You are on page 1of 11

PERA TURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 09 ~Af

TENTANG

PEDOMAN SISTEM M'lm1tOJ~ReSELAMATAN DANiJESEHATAWRl:RJA tp KON'ST'RUKSI SIDANG PEKERJAAN UMUM

,,- ...

Menimbsnq

Mengingat

DERGAtfRAHMATTUHANYANG"MAHkESk"---"""-"---~ --"- -" ---::~~::Mi:NTERI PEKERJAAN UMUM

d. bahwa dalam rangka mewujudkan tertib penyelenggaraan pekeqaan kontruksi, penyelenggara pekerjl:lan konstruksl wajib memenu'u syarat-syarat ~~(lM!. keselamatan dan kesehatan l<e~a pada tempat kegiatan konstruksl;,

e. bahwa agar penyelenggaraan keamanan, keselamatan dan kesehatan j<elja pads tempat kegiatan konstruksi Bidang Pekerjaan Umum dapat terselenggara secara optimal, maka diperlukan saciju pedoman pemblnaan dan pengendalian sistem keselamatan dan kesehatan !(erja pada tempat kegiatan konstruksi Bidang Pekerjaan Umum;

f. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b, periu menetapkan Peraturan Menteri tentang Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesebatan Kerja (K3) Konstruksi Bidang Pekerjaan Urnum;

1. Pasa127 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945;

2. UndatlQ-Undang Nomar 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja;

3. Undang-Undang Nomor 18 tahun 1999 tentang Jasa Konslruksi;

4. Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenflgakerjaan;

5. Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 2000 tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi;

6. Peraturan Pemerintah Nomor 29 tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konsuuksi;

t. Peraturan Pemerintan Nomor 30 tabun 2000 tentang

Penyelen99araan Pembhlaan Jasa Konstruksi;

8. Peraturan Pernerintah Nomar 102 Tahun 2000 lentang Standardisasi

Nasional;

9. Keputusan Presiden Nomor 80 lahun 2003 tentang Pengadaan --Sa rang J JasaFfemetti;tilh~· zsx: "c, rtz ,

10. Peraturan Presiden Nornor 9 tahun 2005 tenlang Kedudukan. Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementrian negara Republik Indonesia;

11. Surat Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pekerjaan UmumNomor: 174/MENl1986 & 104/KPTS/1986 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Tempat Kegiatan Konstruksi;

12. Peraturan Menteri Tenega Kerja Nomar PER02lMEN/1992 ten tang Tata Cara·-Penunjukkan.-Kewajiban dan Wewenang Mli Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

13. Peraturan Menteci Tenaga Kerja Nomor PER.05lMEN/1996 !enfang Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja;

14, Keputusan Menteri Kimpraswil Nomor 384/KPTS/M/2004 tentang Pedornan Teknis Kesetarnatan dan Kesehalan Karia Pada Tempat Kegiatan Konstruksi 8endungan;

15. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 43/PRT/MJ2007 tentang Standar :Iao Pedoman Pengadaao Jasa K0051ruk$;;

16. Peratoran Menlen Pekerjaan Umum Nomor 01/PRT/M/2008 tentang"._ Organiscisi dan Tata Kerja Oepartemen Pekerjaan Umum.

MEMUTUSKAN

Menetapkan

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM TENTANG PEOOMAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) KONSl"RUKSI BIOANG PEKERJAAN UMUM

BASI KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Menteri ini, yang dimaksud dengan:

1. K3 adalah Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan pengertian pemberian perlindungan kepada se!iap orang yang berada di tempat kerja, yang berhubungan dengan pemindahan bahar, baku, penggunaan peratatan kerja konstruksi, proses produksi dan lingkungan seki(ar tempa! kerja,

2. Sistem Manajemen Keselarnatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) adalah bagian dari sistem manajemen secara k,~seluruhan yang meliputi struktur organisasi. perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaa.i, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan kese!amatan dan kesehatan kerja guna terciptanya ternpat kerja yang selarnat, arnan, elisien dan produktif.

3. SMK3 Konstruksl Bidang Fekerjaan Umum adalah SMK3 pada seklor [asa konstruksi yang berhubungan dengan kepentingan umum (masyarakat) antara lain pekeqaan konstruksi: jalan, jembatan, bangunan gedung fasilitas umum, sislem penyediaan air minum· dan perplpaannya, s istern pengolahan air Iimbah",dan.peJpjpa<1f.lnY!\l~ drainase, pengolahan sampah, penqarnan pantai, irigasi, bendungan, bendung, waduk, dan lainnya,

4. Ahli K3 Konstruksl adalah Ahli K3 yang mempunyai kompetensi khusus di bidang K3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum dalam rnerencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi Sistem Manajemen K3 Konstruksi sesuai pedoman in; di tempat penugasannya yang dibuktikan dengan sertifikat dari yang berwenang dan sudan . berpengalaman sekuranq-kuranqnya 2 tahun dalarn pelaksanaan K3 Konstruksi bidang Pekerjaan Urnum.

5, Pe-tugas K3 Konstruksi adalah petugas di dalam orgenisasi Pengguna Jasa dan/atau Organisasi Penyedia Jasa yang telah mengikuli pelalihan{Sosialisasi K3 Konstruksi

Bidang Pekerjaan Vmum. .

6. P2K3 [Panitia Pembina K3J adatah badan pembantu di perusahaan dan ternpat kerja yang merupakan wadah kerjasarna antara pengusaha dan pekerja untuk mengembangkan kerja sarna saling pengertian dan partisipasi efektif dalam penerapan keselamatan dan kesehalan kerja, Unsur P2K3 tardio dad Ketua, Sekretaris dan Anggota. Ketua P2K3 adalah pimpinan puncak organisasi Penyedia Jasa dan Sekretaris P2K3 adalah Ahli K3 Konstruksi,

7. Tempat kerja adalah setiap rJangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja bekerja, atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau sumber sumber bahaya baik didarat, di dalarn tanah, di permukaan air, di dalarn air maupun di udara yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia.

8. Bahaya K3 adalah suatu kendaan yang belum dikendalikan sampai pada suatu bates yang memadai.

9. Risiko K3 adalah perpaduao antara peluang dan frekuensi terjadinya perisliwa K3 dengan akibat yang ditimbulk.:nnya dalam kegiatan konstruksi.

10. Kategori Risiko K3 berupa linggi, sedang atau kecil, Jika terjadi perbedaan pendapat tentang penentuan kategori ri~iko, harus diambil tingkat risiko yang lebih tinggi.

11. Risiko Tinggi mencakup pe eerjaan konstruksi yang pelaksanaannya berisiko sanga! membahayakan keselamatan umum, harta benda, jiwa manusla, dan lingkungan serta terganggunya kegiatan konstruksi.

12. Risiko Sedang mencakup pekerjaan konstruksi yang pelaksanaannya dapat berisiko membahayakan keselamatan umum, harta benda dan jiwa rnanusia serta terganggunya keqiatan konstruksi.

13. Risiko Kecil mencakup pekerjaan konstruksi yang pelaksanaarmya tidak membahayakan keselamatan umum dan harta benda serta terganggunya kegialan konstruksi

14. Manajemen Risiko adatah proses manajemen terhadap risiko yang dirnulai dari kegiatan mengidentifikasi bahaya, menilai tlngkat risiko dan mengendaJikan risiko. metode deduk/if

15, Pengguna Jasa adatah perseoranqan atau badan sebagai pemberi tugas atau pernilik pekerjaan I proyek yang rnernenukan tayanan jasa konstruxsi.

16, Satuan Kerja adalah organsasi/lembaga pada Pemerinlah yang bertanggung jawab kepada Menleri yang menyelenqqarakan kegiatan yang dibiayai dari dana APBN Oepartemen Pekerjaan Umum. ','

17, Pejabat Pembuat Komitmen adalah pejabat yang metakukan tindakan yang menqakibatkan penqeluaran anggaran belanja.

18, Penyedia barang/jasa adalah orang perseorangan atau badan yang kegiatan usahanya menyediakan layanan jasa kcnstruksl

19. Jasa Pemborongan adalah layanan pexeqaan pelaksanaan konstruksi atau wujud fisik lainnya yang perencanaan teknis dan spesifikasinya ditetapkan Pejabat Pembuat Komitmen sesuai penugasan Kuasa Pengguna Anggaran dan proses serta pelaksanaannya diawasi oleh Pejabat Pembuat Komitmen.

20. Jasa Kons ultansi adalah layanan jasa keahlian profesional dalarn berbagai bidang yang meliputi jasa perencanaan kcnslruksi, jasa pengawasan konstruksi, dan jasa pelayanan protest Iainnya, dalam rangkE meneapai sasaran tertentu yang keluarannya berben!uk piranti Junak yang disusun secara sisternatis berdasarkan kerangka acuan kerja yang ditetapkan Pejabat Pembuat Komitmen sesuai penugasan Kuasa Pengguna Anggaran,

21. Kegiatan Swakelola adalah pelaksanaan pekerjaan yang direncanakan, dikerjakanl dilaksanakan, dan diawasi sendin oleh pengguna jasa,

22. Pemangku Kepentingan adalah pihak-pihak yang bennteraksl dalam kegiatan' konstruksi meliputi Pengguna Jasa, Penyedia Jasa dan pihak Jain yang berkepentingan.

23, Audit Internal K3 Kontruksi Bidang Pekerjaan Umum adalah pemeriksaan secara sisternatik dan independen oleh Auditor K3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum dalam kerangka pembinaan untuk mernberikan penilaian terhadap efektifitas penyelenggaraan K3 Konstruksi Bidang Pekeriaan Umum dl Iingkuilgan ~erja.

24. Audit Internal K3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum oleh Penyedia Jasa adalah Audit K3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum yang dilakukan olen auditor internal Penyedia Jasa,

25, Laporan Audit Internal K3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum adalah has!! audit K3 Konstruksi Bidang Pexerjaan t.rnum yang dHakukan oleh auditor yang berisi fakta yang didapatkan paca saat pelaksanaan Audit K3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Urnum.

26. RK3K {Rencana K3 Kontrak} adatah dokumen rencana penye!enggaraan K3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum yang dibuat oleh Penyedia Jasa dan disetujui oteh Pengguna Jasa, untuk selanjutnya dijadikan sebagai sarana lnteraksi antara Penyedia Jasa dengan Pengguna Jasa dalam penyelerggaraan K3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umurn.

27, Monitoring dan Evaluasi {MONEV} K3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum adalah kegiatan pemantauan dan penlaian terhadap kinerja Penyelenggaraan K3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum yang meJiputi pengumpulan data, analisa, penilaian, kesimpulan dan rekomendasi tingkat penerapan K3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Urnurn,

28, Tenaga Kerja adalah orang yan;) bekerja di suatu perusahaan dan/atau di ternpat kerja.

BASil

MAKSUD. TUJUAN. DAN RUANG LlNGKUP

Pasal2

(1) Maksud Pedoman ini sebaqai acuan bagi Penguna Jasa dan Penyedis Jasa dalam Penyelenggaraan SMK31<.onstruksi Bldang Pekerjaan Umum yang dilaksanakan secara sistematis, terencana, tercadu dan terkoordinasi.

(2) Tujuan diberla!<ukannya fedoman ini agar semua pemangku kepentingan mengetahui dan memahami tugas dan kewajibannya dalam Penyelenggaraan SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum sehingga dapat mencegah terjadinya kecelakaan kerja konstruksi dan penyakit akibat kerja konstruksi serta rnenciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman. yang pada akhirnya akan meningkatkan produktlvitas kerja.

Pasal3

(1) Ruang lingkup Pedoman inj mengatur Penyelenggaraan SMK3 Konstruksi Bidang· Pekerjaan Umum bagi:

a. Pengguna Jasa khususnya di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum, dan

b. Penyedia Barang/Jasa.

(2) Untuk instansl di luar Departernen Pekerjaan Umum, perlu ada penyesuaian lebih lanjut sesuai dengan tugas poko), dan fungsinya.

BAB III

KETENTUAN PENYELENGGARAAN SISTEM MANAJEMEN K3 (SMK3) KONSTRUKSt

Pasal4

{1 i Kegiatan Jasa Konsfruksi yang dilaksanakan oleh pengguna jasalpenyedia jasa terdiri dari Jasa Pemborongan. Jasa Konsultansi dan Kegiatan Swakelola yang aktifitasnya melibatkan tenaga kerja can peralatan kerja untuk keperluan pelaksanaan pekeriaan fisil< di lapangan wajib meryelenggarakan SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum.

(2) Penyelenggaraan SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum wajib menggunakan Pedoman ini beserta lampirannya,

(3) PenyelenggaraCin SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum dikelompokkan menjadi 3 (Uga) kalegori, yaitu :

a Risiko Tinggi:

b Risiko Sedang;

c Rlsiko Kecil.

(4) Kinerja penerapan Penyele1ggaraan SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum dibagi menjadi 3 (liga), yaitu :

a. Baik, bila mencapai basil penilaian > 85%;

b. Sedanq, bile mencapai hasil penilaian 60 % ~ 85%;

c. Kurang. bile mencapai hasil penilaian < 60 %,

(5) Dalam rangka Penyelenqqaraan SMK3 Konsfruksi Bidang Pekerjaan Umum harus dibual Rencana Keselarnatan dan Kesehatan Kerja Kontrak (RK3K) olen Penyedia Jasa dan dlsetojui o!eh Pengguna Jasa

(6) Oi ternpat keqa harus selatu terdapat pekerja yang sudah terlatih dan/atau bertanggung [awab caiam Penolonqan F'ertarna Pada Kecelakaan (P3K).

(7) Untuk kegiatan swakelola, per!u ada penentuan lentang :

a. Pihak yang berperao sebagai PenyelenggarB Langsung;

b. Pihak yang berperan sebagai Pengendali.

BABIV

TUGAS, TANGGUNG JAWAB DAN WEWENANG

Bagian Pertama Departemen Pekerjaan Umum

Paragraf Pertama Menteri Pekerjaan Umum Pasal5

(1) Menetapkan Kebijakan tE!ntanQ SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Unium. (2) Membina Penyelenggaraan SMK3 Konstruksi 8idang Pekerjaan Umum.

Paragraf Kedua

Badan·Pembinaan Konstruksi Dan Sumber Daya Manusia (BPKSDM) PasalS

(1) Merumuskan Kebijakan ltlOtang SMK3 Konstruksi di Ungkungan Departemen PekeM~n Umum.

(2) Bertanggung jawab dalarn Pembinaan Penyelenggaraan SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Urnum.

(3) Menyusun Pedoman SMI(3 Kons!ruksi dan Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) Monitoring dan Evaluasi Penyelenggilraan SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum.

(4) Melaksanakan sosialis3si dan bimbingan teknis tentang Penyelenggaraan SMK3 Konstruksi 8idang Pekeqaan Umum.

(5) Melaksanakan Monitoring dan Evaluasi terhadap Penyelenggaraan SMK3 Konstruksi 8idang Pekerjaan Umum.

(6) Melaksanakan rapat koordinasi dengan Unit Eselon I tenlang Penyelenggaraan SMK3 Konstruksi 8idang Pekeljaan Umum secara periodik, dan melaporkan hasH rapat koordinasi kepada Menteri Pekerjaan Umum,

(7) Menyusun Petunjuk Pela'csanaan Tala Cara Penilaian Aspek K3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum bagi calon Penyedia Jasa dalam proses pengadaan barang~asa sepanjang tidak bertentanqan dengan peraturan yang bertaku

Paragraf Ketiga Unit Eselon I Pasal7

T1) Menyusun prosedur !eknis pelaksanaafrSMK-3'·Konstruksi; mengacu pada ketenteen teknis yang berlaku.

(2) Menyusun Petunjuk Teknis (Juknis) Monitoring dan Evaluasi di lingkungan Unit Eselon I yang bersangkutan,

(3) Bertanggung jawab alas F'enyelenggaraan SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum di lingkungan Unit Ese!on ~ yang bersangkutan.

(4) Menggunakan data. analise, penilaian. kesimpulan dan rekomendasi tingkat Penerapan SMKJ Konstruksi 8idang PekerjaarrUmum ternadap hasll Monitoring dan Evaluasi yang difaksanakan otehAtesan Langsung Satuan-Kerjasebagai bahan rapat koordinasi tentang Penyelenggaraail SMK3 Konslruks.i Sidang Pekerjaan Umum dengan 8PKSDM,

(5) Memasukkan program tin(iak lanjut terhadap rekomendasi hasH Monitoring dan Evaluasi K3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum datarn program kerja rutinnya,

Paragraf Keernpat

Atasan Langsung KepaJa Satuan Karja PasalS

\ ...

(1) Bertanggung jawab alas Penyelenggaraan SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umulit· di lingkungan kerjanya.

(2) Mengevaluasi laporan Penyelenggaraan SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum yang diterima dari Ungkungan Kerjanya,

(3) Melaksanakan Monitoring jan Evaluasi di fingkungan kerjanya. (4) Melaporkan hasil Monitoring dan Evaluasi kepada Unit Eselon I.

(5) Memasukkan hasil Monitoring dan Evaluasi oatarn program kerja rutinnya.

Paragraf Kelima Kepala Satuan Kerja Pasal9

(1) Melaksanakan pengawasan dan evaluasi terhadap pengendalian PenyeJenggaraan SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum yang dilakukan oteh Pejabat Pembuat Kornitmen dan mefaporkannya setiap bulan kepada Alasan lang sung Kepala Satuan Kerja.

(2) Membual anansa. kessnoutan. rekomendasi dan rencana tindak lanjut terhadap taporan kecelakaan kerja konstruksi dan penyaki! akibat kerja konslruksi yang diterirna dari Pejabat Pembuat Komitrnen untuk oiterusken kepada Alasan Langsung Kepa!a Saluan Kerja

(3} Memperhitungkan biaya Penyel~nggataan SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum dalam organisasi Pengguna Jasa pada DlPA Satuan Kerja.

(4) Memperhitungkan biaya F'elaksanaan SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum oleh Pel1Y§:Ql,!J'!~~9?lam ~~.mbuatan Rencana An9garan. Biayam.e.Bt !<._eg!atan kcnstruks! untuk dialokasikan dalam DIPA Satuan Kerja. Perhitungan biaya pelaksanaan SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjsan Umum terseout sudan merupakan satu kesatuan dengan biaya pelaksanaan konstruksi, yang diperhitungkan dalarn Analisa Harga Satuan pada setiap janis pekerjaan yan!! menganduog fisiko K3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Vmum.

Paragraf Keenam

Pejabat Pernbuat Komitmen (PPK) Pasal 10

(1) Q~J9(Tlh~Lma.J~fi 'penYf!lenggaraan SMK3 Konstruksi . aiq.~Og" p~~erjaan Urnurn dijadikan satan satu bahan evaluasi datam proses Pemilihan Penyedia Jasa maka PPK wajib metlyediakan acuannya.

(2) PPK yang aktifitasnya melibatkan tenaga kerja dan peralatan kerja untuk keperluan pelaksanaan pekerjaan fis 1k di Japangan wajib menunjuk Ahli K3 Konstruksi dalam rangka menentukan katepori risiko seluruh paket kegiatan yang dikendalikannya pada awal kegiatan.

(3) Menetapkan Ahli K3 Konstruksi atau Petugas K3 Konstruksi untuk pengendalian K3 konstruksi pada setiap paket kegiatan yang dikendalikannya.

(4) Memberi penjelasan lenla~g Risiko K3 Konstruksl Bidang Pekerjaan Umum termasuk kondisi dan bahaya yang dapal timbul dalam pelaksanaan pekerjaan pada saat"

penjelasan pekerjaan (aanwijzing) yang ditenderkan. .

(5) Memasukkan mated Penyelenggaraan SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum dalam Dokumen Kontrak dengan cara mewajibkan Penyedia Jasa untuk mengikuti Pedoman ioi dalam pelaksanaan pekerjaannya.

(6) Melakukan pembahasan persetujuan tingkat fisiko yang disusun penyedia jasa daJam rangka menetapkan tiogkat risiko kegialan yang akan dilaksanakan.

(7f Menyetujui RK3K yang disusun oleh Penyedia Jasa pada awal kegiatan.

(8) Pengguna jasa wajib rnefibatkan Ahli K3 Konstruksi pada setiap paket pekerjaan yang mempunyai fisiko K3 tln9gi. dengan ketentuan:

a. AhH K3 konstruksi penqquna jasa tidak boleh merangkap pada pakef pekerjaan yang lain.

b. Ahli K3 konstruksi pengquna jasa dimaksud dapat berasal dari konsuaan supervisl atau pihak fain yang ditunjuk.

c. Ahli K3 Konslruksi Peng~una Jasa tidak diperkenankan berasal dad Penyedia Jasa yang sedang terikat dalam pelaksanaan kegiatan yang sedang ditangani. agar tidak menimbulkan pertentangan kepentingan (conflict of interest).

(9) Pengguna jasa wajib rnelibutkan sekurang-kurangnya Pelugas K3 Konstruksi pada setiap paket pekerjaan yang rnempunyai risiko K3 sedang dan keci!.

a. Petugas K3 konstruksi pengguna [asa tidak boteh merangkap pada paket pekerjaan yang lain.

b. Petugas K3 konstruksi peog9una jasa dimaksud dapal berasal dari konsultan suoervisi atau pihak Ialn yang ditunjuk.

c. Petugas KJ Konsuuksi Pengguna Jasa tidal< diperkenankan berasal dad Penyedia Jasa ya.og_s~d.af\gt~riKaJJjala.mQelaksanaal1kegiatan yang~edangJ:!i1(l,r!g§nj.~9..<l,r tidak menlmbuikan peiten-iangan"kepentingan (confliCt of interest).-·· ... . . ... _-

(10) Menyetujui hasll tinjau ulangjreview) RK3K yang dilakukan oleh Penyedia Jasa setiap bulan (untuk butir-butlr yang perlu diadakan tinjauan ulan9) dan melapor!<annya kepada Kepala Satuan Kerja.

(11) Menerima dan mempelajari lembusan Laporan Rutin Kegiatan P2K3 yang dibuat oleh Penyedia Jasa ke Dinas t,~mag,iKerja setempat.

(12) Melaksanakan inspeksi K3 Konslruksi Bidang Pekerjaan Umum dibantu oleh Ahli K3 KonstruksiI Petugas K3 Kl.}Ostruksi bersama Penyedia Jasa sesual dengan RK3K.

(13) Metakukan evaluasi .terha.t~~lp~.4~ny.~ kecelakaan kerje konstruksi dan penyakit akibat . kerja konstruksi yang lelat, terja(jjpada kegiatan dibawah kendalioya, untuk selanjutnya. dilaporkan kepada Kepala Satuan Kerja.

(14) Memberi surat peringatan secara bertahap kepada Penyedia Jasa apablla Penyedia Jasa menyimpang dari ketentuan yang berkaitan dengan Pedoman SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum oenqan cara mernberi surat peringatan ke-t dan ke-Z, Apabila perinqatan . ke-2 tidak diindahkan. maka Pejabat Pembuat Komitmen dapat menghentikan pekerjaan. Segala risiko akibal penghentian pekerjaan menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa,

,

(15) Memberi surat keteranqan wtidak terjadi kecelakaan kerja (zero accident)" kepadil' Penyedia Jasa yang !elah l1lenyelenggarakan SMK3 Konstruksi Bidang PU tanpa terjadi kecelakaan kerja,

(16) Bertanggung jawab atas:erjadinya kecelakaan kerja konstruksi dan penyakit akibat kerja konstruksi, apabila Pejabat Pembuat Komitmen tidak melaksanakan ketentuan sebaqaimana dimaksud pada ayat (12).

(17) Ahli K3 KonstruksilPetu.1as K3 Konslruksi pada Pengguna Jasa melakukan pengendalian risiko K3 Kc'nstruksi 8idang Pekerjaan Umum, yang meliputi : inspeksi tempat kerja, peralatan, saana pencegahan xecetakaan kerja konstruksi sesuai dengan RK3K.

(18) Pihak yang berperan sebaqai penyelenggara laogsung pada Kegiatan Swakelola wajib membua! RK3K Kegiatan Swakelola.

(19) Wajib menggunakan Pedornan Teknis yang disusun oleh Departemen Pekerjaan Umum dan Peraturan Perundang-undangan lainnya yang relevan untuk keperluan Pengendalian SMK3 Bidal1g Pekerjaan Umum terhadap pekerjaan yang dilaksanakan o!eh Penyedia Jasa,

Bagian Kedua

Penyedia Jasa Pasal11

(1) Berhak memperoleh info 'masi dar; Pengguna Jasa tentanq fisiko K3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum terrnasrx kondis: dan parens; bahaya yang dapat terjadi

(2) Memasukkan biaya penyodenggaraan SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum dalarn harga penawaran pengadaan jasa konstrvksi, Perhilungan biaya pelaksanaan SMK3 Konstruks: Bidang Peker.aan Umum tersebut sudah merupakan satu kesatuan dengan biaya pelaksanaan konsuuksi. Biaya penyeJenggaraan K3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum diperhilungkan dalam Analisa Harga Salven pada setiap jenis pekerjaan yang mengandung fisiko K3 Kcnstruksi Bidang Pekerjaan Urnurn. .

(3) Wajib membual "pra RK:\K" sebagai satan satu kelenqkapan penawaran lelang dalam proses penqadaan bararlg I jasa yang diikuti sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku.

(4) Wajib menyusun tingkat fisiko kegiatan yang akan dilaksanakan untuk dibahas dengan PPK sebagaimana Larnpiran 4 yang disusun pada awal keglatan.

(5) Wajib membua!'f(K3K sebagaimana t.ampiran 2, dengan ketentuan:

a. Dibuat pada awal keqiatan.

b. Harus rnencanturnkat kategori risiko pekerjaan yang telah ditentukan bersama PPK.

C. Pada awal dimulainya kegiatan, Penyedia Jasa mernpresentaslkan RK3K kepada Pejabat Pembuat Komitmen unluk mendapal persetujuan.

d. Tinjauan ulang (review) terhadap RK3K (pada bagian yang memang perlu dilakukan review) ditakukan seliap bulan secara berkesinambungan selama peraksanaan pekerjaan konstruksi berlanqsung. >.,

(6) Wajib melibatkan Ahli K3 Konstruks' pads setiap peke! pekerjaan yang mempunyai fisiko K3 linggi.

(7) Wajib meJibatkan sekurang-kurangnya Pelugas K3 Konsfruksi pada setiap paket pekerjaan yang mempunyai risiko K3 sedang dan kecil.

(8) Melakukan kerja sam a unUk memben!uk kegialan SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum bile ada dua atau leJih Penyedia Jasa yang bergabung dalam satu kegiatan.

(9) Kerja sarna kegiatan SMK~; Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum terseout dipjmpin oleh peranggung jawab utama Penyedia Jasa.

\ 18) Wajib mernbentuk P2K3 bita:

a. Mengelola pekerjaan yang mernpekerjakan pekerja dengan jumlah paling sedikit 100 orang,

b. Mengefola pekerjaan yang mempexerjakan pexerja kurang dari 100 orang, akan tetapi menggunakan bahan, proses dan instalasi yang mempunyai risiko yang besar akan terjadinya peledakai. kebakaran, keracunan dan penyinaran radioaktif.

(11) Wajib melapor ke Dinas Tenaga Kerja dan Jamsoslek seternpat sesuat ketentuan yang berlaku

(12) Wajib membuat Laporan R:lltn Kegiatan P2K3 ke Omas Tenaga Kerja setempat dan lembusannya disarnpaikan kepada PPK.

(13) Wajib rnelaxsanakan Aueit Internal K3 Konstruks: 8idang Pekerjaan Umum sebaqaimana Lampiran 3

(14) Wajib rnembuat rangkurran akUfilas pelaksanaan SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum sebagai bag ian dari dokumen serah terirna kegiatan pada akhir kegiatan.

(15) Wajib rnelaporkan kepa:Ja Peiabat Pernbuat Komitmen dan Dinas Tenaga Kerja setempat tentang kejadial oerbahaya, kecelakaan kerja konstruksi dan penyakil akiba! kerja konstruksi yang telah terjadi pada kegiatan yang dilaksanakan,

(16) Wajlb menindaxlanjuti sural peringatan yang diterima dan Pejabat Pernbuat Kornitmen. (17) Bertanggung jawab atas terjadinya kecelakaan kerja konstruksi,

(18) Wajib melakukan pengendalian risikc K3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum yang meliputi: lnspeksi tempat kerja, peralatan, sarana pencegahan kecelakaan ke~a konstruksi sesuai dengan HK3K.

(19) Penyedia Jasa yang rnelaksanakan pekerjaan dengan tingkat risiko tinggi wajib memiliki sertifikat K3 perusahaan yang diterbitkan oleh lembaga sertitikasJ yang telah diakreditasi oleh Komila Akreditasi Nasional WAN).

KETENTUAN PENUTUP

Pasal12

Peraturan ini meliputi ketentua.i mengenai Tata Cara Penyusunan K3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum, Format Rencana K3 Kontrak (RK3K), Format Audit Internal K3 Konstruksi Bag; Penyedia Jasa dan Tala Cara Pel1i1aian Tingkat Risiko berpedoman pacta Lampiran 1," Lampiran 2. Larnpiran 3 dan lampiran 4 yang merupakan baqian tidak terpisankan dari Peraturan Menteri ini.

PasaJ 13

(1) Peratursn Menteri ini berlaku pada tanggal ditetapkan.

(2) Peraturan ini disebarluaskan kepada pihak·pihak yang berkepentingan untuk diketahui dan dilaksanakan.

Oisahkan di Jakarta

pada taoggal .. O.1..O!.'11i .. 2.008 " .

MENTERI PEKERJAAN UMUM.

OJOKO KIRMANTO