Makalah

ASMA

Di susun oleh : Maya Rachmah Sari 0910723033

FUNDAMENTAL ASMA
1. Definisi Asma Asma adalah penyakit yang memiliki karakteristik dengan sesak napas dan wheezing, dimana keparahan dan frekuensi dari tiap orang berbeda. Kondisi ini akibat kelainan inflamasi dari jalan napas di paru-paru dan mempengaruhi sensitivitas saraf pada jalan napas sehingga mudah teriritasi. Pada saat serangan, alur jalan napas membengkak karena penyempitan jalan napas dan pengurangan aliran udara yang masuk ke paru-paru (WHO, 2011). Asma juga ditandai dengan meningkatnya respon trakea dan bronkus terhadap rangsangan dengan manifestasi nya dapat berubah secara spontan maupun hasil pengobatan (Muttaqin, 2008). Dengan demikian, asma adalah kelainan inflamasi dengan ciri adanya obstruksi aliran napas, hipersensitivitas bronchial dan terdapat inflamasi (Bethesda, 2007). Inflamasi kronis pada bronkus tersebut berhubungan dengan hiperresponsif dari saluran pernafasan yang menyebabkan episode wheezing, apneu, sesak nafas dan batuk-batuk terutama pada malam hari atau awal pagi (Kepmenkes, 2009).

2. Etiologi Asma Sampai pada saat ini etioologi asma masih belum jelas diketahui secara pasti, namun ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presi itasi timbulnya p serangan asma bronkhial (Tanjung, 2003; Muttaqin, 2008). a. Faktor predisposisi Genetik Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan. b. Faktor presipitasi Alergen Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu : 1. Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan

ex: debu (Dermatophagoides pteronissynus), bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi 2. Ingestan, yang masuk melalui mulut ex: makanan dan obat-obatan 3. Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit ex: perhiasan, logam dan jam tangan Perubahan cuaca Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan debu. Stress Stress/ gangguan emosi bukan penyebab asma namun dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguan emosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.
y Lingkungan kerja

Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.
y Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat

Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut
y Obat-obatan

Beberapa klien asma bronkhial sensitif atau alergi terhadap obat tertentu seperti pennisilin, salisilat, beta blocker dan kodein.

3. Epidemologi Asma

Prevalensi asma di seluruh dunia adalah sebesar 81% pada anak dan 3-5% pada dewasa, dan dalam 10 tahun terakhir ini meningkat sebesar 50% . Berdasarkan laporan National Center for Health Statistics atau NCHS (2003), prevalensi serangan asma pada anak usia 0-17 tahun adalah 57 per 1000 anak (jumlah anak 4,2 juta) dan pada dewasa > 18 tahun, 38 per 1000 (jumlah dewasa 7,8 juta). Jumlah wanita yang mengalami serangan lebih banyak daripada lelaki. WHO memperkirakan terdapat sekitar 250.000 kematian akibat asma. Sedangkan berdasarkan laporan NCHS (2000) terdapat 4487 kematian akibat asma atau 1,6 per 100 ribu populasi (Dahlan, 1998; Kartasasmita, 2008). Tahun 1995, prevalensi asma di seluruh Indonesia sebesar 13/1000, dibandingkan bronkitis kronik 11/1000 dan obstruksi paru 2/1000. Studi pada anak usia SLTP di Semarang dengan menggunakan kuesioner International Study of Asthma and Allergies in Childhood (ISAAC), didapatkan prevalensi asma (gejala asma 12 bulan terakhir/recent asthma) 6,2 % yang 64 % diantaranya mempunyai gejala klasik (Necel, 2009).

4. Faktor Resiko Asma Berdasarkan Pedoman Pengendalian Penyakit Asma 2009, faktor resiko asma dibagi menjadi faktor genetik dan faktor lingkungan : a. Faktor Genetik - Hiperaktivitas - Atopi/alergi bronkus - Faktor yang memodifikasi penyakit genetik - Jenis Kelamin dimana laki-laki lebih beresiko dari pada perempuan - Ras/Etnik dimana status ekonomi ras menentukan status gizi b. Faktor Lingkungan
y y y

Alergen di dalam ruangan (tungau, debu rumah, kucing, alternaria/jamur dll) Alergen diluar ruangan (alternaria, tepung sari ) Makanan ( bahan penyedap, pengawet, pewarna makanan, kacang, makanan laut, susu sapi, telur)

y y y

Obat-obatan tertentu (misalnya golongan aspirin, NSAID,

bliker dll)

Bahan yang mengiritasi (misalnya parfum, household spray dll) Ekspresi emosi berlebih

y y y

Asap rokok dari perokok aktif dan pasif Polusi udara luar dan dalam ruangan Exercise induced asthma, mereka yang kambuh asmanya ketika melakukan aktifitas tertentu

y y y y

Perubahan cuaca Kekurangan berat badan saat kelahiran Obesitas Jalan napas sempit sejak lahir

5. Patofisiologi Asma
Pencetus Serangan : Alergen, Emosi, Obat-Obatan, Infeksi, Olahraga

Reaksi Antigen dan Antibodi

Dikeluarkannya substansi vasoaktif ( histamin, bradikinin, anafilatoksin )

Kontraksi Otot Polos

Peningkatan permeabilitas kapiler

Sekresi Mukus meningkat

Bronchospasme

- Kontraksi Otot Polos - Edema Mukosa -Hiperresponsitifitas bronkus

Produksi Mukus bertambah

Sesak Napas Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan

Obstruksi Saluran Napas Bersihan Jalan Napas tidak Efektif

Hiperventilasi Distribusi ventilasi tidak merata dengan sirkulasi darah paru-paru Gangguan difusi gas di alveoli

Kerusakan pertukaran gas

Hipoksemia dan Hiperkapnea

Gambar 3 Skema Patifisiologi Asma ( Somantri, 2008)

5.1 Obstruksi saluran respiratori Secara garis besar, semua gangguan fungsi pada asma ditimbulkan oleh penyempitan saluran respiratori, yang mempengaruhi seluruh struktur pohon trakeobronkial. Salah satu mekanisme adaptasi terhadap penyempitan saluran nafas adalah kecenderungan untuk bernafas dengan hiperventilasi untuk mendapatkan volume yang lebih besar, yang kemudian dapat menimbulkan hiperinflasi toraks. Perubahan ini meningkatkan kerja pernafasan agar tetap dapat mengalirkan udara pernafasan melalui jalur yang sempit dengan rendahnya compliance pada kedua paru. Inflasi toraks berlebihan mengakibatkan otot diafragma dan interkostal, secara

mekanik, mengalami kesulitan bekerja sehingga kerjanya menjadi tidak optimal . Peningkatan usaha bernafas dan penurunan kerja otot menyebabkan timbulnya kelelahan dan gagal nafas (Makmuri, 2008). 5.2 Hiperaktivitas saluran respiratori Saluran respiratori dikatakan hiperreaktif atau hiperresponsif jika pada pemberian histamin dan metakolin dengan konsentrasi kurang 8µg% didapatkan penurunan Forced Expiration Volume (FEV1) 20% yang merupakan kharakteristik asma, dan juga dapat dijumpai pada penyakit yang lainnya seperti Chronic Obstruction Pulmonary Disease (COPD), fibrosis kistik dan rhinitis alergi. Stimulus seperti olahraga, udara dingin, ataupun adenosin, tidak memiliki pengaruh langsung terhadap otot polos saluran nafas (tidak seperti histamin dan metakolin). Stimulus tersebut akan merangsang sel mast, ujung serabut dan sel lain yang terdapat disaluran nafas untuk mengeluarkan mediatornya (Makmuri, 2008). 5.3 Otot polos saluran respiratori Pada penderita asma ditemukan pemendekan dari panjang otot bronkus. Kelainan ini disebabkan oleh perubahan pada aparatus kontraktil pada bagian elastisitas jaringan otot polos atau pada matriks ektraselularnya. Peningkatan kontraktilitas otot pada pasien asma berhubungan dengan peningkatan kecepatan pemendekan otot. Sebagai tambahan, terdapat bukti bahwa perubahan pda struktur filamen kontraktilitas atau plastisitas dari sel otot polos dapat menjadi etiologi hiperaktivitas saluran nafas yang terjadi secara kronik (Makmuri, 2008). Mediator inflamasi yang dilepaskan oleh sel mast, seperti triptase dan protein kationik eosinofil, dikatakan dapat meningkatkan respon otot polos untuk berkontraksi,

sama seperti mediator inflamasi yang lainnya seperti histamin. Keadaan inflamasi ini dapat memberikan efek ke otot polos secara langsung ataupun sekunder terhadap geometri saluran nafas(Makmuri, 2008). 5.4 Hipersekresi mukus Sekresi mukus pada saluran nafas pasien asma tidak hanya berupa peningkatan volume saja tetapi juga perbedaan pada viskoelastisitas. Penebalan dan perlengketan dari sekret tidak hanya sekedar penambahan produksi musin saja tetapi terdapat juga penumpukan sel epitel, pengendapan albumin yang bersal datri mikrovaskularisasi bronkial, eosinofil, dan DNA yang berasal dari sel inflamasi yang mengalami lisis (Makmuri, 2008). Hipersekresi mukus merefleksikan dua mekanisme patofisiologi yaitu mekanisme terhadap sekresi sel yang mengalami metaplasia dan hiperplasia dan mekanisme patofisologi hingga terjadi sekresi sel granulasi. 5.5 Remodeling Jalan Napas Pada beberapa penderita asma, terbatasnya aliran napas bisa kembali normal sebagian. Perubahan struktur permanen bisa terjadi pada jalan napas, ini mengindikasikan pengurangan fungsi paru-paru yang tidak bisa dicegah atau kembali normal seutuhnya dengan terapi. Remodeling jalan napas mengaktivkan struktur sel dengan konsekuensi perubahan permanen yang meningkatkan obstruksi aliran napas dan hiperresponsif jalan napas. Perubahan struktural dapat termasuk penebalan submembran dasar sel, subepitel fibrosis, hipertropi dan hiperplasia otot polos, proliferasi pembuluh darah. Ini bisa dilihat untuk seberapa efektivitas respon terapi (Bethesda, 2007). 6. Manifestasi Klinis dan Jenis Asma 6.1 Manifestasi Klinis Asma Gejala yang biasanya timbul berhubungan dengan beratnya hiperaktivitas bronkus. Obstruksi jalan napas dapat reversible secara spontan maupun dengan pengobatan. Gejala-gejala asma antara lain (Mansjoer, 2002): a. Bising mengi (wheezing) yang terdengar dengan atau tanpa stetoskop b. Batuk produktif sering pada malam hari c. Napas atau dada seperti ditekan

Gejalanya bersifat paroksismal, yaitu membaik pada siang hari dan memburuk pada malam hari. Namun, biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala klinis, tapi pada saat serangan penderita tampak bernafas cepat dan dalam, gelisah,duduk dengan menyangga ke depan, serta tanpa otot-otot bantu pernafasan bekerja dengan keras (Mansjoer, 2002; Tanjung, 2003). Pada serangan asma yang lebih berat , gejala-gejala yang timbul makin banyak, antara lain : silent chest, sianosis, gangguan kesadaran, hyperinflasi dada, tachicardi dan pernafasan cepat dangkal . Serangan asma seringkali terjadi pada malam hari (Tanjung, 2003). Ada beberapa tingkatan penderita asma yaitu : 1) Tingkat I : a) Secara klinis normal tanpa kelainan pemeriksaan fisik dan fungsi paru. b) Timbul bila ada faktor pencetus baik didapat alamiah maupun dengan testprovokasi bronkial di laboratorium. 2) Tingkat II : a) Tanpa keluhan dan kelainan pemeriksaan fisik tapi fungsi paru menunjukkan adanya tanda-tanda obstruksi jalan nafas. b) Banyak dijumpai pada klien setelah sembuh serangan. 3) Tingkat III : a) Tanpa keluhan. b) Pemeriksaan fisik dan fungsi paru menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas. c) Penderita sudah sembuh dan bila obat tidak diteruskan mudah diserang kembali. 4) Tingkat IV : a) Klien mengeluh batuk, sesak nafas dan nafas berbunyi wheezing. b) Pemeriksaan fisik dan fungsi paru didapat tanda-tanda obstruksi jalan nafas. 5) Tingkat V : a) Status asmatikus yaitu suatu keadaan darurat medis berupa serangan asma akut yang berat bersifat refrator sementara terhadap pengobatan yang lazim dipakai.

b) Asma pada dasarnya merupakan penyakit obstruksi jalan nafas yang reversibel. Pada asma yang berat dapat timbul gejala seperti : Kontraksi otot-otot pernafasan, sianosis, gangguan kesadaran, penderita tampak letih, takikardi. 6.2 Jenis Asma 6.2.1 Berdasarkan Etiologi a. Asma Ekstrinsik (Atopik) Sifat-sifatnya adalah sebagai berikut (Bunner&Suddart, 2002; Somantri, 2008): - Penyebabnya adalah rangsangan allergen eksternal spesifik dan dapat diperlihatkan dengan reaksi kulit tipe 1 - Gejala klinik dan keluhan cenderung timbul pada awal kehdupan, 85% kasus timbul sebelum usia 30 tahun - Sebagian besar mengalami perubahan dengan tiba-tiba pada masa puber, dengan serangan asma yang berbeda-beda - Prognosis tergantung pada serangan pertama dan berat ringannya gejala yang timbul. Jika serangan pertama pada usia muda disertai dengan gejala yang lebih berat, maka prognosis menjadi jelek. - Perubahan alamiah terjadi karena adanya kelainan dari kekebalan tubuh pada IgE yang timbul terutama pada awal kehidupan dan cenderung berkurang di kemudian hari - Asma bentuk ini memberikan tes kulit yang positif - Dalam darah menunjukkan kenaikan kadar IgE spesifik - Ada riwayat keluarga yang menderita asma - Terhadap pengobatan memberikan respon yang cepat b. Intrinsik/idiopatik (non alergik) Sifat dari asma intrinsik (Bunner&Suddart; 2002, Somantri 2008): - Alergen pencetus sukar ditentukan - Tidak ada alergen ekstrinsik sebagai penyebab dan tes kulit memberi hasil negatif - Merupakan kelompok yang heterogen, respons untuk terjadi asma dicetuskan oleh penyebab dan melalui mekanisme yang berbeda-beda

- Sering ditemukan pada penderita dewasa, dimulai pada umur di atas 30 tahun dan disebut juga late onset asma - Serangan sesak pada asma tipe ini dapat berlangsung lama dan seringkali menimbulkan kematian bila pengobatan tanpa disertai kortikosteroid. c. Asma gabungan Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergik (Somantri, 2008). 6.2.2 Berdasarkan Umur Penderita (Kepmenkes, 2009) a. Usia Dewasa

6.2.3 Berdasarkan Derajat Frekuensi

Tabel 3 Klasifikasi Asma Berdasarkan Derajat Serangan (Kepmenkes, 2009)

7. Pemeriksaan Diagnostik Asma 7.1 Pemeriksaan Fisik Berdasarkan konsep B6, pemeriksaan fisik untuk asma secara spesifik mencakup (Muttaqin, 2008): B1 (Breathing) Inspeksi Pada klien terlihat adanya peningkatan usaha dan frekuensi pernapasan, serta penggunaan otot bantu pernapasan. Inspeksi dada terutama melihat postur bentuk dan

kesimetrisan, adanya peningkatan diameter anteroposterior, retraksi otot otot intercostalis, sifat dan irama pernapasan dan frekuensi napas. Palpasi Pada palapasi biasanya amati kesimetrisan, ekspansi dan taktil fremitus normal Perkusi Pada perkusi didapatkan suara normal samapi hipersonor sedangkan diafragma menjadi datar dan rendah. Auskultasi Terdapat suara vesikuler yang meningkat disertai dengan ekspirasi lebih dari 4 detik atau 3 kali ekspirasi, dengan bunyi tambahan napas tambahan utama wheezing pada akhir ekspirasi. B2 (Blood) Monitor dampak asma pada status kardiovaskular meliputi keadaan hemodinamik seperti nadi, tekanan darah dan CRT. B3 (Brain) Diperlukan pemeriksaan GCS untuk penentuan status kesadaran B4 (Bladder) Pengukuran volume output urine berkaitan intake cairan. Ada tidaknya oliguria sebagai tanda awal gejala syok. B5 (Bowel) Perlu dikaji bentuk, turgor, nyeri dan tanda-tnada infeksi yang dapat merangsang serangan asma. Pengkajian status nutrisi meliputi jumlah, frekuensi dan kesulitan pemenuhan kebutuhan nutrisi karena pada pasien sesak napas terjadi kekurangan. Hal ini terjadi karena dispnea saat makan dan kecemasan klien. B6 (Bone)

Adanya edema ekstremitas, tremor dan tanda-tanda infeksi pada ekstremitas karena merangsang serangan asma. Pada integumen perlu dikaji permukaan kasar, kering, kelainan pigmentasi, turgor kulit, kelembaban, besisik, pruritis, eksim dan adanya bekas dermatitis. Pada rambut kaji kelembaban dan kusam. Adanya wheezing, sesak dan ortopnea saat istirahat. Pola aktivitas olahraga, pekerjaan dan aktivitas lainnya. 7.2 Pemeriksaan Penunjang 7.2.1 Pemeriksaan Radiologi Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu serangan menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis, serta diafragma yang menurun (Muttaqin, 2008).

7.2.2 Pemeriksaan Laboratorium a. Sputum Adanya badan kreola adalah karakteristik untuk serangan asma berat karena hanya reaksi serangan beratlah menyebabkan transudasi dari edema mukosa lalu terlepaslah sekelompok sel epitel dari perlekatannya. Pewarnaa gram p enting untuk melihat adanya bakteri diikuti kultur dan uji resistensi terhadap antibiotik. Spurum eosinofil sangat karakteristik untuk asma dengan adanya cristal Charcot Leyden dan Spiral Curschman melihat adanya Asperigillus fumigatus (Sudoyo, 2006; Muttaqin, 2008). b. Analisa Gas Darah Hanya dilakukan pasa asma berat karena terdapat hiposekmia, hiperkapnea dan asidosis respiratorik. Pada fase awal serangan terjadi hipokapnea dan hiposekmia (PaCO2< 35 mmHg) kemudian pada stadium yang lebih berat PaCO2 jus mendekati tru normal hingga normokapnea.Lalu diikuti selanjutnya hiperkapnea (PaCO2 45mmHg) (Sudoyono, 2006; Muttaqin, 2008). c. Pemeriksaan Eosinofil Total Sel eosinofil pada status asmatikus dapat mencapai 1000-1500/mm3 baik asma intrinsik maupun ekstrinsik, sedangkan hitung eosinofil normal antara 100-200/mm3. Perbaikan fungsi paru disertai fungsi paru serta penurunan hitung sel eosinofil menunjukkan pengobatan telah tepat. Juga dapat sebagai patokan penggunaan kortikosteroid (Sudoyono, 2006; Muttaqin, 2008).

d. Pemeriksaan Darah Rutin dan Kimia Jumlah sel leukosit yang lebih dari 15.000/mm3 terjadi karena adanya infeksi. SGOT dan SPGT meningkat disebabkan keruskan hati akibat hipoksia atau hiperkapnea (Muttaqin, 2008). 7.2.3 Pengukuran Fungsi Paru (Spirometer) Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator aerosol golongan adrenergik. Peningkatan FEV atau FVC sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma (Muttaqin, 2008). 7.2.4 Tes Provokasi Bronkus Tes ini dilakukan pada spirometer internal. Penurunan FEV sebesar 20% atau lebih setelah tes provokasi dan denyut jantung 80-90 % dari maksimum dapat bermakan bila menimbulkan penurunan PEFR 10% atau lebih (Muttaqin, 2008). 7.2.5 Pemeriksaan Kulit Untuk menunjukkan adanya antibodi IgE spefisik dalam tubuh. Uji ini penting karena uji alergen positif tidak selalu menjadi penyebab asma (Sudoyono, 2006; Muttaqin, 2008). 8. Penatalaksanaan Asma pada Semua Tingkat Usia Tujuan terapi asma adalah : a. Menyembuhkan dan mengendalikan gejala asma b. Mencegah kekambuhan c. Mengupayakan fungsi paru senormal mungkin serta mempertahankannya d. Mengupayakan aktivitas harian pada tingkat normal termasuk melakukan exercise e. Menghindari efek samping obat f. Mencegah obstruksi jalan napas yang irreversible g. Mencegah kematian karena asma h. Khusus anak, untuk mempertahakan potensi sesuai tumbuh kembangnya (Mansjoer, 2002; Kepmenkes, 2009) Penatalaksanaan medis untuk asma dibagi menjadi dua, yaitu (Muttaqin, 2008; Kepmenkes 2009) : - Pengobatan Nonfarmakologi a. Memberikan penyuluhan b. Menghindari faktor pencetus c. Pemberian cairan

d. Fisiotherapy - Pengobatan Farmakologi Obat-obat pengontrol adalah obat-obat yang diberikan tiap hari untuk jangka lama untuk mengontrol asma persisten. Dewasa ini pengontrol yang paling efektif adalah kortikosteroid inhalasi. Obat-obat pelega adalah yang bekerja cepat untuk menghilangkan konstriksi bronkus beserta keluhan-keluhan yang menyertainya. Selain pengobatan jangkah panjang, terdapat pula pengobatan ekserbasi (serangan asma). Eksaserbasi (serangan ) asma adalah memburuknya gejala asma secara cepat berupa bertambahnya sesak nafas, batuk mengi atau berat di dada atau kombinasi dari gejala gejala ini. Pengobatan Eksaserbasi pada penderita asma dapat dilakukan dengan pengobatan-pengobatan berikut:

a. Pengobatan di Rumah
Bronkodilator : Untuk serangan ringan dan sedang : Inhalasi agonis beta 2 aksi singkat 2 4 semprot tiap 20 menit dalam satu jam pertama . Sebagai alternatif : Inhalasi antikolinergik ( Ipratropium Bromida ) , agonis beta 2 oral atau teofilin aksi singkat . Teofilin jangan dipakai sebagai pelega , jika penderita sudah memakai teofilin lepas lambat sebagai pengontrol . Dosis agonis beta 2 aksi singkat dapat ditingkatkan sampai 4 10 semprot . Kortikosteroid : Jika respon terhadap agonis beta 2 tidak segera terlihat atau tidak bertahan ( umpamanya APE lebih dari 80 % perkiraan / nilai terbaik pribadi ) setelah 1 jam, tambahkan kortikosteroid oral a.l prednisolon 0,5 1 mg/ kg BB.

Dibutuhkan beberapa hari sampai keluhan menghilang dan fungsi paru kembali mendekati normal . Untuk itu pengobatan serangan ini tetap dipertahankan di rumah.

b. Pengobatan di Rumah Sakit
Pemberian oksigen:

Oksigen diberikan 4-6 L/menit untuk mendapatkan saturasi O2 90% atau lebih. Agonis beta-2: Agonis beta-2 aksi singkat biasanya diberikan secara nebulasi setiap 20 menit selama satu jam pertama (salbutamol 5 mg atau fenoterol 2,5 mg, tarbutalin 10 mg). Nebulasi bisa dengan oksigen atau udara. Pemberian secara parenteral agonis beta-2 dapat dilakukan bila pemberian secara nebulasi tidak memberikan hasil. Pemberian bisa secara intramuskuler, subkutan atau intravena. Adrenalin (epinefrin ) Obat ini dapat diberikan secara intramuskuler atau subkutan bila: Agonis beta 2 tidak tersedia Tidak ada respon terhadap agonis beta 2 inhalasi.

Bronkodilator tambahan: Kombinasi agonis beta-2 dengan antikolinergik (Ipratropium Bromida) memberikan efek bronkodilator yang lebih baik dari pada diberikan sendirisendiri. Obat ini diberikan sebelum mempertimbangkan aminofilin. Mengenai aminofilin dalam mengatasi serangan ini masih ada kontroversi. Walaupun ada manfaatnya, akan tetapi aminofilin intravena tidak dianjurkan dalam 4 jam pertama pada penanganan serangan asma. Aminofilin intravena dengan dosis 6 mg per kgBB diberikan secara pelan ( dalam 10 menit ) diberikan pada penderita asma akut berat yang perlu perawatan dirumah sakit, bila penderita tidak mendapat teofilin dalam 48 jam sebelumnya. Kortikosteroid: Kortikosteroid sistemik dapat mempercepat penyembuhan serangan yang refrakter terhadap obat bronkodilator. Pemberian secara oral sama efektifnya dengan intra vena dan lebih disukai karena lebih gampang dan lebih murah. Kortikosteroid baru memberikan efek minimal setelah 4 jam. Kortikosteroid diberikan bila:

-

Serangan sedang dan berat. Inhalasi agonis beta-2 tidak memperlihatkan perbaikan atau: Serangan timbul walaupun penderita telah mendapat kortikosteroid oral jangka panjang.

ASUHAN KEPERAWATAN ASMA
1. Pengkajian a. Identitas Diri Biodata Nama Umur Jenis kelamin Agama Suku/bangsa Status pernikahan Pendidikan Pekerjaan Alamat No. Registrasi Tanggal MRS b. Penanggungjawab Nama Umur Jenis kelamin Hubungan dengan pasien Pekerjaan c. Keluhan Utama d. Riwayat Penyakit Sekarang a. Provokatif/palliatif : : : : : : : : : : : : : : : :

-

Apa yang dilakukan sebelum mumculnya gejala ? Apakah gejala berkurang saat istirahat?

b. Quality/quantity Bagaimana rasanya atau suaranya ? Bagaimana anda merasakan sekarang ? Lebih parah atau lebih ringan dari yang dirasakan sebelumnya ? Bagaimana kondisi gejala saat sedang parah? apakah disertai gejala lain? c. Regio/radiasi Di bagian mana gejala dirasakan ? Apakah menyebar ?

d. Saverity/keparahan Bagaimana tingkat keparahannya ? Bagaiman pengaruhnya terhadap aktivitas ?

e. Time/waktu Sejak kapan sesak itu timbul ? Berapa lama serangannya ? Seberapa sering (frekuensi) menngalami sesak ?

e. Riwayat Penyakit Dahulu Apakah sebelumnya pernah mengalami sesak? Tindakan apa yang dilakukan untuk mengatasinya ? Apakah sebelumnya pernah menderita penyakit tertentu ? Apakah pernah dirawat di rumah sakit, jika pernah berapa lama ? Obat-obatan apa yang biasanya dikonsumsi ? Apakah memiliki riwayat alergi terhadap obat atau makanan tertentu ? Bagaiman status imunisasi? Bagaimana riwayat kehamilan dan persalinan ibunya dahulu ?

f. Riwayat Penyakit Keluarga Apakah ada anggota keluarga yang mengalami sakit seperti anda ? Bagaimana riwayat kesehatan orangtua ? Apa saja penyakit yang pernah diderita anggota keluarga ?

g. Riwayat Psiksosial Bagaiman persepsi tentang penyakitnya ? Bagaiman reaksi keluarga mengenai penyakit yang diderita?

h. Riwayat Tumbuh Kembang(Untuk Anak-Anak) Bagaimana berat badan dan tinggi badan ? Bagaimana status nutrisinya ? Bagaiman aktivitas sehari-hari? Bagaimana lingkungan tempat tinggalnya ? (mencakup ventilasi, udara, sanitasi) Bagaimana hubungan dengan teman sebayanya ?

i. Pola Kebiasaan Sehari-hari Pola Nutrisi Sebelum Sakit Frekuensi makan Jumlah makanan Nafsu makan Mual-muntah BB dan TB Pola Eliminasi Pola Aktivitas Sebelum Sakit Kegiatan Pekerjaan Olahraga Saat Sakit Saat Sakit

- Pola Istirahat Sebelum Sakit Lama Tidur Waktu Tidur Masalah Tidur Saat Sakit

- Pola Kebersihan j. Pemeriksaan Fisik Kesadaran : a. Tanda-tanda vital Tensi : Nadi : BB : b. Head To Toe Kepala dan rambut RR : Suhu : TB :

:

Kepala : bentuk, ubun-ubun, kulit kepala Rambut : penyebaran dan keadaan rambut, bau , warna Wajah : warna kulit, struktur wajah Mata Kelengkapan dan kesimetrisan, konjunctiva dan sclera, pupil, penggunaan alat bantu Hidung Tulang hidung dan posisi septum nasi, lubang hidung, cuping hidung, penggunaan alat bantu pernafasan. Telinga Bentuk telinga,ketajaman, lubang telinga, penggunaan alat bantu pernafasan. Mulut, gigi , lidah, tonsil dan pharing Keadaan bibir, keadaan gigi dan gusi, keadaan lidah, keadaan pharing, keadaan tonsil. Leher dan tenggorokan Posisi trachea, thyroid, kelenjar limfe, vene jugularis, denyut nadi karotis.

Dada dan thorak Pemeriksaan paru-paru Inspeksi :
y bentuk thorak y irama pernafasan : ( ) teratur ( ) tidak teratur y jenis

pernafasan : ( ) dispnea ( ) kussmaul ( ) ceyne-stoke ( ) lain-lain

y tanda-tanda kesulitan bernapas : y retraksi otot bantu pernafasan

Palpasi : ( ) vocal vremitus ( ) nyeri tekan Perkusi : ( ) sonor ( ) hipersonor ( )redup Auskultasi : ( ) stridor ( ) wheezing ( )ronchi ( ) vesikuler Pemeriksaan jantung Inspeksi : ictus cordis Palpasai : pulsasi, ictus cordis Perkusi : batas jantung Auskultasi : bunyi jantung, murmur, gallop Pemeriksaan payudara dan ketiak Ukuran dan bentuk payudara, warna payudara dan aerola, kelainan payudara, aksila Pemeriksaan abdomen Inspeksi : bentuk, massa, keadaan umbilicus Palpasi :nyeri tekan, massa, anda ascites, hepar,lien Perkusi : suara abdomen, pemeriksaan ascites Auskultasi : peristaltic Pemeriksaan ekstremitas Pergerakan sendi, kekuatan otot,kelainan ekstremitas, traksi Pemeriksaan integument Kulit, akral, turgor, kelembapan, clubbing finger

Pemeriksaan neurologi

Tingkat kesadaran, meningeal sign, status mental, GCS, kondisi emosi, nervus cranial (N I-XII), fungsi motorik, fungsi sensorik, reflek

j. Pemeriksaan Penunjang - Laboratorium
y y y y

Sputum Analisa Gas Darah Pemeriksaan Eosinofil Total Pemeriksaan Darah Rutin dan Kimia

- Radiologi
y

Rontgen Thoraks

- Lain-Lain
y y y

Pengukuran Fungsi Paru (Spirometer Tes Provokasi Bronkus Pemeriksaan Kulit

2. Analisis Data Data 1. - DS
y

Etiologi Faktor Pencetus asma

Masalah Keperawatan Ketidakefektifan jalan napas bersihan

Pasien

mengeluh

Hipersensitivitas bronkus terhadap stimulus

sulit bernapas - DO
y

Perubahan kedalaman/jumlah napas penggunaan bantu napas dan alat

Bronkokonstriksi

Peningkatan jumlah sel inflamasi (eosinofil, sel mast dan neutrofil)

y

Pasien lemah

tampak Hipersekresi mukus napas seperti ronchi Blokade jalan napas oleh mukus

y

Suara abnormal wheezing,

dan crackles
y

Batuk atau

(persisten) tanpa

Edema mukosa dan dinding bronkus

produksi sputum Peningkatan usaha dan frekuensi pernapasan, penggunaan otot bantu napas

Ketidak efektifan bersihan jalan napas 2. - DS
y

Faktor Pencetus asma

Pola nafas tidak efektif

Pasien

mengeluh

Hipersensitivitas bronkus terhadap stimulus

sulit bernapas
y

Menurunnya toleransi aktivitas Bronkokonstriksi

- DO
y y

Dispnea Pasien tampak

Peningkatan jumlah sel inflamasi (eosinofil, sel mast dan neutrofil)

bingung, lemah
y

Tidak

mamapu Hipersekresi mukus

mengeluarkan sekret
y

Nilai

analisa

gas

Blokade jalan napas oleh mukus

darah abnormal
y

Perubahan vital

tanda Edema mukosa dan dinding bronkus

y y

Adanya sianosis Pada tes sputum didapatkan eosinofil

Peningkatan usaha dan frekuensi pernapasan, penggunaan otot bantu

napas Hipoksemia reversible

ketidakefektifan pola napas 3. - DS
y

Faktor Pencetus asma

Gangguan pertukaran gas

Pasien

mengeluh

Hipersensitivitas bronkus terhadap stimulus

sulit bernapas
y

Menurunnya toleransi aktivitas Bronkokonstriksi

- DO
y y

Peningkatan jumlah sel Dispnea Pasien tampak inflamasi (eosinofil, sel mast dan neutrofil)

bingung, lemah
y

Tidak

mamapu

Hipersekresi mukus

mengeluarkan sekret
y

Blokade jalan napas oleh analisa gas mukus

Nilai

darah abnormal
y

Perubahan vital

tanda Edema mukosa dan dinding bronkus

y y

Adanya sianosis Pada tes sputum didapatkan eosinofil Peningkatan usaha dan frekuensi pernapasan, penggunaan otot bantu napas

Gangguan pertukaran gas

3. Prioritas Diagnosa Keperawatan a. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi sekret

b. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan obstruksi bronkus c. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan napas oleh sekresi bronkus 4. Rencana Intervensi a. Usia Bayi Diagnosa 1 Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi sekret Tujuan : Pasien menunjukkan fungsi pernapasan normal dalam 1x24 jam Kriteria Hasil : - Pasien mempertahankan jalan napas paten dengan bunyi napasbersih dan jelas - Sputum mampu keluar dari jalan napas - Keadaaan umum normal Intervensi Mandiri 1. Kaji rasio respirasi, kedalaman, adanya 1. Mengungkapkan rasio dan tipe Rasional

tachipnea, dispnea dan jika terjadi saat pernapasan berhubungan dengan usia dan tidur atau istirahat, cuping hidung, tubuh bayi, perubahan yang

retraksi,

kedalaman

(hiperpnea)

aau mengindikasikan adanya obstruksi dan

penyempitan (hipopnea), inspirasi

stridor saat konsolidasi dari jalan napas dan fungsi paru yang menurun untuk difusi gas, perubahan kedalaman yang abnormal, head bobbing mengindikasikan adanya dispnea pada bayi dan fatigue leher

menyebabkan

flesksi

mengindikasikan adanya distres respirasi 2. Kaji suara napas dengan auskultasi, konsolidasi dengan perkusi 2. Indikasi aliran napas dengan aukultasi untuk mengungkapkan adanya sekresi,

ronchi, pada obstruksi jalan napas dan wheezing pada penyempitan bronchiolar. Perkusi untuk indikasikan konsolidasi dan penurunan fungsi paru 3. Kaji perubahan warna kulit, distribusi dan durasi sianosis 3. Mengungkapkan derajat sianosis, indikasikan distribusi gas dan darah dalam paru-paru dan alveolar hipoventilasi hasil dari obstruksi jalan napas 4. Kaji kemampuan batuk , waktu batuk 4. Mengungkapakan karakteristik batuk sebagai kondisi respirasi yang mungkin terjadi infeksi atau inflamasi. Jalan napas yang sempit pada bayi mengakibatkan susah batuk karena obstruksi dari sekret dimana dapat resiko infeksi 5. Tinggikan posisi kepala sekitar 30 derajat dan pangku bayi (Ekstensikan kepala bayi dan leher dengan tangan dibawah bahu bayi) 6. Sediakan periode istirahat yang dibutuhkan bayi sebagaimana status penyakit 7. Sediakan kebutuhan cairan selama 24 jam dengan jumlah spesifik untuk bayi dan hindari susu 7. Mencegah status dehidrasi dan mengencerkan sekret untuk mudah dimobilisasi keluar tubuh. Susu dapat mempertebal sekret. 8.Lakukan postural drainase menggunakan 8. Promosikan pemindahan sekret dan gravitasi, perkusi dan vibrasi kecuali kontraindikasi, pangku bayi dan dukung sputum dari jalan napas, perkusi dan vibrasi mengurangi sekret, gravitasi 6.Mencegah pemborosan energi yang terbuang 5. Posisi yang nyaman memfasilitasi ekspansi dada yang mengembang dan efisiensi pernapasan.

bayi dengan bantal. Ajari orang tua dengan mendukung pemindahan sekret. posisi bayi yang nyaman. 9. Suction nasal atau orofaringeal dengan pijatan, jika dibutuhkan, gunakan catheter dengan benar, gunakan suntik bulb untuk 9. Pemindahan sekret dengan suction jika obstruksi hidung oleh mucus pada bayi, penggunaan tekanan tinggi dapat merusak

sekresi mukus pada hidung bayi, ukuran catheter tergantung pada usia bayi, tekanan negatif maksimum dari 60-90 cm H2O dengan batas 5 detik untuk bayi 10. Perletakan peralatan jalan napas dekat tempat pasien 11. Beri edukasi pada orang tua pasien tentang kebutuhan cairan, tipe cairan yang harus dihindari 12. Instruksikan orang tua untuk mencuci tangan Kolaborasi 1. Pemberian bronkodilator sesuai indikasi - nebulizer (via inhalasi dengan golongan terbutaline 0.25 mg, fenoterol Hbr 0.1 % solution, orciprenaline sulfur 0.75 mg

membran mucus pada jalan napas.

10. Untuk keadaan emergency jika dibutuhkan 11. Mempertahankan status hidrasi

12. Menghindari transmisi mikroorganisme via droplet

1. - pemberian bronkodilator via inhalasi akan langsung menuju area bronkus yang mengalami spasme sehingga lebih cepat berdilatasi

- Intravena dengan golongan teophyline ethilenediamine (Aminofilin) bolus IV 5-6 mg/kgBB 2. Agen mukolitik dan ekspectoran

- pemberian intravena merupakan usaha pemeliharaan dilatasi jalan napas agar optimal 2. Agen mukolitik menurunkan kekentalan dan perlengketan sekret paru untuk mempermudah pembersihan Agen ekspektoran akan memudahkan sekret lepas dari perlengkatan jalan napas

3. Korticosteroid

3. Korticosteroid berguna pada keterlibatan dengan hipoksemia dan menurunkan inflamasi akibat edema mukosa dan dinding bronkus

Diagnosa 2 Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan obstruksi bronkus Tujuan : Pola napas kembali efektif dalam 2x24 jam

Kriteria Hasil :- Irama, frekuensi dan kedalaman napas berada dalam batas normal - bunyi napas jelas terdengar Intervensi Mandiri 1. Kaji rasio respirasi, pola, kedalaman, 1. Mengungkapakan rate dan tipe respirasi adanya tachipnea, dispnea, retraksi yang berhubungan dengan umur bayi, Rasional

suscostal, nasal faring, fase ekspirasi, perubahan pola mengidikasikan kondidi ekspansi dada, periode apnea dan pola akut respirasi hasil infeksi dan obstruksi, tidur bayi head bobbing terjadi dengan dispnea pada bayi jika ada konsolidasi pada paru 2. Kaji dengan palpasi untuk konfigurasi 2. Mengungkapkan peningkatan rasio dada, auskultasi pada suara napas anteroposterior yang umumnya terjadi pada anak-anak 3. Tinggikan posisi kepala sekitar 30 derajat dan pangku bayi (Ekstensikan kepala bayi dan leher dengan tangan dibawah bahu bayi) 4. Kaji perubahan warna kulit, distribusi dan durasi sianosis 4. Mengungkapkan derajat sianosis, indikasikan distribusi gas dan darah dalam paru-paru dan alveolar hipoventilasi hasil dari obstruksi jalan napas 5. Monitor gas darah dan sediakan suplemen O2 via kap jika hipoksia karena inadekuat pola napas 6. Ajarkan mencuci tangan ketika bersama bayi, menutupi mulut dan hidung saat batuk/pilek 7. Demonstrasikan posisi nyaman untuk ventilasi udara bayi baik saat tidur maupun terjaga 8. Informasikan orang tua untuk menghindari alergen asma 8. Mencegah terjadinya gangguan pola napas lebih lanjut 7. Menunjang perbaikan pernapasan 6. Pencegahan transmisi mikroorganisme 5. Mempertahankan O2 dalam darah dan fungsi organ 3. Posisi yang nyaman memfasilitasi ekspansi dada yang mengembang dan efisiensi pernapasan.

Kolaborasi 1. Berikan bronkodilator via oral, subkutan maupun terapai aerosol atau sedatif via terapi oral jika efisisensi respirasi tidak berkurang dan steroid sesuai indikasi Diagnosa 3 Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan napas oleh sekresi mukus Tujuan : Pasien menunjukkan pertukaran gas dengan efektif dalam 1x24 jam Kriteri Hasil : - Gas darah arteri normal - PO2 dan PCO2 dalam batas normal - Tidak ada sianosis - Bernapas dalam normal Intervensi Mandiri 1. Kaji rasio respirasi, kedalaman, adanya 1. Mengungkapkan rasio dan tipe Rasional 1. Mencegah serangan asma lanjutan dan pertahanan diri menghadapi allergen

tachipnea, dispnea dan jika terjadi saat pernapasan berhubungan dengan usia dan tidur atau istirahat, cuping hidung, tubuh bayi, perubahan yang

retraksi,

kedalaman

(hiperpnea)

aau mengindikasikan adanya obstruksi dan

penyempitan (hipopnea), inspirasi

stridor saat konsolidasi dari jalan napas dan fungsi paru yang menurun untuk difusi gas, perubahan kedalaman yang abnormal, head bobbing mengindikasikan adanya dispnea pada bayi dan fatigue leher

menyebabkan

flesksi

mengindikasikan adanya distres respirasi 2. Monitor SaO2 berkelanjutan . Kaji analisis gas darah meliputi pH, PaCO2, PaO2. 3. Kaji perubahan warna kulit, distribusi dan durasi sianosis 2. Mengungkapkan status hipoksemia dan hiperkapnea dan potensi terjadinya kegagalan pernapasan 3. Mengungkapkan derajat sianosis, indikasikan distribusi gas dan darah dalam

paru-paru dan alveolar hipoventilasi hasil dari obstruksi jalan napas 4. Administrasikan terapi O2 via kap pada bayi tergantung kondisi gas darah 4. Pemberian O2 adekuat untuk mendukung intake , PO2 < 60mmHg dan PCO2 > 50-55 mmHg dapat mengindikasikan kebutuhan untuk stimulasi respirasi, suction dan support ventilasi 5. Mendiskusikan dengan orangtua tanda dan gejala asma sesuai umur bayi 6. Menjelaskan kepada orangtua tentang prosedur dan penggunaan peralatan respirasi 7. Menjelaskan pengangkutan O2 dan faktor keamanan 7. Mempertahankan jumlah O2 yang diberikan untuk pencegahan hipoksia pada bayi 8. Instruksikan dan demonstrasikan penggunaan monitor apnea, minta orangtua untuk mengulangi Kolaborasi 1. pemeriksaan BGA 1. Penurunan PO2, peningkatan PCO2 menunjukkan kebutuhan untuk intervensi selanjutnya. 2. pemberian Oksigen 2. Dapat mengoreksi kipoksemia yang terjadi akibat penurunan ventilasi 8. Orangtua yang tanggap dapat mencegah hipoksia sedini mungkin pada bayi dengan penanganan yang tepat 5. Menyediakan informasi cara mengontrol gejala dan kesehatan umum 6. Mengurangi ansietas orangtua

b. Usia Anak-anak (bawah 12 tahun) Diagnosa 1 Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi sekret Tujuan : Pasien menunjukkan fungsi pernapasan normal dalam 1x24 jam

Kriteria Hasil : - Pasien mempertahankan jalan napas paten dengan bunyi napas bersih dan jelas - Rasio , irama kedalaman napas dalam batas normal - Sputum mampu keluar dari jalan napas - TTV dalam batas normal - Keadaaan umum normal Intervensi Mandiri 1. Kaji rasio respirasi, kedalaman, adanya 1. Mengungkapkan rasio dan tipe Rasional

tachipnea, dispnea dan jika terjadi saat pernapasan berhubungan dengan usia dan tidur atau istirahat, cuping hidung, tubuh anak perubahan yang

retraksi,

kedalaman

(hiperpnea)

aau mengindikasikan adanya obstruksi dan

penyempitan (hipopnea), inspirasi

stridor saat konsolidasi dari jalan napas dan fungsi paru yang menurun untuk difusi gas, perubahan kedalaman yang abnormal

2. Kaji suara napas dengan auskultasi, konsolidasi dengan perkusi

2. Indikasi aliran napas dengan aukultasi untuk mengungkapkan adanya sekresi, ronchi, pada obstruksi jalan napas dan wheezing pada penyempitan bronchiolar. Perkusi untuk indikasikan konsolidasi dan penurunan fungsi paru

3. Kaji perubahan warna kulit, distribusi dan durasi sianosis

3. Mengungkapkan derajat sianosis, indikasikan distribusi gas dan darah dalam paru-paru dan alveolar hipoventilasi hasil dari obstruksi jalan napas

4. Kaji kemampuan batuk , waktu batuk

4. Mengungkapakan karakteristik batuk sebagai kondisi respirasi yang mungkin terjadi infeksi atau inflamasi. Jalan napas yang sempit pada bayi mengakibatkan susah batuk karena obstruksi dari sekret

dimana dapat resiko infeksi 5. Tinggikan posisi kepala sekitar 30 derajat, pada anak balita berikan posisi 5. Posisi yang nyaman memfasilitasi ekspansi dada yang mengembang dan

Ekstensikan kepala balita dan leher dengan efisiensi pernapasan. tangan dibawah bahu balita, pada anak atas 5 tahun dapat duduk atau istirahatkan kepala dengan bantal, cek posisi anak agar tidak berubah 6. Sediakan periode istirahat yang dibutuhkan anak sebagaimana status penyakit 7. Sediakan kebutuhan cairan selama 24 jam dengan jumlah spesifik untuk anak dan hindari susu 7. Mencegah status dehidrasi dan mengencerkan sekret untuk mudah dimobilisasi keluar tubuh. Susu dapat mempertebal sekret. 8.Lakukan postural drainase menggunakan 8. Promosikan pemindahan sekret dan gravitasi, perkusi dan vibrasi kecuali kontraindikasi, beri anak bantalan. Ajari orang tua dan anak (atas 5 tahun)dengan posisi yang nyaman. 9. Suction nasal atau orofaringeal dengan pijatan, jika dibutuhkan, gunakan catheter dengan benar, ukuran catheter 9. Pemindahan sekret dengan suction jika obstruksi hidung oleh mucus pada anak, penggunaan tekanan tinggi dapat merusak sputum dari jalan napas, perkusi dan vibrasi mengurangi sekret, gravitasi mendukung pemindahan sekret. 6.Mencegah pemborosan energi yang terbuang

tergantung pada usia anak yaitu 90-110 cm membran mucus pada jalan napas. H2O dalam 5 detik 10. Perletakan peralatan jalan napas dekat tempat pasien 11. Beri edukasi pada orang tua pasien dan anak tentang kebutuhan cairan, tipe cairan yang harus dihindari 12. Instruksikan orang tua dan anak untuk mencuci tangan 13. Rekomendasikan olahrga renang dan 12. Menghindari transmisi mikroorganisme via droplet 13. Promosikan saturasi dai inhalasi gas 10. Untuk keadaan emergency jika dibutuhkan 11. Mempertahankan status hidrasi

olah raga yang sedikit menguras tenaga

dengan kelembaban, exhaling dibawah air meningkatkan tekanan ekspirasi.Mencegah pemborosan energi dan kebutuhan O2 dimana mengubah status respirasi saat penyediaan permainan

14. Ajarkan napas dalam dan batuk efektiv pada anak saat posisi relax untuk postural drainase kecuali kontraindikasi, untuk inesensitif spirometer, pada anak lebih 5 tahun, ajari meniup balon Kolaborasi 1. Pemberian bronkodilator sesuai indikasi - nebulizer (via inhalasi dengan golongan terbutaline 0.25 mg, fenoterol Hbr 0.1 % solution, orciprenaline sulfur 0.75 mg

14. Mempromosikan bernapas dalam dan pemindahan sekret lewat batuk

1. - pemberian bronkodilator via inhalasi akan langsung menuju area bronkus yang mengalami spasme sehingga lebih cepat berdilatasi

- Intravena dengan golongan teophyline ethilenediamine (Aminofilin) bolus IV 5-6 mg/kgBB 2. Agen mukolitik dan ekspectoran

- pemberian intravena merupakan usaha pemeliharaan dilatasi jalan napas agar optimal 2. Agen mukolitik menurunkan kekentalan dan perlengketan sekret paru untuk mempermudah pembersihan Agen ekspektoran akan memudahkan sekret lepas dari perlengkatan jalan napas

3. Korticosteroid

3. Korticosteroid berguna pada keterlibatan dengan hipoksemia dan menurunkan inflamasi akibat edema mukosa dan dinding bronkus

Diagnosa 2 Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan obstruksi bronkus

Tujuan : Pola napas kembali efektif dalam 2x24 jam Kriteria Hasil : - Irama, frekuensi dan kedalaman napas berada dalam batas normal - bunyi napas jelas terdengar Intervensi Mandiri 1. Kaji rasio respirasi, pola, kedalaman, 1. Mengungkapakan rate dan tipe respirasi adanya tachipnea, dispnea, retraksi yang berhubungan dengan umur anak, Rasional

suscostal, nasal faring, fase ekspirasi, perubahan pola mengidikasikan kondidi ekspansi dada, periode apnea dan pola akut respirasi hasil infeksi dan obstruksi tidur anak 2. Kaji dengan palpasi untuk konfigurasi 2. Mengungkapkan peningkatan rasio dada, auskultasi pada suara napas anteroposterior yang umumnya terjadi pada anak-anak 3. Tinggikan posisi kepala sekitar 30 derajat, pada anak balita berikan posisi 3. Posisi yang nyaman memfasilitasi ekspansi dada yang mengembang dan

Ekstensikan kepala balita dan leher dengan efisiensi pernapasan. tangan dibawah bahu balita, pada anak atas 5 tahun dapat duduk atau istirahatkan kepala dengan bantal, cek posisi anak agar tidak berubah 4. Kaji perubahan warna kulit, distribusi dan durasi sianosis 4. Mengungkapkan derajat sianosis, indikasikan distribusi gas dan darah dalam paru-paru dan alveolar hipoventilasi hasil dari obstruksi jalan napas 5. Monitor gas darah dan sediakan suplemen O2 via kap jika hipoksia karena inadekuat pola napas 6. Ajarkan mencuci tangan ketika bersama anak , menutupi mulut dan hidung saat batuk/pilek, demikian pula pada anak 6. Pencegahan transmisi mikroorganisme 5. Mempertahankan O2 dalam darah dan fungsi organ

7. Demonstrasikan posisi nyaman untuk ventilasi udara anak baik saat tidur maupun terjaga 8. Informasikan orang tua dan anak untuk menghindari alergen asma Kolaborasi 1. Berikan bronkodilator via oral, subkutan maupun terapai aerosol atau sedatif via terapi oral jika efisisensi respirasi tidak berkurang dan steroid sesuai indikasi

7. Menunjang perbaikan pernapasan

8. Mencegah terjadinya gangguan pola napas lebih lanjut

1. Mencegah serangan asma lanjutan dan pertahanan diri menghadapi allergen

Diagnosa 3 Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan napas oleh sekresi mukus Tujuan : Pasien menunjukkan pertukaran gas dengan efektif dalam 1x24 jam Kriteri Hasil : - Gas darah arteri normal - PO2 dan PCO2 dalam batas normal - Tidak ada sianosis - Bernapas dalam normal Intervensi Mandiri 1. Kaji rasio respirasi, kedalaman, adanya 1. Mengungkapkan rasio dan tipe Rasional

tachipnea, dispnea dan jika terjadi saat pernapasan berhubungan dengan usia dan tidur atau istirahat, cuping hidung, tubuh anak, perubahan yang

retraksi,

kedalaman

(hiperpnea)

aau mengindikasikan adanya obstruksi dan

penyempitan (hipopnea), inspirasi

stridor saat konsolidasi dari jalan napas dan fungsi paru yang menurun untuk difusi gas, perubahan kedalaman yang abnormal

2. Monitor SaO2 berkelanjutan . Kaji analisis gas darah meliputi pH, PaCO2,

2. Mengungkapkan status hipoksemia dan hiperkapnea dan potensi terjadinya

PaO2. 3. Kaji perubahan warna kulit, distribusi dan durasi sianosis

kegagalan pernapasan 3. Mengungkapkan derajat sianosis, indikasikan distribusi gas dan darah dalam paru-paru dan alveolar hipoventilasi hasil dari obstruksi jalan napas

4. Mendiskusikan dengan orangtua tanda dan gejala asma sesuai umur anak 5. Menjelaskan kepada orangtua dan anak tentang prosedur dan penggunaan peralatan respirasi 6. Menjelaskan pengangkutan O2 dan faktor keamanan

4. Menyediakan informasi cara mengontrol gejala dan kesehatan umum 5. Mengurangi ansietas orangtua dan anak

6. Mempertahankan jumlah O2 yang diberikan untuk pencegahan hipoksia pada anak

7. Instruksikan dan demonstrasikan penggunaan monitor apnea, minta orangtua untuk mengulangi Kolaborasi 1. pemeriksaan BGA

7. Orangtua yang tanggap dapat mencegah hipoksia sedini mungkin pada anak dengan penanganan yang tepat

1. Penurunan PO2, peningkatan PCO2 menunjukkan kebutuhan untuk intervensi selanjutnya.

2. pemberian Oksigen

2. Dapat mengoreksi kipoksemia yang terjadi akibat penurunan ventilasi

c. Usia Dewasa ( 12 tahun ) Diagnosa 1 Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi sekret Tujuan : Pasien menunjukkan fungsi pernapasan normal dalam 1x24 jam Kriteria Hasil : - Pasien mempertahankan jalan napas paten dengan bunyi napas bersih dan jelas

- Sputum mampu keluar dari jalan napas - Keadaaan umum normal Intervensi Mandiri 1. Kaji rasio respirasi, kedalaman, adanya 1. Mengungkapkan rasio dan tipe Rasional

tachipnea, dispnea dan jika terjadi saat pernapasan berhubungan dengan usia dan tidur atau istirahat, cuping hidung, tubuh yang mengindikasikan adanya

retraksi,

kedalaman

(hiperpnea)

aau obstruksi dan konsolidasi dari jalan napas

penyempitan (hipopnea), inspirasi

stridor saat dan fungsi paru yang menurun untuk difusi gas, perubahan kedalaman yang abnormal 2. Indikasi aliran napas dengan aukultasi untuk mengungkapkan adanya sekresi, ronchi, pada obstruksi jalan napas dan wheezing pada penyempitan bronchiolar. Perkusi untuk indikasikan konsolidasi dan penurunan fungsi paru

2. Kaji suara napas dengan auskultasi, konsolidasi dengan perkusi

3. Kaji perubahan warna kulit, distribusi dan durasi sianosis

3. Mengungkapkan derajat sianosis, indikasikan distribusi gas dan darah dalam paru-paru dan alveolar hipoventilasi hasil dari obstruksi jalan napas

4. Kaji kemampuan batuk , waktu batuk

4. Mengungkapakan karakteristik batuk sebagai kondisi respirasi yang mungkin terjadi infeksi atau inflamasi.

5. Tinggikan posisi kepala sekitar 30 derajat, beri posisi tidur semifowler atau fowler 6. Sediakan periode istirahat yang dibutuhkan 7. Sediakan kebutuhan cairan selama 24 jam dengan jumlah spesifik

5. Posisi yang nyaman memfasilitasi ekspansi dada yang mengembang dan efisiensi pernapasan. 6.Mencegah pemborosan energi yang terbuang 7. Mencegah status dehidrasi dan mengencerkan sekret untuk mudah dimobilisasi keluar tubuh.

8. Berikan air hangat

8. Pemberian air hangat dapat

mengencerkan sekret sehingga mudah dikeluarkan dari tubuh 9. Ajarkan napas dalam dan batuk efektiv pada anak saat posisi relax untuk postural drainase kecuali kontraindikasi, untuk inesensitif spirometer, pada anak lebih 5 tahun, ajari meniup balon 10. Perletakan peralatan jalan napas dekat tempat pasien 11. Beri edukasi pada pasien tentang kebutuhan cairan, tipe cairan yang harus dihindari 12. Instruksikan pasien untuk mencuci tangan 13. Rekomendasikan olahrga renang dan olah raga yang sedikit menguras tenaga 12. Menghindari transmisi mikroorganisme via droplet 13. Promosikan saturasi dai inhalasi gas dengan kelembaban, exhaling dibawah air meningkatkan tekanan ekspirasi.Mencegah pemborosan energi dan kebutuhan O2 dimana mengubah status respirasi saat penyediaan permainan 14. Beri lingkungan yang nyaman bebas dari alergen Kolaborasi 1. Pemberian bronkodilator sesuai indikasi - nebulizer (via inhalasi dengan golongan terbutaline 0.25 mg, fenoterol Hbr 0.1 % solution, orciprenaline sulfur 0.75 mg 1. - pemberian bronkodilator via inhalasi akan langsung menuju area bronkus yang mengalami spasme sehingga lebih cepat berdilatasi - Intravena dengan golongan teophyline ethilenediamine (Aminofilin) bolus IV 5-6 mg/kgBB 2. Agen mukolitik dan ekspectoran - pemberian intravena merupakan usaha pemeliharaan dilatasi jalan napas agar optimal 2. Agen mukolitik menurunkan kekentalan 14. Faktor pencetus dapat mengakibatkan serangan akut 10. Untuk keadaan emergency jika dibutuhkan 11. Mempertahankan status hidrasi 9. Mempromosikan bernapas dalam dan pemindahan sekret lewat batuk

dan perlengketan sekret paru untuk mempermudah pembersihan Agen ekspektoran akan memudahkan sekret lepas dari perlengkatan jalan napas 3. Korticosteroid 3. Korticosteroid berguna pada keterlibatan dengan hipoksemia dan menurunkan inflamasi akibat edema mukosa dan dinding bronkus

Diagnosa 2 Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan obstruksi bronkus Tujuan : Pola napas kembali efektif dalam 2x24 jam Kriteria Hasil : - Irama, frekuensi dan kedalaman napas berada dalam batas normal - bunyi napas jelas terdengar Intervensi Mandiri 1. Kaji rasio respirasi, pola, kedalaman, 1. Mengungkapakan rate dan tipe respirasi adanya tachipnea, dispnea, retraksi yang berhubungan perubahan pola Rasional

suscostal, nasal faring, fase ekspirasi, mengidikasikan kondidi akut respirasi hasil ekspansi dada, periode apnea dan pola infeksi dan obstruksi tidur 2. Kaji dengan palpasi untuk konfigurasi 2. Mengungkapkan peningkatan rasio dada, auskultasi pada suara napas anteroposterior yang umumnya terjadi pada anak-anak 3. Tinggikan posisi kepala sekitar 30 derajat, beri posisi fowler atu semi-fowler 3. Posisi yang nyaman memfasilitasi ekspansi dada yang mengembang dan efisiensi pernapasan. 4. Kaji perubahan warna kulit, distribusi 4. Mengungkapkan derajat sianosis,

dan durasi sianosis

indikasikan distribusi gas dan darah dalam paru-paru dan alveolar hipoventilasi hasil dari obstruksi jalan napas

5. Monitor gas darah dan sediakan suplemen O2 via kap jika hipoksia karena inadekuat pola napas 6. Demonstrasikan posisi nyaman untuk ventilasi udara anak baik saat tidur maupun terjaga 8. Informasikan untuk menghindari alergen asma Kolaborasi 1. Berikan bronkodilator via oral, subkutan maupun terapai aerosol atau sedatif via terapi oral jika efisisensi respirasi tidak berkurang dan steroid sesuai indikasi

5. Mempertahankan O2 dalam darah dan fungsi organ

6. Menunjang perbaikan pernapasan

8. Mencegah terjadinya gangguan pola napas lebih lanjut

1. Mencegah serangan asma lanjutan dan pertahanan diri menghadapi allergen

Diagnosa 3 Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan napas oleh sekresi mukus Tujuan : Pasien menunjukkan pertukaran gas dengan efektif dalam 1x24 jam Kriteri Hasil : - Gas darah arteri normal - PO2 dan PCO2 dalam batas normal - Tidak ada sianosis - Bernapas dalam normal Intervensi Mandiri Rasional

1. Kaji rasio respirasi, kedalaman, adanya 1.

Mengungkapkan

rasio

dan

tipe

tachipnea, dispnea dan jika terjadi saat pernapasan berhubungan dengan usia dan tidur atau istirahat, cuping hidung, tubuh anak, perubahan yang

retraksi,

kedalaman

(hiperpnea)

aau mengindikasikan adanya obstruksi dan

penyempitan (hipopnea), inspirasi

stridor saat konsolidasi dari jalan napas dan fungsi paru yang menurun untuk difusi gas, perubahan kedalaman yang abnormal

2. Monitor SaO2 berkelanjutan . Kaji analisis gas darah meliputi pH, PaCO2, PaO2. 3. Kaji perubahan warna kulit, distribusi dan durasi sianosis

2. Mengungkapkan status hipoksemia dan hiperkapnea dan potensi terjadinya kegagalan pernapasan 3. Mengungkapkan derajat sianosis, indikasikan distribusi gas dan darah dalam paru-paru dan alveolar hipoventilasi hasil dari obstruksi jalan napas

4. Menjelaskan pengangkutan O2 dan faktor keamanan 5. Instruksikan dan demonstrasikan penggunaan monitor apnea, beri informasi juga pada keluarha Kolaborasi 1. pemeriksaan BGA

4. Mempertahankan jumlah O2 yang diberikan untuk pencegahan hipoksia 5. Keluarga diharap mampu mencegah komplikasi awal sehingga bisa dilakukan pencegahan dini

1. Penurunan PO2, peningkatan PCO2 menunjukkan kebutuhan untuk intervensi selanjutnya.

2. pemberian Oksigen

2. Dapat mengoreksi kipoksemia yang terjadi akibat penurunan ventilasi

d. Usia Lansia ( 55 tahun) Diagnosa 1 Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi sekret Tujuan : Pasien menunjukkan fungsi pernapasan normal dalam 1x24 jam

Kriteria Hasil : - Pasien mempertahankan jalan napas paten dengan bunyi napas bersih dan jelas - Sputum mampu keluar dari jalan napas - Keadaaan umum normal Intervensi Mandiri 1. Kaji rasio respirasi, kedalaman, adanya 1. Mengungkapkan rasio dan tipe Rasional

tachipnea, dispnea dan jika terjadi saat pernapasan berhubungan dengan usia dan tidur atau istirahat, cuping hidung, tubuh yang mengindikasikan adanya

retraksi,

kedalaman

(hiperpnea)

aau obstruksi dan konsolidasi dari jalan napas

penyempitan (hipopnea), inspirasi

stridor saat dan fungsi paru yang menurun untuk difusi gas, perubahan kedalaman yang abnormal 2. Indikasi aliran napas dengan aukultasi untuk mengungkapkan adanya sekresi, ronchi, pada obstruksi jalan napas dan wheezing pada penyempitan bronchiolar. Perkusi untuk indikasikan konsolidasi dan penurunan fungsi paru

2. Kaji suara napas dengan auskultasi, konsolidasi dengan perkusi

3. Kaji perubahan warna kulit, distribusi dan durasi sianosis

3. Mengungkapkan derajat sianosis, indikasikan distribusi gas dan darah dalam paru-paru dan alveolar hipoventilasi hasil dari obstruksi jalan napas

4. Kaji kemampuan batuk , waktu batuk

4. Mengungkapakan karakteristik batuk sebagai kondisi respirasi yang mungkin terjadi infeksi atau inflamasi.

5. Tinggikan posisi kepala sekitar 30 derajat, beri posisi tidur semifowler atau fowler 6. Sediakan periode istirahat yang dibutuhkan 7. Sediakan kebutuhan cairan selama 24

5. Posisi yang nyaman memfasilitasi ekspansi dada yang mengembang dan efisiensi pernapasan. 6.Mencegah pemborosan energi yang terbuang 7. Mencegah status dehidrasi dan

jam dengan jumlah spesifik

mengencerkan sekret untuk mudah dimobilisasi keluar tubuh.

8. Berikan air hangat

8. Pemberian air hangat dapat mengencerkan sekret sehingga mudah dikeluarkan dari tubuh

9. Ajarkan napas dalam dan batuk efektiv pada anak saat posisi relax untuk postural drainase kecuali kontraindikasi, untuk inesensitif spirometer, pada anak lebih 5 tahun, ajari meniup balon 10. Perletakan peralatan jalan napas dekat tempat pasien 11. Beri edukasi pada pasien tentang kebutuhan cairan, tipe cairan yang harus dihindari 12. Instruksikan pasien untuk mencuci tangan 13. Rekomendasikan olahrga renang dan olah raga yang sedikit menguras tenaga

9. Mempromosikan bernapas dalam dan pemindahan sekret lewat batuk

10. Untuk keadaan emergency jika dibutuhkan 11. Mempertahankan status hidrasi

12. Menghindari transmisi mikroorganisme via droplet 13. Promosikan saturasi dai inhalasi gas dengan kelembaban, exhaling dibawah air meningkatkan tekanan ekspirasi.Mencegah pemborosan energi dan kebutuhan O2 dimana mengubah status respirasi saat penyediaan permainan

14. Beri lingkungan yang nyaman bebas dari alergen Kolaborasi 1. Pemberian bronkodilator sesuai indikasi - nebulizer (via inhalasi dengan golongan terbutaline 0.25 mg, fenoterol Hbr 0.1 % solution, orciprenaline sulfur 0.75 mg

14. Faktor pencetus dapat mengakibatkan serangan akut

1. - pemberian bronkodilator via inhalasi akan langsung menuju area bronkus yang mengalami spasme sehingga lebih cepat berdilatasi

- Intravena dengan golongan teophyline

- pemberian intravena merupakan usaha

ethilenediamine (Aminofilin) bolus IV 5-6 mg/kgBB 2. Agen mukolitik dan ekspectoran

pemeliharaan dilatasi jalan napas agar optimal 2. Agen mukolitik menurunkan kekentalan dan perlengketan sekret paru untuk mempermudah pembersihan Agen ekspektoran akan memudahkan sekret lepas dari perlengkatan jalan napas

3. Korticosteroid

3. Korticosteroid berguna pada keterlibatan dengan hipoksemia dan menurunkan inflamasi akibat edema mukosa dan dinding bronkus

Diagnosa 2 Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan obstruksi bronkus Tujuan : Pola napas kembali efektif dalam 2x24 jam Kriteria Hasil : - Irama, frekuensi dan kedalaman napas berada dalam batas normal - bunyi napas jelas terdengar Intervensi Mandiri 1. Kaji rasio respirasi, pola, kedalaman, 1. Mengungkapakan rate dan tipe respirasi adanya tachipnea, dispnea, retraksi yang berhubungan perubahan pola Rasional

suscostal, nasal faring, fase ekspirasi, mengidikasikan kondidi akut respirasi hasil ekspansi dada, periode apnea dan pola infeksi dan obstruksi tidur 2. Kaji dengan palpasi untuk konfigurasi 2. Mengungkapkan peningkatan rasio dada, auskultasi pada suara napas anteroposterior yang umumnya terjadi pada anak-anak 3. Tinggikan posisi kepala sekitar 30 3. Posisi yang nyaman memfasilitasi

derajat, beri posisi fowler atu semi-fowler

ekspansi dada yang mengembang dan efisiensi pernapasan.

4. Kaji perubahan warna kulit, distribusi dan durasi sianosis

4. Mengungkapkan derajat sianosis, indikasikan distribusi gas dan darah dalam paru-paru dan alveolar hipoventilasi hasil dari obstruksi jalan napas

5. Monitor gas darah dan sediakan suplemen O2 via kap jika hipoksia karena inadekuat pola napas 6. Demonstrasikan posisi nyaman untuk ventilasi udara anak baik saat tidur maupun terjaga 8. Informasikan untuk menghindari alergen asma Kolaborasi 1. Berikan bronkodilator via oral, subkutan maupun terapai aerosol atau sedatif via terapi oral jika efisisensi respirasi tidak berkurang dan steroid sesuai indikasi Diagnosa 3

5. Mempertahankan O2 dalam darah dan fungsi organ

6. Menunjang perbaikan pernapasan

8. Mencegah terjadinya gangguan pola napas lebih lanjut

1. Mencegah serangan asma lanjutan dan pertahanan diri menghadapi allergen

Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan napas oleh sekresi mukus Tujuan : Pasien menunjukkan pertukaran gas dengan efektif dalam 1x24 jam Kriteri Hasil : - Gas darah arteri normal - PO2 dan PCO2 dalam batas normal - Tidak ada sianosis - Bernapas dalam normal Intervensi Mandiri 1. Kaji rasio respirasi, kedalaman, adanya 1. Mengungkapkan rasio dan tipe Rasional

tachipnea, dispnea dan jika terjadi saat pernapasan berhubungan dengan usia dan

tidur

atau

istirahat,

cuping

hidung, tubuh

anak,

perubahan

yang

retraksi,

kedalaman

(hiperpnea)

aau mengindikasikan adanya obstruksi dan

penyempitan (hipopnea), inspirasi

stridor saat konsolidasi dari jalan napas dan fungsi paru yang menurun untuk difusi gas, perubahan kedalaman yang abnormal

2. Monitor SaO2 berkelanjutan . Kaji analisis gas darah meliputi pH, PaCO2, PaO2. 3. Kaji perubahan warna kulit, distribusi dan durasi sianosis

2. Mengungkapkan status hipoksemia dan hiperkapnea dan potensi terjadinya kegagalan pernapasan 3. Mengungkapkan derajat sianosis, indikasikan distribusi gas dan darah dalam paru-paru dan alveolar hipoventilasi hasil dari obstruksi jalan napas

5. Instruksikan dan demonstrasikan penggunaan monitor apnea, beri informasi juga pada keluarga 6. Tanyakan riwayat merokok. Beri informasi tentang bahaya merokok terhadap sistem pernapasan

5. Keluarga diharap mampu mencegah komplikasi awal sehingga bisa dilakukan pencegahan dini 6. Merokok sejak usia muda merupakan hal yang dapat memberi dampak serius bagi perkembangan pernapasan di masa lansia yang rentan terhadap penyakit.

7. Anjurkan olahraga ringan secara teratur

7. Olahraga merupakan aktivitas yang dapat menyehatkan tubuh dan memperlancar peredaran darah

8. Beri informasi agar menghindari pajanan 8. Salah satu fungsi sistem pernapasan terhadap traktus respiratus bagian atas adalah dalam pajanan. Pajanan saluran napas dapat menyebabkan gangguan. Kolaborasi 1. pemeriksaan BGA 1. Penurunan PO2, peningkatan PCO2 menunjukkan kebutuhan untuk intervensi selanjutnya. 2. pemberian Oksigen 2. Dapat mengoreksi kipoksemia yang terjadi akibat penurunan ventilasi

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful