PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Cidera medulla spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan seringkali oleh kecelakaan lalu lintas. Apabila cedera itu mengenai daerah L1-2 dan/atau di bawahnya maka dapat mengakibatkan hilangnya fungsi motorik dan sensorik serta kehilangan fungsi defekasi dan berkemih. Cidera medulla spinalis diklasifikasikan sebagai komplet : kehilangan sensasi fungsi motorik volunter total dan tidak komplet : campuran kehilangan sensasi dan fungsi motorik volunter (Marilynn E. Doenges,1999;338). Cidera medulla spinalis adalah masalah kesehatan mayor yang mempengaruhi 150.000 orang di Amerika Serikat, dengan perkiraan10.000 cedera baru yang terjadi setiap tahun. Kejadian ini lebih dominan pada pria usia muda sekitar lebih dari 75% dari seluruh cedera (Suzanne C. Smeltzer,2001;2220). Data dari bagian rekam medik Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati didapatkan dalam 5 bulan terakhir terhitung dari Januari sampai Juni 2003 angka kejadian angka kejadian untuk fraktur adalah berjumlah 165 orang yang di dalamnya termasuk angka kejadian untuk cidera medulla spinalis yang berjumlah 20 orang (12,5%). Pada usia 45-an fraktur banyak terjadi pada pria di bandingkan pada wanita karena olahraga, pekerjaan, dan kecelakaan bermotor. Tetapi belakangan ini wanita lebih banyak dibandingkan pria karena faktor osteoporosis yang di asosiasikan dengan perubahan hormonal (menopause) (di kutip dari Medical Surgical Nursing, Charlene J. Reeves,1999). Klien yang mengalami cidera medulla spinalis khususnya bone loss pada L2-3 membutuhkan perhatian lebih diantaranya dalam pemenuhan kebutuhan ADL dan dalam pemenuhan kebutuhan untuk mobilisasi. Selain itu klien juga beresiko mengalami komplikasi cedera spinal seperti syok spinal, trombosis vena profunda, gagal napas; pneumonia dan hiperfleksia autonomic. Maka dari itu sebagai perawat merasa perlu untuk dapat membantu dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan cidera medulla spinalis dengan cara promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif sehingga masalahnya dapat teratasi dan klien dapat terhindar dari masalah yang paling buruk.

memiliki corpus vertebra yang besar ukurnanya sehingga pergerakannya lebih luas kearah fleksi. Vertebrata Thoracalis Ukurannya semakin besar mulai dari atas kebawah. KONSEP DASAR I. Coccygis Terdiri dari 4 tulang yang juga disebut ekor pada manusia. berjumlah 12 buah yang membentuk bagian belakang thorax. berjumlah 5 buah yang membentuk daerah pinggang. yang diteruskannya ke lubang-lubang paha dan tungkai bawah. Veterbrata cervitalis ketujuh disebut prominan karena mempunyai prosesus spinasus paling panjang. Sacrum Terdiri dari 5 sacrum yang membentuk sakrum atau tulang kengkang dimana ke 5 vertebral ini rudimenter yang bergabung yang membentuk tulang bayi. Os. Masing-masing tulang dipisahkan oleh disitus intervertebralis. c. e. Vertebrata cervikalis kedua (axis) ini memiliki dens. Os. ANATOMI FISIOLOGI Columna Vertebralis adalah pilar utama tubuh yang berfungsi melindungi medula spinalis dan menunjang berat kepala serta batang tubuh.LAPORAN PENDAHULUAN DENGAN CEDERA MEDULLA SPINALIS A. Vertebrata Lumbalis Corpus setiap vertebra lumbalis bersifat masif dan berbentuk ginjal. Corpus berbentuk jantung. Vertebralis dikelompokkan sebagai berikut : a. Vetebrata Thoracalis (atlas) Vetebrata Thoracalis mempunyai ciri yaitu tidak memiliki corpus tetapi hanya berupa cincin tulang. . d. b. mengalami rudimenter. yang mirip dengan pasak.

dna kemudian sebuah sambungan tipis dasri pia meter yang disebut filum terminale. C. 1997 . yaitu bentuk (sewaktu janin dengna kepala membengkak ke bawah sampai batas dada dan gelang panggul dimiringkan keatas kearah depan badan. Dari penebalan ini. Kedua lengkung yang menghadap ke anterior adalah sekunder → lengkung servikal berkembang ketika kanak-kanak mengangkat kepalanya untuk melihat sekelilingnya sambil menyelidiki. Disamping itu juga untuk memikul berat badan. menjulur kearah kaudal melalu foramen magnum dan berakhir diantara vertebralumbalis pertama dan kedua. berdiri dan berjalan serta mempertahankan tegak. menyediakan permukaan untuk kartan otot dan membentuk tapal batas pasterior yang kukuh untuk rongga-rongga badan dan memberi kaitan pada iga. sementara bagian belakang dibelah oleh sebuah figura sempit.kalau dilihat dari samping maka kolumna vertebralis memperlihatkan empat kurva atau lengkung antero-pesterior : lengkung vertikal pada daerah leher melengkung kedepan daerah torakal melengkung kebelakang. yang menembus kantong durameter. bergerak menuju koksigis.Lengkung koluma vertebralis. Sebagai pendukung badan yang kokoh dan sekaligus bekerja sebagai penyangga kedengan prantaraan tulang rawan cakram intervertebralis yang lengkungnya memberikan fleksibilitas dan memungkinkan membonkok tanpa patah. Disini medula spinalis meruncing sebagai konus medularis. Sumsum tulang belakang yang berukuran panjang sekitar 45 cm ini. yaitu torakal dan pelvis. (lihat gambar A1) Fungsi dari kolumna vertebralis. (Eveltan. dan lengkung lumbal di bentuk ketika ia merangkak. Pearah. Kedua lengkung yang menghadap pasterior. daerah lumbal kedepan dan daerah pelvis melengkung kebelakang. plexus-plexus saraf bergerak guna melayani anggota badan atas dan . pada bagian depannya dibelah oleh figura anterior yang dalam. Cakramnya juga berguna untuk menyerap goncangan yang terjadi bila menggerakkan berat badan seperti waktu berlari dan meloncat. servikal dan lumbal. dan dengan demikian otak dan sumsum belkang terlindung terhadap goncangan. 56 – 62) Medulla spinalis atau sumsum tulang belakang bermula ada medula ablonata. disebut promer karena mereka mempertahankan lengkung aslinya kebelakang dari hidung tulang belakang. Pada sumsum tulang belakang terdapat dua penebalan.

5. PENGERTIAN Cidera medula spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan oleh benturan pada daerah medulla spinalis (Brunner & Suddarth. Organ motorik yang melaksanakan gerakan karena dirangsang oleh impuls saraf motorik. 4. Mengadakan komunikasi antara otak dan semua bagian tubuh dan bergerak refleks. mengantarkan impuls-impuls tersebut menuju sel-sel dalam ganglion radix pasterior dan selanjutnya menuju substansi kelabu pada karnu pasterior mendula spinalis. serta paralisis sfinker pada uretra dan rektum. 3.bawah : dan plexus dari daerah thorax membentuk saraf-saraf interkostalis. 6. Fungsi sumsum tulang belakang : a. dibutuhkan struktur sebagai berikut : 1. Untuk terjadinya geraka refleks. Kerusakan pada sumsum tulang belakang khususnya apabila terputus pada daerah torakal dan lumbal mengakibatkan (pada daerah torakal) paralisis beberapa otot interkostal. Sumsum tulang belakang. II. dalam karnu anterior medula spinalis yang menerima dan mengalihkan impuls tersebut melalui serabut sarag motorik. misalnya kulit 2. 2001) Cidera medulla spinalis adalah buatan kerusakan tulang dan sumsum yang mengakibatkan gangguan sistem persyarafan didalam tubuh manusia yang diklasifikasikan sebagai : .tidak komplet (campuran kehilagan sensori dan fungsi motorik) . paralisis pada otot abdomen dan otot-otot pada kedua anggota gerak bawah. Serabut saraf sensorik .komplet (kehilangan sensasi dan fungsi motorik total) . dimana serabut-serabut saraf penghubung menghantarkan impuls-impuls menuju karnu anterior medula spinalis. sel saraf motorik . Organ sensorik : menerima impuls.

Suatu rantai sekunder kejadian-kejadian yang menimbulakn iskemia.tumor. Apabila cedera itu mengenai daerah servikal pada lengan. hipoksia. sebelum alat pernafasan mekanik dapat digunakan. III.Lesi 11 – 15 : kehilangan sensorik yaitu sama menyebar sampai lipat paha dan bagian dari bokong. segera sebelum terjadi kontusio atau robekan pada cedera.terjatuh. serabut-serabut saraf mulai membengkak dan hancur.Cidera medullan spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan sering kali oleh kecelakaan lalu lintas. Sirkulasi darah ke medulla spinalis menjadi terganggu. hemorargi. industri . Cidera medulla spinalis dapat terjadi pada lumbal 1-5 . badan dan tungkai mata penderita itu tidak tertolong. IV.luka tusuk. Bila hemoragi terjadi pada daerah medulla spinalis. lesi. (lebih salah satu atau dalam kombinasi) sampai transaksi lengkap medulla (membuat pasien paralisis). olah-raga. .kecelakaan otomobil. menyelam . edema. Dan apabila saraf frenitus itu terserang maka dibutuhkan pernafasan buatan. ETIOLOGI Penyebab dari cidera medulla spinalis yaitu : . PATOFISIOLOGI Kerusakan medulla spinalis berkisar dari kamosio sementara (pasien sembuh sempurna) sampai kontusio. tembak . darah dapat merembes ke ekstradul subdural atau daerah suaranoid pada kanal spinal. laserasi dan kompresi substansi medulla. tidak hanya ini saja tetapi proses patogenik menyebabkan kerusakan yang terjadi pada cidera medulla spinalis akut.

yang menyebar sepanjang saraf yang terkena . unutk kesejajaran.kehilangan kontrol kandung kemih (refensi urine. mengevaluasi ganggaun struktural .Lesi L2 : ekstremitas bagian bawah kecuali 1/3 atas dari anterior paha.MRI .tingkat neurologik .paralisis sensorik motorik total ..Lesi L5 : Bagian luar kaki dan pergelangan kaki. MANIFESTASI KLINIS . . distensi kandung kemih) . 200 : 87) PEMERIKSAN DIAGNOSTIK . Baughman.penurunan fungsi pernafasan .Lesi L4 : Ekstremitas bagian bawah kecuali anterior paha. . .paraplegia .penurunan keringat dan tonus vasomoto . dislokasi).Lesi L3 : Ekstremitas bagian bawah. reduksi setelah dilakukan traksi atau operasi .Sinar X spinal Menentukan lokasi dan jenis cedera tulan (fraktur.Skan ct Menentukan tempat luka / jejas.nyeri akut pada belakang leher.gagal nafas (Diane C.

atelektasis) . volume tidal) : mengukur volume inspirasi maksimal khususnya pada pasien dengan trauma servikat bagian bawah atau pada trauma torakal dengan gangguan pada saraf frenikus /otot interkostal). . Untuk memperlihatkan kolumna spinalis (kanal vertebral) jika faktor putologisnya tidak jelas atau dicurigai adannya dilusi pada ruang sub anakhnoid medulla spinalis (biasanya tidak akan dilakukan setelah mengalami luka penetrasi).Orthostatic Hipotensi .Pemeriksaan fungsi paru (kapasitas vita.Gangguan paru-paru .Instabilitas spinal .GDA : Menunjukan kefektifan penukaran gas atau upaya ventilasi (Marilyn E.Inkontinensia blader .Neurogenik shock.Infeksi saluran kemih . . edema dan kompresi . .Kontraktur .Mielografi. 339 – 340) KOMPLIKASI .Hipoksia.Mengidentifikasi adanya kerusakan saraf spinal. memperlihatkan keadan paru (contoh : perubahan pada diafragma. Doengoes. .Ileus Paralitik .Foto ronsen torak.Dekubitus . 1999 .

Terapkan perawatan yang sangat berhati-hati untuk menghindari fleksi atau eksistensi leher bila diperlukan inkubasi endrotakeal.Konstipasi PENATALAKSANAAN CEDERA MEDULA SPINALIS (FASE AKUT) Tujuan penatalaksanaan adalah untuk mencegah cedera medula spinalis lebih lanjut dan untuk mengobservasi gejala perkembangan defisit neurologis. 3. Gantung pemberat dengan batas sehinga tidak menggangu traksi Intervensi bedah = Laminektomi Dilakukan Bila : 1. Cedera terjadi pada region lumbar atau torakal . Berikan oksigen untuk mempertahankan PO2 arterial yang tinggi. yaitu teknik tong /capiller skeletal atau halo vest. Deformitas tidak dapat dikurangi dengan fraksi 2. 2. 2. Pertimbangan alat pacu diafragma (stimulasi listrik saraf frenikus) untuk pasien dengan lesi servikal yang tinggi.. Kurangi fraktur servikal dan luruskan spinal servikal dengan suatu bentuk traksi skeletal. reduksi. Reduksi dan Fraksi skeletal 1. Terdapat ketidakstabilan signifikan dari spinal servikal 3. dan stabilisasi koluma vertebrata. dislokasi. Farmakoterapi Berikan steroid dosis tinggi (metilpredisolon) untuk melawan edema medela. Tindakan Respiratori 1. 3. Lakukan resusitasi sesuai kebutuhan dan pertahankan oksigenasi dan kestabilan kardiovaskuler. Cedera medulla spinalis membutuhkan immobilisasi.

ekstremitas dingin dan pucat. Sirkulasi Hipotensi. melena. Makanan /cairan Mengalami distensi abdomen. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan dengan Cedera Medulla Spinalis 1. Eliminasi Retensi urine. Integritas Ego e. Higiene Sangat ketergantungan dalam melakukan aktifitas sehari-hari (bervariasi) h. menarik diri. gelisah. Hipotensi posturak. Status Neurologis mengalami penyimpanan untuk mengurangi fraktur spinal atau dislokasi atau dekompres medulla. Takut. 88-89) B. Kelemahan umum /kelemahan otot (trauma dan adanya kompresi saraf). d. peristaltik usus hilang. distensi abdomen.4. Pengkajian a. Neurosensori Kelumpuhan. cemas. 2000 . . b. peristaltik usus hilang (ileus paralitik) g. f. (Diane C. kelemahan (kejang dapat berkembang saat terjadi perubahan pada syok spinal). c. Braughman. Aktifitas /Istirahat Kelumpuhan otot (terjadi kelemahan selama syok pada bawah lesi. emisis berwarna seperti kopi tanah /hematemesis. bradikardi.

k. kehilangan refleks /refleks asimetris termasuk tendon dalam. hilangnya keringat bagian tubuh yang terkena karena pengaruh trauma spinal. postur. Retensi urine yang berhubungan dengan ketidakmampuan untuk berkemih secara spontan. ronki. i. Resiko terhadap kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan penurunan immobilitas. (Marikyn E. penurunan bunyi napas. sianosis. l. Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kerusakan fungsi motorik dan sesorik. Keamanan Suhu yang berfluktasi *(suhu tubuh ini diambil dalam suhu kamar). . Seksualitas Ereksi tidak terkendali (priapisme). 338-339) DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Pernapasan Pernapasan dangkal /labored. nyeri tekan vertebral. periode apnea. penurunan sensorik. Kehilangan tonus otot /vasomotor. 2. 1999 . Perubahan reaksi pupil. Doengoes. 4. pucat. menstruasi tidak teratur. 3. Nyeri /kenyamanan Mengalami deformitas.Kehilangan sensasi (derajat bervariasi dapat kembaki normak setelah syok spinal sembuh). j. ptosis. Ketidak efektifan pola pernapasan yang berhubungan dengan kelemahan /paralisis otot-otot abdomen dan intertiostal dan ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi.

Konstipasi berhubungan dengan adanya atoni usus sebagai akibat gangguan autonomik. PH = 7. bunyi napas normal. peningkatan rasa nyaman. menghilangkan retensi urine.45 Rencana Tindakan a. Nyeri yang berhubungan dengan pengobatan immobilitas lama. Monitor warna. Tujuan : Meningkatkan pernapasan yang adekuat Kriteria hasil : Batuk efektif. perbaikan fungsi usus. dan tidak terdapatnya komplikasi. 6. Boughman. c. cedera psikis dan alt traksi (Diane C.5. Lakukan suction bila perlu . d. brsihkan sekret) R/ Menutup jalan nafas. jalan napas bersih. Pertahankan jalan nafas (hindari fleksi leher. jumlah dan konsistensi sekret. mampu melakukan reposisi.35 – 7. PaCO2 = 35-45 mmHg. pasien mampu mengeluarkan seket. irama dan jumlah pernapasan. 2000 : 90) PERENCANAAN DAN IMPLEMENTASI Tujuan perencanaan dan implementasi dapat mencakup perbaikan pola pernapasan. respirasi normal. lakukan kultur R/ Hilangnya refleks batuk beresiko menimbulkan pnemonia. perbaikan mobilitas. nilai AGD : PaO2 > 80 mmHg. INTERVENSI 1. pemeliharaan integritas kulit. Kaji kemampuan batuk dan reproduksi sekret R/ Hilangnya kemampuan motorik otot intercosta dan abdomen berpengaruh terhadap kemampuan batuk. pasien. b.

Kaji fungsi-fungsi sensori dan motorik pasien setiap 4 jam. e. c. footdrop. Rencana Tindakan a. Monitor tanda vital setiap 2 jam dan status neurologi R/ Mendeteksi adanya infeksi dan status respirasi. Tujuan : Memperbaiki mobilitas Kriteria Hasil : Mempertahankan posisi fungsi dibuktikan oleh tak adanya kontraktur.R/ Pengambilan secret dan menghindari aspirasi. Berikan minum hangat jika tidak kontraindikasi R/ Mengencerkan sekret h. g. f. R/ Mencegah terjadinya dekubitus. b. meningkatkan kekuatan bagian tubuh yang sakit /kompensasi. Beri papan penahan pada kaki . Ganti posisi pasien setiap 2 jam dengan memperhatikan kestabilan tubuh dan kenyamanan pasien. i. mendemonstrasikan teknik /perilaku yang memungkinkan melakukan kembali aktifitas. Berikan oksigen dan monitor analisa gas darah R/ Meninghkatkan suplai oksigen dan mengetahui kadar olsogen dalam darah. R/ Menetapkan kemampuan dan keterbatasan pasien setiap 4 jam. Lakukan latihan nafas R/ mengembangkan alveolu dan menurunkan prosuksi sekret. Auskultasi bunyi napas R/ Mendeteksi adanya sekret dalam paru-paru. 2.

Inkontinensia bladder /bowel. Konsultasikan kepada fisiotrepi untuk latihan dan penggunaan otot seperti splints R/ Memberikan pancingan yang sesuai. Rencana Tindakan a. edar. e. Gunakan otot orthopedhi. Gunakan tempat tidur khusus (dengan busa) R/ Mengurangi tekanan 1 tekanan sehingga mengurangi resiko dekubitas d. Ganti posisi setiap 2 jam dengan sikap anatomis .R/ Mencegah terjadinya foodrop d. Monitor adanya nyeri dan kelelahan pada pasien. Tujuan : Mempertahankan Intergritas kulit Kriteria Hasil : Keadaan kulit pasien utuh. bebas dari infeksi pada lokasi yang tertekan. b. Lakukan ROM Pasif setelah 48-72 setelah cedera 4-5 kali /hari R/ Meningkatkan stimulasi dan mencehag kontraktur. bebas dari kemerahan. f. handsplits R/ Mencegah terjadinya kontraktur. hilangnya sensasi. Kaji faktor resiko terjadinya gangguan integritas kulit R/ Salah satunya yaitu immobilisasi. R/ Menunjukan adanya aktifitas yang berlebihan. g. Kaji keadaan pasien setiap 8 jam R/ Mencegah lebih dini terjadinya dekubitus. c. 3.

kultur urine negatif. R/ Meningkatkan sirkulasi darah g. Lakukan pemasangan kateter sesuai program R/ Efek trauma medulla spinalis adlah adanya gangguan refleks berkemih sehingga perlu bantuan dalam pengeluaran urine . Kaji intake dan output cairan R/ Mengetahui adekuatnya gunsi gnjal dan efektifnya blodder.R/ Daerah yang tertekan akan menimbulkan hipoksia. c. Tujuan : Peningkatan eliminasi urine Kriteria Hasil : Pasien dpat mempertahankan pengosongan blodder tanpa residu dan distensi. e. intake dan output cairan seimbang Rencana tindakan a. keadaan urine jernih. Kaji tanda-tanda infeksi saluran kemih R/ Efek dari tidak efektifnya bladder adalah adanya infeksi saluran kemih b. perubahan posisi meningkatkan sirkulasi darah. Kaji status nutrisi pasien dan berikan makanan dengan tinggi protein R/ Mempertahankan integritas kulit dan proses penyembuhan h. Pertahankan kebersihan dan kekeringan tempat tidur dan tubuh pasien. Lakukan pemijatan khusus / lembut diatas daerah tulang yang menonjol setiap 2 jam dengan gerakan memutar. R/ Lingkungan yang lembab dan kotor mempermudah terjadinya kerusakan kulit f. Lakukan perawatan kulit pada daerah yang lecet / rusak setiap hari R/ Mempercepat proses penyembuhan 4.

... kaji pola eliminasi bowel R/ Menentukan adanya perubahan eliminasi b. Lakukan pemeriksaan urinalisa.. Berikan diet tinggi serat R/ Serat meningkatkan konsistensi feses c. berbentuk. b. Hindari penggunaan laktasif oral R/ Kebiasaan menggunakan laktasif akan tejadi ketergantungan . Auskultasi bising usus. Cek bladder pasien setiap 2 jam R/ Mengetahui adanya residu sebagai akibat autonomic hyperrefleksia f. Berikan minum 1800 – 2000 ml/hari jika tidak ada kontraindikasi R/ Mencegah konstipasi d. Rencana tindakan a..d. Anjurkan pasien untuk minum 2-3 liter setiap hari R/ Mencegah urine lebih pekat yang berakibat timbulnya . keadaan feses yang lembek. Monitor temperatur tubuh setiap 8 jam R/ Temperatur yang meningkat indikasi adanya infeksi. e. Tujuan : Memperbaiki fungsi usus Kriteria hasil : Pasien bebas konstipasi. kultur dan sensitibilitas R/ Mengetahui adanya infeksi g.. 5.. kaji adanya distensi abdomen R/ Bising usus menentukan pergerakan perstaltik e.

perubahan posisi. Dorong penggunaan teknik relaksasi. meningkatkan rasa kontrol. pedoman imajinasi visualisasi. R/ Memfokuskan kembali perhatian. misalnya lokasi. misalnya. Lakukan mobilisasi jika memungkinkan R/ Meningkatkan pergerakan peritaltik g. kompres hangat / dingin sesuai indikasi. Rencana tindakan a. Berikan tindakan kenyamanan. latihan nafas dalam. Evaluasi dan catat adanya perdarah pada saat eliminasi R/ Kemungkinan perdarahan akibat iritasi penggunaan suppositoria 6. Tujuan : Memberikan rasa nyaman Kriteria hasil : Melaporkan penurunan rasa nyeri untuk /ketidak mengatasi nyaman. mengidentifikasikan cara-cara mendemonstrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktifitas hiburan sesuai kebutuhan individu. bantu pasien mengidentifikasi dan menghitung nyeri. dan dapat meningkatkan kemampuan koping . masase. tipe nyeri. Kaji terhadap adanya nyeri. Berikan suppositoria sesuai program R/ Pelunak feses sehingga memudahkan eliminasi h.f. nyeri. selain menurunkan kebutuhan otot nyeri / efek tak diinginkan pada fungsi pernafasan. intensitas pada skala 0 – 1R/ Pasien biasanya melaporkan nyeri diatas tingkat cedera misalnya dada / punggung atau kemungkinan sakit kepala dari alat stabilizer b. misalnya. R/ Tindakan alternatif mengontrol nyeri digunakan untuk keuntungan emosionlan. c.

misalnya dontren (dantrium). 340 – 358. Klien dapat mempertahankan integritas kulit 4.d. Klien dapat meningkatkan pernafasan yang adekuat 2. Evalusi 1. Klien dapat memperbaiki mobilitas 3. analgetik. relaksasi otot. kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi. Doenges 1999 .misalnya diazepam (valium) R/ Dibutuhkan untuk menghilangkan spasme /nyeri otot atau untuk menghilangkan-ansietas dan meningkatkan istrirahat. 2000 : 91 – 93) . klien mengalami peningkatan eliminasi urine 5. Klien menyatakan rasa nyaman (Marilyn E. Klien mengalami perbaikan usus / tidak mengalami konstipasi 6. antiansietis. Diane C Baurghman.

and Sorensens R. Mansjoer. . A. 1997. Rencana Asuham Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta . L. Edisi 3. 2001. Philadelphia . J. Edisi 8 Vol. 1993. Ed : 4. E. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. EGC Luckman. Medical Surgical Nursing a Psychophysiologic approach. Kapita Selekta Kedokteran. WB. Carpenito.DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : PT.C. Jakarta . Jilid 2. EGC Doengoes. 3 . Jakarta : EGC. 1998. T. 1999. 2000. Souders Company. M. Edisi 3 Jakarta : FKUI Pearce Evelyn C. Gramedia. Edisi 6. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful