PEMBANGUNAN HUKUM DAN KONFLIK UNDANG-UNDANG BIDANG SEKTORAL

Oleh: Pusat Studi Kebijakan Hubungan Pusat dan Daerah Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Kerjasama Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia

Palembang 2009

IDENTITAS PENELITIAN
1. Judul Penelitian 2. Aspek 3. 4. 5. 6. Peneliti Utama Jenis Kelamin Unit Kerja Alamat Unit Kerja : Pembangunan Hukum dan Konflik Undang-Undang Sektoral : Integrasi Bangsa dan Harmoni Aturan Hukum : Dr. Febrian, S.H. MS. : Laki-laki : Fakultas Hukum : Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, Jl. Jl. Raya Palembang Prabumulih, Inderalaya Ogan Ilir : Telp. (0711) 442001 Fax. (0711) 353373 : febrian_zen@yahoo.com.sg : 081 63285762

7. Telepon /Fax 8. Alamat e-mail 9. Telepon Seluler/HP Anggota Penelitian
No. 1 2 3 4 5 6 7 Nama

Ridwan, SH., M.Hum. Indah Febriani, SH., M.Hum. Dr. M. Syaefuddin, SH., M.Hum. Drs. Murzal, SH., M.Hum. Firman Muntaqo, SH., M.Hum. Zulhidayat, SH. Mada Apriandi Zuhir, SH., MCL.

Kedudukan Wakil Ketua/ Anggota Sekretaris/Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

Tenaga Pendukung: 1. Mardiana, SH. 2. Mariana, SE. 3. Mardani, S. Kom.

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur peneliti haturkan ke hadirat Allah yang Maha Mengetahui yang telah memberi ilmu dan hikmah, sehingga proses penelitian dan penulisan laporan akhir penelitian yang berjudull “Pembangunan Hukum dan Konflik Undang-Undang Bidang Sektoral, dalam rangka studi hubungan pusat dan daerah, dapat diselesaikan dengan baik. Salah satu aspek mendasar dalam otonomi daerah adalah hubungan antara pusat dan daerah, di antaranya mengenai pembagian urusan dan pembagian wewenang pemerintahan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pembagian urusan pemerintahan terdiri atas; urusan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah pusat; urusan yang dibagi antar tingkatan dan/atau susunan pemerintahan, yang selanjutnya dikenal adanya urusan pemerintah daerah terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan. Hal inilah yang akan menentukan sejauhmana pemerintah pusat dan pemerintah daerah memiliki wewenang untuk menyelenggarakan urusan-urusan pemerintahan. Lebih lanjut, objek urusan pemerintahan bisa sama, tetapi wewenang atau ruang lingkupnya berbeda. Pembagian wewenang pemerintahan tersebut di atas, secara umum ditaur dalam UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Secara khusus juga diatur dalam berbagai UU sektoral, namun seringkali menimbulkan persoalan karena kurang tepat dalam pembagian wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Terjadi tumpang tindih dan tarik menarik wewenang, misalnya masalah pertanahan di daerah, pengelolaan hutan, dan pertambangan. Di tengah-tengah sumber daya alam yang melimpah, kehadiran otonomi daerah yang luas belum memberikan manfaat (positif) bagi masyarakat di daerah termasuk masyarakat adat, bahkan sebaliknya banyak menimbulkan dampak negatif. Pembagian wilayah Indonesia ke dalam daerah-daerah otonom, tidak menjadikan masyarakat adat sebagai salah satu faktor penentu. Bahkan, pembagian daerah-daerah otonom tersebut mengakibatkan struktur masyarakat adat dan budayanya menjadi terpecah-pecah dalam (fragmented) dalam beberapa daerah otonom. Penelitian ini merupakan kerjasama DPD RI dengan Pusat kajian Hubungan Pusat dan Daerah Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya melalui Surat Perintah Kerja, Penelitian Pusat Studi Kebijakan Hukum Pusat-Daerah Tentang Pembangunan Hukum Dan Pengawasan Terhadap Produk Hukum Daerah Nomor: HM. 320/440/DPD/VI/2009, tanggal: 22 Juni 2009. Untuk dapat mencapai tujuan penelitian yang diharapkan, penelitian ini disusun dalam beberapa kajian yang bermuara pada pembangunan hukum terkait
iv

3. kajian tentang konflik aturan hukum di bidang pengelolaan kesehatan. Dalam kesempatan ini.. M. 2009 Peneliti v . terutama bidang-bidang sektoral. pembagian wewenang antara pusat dan daerah. 33 Tahun 2004 maupun dalam berbagai UU sektoral. dampak pembagian wewenang yang tidak seimbang antara pusat dan daerah. kajian tentang konflik aturan hukum di bidang lingkungan hidup. PhD. Prof. Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. topik-topik kajian tersebut disusun sebagai berikut. review sejumlah peraturan yang tidak sesuai dengan prinsip pembagian wewenang yang selaras dan adil. Peraturan-peraturan yang berkaitan dengan hubungan pusat dan daerah.H. kajian tentang konflik aturan hukum di bidang pertanahan. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu. lembaga tempat peneliti bernaung. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya. S. LLM. Badia Perizade.A. kajian tentang konflik aturan hukum di bidang pengelolaan sumber daya alam kelautan. kajian tentang konflik aturan hukum di bidang kehutanan. dan 4. peneliti menghaturkan terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah banyak membantu selama proses penelitian dan penulisan laporan akhir. Prof. 2. dan hukum bidang pertambangan. Dalam pelaksanaannya.B. dan bidang hukum lainnya.dengan berbagai konflik substansial dari sejumlah UU sektoral. Palembang. yaitu hukum bidang kesehatan. Dr. Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa tiada gading yang tak retak. Konsep dan prinsip yang adil dan selaras dengan prinsip otonomi yang luas dan hak-hak masyarakat adat dan pengaturannya terkait dengan masing-masing topik. yang dengan tulus ikhlas telah membantu peneliti dalam proses penelitian ini. Untuk itu. Topik-topik tersebut kemudian dijabarkan menjadi deskripsi lebih lanjut hubungan pusat dan daerah yang lebih selaras dengan cita-cita UUD 45. saran dan kritik membangun dari para pembaca guna perbaikan di masa mendatang sangat penulis harapkan. selaku Rektor Universitas Sriwijaya.. 32 Tahun 2004 dan UU No. atas kepercayaan dan kerjasamanya. yaitu: 1. hukum bidang pendidikan. baik dalam UU No. kajian tentang konflik aturan hukum di bidang pengelolaan sumber keuangan negara. Amzulian Rifai. semoga dapat berlanjut dimasa-masa yang akan datang..

..... Asas-asas Peraturan Perundang-undangan ...................................... D............................... BAB I PENDAHULUAN A................................................... D.... Deskripsi Penelitian/Ruang Lingkup ................ 1............................................ Politik Hukum ....... i ii iii iv viii 1 1 3 3 6 6 7 8 8 10 14 15 17 19 19 24 Identitas Penelitian ................................ E............................. Permasalahan ....... BAB II LANDASAN PEMIKIRAN TEORITIS A...... Urgensi Pemerintahan Daerah ........................................................................................................................ C...... jenis dan Hirarki Peraturan Perundang-undangan Menurut UU No...................................................................................... Pembangunan Hukum .................. 2....................... Tujuan Penelitian ..... 5............................................... Tanah Menjadi Komoditas dan Sarat Sengketa ...................... Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945: Politik Agraria dan Landasan Konstitusional Pengelolaan Tanah ........................ Out Put/Hasil Penelitian .......................................... Metode Penelitian ........................... Aspek Teoritis Peraturan Perundang-undangan ... Quo Vadis Ideologi Populis Agraria . Kata Pengantar .. 3................. 10 Tahun 2004 ........................... 25 27 30 31 31 36 43 43 49 vi ............................................ 4................ B......................... Perubahan Masyarakat dan Perubahan Hukum .. Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945: Politik Agraria dan Landasan Konstitusional Pengelolaan Tanah .......... D....................................................................................................... BAB III ANALISIS ATURAN HUKUM SEKTOR PERTANAHAN A.............. B............................................ Latar Belakang . B....................................... F................................ E................ Daftar Isi ........................................................................................ E..................... Sinkronisasi dan Konsistensi (Konflik) Aturan Hukum Sektoral .............. F............. Daftar Tabel ... Otonomi Daerah dan Desentralisasi ...................... Desentralisasi atau Sentralisasi Urusan Bidang Pertanahan................................................. C...... Istilah dan Jenis Peraturan Perundang-undangan .................................DAFTAR ISI Halaman Judul ........ C........ Landasan Peraturan Perundang-undangan ......

... Isu Hukum Aktual dala Konflik Aturan Hukum Sektor Kesehatan ............... Ketidakjelasan dan Keteterlambatan Aturan Hukum dan Kebijakan Audit Medis Rumah Sakit .......................... 8......................................... 53 1............ Pergeseran Nilai dan Asas dari Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 ......................................... 1. Keterlambatan Penjabaran Fungsi dan Wewenang Pemerintah Daerah Sektor Kesehatan dan Peraturan Daerah ........................................ 6.............. Keterlambatan Aturan Hukum dan Kebijakan Fungsi Sosial Pelayanan Kesehatan ... 65 1..................................................... Ketidakjelasan dan Ketidakkonsistenan Aturan Hukum dan Kebijakan Tarif Pelayanan Kesehatan . Keterlambatan dan Ketidakkonsistenan Aturan Hukum dan Kebijakan Perizinan ........................................................................... Produk Aturan Hukum Pertanahan Era Reformasi (19982006) ....... 4............................ Aturan Hukum Sektor Pertanahan .......................................................................................... Asas Kekeluargaan ... Ketidakkonsistenan Aturan Hukum dan Kebijakan Akreditasi ..............................F..................................................... 53 2....... 5..................................................... 58 G....... Penjabaran Fungsi dan Wewenang Pemerintah Daerah Sektor Kesehatan Kesehatan dalam Peraturan Daerah .... B...................... E............. Konflik Aturan Hukum Sektor Pertanahan Terhadap Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 ......... Asas-asas Hukum yang Mendasari Fungsi dan Wewenang Pemerintah dala Otonomi Daerah Sektor Kesehatan ............. Aspek Historis ............... Pembagian Fungsi dan Wewenang Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam Otonomi Daerah Sektor Kesehatan ............... Ketikonsistenan dan Keterlambatan Aturan Hukum dan Kebijakan Pengendalian Mutu dan Biaya Pelayanan Kesehatan ................................................................................................... 81 BAB IV ANALISIS ATURAN HUKUM SEKTOR KESEHATAN A......................... 9........ F.......................................................................................... 70 3.......... Dikuasai oleh Negara atau Hak Menguasai Negara ................ 95 95 100 103 104 104 105 106 106 107 107 109 109 112 114 121 vii ..................... 2..... Hakikat Ketentuan Pasal 33 UUD 1945 .. Konflik Aturan Hukum Sektor Kesehatan ................. Ketidakjelasan dan Ketidakkonsistenan Aturan Hukum dan Kebijakan Sanksi Administrasi .............. 65 2... 56 3.................. Kelemahan Struktur dan Kapasitas Kelembagaan Hukum (Pemerintah) Sektor Kesehatan ........ 3............................. D................ C.............. 7...... Produk Aturan Hukum Pertanahan Orde Baru (19671998) ............................

................ B...................... Wilayah Pesisir yang Tak Terpisahkan ................... 3..................................................................................................... Sektor Kelautan Aset yang Melimpah ........................ 2................. Penataan Struktur dan Kapasitas Kelembagaan (Pemerintah) Sektor Kesehatan Mengacu Konsep Good Governance .. Percepatan Penjabaran Fungsi dan Wewenang Pemerintah Daerah Sektor Kesehatan dalam Peraturan Daerah ..................... Penguatan Kapasitas Kelembagaan Kementerian Kesehatan di Pusat dan Dinas Kesehatan di Daerah ........................ Penguatan Asas Kejelasan dan Kesegeraan Aturan Hukum dan Kebijakan Fungsi Sosial Pelayanan Kesehatan .......................................... O........... dan Kesegeraan Aturan Hukum dan Kebijakan Perizinan ...... Pengkaitan Sistem Pelayanan Kesehatan Nasional dan Daerah ........... M................ 1......................................... Q.......... Pengembangan Potensi Sumber Pembiayaan dari Pemerintah Pusat dan Alokasi “Subsidi” dari Pemerintah Pusat di Sektor Kesehatan .............. Sinkronisasi......................................... Penguatan Asas Konsistensi dan Kejelasan Aturan Hukum dan Kebijakan Pengelolaan Perbekalan Kesehatan ..... R.. Penegakan Hukum dan kebijakan Sektor Kelautan Multi Dimensi ..... Tata Kelola Wilayah Pesisir dan laut oleh Daerah ....................................................... Penguatan Asas Kejelasan dan Konsistensi Aturan Hukum dan Kebijakan Sanksi Administrasi .. 121 123 124 124 125 126 126 127 127 128 128 131 131 132 133 136 136 137 140 141 viii .............. L.... C.......................... H........................................ Penguatan Asas Kejelasan dan Kesegeraan Aturan Hukum Audit Medis ............ Penguatan Asas Konsistensi.... Penguatan Asas Konsistensi Aturan Hukum dan Kebijakan Akreditasi ........... N. Penguatan Asas Konsisten dan Kesegeraan Aturan Hukum dan Kebijakan Pengendalian Mutu dan Biaya Pelayanan Kesehatan ...... BAB V ANALISIS ATURAN HUKUM PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM SEKTOR KELAUTAN A..............................G.......... Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam Otonomi Sektor Kesehatan .............................. I..... Penguatan Asas Konsistensi dan Kejelasan Aturan Hukum dan Kebijakan Tarif Pelayanan Kesehatan ... D......... Perubahan Struktur dan Fungsi Kementerian Kesehatan di Pusat dan Dinas Kesehatan di Daerah ...... J....... K... P....

......... Dekonsentrasi ............................................................ 2.................................. Pinjaman Daerah ................................................................................................................ 162 162 163 169 DAFTAR PUSTAKA ... Hubungan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah ................. Masyarakat Adat Beserta Hak Komunalnya dalam Perspektif Desentralisasi ................ C.............. Pembagian Wewenang yang Timpang Antara Pusat dan Daerah .. 147 C Isu Mendasar dan Aktual dalam Pengaturan Keuangan Pusat dan Daerah ................................................ B.................................................................................. Titik Tolak Penyelarasan Hubungan Pusat dan Daerah Berdasarkan Prinsip Otonomi yang Luas ............................................................. 143 143 144 145 146 146 147 B Konflik Aturan Hukum dan Disharmoni Tata Kelola Sektor Keuangan Pusat dan Daerah . ix .......... 153 153 156 159 BAB VIII PENUTUP A.................................................. Desentralisasi Fiskal ....... 1.......................... Khusus ......... Tugas Pembantuan .. 150 BAB VII PROBLEM DAN LANDASAN PIJAK PENATAAN HUBUNGAN PUSAT DAN DAERAH DAN PERAN MASYARAKAT ADAT A......................... 5...... 148 D Langkah Penyempurnaan Hubungan Keuangan Antara Pusat dan Daerah ......BAB VI ANALISIS ATURAN HUKUM HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH A.............. 4................. Dana Perimbangan ............ B................................................ Umum ........................... 3..................................................................................................................................................................

Mengarahkan dan Melaksanakan Fungsi dan Wewenang Pengawasan Pemerintah Terhadap Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Hlm 18 37 38 39 40 41 117 8 120 x .DAFTAR TABEL No 1 2 3 4 5 6 7 Judul Sifat Kebijakan Pemerintah Berdasarkan Kondisi Struktural dan Corak Penguasa Karakteristik Sengketa Tanah di Indonesia Tahun 1970-2001 Jenis Sengketa yang Objeknya Tanah Perusahaan Besar Pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) Distribusi Rumah Tangga Petani (RTP) Pengguna Lahan dan Luas Lahan yang Dikuasai (1983-1993) Penduduk Miskin di Pedesaan dan Perkotaan Tahun1990-2003 (Juta Orang) Pembagian Wewewnang Pemerintah Sektor Kesehatan Berdasarkan Fungsi Mengatur.

Otonomi yang seluas-luasnya (Pasal 18 ayat (5)). 1 . Di samping itu. Pengakuan dan penghormatan atas kesatuan masyarakat hukum adat dan hak tradisionalnya (Pasal 18B ayat (2)). 3. dan diselenggarakan pula pemencaran kekuasaan kepada organ-organ yang menjalankan sebagian wewenang pemerintah pusat di daerah yang dikenal sebagai dekosentrasi. 8.BAB I PENDAHULUAN A. antara lain: 1. eenheidsstaat) Indonesia. Pengakuan dan penghormatan atas pemerintahan daerah yang bersifat khusus dan istimewa (Pasal 18B ayat (1)). 7. 5. Dalam rangka otonomi tersebut. Daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otoonmi dan tugas pembantuan (Pasal 18 ayat (2)). yaitu berupa prinsip-prinsip. perlu dijalankan sistem mekanisme yang baik tentang hubungan antara pusat dan daerah dalam kerangka negara kesatuan. Latar Belakang Dalam sistem negara kesatuan (unitary state. diselenggarakan untuk sebagian urusan secara sentralisasi. Badan perwakilan dipilih langsung melalui suatu pemilu (Pasal 18 ayat (3)). Wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah (Pasal 18A ayat (1)). diletakkan dasar konstitusional tentang hubungan antara pusat dan daerah. Kekhususan dan keragaman daerah (Pasal 18A ayat (1)). Dalam Pasal 18 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dan perubahannya. Hubungan pusat dan daerah harus dilaksanakan secara selaras dan adil (Pasal 18A ayat (2)). 2. yakni wewenang mengatur dan mengurus penyelenggaraan pemerintahan oleh satuansatuan pemerintahan di tingkat yang lebih rendah dan bersifat otonom. diselenggarakan pula sebagian urusan pemerintahan secara desentralisasi. 4. 6.

9. secara umum ditaur dalam UU No. Pembagian urusan pemerintahan terdiri atas: urusan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah pusat. Terjadi tumpang tindih dan tarik menarik wewenang. yang selanjutnya dikenal adanya urusan Pemerintah daerah terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan. bahkan sebaliknya banyak menimbulkan dampak 2 . tetapi wewenang atau ruang lingkupnya berbeda. misalnya masalah pertanahan di daerah. sebagai lex generalis dan undang sektoral sebagai lex specialis. Prinsip-prinsip tersebut di atas menjadi dasar dalam penyusunan undang- undang terkait dengan otonomi. pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dilaksanakan secara adil dan selaras (Pasal 18A ayat (2)). 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (serta perubahannya) dan UU No. di antaranya mengenai pembagian urusan dan pembagian wewenang pemerintahan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. terutama undang-undang tentang pemerintahan daerah dan undang-undang tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. namun pengaturan tersebut seringkali menimbulkan persoalan karena kurang tepat dalam pembagian wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. urusan yang dibagi antar tingkatan dan/atau susunan pemerintahan. pelayanan umum. Dalam hal inilah akan menentukan sejauhmana pemerintah pusat dan pemerintah daerah memiliki wewenang untuk menyelenggarakan urusan-urusan pemerintahan. Di tengah-tengah sumber daya alam yang melimpah. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Pembagian urusan pemerintahan tersebut. Hubungan keuangan. Salah satu aspek mendasar dalam otonomi daerah adalah hubungan antara pusat dan daerah. kehadiran otonomi daerah yang luas belum memberikan manfaat (positif) bagi masyarakat di daerah termasuk masyarakat adat. Adapun pembagian kewenangan untuk menyelenggarakan urusan-urusan pemerintah tersebut di atas. pengelolaan hutan. Pembagian wewenang pemerintahan tersebut di atas. dan pertambangan. Objek urusan pemerintahan bisa sama. secara khusus juga diatur dalam berbagai UU sektoral.

serta memperhatikan keragaman daerah. tidak menjadikan masyarakat adat sebagai salah satu faktor penentu. bahwa UU yang diterbit setelah itu sudah pasti sinkron. B. UU yang diterbitkan sebelum tahun 1999. maupun urusan-urusan yang diatur dalam berbagai UU sektoral. maka penelitian ini disusun dalam beberapa kajian yang kesemuanya bermuara pada pembangunan hukum yang bagaimana terkait dengan berbagai konflik substansial dari sejumlah UU sektoral. Tidak berarti dengan sendirinya. antara lex generalis dan undang sektoral (lex specialis) tersusun dalam bingkai yang sinkron.negatif. belum tentu. Idealnya. Pembagian wilayah Indonesia ke dalam daerah-daerah otonom. Deskripsi Penelitian/Ruang Lingkup Beranjak dari tujuan penelitian tersebut di atas. aplikasi desentralisasi dalam undangundang terkait dengan otonomi. Disamping itu sebagai perwujudan demokratisasi di daerah. Sebagai pemetaan. Permasalahan Beranjak dari tujuan desentralisasi tersebut. sehingga selaras dengan prinsip otonomi yang luas. maka dalam hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. baik urusan yang diatur dalam UU Pemerintahan daerah dan UU Perimbangan Keuangan. Tujuan dari desentralisasi yang digariskan prinsip-prinsipnya dalam UUD 1945 adalah untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan. dan keadilan. pemberdayaan. dan peran serta masyarakat. sangat potensial terjadi ketidaksinkronan. terdapat permasalahan pokok adalah bagaimana mensikronkan hubungan kewenangan dalam menyelenggarakan urusan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Topik-topik kajian disusun sebagai berikut: 3 . pemerataan. pembagian daerah-daerah otonom tersebut mengakibatkan struktur masyarakat adat dan budayanya menjadi terpecah-pecah dalam (fragmented) dalam beberapa daerah otonom. Bahkan. C.

Analisis aturan hukum di sektor pertanahan. Analisis aturan hukum di sektor kesehatan.1. 33 Tahun 2004 maupun dalam berbagai UU sektoral terkaitan dengan pelayanan kesehatan. 4 . Dampak pembagian wewenang yang tidak seimbang antara pusat dan daerah. terutama bidang/sektora kesehatan. Peraturan-peraturan yang berkaitan dengan hubungan pusat dan daerah. baik dalam UU No. 32 Tahun 2004 dan UU No. Dampak pembagian wewenang yang tidak seimbang antara pusat dan daerah dalam urusan kesehatan. khususnya sektor pertanahan. Review sejumlah peraturan yang tidak sesuai dengan prinsip pembagian wewenang yang selaras dan adil. Konsep dan prinsip yang adil dan selaras dengan prinsip otonomi yang luas. Review sejumlah peraturan yang tidak sesuai dengan prinsip pembagian wewenang yang selaras dan adil di bidang pertanahan. Hak masyarakat adat dan pengaturannya terkait dengan pertanahan. baik dalam UU No. khususnya bidang kesehatan. Mengkaji: Deskripsi lebih lanjut hubungan pusat dan daerah yang lebih selaras dengan cita-cita UUD 45. Pembagian wewenang antara pusat dan daerah. 32 Tahun 2004 maupun dalam berbagai UU sektoral lainnya terkait dengan urusan pertanahan. 2. Deskripsi lebih lanjut hubungan pusat dan daerah yang lebih selaras dengan cita-cita UUD 45. Pembagian wewenang antara pusat dan daerah. Konsep dan prinsip yang adil dan selaras dengan prinsip otonomi yang luas. Peraturan-peraturan yang berkaitan dengan hubungan pusat dan daerah.

4. Review sejumlah peraturan yang tidak sesuai dengan prinsip pembagian wewenang yang selaras dan adil. terutama bidang keuangan. Konsep dan prinsip yang adil dan selaras dengan prinsip otonomi yang luas. terutama di bidang pengelolaan sumber daya kelautan. Dampak pembagian wewenang yang tidak seimbang antara pusat dan daerah. Review sejumlah peraturan yang tidak sesuai dengan prinsip pembagian wewenang yang selaras dan adil. baik dalam UU No.3. Peraturan-peraturan yang berkaitan dengan hubungan pusat dan daerah. Pembagian wewenang antara pusat dan daerah. Konsep dan prinsip yang adil dan selaras dengan prinsip otonomi yang luas. Peraturan-peraturan yang berkaitan dengan hubungan pusat dan daerah. Hak masyarakat adat (masyarakat pesisir) dan pengaturannya terkait dengan sumber daya kelautan. Pembagian wewenang antara pusat dan daerah. 32 Tahun 2004 maupun dalam berbagai UU sektoral terkait pengelolaan sumber daya kelautan. Dampak pembagian wewenang yang tidak seimbang antara pusat dan daerah. baik dalam UU No. 33 Tahun 2004 maupun dalam berbagai UU sektoral terkait bidang keuangan. khususnya bidang kelautan. Deskripsi lanjut hubungan pusat dan daerah yang lebih selaras dengan cita-cita UUD 45. 32 Tahun 2004 dan UU No. Deskripsi lebih lanjut hubungan pusat dan daerah yang lebih selaras dengan cita-cita UUD 45. Analisis aturan hukum di bidang pengelolaan sumber keuangan Negara. 5 . Analisis aturan hukum di bidang pengelolaan sumber daya alam kelautan.

D. Mendeskripsikan pembagian wewenang antara pusat dan daerah. baik pada tataran dogmatik. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. 32 Tahun 2004 dan UU No. Mendefinisikan ulang peraturan-peraturan yang berkaitan dengan hubungan pusat dan daerah. dan sejarah hukum. E. 33 Tahun 2004 maupun dalam berbagai UU sektoral. maupun filasafat hukum. 5. 3. 6. 4. dalam studi ini juga digunakan pendekatan hukum normatif atau penelitian hukum kepustakaan. Merumuskan konsep dan prinsip yang adil dan selaras dengan prinsip otonomi yang luas. Metode Penelitian 1. Penelitian terhadap asas-asas hukum dilakukan dengan cara menafsirkan kaidah-kaidah hukum yang dirumuskan di dalam peraturan perundangn-undangan 6 . Mendeskripsikan hak masyarakat adat dan pengaturannya. Selain menggunakan penelitian hukum. Pendekatan Penelitian Kajian penelitian ini didekati dari sisi ilmu hukum. Penelitian hukum normatif atau kepustkaan tersebut mencakup penelitian terhadap asas-asas hukum. teori hukum. yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder. perbandingan hukum. 2. 7. baik dalam UU No. Me-review sejumlah peraturan yang tidak sesuai dengan prinsip pembagian wewenang yang selaras dan adil. Memaparkan dampak yang terjadi sehubungan dengan permasalahan yang timbul akibat pembagian wewenang yang tidak seimbang antara pusat dan daerah. Mendeskripsikan lebih lanjut hubungan pusat dan daerah yang lebih selaras dengan cita-cita UUD 45. penelitian terhadap semantik hukum. terutama bidang-bidang sektoral. penelitian terhadap taraf sinkronisasi vertikal dan horizontal.

khususnya bagi Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia untuk dijadikan sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan. Penelitian terhadap taraf sinkronisasi horizontal bertujuan untuk menelaah kesrasian peraturan perundang-undangan yang sederajat yang mengatur substansi materi yang sama. dan UU Pemerintahan Aceh (UU Nomor 11 Tahun 2006). juga untuk mengetahui perkembangan muatan desentralisasi dalam setiap kebijakan pemerintahan daerah yang pernah berlaku di Indonesia. dimulai sejak jaman colonial sampai sekarang termasuk UU Otonomi Khusus Papua (UU Nomor 21 Tahun 2001). F. tujuannya adalah untuk menelaah indikasi kebijakan hubungan pusat dan daerah terutama terhadap undang-undang bidang sektoral yang tidak sejalan dengan asas-asas desentralisasi dan demokratisasi.yang terkait dengan Pemerintahan Daerah. Output/Hasil Penelitian Penelitian ini akan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang ditujukan kepada pihak-pihak terkait. Metode ini tidak terlepas dari penetapan obyek material dan obyek formal penelitian. Penelitian terhadap taraf sinkronisasi vertikal dan horizontal dilakukan untuk menelaah sampai sejauh manakah hukum positif tertulis yang ada serasi. 7 . bahan hukum sekunder. dan bahan hukum tertier. Penelitian sejarah hukum mengkaji latar belakang tujuan pembentukan peraturan perundang-undangan tentang pemerintahan daerah yang menjadi obyek materiil dari studi ini. Penelitian terhadap sistematik hukum bertujuan untuk menelaah pengertianpengertian pokok atau dasar dari sistem hukum yang terdapat di dalam UU yang berkaitan dengan Hubungan Pusat dan dan Daerah. 2. Penelitian terhadap taraf sinkronisasi vertikal bertujuan untuk menelaah keserasian peraturan perundang-undangan secara hirarki peraturan perundang-undangan yang berlaku. yaitu UU bidang sektoral dan UU tentang Pemerntahan Daerah. Bahan Penelitian Bahan hukum yang digunakan terdiri dari bahan hukum primer.

Negara. Urgensi Pemerintahan Daerah Keberadaan pemerintah dalam suatu negara adalah suatu yang urgen (penting) bagi proses kehidupan masyarakat. Hukum rimbalah yang akan terjadi..BAB II LANDASAN PEMIKIRAN TEORITIS A. 1997. Elemen negara. adalah lingkungan wilayah dan pribadi keberlakuan dari tertib hukum. a legal order. Reprinted. hlm. hlm. 2 Hans Kelsen. 8 Desember 2006. Dikatakan oleh Hans Kelsen: “The state is. hlm. 303 3 Alan Norton. New York. bahkan individu sekalipun membutuhkan pelayanan pemerintah. para penulis kontitusi Amerika. melalui pemerintahnya menyelenggarakan tertib hukum dalam rangka memberikan perlindungan hukum bagi warga. kerjasama Fakultas Hukum Universitas Sriwiijaya dengan Program HEDS. Makalah pada Seminar Bagian Hukum Tata Negara. Great Britain. dan aset negara.. territory and people. Kekuasaan negara adalah keberlakuan dan kemanfaatan dari tertib hukum. It is element. Inderalaya. 26-27 1 8 .…. wilayah dan rakyat. International Handbook of Local and Regional Government: a comparative analysis of advanced democracies. Jika tidak ada pemerintah.the American stress on the division of powers between levels of government could be extended to some extent to local government as mitigating the dominant of the sovereign”3. Ridwan. Sebaliknya. “Pemerintahan Daerah Setelah Perubahan Kedua UUD 1945”. karena tidak ada institusi yang memberikan perlindungan hukum bagi warga beserta harta benda milik mereka. 1. Sekecil apapun kelompok masyarakat. Suffolk. are the territorial and personal spheres of validity of that legal order… The “power” of the state is validity and efficacy of legal order. Russell & Russell. General Theory of Law and State. 1973. siapa yang kuat dialah yang akan menang dan mampu mempertahankan kehidupan dan miliknya. aparatur pemerintah. maka masyarakat akan hidup dalam ketidakteraturan1. seperti dikemukakan Alan Norton: “The separation of territorial powers could be seen as a check on the power of central state: .…”2 Negara adalah tertib hukum. The Ipswich Book Company.

Alasan Situasi dan Kondisi Wilayah Secara geografis. alasan situasi dan kondisi wilayah. Alasan Keterbatasan Pemerintah Tidak semua urusan pemerintah dapat dilaksanakan sendiri oleh pemerintah pusat. mempunyai konsekwensi logis terhadap lahirnya berbagai suku dengan adat istiadat.Dari kutipan di atas. menimbulkan konsekwensi logis bagi distribusi urusanurusan pemerintahan negara kepada pemerintah daerah. bagi Amerika pembagian kekuasaan tersebut adalah sebagai pengurangan dominasi kedaulatan. 3. yaitu alasan sejarah. 21-25. Kondisi wilayah yang demikian. Demikian pula keadaan dan kekayaan alam dan potensi permasalahan yang satu sama lain memiliki kekhususan tersendiri. disarikan bahwa pemisahan kekuasaan teritorial dapat dilihat sebagai pengawasan terhadap kekuasaan negara. Tidak mungkin pemerintah dapat menangani semua urusan pemerintahan yang menyangkur\t kepentingan masyarakat yang mendiami ribuan pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. satu sama lain dihubungkan oleh sela dan laut. Sarundajang. dan dikelilingi oleh lautan yang luas. 2000. Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah. terdapat beberapa alasan mengenai perlu atau pentingnya pemerintahan daerah. Apapun bentuknya suatu negara dan seberapa pun luas wilayahnya. kebudayaan dan ragam bahasa daerahnya masing-masing. alasan keterbatasan pemerintah. S. Bagi negara Indonesia. dan alasan politis dan psikologis:5 1. 5 Ibid.4 Pemencaran atau distribusi urusan-urusan pemerintahan kepada satuan-satuan dan unit-unit pemerintahan yang lebih kecil. hlm. Alasan sejarah Secara historis. ekssistensi pemerintahan daerah telah dikenal sejak masa pemerintahan kerajaan-kerajaan nenek moyang dahulu. tidak akan mampu menyelenggarakan pemerintahan secara sentral terus-menerus. dipandang akan lebih efisien dan efektif apabila pengelolaan berbagai urusan pemerintahan ditangani oleh unit atau perangkat pemerintah yang berada di wilayah masing-masing.H. karena keterbatasan kemampuan pemerintah. Oleh karena itu. Pustaka Sinar Harapan. 16. Indonesia merupakan gugusan kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau besar dan kecil.. sampai pada sistem pemerintahan yang diberlakukan oleh pemerintah penjajah. Jakarta. memunculkan sistem-sistem pemerintahan daerah yang merupakan bagian dari sistem pemerintahan nasional negara yang bersangkutan. Keterbatasan kemampuan pemerintah. 2. kebiasaan. 4 9 . maka pendelegasian kewenangan kepada unit pemerintahan di daerah-daerah suatu keniscayaan. hlm.

karena pelaksanaan otonomi daerah memberikan eksistensi bagi keberagaman sosial. Kaloh. Jakarta. Dengan desentralisasi.4.7 Berdasarkan asas desentralisasi yang dianut. Otonomi sudah menjadi suatu keniscayaan. dan semangat persatuan dan kesatuan nasional. yaitu kesejahteraan masyarakat akan meningkat. 6 10 . 2002. 7 Talizuduhu Ndraha. Makalah pada Seminar Gagasan Otonomi Daerah dalam Konteks Negara Kesatuan RI. hlm 4. disebabkan faktor utama. Rineka Cipta. “Sebuah Catatan tentang Otonomi dalam Penyelenggaraan Negara”. pemerintah pusat dapat menyerahkan sebagian urusan atau kekuasaannya kepada daerah menjadi urusan rumah tangganya. Lihat J. Sekretariat Tim P-7. Sejarah membuktikan. dan heterogenitas sosial budaya penduduk. 20-21 Maret 1992. yaitu lemahnya persatuan dan kesatuan bangsa pada waktu itu. budaya. tetapi banyak segi dan berkaitan dengan aspek kehidupan manusia. terletak bagaimana menyelenggarakan pemerintahan Daerah dalam negara kesatuan sehingga tujuan akhir. Mencari Bentuk Otonomi Daerah. bersifat nusantara. terus menjadi bahan perbincangan sejak masa penyusunan UUD 1945 sampai sekarang. Alasan Politis dan Psikologis Ketika UUD 1945 dalam masa penyusunan. bukan hanya masalah ketatanegaraan. Persoalan otonomi daerah (yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah) bukan persoalan yang berdiri sendiri. B. Permasalahannya. Karena itu. Otonomi Daerah dan Desentralisasi Desentralisasi dan otonomi Daerah adalah instrumen untuk mencapai tujuan dan bukan tujuan itu sendiri. terdapat pandangan yang menonjol pada saat itu adalah wawasan integralistis. dan adat isitiadat. memikul beban yang berat dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat. 6 maka pilihan menggunakan asas desentralisasi adalah keniscayaan. dikenalnya adanya pemerintahan daerah otonom yaitu daerah yang diberi wewenang untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Pembentukan dan pembinaan pemerintahan daerah adalah sarana efektif yang memungkinkan semangat persatuan dan kesatuan tetap terpelihara dalam ikatan negara kesatuan Republik Indonesia. masalah pengaturan tentang pemerintahan daerah dan pelaksanaannya. 69. demokratis. Jakarta. hal ini mengingat wilayah yang luas. hlm. Negara Republik Indonesia yang menganut faham negara kesatuan. bahwa sekian lamanya bangsa Indonesia hidup di bawah pemerintah penjajah.

Makalah pada Diskusi Panel tentang Hubungan Luar Negeri oleh Pemerintah Daerah. Merupakan pelimpahan pengambilan keputusan dan kewenangan manajerial untuk melakukan tugas khusus kepada suatu organisasi yang tidak secara langsung dibawah pengawasan pemerintah pusat (ingat BUMN di Indonesia). Delegasi wewenang kepada badan semi otonomi. mengemukakan tiga bentuk desentralisasi: 1. Pada mulanya makna “otonomi” (otonomi daerah) adalah pengundangan sendiri. 2. padahal secara teoritis pengertian kedua istilah itu dapat dibedakan. secara teknis bertanggung jawab kepada Pemda. Otonomi daerah. Pada tipe field administration.Silih berganti diundangkan undang-undang pemerintahan daerah sejak tahun 1945. Dekonsentrasi (deconcentration). Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan dan Departemen Luar Negeri Republik Indonesia cq. Palembang. selanjutnya disingkat otonomi. kerjasama Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya. Sumatera Selatan. hlm. Auditorium Pemda Prop. Gustam Idris. yang dalam perkembangan selanjutnya diartikan juga pemerintahan. pejabat pusat dan pemda berdiri sendiri. bersifat field (lapangan) dan local administration (integrated local administration dan unintegrated local administration) Dekonsentrasi adalah pembagian kewenangan dan tanggung jawab administrastif antara departemen pusat di lapangan. namun para pejabatnya tetap pegawai departemen pusat. 8 11 . Istilah desentralisasi dan otonomi sering dipakai untuk makna yang sama secara bergantian. Badan Diklat Provinsi Sumatera Selatan. Pada integrated local administration tenaga staf departemen pusat yang ditempatkan di daerah berada langsung dibawah perintah dan pengawasan dari kepala eksekutif di daerah yang diangkat oleh dan bertanggung jawab kepada pemerintah pusat. sebagaimana dikutip Gustam Idris8. Rondinelli. Devolusi kepada pemerintahan lokal. Kordinasi dilakukan secara informal. adalah dalam rangka menginterpretasikan dan menemukan solusi terbaik atas permasalahan tersebut di atas. Pemerintah pusat membentuk unit-unit pemerintahan di luar pemerintah pusat dengan menyerahkan sebagian fungsi-fungsi tertentu untuk dilaksanakan secara mandiri. merupakan satu sistem dalam kerangka desentralisasi penyelenggaraan pemerintahan. 4 Agustus 2001. bahkan untuk itu dilakukan perubahan terhadap ketentuan UUD 1945. “Otonomi dan Hubungan Luar Negeri”. pejabat lapangan diberi keleluasaan untuk mengambil keputusan.4. namun dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan antara keduannya tidak dapat dipisahkan. 2. Ciri-ciri khususnya yaitu: bersifat otonom 3. mereka bertanggung jawab kepada departemen masing-masing. Sedangkan pada unintegrated local administration.

dan mandiri. Sistem nilai tersebut adalah konsensus bersama tetapi juga berarti melemahkan daerah yang bisa dianggap agak beragam dan bercabang dalam sistem nilai-nilai tersebut. 20-21. Jakarta. daerah otonom adalah suatu bentuk pergaulan hidup juga dan oleh sebab itu antara rakyat yang merupakan penduduk daerah otonom itu harus pula ada ikatan.11 Pembentukan daerah otonom tentu tidak dapat diadakan dengan menarik garis-garis di atas peta saja dan hanya Arend Lijphart. 4.10 Menurut M. ketiga. Pusat adalah fenomena dari dunia nilainilai dan kepercayaan belaka (phenomenon of the realm of values and beliefs). hlm. EndaNG. 10 Ibid. 11 . Pusat adalah sistem nilai karena didukung oleh kewenangan-kewenangan berkuasa dari masyarakat. Penyerahan kewenangan perencanaan. 4 9 12 . pengambilan keputusan serta administrasi kepada badan non pemerintah atau pemindahan fungsi-fungsi pemerintahan kepada lembaga-lembaga non pemerintah”. yang dilatarbelakangi oleh: pertama. Nasroen. Soal Pembentukan Daerah Otonom Dan Tingkatan Daerah Otonom. Uraian di atas menegaskan bahwa konsep desentralisasi timbul karena adanya perhatian yang makin besar untuk memberikan keleluasaan dalam perencanaan dan administrasi. kurang memuaskannya hasil perencanaan pembangunan dan kontrol administrasi yang terpusat. dalam pendekatan formulasi wewenang pusat dan daerah. hlm. kedua.M. wewenang untuk melakukan tugas umum pemerintahan. tidak diawasi secara langsung pemerintahan pusat. 1954. perlunya dikembangkan cara-cara baru dalam pengelolaan program dan proyek serta administrasi pembangunan. Menurut teori center-peripheral relationships. diantaranya sekepentingan bersama. New Haven and London Yale University Press. Democracy In Plural Societies.9 Sedangkan pinggiran/ daerah adalah lokasi di mana wewenang digunakan/ dioperasionalkan. wilayah jelas dan legal. adanya kenyataan bahwa kebutuhan masyarakat makin kompleks diikuti makin luasnya kegiatan pemerintahan sehingga makin sulit tercapainya efisiensi dan efektivitas fungsi pemerintahan. 1980. pusat adalah bagian dari masyarakat yang kewenangannya dikontrol. Nasroen. unit pemerintahan daerah berstatus sebagai badan hukum berwenang mengelola sumber daya. Alih fungsi pemerintahan kepada badan non pemerintah (privatisasi).

12 13 . Pertanggungan jawab tetap kepada kepala daerah setempat..13 Bagaimana kebijaksanaan yang harus dijalankan dalam pembentukan daerah otonom? Menurut Nasroen. menggolongkan desentralisasi menjadi ambtelijke decentralisatie (dekonsentrasi) dan staatskundige decentralisatie (desentralisasi ketatanegaraan).Ibid. Desentralisasi ketatanegaraan dapat berbentuk “desentralisasi territorial” dan “desentralisasi fungsional”.. desentralisasi dapat pula berbentuk “otonomi” dan medebewind.14 R. menurut Nasroen.16 medebewind dipahamkan sebagai pembantu penyelenggaraan kepentingan-kepentingan dari Pusat atau daerah yang tingkatnya lebih atas oleh alat perlengkapan pemerintahan daerah yang lebih rendah tingkatannya. sedangkan medebewind merupakan tugas pembantuan. Tresna15.. hlm. 4 .memperhitungkan syarat-syarat obyektif saja. Tresna mengemukakan. Urusan itu tidak beralih. yaitu dasar keindonesiaan. Di Belanda. sungguh demikian ke semua suku bangsa itu mempunyai dasar yang sama dan satu. Desentralisasi ketatanegaraan merupakan pemberian kekuasaan untuk mengatur bagi daerah di dalam lingkungannya guna mewujudkan asas demokrasi pemerintahan. Otonomi mengandung makna regeling dan bestuur.12 Syarat yang dikehendaki oleh hukum. tetapi tetap urusan pusat atau daerah atasan.Ibid. Syarat obyektif tentu perlu. hlm. harus lebih dahulu diadakan analisis mengenai keadaan masyarakat dan bangsa Indonesia.Ibid. 4 15 . adalah daerah otonom tidak boleh bertentangan atau merusakkan dasar kesatuan dari Negara Kesatuan RI. Syarat subyektif itu adalah dasar kepentingan bersama dan dasar seperasaan anatara anggota pergaulan hidup itu (daerah). Desentralisasi jabatan (dekonsentrasi) adalah pemberian kekuasaan dari atas ke bawah di dalam rangka kepegawaian.Ibid. 9 14 . Daerah otom harus berada dalam lingkungan negara sebagai negara yang berbentuk kesatuan. namun cara kebijakan dan pengaturannya berada sepenuhnya pada daerah yang memberi bantuan. guna kelancaran pekerjaan semata-mata. 16 . . Lebih lanjut R. tetapi syarat subyektif tidak kalah pentingnya. hlm. Masyarakat Indonesia yang terdiri atas bermacam suku bangsa mempunyai corak hidup dan pendirian sendiri-sendiri.Ibid. 13 .

tempat dimana hukum itu akana diterapkan.bentuk hukum (tertulis/tidak 14 . misalnya oleh ahli politik dan ahli ilmu sosial. Pembangunan Hukum Pembangunan hukum secara tepat memerlukan desain pembangunan hukum secara tepat pula.konsep (desain) hukum -pembentukan hukum (lembaga pembentuk hukum)-. Hukum yang dikonsepkan sebagai norma belaka.budaya hukum -filsafat hukum -. Di kalangan ahli hukum sendiri masih sangat kuat cara pandang yang sempit terhadap hukum tersebut.pendidikan hukum (ilmu hukum) -. Untuk itu diperlukan pendekatan yang mampu mengkonstruksi keseluruhan komponden sistem hukum dan menggambarkan hukum sebagai suatu keutuhan. Pendekatan mekanis-analitis yang dikembangkan dalam ilmu fisika. telah mengakibatkan makna hukum tercabut dari keutuhan sistemnya dan menjadi sebagai norma yang sangat sempit. yaitu pemahaman yang tepat terhadap karakteristik objek pembangunan tersebut. Hingga saat ini masih berkembang berbagai pandangan tentang ruang lingkup ilmu hukum.C. Hanya dengan desain sistem hukum yang tepatlah dapat diciptakan desain pembangunan hukum secara tepat pula. yaitu pendekatan sistem. akan berpengaruh buruk terhadap pembangunan hukum di Indonesia. Jika hukum dikonsepkan sebagai norma belaka. Akibat yang harus diterima oleh hukum sebagai akibat perkembangan itu yaitu terjadinya reduksi hukum sebagai objek ilmu hukum dan terhadap hukum sebagai suatu keutuhan. Konstruksi sistem hukum memiliki susunan sebagai berikut: masyarakat hukum-. hal ini tak lepas dari kuatnya pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan secara keseluruhan terhadap ilmu hukum. Hukum dipandang hanya sebagai norma belaka dan terpisah dari keutuhuan sistem hukum sebagai suatu keseluruhan (utuh). maka pembangunan juga akan berorientasi pada pembangunan komponenkomponen hukum yang hanya terbatas pada sistem pembentukan norma dan penerapan norma itu. yang meneliti suatu objek yang dipisahkan dari aspek aksiologisnya. Dengan cara seperti itu akan menghasilkan pembangunan hukum yang berlangsung dalam proses yang tidak dapat ditentukan efektivitasnya. dimanfaatkan pula dalam pengembangan ilmu hukum pada abad ke-18. Pendefinisian hukum secara sempit oleh berbagai ahli. Sebab utamanya adalah besarnya pengaruh dari perkembangan ilmu pengetahuan (abad 17 sd 19) terhadap ilmu hukum. Suatu sistem hukum itu bermula dari masyarakat dan berakhir pada masyarakat pembentuknya.

Komponen pembentukan hukum membawahi sub-sistem pembentukan hukum yang akan mempengaruhi kualitas hukum yang akan dibentuk dan diterapkan. Komponen bentuk perundang-undangan di Indonesia tersusun atas UUD. maka lembaga pembentuknya terdiri atas DPR. Perpres. Menurut Sinzheimer: “Syarat-syarat bagi terjadinya perubahan pada hukum itu baru ada.penerapan hukum (lembaga penyelenggara hukum)-. Presiden. Masing-masing komponen sistem tersebut bersifat otonom yang integralis. masing-masing menentukan kualitas profesionalisme ahli hukum.tertulis) -. begitu juga halnya dengan perubahan hukum. UU/Perpu. selaras dengan kenyataan hukum. PP. Konstruksi sistem hukum tersebut di atas. yaitu: (1) keadaan baru yang timbul dan (2) kesadaran akan perlunya perubahan pada masyarakat yang bersangkutan itu sendiri. Komponen pendidikan hukum membawahi sub-sistem pendidikan hukum dan sub-sistem penelitian hukum. Komponen pembentuk hukum. Pembentukan hukum merupakan masalah yang menonjol dalam peta permasalahan hukum. dan penerapan hukum. Penelitian hukum merupakan proses pembentukan hukum dalam kerangka desain sistem. D. Perda.evaluasi hukum -masyarakat hukum --. Perubahan Masyarakat dan Perubahan Hukum Masyarakat senantiasa mengalami perubahan. dan seterusnya. misalnya dalam pembentukan UU. Perbedaan perubahan yang satu dengan yang lain ditentukan pada sifat atau tingkat perubahan itu sendiri. maka profesionalisme dalam bidang legal drafting memegang peranan penting. Penelitian hukum juga memainkan peranan penting sebagai proses awal yang mendahului pembentukan hukum. kualitas pembentuk hukum. baik pada sistem masyarakat yang sangat sederhana maupun sampai pada masyarakat bangsa (negara) dan masyarakat global. Dalam perspektif permasalahan ini. dan (DPD). Perubahan hukum terjadi apabila dua unsurnya telah bertemu pada satu titik singgung. manakala dengan terjadinya perubahan-perubahan (timbulnya hal-hal yang baru) itu 15 . Kualitas hukum yang dibentuk sangat ditentukan oleh komponen pendidikan hukum yang bersinergis dengan komponen pembentukan hukum.

yang kemudian dihubungkan dengan hukum. adalah suatu perkembangan yang bermuatan nilai atau budaya yang khas.18 Menurut ketiga teori tersebut. dan modern. 20 Satjipto Rahardjo. Salah satu faktor eksternal yang menimbulkan perubahan pemikiran hukum tersebut ialah munculnya fenomena negara modern. Muhammadiyah University Press. Pokok-Pokok Sosiologi Hukum. dan (3) gerakan sosial (social movement). Dengan demikian Satjipto Rahardjo. hlm. Surakarta. Soerjono Soekanto. Raja Grafindo Persada. 91-92. Hukum Kita Liberal (Apa Yang Dapat Kita Lakukan). Arnold M. berimplikasi di bidang teknologi dan industri. Hukum modern melembagakan perkembangan idiologi pembebasan individu. apakah itu kontruksi sosial. puncak dari kontruksi tersebut (abad ke-19) adalah lahirnya konsep Rule of Law. (2) kontak atau konflik antara kebudayaan. yang dengan demikian akan mengadakan langkah-langkah menghadapi keadaan itu serta menuju kepada bentuk-bentuk kehidupan yang baru. Lahirnya perubahan hukum biasanya diawali dengan perubahan ditingkat pemikiran hukum itu sendiri. 2004. Tidak dapat dipungkiri bahwa hukum merupakan konstruksi manusia. pertengahan.”17 Selain itu. Hal inilah yang kemudian mendorong sistem perekonomian menjadi kapitalistik dan sangat agresif. Kelahiran negara modern pada abad ke-19 dengan atmosfer politik liberalisme. yaitu: (1) kumulasi yang progresif daripada penemuan-penemuan di bidang teknologi. pencerahan. Periodeisasi itu menunjukkan adanya akselerasi menuju pembebasan individu. politik atau kultural. melainkan untuk melindungi kemerdekaan individu. hlm. 18 17 16 . dari abad kegelapan. Jakarta. ia tidak dirancang untuk memikirkan dan memberikan keadilan yang luas kepada masyarakat. 2004. dengan ciri kehausan dimana-mana. 101. Hukum dan Masyarakat. salah satunya adalah “industrialisasi yang lapar lahan” 19 Di bidang hukum nilai-nilai liberal terpusat pada jaminan atas kemerdekaan individu yang menjadi paradigma dalam sistem hukum. 108. Bandung. feodal. Sistem hukum liberal dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap kemerdekaan individu. Angkasa Bandung. tanggal 3 Januari 2001.timbul emosi-emosi pada pihak-pihak yang terkena. 1986. Teorisasi Hukum. Studi Tentang Perkembangan Pemikiran Hukum di Indonesia 1945-1990. Harian Umum Kompas. 19 Khudzaifah Dimyati. Hal ini dapat dilihat dari periodesasi sejarah Eropa. hlm.20 Sistem hukum modern yang dilambangkan dengan doktrin “Rule of Law”. maka hukum lebih merupakan akibat daripada faktor penyebab terjadinya perubahan-perubahan sosial. Rose mengemukakan adanya tiga teori umum perihal perubahan-perubahan sosial.

2002. Semarang. 3. 5 Tahun ke VII Januari-Februari. dalam: Imam Syaukani & A. 23 Abdul Hakim G Nusantara. Penegasan fungsi lembaga penegak atau pelaksana hukum dan pembinaan anggotanya. hlm. Ahsin Thohari. mempunyai peranan penting. Menurut Abdul Hakim G Nusantara. Sosiologi Hukum Perkembangan Metode dan Pilihan Masalah. YLBHI & LBH Surabaya. atau model yang akan digunakan dalam melaksanakan pembangunan hukum dalam rangka mencapai tujuan maupun untuk kepentingan terhadap perubahan hukum yang direncanakan.23 Keempat faktor tersebut menjelaskan secara gamblang wilayah kerja politik hukum yang mencakup teritorial berlakunya politik hukum dan proses pembaruan Satjipto Rahardjo. Muhammadiyah University Press. dikaji hukum yang berlaku (ius constitutum). dan penciptaan ketentuan hukum baru yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat. Jakarta. “Dasar-Dasar Politik Hukum” Raja Grafindo Persada. Politik Hukum Politik hukum sebagai kerangka umum yang akan membentuk hukum (legal frame work). politik hukum nasional secara harfiah diartikan sebagai kebijakan hukum (legal policy) yang hendak diterapkan atau dilaksanakan secara nasional oleh suatu pemerintahan negara tertentu.21 E. Meningkatkan kesadaran hukum masyarakat menurut persepsi kelompok elit pengambil kebijakaan. hlm. September 1985. maupun yang memberikan arah pada pembangunan hukum yang dicita-citakan (ius constituendum). karena politik hukum merupakan disiplin yang mendasari aktifitas memilih dan menyerasikan berbagai nilai.22 Abdul Hakim G Nusantara dan Arief Budiman mengemukakan konsep yang dapat digunakan untuk memahami perspektif pemikiran politik hukum. hlm. Politik hukum nasional bisa meliputi: 1. 21 17 . Usulan Penelitian untuk Disertasi. Pembangunan hukum yang intinya adalah pembaruan terhadap ketentuan hukum yang telah ada dan yang dianggap usang. Pelaksanaan ketentuan hukum yang telah ada secara konsisten. 30-31. 2006. 4. hlm.dapat dikatakan bahwa perkembangan menuju doktrin “Rule of Law” adalah sisi lain dari perkembangan individu menuju pembebasannya. Surakarta. 37. 45-46. “Politik Hukum Nasional”. 14-17. 2. dalam: Firman Muntaqo. Makalah pada Karya Latihan Bantuan Hukum (Kalabahu). 22 Sudarto. “Perkembangan Ilmu Hukum dan Politik Hukum”. Universitas Diponegoro. Dalam Majalah Hukum dan Keadilan No. Melalui politik hukum. cara. “Harmonisasi Hukum Investasi di Bidang Perkebunan”. 2006.

Feodalisme. politik dan ekonomi. Pakta Dominasi.dan pembuatan hukum. Jadi kebijakan dalam sebuah rezim yang otoriter akan mengalami perubahan dibawah rezim yang demokrasi. Hagerstown. Dengan lain perkataan. kondisi struktural meliputi aspek-aspek hubungan sosial. Publishers New York. Pra-Birokratik. Kebijakan juga ditentukan oleh rezim yang ada. Birokrasi. Unsur dominan dalam suatu perubahan kebijakan adalah kondisi struktural. . hlm. hlm. hlm. 1997. 27 Ibid. Negara. dikutip dari. Kekuasaan dan Ideologi. karena kebijakan publik merupakan hasil interaksi dari kondisi struktural (proses politik antara pemerintah yang berkuasa dengan dan proses politik yang ditempuh) Ibid. Aspek Personel dari Post Birokratik26 Pelaksana Negara Rezim. Jakarta. Demokrasi Hasil Represif.24 Mengacu pada pendapat Arief Budiman. cara Totaliter. Sifat Kebijakan Pemerintah Berdasarkan Kondisi Struktural dan Corak Penguasa Aspek Uraian Sifat Kondisi Struktural. meliputi pakta dominasi dari kekuatan-kekuatan masyarakat yang ada dengan negara di mana pengaturan kekayaan—yakni siapa yang mendapat apa dan berapa banyak. Sosialisme. 16. Teori Negara. Sosial. Kapitalisme. 22. Philippe Nonet & Philip Selznick. Lihat dalam: Arief Budiman. 90-93. Pemerintah. 26 18 . termasuk jugakekuatan-kekuatan internasional yang berpengaruh pada pengaturan kekayaan dan pakta dominasi di sebuah negara tertentu. namun apakah perubahan itu bersifat substansial atau tidak itu persoalan lain. Gramedia Pustaka Utama. tetapi tetap ditentukan oleh “kondisi struktural”25 dari pemerintahan sendiri. 1997. San Francisco. Otoriter. Aparat Politik & Birokratik. Otonom. hlm. London. Pengaturan Kekayaan. 25 24 Tambahan dari penulis. Sistem Politik. Harper & Row. Perlu dicatat juga bahwa dalam konsep kondisi struktural ini. Kebijakan Publik Responsif27 Sumber: Arief Budiman. Ekonomi dan Politik dari Konteks Kekuatan Produksi. dengan sikap kritis terhadap hukum yang berdimensi ius constitutum dan menciptakan hukum yang berdimensi isu constituendum. Law & Society in Transition: Toward Responsive Law. Tabel 1. Hubungan dan sebagainya. 31 Kondisi Struktural dari negara. serta cara-cara mendapatkan kekayaan itu diatur. SemiPenyelenggaraan Kekuasaan Demokrasi. Bantuan ekonomi dan militer dari negara-negara adidaya dan lembaga-lembaga keuangan internasional untuk mendukung sebuah negara tentunya merupakan kondisi yang memperkokoh kekuasaan negara yang dibantu. baik secara Nasional maupun Internasional. pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan tidak semata-mata ditentukan oleh pemerintah secara mandiri. 1978.

Perda) dan wewenang aturan hukum. dalam: H. Undang-undang adalah hukum. Padahal. Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah. Istilah dan Jenis Peraturan Perundangan-Undangan Di kalangan awam. Hukum dan Peraturan Kebijaksanaan (Beleidsregel) pada Pemerintahan Daerah. makna aturan hukum yang dimaksud. Untuk kebijakan tertentu mungkin kondisi struktural yang paling dominan. Dari kata dasar “atur“. Program Studi Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Airlangga. undangundang adalah bagian dari peraturan perundang-undangan. dalam Disertasinya menggunakan istilah “aturan hukum” untuk istilah “peraturan perundangundangan”.yang ada. atau sama dengan hokum. tetapi untuk lain kebijakan mungkin unsur pemerintah atau proses politiknya yang menjadi faktor dominan. ia terdiri dari undangundang dan berbagai peraturan perundang-undangan lainnya seperti. 29 Febrian. Aspek Teoritis Peraturan Perundang-undangan 1. Disertasi. 2004. hlm. tetapi hukum tidak sama dengan undang-undang. sebab undang-undang adalah salah satu bentuk dari kaidah hukum.UU/Perpu . Ind-Hill. Faktor dominan dari kondisi struktural yang mempengaruhi kebijakan tergantung pula dengan jenis kebijakannya. “undang-undang“ dan “hukum“28. UII Press.Co. sering terjadi kekeliruan dalam mengartikan istilah-istilah “peraturan perundang-undangan“. hukum kebiasaan.30 Di Bagir Manan. hlm.PP . yaitu dari segi bentuk adalah tertulis dan dari segi substansi dan sifat adalah mengikat umum atau keluar. 59. Febrian. Dasar-dasar Perundang-undangan Indonesia. Hal ini sekali lagi didasarkan kepada permasalahan hirarki adalah permasalahan bentuk hukum yang membentuk pola jenjang aturan hukum (UUD . Oleh karena itu. menjadi “aturan hukum“. Istilah peraturan perundang-undangan dalam praktik dan wacana akademik kadang digunakan dengan memaknainya tidak secara tepat. Kekeliruan terjadi karena terbentuknya konsep berpikir yang menyamakan peraturan perundangundangan dengan undang-undang. Jogjakarta. mendapat akhiran “an“ yang bermakna kata benda. 30 Ibid. Surabaya. 65. hlm. Hirarki Aturan Hukum di Indonesia. 1992. F. disamping kaidah hukum lainnya seperti hukum adat. ditambah kata hukum. Jakarta. 1. yaitu wewenang untuk mengatur yang langsung mengikat umum29. 2005. hlm. Abdul Latief. dan hukum yurisprudensi. 28 19 . 35-36.

22 ayat (1). Peraturan Presiden yaitu peraturan untuk melaksanakan Penetapan Pasal 3. “Keputusan Presiden”. Penetapan Presiden yaitu: peraturan untuk melaksanakan Dekrit Presiden. Pasal 20.31 Pada Konstitusi Republik Indonesia Serikat 1949. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 tidak ditemukan istilah “Peraturan Perundang-undangan”. 139. Yang membedakan dengan Konstitusi RIS 1949 ialah jenis atau bentuk dari peraturan-peraturan tersebut. “Peraturan Undang-undang”. Undang-Undang Darurat. UUD 1945 (sebelum amandemen). 119 Konstitusi RIS 1949 33 Pasal 89 UUDS 1950: kecuali apa yang ditentukan dalam pasal 140 maka kekuasaan perundang-undangan. ”Peraturan-peraturan Undang-undang”. 51 ayat (3). “Undang-undang darurat”. yang ada hanyalah jenis atau bentuk dari ”Peraturan Perundangan-undangan”. sesuai dengan ketentuan-ketentuan bagian ini. 31. seperti: “Aturan-aturan hukum”. 5 ayat (1). Undang-undang. kekuasaan perundangundangan dalam UUDS 1950 dilakukan pemerintah bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat33. Istilah-istilah lainnya tidak jauh berbeda dengan yang diatur dalam Konstitusi RIS 1949. Dalam Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia 1950. istilah “perundangundangan” dapat ditemukan pada Pasal 127 Bagian II judul Perundang-undangan. 51 ayat (4). dilakukan oleh Pemerintah bersama-sama Dewan Perwakilan Rakyat. 32 31 20 . istilah “perundang-undangan” ditemukan pada Bagian II judul Perundang-undangan. Jika merujuk pada jenisnya terdapat: Undang-undang federal. 27 ayat (1).undang”. 96 ayat (1). 34 Pasal 13 ayat (2). 41 ayat (2). Aturan-aturan Undang-undang”. “Aturan-aturan Undang-undang”. 30 ayat (3). jenis peraturan perundang-undangan yang ada meliputi: Undang-Undang Dasar. 21. Pada masa berlakunya UUDS 1950. Selain itu terdapat juga istilah “Peraturan-peraturan Undang-undang”. yaitu: Ketetapan MPR. digunakan secara bersamaan atau secara bergantian. Undang-Undang. 141. yaitu: “Undang. 91. 97. dan Keputusan Presiden32. kedua istilah peraturan perundang-undangan dan aturan hukum. 17 ayat (2). “Aturan-aturan hukum (yang tak tertulis)”. Peraturan Pemerintah. dengan menyebutkan kekuasaan perundang-undangan federal. “Peraturan Pemerintah”34. Undang-undang. 31. 5 ayat (2). 32 ayat (2). Undang-undang Darurat. “Perundang-undangan federal”. Peraturan Pemerintah. 98 UUDS 1950. Undang-undang daerahdaerah bagian. lain halnya dengan apa yang diatur dalam Konstitusi RIS 1949. 90. 84. 5. 26.dalam uraian selanjutnya. dan Peraturan Pemerintah. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang.

dalam hal ini terjadi berbagai kerancuan dan tumpang tindih mengenai materi muatan maupun tata urutan peraturan perundang-undangan. Peraturan Perdana Menteri. XIX/MPRS/1966 tentang Peninjauan Kembali Produk-Produk Legislatif Negara di luar produk MPRS yang tidak sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945. Keputusan Presiden. diawali dengan Ketetapan MPRS No. relatif membuka ruang untuk menyelesaikan kesemerawutan tersebut. yaitu: I. seperti.Presiden. Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia. Peraturan Menteri. 2262/HK/1959 tanggal 20 Agustus 1959. Munculnya Ketetapan MPRS No. Bagian II Tata Urutan Peraturan Perundangan Republik Indonesia dari Ketetapan MPRS No. dan III. Peraturan Daerah Tingkat I dan II. Terjadi kerancuan menyangkut jenis dan substansi peraturan perundang-undangan. terjadi kesemerawutan dalam tata urutan peraturan perundang-perundangan. Keputusan Menteri. Bagan atau Skema Susunan Kekuasaan di dalam Negara Republik Indonesia. Memasuki tahun 1966 “kesemerawutan” jenis dan tata urutan peraturan perundang-undangan mulai dibenahi. dan surat No. Jenis-jenis peraturan Perundang-undangan selain yang telah disebutkan dalam UUDS keberadaanya didasarkan pada Surat Presiden No. No. Penetapan Presiden dan Peraturan Presiden mengatur materi Undang-undang dan Peraturan Pemerintah.33 Pada masa berlakunya UUDS 1950. Jadi. 2775/HK/1959 tanggal 22 September 1959. Ketetapan ini meliputi tiga bagian. 3639/HK/1959 tanggal 26 Nopember 1959. XX/MPRS/1966 berisikan bentuk-bentuk atau jenis-jenis peraturan perundang-undangan Republik Indonesia secara hirarki: 21 . didasarkan atas alasan adanya jenis peraturan perundang-undangan yang tidak mempunyai dasar hukum dalam UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan yang isinya tidak sesuai atau bertentangan dengan isi UUD 1945. II. Tata Urutan Peraturan Perundangan Republik Indonesia. Peninjauan kembali terhadap produk-produk hukum tersebut. XX/MPRS/1966 tentang Memorandum DPR-GR mengenai Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan Peraturan Perundangan Republik Indonesia. Terdapat Peraturan Pemerintah yang ternyata sebagai peraturan pelaksanaan dari Peraturan Presiden.

b. 4. di tetapkan dengan TAP MPR No. 45. Berdasarkan Pasal 1 angka 2 undang-undang tersebut. dan disisi lain UUD 1945 juga sebagai Hukum Dasar Negara35 . Berkenaan dengan pendapat Abdul Latief di atas. Menurut Abdul Latief. IX/MPR/1978 dan TAP MPR No. jika kita cermati Memorandum DPR-GR tertanggal 9 Juni 1966 Bagian I. 6. UII Press. 35 22 . jenis-jenis peraturan perundang-undangan yang ditetapkan mulai dari TAP MPR No. IV/MPR/2000. Ketetapan MPR. hlm. 2. 3.1. yaitu Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004. Undang-Undang Dasar 1945. 2005. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Selanjutnya tata urutan dan jenis-jenis Peraturan Perundang-undangan. 10 Tahun 2004 mengandung kerancuan bahkan kesalahan yang perlu diperbaiki dan disempurnakan. Peraturan Pemerintah. Kemudian pada tahun 2004 lahir undang-undang yang khusus mengatur tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Yogyakarta. Instruksi Menteri. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945. diterangkan lebih lanjut bahwa sebagai perwujudan cita-cita Pancasila yang merupakan Sumber Segala Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia berturut-turut ialah: 1. 2. karena menempatkan UUD 1945 dalam pengertian Peraturan Perundang-undangan yang tertinggi. merupakan tindakan pertama dari Tata Hukum Indonesia. XX/MPR/1966 sampai dengan UU No. seperti: a. dan 4. 5. pengertian Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum. 3. Keputusan Pemerintah. Peraturan Menteri. Surat Perintah 11 Maret 1966. V/MPR/1973 diulangi dengan TAP MPR No. Undang-undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang. Peraturan-peraturan pelaksanaan lainnya. Hukum dan Peraturan Kebijaksanaan (Beleidsregel) pada Pemerintahan Daerah. Abdul Latief.

Selayang Pandang Tentang Sumber-Sumber Hukum Tata Negara Di Indonesia. Sejak Proklamasi. Artinya UUD 1945 dibentuk dengan sengaja oleh lembaga yang berwenang. hlm. oleh karena itu UUD 1945 dilihat dari bentuk dan proses pembentukannya merupakan Peraturan Perundang-undangan. 19-20. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 merupakan perwujudan pertama untuk merealisasikan citacita Pancasila sebagai Sumber Segala Sumber Tertib Hukum Indonesia. Proklamasi berfungsi sebagai keputusan bangsa Indonesia secara menyeluruh untuk tidak lagi mengakui adanya ikatan dengan tata hukum yang sebelumnya. berdirilah tata hukum baru. karena justru penempatan UUD 1945 pada urutan tertinggi pada Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan sudah tepat. sebagaimana pendapat Abdul Latief di atas. UUD 1945 haruslah dipahami sebagai hukum dasar yang tertulis dan merupakan sebagian dari hukum dasar.Berdasarkan urutan tersebut di atas. UUD 1945 bukan merupakan pangkal atau ketentuan pertama yang melegitimasi berdirinya Republik Indonesia. Dilihat dari proses sejarah. Proklamasi tidak dapat dicari dasar hukumnya. mengandung kerancuan bahkan kesalahan. yang berisikan aturan-aturan pokok atau dasar-dasar mengenai ketatanegaraan dari suatu negara. 1983. Selama sesuatu ketentuan secara konstitusionil masih dapat dicari dasar hukumnya kepada sesuatu aturan atau ketentuan yang telah ada sebelumnya. untuk merealisasikan tujuan perjuangannya dengan membentuk negara nasional yang bebas merdeka dan berdaulat. dasar wewenangnya kepada aturan-aturan lainnya secara konstitusionil. maka itu bukan ketentuan pertama atau ketentuan pangkal. Tata Hukum Indonesia merupakan dasar penyelenggaraan Tertib Hukum Indonesia. Hal ini di dasarkan pada Proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 yang merupakan titik kulminasi dari amanat penderitaan rakyat. yaitu tata hukum kolonialisme. Struktur yang demikian sangat tidak beralasan. Liberty.36 Penempatan UUD 1945 dalam pengertian Peraturan Perundang-undangan yang tertinggi dan UUD 1945 sebagai Hukum Dasar Negara. Konsekuensinya ialah menjebol tertib Joeniarto. dalam hal ini penulis sepakat dengan pendapat Joeniarto. Yogyakarta. 36 23 . yaitu tata hukum Indonesia dengan Proklamasi sebagai “tindakan pertama” atau “ketentuan pertama” atau “norma pertama” atau dapat juga disebut sebagai “ketentuan pangkalnya”. Oleh karena itu.

Kepala Desa atau yang setingkat”. peraturan yang dikeluarkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Dewan Perwakilan Daerah. diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. Mahkamah Agung. Peraturan Daerah. Hal 24 . b. terlihat bahwa pengaturan yang dibuat oleh organ negara tersebut tidak lebih rendah dari Peraturan Daerah. Jenis dan Hirarki Peraturan Perundang-Undangan Menurut UU No. Menteri. telah ditetapkan lewat Pasal 7 ayat (1) UU No. d.hukum kolonial dan membangun tertib hukum yang baru. c. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. sudah tepat jika UUD 1945 ditempatkan pada posisi Peraturan Perundang-undangan yang tertinggi di dalam Tata Hukum Indonesia. merujuk ke Penjelasan Pasal 7 ayat (4) UU No. Peraturan Presiden. 2. Bank Indonesia. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Peraturan Pemerintah. lembaga. atau komisi yang setingkat yang dibentak oleh undang-undang atau pemerintah atas perintah undang-undang. Gubernur. seakan-akan kedudukan Peraturan MPR. Adapun jenis-jenis Peraturan Perundang-undangan selain yang ditentukan oleh Pasal 7 (1) dimaksud. Pada Pasal 7 ayat (4) disebutkan bahwa “Jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud ayat (1). 10 Tahun 2004: “Jenis Peraturan Perundang-undangan selain dalam ketentuan ini. e. Badan Pemeriksa Keuangan. Akan tetapi bila dicermati secara seksama ketentuan Pasal 7 ayat (4). Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota. Mahkamah Konstitusi. dan sekaligus juga menjadi Hukum Dasar Negara (yang tertulis). Mahkamah Agung dan organ negara lainnya secara hierarkis berada dibawah Peraturan Daerah. Bupati/Walikota. antara lain. kepala badan. 10 Tahun 2004 Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. Sekilas ketentuan dari penjelasan tersebut (Pasal 7 ayat (4)) dan dikaitkan dengan Pasal 7 (1). Dengan demikian. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. yautu: a.

Peraturan Bank Indonesia. Jakarta. maka harus diambil ketentuan yang paling menguntungkan pihak yang terkena. Penelitian Hukum. “tiada peristiwa dapat dipidana. Asas-Asas Peraturan Perundang-Undangan a. XX/MPRS/1966 dan Ketetapan MPR-RI No. III tahun 2000. 16. hlm. melainkan peraturan perundang-undangan yang mana yang memerintahkan. yang menentukan kedudukan peraturan perundangundangan dalam hierarki peraturan perundang undangan Republik Indonesia.38 3. mensyaratkan peraturan perundang-undangan hanya berlaku bagi peristiwa atau perbuatan yang dilakukan sejak peraturan perundang-undangan tersebut dinyatakan berlaku atau berlaku atas peristiwa sebelum peraturan perundang-undangan itu diberlakukan. Perundang-Undangan & Yurisprudensi. sebaliknya. Bandung. misalnya dapat dikatakan setingkat dengan Peraturan Pemerintah karena sama-sama diperintahkan oleh Undang-Undang (regulation). Ibid. apabila diperintahkan oleh Peraturan Pemerintah. 48. kecuali atas dasar kekuatan suatu aturan perundangundangan pidana yang mendahulukan“ (Geen feit is strafbaar dan uit kracht van eene daaraan voorafgegane wettelijke strafbepaling). jika diperintahkan oleh Undang-Undang. hlm. 39 Purnadi Purbacaraka & Soerjono Soekanto. Alumni. 2005. Opcit. Undang-Undang tidak berlaku surut Asas yang menyatakan bahwa ”undang-undang tidak berlaku surut“. 38 37 25 . Jika suatu peraturan perundang-undangan akan diberlakukan surut.39 b. Sebagaimana dalam ketentuan Pasal 1 ayat (1) KUH Pidana yang menyatakan.37 Dengan demikian. 1979.itu bergantung kepada diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang mana. hlm. 98. bukan lembaga yang menerbitkan peraturan perundangan itu yang menentukan kedudukannya. Prenada Media. Hal ini sangat berbeda dengan yang pernah ditentukan di dalam Ketetapan MPRS No. dalam: Rosjidi Ranggawidjaja. Lex superior derogat legi inferiori Asas ini berlaku apabila terjadi pertentangan antara peraturan perundangundangan yang secara hierarkis berbeda (yang lebih rendah dengan yang lebih Peter Mahmud Marzuki. Peraturan Bank Indonesia berada dibawah Peraturan Pemerintah (delegated regulation).

Asas ini berkaitan dengan dua Peraturan Perundang-undangan yang mengatur masalah yang sama. sebagaimana dirumuskan pada Pasal 127 UU No. d. Akan tetapi. peraturan perundang-undangan yang baru lebih mencerminkan kebutuhan dan situasi yang sedang berlangsung. “Bagi perseroan yang melakukan kegiatan tertentu dibidang pasar modal berlaku ketentuan Undang-undang ini. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. harus di identifikasi ruang lingkup materi muatan kedua peraturan perundang-undangan. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasan Kehakiman. Perbedaannya hanya pada ruang lingkup materi muatannya yang tidak sama. Misalnya antara UU No. Sebagaimana yang terjadi pada asas lex specialis derogat legi generali. c. yaitu yang satu merupakan pengaturan secara khusus dari yang lain. asas lex specialis derogat legi generali ini mengatur tentang dua peraturan perundang-undangan yang secara hierarkis mempunyai kedudukan yang sama. tidak semua peraturan perundang-undangan menyebutkan posisinya sebagaimana ketentuan-ketentuan transitor tersebut. Op. misalnya UU No. Jika sebaliknya. maka dengan demikian peraturan perundang-undangan yang hierarkinya lebih rendah harus disisihkan. Dalam penerapan asas ini perlu dirujuk Pasal 7 ayat (1) jo ayat (4) UU No.tinggi). hlm. Lex specialis derogat legi generali Berbeda dengan asas lex superiori derogat legi inferiori. 1 Tahun 199540. penggunaan asas ini mensyaratkan bahwa yang diperhadapkan adalah dua Peraturan Perundangundangan dalam hierarki yang sama. 99. sepanjang tidak diatur lain dalam perundang-undangan di bidang pasar modal“. Lex posterior derogat legi priori Peraturan Perundang-undangan yang lahir kemudian menyisihkan Peraturan Perundang-undangan yang lahir sebelumnya. 26 . 14 Tahun 1970 dengan UU No. Asas ini dapat dipahami bahwa. Dalam hal demikian. peraturan perundang-undangan yang baru tidak memuat ketentuan yang dibutuhkan untuk situasi yang sedang dihadapi.cit. misalnya Undang-undang dengan Undang-undang. 10 Tahun 2004. dan ketentuan itu justru termuat 40 Peter Mahmud Marzuki. sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas dengan UU No.

maka harus dilihat dahulu apakah ketentuan yang termuat di dalam peraturan perundang-undangan yang lama tersebut tidak bertentangan dengan landasan filosofis peraturan perundangundangan yang baru. 4. yaitu keadilan. Landasan filosofis adalah dasar filsafat atau pandangan atau idee yang menjadi dasar cita-cita sewaktu menuangkan hasrat dan kebijaksanaan (pemerintahan) ke dalam suatu rencana atau draft peraturan negara. yang di dalamnya terdiri dari nilai-nilai kebenaran. 27 . dan landasan yuridis. a. Filsafat hidup suatu bangsa harus menjadi landasan di dalam pembentukan hukum dalam kehidupan bernegaranya. kesusilaan dan nilai-nilai lainnya yang dianggap baik oleh suatu bangsa. maka harus dinyatakan bahwa ketentuan itu tetap berlaku melalui aturan peralihan peraturan perundang-undangan yang baru. Landasan Filosofis (Filosofische grondslag) Filsafat atau pandangan hidup suatu bangsa berisi nilai-nilai moral dan etika dari suatu bangsa tersebut. Oleh karena itu kaidah hukum yang dibentuk harus mencerminkan filsafat hidup bangsa itu atau sekurang-kurangnya tidak bertentangan dengan nilai-nilai moral bangsa. Undang-undang harus mencerminkan gagasan yang ada di belakangnya. Landasan Peraturan Perundang-Undangan Secara umum suatu peraturan perundang-undangan yang baik sekurangkurangnya harus memiliki landasan filosofis. landasan sosiologis. walaupun secara hukum sebenarnya ia tidak pernah ada. sebagaimana dalam bahasa latin disebutkan: “Est autem just a justitia. Undang-undang bukan sekedar produk tawar menawar politik dan jika undang-undang yang dihasilkan cuma merupakan legitimasi dari tawar menawar politik dan tidak memuat nilai-nilai keadilan. Jika tidak. Dalam hal ini perlu dipelajari landasan filosofis dari setiap Peraturan Perundang-undangan yang diacunya.dalam peraturan perundang-undangan yang telah digantikan. Misalnya. ia menjadi dasar filsafat dalam pembentukan perundangundangannya. di Negara Republik Indonesia ialah Pancasila. keadilan. maka undang-undang itu memang diundangkan dan sah.

compententie) pembuatan Peraturan Perundangundangan. ergo prius fruit justitia quam jus“ (tetapi hukum timbul dari keadilan sebagai ibunya sehingga telah ada keadilan sebelum adanya hukum). Perundang-undangan: Dasar. Jenis dan Teknik Membuatnya. hlm. landasan hukum juga merupakan dasar keberadaan dari suatu jenis Peraturan Perundang-undangan. c. yakni landasan yuridis yang memberikan wewenang (bevoegdheid) kepada badan tertentu untuk membentuk peraturan tertentu. Hal ini penting agar perundang-undangan yang dibuat di taati oleh masyarakat.43 Karena masyarakat berubah.sicut a matre sua. Selain menentukan dasar kewenangan pembentukannya. 1992. Rosdjidi Ranggawidjaya.41 b. Op. Penerbit Bina Aksara. hlm 15.44 Landasan hukum kewenangan membentuk dan keberadaan suatu Peraturan Perundang-undangan sangat diperlukan. Produk perundang-undangan tidak sekedar merekam keadaan seketika (moment opname). 44 Ibid. Namun. Rosjidi Ranggawidjaja. Landasan yuridis formil. Amiroeddin Syarif. Landasan yuridis meliputi segi formil dan segi materil. Landasan Yuridis (Juridische grondslag) Landasan yuridis adalah landasan hukum (yuridische gelding) yang menjadi dasar kewenangan (bevoegdheid. Misalnya Pasal 20 ayat (1) UUD Peter Mahmud Marzuki. nilai-nilai pun terus berubah. hlm 44. Ibid. akan menjadi nilai kehidupan selanjutnya. Oleh karena itu. apabila ketentuan-ketentuannya sesuai dengan keyakinan umum atau kesadaran hukum masyarakat. untuk itulah kecendrungan dan harapan masyarakat harus dapat diprediksi dan diakomodir dalam peraturan perundangundangan yang berorientasi masa depan. Dasar-dasar Perundang-undangan Indonesia. IND-HILL. Op. dalam: H. tidak berarti bahwa apa yang ada pada suatu saat pada suatu masyarakat. 92.cit. dalam: H. Tanpa dasar hukum tersebut pembentukan dan keberadaan suatu peraturan perundang-undangan menjadi tidak sah secara hukum. 104. hlm. tidak menjadi huruf-huruf mati belaka42. 42 41 28 . Landasan Sosiologis (Sociologische grondslag) Suatu peraturan perundang-undangan dikatakan mempunyai landasan sosiologis. 43 Bagir Manan.cit. peraturan perundang-undangan yang dibuat harus sesuai dengan kenyataan hidup masyarakat atau hukum yang hidup (living law) dimana peraturan itu diterapkan. Jakarta.CO.

misalnya Pasal 25 UUD 1945 adalah landasan yuridis materil dalam menyusun materi muatan peraturan perundangundangan yang berkenaan dengan syarat-syarat menjadi hakim dan pemberhentiannya. yaitu landasan yuridis yang merujuk kepada materi muatan tertentu yang harus dimuat dalam suatu peraturan perundang-undangan. Hal ini seiring dengan perubahan UUD 1945 yang berimplikasi terhadap perubahan ketatanegaraan Republik Indonesia. Sedangkan landasan yuridis dari segi materil. 10 Tahun 2004. Solly Lubis. Namun ketentuan ini tidak melahirkan peraturan perundang-undangan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1 ketentuan tersebut. hlm. dan makin nyata sejak adanya UU No.cit. 20. Pada tahun 2001. d. Misalnya Pasal untuk segi isi (materi) yakni dasar hukum untuk mengatur hal-hal tertentu. Selanjutnya ia mencontohkan garis politik otonomi yang tercantum dalam TAP MPR No. Op. IV Tahun 1973 (GBHN) menjadi landasan politis pembuatan UU No. dimana 45 M. landasan politis dalam pembentukan peraturan perundang-undangan adalah garis kebijaksanaan politik yang menjadi dasar selanjutnya bagi kebijaksanaan-kebijaksanaan dan pengarahan ketatalaksanaan pemerintahan negara. terdapat TAP MPR Nomor IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. 29 . Landasan Politis Menurut Solly Lubis. 5 Tahun 1974 yang mengatur pokok-pokok pemerintahan di daerah.1945 (perubahan pertama) menjadi landasan yuridis bagi DPR untuk membentuk undang-undang. Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan. serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada Pasal 1 ketentuan ini ditegaskan bahwa: “Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumberdaya Alam merupakan landasan peraturan perundang-undangan mengenai pembaruan agraria dan pengelolaan sumber daya alam”. Pengaturan. Tap MPR tersebut menjadi landasan politis pembentukan UU No. 45 Pada tahun 1999 garis politik otonomi kembali ditegaskan dalam TAP MPR Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah.

Nilai dan asas yang dimaksud berkedudukan sebagai norma hukum yang lebih tinggi dan menjadi dasar pembentukan aturan hukum yang lebih rendah. tidak terlepas dari konflik yang terjadi pada tataran hukum yang lebih tinggi (konflik antar nilai. Oleh karena itu. Oleh karena pembentukan aturan hukum pada kenyataannya dipengaruhi oleh berbagai kekuatan dan kepentingan pada lembaga pembentuk aturan hukum (legislatif dan eksekutif). namun dimaknakan sebagai pemerintah yang didasarkan pada suara terbanyak (pemegang kekuasaan politik terbesar). dikaji terlebih dahulu dan dijadikan patokan dalam pengkajian sinkronisasi dan konsistensi aturan hukum (peraturan perundang-undangan) yang lebih rendah. peraturan perundang-undangan) merupakan lanjutan/turunan konflik nilai-nilai dan asas-asas yang terkandung pada sumber hukum tertinggi. aturan hukum). Sinkronisasi dan Konsistensi (Konflik) Aturan Hukum Sektoral Jika hukum dimaknakan sebagai tata hukum (sistem peraturan perundangundangan. yaitu UUD 1945 yang telah mengalami perubahan sebanyak 4 (empat) kali. Berdasarkan uraian di atas. dan untuk rakyat. Terlebih bila pemerintahan demokratis tidak dilaksanakan berdasarkan makna hakikinya sebagai pemerintahan dari rakyat. maka konflik aturan hukum juga dapat diakibatkan oleh karena aturan hukum yang lebih rendah dibuat atau dirumuskan tidak selaras dengan aturan hukum yang lebih tinggi yang seharusnya menjadi dasar perumusan aturan hukum tersebut. oleh rakyat. dan antar asas). 5.pada ketentuan Pasal 7 ayat (1) mengenai jenis dan hierarki Peraturan Perundangundangan tidak lagi memasukkan TAP MPR. konflik pada level nilai dan asas yang terkandung dalam hukum dasar tertulis (konstitusi tertulis). maka konflik norma hukum antar aturan hukum yang lebih rendah atau antara aturan hukum yang lebih rendah terhadap aturan hukum yang lebih tinggi. 30 . analisis terhadap konflik aturan hukum (peraturan perundang-undangan) hanya dapat dilakukan apabila. maka konflik aturan hukum (sinkronisasi dan konsistensi aturan hokum.

yang bersifat pluralis . 109-110. kesadaran atau keyakinan anggota-anggota masyarakat terhadap hukum dalam makna nilai-nilai keadilan. dengan tetap berpegang pada tujuan nasional. politik hukum yang ditetapkan oleh penguasa negara. yaitu dalam bentuk sengketa pertanahan. Kenyataan yang terjadi hingga saat ini mengindikasikan. hlm. Sesat Pikir Politik Hukum Agraria. antisipatif terhadap perkembangan kedepan dan berwawasan nasional. dan para investor. 2000. Secara formal selalu diupayakan untuk menyerasikan kedua orientasi tersebut. Akibatnya.dan mengharmonisasikannya dengan kebutuhan pemerintah dan dunia internasional. Yogyakarta. Pada akhirnya akan menimbulkan ekses dalam penerapan peraturan perundang-undangan. namun lebih memihak pada dunia perdagangan yang bersifat global/perdagangan bebas. sedangkan masyarakat sebagian besar belum siap dengan visi tersebut. namun secara subtansi yang tercermin dari berbagai rumusan pasal dalam peraturan perundang-undangan belum tentu demikian. Orientasi politik hukum penguasa bersifat progresif. Di bidang pertanahan. konservatif. seyogyanya pemerintah sangat memperhatikan kondisi senyatanya masyarakat Indonesia yang sangat Maria R Ruwiastuti. bahwa pemerintah mempunyai orientasi sendiri. Kedua. yaitu masyarakat adil dan makmur. berorientasi historis dengan lingkup wilayah budaya terbatas (budaya lokal)46. 46 31 . Membongkar Alas Penguasaan Negara Atas Hak-Hak Adat. Padahal. Pustaka Pelajar. dan yang terlalu maju (bervisi global). Idealnya pemerintah mampu mengakomodir orientasi politik hukum/kesadaran hukum masyarakat . Quo Vadis Idelogi Populis Agraria Berlakunya aturan hukum suatu negara paling tidak ditentukan oleh dua faktor: Pertama.BAB III ANALISIS ATURAN HUKUM SEKTOR PERTANAHAN A. banyak peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan pemerintah dinilai tidak memihak kepentingan rakyat. Orientasi politik penguasa seringkali tidak berjalan paralel dengan kesadaran hukum (orientasi hukum) masyarakat yang cenderung tradisional. secara substansial pertarungan orientasi politik hukum antara pemerintah dan masyarakat tercermin dari adanya konflik di antara norma tertulis (peraturan perundang-undangan).

bervariasi tingkat perkembangannya, mulai dari yang sangat maju sampai yang masih sangat sederhana, bahkan masih ada yang hidup di “alam bebas”. Pertarungan orientasi yang menjadi dasar politik pertanahan antara pemerintah dengan masyarakat (rakyat) tersebut di atas, bermuara pada makin meningkatnya sengketa pertanahan di Indonesia yang melibatkan rakyat, pemerintah dan swasta. Sejarah membuktikan bahwa, pemerintah mempunyai orientasi politik tersendiri yang terkesan dipaksakan keberlakuannya pada masyarakat sebagaimana tercatat dalam sejarah pertanahan di Indonesia pada masa penjajahan, baik oleh Inggris maupun Belanda.47 Berangkat dari kenyataan pada zaman kolonial, dan perbedaan antar wilayah, tingkat kepadatan penduduk, budaya agraris, sistem produksi, penguasaan teknologi, dan konsep hak atas tanah, maka setelah kemerdekaan pemerintah mencoba untuk merumuskan orientasi baru sebagai dasar politik hukum agraria/pertanahan Indonesia. Landasan politik hukum agraria Indonesia tersebut secara tegas dituangkan pada rumusan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, bahwa “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Dari ketentuan tersebut di atas, timbul pertanyaan yaitu bagaimana kekuasaan Negara itu dilaksanakan, sedangkan konstitusi tidak menjelaskan secara spesifik?. Konsekwensi vulgar yang dapat ditarik adalah penguasa Negara/pemerintah mendapat kesempatan luas untuk merumuskan Peraturan Perundang-undangan yang rinci mengenai pelaksanaan kekuasaan tersebut. Dengan kata lain, penguasa negara berwenang menetapkannya melalui politik hukum dalam sejumlah undang-undang maupun peraturan pelaksana undang-undang
48

. Yang terpenting dalam hal

ditetapkannya suatu peraturan ialah implikasi-implikasi atau ekses negatif yang muncul dari penerapan tersebut. Pertanyaannya ialah siapa yang paling diuntungkan dengan ditetapkannya suatu peraturan?. Pertanyaan ini menjadi penting mengingat proses pembentukan peraturan sangat tergantung dengan orientasi pemerintah,

Banyak hal yang dapat diidentifikasi sebagai permasalahan politik pertanahan sejak zaman Hindia Belanda, misalnya penerapan sistem Landrente, Cultuurstelsel atau tanam paksa dan asas Domeinverklaring. Pada intinya politik pertanahan tersebut tidak ditujukan untuk kemakmuran rakyat (Indonesia), melainkan untuk pemerintah Belanda dan kaum modal asing lainnya. 48 Maria R Ruwiastuti. Op.cit, hlm. 111.

47

32

tingkat partisipasi politik masyarakat, pertarungan kepentingan, dan konfigurasi politik nasional maupun global. Perkembangan politik hukum agraria di Indonesia, ditandai dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar PokokPokok Agraria pada tanggal 24 September 1960. Peraturan ini lebih dikenal dengan sebutan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA), yang diundangkan dalam Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104 dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 2043. UUPA memuat perubahan-perubahan yang revolusioner, dalam arti perubahan yang terkandung di dalam materi muatannya bersifat mendasar dan fundamental terhadap stelsel hukum agraria warisan kolonial. Misalnya, penyatuan hukum agraria dengan jalan unifikasi, yang dilatarbelakangi oleh sifat dualisme hukum agraria yang berlaku sebelumnya sebagai warisan zaman kolonialisme. Namun, karena sebagian besar rakyat Indonesia masih dipengaruhi hukum adat, maka hukum agraria yang baru tersebut didasarkan pula pada ketentuan-ketentuan hukum adat dan bersandar pada hukum agama, yang disempurnakan dan disesuaikan dengan kepentingan masyarakat dalam negara yang modern dan hubungannya dengan dunia internasional, serta disesuaikan dengan Sosialisme Indonesia.49 Pilihan ideologi politik sosialisme daripada UUPA dapat ditemukan dalam Pasal 5 dan Pasal 14 ayat (1) UUPA, sebagai berikut: “Hukum agraria yang berlaku atas bumi, air dan ruang angkasa ialah hukum adat, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan Negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa, dengan sosialisme Indonesia serta dengan peraturan-peraturan yang tercantum dalam Undang-undang ini dan dengan peraturan perundangan lainnya, segala sesuatu dengan mengindahkan unsur-unsur yang bersandar pada hukum agama”. “Dengan mengingat ketentuan-ketentuan dalam pasal 2 ayat (2) dan (3) , pasal 9 ayat (2) serta pasal 10 ayat (1) dan (2) Pemerintah dalam rangka sosialisme Indonesia, membuat suatu rencana umum mengenai persediaan, peruntukan dan penggunaan bumi, air dan ruang angkasa serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya:”. Kata-kata Sosialisme Indonesia juga ditemukan di dalam Penjelasan Umum UUPA. Penjelasan otentik Sosialisme Indonesia terdapat dalam Ketetapan MPRS No. II/MPRS/1960 tentang Garis-Garis Besar Pola Pembangunan Nasional Semesta Berentjana Tahapan Pertama 1961-1969, yang dirumuskan dengan:
49

Lihat Konsiderans UUPA, Berpendapat huruf a, (cetak miring dari pen).

33

Bahwa Pembangunan Nasional Semesta Berentjana adalah suatu pembangunan dalam masa peralihan, jang bersifat menjeluruh untuk menudju tertjapainja masjarakat – adil – dan – makmur – berdasarkan – Pantjasila atau Masjarakat Sosialis Indonesia dimana tidak terdapat penindasan atau penghisapan atas manusia oleh manusia, guna memenuhi Amanat Penderitaan Rakjat:50 Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa ideologi politik dari UUPA adalah Sosialisme Indonesia yang artinya disamakan dengan tatanan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Sosialisme Indonesia tidak sama dengan sosialisme di negara-negara sosialis Barat, ia bersendikan pada keadilan, kerakyatan dan kesejahteraan. Ideologi politik sosialisme Indonesia selanjutnya direalisasikan menjadi konsepsi politik hukum politik hukum (politico-legal concept) berupa Hak Menguasai Negara (HMN).51 Di bidang agraria, dalam Hukum Agraria Nasional, Hak Menguasai Negara merupakan hak tertinggi yang dikenakan terhadap tanah melebihi hak apapun juga, seperti yang dirumuskan dalam Pasal 2 ayat (1) UUPA, sebagai berikut: Atas dasar ketentuan dalam Pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar dan halhal sebagai yang dimaksud dalam Pasal 1, bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya itu pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh Negara, sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat. Disimak dari ruh atau semangatnya, maka UUPA mengusung semangat reformasi agraria dengan strategi (Neo) populis, sebagaimana dirumuskan dalam tujuan UUPA, yaitu: (a) Meletakkan dasar-dasar bagi penyusunan hukum agraria nasional, sebagai alat untuk membawakan kemakmuran, kebahagiaan dan keadilan bagi negara dan rakyat, terutama rakyat tani, dalam rangka masyarakat yang adil dan makmur; (b) Meletakkan dasar-dasar untuk mengadakan kesatuan dan kesederhanaan dalam hukum pertanahan, dan; (c) Meletakkan dasar-dasar untuk memberikan kepastian hukum mengenai hakhak atas tanah bagi rakyat seluruhnya.52

.Konsiderans Menimbang, angka 2, Ketetapan MPRS No. II/MPRS/1960. Pada perkembangannya kemudian Ketetapan ini dicabut lewat TAP MPRS No. XXXVIII/MPRS/1968. Lihat pada: “Ringkasan Ketetapan MPRS Republik Indonesia No. I dan II/MPRS/1960, M.P.R.S, dan Departemen Penerangan, Bandung, 1961, hlm. 51 51 Dianto Bachriadi & Noer Fauzi, “Sistem dan Konflik Tenurial, Lagi-Lagi Negara versus Rakyat”, Jurnal Suara JAGAT No. I/th. I/1998, Yayasan Pikul, hlm. 18. 52 Penjelasan Umum, angka I, UUPA

50

34

padahal tanah tidak hanya mempunyai arti secara ekonomis (komoditas). hlm. Dulu bernama kapitalisme internasional. dan penerapan asas keadilan sosial yang berprikemanusiaan dalam bidang agraria. Dengan demikian produksi secara keseluruhan merupakan pekerjaan keluarga tani tersebut.org. kemakmuran rakyat. Penggarap yang langsung mengerjakan tanah adalah pekerja upahan “bebas”. Jakarta. “Reformasi Agraria.Watak (Neo) populis dari UUPA juga dapat dibaca pada Pasal 13 UUPA yang pada intinya menyatakan. “AT THE END OF GLOBALISATION.53 Seiring dengan munculnya liberalisasi dalam bidang perdagangan yang ditandai dengan diberlakukannya secara global (globalisation)54 kebijakan perdagangan bebas lewat suatu perjanjian perdagangan internasional. di tahun 1990-an meningkat tajam menjadi 1 trilyun dollar sehari! Kalau dulu transaksi memerlukan waktu berhari-hari. pemerintah wajib mencegah adanya monopoli dari pihak swasta maupun usaha pemerintah atas penguasaan tanah. Tanggung jawab. tetapi juga mempunyai makna kultural. Dalam strategi kapitalis. 68.1997. saat ini hanya ditempatkan sebagai komoditas semata. Kalau dulu sekitar tahun 1980-an. adalah pasar yang meng-global atau kapitalisme global. www. et-al). Menurut Noer Fauzi. diupah oleh penguasa/pemilik tanah. Lembaga Penerbit FE-UI. sekarang cukup dalam hitungan per-detik. (editor. Hal inilah yang membedakannya dengan strategi kapitalis.igj@globaljust. Sengketa. tenaga kerjanya adalah tenaga kerja keluarga. karena secara kuantitatif telah membesar secara luar biasa. Selain itu. maka milyaran dollar bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain. sosial.globaljust. hlm. Lihat dalam: Dianto Bachriadi. Tenaga kerja adalah barang dagangan (komoditi). Hubungan antara penguasaan/pemilikan tanah dan pekerjaan sifatnya terpisah. dan Agenda Pembaruan Agraria di Indonesia”. 54 Globalisation. sarana produksi yang utama (tanah) dikuasai oleh individu-individu non-penggarap. WE ARE ALL DEAD”. Globalisasi merupakan kelanjutan dari kolonialisme. 2. strategi (Neo) populis menekankan pada satuan usaha keluarga.S. Dengan demikian istilah “Globalisation” secara sederhana dapat dipahami sebagai suatu proses pengintegrasian ekonomi nasional bangsa-bangsa ke dalam suatu sistem ekonomi global. Lihat dalam: Bonnie. Tanah yang pada mulanya merupakan faktor yang sangat penting bagi kehidupan rakyat Indonesia. pengambilan keputusan produksi sepenuhnya ditangan pemilik/penguasa tanah. 53 35 .org/. bahwa pengaturan dalam lapangan agraria merupakan usaha pemerintah untuk meninggikan produksi. berkat electronic mail. dengan batasan bahwa usaha-usaha pemerintah yang bersifat monopoli hanya dapat diselenggarakan dengan undang-undang. Perubahan Politik. transaksi keuangan dunia hanya sekitar 300 juta dollar sehari. untuk itu penguasaan tanah dan sarana produksi lainnya tersebar pada masyoritas keluarga tani. walaupun tanggung jawab atas akumulasi biasanya diatur oleh negara. sekarang berubah menjadi kapitalisme global. politis dan religius.

892. tanah-tanah yang sudah digusur (“dibebaskan”) ternyata tidak dimanfaatkan sesuai dengan “peruntukannya”. hlm. makalah Semiloka Reforma Agraria. intensitas tertinggi terjadi di Provinsi Jawa Barat dengan jumlah 484 kasus. Dilihat dari intensitas konflik.615 hektar. September 2004. industri 88%. 56 Ibid. tercatat bahwa dalam kurun waktu tahun 1970 sampai tahun 2001 telah terjadi 1. Artinya.482 keluarga. Lebih dari 60% total produksi pangan nasional Indonesia (khususnya beras) dihasilkan dari pulau Jawa. Pada data base Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA). Cakupan luas lahan sengketa tersebut sebesar 10.203 hektar dan jumlah korban akibat sengketa ini sebanyak 1. 55 36 . karena tanah diperlakukan sebagai komoditi (barang dagangan). Hal itu pula yang menjadi salah satu penyebab mengapa akhirnya kita terpaksa mengimpor beras.753 kasus konflik tanah di Indonesia.56 Ketertindasan rakyat karena tidak mampu bertarung secara finansial apabila berhadapan dengan swasta. hlm. Sumatera Selatan 157 kasus. Paling sedikit jumlah kasus sengketa pertanahan adalah Provinsi Papua hanya berjumlah 28 kasus. sebagian besar motifnya adalah spekulasi. Sumatera Utara 121 kasus.000 (dua puluh dua ribu) hektar per tahun tanah pertanian di Pulau Jawa beralih fungsi. Tanah terlantar untuk perumahan sebesar 85%. setelah itu Provinsi DKI dengan jumlah 175 kasus yang meliputi luas tanah 60. Jawa Timur 169 kasus. Memang pada dasarnya.189. jasa/pariwisata 86%.55 Pada prakteknya. “Tantangan dan Agenda Kerja bagi Pemerintahan Baru 2004-2009”. pada tahun 1998 tanah-tanah yang sudah dialokasikan untuk sektor-sektor tertentu. ataupun pemerintah. Tanah Menjadi Komoditas dan Sarat Sengketa Di era Orde Baru perubahan fungsi tanah terjadi sangat cepat. disisi lain sampai tahun 1995 sekitar 22. YLBHI. 2-3. 224 Tahun XVIII/1998. namun perlu diatur dengan mempertimbangkan keadilan dalam hal akses rakyat tani terhadap tanah garapan.B. Berdasarkan catatan Majalah Informasi No. Jakarta. namun Gunawan Wiradi. memunculkan berbagai sengketa pertanahan. alih fungsi lahan tak mungkin dielakkan. dan untuk perkebunan 74%. sampai dengan Desember 2001. terutama alih fungsi lahan pertanian ke non-pertanian. tanah hasil alih fungsi tersebut sebagian besar justru menjadi obyek spekulasi. 2. sebagian besar diterlantarkan.

484 60. Edisi 20 Oktober 2002.830 89.1% akibat pengembangan sarana perumahan.955 120.056 22.614 266.840 16.027 472. 5% berkenaan dengan konflik pemanfaatan hutan yang diklaim sebagai kawasan hutan negara oleh pemerintah yang kemudian menjadi kawasan hutan produksi maupun kawasan hutan lindung/konservasi.494 51.589 320.676.012.134 35.012.885 1.753 Luas Lahan Sengketa 184.323 509.597 4.571 134.100 32. 37 .955 14.dengan luas lahan sengketa paling luas yaitu 4. Karakteristik Sengketa Tanah di Indonesia Tahun 1970 . hlm. dan 19% merupakan pengembangan areal perkebunan besar.684 29. Sepanjang tahun 1980-an eskalasi sengketa pertanahan terus meningkat di daerah pedesaan maupun perkotaan.481 Pihak yang Terlibat Sengketa Pemerintah 197 96 77 27 39 57 21 23 25 11 28 8 13 14 15 68 719 Militer 12 5 9 1 8 1 1 3 3 1 2 0 1 1 2 9 59 Perusahaan Negara Swasta 60 225 9 31 18 26 23 4 4 4 9 4 2 5 4 0 16 219 66 59 116 57 25 34 25 17 26 22 23 16 15 12 95 833 Sumber: Data Base KPA.904 10.036. Sebanyak 10.994 61.57 Untuk lebih jelas tentang konfigurasi konflik pertanahan di Indonesia dapat dilihat pada table 2.2001 Provinsi Daerah JABAR JAKARTA JATIM SUMSEL SUMUT JATENG SULTENG LAMPUNG SULSEL ACEH NTT RIAU KALTIM SUMBAR PAPUA LAINNYA JUMLAH Jumlah Kasus 484 175 169 157 121 99 58 54 48 47 44 33 33 32 28 171 1.059 2. Nomor 27. dan sebanyak 6.615 390.716 54. 54.202 Jumlah Korban 237. 2001.296 305.073.428 71.194 187.224 1. 57 Forum Keadilan.417 1.189. Dari 1.892.6% merupakan pengembangan kawasan industri dan pabrik. sebanyak 27.753 kasus yang terekam.943 57.548 72.170 1. Tabel 2. kota baru dan fasilitas perkotaan.482 117.555 362.224 hektar.

6 15.7 2. sebagaimana terlihat Tabel 4. Dominasi tersebut dilegitimasi oleh kebijakan-kebijakan pertanahan yang secara substansi menguntungkan orang yang melakukan kegiatan usaha di luar pertanian.9 100 Sumber: Data Base KPA.1 1. hlm.2 3. Jenis Sengketa yang Objeknya Tanah No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Jenis Sengketa Perkebunan Sarana Umum/Fasiltas Perkotaan Perumahan/Kota Baru Kehutan Produksi Kawasan Industri/Pabrik Bendungan/Pengairan Turisme/Hotel/Resort Pertambangan Sarana Militer Kehutanan Konservasi/Lindung Pertambakan Sarana Pemerintahan Perairan Transmigrasi Lain-lain Jumlah Jumlah 344 243 232 141 115 77 73 59 47 44 36 33 20 11 278 1. Rakyat Dan Demokrasi”.5 2.9 13. Konflik yang terjadi bukanlah konflik kelas di pedesaan. Kondisi demikian akhirnya menimbulkan polarisasi struktur penguasaan tanah yang timpang.1 0.9 1. tetapi konflik antara sektor pertanian dan sektor industri sebagai akibat dari transformasi agraria.6 4. Untoro Hariadi & Masruchah (Editor).4 4.4 2. 1995. 58 38 . adalah sengketa tanah skala besar dengan karakter yang rumit. berupa dominasi sektor industri atas sektor pertanian dan perkebunan58. Masalah besar yang dihadapi bangsa Indonesia.0 6.6 13. Yogyakarta.2 8.753 Dalam % 19. 66. Forum LSM – LPSM DIY. 2001. “Tanah.Tabel 3.

000 114.142.000 345.000 Sumber: Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI).000 609.805.000 659.000 100. Bayangkan tanah seluas 27.500 2. Bakrie Soenaryo Akie Setiawan Much.189.000 427. Menurut BP-KPA.493.190.800 2.000 563.700 1.000 969.000 329.000 519.800 3.Tabel 4.000 1.536.353.A.000 1.300 672. Badan Pengurus Konsorsium Pembaruan Agraria (BP-KPA) mempunyai data yang berbeda.000 476.000 438.000 544.108. sampai tahun 1999 terdapat 620 unit produksi 39 . 1998.000 796.4 juta hektare hanya dikuasai oleh 25 kelompok perusahaan dan dua perusahaan perorangan.000 1. Tabel 4 menggambarkan struktur penguasaan tanah dan sumber daya alam oleh segelintir orang dengan cakupan lahan yang sangat luas.500 1. Jamal Sumarta Hutomo Mandala P Sigit Harjojudanto Jumlah Anak Perusahaan 39 Perusahaan 17 Perusahaan 20 Perusahaan 15 Perusahaan 8 Perusahaan 6 Perusahaan 7 Perusahaan 7 Perusahaan 8 Perusahaan 8 Perusahaan 8 Perusahaan 6 Perusahaan 7 Perusahaan 8 Perusahaan 6 Perusahaan 6 Perusahaan 5 Perusahaan 5 Perusahaan 6 Perusahaan 6 Perusahaan 6 Perusahaan 4 Perusahaan 5 Perusahaan 5 Perusahaan 4 Perusahaan Perorangan Perorangan Luas Lahan (ha) 3.026.455 597.500 649. Perusahaan Besar Pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Nama Perusahaan Barito Pacifik Timber Kayu Lapis Indonesia Djayanti Alas Kusuma Korindo Kalimanis Budhi Nusa Satya Djaja Surya Dumai Kalamur Panca Eka Bina Pywood Sumalindo Daya Sakti Raja Garuda Mas Hutrindo Wanabangun Bumi Raya Utama Sumber Mas Benua Indah Dayak Besar Kayu Mas Tanjung Raya Bumi Indah Raya Hutrindo Prajen Bhara Induk Siak Raya Rante Mario Wahana Sari Bakti Pemilik Prajogo Pangestu Andi Sutanto Burhan Uray Suwandi In Yong Sun Bob Hasan Burhan Uray Asbert Lyman Martias Anthony Salim Supendi Winarto Oetomo Widya Rachman Sukanto Tanoto Alex Karampis Pintarso Adiyanto Yos Sutomo Budiono Yusuf Hamka Tekman H.500 835.

0 580. 8% dikuasai hanya oleh 12 konglomerat. hlm.0 240.80 > 0.7 307.1 40. 7 juta hektare atau 34.79 565.0 30.0 905.58 1383.01 60.2 0.3 965. dan produktifitas tenaga kerjanya.0 % 71.47 69. Juni 2004.0 2085. Dari keseluruhan (10 konsesi) yang dikuasai sebanyak 16.6 3568.7 37.4 1665 344.10 191.49 241. Makalah pada pertemuan: Konsultasi dan Konsolidasi Organisasi Rakyat di Sumatera Selatan dalam Rangka Promosi Nasional untuk Penyelesaian Konflik Agraria.25 231. Palembang.92 64. persediaan.2 28. Kemampuan petani mencari nafkah sangat dipengaruhi oleh aspek penguasaan tanah. termasuk Perhutani (perusahaan negara) yang menguasai tanah di pulau Jawa seluas 2.53 104.51 80. Makin luas lahan pertanian yang dikuasai.13 7183.02 6983.75 71.0 69.68 30.0 301.25 59.yang mempunyai Hak Penguasaan Hutan atau Hak Penguasaan Hutan Tanaman Industri (HPH/HPHTI) seluas 48 juta hektare.7 10361.20 JUMLAH 3700.9 4765 11061.42 70. Tabel 5.5 3178.74 1483.6 juta hektare dan di klaim sebagai Hutan Negara. 3.5 11564 1498.3 766. tanah pertanian yang dikuasai RTP-lah yang paling menentukan tingkat pendapatan yang diperoleh dari kegiatan usaha tani.9 35.98 36.5 1240.4 27.3 1323.2 63. Distribusi Rumah Tangga Petani (RTP) Pengguna Lahan dan Luas Lahan yang Dikuasai (1983-1993) Golongan Luas Tanah yang Dikuasai Pulau Sumatera Tahun < 0.32 8070.0 42.08 463.26 58.5 hA RTP 2637.0 69.0 153.78 557.0 991.95 74.6 28.9 652.0 932.21 62.02 72.05 425.90 99.77 51. 59 40 . Oleh karena itu.4 1323 906.0 19.99 203.0 3382.5 1206 1360.5 3494.87 30.6 1101.22 57.2 811.0 29.0 39.75 449.0 1983 1990 1993 Jawa 1983 1990 1993 Bali & NTT 1983 1990 1993 Kalimantan 1983 1990 1993 Sulawesi 1983 1990 1993 Maluku & 1983 Irian Jaya 1990 1993 Sumber : BPS Tahun 2003.3 510.59 Jumlah ini sangat kontras jika dibandingkan dengan luas lahan yang dikuasai Rumah Tangga Petani (RTP).9 859.0 4078. dan Mal Adminitrasi: Hasil Perkawinan Dominasi Negara dan Modal”. pemanfaatan. “Ketimpangan Penguasaan Tanah.5 Ha RTP % 1063. makin tinggi Dianto Bachriadi. sebagaimana yang disajikan pada tabel 5. Pendapatan yang diperoleh RTP adalah keseluruhan penjumlahan dari total pendapatan angkatan kerja yang dimiliki dalam berbagai kegiatan produktif yang dilakukan terutama oleh anggota keluarga yang sudah dewasa.0 25. Konflik Agraria.23 147.6 48.9 41.98 368.

Dalam beberapa hal.3 26.5 47.2 25. 2003. Penduduk Miskin di Pedesaan dan Perkotaan Tahun 1990 – 2003 (Juta Orang) Tahun 1990 1993 1996 1998 1999 2000 2001 2002 2003 Perkotaan Jumlah Persentase 9.59 27. Kekalahan Manusia Petani Dimensi Manusia dalam Pembangunan Pertanian. akan diperoleh gambaran mengenai konflik penormaan pada berbagai peraturan perundang-undangan (sinkronisasi).3 8. Lihat dalam: G. Kanisius.6 13.64 32. Ekonomi Politik Penguasaan Tanah. hlm. paling rendah yaitu petani gurem dan buruh tani.56 8.8 65. Jelaslah bahwa problem utama kemiskinan petani bukan karena kemiskinan yang ada dengan sendirinya.83 35.total pendapatan yang akan diperolehnya.89 Pedesaan Jumlah Persentase 17.5 49. Jakarta.4 34.7 37.3 Sumber : Indikator Kesejahteraan Rakyat.6 15. Problem kemiskinan petani merupakan masalah moral dan keadilan juga.17 64. hlm.43 68. tetapi akibat dari struktur sosial yang menentukan kehidupan golongan mereka.78 22.3 25. 1997. 9.41 72. Tabel 6.9 34. 55. dan munculnya berbagai sengketa 60 Ali S Husein.2 24.69 34.9 38. Pustaka Sinar Harapan. 61 41 .9 38.3 12.56 32. Berdasarkan kenyataan yang ada (tataran penerapan) diindikasikan.4 37. BPS.6 12.44 67. Mereka menjadi miskin bukan karena kelemahan atau nasib malang individual yang buruk.31 65.6 17. perlu dikaji kembali politik agraria sebagaimana yang dirumuskan dalam Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 dan bagaimana implementasinya dalam UUPA dan Peraturan Perundang-undangan lainnya.9 31. Yogyakarta. 1995.4 29. Berdasarkan fakta-fakta yang diuraikan.11 Kota + Desa 27. Kemiskinan Struktural berarti kemiskinan yang melekat pada kelas-kelas sosial tertentu.60 Hal ini didukung dengan kenyataan bahwa sejumlah besar kemiskinan (kemiskinan struktural)61 terdapat pada strata penguasaan tanah. Soetomo. bahwa salah satu faktor penyebab terjadinya penguasaan tanah yang timpang.7 9.9 32.57 31. Dengan melakukan kajian demikian. penguasaan tanah seorang petani itu biasanya sejajar dengan tingkat kecukupan keluarganya. melainkan karena menjadi bagian dari golongan masyarakat itu.36 67.22 77.1 25.1 66.44 17.3 33.

Ketimpangan dalam hal pemilikian dan penguasaan tanah. 1990. Ketidakserasian antara berbagai produk hukum. 2001. 4. 62 42 . Awal kemunculannya dapat dilacak dari pertemuan para ilmuawan sosial dalam suatu lokakarya tentang “The implementation of Title IX of the foreign Assistance Act of 1961. Lihat dalam: Mansour Fakih. Ketidakserasian dalam hal “peruntukan” sumber-sumber agraria. Zed Books. khususnya tanah. hlm.62 bahwa pembangunan akan berjalan hampir secara otomatis melalui akumulasi modal lewat bantuan dan investasi dengan motor utamanya ada pada elite swasta. Untuk mengawal proses akumulasi modal ini Orde Baru menerapkan kebijakan stabilitas politik dan keamanan. Op cit. dalam: Gunawan Wiradi. sudah menjadi rahasia umum bahwa saat ini kita mendapat “waris” dari rejim Orde Baru. ia merupakan bungkus baru dari kapitalisme. Orde Baru dalam merumuskan dan melaksanakan peraturan kebijakan pertanahannya menerapkan paradigma “Pembangunanisme” (developmentalism). yang mencerminkan dominasi interpretasi ilmuwan liberal terhadap kongsep pembangunan. hlm. Insist Press & Pustaka Pelajar. 63 Demitrius Christodoulou. 2. Kajian demikian mendesak dan penting dilakukan karena. dan strategi ekonomi “Tricle Down Effect” lewat paket undang-undang politiknya.pertanahan adalah ketidaksinkronan pengaturan mengenai penguasaan tanah. Tugas utama mereka adalah melakukan studi tentang bagaimana kebijakan pemerintah Amerika dalam era ‘perang dingin’. London and New Jersey. Developmentalism dilontarkan dalam era perang dingin untuk membendung sosialisme. yaitu: 1. berupa ribuan sengketa pertanahan dalam bentuk sifat. hlm. dengan ciri-ciri melakukan penaklukan ideologi dan teoritis terhadap negara-negara dunia ketiga. The Unpromised Land. 201. dapat ditemukan konflik penormaan (taraf sinkronisasi) peraturan perundang-undangan penguasaan tanah terhadap politik agraria nasional.. Agraria Reform and Conflict Worldwide. Pada akhir pertemuan mereka berhasil melahirkan the Foreign Assitance Act of 1966. 2. 3. Demitrius Chirstodoulou (mantan pakar FAO). Di Indonesia. Ketidakserasian antara persepsi dan konsepsi mengenai agraria. Sesat Pikir Teori Pembangunan dan Globalisasi. pola. Developmentalism adalah paradigma yang bertujuan membendung pengaruh dan semangat anti kapitalisme di negara dunia ketiga. Yogyakarta.63 Dengan memahami karakteristik peraturan perundang-undangan di bidang pertanahan. sumber. dan diperparah oleh mekanisme globalisasi yang memungkinkan modal asing masuk ke sektor-sektor perkebunan dan pertanian tanpa batas. sebagai akibat kebijakan sektoral. 61. yang berkaitan dengan tata guna tanah. Menurut. sedikitnya ada empat ketidakserasian atau ketimpangan. akar konflik agraria yang paling dasar adalah adanya sejumlah ketidakserasian. dan skala konflik yang sangat beragam.

66 Noer Fauzi.C. Di dalam UUD 1945. Bandung. Menurut Lemaire. nyata-nyata bahwa masalah yang diurusnya ialah politik perkonomian Republik Indonesia”. juga mengungkapkan bahwa: Indonesia dimasa datang mau menjadi negeri yang makmur. Lebih tepat dikatakan. Dalam bagian kedua dan ketiga daripada pasal 33 UUD disebut dikuasai oleh negara. 1997. Alumni. dalam: Abdurrahman. usahawan atau “ondernemer”. 64 43 . 1995. peraturan yang melarang pula “penghisapan” orang yang lemah oleh orang yang bermodal. Tebaran Pikiran Mengenai Hukum Agraria. 37. Bandung.L. Negara mempunyai kewajiban pula supaya penetapan UUD 1945. sebagai berikut: Apabila kita pelajari pasal 33 UUD 1945. Penghancuran Populisme dan Pembangunan Kapitalisme: Dinamika Politik Agraria Indonesia Pasca Kolonial. Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945: Politik Agraria dan Landasan Konstitusional Pengelolaan Tanah Politiknya agraria Indonesia dikonsepsikan dalam Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945: Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya di kuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. yaitu sebagai ketentuan yang hanya dijumpai di Indonesia yang memberikan kewenangan yang begitu besar kepada Negara. maka hendaklah peraturan milik tanah memperkuat kedudukan tanah sebagai sumber kemakmuran bagi rakyat umumnya”.66 W. pasal 27 ayat 2 terlaksana.al. hlm. Reformasi Agraria. yaitu tiap-tiap Warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”65 Sehubungan dengan itu juga Mohammad Hatta dalam “Dasar Pre-advis kepada Panitia Penyelidik Adat Istiadat dan Tata-usaha lama” di tahun 1943. Untuk mencapai kemakmuran rakyat di masa datang. politik perekonomian mestilah disusun di atas dasar yang ternyata sekarang. 120. Oleh karena tanah faktor produksi yang terutama. dalam: Dianto Bachriadi. hlm. 1985. Hal tersebut menunjukkan adanya hubungan erat dengan usaha menciptakan kesejahteraan sosial bagi masyarakat Indonesia. ketentuan Pasal 33 tersebut di atasi ditempatkan dalam Bab XIV tentang Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial. hlm. bahwa kekuasaan negara terdapat pada membuat peraturan guna kelancaran jalan ekonomi. Sejalan dengan itu. Lemaire. Het Recht in Indonesia. et. supaya rakyatnya dapat serta pada kebudayaan dunia dan ikut serta mempertinggi peradaban. (ed). Dikuasai oleh negara tidak berarti negara sendiri menjadi penguasa.G. Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 adalah suatu “deze bepalingen geven vorm aan eigen Indonesisch”64 atau ketentuan yang bersifat khas Indonesia. Mohammad Hatta memaknai Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945. yaitu Indonesia sebagai negeri agraria. NV Uitgeverij. 36 65 Ibid.

dan sebagainya. antara lain: UU No. UU No. atas dasar konsep pemberian kuasa/mandat. perjuangan merombak struktur hukum agraria kolonial dan menyusun hukum agraria nasional tidak dapat dilepaskan dari perjuangan bangsa Indonesia yang ingin melepaskan diri dari cengkraman dan pengaruh sisa-sisa sistem feodalisme dan kolonialisme.Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 menjadi landasan. “Ruh” dari Pasal 33 ayat (3) tersebut didasarkan pada semangat menciptakan keadilan sosial. Intinya peraturan-peraturan tersebut dibuat dengan tujuan jangka pendek yaitu menghapuskan secara cepat lembaga-lembaga feodal dan lembaga-lembaga kolonial yang masih ada. Lembaga Penerbit FEUI. yang meletakkan penguasaan sumber daya alam untuk kepentingan publik pada negara. Sengketa. Pada awal kemerdekaan. Maka dari itu dapat ditarik kesimpulan. sehingga semua tanah yang berada diseluruh wilayah Indonesia dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. yang disusun berdasarkan sendi-sendi pemerintahan jajahan.67 Perubahan Politik. UUPA memuat azas-azas dan ketentuan-ketentuan pokok Hukum Agraria Nasional yang sekaligus merupakan manifestasi cita-cita bangsa Indonesia untuk menghentikan hukum agraria kolonial. 44 . dan Agenda Pembaruan Agraria di Indonesia. 67 Pidato Pengantar Menteri Agraria Sadjarwo sewaktu mengajukan RUU Pokok Agraria di DPRGR tahun 1960. rumusan Pasal 33 ayat (3) tersebut kemudian diimplementasikan melalui beberapa Peraturan Perundang-Undangan agraria yang bersifat ”parsial”. sekaligus merupakan arah dan tujuan kebijakan pengelolaan tanah di Indonesia. 67. 13 Tahun 1948 tentang Penghapusan Hak-Hak Konversi. 1 Tahun 1958 tentang Penghapusan Tanah-Tanah Partikelir. yaitu Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria atau yang lebih dikenal dengan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA). 13 Tahun 1946 tentang Penghapusan Desa Perdikan. UU No. Karena. pemerintah berhasil menetapkan suatu undang-undang Agraria Nasional. Barulah pada akhir tahun 1960 tepatnya tanggal 24 September 1960. hlm. Jakarta. Ketentuan ini berdasarkan anggapan bahwa pemerintah adalah pemegang mandat yang melaksanakan kehidupan bernegara di Indonesia. bahwa mandat yang diberikan kepada pemerintah itu melahirkan konsekuensi berupa kewajiban untuk mengatur segala hal yang berkaitan tanah.

sebagai organisasi kekuasaan dari bangsa Indonesia untuk pada tingkatan yang tertinggi: (a) mengatur dan menyelenggarakan peruntukan. penggunaan. huruf b. sehingga bertentangan dengan kepentingan rakyat dan negara di dalam menyelesaikan revolusi nasional sekarang ini serta pembangunan semesta.P. 1983. akan tetapi pengertiannya adalah memberi wewenang kepada negara. UUPA. (b) menentukan dan mengatur hakhak yang dapat dipunyai atas (bagian dari) bumi. sebagai organisasi kekuasaan dari seluruh rakyat (bangsa) bertindak selaku Badan Penguasa. UUPA juga memberikan penjelasan bahwa untuk mencapai apa yang ditentukan dalam Pasal 33 ayat 3 UUD 1945. UUPA. A. Adanya penambahan kata-kata “ruang angkasa” pada Pasal 2 (1) UUPA. penambahan tersebut hanya bersifat deklaratif. termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya itu pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh Negara. tidak perlu negara bertindak sebagai pemilik tanah dan lebih tepat jika negara. 45 . Sesuai dengan pangkal pendirian tersebut diatas perkataan “dikuasai” dalam pasal ini bukanlah berarti “dimiliki”. (c) 68 69 Konsiderans Menimbang. 2. dan bukan konstitutif. Bandung.68 Pasal 33 ayat (3) UUD 45 yang menjadi landasan konstitusional penguasaan tanah ini (Pasal 33 ayat 3) diadopsi UUPA dan dimuat pada Pasal 2 ayat (1): “Atas dasar ketentuan dalam pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar dan hal-hal sebagai yang dimaksud dalam pasal 1. air dan ruang angkasa itu. Alumni. bumi.69 Penambahan yang bersifat deklaratif merupakan penegasan bahwa ruang angkasa adalah bagian yang integral dari bumi dan air tersebut dan jika dikaitkan dengan doktrin wawasan nusantara maka Pasal 2 ayat (1) dari UUPA memberikan kejelasan yang mendalam tentang doktrin wawasan nusantara itu70. Aneka Hukum Agraria. yang menyatakan bahwa hukum agraria yang masih berlaku sekarang ini sebagian tersusun berdasarkan tujuan dan sendi-sendi dari pemerintahan jajahan dan sebagian dipengaruhi olehnya. Selanjutnya mengenai hak menguasai negara yang merupakan politik hukum dari Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Parlindungan (b). hlm. persediaan dan pemeliharaannya.Kebulatan tekad tersebut dicantumkan dalam konsiderans menimbang UUPA. 70 Penjelasan Umum. sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat”. angka II (2). tidak berarti penambahan terhadap rumusan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. air dan ruang angkasa.

1998. budaya. 37. ekonomi. Parlindungan (a). Landasan ideal ini. Bandung. KRHN & KPA. air. air dan ruang angkasa71. nilai hukum. nilai politik. yaitu: 1.P. Parlindungan (a).menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi. 73 Noer Fauzi & Dianto Bachriadi. hlm. 2. 5.73 A. karena akan menjadi pusat dari segala hal. bahkan politik serta pertahanan-keamanan dan aspek hukum. dan 6. Komentar atas Undang-Undang Pokok Agraria. 1991. Tanah mempunyai makna yang sangat strategis karena di dalamnya terkandung tidak saja aspek fisik akan tetapi juga aspek sosial. paling tidak dalam hal ini persoalan keagrariaan. 72 A. memandang tanah sebagai karunia Tuhan mempunyai sifat magis-religius harus dipergunakan sesuai dengan fungsinya untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. nilai lingkungan 4.P. Juga untuk menentukan dan mengatur (menetapkan dan membuat peraturan-peraturan) hak-hak apa saja yang dapat dikembangkan dari Hak Menguasai dari Negara tersebut72. Sumber daya alam berupa tanah mempunyai nilai sempurna apabila formasi nilai tanah mencakup ke-enam jenis nilai tersebut di atas. Hak Menguasai dari Negara (HMN) Persoalan Sejarah yang Harus Diselesaikan. nilai social. 39. dalam: “Usulan Revisi UUPA 1960. nilai lokasi 3. ”Menuju Penegakan Hak-Hak Rakyat atas Sumber-Sumber Agraria”. 214. hlm. Dengan demikian negara sebagai organisasi kekuasaan “mengatur” sehingga membuat peraturan. Untuk mencapai cita-cita ini prasyaratnya adalah adanya sebuah negara yang kuat. persediaan (reservation) dan pemeliharaannya (maintenance) dari bumi. 71 46 . air. dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya” merupakan cita-cita ideal yang menempatkan negara sebagai sentral yang mengatur pemanfaatan kekayaan negeri untuk kemakmuran rakyat. Konsep “Negara menguasai bumi.Mandar Maju. kemudian “menyelenggarakan” artinya melaksanakan (execution) atas penggunaan/peruntukan (use). ruang angkasa dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. hlm. Secara teoritis sumber daya tanah memiliki 6 (enam) jenis nilai. nilai produksi. Jakarta.

b. akan tetapi negara sebagai personafikasi rakyat seluruhnya. Negara sebagai subyek. segala anggotanya berhubungan erat satu sama lain dan merupakan persatuan masyarakat yang organis. Dasar dan Struktur Ketatanegaraan Indonesia. Peran Serta Seksi Agraria Universitas Gadjah Mada. sebagai badan yang publiek rechtelijk. Hegel dan lain-lain yang berpendapat bahwa negara bukan dimaksudkan untuk menjamin kepentingan seseorang atau golongan. negara hanya menjadi pendiri. Yogyakarta. diberi kedudukan tidak sebagai perseorangan. intinya Badan Pembuat undang-undang meminta saran dari akademisi mengenai dasar-dasar filosofis yang membenarkan kekuasaan negara atas sumber-sumber agraria di seluruh wilayah negeri ini. Adam Muller. Gadjah Mada University Press. tetapi sebagai negara. a. Jakarta.Ide politik hukum hak menguasai daripada negara di dalam UUPA. yang diajarkan oleh Spinoza. akan tetapi menjamin kepentingan masyarakat seluruhnya sebagai satu kesatuan. Penerbit Rineka Cipta. sehingga dalam konsepsi ini negara tidak lepas dari rakyat. negara sebagai pemilik. 74 47 . 2. Negara sebagai subyek. Lebih lanjut: “Negara ialah suatu susunan masyarakat yang integral. beranjak dari Prasaran Seksi Agraria Universitas Gadjah Mada pada Seminar Agraria dari Kementrian Agraria di Tretes bulan November tahun 1958. segala bagian. 37-38. hlm. hak kommunes. Konsep yang tersebut pada angka 2 di atas menjadi prinsip dari politik hukum UUPA. Negara sebagai subyek. segala golongan. sesuai dengan sifat makhluk sosial juga dengan sifat perseorangan yang merupakan kesatuan daripada individu-individunya74. pada kenyataannya tidak Iman Soetiknjo. mengasumsikan “negara berdiri di atas kepentingan semua golongan”75 atau dalam istilah Kuntowijoyo “Negara Budiman”. Hubungan yang tersebut pada no. negara sebagai personafikasi rakyat bersama. Yang terpenting ialah dalam negara yang berdasar aliran pikiran integral ialah penghidupan bangsa seluruhnya (dalam: Moh. yang kita persamakan dengan perseorangan. konsepsi negara menguasai ini. apabila memegang kekuasaan tentang pemakaiannya tanah saja. Jika ditelaah lebih mendalam. dalam arti tidak sebagai perseorangan dan tidak sebagai badan kenegaraan. hak emperium. Mahfud MD. 1987. Padahal. 2001. dapat dipilih tiga kemungkinan: 1. jadi sebagai badan kenegaraan. Apabila demikian. kiranya yang paling tepat karena kalau ditinjau dari sudut perikemanusiaan. maka hak negara dapat berupa. sehingga dengan demikian hubungan antara negara dan tanah itu mempunyai sifat privaat rechtelijk. Hak negara adalah hak dominium juga dan disamping itu dapat juga digunakan istilah hak publique. menjadi pendukung daripada kesatuankesatuan rakyat. 75 Paham ini sangat dipengaruhi oleh teori integralistik. Proses Terjadinya UUPA. 3. 3. 34-5. Hak negara adalah hak dominium. kalau negara sebagai personafikasi yang memegang kekuasaan atas tanah. dan. yang dirumuskan dalam Bagian B angka 32: Dalam mengadakan hubungan langsung antara negara dengan tanah. hlm.

bahwa UUPA merupakan dasar berpijak bagi penyusunan hukum agraria nasional sebagai alat untuk membawakan kemakmuran. hlm. kebahagiaan dan keadilan bagi negara dan rakyat. Pembangunan hukum yang intinya adalah pembaruan terhadap ketentuan hukum yang telah ada dan yang dianggap usang. Politik hukum nasional bisa meliputi: 1. mempunyai peranan penting. 3. karena negara merupakan organisasi kekuasaan yang sarat dengan sejumlah kepentingan kelompok atau individu yang mengatasnamakan kepentingan rakyat atau kepentingan negara. 2.76 Menurut Abdul Hakim G Nusantara. 37. dikaji hukum yang berlaku (ius constitutum). Semarang. maupun yang memberikan arah pada pembangunan hukum yang dicita-citakan (ius constituendum). Sementara politik hukum agraria tidak bisa dilepaskan dari ideologi dan paradigma yang menopang struktur dan sistem sosial yang dianut negara tersebut. 5 Tahun ke VII Januari-Februari. Penegasan fungsi lembaga penegak atau pelaksana hukum dan pembinaan anggotanya. Politik hukum sebagai kerangka umum yang akan membentuk hukum (legal frame work). dapat menjadi pemicu timbulnya sengketasengketa tanah. cara. secara harfiah diartikan sebagai kebijakan hukum (legal policy) yang hendak diterapkan atau dilaksanakan secara nasional oleh suatu pemerintahan negara tertentu. Sudarto. terutama rakyat tani. 76 48 . atau model yang akan digunakan dalam melaksanakan pembangunan hukum dalam rangka mencapai tujuan maupun untuk kepentingan terhadap perubahan hukum yang direncanakan. Pelaksanaan ketentuan hukum yang telah ada secara konsisten. dalam: Firman Muntaqo. Konflik peraturan perundang-undangan yang pada akhirnya secara signifikan. “Perkembangan Ilmu Hukum dan Politik Hukum”. politik hukum nasional. Melalui politik hukum. 2006. tidak dapat dipisahkan dari pilihan terhadap politik hukum agraria. 14-17. hlm. “Harmonisasi Hukum Investasi di Bidang Perkebunan”. Universitas Diponegoro. Berangkat dari tujuan pokok UUPA yang dirumuskan dalam penjelasannya.demikian. dalam rangka masyarakat yang adil dan makmur. Usulan Penelitian Disertasi. dan penciptaan ketentuan hukum baru yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat. Majalah Hukum dan Keadilan No. karena politik hukum merupakan disiplin yang mendasari aktifitas memilih dan menyerasikan berbagai nilai.

31.80 Ketentuan Pasal 2 UUPA yang merupakan turunan langsung dari Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. YLBHI & LBH Surabaya. Raja Grafindo Persada. karena ketentuan-ketentuan dalam UUPA merupakan penjabaran sila-sila Pancasila di bidang pertanahan. Isi dan Peaksanaannya”. Jilid 1 Hukum Tanah Nasional. 30-31. Makalah pada Karya Latihan Bantuan Hukum (Kalabahu). dalam: Imam Syaukani & A. 79 Boedi Harsono. 80 Penjelasan Umum. Ahsin Thohari.78 Konsepsi hukum tanah nasional dan ketentuan UUPA masih relevan untuk meluruskan pembangunan. sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria. 237. semangat dan visi dari Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. “Politik Hukum Nasional”. Jakarta. (II angka 2). Oleh karena itu. dapat dan harus digunakan juga untuk melindungi kepentingan nasional dalam menghadapi akibat arus globalisasi. melalui UUPA sebenarnya sudah menyediakan rambu-rambu. hlm. Edisi Revisi 2005. 78 Ibid.4. hlm. D. UUPA. Dasar-Dasar Politik Hukum. ”Hukum Agraria Indonesia. dan tugas pembantuan (medebewind). Karakter yang liberal-individualistik tersebut tidak selaras dengan konsepsi Pancasila yang telah mendasari dan menjiwai pembangunan bangsa dan negara. Penerbit Djambatan. terutama di bidang ekonomi yang berkarakter liberal-individualistik. agar perjalanan bangsa Indonesia bisa sampai pada tujuan yang kita cita-citakan79. Desentralisasi atau Sentralisasi Wewenang Bidang Pertanahan Legal issu yang dominan di bidang pertanahan adalah apakah urusan pemerintahan di bidang pertanahan wajib dilaksanakan oleh pemerintah daerah dalam bentuk desentralisasi. dekonsentrasi. September 1985. dengan sikap kritis terhadap hukum yang berdimensi ius constitutum dan menciptakan hukum yang berdimensi isu constituendum. Meningkatkan kesadaran hukum masyarakat menurut persepsi kelompok elit pengambil kebijakaan77. Demikian juga politik pertanahan nasional yang digariskan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 tetap relevan digunakan sebagai landasan untuk meluruskan pembangunan hukum agraria/pertanahan. hlm. Keempat faktor tersebut di atas menjelaskan secara gamblang wilayah kerja politik hukum yang mencakup teritorial berlakunya politik hukum dan proses pembaruan dan pembuatan hukum. merumuskan: Abdul Hakim G Nusantara. Di bidang agraria. Jakarta. 77 49 . 2006.

bumi. penggunaan. persediaan dan pemeliharaan bumi. sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat. kesejahteraan dan kemerdekaan dalam masyarakat dan Negara hukum Indonesia yang merdeka berdaulat.(1) Atas dasar ketentuan dalam pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar dan hal-hal sebagai yang dimaksud dalam pasal 1. c. air dan ruang angkasa tersebut. persediaan (reservation) dan pemeliharaan (maintenance) bumi. ”Dikuasai” berarti memberi wewenang kepada negara. b. negara tidak perlu bertindak sebagai pemilik tanah dan yang lebih tepat adalah bertindak selaku badan penguasa. ”adalah lebih tepat jika negara sebagai organisasi kekuasaan dari seluruh rakyat (bangsa) bertindak selaku Badan Penguasa”. air dan ruang angkasa itu. mengatur dan menyelenggarakan peruntukan. sekedar diperlukan dan tidak bertentangan dengan kepentingan nasional. Perkataan ”dikuasai” dalam ayat (2) pasal ini bukanlah berarti dimiliki. (4) Hak menguasai dari Negara tersebut di atas pelaksanaannya dapat dikuasakan kepada daerah-daerah Swatantra dan masyarakat-masyarakat hukum adat. air dan ruang angkasa. air. bahwa untuk mencapai ketentuan di dalam Pasal 33 ayat (3) UUUD 1945. c. air dan ruang angkasa. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orangorang dengan bumi. (2) Hak menguasai dari Negara termaksud dalam ayat (1) pasal ini memberi wewenang untuk: a. persediaan dan pemeliharaannya. menurut ketentuan-ketentuan Peraturan Pemerintah. adil dan makmur. mengatur dan menyelenggarakan peruntukan. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi. air dan ruang angkasa. air dan ruang angkasa. (3) Wewenang yang bersumber pada hak menguasai dari Negara tersebut pada ayat (2) pasal ini digunakan untuk mencapai sebesar-besar kemakmuran rakyat. b. menentukan dan mengatur hak-hak yang dapat dipunyai atas (bagian dari) bumi. ruang angkasa dan kekayaan alam yang 50 . Pasal 2 Ayat (1) tersebut di atas menegaskan sikap. sebagai organisasi kekuasaan dari Bangsa Indonesia. Sejalan dengan Penjelasan Umum angka II (2) UUPA. Dengan demikian kewenangan negara sebagai organisasi kekuasaan adalah ”mengatur” artinya membuat peraturan. termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya itu pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh Negara. untuk pada tingkatan yang tertinggi: a. dalam arti kebahagiaan. dan ”menyelenggarakan” yang artinya melaksanakan (execution) penggunaan/peruntukkan (use). menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orangorang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi. penggunaan.

Sedangkan pemerintah daerah. air dan ruang angkasa. Komentar atas Undang-Undang Pokok Agraria. disebutkan bahwa perlu adanya suatu rencana ("planning") yang dimulai dari rencana umum ("national planning") yang kemudian dirinci menjadi rencana-rencana khusus ("regional planning") dari tiaptiap daerah mengenai peruntukan. maka Pasal 2 ayat (4) UUPA menegaskan. 1991. maka persoalan agraria merupakan tugas pemerintah pusat. penggunaan dan persediaan bumi.81 Sedangkan. peruntukan. berdasarkan rencana umum tersebut berwenang mengatur persediaan.P. Sedangkan yang berkaitan A. Selain itu. Dengan demikian. jika argumentasinya didasarkan pada Pasal 14 UUPA. pemerintah pusat mempunyai kewenangan membuat suatu rencana umum mengenai persediaan. 81 51 . air serta ruang angkasa untuk daerahnya. sesuai dengan keadaan daerah masing-masing. Berdasarkan Pasal 14 UUPA. Mandar Maju. hlm. maka di samping perencanaan pertanian. Bandung. Jika argumentasi didasarkan pada Pasal 2 ayat (4).terkandung di dalamnya. dan pemerintahan daerah tidak boleh melakukan tindakantindakan di bidang agraria jika tidak ditunjuk ataupun dilimpahkan kewenangannya oleh pemerintah pusat (asas medebewind). Namun. maka pengertian pelimpahan wewenang untuk melaksanakan hak penguasaan negara atas tanah menurut Pasal 2 ayat (4) di atas menjadi berbeda. Parlindungan. dan penggunaan bumi. mengingat akan corak perekonomian negara di kemudian hari dimana industri dan pertambangan menjadi penting. 39. Selanjutnya. peruntukan dan penggunaan bumi. Berdasarkan penafsiran otentik (authentieke atau officiele interpretatie) atau sesuai dengan tafsir yang dinyatakan dalam undang-undang itu sendiri. karena Pasal 14 secara eksplisit memerintahkan otonomisasi di bidang agraria. penjelasan dari Pasal 2 ayat (4) berkaitan dengan asas ekonomi dan medebewind dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. arti dari ”menentukan dan mengatur” (huruf b) yaitu: menetapkan dan membuat peraturan-peraturan mengenai hak-hak apa saja yang dapat dikembangkan dari hak menguasai negara tersebut. industri dan pertambangan perlu diperhatikan. 82 Periksa Pasal 14 ayat (1) dan (2) UUPA. air dan ruang angkasa serta kekayaan alam yang terkandung didalamnya. pelimpahan wewenang untuk melaksanakan hak penguasaan negara atas tanah merupakan medebewind.82 Berdasarkan memori penjelasan UUPA. bahwa wewenang agraria dalam sistem UUPA ada pada pemerintahan pusat.

Jakarta. pengesahannya harus dilakukan dalam rangka rencana umum yang dibuat oleh pemerintah pusat. Pertimbangan yang membuat perbedaan tata hukum nasional semacam itu lebih dikehendaki mungkin karena pertimbangan-pertimbangan geografis. 84 83 52 . maka akan semakin diharuskan desentralisasi melalui pembagian teritorial. Untuk selanjutnya ditindaklanjuti dengan menetapkan dan membuat peraturan-peraturan daerah yang mengacu pada rencana umum (national planning) yang dibuat oleh pemerintah.84 Berdasarkan uraian di atas. Bee Media Indonesia. Alih Bahasa oleh Somardi. nasional atau keagamaan. Kalaupun ada pelimpahan Memori Penjelasan Umum Angka II (8). air serta ruang angkasa untuk daerah. Teori Umum Hukum dan Negara (Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif Sebagai Ilmu Hukum DeskriptifEmpirik). untuk itulah pengaturannya di desentralisasikan kepada daerah. hlm. peruntukan dan penggunaan bumi. dan semakin bervariasi kondisi-kondisi sosial. Kewenangan pertanahan yang dilaksanakan secara sentralisasi oleh pemerintahan pusat adalah mengenai hal-hal yang berkaitan dengan rencana umum (national planning) seperti pengaturan dan penetapan hukum tanah nasional yang meliputi perencanaan dan peruntukan tanah. Semakin besar teritorial negara. 2007.dengan ayat (3) di atas mengenai pemerintah daerah dapat membentuk peraturan daerah. Hans Kelsen. yang dinyatakan bahwa: “…desentralisasi memberi kemungkinan pengaturan masalah yang sama secara berbeda untuk daerah-daerah yang berbeda. air serta ruang angkasa harus pula disesuaikan dengan kondisi geografis atau keadaan tertentu dari daerah masing-masing. 370. Hal ini sejalan dengan salah satu alasan utama dari desentralisasi yang dikemukakan oleh Hans Kelsen. dalam bukunya ”General Theory of Law and State”.83 Jika ditafsirkan secara gramatikal atau interpretasi bahasa yang menekankan pada makna teks yang dinyatakan di dalam kaidah hukum. medebewind atau asas pembantuan dan secara desentralisasi. penguasaan dan perbuatan-perbuatan hukum mengenai tanah serta pendaftaran tanah. General Theory of Law and State. Artinya pembuat undang-undang sadar bahwa perencanaan peruntukan dan penggunaan akan bumi. dan Penjelasan Pasal 14 UUPA. bahwa penyelenggaraan kewenangan di bidang pertanahan dapat dilaksanakan secara dekonsentrasi (yang merupakan penghalusan dari sentralisasi). bahwa urusan-urusan bidang pertanahan yang berkaitan dengan regional planning yang meliputi persediaan. dapat dilaksanakan dengan asas desentralisasi sesuai dengan keadaan daerahnya masing-masing. maka Pasal 14 UUPA tersebut memerintahkan.

dalam hal ini PP No. ditetapkan dengan peraturan pemerintah (PP). konsep-konsep yang dapat menjadi pegangan untuk melakukan analisis sinkronoisasi dan konsistensi suatu peraturan perundang-undangan dalam rangka menentukan ada tidaknya konflik peraturan perundang-undangan. Jika kita menengok kembali kepada UU No. Meskipun demikian. teramasuk peraturan perundang-undangan di bidang pertanahan. 40. 22 Tahun 1999 (sudah tidak berlaku lagi) dengan merujuk pada Pasal 2 dan 14 UUPA. Untuk pengaturan penjabarannya berdasarkan Pasal 12. yang mana pelaksanaan kebijakannya dapat dituangkan dalam bentuk Peraturan Daerah maupun Keputusan Kepala Daerah. sedangkan UUD 45 setelah amandemen tidak dilengkapi dengan penjelasan. sulit untuk menemukan dan menentukan dasar filosofi hukum. Inilah yang menjadi pangkal tolak kerancuan peraturan perundang-undangan bidang pertanahan yang dikeluarkan setelah tahun 2000. asas-asas.Hutagalung. serta penempatan Penjelasan UUD 1945 tidak lagi sebagai penjelasan otentik dari UUD 1945.cit. 53 . dalam PP tersebut masih menyisahkan persoalan. Aspek Historis Sejak dilakukannya amandemen terhadap UUD 45 sebanyak 4 (empat) kali. 85 Arie S.kewenangan dalam pelaksanaannya. E. nilai-nilai. Hal ini didasarkan pada Pasal 11 UU 22/1999 yang mengatur masalah desentralisasi. 25 Tahun 2000. karena setiap pasal dari peraturan perundang-undangan yang akan dianalisis menjadi sangat terbuka penafsirannya. Hakikat Ketentuan Pasal 33 UUD 1945 1. pelimpahan itu dalam rangka dekonsentrasi kepada pejabat-pejabat Pemerintah Pusat yang ada di Daerah ataupun kepada Pemerintah Daerah dalam rangka medebewind bukan otonomi. hlm.85 Sedangkan desentralisasi kewenangan di bidang pertanahan memerlukan suatu ketentuan perudang-undangan yang secara jelas mengatur pembagian kewenangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. salah satunya bidang pertanahan kepada Pemerintah Kabupaten/Kota. sebenarnya telah selaras dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Op. dikarenakan dalam materi muatannya tidak menegaskan bentuk kewenangan yang didesentralisasikan tersebut.

namun masih berperan signifikan untuk menggali hakikat Pasal 33 UUD 1945 yang menjadi landasan konstitusionil pengaturan hukum di bidang agraria. Djilid Pertama. 268. materimateri pokok (dasar-dasar negara) dari rancangan UUD itu telah dibahas sejak tanggal 29 Mei 1945 dalam sidang-sidang pertama BPUPKI. Secara histories. Kitab Naskah Undang-undang Dasar Républik Indonésia. yaitu suatu aliran pikiran yang menyatukan negara dengan seluruh rakyat.Walaupun penjelasan UUD 45 tidak lagi berkedudukan sebagai penafsiran otentik UUD 45. dengan nomor Pasal 32. (3) Bumi dan air dan kekajaan alam jang terkandung didalamnja dikuasai oléh negara dan harus dipergunakan untuk sebesar-besarnja kemakmuran rakjat. 86 54 . Tetapi. Jajasan Prapantja. hlm. termasuk aspek ideologi dari perancangnya yang tentunnya sedikit banyak mempengaruhi proses perumusannya. sesuai dengan pengertian negara sebagai suatu keluarga besar. Di dalam Rancangan Undang-Undang Dasar yang dibahas dalam Rapat Panitia Hukum Dasar tanggal 11 Juli 1945.86 Rumusan Pasal 32 Rancangan UUD tersebut mencakup nilai-nilai yang terkandung di dalam dasar negara yaitu sistem kekeluargaan. perumusan Rancangan UUD 1945 dilakukan oleh Panitia Perancang Undang-undang Dasar yang ditetapkan pada rapat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) bulan Juli 1945. termasuk di bidang pertanahan. dan dirumuskan sebagai berikut: (1) Perékonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas kekeluargaan. harus dimengerti terlebih dahulu. BAB mengenai kesejahteraan sosial ditempatkan pada BAB XIII Tentang Kesedjahteraan Sosial. Untuk menelaah hakikat dalam rangka memperoleh pengertian maksud dari Undang-Undang Dasar suatu negara. yang mengatasi segala faham golongan dan Risalah Rapat Panitia Perantjang Undang-undang Dasar tanggal 11 Juli 1945. maka suasana dan realitas objektif pada waktu Undang-Undang Dasar itu dirumuskan. 1959. Bukankah pemahaman atas Pasal 33 UUD 1945 itu tidak cukup dilakukan hanya dengan membaca teks maupun penjelasan suatu peraturan perundang-undangan. Lihat dalam: Muhammad Yamin. sampai kemudian ditetapkan menjadi UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945 pada Rapat Panitia Persiapan Kemedekaan Indonesia (PPKI). (2) Tjabang-tjabang produksi jang penting bagi negara dan jang menguasai hadjat hidup orang banjak dikuasai oléh Pemerintah. Jakarta.

287. Timbulah itu oléh karena ékonomisch liberalisme itu sistim jang memberi hak sepenuh-penuhnja kepada beberapa orang manusia sadja. Muhammad Yamin. bahwa kitapun menghendaki di dalam UUD itu apa yang dinamakan “droits de l’homme et du citoyen” atau “rights of the citizen”. terdapat beberapa perubahan dan penambahan.87 Hal ini kemudian dijawab oleh Soekarno dalam Rapat Besar tanggal 15 Juli 1945. bahwa dasar falsafah negara-negara Eropa dan Amérika itu adalah benar falsafah jang salah. panitia penyusun Rancangan UUD ini banyak mendapat pertanyaan seputar dasar dan falsafah dari rancangan UUD tesebut. memeras.…Dengan adanja imperialisme itulah. 55 . untuk menghisap. pertanyan-pertanyaan apa sebab undang-undang dasar yang kita rancang tidak memasukkan hak-hak asasi manusia dan hak-hak warga-negara. Pasal 33 ayat (2). timbullah kapitalisme jang sehébat-hébatnja di negeri-negeri jang merdéka. Selanjutnya Soekarno pada sidang pertama Dokuritu Zyunbi Tyoosakai juga membicarakan dasar kekeluargaan atau yang disebutnya gotong-royong yang merupakan dasar sistem. jang bersembojan: “laissez faire. lewat pidatonya yang menerangkan dan menjelaskan pertanyaan-pertanyaan itu sebagai berikut: “…Undang-undang Dasar dari pada negara-negara (Eropa dan Amérika) didasarkan atas dasar falsafah pikiran jang dikemukakan oléh revolutie Perantjis. Apakah kita hendak menuliskan dasar jang demikian itu dalam Undang-undang Dasar kita?88. Setelah Rancangan Undang-Undang Dasar di atas ditetapkan menjadi UndangUndang Dasar 1945 (18 Agustus 1945). Misalnya. hlm.. jaitu individualisme dan liberalisme. Setelah Rancangan UUD ini dibagikan dikalangan anggota. laissez fasser”…. dan falsafah yang terkadung dalam Rancangan UUD. semula dirumuskan “Tjabang-tjabang produksi jang penting bagi negara dan jang menguasai hadjat hidup orang banjak 87 88 Risalah Rapat Besar tanggal 15 Juli 1945. tuan-tuan dan njonja-njonja jang terhormat. Ibid. Ibid. Inilah sebabnja suburnja kapitalisme dan imperialisme di Eropa dan Amérika itu”... hlm. Misalnya. Inilah jang mendjadi sumber malapetaka-malapetaka didunia ini…Tuan-tuan dan njonja-njonja jang terhormat! Kita semua mengetahui bahwa faham atau dasar individulisme telah mendjadi sumber économisch liberalisme Adam Smith…jang sebenarnja tidak lain tidak bukan mendjalankan téori-téori ékonomi diatas dasar-dasar falsafah jang individualistis…Dengan adanja ékonomisch liberalisme. 287-294. kita 350 tahun tidak merdéka…Nyata tuan-tuan njonja-njonja jang terhormat. menindas sesama manusia jang lain.faham perseorangan (kollektivisme) sebagaimana pikiran Soepomo (negara integralistik).

dalam: Abdurrahman. Het Recht in Indonesia. 36. dirumuskan dalam ayat (2) “cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara”. Bandung. Kedua adalah Sosialisme yang merupakan turunan dari sistem ekonomi kekeluargaan dan antitesa daripada kapitalisme. konsep ini dirumuskan pada ayat (1) yaitu: “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan”. hlm. Asas Kekeluargaan Asas kekeluargaan yang tercantum dalam Pasal 33 ayat (1). Jika dikonversikan dengan konsepkonsep yang diutarakan di atas.G. Bandung. secara umum erat sekali hubungannya dengan teori “integralistik” atau “negara integralistik” yang Lemaire. 120. 2. Dikaji dari tempatnya di dalam UUD ketentuan ini ditempatkan dalam Bab XIV tentang Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial. Misalnya. Tebaran Pikiran Mengenai Hukum Agraria. Pertama. terdapat tiga kata kunci yang merupakan sari dari tiga ayat yang dinaungi oleh Pasal 33. memberikan makna bahwa Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 adalah suatu “deze bepalingen geven vorm aan eigen Indonesisch” atau ketentuan yang bersifat khas Indonesia. NV Uitgeverij W. W.1985. yaitu. yang dirumuskan sebagai berikut: ayat (3) “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Pasca Proklamasi Kemerdekaan. S’Gravenhage. Lemaire dalam bukunya“Het Recht in Indonesia”. Van Hoeve. banyak bermunculan pendapat-pendapat yang berupaya memaknai rumusan dari Pasal 33. 1955. jelaslah bahwa di dalam rumusan Pasal 33 UUD 1945 terkandung nilai-nilai dan falsafah Negara. Hal ini adalah sintesa dari ayat (1) dan (2). Berdasarkan uraian di atas.dikuasai oléh Pemerintah”. Alumni. hlm. yaitu sebagai ketentuan yang hanya dijumpai di Indonesia yang memberikan kewenangan yang begitu besar kepada Negara. dan Ketiga adalah Politik Agraria Nasional yang bertujuan menciptakan keadilan sosial lewat jalan meningkatkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. artinya persoalan ini erat hubungannya dengan usaha menciptakan kesejahteraan sosial bagi masyarakat Indonesia89.L. Kollektivitas atau dasar kesatuan dalam sebuah keluarga besar. kata “dikuasai oleh Pemerintah” kemudian dirubah dengan “dikuasai oleh Negara”. 89 56 .

Adam Muller. tetapi satu kesatuan yang bersatu jiwa. hlm. Op. Untuk itulah negara dijadikan alat bagi kaum kapitalis untuk menindas kaum buruh. Soepomo tidak mau terjebak antara staatside yang didasarkan pada “Teori Individualistik” dan “Teori Golongan”. hlm. antara mikrokosmos dan makrokosmos. dan V. Spencer.dilontarkan oleh Soepomo dalam pidatonya pada sidang-sidang BPUPKI antara bulan Mei–Juni 1945 yang padat dengan agenda sidang BPUPKI untuk membahas dasar-dasar (falsafah) dan tujuan pembentukan negara. individu dari individu-individu (individual of indivduals) yang memiliki “tubuh” dan “jiwa” atau pikiran. 109-121. Oktober 2005. 110-111. inti dari teori integralistik adalah. Ajaran ini berasal dari Karl Marx. dan H. (London: Verso. Laski. Jakarta. 1998). 90 57 . Sedangkan Teori Golongan (teori kelas). “in the political order the whole body of citizens must be thoughts of as equivalent or an individual in the state of nature”. 64. sebagaimana yang dinyatakan oleh Soepomo: “…struktur kerochanian dari bangsa Indonesia bersifat dan bercita-cita persatuan hidup. Ajaran ini mennganjurkan revolusi politik dari kaum buruh untuk merebut kekuasaan. dalam: Daniel Hutagalung. 129. hlm. khususnya hlm. dan ajarannya disebut “Marxisme”. Jentera (Jurnal Hukum). 92 Muhammad Yamin. Menurut Spinoza. “Spinoza and Politics”. “Menapaki Jejak Pemikiran Soepomo Tentang Negara Indonesia”. Muhammad Yamin. untuk menghisap golongan yang lemah secara ekonomi. akan tetapi negara harus menjamin kepentingan masyarakat secara keseluruhan sebagai satu kesatuan. Pilihan Soepomo jatuh pada “Teori Integralistik”. segala anggotanya berhubungan erat satu sama lain dan merupakan persatuan masyarakat organis yang harmonis. keseluruhan warga negara haruslah dilihat sebagai satu individu yang tidak terpisah. Edisi 10 – tahun III. antara rakjat dan pemimpin-pemimpinnya…Inilah ide totaliter. Lenin. Teori Individualistik.91 negara (the state) mestilah dibayangkan sebagai sebuah individu. mendasarkan pendirian negara pada teori perseorangan yang diajarkan oleh Hobbes.J. Inti dari teori ini menyatakan bahwa negara merupakan masyarakat hukum yang disusun atas kontrak antara seluruh orang dalam masyarakat dengan susunan hukum negara yang berdasar individualisme. Jadi.cit. dan Hegel (filsuf abad 18 dan 19). Lebih tepatnya lagi. teori ini menganggap bahwa negara sebagai alat dari sesuatu golongan (kelas) untuk menindas kelas lainnya. Sebagaimana ditekankan olehnya. 91 Spinoza yang dikutip oleh Etienne Balibar. ide integralistik dari bangsa Indonesia. yang berwujud dalam susunan tatanegaranya jang asli”92. teori ini dipraktekkan di Eropa Barat dan Amerika.90 sebagaimana dikemukakan oleh Spinoza. Lihat dalam: Pidato Soepomo dalam Rapat BPUPKI tanggal 31 Mei 1945. Engels. Menurut Soepomo staatside dari UUD 1945 tidak didasarkan pada teori Trias Politica yang dikemukakan oleh Motesquieu. segala bagian. menurut teori integralistik negara diartikan sebagai susunan masyarakat yang integral. F. segala golongan. Dengan demikian. negara bukan dimaksudkan untuk menjamin kepentingan orang perorang atau golongan tertentu. Dengan demikian. Secara khusus makna dari kalimat “usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan” adalah sebuah bangunan perusahaan yang berbentuk “koperasi”. PSHK. persatuan kawulo dan gusti yaitu persatuan antara dunia luar dan dunia batin. dalam: Ibid. Negara adalah alat dari golongan yang kuat secara ekonomis.

sebagaimana yang disebutkan juga dalam Penjelasan Pasal 33 paragraf pertama. Menurutnya. Penafsiran limitatief. bahwa yang sesuai dengan azas kekeluargaan ialah hanya koperasi saja.cit. bahwa yang sesuai dengan azas kekeluargaan paling utama adalah koperasi. bahwa memang koperasilah yang dimaksud dengan usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan”. 195.94 Berkaitan dengan penafsiran terhadap azas kekeluargaan sebagaimana yang telah diuraikan di atas. Sebab itu terimalah pernyataan saya. Alumni. Azas-Azas Hukum Tata Negara Indonesia. Dengan demikian berdasarkan penafsiran enunciative. menganggap hal-hal yang disebutkan sebagai “gelimiteerd” atau terbatas pada hal itu saja. tetapi juga tidak menginginkan totaliterisme”. maka akan menjurus kepada anarchie. hlm Wirjono Prodjodikoro 1983. adalah: “menolak faham liberalisme mutlak. tetap dimungkinkan bangunan perusahaan selain koperasi yang juga sesuai dengan azas kekeluargaan ini. dengan “hak menguasai negara” sebagai konsep politik hukumnya Abdurrahman. hlm. Op. 38. Dikuasai oleh Negara atau Hak Menguasai Negara Pasal 33 UUD 1945 dikenal sebagai ideologi politik ekonomi Indonesia [ayat (1) dan (2)]. Dalam: A. Hakim Nusantara & Nasroen Yasabari. Dian Rakyat. 3. dan jika kekuasaan Pemerintah terlalu besar maka akan melahirkan totaliterisme95. hlm. jika liberalisme tidak dikendalikan. artinya koperasi hanya sebagai contoh tetapi sebagai contoh sebagai utama. Asikin Kusuna Atmadja. bahwa hal itulah yang dimaksudkan.93 Dalam ilmu pengetahuan hukum terdapat penafsiran “limitatief” dan penafsiran “enunciative”. hal ini ditegaskan kembali oleh Mohammad Hatta. Jakarta. Bandung. sedangkan penafsiran enunciative menganggap hal-hal yang disebutkan sebagai “enunciated” atau sekedar menerangkan. G. Asikin Kusuma Atmadja memaknai azas kekeluargaan dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang sesuai dengan Pasal 33 ayat (1). 94 93 58 . Dengan demikian. Beberapa Pemikiran Pembangunan Hukum di Indonesia. Dalam Musyawarah Nasional Pembangunan yang dilaksanakan di Jakarta pada tahun 1957. Sedangkan menurut penafsiran enunciative. Politik Hukum Nasional. 1980. 95 Z. bahwa “buah pikiran yang tertanam di dalam Pasal 33 UUD 1945 sekarang ini berasal dari saya sendiri. berdasarkan penafsiran limitatief.

com/. tidak untuk melakukannya sendiri (eigensdaad). Adapun kaitan hak penguasaan negara dengan tujuan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Penafsiran Konasep Penguasaan Negara Berdasarkan Pasal 33 UUD 1945 dan Putusan Mahkamah Konstitusi. Mencegah segala tindakan dari pihak manapun yang akan menyebabkan rakyat tidak mempunyai kesempatan atau akan kehilangan haknya dalam menikmati kekayaan alam. dan pemanfaatan sumbersumber agraria terpusat pada kekuasaan yang begitu besar daripada negara. negara hanya melakukan pengurusan (bestuursdaad) dan pengolahan (beheersdaad). mengurus.blogspot. air dan berbagai kekayaan alam tertentu yang dapat dihasilkan secara langsung atau dinikmati langsung oleh rakyat. Melindungi dan menjamin segala hak-hak rakyat yang terdapat di dalam atau di atas bumi. 2. http://www. Secara teoritik kekuasaan negara atas sumber-sumber agraria bersumber dari rakyat yang dikenal dengan hak bangsa.96 Ketiga kewajiban di atas menjelaskan segala jaminan bagi tujuan hak penguasaan negara atas sumber daya alam yang sekaligus memberikan pemahaman bahwa dalam hak penguasaan itu. memelihara dan mengawasi pemanfaatan seluruh potensi sumber daya agraria yang ada dalam wilayahnya secara intensif. karena pemiliknya adalah Bangsa Indonesia.jurnalhukum. Pembahasan mengenai makna kata-kata “dikuasai oleh negara” secara lebih mendalam dapat didekati dengan memahami pengertian-pengertian yang diberikan para ahli. harus secara nyata meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. namun tidak sebagai pemilik. Segala bentuk pemanfaatan (bumi dan air) serta hasil yang didapat (kekayaan alam). Pasal 33 ayat (3) terkandung konsep politik agraria dirumuskan: “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara”. Rumusan kalimat “dikuasai oleh negara” inilah yang kemudian dikenal sebagai konsep “Hak Menguasai Negara” (HMN) yang berarti penguasaan. sehingga kepadanya diberikan wewenang atau kekuasaan untuk mengatur. Sedangkan rumusan ayat (3)-nya merupakan arah dan tujuan politik ekonomi Indonesia yaitu untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. 3. Dalam hal ini negara dipandang sebagai yang memiliki karakter lembaga masyarakat umum. 96 59 . antara lain: Pan Mohamad Faiz.(political legal concept). melahirkan kewajiban Negara untuk mengatur: 1.

97 b. Tanah merupakan suatu spesmen (hal khusus). Op. kita harus mendasarkan diri menurut kedudukan hak menguasai tanah oleh negara itu dalam rangkaian kekuasaan negara pada umumnya”. jika dalam hal ini perlu diberi bentuk lain. melainkan berarti diperlakukan dengan tindakan-tindakan yang berdasarkan pada kekuasaan tertinggi dalam tangan negara. atau diawasi. kita melihat kepada kekuasaan negara. memelihara dan 97 98 Abdurrahman. mengusahakan memelihara dan mengatur hidup bersama. 60 . usahawan atau “ondernemer”. 37 Ibid. baginya perkataan “dikuasai oleh negara” tidaklah berarti dimiliki. menurutnya Pasal 33 ayat (3) melarang organisasi-organisasi yang bersifat monopoli partikelir yang merugikan ekonomi nasional. hlm. Khusus mengenai tanah berarti membangun mengusahakan. tidak lain daripada kekuasaan negara terhadap segala sesuatu. diselenggarakan. dan UUPA merupakan aturan pelaksana dari Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Ia mendasarkan argumentasinya ini pada pandangan Van Vollenhoven yang menyatakan bahwa. Walaupun “Sosialisme Indonesia” mengenal milik swasta perseorangan (privaatbezit. ia menyatakan bahwa untuk menentukan hakikat sifat hak menguasai tanah. Notonagoro menyatakan pendapatnya tentang kata-kata “dikuasai oleh negara” dalam tema pokok “hak menguasai daripada negara” sebagai dasar baru hukum agraria di Indonesia.a. Notonagoro. adalah salah seorang konseptor dari Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Pokok Agraria (UUPA).cit. Menurut Notonagoro “untuk menentukan hakekat sifat hak menguasai tanah. 38. bahwa kekuasaan negara terdapat pada membuat peraturan guna kelancaran jalan ekonomi. dalam bukunya “Pelaksanaan Undang-undang Dasar 1945 Pasal 33” memaknai dikuasai oleh negara tidak berarti negara sendiri menjadi penguasa. privaat eigendom) karena sesuai dengan kepribadian Indonesia dan tidak dilarang Pasal 33. peraturan yang melarang pula “penghisapan” orang yang lemah oleh orang yang bermodal.98 c. Selain itu. Muhammad Yamin. Mohammad Hatta. sebenarnya hak negara terhadap tanah ialah untuk mengatur dan sebagainya itu. Lebih tepat dikatakan. maka sudah tentu tidak boleh mengurangi dan mengubah kedudukan negara terhadap segala sesuatu itu. yang tidak lain ialah membangun. hlm. Selanjutnya.

47-48. dalam menafsirkan hak menguasai negara mendasarkan argumentasinya pada pandangan yang melihat negara sebagai organisasi kekuasaan dari seluruh rakyat (bangsa). air dan ruang angkasa. Politik Hukum dan Pembangunan Agraria di Indonesia. Dengan adanya pendirian semacam ini tidaklah diperlukan bagi negara untuk bekerja dengan pengertian milik. Jakarta. 99 61 . Oleh karenanya berdasarkan kwalitasnya itu. hlm. Artinya istilah “dikuasai” dalam ayat ini bukan berarti “dimiliki”. sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat”. walaupun tidak merubah tiga ayat yang asli. memelihara dan mengatur tanah untuk kepentingan negara kepentingan umum. ialah: “dalam membangun. 117-119. termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya itu pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh Negara. juga berfungsi mengawal konstitusi (the guardian of costitution) agar dilaksanakan secara bertanggung jawab sesuai dengan kehendak rakyat dan cita-cita demokrasi. seperti halnya dengan teori domein. Bandung. Tafsiran Undang-Undang Pokok Agraria. 100 Sudargo Gautama. penambahan dua ayat terakhir pada Pasal 33 berimplikasi pada perubahan makna Pasal 33 secara keseluruhan. Belum lagi masalah Penjelasan dari UUD 1945 yang tidak lagi menjadi Penjelasan Otentik. Sudargo Gautama. mengusahakan. Alumni. hlm. Bina Aksara. 1973. Dengan demikian dapatlah kita rumuskan hakikat dan sifat hak menguasai tanah itu. perubahan ke empat UUD 1945 (2002) khususnya mengenai Pasal 33 telah mengalami pengembangan makna dari yang sebelumnya. Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga negara yang berfungsi menangani perkara tertentu di bidang ketatanegaraan.99 d. Keberadaan Mahkamah Konstitusi di samping untuk menjaga terselenggaranya pemerintahan negara yang stabil. juga Notonagoro.100 Pada perkembangan selanjutnya. kepentingan rakyat sama dan membantu kepentingan perseorangan”. diberikan wewenang untuk mengatur sesuatu yang berkenaan dengan tanah. yang diadopsi dalam Pasal 2 ayat (1) UUPA “bumi. Istilah dikuasai ini berarti bahwa negara sebagai organisasi kekuasaan daripada bangsa Indonesia.mengatur segala sesuatu mengenai tanah. 1984. Pikirannya ini dipararelkan dengan susunan kata-kata dalam Pasal 33 ayat (3). negara bertindak selaku Badan Penguasa.

merupakan koreksi terhadap pengalaman kehidupan ketatanegaraan di masa lalu yang ditimbulkan oleh tafsir ganda terhadap konstitusi. mengharuskan Mahkamah Konstitusi berperan untuk menafsirkan UUD 1945 apabila munculnya pertentangan norma antara undang-undang dengan UUD 1945. pengaturan (regelendaad). Pertimbangan Hukum. Dalam paham kedaulatan rakyat itu. pemilik dan sekaligus pemegang kekuasaan tertinggi dalam kehidupan bernegara. rakyatlah yang diakui sebagai sumber. pengelolaan (beheersdaad) dan pengawasan (toezichthoudensdaad) untuk tujuan sebesarbesarnya kemakmuran rakyat. Pemerintah dalam rangka mengawasi dan mengendalikan agar pelaksanaan penguasaan oleh negara atas cabang produksi yang penting dan/atau yang menguasai hajat hidup orang banyak dimaksud benar-benar dilakukan untuk sebesar-besarnya kemakmuran seluruh rakyat101. dan konsesi (concessie). sesuai dengan doktrin “dari rakyat. Dengan tidak adanya lagi penjelasan otentik terhadap UUD 1945. lisensi (licentie). Dalam pengertian kekuasaan tertinggi tersebut.q. bahwa pengertian “dikuasai oleh negara” dalam Pasal 33 UUD 1945 mengandung pengertian yang lebih tinggi atau lebih luas daripada pemilikan Mahkamah Konstitusi. Putusan Perkara Nomor 001-021-022/PUUI/2003. Konsepsi penguasaan oleh negara merupakan konsepsi hukum publik yang berkaitan dengan prinsip kedaulatan rakyat yang dianut dalam UUD 1945. 332-334. Dalam salah satu putusannya Mahkamah Konstitusi telah memberikan pengertian atau makna dari kalimat “dikuasai oleh negara”. Fungsi pengurusan (bestuursdaad) oleh negara dilakukan oleh pemerintah dengan kewenangannya untuk mengeluarkan dan mencabut fasilitas perizinan (vergunning). 101 62 . tercakup pula pengertian kepemilikan publik oleh rakyat secara kolektif. oleh rakyat dan untuk rakyat”. Perlu dicermati kembali dari putusan Mahkamah Konstitusi tersebut di atas yang menyatakan. Fungsi pengaturan oleh negara (regelendaad) dilakukan melalui kewenangan legislasi oleh DPR bersama dengan Pemerintah. Demikian pula fungsi pengawasan oleh negara (toezichthoudensdaad) dilakukan oleh negara c. sebagai berikut: “Pengertian “dikuasai oleh negara” dalam Pasal 33 UUD 1945 mengandung pengertian yang lebih tinggi atau lebih luas daripada pemilikan dalam konsepsi hukum perdata.q. dan regulasi oleh Pemerintah (eksekutif). Pemerintah mendayagunakan penguasaannya atas sumber-sumber kekayaan itu untuk digunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. hlm. Fungsi pengelolaan (beheersdaad) dilakukan melalui mekanisme pemilikan saham (share-holding) dan/atau melalui keterlibatan langsung dalam manajemen Badan Usaha Milik Negara atau Badan Hukum Milik Negara sebagai instrumen kelembagaan melalui mana negara c. …Rakyat secara kolektif itu dikonstruksikan oleh UUD 1945 memberikan mandat kepada negara untuk mengadakan kebijakan (beleid) dan tindakan pengurusan (bestuursdaad). baik di bidang politik (demokrasi politik) maupun ekonomi (demokrasi ekonomi).

negara adalah produk dari budaya dari bangsa. sedangkan pada volente de tour adalah perjanjian yang berisikan seberapa besar kedaulatan/kekuasaan yang ada pada rakyat akan diserahkan kepada negara agar pemerintah sebagai organ negara dapat menyelenggarakan kewajibannya untuk mencapai tujuan berbangsa dan bernegara. Pendapat dari Mahkamah Konstitusi tersebut.dalam konsepsi hukum perdata (konsepsi eigendom-pen). Negara itu sendiri adalah organisasi kekuasaan yang dibentuk oleh bangsa agar tujuan berbangsa dapat dicapai. karena pengertian negara tidak sama dengan pengertian bangsa. 102 63 . atau dengan sebutan lain. …”. secara sosio-yuridis tidaklah hapus akibat dibentuknya negara dan pemerintah yang bernama Indonesia102. liberalis. Bahkan apabila dikaji dari sudut Pancasila. perjanjian dibuat berbentuk perjanjian antar sesama (rakyat) untuk membentuk negara. dengan demikian. Tatanan tersebut tidak mengenal konsepsi eigendom. secara normatif tidak pernah ada kontrak sosial yang berisi penyerahan kekuasaan atas agraria/tanah dari rakyat kepada negara/pemerintah. tetapi lahir dari masyarakat dengan tatatan individualis. (2) Negara mengakkui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia. konsepsi yang berhubungan dengan hak-hak agraria. dan materialis. Selain itu. Dalam praktiknya. dan semboyan Bhinnika Ketentuan Pasal 18B UUD 1945: (1) Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang. telah mempersamakan pengertian negara dengan bangsa. Dilihat dari sudut sejarah. namun mengenal konsepsi komunal yang dikenal dengan hak ulayat/hak ulaya. tidak secara otomatis hak-hak bangsa beralih menjadi hak negara. Pada volente de generalle. Dalam teori kenegaraan dikenal teori kontrak sosial yang terdiri dari perjanjian umum (volente de generalle) dan perjanjian khusus (volente de tour). termasuk hak atas tanah bersumber pada hukum yang hidup sebagai ciri khas tatanan kerakyatan Indonesia (sebagai peculiar form of social life). Namun demikian. Dengan demikian. hak menguasai negara cenderung ditafsirkan sebagai hak milik negara. yang diatur dalam undang-undang. yang sekarang dengan hak menguasai negara. konsep eigendom tidak lahir dari struktur masyarakat yang komunalis. Pemaknaan yang demikian merupakan pemaknaan yang keliru. terutama sila ketiga: Persatuan Indonesia. Karakter bangsa Indonesia yang pluralis.

Oleh karena itu. Dengan demikian. penguasa adat yang dapat disamakan dengan negara/pemerintah. terlebih apabila yang berkuasa adalah 64 . Seangkan secara abstrak umum. Faham individualis yang menghasilkan konsep eigendom menempatkan negara dan rakyat pada dua posisi yang berhadapan dengan kedudukan yang sama. dapat ditafsirkan bahwa konsep kesatuan adalah konsep politik. harus dimaknakan sebagai pelaksanaan peran negara/pemerintah sebagai penerima/pemegang kuasa dari bangsa sebagai pemilik agraria. dan gotong royong. tidak sesuai dengan faham yang dianut Bangsa Indonesia.Tunggal Ika. Dengan demikian. tidak berkedudukan sebagai sebagai pemilik agraria. serta magisch religius. konsep hak ulayat lebih tepat digunakan untuk menjadi acuan penafsiran bagi Hak Menguasai Negara. dengan alasan: a. konsep eigendom yang dijadikan dasar dari hak menguasai negara oleh Mahkamah Konstitusi tidak dapat diterima. namun tidak berkedudukan sebagai pemilik. sedangkan konsep pelaksanaan pemerintahan adalah konsep persatuan. dan materialis. komunal. pemberian suatu hak atas agraria oleh negara/pemerintah kepada subjek hukum tertentu. dan konsep “eigendom” untuk hak yang dapat dimiliki oleh individu/rakyat. yaitu manusia sebagai mahkluk mono-dualis. Dengan demikian. (Perlu ada ditegaskan) negara hanya berkedudukan sebagai lembaga yang memperoleh mandat untuk menguasai pada tingkatan tertinggi. karena negara hanya merupakan salah satu unsur dari bangsa. oleh karena itu lahir konsep “Staatdomein” untuk eigendom yang dimiliki oleh negara. pemilikan agraria tersebut tetap menjadi hak rakyat. Benar bahwa negara adalah organisasi seluruh rakyat Indonesia. liberalis. Penguasa adat adalah sebagai pemegang mandat untuk memanfaatkan agraria untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Dasar filosofis dan sosiologis lahirnya eigendom yaitu faham individualis. Hal tersebut dikarenakan dalam konsepsi masyarakat (hak menguasai masyarakat adat). Menafsirkan Menguasai Negara sebagai lembaga hukum yang lebih tinggi dari eigendom adalah bersifat destruktif. dibandingkan dengan hak eigendom. namun tidak berarti bahwa negara memperoleh seluruh asset yang dimiliki Bangsa Indonesia. untuk memberikan suatu hak kepada subjek hukum tertentu. c. menggunakan konsep eigendom sebagai acuan untuk menafsirkan makna Hak Menguasai Negara adalah tidak tepat. b.

Pergeseran Nilai dan Asas dari Pasal 33 UUD 1945 Pengkajian terhadap konflik peraturan perundang-undangan (aturan hukum) di bidang pertanahan. Pengkajian nilai-nilai dan asas-asas tersebut di atas diperlukan mengingat konflik peraturan perundang-undangan di bidang agraria. tidak pernah dapat dipastikan bahwa rezim yang muncul dan berkuasa untuk melaksanakan pemerintahan adalah rezim populis.rezim kapitalis. terutama peraturan perundangundangan di bidang agraria/pertanahan. yaitu UUD 45. Namun. bahwa konsep “Hak Menguasai Negara” mengacu pada pemikiran bahwa negara/pemerintahan diselenggarakan oleh rezim yang populis. Kondisi demikian dapat mengakibatkan berbagai peraturan perundang-undangan yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari Konstitusi. bertentangan dengan Pasal 33 UUD 45. Tentu akan lebih merusak lagi apabila “Hak Menguasai Negara” dimaknakan sebagai hak yang lebih tinggi dari eigendom. termasuk di bidang agraria. Konflik Peraturan Perundang-undangan Bidang Pertanahan Terhadap Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 1. Pemaknaan “Hak Menguasai Negara” bukan berarti “Negara adalah pemilik agraria” saja sebagaimana pengertian-pengertian yang diberikan para ahli dapat memberikan dampak destruktif apabila pemerintah dikuasai oleh rezim kapitalis. Jika konsep HMN diterapkan dibawah rezim yang populis. Kajian atas nilai dan asas-asas tersebut bertujuan untuk menemukan hakikat konsep hukum yang menjadi dasar pembangunan ekonomi di Indonesia. mengharuskan terlebih dahulu melakukan kajian terhadap nilainilai dan asas-asas yang terkandung dalam konstitusi. maka penguasaan oleh negara akan didistribusikan kepada segelintir orang yang kuat secara ekonomi maupun politik. diyakini akibat adanya 65 . dalam hal ini Pasal 33 UUD 45. Walaupun harus diakui. Tetapi jika penyelenggara pemerintah dibawah rezim yang kapitalistik. maka penguasaan negara atas bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya ditujukan pada sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. atau dalam bahasa Kuntowijoyo “negara budiman”. khususnya di bidang pertanahan. sehingga sangat potensial mempengaruhi rumusan berbagai peraturan perundang-undangan. F.

khususnya di bidang pertanahan. Tanah adalah modal dasar yang strategis dan vital dalam rangka menciptakan masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan (mayarakat adil dan makmur). Perubahan nilai dan asas tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung pada Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum di Indonesia. Sebelum Amandemen UUD 1945 Pada alenia keempat Pembukaan UUD 1945 dirumuskan tujuan pembentukan Negara Indonesia dan prinsip-prinsip dasar untuk mencapai tujuan tersebut. perdamaian abadi. (2) Memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam Penjelasan Umum UUD 1945. hanya dinyatakan bahwa: “Negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat”. yang sekaligus merupakan suatu tekad perlawanan terhadap tata kehidupan kolonial dan tekad bulat (ekaprasetia) untuk menata pemerintahan dan masyarakat 66 . lebih banyak melindungi penanam modal. Nilai-nilai Pancasila tersebut.perubahan nilai dan asas dari amandemen UUD 1945. yaitu: (1) Melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. masalah kesejahteraan umum dan keadilan sosial tidak dijelaskan secara panjang lebar. terutama kemanusiaan yang adil dan beradab. berarti aspirasi akan terciptanya suatu tata bina negara dan tata pemerintahannya yang mampu mencerminkan. a. bahwa peraturan perundang-undangan di bidang agraria. dan (3) Ikut serta memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. dan keadilan sosial. mengemban dan mengejewantah suatu negara kesejahteraan (welfare state). dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. oleh karena itu pembahasan terhadap pengaturan hukum di bidang pertanahan dalam rangka menentukan taraf sinkronisasi dan konsistensinya tidak dapat lepas dari pembahasan karena politik agraria/pertanahan yang secara konkrit dituangkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan di bawah UUD 1945 merupakan bagian dari pengembanan politik kesejahteraan dan keadilan sosial. bahwa aspirasi akan terciptanya kesejahteraan umum. dan melemahkan rakyat untuk dapat mengakses hak atas tanah. Solly Lubis menafsirkan. Asumsi tersebut di atas didasarkan banyaknya kritik yang diajukan.

Solly Lubis. dan membina kemakmuran yang merata adil dan makmur.yang merdeka. secara tegas Pasal 33 UUD 1945. berdaulat. melarang adanya penguasaan cabang-cabang produksi yang 103 M. Sebab itu tjabang-tjabang produksi jang penting bagi Negara dan jang menguasai hidup orang banjak harus dikuasai oleh Negara. Sebab itu harus dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakjat. Perekonomian berdasar atas demokrasi ekonomi. produksi dikerdjakan oleh semua. untuk semua. maka bidang ekonomi menjadi faktor utama dalam kehidupan bernegara. Bangun perusahaan jang sesuai dengan itu ialah koperasi. Bumi dan air dan kekajaan alam jang terkandung dalam bumi adalah pokokpokok kemakmuran rakjat. Hanja perusahaan jang tidak menguasai hadjat hidup orang banjak boleh ditangan orang seorang. (3) Bumi dan air dan kekajaan alam jang terkandung di dalamnja dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnja kemakmuran rakjat”. perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas usaha kekeluargaan. hlm. Bandung. Sistem ekonomi kapitalisme hanya akan melahirkan ketimpangan sosial yang sangat tajam atau hanya memakmurkan segelintir orang saja. (2) Tjabang-tjabang produksi yang penting bagi Negara dan jang menguasai hadjat hidup orang banjak dikuasai oleh Negara. yaitu pada Bab XIV yang sebelum perubahan berjudul Kesejahteraan Sosial. oleh karena itu.yang diutamakan bukan kemakmuran orang perorang. tampuk produksi djatuh ketangan orang seorang jang berkuasa dan rakjat jang banjak ditindasnja. kemakmuran bagi segala orang. Kalau tidak. Makna kata-kata produksi dikerjakan oleh semua. berhak menetukan nasib sendiri (self determination). (2). bidang ekonomi diatur dalam bab tersendiri dalam UUD 1945. Di bawah Bab XIV tersebut tercantum Pasal 33 yang sebelum perubahan terdiri dari ayat (1). Sebab itu.103 Sebagai negara yang bertujuan memberikan kesejahteraan bagi rakyat. adalah lawan daripada sistem ekonomi kapitalisme yang mengutamakan perseorangan/individu (individualism). 25 dan 63. Oleh karena itu. sebagai berikut: (1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan. dan (3).Alumni. Pembahasan UUD 1945.. untuk semua dibawah pimpinan atau penilikan anggauta-anggauta masjarakat. Kemakmuran masjarakatlah jang diutamakan bukan kemakmuran orang seorang. Penjelasan Pasal 33: Dalam pasal 33 tertjantum dasar demokrasi ekonomi. Rumusan Pasal tersebut berdasarkan ejaan lama.. 1985. 67 .

b. Setelah Amandemen UUD 1945 UUD 1945 mengalami perubahan sebagaimana tuntutan reformasi tahun 1998. Setelah perubahan. (1) (2) (3) (4) (5) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Pasal 33 yang semula terdiri dari tiga ayat diubah menjadi 5 (lima) ayat. Pasal 34 danPasal 37. yaitu berkisar pada materi perubahan (substansial) maupun dari segi proses amandemen.penting bagi negara oleh orang perorang (individu) secara terpusat (monopoli dan oligopoli) maupun praktek-praktek cartel dalam hal pengelolannya. serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. berwawasan lingkungan.104 menyatakan. 68 . Rumusan Pasal 33 UUD 1945 setelah diamandemen selengkapnya adalah: Secara umum amandemen UUD 1945 perubahan pertama sampai dengan perubahan ke empat menimbulkan ‘kontroversi’ di kalangan cendekiawan (intellectual) maupun dari masyarakat sipil lainnya. mulai dari tahun 1999 sampai tahun 2002 yang menghasilkan empat kali perubahan. dengan pasal yang diliputinya yaitu: Pasal 33. Ridwan Saidi. Pembahasan rancangan peruabahannya dilakukan oleh Badan Pekerja Majelis Permusyawaratan Rakyat (BP-MPR). Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan. kemandirian. Perubahan penting lainnya adalah Penjelasan UUD 1945 tidak lagi ditempatkan sebagai penjelasan otentik dari UUD 1945. menjadi Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial. adanya keinginan sebagian masyarakat untuk kembali ke UUD 1945. judul BAB XIV dirubah dari Kesejahteraan Sosial. berkelanjutan. 104 Berpengalaman sebagai legal drafter mewakili F-PPP di DPR Rl pada Badan Pekerja MPR Rl dan Pansus pelbagai RUU dalam periode DPR/MPR Rl periode 1977-1982 dan 1982-1987. Dan bentuk perusahaan yang sesuai bagi prinsip-prinsip demokrasi ekonomi sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 33 adalah koperasi. efisiensi berkeadilan.

karena pada saat disahkannya UUD 1945. yaitu Pasal 28E ayat (2). memiliki.terutama tdisebabkan. mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia”. serta berhak untuk mencari. 105 69 . perubahan Judul BAB XIV UUD 1945 tentang “Kesejahteraan Sosial” menjadi “Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial” adalah perubahan yang menyesatkan. sesuai dengan hati nuraninya”. Mubyarto menyatakan. perubahan tersebut terjadi karena (anggota MPR) menganggap bahwa perekonomian nasional bisa dilepaskan kaitannya dengan kesejahteraan sosial. masyarakat menyakini bahwa UUD 1945 hasil amandemen MPR tahun 1999–2002 membawa semangat ‘(Neo) Liberalisme’ dalam kehidupan kenegaraan. oleh karena itu perubahan BAB XIV dirumuskan dalam 2 (dua) variable. Perumusan demikian bertentangan dengan pendirian founding fathers. para pendiri negara tidak pernah ragu dalam pendiriannya. Jika merujuk pada pengertian asasi demokrasi politik. yaitu “Perekonomian Nasional” dan “Kesejahteraan Sosial”. maka tafsir yang didapat adalah mayoritas (kekuatan) kapital yang menentukan. Pasal 28F dan. esensinya adalah mayoritas suara yang menentukan. memperoleh. bahwa baik buruknya perekonomian nasional akan ikut menentukan tinggi rendahnya kesejahteraan sosial. menimbulkan pertanyaan: demokrasi ekonomi yang bagaimana yang menjadi faham ekonomi Indonesia sekarang setelah terjadi penambahan ayat tersebut?. yaitu penambahan Pasal 33 ayat (4). Hal ini berarti. Jika makna demikian dijadikan patokan untuk memahami makna demokrasi ekonomi. Mubyarto menyatakan. Pasal 33. Pendapat lain yang muncul berkaitan dengan penambahan ayat pada Pasal 28. Konsekwensi penambahan ayat pada Pasal 28 tersebut adalah. Sedangkan penambahan ayat pada Pasal 33 dengan Pasal 33 ayat (4) yang intinya mengedepankan prinsip demokrasi ekonomi. faham ekonomi kekeluargaan yang dianut bangsa Indonesia juga menjadi tidak jelas kedudukannya.105 Perubahan Pasal 28 mengakibatkan aspek ideologi dan keamanan nasional menjadi tidak jelas kedudukannya (vide: pasal 28E ayat (4) dan pasal 28F). Indonesia Pasca Reformasi menganut sistem ekonomi kapitalis. menyatakan pikiran dan sikap. Pasal 28F: “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya. Pasal 28E ayat (2): “Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan. menyimpan.

perekonomian yang berasaskan kekeluargaan (ekonomi Pancasila) tidak berarti sistem ekonomi “bukan pasar”. Penghapusan penjelasan Pasal 33. www. (iv) Instruksi Presiden. dan (v) Peraturan Menteri Dalam Negeri. Artikel–Th.106 2.II–No. (4) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1970 Tentang Penghapusan Pengadilan Landreform. Padahal. (iii) Keputusan Presiden. Jurnal Ekonomi Rakyat. Argumentasinya mengenai Perubahan BAB IXV UUD 1945 secara lengkap dapat dilihat dalam:Mubyarto. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 Tentang Ketentuan Pokok Pertambangan. amandemen Pasal 33 dengan menambahkan ayat (4) tentang “penyelenggaraan perekonomian nasional” yang dibedakan dari “penyusunan perekonomian” pada ayat (1) adalah sekedar mencari kompromi antara mereka yang ingin mempertahankan dan yang ingin menggusur asas kekeluargaan pada ayat (1). (5) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1972 Tentang Ketentuan Pokok Transmigrasi Mubyarto adalah salah satu pakar ekonomi yang awalnya terlibat dalam perumusan perubahan Pasal 33 UUD 1945. (ii) Peraturan Pemerintah.4–Juli 2003. Terdapat 12 (dua belas) Peraturan Perundang-undangan yang diterbitkan. Berkaitan dengan penghapusan Penjelasan UUD 1945. Mubyarto berpendapat sebagai kekeliruan fatal dan dapat dianggap sebagai “pengkhianatan” terhadap ikrar para pendiri negara.org.ekonomirakyat.“Paradigma Kesejahteraan Rakyat dalam Ekonomi Pancasila“. Mereka yang ingin menggusur asas kekeluargaan mengira asas kekeluargaan menolak sistem ekonomi pasar yang berprinsip efisiensi. (2) (3) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Kehutanan. Produk Aturan Hukum Pertanahan Orde Baru (1967 – 1998) Peraturan Perundang-undangan yang dikaji pada era Orde Baru terdiri: (i) Undang-Undang. yang kemudian mengundurkan diri karena ada perbedaan pandangan dengan anggota tim pakar ekonomi lainnya. berarti hilangnya pengertian ‘demokrasi ekonomi’ dan hilangnya kata ‘koperasi’ sebagai bangunan perusahaan yang sesuai dengan demokrasi ekonomi. yaitu: (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 Tentang Penanaman Modal Asing. 106 70 .Lebih jauh Mubyarto menyatakan.

pendekatan yang dipakai ialah dengan cara mengukur taraf sinkronisasi dan konsistensi Peraturan Perundang-undangan yang dimaksud dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 dengan mendalami karakteristiknya berdasarkan periodesasi diterbitkannya aturan hukum tersebut. Kajian terhadap kedua belas peraturan perundang-undangan tersebut akan dibagi menjadi 3 (tiga) periodesasi. (8) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 1975 Tentang Ketentuan-Ketentuan Mengenai Tata Cara Pembebasan Tanah. Periode Stabilitas Politik Demi Pertumbuhan Ekonomi (1967 – 1973) Produk hukum mengenai penguasaan tanah yang dikaji pada periode stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi adalah: 71 . Untuk menjawab pertanyaan apakah terdapat konflik peraturan perundangundangan di bidang pertanahan pada era Pemerintahan Orde Baru dalam rangka menentukan keselarasannya dengan Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945. (7) Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1973 Tentang Pelaksanaan Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah dan Benda-Benda yang ada di Atasnya. yaitu: a. (11) Keputusan Pesiden Nomor 53 Tahun 1989 Tentang Kawasan Industri. (9) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1976 Tentang Penggunaan Acara Pembebasan Tanah Untuk Kepentingan Pemerintah Bagi Pembebasan Tanah Oleh Pihak Swasta. (10) Keputusan Pesiden Nomor 26 Tahun 1988 Tentang Badan Pertanahan Nasional. (12) Keputusan Pesiden Nomor 55 Tahun 1993 Tentang Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum. yaitu: (1) (2) (3) Periode stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi Periode produktivitas dengan sistem modernisasi dan Periode deregulasi pertanahan.(6) Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1973 Tentang Acara Penetapan Ganti Kerugian Oleh Pengadilan Tinggi Sehubungan Dengan Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah dan Benda-Benda yang ada di Atasnya.

Adapun pelaksanaannya akan diatur didalam berbagai undang-undang. maka yang dimuat hanyalah azas-azas serta soal-soal garis besarnya saja. (3) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan Pokok Pertambangan. Mengingat akan sifatnya (UUPA) sebagai peraturan dasar bagi hukum agraria yang baru. peraturan-peraturan Pemerintah dan peraturan-perundangan lainnya. Peraturan Perundang-Undangan yang dikaji pada bagian ini seluruhnya berkaitan erat dengan sumber-sumber agraria. tetapi di dalam konsiderans mengingat masing-masing peraturan-peraturan ini tidak sama sekali mencantumkan UUPA. Beranjak dari hal ini. untuk itulah materi muatan yang diaturnya tidak boleh bertentangan dengan asas-asas yang telah ditetapkan oleh UUPA. bagaimanakah jika peraturanperaturan yang dimaksud di atas bertentangan dengan asas-asas yang tecantum dalam UUPA. peraturan-peraturan yang tersebut di atas materi muatannya merupakan pengaturan secara khusus dari UUPA.(1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 Tentang Penanaman Modal Asing. dan. yaitu yang satu merupakan pengaturan secara khusus dari yang lain. pertanyaannya adalah. artinya Peraturan Perundang-undangan yang berkaitan dengan agraria yang ditetapkan setelah lahirnya UUPA berlaku asas “lex specialis derogat legi generali”. Padahal di dalam Penjelasan Umum UUPA telah ditetapkan bahwa UUPA merupakan dasar bagi penyusunan peraturan-peraturan lainnya yang berkaitan dengan dengan agraria. Dengan demikian. akan tetapi ruang lingkup materi muatan antara kedua peraturan perundang-undangan itu tidak sama. Oleh karena itu. apakah dapat disimpulkan bahwa peraturan perundangan-undangan tersebut tidak selaras dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 ? 72 . (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Kehutanan (UUPK). (5) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1972 tentang Ketentuan Pokok Transmigrasi. oleh karenanya disebut Undang-Undang Pokok Agraria. Asas ini merujuk kepada dua peraturan perundang-undangan yang secara hierarkis mempunyai kedudukan yang sama. (4) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1970 tentang Penghapusan Pengadilan Landreform.

(3) Konservatif/Ortodoks. Namun. Sedangkan jika kita merujuk pada karakteristik dari Pasal 33 ayat (3). kedua belas aturan hukum tersebut berkarakter: (1) (2) Sangat eksploitatif terhadap sumber daya alam. jika peraturan-peraturan tersebut tidak di dasarkan pada asas-asas yang ada di dalam UUPA maka peraturan tersebut akan tidak selaras dengan UUPA yang otomatis juga tidak selaras dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. dapat ditarik pengertian bahwa.Untuk menjawab pertanyaan di atas. yang mewajibkan Negara untuk mengatur pemilikan tanah dan memimpin penggunaannya. artinya peraturan-peraturan yang berkaitan dengan agraria yang ditetapkan setelah lahirnya UUPA harus sejalan dengan asas-asas yang tercantum dalam UUPA. seluruh asas tersebut bermuara pada peningkatan kemakmuran rakyat. pertama-pertama harus dilihat apakah UUPA merupakan delegasi dari Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Jika dilihat dari muatannnya. Jadi jelaslah bahwa semangat yang terkandung dalam Pasal 33 ayat (3) adalah sosialisme Indonesia (populisme) yang mementingkan dan memperjuangkan rakyat 73 . Sangat berpihak pada sistem ekonomi kapitalis (akumulasi modal). baik secara perseorangan maupun secara gotong-royong. Bagaimanakah karakteristik dari kedua belas aturan hukum tersebut. Pertama. jika disimak dari Konsiderans Berpendapat huruf d dari UUPA dinyatakan secara tegas bahwa UUPA merupakan pelaksanaan dari ketentuan dalam Pasal 33 Undang-undang Dasar dan Manifesto Politik Republik Indonesia. sistem sosialisme yang merupakan turunan dari asas kekeluargaan di atas merupakan antitesis dari sistem perekonomian kapitalistik. hukum menjadi alat yang ampuh bagi pelaksanaan ideologi dan program negara (Positivis Instrumentalis) yang dalam hal ini diposisikan sebagai alat peningkatan pendapatan dan devisa negara demi tercapainya pertumbuhan ekonomi. baik modal asing maupun dalam negeri. Kedua. berkaitan dengan ayat (1) menekankan pada asas kollektivitas atau dasar kekeluargaan yang dimaksudkan bahwa corak perusahaan yang nantinya akan menguasai cabang-cabang produksi yang penting bagi negara yang sesuai adalah koperasi. Ketiga. hingga semua tanah diseluruh wilayah kedaulatan bangsa dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Kemudian Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 di adopsi oleh Pasal 2 ayat (1) UUPA.

2. Pasal 18. Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1973 tentang Pelaksanaan Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah dan Benda-Benda yang ada di Atasnya. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1973 tentang Acara Penetapan Ganti Kerugian Oleh Pengadilan Tinggi Sehubungan Dengan Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah dan Benda-Benda yang ada di Atasnya. tetapi diikat dengan syarat-syarat. Undang-undang ini merupakan peraturan pelaksana dari Pasal 18 UUPA107 sebagaimana yang rumusan dari Konsiderans Menimbang huruf a peraturan tersebut: 197 “bahwa perlu diadakan peraturan baru mengenai pencabutan hak-hak atas tanah dan benda-benda yang ada diatasnya sebagai yang dimaksud dalam pasal 18 Undang-undang Pokok Agraria (Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960. yaitu: 1. misalnya harus disertai pemberian ganti-kerugian yang layak”. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1976 tentang Penggunaan Acara Pembebasan Tanah Untuk Kepentingan Pemerintah Bagi Pembebasan Tanah oleh Pihak Swasta. b. 3.kecil yang lemah. Politik populis berarti menonjolkan prinsip-prinsip partisipasi atau mengikutsertakan kekuatan-kekuatan politik yang ada di masyarakat dalam melaksanakan program-program agraria. 107 74 . dan. Pencabutan hak dimungkinkan. UUPA: “Pasal ini merupakan jaminan bagi rakyat mengenai hak-haknya atas tanah. terutama dalam rangka melaksanakan usaha-usaha pembangunan Negara”. Periode Produktivitas dengan Sistem Modernisasi (1973 – 1984) Pada periode ini Peraturan Perundangan-undangan yang dikaji ada empat. Seluruh Peraturan Perundang-undangan di atas berkaitan erat pada UndangUndang Nomor 20 tahun 1961 tentang Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah dan BendaBenda yang ada di Atasnya. yang mana seluruh ormas petani diikut sertakan untuk mengontrol program tersebut. Lembaran-Negara Tahun 1966 Nomor 104). 4. Dengan demikian dapat disimpulkan Peraturan Perundang-undangan yang dikaji pada periode ini tidak selaras dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 1975 tentang Ketentuan-Ketentuan Mengenai Tata Cara Pembebasan Tanah. Hal ini terlihat jelas pada saat pemerintahan Orde Lama melaksanakan program landreform (1960-1965).

20 Tahun 1961. 39 tahun 1973 yang kemudian diatur lebih lanjut dengan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1973. Menurut Ali Sofwan Husein. secara tegas dinyatakan bahwa “Pasal ini memuat ketentuan mengenai acara pencabutan hak yang khusus sebagai yang telah diuraikan di dalam Penjelasan Umum…”. 20 tahun 1961. yang pada intinya mereduksi prosedur pencabutan hak atas tanah untuk kepentingan pembangunan pada saat itu. apabila pihak lain. Pasal 5 dan 6 UU No. maka cara untuk memperoleh tanah yang diperlukan harus ditempuh musyawarah dengan pemegang hak atas tanah hingga tercapai kata mufakat yang benar-benar keluar dari maksud baik antara kedua belah pihak.108 Hal ini sejalan dengan semangat pemerintah pada periode tahun Kontroversi masalah ini telah diangkat oleh kalangan pakar hukum. Artinya proses pelepasan hak atas tanah untuk kepentingan umum. Namun pada era pemerintahan Orde Baru. dan tidak menguntungkan pihak “pencabut” hak yang ingin menguasai tanah dengan cepat dan murah. penguasa maupun pengusaha. Berkaitan dengan alasan-alasan inilah. karena terlihat hanya sekedar ingin melegalisasi perbuatannya agar kelihatan konstitusional dan tidak melanggar hukum. Oleh karena itulah dibuat deregulasi dalam hal pencabutan hak atas tanah. memerlukan tanah untuk keperluan pembangunan. 15 tahun 1975 108 75 . Jika disimak dari penjelasan Pasal 6 UU No.Rumusan Pasal 18 UUPA dan materi muatan UU No. 20 Tahun 1961 dibuatkan peraturan pelaksananya lewat PP No. tercium itikad yang kurang baik dalam pembentukan peraturan-peraturan pelaksana itu. hanya dapat dilakukan melalui pencabutan hak berdasarkan ketentuan yang dituangkan ke dalam undang-undang. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 1975 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1976. ketika diadakan Seminar Nasional di Ambon tahun 1977 oleh BPHN. Argumentasi ini didasari pada prinsip bahwa peraturan yang sangat menyentuh kehidupan vital dimasyarakat (tanah) pembuatannya harus dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan DPR. atau tidak secara sepihak ditetapkan oleh pemerintah. pemerintah Orde Baru menganggap undang-undang pencabutan hak atas tanah dirasakan bertele-tele—tidak efisien. Mereka menilai Permendagri No. memuat prinsip. Artinya prosedur pencabutan hak itu telah pula diatur dalam peraturan ini. Peraturan-peraturan yang lebih operasional ini sebenarnya hanya dimaksudkan untuk merekayasa atau melicinkan program-program pembangunan yang telah ditargetkan pemerintah.

20 tahun 1961 tentang Pencabutan Hak Atas Tanah dalam upaya memfasilitasi proyek-proyek pembangunan yang akan dilaksanakannya. sehingga membuat kekuasaan semakin efektif. 1997. Pragmatis dan sangat akomodatif terhadap kekuatan modal (capitalism). apalagi keadilan substantif. hlm. “In general. Pustaka Sinar Harapan. Berdasarkan uraian di atas dapat ditemukan karakteristik Peraturan Perundangundangan pada periode ini adalah sebagai berikut: 1. Karena tatanan hukum refresif sangat terikat pada status quo dengan otoritas yang sangat kuat kepada penguasa. Tetapi adakalanya represi diterapkan dengan sangat halus dan dilakukan secara tidak langsung. Dalam: Ali Sofwan Husein. 2. sebagaimana argumentasi Hannah Arendt yang dikutip Philippe Nonet. Secara umum potensi represif dimunculkan ketika tugas yang mendesak harus dihadapi dengan kondisi adanya kekuasaan yang cukup namun kekurangan sumber daya. terutama kekuatan modal asing lewat negara donor maupun lembagalembaga keuangan Internasional. Represif. 38-40. a repressive potential is generated when urgent task must be met under sebagai peraturan yang cacat yuridis dan menyalahi jenjang hierarkis peraturan perundang-undangan sebagaimana yang diatur oleh TAP MPR. 76 . Konservatif/Ortodoks. Dampak yang sangat terasa dari karakter hukum yang refresif ialah “ketidak adilan yang tegas” atau keberadaan hukum tidak menjamin keadilan. Semangat inilah yang mendorong pemerintah mengeluarkan peraturan pelaksana (yang dilepaskan kaitannya) dari UU No. Konflik Pertanahan (Dimensi Keadilan dan Kepentingan Ekonomi). 3. misalnya penggunaan kekerasan dengan melibatkan aparat keamanan (tentara) dalam melakukan pembebasan tanah. dengan ciri pemerintah sangat dominan dalam pembentukkan hukum dan menentukan arah perkembangan hukum masyarakat. Pada periode orde baru tingkat refresifitas hukum diperlihatkan secara mencolok. terutama terhadap rakyat miskin di pedesaan maupun di perkotaan.1973-1983 yaitu memacu produktivitas di pedesaan dengan proyek-proyek pembangunan yang dipicu dengan meningkatnya penerimaan negara dari sektor migas (oil boom). Jakarta. misalnya dengan mendorong dan mengorganisir persetujuan pasif dalam rangka musyawarah penetapan ganti rugi dalam hal pencabutan hak atas tanah.

London. Hagerstown. Konsiderans Menimbang huruf a. Berdasarkan paparan di atas. c. Harper Colophon Books. 1978. 109 77 . 1972. Permendagri No. San Fransisco.36. tertib dan seragam”. Sengketa-sengketa yang timbul ini. maka tidak mengherankan jika pada periode ini (1974-1983) atau katakanlah selama 32 tahun masa pemerintahan orde baru bermunculan sengketa tanah disetiap proses pembebasannya. Dan hampir disetiap konflik tanah yang ada. 39 tahun 1973: “tujuan utama dari acara ini adalah untuk mendapatkan putusan secara cepat. untuk pembangunan proyek-proyek yang bersifat menunjang kepentingan umum…”. 1972). Sedangkan dari tinjauan yang lebih mendalam akan bermuara pada Hannah Arendt. Konsiderans Menimang huruf b Permendagri No. 15 tahun 1975: “bahwa untuk memenuhi kebutuhan akan tanah dalam usaha-usaha Pembangunan…dirasakan perlu adanya ketentuan mengenai pembebasan tanah dan sekaligus menentukan besarnya ganti rugi atas tanah yang diperlukan secara teratur. karena semua pihak berkepentingan terhadap putusan yang cepat tersebut”. 134-155. b. New York. peran pemerintah lebih mengutamakan kepentingan investor demi mensukseskan program pembangunannya. Law and Society in Transition-Toward Responsive Law. Philippe Nonet & Philip Selznick. apabila dicermati secara apriori orang awam pun akan menuding pada masalah besaran ganti kerugian yang tidak disepakati. hlm. Harper & Row. hal ini makin diperparah dengan peranan pemerintah (daerah) sebagai negosiator dan penyedia tanah murah bagi investor. “On Violence” in Crisis of Republic (New York: Harcourt Brace Jovanovich. 2 tahun 1976: “bahwa untuk merangsang pihak swasta dalam pelaksanaan pembangunan dipandang perlu adanya bantuan fasilitas dari Pemerintah yang berbentuk jasa-jasa dalam pembebasan tanah rakyat dalam rangka penyediaan tanah. Penjelasan Umum PP No. Sebagaimana yang dinyatakan di dalam penjelasan maupun konsideransnya. antara rakyat dengan pemerintah atau rakyat dengan investor yang diwakili oleh pemerintah. Argumentasi ini menjadi sejalan dengan alasan ditetapkannya peraturan perundang-undangan di atas. hlm.conditions of adequate power but scarce resources”109. sebagai berikut: a.

Tebaran Pemikiran Seputar Masalah Hukum Tanah. 2005. Periode Derugulasi Pertanahan (1984 – 1990-an) Pada periode ini Peraturan Perundangan-undangan yang dikaji ada tiga. c. dari kebijakan masa sebelumnya. Keputusan Pesiden Nomor 53 Tahun 1989 tentang Kawasan Industri. merebaknya konflik pertanahan yang memicu aksi-aksi protes petani pada tahun 1980-an hingga tahun 1990-an dan menjadi salah satu issu politik nasional yang paling menonjol pada saat itu. yang mana justru sangat melindungi keberadaan petani kecil dan petani tak bertanah dari penghisapan yang sangat potensial dilakukan oleh kelompok berekonomi kuat (investor). yaitu: 1. dan menentukan arah perkembangan hukum dimasyarakat. 110 78 . banyak mendapat pelajaran dari akibat yang ditimbulkan kebijakan-kebijakan yang telah dikeluarkannya. dan.kondisi dimana warganegara/rakyat dihadapkan pada pilihan menerima ganti kerugian (diganti tapi rugi) yang ditetapkan oleh penguasa. Jakarta. 3. Misalnya. hlm. Arie S. Kesimpulan di atas membawa impliksi bahwa produk hukum mengenai penguasaan tanah pada periode ini. Kebijakan-kebijakan pada periode ini sebenarnya lebih kepada upaya-upaya menanggulangi dan meminimalisasi dampak.110 Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan bahwa produk hukum yang berkaitan dengan penguasaan tanah pada era pemerintahan orde baru periode tahun 1974–1983 cenderung berkarakter represif dan bersifat positivis-instrumentalis. Sifat dan karakter represif produk hukum pada periode ini merupakan konsekuensi logis dari paradigma “modernisasi/pembangunanisme” (ekonomi) yang dianut pemerintah orde baru. 2. 5 tahun 1960). Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum.Hutagalung. Keputusan Pesiden Nomor 26 Tahun 1988 tentang Badan Pertanahan Nasional. Karena pemerintahan Orde Baru pada masa ini. nyata-nyata telah bertentangan dengan semangat dan makna yang terkandung di dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 junto UndangUndang Pokok Agraria (UU No. 174. Artinya hukum hanya menjadi alat (instrumen) untuk memaksakan program-program pemerintah. Lembaga Pemberdayaan Hukum Indonesia.

Permendagri No. Oleh karena itu. maka salah satu jalannya adalah mendorong pihak swasta untuk menanamkan modalnya disektor agro-industri. Ketiga keputusan presiden di atas mewakili kebijakan mengenai penguasaan tanah pada periode tahun 1984-1990-an. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum. Kaitannya dengan bidang agro-industri adalah masalah pengadaan tanah harus menjadi prioritas utama. Mula-mula dikeluarkan kebijakan untuk meningkatkan kedudukan dan fungsi Derektorat Jenderal Agraria Departemen Dalam Negeri menjadi Badan Pertanahan Nasional lewat Keppres No. Pembiayaan pembangunan pada sektor agro-industri ini ternyata tidak mampu ditopang oleh RAPBN pada masa itu (1986/1987) karena turunnya harga minyak di pasaran Internasional. Upaya untuk meningkatkan penanaman modal ini tentunya harus disertai dengan deregulasi beberapa paket kebijakan untuk melancarkan jalan pihak swasta dalam menanamkan modalnya. Untuk menjawab permasalahan tersebut pemerintah mengeluarkan Keppres No. kebijakan-kebijakan mengenai penguasaan tanah pada periode ini tujuannya semata-mata untuk mempermudah perusahaanperusahaan swasta asing (PMA) maupun dalam negeri (PMDN) untuk mendapatkan hak atas tanah.Munculnya konflik-konflik pertanahan pada periode ini. Setelah itu. 15 Tahun 1975 tentang Ketentuan-Ketentuan Mengenai Tata Cara Pembebasan Tanah. dan Permendagri No. selain disebabkan karena meningkatnya pertumbuhan penduduk. 111 79 . Pada perkembangan selanjutnya penyediaan kawasan industri ini menemui hambatanhambatan terutama mengenai penyediaan lahan sebagai kawasan industri. 53 Tahun 1989 tentang Kawasan Industri. 2 Tahun 1976 tentang Pengunaan Acara Pembebasan Tanah Untuk Kepentingan Pemerintah Bagi Pembebasan Tanah oleh Pihak Swasta. pemerintah tetap ingin mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Adapun karateristik atau watak dari ketiga Permendagri No. Pada sisi lain. pemerintah perlu menyediakan kawasan industri dengan berbagai kemudahannya lewat Keppres No. 26 Tahun 1988 tentang Badan Pertanahan Nasional. terjadi juga pergeseran fokus pembangunan ke sektor agro-industri khususnya ekspor non migas. 2 Tahun 1985 tentang Tata Cara Pengadaaan Tanah untuk Keperluan Proyek Pembangunan di Wilayah Kecamatan. untuk merangsang investasi dalam kaitannya dengan pembiayaan pembangunan. Selain itu peraturan-peraturan yang ada mengenai pembebasan hak atas tanah111 memunculkan reaksi dari berbagai pihak sehingga dapat menghambat proses pembangunan.

penguasaan. Menurut Michail G. Kedua. yaitu: Pertama. dikutip oleh Maria S. yaitu: (a) mempercepat pertumbuhan industri.meningkat pula permasalahan yang timbul di bidang pertanahan. yaitu: Pertama. bahwa dengan meningkatnya kebutuhan. dan sesuai dengan sifatnya sebagai pedoman. dan penggunaan tanah. (c) mendorong kegiatan industri untuk berlokasi di Kawasan Industri. 26 Tahun 1988 disebutkan: ”bahwa dalam pelaksanaan pembangunan nasional. maka hal ini mudah menyebabkan kebebasan eksekutif untuk menyatakan suatu proyek memenuhi kepentingan umum dimasyarakat dengan menafsirkan pedoman tersebut.. (b) memberikan kemudahan bagi kegiatan industri. dipetakan menjadi dua karakter. Land Acquisition In Developing Countries. Kedua. dan penggunaan tanah. pada umumnya terdapat dua cara untuk mengungkapkan tentang doktrin kepentingan umum itu. sebagaimana periode sebelumnya. kemudian dalam Pasal 2 disebutkan tujuan dari pembangunan kawasan industri. Karateristik tersebut terlihat jelas dari rumusan-rumusan di dalam konsiderans maupun materi muatannya. yang secara umum menyebutkan bahwa pengadaan tanah harus berdasarkan kepentingan umum. Istilah kepentingan umum yang dipakai dapat bervariasi. adanya kebutuhan. Sedangkan di dalam Keppres No. baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun untuk ekspor. di dalam Konsiderans Menimbang Keppres No. Sumardjono. Misalnya. pedoman umum. artinya peraturan yang dikeluarkan bersifat reaksioner terhadap berbagai sengketa agraria yang muncul. 55 tahun 1993. penguasaan. Lincoln Institute of Land Policy. Kasus-kasus pertanahan semata-mata hanya dianggap sebagai persoalan administratif belaka.. Dalam Konsiderans Menimbang Keppres No.. 53 Tahun 1989 disebutkan: ”bahwa dalam rangka mempercepat pertumbuhan industri.W. rumusan mengenai kepentingan umum tetap menjadi issu krusial. bersifat defensifreaktif. penyebutan kepentingan umum dalam suatu daftar kegiatan yang secara jelas mengidentifikasikan tujuannya (list provitions).aturan hukum ini.112 Michael G Kitay. Boston. Kitay. dan (c) menyediakan fasilitas lokasi industri yang berwawasan lingkungan.dirasakan makin meningkat.. dalam bukunya ”Land Acquisition in Developing Countries”. Anatomi Keppres 55 Tahun 1993 112 80 . dipandang perlu untuk mengatur pengusahaan kawasan industri secara produktif dan efisien. pada periode ini sifat pragmatis dan sangat akomodatif terhadap kepentingan modal tetap bertahan.

Produk Aturan Hukum Pertanahan Era Reformasi (1998–2006) Peraturan Perundang-undangan yang dikaji pada era Reformasi berjumlah 6 peraturan. (n) Fasilitas Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Adapun Peraturan Perundang-Undangan yang dikaji adalah sebagai berikut: 1. 105. TentangPengadaan Tanah. tetapi juga tidak menginginkan totaliterisme. bendungan dan bangunan pengairan lainnya termasuk saluran irigasi. (j) Pos dan Telekomunikasi. Hal ini tidak selaras dengan semangat yang terkandung dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menolak faham liberalisme mutlak. Dengan demikian. (l) Stasiun penyiaran radio. dan (2) Periode resentralisasi kewenangan pertanahan. (g) Pasar Umum atau Pasar INPRES. (i) Fasilitas Keselamatan Umum seperti antara lain tanggul penanggulangan bahaya banjir. Tanah. televisi beserta sarana pendukungnya. 81 . (f) Pendidikan atau sekolahan. 55 tahun 1993. yaitu: (1) Periode desentralisasi kewenangan pertanahan. Dalam Untoro Hariadi & Masruchah (editor). Rakyat dan Dmokrasi. (k) Sarana Olah Raga. (c) Rumah Sakit Umum dan Pusat-pusat Kesehatan Masyarakat. 3. lahar lain-lain bencana. (h) Fasilitas pemakaman umum. Lihat Pasal 1 angka 3. (e) Peribadatan. hlm.113 Tetapi rumusan norma ini menjadi kabur dengan dirumuskannya Pasal 5 ayat (2) yang menyatakan bahwa kegiatan pembangunan untuk kepentingan umum selain yang dimaksud dalam daftar kegiatan sebagaimana diatur pada ayat (1) dapat ditetapkan dengan Keputusan Presiden. Forum LSM-LPSM DIY. Yogyakarta. saluran pembuangan air. yang dibagi dalam dua periodesasi. (b) Waduk. 113 Daftar kegiatan kepentingan umum tersebut adalah: (a) Jalan umum. dan Pasal 5 ayat (1) Keppres No.Pada Pasal 1 angka 3 kepentingan umum didefinisikan sebagai kepentingan seluruh lapisan masyarakat. Selanjutnya batasan ini disertai dengan penyebutan kepentingan umum dalam suatu daftar kegiatan (list provision). 1995. sedangkan pembangunan untuk kepentingan umum di dibatasi pada: (i) kegiatan pembangunan yang dilakukan dan (ii) selanjutnya dimiliki Pemerintah serta (iii) tidak digunakan untuk mencari keuntungan. (d) Pelabuhan atau bandar udara atau terminal. Keputusan Pesiden Nomor 48 Tahun 1999 tentang Tim Pengkajian Kebijaksanaan Peraturan Perundang-undangan dalam Rangka Pelaksanaan Landreform. (m) Kantor Pemerintah. semua Peraturan Perundang-undangan yang dikeluarkan mengenai penguasaan tanah pada periode ini ditujukan untuk mempermudah perolehan tanah dalam hal penanaman modal demi mengejar pertumbuhan ekonomi.

Peraturan Perundang-undangan mengenai penguasaan tanah pada era Reformasi dibagi atas dua periodesasi yaitu periode tahun 1998–2003 dan periode tahun 2004–2006. Perubahan dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan ini 82 . Aturan hukum ini sangat berbeda dengan aturan hukum sebelumnya tentang pemerintahan daerah. 4. dan. 5. dengan memberikan kesempatan kepada daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2006 tentang Badan Pertanahan Nasional. 3. 1. Periode Desentralisasi Kewenangan Pertanahan (1998 – 2003) Pada periode ini Peraturan Perundang-undangan yang dikaji adalah. tepatnya tanggal 7 Mei 1999 ditetapkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang menganut asas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. a. Satu tahun setelah Reformasi Mei 1998.2. mengingat issu yang muncul pada era pemerintahan reformasi masih dalam satu issu pokok yaitu apakah desentralisasi atau sentralisasi di bidang pertanahan selaras dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2001 tentang Pelaksanaan Otonomi Daerah di Bidang Pertanahan. 6. Keputusan Pesiden Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan. namun analisisnya akan ditulis dalam satu kerangka. Keputusan Pesiden Nomor 48 Tahun 1999 tentang Tim Pengkajian Kebijaksanaan Peraturan Perundang-Undangan dalam Rangka Pelaksanaan Landreform. 3. 2. Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Keputusan Pesiden Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan. Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2001 tentang Pelaksanaan Otonomi Daerah dibidang Pertanahan.

c. sekaligus merumuskan 83 . Melakukan pengkajian dan penelaahan terhadap pelaksanaan kebijaksanaan dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan landreform. yakni: a. Hal ini merupakan konsekuensi dari rumusan Pasal 11 UU No. yang salah satunya adalah perubahan-perubahan kewenangan di bidang pertanahan. pemerintah mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 48 Tahun 1999 yang mengamanatkan pembentukan Tim Pengkajian Kebijaksanaan dan Peraturan Perundang-undangan dalam Rangka Pelaksanaan Landreform. Bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota meliputi pekerjaan umum. Menyusun dan merumuskan kebijaksanaan dan rancangan peraturan perundang-undangan yang diperlukan untuk terlaksananya Landreform. Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota mencakup semua kewenangan pemerintahan selain kewenangan yang dikecualikan dalam Pasal 7 dan yang diatur dalam Pasal 9. Keppres ini di dasari pada kondisi Peraturan Perundang-undangan di bidang pertanahan yang berlaku belum sepenuhnya sejalan dengan UUPA dan belum mendukung terciptanya penguasaan dan pemanfaatan tanah yang sesuai dengan nilai-nilai kerakyatan dan norma-norma yang berkeadilan sosial. pertanian. dan tenaga kerja.membawa implikasi pada perubahan pranata dan struktur pemerintahan daerah. penanaman modal. sebagai berikut: a. perhubungan. Tim ini selanjutnya disebut Tim Landreform dengan tugas-tugasnya sebagaimana yang dirumuskan dalam Pasal 3 Keppres tersebut. b. Secara tersirat Keppres tersebut di atas menginginkan dilaksanakannya landreform dengan terlebih dahulu melakukan sinkronisasi seluruh peraturan perundang-undangan bidang pertanahan dengan UUPA. Dalam rangka merespon perubahan-perubahan yang menjadi tuntuan reformasi di bidang pertanahan. b. 22 Tahun 1999. Melakukan pengkajian terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pertanahan. kesehatan. pendidikan dan kebudayaan. koperasi. industri dan perdagangan. pertanahan. lingkungan hidup.

Kepala dibantu oleh seorang Wakil Kepala. (3) Dalam melaksanakan tugasnya." Pasal II Dengan berlakunya Keputusan Presiden ini. Maka dari itulah materi muatan pasal perubahan dari Keppres No. sehingga Pasal 1 seluruhnya berbunyi sebagai berikut: (1) Badan Pertanahan Nasional dalam Keputusan Presiden ini selanjutnya disebut Badan Pertanahan adalah Lembaga Pemerintah Non-departemen yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. penyerahan kewenangan tidak perlu dilakukan secara aktif. Oleh karena itu. penyerahan dan peralihan kewenangan di bidang pertanahan dari pemerintah kepada daerah Kabupaten/Kota sudah dapat dilaksanakan. 26 Tahun 1988 tentang BPN dengan Keppres No.kebijaksanaan dan rancangan peraturan yang diperlukan untuk melaksanakan landreform. yang dijabat oleh Menteri Dalam Negeri. 154 adalah mengembalikan pimpinan Badan Pertanahan kepada Menteri Dalam Negeri. Selanjutnya penjelasan ayat (2) menegaskan pula bahwa: “…untuk menghindarkan terjadinya kekosongan penyelenggaraan 84 . 154 Tahun 1999 tentang Perubahan Keppres No. Perubahan ini berkaitan dengan Pasal 11 UU No. (2) Badan Pertanahan dipimpin oleh seorang Kepala. tetapi dilakukan melalui pengakuan oleh Pemerintah”. yang menetapkan kewenangan di bidang pertanahan ada pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. 22 tahun 1999 yang menyatakan bahwa: “Dengan diberlakukannya undang-undang ini. Pada level kelembagaan penyesuaian dilakukan dengan merubah Keppres No. Menteri Dalam Negeri selaku Kepala Badan Pertanahan segera mengambil langkah-langkah penyesuaian tugas dan fungsi Badan Pertanahan Nasional dalam kaitannya dengan pelaksanaan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Pasal I Beberapa ketentuan dalam Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1988 tentang Badan Pertanahan Nasional diubah sebagai berikut: Ketentuan Pasal 1 diubah. apalagi jika merujuk pada penjelasan Pasal 11 ayat (1) UU No. pada dasarnya seluruh kewenangan sudah berada pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. seperti yang dirumuskan dalam Pasal I dan Pasal II. Seharusnya berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang telah diuraikan di atas. 22 tahun 1999. 26 Tahun 1988.

meliputi: 1. sarana dan prasarana. Artinya kewenangan di bidang pertanahan masih tetap ada pada pemerintah. sarana dan prasarana. yang dilaksanakan oleh BPN baik dipusat maupun di daerah. 5. Lihat dalam: Boedi Harsono. Hukum Agraria Indonesia-Himpunan Peraturan-Peraturan Hukum Tanah. Pasal 2 ayat (3) angka 14 PP No. Hal ini semakin rancu dengan munculnya pembentukan Dinas Agraria/Pertanahan ditingkat Kabupaten/Kota. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia tidak pernah dilaksanakan oleh Kepala BPN. Dengan demikian. hlm. XXXVI–XXXVIII.25 Tahun 2000 yang mengatur tentang kewenangan pemerintah pusat dibidang pertanahan.pelayanan dasar kepada masyarakat. pengakuan dalam bentuk pengalihan pembiayaan. 2. Daerah Kabupaten dan Daerah Kota wajib melaksanakan kewenangan dalam Bidang pemerintahan tertentu menurut pasal ini. serta sumber daya manusia sesuai dengan kewenangan yang diserahkan. Fakta tersebut mengandung kenyataan bahwa penyerahan kewenangan di bidang pertanahan kepada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak ada pengakuan dari pemerintah. dengan kantor wilayah ditiap Propinsi dan ditingkat Kabupaten/Kota. 25 Tahun 2000.114 Persoalan lain muncul ketika pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom yang secara tidak langsung justru mengaburkan pelaksanaan otonomi daerah khususnya kewenangan di bidang pertanahan yang menjadi tidak jelas oleh rumusan Pasal 2 ayat (3) angka 14 PP No. 85 . Arti dari kata-kata “melalui pengakuan oleh pemerintah” menurut hemat penulis merupakan syarat terjadinya peralihan kewenangan. penyerahan dan peralihan kewenangan pemerintah kepada daerah melalui pengakuan yang dilakksanakan dalam bentuk penyerahan dan pengalihan pembiayaan. Djambatan. Pada kenyataannya. dan wujud pengakuan tersebut berkaitan erat dengan norma hukum pada Pasal 8 ayat (1) yang menyatakan bahwa: “Kewenangan Pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah dalam rangka desentralisasi harus disertai dengan penyerahan dan pengalihan pembiayaan. 4. jadi tidak adanya pengakuan berarti tidak adanya penyerahan atau peralihan kewenangan. Penetapan persyaratan pemberian hak atas tanah Penetapan persyaratan landreform Penetapan standar administrasi pertanahan Penetapan pedoman biaya pelayanan pertanahan Penetapan Kerangka Dasar Kadastral Nasional dan pelaksanaan pengukuran Kerangka Dasar Kadastral Orde I dan II 114 . 3. sesuai dengan kondisi Daerah masing-masing…”. serta sumber daya manusia sesuai dengan kewenangan yang diserahkan tersebut”. Jakarta. 2006.

22 Tahun 1999 mengenai penyerahan kewenangan di bidang pertanahan kepada Daerah Kabupaten/Kota belum terlaksana terlaksana namun telah keluar peraturan perundang-undangan baru yang muatannya bertentangan dengan semangat otonomi daerah di bidang pertanahan yang diamanatkan oleh UU No. pelaksanaan otonomi daerah di bidang pertanahan. dan Surat Edaran Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional yang telah ada. Hal ini diakibatkan karena masih adanya tarik ulur kewenangan pertanahan (inconsistence). adapun materi inti dari Keppres ini dirumuskan pada Pasal 1 sebagai berikut: Sebelum ditetapkan peraturan yang baru berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. Keputusan. terutama tuntutan-tuntutan penyelesaian sengketa pertanahan. apa yang ditetapkan dalam UU No. Tidak konsistennya pemerintah dalam upaya penyerahan kewenangan pertanahan kepada daerah semakin jelas dengan diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 62 Tahun 2001. Karena proses otonomi daerah yang telah berjalan dua tahun dan telah melahirkan landasan hukum yang penting bagi penyelenggaraan otonomi di bidang pertanahan ternyata belum mampu memenuhi tuntutan masyarakat.22/99. yang mengakibatkan instabilitas pelayanan di bidang pertanahan. 86 . Keppres ini hanya terdiri dari dua pasal yaitu Pasal 1 dan 2. berlaku Peraturan. Kesimpulannya. Keppres ini sebenarnya diposisikan sebagai jawaban pemerintah atas sikap pesimistik yang ditunjukkan beberapa kalangan dalam kaitannya dengan desentralisasi kewenangan di bidang pertanahan. Instruksi. yang mana salah satu ketentuannya menyatakan bahwa: ”Sebagian tugas pemerintahan yang dilaksanakan oleh BPN di daerah tetap dilaksanakan oleh Pemerintah sampai dengan ditetapkannya seluruh peraturan perundang-undangan di bidang pertanahan.PP No. 22 Tahun 1999. 115 Pasal I "Pasal 109 Ayat (6). selambat-lambatnya 2 (dua) tahun”.115 Dengan demikian sampai pada titik ini terjadi ambivalensi kebijakan mengenai kewenangan bidang pertanahan yang berpangkal tolak pada UU No. 25 Tahun 2000 tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2001 tentang Pelaksanaan Otonomi Daerah dibidang Pertanahan.

bahwa karateristik Peraturan Perundang-undangan pada periode tahun 1998–2003 bersifat pragmatis-reaktif. g.Kebekuan terhadap aturan hukum mengenai penyerahan kewenangan pertanahan. Berdasarkan uraian di atas. serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee. Artinya 87 . pemberian ijin lokasi. Meskipun demikian. maka terkesan bahwa lahirnya Keppres No. pemberian ijin membuka tanah. b. Seharusnya pekerjaan rumah ini sudah dapat diselesaikan oleh pemerintah dalam kurun waktu dua tahun (2001-2003). Jika kita hubungkan dengan ketentuan Pasal I jo “Pasal 109 ayat (6) Keppres No. penyelesaian masalah ganti kerugian dan santunan tanah untuk pembangunan. 62 Tahun 2001. (2) Kewenangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah: a. dan i. dipecahkan dengan kemunculan Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 2003 Tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan. Artinya. 34 Tahun 2003 merupakan jawaban dari pelaksanaan penyerahan kewenangan bidang pertanahan kepada daerah. penetapan subyek dan obyek redistribusi tanah. d. Keppres ini merupakan pelaksanaan dari TAP MPR Nomor IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam. 34 tahun 2003). penetapan dan penyelesaian masalah tanah ulayat. sebagaimana yang telah ditentukan dalam Pasal I jo ”Pasal 109 ayat (6) Keppres No. 34 Tahun 2003 tetap menyisakan pekerjaan rumah. perencanaan penggunaan tanah wilayah Kabupaten/Kota. pemerintah dalam hal ini BPN telah gagal menyusun seluruh Peraturan Perundang-undangan di bidang pertanahan dalam rangka desentralisasi di bidang pertanahan. f. h. hal ini dapat disimak dari Pasal 2 ayat (1) dan (2) Kepres No. pemanfaatan dan penyelesaian masalah tanah kosong. c. penyelenggaraan pengadaan tanah untuk kepentingan pembangunan. penyelesaian sengketa tanah garapan. Keppres No. yaitu mengamanatkan kepada BPN untuk melakukan langkah-langkah percepatan dalam hal penyusunan Rancangan Undang-Undang Penyempurnaan UUPA dan Rancangan Undang-Undang tentang Hak Atas Tanah serta Peraturan Perundang-undangan lainnya di bidang pertanahan dan pelaksanaan paling lambat tanggal 1 Agustus 2004 (Pasal 1 dan 4 Keppres No. dan parsial. e. 34 Tahun 2003: (1) Sebagian kewenangan Pemerintah di bidang pertanahan dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten /Kota. 62 Tahun 2001.

Kajian Peraturan Perundang-undangan pada periode ini meliputi dua issu pokok yang dominan pada saat itu. Periode Resentralisasi Kewenangan Pertanahan (2004 – 2006) Pada periodesasi Resentralisme Kewenangan Pertanahan (2004 – 2006). b. sehingga terkesan pembentukannya sarat dengan kepentingan jangka pendek. Hal tersebut mencerminkan tidak adanya konsistensi (ambivalence) pemerintah. 3. Jika ditelusuri 88 .peraturan-peraturan yang dikeluarkan tidak didasarkan pada suatu format tertentu yang secara integral berkesinambungan dan sistematis. Peraturan Perundang-undangan yang dikaji adalah: 1. 10 Tahun 2006 tentang BPN yang aromanya sangat kental sekali ingin mengembalikan kewenangan bidang pertanahan secara sentralisme. Dalam bidang pertanahan hal ini menjadi faktor yang menghambat proses penyelesaian sengketa pertanahan karena prosedurnya dan kewenangannya menjadi tidak jelas. berkaitan dengan perubahan UU No. 2. yaitu. 36 Tahun 2005 merupakan peraturan pengganti dari Keputusan Presiden (Keppres) No. Pertama. Dampak dari karakter hukum sebagaimana diuraikan di atas. 55 Tahun 1993. Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. bahkan Komisi II DPR dalam rapat dengar pendapat dengan Sekretaris Kabinet meminta pemerintah mencabut ketentuan tersebut. Peraturan Presiden (Perpres) No. 32 Tahun 2004. Peraturan ini kemudian dirubah dengan Peraturan Presiden No. Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. 22 Tahun 1999 ke UU No. mengenai ditetapkannya Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum yang mendapat sorotan tajam dan ditolak dari berbagai kalangan melalui aksi unjuk rasa hampir diseluruh kota di Indoensia. mengenai ditetapkannya Peraturan Presiden No. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2006 tentang Badan Pertanahan Nasional. 65 Tahun 2005. melahirkan tatanan hukum yang disharmoni atau tidak ada kesinkronan diantara produk hukum yang dihasilkan. Kedua.

bahwa Keppres No. Hal ini diprediksi akan menjadi hambatan dalam pelaksanaan pembangunan kedepan.. 55 Tahun 1993 yang tujuannya semata-mata untuk mempermudah dan melancarkan para investor dalam mendapatkan hak atas tanah. adalah karena Keppres No. Dilihat dari semangatnya Perpres No. Apalagi disinyalir keluarnya Perpres ini adalah sebagai komitmen pemerintah untuk memfasilitasi hasil infrastructure summit (Januari 2005). tanggal 25 Juni 2005. oleh karena itu Keppres tersebut perlu diganti dengan peraturan yang lebih represif. 36 Tahun 2005 Melegalkan Penggusuran Paksa?”. Pada pertemuan tersebut. 55/1993 sebagaimana yang dinyatakan dalam pertimbangan Perpres No.. 116 89 . 55 Tahun 1993 sudah tidak sesuai lagi sebagai landasan hukum dalam rangka melaksanakan pembangunan untuk kepentingan umum. yaitu. ”Perpres No. batasan pengadaan tanah yang di atur dalam Perpres sangat luas sekali. Pada Konsiderans Perpres No. pemerintah mengundang investor luar negeri untuk mencari sumber pembiayaan yang dapat menutupi kebutuhan dana pembangunan infrastruktur di Indonesia. alias kurang represif ditengah kondisi masyarakat yang mulai kritis akan hak-haknya. Harian Kompas. Hal ini dapat dibaca pada Pasal 1 angka 3 Perpres.secara vertikal Perpres No. 55/1993 terlalu lunak. penetapannya (Perpres No. 36 Tahun 2005 merupakan turunan dari UU No. Namun. 36/2005. maka dari itu pengadaan akan tanah perlu dilakukan secara cepat dan transparan. Pengadaan tanah adalah setiap kegiatan untuk mendapatkan tanah dengan cara memberikan ganti rugi kepada yang melepaskan atau menyerahkan tanah. 20 Tahun 1961 tentang Pecabutan Hak-Hak atas Tanah dan Benda-Benda yang ada di atasnya yang merupakan peraturan pelaksana dari Pasal 18 UUPA. Juga dinyatakan.116 Hal ini dapat dibaca pada Pasal 2 ayat (1) Keppres tersebut :”. 36 Tahun 2005-pen) didasarkan pada realitas meningkatnya pembangunan untuk kepentingan umum yang berjalan pararel dengan kebutuhan akan tanah.semata-mata hanya digunakan untuk pemenuhan kebutuhan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum”. Beberapa kalangan menganggap bahwa. alasan penggantian Keppres No. 36 Tahun 2005 sebenarnya hanya merupakan kelanjutan dari Keppres No. Fajrimei A Gofar. serta tidak jelas batasannya. 36 Tahun 2005 dinyatakan bahwa.

Inilah yang disebut dengan seni membuat peraturan. tanaman. Sedangkan Keppres menempatkan ketentuan tersebut dipasal akhir (Pasal 21). Selain itu. 20 Tahun 1961 yang merumuskan syarat pencabutan hak atas tanah pada Pasal 1. maka Presiden dalam keadaan yang memaksa setelah mendengar Menteri Agraria. Menteri Kehakiman dan Menteri yang bersangkutan dapat mencabut hak-hak atas tanah dan benda-benda yang ada diatasnya. yaitu: ”pengadan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum oleh pemerintah dilaksanakan dengan cara pelepasan atau penyerahan hak atas tanah”.118 Walaupun kemudian Keppres juga mengadopsi cara pencabutan hak atas tanah yang dirumuskan pada Pasal 21.bangunan. Tata cara pengadaan tanah diatur dalam Pasal 2 ayat (1) Perpres. hal ini dapat telihat dari penempatan ketentuan tersebut pada pasal awal (Pasal 2). 55 Tahun 1993. ini dapat diartikan bahwa pelaksanaan pengadaan tanah dengan cara pencabutan hak atas tanah merupakan pilihan terakhir dan dalam kondisi yang sangat terpaksa. tetapi juga untuk hal lain yang dianggap pemerintah sebagai kepentingan umum. 90 . die ment 117 118 Lihat: Pasal 3 ayat (2) dan Pasal 18 Perpres No. dan . dengan rumusan sebagai berikut: Untuk kepentingan umum. Perpres lebih menonjolkan semangat represif.117 Dalam hal ini. sesuai dengan peraturan induknya yaitu UU No. b. pelepasan atau penyerahan hak atas tanah. termasuk kepentingan Bangsa dan Negara serta kepentingan bersama dari rakyat. 20 tahun 1961. sedemikian pula kepentingan pembangunan.benda-benda yang berkaitan dengan tanah atau dengan pencabutan hak atas tanah”. Makna kata ”pengadaan tanah adalah setiap kegiatan untuk mendapatkan tanah” dapat ditasirkan pengadaan tanah tidak semata-mata untuk pembangunan. Lihat: Pasal 2 ayat (2) Keppres No. Tetapi menurut hemat penulis ada semangat yang berbeda dilihat dari strategi (seni) perumusannya. atau. sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Opzoomer (Nederland) di tahun 1873:”Er is geen kunst. rumusan di dalam Keppres sedikit lebih lunak. 36 Tahun 2005. Khusus mengenai tata cara pencabutan hak atas tanah (Pasal 2 ayat (1) huruf b) dilakukan berdasarkan UU No. pencabutan hak atas tanah. watak represif dari Perpres ini juga dapat dilihat dari cara merumuskan ketentuan yang mengatur tata cara pengadaan tanah. dirumuskan sebagai berikut: “”Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dilaksanakan dengan cara: a.

sebagaimana yang diinginkan oleh praktek.119 Selanjutnya jika diperhatikan benar-benar apa yang diuraikan di atas ini. Rumusan Kepentingan Umum dalam Keppres maupun Perpres disertai dengan penyebutan kepentingan umum dalam suatu daftar kegiatan yang secara jelas mengidentifikasikan tujuannya (list provitions). masalah ganti rugi yang diselesaikan melalui musyawarah yang dibatasi waktunya paling lama 90 hari jelas akan berbenturan dengan rasa keadilan yang ada dimasyarakat. Teknik Membuat Undang-Undang.122 Selain itu. serta digunakan untuk mencari keuntungan. Penitipan ganti kerugian di pengadilan sebelum adanya kesepakatan 119 Irawan Soejito. Karena jika lewat dari jangka waktu ini. tidak disebutkan apakah bangunan yang dibangun tersebut untuk selanjutnya akan dimiliki oleh pemerintah atau tidak. 17. Disamping harus mengetahui secara mendalam masalah yang akan diatur (soal pengetahuan). 36 Tahun 20065. Keppres menyebutkan 14 (empat belas) kegiatan. Sedangkan Perpres 36/2005 pada Pasal 5. hanya menyebutkan pembangunan untuk kepentingan umum yang dilaksanakan oleh pemerintah.cit.120 Materi lainnya yang menjadi issu krusial dalam Perpres ini adalah masalah rumusan kepentingan umum. Artinya bisa saja pembangunan yang dimaksud selanjutnya tidak dimiliki oleh pemerintah (swasta) dan digunakan untuk mencari keuntungan.. 13. 122 Fajrimei A Gofar. Ibid. 121 120 91 . hlm. kecakapan menguraikan bagian-bagian yang essensiil adalah soal seni meng-ikhtisarkan (samenvatten). 55 Tahun 1993 dan Pasal 5 Perpres No. maka panitia pengadaan tanah akan menetapkan besaran ganti rugi dan dititipkan kepada pengadilan negeri sementara pelepasan atau pencabutan hak akan tanah akan terus berlangsung. Jakarta. 1988. Op. sedangkan Perpres mengidentifikasi 21 (dua puuh satu) kegiatan. akan tetapi ada pula soal seninya. maka merancang undang-undang itu tidak hanya merupakan soal pengetahuan saja. hlm. sehingga peraturan itu tidak hanya cukup memberi kepastian.121 Keppres 55/1993 membatasi arti kegiatan pembangunan untuk kepentingan umum yang boleh dilakukan adalah yang selanjutnya dimiliki oleh pemerintah serta tidak digunakan untuk mencari keuntungan.bij ons minder veerstaat dan den kunst van wetgeving” (di negara kita tidak ada suatu kesenian yang kurang kita pahami selain seni membuat undang-undang). tetapi juga membuka peluang bagi perkembangan dimasa yang akan datang. Pradnya Paramita. Untuk lebih jelasnya dapat dibandingkan dengan melihat Pasal 5 Keppres No.

Jika dalam waktu yang telah ditentukan tersebut tidak tercapai kesepakatan. walaupun pasal yang mengatur tentang panitia pengadaan tanah telah diubah. dan sebagian besar memandang Perpres 65/2006 secara substansi tetap berpihak pada kepentingan modal (capital).123 Pada perkembangan selanjutnya.kedua belah pihak nyata-nyata merupakan bentuk pemaksaan oleh pemerintah terhadap warganegaranya. (ii) pihak yang menginginkan tanah (pemerintah) dan (iii) mediator yaitu panitia pengadaan tanah yang terdiri dari perangkat daerah terkait dan unsur Badan Pertanahan Nasional (Pemerintah). 36 Tahun 2005. 125 Pasal 6 ayat (5) Perpres No. yaitu: (i) pemegang hak atas tanah. seperti pembatasan waktu musyawarah hanya diubah kuantitasnya dari 90 (sembilan puluh) hari menjadi 120 (seratus dua puluh) hari. dikarenakan lemahnya posisi tawar rakyat (pemegang hak atas tanah) yang tanahnya terkena proyek pengadaan tanah untuk pembangunan terhadap keinginan pemerintah. Sebagai contoh. secara kualitas proses musyawarahnya sendiri tetap tidak seimbang.124 Selain itu. Namun. maka panitia pengadaan tanah tetap dapat langsung menetapkan besarnya ganti rugi dan menitipkan ganti rugi uang kepada pengadilan negeri yang wilayah hukumnya lokasi tanah yang bersangkutan. dibuat terkesan agak lunak atau terlihat tidak se-represif dari sebelumnya. 36 Tahun 2006. artinya peserta musyawarah tetap didominasi oleh pihak yang menginginkan tanah. proses musyawarah dengan kondisi di atas menjadi bias dan cenderung manipulatif. Perubahan-perubahan Perpres 36/2005 yang dituangkan ke dalam Perpres 65/2006 mencakup 11 (sebelas) poin dengan dua pasal penambahan yaitu Pasal 7A dan Pasal 18A.125 Prakteknya. khususnya bidang infrastruktur. Pasal 10 ayat (1) dan ayat (2) Perpres No. perubahan pada ”Pasal 1 angka 3 yang sebenarnya hanya mengembalikan ketentuan yang diatur sebelumnya dalam Keppres 55/1993. Perubahan-perubahan di maksud langsung mendapat respon dari berbagai pihak. 65 Tahun 2006. setelah ditolak dari berbagai kalangan melalui aksi unjuk rasa hampir diseluruh kota di Indonesia. 92 . Perpres Nomor 36 Tahun 2005 diubah dengan Perpres Nomor 65 Tahun 2006. pasal-pasal yang bermasalah masih tetap dipertahankan. 123 124 Pasal 10 Perpres No. Secara umum perubahan-perubahan pada Perpres 65/2006 sebatas pada tampilannya saja (appearance). Perubahan pasal ini hanya menambahkan unsur Badan Pertanahan Nasional ke dalam panitia pengadaan tanah.

93 .”. bahwa periode tahun 1998– 2003 telah terjadi inkonsistensi terhadap aturan hukum yang mengatur desentralisasi kewenangan di bidang pertahanan sebagaimana yang diamanatkan oleh UU No. kewenangan yang menjadi urusan wajib Pemerintahan Propinsi dalam skala Propinsi meliputi: ”k. Uraian selanjutnya berkaitan erat dengan peralihan UU No. regional dan sektoral”. karena semua tugas yang berhubungan dengan bidang pertanahan diatur dari pusat lewat Badan Pertanahan Nasional secara nasional. 32 Tahun 2004. Terdapat perbedaan dalam pengaturan penyerahan kewenangan di bidang pertanahan kepada pemerintah daerah berdasarkan UU No. yang memberikan sembilan kewenangan pemerintah di bidang pertanahan yang dapat dilaksanakan oleh pemerintah Kabupaten/Kota.Pembahasan mengenai Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2006 tentang Badan Pertanahan Nasional. Inkonsistensi ini relatif dapat dicairkan dengan ditetapkannya Keputusan Presiden Nomor 34 tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan pada bulan Mei 2003.. tanpa disertai dengan kata pelayanan.128 Sedangkan UU No.pertanahan. 32 Tahun 2004 128 Pasal 14 ayat (1) UU No. 22 Tahun 1999. 32 Tahun 2004. merujuk pada UU No. pelayanan pertanahan”. Dari sisi lain. Pasal tersebut mengindikasikan bahwa daerah tidak mempunyai kewenangan lagi atas bidang pertanahan. 22 tahun 1999 menyatakan. 34 Tahun 2003. bahwa bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota meliputi: ”. 129 Pasal 11 ayat (2) UU No.. 22 Tahun 1999 dan UU No. yaitu ditetapkannya Perpres No. 32 Tahun 2004. 32 Tahun 2004. Berdasarkan ketentuan Pasal 2 Perpres tersebut: ”Badan Pertanahan Nasional mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pertanahan secara nasional. 10 Tahun 2006 yang mengembalikan kewenangan di bidang pertanahan sepenuhnya menjadi urusan pemerintahan pusat (resentralisme). peraturan perundang-undangan mengenai penguasaan tanah pada periode tahun 2004–2006 berkarakter represif. Sebagaimana yang telah diuraikan.. 22 Tahun 1999 ke UU No. pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/kota”.127 kewenangan yang menjadi urusan wajib Pemerintahan Kabupaten/Kota yang berskala Kabupaten/Kota meliputi: ”k. 32 Tahun 2004. regional maupun sektoral.129 Ketentuan 126 127 Pasal 2 ayat (2) Keppres No. Pasal 13 ayat (1) UU No. 22 Tahun 1999. Dalam UU No.126 Pada periode 2004–2006 muncul permasalahan.

32 Tahun 2004. Daerah Kabupaten dan Daerah Kota wajib melaksanakan kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu menurut pasal ini. 32 Tahun 2004 telah mereduksi kewenangan bidang pertanahan menjadi sebatas pelayanan pertanahan. untuk menghindarkan terjadinya kekosongan penyelenggaraan pelayanan dasar kepada masyarakat.ini diberikan penjelasan bahwa: ”Tanpa mengurangi arti dan pentingnya prakarsa Daerah dalam penyelenggaraan otonominya. 22 Tahun 1999 tersebut masih bersifat kedaerahan. tidak bersifat nasional secara utuh. 22 Tahun 1999. 22 Tahun 1999 dalam hal penyerahan kewenangan di bidang pertanahan kepada pemerintah daerah (Pemerintah Kabupaten/ Kota). dipandang sebagai suatu perubahan yang besar dalam pelaksanaan hukum tanah nasional dan menjadi bagian dari urusan pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota. Meskipun demikian. sesuai dengan kondisi Daerah masingmasing. Kewenangan yang wajib dilaksanakan oleh Kabupaten dan Kota tidak dapat dialihkan ke Propinsi. sebenarnya UU No. UU No. Dari segi lingkup kewenangan. 94 . Sebaliknya. perubahan yang diusung oleh UU No. lebih luas jika dibandingkan dengan UU No.” Pemberian otonomi di bidang pertanahan kepada Kabupaten dan Kota berdasarkan UU No.

UU No. 3. membina. 95 . Pasal 15. Hak dan kewajiban setiap orang untuk memperoleh derajat kesehatan yang optimal serta wajib untuk ikut serta di dalam memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan. dengan pengertian bahwa sarana pelayanan kesehatan harus tetap memperhatikan golongan masyarakat yang kurang mampu dan tidak semata-mata mencari keuntungan. yaitu: 1. yang pengaturan hukumnya mencakup: 1. dan kemampuan hidup sehat bagi orang. Asas dan tujuan yang menjadi landasan dan memberi arah pembangunan kesehatan yang dilaksanakan melalui upaya kesehatan untuk meningkatkan kesadaran.BAB IV ANALISIS ATURAN HUKUM SEKTOR KESEHATAN A. sedangkan yang bersifat teknis operasional diatur dalam Peraturan Pemerintah dan peraturan pelaksanaan lainnya. mengenai persyaratan penyelenggaraan kehamilan di luar cara alami sebagai upaya terakhir untuk membantu suami istri mendapat keturunan. Sejumlah pasal memerlukan Aturan pelaksanaan dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan pidana untuk melindungi pemberi dan penerima jasa pelayanan kesehatan bila terjadi pelanggaran terhadap Undang-Undang ini. kemauan. Sumber daya kesehatan sebagai pendukung penyelenggaran upaya kesehatan. mengenai tindakan medis tertentu yang boleh dilakukan dalam keadaan darurat sebagai upaya menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya. 23/1992 hanya mengatur hal-hal yang bersifat pokok. penyembuhan penyakit. Pasal 16. dan mengawasai penyelenggaraan upaya kesehatan serta menggerakkan peran serta masyarakat. Berdasarkan Penjelasan Umum. Upaya kesehatan dilaksanakan secara menyeluruh. mulai berlaku pada 17 September 1992. UU kesehatan ini menyempurnakan dan mengintegrasikan perangkat hukum yang sudah ada. selanjutnya disingkat UU No. 4. dan berkesinambungan melalui pendekatan peningkatan kesehatan. dan pemulihan kesehatan. 23/1992. terpadu. pencegahan penyakit. 5. 2. Aturan Hukum Sektor Kesehatan Aturan pokok bidang kesehatan saat ini adalah Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (LNRI Tahun 1992 Nomor 100). harus tetap melaksanakan fungsi dan tanggung jawab sosialnya. sehingga terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal tanpa membedakan status sosialnya. 2. Tugas dan tanggung jawab Pemerintah pada dasarnya adalah mengatur. 6.

mengenai syarat dan tata cara penyelenggaraan transplantasi organ atau jaringan tubuh oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan di sarana kesehatan tertentu. Pasal 36. kesadaran. mengenai kesehatan olah raga untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan melalui kegiatan olah raga. Pasal 35. dan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat dan aktif berperan serta dalam upaya kesehatan. 4. kemauan. Pasal 21. 12. 9.3. baik intelektual maupun emosional. jenis. mengenai penyuluhan kesehatan masyarakat guna meningkatkan pengetahuan. Pasal 45. Pasal 43. 5. 18. Pasal 44. 10. Pasal 37. Pasal 48. mengenai pengamanan makanan dan minuman untuk melindungi masyarakat dari manakan dan minuman yang tidak memenuhi ketentuan mengenai standar dan atau persyaratan kesehatan. mengenai pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif agar tidak mengganggu dan membahayakan kesehatan perorangan. Pasal 23. 13. dan berkembang secara optimal menjadi sumber daya manusia yang lebih berkualitas. Pasal 38. dan lingkungannya. mengenai penyelenggaraan kesehatan lingkungan untuk mewujudkan kualitas hidup yang sehat. Pasal 27. 15. mengenai pengobatan tradisional sebagai upaya pengobatan dan atau perawatan cara lain di luar ilmu kedokteran dan atau ilmu keperawatan. 8. mengenai kesehatan sekolah untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat. Pasal 50. mengenai kategori. tumbuh. 16. dan kualifikasi tenaga kesehatan yang bertugas menyelenggarakan atau melakukan kegiatan kesehatan sesuai 96 . mengenai syarat dan tata cara transfusi darah oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan di sarana kesehatan tertentu. masyarakat. Pasal 47. mengenai syarat dan tata cara bedah plastik dan rekonstruksi oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan di sarana kesehatan tertentu. mengenai kesehatan jiwa dan upaya penanggulangannya untuk mewujudkan jiwa yang sehat secara optimal. 11. sehingga peserta didik dapat belajar. Pasal 46. mengenai kesehatan matra sebagai bentuk khusus upaya kesehatan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal dalam lingkungan matra yang selalu berubah. keluarga. mengenai penyelenggaraan kesehatan kerja untuk mewujudkan produktivitas kerja yang optimal. 7. mengenai syarat dan tata cara penyelenggaran implan obat atau alat kesehatan ke dalam tubuh manusia oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan di sarana kesehatan tertentu. 6. 17. Pasal 34. mengenai pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan untuk melindungi masyarakat dari bahaya yang disebabkan oleh penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan mutu dan atau keamanan dan atau kemanfaatan. 14. Pasal 22.

mengenai penempatan tenaga kesehatan dalam rangka pemerataan pelayanan kesehatan. 20. mengenai syarat dan tata cara memperoleh izin penyelenggaraan sarana kesehatan. Pasal 75. 23/1992 juga memerintahkan pengaturan di bidang kesehatan lebih lanjut dalam bentuk Keputusan Presiden. Pasal 55. 23/1992 juga merujuk pengaturan di bidang kesehatan kepada aturan hukum positif lainnya. UU No. mengenai penyelenggaraan jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat yang dilaksanakan secara praupaya. dan tata kerja Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan yang berwenang menentukan ada tidaknya kesalahan atau kelalaian tenaga kesehatan dalam melaksanakan profesinya. 21. 26. Pasal 63. 29. 30. 27. produksi. pengembangan. yaitu: 97 . tugas. Pasal 71. UU No. Pasal 59. 2. Pasal 69. dengan bidang keahlian dan atau kewenangan tenaga kesehatan yang bersangkutan. Pasal 53. dan pelayanan sediaan farmasi yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu. 24. fungsi. dan tata kerja Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional. Pasal 52. 28. 22. mengenai kewenangan Pemerintah melakukan pengawasan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan upaya kesehatan. mengenai pelaksanaan pekerjaan kefarmasian dalam pengadaan. baik yang dilakukan oleh Pemerintah maupun swasta. mengenai kewenangan Pemerintah dalam pembinaan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan upaya kesehatan. Pasal 78. mengenai standar profesi tenaga kesehatan dan hak-hak pasien sebagai bentuk perlindungan hukum tenaga kesehatan dan pasien. dan penerapan hasil penelitian yang harus dilakukan dengan memperhatikan kesehatan dan keselamatan serta norma yang berlaku dalam masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. mengenai penelitian. distribusi. mengenai pelaksanaan penelitian dan pengembangan yang dilakukan dengan bedah mayat untuk penyelidikan sebab penyakit dan atau sebab kematian serta pendidikan tenaga kesehatan. Pasal 66. Selanjutnya. Pasal 64. tugas pokok. Pasal 72. mengenai pembentukan. mengenai perbekalan kesehatan yang dilakukan agar dapat terpenuhinya kebutuhan sediaan farmasi dan alat kesehatan serta perbekalan lainnya terjangkau oleh masyarakat. Pasal 70. mengenai syarat dan tata cara peran serta masyarakat di bidang kesehatan. fungsi. berasaskan usaha bersama dan kekeluargaan. mengenai pembentukan.19. 23. Pasal 58. yaitu: 1. 25. Selain Peraturan Pemerintah. mengenai sarana kesehatan tertentu yang diselenggarakan oleh masyarakat yang harus berbentuk badan hukum.

Undang-Undang. mengenai pemberantasan penyakit menular dengan upaya penyuluhan... Peraturan Pemerintah. Pasal 41. ditemukan aturan hukum positif di bidang kesehatan. 7. 3.1. mencerdaskan kehidupan bangsa. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. 10/2004). Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. 4. perlu mengacu kepada Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (selanjutnya disingkat UU No. 2. yang kemudian terbukti tidak memenuhi persyaratan mutu dan atau keamanan dan atau kemanfaatan. dan upaya lain yang diperlukan. Pasal 34 ayat (3). Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. 5.. yaitu: “Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas kesehatan untuk setiap orang yang berhak memperoleh pelayanan kesehatan tersebut”. Pasal 31. meliputi: 1. antara lain: Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 1. mengenai penyitaan dan pemusnahan sediaan farmasi dan alat kesehatan yang telah memperoleh izin edar. penghilangan sumber dan perantara penyakit.. 6. mengenai ganti rugi kepada setiap orang akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan. 3. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1966 tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran.. Pasal 51. yaitu: “Setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan”.keadilan sosial. Pembukaan alinea keempat. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan. Pasal 55.. Berdasarkan hasil inventarisasi.melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. tindakan karantina. penyelidikan. 3. mengenai penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan yang dilaksanakan oleh Pemerintah dan atau masyarakat. 2.”. 2. 4.. meliputi: 1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam melakukan inventarisasi terhadap aturan hukum positif di bidang kesehatan. 2. Pasal 28 H ayat (1). Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. yaitu: ”. pengebalan. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. 3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. 98 . Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1960 tentang Lafal Sumpah Dokter Indonesia.

7. 2. 5. 4. 4. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1173/ MENKES/PER/X/2004 tentang Rumah Sakit Gigi dan Mulut. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 378/ MENKES/PER/V/1993 tentang Pelaksanaan Fungsi Sosial Rumah Sakit Swasta. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 004/ MENKES/SK/I/2003 tentang Kebijakan dan Strategi Desentralisasi Bidang Kesehatan. 3. 99 . Peraturan Menteri. 7. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 983/ MenKes/SK/XI/1992 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit Umum. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1333/ Menkes/SK/XII/1999 tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit. meliputi: 1. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/ MENKES/PER/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 920/ MENKES/PER/XII/1986 tentang Upaya Pelayanan Kesehatan Swasta di Bidang Medik. 6. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 131/ Menkes/SK/II/2004 tentang Sistem Kesehatan Nasional. Pemerintah Provinsi. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 84/ MenKes/II/Per/1990 tentang Legalisasi Keberadaan Rumah Sakit Swasta Pemodal. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. 6. 3. 10. 8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 363/ MENKES/PER/IV/1993 tentang Pengujian dan Kalibrasi Alat-alat Kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 595/ MenKes/SK/VII/1993 tentang Standar Pelayanan Kesehatan. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 512/ MENKES/PER/IV/2007 tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Kedokteran. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan. 5. 6. 9. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 772/ MENKES/SK/VI/2002 tentang Pedoman Peraturan Internal Rumah Sakit (Hospital Bylaw). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 585/ Men. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269/ MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam Medis.4. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 806b/ MenKes/SK/XII/1987 tentang Klasifikasi Rumah Sakit Umum Swasta. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 282/ MENKES/SK/III/1993 tentang Pola Tarif Rumah Sakit Swasta. meliputi: 1. 8. dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 756/ MENKES/SK/VI/2004 tentang Tim Persiapan Liberalisasi Perdagangan Jasa di Bidang Kesehatan.Kes/Per/IX/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medis. 9. Keputusan Menteri. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. 5. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 159b/ MENKES/PER/II/1988 tentang Rumah Sakit.

17. 16. Rujukan Rawat Jalan dan Rawat Inap Kelas III di Rumah Sakit yang Dijamin Pemerintah.Kes/SK/VIII/2005 tentang Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan di Puskesmas. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 069/ Menkes/SK/II/2006 tentang Pencantuman Harga Eceran Tertinggi pada Label Obat.Kes/SK/V/2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin. Kewenangan yang didelegasikan tersebut sangat luas. Pasal 1 UU No. desentralisasi adalah pembalikan dari konsekuensi administrasi pada satu pusat sekaligus ”pemberian” kekuasaan kepada daerah. kewenangan-kewenangan pusat telah ditentukan secara jelas terlebih dahulu. Pada sisi hukum positif. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 720/ MENKES/SK/IX/2006 tentang Harga Obat Generik. 12. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1202/ Men. Oleh sebab itu. desentralisasi menunjuk pada distribusi kekuasaan secara teritorial (spatial). pelaksanaannya dapat dilakukan dengan penyerahan kewenangan dan/atau urusan kepada Pemerintah Daerah yang lebih rendah tingkatannya. 13. Dengan sistem residu. 18. 100 . Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 496/ MENKES/SK/IV/2006 tentang Pedoman Audit Medis di Rumah Sakit. 15. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 125/ Menkes/SK/II/2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Masyarakat Tahun 2008. yang umumnya menjadi fokus dalam suatu negara kesatuan. Oleh karena itu. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 332/ Men. 11. Konflik Aturan Hukum Sektor Kesehatan Secara leksikografi. Konsekuensi hukum desentralisasi. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1197/ MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. sedangkan sisanya merupakan kewenangan daerah otonom. 32/2004 menggunakan sistem residu ketika menentukan apa saja yang menjadi kewenangan daerah.10. Berdasarkan hukumk positif. sebab UU No. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1165A/ MENKES/SK/X/2004 tentang Komisi Akreditasi Rumah Sakit. 14. B. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 631/ MENKES/IV/2005 tentang Pengorganisasian Staf Medis dan Komite Medis. NKRI telah ”memilih” untuk menyerahkan sebagian kewenangannya kepada daerah otonom. 32/2004 memaknai desentralisasi kesehatan sebagai penyerahan kewenangan pemerintahan oleh Pemerintah (Pusat) kepada daerah otonom dalam rangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Makalah. sehingga perlu dilakukan secara komprehensif dan lintas batas wilayah. Staf dinas kesehatan Kota S tersebut dengan nada pesimistis menyatakan bahwa apa jadinya dinas kesehatan kota apabila puskesmas menjadi otonom? Apa tugas dinas kesehatan kota di masa depan? Andi Sandi dan Vivi Lignawati. Universitas Gajah Mada. Ketika suara suatu industri yang terletak di salah satu daerah mengeluarkan limbah yang mempengaruhi kondisi kesehatan di daerah-daerah lain. pemerintah daerah dapat mengatur bidang kesehatan sesuai aspirasi dan kemampuan yang dimilikinnya. Disampaikan dalam Seminar Desentralisasi Kesehatan di Indonesia: Apa yang Sudah Dicapai dan Apa yang Belum? Apakah lebih baik Resentralisasi? Tanggal 17-19 Maret 2004 di Fakultas Kedokteran. suara. Hal ini pada satu sisi menguntungkan pemerintah daerah sebab dengan menggunakan kewenangannya. seorang staf di dinas kesehatan kota mengeluh karena puskesmas meminta otonomi. di sisi lain pemberian kewenangan yang didasarkan pada teritori ini telah mengakibatkan ”pengkotakkotakan” wilayah yang dilakukan oleh pemerintah daerah. 130 101 . sebagai berikut: Kasus 1: Di Kota S. Akibatnya. ternyata juga terjadi konflik dalam pengawasan rumah sakit di daerah sebagaimana diungkapkan oleh Laksono Trisnantono merujuk hasil penelitian mengenai reformasi sistem kesehatan yang dilakukan oleh Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan FK-UGM. “Desentralisasi dan Perkembangan Peraturan Perundangundangan di Bidang Kesehatan: Sebuah Evaluasi Normatif”. pelaksanaannya cenderung parsial dan hanya dilakukan pada teritori yang menjadi wilayah kerja pemerintah daerah yang bersangkutan. baik air. pihak pemerintah daerah yang terkena dampak tidak mempunyai kewenangan untuk menindak industri tersebut karena industri tersebut berkedudukan di luar yurisdiksinya.kewenangan di bidang kesehatan telah dijadikan kewenangan pemerintah daerah otonom karena kewenangan itu tidak ditentukan sebgai kewenangan pemerintah pusat. Dalam kenyataan memang sudah terjadi adanya pemberian dana langsung dari pemerintah kota ke puskesma tanpa melalui dinas kesehatan kota. Padahal pelaksanaan pelayanan dibidang kesehatan tidak mengenal batas wilayah (borderless).130 Selain konflik dalam pengendalian dampak polusi industri lintas batas daerah sebagaimana ditengarai di atas. Satu contoh yang menunjukkan borderless-nya kewenangan di bidang kesehatan adalah masalah polusi. Namun. maupun limbah.

Yogyakarta. Selain itu. sebagai berikut: ”Setelah kami menjadi Lembaga Teknis Daerah. Jadi. ada pertanyaan menggelitik mengenai fungsi dinas kesehatan kota dan propinsi. Kami tidak kebagian. 2005. Berikut ini kutipan pernyataan dari kepala dinas kesehatan Kabupaten X tentang perkembangan rumah sakit sebagai Lembaga Teknis Daerah: ”Setelah rumah sakit menjadi Lembaga Teknis Daerah. berdasarkan laporan hasil Seminar Nasional Desentralisasi Kesehatan di Indonesia” yang diselenggarakan oleh Universitas Hasanuddin. Hal ini dapat dilihat pada kenyataan bahwa sudah 4 bulan ini seksi pelayanan di dinas kesehatan kosong karena pejabat lama. seorang perawat senior. Aspek Strategis dalam Manajemen Rumah Sakit. di Makassar. kami jalan sendiri-sendiri. Sepertinya direject. 131 102 . jangan sampai konflik. kami sulit masuk ke rumah sakit. Peralatan radiologi Puskesmas saat ini malah lebih canggih dibanding rumah sakit karena ada dana dari pusat.Kasus 2: Dalam suatu kegiatan penelitian ke Kabupaten X. Tetap menjaga perasaan masing-masing”. yaitu: Laksono Trisnantoro. dan meningkatkan mutu pelayanan. Akan tetapi harapan ini terlihat sulit dipenuhi. Unit Desentralisasi Departemen Kesehatan RI. Salah satu tandanya adalah perhatian dinas kesehatan terhadap rumah sakit tidaklah besar. ANDI. pada 2005. Universitas Gajah Mada. dan World Health Organization. pensiun dan belum ada orang yang siap menggantikan”131. hlm. dijelaskan ada beberapa hambatan pelaksanaan desentralisasi kesehatan di Indonesia. Rumah sakit seperti tempat pembuangan sampah tenaga kerja manusia. Kasus 3: Dalam suatu pertemuan antar direktur rumah sakit swasta di Kota M. Kepala Dinas mengacuhkan kami. Proyek-proyek pengembangan kelembagaan tidak pernah masuk ke rumah sakit. 176. memberi subsidi. Seksi rumah sakit di Dinas sulit memeriksa rumah sakit dan kaim tidak tahu memeriksanya dengan dasar apa?” Adapun kutipan pernyataan dari Direktur rumah sakit daerah Kabupaten X tentang perkembangan rumah sakit sebagai Lembaga Teknis Daerah. Ya kami sama-sama tahu diri. Sebenarnya apa fungsi mereka? Pada intinya direktur rumah sakit swasta berharap bahwa dinas kesehatan dapat membantu mereka dalam pengembangan sumber daya manusia. ditemukan kepala dinas kesehatan dan direktur rumah sakit daerah dalam rangka berdiskusi mengenai perkembangan rumah sakit sebagai Lembaga Teknis Daerah.

32/2004 dan UU No. maka dapat disimpulkan bahwa ada banyak konflik yang terjadi di dinas kesehatan dan rumah sakit di daerah yang perlu segera diatasi agar pelaksanaan desentralisasi di bidang kesehatan dapat terwujud sesuai arahan normatif UU No. C. konsep ini disebabkan tidak adanya kesiapan Pemerintah Pusat c.q. Pemerintah Pusat c. 25/2000 dan PP No. 132 103 . 3. 5-6. Belum dilakukan pembagian urusan secara jelas dalam hubungan pemerintah pusat dan propinsi/kabupaten/kota. 33/2004. Kebijakan kesehatan di Indonesia cenderung menganggap semua daerah sama. 8/2003 yang pembentukannya masih mengacu kepada UU No. hlm.1. 7-8-9 Juni 2005. yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan ketatanegaraan dan otonomi daerah. Memperhatikan PP yang menjabarkan desentralisasi. 132 Memperhatikan adanya kasus-kasus sebagaimana diungkapkan oleh Laksono Trisnantoro dan adanya hambatan-hambatan pelaksanaan desentralisasi kesehatan di Indonesia sebagaimana dijelaskan oleh laporan hasil ”Seminar Nasional Desentralisasi Kesehatan di Indonesia” di atas. 4. Saat ini. dan WHO. 32/2004 sampai dengan tahun 2007 desentralisasi kesehatan masih mendasarkan pada PP No. dapat diuraikan bahwa dalam kurun waktu lebih dari 2 (dua) tahun.q. Komitmen pemerintah pusat untuk mengembangkan peraturan dan standar yang mendukung desentralisasi terlihat lemah. Makassar. terhitung sejak pembentukan UU No. 33/2004 hanyalah suatu konsep yang sangat ideal. Ada problem serius dalam kemampuan dan keterlambatan DEPKES dan DINKES untuk menyusun peraturan yang mendukung desentralisasi. Unit Desentralisasi DEPKES RI. “Seminar Nasional 4 Tahun Desentralisasi Kesehatan di Indonesia”. Laporan. Departemen Kesehatan terlihat telah berupaya untuk mempertahankan watak sentralisasi dalam pelaksanaan desentralisasi di bidang kesehatan. Isu Hukum Aktual dalam Konflik Aturan Hukum Sektor Kesehatan Pelaksanaan desentralisasi di bidang kesehatan berdasarkan UU No. ternyata Menkes Tim Perumus. Pada tingkat nasional. Departemen Kesehatan maupun Pemerintah Daerah untuk melaksanakan ”hasil kesepakatan nasional” dalam pelaksanaan desentralisasi di bidang kesehatan. 2. UGM. 32/2004 dan UU No. pascatahun 2007. Idealnya. “Perubahan Fungsi Pemerintah dalam Sektor Kesehatan di Berbagai Tingkat Setelah Penetapan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004”. Diselenggarakan oleh UNHAS. 22/1999.

133 104 . standarisasi. 38/2007 jo. 2. yaitu: 1. prosedur. akreditasi. 29/2004 jo. Upaya Pemerintah Pusat c. dan kriteria perizinan. akreditasi dan sertifikasi pelayanan kesehatan RSS-BHPT sebenarnya sudah diperintahkan oleh PP yang lama. yaitu Pasal 9 ayat (2) PP No. Ketidakkonsistenan dan Keterlambatan Aturan Hukum dan Kebijakan Pengendalian Mutu dan Biaya Pelayanan Kesehatan Terdapat ketidakkonsistenan aturan kebijakan sebagai peraturan pelaksana pengendalian mutu dan biaya pelayanan kesehatan. karena Pasal 71 UU No. yang seharusnya sudah ditetapkan selambat-lambatnya dalam waktu 6 (enam) bulan sejak pembentukan PP No. Pasal 2 ayat (4) huruf b dan Pasal 11 PP No.q.133 sehingga menjadi hambatan normatif bagi pemerintahan daerah Propinsi/Kabupaten/Kota dalam menyusun Perda dan Kepkada yang substansinya secara teknis (untuk Perda Propinsi) dan sangat teknis (untuk Perda Kota) menjabarkan fungsi dan wewenangnya di bidang kesehatan. 1575/2005. 25/2000. dan sertifikasi di bidang kesehatan yang diperintahkan oleh Pasal 1 UU No. antara lain. standar. Departemen Kesehatan mempertahankan watak sentralisasi dalam pelaksanaan desentralisasi di bidang kesehatan itu dilakukan melalui beberapa aturan kebijakan sebagai aturan pelaksana desentralisasi di bidang kesehatan yang secara tidak langsung mengurangi kewenangan Pemerintah Daerah. standarisasi.belum juga menerapkan kebijakan dalam bentuk norma. Ketidakjelasan dan Ketidakkonsistenan Aturan Hukum dan Kebijakan Pola Tarif Pelayanan Kesehatan Pasal 2 angka 3 Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 282/ MENKES/SK/III/1993 tentang Pola Tarif Rumah Sakit Swasta yang mengharuskan fungsi sosial dalam bentuk pemberian keringanan/pembebasan biaya pelayanan rumah sakit diatur oleh direktur rumah sakit swasta sampai saat ini ketentuan atau pedomannya ternyata belum ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 496/ MENKES/SK/IV/2006 tentang Pedoman Audit Medis di Rumah Sakit tidak memuat sanksi hukum yang tegas terhadap rumah sakit yang tidak mengendalikan mutu dan biaya pelayanan Keharusan bagi PEMPUS untuk menetapkan kebijakan pengawasan dalam bentuk NSPK perizinan. 32/2004 jo. Pasal 4 PERMENKES No. 25/2000 tersebut.

belum ada pedoman berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan yang menjabarkan Pasal 71 UU No. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 496/ MENKES/SK/IV/2006 tentang Pedoman Audit Medis di Rumah Sakit sebagai acuan bagi aparatur hukum pada Direktur Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI dan Dinas Kesehatan Propinsi/Kota/Kabupaten. 3. termasuk RSS-BHPT. setelah berkonsultasi dengan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) setempat. Pemerintah Provinsi. 29/2004 jo. juga terdapat kelemahan normatif.kesehatan. 32/2004 telah memberikan wewenang kepada Kepala Dinas Kesehtan Propinsi setempat untuk menetapkan ketentuan besaran tarif pelayanan kelas III/kelas terendah bagi masyarakat kurang dan tidak mampu. tetapi praktiknya tidak pernah direalisasikan. karena tidak ada pedoman berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan yang menjabarkan pejabat/badan berwenang dan mekanisme pemberian dan penggunaan SKTM atau bukti lain yang mendukung tersebut. dan Pemerintah Kabupaten/Kota jis. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1173/ MENKES/PER/X/2004 tentang Rumah Sakit Gigi dan Mulut jis. dalam 105 . ternyata mengandung kelemahan normatif jo. dalam melaksanakan pembebasan atau keringanan biaya pelayanan kesehatan dalam rangka fungsi sosialnya berdasarkan Surat Keterangan Kurang dan Tidak Mampu (SKTM) atau bukti lain yang mendukung. Selain itu. Keterlambatan Aturan Hukum dan Kebijakan Fungsi Sosial Pelayanan Kesehatan Bentuk-bentuk fungsi sosial pelayanan kesehatan rumah sakit swasta yang dijabarkan dalam Pasal 4 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 378/ MENKES/PER/V/1993 tentang Pelaksanaan Fungsi Sosial Rumah Sakit Swasta. serta Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) setempat dalam melakukan audit medis eksternal terhadap rumah sakit. terkait dengan Pasal 5 angka 2 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 378/ MENKES/PER/V/1993 tentang Pelaksanaan Fungsi Sosial Rumah Sakit Swasta yang mengharuskan RSS. UU No. Selanjutnya.

dan izin penyelenggaraan adalah wewenang Pemerintah Pusat. izin penyelenggaraan sementara adalah wewenang Pemerintah Propinsi. 1165A/2004. ketidaksinkronan. yang diperkuat oleh Pasal 9 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. Namun. “Semangat resentralisasi” dalam Surat Edaran Menteri Kesehatan ini mengandung ketidakkonsistenan. Keterlambatan dan Ketidakkonsistenan Aturan Hukum dan Kebijakan Perizinan Berdasarkan Pasal 4 huruf g Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/ MENKES/PER/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan. 32/2004. 106 . Ini berarti bahwa Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) yang dibentuk berdasarkan KEPMENKES No. ternyata belum ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. 25/2000 (yang masih berlaku saat itu). Pemerintah Provinsi. dan menimbulkan konflik kewenangan. Menteri Kesehatan mempunyai wewenang menetapkan standar perizinan rumah sakit yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah. karena menyimpangi asas desentralisasi kesehatan dalam UU No. 1165A/2004) tidak mengacu kepada UU No. Menteri Kesehatan justru menerbitkan Surat Edaran Nomor 725/MENKES/E/VI/2004 yang isi pokoknya menyatakan bahwa sambil menunggu proses penyelesaian Revisi. Ketidakkonsistenan Aturan Hukum dan Kebijakan Akreditasi Secara yuridis pembentukan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1165A/ MENKES/SK/X/2004 tentang Komisi Akreditasi Rumah Sakit (selanjutnya disingkat KEPMENKES No. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 920/ MENKES/PER/XII/1986 tentang Upaya Pelayanan Kesehatan Swasta di Bidang Medik. maka perizinan rumah sakit ditentukan sebagai berikut: izin mendirikan adalah wewenang Pemerintah Kabupaten/Kota. memang mengabaikan ”semangat desentralisasi”. yang menghendaki agar wewenang melaksanakan akreditasi rumah sakit diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten/Kota.4. 22/1999 dan PP No. 5. dan Pemerintah Kabupaten/Kota. standar perizinan rumah sakit.

Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). KKI. audit medis eksternal sifatnya hanya ”fakultatif”. Jakarta. yang menghendaki agar wewenang melaksanakan akreditasi rumah sakit diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota. sedangkan keterlibatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam pembinaan pascaakreditasi rumah sakit meskipun bersifat ”imperatif” tetapi fungsinya hanya ”asistensi” saja terhadap tugas pokok KARS. 5 dan 29. telah menyimpangi ”asas desentralisasi” dalam UU No. ternyata tidak dijelaskan dengan Peraturan Menteri Kesehatan. Pasal Tim Perumus. 6. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI). 2007. 7. Pemerintah Daerah. pelibatan Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota dalam pembinaan pra dan pascaakreditasi rumah sakit tidak berdasar hukum yang kuat. monitoring dan evaluasi pelaksanaan audit medis eksternal yang diintegrasikan dengan akreditasi rumah sakit oleh KARS berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 496/ MENKES/SK/IV/2006 tentang Pedoman Audit Medis di Rumah Sakit. dalam pelaksanaan audit medis eksternal di rumah sakit yang diatur dalam Pasal 71. Pedoman Akreditasi Rumah Sakit di Indonesia. Selanjutnya. Komisi Akreditasi Rumah Sakit.134 keterlibatan Dinas Kesehatan Propinsi dalam pembinaan praakreditasi rumah sakit hanya bersifat ”fakultatif”. Pasal 72 dan Pasal 74 UU No. 29/2004. Ketidakjelasan dan Ketidakkonsistenan Aturan Hukum dan Kebijakan Sanksi Administrasi Menurut Pasal 22 jis Pasal 23 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 512/ MENKES/PER/IV/2007 tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Kedokteran jo. Ketidakjelasan dan Keterlambatan Aturan Hukum dan Kebijakan Audit Medis Rumah Sakit Ketidakjelasan ruang lingkup dan rincian fungsi dan tugas Pemerintah Pusat. hlm.I. tetapi hanya berdasarkan buku PARSI. Pemerintah Daerah.Menurut buku Pedoman Akreditasi Rumah Sakit (PARSI). 134 107 . DITJEN YANMEDIK-DEPKES R. 4. 32/2004. IDI dan PDGI. Selain itu. yang pelaksanaannya tergantung kepada sikap normatif Pemerintah Pusat. Selain itu.

23/1992. Namun. Jika MKDKI belum terbentuk baik di tingkat pusat maupun di tingkat propinsi. Tim yang terdiri dari unsur-unsur profesi itu sifatnya ”aksidental”. karena: pertama. terdapat ketidakjelasan fungsi dan tugas para pihak dalam proses pembuktian pelanggaran kewajiban hukum oleh dokter dan pengenaan sanksi administrasinya. terhadap rumah sakit yang melanggar kewajiban-kewajiban hukum dalam UU No. Selanjutnya. sanksi administrasi yang diatur dalam menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 282/ MENKES/SK/III/1993 tentang Pola Tarif Rumah Sakit Swasta. 29/2004 berikut aturan kebijakan sebagai peraturan pelaksananya.77 UU No. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 496/ MENKES/SK/IV/2006 tentang Pedoman Audit Medis di Rumah Sakit. yang hanya (akan) dibentuk oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi dan Menteri Kesehatan jika ada pengaduan dari setiap orang yang mengetahui atau kepentingannya dirugikan karena pelanggaran kewajiban hukum oleh dokter. kedua. Namun. 23/1992 jo. 29/2004. 23/1992 dan UU No. kelemahan normatif timbul. maka berdasarkan Pasal 77 UU No. pencabutan SIP dokter oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota hanya bersifat ”deklaratif”. dan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1197/ MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. adalah wewenang Menteri Kesehatan c. Direktur Jenderal 108 . Pasal 71 UU No. Kepala Dinas Kesehatan Propinsi di Tingkat Pertama dan Menteri Kesehatan di Tingkat Banding berwenang memeriksa dan memutus kasus pelanggaran kewajiban hukum oleh dokter berdasarkan pertimbangan Tim yang terdiri dari unsur-unsur profesi yang dibentuk oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi dan Menteri Kesehatan. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota baru dapat mencabut Surat Izin Praktik (SIP) dokter jika pelanggaran kewajiban-kewajiban hukumnya dalam UU No. atau MKDKI telah terbentuk di tingkat pusat tetapi belum terbentuk di tingkat propinsi. Artinya. 23/1992 dan UU No.q. telah terbukti berdasarkan putusan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 378/ MENKES/PER/V/1993 tentang Pelaksanaan Fungsi Sosial Rumah Sakit Swasta. 29/2004. dan ”pasif”. 29/2004 berikut aturan kebijakan sebagai peraturan pelaksananya. dapat dikenakan sanksi administrasi oleh Pemerintah. tidak konstitutif. maka berdasarkan Pasal 83 UU No.

32/2004 ternyata belum tercermin dalam struktur organisasi Depkes yang ditetapkan dalam Pasal 5 Permenkes No. dalam arti mengarahkan dan menetapkan kebijakan kesehatan dalam bentuk NSPK mengacu asas desentralisasi. Keterlambatan Penjabaran Fungsi dan Wewenang Pemerintah Daerah Sektor Kesehatan dalam Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah Terdapat keterlambatan Pemerintah Daerah Propinsi/Kota/Kabupaten membentuk Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang menjabarkan fungsi dan wewenangnya di bidang kesehatan dikarenakan norma. 32/2004 dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/ MENKES/PER/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan PERMENKES No. dalam UU No. namun perubahan yang bermakna belum terjadi. standar. direktorat jenderal khusus yang berwenang dan bertanggung jawab atas kebijakan dan strategi desentralisasi kesehatan belum dibentuk dalam struktur organisasi Depkes.Pelayanan Medik untuk mengenakannya. Padahal. akreditasi dan sertifikasi di bidang kesehatan yang menjadi acuan hukumnya ternyata belum ditetapkan oleh Pemerintah Pusat c. Kelemahan Struktur dan Kapasitas Kelembagaan Hukum (Pemerintah) Sektor Kesehatan Fungsi steering dan regulating Depkes. mengandung ketidakkonsistenan dengan ”asas desentralisasi” dalam UU No. yang kemudian diperkuat oleh Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. ada 2 (dua) fungsi penting Depkes yang memerlukan perubahan struktur Depkes terkait dengan 109 . 9. Pemerintah Provinsi. disebabkan oleh ketidakkonsistenan Pemerintah Pusat menegakkan ”asas desentralisasi” dalam UU No. standarisasi. Hingga kini. dan Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota. prosedur dan kriteria perizinan. 1575/2005.q. 1575/2005. Menteri Kesehatan. 32/2004 yang menghendaki agar wewenang melaksanakan pengawasan berikut pengenaan sanksi administrasinya diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten/Kota. 8. Meskipun ada Staf Ahli Menteri Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Desentralisasi.

net/buletin. hlm. bimbingan. menjelaskan bahwa sebenarnya sudah ada wacana mengubah struktur Depkes terkait dengan desentralisasi kesehatan. pemberdayaan dan pelatihan staf DINKES propinsi dan Kab/Kota agar mampu menjalankan urusannya dalam konteks desentralisasi. desentralisasi kesehatan di tingkat kelemahannya.135 Namun. sehingga tidak mendukung pelaksanaan kebijakan desentralisasi. Manajemen. 135 110 . sehingga perlu terus dipantau dan dievaluasi oleh Menkes. Departemen Keuangan. Volume III/02/2005. 7. Selain itu. cit. Satu-satunya perubahan struktur Depkes terkait dengan desentralisasi kesehatan. Kapasitas DepKes RI untuk mengelola anggaran pusat menjadi terbatas karena sudah tidak ada lagi Kanwil. Terjadi perubahan radikal di propinsi dan kabupaten/kota dengan ditandai merger Kanwil dan DINKES Propinsi. Sampai kini. tidak ada perubahan bermakna dalam struktur DEPKES. 136 Tim Perumus.php. namun hingga kini belum ada action yang nyata. di Indonesia. struktur pemerintahan yang sangat sentralistik masih tercermin di sektor kesehatan yang masih didominasi oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. dan 2) penyelesaian perselisihan antar Propinsi di bidang kesehatan. adalah pembentukan Unit Desentralisasi untuk mendukung keberhasilan Propinsi dan Kabupaten/Kota. yang dibentuk berdasarkan KEPMENKES.. dan Departemen Dalam Azrul Azwar. dan supervisi di bidang kesehatan. guna ditetapkan tindak lanjut untuk tahun berikutnya. bahkan kompetisi yang menimbulkan konflik. kedudukan Unit Desentralisasi hanya sebagai unit nonstruktural dan bersifat ad-hoc (untuk periode 1 tahun saja).kebijakan dan strategi desentralisasi kesehatan. serta Kandep dan Dinkes Kabupaten-Kota. pelatihan. Belum ada pembinaan sistematis. Azrul Azwar. arahan. Namun. Ada pihak dan individu yang mendukung kebijakan desentralisasi. ada yang netral. diakses tanggal 15 Januari 2005. yaitu: 1. Op. yaitu: 1) pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan OTODA yang meliputi pemberian pedoman. dalam kapasitasnya sebagai Dirjen Kesmas Depkes-RI. 3. dalam www. komunikasi yang sedikit mengenai masalah pembagian urusan. dan ada yang menentang kebijakan ini.136 2. “Peran DEPKES di Era Desentralisasi Kesehatan”.desentralisasi-kesehatan. Departemen Kesehatan. terdapat temuan beberapa kelemahan struktur dan kapasitas (daya dukung) kelembagaan hukum (pemerintah) di bidang kesehatan dalam rangka otonomi daerah. Yang terjadi adalah situasi saling curiga. 4.

Negeri. Selain itu, sistem pelayanan kesehatan nasional, dengan segala keterbatasan sumber dayanya, tidak ada saling keterkaitan antarprogram dan unit dalam Departemen Kesehatan sendiri, dan antarunit di pusat dan daerah, sehingga tidak berkerja sebagai suatu sistem, tetapi justru saling berkompetisi untuk mempengaruhi daerah.137 Struktur organisasi dinas kesehatan-dinas kesehatan ternyata memiliki kelemahan supratruktural, yaitu tidak/belum dibentuknya Bagian atau Subbagian Hukum, yang tentunya dapat menghambat upaya hukum Pemerintah Daerah dalam merancang, membentuk, mengawasi dan mengevaluasi Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah di bidang kesehatan. Kelemahan supratruktural itu, juga terkait dengan keterbatasan jumlah dan kualifikasi sumber daya manusia di bidang hukum kesehatan serta ilmu dan teknologi kesehatan, termasuk segi-segi teknis perumahsakitan, sehingga menemui kesulitan dalam menetapkan persyaratan teknis dalam Peraturan Daerah apalagi Keputusan Kepala Daerah yang menjabarkan fungsi dan wewenang pengawasan Pemerintah Daerah Propinsi/Kabupaten/Kota di bidang perizinan, standarisasi, akreditasi dan sertifikasi di bidang kesehatan.138 Dwidjo Susono, dalam kapasitasnya sebagai Staf Ahli Menkes Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Desentralisasi, menegaskan bahwa hambatan dan tantangan dalam penerapan kebijakan dan strategi desentralisasi kesehatan, adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Komitmen dari semua pihak terkait; Kelangsungan dan keselarasan pembangunan kesehatan; Ketersediaan dan pemerataan SDM yang berkualitas; Kecukupan pembiayaan kesehatan; Kelengkapan sarana dan prasarana kesehatan; Kejelasan pembagian kewenangan dan pengaturan kelembagaan; Kemampuan manajemen kesehatan dalam penerapan desentralisasi.139

Selain itu, Dwidjo Susono menjelaskan bahwa rendahnya wewenang antara pusat dan daerah, rendahnya kerja sama antara pusat dan daerah, rendahnya
Soedarmono Soejitno, Ali Alkatiri, Emil Ibrahim. 2002. Reformasi Perumahsakitan Indonesia. PT. Grasindo, Jakarta, hlm. 191. 138 Muhammad Syaifuddin. 2009. Menggagas Hukum Humanistis-Komersial: Upaya Perlindungan Hak Masyarakat Kurang dan Tidak Mampu atas Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Swasta Berbadan Hukum Perseroan Terbatas. Bayu Media, Malang, hlm. 197. 139 Dwidjo Susono (Staf Ahli MENKES Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Desentralisasi), “Kebijakan & Strategi Desentralisasi Kesehatan dan KW/SPM”, Makalah, Disampaikan dalam Rapat Koordinasi Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur, pada 21 Juni 2007, di Surabaya, hlm. 32.
137

111

kapasitas aparatur pemerintah, terbatasnya keuangan, dan otonomi menjadi masalah yang harus dihadapi oleh desentralisasi di Indonesia.140 Penjelasan yang sama juga dikemukakan oleh Bachtiar Oesman, dalam kapasitasnya sebagai Direktur Usaha dan Pemasaran Lembaga Asosiasi Dinkes Indonesia, yang menjelaskan bahwa perubahan dari sentralistik ke desentralistik membawa perubahan yang mendasar kepada Dinkes. Untuk itu, perlu adanya peningkatan pengetahuan, keterampilan dan kompetensi kepada kepala Dinkes dan staf agar dapat meningkatkan kinerja Dinkes.141 Jadi, perubahan fungsi dan wewenang pemerintah pusat dan pemerintah daerah belum ditindaklanjuti dengan perubahan dan penguatan struktur, SDM, dana, sarana dan prasarana pada Depkes di pusat dan Dinkes Propinsi/Kabupaten/Kota di daerah, sehingga menjadi kendala strultur dan kapasitas kelembagaan hukum (pemerintah) di bidang kesehatan, yang dapat menghambat upaya hukum melindungi hak setiap warga negara atas derajat kesehatan yang optimal.

D. Asas-asas Hukum yang Mendasari Fungsi dan Wewenang Pemerintah dalam Otonomi Daerah Sektor Kesehatan Fungsi dan wewenang pemerintah dalam otonomi daerah di bidang kesehatan terikat pada asas-asas hukum dalam UU No. 32/2004 yang memberikan otonomi daerah seluas-luasnya sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 18 ayat (2) dan ayat (5) UUD NRI Tahun 1945. Pemberian otonomi seluas-luasnya pada daerah, menurut Penjelasan Umum angka 1 huruf a UU No. 32/2004 didasarkan alasan fundamental, yaitu: ”...mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat....daerah diharapkan mampu meningkatkan daya saing dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan, dan kekhususan serta potensi dan keanekaragaman dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia”.

Ibid. Bachtiar Oesman. “Pengembangan Eksekutif Kepala Dinas Kesehatan dalam Upaya Peningkatan Kinerja Dinas Kesehatan Daerah di Era Desentralisasi”. Makalah, Disampaikan pada Seminar Desentralisasi Bidang Kesehatan: ”Reformasi Sektor Kesehatan dalam Desentralisasi di Indonesia”, Bandung, 6 Juni 2006.
141

140

112

Asas otonomi daerah dalam UU No, 32/2004, menurut Penjelasan Umumnya, adalah ”prinsip otonomi seluas-luasnya”, dalam arti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan di luar yang menjadi urusan Pemerintah Pusat yang ditetapkan dalam UU No. 32/2004. Berdasarkan Pasal 2 ayat (2) jo. Pasal 10 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) UU No. 32/2004, ditentukan bahwa kecuali politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional. serta agama sebagai urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah Pusat, maka Pemerintah Daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut “asas otonomi dan tugas pembantuan”, sehingga ada keseimbangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dan mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat berdasarkan keadilan. Adapun makna “asas otonomi dan tugas pembantuan” menurut Pasal 2 ayat (2) UU No. 32/2004 adalah “pelaksanaan urusan pemerintahan oleh daerah dapat

diselenggarakan secara langsung oleh pemerintahan daerah itu sendiri dan dapat pula penugasan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota dan Desa atau penugasan dari Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota ke Desa”. Selanjutnya, sesuai dengan Pasal 12 ayat (1) jis. Pasal 11 ayat (3) UU No. 32/2004, maka penyelenggaraan urusan pemerintahan berdasarkan “asas

desentralisasi”, yang maknanya menurut pasal 1 angka 7 UU No. 32/2004, yaitu “penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah Pusat kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Kini, desentralisasi, khususnya desentralisasi di bidang kesehatan, secara tegas telah dinyatakan dalam Pasal 13 ayat (1) huruf e UU No. 32/2004 yang menetapkan “penanganan bidang kesehatan” sebagai 1 (satu) di antara 16 (enam belas) urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah propinsi, dan Pasal 14 ayat (2) huruf e UU No. 32/2004 yang menetapkan “penanganan bidang kesehatan” sebagai 1 (satu) di antara 16 (enam belas) urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah kabupaten/kota. Kemudian, sesuai dengan Pasal 14 ayat (1) huruf e UU No. 32/2004 penyelenggaraan penanganan bidang kesehatan oleh Pemerintah Daerah didasarkan

113

pada asas desentralisasi dengan peletakan titik berat otonomi di daerah kabupaten/kota. Pemerintah Daerah Propinsi. Khusus di bidang kesehatan. Pembagian Fungsi dan Wewenang Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam Otonomi Daerah Sektor Kesehatan Berdasarkan Pasal 76 dan Pasal 78 UU No. standar. Pasal 238 (yang memuat asas hukum peralihan) UU No. berdasarkan Pasal 2 ayat (4) huruf b jo. yaitu “Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia beserta para Menteri sebagaimana dimaksud dalam UUD NRI Tahun 1945”. dalam arti menetapkan kebijakan di bidang kesehatan dalam bentuk norma. Pasal 1 angka 1 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. 32/2004 jis. 32/2004 dan Penjelasannya. 38/2007. 23/1992. “Pemerintah” berwenang melakukan pengawasan dan pembinaan di bidang kesehatan. 38/2007). Menteri Kesehatan sebagai unsur pelaksana Pemerintah Pusat di bidang kesehatan. dan kriteria (selanjutnya disingkat NSPK) yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. asas otonomi. Jadi. dan asas keserasian. dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (selanjutnya disingkat PP No. E. Penanganan bidang kesehatan sebagai urusan wajib pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah propinsi/kabupaten/kota. menurut Pasal 11 ayat (1) UU No. Pasal 5 ayat (3) PP No. prosedur. asas desentralisasi. harus memperhatikan “keserasian hubungan antar susunan pemerintahan”. adalah “Pemerintah Pusat” menurut Pasal 1 angka 1 jo. kabupaten/kota dengan kabupaten/kota. adalah asas-asas hukum yang menjadi landasan filosofis fungsi dan wewenang pemerintah dalam otonomi daerah di bidang kesehatan. 23/1992. mencakup: 114 . mempunyai wewenang berdasarkan fungsi mengatur (regulating) dan mengarahkan (steering). “Pemerintah” yang dimaksud dalam Pasal 76 dan Pasal 78 UU No. dalam arti keserasian hubungan antar propinsi dengan propinsi. yang antara lain. atau propinsi dengan kabupaten/kota.

7. yaitu: 5. pedoman sertifikasi teknologi kesehatan dan gizi. ayat (5) dan ayat (6) jo. pemberian rekomendasi izin sarana kesehatan tertentu yang diberikan oleh Pemerintah Pusat. 4. akreditasi. 4. 6. 115 . tetapi berfungsi sebagai pengatur dan pengarah. registrasi. pengembangan dan penerapan teknologi kesehatan. registrasi. persyaratan kualifikasi usaha jasa di bidang kesehatan. dalam arti Departemen Kesehatan tidak berfungsi sebagai pelaksana (operating). 3. 8. 2. 3. pedoman pembiayaan pelayanan kesehatan. registrasi. sertifikasi sarana kesehatan sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 11 PP No. persyaratan sertifikasi tenaga profesional/ahli serta persyaratan jabatan di bidang kesehatan. Pemerintah Propinsi sebagai daerah otonom menurut Pasal 2 ayat (4) huruf b. dengan Pasal 4 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor Sesuai 1575/MENKES/PER/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan (selanjutnya disingkat Permenkes No. akreditasi. registrasi. evaluasi dan pengawasan skala nasional. 1575/2005) Departemen Kesehatan tidak memiliki wewenang di bidang kesehatan yang bersifat operasional. 5. akreditasi. pemberian izin sarana kesehatan tertentu. sehingga Depertemen Kesehatan hanya memiliki wewenang menetapkan: 1. pemberian izin tenaga kesehatan asing. 6. 2. antara lain. pedoman penapisan. 38/2007. dan pembinaan.1. sertifikasi sarana kesehatan. standar pemberian izin oleh daerah di bidang kesehatan. akreditasi. monitoring. 6. dan standar akreditasi sarana dan prasarana kesehatan. memiliki wewenang di bidang kesehatan berdasarkan fungsi melaksanakan sesuai dengan kebijakan kesehatan dalam bentuk NSPK yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. dan sertifikasi komoditi kesehatan. dan sertifikasi tenaga kesehatan skala nasional. 5. pedoman standar pendidikan dan pendayagunaan tenaga kesehatan. Selanjutnya.

Pasal 11 PP No. 38/2007. sertifikasi sarana kesehatan sesuai peraturan perundang-undangan. sertifikasi sarana produksi dan distribusi alat kesehatan. dan 11. akreditasi. Kemudian. akreditasi. 8. 10. pemberian izin sarana kesehatan rumah sakit swasta khusus dan rumah sakit swasta yang setara dengan rumah sakit pemerintah Kelas B nonpendidikan. dan 7) pembinaan. 9. Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota sebagai daerah otonom menurut Pasal 2 ayat (4) huruf b. 3) pemberian izin sarana kesehatan meliputi rumah sakit swasta yang setara dengan rumah sakit pemerintah Kelas C dan Kelas D. 4) registrasi. sertifikasi tenaga kesehatan tertentu skala propinsi sesuai peraturan perundang-undangan. evaluasi dan pengawasan skala propinsi. 6) sertifikasi alat kesehatan. Jika rumusan Pasal 7 dan Pasal 14 Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (selanjutnya disingkat PP No. mempunyai wewenang di bidang kesehatan berdasarkan fungsi melaksanakan saja yang berpedoman kepada NSPK yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan selaku unsur pelaksana Pemerintah Pusat di bidang kesehatan. 38/2007 dan Permenkes No. evaluasi dan pengawasan skala kabupaten/kota. sertifikasi tenaga kesehatan tertentu skala kabupaten/kota sesuai peraturan perundang-undangan. dalam arti hanya merumuskan 116 . pembinaan. antara lain. 41/2007) dikaji dalam hubungannya dengan fungsi dan wewenang Pemerintah Daerah di bidang kesehatan. monitoring. Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota juga memiliki wewenang di bidang kesehatan berdasarkan fungsi mengatur tetapi “terbatas”. 2) pemberian rekomendasi izin sarana kesehatan tertentu yang diberikan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Propinsi. sesuai dengan PP No. yaitu: 1) registrasi. akreditasi. 5) pemberian izin praktik tenaga kesehatan tertentu. ayat (5) dan ayat (6) jo. memiliki wewenang di bidang kesehatan berdasarkan fungsi melaksanakan sesuai dengan kebijakan di bidang kesehatan dalam bentuk NSPK yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. 1575/2005. maka Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebagai organisasi perangkat daerah Propinsi dan Kabupaten/Kota di bidang kesehatan. pemberian rekomendasi izin tenaga kesehatan asing.7. monitoring. registrasi.

Propinsi Pada dasarnya hanya memiliki wewenang di bidang kesehatan berdasarkan fungsi melaksanakan saja. tetapi terbatas pada perumusan kebijakan di bidang kesehatan yang bersifat “teknis” sebagai penjabaran lebih lanjut dari kebijakan di bidang kesehatan dalam bentuk NSPK yang ditetapkan Pemerintah Pusat. sesuai dengan asas hukum peralihan. sebagaimana dijelaskan di atas. Sumber: Bahan hukum primer. Juga memiliki wewenang di bidang berdasarkan fungsi mengatur. Juga memiliki wewenang di bidang kesehatan berdasarkan fungsi mengatur. 29/2004 yang secara yuridis. 2. 3.kebijakan yang bersifat teknis sebagai penjabaran dari kebijakan di bidang kesehatan yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. Pemerintah Fungsi dan Wewenang di Bidang Kesehatan Pusat Pada dasarnya memiliki wewenang di bidang kesehatan berdasarkan fungsi mengatur dan mengarahkan. yaitu hanya menetapkan kebijakan di bidang kesehatan saja dalam bentuk NSPK. dapat ditabulasikan dalam tabel 7. Mengarahkan dan Melaksanakan No. 23/1992 dan UU No. Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota juga memiliki wewenang di bidang kesehatan yang dijabarkan dalam beberapa Permenkes dan Kepmenkes sebagai aturan pelaksana dari UU No. Tabel 7. Pembagian wewenang Pemerintah di bidang kesehatan berdasarkan fungsi mengatur. Kabupaten/ Pada dasarnya memiliki wewenang di bidang kesehatan Kota berdasarkan fungsi melaksanakan saja. kecuali perizinan rumah sakit swasta khusus dan rumah sakit swasta yang (kelasnya) setara dengan rumah sakit pemerintah Kelas B nonpendidikan. 1. dan melaksanakan. dalam arti melaksanakan wewenang di bidang kesehatan sesuai dengan kebijakan di bidang kesehatan dalam bentuk NSPK yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. tetapi hanya terbatas pada perumusan kebijakan di bidang kesehatan yang bersifat “teknis” sebagai penjabaran lebih lanjut dari kebijakan di bidang kesehatan dalam bentuk NSPK yang ditetapkan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Propinsi. Pembagian Wewenang Pemerintah Sektor Kesehatan Berdasarkan Fungsi Mengatur. masih 117 . Pemerintah Pusat. mengarahkan. dalam arti melaksanakan wewenang di bidang kesehatan sesuai dengan kebijakan di kesehatan dalam bentuk NSPK yang ditetapkan Pemerintah Pusat. diolah.

29/2004 dan PP No. dan dinyatakan tidak berlaku). 29/2004. 32/2004.berlaku. dan huruf d UU No. Kepmenkes No. PP 38/2007 jis. 2) Penyelenggaraan pelayanan kesehatan kepada pasien secara bermutu dan manusiawi. ayat (2). 29/2004. 32/2004. 269/2008. dan PP No. ayat (2). jika merujuk kepada Pasal 77 UU No. Khusus terhadap penetapan pola tarif pelayanan kesehatan rumah sakit swasta sesuai kemampuan membayar masyarakat setempat sebagaimana diharuskan dalam Pasal 8 UU No. persetujuan tindsakan kedokteran berdasarkan hak pasien menentukan nasib sendiri dan memperoleh informasi sebagaimana diharuskan dalam Pasal 45 ayat (1). 23/1992 jo. Pasal 13 dan Pasal 14 Kepmenkes No. Pasal 71 UU No. ayat (2). 10/1960. UU No. ayat (2). khususnya alinea 5 dan 6. dan Permenkes No. 1333/1999. c. 282/1993 jo. dan ayat (3) UU No. b. 29/2004. 23/1992. huruf c. penggunaan standar pelayanan kedokteran dan standar pelayanan rumah sakit yang berorientasi hak pasien sebagaimana diharuskan dalam Pasal 32 ayat (4) UU No. 585/1989. 26/1960. 29/2004 jo. Pasal 44 ayat (1). diganti. 282/1993. 1173/2004 jis. Berdasarkan Pasal 77 UU No. memiliki fungsi dan wewenang pengawasan terhadap pelaksanaan praktik kedokteran. yang merupakan inti dari pelayanan kesehatan. Permenkes No. d. dan Permenkes No. karena belum atau tidak direvisi (dalam arti belum dicabut. maka Dinas Kesehatan Kabupaten/Dinas Kesehatan Kota setempat sebagai unsur pelaksana otonomi daerah Pemerintah Kabupetan/Pemerintah Kota di bidang kesehatan. dan ayat (3) UU No. penyimpanan rahasia kedokteran berdasarkan kepercayaan pasien sebagaimana diharuskan dalam Pasal 48 UU No. 29/2004. yang meliputi: a. penggunaan rekam medis untuk kepentingan pengobatan dan perawatan pasien sebagaimana diharuskan dalam Pasal 46 ayat (1). 512/2007. 23/1992 jo. 118 . 23/1992. dan Kepmenkes No. UUPD No. dan ayat (3) dan Pasal 47 ayat (1). ayat (4) dan ayat (6) UU No. maka Dinas Kesehatan Propinsi setempat yang berwenang melakukan pengawasan. dan Permenkes No. dalam bentuk-bentuk sebagai berikut: 1) Penanganan penderita gawat darurat medik atas dasar perikemanusiaan sebagaimana diharuskan dalam Pasal 51 huruf a.

khusus terhadap penjabaran dan pelaksanaan bentuk fungsi sosial pelayanan kesehatan rumah sakit swasta sebagaimana diharuskan dalam Pasal 57 ayat (2) UU No. Kepmenkes No. merata dan terjangkau oleh masyarakat sebagaimana diharuskan dalam Pasal 61 UU No.d. 23/1992 jo. 720/2006. 32/2004. Permenkes No. 983/1992. 1173/2004 jis. 23/1992 jo. maka Menteri Kesehatan c. dengan/tanpa mengikutsertakan IDI dan PDGI setempat. Permenkes No. 29/2004 dan Kepmenkes No. Pasal 58 jis. 1197/2004. khusus terhadap pengendalian mutu dan biaya pelayanan kesehatan rumah sakit sesuai kebutuhan medis pasien sebagaimana diharuskan dalam Pasal 49 ayat (1). Pasal 16 PP No. jika merujuk kepada Pasal 71 UU No. 23/1992. Pasal 43 Kepmenkes No. Pasal 8 dan Pasal 9 Permenkes No. 159b/1988. jika merujuk kepada Pasal 77 UU No. Danas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Dinas Kesehatan Kota yang berwenang melakukan pengawasan.q. Permenkes No.sedangkan Menteri Kesehatan c. Danas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Dinas Kesehatan Kota setempat yang berwenang melakukan pengawasan. dan Kepmenkes No. Pasal 25 Permenkes No. dapat ditabulasikan pada tabel 8. jika merujuk kepada Pasal 77 UU No. dengan mengikutsertakan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi setempat dan unit-unit lain dalam satu Tim Pembina. UU No. maka Menteri Kesehatan c. Pasal 2 s. UU No. 38/2007 jis. 29/2004. Kemudian. Secara lebih konkrit.q. khusus terhadap pengelolaan perbekalan kesehatan rumah sakit yang bermutu. Selanjutnya. maka Menteri Kesehatan c. Pasal 57 ayat (2) UU No. ayat (2) dan ayat (3) UU No. 1197/2004. Direktur Jenderal Pelayanan Medik hanya berwenang melakukan pembinaan. Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota terhadap pelayanan kesehatan rumah sakit sebagaimana diuraikan diatas. Berikutnya. 23/1992. 72/1998. Direktur Jenderal Pelayanan Medik. Direktur Jenderal Pelayanan Medik yang berwenang melakukan pengawasan. 23/1992. 631/2005. 378/1993 jis. 378/1993.q. 363/1998 dan Kepmenkes No. 32/2004. Direktur Jenderal Pelayanan Medik. Kepmenkes No. fungsi dan wewenang pengawasan Pemerintah Pusat. 426/2006. 363/1998. dan Kepmenkes No.q. 119 . PP No.

9. Pengelolaan perbekalan kesehatan yang Menkes c. 3. 7. Dirjen sosial pelayanan kesehatan.q. Penggunaan standar pelayanan kedokteran Propinsi/Kabupaten/ dan standar pelayanan rumah sakit yang Kota setempat.q. Dinkes Propinsi/Kabupaten/ Kota dengan/ tanpa IDI dan PDGI setempat. 4. 2. Penggunaan rekam medis untuk kepentingan pengobatan dan perawatan pasien. berorientasi hak pasien. Dirjen bermutu. Penjabaran dan pelaksanaan bentuk fungsi Menkes c. Dirjen kesehatan sesuai kebutuhan medis pasien. Yanmedik mengikutsertakan Kepala Dinkes Propinsi setempat dan unit terkait dalam satu Tim Pembina. Penetapan pola tarif pelayanan kesehatan Dinkes (khusus sesuai kemampuan membayar masyarakat setempat pengawasan) dan setempat. Fungsi dan Wewenang Pengawasan Pemerintah Terhadap Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit No. Menkes c.q. Dinkes atas dasar perikemanusiaan. diolah. Sumber: Bahan hukum primer. 5. 120 . Penanganan penderita gawat darurat medik Menkes cq. Penyimpanan rahasia kedokteran berdasarkan kepercayaan pasien. Persetujuan tindakan kedokteran berdasarkan hak pasien menentukan nasib sendiri dan memperoleh informasi.Tabel 8. Yanmedik. Dirjen Yanmedik (khusus pembinaan). Dinkes Propinsi/Kabupaten/ masyarakat. Dirjen Yanmedik.q. Bentuk Pelayanan Kesehatan Pengawas Rumah Sakit 1. Kota. Propinsi 6. merata dan terjangkau oleh Yanmedik. Pengendalian mutu dan biaya pelayanan Menkes c. 8.

G. 23/1992. 38/2007. Keberadaan PERDA. 41/2007. Faza Media. dan sejumlah Permenkes dan Kepmenkes. Penjabaran Fungsi dan Wewenang Pemerintah Daerah Sektor Kesehatan dalam Peraturan Daerah Fungsi dan wewenang Pemerintah Daerah di bidang kesehatan yang diatur dalam UU No. Pasal 7 UU No. kondisi dan kebutuhan daerah Suko Wiyono. sebagaimana telah diuraikan di atas. PP No. Otonomi Daerah dalam Negara Hukum Indonesia: Pembentukan Peraturan Daerah Partisipatif. Isu mengenai perimbangan keuangan antara antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah sehubungan pembiayaan kebijakan kesehatan dan implementasinya di daerah adalah berkenaan dengan apakah kebijakan kesehatan dan implementasinya tersebut termasuk ranah otonomi daerah atau kewenangan pemerintah pusat yang didekonsentrasi atau tugas pembantuan. sesuai dengan Pasal 136 ayat (2) UU No. UU No. dengan tegas menyatakan bahwa PERDA adalah bagian integral dari peraturan perundangan-undangan Republik Indonesia. harus dijabarkan di tingkat daerah propinsi/kabupaten/kota dalam bentuk Peraturan Daerah (selanjutnya disingkat PERDA). dengan mempertimbangkan potensi. 33/2004 pada hakikatnya mengatur tentang keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. 2006. menurut Suko Wiyono. 32/2004. demokratis. hlm. Yang dimaksud dengan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah adalah suatu sistem pembagian keuangan yang adil. 10/2004. adalah conditio sine quanon dalam rangka melaksanakan kewenangan OTODA. PP No.142 termasuk perlindungan hukum di bidang kesehatan. dan Pemenkes No. 142 121 . serta UU No. Jakarta. 1575/2005. 32/2004. Atas dasar itu. Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam Otonomi Sektor Kesehatan UU No. 29/2004. 80.F. yang secara konstitusional mengacu kepada Pasal 18 ayat (6) UUD NRI Tahun 1945. proporsional. PERDA harus dapat memberikan perlindungan hukum bagi rakyat di daerah. transparan dan efisien dalam rangka pendanaan penyelenggaraan desentralisasi.

Sehubungan isu desentralisasi dan perimbangan keuangan pusat-daerah. 5) Dana Tugas Pembantuan adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan tugas pembantuan (Pasal 1 angka 27). Untuk daerah yang secara keuangan masih belum dapat melaksanakan otonominya secara 122 . 1107/Menkes/E/VII/2000). peristiwa luar biasa dan/atau krisis solvabilitas (Pasal 1nagka 29).serta besaran pendanaan penyelenggaraan dekonsentrasi dan tugas pembantuan (vide Pasal 1 angka 3 UU No. tidak termasuk dana yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat dan daerah (Pasal 1 angka 26). 33/2004). Sedasar dengan itu. Tugas pemerintah daerah. 33/2004. yaitu: 1) Dana Bagi Hasil adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi (vide Pasal 1 angka 20). maka dapat dijelaskan bahwa tugas pemerintah pusat yang utama adalah melakukan pengaturan dalam rangka melindungi kesehatan seluruh rakyat Indonesia. undang-undang menetapkan suatu dana perimbangan. baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota yang utama adalah melakukan tugas-tugas mengurus sehubungan asas otonomi daerah dan dalam rangka tugas mengatur melakukan pengawasan/penegakan hukum sesuai kewenangannya (vide Surat Edaran Menkes No. 3) Dana Alokasi Khusus adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai prioritas nasional (Pasal 1 angka 23) 4) Dana Dekonsentrasi adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh gubernur sebagai wakil pemerintah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi. 6) Dana Darurat adalah dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan kepada daerah yang mengalami bencana nasional. Sehubungan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah ini terdapat beberapa konsep penting dalam UU No. Yang dimaksud dengan dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi (vide Pasal 1 angka 19) UU No. 33/2004). 2) Dana Alokasi Umum adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan antardaerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi (Pasal 1 angka 21).

seharusnya parameternya ditentukan dengan jelas.memadai. teknologi”. agar konsisten dengan “spirit hukum” Pasal 57 ayat (2) UU No. (2) “Tingkat Kepmenkes kecanggihan No. yang mencakup: (1) “Kemampuan membayar masyarakat setempat”. 282/1993 merupakan dasar penetapan tarif pelayanan kesehatan rumah sakit swasta. Pasal 4. Pasal 10 dan Pasal 11 Kepmenkes No. 23/1992. yang menurut Pasal 2 angka 1 No. seharusnya tidak hanya terbatas pada tarif tempat tidur pasien rawat inap kelas III. tetapi juga tarif untuk jenis pelayanan kesehatan lainnya. 123 . 282/1993 harus diperhatikan dalam menetapkan pola tarif pelayanan kesehatan rumah sakit swasta. 282/1993. seharusnya kriterianya juga dijabarkan dengan jelas. pemerintah menyediakan sejumlah dana yang dapat digunakan oleh pemerintah daerah dalam rangka memenuhi kewajiban mewujdkan hak setiap warga negara atas derajat kesehatan yang optimal. yang menurut Pasal 282/1993 harus diatur oleh direktur RSS. yang menurut Pasal 2 angka 1 Kepmenkes No. Pasal 6. Pasal 5. H. (4) “Tarif khusus” bagi masyarakat kurang/tidak mampu. kurang/tidak mampu. Penguatan Asas Konsistensi dan Kejelasan Aturan Hukum dan Kebijakan Tarif Pelayanan Kesehatan Penguatan asas konsistensi dan kejelasan pengaturan hukum dan kebijakan pola tarif pelayanan kesehatan harus terkonseptualisasi dalam Kepmenkes 282/1993 yang perlu segera direvisi. (3) Pemberian keringanan/pembebasan biaya pelayanan kesehatan bagi pasien 2 angka 3 Kepmenkes No. 282/1993 harus ditetapkan oleh direktur rumah sakit swasta. termasuk jasa dokter. seharusnya pedomannya ditetapkan oleh Dirjen Yanmedik Depkes-RI segera setelah dilakukannya revisi Kepmenkes No. yang menurut Pasal 3.

I. Penguatan Asas Konsistensi dan Kesegeraan Aturan Hukum dan Kebijakan Pengendalian Mutu dan Biaya Pelayanan Kesehatan Penguatan asas konsistensi dan kesegeraan pengaturan hukum dan kebijakan pengendalian mutu dan biaya pelayanan kesehatan harus terkonseptualisasi dalam hal-hal, sebagai berikut: (1) Pembentukan Permenkes yang menjabarkan wewenang IDI dan PDGI dalam membina dan mengawasi dokter dalam melakukan praktik kedokteran di rumah sakit sebagai tindaklanjut dari Pasal 49 ayat (3) UU No. 29/2004. Mengingat audit medis bersifat konfidensial, maka substansi hukumnya seharusnya juga memuat sanksi bagi IDI dan PDGI (sebagai pihak eksternal rumah sakit) yang mempubikasikan audit medis tanpa persetujuan dari pihak internal rumah sakit. (2) Hasil audit medis internal yang dilakukan Komite Medis Rumah Sakit menurut Kepmenkes No. 496/2006 seharusnya bersifat mengikat, sehingga tindak

lanjutnya tidak hanya tergantung kepada kehendak dan sikap normatif direktur rumah sakit saja. (3) Pembentukan Permenkes yang menjabarkan wewenang Menkes cq. Dirjen

Yanmedik dan Dinas Kesehatan Propinsi/Kota/Kabupaten untuk mengawasi dan mengaudit medis eksternal rumah sakit, mengikutsertakan IDI dan PDGI setempat, sebagai tindak lanjut dari Pasal 71 jis. Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) UU No. 29/2004 jo. Kepmenkes No. 496/2006. Permenkes ini seharusnya juga memuat sanksi administratif yang jelas dan dan tegas kepada rumah sakit, yang terbukti tidak mengendalikan mutu dan biaya pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan medis pasien.

J. Penguatan Asas Kejelasan dan Kesegeraan Aturan Hukum dan Kebijakan Fungsi Sosial Pelayanan Kesehatan Penguatan asas kejelasan dan kesegeraan pengaturan hukum dan kebijkan fungsi sosial pelayanan kesehatan harus tercermin dalam Permenkes No. 159b/1988 dan Permenkes No. 378/1993 yang perlu segera direvisi, agar substansi hukumnya jelas, mencakup:

124

(1) Pembebasan/keringanan biaya pelayanan kesehatan bagi masyarakat kurang dan tidak mampu, yang menurut Pasal 5 angka 5 Permenkes No. 378/1993 harus dilaksanakan oleh rumah sakit swasta dalam rangka fungsi sosialnya, seharusnya juga didukung oleh adanya pedoman yang jelas dalam Permenkes mengenai pejabat/badan yang berwenang dan mekanisme hukum pemberian dan penggunaan SKTM atau bukti lain yang mendukung sebagai syarat untuk memperoleh pembebasan/keringanan biaya pelayanan kesehatan. (2) Penetapan ketentuan besaran tarif pelayanan kesehatan kelas III/kelas

terendah bagi masyarakat kurang dan tidak mampu, yang menurut Pasal 4 Permenkes No. 378/1993 jo. Permenkes No. 1173/2004 jis. PP No. 38/2007 jis. UU No. 32/2004 merupakan wewenang Kepala Dinas Kesehatan Propinsi setempat (setelah berkonsultasi dengan PERSI setempat), harus dilaksanakan dengan konsisten segera setelah (sesuai dengan) revisi Permenkes No. 159b/1988 dan Permenkes No. 378/1993.

K. Penguatan Asas Konsistensi dan Kejelasan Aturan Hukum dan Kebijakan Pengelolaan Perbekalan Kesehatan Penguatan asas konsistensi pengaturn hukum dan kebijakan pengelolaan perbekalan kesehatan harus terkonseptualisasi dalam hal-hal, sebagai berikut: (1) Permenkes No. 085/1989 perlu segera direvisi, agar substansi hukumnya dengan jelas membebankan kewajiban menulis resep dan/atau menggunakan obat generik yang harganya terjangkau masyarakat kurang dan tidak mampu tidak hanya kepada fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah, tetapi juga fasilitas pelayanan kesehatan swasta, sehingga konsisten dengan Pasal 61 UUK No. 23/1992 dan Pasal 49 ayat (1) UU No. 29/2004 yang telah mengharuskan ”setiap rumah sakit dan dokternya” mengendalikan mutu dan biaya pelayanan kesehatan agar dapat terjangkau oleh masyarakat kurang dan tidak mampu. (2) Permenkes No. 363/1998 perlu segera direvisi, agar substansi hukumnya tidak hanya mengatur penggunaan alat kesehatan yang harus memenuhi persyaratan mutu, keamanan dan kemanfaatan, tetapi juga mengatur persyaratan keterjangkauan biayanya untuk mengendalikan overutilisasi alat kesehatan di 125

rumah sakit, yang harus didukung oleh adanya sanksi dan diperkuat oleh struktur kelembagaan hukum kesehatan dengan wewenang pengawasan yang jelas, sehingga konsisten dengan spirit hukum Pasal 61 UU No. 23/1992 jo. PP No. 72/1998.

L. Penguatan Asas Konsistensi, Sinkronisasi, dan Kesegeraan Aturan Hukum dan Kebijakan Perizinan Perlu pembentukan aturan hukum dan kebijakan perizinan di bidang kesehatan dalam bentuk PP sebagai penjabaran dari Pasal 59 UU No. 23/1992, yang harus segera ditindaklanjuti dengan pembentukan Permenkes yang substansi hukumnya mengatur tentang standar perizinan di bidang kesehatan sebagai penjabaran yang konsisten dan sinkron dari Pasal 4 huruf g Permenkes No. 1575/2005 dan diperkuat oleh Pasal 9 PP No. 38/2007, yang secara formal mencabut/menggantikan Permenkes No. 920/1986 dan Surat Edaran Menkes No. 725/2004, sesuai dengan asas desentralisasi kesehatan dalam rangka otoda berdasarkan UU No. 32/2004, yang menghendaki agar perizinan di bidang kesehatan didasarkan atas asas desentralisasi dengan peletakan titik berat otonomi di daerah kota/kabupaten.

M. Penguatan Asas Konsistensi Aturan Hukum dan Kebijakan Akreditasi Konsistensi aturan hukum dan kebijakan akreditasi di bidang kesehatan harus diwujudkan dengan pembentukan PP yang substansi hukumnya antara lain mengatur akreditasi rumah sakit, yang harus segera diikuti dengan upaya merevisi Kepmenkes No. 1165A/2004 yang mengatur tentang akreditasi rumah sakit sesuai dengan asas desentralisasi kesehatan dalam rangka otoda berdasarkan UU No. 32/2004 dan Permenkes No. 1575/2005 yang diperkuat PP No. 38/2007, agar secara substantif memberikan wewenang mengakreditasi rumah sakit kepada Pemkab/Pemkot, yang sifatnya imperatif bukan fakultatif, dan fungsinya sebagai tugas pokoknya sendiri bukan ”asistensi” terhadap tugas pokok KARS.

126

yang konsisten dengan asas desentralisasi dalam rangka otoda berdasarkan UU No. 1575/2005 yang diperkuat PP No. 29/2004. Penguatan Asas Kejelasan dan Konsistensi Aturan Hukum dan Kebijakan Sanksi Administrasi Aturan hukum dan kebijakan yang substansi hukumnya mengatur tentang sanksi administrasi. Pasal 72 UU No. mengingat pencabutan SIP oleh Kepala Dinkes Kabupaten/Kota terhadap dokter yang melanggar kewajiban hukumnya harus didasarkan atas putusan MKDKI. perlu segera diwujudkan. 1575/2005 yang diperkuat oleh PP No. 127 . (2) Konsisten dan sinkron dengan asas desentralisasi kesehatan dalam rangka otoda berdasarkan UU No.N. perlu segera diwujudkan. 38/2007. b) Pembentukan Permenkes yang menjabarkan bentuk-bentuk sanksi administrasi terhadap rumah sakit yang melanggar kewajiban hukumnya dan menegaskan badan/pejabat pemerintah berwenang serta mekanisme pengenaan sanksi administrasinya. yang sifatnya imperatif bukan fakultatif. O. 32/2004 dan Permenkes No. dengan cara: a) Pembentukan MKDKI di tingkat propinsi dan penyusunan pedoman tata cara penanganan kasus pelanggaran disiplin dokter oleh KKI. agar secara substantif: (1) Memberikan wewenang mengaudit medis eksternals rumah sakit kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah bersama dengan KKI. 32/2004 dan Permenkes No. yang menghendaki agar audit medis eksternal rumah sakit oleh pemerintah didasarkan atas asas desentralisasi dengan peletakan titik berat otonomi di daerah kota/kabupaten. yang jelas ruang lingkup dan rincian fungsi dan tugas masing-masing. IDI dan PDGI setempat. 38/2007. Penguatan Asas Kejelasan dan Kesegeraan Peraturan Hukum Audit Medis Pembentukan Permenkes yang mengatur tentang audit medis eksternal sebagai penjabaran yang jelas dari Pasal 71 jo.

P. Percepatan Penjabaran Fungsi dan Wewenang Pemerintah Daerah Sektor Kesehatan dalam Peraturan Daerah Percepatan penjabaran fungsi dan wewenang pemerintah daerah di bidang kesehatan, yang mencakup perizinan, akreditasi, audit medis, dan sanksi administrasi, harus ditata dalam Perda dan Kepkada, yang jelas, segera, sinkron dan konsisten dengan asas otonomi daerah. Secara konkrit, perlu penataan (normatif), berupa pembentukan Perda dan Kepkada yang menjabarkan secara “teknis” (untuk tingkat propinsi) dan ”sangat teknis” (untuk tingkat kabupaten/kota) perizinan, standarisasi, akreditasi dan sertifikasi di bidang kesehatan, segera setelah Menkes selaku unsur pelaksana wewenang pemerintah pusat di bidang kesehatan menetapkan kebijakan dalam bentuk norma, standar, prosedur, dan kriteria sebagai acuan hukumnya (dalam bentuk Permenkes). Secara formil, pembentukan Perda dan Kepkada itu harus

mengacu kepada UU No. 32/2004 dan Permenkes No. 1575/2005 yang diperkuat oleh PP No. 38/2007 dan secara substantif harus menjadikan perizinan, standarisasi, akreditasi dan sertifikasi sebagai instrumen hukum melindungi hak setiap warga negara atas derajat kesehatan yang optimal, bukan sebagai sarana hukum memperoleh retribusi daerah.

Q.

Penataan Struktur dan Kapasitas Kelembagaan Hukum (Pemerintah) Sektor Kesehatan Mengacu Konsep Good Governance Lembaga Administrasi Negara (LAN) menjelaskan bahwa good governance

(selanjutnya disingkat GG) adalah penyelenggaraan pemerintahan yang solid dan bertanggung jawab secara efektif dan efisien, dengan menjaga “kesinergian” interaksi yang konstruktif di antara domain-domain negara, sektor swasta dan masyarakat (society). GG pada umumnya diartikan sebagai pengelolaan

pemerintahan yang baik, dalam arti mengikuti kaidah-kaidah tertentu sesuai dengan prinsip-prinsip dasar GG.143 Asas-asas GG yang dikemukakan UNDP sebagaimana dikutip oleh LAN, yaitu:
Lembaga Administrasi Negara, dalam Joko Widodo. 2001. Good Governance: Telaah dari Dimensi Akuntabilitas dan Kontrol pada Era Desentralisasi dan Otonomi Daerah. Ihsan Cendikia, Surabaya, hlm. 24.
143

128

1.

2. 3.

4. 5.

6. 7.

8.

9.

Partisipasi: Setiap warganegara berpartisipsi dalam pengambilan keputusan, baik secara langsung maupun melalui institusi yang mewakili kepentingannya, atas dasar kebebasan berasosiasi dan berbicara secara konstruktif. Taat hukum (rule of law): kerangka hukum yang adil dan dilaksanakan tanpa diskriminasi, terutama untuk perlindungan HAM. Transparansi: Dibangun atas dasar kebebasan arus informasi mengenai proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan kerja lembaga-lembaga dapat diterima oleh mereka yang membutuhkan. Responsif: Lembaga-lembaga negara/badan usaha harus berusaha untuk melayani stakeholdersnya. Responsif terhadap aspirasi masyarakat. Berorientasi kesepakatan (consessus orientation): GG menjadi perantara kepentingan yang berbeda untuk mendapatkan pilihan terbaik bagi kepentingan yang lebih luas, dalam hal kebijakan-kebijakan maupun prosedur-prosedur kerja. Kesetaraan (equity): Semua warga negara mempunyai kesempatan yang sama untuk meningkatkan atau mempertahankan kesejahteraan. Effektif dan efisien: proses-proses dan lembaga-lembaga menghasilkan sesuai dengan apa yang telah digariskan dengan menggunakan sumbersumber yang tersedia. Akuntabilitas (accountability): Para pembuat keputusan dalam pemerintahan, sektor swasta dan masyarakat (civil society) bertanggung jawab kepada publik dan lembaga-lembaga stakeholders. Visi strategis (strategic vision): Para pemimpin dan publik harus mempunyai perspektif GG dan pengembangan SDM yang luas dan jauh ke depan sejalan dengan apa yang diperlukan untuk pembangunan.144

Secara umum ada konsensus tentang faktor-faktor kunci GG, yaitu: kemampuan teknis dan manajerial, kapasitas organisasi, kepastian hukum, pertanggungjawaban, transparansi dan sistem informasi yang terbuka, dan partisipasi.145 G.H. Addink memaknai asas-asas GG sama dengan asas-asas good administration (selanjutnya disingkat GA) dan merumuskan secara detail menjadi delapan asas yang mencakup karakter positif maupun negatif, yaitu: asas larangan bertindak sewenang-wenang, asas keadilan atau asas kewajaran, asas kepastian hukum, asas kepercayaan, asas kesamaan, asas proporsionalitas atau asas keseimbangan, asas kehati-hatian, dan asas pertimbangan.146

Bintaro Tjokroamidjojo. 2002. Reformasi Nasional Penyelenggaraan Good Governance dan Perwujudan Masyarakat Madani. Lembaga Administrasi Negara, Jakarta, hlm. 133-136. 145 Jurnal Transparansi Indonesia. 2006. “Good Governance”, dalam http://www.goodlocalgovernance.multiply.com/journal/item/, diakses tanggal 12 Januari 2008. 146 G.H. Addink, dalam Sadjijono. 2008. Memahami Beberapa Bab Pokok Hukum Administrasi. LaksBang PRESSindo, Yogyakarta, hlm. 173 dan 176.

144

129

Pemberian makna yang sama antara asas-asas GG dan asas-asas GA, menurut Sadjijono, merupakan suatu suatu pemikiran dan onovasi baru dalam hukum administrasi. Walaupun Kuntjoro Purbopranoto pernah menulis ”asas-asas umum untuk pemerintahan yang baik”,147 akan tetapi tidak diberi penjelasan persamaan makna dari asas dimaksud. Selanjutnya, Sadjijono mendukung pendapat G.H. Addink dengan argumentasi bahwa istilah GG berarti penggunaan atau pelaksanaan kewenangan bidang administrasi oleh organ pemerintah dan menimbulkan akibatakibat hukum bidang administrasi negara, sehingga indikasi suatu pemerintahan yang baik apabila administrasinya baik.148 Jadi, GG pada dasarnya adalah penyelenggaraan pemerintahan yang bersih, teratur, tertib, tanpa cacat dan berwibawa, oleh karena itu tindak lanjut untuk menjadikan pemerintahan yang baik dan bersih dengan mengaktualisasikan secara efektif ”asas-asas umum pemerintahan yang baik”, yang digunakan sebagai hukum tidak tertulis dengan melalui pelaksanaan hukum dan penerapan hukum serta pembentukan hukum.149 Dengan mengacu konsep good governance GG, maka dapat dipahami bahwa struktur kelembagaan hukum (pemerintah) secara internal dan eksternal harus mempunyai keterkaitan sistemik dan didukung oleh kapasitas atau daya dukung kelembagaan (SDM, dana, sarana dan prasarana) yang kuat, serta ada konsistensi struktur dan fungsinya dengan asas hukum yang mendasari pembentukannya, sehingga dapat mengkonkritisasi asas-asas hukum ke dalam wujud norma-norma hukum dalam aturan hukum dan kebijakan, agar pemerintah dapat melakukan tindakan pemerintahan yang baik tentang perizinan, akreditasi, audit medis, dan sanksi administrasi d bidang kesehatan yang memadai (adekuat), guna melindungi hak setiap warga negara atas derajat kesehatan yang optimal. Kemudian, kelemahan struktur dan kapasitas kelembagaan hukum

(pemerintah) di bidang kesehatan, sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, maka perlu penataan (normatif), sebagai berikut:

Kuntjoro Purbopranoto. 1981. Beberapa Catatan Hukum Tata Pemerintahan dan Peradilan Administrasi Negara. Alumni, Bandung, hlm. 28. 148 Sadjijono. Op. Cit., hlm. 173-174. 149 S.F. Marbun. ”Eksistensi Asas-asas Umum Penyelenggaraan Pemerintahan yang Layak dalam Menjelmakan Pemerintahan yang Baik dan Bersih”. Ringkasan Disertasi, UNPAD, Bandung, 2001, hlm. 13.

147

130

1575/2005 yang diperkuat oleh PP No. guna mengurangi dominasi Depkes. Berikutnya. baik antarprogram dan unit dalam Depkes pusat maupun antarunit dalam Depkes di pusat dengan Dinkes Propinsi/Kota/Kabupaten di daerah. 131 . Pengkaitan Sistem Pelayanan Kesehatan Nasional dan Daerah Sistem pelayanan kesehatan nasional yang terwujud dalam SKN harus mempunyai keterkaitan secara internal dan eksternal. dan penguatan kapasitas aparatur hukum antara pemerintah pusat (Depkes) dan Pemda (Dinkes Propinsi/Kota/Kabupaten). dan Depdagri di sektor kesehatan. 32/2004 dan Permenkes No. dengan mengacu kepada fungsi pengarahan dan fungsi pengaturan yang konsisten dengan asas desentralisasi dalam rangka otoda berdasarkan UU No. termasuk penggalian sumber keuangannya. Depkeu. akreditasi dan sertifikasi di bidang kesehatan. Kemudian. peningkatan kerjasama. Perubahan Struktur dan Fungsi Departemen Kesehatan di Pusat dan Dinas Kesehatan di Daerah Perubahan struktur organisasi Depkes perlu diwujudkan. juga perlu dilakukan. 1575/2005 yang diperkuat oleh PP No. harus segera direalisasikan. 38/2007. pesnegasan komitmen pemerintah pusat melaksanakan fungsi regulatif di bidang kesehatan diperlukan guna mendukung Pemda dalam membentuk Perda dan Kepkada yang tidak hanya terfokus pada tugas pokok dan fungsi organisasi perangkat daerah di bidang kesehatan. dengan mengacu kepada asas desentralisasi kesehatan dalam rangka otoda berdasarkan UU No. pengkaitan sistem pelayanan kesehatan nasional dan daerah perlu didukung dengan pengaturan wewenang yang jelas. standarisasi. tetapi juga menekankan pada perlindungan hak setiap warga negara atas derajat kesehatan yang optimal. 2. Selanjutnya. implementasi fungsi Depkes dalam membentuk aturan hukum dan kebijakan tentang perizinan.1. 41/2007. perubahan struktur pemerintahan yang lebih desentralistik. Bappenas. Selain itu. 32/2004 dan Permenkes No. guna menjadi rujukan bagi PEMDA dalam membentuk Perda dan Kepkada.

guna menghilangkan situasi saling curiga. hlm. bahkan mencegah dan menyelesaikan konflik. pengawasan dan evaluasi Perda dan Kepkada di bidang kesehatan. disertai peningkatan jumlah dan kualifikasi SDM. 150 132 . dalam Suparto Wijoyo. meningkatkan komunikasi yang intens dan transparan. standarisasi. “Mewujudkan Good Governance Melalui Reformasi Pelayanan Publik”. Pelayanan Publik dari Dominasi ke Partisipasi. pemberdayaan dan pelatihan staf Depkes di pusat dan staf Dinkes Propinsi/Kota/Kabupaten di daerah harus bertujuan menyeimbangkan Agus Dwiyanto. Selain itu. Surabaya.Guna mendukung upaya perancangan. misalnya kasus perizinan. Pembinaan sistematis. rigiditas dan daya tanggap yang buruk. Penguatan Kapasitas Kelembagaan Kementerian Kesehatan di Pusat dan Dinas Kesehatan di Daerah Penguatan kapasitas kelembagaan Kementerian Kesehatan di pusat dan Dinkes Propinsi/Kota/Kabupaten di daerah harus dilakukan dalam rangka pembenahan birokrasi sebagai langkah strategis dalam pengembangan GG. kuatnya budaya KKN serta akuntabilitas birokrasi yang rendah dapat menuntaskan sebagian besar masalah dalam pengembangan GG.150 Penguatan kapasitas kelembagaan Depkes dan Dinkes Propinsi/Kota/ Kabupaten perlu dilakukan dalam bentuk peningkatan jumlah dan kualifikasi SDM disertai pembinaan sistematis. 2006. pembentukan. Airlangga University Press. tidak kalah pentingnya adalah peningkatan jumlah dan kualifikasi SDM pada Dinkes Propinsi/Kota/Kabupaten di daerah yang menguasai IPTEK kesehatan. guna mendukung upaya perumusan persyaratan teknis dalam Perda dan Kepkada tentang perizinan. 52. Karena itu. dengan merujuk kepada pandangan Agus Dwiyanto. termasuk segi-segi teknis perumahsakitan. 3. keberhasilan dalam mereformasi birokrasi dapat mempercepat terwujudnya GG. bahwa keberhasilan menyelesaikan masalah mendasar dalam birokrasi pemerintah seperti inefisiensi. akreditasi dan sertifikasi di bidang kesehatan. maka perlu segera pembentukan bagian/subbagian hukum dalam struktur organisasi Dinkes Propinsi/Kota/Kabupaten di daerah. pemberdayaan dan pelatihan dalam konteks desentralisasi dalam semangat otoda.

Kabupaten Aceh Utara di Nangroe Aceh Darussalam. yaitu: 1. antara lain: 1) Pendapatan Asli Daerah yang mencakup pajak setempat. retribusi lokal. dengan dua orientasi dasar dan dua dimensi kemampuan. Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus. 3) Pinjaman. Desentralisasi memicu perkembangan daerah menjadi beberapa lingkungan ekonomi yang mempengaruhi potensi pembiayaan daerah di bidang kesehatan. seperti di Kabupaten Kutai di Kalimantan Timur. 2. perusahaan pemerintah daerah dan aset manajemen lainnya. Memperhatikan hal ini. Ada 133 . sebagian besar kabupaten di Indonesia tidak mendapat manfaat berarti dari desentralisasi. 2) Dana perimbangan yang merupakan dana desentralisasi. pemberdayaan dan pelatihan aparatur pemerintah Depkes di pusat dan staf Dinkes Propinsi/Kota/Kabupaten di daerah. giral dan aset penjualan. juga harus dapat mengembangkan dua dimensi kemampuan. yakni seperangkat nilai yang harus menjadi pegangan setiap aparatur pemerintah dalam menjalankan wewenang dan tugasnya. 33/2004. Akan tetapi. yaitu: 1. terdapat kemungkinan beberapa pemerintah daerah di Indonesia menjadi kaya.kebutuhan SDM secara materil dan spiritual. 2. Dimensi budaya. Selain itu. pembinaan sistematis. dan 4) Penerimaan lain (sumbangan Dana Darurat). Dimensi teknis. yakni keahlian yang harus dimiliki aparatur pemerintah untuk menjalankan wewenang dan tugas mereka dengan baik. minyak dan gas. R. tambang dan periknan. sehingga kemampuan teknisnya dapat dimanfaatkan secara maksimal. Kesiapan kondisi mental dan fisik staf atau aparatur pemerintah atau pegawai yang erat kaitannya dengan tingkat penghargaan secara utuh terhadap harkat dan martabat kemanusiaannya. terdiri dari Dana Bagi Hasil beberapa sektor seperti Pajak Bumi dan Bangunan. hutan. dan Kabupaten Bengkalis di Riau. Pengembangan Potensi Sumber Pembiayaan dari Pemerintah Daerah dan Alokasi Subsidi dari Pemerintah Pusat di Bidang Kesehatan Pemerintah daerah pascadesentralisasi mempunyai sumber-sumber pembiayaan yang juga telah diatur dalam UU No. Kualitas kinerja staf atau aparatur pemerintah atau pegawai yang erat kaitannya dengan upaya pencapaian produktivitas dan kinerja birokrasi.

Dalam kondisi ini. 134 . menurut Laksono Trisnantoro.151 151 Laksono Trisnantoro. Peran pemerintah daerah yang kuat dapat difokuskan kepada penyediaan pelayanan kesehatan dan pembiayaan kesehatan keluarga miskin serta pelayanan yang bersifat public good (khususnya promotif dan preventif kesehatan). atau seluruh masyarakat di wilayahnya. yaitu kekuatan ekonomi pemerintah daerah dan kekuatan ekonomi masyarakat. peran pemerintah pusat dalam pembiayaan kesehatan tetap diperlukan. hibah. Op.dua faktor penting yang mempengaruhi bidang kesehatan. Pemerintah daerah dapat mengkontrak lembaga penyelenggaraan pelayanan kesehatan swasta dan asuransi kesehatan untuk menjamin pelayanan bagi masyarakat miskin. pemerintah daerah dapat memberikan jaminan pelayanan kesehatan melalui asuransi kesehatan (misalnya kontrak ke PT. 4) Daerah mempunyai kekuatan ekonomi pemerintah daerah yang kecil dan kekuatan ekonomi masyarakat yang kecil pula. Daerah ini membutuhkan perhatian besar dari pemerintah pusat dan bantuan asing (block grant. khususnya bagi masyarakat tidak mampu. Bagi masyarakat yang berada dalam garis kemiskinan. pemerintah daerah dituntut lebih kuat peranannya. cit. 2) Daerah yang mempunyai kekuatan ekonomi pemerintah kecil. namun kekuatan ekonomi masyarakat kecil. Daerah ini merupakan daerah di mana sebagian pembiayaan kesehatan dapat diserahkan ke mekanisme pasar. hlm. 3) Daerah mempunyai kekuatan ekonomi pemerintah daerah yang kuat. namun kekuatan ekonomi masyarakat besar. Sumber pembiayaan dari masyarakat perlu ditingkatkan. Ada kemungkinan di daerah ini peran pemerintah daerah lebih banyak pada regulator. Dengan menggunakan dua variabel ini. Dalam hal pembiayaan. mengigat kemampuan masyarakat di daerah ini rendah. Daerah ini sangat membutuhkan dana dan subsidi dari pemerintah pusat. peran pemerintah pusat untuk membiayai pelayanan kesehatan menjadi penting. Bagi masyarakat miskin.. Di daerah ini peran pemerintah daerah sangat kuat dalam pembiayaan kesehatan. ada 4 tipe daerah yang mungkin terjadi dengan prospek sumber pembiayaannya sebagai berikut: 1) Daerah mempunyai kekuatan ekonomi pemerintah daerah yang besar dan kekuatan ekonomi masyarakat yang besar pula. peran pemerintah daerah tidak begitu kuat. Sebaliknya. Peran pemerintah (diharapkan pemerintah pusat) pada pembiayaan diharapkan untuk menjamin akses pelayanan kesehatan. dll) dan dana kemanusiaan lain untuk pembiayaan kesehatan di daerah tersebut. 257-268. Asuransi Kesehatan). walaupun dari sisi ”jumlah dana” yang dialokasikan dapat diminimalkan.

. artinya berusaha menjamin agar alokasi dana bersifat netral terhadap pilihan berbagai sektor. dikhawatirkan kriteria transfer keuangan dari pusat ke daerah belum baik. artinya perlu kesederhanaan untuk menyusun formula. yaitu: 1) Otonomi (Authonomy). kemungkinan transfer dana dari pusat akan lebih kecil. Karena merupakan hal baru. artinya bantuan yang diterima oleh daerah diharapkan dapat dijamin kelanggengannya. Kriteria ini menunjukkan bahwa dana ditransfer ke daerah dalam bentuk block grant yang dan tidak dibatasi dengan kategori-kategori setta ketidakpastian dari pemerintah pusat. The Reform of Intergovenrmental Fiscal Relations in Developing and Emerging Market Economies. artinya pemerintah daerah dapat fleksibel dan otonom menetapkan prioritas kegiatan yang diberi dana. 5) Kesederhanaan (Simplicity). Dengn demikian. artinya dana yang dialokasikan pemerintah pusat harus adil bagi mereka yang membutuhkan dan berhubungan terbalik dengan kemampuan ekonomi propinsi. 1994. artinya upaya mendorong mengurangi praktik-praktik inefisiensi dalam penganggaran daerah. Agar pemerintah daerah mempunyai sumber biaya cukup. World Bank. Akan tetapi. bagaimanakah teknik alokasi anggarannya? Apakah aspek keadilan perlu diperhatikan untuk daerah-daerah yang relatif miskin? Teknik alokasi anggaran menjadi hal penting karena pengaliran dana dari pusat ke daerah untuk masyarakat atau daerah yang tidak berhak mendapatkannya jangan sampai terjadi kesalahan. Dengan demikian.152 Shah A. timbul pertanyaan penting. Sebagai catatan. semakin besar pendapatan asli daerah. misalnya dalam kurun waktu lima tahun. Washington DC. 3) Dapat Diprediksi (Predictablitiy). konsep alokasi dann perimbangan melalui Dana Alokasi Umum adalah cara baru untuk membiayai pelayanan kesehatan di daerah. 4) Efisiensi (Efficiency).Dalam konsep desentralisasi. maka akan semakin besar pula transfer dana yang diberikan. 2) Adil dan Merata (Equity). sehingga mampu mengerjakan tugas yang diberikan. terdapat berbagai kriteria yang dapat digunakan mengacu kepada pendapat Shah A. 152 135 . Sehubungan dengan transfer keuangan dari pusat ke daerah. dana dekonsentrasi ini akan semakin menurun seiring semakin meningkatnya dana desentralisasi. bidang kesehatan. 6) Insentif (Incentive). Policy and Research Series 2. Berkaitan dengan anggaran kesehatan pemerintah pusat yang masih tinggi. 33/2004). pemerintah pusat masih mempunyai peran sebagai pemberi anggaran malalui anggaran dekonsentrasi yang akan diterima propinsi (vide Pasal 1 angka 26 UU No. pemerintah daerah perlu diberi kriteria yang disebut revenue adequacy. semakin banyak junmlah penduduk.

rekreasi dan pariwisata. 153 136 . Namun.id/berita/sumber-dayakelautan-indonesia-belum-optimal-dimanfaatkan/ Diakses tanggal 30 Juli 2009. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Padjajaran. Wilayah pesisir Indonesia memiliki berbagai fungsi. industri maritim. potensi tersebut belum mampu dimanfaatkan secara optimal. http://www. Sumber Daya Kelautan Indonesia Belum Optimal Dimanfaatkan.BAB V ANALISIS ATURAN HUKUM PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM SEKTOR KELAUTAN A. serta penelitian kelautan. Ratih Anbarini. ekologi. maka pemanfaatan sumber daya alam di laut menjadi alternatif yang harus dipilih. Indonesia memiliki potensi sumber daya kelautan yang jauh lebih besar daripada sumber daya alam yang ada di darat. termasuk pesisirnya yang melimpah sumber daya. pertahanan dan keamanan. Sebagai negara bahari. adil dan sejahtera. seperti transportasi dan pelabuhan. kawasan industri. sebagaimana di wilayah darat. seperti pariwisata bahari. baik dari aspek ekonomi. Semuanya memiliki arti penting bagi pembangunan nasional. Jatinangor. Sudah saatnya pembangunan nasional di sektor kelautan mendapat perhatian besar pula. 11 Maret 2009. Sektor Kelautan Aset yang Melimpah Sumber daya alam di darat makin terbatas sedangkan tuntutan kebutuhan pembangunan nasional sudah mendesak. Di laut tersedia berbagai potensi untuk membawa bangsa dan negara ini menjadi makmur. jasa lingkungan. Dalam hal ini termasuk pula sebagai kekuatan pertahanan dan keamanan nasional untuk Ganjar Kurnia. dan jasa angkutan. sambutan tertulis pada Seminar Nasional “Strategi Peningkatan Keunggulan dan Komparatif Komoditas dan Kelautan Dalam Rangka Perkuatan Posisi Sektor Perikanan dan Kelautan Sebagai Pilar Penting Pembangunan Nasional”.ac. Akibatnya produktivitas nelayan Indonesia hingga saat ini masih tergolong rendah. 153 Sumber daya kelautan meliputi juga berbagai macam jasa lingkungan lautan yang dapat dikembangkan untuk pembangunan kelautan dan perikanan. sosiologis maupun pendidikan dengan segala hasil yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Rektor Unpad. agribisnis dan agroindustri.unpad. serta kawasan permukiman dan tempat pembuangan limbah. Hal ini terjadi antara lain karena masih kuatnya paradigma pembangunan Indonesia yang masih berorientasi di darat.

maka program Integrated management tersebut harus menjadi fokus utama perhatian.aspx. c) Agenda 21. melainkan juga mengelola Tejo Edhy Purdijatno. Rational use and Development of Their Living Resources”. Pengelolaan pesisir dan laut secara integral dan berkelanjutan. Diakses tanggal 22 Agustus 2009. sebagai rencana aksi di Abad 21 dengan judul: “Protection of Oceans. Untuk mengadopsi dan mengaplikasikan teknologi yang dimaksud. dan e) Rio Declaration on Environment and Development. Kepala Staf Angkatan Laut. 137 154 . and the Protection. Wilayah Pesisir yang Tak Terpisahkan Tata kelola sumberdaya laut harus dalam konteks keterkaitan dengan ekosistem wilaya pesisir secara terpadu dan berkelanjutan. tetapi juga adanya komitmen yang kuat serta keseriusan dari berbagai pihak untuk melakukan percepatan penguasaan rekayasa teknologi maritim. dapat merujuk kepada hasil United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) di Rio de Janeiro tahun 1992155. menghasilkan: a) Convention on Biological Diversity. Salah satu program dalam Chapter 17. Ketentuan mengenai pengelolaan wilayah pesisir dan laut secara terpadu. and Coastal Areas. Bagi negara-negara yang mempunyai wilayah laut yang luas. UNCED merumuskan tentang pengelolaan wilayah pesisir dan laut secara terpadu (integrated coastal management) dalam Agenda 21 Chapter 17. Laksamana TNI. http://www. tidak hanya mengelola pesisir dan laut dengan sebagian lautnya. Memang upaya membangun sektor kelauatan memerlukan penguasaan teknologi rekayasa maritim yang sarat dengan high-tech dan high-cost. including exclusive economic zones”.tnial. b) Convention on Climate Change. Tidak cukup hanya dengan tekad dan semangat saja. profesional dan berdedikasi tinggi serta memiliki disiplin ilmu berbasis kemaritiman yang dibarengi kerjasama transfer of knowledge melalui peran aktif semua komponen bangsa.154 B. including Enclosed and Semi-enclosed Seas. diantaranya melalui penerbitan aturan hukum dan ditindaklanjuti dengan kerjasama di bidang pendidikan dan pelatihan serta penelitian. pada Seminar Nasional Maritim Tahun 2009 di Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut Surabaya. All Kinds of Seas.mil. d) The Forrest principles. dibutuhkan sumber daya manusia yang cerdas. yaitu pada program (a) dirumuskan: “Integrated management and sustainable development of coastal areas.melindungi pesisir pulau-pulau terdepan wilayah NKRI.id/tabid/61/articleType/ArticleView/articleId/1258/Default. 155 UNCED dikenal juga dengan nama Earth Summit.

et. hlm. dan stakehlders. di satu sisi wilayah pesisir dan laut Indonesia. Jakarta. mulai dari perairan pedalaman.C. pemerintah.wilayah laut secara keseluruhan. 17. secara ekologis terkait satu sama lain. dan kelembagaan. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. kawasan dan laut bebas. 2001. Proceeding of International Symposium. memiliki makna yang penting bagi pembangunan ekonomi. Dalam pengelolaan wilayah pesisir dan laut secara terpadu (integrated coastal management). sosialekonomi. hlm. laut teritorial. 1997. Perlunya pengaturan mengenai wilayah pesisir dan laut secara terpadu oleh Indonesia. Diakui bahwa. al. “Coast. kepastian. 157 Jacub Rai. harus menjadi acuan bagi pembentukan aturan hukum pelaksanaan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut yang terintegrasi. salah satu penyebabnya adalah perencanaan dan pelaksanaannya dijalankan secara sektoral dan tidak tertata sesuai dengan penataan ruang yang baik. Sorensen and McCreary. landas kontinen. zona tambahan. Institutional Arrangement for Managing Coastal Resources”. namun di sisi lain wilayah pesisir dan laut juga memiliki sejumlah persoalan yang terkait dengan ekologi. lingkungan laut (The Marine Environment) merupakan komponen penting sistem penyangga kehidupan global156. dirumuskan dalam bentuk aturan hukum. Pembangunan sumberdaya pesisir dan laut selama ini tidak optimal dan berkelanjutan. zona ekonomi eksklusif. Rokhmin Dahuri. Pengelolaan wilayah pesisir dan laut membutuhkan perangkat aturan hukum. muncul setelah ditungkannya Agenda 21 dalam Agenda 21 Indonesia Tahun 1996. 5.157 Tata kelola wilayah pesisir dan laut bertumpu pada prinsip integrated coastal management. adanya tujuan dan sasaran. Undang-Undang No. et al. 156 138 . Malang. berhubungan dengan integrasi undangundang terkait dan integrasi antar sektor. Tata kelola kelautan dibangun secara sistemik melalui pembangunan dan pemahaman keterpaduan antar pengelola di wilayah pesisir dan laut dengan pihak-pihak terkait. dan J. Integrated coastal management. nilai dan etika dalam pembangunan. Pradnya Paramita. sehingga memiliki dan menjamin terbangunnya suatu kondisi bermuatan ketertiban. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Laut Secara Terpadu. Sesuai dengan karakteristik dan dinamika alamiah ekosistem pesisir dan laut. Integrated Coastal and Marine Resources Management. maka pengelolaan secara optimal hanya dapat diwujudkan dengan pendekatan holistik dan teritegrasi. serta upaya penyelesaian sengketa dan kerjasama di antara masyarakat pesisir.

Darat Terpadu”. 158 139 . mengemukakan tiga konsep penataan ruang laut:158 1. dan 3. Zona Ekonomi Eksklusif. Undang-Undang No. hlm. dan Undang-Undang No. Jakarta. sifat multi dimensional lingkungan laut. keterpaduan menata ruang laut dan daratan melalui pendekatan Daerah Aliran Sungai (DAS). Penetapan zonasi laut lebih sulit untuk dilakukan karena kurangnya data ruang yang konsisten. perubahan iklim dengan karakter demografi. ekonomi. Salah satu elemen penting dalam program integrated coastal management adalah penyusunan suatu rencana zonasi yang merujuk pada penetapan wilayah administratif. 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia. “Harmonisasi Pengelolaan Wilayah Pesisir Melalui Penatan Ruang Laut. Menuju tata kelola kelautan yang baik (good ocean governance). 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulaupulau Kecil. Jacub Rais. atmosfer. dan kurangnya data sumberdaya laut yang akurat. Untuk itu. Kerjasama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional. Inisiatif Harmonisasi Sistem Hukum Pengelolaan Wilayah Pesisir Indonesia. Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. serta kepentingan dan keterkaitan Indonesia terhadap aturan global di perairan laut internasional. sosial. Undang-Undang No. 2005. 2. 26 Tahun 2004 tentang Penataan Ruang. budaya yang hidup di pulau-pulau kecil. maka kebijakan kelautan Indonesia hendaklah mengakomodasi kepentingan nasional terhadap wilayah kedaulatan dan yurisdiksi.keadilan. Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia dan Coastal Resources Management Project. 113. Untuk itu diperlukan pula suatu instrumen kebijakan kelautan berupa tata ruang laut beserta sumberdaya yang terdapat di dalamnya. keterpaduan menata ruang pulau-pulau kecil dan laut dengan pendekatan bioregionism yang mengkaitkan karakter fisik oseanografi. prinsip-prinsip integrated coastal management perlu dituangkan ke dalam produk aturan hukum nasional dan daerah secara sinkron yang mengatur mengenai pengelolaan wilayah pesisir dan laut. lengkap dan terkini. Pada hakikatnya penataan ruang laut adalah suatu kebijakan publik yang bermaksud untuk mengoptimalkan pemanfaatan ruang laut bagi semua kepentingan Jacub Rais. Penetapan zonasi wilayah administratif tersebut dapat merujuk kepada Undang-Undang No.

Undang-undang penataan ruang (UU No. berdaya guna. maka sekarang Daerah mempunyai kewenangan untuk melindungi nelayan setempat. Dengan kewenangan di wilayah laut tersebut. dan berkelanjutan. Hal tersebut bukanlah disebabkan oleh kesalahan kebijakan Otonomi Daerah. Daerah berkewajiban pula untuk ikut melindungi dan mengamankan wilayah laut dan segala aktivitas yang berkaitan dengan pemanfaatan wilayah laut dan sumber daya alamnya. namun lebih merupakan dinamika transisi implementasi Otonomi Daerah. selama ini nelayan tradisional seringkali kehilangan lahan untuk penangkapan ikan karena sudah dikuasai oleh nelayan asing yang menggunakan perlengkapan modern. Memang sempat terjadi konflik horizontal di masyarakat dan mengarah pada ego-kedaerahan sehubungan dengan implementasi kewenangan daerah di wilayah laut. Secara aktual penataan ruang laut dan ruang udara hampir tidak pernah dilakukan. seperti pelarangan bagi nelayan dari Daerah lain untuk melaut dalam suatu Daerah. sehingga ketersediaan pangan yang bersumber pada laut tetap lestari. Sebagai contoh. Konsekwensi dari kewenangan tersebut. Oleh karena itu. antara lain pengaturan tata ruang. oleh karena itu penataan dan pengelolaan ruang laut dan udara diatur dengan undang-undang tersendiri (Pasal 6 ayat (5)). C. Pada tahap awal suatu undang-undang sangat mungkin timbul keragaman pemahaman dan interpretasi dari banyak kalangan terhadap suatu ketentuan aturan. selaras. 140 . Peran pemerintah daerah dapat menggerakkan potensi masyarakat di daerahnya untuk menggali potensi laut. Pemerintah daerah harus pula melakukan pembangunan di daerah dan kelautan secara seimbang. kewenangan daerah untuk mengelola sumberdaya di wilayah laut (paling jauh 12 mil laut diukur dari garis pantai dan sepertiga (1/3) dari wilayah kewenangan provinsi untuk kabupaten/kota. 26 Tahun 2007). berhasil guna.para pelaku pembangunan secara terpadu. baru terfokus pada tata ruang daratan. Daerah berkewajiban dan bertanggungjawab untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya melalui pengelolaan dan pemanfaatan wilayah laut tersebut. seimbang. Tata Kelola Wilayah Pesisir dan Laut oleh Daerah Berdasarkan ketentuan Pasal 18 ayat (3) dan (4) Undang-Undang No. baik melalui eksploitasi yang bertanggung jawab maupun budidaya dengan tetap memelihara kearifan lokal. 32 Tahun 2004.

http://www. Tujuan pengelolaan sumber daya laut hidup Norwegia adalah memastikan penggunaan yang berkelanjutan.or. Oleh karena itu. Manajemen Norwegia untuk sumber daya laut hidup. http://www. sebagai contoh.159 Sungguh ironis. antara lain sehubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya laut. tapi ditekankan pula kewajiban dan tanggung jawab pemerintah (pusat dan daerah) dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. D.php?id=668.com/cetak. Indonesia sangat dirugikan akibat sumberdaya perikanan banyak “dicuri’ (illegal fishing) oleh nelayan-nelayan (kapalkapal) asing. Oleh karena itu sangat penting bagi Norwegia untuk menerapkan manajemen sumber daya laut hidup yang sangat baik.id/policy/trade/marine/marine. industri perikanan merupakan tulang punggung daerah pesisir pantai dan menempatkannya sebagai salah satu sektor ekspor terbesar Norwegia. sehingga dituduh sebagai pencuri ikan terbesar. Padahal penangkapan jenis ikan tersebut dilakukan oleh nelayan Indonesia di wilayah perairan sendiri. Akibat “pencurian” tersebut Indonesia justru dituduh oleh banyak negara sebagai 'pelaku' “pencurian” ikan terbesar di dunia.dalam hal ini otonomi Daerah di wilayah laut.htm Diakses tanggal 20 Juli 2009. 160 baik oleh negara lain. 159 160 Mustopa. misalnya Negara Bagi Norwegia.p2sdkpkendari. tidak sekedar difokuskan pada pengaturan terhadap objeknya saja (sumberdaya alam). untuk memastikan bahwa panen disesuaikan dengan kapasitas ternak untuk berkembang biak. Pengaturan wewenang dan hubungan antara Pemerintah dan pemerintah daerah dalam tata kelola sumber daya alam sektor kelauatan (wilayah pesisir dan laut). dapat merujuk kepada upaya-upaya yang dilakukan secara Norwegia (Norway). masyarakat dan pelaku ekonomi dibutuhkan pemahaman dan persepsi yang sama terhadap kewenangan Daerah di wilayah laut. Penegakan Hukum dan Kebijakan Sektor Kelautan Multi Dimensi Dalam hal penegakan hukum di laut.norwegia. antara pemerintah Pusat. nelayan Indonesia dituduh telah menangkap ikan tuna sirip biru yang jumlahnya melebihi kuota (ditetapkan sepihak oleh negara-negara tertentu). pemerintah Daerah. Diakses tanggal 20 Juli 2009. 141 . Sebagai perbandingan tentang manajemen dan penegakan hukum sehubungan dengan pengelolaan sumber daya laut (hidup).

Direktorat Perikanan bertanggung jawab untuk mengkontrol jumlah ikan yang ditangkap dan menjaga statistik perikanan. Kapal asing yang memancing di perairan di bawah kekuasaan Norwegia juga diperiksa. akan menghadapi sejumlah tantangan. Pembangunan sektor kelautan dan perikanan serta wilayah pesisir di masa datang. pembangunan tetap harus berjalan dengan menggunakan berbagai sumberdaya dan memanfaatkan peluang yang ada. Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) telah merumuskan rencana pembangunan jangka panjang di bidang kelautan. juga membangun ekonomi kelautan secara terpadu dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber kekayaan laut secara berkelanjutan. Selain itu. Kasus pemalsuan laporan atau ketidaksamaan dirujuk ke pengadilan. Secara spesifik. efektif. Namun seberat apapun tantangan itu. Dari aspek kebijakan. diarahkan untuk mengelola wilayah laut dalam rangka mempertahankan kedaulatan dan kemakmuran negara. melainkan kait-mengkait secara integral dari seluruh komponen bangsa. sehingga memungkinkan para pejabat memonitor kegiatan mereka secara berkala. Perubahan iklim dan kerusakan lingkungan juga dapat menganggu kelestarian sumber daya kelautan dan perikanan. Sejak 1 Juli 2000. penjaga pantai bertanggung jawab untuk memeriksa kapal yang memancing dan tangkapannya.Di Norwegia. Norwegia juga memiliki perjanjian tentang penelusuran jejak melalui satelit dengan beberapa negara dimana sumber ikan mereka berada di bawah daerah hukum perikanan Norwegia. dan dengan pelayanan prima. Di laut. tuntutan terhadap pembangunan kelautan dan perikanan secara efisien. menjadikan tantangan tersebut makin berat. pemerintah Norwegia mengharuskan kapal yang berlayar di laut untuk memasang dan menggunakan peralatan berbasis satelit. termasuk pemerintah daerah yang memiliki wilayah pantai dan laut. aturan hukum bidang perikanan ditegakkan baik di laut dan ketika ikan ditangkap. Perlu keterkaitan secara sinergis dengan berbagai instansi. Namun proyek besar pembangunan kelautan tersebut tidak semata milik DKP. 142 .

dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Hubungan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah Dalam rangka menjalankan organisasi negara melalui sistem pemerintahan sampai ke daerah-daerah. serta Jumlah Kumulatif Pinjaman Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah 161 Periksa teks lengkap ketentuan Pasal 18A ayat (2) UUD 1945. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah 5. Undang-Undang No. Peraturan Pemerintah No. hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang161. 143 . 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara 4. disamping tetap mendasarkan pada asas sentralisasi untuk sebagian urusan pemerintahan. mempunyai Beberapa aturan hukum mengenai keuangan negara dan hubungan keuangan antara pusat dan daerah. dapat dilakukan dalam pelbagai bentuk desentralisasi. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara 3. Undang-Undang No. yaitu undang-undang dan aturan hukum penjabarannya. Undang-Undang No. 23 Tahun 2003 tentang Pengendalian Jumlah Kumulatif Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara 2. yaitu: 1. Undang-Undang No. baik untuk pembiayaan urusan pemerintah pusat (nasional) maupun untuk menjalankan urusan pemerintahan pada tingkat lokal (daerah). Oleh karena itu diadakan pengaturan mengenai keuangan negara dan keuangan daerah dalam bentuk aturan hukum. Implikasi langsung dari pelaksanaan urusan pemerintahan tersebut adalah kebutuhan dana (keuangan) yang cukup besar. Sebagaimana diamanatkan konstitusi (Pasal 18 A ayat (2) UUD 1945).BAB VI ANALISIS ATURAN HUKUM HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH A.

hal tersebut tercermin dari sumbersumber pajak dan retribusi daerah yang sangat terbatas lapangan dan potensinya. dapat dilakukan secara desentralisasi fiskal. Hal tersebut dapat ditelusuri dari aturan dasarnya. 1. 104 Tahun 2006 tentang Penetapan Alokasi Dana Alokasi Umum. Pajak dan retribusi daerah menjadi andalan dalam kontribusi pendapatan asli daerah. Peraturan Pemerintah No. 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Uang Negara/Daerah 12. 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah 9. 57 Tahun 2005 tentang Hibah Kepada Daerah 10. 144 . Hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah 7. Peraturan Pemerintah No. daerah dapat menggali dan menggunakan sendiri sesuai dengan potensinya masing-masing. namun masih relatif kecil persentasenya dari total keseluruhan penerimaan daerah. Peraturan Pemerintah No. Secara substansial terjadi ketimpangan wewenang di bidang pajak dan retribusi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Terdapat sejumlah jenis pajak daerah dan jenis retribusi daerah yang menjadi lapangan masing-masing dari propinsi dan kabupaten/kota. dan undang-undang perimbangan keuangan. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Presiden No.6. Peraturan Pemerintah No. serta undang-undang keuangan negara. yaitu dengan nama pajak daerah dan retribusi daerah. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah 11. Peraturan Pemerintah No. Dari kedua sumber penerimaan yang diserahkan kepada daerah tersebut. undang-undang pajak daerah dan retribusi daerah. Desentralisasi Fiskal Salah satu wujud dari desentralisasi fiskal adalah penyerahan oleh pemerintah pusat atas sumber penerimaan tertentu kepada daerah dari sektor pajak dan retribusi. 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan 8. terutama dalam undang-undang pemerintahan daerah. dekonsentrasi dan tugas pembantuan. dan pinjaman daerah.

dan kehutanan. dimungkinkan dilakukan opsen atau penetapan tambahan atas pajak pusat. 145 . Dana Perimbangan Dalam konteks desentralisasi fiskal dikenal pula dana perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.2. seperti minyak bumi dan gas alam (migas). baik dari sektor pajak maupun SDA dapat menimbulkan ketimpangan horizontal antar daerah sejenis. dan perikanan. dengan mempertimbangkan potensi. Dana Alokasi Umum. kondisi. serta besaran pendanaan penyelenggaraan dekonsentrasi dan tugas pembantuan. di samping itu. Bea Perolahan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). dan kebutuhan daerah. Bagi hasil penerimaan negara tersebut meliputi bagi hasil Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). pertambangan umum. dan bagi hasil sumber daya alam (SDA) yang terdiri dari sektor kehutanan. dapat mengurangi sebagian ketimpangan hubungan keuangan antara pusat daerah. Meskipun demikian. minyak bumi dan gas alam. Dari dana bagi hasil penerimaan negara tersebut. Di samping itu. Hal ini disebabkan potensi subjek dan objek pajak yang tidak sama antar daerah. Terhadap lapangan pajak yang sudah menjadi lapangan pajak pemerintah pusat tidak dapat dikenakan pajak lagi oleh daerah. Bagi hasil penerimaan (revenue sharing) berasal dari penerimaan pajak dan penerimaan dari sumber daya alam (SDA). Sistem bagi hasil tersebut di atas. pertambangan. khususnya dari aspek fiskal. dan Dana Alokasi Khusus. yaitu dana bagi hasil. yaitu UU Pajak Penghasilan (PPh) sebagai perubahan UU sebelumnya. Daerah memperoleh bagi hasil dari PPh orang pribadi yaitu PPh Karyawan (Pasal 21) serta PPh Pasal 25 dan PPh Pasal 29 Orang Pribadi. hanya beberapa daerah yang memiliki potensi SDA secara signifikan. berdasarkan UU Nomor 17 Tahun 2000. Perimbangan adalah suatu sistem pembagian keuangan dalam rangka pendanaan penyelenggaraan desentralisasi. misalnya terhdap PPh Orang Pribadi. Bagi hasil penerimaan tersebut di atas dilakukan dengan persentase tertentu yang didasarkan atas daerah penghasil.

pihak yang memberikan tugas pembantuan tidak terbatas dari Pemerintah Pusat saja. 4. namun pelaksanaannya di daerah dilakukan oleh dinas Daerah dan instansi vertikal di daerah. Dekonsentrasi Dekonsentrasi merupakan pelimpahan wewenang pemerintah pusat kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat di propinsi. maka pendapatan itu menjadi penerimaan pemerintah pusat. Urusan dekonsentrasi antara lain fasilitasi kerja sama dan penyelesaian perselisihan antar daerah dalam wilayah kerjanya. atau dari kabupaten/kota ke desa. 146 . Pendanaan atas pelaksanaan urusan dekonsentrasi tersebut merupakan tanggungjawab pemerintah pusat dan dengan sendirinya bersumber dari APBN. Disamping itu. Perbedaan dengan dekonsentrasi. Apabila dari pelaksanaan urusan dekonsentrasi tersebut menghasilkan pendapatan. tapi juga dapat berasal dari pemerintah propinsi kepada kabupaten/kota. maka pendapatan tersebut menjadi penerimaan negara (pemerintah pusat).3. Dalam hal urusan yang dilaksanakan berdasarkan tugas pembantuan tersebut berasal dari pemerintah pusat. Tugas Pembantuan Tugas pembantuan juga diadakan dalam rangka memperlancar pelaksanaan urusan pemerintah pusat di daerah. kabupaten. Sifat urusan yang dilimpahkan tersebut tetap sebagai urusan pemerintah pusat. apabila kegiatan tersebut menghasilkan pendapatan. penciptaan dan pemeliharaan ketentraman dan ketertiban umum. kota. dan desa. pada tugas pembantuan dalam pelaksanaannya dapat ditugaskan kepada propinsi. Dalam hubungan ini. maka dana yang digunakan untuk membiayai kegiatan dimaksud berasal dari APBN. pembinaan penyelenggaraan tugas-tugas umum Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

B. Pinjaman daerah yang bersifat jangka panjang. digunakan untuk membiayai pembangunan prasarana yang akan menjadi aset daerah. Kebijakan Pemerintah terhadap pinjaman luar negeri (penerusan pinjaman) dalam kerangka desentralisasi fiscal. jaminan dan akuntabilitas. mekanisme pembayaran kembali. dan Pemerintah Daerah dalam menentukan besarnya realisasi Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam (SDA) sehingga penyalurannya terlambat. Adapun pinjaman daerah yang bersifat jangka pendek. belum diikuti dengan aturan hukum yang jelas dari segi mekanisme penyaluran. diharapkan dari pengelolaan aset tersebut nantinya dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran pinjaman.5. hanya dapat dilakukan dalam rangka pengelolaan kas daerah yang sifatnya hanya untuk membantu likuiditas. 147 . Departemen Teknis. Konflik Aturan Hukum dan Disharmoni Tata Kelola Sektor Keuangan Pusat dan Daerah Konflik aturan hukum dan disharmoni mengenai tata kelola sektor keuangan antara pusat dan daerah diidentifikasikan sebagai berikut: 1. Dengan demikian sumber pinjaman daerah dapat berasal dari sumber di luar keuangan negara. namun belum dapat disalurkan karena persoalan aturan hukum yang disebutkan tadi tidak jelas. Akibat dari semua itu. yaitu pinjaman yang berasal dari lembaga swasta atau masyarakat langsung. Pinjaman Daerah Untuk membiayai kebutuhan daerah berkaitan dengan penyediaan prasarana yang dapat menghasilkan (pengeluaran modal). maka daerah dapat melakukan pinjaman baik dari dalam negeri (Pemerintah Pusat dan Lembaga Keuangan) maupun dari luar negeri dengan persetujuan dan melalui pemerintah pusat. Selain memberikan manfaat bagi pelayanan umum. Kurang efektifnya koordinasi antara Departemen Keuangan. sebagian besar perjanjian pinjaman luar negeri untuk pemerintah paerah telah ditandatangani.

di antaranya digunakan secara langsung tanpa melalui mekanisme APBD dan ada yang belum disetorkan ke daerah. dan kriteria teknis yang ditetapkan sehingga alokasi DAK tersebut tidak mempunyai dasar. kriteria khusus. Pasal 18A ayat (2) UUD 1945 menentukan bahwa hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras. 3.2. 4. 55 Tahun 2005) berakibat pada adanya pertentangan pada kedua ketentuan tersebut dalam hal penetapan Dana Perimbangan sehingga berpotensi pada ketidakadilan dan ketidakselarasan dalam pengalokasian dana tersebut. Peluang terjadinya penyalahgunaan kebijakan Pemerintah Pusat yang memberikan perintah untuk segera mencairkan Dana Alokasi Khusus tanpa melihat kesiapan Pemerintah Daerah untuk merealisasikannya. 33 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah No. 5. meskipun proses pendistribusian tidak secara merata atau sama besarnya antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya. Isu Hukum Mendasar dan Aktual dalam Pengaturan Keuangan Pusat dan Daerah Serta Solusinya Lemahnya koordinasi antara Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat dalam mengimplementasikan ketentuan Dana Perimbangan (Undang-Undang No. Pengaturan hubungan keuangan tersebut harus memberikan jaminan terciptanya kesesuaian antara besarnya kewenangan yang diserahkan kepada daerah 148 . Penghitungan alokasi DAK tidak mengikuti kriteria umum. Tidak adanya harmonisasi dan konsistensi antara ketentuan Pasal 4 ayat 3 Peraturan Presiden Nomor 104 Tahun 2006 tentang Penetapan Alokasi DAU dengan peraturan yang lebih tinggi sehingga beberapa daerah mendapat alokasi DAU lebih daripada seharusnya. Ketentuan tersebut mempunyai arti bahwa pengaturan hubungan keuangan tersebut harus memberikan kemanfaatan bagi seluruh rakyat Indonesia. C. Penerimaan Dana Perimbangan oleh banyak Pemerintah Daerah dilakukan tanpa melalui kas daerah.

Penggunaan istilah ”perimbangan keuangan” dalam UU Nomor 33 Tahun 2004. Dengan perkataan lain. Apakah Pemerintah Pusat telah menyerahkan sumber-sumber keuangan yang cukup terutama yang berhubungan dengan pajak daerah. pertambahan penduduk dan pertumbuhan ekonomi. Hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah itu dapat berlangsung dengan adil dan selaras jika dipenuhi beberapa aspek: 1. Setiap daerah mempunyai potensi pendapatan yang berbeda karena perbedaan kondisi ekonomi. besaran wilayah. dan bagi hasil pajak dan SDA. Oleh karena itu. bahwa penyerahan urusan pemerintahan kepada daerah 149 . Pemberian sumber-sumber penerimaan tersebut akan mencerminkan kemampuan atau potensi di bidang keuangan dari suatu daerah. perimbangan keuangan harus menunjukkan. Adapun tingkat hasil sangat dipengaruhi oleh sejauh mana sumber pajak responsif terhadap kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi objek pengeluaran seperti inflasi. Sejauh mana pemerintah daerah mempunyai kemampuan untuk menentukan secara objektif kebutuhan akan keuangan yang diperlukan untuk menyediakan pelayanan yang diperlukan masyarakat daerah. sumber daya alam. 2. khususnya kata-kata adil dan selaras. 3. dapat dikatakan merupakan upaya untuk memenuhi jiwa dan semangat Pasal 18A ayat (2) UUD 1945 . Sejauh mana pemerintah pusat memberikan subsidi yang adil dan terukur kepada masing-masing daerah untuk membiayai kekurangan dana. Hal ini dikarenakan kemampuan keuangan daerah sangat ditentukan oleh ketersediaan sumber-sumber pajak dan dan retribusi serta hasil dari objek pajak dan retribusi tersebut. Penyerahan sumber-sumber keuangan kepada daerah oleh pemerintah pusat sangat erat kaitannya dengan penyerahan urusan pemerintahan kepada daerah sebagai konsekuensi dianutnya asas desentralisasi. serta sesuai dengan tujuan negara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. dan besaran penduduk. Sumber-sumber pendapatan potensial yang dimiliki Daerah akan menentukan juga tingkat kemampuan keuangannya.dengan sumber-sumber keuangan yang dapat dikelola oleh daerah. retribusi daerah. sumber-sumber keuangan yang diserahkan kepada daerah mestinya sebanding dengan tugas dan tanggung jawab yang diserahkan kepada daerah untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan. tingkat pengangguran.

5% untuk pemerintah pusat dan sisanya untuk daerah. Penyerahan sumber-sumber keuangan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah belum mencerminkan besarnya urusan pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah. tidak dibarengi dengan penyerahan sumber-sumber keuangan potensial yang berada di wilayah daerah otonom sebagai pemasok utama PAD. Luasnya urusan pemerintah daerah. Langkah Penyempurnaan Hubungan Keuangan Antara Pusat dan Daerah Beberapa hal yang harus dicermati dan dijadikan sebagai langkah penyempurnaan dalam pelaksanaan perimbangan keuangan antara Pusat dan Daerah.5% untuk pemerintah pusat dan sisanya dibagi antara provinsi dan kabupaten/kota. Memang perimbangan keuangan tidak berarti pemberian sumber-sumber keuangan dibagi secara secara sama rata (sama besar) antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. D. karena perimbangan keuangan hakikatnya merupakan subsidi dari pusat kepada daerah. adalah: 1. khususnya yang berkaitan dengan pajak dan retribusi daerah. khususnya dari sektor pertambangan minyak dan gas bumi. dan hasil sektor pertambangan gas bumi 69. akan dapat diketahui kebutuhan keuangan yang diperlukan dalam satu tahun anggaran. Berdasarkan rencana kegiatan itu. Pemerintah daerah juga harus dapat melakukan perhitungan secara matang dan rasional mengenai rencana kegiatan yang akan dilaksanakan sehubungan dengan penyerahan urusan pemerintahan kepada daerah. Pemerintah daerah harus mempunyai kemampuan untuk menentukan secara objektif kebutuhan akan keuangan yang diperlukan untuk membiayai penyelenggaraan pelayanan yang diperlukan masyarakat daerah.mencerminkan adanya keseimbangan dengan penyerahan pengelolaan dan pemanfaatan sumber-sumber keuangan yang ada di daerah. Hasil sektor pertambangan minyak bumi 84. Dalam pelaksanaan desentralisasi fiskal perlu dipikirkan adanya semacam pedoman dari pemerintah pusat sebagai sarana pengawasan. 150 . Masih ada keengganan pemerintah pusat untuk memberikan dana bagi hasil yang lebih besar kepada daerah.

Hubungan Keuangan antara Pusat dan Daerah yang menyangkut dana perimbangan belum memberikan peran kepada Daerah untuk terlibat langsung dalam menentukan kriteria. Dari gambaran consolidated revenues (APBD Kabupaten/Kota + Provinsi + Penerimaan Dana Dalam Negeri dalam APBN). 3. 5. Untuk itu perlu peningkatan taxing powers Daerah. antara lain dengan DAK. 3. dan penyerahan sebagian PNBP kepada Daerah.45% tergolong sangat sentaralistis. 4. agar pemerintah pusat senantiasa mengadakan koreksi atas ketimpangan antar daerah.2. maka dalam menentukan besaran persentase yang akan dicantumkan dalam peraturan yang mengatur tentang perimbangan keuangan antara Pusat dan Daerah. sehingga penyimpangan penggunaan anggaran daerah dapat diperkecil atau bahkan ditiadakan. Prinsip money follow function harus dilaksanakan secara konsisten sehingga kewenangan harus ditetapkan lebih dahulu baru kemudian ditetapkan dan ditransfer dana yang dibutuhkan. Hubungan keuangan antara Pusat dan Daerah terutama yang berkaitan dengan pencairan DAU dan DAK dalam pelaksanaannya kurang transparan. antara lain melalui penyerahan beberapa pajak Pusat dan Daerah. Hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia diwujudkan dengan memberikan kewenangan yang lebih besar kepada Daerah untuk mengatur dan mengurus sumber-sumber pendapatan Daerah dalam rangka membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. dan 151 . Berdasarkan uraian di atas maka beberapa hal perlu ditegaskan: 1. variabel. maupun jumlah prosentase pembagian antara Pusat dan Daerah. Dalam pelaksanaan desentralisasi fiskal. 4. porsi PAD hanya sekitar 3. Agar diperoleh suatu pemahaman yang sama. Terdapat keseimbangan antara akuntabilitas dan kewenangan dalam pengelolaan pajak dan retribusi Daerah. Kebijakan ini sekaligus untuk menghilangkan upaya Daerah untuk menggali sumbersumber PAD yang berdampak distortif terhadap perekonomian dan lingkungan. harus dilibatkan masyarakat Daerah baik yang berasal dari LSM. 2. perguruan tinggi.

5. 152 . Pemberian subsidi atau bantuan hendaknya tetap dapat menjamin kemandirian Daerah dalam mengatur dan mengurus rumah tangga Daerah sesuai dengan aspirasi dan kepentingan masyarakat daerah. transparansi dan akuntabilitas.Dewan Perwakilan Daerah (DPD) agar terjamin keadilan. Untuk meningkatkan kemampuan Daerah dalam membiayai atau membelanjai kegiatan pemerintahan. 6. maka objek pajak yang potensial hendaknya diserahkan hak pemungutan dan pengelolaannya kepada Daerah.

Pada sisi lain. Relatif kecilnya 153 . menunjukkan realitas bahwa otonomi pada dua jenis daerah tersebut belum berarti banyak bagi kesejahteraan masyarakat. juga memiliki urusan sebagai daerah otonom. Akibat keterbatasan sumber daya keuangan pada kabupaten dan kota. penyelenggaraan otonomi yang berbasis langsung dengan rakyat.BAB VII PROBLEM DAN LANDASAN PIJAK PENATAAN HUBUNGAN PUSAT DAN DAERAH DAN PERAN MASYARAKAT ADAT A. menuntut tanggung jawab yang lebih besar dalam pelayanan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. karena terlebih dahulu ditentukan dan diatur apa saja lingkup urusan Pemerintah pusat dan urusan propinsi. baik jenis maupun ruang lingkup yang besar. menimbulkan persoalan pembagian urusan pemerintahan dan ruang lingkup kewenangannya. Urusan-urusan pemerintahan yang dapat dibagi dan diselenggarakan bersama-sama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Padahal. maupun sumber daya dari bukan pajak dan bukan retribusi yang bernilai uang. Pembagian pengelolaan sumber daya yang ada di daerah. kabupaten atau kota. Sebagian pihak bersikukuh agar propinsi tetap sebagai daerah yang memiliki urusan otonom. Pengelolaan sumber-sumber keuangan daerah berkisar pada sumber-sumber yang sangat terbatas dibandingkan dengan sumber-sumber yang ditetapkan untuk pemerintah pusat. sebagai daerah otonom yang berbasis langsung pada rakyat. kabupaten atau kota hanya mendapat sisa. sumber daya pajak dan retribusi. Namun urusan kabupaten dan kota lebih merupakan urusan residu (sisa). terutama sumber daya yang bernilai ekonomi tinggi (banyak menghasilkan uang). hingga sekarang belum terselesaikan dengan tuntas. Apakah itu dari sumber daya alam. terutama tentang ruang lingkup masing-masing urusan tersebut dan mengintegrasikan secara sinergis dalam tataran normatif dan pelaksanaannya. Pembagian Wewenang yang Timpang Antara Pusat dan Daerah Penyusunan daerah otonom ke tingkatan propinsi-propinsi (atau sejenisnya) dan dibagi lagi dalam kabupaten-kabupaten dan kota-kota.

Penetapan luas wilayah atau areal lahan secara sepihak oleh pemerintah bagi suatu perusahaan yang membutuh lahan yang luas. Faktor kunci ukuran keberhasilan otonomi daerah ditentukan oleh kekuatan pendapatan asli daerah yang bersangkutan untuk membiayai penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pembangunan. baik dalam bentuk 154 . bahkan tidak diikuti dengan pengecekan secara objektif di lapangan. retribusi. menjadi andalan utama dalam menggali sumber-sumber keuangan daerah. sumbangan) dan eksploitasi sumber daya alam. baik dengan proses pembebasan yang sesuai prosedur maupun dengan proses yang tidak sesuai dengan prosedur. Terdapat banyak kecendeungan bahwa upaya peningkatan penerimaan daerah lebih banyak bersifat beban bagi masyarakat. mencerminkan bahwa otonomi itu masih jauh dari yang diharapkan.pendapat asli daerah bila dibandingkan dengan penerimaan APBD. Kenyataan sekarang. rawan terjadinya tindak kekerasan yang dilakukan oleh warga. banyak tanah-tanah warga masyarakat yang diambil alih. dan tatanan sosial kemasyarakatan. Berlarutnya penyelesaian dan tidak jelas akhir penyelesaian sengketa pertanahan. termasuk pemerintah. iuran. Itulah sebabnya dapat dikatakan sengketa pertanahan antara warga dengan pihak perusahaan. bahkan terjadinya kerusakan lingkungan sangat mengancam bagi kehidupan masyarakat setempat dan sekitarnya. Berbagai eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan. Daerah masih sangat bergantung kepada dana alokasi dan bagi hasil penerimaan dari Pemerintah Pusat. keberlanjutan mata pencarian. sangat rawan terjadinya tumpang tindih dan sengkta kepemilikan lahan. telah menimbulkan dampak kemerosotan daya dukung dan keberlanjutan fungsinya bagi lingkungan hidup. Bagi daerah-daerah yang memiliki potensi kekayaan sumber daya alam yang besar. hal tersebut diwujudkan dalam bentuk pungutan (pajak. Sisi lain dari eksploitasi sumber daya alam di daerah adalah makin terdesaknya hak-hak masyarakat setempat atas akses terhadap hutan dan hasilnya serta akses hak atas tanah. seperti penebangan hutan. bagi dari aspek kesehatan. Sutau kebijakan yang tidak populer di masyarakat. dan perkebunan oleh berbagai perusahaan baik dalam skala kecil maupun skala besar. terjadi di tiap propinsi. Kemerosotan fungsi lingkungan. kegiatan pertambangan. Untuk keperlukan lahan yang luas bagi usaha perkebunan besar.

misalnya bahan tambang dan mineral. serta kemungkinan dengan negara lain yang berbatasan langsung terutama wilayah daratan. oleh karena itu secara ekologik dapat meliputi sejumlah wilayah atau daerah yang berbatasan langsung. Konflik batas lahan dan kepemilikan lahan. termasuk terhadap fisik manusia. Persoalan menjadi bertambah krusial oleh karena kawasan potensi sumber daya tambang dan mineral. baik yang bersifat biotik maupun non biotik.pengrusakan. melainkan juga terjadi antar sesama pemerintah daerah. tidak cukup dipandang dan dipaksa diselesaikan secara pemetaan wilayah administratif. tidak hanya terjadi pada tataran sesama warga masyarakat. seperti dengan Malaysia di Pulau Kalimantan dan di Propinsi Papua dengan Papua New Guinea (Papua Nugini). antar warga dengan perusahaan. sebagai miniatur dari permukaan bumi. atau jenis lainnya). namun dapat menyebabkan macet atau terabaikan pelayanan kepada masyarakat yang berada di daerah perbatasan tersebut. Konflik (administrasi) perbatasan antar pemerintah daerah akan makin mencuat jika di wilayah tersebut dan sekitarnya kaya sumber daya alam. memiliki kawasan tersendiri secara alami yang kadangkala tidak mudah ditentukan dari atas permukaan bumi. Seperti halnya bahan tambang (mineral. maupun kekerasan fisik lainnya. Karakter ekologik dari sumber daya alam tersebut. antar kabupaten. Sengketa batas wilayah dapat terjadi antar provinsi. melainkan juga harus didekati dari sisi bio-region dan nature region. maka persoalan kepentingan ekonomi menjadi 155 . Jika sumber daya alam yang terdapat di kawasan perbatasan wilayah daerah tersebut potensial dan bernilai tinggi. dan antar warga dengan pemerintah. serta terdapatnya perusahaan yang menanamkaan modal di kawasan tersebut. Potensi sumber daya tambang dan mineral. Sengketa wilayah perbatasan antar pemerintah daerah di Indonesia tidak akan menimbulkan kekerasan atau bentrokan di masyarakat. pembakaran terhadap asset. misalnya di bidang pertambangan dan perkebunan. tidak persis sama batas wilayahnya dengan wilayah administratif daerah yang ditentukan berdasarkan peta tertulis. demikian juga sumber daya biotik lainnya mempunyai karakter ekologik. Pada tataran antar sesama pemerintah daerah dikenal dengan sengketa wilayah administrasi yaitu mengenai batas wilayah administratif masing-masing daerah yang berbatasan langsung. dan antar kabupaten dan kota. batubara.

ialah masyarakat hukum adat yang para anggotanya terikat berdasarkan keyakinan bahwa mereka berasal dari keturunan yang sama. Dayak (Kalimantan). Dalam masyarakat hukum adat yang genealogis dikenal tiga pertalian keturunan. dan Jawa. Ada pula masyarakat hukum adat yang bersifat genealogis (berdasarkan asas keturunan). keturunan menurut garis laki-laki. Bali. yaitu: 1. dan Semendo (Sumatera Selatan). seperti pada masyarakat hukum adat orang Bugis (Sulawesi). Kerinci (Jambi).motif pertarungan dari daerah masing-masing yang perbatasannya persis di kawasan tersebut. Tidak dipersoalkan apakah anggota masyarakat tersebut mengikatkan diri secara sukarela atau karena terpaksa. 3. seperti terdapat dalam masyarakat hukum adat orang Minangkabau (Sumatera Barat). 2. Masyarakat adat yang memiliki ikatan atas wilayah adat sebagai wilayah leluhurnya tetapi tidak berdomisili di sana secara fisik serta tidak memanfaatkan tanah adat tersebut karena suatu kesukarelaan atau suatu keterpaksaan. Masyarakat adat yang memiliki ikatan atas wilayah adat sebagai tanah leluhur dan secara fisik berdomisili dan menggunakannya. Tentu saja dalam ikatan yang demikian bercampur pula ikatan yang bersifat genealogis dan 156 . Masyarakat Adat Beserta Hak Komunalnya dalam Perspektif Desentralisasi Secara singkat dapat dideskripsikan pemaknaan tentang masyarakat adat itu sebagai berikut: 1. keturunan menurut garis perempuan. B. keturunan menurut garis ibu dan bapak. dan Ambon. seperti terdapat dalam masyarakat hukum adat orang Batak. 2. Kedua daerah atau lebih. termasuk terhadap pihak ketiga yang akan melakukan investasi atas sumber daya alam tersebut. Masyarakat heterogen (campuran antara masyarakat adat dan pendatang). saling klaim dan menyatakan diri sebagai pihak yang berhak dan berwenang mengambil keputusan. 3. Masyarakat adat (masyarakat hukum adat) yang dimaksud di sini lebih ditekankan pada masyarakat adat yang secara fisik berdomisili dan memanfaatkan tanah dalam ikatan wilayah adat mereka.

terutama: 157 . dan pembagian urusan pemerintahan. ternyata masyarakat adat beserta hak komunalnya. Padahal. pemekaran daerah. Ketika hukum yang dibuat oleh negara itu diterapkan di masyarakat (termasuk masyarakat adat) sering kali menimbulkan goncangan terhadap tertib hukum dan budaya lokal. Karakter hukum yang dibentuk oleh negara cenderung dirumuskan dalam aturan hukum dan norma hukum yang bersifat general (umum). tidak didasarkan pada kekhasan dan kearifan lokal. mengakibatkan struktur masyarakat adat dan budayanya menjadi terpecah-pecah (fragmented) dalam beberapa daerah otonom. Di samping hukum adat yang mereka gunakan dalam kehidupan bermasyarakat. Pembagian wilayah-wilayah daerah otonom. tidak dijadi komponen yang menentukan dalam pembentukan daerah dan pembagian urusan pemerintahan. juga berlaku hukum (aturan hukum tertulis) yang dibuat oleh negara. Dalam kebijakan otonomi daerah. baik aturan hukum yang dibuat oleh pemerintah pusat maupun yang dibuat oleh pemerintah daerah. oleh hukum negara (nasional) tidak selalu compatible dengan budaya lokal. akan membangun ketertibannya sendiri. juga dalam pembagian wilayah administratif daerah. sebaliknya manusia tetap bisa hidup tanpa harus menggunakan hukum modern (negara) dan tiap komunitas sesuai dengan kearifannya.ikatan yang bersifat kewilayahan. manusia tidak bisa hidup di luar ketertiban. seperti pembentukan daerah. Dengan demikian. proses terjadinya interaksi antara masyarakat hukum adat dengan segala tatanan kemasyarakatan dan hak-hak komunalnya dengan penduduk atau masyarakat lain. lambat-laun akan terpinggirkan. Kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat dan hak-hak tradisionalnya. Berbagai alasan alasan atau kepentingan yang melatarbelakangi kedatangan orang luar sehingga memasuki komunitas dan wilayah masyarakat adat. Komunitas masyarakat adat dalam perjalanannya lambat laun akan berinteraksi dengan masyarakat lain (luar). sekalipun harus menjelajah jauh ke daerah pelosok. hal ini terjadi karena kehidupan masyarakat luar yang dinamis dan terus mengembangkan aktivitas kehidupan. sebab pengakuan dan penghormatan atas kesatuan masyarakat adat dan hak tradisionalnya harus menyesuaikan dengan perkembangan masyarakat. terjadi karena masuknya orang luar tersebut ke dalam wilayah atau kesatuan masyarakat adat tersebut.

- perpindahan penduduk dari daerah lain ke dalam wilayah suatu masyarakat hukum. kegiatan politik. serta pengusahaan tanaman industri untuk bahan kertas misalnya. kegiatan sosial. penebangan hutan secara besar-besaran untuk kebutuhan industri pengolahan kayu. dan perkebunan. Konflik tersebut di atas diakibatkan oleh perampasan hak atas tanah (teritori) tanah adat baik oleh negara (pemerintah) dengan dalih “untuk kepentingan umum” maupun oleh swasta (perusahaan). pertambangan. dan pembukaan ruas jalan untuk kelancaran mobilitas kegiatan investasi perusahanperusahaan besar. Cikal bakal persoalan (konflik) pertanahan berskala besar dan berkepanjangan yang menyangkut hak-hak masyarakat adat atas tanah dan hak atas tanah masyarakat lokal lainnya. Perampasan teritori (territory violence) terhadap masyarakat adat dengan mengatasnamakan undang-undang. pembukaan jalan. pertambangan. Dampak eksploitasi sumber daya alam yang tidak selaras dengan prinsif Pasal 33 UUD 1945. sedangkan masyarakat adat (pemilik asli) hampir selalu menjadi pihak yang dipinggirkan. - melakukan aktivitas perdagangan antar daerah. dan eksploitasi kekayaan sumber daya alam oleh korporasi. seperti kegiatan penebangan kayu melalui hak penguhaan hutan (HPH). Hal inilah yang menjadi benih konflik ketika masyarakat sebagai pemilik awal melakukan tindakan penguasaan kembali atas haknya yang dirampas. seperti pembukaan lahan untuk perkebunan besar. tidak hanya membuat masyarakat adat dan masyarakat lokal sekitarnya yang terdesak dan terjepit. seringkali menimbulkan friksi antara pihak yang diuntungkan (the winner) dengan pihak yang kalah (the looser). pembukaan area pertanian (oleh pemerintah). Pihak yang diuntungkan biasanya adalah pemerintah atau pihak lain yang mendapat “legitimasi” negara untuk menguasai kawasan tertentu. peraturan atau kebijakan pemerintah. yakni karena adanya aktivitas yang langsung berhubungan dengan tanah. melainkan berdampak secara kawasan. 158 .

Terancamnya kelestarian keragaman jenis dan kekhasan sumberdaya alam untuk mewujudkan nilai tambah. yaitu kerusakan ekosistem di kawasan tersebut dan merambah ke dalam tatanan daerah aliran sungai (DAS). dan antara aturan hukum yang bersifat payung dengan aturan hukum yang bersifat implementing regulations. daya saing serta modal bagi pembangunan nasional. Terbentuknya suatu UU baru tanpa diikuti pembentukan aturan penjabaran. C. telah menyebabkan banjir pada musim hujan. melainkan ada banyak inkonsistensi dan inkoherensi (ketidaksesuaian) antara aturan yang satu dengan yang lainnya. sepertin penurunan kualitas sumberdaya air. udara bersih. Kerusakan pada DAS makin parah disebabkan oleh lemahnya kapasitas kelembagaan pengelolaan DAS dan kurangnya koordinasi antara kegiatan di hulu dan hilir. perubahan iklim secara ekstrem. nilai tambah dari produk hutan nonkayu seperti air. menyebabkan tetap memberlakukan aturan hukum yang bersifat implementing regulations yang dibentuk berdasarkan UU yang lama. Berbagai dampak terhadap lingkungan telah terjadi. keanekaragaman hayati. Sementara itu. Cara demikian dapat 159 . seimbang dan lestari. sehingga temuan adanya inkonsistensi mengindikasikan adanya kelemahan suatu sistem aturan hukum. Pemanfaatan hutan sebagai modal pembangunan ekonomi nasional telah melebihi kemampuannya sebagai sumber daya alam yang dapat diperbaharui.regional bahkan global. Inkonsistensi menunjukkan adanya kontraksi dalam sistem aturan hukum. Berbagai kebijakan yang telah dilaksanakan masih belum mampu menyelesaikan permasalahan di bidang kehutanan. dan keindahan alam belum berkembang seperti yang diharapkan untuk mendukung sektor ekonomi. menurunnya fungsi dan daya dukung lingkungan dalam mendukung kualitas kehidupan sosial dan ekonomi secara serasi. sebaliknya terjadi kekeringan pada musim kemarau di beberapa daerah. Terdapat ketidaksesuaian antara berbagai aturan hukum yang bersifat sektoral dan aturan hukum yang bersifat sentralistik. Titik Tolak Penyelarasan Hubungan Pusat dan Daerah Berdasarkan Prinsip Otonomi yang Luas Tidak ada sistem yang sempurna. Praktik penebangan liar dan konversi lahan juga telah menimbulkan dampak yang luas.

32 Tahun 2004. Seharusnya dirumuskan “Urusan pemerintahan pemerintahan daerah terdiri atas urusan wajib. padahal sesungguhnya otonomi daerah adalah penjelmaan konkrit dari asas desentralisasi. dalam hal ini UU pemerintahan daerah (UU No. wajib didasarkan dan disesuaikan pengaturannya pada UU ini. Asas desentralisasi. Pada hal. tidak dapat berjalan secara bersamaan dengan UU desentralisasi. dan Perpres. semua peraturan perundang-undangan (aturan hukum – pen) yang berkaitan secara langsung dengan daerah otonom. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan UU No. Hal ini menyebabkan ketidakkonsistenan dan ketidakharmonisan antara semangat negara kesatuan dengan praktek pengaturan wewenang pemerintahan. pasti menerapkan desentralisasi. masih ada lagi urusan pembantuan sebagai konsekwensi digunakan asas medebewind. namun di sisi lain. Desentralisasi secara tidak penuh memiliki varian160 . 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara). baik secara penuh maupun secara tidak penuh. serta aturan hukum penjabarannya. dan asas medebewind tidak dinyatakan secara proporsional dalam UU No. perubahan yang ingin dicapai oleh UU baru. sedangkan asas dekonsentrasi tidak disebut secara tegas. hanya dirumuskan terdiri atas urusan wajib dan urusan pilihan. serta urusan pembantuan”. 11 Tahun 1967 tentang Pokokpokok Pertambangan (telah dicabut dan diganti dengan UU No. sehingga susbstansi Negara Kesatuan yang terkandung di dalamnya menjadi bias. sulit dicapai. seperti UU No. 32 Tahun 2004 dan perubahannya). asas dekonsentrasi. Adanya UU sentralistik dan UU sektoral. Sesungguhnya. melahirkan suatu otonomi bagi suatu pemerintahan lokal. Desentralisasi secara penuh. Juga asas pembantuan yang sesungguhnya wujud dari asas medebewind. penyelenggaraan urusan pemerintahan itu selalu dilakukan secara bersamaan antara sentralisasi dan desentralisasi. seperti PP. 32 Tahun 2004 menjadi titik tolak sinkronisiasi aturan hukum sektoral dan sentralistik dengan pelaksanaan otonomi daerah. urusan pilihan. Bahkan ada pula asas otonomi daerah.mencegah kevakuman hukum. Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. Ketentuan Pasal 237 UU No. Pasal 237 tersebut menegaskan. Negara sebagai suatu organisasi yang besar dan rumit.

dalam pengertian diverifikasi dan diarahkan pada upaya pencapaian tujuan bernegara. medebewind. dan delegasi seperti BUMN dan otorita. Sentralisasi dan desentralisasi selama ini dibangun atas dasar kemampuan pusat memaksakan kepentingan dengan justifikasi-justifikasi yuridis yang cenderung sepihak dan sulit dikontrol. 161 .varian yaitu dekonsentrasi.

oleh karena itu tidak seharusnya membongkar susunan dan struktur asli pemerintahan adat. pembentukan organ-organ pemerintahan daerah berikut wewenangnya dapat efektif dan efisien selaras dengan pemerintahan tingkat atasnya. tapi sebaliknya dikembangkan agar tetap aktual dalam penyelenggaraan negara moderen. menghormati. 6. Pengaturan wewenang dan hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam tata kelola sumber daya alam. Pengaturan sumber-sumber pendapatan daerah ditata berdasarkan asas-asas desentralisasi sedemikian rupa. Semangat negara kesatuan RI harus menjadi pengikat penataan substansi yang mengatur wewenang antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. terutama penyelenggaraan sentralisasi dan desentralisasi dalam sistem pemerintahan negara. tidak sekedar difokuskan pada pengaturan terhadap objeknya saja. 162 . Umum Di masa mendatang. sejumlah undang-undang sektoral yang ada. 2. baik dalam bentuk kuantitas maupun kualitas secara seimbang. haruslah berdasarkan dan diarahkan pada: 1. Asas desentralisasi diletakkan secara proporsional sehingga. akses yang paling kokoh atau secara tradisional dengan memberi pengakuan terhadap eksistensi budaya. Pemeliharaan dan pengembangan prinsip-prinsip pemerintahan asli. tapi ditekankan pula kewajiban dan tanggung jawab pemerintah (pusat dan daerah) dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. dan mengembangkan susunan asli pemerintahan Bangsa Indonesia. perlu dilakukan revisi.BAB VIII PENUTUP A. Pada akhirnya. 3. Di samping itu. 4. penataan wewenang pemerintahan. 7. mengakui. 5. dan harmonis. Kebhinikaan (heterogenitas). sinergis.

b. Khusus 1. aturan hukum mengenai penguasaan tanah berorientasi untuk memudahkan perolehan tanah bagi investasi. Pada periode tahun 1984–1990-an. Pada periode tahun 1973–1984. aturan hukum mengenai penguasaan tanah memiliki karakter: Konservatif/ortodoks. Dengan demikian. yaitu hukum menjadi alat bagi pelaksanaan ideologi dan program negara (positivis instrumentalis). dan Pragmatis dan sangat akomodatif terhadap kekuatan modal (capitalism). aturan hukum mengenai sumber daya alam. berpihak pada sistem ekonomi kapitalis (akumulasi modal). terutama kekuatan modal asing lewat negara donor maupun lembaga-lembaga keuangan Internasional. aturan hukum pada periode ini juga tidak selaras (tidak sinkron dan tidak konsisten) dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Sudah disepakati bahwa penguasaan sumber daya alam di Indonesia ditujukan kepada sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. sebagai berikut: a. Pada periode 1967–1973. c. Karakteristik aturan hukum dan taraf kesinkronannya dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Problematik yang terjadi pada tataran normatif yaitu terdapat persoalan sinkronisasi dan konsistensi berbagai aturan hukum di bidang pertanahan dalam kaitannya dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. dan konservatif/ortodoks. khususnya di bidang pertanahan diterbitkan dikeluarkan secara sektoral dengan melepaskan kaitannya dengan UUPA sebagai aturan hukum pokok (“payung”) dari semua aturan hukum agraria. Represif. oleh karena itu karakter peraturannya bersifat pragmatis dan sangat akomodatif 163 . dengan ciri pemerintah sangat dominan dalam pembentukkan hukum dan menentukan arah perkembangan hukum masyarakat. Hal ini telah berlangsung secara periodik dan memiliki variasi karakter hukumnya. 2. Selama Orde Baru (1967 – 1998). Oleh karena itu prinsif-prinsif konstitusional pengelolaan sumber daya alam harus dijabarkan secara normatif dalam aturan hukum sebagai dasar pelaksanaannya.B. aturan hukum mengenai pertanahan tidak sinkron dan tidak konsisten dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 dan berkarakter: eksploitatif terhadap sumber daya alam.

beberapa saran yang digunakan sebagai rekomendasi dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: 164 . Disamping itu. 4. bersifat defensif-reaktif. peraturan perundang-undangan di bidang pertanahan yang mencerminkan ketidakpastian hukum (ambivalence). Berkenaan dengan hal itu. menempatkan otoritas/kewenangan yang begitu besar kepada BPN (institusi pemerintah (pusat). terjadi arus penarikan kembali kewenangan daerah di bidang agrarian oleh pemerintah pusat. akibatnya terjadi ketidaksinkronan dan ketidakkonsistenan aturan hukum di bidang pertanahan. 36 Tahun 2005 yang kemudian diubah dengan Perpres No. sehingga wewenang agraria/pertanahan menjadi tersentralisasi lagi pada pemerintah (pusat). Meskipun peraturan tersebut berkarakter pragmatism-reaktif. 22 Tahun 1999. 3. Artinya peraturan-peraturan yang dikeluarkan tidak didasarkan pada suatu format tertentu yang secara integral berkesinambungan dan sistematis. dan parsial. Periode Resentralisasi (2004–2006). Aturan hukum pada periode ini juga tidak sinkron dan tidak konsisten dengan semangat yang terkandung dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Karakter Peraturan Perundangundangan pada periode ini bersifat pragmatism-reaktif. tetapi materi muatannya lebih selaras (sinkron dan konsisten) dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 junto Pasal 2 dan 14 UUPA junto Pasal 11 dan 12 UU No. Substansi ketiga Perpres tersebut berkarakter represif dan berorientasi meningkatkan devisa negara lewat pembangunan dengan keberpihakan penuh pada pemilik modal (capital).terhadap kepentingan modal. 65 Tahun 2006 dan Perpres No. b. 10 Tahun 2006. Peraturan Perundang-undangan pada periode ini tidak selaras (tidak sinkron dan tidak konsisten) dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Pada Era Pemerintahan Reformasi (1998 – 2006). Periode Desentralisasi (1998–2003). artinya sangat reaksioner terhadap berbagai sengketa agraria yang muncul pada saat itu dan melihatnya sebagai persoalan administratif belaka. secara periodik juga memiliki karakteristik: a. Hal ini ditandai dengan diberlakukannya Perpres No. Dengan demikian. Selain itu.

Akibat lebih lanjut. c. Penyempurnaan peraturan di bidang agraria hendaklah didasarkan pada prinsip-prinsip yang terkandung di dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 sebagai aturan dasar dan pangkal tolak pembentukan aturan hukum di bidang agraria. Keadaan demikian telah menghambat upaya hukum melindungi hak warga negara atas derajat kesehatan yang optimal. Pada akhirnya. 7. sebagai berikut: 165 . keterlambatan penjabaran fungsi dan wewenang pemerintah daerah di bidang kesehatan dalam peraturan daerah. dan birokrasi Depkes dan Dinkes Propinsi/Kota/Kabupaten. dana. terdapat ketidakjelasan. b. dengan mengacu kepada desentralsiasi urusan pemerintahan. sehingga kebijakan-kebijakan operasionalnya tidak saling tumpang tindih satu sama lain. pengkajian pada tahap awal minimal dapat merumuskan tentang kedudukan UUPA di dalam peraturan perundang-undangan agraria Indonesia. yaitu menyelaraskan dan menyesuaikan seluruh peraturan perundang-undangan yang bersangkutan dengan UUPA. Prinsip yang dimaksud adalah menempatkan rakyat sebagai arus utama. Upaya tersebut agar UUUPA betulbetul ditempatkan sebagai aturan payung bidang pertanahan. ketidakkonsistenan. termasuk dinas kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota. dan ketidaksinkronan. berbagai persoalan hukum bidang kesehatan. kelembagaan. belum adanya perubahan dan penguatan struktur. Memperhatikan kelemahan normatif dan kendala struktural dalam pelaksanaan otonomi daerah di bidang kesehatan. SDM. 6. Setelah UUPA telah disempurnakan. Di samping itu. Dari segi aturan hukum dan kebijakan. serta lingkup wewenang pemerintah daerah yang mendukung otonomi daerah di bidang kesehatan. sarana dan prasarana pada Departemen Kesehatan di pusat dan daerah. 5. dilakukan sinkronisasi dan harmonisasi seluruh peraturan yang berkaitan dengan agraria. Dalam rangka penyempurnaan UUPA. maka perlu pengembangan hukum secara normatif dan penataan struktur kelembagaan. telah menghambat pencapaian good governance di bidang kesehatan.a. bukan aspek ekonomi atau modal (capital) sebagaimana yang pernah diterapkan oleh pemerintahan Orde Baru.

dan sanksi administrasi. namun dari segi penataan hukum dan penegakan hukum banyak mengandung 166 . 8. standar. Penataan fungsi dan struktur organisasi Depkes dengan mengacu kepada fungsi pengarahan dan fungsi pengaturan yang konsisten dengan asas desentralisasi dalam rangka otonomi daerah di sektor kesehatan. Secara kelembagaan. d. pengendalian mutu dan biaya pelayanan kesehatan. Guna mendukung upaya perancangan. Selain itu. supaya dapat mengembangkan struktur kelembagaan hukum secara internal dan eksternal yang mempunyai keterkaitan sistemik. juga perlu percepatan penjabaran fungsi dan wewenang pemerintah daerah di bidang kesehatan dalam peraturan daerah dan keputusan kepala daerah. c. akreditasi. serta ada konsistensi struktur dan fungsinya dengan asas hukum yang mendasari pembentukannya.a.181 kilometer. termasuk norma. maka perlu segera pembentukan bagian/subbagian hukum dalam struktur organisasi Dinas Kesehatan Propinsi/Kota/Kabupaten. dan kesegeraan aturan hukum dan kebijakan. perizinan. Secara normatif. pengawasan dan evaluasi peraturan daerah di bidang kesehatan. Dari segi aset dan potensi kelautan. dana. e. dan kriteria tentang pola tarif pelayanan kesehatan. sinkronisasi. perlu penataan struktur dan kapasitas kelembagaan hukum (pemerintah pusat dan pemerintah daerah) di bidang kesehatan. fungsi sosial pelayanan kesehatan. Indonesia memiliki luas laut lebih kurang 5. asas desentralisasi. f. pembentukan. perlu konsistensi menegakkan asas otonomi. pengelolaan perbekalan kesehatan. b. prosedur. disertai peningkatan jumlah dan kualifikasi SDM. audit medis. perlu kejelasan. sarana dan prasarana) yang kuat. dan asas keserasian sebagai landasan filosofis fungsi dan wewenang pemerintah dalam otonomi daerah di bidang kesehatan.8 juta kilometer persegi dengan panjang garis pantai 95. Komitmen pemerintah pusat untuk melaksanakan fungsi regulatif di bidang kesehatan. Memiliki daya dukung kelembagaan (SDM. Secara folosofis. konsistensi. guna mendukung pemerintah daerah dalam membentuk peraturan daerah yang lebih berorientasi pada pemenuhan hak warga negara atas derajat kesehatan yang optimal.

Kesemua itu sekaligus menjadi tantangan dan memerlukan penanganan segera mungkin guna mendapatkan solusi terbaik. i. Di wilayah laut Indonesia masih banyak barang muatan kapal tenggelam yang belum diupayakan pemanfaatannya secara optimal. h. Pengelolaan terhadap pulau-pulau kecil di wilayah perbatasan (+92 buah) belum dilakukan secara optimal. terjadinya deforestrasi hutan mangrove dan degradasi terumbu karang di kawasan pesisir dan laut. Timor Leste. yaitu: a. d. b. jika tidak disusun secara sinergis. Pengembangan sumber daya di wilayah laut dalam. Pengaturan wewenang 167 . terutama dengan Singapura. dan di sisi lain berlaku pula secara bersamaan UU yang bersifat desentralisasi. praktek illegal fishing terutama di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). baik yang berdampak dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Papua New Guinea. e. Malaysia. Kegiatan industri yang mengakibatkan kerusakan lingkungan pada ekosistem pesisir dan laut. yang jika diatasi dapat menjadi salah satu keunggulan komparatif sumber daya kelautan. penambangan pasir laut secara illegal. berupa kerusakan fisik dan pencemaran di beberapa kawasan pesisir dan laut. c. Berlakunya UU sektoral dan UU sentralistik di satu sisi. tidak bisa berjalan secara bersamaan. Penataan ruang dan pengembangan wilayah pesisir dan laut belum diupayakan secara tepat. mengakibatkan erosi pantai dan berkurangnya keanekaragaman hayati laut. g. terkendala permodalan dan teknologi. Pengelolaan aset tersebut dapat didayagunakan sebagai tambahan modal dalam pengembangan sumber daya kelautan. Belum terselesaikannya batas wilayah laut dengan negara tetangga. 9. f.kelemahan dan permasalahan. dan Filipina. Terdapat sejumlah aktivitas yang banyak merugikan negara dan bangsa Indonesia.

sedangkan wewenang daerah didasarkan pada aturan hukum yang desentralistik. Wewenang pemerintah pusat didasarkan pada aturan hukum sektoral dan sentralistik. diperlukan sinkronisasi aturan hukum sebagai landasan wewenang pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam pengelolaan sumber daya kelautan. Oleh karena itu. 168 .pengelolaan sumber daya kelautan masih tersebar dalam sejumlah UU sektoral.

Bandung. Pustaka Sinar Harapan. Bandung. Jakarta. Great Britain. “Pengembangan Eksekutif Kepala Dinas Kesehatan dalam Upaya Peningkatan Kinerja Dinas Kesehatan Daerah di Era Desentralisasi”. Jakarta. Jakarta. Amiroeddin Syarif. Andi Sandi dan Vivi Lignawati. 1992. Harcourt Brace Jovanovich. Arief Budiman. “Desentralisasi dan Perkembangan Peraturan Perundang-undangan di Bidang Kesehatan: Sebuah Evaluasi Normatif”. New York. dalam www. 1997. 1995. Universitas Gajah Mada. Tebaran Pikiran Mengenai Hukum Agraria. Hannah. Hukum dan Peraturan Kebijaksanaan (Beleidsregel) pada Pemerintahan Daerah. Disampaikan dalam Seminar Desentralisasi Kesehatan di Indonesia: Apa yang Sudah Dicapai dan Apa yang Belum? Apakah lebih baik Resentralisasi? Tanggal 17-19 Maret 2004 di Fakultas Kedokteran.net/buletin. 1997.1985. Alumni. Ali Sofwan Husein. Ali S Husein.Co. diakses tanggal 15 Januari 2005. Jakarta. Jenis dan Teknik Membuatnya. The Ipswich Book Company. 1997. On Violence” in Crisis of Republic. Beberapa Pemikiran Pembangunan Hukum di Indonesia. 1980. 2002. . Negara. Suffolk. Konflik Pertanahan (Dimensi Keadilan dan Kepentingan Ekonomi. Reformasi Nasional Penyelenggaraan Good Governance dan Perwujudan Masyarakat Madani. Makalah.DAFTAR PUSTAKA Abdul Hakim G Nusantara dan Nasroen Yasabari. Abdurrahman. Bandung. Teori Negara. Perundang-undangan: Dasar. Manajemen. Makalah. International Handbook of Local and Regional Government: a comparative analysis of advanced democracies. 1972. Ind-Hill.. Alumni. Disampaikan pada Seminar Desentralisasi Bidang Kesehatan: ”Reformasi Sektor Kesehatan dalam Desentralisasi di Indonesia”. Dasar-dasar Perundang-undangan Indonesia. ---------------------------------. 6 Juni 2006. YLBHI. Kekuasaan dan Ideologi. Ekonomi Politik Penguasaan Tanah. Politik Hukum Indonesia. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama. hlm. Pustaka Sinar Harapan. Arendt. 1988. 7. Alan Norton.desentralisasi-kesehatan. Penerbit Bina Aksara. Reprinted. “Peran DEPKES di Era Desentralisasi Kesehatan”. Abdul Latief. Jakarta. Bagir Manan. Bintaro Tjokroamidjojo. UII Press. Bachtiar Oesman.php. Jogjakarta. Lembaga Administrasi Negara. Azrul Azwar. 2005. Volume III/02/2005.

Sengketa. Reformasi Agraria. Bonnie Setiawan. Hukum Agraria Indonesia. Dianto Bachriadi. Palembang. Disertasi.pdf. Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan dan Departemen Luar Negeri Republik Indonesia cq. dan Mal Adminitrasi: Hasil Perkawinan Dominasi Negara dan Modal”. Sumatera Selatan.org/file-global/GLOBALISASI%20lengkap. 36 Tahun 2005 Melegalkan Penggusuran Paksa?”. Universitas Diponegoro. “Ketimpangan Penguasaan Tanah. Perubahan Politik. Usulan Penelitian Disertasi. Djambatan. Otonomi dan Hubungan Luar Negeri”. Lembaga Penerbit FE-UI. “Sistem dan Konflik Tenurial. Zed Books. Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria. Jakarta. Soetomo. Dwidjo Susono (Staf Ahli MENKES Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Desentralisasi). Djambatan. Agraria Reform and Conflict Worldwide. Hirarki Aturan Hukum di Indonesia. Isi dan Peaksanaannya. Badan Diklat Provinsi Sumatera Selatan. 4 Agustus 2001. et. Semarang. ”Perpres No. Surabaya. Jakarta. Jurnal Suara JAGAT No. pada 21 Juni 2007. I/th. London and New Jersey.globaljust. Makalah pada Diskusi Panel tentang Hubungan Luar Negeri oleh Pemerintah Daerah. Firman Muntaqo. Tantangan dan Agenda Kerja bagi Pemerintahan Baru 2004-2009. Konflik Agraria. 2004.al (ed). Makalah pada pertemuan: Konsultasi dan Konsolidasi Organisasi Rakyat di Sumatera Selatan dalam Rangka Promosi Nasional untuk Penyelesaian Konflik Agraria. Nomor 27. September 2004.1997. --------------------. Forum Keadilan. di Surabaya. Gustam Idris. “Harmonisasi Hukum Investasi di Bidang Perkebunan”. Demitrius. Juni 2004. ----------------------. G. 1997. . Yogyakarta. Dianto Bachriadi & Noer Fauzi. YLBHI. Lagi-Lagi Negara versus Rakyat”. We are All Dead. tanggal 25 Juni 2005. Jakarta. Auditorium Pemda Prop. The Unpromised Land. Palembang. http://www. I/1998. Harian Kompas. “Kebijakan & Strategi Desentralisasi Kesehatan dan KW/SPM”. Christodoulou. kerjasama Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya. 2006. 2005. Febrian. Fajrimei A Gofar. At The End of Globalisation. Yayasan Pikul. 1990. Edisi 20 Oktober 2002. Hukum Agraria Indonesia-Himpunan Peraturan-Peraturan Hukum Tanah. Makalah. Kekalahan Manusia Petani Dimensi Manusia dalam Pembangunan Pertanian. Disampaikan dalam Rapat Koordinasi Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. 2006. dan Agenda Pembaruan Agraria di Indonesia. Program Studi Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Airlangga. Jakarta. Diakses tanggal 5 Desember 2009. Gunawan Wiradi. Makalah Semiloka Reforma Agraria. Jilid 1 Hukum Tanah Nasional. Kanisius.Boedi Harsono.

Het Recht in Indonesia. diakses tanggal 12 Januari 2008. S’Gravenhage. M. Teorisasi Hukum. Jentera (Jurnal Hukum). Jakarta. W. Proceeding of International Symposium. Soal Pembentukan Daerah Otonom Dan Tingkatan Daerah Otonom. Studi Tentang Perkembangan Pemikiran Hukum di Indonesia 1945-1990. Lubis. Khudzaifah Dimyati. Alumni. Yogyakarta. Democracy In Plural Societies. Jakarta. Kerjasama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional. dalam http://www. Imam Syaukani & A. Jacub Rai. Kaloh. Mencari Bentuk Otonomi Daerah. Good Governance: Telaah dari Dimensi Akuntabilitas dan Kontrol pada Era Desentralisasi dan Otonomi Daerah. ANDI. Oktober 2005. 2006. J. et al. Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia dan Coastal Resources Management Project. M. 2005. New York. Edisi 10 – tahun III. Lemaire. New Haven and London Yale University Press. Bandung. 1955. 2004. 1987. Teori Umum Hukum dan Negara (Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif Sebagai Ilmu Hukum Deskriptif-Empirik). Laksono Trisnantoro. Alih Bahasa oleh Somardi. Bandung. Selayang Pandang Tentang Sumber-Sumber Hukum Tata Negara Di Indonesia. 1983. Yogyakarta. Malang. Yogyakarta.goodlocalgovernance. Joko Widodo. Jacub Rais. Joeniarto. General Theory of Law and State. Iman Soetiknjo. Integrated Coastal and Marine Resources Management. Dasar-Dasar Politik Hukum. Solly. Kelsen. “Harmonisasi Pengelolaan Wilayah Pesisir Melalui Penatan Ruang LautDarat Terpadu”. Jurnal Transparansi Indonesia. 2001. Gadjah Mada University Press.Hutagalung. 2006. “Good Governance”. 1981. -----------------. Surakarta. 1997. Nasroen. Muhammadiyah University Press. Proses Terjadinya UUPA. Bee Media Indonesia. Rineka Cipta. Kuntjoro Purbopranoto. Jakarta. Russell & Russell. 1973. 2005. Pembahasan UUD 1945. Ihsan Cendikia. Van Hoeve. 1954. 2007.com/journal/item/. PSHK.Alumni. Lijphart. Arend.multiply. Beberapa Catatan Hukum Tata Pemerintahan dan Peradilan Administrasi Negara. Jakarta. Bandung. Daniel. . 1980. Menapaki Jejak Pemikiran Soepomo Tentang Negara Indonesia. 1985. General Theory of Law and State.G.L. Jakarta. Ahsin Thohari. EndaNG. NV Uitgeverij W. Liberty. Aspek Strategis dalam Manajemen Rumah Sakit. Hans. Jakarta. Inisiatif Harmonisasi Sistem Hukum Pengelolaan Wilayah Pesisir Indonesia. 2002. Surabaya. Raja Grafindo Persada. Peran Serta Seksi Agraria Universitas Gadjah Mada.

London. Philip. Notonagoro.norwegia. Bayu Media. Menggagas Hukum Humanistis-Komersial: Upaya Perlindungan Hak Masyarakat Kurang dan Tidak Mampu atas Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Swasta Berbadan Hukum Perseroan Terbatas. Peter Mahmud Marzuki. Jakarta. Membongkar Alas Penguasaan Negara Atas Hak-Hak Adat. Hak Menguasai dari Negara (HMN) Persoalan Sejarah yang Harus Diselesaikan. Nonet. KRHN & KPA. Sesat Pikir Teori Pembangunan dan Globalisasi. Prenada Media. Pan Mohamad Faiz. Yogyakarta. Muhammad Yamin. Malang. 2001. Penerbit Rineka Cipta. Jajasan Prapantja. 1991. ------------------------.p2sdkpkendari. Diakses tanggal 20 Juli 2009. A. Philippe & Selznick.II–No.Mahkamah Konstitusi. Bandung. Hagerstown. 1983. Bina Aksara. http://www. New York. Parlindungan.php?id=668. 2000. Bandung. dalam: Usulan Revisi UUPA 1960: Menuju Penegakan Hak-Hak Rakyat atas Sumber-Sumber Agraria. http://www. Diakses tanggal 26 Nopember 2009. Paradigma Kesejahteraan Rakyat dalam Ekonomi Pancasila. Komentar atas Undang-Undang Pokok Agraria.Mandar Maju.jurnalhukum. Mahfud MD.or. Jakarta.4–Juli 2003. Jurnal Ekonomi Rakyat.com/.P. Jakarta. 2009. Mustopa. Artikel–Th. Harper Colophon Books. 109110. Jakarta.ekonomirakyat. Noer Fauzi & Dianto Bachriadi. 1978. Aneka Hukum Agraria. 2001. Penelitian Hukum. Insist Press & Pustaka Pelajar. Manajemen Norwegia untuk sumber daya laut hidup. Mubyarto. 2005. Pertimbangan Hukum.com/cetak. Putusan Perkara Nomor 001-021022/PUU-I/2003.blogspot. Jakarta. Dasar dan Struktur Ketatanegaraan Indonesia. Penafsiran Konsep Penguasaan Negara Berdasarkan Pasal 33 UUD 1945 dan Putusan Mahkamah Konstitusi.id/policy/trade/marine/marine. 1959. Alumni. Pustaka Pelajar. San Fransisco. Mansour Fakih. Yogyakarta. Merebut` Hak Indonesia atas Tuna Sirip Biru. Law and Society in Transition-Toward Responsive Law. 1998. . Politik Hukum dan Pembangunan Agraria di Indonesia. Djilid Pertama. Moh. http://www. Muhammad Syaifuddin.org. Maria R Ruwiastuti. Pidato Pengantar Menteri Agraria Sadjarwo sewaktu mengajukan RUU Pokok Agraria di DPRGR tahun 1960. Kitab Naskah Undang-undang Dasar Républik Indonésia. hlm. Sesat Pikir Politik Hukum Agraria. www.htm Diakses tanggal 20 Juli 2009. Harper & Row. 1984.

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 058-059-060-063/PUU-II/2004 dan Nomor 008/PUU-III/2005 mengenai pengujian undang-undang Sumber Daya Air.R. Lembaga Pemberdayaan Hukum Indonesia. S.id/berita/sumber-daya-kelautan-indonesia-belum-optimaldimanfaatkan/ Diakses tanggal 30 Juli 2009. Bandung. Angkasa Bandung. et. dan Departemen Penerangan. Soedarmono Soejitno. 2005. Ringkasan Disertasi. 2004. 1986. Sadjijono.unpad. Grasindo.Purnadi Purbacaraka & Soerjono Soekanto. Washington DC. kerjasama Fakultas Hukum Universitas Sriwiijaya dengan Program HEDS. ”Eksistensi Asas-asas Umum Penyelenggaraan Pemerintahan yang Layak dalam Menjelmakan Pemerintahan yang Baik dan Bersih”. 2002. http://www. Ridwan. 16.P. 1979. Jakarta. Harian Kompas. Opcit. Rokhmin Dahuri. Bandung. Policy and Research Series 2. Makalah pada Seminar Bagian “Pemerintahan Daerah Setelah Perubahan Kedua UUD 1945”Hukum Tata Negara. Memahami Beberapa Bab Pokok Hukum Administrasi. Ratih Anbarini.F. Inderalaya. S. hlm. S. Pradnya Paramita. 2001. Dalam Majalah Hukum dan Keadilan No. 1973. hlm. 1994. . ----------------------. Hukum dan Masyarakat.. Shah A. Hukum Kita Liberal (Apa Yang Dapat Kita Lakukan). Sudarto. Tebaran Pemikiran Seputar Masalah Hukum Tanah. Bandung. LaksBang PRESSindo. Marbun. Alumni. et al. Sosiologi Hukum Perkembangan Metode dan Pilihan Masalah. M. Sarundajang.Hutagalung. tanggal 3 Januari 2001. Perundang-Undangan & Yurisprudensi. Pokok-Pokok Sosiologi Hukum. “Perkembangan Ilmu Hukum dan Politik Hukum”. -----------------------. Bandung. PT.ac. Jakarta. The Reform of Intergovenrmental Fiscal Relations in Developing and Emerging Market Economies. Pustaka Sinar Harapan. World Bank. Raja Grafindo Persada. Jakart.2002. Arie.S.H. Soerjono Soekanto. Muhammadiyah University Press. Satjipto Rahardjo. Ringkasan Ketetapan MPRS Republik Indonesia No. Surakarta. Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah. 2008. Alumni. I dan II/MPRS/1960. Yogyakarta. Sudargo Gautama. Tafsiran Undang-Undang Pokok Agraria. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Laut Secara Terpadu. al. dalam: Rosjidi Ranggawidjaja. UNPAD. Sumber Daya Kelautan Indonesia Belum Optimal Dimanfaatkan. 5 Tahun ke VII Januari-Februari. 8 Desember 2006. Bandung. Jakarta. 2000. Jakarta. 48. Reformasi Perumahsakitan Indonesia.

dan WHO. Jakarta. Rakyat dan Dmokrasi. 7-8-9 Juni 2005. Otonomi Daerah dalam Negara Hukum Indonesia: Pembentukan Peraturan Daerah Partisipatif. Z. Laporan. Alumni. Pelayanan Publik dari Dominasi ke Partisipasi. 2007. Surabaya. 2006. Asikin Kusuna Atmadja. Laksamana TNI. Bandung. “Seminar Nasional 4 Tahun Desentralisasi Kesehatan di Indonesia”. Wirjono Prodjodikoro 1983. Jakarta.Suko Wiyono. Komisi Akreditasi Rumah Sakit.mil. Diselenggarakan oleh UNHAS. UGM. Forum LSMLPSM DIY. Hakim Nusantara & Nasroen Yasabari. Sekretariat Tim P-7. pada Seminar Nasional Maritim Tahun 2009 di Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut Surabaya.id/tabid/61/articleType/ArticleView/articleId/1258/Default. Diakses tanggal 22 Agustus 2009. Tejo Edhy Purdijatno. Tim Perumus. 20-21 Maret 1992.asp x. Faza Media. 2006. Dalam: A. Makalah pada Seminar Gagasan Otonomi Daerah dalam Konteks Negara Kesatuan RI. “Perubahan Fungsi Pemerintah dalam Sektor Kesehatan di Berbagai Tingkat Setelah Penetapan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004”. Untoro Hariadi & Masruchah. 1995.tnial. Politik Hukum Nasional. (ed). Yogyakarta. Makassar. http://www. Beberapa Pemikiran Pembangunan Hukum di Indonesia. Tanah. Wijoyo. Jakarta. Airlangga University Press. Pedoman Akreditasi Rumah Sakit di Indonesia. Unit Desentralisasi DEPKES RI. Kepala Staf Angkatan Laut. . “Sebuah Catatan tentang Otonomi dalam Penyelenggaraan Negara”. Azas-Azas Hukum Tata Negara Indonesia. G. Jakarta.I. Talizuduhu Ndraha. Dian Rakyat. DITJEN YANMEDIK-DEPKES R. 1980. Tim Perumus.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful