REKAYASA PROSES PENYULINGAN MINYAK AKAR WANGI DENGAN PENINGKATAN TEKANAN DAN LAJU ALIR UAP BERTAHAP

TUTI TUTUARIMA

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul Rekayasa Proses Penyulingan Minyak Akar Wangi Dengan Peningkatan Tekanan dan Laju Alir Uap Bertahap adalah karya saya sendiri atas arahan komisi pembimbing dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Agustus 2009

Tuti Tutuarima NRP F351060031

ABSTRACT
TUTI TUTUARIMA. Process Design of Vetiver Oil Distillation by Increase of Pressure and Steam Flow Rate. Under direction of MEIKA S. RUSLI, ERLIZA NOOR and EDY MULYONO. Indonesia is one of world wide vetiver oil major producers. The main problem of Indonesian vetiver oil especially the oil from Garut is low yield (about 0.6-0.8%) and poor quality (dark color & scorched odor). This study was aimed to improve distillation process performance of vetiver oil to obtain better oil recovery and quality. Steam distillation and stainless steel kettle (5 kg capacity of vetiver) with pressure reducing valve (PRV) were used in this study. Raw material used in the study was vetiver root (Vetiveria zizanioides Stapt) in the type of Pulus Wangi collected from vetiver plantation in Garut, West Java. Treatments applied in this study were distillation by gradual increased steam pressure (2, 2.5, and 3 bar) with constant water steam flow rate (1, 1.5, and 2 l/h kg) for each of the steam pressure for 9 hours period. Other two additional treatments were also applied in the study, namely (1) distillation by gradual increased steam pressure without regulated steam flow rate, and (2) distillation by gradual increased steam pressure with gradual steam flow rate. Quality of the vetiver oil was analyzed according to the method of SNI 06-2386-2006 and compared with ISO 4716:2002. Compositions of the vetiver oil were identified through the GC MS analysis. The use of gradual increased steam pressure (2, 2.5, 3 bar) resulted in 92.58% of recovery performance, which was slightly higher than 90.37% of the constant pressure of 3 bars. Steam flow rate affected the recovery performance of distillation process, significantly. The increased steam flow rate during distillation process was able to improve the recovery performance of distillation. However, in general, the highest constant steam flow rate of 2 l/h kg showed better recovery performance. The use of gradual increased pressure up to 3 bars and steam flow rate of 2 l/h kg material revealed high performance recovery with appropriate quality as the SNI and ISO standards. The use of gradual increased pressure up to 3 bars could produce vetiver oil fraction with appropriate component composition of boiling point. Components of vetiver oil, khusimene and khusimone, were extracted at the pressure of 2 and 2.5 bars; whereas αvetivone, β-vetivon, and khusenic acid were extracted at the three type of pressures with the greater increased of percentage at 3 bars. The kinetics for vetiver oil distillation could be predicted by the equations of the solvent extraction kinetics model. The obtained equation of kinetics parameters was k = 0840 V0.530. Keywords : vetiver oil, steam distillation, oil recovery

ii

Recovery minyak hasil penyulingan tekanan bertahap tanpa pengaturan laju alir uap adalah 92. 2.58%. dan penggunaan laju alir uap yang lebih tinggi menaikkan recovery minyak hingga 92. Penyulingan dengan peningkatan tekanan bertahap 2. kelarutan dalam alkohol. Penelitian ini terdiri dari 2 tahap. 1. dan 3 bar. Permasalahan utama yang dihadapi minyak akar wangi Indonesia khususnya di Garut adalah rendahnya rendemen (berkisar antara 0. Hasil penelitian pendahuluan memperlihatkan bahwa penggunaan tekanan yang lebih tinggi memberikan recovery yang lebih besar pada waktu yang sama. dan total kandungan vetiverol. Hasil yang didapat pada penelitian pendahuluan digunakan untuk menentukan disain proses penyulingan dengan pendekatan peningkatan tekanan secara bertahap. 2. Dibimbing oleh MEIKA S.58%. dan 2 l/j kg bahan. Peningkatan tekanan yang digunakan adalah 2. indeks bias. Analisa mutu meliputi warna. Penelitian utama memberikan hasil bahwa peningkatan tekanan dan laju alir uap mempengaruhi total recovery minyak yang dihasilkan dan waktu penyulingan. bilangan asam. Laju alir uap yang digunakan adalah 1. aroma. bobot jenis. Penelitian utama bertujuan untuk melihat pengaruh disain proses penyulingan tekanan bertahap pada laju alir uap yang berbeda terhadap recovery dan mutu minyak akar wangi. bilangan ester setelah asetilasi. 3 bar.5. RUSLI. Penyulingan dengan peningkatan tekanan bertahap menghasilkan minyak dengan mutu yang baik ditinjau dari beberapa parameter mutu SNI dan ISO. Kondisi proses ini juga dapat mempersingkat waktu penyulingan menjadi 9 jam sehingga dapat meningkatkan efisiensi produksi.37%. Penggunaan tekanan bertingkat untuk penelitian utama ditentukan berdasarkan nilai kemiringan grafik recovery minyak hasil penelitian pendahuluan. 2. ERLIZA NOOR dan EDY MULYONO. Rekayasa Proses Penyulingan Minyak Akar Wangi Dengan Peningkatan Tekanan dan Laju Alir Uap Bertahap. Selain itu juga dilakukan 2 perlakuan tambahan yaitu penyulingan dengan peningkatan tekanan bertahap tanpa pengaturan laju alir uap dan penyulingan dengan peningkatan tekanan dan laju alir uap bertahap seiring peningkatan waktu. Analisa mutu minyak akar wangi berdasarkan SNI 06-2386-2006 dan dibandingkan dengan ISO 4716:2002. sedangkan recovery minyak hasil penyulingan tekanan bertahap dengan laju alir uap konstan 2 l/j kg bahan adalah 90. dan 9 operasi.8%) dan kualitas minyak (warna gelap dan bau gosong). bilangan ester. Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki proses penyulingan minyak akar wangi sehingga dapat menghasilkan recovery dan kualitas tinggi melalui rekayasa disain proses penyulingan dengan peningkatan tekanan dan laju uap secara bertahap. dan 3 bar masing-masing setelah jam ke 2. Sebagian besar komponen minyak akar iii . Minyak akar wangi bagi Indonesia merupakan salah satu komoditas yang memberikan peranan penting untuk pendapatan devisa negara dari hasil ekspor minyak atsiri secara keseluruhan. Penelitian pendahuluan bertujuan untuk melihat pengaruh penggunaan tekanan konstan terhadap recovery minyak akar wangi. Komponen penyusun minyak akar wangi dideteksi melalui analisa GC MS. yaitu penelitian pendahuluan dan penelitian utama.5.RINGKASAN TUTI TUTUARIMA.6–0. 5. Tekanan yang digunakan adalah 1.5.

wangi terdistribusi sempurna sesuai dengan derajat penguapannya sebagai akibat dari penyulingan dengan peningkatan tekanan bertahap. penyulingan uap. Kata Kunci : minyak akar wangi. Penelitian lanjutan mengenai laju alir uap yang lebih dari 2 liter/jam/kg bahan serta pengaruhnya terhadap jumlah minyak yang dapat direcovery perlu dilakukan. recovery minyak iv . Ini bertujuan untuk mengetahui batas penggunaan laju alir uap maksimum yang dapat meningkatkan recovery.

penulisan karya ilmiah. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber a. penyusunan laporan. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan. tahun 2009 Hak cipta dilindungi undang-undang 1. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar Institut Pertanian Bogor 2. penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah b.©Hak Cipta milik Institut Pertanian Bogor. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin Institut Pertanian Bogor v . penelitian.

REKAYASA PROSES PENYULINGAN MINYAK AKAR WANGI DENGAN PENINGKATAN TEKANAN DAN LAJU UAP BERTAHAP TUTI TUTUARIMA Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Teknologi Industri Pertanian SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 vi .

MT.Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis : Prayoga Suryadarma. STP. vii .

M.Sc. Anggota Diketahui Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana Prof. Ketua Dr.S.S. Dr. Ir. M. Dr. M. Edy Mulyono. Ir. Irawadi Djamaran Prof. Erliza Noor Anggota Ir. Ir. Meika Syahbana Rusli. Notodiputro. Tanggal Ujian : 18 Agustus 2009 Tanggal Lulus : viii .Judul Tesis : Nama NRP : : Rekayasa Proses Penyulingan Minyak Akar Wangi Dengan Peningkatan Tekanan dan Laju Alir Uap Bertahap Tuti Tutuarima F351060031 Disetujui Komisi Pembimbing. Khairil A. Ir. Dr.

dan kasih sayang sehingga penulis dapat menyelesaikan studi ini. atas rahmat dan karunia Nya yang senantiasa dilimpahkan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul Rekayasa Proses Penyulingan Minyak Akar Wangi Dengan Peningkatan Tekanan dan Laju Alir Uap Bertahap sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Teknologi Industri Pertanian Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Edy Mulyono. arahan dan masukan selama pelaksanaan penelitian hingga penyusunan tesis ini. bimbingan. dan lain-lainnya dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat penuliskan satu per satu. Bu Eni serta staf dan teknisi laboratorium di lingkungan Departemen Teknologi Industri Pertanian yang telah membantu selama penelitian. Mba Rina. baik berupa petunjuk-petunjuk. Bu Cut. kakak-kakak terutama Dodang. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Kepala Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) dan staf. Ir. Patma. Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr. keponakan. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan tesis ini masih jauh dari kesempurnaan. Amin.PRAKATA Alhamdulillahirobbil’alamin. Ria. STP. M. Meika Syahbana Rusli. Bu Ros. selaku ketua komisi pembimbing. Dengan hati yang ikhlas penulis mengharapkan agar kiranya kekurangan dan kesalahan dalam tulisan ini dapat menjadi inspirasi untuk perbaikan di masa yang akan datang. para shohabat dan orang-orang yang istiqomah menapaki jalan Nya hingga yaumil akhir nanti. penulis banyak mendapatkan bantuan dan masukan. Ayuk Sherly.Sc. Bogor. selaku anggota komisi pembimbing. Selama penyusunan tesis ini. Terima kasih pula buat saudaraku Rahmat. Mba Tiwi. teman-teman di PCH Uni Fit. serta rekan-rekan TIP angkatan 2006 yang selalu memberikan dukungan. Sholawat dan salam penulis sampaikan kepada qudwah ummah sepanjang masa. Penulis berharap semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Ayuk Desi. selaku penguji yang telah memberikan bimbingan. Pak Makmun. doa. Terimakasih juga kepada Departemen Pertanian melalui Program Kerjasama Kemitraan Penelitian Pertanian dengan Perguruan Tinggi (KKP3T) yang telah mendanai penelitian ini. Kak Sahara. MS. Siti. Mba Tini. Semoga Allah SWT menerima apa yang telah penulis lakukan sebagai wujud syukur kepada-Nya dan Allah mengampuni semua kesalahan kita. Erliza Noor dan Bapak Ir. serta Bapak Prayoga Suryadarma. Puji syukur penulis haturkan ke hadirat Allah SWT. Agustus 2009 Tuti Tutuarima ix . Ibu Dr. Ucapan terima kasih yang tulus penulis haturkan kepada Mak dan Bak. MT. Ir. dan seluruh keluarga besar yang telah memberikan dukungan. beserta keluarga. Rasulullah Muhammad SAW. teman-teman ngaji Teh Erni. terutama Pak Dedi.

M. lulus tahun 2005. Tahun 2001 penulis lulus dari SMU Negeri 2 Bengkulu dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk Universitas Bengkulu melalui jalur Penelusuran Potensi Akademik (PPA) pada Program Studi Teknologi Industri Pertanian. Biaya penelitian penulis peroleh dari Departemen Pertanian melalui Program KKP3T tahun 2007.Sabri dan ibu Hj. x . Penulis merupakan putri bungsu dari tujuh bersaudara.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Bengkulu pada tanggal 11 April 1983 dari ayah H. Pada tahun 2006 penulis melanjutkan pendidikan Program Magister di Institut Pertanian Bogor pada program studi yang sama atas tawaran Kakak tercinta Mahyudin Shobri. Ruhana.

........ 37 4..........3 Tujuan Penelitian.................................3 Disain Proses Penyulingan Minyak Akar Wangi...............................2 Bahan dan Alat ...................................................................... 22 3...............................DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL......... 4 1............................................................................................................... 34 4.......4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Minyak Akar Wangi 17 2...................... METODE PENELITIAN 3.........................................................................................................9 Model Kinetika Penyulingan Minyak Akar Wangi..............6 Penyulingan dengan Peningkatan Tekanan dan Laju Alir Uap Bertahap...................................................................................... PENDAHULUAN 1...................... 53 xi ........ 29 4...........1 Kesimpulan.....5 Ruang Lingkup Penelitian... KESIMPULAN DAN SARAN 5..........4 Penyulingan dengan Peningkatan Tekanan Bertahap Tanpa Pengaturan Laju Alir Uap ..............3 Penyulingan Minyak Akar Wangi............... 4 1................................................. 53 5.................................. 38 4............................................................. 22 3...............................5 Penyulingan dengan Peningkatan Tekanan Bertahap dan Laju Alir Uap Konstan ...................... 12 2......................2 Penyulingan Minyak Akar Wangi dengan Tekanan Konstan ................. TINJAUAN PUSTAKA 2........................................................................................................................... 24 3.......................................... xiii DAFTAR GAMBAR ....... 44 4.......................................................... 6 2......................................................................... 4 1.5 Model Kinetika Penyulingan Minyak Atsiri ...................1 Minyak Akar Wangi.........................1 Latar Belakang ...4 Pemodelan Kinetika ........................................4 Manfaat Penelitian......................... 13 2. xv I........................................1 Karakterisasi Akar Wangi ................................................................................................................................... 32 4.................2 Standar Mutu Minyak Akar Wangi..........7 Mutu Minyak Akar Wangi Hasil Penyulingan Tekanan Bertahap ............... 28 IV....8 Distribusi Komponen Minyak Akar Wangi .......2 Perumusan Masalah...... xiv DAFTAR LAMPIRAN............................................ 21 III. 48 V.............................................1 Waktu dan Tempat .3 Tahapan Penelitian ...................................... HASIL DAN PEMBAHASAN 4..................... 1 1............................ 4 II............................. 29 4................................................................... 36 4........................2 Saran................

........DAFTAR PUSTAKA ................... 60 xii .................................................................................................................................................................. 55 LAMPIRAN...

............. 10 Tabel 4 Beberapa penelitian minyak akar wangi .......................... 33 Tabel 10 Perbandingan mutu minyak hasil penelitian dan penyulingan rakyat ...... 9 Tabel 3 Analisa GC-MS komponen minyak akar wangi .............. 13 Tabel 7 Standar mutu minyak akar wangi menurut ISO 7416 : 2002 .................... 12 Tabel 6 Standar mutu minyak akar wangi menurut SNI 06-2386-2006 .................................................... 44 Tabel 11 Distribusi luas area GC-MS minyak akar wangi ..................... 50 xiii ..... 11 Tabel 5 Sifat fisik dan kimia minyak akar wangi beberapa negara produsen........................................................................................................ 1 Tabel 2 Komposisi kimia minyak akar wangi ......................................................... 29 Tabel 9 Recoveri minyak pada penyulingan tekanan konstan...............................................................................DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1 Perkembangan ekspor impor akar wangi......................... 49 Tabel 13 Model matematis untuk parameter kinetika penyulingan. 45 Tabel 12 Nilai koefisien distilasi ................... 13 Tabel 8 Hasil karakterisasi akar wangi .

........... 51 xiv ............................................................................................................................. 16 Gambar 5 Mekanisme proses penyulingan minyak atsiri dengan uap.................................................................. 15 Gambar 4 Skema proses osmosis.................... 30 Gambar 9 Laju alir uap terhadap waktu pada penyulingan tekanan konstan............................................................................. 47 Gambar 19 Kinetika penyulingan minyak akar wangi ............ 33 Gambar 11 Recoveri minyak pada penyulingan tekanan bertahap tanpa pengaturan laju alir uap dan tekanan bertahap laju alir uap konstan ...................DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1 Kantung minyak akar wangi ...................................... 46 Gambar 18 Hasil Gas Chromathography minyak akar wangi perlakuan hasil penyulingan dengan peningkatan tekanan dan laju alir uap bertahap................................................... 40 Gambar 16 Mutu minyak akar wangi pada penyulingan tekanan bertahap............................. 14 Gambar 3 Skema proses difusi ........................... 42 Gambar 17 Hasil Gas Chromathography minyak akar wangi perlakuan hasil penyulingan dengan penyulingan tekanan bertahap dan laju alir uap 2 l/j/kg ................................................ 7 Gambar 2 Mekanisme proses penyulingan minyak atsiri dengan air ........................... 25 Gambar 8 Akumulasi recoveri minyak terhadap waktu penyulingan.................................. 50 Gambar 21 Perbandingan konsentrasi minyak hasil percobaan dan hasil prediksi model pada laju bertahap................ 35 Gambar 13 Recoveri minyak pada penyulingan tekanan bertahap dengan laju alir uap konstan selama 9 jam .............................. 34 Gambar 12 Laju alir uap terhadap waktu pada penyulingan tekanan bertahap tanpa pengaturan laju ..... 31 Gambar 10 Recoveri minyak terhadap waktu penyulingan ...... 49 Gambar 20 Plot nilai koefisien distilasi terhadap laju alir uap ............................................................................. 38 Gambar 15 Tampilan warna minyak akar wangi ................................................. 23 Gambar 7 Diagram alir tahapan penelitian .................................................................................................................................................................. 36 Gambar 14 Recoveri minyak pada tekanan dan laju alir uap bertahap................................................................. 17 Gambar 6 Skema sistem penyulingan uap langsung...........................

............................................ 78 Lampiran 10 Laju alir uap pada tekanan bertahap dan laju alir uap konstan....................................................... 80 Lampiran 14 Hasil Kromatografi Gas Spektrometri Massa Minyak Akar Wangi pada Penyulingan Menggunakan Tekanan Bertahap dan Laju Alir Uap 2 l/j/kg bahan .................................................... 76 Lampiran 5 Recoveri minyak pada penyulingan tekanan bertahap tanpa pengaturan laju alir uap .... 80 Lampiran 13 Mutu minyak pada penyulingan tekanan dan laju alir uap bertahap .........................................DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1 Daftar istilah dan simbol .............................................................................................................................................................................. 77 Lampiran 8 Laju alir uap pada tekanan konstan .......................... 79 Lampiran 11 Laju alir uap pada tekanan dan laju alir uap bertahap................. 66 Lampiran 4 Recoveri minyak pada penyulingan tekanan konstan ................................................................... 77 Lampiran 7 Recoveri minyak pada penyulingan dengan tekanan dan laju alir uap bertahap . 79 Lampiran 12 Mutu minyak pada penyulingan tekanan bertahap dan laju alir uap konstan......................... 78 Lampiran 9 Laju alir uap pada tekanan bertahap tanpa pengaturan laju alir uap ....................................................................... 62 Lampiran 3 Prosedur analisa sifat fisika kimia minyak akar wangi ................................. 61 Lampiran 2 Prosedur analisa kadar air dan kadar minyak .............................................................. 76 Lampiran 6 Recoveri minyak pada penyulingan dengan tekanan bertahap dan laju alir uap konstan .................................................................................................. 81 Lampiran 15 Hasil Kromatografi Gas Spektrometri Massa Minyak Akar Wangi pada Penyulingan Menggunakan Tekanan dan Laju Alir Uap Bertahap................ 85 xv ..................................................................

Tabel 1.680 51.544.231 532 Nilai (US $) 43.759.1. Sentra budidaya tanaman dan produksi minyak akar wangi di Indonesia berada di Kabupaten Garut.618 Impor Volume (kg) 2.465 2. Swiss. Latar Belakang Minyak akar wangi bagi Indonesia merupakan salah satu komoditas yang memberikan peranan penting untuk pendapatan devisa negara dari hasil ekspor minyak atsiri secara keseluruhan.444 74.682 2.744 1. Pasar luar negeri yang menyerap produk minyak akar wangi antara lain negara Jepang. Amerika Serikat. Hongkong. Belgia. Perkembangan ekspor impor akar wangi Tahun 2001 2001 2003 2004 2005 Ekspor Volume (kg) 1.210 Nilai (US $) 1. sehingga seringkali minyak yang dihasilkan tidak memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan eksportir maupun konsumen. Mutu minyak akar wangi Indonesia merosot tajam sejak akhir tahun 90an sebagai akibat .572 2. Jawa Barat.I.312 18. Perancis. dan Italia (BPS 2005).583.241 1.821 58.890 Sumber : BPS 2001-2005 Volume ekspor minyak akar wangi Indonesia berfluktuasi dari tahun ke tahun. Jerman. Singapura. Inggris.445.428. China.714 45.798 79. PENDAHULUAN 1. Pada perdagangan internasional.312 2. Indonesia merupakan penghasil utama minyak akar wangi terbesar ketiga setelah Haiti dan Bourbon. Produksi minyak akar wangi sebagian besar dilakukan oleh industri kecil dengan menggunakan teknologi yang sederhana/konvensional. India. Perkembangan ekspor dan impor minyak akar wangi sejak tahun 2001– 2005 disajikan pada Tabel 1.728 46. Fluktuasi volume ekspor ini terutama disebabkan oleh mutu minyak akar wangi yang tidak sesuai dengan permintaan pasar (tidak seragam dan mutu rendah) (Kardinan 2005).451 1.973.308 22.

Penyulingan merupakan metode yang umum digunakan untuk mendapatkan minyak dari bahan yang berbentuk buah. Penyulingan dengan menggunakan tekanan dan suhu rendah mempunyai keuntungan yaitu minyak yang dihasilkan tidak mengalami kerusakan akibat panas. Menurut Guenther (1990) metode penyulingan dapat dilakukan dengan air (water distillation). Penggunaan tekanan yang lebih rendah membutuhkan waktu penyulingan yang lebih lama. Penyulingan ini menghasilkan minyak dengan mutu yang kurang baik. dan uap (steam distillation). berat molekul komponen-komponen dalam minyak. Penelitian lain menggunakan tekanan 2. daun. dan laju penyulingan. sehingga dalam perdagangannya mendapatkan harga yang rendah (Suryatmi et al. tetapi pada tekanan lebih rendah diperlukan waktu . dan ekstraksi dengan lemak padat (Ketaren 1985. Metode penyulingan yang digunakan produsen minyak akar wangi Garut adalah penyulingan uap (steam) dengan tekanan tinggi berkisar 4–5 bar (Suryatmi 2006). Pada tekanan tinggi (4–5 bar) hanya dibutuhkan waktu 12 jam. 2006).5–3 bar menghasilkan minyak akar wangi yang berbau lebih halus dan berwarna lebih jernih (Feryanto 2007). seperti bau gosong dan warna gelap. ekstraksi pelarut. air dan uap atau kukus (water and steam distillation). Hasil kajian Suryatmi (2006) memperlihatkan bahwa penyulingan minyak akar wangi menggunakan variasi tekanan konstan hingga 3 bar menghasilkan minyak akar wangi yang lebih baik dibanding hasil minyak akar wangi pada umumnya karena tidak berbau gosong.2 terjadinya burning pada proses penyulingan yang menyebabkan adanya aroma gosong. Pada tekanan uap 4 bar suhu mencapai 150oC. Guenther (1990) berpendapat agar diperoleh minyak yang bermutu tinggi maka penyulingan hendaknya berlangsung pada tekanan rendah. Heat dan Reineiccus 1987. dan akar. sehingga terbentuk uap kering (superheated steam) yang dapat menghanguskan bahanbahan organik yang rentan terhadap panas. Produksi minyak atsiri dilakukan melalui beberapa metode diantaranya distilasi (penyulingan). Metode dan kondisi operasi proses penyulingan merupakan tahapan penting untuk menghasilkan minyak atsiri dengan jumlah dan mutu yang tinggi. pengepresan. biji. Wright 1991). Menurut Ketaren (1985) jumlah minyak yang menguap ditentukan oleh tekanan uap.

. untuk itu laju uap perlu ditingkatkan secara bertahap agar diperoleh rendemen minyak akar wangi yang lebih tinggi. Selain tekanan.30% untuk biji pala dan 16. tetapi juga berdampak pada pendapatan yang dialami sejumlah besar petani dan penyuling akar wangi.42%. Milojevic (2008) menyimpulkan bahwa penggunaan laju penyulingan yang besar dapat menghasilkan jumlah minyak yang lebih banyak.13. dan 1. Hal ini dapat meningkatkan rendemen lebih tinggi (15. Laju yang tidak sesuai mengakibatkan proses penyulingan tidak berlangsung sempurna. Untuk menguapkan komponen-komponen minyak akar wangi yang bertitik didih lebih tinggi diperlukan kalor yang besar. Pada penggunaan laju penyulingan 0. dan 11. 1. Kondisi yang dihadapi industri minyak akar wangi di Garut tidak hanya berdampak pada penurunan perolehan devisa negara. Penyelesaian permasalahan dalam proses penyulingan (distilasi) minyak akar wangi dapat dilakukan melalui inovasi teknologi dengan menggunakan prinsipprinsip proses distilasi.41% untuk fuli pala).3 selama 16–18 jam.6.30%. Sebagai alternatif dari proses penyulingan dengan tekanan yang tinggi secara konstan.5 bar sampai akhir penyulingan. Permasalahan ini perlu diatasi dengan upaya-upaya nyata secara tepat. Sebagai upaya untuk menghasilkan minyak akar wangi bermutu dan tingkat rendemen yang tinggi maka pada penelitian ini akan dilakukan modifikasi proses penyulingan metode uap langsung menggunakan variasi peningkatan tekanan dan laju uap.40%. 1.7 ml/menit dihasilkan minyak 0.73% untuk fuli pala) dibandingkan dengan penyulingan pada penggunaan tekanan konstan 0 bar selama 10 jam (14. Sakiah (2006) melakukan penyulingan minyak pala selama 10 jam dengan tekanan awal 0 bar selama 4 jam kemudian ditingkatkan menjadi 0.5 bar selama 4 jam berikutnya dan ditingkatkan lagi menjadi 1. Berdasarkan Hukum Hidrodestilasi.65%. 10. pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan mutu dan perolehan minyak akar wangi. laju penyulingan berperan penting dalam menghasilkan minyak yang baik. 3.20% untuk biji pala dan 15. percepatan proses penyulingan dapat dilakukan dengan meningkatkan tekanan uap air (steam) secara bertahap (Sakiah 2006). Hal ini berdampak pada besarnya biaya bahan bakar (minyak tanah) yang dikeluarkan (rata-rata 22 liter minyak tanah/jam) (Feryanto 2007).

Perumusan Masalah Penyulingan akar wangi menggunakan tekanan tinggi menghasilkan minyak bermutu rendah yang ditandai dengan warna gelap dan bau gosong. b. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan produksi minyak akar wangi yang memenuhi standar mutu nasional (SNI 06-2386-2006) dan internasional (ISO 4716:2002) sehingga berdampak pada peningkatan pendapatan petani dan penyuling. Bagaimana sebaran komponen senyawa penyusun minyak akar wangi hasil penyulingan tersebut? 1.2. 1. Permasalahan yang menjadi dasar penelitian ini adalah : a. 1.3. Mendapatkan kondisi operasi proses penyulingan untuk memperoleh recovery yang tinggi dan mutu yang sesuai dengan SNI dan ISO. serta memberikan manfaat terhadap pengembangan teknologi produksi minyak atsiri.5. Mutu minyak akar wangi yang baik. Mengidentifikasi senyawa penyusun minyak akar wangi dari berbagai tahapan penyulingan. Ruang Lingkup Ruang lingkup pada penelitian ini adalah : a. diharapkan mampu meningkatkan harga jual baik untuk pasar dalam dan luar negeri. c.4 1. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk : a.4. Bagaimana pengaruh kondisi proses tersebut terhadap mutu minyak akar wangi yang dihasilkan? c. Memperkirakan model dan parameter kinetika pada penyulingan minyak akar wangi. Bahan baku yang digunakan adalah akar wangi jenis Pulus Wangi . Bagaimana kondisi operasi proses penyulingan untuk menghasilkan recovery minyak yang tinggi? b. Karakterisasi bahan baku akar wangi meliputi kadar air dan kadar minyak.

kelarutan dalam etanol 95%. Alat penyuling terbuat dari bahan stainles steel kapasitas 5 kg akar wangi kering (volume 90 liter). Parameter yang dianalisa adalah bobot jenis. indeks bias. Rosniyati Suwarda. dilengkapi PRV (Pressure Reducing Valve). Identifikasi komponen minyak akar wangi hasil menggunakan GC MS (Gas Chromatohrapy Mass Spectrometry) dan database WILEY275 di Labkesda DKI Jakarta. bilangan ester dan bilangan ester setelah asetilasi. penyulingan dengan tekanan dan laju alir uap meningkat bertahap c. Penyulingan terdiri dari berbagai perlakuan. penyulingan dengan tekanan meningkat bertahap dan laju alir uap konstan 1-2 l/j kg bahan. putaran optik. penyulingan dengan tekanan meningkat bertahap. antara lain penyulingan dengan tekanan konstan 1-3 bar. d. Penelitian ini dilaksanakan bersama-sama dengan kandidat Magister Sains Program Mayor Teknologi Pasca Panen (TPP).5 berumur 12 bulan yang berasal dari Kecamatan Sukahardja Kabupaten Garut. dalam kerangka Proyek Penelitian Departemen Pertanian melalui Program Kerjasama Kemitraan Penelitian Pertanian dengan Perguruan Tinggi (KKP3T) tahun 2007. Ir. Identifikasi ini hanya dilakukan pada minyak hasil penyulingan dengan tekanan meningkat bertahap dan laju alir uap konstan 2 l/j kg bahan serta minyak hasil penyulingan dengan tekanan dan laju alir uap meningkat bertahap. Analisa mutu minyak akar wangi menggunakan metode berdasarkan SNI 06-2386-2006. . b. bilangan asam. Penyulingan minyak akar wangi menggunakan metode uap langsung yang berasal dari boiler berbahan bakar listrik. kondensor tipe spiral.

Ketaren (1985) menyebutkan bahwa akar yang masih muda bersifat lemah. serta memiliki jenis dan putaran optik yang lebih tinggi. berwarna kuning kecoklatan hingga coklat gelap. Minyak akar wangi merupakan cairan kental. Pada tanaman akar wangi menurut Heyne (1987). memiliki aroma sweet. berupa akar yang lebih tebal dan dapat menghasilkan minyak dengan mutu yang lebih baik. berbau seperti daun. serta pembasmi dan pencegah serangga (Kardinan 2005). hanya bagian akar yang mengandung minyak.6 II. berwarna kuning pucat atau abu-abu sampai kemerahan (Ketaren 1985 dan Santoso 1993). sedangkan batang. TINJAUAN PUSTAKA 2. dan bagian lain tidak mengandung minyak. Tanaman akar wangi dapat menghasilkan minyak yang dikenal dengan minyak akar wangi (vetiver oil) melalui proses penyulingan. Minyak akar wangi secara luas digunakan untuk pembuatan parfum. 2004).1. dan woody (Martinez et al. berbau lebih wangi dan lebih tahan lama. 2004). Akar yang lebih tua dan cukup baik pertumbuhannya. halus seperti rambut dan jika dicabut dapat putus dan tertinggal dalam tanah. yaitu sebagai penambah aroma dalam pengalengan asparagus dan sebagai flavor agent dalam minuman (Martinez et al. pewangi sabun dan obat-obatan. Selain itu akar yang muda menghasilkan minyak dengan berat jenis dan putaran optik yang rendah. Akar yang menghasilkan minyak dengan mutu yang baik dipanen pada umur 22 bulan dan rendemen akar yang diperoleh 190 gram per rumpun. Tanaman dari famili Gramineae ini telah lama dikenal di Indonesia dan menjadi salah satu komoditas ekspor nonmigas. Minyak akar wangi dapat juga digunakan sebagai aroma terapi dan pangan. daun. bahan kosmetika. . Rumpun tanaman akar wangi terdiri dari beberapa anak rumpun yang memiliki sejumlah akar-akar halus. earthy. sehingga sering digunakan sebagai campuran parfum untuk mempertahankan aroma. Minyak ini juga berfungsi sebagai pengikat karena mempunyai daya fiksasi (pengikat) yang kuat. Minyak Akar Wangi Akar wangi (Vetiveria zizanoides) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang potensial.

lotions. Minyak yang terletak dibawah lapisan permukaan disebut sebagai subcutaneous oils (Denny 2001). Minyak akar wangi tersimpan dalam kantung-kantung minyak yang berada diantara lapisan cortex dan endodermis (Gambar 1). Menurut Guenther (1990). 2004. sebagai pembasmi dan pencegah serangga (Kardinan 2005). dalam obat herbal sebagai carminative. 2004). Pengeluaran minyak dari dalam bahan dilakukan dengan melewatkan uap panas untuk merusak lapisan luar yang menutupi kantung minyak (epidermis dan cortex). stimulant. Akhila & Rani 2002). suhu tinggi dan pergerakan uap air yang disebabkan oleh kenaikan suhu dalam ketel mempercepat proses difusi. Luthony & Yeyet 1999. deodorant. Luu 2007). dan diaphoretic (Lavania 1988. Martinez et al. Kardinan 2005). Kantong minyak akar wangi (Lavania et al.7 Minyak akar wangi memiliki aroma yang kuat (Luu 2007). sebagai zat fiksatif dan komponen campuran dalam industri kosmetik (Akhila & Rani 2002. sabun. Gambar 1. oleh karena itu minyak ini banyak digunakan sebagai bahan baku untuk berbagai macam produk wewangian pada parfum. Istilah difusi dalam konteks ini adalah penetrasi dari berbagai komponen secara timbal balik sehingga tercapai keseimbangan. 2008) Minyak akar wangi merupakan salah satu minyak atsiri yang mengandung campuran seskuiterpen alkohol dan hidrokarbon yang sangat kompleks . sebagai bahan aromaterapi (Guenther 1990. dalam industri pangan digunakan sebagai flavor agent pada pengalengan asparagus dan berbagai minuman (Martinez et al.

trans-isoeugenol. Subhas et al. (1982) mengidentifikasi komponen fraksi karbonil minyak akar wangi (±13%) antara lain : zizanal. αvetivone. komponen utama penyusun minyak akar wangi terdiri dari sesquiterpen hidrokarbon (γ-cadinene. 2004). Luu (2007) menyebutkan. khusimole. Beberapa hasil identifikasi komponen menunjukkan kandungan senyawa lebih dari 100 komponen (Cazaussus 1988). aromadendrene. . eugenol. spathulenol. khusimone dan (+)-(1S. 1995). αvetivone. p-kresol. vetiverol (khusimol. valensene. Komposisi minyak akar wangi dari beberapa daerah produsen disajikan pada Tabel 2. epiglobulol. dan asam zizanoat. serta turunan karbonilnya). 28 komponen terutama dari golongan sesquiterpen (Martinez et al. dan khusimone merupakan komponen utama sebagai penentu aroma minyak akar wangi. Ketiga komponen ini disebut sebagai sidik jari (finger print) minyak akar wangi (Demole et al. α-vetivone.10R)-1. (1981) mengidentifikasi sebelas komponen yang terkandung dalam fraksi fenolik minyak akar wangi asal India menggunakan metode kromatografi gas–spektrometri massa (KG-SM) dan resonansi magnet inti (RMI). 1997). junipene. β-vetivone. dan jenis minyak atsiri yang sangat kental dengan laju volatilitas yang rendah (Akhila & Rani 2002). Shibamoto et al. Hasil analisis terhadap minyak akar wangi yang berasal dari Brazil. 4-vinilguaikol. β-vetivone. α-cadinol. vetiselinenol. dan turunan alkoholnya). dan vetivone (α-vetivone. Akhila & Rani 2002). β-vetivone. khusimone dan turunan esternya). Haiti. cis-isoeugenol. Sementara komponen minyak akar wangi asal Burundi terdiri dari αmuurolene. khusinol. komposisi minyak berbeda secara kuantitatif tetapi jenis komponen yang dihasilkan hampir sama (Martinez et al. isosedranol. 2004). vanilin. α-amorphine.10-dimetilbisiklo[4. isokhusimol.4. β-vetivone. Bourbon dan Indonesia. Diantara komponen-komponen tersebut. dan β-bisabolol (Dethier et al. 4-vinilfenol. epizizanal. Komponen tersebut antara lain : metoksifenol. o-kresol.8 (Cazaussus 1988. clovene.0]-dec6-en-3-on. mkresol. β-vetivene.

1 3.2 Indonesia (%) 0.4 1.9 3.7 2.0 0.8 2.4 3.2 1.0 0.9 Tabel 2.1 5.7 0. Komposisi kimia minyak akar wangi Komponen Pre-zizaene Khusimene α-amorphene Cis-eudesma—6.8 1.3 2.3 70.1 2.4 3.8 Bourbon (%) 0.5 70.8 12.3 1.0 4.8 64.3 21.7 11.4 1.1 0.8 1.2 Haiti (%) 0.7 24.5 7.6 1.1 43.1 2.1 0.7 4.4 3.1 3.3 17.3 0.8 1.0 1.0 0.1 1.1 5.0 9. .4 1.2 1.0 18.8 1.4 1.4 1.6 Sumber : Martinez et al.8 3.3 0.9 27.9 53.9 6.3 1.3 1.9 0.7 1.0 4.7 1.9 1.7 3.5 9.8 15.3 1.8 1.6 1.4 2.4 3.6 0.9 1.7 2.9 2. Jenis komponen disajikan pada Tabel 3.0 0.7 1.6 2.5 2.7 1.0 15.8 1.9 3.2 0.0 1.3 8.1 1.1 1.4 0.11-diene α-amorphene β-vetispirene γ-cadinene γ-vetivenene β-vetivenene α-calacorene Cis-eudesm-6-en-11-ol Khusimone Ziza-6(13)-en-3-one Khusinol Khusian-2-ol Vetiselinenol Cyclocopacamphan-12-ol 2-epi-ziza-6(13)-3 α-ol Isovalencenal β-vetivone Khusimol Nootkatone α-vetivone Isovalencenol Bicyclovetivenol Zizanoic acid Hydrocarbons Alcohols Carbonyl compounds Carboxylic acids Total identified Brazil (%) 1.7 5.0 0.4 2.2 2. (2004) Kandungan minyak akar wangi Bone dan Garut menunjukkan adanya 21 dan 20 komponen senyawa minyak akar wangi untuk masing-masing daerah.2 0.6 13.5 3.0 16.6 2.9 1.9 8.2 2.4 3.4 3.6 1.5 1.6 2.8 1.0 6.5 11.5 5.8 0.4 4.3 28.4 0.3 1.4 0.

7.62 Sumber : Abraham (2002) Penelitian tentang minyak akar wangi yang telah dilakukan hingga kini mencakup teknik budidaya tanaman. 3.5-Siklononatrien Dehidroaromadendren 1H-Siklopropa[a] Napthallen β.7-Siklodecadien-1-on 2(3H)-Naphtalenon Formula Molekul C15H24 C15H24 C15H24 C15H24 C15H24 C15H22 C15H24 C15H24 C15H22 C15H22 C15H24O C15H24O C15H24 C15H26O C15H22O C15H24O C15H24O C15H24O C15H22O2 C15H22O C15H22O Luas Relatif (%) Bone Garut 0.69 0.62 0.77 1. 1. 5.93 0. 17.28 5.18 6.33 1.02 1.63 0. 4.Kopaen Santalol Aromadendren Ledol Azulenon Cendrenol Spathulenol β.Kopaen-4-α –ol Trisiklo oktan-5-asam karboksil 3.49 1. 15. 13.23 2. Komponen Isokaryophyllen Karyophyllen Napthallen α. hingga komponen penyusunnya.46 3.69 1.78 1.54 3.82 3.10 2.50 5. 11. 10. teknologi proses.93 1.58 1.93 3.75 0. 8.12 1.70 0.10 9.10 Tabel 3.18 1.65 0.27 2.98 5.46 0.74 1. 20.82 2.63 0. 12. 6. Pada Tabel 4 dapat dilihat rangkuman penelitian teknologi proses produksi minyak akar wangi.58 0.Amorphen α. 14.88 1. 21.56 2.65 0. 19. 9. . Analisa GC-MS komponen minyak akar wangi No.63 2. 2.3. 16.05 0.69 1. 18.Karyophyllen Kuparen Kloven 1.

penyulingan. 2. β-vetivone. bisiklovetiverol. Rendemen terbaik pada tekanan 3 atm sebesar 1.91%. khusimol. dan 12 jam • V = 1. Waktu 10 jam dibutuhkan untuk menghasilkan minyak. dan 36 jam • M = 0.35 ml/det • t = 16 jam • P : 1. (2007) Kondisi Operasi • P = 1. 32.4. Identifikasi komponen minyak akar wangi asal Bone dan Garut Hasil Penggunaan tekanan 2 bar selama 20 jam memberikan rendemen 1. Waktu penyimpanan akar wangi yang lama akan menurunkan recoveri minyak. dan vetiver alkohol. 10. lebih dari 10 jam tidak meningkatkan recoveri secara signifikan.3 l/j/kg bahan • t = 12 jam • P = 103124 kPa • V = 15-20 liter/jam Penyulingan uap Pengaruh tekanan dan lama penyulingan terhadap rendemen dan mutu minyak akar wangi. Beberapa penelitian minyak akar wangi Referensi Triharyo et al. (1973) Penyulingan air dan uap (kukus) Pengaruh kepadatan bahan dan lama penyulingan terhadap rendemen dan kualitas minyak akar wangi Rendemen yang dihasilkan masingmasing 0. M : kepadatan bahan. Hasil terbaik penyulingan dengan kecepatan 600 gram uap/jam selama 36 jam menghasilkan rendemen 2. t : waktu penyulingan.96%.47% & kadar vetiverol 63.8 dan 1.32 – 0.92% dengan menggunakan direct use geothermal. Diidentifikasi komponen yang sama dari kedua asal minyak yaitu αvetivone. Kondisi yang terbaik adalah penggunaan tekanan 1. (1998) • P = 0. 20.07 kg/liter selama 20 jam dengan rendemen 2. 28. Penyulingan air dan penyulingan uap Pengaruh penyimpanan dan lama penyulingan terhadap yield Moestafa et al.124% Suryatmi (2006) Penyulingan uap Abraham (2002) Penyulingan uap Rusli dan Anggraeni (1999) Aggarwal et al.11 Tabel 4. 24 dan 28 jam Penyulingan air Pengaruh lama dan kecepatan penyulingan terhadap kadar minyak dan vetiverol akar wangi dengan penyulingan air Hardjono et al.2 kg/cm2 • t = 8.3%. V : kec. .2 kg/cm2 • V : 116 ml/mnt • t : 10 jam Metode Penyulingan uap Parameter proses Pengaruh tekanan dan waktu terhadap rendemen dan mutu minyak akar wangi serta penggunaan energi selama penyulingan. 24. 20. • V = 0.02%. (1991) • V : 500 dan 600 gr uap/jam • t : 12. Hasil terbaik adalah kepadatan 0. 2. Pengaruh tekanan terhadap rendemen dan mutu minyak akar wangi. • V = 17 ml/menit • t = 12.1 dan 0. 20. 16.07 kg/liter • t = 16. Keterangan : P : tekanan. & 24 jam • P = 1. dan 3 atm.2 kg/cm2 selama 10 jam yang menghasilkan rendemen sebesar 2. 0. trisiklovetiverol. dan 3 atm.62% dan 0.

5250 7. Standar Mutu Minyak Akar Wangi Senyawa-senyawa penyusun minyak akar wangi berpengaruh besar terhadap sifat fisik dan kimia yang dimilikinya. jenis tanaman. pada kasus tertentu berubah warna jika diencerkan.7–151. Ciri-ciri fisikokimia yang menjadi parameter mutu minyak akar wangi antara lain warna.99–1. Tabel 5.2 Larut dalam 1– 2 vol. bobot jenis. indeks bias. 0.0444 + 20o 30’ s.d + 31o 44’ 1.5189–1.02 +14o 0’ s.5–17 5–20 119–145 Larut dalam 1-2 vol alkohol 80%. alkohol 90%.0015 +14o 25’ s. bilangan ester setelah asetilasi.5 vol.9 6. dan total kandungan vetiverol dalam senyawa aromatik.d + 46o 0’ 1.5–14.515– 1. . bilangan ester.529 4.014 +22o 0’ s.9 98–119.12 2.9852–1. Kadang juga larut dalam 1 vol.6 103. Minyak akar wangi Indonesia yang akan diperdagangkan harus memenuhi standar mutu dan persyaratan mutu berdasarkan Standar Nasional Indonesia yaitu SNI 06-2386-2006. seperti yang tercantum pada Tabel 6. Reunion 0.d + 37o 0’ 1.2. Sifat ini menentukan mutu dan juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti asal daerah.999–1.5223–1. bilangan asam.5198–1. Kadangkadang berubah warna sampai keruh dengan jumlah alkohol lebih banyak. Perbedaan sifat minyak akar wangi tersebut dapat dilihat pada Tabel 5.d + 24o 10’ 1.5306 8. kadang buram (cloudy) jika pengenceran dilanjutkan. umur panen. sifat fisik dan kimia minyak akar wangi yang berasal dari beberapa negara produsen berbeda satu sama lainnya.4–52. kelarutan dalam alkohol. aroma. Oleh karena itu.3 124–264 Larut dalam 0.5–14.5 Tidak seluruhnya larut.4–40. metode dan peralatan penyulingan yang digunakan. Sifat fisik dan kimia minyak akar wangi beberapa negara produsen Karakteristik Bobot jenis pada 15 Putaran optik o Mutu Baik Jawa Mutu Ringan 0.5–16.8 8.9926– 1.6–24. alkohol 80%.1 5. Indeks bias pada 20o Bilangan asam Bilangan ester Bilangan ester setelah asetilasi Kelarutan dalam alkohol 80 % Sumber : Guenther (1990) Tinggi rendahnya mutu minyak akar wangi ditentukan oleh ciri-ciri fisik dan kimianya. dengan warna sedikit suram sampai keruh Haiti 0. Bercampur sempurna dengan alkohol 90%.52612 7.

Jenis Mutu / Satuan Warna Bau Bobot jenis 20o/20o C Indeks bias pada 20o Bilangan asam Kelarutan dalam etanol 95 % Bilangan ester Bilangan ester setelah asetilasi Vetiverol total Satuan % Syarat Mutu Kuning muda sampai coklat kemerahan Khas akar wangi 0. yaitu penyulingan dengan air (water distillation). 7.520 – 1. Guenther (1990) menyebutkan ada tiga cara penyulingan yang umum digunakan. 1 : 2 5 – 16 +22 – +38 23 . 6.530 10 . 3. dan seterusnya jernih 5 – 26 100 – 150 Minimum 50 Sumber : SNI 2006 Untuk perdagangan internasional standar yang diacu adalah ISO (International Organization for Standardization) 4716:2002. Proses penyulingan umum digunakan untuk mendapatkan minyak atsiri dari tanaman. Kelarutan dalam etanol 80 % pada 20o C 7. berdasarkan perbedaan titik uapnya (Ketaren 1985). 2.521 – 1. penyulingan dengan air dan uap (water and steam distillation). Tabel 7.986 – 0.3.980 – 1. 9. Putaran optik pada 20o C 9. 8.35 1:1 jernih. Bau 3. 4. 5.5300 Maks.99 – 1. Penyulingan Minyak Akar Wangi Penyulingan (distilasi) merupakan proses pemisahan komponen berupa cairan atau padatan dari 2 macam campuran atau lebih. 1. Standar mutu minyak akar wangi menurut SNI 06-2386-2006 No.526 Maks.5220 – 1. 14 Maks. Bilangan asam 6. Bobot jenis 20o/20o C 4. Bilangan ester 8.015 1.16 +19 – +30 44 – 68 Coklat hingga merah kecoklatan Khas akar wangi 0.13 Tabel 6. Indeks bias pada 20o 5.59 2. Pada penyulingan dengan air. 35 Maks. bahan yang akan disuling kontak langsung dengan air mendidih. Bilangan karbon Sumber : ISO 2002 2. Pada penyulingan dengan menggunakan uap dan . Warna Jenis Mutu / Satuan Syarat Mutu Reunion Haiti Coklat hingga merah kecoklatan Khas akar wangi 0. 1 : 2 5 . dan penyulingan dengan uap (steam distillation).003 1.998 1. 1. Standar mutu minyak akar wangi menurut ISO 4716:2002 No. seperti tercantum pada Tabel 7.

Tekanan yang dihasilkan dalam ketel suling untuk kedua cara ini biasanya sekitar 1 atm. bahan diletakkan pada rak-rak atau saringan berlubang. Pemilihan metode penyulingan sangat menentukan keberhasilan dan efisiensi proses penyulingan. Gambar 2.14 air. cendana. dan uap (steam distillation) umum digunakan untuk mendapatkan minyak akar wangi (Tabel 4). akar wangi. air dan uap (kukus). Tekanan uap dalam ketel suling dapat dimodifikasi sesuai dengan kondisi bahan. Ketaren (2004) merekomendasikan penyulingan uap untuk bahan yang mengandung minyak bertitik didih tinggi/fraksi berat yang lebih stabil terhadap panas seperti nilam. Proses penyulingan tersebut terdiri dari beberapa mekanisme penting yang dapat membantu dalam memahami fenomena yang terjadi selama proses. Penyulingan dengan uap langsung memiliki efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan penyulingan air dan penyulingan air–uap. Mekanisme penyulingan menggunakan air disajikan dalam Gambar 2. Mekanisme proses penyulingan minyak atsiri dengan air (water distillation) (Azlina 2005) . sehingga bahan tidak mengalami kontak langsung dengan air yang digunakan untuk menghasilkan uap. Perbedaannya adalah uap panas yang digunakan berasal dari ketel uap yang terpisah dari ketel suling. pada dasarnya hampir sama dengan penyulingan menggunakan uap dan air. tetapi membutuhkan peralatan yang lebih komplek dan mahal (Risfaheri & Mulyono 2006). dan pala. Proses Penyulingan Penyulingan menggunakan air (water distillation). Penyulingan dengan menggunakan uap. karena dapat mempersingkat waktu penyulingan.

Osmosis Peristiwa osmosis berperan membawa minyak yang terdapat dalam kelenjar ke permukaan bahan. Gambar 3 memperlihatkan skema proses difusi molekuler.15 a. Minyak atsiri berada dalam kelenjar minyak (oil glands). Air dapat melewati membran sel dengan bebas melalui proses difusi dan osmosis. Dari gambar tersebut. Osmosis merupakan peristiwa perpindahan partikel dari tempat yang memiliki konsentrasi lebih tinggi ke tempat yang . Skema proses difusi (Geankoplis 1983) Sel tanaman terdiri dari membran sel. Geankoplis (1983) menyebutkan difusi molekuler didefinisikan sebagai perpindahan molekul dalam fluida secara acak. Akibat perbedaan ini komponen akan berpindah ke berbagai arah hingga konsentrasi mencapai kesetimbangan. terlihat molekul A (dalam hal ini adalah uap) berdifusi secara acak melalui molekul B (minyak dalam tanaman) dari titik 1 ke 2. Hukum Fick menyebutkan penyebab terjadinya difusi adalah perbedaan konsentrasi komponen. Arah difusi dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. b. Gambar 3. Molekul-molekul yang berada disekitar sel dapat berpindah masuk atau keluar sel. Membran sel merupakan lapisan pelindung tanaman yang memisahkan sel dari lingkungan luar. Membran sel selective permeabel mengatur molekul yang melewatinya. Hal ini dikarenakan jumlah molekul A yang ada di sekitar titik 1 lebih banyak daripada yang berada disekitar titik 2. Difusi Difusi memegang peranan penting pada ekstraksi minyak atsiri dari tanaman.

. Pada sistem tertutup. Variasi mekanisme pada proses penyulingan dengan steam distillation disajikan pada Gambar 5.16 memiliki konsentrasi yang lebih rendah melewati membran selektif permeabel hingga tercapai keseimbangan dinamis. Pada proses ekstraksi minyak atsiri dengan menggunakan uap (steam distillation). Molekul-molekul uap tersebut akan tetap berada dalam gerakan yang konstan (keadaaan setimbang). keadaan setimbang dipengaruhi oleh suhu. Pada kondisi ini tidak terjadi peningkatan suhu dan penambahan energi panas hanya akan membuat cairan menguap. Pemanasan. sehingga minyak akan berada di lapisan atas. Pemisahan Pemisahan campuran air dan minyak umumnya dilakukan berdasarkan berat jenis. Kondensasi terjadi apabila uap jenuh seperti uap bersentuhan dengan padatan yang suhunya dibawah jenuh sehingga membentuk cairan (Geankoplis 1983). ada sedikit perbedaan mekanisme yang terjadi. Skema proses osmosis c. Secara umum minyak memiliki berat jenis lebih kecil dari berat jenis air (=1). Gambar 4. Kondensasi merupakan proses perubahan wujud uap menjadi cairan dengan cara mengalirkan air pendingin pada tabung kondensor. d. penguapan dan kondensasi Pemanasan akan menyebabkan temperatur air meningkat hingga tekanan uap cairan sama dengan tekanan sekitar. Kondensasi dan penguapan melibatkan fase cairan dengan koefisien pindah panas yang besar.

Air masuk ke dalam jaringan tanaman melalui proses difusi. minyak dibawa oleh uap yang melewati bahan. untuk melepas minyak yang terdapat dalam bahan akan larut. Adams et al. 2.4. (1998) dengan proses pengecilan ukuran. dan pengecilan ukuran. pengeringan. dan Moestafa et al. Perlakuan Pendahuluan Terhadap Akar Wangi Perlakuan pendahuluan pada bahan sebelum proses penyulingan dapat meningkatkan rendemen dan memperbaiki mutu minyak. Sudibyo (19890. Bacon dalam Jong (1987) dengan proses pengeringan. (2008) dengan proses pembersihan. serta Rusli (1985). Mekanisme proses penyulingan minyak atsiri dengan uap ( steam distillation) (Azlina 2005) Pertama-tama uap akan berdifusi ke dalam bahan.17 Gambar 5. Campuran minyak yang dibawa uap ini ke luar menuju permukaan bahan melalui peristiwa osmosis. Perlakuan pendahuluan terhadap akar wangi sebelum proses penyulingan antara lain pembersihan. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Minyak Akar Wangi a. (2008) membandingkan rendemen minyak akar wangi yang dibersihkan dan tidak dibersihkan. Dengan kata lain. Peningkatan rendemen minyak yang diawali perlakuan pendahuluan telah dibuktikan Adams et al. Penambahan jumlah minyak yang larut dalam air dan proses osmosis sangat tergantung pada jumlah air yang masuk ke dalam jaringan tanaman tersebut. Setelah mencapai permukaan. Proses-proses ini berlangsung terus menerus hingga semua komponen volatil minyak keluar dari jaringan tanaman. peristiwa osmosis dan difusi terjadi dalam waktu yang bersamaan (simultaneously). Rendemen yang diperoleh dari akar wangi .

dibanding biji jintan yang tidah dihancurkan hanya sebesar 1. Perajangan halus ukuran 2-3 mm pada penyulingan jeruk purut juga menghasilkan rendemen yang lebih tinggi yaitu 4.43%.45 %. menaikkan rendemen serta memperbaiki mutu minyak meskipun kemungkinan sebagian minyak akan hilang karena penguapan dan oksidasi oleh oksigen udara.23% (Sudibyo 1989). Pada perajangan akar wangi tanpa bonggol dengan ukuran 15–20 cm diperoleh rendemen 1.66%.18 yang dibersihkan adalah 1. Menurut Ketaren (1985) jumlah minyak yang menguap ditentukan oleh tekanan uap. Oleh karenanya Ketaren (1985) dan Thorpe (1947) menyebutkan bahwa pengeringan akan mempercepat proses penyulingan.18% (Moestafa et al. 1998) b.09 % sedangkan rendemen akar wangi yang tidak dikeringkan hanya 0. Hasil penelitian Bacon dalam Jong (1987) memperlihatkan bahwa pengeringan memberikan peningkatan rendemen minyak akar wangi. sehingga mempengaruhi rendemen dan efisiensi penyulingan (Risfaheri & Mulyono 2006). Pada proses pengeringan. Rendemen dari bahan yang dikeringkan sebesar 1. dan kecepatan minyak dikeluarkan dari bahan.04%.58% dibandingkan dengan jeruk purut yang dirajang kasar 2 cm sebesar 4. kondisi proses penyulingan juga akan mempengaruhi rendemen minyak.90–2. 1. Kepadatan bahan Kepadatan bahan di dalam ketel sangat berpengaruh pada kemudahan uap berpenetrasi kedalam bahan untuk membawa molekul minyak.1% (Rusli 1985). berat molekul komponen-komponen dalam minyak. nilai ini lebih tinggi dibandingkan rendemen dari akar wangi yang tidak dibersihkan yaitu 0.6%-2. Perajangan bahan sebelum disuling bertujuan untuk memudahkan penguapan minyak atsiri dari bahan dan mengurangi sifat kamba bahan (Ketaren 1985). Kondisi Penyulingan Selain metode penyulingan dan perlakuan bahan. sebagian besar membran sel akan pecah sehingga cairan sel bebas melakukan penetrasi dari satu sel ke sel yang lain hingga membentuk senyawa-senyawa yang mudah menguap (Sastrohamidjojo 2004). Untuk ukuran biji jintan yang dihancurkan diperoleh rendemen 2. Guenther (1990) menyebutkan bahwa tingkat kepadatan bahan .18–2.

Penggunaan tekanan uap yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kerusakan komponen-komponen penyusun minyak. Pengaturan laju penyulingan disesuaikan dengan diameter ketel dan volume antar ruang bahan (Guenther 1990). Disamping itu mengurangi penguapan komponen bertitik didih tinggi dan larut di air.21%. (1973) telah membuktikan bahwa pada kepadatan akar wangi 0.51% basis kering dan tingkat mutu bagus. Laju penyulingan yang . Lestari (1993) membuktikan bahwa pada penyulingan sereh wangi dengan tekanan 228. Hasil penelitian Hardjono et al. Tekanan uap Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap penguapan minyak pada proses penyulingan adalah besarnya tekanan uap yang digunakan (Ketaren 1985). Kepadatan bahan yang terlalu tinggi dan tidak merata menyebabkan terbentuknya jalur uap ”rat holes” yang dapat menurunkan rendemen dan mutu minyak.2 kg/cm2 menghasilkan rendemen 2. dan 3. Sedangkan penggunaan tekanan 297. Laju Penyulingan Laju penyulingan menyatakan jumlah air suling yang dihasilkan per satuan waktu.2 kPa dihasilkan rendemen 2. 3. Proses penyulingan dengan menggunakan tekanan dan suhu rendah mempunyai keuntungan yaitu minyak yang dihasilkan tidak mengalami kerusakan akibat panas. agar diperoleh minyak yang bermutu tinggi maka penyulingan hendaknya berlangsung pada tekanan rendah dan dapat juga pada tekanan tinggi tetapi dalam waktu yang singkat. Penyulingan minyak nilam dengan menggunakan uap langsung selama 4 jam menghasilkan rendemen sebesar 3.57.96 kPa (Dahlan 1989).43% dibanding dengan kepadatan 0.07 kg/liter yang menghasilkan rendemen 2. Penyulingan dengan tekanan tinggi tidak selalu memghasilkan rendemen dan mutu yang lebih baik.86. Kondisi penyulingan minyak akar wangi menggunakan tekanan 1. Menurut Guenther (1990).44%. 173.10 kg/liter dihasilkan rendemen lebih kecil yaitu 1.3% (Rusli & Anggraeni 1999). 3.53 kPa memberikan rendemen 3.19 berhubungan erat dengan besar ruangan antar bahan. 3. dan 206.24. 2.27% berat kering masing-masing untuk tekanan penyulingan 158.02%.52% dengan tingkat mutu biasa.11%. 190.

Lama penyulingan juga berpengaruh terhadap penguapan fraksi yang bertitik didih tinggi. nilai ini lebih tinggi dari rendemen minyak yang disuling selama 6 jam yaitu 3.28% dan 2.58%. Hasil penelitian penyulingan pada beberapa minyak atsiri menunjukkan lama waktu penyulingan menghasilkan minyak yang semakin banyak. jumlah minyak yang terbawa oleh uap semakin banyak sehingga rendemen minyak yang diperoleh lebih banyak.52% (Setiadji & Tamtarini 2006). et al. jika laju penyulingan terlalu cepat maka uap dalam ketel akan keluar melalui bahan dengan membentuk jalur uap serta mengangkut bahan partikel ke dalam kondensor. dan 7 jam menghasilkan rendemen 1.23% (Sudibyo 1989). Laju penyulingan memberi pengaruh nyata terhadap rendemen dan kadar vetiverol pada penyulingan minyak akar wangi.07% selama 12 jam dibandingkan dengan penyulingan 8 jam yang hanya 1.58%. 2. Sebaliknya. 4. Semakin lama penyulingan. 5. 1998).5 kg uap/jam yang menghasilkan minyak 2. sehingga menghambat aliran uap di dalam kondensor (Risfaheri & Mulyono 2006).10%. Rusli & Anggraeni (1999) juga memperoleh rendemen minyak akar wangi lebih tinggi pada penyulingan yang lebih lama yaitu 2. Namun . Pengaruh Lama Penyulingan Lama penyulingan mempengaruhi kontak air atau uap air dengan bahan.59% dibandingkan penyulingan selama 4 dan 5 jam yaitu 2. sehingga proses ekstraksi minyak tidak berjalan sempurna.79% (Moestafa. 1991).6 kg uap/jam dengan kadar vetiverol 63.91% lebih tinggi dibandingkan pada laju penyulingan 0. dan 2. Penyulingan jeruk purut selama 8 jam menghasilkan rendemen 4. penguapan fraksi yang bertitik didih tinggi akan semakin besar (Guenther 1990). Biji jintan yang disuling selama 3. Begitu pula halnya pada penyulingan minyak jeruk purut (Moestafa.90%.47% pada laju penyulingan 0. Jumlah minyak sebesar 2.20 rendah menyebabkan uap terhenti pada bahan yang padat. et al. Pada penyulingan yang lebih lama.78%.17% dan kadar vetiverol 61. Penyulingan nilam selama 6 jam menghasilkan rendemen 2.

dimana q = qw atau q q = w = b qo qo (1) qw = yield minyak pada t = 0. t = waktu . Mekanisme distilasi minyak atsiri dilakukan melalui dua tahap yaitu : 1.5. qo = konsentrasi minyak awal dalam bahan. Persamaan dasar kinetika untuk proses penyulingan minyak atsiri adalah : qo − q = (1 − b ) . Pelepasan minyak atsiri yang berada di sekitar permukaan luar bahan (disebut juga fast oil distillation). Ciri-ciri dari tahap ini adalah peningkatan jumlah minyak yang dihasilkan berlangsung lambat. Model Kinetik Proses Penyulingan Minyak Atsiri Model matematis untuk kinetika penyulingan minyak atsiri dengan metode hydrodistillation menggunakan pendekatan mekanisme yang sama dengan ekstraksi pelarut untuk tanaman. q = yield minyak pada t = i. Peristiwa ini terjadi di awal penyulingan (t = 0). e − kt qo Atau (2) ln qo − q = ln (1 − b ) − kt qo (3) dimana k = koefisien slow distillation. b = koefisien fast distillation 2. 2. t = 0 . Pelepasan minyak atsiri dari bagian dalam bahan menuju ke permukaan luar bahan (disebut juga slow oil distillation). Umumnya terjadi di akhir penyulingan.21 perpanjangan waktu penyulingan berdampak pada besarnya biaya bahan bakar yang digunakan (Feryanto 2007). Ciri-ciri dari tahap ini adalah jumlah minyak yang dihasilkan meningkat dengan cepat pada awal proses.

Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini berupa bahan baku utama dan bahan pembantu. Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan sejak bulan September 2007–Desember 2008 yang dilakukan di Balai Besar Litbang Pascapanen Cimanggu. natrium asetat anhidrat. 3. Bahan kimia ini terdiri dari etanol. dan toluen. dan Laboratorium Kesehatan Daerah DKI Jakarta. alat pendingin (kondensor). alat penampung dan pemisah minyak (separator). tabung reaksi. asam asetat anhidrit. Alat-alat ukur dan uji sifat fisika kimia yang digunakan adalah piknometer. dan penangas air. Boiler yang digunakan adalah boiler buatan Jerman menggunakan tenaga listrik daya 9 kWh dan menghasilkan tekanan uap maksimum 7 bar. Jawa Barat. gelas ukur. akuades.22 III. Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) Cimanggu. Air masuk ke .1.2. ketel penyuling. Sistem penyulingan uap langsung disajikan pada Gambar 6. KOH. penophtalein. Alat Penyulingan menggunakan sistem penyulingan dengan uap langsung (steam distillation) dimana uap dibangkitkan dari ketel yang terpisah (boiler). Bahan dan Alat a. Bahan baku utama yang digunakan adalah akar wangi (Vetiveria zizanioides Stapt) yang berasal dari perkebunan akar wangi rakyat di daerah Garut. METODE PENELITIAN 3. neraca analitik. b. NaCl. Sebelum digunakan dilakukan persiapan pendahuluan bahan baku untuk penyulingan meliputi proses pengeringan. Laboratorium Teknik Kimia Departemen Teknologi Industri Pertanian IPB. polarimeter. Bahan pembantu adalah bahan kimia yang digunakan untuk pengujian sifat fisika kimia minyak akar wangi. Alat penyulingan terdiri atas boiler. HCL. Na2CO3. dan pengecilan ukuran (pencacahan). refraktometer. termometer. Na2SO4 anhidrid.

indikator tekanan. Ketel suling terbuat dari bahan stainless steel dengan diameter 40 cm dan tinggi 72 cm. savety valve dan valve. Keterangan : A = Boiler. c = valve . Tekanan yang masuk ke ketel diatur dengan memutar handwheel pada PRV.0 bar.4 liter. Besarnya tekanan uap diamati pada indikator tekanan di boiler. e = bahan.23 boiler dengan menggunakan pompa. . a = air boiler keluar. B = pressure reducing valve (PRV). d = strainer . Penambahan air ke boiler dilakukan secara otomatis. E = Separator. i = air keluar kondensor Gambar 6. Uap yang dihasilkan dari boiler kemudian dialirkan ke dalam ketel dengan terlebih dahulu melewati pressure reducing valve. h = spiral kondensor. Skema sistem penyulingan uap langsung (steam distillation) Pressure reducing valve (PRV) yang digunakan adalah tipe BRV2 dengan spring code warna hijau yang mampu mengontrol tekanan keluar antara 1. g = air masuk kondensor. Besarnya tekanan dan suhu dalam ketel suling dapat dideteksi melalui sensor tekanan yang terpasang pada bagian atas (header) ketel suling. D = Kondensor. PRV ini dilengkapi dengan strainer yang terbuat dari bahan stainless steel untuk menyaring uap yang akan masuk ke PRV. Pada ketel suling terdapat saringan yang terbuat dari besi dengan ketinggian 10 cm dari dasar ketel. Volume ketel adalah 90 liter dan volume bahan adalah 33.4–4. b = indikator tekanan. f = air ketel keluar. C = Ketel suling.

Analisa Gas Chromatography–Mass Spectrometry menggunakan agilent technologies 6890 gas chromatograph dan 5972 mass selective detector dan chemstation data system. (5) menganalisis distribusi komponen penyusun minyak akar wangi. 3. Kondensor terbuat dari bahan stainless steel dengan diameter 26. (3) menentukan disain proses penyulingan minyak akar wangi melalui peningkatan tekanan dan laju alir uap. Media pendingin menggunakan air. suhu interface 280 oC. Untuk pengaturan besarnya tekanan didalam ketel suling digunakan katup yang dapat diatur yang diletakkan dialiran masuk ke kondensor dekat kepala ketel suling. (5) menganalisis kualitas minyak akar wangi. Diagram alir tahapan penelitian disajikan pada Gambar 7. katup ini juga dipasang pada aliran uap (steam) dari boiler (Gambar 6c). Besarnya tekanan dan suhu dalam ketel suling dapat dideteksi melalui sensor tekanan yang terpasang pada bagian atas (header) ketel suling. Kondisi operasi yang digunakan antara lain: suhu injeksi 250 oC. diameter 0. Kolom yang digunakan adalah kolom kapiler HP Ultra 2 dengan panjang 17 m.7 cm dan tinggi 52 cm. flow kolom 0. Kondensor yang digunakan adalah penukar panas tipe spiral dengan panjang spiral 9 m dan diameter 19 mm.3. suhu ion source 230 oC. Alat pemisah kondensat terbuat dari bahan gelas dengan tinggi 40 cm dan diameter 20 cm.24 Besarnya tekanan uap yang disalurkan ke ketel suling diamati pada indikator tekanan di boiler. suhu quadrupole 140 oC.7 µl/menit. (2) penyulingan minyak akar wangi dengan tekanan konstan. Tahapan Penelitian Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu (1) karakterisasi akar wangi. .25 mm dan tebal 0.25 µm. (4) penyulingan minyak akar wangi dengan tekanan bertahap. volume injeksi 2µL.

Masing-masing perlakuan diulang sebanyak dua kali ulangan. Penyulingan minyak akar wangi dengan tekanan konstan (Penelitian Pendahuluan) Pada tahap ini terdapat tiga perlakuan penyulingan yaitu penyulingan menggunakan tekanan 1 bar. Pengeringan dilakukan dengan penjemuran selama 1–2 hari. Diagram alir tahapan penelitian a. 2 bar. Selain itu. dan 3 bar konstan sampai akhir penyulingan (9 jam). juga dilakukan pengukuran kadar minyak dari akar wangi.25 Gambar 7. Kadar air akar wangi yang masih tinggi perlu dikurangi hingga kadar air mencapai ± 12 %. Prosedur analisa kadar air dan kadar minyak dimuat pada Lampiran 2. b. Karakterisasi bahan baku Karakterisasi meliputi kadar air dan kadar minyak dari bahan baku akar wangi. Laju alir uap yang masuk ke boiler diasumsikan sama dengan laju destilat yang keluar dari .

Laju ini hanya menjadi respon dari masuknya uap dari boiler ke ketel setiap waktu. Peningkatan tekanan dibagi menjadi 3 tahap. dengan asumsi bahwa minyak akar wangi memiliki komponen dengan titik didih tinggi. Kisaran tekanan dan penentuan waktu untuk masingmasing tahap penyulingan yang akan digunakan pada penelitian ini ditentukan berdasarkan trend laju recovery minyak hasil penelitian pendahuluan. laju alir uap hanya diukur dari jumlah destilat yang keluar dari kondensor per satuan waktu.26 kondensor. Menentukan disain proses penyulingan minyak akar wangi melalui peningkatan tekanan dan laju alir uap bertahap Disain proses penyulingan minyak akar wangi ditentukan oleh trend laju recovery minyak yang tersuling pada penelitian pendahuluan selama 9 jam waktu penyulingan. Namun keterbatasan waktu dan biaya menyebabkan penelitian ini dibuat menjadi lebih sederhana. Pada setiap perlakuan dilakukan pengukuran laju destilat dan pengambilan sampel setiap jam selama penyulingan. Pada tahap ini dilakukan peningkatan tekanan dan laju alir uap secara bertahap selama 9 jam penyulingan. sedang. c. dan rendah. Idealnya tahapan peningkatan tekanan lebih banyak agar data yang diperoleh lebih baik. d. Gambaran pola recovery minyak inilah yang nantinya menjadi dasar untuk menaikkan tekanan. Penyulingan minyak akar wangi dengan tekanan dan laju alir uap bertahap (Penelitian Utama) Data-data kondisi operasi hasil penyulingan konstan pada penelitian pendahuluan dijadikan dasar untuk disain proses penyulingan pada tahap ini. Rancangan perlakuan pada tahapan ini adalah sebagai berikut : P1 P2 P3 : Tekanan 1 bar : Tekanan 2 bar : Tekanan 3 bar Pada tahap ini. .

laju uap 1. f. dan fraksi 3 (hasil tekanan 3 bar). dan 2 liter/jam/kg bahan. tekanan boiler.5 bar). laju uap 2 liter/jam kg bahan (meningkat bertahap sesuai dengan peningkatan tekanan). Minyak akar wangi yang diperoleh dari setiap penyulingan dipisahkan menjadi tiga fraksi yaitu fraksi 1 (hasil tekanan 2 bar). : Laju uap 1. .5 liter/jam kg bahan.5 liter/jam/kg bahan. : Laju uap 1 liter/jam kg bahan . Pengaturan laju alir uap dilakukan dengan mengatur jumlah uap yang masuk ke ketel dan mengatur besar kecilnya bukaan katup pada leher angsa dekat kondensor. bilangan ester dan bilangan ester setelah asetilasi. 1. putaran optik. e. suhu destilat. Rancangan perlakuan pada tahapan ini adalah sebagai berikut : V1 V2 V3 V4 : Laju uap 1 liter/jam kg bahan.5 liter/jam kg bahan . Pengecekan dilakukan dengan mengukur jumlah destilat yang yang keluar dari kondensor per satuan waktu. dan lain-lain. Sedangkan laju alir uap yang akan digunakan yaitu 1 liter/jam/kg bahan. kelarutan dalam etanol 95%. Analisa sifat fisik dan kimia meliputi bobot jenis. Menganalisis distribusi komponen penyusun minyak akar wangi Penentuan komponen minyak akar wangi dilakukan melalui analisa GC MS (Gas Chromatohrapy Mass Spectrometry). fraksi 2 (hasil tekanan 2. indeks bias. Analisa ini dilakukan hanya pada sampel perlakuan tekanan bertahap dengan laju uap 2 liter/jam kg bahan dan perlakuan tekanan dan laju uap meningkat bertahap.27 Perlakuan-perlakuan yang dilakukan pada penelitian ini yaitu tekanan uap secara bertahap dan laju alir uap. bilangan asam. laju distilat. Menganalisis kualitas minyak akar wangi Semua sampel yang didapat (hasil penyulingan konstan dan bertahap) dianalisa sifat fisik dan kimia. Pada setiap perlakuan dan kenaikan tekanan diamati kondisi operasi seperti suhu penyulingan. : Laju uap 2 liter/jam kg bahan. Prosedur analisa dimuat pada Lampiran 3.

28 3.4. Pemodelan Kinetika Model kinetika penyulingan minyak akar wangi menggunakan model persamaan Milojevic et al. . Nilai koefisien distilasi dihitung dari transformasi data recovery minyak menggunakan model eksponensial (Chapra & Canale 1991). Penentuan model hubungan antara parameter kinetik (koefisien distilasi) terhadap laju alir uap diperoleh dengan metode penyesuaian kurva kuadrat terkecil (least square curve fitting method) dengan menggunakan persamaan pangkat sederhana (power). (2008).

3 10. Peningkatan tekanan akan meningkatkan recovery minyak. 4. Nilai ini menunjukkan bahwa akar wangi ini memiliki kadar air lebih rendah dibandingkan dengan kadar air akar wangi yang umum digunakan masyarakat dengan kondisi kebun yaitu sebesar 42%.3 Dari Tabel 8.4 8.8 3. Karakteristik Akar Wangi Karakteristik akar wangi hasil pengeringan dapat dilihat pada Tabel 8.29 IV. Hanya sebagian kecil agroindustri penyulingan akar wangi di Garut yang memakai bahan baku akar wangi kering jemur hingga kadar air 15% (Indrawanto 2006).5 3. terlihat bahwa akar wangi yang digunakan pada penelitian ini memiliki kadar air berkisar antara 8-11%. Nilai hasil analisa kadar minyak pada Tabel 8 menunjukkan persentase kadar minyak yang terkandung di dalam akar wangi yang digunakan pada penelitian ini berkisar antara 3-4%.1 3. dan 3 bar menghasilkan recovery minyak yang berbeda (Gambar 8). sebelum proses penyulingan dilakukan penjemuran selama ± 25 jam.5 l/j kg) V3 (2 l/j kg) V4 (bertahap) Kadar Air (% bb) 10.5 Kadar Minyak (% bb) 3. Pada penelitian ini. Tabel 8.0 8.0 3.4 9. Hasil karakterisasi akar wangi Perlakuan P1 (1 bar) P2 (2 bar) P3 (3 bar) V1 (1 l/j kg) V2 (1.1 3.7 10.0 9.2 3. 2.2. Semakin tinggi . HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Perbedaan kadar air dan kadar minyak akar wangi yang digunakan pada penelitian ini mungkin disebabkan karena terjadi penguapan selama proses penyimpanan.1. Penyulingan Minyak Akar Wangi dengan Tekanan Konstan Penyulingan minyak akar wangi selama 9 jam pada tiga tekanan berbeda yaitu 1.

Suryatmi (2006) memperoleh rendemen 1%.057%. Dari Gambar 8 dapat dilihat bahwa semakin lama waktu penyulingan. karena setelah 9 jam kenaikan recovery minyak sedikit dan tidak sebanding dengan jumlah bahan bakar yang dikeluarkan (tidak efisien). Recovery minyak akar wangi pada tekanan 1. 1.31% Akumulasi recovery (%) 70 60 50 40 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 P1=1 bar P2=2 bar P3=3 bar 9 Waktu (jam) Gambar 8.88% 78.88 %.124% pada penyulingan dengan tekanan 1.31 %. Peningkatan paling cepat terjadi pada waktu 0-3 jam. sehingga ada kemungkinan minyak teroksidasi (Triharyo 2007). Pada penggunaan tekanan 1 bar dihasilkan recovery minyak yang paling kecil (78. Akumulasi recovery minyak terhadap waktu penyulingan Perbedaan recovery dari kenaikan tekanan disebabkan oleh jumlah minyak akar wangi dengan komponen bertitik didih tinggi lebih banyak yang ikut menguap. 2 dan 3 bar berturut-turut 78. dan 90. dan 3 atm selama 16 jam. lalu setelah itu kenaikannya cenderung sedikit. 88. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan tekanan 1 bar pada penyulingan minyak akar wangi tidak efektif karena membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk menghasilkan recovery yang sama dengan tekanan 2 dan 3 bar. Penggunaan tekanan 4 bar dapat merusak minyak karena dengan tekanan 4 bar temperatur jenuh uap mencapai 150 0C. dan 1. Oleh karena itu penelitian selanjutnya menggunakan tekanan 2-3 bar.37% 88.37 %. Waktu penyulingan akar wangi selama 9 jam diperkirakan sudah dapat mengeluarkan sebagian besar minyak. .30 tekanan. maka recovery yang dihasilkan semakin meningkat. 2.31%). maka recovery yang dihasilkan memiliki kecenderungan meningkat. 100 90 80 90.

5 0. Tanpa adanya alat kontrol.5 3. Laju alir uap pada penyulingan dengan tekanan konstan 1. penggunaan tekanan yang lebih tinggi menghasilkan laju uap yang lebih rendah. dan 3 bar bervariasi dengan ratarata 2. dan 2. Secara umum.0 0.4 l/j kg bahan. 2. yang berarti adanya peningkatan jumlah minyak.7.0 1 2 3 4 5 Waktu (jam) 6 7 8 9 1 bar 2 bar 3 bar Gambar 9.1 mmHg hanya 3. Laju alir uap terhadap waktu pada penyulingan tekanan konstan Hukum hidrodestilasi menyebutkan bahwa peningkatan suhu mengakibatkan perbandingan jumlah air dan minyak menurun.6. Pada tekanan 152.5 2.31 Hasil penelitian Triharyo (2007) juga diperoleh pola yang sama untuk tekanan hingga 3 bar selama 24 jam. tetapi membutuhkan jumlah uap yang lebih besar per satuan berat minyak sereh wangi yang dihasilkan.2 mmHg perbandingan air dan minyak dalam destilat 6. sedangkan pada tekanan 1109. Peningkatan jumlah minyak yang signifikan terjadi pada 0-8 jam. . uap yang masuk ke ketel sangat tergantung kemampuan boiler dan pengaturan katup baik di boiler maupun kondensor. 2. 3.5 1.0 Laju steam (l/j kg bhn) 2. Guenther (1990) telah memperlihatkan pengaruh tekanan uap terhadap perbandingan air dan minyak pada penyulingan minyak sereh wangi dengan sistem penyulingan uap.0 1. Laju distilat yang keluar dari kondensor diasumsikan sama dengan laju uap yang masuk ke ketel suling. Hasil pengukuran laju alir pada setiap penyulingan dengan tekanan berbeda ditampilkan pada Gambar 9. Guenther (1990) menyebutkan bahwa pada penyulingan dengan tekanan rendah mengakibatkan suhu proses yang rendah.7.8.

Nilai ini lebih besar daripada penyulingan dengan laju uap 500 gram uap/jam yang menghasilkan rendemen 2. Keadaan setimbang terjadi jika tekanan campuran uap air dan minyak sama dengan jumlah tekanan parsial masing-masing. Oleh karena itu penyulingan dengan perlakuan laju alir uap akan dilakukan pada penelitian ini.47% pada laju uap 600 gram uap/jam. Disain Proses Penyulingan Minyak Akar Wangi Hipotesa yang digunakan untuk memperbaiki performa penyulingan minyak akar wangi terkait efisiensi proses (energi dan biaya) adalah dengan meningkatkan tekanan secara bertahap selama penyulingan berlangsung. Penggunaan tekanan dan penentuan waktu untuk menaikkan tekanan didasarkan pada trend laju recovery minyak yang dihasilkan dari penyulingan dengan penggunaan tekanan konstan (1. Titik didih komponen minyak berkisar antara 150-300 oC pada tekanan 1 atm. Pada awal pemanasan (suhu rendah). Recovery minyak untuk penyulingan pada semua tekanan 1.32 Penggunaan laju alir uap yang lebih besar diduga dapat meningkatkan recovery minyak. komponen minyak yang bertitik didih lebih rendah akan menguap lebih dahulu. Penurunan recovery minyak terhadap lama penyulingan diduga akibat difusi antara uap dan minyak dari dalam bahan yang semakin lambat serta kandungan minyak dalam bahan yang terus berkurang. . Guenther (1990) menyebutkan bahwa minyak atsiri terdiri dari berbagai komponen yang memiliki sifat berbeda. dan 3 bar menunjukkan penurunan selama proses (Gambar 10). 4. maka suhu akan naik secara bertahap sampai mencapai suhu uap jenuh pada tekanan operasional (Guenther 1990). 2. Moestafa (1991) memperoleh rendemen 2. pemberian tekanan uap air yang lebih besar akan menurunkan perbandingan berat air dan minyak dalam campuran.17%. dan 3 bar).3. Peningkatan tekanan dimaksudkan untuk merusak kesetimbangan fase uap yang terjadi dalam ketel. Pengeluaran minyak dari tanaman tergantung dari titik didih atau tekanan parsialnya. Jika komponen minyak bertitik didih lebih tinggi dalam uap dominan dan jumlah uap minyak dalam fase uap mulai berkurang. Sesuai dengan hukum hidrodestilasi. 2.

2236 31. Dari kemiringan garis dapat dibedakan atas 3 fase yaitu pada jam ke 0-2.2373 13. Pada penelitian selanjutnya pengamatan terhadap recovery diamati setelah 2.8287 10.2812 Recovery minyak (%) Jam ke 2-5 (3 jam) Jam ke 5-9 (4 jam) 30. Recovery minyak terhadap waktu penyulingan Penurunan recovery minyak dapat diperlihatkan dari kemiringan grafik (slope). Fase penurunan recovery untuk masing-masing tekanan terjadi setelah jam ke 2 dan ke 5. 2-5.8854 49. Peningkatan tekanan secara bertahap dalam proses penyulingan minyak akar wangi diharapkan mampu menghasilkan recovery minyak yang tinggi . peningkatan tekanan dapat dilakukan untuk memperoleh berat minyak yang lebih banyak.1662 30. Oleh karena itu.8520 Telah dijelaskan sebelumnya.1688 43.5 bar 1 bar 2 bar 3 bar 3 bar 2 bar 5 0 1 2 3 4 5 6 Waktu (jam) 7 8 9 Gambar 10. 5. Tabel 9. dimana semakin lama penyulingan laju recovery minyak semakin kecil (Tabel 9).9152 16. dan 9 jam. Oleh karena itu fase ini menjadi patokan waktu untuk menaikkan tekanan. Recovery minyak pada penyulingan tekanan konstan Tekanan 1 bar 2 bar 3 bar Jam ke 0-2 (2 jam) 31.33 30 25 Recovery (%) 20 15 10 2. peningkatan tekanan akan memperkecil perbandingan antara jumlah air dan minyak yang berimplikasi pada penurunan perbandingan berat air dan minyak (hukum hidrodistilasi). dan 5-9.

88% 80 Akumulasi recovery (%) 60 2 bar 3 bar 40 Tek Bertahap 20 2 bar 0 1 2 2. Pada subbab sebelumnya telah ditetapkan bahwa penelitian utama menggunakan tekanan berkisar antara 2-3 bar. Oleh karena itu tekanan yang digunakan adalah 2. maka penggunaan tekanan disesuaikan menjadi tiga tahap.58% 90.5. Sakiah (2006) melakukan . Dengan asumsi bahwa minyak akar wangi memiliki komponen dengan titik didih tinggi. 100 92. Akumulasi recovery minyak untuk penggunaan tekanan bertahap tanpa pengaturan laju alir uap yaitu 92.37%. 4. sehingga dapat mengurangi biaya produksi.37% 88. 2.5 bar 3 4 5 6 3 bar 7 8 9 Waktu (jam) Gambar 11. sedang. dan 3 bar. Nilai ini lebih besar dibanding penyulingan konstan 2 dan 3 bar yaitu 88.5. 2. dan 3 bar secara bertahap mampu mendorong minyak keluar lebih banyak jika dibandingkan pada penggunaan tekanan konstan. Penyulingan dengan Peningkatan Tekanan Bertahap Tanpa Pengaturan Laju Alir Uap Minyak akar wangi yang dihasilkan dari penyulingan dengan peningkatan tekanan bertahap tanpa pengaturan laju alir uap memperlihatkan pola yang lebih baik dengan jumlah recovery yang lebih besar dibandingkan pada tekanan konstan 2 dan 3 bar. Sedangkan waktu untuk menaikkan tekanan adalah pada jam ke 2 dan ke 5.4.58%.88% dan 90. Recovery minyak tersuling pada tekanan bertahap tanpa pengaturan laju alir uap dan tekanan konstan Gambar 11 memperlihatkan bahwa peningkatan tekanan 2. dan rendah.34 dengan mutu yang lebih baik serta waktu yang dibutuhkan lebih singkat.

73% untuk fuli pala) dibandingkan dengan penyulingan pada penggunaan tekanan konstan 0 bar selama 10 jam (14. Laju alir uap terhadap waktu pada penyulingan tekanan bertahap tanpa pengaturan laju Recovery minyak yang tinggi akibat penggunaan laju uap yang lebih besar juga dihasilkan oleh Milojevic et al.30% untuk biji pala dan 16. 0.20% untuk biji pala dan 15.7 ml/menit sedangkan pada laju 0.0 0. Rendemen 1.41% untuk fuli pala).2-2.6 l/j kg (Gambar 12).42% diperoleh dari penyulingan biji juniper pada laju 11.5 2 bar 1. maka pengaturan tekanan ditentukan dari besar kecilnya bukaan valve pada kondensor.69 0.5 2. dan 1. Bertahap V =2. Nilai ini lebih tinggi dibanding pada penyulingan dengan tekanan konstan 3 bar yaitu 2.0 1 2 3 4 5 Waktu (jam) 6 7 8 9 Gambar 12.4-3.5 3.0 l/j kg.35 penyulingan minyak pala dengan peningkatan tekanan 0. . (2008) pada biji juniper. Pada perangkat penyulingan yang tidak dilengkapi dengan alat kontrol tekanan PRV (Pressure Reducing Valve). Pembukaan katup ini juga mempengaruhi laju alir uap yang masuk ke ketel.0 Laju steam (l/j kg bhn) 2.5 bar 3 bar 3 bar Tek.13 ml/menit diperoleh rendemen 0.5 bar selama 10 jam dapat meningkatkan rendemen lebih tinggi (15.71 V =2. 2008).90 V =2.5. 3.65% (Milojevic et al.0 1.5 2. Hal ini dikarenakan laju uap yang masuk ke ketel ditentukan oleh kemampuan boiler untuk mensuplai uap. Laju alir uap rata-rata yang diperoleh pada penyulingan tekanan bertahap tanpa pengaturan laju alir berkisar 2.

36

4.5.

Penyulingan dengan Peningkatan Tekanan Bertahap dan Laju Alir Uap Konstan Penyulingan dengan tekanan bertahap menggunakan variasi laju alir uap

1, 1.5, dan 2 l/j kg bahan menghasilkan recovery minyak berbeda satu sama lain (Gambar 13). Penyulingan dengan laju alir uap 1 l/j kg bahan hanya mampu merecovery sekitar 76,60% minyak. Sementara recovery minyak pada laju 1,5 l/j kg dan 2 l/j kg bahan berturut-turut sebesar 83,05% dan 90,42%. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan laju yang lebih tinggi (2 l/j kg bahan) dihasilkan recovery minyak yang lebih banyak dibandingkan dengan penggunaan laju yang lebih rendah. Menurut Guenther (1990), uap dengan kecepatan tinggi menimbulkan perbedaan tekanan dalam ketel suling, sehingga uap mencegah stagnasi pada bagian bahan yang padat. Oleh karena itu peningkatan laju alir uap akan mempercepat pengeluaran minyak dari dalam bahan tanaman (Deny 2001).
60

2 bar
Recovery, % 40

2,5 bar

3 bar

83.05%
20 V1 = 1 l/j/kg V2 = 1.5 l/j/kg V3 = 2 l/j/kg 0 0 2 4 Waktu, jam 6 8 10

76.60% 90.42%

Gambar 13. Recovery minyak pada penyulingan tekanan bertahap dengan laju alir uap konstan selama 9 jam. Penyulingan dengan peningkatan tekanan bertahap dan laju alir uap konstan yang bervariasi juga memberikan recovery minyak yang berbeda pada setiap tahapannya. Pada tekanan 2 dan 2,5 bar, penyulingan dengan menggunakan laju alir uap 2 l/j kg bahan masih menghasilkan jumlah minyak paling tinggi yaitu 39,58% dan 38,02%. Namun saat tekanan dinaikkan menjadi 3 bar, penggunaan laju uap 2 l/j kg bahan menghasilkan minyak paling sedikit (12,81%). Hal ini diduga minyak yang masih terkandung dalam bahan merupakan minyak yang

37

memiliki titik didih tinggi dengan jumlah yang semakin berkurang dan hampir habis. Hal yang menarik adalah recovery minyak pada penyulingan dengan laju 1.5 l/j kg yang lebih banyak daripada penyulingan dengan laju 1 l/j kg ketika tekanan dinaikkan menjadi 3 bar. Walaupun recovery minyak yang dihasilkan keduanya pada tekanan 2 dan 2.5 bar hampir sama, namun perbedaan laju uap yang digunakan dapat mendorong minyak keluar lebih banyak. Hasil kajian Moestafa et al. (1991) pada akar wangi juga menunjukkan bahwa penggunaan laju uap yang lebih besar menghasilkan minyak yang lebih banyak. Dimana penyulingan pada laju 0,6 kg uap/jam diperoleh minyak 2.47% dan pada laju penyulingan 0,5 kg uap/jam dihasilkan minyak 2.17%.

4.6. Penyulingan dengan Peningkatan Tekanan dan Laju Alir Uap Bertahap Penyulingan dengan peningkatan tekanan 2, 2.5, 3 bar dan laju alir uap 1, 1.5, 2 l/j kg bahan secara bertahap terhadap waktu juga dilakukan dalam penelitian ini. Recovery minyak terlihat terus meningkat dengan kenaikan tekanan dan laju alir uap (Gambar 14). Peningkatan tekanan yang berarti juga peningkatan suhu mampu mempercepat proses difusi minyak. Sedangkan peningkatan laju alir uap menjadikan proses ekstraksi berjalan sempurna. Recovery minyak yang dihasilkan pada perlakuan tekanan dan laju alir uap bertahap ini masih lebih kecil dibandingkan dengan perlakuan tekanan bertahap dengan laju alir uap konstan 2 l/j kg bahan. Perlakuan dengan laju alir uap konstan 2 l/j kg bahan mampu merecovery minyak hingga 90,42% sedangkan perlakuan laju bertahap ini hanya menghasilkan 73,03%. Diperkirakan jumlah minyak pada penyulingan dengan peningkatan tekanan dan laju alir uap bertahap masih dapat diperbesar hingga menyamai jumlah minyak pada perlakuan peningkatan tekanan bertahap dengan laju alir uap konstan 2 l/j kg bahan, tetapi diperlukan waktu yang lebih lama. Akantetapi penambahan waktu penyulingan membutuhkan energi yang lebih besar, sehingga biaya produksi untuk bahan bakar meningkat.

38

60

2 bar
Recovery, %
40

2,5 bar
38.02 39.58

3 bar

25.73 25.42 21.88 V4 = Bertahap V3 = 2 l/j/kg 0 0 2 4 6 8 10 12.81

20

Waktu, jam

Gambar 14. Recovery minyak pada tekanan dan laju alir uap bertahap Kajian Milojevic et al. (2008) terhadap biji juniper juga diperoleh hasil yang sama dimana rendemen minyak dari peningkatan laju alir uap 0.13 ml/menit menjadi 10 ml/menit secara bertahap (0.94 g minyak/100 g bahan) lebih rendah dibandingkan dengan rendemen minyak pada penyulingan dengan laju alir uap konstan 10 ml/menit (1.4 g minyak/100 g bahan).

4.7. Mutu Minyak Akar Wangi Hasil Penyulingan Tekanan Bertahap Setiap jenis minyak atsiri mempunyai sifat khas tersendiri. Sifat ini tergantung dari komponen senyawa penyusunnya. Sifat-sifat khas dan mutu minyak dapat berubah mulai dari minyak yang masih berada dalam bahan, selama proses ekstraksi, penyimpanan dan pemasaran (Ketaren 1985). Mutu minyak atsiri didasarkan atas kriteria atau batasan yang dituangkan dalam standar mutu.

Warna dan Aroma Warna merupakan salah satu parameter mutu yang menjadi salah satu pertimbangan konsumen minyak akar wangi. Umumnya warna yang bening lebih disukai dari pada warna yang gelap. Warna minyak hasil penyulingan bertahap lebih baik dibanding minyak hasil penyulingan tekanan konstan. Minyak yang dihasilkan pada fraksi 1 (tekanan 2 bar, jam ke 0-2) berwarna lebih muda yaitu kuning dan jernih. Minyak hasil fraksi 2 (tekanan 2.5 bar, jam ke 2-5) berwarna kuning kecoklatan, dan dari fraksi 3 (tekanan 3 bar, jam ke 5-9) berwarna coklat

39 kemerahan. memberikan warna yang lebih baik jika dibandingkan dengan warna minyak dari penyulingan rakyat yaitu coklat kehitaman. secara visual menunjukkan warna yang cenderung semakin gelap seiring dengan bertambahnya waktu penyulingan. Aroma minyak yang dihasilkan dalam penelitian ini khas akar wangi. Minyak yang dihasilkan dari penyulingan tekanan bertahap (dengan maupun tanpa pengaturan laju alir uap). Sementara minyak hasil penyulingan konstan 3 bar fraksi 1 terlihat lebih gelap. F1 F2 F3 Penyulingan tekanan bertahap Penyulingan rakyat . Minyak akar wangi fraksi 3 beraroma lebih kuat dibandingkan minyak hasil fraksi 1 dan 2. Peningkatan tekanan uap juga akan menaikkan suhu dalam ketel suling. Hasil analisa GC-MS menunjukkan persentase komponen α-vetivon dan β-vetivone (yang memberikan aroma khas akar wangi) pada fraksi 3 lebih tinggi dari fraksi 1 dan 2. Penampilan visual warna minyak akar wangi masing-masing fraksi dapat dilihat pada Gambar 15. Warna minyak akar wangi dari semua penyulingan yang dilakukan pada penelitian ini. Pada suhu yang tinggi ini komponen minyak yang memiliki titik didih tinggi berwarna kecoklatan. Semua hasil yang diperoleh pada setiap fraksi masih memenuhi SNI. Selain itu. Namun keseluruhan minyak dari semua perlakuan tidak berbau gosong seperti halnya minyak yang dihasilkan pada penyulingan rakyat. Warna yang gelap ini memiliki kualitas yang rendah yang ditandai oleh kerusakan beberapa komponen (senyawa) minyak. suhu yang tinggi juga dapat menyebabkan terjadinya proses browning dan reaksi polimerisasi yaitu kemungkinan rusaknya minyak (Brown dan Islip 1953) dan warna minyak menjadi lebih gelap. Perbedaan warna yang dihasilkan dari tiap-tiap fraksi diduga akibat perbedaan tekanan yang digunakan pada setiap fraksi.

Komponen minyak yang bertitik didih rendah dapat menguap pada suhu yang rendah. Peningkatan tekanan uap akan menyebabkan kenaikan suhu di dalam ketel yang berimplikasi pada peningkatan titih didih penguapan minyak.40 F1 F2 F3 F1 F2 F3 Penyulingan tekanan 2 bar Penyulingan tekanan 3 bar Gambar 15. minyak yang tersuling umumnya memiliki titik didih yang rendah seperti monoterpen dan monoterpen-O yang mempunyai bobot jenis rendah. begitupula sebaliknya komponen minyak yang bertitik didih tinggi menguap pada suhu yang tinggi.520–1. Menurut . Pada tekanan rendah. Gambar 16a dan 16b memperlihatkan bahwa peningkatan tekanan uap pada setiap perlakuan meningkatkan nilai bobot jenis dan indeks bias. Sementara fraksi 2 dan 3 dari setiap perlakuan berada di atas rentang tersebut. indeks bias. Untuk itu hanya minyak hasil fraksi 1 yang memenuhi standar (Gambar 16). bilangan asam dan bilangan ester Berdasarkan SNI 2006 kisaran bobot jenis adalah 0. Bobot jenis dan indeks bias minyak berbanding lurus dengan titik didih komponen yang terdapat dalam minyak tersebut. Sedangkan nilai indeks bias minyak akar wangi hasil penyulingan tekanan bertahap memberikan nilai yang sesuai dengan kisaran standar yang telah ditetapkan SNI yaitu 1. Tampilan warna minyak akar wangi Bobot jenis. Pada tekanan tinggi komponen minyak yang bertitik didih tinggi seperti sesquiterpen dan sesquiterpen-O tersuling dan akan meningkatkan bobot jenis minyak. Fenomena ini sangat mungkin terjadi karena SNI melakukan uji terhadap seluruh minyak yang disuling dari awal hingga akhir.003.980–1.530. sementara pada penelitian ini sampel minyak diambil berdasarkan peningkatan tekanan yang terbagi menjadi 3 fraksi.

Kemungkinan disebabkan jumlah komponen tersebut dalam bahan telah semakin berkurang atau bahkan telah habis. sehingga hidrolisis ester yang menjadi pemicu naiknya bilangan asam dapat diminimalkan. Sementara nilai bilangan ester berkisar 4-20. dihasilkan minyak akar wangi sesuai dengan standar baik SNI maupun ISO. bilangan asam minyak akar wangi hasil penelitian masuk dalam kriteria yaitu maksimal 35. Ini berarti bahwa minyak yang dihasilkan dari penelitian ini tergolong cukup baik.5–9. Nilai bobot jenis dan indeks bias yang melampaui batasan SNI dan ISO mengindikasikan adanya zat pengotor maupun kerusakan pada komponen-komponen minyak. Komponen khusimene dan khusimone yang merupakan komponen dengan titik didih yang rendah dapat menguap pada fraksi 1 dan 2. Jika dibandingkan dengan standar mutu internasional (ISO 2002). Bilangan ester yang diperoleh dari minyak akar wangi hasil penyulingan tekanan bertahap secara umum berada dalam rentang nilai baik sesuai dengan SNI. Peningkatan nilai bobot jenis dan indeks bias minyak akar wangi ini juga dapat dideteksi melalui hasil analisa GC-MS. .41 Ketaren dan Djatmiko (1978) nilai indeks bias yang tinggi dapat disebabkan karena komponen-komponen terpen teroksigenasinya mengandung molekul berantai panjang dengan ikatan tak jenuh atau mengandung banyak gugus oksigen. Sedangkan pada fraksi 3 komponen ini sudah tidak keluar lagi. Standar mutu untuk bilangan asam minyak akar wangi berada pada kisaran 10–35 (SNI 2006). Namun nilai bilangan asam hasil penelitian berkisar antara 2. Nilai bilangan asam yang rendah ini dapat dikarenakan kondisi penyulingan yang cukup terkontrol. Rata-rata dari ketiga fraksi.5.

5 l/j/kg V3=2 l/j/kg V4=bertahap 0 0 2 4 6 8 10 Waktu. ester .0100 1.9900 0.9700 0 2 4 6 8 10 V1=1 l/j/kg V2=1.42 1.5 l/j/kg V3=2 l/j/kg V4=bertahap 2 2 bar 0 0 2 2.5210 1.9800 0.5230 1. Mutu minyak akar wangi pada penyulingan tekanan bertahap (a) Bobot jenis. asam.5270 1.0200 1.5260 In e b s d ks ia 1.5250 1. jam (a) 1. jam 8 10 V1=1 l/j/kg V2=1. jam (c) 25 2 bar 20 2.0400 1. (b) Indeks bias.0300 B b t je is oo n 1.5240 1.0500 1.5 bar 3 bar (b) 10 8 B ilangan asam 6 4 V1=1 l/j/kg V2=1.5 bar 3 bar Waktu.5200 0 2 4 6 Waktu.0000 0.5280 1.5220 1. (c) Bil.5 bar 4 6 3 bar 8 10 Waktu.5 l/j/kg V3=2 l/j/kg V4=bertahap 2 bar 2.5 bar 3 bar B n a e te ila g n s r 15 10 5 V1=1 l/j/kg V2=1. (d) Bil.5 l/j/kg V3=2 l/j/kg V4=bertahap 2 bar 2. jam (d) Gambar 16.

Sementara batasan standar mutu internasional untuk bilangan asam minyak akar wangi adalah maksimal 35.43 Gambar 16c dan 16d memperlihatkan bahwa peningkatan tekanan uap pada setiap perlakuan meningkatkan bilangan asam dan bilangan ester. Bilangan asam yang tinggi umumnya menjadi tanda adanya penurunan mutu minyak. Hal ini menurut Milojevic et al. Penyebab kerusakan yang mengakibatkan nilai bilangan asam menjadi lebih tinggi adalah proses oksidasi golongan terpen menjadi asam rantai pendek dan proses hidrolisa ester yang mengubah komponen ester dalam minyak menjadi asam. Rusli (1974) menyebutkan bahwa ester-ester yang terdapat dalam minyak atsiri merupakan fraksi berat yang menguap pada suhu tinggi. namun nilai bilangan asam dan ester tidak terpenuhi (Tabel 10). Nilai bobot jenis dan indeks bias hasil penyulingan rakyat masih memenuhi standar. Nilai bilangan asam minyak akar wangi hasil penyulingan rakyat berkisar antara 26–51 (Mulyono 2007). 1973). . Mutu minyak hasil penelitian ini dinilai lebih baik jika dibandingkan dengan minyak yang dihasilkan pada penyulingan rakyat. Proses penyulingan yang lama (± 18 jam) yang biasa digunakan oleh masyarakat bisa menjadi salah satu pemicu terjadinya proses oksidasi dan hidrolisa. (2008) dikarenakan oleh transformasi hidrolisis persenyawaan minyak terhadap peningkatan jumlah air/uap.Laju uap yang rendah menyebabkan proses hidrodifusi berjalan kurang sempurna karena uap air yang kontak dengan bahan sedikit sehingga ester-ester yang memiliki berat molekul tinggi tidak dapat tersuling. Penggunaan laju uap yang tinggi juga menghasilkan nilai bilangan asam dan ester yang tinggi pula. Peningkatan tekanan mengakibatkan jumlah ester yang menguap meningkat serta terjadinya hidrolisa dari ester-ester seperti vetivenyl-vetivenat bereaksi dengan air sehingga membentuk asam dan alkohol (Hardjono et al.

997 – 1. waktu retensi. 4-fluoro-4’-methoxybiphenyl dan nootkatone.001 1. 4-(1cyclohexenyl)-2-trimethylsilylmethyl-1-buten-3-yne sebagai β-vetivon.84 Penyulingan Rakyat Coklat tua / gelap 0.31 Indonesia Kuning muda coklat kemerahan Standar Mutu Reunion Coklat merah kecoklatan 0. Hasil yang diperoleh berupa dugaan komponen.69 46.530 1.16 Haiti Coklat merah kecoklatan 0. Spektrum massa hasil GCMS dibandingkan dengan spektrum massa minyak akar wangi asal Garut pada penelitian Abraham (2002).17 1:1 3.82 – 51. 1 : 2 5 – 16 - Sumber : Mulyono et al. Perbandingan mutu minyak hasil penelitian dan penyulingan rakyat Parameter • Warna • Bobot jenis 20/20 oC • Indeks bias pada 20oC • Bilangan asam • Kelarutan dalam etanol 80 % pada 20oC • Bilangan ester • Vetiverol total (asetilasi) • Kadar vetiverol (GC) Penelitian Kuning – coklat kemerahan 0. ISO (2002).520 – 1.8.986 – 0. Komponen-komponen tersebut antara lain: khusimene.5300 10 .44 – 6. Sedangkan komposisi minyak akar wangi hasil penyulingan tekanan dan laju alir uap bertahap disajikan pada Gambar 18.998 1. beta gamma nootkatone. khusenic acid.82 4.28 13.5267 < 10 1:1 4. 35 Maks.003 1. Distribusi Komponen Minyak Akar Wangi Komponen penyusun minyak akar wangi diidentifikasi dengan metode GC-MS.5178 – 1.45 – 22.86 – 20.01 – 70.526 Maks.015 1. komponen-komponen yang tersebut adalah : Cycloporopan emethanol sebagai trisiklovetiverol.5220 – 1.980 – 1.35 1:1 5 – 26 Min 50 Maks.521 – 1. khusimone. 14 Maks.(2007).5221 26. 1 : 2 5 . cyclopropan emethanol. 4-(1-cyclohexenyl)-2-trimethylsilylmethyl-1-buten-3-yne. SNI (2006). Analisa ini dilakukan untuk setiap fraksi pada minyak hasil penyulingan tekanan bertahap dengan laju alir uap 2 l/j kg bahan dan laju alir uap bertahap.17 – 17. Identifikasi komponen minyak akar wangi hasil GCMS ini berdasarkan pendugaan dengan menggunakan referensi data base WILEY275. beta .44 Tabel 10.9870 1. dan persen area komponen minyak akar wangi.99 – 0.9882 – 0.5228 – 1. Komposisi minyak akar wangi hasil penyulingan tekanan bertahap dengan laju alir uap 2 l/j kg bahan diperlihatkan pada Gambar 17. Berdasarkan spektrum massa komponen-komponen minyak akar wangi. terdapat 8 komponen yang diduga sebagai sidik jari minyak akar wangi. 4.

22 17.59 . Kedua gambar memperlihatkan kesamaan pola peak pada setiap fraksi.84 2.51 Fraksi 3 16. Secara umum Gambar 17 dan 18 menunjukkan bahwa komposisi komponen penyusun minyak akar wangi dipengaruhi oleh tekanan.25 - V4 Fraksi 2 0.18 3.45 5. dan c) mengakibatkan peak dengan luas area besar bergeser ke kanan.29 Fraksi 2 0. b.15 0.45 0.21 1.26 1.15 0.45 2. Sehingga komponen yang terdeteksi di awal memiliki titik didih lebih rendah daripada komponen yang terdeteksi di akhir.43 5. Pergeseran pola peak antar fraksi menunjukkan komponen dengan waktu retensi rendah keluar lebih banyak pada tekanan rendah.45 gamma nootkatone sebagai α-vetivone.11 2.60 7. Tabel 11.97 17. Waktu retensi pada gambar hasil GC MS menunjukkan titik didih setiap komponen.42 Fraksi 3 13. Tabel 11 menyajikan luas area masing-masing komponen dalam minyak akar wangi pada masing-masing fraksi.14 22.03 10. dan 4-fluoro-4’-methoxybiphenyl sebagai vetiver alkohol.70 1.12 2. Peningkatan tekanan (gambar a.92 31.66 6.29 34.79 0.35 3.27 16.76 2.51 2. begitupula sebaliknya.73 Fraksi 1 1. Distribusi luas area GCMS minyak akar wangi Komponen Khusimene Khusimone Trisiklovetiverol β-vetivone α-vetivone Khusenic acid Vetiver alkohol Nootkatone Titik didih (oC) 100 100 110 110 110 158 120 % Area V3 Fraksi 1 1.84 1.65 3.99 1.16 8.

46 3 2 5 1 1. (b) fraksi 2 (2. α-vetivone 6. β-vetivone 5. β-vetivone 5. β-vetivone 5. Vetiver alkohol 8.5 bar 3 jam). Trisiklo vetiverol 4. Khusenic acid 4 6 (a) 3 1. Hasil Gas Chromathography minyak akar wangi perlakuan V3 (a) fraksi 1(2 bar 2 jam). Nootkatone 4 8 7 (c) Gambar 17. Khusimene 2. Vetiver alkohol 5 4 6 2 1 7 (b) 3 6 5 3. (c) fraksi 3 (3 bar 4 jam) . Khusimone 3. α-vetivone 6. Khusimone 3. Trisiklo vetiverol 4. α-vetivone 6. Khusimene 2. Trisiklo vetiverol 4. Khusenic acid 7. Khusenic acid 7.

47 3 1. (c) fraksi 3 (3 bar 4 jam) . Khusimene 2. Khusimene 3.5 bar 3 jam). Khusenic acid 7. Khusenic acid 5 4 6 2 1 (b) 3 6 5 3. α-vetivone 6. Khusenic acid 5 1 4 6 (a) 3 1. Trisiklo vetiverol 4. Nootkatone 4 8 7 (c) Gambar 18. α-vetivone 6. (b) fraksi 2 (2. Trisiklo vetiverol 4. Hasil Gas Chromathography minyak akar wangi perlakuan V4 (a) fraksi 1(2 bar 2 jam). Trisiklo vetiverol 4. α-vetivone 6. Khusimone 3. β-vetivone 5. β-vetivone 5. Vetiver alkohol 8. β-vetivone 5.

Pengembangan model matematis untuk kinetika penyulingan minyak atsiri menggunakan mekanisme yang sama seperti pada isolasi bahan tanaman melalui ekstraksi pelarut. e − kt qo Atau (5) qo − q = ln (1 − b ) − kt (6) qo Yield minyak awal (qo) dalam bahan dan yield minyak pada waktu ln tertentu (q) diambil dari hasil penelitian. (2) penyulingan lambat yaitu pelepasan minyak atsiri dari bagian dalam bahan menuju ke permukaan luar bahan. Persamaan tersebut adalah : t = 0 .48 4. Transformasi dilakukan dengan memplotkan kurva hubungan ln[(qo-q)/qo] terhadap waktu (persamaan 6).9. Berdasarkan mekanisme tersebut. . Nilai koefisien distilasi dihitung dari transformasi data menggunakan model eksponensial (Chapra & Canale 1991). Pada kondisi ini koefisiennya (b) diartikan sebagai jumlah minyak yang terekstrak pada saat t = 0. penyulingan minyak akar wangi terdiri dari 2 tahap : (1) penyulingan cepat yaitu pelepasan minyak atsiri yang berada di sekitar permukaan luar bahan tanaman diawal proses. Model Kinetika Penyulingan Minyak Akar Wangi Model yang digunakan pada penelitian ini adalah model persamaan kinetik untuk proses penyulingan minyak atsiri seperti yang dilakukan Milojevic (2008). Koefisien distilasi pada penyulingan lambat (k) ini merupakan konstanta kinetika pada keseluruhan proses penyulingan. q = qw atau q q = w = b qo qo (4) qo − q = (1 − b ) .

5 2 4 6 8 10 ln [(qo-q)/qo] -1 -1. Penentuan model hubungan antara parameter kinetik (koefisien distilasi) terhadap laju alir uap diperoleh dengan metode penyesuaian kurva kuadrat terkecil (least square curve fitting method) dengan menggunakan persamaan pangkat sederhana (power).5 V2 V3 Waktu (jam) Gambar 19.0158 0. Kinetika penyulingan minyak akar wangi Nilai koefisien distilasi.9988 0.0224 0. .0450 R2 0. Plot masing-masing nilai koefisien distilasi terhadap laju alir uap disajikan pada Gambar 20. Nilai koefisien k lebih besar daripada koefisien b.2369 b (1) 0. Tabel 12. Artinya peningkatan laju alir uap pada proses penyulingan lebih berperan pada proses pelepasan minyak yang terdapat dari dalam bahan menuju ke permukaan bahan dan bukan pada pelepasan minyak yang ada di dekat permukaan bahan. sedangkan nilai koefisien distilasi b.9971 0.5 l/j kg 2 l/j kg k (s-1) 0.1911 0. Hal ini menyatakan bahwa laju alir uap lebih besar pengaruhnya terhadap koefisien k dari pada koefisien b. merupakan kemiringan (slope) kurva.1629 0.9855 Nilai koefisien distilasi meningkat seiring dengan peningkatan laju alir uap.49 0 0 -0.5 -2 V1 -2. Nilai koefisien yang dihasilkan dapat dilihat pada Tabel 12. Nilai koefisien distilasi Perlakuan V1 V2 V3 1 l/j kg 1. k. merupakan perpotongan (intercept) kurva.

50

0.25 0.20 0.15

0.050 0.040 0.030

k

b
0.10 0.05 0.00 0 0.5 1 1.5 2 2.5

0.020 0.010 0.000 0 0.5 1 1.5 2 2.5

Laju

Laju

Gambar 20. Plot nilai koefisien distilasi terhadap laju alir uap Berdasarkan Gambar 20, maka model persamaan matematis untuk masing-masing parameter kinetik disajikan pada Tabel 13. Penelitian mengenai model persamaan kinetika pada penyulingan biji juniper dengan menggunakan tekanan konstan juga dilakukan oleh Milojevic (2008). Model persamaan yang dihasilkan juga disajikan pada Tabel 13. Tabel 13. Model matematis untuk parameter kinetika penyulingan Penelitian Milojevic (2008) Koefisien distilasi k = 0.984 V0.532 b = 0.871 V Tutuarima (2009) k = 0.840 V
0.167 0.530 .446

R2 0,995 0,946 0,967 0,920

Keterangan proses • Tekanan konstan • Laju konstan • Tekanan bertahap • Laju konstan

b = 0.985 V1

Masing-masing persamaan pada Tabel 13 memperlihatkan ada sedikit perbedaan yang dihasilkan dari kedua penelitian tersebut. Pada penelitian Milojevic (2008) nilai k lebih besar daripada nilai b. Ini berbanding terbalik dengan penelitian ini yang menghasilkan nilai k yang lebih kecil daripada nilai b. Nilai k yang besar berarti kinetika yang terjadi selama proses penyulingan berjalan cepat. Pada penelitian Milojevic (2008) penyulingan dilakukan terhadap biji jintan yang telah dihancurkan/bubuk (comminuted ripe juniper berries). Guenther (1990) menyebutkan bahwa penyulingan bahan tanaman dengan ukuran yang lebih kecil mempermudah proses hidrodifusi. Hal ini berarti bahan tanaman dengan ukuran yang lebih kecil lebih mudah menguap daripada bahan dalam keadaan utuh. Sementara pada penelitian ini bahan akar wangi juga telah

51

diperkecil. Namun jika dibandingkan dengan ukuran bubuk juniper, maka ukuran ini masih lebih besar. Perbedaaan ukuran bahan yang disuling inilah yang diduga menjadi penyebab terjadinya perbedaan konstanta kinetika. Percobaan dengan peningkatan laju alir uap secara bertahap pada periode waktu tertentu selama proses penyulingan juga dilakukan pada penelitian ini. Peningkatan laju alir uap secara bertahap tidak mampu memberikan jumlah minyak yang lebih tinggi dari pada minyak yang dihasilkan dengan menggunakan laju alir uap konstan yang tertinggi, dalam hal ini 2 l/j kg bahan (lihat Gambar 14). Nilai koefisien distilasi dari kedua parameter untuk penyulingan dengan laju alir uap bertahap (k = 0,1336 min-1; b = 0,0214) lebih rendah daripada nilai koefisien parameter kinetika pada penyulingan dengan laju alir uap konstan tertinggi. Oleh karena itu diduga laju alir uap yang rendah pada awal penyulingan tidak cukup mampu membebaskan seluruh minyak dari akar wangi. Model persamaan kinetika penyulingan minyak akar wangi yang dihasilkan pada Tabel 13, diujicobakan pada percobaan penyulingan dengan peningkatan laju alir uap secara bertahap. Hasil perhitungan dari persamaan kinetika dibandingkan dengan hasil percobaan (Gambar 21).
0.04 0.03

0.029 0.021 0.024

q , g /g

0.02 0.009 0.01 0.007 0.00 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0.016

q hit

q perc

Waktu, jam

Gambar 21. Perbandingan konsentrasi minyak hasil percobaan dan hasil prediksi model pada V = bertahap. Gambar 21 menunjukkan adanya perbedaan antara konsentrasi minyak hasil percobaan dengan hasil perhitungan. Konsentrasi minyak hasil percobaan lebih kecil dibandingkan dengan hasil perhitungan, tetapi keduanya menunjukkan

52

pola kedekatan nilai yang cukup baik. Peningkatan laju alir uap dan penambahan waktu penyulingan memperbesar perbedaan nilai hasil perhitungan dan percobaan. Perbedaan konsentrasi minyak antara hasil perhitungan dan percobaan tidak terlalu besar dan masih dapat ditoleransi, hanya berkisar antar 0.002–0.005 g/g minyak. Perbedaan ini diduga akibat terjadinya kendala teknis selama penyulingan seperti terjadinya kondensasi uap dalam ketel suling yang mengakibatkan minyak yang telah dibawa uap tidak terpisah, beberapa komponen minyak yang larut dan teremulsi ke dalam air destilat serta faktor-faktor luar yang diabaikan saat melakukan perhitungan.

5 bar. Penggunaan peningkatan tekanan uap secara bertahap sampai dengan 3 bar dan laju alir uap 2 l/j kg bahan memberikan kinerja recovery tinggi dengan mutu sesuai dengan standar SNI dan ISO. dan khusenic acid keluar pada ketiga tahapan dengan persentase semakin besar pada tekanan 3 bar. KESIMPULAN 5. Namun secara keseluruhan. 2. laju alir uap konstan tertinggi 2 l/j kg bahan memberikan kinerja recovery lebih baik. 3.37%. khusimone keluar pada tekanan 2 dan 2. 5. 4. Persamaan parameter kinetika yang diperoleh adalah k = 0. Tekanan uap pada ketel suling yang berbeda mempengaruhi kinerja proses penyulingan. mutu yang baik.840 V0.530. sedangkan tekanan uap konstan 3 bar mampu menghasilkan recovery yang tinggi dengan mutu yang baik. β-vetivon. Komponen minyak akar wangi khusimene. Oleh karena itu penyulingan dengan menggunakan tekanan bertahap pada proses penyulingan minyak akar wangi akan . Kesimpulan 1. Laju alir uap signifikan menentukan kinerja recovery proses penyulingan. 5.5. Saran Penelitian yang telah dilakukan ini memiliki banyak tujuan antara lain mendapatkan recovery yang tinggi.58%. 2. Penggunaan tekanan bertahap sampai dengan 3 bar dapat menghasilkan fraksi minyak akar wangi dengan komposisi komponen sesuai dengan kelompok titik didihnya.2. penggunaan waktu yang singkat dan energi yang lebih sedikit. α-vetivone. Penggunaan peningkatan tekanan uap bertahap (2.53 V. Peningkatan laju alir uap selama proses mampu meningkatkan kinerja recovery penyulingan. Kinetika untuk penyulingan minyak akar wangi dapat diprediksi menggunakan persamaan model kinetika ekstraksi pelarut. Penyulingan minyak akar wangi dengan tekanan uap konstan 1 bar terbukti tidak efektif.1. sedikit lebih tinggi dari tekanan konstan 3 bar yaitu 90. 3 bar) menghasilkan kinerja recovery sebesar 92.

Hasil optimasi ini untuk mendapatkan kondisi operasi yang optimum. Namun sebelum diaplikasikan ke skala yang lebih besar perlu dilakukan : 1. 2.54 sangat membantu baik dari segi biaya dan waktu. Ini bertujuan untuk batas penggunaan laju alir uap maksimum yang dapat meningkatkan recovery. Penelitian lanjutan mengenai laju alir uap yang lebih dari 2 liter/jam/kg bahan serta pengaruhnya terhadap jumlah minyak yang dapat direcovery. Penelitian lanjutan dengan fokus utama optimasi parameter-parameter kondisi proses yang telah digunakan. .

Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Telaah Komponen Volatil Akar Wangi (Vetiveria zizanoides (L) Nash ex Small) Liar Asal Bone secara Kromatografi Gas–Spektrometri Massa [tesis]. Wikipedia : Ensiklopedia Bebas. Singh M. Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia. J.Herbs Spices & Med.org/wiki/ [26 Agustus 2009] Atkins PW. Rohhadyan T & Hadiyana K. 1999. http://id. Mumkum R. Anonim. Stills for Essential Oil: Colonial Plant and Animal Product. Parameters of Vetiver Oil Distillation. Chromatographia 25(10) : 865 . GC-MS and GC-MS-MS Analysis of a Complex Essential Oil. Kahol AP. University Teknology Malaysia. Singh A. Sellier N.55 DAFTAR PUSTAKA Abraham. 1988. Vetiveria : The Genus Vetiveria. non-cleansed (normal) vetiver plants.869. Mitiku Habte. Tabet JC. Institut Pertanian Bogor. Sardy S. Study of Important Parameters Affecting The Hydro-Distillation for Ginger Oil Production [thesis]. Dahlan D.wikipedia.. 1989. 2005. 2009. 2008. 2005. Sunghun Park. Comparison of vetiver root essential oils from cleansed (bacteria. 1991. 2002. Malaysia : Faculty of Chemical and Natural Resources Engineering. Kartohadiprodjo II.. Universitas Padjajaran. Metode Numerik untuk Teknik. Azlina N. Terjemahan dari : Numerical Methods for Engineers. Kimia Fisika Jilid 1 Ed ke-4. penerjemah. Islip HT. Terjemahan dari: Physical Chemistry. [BPS] Biro Pusat Statistik. 6(2):55-61 Akhila A. di dalam Monograf Nilam. 1953. Model Matematik Pengaruh Tekanan Uap Terhadap Rendemen Penyulingan Minyak Nilam [tesis]. editor. Didalam Massimo Maffei. Brown E. Chemical Constituents and Essential Oil Biogenesis in Vetiveria Zizaniodes. Dennis A.Plants. Provin. Bogor : Fakultas Pascasarjana. penerjemah. Jakarta : Biro Pusat Statistik. Tony L. Johnston. Pes A. Sanko Nguyen. New York : Taylor and Francs Ind. 2002. . 1998. Bogor Cazaussus A.and fungus-free) vs. 1998. Bandung : Program Pascasarjana. Chapra SC. Biochemical Systematics and Ecology 36:177-182 Aggarwal A. Adams RP. Jakarta : UI Press. 3:287-319. Jakarta: Erlangga. Raymond P Canale.

83 [ISO] International Organization for Standardization 4716 : 2002. Tanaman Penghasil Minyak Atsiri. Jakarta : Balitbang Kehutanan. Nasution Z. Geankoplis CJ. Bogor : FATEMETA. 1982.org/iso/iso_ catalogue/catalogue_tc/catalogue_detail. 1973. Ketaren S. Westport.htm?csnumber=28587 [15 April 2008]. 2006. Food Process Engineering Second Edition. Transport Processes and Separation Prosess Principles (Includes Unit Operations) Fourth Edition. Jakarta : Balai Pustaka. Semangat Ketaren. Essent. Influence of Cultural Treatment and Harvest Time on Vetiver Oil Quality in Burundi. http://ferry-atsiri. 1985. Terjemahan dari : The Essential Oils. Connecticut : AVI Publishing Company. XXVIII. Hardjono. New York : Prentice Hall. Satuan Operasi Dalam Pengolahan Pangan. Heldman DR. Deswert RJ. Minyak Atsiri Bersumber dari Batang dan Akar. penerjemah. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. (9) : 447-451 Earle RL.com/2007 /12/garut-land-of-vetiver. Djatmiko B. 2001. McKenzie Associates. Guenther. INC. Terjemahan dari: Unit Operation in Food Processing. 1997. Minyak Atsiri Jilid I dan IVA.blogspot. Aromatic Plants of Tropical Central Africa. J. 2005. penerjemah. Feryanto. http://www. Field Distillation for Herbaceous Oils Third Edition. Garut : The Land of Vetiver. 1980. 1990. Singh RP. Cara-cara Penyulingan Mempengaruhi Rendemen dan Kwalitas Minyak Akar Wangi.html [6 April 2008]. Kardinan A. 1978. Tasmania.Oil. Vol XVIII (2) : 78 . Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid 1.iso. Dethier M.56 Denny E F K (Tim). Jakarta: Sastra Hudaya. Jakarta : Universitas Indonesia Press. Rusli S. Analisis Finansial Agroindustri Penyulingan Akar Wangi di Kabupaten Garut. Buletin Perkembangan Teknologi Tanaman Rempah dan Obat. Heyne K. . Australia : Denny. Pemberitaan LPTI 15 – 16 : 39 – 47. Cordier Y. Jakarta : Agromedia Pustaka. 2007. 1987. Sakubu S. 1983. IPB Ketaren S. Departemen Teknologi Hasil Pertanian. Jawa Barat. Indrawanto. Ciza A. Oil of vetiver (Vetiveria zizanioides (Linnaeus) Nash).

1998. . http://www. Departemen Pertanian. 2008. Kinetics of Distillation of Essential Oil from Comminuted Ripe Juniper (Juniperus communis L) berries. Veljkovic V. Pengaruh Lama dan Kecepatan Penyulingan terhadap Kadar Minyak dan Vetiverol Akar Wangi. Soc. 52 : 6578 – 6584. Warta IHP Vol. Pengaruh Ukuran Bahan dan Lama Penyulingan Terhadap Yield dan Karakteristik Minyak Jeruk Purut (Citrus hystrix DC). Agr and Food Chem. Yeyet R. 1988. Lutony TL. Jakarta : Penebar Swadaya. Luu TD. Moestafa A. Bogor : Sekolah Pascasarjana. University of New South Wales.pdf [23 Agustus 2009] Lestari RSE. 89: 2748 – 2750. Institut Pertanian Bogor. Chem. Moestafa. Euphytica 38: 271 – 276. 1991. 1999. Meika SR.vetiver. A. Martinez J. J. Pengaruh Lama dan Kecepatan Penyulingan Terhadap Kadar Minyak dan Vetiverol Akar Wangi. 1991. Pierre B. http://www. Produksi dan Perdagangan Minyak Atsiri.vetiver. Chantal M.pdf. Waspodo P. Hernani. 2007. Hari S. Sydney. 8 (2) : 11 – 15 Mulyono E. J. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Milojevic S. Sumarsi. Marshall JA. Surochita Basu. Wisnu B. 2004. Nash). Alain L. Lazic M.57 Lavania UC. Ketaren. Warta IHP 8 (2) : 11 – 15. Angela AM. Eng. Palic R. Warta IHP 13 (1-2) : 25 – 29. Dominique P. 39:547-553. 2008. Pengaruh Tekanan Uap dalam Proses Distilasi Terhadap Rendemen Minyak Sereh Wangi (Andropogon nardus) [tesis]. Thesis. Tatang H. Towards Bio-Efficient And Non-Invasive Vetiver : Lessons From Genomic Manipulation And Chromosomal Characterization. Paulo TV. Am. Lavania UC. Development of Process for Purification of α dan β-vetivone from Vetiver Essential Oil & Investigation of Effect of Heavy Metals on Quality and Quantity of Extracted Vetiver Oil. Seshu Lavania. Valorization of Brazilian Vetiver (Vetiveria zizanoides (L) Nash ex Small) Oil. Lestari D. 1993. 2007. Biochem. Moestafa A. [15 Juli 2007]. Bali Besar Penelitian dan Pascapanen Pertanian. Sari IK. [Tidak dipublikasi]. Enhanced Productivity of The Essential Oil in The Artificial Autopolyploid of Vetiver (Vetiveria zizaniodes L. Hakim S. The Vetivane Sesquiterpenes. Risfaheri. Laporan Akhir Penelitian Perbaikan Mutu dan Efisiensi Penyulingan Minyak Akar Wangi. 1967.org/AUS_Research%20 Proposal%20vet%20oil. Stojanovic T.org/ICV4pdfs /EB02. J.

2006. Santoso HB. Standar Proses Produksi Minyak Atsiri. 2006. X (1) : 25 – 32 Rusli S.pdf [10 Februari 2008]. Isolation and Identidication of Phenols in Oil of Vetiver. 2004. Penelitian dan Pengembangan Minyak Atsiri Indonesia. Prosiding Konferensi Nasional Minyak Atsiri 2006 Vol. Setiadji. Jakarta : Direktorat Industri Kimia dan Bahan Bangunan Dirjen IKM Departemen Perindustrian RI. Sastrohamidjojo H. Pengaruh Tekanan Uap dan Lama Penyulingan Terhadap Rendemen dan Mutu Minyak Akar Wangi. hlm 68 – 80. Anggraeni. Institut Pertanian Bogor. Yogyakarta : Kanisius. Shibamoto T. Plant Resources of Shouth East Asia (PROSEA) 19 Essential Oil Plant. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat.2386-2006. Rusli S. Jakarta : Direktorat Industri Kimia dan Bahan Bangunan Dirjen IKM Departemen Perindustrian RI. Bogor Sakiah S. PT Djasula Wangi. 1999. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Bogor : Sekolah Pascasarjana. M.id/files/sni/SNI%2001-2386-2006%20_akar%20 wangi_.or. Akar Wangi (Vetiver). 1993. Solo. 2006. Minyak Akar Wangi. 2. 1999. Prosiding Konferensi Nasional Minyak Atsiri 2006 Vol.58 Oyen. Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Nishimura O. Phytochemistry. . Prosiding Konferensi Nasional Minyak Atsiri 2006 Vol. Leider the Netherland. Mempelajari Pengaruh Metode dan Lama Penyulingan Terhadap Rendemen dan Kualitas Minyak Nilam. Vol. Bogor: Backhoys Publisher. Dung NX. Di dalam : Menuju IKM Minyak Atsiri Berdaya Saing Tinggi. Tamtarini. Solo. hlm 128 – 134. Di dalam : Menuju IKM Minyak Atsiri Berdaya Saing Tinggi. 1985. 2006. Kimia Minyak Atsiri. hlm 44 – 46. http://www. 18 – 20 Sept 2006. Jakarta : Direktorat Industri Kimia dan Bahan Bangunan Dirjen IKM Departemen Perindustrian RI. Modifikasi Proses Penyulingan dengan Variasi Tekanan Uap Untuk Memperbaiki Karakteristik Aroma Minyak Pala [tesis]. Risfaheri dan Edi.bsn. Di dalam : Menuju IKM Minyak Atsiri Berdaya Saing Tinggi. Edisi Khusus 2. 18 – 20 Sept 2006. 2. 1982. 18 – 20 Sept 2006. Akar Wangi Bertanam dan Penyulingan. Solo. 1. 21(3):793 [SNI] Standar Nasional Indonesia 06.

Jakarta : Direktorat Industri Kimia dan Bahan Bangunan Dirjen IKM Departemen Perindustrian RI. Suryatmi RD. 18 – 20 Sept 2006. Warta IHP Vol. 1. Solusi Untuk Industri Penyulingan Akar Wangi dengan Menggunakan Energi Panas Bumi. Prosiding Konferensi Nasional Minyak Atsiri 2006 Vol. 15 : 395-412 Wibowo TY. Meika SR. Wibowo T. Kajian Proses Penyulingan Uap Minyak Jintan Putih. Purwanto W. 18 – 20 Sept 2006. 2007.triharyo. Kajian Variasi Tekanan pada Penyulingan Minyak Akar Wangi Skala Laboratorium. Jurnal Teknologi Industri Pertanian Vol 17 (3) : 89-96 . Di dalam : Menuju IKM Minyak Atsiri Berdaya Saing Tinggi. Henanto H. Ute S. hlm : 150 – 158. Solo. 2006. Horst S. Constituent of Haitian Vetiver Oil. Suryatmi RD. J. Dietmar W. Pengaruh Lama Penyulingan dan Penghancuran Biji Jintan (Cuminum Cyminum L. 6 (1) : 1 – 4. Jakarta : Direktorat Industri Kimia dan Bahan Bangunan Dirjen IKM Departemen Perindustrian RI. http://www. 2008.59 Sudibyo A. php?id=11 [6 April 2008]. Flavour Fragr. Weyerstahl P. 1989. Helga M. 1. hlm : 173 – 177. Suryatmi RD.com/dl_jump. Prosiding Konferensi Nasional Minyak Atsiri 2006 Vol. Triharyo. Solo. Di dalam : Menuju IKM Minyak Atsiri Berdaya Saing Tinggi. 2000.) Terhadap Rendemen dan Sifat Fisiko Kimia Minyak Atsiri yang Dihasilkan. Teknologi Proses Produksi Minyak Atsiri Mutu Tinggi. 2006. Imelda HS.

60 .

0197 kg/cm2 1 bar = 100 kPa V = laju alir uap.0617 mmHg . Istilah Boiler : alat untuk menghasilkan uap air. menit. oC = 750. : tekanan suatu uap pada kesetimbangan dengan fase bukan uapnya Rendemen Tekanan Tekanan uap B. l/jam t = waktu penyulingan. Daftar Istilah dan Simbol A.9869 atm = 1.61 Lampiran 1. : alat yang berfungsi sebagai wadah tempat air dan atau uap untuk mengadakan kontak dengan bahan serta menguapkan minyak atsiri : alat pendingin yang berfungsi untuk mengubah seluruh uap air dan uap minyak menjadi fase cair : alat yang berfungsi untuk menampung distilat dan memisahkan minyak dari air suling : nilai perbandingan antara jumlah air suling dengan waktu (jumlah air yang disuling tiap jam) Ketel suling Kondensor Separator Laju distilasi Laju alir uap` : nilai perbandingan antara jumlah uap air dari boiler yang masuk ke ketel suling terhadap waktu (jumlah uap yang masuk tiap jam) Recovery : jumlah minyak yang dapat dikeluarkan dari keseluruhan minyak yang terkandung dalam bahan tanaman : jumlah minyak yang dihasilkan pada proses penyulingan persatuan bahan : satuan fisika untuk menyatakan gaya (F) per satuan luas (A). yang akan digunakan untuk pemanasan. Simbol P = tekanan Konversi satuan : 1 bar = 0. jam T = suhu penyulingan. ml/menit.

dinyatakan dalam presentasi massa yang disuling dan dikumpulkan sesuai dengan metoda yang diuraikan.62 Lampiran 2. Prosedur Analisa Kadar Air dan Kadar Minyak a. Neraca Analitik Pengambilan Cuplikan Lakukanlah pengambilan cuplikan bahan dengan menggunakan metoda seperti diuraikan dalam Rekomendasi ISO R 984 Spices and Condiments sampling. 2. . Prinsip Penentuan banyaknya air yang dipisahkan dengan cara destilasi dengan bantuan suatu cairan organik yang tidak bercampur dengan air. ditempatkan diantara labu dan pendingin. Peralatan 1. paling sedikit berkapasitas 500 ml. b. Penampung dengan tabung berukuran. dan yang dikumpulkan dalam sebuah tabung ukuran. Definisi Yang dimaksud dengan kadar air adalah banyaknya air. Alat penyulingan terdiri atas bagian-bagian di bawah ini dipasang bersama-sama dengan menggunakan sambungan-sambungan kaca asah : a. Labu leher pendek. Bahan-Bahan Kimia Toluena. Jenuhkan toluena dengan mengocoknya dengan sejumlah kecil air dan sulinglah. Pendingin refluks. Gunakan destilat ini untuk penentuan kadar air. c. Penentuan Kadar Air (SNI 01-3181-1992) Ruang lingkup Metoda ini digunakan untuk penentuan kadar air dari bumbu dan rempahrempah.

Bila perlu sisipkanlah sumbat kapas yang longgar dibagian atas pendingin atau pasanglah sebuah tabung pengering kecil berisi kalsium klorida untuk mencegah pengembunan uap air dari udara di dalam tabung pendingin. Pasanglah alat dan isilah penampung dengan pelarut dengan cara menuangkannya melalui pendingin sampai mulai meluap ke dalam labu destiIasi. 4. Sekali-sekali bersihkan dinding sebelah dalam dari pendingin refluks dengan 5 ml toluena selama destilasi berlangsung untuk membilas air yang mungkin melekat pada dinding pendingin.63 Cara Kerja 1. Buatlah cuplikan seperti diuraikan dalam Rekomendasi ISO R 984 Spices and Condiments . 3. Panaskanlah labu sedemikian rupa sehingga kecepatan destilasi adalah kira-kira 100 tetes per menit. Bilaslah dengan air secara baik dan keringkan dengan sempurna sebelum alat tersebut digunakan. Cuplikan yang diperiksa. sedemikian rupa sehingga banyaknva air yang diukur tidak akan rnelebihi 4.5 ml. Bila sebagian besar air telah tersuling. tambahkan toluena secukupnya (kira-kita 75 ml) untuk menutupi cuplikan itu seluruhnya.Preparation of Sample for Test. Agar refluks dapat diatur. 2. Air dalam penampung dapat dipaksa untuk memisah dari toluene dengan sekali- . Persiapan alat. Seluruh alat dibersihkan dengan larutan pencuci kalium dikhromat-asam sulfat untuk memperkecil kemungkinan melekatnya tetes-tetes kecil air pada sisi-sisi pendingin dan penampung. Pindahkan secara kuantitatip cuplikan yang diperiksa ke dalam labu destilasi dengan toluene.01 kira-kira cuplikan yang telah dibuat untuk pengujian. naikkanlah kecepatan destilasi sampai kira-kira 200 tetes per menit dan teruskanlah hingga tidak ada lagi air yang tertampung. dan kocoklah perlahan-lahan untuk mencampurnya. Penentuan. selubungilah labu dan tabung yang menuju ke penampung dengan kain asbes. Penbuatan cuplikan untuk pengujian. Timbanglah mendekati 0.

Selanjutnya labu didih disambung dengan alat destilasi “Dean – Stark”. Bilaslah pendingin dengan toluena bila diperlukan. cuplikan yang diperiksa. Cara Menyatakan Hasil Kadar air dalam persentase massa sama dengan : Kadar air = dimana : V M 100 V M : adalah volume. Reflukslah hingga tinggi air dalam penampung tetap tidak berubah selama 30 menit dan hentukanlah sumber panas.64 sekali menggunakan sebuah spiral kawat tembaga turun naik dalam pendingin dan penampung. Penentuan Kadar Minyak (SNI 01-0025-1987) Ruang lingkup Metoda ini digunakan untuk menentukan kadar minyak atsiri pada bumbu dan rempah-rempah. Dianggap bahwa rapat massa air tepat 1 g/ml. b. dan kemudian bacalah volume air. dalam milliliter air yang ditampung. bersifat mudah menguap pada suhu kamar. Definisi Kadar minyak atsiri adalah kandungan minyak yang dihasilkan dari bagian tanaman. dimasukkan ke dalam labu didih. dan gunakanlah spiral kawat tembaga untuk melepaskan tetes-tetes air yang ada. Celupkanlah penampung ke dalam air pada suhu kamar paling sedikit selama 15 menit atau sampai lapisan toluena menjadi jernih. dalam gram. : adalah massa. sehingga air mengendap pada dasar penampung. Tambahkan air dan didihkan. Prinsip metode Contoh dipotong-potong kecil. . berbau wangi khas tidak larut dalam air tetapi larut dalam bahan organik.

Labu didih berkapasitas 1 liter 3. Aquadest 2. dimasukkan kedalam batu didih. Tambahkan air sampai seluruh cuplikan terendam dan tambahkan kedalamnya sejumlah batu didih.65 Bahan kimia 1. Cara Menyatakan Hasil Kadar minyak atsiri berikut : Kadar min yak atsiri (%) = ml min yak yang dibaca × 100 berat cuplikan (1 − kadar air ) dapat ditentukan berdasarkan perhitungan sebagai . 3. Penyulingan dihentikan bila tidak ada lagi butir-butir minyak yang menetes bersama-sama air atau bila volume minyak dalam penampung tidak berubah selama beberapa waktu. Timbangan analitik 2. Alat destilasi “Dean – Stark” Cara kerja 1. Timbanglah dengan teliti mendekati 1 gram. Selanjutnya labu didih disambung dengan alat destilasi “Dean – Stark”. Contoh dipotong-potong kecil. kira-kira 35 – 40 gram cuplikan yang telah dipotong kecil-kecil sebelumnya dan masukkan ke dalam labu didih. Tambahkan air dan didihkan. 2. Sambunglah labu didih dengan alat “Dean – Stark” sehingga dapat digunakan untuk pekerjaan destilasi dan panaskanlah labu didih tersebut beserta isinya. Bumbu dan rempah-rempah Peralatan 1.

Prosedur Analisa Sifat Fisika Kimia Minyak Akar Wangi (SNI 06-2386-2006) a. Pipet 10 ml contoh minyak akar wangi 2. 3.66 Lampiran 3. 2. 4. . Amati warnanya dengan mata langsung. jarak pengamatan antara mata dan contoh 30 cm b. Peralatan 1. Penyajian hasil uji Hasil uji yang disajikan harus sesuai dengan warna contoh minyak akar wangi yang diamati. Tabung reaksi kapasitas 15 ml atau 20 ml. maka warna contoh minyak akar wangi dinyatakan kuning muda. Pipet gondok atau pipet berskala kapasitas 10 ml. terhadap contoh minyak akar wangi. terhadap contoh minyak akar wangi. Sandarkan tabung reaksi berisi contoh minyak akar wangi pada kertas atau karton berwarna putih. Prosedur 1. Penentuan warna Prinsip Metode ini didasarkan pada pengamatan visual dengan menggunakan indra penglihatan langsung. Apabila contoh minyak akar wangi yang diamati berwarna kuning muda. Masukkan kedalam tabung reaksi. Penentuan Bau Prinsip Metode ini didasarkan pada pengamatan visual dengan menggunakan indra penciuman langsung. Kertas atau karton berwarna putih ukuran 20 cm x 30 cm. hindari adanya gelembung udara 3.

Penangas air yang diperlengkapi dengan thermostat. Cuci dan bersihkan piknometer. 2. 3. Isilah piknometer dengan contoh minyak dan hindari adanya gelembunggelembung udara 10.2 oC selama 30 menit. 2. Neraca analitik dengen ketelitian 0. Biarkan piknometer di dalam lemari timbangan selama 30 menit dan timbang (m) 4. 9. 5. Sisipkan penutupnya dan keringkan piknometernya 7. Peralatan 1. Biarkan piknometer di dalam lemari timbangan selama 30 menit dan timbang (m2). 11. Isi piknometer dengan air suling sambil menghindari adanya gelembunggelembung udara. Celupkan piknometer ke dalam penangas air pada suhu 20oC ± 0. Celupkan kembali piknometer ke dalam penangas air pada suhu 20 oC ± 0. kemudian keringkan dengan arus udara kering. Penentuan Bobot Jenis Prinsip Perbandingan antara berat minyak dengan berat air pada volume dan suhu yang sama. Keringkan bagian dalam piknometer tersebut dengan arus udara kering dan sisipkan tutupnya 3. kemudian basuh berturut-turut dengan etanol dan dietil eter. kemudian timbang dengan isinya (m1) 8. Biarkan piknometer di dalam lemari timbangan selama 30 menit. Kosongkan piknometer tersebut.67 c.001 g. Cara kerja 1. Sisipkan tutupnya dan keringkan piknometer tersebut.2 oC selama 30 menit 6. . Piknometer berkapasitas 5 ml. cuci dengan etanol dan dietil eter.

Suhu harus dipertahankan dengan toleransi ± 0.2 oC 3. Refraktometer. adalah massa piknometer kosong (g). piknometer berisi air pada 20oC (g). . Sebelum minyak ditaruh di dalam alat. Lampu natrium. 0004 (t 1 − t ) Indeks Dengan: t n D1 t nD adalah pembacaan yang dilakukan pada suhu pengerjaan . pikonometer berisi contoh pada 20oC (g). Cara kerja 1. Penangas air. Bahan kimia • Air suling Peralatan 1. m2. 2. adalah massa. m1. adalah indeks bias pada suhu 20o. Pembacaan dilakukan bila suhu sudah stabil Penyajian hasil uji t1 bias = n D + 0 .68 Penyajian hasil uji 20 Bobot jenis = d 20 = m2 − m m1 − m dengan keterangan: m. Penentuan indeks bias Prinsip Metode ini didasarkan pada pengukuran langsung sudut bias minyak yang dipertahankan pada kondisi suhu yang tetap. Alirkan air melalui refraktometer agar alat ini berada pada suhu saat pembacaan akan dilakukan 2. minyak tersebut harus berada pada suhu yang sama dengan suhu dimana pengukuran akan dilakukan 4. adalah massa. 3. d.

5 ml larutan perak nitrat (AgNO3) 0.0004 adalah faktor koreksi untuk indeks bias. bila larutan tersebut tidak bening. Gelas ukur 50 ml. Tambahkan satu tetes asam nitrat (HNO3) encer (25 %) dan amati setelah 5 menit.69 t1 t adalah suhu yang dilakukan pada suhu pengerjaan. Kocoklah setelah setiap penambahan sampai diperoleh suatu larutan yang sebening mungkin pada suhu 20 oC 3. 2.0002 N dan dikocok.1 N ke dalam 50 ml larutan natrium khlorida (NaCl) 0. Peralatan 1. Penentuan kelarutan dalam etanol Prinsip Kelarutan minyak akar wangi dalam etanol absolut atau etanol 95 % membentuk larutan yang bening dan cerah dalam perbandingan-perbandingan seperti yang dinyatakan. Tambahkan etanol 95 %. Larutan pembanding (dibuat baru) Dengan menambahkan 0. setetes demi setetes. Bandingkanlah kekeruhan yang terjadi dengan kekeruhan larutan pembanding. 0. Tempatkan 1 ml contoh minyak dan diukur dengan teliti di dalam gelas ukur yang berukuran 10 ml atau 25 ml 2. e. . Penyajian hasil uji Hasil uji dinyatakan sebagai berikut: Akan membentuk larutan jernih atau opalesensi ringan. Etanol 95 % 2. Gelas ukur tertutup 10 ml atau 25 ml. Lindungi terhadap sinar matahari langsung. Bahan kimia 1. Cara kerja 1. apabila ditambahkan etanol sebanyak maksimum sepuluh kali volume contoh. adalah suhu referensi (20oC). melalui cairan yang sama tebalnya.

yang dinetralkan dengan larutan kalium hidroksida (KOH) dengan menggunakan indikator fenolftalein (pp). Labu penyabunan kapasitas 250 ml. V N m adalah volume larutan KOH yang diperlukan (ml). larutkan dalam 5 ml etanol netral pada labu saponifikasi penyabunan 2. Penentuan bilangan asam Prinsip Asam-asam bebas dinetralkan dengan larutan terstandar kalium hidroksida etanol. Tambahkan 5 tetes larutan fenolftalein sebagai indikator 3. yang dilengkapi dengan pendingin refluks.1 × V × N m dengan keterangan: 56. 3. Titrasi larutan tersebut dengan kalium hidroksida 0. Fenolftalein (pp). adalah normalitet larutan KOH (N). larutan 0.70 f. Cara kerja 1. Bahan kimia 1. adalah massa contoh yang diuji (g). Larutan kalium hidroksida (KOH) 0.1 N dalam etanol yang telah distandardisasi. . Timbang 4g ± 0.1 N sampai warna merah muda Penyajian hasil uji Bilangan asam = 56. Neraca analitik dengan ketelitian 0.001 g. Peralatan 1.1 adalah bobot setara KOH. 2. 2.05 g contoh minyak. Etanol 95 % (v/v) pada 20oc. Buret dengan skala terbagi dalam seper sepuluh milimeter. 3.4 g/l dalam etanol 20 % (v/v) yang telah dinetralkan.

Lepaskan kondensor refluks dan tambah 5 tetes larutan fenolftalein dan kemudian titrasi dengan HCl 0. Buret standar 50 ml.5 N sampai diperoleh perubahan warna. Kelebihan alkali ditetapkan dengan titrasi kembali dengan asam klorida. 2. Ester-ester dihidrolisis dengan larutan standar kalium hidroksida berlebih pada kondisi panas.5 N dalam alkohol 2. Larutan fenolftalein (pp) 1% dalam etanol. Peralatan 1. Larutan standar volumetri asam klorida (HCL) 0. 3. 5. yang digunakan sebagai kondensor refluks atau bila perlu sebagai pendingin refluks.71 g. dengan menggunakan larutan indikator fenolftalein (pp). 4. 4. Pasanglah tabung berisi penyerap karbon dioksida pada pendingin selama pendinginan. 2. Gelas ukur 5 ml. Isi labu penyabunan dengan beberapa potong batu didih atau porselen. Etanol 95 % (v/v) yang baru dinetralkan dengan larutan alkali. dan diameter sebelah dalam 1 cm. lalu tambahkan 25 ml larutan kalium hidroksida 0. 3. Pipet standar 25 ml. Refluks dengan hati-hati di atas penangas air mendidih selama 1 (satu) jam setelah larutan mendidih. dapat dilengkapi dengan sebuah pipa kaca. Penangas air. berkapasitas 250 ml. Bahan kimia 1. panjangnya paling sedikit 1 m. Cara kerja a) Pengujian blanko 1.5 N dalam etanol. Larutan kalium hidroksida (KOH) 0. . Diamkan larutan hingga menjadi dingin.5 N. Penentuan bilangan ester Prinsip Penyabunan ester-ester dengan larutan KOH alkohol berlebihan. KOH dititrasi kembali dengan asam klorida (HCl). 3. terbuat dari gelas dengan leher kaca asah yang tahan terhadap alkali. Labu penyabunan.

Alat pemanas yang sesuai untuk mendidihkan. dilengkapi dengan sebuah pipa kaca untuk bertindak sebagai pendingin reflaksi. tambahkan 25 ml kalium hidroksida 0. 2. . Isolasi dan pengeringan minyak atsiri yang terasetilasi tersebut. 4. Lepaskan kondensor refluks. tanpa terjadinya pemanasan setempat yang berlebih. 2. 3.1(V1 − V0 )N m dengan keterangan: 56. V1 Vo m N adalah volum HCl yang digunakan dalam penentuan blanko (ml). Corong pemisah berkapasitas 250 ml.5 N sampai diperoleh perubahan warna Penyajian hasil uji Bilangan ester (E) dihitung dengan rumus: E= 56. Gelas ukur kapasitas 10 cm³ dan 50 cm³. Penentuan bilangan ester setelah asetilasi Prinsip Asetilasi minyak atsiri oleh anhidrida asetat dengan adanya natrium asetat. panjangnya paling sedikit 1 m dan diameter sebelah dalam paling sedikit 10 m. termasuk sebuah labu asetilasi berdasar bundar dengan leher kaca asah berkapasitas 100 cm³.05 g dan masukkan ke dalam labu. Alat destilasi. dan titrasi dengan HCl 0. Perhitungan kadar alkohol bebas. Refluks diatas penangas air selama 1 jam 3. adalah volume HCl yang digunakan untuk contoh (ml). adalah normalitet HCl (N). dengan memperhatikan bilangan ester minyak sebelum asetilasi Peralatan 1. Timbang contoh 4 g ± 0. tambahkan 5 tetes larutan fenolftalein.72 b) Pengujian contoh 1. h.5 N dan batu didih. Penentuan bilangan ester setelah asetilasi. adalah massa dari contoh yang diuji (g).1 adalah bobot setara KOH.

dijenuhkan dengan natrium khlorida 5. baru dilebur dan dihaluskan. Magnesium sulfat. Alat penyabunan. termasuk labu kaca tahan alkali berkapasitas 100 sampai 200 ml. 10 ml asam asetat anhidrat dan 2 g natrium asetat anhidrat dalam labu asetilasi. Kertas lakmus fenolftalein. 3. Campurkan kira-kira 10 ml contoh minyak. kemudian buanglah lapisan airnya. Dinginkan sampai suhu kamar. larutan jenuh. Natrium asetat anhidrat. sebagai pengganti dapat juga digunakan natrium sulfat 6. 6. Tunggu sampai cairan memisah dengan sempurna. Tanggalkan pipa refluks dan pindahkan cairan ke dalam corong pemisah lalu bilas labu dua kali masing-masing dengan 10 ml air suling. Buret berkapasitas sedikitnya 20 ml.5 n dalam 95% (v/v) etanol 9. Kalium hidroksida 0.5% n Prosedur pengujian 1.73 5. 2. Biarkan menjadi dingin. 2. Tambahkan potonganpotongan kecil batu apung atau porselen dan lengkapilah labu tersebut dengan pendingin reflaksinya. Bahan kimia 1. yang dilengkapi dengan sebuah pipa kaca untuk bertindak sebagai pendingin refluks.1 n dalam 95% (v/v) etanol 8. larutan mengandung 20 g natrium karbonat anhidrat per liter. Larutan hidroksida 0. 4. Tambahkan 50 ml air suling dan panaskan pada suhu antara 40°C-50°C selama 15 menit. 4. . Natrium karbonat/natrium khlorida. Pasanglah tabung penyerap karbon dioksida pada pendingin selama pendinginan. baru dipijarkan dan dihaluskan. Asam khlorida 0. 3. Panaskan labu dengan alat pemanas dan refluks cairan dengan hati-hati selama 2 jam. menggunakan alat pemanas dan sering dikocok. dan tambahkan air pencucian ini ke dalam isi corong pemisah. Natrium khlorida. larutan 2 g fenolftalein per liter 95% (v/v) etanol yang dinetralkan pada 25°c 7. anhidridat netral. Asam asetat anhidrat 98% sampai 100% untuk analisa.

Didihkan campuran tersebut dalam pendingin refluks diatas penangas air selama 1 jam. Bilangan ester setelah asetilasi = dengan keterangan: a 28. 6. 7. Timbanglah sampai ketelitian 0.5 N yang digunakan untuk menitrasi blanko. 50 ml larutan natrium khlorida. 50 ml larutan natrium karbonat/natrium khlorida.5 N. .05(a − b ) c adalah volume dalam ml dari larutan HCl 0. b adalah volume dalam ml larutan dari larutan HCl 0. Penyajian hasil uji Pertama-tama hitunglah bilangan ester dari minyak atsiri. Ulangi pengocokan dengan 3 g magnesium sulfat berikutnya sampai minyak yang terasetilasi ini bebas dari air. 9. 20 ml air suling. Cuci lapisan minyak dengan jalan menggosok berurut-turut dengan 50 ml larutan natrium khlorida. Kocok dengan baik minyak atsiri yang terasetilasi ini dengan larutan larutan jenuh tersebut kemudian hati-hati dengan air suling sedemikian rupa sehingga bila pencucian telah dilakukan dengan baik minyak itu netral terhadap kertas lakmus (pH7).5 ml larutan fenolptalein. Tambahkan 25 ml larutan etanol kalium hidroksida 0. Saringlah minyak yang sudah dikeringkan itu. dengan menambhkan 20 ml air suling dan titrasi kelebihan alkali dengan larutan asam khlorida 0. Pindahkan lapisan minyak ke dalam sebuah tabung yang kering dan kocoklah beberapa kali selama 15 min dengan sedikitnya 3 g magnesium sulfat anhidrat. 8.5 N yang digunakan untuk menetralisasi penentuan contoh. c adalah berat contoh minyak dalam g setelah asetilasi.5 N.74 5. kemudian dinginkan dengan cepat.5 mg minyak atsiri yang terasetilasi sebanyak 2 g dan tambahkan 2 ml air suling dan 0.

75 i.42E2 adalah bobot molekul vetiverol adalah bilangan ester setelah asetilasi adalah bilangan ester sebelum asetilasi . Penentuan alkohol bebas sebagai vetiverol Senyawa-senyawa alkohol bebas sebagai vetiverol dihitung dari bilangan ester setelah asetilasi dan sebelum asetilasi Kadar vetiverol Kadar vetiverol = dengan keterangan: M E1 E2 M (E2 − E1 ) 561 − 0.

69 86.55 14.42 9 2.75 Kadar Minyak 3.90 Total 92.52 78.65 Recovery minyak (%) Jam ke4 5 6 11.96 Akumulasi Recovery minyak (%) jam ke3 4 5 6 7 53.35 3. Recovery minyak pada penyulingan tekanan bertahap tanpa pengaturan laju alir uap Berat Bahan 3.32 7 4.9 Recovery minyak (%) jam ke4 5 6 7 8.05 79.23 1 22.35 3. Recovery minyak pada penyulingan tekanan konstan Tekanan 1 bar 2 bar 3 bar Tekanan 1 bar 2 bar 3 bar Berat Bahan 3.88 3.29 22.75 Bahan Kering 2.55 Berat Bahan 3.65 Kadar Minyak 3.51 8 76.44 9.07 28.75 8 3.29 22.67 5.018 2.64 3.9095 3.18 2 31.58 6.12 72.32 Total 78.88 21.88 90.55 Kadar Air 10 9.5 Bahan Kering 3.285 Kadar Minyak 3.20 18.58 .08 67.10 Berat Bahan 3.30 87.87 75.25 7.37 1 12.36 62.2 3.10 Kadar Air 11.28 Akumulasi Recovery minyak (%) jam ke3 4 5 6 7 44.8 3.5 Kadar Air 10 9.67 2 39.25 7.03 5.81 83.71 53.24 8 89.37 Lampiran 5.17 43.25 Kadar Air 11.25 Bahan Kering 2.2 3.03 67.67 2 17.018 2.58 2.88 8 4.9 Kadar Minyak 3.55 58.285 Bahan Kering 3.84 7.75 3.60 6.01 1.62 1.93 9 78.6 3.89 49.26 88.88 90.18 2 18.44 1 12.8 3.28 64.69 74.46 80.09 68.35 9 92.88 73.10 3 13.74 2.11 9 3.58 1 22.64 8.9095 3.31 88.81 21.36 85.28 3 13.73 5.60 8.76 Lampiran 4.6 3.07 28.19 84.31 88.37 4.

58 58.77 Lampiran 6.06 57.33 19.51 39.60 29.60 29.42 25.7 2.88 47.5 lt/jam 2 lt/jam Lampiran 7.5 3.03 Kode Laju 1 21.73 Akumulasi recovery minyak wb Fraksi 1 2 3 21. Recovery minyak pada penyulingan dengan tekanan dan laju alir uap bertahap Berat Bahan Kadar Air Bahan Kering Kadar Minyak Recovery minyak wb Fraksi 2 3 25.1 3 3.20 76.83 Bahan Kering 2.05 90.51 39.15 12.60 83.3 Recovery minyak wb Fraksi Total 1 2 3 29.615 3.40 76.30 73.58 29.39 38.42 Kode V1 V2 V3 Laju 1 lt/ jam 1.75 10 8.05 90. Recovery minyak pada penyulingan dengan tekanan bertahap dan laju alir uap konstan Berat Bahan 3 3 3 Kadar Air 10.06 28.42 Akumulasi recovery minyak wb Fraksi 1 2 3 29.02 24.88 Total 73.74 Kadar Minyak 3.68 2.03 V4 Bertahap 4 9.90 77.81 83.3 .

91 2. Laju alir uap pada penyulingan tekanan bertahap tanpa pengaturan laju alir uap Tekanan Bertahap Laju Alir Uap Berat Bahan 3.79 2.52 Ratarata 2.74 2.81 9 2.81 1 3.9 1 3.65 Laju Alir Uap (l/j/kg) jam ke4 5 6 2.77 2.28 .83 3.54 Ratarata 2.41 Lampiran 9.10 3 2.81 2.62 2 2.61 2.34 2.02 2.87 2.55 Kadar Air 10 9.46 2.2 3. Laju alir uap pada penyulingan tekanan konstan Tekanan 1 bar 2 bar 3 bar Laju Alir Uap - Berat Bahan 3.8 3.25 Bahan Kering 2.17 2 3.88 8 2.74 2.51 2.31 Laju Alir Uap (l/j/kg) jam ke4 5 6 2.35 3.11 3.5 Bahan Kering 3.88 2.70 2.04 2.22 7 2.25 7.81 2.56 2.56 9 2.44 2.92 2.44 2.07 2.91 3.75 Kadar Minyak 3.39 3 2.69 2.78 Lampiran 8.6 3.99 7 2.1 Kadar Air 11.78 2.30 8 2.29 Kadar Minyak 3.

42 1.05 8 1.99 1 1.03 3 1.75 10 8.86 Lampiran 11.04 1.89 9 1.7 2.93 8 2.40 2.57 2.61 1 1.02 2 1.49 2.1 3 3.55 2.3 Laju Alir Uap (l/j/kg) jam ke4 5 6 1.03 1.06 9 2.02 1.03 1.5 l/j/kg 2 l/j/kg Berat Bahan 3 3 3 Kadar Air 10.53 1.04 1.53 2.5 Bahan Kering 3.05 1.00 1.04 1.615 Kadar Minyak 3.04 1.3 Laju Alir Uap (l/j/kg) jam ke4 5 6 1. Laju alir uap pada penyulingan dengan tekanan dan laju alir uap bertahap Tekanan Bertahap Laju Alir Uap Bertahap Berat Bahan 4 Kadar Air 9.41 7 1.07 1.47 1.83 Bahan Kering 2.51 2.01 1.53 1.735 Kadar Minyak 3.79 Lampiran 10.44 2.05 3 1.95 Ratarata 1.03 .00 Ratarata 1.09 2 1.00 7 1. Laju alir uap pada penyulingan dengan tekanan bertahap dan laju alir uap konstan Tekanan Bertahap Bertahap Bertahap Laju Alir Uap 1 l/j/kg 1.49 1.03 1.6775 2.

5228 1.23 6. Asam Fraksi 2 5.26 Bil.52 12.26 19.05 8.78 3 7.80 Lampiran 12.0004 1.0394 1 1.55 7.67 7.5260 1.97 Kode Laju 1 3 1.90 3 6.0107 1.0328 1 1.15 Bil.86 Kode Laju 1 3 1. Asam Fraksi 2 4.87 6.13 20.9972 1.0305 1.5254 Bil.0163 1.34 4.5257 Bil. Ester Fraksi 2 6.0157 Indeks Bias Fraksi 2 1.79 8.5267 1.5228 1.19 3 16.0022 Lampiran 13.5258 1.02 8.5233 3 1.27 1 5.5 lt/jam 2 lt/j kg bh 0.5251 1.5264 1 2.5229 3 1.40 V4 Bertahap 0. Ester Fraksi 2 9.9993 .69 V1 V2 V3 1 lt/ jam 1.38 1 4.66 3 14.5267 1 3.0235 Indeks Bias Fraksi 2 1. Mutu minyak pada penyulingan dengan tekanan dan laju alir uap bertahap Bobot jenis Fraksi 2 1.54 14.0427 1. Mutu minyak pada penyulingan dengan tekanan bertahap dan laju alir uap konstan Bobot jenis Fraksi 2 1.

80 benzene tetraethyl 5-acetyl-4-methyl-benzimida… 60 80 10.36 alpha-muurolene benzene..0(2.5-dimethyl-4-hex… 86 11.24 1.28 2-cyclohexen-1one.5.90 11. 38 10.47 ar-curcumene 64 10. alpha-muurolene 70 96 97 11.26 khusimene 70 9.65 phenol.54 benzene.0.81 Lampiran 14.37 0. RT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 11.81 alpha-terpinolene alpha-gurjunene aromadendrene (E)-3.3-di.27 aromadendrene 68 10.68 10.36 1. Hasil Kromatografi Gas Spektrometri Massa Minyak Akar Wangi pada Penyulingan Menggunakan Tekanan Bertahap dan Laju Alir Uap 2 l/j/kg bahan No.23 Fraksi 1 Dugaan Komponen cis-tricyclo[7.2-methoxy-4-(2-propen… 42 10.3-a]pyridine.68 0.3.81 0.18 0.90 Area (%) 0.92 10.57 Area (%) 0.2.76 0.39 0.28 Fraksi 2 Dugaan Komponen 6-N-Butyl-1.88 0.23 11.48 10.11 10..1a.61 0.3-buta….5.40 0.1-(2-butenyl)-2.37 benzene.32 0.5-tetraethyl-.43 0.… 43 RT 8.. alpha-cendrene Qual 70 96 9.35 0.87 benzene. 90 64 11.3-(1.73 0.3-dimet.8)tetra….90 trans-isolimonene 1H-cyclopropa[a]naphthalene.06 11.1-(1.65 1.63 9.33 0.09 1. 96 8.3.36 0.09 0.59 8.30 khusimene alpha-gurjunene 78 96 10.2.1-(2-butenyl)-2.45 0.5-dimethyl-2-(1'-propenyl… 5-epiprezizaene 92 95 86 78 60 10.79 9. Qual 87 RT Area (%) Fraksi 3 Dugaan Komponen Qual .1. 90 10.78 0.75 aromadendrenepoxide-(II) 38 11..40 0.43 4.4-tetrahydronap.18 0.28 1-acetamidobenzocyclobutene 35 9.31 2.26 s-triazolo[4.4.

45 Fraksi 1 Dugaan Komponen delta-cadinene benzene.4-dimethyl-3-(3-methyl-2-bu.35 0.1a.95 0.4-dimethyl-3-(3-methyl-2-but….09 2.4.66 0.2.82 Lanjutan Lampiran 14… No.97 khusimone 89 13.84 11. 53 RT Area (%) Fraksi 2 Dugaan Komponen Qual RT Area (%) Fraksi 3 Dugaan Komponen Qual .76 3.36 12.28 0.1a.67 0.1-(1.54 4.95 0..….69 12.3.1]hept-2-ene.25 0.10 beta-guaiene 90 13.31 13. 50 13.69 0.60 beta-eudesmol khusimone alpha-longipinene fonenol 38 86 91 64 14.5-dimethyl-4-hex.83 12.3.70 2.85 1.19 0.…. 90 11.44 (3E.58 1. calacorene 1H-cyclopropa[a]naphthalene.46 2.3-dimethyl-2.21 5-isopropenyl-2. methyl-2-methylene-3-(4-meth… 1H-cyclopropa[a]naphthalen. bicyclo[2.30 2.8E)-3. 90 12.27 1H-cyclopropa[a]naphthalen.94 0.44 0.98 13.73 2-hexyl furan 30 11.11-trimethyl-1.4-dimethyl-3-(3-methyl-2-but….56 1. 78 87 12.02 guaiyl acetate 12 14..91 14.1-met… 1-deoxycapsidiol 30 58 35 13.4. 2H-benzocyclohepten-2one.91 0.07 0.. 96 87 95 13.41 3.16 1H-cyclopropa[a]naphthalen.81 12.15 2.66 4-methyl-endo.71 2.exo-te…. 2-(alpha-methylstyryl)thiophe… Qual 86 53 98 99 64 97 72 96 90 12.18 beta-eudesmol 93 13.1a.23 12.36 12.22 1. 98 12..33 1.1-(1.5-dimethyl-4-hex… beta-guaiene delta-cadinene 4.98 Area (%) 0.97 12.07 12.28 0.46 benzene.71 13.18 junipene 72 14.7.01 14.49 0.29 4.62 1.22 0.06 1H-cyclopropa[a]naphthalen.. 2H-benzocyclohepten-2one.. RT 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 14.52 12.78 1.07 1.3… 47 13.45 13.5E.

17 dimethyl-1.63 3.12 17.59 6.14 gamma-selinene 60 15.72 2. RT 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 16.38 1.2-dicyano-3-methyl-… cyclopropan emethanol 1-(2'-ethenyl-1'-cyclohexenyl)-… 2-naphthalenecarboxylic acid.7R)-1. 87 17.66 7.49 2.0(7.05 0..03 cyclopropan emethanol diepipalustrol 25 53 16.32 sinularene 78 15.8-dihydro-1.4.03 15.88 16..9)]non-3-ene….97 13.75 beta-patchoulene 78 14.73 dimethyl-1.32 9.38 0.17 17.38 17.45 cyclopropan emethanol 90 16.44 ledenoxide 70 RT Area (%) Fraksi 2 Dugaan Komponen Qual RT Area (%) Fraksi 3 Dugaan Komponen Qual .28 caryophyllene oxide 46 15.35 2.0.8… 90 25 78 60 17.24 1.83 tricyclo[4.92 16.50 aromadendrene spathulenol 84 51 16.83 Lanjutan Lampiran 14… No.73 3.31 1.13 isospathulenol 25 15.4.7-tetramethyl.4-nap.64 17.95 5-methyl-5.01 1.20 2.20 gamma-cadinene 95 16.62 zizanol 46 15.21 Fraksi 1 Dugaan Komponen agaruspirol Qual 46 14.76 Area (%) 2. dehydroaromadendrene 41 84 15.89 (1S. 58 15.87 1.3.91 2.67 8(15)-cendren-9-ol valencene 55 90 14.84 1.00 delta-selinene 90 16.27 8.37 22.00 vulgarol A 52 15.61 3.32 2.21 1.31 1.2-dicyano-3-methyl-… 90 16.53 volgarol A 35 15.23 17.55 1.

00 18.68 0.32 18.39 trans-6.15 5.47 0.33 18.98 19. 89 80 18.82 1.49 6.55 0.95 7.22 patchoulene 46 20.91 3.73 Nootkatone 90 17.89 1.44 2.06 4-(1-cyclohexenyl)-2-trimet.6-dimethylindane 64 59 18.88 1.35 cyclohepta[f]thieno[2.7dimethyl… 4-(1-cyclohexenyl)-2-trimeth….29 34.63 1.78 Area (%) 2.70 2.10-dimethyl-7-isopropenyl-… 55 18.79 beta-gamma-nootkatone khusenic acid 89 90 18.47 0.89 19.11-dimethyl-3.37 Fraksi 2 Dugaan Komponen 2-isopropylidenedihydrobenzof….15 1.71 39.9-tetrahydro… 86 18. 90 72 18.77 beta-gamma-nootkatone khusenic acid khusenic acid 64 90 90 18. 2-ethyl-4.43 19.97 4.91 valerenol 86 Area (%) Fraksi 1 Dugaan Komponen Qual RT 17.52 2.8-oxo… 64 RT Area (%) Fraksi 3 Dugaan Komponen Qual .53 1.1… hymenoquinone diacetate 46 90 18.25 1.35 0.56 valerenol valerenol 86 38 18.42 cyclohepta[f]thieno[2.60 3.98 19.40 0.43 18.48 39.3-b]pridin… 4-flouro-4'-methoxyphenyl 64 50 41. RT 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 39.Z)-2-acetyl-5-[beta-(2-fu… beta-gamma-nootkatone khusenic acid khusenic acid 64 70 90 90 20.84 Lanjutan Lampiran 14… No.55 19.01 3.66 18.8. Qual 64 17.41 4-methyl-6.26 9-propyl-9-borabicyclo[3.7.7-dime… 4-(1-cyclohexenyl)-2-trimethyl.3.25 1.3-b]pridin… 72 39.56 2.19 4.35 (3E)-5-isopropylidene-2.66 (3E)-5-isopropylidene-2.03 10.45 4.29 (E..

3.07 0.09 1.11 10.2.7-tetramethylbicyclo[… 46 10.81 0.3.64 1.19 acoradiene zingiberene 95 94 9.27 2-cyclohexyl-5.2-dimethyl-.2-methoxy-4-(2-propenyl… 70 10.06 5-N-butyl-1.78 0.49 0.isopropenyl 35 9..87 alpha copaene (E)-3. 38 %Area Dugaan Komponen Qual RT 8.67 0.71 phenol..36 trans-isolimonene 70 11.85 Lampiran 15. Qual 78 RT %Area Dugaan Komponen Qual Fraksi 2 Fraksi 3 .27 0.2.5-dimethyl-2-(1'-propenyl… 5-epiprezizaene 83 78 92 10.04 0.4-tetrahydonaph.50 benzene. Hasil Kromatografi Gas Spektrometri Massa Minyak Akar Wangi pada Penyulingan Menggunakan Tekanan dan Laju Alir Uap Bertahap Fraksi 1 No.6.tetraethyl 70 10.62 9. RT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 10.91 0.31 Dugaan Komponen 6-N-butyl-1.5-dimethyl-1-hex… 72 10.36 0..4-tetrahydonaph.63 benzene.10-dehydro isolongifolene 90 10. 96 9.57 %Area 0.2.75 2. alpha cendrene benzene.09 0..45 0.31 pyrazine.4.37 0.48 10. 70 96 91 9.2.01 1.92 10.40 0.23 0.68 0.88 1.11 1-amino-2-cyano-4-methylene-1.4-ethyl-1.51 khusimene 89 9.44 0.85 0..5-tetraethyl-.59 8.89 9.16 germacrene d 89 8.32 khusimene beta guaiene 89 95 10.21 9.1.

5-dehydro isolongifolene 64 12.4. Qual 96 11.20 para cymenene 55 11.24 0.1-(2-butenyl)-2.33 1H-cyclopropa[a]naphthalene.36 12.33 1.1-(1.36 0.72 0.5-dimethyl-4hexe… beta guaiene delta cadinene 86 53 95 98 12.98 1H-cyclopropa[a]naphthalene. 95 12.34 4-methyl-6.5-dimethyl-4hexe… 83 11..66 0.43 5.4-dimethyl-3-(3-methyl-2bute… 83 11.1. 90 11.21 0.08 12.85 11.… 90 83 11.… 95 12.00 0.8.52 0.1a….69 0.28 naphthalene.86 Lanjutan Lampiran 15… No.32 cyclooctane.7.62 1H-cyclopropa[a]naphthalene. 96 12.95 0.39 2.48 calacorene 78 12. 95 12.83 0.3.38 Fraksi 1 Dugaan Komponen 1H-cyclopropa[a]naphthalene.3.1a.3-dime. 64 12.81 1.85 alpha muurolene 95 11.1-6-.27 delta cadinene benzene.23 0.60 0.1.5-dimethyl-4-hexe… 49 11.1-(1.98 12.2-dihydro-1.1-(1.76 0.8-oxometh… 2H-benzocyclohepten-2-one. 70 11.73 0.31 1.44 benzene.2.53 benzene.1a.11-dimethyl-3..06 0.3.5-dimethyl-4-hexe… 46 11.45 benzene.28 trans-6.4-methylene-6-(1-p… 44 11.1-(1.20 naphthalene.81 2H-benzocyclohepten-2one. RT 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 12.60 benzene.31 cycloisosativene 93 RT %Area Fraksi 2 Dugaan Komponen Qual RT %Area Fraksi 3 Dugaan Komponen Qual .78 1.49 1.06 %Area 0.38 4.4-tetrahydro..36 1.4.1a.86 3.9tetrahydronaph… 90 11.32 4.

10 2.8S.5.3-dehydro-alpha isomethylio 25 14.44 (4aS.87 1. 17-octadecen-14-ynoic acid.47 vulgarol A 48 15.1a.83 silane..4-methylene-6-(1-p… 86 45 13.73 2.93 4.09 0.2-dibromo-.63 4.03 2.70 2.1a….87 Lanjutan Lampiran 15… No.77 2.79 4-methyl-endo.diazidomethylphenyl 83 14.5.60 1.09 junipene 78 13.31 methyl-2-methylene-3-(4-methylp… 1H-cyclopropa[a]naphthalene.85 2.1.10-dehydro isolongifolene 93 12. 38 14.78 alloaromadendrene 64 14.43 allo aromadendrene cyclooctane.5R.64 1.52 0.29 3.98 0.7B.9. RT 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 14.31 13.95 %Area 0.7a-hexahydro-7a… 38 13..28 0.39 agaruspirol 53 14. 94 %Area Fraksi 1 Dugaan Komponen Qual RT %Area Fraksi 2 Dugaan Komponen Qual RT 12.exo-te….4.3-dimethyl-2-cy.30 14.10A-selina-4(14). 93 95 13.8aS)-8-isopropyl-5-m… 86 14.73 0.49 (E)-1.27 junipene 84 14.69 alpha longipinene 91 13.22 0.6.80 delta guaiene 41 13.14 khusimone 70 13.trans… 35 12.17 2.06 1.98 13.11 0.72 cyclohexane.27 1.7.92 2..51 2.45 13. 76 14.me… isospathulenol 42 80 44 13. Qual 93 .69 5BH.45 Fraksi 3 Dugaan Komponen methyl-2-methylene-3-(4-methyl.67 0.00 5-isopropenyl-2.18 1H-cyclopropa[a]naphthalene.84 0.56 1.84 0.83 alpha costol 45 14.11-die.41 beta eudesmol 84 13.

5E.65 2.18 22.9)]non-3-ene….8-triene 38 16.0(7.52 3.2-dicyano-3-methyl-1… 90 16.22 (3E.3… 52 15.43 1.2-dicyano-3-methyl1… 90 17.39 16.32 delta selinene (3E)-5-isopropylidene-2.23 isospathulenol 41 17.38 2.3.01 16.87 sinularene 78 15.9-trimethyl-2-oxatricyclo[7… 83 15.95 2-naphthalenecarboxylic acid.62 3.31 1.08 4. RT 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 17.51 1.3-methano… 78 16.32 9.8… 45 15.7.10(14)-trien-… Qual 44 15.06 2.98 zizanyl acetate 38 15.22 clovene 44 15.23 vulgarol A 45 15.6.77 tricyclo[4.5.2.8Z)-3..69 7.98 0.3.62 6.12 dimethyl-1.89 1.55 1.5-dimethyl-11-methylenetricyc.06 beta patchoulene 83 %Area Fraksi 1 Dugaan Komponen Qual RT 15. 74 16.5E.84 cyclopropan emethanol 25 16.02 1.87 1.55 cadina-1(10).21 16.22 2. 46 15.02 1-deoxycapsidiol 50 15.03 0.76 cyclopropan emethanol 27 16.84 cyclopropan emethanol 91 17.32 2.11-trimethyl-1.49 beta patchoulene 90 RT %Area Fraksi 3 Dugaan Komponen Qual .94 0.0.09 %Area 1.29 7.4-tetrahydro-2.96 Fraksi 2 Dugaan Komponen germacra-4(15).88 Lanjutan Lampiran 15… No.7-dimet… 90 78 16.45 aromadendrenepoxide 46 16.83 1.80 dimethyl-1.

3. 52 18. 72 %Area Fraksi 1 Dugaan Komponen Qual RT 17.09 (3E)-5-isopropylidene-2.4]decane-2-car… 83 43 20.7dimethyl… 83 18. 74 18.26 1.95 0.04 2.25 khusenic acid 83 18.8-oxomet.19 3.98 2.89 Lanjutan Lampiran 15… No. 72 17.16 2.59 Nootkatone 78 18. 72 18.92 beta gamma nootkatone 64 18.38 3. RT 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 19.50 khusenic acid 60 19.83 Fraksi 2 Dugaan Komponen 1-(2'-ethenyl-1'-cyclohexenyl)-… Qual 78 RT %Area Fraksi 3 Dugaan Komponen Qual .44 2.71 trans-6.67 0.51 1.43 4-(1-cyclohexenyl)-2-trimethyls 49 18.1.66 0.02 khusenic acid 1.53 1..40 6.10-dimethyl-7-isopropenyl-bic… 38 18.15 khusenic acid 90 19.99 19.57 2.3-trimethyl-2.89 2.47 17.33 1.7-dimeth… 81 18.63 0.10 3-methyl-1-benzoxepin-5(2H)-.11-dimethyl-3.38 %Area 1.51 valerenol valerenol 87 86 18.10-dehydro isolongifolene 86 17..53 2.90 5.83 2.34 2.70 4-(1-cyclohexenyl)-2-trimethyls….36 9.68 1-(2'-ethenyl-1'-cyclohexenyl)-… rishitin cyclohexanol.67 0.11 4-(1-cyclohexenyl)-2-trimethyls.19 (3E)-5-isopropylidene-2.00 4.06 valerenol 86 17. 68 83 50 17.74 3.02 beta gamma nootkatone isokhusenic acid 89 70 18..45 4-(1-cyclohexenyl)-2-trimethyls.02 18.6-dioxospiro[5.98 8.65 beta gamma nootkatone 76 18.90 1.64 31.61 19.22 5.40 17.propyltetraline 64 18.65 1.

8.62 hymenoquinone diacetate 90 39.45 41.23 Fraksi 2 Dugaan Komponen patchoulene Qual 46 20.47 4.13 2.13 0.06 0.7.9-tetrahydronap… 90 78 %Area Fraksi 1 Dugaan Komponen Qual RT 20.99 hymenoquinone diacetate 4-methyl-6. RT 117 118 119 120 121 34.hydroxy-2.71 %Area 0.78 0.90 Lanjutan Lampiran 15… No.19 longifolenbromid-I 38 39.45 0.3-dimethoxy-4-(3-… 41 RT %Area Fraksi 3 Dugaan Komponen Qual .