Mutu Pelayanan Kesehatan; Ambivalensi Antara Kewajiban dan Keinginan (antara penyelenggara dan pemilik) Jonirasmanto, SKM, MKES

Setelah membaca berita ´RUMAHSAKIT HARUS BERBENAHµ dan ´RSD ABUNDJANI BANTAH ABAIKAN FASILITASµ di koran RADAR SARKO saya sebagai manusia kesehatan dengan ini menyampaikan pemikiran yang mungkin mengundang tanya atau pertanyaan lagi. Dan barangkali ini hanya merupakan materi pencerahan yang semoga bermanfaat. Mutu pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh ada tidaknya kritikan dan keluhan dari pasiennya, lembaga sosial atau swadaya masyarakat dan bahkan pemerintah sekalipun. Mutu akan diwujudkan jika telah ada dan berakhirnya interaksi antara penerima pelayanan dan pemberi pelayanan. Jika pemerintah yang menyampaikan kritikan ini dapat berarti bahwa masyarakat mendapatkan legalitas bahwa memang benar mutu pelayanan kesehatan harus diperbaiki. Mengukur mutu pelayanan dapat dilakukan dengan melihat indikator-indikator mutu pelayanan rumahsakit yang ada di beberapa kebijakan pemerintah, sudahkan kita mengetahuinya. Analisa indikator akan mengantarkan kita bagaimana sebenarnya kualitas manajemen input, manajemen proses dan output dari proses pelayanan kesehatan secara mikro maupun makro. Dari definisi, Rumahsakit menurut WHO Expert Committee On Organization Of Medical Care: ´is an integral part of social and medical organization, the function of which is to provide for the population complete health care, both curative and preventive and whose outpatient service reach out to the family and its home environment; the hospital is also a centre for the training of health workers and for biosocial researchµ, yang dalam bahasa Indonesianya jika diterjemahkan secara bebas dapat berarti: suatu bagian menyeluruh dari organisasi dan medis, berfungsi memberikan pelayanan kesehatan lengkap kepada masyarakat baik kuratif maupun rehabilitatif, dimana output layanannya menjangkau pelayanan keluarga dan lingkungan, rumah sakit juga merupakan pusat pelatihan tenaga kesehatan serta untuk penelitian biososial. Definisi rumah sakit menurut Keputusan Menteri Republik Indonesia nomor 983.MENKES/SK/1992 mengenai pedoman rumah sakit umum dinyatakan bahwa: µRumah Sakit Umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar, spesialistik dan pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihanµ. Sementara itu menurut Siregar (2003) menyatakan bahwa rumah sakit adalah suatu organisasi yang kompleks, menggunakan gabungan ilmiah khusus dan rumit, dan difungsikan oleh berbagai kesatuan personel terlatih dan terdidik dalam menghadapi dan menangani masalah medik modern, yang semuanya terikat bersama-sama dalam maksud yang sama, untuk pemulihan dan pemeliharaan kesehatan yang baik. Definisi rumahsakit ini di setiap peraturan daerah pada umumnya sama, hanya saja terdapat perbedaan pada tugas pokoknya, yang diantaranya adalah: luas tidaknya lingkup spesialistik yang dimiliki, kekhususan menyertainya dengan adanya rumah sakit yang dibina dirjen yanmed Dpekes RI yang secara fisik berada di daerah kabupaten, kota ataupun di provinsi. Berikut merupakan tugas sekaligus fungsi dari rumah sakit secara lengkap, yaitu: Melaksanakan pelayanan medis, pelayanan penunjang medis, Melaksanakan pelayanan medis tambahan, pelayanan penunjang medis tambahan, Melaksanakan pelayanan kedokteran kehakiman, Melaksanakan pelayanan medis khusus, Melaksanakan pelayanan rujukan kesehatan,

Tugas dan fungsi ini berhubungan dengan kelas dan type rumah sakit yang di Indonesia terdiri dari rumah sakit umum dan rumah sakit khusus. (2) Tenaga medis meliputi dokter dan dokter gigi. tenaga kefarmasian. mikrobiolog kesehatan. Sebagai unsur manajemen. analis kesehatan. Melaksanakan pelayanan penyuluhan kesehatan. tenaga keteknisian medis. tenaga gizi. okupasiterapis dan terapis wicara. b. . (4) Tenaga kefarmasian meliputi apoteker. Kekhususan ini sangatlah tidak mungkin dimanajemeni secara umum. tenaga keterapian fisik. Melaksanakan pelayanan kedokteran sosial. (7) Tenaga keterapian fisik meliputi fisioterapis. teknisi elektromedis. Melaksanakan pelayanan rawat jalan atau rawat darurat dan rawat tinggal (observasi). refraksionis optisien. teknisi transfusi dan perekam medis. (8) Tenaga keteknisian medis meliputi radiografer. c. karena SDM kesehatan adalah SDM fungsional yang kepadanya melekat fungsi profesi berdasarkan latar belakang pendidikan kesehatannya. sumber daya manusia kesehatan yang dimiliki oleh rumahsakit akan mempengaruhi diferensiasi dan kualitas pelayanan kesehatan. Membantu pendidikan tenaga medis spesialis. Membantu pendidikan tenaga medis umum. radioterapis. Melaksanakan pelayanan rawat inap. be rbentuk badan dan sebagai unit pelaksana teknis daerah. otorik prostetik. (6) Tenaga gizi meliputi nutrisionis dan dietisien. administrator kesehatan dan sanitarian. (3) Tenaga keperawatan meliputi perawat dan bidan. Melaksanakan pendidikan para medis. tenaga kesehatan masyarakat. analis farmasi dan asisten apoteker. tenaga keperawatan.Melaksanakan pelayanan kedokteran gigi. Membantu kegiatan penyelidikan epidemiologi. entomolog kesehatan. Melaksanakan pelayanan administratif. penyuluh kesehatan. kelas ´a. (5) Tenaga kesehatan masyarakat meliputi epidemiolog kesehatan. keterbatasan keanekaragaman jenis tenaga kesehatan akan menghasilkan kinerja rumahsakit dalam pencapaian indikator mutu pelayanan rumahsakit. Membantu penelitian dan pengembangan kesehatan. Dari Sumberdaya Kesehatan yang ada di rumahsakit: (1) Tenaga kesehatan terdiri dari : tenaga medis. teknisi gigi. dµ. Perubahan kelas rumah sakit dapat saja terjadi sehubungan dengan turunnya kinerja rumahsakit yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan Indonesia melalui Keputusan Dirjen Yan Medik.

jika diberlakukan secara ketat maka mereka akan menuntut uang lembur untuk pekerjaan yang dilakukannya pada waktu di luar jam dinas (07.30-14. bagaimana komunikasi dan manajemennya dilakukan di rumahsakit tersebut. Rumahsakit dengan angka rujukan yang jumlahnya mendekati setengah dari jumlah kunjungan patut dipertanyakan. jawabannya akan berhubungan dengan ketersediaan sumberdaya manusia kesehatan dan kualitasnya. Memang ada daerah yang memberikan semacam insentif dan atau reward untuk tenaga kesehatan tertentu yang harus melayani pasiennya di luar jam dinas yang jumlahnya menurut tenaga dokter spesialis masih belum dianggap cukup (sesuatu yang wajar yang seharusnya dibayarkan). rumahsakit dapat merupakan unit pelaksana teknis dinas dan atau sebagai institusi yang bertanggungjawab kepada bupati dan atau rumahsakit vertikal yang ada di daerah. komite keperawatan. satuan pengawas internal. mungkin berhubungan dengan ketidak tahuan dan ketidak mampuan membayar atau belum ada dasar hukumnya (padahal peraturan pemerintah sudah menjelaskan hal itu) .00 jika 6 (enam) hari kerja. karena yang diperlukan hanya pejabat struktural yang mengepalai beberapa bidang dan bagian. Keberadaan resident tanpa pengawasan satuan pengawas internal rumahsakit dapat dipersepsikan berbagai rupa oleh masyarakat dengan latar belakang pengalaman dan pengetahuan yang berbeda-beda. Pada kebanyakan daerah di Indonesia. Ada apa dengan kompetensi mereka dalam memberikan pelayanan. karena merekakan sedang dalam pendalaman ilmu kedokteran.00 jika 5 (lima) hari kerja.Tentang disiplin kepegawaian seharusnya tidak diberlakukan secara ketat. yang sebenarnya satu indikator gagal dapat menyebabkan perubahan penilaian kinerja. sedangkan komite medik. komite rekam medik.30 sampai 16. Sebagai contoh: peningkatan penerimaan daerah dari retribusi pelayanan kesehatan akan tidak ada artinya apa-apa jika cakupan angka rujukan ke rumahsakit vertikal atau ke kabupaten lain lebih tinggi dari angka kunjungan UGD rumahsakit yang bersangkutan atau angka pasien rawat inap kelas III. Hal ini dikarenakan adanya indikator vital dalam proses dan atau dalam output sistem pelayanan kesehatan. Dapat ditambahkan lagi dengan adanya permasalahan kelembagaan. rumahsakit daerah dijadikan sumber pendapatan daerah dan dalam laporan pertangggungjawaban pemerintah daerah keberhasilan capaian indikator pelayanan kesehatan rumahsakit jarang dan bahkan tidak pernah dijadikan data atau informasi dalam penyusunan perencanaan dan penyusunan kebijakan. biasanya hanya dilaporkan sebagai hasil dari akumulasi seluruh indikator. Beperapa peraturan daerah diimplementasikan dengan tidak paripurna. dan kelompok fungsional tidak dilantik oleh bupati kepala daerah padahal struktur organisasi rumah sakit sudah menjelaskannya. atau 07. kenapa tidak. Mari kita hitung penghasilan mereka jika tidak melayani pasien di rumahsakit. dimana ada kotak kelompok tenaga fungsional dalam bagan struktur organisasi tidak ada isinya dan tidak ada koordinasinya. Jika kelompok ini ada maka tenaga fungsional tersebut dapat dijadikan media informasi guna penyusunan kebijakan yang ajeg dan mumpuni secara keilmuan. karena apa. tetapi jika tak ada rotan maka akarpun jadilah sehingga kualitas yang diharapkan belum tentu dapat dinikmati sebagai akhir dari pelayanan yang bermutu. hal yang seperti ini perlu komunikasi yang ajeg demi harmonisasi pemenuhan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan. Dari Struktur Organisasi Daerah: rumahsakit dapat berdiri dengan legalitas dan ilegal karena ada rumahsakit dengan ijin penyelenggaraan dan tidak ada ijin. Kondisi ini akan berhubungan dengan kemapanan dukung an kebijakan dan dukungan anggaran yang pada akhirnya berdampak pada kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

makin banyak masyarakat yang menggunakan berarti masih ada masyarakat yang sakit. bukan dari RT-RW dan Lingkungan. rasionalitasnya jika makin banyak penerimaan berarti makin banyak masyarakat yang menggunakan fasilitas sumberdaya di rumah sakit. Sebagai contoh: Kebijakan berobat gratis. masih adanya masyarakat yang sakit berarti derajat kesehatan masyarakat belum optimal. Epidemiolog dapat menyampaikan laporan ini jika dibutuhkan. di banyak daerah rumahsakit daerah sebagai penghasil pendapatan asli daerah terbesar. daftar nama keluarga dan anggotanya bersumber dari BKKBN. Departemen kesehatan dengan Komite Akreditasi Rumahsakit terus berupaya agar semua rumah sakit daerah harus terakreditasi minimal 5 (lima) pelayanan. mengapa karena ada pasien yang berobat dari keluarga miskin yang benar-benar miskin dengan nama yang tak ada dalam data base yang diberikan oleh pemerintah. dan itu dalam penyusunan program kegiatan dan anggaran rasanya belum pernah ada yang duduk bersama menyatukan pernyataan dan kesimpulan. Dari Akreditasi Rumahsakit. RSD Kol Abundjani didukung anggaran belum juga mampu menyelesaikan proyek ini. untuk pembuktiannya diperlukan analisa lebih lanjut. dan dalam data base saat perjalanannya rumahsakit harus memberikan pelayanan seperti yang diharapkan mereka. Pejabat dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang sedikitpun tidak menunjang dipilih untuk memimpin roda proses pelaksanaan tugas pokok .Dari Manajemen Lintas Program dan Lintas Sektor Rumahsakit sebagai pintu gerbang dan unsur vital dalam penilaian adipura. yaitu: (1) Pelayanan Gawat Darurat. (3) Pelayanan Administrasi. jawabnya dapat bersumber dari kualitas dan kuantitas sumber daya yang ada di rumahsakit tersebut. Ada item rupiah yang bisa dirinci jumlahnya dari pola tarif yang ada. Apa yang mereka bayar dari pelayanan yang mereka terima dapat mencerminkan tingkatan kesehatan masyarakat tersebut. Hanya tinggal lagi epidemiolognya berpihak kepada siapa. (4) Pelayanan Keperawatan dan (5) Pelayanan Rekam Medik Tujuan pemerintah dengan akreditasi ini adalah untuk: agar kualitas pelayanan diintegrasikan dan dibudayakan ke dalam sistem pelayanan di rumah sakit. 8 (delapan) pelayanan dan 13 (tiga belas) pelayanan. karena apa. tentang bagaimana dan seterusnya masyarakat di rumahsakit tersebut. rumahsakit terkareditasi 5 (lima) pelayanan. bukan berdasarkan kemampuan yang dapat diberikan oleh rumahsakit. bersumber dari oknum pegawai di tingkatan tersebut. Ada beberapa instansi yang memiliki keterkaitan dengan rumahsakit daerah. Sesuatu yang riskan jika PAD dijadikan ukuran keberhasilan pelayanan kesehatan karena nominal PAD adalah rupiah yang dibayarkan pasien. (2) Pelayanan Medik. Pernyataan jelasnya adalah sumberdaya manusia kesehatan yang ada di rumahsakit tersebut. Rumahsakit dengan standar ISO 14000 dan ISO 2000. Dunia pelayanan kesehatan semakin hitam jadinya. dan kelompok rumahsakit yang belum terakreditasi dan atau yang belum terstandar. bermuncullanlah pahlawan dengan pamrih disini. Sesuatu yang aneh memang. dan mereka yang berobat dengan fasilitas kartu miskin saat akan dirawat minta dirawat dengan fasilitas VIP.

tetapi nyatanya budaya akreditasi belum sama sekali mendarah daging di institusi RSD Kol Abundjani ini. bukan hanya oleh masyarakat rumahsakit. Berbagai definisi mutu yang dikaitkan dengan patient safety selanjutnya diajukan. dibuat terperangah oleh program tersebut. Proses akreditasi telah berlangsung hampir lebih dari 5 (lima) tahun. dan salah satu definisi yang umum digunakan antara lain menyebutkan bahwa mutu pelayanan kesehatan adalah ´tingkat di mana pelayanan kesehatan untuk individu maupun populasi mampu menghasilkan outcome pelayanan sesuai dengan yang diharapkan dan konsisten dengan pengetahuan profesional terkiniµ (IOM. Sebagai suatu pernyataan akhir dari sebuat proses pelayanan kesehatan. Menurut Rusli. jaminan mutu) pada tahun 1996. tetapi telah bergeser menjadi panggilan pemenuhan kebutuhan ekonomi. tetapi bagaimanapun juga SDM rumahsakit daerah harus terlebih dahulu menjawabnya dengan pernyataan yang diikuti oleh sikap yang terakreditasi pula. Peruntukan anggaran tentu membutuhkan kebijakan paripurna yang proporsional. Dari Dukungan Kebijakan Nah ini yang lebih perlu mendapat perhatian. begitu banyak peraturan daerah disusun dengan cara studi banding. dan outcome. Pedoman umum mengenai persentase anggaran kesehatan dari total anggaran daerah masih perlu dipertanyakan lebih lanjut lagi. Masih belum terlihat jiwa pemiliknya dalam peraturan ini. Ada apa. menurut beberapa pengamat adalah sangat tidak masuk akal jika tidak ingin dianggap aneh. Sementara itu the IOM (1999) dan National Health . sebenarnya tidak berlaku di institusi pelayanan rumahsakit. berbagai peneliti telah mencoba mengembangkannya untuk menjamin agar pengukuran mutu pelayanan kesehatan lebih spesifik. Sebagai sebuah proses. kapan SDM kesehatannya mau manggung dalam ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam pemberian pelayanan kesehatan. proses. Mutu Pelayanan Kesehatan yang mengemuka sebagai panglima program unggulan Depkes dengan nama Quality Assurance (QA.1%. 2001). tetapi lembaga non profit.«? Pertanyaan yang seharusnya dijawab dengan lintas sektor dan lintas program. masih perlu dianalisa dan disikapi dengan jalinan koordinasi dan pengawasan yang komprehensif. Dari mutu pelayanan kesehatan. pihak Institusi pelayanan kesehatan/rumahsakit sebagai (lagi-lagi) pihak pelaksana. anggaran efektif jika rasio antara pembiayaan dan penerimaan berkisar 0. Kedua bentuk ini saling bersimbiose mutalisme dalam sebuah sistem. dicopi dan dipastekan kemudian diedit agar menjadi sesuai dengan keadaan riel daerah. karena disini setiap pekerjaan yang dikerjakan dan yang seharusnya dikerjakan bukan lagi berdasarkan panggilan hati nurani. karena rumahsakit bukan badan profit. pelayanan kesehatan dapat berbentuk makro dan berbentuk mikro. bukan lagi panggilan profesi. Salah satunya adalah yang diajukan oleh Donabedian (1980). kalau tigaperempat anggarannya hanya untuk fisik. Namun demikian mengingat definisi tersebut dianggap terlalu luas. Kemajuan pertumbuhan dan pengembangan rumahsakit menjadikan rumahsakit sebagai lembaga profit tetapi tidak meninggalkan unsur sosialnya telah mengubah persepsi sumber daya manusia kesehatan dari non material menjadi sangat material.dan fungsi organisasi rumahsakit. yaitu berpedoman pada struktur. Jika ini berlanjut dapat dibayangkan bagaimana pemenuhan hak pokok masyarakat sebagai pasien jika mereka tidak mampu membayar.

Under use didefinisikan sebagai kegagalan untuk memberikan pelayanan yang efektif padahal jika dilakukan dapat menghasilkan outcome yang diharapkan (misalnya tidak memberikan imunisasi atau gagal untuk melakukan bedah katarak). Fasilitas kesehatan (formal) yang tersedia masih relatif baru. fasilitas dan tenaga medis yang memadai guna menjamin terlaksananya program kesehatan masyarakat. ada beberapa kondisi yang tampak dalam pelayanan kesehatan. yang relatif berakar dari tradisi dan kebudayaan mereka. petugas kesehatan dapat mengetahui keinginan konsumen dan kekurangan yang dimilikinya. kritik. Salah satunya adalah indikator mutu pelayanan yang disusun oleh ACHS yang merupakan instrumen untuk mengidentifikasi area pelayanan kesehatan yang masih memerlukan perbaikan secara fundamental. complain maupun keluhan konsumen semestinya tidak diartikan sebagai serangan. Inpatient Quality Indicators. over use.Service menggunakan konsep mutu pelayanan kesehatan dalam 6 aspek. effectiveness. Namun. pemerintah dan praktisi kesehatan masyarakat bertanggung jawab untuk berupaya merealisasikan adanya kebijakan yang lebih baik. tetapi tidak tersedia standar quality of care yang berbasis konsumen. Hidup sehat merupakan kebutuhan utama (primer) setiap orang. sistem yang berkualitas. Pelayanan yang baik dan memuaskan bisa diwujudkan secara bersama antara pengguna jasa pelayanan dan petugas kesehatan. equity. Chassin mengusulkan metode lain yang menekankan pada 3 area utama. dana yang cukup. yaitu under use. dan misuse of health care services. Sehubungan dengan hal ini. Dari keluhan konsumen. Artinya. kondisi ini harus disertai pula dengan perbaikan pada aspek kebijakan dan manajemen. Lupa mungkin karena tampilan dokter institusi pelayanan kesehatan/rumahsakit yang tak pernah berdasi dan naik kendaraan dinas apa adanya kala tugas. Dalam hal ini. Mungkin ini jalan keluar. Upaya yang sama juga dilakukan oleh The Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ) yang mengembangkan beberapa indikator yaitu Prevention Quality Indicators. Oleh karenanya. hak atas pelayanan kesehatan adalah bagian dari hak asasi manusia (HAM). timeliness. tidak seperti teman-temannya di Depkes yang sebagian diantaranya berdasi dan naik mobil dinas mulus-mulus dan baru-baru. dan belum mengakar atau belum dirasakan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Dengan metode kuantifikasi ini selanjutnya dapat dilakukan analisis statistik untuk menilai area area pelayanan yang dianggap memiliki defisiensi dalam menghasilkan outcome yang diharapkan. efficiency. Tetapi sebagai institusi bawahan Depkes. Disebut overuse apabila pelayanan kesehatan yang dilakukan ternyata memberi dampak risiko yang lebih besar daripada potensi manfaat yang dapat ditimbulkan (misalnya memberikan antibiotika untuk kasus-kasus common cold). Kondisi budaya ini di satu sisi menjadi . Dari beberapa konsep tersebut kemudian dikembangkan sejumlah indikator untuk mengkuantifikasikan mutu pelayanan kesehatan. Sebaliknya. Mungkin Depkes lupa bahwa para dokter yang ada di Institusi pelayanan kesehatan/rumahsakit adalah seorang sarjana juga seperti halnya para petinggi Depkes. Sedangkan misuse didefinisikan sebagai komplikasi yang sebenarnya dapat dihindari jika pelayanan kesehatan dilakukan secara seksama. masyarakat memiliki sistem pengobatan atau pengetahuan mengenai perawatan kesehatan (biomedis). dan Patient Safety Indicators (PSIs). tetapi diterima sebagai koreksi terhadap cara berpikir dan cara melayani konsumen. lagi-lagi Institusi pelayanan kesehatan/rumahsakit berada di posisi tak berdaya dan lagi-lagi hanyalah sebagai terminal akhir pembuangan dan berposisi layaknya sandal jepit. dan patient awareness. yaitu safety.

pasien. pendapat dari petugas kesehatan lainnya. Orang tua bayi itu menuduh pihak RS.kendala dalam pelayanan medis. seorang pasien berhak untuk mempertanyakan pelayanan dokter yang dirasakannya tidak jelas. dan jaminan keamanan/keselamatannya. Memperoleh rasa aman dari semua proses pelayanan. di sisi lain mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara murah dan mudah. yakni pelayanan yang menghormati hak-hak konsumen. dan izin persetujuan pasien bila ingin akan dioperasi. meskipun akhirnya ditempuh jalan damai dengan ganti rugi 25 juta rupiah. Sebaliknya. hal-hal dirahasiakan. telah menyebabkan anak mereka cacat seumur hidup. prosedur perawatan. Kebanyakan konsumen juga petugas kesehatan tidak mengetahui hak-hak dan kewajiban konsumen. yaitu: Mengetahui sejarah atau riwayat pengobatannya. Contoh aktual adalah bayi yang dilahirkan cacat (tanpa tangan) di RSUD Bayu Asih Purwakarta (Kompas. Banyak alasan yang seringkali dikemukakan. dan jika dianggap perlu. Memilih tempat pelayanan yang diinginkannya. pertanyaan yang sering muncul adalah apa saja hak-hak konsumen dalam pelayanan kesehatan. Menepati janji dengan petugas kesehatan. misalnya keterbatasan petugas dan fasilitas tidak memadai. Sedangkan yang dimaksud pelayanan yang berkualitas biasanya mengacu pada pengertian Quality of Care atau standar pelayanan yang berkualitas. bahkan memberatkan konsumen itu sendiri. dokter). petugas kesehatan yang mengerti hak-hak konsumen tidak mau peduli. klien tidak menyadari bahwa mereka memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan yang memuaskan. catatan medis petugas kesehatan. 26 Juni 1997). yang secara khusus disebut klien. dalam hal ini bidan. Rosalia Sciortino dalam ´Menuju Kesehatan Madaniµ (1999:78) menyebut adanya ´konstruksi rahasiaµ yang dipertahankan petugas kesehatan. kelebihan maupun kekurangan pengobatan. bagaimana sebaiknya pelayanan yang berkualitas? Pertama-tama perlu ditegaskan bahwa istilah konsumen dalam pelayanan kesehatan mencakup pengertian mereka yang menerima pelayanan jasa maupun obat-obatan dari petugas kesehatan (paramedis. Memberitahu petugas kesehatan jika ia menerima perawatan dari dokter yang lain. Jika menggunakan jasa asuransi. tetapi tidak merasa percaya diri untuk mengemukakannya di tenpat pemeriksaan. Hanya sebagian kecil konsumen menyadari hak-haknya. konsumen memiliki kewajiban. membatalkan persetujuan sewaktu-waktu. ia menolak suatu metode pengobatan atau tindakan medis tertentu. dan interaksi sosial yang saling menguntungkan. Kasus ini kemudian dibawa ke pengadilan dengan tuntu tan 1 milyar rupiah. Sebagai pasien. Bahkan . karena kecerobohan dalam pelayanannya. Bersedia bekerja sama dan mematuhi perawatan yang diberikan. bidan. konsumen berhak: Mendapatkan informasi yang dapat dipahaminya mengenai penyakit yang diderita. Setiap konsumen memiliki hak yang dilindungi undangundang. cara pengobatan. Kecenderungan perilaku para praktisi medis yang tidak mempertimbangkan proses-proses komunikasi atau pertukaran informasi. Mendapatkan ganti rugi apabila terjadi malpraktek yang dilakukan petugas kesehatan. efek samping pengobatan. Artinya. ia berkewajiban mengetahui apa yang dapat atau tidak dapat diatasi oleh perusahaan asuransi. biaya. Memahami Hak dan Kewajiban Konsumen Dalam berbagai kesempatan diskusi dengan kelompok konsumen. Sebagai pasien. Pada umumnya konsumen sebagai pengguna jasa kesehatan seperti pasien. yang tidak seimbang dengan banyaknya pasien yang berkunjung setiap hari kerja.

Dari persoalan ini sebenarnya tuntutan akan pelayanan kesehatan yang memuaskan (berkualitas) semakin kompleks. Konsep ini biasanya dirujuk pada prinsip-prinsip manajemen pengawasan kualitas terhadap fasilitas pelayanan kesehatan umum. Padahal masyarakat tidak pernah belajar di sekolah kesehatan. di tingkat desa sekalipun. tanggung jawab sosial. menjalankan protokol (aturan) dan staf yang kompeten melakukan teknis klinik. dan seterusnya. dan efek sampingnya. proses pencapaian pelayanan yang memuaskan tidak bisa tidak melibatkan orang banyak. organisasi KB dunia. Setiap metode layanan (KB) tersedia bagi perempuan dan laki-laki yang ingin merencanakan keluarganya. Konsumen dan pengelola pelayanan kesehatan bisa bersama-sama merumuskan standar pelayanan yang berkualitas (quality of care). yang dapat dipandang dari provider (penyedia jasa) dan klien (konsumen). tidak disiplin. . Dasarnya adalah ´problem solvingµ. Informasi yang diberikan harus berisi pula informasi mengenai tiap metode. dan kemudian ditambahkan oleh YLKI dan PKBI. hak atas keamanan. atau pun hak-hak konsumen sebagaimana yang diatur dalam UUPK No. kenyamanan. Ukuran pencapaian pelayanan kesehatan selama ini lebih berorientasi pada pencapaian target sarana pelayanan dan penerima layanannya. dan pinggiran kota. hak mengajukan protes (berpendapat). mendapatkan pelayanan kapan dan di mana saja (akses). Aspek pemenuhan kualitas kesehatan. Oleh sebab itu. yaitu pemantauan masalah dan mencari jalan keluar dengan memperbaiki akar masalah secara berkelanjutan (The Population Council. petugas. Informasi yang berkualitas dapat berdampak pada bagaimana klien menggunakan metode kontrasepsi. dan komunitas setempat. Keterampilan Teknis. dan pembelajaran kesehatan bagi pengguna (konsumen) terabaikan. standar quality of care di Indonesia belum jelas. yakni penyediaan pelayanan kesehatan yang terus menerus memperbaiki diri dengan memperhatikan kebutuhan dan tuntutan pasien. Informasi untuk Klien. 1994). Dari sisi provider. Konsumen tidak memperoleh manfaat yang optimal dari pelayanan kesehatan. 8 No. apakah cukup simpatik dan cukup waktu untuk bertemu dengan kliennya. yakni mengacu pada pemenuhan hak-hak pasien. dokter. termasuk kartu untuk mengingatkan dan kunjungan rumah. hak ganti rugi. menentukan pilihan. cara penggunaan metode. Pilihan terhadap Metode Layanan. Pada tahun 1990. misalnya oleh IPPF (International Planned Parenthood Federation). ukuran standar pelayanan cukup jelas. Bertolak dari ´Quality of Careµ Konsep quality of care adalah istilah yang digunakan secara luas dalam pelayanan kesehatan. Gejala seperti ini terutama terjadi di tingkat pelayanan kesehatan dasar di pedesaan. Bagaimana klien berinteraksi dengan tenaga kesehatan. Mekanisme untuk Mendorong Keberlanjutan. kerahasiaan. Klien dapat didorong meneruskan penggunaan kontrasepsi yang efektif melalui berbagai cara. Namun harus diyakini bahwa ukuran kepuasan tidak bisa bertolak dari kepentingan individu saja karena kepuasan individual tidak ada batasnya. Mempertahankan kondisi aseptic. Hubungan Antarpribadi. Judith Bruce dari Population Council menempatkan enam elemen dasar yang kemudian dikenal dengan ´Bruce Frameworkµ dan menjadi sumber utama bagi penelitian mengenai kualitas pelayanan KB dan kesehatan reproduksi dari sisi tenaga kesehatan. atau hak-hak klien kesehatan reproduksi. Ukuran standar yang bisa dijadikan pedoman adalah kebutuhan orang banyak yang selama ini sudah dibakukan.petugas kesehatan menyadari bahwa masyarakat tidak mengerti cara hidup sehat. Pasal 4. Dari sisi klien. 1999. yang merumuskan 10 hak-hak klien KB antara lain: hak atas informasi.

dan . dan pelayanan kesehatan reproduksi lainnya. ABUNDJANI BANGKO menyarankan yang diantaranya Pemberian pelayanan kesehatan kepada pasien terdiri dari serangkaian proses-proses dari beberapa sistem. Inisiatif konsumen sendiri dalam mengatasi masalahnya. buruh dan kaum miskin kota. Misalnya. Bentuk-bentuk kasus yang dialami konsumen. bahwa memelihara kualitas RM akan membantu dalam memelihara ketrampilan dan kemandirian dalam asuhan keperawatan. bila suatu waktu konsumen dapat mengadili provider pelayanan kesehatan atas dasar pelanggaran terhadap hak-hak konsumen secara perorangan atau pun berkelompok (class-action). strategi dasar yang penting dilakukan aktifis organisasi konsumen yang melakukan pendampingan konsumen kesehatan adalah dengan memperkuat pengorganisasian dan pendidikan kritis bagi kelompok -kelompok konsumen yang rentan seperti petani. pelayanan pasca persalinan. Jadi. (2002). manusia. konsep. sistem ini berhubungan dengan unsur-unsur manajemen seperti peralatan. Mengingat gerakan konsumen saat ini didukung oleh kebijakan yang relatif jelas dengan adanya Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK). maka organisasi konsumen dapat mengambil peran dengan melakukan advokasi kebijakan dan pembelaan hukum. dan anggaran. Seperti yang disarankan oleh The Nursing and Midwifery Council. 3) jika sudah diketahui dengan baik k ondisi pasien lakukan tindakan yang dapat diterima dan dapat dilakukan dengan tahapan yang baik dan benar saat melaksanakan perawatan kepada pasien dan jelaskan bahwa setiap tindakan tidak selalu berbahaya untuk selalu untuk keselamatan dan membatu mereka. Penyebarluasan informasi terus-menerus kepada konsumen yang lain. untuk ini diperlukan: 1) deskripsikan dengan jelas has il pengkajian. rencana keperawatan dan rencana tindakan yang akan dilakukan. Hasil penelitian tentang perbaikan mutu pelayanan kesehatan di instalasi rawat inap RSD KOL. Bukan hal yang mustahil. Instansi dan orang-orang yang terlibat dan bertanggung jawab. perempuan. memerlukan tindakan terstruktur dengan manajemen resiko dan manajemen mutu. Klien memerlukan pelayanan yang nyaman dan terpadu. Penyimpangan dalam area-area penting manajemen pelayanan kesehatan yang menyebabkan kematian tersebut. Untuk itu semua peneliti menyampaikan beberapa saran seperti berikut: Saran untuk Perawat. Usaha (aksi-aksi) bersama menggugat petugas kesehatan di tempat pelayanan. Pendamping atau organizer bersama kelompok konsumen merumuskan: Masalah dan akar masalah. pelayanan KB terpadu dengan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Usulan. kebijakan. cara pandang konsumen terhadap pelayanan yang diinginkan atau pelayanan yang berkualitas (quality of care versi konsumen).Pelayanan yang Terpadu. 2) dokumentasikan informasi yang berhubungan dengan pasien dan apa yang akan dilakukan dalam merespon kebutuhan pasien.

memperlakukan setiap pasien dengan sopan dan sewajarnya. 2) Menyusun berbagai prosedur dan standar pelayanan sesuai dengan hasil tingkat kebutuhan dan hasil dari penelitian ini. 3) Menjadikan RSD KOL ABUNDJANI bukan sebagai tempat mencari sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan hidup tetapi juga menjadikannya sebagai tempat ibadah dan fungsi sosial. Prosedur dan Standar Pelayanan Rekam Medik. menghormati hak pasien dalam keterlibatan secara aktif pada pengambilam keputusan. Saran untuk manajemen RSD diantaranya adalah: 1) Berusaha mengetahui keinginan pelanggan dengan melakukan survey pasar. menghindarkan pasien dari resiko fisik dan finansial akibat tindakan medis. memberikan informasi yang dapat dimengerti pasien.4) menuliskan perencanaan perawatan agar dapat diteruskan oleh sejawat dalam perawatan berikutnya dan selalu menuliskan tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. diantaranya: a. Saran untuk komite staf fungsional diantaranya adalah: 1) Mematuhi tugas pokok dan fungsinya seperti yang tergambarkan dalam Peraturan Daerah Kab. 2) Melaksanakan semua tugas sesuai dengan kompetensi dan kode etik profesi. Hal ini dilakukan dengan audit internal secara rutin dan melakukan management riview guna membahas tindak lanjut yang perlu dilakukan agar pelayanan yang diberikan selalu konsisten sesuai prosedur dan standar yang telah ditetapkan. 3) Memastikan bahwa prosedur dan standar yang telah disusun diterapkan dan dilaksanakan dengan baik. selalu memperbaharui pengetahuan dan ketrampilan. Prosedur dan Standar Pelayanan Anastesi e. menghargai dan menjaga informasi tentang pasiennya. menghormati privasi dan kehormatan pasien. Prosedur dan Standar Pelayanan Laboratorium b. Prosedur dan Standar Pelayanan Rawat Inap dengan Kegawatan f. Prosedur dan Standar Pelayanan Radiologi c. mendengarkan dan menghormati pandangan-pandangan pasien. dan dapat ditambahkan bahwa Saran untuk Dokter penyelenggara utama perawatan dan pengobatan pasien di instalasi rawat inap diantaranya adalah: Bertugas berdasarkan standar General Medical Council seperti: pemberian pelayanan kepada pasien merupakan hal yang utama. diantaranya survey kepuasan. jujur dan dapat dipercaya. Prosedur dan Standar Pelayanan Kamar Operasi d. Merangin tentang struktur organisasi dan tata kerja RSD KOL ABUNDJANI. bekerjasama dengan para sejawat untuk kebaikan pasienpasien yang dirawat. menyadari berbagai keterbatasan yang dimilikinya. survey kebutuhan pelayanan dan survey tingkat utilisasi pelayanan kesehatan rumahsakit. .

Ia dapat berupa kelemahan pada manusia. information desk. 9) Menginvetarisir akar penyebab masalah dari faktor internal yang mempengaruhi kualitas layanan kesehatan dan administrasi RM terutama dalam bidang: faktor pendidikan SDM. faktot beban kerja. faktor manajemen rawat inap dan faktor staf medis fungsional. faktor fasilitas dan peralatan. sarana. Dianjurkan pula langkah-langkah umum sebagai berikut untuk pemecahan masalah mutu dan efisiensi dan efektifitas pelayanan rumah sakit: 1) Memecahkan struktur masalah yang sudah teridentifikasi kedalam komponenkomponennya.4) Menjalin komunikasi yang baik dengan pelanggan guna mensosialisasikan jasa-jasa pelayanan yang mampu diberikan oleh rumahsakit. 3) Menetapkan dan memilih alternatif untuk pemecahan akar masalah. . budaya organisasi. mustahil tata tertib administrasi rumahsakit akan berhasil seperti apa yang telah distandarisasikan oleh pemerintah maka oleh karena itu diperlukan adanya komitment bersama untuk sepakat menyusun pedoman RM dan melaksanakannya dengan pertanggungjawaban profesi. Akar masalah adalah penyebab paling dasar dari masalah etika yang terjadi. faktor Standart Operating Procedure dan atau instruksi kerja. sesuai dengan beberapa kebijakan nasional pembangunan kesehatan di Indonesia diharapkan pemerintah daerah dapat: 1) Menjadi stake holder yang berpihak dan mendukung dalam berbagai aspek manajemen pelayanan kesehatan. Tindakan koreksi yang dapat menimbulkan masalah etika baru adalah jika manusia sebagai penyebab akar masalah yang berulang-ulang dikeluarkan dari rumah sakit. 5) Membumikan paradigma bahwa dari pasien kita mendapatkan jasa pelayanan yang mendukung kesejahteraan dan kepada pasien seharusnya tumbuh keinginan untuk membebaskan masalah kesehatannya. atau faktor-faktor lain. menganalisis komponen-komponen itu sehingga ditemukan akar masalah. terminal komputer yang dapat diakses oleh pelanggan. misalnya dengan membuat brosurbrosur. 6) Menyusun dan memberlakukan sistem pengawasan dan pemantauan pelayanan kesehatan yang diberikan dengan efektif. 5) Melakukan tindakan koreksi jika masalah etika belum terpecahkan atau terulang lagi terjadi. faktor pengendalian dan evaluasi. Seperti diketahui bahwa tata tertib administrasi merupakan salah satu faktor yang menentukan di dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di rumahsakit. kepemimpinan. faktor pelatihan dan tambahan pengetahuan. 7) Melaksanakan saran-saran ini dengan dukungan sumber daya manusia kesehatan dan anggaran kesehatan beserta kebijakan-kebijakan kesehatan. untuk menetapkan arah pemecahannya. faktor masa kerja dan lama Jabatan. alat. faktor administrasi dan alur layanan. sistem. manajemen. 4) Memantau dan mengevaluasi penerapan upaya pemecahan masalah yang sudah dilaksanakan. Perlu adanya dukungan sistem pengelolaan RM yang baik dan benar. Saran untuk Pemerintah Daerah. prosedur. 2) Melakukan analisis lebih dalam tentang akar masalah yang sudah ditemukan (root cause analysis).

jika ragu dan meragukan mintalah penjelasan lebih lanjut tentang kebijakan dan atau saran tersebut. yakni pelayanan yang sesuai dengan standar yang diakui sehingga dapat memenuhi atau bahkan melebihi harapan konsumen. Falsafah yang mendasari program kendali mutu antara lain: Masing-masing disiplin telah mengidentifikasi dan menyetujui falsafah dasar untuk dikembangkan menjadi tujuan masing-masing pelayanan. 2) bertanya dengan petugas kesehatan tidak dengan emosi tentang keadaan penyakit. 3) mengikuti semua kebijakan sarana pelayanan dan saran dari petugas kesehatan dengan jujur dan bertanggungjawab. Masing -masing disiplin menyepakati untuk mengkaji pelayanan yang diberikan oleh anggotanya. 4) selalu menyediakan tabungan kesehatan saat sehat dan mampu melaksanakan aktifitas memenuhi kebutuhan dasar sebagai manusia. Åtolong´. Pekerja pada umumnya merasakan kepuasan kerja dan lebih produktif bila mereka dibantu dengan menciptakan lingkungan kerja yang baik dengan mengurangi hambatan dalam pekerjaannya. Peningkatan mutu pelayanan kesehatan mengandung arti bahwa sarana pelayanan kesehatan dan tenaga profesi kesehatan harus mampu menunjukkan akuntabilitas sosial untuk memberikan pelayanan prima kepada konsumen.2) Berperan sebagai regulator yang melindungi dan menumbuh kembangkan kemampuan profesionalisme tenaga pemberi pelayanan kesehatan. kemungkinan kesembuhan dan tindakan apa saja yang akan dilakukan dan selalulah memulai komunikasi dengan kata Åmaaf´. Semua staf memberikan perhatian untuk mencapai tujuan institusi yang dalam hal ini memberikan efek terhadap pelayanan pada klien. Program kendali mutu perlu dilaksanakan dan dibuat secara teratur dan terus menerus untuk meningkatkan mutu pelayanan. 3) menjadi fasilitator dalam akselerasi peningkatan kemampuan pemberian pelayanan kesehatan sesuai dengan upaya pencapaian tujuan pembangunan kesehatan daerah. dan Åtolonglah saya´ atau Åtolonglah kami´. Praktek perawatan tidak akan mungkin meningkatkan kecuali masalah dapat diidentifikasi dan dipecahkan. Staf mempunyai pengetahuan yang cukup dan memiliki ide-ide yang kreatif untuk memecahkan masalah-masalah dalam pekerjaannya Staf dapat memecahkan masalah jika cukup informasi-informasi yang diperlukan . . diagnosanya. Hal lain adalah Pelaksanaan Program kendali mutu harus berdasarkan falsafah bersama untuk mempertahankan dan meningkatkan pelayanan yang diberikan oleh tim pelayanan dari berbagai disiplin ilmu. diantaranya adalah: 1) sebelum penyakit menjadi lebih parah (persepsi masyarakat) sebaiknya segera memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan yang terdekat. Saran untuk pasien. Untuk itu perlu dikembangkan suatu sistem dan mekanisme yang efektif guna tercapainya pelayanan prima tersebut.

Cara ini terlalu sederhana dan tidak menyelesaikan masalah. Kesehatan adalah hak azazi manusia. Hak untuk mendapatkan advokasi. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif. keluhan yang disampaikan kebanyakan hanya lewat surat pembaca di media massa. tindak kriminal di kereta api.Dengan melakukan pendekatan konkuren maupun retrospektif terhadap lingkup s truktur. layanan barang/jasa yang buruk. Memang pada kenyataannya konsumen kerap berada dalam posisi yang tidak berimbang dibanding dengan posisi produsen. pelayanan rumahsakit dan bahkan pelayanan pajak dan lain sebagainya. jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa. Maka manusia sebagai konsumen rumahsakit berhak sesuai dengan Pasal 5 Undang-undang Perlindungan Konsumen. banyak sekali keluhan dari konsumen yang merasa dirugikan. Ironisnya. Maka untuk mengurangi kesewang -wenangan para produsen barang dan jasa. seperti: Hak atas kenyamanan. . Hak atas informasi yang benar. sebagai konsumen kita perlu mengetahui faktor-faktor yang melemahkan konsumen. Hak untuk mendapatkan kompensasi. Misalnya soal layanan listrik PLN. Semua itu adalah persoalan yang kerap kali muncul di Indonesia. walaupun demikian baiknya program kendali mutu ini dilakukan secara terpadu tetapi tetap ada kendala kendala yang perlu diperhatikan. Dari UU Perlindungan Konsumen rumahsakit adalah: salah satu institusi pemberi pelayanan dibidang kesehatan. PDAM. proses dan hasil maka semua aspek-aspekantara lain: Tenaga keperawatan. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya. keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen. maka tujuan akhir dari program pengendalian mutu yaitu meningkatnya mutu pelayanan keperawatan berdasarkan standar akan dapat dicapai dengan baik. delay pesawat. antara lain: Masih rendahnya tingkat kesadaran konsumen akan hak-haknya. Posisi konsumen yang selalu lemah (lemah informasi dan lemah kondisi sehingga tak berani menyangga seperti kasus Prita). apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan. Dengan melibatkan semua staf keperawatan untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan program pengendalian mutu ini. asuhan keperawatan dan kepuasan klien harus dinilai dengan menggunakan standar -standar yang tepat. Belum terkondisikannya ´masyarakat konsumenµ karena memang sebagian masyarakat ada yang belum mengetahui tentang apa saja hak-haknya dan ke mana hak-haknya dapoat disalurkan jika mendapat kesulitan atau kekurangan dari standar barang atau jasa yang sewajarnya. ganti rugi/penggantian. Proses peradilan yang ruwet dan memakan waktu yang berkepanjangan. apa kata dokter/perawat mereka iyakan. Masyarakat belum memiliki kemauan untuk menuntut hak-haknya. Cara lain yang lebih kreatif adalah langsung mengadu ke pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) atau lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat. hubungan yang jelas adalah pelayanan jasa kesehatan. mutu barang yang tidak bagus. perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut. Maka inilah realitas ketertindasan konsumen dalam menghadapi pilihan-pilihan barang/ jasa harus mereka konsumsi. Bila menyimak surat pembaca di media cetak.

konon hasil pemikiran grusa -grusu karena ada ´jajanµ berupa pinjaman IMF (maksudnya hutang yang harus dibayar). panduan. trial and error aneka macam program dari depkes. demikian pula pelatihan. . mengapa hingga kini institusi pelayanan kesehatan/rumahsakit ibarat tempat uji coba. monitor dan evaluasinya. dari ratus rsd dan puluh rsp serta ratus rss. lebih dari itu ada ukuran non teknis yakni keinginan dan harapan warga. Hal in i menuntut para manajer untuk lebih memperhatikan secara saksama dinamika lingkungan yang ada yang kemungkinan besar akan merubah system manajemen yang dipergunakan. dan dokter yang berpraktik di rumahsakitpun dalam memberikan pelayanan kesehatannya. Pun demikian pula setelahnya. yang di Depkes tidak lebih pandai dari yang di institusi pelayanan kesehatan /rumahsakit. Yang membedakan hanyalah kekuasaan. efektif dan produktifitas serta memperhatikan pemerataan pelayanan. Menyimak produk Depkes tahun 1988. Itulah kirakira gambaran umum. Sistem manajemen yang berlaku global mempengaruhi pola berfikir manajer rumah sakit. preventif. nama programnya pun dibuat ´grengµ. Dan supaya dapat dana segar nan besar. Hal ini tercermin pada perubahan fungsi klasik rumah sakit yang pada awalnya hanya memberi pelayanan yang bersifat kuratif (penyembuhan) saja terhadap pasien melalui rawat inap dan rawat jalan bergeser ke pelayanan yang lebih komprehensif meliputi promotif. yang mana depkes tidak mau kalah dengan departemen lain untuk ikut mencicipi jajan IMF. Untuk meningkatkan mutu layanan. Pelayanan rumah sakit diera sekarang tidak terlepas dari perkembangan ekonomi masyarakat . tidak cukup dengan kajian monopoli petinggi Depkes. hanya 14% yang sudah terakreditasi. Jaminan mutu produk tahun 1996 yang lalupun. jiwanya masih nol saya rasa. yang mana dalam Pedoman Kerja Institusi pelayanan kesehatan/rumahsakit sudah sangat jelas dan rinci berisi panduan tatalaksana setiap kegiatan di Institusi pelayanankesehatan/rumahsakit yang mengacu kepada UPK. Siklus demikian mestinya tidak boleh terulang. Akreditasi rumahsakit dicanangkan sejak tahun 2007 dan sampai tahun 2009 ini capaiannya sangat menyedihkan. artinya pengguna jasa pelayanan Institusi pelayanan kesehatan/rumahsakit tak lebih hanyalah obyek semata yang tak punya hak suara. Sayangnya yang ini tidak pernah tersentuh. lebih-lebih kala berbicara kepekaan terhadap keperluan masyarakat terhadap layanan kesehatan. Parameterpun disiapkan. maka program QA adalah sebuah langkah kebimbangan dan ambivalensi. baik terhadap item kegiatan ataupun terhadap program besarnya.Padahal bisa jadi kala sekolah dahulu. Pengaruh perubahan dinamika lingkungan usaha rumah sakit yang terjadi tidak saja di Indonesia tetapi hampir diberbagai penjuru dunia. Bedanya hanya di segi dana yang luar biasa besar dan pelatihan berulang yang justru buang-buang waktu. dengan menekankan pada aspek efisiensi. Gambaran lain adalah tehnologi kedokteran dan obat-obatan yang berkembang pesat disisi lain rumah sakit adalah lembaga pemberi jasa pelayanan kesehatan yang tergantung pada perkembangan tehnologi kedokteran. RSD Kol Abundjani saat ini sedang dalam proses akreditasi yang pelaksanaannya setengah isi dan setengah kosong. termasuk panduan pengobatan. karena prosesnya sendiri tidak terakreditasi. maka bim salabim lahirlah Quality Assurance atau Jaminan Mutu. Artinya mengulang program mapan yang sudah terintegrasi dengan keseharian para petugas Institusi pelayanan kesehatan/rumahsakit dengan mengganti nama QA yang justru lebih sempit tapi tidak lebih mendalam. dijamin dokter di institusi pelayanan kesehatan/rumahsakit lebih peka dibanding dokter di Depkes walau sepanjang apapun gelarnya. kuratif dan rehabilitatif.

Walaupun demikian masih banyak rumah sakit keagamaan masih melihat perubahan yang ada tanpa strategi pengembangan yang jelas (Trisnantoro. Tehnologi yang digunakan saat ini sangat canggih. sementara penggalian dana-dana kemanusiaan sama sekali tidak dikelola secara sistematis. disertai peningkatan kuantitas dan kualitas pelayanan serta mampu berkembang (growth) dan survive. Kita pelajari Dalam perkembangannya rumah sakit swasta yang dikelola oleh yayasan keagamaan seperti rumah sakit Islam sangat kesulitan dalam memenuhi fungsi sosialnya oleh karena kesulitan dalam hal pendanaan. Cost recovery rate (CRR) rumah sakit menjadi hal yang sangat penting. Salah satu tehnologi tinggi adalah obat yang dihasilkan oleh industri farmasi. berdasarkan hitungan-hitungan ekonomi. Hal yang dikhawatirkan adalah pasien dikelas bawah justru mensubsidi pasien kelas atas. rumah sakit juga merupakan pusat latihan tenaga kesehatan. baik kuratif maupun rehabilitatif. 2005). Untuk menjalankan fungsi sosialnya ini sebaiknya anggaran untuk pos sosial tersebut tersedia dalam APBD dan diatur dengan kemudahan-kemudahan pengelolaannya tetapi tetap dengan pengawasan yang ketat. Dari definisi diatas bahwa rumah sakit disamping memberikan pelayanan kesehatan secara komprehensif kepada masyarakat juga sebagai pusat pendidikan calon tenaga kesehatan. Menurut Trisnantoro (2005) saat ini sektor kesehatan berbeda jauh dengan keadaan 50 tahun lalu. Rumah sakit dapat meningkatkan pendapatan dengan memperbesar omset penjualan obat. Subsidi yang mengecil atau bahkan tidak ada sama sekali menyebabkan rumah sakit keagamaan kesulitan mencari sumber dana bagi orang miskin yang sakit. Hal inilah menjadikan rumah sakit menjadii lembaga yang bersifat padat modal. Kenyataan menunjukkan bahwa konsep . padat karya dan padat tehnologi Ketiga sifat tersebut menuntut pengelolaan keuangan rumah sakit yang lebih professional. Hal ini dapat membawa suatu resiko yaitu rumah sakit keagamaan akan menjadi lembaga usaha yang praktis untuk mencari keuntungan atau menghidupi SDM. Kebutuhan akan obat ini sering disertai dengan biaya yang besar. sebagi contoh operasi dengan menggunakan peralatan mikro merupakan suatu tindakan yang sama canggihnya dengan tehnologi program ruang angkasa dan militer yang tentu saja memerlukan SDM yang berkompetensi untuk mengelolanya. penentuan tarif lebih rasional. dimana pelayanan keluarga menjangkau pelayanan keluarga dan lingkungan. Penelitian Abeng dan Trisnantoro (1997) disebuah rumah sakit swasta menunjukkan bahwa tarif kamar VIP berada dibawah unit cost. Obat merupakan barang yang sangat dibutuhkan oleh rumah sakit. Hal ini membuat banyak rumah sakit swasta bahkan yang dikelola oleh yayasan keagamaanpun berubah menjadi lembaga for profit sebagai jawaban terhadap perubahan lingkungan yang terjadi diluar rumah sakit aki bat pengaruh globalisasi. Pengertian rumah sakit menurut WHO adalah suatu bagian penyeluruh dari organisasi sosial dan medis berfungsi memberikan pelayanan Kesehatan yang lengkap kepada masyarakat. akibat hilangnya subsidi dan semakin mahalnya alat dan tenaga kesehatan yang pada akhirnya menuntut pendapatan yang tinggi.Tehnologi kedokteran mempengaruhi biaya pelayanan rumah sakit. Penerapan subsidi silang dari kelas atas (VIP) ke kelas bawah (III) tidak rasional. Besarnya omset untuk obat-obatan mencapai 5060% dari seluruh anggaran rumah sakit. Dan yang lebih penting lagi adalah bahwa rumah sakit juga harus menjalankan fungsi sosialnya. serta untuk penelitian biososial.

blogspot. Dengan demikian rumah sakit bukanlah lembaga yang hanya menggunakan prinsip kedokteran dan kesehatan. Akibatnya banyak rumah sakit swasta keagamaan yang mempunyai fasilitas fisik dan peralatan yang memadai tetapi kesulitan dalam mencari dana operasional.com/2007/10/wajah -perumahsakitan-saat-ini. Berdasarkan kenyataan diatas maka rumah sakit mulai berubah menjadi lembaga usaha yang membutuhkan berbagai konsep ekonomi dalam manajemen yang mungkin asing bagi para dokter atau pemilik rumah sakit. Implementasinya adalah penerapan ekonomi dalam pelayanan kesehatan harus dilakukan diantaranya dengan melakukan analisis biaya di rumah sakit. Sumber: http://rusliakatili. Rumah sakit tidak lagi harus dipandang sebagai suatu lembaga yang harus bersandar pada norma-norma dan etika profesi dokter. tetapi lebih mengarah pada suatu lembaga yang harus hidup dan bermutu. Rumah sakit merupakan lembaga multiprofesional yang menghasilkan berbagai produk pelayanan kesehatan yang bermutu dengan tetap memperhatikan aspek sosialnya.html Catatan Kuliah Manajemen Rumah Sakit Tesis Evaluasi Mutu Pelayanan Kesehatan Rawat Inap melalui Audit Kematian BMJ Journal Wikipedia Indonesia Pedoman Pelayanan Kesehatan Depkes RI Penulis adalah magister manajemen rumahsakit UGM dan seorang calon widyaiswara dari kabupaten Merangin. sedang mempersiapkan diri untuk Stratifikasi Khusus Widyaiswara secara mandiri. berkembang dan mempunyai dasar etika berbagai profesi dan mempunyai etika bisnis. disamping itu belum ada standar sumber pendanaan termasuk pembagian sumber pendapatan (keuntungan) apakah untuk pemilik atau untuk pengembangan.subsidi silang sebenarnya tidak ada ataupun jika ada subsidi silang akan menggerogoti aset dan kemampuan investasi rumah sakit. Hal yang penting adalah masalah biaya operasional dan pemeliharaan yang tidak semudah biaya investasi untuk memperolehnya. sehingga menaikan tarif akan menjadi pilihan. Saat ini juga sedang belajar menulis .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful