaimana diharuskan dalam Pasal 32 ayat (4) UU No. Pasal 44 ayat (1). dalam bentuk-bentuk sebagai berikut: 1) Penanganan penderita gawat darurat medik atas dasar perikemanusiaan sebagaimana diharuskan dalam Pasal 51 huruf a. UUPD No. 23/1992. penyimpanan rahasia kedokteran berdasarkan kepercayaan pasien sebagaimana diharuskan dalam Pasal 48 UU No. ayat (2). 29/2004. d. yang meliputi: a. dan Permenkes No. 10/1960. dan dinyatakan tidak berlaku). 585/1989. 2) Penyelenggaraan pelayanan kesehatan kepada pasien secara bermutu dan manusiawi. penggunaan rekam medis untuk kepentingan pengobatan dan perawatan pasien sebagaimana diharuskan dalam Pasal 46 ayat (1). 512/2007. 29/2004.berlaku. ayat (2). Pasal 13 dan Pasal 14 Kepmenkes No. dan PP No. 23/1992 jo. maka Dinas Kesehatan Kabupaten/Dinas Kesehatan Kota setempat sebagai unsur pelaksana otonomi daerah Pemerintah Kabupetan/Pemerintah Kota di bidang kesehatan. dan Permenkes No. 282/1993 jo. 282/1993. Pasal 71 UU No. Kepmenkes No. huruf c. 1173/2004 jis. PP 38/2007 jis. 32/2004. dan huruf d UU No. memiliki fungsi dan wewenang pengawasan terhadap pelaksanaan praktik kedokteran. 23/1992. 23/1992 jo. b. persetujuan tindsakan kedokteran berdasarkan hak pasien menentukan nasib sendiri dan memperoleh informasi sebagaimana diharuskan dalam Pasal 45 ayat (1). maka Dinas Kesehatan Propinsi setempat yang berwenang melakukan pengawasan. 118 . 1333/1999. Berdasarkan Pasal 77 UU No. 29/2004 dan PP No. 29/2004. dan ayat (3) UU No. 269/2008. 26/1960. ayat (2). diganti. karena belum atau tidak direvisi (dalam arti belum dicabut. c. ayat (4) dan ayat (6) UU No. dan Kepmenkes No. dan ayat (3) dan Pasal 47 ayat (1). UU No. Khusus terhadap penetapan pola tarif pelayanan kesehatan rumah sakit swasta sesuai kemampuan membayar masyarakat setempat sebagaimana diharuskan dalam Pasal 8 UU No. dan Permenkes No. dan ayat (3) UU No. 29/2004 jo. yang merupakan inti dari pelayanan kesehatan. Permenkes No. jika merujuk kepada Pasal 77 UU No. khususnya alinea 5 dan 6.

q. dengan/tanpa mengikutsertakan IDI dan PDGI setempat. Direktur Jenderal Pelayanan Medik yang berwenang melakukan pengawasan. Berikutnya. 426/2006.sedangkan Menteri Kesehatan c. 23/1992. 72/1998. maka Menteri Kesehatan c. 32/2004. Selanjutnya. maka Menteri Kesehatan c. fungsi dan wewenang pengawasan Pemerintah Pusat. Pasal 43 Kepmenkes No.q. 363/1998. 38/2007 jis. 983/1992. dengan mengikutsertakan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi setempat dan unit-unit lain dalam satu Tim Pembina. UU No. Kepmenkes No. dan Kepmenkes No. PP No. Permenkes No. 378/1993. merata dan terjangkau oleh masyarakat sebagaimana diharuskan dalam Pasal 61 UU No. 23/1992. Direktur Jenderal Pelayanan Medik. dapat ditabulasikan pada tabel 8.q. Direktur Jenderal Pelayanan Medik hanya berwenang melakukan pembinaan. 23/1992 jo. Pasal 16 PP No. 631/2005. Direktur Jenderal Pelayanan Medik. Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota terhadap pelayanan kesehatan rumah sakit sebagaimana diuraikan diatas. Pasal 2 s. Pasal 25 Permenkes No. Pasal 8 dan Pasal 9 Permenkes No. ayat (2) dan ayat (3) UU No.q. Pasal 58 jis. 29/2004. 378/1993 jis. 363/1998 dan Kepmenkes No. Secara lebih konkrit. khusus terhadap pengelolaan perbekalan kesehatan rumah sakit yang bermutu. Danas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Dinas Kesehatan Kota setempat yang berwenang melakukan pengawasan. 1173/2004 jis. 159b/1988. 32/2004. Danas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Dinas Kesehatan Kota yang berwenang melakukan pengawasan. 23/1992 jo. UU No. Kepmenkes No. 119 . 1197/2004. maka Menteri Kesehatan c. dan Kepmenkes No. 720/2006.d. jika merujuk kepada Pasal 77 UU No. 1197/2004. Permenkes No. jika merujuk kepada Pasal 71 UU No. 23/1992. jika merujuk kepada Pasal 77 UU No. Pasal 57 ayat (2) UU No. khusus terhadap penjabaran dan pelaksanaan bentuk fungsi sosial pelayanan kesehatan rumah sakit swasta sebagaimana diharuskan dalam Pasal 57 ayat (2) UU No. 29/2004 dan Kepmenkes No. Kemudian. khusus terhadap pengendalian mutu dan biaya pelayanan kesehatan rumah sakit sesuai kebutuhan medis pasien sebagaimana diharuskan dalam Pasal 49 ayat (1). Permenkes No.

Dinkes Propinsi/Kabupaten/ masyarakat. Dirjen bermutu. 120 . Dirjen sosial pelayanan kesehatan.q.q. Kota. Penggunaan standar pelayanan kedokteran Propinsi/Kabupaten/ dan standar pelayanan rumah sakit yang Kota setempat. 4.q. Fungsi dan Wewenang Pengawasan Pemerintah Terhadap Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit No. Persetujuan tindakan kedokteran berdasarkan hak pasien menentukan nasib sendiri dan memperoleh informasi. 2. Dirjen Yanmedik. Penggunaan rekam medis untuk kepentingan pengobatan dan perawatan pasien. Dirjen kesehatan sesuai kebutuhan medis pasien. Penetapan pola tarif pelayanan kesehatan Dinkes (khusus sesuai kemampuan membayar masyarakat setempat pengawasan) dan setempat. Pengendalian mutu dan biaya pelayanan Menkes c. Dinkes atas dasar perikemanusiaan. Yanmedik. Bentuk Pelayanan Kesehatan Pengawas Rumah Sakit 1. 7. berorientasi hak pasien.q. Propinsi 6.Tabel 8. Penanganan penderita gawat darurat medik Menkes cq. diolah. Penjabaran dan pelaksanaan bentuk fungsi Menkes c. Pengelolaan perbekalan kesehatan yang Menkes c. Sumber: Bahan hukum primer. 8. merata dan terjangkau oleh Yanmedik. Yanmedik mengikutsertakan Kepala Dinkes Propinsi setempat dan unit terkait dalam satu Tim Pembina. 9. 5. 3. Menkes c. Penyimpanan rahasia kedokteran berdasarkan kepercayaan pasien. Dirjen Yanmedik (khusus pembinaan). Dinkes Propinsi/Kabupaten/ Kota dengan/ tanpa IDI dan PDGI setempat.

adalah conditio sine quanon dalam rangka melaksanakan kewenangan OTODA. Keberadaan PERDA. yang secara konstitusional mengacu kepada Pasal 18 ayat (6) UUD NRI Tahun 1945. 29/2004.F. Faza Media. 1575/2005. PERDA harus dapat memberikan perlindungan hukum bagi rakyat di daerah. 32/2004. Otonomi Daerah dalam Negara Hukum Indonesia: Pembentukan Peraturan Daerah Partisipatif. serta UU No. hlm. sesuai dengan Pasal 136 ayat (2) UU No. 41/2007. sebagaimana telah diuraikan di atas. 80.142 termasuk perlindungan hukum di bidang kesehatan. Pasal 7 UU No. 2006. 23/1992. Penjabaran Fungsi dan Wewenang Pemerintah Daerah Sektor Kesehatan dalam Peraturan Daerah Fungsi dan wewenang Pemerintah Daerah di bidang kesehatan yang diatur dalam UU No. 142 121 . dengan mempertimbangkan potensi. PP No. kondisi dan kebutuhan daerah Suko Wiyono. demokratis. transparan dan efisien dalam rangka pendanaan penyelenggaraan desentralisasi. Atas dasar itu. G. dengan tegas menyatakan bahwa PERDA adalah bagian integral dari peraturan perundangan-undangan Republik Indonesia. dan sejumlah Permenkes dan Kepmenkes. proporsional. Yang dimaksud dengan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah adalah suatu sistem pembagian keuangan yang adil. dan Pemenkes No. Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam Otonomi Sektor Kesehatan UU No. 38/2007. PP No. 10/2004. Isu mengenai perimbangan keuangan antara antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah sehubungan pembiayaan kebijakan kesehatan dan implementasinya di daerah adalah berkenaan dengan apakah kebijakan kesehatan dan implementasinya tersebut termasuk ranah otonomi daerah atau kewenangan pemerintah pusat yang didekonsentrasi atau tugas pembantuan. UU No. 32/2004. Jakarta. menurut Suko Wiyono. 33/2004 pada hakikatnya mengatur tentang keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. harus dijabarkan di tingkat daerah propinsi/kabupaten/kota dalam bentuk Peraturan Daerah (selanjutnya disingkat PERDA).

2) Dana Alokasi Umum adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan antardaerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi (Pasal 1 angka 21). Tugas pemerintah daerah. Sedasar dengan itu. tidak termasuk dana yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat dan daerah (Pasal 1 angka 26).serta besaran pendanaan penyelenggaraan dekonsentrasi dan tugas pembantuan (vide Pasal 1 angka 3 UU No. yaitu: 1) Dana Bagi Hasil adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi (vide Pasal 1 angka 20). 33/2004). 3) Dana Alokasi Khusus adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai prioritas nasional (Pasal 1 angka 23) 4) Dana Dekonsentrasi adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh gubernur sebagai wakil pemerintah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi. Sehubungan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah ini terdapat beberapa konsep penting dalam UU No. maka dapat dijelaskan bahwa tugas pemerintah pusat yang utama adalah melakukan pengaturan dalam rangka melindungi kesehatan seluruh rakyat Indonesia. undang-undang menetapkan suatu dana perimbangan. 33/2004). Yang dimaksud dengan dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi (vide Pasal 1 angka 19) UU No. 6) Dana Darurat adalah dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan kepada daerah yang mengalami bencana nasional. Sehubungan isu desentralisasi dan perimbangan keuangan pusat-daerah. 5) Dana Tugas Pembantuan adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan tugas pembantuan (Pasal 1 angka 27). 33/2004. baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota yang utama adalah melakukan tugas-tugas mengurus sehubungan asas otonomi daerah dan dalam rangka tugas mengatur melakukan pengawasan/penegakan hukum sesuai kewenangannya (vide Surat Edaran Menkes No. Untuk daerah yang secara keuangan masih belum dapat melaksanakan otonominya secara 122 . peristiwa luar biasa dan/atau krisis solvabilitas (Pasal 1nagka 29). 1107/Menkes/E/VII/2000).

282/1993 merupakan dasar penetapan tarif pelayanan kesehatan rumah sakit swasta. H. Pasal 10 dan Pasal 11 Kepmenkes No. kurang/tidak mampu. 282/1993 harus ditetapkan oleh direktur rumah sakit swasta. pemerintah menyediakan sejumlah dana yang dapat digunakan oleh pemerintah daerah dalam rangka memenuhi kewajiban mewujdkan hak setiap warga negara atas derajat kesehatan yang optimal. tetapi juga tarif untuk jenis pelayanan kesehatan lainnya. (2) “Tingkat Kepmenkes kecanggihan No. yang menurut Pasal 282/1993 harus diatur oleh direktur RSS. Penguatan Asas Konsistensi dan Kejelasan Aturan Hukum dan Kebijakan Tarif Pelayanan Kesehatan Penguatan asas konsistensi dan kejelasan pengaturan hukum dan kebijakan pola tarif pelayanan kesehatan harus terkonseptualisasi dalam Kepmenkes 282/1993 yang perlu segera direvisi. seharusnya tidak hanya terbatas pada tarif tempat tidur pasien rawat inap kelas III. (3) Pemberian keringanan/pembebasan biaya pelayanan kesehatan bagi pasien 2 angka 3 Kepmenkes No. yang mencakup: (1) “Kemampuan membayar masyarakat setempat”. teknologi”. Pasal 5. 23/1992. yang menurut Pasal 2 angka 1 Kepmenkes No. (4) “Tarif khusus” bagi masyarakat kurang/tidak mampu. seharusnya pedomannya ditetapkan oleh Dirjen Yanmedik Depkes-RI segera setelah dilakukannya revisi Kepmenkes No. seharusnya parameternya ditentukan dengan jelas. Pasal 6. termasuk jasa dokter. seharusnya kriterianya juga dijabarkan dengan jelas.memadai. Pasal 4. 282/1993 harus diperhatikan dalam menetapkan pola tarif pelayanan kesehatan rumah sakit swasta. 282/1993. 123 . yang menurut Pasal 2 angka 1 No. agar konsisten dengan “spirit hukum” Pasal 57 ayat (2) UU No. yang menurut Pasal 3.

I. Penguatan Asas Konsistensi dan Kesegeraan Aturan Hukum dan Kebijakan Pengendalian Mutu dan Biaya Pelayanan Kesehatan Penguatan asas konsistensi dan kesegeraan pengaturan hukum dan kebijakan pengendalian mutu dan biaya pelayanan kesehatan harus terkonseptualisasi dalam hal-hal, sebagai berikut: (1) Pembentukan Permenkes yang menjabarkan wewenang IDI dan PDGI dalam membina dan mengawasi dokter dalam melakukan praktik kedokteran di rumah sakit sebagai tindaklanjut dari Pasal 49 ayat (3) UU No. 29/2004. Mengingat audit medis bersifat konfidensial, maka substansi hukumnya seharusnya juga memuat sanksi bagi IDI dan PDGI (sebagai pihak eksternal rumah sakit) yang mempubikasikan audit medis tanpa persetujuan dari pihak internal rumah sakit. (2) Hasil audit medis internal yang dilakukan Komite Medis Rumah Sakit menurut Kepmenkes No. 496/2006 seharusnya bersifat mengikat, sehingga tindak

lanjutnya tidak hanya tergantung kepada kehendak dan sikap normatif direktur rumah sakit saja. (3) Pembentukan Permenkes yang menjabarkan wewenang Menkes cq. Dirjen

Yanmedik dan Dinas Kesehatan Propinsi/Kota/Kabupaten untuk mengawasi dan mengaudit medis eksternal rumah sakit, mengikutsertakan IDI dan PDGI setempat, sebagai tindak lanjut dari Pasal 71 jis. Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) UU No. 29/2004 jo. Kepmenkes No. 496/2006. Permenkes ini seharusnya juga memuat sanksi administratif yang jelas dan dan tegas kepada rumah sakit, yang terbukti tidak mengendalikan mutu dan biaya pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan medis pasien.

J. Penguatan Asas Kejelasan dan Kesegeraan Aturan Hukum dan Kebijakan Fungsi Sosial Pelayanan Kesehatan Penguatan asas kejelasan dan kesegeraan pengaturan hukum dan kebijkan fungsi sosial pelayanan kesehatan harus tercermin dalam Permenkes No. 159b/1988 dan Permenkes No. 378/1993 yang perlu segera direvisi, agar substansi hukumnya jelas, mencakup:

124

(1) Pembebasan/keringanan biaya pelayanan kesehatan bagi masyarakat kurang dan tidak mampu, yang menurut Pasal 5 angka 5 Permenkes No. 378/1993 harus dilaksanakan oleh rumah sakit swasta dalam rangka fungsi sosialnya, seharusnya juga didukung oleh adanya pedoman yang jelas dalam Permenkes mengenai pejabat/badan yang berwenang dan mekanisme hukum pemberian dan penggunaan SKTM atau bukti lain yang mendukung sebagai syarat untuk memperoleh pembebasan/keringanan biaya pelayanan kesehatan. (2) Penetapan ketentuan besaran tarif pelayanan kesehatan kelas III/kelas

terendah bagi masyarakat kurang dan tidak mampu, yang menurut Pasal 4 Permenkes No. 378/1993 jo. Permenkes No. 1173/2004 jis. PP No. 38/2007 jis. UU No. 32/2004 merupakan wewenang Kepala Dinas Kesehatan Propinsi setempat (setelah berkonsultasi dengan PERSI setempat), harus dilaksanakan dengan konsisten segera setelah (sesuai dengan) revisi Permenkes No. 159b/1988 dan Permenkes No. 378/1993.

K. Penguatan Asas Konsistensi dan Kejelasan Aturan Hukum dan Kebijakan Pengelolaan Perbekalan Kesehatan Penguatan asas konsistensi pengaturn hukum dan kebijakan pengelolaan perbekalan kesehatan harus terkonseptualisasi dalam hal-hal, sebagai berikut: (1) Permenkes No. 085/1989 perlu segera direvisi, agar substansi hukumnya dengan jelas membebankan kewajiban menulis resep dan/atau menggunakan obat generik yang harganya terjangkau masyarakat kurang dan tidak mampu tidak hanya kepada fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah, tetapi juga fasilitas pelayanan kesehatan swasta, sehingga konsisten dengan Pasal 61 UUK No. 23/1992 dan Pasal 49 ayat (1) UU No. 29/2004 yang telah mengharuskan ”setiap rumah sakit dan dokternya” mengendalikan mutu dan biaya pelayanan kesehatan agar dapat terjangkau oleh masyarakat kurang dan tidak mampu. (2) Permenkes No. 363/1998 perlu segera direvisi, agar substansi hukumnya tidak hanya mengatur penggunaan alat kesehatan yang harus memenuhi persyaratan mutu, keamanan dan kemanfaatan, tetapi juga mengatur persyaratan keterjangkauan biayanya untuk mengendalikan overutilisasi alat kesehatan di 125

rumah sakit, yang harus didukung oleh adanya sanksi dan diperkuat oleh struktur kelembagaan hukum kesehatan dengan wewenang pengawasan yang jelas, sehingga konsisten dengan spirit hukum Pasal 61 UU No. 23/1992 jo. PP No. 72/1998.

L. Penguatan Asas Konsistensi, Sinkronisasi, dan Kesegeraan Aturan Hukum dan Kebijakan Perizinan Perlu pembentukan aturan hukum dan kebijakan perizinan di bidang kesehatan dalam bentuk PP sebagai penjabaran dari Pasal 59 UU No. 23/1992, yang harus segera ditindaklanjuti dengan pembentukan Permenkes yang substansi hukumnya mengatur tentang standar perizinan di bidang kesehatan sebagai penjabaran yang konsisten dan sinkron dari Pasal 4 huruf g Permenkes No. 1575/2005 dan diperkuat oleh Pasal 9 PP No. 38/2007, yang secara formal mencabut/menggantikan Permenkes No. 920/1986 dan Surat Edaran Menkes No. 725/2004, sesuai dengan asas desentralisasi kesehatan dalam rangka otoda berdasarkan UU No. 32/2004, yang menghendaki agar perizinan di bidang kesehatan didasarkan atas asas desentralisasi dengan peletakan titik berat otonomi di daerah kota/kabupaten.

M. Penguatan Asas Konsistensi Aturan Hukum dan Kebijakan Akreditasi Konsistensi aturan hukum dan kebijakan akreditasi di bidang kesehatan harus diwujudkan dengan pembentukan PP yang substansi hukumnya antara lain mengatur akreditasi rumah sakit, yang harus segera diikuti dengan upaya merevisi Kepmenkes No. 1165A/2004 yang mengatur tentang akreditasi rumah sakit sesuai dengan asas desentralisasi kesehatan dalam rangka otoda berdasarkan UU No. 32/2004 dan Permenkes No. 1575/2005 yang diperkuat PP No. 38/2007, agar secara substantif memberikan wewenang mengakreditasi rumah sakit kepada Pemkab/Pemkot, yang sifatnya imperatif bukan fakultatif, dan fungsinya sebagai tugas pokoknya sendiri bukan ”asistensi” terhadap tugas pokok KARS.

126

agar secara substantif: (1) Memberikan wewenang mengaudit medis eksternals rumah sakit kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah bersama dengan KKI. yang menghendaki agar audit medis eksternal rumah sakit oleh pemerintah didasarkan atas asas desentralisasi dengan peletakan titik berat otonomi di daerah kota/kabupaten. yang jelas ruang lingkup dan rincian fungsi dan tugas masing-masing. 127 . 32/2004 dan Permenkes No. IDI dan PDGI setempat.N. 1575/2005 yang diperkuat PP No. 29/2004. yang sifatnya imperatif bukan fakultatif. 38/2007. O. Penguatan Asas Kejelasan dan Konsistensi Aturan Hukum dan Kebijakan Sanksi Administrasi Aturan hukum dan kebijakan yang substansi hukumnya mengatur tentang sanksi administrasi. b) Pembentukan Permenkes yang menjabarkan bentuk-bentuk sanksi administrasi terhadap rumah sakit yang melanggar kewajiban hukumnya dan menegaskan badan/pejabat pemerintah berwenang serta mekanisme pengenaan sanksi administrasinya. 32/2004 dan Permenkes No. perlu segera diwujudkan. Penguatan Asas Kejelasan dan Kesegeraan Peraturan Hukum Audit Medis Pembentukan Permenkes yang mengatur tentang audit medis eksternal sebagai penjabaran yang jelas dari Pasal 71 jo. Pasal 72 UU No. 1575/2005 yang diperkuat oleh PP No. perlu segera diwujudkan. yang konsisten dengan asas desentralisasi dalam rangka otoda berdasarkan UU No. 38/2007. dengan cara: a) Pembentukan MKDKI di tingkat propinsi dan penyusunan pedoman tata cara penanganan kasus pelanggaran disiplin dokter oleh KKI. (2) Konsisten dan sinkron dengan asas desentralisasi kesehatan dalam rangka otoda berdasarkan UU No. mengingat pencabutan SIP oleh Kepala Dinkes Kabupaten/Kota terhadap dokter yang melanggar kewajiban hukumnya harus didasarkan atas putusan MKDKI.

P. Percepatan Penjabaran Fungsi dan Wewenang Pemerintah Daerah Sektor Kesehatan dalam Peraturan Daerah Percepatan penjabaran fungsi dan wewenang pemerintah daerah di bidang kesehatan, yang mencakup perizinan, akreditasi, audit medis, dan sanksi administrasi, harus ditata dalam Perda dan Kepkada, yang jelas, segera, sinkron dan konsisten dengan asas otonomi daerah. Secara konkrit, perlu penataan (normatif), berupa pembentukan Perda dan Kepkada yang menjabarkan secara “teknis” (untuk tingkat propinsi) dan ”sangat teknis” (untuk tingkat kabupaten/kota) perizinan, standarisasi, akreditasi dan sertifikasi di bidang kesehatan, segera setelah Menkes selaku unsur pelaksana wewenang pemerintah pusat di bidang kesehatan menetapkan kebijakan dalam bentuk norma, standar, prosedur, dan kriteria sebagai acuan hukumnya (dalam bentuk Permenkes). Secara formil, pembentukan Perda dan Kepkada itu harus

mengacu kepada UU No. 32/2004 dan Permenkes No. 1575/2005 yang diperkuat oleh PP No. 38/2007 dan secara substantif harus menjadikan perizinan, standarisasi, akreditasi dan sertifikasi sebagai instrumen hukum melindungi hak setiap warga negara atas derajat kesehatan yang optimal, bukan sebagai sarana hukum memperoleh retribusi daerah.

Q.

Penataan Struktur dan Kapasitas Kelembagaan Hukum (Pemerintah) Sektor Kesehatan Mengacu Konsep Good Governance Lembaga Administrasi Negara (LAN) menjelaskan bahwa good governance

(selanjutnya disingkat GG) adalah penyelenggaraan pemerintahan yang solid dan bertanggung jawab secara efektif dan efisien, dengan menjaga “kesinergian” interaksi yang konstruktif di antara domain-domain negara, sektor swasta dan masyarakat (society). GG pada umumnya diartikan sebagai pengelolaan

pemerintahan yang baik, dalam arti mengikuti kaidah-kaidah tertentu sesuai dengan prinsip-prinsip dasar GG.143 Asas-asas GG yang dikemukakan UNDP sebagaimana dikutip oleh LAN, yaitu:
Lembaga Administrasi Negara, dalam Joko Widodo. 2001. Good Governance: Telaah dari Dimensi Akuntabilitas dan Kontrol pada Era Desentralisasi dan Otonomi Daerah. Ihsan Cendikia, Surabaya, hlm. 24.
143

128

1.

2. 3.

4. 5.

6. 7.

8.

9.

Partisipasi: Setiap warganegara berpartisipsi dalam pengambilan keputusan, baik secara langsung maupun melalui institusi yang mewakili kepentingannya, atas dasar kebebasan berasosiasi dan berbicara secara konstruktif. Taat hukum (rule of law): kerangka hukum yang adil dan dilaksanakan tanpa diskriminasi, terutama untuk perlindungan HAM. Transparansi: Dibangun atas dasar kebebasan arus informasi mengenai proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan kerja lembaga-lembaga dapat diterima oleh mereka yang membutuhkan. Responsif: Lembaga-lembaga negara/badan usaha harus berusaha untuk melayani stakeholdersnya. Responsif terhadap aspirasi masyarakat. Berorientasi kesepakatan (consessus orientation): GG menjadi perantara kepentingan yang berbeda untuk mendapatkan pilihan terbaik bagi kepentingan yang lebih luas, dalam hal kebijakan-kebijakan maupun prosedur-prosedur kerja. Kesetaraan (equity): Semua warga negara mempunyai kesempatan yang sama untuk meningkatkan atau mempertahankan kesejahteraan. Effektif dan efisien: proses-proses dan lembaga-lembaga menghasilkan sesuai dengan apa yang telah digariskan dengan menggunakan sumbersumber yang tersedia. Akuntabilitas (accountability): Para pembuat keputusan dalam pemerintahan, sektor swasta dan masyarakat (civil society) bertanggung jawab kepada publik dan lembaga-lembaga stakeholders. Visi strategis (strategic vision): Para pemimpin dan publik harus mempunyai perspektif GG dan pengembangan SDM yang luas dan jauh ke depan sejalan dengan apa yang diperlukan untuk pembangunan.144

Secara umum ada konsensus tentang faktor-faktor kunci GG, yaitu: kemampuan teknis dan manajerial, kapasitas organisasi, kepastian hukum, pertanggungjawaban, transparansi dan sistem informasi yang terbuka, dan partisipasi.145 G.H. Addink memaknai asas-asas GG sama dengan asas-asas good administration (selanjutnya disingkat GA) dan merumuskan secara detail menjadi delapan asas yang mencakup karakter positif maupun negatif, yaitu: asas larangan bertindak sewenang-wenang, asas keadilan atau asas kewajaran, asas kepastian hukum, asas kepercayaan, asas kesamaan, asas proporsionalitas atau asas keseimbangan, asas kehati-hatian, dan asas pertimbangan.146

Bintaro Tjokroamidjojo. 2002. Reformasi Nasional Penyelenggaraan Good Governance dan Perwujudan Masyarakat Madani. Lembaga Administrasi Negara, Jakarta, hlm. 133-136. 145 Jurnal Transparansi Indonesia. 2006. “Good Governance”, dalam http://www.goodlocalgovernance.multiply.com/journal/item/, diakses tanggal 12 Januari 2008. 146 G.H. Addink, dalam Sadjijono. 2008. Memahami Beberapa Bab Pokok Hukum Administrasi. LaksBang PRESSindo, Yogyakarta, hlm. 173 dan 176.

144

129

Pemberian makna yang sama antara asas-asas GG dan asas-asas GA, menurut Sadjijono, merupakan suatu suatu pemikiran dan onovasi baru dalam hukum administrasi. Walaupun Kuntjoro Purbopranoto pernah menulis ”asas-asas umum untuk pemerintahan yang baik”,147 akan tetapi tidak diberi penjelasan persamaan makna dari asas dimaksud. Selanjutnya, Sadjijono mendukung pendapat G.H. Addink dengan argumentasi bahwa istilah GG berarti penggunaan atau pelaksanaan kewenangan bidang administrasi oleh organ pemerintah dan menimbulkan akibatakibat hukum bidang administrasi negara, sehingga indikasi suatu pemerintahan yang baik apabila administrasinya baik.148 Jadi, GG pada dasarnya adalah penyelenggaraan pemerintahan yang bersih, teratur, tertib, tanpa cacat dan berwibawa, oleh karena itu tindak lanjut untuk menjadikan pemerintahan yang baik dan bersih dengan mengaktualisasikan secara efektif ”asas-asas umum pemerintahan yang baik”, yang digunakan sebagai hukum tidak tertulis dengan melalui pelaksanaan hukum dan penerapan hukum serta pembentukan hukum.149 Dengan mengacu konsep good governance GG, maka dapat dipahami bahwa struktur kelembagaan hukum (pemerintah) secara internal dan eksternal harus mempunyai keterkaitan sistemik dan didukung oleh kapasitas atau daya dukung kelembagaan (SDM, dana, sarana dan prasarana) yang kuat, serta ada konsistensi struktur dan fungsinya dengan asas hukum yang mendasari pembentukannya, sehingga dapat mengkonkritisasi asas-asas hukum ke dalam wujud norma-norma hukum dalam aturan hukum dan kebijakan, agar pemerintah dapat melakukan tindakan pemerintahan yang baik tentang perizinan, akreditasi, audit medis, dan sanksi administrasi d bidang kesehatan yang memadai (adekuat), guna melindungi hak setiap warga negara atas derajat kesehatan yang optimal. Kemudian, kelemahan struktur dan kapasitas kelembagaan hukum

(pemerintah) di bidang kesehatan, sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, maka perlu penataan (normatif), sebagai berikut:

Kuntjoro Purbopranoto. 1981. Beberapa Catatan Hukum Tata Pemerintahan dan Peradilan Administrasi Negara. Alumni, Bandung, hlm. 28. 148 Sadjijono. Op. Cit., hlm. 173-174. 149 S.F. Marbun. ”Eksistensi Asas-asas Umum Penyelenggaraan Pemerintahan yang Layak dalam Menjelmakan Pemerintahan yang Baik dan Bersih”. Ringkasan Disertasi, UNPAD, Bandung, 2001, hlm. 13.

147

130

dan Depdagri di sektor kesehatan. 1575/2005 yang diperkuat oleh PP No. 38/2007. akreditasi dan sertifikasi di bidang kesehatan. guna menjadi rujukan bagi PEMDA dalam membentuk Perda dan Kepkada. 32/2004 dan Permenkes No. Berikutnya. 2. tetapi juga menekankan pada perlindungan hak setiap warga negara atas derajat kesehatan yang optimal. baik antarprogram dan unit dalam Depkes pusat maupun antarunit dalam Depkes di pusat dengan Dinkes Propinsi/Kota/Kabupaten di daerah. pengkaitan sistem pelayanan kesehatan nasional dan daerah perlu didukung dengan pengaturan wewenang yang jelas. dan penguatan kapasitas aparatur hukum antara pemerintah pusat (Depkes) dan Pemda (Dinkes Propinsi/Kota/Kabupaten). termasuk penggalian sumber keuangannya. 32/2004 dan Permenkes No. juga perlu dilakukan. standarisasi. implementasi fungsi Depkes dalam membentuk aturan hukum dan kebijakan tentang perizinan. dengan mengacu kepada asas desentralisasi kesehatan dalam rangka otoda berdasarkan UU No. harus segera direalisasikan.1. Selanjutnya. guna mengurangi dominasi Depkes. Depkeu. Perubahan Struktur dan Fungsi Departemen Kesehatan di Pusat dan Dinas Kesehatan di Daerah Perubahan struktur organisasi Depkes perlu diwujudkan. dengan mengacu kepada fungsi pengarahan dan fungsi pengaturan yang konsisten dengan asas desentralisasi dalam rangka otoda berdasarkan UU No. Bappenas. 1575/2005 yang diperkuat oleh PP No. Kemudian. 131 . pesnegasan komitmen pemerintah pusat melaksanakan fungsi regulatif di bidang kesehatan diperlukan guna mendukung Pemda dalam membentuk Perda dan Kepkada yang tidak hanya terfokus pada tugas pokok dan fungsi organisasi perangkat daerah di bidang kesehatan. 41/2007. Selain itu. perubahan struktur pemerintahan yang lebih desentralistik. Pengkaitan Sistem Pelayanan Kesehatan Nasional dan Daerah Sistem pelayanan kesehatan nasional yang terwujud dalam SKN harus mempunyai keterkaitan secara internal dan eksternal. peningkatan kerjasama.

52. pemberdayaan dan pelatihan dalam konteks desentralisasi dalam semangat otoda. “Mewujudkan Good Governance Melalui Reformasi Pelayanan Publik”. guna menghilangkan situasi saling curiga. rigiditas dan daya tanggap yang buruk. akreditasi dan sertifikasi di bidang kesehatan. Penguatan Kapasitas Kelembagaan Kementerian Kesehatan di Pusat dan Dinas Kesehatan di Daerah Penguatan kapasitas kelembagaan Kementerian Kesehatan di pusat dan Dinkes Propinsi/Kota/Kabupaten di daerah harus dilakukan dalam rangka pembenahan birokrasi sebagai langkah strategis dalam pengembangan GG. dengan merujuk kepada pandangan Agus Dwiyanto. bahwa keberhasilan menyelesaikan masalah mendasar dalam birokrasi pemerintah seperti inefisiensi. Surabaya. 2006. Karena itu. 150 132 . pemberdayaan dan pelatihan staf Depkes di pusat dan staf Dinkes Propinsi/Kota/Kabupaten di daerah harus bertujuan menyeimbangkan Agus Dwiyanto. kuatnya budaya KKN serta akuntabilitas birokrasi yang rendah dapat menuntaskan sebagian besar masalah dalam pengembangan GG. hlm. guna mendukung upaya perumusan persyaratan teknis dalam Perda dan Kepkada tentang perizinan.150 Penguatan kapasitas kelembagaan Depkes dan Dinkes Propinsi/Kota/ Kabupaten perlu dilakukan dalam bentuk peningkatan jumlah dan kualifikasi SDM disertai pembinaan sistematis. Selain itu. meningkatkan komunikasi yang intens dan transparan. misalnya kasus perizinan. pengawasan dan evaluasi Perda dan Kepkada di bidang kesehatan. 3. termasuk segi-segi teknis perumahsakitan. disertai peningkatan jumlah dan kualifikasi SDM. standarisasi. Pembinaan sistematis. tidak kalah pentingnya adalah peningkatan jumlah dan kualifikasi SDM pada Dinkes Propinsi/Kota/Kabupaten di daerah yang menguasai IPTEK kesehatan. maka perlu segera pembentukan bagian/subbagian hukum dalam struktur organisasi Dinkes Propinsi/Kota/Kabupaten di daerah. Pelayanan Publik dari Dominasi ke Partisipasi. keberhasilan dalam mereformasi birokrasi dapat mempercepat terwujudnya GG. pembentukan. bahkan mencegah dan menyelesaikan konflik. Airlangga University Press.Guna mendukung upaya perancangan. dalam Suparto Wijoyo.

kebutuhan SDM secara materil dan spiritual. antara lain: 1) Pendapatan Asli Daerah yang mencakup pajak setempat. yakni seperangkat nilai yang harus menjadi pegangan setiap aparatur pemerintah dalam menjalankan wewenang dan tugasnya. R. pemberdayaan dan pelatihan aparatur pemerintah Depkes di pusat dan staf Dinkes Propinsi/Kota/Kabupaten di daerah. retribusi lokal. terdiri dari Dana Bagi Hasil beberapa sektor seperti Pajak Bumi dan Bangunan. Selain itu. 33/2004. hutan. tambang dan periknan. Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus. giral dan aset penjualan. Pengembangan Potensi Sumber Pembiayaan dari Pemerintah Daerah dan Alokasi Subsidi dari Pemerintah Pusat di Bidang Kesehatan Pemerintah daerah pascadesentralisasi mempunyai sumber-sumber pembiayaan yang juga telah diatur dalam UU No. yaitu: 1. perusahaan pemerintah daerah dan aset manajemen lainnya. yakni keahlian yang harus dimiliki aparatur pemerintah untuk menjalankan wewenang dan tugas mereka dengan baik. Dimensi teknis. seperti di Kabupaten Kutai di Kalimantan Timur. pembinaan sistematis. minyak dan gas. terdapat kemungkinan beberapa pemerintah daerah di Indonesia menjadi kaya. Kualitas kinerja staf atau aparatur pemerintah atau pegawai yang erat kaitannya dengan upaya pencapaian produktivitas dan kinerja birokrasi. sebagian besar kabupaten di Indonesia tidak mendapat manfaat berarti dari desentralisasi. Desentralisasi memicu perkembangan daerah menjadi beberapa lingkungan ekonomi yang mempengaruhi potensi pembiayaan daerah di bidang kesehatan. 3) Pinjaman. dengan dua orientasi dasar dan dua dimensi kemampuan. Ada 133 . 2) Dana perimbangan yang merupakan dana desentralisasi. 2. sehingga kemampuan teknisnya dapat dimanfaatkan secara maksimal. Memperhatikan hal ini. Akan tetapi. Kabupaten Aceh Utara di Nangroe Aceh Darussalam. Dimensi budaya. yaitu: 1. 2. Kesiapan kondisi mental dan fisik staf atau aparatur pemerintah atau pegawai yang erat kaitannya dengan tingkat penghargaan secara utuh terhadap harkat dan martabat kemanusiaannya. juga harus dapat mengembangkan dua dimensi kemampuan. dan 4) Penerimaan lain (sumbangan Dana Darurat). dan Kabupaten Bengkalis di Riau.

2) Daerah yang mempunyai kekuatan ekonomi pemerintah kecil. Bagi masyarakat miskin. Daerah ini sangat membutuhkan dana dan subsidi dari pemerintah pusat. Bagi masyarakat yang berada dalam garis kemiskinan. namun kekuatan ekonomi masyarakat besar. hlm. pemerintah daerah dapat memberikan jaminan pelayanan kesehatan melalui asuransi kesehatan (misalnya kontrak ke PT. peran pemerintah pusat untuk membiayai pelayanan kesehatan menjadi penting. Asuransi Kesehatan). dll) dan dana kemanusiaan lain untuk pembiayaan kesehatan di daerah tersebut. walaupun dari sisi ”jumlah dana” yang dialokasikan dapat diminimalkan. mengigat kemampuan masyarakat di daerah ini rendah. menurut Laksono Trisnantoro. Pemerintah daerah dapat mengkontrak lembaga penyelenggaraan pelayanan kesehatan swasta dan asuransi kesehatan untuk menjamin pelayanan bagi masyarakat miskin. Daerah ini merupakan daerah di mana sebagian pembiayaan kesehatan dapat diserahkan ke mekanisme pasar. Ada kemungkinan di daerah ini peran pemerintah daerah lebih banyak pada regulator. Sumber pembiayaan dari masyarakat perlu ditingkatkan.151 151 Laksono Trisnantoro. Di daerah ini peran pemerintah daerah sangat kuat dalam pembiayaan kesehatan. Dalam kondisi ini. Peran pemerintah (diharapkan pemerintah pusat) pada pembiayaan diharapkan untuk menjamin akses pelayanan kesehatan. Peran pemerintah daerah yang kuat dapat difokuskan kepada penyediaan pelayanan kesehatan dan pembiayaan kesehatan keluarga miskin serta pelayanan yang bersifat public good (khususnya promotif dan preventif kesehatan). Daerah ini membutuhkan perhatian besar dari pemerintah pusat dan bantuan asing (block grant. peran pemerintah daerah tidak begitu kuat. yaitu kekuatan ekonomi pemerintah daerah dan kekuatan ekonomi masyarakat.dua faktor penting yang mempengaruhi bidang kesehatan. peran pemerintah pusat dalam pembiayaan kesehatan tetap diperlukan. Dengan menggunakan dua variabel ini. hibah. khususnya bagi masyarakat tidak mampu. pemerintah daerah dituntut lebih kuat peranannya. ada 4 tipe daerah yang mungkin terjadi dengan prospek sumber pembiayaannya sebagai berikut: 1) Daerah mempunyai kekuatan ekonomi pemerintah daerah yang besar dan kekuatan ekonomi masyarakat yang besar pula. 4) Daerah mempunyai kekuatan ekonomi pemerintah daerah yang kecil dan kekuatan ekonomi masyarakat yang kecil pula. atau seluruh masyarakat di wilayahnya. cit. 3) Daerah mempunyai kekuatan ekonomi pemerintah daerah yang kuat. 257-268. Sebaliknya.. Dalam hal pembiayaan. 134 . namun kekuatan ekonomi masyarakat kecil. Op.

Dengan demikian. 2) Adil dan Merata (Equity). Berkaitan dengan anggaran kesehatan pemerintah pusat yang masih tinggi.. bagaimanakah teknik alokasi anggarannya? Apakah aspek keadilan perlu diperhatikan untuk daerah-daerah yang relatif miskin? Teknik alokasi anggaran menjadi hal penting karena pengaliran dana dari pusat ke daerah untuk masyarakat atau daerah yang tidak berhak mendapatkannya jangan sampai terjadi kesalahan. sehingga mampu mengerjakan tugas yang diberikan. pemerintah daerah perlu diberi kriteria yang disebut revenue adequacy. Agar pemerintah daerah mempunyai sumber biaya cukup. konsep alokasi dann perimbangan melalui Dana Alokasi Umum adalah cara baru untuk membiayai pelayanan kesehatan di daerah. Karena merupakan hal baru. artinya bantuan yang diterima oleh daerah diharapkan dapat dijamin kelanggengannya. 5) Kesederhanaan (Simplicity). Dengn demikian. bidang kesehatan. 152 135 . artinya dana yang dialokasikan pemerintah pusat harus adil bagi mereka yang membutuhkan dan berhubungan terbalik dengan kemampuan ekonomi propinsi.Dalam konsep desentralisasi. Kriteria ini menunjukkan bahwa dana ditransfer ke daerah dalam bentuk block grant yang dan tidak dibatasi dengan kategori-kategori setta ketidakpastian dari pemerintah pusat. maka akan semakin besar pula transfer dana yang diberikan.152 Shah A. 3) Dapat Diprediksi (Predictablitiy). Policy and Research Series 2. timbul pertanyaan penting. artinya upaya mendorong mengurangi praktik-praktik inefisiensi dalam penganggaran daerah. artinya pemerintah daerah dapat fleksibel dan otonom menetapkan prioritas kegiatan yang diberi dana. dikhawatirkan kriteria transfer keuangan dari pusat ke daerah belum baik. semakin besar pendapatan asli daerah. kemungkinan transfer dana dari pusat akan lebih kecil. misalnya dalam kurun waktu lima tahun. Washington DC. 1994. The Reform of Intergovenrmental Fiscal Relations in Developing and Emerging Market Economies. 4) Efisiensi (Efficiency). artinya berusaha menjamin agar alokasi dana bersifat netral terhadap pilihan berbagai sektor. Sebagai catatan. 6) Insentif (Incentive). pemerintah pusat masih mempunyai peran sebagai pemberi anggaran malalui anggaran dekonsentrasi yang akan diterima propinsi (vide Pasal 1 angka 26 UU No. semakin banyak junmlah penduduk. Akan tetapi. terdapat berbagai kriteria yang dapat digunakan mengacu kepada pendapat Shah A. World Bank. 33/2004). dana dekonsentrasi ini akan semakin menurun seiring semakin meningkatnya dana desentralisasi. yaitu: 1) Otonomi (Authonomy). artinya perlu kesederhanaan untuk menyusun formula. Sehubungan dengan transfer keuangan dari pusat ke daerah.

Di laut tersedia berbagai potensi untuk membawa bangsa dan negara ini menjadi makmur. sambutan tertulis pada Seminar Nasional “Strategi Peningkatan Keunggulan dan Komparatif Komoditas dan Kelautan Dalam Rangka Perkuatan Posisi Sektor Perikanan dan Kelautan Sebagai Pilar Penting Pembangunan Nasional”. sebagaimana di wilayah darat. Sumber Daya Kelautan Indonesia Belum Optimal Dimanfaatkan. maka pemanfaatan sumber daya alam di laut menjadi alternatif yang harus dipilih. dan jasa angkutan. pertahanan dan keamanan. adil dan sejahtera. Dalam hal ini termasuk pula sebagai kekuatan pertahanan dan keamanan nasional untuk Ganjar Kurnia. Sektor Kelautan Aset yang Melimpah Sumber daya alam di darat makin terbatas sedangkan tuntutan kebutuhan pembangunan nasional sudah mendesak. Wilayah pesisir Indonesia memiliki berbagai fungsi. termasuk pesisirnya yang melimpah sumber daya. Sudah saatnya pembangunan nasional di sektor kelautan mendapat perhatian besar pula. ekologi. serta penelitian kelautan. Hal ini terjadi antara lain karena masih kuatnya paradigma pembangunan Indonesia yang masih berorientasi di darat. baik dari aspek ekonomi. kawasan industri. rekreasi dan pariwisata. 153 136 . serta kawasan permukiman dan tempat pembuangan limbah. Sebagai negara bahari.unpad. sosiologis maupun pendidikan dengan segala hasil yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Ratih Anbarini. industri maritim. potensi tersebut belum mampu dimanfaatkan secara optimal. http://www.BAB V ANALISIS ATURAN HUKUM PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM SEKTOR KELAUTAN A. Jatinangor. seperti transportasi dan pelabuhan. Rektor Unpad.ac. 11 Maret 2009. seperti pariwisata bahari. jasa lingkungan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Padjajaran. agribisnis dan agroindustri. 153 Sumber daya kelautan meliputi juga berbagai macam jasa lingkungan lautan yang dapat dikembangkan untuk pembangunan kelautan dan perikanan. Akibatnya produktivitas nelayan Indonesia hingga saat ini masih tergolong rendah. Indonesia memiliki potensi sumber daya kelautan yang jauh lebih besar daripada sumber daya alam yang ada di darat. Namun.id/berita/sumber-dayakelautan-indonesia-belum-optimal-dimanfaatkan/ Diakses tanggal 30 Juli 2009. Semuanya memiliki arti penting bagi pembangunan nasional.

155 UNCED dikenal juga dengan nama Earth Summit. Untuk mengadopsi dan mengaplikasikan teknologi yang dimaksud. dibutuhkan sumber daya manusia yang cerdas. diantaranya melalui penerbitan aturan hukum dan ditindaklanjuti dengan kerjasama di bidang pendidikan dan pelatihan serta penelitian. including Enclosed and Semi-enclosed Seas.tnial. tidak hanya mengelola pesisir dan laut dengan sebagian lautnya.aspx. including exclusive economic zones”. maka program Integrated management tersebut harus menjadi fokus utama perhatian. d) The Forrest principles. tetapi juga adanya komitmen yang kuat serta keseriusan dari berbagai pihak untuk melakukan percepatan penguasaan rekayasa teknologi maritim. and Coastal Areas. UNCED merumuskan tentang pengelolaan wilayah pesisir dan laut secara terpadu (integrated coastal management) dalam Agenda 21 Chapter 17. 137 154 . dan e) Rio Declaration on Environment and Development. c) Agenda 21. Pengelolaan pesisir dan laut secara integral dan berkelanjutan. b) Convention on Climate Change.154 B. Ketentuan mengenai pengelolaan wilayah pesisir dan laut secara terpadu. http://www. Kepala Staf Angkatan Laut. Rational use and Development of Their Living Resources”. Salah satu program dalam Chapter 17. Wilayah Pesisir yang Tak Terpisahkan Tata kelola sumberdaya laut harus dalam konteks keterkaitan dengan ekosistem wilaya pesisir secara terpadu dan berkelanjutan. All Kinds of Seas.mil. Diakses tanggal 22 Agustus 2009. Laksamana TNI.id/tabid/61/articleType/ArticleView/articleId/1258/Default. pada Seminar Nasional Maritim Tahun 2009 di Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut Surabaya. profesional dan berdedikasi tinggi serta memiliki disiplin ilmu berbasis kemaritiman yang dibarengi kerjasama transfer of knowledge melalui peran aktif semua komponen bangsa. Memang upaya membangun sektor kelauatan memerlukan penguasaan teknologi rekayasa maritim yang sarat dengan high-tech dan high-cost. Tidak cukup hanya dengan tekad dan semangat saja. and the Protection.melindungi pesisir pulau-pulau terdepan wilayah NKRI. dapat merujuk kepada hasil United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) di Rio de Janeiro tahun 1992155. sebagai rencana aksi di Abad 21 dengan judul: “Protection of Oceans. menghasilkan: a) Convention on Biological Diversity. yaitu pada program (a) dirumuskan: “Integrated management and sustainable development of coastal areas. melainkan juga mengelola Tejo Edhy Purdijatno. Bagi negara-negara yang mempunyai wilayah laut yang luas.

Sorensen and McCreary.wilayah laut secara keseluruhan.157 Tata kelola wilayah pesisir dan laut bertumpu pada prinsip integrated coastal management. hlm. al. Undang-Undang No. secara ekologis terkait satu sama lain. serta upaya penyelesaian sengketa dan kerjasama di antara masyarakat pesisir. zona ekonomi eksklusif. maka pengelolaan secara optimal hanya dapat diwujudkan dengan pendekatan holistik dan teritegrasi. dan kelembagaan. zona tambahan. Jakarta. 156 138 .C. salah satu penyebabnya adalah perencanaan dan pelaksanaannya dijalankan secara sektoral dan tidak tertata sesuai dengan penataan ruang yang baik. harus menjadi acuan bagi pembentukan aturan hukum pelaksanaan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut yang terintegrasi. Dalam pengelolaan wilayah pesisir dan laut secara terpadu (integrated coastal management). kawasan dan laut bebas. di satu sisi wilayah pesisir dan laut Indonesia. adanya tujuan dan sasaran. et. mulai dari perairan pedalaman. laut teritorial. dirumuskan dalam bentuk aturan hukum. 157 Jacub Rai. memiliki makna yang penting bagi pembangunan ekonomi. hlm. Sesuai dengan karakteristik dan dinamika alamiah ekosistem pesisir dan laut. 1997. lingkungan laut (The Marine Environment) merupakan komponen penting sistem penyangga kehidupan global156. Proceeding of International Symposium. 2001. dan J. muncul setelah ditungkannya Agenda 21 dalam Agenda 21 Indonesia Tahun 1996. Integrated coastal management. et al. sosialekonomi. Pembangunan sumberdaya pesisir dan laut selama ini tidak optimal dan berkelanjutan. kepastian. pemerintah. dan stakehlders. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. 17. sehingga memiliki dan menjamin terbangunnya suatu kondisi bermuatan ketertiban. Malang. berhubungan dengan integrasi undangundang terkait dan integrasi antar sektor. Perlunya pengaturan mengenai wilayah pesisir dan laut secara terpadu oleh Indonesia. Institutional Arrangement for Managing Coastal Resources”. Rokhmin Dahuri. 5. Pradnya Paramita. Tata kelola kelautan dibangun secara sistemik melalui pembangunan dan pemahaman keterpaduan antar pengelola di wilayah pesisir dan laut dengan pihak-pihak terkait. Diakui bahwa. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Laut Secara Terpadu. landas kontinen. Pengelolaan wilayah pesisir dan laut membutuhkan perangkat aturan hukum. nilai dan etika dalam pembangunan. Integrated Coastal and Marine Resources Management. namun di sisi lain wilayah pesisir dan laut juga memiliki sejumlah persoalan yang terkait dengan ekologi. “Coast.

158 139 . 113. Penetapan zonasi laut lebih sulit untuk dilakukan karena kurangnya data ruang yang konsisten. Untuk itu. Salah satu elemen penting dalam program integrated coastal management adalah penyusunan suatu rencana zonasi yang merujuk pada penetapan wilayah administratif. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia. Undang-Undang No. 2.keadilan. lengkap dan terkini. dan Undang-Undang No. ekonomi. Untuk itu diperlukan pula suatu instrumen kebijakan kelautan berupa tata ruang laut beserta sumberdaya yang terdapat di dalamnya. atmosfer. dan 3. sifat multi dimensional lingkungan laut. keterpaduan menata ruang laut dan daratan melalui pendekatan Daerah Aliran Sungai (DAS). maka kebijakan kelautan Indonesia hendaklah mengakomodasi kepentingan nasional terhadap wilayah kedaulatan dan yurisdiksi. Pada hakikatnya penataan ruang laut adalah suatu kebijakan publik yang bermaksud untuk mengoptimalkan pemanfaatan ruang laut bagi semua kepentingan Jacub Rais. Jacub Rais. Jakarta. “Harmonisasi Pengelolaan Wilayah Pesisir Melalui Penatan Ruang Laut. budaya yang hidup di pulau-pulau kecil.Darat Terpadu”. dan kurangnya data sumberdaya laut yang akurat. Zona Ekonomi Eksklusif. sosial. serta kepentingan dan keterkaitan Indonesia terhadap aturan global di perairan laut internasional. Inisiatif Harmonisasi Sistem Hukum Pengelolaan Wilayah Pesisir Indonesia. Menuju tata kelola kelautan yang baik (good ocean governance). keterpaduan menata ruang pulau-pulau kecil dan laut dengan pendekatan bioregionism yang mengkaitkan karakter fisik oseanografi. Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia dan Coastal Resources Management Project. Penetapan zonasi wilayah administratif tersebut dapat merujuk kepada Undang-Undang No. perubahan iklim dengan karakter demografi. Undang-Undang No. 26 Tahun 2004 tentang Penataan Ruang. mengemukakan tiga konsep penataan ruang laut:158 1. 2005. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. prinsip-prinsip integrated coastal management perlu dituangkan ke dalam produk aturan hukum nasional dan daerah secara sinkron yang mengatur mengenai pengelolaan wilayah pesisir dan laut. hlm. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulaupulau Kecil. Kerjasama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional.

Hal tersebut bukanlah disebabkan oleh kesalahan kebijakan Otonomi Daerah. Secara aktual penataan ruang laut dan ruang udara hampir tidak pernah dilakukan. baru terfokus pada tata ruang daratan. kewenangan daerah untuk mengelola sumberdaya di wilayah laut (paling jauh 12 mil laut diukur dari garis pantai dan sepertiga (1/3) dari wilayah kewenangan provinsi untuk kabupaten/kota. 32 Tahun 2004. Memang sempat terjadi konflik horizontal di masyarakat dan mengarah pada ego-kedaerahan sehubungan dengan implementasi kewenangan daerah di wilayah laut.para pelaku pembangunan secara terpadu. Daerah berkewajiban dan bertanggungjawab untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya melalui pengelolaan dan pemanfaatan wilayah laut tersebut. C. Dengan kewenangan di wilayah laut tersebut. seperti pelarangan bagi nelayan dari Daerah lain untuk melaut dalam suatu Daerah. dan berkelanjutan. Tata Kelola Wilayah Pesisir dan Laut oleh Daerah Berdasarkan ketentuan Pasal 18 ayat (3) dan (4) Undang-Undang No. baik melalui eksploitasi yang bertanggung jawab maupun budidaya dengan tetap memelihara kearifan lokal. Peran pemerintah daerah dapat menggerakkan potensi masyarakat di daerahnya untuk menggali potensi laut. 140 . berhasil guna. selaras. oleh karena itu penataan dan pengelolaan ruang laut dan udara diatur dengan undang-undang tersendiri (Pasal 6 ayat (5)). selama ini nelayan tradisional seringkali kehilangan lahan untuk penangkapan ikan karena sudah dikuasai oleh nelayan asing yang menggunakan perlengkapan modern. namun lebih merupakan dinamika transisi implementasi Otonomi Daerah. Konsekwensi dari kewenangan tersebut. antara lain pengaturan tata ruang. sehingga ketersediaan pangan yang bersumber pada laut tetap lestari. Sebagai contoh. Pada tahap awal suatu undang-undang sangat mungkin timbul keragaman pemahaman dan interpretasi dari banyak kalangan terhadap suatu ketentuan aturan. seimbang. Oleh karena itu. berdaya guna. maka sekarang Daerah mempunyai kewenangan untuk melindungi nelayan setempat. Pemerintah daerah harus pula melakukan pembangunan di daerah dan kelautan secara seimbang. Daerah berkewajiban pula untuk ikut melindungi dan mengamankan wilayah laut dan segala aktivitas yang berkaitan dengan pemanfaatan wilayah laut dan sumber daya alamnya. 26 Tahun 2007). Undang-undang penataan ruang (UU No.

http://www. tapi ditekankan pula kewajiban dan tanggung jawab pemerintah (pusat dan daerah) dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. D. untuk memastikan bahwa panen disesuaikan dengan kapasitas ternak untuk berkembang biak. Indonesia sangat dirugikan akibat sumberdaya perikanan banyak “dicuri’ (illegal fishing) oleh nelayan-nelayan (kapalkapal) asing. 159 160 Mustopa. Penegakan Hukum dan Kebijakan Sektor Kelautan Multi Dimensi Dalam hal penegakan hukum di laut. sebagai contoh. antara pemerintah Pusat.norwegia. Sebagai perbandingan tentang manajemen dan penegakan hukum sehubungan dengan pengelolaan sumber daya laut (hidup). Padahal penangkapan jenis ikan tersebut dilakukan oleh nelayan Indonesia di wilayah perairan sendiri. Akibat “pencurian” tersebut Indonesia justru dituduh oleh banyak negara sebagai 'pelaku' “pencurian” ikan terbesar di dunia. nelayan Indonesia dituduh telah menangkap ikan tuna sirip biru yang jumlahnya melebihi kuota (ditetapkan sepihak oleh negara-negara tertentu).p2sdkpkendari. misalnya Negara Bagi Norwegia.id/policy/trade/marine/marine.com/cetak.dalam hal ini otonomi Daerah di wilayah laut. sehingga dituduh sebagai pencuri ikan terbesar. http://www. antara lain sehubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya laut. Oleh karena itu sangat penting bagi Norwegia untuk menerapkan manajemen sumber daya laut hidup yang sangat baik.htm Diakses tanggal 20 Juli 2009. 141 .or.php?id=668. Tujuan pengelolaan sumber daya laut hidup Norwegia adalah memastikan penggunaan yang berkelanjutan. industri perikanan merupakan tulang punggung daerah pesisir pantai dan menempatkannya sebagai salah satu sektor ekspor terbesar Norwegia. dapat merujuk kepada upaya-upaya yang dilakukan secara Norwegia (Norway).159 Sungguh ironis. Diakses tanggal 20 Juli 2009. pemerintah Daerah. 160 baik oleh negara lain. Oleh karena itu. Pengaturan wewenang dan hubungan antara Pemerintah dan pemerintah daerah dalam tata kelola sumber daya alam sektor kelauatan (wilayah pesisir dan laut). masyarakat dan pelaku ekonomi dibutuhkan pemahaman dan persepsi yang sama terhadap kewenangan Daerah di wilayah laut. tidak sekedar difokuskan pada pengaturan terhadap objeknya saja (sumberdaya alam). Manajemen Norwegia untuk sumber daya laut hidup.

pembangunan tetap harus berjalan dengan menggunakan berbagai sumberdaya dan memanfaatkan peluang yang ada. efektif. termasuk pemerintah daerah yang memiliki wilayah pantai dan laut. dan dengan pelayanan prima. Direktorat Perikanan bertanggung jawab untuk mengkontrol jumlah ikan yang ditangkap dan menjaga statistik perikanan. Sejak 1 Juli 2000. Dari aspek kebijakan. menjadikan tantangan tersebut makin berat. Kapal asing yang memancing di perairan di bawah kekuasaan Norwegia juga diperiksa. Namun proyek besar pembangunan kelautan tersebut tidak semata milik DKP. tuntutan terhadap pembangunan kelautan dan perikanan secara efisien. Pembangunan sektor kelautan dan perikanan serta wilayah pesisir di masa datang. Perubahan iklim dan kerusakan lingkungan juga dapat menganggu kelestarian sumber daya kelautan dan perikanan. Perlu keterkaitan secara sinergis dengan berbagai instansi. diarahkan untuk mengelola wilayah laut dalam rangka mempertahankan kedaulatan dan kemakmuran negara. Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) telah merumuskan rencana pembangunan jangka panjang di bidang kelautan.Di Norwegia. 142 . penjaga pantai bertanggung jawab untuk memeriksa kapal yang memancing dan tangkapannya. Namun seberat apapun tantangan itu. sehingga memungkinkan para pejabat memonitor kegiatan mereka secara berkala. Di laut. Norwegia juga memiliki perjanjian tentang penelusuran jejak melalui satelit dengan beberapa negara dimana sumber ikan mereka berada di bawah daerah hukum perikanan Norwegia. Selain itu. pemerintah Norwegia mengharuskan kapal yang berlayar di laut untuk memasang dan menggunakan peralatan berbasis satelit. Secara spesifik. akan menghadapi sejumlah tantangan. Kasus pemalsuan laporan atau ketidaksamaan dirujuk ke pengadilan. juga membangun ekonomi kelautan secara terpadu dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber kekayaan laut secara berkelanjutan. aturan hukum bidang perikanan ditegakkan baik di laut dan ketika ikan ditangkap. melainkan kait-mengkait secara integral dari seluruh komponen bangsa.

1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara 3. Undang-Undang No. serta Jumlah Kumulatif Pinjaman Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah 161 Periksa teks lengkap ketentuan Pasal 18A ayat (2) UUD 1945. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara 4. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara 2. Undang-Undang No. Undang-Undang No. 23 Tahun 2003 tentang Pengendalian Jumlah Kumulatif Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. yaitu: 1. baik untuk pembiayaan urusan pemerintah pusat (nasional) maupun untuk menjalankan urusan pemerintahan pada tingkat lokal (daerah). disamping tetap mendasarkan pada asas sentralisasi untuk sebagian urusan pemerintahan. 143 . Hubungan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah Dalam rangka menjalankan organisasi negara melalui sistem pemerintahan sampai ke daerah-daerah. yaitu undang-undang dan aturan hukum penjabarannya. dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. dapat dilakukan dalam pelbagai bentuk desentralisasi.BAB VI ANALISIS ATURAN HUKUM HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH A. Implikasi langsung dari pelaksanaan urusan pemerintahan tersebut adalah kebutuhan dana (keuangan) yang cukup besar. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah 5. Peraturan Pemerintah No. mempunyai Beberapa aturan hukum mengenai keuangan negara dan hubungan keuangan antara pusat dan daerah. hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang161. Oleh karena itu diadakan pengaturan mengenai keuangan negara dan keuangan daerah dalam bentuk aturan hukum. Undang-Undang No. Sebagaimana diamanatkan konstitusi (Pasal 18 A ayat (2) UUD 1945).

Desentralisasi Fiskal Salah satu wujud dari desentralisasi fiskal adalah penyerahan oleh pemerintah pusat atas sumber penerimaan tertentu kepada daerah dari sektor pajak dan retribusi. Hal tersebut dapat ditelusuri dari aturan dasarnya. daerah dapat menggali dan menggunakan sendiri sesuai dengan potensinya masing-masing. dekonsentrasi dan tugas pembantuan. 57 Tahun 2005 tentang Hibah Kepada Daerah 10. dan undang-undang perimbangan keuangan. 144 .6. serta undang-undang keuangan negara. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Presiden No. 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan 8. dan pinjaman daerah. 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Uang Negara/Daerah 12. 1. dapat dilakukan secara desentralisasi fiskal. 104 Tahun 2006 tentang Penetapan Alokasi Dana Alokasi Umum. 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah 9. Dari kedua sumber penerimaan yang diserahkan kepada daerah tersebut. namun masih relatif kecil persentasenya dari total keseluruhan penerimaan daerah. terutama dalam undang-undang pemerintahan daerah. Pajak dan retribusi daerah menjadi andalan dalam kontribusi pendapatan asli daerah. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Pemerintah No. hal tersebut tercermin dari sumbersumber pajak dan retribusi daerah yang sangat terbatas lapangan dan potensinya. Terdapat sejumlah jenis pajak daerah dan jenis retribusi daerah yang menjadi lapangan masing-masing dari propinsi dan kabupaten/kota. undang-undang pajak daerah dan retribusi daerah. Peraturan Pemerintah No. Hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah 11. Secara substansial terjadi ketimpangan wewenang di bidang pajak dan retribusi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. yaitu dengan nama pajak daerah dan retribusi daerah. 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah 7. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Pemerintah No.

baik dari sektor pajak maupun SDA dapat menimbulkan ketimpangan horizontal antar daerah sejenis. Bea Perolahan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Hal ini disebabkan potensi subjek dan objek pajak yang tidak sama antar daerah. minyak bumi dan gas alam. yaitu dana bagi hasil. Bagi hasil penerimaan tersebut di atas dilakukan dengan persentase tertentu yang didasarkan atas daerah penghasil. dan kebutuhan daerah. Bagi hasil penerimaan (revenue sharing) berasal dari penerimaan pajak dan penerimaan dari sumber daya alam (SDA). Meskipun demikian. yaitu UU Pajak Penghasilan (PPh) sebagai perubahan UU sebelumnya. hanya beberapa daerah yang memiliki potensi SDA secara signifikan. dan perikanan. khususnya dari aspek fiskal. Dana Perimbangan Dalam konteks desentralisasi fiskal dikenal pula dana perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Perimbangan adalah suatu sistem pembagian keuangan dalam rangka pendanaan penyelenggaraan desentralisasi. Dari dana bagi hasil penerimaan negara tersebut. Daerah memperoleh bagi hasil dari PPh orang pribadi yaitu PPh Karyawan (Pasal 21) serta PPh Pasal 25 dan PPh Pasal 29 Orang Pribadi. berdasarkan UU Nomor 17 Tahun 2000. di samping itu. Di samping itu. pertambangan. 145 . Sistem bagi hasil tersebut di atas. serta besaran pendanaan penyelenggaraan dekonsentrasi dan tugas pembantuan. dan Dana Alokasi Khusus. Terhadap lapangan pajak yang sudah menjadi lapangan pajak pemerintah pusat tidak dapat dikenakan pajak lagi oleh daerah. Bagi hasil penerimaan negara tersebut meliputi bagi hasil Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). seperti minyak bumi dan gas alam (migas). dengan mempertimbangkan potensi. dan bagi hasil sumber daya alam (SDA) yang terdiri dari sektor kehutanan. kondisi. dimungkinkan dilakukan opsen atau penetapan tambahan atas pajak pusat. pertambangan umum.2. dan kehutanan. dapat mengurangi sebagian ketimpangan hubungan keuangan antara pusat daerah. misalnya terhdap PPh Orang Pribadi. Dana Alokasi Umum.

Sifat urusan yang dilimpahkan tersebut tetap sebagai urusan pemerintah pusat. Tugas Pembantuan Tugas pembantuan juga diadakan dalam rangka memperlancar pelaksanaan urusan pemerintah pusat di daerah. pihak yang memberikan tugas pembantuan tidak terbatas dari Pemerintah Pusat saja. apabila kegiatan tersebut menghasilkan pendapatan. 4. Dalam hal urusan yang dilaksanakan berdasarkan tugas pembantuan tersebut berasal dari pemerintah pusat. Urusan dekonsentrasi antara lain fasilitasi kerja sama dan penyelesaian perselisihan antar daerah dalam wilayah kerjanya. maka pendapatan tersebut menjadi penerimaan negara (pemerintah pusat). atau dari kabupaten/kota ke desa. namun pelaksanaannya di daerah dilakukan oleh dinas Daerah dan instansi vertikal di daerah. pada tugas pembantuan dalam pelaksanaannya dapat ditugaskan kepada propinsi. tapi juga dapat berasal dari pemerintah propinsi kepada kabupaten/kota. 146 . Dalam hubungan ini. kota. Disamping itu. Perbedaan dengan dekonsentrasi. kabupaten. penciptaan dan pemeliharaan ketentraman dan ketertiban umum.3. Apabila dari pelaksanaan urusan dekonsentrasi tersebut menghasilkan pendapatan. Dekonsentrasi Dekonsentrasi merupakan pelimpahan wewenang pemerintah pusat kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat di propinsi. Pendanaan atas pelaksanaan urusan dekonsentrasi tersebut merupakan tanggungjawab pemerintah pusat dan dengan sendirinya bersumber dari APBN. pembinaan penyelenggaraan tugas-tugas umum Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. maka dana yang digunakan untuk membiayai kegiatan dimaksud berasal dari APBN. dan desa. maka pendapatan itu menjadi penerimaan pemerintah pusat.

Pinjaman daerah yang bersifat jangka panjang. sebagian besar perjanjian pinjaman luar negeri untuk pemerintah paerah telah ditandatangani. 147 . B. diharapkan dari pengelolaan aset tersebut nantinya dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran pinjaman. yaitu pinjaman yang berasal dari lembaga swasta atau masyarakat langsung. jaminan dan akuntabilitas. Adapun pinjaman daerah yang bersifat jangka pendek. Konflik Aturan Hukum dan Disharmoni Tata Kelola Sektor Keuangan Pusat dan Daerah Konflik aturan hukum dan disharmoni mengenai tata kelola sektor keuangan antara pusat dan daerah diidentifikasikan sebagai berikut: 1. Selain memberikan manfaat bagi pelayanan umum. Kurang efektifnya koordinasi antara Departemen Keuangan.5. Akibat dari semua itu. belum diikuti dengan aturan hukum yang jelas dari segi mekanisme penyaluran. Departemen Teknis. namun belum dapat disalurkan karena persoalan aturan hukum yang disebutkan tadi tidak jelas. dan Pemerintah Daerah dalam menentukan besarnya realisasi Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam (SDA) sehingga penyalurannya terlambat. hanya dapat dilakukan dalam rangka pengelolaan kas daerah yang sifatnya hanya untuk membantu likuiditas. digunakan untuk membiayai pembangunan prasarana yang akan menjadi aset daerah. Dengan demikian sumber pinjaman daerah dapat berasal dari sumber di luar keuangan negara. maka daerah dapat melakukan pinjaman baik dari dalam negeri (Pemerintah Pusat dan Lembaga Keuangan) maupun dari luar negeri dengan persetujuan dan melalui pemerintah pusat. Kebijakan Pemerintah terhadap pinjaman luar negeri (penerusan pinjaman) dalam kerangka desentralisasi fiscal. mekanisme pembayaran kembali. Pinjaman Daerah Untuk membiayai kebutuhan daerah berkaitan dengan penyediaan prasarana yang dapat menghasilkan (pengeluaran modal).

Tidak adanya harmonisasi dan konsistensi antara ketentuan Pasal 4 ayat 3 Peraturan Presiden Nomor 104 Tahun 2006 tentang Penetapan Alokasi DAU dengan peraturan yang lebih tinggi sehingga beberapa daerah mendapat alokasi DAU lebih daripada seharusnya. Peluang terjadinya penyalahgunaan kebijakan Pemerintah Pusat yang memberikan perintah untuk segera mencairkan Dana Alokasi Khusus tanpa melihat kesiapan Pemerintah Daerah untuk merealisasikannya. 55 Tahun 2005) berakibat pada adanya pertentangan pada kedua ketentuan tersebut dalam hal penetapan Dana Perimbangan sehingga berpotensi pada ketidakadilan dan ketidakselarasan dalam pengalokasian dana tersebut. Ketentuan tersebut mempunyai arti bahwa pengaturan hubungan keuangan tersebut harus memberikan kemanfaatan bagi seluruh rakyat Indonesia. 4. 5. dan kriteria teknis yang ditetapkan sehingga alokasi DAK tersebut tidak mempunyai dasar. Penerimaan Dana Perimbangan oleh banyak Pemerintah Daerah dilakukan tanpa melalui kas daerah. di antaranya digunakan secara langsung tanpa melalui mekanisme APBD dan ada yang belum disetorkan ke daerah. 33 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah No. kriteria khusus.2. 3. Pengaturan hubungan keuangan tersebut harus memberikan jaminan terciptanya kesesuaian antara besarnya kewenangan yang diserahkan kepada daerah 148 . Isu Hukum Mendasar dan Aktual dalam Pengaturan Keuangan Pusat dan Daerah Serta Solusinya Lemahnya koordinasi antara Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat dalam mengimplementasikan ketentuan Dana Perimbangan (Undang-Undang No. meskipun proses pendistribusian tidak secara merata atau sama besarnya antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya. Pasal 18A ayat (2) UUD 1945 menentukan bahwa hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras. C. Penghitungan alokasi DAK tidak mengikuti kriteria umum.

dapat dikatakan merupakan upaya untuk memenuhi jiwa dan semangat Pasal 18A ayat (2) UUD 1945 . besaran wilayah. pertambahan penduduk dan pertumbuhan ekonomi. khususnya kata-kata adil dan selaras. sumber-sumber keuangan yang diserahkan kepada daerah mestinya sebanding dengan tugas dan tanggung jawab yang diserahkan kepada daerah untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan. Hal ini dikarenakan kemampuan keuangan daerah sangat ditentukan oleh ketersediaan sumber-sumber pajak dan dan retribusi serta hasil dari objek pajak dan retribusi tersebut. Apakah Pemerintah Pusat telah menyerahkan sumber-sumber keuangan yang cukup terutama yang berhubungan dengan pajak daerah. dan besaran penduduk. Hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah itu dapat berlangsung dengan adil dan selaras jika dipenuhi beberapa aspek: 1. serta sesuai dengan tujuan negara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Oleh karena itu. perimbangan keuangan harus menunjukkan. 2. sumber daya alam. dan bagi hasil pajak dan SDA. tingkat pengangguran. Dengan perkataan lain. Adapun tingkat hasil sangat dipengaruhi oleh sejauh mana sumber pajak responsif terhadap kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi objek pengeluaran seperti inflasi. 3. Penggunaan istilah ”perimbangan keuangan” dalam UU Nomor 33 Tahun 2004. Pemberian sumber-sumber penerimaan tersebut akan mencerminkan kemampuan atau potensi di bidang keuangan dari suatu daerah. Sejauh mana pemerintah pusat memberikan subsidi yang adil dan terukur kepada masing-masing daerah untuk membiayai kekurangan dana. Penyerahan sumber-sumber keuangan kepada daerah oleh pemerintah pusat sangat erat kaitannya dengan penyerahan urusan pemerintahan kepada daerah sebagai konsekuensi dianutnya asas desentralisasi. Sumber-sumber pendapatan potensial yang dimiliki Daerah akan menentukan juga tingkat kemampuan keuangannya. Setiap daerah mempunyai potensi pendapatan yang berbeda karena perbedaan kondisi ekonomi. Sejauh mana pemerintah daerah mempunyai kemampuan untuk menentukan secara objektif kebutuhan akan keuangan yang diperlukan untuk menyediakan pelayanan yang diperlukan masyarakat daerah.dengan sumber-sumber keuangan yang dapat dikelola oleh daerah. retribusi daerah. bahwa penyerahan urusan pemerintahan kepada daerah 149 .

Dalam pelaksanaan desentralisasi fiskal perlu dipikirkan adanya semacam pedoman dari pemerintah pusat sebagai sarana pengawasan.5% untuk pemerintah pusat dan sisanya dibagi antara provinsi dan kabupaten/kota. Penyerahan sumber-sumber keuangan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah belum mencerminkan besarnya urusan pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah. khususnya yang berkaitan dengan pajak dan retribusi daerah. Langkah Penyempurnaan Hubungan Keuangan Antara Pusat dan Daerah Beberapa hal yang harus dicermati dan dijadikan sebagai langkah penyempurnaan dalam pelaksanaan perimbangan keuangan antara Pusat dan Daerah. akan dapat diketahui kebutuhan keuangan yang diperlukan dalam satu tahun anggaran.mencerminkan adanya keseimbangan dengan penyerahan pengelolaan dan pemanfaatan sumber-sumber keuangan yang ada di daerah. karena perimbangan keuangan hakikatnya merupakan subsidi dari pusat kepada daerah. Memang perimbangan keuangan tidak berarti pemberian sumber-sumber keuangan dibagi secara secara sama rata (sama besar) antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. D. Masih ada keengganan pemerintah pusat untuk memberikan dana bagi hasil yang lebih besar kepada daerah. Hasil sektor pertambangan minyak bumi 84. adalah: 1. tidak dibarengi dengan penyerahan sumber-sumber keuangan potensial yang berada di wilayah daerah otonom sebagai pemasok utama PAD. Berdasarkan rencana kegiatan itu.5% untuk pemerintah pusat dan sisanya untuk daerah. Pemerintah daerah harus mempunyai kemampuan untuk menentukan secara objektif kebutuhan akan keuangan yang diperlukan untuk membiayai penyelenggaraan pelayanan yang diperlukan masyarakat daerah. dan hasil sektor pertambangan gas bumi 69. khususnya dari sektor pertambangan minyak dan gas bumi. Pemerintah daerah juga harus dapat melakukan perhitungan secara matang dan rasional mengenai rencana kegiatan yang akan dilaksanakan sehubungan dengan penyerahan urusan pemerintahan kepada daerah. 150 . Luasnya urusan pemerintah daerah.

Terdapat keseimbangan antara akuntabilitas dan kewenangan dalam pengelolaan pajak dan retribusi Daerah. variabel. porsi PAD hanya sekitar 3. Hubungan keuangan antara Pusat dan Daerah terutama yang berkaitan dengan pencairan DAU dan DAK dalam pelaksanaannya kurang transparan. maka dalam menentukan besaran persentase yang akan dicantumkan dalam peraturan yang mengatur tentang perimbangan keuangan antara Pusat dan Daerah. 4. 3. Kebijakan ini sekaligus untuk menghilangkan upaya Daerah untuk menggali sumbersumber PAD yang berdampak distortif terhadap perekonomian dan lingkungan. Untuk itu perlu peningkatan taxing powers Daerah. Hubungan Keuangan antara Pusat dan Daerah yang menyangkut dana perimbangan belum memberikan peran kepada Daerah untuk terlibat langsung dalam menentukan kriteria. Dalam pelaksanaan desentralisasi fiskal. 5. harus dilibatkan masyarakat Daerah baik yang berasal dari LSM. Prinsip money follow function harus dilaksanakan secara konsisten sehingga kewenangan harus ditetapkan lebih dahulu baru kemudian ditetapkan dan ditransfer dana yang dibutuhkan. 3.45% tergolong sangat sentaralistis. Agar diperoleh suatu pemahaman yang sama. sehingga penyimpangan penggunaan anggaran daerah dapat diperkecil atau bahkan ditiadakan. antara lain melalui penyerahan beberapa pajak Pusat dan Daerah. antara lain dengan DAK.2. agar pemerintah pusat senantiasa mengadakan koreksi atas ketimpangan antar daerah. Berdasarkan uraian di atas maka beberapa hal perlu ditegaskan: 1. 2. Hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia diwujudkan dengan memberikan kewenangan yang lebih besar kepada Daerah untuk mengatur dan mengurus sumber-sumber pendapatan Daerah dalam rangka membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Dari gambaran consolidated revenues (APBD Kabupaten/Kota + Provinsi + Penerimaan Dana Dalam Negeri dalam APBN). perguruan tinggi. dan penyerahan sebagian PNBP kepada Daerah. 4. dan 151 . maupun jumlah prosentase pembagian antara Pusat dan Daerah.

152 . transparansi dan akuntabilitas. Pemberian subsidi atau bantuan hendaknya tetap dapat menjamin kemandirian Daerah dalam mengatur dan mengurus rumah tangga Daerah sesuai dengan aspirasi dan kepentingan masyarakat daerah. 6. Untuk meningkatkan kemampuan Daerah dalam membiayai atau membelanjai kegiatan pemerintahan. maka objek pajak yang potensial hendaknya diserahkan hak pemungutan dan pengelolaannya kepada Daerah.Dewan Perwakilan Daerah (DPD) agar terjamin keadilan. 5.

juga memiliki urusan sebagai daerah otonom. Namun urusan kabupaten dan kota lebih merupakan urusan residu (sisa). karena terlebih dahulu ditentukan dan diatur apa saja lingkup urusan Pemerintah pusat dan urusan propinsi. sebagai daerah otonom yang berbasis langsung pada rakyat. Apakah itu dari sumber daya alam. terutama sumber daya yang bernilai ekonomi tinggi (banyak menghasilkan uang). Relatif kecilnya 153 . menuntut tanggung jawab yang lebih besar dalam pelayanan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Padahal. Pada sisi lain. kabupaten atau kota. penyelenggaraan otonomi yang berbasis langsung dengan rakyat. Pembagian Wewenang yang Timpang Antara Pusat dan Daerah Penyusunan daerah otonom ke tingkatan propinsi-propinsi (atau sejenisnya) dan dibagi lagi dalam kabupaten-kabupaten dan kota-kota. sumber daya pajak dan retribusi. Pengelolaan sumber-sumber keuangan daerah berkisar pada sumber-sumber yang sangat terbatas dibandingkan dengan sumber-sumber yang ditetapkan untuk pemerintah pusat. Pembagian pengelolaan sumber daya yang ada di daerah. Urusan-urusan pemerintahan yang dapat dibagi dan diselenggarakan bersama-sama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. menunjukkan realitas bahwa otonomi pada dua jenis daerah tersebut belum berarti banyak bagi kesejahteraan masyarakat. Sebagian pihak bersikukuh agar propinsi tetap sebagai daerah yang memiliki urusan otonom. maupun sumber daya dari bukan pajak dan bukan retribusi yang bernilai uang.BAB VII PROBLEM DAN LANDASAN PIJAK PENATAAN HUBUNGAN PUSAT DAN DAERAH DAN PERAN MASYARAKAT ADAT A. baik jenis maupun ruang lingkup yang besar. Akibat keterbatasan sumber daya keuangan pada kabupaten dan kota. menimbulkan persoalan pembagian urusan pemerintahan dan ruang lingkup kewenangannya. terutama tentang ruang lingkup masing-masing urusan tersebut dan mengintegrasikan secara sinergis dalam tataran normatif dan pelaksanaannya. kabupaten atau kota hanya mendapat sisa. hingga sekarang belum terselesaikan dengan tuntas.

seperti penebangan hutan. Kenyataan sekarang. kegiatan pertambangan. Daerah masih sangat bergantung kepada dana alokasi dan bagi hasil penerimaan dari Pemerintah Pusat. mencerminkan bahwa otonomi itu masih jauh dari yang diharapkan. baik dengan proses pembebasan yang sesuai prosedur maupun dengan proses yang tidak sesuai dengan prosedur. menjadi andalan utama dalam menggali sumber-sumber keuangan daerah. Kemerosotan fungsi lingkungan. dan tatanan sosial kemasyarakatan. telah menimbulkan dampak kemerosotan daya dukung dan keberlanjutan fungsinya bagi lingkungan hidup. bagi dari aspek kesehatan.pendapat asli daerah bila dibandingkan dengan penerimaan APBD. Untuk keperlukan lahan yang luas bagi usaha perkebunan besar. hal tersebut diwujudkan dalam bentuk pungutan (pajak. bahkan tidak diikuti dengan pengecekan secara objektif di lapangan. bahkan terjadinya kerusakan lingkungan sangat mengancam bagi kehidupan masyarakat setempat dan sekitarnya. Penetapan luas wilayah atau areal lahan secara sepihak oleh pemerintah bagi suatu perusahaan yang membutuh lahan yang luas. sangat rawan terjadinya tumpang tindih dan sengkta kepemilikan lahan. sumbangan) dan eksploitasi sumber daya alam. Berbagai eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan. keberlanjutan mata pencarian. Itulah sebabnya dapat dikatakan sengketa pertanahan antara warga dengan pihak perusahaan. rawan terjadinya tindak kekerasan yang dilakukan oleh warga. Faktor kunci ukuran keberhasilan otonomi daerah ditentukan oleh kekuatan pendapatan asli daerah yang bersangkutan untuk membiayai penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pembangunan. baik dalam bentuk 154 . Berlarutnya penyelesaian dan tidak jelas akhir penyelesaian sengketa pertanahan. dan perkebunan oleh berbagai perusahaan baik dalam skala kecil maupun skala besar. Terdapat banyak kecendeungan bahwa upaya peningkatan penerimaan daerah lebih banyak bersifat beban bagi masyarakat. termasuk pemerintah. Bagi daerah-daerah yang memiliki potensi kekayaan sumber daya alam yang besar. Sisi lain dari eksploitasi sumber daya alam di daerah adalah makin terdesaknya hak-hak masyarakat setempat atas akses terhadap hutan dan hasilnya serta akses hak atas tanah. banyak tanah-tanah warga masyarakat yang diambil alih. terjadi di tiap propinsi. retribusi. iuran. Sutau kebijakan yang tidak populer di masyarakat.

Persoalan menjadi bertambah krusial oleh karena kawasan potensi sumber daya tambang dan mineral. Seperti halnya bahan tambang (mineral. Konflik batas lahan dan kepemilikan lahan. Sengketa wilayah perbatasan antar pemerintah daerah di Indonesia tidak akan menimbulkan kekerasan atau bentrokan di masyarakat. pembakaran terhadap asset. Potensi sumber daya tambang dan mineral. misalnya di bidang pertambangan dan perkebunan. maka persoalan kepentingan ekonomi menjadi 155 . serta kemungkinan dengan negara lain yang berbatasan langsung terutama wilayah daratan.pengrusakan. batubara. memiliki kawasan tersendiri secara alami yang kadangkala tidak mudah ditentukan dari atas permukaan bumi. baik yang bersifat biotik maupun non biotik. dan antar kabupaten dan kota. atau jenis lainnya). demikian juga sumber daya biotik lainnya mempunyai karakter ekologik. melainkan juga terjadi antar sesama pemerintah daerah. Pada tataran antar sesama pemerintah daerah dikenal dengan sengketa wilayah administrasi yaitu mengenai batas wilayah administratif masing-masing daerah yang berbatasan langsung. Karakter ekologik dari sumber daya alam tersebut. Sengketa batas wilayah dapat terjadi antar provinsi. tidak hanya terjadi pada tataran sesama warga masyarakat. serta terdapatnya perusahaan yang menanamkaan modal di kawasan tersebut. misalnya bahan tambang dan mineral. antar warga dengan perusahaan. maupun kekerasan fisik lainnya. tidak cukup dipandang dan dipaksa diselesaikan secara pemetaan wilayah administratif. seperti dengan Malaysia di Pulau Kalimantan dan di Propinsi Papua dengan Papua New Guinea (Papua Nugini). termasuk terhadap fisik manusia. antar kabupaten. tidak persis sama batas wilayahnya dengan wilayah administratif daerah yang ditentukan berdasarkan peta tertulis. Konflik (administrasi) perbatasan antar pemerintah daerah akan makin mencuat jika di wilayah tersebut dan sekitarnya kaya sumber daya alam. dan antar warga dengan pemerintah. oleh karena itu secara ekologik dapat meliputi sejumlah wilayah atau daerah yang berbatasan langsung. Jika sumber daya alam yang terdapat di kawasan perbatasan wilayah daerah tersebut potensial dan bernilai tinggi. melainkan juga harus didekati dari sisi bio-region dan nature region. namun dapat menyebabkan macet atau terabaikan pelayanan kepada masyarakat yang berada di daerah perbatasan tersebut. sebagai miniatur dari permukaan bumi.

motif pertarungan dari daerah masing-masing yang perbatasannya persis di kawasan tersebut. Ada pula masyarakat hukum adat yang bersifat genealogis (berdasarkan asas keturunan). Dayak (Kalimantan). Dalam masyarakat hukum adat yang genealogis dikenal tiga pertalian keturunan. Kerinci (Jambi). 2. Masyarakat adat yang memiliki ikatan atas wilayah adat sebagai wilayah leluhurnya tetapi tidak berdomisili di sana secara fisik serta tidak memanfaatkan tanah adat tersebut karena suatu kesukarelaan atau suatu keterpaksaan. 3. dan Jawa. Bali. Tidak dipersoalkan apakah anggota masyarakat tersebut mengikatkan diri secara sukarela atau karena terpaksa. Masyarakat Adat Beserta Hak Komunalnya dalam Perspektif Desentralisasi Secara singkat dapat dideskripsikan pemaknaan tentang masyarakat adat itu sebagai berikut: 1. Masyarakat adat yang memiliki ikatan atas wilayah adat sebagai tanah leluhur dan secara fisik berdomisili dan menggunakannya. seperti terdapat dalam masyarakat hukum adat orang Minangkabau (Sumatera Barat). keturunan menurut garis laki-laki. Tentu saja dalam ikatan yang demikian bercampur pula ikatan yang bersifat genealogis dan 156 . yaitu: 1. 3. keturunan menurut garis ibu dan bapak. Masyarakat heterogen (campuran antara masyarakat adat dan pendatang). 2. B. dan Semendo (Sumatera Selatan). saling klaim dan menyatakan diri sebagai pihak yang berhak dan berwenang mengambil keputusan. Masyarakat adat (masyarakat hukum adat) yang dimaksud di sini lebih ditekankan pada masyarakat adat yang secara fisik berdomisili dan memanfaatkan tanah dalam ikatan wilayah adat mereka. termasuk terhadap pihak ketiga yang akan melakukan investasi atas sumber daya alam tersebut. dan Ambon. seperti terdapat dalam masyarakat hukum adat orang Batak. Kedua daerah atau lebih. seperti pada masyarakat hukum adat orang Bugis (Sulawesi). ialah masyarakat hukum adat yang para anggotanya terikat berdasarkan keyakinan bahwa mereka berasal dari keturunan yang sama. keturunan menurut garis perempuan.

Ketika hukum yang dibuat oleh negara itu diterapkan di masyarakat (termasuk masyarakat adat) sering kali menimbulkan goncangan terhadap tertib hukum dan budaya lokal.ikatan yang bersifat kewilayahan. Komunitas masyarakat adat dalam perjalanannya lambat laun akan berinteraksi dengan masyarakat lain (luar). juga berlaku hukum (aturan hukum tertulis) yang dibuat oleh negara. sekalipun harus menjelajah jauh ke daerah pelosok. Berbagai alasan alasan atau kepentingan yang melatarbelakangi kedatangan orang luar sehingga memasuki komunitas dan wilayah masyarakat adat. hal ini terjadi karena kehidupan masyarakat luar yang dinamis dan terus mengembangkan aktivitas kehidupan. Padahal. sebab pengakuan dan penghormatan atas kesatuan masyarakat adat dan hak tradisionalnya harus menyesuaikan dengan perkembangan masyarakat. terjadi karena masuknya orang luar tersebut ke dalam wilayah atau kesatuan masyarakat adat tersebut. seperti pembentukan daerah. oleh hukum negara (nasional) tidak selalu compatible dengan budaya lokal. baik aturan hukum yang dibuat oleh pemerintah pusat maupun yang dibuat oleh pemerintah daerah. Dalam kebijakan otonomi daerah. Pembagian wilayah-wilayah daerah otonom. proses terjadinya interaksi antara masyarakat hukum adat dengan segala tatanan kemasyarakatan dan hak-hak komunalnya dengan penduduk atau masyarakat lain. pemekaran daerah. Di samping hukum adat yang mereka gunakan dalam kehidupan bermasyarakat. tidak dijadi komponen yang menentukan dalam pembentukan daerah dan pembagian urusan pemerintahan. terutama: 157 . manusia tidak bisa hidup di luar ketertiban. Karakter hukum yang dibentuk oleh negara cenderung dirumuskan dalam aturan hukum dan norma hukum yang bersifat general (umum). dan pembagian urusan pemerintahan. tidak didasarkan pada kekhasan dan kearifan lokal. mengakibatkan struktur masyarakat adat dan budayanya menjadi terpecah-pecah (fragmented) dalam beberapa daerah otonom. juga dalam pembagian wilayah administratif daerah. sebaliknya manusia tetap bisa hidup tanpa harus menggunakan hukum modern (negara) dan tiap komunitas sesuai dengan kearifannya. ternyata masyarakat adat beserta hak komunalnya. Kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat dan hak-hak tradisionalnya. Dengan demikian. lambat-laun akan terpinggirkan. akan membangun ketertibannya sendiri.

Pihak yang diuntungkan biasanya adalah pemerintah atau pihak lain yang mendapat “legitimasi” negara untuk menguasai kawasan tertentu. seperti kegiatan penebangan kayu melalui hak penguhaan hutan (HPH). dan pembukaan ruas jalan untuk kelancaran mobilitas kegiatan investasi perusahanperusahaan besar. peraturan atau kebijakan pemerintah. serta pengusahaan tanaman industri untuk bahan kertas misalnya. Cikal bakal persoalan (konflik) pertanahan berskala besar dan berkepanjangan yang menyangkut hak-hak masyarakat adat atas tanah dan hak atas tanah masyarakat lokal lainnya. Konflik tersebut di atas diakibatkan oleh perampasan hak atas tanah (teritori) tanah adat baik oleh negara (pemerintah) dengan dalih “untuk kepentingan umum” maupun oleh swasta (perusahaan). tidak hanya membuat masyarakat adat dan masyarakat lokal sekitarnya yang terdesak dan terjepit. - melakukan aktivitas perdagangan antar daerah.- perpindahan penduduk dari daerah lain ke dalam wilayah suatu masyarakat hukum. seperti pembukaan lahan untuk perkebunan besar. yakni karena adanya aktivitas yang langsung berhubungan dengan tanah. 158 . seringkali menimbulkan friksi antara pihak yang diuntungkan (the winner) dengan pihak yang kalah (the looser). Dampak eksploitasi sumber daya alam yang tidak selaras dengan prinsif Pasal 33 UUD 1945. Hal inilah yang menjadi benih konflik ketika masyarakat sebagai pemilik awal melakukan tindakan penguasaan kembali atas haknya yang dirampas. pembukaan area pertanian (oleh pemerintah). penebangan hutan secara besar-besaran untuk kebutuhan industri pengolahan kayu. pertambangan. dan perkebunan. Perampasan teritori (territory violence) terhadap masyarakat adat dengan mengatasnamakan undang-undang. dan eksploitasi kekayaan sumber daya alam oleh korporasi. sedangkan masyarakat adat (pemilik asli) hampir selalu menjadi pihak yang dipinggirkan. pertambangan. kegiatan politik. pembukaan jalan. kegiatan sosial. melainkan berdampak secara kawasan.

Praktik penebangan liar dan konversi lahan juga telah menimbulkan dampak yang luas. Pemanfaatan hutan sebagai modal pembangunan ekonomi nasional telah melebihi kemampuannya sebagai sumber daya alam yang dapat diperbaharui. telah menyebabkan banjir pada musim hujan. Inkonsistensi menunjukkan adanya kontraksi dalam sistem aturan hukum. Berbagai kebijakan yang telah dilaksanakan masih belum mampu menyelesaikan permasalahan di bidang kehutanan. sepertin penurunan kualitas sumberdaya air. Terdapat ketidaksesuaian antara berbagai aturan hukum yang bersifat sektoral dan aturan hukum yang bersifat sentralistik.regional bahkan global. Cara demikian dapat 159 . seimbang dan lestari. daya saing serta modal bagi pembangunan nasional. nilai tambah dari produk hutan nonkayu seperti air. Kerusakan pada DAS makin parah disebabkan oleh lemahnya kapasitas kelembagaan pengelolaan DAS dan kurangnya koordinasi antara kegiatan di hulu dan hilir. perubahan iklim secara ekstrem. keanekaragaman hayati. sebaliknya terjadi kekeringan pada musim kemarau di beberapa daerah. Titik Tolak Penyelarasan Hubungan Pusat dan Daerah Berdasarkan Prinsip Otonomi yang Luas Tidak ada sistem yang sempurna. udara bersih. yaitu kerusakan ekosistem di kawasan tersebut dan merambah ke dalam tatanan daerah aliran sungai (DAS). Terancamnya kelestarian keragaman jenis dan kekhasan sumberdaya alam untuk mewujudkan nilai tambah. dan keindahan alam belum berkembang seperti yang diharapkan untuk mendukung sektor ekonomi. Sementara itu. melainkan ada banyak inkonsistensi dan inkoherensi (ketidaksesuaian) antara aturan yang satu dengan yang lainnya. C. Terbentuknya suatu UU baru tanpa diikuti pembentukan aturan penjabaran. dan antara aturan hukum yang bersifat payung dengan aturan hukum yang bersifat implementing regulations. menyebabkan tetap memberlakukan aturan hukum yang bersifat implementing regulations yang dibentuk berdasarkan UU yang lama. menurunnya fungsi dan daya dukung lingkungan dalam mendukung kualitas kehidupan sosial dan ekonomi secara serasi. sehingga temuan adanya inkonsistensi mengindikasikan adanya kelemahan suatu sistem aturan hukum. Berbagai dampak terhadap lingkungan telah terjadi.

Seharusnya dirumuskan “Urusan pemerintahan pemerintahan daerah terdiri atas urusan wajib. Desentralisasi secara tidak penuh memiliki varian160 . penyelenggaraan urusan pemerintahan itu selalu dilakukan secara bersamaan antara sentralisasi dan desentralisasi. Adanya UU sentralistik dan UU sektoral. sulit dicapai. Bahkan ada pula asas otonomi daerah. 32 Tahun 2004 menjadi titik tolak sinkronisiasi aturan hukum sektoral dan sentralistik dengan pelaksanaan otonomi daerah. sehingga susbstansi Negara Kesatuan yang terkandung di dalamnya menjadi bias. masih ada lagi urusan pembantuan sebagai konsekwensi digunakan asas medebewind. perubahan yang ingin dicapai oleh UU baru. Ketentuan Pasal 237 UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan UU No. hanya dirumuskan terdiri atas urusan wajib dan urusan pilihan. tidak dapat berjalan secara bersamaan dengan UU desentralisasi. dalam hal ini UU pemerintahan daerah (UU No. semua peraturan perundang-undangan (aturan hukum – pen) yang berkaitan secara langsung dengan daerah otonom. baik secara penuh maupun secara tidak penuh. pasti menerapkan desentralisasi. Sesungguhnya. Asas desentralisasi. urusan pilihan. Desentralisasi secara penuh. 32 Tahun 2004. serta aturan hukum penjabarannya. Hal ini menyebabkan ketidakkonsistenan dan ketidakharmonisan antara semangat negara kesatuan dengan praktek pengaturan wewenang pemerintahan. 32 Tahun 2004 dan perubahannya). dan asas medebewind tidak dinyatakan secara proporsional dalam UU No. sedangkan asas dekonsentrasi tidak disebut secara tegas. Pada hal. Juga asas pembantuan yang sesungguhnya wujud dari asas medebewind. melahirkan suatu otonomi bagi suatu pemerintahan lokal. seperti PP. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara). Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. Negara sebagai suatu organisasi yang besar dan rumit. Pasal 237 tersebut menegaskan. namun di sisi lain. asas dekonsentrasi. padahal sesungguhnya otonomi daerah adalah penjelmaan konkrit dari asas desentralisasi. wajib didasarkan dan disesuaikan pengaturannya pada UU ini. dan Perpres. serta urusan pembantuan”.mencegah kevakuman hukum. 11 Tahun 1967 tentang Pokokpokok Pertambangan (telah dicabut dan diganti dengan UU No. seperti UU No.

medebewind. Sentralisasi dan desentralisasi selama ini dibangun atas dasar kemampuan pusat memaksakan kepentingan dengan justifikasi-justifikasi yuridis yang cenderung sepihak dan sulit dikontrol. dan delegasi seperti BUMN dan otorita. 161 . dalam pengertian diverifikasi dan diarahkan pada upaya pencapaian tujuan bernegara.varian yaitu dekonsentrasi.

Di samping itu. akses yang paling kokoh atau secara tradisional dengan memberi pengakuan terhadap eksistensi budaya. baik dalam bentuk kuantitas maupun kualitas secara seimbang. 6. dan harmonis. tapi ditekankan pula kewajiban dan tanggung jawab pemerintah (pusat dan daerah) dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. menghormati. perlu dilakukan revisi. 7. tapi sebaliknya dikembangkan agar tetap aktual dalam penyelenggaraan negara moderen. Pemeliharaan dan pengembangan prinsip-prinsip pemerintahan asli.BAB VIII PENUTUP A. 162 . Umum Di masa mendatang. Asas desentralisasi diletakkan secara proporsional sehingga. Pengaturan sumber-sumber pendapatan daerah ditata berdasarkan asas-asas desentralisasi sedemikian rupa. pembentukan organ-organ pemerintahan daerah berikut wewenangnya dapat efektif dan efisien selaras dengan pemerintahan tingkat atasnya. dan mengembangkan susunan asli pemerintahan Bangsa Indonesia. Pengaturan wewenang dan hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam tata kelola sumber daya alam. 4. sejumlah undang-undang sektoral yang ada. Pada akhirnya. mengakui. 5. oleh karena itu tidak seharusnya membongkar susunan dan struktur asli pemerintahan adat. tidak sekedar difokuskan pada pengaturan terhadap objeknya saja. haruslah berdasarkan dan diarahkan pada: 1. penataan wewenang pemerintahan. sinergis. terutama penyelenggaraan sentralisasi dan desentralisasi dalam sistem pemerintahan negara. Semangat negara kesatuan RI harus menjadi pengikat penataan substansi yang mengatur wewenang antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. 3. Kebhinikaan (heterogenitas). 2.

aturan hukum mengenai penguasaan tanah berorientasi untuk memudahkan perolehan tanah bagi investasi. Pada periode tahun 1973–1984. sebagai berikut: a. dengan ciri pemerintah sangat dominan dalam pembentukkan hukum dan menentukan arah perkembangan hukum masyarakat. Selama Orde Baru (1967 – 1998). Khusus 1. yaitu hukum menjadi alat bagi pelaksanaan ideologi dan program negara (positivis instrumentalis). Karakteristik aturan hukum dan taraf kesinkronannya dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Pada periode 1967–1973. Hal ini telah berlangsung secara periodik dan memiliki variasi karakter hukumnya. aturan hukum mengenai pertanahan tidak sinkron dan tidak konsisten dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 dan berkarakter: eksploitatif terhadap sumber daya alam. Oleh karena itu prinsif-prinsif konstitusional pengelolaan sumber daya alam harus dijabarkan secara normatif dalam aturan hukum sebagai dasar pelaksanaannya. aturan hukum pada periode ini juga tidak selaras (tidak sinkron dan tidak konsisten) dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Dengan demikian. terutama kekuatan modal asing lewat negara donor maupun lembaga-lembaga keuangan Internasional. Problematik yang terjadi pada tataran normatif yaitu terdapat persoalan sinkronisasi dan konsistensi berbagai aturan hukum di bidang pertanahan dalam kaitannya dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. 2. aturan hukum mengenai sumber daya alam. c. dan konservatif/ortodoks. khususnya di bidang pertanahan diterbitkan dikeluarkan secara sektoral dengan melepaskan kaitannya dengan UUPA sebagai aturan hukum pokok (“payung”) dari semua aturan hukum agraria. Sudah disepakati bahwa penguasaan sumber daya alam di Indonesia ditujukan kepada sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. aturan hukum mengenai penguasaan tanah memiliki karakter: Konservatif/ortodoks. berpihak pada sistem ekonomi kapitalis (akumulasi modal). Represif.B. b. dan Pragmatis dan sangat akomodatif terhadap kekuatan modal (capitalism). oleh karena itu karakter peraturannya bersifat pragmatis dan sangat akomodatif 163 . Pada periode tahun 1984–1990-an.

10 Tahun 2006. 3. Berkenaan dengan hal itu. bersifat defensif-reaktif. sehingga wewenang agraria/pertanahan menjadi tersentralisasi lagi pada pemerintah (pusat). 65 Tahun 2006 dan Perpres No. Hal ini ditandai dengan diberlakukannya Perpres No. akibatnya terjadi ketidaksinkronan dan ketidakkonsistenan aturan hukum di bidang pertanahan. Meskipun peraturan tersebut berkarakter pragmatism-reaktif. Aturan hukum pada periode ini juga tidak sinkron dan tidak konsisten dengan semangat yang terkandung dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Pada Era Pemerintahan Reformasi (1998 – 2006). terjadi arus penarikan kembali kewenangan daerah di bidang agrarian oleh pemerintah pusat. peraturan perundang-undangan di bidang pertanahan yang mencerminkan ketidakpastian hukum (ambivalence). dan parsial. Substansi ketiga Perpres tersebut berkarakter represif dan berorientasi meningkatkan devisa negara lewat pembangunan dengan keberpihakan penuh pada pemilik modal (capital). Selain itu. artinya sangat reaksioner terhadap berbagai sengketa agraria yang muncul pada saat itu dan melihatnya sebagai persoalan administratif belaka. Periode Desentralisasi (1998–2003). tetapi materi muatannya lebih selaras (sinkron dan konsisten) dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 junto Pasal 2 dan 14 UUPA junto Pasal 11 dan 12 UU No.terhadap kepentingan modal. b. beberapa saran yang digunakan sebagai rekomendasi dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: 164 . Dengan demikian. Disamping itu. Periode Resentralisasi (2004–2006). menempatkan otoritas/kewenangan yang begitu besar kepada BPN (institusi pemerintah (pusat). 22 Tahun 1999. 4. Artinya peraturan-peraturan yang dikeluarkan tidak didasarkan pada suatu format tertentu yang secara integral berkesinambungan dan sistematis. Peraturan Perundang-undangan pada periode ini tidak selaras (tidak sinkron dan tidak konsisten) dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. 36 Tahun 2005 yang kemudian diubah dengan Perpres No. secara periodik juga memiliki karakteristik: a. Karakter Peraturan Perundangundangan pada periode ini bersifat pragmatism-reaktif.

maka perlu pengembangan hukum secara normatif dan penataan struktur kelembagaan. dengan mengacu kepada desentralsiasi urusan pemerintahan. Memperhatikan kelemahan normatif dan kendala struktural dalam pelaksanaan otonomi daerah di bidang kesehatan. Pada akhirnya. kelembagaan. yaitu menyelaraskan dan menyesuaikan seluruh peraturan perundang-undangan yang bersangkutan dengan UUPA. pengkajian pada tahap awal minimal dapat merumuskan tentang kedudukan UUPA di dalam peraturan perundang-undangan agraria Indonesia. c. dan ketidaksinkronan. belum adanya perubahan dan penguatan struktur. Upaya tersebut agar UUUPA betulbetul ditempatkan sebagai aturan payung bidang pertanahan. dana. Dari segi aturan hukum dan kebijakan. Akibat lebih lanjut. Di samping itu. b. Prinsip yang dimaksud adalah menempatkan rakyat sebagai arus utama. sarana dan prasarana pada Departemen Kesehatan di pusat dan daerah. dan birokrasi Depkes dan Dinkes Propinsi/Kota/Kabupaten. 5. serta lingkup wewenang pemerintah daerah yang mendukung otonomi daerah di bidang kesehatan. Penyempurnaan peraturan di bidang agraria hendaklah didasarkan pada prinsip-prinsip yang terkandung di dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 sebagai aturan dasar dan pangkal tolak pembentukan aturan hukum di bidang agraria. 6. 7. dilakukan sinkronisasi dan harmonisasi seluruh peraturan yang berkaitan dengan agraria.a. Keadaan demikian telah menghambat upaya hukum melindungi hak warga negara atas derajat kesehatan yang optimal. SDM. terdapat ketidakjelasan. sehingga kebijakan-kebijakan operasionalnya tidak saling tumpang tindih satu sama lain. termasuk dinas kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota. bukan aspek ekonomi atau modal (capital) sebagaimana yang pernah diterapkan oleh pemerintahan Orde Baru. Setelah UUPA telah disempurnakan. berbagai persoalan hukum bidang kesehatan. keterlambatan penjabaran fungsi dan wewenang pemerintah daerah di bidang kesehatan dalam peraturan daerah. telah menghambat pencapaian good governance di bidang kesehatan. Dalam rangka penyempurnaan UUPA. ketidakkonsistenan. sebagai berikut: 165 .

dana. pengelolaan perbekalan kesehatan. d. supaya dapat mengembangkan struktur kelembagaan hukum secara internal dan eksternal yang mempunyai keterkaitan sistemik. dan kriteria tentang pola tarif pelayanan kesehatan.181 kilometer. Komitmen pemerintah pusat untuk melaksanakan fungsi regulatif di bidang kesehatan. Penataan fungsi dan struktur organisasi Depkes dengan mengacu kepada fungsi pengarahan dan fungsi pengaturan yang konsisten dengan asas desentralisasi dalam rangka otonomi daerah di sektor kesehatan. dan sanksi administrasi. f. asas desentralisasi. pengendalian mutu dan biaya pelayanan kesehatan. juga perlu percepatan penjabaran fungsi dan wewenang pemerintah daerah di bidang kesehatan dalam peraturan daerah dan keputusan kepala daerah. sinkronisasi. e. akreditasi. perlu konsistensi menegakkan asas otonomi. 8. pengawasan dan evaluasi peraturan daerah di bidang kesehatan. audit medis. c. fungsi sosial pelayanan kesehatan. perlu penataan struktur dan kapasitas kelembagaan hukum (pemerintah pusat dan pemerintah daerah) di bidang kesehatan. standar. dan asas keserasian sebagai landasan filosofis fungsi dan wewenang pemerintah dalam otonomi daerah di bidang kesehatan. maka perlu segera pembentukan bagian/subbagian hukum dalam struktur organisasi Dinas Kesehatan Propinsi/Kota/Kabupaten. Indonesia memiliki luas laut lebih kurang 5. disertai peningkatan jumlah dan kualifikasi SDM. b. serta ada konsistensi struktur dan fungsinya dengan asas hukum yang mendasari pembentukannya.8 juta kilometer persegi dengan panjang garis pantai 95. perlu kejelasan. guna mendukung pemerintah daerah dalam membentuk peraturan daerah yang lebih berorientasi pada pemenuhan hak warga negara atas derajat kesehatan yang optimal. dan kesegeraan aturan hukum dan kebijakan. termasuk norma. Secara folosofis. Secara normatif. konsistensi. Secara kelembagaan. Selain itu. sarana dan prasarana) yang kuat. Guna mendukung upaya perancangan. perizinan. Memiliki daya dukung kelembagaan (SDM.a. Dari segi aset dan potensi kelautan. namun dari segi penataan hukum dan penegakan hukum banyak mengandung 166 . prosedur. pembentukan.

jika tidak disusun secara sinergis. Kesemua itu sekaligus menjadi tantangan dan memerlukan penanganan segera mungkin guna mendapatkan solusi terbaik. yang jika diatasi dapat menjadi salah satu keunggulan komparatif sumber daya kelautan. Pengelolaan aset tersebut dapat didayagunakan sebagai tambahan modal dalam pengembangan sumber daya kelautan. Malaysia. 9. Penataan ruang dan pengembangan wilayah pesisir dan laut belum diupayakan secara tepat. dan di sisi lain berlaku pula secara bersamaan UU yang bersifat desentralisasi. praktek illegal fishing terutama di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Berlakunya UU sektoral dan UU sentralistik di satu sisi. Pengembangan sumber daya di wilayah laut dalam. Belum terselesaikannya batas wilayah laut dengan negara tetangga. Pengelolaan terhadap pulau-pulau kecil di wilayah perbatasan (+92 buah) belum dilakukan secara optimal. yaitu: a. berupa kerusakan fisik dan pencemaran di beberapa kawasan pesisir dan laut. terutama dengan Singapura. g. e.kelemahan dan permasalahan. c. Kegiatan industri yang mengakibatkan kerusakan lingkungan pada ekosistem pesisir dan laut. i. terjadinya deforestrasi hutan mangrove dan degradasi terumbu karang di kawasan pesisir dan laut. baik yang berdampak dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. tidak bisa berjalan secara bersamaan. terkendala permodalan dan teknologi. Pengaturan wewenang 167 . b. Terdapat sejumlah aktivitas yang banyak merugikan negara dan bangsa Indonesia. h. Timor Leste. Di wilayah laut Indonesia masih banyak barang muatan kapal tenggelam yang belum diupayakan pemanfaatannya secara optimal. penambangan pasir laut secara illegal. mengakibatkan erosi pantai dan berkurangnya keanekaragaman hayati laut. f. d. dan Filipina. Papua New Guinea.

diperlukan sinkronisasi aturan hukum sebagai landasan wewenang pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam pengelolaan sumber daya kelautan. Wewenang pemerintah pusat didasarkan pada aturan hukum sektoral dan sentralistik. Oleh karena itu. 168 .pengelolaan sumber daya kelautan masih tersebar dalam sejumlah UU sektoral. sedangkan wewenang daerah didasarkan pada aturan hukum yang desentralistik.

Bintaro Tjokroamidjojo. “Desentralisasi dan Perkembangan Peraturan Perundang-undangan di Bidang Kesehatan: Sebuah Evaluasi Normatif”. Negara. Lembaga Administrasi Negara. Hukum dan Peraturan Kebijaksanaan (Beleidsregel) pada Pemerintahan Daerah.php. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. International Handbook of Local and Regional Government: a comparative analysis of advanced democracies. 2005. Disampaikan pada Seminar Desentralisasi Bidang Kesehatan: ”Reformasi Sektor Kesehatan dalam Desentralisasi di Indonesia”.Co. Jakarta. Great Britain. Universitas Gajah Mada. The Ipswich Book Company. Pustaka Sinar Harapan. dalam www. Jenis dan Teknik Membuatnya. Suffolk. Jogjakarta. 7. 1997. Politik Hukum Indonesia. Pustaka Sinar Harapan.1985.. YLBHI. Dasar-dasar Perundang-undangan Indonesia. 1972. Alumni. Tebaran Pikiran Mengenai Hukum Agraria. diakses tanggal 15 Januari 2005. Konflik Pertanahan (Dimensi Keadilan dan Kepentingan Ekonomi. Volume III/02/2005. 1980.DAFTAR PUSTAKA Abdul Hakim G Nusantara dan Nasroen Yasabari. Harcourt Brace Jovanovich. 1997. Abdul Latief. 1988. Bandung. Arendt. “Peran DEPKES di Era Desentralisasi Kesehatan”. Teori Negara. . Makalah. Amiroeddin Syarif. Alan Norton. ---------------------------------. Manajemen. Jakarta. Ekonomi Politik Penguasaan Tanah. Abdurrahman. Disampaikan dalam Seminar Desentralisasi Kesehatan di Indonesia: Apa yang Sudah Dicapai dan Apa yang Belum? Apakah lebih baik Resentralisasi? Tanggal 17-19 Maret 2004 di Fakultas Kedokteran.desentralisasi-kesehatan. 1997. Penerbit Bina Aksara. On Violence” in Crisis of Republic. 6 Juni 2006. “Pengembangan Eksekutif Kepala Dinas Kesehatan dalam Upaya Peningkatan Kinerja Dinas Kesehatan Daerah di Era Desentralisasi”. hlm. New York. 2002. Reprinted. 1992. Andi Sandi dan Vivi Lignawati. UII Press. Bachtiar Oesman. Azrul Azwar. Ali S Husein. Jakarta. Ind-Hill. Perundang-undangan: Dasar. Bandung. Jakarta. 1995. Alumni. Makalah. Ali Sofwan Husein. Beberapa Pemikiran Pembangunan Hukum di Indonesia. Hannah. Bandung. Arief Budiman. Kekuasaan dan Ideologi. Reformasi Nasional Penyelenggaraan Good Governance dan Perwujudan Masyarakat Madani.net/buletin. Bagir Manan. Jakarta.

1997. Djambatan. Disertasi. Agraria Reform and Conflict Worldwide. Christodoulou. ”Perpres No. Jakarta. Harian Kompas. Reformasi Agraria. “Sistem dan Konflik Tenurial. Sumatera Selatan. Yayasan Pikul. di Surabaya. Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan dan Departemen Luar Negeri Republik Indonesia cq. Badan Diklat Provinsi Sumatera Selatan. Otonomi dan Hubungan Luar Negeri”. tanggal 25 Juni 2005. Kekalahan Manusia Petani Dimensi Manusia dalam Pembangunan Pertanian. Juni 2004. Gunawan Wiradi. Zed Books. Jurnal Suara JAGAT No. Semarang. pada 21 Juni 2007. Kanisius. Lembaga Penerbit FE-UI. Makalah pada Diskusi Panel tentang Hubungan Luar Negeri oleh Pemerintah Daerah. Bonnie Setiawan. I/1998. Nomor 27. Dianto Bachriadi & Noer Fauzi. Edisi 20 Oktober 2002.org/file-global/GLOBALISASI%20lengkap. Makalah pada pertemuan: Konsultasi dan Konsolidasi Organisasi Rakyat di Sumatera Selatan dalam Rangka Promosi Nasional untuk Penyelesaian Konflik Agraria. Disampaikan dalam Rapat Koordinasi Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. Surabaya. 1990.al (ed). 2006. “Ketimpangan Penguasaan Tanah. We are All Dead. http://www. Dwidjo Susono (Staf Ahli MENKES Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Desentralisasi).Boedi Harsono. Yogyakarta. Sengketa. Forum Keadilan. Program Studi Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Airlangga. Hirarki Aturan Hukum di Indonesia. Febrian. Tantangan dan Agenda Kerja bagi Pemerintahan Baru 2004-2009. . dan Mal Adminitrasi: Hasil Perkawinan Dominasi Negara dan Modal”. 4 Agustus 2001. Makalah. YLBHI. Konflik Agraria. 2004. At The End of Globalisation. The Unpromised Land. Perubahan Politik. dan Agenda Pembaruan Agraria di Indonesia. Gustam Idris. 2005. September 2004. Hukum Agraria Indonesia. Usulan Penelitian Disertasi.globaljust. Jakarta. “Kebijakan & Strategi Desentralisasi Kesehatan dan KW/SPM”. ----------------------. kerjasama Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya. et. London and New Jersey. Djambatan. Makalah Semiloka Reforma Agraria. Hukum Agraria Indonesia-Himpunan Peraturan-Peraturan Hukum Tanah. Palembang. Universitas Diponegoro. Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria. --------------------.1997. Jilid 1 Hukum Tanah Nasional. Demitrius. I/th.pdf. Jakarta. Palembang. G. “Harmonisasi Hukum Investasi di Bidang Perkebunan”. Jakarta. Diakses tanggal 5 Desember 2009. Fajrimei A Gofar. Lagi-Lagi Negara versus Rakyat”. Auditorium Pemda Prop. Soetomo. Isi dan Peaksanaannya. 2006. Firman Muntaqo. 36 Tahun 2005 Melegalkan Penggusuran Paksa?”. Dianto Bachriadi.

2002. Menapaki Jejak Pemikiran Soepomo Tentang Negara Indonesia. Alih Bahasa oleh Somardi. Teori Umum Hukum dan Negara (Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif Sebagai Ilmu Hukum Deskriptif-Empirik). 2005. M. New Haven and London Yale University Press. S’Gravenhage. General Theory of Law and State. 1980. Bandung. 2006. “Good Governance”. Inisiatif Harmonisasi Sistem Hukum Pengelolaan Wilayah Pesisir Indonesia. Iman Soetiknjo. Studi Tentang Perkembangan Pemikiran Hukum di Indonesia 1945-1990.Alumni. Liberty. Proceeding of International Symposium. Jakarta.goodlocalgovernance. 1985. 2006. Jacub Rais. Democracy In Plural Societies. Raja Grafindo Persada. Russell & Russell. 1981. Joko Widodo. Kaloh. 2005. General Theory of Law and State. -----------------. J. dalam http://www. Ihsan Cendikia. Kelsen. Joeniarto. Malang. Dasar-Dasar Politik Hukum. Yogyakarta. Kerjasama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional. Mencari Bentuk Otonomi Daerah. . 1973. Peran Serta Seksi Agraria Universitas Gadjah Mada. “Harmonisasi Pengelolaan Wilayah Pesisir Melalui Penatan Ruang LautDarat Terpadu”. Soal Pembentukan Daerah Otonom Dan Tingkatan Daerah Otonom.L. 1955. M. Jentera (Jurnal Hukum). New York. Bandung. Daniel. 1997. Gadjah Mada University Press. Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia dan Coastal Resources Management Project. Lemaire. Jakarta. 2007. Kuntjoro Purbopranoto. Imam Syaukani & A. Rineka Cipta. 1987. diakses tanggal 12 Januari 2008. 1954. Good Governance: Telaah dari Dimensi Akuntabilitas dan Kontrol pada Era Desentralisasi dan Otonomi Daerah. Jurnal Transparansi Indonesia. Jacub Rai.com/journal/item/. Proses Terjadinya UUPA.Hutagalung. 2001. Bee Media Indonesia. Lubis. Edisi 10 – tahun III. Selayang Pandang Tentang Sumber-Sumber Hukum Tata Negara Di Indonesia.multiply. Arend. EndaNG. ANDI. 2004. Khudzaifah Dimyati. Jakarta. Aspek Strategis dalam Manajemen Rumah Sakit. Jakarta. Nasroen. Beberapa Catatan Hukum Tata Pemerintahan dan Peradilan Administrasi Negara. 1983. Het Recht in Indonesia. Ahsin Thohari. Muhammadiyah University Press. Jakarta. Laksono Trisnantoro. Oktober 2005. Jakarta. Teorisasi Hukum.G. Yogyakarta. Van Hoeve. Surakarta. W. Lijphart. Pembahasan UUD 1945. Yogyakarta. Solly. Alumni. Integrated Coastal and Marine Resources Management. PSHK. et al. NV Uitgeverij W. Hans. Surabaya. Bandung.

109110. Moh. Yogyakarta.II–No. Pan Mohamad Faiz. Insist Press & Pustaka Pelajar. Notonagoro. Putusan Perkara Nomor 001-021022/PUU-I/2003. Jakarta. Philip. Bandung. 2001. http://www. Alumni. Manajemen Norwegia untuk sumber daya laut hidup. Harper Colophon Books. Parlindungan. 1998. Artikel–Th. Komentar atas Undang-Undang Pokok Agraria. Penelitian Hukum. 2000. Jakarta. www. Kitab Naskah Undang-undang Dasar Républik Indonésia.p2sdkpkendari. Peter Mahmud Marzuki. Bayu Media. ------------------------. Hagerstown. Bina Aksara.com/cetak. 1984. Mansour Fakih. Noer Fauzi & Dianto Bachriadi. Jakarta.org. Harper & Row.Mandar Maju.jurnalhukum. Muhammad Syaifuddin.com/. Bandung. Djilid Pertama. 2009. Nonet. http://www. Paradigma Kesejahteraan Rakyat dalam Ekonomi Pancasila. 1991. http://www. Sesat Pikir Politik Hukum Agraria. Politik Hukum dan Pembangunan Agraria di Indonesia. Menggagas Hukum Humanistis-Komersial: Upaya Perlindungan Hak Masyarakat Kurang dan Tidak Mampu atas Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Swasta Berbadan Hukum Perseroan Terbatas. Penafsiran Konsep Penguasaan Negara Berdasarkan Pasal 33 UUD 1945 dan Putusan Mahkamah Konstitusi.php?id=668. 1983. 1959. Pidato Pengantar Menteri Agraria Sadjarwo sewaktu mengajukan RUU Pokok Agraria di DPRGR tahun 1960. Diakses tanggal 26 Nopember 2009. Hak Menguasai dari Negara (HMN) Persoalan Sejarah yang Harus Diselesaikan. Philippe & Selznick. Sesat Pikir Teori Pembangunan dan Globalisasi. Prenada Media. Yogyakarta. Jurnal Ekonomi Rakyat. 2001. Maria R Ruwiastuti. Malang. Law and Society in Transition-Toward Responsive Law. Jakarta.id/policy/trade/marine/marine. Pertimbangan Hukum. dalam: Usulan Revisi UUPA 1960: Menuju Penegakan Hak-Hak Rakyat atas Sumber-Sumber Agraria. Jajasan Prapantja. San Fransisco. Mustopa. Penerbit Rineka Cipta. hlm. KRHN & KPA. Pustaka Pelajar.4–Juli 2003. Diakses tanggal 20 Juli 2009. 2005. London. Aneka Hukum Agraria.P.norwegia. Membongkar Alas Penguasaan Negara Atas Hak-Hak Adat.blogspot.Mahkamah Konstitusi. . A. Mubyarto. Mahfud MD. Dasar dan Struktur Ketatanegaraan Indonesia. 1978. Jakarta. Muhammad Yamin.htm Diakses tanggal 20 Juli 2009.or. New York.ekonomirakyat. Merebut` Hak Indonesia atas Tuna Sirip Biru.

5 Tahun ke VII Januari-Februari. Shah A. Dalam Majalah Hukum dan Keadilan No. 1986. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Laut Secara Terpadu. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 058-059-060-063/PUU-II/2004 dan Nomor 008/PUU-III/2005 mengenai pengujian undang-undang Sumber Daya Air. Grasindo. Makalah pada Seminar Bagian “Pemerintahan Daerah Setelah Perubahan Kedua UUD 1945”Hukum Tata Negara. Lembaga Pemberdayaan Hukum Indonesia. et al. 2008. Muhammadiyah University Press.H. Sadjijono. 2004. Soerjono Soekanto.. Marbun. Satjipto Rahardjo. ”Eksistensi Asas-asas Umum Penyelenggaraan Pemerintahan yang Layak dalam Menjelmakan Pemerintahan yang Baik dan Bersih”. Jakarta. Opcit. Soedarmono Soejitno. dalam: Rosjidi Ranggawidjaja. Tebaran Pemikiran Seputar Masalah Hukum Tanah. Sudarto. Bandung. Rokhmin Dahuri. Pustaka Sinar Harapan.F. 8 Desember 2006. Memahami Beberapa Bab Pokok Hukum Administrasi. kerjasama Fakultas Hukum Universitas Sriwiijaya dengan Program HEDS. UNPAD. Pradnya Paramita. Surakarta. LaksBang PRESSindo.R. S.id/berita/sumber-daya-kelautan-indonesia-belum-optimaldimanfaatkan/ Diakses tanggal 30 Juli 2009. Ridwan. et. World Bank. hlm.S. Pokok-Pokok Sosiologi Hukum. Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah. ----------------------. Bandung. M. Raja Grafindo Persada. S. dan Departemen Penerangan. 2000. al. 48. Alumni. Harian Kompas. 2005.2002. The Reform of Intergovenrmental Fiscal Relations in Developing and Emerging Market Economies. Bandung. Jakarta. Angkasa Bandung. Alumni. Arie.Hutagalung. Inderalaya. Sarundajang. 2002. Sumber Daya Kelautan Indonesia Belum Optimal Dimanfaatkan. Jakart. Reformasi Perumahsakitan Indonesia. I dan II/MPRS/1960.unpad. Washington DC. Policy and Research Series 2.Purnadi Purbacaraka & Soerjono Soekanto. “Perkembangan Ilmu Hukum dan Politik Hukum”.P. Yogyakarta. http://www. Hukum dan Masyarakat. 2001. Sosiologi Hukum Perkembangan Metode dan Pilihan Masalah. . S. hlm. tanggal 3 Januari 2001. Bandung. Jakarta.ac. PT. Ringkasan Ketetapan MPRS Republik Indonesia No. Bandung. Tafsiran Undang-Undang Pokok Agraria. 1994. 1973. Hukum Kita Liberal (Apa Yang Dapat Kita Lakukan). Sudargo Gautama. Jakarta. 1979. Perundang-Undangan & Yurisprudensi. 16. Ratih Anbarini. -----------------------. Ringkasan Disertasi.

Z. Makalah pada Seminar Gagasan Otonomi Daerah dalam Konteks Negara Kesatuan RI. “Sebuah Catatan tentang Otonomi dalam Penyelenggaraan Negara”. 2006. Surabaya. Otonomi Daerah dalam Negara Hukum Indonesia: Pembentukan Peraturan Daerah Partisipatif. Dalam: A. Untoro Hariadi & Masruchah. “Perubahan Fungsi Pemerintah dalam Sektor Kesehatan di Berbagai Tingkat Setelah Penetapan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004”. Jakarta. UGM. Tanah. 2007.id/tabid/61/articleType/ArticleView/articleId/1258/Default. Asikin Kusuna Atmadja. Makassar. pada Seminar Nasional Maritim Tahun 2009 di Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut Surabaya. Laksamana TNI. Pedoman Akreditasi Rumah Sakit di Indonesia. 20-21 Maret 1992. 1995. dan WHO.I. Jakarta. Tejo Edhy Purdijatno. Yogyakarta. Diakses tanggal 22 Agustus 2009. http://www. Faza Media. Politik Hukum Nasional. Tim Perumus. Komisi Akreditasi Rumah Sakit. Azas-Azas Hukum Tata Negara Indonesia. Wijoyo. Tim Perumus. Unit Desentralisasi DEPKES RI. Diselenggarakan oleh UNHAS.tnial. Laporan. 7-8-9 Juni 2005. Dian Rakyat. 2006. Talizuduhu Ndraha. Pelayanan Publik dari Dominasi ke Partisipasi. . 1980. Beberapa Pemikiran Pembangunan Hukum di Indonesia. Wirjono Prodjodikoro 1983. Kepala Staf Angkatan Laut. Jakarta.Suko Wiyono. Sekretariat Tim P-7. Rakyat dan Dmokrasi. Bandung. Jakarta.asp x. Alumni. “Seminar Nasional 4 Tahun Desentralisasi Kesehatan di Indonesia”. DITJEN YANMEDIK-DEPKES R. Airlangga University Press. G.mil. Hakim Nusantara & Nasroen Yasabari. (ed). Forum LSMLPSM DIY.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful