BAB I PENDAHULUAN

Apendicitis merupakan kasus gawat bedah abdomen yang tersering dan memerlukan tindakan bedah segera untuk menghindari komplikasi yang serius. Apendicitis akut yang terlambat ditangani akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas penderita. Untuk itu ketepatan diagnosa sangat dibutuhkan dalam pengambilan keputusan tindakan. Ketepatan diagnosis tergantung dari kemampuan dokter melakukan analisis pada data anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium. Insiden apendicitis akut di Indonesia dilaporkan menempati urutan tertinggi diantara kasus-kasus kegawatan darurat, seperti juga halnya dinegara barat. Walaupun begitu diagnosis serta keputusan bedah masih cukup sulit ditegakkan. Pada beberapa keadaan apendicitis akut agak sulit didiagnosis, misalnya pada fase awal dari apendisits akut gejala dan tandanya masih sangat samar apalagi bila sudah diberi antibiotika. Dengan pemeriksaan yang cermat dan teliti resiko kesalahan diagnosis pada apendicitis akut sekitar 15-20%. Bahkan pada wanita kesalahan diagnosis ini mencapai 45-50%. Hal ini dapat disadari mengingat wanita terutama yang masih sangat muda sering timbul gangguan yang mirip apendicitis akut. Upaya mempertajam diagnosis sudah banyak dilakukan, antara lain dengan menggunakan sarana diagnosis penunjang seperti: Foto Polos Abdomen, Pemeriksaan Barium Enema, Laparoskopi dan Ultrasonografi. Mengingat masalah diatas maka perlu diketahui tanda, gejala, pemeriksaan laboratorium sederhana mana yang berperan secara bermakna dalam mendiagnosis apendicitis akut, serta berapa akurasi, sensitifitas dan spesifitas dari tanda, gejala dan pemeriksaan laboratorium sederhana tersebut dan untuk memudahkan dokter dalam mengambil keputusan.

1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi Dan Fisiologi Appendiks

Apendiks (appendiks vermiformis) merupakan organ yang berbentuk tabung panjang dan sempit. Panjangnya kira-kira 10cm (kisaran 3-15cm) dan berpangkal di caecum. Pada posisi yang lazim, apendiks terletak pada regio abdomen kanan bawah di titik McBurney. Titik McBurney dicari dengan menarik garis dari spina iliaca anterior superior (SIAS) kanan ke umbilicus. Titik sepertiga lateral garis ini merupakan tempat pangkal apendiks. Dasar apendiks muncul dari sisi posteromedial caecum dimana tiga taenia coli bertemu.1 Menurut Helmut (1988) Posisi apendiks sangat bervariasi, sehingga kemungkinan sulit untuk menentukan posisi normal apendiks. Macam – macam posisi apendiks :
1. Posisi retrocecal  kira-kira 65%. 2. Posisi pelvic  apendiks tergantung menyilang linea terminal masuk

kepelvis minor, tipe desenden 31 %.
3. Posisi paracolica  apendiks terletak horizontal di belakang sekum 2%. 4. Posisi preileal  apendiks didepan ujung akir ileum 1%. 5. Posisi post ileal  appendiks dibelakang ujung akir ileum 1%.

Gambar 2.1 : posisi appendiks (Helmut Leonhardt 1988)
2

Kedudukan itu memungkinkan apendiks bergerak dan ruang geraknya bergantung pada panjang mesoapendiks penggantungnya. dibelakang colon ascenden atau ditepi lateral colon ascenden. Thoracalis X. Appendicularis yang merupakan arteri tanpa kolateral.3 1 Appendiks dipersarafi oleh persarafan parasimpatis yang berasal dari cabang N. Pada kasus selebihnya apendiks terletak retroperitoneal. appendiks akan mengalami ganggren. Vagus dan persarafan simpatis yang berasal dari N. yaitu dibelakang sekum. apendiks terletak intraperitoneal.1 Gambar 1. Gejala apendiks tergantung dari letak apendiksnya.Pada 65% kasus. Anatomi Appendiks 2. sehingga jika arteri ini tersumbat.1 3 . Vaskularisasi appendiks berasal dari A.

8% lebih banyak diakibatkan oleh komplikasi dari penyakit itu sendiri daripada intervensi bedah. Insiden dari appendicitis meningkat bertahap sesuai pertambahan umur. Angka kematian meningkat diatas 20% pada 4 .1 B. Appendicitis menyerang 7-9% dari keseluruhan populasi di Amerika Serikat dan paling sering ditemukan pada umur 10-19 tahun walaupun secara jelas dapat juga terlihat baik pada pasien yang lebih muda maupun yang lebih tua. puncaknya pada akhir usia belasan tahun.Appendiks menghasilkan lendir sebanyak 1-2 ml per hari. Terdapat faktor predisposisi dari keluarga.20. Definisi Dan Epidemiologi Appendicitis Appendicitis adalah peradangan dari appendiks vermiformis dan merupakan kegawatdaruratan bedah abdomen yang paling sering ditemukan. appendicitis pada neonatus dan bahkan pada prenatal tetap ditemukan.4 Keseluruhan angka kematian dari appendicitis yang berkisar antara 0.4 Secara umum insiden dari appendicitis sekitar 1. Insiden dari appendicitis adalah lebih rendah pada negara dengan budaya konsumsi makanan tinggi serat. Walaupun jarang. yang dapat menyebabkan obstruksi lumen apendiks.4 kali lebih besar pada laki-laki dibandingkan perempuan. dan secara bertahap menurun pada usia tua.1 kasus setiap 1000 orang per tahun. Serat makanan dianggap mengurangi kekentalan feses. mengurangi bowel transit time dan mengurangi pembentukan fekalit. yang berfungsi sebagai pelindung terhadap infeksi. Insiden appendicitis di Amerika Serikat sekitar 1. Insiden dari appendektomi primer diperkirakan sama besar pada kedua jenis kelamin ini. Nilai median pada usia saat appendektomi adalah 22 tahun.1 Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue) di sepanjang saluran cerna termasuk appendiks adalah IgA. Lendir ini normalnya dicurahkan ke dalam lumen lalu mengalir ke dalam caecum. Hambatan aliran lendir di muara appendiks tampakya berperan dalam terjadinya appendicitis.

Diet memainkan peran utama pada pembentukan sifat feses. Fekalit merupakan penyebab terjadinya obstruksi lumen apendiks pada 20% anak-anak dengan appendicitis.6 b. Fekalit ditemukan 40% pada kasus appendicitis sederhana (simpel). Frekuensi obstruksi meningkat sesuai dengan derajat proses inflamasi.6 Jaringan limfoid yang terdapat di submukosa apendiks akan mengalami edema dan hipertrofi sebagai respon terhadap infeksi virus di 5 . dimana diet dengan tinggi serat dan konsistensi feses lebih lembek. yang mana penting pada pembentukan fekalit. Perforasi dari apendiks berhubungan dengan peningkatan yang mencolok pada angka kematian dan kesakitan akibat appendicitis. Peranan Obstruksi Obstruksi lumen merupakan faktor penyebab dominan dalam appendicitis akut. divertikulitis dan karsinoma kolon adalah penyakit yang sering terjadi di daerah dengan diet rendah serat dan menghasilkan feses dengan konsistensi keras. Etiologi Appendicitis a. kemungkinan akibat dari keterlambatan diagnosis. sedangkan pada appendicitis akut dengan gangren tanpa ruptur terdapat 65% dan appendicitis akut dengan gangren disertai ruptur terdapat 90% .pasien yang usianya lebih dari 70 tahun. Konstipasi akan menaikkan tekanan intrasekal yang berakibat sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan flora normal kolon. terjadinya fekalit berhubungan dengan diet rendah serat. Peranan Lingkungan  diet dan higiene Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya appendicitis. Kolitis. biasanya disebabkan keterlambatan diagnosis dan terapi.4 C. Angka perforasi lebih tinggi pada pasien kurang dari 18 tahun dan lebih dari 50 tahun. Kejadian appendicitis jarang di negara yang sedang berkembang. Semuanya ini akan mempermudah timbulnya appendicitis.

kemudian vena dan terakhir adalah arteri. Pada anak-anak omentum belum 6 . akibatnya akan terjadi edema dan iskemia dari apendiks. yang akan menyebabkan obstruksi lumen apendiks. sehingga desakan pada dinding apendiks akan bertambah besar menyebabkan gangguan pada sistem vasa dinding apendiks. sehingga pus akan tercurah kedalam rongga peritoneum dengan akibat terjadinya peradangan pada peritoneum parietale. Keadaan ini akan terus berlanjut dimana dinding apendiks akan mengalami perforasi. infark seterusnya melanjut menjadi gangren. Sekresi mukosa yang terkumpul selama adanya obstruksi lumen apendiks menyebabkan distensi lumen akut sehingga akan terjadi kenaikkan tekanan intraluminer dan sebagai akibatnya terjadi obstruksi arterial serta iskemia.6 Penyebab lain yang diduga dapat menimbulkan appendicitis adalah erosi mukosa apendiks karena parasit seperti Entamoeba hystolityca dan benda asing mungkin tersangkut di apendiks untuk jangka waktu yang lama tanpa menimbulkan gejala. Mula-mula akan terjadi penekanan pada vasa limfatika.6 Secara patogenesis faktor terpenting terjadinya appendicitis adalah adanya obstruksi lumen apendiks yang biasanya disebabkan oleh fekalit. Akibat dari keadaan tersebut akan terjadi ulserasi mukosa sampai kerusakan seluruh lapisan dinding apendiks. Megakolon kongenital terjadi obstruksi pada kolon bagian distal yang diteruskan ke dalam lumen apendiks dan hal ini merupakan salah satu alasan terjadinya appendicitis pada neonatus.sistem gastrointestinal atau sistem respiratorius. lebih lanjut akan terjadi perpindahan kuman dari lumen masuk kedalam submukosa. namun cukup untuk menimbulkan risiko terjadinya perforasi. jika infeksi tersebut tidak bisa diatasi akan terjadi peritonitis umum. Dengan adanya kuman dalam submukosa maka tubuh akan bereaksi berupa peradangan supurativa yang menghasilkan pus. Hasil akhir dari proses peradangan tersebut sangat tergantung dari kemampuan organ dan omentum untuk mengatasi infeksi tersebut. keluarnya pus dari dinding yang masuk ke dalam lumen apendiks akan mengakibatkan tekanan intraluminer akan semakin meningkat.

Akibat regangan tersebut terjadi tekanan terhadap pembuluh darah sehingga dinding apendiks vermiformis menjadi edema. Pada tahap appendicitis supurativa. Karena edema ini resistensi selaput lendir berkurang. coli. Sekret yang terus menerus dikeluarkan ini akan menyebabkan apendiks vermiformis teregang.6 c. Bakteri aerobik yang paling banyak dijumpai adalah E. sehingga kurang efektif untuk mengatasi infeksi. Setelah terjadi obstruksi lumen apendiks vermiformis akan terbendung. Pada akhirnya dapat terjadi trombosis pada aliran vena dengan nekrosis dan perforasi. Peranan Flora Bakterial Flora bakteri pada apendiks sama dengan di kolon. terdapat dua faktor yang memegang peranan penting yaitu obstruksi dan infeksi.6 D. gangguan vaskular dan hiperplasia dari folikel limfoid. termasuk Proteus. ketika gejala memberat banyak organisme. submukosa dan muskularis yang akan menimbulkan edema. Sebagian besar penderita apendicitis gangrenosa atau appendicitis perforasi banyak ditemukan bakteri anaerobik terutama Bacteroides fragilis. terjadi ulserasi juga terjadi invasi dan multiplikasi bakteri pada dinding apendiks vermiformis. Penemuan kultur dari cairan peritoneal biasanya negatif pada tahap appendicitis sederhana. hal ini akan mengakibatkan apendiks cepat mengalami komplikasi.berkembang dengan sempurna. Klebsiella. Bakteri ini akan menembus mukosa. bakteri aerobik terutama Escherichia coli banyak ditemukan. Streptococcus dan Pseudomonas dapat ditemukan. Patogenesis Dan Kriteria Makroskopik Appendicitis • Dalam patogenesisnya. dengan ditemukannya beragam bakteri aerobik dan anaerobik sehingga bakteri yang terlibat dalam appendicitis sama dengan penyakit kolon lainnya. 7 .

Resiko terjadinya serangan ulangan kurang lebih 10% dalam waktu 6 bulan dan kurang lebih 50% dalam 5 tahun. globulin. Cairan dari kapiler ini mengandung molekul-molekul protein seperti albumin. pus dalam lumen serta terjadi ulserasi. Pada tahap ini pembuluh darah subserosa menjadi kongesti dan mengandung netrofil matang. 8 . Biasanya keterlibatan mukosa yang paling menonjol. Kongesti ini terjadi karena vaskular-mikro jaringan melebar yang berisi darah terbendung. Keadaan ini disebut apendicitis akut flegmonosa. Pada apendicitis akut flegmonosa bisa terdapat fokus-fokus purulen dan nekrosis pada mukosa yang disebut sebagai apendicitis akut nekrotikans.• Pada fase-fase awal dari apendicitis akut. Netrofil tersebut kemudian akan migrasi ke perivaskular. Selain edema. submukosa. Penampakan makroskopik ini dikenal sebagai apendicitis akut tahap awal (apendicitis akut mukosa) • Pada fase awal dari apendicitis dapat terjadi penyembuhan. Biasanya timbul jaringan fibrotik terutama pada daerah mukosa. apendiks vermiformis tampak tegang dan terdapat eksudasi netrofil pada mukosa. • Pada tahap selanjutnya eksudasi netrofil pada dinding apendiks vermiformis semakin banyak terutama lekosit polimorfonuklear sampai pada lapisan muskularis. Hal ini terjadi karena permeabilitas kapiler yang meningkat. Beberapa kasus sembuh secara inkomplit. apendiks vermiformis jarang sekali kembali pada keadaan semula. Reaksi ini akan mengubah serosa yang mengkilat menjadi suram dan tampak hiperemi. apendiks vermiformis tampak edema yang terjadi selain karena tekanan terhadap pembuluh-pembuluh juga karena banyak terdapatnya cairan yang meninggalkan kapiler dan masuk kedalam jaringan. sel polimorfonuklear diganti dengan mononuklear dan juga terdapat fibrosis pada dinding apendiks vermiformis. dan fibrinogen. terjadilah apendicitis kronis. Dengan bertambah buruknya reaksi inflamasi akan terbentuk abses pada dinding. Pada tahap ini lapisan serosa biasanya dilapisi oleh eksudat fibrin purulen dan tahap ini disebut apendicitis akut purulenta.

Bila terdapat rangsangan peritoneum. Kemudian dalam beberapa jam. E.3 Timbulnya gejala peradangan apendiks tergantung dari letak apendiksnya. yaitu di belakang 9 . ke titik Mc Burney. biasanya penderita mengeluh sakit perut bila berjalan atau batuk. • Pada tahap selanjutnya terjadi apendicitis perforata bila apendiks vermiformis telah ruptur dan pus yang terdapat didalam lumen apendiks vermiformis dapat keluar menyebar ke organ-organ lain maupun di dalam fossa apendiks vermiformis yang dapat mengakibatkan peritonitis.• Kelanjutan dari reaksi ini adalah apendiks vermiformis tampak lebih merah akibat hiperemi yang berlebihan dan edema dengan tanda-tanda perdarahan dibawah lapisan serosa. Keluhan ini sering disertai rasa mual dan kadang ada muntah. Tahap ini disebut apendicitis akut gangrenosa dan merupakan keadaan yang dapat berlanjut menjadi ruptur pada apendiks vermiformis. Gejala Klinis Apendicitis Gejala awal yang merupakan gejala klasik apendicitis adalah nyeri samar-samar dan tumpul di daerah epigastrium di sekitar umbilikus atau periumbilikus. Rongga apendiks vermiformis juga mengandung pus berwarna merah karena perdarahan. Di titik ini nyeri terasa lebih tajam dan jelas letaknya. Bersamaan dengan itu terjadi gangren yang berwarna kehitaman karena nekrosis sepanjang dinding sampai lapisan serosa. nyeri akan berpindah ke kuadran kanan bawah. sehingga merupakan nyeri somatik setempat. Pada umumnya nafsu makan menurun. Appendicitis juga dapat disertai dengan demam ringan. Tindakan ini dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi. Dari luar juga tampak eksudat bercampur fibrin dan mesoapendiks yang membengkak. dengan suhu sekitar 37. 1. Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal.5o C.5 -38. Namun terkadang tidak dirasakan nyeri di daerah epigastrium. tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar.

sekum dan apendiks terdorong ke kraniolateral.sekum (terlindung oleh caecum). Pada wanita hamil dengan usia kehamilan trimester pertama. akan timbul gejala dan rangsangan sigmoid atau rektum. dikacaukan dengan gejala serupa yang biasa timbul pada kehamilan usia ini. Bila apendiks terletak di rongga pelvis dan terletak di dekat atau menempel pada rektum. Nyeri ini timbul karena adanya kontraksi m. palpasi. Misalnya pada orang berusia lanjut yang gejalanya sering samar-samar saja sehingga sering baru dapat didiagnosis setelah perforasi. tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada tanda rangsangan peritoneal. dapat terjadi peningkatan frekuensi kemih. Jika apendiks terletak di dekat atau menempel pada kandung kemih.psoas mayor yang menegang dari dorsal. batuk.3 Pada beberapa keadaan. dan mengedan. karena rangsangan dindingnya. sehingga peristalsis meningkat.1. 1. Foto polos abdomen.1. dan muntah.7 10 . gejala apendicitis berupa nyeri perut. mual. Rasa nyeri lebih kearah perut kanan atau nyeri timbul pada saat melakukan gerakan seperti berjalan. Bila diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium. dan sebagainya. Diagnosis Appendicitis Diagnosis klinis dapat ditegakkan berdasarkan hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik (inspeksi. pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan berulang-ulang. Sedangkan pada kehamilan lanjut. sehingga keluhan tidak dirasakan di perut kanan bawah tetapi lebih ke regio lumbal kanan. appendicitis agak sulit didiagnosis sehingga tidak ditangani tepat pada waktunya dan terjadi komplikasi. USG ataupun CT-Scan.3 F. perkusi dan auskultasi). bernapas dalam.

obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil. Khusus untuk appendicitis kronis tipe Reccurent/Interval Appendicitis terdapat nyeri di titik Mc Burney tetapi tidak ada defans muscular sedangkan untuk yang tipe Reccurent Appendicular Colic ditemukan nyeri tekan di apendiks.7 • Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator : pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui letak apendiks yang meradang.Pemeriksaan Fisik • Inspeksi : Pada appendicitis akut biasanya ditemukan distensi perut.7 11 . 1. 1. Bila appendiks yang meradang menempel di m. 1. Nyeri tekan perut kanan bawah (Nyeri tekan merupakan kunci diagnosis dari appendicitis). Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri pada perut kanan bawah yang disebut tanda Rovsing (Rovsing Sign). maka tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri.7 Uji obturator digunakan untuk melihat apakah apendiks yang meradang. • Palpasi : pada regio iliaka kanan (pada titik Mc Burney) apabila ditekan akan terasa nyeri (nyeri tekan Mc Burney) dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri (nyeri lepas Mc Burney). Dan apabila tekanan di perut kiri bawah dilepaskan juga akan terasa nyeri pada perut kanan bawah yang disebut tanda Blumberg (Blumberg Sign). Uji psoas dilakukan dengan rangsangan otot psoas lewat hiperektensi sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan. Gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang akan menimbulkan nyeri pada apendicitis pelvika. Defans muscular menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietale. psoas mayor. kemudian paha kanan ditahan. kontak dengan m.

sebaiknya dilakukan observasi penderita di rumah sakit dengan pengamatan setiap 1-2 jam.7 • Pemeriksaan Penunjang 1. akan memberikan rasa nyeri pada arah jam 9 sampai jam 12. menstruasi. Hal ini dapat disadari mengingat pada perempuan terutama yang masih muda sering mengalami gangguan yang mirip appendicitis.• Pemeriksaan colok dubur : Jika daerah infeksi dapat dicapai saat dilakukan pemeriksaan ini. Keluhan itu berasal dari genitalia interna karena ovulasi.Untuk menurunkan angka kesalahan diagnosis appendicitis meragukan. atau penyakit ginekologik lain. 1. Ultrasonografi dan laparoskopi bisa meningkatkan akurasi diagnosis pada kasus yang meragukan.6.7 Meskipun pemeriksaan dilakukan dengan cermat dan teliti. Foto barium kurang dapat dipercaya. radang di pelvis. Kesalahan diagnosis lebih sering terjadi pada perempuan dibanding laki-laki. Laboratorium 12 . Pada appendicitis pelvika kunci diagnosis adalah nyeri terbatas pada saat dilakukan colok dubur. Maka kemungkinan apendiks yang meradang terletak didaerah pelvis. diagnosis klinis appendicitis masih mungkin salah pada sekitar 15-20% kasus.

walaupun hal ini bukan hasil yang karakteristik. Sehingga gambaran lekositosis dengan peningkatan granulosit dipakai sebagai pedoman untuk appendicitis akut. Pada anak dengan keluhan dan pemeriksaan fisik yang karakteristik apenddicitis akut. Reaksi tersebut meliputi reaksi vaskuler. Petanda respon 13 . Penyakit infeksi pada pelvis terutama pada wanita akan memberikan gambaran laborotorium yang terkadang sulit dibedakan dengan appendicitis akut Pemeriksaan laboratorium merupakan alat bantu diagnosis.000/mm3 dengan pergeseran kekiri pada hemogramnya (>70% netrofil). humoral dan seluler. Jika jumlah lekosit lebih dari 18. Pada pasien dengan apendicitis akut.7 Tes laboratorium untuk appendicitis bersifat kurang spesifik.Pemeriksaan laboratorium masih merupakan bagian penting untuk menilai awal keluhan nyeri kuadran kanan bawah dalam menegakkan diagnosis apenddicitis akut.000/mm3 maka umumnya sudah terjadi perforasi dan peritonitis. sehingga hasilnya juga kurang dapat dipakai sebagai konfirmasi penegakkan diagnosa. akan ditemukan pada pemeriksaan darah adanya lekositosis 11.000/mm3. Ada juga metode yang menyatakan bahwa kombinasi antara kenaikan angka lekosit dan granulosit adalah yang dipakai untuk pedoman menentukan diagnosa appendicitis akut. Pada metode lain dikatakan penderita appendicitis akut bila ditemukan jumlah lekosit antara 12. Kontroversinya adalah beberapa penderita dengan appendicitis acut. Pada dasarnya inflamasi merupakan reaksi lokal dari jaringan hidup terhadap suatu jejas.3. neurologik. memiliki jumlah lekosit dan granulosit tetap normal.6.000/mm3 dan bila terjadi perforasi atau peritonitis jumlah lekosit antara 20.000/mm3. dengan pemeriksaan hitung jenis menunjukkan pergeseran kekiri hampir 75%.000-30. 6. 7090% hasil laboratorium nilai leukosit dan neutrofil akan meningkat. Jumlah lekosit untuk appendisitis akut adalah >10.7 Marker inflamasi lain yang dapat digunakan dalam diagnosis apenddicitis akut adalah C-reactive protein (CRP).000-20.000-14.

6 Pemeriksaan urinalisa dapat digunakan sebagai konfirmasi dan menyingkirkan kelainan urologi yang menyebabkan nyeri abdomen. Untuk appendicitis kronis dapat dilakukan apendikogram. Irreguler. pemeriksaan foto polos abdomen tidak banyak membantu. Kalau peradangan lebih luas dan membentuk infiltrat maka usus pada bagian kanan bawah akan kolaps. keadaan seperti ini akan tampak pada daerah kanan bawah abdomen kosong dari udara. Non Filling defect. Urinalisa sangat penting pada anak dengan keluhan nyeri abdomen untuk menentukan atau menyingkirkan kemungkinan infeksi saluran kencing. Gambaran udara seakanakan terdorong ke pihak lain. Apendiks yang mengalami inflamasi akut dan menempel pada ureter atau vesika urinaria. maka pada foto abdomen tegak akan tampak udara bebas di bawah diafragma. tidak memerlukan waktu yang lama (5 -10 menit). Parsial. 6 2. 6 14 . Pemeriksaan CRP mudah untuk setiap Rumah Sakit didaerah. Proses peradangan pada fossa iliaka kanan akan menyebabkan kontraksi otot sehingga timbul skoliosis ke kanan. Nilai senstifitas dan spesifisits CRP cukup tinggi. Gambaran ini tampak pada penderita appendicitis akut. gambaran ini ditemukan pada 20% kasus. dimana hasil positif bisa berupa Filling defect. Mungkin terlihat adanya fekalit pada abdomen sebelah kanan bawah yang sesuai dengan lokasi apendiks. pada pemeriksaan urinalisis ditemukan jumlah sel lekosit 10-15 sel/lapangan pandang. yaitu 80-90% dan lebih dari 90%. Pada appendicitis ditemukan kadar CRP yang meningkat yaitu > 1 mg/dl. 3. dan murah. Dinding usus edematosa. Foto Polos abdomen Pada apendicitis akut.inflamasi akut (acute phase response) dengan menggunakan CPR telah secara luas digunakan di negara maju. Kadang-kadang udara begitu sedikit sehingga perlu foto khusus untuk melihatnya. mouse tail. Bila sudah terjadi perforasi.

Pemeriksaan radiologi dengan barium enema dapat menentukan penyakit lain yang menyertai appendicitis. Barium enema adalah suatu pemeriksaan x-ray dimana barium cair dimasukkan ke kolon dari anus untuk memenuhi kolon. maka akan tampak udara yang tersebar tidak merata dan usus-usus yang sebagian distensi dan mungkin tampak cairan bebas. pengkaburan psoas shadow. berukuran sebesar kacang polong yang menyumbat pembukaan apendiks) yang dapat menyebabkan appendicitis. Foto x-ray abdomen dapat mendeteksi adanya fecalith (kotoran yang mengeras dan terkalsifikasi.Kalau sudah terjadi peritonitis yang biasanya disertai dengan kantong-kantong pus. Bila barium mengisi ujung apendiks yang bundar dan ada kompresi dari luar yang besar di basis sekum yang berhubungan dengan tak terisinya apendiks tanda abses apendiks. Tes ini dapat seketika menggambarkan keadaan kolon di sekitar apendiks dimana peradangan yang terjadi juga didapatkan pada kolon. gambaran lemak preperitoneal menghilang. kalsifikasi bercak rim-like (melingkar) sekitar perifer mukokel yang asalnya dari apendiks. sering berlapis. kuadran kanan bawah perlu diperiksa untuk mencari appendikolit: kalsifikasi bulat lonjong. Walaupun terjadi ileus paralitik tetapi mungkin terlihat pada beberapa tempat adanya permukaan cairan udara (air-fluid level) yang menunjukkan adanya obstruksi. Pada appendicitis akut. 15 Barium enema juga dapat . Foto polos abdomen supine pada abses appendik kadang-kadang memberi pola bercak udara dan air fluid level pada posisi berdiri/LLD (decubitus). Terisinya sebagian dengan distorsi bentuk kalibernya tanda appendicitis akut. terutama bila ada impresi sekum. Sebaliknya lumen apendiks yang paten menyingkirkan diagnosa appendicitis akut. Impresi ireguler pada basis sekum karena edema (infiltrasi sehubungan dengan gagalnya barium memasuki apendiks (20% tak terisi). Ini biasanya terjadi pada anak-anak. 6 Pemeriksaan radiologi dengan kontras barium enema hanya digunakan pada kasus-kasus menahun.

penebalan dinding apendiks dengan atau tanpa apendikolit. appendik hanya dapat dilihat pada 50% pasien selama terjadinya appendicitis. Apabila apendiks mengalami ruptur atau perforasi maka akan sulit untuk dinilai. Keadaan apendiks perforasi ditandai dengan tebal dinding apendiks yang asimetris. Ultrasonografi Ultrasonografi telah banyak digunakan untuk diagnosis appendicitis akut maupun appendicitis dengan abses. Pada beberapa penelitian. tidak ada peristaltik pada penampakan longitudinal. ditemukan adanya fekalit. Walaupun begitu. penebalan dinding apendiks lebih dari 2 mm dan pengumpulan cairan perisekal. dengan nilai sensitivitas dan spesifisitas yaitu 85 dan 92%. lumen yang utuh. diameter lebih dari 6 mm. inverted appendicel stump. Untuk dapat mendiagnosis appendicitis akut diperlukan keahlian. 6 USG dapat mengidentifikasi appendik yang membesar atau abses. Keadaan apendiks supurasi atau gangren ditandai dengan distensi lumen oleh cairan. misalnya penyakit Chron. 6 Akurasi ultrasonografi sangat dipengaruhi oleh pengalaman dan kemampuan pemeriksa. ketelitian. diameter apendiks lebih dari 6 mm. dengan tidak 16 . dan sedikit penekanan transduser pada abdomen. hanya apabila cukup udara maka abses apendiks dapat diidentifikasi. dan diameter 9 – 11 mm. neoplasma benigna/maligna. Apendiks yang meradang tampak sebagai lumen tubuler.menyingkirkan masalah-masalah intestinal lainnya yang menyerupai apendiks. Apendiks yang normal jarang tampak dengan pemeriksaan ini. akurasi antara 90 – 94%.6 3. dan abses tunggal atau multipel. dan gambaran target pada penampakan transversal. Keadaan awal appendicitis akut ditandai dengan perbedaan densitas pada lapisan apendiks. cairan bebas intraperitonial. udara intralumen. Oleh karena itu. 3. intususepsi. Pemeriksaan dengan Ultrasonografi (USG) pada appendicitis akut.

atau kemungkinan appendik. 6. CT-scan pada daerah appendik sangat berguna untuk mendiagnosis appendicitis dan abses periappendikular sekaligus menyingkirkan adanya penyakit lain dalam rongga perut dan pelvis yang menyerupai appendicitis. Hasil USG dapat dikatagorikan menjadi normal. Computed Tomography Scanning (CT-Scan) Pada keadaan normal apendiks. Pada pasien yang tidak hamil. non spesifik. kemungkinan penyakit kelainan lain. CT. serta akurasi 94–100%. udara bebas. Hasil USG yang tidak spesifik meliputi adanya dilatasi usus.scan showing cross-section of inflamed appendix(A) with appendicolith (a). . mendukung keadaan apendiks yang meradang. USG juga berguna pada wanita sebab dapat menyingkirkan adanya kondisi yang melibatkan organ ovarium. atau dimana USG di konfirmasikan dengan gejala klinik dimana kecurigaan appendicitis. Hasil USG dikatakan kemungkinan appaendik jika ada pernyataan curiga atau jika ditemukan dilatasi appendik di daerah fossa iliaka kanan.7 “Ultrasonogram showing longitudinal section (arrows) of inflamed appendix”  4. atau ileus.7 CT-Scan showing enlarged and inflamed appendix (A) extending 17 from the cecum (C). Gambaran penebalan dinding apendiks dengan jaringan lunak sekitar yang melekat.terlihatnya apendiks selama USG tidak menyingkirkan adanya appendicitis. CT-Scan sangat baik untuk mendeteksi apendiks dengan abses atau flegmon. jarang tervisualisasi dengan pemeriksaan ini. CT-Scan mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi yaitu 90–100% dan 96–97%.6. tuba falopi dan uterus yang gejalanya menyerupai appendicitis.

Ada beberapa perbedaan pendapat mengenai gambaran histopatologi appendicitis akut. Disamping dapat mendiagnosis apendicitis secara langsung. namun penggunaanya untuk kelainan intraabdominal baru berkembang sejak tahun 1970-an. Pada appendicitis akut laparoskopi diagnostik biasanya dilanjutkan dengan apendektomi laparoskopi. Perbedaan ini didasarkan pada kenyataan bahwa belum adanya kriteria gambaran histopatologi appendicitis akut secara universal dan tidak ada gambaran histopatologi apendicitis akut pada orang yang tidak dilakukan operasi. laparoskopi juga dapat digunakan untuk melihat keadaan organ intraabdomen lainnya. Dari hasil penelitian variasi diagnosis histopatologi appendisitis akut diperoleh kesimpulan bahwa diperlukan adanya 18 . Dibidang bedah.7 6. Histopatologi Pemeriksaan histopatologi adalah standar emas (gold standard) untuk diagnosis appendicitis akut. laparoskopi dapat berfungsi sebagai alat diagnostik dan terapi.6. Hal ini sangat bermanfaat terutama pada pasien wanita.5. Laparoskopi (Laparoscopy) Meskipun laparoskopi mulai ada sejak awal abad 20.

nyeri tekan di abdomen kuadran kanan bawah.komunikasi antara ahli patologi dan antara ahli patologi dengan ahli bedahnya. salah satunya adalah dengan instrumen skor Alvarado. Sel granulosit pada lapisan serosa atau muskuler tanpa abses mukosa dan keterlibatan lapisan mukosa. 2. 4. suatu hal yang relatif lebih mudah pada umur dewasa. Sel granulosit dalam lumen apendiks dengan infiltrasi ke dalam lapisan epitel. Klasifikasi ini berdasarkan pada temuan pra operasi dan untuk menilai derajat keparahan apendisitis. Dalam sistem skor Alvarado ini menggunakan faktor risiko meliputi migrasi nyeri. 1997). Sel granulosit pada mukosa dengan ulserasi fokal atau difus di lapisan epitel. nausea dan atau vomitus. 3. 5. orang tua dan dokter. Keadaan ini menghasilkan angka apendektomi negatif sebesar 20% dan angka perforasi sebesar 20-30% (Ramachandran. Salah satu upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan medis ialah membuat diagnosis yang tepat. tiga tanda dan dua temuan laboratorium. Skor Alvarado adalah sistem skoring sederhana yang bisa dilakukan dengan mudah. Amri dan Bermansyah. hal ini disebabkan sulitnya komunikasi antara anak. • Sistem skor Alvarado Diagnosis apendisitis akut pada anak tidak mudah ditegakkan hanya berdasarkan gambaran klinis. Telah banyak dikemukakan cara untuk menurunkan insidensi apendektomi negatif. Alfredo Alvarado tahun 1986 membuat sistem skor yang didasarkan pada tiga gejala . Anak belum mampu untuk mendiskripsikan keluhan yang dialami. anoreksia. Abses pada kripte dengan sel granulosit di lapisan epitel. 1996). dengan atau tanpa terlibatnya lapisan mukusa. cepat dan kurang invasif (Seleem. 6 Definisi histopatologi appendicitis akut: 1. bukan appendicitis akut tetapi periappendicitis. 19 . Sel granulosit di atas lapisan serosa apendiks dengan abses apendikuler.

nyeri lepas tekan. 1986.20C Laboratorium ~ angka lekosit > 10.33%. didapatkan sensitivitas: 90. temperatur lebih dari 37. Nyeri tekan kuadran kanan bawah dan lekositosis mempunyai nilai 2 dan keenam sisanya masing-masing mempunyai nilai 1.000 ~ persentase netrofil > 75% Total Skor Nilai : <4 >7 2 1 10 2 1 1 Skoring 1 1 1  kronis  akut Penelitian yang dilakukan oleh Amri dan Bermansyah (1997) 4 – 7  ragu-observasi mengenai skor Alvarado pada diagnosis apendisitis akut dengan skor pembatas (cut off point) 6.75% dengan akurasi diagnostik: 83. sehingga kedelapan faktor ini memberikan jumlah skor 10 (Alvarado.90% dan spesifisitas: 75. 1999). Rice. lekositosis dan netrofil lebih dari 75%.20C. Tranggono 20 . Skor Alvarado Faktor Risiko ~ migrasi nyeri ~ nausea dan vomitus ~ anoreksia Tanda ~ nyeri kuadran kanan bawah ~ nyeri lepas tekan ~ temperatur > 37.

Demikian pula sebaliknya jika semakin tidak lengkap maka skor Alvarado semakin rendah. gejala yang sama akan ditunjukkan pada peradangan apendiks yang terletak pelvikal.(2000) melaporkan dengan memakai skor pembatas (cut off point) 7 didapatkan sensitivitas: 71. Skor Alvarado adalah sistem skoring yang didasarkan pada gejala dan tanda klinis apendisitis akut. tanda dan pemeriksaan laboratorium yang muncul atau keberadaannya positif maka skor Alvarado akan semakin tinggi. 2004) G.43% dan spesifisitas: 69. muntah dan diare. telah banyak dipergunakan. Berdasarkan skoring terhadap faktor risiko yang digunakan dalam sistem skor Alvarado seperti tertulis di atas maka dapat diasumsikan bahwa semakin lengkap gejala.74%. ini mengarahkan kepada apendisitis kronis atau bukan apendisitis. Alvarado merekomendasikan untuk melakukan operasi pada semua pasien dengan skor 7 atau lebih dan melakukan observasi untuk pasien dengan skor 5 atau 6. nyeri lepas/Rebound’s sign. Gastroenteritis Pada penyakit ini ditemukan mual. Penyakit-penyakit itu adalah: 1.09% dengan akurasi diagnostik 69. mendekati 10.40%.20% dan spesifisitas: 91. Pada anamnesis akan ditemukan mual muntah mendahului rasa sakit 21 . dalam studi meta-analisis gejala klinis dan laboratorium mendapatkan hasil bahwa riwayat nyeri berpindah (migration pain) dari umbilikus dan reaksi peritoneal (nyeri tekan kanan bawah. DIAGNOSIS BANDING APPENDICITIS Beberapa penyakit mempunyai tanda dan gejala yang menyerupai apendicitis akut dan perlu dipertimbangkan sebagai diagnosa banding. mendekati 1. ini mengarahkan kepada apendisitis akut atau apendisitis perforasi. Rovsing’s sign) adalah informasi diagnostik apendisitis akut yang penting (Andersson. Andersson. Pada tulisan aslinya. Sedangkan Fenyo melaporkan sensitivitas: 90.

Kista ovarium yang terpuntir 22 . Gangguan genitalia wanita Ovulasi dari ovarium kanan dapat memberikan rasa sakit yang mirip dengan apendicitis akut. Nyeri perut bagian bawah pada apendicitis terletak pada titik McBurney. disini didapatkan hasil tes positip untuk Rumpel Leede. Pada wanita biasanya disertai dengan keputihan. disertai mual dan nyeri tekan perut yang samar. 5. Infeksi panggul Salpingitis akut kanan sering dikacaukan dengan apendicitis akut. 3. Limfadenitis mesenterika Ditandai dengan rasa nyeri perut terutama kanan. 2. Pada pemeriksaan colok dubur apendicitis akut letak pelvikal akan memberikan rasa nyeri. 7. Pada anamnesa akan ditemukan mual dan muntah yang mendahului rasa sakit (pada apendicitis akut mual dan muntah timbul setelah rasa sakit) 4. Panas dan lekositosis kurang menonjol jika dibandingkan apendicitis akut. sedangkan gastroenteritis tidak. Demam dengue Dapat dimulai dengan sakit perut mirip peritonitis. yaitu sekitar 12-14 hari setelah haid pertama haid terakhir.(berlawanan dengan apendicitis akut) juga pada gastroenteritis sakit perut lebih ringan. dan nyeri biasanya menghilang kurang dari dua hari. Temperatur biasanya lebih tinggi. dan nyeri lebih difus. trombositopeni dan hematokrit yang meningkat. Pada anamnesa akan ditemukan keluhan nyeri yang sama sebelumnya dan rasa nyeri akan berlangsung saat ovulasi terjadi. 6. Kehamilan ektopik Pada apendicitis tidak ditemukan tumor dan nyeri pada gerakan servik uteri tidak seberapa nyata seperti yang ditemukan pada kehamilan ektopik. Pada ovulasi tanda radang tidak ada.

demam tifoid abdominalis H. Penundaan apendektomi sambil memberikan antibiotik dapat mengakibatkan abses atau perforasi. Endometriosis eksterna Nyeri didapatkan ditempat endometriosis berlangsung. divertikulitis kolon. 8. perforasi kolon. 9. 10. Insidensi apendiks normal yang dilakukan pembedahan sekitar 20%. tidak ada demam. 23 . juga ditemukan eritrosuria. Penyakit lain Penyakit lain yang perlu dipikirkan adalah peradangan diperut seperti divertikulitis Meckel.Nyeri timbul mendadak dengan intensitas yang tinggi serta teraba massa dalam rongga pelvis. obstruksi usus awal. perforasi tukak duodenum atau lambung. nyeri kostovertebral disebelah kanan dan piuria. Gangguan traktus urinarius Adanya riwayat kolik dari pinggang ke perut menjalar ke inguinal kanan merupakan gambaran yang khas pada batu ureter atau batu ginjal kanan. kolesistisis akut. Pada pielonefritis sering disertai demam tinggi menggigil. nyeri pada saat menstruasi karena darah tidak dapat keluar. Pada apendicitis akut tanpa komplikasi tidak banyak masalah. Terapi Appendicitis Bila diagnosis klinis sudah jelas maka tindakan paling tepat adalah apendektomi dan merupakan satu-satunya pilihan yang terbaik. pankreatitis.

Pada appendicitis akut dengan komplikasi berupa peritonitis karena perforasi menuntut tindakan yang lebih intensif. kemudian diikuti dengan pemberian plasma atau darah sesuai indikasi. 6 24 . Pipa nasogastrik dipasang untuk mengosongkan lambung dan untuk mengurangi bahaya muntah pada waktu induksi anestesi. Anak memerlukan perawatan intensif sekurangkurangnya 4-6 jam sebelum dilakukan pembedahan.• Appendektomi (Laparoskopi appendektomi dan open appendektomi) o Cito  akut. suhu tiap 6 jam. Setelah pemberian cairan intravena sebaiknya dievaluasi kembali kebutuhan dan kekurangan cairan. sekuestrasi cairan dalam rongga abdomen dan febris. Jika suhu di atas 380C pada saat masuk rumah sakit. Kalau anak dalam keadaan syok hipovolemik maka diberikan cairan ringer laktat 20 ml/kgBB dalam larutan glukosa 5% secara intravena. karena biasanya keadaan anak sudah sakit berat. tanda2 peritonitis (perforasi). kompres alkohol dan sedasi diindikasikan untuk mengontrol demam. anak harus memiliki urin output sebanyak 1 ml/kgBB/jam. 6. LED. Timbul dehidrasi yang terjadi karena muntah.7 Penderita anak perlu cairan intravena untuk mengoreksi dehidrasi ringan. Sebelum pembedahan. Untuk menurunkan demam diberikan acetaminophen suppositoria (60mg/tahun umur). abses & perforasi o Elektif  kronik • Konservatif kemudian operasi elektif (Infiltrat)  biasanya setelah 3 bulan konservatif baru dilakukan operasi • Bed rest total posisi Fowler (anti Trandelenburg) • Diet rendah serat • Antibiotika spektrum luas • Metronidazol • Monitor  Infiltrat. bila baik mobilisasi pulang. Pipa nasogastrik dipasang untuk mengosongkan lambung agar mengurangi distensi abdomen dan mencegah muntah.

Instrumen kecil dimasukkan ke dalam incisi lainnya dan digunakan untuk mengambil appendiks. Kombinasi ampisilin (100mg/kg). Antibiotika diberikan selama 5 hari setelah pembedahan atau melihat kondisi klinis penderita. 3. Appendektomi dilakukan oleh ahli bedah sambil melihat ke monitor TV. Kombinasi antibiotika yang efektif melawan bakteri aerob dan anaerob spektrum luas diberikan sebelum dan sesudah pembedahan. gentamisin (7. Belakangan ini metode open appendektomi yang menggunakan insisi Mc Burney ini sudah banyak ditinggalkan karena luasnya insisi sehingga akan menimbulkan jaringan parut yang cukup luas penyembuhan luka yang lama sehingga tidak baik untuk kosmetik.Antibiotika sebelum pembedahan diberikan pada semua anak dengan appendicitis.5.7  25 . Laparoskopi mempunyai lensa kecil (sebagai kamera) yang berhubungan dengan monitor TV.6 Open appendektomi ini merupakan prosedur yang sudah lama menjadi standar untuk operasi apendicitis. Pada teknik laparoskopi appendektomi beberapa incisi kecil dibuat di abdomen (biasanya 3 irisan). Pemberian antibiotika untuk infeksi anaerob sangat berguna untuk kasus-kasus perforasi appendicitis. laparoskopi dimasukkan. ahli bedah melakukan tindakan operasi dengan melakukan insisi pada perut kanan bawah. dengan panjang luka kurang lebih 5 cm. Pada metode ini. Pada salah satu incisi.5mg/kg) dan klindamisin (40mg/kg) dalam dosis terbagi selama 24 jam cukup efektif untuk mengontrol sepsis dan menghilangkan komplikasi appendicitis perforasi. Obat ini lebih murah dan dapat dijadikan pengganti klindamisin. Antibiotika berspektrum luas diberikan secepatnya sebelum ada biakan kuman. Metronidazol aktif terhadap bakteri gram negatif dan didistribusikan dengan baik ke cairan tubuh dan jaringan.6. antibiotika profilaksis mengurangi insidensi komplikasi infeksi appendicitis. Pemberian antibiotika dihentikan setelah 24 jam selesai pembedahan.

3.7 I. namun ada sekitar 36 kasus appendicitis yang dilaporkan berasal dari jaringan apendiks sisa operasi appendektomi sebelumnya. 6.6.inflamed appendix removal by open surgery   Skema Appendektomi Laparoskopi. • • Peritonitis Kematian (namun jarang). Komplikasi Appendicitis • • • • Luka infeksi Obstruksi saluran cerna Abses abdominal/pelvis Stump appendicitis  walaupun jarang terjadi.5.9 26 .

dapat terjadi serangan berulang.5. Apabila appendiks tidak diangkat. Prognosis Appendicitis Dengan diagnosis dan pembedahan yang cepat. tingkat mortalitas dan morbiditas penyakit ini sangat kecil. Angka kematian lebih tinggi pada anak dan orang tua.9 27 .J.

2004.medscape. 2008. Acut Differential Diagnoses & Workup. Craig. F. 2010.htm 3. Appendicitis. Hardin. 1999. Appendicitis. 2008. et al. from eMedicine : http://emedicine. Retrieved May 22. 2009.DAFTAR PUSTAKA 1. Wim. 2010. 2008. 2010. Sandy. Schwartz`s Principle of Surgery. Retrieved May 22. Craig. Buku Ajar Ilmu Bedah.nih.html 7. Retrieved May 22.C.medscape. Sandy. Apendicitis akut.medscape.aafp. from eMedicine : http://emedicine. from eMedicine : http://emedicine. Sandy. Appendectomy . Bedah Digestif. Appendicitis. USA : The Mc Graw Hill Company. 2008. Acut . 2010.gov/medlineplus/ency/presentations/100001_1. Jakarta: EGC 2.com/article/773895-diagnosis 9.nlm.google. Hackam. 2010. Heller. Retrieved May 22.org/afp/991101ap/2027. R dan de Jong. 2010. 2008. Craig.com/article/773895-followup 28 . 6.htm 8.net/Bedah-Digesti/Apendicitis-akut. Appendicitis. Mike. from American Academy of Family Physicians.Follow-up. from Knol – A Unit of Knowledge : http://knol. Retrieved May 22.. Jacob L.com/article/773895-overview 5.series: Normal anatomy. David. 2007. Brunicardi. 2008. Retrieved May 22.com/k/dr-david- hackam/appendicitis/RNKGbbtd/Z1o0Yg 4. Retrieved May 22. Acute.: http://www. from Ilmu Bedah UGM: http://bedahugm. Acute Appendicitis Review and Update. Sjamsuhidajat. from Medline Plus: http://www.