Dilalah atau Makna Mengetahui makna sebuah kata adalah hal yang penting dalam agama yang memiliki

kitab suci. Meskipun mungkin menurut saya juga penting dalam memahami hukum konstitusi yang tertulis. Tapi sayang yang saya tulis dibawah ini adalah kajian klasik dari Islam tentang makna sebuah teks, yang tentu duhubungkan dengan bahasa arab yang merupakan bahasa teks suci dalam islam. Pembahasan seperti ini masuk dalam subyek Ushul Fikih dalam literatur Islam. Dibawah ini adalah usaha untuk menulis dan memahami lebih dalam selanjutnya, semoga, apa yang telah saya dapat dari bacaan saya. Ilmu Ushul fikih mempunyai banyak aliran sebagaimana aliran fikih itu sendiri, meskipun perbedaannya tidak selebar dan seluas Fikih. Dibawah ini akan disebutkan pandangan Hanafiyah dan Syafi’iyah dalam makna atau dilalah: Dilalah menurut mazhab Hanafiyah ada 4: 1. Ibaroh nash: makna eksplisit, maksud asli, makan elementer. 2. Isyaroh nash: implisit, taabi’, sekunder yang didapat melalui isyarat/tanda. 3. Dilalah nash: meaning, didapat dari ‘illat’/spirit teks. Ini mungkin bisa dimasukkan dalam qiyas dalam Syafi’iyah. 4. Iqtidlo’ nash: Makan yang tidak ada dalam teks. Ini didapat untuk menyempurnakan makna asli teks. Menurut Syafi’iyah dilalah ada 2: 1. Dilalah manthuq: makan tertulis/ eksplisit. 2. Dilalah mafhum: makna yang dinyatakan secara tidak langsung oleh teks. Dilalah mafhum ada 2: muwafaqoh dan mukholafah. Disini saya juga inngin sedikit menyebutkan bahwa Maqoosid as-syari’ah yang sering duganakan oleh kalangan Liberal Islam untuk mendasarkan dan mengembalikan semua hukum Islam diatasnya adalah dimulai pertama oleh Turmuzi (abad 3 H) dalam Ash-Sholat wa Maqoosiduha à Maturidi (333 H) –> Abu Bakar Qaffal (365 H)à Baqillany (403 H) à Ghazali (505 H) à dan puncaknya pada Asy-Syathibi (Spanyol 790 H/ 1380 M). Tetapi Liberal Islam menggunakan konsep ulama klasik ini dengan cara berbeda dengan yang ditetapkan dalam buku-buku Ushul Fikih mereka itu diantaranya dalam: 1. Ulama klasik memberikan Maqosid asy-syari’ah itu urutan gradasi dalam 5 Maqosid itu. Urutannya adalah: Allah/agama, akal, hidup, keturunan, dan kehormatan. Liberal menafikan urutan bergradasi ini atau bahkan menghilangkan agama/Allah dalam tujuan hukum. Karena Allah dianggap tidak membutuhkan sesuatu dan hukum syariat hanya untuk manfaat manusia. 2. Pengertian klasik atas Maqosid adalah bahwa hukum ditetapkan oleh Allah untuk menjaga 5 hal diatas dalam hal selamat atau dalam bebas dari kejelekan. Tetapi Liberal mengambil pengertian bahwa seseorang itu bebas untuk melakukan sesuatu dalam 5 hal itu. Kalau tidak salah ini adalah perbedaan dengan istilah Inggris, antara Freedom from dan freedom to. Liberal mengambil yang terakhir. 3. Liberal menggunakan 5 hal tadi sebagai dasar pokok dibuatnya sebuah hukum Islam. Jadi apabila ada sebuah hukum yang dianggap tidak bisa lagi memenuhi tujuan/maqosid 5 tadi, maka hukum itu dihapus dan diganti dengan yang bisa memenuhi. http://sulthony.wordpress.com/2010/08/26/meaning-atau-dilalah/ EORI LAFAZ TERHADAP MAKNA: Perbandingan Antara Metode Hanafiyah dan Mutakallimin

A. Lafaz Menurut Metode Hanafiyah Pakar Usul Hanafiyah sepakat bahwa lafaz ada yang dapat dipahami langsung secara tekstual dan ada yang tidak. melainkan juga dapat dipahami melalui lafaz nass. Yang dapat dipahami langsung. Metode Hanafiyah dan Metode Mutakallimin yang masing-masing memiliki rumusan tersendiri. Wahbah az-Zuhaili menyatakan. Titik temu keduanya akan dideskripsikan dengan menggunakan pendekatan komparatif. ada yang mengandung mana eksplisit dan ada yang inplisit. juga bukan nass. tulisan ini tidak berpretensi untuk memberikan penilaian terhadap keabsahan kedua metode tersebut.yaitu. Pendahuluan Perbedaan penemuan hukum (istinbat al-ahkam) terjadi akibat beberapa faktor. ‘ibarah an-nass yang diperoleh berdasarkan ungkapan tersebut adalah: Kebolehan berumah tangga. maknanya terlepas dari lafaz ‘ibarah. maupun lafaz mufassar. Adapun lafaz yang tidak dapat dipahami secara tekstual. adalah perbedaan metode ulama Usul dalam memahami makna nass. merupakan rangkaian 'ibarah. Sementara yang inplisit disebut isyarah an-nass. lafaz muhkam. secara internal.merupakan pembagian lafaz dalam memahami makna nass menurut Hanafiyah. Ada dua metode (manhaj) yang berkembang tentang lafaz tersebut . Berdasarkan pendekatan defenitif tersebut. guna pemahaman lebih mendalam dan persamaan persepsi. Isyarah an-Nass Isyarah an-nass adalah ungkapan yang mengandung makna inplisit. Menurut al-Khinn. Dengan demikian. yang dapat dipahami melalui proses pengamatan tanpa menambah atau mengurangi lafaz. seperti telah diungkapkan. dan kedua disebut iqtida’ annass. nass. Untuk lebih lanjut. melalui lafaz (turq dilalah al-alfaz). ada kalanya dapat dipahami melalui kaedah bahasa dan ada yang melalui pendekatan syara’ atau logika. Misalnya Firman Allah SWT tentang kebolehan berumah tangga. Tulisan ini akan membahas konsep lafaz yang dirumuskan oleh kedua metode tersebut.‘ibarah an-nass.juga dikenal sebagai dua aliran besar dalam Usul al-Fiqh . perbedaan persepsi dalam penemuan hukum. dan tentang kewajiban membatasi untuk menikahi seorang wanita. Salah satu faktor penyebab perbedaan tersebut. dan iqtida’ an-nass . 1. Firman Allah mengenai masa kehamilan minimal 6 bulan dapat dijadikan contoh. isyarah an-nass. muhkam. baik langsung atau tidak. Dalam Kitab Kasyf al-Asrar dinyatakan bahwa ungkapan tersebut diperoleh melalui rangkaian ungkapan ‘ibarah. dilalah an-nass. dan memiliki makna eksplisit. jika ada kekhawatiran tidak dapat berlaku adil bila mempunyai istri lebih dari seorang. lafaz bukan merupakan maksud secara langsung dan tidak langsung. Makna isyarah ayat tersebut adalah bahwa masa kehamilan minimal adalah 6 bulan. Dengan ungkapan yang berbeda. namun bukan sebagai tujuan. suatu ungkapan mengandung isyarah apabila mengandung unsur-unsur sebagai berikut: merupakan ungkapan yang memiliki makna inplisit. Abu Zahrah menyatakan bahwa isyarah an-nass merupakan kesimpulan (natijah) dari sebuah ungkapan yang dipahami dari ‘ibarah. di antaranya: terdiri dari lafaz zahir. suatu ungkapan disebut ‘ibarah an-nass. dirasa perlu mendeskripsikan substansi masing-masing tersebut. ‘ibarah an-nass tidak hanya dapat dipahami melalui lafaz zahir semata. bila ungkapan tersebut mengandung makna langsung (asalah) atau makna tidak langsung (tab’an). Dan tersebut bukan makna yang segera diperoleh dari makna lafaz secara tekstual. al-Qur’an dan Hadis. serta bukan merupakan bentuk zahir. tanpa menambah atau mengurangi teks nass. terkesan wajar dan dianggap lumrah. namun terlepas dari lafaz ‘ibarah tersebut. Yang pertama disebut dilalah an-nass. . 2. suatu nass mengandung ‘ibarah apabila memenuhi beberapa unsur. serta bukan mengandung makna langsung atau sebaliknya. Menurut Abu Zahrah. Maksudnya adalah makna yang tergambar dari lafaz tersebut. baik internal maupun eksternal. B. Namun. Dengan mengacu pada batasan terminologis sebelumnya. diketahui sebelum menggunakan pengamatan atau pemikiran. 490 H. atau mufassar. Klasifikasi tersebut . dipahami melalui proses pengamatan. Kebolehan mempunyai istri lebih dari satu orang. eksplisit tersebut umum disebut ‘ibarah an-nass. ‘Ibarah an-Nass As-Sarakhsi (w. dan zahir nass telah mendeskripsikannya. dapat dipahami tanpa melalui proses pengamatan (qabl at-ta’ammul).) berpendapat bahwa ‘ibarah an-nass adalah ungkapan yang dapat dipahami langsung. melainkan mengandung makna yang dapat diperoleh dengan segera melalui ungkapan lafaz.

artinya. Dilalah al-Ima’. tersebut diperoleh tanpa memerlukan ijtihad. pada mulanya sebagian pakar Usul Hanafiyah berbeda pendapat mengenai batasan pengertian dilalah an-nass. Adapun mantuq gair sarih adalah yang mengandung kemestian (iltizam). bukan ibu. yang bukan merupakan maksud pembicaraan. unsur-unsur iqtida’ an-nass adalah: makna yang diinginkan berada pada lafaz yang ditaqdirkan. dilalah an-nass ungkapan tersebut adalah larangan untuk memukul. Mantuq gair sarih ayat tersebut adalah bahwa anak dinisabkan kepada ayah dan ibunya dan nafkah anak adalah tanggung jawab ayahnya. penetapan makna bukan melalui proses ijtihad atau istinbat. dan lafaz dapat dipahami dengan bantuan syari’ah dan logika. Namun ada kesepakatan di antara mereka.). Lafaz Menurut Metode Mutakallimin Secara umum. C. jika sifat tersebut bukan sifat sebagai illat hukum yang terkait dengan perintah potong tangan. memaki. Selanjutnya Mutakallimin sependapat bahwa mantuq terdiri dari mantuq sarih dan gair sarih. yang mengabstraksikan bahwa maksud si pembicara tergantung pada makna di luar lafaz. yang beriringan dengan ketetapan. Seperti Firman Allah tentang nisbah anak. Misalnya: Firman Allah SWT tentang riba. mantuq sarih nass tersebut adalah kehalalan jual beli dan keharaman riba. maka niscaya tidak akan ada kebersamaan makna. dll. Iqtida’ an-Nass Batasan iqtida’ an-nass menurut Abu Zahrah adalah lafaz yang tidak bisa dipahami kecuali dengan mentaqdirkannya. Kandungan mantuq ayat tersebut adalah larangan ta’fif dengan alasan bahwa . mantuq merupakan lafaz yang diketahui dari objek penuturan (fi mahl an-natq). Jumhur Mutakallimin juga sepakat bahwa mafhum muwafaqah dapat dibedakan menjadi: Fahw al-Khitab. tanpa ijtihad dan istinbat. Firman Allah SWT tentang larangan ta'fif: Kandungan ibarah an-nass ayat tersebut adalah larangan ta’fif dengan alasan bahwa perbuatan tersebut menyakiti orang tua (al-iza’). jika mafhum tersebut lebih utama (lebih tinggi tingkatannya). Adapun unsur-unsur lafaz dilalah an-nass dapat dirumuskan sebagai berikut: makna yang diperoleh merupakan jiwa nass. lafaz tersebut disebut mafhum muwafaqah karena yang tidak disebutkan sama hukumnya dengan yang disebutkan. suatu disebut iqtida’ an-nass bila kebenaran atau kesahihan sebuah makna secara syara’ atau ‘aqliyyah yang tergantung pada makna di luar lafaz. Berikut dipaparkan: Mantuq Menurut as-Syaukani (w. 1255 H.3. AlKhinn sependapat dengan batasan tersebut. namun ia menegaskan bahwa mantuq tidak terbatas pada hukum an-sich. memarahi orang tua. Disebut mafhum muwafaqah bila lafaz mantuq suatu ungkapan sesuai dengan yang tidak disebutkan. bahwa dilalah an-nass merupakan lafaz yang digunakan untuk penetapan hukum dan diketahui oleh setiap orang yang bisa berbahasa Arab karena adanya indikasi tanpa terlebih dahulu melalui ijtihad. Misalnya Firman Allah SWT tentang masa kehamilan. Mantuq gair sarih dapat diklasifikasikan menjadi tiga pembagian: Dilalah iqtida’. Misalnya Firman Allah SWT tentang larangan ta'fif. Ditegaskan oleh al-Khinn. hukum yang disebutkan lafaz dan sebagai keadaan yang sebenarnya (hal min ahwalihi). Jumhur Mutakallimin sepakat bahwa. niscaya akan jauh pada makna yang dikandungnya. Contohnya. isyarah yang muncul berdasarkan kedua ayat tersebut adalah bahwa masa kehamilan minimal adalah 6 bulan. Mantuq sarih adalah lafaz dari segi kesesuaian (mutabaqah) dan cakupan (tadammum). pakar Usul Mutakallimin membagi lafaz kepada mantuq dan mafhum. Dilalah isyarah. misalnya Firman Allah SWT tentang hukuman bagi pencuri. mafhum dapat dibedakan pada dua pembagian: Mafhum Muwafaqah. 4. Dan tersebut bukan makna yang segera diperoleh dari makna lafaz secara tekstual. Melalui pendekatan al-ima’ dapat diketahui bahwa perintah potong tangan terkait dengan sifat pencurian. bukan kesesuaian dan cakupan. dan makna tersebut dapat dipahami oleh orang yang mempunyai pengetahuan bahasa Arab. Dengan demikian. Dilalah an-Nass Dalam Kitab Kasyf al-Asrar dinyatakan bahwa dilalah an-nass merupakan penetapan yang diperoleh melalui makna ungkapan nass secara lugawiyah. dan jika tidak beriringan karena suatu illat. Maksudnya bahwa ketetapan tersebut merupakan ketetapan terhadap makna yang tidak disebutkan. Al-Khinn menjelaskan. Mafhum Mafhum adalah lafaz yang bukan merupakan objek penuturan. serta adanya implikasi dari makna lafaz untuk memahami hal yang tidak disebutkan lafaz.

Sementara golongan Usul Mutakallimin menggunakan terma seperti mantuq sarih. diketahui pula bahwa ada di antara terma-terma berbeda dari kedua golongan tersebut memiliki substansi yang sama. Sebagian besar perbedaan terma-terma yang digunakan mengandung esensi yang sama antara Metode Hanafiyah dan Mutakallimin. Demikian juga halnya dengan terma dilalah an-nass bagi kalangan Hanafiyah dikenal dengan terma mafhum wuwafaqah menurut Mutakallimin. Dari segi maksud dan tujuan. Makna mantuq ayat tersebut adalah keharaman memakan harta anak yatim dengan zalim. adalah dalam memahami Firman Allah SWT tentang pembunuhan sengaja. Salah satu contoh perbedaan penemuan hukum. mafhum muwafaqah. Selanjutnya mengenai tingkatan masing-masing lafaz. Sementara mafhum mukhalafah yang dikandung ayat tersebut adalah keharaman untuk menikahi hamba perempuan bagi orang yang dapat memenuhi nafkah bila menikahi wanita mukmin yang merdeka. dilalah al-ima’ dan dilalah isyarah). Sedangkan isyarah an-nass lebih cenderung memandang pemahaman yang inplisit. Meskipun keduanya beranjak dari konsep dasar yang sama. D. pemahamannya lebih mendekati makna yang dikandung oleh ‘ibarah an-nass. Menurut Syafi’iy. gair sarih (dilalah iqtida’. Bedanya. isyarah dan iqtida’ merupakan pembagian inti lafaz. Selain itu. bahkan menganggapnya sebagai istidlal yang fasid. lafaz lahn al-khitab-nya adalah bahwa membakar atau menyia-nyiakan harta anak yatim juga haram. isyarah an-nass berada dalam cakupan lafaz yang mantuq. jika mafhum tersebut memiliki tingkatan yang sama (musawi). Dari sudut pandang terma-terma yang digunakan. Dengan demikian. Artinya. isyarah dan iqtida’ yang dimaksud oleh Hanafiyah sama dengan apa yang dimaksud Mutakallimin. lafaz kedua terma tersebut juga memiliki substansi yang sama. memaki. dan iqtida’ annass. fahw al-khitab yang diperoleh adalah larangan memukul. dilalah an-nass lebih didahulukan daripada isyarah an-nass.perbuatan tersebut menyakiti orang tua (al-iza’). kedua tersebut merupakan bagian dari mantuq gair sarih. kemudian isyarah an-nass. dan mafhum mukhalafah. Misalnya Firman Allah SWT tentang keharaman menikahi hamba perempuan. golongan Hanafiyah menggunakan ‘ibarah an-nass. Penyamaan tersebut karena memakan dan membakar harta anak yatim bersifat memusnahkan atau menghabisi harta tersebut. ulama Hanafiyah sepakat bahwa lafaz yang paling tinggi tingkatannya adalah ‘ibarah nass. Analisa Perbandingan Ketika mendeskripsikan uraian sebelumnya. Bagi golongan Hanafiyah. Misalnya Firman Allah SWT tentang keharaman memakan harta anak yatim. hipotesa yang muncul adalah adanya kesan pemahaman yang hampir sama. isyarah an-nass. yaitu penelusuruan terhadap lafaz dalam konteks upaya pemahaman terhadap makna nass. Berdasarkan pendekatan defenisi. dapat dipahami bahwa Hanafiyah tidak mengenal mafhum mukhalafah. akibat pertentangan pemahaman antara Syafi’i dan Hanafi dalam konteks isyarah an-nass dan dilalah an-nass. memarahi orang tua. Dari deskripsi sebelumnya. tentu juga kifarat tersebut diberlakukan pada pembunuhan dengan sengaja. Lahn al-khitab. Makna inplisit ayat tersebut adalah bahwa pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja tidak terkena hukuman dunia. dilalah an-nass. terutama dari golongan Asy’ariyah dan Mu’tazilah. Pada dasarnya golongan Mutakallimin sepakat dengan tingkatan tersebut kecuali tentang keberadaan isyarah dan dilalah an-nass. sementara Hanafiyah tidak menjabarkan dilalah an-nass. seperti terma ibarah an-nass menurut Hanafiyah dikenal dengan terma mantuq sarih menurut Mutakallimin. Hambali dan ar-Razi’ mendudukkannya sebagai Qiyas. Perbedaan juga lumrah terjadi dalam tatanan pengembangan rumusan masingmasing metode. kalangan mutakallimin seperti Syafi’i. Menurut ada pula beberapa ulama Mutakallimin. Dalam konteks dilalah an-nass atau mafhum muwafaqah. lafaz pada ungkapan yang tidak disebutkan memiliki konsekuensi yang berbeda dari lafaz yang mantuq. bukan melalui qiyas. dll. Kemudian dihubungkan dengan ayat lain. Mafhum ini juga disebut dalil al-khitab. yang menyatakan bahwa mafhum mukhalafah bukan merupakan Qiyas melainkan makna yang segera dapat diperoleh dari keadaan yang sebenarnya. Kedua golongan tersebut sepakat dalam menggunakan terma isyarah dan iqtida’. mantuq ayat tersebut adalah sesuai dengan pemahaman langsung. Mafhum Mukhalafah. Makna berdasarkan pendekatan dilalah an-nass menunjukkan bahwa kalau pembunuhan karena tersalah dikenakan kifarat. . Hanafiyah beralasani bahwa isyarah an-nass diperoleh dari rangkaian ‘ibarah an-nass. Mutakallimin membagi mafhum mukhalafah kepada fahw al-khitab dan lahn al-khitab. sementara bagi Mutakallimin. dan iqtida’ an-nass. antara metode Hanafiyah dan Mutakallimin dalam memahami esensi dan substansi lafaz. Kalangan Hanafiyah sepakat untuk tidak menjadikan dilalah an-nass sebagai Qiyas karena penetapan hukum diperoleh dari pemahaman terhadap makna nass. sedangkan ‘ibarah an-nass berada dalam cakupan lafaz yang mafhum. kemudian dilalah an-nass. Alasan yang dipergunakan adalah bahwa dilalah an-nass dapat dipahami secara langsung dari pendekatan bahasa.

Contoh : ‫واجتنبوا قول الزور‬ “Dan jauhilah kamu semua dari pembicaraan bohong” Maksud ayat ‫ قول الزور‬dapat kita pahami bahwa saksi palsu termasuk jenis jarimah (Pelangaran hukum). Alasannya.blogspot. Contohnya adalah ayat yang menetapkan kadar pembagian waris. Sedang menurut Syafi’iyah terbagi dalam mantuq dan mafhum. ‫و ا مر هم شو ر ى بينهم‬ “Dan atas perkara-perkara mereka musyawarahlah diantara mereka” Ayat ini mengisaratkan hukum Islam berdasarkan permusyawaratan kaum muslimin. (Abdul Wahab Khalaf. Nash yang qath’i dilalah-nya Yaitu nash yang tegas dan jelas maknanya. hukuman had zina sebanyak seratus kali dera. yang tidak ada pada qira’ah mutawatir. Menurut Hanafiyah dilalah dibagi 4 macam yaitu ibarat nash. http://muhithul-ulum. dan dalam memahaminya tidak memerlukan ijtihad. Sedangkan yang tersirat misal : ‫ان الذين يأكل اموال اليتا مىظلما‬ “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatimi dengan cara dholim (aniayah)” Dari nash di atas makna tersuratnya adalah memakan harta anak yatim dan bertuk tersiratnya adalah menghacurkan anak yatim. Dan kalaupun ada sebagian sahabat yang mencantumkan beberapa kata pada mushaf-nya. semua kaum muslimin sepakat bahwa Al-Quran merupakan sumber hukum syara’. Bentuk-bentuk dilalah menurut hanafiyah dan jumhur ulama antara lain : 1. tidak mempunyai makna yang lain. 1972:35) 2. Mereka pun sepakat bahwa semua ayat Al-Quran dari segi wurud (kedatangan) dan tsubut (penetapannya) adalah qath’i hal ini karena semua ayatnya sampai kepada kita dengan jalan mutawatir. tidak bisa di-takwil. isyarat nash. iqtidha-nya. dan tidak tergantung pada hal-hal lain di luar nash itu sendiri.html Petunjuk (Dilalah) Al Quran. dan iqtida’ nash. dilalah nash. ayat-ayat Al-Quran itu dapat dibagi dalam dua bagian : 1. maka apabila nanti ada kekurangan. seperti dilalah isyarat-nya. BAB II DILALAH Dilalah adalah suatu lafazh bila ditinjau dari cara menunjukkan suatu makna. hal itu hanya merupakan penjelasan dan penafsiran terhadap Al-Quran yang didengar dari Nabi SAW atau hasil ijtihad mereka. Sementara menurut Syafi’iyah. dan sebagainya. dan tidak tergantung pada hal-hal lain mempunyai makna yang lain. mereka lebih mendahulukan isyarah an-nass dari pada ‘ibarah an-nass. Isyarat Nash Yaitu pemahaman yang diambil dari isyarah nash (bersumber dari isensial makna) yang dipahami dari ungkapan yang ada. Dan untuk lebih jelasnya pembahasan hal di atas maka kami akan mencoba menyampaikan dalam pembahasan Dilalah. 2. Akan tetapi Kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. maknanya jelas dan tegas dan menunjukkan arti dan maksud tertentu. Adapun ditinjau dari segi dilalah-nya. pengharaman riba. kami minta kritik dan sarannya atas makalah yang kami buat ini. Nash yang Zhanni dilalah-nya Yaitu nash yang menunjukkan suatu makna yang dapat di-takwil atau nash yang mempunyai makna lebih dari satu. Ibarah Nash Yaitu pemahaman dari lafazh baik yang tersurat atau tersirat. . orang yang melakukan pembunuhan dengan cara sengaja tidak dikenakan kifarat. menurut Hanafiyah. itu adalah termasuk lafazh yang tersurat. baik yang memiliki satu atau banyak makna. pengharaman daging babi. dan sebagainya.com/2009/09/mafhum-mantuq. Ayat-ayat yang mencantumkan hal-hal tersebut. baik karena lafazhnya musytarak (homonim) ataupun karena susunan kata-katanya dapat dipahami dengan berbagai cara. orang yang melakukan pembunuhan dengan cara sengaja dikenakan sanksi kifarat. Jadi ayat di atas merupakan salah satu dari berbagai macam kedholiman ialah memakan harta anak yatim. Dan menurut jumhur ulama itu dibagi 5 sama dengan Hanafi tapi ditambah satu yaitu dilalah mafhum mukhalafah.Konsekuensi logisnya.

tanpa memerlukan pembahasan yang mendalam ataupun ijtihad. menurut mafhumnya “ yang tidak digembalakan” artinya yang diberi makan di kandang tidak terkena zakat. 5. Seperti nama-nama orang. 2. 5. Hal ini dapat diketahui dengan pengertian bahasa. Mantuq nash Yaitu lafazh atau susunan yang jelas dan tidak mungkin dita’wilkan lagi. Manthuqnya tidak disebutkan karena ada tujuan memperingatkan ni’mat. dan hukum yang tertulis ini sesuai dengan masalah yang tidak tertulis karena persamaan dalam maknanya. 4. ‫فمن عفى له من اخيه شيء فاتباع بالمعروف وأداء اليه باحسان‬ “Maka barangsiapa memaafkan sesuatu kesalahan seseorang dari saudaranya . Dilalah Iqtida’ Yaitu lafazh atas satu perintah yang tidak bisa dipahamkan lain kecuali apa yang ditunjukkan. yang hukumnya bertentangan dengan hukum yang lahir dari mantuq-nya. Misalnya yaitu tentang melakukan zina. Mantuq dibagi menjadi 2 : a. Mafhum muwafaqoh dalam istilah hanafiyah disebut juga dilalah nash yaitu suatu petunjuk kalimat yang menunjukkkan bahwa hukum yang tertulis pada kalimat itu berlaku pada masalah yang tidak tertulis. Mafhum ‘illat Yaitu mempertalikan hukum dengan ‘illat. karena tidak adanya batasan (kayd) yang berpengaruh dalam hukum.disebut mafhum muwafaqah karena hukum yang tidak tertulis sesuai dengan hukum yang tertulis. Mafhum ghayah Yaitu lafazh yang menunjukkan hukum sampai kepada ghayah (batas). Mafhum mukhalafah tidak berlawanan dengan dalil yang lebih kuat. isyarat.3. Manthuq itu bukan dimaksudkan untuk menguatkan sesuatu keadaan. Mafhum shifat Yaitu mempertalikan hukum sesuatu kepada salah satu sifat-sifatnya. seperti mengharamkan arak karena memabukkan. Mafhum hashr Yaitu mengkhususkan hukum dengan apa yang disebutkan dalam perkataan yang dinyatakan. Misalnya firman Allah tentang kifaraat membunuh : ‫فتحرررقبة مؤمنة‬ “Maka dengan memerdekakan hamba yang mu’min” maka kalau hamba sahaya yang tidak mukmin diangap tidak cukup. Mafhum mukhalafah disebut juga dalil khitab yaitu hukum yang disebutkan berbeda dengan hukum yang tidak disebut. yaitu ibarat. 3. Dilalah Nash Dilalah Nash disebut juga dilalatul Aulah/qizas jali. Macam-macam Mafhum Mukhalafah : 1. Manthuq itu bukan suatu hal yang biasanya terjadi. 3. Sedangkan syarat-syarat mafhum mukhalafah ialah : 1. Mafhum ‘adad Yaitu mempertalikan hukum kepada bilangan (‘adad) yang tertentu. dan iqtida nash. Sedangkan menurut Syafi’iyah terbagi dalam 2 antara lain : 1. baik dalil manthuq maupun mafhum muwafaqah. Dilalah Mantuq Ialah petunjuk lafazh pada hukum yang disebut oleh lafazh itu sendiri. Dilalah mafhum al-mukhalafah Yaitu petunjuk lafzh yang menunjukkan bahwa hukum yang lahir dari lafazh itu berlaku bagi masalah yang tidak disebutkan dalam lafazh itu. maka ikutilah dengan kebajikan dan tunaikanlah kepadanya dengan kebaikan” Perbuatan ikhsan merupakan konsekuansi logis dari jelasnya pemberian maaf oleh seseorang terhadap orang yang meminta maaf. 2. Misal : ‫ول تقل لهما اف ول تنهرهما‬ “Dan janganlah kamu berkata kepada ibu-bapakmu degan ucapan ‘hush’” Bahwa nash diatas menunjukkan tentang haramnya berkata “hush” kepada kedua orang tua apalagi memukul. Dilalah mantuq seperti ini mancangkup tiga dilalah yang dipakai dalam istilah Hanafiyah. 4. 4. Misal dalam hadits disebutkan : ‫فى ساءمة الغنم وكاة‬ “Dalam kambing-kambing yang digembalakan itu ada zakatnya” dari hadits di atas. juga susunan lafazh : . Karena hukumnya diambil dari jenis khitab-nya atau karena khitabnya sndiri menunjukkan atas hukum itu.

Dan mengenai mafhum mukhalafah itu ulama Hanafiyah tidak memandang sebagai salah satu metode penafsiran nash-nash syara atau menetapkan hukum. b. Dilalah mafhum disebut dalam istilah Hanafiyah disebut dilalah nash. Sikap Rosulullah yang tidak menyalahkan Umar Ibnu Khthab dalam memahami mafhum mukhlafah dari ayat 101 An-Nisa.akan tetapi Ibnu As-Subki membedakan pengertian keduannya. Harus sesuai dengan syarat. melaikan untuk targib dan terhib. (sudah kami terangkan di atas) http://hierry-makalah. Mantuq dhahir Yaitu suatu lafazh atau susunan yang menunjukkan suatu makna. yang hukumnya lebih utama dan lebih sesuai dari hukum bagi masalah tertulis. perbedaan ini disepakati oleh Asy-Syaukani. Mafhum muwafaqah Mafhum muwafaqah dalam istilah ulama Hanafiyah disebut juga dilalah nash. Mafhum muwafawah dikenal pula dengan nama fahwa al-khitab dan lahn al-khitab.html . sebagaimana dikemukakan oleh ulama Zaidiyyah. alasannya antara lain : 1.alasan mereka adalah : 1. Dilalah mafhum dibagi menjadi 2 macam : a. Akan tetapi menurut jumhu ushulliyyin mafhum mukhalafah dapa dijadikan sebagai hujjah syara’. Seandainya mafhum mukhalafahnya itu dapat dijadikan hujah syara maka sustu nash yang telah menyebutkan suatu sifat tidak perlu lagi disebut nash yang menerangkan hukum kebalikan hukum dari sifat tersebut. Banyak nash syara yang apabila diambil mafhum mukhalafahnya akan rusak pengertiannya 2. setiap syarat atau sifat tidak mungkin iantumkan tanpa tujuan dan sebab. Misal : ‫ = ويبقى وجه ربك‬diartikan “waj-hu” dengan makna “dzat” 2. yaitu petunjuk kalimat yang menunjukkan bahwa hukum yang tertulis pada kalimat itu berlaku pada masalah yang tidak tertulis. 3.‫“ = فصيام ثلثة ايام‬puasa tiga hari” b. dan hukum yang tertulis ini sesuai dengan masalah yang tidak tertulis karena ada persamaan dalam maknannya. Berdasarkan logika. melainkan datang dari pemahaman. 2. yang pertama dimaksudkan untuk masalah tertulis. Dilalah mafhum Ialah petunjuk lafazh pada hukum yang tidak disebutkan oleh lafadh itu sendiri. 3. tetapi makni ini bukannya yang dimaksud.blogspot. Sifat-sifat yang terdapat pada nash syara dalam banyak hal bukan untuk pembatasan hukum.com/2010/01/dilalah-dalam-ushul-fiqih. Mafhum al-mukhalafah Penjelasan mafhum ini sudah kami sampaikan dibahasa awal jadi tidak kami ulas kembali. sedangkan yang teakhir dimaksudkan untuk masalah yang sama tingkat hukumnya dengan masalah lain yang tidak tertulis. Namun Raosulullah menjelaskan bahwa qasar shalat dalam perjalanan diperbolehkan sekalipun dalam keadaan aman.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful