POLA MAKAN DALAM KEHIDUPAN ORANG-ORANG YANG TERKENA GASTRITIS

“Translated and Editor by Yorimichi”

khir-akhir ini peningkatan penyakit gastritis meningkat sangat pesat. Hal tersebut dikarenakan pola hidup yang bebas hingga berdampak pada kesehatan tubuh. Badan penelitian kesehatan dunia WHO mengadakan tinjauan terhadap delapan negara dunia dan mendapatkan beberapa hasil persentase dari angka kejadian gastritis di dunia. Dimulai dari negara yang kejadian gastritisnya paling tinggi yaitu Amerika dengan persentase mencapai 47% kemudian di ikuti oleh India dengan persentase 43%, lalu dibeberapa negara lainnya seperti Inggris 22%, China 31%, Jepang 14,5%, Kanada 35%, Perancis 29,5%, dan Indonesia 40,8%. Gastritis biasanya dianggap sebagai suatu hal yang remeh namun gastritis merupakan awal dari sebuah penyakit yang dapat menyusahkan kita. Di Indonesia angka kejadian gastritis cukup tinggi. Dari penelitian dan pengamatan yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI angka kejadian gastritis di beberapa kota di Indonesia ada yang tinggi mencapai 91,6% yaitu di kota Medan, lalu di beberapa kota lainnya seperti Surabaya 31,2%, Denpasar 46%, Jakarta 50%, Bandung 32,5%, Palembang 35,3%, Aceh 31,7%, dan Pontianak 31,2%. Hal tersebut disebabkan oleh pola makan yang kurang sehat. Depdiknas mendefinisikan pola makan sebagai suatu usaha atau cara seseorang untuk makan demi memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Muchtar dalam penelitiannya mendefinisikan pola makan

A

sebagai suatu kebiasaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk makan. Sedangkan menurut WHO pola makan yaitu suatu cara/usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk makan guna memenuhi kebutuhan biologis dan fisiologis tubuh. beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pola makan antara lain faktor budaya, agama/kepercayaan, status sosial ekonomi, personal preference, rasa lapar, nafsu makan, rasa kenyang, dan kesehatan. a. Budaya Budaya cukup menentukan jenis makanan yang sering dikonsumsi. Demikian pula letak geografis mempengaruhi makanan yang diinginkannya. Sebagai contoh, nasi untuk orang-orang Asia dan Orientalis, pasta untuk orang-orang Italia, curry (kari) untuk orang-orang India merupakan makanan pokok, selain makana-makanan lain yang mulai ditinggalkan. Makanan laut banyak disukai oleh masyarakat sepanjang pesisir Amerika Utara. Sedangkan penduduk amerika bagian selatan lebih menyukai makanan gorenggorengan. b. Agama/Kepercayaan Agama/kepercayaan juga mempengaruhi jenis makanan yang dikonsumsi. Sebagai contoh, agama Islam dan Yahudi Orthodoks mengharamkan daging babi. Agama Roma Katolik melarang makan daging setiap hari, dan beberapa aliran agama (Protestan) melarang pemeluknya mengkonsumsi teh, kopi atau alkohol.

c. Status sosial ekonomi Pilihan seseorang terhadap jenis dan kualitas makanan turut dipengaruhi oleh status sosial dan ekonomi. Sebagai contoh, orang kelas menegah ke bawah atau orang miskin di desa tidak sanggup membeli makanan jadi, daging, buah dan sayuran yang mahal. Pendapatan akan membatasi seseorang untuk mengkonsumsi makanan yang mahal harganya. Kelompok sosial juga berpengaruh terhadap kebiasaan makan, misalnya kerang dan siput disukai oleh beberapa kelompok masyarakat, sedangkan kelompok masyarakat yang lain lebih menyukai hamburger dan pizza. d. Personal preference Hal-hal yang disukai dan tidak disukai sangat berpengaruh terhadap kebiasaan makan seseorang. Orang seringkali memulai kebiasaan makannya sejak dari masa kanak-kanak hingga dewasa. e. Rasa lapar, nafsu makan, dan rasa kenyang Rasa lapar umumnya merupakan sensasi yang kurang menyenangkan karena berhubungan dengan kekurangan makanan. Sebaliknya, nafsu makan merupakan sensasi yang menyenangkan berupa keinginan seseorang untuk makan. Sedangkan rasa kenyang merupakan perasaan puas karena telah memenuhi keinginannya untuk makan. Pusat pengaturan dan pengontrolan mekanisme lapar, nafsu makan dan rasa kenyang dilakukan oleh sistem saraf pusat, yaitu hipotalamus. Pedoman 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang menyampaikan pesan-pesan untuk mencegah masalah gizi ganda dan mencapai gizi seimbang guna menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang handal. Garis besar pesan-pesan tersebut seperti dijelaskan oleh Dirjen Binkesmas Depkes RI (1997) antara lain:

a. Makanlah makanan yang beraneka ragam. Makanan yang beraneka ragam harus mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan bahkan serat makanan dalam jumlah dan proporsi yang seimbang menurut kebutuhan masingmasing kelompok (bayi, balita, anak, remaja, ibu hamil dan menyusui, orang dewasa dan lansia). b. Makanlah makanan untuk memenuhi kebutuhan energi. Energi dan tenaga dapat diperoleh dari makanan sumber karbohidrat, lemak serta protein. Energi dibutuhkan untuk metabolisme dasar (seperti untuk menghasilkan panas tubuh serta kerja organ-organ tubuh) dan untuk aktivitas sehari-hari seperti belajar, bekerja serta berolah raga. Kelebihan energi akan menghasilkan obesitas, sementara kekurangan energi dapat menyebabkan kekurangan gizi seperti marasmus. c. Makanlah makanan sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan energi. Karbohidrat sederhana, seperti gula dan makanan manis sebaiknya dikonsumsi dengan memperhatikan azas tepat waktu, tepat indikasi dan tepat jumlah. Makanan ini sebaiknya dimakan pada siang hari ketika kita akan atau sedang melakukan aktivitas dan jumlahnya tidak melebihi 34 sendok makan gula/hari. Karbohidrat kompleks sebaiknya dikonsumsi bersama makanan yang merupakan sumber unsur gizi lain seperti protein, lemak/minyak, vitamin dan mineral. Sekitar 50-60% dari kebutuhan energi diperoleh dari karbohidrat kompleks. d. Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kecukupan energi. Konsumsi lemak dan minyak berlebihan, khususnya lemak/minyak jenuh dari hewan, dapat beresiko kegemukan atau dislipidemia pada orang-orang yang mempunyai kecenderungan ke arah tersebut. Dislipidemia atau kenaikan

e.

f.

g.

h.

kadar lemak (kolesterol atau trigliserida) dalam darah merupakan faktor untuk terjadinya penyakit jantung koroner dan stroke. Konsumsi lemak/minyak dianjurkan tidak melebihi 20% dari total kaori dan perlu diingat bahwa unsur gizi ini juga memiliki peran tersendiri sebagai sumber asam lemak esensial serta juga membantu penyerapan beberapa vitamin yang larut dalam lemak. Gunakan garam beryodium. Penggunaan garam beryodium dapat mencegah Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY). Namun, penggunaan garam yang berlebihan juga tidak dianjurkan karena garam mengandung natrium yang bisa meningkatkan tekanan darah. Sebaiknya konsumsi garam tidak melebihi 6 gram atau 1 sendok teh per hari. Makanlah makanan sumber zat besi. Makanan seperti sayuran hijau, kacangkacangan, hati, telur dan daging banyak mengandung zat besi dan perlu dikonsumsi dalam jumlah yang cukup untuk mencegah anemia gizi. Berikan ASI saja pada bayi sampai berumur 4 bulan. Untuk dapat memberikan ASI dengan baik, ibu menyusui harus meningkatkan jumlah dan mutu gizi makanannya selama hamil dan menyusui. Makanan Pendamping ASI (PASI) hanya boleh diberikan setelah usia bayi lebih dari 4 bulan dan pemberiannya harus bertahapmenurut umur, pertumbuhan badan serta perkembangan kecerdasan. Biasakan makan pagi. Makan pagi dengan makanan yang beraneka ragam akan memenuhi kebutuhan gizi untuk mempertahankan kesegaran tubuh dan meningkatkan produktifitas dalam bekerja. Pada anakanak, makan pagi akan memudahkan konsentrasi belajar sehingga prestasi belajar bisa lebih ditingkatkan.

i. Minumlah air bersih, aman dan cukup jumlahnya. Air minum harus bersih dan bebas kuman. Minumlah air bersih sampai 2 liter per hari sehingga metabolisme tubuh kita bisa berjalan lancar mengingat air sangat dibutuhkan sebagai pelarut unsur gizi bagi keperluan metabolisme tersebut. konsumsi air yang cukup dapat menghindari dehidrasi dan akan menurunkan resiko infeksi serta batu ginjal. j. Lakukan kegiatan fisik atau olahraga yang teratur. Kegiatan itu akan membantu mempertahankan berat badan normal disamping meningkatkan kesegaran tubuh, memperlancar aliran darah dan mencegah osteoporosis khususnya pada lansia. k. Hindari minum minuman beralkohol. Alkohol bersama-sama rokok dan obatobatan terlarang lainnya harus dihindari karena dapat membawa risiko untuk terjadinya berbagai penyakit degeneratif, vaskuler dan kanker. l. Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan. Makanan yang tidak tercemar, tidak mengandung kuman atau parasit lain, tidak mengandung bahan kimia berbahaya dan makanan yang diolah dengan baik sehingga unsur gizi serta cita rasanya tidak rusak, merupakan makanan yang aman bagi kesehatan. m. Bacalah label pada makanan yang dikemas. Label pada makanan kemasan harus berisikan tanggal kadaluwarsa, kandungan gizi dan bahan aktif yang digunakan.

Bebarapa penyebab yang dapat mengakibatkan terjadinya gastritis antara lain : a. Infeksi Bakteri

Bakteri H. Pylori merupakan organisme gram negatif yang dapat hidup di bagian dalam lapisan mukosa yang melapisi dinding lambung. Organisme ini menghambat bagian cekung yang di proteksi yang di aplikasikan dekat pada epitel permukaan di bawah barier muskus yang mempunyai pH netral. Organisme ini menimbulkan respon sel radang kronis dan polimorfonuklear pada mukosa lambung. Penularan bakteri tersebut terjadi melalui jalur oral atau akibat memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh bakteri ini dan diketahui juga sebagai penyebab utama terjadinya gastritis. Infeksi dalam jangka waktu yang lama akan menyebabakan peradangan menyebar yang kemudian menyebabkan perubahan pada lapisan pelindung dinding lambung ini (Underwood, 2000). b. Pemakaian Obat-obat penghilang rasa nyeri Obat analgesik anti inflamasi nonsteroid (AISN) seperti : aspirin, ibuprofen, dan naproxen. Dapat menyebabkan peradangan pada lanbung dengan cara mengurangi prostaglandin yang bertugas melindungi dinding lambung. Jika pemakaian dilakukan secara terus menerus dapat menyebabkan gastritis (Underwood, 2000). c. Alkohol Alkohol dapat mengiritasi dan mengikis mukosa dinding lambung karena lebih rentan terhadap asam lambung walaupun pada kondisi normal. Jika alkohol diminum bersama dengan aspirin efeknya akan lebih merusak dibandingkan dengan efek masing-masing agent tersebut secara terpisah. Gastritis yang terjadi peminum berat dan pemakai aspirin perlu dilakukan reseksi lambung. Penyakit yang serius ini akan dianggap sebagai tukak akibat strees. Pada gastritis ini mukosa merah, edema tosa dan

ditutupi oleh muskus yang melekat, erosi kecil dan pendarahan sering timbul (Sylvia A. Price, 1995). d. Kelainan autoimun Ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat yang berada di dinding lambung. Mengakibatkan peradangan dan secara bertahap menipiskan dinding lambung, menghancurkan kalenjer-kalenjer penghasil asam lambung dan mengganggu produksi faktor intrinsik yaitu sebuah zat yang membantu tubuh mengabsorbsi vitamin B-12. e. Strees Hal ini dimungkinkan karena system persyarafan di otak berhubungan dengan lambung sehingga bila seseorang mengalami stres maka bisa muncul kelainan pada lambung. Perubahan ini akan merangsang sel-sel di dalam lambung yang kemudian mensekresi asam secara berlebihan . f. Makanan Berbumbu Makanan berbumbu seperti : lada dan cuka atau mustard dapat menyebabkan gejala yang mengarah pada gastritis. Menurut Sugani & Priandarini (2010) Berikut ini adalah hal-hal yang umumnya menyebabkan gastritis: 1. Reaksi terhadap obat-obatan suplemen Obat-obatan tertentu pada beberapa orang akan merangsang sistem pencernaan sehingga menyebabkan mual. Ini juga bisa ditimbulkan oleh suplemen, antibiotik, steroid, mineral, dan obat herbal. 2. Produksi asam lambung berlebihan. Pada saat tertentu, sel-sel yang mengeluarkan cairan asam dalam lambung mungkin menghasilkan jumlah cairan pencernaan yang lebih tinggi dari kadar normal sehingga merangsang reaksi pada jaringan lambung.

3. Gangguan lambung. Tanpa penyebab jelas, lambung jadi tidak berfungsi atau bisa kosong secara normal. Ini bisa terjadi setelah lambung mengalami infeksi tertentu. 4. Kepekaan terhadap asam Jaringan dalam lambung dan duodenum menjadi sangat peka terhadap kadar asam normal sehingga mudah terangsang. 5. Peka terhadap makanan tertentu. Lambung atau usus menjadi peka terhadap makanan dan minuman tertentu seperti kopi, bumbu jeruk, atau sayuran yang mengandung kadar asam sedang hingga tinggi. 6. Reaksi berlebihan terhadap rangsangan normal. Adanya perubahan hubungan sinyal saraf perut dan otak sehingga menimbulkan reaksi berlebihan terhadap perubahan normal yang terjadi selama proses pencernaan. 7. Stres dan faktor psikologis lain. Kecemasan akan memicu produksi asam lambung lebih cepat dan lebih banyak. Pada umumnya, gastritis bisa di tangani dengan menghindari makanan yang pedas, asam, alkohol, dan rokok untuk sementara waktu. Makan tepat waktu dan mengelola stres juga sangat penting.

Gastritis biasanya terjadi ketika mekanisme pelindung dalam lambung mulai berkurang sehingga mengakibatkan kerusakan dinding lambung. Adanya kerusakan lapisan pelindung pada lambung menyebabkan cairan lambung yang sangat asam bersentuhan langsung dengan dinding lambung sehingga menimbulkan peradangan (inflamasi). Kerusakan ini disebabkan oleh: a. Gangguan fungsi kerja lambung, yakni gerakan lambung yang berkaitan dengan sistem saraf di lambung atau hal-hal bersifat psikologis.

b. Gangguan struktur anatomi yang bisa berupa luka, erosi, atau tumor. c. Jadwal makan yang tidak teratur akan membuat lambung sulit beradaptasi. Bila kondisi ini berlangsung terus-menerus, akan terjadi kelebihan asam yang akan mengiritasi dinding mukosa lambung. d. Konsumsi alkohol atau kopi yang berlebihan dapat mengiritasi dan mengkikis mukosa pada dinding lambung serta membuat dinding lambung lebih sensitif terhadap asam lambung meski pada kondisi normal. e. Gangguan stres, karena sistem saraf di otak berhubungan dengan lambung. Tahapnya adalah, mula-mula stres akan mengakibatkan perubahan hormon. Perubahan itu merangsang sel-sel dalam lambung untuk memproduksi asam secara berlebihan. Selanjutnya asam yang berlebihan akan menimbulkan luka pada dinding lambung. f. Merokok : banyak penelitian membuktikan adanya efek negatif merokok terhadap kesehatan tubuh. Selain meningkatkan risiko terserang berbagai penyakit, para penderita gastritis yang perokok juga beresiko tinggi mengalami komplikasi atau lebih lama pulih sembuh dari luka setelah menjalani pembedahan. Para perokok akan mengalami penurunan zat kekebalan tubuh (antibodi) yang terdapat didalam ludah. Padahal antibodi ini berguna untuk menetralkan bakteri dalam rongga mulut dan mencegah terjadinya gangguan pada fungsi sel-sel pertahanan tubuh. g. Pemakaian obat penghilang nyeri dalam jangka panjang dan secara terus-menerus. Misalnya, obat analgesik anti inflamasi nonstreroid (AINS) seperti aspirin, ibuprofen, dan naproxen dapat menyebabkan peradangan pada lambung. Karena obat-obatan ini mengurangi prostaglandin yang bertugas melindungi dinding lambung.

h. Stress fisik akibat pembedahan besar, luka trauma, luka bakar, atau infeksi berat dapat menyebabkan gastritis, borok, bahkan pendarahan pada lambung. i. Infeksi bakteri Helicobacter pylori : Pada tahun 1982, Dr. Barry Marshall, seorang gastroenterologi dari perth, Australia, menemukan bakteri ini. Sejak tahun 1983 bakteri ini selalu dijumpai pada penderita peradangan di lambung dan tukak lambung, atau gastritis. Diduga bakteri ini berasal dari air kurang higienis yang dipergunakan untuk mencuci sayur lalapan atau perabotan makan. Bakteri ini juga dapat menular dari orang ke orang melalui ludah atau feses. Yang sering terjadi adalah mudahnya penularan antar anggota keluarga, misalnya, melalui pemakaian peralatan makan yang digunakan secara bersama-sama, atau karena makanan yang disantap kurang higienis. Bakteri ini hidup dalam suasana asam tinggi. Biasanya bakteri akan mendekam di bagian dalam lapisan mukosa yang melapisi dinding lambung. Bakteri ini sangat berkaitan dengan gangguan lambung dan ulkus (tukak) usus dua belas jari yang tak kunjung sembuh. Pola makan yang baik menurut Escasia (2009): a. Bangun Tidur Minum dengan 1 – 2 gelas air putih + perasan jeruk lemon (tanpa gula). b. Makan Pagi (Pukul 06.00 – 09.00) 1) Makan dengan aneka buah / jus buah tanpa gula (kecuali durian) 2) Makan dengan Oatmeal + potongan pisang 3) Makan dengan Roti Gandum + Madu c. Makan Selingan (Pukul 10.00 – 12.00) 1) Jus buah / aneka buah tanpa gula 2) Crakers d. Makan Siang (Pukul 12.00 – 14.00)

1) Nasi Merah / Kentang + Cap Cay + Tahu / Tempe 2) Nasi Merah / Kentang + Kangkung + Tahu / Tempe 3) Ikan bakar + Salad 4) Ayam Bakar Dada + Salad e. Makan Selingan Sore 1) Yogurt / Susu Kedelai 2) Pisang f. Makan Malam (Pukul 18.00 – 20.00) 1) Sup / Sayur + Ayam Dada 2) Salad + Ikan Catatan : 1) Ikan dan ayam sebaiknya dibakar jika dipanggang harus menggunakan minyak baru 2) Jus buah jangan pakai gula dan susu 3) Minum dengan jus buah atau potongan buah dianjurkan 1 – 2 jam setelah makan Sedangkan menurut Fikrirasyid (2008), pola makan yang lebih sehat yaitu lima kali sehari. a. Makan pagi cukup roti dan susu. Sedikit karbohidrat saja. Hindari makan ken yang di pagi hari karena akan membuat ngantuk. Jika anda makan kenyang di pagi hari, energi yang seharusnya digunakan untuk beraktifitas malah habis ke perut. b. Tiga jam setelah makan pagi, makan makanan ringan seperti roti. Setiap 3 jam, perut pasti merasa lapar c. Makan siang, makan lengkap. Nasi, lauk pauk dan sayur mayur. d. Sore hari, makan – makanan ringan. Snack sore seperti kolak, bubur kacang hijau, atau mungkin buah – buahan. e. Malam, makan lengkap. Usahakan makan malam 3 jam dari waktu tidur, agar sebelum tidur makanan telah selesai dicerna dan tidak mengganggu tidur.

_Good Luck_
***