STUDI ANALISIS PENDAPAT AL-SYAFI'I

TENTANG PERKAWINAN ANTAR AGAMA

SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Dan Melengkapi Syarat
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S1)
Dalam Ilmu Syari’ah

















Oleh:
ARIFIN
NIM. 2199096



JURUSAN AHWAL SYAHSIYAH
FAKULTAS SYARI’AH
IAIN WALISONGO SEMARANG
2006
ii
DEPARTEMEN AGAMA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
FAKULTAS SYARI’AH SEMARANG
JL. Raya Boja Km. 2 Ngalian Telp./ Fax. (024) 7601291 Semarang 50185


BERITA ACARA MUNAQASYAH SKRIPSI

Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang pada:
Hari : Kamis
Tanggal : 27 Juli 2006
Jam : 11.00-12.00 WIB

Telah mengadakan Ujian Munaqasyah Skripsi dengan judul:
STUDI ANALISIS PENDAPAT AL-SYAFI'I TENTANG PERKAWINAN
ANTAR AGAMA
Atas Nama :
Nama : Arifin
NIM : 2199096
Jurusan : Ahwal Syahsiyah
Keterangan : UTAMA/ULANG …………………………………………..
LULUS/TIDAK LULUS

Semarang, 27 Juli 2006
Ketua Sidang, Sekretaris Sidang,



H.Khoirul Anwar, S.Ag, M.Ag. M.Solek, MA.
NIP. 150 276 114 NIP. 150 262 648


Penguji I, Penguji II,


Dr.H.Abd. Hadi, MA. Ade Yusuf Mujaddid, M.Ag.
NIP. 150 209 744 NIP. 150 289 443

Pembimbing,



M.Solek, MA.
NIP. 150 262 648
iii
ABSTRAK



Dalam prakteknya tidak sedikit adanya hubungan muda-mudi yang
berbeda agama yaitu muslim dengan non muslim. Hubungan itu tidak
menutup kemungkinan sampai pada jenjang pernikahan. Masalah yang
muncul, bagaimana pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama?
Bagaimana metode istinbath hukum Al-Syafi'i tentang perkawinan antar
agama? Penulisan ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dan penelitian
kepustakaan (Library research). Sedangkan Pendekatannya menggunakan
pendekatan deskriptif analisis. Adapun data primer yaitu karya al-Syafi’i yang
berhubungan dengan judul di atas di antaranya: (1) Al-Umm, dan al-Risalah.
Sedangkan data sekunder, yaitu literatur lainnya yang relevan dengan judul di
atas. Sebagai tknik pengumpulan data menggunakan teknik library research
(penelitian kepustakaan), dengan analisis data kualitatif.
Hasil dari pembahasan dapat diterangkan bahwa dalam perkawinan
antar agama menurut Imam Syafi'i, laki-laki muslim tidak boleh menikah
dengan wanita non muslim dengan alasan surat al-Baqarah 221: walâ tankihul
musyrikâti hatta yukminna walâmatun mu'minatun khairun min musyrikatin
walau a'jabatkum. Wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki
non muslim dengan alasan surat al-Baqarah 221: walâ tunkihul musyrikîna
hatta yukminu wala'abdun mu'minun khairun min musyrikin walau a'jabakum.
Laki-Laki muslim tidak boleh menikah dengan wanita non muslim kecuali
dengan wanita non muslim yang berasal dari ahli kitab. Menurut al-Syafi'i
yang dimaksud dengan ahli kitab tersebut adalah keturunan Bani Israil atau
orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Taurat pada masa Nabi Musa
dan orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Injil pada masa Nabi Isa.
Sedangkan Istinbath hukum al-Syafi’i yang membolehkan laki-laki muslim
menikah dengan wanita non muslim dari ahli kitab didasarkan atas di takhsis
surat al-Baqarah ayat 221 oleh surat al-Maidah ayat 5. Adapun ahli kitab yang
dimaksud oleh al-Syafi'i hanya terbatas kepada keturunan Bani Israil atau
orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Taurat pada masa Nabi Musa
dan orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Injil pada masa Nabi Isa.
Disebabkan: (a) Dalam ayat 5 al-Ma'idah terdapat lafal min qablikum yang
berarti orang-orang Bani Israil atau orang-orang yang berpegang teguh pada
kitab Taurat pada masa Nabi Musa dan orang-orang yang berpegang teguh
pada kitab Injil pada masa Nabi Isa. (b). Nabi Musa dan Nabi Isa hanya diutus
kepada Bani Israil. Dalam kaitan ini, penulis kurang sependapat dengan
pendapat al-Syafi'i yang mengkategorikan ahlul kitab seperti tersebut di atas.
Alasan penulis kurang setuju karena bila diaplikasikan di Indonesia, maka
orang-orang Indonesia yang menganut agama Yahudi atau Nasrani sesudah
turunnya al-Qur’an maka mereka tidaklah termasuk di dalam ahlul kitab,
konsekuensinya maka tidak halal bagi muslim menikahi perempuan-
perempuan mereka.
iv
DAFTAR ISI

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Telaah Pustaka
E. Metode Penelitian
F. Sistematika Penulisan

BAB II: TINJAUAN UMUM TENTANG PERKAWINAN

A. Pengertian Nikah dan Dasar Hukumnya
B. Syarat dan Rukun Nikah
C. Pendapat Para Ulama tentang Perkawinan Antar Agama

BABIII: PENDAPAT AL-SYAFI'I TENTANG PERKAWINAN ANTAR
AGAMA
A. Biografi Al-Syafi'i, Pendidikan dan Karya-Karyanya
B. Pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan Antar Agama
C. Metode Istinbath Hukum Al-Syafi'i

BABIV: ANALISIS PENDAPAT AL-SYAFI'I TENTANG PERKAWINAN
ANTAR AGAMA
A. Pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan Antar Agama
B. Metode Istinbath Hukum Al-Syafi'i tentang perkawinan Antar
Agama

BAB V : PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran-saran
C. Penutup
1

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Allah SWT menciptakan dunia dan seluruh makhluk yang mendiami
jagad raya ini dibentuk dan dibangun dalam kondisi berpasang-pasangan. Ada
gelap dan terang, ada kaya dan miskin. Demikian pula manusia diciptakan
dalam berpasangan yaitu ada pria dan wanita. Pria dan wanita diciptakan
dengan disertai kebutuhan biologis.
Dalam memenuhi kebutuhan biologis ada aturan-aturan tertentu yang
harus dipenuhi dan bila dilanggar mempunyai sanksi baik di dunia maupun di
akhirat. Sanksi yang dimaksud yaitu manakala pria dan wanita dalam
memenuhi kebutuhan biologisnya tanpa diikat oleh suatu tali pernikahan.
Pernikahan itu terjadi melalui sebuah proses yaitu kedua belah pihak
saling menyukai dan merasa akan mampu hidup bersama dalam menempuh
bahtera rumah tangga. Namun demikian, pernikahan itu sendiri mempunyai
syarat dan rukun yang sudah ditetapkan baik dalam al-Qur’an maupun dalam
Hadis.
2
Menurut Sayuti Thalib perkawinan ialah perjanjian suci membentuk
keluarga antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan.
1
Sementara
Mahmud Yunus menegaskan, perkawinan ialah akad antara calon laki istri
untuk memenuhi hajat jenisnya menurut yang diatur oleh syariat.
2

Sedangkan Zahry Hamid merumuskan nikah menurut syara ialah akad (ijab
qabul) antara wali calon istri dan mempelai laki-laki dengan ucapan tertentu
dan memenuhi rukun serta syaratnya.
3
Syekh Kamil Muhammad ‘Uwaidah
mengungkapkan menurut bahasa, nikah berarti penyatuan. Diartikan juga
sebagai akad atau hubungan badan. Selain itu, ada juga yang mengartikannya
dengan percampuran.
4

As Shan’ani dalam kitabnya memaparkan bahwa an-nikah menurut
pengertian bahasa ialah penggabungan dan saling memasukkan serta
percampuran. Kata “nikah” itu dalam pengertian “persetubuhan” dan “akad”.
Ada orang yang mengatakan “nikah” ini kata majaz dari ungkapan secara
umum bagi nama penyebab atas sebab. Ada juga yang mengatakan bahwa
“nikah” adalah pengertian hakekat bagi keduanya, dan itulah yang
dimaksudkan oleh orang yang mengatakan bahwa kata “nikah” itu musytarak
bagi keduanya. Kata nikah banyak dipergunakan dalam akad. Ada pula yang
mengatakan bahwa dalam kata nikah itu terkandung pengertian hakekat yang

1
Sayuti Thalib, Hukum Kekeluargaan Indonesia, Jakarta: UI Press, Cet. 5, 1986, hlm.
47.
2
Mahmud Yunus, Hukum Perkawinan dalam Islam, Jakarta: PT Hidakarya Agung,
Cet. 12, 1990, hlm. 1.
3
Zahry Hamid, Pokok-Pokok Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang
Perkawinan di Indonesia, Yogyakarta: Bina Cipta, 1978, hlm. 1.
4
Syekh Kamil Muhammad ‘Uwaidah, Al-Jami' Fi Fiqhi an-Nisa, terj. M. Abdul
Ghofar, "Fiqih Wanita', (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2002, hlm. 375.
3
bersifat syar’i. Tidak dimaksudkan kata nikah itu dalam al-Qur’an kecuali
dalam hal akad.
5


Dari berbagai pengertian di atas, meskipun redaksinya berbeda akan
tetapi ada pula kesamaannya. Karena itu dapat disimpulkan perkawinan ialah
suatu akad atau perikatan untuk menghalalkan hubungan kelamin antara laki-
laki dan perempuan dalam rangka mewujudkan kebahagiaan hidup
berkeluarga yang diliputi rasa ketentraman serta kasih sayang dengan cara
yang diridhai Allah SWT. Dalam konteks ini Rasulullah bersabda:
` ﺑ ` ﺪ` ﻤ ﺤ` ﻣ ﺎ ﻧ ﺮ ﺒ` ﺧﹶ ﺃ ﻢ ﻳ` ﺮ ﻣ ﻲﹺ ﺑﹶ ﺃ ` ﻦ` ﺑ ` ﺪﻴ ﻌ ﺳ ﺎ ﻨﹶ ﺛ` ﺪ ﺣ ﻲﹺ ﺑﹶ ﺃ ` ﻦ` ﺑ ` ﺪ` ﻴ ﻤ` ﺣ ﺎ ﻧ ﺮ ﺒ` ﺧﹶ ﺃ ﹴ ﺮﹶ ﻔ` ﻌ ﺟ ` ﻦ
ﹸ ﺔﹶ ﺛﺎﹶ ﻠﹶ ﺛ َ ﺀﺎ ﺟ ﹸ ﻝﻮﹸ ﻘ ﻳ ﻪ` ﻨ ﻋ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﻲ ﺿ ﺭ ﻚ ﻟﺎ ﻣ ﻦ` ﺑ ﺲ ﻧﹶ ﺃ ﻊ ﻤ ﺳ ` ﻪ` ﻧﹶ ﺃ ﹸ ﻞﻳﹺ ﻮﱠ ﻄﻟﺍ ﺪ` ﻴ ﻤ` ﺣ
ﺓ ﺩﺎ ﺒ ﻋ ` ﻦ ﻋ ﹶ ﻥﻮﹸ ﻟﹶ ﺄ` ﺴ ﻳ ﻢﱠ ﻠ ﺳ ﻭ ﻪ` ﻴﹶ ﻠ ﻋ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﻰﱠ ﻠ ﺻ ` ﻲﹺ ﺒ` ﻨﻟﺍ ﹺ ﺝﺍ ﻭ` ﺯﹶ ﺃ ﺕﻮ` ﻴ` ﺑ ﻰﹶ ﻟﹺ ﺇ ﻂ` ﻫ ﺭ
ﺻ ` ﻲﹺ ﺒ` ﻨﻟﺍ ` ﻦ` ﺤ ﻧ ﻦ` ﻳﹶ ﺃ ﻭ ﺍﻮﹸ ﻟﺎﹶ ﻘﹶ ﻓ ﺎ ﻫﻮﱡ ﻟﺎﹶ ﻘ ﺗ ` ﻢ` ﻬ` ﻧﹶ ﺄﹶ ﻛ ﺍﻭ` ﺮﹺ ﺒ` ﺧﹸ ﺃ ﺎ` ﻤﹶ ﻠﹶ ﻓ ﻢﱠ ﻠ ﺳ ﻭ ﻪ` ﻴﹶ ﻠ ﻋ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﻰﱠ ﻠ
ﹶ ﻝﺎﹶ ﻗ ﺮ` ﺧﹶ ﺄ ﺗ ﺎ ﻣ ﻭ ﻪﹺ ﺒ` ﻧﹶ ﺫ ` ﻦ ﻣ ﻡ` ﺪﹶ ﻘ ﺗ ﺎ ﻣ ` ﻪﹶ ﻟ ﺮ ﻔﹸ ﻏ ` ﺪﹶ ﻗ ﻢﱠ ﻠ ﺳ ﻭ ﻪ` ﻴﹶ ﻠ ﻋ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﻰﱠ ﻠ ﺻ ` ﻲﹺ ﺒ` ﻨﻟﺍ ﻦ ﻣ
ﺻﹸ ﺃ ﻲ` ﻧﹺ ﺈﹶ ﻓ ﺎ ﻧﹶ ﺃ ﺎ` ﻣﹶ ﺃ ` ﻢ` ﻫ` ﺪ ﺣﹶ ﺃ ` ﺮ ﻄﹾ ﻓﹸ ﺃ ﺎﹶ ﻟ ﻭ ﺮ` ﻫ` ﺪﻟﺍ ` ﻡﻮ` ﺻﹶ ﺃ ﺎ ﻧﹶ ﺃ ` ﺮ ﺧﺁ ﹶ ﻝﺎﹶ ﻗﻭ ﺍ ﺪ ﺑﹶ ﺃ ﹶ ﻞ` ﻴﱠ ﻠﻟﺍ ﻲﱢ ﻠ
ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﻰﱠ ﻠ ﺻ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﹸ ﻝﻮ` ﺳ ﺭ َ ﺀﺎ ﺠﹶ ﻓ ﺍ ﺪ ﺑﹶ ﺃ ` ﺝ` ﻭ ﺰﺗﹶ ﺃ ﺎﹶ ﻠﹶ ﻓ َ ﺀﺎ ﺴ` ﻨﻟﺍ ﹸ ﻝﹺ ﺰ ﺘ` ﻋﹶ ﺃ ﺎ ﻧﹶ ﺃ ` ﺮ ﺧﺁ ﹶ ﻝﺎﹶ ﻗ ﻭ
ﻭ ﺍﹶ ﺬﹶ ﻛ ` ﻢ` ﺘﹾ ﻠﹸ ﻗ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ` ﻢ` ﺘ` ﻧﹶ ﺃ ﹶ ﻝﺎﹶ ﻘﹶ ﻓ ` ﻢﹺ ﻬ` ﻴﹶﻟﹺ ﺇ ﻢﱠ ﻠ ﺳ ﻭ ﻪ` ﻴﹶ ﻠ ﻋ ` ﻢﹸ ﻛﺎ ﺸ` ﺧﹶ ﺄﹶ ﻟ ﻲ` ﻧﹺ ﺇ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﻭ ﺎ ﻣﹶ ﺃ ﺍﹶ ﺬﹶ ﻛ
` ﻦ ﻤﹶ ﻓ َ ﺀﺎ ﺴ` ﻨﻟﺍ ` ﺝ` ﻭ ﺰ ﺗﹶ ﺃ ﻭ ` ﺪﹸ ﻗ` ﺭﹶ ﺃ ﻭ ﻲﱢ ﻠ ﺻﹸ ﺃ ﻭ ` ﺮ ﻄﹾ ﻓﹸ ﺃ ﻭ ` ﻡﻮ` ﺻﹶ ﺃ ﻲ` ﻨ ﻜﹶ ﻟ ` ﻪﹶ ﻟ ` ﻢﹸ ﻛﺎﹶ ﻘ` ﺗﹶ ﺃ ﻭ ﻪﱠ ﻠ ﻟ
ﻲ` ﻨ ﻣ ﺲ` ﻴﹶ ﻠﹶ ﻓ ﻲ ﺘ` ﻨ` ﺳ ` ﻦ ﻋ ﺐ ﻏ ﺭ , ﻯﺭﺎﺨﺒﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ .
6


5
Sayyid al-Iman Muhammad ibn Ismail as-San’ani , Subul al-Salam Sarh Bulugh al-
Maram Min Jami Adillati al-Ahkam, Juz 3, Kairo: Dar Ikhya’ al-Turas al-Islami, 1960, hlm.
350.
6
Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Juz 3, Beirut Libanon: Dar al-Fikr, 1410 H/1990 M,
hlm. 251
4
Artinya: Telah mengabarkan kepada kami dari Sa'id bin Abi Maryam
telah memberitahu kepada kami dari Muhammad bin Ja'far
dari Himaid bin Abi Humaid ath-Thawail, sesungguhnya dia
telah mendengar dari Anas bin Malik r.a., katanya: Ada tiga
orang laki-laki datang berkunjung ke rumah isteri-isteri Nabi
saw; bertanya tentang ibadat beliau. Setelah diterangkan
kepada mereka, kelihatan bahwa mereka menganggap bahwa
apa yang dilakukan Nabi itu terlalu sedikit. Mereka berkata:
"Kita tidak dapat disamakan dengan Nabi. Semua dosa
beliau yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni,
Allah." Salah seorang dari mereka berkata: "Untuk saya,
saya akan selalu sembahyang sepanjang malam selama-
lamanya." Orang kedua berkata: "Saya akan berpuasa setiap
hari, tidak pernah berbuka." Orang ketiga berkata: "Saya
tidak akan pernah mendekati wanita. Saya tidak akan kawin
selama-lamanya." Setelah itu Rasulullah saw. datang. Beliau
berkata: "Kamukah orangnya yang berkata begini dan
begitu? Demi Allah! Saya lebih takut dan lebih bertaqwa
kepada Tuhan dibandingkan dengan kamu. Tetapi saya
berpuasa dan berbuka. Saya sembahyang dan tidur, dan saya
kawin. Barangsiapa yang tidak mau mengikuti sunnahku,
tidak termasuk ke dalam golonganku." (HR. al-Bhukhari)

Dari hadis di atas mengisyaratkan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak
menyukai seseorang yang berprinsip anti menikah. Namun demikian dalam
prakteknya tidak sedikit adanya hubungan muda-mudi yang berbeda agama
yaitu muslim dengan non muslim. Hubungan itu tidak menutup kemungkinan
sampai pada jenjang pernikahan. Masalah yang muncul, apakah hukumnya
sah perkawinan muslim dengan non muslim?
Peristiwa di atas berarti menyangkut perkawinan antar agama yang
menurut Masjfuk Zuhdi, yaitu perkawinan antarorang yang berlainan agama,
dalam hal ini, perkawinan orang beragama Islam (pria/wanita) dengan orang
5
beragama non Islam (pria/wanita).
7
Perkawinan antaragama yang dimaksud
ini dapat terjadi antara
1. Calon istri beragama Islam dan calon suami tidak beragama Islam, baik
"ahlulkitab" maupun musyrik.
2. Calon suami beragama Islam dan calon istri tidak beragama Islam, baik
ahlulkitab maupun musyrik.
Akibat hukum dari perkawinan antaragama adalah sebagai berikut: apabila
perkawinan antaragama terjadi antara perempuan yang beragama Islam dan
laki-laki yang tidak beragama Islam, baik musyrik maupun ahlul kitab, maka
para ulama imamiyah – sebagaimana halnya dengan keempat mazhab lainnya
– sepakat bahwa wanita muslimah tidak boleh kawin dengan laki-laki non
muslim meskipun ahli kitab.
8
Hal ini berarti apabila perkawinan antaragama
terjadi antara perempuan yang beragama Islam dan laki-laki yang tidak
beragama Islam, baik musyrik maupun ahlulkitab, maka ulama fikih sepakat
hukumnya tidak sah.
9
Alasannya adalah firman Allah SWT dalam al-Baqarah
(2) ayat 221:
... ﹶ ﻟ ﻭ ﹾ ﺍﻮ` ﻨ ﻣ` ﺆ` ﻳ ﻰ` ﺘ ﺣ ﲔ ﻛﹺ ﺮ ﺸ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ` ﺤ ﻜﻨ` ﺗ ﹶ ﻻﻭ ` ﻮﹶ ﻟ ﻭ ﻙﹺ ﺮ` ﺸ' ﻣ ﻦ` ﻣ ` ﺮ` ﻴ ﺧ ` ﻦ ﻣ` ﺆ' ﻣ ` ﺪ` ﺒ ﻌ
` ﻢﹸ ﻜ ﺒ ﺠ` ﻋﹶ ﺃ ,... ﺓﺮﻘﺒﻟﺍ · 221 .

7
Masjfuk Zuhdi, Masail Fikhiyah, Jakarta: PT Gunung Agung, 1997, hlm. 4.
8
Muhammad Jawad Mughniyah, Al-Fiqh 'ala al-Mazahib al-Khamsah, Terj.
Masykur AB, et al, "Fiqih Lima Mazhab", Jakarta: PT Lentera Basritama, 2000, hlm. 336.
9
Abdul Aziz Dahlan, et.al, Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid 4, Jakarta: PT. Ichtiar
Baru Van Hoeve, 1997, hlm. 1409.
6
Artinya: Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik
sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang
mu'min lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik
hatimu.
10



... ﹶ ﻻ ﻭ ` ﻢ` ﻬﱠ ﻟ ﱞ ﻞ ﺣ ` ﻦ` ﻫ ﹶ ﻻ ` ﻦ` ﻬﹶ ﻟ ﹶ ﻥﻮﱡ ﻠ ﺤ ﻳ ` ﻢ` ﻫ ,... ﺔﻨﺤﺘﻤﳌﺍ · 10 .

Artinya: …Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-
orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka… (Q.S.
Mumtahanah: 10).
11

Apabila perkawinan terjadi antara laki-laki muslim dengan perempuan
musyrik, ulama fikih sepakat menyatakan bahwa hukumnya tidak sah.
Argumen yang dikemukakan adalah firman Allah SWT dalam al-Baqarah (2)
ayat 221. Ulama berbeda pendapat mengenai siapa yang disebut perempuan
musyrik itu. Selanjutnya apabila perkawinan terjadi antara laki-laki beragama
Islam dan perempuan yang tergolong ahlul kitab, terdapat beberapa pendapat
di antara ulama fikih:
a. Umar bin al-Khattab (42 SH/581 M-23 H/644 M) melarang perkawinan
antara laki-laki muslim dan perempuan ahlul kitab. Sebab, menurutnya,
Allah SWT telah mengharamkan laki-laki muslim menikahi perempuan
musyrik dan ia tidak pernah tahu adakah syirik yang lebih besar dari
seseorang yang beriktikad bahwa Nabi Isa AS atau hamba Allah SWT
yang lainnya adalah Tuhannya.
b. Jumhur ulama fikih membolehkan perkawinan laki-laki muslim dengan
perempuan ahlul kitab. Argumen mereka adalah pertama, penjelasan yang

10
Depag RI, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an
dan Terjemahnya, 1986, hlm. 53.
11
Ibid, hlm. 924
7
terdapat dalam Al-Qur'an dalam surah al-Ma'idah ayat 5 dan kedua,
pendapat Sayid Sabiq, ahli fikih di Mesir, yang menjelaskan bahwa
sekalipun boleh mengawini wanita ahlul kitab. namun hukumnya makruh.
Sekalipun jumhur ulama fikih sepakat tentang kebolehan seorang laki-laki
beragama Islam mengawini wanita ahlul kitab, namun mereka berbeda
pendapat dalam menentukan wanita ahlul kitab itu sendiri.
Dalam hubungannya dengan perkawinan antar agama, menurut al-
Syafi'i bahwa wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki non
muslim, akan tetapi dibolehkan menikah antara laki-laki muslim dengan ahli
kitab. Hal ini ia nyatakan dalam kitabnya yaitu:
ﻥﺃ ﻰﻫﻭ ﻝﺎﲝ ﻢﻠﺴﻤﻠﻟ ﻞﲢ ` ﺪﻗ ﺔﻛﺮﺸﳌﺍ ﺓﺃﺮﳌﺍﻭ ﻝﺎﲝ ﻙﺮﺸﳌ ﻞﲢ ﻻ ﺔﻤﻠﺴﳌﺍ
ﺔﻴﺑﺎﺘﻛ ﻥﻮﻜﺗ
12

Artinya: wanita muslimah tidak halal (menikah) dengan laki-laki
musyrik dengan keadaan apa pun, dan wanita musyrik itu
kadang-kadang halal (boleh menikah) bagi lelaki Islam
dengan sesuatu hal dan wanita itu wanita kitabi.

Dalam kaitannya dengan ahli kitab, menurut Al-Syafi'i, yang termasuk
ahlul kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani keturunan orang-orang
Israel, tidak termasuk bangsa-bangsa lain sekalipun penganut agama Yahudi
dan atau Nasrani. Di antara alasan yang diajukan adalah
(1). Karena Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS hanya diutus untuk orang-orang
bangsa Israel; dan

12
Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Al-Umm, Beirut Libanon:
Dar al-Kutub al-Ilmiah, tth, juz 4, hlm. 287
8
(2). Lafal min qablikum (umat sebelum kamu) dalam surah al-Ma'idah (5)
ayat 5 menunjuk kepada kedua kelompok Yahudi dan Nasrani bangsa
Israel.
Pendapat al-Syafi'i di atas dapat dijumpai dalam kitabnya yang pada
intinya menyatakan:
ﻞﺣﻭ ﻪﺘﺤﻴﺑﺫ ﺖﻠﻛﺃ ﺓﺮﻣﺎﺴﻟﺍﻭ ﲔﺌﺑﺎﺼﻟﺍ ﻦﻣ ﻱﺭﺎﺼﻨﻟﺍﻭ ﺩﻮﻬﻴﻟﺍ ﻦﻳﺩ ﻥﺍﺩ ﻦﻣ
ﻩﺅﺎﺴﻧ
13

Artinya: siapa yang beragama dengan agama Yahudi dan Nasrani dari
orang Sabiin dan Samiri, maka boleh dimakan
sembelihannya dan halal dikawini wanitanya.
14


Mengingat kondisi yang demikian, maka terasa masih relevan
membicarakan perkawinan antar agama, karena perkawinan merupakan
sesuatu yang penting. Kecuali itu, masih banyak orang yang belum
memahaminya secara tepat, terutama di kalangan generasi muda. Di sinilah
terletak, antara lain urgennya mengkaji pendapat al-Syafi'i.
Berdasarkan uraian di atas mendorong diangkatnya tema ini dengan
judul: Studi Analisis Pendapat Al-Syafi'i dalam Kitab al-Umm tentang
Perkawinan Antar Agama

13
Ibid, hlm. 289
14
Sabi'in adalah nama golongan yang mengikuti nabi-nabi zaman dahulu. Sedangkan
Samiri adalah nama suatu suku dari bangsa Israil.
9
A. Perumusan Masalah
Permasalahan merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat
pertanyaan-pertanyaan apa saja yang ingin dicarikan jawabannya.
15
Bertitik
tolak pada keterangan itu, maka yang menjadi pokok permasalahan:
1. Bagaimana pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama?
2. Bagaimana metode istinbath hukum Al-Syafi'i tentang perkawinan antar
agama?
B. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama
2. Untuk mengetahui metode istinbath hukum Al-Syafi'i tentang perkawinan
antar agama
C. Telaah Pustaka
Berdasarkan penelitian di perpustakaan Fakultas Syari’ah ditemukan
kajian khusus berupa skripsi yang judulnya ada hubungan dengan penelitian
ini. Demikian pula ada beberapa buku yang membahas perkawinan antar
agama, walaupun secara khusus belum membahas konsep Al-Syafi'i secara
mendalam. Skripsi dan buku-buku yang dimaksud di antaranya:
1. Skripsi yang disusun oleh M. Rodli (NIM 2195143 IAIN Wali Songo
Semarang) berjudul: Analisis Pendapat Muhammad Rasyid Ridlo tentang
Kebolehan Laki-Laki Muslim Menikahi Wanita Kristen/Nasrani (Ahlul

15
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Cet. 7, Jakarta;
Pustaka Sinar Harapan, 1993, hlm. 312.
10
Kitab) dalam Al-Manar. Dalam skripsinya dijelaskan bahwa pada intinya
M. Rasyid Ridho membolehkan laki-laki muslim menikahi wanita ahlul
kitab dengan syarat laki-laki muslim tidak terpengaruh dan ikut ke agama
istrinya, yang ia khawatirkan wanita ahlul kitab tersebut akan menarik
laki-laki muslim untuk masuk ke agamanya dengan kepandaiannya,
kecantikannya, dan hartanya. Terhadap pemikiran M. Rasyid Ridho di
atas, maka penulis mendukung karena Islam sebagai rahmat sekalian alam
tidak membedakan antara manusia satu dengan lainnya, demikian juga
terhadap penganut agama lain.
2. Skripsi yang disusun oleh Thoifah (NIM 2196073 IAIN Wali Songo
Semarang) dengan judul: Study Pemikiran Quraisy Syihab tentang Ahlul
Kitab dan Implikasinya pada pernikahan Beda Agama di Indonesia.
Dalam skripsinya dijelaskan bahwa M. Quraisy Shihab membolehkan
seorang pria menikah dengan ahlul kitab dengan catatan wanita itu yang
muhsonat yaitu perempuan yang dapat menjaga kehormatan diri dan
sangat menghormati serta mengagungkan kitab sucinya. Muhammad
Quraish Shihab, ahli tafsir kontemporer dari Indonesia, lebih cenderung
berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ahlul kitab adalah semua
penganut agama Yahudi dan Nasrani, kapanpun, di mana pun, dan
keturunan siapa pun mereka. Pendapatnya ini didasarkan kepada firman
Allah SWT dalam surah al-An 'am (6) ayat 156:
ﻦ ﻋ ﺎ` ﻨﹸ ﻛ ﻥﹺ ﺇ ﻭ ﺎ ﻨ ﻠ` ﺒﹶ ﻗ ﻦ ﻣ ﹺ ﻦ` ﻴ ﺘﹶ ﻔ ﺋﺂﹶ ﻃ ﻰﹶ ﻠ ﻋ `ﺏﺎ ﺘ ﻜﹾ ﻟﺍ ﹶ ﻝﹺ ﺰﻧﹸ ﺃ ﺎ ﻤ` ﻧﹺ ﺇ ﹾ ﺍﻮﹸ ﻟﻮﹸ ﻘ ﺗ ﻥﹶ ﺃ
ﲔ ﻠ ﻓﺎ ﻐﹶ ﻟ ` ﻢﹺ ﻬ ﺘ ﺳﺍ ﺭ ﺩ , ﻡﺎﻌﻧﻷﺍ · 156 .
11
Artinya: (Kami turunkan Al-Qur'an itu) agar kamu (tidak)
mengatakan: Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua
golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak
memperhatikan apa yang mereka baca. (Q.S. al-An'am: 156)

Penulis kurang sependapat dengan klasifikasi Quraish Shihab,
karena ia hanya membolehkan pada penganut agama Yahudi dan Nasrani.
Hal ini mengandung arti ia membedakan antara penganut agama yang satu
dengan lainnya. Padahal Shihab tidak memberi ukuran apa sehingga
agama Yahudi dan Nasrani dibolehkan. Di sini pula ia tidak memberi
argumentasi yang detail kenapa untuk penganut agama lain tidak boleh.
3. Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar, terhadap surat al-Baqarah ayat 221,
menegaskan tentang perkawinan antar agama, khususnya perkawinan
wanita muslimah dengan pria non muslim. Menurut Hamka bahwa dalam
ajaran Islam, perempuan muslimah tidak boleh bersuamikan ahlul kitab
karena perempuan tidak akan melebihi kekuasaan suaminya dalam rumah
tangga. Apalagi dalam agama-agama lain yang tidak memberikan jaminan
kebebasan yang luas dalam peraturan agamanya terhadap perempuan,
sebagaimana dimiliki oleh Islam. Alhasil pada pokoknya bahwa orang
Islam laki-laki jodohnya ialah orang Islam perempuan, meskipun
perempuan itu masih budak, di zaman negeri-negeri masih mengakui
adanya budak. Orang perempuan Islam jodohnya laki-laki Islam.
Janganlah mencari jodoh karena hanya tertarik pada kecantikan, padahal
12
orangnya musyrik. Jangan tertarik oleh kekayaan atau keturunan kalau
laki-lakinya tidak beragama.
16

4. Yusuf Qardhawi, dalam Hadyul Islam Fatawi Mu’ashirah berpendapat
bahwa hukum asal mengawini wanita ahli kitab menurut jumhur ulama
adalah mubah. Namun demikian di antara sahabat yang tidak berpendapat
demikian adalah Umar bin al-Khattab.
17
Umar bin al-Khattab (42 SH/581
M-23 H/644 M) melarang perkawinan antara laki-laki muslim dan
perempuan ahlul kitab. Sebab, menurutnya, Allah SWT telah
mengharamkan laki-laki muslim menikahi perempuan musyrik dan ia
tidak pernah tahu adakah syirik yang lebih besar dari seseorang yang
beriktikad bahwa Nabi Isa AS atau hamba Allah SWT yang lainnya
adalah Tuhannya.
18

5. Syekh Hasan Khalid, al-Zawaj Bighair al-Muslimin. Menurut Syekh
Hasan Khalid bahwa jumhur ulama fikih membolehkan perkawinan laki-
laki muslim dengan perempuan ahlul kitab.
19
Argumen mereka yang
menyatakan boleh adalah penjelasan yang terdapat dalam Al-Qur'an
dalam surah al-Ma'idah ayat 5
6. Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah. Ulama ahli fiqih ini menguraikan, para
ulama sepakat bahwa perempuan Muslim tidak halal kawin dengan laki-
laki bukan Muslim, baik dia musyrik ataupun Ahli Kitab.

16
Hamka, Tafsir Al Azhar, Jakarta: PT Pustaka Panji Mas, juz 2, 1999, hlm. 257
17
Yusuf Qardhawi, Hadyul Islam Fatawi Mu’ashirah, Terj. As’ad Yasin, “Fatwa-
Fatwa Kontemporer”, jilid 1, Jakarta: Gema Insani, 2001, hlm. 585
18
bid
19
Syekh Hasan Khalid, al-Zawaj Bighair al-Muslimin, Terj. Zaenal Abidin
Syamsudin, “Menikah Dengan Non Muslim”, Jakarta: Pustaka al-Sofwa, 2004, hlm. 145
13
Alasannya ialah firman Allah:
ﻮ` ﻨ ﺤ ﺘ` ﻣﺎﹶ ﻓ ﺕﺍ ﺮﹺ ﺟﺎ ﻬ` ﻣ ` ﺕﺎ ﻨ ﻣ` ﺆ` ﻤﹾ ﻟﺍ ` ﻢﹸ ﻛﺀﺎ ﺟ ﺍﹶ ﺫﹺ ﺇ ﺍﻮ` ﻨ ﻣﺁ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﺎ ﻬ' ﻳﹶ ﺃ ﺎ ﻳ
ﺕﺎ ﻨ ﻣ` ﺆ` ﻣ ` ﻦ` ﻫﻮ` ﻤ` ﺘ` ﻤ ﻠ ﻋ ﹾ ﻥﹺ ﺈﹶ ﻓ ` ﻦﹺ ﻬﹺ ﻧﺎ ﳝﹺ ﺈﹺ ﺑ `ﻢﹶ ﻠ` ﻋﹶ ﺃ ` ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ` ﻦ` ﻫ ﹶ ﻓ ﻰﹶ ﻟﹺ ﺇ ` ﻦ` ﻫﻮ` ﻌﹺ ﺟ` ﺮ ﺗ ﹶ ﻼ
` ﻦ` ﻬﹶ ﻟ ﹶ ﻥﻮﱡ ﻠ ﺤ ﻳ ` ﻢ` ﻫ ﺎﹶ ﻟ ﻭ ` ﻢ` ﻬﱠ ﻟ ﱞ ﻞ ﺣ ` ﻦ` ﻫ ﹶ ﻻ ﹺ ﺭﺎﱠ ﻔﹸ ﻜﹾ ﻟﺍ . ,.. ﺔﻨﺤﺘﻤﳌﺍ · 10 .
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu
perempuan-perempuan Mukmin yang berhijrah hendaklah
mereka kamu uji lebih dulu. Allah lebih mengetahui iman
mereka. Jika kamu telah dapat membuktikan bahwa mereka
itu benar-benar beriman, maka janganlah mereka
kembalikan kepada orang-orang kafir. Mereka ini
(perempuan-perempuan Mukmin) tidak halal bagi laki-laki
kafir. Dan laki-laki kafir pun tidak halal bagi mereka. " (Al-
Mumtahanah: 10)

Pertimbangan daripada ketentuan ini adalah bahwa di tangan suamilah
kekuasaan terhadap istrinya, dan bagi istri wajib taat kepada perintahnya
yang baik. Dalam pengertian seperti inilah maksud daripada kekuasaan
suami terhadap istri. Akan tetapi bagi orang kafir tidak ada kekuasaan
terhadap laki-laki atau perempuan Muslim.
Allah berfirman:
... ﹰ ﻼﻴﹺ ﺒ ﺳ ﲔﹺ ﻨ ﻣ` ﺆ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﻰﹶ ﻠ ﻋ ﻦﻳﹺ ﺮ ﻓﺎﹶ ﻜﹾ ﻠ ﻟ ` ﻪﹼ ﻠﻟﺍ ﹶﻞ ﻌ` ﺠ ﻳ ﻦﹶ ﻟ ﻭ , ﺀﺎﺴﻨﻟﺍ · 141 .
Artinya: Dan Allah tidak akan memberikan jalan kepada orang-orang
kafir untuk menguasai orang-orang Mukmin. (An-Nisa':
141)

Selain itu seorang suami kafir tidak mau tahu akan agama istrinya yang
Muslim bahkan ia mendustakan Kitab Sucinya dan mengingkari ajaran
Nabinya. Di samping itu dalam rumah yang terdapat perbedaan paham
14
begitu jauh dan keyakinan begitu prinsip, maka rumah tangganya tidak
akan dapat tegak dengan baik dan berjalan langgeng. Akan tetapi hal ini
berbeda jika laki-laki Muslim kawin dengan perempuan Ahli Kitab, sebab
ia mau tahu agama istrinya, dan menganggap bahwa percaya kepada Kitab
Suci dan Nabi-nabi agama istrinya sebagai bagian daripada rukun iman,
dimana keimanan Islamnya ini tidak akan sempurna kalau tidak
mempercayai Kitab dan para Nabi Ahli Kitab.
20

7. Abd al-Rahman al-Jaziri, dalam Kitab al-Fiqh ala Majahib al-Arba’ah.
Kitab ini berisi pendapat dari empat mazhab yaitu mazhab Maliki, Hanafi,
Hambali dan Syafi’i. Pada dasarnya pengarang kitab ini hanya
mengetengahkan pandangan berbagai mazhab dengan memberi komentar
di sana sini. Dalam kitab ini dijelaskan bahwa telah sepakat mazhab yang
empat, bahwa laki-laki Muslim boleh mengawini perempuan
Yahudi/Nasrani. Tetapi Imam Syafi'i dan Hanbali mensyaratkan, ibu bapa
perempuan itu harus orang Yahudi/Nasrani juga. Kalau bapak/nenek
perempuan itu menyembah berhala dan bukan ahli kitab (Taurat/Injil),
kemudian ia memeluk agama. Yahudi/Nasrani, maka tidak boleh
mengawini Perempuan itu. Menurut Hanafi dan Maliki asal perempuan itu
beragama Yahudi/Nasrani, boleh mengawininya, meskipun ibu bapaknya.
Menyembah .berhala.
21

8. Ahmad Asy-Syarbashi, Yas'alunaka fi ad-Din wa al-Hayah. Menurutnya

20
Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, Kairo: Maktabah Dar al-Turas, juz 2, tth, hlm. 182.
21
Abdurrahman al-Jaziri, Kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-Arba’ah, juz 4, Beirut:
Dar al-Fikr, 1972, hlm. 147
15
umat Islam dengan segenap fukaha dan ulamanya sepakat bahwa tidak
boleh seorang Muslimah menikah dengan seorang laki-laki non-Muslim.
Baik laki-laki non-Muslim tersebut termasuk kelompok Ahlulkitab,
seperti Yahudi dan Nasrani, kelompok musyrikin, maupun kelompok
ateis. Allah SWT telah berfirman, "Dan janganlah kamu menikahkan
orang-orang musyrik (dengan wanita- wanita mukmin) sehingga mereka
beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin itu lebih baik dan orang
musyrik, walaupun dia menarik hatimu." (QS. al-Baqarah: 221).
22

9. Mahmud Yunus, Hukum Perkawinan Dalam Islam. Dalam buku ini
Mahmud Yunus menjelaskan bahwa laki-laki muslim dibolehkan menikah
dengan perempuan Yahudi atau Nasrani. Tetapi perempuan muslimah
tidak boleh menikah dengan laki-laki Yahudi atau Nasrani.
23

10. Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perkawinan Di Indonesia. Pengarang buku
ini menyatakan sekiranya tiap-tiap agama dalam peraturannya melarang
seorang pemeluk agama itu kawin dengan orang yang memeluk agama
lain, maka biasanya salah seorang dari mereka mengalah dan beralih
kepada agama dari pihak lain. Bila ini terjadi, tentunya tidak ada kesulitan
dalam hal perkawinan. Akan tetapi manakala kedua belah pihak masing-
masing mempertahankan agamanya maka akan muncul masalah.
24


22
Ahmad Asy-Syarbashi, Yas'alunaka fi ad-Din wa al-Hayah, Terj. Ahmad Subandi,
"Tanya Jawab Lengkap tentang Agama dan Kehidupan", Jakarta: Lentera, 1997, hlm. 238-241
23
Mahmud Yunus, Hukum Perkawinan Dalam Islam, Jakarta: PT Hidayakarya
Agung, 1990, hlm. 50.
24
Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perkawinan Di Indonesia, Bandung: PT Sumur
Bandung, 1981, hlm. 46.
16
Spesifikasi skripsi ini dibandingkan dengan kepustakaan di atas,
yaitu membahas pendapat seorang tokoh Islam yaitu Imam Syafi’i tentang
perkawinan laki-laki muslim dengan ahlul kitab.
D. Metode Penelitian
Metode penelitan bermakna seperangkat pengetahuan tentang langkah-
langkah sistematis dan logis tentang pencarian data yang berkenaan dengan
masalah tertentu untuk diolah, dianalisis, diambil kesimpulan dan selanjutnya
dicarikan cara pemecahannya.
25
Dalam versi lain dirumuskan, metode
penelitian adalah cara yang dipakai dalam mengumpulkan data, sedangkan
instrumen adalah alat bantu yang digunakan dalam mengumpulkan data itu,
26

maka metode penelitian skripsi ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
27


Jenis Data
Penulisan ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yaitu jenis
penelitian yang tidak menggunakan angka-angka statistik, melainkan
dalam bentuk kata-kata. Di samping itu penelitian ini hanya menggunakan
penelitian kepustakaan (Library research). Yang dimaksud dengan
penelitian kepustakaan adalah penelitian yang menggunakan data-data
dari buku sebagai sumber kajian.

25
Wardi Bacthiar, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah, Jakarta: Logos Wacana Ilmu,
1997, hlm. 1.
26
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Cet. 12,
Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002, hlm. 194.
27
Menurut Hadari Nawawi, metode penelitian atau metodologi research adalah ilmu
yang memperbincangkan tentang metode-metode ilmiah dalam menggali kebenaran
pengetahuan. Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial, Yogyakarta: Gajah Mada
University Press, 1991, hlm. 24.
17
Pendekatan
Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif
analisis yakni menggambarkan dan menganalisis pemikiran Al-Syafi'i
tentang perkawinan antar agama, khususnya dalam perkawinan antara pria
muslim dengan wanita ahli kitab.
Sumber Data
Data Primer, dari karya-karya Al-Syafi’i yang berhubungan dengan judul
di atas di antaranya: (1) Al-Umm. Kitab ini disusun langsung oleh Al-
Syafi’i secara sistematis sesuai dengan bab-bab fikih dan menjadi
rujukan utama dalam Mazhab Syafi'i. Kitab ini memuat pendapat Al-
Syafi’i dalam berbagai masalah fikih. Dalam kitab ini juga dimuat
pendapat Al-Syafi’i yang dikenal dengan sebutan al-qaul al-qadim
(pendapat lama) dan al-qaul al-jadid (pendapat baru). Kitab ini
dicetak berulang kali dalam delapan jilid bersamaan dengan kitab usul
fikih Al-Syafi’i yang berjudul Ar-Risalah. Pada tahun 1321 H kitab ini
dicetak oleh Dar asy-Sya'b Mesir, kemudian dicetak ulang pada tahun
1388H/1968M. (2) Kitab al-Risalah. Ini merupakan kitab ushul fiqh
yang pertama kali dikarang dan karenanya Al-Syafi’i dikenal sebagai
peletak ilmu ushul fiqh. Di dalamnya diterangkan pokok-pokok
pikiran beliau dalam menetapkan hukum.
28
(3) Kitab Imla al-Shagir;
Amali al-Kubra; Mukhtasar al-Buwaithi;
29
Mukhtasar al-Rabi;
Mukhtasar al-Muzani; kitab Jizyah dan lain-lain kitab tafsir dan

28
Djazuli, Ilmu Fiqh, Jakarta: Prenada Media, 2005, hlm. 131-132
29
Ahmad Asy Syarbasy, Al-Aimmah al-Arba'ah, Terj. Futuhal Arifin, "Biografi
Empat Imam Mazhab", Jakarta: Pustaka Qalami, 2003, hlm. 144.
18
sastra.
30
Siradjuddin Abbas dalam bukunya telah mengumpulkan 97
(sembilan puluh tujuh) buah kitab dalam fiqih Syafi’i. Namun dalam
bukunya itu tidak diulas masing dari karya Syafi’i tersebut.
31
Ahmad
Nahrawi Abd al-Salam menginformasikan bahwa kitab-kitab Imam al-
Syafi'i adalah Musnad li al-syafi'i; al-Hujjah; al-Mabsuth, al-Risalah,
dan al-Umm.
32

Data Sekunder, yaitu literatur lainnya yang relevan dengan judul di atas.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data menggunakan teknik library research
(penelitian kepustakaan). Pemilihan kepustakaan dilakukan secermat
mungkin dengan mempertimbangkan otoritas pengarangnya terhadap
bidang yang dikaji.
Teknik Analisis Data
Dalam menganalisis data,
33
peneliti menggunakan analisis data
kualitatif, yaitu data yang tidak bisa diukur atau dinilai dengan angka secara
langsung.
34
Dalam hal ini hendak diuraikan pemikiran Al-Syafi'i tentang

30
Ali Fikri, Ahsan al-Qashash, Terj. Abd.Aziz MR: "Kisah-Kisah Para Imam
Madzhab", Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2003, hlm. 109-110
31
Siradjuddin Abbas, Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi’i, Jakarta: Pustaka
Tarbiyah, 2004, hlm. 182-186.
32
Jaih Mubarok, Modifikasi Hukum Islam, Studi tentang Qaul Qadim dan Qaul
Jadid, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2002, hlm. 44
33
Menurut Moh. Nazir, Analisa adalah mengelompokkan, membuat suatu urutan,
memanipulasi serta menyingkatkan data sehingga mudah untuk dibaca. Moh. Nazir. Metode
Penelitian, Cet. 4, Jakarta: Ghalia Indonesia,1999, hlm, 419.
34
Tatang M. Amirin, Menyusun Rencana Penelitian, Cet. 3. Jakarta: PT. Raja
grafindo persada, 1995, hlm. 134. Bandingkan dengan Lexy J. Moleong, Metode Penelitian
19
makna ahli kitab dalam perkawinan antar agama
E. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari lima bab yang masing-
masing menampakkan titik berat yang berbeda, namun dalam satu kesatuan
yang saling mendukung dan melengkapi.
Bab pertama berisi pendahuluan, merupakan gambaran umum secara
global namun integral komprehensif dengan memuat: latar belakang masalah,
perumusan masalah, tujuan penelitian, telaah pustaka, metode penelitian dan
sistematika Penulisan. Dalam bab pertama ini di ketengahkan keseluruhan isi
isi skripsi secara global namun dalam satu kesatuan yang utuh dan jelas.
Bab kedua berisi tinjauan umum tentang perkawinan yang meliputi
pengertian nikah dan dasar hukumnya, syarat dan rukun nikah, akibat hukum
pernikahan, pendapat para ulama tentang perkawinan antar agama
Bab ketiga berisi pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama
yang meliputi biografi Al-Syafi'i, pendidikan dan karya-karyanya, pendapat
Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama, metode istinbath hukum Al-Syafi'i
Bab keempat berisi analisis pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan
antar agama yang meliputi: pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan antar
agama, metode istinbath hukum Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama.
Bab kelima merupakan penutup yang berisi kesimpulan, saran dan
penutup.

Kulitatif, Cet. 14, Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2001, hlm. 2. Koencaraningrat, Metode-
Metode Penelitian Masyarakat, Cet. 14, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1970, hlm.
269.
20
BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG PERKAWINAN

A. Pengertian Nikah dan Dasar Hukumnya
Perkawinan merupakan kebutuhan fitri setiap manusia yang
memberikan banyak hasil yang penting.
35
Perkawinan amat penting dalam
kehidupan manusia, perseorangan maupun kelompok. Dengan jalan
perkawinan yang sah, pergaulan laki-laki dan perempuan terjadi secara
terhormat sesuai kedudukan manusia sebagai makhluk yang berkehormatan.
Pergaulan hidup berumah tangga dibina dalam suasana damai, tenteram, dan
rasa kasih sayang antara suami dan istri. Anak keturunan dari hasil
perkawinan yang sah menghiasi kehidupan keluarga dan sekaligus merupakan
kelangsungan hidup manusia secara bersih dan berkehormatan.
36

Oleh karena itu, pada tempatnyalah apabila Islam mengatur masalah
perkawinan dengan amat teliti dan terperinci, untuk membawa umat manusia
hidup berkehormatan, sesuai kedudukannya yang amat mulia di tengah-tengah
makhluk Allah yang lain. Hubungan manusia laki-laki dan perempuan
ditentukan agar didasarkan atas rasa pengabdian kepada Allah sebagai Al
Khaliq (Tuhan Maha Pencipta) dan kebaktian kepada kemanusiaan guna
melangsungkan kehidupan jenisnya. Perkawinan dilaksanakan atas dasar
kerelaan pihak-pihak bersangkutan, yang dicerminkan dalam adanya
ketentuan peminangan sebelum kawin dan ijab-kabul dalam akad nikah yang
dipersaksikan pula di hadapan masyarakat dalam suatu perhelatan (walimah).
Hak dan kewajiban suami istri timbal-balik diatur amat rapi dan tertib;
demikian pula hak dan kewajiban antara orang tua dan anak-anaknya. Apabila

35
Ibrahim Amini, Principles of Marriage Family Ethics, terj. Alwiyah Abdurrahman,
"Bimbingan Islam Untuk Kehidupan Suami Istri", Bandung: al-Bayan, 1999, hlm. 17.
36
Ahmad Azhar Basyir, Hukum Perkawinan Islam, Yogyakarta: UII Press, 2004,
hlm. 1.
21
terjadi perselisihan antara suami dan istri, diatur pula bagaimana cara
mengatasinya. Dituntunkan pula adat sopan santun pergaulan dalam keluarga
dengan sebaik-baiknya agar keserasian hidup tetap terpelihara dan terjamin.
Hukum perkawinan mempunyai kedudukan amat penting dalam Islam
sebab hukum perkawinan mengatur tata-cara kehidupan keluarga yang
merupakan inti kehidupan masyarakat sejalan dengan kedudukan manusia
sebagai makhluk yang berkehormatan melebihi makhluk-makhluk lainnya.
Hukum perkawinan merupakan bagian dari ajaran agama Islam yang wajib
ditaati dan dilaksanakan sesuai ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Al-
qur’an dan Sunah Rasul.
37

Kata kawin menurut bahasa sama dengan kata nikah, atau kata, zawaj.
Dalam Kamus al-Munawwir, kata nikah disebut dengan an-nikh ( ) ح'´-'ا dan
az-ziwaj/az-zawj atau az-zijah جاو·'ا - جاو·'ا - ª=-·'ا ( ). Secara harfiah, an-
nikh berarti al- wath'u (ءط·'ا ), adh-dhammu ( »-'ا ) dan al-jam'u ( ·-='ا ).
Al-wath'u berasal dari kata wathi'a - yatha'u - wath'an '=و - '=- - '=و ( ),
artinya berjalan di atas, melalui, memijak, menginjak, memasuki, menaiki,
menggauli dan bersetubuh atau bersenggama.
38
Adh-dhammu, yang terambil
dari akar kata dhamma - yadhummu – dhamman ( »- - »-- - '-- ) secara
harfiah berarti mengumpulkan, memegang, menggenggam, menyatukan,
menggabungkan, menyandarkan, merangkul, memeluk dan menjumlahkan.
Juga berarti bersikap lunak dan ramah.
39

Sedangkan al-jam 'u yang berasal dari akar kata jama’a - yajma'u -
jam'an ·-= - ·-=- - '·-= ( ) berarti: mengumpulkan, menghimpun,
menyatukan, menggabungkan, menjumlahkan dan menyusun. Itulah sebabnya
mengapa bersetubuh atau bersenggama dalam istilah fiqih disebut dengan al-

37
Ibid., hlm. 1-2.
38
Ahmad Warson Al-Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap,
Yogyakarta: Pustaka Progressif, 1997, hlm. 1461.
39
Muhammad Amin Suma, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam, Jakarta: PT.Raja
Grafindo Persada, 2004, hlm.42-43
22
jima' mengingat persetubuhan secara langsung mengisyaratkan semua
aktivitas yang terkandung dalam makna-makna harfiah dari kata al-jam'u.
40

Sebutan lain buat perkawinan (pernikahan) ialah az-zawaj/az-ziwaj dan
az-zijah. Terambil dari akar kata zaja-yazuju-zaujan جاز - جو·- - '=وز ( ) yang
secara harfiah berarti: menghasut, menaburkan benih perselisihan dan
mengadu domba. Namun yang dimaksud dengan az-zawaj/az-ziwaj di sini
ialah at-tazwij yang mulanya terambil dari kata zawwaja- yuzawwiju-
tazwijan ) جّ وز - جّ و·- - =-و·- ' ( dalam bentuk timbangan "fa'ala-yufa'ilu-
taf'ilan" ) .ّ ·· - .ّ ·-- - `-·-- ( yang secara harfiah berarti mengawinkan,
mencampuri, menemani, mempergauli, menyertai dan memperistri.
41

Syeikh Zainuddin Ibn Abd Aziz al-Malibary dalam kitabnya
mengupas tentang pernikahan dan tentang wali. Pengarang kitab tersebut
menyatakan nikah adalah suatu akad yang berisi pembolehan melakukan
persetubuhan dengan menggunakan lafadz menikahkan atau mengawinkan.
Kata nikah itu sendiri secara hakiki bermakna persetubuhan.
42

Kitab Fath al-Qarib yang disusun oleh Syekh Muhammad bin Qasim
al-Ghazzi menerangkan pula tentang masalah hukum-hukum pernikahan di
antaranya dijelaskan kata nikah diucapkan menurut makna bahasanya yaitu
kumpul, wati, jimak dan akad. Dan diucapkan menurut pengertian syara’ yaitu
suatu akad yang mengandung beberapa rukun dan syarat.
43


40
Ibid, hlm. 43.
41
Ibid, hlm. 43-44.
42
Syaikh Zainuddin Ibn Abd Aziz al-Malibary, Fath al- Mu’in Bi Sarkh Qurrah al-
‘Uyun, Semarang: Maktabah wa Matbaah, karya Toha Putera , tth, hlm. 72.
43
Syekh Muhammad bin Qasim al-Ghazzi, Fath al-Qarib, Indonesia: Maktabah al-
lhya at-Kutub al-Arabiah, tth, hlm. 48.
23
Menurut Zakiah Daradjat, perkawinan adalah suatu aqad atau perikatan untuk
menghalalkan hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan dalam
rangka mewujudkan kebahagiaan hidup berkeluarga yang diliputi rasa
ketenteraman serta kasih sayang dengan cara yang diridhai Allah SWT.
44

Menurut Zahry Hamid, yang dinamakan nikah menurut Syara' ialah: "Akad
(ijab qabul) antara wali colon isteri dan mempelai laki-laki dengan ucapan-
ucapan tertentu dan memenuhi rukun dan syaratnya.
45

Dari segi pengertian ini maka jika dikatakan: "Si A belum pernah nikah atau
belum pernah kawin", artinya bahwa si A belum pernah mengkabulkan untuk
dirinya terhadap ijab akad nikah yang memenuhi rukun dan syaratnya. Jika
dikatakan: "Anak itu lahir diluar kawin", artinya bahwa anak tersebut
dilahirkan oleh seorang wanita yang tidak berada dalam atau terikat oleh
ikatan perkawinan berdasarkan akad nikah yang sah menurut hukum.
Menurut Hukum Islam, pernikahan atau perkawinan ialah: "Suatu ikatan lahir
batin antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk hidup bersama
dalam suatu rumah tangga dan untuk berketurunan, yang dilaksanakan
menurut ketentuan-ketentuan Hukum Syari'at Islam".
46

Dalam pasal 1 Bab I Undang-undang No. : 1 tahun 1974 tanggal 2 Januari
1974 dinyatakan; "Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria
dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk
keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan
Yang Maha Esa".
47


44
Zakiah Daradjat, Ilmu Fiqh, jilid 2, Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1995, hlm.
38.
45
Zahry Hamid, Pokok-Pokok Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang
Perkawinan di Indonesia, Yogyakarta: Bina Cipta, 1978, hlm. 1. beberapa definisi perkawinan
dapat dilihat pula dalam Moh. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam, Suatu Analisis dari
Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam, Jakarta: Bumi Aksara,
2002, hlm. 1-4.
46
Ibid.
47
Muhammad Amin Suma, op. cit, hlm. 203. Dalam pasal 2 Kompilasi Hukum Islam
(INPRES No 1 Tahun 1991), perkawinan miitsaaqan ghalizhan menurut hukum Islam adalah
pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau ghalizhan untuk mentaati perintah Allah dan
melaksanakannya merupakan ibadah. Lihat Saekan dan Erniati Effendi, Sejarah Penyusunan
Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Surabaya: Arkola, 1977, hlm. 76.
24
Di antara pengertian-pengertian tersebut tidak terdapat pertentangan satu sama
lain, bahkan jiwanya adalah sama dan seirama, karena pada hakikatnya
Syari'at Islam itu bersumber kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Hukum
Perkawinan merupakan bahagian dari Hukum Islam yang, memuat ketentuan-
ketentuan tentang hal ihwal perkawinan, yakni bagaimana proses dan prosedur
menuju terbentuknya ikatan perkawinan, bagaimana cara menyelenggarakan
akad perkawinan menurut hukum, bagaimana cara memelihara ikatan lahir
batin yang telah diikrarkan dalam akad perkawinan sebagai akibat yuridis dari
adanya akad itu, bagaimana cara mengatasi krisis rumah tangga yang
mengancam ikatan lahir batin antara suami isteri, bagaimana proses dan
prosedur berakhirnya ikatan perkawinan, serta akibat yuridis dari berakhirnya
perkawinan, baik yang menyangkut hubungan hukum antara bekas suami dan
isteri, anak-anak mereka dan harta mereka. Istilah yang lazim dikenal di
kalangan para ahli hukum Islam atau Fuqaha ialah Fiqih Munakahat atau
Hukum Pernikahan Islam atau Hukum Perkawinan Islam.
Masing-masing orang yang akan melaksanakan perkawinan, hendaklah
memperhatikan inti sari dari sabda Rasulullah SAW. yang menggariskan,
bahwa semua amal perbuatan itu disandarkan atas niat dari yang beramal itu,
dan bahwa setiap orang akan memperoleh hasil dari apa yang diniatkannya.
Oleh karenanya maka orang yang akan melangsungkan akad perkawinan
hendaklah mengetahui benar-benar maksud dan tujuan perkawinan. Maksud
dan tujuan itu adalah sebagai berikut:
a. Mentaati perintah Allah SWT. dan mengikuti jejak para Nabi dan Rasul,
terutama meneladani Sunnah Rasulullah Muhammad SAW., karena hidup
beristri, berumah tangga dan berkeluarga adalah termasuk 'Sunnah beliau. ,
b. Memelihara pandangan mata, menenteramkan jiwa, memelihara nafsu
seksualita, menenangkan fikiran, membina kasih sayang serta menjaga
kehormatan dan memelihara kepribadian.
25
c. Melaksanakan pembangunan materiil dan spirituil dalam kehidupan
keluarga dan rumah tangga sebagai sarana terwujudnya keluarga sejahtera
dalam rangka pembangunan masyarakat dan bangsa.
d. Memelihara dan membina kwalitas dan kwantitas keturunan untuk
mewujudkan kelestarian kehidupan keluarga di sepanjang masa dalam
rangka pembinaan mental spirituil dan phisik materiil yang diridlai Allah
Tuhan Yang Maha Esa.
Mempererat dan memperkokoh tali kekeluargaan antara keluarga suami dan
keluarga istri sebagai sarana terwujudnya kehidupan masyarakat yang aman
dan sejahtera lahir batin di bawah naungan Rahmat Allah Subhanahu wa
Ta'ala.
48

Adapun dasar hukum melaksanakan akad perkawinan sebagai berikut:
Pada dasarnya perkawinan merupakan suatu hal yang diperintahkan dan
dianjurkan oleh Syara'. Beberapa firman Allah yang bertalian dengan
disyari'atkannya perkawinan ialah:
1) Firman Allah ayat 3 Surah 4 (An-Nisa'):
ﺀﺎ ﺴ` ﻨﻟﺍ ﻦ` ﻣ ﻢﹸ ﻜﹶ ﻟ ﺏﺎﹶ ﻃ ﺎ ﻣ ﹾ ﺍﻮ` ﺤ ﻜﻧﺎﹶ ﻓ ﻰ ﻣﺎ ﺘ ﻴﹾ ﻟﺍ ﻲ ﻓ ﹾ ﺍﻮﹸ ﻄِ ﺴﹾ ﻘ` ﺗ ﱠ ﻻﹶ ﺃ ` ﻢ` ﺘﹾ ﻔ ﺧ ﹾ ﻥﹺ ﺇ ﻭ
ﹰ ﺓ ﺪ ﺣﺍ ﻮﹶ ﻓ ﹾ ﺍﻮﹸ ﻟ ﺪ` ﻌ ﺗ ﱠ ﻻﹶ ﺃ ` ﻢ` ﺘﹾ ﻔ ﺧ ﹾ ﻥﹺ ﺈﹶ ﻓ ﻉﺎ ﺑ`ﺭ ﻭ ﹶ ﺙﹶ ﻼﹸ ﺛ ﻭ ﻰ ﻨﹾ ﺜ ﻣ .. .ْ , ﺀﺎﺴﻨﻟﺍ · 3 .
49

Artinya:Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-
hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya),
maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga
atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil,
maka (kawinlah) seorang saja (Q.S.An-Nisa': 3).


48
Zahry Hamid, op. cit, hlm. 2.
49
Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an dan
Terjemahnya, Jakarta: Depag RI, 1986, hlm. 115.
26
2) Firman Allah ayat 32 Surah 24 (An-Nur): .
ﺍﻮ` ﻧﻮﹸ ﻜ ﻳ ﻥﹺ ﺇ ` ﻢﹸ ﻜ ﺋﺎ ﻣﹺ ﺇ ﻭ ` ﻢﹸ ﻛ ﺩﺎ ﺒ ﻋ ` ﻦ ﻣ ﲔ ﺤﻟﺎ` ﺼﻟﺍ ﻭ ` ﻢﹸ ﻜﻨ ﻣ ﻰ ﻣﺎ ﻳﹶ ﺄﹾ ﻟﺍ ﺍﻮ` ﺤ ﻜﻧﹶ ﺃ ﻭ
` ﻢﻴ ﻠ ﻋ ` ﻊ ﺳﺍ ﻭ ` ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﻭ ﻪ ﻠ` ﻀﹶ ﻓ ﻦ ﻣ ` ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ` ﻢﹺ ﻬﹺﻨ` ﻐ` ﻳ ﺀﺍ ﺮﹶ ﻘﹸ ﻓ , ﺭﻮﻨﻟﺍ · 32 .
50

Artinya: Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan
orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu
yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan
mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas pemberian-Nya
lagi Maha Mengetahui (Q.S.An-Nuur': 32)..
.
3) Firman Allah ayat 21 Surah 30 (Ar-Rum):
ﻣ ﻭ ﹶ ﻞ ﻌ ﺟ ﻭ ﺎ ﻬ` ﻴﹶ ﻟﹺ ﺇ ﺍﻮ` ﻨﹸ ﻜ` ﺴ ﺘﱢ ﻟ ﹰ ﺎﺟﺍ ﻭ` ﺯﹶ ﺃ ` ﻢﹸ ﻜِ ﺴﹸﻔﻧﹶ ﺃ ` ﻦ` ﻣ ﻢﹸ ﻜﹶ ﻟ ﻖﹶ ﻠ ﺧ ﹾ ﻥﹶ ﺃ ﻪ ﺗﺎ ﻳﺁ ` ﻦ
ﹶ ﻥﻭ` ﺮﱠ ﻜﹶ ﻔ ﺘ ﻳ ﹴ ﻡ` ﻮﹶ ﻘﱢ ﻟ ﺕﺎ ﻳﺂﹶ ﻟ ﻚ ﻟﹶ ﺫ ﻲ ﻓ ﱠ ﻥﹺ ﺇ ﹰ ﺔ ﻤ` ﺣ ﺭ ﻭ ﹰ ﺓ` ﺩ ﻮ` ﻣ ﻢﹸ ﻜ ﻨ` ﻴ ﺑ , ﻡﻭﺮﻟﺍ · 21 .
51

Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan
untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung
dan merasa tenteram kepadanya, dari dijadikan di antaramu rasa
kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-
benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (Q.S.Ar-
Rum: 21)

Beberapa hadis yang bertalian dengan disyari'atkannya perkawinan ialah:
ﺩﻮﻌﺴﻣ ﻦﺑﺍ ﻦﻋ ﻪﻨﻋ ﱃﺎﻌﺗ ﷲﺍ ﻲﺿﺭ – ﻝﺎﻗ · ﻰﹼ ﻠﺻ ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﻝﺎﻗ
ﻢﹼ ﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ '· ﺝ` ﻭﺰﺘﻴﻠﻓ ﺓﺀﺎﺒﻟﺍ ﻢﻜﻨﻣ ﻉﺎﻄﺘﺳﺍ ﻦﻣ ﺏﺎﺒ` ﺸﻟﺍ ﺮﺸﻌﻣ ﺎﻳ
ﻪ` ﻧﺈﻓ ﻡﻮ` ﺼﻟﺎﺑ ﻪﻴﻠﻌﻓ ﻊﻄﺘﺴﻳ ﱂ ﻦﻣﻭ ﺮﺠﻔﻠﻟ ﻦﺼﺣﺃﻭ ﺮﺼﺒﻠﻟ ` ﺾﻏﺃ ﻪ` ﻧﺈﻓ
ﺀﺎﺟﻭ ﻪﻟ .' ﺔﻋﺎﻤﳉﺍ ﻩﺍﻭﺭ .


50
Ibid, hlm. 549.
51
Ibid, hlm. 644.
27
52

Artinya: Dari Ibnu Mas'ud ra. dia berkata: "Rasulullah saw. bersabda:
"Wahai golongan kaum muda, barangsiapa diantara kamu
telah mampu akan beban nikah, maka hendaklah dia
menikah, karena sesungguhnya menikah itu lebih dapat
memejamkan pandangan mata dan lebih dapat menjaga
kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu (menikah),
maka hendaklah dia (rajin) berpuasa, karena sesungguhnya
puasa itu menjadi penahan nafsu baginya". (HR. Al-
Jama'ah).

ﻝﺎﻗ ﺹﺎﹼ ﻗﻭ ﰊﺃ ﻦﺑ ﺪﻌﺳ ﻦﻋﻭ ' · ﻰﻠﻋ ﻢﹼ ﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﹼ ﻠﺻ ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺭ ` ﺩﺭ
ﺎﻨﻴﺼﺘﺧﻻ ﻪﻟ ﻥﺫﺃ ﻮﻟﻭ ﻞ` ﺘﺒ` ﺘﻟﺍ ﻥﻮﻌﻈﻣ ﻦﺑ ﻥﺎﻤﺜﻋ , ' ﻢﻠﺴﳌﺍﻭ ﻱﺭﺎﺨﺒﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ .
53

Artinya: Dari Sa’ad bin Abu Waqqash, dia berkata: “Rasulullah saw.
pernah melarang Utsman bin mazh'un membujang. Dan
kalau sekiranya Rasulullah saw. mengizinkan, niscaya kami
akan mengebiri". (HR. Al Bukhari dan Muslim).

` ﻨﻟﺍ ﺏﺎﺤﺻﺃ ﻦﻣ ﺍﺮﻔﻧ ﹼ ﻥﺃ ﺲﻧﺃ ﻦﻋﻭ ﻢﻬﻀﻌﺑ ﻝﺎﻗ ﻢﹼ ﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﹼ ﻠﺻ ` ﱯ ·
ﺝ` ﻭﺰﺗﺃ ﻻ , ﻢﻬﻀﻌﺑ ﻝﺎﻗﻭ · ﻡﺎﻧﺃ ﻻﻭ ﻲﹼ ﻠﺻﺃ , ﻢﻬﻀﻌﺑ ﻝﺎﻗﻭ · ﻡﻮﺻﺃ
ﺮﻄﻓﺃﻻﻭ , ﻰﹼ ﻠﺻ ` ﱯ` ﻨﻟﺍ ﻚﻟﺫ ﻎﻠﺒﻓ ﻝﺎﻘﻓ ﻢﹼ ﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ '· ﺍﻮﻟﺎﻗ ﻡﺍﻮﻗﺃ ﻝﺎﺑ ﺎﻣ
ﻡﻮﺻﺃ ﻲ` ﻨﻜﻟ ﺍﺬﻛﻭ ﺍﺬﻛ ﺮﻄﻓﺃﻭ , ﻡﺎﻧﺃﻭ ﻲﹼ ﻠﺻﺃﻭ , ﻦﻤﻓ ﺀﺎﺴ` ﻨﻟﺍ ﺝ` ﻭﺰﺗﺃﻭ
ﻲ` ﻨﻣ ﺲﻴﻠﻓ ﻲ` ﺘﻨﺳ ﻦﻋ ﺐﻏﺭ .' ﺎﻤﻬﻴﻠﻋ ﻖﻔﺘﻣ .
54

Artinya: Dari Anas: "Sesungguhnya beberapa orang dari sahabat Nabi
saw. sebagian dari mereka ada yang mengatakan: "Aku tidak
akan menikah". Sebagian dari mereka lagi mengatakan:
"Aku akan selalu bersembahyang dan tidak tidur". Dan

52
Muhammad Asy Syaukani, Nail al–Autar, Beirut: Daar al-Qutub al-Arabia, juz 4,
1973, hlm. 171.
53
Ibid, hlm. 171
54
Ibid, hlm. 171
28
sebagian dari mereka juga ada yang mengatakan: "Aku akan
selalu berpuasa dan tidak akan berbuka". Ketika hal itu
didengar oleh Nabi saw. beliau bersabda: "Apa maunya
orang-orang itu, mereka bilang begini dan begitu?. Padahal
disamping berpuasa aku juga berbuka. Disamping
sembahyang aku juga tidur. Dan aku juga menikah dengan
wanita. Barangsiapa yang tidak suka akan sunnahku, maka
dia bukan termasuk dari (golongan) ku".(HR. Al Bukhari
dan Muslim)

ﻝﺎﻗ ﲑﺒﺟ ﻦﺑ ﺪﻴﻌﺳ ﻦﻋﻭ · ﺱﺎ` ﺒﻋ ﻦﺑﺍ ﱄ ﻝﺎﻗ · ﺖﻠﻗ ؟ﺖﺟ` ﻭﺰﺗ ﻞﻫ ·
ﻻ , ﻝﺎﻗ · ﺀﺎﺴﻧ ﺎﻫﺮﺜﻛﺃ ﺔ` ﻣﻷﺍ ﻩﺬﻫ ﲑﺧ ﹼ ﻥﺎﻓ ﺝ` ﻭﺰﺗ ,. ﺪﲪﺃ ﻩﺍﻭﺭ
` ﻱﺭﺎﺨﺒﻟﺍﻭ .
55

Artinya: Dari Sa'id bin Jubair, dia berkata: "Ibnu Abbas pernah
bertanya kepadaku: "Apakah kamu telah menikah?". Aku
menjawab: "Belum". Ibnu Abbas berkata: "Menikahlah,
karena sesungguhnya sebaik-baiknya ummat ini adalah yang
paling banyak kaum wanitanya". (HR. Ahmad dan Al-
Bukhari).

ﺓﺮﲰ ﻦﻋ ﻦﺴﳊﺍ ﻦﻋ ﺓﺩﺎﺘﻗ ﻦﻋﻭ ' · ` ﻨﻟﺍ ﹼ ﻥﺃ ﻢﹼ ﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﹼ ﻠﺻ ` ﱯ
ﻞ` ﺘﺒ` ﺘﻟﺍ ﻦﻋ ﻰ· ' , ﺓﺩﺎﺘﻗ ﺃﺮﻗﻭ , · ﺎ ﻨﹾ ﻠ ﻌ ﺟ ﻭ ﻚ ﻠ` ﺒﹶ ﻗ ﻦ` ﻣ ﹰ ﻼ` ﺳ` ﺭ ﺎ ﻨﹾ ﻠ ﺳ` ﺭﹶ ﺃ ` ﺪﹶ ﻘﹶ ﻟ ﻭ
ﹰ ﺔ` ﻳ` ﺭﹸ ﺫ ﻭ ﹰ ﺎﺟﺍ ﻭ` ﺯﹶ ﺃ ` ﻢ` ﻬﹶ ﻟ , . ﺪﻋﺮﻟﺍ · 38 , .. ﻪﺟﺎﻣ ﻦﺑﺍﻭ ` ﻱﺬﻣﺮﺘﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ ..
56

Artinya: dari Qatadah dari Al Hasan dari Samurah: "Sesungguhnya
Nabi saw. melarang membujang. Selanjutnya Qatadah
membaca (ayat): "Dan sesungguhnya kami telah mengutus
beberapa orang Rasul sebelum kamu dan kami berikan

55
Ibid
56
Ibid. Lihat juga TM.Hasbi ash Shiddieqy, Koleksi Hadis-Hadis Hukum, Semarang:
PT.Pustaka Rizki Putra, jilid 8, 2001, hlm. 3-8. TM.Hasbi Ash Shiddieqy, Mutiara Hadis, jilid
5, Semarang; PT.Pustaka Rizki Putra, 2003, hlm. 3-8
29
kepada mereka beberapa istri dan anak cucu". (HR. Tirmidzi
dan Ibnu Majah).

Menurut At Tirmidzi, hadis Samurah tersebut adalah hadis Hasan yang
gharib (aneh). Al Asy'ats bin Abdul Mulk meriwayatkan hadis ini dari Hasan
dari Sa'ad bin Hisyam dari Aisyah dan ia dari Nabi saw. Dikatakan bahwa
kedua hadis tersebut adalah shaheh.
Hadis senada diketengahkan oleh Ad Darimi dalam Musnad Al Firdaus dari
Ibnu Umar, dia mengatakan: "Rasulullah saw. bersabda: "Berhajilah nanti
kamu akan kaya. Bepergianlah nanti kamu akan sehat. Dan menikahlah nanti
kamu akan banyak. Sesungguhnya aku akan dapat membanggakan kamu
dihadapan umat-umat lain". Dalam isnad hadis tersebut terdapat nama
Muhammad bin Al Hants dari Muhammad bin Abdurrahman Al Bailamni,
keduanya adalah perawi yang sama-sama lemah.
Hadis senada juga diketengahkan oleh Al Baihaqi dari Abu Umamah
dengan redaksi: "Menikahlah kamu, karena sesungguhnya aku akan
membanggakan kalian dihadapan ummat-ummat lain. Dan janganlah kalian
seperti para pendeta kaum Nasrani". Namun dalam sanadnya terdapat nama-
nama Muhammad bin Tsabit, seorang perawi yang lemah.
Hadis senada lagi diriwayatkan oleh Daraquthni dalam Al Mu'talaf
dari Harmalah bin Nu'man dengan redaksi: "Wanita yang produktif anak itu
lebih disukai oleh Allah ketimbang wanita cantik namun tidak beranak.
Sesungguhnya aku akan membanggakan kalian di hadapan ummat-ummat lain
30
pada hari kiamat kelak". Namun menurut Al Hafizh Ibnu Hajar, sanad hadis
ini lemah.
Para Fukaha berbeda pendapat tentang status hukum asal dari
perkawinan. Menurut pendapat yang terbanyak dari fuqaha madzhab Syafi'i,
hukum nikah adalah mubah (boleh), menurut madzhab Hanafi, Maliki, dan
Hambali hukum nikah adalah sunnat, sedangkan menurut madzhab Dhahiry
dan Ibn. Hazm hukum nikah adalah wajib dilakukan sekali seumur hidup.
57

Adapun Hukum melaksanakan pernikahan jika dihubungkan dengan kondisi
seseorang serta niat dan akibat-akibatnya, maka tidak terdapat perselisihan di
antara para ulama, bahwa hukumnya ada beberapa macam, yaitu:
58

Perkawinan hukumnya wajib bagi orang yang telah mempunyai keinginan
kuat untuk kawin dan telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan dan
memikul beban kewajiban dalam hidup perkawinan serta ada kekhawatiran,
apabila tidak kawin, ia akan mudah tergelincir untuk berbuat zina.
Alasan ketentuan tersebut adalah sebagai berikut. Menjaga diri dari
perbuatan zina adalah wajib. Apabila bagi seseorang tertentu penjagaan diri
itu hanya akan terjamin dengan jalan kawin, bagi orang itu, melakukan
perkawinan hukumnya adalah wajib. Qa'idah fiqhiyah mengatakan, "Sesuatu
yang mutlak diperlukan untuk menjalankan suatu kewajiban, hukumnya
adalah wajib"; atau dengan kata lain, "Apabila suatu kewajiban tidak akan
terpenuhi tanpa adanya suatu hal, hal itu wajib pula hukumnya." Penerapan

57
Zahry Hamid, op, cit., hlm. 3-4.
58
Ahmad Azhar Basyir, op. cit, hlm. 14-16
31
kaidah tersebut dalam masalah perkawinan adalah apabila seseorang hanya
dapat menjaga diri dari perbuatan zina dengan jalan perkawinan, baginya
perkawinan itu wajib hukumnya.
Perkawinan hukumnya sunah bagi orang yang telah berkeinginan kuat untuk
kawin dan telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan dan memikul
kewajiban-kewajiban dalam perkawinan, tetapi apabila tidak kawin juga tidak
ada kekhawatiran akan berbuat zina.
Alasan hukum sunah ini diperoleh dari ayat-ayat Al-qur’an dan hadis-
hadis Nabi sebagaimana telah disebutkan dalam hal Islam menganjurkan
perkawinan di atas. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa beralasan ayat-
ayat Al-qur’an dan hadis-hadis Nabi itu, hukum dasar perkawinan adalah
sunah. Ulama mazhab Syafi’i berpendapat bahwa hukum asal perkawinan
adalah mubah. Ulama-ulama mazhab Dhahiri berpendapat bahwa perkawinan
wajib dilakukan bagi orang yang telah mampu tanpa dikaitkan adanya
kekhawatiran akan berbuat zina apabila tidak kawin.
59

Perkawinan hukumnya haram bagi orang yang belum berkeinginan
serta tidak mempunyai kemampuan untuk melaksanakan dan memikul
kewajiban-kewajiban hidup perkawinan sehingga apabila kawin juga akan
berakibat menyusahkan istrinya. Hadis Nabi mengajarkan agar orang jangan
sampai berbuat yang berakibat menyusahkan diri sendiri dan orang lain.
Al-Qurthubi dalam kitabnya Jami li Ahkam al-Qur’an (Tafsir al-
Qurthubi) berpendapat bahwa apabila calon suami menyadari tidak akan

59
Ibid, hlm. 14.
32
mampu memenuhi kewajiban nafkah dan membayar mahar (maskawin) untuk
istrinya, atau kewajiban lain yang menjadi hak istri, tidak halal mengawini
seseorang kecuali apabila ia menjelaskan peri keadaannya itu kepada calon
istri; atau ia bersabar sampai merasa akan dapat memenuhi hak-hak istrinya,
barulah ia boleh melakukan perkawinan. Lebih lanjut Al-Qurthubi dalam
kitabnya Jami li Ahkam al-Qur’an mengatakan juga bahwa orang yang
mengetahui pada dirinya terdapat penyakit yang dapat menghalangi
kemungkinan melakukan hubungan dengan calon istri hams memberi
keterangan kepada calon istri agar pihak istri tidak akan merasa tertipu. Apa
yang dikatakan Al-Qurthubi itu amat penting artinya bagi sukses atau
gagalnya hidup perkawinan. Dalam bentuk apa pun, penipuan itu harus
dihindari. Bukan saja cacat atau penyakit yang dialami calon suami, tetapi
juga nasab keturunan. kekayaan. kedudukan, dan pekerjaan jangan sampai
tidak dijelaskan agar tidak berakibat pihak istri merasa tertipu.
60

Hal yang disebutkan mengenai calon suami itu berlaku juga bagi calon
isteri. Calon istri yang tahu bahwa ia tidak akan dapat memenuhi
kewajibannya terhadap suami, karena adanya kelainan atau penyakit, harus
memberikan keterangan kepada calon suami agar jangan sampai terjadi pihak
suami merasa tertipu. Bila ia mencoba menutupi cacad yang ada pada dirinya,
maka suatu hari masalah ini akan berkembang dengan pertengkaran dan
penyesalan.

60
Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (Tafsir al-Qurthubi), Beirut: Dar al-
Ma’rifah, Juz 1, t.th, hlm. 265
33
Bahkan kekurangan-kekurangan yang terdapat pada diri calon istri, yang
apabila diketahui oleh pihak colon suami, mungkin akan mempengaruhi
maksudnya untuk mengawini, misalnya giginya palsu sepenuhnya, rambutnya
habis yang tidak mungkin akan tumbuh lagi hingga terpaksa memakai rambut
palsu atau wig dan sebagainya, harus dijelaskan kepada colon suami untuk
menghindari jangan sampai akhirnya pihak suami merasa tertipu.
Perkawinan hukumnya makruh bagi seorang yang mampu dalam segi
materiil, cukup mempunyai daya tahan mental dan agama hingga tidak
khawatir akan terseret dalam perbuatan zina, tetapi mempunyai kekhawatiran
tidak dapat memenuhi kewajiban-kewajibannya terhadap istrinya, meskipun
tidak akan berakibat menyusahkan pihak istri; misalnya, calon istri tergolong
orang kaya atau calon suami belum mempunyai keinginan untuk kawin.
Imam Ghazali berpendapat bahwa apabila suatu perkawinan dikhawatirkan
akan berakibat mengurangi semangat beribadah kepada Allah dan semangat
bekerja dalam bidang ilmiah, hukumnya lebih makruh daripada yang telah
disebutkan di atas.
61

Perkawinan hukumnya mubah bagi orang yang mempunyai harta,
tetapi apabila tidak kawin tidak merasa khawatir akan berbuat zina dan
andaikata kawin pun tidak merasa khawatir akan menyia-nyiakan
kewajibannya terhadap istri. Perkawinan dilakukan sekedar untuk memenuhi

61
Ahmad Azhar Basyir, op. cit, hlm. 16
34
syahwat dan kesenangan bukan dengan tujuan membina keluarga dan menjaga
keselamatan hidup beragama.
62

B. Syarat dan Rukun Nikah
Menurut UU No 1/1974 Tentang Perkawinan Bab: 1 pasal 2 ayat 1
dinyatakan, bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum
masing-masing agamanya dan kepercayaannya.
63

Bagi ummat Islam, perkawinan itu sah apabila dilakukan menurut Hukum
Perkawinan Islam, Suatu Akad Perkawinan dipandang sah apabila telah
memenuhi segala rukun dan syaratnya sehingga keadaan akad itu diakui oleh
Hukum Syara'.
Rukun Akad Perkawinan ada lima, yaitu:
1. Calon suami, syarat-syaratnya:
a. Beragama Islam.
b. Jelas ia laki-laki.
c. Tertentu orangnya.
d. Tidak sedang berihram haji/umrah.
e. Tidak mempunyai isteri empat, termasuk isteri yang masih dalam
menjalani iddah thalak raj'iy. ,

62
Ibid, hlm. 16.
63
Arso Sosroatmodjo dan A.Wasit Aulawi, Hukum Perkawinan di Indonesia, Jakarta;
Bulan Bintang, 1975, hlm. 80
35
f. Tidak mempunyai isteri yang haram dimadu dengan mempelai
perempuan, termasuk isteri yang masih dalam menjalani iddah thalak
raj'iy.
g. Tidak dipaksa.
h. Bukan Mahram calon isteri.
2. Calon Isteri, syarat-syaratnya:
a. Beragama Islam, atau Ahli Kitab.
b. Jelas ia perempuan.
c. Tertentu orangnya.
d. Tidak sedang berihram haji/umrah.
e. Belum pernah disumpah li'an oleh calon suami.
f. Tidak bersuami, atau tidak sedang menjalani iddah .dari lelaki lain.
g. Telah memberi idzin atau menunjukkan kerelaan kepada wali untuk
menikahkannya.
h. Bukan Mahram calon suami.
3. Wali. Syarat-syaratnya:
a. Beragama Islam jika calon isteri beragama Islam.
b. Jelas ia laki-laki.
c. Sudah baligh (telah dewasa).
d. Berakal (tidak gila).
e. Tidak sedang berihram Haji/Umrah.
f. Tidak mahjur bissafah (dicabut hak kewajibannya).
g. Tidak dipaksa.
36
h. Tidak rusak fikirannya sebab terlalu tua atau sebab lainnya.
i. Tidak fasiq.
64

4. Dua orang saksi laki-laki. Syarat-syaratnya:
a. Beragama Islam.
b. Jelas ia laki-laki.
c. Sudah baligh (telah dewasa).
d. Berakal (tidak gila),:
e. Dapat menjaga harga diri (bermuru’ah)
f. Tidak fasiq.
g. Tidak pelupa.
h. Melihat (tidak buta atau tuna netra).
i. Mendengar (tidak tuli atau tuna rungu).
j. Dapat berbicara (tidak bisu atau tuna wicara).
k. Tidak ditentukan menjadi wali nikah.
l. Memahami arti kalimat dalam ijab qabul.
5. Ijab dan Qabul.
Ijab akad perkawinan ialah: "Serangkaian kata yang diucapkan oleh wali nikah
atau wakilnya dalam akad nikah, untuk menerimakan nikah calon suami atau
wakilnya".
Syarat-syarat ijab akad nikah ialah:

64
Zahry Hamid, op. cit, hlm. 24-28. Tentang syarat dan rukun perkawinan dapat
dilihat juga dalam Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: PT.Raja Grafindo
Persada, 1977, hlm. 71.
37
a. Dengan kata-kata tertentu dan tegas, yaitu diambil dari "nikah" atau
"tazwij" atau terjemahannya, misalnya: "Saya nikahkan Fulanah, atau saya
kawinkan Fulanah, atau saya perjodohkan - Fulanah"
b. Diucapkan oleh wali atau wakilnya.
c. Tidak dibatasi dengan waktu tertentu, misalnya satu bulan, satu tahun dan
sebagainya.
d. Tidak dengan kata-kata sindiran, termasuk sindiran ialah tulisan yang tidak
diucapkan.
65

e. Tidak digantungkan dengan sesuatu hal, misalnya: "Kalau anakku.
Fatimah telah lulus sarjana muda maka saya menikahkan Fatimah dengan
engkau Ali dengan maskawin seribu rupiah".
f. Ijab harus didengar oleh pihak-pihak yang bersangkutan, baik yang
berakad maupun saksi-saksinya. Ijab tidak boleh dengan bisik-bisik
sehingga tidak terdengar oleh orang lain. Qabul akad perkawinan ialah:
"Serangkaian kata yang diucapkan oleh calon suami atau wakilnya dalam
akad nikah, untuk menerima nikah yang disampaikan oleh wali nikah atau
wakilnya.
Syarat-syarat Qabul akad nikah ialah:
a. Dengan kata-kata tertentu dan tegas, yaitu diambil dari kata "nikah" atau
"tazwij" atau terjemahannya, misalnya: "Saya terima nikahnya Fulanah".
b. Diucapkan oleh calon suami atau wakilnya.

65
Zahry Hamid, op. cit, hlm. 24-25. lihat pula Achmad Kuzari, Nikah Sebagai
Perikatan, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 1995, hlm.34-40.
38
c. Tidak dibatasi dengan waktu tertentu, misalnya "Saya terima nikah si
Fulanah untuk masa satu bulan" dan sebagainya.
d. Tidak dengan kata-kata sindiran, termasuk sindiran ialah tulisan yang tidak
diucapkan.
e. Tidak digantungkan dengan sesuatu hal, misalnya "Kalau saya telah
diangkat menjadi pegawai negeri maka saya terima nikahnya si Fulanah".
f. Beruntun dengan ijab, artinya Qabul diucapkan segera setelah ijab
diucapkan, tidak boleh mendahuluinya, atau berjarak waktu, atau diselingi
perbuatan lain sehingga dipandang terpisah dari ijab.
g. Diucapkan dalam satu majelis dengan ijab.
h. Sesuai dengan ijab, artinya tidak bertentangan dengan ijab.
i. Qabul harus didengar oleh pihak-pihak yang bersangkutan, baik yang
berakad maupun saksi-saksinya. Qabul tidak boleh dengan bisik-bisik
sehingga tidak didengar oleh orang lain.
Contoh ijab qabul akad perkawinan
1). Wali mengijabkan dan mempelai laki-laki meng-qabulkan.
a. Ijab: “Ya Ali, ankahtuka Fatimata binti bimahri alfi rubiyatin halan".
Dalam bahasa Indonesia: "Hai Ali, aku nikahkan (kawinkan) Fatimah
anak perempuanku dengan engkau dengan maskawin seribu rupiah
secara tunai".
b. Qabul: "Qabiltu nikahaha bil mahril madzkurihalan". Dalam bahasa
Indonesia: "Saya terima nikahnya Fatimah anak perempuan saudara
dengan saya dengan maskawin tersebut secara tunai".
2). Wali mewakilkan ijabnya dan mempelai laki-laki meng-qabulkan.
39
a. Ijab: "Ya Ali, ankahtuka Fathimata binta Muhammadin muwakili
bimahri alfi rubiyatinhalan". Dalam bahasa Indonesia: "Hai Ali, aku
nikahkan (kawinkan) Fatimah anak perempuan Muhammad yang telah
mewakilkan kepada saya dengan engkau dengan maskawin seribu
rupiah secara tunai".
b. Qabul: "Qabiltu nikahaha bimahri alfi rubiyatinhalan". Dalam bahasa
Indonesia: "Saya terima nikahnya Fatimah anak perempuan
Muhammad dengan saya dengan maskawin seribu rupiah secara
tunai".
3). Wali mengijabkan dan mempelai laki-laki mewakilkan kabulnya.
a. Ijab: "Ya Umar, Ankahtu Fathimata binti Aliyyin muwakkilaka
bimahri alfi rubiyatin halan". Dalam bahasa Indonesia: "Hai Umar,
Aku nikahkan (kawinkan) Fathimah anak perempuan saya dengan Ali
yang telah mewakilkan kepadamu dengan maskawin seribu rupiah
secara tunai".
b. Qabul: "Qabiltu nikahaha li Aliyyin muwakkili bimahri alfi rubiyatin
halan", Dalam bahasa Indonesia: "Saya terima nikahnya Fatimah
dengan Ali yang telah mewakilkan kepada saya dengan maskawin
seribu rupiah secara tunai"
4). Wali mewakilkan Ijabnya dan mempelai laki-laki mewakilkan Qabulnya.
a. Ijab: "Ya Umar, Ankahtu Fathimata binta Muhammadin muwakkilii,
Aliyyan muwakkilaka bimahri alfi Rubiyyatin halan". Dalam bahasa
Indonesia: "Hai Umar, Aku nikahkan (kawinkan) Fathimah anak
perempuan Muhammad yang telah mewakilkan kepada saya, dengan
40
Ali yang telah mewakilkan kepada engkau dengan maskawin seribu
rupiah secara tunai".
b. Qabul: "Qabiltu Nikahaha lahu bimahri alfi rubiyatin halan". Dalam
bahasa Indonesia: "Saya terima nikahnya (Fathimah anak perempuan
Muhammad) dengan Ali yang telah mewakilkan kepada saya dengan
maskawin seribu rupiah secara tunai".

C. Pendapat Para Ulama tentang Perkawinan Antar Agama
Berbicara perkawinan antar agama, ada yang menyebut sama dengan
perkawinan campuran, dan ada pula yang berpendapat bahwa perkawinan
antar agama tidak masuk dalam perkawinan campuran melainkan istilah
tersebut berdiri sendiri. Istilah perkawinan campuran yang sering dinyatakan
anggota masyarakat sehari-hari, ialah perkawinan campuran karena perbedaan
adat/suku bangsa yang bhineka, atau karena perbedaan agama antara kedua
insan yang akan melakukan perkawinan. Perbedaan adat misalnya perkawinan
antara pria/wanita Jawa dengan pria/wanita Batak, pria/wanita Minangkabau
dengan pria/wanita Sunda, pria/wanita Sunda dengan pria/wanita Bali, dan
sebagainya. Sedangkan perkawinan campuran antara agama, misalnya antara
pria/wanita beragama Kristen dengan pria/wanita beragama Islam, pria/wanita
beragama Hindu/Buddha dengan pria/wanita Islam dan seterusnya.
66

Dalam pasal 57 Undang-Undang Nomor 1/1974 Tentang Perkawinan,
yang dimaksud perkawinan campuran dalam undang-undang ini ialah

66
Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia Menurut Perundangan,
Hukum Adat, Hukum Agama, Bandung: Mandar Maju, Bandung, 1990, hlm. 13-14
41
perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang
berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak
berkewarganegaraan Indonesia. Dengan demikian berdasarkan undang-
undang ini, maka perkawinan antar agama tidak termasuk perkawinan
campuran melainkan memiliki pengertian yang berdiri sendiri.
Adapun perkawinan antar agama dirumuskan oleh abdurrahman yang
dikutip Eoh yaitu suatu perkawinan yang dilakukan oleh orang-orang yang
memeluk agama dan kepercayaan yang berbeda satu dengan yang lainnya.
67

Dari rumusan pengertian perkawinan antar agama tersebut, dapat disimpulkan
bahwa yang dimaksud perkawinan antar agama adalah perkawinan antara dua
orang yang berbeda agama dan masing-masing tetap mempertahankan agama
yang dianutnya. Namun demikian, oleh karena UU Nomor 1/1974 Tentang
Perkawinan tidak mengatur tentang perkawinan antar agama, maka kenyataan
yang sering terjadi dalam masyarakat apabila ada dua orang yang berbeda
agama akan mengadakan perkawinan sering mengalami hambatan. Hal ini
disebabkan antara lain karena para pejabat pelaksana perkawinan dan
pemimpin agama/ulama menganggap bahwa perkawinan yang demikian
dilarang oleh agama dan karenanya bertentangan dengan UU Perkawinan.
Perkawinan antar agama ini menyangkut perkawinan antara orang
Islam (pria/wanita) dengan orang bukan Islam (pria/wanita). Mengenai
masalah ini, Islam membedakan hukumnya sebagai berikut:
1. Perkawinan antar seorang pria Muslim dengan wanita musyrik;

67
O.S.Eoh, Perkawinan Antar Agama Dalam Teori dan Praktek, Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 1998, hlm. 35
42
2. Perkawinan antar seorang pria Muslim dengan wanita Ahlul Kitab;
3. Perkawinan antara seorang wanita Muslimah dengan pria non-Muslim.
Pertama, perkawinan antara seorang pria Muslim dengan wanita
musyrik. Islam melarang perkawinan antara seorang pria Muslim dengan
wanita musyrik, berdasarkan firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 221:
ﻦ` ﻣ ` ﺮ` ﻴ ﺧ ﹲ ﺔ ﻨ ﻣ` ﺆ' ﻣ ﹲ ﺔ ﻣَ ﻷ ﻭ ` ﻦ ﻣ` ﺆ` ﻳ ﻰ` ﺘ ﺣ ﺕﺎﹶﻛﹺ ﺮ` ﺸ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ` ﺤ ﻜﻨ ﺗ ﹶ ﻻ ﻭ
` ﻢﹸ ﻜ` ﺘ ﺒ ﺠ` ﻋﹶ ﺃ ` ﻮﹶ ﻟ ﻭ ﺔﹶ ﻛﹺ ﺮ` ﺸ' ﻣ ,... ﺓﺮﻘﺒﻟﺍ · 221 .
Artinya: Janganlah kamu mengawini wanita-wanita musyrik,
sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak
yang beriman lebih baik daripada wanita musyrik,
walaupun dia menarik hatimu… (Q.S. al-Baqarah: 221)

Hanya di kalangan ulama timbul beberapa pendapat tentang siapa
musyrikah (wanita musyrik) yang haram dikawini itu? Menurut Ibnu Jarir
al-Thabari seorang ahli tafsir dalam kitabnya, al-Jami’al-Bayan fi Tafsir
al-Qur'an yang dikutip Rasyid Ridha, bahwa musyrikah yang dilarang
untuk dikawini itu ialah musyrikah dari bangsa Arab saja, karena bangsa
Arab pada waktu turunnya Al-Qur'an memang tidak mengenal kitab suci
dan mereka menyembah berhala. Maka menurut pendapat ini, seorang
Muslim boleh kawin dengan wanita musyrik dari bangsa non-Arab, seperti
wanita Cina, India dan Jepang, yang diduga dahulu mempunyai kitab suci
atau serupa kitab suci, seperti pemeluk agama Budha, Hindu, Konghucu,
yang percaya pada Tuhan Yang Maha Esa, percaya adanya hidup sesudah
mati, dan sebagainya. Muhammad Abduh juga sependapat dengan ini.
68


68
Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, Cairo: Dar al-Manar, 1367 H, hlm. 187 – 193.
43
Tetapi kebanyakan ulama berpendapat, bahwa semua musyrikah
baik dari bangsa Arab ataupun bangsa non-Arab, selain Ahlul Kitab, yakni
Yahudi (Yudaisme) dan Kristen tidak boleh dikawini, dan jika
mengawinya maka berarti menentang syara. Menurut pendapat ini bahwa
wanita yang bukan Islam, dan bukan pula Yahudi/Kristen tidak boleh
dikawini oleh pria Muslim, apa pun agama ataupun kepercayaannya,
seperti Budha, Hindu, Konghucu, Majusi/Zoroaster, karena pemeluk
agama selain Islam, Kristen, dan Yahudi itu termasuk kategori
"musyrikah".
Dengan demikian para ulama sepakat bahwa laki-laki muslim tidak
halal kawin dengan perempuan penyembah berhala, perempuan zindiq,
perempuan keluar dari Islam, penyembah sapi, perempuan beragama
politeisme (menunggaling kawula lan Gusti). Alasannya, firman Allah
sebagaimana disebut di atas.
69

Kedua, perkawinan antara seorang pria Muslim dengan wanita
Ahlul Kitab. Kebanyakan ulama berpendapat, bahwa seorang pria Muslim
boleh kawin dengan wanita Ahlul Kitab (Yahudi atau Kristen),
berdasarkan firman Allah dalam Surat Al-Maidah ayat 5.
` ﻢﹸ ﻜﱠ ﻟ ﱞ ﻞ ﺣ ﺏﺎ ﺘ ﻜﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ` ﺗﻭﹸ ﺃ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ` ﻡﺎ ﻌﹶ ﻃ ﻭ ` ﺕﺎ ﺒ` ﻴﱠ ﻄﻟﺍ ` ﻢﹸ ﻜﹶ ﻟ ﱠ ﻞ ﺣﹸ ﺃ ﻡ` ﻮ ﻴﹾ ﻟﺍ
` ﺕﺎ ﻨ ﺼ` ﺤ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﻭ ﺕﺎ ﻨ ﻣ` ﺆ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﻦ ﻣ ` ﺕﺎ ﻨ ﺼ` ﺤ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﻭ ` ﻢ` ﻬﱠ ﻟ ﱡ ﻞ ﺣ ` ﻢﹸ ﻜ` ﻣﺎ ﻌﹶ ﻃ ﻭ
ﹺ ﺇ ` ﻢﹸ ﻜ ﻠ` ﺒﹶ ﻗ ﻦ ﻣ ﺏﺎ ﺘ ﻜﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ` ﺗﻭﹸ ﺃ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﻦ ﻣ ` ﻦ` ﻫ ﺭﻮ` ﺟﹸ ﺃ ` ﻦ` ﻫﻮ` ﻤ` ﺘ` ﻴ ﺗﺁ ﺍﹶ ﺫ

69
Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, Kairo: Maktabah Dar al-Turas, juz 2, tth, hlm. 178
44
ﻥﺎ ﳝِ ﻹﺎﹺ ﺑ ` ﺮﹸ ﻔﹾ ﻜ ﻳ ﻦ ﻣ ﻭ ﻥﺍ ﺪ` ﺧﹶ ﺃ ﻱ ﺬ ﺨ` ﺘ` ﻣ ﹶ ﻻ ﻭ ﲔ ﺤ ﻓﺎ ﺴ` ﻣ ﺮ` ﻴﹶ ﻏ ﲔﹺ ﻨ ﺼ` ﺤ` ﻣ
ﻦﻳﹺ ﺮ ﺳﺎ ﺨﹾ ﻟﺍ ﻦ ﻣ ﺓ ﺮ ﺧﻵﺍ ﻲ ﻓ ﻮ` ﻫ ﻭ ` ﻪﹸ ﻠ ﻤ ﻋ ﹶ ﻂﹺﺒ ﺣ ` ﺪﹶ ﻘﹶ ﻓ , ﺓﺪﺋﺎﳌﺍ · 5 .

Artinya: Pada hari ini dihalalkan bagi kamu yang baik-baik.
Makanan [sembelihan] orang-orang yang diberi al-Kitab
itu halal bagi kamu, dan mahanan kamu halal [pula] bagi
mereka. [Dan dihalalkan bagi kamu menikahi] wanita-
wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-
wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga
kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab
sebelum kamu, bila kamu telah membayar mahar mereka
dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud
berzina dan tidak [pula] menjadikannya gundik-gundik.
Barangsiapa yang kafir sesudah beriman maka hapuslah
amalannya dan di hari akhirat dia termasuk orang-orang
yang merugi. (Q.S. al-Maidah: 5)

Selain berdasarkan Al-Qur'an Surat Al-Maidah ayat 5, juga
berdasarkan sunah Nabi, di mana Nabi pernah kawin dengan wanita Ahlul
Kitab, yakni Mariah al-Qibtiyah (Kristen). Demikian pula seorang Sahabat
Nabi yang termasuk senior bernama Hudzaifah bin Al-Yaman pernah
kawin dengan seorang wanita Yahudi, sedang para Sahabat tidak ada yang
menentangnya. Namun demikian, ada sebagian ulama yang melarang
perkawinan antara seorang pria Muslim dengan wanita Kristen atau
Yahudi, karena pada hakikatnya doktrin dan praktek ibadah Kristen dan
Yahudi itu mengandung unsur syirik yang cukup jelas, misalnya ajaran
trinitas dan mengkultuskan Nabi Isa dan ibunya Maryam (Maria) bagi
umat Kristen, dan kepercayaan Uzair putra Allah dan mengkultuskan
Haikal Nabi Sulaiman bagi umat Yahudi.
70


70
Rasyid Ridha sependapat dengan Jumhur yang membedakan musyrikin musyrikah
di satu pihak dengan Ahlul Kitab (Kristen dan Yahudi) di pihak lain, sesuai dengan
45
Menurut Yusuf Qardhawi, hukum asal mengawini wanita ahli kitab
menurut jumhur ulama adalah mubah. Namun demikian di antara sahabat
yang tidak berpendapat demikian adalah Umar bin al-Khattab.
71
Umar bin
al-Khattab (42 SH/581 M-23 H/644 M) melarang perkawinan antara laki-
laki muslim dan perempuan ahlul kitab. Sebab, menurutnya, Allah SWT
telah mengharamkan laki-laki muslim menikahi perempuan musyrik dan ia
tidak pernah tahu adakah syirik yang lebih besar dari seseorang yang
beriktikad bahwa Nabi Isa AS atau hamba Allah SWT yang lainnya adalah
Tuhannya. Dalam konteks ini, menurut Qardawi, perkawinan antara laki-
laki muslim dengan wanita non muslim boleh saja sepanjang wanita itu
berama tauhid. Menurut Qardawi, saat ini sulit untuk mengukur agama
mana yang selain Islam yang memiliki keyakinan tauhid. Dengan
demikian tampaknya Qardawi menganggap perkawinan yang demikian
tidak semudah itu.
72

Menurut Syekh Hasan Khalid, jumhur ulama fikih membolehkan perkawinan
laki-laki muslim dengan perempuan ahlul kitab.
73
Argumen mereka yang
menyatakan boleh adalah pertama, penjelasan yang terdapat dalam Al-Qur'an
dalam surah al-Ma'idah ayat 5, dan dari ayat ini maka menurut Ahmad Asy-

pengelompokan yang dibuat oleh Al-Qur'an, sekalipun pada hakikatnya Ahlul Kitab, Kristen
dan Yahudi itu sudah melakukan "syirik" menurut pandangan tauhid Islam. Karena itu,
perkawinan antara seorang pria Muslim dengan wanita Kristen/Yahudi diperbolehkan agama,
berdasarkan Surat Al-Maidah ayat 5, sunah dan ijma'. Lihat Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar,
Cairo: Dar al-Manar, 1367 H, hlm. 186. Mengenai perkawinan Sahabat Nabi Hudzaifah bin
Al-Yaman dengan seorang wanita Yahudi, Ibid., hlm. 180.
71
Yusuf Qardhawi, Hadyul Islam Fatawi Mu’ashirah, Terj. As’ad Yasin, “Fatwa-
Fatwa Kontemporer”, jilid 1, Jakarta: Gema Insani, 2001, hlm. 585
72
bid
73
Syekh Hasan Khalid, al-Zawaj Bighair al-Muslimin, Terj. Zaenal Abidin
Syamsudin, “Menikah Dengan Non Muslim”, Jakarta: Pustaka al-Sofwa, 2004, hlm. 145
46
Syarbashi dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang laki-laki Muslim boleh
menikahi Ahlul kitab, selama wanita Ahlul kitab tersebut layak untuk
dinikahi. Hikmah yang terkandung di dalam hukum bolehnya seorang laki-laki
Muslim menikahi wanita Ahlul kitab ialah tersedianya kesempatan supaya
terciptanya hubungan dan kerjasama di antara mereka; dan di samping itu agar
dengan keinginannya, wanita Ahlul kitab itu dapat mempelajari ajaran-ajaran
mulia yang terdapat dalam ajaran Islam.
74
Kedua, pendapat Sayid Sabiq, ahli
fikih di Mesir, yang menjelaskan bahwa laki-laki muslim halal kawin dengan
perempuan ahli kitab yang merdeka.
75
Sekalipun boleh mengawini wanita
ahlul kitab, namun kemudian Sayyid Sabiq menganggap hukumnya makruh.
76

Ketiga, perkawinan antara seorang wanita Muslimah dengan pria
non-Muslim. Menurut Muhammad Jawad Mughniyah, ulama telah
sepakat, bahwa Islam melarang perkawinan antara seorang wanita
Muslimah dengan pria non-Muslim, baik calon suaminya itu termasuk
pemeluk agama yang mempunyai kitab suci, seperti Kristen dan Yahudi
(revealed religion), ataupun pemeluk agama yang mempunyai kitab serupa
kitab suci, seperti Budhisme, Hinduisme, maupun pemeluk agama atau
kepercayaan yang tidak punya kitab suci dan juga kitab yang serupa kitab
suci. Termasuk pula di sini penganut Animisme, Ateisme, Politeisme dan
sebagainya.
77


74
Ahmad Asy-Syarbashi, Yas'alunaka fi ad-Din wa al-Hayah, Terj. Ahmad Subandi,
"Tanya Jawab Lengkap tentang Agama dan Kehidupan", Jakarta: Lentera, 1997, hlm. 244
75
Sayyid Sabiq, op. cit, hlm. 179
76
Ibid
77
Muhammad Jawad Mughniyah, Al-Fiqh 'ala al-Mazahib al-Khamsah, Terj.
Masykur AB, et al, "Fiqih Lima Mazhab", Jakarta: PT Lentera Basritama, 2000, hlm. 336.
47
Adapun dalil yang menjadi dasar hukum untuk larangan kawin
antara wanita Muslimah dengan pria non-Muslim, ialah:
a. Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 221:
... ﻦ` ﻣ ` ﺮ` ﻴ ﺧ ` ﻦ ﻣ` ﺆ' ﻣ ` ﺪ` ﺒ ﻌﹶ ﻟ ﻭ ﹾ ﺍﻮ` ﻨ ﻣ` ﺆ` ﻳ ﻰ` ﺘ ﺣ ﲔ ﻛﹺ ﺮ ﺸ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ` ﺤ ﻜﻨ` ﺗ ﹶ ﻻ ﻭ
` ﻢﹸ ﻜ ﺒ ﺠ` ﻋﹶ ﺃ ` ﻮﹶ ﻟ ﻭ ﻙﹺ ﺮ` ﺸ' ﻣ ,... ﺓﺮﻘﺒﻟﺍ · 221 .
Artinya: Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik
sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang
mu'min lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia
menarik hatimu.
78


b. Ijma' para ulama tentang larangan perkawinan antara wanita
Muslimah dengan pria non-Muslim.
Adapun hikmah dilarangnya perkawinan antara orang Islam
(pria/wanita) dengan orang yang bukan Islam (pria/wanita, selain Ahlul
Kitab), ialah bahwa antara orang Islam dengan orang kafir selain Kristen
dan Yahudi itu terdapat way of life dan filsafat hidup yang sangat berbeda.
Sebab orang Islam percaya sepenuhnya kepada Allah sebagai pencipta
alam semesta, percaya kepada para nabi, kitab suci, malaikat, dan percaya
pula pada hari kiamat; sedangkan orang musyrik/kafir pada umumnya
tidak percaya pada semuanya itu. Kepercayaan mereka penuh dengan
khurafat dan irasional. Bahkan mereka selalu mengajak orang-orang yang
telah beragama/beriman untuk meninggalkan agamanya dan kemudian
diajak mengikuti "kepercayaan/ideologi" mereka.

78
Depag RI, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an
dan Terjemahnya, 1986, hlm. 53.
48
Mengenai hikmah dibolehkannya perkawinan antara seorang pria
Muslim dengan wanita Kristen atau Yahudi, ialah karena pada hakikatnya
agama Kristen dan Yahudi itu satu rumpun dengan agama Islam, sebab
sama-sama agama wahyu (revealed religion). Maka kalau seorang wanita
Kristen/Yahudi kawin dengan pria Muslim yang baik, yang taat pada
ajaran-ajaran agamanya, dapat diharapkan atas kesadaran dan kemauannya
sendiri masuk Islam, karena ia dapat menyaksikan dan merasakan
kebaikan dan kesempurnaan ajaran agama Islam, setelah ia hidup di
tengah-tengah keluarga Islam. Sebab agama Islam mempunyai
panutan/pedoman hidup yang lengkap, mudah/praktis, flexible,
demokratis, menghargai kedudukan wanita Islam dalam keluarga,
masyarakat, dan negara, toleran terhadap agama/kepercayaan lain yang
hidup di masyarakat, dan menghargai pula hak-hak asasi manusia terutama
kebebasan beragama, serta ajaran-ajarannya yang rasionable.
Fakta-fakta menunjukkan bahwa wanita-wanita Barat dan Timur
yang kawin dengan pria Muslim yang baik dan taat pada ajaran agamanya,
dapat terbuka hatinya dan dengan kesadaran sendiri si istri masuk agama
Islam.
Namun, kalau seorang pemuda Muslim itu kualitas iman dan
islamnya masih belum baik, misalnya islamnya masih Islam K.TP atau
Islam Abangan, maka seharusnya ia tidak berani kawin dengan pemudi
Kristen/Yahudi yang militan, karena ia dapat terseret kepada agama
istrinya. Dan hal ini sesuai dengan taktik dan strategi Ahlul Kitab untuk
49
memurtadkan umat Islam dan kemudian menariknya ke agama mereka
dengan berbagai cara.
79

Adapun hikmah dilarangnya perkawinan antara seorang wanita
Islam dengan pria Kristen atau Yahudi, karena dikhawatirkan wanita Islam
itu kehilangan kebebasan beragama dan menjalankan ajaran agamanya,
kemudian terseret kepada agama suaminya. Demikian pula anak-anak
yang lahir dari hasil perkawinannya dikhawatirkan pula mereka akan
mengikuti agama bapaknya, karena bapak sebagai kepala keluarga
terhadap anak-anak melebihi ibunya. Dalam hal ini, fakta-fakta sejarah
menunjukkan bahwa tiada sesuatu agama dan sesuatu ideologi di muka
bumi ini yang memberikan kebebasan beragama dan bersikap toleran
terhadap agama/kepercayaan lain, seperti agama Islam. Sebagaimana
firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 120:
` ﻢ` ﻬ ﺘﱠ ﻠ ﻣ ﻊﹺ ﺒ` ﺘ ﺗ ﻰ` ﺘ ﺣ ﻯ ﺭﺎ ﺼ` ﻨﻟﺍ ﹶ ﻻ ﻭ ` ﺩﻮ` ﻬ ﻴﹾ ﻟﺍ ﻚﻨ ﻋ ﻰ ﺿ` ﺮ ﺗ ﻦﹶ ﻟ ﻭ ,... ﺓﺮﻘﺒﻟﺍ · 120 .
Artinya: Orang Yahudi dan Kristen tidak akan senang kepada
kamu, hingga kamu mengikuti agama mereka.

Dan berfirman Allah dalam Surat Al-Nisa ayat 141:
... ﹰ ﻼﻴﹺ ﺒ ﺳ ﲔﹺ ﻨ ﻣ` ﺆ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﻰﹶ ﻠ ﻋ ﻦﻳﹺ ﺮ ﻓﺎﹶ ﻜﹾ ﻠ ﻟ ` ﻪﹼ ﻠﻟﺍ ﹶﻞ ﻌ` ﺠ ﻳ ﻦﹶ ﻟ ﻭ ,... ﺀﺎﺴﻨﻟﺍ · 141 .
Artinya: Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada
orang-orang kafir untuk melenyapkan orang-orang yang
beriman.


79
Muhammad Rasyid Ridha, op. cit, hlm. 193.

50
Firman tersebut mengingatkan kepada umat Islam, hendaknya selalu berhati-
hati dan waspada terhadap tipu muslihat orang-orang kafir termasuk Yahudi
dan Kristen, yang selalu berusaha melenyapkan Islam dan umat Islam dengan
berbagai cara. Dan hendaknya umat Islam tidak memberi jalan/kesempatan
kepada mereka untuk mencapai maksudnya. Misalnya dengan jalan
perkawinan seorang wanita Islam dengan pria non-Muslim.




























51
BAB III
PENDAPAT AL-SYAFI'I TENTANG
PERKAWINAN ANTAR AGAMA

A. Biografi Al-Syafi'i, Pendidikan dan Karya-Karyanya

1. Latar Belakang Keluarga
Kebanyakan ahli sejarah berpendapat bahwa Al-Syafi’i lahir di
Kota Gaza, Palestina,
80
Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Idris ibn
al-Abbas ibn Utsman ibn Syafi’i ibn al-Sa’ib ibn Ubaid ibn Abd Yazid ibn
Hasyim ibn Abd al-Muthalib ibn Abd Manaf.
81

Lahir di Gaza pada tahun 150 H, kemudian dibawa oleh ibunya ke
Makkah. Beliau lahir pada zaman Dinasti Bani Abbas, tepatnya pada
zaman kekuasaan Abu Ja’far al Manshur (137-159 H./754-774 M.), dan ia
meninggal di Mesir pada tahun 204 H
82

Al-Syafi’i berasal dari keturunan bangsawan yang paling tinggi di
masanya. Walaupun hidup dalam keadaan sangat sederhana, namun
kedudukannya sebagai putra bangsawan, menyebabkan ia terpelihara dari
perangai-perangai buruk, tidak mau merendahkan diri dan berjiwa besar.

80
Muhammad Abu Zahrah, Hayatuhu wa Asruhu wa Fikruhu ara-Uhu wa Fiqhuhu,
Terj. Abdul Syukur dan Ahmad Rivai Uthman, “Al-Syafi’i Biografi dan Pemikirannya Dalam
Masalah Akidah, Politik dan Fiqih”, Jakarta: PT Lentera Basritama, 2005, hlm. 27
81
Jaih Mubarok, Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam, Bandung: PT.Remaja
Rosdakarya, 2000, hlm.101. Lihat juga Abdul Mun’im Saleh, Madzhab Syafi’i Kajian Konsep
Al-Maslahah, Yogyakarta: Ittaqa Press, 2001, hlm. 7. Lihat juga Ali Fikri, Kisah-Kisah Para
Imam Madzhab, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2003, hlm. 76.
82
Jaih Mubarok, Modifikasi Hukum Islam Studi tentang Qaul Qadim dan Qaul Jadid,
Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2002, hlm. 27.
52
Ia bergaul rapat dalam masyarakat dan merasakan penderitaan-penderitaan
mereka.
Al-Syafi’i dengan usaha ibunya telah dapat menghafal al-Qur'an
dalam umur yang masih sangat muda. Kemudian ia memusatkan perhatian
menghafal hadis. Ia menerima hadis dengan jalan membaca dari atas
tembikar dan kadang-kadang di kulit-kulit binatang. Seringkali pergi ke
tempat buangan kertas untuk memilih mana-mana yang masih dapat
dipakai.
83

Di samping itu ia mendalami bahasa Arab untuk menjauhkan diri
dari pengaruh Ajamiyah yang sedang melanda bahasa Arab pada masa itu.
Ia pergi ke Kabilah Hudzail yang tinggal di pedusunan untuk mempelajari
bahasa Arab yang fasih. Sepuluh tahun lamanya Al-Syafi’i tinggal di
Badiyah itu, mempelajari syair, sastra dan sejarah. Ia terkenal ahli dalam
bidang syair yang digubah golongan Hudzail itu, amat indah susunan
bahasanya. Di sana pula ia belajar memanah dan mahir dalam bermain
panah. Dalam masa itu Al-Syafi’i menghafal al-Qur'an, menghafal hadis,
mempelajari sastra Arab dan memahirkan diri dalam mengendarai kuda
dan meneliti keadaan penduduk-penduduk Badiyah dan penduduk-
penduduk kota.
Al-Syafi’i belajar pada ulama-ulama Makah, baik pada ulama-ulam
fiqih, maupun ulama-ulama hadis, sehingga ia terkenal dalam bidang fiqh
dan memperoleh kedudukan yang tinggi dalam bidang itu. Gurunya

83
Mahmud Syalthut, Fiqih Tujuh Madzhab, terj. Abdullah Zakiy al-Kaaf, Bandung:
CV Pustaka Setia, 2000, hlm. 17.
53
Muslim Ibn Khalid Az-Zamzi, menganjurkan supaya Al-Syafi’i bertindak
sebagai mufti. Sungguhpun ia telah memperoleh kedudukan yang tinggi
itu namun ia terus juga mencari ilmu.
Sampai kabar kepadanya bahwa di Madinah ada seorang ulama
besar yaitu Malik, yang memang pada masa itu terkenal di mana-mana
dan mempunyai kedudukan tinggi dalam bidang ilmu dan hadis. Al-Syafi’i
ingin pergi belajar kepadanya, akan tetapi sebelum pergi ke Madinah ia
lebih dahulu menghafal al-Muwatha’, susunan Malik yang telah
berkembang pada masa itu. Kemudian ia berangkat ke Madinah untuk
belajar kepada Malik dengan membawa sebuah surat dari gubernur
Makah. Mulai ketika itu ia memusatkan perhatian mendalami fiqh di
samping mempelajari al-Muwatha’. Al-Syafi’i mengadakan mudarasah
dengan Malik dalam masalah-masalah yang difatwakan Malik. Di waktu
Malik meninggal tahun 179 H, Al-Syafi’i telah mencapai usia dewasa dan
matang.
84

2. Pendidikan dan Karir
Al-Syafi’i menerima fiqh dan hadis dari banyak guru yang masing-
masingnya mempunyai manhaj sendiri dan tinggal di tempat-tempat
berjauhan bersama lainnya. Ada di antara gurunya yang mu’tazili yang
memperkatakan ilmu kalam yang tidak disukainya. Dia mengambil mana
yang perlu diambil dan dia tinggalkan mana yang perlu ditinggalkan. Al-

84
TM. Hasbi Ash Shiddieqy, Pokok-Pokok Pegangan Imam Mazhab, Semarang: PT
Putaka Rizki Putra, 1997, hlm. 480 – 481.
54
Syafi’i menerima ilmunya dari ulama-ulama Makah, ulama-ulama
Madinah, ulama-ulama Iraq dan ulama-ulama Yaman.
Ulama Makah yang menjadi gurunya ialah: Sufyan Ibn Uyainah,
Mualim Ibn Khalid az-Zamzi, Said Ibn Salim al-Kaddlah, Daud Ibn abd-
Rahman al-Atthar, dan Abdul Hamid Ibn Abdul Azizi Ibn Abi Zuwad.
Ulama-ulama Madinah yang menjadi gurunya, ialah: Malik Ibn
Annas, Ibrahim Ibn Saad al-Anshari Abdul Aziz Ibn Muhammad ad-
Dahrawardi, Ibrahim Ibn Abi Yahya al-Asami, Muhammad Ibn Said Ibn
Abi Fudaik, Abdullah Ibn Nafi’ teman Ibn Abi Zuwaib.
Ulama-ulama Yaman yang menjadi gurunya ialah: Mutharraf Ibn
Mazim, Hisyam Ibn Yusuf, Umar Ibn abi Salamah, teman Auza’in dan
Yahya Ibn Hasan teman Al-Laits.
Ulama-ulama Iraq yang menjadi gurunya ialah: Waki’ Ibn Jarrah,
Abu Usamah, Hammad Ibn Usamah, dua ulama Kuffah Ismail Ibn
‘Ulaiyah dan Abdul Wahab Ibn Abdul Majid, dua ulama Basrah. Juga
menerima ilmu dari Muhammad Ibn al-Hasan yaitu dengan mempelajari
kitab-kitabnya yang didengar langsung dari padanya. Dari padanyalah
dipelajari fiqh Iraqi.85
Setelah sekian lama mengembara menuntut ilmu, pada tahun 186 H
Al-Syafi’i kembali ke Makah, dalam masjidil Haram ia mulai mengajar
dan mengembangkan ilmunya dan mulai berijtihad secara mandiri dalam
membentuk fatwa-fatwa fiqihnya. Tugas mengajar dalam rangka

85
Ibid, hlm, 486-487
55
menyampaikan hasil-hasil ijtihadnya ia tekuni dengan berpindah-pindah
tempat. Selain di Makah, ia juga pernah mengajar di Baghdad (195-197
H), dan akhirnya di Mesir 198-204 H). Dengan demikian ia sempat
membentuk kader-kader yang akan menyebarluaskan ide-idenya dan
bergerak dalam bidang hukum Islam. Di antara murid-muridnya yang
terkenal ialah Imam Ahmad Bin Hanbal (pendiri madzhab Hanbali), Yusuf
Bin Yahya al-Buwaiti (w. 231 H), Abi Ibrahim Ismail Bin Yahya al-
Muzani (w. 264 H), dan Imam Ar-Rabi Bin Suliaman al-Marawi (174-270
H). tiga muridnya yang disebut terakhir ini, mempunyai peranan penting
dalam menghimpun dan menyebarluaskan faham fiqih Al-Syafi’i.86
Al-Syafi’i wafat di Mesir, tepatnya pada hari Jum’at tanggal 30
Rajab 204 H, setelah menyebarkan ilmu dan manfaat kepada banyak
orang. Kitab-kitab beliau hingga saat ini masih banyak dibaca orang, dan
makam beliau di Mesir sampai detik ini masih diziarahi orang.87
3. Karya-karya Al-Syafi’i
Karya-karya Al-Syafi’i yang berhubungan dengan judul di atas di
antaranya: (1) Al-Umm. Kitab ini disusun langsung oleh Al-Syafi’i secara
sistematis sesuai dengan bab-bab fikih dan menjadi rujukan utama dalam
Mazhab Syafi'i. Kitab ini memuat pendapat Al-Syafi’i dalam berbagai
masalah fikih. Dalam kitab ini juga dimuat pendapat Al-Syafi’i yang
dikenal dengan sebutan al-qaul al-qadim (pendapat lama) dan al-qaul al-

86
Abdul Aziz Dahlan, et.al, Ensiklopedi Hukum Islam, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van
Hoeve, 1997, hlm.1680.
87
Ibid, hlm. 18.
56
jadid (pendapat baru). Kitab ini dicetak berulang kali dalam delapan jilid
bersamaan dengan kitab usul fikih Al-Syafi’i yang berjudul Ar-Risalah.
Pada tahun 1321 H kitab ini dicetak oleh Dar asy-Sya'b Mesir, kemudian
dicetak ulang pada tahun 1388H/1968M.
(2) Kitab al-Risalah. Ini merupakan kitab ushul fiqh yang pertama
kali dikarang dan karenanya Al-Syafi’i dikenal sebagai peletak ilmu ushul
fiqh.
88
(3) Kitab Imla al-Shagir; Amali al-Kubra; Mukhtasar al-Buwaithi;
89

Mukhtasar al-Rabi; Mukhtasar al-Muzani; kitab Jizyah dan lain-lain kitab
tafsir dan sastra.
90
Siradjuddin Abbas dalam bukunya telah mengumpulkan
sembilan puluh tujuh buah kitab dalam fiqih Syafi’i. Namun dalam
bukunya itu tidak diulas karya-karya Syafi’i tersebut.
91
Ahmad Nahrawi
Abd al-Salam menginformasikan bahwa kitab-kitab Imam al-Syafi'i
adalah Musnad li al-syafi'i; al-Hujjah; al-Mabsuth, al-Risalah, dan al-
Umm.
92


B. Pendapat Al-Syafi'i tentang Perkawinan Antar Agama

Al-Syafi’i dalam kitabnya al-Umm Juz V mengatakan, dihalalkan
menikahi wanita-wanita merdeka ahli kitab bagi setiap orang Islam. Karena
sesungguhnya Allah Ta'ala menghalalkan wanita-wanita tersebut, dengan

88
Djazuli, Ilmu Fiqh, Jakarta: Prenada Media, 2005, hlm. 131-132
89
Ahmad Asy Syarbasy, Al-Aimmah al-Arba'ah, Terj. Futuhal Arifin, "Biografi
Empat Imam Mazhab", Jakarta: Pustaka Qalami, 2003, hlm. 144.
90
Ali Fikri, Ahsan al-Qashash, Terj. Abd.Aziz MR: "Kisah-Kisah Para Imam
Madzhab", Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2003, hlm. 109-110
91
Siradjuddin Abbas, Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi’i, Jakarta: Pustaka
Tarbiyah, 2004, hlm. 182-186.
92
Munawar Khalil, Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab, Jakarta: Bulan Bintang,
1977 217 - 219
57
tanpa kecuali. Menurut Syafi'i bahwa ia lebih menyukai, jikalau wanita-wanita
itu tidak dikawini oleh orang Islam. Dikabarkan kepada kami oleh Abdul-
majid dari Ibnu Juraij, dari Abiz-Zubair, bahwa sesungguhnya ia mendengar
Jabir bin Abdullah ditanyakan tentang pernikahan orang Islam dengan wanita
Yahudi dan wanita Nasrani. Maka beliau menjawab: "Kami menikahi wanita-
wanita itu pada zaman pembukaan (penaklukan) kota Kofah bersama Sa'ad
bin Abi Waqqash. Dan kami hampir tiada mendapati wanita-wanita Islam
yang banyak. Maka tatkala kami kembali, kami ceraikan (talaq) mereka".
Jabir bin Abdullah berkata ; "Wanita-wanita kitabi itu tiada mewarisi dari
orang Islam. Dan orang-orang Islam itu tiada mewarisi dari mereka. Wanita
mereka itu bagi kita halal dan wanita kita haram kepada mereka".
93

Menurut Syafi'i, ahli kitab (yang berpegang dan beriman kepada kitab)
yang halal mengawini wanita-wanita mereka yang merdeka, ialah: ahli dua
kitab yang termasyhur : Taurat dan Injil. Mereka itu, ialah: orang Yahudi dan
orang Nasrani, tidak majusi. Orang Sabi-in dan Samiri itu dari Yahudi dan
Nasrani, yang halal mengawini wanita mereka dan memakan sembelihan
mereka. Kecuali, bahwa yang diketahui, mereka itu berselisih dengan ahli
kitab tersebut pada pokok yang mereka menghalalkan dari kitab dan yang
mereka mengharamkan. Maka haramlah mengawini wanita mereka,
sebagaimana haram mengawini wanita majusi. Dan mereka itu menta'wilkan,
lalu mereka itu berselisih. Maka tidak diharamkan oleh yang demikian akan
wanita mereka. Dan mereka itu daripadanya, yang halal mengawini wanita

93
Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Al-Umm, Beirut Libanon:
Dar al-Kutub al-Ilmiah, tth, juz 5, hlm. 7
58
mereka, dengan yang halal mengawini wanita lain, dari orang yang tidak
lazim disebut nama Sabi,in dan Samiri. Tidak halal mengawini wanita-wanita
merdeka dari orang Arab, orang yang beragama dengan agama Yahudi dan
agama Nasrani. Karena asal agama mereka adalah agama yang benar.
Kemudian, mereka itu sesat dengan menyembah berhala. Sesungguhnya
mereka itu berpindah kepada agama ahli kitab sesudahnya itu. Tidak bahwa
mereka itu adalah orang-orang yang beragama dengan Taurat dan Injil, lalu
mereka itu sesat daripadanya. Dan mereka mengada-adakan padanya.
94

Menurut Al-Syafi'i, saya tidak mengiranya dan yang lain, selain telah
disampaikan itu oleh Ali bin Abi Thalib ra., dengan isnad ini. Dikabarkan
kepada kami oleh Abdul Majid dari Ibnu Juraij, yang mengatakan: "kata Atha'
bahwa tidaklah Nasrani Arab itu ahli kitab. Sesungguhnya ahli kitab itu ialah
keturunan Bani Israil (dari agama Yahudi dan Nasrani) yang berpegang pada
Taurat pada masa Nabi Musa dan orang-orang yang berpegang teguh pada
Injil pada masa Nabi Isa. Adapun orang yang masuk pada mereka itu dari
orang banyak maka tidaklah mereka ini dari mereka itu".
95

Dikawini wanita Islam atas wanita kitabi dan wanita kitabi atas wanita
Islam. Dikawini empat wanita kitabi, sebagaimana dikawini empat wanita
Islam. Wanita kitabi pada semua perkawinannya dan hukum-hukumnya yang
halal dan yang haram dengan wanita kitabi itu, adalah seperti wanita Islam.
Tiada berselisih pada sesuatu pun dan pada yang harus atas suami baginya.
Tidak dikawini wanita kitabi, selain dengan dua orang saksi, yang adil, yang

94
Ibid, hlm. 7.
95
Ibid, hlm. 8.
59
Islam dan dengan wali dari ahli agamanya, seperti wali wanita Islam. Boleh
pada agama mereka yang lain dari itu atau tidak boleh. Tidaklah saya
memandang padanya, selain kepada hukum Islam.
Kalau wanita kitabi itu kawin dengan perkawinan yang shah dalam
Islam dan itu pada mereka perkawinan yang batal. Maka adalah
perkawinannya itu shah. Tidak ditolak perkawinan wanita Islam dari sesuatu,
melainkan ditolak perkawinan wanita kitabi dari yang seperti demikian.
Tidak boleh perkawinan wanita Islam dengan sesuatu, melainkan
boleh perkawinan wanita kitabi dengan seperti yang demikian. Dan tidaklah
wali wanita dzimmi itu muslim. Walau pun dia itu bapak wanita tersebut.
Karena Allah Ta'ala memutuskan ke-wali-an di antara orang Islam dan orang
musyrik.
Rasulullah Saw. kawin dengan Ummu Habibah binti Abi Sufyan. Dan
wali akad nikahnya Ibnu Sa'id bin Al-'Ash (namanya Khalid). Dan dia ini
muslim.
Dan Abi Sufyan masih hidup, maka yang demikian menunjukkan
bahwa tak ada ke-wali-an di antara kerabat, apabila berbeda agama. Walau
pun dia itu bapak. Bahwa ke-wali-an itu dengan kerabat dan bersamaan
agama.
96

Dibagikan waktu untuk isteri kitabi, seperti pembagiannya untuk isteri
Islam (1). Tidak ada perbedaan di antara keduanya. Bagi isteri kitabi, apa yang

96
Ibid, hlm. 8.
60
bagi isteri Islam. Dan bagi suami atas isteri kitabi, apa yang baginya atas isteri
Islam. Kecuali bahwa keduanya tiada pusaka-mempusakai, disebabkan
perbedaan agama. Kalau ia mentalakkan isteri kitabi atau ia me-illa'-kan atau
ber-dhihar atau ber-qadzaf (2), maka harus atas suami pada yang demikian itu
semua, apa yang harus atasnya pada isteri Islam. Kecuali, bahwa tiada
hukuman hadd atas orang yang ber-qadzaf kepada isteri kitabi. Dan dia itu
didera. Apabila suami mentalakkan isteri kitabi, maka boleh baginya ruju'
kepada isteri kitabi itu dalam iddah. Dan iddahnya, ialah iddah isteri Islam.
Kalau ditalakkannya isteri kitabi itu tiga talak, lalu isteri kitabi itu kawin
dengan orang lain sebelum lalu iddah dan dia disetubuhi, maka tidak halal dia
bagi suaminya yang pertama dahulu. Kalau isteri kitabi itu kawin dengan
perkawinan yang shah sesudah berlalu iddah, dengan seseorang suami
dzimmi. Lalu suami ini menyetubuhinya. Kemudian isteri itu diceraikan atau
suaminya yang kedua itu meninggal dan telah cukup iddahnya. Niscaya halal
isteri ini bagi suami pertama. Dihalalkan wanita itu bagi suami pertama oleh
setiap suami yang kedua yang telah menyetubuhinya, yang shah nikahnya.
Dan harus atas isteri itu iddah dan membatasi dirt karena kematian suami
(ihdad berkabung). Sebagaimana ada yang demikian itu atas isteri Islam.
Apabila isteri itu meninggal, maka kalau suami itu menghendaki, maka
ia menghadiri janazahnya, memandikan dan masuk ke kuburannya. Dan ia
tidak mengerjakan shalat kepada isterinya itu. Saya berpendapat makruh bagi
isteri memandikan suaminya, kalau suami itu yang meninggal. Kalau isteri itu
memandikan suaminya, maka memadailah pemandian isteri akan suami itu,
61
insya Allah Ta'ala.
97
Bagi suami boleh memaksakan isterinya itu mandi dari
haid. Dan tidaklah bagi suami itu menyetubuhi isterinya, apabila sudah suci
dari haid, sehingga ia mandi. Karena Allah 'Azza wa Jalla berfirman :
ﹶ ﻥ ﺮ ﻬﹾ ﻄ ﻳ  ﻰﺘ ﺣ ﻦ ﻫﻮ ﺑ ﺮﹾ ﻘ ﺗ ﹶ ﻻ ﻭ ) ﺓﺮﻘﺒﻟﺍ : 222 (
Artinya: "Janganlah dekati mereka, sebelum suci!". S. Al-Baqarah,
ayat 222.

Berkata sebagian ahli ilmu Al-Qur'an: "Sehingga engkau melihat suci".
Apabila wanita itu sudah bersuci, yakni: dengan air, kecuali bahwa ia berada
dalam bermusafir, yang ia tiada memperoleh air, maka ia bertayammum.
Apabila isteri itu dari orang yang halal baginya shalat dengan suci,
maka halallah isteri itu bagi suaminya. Bagi suami itu, menurut saya dan Allah
Ta'ala Yang Maha tahu dapat memaksakan isterinya untuk mandi dari janabat,
kepada kebersihan dengan menggantikan pakaian baru, mengerat kuku dan
membersihkan diri dengan air, tanpa ada janabat, selama tidaklah yang
demikian itu, dan isteri itu sakit - mendatangkan melarat baginya dengan air,
atau dalam kesangatan dingin, yang air itu mendatangkan melarat baginya.
Suami dapat melarangnya ke gereja, keluar kepada perayaan-perayaan
dan yang lain dari itu, daripada yang isteri itu bermaksud keluar kepadanya.
Apabila boleh bagi suami itu melarang isterinya yang Islam untuk pergi ke
masjid dan itu adalah benar, maka bagi suami itu pada isterinya yang Nasrani,
dapat melarang pergi ke gereja. Karena itu adalah perbuatan batil. Bagi suami

97
Ibid, hlm. 8.
62
dapat melarang isterinya meminum khamar. Karena minum itu
menghilangkan akal isteri.
98
Dan melarangnya memakan daging babi, apabila
suami itu merasa jijik dengan daging babi itu. Melarangnya memakan yang
halal, apabila suami itu merasa terganggu dengan baunya, dari bawang putih
dan bawang merah, apabila tidak ada darurat (kepentingan) bagi isterinya
kepada memakannya. Kalau diumpamakan yang demikian dari yang halal,
yang tidak terdapat baunya, maka tidak boleh bagi suami melarangnya. Seperti
demikian juga, tidak boleh bagi suami melarang isterinyamemakai apa yang
dikehendakinya dari kain, selama ia tidak memakai kulit bangkai atau kain
yang berbau busuk, yang menyakiti oleh bau keduanya itu. Maka suami itu
melarang isterinya dari dua yang tersebut itu.
Apabila lelaki Islam mengawini wanita kitabi. Lalu wanita itu murtad
kepada agama majusi atau agama yang bukan agama ahli kitab. Maka kalau
wanita itu kembali kepada Islam atau kepada agama ahli kitab, sebelum
berlalu iddah. Maka kedua suami-isteri itu tetap atas perkawinan. Kalau isteri
itu tidak kembali kepada Islam, sehingga berlalu iddah. Maka sesungguhnya
telah putus ikatan di antara isteri itu dan suaminya. Tiada wajib nafkah bagi
isteri tersebut dalam iddah. Karena ia melarang dirinya bagi suami dengan
kemurtadan. Tidak dibunuh dengan sebab murtad, orang yang berpindah dari
agama kafir kepada agama kafir yang lain. Sesungguhnya yang dibunuh, ialah
orang yang keluar dari agama Islam ke agama syirik. Ada pun orang yang

98
Ibid, hlm. 8.
63
keluar dari agama yang batil ke agama yang batil, maka tidak dibunuh.
99
la
dibuang dari negeri Islam, kecuali bahwa ia masuk Islam atau ia kembali
kepada salah satu agama yang diambil dari pemeluknya jizyah, Yahudi atau
Nasrani atau majusi. Lalu ia tetap dalam negeri Islam.
Kalau murtad wanita itu dari Yahudi ke Nasrani atau nasrani ke
Yahudi, Maka tidak haram isteri itu kepada suaminya, karena adalah patut
baginya bahwa ia memulai mengawini wanita itu, kalau adalah wanita tersebut
dari pemeluk agama yang ia keluar kepada agama itu. Kata Ar-Rabi' : "Yang
saya hafal dari perkataan Asy-Syafi'i r.a. bahwa beliau berkata : "Apabila
suami itu orang Nasrani. Lalu ia keluar kepada agama Yahudi, bahwa
dikatakan kepada suami itu : "Tidak boleh bagi engkau, bahwa mendatangkan
agama baru, yang tidaklah engkau pada agama itu sebelum turun Al-Qur'an.
Kalau engkau masuk Islam atau engkau kembali kepada agama engkau, yang
kami ambil dari engkau atas agama itu akan jizyah. Maka kami membiarkan
engkau. Kalau tidak, maka kami mengeluarkan engkau dari negeri Islam. Dan
kami serahkan engkau kepada diri engkau sendiri. Maka manakala kami
kuasai engkau, niscaya kami bunuh engkau". Qaul ini lebih disukai oleh Ar-
Rabi'.
Tidak boleh mengawinkan budak wanita kitabi dengan budak lelaki
muslim dan dengan orang lelaki merdeka, dengan hal apa pun. Karena yang
saya terangkan dari nash Al-Qur-an dan petunjuknya. Jenis mana pun dari
orang-orang musyrik, yang halal mengawini wanita-wanita mereka yang

99
Ibid, hlm. 9.
64
merdeka, maka halal menyetubuhi budak-budak wanita mereka dengan jalan
milik.
100
Jenis mana pun yang haram mengawini wanita-wanita mereka yang
merdeka, maka haram menyetubuhi budak-budak wanita mereka dengan jalan
milik. Halal menyetubuhi budak wanita kitabi dengan jalan milik,
sebagaimana halal wanita-wanita mereka yang merdeka dengan perkawinan.
Tidak halal menyetubuhi budak wanita .musyrik yang bukan kitabi, dengan
jalan milik. Sebagaimana tidak halal mengawini wanita mereka.
Kalau adalah asal keturunan seorang budak wanita itu dari bukan ahli
kitab. Kemudian, budak wanita tersebut beragama dengan agama ahli kitab.
Niscaya tidak halal menyetubuhinya. Sebagaimana tidak halal mengawini
wanita-wanita merdeka dari mereka. Tidak halal mengawini budak wanita
kitabi bagi orang Islam, dengan hal apa pun. Karena budak wanita itu masuk
pada makna wanita musyrik yang diharamkan. Dan tidak halal itu dinashkan
dengan penghalalan. Sebagaimana dinashkan wanita-wanita merdeka ahli
kitab mengenai perkawinan. Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'ala
menghalalkan perkawinan budak-budak wanita Islam itu dengan dua makna.
Sama saja bahwa tidak diperoleh oleh orang yang kawin itu akan perbelanjaan
yang cukup bagi wanita merdeka dan takut kepada perbuatan zina. Dan dua
syarat pada budak wanita Islam itu menunjukkan, bahwa pernikahan mereka
itu dihalalkan dengan suatu makna, tidak dengan suatu makna.
Pada yang demikian itu menunjukkan kepada pengharaman wanita-
wanita budak musyrik yang menyalahi dengan mereka. Dan Allah Yang Maha

100
Ibid, hlm. 9.
65
tahu. Karena Islam itu syarat ke tiga. Dan budak wanita musyrik itu keluar
daripadanya.
101
Kalau seseorang mengawini budak wanita kitabi, maka adalah
perkawinan itu batal, yang dibatalkan atas lelaki itu, sebelum bersetubuh dan
sesudahnya. Kalau dia belum bersetubuh, maka tiada mas kawin bagi budak
wanita itu. Dan kalau sudah bersetubuh, maka bagi isteri tersebut mas kawin
yang sepertinya. Dan dihubungkan anak dengan yang mengawini dan dia itu
Islam. Dan dijualkan atas tanggungan pemiliknya kalau pemilik itu orang
kitabi. Kalau dia itu orang Islam, maka tidak dijual anak itu atas
tanggungannya. Kalau suami itu menyetubuhi budak wanita yang bukan
kitabi, maka dilarang suami itu kembali kepada isterinya itu, sudah
mengandung atau belum mengandung. Dan kalau sudah mengandung, lalu ia
melahirkan. Maka budak wanita itu menjadi gundiknya. Dan tidak halal
baginya menyetubuhinya, karena agamanya. Sebagaimana ada itu budak
wanitanya. Tidak halal baginya menyetubuhinya, karena agamanya. Apabila
lelaki itu meninggal, maka budak wanita tersebut menjadi merdeka dengan
kematiannya. Dan tidak boleh baginya menjual budak wanita tersebut. Tidak
boleh baginya mengawininya dan budak itu tidak menyukai. Dan ia menerima
pelayanannya, pada yang disanggupi oleh budak wanita tersebut. Sebagaimana
ia menerima pelayanan dari budak wanita yang lain.

101
Ibid, hlm. 9.
66
Kalau budak wanita itu mempunyai saudara perempuan, yang
merdeka, yang Islam. Maka halal bagi lelaki itu mengawini saudara
perempuan yang tersebut.
102

Begitu juga kalau budak wanita itu mempunyai saudara perempuan
seibu yang merdeka, yang kitabi, yang bapaknya kitabi. Lalu ia membeli
saudara perempuan itu. Niscaya halal baginya menyetubuhi wanita itu dengan
jalan memilikinya sebagai budak. Dan tidaklah ini mengumpulkan diantara
dua wanita yang bersaudara. Karena penyetubuhan bagi wanita pertama itu,
yang dia itu bukan kitabi, adalah tidak boleh baginya. Sesungguhnya
mengumpulkan, ialah bahwa dikumpulkan diantara orang yang halal
penyetubuhannya atas sendiri-sendiri. Kalau budak wanita itu mempunyai
saudara perempuan se bapak, yang beragama dengan agama ahli kitab, niscaya
tidak halal wanita itu baginya dengan jalan milik. Karena keturunannya
kepada bapaknya. Dan bapaknya itu bukan kitabi.
Sesungguhnya saya memperhatikan pada yang halal dari wanita-
wanita musyrik itu kepada keturunan bapak. Tidaklah ini, seperti wanita, yang
Islam salah seorang dari ibu-bapaknya. Dan dia itu masih kecil. Karena Islam
tidak dapat dikongsikan oleh syirik. Dan syirik itu berkongsi dengan syirik.
Dan keturunan itu kepada bapak. Seperti demikian juga agama bagi bapak,
selama budak wanita itu belum dewasa.
Kalau saudara perempuannya sudah dewasa dan beragama dengan
agama ahli kitab. Dan bapaknya watsani atau majusi. Maka tidak halal

102
Ibid, hlm. 9.
67
menyetubuhinya dengan milik perbudakan. Sebagaimana tidak halal
menyetubuhi wanita watsani, yang berpindah kepada agama ahli kitab.
Karena asal agamanya itu bukan agama ahli kitab, kalau ia mengawini
budak wanita kitabi dan budak wanita ini mempunyai saudara perempuan,
yang merdeka, yang kitabi atau Islam.
103
Kemudian lelaki itu mengawini
saudara perempuan wanita tersebut, yang merdeka, sebelum bercerai antara
dia dan budak wanita kitabi itu. Niscaya adalah perkawinan wanita merdeka
yang Islam atau yang kitabi itu boleh. Karena itu halal, yang tidak dibatalkan
oleh pernikahan budak wanita yang kitabi, yang dia itu saudara perempuan
wanita yang dinikahi sesudahnya. Karena pernikahan dengan wanita yang
pertama itu bukan perkawinan. Dan kalau disetubuhinya, maka adalah seperti
yang demikian. Karena persetubuhan itu pada perkawinan yang batal.
Hukumnya tidak mengharamkan akan sesuatu. Karena wanita itu bukan isteri
dan tidak yang dimiliki dengan jalan budak. Lalu mengharamkan
dikumpulkan di antaranya dan saudara perempuannya.
Kalau orang mengawini seorang wanita, dengan syarat bahwa wanita
itu Islam. Tiba-tiba wanita tersebut itu kafir kitabi. Maka boleh bagi lelaki
tersebut membatalkan perkawinan, dengan tanpa membayar setengah mas
kawin. Kalau ia mengawininya dengan syarat bahwa wanita itu kitabi, lalu
tiba-tiba wanita itu Islam. Maka tidak boleh bagi lelaki tersebut membatalkan
perkawinan. Karena wanita Islam itu lebih baik dari wanita kitabi. Kalau ia
mengawini seorang wanita dan ia tidak mengabarkan bahwa wanita itu Islam

103
Ibid, hlm. 9.
68
atau kitabi. Lalu tiba-tiba wanita itu kitabi. Dan ia berkata : "Sesungguhnya
saya mengawininya, dengan syarat wanita itu Islam. Maka yang didengar ialah
perkataan lelaki itu. Baginya boleh melakukan pilihan. Dan atasnya sumpah
akan apa yang dikawininya. Dan ia mengetahuinya wanita kitabi.
104

Al-Syafi’i dalam kitabnya al-Umm Juz IV mengatakan,
ﻥﺃ ﻰﻫﻭ ﻝﺎﲝ ﻢﻠﺴﻤﻠﻟ ﻞﲢ  ﺪﻗ ﺔﻛﺮﺸﳌﺍ ﺓﺃﺮﳌﺍﻭ ﻝﺎﲝ ﻙﺮﺸﳌ ﻞﲢ ﻻ ﺔﻤﻠﺴﳌﺍ
ﺔﻴﺑﺎﺘﻛ ﻥﻮﻜﺗ
105

Artinya: wanita muslimah tidak halal (menikah) dengan laki-laki
musyrik dengan keadaan apa pun, dan wanita musyrik itu
kadang-kadang halal (boleh menikah) bagi lelaki Islam
dengan sesuatu hal dan wanita itu wanita kitabi.

Pada halaman lain, Al-Syafi’i mengatakan:


ﻞﺣﻭ ﻪﺘﺤﻴﺑﺫ ﺖﻠﻛﺃ ﺓﺮﻣﺎﺴﻟﺍﻭ ﲔﺌﺑﺎﺼﻟﺍ ﻦﻣ ﻱﺭﺎﺼﻨﻟﺍﻭ ﺩﻮﻬﻴﻟﺍ ﻦﻳﺩ ﻥﺍﺩ ﻦﻣ
ﻩﺅﺎﺴﻧ
106


Artinya: siapa yang beragama dengan agama Yahudi dan Nasrani dari
orang Sabiin dan Samiri, maka boleh dimakan
sembelihannya dan halal dikawini wanitanya.

C. Metode Istinbath Hukum Al-Syafi'i

Al-Syafi’i menyusun konsep pemikiran ushul fiqihnya dalam karya
monumental yang berjudul al-Risalah. Di samping dalam kitab tersebut,
dalam kitabnya al-Umm banyak pula ditemukan prinsip-prinsip ushul fiqh
sebagai pedoman dalam ber istimbath. Di atas landasan ushul fiqh yang

104
Ibid, hlm. 9.
105
Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Al-Umm, Beirut Libanon:
Dar al-Kutub al-Ilmiah, tth, juz 4, hlm. 287
106
Ibid, hlm. 289
69
dirumuskannya sendiri itulah ia membangun fatwa-fatwa fiqihnya yang
kemudian dikenal dengan mazhab Syafi’i. Menurut Al-Syafi’i “ilmu itu
bertingkat-tingkat”, sehingga dalam mendasarkan pemikirannya beliau
membagi tingkatan sumber-sumber itu sebagai berikut:
1. Ilmu yang diambil dari kitab (al-Qur’an) dan sunnah Rasulullah SAW
apabila telah tetap kesahihannya.
2. Ilmu yang didapati dari ijma dalam hal-hal yang tidak ditegaskan dalam
al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW.
3. Fatwa sebagian sahabat yang tidak diketahui adanya sahabat yang
menyalahinya.
4. Pendapat yang diperselisihkan di kalangan sahabat.
5. Qiyas apabila tidak dijumpai hukumnya dalam keempat dalil di atas.
107

Tidak boleh berpegang kepada selain al-Qur’an dan sunnah dari
beberapa tingkatan tadi selama hukumnya terdapat dalam dua sumber tersebut.
Ilmu secara berurutan diambil dari tingkatan yang lebih di atas dari tingkatan-
tingkatan tersebut.
Nukilan otentik dari Al-Syafi’i ini (dalam kitab al-Risalah)
menjelaskan landasannya dalam berfatwa. Seperti halnya pada mazhab
lainnya, bagi Al-Syafi’i Al-Qur’an adalah sumber pertama dan utama dalam
membangun fiqih, kemudian sunnah Rasulullah SAW bilamana teruji
kesahihannya.

107
Al-Imam Abi Abdillah Muhammad Ibn Idris Al-Syafi’i, al-Umm. Juz 7, Dar al-
Kutub, Ijtimaiyah, Beirut, Libanon, tt, hlm. 246
70
Dalam urutan sumber hukum di atas, Al-Syafi’i meletakkan sunnah
sejajar dengan al-Qur’an pada urutan pertama, sebagai gambaran betapa
penting sunnah dalam pandangan Al-Syafi’i sebagai penjelasan langsung dari
keterangan-keterangan dalam al-Qur’an.
Masdar-masdar istidlal
108
walaupun banyak namun kembali kepada
dua dasar pokok yaitu: al-kitab dan as-sunnah. Akan tetapi dalam sebagian
kitab Al-Syafi’i, dijumpai bahwa as-sunnah tidak semartabat dengan al-kitab.
Mengapa ada dua pendapat Al-Syafi’i tentang ini.
109

Al-Syafi’i menjawab sendiri pertanyaan ini. Ia berkata; al-kitab dalam
as- sunnah kedua-duanya dari Allah dan kedua-duanya merupakan dua sumber
yang membentuk syariat Islam. Mengingat hal ini tetaplah as-sunnah
semartabat dengan al-Qur’an. Pandangan Al-Syafi’i sebenarnya adalah sama
dengan pandangan kebanyakan sahabat.
110
Al-Syafi’i menetapkan bahwa as-
Sunnah harus diikuti sebagaimana mengikuti al-Qur’an. Namun demikian,
tidak memberi pengertian bahwa hadis-hadis yang diriwayatkan dari nabi
semuanya berfaedah yakin. Ia menempatkan as-Sunnah semartabat dengan al-
kitab pada saat mengistimbathkan hukum, tidak memberi pengertian bahwa
as-Sunnah juga mempunyai kekuatan dalam menetapkan aqidah. Orang yang
mengingkari hadis dalam bidang aqidah, tidaklah dikafirkan.
Al-Syafi’i menyamakan as-Sunnah dengan al-Qur’an dalam

108
Masdar berarti sumber, sedang istidlal artinya mengambil dailil, menjadikan dalil,
berdalil. Lihat TM. Hasbi Ash Shiddieqy, Pokok-Pokok Pegangan Imam Madzhab, PT Putaka
Rizki Putra, Semarang, 1997, hlm. 588, dan 585.
109
Ibid, hlm. 239.
110
Al-Imam Abi Abdillah Muhammad Ibn Idris Al-Syafi’i, al-Risalah, Mesir: al-
Ilmiyah, 1312H. hlm. 32.
71
mengeluarkan hukum furu’, tidak berarti bahwa as-Sunnah bukan merupakan
cabang dari al-Qur’an. Oleh karenanya apabila hadis menyalahi al-Qur'an
hendaklah mengambil al-Qur'an. Al-Syafi’i menetapkan bahwa al-Qur'an
adalah kitab yang diturunkan dalam bahasa Arab yang murni, yang tidak
bercampur dengan bahasa-bahasa lain.
Adapun yang menjadi alasan ditetapkannya kedua sumber hukum
hukum itu sebagai sumber dari segala sumber hukum adalah karena Al-Qur'an
memiliki kebenaran yang mutlak dan as-sunnah sebagai penjelas atau
ketentuan yang memerinci Al-Qur'an.
Ijma menurutnya adalah kesepakatan para mujtahid di suatu masa,
yang bilamana benar-benar terjadi adalah mengikat seluruh kaum muslimin.
Oleh karena ijma itu baru mengikat bilamana disepakati seluruh para mujtahid
di suatu masa, maka dengan gigih Al-Syafi’i menolak ijma penduduk
Madinah (amal ahl al-Madinah), karena penduduk Madinah hanya sebagian
kecil dari ulama mujtahid yang ada pada saat itu. Alasan Al-Syafi’i menolak
ijma penduduk Madinah adalah karena ijma harus merupakan kesepakatan
dari seluruh umat Islam yang tidak hanya terbatas pada satu negara apalagi
hanya satu kota.
111

Al-Syafi’i berpegang kepada fatwa-fatwa sahabat Rasulullah SAW
dalam membentuk mazhabnya, baik yang diketahui ada perbedaan pendapat,

111
Menurut Abd Wahab Khalaf, ijma’ menurut istilah para ahli ushul fiqh adalah
kesepakatan seluruh para mujtahid di kalangan umat Islam pada suatu masa setelah Rasulullah
SAW wafat atas hukum syara’ mengenai suatu kejadian. Lihat Abd Wahab Khalaf, ‘Ilm Ushul
al-Fiqh, Maktabah al-Wal-Matbaah al-Islamiyah, Syabab al-Azhar, Jakarta: 1410 H/1990M.
hlm.45.
72
apalagi yang tidak diketahui adanya perbedaan pendapat di kalangan mereka.
Al-Syafi’i berkata:
112

'-~-- V '-- ءر ó- :-= '-- -+- ءار
Artinya: Pendapat para sahabat lebih baik dari pendapat diri kita
sendiri

Bilamana hukum suatu masalah tidak ditemukan secara tersurat dalam
sumber-sumber hukum tersebut di atas, dalam membentuk mazhabnya ia
melakukan ijtihad. Dengan ijtihad, menurutnya seorang mujtahid akan mampu
mengangkat kandungan al-Qur'an dan sunnah rasulullah SAW secara lebih
maksimal ke dalam bentuk siap untuk diamalkan. Oleh karena demikian
penting fungsinya, maka melakukan ijtihad dalam pandangan Al-Syafi’i
adalah merupakan kewajiban bagi ahlinya. Dalam kitabnya al-Risalah, Al-
Syafi’i pernah mengatakan, “Allah mewajibkan kepada hambanya untuk
berijtihad dalam upaya menemukan hukum yang terkandung dalam al-Qur'an
dan as-Sunnah”. Metode utama yang digunakannya dalam berijtihad adalah
qiyas.
Al-Syafi’i membuat kaidah-kaidah yang harus dipegangi dalam
menentukan mana ar-rayu yang sahih dan mana yang tidak sahih. Ia
membuat kriteria bagi istimbath-istimbath yang salah. Ia menentukan batas-
batas qiyas, martabat-martabatnya, dan kekuatan hukum yang ditetapkan
dengan qiyas. Juga diterangkan syarat-syarat yang harus sempurna pada qiyas.
Sesudah itu diterangkan pula perbedaan antara qiyas dengan macam-macam
istimbath yang lain yang dipandang, kecuali qiyas. Dengan demikian Al-

112
TM. Hasbi Ash shiddieqy, op. cit, hlm. 271.
73
Syafi’i merupakan orang pertama dalam menerangkan hakikat qiyas. Al-
Syafi’i sendiri tidak membuat ta’rif qiyas. Akan tetapi penjelasan-
penjelasannya, contoh-contoh, bagian-bagian dan syarat-syarat menjelaskan
hakikat qiyas, yang kemudian dibuat ta’rifnya oleh ulama ushul.
113

Terhadap istihsan, Al-Syafi’i hanya membenarkan qiyas saja dari
antara cara-cara ijtihad, ia menolak istihsan. Khusus mengenai istihsan ia
mengarang kitab yang berjudul Ibthalul Istikhsan. Dalil-dalil yang
dikemukakan Al-Syafi’i untuk menolak istihsan, disebutkan dalam kitab ini,
kitab Jima’ul Ilmi, al-Risalah dan dalam al-Umm. Kesimpulan yang dapat
ditarik dari uraian-uraian Al-Syafi’i, ialah setiap ijtihad yang tidak bersumber
al-kitab, as-Sunnah, atsar atau ijma’ atau qiyas dipandang istihsan, dan ijtihad
dengan jalan istihsan, adalah ijtihad yang batal.
114
Jadi alasan Al-Syafi’i
menolak istihsan adalah karena kurang bisa dipertanggungjawabkan
kebenarannya.
115

Dalil hukum lainnya yang digunakan Al-Syafi’i adalah maslahah
mursalah, yaitu yang mutlaq, menurut istilah para ahli ilmu ushul fiqh ialah:
suatu kemaslahatan di mana syari’ tidak mensyariatkan suatu hukum untuk
merealisir kemaslahatan itu, dan tidak ada dalil yang menunjukkan atas

113
Al-Imam Abi Abdillah Muhammad Ibn Idris Al-Syafi’i, al-Risalah, op.cit, hlm.
477-497.
114
Al-Imam Abi Abdillah Muhammad Ibn Idris Al-Syafi’i, al-Risalah, op.cit, hlm.
146.
115
Ijtihad dari segi bahasa ialah mengerjakan sesuatu dengan segala kesungguhan.
Perkataan “ijtihad” tidak digunakan kecuali untuk perbuatan yang harus dilakukan dengan
susah payah. Menurut istilah ijtihad ialah menggunakan seluruh kesanggupan untuk
menetapkan hukum-hukum syari’at. Lihat A. Hanafie, ushul Fiqh, Cet. 14, Jakarta: Wijaya,
2001, hlm.151. lihat juga Abd Wahab kalaf, op.cit, hlm. 216
74
pengakuannya atau pembatalannya.
116

Dalam kaitannya dengan perkawinan antar agama, khususnya
mengenai makna ahlul kitab dalam versi al-Syafi'i, ia menggunakan metode
istinbath hukum yaitu Al-Qur'an surat Al-Maidah ayat 5.
ﱞ ﻞ ﺣ  ﺏﺎ ﺘ ﻜﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ ﺗﻭﹸ ﺃ  ﻦﻳ ﺬﱠﻟﺍ  ﻡﺎ ﻌﹶ ﻃ ﻭ  ﺕﺎ ﺒﻴﱠﻄﻟﺍ  ﻢﹸ ﻜﹶ ﻟ ﱠﻞ ﺣﹸ ﺃ  ﻡ ﻮ ﻴﹾ ﻟﺍ
ﹾ ﻟﺍ ﻭ  ﻢ ﻬﱠﻟ ﱡ ﻞ ﺣ  ﻢﹸ ﻜ ﻣﺎ ﻌﹶ ﻃ ﻭ  ﻢﹸ ﻜﱠﻟ  ﺕﺎ ﻨ ﻣ ﺆ ﻤﹾ ﻟﺍ  ﻦ ﻣ  ﺕﺎ ﻨ ﺼ ﺤ ﻤ
ﺍﹶ ﺫﹺ ﺇ  ﻢﹸ ﻜ ﻠ ﺒﹶ ﻗ ﻦ ﻣ  ﺏﺎ ﺘ ﻜﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ ﺗﻭﹸ ﺃ  ﻦﻳ ﺬﱠﻟﺍ  ﻦ ﻣ  ﺕﺎ ﻨ ﺼ ﺤ ﻤﹾ ﻟﺍ ﻭ
ﻱ ﺬ ﺨﺘ ﻣ ﹶ ﻻ ﻭ  ﲔ ﺤ ﻓﺎ ﺴ ﻣ  ﺮ ﻴﹶ ﻏ  ﲔﹺ ﻨ ﺼ ﺤ ﻣ ﻦ ﻫﺭﻮ ﺟﹸ ﺃ ﻦ ﻫﻮ ﻤ ﺘ ﻴ ﺗﺁ
ﺍ ﻲ ﻓ  ﻮ ﻫ ﻭ  ﻪﹸ ﻠ ﻤ ﻋ ﹶ ﻂﹺ ﺒ ﺣ  ﺪﹶ ﻘﹶ ﻓ  ﻥﺎ ﳝِ ﻹﺎﹺ ﺑ  ﺮﹸ ﻔﹾﻜ ﻳ ﻦ ﻣ ﻭ  ﻥﺍ ﺪ ﺧﹶ ﺃ  ﺓ ﺮ ﺧﻵ
 ﻦﻳﹺ ﺮ ﺳﺎ ﺨﹾ ﻟﺍ  ﻦ ﻣ ) ﺓﺪﺋﺎﳌﺍ : 5 (

Artinya: Pada hari ini dihalalkan bagi kamu yang baik-baik.
Makanan [sembelihan] orang-orang yang diberi al-Kitab
itu halal bagi kamu, dan mahanan kamu halal [pula] bagi
mereka. [Dan dihalalkan bagi kamu menikahi] wanita-
wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita
yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga
kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab
sebelum kamu, bila kamu telah membayar mahar mereka
dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud
berzina dan tidak [pula] menjadikannya gundik-gundik.
Barangsiapa yang kafir sesudah beriman maka hapuslah
amalannya dan di hari akhirat dia termasuk orang-orang
yang merugi. (Q.S. al-Maidah: 5)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa para ahli tafsir dan para
ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan ayat wal muhsanâtî minal lazîna
ûtul kitâb min qablikum menurut Ibnu Jarir yang dimaksud dengan muhsanat
adalah wanita baik-baik dari ahli kitab baik merdeka atau budak. Imam Syafi'i

116
Abd Wahab Khalaf, ‘Ilm ushul al-Fiqh, Jakarta: Maktabah al-Dak’wah al-
Islamiyah Syabab al-Azhar, 1410 H/1990M. hlm. 84. Cf. Sobhi Mahmassani, op.cit, hlm.184.
75
yang dimaksud ahli kitab di sini adalah wanita baik-baik dari Bani Israil. Dan
menurut yang lain muhsanat adalah wanita ahli kitab yang baik-baik tadi yang
merupakan penduduk Negeri Islam (Kafir Zimmi),
117
karena berdasarkan
firman Allah yang mengatakan:
ﹺ ﺮ ﺧﻵﺍ ﹺ ﻡ ﻮ ﻴﹾ ﻟﺎﹺ ﺑ ﹶ ﻻ ﻭ  ﻪﹼﻠﻟﺎﹺ ﺑ ﹶ ﻥﻮ ﻨ ﻣ ﺆ ﻳ ﹶ ﻻ  ﻦﻳ ﺬﱠﻟﺍ ﹾ ﺍﻮﹸ ﻠ ﺗﺎﹶ ﻗ

Artinya: Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan
tidak pula pada hari kemudian.
118



























117
Ismâ'îl ibn Katsîr al-Qurasyî al-Dimasyqî, Tafsîr al-Qur’an al-Azîm., Beirut: Dâr
al-Ma’rifah, 1978, Juz 6, hlm. 252.
118
Depag RI, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an
dan Terjemahnya, 1986, hlm. 282.
76
BAB IV
ANALISIS PENDAPAT AL-SYAFI'I TENTANG
PERKAWINAN ANTAR AGAMA

C. Pendapat Al-Syafi'i tentang Perkawinan Antar Agama

Perkawinan antaragama dapat terjadi antara
3. Calon istri beragama Islam dan calon suami tidak beragama Islam, baik
"ahlulkitab" maupun musyrik.
4. Calon suami beragama Islam dan calon istri tidak beragama Islam, baik
ahlulkitab maupun musyrik.
Dalam konteksnya dengan perkawinan antaragama, Allah berfirman
dalam Surat Al-Baqarah ayat 221:
ﻦ` ﻣ ` ﺮ` ﻴ ﺧ ﹲ ﺔ ﻨ ﻣ` ﺆ' ﻣ ﹲ ﺔ ﻣَ ﻷ ﻭ ` ﻦ ﻣ` ﺆ` ﻳ ﻰ` ﺘ ﺣ ﺕﺎﹶﻛﹺ ﺮ` ﺸ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ` ﺤ ﻜﻨ ﺗ ﹶ ﻻ ﻭ
` ﻢﹸ ﻜ` ﺘ ﺒ ﺠ` ﻋﹶ ﺃ ` ﻮﹶ ﻟ ﻭ ﺔﹶ ﻛﹺ ﺮ` ﺸ' ﻣ ,... ﺓﺮﻘﺒﻟﺍ · 221 .
Artinya: Janganlah kamu mengawini wanita-wanita musyrik,
sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak
yang beriman lebih baik daripada wanita musyrik,
walaupun dia menarik hatimu… (Q.S. al-Baqarah:
221).

Terhadap ayat ini, Imam Jalaluddin al-Mahalli, Imam Jalaluddin as-
Suyuti menjelaskan tentang Asbab an Nuzul Surat al-Baqarah ayat 221: di
ketengahkan oleh Ibnu Munzir, Ibnu Abi Hatim dan al-Wahidi dari Muqatil,
katanya: ayat ini diturunkan mengenai Ibnu Abu Marsad al-Ganawi yang
meminta izin kepad Nabi Muhammad SAW untuk mengawini seorang wanita
musyrik yang cantik dan mempunyai kedudukan tinggi. Maka turunlah ayat
77
ini.
119
Demikian pula dalam Tafsir Ibnu Kasir dijelaskan tentang tafsir surat
al-Baqarah ayat 221 sebagai berikut: melalui ayat ini Allah mengharamkan
atas orang-orang mukmin menikahi wanita-wanita yang musyrik dari kalangan
penyembah berhala. Kemudian jika makna yang dimaksud bersifat umum,
berarti termasuk ke dalam pengertian setiap wanita musyrik kitabiyah dan
wasaniyah. Akan tetapi dikecualikan dari hal tersebut wanita ahli kitab oleh
Firmannya dalam surah al-Ma’idah ayat 5.
120

Akibat hukum dari perkawinan antaragama adalah sebagai berikut:
1. Apabila perkawinan antaragama terjadi antara perempuan yang beragama
Islam dan laki-laki yang tidak beragama Islam, baik musyrik maupun
ahlulkitab, maka ulama fikih sepakat hukumnya tidak sah. Alasannya
adalah firman Allah SWT dalam al-Baqarah (2) ayat 221
2. Apabila perkawinan terjadi antara laki-laki muslim dengan perempuan
musyrik, ulama fikih sepakat menyatakan bahwa hukumnya tidak sah.
Argumen yang dikemukakan adalah firman Allah SWT dalam al-Baqarah
(2) ayat 221. Namun ulama berbeda pendapat mengenai siapa yang
disebut perempuan musyrik itu.
3. Apabila perkawinan terjadi antara laki-laki beragama Islam dan
perempuan yang tergolong ahlul kitab, terdapat beberapa pendapat di
antara ulama fikih, namun jumhur ulama fikih membolehkan perkawinan
laki-laki muslim dengan perempuan ahlul kitab. Argumen mereka adalah

119
Imam Jalaluddin al-Mahalli, Imam Jalaluddin as-Suyuti, Tafsir Jalalain, Kairo:
Dar al-Fikr, t.th, juz 1, hlm. 6
120
Al-Imam al-Hafizh Imaduddin Abul Fida Ismail ibn Kasir, Tafsir al-Qur’an al-
‘Azhim, Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah, juz 2, Cairo, tth, hlm. 417
78
pertama, penjelasan yang terdapat dalam Al-Qur'an dalam surah al-
Ma'idah ayat 5 dan kedua, pendapat Sayid Sabiq, ahli fikih di Mesir, yang
menjelaskan bahwa sekalipun boleh mengawini wanita ahlul kitab. namun
hukumnya makruh.
Sekalipun jumhur ulama fikih sepakat tentang kebolehan seorang laki-
laki beragama Islam mengawini wanita ahlul kitab, namun mereka berbeda
pendapat dalam menentukan wanita ahlul kitab itu sendiri.
Dengan demikian persoalan yang paling menonjol sehingga
menimbulkan perbedaan pendapat dalam kasus perkawinan antar agama
adalah masalah makna istilah “ahli Kitab” dan “Musyrik:”
Menurut Al-Syafi'i, yang termasuk ahlul kitab adalah orang-orang
Yahudi dan Nasrani keturunan orang-orang Israel, tidak termasuk bangsa-
bangsa lain sekalipun penganut agama Yahudi dan atau Nasrani. Di antara
alasan yang diajukan adalah
(3). Karena Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS hanya diutus untuk orang-orang
bangsa Israel; dan
(4). Lafal min qablikum (umat sebelum kamu) dalam surah al-Ma'idah (5) ayat
5 menunjuk kepada kedua kelompok Yahudi dan Nasrani bangsa Israel.
Pendapat al-Syafi'i di atas dapat dijumpai dalam kitabnya yang pada
intinya menyatakan:
79
ﻞﺣﻭ ﻪﺘﺤﻴﺑﺫ ﺖﻠﻛﺃ ﺓﺮﻣﺎﺴﻟﺍﻭ ﲔﺌﺑﺎﺼﻟﺍ ﻦﻣ ﻱﺭﺎﺼﻨﻟﺍﻭ ﺩﻮﻬﻴﻟﺍ ﻦﻳﺩ ﻥﺍﺩ ﻦﻣ
ﻩﺅﺎﺴﻧ
121

Artinya: siapa yang beragama dengan agama Yahudi dan Nasrani dari
orang Sabiin dan Samiri, maka boleh dimakan
sembelihannya dan halal dikawini wanitanya.
122


ﳌﺍﻭ ﻝﺎﲝ ﻙﺮﺸﳌ ﻞﲢ ﻻ ﺔﻤﻠﺴﳌﺍ ﻥﺃ ﻰﻫﻭ ﻝﺎﲝ ﻢﻠﺴﻤﻠﻟ ﻞﲢ ` ﺪﻗ ﺔﻛﺮﺸﳌﺍ ﺓﺃﺮ
ﺔﻴﺑﺎﺘﻛ ﻥﻮﻜﺗ
123

Artinya: wanita muslimah tidak halal (menikah) dengan laki-laki
musyrik dengan keadaan apa pun, dan wanita musyrik itu
kadang-kadang halal (boleh menikah) bagi lelaki Islam
dengan sesuatu hal dan wanita itu wanita kitabi.

Dalam perspektif Imam al-Syafi’i bahwa perempuan ahlul kitab yang
halal dinikahi oleh orang muslim ialah perempuan yang menganut agama
Nasrani atau Yahudi sebagai agama keturunan dari orang–orang (nenek
moyang mereka) yang menganut agama tersebut semenjak masa sebelum Nabi
Muhammad dibangkitkan menjadi Rasul (yakni sebelum al-Qur’an
diturunkan. Tegasnya dalam pandangan al-Syafi’i bahwa orang yang baru
menganut agama Yahudi atau Nasrani sesudah al-Qur’an diturunkan, tidaklah
dianggap ahlul kitab, karena terdapat perkataan min qablikum (dari sebelum
kamu) dalam ayat 5 surah al-Maidah. Perkataan min qablikum tersebut
menjadi qayid bagi ahlul kitab yang dimaksud. Jalan pikiran al-Syafi’i ini

121
Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Al-Umm, Beirut Libanon:
Dar al-Kutub al-Ilmiah, tth, juz 4, hlm. 287 dan 289
122
Sabi'in adalah nama golongan yang mengikuti nabi-nabi zaman dahulu. Sedangkan
Samiri adalah nama suatu suku dari bangsa Israil.
123
Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Al-Umm, Beirut Libanon:
Dar al-Kutub al-Ilmiah, tth, juz 4, hlm. 287
80
mengakui ahlul kitab itu bukan karena agamanya, tetapi karena menghormati
keturunannya.
Dalam kaitan ini, penulis di satu segi kurang sependapat dengan
pendapat al-Syafi'i yang mengkategorikan ahlul kitab seperti tersebut di atas.
Alasan penulis kurang setuju karena bila diaplikasikan di Indonesia, maka
orang-orang Indonesia yang menganut agama Yahudi atau Nasrani sesudah
turunnya al-Qur’an maka mereka tidaklah termasuk di dalam ahlul kitab,
konsekuensinya maka tidak halal bagi muslim menikahi perempuan-
perempuan mereka.
Di segi lain, penulis setuju dengan pendapat al-Syafi’i yang
membolehkan pria muslim menikah dengan perempuan ahlul kitab. Alasan
penulis setuju karena surah al-Maidah ayat 5 merupakan petunjuk yang qath’i
(tegas) tentang bolehnya menikahi wanita ahlul kitab. Dengan kata lain,
menikahi wanita ahlul kitab boleh karena ayat ke-5 dari al-Maidah itu secara
qath'i (tegas) menyatakan kehalalannya.
Kata al-Zamakhsyari, ayat ´ .ِ -ْ·ُ - ´ -َ = ِ ت'َ آِ ·ْ -ُ -ْ 'ا ْا·ُ =ِ ´-َ - َ `َ و dinasikhkan
oleh ayat 5 dari al-Maidah itu. Ini pendapat orang yang menganggap ahli kitab
termasuk musyrik, sesuai dengan penegasan ayat 72 dari al-Maidah yang
berbunyi:
... ﻦ ﻣ ` ﻪ` ﻧﹺ ﺇ ` ﻢﹸ ﻜ` ﺑ ﺭ ﻭ ﻲ` ﺑ ﺭ ﻪﹼ ﻠﻟﺍ ﹾ ﺍﻭ` ﺪ` ﺒ` ﻋﺍ ﹶ ﻞﻴﺋﺍ ﺮ` ﺳﹺ ﺇ ﻲﹺ ﻨ ﺑ ﺎ ﻳ ` ﺢﻴِ ﺴ ﻤﹾ ﻟﺍ ﹶ ﻝﺎﹶ ﻗ ﻭ
ﻭﹾ ﺄ ﻣ ﻭ ﹶ ﺔ` ﻨ ﺠﹾ ﻟﺍ ﻪﻴﹶ ﻠ ﻋ ` ﻪﹼ ﻠﻟﺍ ﻡ` ﺮ ﺣ ` ﺪﹶ ﻘﹶ ﻓ ﻪﹼﻠﻟﺎﹺ ﺑ ` ﻙﹺ ﺮ` ﺸ` ﻳ ` ﺭﺎ` ﻨﻟﺍ ` ﻩﺍ ,... ﺓﺪﺋﺎﳌﺍ · 72 .

81
Artinya: ... Isa al-Masih berkata: "Hai Bani Israil sembahlah Allah
[yaitu] Tuhanku dan Tuhanmu; Sesungguhnya siapa saja
menyekutukan Allah, maka Allah telah mengharamkannya
masuk surga; dan tempatnya adalah neraka...) (Q.S. al-
Maidah: 72)

Tapi bagi orang yang menganggap bahwa ahli kitab tidak termasuk
musyrik agaknya mereka akan berkata, bahwa syirik dalam al-Maidah 72 ini
berkonotasi umum atau pengertian syirik secara lughawi bukan pengertian
secara khusus yang penyembah berhala seperti tampak dalam al-Bayyinah: 1,
al-Hajj: 17 ataupun al-Maidah 82. Adapun al-Baqarah: 221 menurut mereka
membicarakan kaum musyrik selain ahli kitab; sedangkan al-Maidah: 5,
menjelaskan hukum perkawinan khusus mengenai ahli kitab. Menurut jumhur
ulama, ahli kitab ialah kaum Yahudi dan Nasrani, sementara musyrik ialah
para penyembah berhala. Pemilahan pengertian ini berawal dari redaksi ayat
Al-Qur'an sendiri yang menyebut kaum musyrik tersendiri di samping kaum
ahli kitab, yang dihubungkan dengan huruf 'athf (waw), yang menurut kaidah
bahasa Arab, antara lain menunjukkan bahwa mathuf berlainan dari
ma'thuf'alaih, sebagaimana tampak di dalam ayat-ayat berikut:
ﻰ` ﺘ ﺣ ﲔﱢ ﻜﹶ ﻔﻨ` ﻣ ﲔ ﻛﹺ ﺮ` ﺸ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﻭ ﹺ ﺏﺎ ﺘ ﻜﹾ ﻟﺍ ﹺ ﻞ` ﻫﹶ ﺃ ` ﻦ ﻣ ﺍﻭ` ﺮﹶ ﻔﹶ ﻛ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﹺ ﻦﹸ ﻜ ﻳ ` ﻢﹶ ﻟ
ﺔ ﻨ` ﻴ ﺒﹾ ﻟﺍ ` ﻢ` ﻬ ﻴ ﺗﹾ ﺄ ﺗ , ﺔﻨﻴﺒﻟﺍ · 1 .

Artinya: Dan orang-orang kafir di antara ahli kitab (Yahudi, Nasrani)
dan orang-orang yang musyrik tidak mau meninggalkan
agama mereka sehingga datang keterangan kepada mereka
(Q.S. al-Bayyinah: 1).

82
ﹾ ﺍﻮﹸ ﻛ ﺮ` ﺷﹶ ﺃ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﻭ ﺩﻮ` ﻬ ﻴﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ` ﻨ ﻣﺁ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻠﱢ ﻟ ﹰ ﺓ ﻭﺍ ﺪ ﻋ ﹺ ﺱﺎ` ﻨﻟﺍ ` ﺪ ﺷﹶ ﺃ ﱠ ﻥ ﺪﹺ ﺠ ﺘﹶ ﻟ
ﺎ` ﻧﹺ ﺇ ﹾ ﺍ ﻮﹸ ﻟﺎﹶ ﻗ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ` ﻨ ﻣﺁ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻠﱢ ﻟ ﹰ ﺓ` ﺩ ﻮ` ﻣ ` ﻢ` ﻬ ﺑ ﺮﹾ ﻗﹶ ﺃ ﱠ ﻥ ﺪﹺ ﺠ ﺘﹶ ﻟ ﻭ
ﻧ ﻯ ﺭﺎ ﺼ ,... ﺓﺪﺋﺎﳌﺍ · 82 .
Artinya: Sesungguhnya kamu [Muhammad] niscaya menemukan
orang-orang yang sangat keras memusuhi orang-orang
beriman, ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik
(mempersekutukan Allah). Dan kamu menemukan pula
orang-orang yang kasih kepada orang-orang yang beriman,
yaitu orang-orang yang berkata, "Kami adalah orang-orang
Nasrani ...") (Q.S. al-Maidah: 82)

ﺱﻮ` ﺠ ﻤﹾ ﻟﺍ ﻭ ﻯ ﺭﺎ ﺼ` ﻨﻟﺍ ﻭ ﲔ ﺌﹺ ﺑﺎ` ﺼﻟﺍ ﻭ ﺍﻭ` ﺩﺎ ﻫ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﻭ ﺍﻮ` ﻨ ﻣﺁ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﱠ ﻥﹺ ﺇ
ﻳ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﱠ ﻥﹺ ﺇ ﺍﻮﹸ ﻛ ﺮ` ﺷﹶ ﺃ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﻭ ﱢ ﻞﹸ ﻛ ﻰﹶ ﻠ ﻋ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﱠ ﻥﹺ ﺇ ﺔ ﻣﺎ ﻴ ﻘﹾ ﻟﺍ ﻡ` ﻮ ﻳ ` ﻢ` ﻬ ﻨ`ﻴ ﺑ ﹸ ﻞ ﺼﹾ ﻔ
` ﺪﻴﹺ ﻬ ﺷ ٍ ﺀ` ﻲ ﺷ , ﺞﳊﺍ · 17 .

Artinya: Sesungguhnya orang-orang beriman dan orang-orang Yahudi,
orang-orang Shabi'in (penyembah bintang), orang-orang
Nasrani dan Majusi, begitu pun orang-orang yang
mempersekutukan Allah sungguh Allah bakal memberikan
keputusan yang tegas di antara mereka pada hari kiamat.
Adalah Allah saksi pada tiap-tiap sesuatu (Q.S. al-Hajj: 17).

Di dalam ayat-ayat yang dinukilkan di atas tampak dengan jelas
berbagai golongan dan aliran agama yang dianut umat manusia. Pada urutan
pertama disebutkan kaum Yahudi, musyrik, Nasrani; dan pada urutan ketiga
lebih banyak lagi disebutkan, mulai dari kaum Yahudi terus Shabi'in, Nasrani,
Majusi, dan terakhir kaum musyrik. Akhir ayat ketiga Tuhan tutup dengan
suatu pernyataan tegas bahwa Dia akan memberikan keputusan di antara
mereka kelak pada hari kiamat. Seandainya mereka berada pada posisi yang
sama, tentu pernyataan Tuhan yang terakhir itu tidak diperlukan.
83
Jadi berdasarkan pola susunan redaksi ayat dan ditambah pula dengan
pernyataan Tuhan yang tercantum pada akhir ayat ketiga itu, maka dapat
disimpulkan bahwa masing-masing golongan itu mempunyai perbedaan
meskipun sama-sama kufur. Sekiranya mereka mempunyai status yang sama
di sisi Allah, tentu pernyataan tersebut tak akan diberikan, sebagaimana tak
perlu menyebutnya satu persatu melainkan cukup dengan sebutan kafir atau
musyrik saja. Dengan demikian maka kaum Shabiin dan Majusi, misalnya,
tidak dapat digolongkan ke dalam kelompok orang-orang yang musyrik
(ا·ُ آَ ·ْ -َ أ َ .-ِ -´ 'اَ و ) yang disebut Allah bersama dengan dua kelompok itu pada
ayat ketiga tersebut.
Sekarang muncul persoalan berikutnya: jika mereka tidak musyrik
apakah mereka mempunyai nabi dan kitab suci? Memang tidak ada
keterangan yang tegas tentang itu. Tapi Sayyid Muhammad Rasyid Ridha,
cenderung berpendapat bahwa mereka dulunya mempunyai kitab dan nabi.
Namun karena masanya telah terlalu lama dan jarak mereka dari nabi tersebut
sangat jauh, maka kitab aslinya tidak dapat diketahui lagi.
124
Pendapat ini
didasarkannya pada firman Allah berikut:
... ` ﺮﻳ ﺬ ﻧ ﺎ ﻬﻴ ﻓ ﺎﹶ ﻠﺧ ﺎﱠ ﻟﹺ ﺇ ﺔ` ﻣﹸ ﺃ ` ﻦ` ﻣ ﻥﹺ ﺇ ﻭ , ﺮﻃﺎﻓ · 24 .
Artinya: "... Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada pada
mereka seorang pemberi peringatan. " (Fathir: 24)

... ﺩﺎ ﻫ ﹴ ﻡ` ﻮﹶ ﻗ ﱢ ﻞﹸ ﻜ ﻟ ﻭ ` ﺭ ﺬﻨ` ﻣ ﺖﻧﹶ ﺃ ﺎ ﻤ` ﻧﹺ ﺇ , ﺪﻋﺮﻟﺍ · 7 .

124
Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, Kairo: Maktabah al-Qahirah,
cet. Ke-4, 1380 H, juz VI, hlm. 186-187.
84
Artinya: "... Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi
peringatan dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi
petunjuk." (al-Ra'd: 7)

... ` ﺪ ﻣﹶ ﺄﹾ ﻟﺍ ` ﻢﹺ ﻬ` ﻴﹶ ﻠ ﻋ ﹶ ﻝﺎﹶ ﻄﹶ ﻓ ﹸ ﻞ` ﺒﹶ ﻗ ﻦ ﻣ ﺏﺎ ﺘ ﻜﹾ ﻟﺍ ﺍﻮ` ﺗﻭﹸ ﺃ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺎﹶ ﻛ ﺍﻮ` ﻧﻮﹸ ﻜ ﻳ ﻻ ﻭ
ﺳﺎﹶ ﻓ ` ﻢ` ﻬ` ﻨ` ﻣ ` ﲑ ﺜﹶ ﻛ ﻭ ` ﻢ` ﻬ` ﺑﻮﹸ ﻠﹸ ﻗ ` ﺖ ﺴﹶ ﻘﹶ ﻓ ﹶ ﻥﻮﹸ ﻘ , ﺪﻳﺪﳊﺍ · 16 .

Artinya: "... Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang
sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepada mereka,
kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati
mereka menjadi keras, dan kebanyakan di antara mereka,
adalah orang-orang yang fasik." (al-Hadid: 16)

ﻚ` ﻴﹶ ﻠ ﻋ ﺎ ﻨ` ﺼ ﺼﹶ ﻗ ﻦ` ﻣ ﻢ` ﻬ` ﻨ ﻣ ﻚ ﻠ` ﺒﹶ ﻗ ﻦ` ﻣ ﹰ ﻼ` ﺳ` ﺭ ﺎ ﻨﹾ ﻠ ﺳ` ﺭﹶ ﺃ ` ﺪﹶ ﻘﹶ ﻟ ﻭ ,... ﺮﻓﺎﻏ ·
78 .
Artinya: "Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul
sebelum kamu, di antara mereka, ada yang telah Kami
ceritakan kepadamu dan ada pula yang tidak pernah Kami
ceritakan kepadamu ..." (Ghafir: 78)

Andaikata pemahaman Ridha itu benar, maka pengertian syirik
menjadi sangat sempit; tidak seperti pemahaman Ibn 'Umar, bahwa selain
mukmin adalah musyrik; sebagaimana telah dijelaskan. Namun bila dikaitkan
dengan kajian skripsi ini (perkawinan antar agama), maka timbul pertanyaan:
apakah seorang muslim boleh menikahi wanita non muslim selain ahli kitab
yang tidak disebutkan oleh Al-Qur'an dan sebaliknya?
Timbul berbagai pendapat dalam menetapkan kasus tersebut. Hal itu
membuktikan bahwa para ulama tidak mempunyai kata sepakat (ijma') atas
pengertian lafal (َ .-ِ آِ ·ِ -ُ -ْ 'ا ) dan َ ب'َ -ِ ´ْ 'ا ا·ُ -وُ أ َ .-ِ -´ 'اَ. Apakah mencakup semua
mereka yang ingkar kepada Nabi Muhammad atau tidak? Ataukah ayat itu
juga menunjuk kepada pemeluk-pemeluk agama non Islam secara umum?
85
Tidak dijumpai penjelasan yang tegas dalam hal ini. Kondisi inilah yang
membuat munculnya berbagai pendapat di kalangan ulama. Dengan demikian
tidak dapat disalahkan bila ada di antara ulama yang mengatakan bahwa lafal
itu ditujukan kepada kaum musyrik dari bangsa Arab yang menyembah
berhala; kemudian dikiaskan kepadanya para penganut agama (aliran) lain
yang juga tak mempunyai nabi dan kitab suci atau yang semisalnya,
sebagaimana dapat dikiaskan kepada kaum Yahudi dan Nasrani, para pemeluk
agama-agama lain yang tidak diketahui lagi asal-usul kitab suci mereka seperti
para penganut Majusi, dan lain-lain. Qatadah, seorang tokoh mufasir di
kalangan tabi'in sebagai dikutip Ridha, memang berpendapat bahwa yang
dimaksud dengan musyrik di dalam ayat itu ialah bangsa Arab (penyembah
berhala) yang ada pada waktu Al-Qur'an diturunkan.
125

Oleh karena itu, tulis Ridha lagi, ayat: ´ -َ = ِ ت'َ آِ ·ْ -ُ -ْ 'ا ْا·ُ =ِ ´-َ - َ `َ و
´ .ِ -ْ·ُ -tidak tegas melarang menikahi wanita-wanita musyrik selain bangsa Arab
seperti Cina (penganut Kong Hu Cu, Budha, dan lain-lain).
126
Asbab (latar
belakang) turun ayat 221 dari al-Baqarah memang berkenaan dengan wanita
musyrik bukan ahli kitab, yang hendak kawin dengan seorang pria muslim,
Abu Martsad al-Ghanawi; lalu turunlah ayat tersebut melarangnya.
Jika "khusus sebab" itu saja yang dijadikan dasar dalam menetapkan
suatu hukum, maka memang masuk akal bahwa yang diharamkan Tuhan
mengawininya adalah wanita-wanita musyrik di kalangan bangsa Arab saja

125
Ibid., hlm. 190
126
Ibid.,
86
ketika Al-Qur'an diturunkan. Itu berarti, sekarang tidak haram lagi menikahi
wanita-wanita musyrik. Agaknya pemahaman serupa ini terlalu longgar.
Apabila umat Islam menganut sikap ini, maka budaya permissive
(serba boleh) yang diterapkan di Barat akan melanda kehidupan Timur (Islam)
yang tenang dan damai. Akibatnya akan menimbulkan kerancuan tatanan
sosial dan kerawanan di tengah masyarakat. Dampak semua ini dapat
menghancurkan masa depan umat Islam itu sendiri.
Untuk mengantisipasi pemahaman yang demikian, maka dalam
menafsirkan suatu ayat berbagai disiplin ilmu perlu diperhatikan. Di samping
menguasai bahasa Arab, kaidah-kaidah, dan balaghah serta aspek-aspek yang
berhubungan dengannya, seorang mufasir diharuskan pula menguasai ilmu
ushul fikih dan kaidah-kaidah yang berkaitan dengannya, Dalam kajian di sini,
misalnya, kaidah: -ّ --'ا ص·-=-` =-''ا م·-·- ة·-·'ا
Artinya: Yang menjadi ukuran ialah umum lafal, bukan khusus sebab.
Kalau kaidah ini diterapkan terhadap ayat 221 maka konotasi kata
syirik menjadi amat luas, sehingga masuklah ke dalamnya penganut agama
(aliran) Majusi, penyembah berhala, penganut animisme, Budhisme,
Hinduisme, Shintoisme, dan sebagainya. Apakah para pemeluk agama atau
aliran itu dianggap musyrik sehingga terlarang bagi pria muslim, mengikat
perkawinan dengan wanita-wanita mereka?
Sebagian ulama seperti Ridha, sebagaimana telah disebut, memang
menganggap mereka masuk golongan ahli kitab. Namun generasi salaf dan
pada umumnya ulama menyatakan mereka bukan ahli kitab karena tak ada
87
ketegasan dari Al-Qur'an tentang hal itu; sementara kaum Yahudi dan Nasrani
dengan tegas dinyatakan Allah sebagai ahli kitab seperti dijumpai di dalam
berbagai ayat Al-Qur'an mereka disebut dengan panggilan "ahli kitab".
Berdasarkan pendapat ulama salaf dan jumhur itu, maka Ibrahim
Husen menyatakan bahwa pemeluk agama non Islam seperti Hindu, Budha,
Kong Hu Cu, Shinto, dan Aliran Kepercayaan di Indonesia, sama statusnya
dengan Majusi. "Dus menikahi wanita-wanita mereka [bagi pria muslim]
adalah hal terlarang". Untuk mendukung pendapatnya itu, Ibrahim Husen
mengutip isi surat Rasul Allah kepada orang-orang Majusi. Antara lain
berbunyi: "Jika kamu menolak, kamu diwajibkan membayar fidyah dan
tidaklah halal bagi kami sembelihanmu, dan menikahi wanita-wanitamu." Di
dalam surat ini mereka tidak disebut 'ahli kitab'; padahal suratnya kepada
Kisra Rumawi, memanggilnya dengan sebutan 'ahli kitab'.
Di samping berbagai pendapat itu, ada pendapat lain dari ulama
Syafi'iyah yang menegaskan bahwa wanita-wanita ahli kitab yang halal
dinikahi itu ialah keturunan dari nenek moyang mereka yang memeluk agama
tersebut sebelum Muhammad saw ada/diutus. Tegasnya mereka yang
memeluknya setelah itu tidak halal lagi karena bukan ahli kitab sebagaimana
yang dimaksud oleh ayat dari al-Maidah itu.
Apabila pendapat ini diikuti, maka mereka yang masuk agama Kristen
atau Yahudi setelah Nabi Muhammad saw diutus tidak halal mengawininya.
Ibrahim Husen dengan tegas menganut pendapat ini karena konotasi kata
ُ ت'َ -َ -ْ =ُ -ْ 'ا di dalam ayat ke-5 dari al-Maidah itu, menurutnya dibatasi ruang
88
lingkupnya oleh lafal ْ»ُ ´ِ 'ْ -َ · .ِ - yang terletak sesudahnya. Jadi yang dimaksud
dengan wanita kitabiyah, tegasnya, ialah yang beragama dengan agama nenek
moyangnya sejak sebelum Nabi saw diutus.
Semua uraian di atas khusus menyangkut perkawinan lelaki muslim
dengan wanita non Islam, tidak sebaliknya. Ada pendapat yang melarangnya
sama sekali seperti yang dianut oleh Ibn 'Umar; ada yang membolehkannya
dengan syarat: sang suami tidak dikhawatirkan akan terpengaruh oleh istrinya
yang bukan Islam itu kelak; ini difatwakan oleh Mahmud Syaltut dalam kitab
al-Fatawa. Selain itu ada pendapat keempat yang dimajukan oleh ulama
Syafi'iyah. Mereka membolehkan menikahi wanita khitabiyah yang
merupakan anak cucu dari pemeluk agama ahli kitab sebelum Nabi
Muhammad saw diutus. Sebaliknya mengharamkan nikah dengan wanita yang
menjadi ahli kitab setelah kebangkitan tersebut.
Terjadi perbedaan pendapat sebagaimana dijelaskan itu, pada dasarnya
bermula dari berbedanya prinsip yang mereka anut dalam menetapkan batasan
'musyrik' dan 'ahli kitab'. Perkawinan yang dilarang Allah ialah dengan orang
musyrik; baik laki-laki, maupun perempuan. Sedangkan menikahi wanita ahli
kitab dibolehkan-Nya. Jadi para pemeluk agama non Islam yang dianggap
tidak masuk kategori ahli kitab maka haram nikah dengan wanita-wanita
mereka karena dianggap musyrik; sebaliknya, jika ahli kitab dikategorikan
sebagai musyrik, maka haram pula menikahi wanita-wanita mereka,
sebagaimana telah dijelaskan di muka.
89
Jika mayoritas ulama membolehkan pria muslim menikahi wanita ahli
kitab, maka dalam kasus wanita muslim dinikahi oleh pria non Islam, mereka
sepakat mengharamkannya. Di dalam ayat 5 dari al-Maidah di atas, kata
mereka, Allah hanya menegaskan: "makananmu halal bagi mereka, dan tidak
dikatakan-Nya wanita-wanitamu halal bagi mereka. Perbedaan redaksi ini,
kata al-Shabuni, dapat dijadikan indikator bahwa hukum kedua kasus ini tidak
sama; artinya, dalam masalah makanan, mereka boleh saling memberi dan
menerima, serta masing-masing boleh memakan makanan pihak lain; tidak
demikian halnya dengan kasus perkawinan karena jika memang dibolehkan
menikahkan wanita-wanita Islam dengan pria non Islam, niscaya Allah tidak
akan mendiamkannya begitu saja sebab persoalan 'kawin' jauh lebih urgen
ketimbang masalah 'makan'. Dampak perkawinan akan merambat tidak hanya
pada generasi sekarang, melainkan akan berlanjut pada generasi selanjutnya.
Sebaliknya makanan tidak memberikan dampak yang seluas itu. Permasalahan
makanan yang tidak begitu besar sengaja Tuhan sebutkan secara tegas, tentu
seyogyanya, masalah perkawinan lebih pantas diterangkan secara tegas dan
jelas, sehingga tidak menimbulkan kerancuan dalam pemahaman. Tapi
ternyata Allah tidak memberikan penegasan. Oleh karena itu dalam kasus
serupa ini dapat diberlakukan kaidah ushul fikih yang berbunyi:
ن'--ْ 'ا ·ه ن'--'ا .= ت·´ّ -'ا
Artinya: Diam dari memberi keterangan adalah suatu keterangan.
Dengan demikian, maka jika diterima bahwa ayat 221 dari al-Baqarah
itu dinasikhkan oleh ayat 5 dari al-Maidah, maka yang dinasikhkan itu ialah
kata "musyrikah'" tidak "musyrik" karena yang disebut terakhir itu tidak
90
tercantum di dalam al-Maidah: 5 sebagaimana dinukilkan di atas. Berdasarkan
kenyataan itu, maka dapat disimpulkan bahwa wanita-wanita Islam selamanya
tidak dikawinkan dengan pria bukan Islam sesuai dengan penegasan ayat dari
al-Baqarah yang telah dikutip di atas.
Al-Maraghi dalam mengomentari ayat ini berkata, bahwa menikahkan
wanita Islam dengan laki-laki non muslim adalah: haram, berdasarkan Sunnah
(hadis) Nabi dan Ijma' umat. Rahasia pelarangan ini, tulisnya lagi, ialah
karena istri tak punya wewenang seperti yang dimiliki oleh suami. Oleh
karena itu tak ada artinya ia dikawinkan dengan non muslim, bahkan
sebaliknya, keyakinan istri dapat rusak oleh wibawa suaminya, dan tidak
mustahil pula seorang suami yang sangat fanatik akan selalu berusaha agar
istrinya menukar iman dengan keyakinan suami.
127
Kekhawatiran al-Maraghi
itu memang cukup beralasan, terutama bila dikaitkan dengan firman Allah
berikut:
... ﺔ` ﻨ ﺠﹾ ﻟﺍ ﻰﹶ ﻟﹺ ﺇ ﻮ` ﻋ` ﺪ ﻳ ` ﻪﹼ ﻠﻟﺍ ﻭ ﹺ ﺭﺎ` ﻨﻟﺍ ﻰﹶ ﻟﹺ ﺇ ﹶ ﻥﻮ` ﻋ` ﺪ ﻳ ﻚ ﺌـﹶ ﻟ` ﻭﹸ ﺃ
ﺓ ﺮ ﻔ` ﻐ ﻤﹾ ﻟﺍ ﻭ ... . , ﺓﺮﻘﺒﻟﺍ · 221 .
Artinya: Mereka itu (orang kafir) mengajak ke neraka, sedangkan
Allah mengajak ke surga dan keampunan.

Kekalutan di rumah tangga akan semakin mencekam, bila masing-masing
pihak (suami istri) ingin saling mempengaruhi dan sama-sama berusaha
menanamkan keyakinan kepada anak-anaknya. Bila hal ini terjadi jelas
keretakan rumah tangga tak dapat dihindarkan, suasana "surgawi" segera

127
Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir al-Maragi, Mesir: Mustafa Al-Babi Al-Halabi,
1394 H/1974 M, juz 2, hlm. 153
91
berganti dengan gejolak api pertengkaran dan permusuhan, dan pada
gilirannya mengantarkan rumah tangga itu kepada kehancuran. Tidak hanya
itu, anak-anak yang lahir dari perkawinan itu, akan digerogoti terus-menerus
oleh kebimbangan, kerancuan pemikiran mengenai keyakinan agama, karena
tak tertanam secara mendalam di hatinya sejak kecil. Keyakinan semacam
inilah yang menjadi lahan yang subur bagi paham syirik, anti Tuhan, dan
sebagainya.
Kembali pada persoalan ahli kitab, Imam Abu Hanifah dan mayoritas ulama
fikih berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ahlul kitab adalah siapa saja
yang mempercayai seorang nabi atau kitab yang pernah diturunkan Allah
SWT. Berdasarkan kriteria ini berarti apabila ada orang yang percaya kepada
Nabi Ibrahim AS dengan suhufnya, atau kepada Nabi Daud AS dengan Kitab
Zabur-nya, maka orang tersebut adalah tergolong ahlul kitab dan wanitanya
boleh dikawini. Sebagian kecil ulama salaf berpendapat bahwa setiap umat
yang memiliki kitab yang dapat diduga sebagai suci (samawi), seperti orang
Majusi, penyembah berhala di India, Cina, dan sebagainya, termasuk sebagai
ahlul kitab. Bahkan menurut Abu al-A'la al-Maududi, cakupan ahlul kitab
diperluas lagi oleh ulama fikih kontemporer sehingga menjangkau agama
Budha dan Hindu.
Muhammad Quraish Shihab, ahli tafsir kontemporer dari Indonesia, lebih
cenderung berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ahlul kitab adalah
semua penganut agama Yahudi dan Nasrani, kapanpun, di mana pun, dan
92
keturunan siapa pun mereka. Pendapatnya ini didasarkan kepada firman Allah
SWT dalam surah al-An 'am (6) ayat 156:
ﻦ ﻣ ﹺ ﻦ` ﻴ ﺘﹶ ﻔ ﺋﺂﹶ ﻃ ﻰﹶ ﻠ ﻋ ` ﺏﺎ ﺘ ﻜﹾ ﻟﺍ ﹶ ﻝﹺ ﺰﻧﹸ ﺃ ﺎ ﻤ` ﻧﹺ ﺇ ﹾ ﺍﻮﹸ ﻟﻮﹸ ﻘ ﺗ ﻥﹶ ﺃ ﻦ ﻋ ﺎ` ﻨﹸ ﻛ ﻥﹺ ﺇ ﻭ ﺎ ﻨ ﻠ` ﺒﹶ ﻗ
ﲔ ﻠ ﻓﺎ ﻐﹶ ﻟ ` ﻢﹺ ﻬ ﺘ ﺳﺍ ﺭ ﺩ , ﻡﺎﻌﻧﻷﺍ · 156 .
Artinya: (Kami turunkan Al-Qur'an itu) agar kamu (tidak)
mengatakan: Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua
golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak
memperhatikan apa yang mereka baca. (Q.S. al-An'am: 156)

Majlis Ulama Indonesia (MU1) pada tahun 1980 mengeluarkan fatwa bahwa
seorang wanita beragama Islam tidak boleh (haram) dinikahkan dengan pria
yang bukan beragama Islam; dan tidak diizinkan laki-laki beragama Islam
mengawini perempuan yang bukan beragama Islam. Alasan yang diajukan
antara lain firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah (2) ayat 221; surah al-
Ma'idah (5) ayat 5; surah at-Tahrim (66) ayat 6. Adapun pertimbangan fatwa
melarang laki-laki beragama Islam mengawini perempuan ahlul kitab yang
oleh Al-Qur'an secara tegas dibolehkan-adalah karena dampak negatifnya
lebih besar dari dampak positifnya.
Setelah mengkaji beberapa ayat Al-Qur'an, sebagaimana dikutip di
muka, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Haram mengikat perkawinan antara muslim dengan musyrik baik laki-laki
maupun perempuan.
2. Pada umumnya ulama membolehkan pria muslim menikahi wanita ahli
kitab, tidak sebaliknya.
93
Untuk menjelaskan silsilah Bani Israil dalam konteksnya dengan
makna ahli kitab, maka di sini penulis hendak memperjelasnya bahwa
Ahli kitab adalah orang-orang yang berasal dari pemeluk agama Musa
dan Isa As., serta pembawa kitab samawi baik Taurat atau Injil. Pertama
adalah orang-orang Yahudi dan terakhir orang-orang Nasrani. Setelah Nabi
Musa di utus kepada kaum Yahudi datanglah Nabi Isa membawa Injil kepada
mereka untuk meluruskan penyelewengan yang mereka perbuat dan
menunjukkan kepada jalan yang lurus namun mereka tidak memenuhi
panggilan itu, tidak mendengar ajakan dan nasehat serta peringatan beliau,
bahkan mereka menolak dan terus dalam kesesatan mereka, bahkan
menampakkan permusuhan secara terang-terangan serta menghalang-halangi
setiap orang yang teguh di atas jalan Allah. Mereka menebarkan ancaman dan
memasang perangkap untuk melunturkan istiqamah di atas kebenaran dan
tidak segan-segan membuat kedustaan dan tuduhan palsu kepada Nabi Isa
bahkan di antara mereka ada yang melakukan percobaan pembunuhan, namun
Allah menyelamatkan beliau dari maksud jahat mereka.
Allah menyelamatkan Nabi Isa dengan cara yang penuh muatan
mu'jizat dan sangat rapi serta rahasia agar mereka kesulitan menemukan
keberadaan beliau hingga selamat dari niat buruk mereka. Namun kerahasiaan
dan kesamaran itu justru membuka peluang bagi orang-orang Yahudi untuk
membuat cerita palsu dan berita bohong serta mengaburkan kebenaran dalam
rangka menyesatkan manusia dari jalan kebenaran.
94
Misteri itu tetap dibuat komoditi utama bagi para pendusta dan
pemalsu untuk menebarkan kesesatan kepada orang-orang yang lemah jiwa
dan akalnya serta dangkal ilmu pengetahuan dan hujjahnya hingga Allah
mengutus Nabi Muhammad Saw dengan membawa wahyu al-Qur'an yang
mampu menyingkap misteri dan membongkar kepalsuan dan kedustaan
Yahudi terhadap Nabi Isa As.
Allah Swt berfirman:
ﹸ ﻟﹶ ﺄ` ﺴ ﻳ ﹾ ﺍﻮﹸ ﻟﹶ ﺄ ﺳ ` ﺪﹶ ﻘﹶ ﻓ ِ ﺀﺎ ﻤ` ﺴﻟﺍ ﻦ` ﻣ ﹰ ﺎﺑﺎ ﺘ ﻛ ` ﻢﹺ ﻬ` ﻴﹶ ﻠﻋ ﹶ ﻝ` ﺰ ﻨ` ﺗ ﻥﹶ ﺃ ﹺ ﺏﺎ ﺘ ﻜﹾ ﻟﺍ ﹸ ﻞ` ﻫﹶ ﺃ ﻚ
ﹸ ﺔﹶ ﻘ ﻋﺎ` ﺼﻟﺍ ` ﻢ` ﻬ` ﺗﹶ ﺬ ﺧﹶ ﺄﹶ ﻓ ﹰ ﺓ ﺮ` ﻬ ﺟ ﻪﹼ ﻠﻟﺍ ﺎ ﻧﹺ ﺭﹶ ﺃ ﹾ ﺍﻮﹸ ﻟﺎﹶ ﻘﹶ ﻓ ﻚ ﻟﹶ ﺫ ﻦ ﻣ ﺮ ﺒﹾ ﻛﹶ ﺃ ﻰ ﺳﻮ` ﻣ
ﻨ` ﻴ ﺒﹾ ﻟﺍ ` ﻢ` ﻬ` ﺗﺀﺎ ﺟ ﺎ ﻣ ﺪ` ﻌ ﺑ ﻦ ﻣ ﹶ ﻞ` ﺠ ﻌﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻭﹸ ﺬ ﺨ` ﺗﺍ ` ﻢﹸ ﺛ ` ﻢﹺ ﻬ ﻤﹾ ﻠﹸ ﻈﹺ ﺑ ﻦ ﻋ ﺎ ﻧ` ﻮﹶ ﻔ ﻌﹶ ﻓ ` ﺕﺎ
ﹰ ﺎﻨﻴﹺ ﺒ' ﻣ ﹰ ﺎﻧﺎﹶ ﻄﹾ ﻠ` ﺳ ﻰ ﺳﻮ` ﻣ ﺎ ﻨ` ﻴ ﺗﺁ ﻭ ﻚ ﻟﹶ ﺫ ¦ 153 ¦ ﺭﻮﱡ ﻄﻟﺍ ` ﻢ` ﻬﹶ ﻗ` ﻮﹶ ﻓ ﺎ ﻨ` ﻌﹶ ﻓ ﺭ ﻭ
ﻲ ﻓ ﹾ ﺍﻭ` ﺪ` ﻌ ﺗ ﹶ ﻻ ` ﻢ` ﻬﹶ ﻟ ﺎ ﻨﹾ ﻠﹸ ﻗ ﻭ ﹰ ﺍﺪ` ﺠ` ﺳ ﺏﺎ ﺒﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮﹸ ﻠ` ﺧ` ﺩﺍ ` ﻢ` ﻬﹶ ﻟ ﺎ ﻨﹾ ﻠﹸ ﻗ ﻭ ` ﻢﹺ ﻬ ﻗﺎﹶ ﺜﻴ ﻤﹺ ﺑ
ﹰ ﺎﻈﻴ ﻠﹶ ﻏ ﹰ ﺎﻗﺎﹶ ﺜﻴ` ﻣ ﻢ` ﻬ` ﻨ ﻣ ﺎ ﻧﹾ ﺬ ﺧﹶ ﺃ ﻭ ﺖ` ﺒ` ﺴﻟﺍ ¦ 154 ¦ ` ﻢ` ﻬﹶ ﻗﺎﹶ ﺜﻴ` ﻣ ﻢﹺ ﻬ ﻀﹾ ﻘ ﻧ ﺎ ﻤﹺ ﺒﹶ ﻓ
` ﻒﹾ ﻠﹸ ﻏ ﺎ ﻨ` ﺑﻮﹸ ﻠﹸ ﻗ ` ﻢﹺ ﻬ ﻟ` ﻮﹶ ﻗ ﻭ ' ﻖ ﺣ ﹺ ﺮ` ﻴ ﻐﹺ ﺑ َ ﺀﺎ ﻴﹺ ﺒ` ﻧَ ﻷﺍ ` ﻢﹺ ﻬ ﻠ` ﺘﹶ ﻗ ﻭ ﻪﹼ ﻠﻟﺍ ﺕﺎ ﻳﺂ ﺑ ﻢ ﻫﹺ ﺮﹾ ﻔﹸ ﻛ ﻭ
ﹰ ﻼﻴ ﻠﹶ ﻗ ﱠ ﻻﹺ ﺇ ﹶ ﻥﻮ` ﻨ ﻣ` ﺆ` ﻳ ﹶ ﻼﹶ ﻓ ` ﻢ ﻫﹺ ﺮﹾ ﻔﹸ ﻜﹺ ﺑ ﺎ ﻬ` ﻴﹶ ﻠ ﻋ ` ﻪﹼ ﻠﻟﺍ ﻊ ﺒﹶ ﻃ ﹾ ﻞ ﺑ ¦ 155 ¦
ﻳ` ﺮ ﻣ ﻰﹶ ﻠ ﻋ ` ﻢﹺ ﻬ ﻟ` ﻮﹶ ﻗ ﻭ ` ﻢ ﻫﹺ ﺮﹾ ﻔﹸ ﻜﹺ ﺑ ﻭ ﹰ ﺎﻤﻴ ﻈ ﻋ ﹰ ﺎﻧﺎ ﺘ` ﻬ` ﺑ ﻢ ¦ 156 ¦ ﺎ` ﻧﹺ ﺇ ` ﻢﹺ ﻬ ﻟ` ﻮﹶ ﻗ ﻭ
` ﻩﻮ` ﺒﹶ ﻠ ﺻ ﺎ ﻣ ﻭ ` ﻩﻮﹸ ﻠ ﺘﹶ ﻗ ﺎ ﻣ ﻭ ﻪﹼ ﻠﻟﺍ ﹶ ﻝﻮ` ﺳ ﺭ ﻢﻳ` ﺮ ﻣ ﻦ` ﺑﺍ ﻰ ﺴﻴ ﻋ ﺢﻴِ ﺴ ﻤﹾ ﻟﺍ ﺎ ﻨﹾ ﻠ ﺘﹶ ﻗ
ﻪﹺ ﺑ ﻢ` ﻬﹶ ﻟ ﺎ ﻣ ` ﻪ` ﻨ` ﻣ ´ ﻚ ﺷ ﻲ ﻔﹶ ﻟ ﻪﻴ ﻓ ﹾ ﺍﻮﹸ ﻔﹶ ﻠ ﺘ` ﺧﺍ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﱠ ﻥﹺ ﺇ ﻭ ` ﻢ` ﻬﹶ ﻟ ﻪ` ﺒ` ﺷ ﻦ ﻜـﹶ ﻟ ﻭ
ﺍ ﱠ ﻻﹺ ﺇ ﹴ ﻢﹾ ﻠ ﻋ ` ﻦ ﻣ ﹰ ﺎﻨﻴ ﻘ ﻳ ` ﻩﻮﹸ ﻠ ﺘﹶ ﻗ ﺎ ﻣ ﻭ ` ﻦﱠ ﻈﻟﺍ ﻉﺎ ﺒ` ﺗ ¦ 157 ¦ ﻪ` ﻴﹶ ﻟﹺ ﺇ ` ﻪﹼ ﻠﻟﺍ ` ﻪ ﻌﹶ ﻓ` ﺭ ﻞ ﺑ
ﹰ ﺎﻤﻴ ﻜ ﺣ ﹰ ﺍﺰﻳﹺ ﺰ ﻋ ` ﻪﹼ ﻠﻟﺍ ﹶ ﻥﺎﹶ ﻛ ﻭ ¦ 158 ¦
Artinya: Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan
kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka
sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang
lebih besar dari itu. Mereka berkata : "Perlihatkanlah Allah
95
kepada kami dengan nyata". Maka mereka disambar petir
karena kezalimannya, dan mereka menyembah anak sapi ,
sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu
Kami ma'afkan dari yang demikian. Dan telah Kami berikan
kepada Musa keterangan yang nyata. Dan telah Kami angkat
ke atas mereka bukit Thursina untuk perjanjian mereka.
Dan kami perintahkan kepada mereka : "Masuklah pintu
gerbang itu sambil bersujud ", dan Kami perintahkan
kepada mereka : "Janganlah kamu melanggar peraturan
mengenai hari Sabtu ", dan Kami telah mengambil dari
mereka perjanjian yang kokoh. Maka , disebabkan mereka
melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka
terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka
membunuh nabi-nabi tanpa yang benar dan mengatakan :
"Hati kami tertutup." Bahkan, sebenarnya Allah telah
mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu
mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka.
Dan karena kekafiran mereka dan tuduhan mereka terhadap
Maryam dengan kedustaan besar , dan karena ucapan
mereka : "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih,
'Isa putra Maryam, Rasul Allah ", padahal mereka tidak
membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi orang yang
diserupakan dengan 'Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-
orang yang berselisih paham tentang 'Isa, benar-benar dalam
keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak
mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu,
kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak yakin
bahwa yang mereka bunuh itu adalah 'Isa. Tetapi , Allah
telah mengangkat 'Isa kepada-Nya . Dan adalah Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS an-Nisa ayat 153 – 158).


Meskipun telah banyak orang yang mendapat petunjuk dan kembali
kepada kebenaran namun ada sebagian kecil orang yang terus menjalani
kesesatan dan kebimbangan aqidah hingga terjerumus ke dalam kesyirikan
dan penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya, mereka membuat kepalsuan
dengan menganggap bahwa Nabi Isa disalib dan berstatus menjadi anak Allah.
Menurut anggapan mereka, setelah Nabi Isa disalib kemudian dikubur lalu
diangkat ke atas langit. Apa pun yang terjadi, mereka tetap dianggap sebagai
96
pemegang kitab samawi dan masih ada sisa-sisa ajaran dan nasehat samawi
seperti iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari Akhir,
takdir, kebangkitan, hisab, surga dan neraka serta perkara-perkara ghaib yang
dibawa oleh para rasul.
Dalam konteksnya dengan perkawinan antara agama, bahwa tidak ada
hadis yang secara eksplisit menegaskan tentang masalah itu, yang ada adalah
beberapa hadis yang secara implisit menunjuk ke arah itu. Hadis yang
dimaksud di antaranya:

` ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﻰﱠ ﻠ ﺻ ` ﻲﹺ ﺒ` ﻨﻟﺍ ﹺ ﻦ ﻋ ﻪ` ﻨ ﻋ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﻲ ﺿ ﺭ ﹶ ﺓ ﺮ` ﻳ ﺮ` ﻫ ﻲﹺ ﺑﹶ ﺃ ` ﻦ ﻋ ﹶ ﻝﺎﹶ ﻗ ﻢﱠ ﻠ ﺳ ﻭ ﻪ` ﻴﹶ ﻠ ﻋ
ﹶ ﻜ` ﻨ` ﺗ ﺕﺍﹶ ﺬﹺ ﺑ ` ﺮﹶ ﻔﹾ ﻇﺎﹶ ﻓ ﺎ ﻬﹺ ﻨﻳ ﺪ ﻟ ﻭ ﺎ ﻬ ﻟﺎ ﻤ ﺟ ﻭ ﺎ ﻬﹺ ﺒﺴ ﺤ ﻟ ﻭ ﺎ ﻬ ﻟﺎ ﻤ ﻟ ﹴ ﻊ ﺑ` ﺭﹶ ﺄ ﻟ ﹸ ﺓﹶ ﺃ` ﺮ ﻤﹾ ﻟﺍ ` ﺢ
ﻙﺍ ﺪ ﻳ ` ﺖ ﺑﹺ ﺮ ﺗ ﹺ ﻦﻳ` ﺪﻟﺍ , ﻯﺭﺎﺨﺒﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ .
128


Artinya: Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw. bersabda: "Wanita
dikawini karena empat hal: karena harta-bendanya, karena
status sosialnya, karena keindahan, wajahnya, dan karena
ketaatannya kepada agama. Pilihlah wanita yang taat kepada
agama, maka kamu akan berbahagia (H.R. al-Bukhari).

ﺎ ﺟ ﻲﹺ ﻧ ﺮ ﺒ` ﺧﹶ ﺃ ٍ ﺀﺎﹶ ﻄ ﻋ ` ﻦ ﻋ ﹶ ﻥﺎ ﻤ` ﻴﹶ ﻠ` ﺳ ﻲﹺ ﺑﹶ ﺃ ` ﻦ` ﺑ ﻚ ﻠ ﻤﹾ ﻟﺍ ` ﺪ` ﺒ ﻋ ﺎ ﻨﹶ ﺛ` ﺪ ﺣ ﺪ` ﺒ ﻋ ` ﻦ` ﺑ ` ﺮﹺ ﺑ
ﻢﱠ ﻠ ﺳ ﻭ ﻪ` ﻴﹶ ﻠ ﻋ ` ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﻰﱠ ﻠ ﺻ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﹺ ﻝﻮ` ﺳ ﺭ ﺪ` ﻬ ﻋ ﻲ ﻓ ﹰ ﺓﹶ ﺃ ﺮ` ﻣﺍ ` ﺖ` ﺟ` ﻭ ﺰ ﺗ ﹶ ﻝﺎﹶ ﻗ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ
` ﻢ ﻌ ﻧ ` ﺖﹾ ﻠﹸ ﻗ ﺖ` ﺟ` ﻭ ﺰ ﺗ ` ﺮﹺ ﺑﺎ ﺟ ﺎ ﻳ ﹶ ﻝﺎﹶ ﻘﹶ ﻓ ﻢﱠ ﻠﺳ ﻭ ﻪ` ﻴﹶ ﻠ ﻋ ` ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﻰﱠ ﻠ ﺻ ` ﻲﹺ ﺒ` ﻨﻟﺍ ` ﺖﻴ ﻘﹶ ﻠﹶ ﻓ
` ﺐ` ﻴﹶ ﺛ ` ﺖﹾ ﻠﹸ ﻗ ` ﺐ` ﻴﹶ ﺛ ` ﻡﹶ ﺃ ` ﺮﹾ ﻜﹺ ﺑ ﹶ ﻝﺎﹶ ﻗ ﹶ ﻝﻮ` ﺳ ﺭ ﺎ ﻳ ` ﺖﹾ ﻠﹸ ﻗ ﺎ ﻬ` ﺒ ﻋﺎﹶ ﻠ` ﺗ ﺍ ﺮﹾ ﻜﹺ ﺑ ﺎﱠ ﻠ ﻬﹶ ﻓ ﹶ ﻝﺎﹶ ﻗ
ﹾ ﻥﹶ ﺫﹺ ﺇ ﻙﺍﹶ ﺬﹶ ﻓ ﹶ ﻝﺎﹶ ﻗ ` ﻦ` ﻬ ﻨ` ﻴ ﺑ ﻭ ﻲﹺ ﻨ` ﻴ ﺑ ﹶ ﻞ` ﺧ` ﺪ ﺗ ﹾ ﻥﹶ ﺃ ` ﺖﻴ ﺸ ﺨﹶ ﻓ ﺕﺍ ﻮ ﺧﹶ ﺃ ﻲ ﻟ ﱠ ﻥﹺ ﺇ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ

128
Al-Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn al-Mugirah ibn Bardizbah al-
Bukhari, Sahih al-Bukhari, Juz. 3, Beirut: Dar al-Fikr, 1410 H/1990 M, hlm. 256
97
ﹺ ﻦﻳّ ﺪﻟﺍ ﺕﺍﹶ ﺬﹺ ﺑ ﻚ` ﻴﹶ ﻠ ﻌﹶ ﻓ ﺎ ﻬ ﻟﺎ ﻤ ﺟ ﻭ ﺎ ﻬ ﻟﺎ ﻣﻭ ﺎ ﻬﹺ ﻨﻳ ﺩ ﻰﹶ ﻠ ﻋ ` ﺢﹶ ﻜ` ﻨ` ﺗ ﹶ ﺓﹶ ﺃ` ﺮ ﻤﹾ ﻟﺍ ﱠ ﻥﹺ ﺇ
ﺪ ﻳ ` ﺖ ﺑﹺ ﺮ ﺗ ﻙﺍ , ﻢﻠﺴﻣ ﻩﺍﻭﺭ .
129


Artinya: Telah mengabarkan kepada kami dari Abdul Malik bin Abiu
Sulaiman dari Atha': "Jabir bin Abdullah bercerita kepadaku;
"Pada zaman Rasulallah Saw. aku menikahi seorang wanita.
Suatu hari ketika bertemu dengan nabi Saw. beliau bertanya
kepadaku: "Wahai Jabir, kamu sudah menikah?" Aku
menjawab: "Benar." Beliau bertanya: ."Gadis atau janda?"
Aku menjawab: "Janda". Beliau bertanya: "Kenapa tidak
kamu cari saja yang gadis supaya kamu bisa bermain
dengannya?" Aku mencoba menjelaskan: "Wahai
Rasulallah, sesungguhnya aku ini memiliki beberapa orang
saudara perempuan. Aku "merasa khawatir ia mengganggu
hubunganku dengan saudara-saudara perempuanku itu
Rasulallah Saw. bersabda: "Baiklah kalau begitu.
Sesungguhnya wanita itu dinikahi karena agamanya,
hartanya, dan kecantikannya. Tetapi carilah wanita yang
punya agama, niscaya kamu akan bahagia." (HR. Muslim).


` ﺪ` ﺒ ﻋ ﺎ ﻨﹶ ﺛ` ﺪ ﺣ ' ﻲﹺ ﻧﺍ ﺪ` ﻤ ﻬﹾ ﻟﺍ ﹴ ﺮ` ﻴ ﻤ` ﻧ ﹺ ﻦ` ﺑ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﺪ` ﺒ ﻋ ` ﻦ` ﺑ ` ﺪ` ﻤ ﺤ` ﻣ ﻲﹺ ﻨﹶ ﺛ` ﺪ ﺣ ` ﻦ` ﺑ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ
ﺪ` ﺒ ﻋ ﺎ ﺑﹶ ﺃ ﻊ ﻤ ﺳ ` ﻪ` ﻧﹶ ﺃ ﻚﻳﹺ ﺮ ﺷ ` ﻦ` ﺑ ﹸ ﻞﻴﹺ ﺒ` ﺣ ﺮ`ﺷ ﻲﹺ ﻧ ﺮ ﺒ` ﺧﹶ ﺃ ﹸ ﺓ ﻮ` ﻴ ﺣ ﺎ ﻨﹶ ﺛ` ﺪ ﺣ ﺪﻳﹺ ﺰ ﻳ
ﻰﱠ ﻠ ﺻ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﹶ ﻝﻮ` ﺳ ﺭ ﱠ ﻥﹶ ﺃ ﻭﹴ ﺮ` ﻤ ﻋ ﹺ ﻦ` ﺑ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﺪ` ﺒ ﻋ ` ﻦ ﻋ ﹸ ﺙ` ﺪ ﺤ` ﻳ ` ﻲ ﻠ` ﺒ` ﺤﹾ ﻟﺍ ﹺ ﻦ ﻤ` ﺣ` ﺮﻟﺍ
` ﻉﺎ ﺘ ﻣ ﺎ ﻴ` ﻧ' ﺪﻟﺍ ﹶ ﻝﺎﹶ ﻗ ﻢﱠ ﻠ ﺳ ﻭ ﻪ` ﻴﹶ ﻠ ﻋ ` ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﹸ ﺔ ﺤ ﻟﺎ` ﺼﻟﺍ ﹸ ﺓﹶ ﺃ` ﺮ ﻤﹾ ﻟﺍ ﺎ ﻴ` ﻧ' ﺪﻟﺍ ﹺ ﻉﺎ ﺘ ﻣ ` ﺮ` ﻴ ﺧ ﻭ
, ﻢﻠﺴﻣ ﻩﺍﻭﺭ .
130


Artinya: Telah mengabarkan kepadaku dari Muhammad bin Abdullah
bin Numair al-Hamdani dari Abdullah bin Yazid dari
Haiwatun dari Syurajil bin Syarik sesungguhnya dia
mendengar Abu Abdurrahman al-Khubuli dapat kabar dari
Abdullah bin Umar; sesungguhnya Rasulallah Saw.
bersabda: "Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya
perhiasan dunia ialah wanita yang saleh

129
Al-Imam Abul Husain Muslim ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Sahih
Muslim, Juz. 2, Mesir: Tijariah Kubra, tth., hlm. 175.
130
Ibid., hlm. 178.
98
D. Metode Istinbath Hukum Al-Syafi'i tentang Perkawinan Antar Agama

Posisi "tengah" Al-Syafi’i terlihat dalam dasar-dasar mazhabnya.
Dalam buku metodologisnya, al-Risalah, ia menjelaskan kerangka dan dasar-
dasar mazhabnya dan beberapa contoh bagaimana merumuskan hukum-
hukum far'iyyah dengan menggunakan dasar-dasar tadi. Baginya, Al-Qur'an
dan Sunnah berada dalam satu tingkat, dan bahkan merupakan satu-kesatuan
sumber syariat Islam. Sedangkan teori-teori istidlal seperti qiyas, istihsan,
istishab dan lain-lain hanyalah merupakan suatu metode merumuskan dan
menyimpulkan hukum-hukum dari sumber utamanya tadi.
Pemahaman integral Al-Qur'an-Sunnah ini merupakan karakteristik
menarik dari pemikiran fiqih Syafi’i. Menurut Syafi’i, kedudukan Sunnah,
dalam banyak hal, menjelaskan dan menafsirkan sesuatu yang tidak jelas dari
Al-Qur'an, memerinci yang global, mengkhususkan yang umum, dan bahkan
membuat hukum tersendiri yang tidak ada dalam Al-Qur'an. Karenanya,
Sunnah Nabi saw. tidak berdiri sendiri, tetapi punya keterkaitan erat dengan
Al-Qur'an. Hal itu dapat dipahami karena Al-Qur'an dan Sunnah adalah
Kalamullah; Nabi Muhammad saw. tidak berbicara dengan hawa nafsu, semua
ucapannya adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah.
Hipotesa menarik lainnya dalam pemikiran metodologis Syafi’i adalah
pernyataannya, "Setiap persoalan yang muncul akan ditemukan ketentuan
hukumnya dalam Al-Qur'an." Untuk membuktikan hipotesanya itu Syafi’i
menyebut empat cara Al-Qur'an dalam menerangkan suatu hukum.
99
Pertama, Al-Qur'an menerangkan suatu hukum dengan nash-nash
hukum yang jelas, seperti nash yang mewajibkan salat, zakat, puasa dan haji,
atau nash yang mengharamkan zina, minum khamar, makan bangkai, darah
dan lainnya.
Kedua, suatu hukum yang disebut secara global dalam Al-Qur'an dan
dirinci dalam Sunnah Nabi. Misalnya, jumlah rakaat salat, waktu
pelaksanaannya, demikian pula zakat, apa dan berapa kadar yang harus
dikeluarkan. Semua itu hanya disebut global dalam Al-Qur'an dan Nabilah
yang menerangkan secara terinci.
Ketiga, Nabi Muhammad saw. juga sering menentukan suatu hukum
yang tidak ada nash hukumnya dalam Al-Qur'an. Bentuk penjelasan Al-Qur'an
untuk masalah seperti ini dengan mewajibkan taat kepada perintah Nabi dan
menjauhi larangannya. Dalam Al-Qur'an disebutkan: "Barangsiapa yang taat
kepada Rasul, berarti ia taat kepada Allah." Dengan demikian, suatu hukum
yang ditetapkan oleh Sunnah berarti juga ditetapkan oleh Al-Qur'an, karena
Al-Qur'an memerintahkan untuk mengambil apa yang diperintahkan oleh Nabi
menjauhi yang dilarang.
Keempat, Allah juga mewajibkan kepada hamba-Nya untuk berijtihad
terhadap berbagai persoalan yang tidak ada ketentuan nashnya dalam Al-
Qur'an dan hadis. Penjelasan Al-Qur'an terhadap masalah seperti ini yaitu
dengan membolehkan ijtihad (bahkan mewajibkan) sesuai dengan kapasitas
pemahaman terhadap maqashid al-Syari'ah (tujuan-tujuan umum syariat),
100
misalnya dengan qiyas atau penalaran analogis. Dalam Al-Qur'an disebutkan,
yang artinya:
"Hai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan
orang-orang yang mempunyai kekuasaan di antara kamu. Maka apabila kamu
berselisih tentang sesuatu kembalikanlah kepada Allah dan Rasul."
Menurut Al-Syafi’i, "Kembalikanlah kepada Allah dan Rasul", artinya
kembalikan pada Al-Qur'an dan Sunnah. Dan pengembalian itu hanya dapat
dilakukan dengan qiyas. Dengan landasan ayat ini, dan ayat- ayat lainnya, ia
ingin menyebutkan bahwa ijtihad merupakan perintah Al-Qur'an itu sendiri
dan bukan merekayasa hukum.
Dari keterangan di atas dapat diketahui "posisi tengah" pemikiran
metodologis Syafi’i. la begitu teguh dalam berpegang pada Al-Qur'an dan
Sunnah dan pada saat yang sama memandang penting penggunaan rasio dan
ijtihad.
Menurut Syafi’i, struktur hukum Islam dibangun di atas empat dasar
yang disebut "sumber-sumber hukum". Sumber-sumber hukum tersebut
adalah Al-Qur'an, Sunnah, ijma' dan qiyas. Meskipun ulama sebelumnya juga
menggunakan keempat dasar di atas, tetapi rumusan Syafi’i punya nuansa dan
paradigma baru. Penggunaan ijma', misalnya, tidak sepenuhnya mencaplok
rumusan Imam Malik yang sangat umum dan tanpa batas yang jelas.
Bagi Syafi’i, ijma' merupakan metode dan prinsip, dan karenanya, ia
tidak memandang konsensus orang-orang umum sebagai ijma', sebagaimana
dinyatakan oleh Imam Malik dan ulama-ulama Madinah. Ini dengan jelas
101
terlihat dalam percakapan dengan sekelompok ahli hukum Madinah dalam
bukunya Al-Umm dan dikutip lengkap oleh Fazlur Rahman:
Al-Syafi’i:
"Akankah kita katakan bahwa anda menganggap, misalnya Ibnu
Musayyib sebagai ulama yang otoritatif di Madinah, Atha' yang otoritatif di
Mekkah, Hasan di Bashrah dan Sya'bi di Kufah semuanya dari generasi
tabi'ien dan memandang apa yang mereka sepakati sebagai ijma'?"
Lawan: "Ya."
Al-Syafi’i:
"Tetapi anda menyatakan bahwa mereka tidak pernah bertemu dalam
pertemuan mana pun yang anda ketahui. Karena itu, anda menyimpulkan ijma'
mereka dari laporan-laporan tentang mereka, dan, sesungguhnya, karena anda
telah melihat bahwa ulama-ulama tersebut membuat pernyataan-pernyataan
mengenai masalah-masalah yang tidak anda temui pembahasannya dalam Al-
Qur'an dan Sunnah, maka anda menyimpulkan bahwa mereka telah melakukan
qiyas terhadap masalah-masalah tersebut dan anda berargumentasi bahwa
qiyas adalah kumpulan pengetahuan yang benar dan mapan yang disepakati
oleh para ulama."
Lawan: "Itulah yang kami katakan. Pengetahuan datang dalam
beberapa bentuk.
Pertama, apa yang dituturkan oleh seluruh masyarakat dari seluruh
masyarakat generasi-generasi yang telah lalu (pengetahuan yang dibentuk)
dengan kepastian yang dapat saya sumpahkan dengan nama Allah dan Rasul-
102
Nya. Contoh dari pengetahuan semacam ini adalah kewajiban-kewajiban
agama.
Kedua, bagian dari Al-Qur'an yang mengakui perbedaan-perbedaan
penafsiran haruslah diterima dalam artinya yang langsung dan sesuai dengan
akal sehat: ia tidak bisa diberi "batiniyah" dan allegoris walaupun ia mungkin
dapat menerima arti seperti itu kecuali bila hal itu menjadi konsensus
masyarakat.
Ketiga, pengetahuan yang disepakati oleh kaum Muslimin dan mereka
telah menyatakan persetujuan sebelumnya terhadapnya. Bahkan apabila yang
disebut terakhir ini mungkin tidak datang dari Al-Qur'an ataupun Sunnah, bagi
saya ia memiliki kedudukan yang sama dengan Sunnah yang telah disepakati.
Ini disebabkan karena kesepakatan kaum Muslimin tidak dapat dicapai
semata-mata dengan pendapat-pendapat pribadi (tapi hanya dengan melalui
qiyas), karena pendapat-pendapat pribadi hanya membawa pada perselisihan.
Keempat, pengetahuan para ahli yang merupakan argumen yang
konklusif kecuali bila disampaikan dengan cara kebal terhadap kekeliruan.
Terakhir, qiyas. Tidak ada perselisihan yang dapat memasuki
pengetahuan dalam bentuk-bentuk yang telah saya uraikan tadi, dan segala
sesuatu akan tetap berakar pada prinsip-prinsipnya kecuali bila masyarakat
umum setuju untuk melepaskannya dari prinsip-prinsipnya. Ijma' adalah
argumen final mengenai segala sesuatu, karena ia kebal terhadap kekeliruan."
Al-Syafi’i: Mengenai jenis pengetahuan yang pertama yang anda
jelaskan tadi, yakni transmisi dari seluruh masyarakat generasi sebelumnya,
103
memang dapat diterima. Tapi apakah anda tahu, dan dapatkah anda
menjelaskan pengetahuan jenis kedua yang sehubungan dengannya, dimana
anda mengatakan bahwa seluruh masyarakat bersepakat atasnya dan
mentransmisikan kesepakatan umum yang sama mengenai hal itu pada
generasi-generasi sebelumnya? Dan apa yang anda maksud dengan seluruh
masyarakat itu? Apakah ia meliputi baik ulama maupun non-ulama...?
Lawan: "Ini adalah ijma' para ulama saja ... karena hanya merekalah
orang- orang yang dapat mengetahui dan bersepakat pendapat tentang masalah
itu. Jadi, ketika mereka bersepakat pendapat, maka hal ini menjadi otoritatif
bagi mereka yang tidak mengetahuinya (yakni bagi non-ulama); tetapi jika
mereka tidak bersepakat pendapat, maka pendapat-pendapat mereka tidak
mempunyai otoritas bagi siapa pun, dan masalah-masalah seperti itu harus
dirujuk pada suatu qiyas (penalaran analogis) yang baru berdasarkan apa yang
telah disepakati bersama ... Tidaklah penting apakah ijma' didasarkan pada
sebuah hadis verbal yang mereka riwayatkan ataukah tanpa sebuah hadis pun
..., dan bahkan bila mereka berselisih, tidaklah penting apakah hadis verbal
yang sesuai dengan pendapat sebagian dari mereka ataukah tidak ada. Karena
saya tidak menerima sesuatu hadits pun ..., dan bahkan bila mereka berselisih,
tidaklah penting apakah ada hadits verbal yang sesuai dengan sebagian dari
mereka ataukah tidak ada. Karena saya tidak menerima sesuatu hadis pun
kecuali ada kesepakatan pendapat atasnya ..."
Selanjutnya, pada periode ini, interaksi antara qiyas dan ijma'
dipandang tidak sebagai sebuah prinsip yang statis, tapi sebagai suatu proses
104
asimilasi, interpretasi dan adaptasi yang dinamis dan wajar. Hal ini terlihat
dengan jelas dalam bagian lain dari tulisan Syafi’i yang, walaupun agak
berkepanjangan, adalah yang paling komprehensif mengenai masalah tersebut
dan mengungkapkan sikap sebenarnya dan yang serba meliputi dari ijma'.
Nuansa dan paradigma pemikiran Syafi’i itu selalu terlihat dalam
pemikiran-pemikirannya yang dibangun di atas pemikiran-pemikiran ulama
sebelumnya. Penalaran analogis (qiyas) Al-Syafi’i, juga, menawarkan
pernahaman baru. Apa yang dirumuskan oleh ulama-ulama sebelumnya oleh
Syafi’i disebut qiyas bilfuru', penalaran analogis terhadap masalah-masalah
partikular dengan berpijak pada suatu prinsip tertentu yang terkandung dalam
suatu preseden.
Sebuah kasus yang baru dapat dimasukkan ke dalam prinsip ini, atau
disamakan dengan preseden tersebut dengan kekuatan suatu sifat esensial
umum yang disebut 'illat. Sedangkan metode-metode yang lain, seperti
istihsan, istishab, sadd al-zarai' dan metode lainnya dimasukkan ke dalam
qiyas bil qawa'id (penalaran analogis terhadap prinsip umum yang terkandung
dalam suatu preseden itu sendiri).
Dalam hubungannya dengan perkawinan antar agama, bahwa dalam
perspektif Al-Syafi’i bahwa siapa yang beragama dengan agama Yahudi dan
Nasrani dari orang Sabiin dan Samiri, maka boleh dimakan sembelihannya
dan halal dikawini wanitanya. Selanjutnya menurut Al-Syafi’i, wanita
105
muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki non muslim, akan tetapi
dibolehkan menikah antara laki-laki muslim dengan ahli kitab.
131

Dalam kaitannya dengan ahli kitab, menurut Al-Syafi'i, yang termasuk
ahlul kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani keturunan orang-orang
Israel, tidak termasuk bangsa-bangsa lain sekalipun penganut agama Yahudi
dan atau Nasrani. Di antara alasan yang diajukan adalah pertama, karena Nabi
Musa AS dan Nabi Isa AS hanya diutus untuk orang-orang bangsa Israel; dan
kedua, lafal min qablikum (umat sebelum kamu) dalam surah al-Ma'idah (5)
ayat 5 menunjuk kepada kedua kelompok Yahudi dan Nasrani bangsa Israel.
Dalam hal ini metode istinbath hukumnya Al-Syafi’i didasarkan pada
beberapa ayat dan surat di bawah ini:
ﻰ` ﺘ ﺣ ﲔﱢ ﻜﹶ ﻔﻨ` ﻣ ﲔ ﻛﹺ ﺮ` ﺸ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﻭ ﹺ ﺏﺎ ﺘ ﻜﹾ ﻟﺍ ﹺ ﻞ` ﻫﹶ ﺃ ` ﻦ ﻣ ﺍﻭ` ﺮﹶ ﻔﹶ ﻛ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﹺ ﻦﹸ ﻜ ﻳ ` ﻢﹶ ﻟ
ﹸ ﺔ ﻨ` ﻴ ﺒﹾ ﻟﺍ ` ﻢ` ﻬ ﻴ ﺗﹾ ﺄ ﺗ , ﺔﻨﻴﺒﻟﺍ · 1 .

Artinya: Dan orang-orang kafir di antara ahli kitab (Yahudi, Nasrani)
dan orang-orang yang musyrik tidak mau meninggalkan
agama mereka sehingga datang keterangan kepada mereka
(Q.S. al-Bayyinah: 1).

ﹾ ﺍﻮﹸ ﻛ ﺮ` ﺷﹶ ﺃ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﻭ ﺩﻮ` ﻬ ﻴﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ` ﻨ ﻣﺁ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻠﱢ ﻟ ﹰ ﺓ ﻭﺍ ﺪ ﻋ ﹺ ﺱﺎ` ﻨﻟﺍ ` ﺪ ﺷﹶ ﺃ ﱠ ﻥ ﺪﹺ ﺠ ﺘﹶ ﻟ
ﺎ` ﻧﹺ ﺇ ﹾ ﺍ ﻮﹸ ﻟﺎﹶ ﻗ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ` ﻨ ﻣﺁ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻠﱢ ﻟ ﹰ ﺓ` ﺩ ﻮ` ﻣ ` ﻢ` ﻬ ﺑ ﺮﹾ ﻗﹶ ﺃ ﱠ ﻥ ﺪﹺ ﺠ ﺘﹶ ﻟ ﻭ
ﻧ ﻯ ﺭﺎ ﺼ ,... ﺓﺪﺋﺎﳌﺍ · 82 .
Artinya: Sesungguhnya kamu [Muhammad] niscaya menemukan
orang-orang yang sangat keras memusuhi orang-orang
beriman, ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik
(mempersekutukan Allah). Dan kamu menemukan pula

131
Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Al-Umm, Beirut Libanon:
Dar al-Kutub al-Ilmiah, tth, juz 4, hlm. 287 dan 289

106
orang-orang yang kasih kepada orang-orang yang beriman,
yaitu orang-orang yang berkata, "Kami adalah orang-orang
Nasrani ...") (Q.S. al-Maidah: 82)

ﺱﻮ` ﺠ ﻤﹾ ﻟﺍ ﻭ ﻯ ﺭﺎ ﺼ` ﻨﻟﺍ ﻭ ﲔ ﺌﹺ ﺑﺎ` ﺼﻟﺍ ﻭ ﺍﻭ` ﺩﺎ ﻫ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﻭ ﺍﻮ` ﻨ ﻣﺁ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﱠ ﻥﹺ ﺇ
ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﱠ ﻥﹺ ﺇ ﺍﻮﹸ ﻛ ﺮ` ﺷﹶ ﺃ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﻭ ﱢ ﻞﹸ ﻛ ﻰﹶ ﻠ ﻋ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﱠ ﻥﹺ ﺇ ﺔ ﻣﺎ ﻴ ﻘﹾ ﻟﺍ ﻡ` ﻮ ﻳ ` ﻢ` ﻬ ﻨ`ﻴ ﺑ ﹸ ﻞ ﺼﹾ ﻔ ﻳ
` ﺪﻴﹺ ﻬ ﺷ ٍ ﺀ` ﻲ ﺷ , ﺞﳊﺍ · 17 .

Artinya: Sesungguhnya orang-orang beriman dan orang-orang Yahudi,
orang-orang Shabi'in (penyembah bintang), orang-orang
Nasrani dan Majusi, begitu pun orang-orang yang
mempersekutukan Allah sungguh Allah bakal memberikan
keputusan yang tegas di antara mereka pada hari kiamat.
Adalah Allah saksi pada tiap-tiap sesuatu (Q.S. al-Hajj: 17).

Dalam kaitan ini, penulis di satu segi kurang sependapat dengan
pendapat al-Syafi'i yang mengkategorikan ahlul kitab seperti tersebut di atas.
Alasan penulis kurang setuju karena bila diaplikasikan di Indonesia, maka
orang-orang Indonesia yang menganut agama Yahudi atau Nasrani sesudah
turunnya al-Qur’an maka mereka tidaklah termasuk di dalam ahlul kitab,
konsekuensinya maka tidak halal bagi muslim menikahi perempuan-
perempuan mereka.
Pembatasan pengertian yang hanya dalam dua komunitas agama:
Yahudi dan Nasrani versi Syafi’i, maka menurut penulis jelas akan melahirkan
implikasi sosiologis dalam konteks kehidupan sosial yang serius di Indonesia.
Karena, realitas keragaman agama, tidak hanya terbatas pada dua agama Semit
tersebut.
107
Di segi lain, penulis setuju dengan pendapat al-Syafi’i yang
membolehkan pria muslim menikah dengan perempuan ahlul kitab. Alasan
penulis setuju karena surah al-Maidah ayat 5 merupakan petunjuk yang qath’i
(tegas) tentang bolehnya menikahi wanita ahlul kitab. Dengan kata lain,
menikahi wanita ahlul kitab boleh karena ayat ke-5 dari al-Maidah itu secara
qath'i (tegas) menyatakan kehalalannya.
Dalam kaitannya dengan perkawinan antar agama, khususnya
mengenai makna ahlul kitab dalam versi al-Syafi'i, ia menggunakan metode
istinbath hukum yaitu Al-Qur'an surat Al-Maidah ayat 5.
` ﻢﹸ ﻜﱠ ﻟ ﱞ ﻞ ﺣ ﺏﺎ ﺘ ﻜﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ` ﺗﻭﹸ ﺃ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ` ﻡﺎ ﻌﹶ ﻃ ﻭ ` ﺕﺎ ﺒ` ﻴﱠ ﻄﻟﺍ ` ﻢﹸ ﻜﹶ ﻟ ﱠ ﻞ ﺣﹸ ﺃ ﻡ` ﻮ ﻴﹾ ﻟﺍ
` ﺕﺎ ﻨ ﺼ` ﺤ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﻭ ﺕﺎ ﻨ ﻣ` ﺆ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﻦ ﻣ ` ﺕﺎ ﻨ ﺼ` ﺤ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﻭ ` ﻢ` ﻬﱠ ﻟ ﱡ ﻞ ﺣ ` ﻢﹸ ﻜ` ﻣﺎ ﻌﹶ ﻃ ﻭ
` ﻫ ﺭﻮ` ﺟﹸ ﺃ ` ﻦ` ﻫﻮ` ﻤ` ﺘ` ﻴ ﺗﺁ ﺍﹶ ﺫﹺ ﺇ ` ﻢﹸ ﻜ ﻠ` ﺒﹶ ﻗ ﻦ ﻣ ﺏﺎ ﺘ ﻜﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ` ﺗﻭﹸ ﺃ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﻦ ﻣ ` ﻦ
ﻥﺎ ﳝِ ﻹﺎﹺ ﺑ ` ﺮﹸ ﻔﹾ ﻜ ﻳ ﻦ ﻣ ﻭ ﻥﺍ ﺪ` ﺧﹶ ﺃ ﻱ ﺬ ﺨ` ﺘ` ﻣ ﹶ ﻻ ﻭ ﲔ ﺤ ﻓﺎ ﺴ` ﻣ ﺮ` ﻴﹶ ﻏ ﲔﹺ ﻨ ﺼ` ﺤ` ﻣ
ﻦﻳﹺ ﺮ ﺳﺎ ﺨﹾ ﻟﺍ ﻦ ﻣ ﺓ ﺮ ﺧﻵﺍ ﻲ ﻓ ﻮ` ﻫ ﻭ ` ﻪﹸ ﻠ ﻤ ﻋ ﹶ ﻂﹺﺒ ﺣ ` ﺪﹶ ﻘﹶ ﻓ , ﺓﺪﺋﺎﳌﺍ · 5 .

Artinya: Pada hari ini dihalalkan bagi kamu yang baik-baik.
Makanan [sembelihan] orang-orang yang diberi al-Kitab
itu halal bagi kamu, dan mahanan kamu halal [pula] bagi
mereka. [Dan dihalalkan bagi kamu menikahi] wanita-
wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita
yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga
kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab
sebelum kamu, bila kamu telah membayar mahar mereka
dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud
berzina dan tidak [pula] menjadikannya gundik-gundik.
Barangsiapa yang kafir sesudah beriman maka hapuslah
amalannya dan di hari akhirat dia termasuk orang-orang
yang merugi. (Q.S. al-Maidah: 5)

108
Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa para ahli tafsir dan para
ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan ayat wal muhsanâtî minal lazîna
ûtul kitâb min qablikum menurut Ibnu Jarir yang dimaksud dengan muhsanat
adalah wanita baik-baik dari ahli kitab baik merdeka atau budak. Imam Syafi'i
yang dimaksud ahli kitab di sini adalah wanita baik-baik dari Bani Israil. Dan
menurut yang lain muhsanat adalah wanita ahli kitab yang baik-baik tadi yang
merupakan penduduk Negeri Islam (Kafir Zimmi),
132
karena berdasarkan
firman Allah yang mengatakan:
ﹺ ﺮ ﺧﻵﺍ ﹺ ﻡ` ﻮ ﻴﹾ ﻟﺎﹺ ﺑ ﹶ ﻻ ﻭ ﻪﹼ ﻠﻟﺎﹺ ﺑ ﹶ ﻥﻮ` ﻨ ﻣ` ﺆ` ﻳ ﹶ ﻻ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮﹸ ﻠ ﺗﺎﹶ ﻗ

Artinya: Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan
tidak pula pada hari kemudian.
133


Menurut analisis penulis seorang laki-laki Muslim boleh menikahi
Ahlul kitab, selama wanita Ahlul kitab tersebut layak untuk dinikahi. Hikmah
yang terkandung di dalam hukum bolehnya seorang laki-laki Muslim
menikahi wanita Ahlul kitab ialah tersedianya kesempatan supaya terciptanya
hubungan dan kerjasama di antara mereka; dan di samping itu agar dengan
keinginannya, wanita Ahlul kitab itu dapat mempelajari ajaran-ajaran mulia
yang terdapat dalam ajaran Islam.
Tentang makna ahlul kitab, maka penulis lebih cenderung berpendapat
bahwa yang dimaksud dengan ahlul kitab adalah semua penganut agama
Yahudi dan Nasrani, kapanpun, di mana pun, dan keturunan siapa pun mereka.

132
Ismâ'îl ibn Katsîr al-Qurasyî al-Dimasyqî, Tafsîr al-Qur’an al-Azîm., Beirut: Dâr
al-Ma’rifah, 1978, Juz 6, hlm. 252.
133
Depag RI, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an
dan Terjemahnya, 1986, hlm. 282.
109
Pendapatnya ini didasarkan kepada firman Allah SWT dalam surah al-An 'am
(6) ayat 156:
ﻦ ﻋ ﺎ` ﻨﹸ ﻛ ﻥﹺ ﺇ ﻭ ﺎ ﻨ ﻠ` ﺒﹶ ﻗ ﻦ ﻣ ﹺ ﻦ` ﻴ ﺘﹶ ﻔ ﺋﺂﹶ ﻃ ﻰﹶ ﻠ ﻋ ` ﺏﺎ ﺘ ﻜﹾ ﻟﺍ ﹶ ﻝﹺ ﺰﻧﹸ ﺃ ﺎ ﻤ` ﻧﹺ ﺇ ﹾ ﺍﻮﹸ ﻟﻮﹸ ﻘ ﺗ ﻥﹶ ﺃ
ﲔ ﻠ ﻓﺎ ﻐﹶ ﻟ ` ﻢﹺ ﻬ ﺘ ﺳﺍ ﺭ ﺩ , ﻡﺎﻌﻧﻷﺍ · 156 .
Artinya: (Kami turunkan Al-Qur'an itu) agar kamu (tidak)
mengatakan: Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua
golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak
memperhatikan apa yang mereka baca. (Q.S. al-An' am 156)










110
BAB V
PENUTUP

D. Kesimpulan
Berdasarkan uraian sebelumnya, dan dengan mengacu pada rumusan
masalah sebagaimana termuat dalam bab pertama sampai bab keempat skripsi
ini, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Dalam perkawinan antar agama menurut Imam Safi'i:
- Laki-laki muslim tidak boleh menikah dengan wanita non muslim
dengan alasan surat Al-Baqarah 221: walâ tankihul musyrikâti hatta
yukminna walâmatun mu'minatun khairun min musyrikatin walau
a'jabatkum.
- Wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki non muslim
dengan alasan surat al-Baqarah 221:
walâ tunkihul musyrikîna hatta yukminu wala'abdun mu'minun khairun
min musyrikin walau a'jabakum.
2. Laki-Laki muslim tidak boleh menikah dengan wanita non muslim kecuali
dengan wanita non muslim yang berasal dari ahli kitab. Menurut al-Syafi'i
yang dimaksud dengan ahli kitab tersebut adalah keturunan Bani Israil
atau orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Taurat pada masa Nabi
111
Musa dan orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Injil pada masa
Nabi Isa.
3. Istinbath hukum Al-Syafi’i yang membolehkan laki-laki muslim menikah
dengan wanita non muslim dari ahli kitab didasarkan atas di takhsis surat
al-Baqarah ayat 221 oleh surat al-Maidah ayat 5. Adapun ahli kitab yang
dimaksud oleh al-Syafi'i hanya terbatas kepada keturunan Bani Israil atau
orang-orang yang berpegang teguh pada Kitab Taurat pada masa Nabi
Musa dan orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Injil pada masa
Nabi Isa. Disebabkan:
(a) Dalam ayat 5 al-Ma'idah terdapat lafal min qablikum yang berarti
orang-orang Bani Israil atau orang-orang yang berpegang teguh pada
Kitab Taurat pada masa Nabi Musa dan orang-orang yang berpegang
teguh pada kitab Injil pada masa Nabi Isa.
(b). Nabi Musa dan Nabi Isa hanya diutus kepada Bani Israil.
E. Saran-Saran
Meskipun pendapat al-Syafi’i dibuat dalam kurun waktu yang sudah
lama, namun hendaknya dijadikan studi banding oleh peneliti lainnya, ketika
membahas perkawinan dengan non muslim. Di samping itu pendapat al-Syafi'i
memperkaya wacana perkawinan dengan non muslim. Oleh karena itu kita
perlu menghargai pendapat al-Syafi'i tersebut.
F. Penutup
112
Meskipun tulisan ini telah diupayakan secermat mungkin namun
mungkin saja masih ada kekurangan dan kekeliruannya. Menyadari akan hal
itu, penulis mengharap kritik dan saran menuju kesempurnaan tulisan ini,
semoga Allah SWT meridhoi, Âmîn.





















113
DAFTAR PUSTAKA

Abbas, Siradjuddin, Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi’i, Jakarta: Pustaka
Tarbiyah, 2004
Abd al-Salam, Ahmad Nahrawi, Al-Imam al-Syafi'i fi Madzhabaih fi al-Qadim wa
al-Jadid, Kairo: Dar al-Kutub, 1994
Abu Hasan, Ali al-Walid, Asbab Nuzul al-Qur'an, (ed) Sayyid Ahmad Shaqr, Dar
al-Qiblat, tt
Abu Zahrah, Muhammad, Hayatuhu wa Asruhu wa Fikruhu ara-Uhu wa Fiqhuhu,
Terj. Abdul Syukur dan Ahmad Rivai Uthman, “Al-Syafi’i Biografi dan
Pemikirannya Dalam Masalah Akidah, Politik dan Fiqih”, Jakarta: PT
Lentera Basritama, 2005
Al-Bukhari, Al-Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn al-Mugirah ibn
Bardizbah, Sahih al-Bukhari, Juz 3, Beirut Libanon: Dar al-Fikr, 1410
H/1990 M
Al-Ghazzi, Syekh Muhammad bin Qasim, Fath al-Qarib, Indonesia: Maktabah al-
lhya at-Kutub al-Arabiah, tth
Al-Jauziyah, Ibn Qayyim, I’lamul Muwaqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin, Juz 2, al-
Muniriyyah
Al-Jaziri, Abdurrahman, Kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-Arba’ah, juz 4, Beirut:
Dar al-Fikr, 1972
Al-Malibary, Syaikh Zainuddin Ibn Abd Aziz, Fath al-Mu’in Bi Sarkh Qurrah al-
‘Uyun, Semarang: Maktabah wa Matbaah, karya Toha Putera , tth
Al-Maragi, Ahmad Mustafa, Tafsir al-Maragi, Mesir: Mustafa Al-Babi Al-
Halabi, 1394 H/1974 M, juz 2
Al-Qardhawi, Yusuf, Hadyul Islam Fatawi Mu’ashirah, Terj. As’ad Yasin,
“Fatwa-Fatwa Kontemporer”, jilid 1, Jakarta: Gema Insani, 2001
Al-Shabuni, Muhammad Ali, Tafsir Ayat al-Ahkam, Dar al-Qur'an al-Karim, 1972
Al-Syafi’i, Al-Imam Abi Abdillah Muhammad Ibn Idris, al-Risalah fi’ Ilmu al-
ushul , al-Ilmiyah, Mesir, 1312 H
____________, Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris, Al-Umm, Beirut
Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiah, tth, juz 4
Al-Zamakhsyari, Tafsir al-Kasyaf, Beirut: Dar al-Ma'rifah, tth
114
Amini, Ibrahim, Principles of Marriage Family Ethics, terj. Alwiyah
Abdurrahman, "Bimbingan Islam Untuk Kehidupan Suami Istri",
Bandung: al-Bayan, 1999
Amirin, Tatang M., Menyusun Rencana Penelitian, Cet. 3. Jakarta: PT. Raja
grafindo persada, 1995
Ash Shiddieqy, TM. Hasbi, Pokok-Pokok Pegangan Imam Madzhab, PT Putaka
Rizki Putra, Semarang, 1997
_____________, Koleksi Hadis-Hadis Hukum, Semarang: PT.Pustaka Rizki
Putra, jilid 8, 2001
_____________, Mutiara Hadis, jilid 5, Semarang; PT.Pustaka Rizki Putra, 2003
As-San’ani, Sayyid al-Iman Muhammad ibn Ismail Subul al-Salam Sarh Bulugh
al-Maram Min Jami Adillati al-Ahkam, Juz 3, Kairo: Dar Ikhya’ al-Turas
al-Islami, 1960
As-Suyuti, Imam Jalaluddin, Tafsir Jalalain, Kairo: Dar al-Fikr, t.th
Asy Syarbasy, Ahmad, Al-Aimmah al-Arba'ah, Terj. Futuhal Arifin, "Biografi
Empat Imam Mazhab", Jakarta: Pustaka Qalami, 2003
______________, Yas'alunaka fi ad-Din wa al-Hayah, Terj. Ahmad Subandi,
"Tanya Jawab Lengkap tentang Agama dan Kehidupan", Jakarta: Lentera,
1997
Asy Syaukani, Muhammad, Nail al–Autar, Beirut: Daar al-Qutub al-Arabia, juz
4, 1973
Basyir, Ahmad Azhar, Hukum Perkawinan Islam, Yogyakarta: UII Press, 2004
Dahlan, Abdul Aziz, et.al, Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid 4, Jakarta: PT. Ichtiar
Baru Van Hoeve, 1997
Daradjat, Zakiah, Ilmu Fiqh, jilid 2, Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1995
Depag RI, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an
dan Terjemahnya, 1986
Djazuli, Ilmu Fiqh, Jakarta: Prenada Media, 2005
Eoh, O.S., Perkawinan Antar Agama Dalam Teori dan Praktek, Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 1998
Fikri, Ali, Kisah-Kisah Para Imam Madzhab, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2003
115
Hadikusuma, Hilman, Hukum Perkawinan Indonesia Menurut Perundangan,
Hukum Adat, Hukum Agama, Bandung: Mandar Maju, 1990
Hamid, Zahry, Pokok-Pokok Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang
Perkawinan di Indonesia, Yogyakarta: Bina Cipta, 1978
Hamka, Tafsir Al Azhar, Jakarta: PT Pustaka Panji Mas, juz 2, 1999
Hanafie, A., Ushul Fiqh, Cet. 14, Jakarta: Wijaya, 2001
Ibn Kasir, Al-Imam al-Hafizh Imaduddin Abul Fida Ismail, Tafsir al-Qur’an al-
‘Azhim, Cairo: Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah, juz 2, tth
Khalaf, Abd Wahab, ‘Ilm ushul al-Fiqh, Jakarta: Maktabah al-Dak’wah al-
Islamiyah Syabab al-Azhar, 1410 H/1990M
Khalid, Syekh Hasan, al-Zawaj Bighair al-Muslimin, Terj. Zaenal Abidin
Syamsudin, “Menikah Dengan Non Muslim”, Jakarta: Pustaka al-Sofwa,
2004
Khalil, Munawar, Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab, Jakarta: Bulan
Bintang
Koencaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Cet. 14, Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama, 1970
Kuzari, Achmad, Nikah Sebagai Perikatan, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada,
1995
Moleong, Lexy J., Metode Penelitian Kulitatif, Cet. 14, Bandung: PT Remaja
Rosda Karya, 2001
Mubarok, Jaih, Modifikasi Hukum Islam Studi tentang Qaul Qadim dan Qaul
Jadid, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2002
____________, Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam, Bandung: PT.Remaja
Rosdakarya, 2000
Mughniyah, Muhammad Jawad, Al-Fiqh 'ala al-Mazahib al-Khamsah, Terj.
Masykur AB, et al, "Fiqih Lima Mazhab", Jakarta: PT Lentera Basritama,
2000
Nawawi, Hadari, Metode Penelitian Bidang Sosial, Cet. 5, Yogyakarta: Gajah
Mada University Press, 1991
Nazir, Moh., Metode Penelitian, Cet. 4, Jakarta: Ghalia Indonesia,1999
116
Prodjodikoro, Wirjono, Hukum Perkawinan Di Indonesia, Bandung: PT Sumur
Bandung, 1981
Ramulyo, Moh. Idris, Hukum Perkawinan Islam, Suatu Analisis dari Undang-
Undang No. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam, Jakarta: Bumi
Aksara, 2002
Rasyid Ridha, Sayyid Muhammad, Tafsir al-Manar, Kairo: Maktabah al-Qahirah,
cet. Ke-4, 1380 H
Razak, Nasruddin, Dienul Islam, Cet. 9, Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1986
Ridha, Rasyid, Tafsir al-Manar, juz 6, Cairo: Dar al-Manar, 1367 H
Rofiq, Ahmad, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada,
1977
Sabiq, Sayyid, Fiqh al-Sunnah, Kairo: Maktabah Dar al-Turas, juz 2, tth
Saekan dan Erniati Effendi, Sejarah Penyusunan Kompilasi Hukum Islam di
Indonesia, Surabaya: Arkola, 1977
Saleh, Abdul Mun’im, Madzhab Syafi’i Kajian Konsep Al-Maslahah, Yogyakarta:
Ittaqa Press, 2001
Sosroatmodjo, Arso, dan A.Wasit Aulawi, Hukum Perkawinan di Indonesia,
Jakarta: Bulan Bintang, 1975
Suma, Muhammad Amin, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam, Jakarta:
PT.Raja Grafindo Persada, 2004
Suriasumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Cet. 7, Jakarta;
Pustaka Sinar Harapan, 1993
Syalthut, Mahmud, Fiqih Tujuh Madzhab, terj. Abdullah Zakiy al-Kaaf, Bandung:
CV Pustaka Setia, 2000
Thalib, Sayuti, Hukum Kekeluargaan Indonesia, Jakarta: UI Press, Cet. 5, 1986
Uwaidah, Syekh Kamil Muhammad, Al-Jami' Fi Fiqhi an-Nisa, terj. M. Abdul
Ghofar, "Fiqih Wanita', (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2002
Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an dan
Terjemahnya, Jakarta: Depag RI, 1986
Yunus, Mahmud, Hukum Perkawinan dalam Islam, Jakarta: PT Hidakarya
Agung, Cet. 12, 1990
117
Zuhdi, Masjfuk, Masail Fikhiyah, Jakarta: PT Gunung Agung, 1997


DEPARTEMEN AGAMA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO FAKULTAS SYARI’AH SEMARANG
JL. Raya Boja Km. 2 Ngalian Telp./ Fax. (024) 7601291 Semarang 50185

BERITA ACARA MUNAQASYAH SKRIPSI
Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang pada: Hari : Kamis Tanggal : 27 Juli 2006 Jam : 11.00-12.00 WIB Telah mengadakan Ujian Munaqasyah Skripsi dengan judul: STUDI ANALISIS PENDAPAT AL-SYAFI'I TENTANG PERKAWINAN ANTAR AGAMA Atas Nama Nama NIM Jurusan Keterangan : : : : : Arifin 2199096 Ahwal Syahsiyah UTAMA/ULANG ………………………………………….. LULUS/TIDAK LULUS Semarang, 27 Juli 2006 Sekretaris Sidang,

Ketua Sidang,

H.Khoirul Anwar, S.Ag, M.Ag. NIP. 150 276 114

M.Solek, MA. NIP. 150 262 648

Penguji I,

Penguji II,

Dr.H.Abd. Hadi, MA. NIP. 150 209 744 Pembimbing,

Ade Yusuf Mujaddid, M.Ag. NIP. 150 289 443

M.Solek, MA. NIP. 150 262 648 ii

ABSTRAK

Dalam prakteknya tidak sedikit adanya hubungan muda-mudi yang berbeda agama yaitu muslim dengan non muslim. Hubungan itu tidak menutup kemungkinan sampai pada jenjang pernikahan. Masalah yang muncul, bagaimana pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama? Bagaimana metode istinbath hukum Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama? Penulisan ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dan penelitian kepustakaan (Library research). Sedangkan Pendekatannya menggunakan pendekatan deskriptif analisis. Adapun data primer yaitu karya al-Syafi’i yang berhubungan dengan judul di atas di antaranya: (1) Al-Umm, dan al-Risalah. Sedangkan data sekunder, yaitu literatur lainnya yang relevan dengan judul di atas. Sebagai tknik pengumpulan data menggunakan teknik library research (penelitian kepustakaan), dengan analisis data kualitatif. Hasil dari pembahasan dapat diterangkan bahwa dalam perkawinan antar agama menurut Imam Syafi'i, laki-laki muslim tidak boleh menikah dengan wanita non muslim dengan alasan surat al-Baqarah 221: walâ tankihul musyrikâti hatta yukminna walâmatun mu'minatun khairun min musyrikatin walau a'jabatkum. Wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki non muslim dengan alasan surat al-Baqarah 221: walâ tunkihul musyrikîna hatta yukminu wala'abdun mu'minun khairun min musyrikin walau a'jabakum. Laki-Laki muslim tidak boleh menikah dengan wanita non muslim kecuali dengan wanita non muslim yang berasal dari ahli kitab. Menurut al-Syafi'i yang dimaksud dengan ahli kitab tersebut adalah keturunan Bani Israil atau orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Taurat pada masa Nabi Musa dan orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Injil pada masa Nabi Isa. Sedangkan Istinbath hukum al-Syafi’i yang membolehkan laki-laki muslim menikah dengan wanita non muslim dari ahli kitab didasarkan atas di takhsis surat al-Baqarah ayat 221 oleh surat al-Maidah ayat 5. Adapun ahli kitab yang dimaksud oleh al-Syafi'i hanya terbatas kepada keturunan Bani Israil atau orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Taurat pada masa Nabi Musa dan orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Injil pada masa Nabi Isa. Disebabkan: (a) Dalam ayat 5 al-Ma'idah terdapat lafal min qablikum yang berarti orang-orang Bani Israil atau orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Taurat pada masa Nabi Musa dan orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Injil pada masa Nabi Isa. (b). Nabi Musa dan Nabi Isa hanya diutus kepada Bani Israil. Dalam kaitan ini, penulis kurang sependapat dengan pendapat al-Syafi'i yang mengkategorikan ahlul kitab seperti tersebut di atas. Alasan penulis kurang setuju karena bila diaplikasikan di Indonesia, maka orang-orang Indonesia yang menganut agama Yahudi atau Nasrani sesudah turunnya al-Qur’an maka mereka tidaklah termasuk di dalam ahlul kitab, konsekuensinya maka tidak halal bagi muslim menikahi perempuanperempuan mereka.

iii

Syarat dan Rukun Nikah C. Saran-saran C. Latar Belakang Masalah B. Rumusan Masalah C. Pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan Antar Agama B. Metode Istinbath Hukum Al-Syafi'i tentang perkawinan Antar Agama BAB V : PENUTUP A. Pendidikan dan Karya-Karyanya B. Metode Istinbath Hukum Al-Syafi'i BABIV: ANALISIS PENDAPAT AL-SYAFI'I TENTANG PERKAWINAN ANTAR AGAMA A. Telaah Pustaka E.DAFTAR ISI BAB I : PENDAHULUAN A. Sistematika Penulisan BAB II: TINJAUAN UMUM TENTANG PERKAWINAN A. Pengertian Nikah dan Dasar Hukumnya B. Tujuan Penelitian D. Pendapat Para Ulama tentang Perkawinan Antar Agama BABIII: PENDAPAT AL-SYAFI'I TENTANG PERKAWINAN ANTAR AGAMA A. Metode Penelitian F. Kesimpulan B. Pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan Antar Agama C. Penutup iv . Biografi Al-Syafi'i.

Demikian pula manusia diciptakan dalam berpasangan yaitu ada pria dan wanita. Sanksi yang dimaksud yaitu manakala pria dan wanita dalam memenuhi kebutuhan biologisnya tanpa diikat oleh suatu tali pernikahan. 1 . Pernikahan itu terjadi melalui sebuah proses yaitu kedua belah pihak saling menyukai dan merasa akan mampu hidup bersama dalam menempuh bahtera rumah tangga. ada kaya dan miskin. Namun demikian.BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Allah SWT menciptakan dunia dan seluruh makhluk yang mendiami jagad raya ini dibentuk dan dibangun dalam kondisi berpasang-pasangan. pernikahan itu sendiri mempunyai syarat dan rukun yang sudah ditetapkan baik dalam al-Qur’an maupun dalam Hadis. Dalam memenuhi kebutuhan biologis ada aturan-aturan tertentu yang harus dipenuhi dan bila dilanggar mempunyai sanksi baik di dunia maupun di akhirat. Pria dan wanita diciptakan dengan disertai kebutuhan biologis. Ada gelap dan terang.

Pokok-Pokok Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan di Indonesia. ada juga yang mengartikannya dengan percampuran.4 As Shan’ani dalam kitabnya memaparkan bahwa an-nikah menurut pengertian bahasa ialah penggabungan dan saling memasukkan serta percampuran. Ada pula yang mengatakan bahwa dalam kata nikah itu terkandung pengertian hakekat yang 1 Sayuti Thalib. "Fiqih Wanita'. terj. 1978. nikah berarti penyatuan. 1. Al-Jami' Fi Fiqhi an-Nisa. (Jakarta: Pustaka al-Kautsar. 2002. Mahmud Yunus. Ada juga yang mengatakan bahwa “nikah” adalah pengertian hakekat bagi keduanya. 1. 3 Zahry Hamid. Selain itu. Hukum Kekeluargaan Indonesia. 47. Kata “nikah” itu dalam pengertian “persetubuhan” dan “akad”. 4 Syekh Kamil Muhammad ‘Uwaidah. 1986.Menurut Sayuti Thalib perkawinan ialah perjanjian suci membentuk keluarga antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan. M. Jakarta: PT Hidakarya Agung. Cet. hlm.1 Sementara Mahmud Yunus menegaskan. dan itulah yang dimaksudkan oleh orang yang mengatakan bahwa kata “nikah” itu musytarak bagi keduanya. perkawinan ialah akad antara calon laki istri untuk memenuhi hajat jenisnya menurut yang diatur oleh syariat. hlm. Jakarta: UI Press. Cet. 12. hlm. 375.3 Syekh Kamil Muhammad ‘Uwaidah mengungkapkan menurut bahasa. 1990.2 Sedangkan Zahry Hamid merumuskan nikah menurut syara ialah akad (ijab qabul) antara wali calon istri dan mempelai laki-laki dengan ucapan tertentu dan memenuhi rukun serta syaratnya. Diartikan juga sebagai akad atau hubungan badan. hlm. Abdul Ghofar. 2 2 . Kata nikah banyak dipergunakan dalam akad. Ada orang yang mengatakan “nikah” ini kata majaz dari ungkapan secara umum bagi nama penyebab atas sebab. Hukum Perkawinan dalam Islam. Yogyakarta: Bina Cipta. 5.

350. Juz 3. 1960. Juz 3.5 Dari berbagai pengertian di atas.bersifat syar’i. Tidak dimaksudkan kata nikah itu dalam al-Qur’an kecuali dalam hal akad. 1410 H/1990 M. 251 5 3 . hlm. Kairo: Dar Ikhya’ al-Turas al-Islami. Dalam konteks ini Rasulullah bersabda: ‫ﺑﻦ ﹶﺃﺑﹺﻲ‬ ‫ﻴﺪ‬‫ﺎ ﺣﻤ‬‫ﺒﺮﻧ‬‫ﺑﻦ ﺟﻌﻔﺮ ﹶﺃﺧ‬ ‫ﺎ ﻣﺤﻤﺪ‬‫ﺒﺮﻧ‬‫ﻳﻢ ﹶﺃﺧ‬‫ﺑﻦ ﹶﺃﺑﹺﻲ ﻣﺮ‬ ‫ﻴﺪ‬‫ﺎ ﺳﻌ‬‫ﺣﺪﹶﺛﻨ‬       ‫ﹶﹴ‬                ‫ﺎﺀ ﹶﺛﻠﹶﺎﹶﺛﺔ‬‫ﻳ ﹸﻮﻝ ﺟ‬ ‫ﻪ‬‫ﻲ ﺍﻟﱠﻪ ﻋﻨ‬‫ﻟﻚ ﺭﺿ‬‫ﺎ‬‫ﺑﻦ ﻣ‬ ‫ﻧﺲ‬‫ﻧﻪ ﺳﻤﻊ ﹶﺃ‬‫ﻴﺪ ﺍﻟﻄﻮﹺﻳﻞ ﹶﺃ‬‫ﺣﻤ‬ ‫ ﻘ ﹸ َ ﹸ‬ ‫ﻠ‬       ‫ ﱠ ﹸ‬  ‫ﺎﺩﺓ‬‫ﻳﺴﺄﹸﻮﻥ ﻋﻦ ﻋﺒ‬ ‫ﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ‬‫ﻨﹺﺒﻲ ﺻﱠﻰ ﺍﻟﱠﻪ ﻋﻠ‬‫ﺍﺝ ﺍﻟ‬‫ﻮﺕ ﹶﺃﺯﻭ‬‫ﺑ‬ ‫ﺭﻫﻂ ﹺﺇﻟﹶﻰ‬      ‫ ﹶ ﻟ ﹶ‬  ‫ ﱠ‬   ‫ ﹶ‬ ‫ﻠ ﻠ‬  ‫ ﹺ‬  ‫ﻴ‬   ‫ﻧﺤﻦ‬ ‫ﻳﻦ‬‫ﺎ ﻓﻘﹶﺎﹸﻮﺍ ﻭﹶﺃ‬‫ﺗﻘﹶﺎﱡﻮﻫ‬ ‫ﻧﻬﻢ‬‫ﻭﺍ ﻛﺄ‬ ‫ﺎ ﹸﺃﺧﹺﺒ‬ ‫ﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻠ‬‫ﻨﹺﺒﻲ ﺻﱠﻰ ﺍﻟﱠﻪ ﻋﻠ‬‫ﺍﻟ‬     ‫ ﻟ ﹶ ﻟ‬  ‫ ﺮ ﹶ ﹶ‬ ‫ ﹶ ﹶ ﻤ‬ ‫ﱠ‬   ‫ ﹶ‬ ‫ ﻠ ﻠ‬  ‫ﺗﺄﺧﺮ ﻗﹶﺎﻝ‬ ‫ﺎ‬‫ﻧﹺﺒﻪ ﻭﻣ‬‫ﺗﻘﺪﻡ ﻣﻦ ﺫ‬ ‫ﺎ‬‫ﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺪ ﻏﻔﺮ ﹶﻟﻪ ﻣ‬‫ﻨﹺﺒﻲ ﺻﱠﻰ ﺍﻟﱠﻪ ﻋﻠ‬‫ﻣﻦ ﺍﻟ‬ ‫ ﹶ‬  ‫ ﹶ‬  ‫ ﹶ‬    ‫ ﹶ‬   ‫ ﹸ‬ ‫ ﹶ‬ ‫ ﱠ‬   ‫ ﹶ‬ ‫ﻠ ﻠ‬    ‫ﻮﻡ ﺍﻟﺪﻫﺮ ﻭﻟﹶﺎ ﹸﺃﻓﻄﺮ‬ ‫ﺎ ﹶﺃ‬‫ﻗﹶﺎﻝ ﺁﺧﺮ ﹶﺃﻧ‬‫ﺍ ﻭ‬‫ﺑﺪ‬‫ﻴﻞ ﹶﺃ‬‫ﻲ ﹸﺃﺻﱢﻲ ﺍﻟﻠ‬‫ﺎ ﻓﺈ‬‫ﺎ ﹶﺃﻧ‬ ‫ﹶﺃﺣﺪﻫﻢ ﹶﺃ‬  ‫ ﹾ‬    ‫ ﺻ‬ ‫ﹶ‬ ‫ ﻠ ﱠ ﹶ‬ ‫ ﻣ ﹶ ﹺﻧ‬    ‫ﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﱠﻰ ﺍﻟﱠﻪ‬ ‫ﺎﺀ ﺭ‬‫ﺍ ﻓﺠ‬‫ﺑﺪ‬‫ﺰﻭﺝ ﹶﺃ‬‫ﺎﺀ ﻓﻠﹶﺎ ﹶﺃﺗ‬‫ﻨﺴ‬‫ﺘﺰﻝ ﺍﻟ‬‫ﺎ ﹶﺃﻋ‬‫ﻭﻗﹶﺎﻝ ﺁﺧﺮ ﹶﺃﻧ‬ ‫ ﻠ ﻠ‬  ‫ﺳ ﹸ ﱠ‬ َ ‫ﹶ‬   ‫َ ﹶ‬ ‫ﹺﹸ‬  ‫ ﹶ‬ ‫ﺎﻛﻢ‬‫ﻲ ﹶﻟﺄﺧﺸ‬‫ﺍﻟﻠﻪ ﹺﺇ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﺘﻢ ﻛﺬﹶﺍ ﻭﻛﺬﹶﺍ ﹶﺃﻣ‬‫ﻳﻦ ﻗﻠ‬‫ﺘﻢ ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﻧ‬‫ﻴﻬﻢ ﻓﻘﹶﺎﻝ ﹶﺃ‬‫ﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﹺﺇﻟﹶ‬‫ﻋﻠ‬  ‫ ﹸ‬ ‫ ﻧ ﹶ‬‫ﱠ‬ ‫ ﹶ‬ ‫ ﹶ‬ ‫ ﹸ ﹾ‬  ‫ ﹶ ﹶ‬ ‫ ﹺ‬ ‫ﱠ‬   ‫ﹶ‬ ‫ﺎﺀ ﻓﻤﻦ‬‫ﻨﺴ‬‫ﺗﺰﻭﺝ ﺍﻟ‬‫ﻮﻡ ﻭﹸﺃﻓﻄﺮ ﻭﹸﺃﺻﱢﻲ ﻭﹶﺃﺭﻗﺪ ﻭﹶﺃ‬ ‫ﻲ ﹶﺃ‬‫ﺗﻘﹶﺎﻛﻢ ﹶﻟﻪ ﹶﻟﻜ‬‫ﻟﻠﻪ ﻭﹶﺃ‬  ‫َ ﹶ‬      ‫ ﹸ‬  ‫ﻠ‬    ‫ ﹾ‬  ‫ﻨ ﺻ‬   ‫ ﹸ‬  ‫ﱠ‬ ‫ﻨ‬  ‫ ﹶ ﹶ‬      (‫ﻲ )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻯ‬‫ﻴﺲ ﻣ‬‫ﻲ ﻓﻠ‬‫ﻨﺘ‬‫ﺭﻏﺐ ﻋﻦ ﺳ‬ 6 Sayyid al-Iman Muhammad ibn Ismail as-San’ani . 6 Al-Bukhari. Karena itu dapat disimpulkan perkawinan ialah suatu akad atau perikatan untuk menghalalkan hubungan kelamin antara lakilaki dan perempuan dalam rangka mewujudkan kebahagiaan hidup berkeluarga yang diliputi rasa ketentraman serta kasih sayang dengan cara yang diridhai Allah SWT. Sahih al-Bukhari. Subul al-Salam Sarh Bulugh alMaram Min Jami Adillati al-Ahkam. meskipun redaksinya berbeda akan tetapi ada pula kesamaannya. Beirut Libanon: Dar al-Fikr. hlm.

bertanya tentang ibadat beliau. Setelah diterangkan kepada mereka. perkawinan orang beragama Islam (pria/wanita) dengan orang 4 .Artinya: Telah mengabarkan kepada kami dari Sa'id bin Abi Maryam telah memberitahu kepada kami dari Muhammad bin Ja'far dari Himaid bin Abi Humaid ath-Thawail. sesungguhnya dia telah mendengar dari Anas bin Malik r. Masalah yang muncul. Namun demikian dalam prakteknya tidak sedikit adanya hubungan muda-mudi yang berbeda agama yaitu muslim dengan non muslim. dan saya kawin. Barangsiapa yang tidak mau mengikuti sunnahku. Beliau berkata: "Kamukah orangnya yang berkata begini dan begitu? Demi Allah! Saya lebih takut dan lebih bertaqwa kepada Tuhan dibandingkan dengan kamu." Orang ketiga berkata: "Saya tidak akan pernah mendekati wanita." Setelah itu Rasulullah saw. Mereka berkata: "Kita tidak dapat disamakan dengan Nabi. saya akan selalu sembahyang sepanjang malam selamalamanya. katanya: Ada tiga orang laki-laki datang berkunjung ke rumah isteri-isteri Nabi saw. Saya sembahyang dan tidur." (HR. tidak termasuk ke dalam golonganku. Hubungan itu tidak menutup kemungkinan sampai pada jenjang pernikahan.. dalam hal ini. Tetapi saya berpuasa dan berbuka. al-Bhukhari) Dari hadis di atas mengisyaratkan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak menyukai seseorang yang berprinsip anti menikah." Orang kedua berkata: "Saya akan berpuasa setiap hari.a. Saya tidak akan kawin selama-lamanya. tidak pernah berbuka. Allah. apakah hukumnya sah perkawinan muslim dengan non muslim? Peristiwa di atas berarti menyangkut perkawinan antar agama yang menurut Masjfuk Zuhdi. Semua dosa beliau yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni. kelihatan bahwa mereka menganggap bahwa apa yang dilakukan Nabi itu terlalu sedikit. datang. yaitu perkawinan antarorang yang berlainan agama." Salah seorang dari mereka berkata: "Untuk saya.

9 Abdul Aziz Dahlan. baik musyrik maupun ahlul kitab. 1997.7 Perkawinan antaragama yang dimaksud ini dapat terjadi antara 1. Ichtiar Baru Van Hoeve. "Fiqih Lima Mazhab". hlm. 8 7 5 . Terj. baik "ahlulkitab" maupun musyrik. Akibat hukum dari perkawinan antaragama adalah sebagai berikut: apabila perkawinan antaragama terjadi antara perempuan yang beragama Islam dan laki-laki yang tidak beragama Islam. Masail Fikhiyah.al. baik ahlulkitab maupun musyrik. 336. Calon istri beragama Islam dan calon suami tidak beragama Islam. Al-Fiqh 'ala al-Mazahib al-Khamsah. hlm. maka ulama fikih sepakat hukumnya tidak sah. maka para ulama imamiyah – sebagaimana halnya dengan keempat mazhab lainnya – sepakat bahwa wanita muslimah tidak boleh kawin dengan laki-laki non muslim meskipun ahli kitab. Jakarta: PT Gunung Agung. Calon suami beragama Islam dan calon istri tidak beragama Islam. Muhammad Jawad Mughniyah.. Ensiklopedi Hukum Islam.beragama non Islam (pria/wanita)..9 Alasannya adalah firman Allah SWT dalam al-Baqarah (2) ayat 221: ‫ﻦ ﻣﺸﺮﻙ ﻭﹶﻟﻮ‬ ‫ﻴﺮ‬‫ﺒﺪ ﻣﺆﻣﻦ ﺧ‬‫ﻮﹾﺍ ﻭﹶﻟﻌ‬‫ﻳﺆﻣ‬ ‫ﻰ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﹾﻟﻤﺸﺮﻛﲔ ﺣ‬ ‫ﻨﻜ‬ ‫ﻻ‬‫.. 2. 1409. 4. Jilid 4.) ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ‬‫ﹶﺃﻋﺠ‬ ‫ ﹸ‬  Masjfuk Zuhdi. 2000. et al. hlm. et. Masykur AB. Jakarta: PT..8 Hal ini berarti apabila perkawinan antaragama terjadi antara perempuan yang beragama Islam dan laki-laki yang tidak beragama Islam. 1997.ﻭ‬    ‫ ﹺ‬  ‫ ﻣ‬         ‫ﻨ‬  ‫ﺘ‬   ‫ ﹺ‬  ‫ ﺤ‬ ‫ﹶ ﺗ‬ (221 :‫ﺒﻜﻢ. baik musyrik maupun ahlulkitab. Jakarta: PT Lentera Basritama.

Artinya: Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik sebelum mereka beriman..11 Apabila perkawinan terjadi antara laki-laki muslim dengan perempuan musyrik. Jumhur ulama fikih membolehkan perkawinan laki-laki muslim dengan perempuan ahlul kitab. terdapat beberapa pendapat di antara ulama fikih: a. Sesungguhnya budak yang mu'min lebih baik dari orang musyrik. Argumen yang dikemukakan adalah firman Allah SWT dalam al-Baqarah (2) ayat 221. ulama fikih sepakat menyatakan bahwa hukumnya tidak sah. 1986. Ulama berbeda pendapat mengenai siapa yang disebut perempuan musyrik itu. 10 (10 :‫ﻳﺤﱡﻮﻥ ﹶﻟﻬﻦ. 11 Ibid.S. penjelasan yang 10 Depag RI.ﻻ ﻫﻦ ﺣﻞ ﱠﻟﻬﻢ ﻭﻻ ﻫﻢ‬   ‫ﻠ ﹶ‬   ‫ ﹶ‬   ‫ ﱞ‬   ‫ﹶ‬ Artinya: …Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orangorang kafir itu tiada halal pula bagi mereka… (Q.. b. Al-Qur’an dan Terjemahnya.) ﺍﳌﻤﺘﺤﻨﺔ‬ ‫. menurutnya. Umar bin al-Khattab (42 SH/581 M-23 H/644 M) melarang perkawinan antara laki-laki muslim dan perempuan ahlul kitab. hlm. Selanjutnya apabila perkawinan terjadi antara laki-laki beragama Islam dan perempuan yang tergolong ahlul kitab. hlm. Allah SWT telah mengharamkan laki-laki muslim menikahi perempuan musyrik dan ia tidak pernah tahu adakah syirik yang lebih besar dari seseorang yang beriktikad bahwa Nabi Isa AS atau hamba Allah SWT yang lainnya adalah Tuhannya. Sebab.. Mumtahanah: 10). Argumen mereka adalah pertama. walaupun dia menarik hatimu.. 53. 924 6 . Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an.

hlm. Dalam hubungannya dengan perkawinan antar agama. Di antara alasan yang diajukan adalah (1). pendapat Sayid Sabiq. Dalam kaitannya dengan ahli kitab. yang termasuk ahlul kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani keturunan orang-orang Israel. tth. Hal ini ia nyatakan dalam kitabnya yaitu: ‫ﺍﳌﺴﻠﻤﺔ ﻻ ﲢﻞ ﳌﺸﺮﻙ ﲝﺎﻝ ﻭﺍﳌﺮﺃﺓ ﺍﳌﺸﺮﻛﺔ ﻗﺪ ﲢﻞ ﻟﻠﻤﺴﻠﻢ ﲝﺎﻝ ﻭﻫﻰ ﺃﻥ‬  12 ‫ﺗﻜﻮﻥ ﻛﺘﺎﺑﻴﺔ‬ Artinya: wanita muslimah tidak halal (menikah) dengan laki-laki musyrik dengan keadaan apa pun. dan wanita musyrik itu kadang-kadang halal (boleh menikah) bagi lelaki Islam dengan sesuatu hal dan wanita itu wanita kitabi. Beirut Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiah. Karena Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS hanya diutus untuk orang-orang bangsa Israel. menurut alSyafi'i bahwa wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki non muslim. menurut Al-Syafi'i. ahli fikih di Mesir. Al-Umm. akan tetapi dibolehkan menikah antara laki-laki muslim dengan ahli kitab. Sekalipun jumhur ulama fikih sepakat tentang kebolehan seorang laki-laki beragama Islam mengawini wanita ahlul kitab. dan Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i.terdapat dalam Al-Qur'an dalam surah al-Ma'idah ayat 5 dan kedua. namun mereka berbeda pendapat dalam menentukan wanita ahlul kitab itu sendiri. yang menjelaskan bahwa sekalipun boleh mengawini wanita ahlul kitab. juz 4. namun hukumnya makruh. 287 12 7 . tidak termasuk bangsa-bangsa lain sekalipun penganut agama Yahudi dan atau Nasrani.

(2). Lafal min qablikum (umat sebelum kamu) dalam surah al-Ma'idah (5) ayat 5 menunjuk kepada kedua kelompok Yahudi dan Nasrani bangsa Israel. Pendapat al-Syafi'i di atas dapat dijumpai dalam kitabnya yang pada intinya menyatakan:

‫ﻣﻦ ﺩﺍﻥ ﺩﻳﻦ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻱ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺎﺑﺌﲔ ﻭﺍﻟﺴﺎﻣﺮﺓ ﺃﻛﻠﺖ ﺫﺑﻴﺤﺘﻪ ﻭﺣﻞ‬ 13 ‫ﻧﺴﺎﺅﻩ‬
Artinya: siapa yang beragama dengan agama Yahudi dan Nasrani dari orang Sabiin dan Samiri, maka boleh dimakan sembelihannya dan halal dikawini wanitanya.14 Mengingat kondisi yang demikian, maka terasa masih relevan membicarakan perkawinan antar agama, karena perkawinan merupakan sesuatu yang penting. Kecuali itu, masih banyak orang yang belum memahaminya secara tepat, terutama di kalangan generasi muda. Di sinilah terletak, antara lain urgennya mengkaji pendapat al-Syafi'i. Berdasarkan uraian di atas mendorong diangkatnya tema ini dengan judul: Studi Analisis Pendapat Al-Syafi'i dalam Kitab al-Umm tentang Perkawinan Antar Agama

Ibid, hlm. 289 Sabi'in adalah nama golongan yang mengikuti nabi-nabi zaman dahulu. Sedangkan Samiri adalah nama suatu suku dari bangsa Israil.
14

13

8

A. Perumusan Masalah Permasalahan merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan-pertanyaan apa saja yang ingin dicarikan jawabannya.15 Bertitik tolak pada keterangan itu, maka yang menjadi pokok permasalahan: 1. Bagaimana pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama? 2. Bagaimana metode istinbath hukum Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama? B. Tujuan Penelitian Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama 2. Untuk mengetahui metode istinbath hukum Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama C. Telaah Pustaka Berdasarkan penelitian di perpustakaan Fakultas Syari’ah ditemukan kajian khusus berupa skripsi yang judulnya ada hubungan dengan penelitian ini. Demikian pula ada beberapa buku yang membahas perkawinan antar agama, walaupun secara khusus belum membahas konsep Al-Syafi'i secara mendalam. Skripsi dan buku-buku yang dimaksud di antaranya: 1. Skripsi yang disusun oleh M. Rodli (NIM 2195143 IAIN Wali Songo Semarang) berjudul: Analisis Pendapat Muhammad Rasyid Ridlo tentang Kebolehan Laki-Laki Muslim Menikahi Wanita Kristen/Nasrani (Ahlul
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Cet. 7, Jakarta; Pustaka Sinar Harapan, 1993, hlm. 312.
15

9

Kitab) dalam Al-Manar. Dalam skripsinya dijelaskan bahwa pada intinya M. Rasyid Ridho membolehkan laki-laki muslim menikahi wanita ahlul kitab dengan syarat laki-laki muslim tidak terpengaruh dan ikut ke agama istrinya, yang ia khawatirkan wanita ahlul kitab tersebut akan menarik laki-laki muslim untuk masuk ke agamanya dengan kepandaiannya, kecantikannya, dan hartanya. Terhadap pemikiran M. Rasyid Ridho di atas, maka penulis mendukung karena Islam sebagai rahmat sekalian alam tidak membedakan antara manusia satu dengan lainnya, demikian juga terhadap penganut agama lain. 2. Skripsi yang disusun oleh Thoifah (NIM 2196073 IAIN Wali Songo Semarang) dengan judul: Study Pemikiran Quraisy Syihab tentang Ahlul Kitab dan Implikasinya pada pernikahan Beda Agama di Indonesia. Dalam skripsinya dijelaskan bahwa M. Quraisy Shihab membolehkan seorang pria menikah dengan ahlul kitab dengan catatan wanita itu yang muhsonat yaitu perempuan yang dapat menjaga kehormatan diri dan sangat menghormati serta mengagungkan kitab sucinya. Muhammad Quraish Shihab, ahli tafsir kontemporer dari Indonesia, lebih cenderung berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ahlul kitab adalah semua penganut agama Yahudi dan Nasrani, kapanpun, di mana pun, dan keturunan siapa pun mereka. Pendapatnya ini didasarkan kepada firman Allah SWT dalam surah al-An 'am (6) ayat 156:

‫ﻦ‬‫ﺎ ﻋ‬‫ﺎ ﻭﺇﹺﻥ ﻛ‬‫ﺒﻠﻨ‬‫ﻦ ﻗ‬‫ﻴﻦ ﻣ‬‫ﺘ‬‫ﺋﻔ‬‫ ﻋﻠﹶﻰ ﻃﹶﺂ‬‫ﺎﺏ‬‫ﺎ ﹸﻧﺰﻝ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬‫ﻧﻤ‬‫ﺗ ﹸﻮﹸﻮﹾﺍ ﹺﺇ‬ ‫ﺃﹶﻥ‬ ‫ ﹸﻨ‬  ‫ﹶ ﹺ ﹶ‬   ‫ﺃﹺﹶ‬ ‫ﻘﻟ‬ (156 :‫ﺎﻓﻠﲔ )ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ‬‫ﺘﻬﻢ ﹶﻟﻐ‬‫ﺍﺳ‬‫ﺩﺭ‬    ‫ ﹺ‬ 
10

menegaskan tentang perkawinan antar agama. Menurut Hamka bahwa dalam ajaran Islam. al-An'am: 156) Penulis kurang sependapat dengan klasifikasi Quraish Shihab. Alhasil pada pokoknya bahwa orang Islam laki-laki jodohnya ialah orang Islam perempuan. perempuan muslimah tidak boleh bersuamikan ahlul kitab karena perempuan tidak akan melebihi kekuasaan suaminya dalam rumah tangga. meskipun perempuan itu masih budak. khususnya perkawinan wanita muslimah dengan pria non muslim. Di sini pula ia tidak memberi argumentasi yang detail kenapa untuk penganut agama lain tidak boleh. Hamka. sebagaimana dimiliki oleh Islam. terhadap surat al-Baqarah ayat 221. Padahal Shihab tidak memberi ukuran apa sehingga agama Yahudi dan Nasrani dibolehkan. Apalagi dalam agama-agama lain yang tidak memberikan jaminan kebebasan yang luas dalam peraturan agamanya terhadap perempuan. di zaman negeri-negeri masih mengakui adanya budak. Hal ini mengandung arti ia membedakan antara penganut agama yang satu dengan lainnya. Orang perempuan Islam jodohnya laki-laki Islam. (Q.S. padahal 11 . dalam Tafsir Al-Azhar. 3.Artinya: (Kami turunkan Al-Qur'an itu) agar kamu (tidak) mengatakan: Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami. karena ia hanya membolehkan pada penganut agama Yahudi dan Nasrani. Janganlah mencari jodoh karena hanya tertarik pada kecantikan. dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca.

Syekh Hasan Khalid. Jakarta: Pustaka al-Sofwa.17 Umar bin al-Khattab (42 SH/581 M-23 H/644 M) melarang perkawinan antara laki-laki muslim dan perempuan ahlul kitab.19 Argumen mereka yang menyatakan boleh adalah penjelasan yang terdapat dalam Al-Qur'an dalam surah al-Ma'idah ayat 5 6. hlm.18 5. “Menikah Dengan Non Muslim”. juz 2. Terj.16 4. baik dia musyrik ataupun Ahli Kitab. Zaenal Abidin Syamsudin. 2004. Yusuf Qardhawi. Sebab.orangnya musyrik. menurutnya. Sayyid Sabiq. As’ad Yasin. al-Zawaj Bighair al-Muslimin. “FatwaFatwa Kontemporer”. Jakarta: Gema Insani. 257 Yusuf Qardhawi. 145 17 16 12 . Ulama ahli fiqih ini menguraikan. Fiqh al-Sunnah. Allah SWT telah mengharamkan laki-laki muslim menikahi perempuan musyrik dan ia tidak pernah tahu adakah syirik yang lebih besar dari seseorang yang beriktikad bahwa Nabi Isa AS atau hamba Allah SWT yang lainnya adalah Tuhannya. 2001. hlm. para ulama sepakat bahwa perempuan Muslim tidak halal kawin dengan lakilaki bukan Muslim. jilid 1. al-Zawaj Bighair al-Muslimin. Jakarta: PT Pustaka Panji Mas. dalam Hadyul Islam Fatawi Mu’ashirah berpendapat bahwa hukum asal mengawini wanita ahli kitab menurut jumhur ulama adalah mubah. Namun demikian di antara sahabat yang tidak berpendapat demikian adalah Umar bin al-Khattab. 1999. Terj. 585 18 bid 19 Syekh Hasan Khalid. Jangan tertarik oleh kekayaan atau keturunan kalau laki-lakinya tidak beragama. Hamka. Tafsir Al Azhar. hlm. Menurut Syekh Hasan Khalid bahwa jumhur ulama fikih membolehkan perkawinan lakilaki muslim dengan perempuan ahlul kitab. Hadyul Islam Fatawi Mu’ashirah.

dan bagi istri wajib taat kepada perintahnya yang baik.Alasannya ialah firman Allah: ‫ﻮ‬‫ﺘﺤ‬‫ﺍﺕ ﻓﹶﺎﻣ‬‫ﺎﺟﺮ‬‫ﺎﺕ ﻣﻬ‬‫ﺎﺀﻛﻢ ﺍﹾﻟﻤﺆﻣﻨ‬‫ﻮﺍ ﹺﺇﺫﹶﺍ ﺟ‬‫ﻳﻦ ﺁﻣ‬‫ﺎ ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﻳﻬ‬‫ﺎ ﹶﺃ‬‫ﻳ‬ ‫ﻨ‬   ‫ ﹺ‬      ‫ﹸ‬ ‫ﻨ‬  ‫ﻮﻫﻦ ﹺﺇﻟﹶﻰ‬ ‫ﺗﺮﺟ‬ ‫ﺎﺕ ﻓﻼ‬‫ﻮﻫﻦ ﻣﺆﻣﻨ‬ ‫ﺘ‬‫ﺎﹺﻧﻬﻦ ﻓﺈﻥ ﻋﻠﻤ‬‫ ﹺﺑﺈﳝ‬‫ﻫﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﹶﺃﻋﻠﻢ‬   ‫ ﹺﻌ‬ ‫ ﹶ ﹶ‬      ‫ ﻤ‬  ‫ ﹶﹺ ﹾ‬ ‫ﹶ ﹺ ﹺ‬  ‫ ﱠ‬  (10 :‫ﻳﺤﱡﻮﻥ ﹶﻟﻬﻦ. Akan tetapi bagi orang kafir tidak ada kekuasaan terhadap laki-laki atau perempuan Muslim. Dalam pengertian seperti inilah maksud daripada kekuasaan suami terhadap istri. Di samping itu dalam rumah yang terdapat perbedaan paham 13 .. Allah berfirman: (141 :‫ﻟﻠﻜﹶﺎﻓﺮﹺﻳﻦ ﻋﻠﹶﻰ ﺍﹾﻟﻤﺆﻣﹺﻨﲔ ﺳﺒﹺﻴﻼ )ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ‬ ‫ﻳﺠﻌﻞﹶ ﺍﻟﻠﻪ‬ ‫.. ﻭﻟﹶﻦ‬ ‫ ﹰ‬       ‫ ﹾ‬‫ ﹼ‬  Artinya: Dan Allah tidak akan memberikan jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang Mukmin. Dan laki-laki kafir pun tidak halal bagi mereka. Jika kamu telah dapat membuktikan bahwa mereka itu benar-benar beriman.) ﺍﳌﻤﺘﺤﻨﺔ‬ ‫ﺍﹾﻟﻜ ﱠﺎﺭ ﻻ ﻫﻦ ﺣﻞ ﱠﻟﻬﻢ ﻭﻟﹶﺎ ﻫﻢ‬   ‫ﻠ ﹶ‬      ‫ ﱞ‬   ‫ﹸﻔ ﹺ ﹶ‬ Artinya: Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu perempuan-perempuan Mukmin yang berhijrah hendaklah mereka kamu uji lebih dulu. (An-Nisa': 141) Selain itu seorang suami kafir tidak mau tahu akan agama istrinya yang Muslim bahkan ia mendustakan Kitab Sucinya dan mengingkari ajaran Nabinya. Allah lebih mengetahui iman mereka... " (AlMumtahanah: 10) Pertimbangan daripada ketentuan ini adalah bahwa di tangan suamilah kekuasaan terhadap istrinya. maka janganlah mereka kembalikan kepada orang-orang kafir. Mereka ini (perempuan-perempuan Mukmin) tidak halal bagi laki-laki kafir.

meskipun ibu bapaknya. 1972. Kairo: Maktabah Dar al-Turas. Menyembah . 147 21 20 14 . Ahmad Asy-Syarbashi. 182. Pada dasarnya pengarang kitab ini hanya mengetengahkan pandangan berbagai mazhab dengan memberi komentar di sana sini. Hanafi. Dalam kitab ini dijelaskan bahwa telah sepakat mazhab yang empat. Abd al-Rahman al-Jaziri. Abdurrahman al-Jaziri. juz 4. dalam Kitab al-Fiqh ala Majahib al-Arba’ah. Tetapi Imam Syafi'i dan Hanbali mensyaratkan. hlm. maka tidak boleh mengawini Perempuan itu. bahwa laki-laki Muslim boleh mengawini perempuan Yahudi/Nasrani. Kitab ini berisi pendapat dari empat mazhab yaitu mazhab Maliki. Kalau bapak/nenek perempuan itu menyembah berhala dan bukan ahli kitab (Taurat/Injil).20 7. hlm. Menurut Hanafi dan Maliki asal perempuan itu beragama Yahudi/Nasrani. dan menganggap bahwa percaya kepada Kitab Suci dan Nabi-nabi agama istrinya sebagai bagian daripada rukun iman. Hambali dan Syafi’i. maka rumah tangganya tidak akan dapat tegak dengan baik dan berjalan langgeng. Akan tetapi hal ini berbeda jika laki-laki Muslim kawin dengan perempuan Ahli Kitab. sebab ia mau tahu agama istrinya. Beirut: Dar al-Fikr. Fiqh al-Sunnah. kemudian ia memeluk agama. ibu bapa perempuan itu harus orang Yahudi/Nasrani juga. Yahudi/Nasrani.begitu jauh dan keyakinan begitu prinsip. Menurutnya Sayyid Sabiq. tth.berhala. dimana keimanan Islamnya ini tidak akan sempurna kalau tidak mempercayai Kitab dan para Nabi Ahli Kitab. Kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-Arba’ah.21 8. boleh mengawininya. juz 2. Yas'alunaka fi ad-Din wa al-Hayah.

tentunya tidak ada kesulitan dalam hal perkawinan. Ahmad Subandi.22 9. al-Baqarah: 221). Mahmud Yunus. Allah SWT telah berfirman. Hukum Perkawinan Dalam Islam. 50. hlm. 46. 1981. Tetapi perempuan muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki Yahudi atau Nasrani. Jakarta: Lentera. Yas'alunaka fi ad-Din wa al-Hayah. 238-241 23 Mahmud Yunus. Bila ini terjadi.23 10. Akan tetapi manakala kedua belah pihak masingmasing mempertahankan agamanya maka akan muncul masalah.24 Ahmad Asy-Syarbashi. 24 Wirjono Prodjodikoro. Pengarang buku ini menyatakan sekiranya tiap-tiap agama dalam peraturannya melarang seorang pemeluk agama itu kawin dengan orang yang memeluk agama lain. hlm. Dalam buku ini Mahmud Yunus menjelaskan bahwa laki-laki muslim dibolehkan menikah dengan perempuan Yahudi atau Nasrani.umat Islam dengan segenap fukaha dan ulamanya sepakat bahwa tidak boleh seorang Muslimah menikah dengan seorang laki-laki non-Muslim. maka biasanya salah seorang dari mereka mengalah dan beralih kepada agama dari pihak lain. kelompok musyrikin. maupun kelompok ateis. Jakarta: PT Hidayakarya Agung. Hukum Perkawinan Dalam Islam. hlm. Hukum Perkawinan Di Indonesia. 1997. Wirjono Prodjodikoro. Baik laki-laki non-Muslim tersebut termasuk kelompok Ahlulkitab. "Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita.wanita mukmin) sehingga mereka beriman. "Tanya Jawab Lengkap tentang Agama dan Kehidupan". Terj. seperti Yahudi dan Nasrani. 1990. Bandung: PT Sumur Bandung." (QS. Hukum Perkawinan Di Indonesia. 22 15 . walaupun dia menarik hatimu. Sesungguhnya budak yang mukmin itu lebih baik dan orang musyrik.

Cet. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. sedangkan instrumen adalah alat bantu yang digunakan dalam mengumpulkan data itu. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. dianalisis. Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah. Metode Penelitian Bidang Sosial. 2002.Spesifikasi skripsi ini dibandingkan dengan kepustakaan di atas. hlm. Jakarta: PT Rineka Cipta. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. Hadari Nawawi. metode penelitian atau metodologi research adalah ilmu yang memperbincangkan tentang metode-metode ilmiah dalam menggali kebenaran pengetahuan.25 Dalam versi lain dirumuskan. 194.26 maka metode penelitian skripsi ini dapat dijelaskan sebagai berikut:27 Jenis Data Penulisan ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yaitu jenis penelitian yang tidak menggunakan angka-angka statistik. 1. 1991. 1997. 26 Suharsimi Arikunto. Di samping itu penelitian ini hanya menggunakan penelitian kepustakaan (Library research). diambil kesimpulan dan selanjutnya dicarikan cara pemecahannya. metode penelitian adalah cara yang dipakai dalam mengumpulkan data. hlm. 16 . Metode Penelitian Metode penelitan bermakna seperangkat pengetahuan tentang langkahlangkah sistematis dan logis tentang pencarian data yang berkenaan dengan masalah tertentu untuk diolah. melainkan dalam bentuk kata-kata. D. 25 Wardi Bacthiar. hlm. 12. 24. Yang dimaksud dengan penelitian kepustakaan adalah penelitian yang menggunakan data-data dari buku sebagai sumber kajian. yaitu membahas pendapat seorang tokoh Islam yaitu Imam Syafi’i tentang perkawinan laki-laki muslim dengan ahlul kitab. 27 Menurut Hadari Nawawi.

Futuhal Arifin. kitab Jizyah dan lain-lain kitab tafsir dan Djazuli. Amali al-Kubra. Mukhtasar al-Muzani. Kitab ini disusun langsung oleh AlSyafi’i secara sistematis sesuai dengan bab-bab fikih dan menjadi rujukan utama dalam Mazhab Syafi'i. Dalam kitab ini juga dimuat pendapat Al-Syafi’i yang dikenal dengan sebutan al-qaul al-qadim (pendapat lama) dan al-qaul al-jadid (pendapat baru). 131-132 Ahmad Asy Syarbasy. Jakarta: Pustaka Qalami. Ini merupakan kitab ushul fiqh yang pertama kali dikarang dan karenanya Al-Syafi’i dikenal sebagai peletak ilmu ushul fiqh.29 Mukhtasar al-Rabi. Al-Aimmah al-Arba'ah. (2) Kitab al-Risalah.Pendekatan Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analisis yakni menggambarkan dan menganalisis pemikiran Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama. khususnya dalam perkawinan antara pria muslim dengan wanita ahli kitab. Kitab ini memuat pendapat AlSyafi’i dalam berbagai masalah fikih. 2003. Sumber Data Data Primer. 2005. Pada tahun 1321 H kitab ini dicetak oleh Dar asy-Sya'b Mesir. dari karya-karya Al-Syafi’i yang berhubungan dengan judul di atas di antaranya: (1) Al-Umm. Ilmu Fiqh. hlm. Jakarta: Prenada Media. hlm. Kitab ini dicetak berulang kali dalam delapan jilid bersamaan dengan kitab usul fikih Al-Syafi’i yang berjudul Ar-Risalah. 29 28 17 . "Biografi Empat Imam Mazhab". Mukhtasar al-Buwaithi.28 (3) Kitab Imla al-Shagir. Di dalamnya diterangkan pokok-pokok pikiran beliau dalam menetapkan hukum. 144. Terj. kemudian dicetak ulang pada tahun 1388H/1968M.

hlm. Teknik Analisis Data Dalam menganalisis data. Modifikasi Hukum Islam. Terj. 1995. Ahsan al-Qashash. 34 Tatang M. 134. Abd. Metode Penelitian. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data menggunakan teknik library research (penelitian kepustakaan). Nazir.Aziz MR: "Kisah-Kisah Para Imam Madzhab". Raja grafindo persada. Studi tentang Qaul Qadim dan Qaul Jadid. 3. Cet.Raja Grafindo Persada. dan al-Umm. 44 33 Menurut Moh. Jakarta: Ghalia Indonesia. Bandingkan dengan Lexy J. 2004. 109-110 31 Siradjuddin Abbas. Analisa adalah mengelompokkan. Nazir. al-Hujjah. Moh. hlm. 419. hlm.sastra. 32 Jaih Mubarok. al-Mabsuth. Jakarta: PT. Moleong.30 Siradjuddin Abbas dalam bukunya telah mengumpulkan 97 (sembilan puluh tujuh) buah kitab dalam fiqih Syafi’i. yaitu data yang tidak bisa diukur atau dinilai dengan angka secara langsung. 182-186.33 peneliti menggunakan analisis data kualitatif. Yogyakarta: Mitra Pustaka. Metode Penelitian 30 18 . 4. Cet. Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi’i.1999. membuat suatu urutan. Amirin.31 Ahmad Nahrawi Abd al-Salam menginformasikan bahwa kitab-kitab Imam alSyafi'i adalah Musnad li al-syafi'i.34 Dalam hal ini hendak diuraikan pemikiran Al-Syafi'i tentang Ali Fikri. Menyusun Rencana Penelitian. 2002. memanipulasi serta menyingkatkan data sehingga mudah untuk dibaca. 2003. Pemilihan kepustakaan dilakukan secermat mungkin dengan mempertimbangkan otoritas pengarangnya terhadap bidang yang dikaji. yaitu literatur lainnya yang relevan dengan judul di atas.32 Data Sekunder. Jakarta: Pustaka Tarbiyah. Namun dalam bukunya itu tidak diulas masing dari karya Syafi’i tersebut. hlm. hlm. Jakarta: PT. al-Risalah.

Bab kelima merupakan penutup yang berisi kesimpulan. pendidikan dan karya-karyanya. 2. metode istinbath hukum Al-Syafi'i Bab keempat berisi analisis pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama yang meliputi: pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama. hlm. pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama. Dalam bab pertama ini di ketengahkan keseluruhan isi isi skripsi secara global namun dalam satu kesatuan yang utuh dan jelas. metode istinbath hukum Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama. Bab pertama berisi pendahuluan. pendapat para ulama tentang perkawinan antar agama Bab ketiga berisi pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama yang meliputi biografi Al-Syafi'i. 14.makna ahli kitab dalam perkawinan antar agama E. Koencaraningrat. tujuan penelitian. metode penelitian dan sistematika Penulisan. perumusan masalah. namun dalam satu kesatuan yang saling mendukung dan melengkapi. merupakan gambaran umum secara global namun integral komprehensif dengan memuat: latar belakang masalah. 269. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 1970. Cet. 14. Bab kedua berisi tinjauan umum tentang perkawinan yang meliputi pengertian nikah dan dasar hukumnya. 2001. Kulitatif. saran dan penutup. akibat hukum pernikahan. MetodeMetode Penelitian Masyarakat. syarat dan rukun nikah. 19 . Sistematika Penulisan Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari lima bab yang masingmasing menampakkan titik berat yang berbeda. telaah pustaka. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. Cet. hlm.

hlm. pergaulan laki-laki dan perempuan terjadi secara terhormat sesuai kedudukan manusia sebagai makhluk yang berkehormatan. Pergaulan hidup berumah tangga dibina dalam suasana damai. "Bimbingan Islam Untuk Kehidupan Suami Istri". 2004. 17. Principles of Marriage Family Ethics. hlm. tenteram.36 Oleh karena itu.BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERKAWINAN A. 1999. Bandung: al-Bayan. pada tempatnyalah apabila Islam mengatur masalah perkawinan dengan amat teliti dan terperinci. demikian pula hak dan kewajiban antara orang tua dan anak-anaknya. Hukum Perkawinan Islam. Apabila Ibrahim Amini. sesuai kedudukannya yang amat mulia di tengah-tengah makhluk Allah yang lain. dan rasa kasih sayang antara suami dan istri. terj. untuk membawa umat manusia hidup berkehormatan. Perkawinan dilaksanakan atas dasar kerelaan pihak-pihak bersangkutan. Hubungan manusia laki-laki dan perempuan ditentukan agar didasarkan atas rasa pengabdian kepada Allah sebagai Al Khaliq (Tuhan Maha Pencipta) dan kebaktian kepada kemanusiaan guna melangsungkan kehidupan jenisnya. perseorangan maupun kelompok. 35 20 . Anak keturunan dari hasil perkawinan yang sah menghiasi kehidupan keluarga dan sekaligus merupakan kelangsungan hidup manusia secara bersih dan berkehormatan.35 Perkawinan amat penting dalam kehidupan manusia. Yogyakarta: UII Press. Hak dan kewajiban suami istri timbal-balik diatur amat rapi dan tertib. Pengertian Nikah dan Dasar Hukumnya Perkawinan merupakan kebutuhan fitri setiap manusia yang memberikan banyak hasil yang penting. Dengan jalan perkawinan yang sah. yang dicerminkan dalam adanya ketentuan peminangan sebelum kawin dan ijab-kabul dalam akad nikah yang dipersaksikan pula di hadapan masyarakat dalam suatu perhelatan (walimah). Alwiyah Abdurrahman. 1. 36 Ahmad Azhar Basyir.

menginjak. 39 Muhammad Amin Suma.wath'an ( artinya berjalan di atas. menggabungkan. menghimpun. Hukum perkawinan mempunyai kedudukan amat penting dalam Islam sebab hukum perkawinan mengatur tata-cara kehidupan keluarga yang merupakan inti kehidupan masyarakat sejalan dengan kedudukan manusia sebagai makhluk yang berkehormatan melebihi makhluk-makhluk lainnya. Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap.) ا‬ . Ahmad Warson Al-Munawwir. kata nikah disebut dengan an-nikh ( ‫ح‬ az-ziwaj/az-zawj atau az-zijah ( ‫ ) ا‬dan ‫ . menjumlahkan dan menyusun. atau kata. melalui. merangkul.yatha'u . hlm.) ا طء‬adh-dhammu ( Al-wath'u berasal dari kata wathi'a . menyatukan.yajma'u jam'an ( - - ) berarti: mengumpulkan. Jakarta: PT. 2004. zawaj. menggauli dan bersetubuh atau bersenggama. hlm. menyatukan. memegang. 37 Kata kawin menurut bahasa sama dengan kata nikah.) و‬ nikh berarti al. hlm.yadhummu – dhamman ( - - ) secara harfiah berarti mengumpulkan.. Dituntunkan pula adat sopan santun pergaulan dalam keluarga dengan sebaik-baiknya agar keserasian hidup tetap terpelihara dan terjamin. 1-2. 1997. yang terambil dari akar kata dhamma . menggabungkan.38 Adh-dhammu. menaiki.42-43 38 37 21 .) ا واج. memasuki.Raja Grafindo Persada. an‫ ) ا‬dan al-jam'u ( ‫و‬‫. Yogyakarta: Pustaka Progressif. menggenggam.39 Sedangkan al-jam 'u yang berasal dari akar kata jama’a . menyandarkan.terjadi perselisihan antara suami dan istri. memijak. Itulah sebabnya mengapa bersetubuh atau bersenggama dalam istilah fiqih disebut dengan alIbid.ا واج.ا‬Secara harfiah. Juga berarti bersikap lunak dan ramah. 1461.wath'u (‫ . memeluk dan menjumlahkan. Hukum perkawinan merupakan bagian dari ajaran agama Islam yang wajib ditaati dan dilaksanakan sesuai ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Alqur’an dan Sunah Rasul. diatur pula bagaimana cara mengatasinya. Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam. Dalam Kamus al-Munawwir.‫.

menyertai dan memperistri.زو‬yang secara harfiah berarti: menghasut. tth. Pengarang kitab tersebut menyatakan nikah adalah suatu akad yang berisi pembolehan melakukan persetubuhan dengan menggunakan lafadz menikahkan atau mengawinkan. hlm. Terambil dari akar kata zaja-yazuju-zaujan ( ‫ ) زاج.ّ -‫ )ز ّج‬dalam bentuk timbangan "fa'ala-yufa'ilu‫و‬ ) yang secara harfiah berarti mengawinkan.وج. hlm. jimak dan akad. hlm. Kata nikah itu sendiri secara hakiki bermakna persetubuhan.42 Kitab Fath al-Qarib yang disusun oleh Syekh Muhammad bin Qasim al-Ghazzi menerangkan pula tentang masalah hukum-hukum pernikahan di antaranya dijelaskan kata nikah diucapkan menurut makna bahasanya yaitu kumpul. 43 Syekh Muhammad bin Qasim al-Ghazzi. hlm. 41 40 22 . Namun yang dimaksud dengan az-zawaj/az-ziwaj di sini ialah at-tazwij yang mulanya terambil dari kata zawwaja.ّ -‫ّج‬ ‫و‬ . Indonesia: Maktabah allhya at-Kutub al-Arabiah.43 Ibid. karya Toha Putera . mempergauli.40 Sebutan lain buat perkawinan (pernikahan) ialah az-zawaj/az-ziwaj dan az-zijah. Semarang: Maktabah wa Matbaah. tth. 43-44. Ibid. Dan diucapkan menurut pengertian syara’ yaitu suatu akad yang mengandung beberapa rukun dan syarat. 48.yuzawwijutazwijan ( taf'ilan"( ‫و‬ . wati. mencampuri. 42 Syaikh Zainuddin Ibn Abd Aziz al-Malibary.41 Syeikh Zainuddin Ibn Abd Aziz al-Malibary dalam kitabnya mengupas tentang pernikahan dan tentang wali. menaburkan benih perselisihan dan mengadu domba. menemani. 72.jima' mengingat persetubuhan secara langsung mengisyaratkan semua aktivitas yang terkandung dalam makna-makna harfiah dari kata al-jam'u. 43. Fath al. Fath al-Qarib.Mu’in Bi Sarkh Qurrah al‘Uyun.

hlm. 38. 46 Ibid. jilid 2. Sejarah Penyusunan Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. perkawinan miitsaaqan ghalizhan menurut hukum Islam adalah pernikahan. 1-4. Hukum Perkawinan Islam. yang dilaksanakan menurut ketentuan-ketentuan Hukum Syari'at Islam". 76. Idris Ramulyo. hlm. Jika dikatakan: "Anak itu lahir diluar kawin".46 Dalam pasal 1 Bab I Undang-undang No. beberapa definisi perkawinan dapat dilihat pula dalam Moh. Menurut Hukum Islam. op. Jakarta: Bumi Aksara. 1978. Surabaya: Arkola. 2002.44 Menurut Zahry Hamid. artinya bahwa si A belum pernah mengkabulkan untuk dirinya terhadap ijab akad nikah yang memenuhi rukun dan syaratnya. pernikahan atau perkawinan ialah: "Suatu ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk hidup bersama dalam suatu rumah tangga dan untuk berketurunan. 1995. 45 23 . cit. Yogyakarta: Bina Cipta. 47 Muhammad Amin Suma. Lihat Saekan dan Erniati Effendi. Pokok-Pokok Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan di Indonesia. Zahry Hamid. hlm. Suatu Analisis dari Undang-Undang No. hlm. "Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa". 1977.47 44 Zakiah Daradjat. artinya bahwa anak tersebut dilahirkan oleh seorang wanita yang tidak berada dalam atau terikat oleh ikatan perkawinan berdasarkan akad nikah yang sah menurut hukum. Dalam pasal 2 Kompilasi Hukum Islam (INPRES No 1 Tahun 1991). 1. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam. Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf.45 Dari segi pengertian ini maka jika dikatakan: "Si A belum pernah nikah atau belum pernah kawin". 203. Ilmu Fiqh.Menurut Zakiah Daradjat. yang dinamakan nikah menurut Syara' ialah: "Akad (ijab qabul) antara wali colon isteri dan mempelai laki-laki dengan ucapanucapan tertentu dan memenuhi rukun dan syaratnya. hlm. perkawinan adalah suatu aqad atau perikatan untuk menghalalkan hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan dalam rangka mewujudkan kebahagiaan hidup berkeluarga yang diliputi rasa ketenteraman serta kasih sayang dengan cara yang diridhai Allah SWT. : 1 tahun 1974 tanggal 2 Januari 1974 dinyatakan. yaitu akad yang sangat kuat atau ghalizhan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.

menenteramkan jiwa. dan mengikuti jejak para Nabi dan Rasul. karena hidup beristri. hendaklah memperhatikan inti sari dari sabda Rasulullah SAW. anak-anak mereka dan harta mereka. bahkan jiwanya adalah sama dan seirama. bahwa semua amal perbuatan itu disandarkan atas niat dari yang beramal itu. Masing-masing orang yang akan melaksanakan perkawinan. dan bahwa setiap orang akan memperoleh hasil dari apa yang diniatkannya.. yakni bagaimana proses dan prosedur menuju terbentuknya ikatan perkawinan. . menenangkan fikiran. berumah tangga dan berkeluarga adalah termasuk 'Sunnah beliau. b. serta akibat yuridis dari berakhirnya perkawinan. bagaimana cara menyelenggarakan akad perkawinan menurut hukum. Mentaati perintah Allah SWT. bagaimana proses dan prosedur berakhirnya ikatan perkawinan. 24 . membina kasih sayang serta menjaga kehormatan dan memelihara kepribadian. memelihara nafsu seksualita. Istilah yang lazim dikenal di kalangan para ahli hukum Islam atau Fuqaha ialah Fiqih Munakahat atau Hukum Pernikahan Islam atau Hukum Perkawinan Islam. Maksud dan tujuan itu adalah sebagai berikut: a.Di antara pengertian-pengertian tersebut tidak terdapat pertentangan satu sama lain. terutama meneladani Sunnah Rasulullah Muhammad SAW. Memelihara pandangan mata. yang menggariskan. bagaimana cara mengatasi krisis rumah tangga yang mengancam ikatan lahir batin antara suami isteri. bagaimana cara memelihara ikatan lahir batin yang telah diikrarkan dalam akad perkawinan sebagai akibat yuridis dari adanya akad itu. memuat ketentuanketentuan tentang hal ihwal perkawinan. baik yang menyangkut hubungan hukum antara bekas suami dan isteri. Oleh karenanya maka orang yang akan melangsungkan akad perkawinan hendaklah mengetahui benar-benar maksud dan tujuan perkawinan. Hukum Perkawinan merupakan bahagian dari Hukum Islam yang. karena pada hakikatnya Syari'at Islam itu bersumber kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa.

Jakarta: Depag RI. Al-Qur’an dan Terjemahnya. d. Mempererat dan memperkokoh tali kekeluargaan antara keluarga suami dan keluarga istri sebagai sarana terwujudnya kehidupan masyarakat yang aman dan sejahtera lahir batin di bawah naungan Rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Zahry Hamid.An-Nisa': 3). maka (kawinlah) seorang saja (Q. Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil. 115. cit.48 Adapun dasar hukum melaksanakan akad perkawinan sebagai berikut: Pada dasarnya perkawinan merupakan suatu hal yang diperintahkan dan dianjurkan oleh Syara'. Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an.c. 1986.. op.S. maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua. 2. hlm. tiga atau empat. ْ. hlm. 49 48 25 . Memelihara dan membina kwalitas dan kwantitas keturunan untuk mewujudkan kelestarian kehidupan keluarga di sepanjang masa dalam rangka pembinaan mental spirituil dan phisik materiil yang diridlai Allah Tuhan Yang Maha Esa. )ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ‬‫ﺗﻌﺪﹸﻮﹾﺍ ﻓﻮ‬ ‫ﺘﻢ ﹶﺃﻻ‬‫ﺎﻉ ﻓﺈﻥ ﺧﻔ‬‫ﺑ‬‫ﻰ ﻭﹸﺛﻼﺙ ﻭﺭ‬‫ﻣﹾﺜﻨ‬ ‫ ﹰ‬  ‫ﻟ ﹶ‬  ‫ ﱠ‬ ‫ ﹾ‬ ‫ ﹶ ﹺ ﹾ‬  ‫ ﹶ ﹶ‬  49 Artinya:Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hakhak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya). Beberapa firman Allah yang bertalian dengan disyari'atkannya perkawinan ialah: 1) Firman Allah ayat 3 Surah 4 (An-Nisa'): ‫ﺎﺀ‬‫ﻨﺴ‬‫ﺎ ﻃﹶﺎﺏ ﹶﻟ ﹸﻢ ﻣﻦ ﺍﻟ‬‫ﻮﹾﺍ ﻣ‬ ‫ﻰ ﻓﹶﺎﻧﻜ‬‫ﺎﻣ‬‫ﻴﺘ‬‫ﻲ ﺍﹾﻟ‬‫ﺗﻘﺴ ﹸﻮﹾﺍ ﻓ‬ ‫ﺘﻢ ﹶﺃﻻ‬‫ﻭﹺﺇﻥ ﺧﻔ‬  ‫ ﻜ‬ ‫ﺤ‬ ‫ ﱠ ﹾ ِﻄ‬ ‫ ﹾ‬ ‫ ﹾ‬ (3 :‫ﺍﺣﺪﺓ. Melaksanakan pembangunan materiil dan spirituil dalam kehidupan keluarga dan rumah tangga sebagai sarana terwujudnya keluarga sejahtera dalam rangka pembangunan masyarakat dan bangsa.

S. hlm. 3) Firman Allah ayat 21 Surah 30 (Ar-Rum): ‫ﺎ ﻭﺟﻌﻞ‬‫ﻴﻬ‬‫ﻮﺍ ﹺﺇﹶﻟ‬‫ﺘﺴﻜ‬‫ﺍﺟﺎ ﱢﻟ‬‫ﺗﻪ ﹶﺃﻥ ﺧﻠﻖ ﹶﻟ ﹸﻢ ﻣﻦ ﺃﹶﻧﻔﹸﺴﻜﻢ ﹶﺃﺯﻭ‬‫ﺎ‬‫ﻭﻣﻦ ﺁﻳ‬ ‫ ﹶ‬  ‫ ﹸﻨ‬ ‫ ﹰ‬  ‫ ِ ﹸ‬  ‫ ﻜ‬ ‫ﹶ‬ ‫ ﹾ‬    (21 :‫ﻭﻥ )ﺍﻟﺮﻭﻡ‬ ‫ﺘﻔﻜ‬‫ﻳ‬ ‫ﺎﺕ ﱢﻟﻘﻮﻡ‬‫ﻟﻚ ﻟﹶﺂﻳ‬‫ﻲ ﺫ‬‫ﻨ ﹸﻢ ﻣﻮﺩﺓ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﹺﺇﻥ ﻓ‬‫ﻴ‬‫ﺑ‬ ‫ ﹴ ﹶ ﱠﺮ ﹶ‬ ‫ ﹶ‬  ‫ ﹰ ﱠ ﹶ‬    ‫ﹰ‬   ‫ﻜ‬ 51 Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri. Sesungguhnya pada yang demikian itu benarbenar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (Q. hlm. Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. ‫ﻮﺍ‬‫ﻳ ﹸﻮ‬ ‫ﺋﻜﻢ ﺇﹺﻥ‬‫ﺎ‬‫ﺎﺩﻛﻢ ﻭﹺﺇﻣ‬‫ﺤﲔ ﻣﻦ ﻋﺒ‬‫ﺎﻟ‬ ‫ﺍﻟ‬‫ﻨﻜﻢ ﻭ‬‫ﻰ ﻣ‬‫ﺎﻣ‬‫ﻮﺍ ﺍﹾﻟﺄﻳ‬ ‫ﻭﺃﹶﻧﻜ‬ ‫ ﻜ ﻧ‬‫ ﹸ‬ ‫ﹸ‬     ‫ ﺼ‬‫ﹸ‬ ‫ﺤ ﹶ‬  (32 :‫ﻴﻢ )ﺍﻟﻨﻮﺭ‬‫ﺍﺳﻊ ﻋﻠ‬‫ﺍﻟﻠﻪ ﻭ‬‫ﻦ ﻓﻀﻠﻪ ﻭ‬‫ﻳﻐﻨﹺﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻣ‬ ‫ﺍﺀ‬‫ﻓﻘﺮ‬      ‫ ﱠ‬  ‫ ﹶ‬ ‫ ﱠ‬ ‫ ﹺ‬ ‫ﹸ ﹶ‬ 50 Artinya: Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu. dari dijadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.ArRum: 21) Beberapa hadis yang bertalian dengan disyari'atkannya perkawinan ialah: ‫ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ. 644.ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ ﻋﻨﻪ – ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﹼﻰ‬ ‫ﻠ‬ ‫ﺝ‬ ‫ﺒﺎﺏ ﻣﻦ ﺍﺳﺘﻄﺎﻉ ﻣﻨﻜﻢ ﺍﻟﺒﺎﺀﺓ ﻓﻠﻴﺘﺰ‬ ‫ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﹼﻢ:" ﻳﺎ ﻣﻌﺸﺮ ﺍﻟ‬ ‫ﻭ‬ ‫ﺸ‬ ‫ﻠ‬ ‫ﻪ‬‫ﻮﻡ ﻓﺈ‬ ‫ﻪ ﺃﻏﺾ ﻟﻠﺒﺼﺮ ﻭﺃﺣﺼﻦ ﻟﻠﻔﺠﺮ ﻭﻣﻦ ﱂ ﻳﺴﺘﻄﻊ ﻓﻌﻠﻴﻪ ﺑﺎﻟ‬‫ﻓﺈ‬ ‫ﺼ ﻧ‬  ‫ﻧ‬ . . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﳉﻤﺎﻋﺔ‬ 50 51 Ibid.An-Nuur': 32). Ibid.. 26 . dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan.2) Firman Allah ayat 32 Surah 24 (An-Nur): .‫ﻟﻪ ﻭﺟﺎﺀ". 549. Jika mereka miskin.S. Dan Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui (Q.

ﻭﺃﺗﺰ‬‫ﻛﺬﺍ ﻭﻛﺬﺍ ﻟﻜ‬ ‫ﻭ ﻨ‬ ‫ﻠ‬ ‫ﻨ‬ . bersabda: "Wahai golongan kaum muda. 53 Ibid. ﻭﻗﺎﻝ ﺑﻌﻀﻬﻢ: ﺃﺻﻮﻡ‬ ‫ﻻ ﺃﺗﺰ‬ ‫ﻠ‬ ‫ﻭ‬ ‫ﻨﱯ ﺻﹼﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﹼﻢ ﻓﻘﺎﻝ:"ﻣﺎ ﺑﺎﻝ ﺃﻗﻮﺍﻡ ﻗﺎﻟﻮﺍ‬‫ﻭﻻﺃﻓﻄﺮ. 171 52 27 . hlm. ﻭﺃﺻﹼﻲ ﻭﺃﻧﺎﻡ. maka hendaklah dia (rajin) berpuasa. mengizinkan. karena sesungguhnya menikah itu lebih dapat memejamkan pandangan mata dan lebih dapat menjaga kemaluan. :‫ﻨﱯ ﺻﹼﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﹼﻢ ﻗﺎﻝ ﺑﻌﻀﻬﻢ‬‫ﻭﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﺃﻥ ﻧﻔﺮﺍ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟ‬ ‫ﻠ‬ ‫ ﻠ‬ ‫ﹼ‬ ‫ﺝ. dia berkata: "Rasulullah saw.‫ﻲ". (HR. pernah melarang Utsman bin mazh'un membujang. dia berkata: “Rasulullah saw. niscaya kami akan mengebiri". hlm. Beirut: Daar al-Qutub al-Arabia. ﻓﺒﻠﻎ ﺫﻟﻚ ﺍﻟ‬ ‫ﻠ‬ ‫ ﻠ‬ ‫ﺴﺎﺀ ﻓﻤﻦ‬‫ﺝ ﺍﻟ‬ ‫ﻲ ﺃﺻﻮﻡ ﻭﺃﻓﻄﺮ. Al Bukhari dan Muslim). sebagian dari mereka ada yang mengatakan: "Aku tidak akan menikah".52 Artinya: Dari Ibnu Mas'ud ra. 1973. 171 54 Ibid. maka hendaklah dia menikah. 171. (HR. barangsiapa diantara kamu telah mampu akan beban nikah. Dan kalau sekiranya Rasulullah saw. Dan Muhammad Asy Syaukani. hlm. ‫ﻭﻋﻦ ﺳﻌﺪ ﺑﻦ ﺃﰊ ﻭﹼﺎﺹ ﻗﺎﻝ: " ﺭﺩ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﹼﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﹼﻢ ﻋﻠﻰ‬ ‫ﻠ‬ ‫ﻠ‬  ‫ﻗ‬ (‫ﻞ ﻭﻟﻮ ﺃﺫﻥ ﻟﻪ ﻻﺧﺘﺼﻴﻨﺎ" )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﺍﳌﺴﻠﻢ‬‫ﺒ‬‫ﻋﺜﻤﺎﻥ ﺑﻦ ﻣﻈﻌﻮﻥ ﺍﻟ‬ ‫ﺘﺘ‬ 53 Artinya: Dari Sa’ad bin Abu Waqqash. ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻬﻤﺎ‬‫ﻲ ﻓﻠﻴﺲ ﻣ‬‫ﺭﻏﺐ ﻋﻦ ﺳﻨ‬ ‫ﻨ‬ ‫ﺘ‬ 54 Artinya: Dari Anas: "Sesungguhnya beberapa orang dari sahabat Nabi saw. karena sesungguhnya puasa itu menjadi penahan nafsu baginya". Sebagian dari mereka lagi mengatakan: "Aku akan selalu bersembahyang dan tidak tidur". juz 4. ﻭﻗﺎﻝ ﺑﻌﻀﻬﻢ: ﺃﺻﹼﻲ ﻭﻻ ﺃﻧﺎﻡ. Nail al–Autar. AlJama'ah). Dan barangsiapa yang belum mampu (menikah).

3-8.Pustaka Rizki Putra.Hasbi Ash Shiddieqy. Disamping sembahyang aku juga tidur. Dan aku juga menikah dengan wanita. Al Bukhari dan Muslim) 55 :‫ﺟﺖ؟ ﻗﻠﺖ‬ ‫ﺎﺱ: ﻫﻞ ﺗﺰ‬‫ﻭﻋﻦ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺟﺒﲑ ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﱄ ﺍﺑﻦ ﻋ‬ ‫ﻭ‬ ‫ﺒ‬ ‫ﺔ ﺃﻛﺜﺮﻫﺎ ﻧﺴﺎﺀ. karena sesungguhnya sebaik-baiknya ummat ini adalah yang paling banyak kaum wanitanya". Aku menjawab: "Belum".Pustaka Rizki Putra. Padahal disamping berpuasa aku juga berbuka. 2003. (HR. TM. Mutiara Hadis. hlm. ﻭﻗﺮﺃ ﻗﺘﺎﺩﺓ: )ﻭﹶﻟﻘﺪ ﹶﺃﺭﺳﻠﻨ‬‫ﺒ‬‫ﻰ ﻋﻦ ﺍﻟ‬ ‫ﹾ‬     ‫ ﹰ ﻣ ﹶ‬  ‫ﹾ‬   ‫ ﹶ‬ ‫ﺘﺘ‬ . Semarang: PT. hlm. 56 ‫ﻨﱯ ﺻﹼﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﹼﻢ‬‫ﻭﻋﻦ ﻗﺘﺎﺩﺓ ﻋﻦ ﺍﳊﺴﻦ ﻋﻦ ﲰﺮﺓ: " ﺃﻥ ﺍﻟ‬ ‫ﻠ‬ ‫ ﻠ‬ ‫ﹼ‬ ‫ﺎ‬‫ﺒﻠﻚ ﻭﺟﻌﻠﻨ‬‫ﻦ ﻗ‬ ‫ﺎ ﺭﺳﻼ‬‫ﻞ". jilid 5. mereka bilang begini dan begitu?. PT. 2001. )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻭﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ‬‫ﺍﺟﺎ ﻭﺫﺭ‬‫ﹶﻟﻬﻢ ﹶﺃﺯﻭ‬  ‫ ﹰ‬‫ﹸ‬ ‫ ﹰ‬   Artinya: dari Qatadah dari Al Hasan dari Samurah: "Sesungguhnya Nabi saw. melarang membujang. Ibnu Abbas berkata: "Menikahlah.Hasbi ash Shiddieqy.(HR. dia berkata: "Ibnu Abbas pernah bertanya kepadaku: "Apakah kamu telah menikah?". Selanjutnya Qatadah membaca (ayat): "Dan sesungguhnya kami telah mengutus beberapa orang Rasul sebelum kamu dan kami berikan Ibid Ibid.) ﺭﻭﺍﻩ ﺃﲪﺪ‬ ‫ﺝ ﻓﺎﻥ ﺧﲑ ﻫﺬﻩ ﺍﻷ‬ ‫ﻻ. Ketika hal itu didengar oleh Nabi saw. Ahmad dan AlBukhari). 3-8 56 55 28 . ﻗﺎﻝ: ﺗﺰ‬ ‫ﻣ‬ ‫ﻭ ﹼ‬ (‫ﻭﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ‬  Artinya: Dari Sa'id bin Jubair. beliau bersabda: "Apa maunya orang-orang itu.sebagian dari mereka juga ada yang mengatakan: "Aku akan selalu berpuasa dan tidak akan berbuka". jilid 8. maka dia bukan termasuk dari (golongan) ku". Koleksi Hadis-Hadis Hukum.(‫ﻳﺔ( )ﺍﻟﺮﻋﺪ: 83(. Barangsiapa yang tidak suka akan sunnahku. Lihat juga TM. Semarang.

Hadis senada diketengahkan oleh Ad Darimi dalam Musnad Al Firdaus dari Ibnu Umar. hadis Samurah tersebut adalah hadis Hasan yang gharib (aneh). Dan janganlah kalian seperti para pendeta kaum Nasrani". bersabda: "Berhajilah nanti kamu akan kaya. (HR. keduanya adalah perawi yang sama-sama lemah. Al Asy'ats bin Abdul Mulk meriwayatkan hadis ini dari Hasan dari Sa'ad bin Hisyam dari Aisyah dan ia dari Nabi saw. dia mengatakan: "Rasulullah saw. Dan menikahlah nanti kamu akan banyak.kepada mereka beberapa istri dan anak cucu". Dalam isnad hadis tersebut terdapat nama Muhammad bin Al Hants dari Muhammad bin Abdurrahman Al Bailamni. Dikatakan bahwa kedua hadis tersebut adalah shaheh. Bepergianlah nanti kamu akan sehat. Sesungguhnya aku akan dapat membanggakan kamu dihadapan umat-umat lain". Sesungguhnya aku akan membanggakan kalian di hadapan ummat-ummat lain 29 . Tirmidzi dan Ibnu Majah). seorang perawi yang lemah. Menurut At Tirmidzi. Hadis senada juga diketengahkan oleh Al Baihaqi dari Abu Umamah dengan redaksi: "Menikahlah kamu. Namun dalam sanadnya terdapat namanama Muhammad bin Tsabit. karena sesungguhnya aku akan membanggakan kalian dihadapan ummat-ummat lain. Hadis senada lagi diriwayatkan oleh Daraquthni dalam Al Mu'talaf dari Harmalah bin Nu'man dengan redaksi: "Wanita yang produktif anak itu lebih disukai oleh Allah ketimbang wanita cantik namun tidak beranak.

op. "Apabila suatu kewajiban tidak akan terpenuhi tanpa adanya suatu hal. hukumnya adalah wajib". sanad hadis ini lemah. dan Hambali hukum nikah adalah sunnat. hal itu wajib pula hukumnya. Apabila bagi seseorang tertentu penjagaan diri itu hanya akan terjamin dengan jalan kawin. Namun menurut Al Hafizh Ibnu Hajar. Menurut pendapat yang terbanyak dari fuqaha madzhab Syafi'i. 3-4. 14-16 30 . cit.pada hari kiamat kelak". Maliki. hlm. Hazm hukum nikah adalah wajib dilakukan sekali seumur hidup. hlm. Alasan ketentuan tersebut adalah sebagai berikut.57 Adapun Hukum melaksanakan pernikahan jika dihubungkan dengan kondisi seseorang serta niat dan akibat-akibatnya. Ahmad Azhar Basyir. yaitu:58 Perkawinan hukumnya wajib bagi orang yang telah mempunyai keinginan kuat untuk kawin dan telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan dan memikul beban kewajiban dalam hidup perkawinan serta ada kekhawatiran. apabila tidak kawin. melakukan perkawinan hukumnya adalah wajib. ia akan mudah tergelincir untuk berbuat zina. op. Menjaga diri dari perbuatan zina adalah wajib. maka tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.. Para Fukaha berbeda pendapat tentang status hukum asal dari perkawinan. sedangkan menurut madzhab Dhahiry dan Ibn. atau dengan kata lain. Qa'idah fiqhiyah mengatakan. menurut madzhab Hanafi. "Sesuatu yang mutlak diperlukan untuk menjalankan suatu kewajiban. cit. bagi orang itu. bahwa hukumnya ada beberapa macam. hukum nikah adalah mubah (boleh)." Penerapan 57 58 Zahry Hamid.

Kebanyakan ulama berpendapat bahwa beralasan ayatayat Al-qur’an dan hadis-hadis Nabi itu. Al-Qurthubi dalam kitabnya Jami li Ahkam al-Qur’an (Tafsir alQurthubi) berpendapat bahwa apabila calon suami menyadari tidak akan 59 Ibid.kaidah tersebut dalam masalah perkawinan adalah apabila seseorang hanya dapat menjaga diri dari perbuatan zina dengan jalan perkawinan. Ulama-ulama mazhab Dhahiri berpendapat bahwa perkawinan wajib dilakukan bagi orang yang telah mampu tanpa dikaitkan adanya kekhawatiran akan berbuat zina apabila tidak kawin. Alasan hukum sunah ini diperoleh dari ayat-ayat Al-qur’an dan hadishadis Nabi sebagaimana telah disebutkan dalam hal Islam menganjurkan perkawinan di atas. Ulama mazhab Syafi’i berpendapat bahwa hukum asal perkawinan adalah mubah.59 Perkawinan hukumnya haram bagi orang yang belum berkeinginan serta tidak mempunyai kemampuan untuk melaksanakan dan memikul kewajiban-kewajiban hidup perkawinan sehingga apabila kawin juga akan berakibat menyusahkan istrinya. 31 . hukum dasar perkawinan adalah sunah. 14. Perkawinan hukumnya sunah bagi orang yang telah berkeinginan kuat untuk kawin dan telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan dan memikul kewajiban-kewajiban dalam perkawinan. tetapi apabila tidak kawin juga tidak ada kekhawatiran akan berbuat zina. hlm. Hadis Nabi mengajarkan agar orang jangan sampai berbuat yang berakibat menyusahkan diri sendiri dan orang lain. baginya perkawinan itu wajib hukumnya.

dan pekerjaan jangan sampai tidak dijelaskan agar tidak berakibat pihak istri merasa tertipu. Apa yang dikatakan Al-Qurthubi itu amat penting artinya bagi sukses atau gagalnya hidup perkawinan. barulah ia boleh melakukan perkawinan. tetapi juga nasab keturunan. Bukan saja cacat atau penyakit yang dialami calon suami.th. penipuan itu harus dihindari. atau ia bersabar sampai merasa akan dapat memenuhi hak-hak istrinya. Lebih lanjut Al-Qurthubi dalam kitabnya Jami li Ahkam al-Qur’an mengatakan juga bahwa orang yang mengetahui pada dirinya terdapat penyakit yang dapat menghalangi kemungkinan melakukan hubungan dengan calon istri hams memberi keterangan kepada calon istri agar pihak istri tidak akan merasa tertipu. t. Dalam bentuk apa pun. harus memberikan keterangan kepada calon suami agar jangan sampai terjadi pihak suami merasa tertipu. Bila ia mencoba menutupi cacad yang ada pada dirinya. Al-Qurthubi. Beirut: Dar alMa’rifah. Calon istri yang tahu bahwa ia tidak akan dapat memenuhi kewajibannya terhadap suami. al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (Tafsir al-Qurthubi). hlm. atau kewajiban lain yang menjadi hak istri. kedudukan.mampu memenuhi kewajiban nafkah dan membayar mahar (maskawin) untuk istrinya. kekayaan. karena adanya kelainan atau penyakit.60 Hal yang disebutkan mengenai calon suami itu berlaku juga bagi calon isteri. Juz 1. 265 60 32 . maka suatu hari masalah ini akan berkembang dengan pertengkaran dan penyesalan. tidak halal mengawini seseorang kecuali apabila ia menjelaskan peri keadaannya itu kepada calon istri.

Bahkan kekurangan-kekurangan yang terdapat pada diri calon istri. misalnya giginya palsu sepenuhnya. tetapi mempunyai kekhawatiran tidak dapat memenuhi kewajiban-kewajibannya terhadap istrinya. misalnya. rambutnya habis yang tidak mungkin akan tumbuh lagi hingga terpaksa memakai rambut palsu atau wig dan sebagainya. mungkin akan mempengaruhi maksudnya untuk mengawini. hlm. Imam Ghazali berpendapat bahwa apabila suatu perkawinan dikhawatirkan akan berakibat mengurangi semangat beribadah kepada Allah dan semangat bekerja dalam bidang ilmiah. op.61 Perkawinan hukumnya mubah bagi orang yang mempunyai harta. meskipun tidak akan berakibat menyusahkan pihak istri. calon istri tergolong orang kaya atau calon suami belum mempunyai keinginan untuk kawin. cukup mempunyai daya tahan mental dan agama hingga tidak khawatir akan terseret dalam perbuatan zina. tetapi apabila tidak kawin tidak merasa khawatir akan berbuat zina dan andaikata kawin pun tidak merasa khawatir akan menyia-nyiakan kewajibannya terhadap istri. harus dijelaskan kepada colon suami untuk menghindari jangan sampai akhirnya pihak suami merasa tertipu. Perkawinan dilakukan sekedar untuk memenuhi 61 Ahmad Azhar Basyir. hukumnya lebih makruh daripada yang telah disebutkan di atas. Perkawinan hukumnya makruh bagi seorang yang mampu dalam segi materiil. cit. yang apabila diketahui oleh pihak colon suami. 16 33 .

Tidak mempunyai isteri empat. .62 B. e. Jelas ia laki-laki. Bulan Bintang. Tidak sedang berihram haji/umrah. c.63 Bagi ummat Islam. d. Syarat dan Rukun Nikah Menurut UU No 1/1974 Tentang Perkawinan Bab: 1 pasal 2 ayat 1 dinyatakan. Ibid. yaitu: 1. Rukun Akad Perkawinan ada lima. b. termasuk isteri yang masih dalam menjalani iddah thalak raj'iy. Jakarta. Hukum Perkawinan di Indonesia. 80 63 62 34 .syahwat dan kesenangan bukan dengan tujuan membina keluarga dan menjaga keselamatan hidup beragama. Calon suami. syarat-syaratnya: a.Wasit Aulawi. Suatu Akad Perkawinan dipandang sah apabila telah memenuhi segala rukun dan syaratnya sehingga keadaan akad itu diakui oleh Hukum Syara'. hlm. Tertentu orangnya. 1975. bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. hlm. Beragama Islam. 16. Arso Sosroatmodjo dan A. perkawinan itu sah apabila dilakukan menurut Hukum Perkawinan Islam.

f. Jelas ia perempuan.f. Tidak mempunyai isteri yang haram dimadu dengan mempelai perempuan. h. Sudah baligh (telah dewasa). 2.dari lelaki lain. f. c. Bukan Mahram calon isteri. d. g. Tidak dipaksa. syarat-syaratnya: a. Berakal (tidak gila). atau Ahli Kitab. Tidak mahjur bissafah (dicabut hak kewajibannya). Telah memberi idzin atau menunjukkan kerelaan kepada wali untuk menikahkannya. c. Wali. g. termasuk isteri yang masih dalam menjalani iddah thalak raj'iy. Bukan Mahram calon suami. b. g. Tidak sedang berihram haji/umrah. e. Beragama Islam jika calon isteri beragama Islam. Tidak dipaksa. Tidak sedang berihram Haji/Umrah. Belum pernah disumpah li'an oleh calon suami. b. 3. Tertentu orangnya. atau tidak sedang menjalani iddah . h. Jelas ia laki-laki. Syarat-syaratnya: a. 35 . d. Beragama Islam. e. Calon Isteri. Tidak bersuami.

Jelas ia laki-laki. j. 5. k. Berakal (tidak gila). b. Memahami arti kalimat dalam ijab qabul. op. c. i. g. untuk menerimakan nikah calon suami atau wakilnya". 24-28. Tidak pelupa. Jakarta: PT. hlm.Raja Grafindo Persada. f. l.64 4. Tidak fasiq. Dapat berbicara (tidak bisu atau tuna wicara). Syarat-syaratnya: a. Sudah baligh (telah dewasa). Melihat (tidak buta atau tuna netra). Tidak rusak fikirannya sebab terlalu tua atau sebab lainnya. 64 36 . i. Beragama Islam. Mendengar (tidak tuli atau tuna rungu). Tentang syarat dan rukun perkawinan dapat dilihat juga dalam Ahmad Rofiq. h.h.: Dapat menjaga harga diri (bermuru’ah) Tidak fasiq. Ijab dan Qabul. cit. Tidak ditentukan menjadi wali nikah. Hukum Islam di Indonesia. hlm. d. 1977. Dua orang saksi laki-laki. Syarat-syarat ijab akad nikah ialah: Zahry Hamid. e. 71. Ijab akad perkawinan ialah: "Serangkaian kata yang diucapkan oleh wali nikah atau wakilnya dalam akad nikah.

hlm. yaitu diambil dari kata "nikah" atau "tazwij" atau terjemahannya.a. b. cit. satu tahun dan sebagainya. Tidak dengan kata-kata sindiran. baik yang berakad maupun saksi-saksinya. op. Diucapkan oleh calon suami atau wakilnya. Qabul akad perkawinan ialah: "Serangkaian kata yang diucapkan oleh calon suami atau wakilnya dalam akad nikah.65 e. Diucapkan oleh wali atau wakilnya. Syarat-syarat Qabul akad nikah ialah: a. atau saya perjodohkan . misalnya: "Saya nikahkan Fulanah. d. atau saya kawinkan Fulanah. misalnya: "Kalau anakku. 24-25. Nikah Sebagai Perikatan. c. Ijab harus didengar oleh pihak-pihak yang bersangkutan. misalnya satu bulan. Tidak dibatasi dengan waktu tertentu. yaitu diambil dari "nikah" atau "tazwij" atau terjemahannya. Ijab tidak boleh dengan bisik-bisik sehingga tidak terdengar oleh orang lain. hlm. 65 37 . Jakarta: PT. 1995. Dengan kata-kata tertentu dan tegas.Fulanah" b.Raja Grafindo Persada. misalnya: "Saya terima nikahnya Fulanah". Zahry Hamid. lihat pula Achmad Kuzari. Fatimah telah lulus sarjana muda maka saya menikahkan Fatimah dengan engkau Ali dengan maskawin seribu rupiah". Dengan kata-kata tertentu dan tegas. termasuk sindiran ialah tulisan yang tidak diucapkan. untuk menerima nikah yang disampaikan oleh wali nikah atau wakilnya. Tidak digantungkan dengan sesuatu hal.34-40. f.

misalnya "Kalau saya telah diangkat menjadi pegawai negeri maka saya terima nikahnya si Fulanah". d. b. i. atau diselingi perbuatan lain sehingga dipandang terpisah dari ijab. artinya tidak bertentangan dengan ijab. Dalam bahasa Indonesia: "Saya terima nikahnya Fatimah anak perempuan saudara dengan saya dengan maskawin tersebut secara tunai". ankahtuka Fatimata binti bimahri alfi rubiyatin halan". Sesuai dengan ijab. artinya Qabul diucapkan segera setelah ijab diucapkan. Tidak dibatasi dengan waktu tertentu. e. Wali mewakilkan ijabnya dan mempelai laki-laki meng-qabulkan. Qabul tidak boleh dengan bisik-bisik sehingga tidak didengar oleh orang lain. baik yang berakad maupun saksi-saksinya. h. misalnya "Saya terima nikah si Fulanah untuk masa satu bulan" dan sebagainya. Tidak dengan kata-kata sindiran. g. Diucapkan dalam satu majelis dengan ijab. Beruntun dengan ijab. atau berjarak waktu. Ijab: “Ya Ali. a. Qabul: "Qabiltu nikahaha bil mahril madzkurihalan". Wali mengijabkan dan mempelai laki-laki meng-qabulkan. Dalam bahasa Indonesia: "Hai Ali.c. Tidak digantungkan dengan sesuatu hal. f. termasuk sindiran ialah tulisan yang tidak diucapkan. 38 . tidak boleh mendahuluinya. aku nikahkan (kawinkan) Fatimah anak perempuanku dengan engkau dengan maskawin seribu rupiah secara tunai". Contoh ijab qabul akad perkawinan 1). Qabul harus didengar oleh pihak-pihak yang bersangkutan. 2).

aku nikahkan (kawinkan) Fatimah anak perempuan Muhammad yang telah mewakilkan kepada saya dengan engkau dengan maskawin seribu rupiah secara tunai". Ankahtu Fathimata binti Aliyyin muwakkilaka bimahri alfi rubiyatin halan". Qabul: "Qabiltu nikahaha bimahri alfi rubiyatinhalan". a. Ijab: "Ya Ali. Ankahtu Fathimata binta Muhammadin muwakkilii. 3). Dalam bahasa Indonesia: "Saya terima nikahnya Fatimah anak perempuan Muhammad dengan saya dengan maskawin seribu rupiah secara tunai". ankahtuka Fathimata binta Muhammadin muwakili bimahri alfi rubiyatinhalan". Aku nikahkan (kawinkan) Fathimah anak perempuan Muhammad yang telah mewakilkan kepada saya. dengan 39 . Ijab: "Ya Umar. b. a. Dalam bahasa Indonesia: "Hai Umar. Aku nikahkan (kawinkan) Fathimah anak perempuan saya dengan Ali yang telah mewakilkan kepadamu dengan maskawin seribu rupiah secara tunai". Aliyyan muwakkilaka bimahri alfi Rubiyyatin halan". Qabul: "Qabiltu nikahaha li Aliyyin muwakkili bimahri alfi rubiyatin halan". Dalam bahasa Indonesia: "Saya terima nikahnya Fatimah dengan Ali yang telah mewakilkan kepada saya dengan maskawin seribu rupiah secara tunai" 4). Dalam bahasa Indonesia: "Hai Ali. Ijab: "Ya Umar. Wali mewakilkan Ijabnya dan mempelai laki-laki mewakilkan Qabulnya. Dalam bahasa Indonesia: "Hai Umar. b. Wali mengijabkan dan mempelai laki-laki mewakilkan kabulnya.a.

misalnya antara pria/wanita beragama Kristen dengan pria/wanita beragama Islam. dan sebagainya. pria/wanita Minangkabau dengan pria/wanita Sunda. Bandung. atau karena perbedaan agama antara kedua insan yang akan melakukan perkawinan. Qabul: "Qabiltu Nikahaha lahu bimahri alfi rubiyatin halan". Bandung: Mandar Maju. Dalam bahasa Indonesia: "Saya terima nikahnya (Fathimah anak perempuan Muhammad) dengan Ali yang telah mewakilkan kepada saya dengan maskawin seribu rupiah secara tunai".Ali yang telah mewakilkan kepada engkau dengan maskawin seribu rupiah secara tunai". dan ada pula yang berpendapat bahwa perkawinan antar agama tidak masuk dalam perkawinan campuran melainkan istilah tersebut berdiri sendiri. Hukum Adat. b. 13-14 66 40 . Hukum Perkawinan Indonesia Menurut Perundangan. Pendapat Para Ulama tentang Perkawinan Antar Agama Berbicara perkawinan antar agama. 1990. hlm. pria/wanita beragama Hindu/Buddha dengan pria/wanita Islam dan seterusnya. Hukum Agama. Sedangkan perkawinan campuran antara agama. yang dimaksud perkawinan campuran dalam undang-undang ini ialah Hilman Hadikusuma. ada yang menyebut sama dengan perkawinan campuran.66 Dalam pasal 57 Undang-Undang Nomor 1/1974 Tentang Perkawinan. Perbedaan adat misalnya perkawinan antara pria/wanita Jawa dengan pria/wanita Batak. Istilah perkawinan campuran yang sering dinyatakan anggota masyarakat sehari-hari. pria/wanita Sunda dengan pria/wanita Bali. C. ialah perkawinan campuran karena perbedaan adat/suku bangsa yang bhineka.

hlm.perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan.67 Dari rumusan pengertian perkawinan antar agama tersebut. Namun demikian. Perkawinan antar agama ini menyangkut perkawinan antara orang Islam (pria/wanita) dengan orang bukan Islam (pria/wanita). Hal ini disebabkan antara lain karena para pejabat pelaksana perkawinan dan pemimpin agama/ulama menganggap bahwa perkawinan yang demikian dilarang oleh agama dan karenanya bertentangan dengan UU Perkawinan. Mengenai masalah ini.Eoh. 35 67 41 . Perkawinan antar seorang pria Muslim dengan wanita musyrik. Perkawinan Antar Agama Dalam Teori dan Praktek. karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia. 1998. Dengan demikian berdasarkan undangundang ini. dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perkawinan antar agama adalah perkawinan antara dua orang yang berbeda agama dan masing-masing tetap mempertahankan agama yang dianutnya. oleh karena UU Nomor 1/1974 Tentang Perkawinan tidak mengatur tentang perkawinan antar agama.S. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. maka perkawinan antar agama tidak termasuk perkawinan campuran melainkan memiliki pengertian yang berdiri sendiri. O. Islam membedakan hukumnya sebagai berikut: 1. maka kenyataan yang sering terjadi dalam masyarakat apabila ada dua orang yang berbeda agama akan mengadakan perkawinan sering mengalami hambatan. Adapun perkawinan antar agama dirumuskan oleh abdurrahman yang dikutip Eoh yaitu suatu perkawinan yang dilakukan oleh orang-orang yang memeluk agama dan kepercayaan yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Muhammad Abduh juga sependapat dengan ini.. perkawinan antara seorang pria Muslim dengan wanita musyrik. percaya adanya hidup sesudah mati. Sesungguhnya wanita budak yang beriman lebih baik daripada wanita musyrik. walaupun dia menarik hatimu… (Q. Perkawinan antar seorang pria Muslim dengan wanita Ahlul Kitab. al-Jami’al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an yang dikutip Rasyid Ridha. dan sebagainya. berdasarkan firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 221: ‫ﻦ‬ ‫ﻴﺮ‬‫ﻨﺔ ﺧ‬‫ﻳﺆﻣﻦ ﻭﻷﻣﺔ ﻣﺆﻣ‬ ‫ﻰ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﹾﻟﻤﺸﺮﻛﹶﺎﺕ ﺣ‬ ‫ﻨﻜ‬‫ﻭﻻ ﺗ‬ ‫ ﻣ‬  ‫ ﹲ‬   ‫ ﹲ‬ َ     ‫ﺘ‬  ‫ ﹺ‬  ‫ ﺤ‬ ‫ ﹶ‬ (221 :‫ﺘﻜﻢ . 187 – 193.68 68 Rasyid Ridha. seorang Muslim boleh kawin dengan wanita musyrik dari bangsa non-Arab. 42 . yang diduga dahulu mempunyai kitab suci atau serupa kitab suci. Konghucu. Cairo: Dar al-Manar. 3. bahwa musyrikah yang dilarang untuk dikawini itu ialah musyrikah dari bangsa Arab saja. Islam melarang perkawinan antara seorang pria Muslim dengan wanita musyrik. al-Baqarah: 221) Hanya di kalangan ulama timbul beberapa pendapat tentang siapa musyrikah (wanita musyrik) yang haram dikawini itu? Menurut Ibnu Jarir al-Thabari seorang ahli tafsir dalam kitabnya. seperti wanita Cina. Maka menurut pendapat ini. seperti pemeluk agama Budha.2. Pertama. Perkawinan antara seorang wanita Muslimah dengan pria non-Muslim. sebelum mereka beriman. karena bangsa Arab pada waktu turunnya Al-Qur'an memang tidak mengenal kitab suci dan mereka menyembah berhala. Hindu. India dan Jepang. 1367 H.S.. yang percaya pada Tuhan Yang Maha Esa. hlm.) ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ‬‫ﺒ‬‫ﻣﺸﺮﻛﺔ ﻭﹶﻟﻮ ﹶﺃﻋﺠ‬  ‫ ﹸ‬    ‫ ﹺ ﹶ‬  Artinya: Janganlah kamu mengawini wanita-wanita musyrik. Tafsir al-Manar.

juz 2. Konghucu. perkawinan antara seorang pria Muslim dengan wanita Ahlul Kitab. penyembah sapi.Tetapi kebanyakan ulama berpendapat. Kairo: Maktabah Dar al-Turas. ‫ﺎﺏ ﺣﻞ ﱠﻟﻜﻢ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬‫ﻳﻦ ﹸﻭ‬‫ﺎﻡ ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﺎﺕ ﻭﻃﻌ‬‫ﻴﺒ‬‫ﻴﻮﻡ ﹸﺃﺣﻞ ﹶﻟﻜﻢ ﺍﻟﻄ‬‫ﺍﹾﻟ‬  ‫ ﱞ ﹸ‬   ‫ ﺃ ﺗ‬  ‫ ﹶ‬  ‫ ﱠ‬ ‫ ﱠ ﹸ‬  ‫ﺎﺕ‬‫ﺍﹾﻟﻤﺤﺼﻨ‬‫ﺎﺕ ﻭ‬‫ﺎﺕ ﻣﻦ ﺍﹾﻟﻤﺆﻣﻨ‬‫ﺍﹾﻟﻤﺤﺼﻨ‬‫ﺎﻣﻜﻢ ﺣﻞ ﱠﻟﻬﻢ ﻭ‬‫ﻭﻃﻌ‬                ‫ ﱡ‬  ‫ ﹸ‬ ‫ ﹶ‬ ‫ﻮﺭﻫﻦ‬ ‫ﻮﻫﻦ ﹸﺃ‬ ‫ﺘ‬‫ﻴ‬‫ﺗ‬‫ﺒﻠﻜﻢ ﹺﺇﺫﹶﺍ ﺁ‬‫ﻦ ﻗ‬‫ﺎﺏ ﻣ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬‫ﻳﻦ ﹸﻭ‬‫ﻣﻦ ﺍﱠﻟﺬ‬   ‫ ﺟ‬  ‫ﻤ‬ ‫ ﹸ‬‫ ﹶ‬  ‫ﺃ ﺗ‬  69 Sayyid Sabiq. Menurut pendapat ini bahwa wanita yang bukan Islam. bahwa seorang pria Muslim boleh kawin dengan wanita Ahlul Kitab (Yahudi atau Kristen). yakni Yahudi (Yudaisme) dan Kristen tidak boleh dikawini. dan jika mengawinya maka berarti menentang syara. selain Ahlul Kitab. seperti Budha. perempuan zindiq. bahwa semua musyrikah baik dari bangsa Arab ataupun bangsa non-Arab. Kristen. Hindu. hlm. apa pun agama ataupun kepercayaannya. 178 43 . dan bukan pula Yahudi/Kristen tidak boleh dikawini oleh pria Muslim. Majusi/Zoroaster.69 Kedua. berdasarkan firman Allah dalam Surat Al-Maidah ayat 5. perempuan beragama politeisme (menunggaling kawula lan Gusti). perempuan keluar dari Islam. Alasannya. firman Allah sebagaimana disebut di atas. karena pemeluk agama selain Islam. Dengan demikian para ulama sepakat bahwa laki-laki muslim tidak halal kawin dengan perempuan penyembah berhala. tth. dan Yahudi itu termasuk kategori "musyrikah". Kebanyakan ulama berpendapat. Fiqh al-Sunnah.

sesuai dengan 70 44 . juga berdasarkan sunah Nabi. di mana Nabi pernah kawin dengan wanita Ahlul Kitab. [Dan dihalalkan bagi kamu menikahi] wanitawanita yang menjaga kehormatan di antara wanitawanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu. karena pada hakikatnya doktrin dan praktek ibadah Kristen dan Yahudi itu mengandung unsur syirik yang cukup jelas. misalnya ajaran trinitas dan mengkultuskan Nabi Isa dan ibunya Maryam (Maria) bagi umat Kristen. yakni Mariah al-Qibtiyah (Kristen). bila kamu telah membayar mahar mereka dengan maksud menikahinya. dan mahanan kamu halal [pula] bagi mereka. tidak dengan maksud berzina dan tidak [pula] menjadikannya gundik-gundik.‫ﺎﻥ‬‫ﻳﻜﻔﺮ ﺑﹺﺎﻹﳝ‬ ‫ﻦ‬‫ﺍﻥ ﻭﻣ‬‫ﻱ ﹶﺃﺧﺪ‬‫ﺘﺨﺬ‬‫ﺎﻓﺤﲔ ﻭﻻ ﻣ‬‫ﻴﺮ ﻣﺴ‬‫ﻣﺤﺼﹺﻨﲔ ﻏ‬  ِ  ‫ ﹾﹸ‬    ‫ﹶ‬   ‫ ﹶ‬    (5 :‫ﺎﺳﺮﹺﻳﻦ )ﺍﳌﺎﺋﺪﺓ‬‫ﻲ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﻣﻦ ﺍﹾﻟﺨ‬‫ﻓﻘﺪ ﺣﺒﹺﻂ ﻋﻤﻠﻪ ﻭﻫﻮ ﻓ‬           ‫ﹸ‬  ‫ ﹶ‬  ‫ﹶ ﹶ‬ Artinya: Pada hari ini dihalalkan bagi kamu yang baik-baik. Demikian pula seorang Sahabat Nabi yang termasuk senior bernama Hudzaifah bin Al-Yaman pernah kawin dengan seorang wanita Yahudi. ada sebagian ulama yang melarang perkawinan antara seorang pria Muslim dengan wanita Kristen atau Yahudi. sedang para Sahabat tidak ada yang menentangnya. Namun demikian.70 Rasyid Ridha sependapat dengan Jumhur yang membedakan musyrikin musyrikah di satu pihak dengan Ahlul Kitab (Kristen dan Yahudi) di pihak lain. (Q. dan kepercayaan Uzair putra Allah dan mengkultuskan Haikal Nabi Sulaiman bagi umat Yahudi. al-Maidah: 5) Selain berdasarkan Al-Qur'an Surat Al-Maidah ayat 5. Makanan [sembelihan] orang-orang yang diberi al-Kitab itu halal bagi kamu. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman maka hapuslah amalannya dan di hari akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.S.

73 Argumen mereka yang menyatakan boleh adalah pertama. menurutnya. Karena itu. 2004. al-Zawaj Bighair al-Muslimin. 2001. perkawinan antara lakilaki muslim dengan wanita non muslim boleh saja sepanjang wanita itu berama tauhid.. Kristen dan Yahudi itu sudah melakukan "syirik" menurut pandangan tauhid Islam. perkawinan antara seorang pria Muslim dengan wanita Kristen/Yahudi diperbolehkan agama. dan dari ayat ini maka menurut Ahmad Asy- pengelompokan yang dibuat oleh Al-Qur'an. “FatwaFatwa Kontemporer”. Sebab.72 Menurut Syekh Hasan Khalid. jilid 1. hlm. sunah dan ijma'. saat ini sulit untuk mengukur agama mana yang selain Islam yang memiliki keyakinan tauhid. Terj. berdasarkan Surat Al-Maidah ayat 5. jumhur ulama fikih membolehkan perkawinan laki-laki muslim dengan perempuan ahlul kitab. sekalipun pada hakikatnya Ahlul Kitab. Namun demikian di antara sahabat yang tidak berpendapat demikian adalah Umar bin al-Khattab. hlm. Cairo: Dar al-Manar. penjelasan yang terdapat dalam Al-Qur'an dalam surah al-Ma'idah ayat 5. Lihat Rasyid Ridha. 180. Dalam konteks ini. Terj. 585 72 bid 73 Syekh Hasan Khalid. menurut Qardawi. 71 Yusuf Qardhawi. Allah SWT telah mengharamkan laki-laki muslim menikahi perempuan musyrik dan ia tidak pernah tahu adakah syirik yang lebih besar dari seseorang yang beriktikad bahwa Nabi Isa AS atau hamba Allah SWT yang lainnya adalah Tuhannya. Dengan demikian tampaknya Qardawi menganggap perkawinan yang demikian tidak semudah itu. 186. Hadyul Islam Fatawi Mu’ashirah. Ibid. “Menikah Dengan Non Muslim”. Tafsir al-Manar. 145 45 . Menurut Qardawi.Menurut Yusuf Qardhawi. Jakarta: Gema Insani. hlm. As’ad Yasin. Jakarta: Pustaka al-Sofwa.71 Umar bin al-Khattab (42 SH/581 M-23 H/644 M) melarang perkawinan antara lakilaki muslim dan perempuan ahlul kitab. hukum asal mengawini wanita ahli kitab menurut jumhur ulama adalah mubah. Mengenai perkawinan Sahabat Nabi Hudzaifah bin Al-Yaman dengan seorang wanita Yahudi. hlm. 1367 H. Zaenal Abidin Syamsudin.

Jakarta: PT Lentera Basritama. wanita Ahlul kitab itu dapat mempelajari ajaran-ajaran mulia yang terdapat dalam ajaran Islam. ataupun pemeluk agama yang mempunyai kitab serupa kitab suci.75 Sekalipun boleh mengawini wanita ahlul kitab. maupun pemeluk agama atau kepercayaan yang tidak punya kitab suci dan juga kitab yang serupa kitab suci. 1997. dan di samping itu agar dengan keinginannya. baik calon suaminya itu termasuk pemeluk agama yang mempunyai kitab suci. namun kemudian Sayyid Sabiq menganggap hukumnya makruh. Hinduisme. Terj. seperti Budhisme.Syarbashi dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang laki-laki Muslim boleh menikahi Ahlul kitab. 244 75 Sayyid Sabiq. 74 46 . cit. 2000.74 Kedua. "Fiqih Lima Mazhab". 179 76 Ibid 77 Muhammad Jawad Mughniyah. et al. Masykur AB. seperti Kristen dan Yahudi (revealed religion). Jakarta: Lentera. perkawinan antara seorang wanita Muslimah dengan pria non-Muslim. selama wanita Ahlul kitab tersebut layak untuk dinikahi. Al-Fiqh 'ala al-Mazahib al-Khamsah. Hikmah yang terkandung di dalam hukum bolehnya seorang laki-laki Muslim menikahi wanita Ahlul kitab ialah tersedianya kesempatan supaya terciptanya hubungan dan kerjasama di antara mereka. 336. hlm. hlm. bahwa Islam melarang perkawinan antara seorang wanita Muslimah dengan pria non-Muslim. pendapat Sayid Sabiq. Politeisme dan sebagainya. Ahmad Subandi. hlm. op. Termasuk pula di sini penganut Animisme. ahli fikih di Mesir. "Tanya Jawab Lengkap tentang Agama dan Kehidupan".76 Ketiga. Yas'alunaka fi ad-Din wa al-Hayah. Ateisme.77 Ahmad Asy-Syarbashi. yang menjelaskan bahwa laki-laki muslim halal kawin dengan perempuan ahli kitab yang merdeka. Terj. ulama telah sepakat. Menurut Muhammad Jawad Mughniyah.

ialah bahwa antara orang Islam dengan orang kafir selain Kristen dan Yahudi itu terdapat way of life dan filsafat hidup yang sangat berbeda.. 53.78 b.. 47 .. Kepercayaan mereka penuh dengan khurafat dan irasional. dan percaya pula pada hari kiamat. 78 Depag RI. Sebab orang Islam percaya sepenuhnya kepada Allah sebagai pencipta alam semesta. Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 221: ‫ﻦ‬ ‫ﻴﺮ‬‫ﺒﺪ ﻣﺆﻣﻦ ﺧ‬‫ﻮﹾﺍ ﻭﹶﻟﻌ‬‫ﻳﺆﻣ‬ ‫ﻰ‬‫ ﺣ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﹾﻟﻤﺸﺮﻛﲔ‬ ‫ﻨﻜ‬ ‫. walaupun dia menarik hatimu.Adapun dalil yang menjadi dasar hukum untuk larangan kawin antara wanita Muslimah dengan pria non-Muslim. malaikat. selain Ahlul Kitab). Ijma' para ulama tentang larangan perkawinan antara wanita Muslimah dengan pria non-Muslim. hlm. sedangkan orang musyrik/kafir pada umumnya tidak percaya pada semuanya itu. ialah: a. Bahkan mereka selalu mengajak orang-orang yang telah beragama/beriman untuk meninggalkan agamanya dan kemudian diajak mengikuti "kepercayaan/ideologi" mereka. Sesungguhnya budak yang mu'min lebih baik dari orang musyrik. Adapun hikmah dilarangnya perkawinan antara orang Islam (pria/wanita) dengan orang yang bukan Islam (pria/wanita.ﻭﻻ‬ ‫ ﻣ‬         ‫ﻨ‬  ‫ﺘ‬  ‫ ﹺ‬  ‫ﺤ‬ ‫ ﹶ ﺗ‬ (221 :‫ﺒﻜﻢ. Al-Qur’an dan Terjemahnya. 1986.) ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ‬‫ﻣﺸﺮﻙ ﻭﹶﻟﻮ ﹶﺃﻋﺠ‬  ‫ ﹸ‬     ‫ﹺ‬  Artinya: Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik sebelum mereka beriman. percaya kepada para nabi. kitab suci. Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an..

dan negara. dapat diharapkan atas kesadaran dan kemauannya sendiri masuk Islam. mudah/praktis. sebab sama-sama agama wahyu (revealed religion).TP atau Islam Abangan. maka seharusnya ia tidak berani kawin dengan pemudi Kristen/Yahudi yang militan. Maka kalau seorang wanita Kristen/Yahudi kawin dengan pria Muslim yang baik. dan menghargai pula hak-hak asasi manusia terutama kebebasan beragama. yang taat pada ajaran-ajaran agamanya. ialah karena pada hakikatnya agama Kristen dan Yahudi itu satu rumpun dengan agama Islam. dapat terbuka hatinya dan dengan kesadaran sendiri si istri masuk agama Islam. Fakta-fakta menunjukkan bahwa wanita-wanita Barat dan Timur yang kawin dengan pria Muslim yang baik dan taat pada ajaran agamanya. karena ia dapat terseret kepada agama istrinya. kalau seorang pemuda Muslim itu kualitas iman dan islamnya masih belum baik. karena ia dapat menyaksikan dan merasakan kebaikan dan kesempurnaan ajaran agama Islam. toleran terhadap agama/kepercayaan lain yang hidup di masyarakat. Dan hal ini sesuai dengan taktik dan strategi Ahlul Kitab untuk 48 . panutan/pedoman lengkap. masyarakat. menghargai kedudukan wanita Islam dalam keluarga. serta ajaran-ajarannya yang rasionable. yang Sebab agama Islam mempunyai flexible.Mengenai hikmah dibolehkannya perkawinan antara seorang pria Muslim dengan wanita Kristen atau Yahudi. misalnya islamnya masih Islam K. Namun. demokratis. setelah ia hidup di tengah-tengah keluarga hidup Islam.

hlm. karena dikhawatirkan wanita Islam itu kehilangan kebebasan beragama dan menjalankan ajaran agamanya. karena bapak sebagai kepala keluarga terhadap anak-anak melebihi ibunya.. 49 . Demikian pula anak-anak yang lahir dari hasil perkawinannya dikhawatirkan pula mereka akan mengikuti agama bapaknya. fakta-fakta sejarah menunjukkan bahwa tiada sesuatu agama dan sesuatu ideologi di muka bumi ini yang memberikan kebebasan beragama dan bersikap toleran terhadap agama/kepercayaan lain.) ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ‬ ‫ﻳﺠﻌﻞﹶ ﺍﻟﻠﻪ‬ ‫. op.. ﻭﻟﹶﻦ‬ ‫ ﹰ‬       ‫ ﹾ‬‫ ﹼ‬  Artinya: Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk melenyapkan orang-orang yang beriman.. 79 Muhammad Rasyid Ridha... seperti agama Islam. kemudian terseret kepada agama suaminya. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 120: (120 :‫ﺘﻬﻢ.) ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ‬‫ﺘﹺﺒﻊ ﻣﻠ‬‫ﺗ‬ ‫ﻰ‬‫ﻯ ﺣ‬‫ﺎﺭ‬‫ﻨﺼ‬‫ﻮﺩ ﻭﻻ ﺍﻟ‬ ‫ﻴ‬‫ﻨﻚ ﺍﹾﻟ‬‫ﻰ ﻋ‬‫ﺗﺮﺿ‬ ‫ﻭﻟﹶﻦ‬   ‫ ﱠ‬  ‫ﺘ‬ ‫ﹶ‬  ‫ ﻬ‬   Artinya: Orang Yahudi dan Kristen tidak akan senang kepada kamu. cit. Dalam hal ini. 193.79 Adapun hikmah dilarangnya perkawinan antara seorang wanita Islam dengan pria Kristen atau Yahudi.. hingga kamu mengikuti agama mereka. Dan berfirman Allah dalam Surat Al-Nisa ayat 141: (141 :‫ﻟﻠﻜﹶﺎﻓﺮﹺﻳﻦ ﻋﻠﹶﻰ ﺍﹾﻟﻤﺆﻣﹺﻨﲔ ﺳﺒﹺﻴﻼ.memurtadkan umat Islam dan kemudian menariknya ke agama mereka dengan berbagai cara.

Dan hendaknya umat Islam tidak memberi jalan/kesempatan kepada mereka untuk mencapai maksudnya. Misalnya dengan jalan perkawinan seorang wanita Islam dengan pria non-Muslim. 50 .Firman tersebut mengingatkan kepada umat Islam. hendaknya selalu berhatihati dan waspada terhadap tipu muslihat orang-orang kafir termasuk Yahudi dan Kristen. yang selalu berusaha melenyapkan Islam dan umat Islam dengan berbagai cara.

2003.80 Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Idris ibn al-Abbas ibn Utsman ibn Syafi’i ibn al-Sa’ib ibn Ubaid ibn Abd Yazid ibn Hasyim ibn Abd al-Muthalib ibn Abd Manaf. 27. Walaupun hidup dalam keadaan sangat sederhana. Politik dan Fiqih”. Pendidikan dan Karya-Karyanya 1. Lihat juga Ali Fikri. 27 81 Jaih Mubarok. Yogyakarta: Ittaqa Press.81 Lahir di Gaza pada tahun 150 H.). Lihat juga Abdul Mun’im Saleh. “Al-Syafi’i Biografi dan Pemikirannya Dalam Masalah Akidah. hlm. 2001. 76. Jakarta: PT Lentera Basritama. 2005. Bandung: PT. 2000. Biografi Al-Syafi'i. Abdul Syukur dan Ahmad Rivai Uthman. Palestina. Modifikasi Hukum Islam Studi tentang Qaul Qadim dan Qaul Jadid.BAB III PENDAPAT AL-SYAFI'I TENTANG PERKAWINAN ANTAR AGAMA A. Latar Belakang Keluarga Kebanyakan ahli sejarah berpendapat bahwa Al-Syafi’i lahir di Kota Gaza. Jakarta: PT. dan ia meninggal di Mesir pada tahun 204 H 82 Al-Syafi’i berasal dari keturunan bangsawan yang paling tinggi di masanya. kemudian dibawa oleh ibunya ke Makkah. Madzhab Syafi’i Kajian Konsep Al-Maslahah./754-774 M. hlm.Raja Grafindo Persada.Remaja Rosdakarya. hlm. tepatnya pada zaman kekuasaan Abu Ja’far al Manshur (137-159 H. 80 51 . Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam. Kisah-Kisah Para Imam Madzhab. hlm. hlm. 2002. 7. Yogyakarta: Mitra Pustaka. menyebabkan ia terpelihara dari perangai-perangai buruk. Terj. tidak mau merendahkan diri dan berjiwa besar. 82 Jaih Mubarok. Beliau lahir pada zaman Dinasti Bani Abbas.101. namun kedudukannya sebagai putra bangsawan. Muhammad Abu Zahrah. Hayatuhu wa Asruhu wa Fikruhu ara-Uhu wa Fiqhuhu.

mempelajari sastra Arab dan memahirkan diri dalam mengendarai kuda dan meneliti keadaan penduduk-penduduk Badiyah dan pendudukpenduduk kota. terj. mempelajari syair. Dalam masa itu Al-Syafi’i menghafal al-Qur'an. Ia terkenal ahli dalam bidang syair yang digubah golongan Hudzail itu. Gurunya Mahmud Syalthut. Sepuluh tahun lamanya Al-Syafi’i tinggal di Badiyah itu. Bandung: CV Pustaka Setia. Kemudian ia memusatkan perhatian menghafal hadis. Al-Syafi’i belajar pada ulama-ulama Makah. Di sana pula ia belajar memanah dan mahir dalam bermain panah. Fiqih Tujuh Madzhab. Seringkali pergi ke tempat buangan kertas untuk memilih mana-mana yang masih dapat dipakai. 83 52 . Ia pergi ke Kabilah Hudzail yang tinggal di pedusunan untuk mempelajari bahasa Arab yang fasih. maupun ulama-ulama hadis. amat indah susunan bahasanya. sehingga ia terkenal dalam bidang fiqh dan memperoleh kedudukan yang tinggi dalam bidang itu. Abdullah Zakiy al-Kaaf. Ia menerima hadis dengan jalan membaca dari atas tembikar dan kadang-kadang di kulit-kulit binatang. hlm. baik pada ulama-ulam fiqih. 2000.83 Di samping itu ia mendalami bahasa Arab untuk menjauhkan diri dari pengaruh Ajamiyah yang sedang melanda bahasa Arab pada masa itu. sastra dan sejarah. 17. Al-Syafi’i dengan usaha ibunya telah dapat menghafal al-Qur'an dalam umur yang masih sangat muda. menghafal hadis.Ia bergaul rapat dalam masyarakat dan merasakan penderitaan-penderitaan mereka.

yang memang pada masa itu terkenal di mana-mana dan mempunyai kedudukan tinggi dalam bidang ilmu dan hadis. menganjurkan supaya Al-Syafi’i bertindak sebagai mufti. susunan Malik yang telah berkembang pada masa itu.Muslim Ibn Khalid Az-Zamzi. 480 – 481. Pokok-Pokok Pegangan Imam Mazhab. Al-Syafi’i telah mencapai usia dewasa dan matang. 84 53 . Ada di antara gurunya yang mu’tazili yang memperkatakan ilmu kalam yang tidak disukainya.84 2. Di waktu Malik meninggal tahun 179 H. Sungguhpun ia telah memperoleh kedudukan yang tinggi itu namun ia terus juga mencari ilmu. Mulai ketika itu ia memusatkan perhatian mendalami fiqh di samping mempelajari al-Muwatha’. Kemudian ia berangkat ke Madinah untuk belajar kepada Malik dengan membawa sebuah surat dari gubernur Makah. akan tetapi sebelum pergi ke Madinah ia lebih dahulu menghafal al-Muwatha’. hlm. Pendidikan dan Karir Al-Syafi’i menerima fiqh dan hadis dari banyak guru yang masingmasingnya mempunyai manhaj sendiri dan tinggal di tempat-tempat berjauhan bersama lainnya. Al- TM. Al-Syafi’i mengadakan mudarasah dengan Malik dalam masalah-masalah yang difatwakan Malik. Semarang: PT Putaka Rizki Putra. Dia mengambil mana yang perlu diambil dan dia tinggalkan mana yang perlu ditinggalkan. Sampai kabar kepadanya bahwa di Madinah ada seorang ulama besar yaitu Malik. Al-Syafi’i ingin pergi belajar kepadanya. 1997. Hasbi Ash Shiddieqy.

ulama-ulama Madinah. Abdullah Ibn Nafi’ teman Ibn Abi Zuwaib. Ulama-ulama Yaman yang menjadi gurunya ialah: Mutharraf Ibn Mazim. hlm. Abu Usamah. Mualim Ibn Khalid az-Zamzi. dua ulama Kuffah Ismail Ibn ‘Ulaiyah dan Abdul Wahab Ibn Abdul Majid. Umar Ibn abi Salamah. Ulama Makah yang menjadi gurunya ialah: Sufyan Ibn Uyainah. dua ulama Basrah. Juga menerima ilmu dari Muhammad Ibn al-Hasan yaitu dengan mempelajari kitab-kitabnya yang didengar langsung dari padanya. Ibrahim Ibn Saad al-Anshari Abdul Aziz Ibn Muhammad adDahrawardi. Hisyam Ibn Yusuf. Said Ibn Salim al-Kaddlah. ulama-ulama Iraq dan ulama-ulama Yaman. dalam masjidil Haram ia mulai mengajar dan mengembangkan ilmunya dan mulai berijtihad secara mandiri dalam membentuk fatwa-fatwa fiqihnya. dan Abdul Hamid Ibn Abdul Azizi Ibn Abi Zuwad. teman Auza’in dan Yahya Ibn Hasan teman Al-Laits. Dari padanyalah dipelajari fiqh Iraqi. Ibrahim Ibn Abi Yahya al-Asami. 486-487 54 . Ulama-ulama Madinah yang menjadi gurunya. Muhammad Ibn Said Ibn Abi Fudaik. Hammad Ibn Usamah. pada tahun 186 H Al-Syafi’i kembali ke Makah. ialah: Malik Ibn Annas. Daud Ibn abdRahman al-Atthar.85 Setelah sekian lama mengembara menuntut ilmu.Syafi’i menerima ilmunya dari ulama-ulama Makah. Ulama-ulama Iraq yang menjadi gurunya ialah: Waki’ Ibn Jarrah. Tugas mengajar dalam rangka 85 Ibid.

Yusuf Bin Yahya al-Buwaiti (w. Ensiklopedi Hukum Islam. ia juga pernah mengajar di Baghdad (195-197 H). Karya-karya Al-Syafi’i Karya-karya Al-Syafi’i yang berhubungan dengan judul di atas di antaranya: (1) Al-Umm. 1997. Kitab ini memuat pendapat Al-Syafi’i dalam berbagai masalah fikih. Dalam kitab ini juga dimuat pendapat Al-Syafi’i yang dikenal dengan sebutan al-qaul al-qadim (pendapat lama) dan al-qaul alAbdul Aziz Dahlan.87 3. tepatnya pada hari Jum’at tanggal 30 Rajab 204 H. 87 Ibid. Di antara murid-muridnya yang terkenal ialah Imam Ahmad Bin Hanbal (pendiri madzhab Hanbali). Kitab-kitab beliau hingga saat ini masih banyak dibaca orang. Selain di Makah.1680. mempunyai peranan penting dalam menghimpun dan menyebarluaskan faham fiqih Al-Syafi’i. 264 H). dan makam beliau di Mesir sampai detik ini masih diziarahi orang. et. Kitab ini disusun langsung oleh Al-Syafi’i secara sistematis sesuai dengan bab-bab fikih dan menjadi rujukan utama dalam Mazhab Syafi'i. 18. 231 H). Dengan demikian ia sempat membentuk kader-kader yang akan menyebarluaskan ide-idenya dan bergerak dalam bidang hukum Islam. dan Imam Ar-Rabi Bin Suliaman al-Marawi (174-270 H). 86 55 . setelah menyebarkan ilmu dan manfaat kepada banyak orang.menyampaikan hasil-hasil ijtihadnya ia tekuni dengan berpindah-pindah tempat. hlm. hlm. Abi Ibrahim Ismail Bin Yahya alMuzani (w.al. tiga muridnya yang disebut terakhir ini.86 Al-Syafi’i wafat di Mesir. Jakarta: PT. dan akhirnya di Mesir 198-204 H). Ichtiar Baru Van Hoeve.

hlm. Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi’i. 182-186. kitab Jizyah dan lain-lain kitab tafsir dan sastra. 92 Munawar Khalil. Futuhal Arifin. 2003. hlm.jadid (pendapat baru).92 B. Mukhtasar al-Muzani.91 Ahmad Nahrawi Abd al-Salam menginformasikan bahwa kitab-kitab Imam al-Syafi'i adalah Musnad li al-syafi'i. Kitab ini dicetak berulang kali dalam delapan jilid bersamaan dengan kitab usul fikih Al-Syafi’i yang berjudul Ar-Risalah. Ahsan al-Qashash. 2005. hlm. Abd. dihalalkan menikahi wanita-wanita merdeka ahli kitab bagi setiap orang Islam. dan alUmm.89 Mukhtasar al-Rabi. Karena sesungguhnya Allah Ta'ala menghalalkan wanita-wanita tersebut. 131-132 Ahmad Asy Syarbasy.90 Siradjuddin Abbas dalam bukunya telah mengumpulkan sembilan puluh tujuh buah kitab dalam fiqih Syafi’i. dengan Djazuli. 2003. Amali al-Kubra. Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab. (2) Kitab al-Risalah. al-Hujjah. 2004. Terj. Jakarta: Pustaka Tarbiyah. "Biografi Empat Imam Mazhab". Jakarta: Pustaka Qalami. Jakarta: Bulan Bintang. 90 Ali Fikri. Jakarta: Prenada Media. kemudian dicetak ulang pada tahun 1388H/1968M.219 89 88 56 . Pendapat Al-Syafi'i tentang Perkawinan Antar Agama Al-Syafi’i dalam kitabnya al-Umm Juz V mengatakan. al-Risalah. 1977 217 . Pada tahun 1321 H kitab ini dicetak oleh Dar asy-Sya'b Mesir. Al-Aimmah al-Arba'ah. Yogyakarta: Mitra Pustaka. Ini merupakan kitab ushul fiqh yang pertama kali dikarang dan karenanya Al-Syafi’i dikenal sebagai peletak ilmu ushul fiqh. Namun dalam bukunya itu tidak diulas karya-karya Syafi’i tersebut.88 (3) Kitab Imla al-Shagir. al-Mabsuth. Ilmu Fiqh. 144. Mukhtasar al-Buwaithi. hlm. Terj.Aziz MR: "Kisah-Kisah Para Imam Madzhab". 109-110 91 Siradjuddin Abbas.

jikalau wanita-wanita itu tidak dikawini oleh orang Islam. Dan kami hampir tiada mendapati wanita-wanita Islam yang banyak. Menurut Syafi'i bahwa ia lebih menyukai. Maka haramlah mengawini wanita mereka. Maka tatkala kami kembali. Dikabarkan kepada kami oleh Abdulmajid dari Ibnu Juraij. Mereka itu. juz 5. tth. ialah: orang Yahudi dan orang Nasrani. Orang Sabi-in dan Samiri itu dari Yahudi dan Nasrani. Wanita mereka itu bagi kita halal dan wanita kita haram kepada mereka". lalu mereka itu berselisih. bahwa sesungguhnya ia mendengar Jabir bin Abdullah ditanyakan tentang pernikahan orang Islam dengan wanita Yahudi dan wanita Nasrani. Jabir bin Abdullah berkata . kami ceraikan (talaq) mereka". hlm. sebagaimana haram mengawini wanita majusi. Kecuali. tidak majusi.tanpa kecuali. bahwa yang diketahui. "Wanita-wanita kitabi itu tiada mewarisi dari orang Islam. Dan mereka itu daripadanya. Al-Umm. Dan orang-orang Islam itu tiada mewarisi dari mereka. yang halal mengawini wanita Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i. ialah: ahli dua kitab yang termasyhur : Taurat dan Injil. ahli kitab (yang berpegang dan beriman kepada kitab) yang halal mengawini wanita-wanita mereka yang merdeka. Dan mereka itu menta'wilkan. dari Abiz-Zubair. Maka tidak diharamkan oleh yang demikian akan wanita mereka. yang halal mengawini wanita mereka dan memakan sembelihan mereka. 7 93 57 . Beirut Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiah. mereka itu berselisih dengan ahli kitab tersebut pada pokok yang mereka menghalalkan dari kitab dan yang mereka mengharamkan.93 Menurut Syafi'i. Maka beliau menjawab: "Kami menikahi wanitawanita itu pada zaman pembukaan (penaklukan) kota Kofah bersama Sa'ad bin Abi Waqqash.

58 . hlm. yang 94 95 Ibid. Kemudian. Sesungguhnya ahli kitab itu ialah keturunan Bani Israil (dari agama Yahudi dan Nasrani) yang berpegang pada Taurat pada masa Nabi Musa dan orang-orang yang berpegang teguh pada Injil pada masa Nabi Isa. saya tidak mengiranya dan yang lain. Tidak bahwa mereka itu adalah orang-orang yang beragama dengan Taurat dan Injil. dari orang yang tidak lazim disebut nama Sabi. adalah seperti wanita Islam. orang yang beragama dengan agama Yahudi dan agama Nasrani. yang adil. hlm.94 Menurut Al-Syafi'i.. Dikawini empat wanita kitabi. 8.in dan Samiri.mereka. Ibid.95 Dikawini wanita Islam atas wanita kitabi dan wanita kitabi atas wanita Islam. Tidak dikawini wanita kitabi. Wanita kitabi pada semua perkawinannya dan hukum-hukumnya yang halal dan yang haram dengan wanita kitabi itu. sebagaimana dikawini empat wanita Islam. Tidak halal mengawini wanita-wanita merdeka dari orang Arab. dengan isnad ini. dengan yang halal mengawini wanita lain. Tiada berselisih pada sesuatu pun dan pada yang harus atas suami baginya. Sesungguhnya mereka itu berpindah kepada agama ahli kitab sesudahnya itu. Adapun orang yang masuk pada mereka itu dari orang banyak maka tidaklah mereka ini dari mereka itu". Dan mereka mengada-adakan padanya. selain telah disampaikan itu oleh Ali bin Abi Thalib ra. selain dengan dua orang saksi. yang mengatakan: "kata Atha' bahwa tidaklah Nasrani Arab itu ahli kitab. lalu mereka itu sesat daripadanya. Dikabarkan kepada kami oleh Abdul Majid dari Ibnu Juraij. 7. mereka itu sesat dengan menyembah berhala. Karena asal agama mereka adalah agama yang benar.

Tidak boleh perkawinan wanita Islam dengan sesuatu. Bagi isteri kitabi. Dan Abi Sufyan masih hidup. Dan wali akad nikahnya Ibnu Sa'id bin Al-'Ash (namanya Khalid). Tidak ada perbedaan di antara keduanya. selain kepada hukum Islam. melainkan ditolak perkawinan wanita kitabi dari yang seperti demikian. Maka adalah perkawinannya itu shah. Tidak ditolak perkawinan wanita Islam dari sesuatu. Rasulullah Saw. Bahwa ke-wali-an itu dengan kerabat dan bersamaan agama. Karena Allah Ta'ala memutuskan ke-wali-an di antara orang Islam dan orang musyrik. Walau pun dia itu bapak wanita tersebut. 59 . Tidaklah saya memandang padanya.96 Dibagikan waktu untuk isteri kitabi. Kalau wanita kitabi itu kawin dengan perkawinan yang shah dalam Islam dan itu pada mereka perkawinan yang batal. apa yang 96 Ibid. Dan tidaklah wali wanita dzimmi itu muslim. Dan dia ini muslim.Islam dan dengan wali dari ahli agamanya. kawin dengan Ummu Habibah binti Abi Sufyan. melainkan boleh perkawinan wanita kitabi dengan seperti yang demikian. 8. apabila berbeda agama. Boleh pada agama mereka yang lain dari itu atau tidak boleh. Walau pun dia itu bapak. hlm. seperti pembagiannya untuk isteri Islam (1). maka yang demikian menunjukkan bahwa tak ada ke-wali-an di antara kerabat. seperti wali wanita Islam.

maka ia menghadiri janazahnya. Niscaya halal isteri ini bagi suami pertama. maka tidak halal dia bagi suaminya yang pertama dahulu. Dihalalkan wanita itu bagi suami pertama oleh setiap suami yang kedua yang telah menyetubuhinya. Kecuali. maka boleh baginya ruju' kepada isteri kitabi itu dalam iddah. kalau suami itu yang meninggal. Lalu suami ini menyetubuhinya. Dan harus atas isteri itu iddah dan membatasi dirt karena kematian suami (ihdad berkabung). Kalau ditalakkannya isteri kitabi itu tiga talak. Dan iddahnya. Apabila isteri itu meninggal. Kecuali bahwa keduanya tiada pusaka-mempusakai. apa yang harus atasnya pada isteri Islam. maka harus atas suami pada yang demikian itu semua. Apabila suami mentalakkan isteri kitabi. Kalau isteri kitabi itu kawin dengan perkawinan yang shah sesudah berlalu iddah. Kalau isteri itu memandikan suaminya. maka kalau suami itu menghendaki. dengan seseorang suami dzimmi. yang shah nikahnya. Dan dia itu didera. memandikan dan masuk ke kuburannya. Sebagaimana ada yang demikian itu atas isteri Islam. 60 . apa yang baginya atas isteri Islam. lalu isteri kitabi itu kawin dengan orang lain sebelum lalu iddah dan dia disetubuhi. disebabkan perbedaan agama.bagi isteri Islam. bahwa tiada hukuman hadd atas orang yang ber-qadzaf kepada isteri kitabi. maka memadailah pemandian isteri akan suami itu. ialah iddah isteri Islam. Dan bagi suami atas isteri kitabi. Kalau ia mentalakkan isteri kitabi atau ia me-illa'-kan atau ber-dhihar atau ber-qadzaf (2). Dan ia tidak mengerjakan shalat kepada isterinya itu. Saya berpendapat makruh bagi isteri memandikan suaminya. Kemudian isteri itu diceraikan atau suaminya yang kedua itu meninggal dan telah cukup iddahnya.

Apabila boleh bagi suami itu melarang isterinya yang Islam untuk pergi ke masjid dan itu adalah benar. Karena itu adalah perbuatan batil. maka bagi suami itu pada isterinya yang Nasrani. menurut saya dan Allah Ta'ala Yang Maha tahu dapat memaksakan isterinya untuk mandi dari janabat. selama tidaklah yang demikian itu. atau dalam kesangatan dingin. 61 . Apabila wanita itu sudah bersuci.mendatangkan melarat baginya dengan air. Apabila isteri itu dari orang yang halal baginya shalat dengan suci.97 Bagi suami boleh memaksakan isterinya itu mandi dari haid.insya Allah Ta'ala. yang ia tiada memperoleh air. Karena Allah 'Azza wa Jalla berfirman : (222 :‫ﻳﻄﻬﺮﻥ )ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ‬ ‫ﻰ‬‫ ﺣ‬ ‫ﻮﻫ‬‫ﺗﻘﺮ‬ ‫ﻭﻻ‬ ‫ ﹶ‬  ‫ ﹾ‬ ‫ﺘ‬ ‫ﻦ‬ ‫ﺑ‬ ‫ ﹶ ﹾ‬ Artinya: "Janganlah dekati mereka. Bagi suami itu. dan isteri itu sakit . mengerat kuku dan membersihkan diri dengan air. 8. keluar kepada perayaan-perayaan dan yang lain dari itu. Dan tidaklah bagi suami itu menyetubuhi isterinya. tanpa ada janabat. kecuali bahwa ia berada dalam bermusafir. yang air itu mendatangkan melarat baginya. sebelum suci!". kepada kebersihan dengan menggantikan pakaian baru. S. Suami dapat melarangnya ke gereja. daripada yang isteri itu bermaksud keluar kepadanya. apabila sudah suci dari haid. yakni: dengan air. maka halallah isteri itu bagi suaminya. ayat 222. Al-Baqarah. hlm. Bagi suami 97 Ibid. maka ia bertayammum. sehingga ia mandi. Berkata sebagian ahli ilmu Al-Qur'an: "Sehingga engkau melihat suci". dapat melarang pergi ke gereja.

Sesungguhnya yang dibunuh. Maka suami itu melarang isterinya dari dua yang tersebut itu. ialah orang yang keluar dari agama Islam ke agama syirik. 8. sehingga berlalu iddah. 62 . Seperti demikian juga.98 Dan melarangnya memakan daging babi. hlm. Maka kedua suami-isteri itu tetap atas perkawinan. Karena minum itu menghilangkan akal isteri.dapat melarang isterinya meminum khamar. apabila suami itu merasa terganggu dengan baunya. Apabila lelaki Islam mengawini wanita kitabi. Maka sesungguhnya telah putus ikatan di antara isteri itu dan suaminya. Maka kalau wanita itu kembali kepada Islam atau kepada agama ahli kitab. Tiada wajib nafkah bagi isteri tersebut dalam iddah. yang tidak terdapat baunya. apabila tidak ada darurat (kepentingan) bagi isterinya kepada memakannya. yang menyakiti oleh bau keduanya itu. selama ia tidak memakai kulit bangkai atau kain yang berbau busuk. maka tidak boleh bagi suami melarangnya. Lalu wanita itu murtad kepada agama majusi atau agama yang bukan agama ahli kitab. Kalau isteri itu tidak kembali kepada Islam. apabila suami itu merasa jijik dengan daging babi itu. Kalau diumpamakan yang demikian dari yang halal. dari bawang putih dan bawang merah. orang yang berpindah dari agama kafir kepada agama kafir yang lain. Karena ia melarang dirinya bagi suami dengan kemurtadan. Melarangnya memakan yang halal. sebelum berlalu iddah. tidak boleh bagi suami melarang isterinyamemakai apa yang dikehendakinya dari kain. Tidak dibunuh dengan sebab murtad. Ada pun orang yang 98 Ibid.

Qaul ini lebih disukai oleh ArRabi'. Karena yang saya terangkan dari nash Al-Qur-an dan petunjuknya. bahwa beliau berkata : "Apabila suami itu orang Nasrani. Lalu ia tetap dalam negeri Islam. Maka tidak haram isteri itu kepada suaminya. yang halal mengawini wanita-wanita mereka yang 99 Ibid. karena adalah patut baginya bahwa ia memulai mengawini wanita itu. bahwa mendatangkan agama baru.99 la dibuang dari negeri Islam. yang kami ambil dari engkau atas agama itu akan jizyah. Dan kami serahkan engkau kepada diri engkau sendiri. Kata Ar-Rabi' : "Yang saya hafal dari perkataan Asy-Syafi'i r. maka tidak dibunuh. Kalau engkau masuk Islam atau engkau kembali kepada agama engkau. Tidak boleh mengawinkan budak wanita kitabi dengan budak lelaki muslim dan dengan orang lelaki merdeka. kalau adalah wanita tersebut dari pemeluk agama yang ia keluar kepada agama itu. bahwa dikatakan kepada suami itu : "Tidak boleh bagi engkau. dengan hal apa pun. Lalu ia keluar kepada agama Yahudi.a. kecuali bahwa ia masuk Islam atau ia kembali kepada salah satu agama yang diambil dari pemeluknya jizyah. yang tidaklah engkau pada agama itu sebelum turun Al-Qur'an. Kalau tidak. Yahudi atau Nasrani atau majusi. maka kami mengeluarkan engkau dari negeri Islam. hlm. Kalau murtad wanita itu dari Yahudi ke Nasrani atau nasrani ke Yahudi. Maka kami membiarkan engkau. Jenis mana pun dari orang-orang musyrik. niscaya kami bunuh engkau".keluar dari agama yang batil ke agama yang batil. 9. Maka manakala kami kuasai engkau. 63 .

dengan jalan milik. Sebagaimana tidak halal mengawini wanita-wanita merdeka dari mereka. Halal menyetubuhi budak wanita kitabi dengan jalan milik.100 Jenis mana pun yang haram mengawini wanita-wanita mereka yang merdeka. Kemudian. Sebagaimana dinashkan wanita-wanita merdeka ahli kitab mengenai perkawinan. Tidak halal menyetubuhi budak wanita . hlm. Karena budak wanita itu masuk pada makna wanita musyrik yang diharamkan. Kalau adalah asal keturunan seorang budak wanita itu dari bukan ahli kitab.merdeka.musyrik yang bukan kitabi. Dan dua syarat pada budak wanita Islam itu menunjukkan. Tidak halal mengawini budak wanita kitabi bagi orang Islam. sebagaimana halal wanita-wanita mereka yang merdeka dengan perkawinan. 9. Pada yang demikian itu menunjukkan kepada pengharaman wanitawanita budak musyrik yang menyalahi dengan mereka. Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'ala menghalalkan perkawinan budak-budak wanita Islam itu dengan dua makna. tidak dengan suatu makna. Dan tidak halal itu dinashkan dengan penghalalan. Dan Allah Yang Maha 100 Ibid. maka haram menyetubuhi budak-budak wanita mereka dengan jalan milik. budak wanita tersebut beragama dengan agama ahli kitab. Sama saja bahwa tidak diperoleh oleh orang yang kawin itu akan perbelanjaan yang cukup bagi wanita merdeka dan takut kepada perbuatan zina. bahwa pernikahan mereka itu dihalalkan dengan suatu makna. 64 . Sebagaimana tidak halal mengawini wanita mereka. Niscaya tidak halal menyetubuhinya. maka halal menyetubuhi budak-budak wanita mereka dengan jalan milik. dengan hal apa pun.

karena agamanya. Sebagaimana ia menerima pelayanan dari budak wanita yang lain. Karena Islam itu syarat ke tiga.tahu. Tidak boleh baginya mengawininya dan budak itu tidak menyukai. Kalau dia itu orang Islam. Dan dijualkan atas tanggungan pemiliknya kalau pemilik itu orang kitabi. maka tidak dijual anak itu atas tanggungannya. Maka budak wanita itu menjadi gundiknya. hlm. Kalau suami itu menyetubuhi budak wanita yang bukan kitabi. maka tiada mas kawin bagi budak wanita itu. Dan ia menerima pelayanannya. Sebagaimana ada itu budak wanitanya. yang dibatalkan atas lelaki itu. 9. maka bagi isteri tersebut mas kawin yang sepertinya. Dan kalau sudah mengandung. Dan tidak halal baginya menyetubuhinya. Tidak halal baginya menyetubuhinya. Kalau dia belum bersetubuh. sebelum bersetubuh dan sesudahnya. maka adalah perkawinan itu batal. Dan budak wanita musyrik itu keluar daripadanya. 101 Ibid. maka budak wanita tersebut menjadi merdeka dengan kematiannya. maka dilarang suami itu kembali kepada isterinya itu. Dan kalau sudah bersetubuh. 65 . Apabila lelaki itu meninggal. lalu ia melahirkan. pada yang disanggupi oleh budak wanita tersebut. Dan dihubungkan anak dengan yang mengawini dan dia itu Islam.101 Kalau seseorang mengawini budak wanita kitabi. karena agamanya. sudah mengandung atau belum mengandung. Dan tidak boleh baginya menjual budak wanita tersebut.

Kalau budak wanita itu mempunyai saudara perempuan, yang merdeka, yang Islam. Maka halal bagi lelaki itu mengawini saudara perempuan yang tersebut.102 Begitu juga kalau budak wanita itu mempunyai saudara perempuan seibu yang merdeka, yang kitabi, yang bapaknya kitabi. Lalu ia membeli saudara perempuan itu. Niscaya halal baginya menyetubuhi wanita itu dengan jalan memilikinya sebagai budak. Dan tidaklah ini mengumpulkan diantara dua wanita yang bersaudara. Karena penyetubuhan bagi wanita pertama itu, yang dia itu bukan kitabi, adalah tidak boleh baginya. Sesungguhnya mengumpulkan, ialah bahwa dikumpulkan diantara orang yang halal penyetubuhannya atas sendiri-sendiri. Kalau budak wanita itu mempunyai saudara perempuan se bapak, yang beragama dengan agama ahli kitab, niscaya tidak halal wanita itu baginya dengan jalan milik. Karena keturunannya kepada bapaknya. Dan bapaknya itu bukan kitabi. Sesungguhnya saya memperhatikan pada yang halal dari wanitawanita musyrik itu kepada keturunan bapak. Tidaklah ini, seperti wanita, yang Islam salah seorang dari ibu-bapaknya. Dan dia itu masih kecil. Karena Islam tidak dapat dikongsikan oleh syirik. Dan syirik itu berkongsi dengan syirik. Dan keturunan itu kepada bapak. Seperti demikian juga agama bagi bapak, selama budak wanita itu belum dewasa. Kalau saudara perempuannya sudah dewasa dan beragama dengan agama ahli kitab. Dan bapaknya watsani atau majusi. Maka tidak halal
102

Ibid, hlm. 9.

66

menyetubuhinya dengan milik perbudakan. Sebagaimana tidak halal menyetubuhi wanita watsani, yang berpindah kepada agama ahli kitab. Karena asal agamanya itu bukan agama ahli kitab, kalau ia mengawini budak wanita kitabi dan budak wanita ini mempunyai saudara perempuan, yang merdeka, yang kitabi atau Islam.103 Kemudian lelaki itu mengawini saudara perempuan wanita tersebut, yang merdeka, sebelum bercerai antara dia dan budak wanita kitabi itu. Niscaya adalah perkawinan wanita merdeka yang Islam atau yang kitabi itu boleh. Karena itu halal, yang tidak dibatalkan oleh pernikahan budak wanita yang kitabi, yang dia itu saudara perempuan wanita yang dinikahi sesudahnya. Karena pernikahan dengan wanita yang pertama itu bukan perkawinan. Dan kalau disetubuhinya, maka adalah seperti yang demikian. Karena persetubuhan itu pada perkawinan yang batal. Hukumnya tidak mengharamkan akan sesuatu. Karena wanita itu bukan isteri dan tidak yang dimiliki dengan jalan budak. Lalu mengharamkan dikumpulkan di antaranya dan saudara perempuannya. Kalau orang mengawini seorang wanita, dengan syarat bahwa wanita itu Islam. Tiba-tiba wanita tersebut itu kafir kitabi. Maka boleh bagi lelaki tersebut membatalkan perkawinan, dengan tanpa membayar setengah mas kawin. Kalau ia mengawininya dengan syarat bahwa wanita itu kitabi, lalu tiba-tiba wanita itu Islam. Maka tidak boleh bagi lelaki tersebut membatalkan perkawinan. Karena wanita Islam itu lebih baik dari wanita kitabi. Kalau ia mengawini seorang wanita dan ia tidak mengabarkan bahwa wanita itu Islam
103

Ibid, hlm. 9.

67

atau kitabi. Lalu tiba-tiba wanita itu kitabi. Dan ia berkata : "Sesungguhnya saya mengawininya, dengan syarat wanita itu Islam. Maka yang didengar ialah perkataan lelaki itu. Baginya boleh melakukan pilihan. Dan atasnya sumpah akan apa yang dikawininya. Dan ia mengetahuinya wanita kitabi.104 Al-Syafi’i dalam kitabnya al-Umm Juz IV mengatakan,

‫ﺍﳌﺴﻠﻤﺔ ﻻ ﲢﻞ ﳌﺸﺮﻙ ﲝﺎﻝ ﻭﺍﳌﺮﺃﺓ ﺍﳌﺸﺮﻛﺔ ﻗﺪ ﲢﻞ ﻟﻠﻤﺴﻠﻢ ﲝﺎﻝ ﻭﻫﻰ ﺃﻥ‬ 
105

‫ﺗﻜﻮﻥ ﻛﺘﺎﺑﻴﺔ‬

Artinya: wanita muslimah tidak halal (menikah) dengan laki-laki musyrik dengan keadaan apa pun, dan wanita musyrik itu kadang-kadang halal (boleh menikah) bagi lelaki Islam dengan sesuatu hal dan wanita itu wanita kitabi. Pada halaman lain, Al-Syafi’i mengatakan:

‫ﻣﻦ ﺩﺍﻥ ﺩﻳﻦ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻱ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺎﺑﺌﲔ ﻭﺍﻟﺴﺎﻣﺮﺓ ﺃﻛﻠﺖ ﺫﺑﻴﺤﺘﻪ ﻭﺣﻞ‬
106

‫ﻧﺴﺎﺅﻩ‬

Artinya: siapa yang beragama dengan agama Yahudi dan Nasrani dari orang Sabiin dan Samiri, maka boleh dimakan sembelihannya dan halal dikawini wanitanya.

C. Metode Istinbath Hukum Al-Syafi'i
Al-Syafi’i menyusun konsep pemikiran ushul fiqihnya dalam karya monumental yang berjudul al-Risalah. Di samping dalam kitab tersebut, dalam kitabnya al-Umm banyak pula ditemukan prinsip-prinsip ushul fiqh sebagai pedoman dalam ber istimbath. Di atas landasan ushul fiqh yang
Ibid, hlm. 9. Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Al-Umm, Beirut Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiah, tth, juz 4, hlm. 287 106 Ibid, hlm. 289
105 104

68

Fatwa sebagian sahabat yang menyalahinya. bagi Al-Syafi’i Al-Qur’an adalah sumber pertama dan utama dalam membangun fiqih. hlm. kemudian sunnah Rasulullah SAW bilamana teruji kesahihannya. Ijtimaiyah. 5. tt. Seperti halnya pada mazhab lainnya. 4. Menurut Al-Syafi’i “ilmu itu bertingkat-tingkat”. al-Umm. 246 107 69 . Beirut. Dar alKutub.107 Tidak boleh berpegang kepada selain al-Qur’an dan sunnah dari beberapa tingkatan tadi selama hukumnya terdapat dalam dua sumber tersebut. Nukilan otentik dari Al-Syafi’i ini (dalam kitab al-Risalah) menjelaskan landasannya dalam berfatwa.dirumuskannya sendiri itulah ia membangun fatwa-fatwa fiqihnya yang kemudian dikenal dengan mazhab Syafi’i. Ilmu yang didapati dari ijma dalam hal-hal yang tidak ditegaskan dalam al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. 2. Libanon. 3. Qiyas apabila tidak dijumpai hukumnya dalam keempat dalil di atas. tidak diketahui adanya sahabat yang Al-Imam Abi Abdillah Muhammad Ibn Idris Al-Syafi’i. Ilmu secara berurutan diambil dari tingkatan yang lebih di atas dari tingkatantingkatan tersebut. Juz 7. sehingga dalam mendasarkan pemikirannya beliau membagi tingkatan sumber-sumber itu sebagai berikut: 1. Pendapat yang diperselisihkan di kalangan sahabat. Ilmu yang diambil dari kitab (al-Qur’an) dan sunnah Rasulullah SAW apabila telah tetap kesahihannya.

Pokok-Pokok Pegangan Imam Madzhab. al-kitab dalam as. Al-Syafi’i meletakkan sunnah sejajar dengan al-Qur’an pada urutan pertama. Orang yang mengingkari hadis dalam bidang aqidah.109 Al-Syafi’i menjawab sendiri pertanyaan ini. 588. sedang istidlal artinya mengambil dailil. 110 Al-Imam Abi Abdillah Muhammad Ibn Idris Al-Syafi’i. hlm. al-Risalah.Dalam urutan sumber hukum di atas. Mengapa ada dua pendapat Al-Syafi’i tentang ini. Lihat TM. 239. Ia berkata. Hasbi Ash Shiddieqy. Semarang. Akan tetapi dalam sebagian kitab Al-Syafi’i. Namun demikian. menjadikan dalil. hlm. Mengingat hal ini tetaplah as-sunnah semartabat dengan al-Qur’an. dijumpai bahwa as-sunnah tidak semartabat dengan al-kitab. 1312H. Al-Syafi’i menyamakan as-Sunnah dengan al-Qur’an dalam Masdar berarti sumber. 1997. Pandangan Al-Syafi’i sebenarnya adalah sama dengan pandangan kebanyakan sahabat. sebagai gambaran betapa penting sunnah dalam pandangan Al-Syafi’i sebagai penjelasan langsung dari keterangan-keterangan dalam al-Qur’an. tidak memberi pengertian bahwa as-Sunnah juga mempunyai kekuatan dalam menetapkan aqidah. Masdar-masdar istidlal108 walaupun banyak namun kembali kepada dua dasar pokok yaitu: al-kitab dan as-sunnah. 108 70 .sunnah kedua-duanya dari Allah dan kedua-duanya merupakan dua sumber yang membentuk syariat Islam. 32. berdalil. Mesir: alIlmiyah.110 Al-Syafi’i menetapkan bahwa asSunnah harus diikuti sebagaimana mengikuti al-Qur’an. 109 Ibid. Ia menempatkan as-Sunnah semartabat dengan alkitab pada saat mengistimbathkan hukum. hlm. PT Putaka Rizki Putra. dan 585. tidaklah dikafirkan. tidak memberi pengertian bahwa hadis-hadis yang diriwayatkan dari nabi semuanya berfaedah yakin.

mengeluarkan hukum furu’. karena penduduk Madinah hanya sebagian kecil dari ulama mujtahid yang ada pada saat itu. ‘Ilm Ushul al-Fiqh. yang tidak bercampur dengan bahasa-bahasa lain. maka dengan gigih Al-Syafi’i menolak ijma penduduk Madinah (amal ahl al-Madinah). hlm. 111 Al-Syafi’i berpegang kepada fatwa-fatwa sahabat Rasulullah SAW dalam membentuk mazhabnya. Menurut Abd Wahab Khalaf. Oleh karenanya apabila hadis menyalahi al-Qur'an hendaklah mengambil al-Qur'an. 111 71 . Al-Syafi’i menetapkan bahwa al-Qur'an adalah kitab yang diturunkan dalam bahasa Arab yang murni. Lihat Abd Wahab Khalaf. Jakarta: 1410 H/1990M. Alasan Al-Syafi’i menolak ijma penduduk Madinah adalah karena ijma harus merupakan kesepakatan dari seluruh umat Islam yang tidak hanya terbatas pada satu negara apalagi hanya satu kota. baik yang diketahui ada perbedaan pendapat. Oleh karena ijma itu baru mengikat bilamana disepakati seluruh para mujtahid di suatu masa. Syabab al-Azhar. Ijma menurutnya adalah kesepakatan para mujtahid di suatu masa. Maktabah al-Wal-Matbaah al-Islamiyah.45. ijma’ menurut istilah para ahli ushul fiqh adalah kesepakatan seluruh para mujtahid di kalangan umat Islam pada suatu masa setelah Rasulullah SAW wafat atas hukum syara’ mengenai suatu kejadian. Adapun yang menjadi alasan ditetapkannya kedua sumber hukum hukum itu sebagai sumber dari segala sumber hukum adalah karena Al-Qur'an memiliki kebenaran yang mutlak dan as-sunnah sebagai penjelas atau ketentuan yang memerinci Al-Qur'an. tidak berarti bahwa as-Sunnah bukan merupakan cabang dari al-Qur’an. yang bilamana benar-benar terjadi adalah mengikat seluruh kaum muslimin.

Dengan ijtihad. 72 . dan kekuatan hukum yang ditetapkan dengan qiyas. op. Ia membuat kriteria bagi istimbath-istimbath yang salah. Dengan demikian Al112 TM. Metode utama yang digunakannya dalam berijtihad adalah qiyas. kecuali qiyas. Al-Syafi’i membuat kaidah-kaidah yang harus dipegangi dalam menentukan mana ar-rayu yang sahih dan mana yang tidak sahih. Al-Syafi’i berkata:112 ‫رء‬ ‫راء‬ Artinya: Pendapat para sahabat lebih baik dari pendapat diri kita sendiri Bilamana hukum suatu masalah tidak ditemukan secara tersurat dalam sumber-sumber hukum tersebut di atas. hlm. Juga diterangkan syarat-syarat yang harus sempurna pada qiyas. martabat-martabatnya. dalam membentuk mazhabnya ia melakukan ijtihad. maka melakukan ijtihad dalam pandangan Al-Syafi’i adalah merupakan kewajiban bagi ahlinya. “Allah mewajibkan kepada hambanya untuk berijtihad dalam upaya menemukan hukum yang terkandung dalam al-Qur'an dan as-Sunnah”. Oleh karena demikian penting fungsinya. Dalam kitabnya al-Risalah.apalagi yang tidak diketahui adanya perbedaan pendapat di kalangan mereka. Sesudah itu diterangkan pula perbedaan antara qiyas dengan macam-macam istimbath yang lain yang dipandang. menurutnya seorang mujtahid akan mampu mengangkat kandungan al-Qur'an dan sunnah rasulullah SAW secara lebih maksimal ke dalam bentuk siap untuk diamalkan. 271. cit. AlSyafi’i pernah mengatakan. Ia menentukan batasbatas qiyas. Hasbi Ash shiddieqy.

114 Jadi alasan Al-Syafi’i menolak istihsan adalah karena kurang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. op.151.Syafi’i merupakan orang pertama dalam menerangkan hakikat qiyas. 477-497. hlm. Al-Imam Abi Abdillah Muhammad Ibn Idris Al-Syafi’i. ia menolak istihsan.cit. Perkataan “ijtihad” tidak digunakan kecuali untuk perbuatan yang harus dilakukan dengan susah payah. Jakarta: Wijaya. atsar atau ijma’ atau qiyas dipandang istihsan. hlm. Akan tetapi penjelasanpenjelasannya. ialah setiap ijtihad yang tidak bersumber al-kitab. Cet. 216 115 73 . op. hlm. disebutkan dalam kitab ini. Lihat A. al-Risalah.cit. adalah ijtihad yang batal.113 Terhadap istihsan.cit. contoh-contoh. menurut istilah para ahli ilmu ushul fiqh ialah: suatu kemaslahatan di mana syari’ tidak mensyariatkan suatu hukum untuk merealisir kemaslahatan itu. as-Sunnah. Hanafie. hlm. al-Risalah dan dalam al-Umm. AlSyafi’i sendiri tidak membuat ta’rif qiyas. Ijtihad dari segi bahasa ialah mengerjakan sesuatu dengan segala kesungguhan. 2001. kitab Jima’ul Ilmi. 14. bagian-bagian dan syarat-syarat menjelaskan hakikat qiyas. lihat juga Abd Wahab kalaf. al-Risalah. Khusus mengenai istihsan ia mengarang kitab yang berjudul Ibthalul Istikhsan. Kesimpulan yang dapat ditarik dari uraian-uraian Al-Syafi’i. 114 146.115 Dalil hukum lainnya yang digunakan Al-Syafi’i adalah maslahah mursalah. Menurut istilah ijtihad ialah menggunakan seluruh kesanggupan untuk menetapkan hukum-hukum syari’at. dan ijtihad dengan jalan istihsan. Dalil-dalil yang dikemukakan Al-Syafi’i untuk menolak istihsan. ushul Fiqh. dan tidak ada dalil yang menunjukkan atas 113 Al-Imam Abi Abdillah Muhammad Ibn Idris Al-Syafi’i. Al-Syafi’i hanya membenarkan qiyas saja dari antara cara-cara ijtihad. yaitu yang mutlaq. yang kemudian dibuat ta’rifnya oleh ulama ushul. op.

Sobhi Mahmassani. hlm. dan mahanan kamu halal [pula] bagi mereka.cit.S.116 Dalam kaitannya dengan perkawinan antar agama. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman maka hapuslah amalannya dan di hari akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi. hlm. tidak dengan maksud berzina dan tidak [pula] menjadikannya gundik-gundik.pengakuannya atau pembatalannya. 1410 H/1990M. bila kamu telah membayar mahar mereka dengan maksud menikahinya. 84. Makanan [sembelihan] orang-orang yang diberi al-Kitab itu halal bagi kamu.184. al-Maidah: 5) Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa para ahli tafsir dan para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan ayat wal muhsanâtî minal lazîna ûtul kitâb min qablikum menurut Ibnu Jarir yang dimaksud dengan muhsanat adalah wanita baik-baik dari ahli kitab baik merdeka atau budak. ia menggunakan metode istinbath hukum yaitu Al-Qur'an surat Al-Maidah ayat 5. Cf. khususnya mengenai makna ahlul kitab dalam versi al-Syafi'i. (Q. op. Jakarta: Maktabah al-Dak’wah alIslamiyah Syabab al-Azhar. ‘Ilm ushul al-Fiqh. Imam Syafi'i Abd Wahab Khalaf. [Dan dihalalkan bagi kamu menikahi] wanitawanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu. 116 74 . ‫ﺎﺏ ﺣﻞ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬‫ﻳﻦ ﹸﻭ‬‫ﺎﻡ ﺍﱠﺬ‬‫ﺎﺕ ﻭﻃﻌ‬‫ﺒ‬‫ﺍﹾﻟﻴﻮﻡ ﹸﺃﺣ ﱠ ﹶﻟﻜﻢ ﺍﻟ ﱠ‬ ‫ﱞ‬   ‫ ﺃ ﺗ‬ ‫ ﻟ‬ ‫ ﹶ‬  ‫ ﻄﻴ‬ ‫ﻞ ﹸ‬    ‫ﺎﺕ‬‫ﺎﺕ ﻣﻦ ﺍﹾﻟﻤﺆﻣﻨ‬‫ﺍﹾﻟﻤﺤﺼﻨ‬‫ﺎﻣﻜﻢ ﺣﻞ ﱠﻬﻢ ﻭ‬‫ﱠﻜﻢ ﻭﻃﻌ‬           ‫ ﱡ ﻟ‬  ‫ ﹸ‬ ‫ ﹶ‬  ‫ﻟ ﹸ‬ ‫ﻦ ﻗﺒﻠﻜﻢ ﹺﺇﺫﹶﺍ‬‫ﺎﺏ ﻣ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬‫ﻳﻦ ﹸﻭ‬‫ﺎﺕ ﻣﻦ ﺍﱠﺬ‬‫ﺍﹾﻟﻤﺤﺼﻨ‬‫ﻭ‬  ‫ ﹸ‬‫ﹶ‬   ‫ ﺃ ﺗ‬ ‫ ﻟ‬     ‫ﻱ‬‫ﺨﺬ‬‫ﺎﻓﺤﲔ ﻭﻻ ﻣ‬‫ ﻣﺤﺼﻨﲔ ﻏﻴﺮ ﻣﺴ‬ ‫ﻫ‬‫ﻮﺭ‬ ‫ ﹸﺃ‬ ‫ﻮﻫ‬ ‫ﺗﻴﺘ‬‫ﺁ‬  ‫ﺘ‬ ‫ ﹶ‬       ‫ ﹶ‬ ‫ﹺ‬   ‫ﻦ‬ ‫ﻦ ﺟ‬ ‫ﻤ‬ ‫ﻲ ﺍﻵﺧﺮﺓ‬‫ﺎﻥ ﻓﻘﺪ ﺣﺒﻂ ﻋﻤﻠﻪ ﻭﻫﻮ ﻓ‬‫ﻳﻜﹾﻔﺮ ﺑﹺﺎﻹﳝ‬ ‫ﻦ‬‫ﺍﻥ ﻭﻣ‬‫ﹶﺃﺧﺪ‬       ‫ ﹸ‬  ‫ﹺ ﹶ‬  ‫ ﹶ ﹶ‬ ِ  ‫ﹸ‬    (5 :‫ﺎﺳﺮﹺﻳﻦ )ﺍﳌﺎﺋﺪﺓ‬‫ﻣﻦ ﺍﹾﻟﺨ‬    Artinya: Pada hari ini dihalalkan bagi kamu yang baik-baik.

hlm. Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an. 252. Juz 6.yang dimaksud ahli kitab di sini adalah wanita baik-baik dari Bani Israil. 118 Depag RI. 1978. hlm.117 karena berdasarkan firman Allah yang mengatakan: ‫ﻮﻥ ﺑﹺﺎﻟ ﹼﻪ ﻭﻻ ﺑﹺﺎﹾﻟﻴﻮﻡ ﺍﻵﺧﺮ‬‫ﻳﺆﻣ‬ ‫ﻳﻦ ﻻ‬‫ﺗ ﹸﻮﹾﺍ ﺍﱠﺬ‬‫ﻗﹶﺎ‬ ‫ ﹺ‬ ‫ ﹺ‬  ‫ ﹶ‬  ‫ﻨ ﹶ ﻠ‬  ‫ ﹶ‬ ‫ﻠ ﻟ‬ Artinya: Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula pada hari kemudian. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Beirut: Dâr al-Ma’rifah. 1986. Tafsîr al-Qur’an al-Azîm. Dan menurut yang lain muhsanat adalah wanita ahli kitab yang baik-baik tadi yang merupakan penduduk Negeri Islam (Kafir Zimmi). 117 75 . 282..118 Ismâ'îl ibn Katsîr al-Qurasyî al-Dimasyqî.

4. Calon suami beragama Islam dan calon istri tidak beragama Islam. katanya: ayat ini diturunkan mengenai Ibnu Abu Marsad al-Ganawi yang meminta izin kepad Nabi Muhammad SAW untuk mengawini seorang wanita musyrik yang cantik dan mempunyai kedudukan tinggi.. Imam Jalaluddin al-Mahalli. Terhadap ayat ini. Sesungguhnya wanita budak yang beriman lebih baik daripada wanita musyrik.BAB IV ANALISIS PENDAPAT AL-SYAFI'I TENTANG PERKAWINAN ANTAR AGAMA C. walaupun dia menarik hatimu… (Q. sebelum mereka beriman. Maka turunlah ayat 76 .. baik ahlulkitab maupun musyrik. al-Baqarah: 221). Imam Jalaluddin asSuyuti menjelaskan tentang Asbab an Nuzul Surat al-Baqarah ayat 221: di ketengahkan oleh Ibnu Munzir. Ibnu Abi Hatim dan al-Wahidi dari Muqatil. baik "ahlulkitab" maupun musyrik.) ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ‬‫ﺒ‬‫ﻣﺸﺮﻛﺔ ﻭﹶﻟﻮ ﹶﺃﻋﺠ‬  ‫ ﹸ‬    ‫ ﹺ ﹶ‬  Artinya: Janganlah kamu mengawini wanita-wanita musyrik. Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 221: ‫ﻦ‬ ‫ﻴﺮ‬‫ﻨﺔ ﺧ‬‫ﻳﺆﻣﻦ ﻭﻷﻣﺔ ﻣﺆﻣ‬ ‫ﻰ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﹾﻟﻤﺸﺮﻛﹶﺎﺕ ﺣ‬ ‫ﻨﻜ‬‫ﻭﻻ ﺗ‬ ‫ ﻣ‬  ‫ ﹲ‬   ‫ ﹲ‬ َ     ‫ﺘ‬  ‫ ﹺ‬  ‫ ﺤ‬ ‫ ﹶ‬ (221 :‫ﺘﻜﻢ . Calon istri beragama Islam dan calon suami tidak beragama Islam. Dalam konteksnya dengan perkawinan antaragama. Pendapat Al-Syafi'i tentang Perkawinan Antar Agama Perkawinan antaragama dapat terjadi antara 3.S.

berarti termasuk ke dalam pengertian setiap wanita musyrik kitabiyah dan wasaniyah.ini. Alasannya adalah firman Allah SWT dalam al-Baqarah (2) ayat 221 2. 6 120 Al-Imam al-Hafizh Imaduddin Abul Fida Ismail ibn Kasir. 3. 119 Demikian pula dalam Tafsir Ibnu Kasir dijelaskan tentang tafsir surat al-Baqarah ayat 221 sebagai berikut: melalui ayat ini Allah mengharamkan atas orang-orang mukmin menikahi wanita-wanita yang musyrik dari kalangan penyembah berhala. terdapat beberapa pendapat di antara ulama fikih. namun jumhur ulama fikih membolehkan perkawinan laki-laki muslim dengan perempuan ahlul kitab. Argumen yang dikemukakan adalah firman Allah SWT dalam al-Baqarah (2) ayat 221. Apabila perkawinan antaragama terjadi antara perempuan yang beragama Islam dan laki-laki yang tidak beragama Islam. Cairo. Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah. Apabila perkawinan terjadi antara laki-laki muslim dengan perempuan musyrik. Namun ulama berbeda pendapat mengenai siapa yang disebut perempuan musyrik itu. baik musyrik maupun ahlulkitab. hlm. t. tth. Kairo: Dar al-Fikr.th. Apabila perkawinan terjadi antara laki-laki beragama Islam dan perempuan yang tergolong ahlul kitab. Tafsir al-Qur’an al‘Azhim. juz 1.120 Akibat hukum dari perkawinan antaragama adalah sebagai berikut: 1. 417 119 77 . hlm. Akan tetapi dikecualikan dari hal tersebut wanita ahli kitab oleh Firmannya dalam surah al-Ma’idah ayat 5. ulama fikih sepakat menyatakan bahwa hukumnya tidak sah. Imam Jalaluddin as-Suyuti. juz 2. Kemudian jika makna yang dimaksud bersifat umum. maka ulama fikih sepakat hukumnya tidak sah. Argumen mereka adalah Imam Jalaluddin al-Mahalli. Tafsir Jalalain.

tidak termasuk bangsabangsa lain sekalipun penganut agama Yahudi dan atau Nasrani. Lafal min qablikum (umat sebelum kamu) dalam surah al-Ma'idah (5) ayat 5 menunjuk kepada kedua kelompok Yahudi dan Nasrani bangsa Israel. Karena Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS hanya diutus untuk orang-orang bangsa Israel. Sekalipun jumhur ulama fikih sepakat tentang kebolehan seorang lakilaki beragama Islam mengawini wanita ahlul kitab. Dengan demikian persoalan yang paling menonjol sehingga menimbulkan perbedaan pendapat dalam kasus perkawinan antar agama adalah masalah makna istilah “ahli Kitab” dan “Musyrik:” Menurut Al-Syafi'i. yang termasuk ahlul kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani keturunan orang-orang Israel. pendapat Sayid Sabiq. penjelasan yang terdapat dalam Al-Qur'an dalam surah alMa'idah ayat 5 dan kedua. Di antara alasan yang diajukan adalah (3). namun hukumnya makruh. Pendapat al-Syafi'i di atas dapat dijumpai dalam kitabnya yang pada intinya menyatakan: 78 . yang menjelaskan bahwa sekalipun boleh mengawini wanita ahlul kitab. dan (4). ahli fikih di Mesir. namun mereka berbeda pendapat dalam menentukan wanita ahlul kitab itu sendiri.pertama.

tidaklah dianggap ahlul kitab. Jalan pikiran al-Syafi’i ini Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i. hlm. maka boleh dimakan sembelihannya dan halal dikawini wanitanya. tth. Beirut Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiah. tth. karena terdapat perkataan min qablikum (dari sebelum kamu) dalam ayat 5 surah al-Maidah. juz 4.‫ﻣﻦ ﺩﺍﻥ ﺩﻳﻦ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻱ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺎﺑﺌﲔ ﻭﺍﻟﺴﺎﻣﺮﺓ ﺃﻛﻠﺖ ﺫﺑﻴﺤﺘﻪ ﻭﺣﻞ‬ 121 ‫ﻧﺴﺎﺅﻩ‬ Artinya: siapa yang beragama dengan agama Yahudi dan Nasrani dari orang Sabiin dan Samiri. Al-Umm. hlm. 287 121 79 . Tegasnya dalam pandangan al-Syafi’i bahwa orang yang baru menganut agama Yahudi atau Nasrani sesudah al-Qur’an diturunkan. Sedangkan Samiri adalah nama suatu suku dari bangsa Israil. dan wanita musyrik itu kadang-kadang halal (boleh menikah) bagi lelaki Islam dengan sesuatu hal dan wanita itu wanita kitabi. 287 dan 289 122 Sabi'in adalah nama golongan yang mengikuti nabi-nabi zaman dahulu. Dalam perspektif Imam al-Syafi’i bahwa perempuan ahlul kitab yang halal dinikahi oleh orang muslim ialah perempuan yang menganut agama Nasrani atau Yahudi sebagai agama keturunan dari orang–orang (nenek moyang mereka) yang menganut agama tersebut semenjak masa sebelum Nabi Muhammad dibangkitkan menjadi Rasul (yakni sebelum al-Qur’an diturunkan.122 ‫ﺍﳌﺴﻠﻤﺔ ﻻ ﲢﻞ ﳌﺸﺮﻙ ﲝﺎﻝ ﻭﺍﳌﺮﺃﺓ ﺍﳌﺸﺮﻛﺔ ﻗﺪ ﲢﻞ ﻟﻠﻤﺴﻠﻢ ﲝﺎﻝ ﻭﻫﻰ ﺃﻥ‬  123 ‫ﺗﻜﻮﻥ ﻛﺘﺎﺑﻴﺔ‬ Artinya: wanita muslimah tidak halal (menikah) dengan laki-laki musyrik dengan keadaan apa pun. 123 Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i. Al-Umm. juz 4. Perkataan min qablikum tersebut menjadi qayid bagi ahlul kitab yang dimaksud. Beirut Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiah.

tetapi karena menghormati keturunannya.mengakui ahlul kitab itu bukan karena agamanya... Kata al-Zamakhsyari. maka orang-orang Indonesia yang menganut agama Yahudi atau Nasrani sesudah turunnya al-Qur’an maka mereka tidaklah termasuk di dalam ahlul kitab. penulis setuju dengan pendapat al-Syafi’i yang membolehkan pria muslim menikah dengan perempuan ahlul kitab.) ﺍﳌﺎﺋﺪﺓ‬‫ﻨﺔ ﻭﻣﺄﻭﺍﻩ ﺍﻟ‬‫ﻳﺸﺮﻙ ﺑﹺﺎﻟﹼﻪ ﻓﻘﺪ ﺣﺮﻡ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﹶﻴﻪ ﺍﹾﻟﺠ‬  ‫ ﻨ‬  ‫ﹾ‬  ‫ ﹶ‬   ‫ ﹼ‬    ‫ ﹶ ﹶ‬ ‫ ﻠ‬ ‫ ﹺ‬ 80 . ayat ِ ْ ُ َ ‫ و َ َ ِ ُ اْ ا ْ ُ ْ ِآ ت‬dinasikhkan ِ َ َ oleh ayat 5 dari al-Maidah itu. Dalam kaitan ini.. Di segi lain.. Alasan penulis kurang setuju karena bila diaplikasikan di Indonesia. penulis di satu segi kurang sependapat dengan pendapat al-Syafi'i yang mengkategorikan ahlul kitab seperti tersebut di atas. Ini pendapat orang yang menganggap ahli kitab termasuk musyrik. Dengan kata lain. konsekuensinya maka tidak halal bagi muslim menikahi perempuanperempuan mereka. Alasan penulis setuju karena surah al-Maidah ayat 5 merupakan petunjuk yang qath’i (tegas) tentang bolehnya menikahi wanita ahlul kitab. menikahi wanita ahlul kitab boleh karena ayat ke-5 dari al-Maidah itu secara qath'i (tegas) menyatakan kehalalannya. ﻭﻗﹶﺎﻝ ﺍﹾﻟﻤﺴِﻴﺢ ﻳ‬   ‫ ﹸ‬  ‫ﺑ‬  ‫ ﺪ ﹼ‬ ‫ ﹶ‬   ‫ ﹶ‬ (72 :‫ﺎﺭ. sesuai dengan penegasan ayat 72 dari al-Maidah yang berbunyi: ‫ﻦ‬‫ﻧﻪ ﻣ‬‫ﺑﻜﻢ ﹺﺇ‬‫ﻲ ﻭﺭ‬‫ﻭﹾﺍ ﺍﻟﻠﻪ ﺭ‬ ‫ﺒ‬‫ﻴﻞ ﺍﻋ‬‫ﺍﺋ‬‫ﺑﻨﹺﻲ ﹺﺇﺳﺮ‬ ‫ﺎ‬‫.

antara lain menunjukkan bahwa mathuf berlainan dari ma'thuf'alaih. Menurut jumhur ulama. Adapun al-Baqarah: 221 menurut mereka membicarakan kaum musyrik selain ahli kitab.S. yang dihubungkan dengan huruf 'athf (waw).. Pemilahan pengertian ini berawal dari redaksi ayat Al-Qur'an sendiri yang menyebut kaum musyrik tersendiri di samping kaum ahli kitab. dan tempatnya adalah neraka. alMaidah: 72) Tapi bagi orang yang menganggap bahwa ahli kitab tidak termasuk musyrik agaknya mereka akan berkata. sementara musyrik ialah para penyembah berhala. yang menurut kaidah bahasa Arab. Isa al-Masih berkata: "Hai Bani Israil sembahlah Allah [yaitu] Tuhanku dan Tuhanmu.) (Q. sebagaimana tampak di dalam ayat-ayat berikut: ‫ﻰ‬‫ﻨﻔﻜﲔ ﺣ‬ ‫ﺍﹾﻟﻤﺸﺮﻛﲔ‬‫ﺎﺏ ﻭ‬‫ﻭﺍ ﻣﻦ ﹶﺃﻫﻞ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬ ‫ﻳﻦ ﻛﻔ‬‫ﻳﻜﻦ ﺍﱠﻟﺬ‬ ‫ﹶﻟﻢ‬ ‫ﺘ‬  ‫ ﻣ ﹶ ﱢ‬  ‫ ﹺ‬  ‫ ﹺ‬ ‫ ﹺ‬   ‫ ﹶ ﹶﺮ‬ ‫ ﹸﹺ‬ (1 :‫ﺔ )ﺍﻟﺒﻴﻨﺔ‬‫ﻴﻨ‬‫ﺒ‬‫ﻴﻬﻢ ﺍﹾﻟ‬‫ﺗ‬‫ﺗﺄ‬  ‫ﹾ‬ Artinya: Dan orang-orang kafir di antara ahli kitab (Yahudi.Artinya: . al-Bayyinah: 1). ahli kitab ialah kaum Yahudi dan Nasrani.S. menjelaskan hukum perkawinan khusus mengenai ahli kitab. bahwa syirik dalam al-Maidah 72 ini berkonotasi umum atau pengertian syirik secara lughawi bukan pengertian secara khusus yang penyembah berhala seperti tampak dalam al-Bayyinah: 1.. al-Hajj: 17 ataupun al-Maidah 82.. maka Allah telah mengharamkannya masuk surga. Nasrani) dan orang-orang yang musyrik tidak mau meninggalkan agama mereka sehingga datang keterangan kepada mereka (Q. Sesungguhnya siapa saja menyekutukan Allah.. 81 . sedangkan al-Maidah: 5.

dan pada urutan ketiga lebih banyak lagi disebutkan. 82 .. al-Maidah: 82) ‫ﻮﺱ‬ ‫ﺍﹾﻟﻤ‬‫ﻯ ﻭ‬‫ﺎﺭ‬‫ﻨﺼ‬‫ﺍﻟ‬‫ﺌﲔ ﻭ‬‫ﺎﹺﺑ‬ ‫ﺍﻟ‬‫ﻭﺍ ﻭ‬ ‫ﺎ‬‫ﻳﻦ ﻫ‬‫ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﻮﺍ ﻭ‬‫ﻳﻦ ﺁﻣ‬‫ﹺﺇﻥ ﺍﱠﻟﺬ‬  ‫ﺠ‬  ‫ﺼ‬ ‫ ﺩ‬ ‫ﻨ‬  ‫ﱠ‬ ‫ﺎﻣﺔ ﹺﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﹶﻰ ﻛﻞ‬‫ﻳﻮﻡ ﺍﹾﻟﻘﻴ‬ ‫ﻨﻬﻢ‬‫ﺑﻴ‬ ‫ﻳﻔﺼﻞ‬ ‫ﻳﻦ ﹶﺃﺷﺮ ﹸﻮﺍ ﹺﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ‬‫ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﻭ‬ ‫ ﹸ ﱢ‬  ‫ ﱠ ﱠ‬       ‫ ﹸ‬ ‫ ﹾ‬ ‫ﻛ ﱠ ﱠ‬   (17 :‫ﺷﻲﺀ ﺷﻬﹺﻴﺪ )ﺍﳊﺞ‬   ٍ  Artinya: Sesungguhnya orang-orang beriman dan orang-orang Yahudi.)ﺍﳌﺎﺋﺪﺓ‬‫ﺎﺭ‬‫ﻧﺼ‬ Artinya: Sesungguhnya kamu [Muhammad] niscaya menemukan orang-orang yang sangat keras memusuhi orang-orang beriman.S. Adalah Allah saksi pada tiap-tiap sesuatu (Q. orang-orang Shabi'in (penyembah bintang). begitu pun orang-orang yang mempersekutukan Allah sungguh Allah bakal memberikan keputusan yang tegas di antara mereka pada hari kiamat.. tentu pernyataan Tuhan yang terakhir itu tidak diperlukan. dan terakhir kaum musyrik. al-Hajj: 17). Dan kamu menemukan pula orang-orang yang kasih kepada orang-orang yang beriman. Pada urutan pertama disebutkan kaum Yahudi. Majusi.S. orang-orang Nasrani dan Majusi.. ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik (mempersekutukan Allah).") (Q. Seandainya mereka berada pada posisi yang sama. Akhir ayat ketiga Tuhan tutup dengan suatu pernyataan tegas bahwa Dia akan memberikan keputusan di antara mereka kelak pada hari kiamat.. Nasrani. Di dalam ayat-ayat yang dinukilkan di atas tampak dengan jelas berbagai golongan dan aliran agama yang dianut umat manusia.‫ﻳﻦ ﹶﺃﺷﺮ ﹸﻮﹾﺍ‬‫ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﻮﺩ ﻭ‬ ‫ﻴ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﹾﻟ‬‫ﻳﻦ ﺁﻣ‬‫ﺍﻭﺓ ﱢﻟﻠﺬ‬‫ﺎﺱ ﻋﺪ‬‫ﺘﺠﺪﻥ ﹶﺃﺷﺪ ﺍﻟ‬‫ﹶﻟ‬ ‫ﻛ‬    ‫ﻨ ﻬ‬  ‫ ﹰ ﱠ‬  ‫ ﻨ ﹺ‬  ‫ ﱠ‬ ‫ﹺ‬ ‫ﺎ‬‫ﻳﻦ ﻗﹶﺎﹸﻟﻮﹾﺍ ﹺﺇ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﻳﻦ ﺁﻣ‬‫ﺑﻬﻢ ﻣﻮﺩﺓ ﱢﻟﻠﺬ‬‫ﺘﺠﺪﻥ ﹶﺃﻗﺮ‬‫ﻭﹶﻟ‬ ‫ ﻧ‬  ‫ﻨ‬  ‫ ﹰ ﱠ‬      ‫ ﱠ ﹾ‬ ‫ ﹺ‬ (82 :‫ﻯ. musyrik. mulai dari kaum Yahudi terus Shabi'in. Nasrani. yaitu orang-orang yang berkata. "Kami adalah orang-orang Nasrani .

sebagaimana tak perlu menyebutnya satu persatu melainkan cukup dengan sebutan kafir atau musyrik saja... Tapi Sayyid Muhammad Rasyid Ridha. ﹺﺇ‬  ‫ﹴ‬ ‫ ﹸ ﱢ ﹶ‬  ‫ ﻣ‬ Sayyid Muhammad Rasyid Ridha. Sekiranya mereka mempunyai status yang sama di sisi Allah. Kairo: Maktabah al-Qahirah. 186-187. Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada pada mereka seorang pemberi peringatan. cet. Tafsir al-Manar.Jadi berdasarkan pola susunan redaksi ayat dan ditambah pula dengan pernyataan Tuhan yang tercantum pada akhir ayat ketiga itu.ﻭﺇﹺﻥ ﻣﻦ ﹸﺃﻣﺔ ﹺﺇﱠﺎ ﺧﻠﹶﺎ ﻓ‬  ‫ ﻟ‬    Artinya: ". 1380 H... maka kitab aslinya tidak dapat diketahui lagi. Namun karena masanya telah terlalu lama dan jarak mereka dari nabi tersebut sangat jauh. misalnya. juz VI. cenderung berpendapat bahwa mereka dulunya mempunyai kitab dan nabi. maka dapat disimpulkan bahwa masing-masing golongan itu mempunyai perbedaan meskipun sama-sama kufur.. tentu pernyataan tersebut tak akan diberikan. Sekarang muncul persoalan berikutnya: jika mereka tidak musyrik apakah mereka mempunyai nabi dan kitab suci? Memang tidak ada keterangan yang tegas tentang itu.. tidak dapat digolongkan ke dalam kelompok orang-orang yang musyrik (‫ ) َا ِ َ أ ْ َآ ا‬yang disebut Allah bersama dengan dua kelompok itu pada ُ َ ‫و‬ ayat ketiga tersebut. Dengan demikian maka kaum Shabiin dan Majusi. " (Fathir: 24) (7 :‫ﺎﺩ )ﺍﻟﺮﻋﺪ‬‫ﻟﻜﻞ ﻗﻮﻡ ﻫ‬‫ﻨﺬﺭ ﻭ‬ ‫ﺎ ﺃﹶﻧﺖ‬‫ﻧﻤ‬‫. 124 83 . hlm.124 Pendapat ini didasarkannya pada firman Allah berikut: (24 :‫ﻳﺮ)ﻓﺎﻃﺮ‬‫ﻧﺬ‬ ‫ﺎ‬‫ﻴﻬ‬‫. Ke-4.

. Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk. Namun bila dikaitkan dengan kajian skripsi ini (perkawinan antar agama). Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepada mereka. ﻭ‬   ‫ ﹶ‬ ‫ﹶ ﹺ‬ ‫ ﹶ ﹸ ﹶ ﹶ‬  ‫ ﺃ ﺗ‬ ‫ﻜﻧ‬ (16 :‫ﻨﻬﻢ ﻓﹶﺎﺳ ﹸﻮﻥ )ﺍﳊﺪﻳﺪ‬‫ﺜﲑ ﻣ‬‫ﺑﻬﻢ ﻭﻛ‬‫ﻓﻘﺴﺖ ﻗﹸﻮ‬ ‫ﻘ ﹶ‬     ‫ ﹶ‬   ‫ ﹸﻠ‬  ‫ﹶ ﹶ‬ Artinya: "." (Ghafir: 78) Andaikata pemahaman Ridha itu benar. maka pengertian syirik menjadi sangat sempit.. Hal itu membuktikan bahwa para ulama tidak mempunyai kata sepakat (ijma') atas pengertian lafal (َ ‫ ) ا ْ ُ ِ ِآ‬dan ‫ َا ِ َ ُو ُ ا ا ْ ِ َ ب‬Apakah mencakup semua ِ َ ‫أ‬ .) ﻏﺎﻓﺮ‬‫ﺎ ﻋﻠ‬‫ﻦ ﻗﺼﺼﻨ‬ ‫ﻢ‬ ‫ﻨ‬‫ﺒﻠﻚ ﻣ‬‫ﻦ ﻗ‬ ‫ﺎ ﺭﺳﻼ‬‫ﻭﹶﻟﻘﺪ ﹶﺃﺭﺳﻠﻨ‬  ‫ﹶ‬   ‫ ﻬ ﻣ ﹶ‬   ‫ ﹰ ﻣ ﹶ‬  ‫ ﹾ‬   ‫ ﹶ‬ (78 Artinya: "Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu.Artinya: ". dan kebanyakan di antara mereka.. maka timbul pertanyaan: apakah seorang muslim boleh menikahi wanita non muslim selain ahli kitab yang tidak disebutkan oleh Al-Qur'an dan sebaliknya? Timbul berbagai pendapat dalam menetapkan kasus tersebut. adalah orang-orang yang fasik. kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras... bahwa selain mukmin adalah musyrik.." (al-Ra'd: 7) ‫ﻴﻬﻢ ﺍﹾﻟﺄﻣﺪ‬‫ﺒﻞ ﻓﻄﹶﺎﻝ ﻋﻠ‬‫ﻦ ﻗ‬‫ﺎﺏ ﻣ‬‫ﻮﺍ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬‫ﻳﻦ ﹸﻭ‬‫ﻮﺍ ﻛﹶﺎﱠﻟﺬ‬‫ﻳ ﹸﻮ‬ ‫ﻻ‬‫. sebagaimana telah dijelaskan. mereka yang ingkar kepada Nabi Muhammad atau tidak? Ataukah ayat itu juga menunjuk kepada pemeluk-pemeluk agama non Islam secara umum? 84 . di antara mereka..." (al-Hadid: 16) :‫ﻴﻚ... tidak seperti pemahaman Ibn 'Umar. ada yang telah Kami ceritakan kepadamu dan ada pula yang tidak pernah Kami ceritakan kepadamu .

Tidak dijumpai penjelasan yang tegas dalam hal ini. Kondisi inilah yang membuat munculnya berbagai pendapat di kalangan ulama. Dengan demikian tidak dapat disalahkan bila ada di antara ulama yang mengatakan bahwa lafal itu ditujukan kepada kaum musyrik dari bangsa Arab yang menyembah berhala; kemudian dikiaskan kepadanya para penganut agama (aliran) lain yang juga tak mempunyai nabi dan kitab suci atau yang semisalnya, sebagaimana dapat dikiaskan kepada kaum Yahudi dan Nasrani, para pemeluk agama-agama lain yang tidak diketahui lagi asal-usul kitab suci mereka seperti para penganut Majusi, dan lain-lain. Qatadah, seorang tokoh mufasir di kalangan tabi'in sebagai dikutip Ridha, memang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan musyrik di dalam ayat itu ialah bangsa Arab (penyembah berhala) yang ada pada waktu Al-Qur'an diturunkan.125 Oleh karena itu, tulis Ridha lagi, ayat:

َ ‫و َ َ ِ ُ اْ ا ْ ُ ْ ِآ ت‬ ِ َ َ

ِ ْ ُ tidak tegas melarang menikahi wanita-wanita musyrik selain bangsa Arab
seperti Cina (penganut Kong Hu Cu, Budha, dan lain-lain).126 Asbab (latar belakang) turun ayat 221 dari al-Baqarah memang berkenaan dengan wanita musyrik bukan ahli kitab, yang hendak kawin dengan seorang pria muslim, Abu Martsad al-Ghanawi; lalu turunlah ayat tersebut melarangnya. Jika "khusus sebab" itu saja yang dijadikan dasar dalam menetapkan suatu hukum, maka memang masuk akal bahwa yang diharamkan Tuhan mengawininya adalah wanita-wanita musyrik di kalangan bangsa Arab saja

125 126

Ibid., hlm. 190 Ibid.,

85

ketika Al-Qur'an diturunkan. Itu berarti, sekarang tidak haram lagi menikahi wanita-wanita musyrik. Agaknya pemahaman serupa ini terlalu longgar. Apabila umat Islam menganut sikap ini, maka budaya permissive (serba boleh) yang diterapkan di Barat akan melanda kehidupan Timur (Islam) yang tenang dan damai. Akibatnya akan menimbulkan kerancuan tatanan sosial dan kerawanan di tengah masyarakat. Dampak semua ini dapat menghancurkan masa depan umat Islam itu sendiri. Untuk mengantisipasi pemahaman yang demikian, maka dalam menafsirkan suatu ayat berbagai disiplin ilmu perlu diperhatikan. Di samping menguasai bahasa Arab, kaidah-kaidah, dan balaghah serta aspek-aspek yang berhubungan dengannya, seorang mufasir diharuskan pula menguasai ilmu ushul fikih dan kaidah-kaidah yang berkaitan dengannya, Dalam kajian di sini, misalnya, kaidah:

ّ ‫صا‬

‫ما‬

‫ة‬

‫ا‬

Artinya: Yang menjadi ukuran ialah umum lafal, bukan khusus sebab. Kalau kaidah ini diterapkan terhadap ayat 221 maka konotasi kata syirik menjadi amat luas, sehingga masuklah ke dalamnya penganut agama (aliran) Majusi, penyembah berhala, penganut animisme, Budhisme, Hinduisme, Shintoisme, dan sebagainya. Apakah para pemeluk agama atau aliran itu dianggap musyrik sehingga terlarang bagi pria muslim, mengikat perkawinan dengan wanita-wanita mereka? Sebagian ulama seperti Ridha, sebagaimana telah disebut, memang menganggap mereka masuk golongan ahli kitab. Namun generasi salaf dan pada umumnya ulama menyatakan mereka bukan ahli kitab karena tak ada

86

ketegasan dari Al-Qur'an tentang hal itu; sementara kaum Yahudi dan Nasrani dengan tegas dinyatakan Allah sebagai ahli kitab seperti dijumpai di dalam berbagai ayat Al-Qur'an mereka disebut dengan panggilan "ahli kitab". Berdasarkan pendapat ulama salaf dan jumhur itu, maka Ibrahim Husen menyatakan bahwa pemeluk agama non Islam seperti Hindu, Budha, Kong Hu Cu, Shinto, dan Aliran Kepercayaan di Indonesia, sama statusnya dengan Majusi. "Dus menikahi wanita-wanita mereka [bagi pria muslim] adalah hal terlarang". Untuk mendukung pendapatnya itu, Ibrahim Husen mengutip isi surat Rasul Allah kepada orang-orang Majusi. Antara lain berbunyi: "Jika kamu menolak, kamu diwajibkan membayar fidyah dan tidaklah halal bagi kami sembelihanmu, dan menikahi wanita-wanitamu." Di dalam surat ini mereka tidak disebut 'ahli kitab'; padahal suratnya kepada Kisra Rumawi, memanggilnya dengan sebutan 'ahli kitab'. Di samping berbagai pendapat itu, ada pendapat lain dari ulama Syafi'iyah yang menegaskan bahwa wanita-wanita ahli kitab yang halal dinikahi itu ialah keturunan dari nenek moyang mereka yang memeluk agama tersebut sebelum Muhammad saw ada/diutus. Tegasnya mereka yang memeluknya setelah itu tidak halal lagi karena bukan ahli kitab sebagaimana yang dimaksud oleh ayat dari al-Maidah itu. Apabila pendapat ini diikuti, maka mereka yang masuk agama Kristen atau Yahudi setelah Nabi Muhammad saw diutus tidak halal mengawininya. Ibrahim Husen dengan tegas menganut pendapat ini karena konotasi kata

‫ ا ْ ُ ْ َ َ ت‬di dalam ayat ke-5 dari al-Maidah itu, menurutnya dibatasi ruang ُ

87

Semua uraian di atas khusus menyangkut perkawinan lelaki muslim dengan wanita non Islam. ada yang membolehkannya dengan syarat: sang suami tidak dikhawatirkan akan terpengaruh oleh istrinya yang bukan Islam itu kelak. baik laki-laki. ialah yang beragama dengan agama nenek moyangnya sejak sebelum Nabi saw diutus. Terjadi perbedaan pendapat sebagaimana dijelaskan itu. Mereka membolehkan menikahi wanita khitabiyah yang merupakan anak cucu dari pemeluk agama ahli kitab sebelum Nabi Muhammad saw diutus. maka haram pula menikahi wanita-wanita mereka. pada dasarnya bermula dari berbedanya prinsip yang mereka anut dalam menetapkan batasan 'musyrik' dan 'ahli kitab'. jika ahli kitab dikategorikan sebagai musyrik. 88 . tegasnya. tidak sebaliknya. sebagaimana telah dijelaskan di muka.lingkupnya oleh lafal ْ ُ ِْ َ ِ yang terletak sesudahnya. Selain itu ada pendapat keempat yang dimajukan oleh ulama Syafi'iyah. Sedangkan menikahi wanita ahli kitab dibolehkan-Nya. Jadi para pemeluk agama non Islam yang dianggap tidak masuk kategori ahli kitab maka haram nikah dengan wanita-wanita mereka karena dianggap musyrik. Perkawinan yang dilarang Allah ialah dengan orang musyrik. Sebaliknya mengharamkan nikah dengan wanita yang menjadi ahli kitab setelah kebangkitan tersebut. Ada pendapat yang melarangnya sama sekali seperti yang dianut oleh Ibn 'Umar. Jadi yang dimaksud dengan wanita kitabiyah. ini difatwakan oleh Mahmud Syaltut dalam kitab al-Fatawa. maupun perempuan. sebaliknya.

dalam masalah makanan. mereka sepakat mengharamkannya. Sebaliknya makanan tidak memberikan dampak yang seluas itu. maka jika diterima bahwa ayat 221 dari al-Baqarah itu dinasikhkan oleh ayat 5 dari al-Maidah. Perbedaan redaksi ini. Dampak perkawinan akan merambat tidak hanya pada generasi sekarang. artinya. dapat dijadikan indikator bahwa hukum kedua kasus ini tidak sama. Permasalahan makanan yang tidak begitu besar sengaja Tuhan sebutkan secara tegas. serta masing-masing boleh memakan makanan pihak lain. masalah perkawinan lebih pantas diterangkan secara tegas dan jelas. maka yang dinasikhkan itu ialah kata "musyrikah'" tidak "musyrik" karena yang disebut terakhir itu tidak 89 . kata mereka. melainkan akan berlanjut pada generasi selanjutnya. dan tidak dikatakan-Nya wanita-wanitamu halal bagi mereka. Di dalam ayat 5 dari al-Maidah di atas. Allah hanya menegaskan: "makananmu halal bagi mereka.Jika mayoritas ulama membolehkan pria muslim menikahi wanita ahli kitab. niscaya Allah tidak akan mendiamkannya begitu saja sebab persoalan 'kawin' jauh lebih urgen ketimbang masalah 'makan'. Tapi ternyata Allah tidak memberikan penegasan. mereka boleh saling memberi dan menerima. maka dalam kasus wanita muslim dinikahi oleh pria non Islam. kata al-Shabuni. Oleh karena itu dalam kasus serupa ini dapat diberlakukan kaidah ushul fikih yang berbunyi: ‫ا ن ه اْ ن‬ ‫ا ّ ت‬ Artinya: Diam dari memberi keterangan adalah suatu keterangan. sehingga tidak menimbulkan kerancuan dalam pemahaman. tidak demikian halnya dengan kasus perkawinan karena jika memang dibolehkan menikahkan wanita-wanita Islam dengan pria non Islam. Dengan demikian. tentu seyogyanya.

) ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ‬‫ﻭ‬     Artinya: Mereka itu (orang kafir) mengajak ke neraka. Oleh karena itu tak ada artinya ia dikawinkan dengan non muslim.tercantum di dalam al-Maidah: 5 sebagaimana dinukilkan di atas. Al-Maraghi dalam mengomentari ayat ini berkata. dan tidak mustahil pula seorang suami yang sangat fanatik akan selalu berusaha agar istrinya menukar iman dengan keyakinan suami.127 Kekhawatiran al-Maraghi itu memang cukup beralasan.. keyakinan istri dapat rusak oleh wibawa suaminya. Berdasarkan kenyataan itu. terutama bila dikaitkan dengan firman Allah berikut: ‫ﻨﺔ‬‫ﻳﺪﻋﻮ ﹺﺇﻟﹶﻰ ﺍﹾﻟﺠ‬ ‫ﺍﻟﻠﻪ‬‫ﺎﺭ ﻭ‬‫ﻮﻥ ﹺﺇﻟﹶﻰ ﺍﻟ‬ ‫ﻳﺪ‬ ‫ﺌﻚ‬‫.. tulisnya lagi. Tafsir al-Maragi. bila masing-masing pihak (suami istri) ingin saling mempengaruhi dan sama-sama berusaha menanamkan keyakinan kepada anak-anaknya.. juz 2. sedangkan Allah mengajak ke surga dan keampunan. Kekalutan di rumah tangga akan semakin mencekam. ialah karena istri tak punya wewenang seperti yang dimiliki oleh suami. maka dapat disimpulkan bahwa wanita-wanita Islam selamanya tidak dikawinkan dengan pria bukan Islam sesuai dengan penegasan ayat dari al-Baqarah yang telah dikutip di atas. 1394 H/1974 M.. hlm. 153 127 90 . bahwa menikahkan wanita Islam dengan laki-laki non muslim adalah: haram. suasana "surgawi" segera Ahmad Mustafa Al-Maragi. Rahasia pelarangan ini. bahkan sebaliknya. berdasarkan Sunnah (hadis) Nabi dan Ijma' umat.ﹸﺃﻭﻟﹶـ‬     ‫ﻨ ﹺ ﹼ‬ ‫ﻋ ﹶ‬   (221 :‫ﺍﹾﻟﻤﻐﻔﺮﺓ. Bila hal ini terjadi jelas keretakan rumah tangga tak dapat dihindarkan. Mesir: Mustafa Al-Babi Al-Halabi..

lebih cenderung berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ahlul kitab adalah semua penganut agama Yahudi dan Nasrani. Cina. dan sebagainya. Tidak hanya itu. kerancuan pemikiran mengenai keyakinan agama. maka orang tersebut adalah tergolong ahlul kitab dan wanitanya boleh dikawini. anti Tuhan. ahli tafsir kontemporer dari Indonesia. anak-anak yang lahir dari perkawinan itu.berganti dengan gejolak api pertengkaran dan permusuhan. penyembah berhala di India. dan pada gilirannya mengantarkan rumah tangga itu kepada kehancuran. termasuk sebagai ahlul kitab. Kembali pada persoalan ahli kitab. di mana pun. kapanpun. Sebagian kecil ulama salaf berpendapat bahwa setiap umat yang memiliki kitab yang dapat diduga sebagai suci (samawi). cakupan ahlul kitab diperluas lagi oleh ulama fikih kontemporer sehingga menjangkau agama Budha dan Hindu. Muhammad Quraish Shihab. dan 91 . seperti orang Majusi. karena tak tertanam secara mendalam di hatinya sejak kecil. dan sebagainya. Imam Abu Hanifah dan mayoritas ulama fikih berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ahlul kitab adalah siapa saja yang mempercayai seorang nabi atau kitab yang pernah diturunkan Allah SWT. atau kepada Nabi Daud AS dengan Kitab Zabur-nya. Berdasarkan kriteria ini berarti apabila ada orang yang percaya kepada Nabi Ibrahim AS dengan suhufnya. Bahkan menurut Abu al-A'la al-Maududi. akan digerogoti terus-menerus oleh kebimbangan. Keyakinan semacam inilah yang menjadi lahan yang subur bagi paham syirik.

surah alMa'idah (5) ayat 5. dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca. Haram mengikat perkawinan antara muslim dengan musyrik baik laki-laki maupun perempuan. Pada umumnya ulama membolehkan pria muslim menikahi wanita ahli kitab.S. Setelah mengkaji beberapa ayat Al-Qur'an. Alasan yang diajukan antara lain firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah (2) ayat 221. al-An'am: 156) Majlis Ulama Indonesia (MU1) pada tahun 1980 mengeluarkan fatwa bahwa seorang wanita beragama Islam tidak boleh (haram) dinikahkan dengan pria yang bukan beragama Islam. (Q. 2. surah at-Tahrim (66) ayat 6. sebagaimana dikutip di muka. tidak sebaliknya. maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Adapun pertimbangan fatwa melarang laki-laki beragama Islam mengawini perempuan ahlul kitab yang oleh Al-Qur'an secara tegas dibolehkan-adalah karena dampak negatifnya lebih besar dari dampak positifnya.keturunan siapa pun mereka. Pendapatnya ini didasarkan kepada firman Allah SWT dalam surah al-An 'am (6) ayat 156: ‫ﻦ‬‫ﺎ ﻋ‬‫ﺎ ﻭﺇﹺﻥ ﻛ‬‫ﺒﻠﻨ‬‫ﻦ ﻗ‬‫ﻴﻦ ﻣ‬‫ﺘ‬‫ﺋﻔ‬‫ﺎﺏ ﻋﻠﹶﻰ ﻃﹶﺂ‬‫ﺎ ﹸﻧﺰﻝ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬‫ﻧﻤ‬‫ﺗ ﹸﻮﹸﻮﹾﺍ ﹺﺇ‬ ‫ﺃﹶﻥ‬ ‫ ﹸﻨ‬  ‫ﹶ ﹺ ﹶ‬    ‫ﺃﹺﹶ‬ ‫ﻘﻟ‬ (156 :‫ﺎﻓﻠﲔ )ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ‬‫ﺘﻬﻢ ﹶﻟﻐ‬‫ﺍﺳ‬‫ﺩﺭ‬    ‫ ﹺ‬  Artinya: (Kami turunkan Al-Qur'an itu) agar kamu (tidak) mengatakan: Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami. 92 . dan tidak diizinkan laki-laki beragama Islam mengawini perempuan yang bukan beragama Islam.

bahkan mereka menolak dan terus dalam kesesatan mereka. maka di sini penulis hendak memperjelasnya bahwa Ahli kitab adalah orang-orang yang berasal dari pemeluk agama Musa dan Isa As. bahkan menampakkan permusuhan secara terang-terangan serta menghalang-halangi setiap orang yang teguh di atas jalan Allah. serta pembawa kitab samawi baik Taurat atau Injil.. Mereka menebarkan ancaman dan memasang perangkap untuk melunturkan istiqamah di atas kebenaran dan tidak segan-segan membuat kedustaan dan tuduhan palsu kepada Nabi Isa bahkan di antara mereka ada yang melakukan percobaan pembunuhan. Pertama adalah orang-orang Yahudi dan terakhir orang-orang Nasrani. Allah menyelamatkan Nabi Isa dengan cara yang penuh muatan mu'jizat dan sangat rapi serta rahasia agar mereka kesulitan menemukan keberadaan beliau hingga selamat dari niat buruk mereka. tidak mendengar ajakan dan nasehat serta peringatan beliau. namun Allah menyelamatkan beliau dari maksud jahat mereka. Namun kerahasiaan dan kesamaran itu justru membuka peluang bagi orang-orang Yahudi untuk membuat cerita palsu dan berita bohong serta mengaburkan kebenaran dalam rangka menyesatkan manusia dari jalan kebenaran. Setelah Nabi Musa di utus kepada kaum Yahudi datanglah Nabi Isa membawa Injil kepada mereka untuk meluruskan penyelewengan yang mereka perbuat dan menunjukkan kepada jalan yang lurus namun mereka tidak memenuhi panggilan itu.Untuk menjelaskan silsilah Bani Israil dalam konteksnya dengan makna ahli kitab. 93 .

Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu.Misteri itu tetap dibuat komoditi utama bagi para pendusta dan pemalsu untuk menebarkan kesesatan kepada orang-orang yang lemah jiwa dan akalnya serta dangkal ilmu pengetahuan dan hujjahnya hingga Allah mengutus Nabi Muhammad Saw dengan membawa wahyu al-Qur'an yang mampu menyingkap misteri dan membongkar kepalsuan dan kedustaan Yahudi terhadap Nabi Isa As. Allah Swt berfirman: ‫ﺎﺀ ﻓﻘﺪ ﺳﺄﹸﻮﹾﺍ‬‫ﺎﺑﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻤ‬‫ﻴﻬﻢ ﻛﺘ‬‫ﻠ‬‫ﻨﺰﻝ ﻋ‬‫ﺗ‬ ‫ﺎﺏ ﺃﹶﻥ‬‫ﻳﺴﺄﹸﻟﻚ ﹶﺃﻫﻞ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬ ‫ﹶﻟ‬  ‫ ِ ﹶ ﹶ‬   ‫ ﹰ‬  ‫ ﹶ ﹶ ﹺ‬ ‫ ﹺ‬ ‫ ﹸ‬  ‫ﹶ‬ ‫ﺎﻋﻘﺔ‬ ‫ﺗﻬﻢ ﺍﻟ‬‫ﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﺟﻬﺮﺓ ﻓﺄﺧﺬ‬‫ﻟﻚ ﻓﻘﹶﺎﹸﻮﹾﺍ ﹶﺃﺭﻧ‬‫ﻦ ﺫ‬‫ﺒﺮ ﻣ‬‫ﻰ ﹶﺃﻛ‬‫ﻮﺳ‬ ‫ ﹶ ﹸ‬ ‫ ﺼ‬  ‫ ﹶ‬ ‫ ﹰ ﹶﹶ‬    ‫ ﹶ ﻟ ﹺ ﹼ‬ ‫ﹶ‬ ‫ﹾ‬ ‫ﻣ‬ ‫ﻦ‬‫ﺎ ﻋ‬‫ﻨﺎﺕ ﻓﻌﻔﻮﻧ‬‫ﻴ‬‫ﺒ‬‫ﺗﻬﻢ ﺍﹾﻟ‬‫ﺎﺀ‬‫ﺎ ﺟ‬‫ﺑﻌﺪ ﻣ‬ ‫ﻦ‬‫ﺗﺨ ﹸﻭﹾﺍ ﺍﹾﻟﻌﺠﻞ ﻣ‬‫ﹺﺑﻈﻠﻤﻬﻢ ﹸﺛﻢ ﺍ‬  ‫ﹶ‬‫ ﹶ‬   ‫ ﹶ‬  ‫ﺬ‬   ‫ ﹺ‬ ‫ﹸ ﹾ‬ ‫ﺎ ﻓﻮﻗﻬﻢ ﺍﻟ ﱡﻮﺭ‬‫ﻰ ﺳﻠﻄﹶﺎﻧﺎ ﻣﺒﹺﻴﻨﺎ }351{ ﻭﺭﻓﻌﻨ‬‫ﻮﺳ‬ ‫ﺎ‬‫ﻴﻨ‬‫ﺗ‬‫ﺁ‬‫ﻟﻚ ﻭ‬‫ﺫ‬  ‫ ﻄ‬  ‫ﹶ‬ ‫ ﹶ‬ ‫ﹶ‬  ‫ ﹰ‬ ‫ﹾ ﹰ‬ ‫ﻣ‬  ‫ﹶ‬ ‫ﻲ‬‫ﻭﹾﺍ ﻓ‬ ‫ﺗﻌ‬ ‫ﺎ ﹶﻟﻬﻢ ﻻ‬‫ﺪﹰﺍ ﻭﻗﻠﻨ‬ ‫ﺎﺏ ﺳ‬‫ﺎ ﹶﻟﻬﻢ ﺍﺩﺧﹸﻮﹾﺍ ﺍﹾﻟﺒ‬‫ﻴﺜﹶﺎﻗﻬﻢ ﻭﻗﻠﻨ‬‫ﹺﺑﻤ‬ ‫ﺪ‬ ‫ ﹶ‬  ‫ﹸ ﹾ‬ ‫ﺠ‬  ‫ﻠ‬    ‫ ﹸ ﹾ‬  ‫ ﹺ‬ ‫ﻴﺜﹶﺎﻗﻬﻢ‬ ‫ﻧﻘﻀﻬﹺﻢ‬ ‫ﺎ‬‫ﻴﻈﺎ }451{ ﻓﹺﺒﻤ‬‫ﻴﺜﹶﺎﻗﺎ ﻏﻠ‬ ‫ﻢ‬ ‫ﻨ‬‫ﺎ ﻣ‬‫ﺒﺖ ﻭﹶﺃﺧﺬﻧ‬‫ﺍﻟﺴ‬  ‫ ﻣ ﹶ‬ ‫ﹶ ﹾ‬ ‫ﻬ ﻣ ﹰ ﹶ ﹰ‬ ‫ﹾ‬    ‫ ﹸﹾﹺ‬ ‫ﺎ ﻏﻠﻒ‬‫ﺑﻨ‬‫ﻟﻬﻢ ﻗﹸﻮ‬‫ﻴﺮ ﺣﻖ ﻭﻗﻮ‬‫ﺎﺀ ﹺﺑﻐ‬‫ﻧﹺﺒﻴ‬‫ﺘﻠﻬﻢ ﺍﻷ‬‫ﺎﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻗ‬‫ﺂﻳ‬‫ﻢ ﺑ‬‫ﻭﻛﻔﺮﻫ‬  ‫ ﹸﻠ ﹸ ﹾ‬ ‫ ﹺ‬ ‫ ﹶ‬   ‫ ﹺ‬ َ َ  ‫ ﹺ‬ ‫ ﹶ‬  ‫ ﹼ‬ {155} ‫ﻴﻼ‬‫ﻮﻥ ﹺﺇﻻ ﻗﻠ‬‫ﻳﺆﻣ‬ ‫ﺎ ﹺﺑﻜﻔﺮﻫﻢ ﻓﻼ‬‫ﻴﻬ‬‫ﺒﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠ‬‫ﺑﻞ ﻃ‬ ‫ﻨ ﹶ ﱠ ﹶ ﹰ‬  ‫ ﹶ ﹶ‬  ‫ﹸ ﹾ ﹺ‬ ‫ﹶ‬  ‫ ﹼ‬ ‫ﹾ ﹶ‬ ‫ﺎ‬‫ﻟﻬﻢ ﹺﺇ‬‫ﻴﻤﺎ }651{ ﻭﻗﻮ‬‫ﺎﻧﺎ ﻋﻈ‬‫ﺑﻬﺘ‬ ‫ﻳﻢ‬‫ﻟﻬﻢ ﻋﻠﹶﻰ ﻣﺮ‬‫ﻭﹺﺑﻜﻔﺮﻫﻢ ﻭﻗﻮ‬ ‫ ﻧ‬ ‫ ﹺ‬ ‫ﹶ‬ ‫ ﹰ‬ ‫ ﹰ‬      ‫ ﹺ‬ ‫ﹶ‬   ‫ ﹸ ﹾ ﹺ‬ ‫ﻮﻩ‬‫ﺎ ﺻﻠ‬‫ﺘﹸﻮﻩ ﻭﻣ‬‫ﺎ ﻗ‬‫ﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻣ‬ ‫ﻢ ﺭ‬‫ﺑﻦ ﻣﺮﻳ‬‫ﻰ ﺍ‬‫ﻴﺴ‬‫ﺎ ﺍﹾﻟﻤﺴِﻴﺢ ﻋ‬‫ﺘﻠﻨ‬‫ﻗ‬  ‫ ﹶ ﺒ‬   ‫ ﹶ ﻠ‬  ‫ﺳ ﹶ ﹼ‬       ‫ﹶﹾ‬ ‫ﻢ ﹺﺑﻪ‬ ‫ﺎ ﹶﻟ‬‫ﻨﻪ ﻣ‬‫ﻲ ﺷﻚ ﻣ‬‫ﻴﻪ ﹶﻟﻔ‬‫ﺘﻠ ﹸﻮﹾﺍ ﻓ‬‫ﻳﻦ ﺍﺧ‬‫ﺒﻪ ﹶﻟﻬﻢ ﻭﹺﺇﻥ ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﻦ ﺷ‬‫ﻭﻟﹶـﻜ‬  ‫ ﻬ‬    ‫ ﹶﻔ‬  ‫ ﱠ‬      ‫ﻴﻪ‬‫ﻞ ﺭﻓﻌﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﹺﺇﹶﻟ‬‫ﻴﻨﺎ }751{ ﺑ‬‫ﻳﻘ‬ ‫ﺘﹸﻮﻩ‬‫ﺎ ﻗ‬‫ﺎﻉ ﺍﻟﻈﻦ ﻭﻣ‬‫ﺗﺒ‬‫ﻣﻦ ﻋﻠﻢ ﹺﺇﻻ ﺍ‬   ‫ ﹼ‬  ‫ﹶ‬ ‫ ﹰ‬ ‫ ﹶ ﻠ‬  ‫ ﱠ‬ ‫ﹾ ﹴ ﱠ‬   {158} ‫ﻴﻤﺎ‬‫ﻭﻛﹶﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰﹺﻳﺰﹰﺍ ﺣﻜ‬ ‫ ﹰ‬  ‫ ﹶ ﹼ‬ Artinya: Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Mereka berkata : "Perlihatkanlah Allah 94 .

Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu. mereka tidak yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah 'Isa. 'Isa putra Maryam. dan mereka menyembah anak sapi . sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata. sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya. Maka . padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya. dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa yang benar dan mengatakan : "Hati kami tertutup. Allah telah mengangkat 'Isa kepada-Nya . benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. dan Kami perintahkan kepada mereka : "Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu ". Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata.kepada kami dengan nyata". Dan kami perintahkan kepada mereka : "Masuklah pintu gerbang itu sambil bersujud "." Bahkan. Dan karena kekafiran mereka dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar . tetapi orang yang diserupakan dengan 'Isa bagi mereka. Dan telah Kami angkat ke atas mereka bukit Thursina untuk perjanjian mereka. kecuali mengikuti persangkaan belaka. dan karena ucapan mereka : "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih. mereka tetap dianggap sebagai 95 . Maka mereka disambar petir karena kezalimannya. setelah Nabi Isa disalib kemudian dikubur lalu diangkat ke atas langit. Sesungguhnya orangorang yang berselisih paham tentang 'Isa. Menurut anggapan mereka. karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka. Meskipun telah banyak orang yang mendapat petunjuk dan kembali kepada kebenaran namun ada sebagian kecil orang yang terus menjalani kesesatan dan kebimbangan aqidah hingga terjerumus ke dalam kesyirikan dan penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya. disebabkan mereka melanggar perjanjian itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS an-Nisa ayat 153 – 158). Rasul Allah ". Tetapi . lalu Kami ma'afkan dari yang demikian. Apa pun yang terjadi. mereka membuat kepalsuan dengan menganggap bahwa Nabi Isa disalib dan berstatus menjadi anak Allah. dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh.

Hadis yang dimaksud di antaranya: ‫ﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﹶﺎﻝ‬‫ﻨﹺﺒﻲ ﺻﱠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠ‬‫ﻪ ﻋﻦ ﺍﻟ‬‫ﻲ ﺍﻟﱠﻪ ﻋﻨ‬‫ﻳﺮﺓ ﺭﺿ‬‫ﻋﻦ ﹶﺃﺑﹺﻲ ﻫﺮ‬ ‫ ﹶ‬ ‫ ﱠ‬   ‫ ﹶ‬  ‫ﻠ ﱠ‬  ‫ ﹺ‬  ‫ﻠ‬  ‫ﹶ‬    ‫ﺎ ﻓﹶﺎﻇﻔﺮ ﹺﺑﺬﹶﺍﺕ‬‫ﻳﹺﻨﻬ‬‫ﻟﺪ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﻟﻬ‬‫ﺎ‬‫ﺎ ﻭﺟﻤ‬‫ﹺﺒﻬ‬‫ﻟﺤﺴ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﻟﻬ‬‫ﺎ‬‫ﻟﻤ‬ ‫ﺑﻊ‬‫ﻟﺄﺭ‬ ‫ﻨﻜﺢ ﺍﹾﻟﻤﺮﹶﺃﺓ‬‫ﺗ‬   ‫ﹾﹶ‬     ‫ ﹴ‬‫ ﹸ ﹶ‬  ‫ﹶ‬ 128 (‫ﺍﻙ )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻯ‬‫ﻳﺪ‬ ‫ﺑﺖ‬‫ﺗﺮ‬ ‫ﻳﻦ‬ ‫ﺍﻟ‬   ‫ﺪ ﹺ ﹺ‬ Artinya: Dari Abu Hurairah r. ‫ﺒﺪ‬‫ﺑﻦ ﻋ‬ ‫ﺎﹺﺑﺮ‬‫ﺒﺮﻧﹺﻲ ﺟ‬‫ﺎﻥ ﻋﻦ ﻋﻄﹶﺎﺀ ﹶﺃﺧ‬‫ﻴﻤ‬‫ﺑﻦ ﹶﺃﺑﹺﻲ ﺳﻠ‬ ‫ﺒﺪ ﺍﹾﻟﻤﻠﻚ‬‫ﺎ ﻋ‬‫ﺣﺪﹶﺛﻨ‬      ٍ    ‫ﹶ ﹶ‬        ‫ﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ‬‫ﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﱠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠ‬ ‫ﻲ ﻋﻬﺪ ﺭ‬‫ﺗﺰﻭﺟﺖ ﺍﻣﺮﹶﺃﺓ ﻓ‬ ‫ﺍﻟﻠﻪ ﻗﹶﺎﻝ‬  ‫ ﱠ‬   ‫ ﹶ‬  ‫ ﻠ ﱠ‬  ‫ﺳ ﹺ ﱠ‬    ‫ ﹰ‬      ‫ ﹶ‬ ‫ﱠ‬ ‫ﻧﻌﻢ‬ ‫ﺗﺰﻭﺟﺖ ﻗﻠﺖ‬ ‫ﺎﹺﺑﺮ‬‫ﺎ ﺟ‬‫ﻠﻢ ﻓﻘﹶﺎﻝ ﻳ‬‫ﻴﻪ ﻭﺳ‬‫ﻨﹺﺒﻲ ﺻﱠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠ‬‫ﻴﺖ ﺍﻟ‬‫ﻓﻠﻘ‬    ‫ ﹸﹾ‬     ‫ ﹶ ﹶ‬ ‫ ﱠ‬  ‫ ﹶ‬  ‫ﻠ ﱠ‬   ‫ﹶ ﹶ‬ ‫ﻮﻝ‬ ‫ﺎ ﺭ‬‫ﺎ ﻗﻠﺖ ﻳ‬‫ﺒﻬ‬‫ﺗﻠﹶﺎﻋ‬ ‫ﺍ‬‫ﻴﺐ ﻗﹶﺎﻝ ﻓﻬﱠﺎ ﹺﺑﻜﺮ‬‫ﻴﺐ ﻗﻠﺖ ﹶﺛ‬‫ﻗﹶﺎﻝ ﹺﺑﻜﺮ ﹶﺃﻡ ﹶﺛ‬ ‫ﺳ ﹶ‬  ‫ ﹸ ﹾ‬ ‫ﻠ ﹾ‬ ‫ ﹶ ﹶ‬  ‫ ﹸ ﹾ‬   ‫ﹶ ﹾ‬ ‫ﻨﻬﻦ ﻗﹶﺎﻝ ﻓﺬﹶﺍﻙ ﹺﺇﺫﻥ‬‫ﻴ‬‫ﺑ‬‫ﻴﻨﹺﻲ ﻭ‬‫ﺑ‬ ‫ﺗﺪﺧﻞ‬ ‫ﻴﺖ ﹶﺃﻥ‬‫ﺍﺕ ﻓﺨﺸ‬‫ﻲ ﹶﺃﺧﻮ‬‫ﺍﻟﻠﻪ ﹺﺇﻥ ﻟ‬ ‫ ﹶﹾ‬ ‫ ﹶ ﹶ‬  ‫ﹶ‬ ‫ ﹾ‬  ‫ﹶ‬  ‫ ﱠ‬‫ﱠ‬ Al-Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn al-Mugirah ibn Bardizbah alBukhari. Pilihlah wanita yang taat kepada agama. wajahnya. Juz.R. hari Akhir.a. al-Bukhari). Beirut: Dar al-Fikr. kitab-kitab. kebangkitan. 1410 H/1990 M. 3. hisab. Rasulullah Saw. hlm. dan karena ketaatannya kepada agama. para rasul. karena status sosialnya. para malaikat. karena keindahan.pemegang kitab samawi dan masih ada sisa-sisa ajaran dan nasehat samawi seperti iman kepada Allah. Sahih al-Bukhari. Dalam konteksnya dengan perkawinan antara agama. bersabda: "Wanita dikawini karena empat hal: karena harta-bendanya. yang ada adalah beberapa hadis yang secara implisit menunjuk ke arah itu. 256 128 96 . surga dan neraka serta perkara-perkara ghaib yang dibawa oleh para rasul.. bahwa tidak ada hadis yang secara eksplisit menegaskan tentang masalah itu. takdir. maka kamu akan berbahagia (H.

bersabda: "Baiklah kalau begitu.. Sahih Muslim. hlm. niscaya kamu akan bahagia. bersabda: "Dunia adalah perhiasan. Juz. beliau bertanya kepadaku: "Wahai Jabir. dan sebaik-baiknya perhiasan dunia ialah wanita yang saleh Al-Imam Abul Husain Muslim ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi. 130 Ibid. hlm."Gadis atau janda?" Aku menjawab: "Janda". Aku "merasa khawatir ia mengganggu hubunganku dengan saudara-saudara perempuanku itu Rasulallah Saw. dan kecantikannya. kamu sudah menikah?" Aku menjawab: "Benar. Mesir: Tijariah Kubra. ‫ﺑﻦ‬ ‫ﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ‬‫ﺎ ﻋ‬‫ﺍﹺﻧﻲ ﺣﺪﹶﺛﻨ‬‫ﻴﺮ ﺍﹾﻟﻬﻤﺪ‬‫ﻧﻤ‬ ‫ﺑﻦ‬ ‫ﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ‬‫ﺑﻦ ﻋ‬ ‫ﺣﺪﹶﺛﻨﹺﻲ ﻣﺤﻤﺪ‬  ‫ ﱠ‬       ‫ ﹴ‬ ‫ ﹺ‬‫ ﱠ‬         ‫ﺒﺪ‬‫ﺎ ﻋ‬‫ﻧﻪ ﺳﻤﻊ ﹶﺃﺑ‬‫ﺑﻦ ﺷﺮﹺﻳﻚ ﹶﺃ‬ ‫ﺮﺣﺒﹺﻴﻞ‬‫ﺒﺮﻧﹺﻲ ﺷ‬‫ﻴﻮﺓ ﹶﺃﺧ‬‫ﺎ ﺣ‬‫ﻳﺰﹺﻳﺪ ﺣﺪﹶﺛﻨ‬        ‫ ﹸ‬    ‫ﹸ‬     ‫ﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﱠﻰ‬ ‫ﺑﻦ ﻋﻤﺮﹴﻭ ﹶﺃﻥ ﺭ‬ ‫ﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ‬‫ﻳﺤﺪﺙ ﻋﻦ ﻋ‬ ‫ﺒﻠﻲ‬‫ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﹾﻟﺤ‬ ‫ ﻠ‬  ‫ﺳ ﹶ ﱠ‬ ‫ ﱠ‬  ‫ ﹺ‬ ‫ ﱠ‬    ‫ ﹸ‬     ‫ ﹺ‬   ‫ﻟﺤﺔ‬‫ﺎ‬ ‫ﺎ ﺍﹾﻟﻤﺮﹶﺃﺓ ﺍﻟ‬‫ﻧﻴ‬‫ﺎﻉ ﺍﻟﺪ‬‫ﻴﺮ ﻣﺘ‬‫ﺎﻉ ﻭﺧ‬‫ﺎ ﻣﺘ‬‫ﻧﻴ‬‫ﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﹶﺎﻝ ﺍﻟﺪ‬‫ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠ‬ ‫ ﹸ‬ ‫ ﹸ ﺼ‬   ‫ ﹺ‬       ‫ ﹶ‬ ‫ﱠ‬   ‫ ﹶ‬  ‫ﱠ‬ 130 (‫)ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ‬ Artinya: Telah mengabarkan kepadaku dari Muhammad bin Abdullah bin Numair al-Hamdani dari Abdullah bin Yazid dari Haiwatun dari Syurajil bin Syarik sesungguhnya dia mendengar Abu Abdurrahman al-Khubuli dapat kabar dari Abdullah bin Umar. 175. hartanya..‫ﻴﻚ ﹺﺑﺬﹶﺍﺕ ﺍﻟ ّﻳﻦ‬‫ﺎ ﻓﻌﻠ‬‫ﻟﻬ‬‫ﺎ‬‫ﺎ ﻭﺟﻤ‬‫ﻟﻬ‬‫ﺎ‬‫ﻣ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﻳﹺﻨﻬ‬‫ﻨﻜﺢ ﻋﻠﹶﻰ ﺩ‬‫ﺗ‬ ‫ﹺﺇﻥ ﺍﹾﻟﻤﺮﹶﺃﺓ‬ ‫ ﺪ ﹺ‬   ‫ﹶ‬ ‫ﹶ‬    ‫ ﹶ ﹶ‬ ‫ﱠ‬ 129 (‫ﻳﺪﺍﻙ )ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ‬ ‫ﺑﺖ‬‫ﺗﺮ‬    ‫ﹺ‬ Artinya: Telah mengabarkan kepada kami dari Abdul Malik bin Abiu Sulaiman dari Atha': "Jabir bin Abdullah bercerita kepadaku. Beliau bertanya: "Kenapa tidak kamu cari saja yang gadis supaya kamu bisa bermain dengannya?" Aku mencoba menjelaskan: "Wahai Rasulallah." (HR. 2. Suatu hari ketika bertemu dengan nabi Saw. aku menikahi seorang wanita. sesungguhnya aku ini memiliki beberapa orang saudara perempuan. Sesungguhnya wanita itu dinikahi karena agamanya. "Pada zaman Rasulallah Saw. sesungguhnya Rasulallah Saw. tth. 129 97 . Muslim). Tetapi carilah wanita yang punya agama. 178." Beliau bertanya: .

"Setiap persoalan yang muncul akan ditemukan ketentuan hukumnya dalam Al-Qur'an. 98 . Dalam buku metodologisnya. Nabi Muhammad saw. tidak berdiri sendiri. Sunnah Nabi saw. tetapi punya keterkaitan erat dengan Al-Qur'an. tidak berbicara dengan hawa nafsu. menjelaskan dan menafsirkan sesuatu yang tidak jelas dari Al-Qur'an." Untuk membuktikan hipotesanya itu Syafi’i menyebut empat cara Al-Qur'an dalam menerangkan suatu hukum. ia menjelaskan kerangka dan dasardasar mazhabnya dan beberapa contoh bagaimana merumuskan hukumhukum far'iyyah dengan menggunakan dasar-dasar tadi. memerinci yang global. Karenanya. mengkhususkan yang umum. dalam banyak hal. Al-Qur'an dan Sunnah berada dalam satu tingkat. kedudukan Sunnah. istihsan. Pemahaman integral Al-Qur'an-Sunnah ini merupakan karakteristik menarik dari pemikiran fiqih Syafi’i. al-Risalah. istishab dan lain-lain hanyalah merupakan suatu metode merumuskan dan menyimpulkan hukum-hukum dari sumber utamanya tadi. Metode Istinbath Hukum Al-Syafi'i tentang Perkawinan Antar Agama Posisi "tengah" Al-Syafi’i terlihat dalam dasar-dasar mazhabnya. Menurut Syafi’i. Baginya. dan bahkan membuat hukum tersendiri yang tidak ada dalam Al-Qur'an. Sedangkan teori-teori istidlal seperti qiyas.D. semua ucapannya adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah. Hal itu dapat dipahami karena Al-Qur'an dan Sunnah adalah Kalamullah. Hipotesa menarik lainnya dalam pemikiran metodologis Syafi’i adalah pernyataannya. dan bahkan merupakan satu-kesatuan sumber syariat Islam.

Keempat. atau nash yang mengharamkan zina. zakat. darah dan lainnya. Semua itu hanya disebut global dalam Al-Qur'an dan Nabilah yang menerangkan secara terinci. Al-Qur'an menerangkan suatu hukum dengan nash-nash hukum yang jelas. jumlah rakaat salat. berarti ia taat kepada Allah. Penjelasan Al-Qur'an terhadap masalah seperti ini yaitu dengan membolehkan ijtihad (bahkan mewajibkan) sesuai dengan kapasitas pemahaman terhadap maqashid al-Syari'ah (tujuan-tujuan umum syariat)." Dengan demikian. Kedua. Ketiga. minum khamar. makan bangkai. Nabi Muhammad saw. puasa dan haji. karena Al-Qur'an memerintahkan untuk mengambil apa yang diperintahkan oleh Nabi menjauhi yang dilarang. Dalam Al-Qur'an disebutkan: "Barangsiapa yang taat kepada Rasul. Misalnya. Allah juga mewajibkan kepada hamba-Nya untuk berijtihad terhadap berbagai persoalan yang tidak ada ketentuan nashnya dalam AlQur'an dan hadis. waktu pelaksanaannya. juga sering menentukan suatu hukum yang tidak ada nash hukumnya dalam Al-Qur'an. Bentuk penjelasan Al-Qur'an untuk masalah seperti ini dengan mewajibkan taat kepada perintah Nabi dan menjauhi larangannya.Pertama. demikian pula zakat. seperti nash yang mewajibkan salat. suatu hukum yang ditetapkan oleh Sunnah berarti juga ditetapkan oleh Al-Qur'an. suatu hukum yang disebut secara global dalam Al-Qur'an dan dirinci dalam Sunnah Nabi. 99 . apa dan berapa kadar yang harus dikeluarkan.

Sunnah. Menurut Syafi’i. ijma' dan qiyas. Dan pengembalian itu hanya dapat dilakukan dengan qiyas.ayat lainnya. Dalam Al-Qur'an disebutkan. Sumber-sumber hukum tersebut adalah Al-Qur'an.misalnya dengan qiyas atau penalaran analogis. artinya kembalikan pada Al-Qur'an dan Sunnah. Penggunaan ijma'. struktur hukum Islam dibangun di atas empat dasar yang disebut "sumber-sumber hukum". Maka apabila kamu berselisih tentang sesuatu kembalikanlah kepada Allah dan Rasul. Ini dengan jelas 100 . la begitu teguh dalam berpegang pada Al-Qur'an dan Sunnah dan pada saat yang sama memandang penting penggunaan rasio dan ijtihad. "Kembalikanlah kepada Allah dan Rasul". ia tidak memandang konsensus orang-orang umum sebagai ijma'. dan karenanya. dan ayat. ia ingin menyebutkan bahwa ijtihad merupakan perintah Al-Qur'an itu sendiri dan bukan merekayasa hukum." Menurut Al-Syafi’i. yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan orang-orang yang mempunyai kekuasaan di antara kamu. misalnya. Meskipun ulama sebelumnya juga menggunakan keempat dasar di atas. ijma' merupakan metode dan prinsip. tidak sepenuhnya mencaplok rumusan Imam Malik yang sangat umum dan tanpa batas yang jelas. Bagi Syafi’i. Dari keterangan di atas dapat diketahui "posisi tengah" pemikiran metodologis Syafi’i. Dengan landasan ayat ini. tetapi rumusan Syafi’i punya nuansa dan paradigma baru. sebagaimana dinyatakan oleh Imam Malik dan ulama-ulama Madinah.

Pengetahuan datang dalam beberapa bentuk. apa yang dituturkan oleh seluruh masyarakat dari seluruh masyarakat generasi-generasi yang telah lalu (pengetahuan yang dibentuk) dengan kepastian yang dapat saya sumpahkan dengan nama Allah dan Rasul- 101 . maka anda menyimpulkan bahwa mereka telah melakukan qiyas terhadap masalah-masalah tersebut dan anda berargumentasi bahwa qiyas adalah kumpulan pengetahuan yang benar dan mapan yang disepakati oleh para ulama. dan." Lawan: "Itulah yang kami katakan. Pertama. karena anda telah melihat bahwa ulama-ulama tersebut membuat pernyataan-pernyataan mengenai masalah-masalah yang tidak anda temui pembahasannya dalam AlQur'an dan Sunnah. misalnya Ibnu Musayyib sebagai ulama yang otoritatif di Madinah.terlihat dalam percakapan dengan sekelompok ahli hukum Madinah dalam bukunya Al-Umm dan dikutip lengkap oleh Fazlur Rahman: Al-Syafi’i: "Akankah kita katakan bahwa anda menganggap. Hasan di Bashrah dan Sya'bi di Kufah semuanya dari generasi tabi'ien dan memandang apa yang mereka sepakati sebagai ijma'?" Lawan: "Ya. anda menyimpulkan ijma' mereka dari laporan-laporan tentang mereka. sesungguhnya. Atha' yang otoritatif di Mekkah." Al-Syafi’i: "Tetapi anda menyatakan bahwa mereka tidak pernah bertemu dalam pertemuan mana pun yang anda ketahui. Karena itu.

Ijma' adalah argumen final mengenai segala sesuatu. pengetahuan para ahli yang merupakan argumen yang konklusif kecuali bila disampaikan dengan cara kebal terhadap kekeliruan. qiyas. yakni transmisi dari seluruh masyarakat generasi sebelumnya. bagi saya ia memiliki kedudukan yang sama dengan Sunnah yang telah disepakati. Terakhir." Al-Syafi’i: Mengenai jenis pengetahuan yang pertama yang anda jelaskan tadi. Contoh dari pengetahuan semacam ini adalah kewajiban-kewajiban agama. karena ia kebal terhadap kekeliruan. bagian dari Al-Qur'an yang mengakui perbedaan-perbedaan penafsiran haruslah diterima dalam artinya yang langsung dan sesuai dengan akal sehat: ia tidak bisa diberi "batiniyah" dan allegoris walaupun ia mungkin dapat menerima arti seperti itu kecuali bila hal itu menjadi konsensus masyarakat. 102 . dan segala sesuatu akan tetap berakar pada prinsip-prinsipnya kecuali bila masyarakat umum setuju untuk melepaskannya dari prinsip-prinsipnya. Ini disebabkan karena kesepakatan kaum Muslimin tidak dapat dicapai semata-mata dengan pendapat-pendapat pribadi (tapi hanya dengan melalui qiyas). Ketiga.Nya. Bahkan apabila yang disebut terakhir ini mungkin tidak datang dari Al-Qur'an ataupun Sunnah. Tidak ada perselisihan yang dapat memasuki pengetahuan dalam bentuk-bentuk yang telah saya uraikan tadi. Kedua. karena pendapat-pendapat pribadi hanya membawa pada perselisihan. pengetahuan yang disepakati oleh kaum Muslimin dan mereka telah menyatakan persetujuan sebelumnya terhadapnya. Keempat.

. tidaklah penting apakah hadis verbal yang sesuai dengan pendapat sebagian dari mereka ataukah tidak ada. Karena saya tidak menerima sesuatu hadits pun . dan bahkan bila mereka berselisih. karena hanya merekalah orang...memang dapat diterima. pada periode ini. dan dapatkah anda menjelaskan pengetahuan jenis kedua yang sehubungan dengannya. maka hal ini menjadi otoritatif bagi mereka yang tidak mengetahuinya (yakni bagi non-ulama)." Selanjutnya.. dan masalah-masalah seperti itu harus dirujuk pada suatu qiyas (penalaran analogis) yang baru berdasarkan apa yang telah disepakati bersama .... tapi sebagai suatu proses 103 . dan bahkan bila mereka berselisih. tidaklah penting apakah ada hadits verbal yang sesuai dengan sebagian dari mereka ataukah tidak ada..? Lawan: "Ini adalah ijma' para ulama saja ... Karena saya tidak menerima sesuatu hadis pun kecuali ada kesepakatan pendapat atasnya .. dimana anda mengatakan bahwa seluruh masyarakat bersepakat atasnya dan mentransmisikan kesepakatan umum yang sama mengenai hal itu pada generasi-generasi sebelumnya? Dan apa yang anda maksud dengan seluruh masyarakat itu? Apakah ia meliputi baik ulama maupun non-ulama.. Tapi apakah anda tahu. interaksi antara qiyas dan ijma' dipandang tidak sebagai sebuah prinsip yang statis.orang yang dapat mengetahui dan bersepakat pendapat tentang masalah itu.. tetapi jika mereka tidak bersepakat pendapat. Tidaklah penting apakah ijma' didasarkan pada sebuah hadis verbal yang mereka riwayatkan ataukah tanpa sebuah hadis pun . Jadi. maka pendapat-pendapat mereka tidak mempunyai otoritas bagi siapa pun.. ketika mereka bersepakat pendapat.

Apa yang dirumuskan oleh ulama-ulama sebelumnya oleh Syafi’i disebut qiyas bilfuru'. interpretasi dan adaptasi yang dinamis dan wajar. Penalaran analogis (qiyas) Al-Syafi’i. Selanjutnya menurut Al-Syafi’i. seperti istihsan. walaupun agak berkepanjangan. Sedangkan metode-metode yang lain. maka boleh dimakan sembelihannya dan halal dikawini wanitanya.asimilasi. sadd al-zarai' dan metode lainnya dimasukkan ke dalam qiyas bil qawa'id (penalaran analogis terhadap prinsip umum yang terkandung dalam suatu preseden itu sendiri). istishab. atau disamakan dengan preseden tersebut dengan kekuatan suatu sifat esensial umum yang disebut 'illat. juga. penalaran analogis terhadap masalah-masalah partikular dengan berpijak pada suatu prinsip tertentu yang terkandung dalam suatu preseden. menawarkan pernahaman baru. Nuansa dan paradigma pemikiran Syafi’i itu selalu terlihat dalam pemikiran-pemikirannya yang dibangun di atas pemikiran-pemikiran ulama sebelumnya. wanita 104 . bahwa dalam perspektif Al-Syafi’i bahwa siapa yang beragama dengan agama Yahudi dan Nasrani dari orang Sabiin dan Samiri. adalah yang paling komprehensif mengenai masalah tersebut dan mengungkapkan sikap sebenarnya dan yang serba meliputi dari ijma'. Hal ini terlihat dengan jelas dalam bagian lain dari tulisan Syafi’i yang. Dalam hubungannya dengan perkawinan antar agama. Sebuah kasus yang baru dapat dimasukkan ke dalam prinsip ini.

Al-Umm.)ﺍﳌﺎﺋﺪﺓ‬‫ﺎﺭ‬‫ﻧﺼ‬ Artinya: Sesungguhnya kamu [Muhammad] niscaya menemukan orang-orang yang sangat keras memusuhi orang-orang beriman.muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki non muslim.. 131 Dalam kaitannya dengan ahli kitab. hlm.S. 287 dan 289 131 105 . ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik (mempersekutukan Allah).. tidak termasuk bangsa-bangsa lain sekalipun penganut agama Yahudi dan atau Nasrani. dan kedua. Dan kamu menemukan pula Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i. ‫ﻳﻦ ﹶﺃﺷﺮ ﹸﻮﹾﺍ‬‫ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﻮﺩ ﻭ‬ ‫ﻴ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﹾﻟ‬‫ﻳﻦ ﺁﻣ‬‫ﺍﻭﺓ ﱢﻟﻠﺬ‬‫ﺎﺱ ﻋﺪ‬‫ﺘﺠﺪﻥ ﹶﺃﺷﺪ ﺍﻟ‬‫ﹶﻟ‬ ‫ﻛ‬    ‫ﻨ ﻬ‬  ‫ ﹰ ﱠ‬  ‫ ﻨ ﹺ‬  ‫ ﱠ‬ ‫ﹺ‬ ‫ﺎ‬‫ﻳﻦ ﻗﹶﺎﹸﻟﻮﹾﺍ ﹺﺇ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﻳﻦ ﺁﻣ‬‫ﺑﻬﻢ ﻣﻮﺩﺓ ﱢﻟﻠﺬ‬‫ﺘﺠﺪﻥ ﹶﺃﻗﺮ‬‫ﻭﹶﻟ‬ ‫ ﻧ‬  ‫ﻨ‬  ‫ ﹰ ﱠ‬      ‫ ﱠ ﹾ‬ ‫ ﹺ‬ (82 :‫ﻯ. yang termasuk ahlul kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani keturunan orang-orang Israel. tth. lafal min qablikum (umat sebelum kamu) dalam surah al-Ma'idah (5) ayat 5 menunjuk kepada kedua kelompok Yahudi dan Nasrani bangsa Israel. Nasrani) dan orang-orang yang musyrik tidak mau meninggalkan agama mereka sehingga datang keterangan kepada mereka (Q. Dalam hal ini metode istinbath hukumnya Al-Syafi’i didasarkan pada beberapa ayat dan surat di bawah ini: ‫ﻰ‬‫ﻨﻔﻜﲔ ﺣ‬ ‫ﺍﹾﻟﻤﺸﺮﻛﲔ‬‫ﺎﺏ ﻭ‬‫ﻭﺍ ﻣﻦ ﹶﺃﻫﻞ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬ ‫ﻳﻦ ﻛﻔ‬‫ﻳﻜﻦ ﺍﱠﻟﺬ‬ ‫ﹶﻟﻢ‬ ‫ﺘ‬  ‫ ﻣ ﹶ ﱢ‬  ‫ ﹺ‬  ‫ ﹺ‬ ‫ ﹺ‬   ‫ ﹶ ﹶﺮ‬ ‫ ﹸ ﹺ‬ (1 :‫ﻨﺔ )ﺍﻟﺒﻴﻨﺔ‬‫ﻴ‬‫ﺒ‬‫ﻴﻬﻢ ﺍﹾﻟ‬‫ﺗ‬‫ﺗﺄ‬ ‫ ﹸ‬ ‫ﹾ‬ Artinya: Dan orang-orang kafir di antara ahli kitab (Yahudi. akan tetapi dibolehkan menikah antara laki-laki muslim dengan ahli kitab. al-Bayyinah: 1). juz 4. menurut Al-Syafi'i. Di antara alasan yang diajukan adalah pertama. Beirut Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiah. karena Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS hanya diutus untuk orang-orang bangsa Israel.

begitu pun orang-orang yang mempersekutukan Allah sungguh Allah bakal memberikan keputusan yang tegas di antara mereka pada hari kiamat. Pembatasan pengertian yang hanya dalam dua komunitas agama: Yahudi dan Nasrani versi Syafi’i. al-Maidah: 82) ‫ﻮﺱ‬ ‫ﺍﹾﻟﻤ‬‫ﻯ ﻭ‬‫ﺎﺭ‬‫ﻨﺼ‬‫ﺍﻟ‬‫ﺌﲔ ﻭ‬‫ﺎﹺﺑ‬ ‫ﺍﻟ‬‫ﻭﺍ ﻭ‬ ‫ﺎ‬‫ﻳﻦ ﻫ‬‫ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﻮﺍ ﻭ‬‫ﻳﻦ ﺁﻣ‬‫ﹺﺇﻥ ﺍﱠﻟﺬ‬  ‫ﺠ‬  ‫ﺼ‬ ‫ ﺩ‬ ‫ﻨ‬  ‫ﱠ‬ ‫ﺎﻣﺔ ﹺﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﹶﻰ ﻛﻞ‬‫ﻳﻮﻡ ﺍﹾﻟﻘﻴ‬ ‫ﻨﻬﻢ‬‫ﺑﻴ‬ ‫ﻳﻔﺼﻞ‬ ‫ﻳﻦ ﹶﺃﺷﺮ ﹸﻮﺍ ﹺﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ‬‫ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﻭ‬ ‫ ﹸ ﱢ‬  ‫ ﱠ ﱠ‬       ‫ ﹸ‬ ‫ ﹾ‬ ‫ﻛ ﱠ ﱠ‬   (17 :‫ﺷﻲﺀ ﺷﻬﹺﻴﺪ )ﺍﳊﺞ‬   ٍ  Artinya: Sesungguhnya orang-orang beriman dan orang-orang Yahudi.. "Kami adalah orang-orang Nasrani . orang-orang Shabi'in (penyembah bintang). al-Hajj: 17). yaitu orang-orang yang berkata. Karena. Dalam kaitan ini. 106 .") (Q. Alasan penulis kurang setuju karena bila diaplikasikan di Indonesia.S. penulis di satu segi kurang sependapat dengan pendapat al-Syafi'i yang mengkategorikan ahlul kitab seperti tersebut di atas. tidak hanya terbatas pada dua agama Semit tersebut. konsekuensinya maka tidak halal bagi muslim menikahi perempuanperempuan mereka.orang-orang yang kasih kepada orang-orang yang beriman. Adalah Allah saksi pada tiap-tiap sesuatu (Q.S. maka menurut penulis jelas akan melahirkan implikasi sosiologis dalam konteks kehidupan sosial yang serius di Indonesia. realitas keragaman agama. orang-orang Nasrani dan Majusi. maka orang-orang Indonesia yang menganut agama Yahudi atau Nasrani sesudah turunnya al-Qur’an maka mereka tidaklah termasuk di dalam ahlul kitab..

khususnya mengenai makna ahlul kitab dalam versi al-Syafi'i. (Q.Di segi lain. [Dan dihalalkan bagi kamu menikahi] wanitawanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu. bila kamu telah membayar mahar mereka dengan maksud menikahinya. penulis setuju dengan pendapat al-Syafi’i yang membolehkan pria muslim menikah dengan perempuan ahlul kitab. ‫ﺎﺏ ﺣﻞ ﱠﻟﻜﻢ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬‫ﻳﻦ ﹸﻭ‬‫ﺎﻡ ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﺎﺕ ﻭﻃﻌ‬‫ﻴﺒ‬‫ﻴﻮﻡ ﹸﺃﺣﻞ ﹶﻟﻜﻢ ﺍﻟﻄ‬‫ﺍﹾﻟ‬  ‫ ﱞ ﹸ‬   ‫ ﺃ ﺗ‬  ‫ ﹶ‬  ‫ ﱠ‬ ‫ ﱠ ﹸ‬  ‫ﺎﺕ‬‫ﺍﹾﻟﻤﺤﺼﻨ‬‫ﺎﺕ ﻭ‬‫ﺎﺕ ﻣﻦ ﺍﹾﻟﻤﺆﻣﻨ‬‫ﺍﹾﻟﻤﺤﺼﻨ‬‫ﺎﻣﻜﻢ ﺣﻞ ﱠﻟﻬﻢ ﻭ‬‫ﻭﻃﻌ‬                ‫ ﱡ‬  ‫ ﹸ‬ ‫ ﹶ‬ ‫ﻮﺭﻫﻦ‬ ‫ﻮﻫﻦ ﹸﺃ‬ ‫ﺘ‬‫ﻴ‬‫ﺗ‬‫ﺒﻠﻜﻢ ﹺﺇﺫﹶﺍ ﺁ‬‫ﻦ ﻗ‬‫ﺎﺏ ﻣ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬‫ﻳﻦ ﹸﻭ‬‫ﻣﻦ ﺍﱠﻟﺬ‬   ‫ ﺟ‬  ‫ﻤ‬ ‫ ﹸ‬‫ﹶ‬   ‫ ﺃﺗ‬  ‫ﺎﻥ‬‫ﻳﻜﻔﺮ ﺑﹺﺎﻹﳝ‬ ‫ﻦ‬‫ﺍﻥ ﻭﻣ‬‫ﻱ ﹶﺃﺧﺪ‬‫ﺘﺨﺬ‬‫ﺎﻓﺤﲔ ﻭﻻ ﻣ‬‫ﻴﺮ ﻣﺴ‬‫ﻣﺤﺼﹺﻨﲔ ﻏ‬  ِ  ‫ ﹾﹸ‬     ‫ﹶ‬    ‫ ﹶ‬    (5 :‫ﺎﺳﺮﹺﻳﻦ )ﺍﳌﺎﺋﺪﺓ‬‫ﻲ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﻣﻦ ﺍﹾﻟﺨ‬‫ﻓﻘﺪ ﺣﺒﹺﻂ ﻋﻤﻠﻪ ﻭﻫﻮ ﻓ‬           ‫ﹸ‬  ‫ ﹶ‬  ‫ﹶ ﹶ‬ Artinya: Pada hari ini dihalalkan bagi kamu yang baik-baik. Dengan kata lain. tidak dengan maksud berzina dan tidak [pula] menjadikannya gundik-gundik. dan mahanan kamu halal [pula] bagi mereka.S. al-Maidah: 5) 107 . ia menggunakan metode istinbath hukum yaitu Al-Qur'an surat Al-Maidah ayat 5. menikahi wanita ahlul kitab boleh karena ayat ke-5 dari al-Maidah itu secara qath'i (tegas) menyatakan kehalalannya. Makanan [sembelihan] orang-orang yang diberi al-Kitab itu halal bagi kamu. Alasan penulis setuju karena surah al-Maidah ayat 5 merupakan petunjuk yang qath’i (tegas) tentang bolehnya menikahi wanita ahlul kitab. Dalam kaitannya dengan perkawinan antar agama. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman maka hapuslah amalannya dan di hari akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.

Tafsîr al-Qur’an al-Azîm.132 karena berdasarkan firman Allah yang mengatakan: ‫ﻴﻮﻡ ﺍﻵﺧﺮ‬‫ﻮﻥ ﺑﹺﺎﻟﻠﻪ ﻭﻻ ﺑﹺﺎﹾﻟ‬‫ﻳﺆﻣ‬ ‫ﻳﻦ ﻻ‬‫ﺗﹸﻮﹾﺍ ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﻗﹶﺎ‬ ‫ ﹺ‬ ‫ ﹺ‬ ‫ ﹶ‬  ‫ﻨ ﹶ ﹼ‬  ‫ ﹶ‬ ‫ﻠ‬ Artinya: Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula pada hari kemudian. maka penulis lebih cenderung berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ahlul kitab adalah semua penganut agama Yahudi dan Nasrani. dan di samping itu agar dengan keinginannya. Tentang makna ahlul kitab. 1978. Juz 6. Imam Syafi'i yang dimaksud ahli kitab di sini adalah wanita baik-baik dari Bani Israil. Dan menurut yang lain muhsanat adalah wanita ahli kitab yang baik-baik tadi yang merupakan penduduk Negeri Islam (Kafir Zimmi). wanita Ahlul kitab itu dapat mempelajari ajaran-ajaran mulia yang terdapat dalam ajaran Islam. 252.133 Menurut analisis penulis seorang laki-laki Muslim boleh menikahi Ahlul kitab. Hikmah yang terkandung di dalam hukum bolehnya seorang laki-laki Muslim menikahi wanita Ahlul kitab ialah tersedianya kesempatan supaya terciptanya hubungan dan kerjasama di antara mereka. selama wanita Ahlul kitab tersebut layak untuk dinikahi. hlm. 132 Ismâ'îl ibn Katsîr al-Qurasyî al-Dimasyqî. 282. kapanpun. Al-Qur’an dan Terjemahnya. hlm. Beirut: Dâr al-Ma’rifah.. dan keturunan siapa pun mereka.Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa para ahli tafsir dan para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan ayat wal muhsanâtî minal lazîna ûtul kitâb min qablikum menurut Ibnu Jarir yang dimaksud dengan muhsanat adalah wanita baik-baik dari ahli kitab baik merdeka atau budak. 133 Depag RI. 108 . di mana pun. Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an. 1986.

(Q. dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca.Pendapatnya ini didasarkan kepada firman Allah SWT dalam surah al-An 'am (6) ayat 156: ‫ﻦ‬‫ﺎ ﻋ‬‫ﺎ ﻭﺇﹺﻥ ﻛ‬‫ﺒﻠﻨ‬‫ﻦ ﻗ‬‫ﻴﻦ ﻣ‬‫ﺘ‬‫ﺋﻔ‬‫ﺎﺏ ﻋﻠﹶﻰ ﻃﹶﺂ‬‫ﺎ ﹸﻧﺰﻝ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬‫ﻧﻤ‬‫ﺗ ﹸﻮﹸﻮﹾﺍ ﹺﺇ‬ ‫ﺃﹶﻥ‬ ‫ ﹸﻨ‬  ‫ﹶ ﹺ ﹶ‬    ‫ﺃﹺﹶ‬ ‫ﻘﻟ‬ (156 :‫ﺎﻓﻠﲔ )ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ‬‫ﺘﻬﻢ ﹶﻟﻐ‬‫ﺍﺳ‬‫ﺩﺭ‬    ‫ ﹺ‬  Artinya: (Kami turunkan Al-Qur'an itu) agar kamu (tidak) mengatakan: Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami.S. al-An' am 156) 109 .

Kesimpulan Berdasarkan uraian sebelumnya. 2.Wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki non muslim dengan alasan surat al-Baqarah 221: walâ tunkihul musyrikîna hatta yukminu wala'abdun mu'minun khairun min musyrikin walau a'jabakum.BAB V PENUTUP D. Dalam perkawinan antar agama menurut Imam Safi'i: . Menurut al-Syafi'i yang dimaksud dengan ahli kitab tersebut adalah keturunan Bani Israil atau orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Taurat pada masa Nabi 110 . maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1.Laki-laki muslim tidak boleh menikah dengan wanita non muslim dengan alasan surat Al-Baqarah 221: walâ tankihul musyrikâti hatta yukminna walâmatun mu'minatun khairun min musyrikatin walau a'jabatkum. dan dengan mengacu pada rumusan masalah sebagaimana termuat dalam bab pertama sampai bab keempat skripsi ini. Laki-Laki muslim tidak boleh menikah dengan wanita non muslim kecuali dengan wanita non muslim yang berasal dari ahli kitab. .

(b). Di samping itu pendapat al-Syafi'i memperkaya wacana perkawinan dengan non muslim.Musa dan orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Injil pada masa Nabi Isa. Penutup 111 . E. Saran-Saran Meskipun pendapat al-Syafi’i dibuat dalam kurun waktu yang sudah lama. Istinbath hukum Al-Syafi’i yang membolehkan laki-laki muslim menikah dengan wanita non muslim dari ahli kitab didasarkan atas di takhsis surat al-Baqarah ayat 221 oleh surat al-Maidah ayat 5. F. Disebabkan: (a) Dalam ayat 5 al-Ma'idah terdapat lafal min qablikum yang berarti orang-orang Bani Israil atau orang-orang yang berpegang teguh pada Kitab Taurat pada masa Nabi Musa dan orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Injil pada masa Nabi Isa. Nabi Musa dan Nabi Isa hanya diutus kepada Bani Israil. ketika membahas perkawinan dengan non muslim. namun hendaknya dijadikan studi banding oleh peneliti lainnya. 3. Oleh karena itu kita perlu menghargai pendapat al-Syafi'i tersebut. Adapun ahli kitab yang dimaksud oleh al-Syafi'i hanya terbatas kepada keturunan Bani Israil atau orang-orang yang berpegang teguh pada Kitab Taurat pada masa Nabi Musa dan orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Injil pada masa Nabi Isa.

penulis mengharap kritik dan saran menuju kesempurnaan tulisan ini. Menyadari akan hal itu. 112 . semoga Allah SWT meridhoi. Âmîn.Meskipun tulisan ini telah diupayakan secermat mungkin namun mungkin saja masih ada kekurangan dan kekeliruannya.

Siradjuddin. Hadyul Islam Fatawi Mu’ashirah. 1972 Al-Syafi’i. Hayatuhu wa Asruhu wa Fikruhu ara-Uhu wa Fiqhuhu. I’lamul Muwaqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin. Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi’i. karya Toha Putera . tth Al-Jauziyah. Indonesia: Maktabah allhya at-Kutub al-Arabiah. Mesir. juz 4 Al-Zamakhsyari. 2004 Abd al-Salam. Muhammad. Jakarta: Pustaka Tarbiyah. Beirut: Dar al-Fikr. 1394 H/1974 M. 1410 H/1990 M Al-Ghazzi. Semarang: Maktabah wa Matbaah. Al-Imam al-Syafi'i fi Madzhabaih fi al-Qadim wa al-Jadid. jilid 1. 2001 Al-Shabuni. Sahih al-Bukhari. 1312 H ____________. Ali al-Walid. al-Ilmiyah. tth Al-Maragi. Juz 3. Dar al-Qiblat. tth 113 . “Al-Syafi’i Biografi dan Pemikirannya Dalam Masalah Akidah. “Fatwa-Fatwa Kontemporer”. juz 4. tt Abu Zahrah. juz 2 Al- Al-Qardhawi. Fath al-Qarib. tth. Juz 2. Tafsir Ayat al-Ahkam.DAFTAR PUSTAKA Abbas. 1972 Al-Malibary. Syaikh Zainuddin Ibn Abd Aziz. Syekh Muhammad bin Qasim. Ibn Qayyim. Politik dan Fiqih”. Muhammad Ali. alMuniriyyah Al-Jaziri. Ahmad Mustafa. (ed) Sayyid Ahmad Shaqr. Asbab Nuzul al-Qur'an. 2005 Al-Bukhari. Mesir: Mustafa Al-Babi Halabi. Tafsir al-Maragi. Ahmad Nahrawi. As’ad Yasin. Terj. Dar al-Qur'an al-Karim. Al-Imam Abi Abdillah Muhammad Ibn Idris. Al-Umm. Kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-Arba’ah. Beirut Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiah. Kairo: Dar al-Kutub. Beirut: Dar al-Ma'rifah. Jakarta: PT Lentera Basritama. Al-Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn al-Mugirah ibn Bardizbah. Yusuf. Fath al-Mu’in Bi Sarkh Qurrah al‘Uyun. Terj. Abdurrahman. Abdul Syukur dan Ahmad Rivai Uthman. Tafsir al-Kasyaf. al-Risalah fi’ Ilmu alushul . Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris. Beirut Libanon: Dar al-Fikr. Jakarta: Gema Insani. 1994 Abu Hasan.

al. Jakarta: Prenada Media. O.Pustaka Rizki Putra. Yogyakarta: UII Press.Amini. Ali. Semarang. Yas'alunaka fi ad-Din wa al-Hayah. PT Putaka Rizki Putra. Tatang M. Imam Jalaluddin. Futuhal Arifin. 1998 Fikri. Ichtiar Baru Van Hoeve. Hasbi. jilid 2. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Semarang. jilid 8. 1973 Basyir. Ahmad Azhar. "Tanya Jawab Lengkap tentang Agama dan Kehidupan". 1995 Depag RI. Terj. Jilid 4. Alwiyah Abdurrahman.Pustaka Rizki Putra. Kairo: Dar Ikhya’ al-Turas al-Islami. et.th Asy Syarbasy. jilid 5. Ahmad. t. PT. Ilmu Fiqh. Mutiara Hadis. 1986 Djazuli. juz 4. Bandung: al-Bayan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Muhammad. Menyusun Rencana Penelitian. terj.S.. "Bimbingan Islam Untuk Kehidupan Suami Istri". 1997 _____________. Jakarta: Pustaka Qalami. Jakarta: PT. 2003 As-San’ani. 3. Kairo: Dar al-Fikr. Ilmu Fiqh. Raja grafindo persada. 1997 Daradjat. TM. Ahmad Subandi. Abdul Aziz. Koleksi Hadis-Hadis Hukum. Beirut: Daar al-Qutub al-Arabia. 1999 Amirin. 1960 As-Suyuti. Nail al–Autar. 1997 Asy Syaukani. Perkawinan Antar Agama Dalam Teori dan Praktek. Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an. Ibrahim. Jakarta: Lentera. Al-Aimmah al-Arba'ah. Jakarta: PT. "Biografi Empat Imam Mazhab". 2005 Eoh. Cet. Tafsir Jalalain. Pokok-Pokok Pegangan Imam Madzhab. Juz 3.. Principles of Marriage Family Ethics. Ensiklopedi Hukum Islam. Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf. 1995 Ash Shiddieqy. 2001 _____________. Sayyid al-Iman Muhammad ibn Ismail Subul al-Salam Sarh Bulugh al-Maram Min Jami Adillati al-Ahkam. 2004 Dahlan. Semarang: PT. Yogyakarta: Mitra Pustaka. Terj. Kisah-Kisah Para Imam Madzhab. Hukum Perkawinan Islam. 2003 114 . 2003 ______________. Zakiah.

Ushul Fiqh. Muhammad Jawad. Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam.Hadikusuma. 14. Hadari. 1995 Moleong. Jakarta: Pustaka al-Sofwa. Cairo: Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah.Raja Grafindo Persada. 2001 Ibn Kasir. Al-Imam al-Hafizh Imaduddin Abul Fida Ismail. Bandung: PT. Cet. juz 2. Cet. 1410 H/1990M Khalid. 14. Masykur AB. Jakarta: Bulan Bintang Koencaraningrat. “Menikah Dengan Non Muslim”.1999 115 . Jakarta: Ghalia Indonesia. Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab. 2002 ____________. Moh. 2001 Mubarok. Jakarta: PT. 2000 Nawawi. Cet. Hukum Perkawinan Indonesia Menurut Perundangan. 2000 Mughniyah. Yogyakarta: Bina Cipta. Terj. Zaenal Abidin Syamsudin.Remaja Rosdakarya. Jakarta: PT Lentera Basritama. 1970 Kuzari. "Fiqih Lima Mazhab". Bandung: PT Remaja Rosda Karya. 1999 Hanafie. Modifikasi Hukum Islam Studi tentang Qaul Qadim dan Qaul Jadid. Pokok-Pokok Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan di Indonesia. Zahry. Metode Penelitian Kulitatif. ‘Ilm ushul al-Fiqh.. Jakarta: PT Pustaka Panji Mas. 2004 Khalil. Achmad. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Metode Penelitian. Terj. 4.Raja Grafindo Persada. 1991 Nazir. Cet. Metode Penelitian Bidang Sosial. al-Zawaj Bighair al-Muslimin. tth Khalaf. Jaih. Bandung: Mandar Maju. Syekh Hasan. juz 2. Jakarta: Wijaya. Hukum Adat. 1978 Hamka. Tafsir Al Azhar. 1990 Hamid. 14. Tafsir al-Qur’an al‘Azhim. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 5. A. Hilman. Munawar.. Cet. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Abd Wahab. Lexy J. Nikah Sebagai Perikatan. Al-Fiqh 'ala al-Mazahib al-Khamsah.. et al. Jakarta: Maktabah al-Dak’wah alIslamiyah Syabab al-Azhar. Hukum Agama. Jakarta: PT.

Arso. Ke-4. Ahmad. Yogyakarta: Ittaqa Press. Cet. 1993 Syalthut. Wirjono. 1990 116 . Cairo: Dar al-Manar. 1986 Uwaidah. Jakarta: Depag RI. Abdullah Zakiy al-Kaaf. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. 2002 Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an. 12. Cet. Pustaka Sinar Harapan. Hukum Perkawinan Islam. Nasruddin. 1977 Sabiq. Hukum Kekeluargaan Indonesia. juz 2. 1380 H Razak. Tafsir al-Manar. Syekh Kamil Muhammad. 2004 Suriasumantri. Abdul Ghofar.Raja Grafindo Persada. juz 6. Suatu Analisis dari UndangUndang No. Hukum Perkawinan dalam Islam. Bandung: PT. Moh. Al-Jami' Fi Fiqhi an-Nisa. Surabaya: Arkola.Prodjodikoro. Jakarta: PT Hidakarya Agung.Wasit Aulawi. Al-Ma’arif.. Fiqih Tujuh Madzhab. Sayyid. terj. Jujun S. 9. Mahmud. 7. 2002 Rasyid Ridha. Jakarta: Bulan Bintang. Hukum Perkawinan di Indonesia. 1986 Ridha. Kairo: Maktabah al-Qahirah. 1367 H Rofiq. Jakarta: PT. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam. Rasyid. Jakarta: Bumi Aksara. Sayyid Muhammad. 2001 Sosroatmodjo. Abdul Mun’im. Cet. M. Madzhab Syafi’i Kajian Konsep Al-Maslahah. Hukum Islam di Indonesia. Kairo: Maktabah Dar al-Turas. (Jakarta: Pustaka al-Kautsar. 1975 Suma. 1986 Yunus. 1981 Ramulyo. Cet.Raja Grafindo Persada. 1977 Saleh. 5. Tafsir al-Manar. Mahmud. Hukum Perkawinan Di Indonesia. Bandung: CV Pustaka Setia. terj. cet. Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam. 2000 Thalib. Sayuti. Muhammad Amin. Dienul Islam. dan A. Fiqh al-Sunnah. Al-Qur’an dan Terjemahnya. "Fiqih Wanita'. Jakarta: UI Press. Jakarta: PT. Jakarta. Bandung: PT Sumur Bandung. Idris. tth Saekan dan Erniati Effendi. Sejarah Penyusunan Kompilasi Hukum Islam di Indonesia.

1997 117 . Masail Fikhiyah. Jakarta: PT Gunung Agung. Masjfuk.Zuhdi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful