REFERAT ILMU KESEHATAN MATA

PTERYGIUM

Oleh :

PEMBIMBING :

SMF ILMU KESEHATAN MATA 2011

HALAMAN PENGESAHAN TUGAS BACA ILMU KESEHATAN MATA PTERYGIUM
Disetujui dan diterima sebagai salah satu tugas Kepaniteraan Muda di BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA

Surabaya, Maret 2011 Mengetahui Dosen Pembimbing,

i

.2 Epidemiologi …………………………………………………… 6 II.1..……….2.….2.2..1. 6 II.. 9 II.10.2. Pterigium ……………………………………………………………… 5 II.1. ii Daftar Isi ………………………………………………………………………….8 Diagnosa …………………………………………………….1 Definisi …………………………………………………………. Umum………………………………………………………………….2. Indikasi Operasi ……………………………………………….…….……. 2 II.. 3 II.…….……….2.4 Etiologi ………………………………………………………….3Mortalitas/morbiditas …………………………………………… 6 II.2.. 10 II..9 Diagnosa Banding ……………………………………………… 10 II.. 1 I. iii BAB I Pendahuluan ……………………………………………………….…….10.2. Terapi Tambahan …………………………………………….DAFTAR ISI Lembar Pengesahan ……………………………………………………………….2. 11 C.. Anatomi ………………………………………………………. 2 II..2.6 Gejala klinis ……………………………………………..2. 2 II.10 Terapi …………………………………………………………. 10 II.2.…. i Kata Pengantar ………………………………………………………………….. 5 II..…………………………………………………….5 Patofisiologi ..1 Konservatif ………………………………………….2 Bedah ………………………………………………. Teknik Bedah …………………………………………………...2 Anatomi Kornea ……………………………………………….2.1...1 Anatomi Konjungtiva ………………………………………….7 Pemeriksaan fisik …………………………………………. 7 II.…. 9 II.. 8 II... 11 A. 11 B.… 12 ii . 1 BAB II Pembahasan ……………………………………………………….

11 Komplikasi ………………………………………………….13 Prognosa …………………………………………………….…………….II.2...12 Pencegahan ……………………………………………..……. 16 BAB IV Penutup ……………………………………………………………….2.2. 14 II. 15 BAB III Kesimpulan ……………………………………………………………. 14 II. 18 iii .. 17 Daftar Pustaka ……………………………………………………..

dan umumnya bilateral di sisi nasal.7 Jika pterigium membesar dan meluas sampai ke daerah pupil.BAB I Pendahuluan Pterigium merupakan pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif. Seperti daging berbentuk segitiga.7 1 . Temuan patologik pada konjungtiva. Keadaan ini diduga merupakan suatu fenomena iritatif akibat sinar ultraviolet. berdebu atau berpasir. Kombinasi autograft konjungtiva dan eksisi lesi terbukti mengurangi resiko kekambuhan. lapisan bowman kornea digantikan oleh jaringan hialin dan elastik. lesi harus diangkat secara bedah bersama sebagian kecil kornea superfisial di luar daerah perluasannya. daerah yang kering dan lingkungan yang banyak angin. penuh sinar matahari. karena sering terdapat pada orang yang sebagian besar hidupnya berada di lingkungan yang berangin.

2 Konjungtiva terdiri atas tiga bagian. menutupi sclera dan mudah digerakan dari sclera dibawahnya. - Konjungtiva bulbi.BAB II Pembahasan II.1.1 Anatomi Konjungtiva Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sclera dan kelopak mata bagian belakang. merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi 2 Konjungtiva bulbi dan forniks berhubungan dengan sangat longgar dengan jaringan di bawahnya sehingga bola mata mudah bergerak 2 2 . Berbagai macam obat mata dapat diserap melalui konjungtiva. Konjungtiva forniks. Konjungtiva ini mengandung sel musin yang dihasilkan oleh sel goblet.1 Anatomi II. yaitu : Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus. konjungtiva tarsal ini sukar digerakkan dari tarsus.

dan sel muda ini terdorong ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng. Membran Bowman -Terletak dibawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. Epitel . yaitu : 1.Pada sel basal sering terlihat mitosis sel. sel basal berikatan erat dengan sel basal di sampingnya dan sel poligonal di depanya melalui desmosom dan makula okluden. -epitel berasal dari ektoderm permukaan. sel poligonal dan sel gepeng.II. bagian selaput mata yang tembus cahaya.Tebalnya 50 μm.Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan lainnya. 2 3 . 2 3. terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu yang lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma. ikatan ini menghambat pengaliran air. 2 Kornea terdiri dari lima lapis. elektrolit.1. 2 2. . pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di bagian perifer serat kolagen ini bercabang. merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata bagian depan. satu lapis sel basal. dan glukosa yang merupakan barrier.Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi.2 Anatomi kornea Kornea adalah selaput bening mata. Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblas terletak di antara serat kolagen stroma. terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih. . Stroma .

saraf ke V saraf siliar longus berjalan suprakoroid. masuk ke dalam stroma kornea. 2 4 .2 Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola mata di sebelah depan. besar 20-40µm. bentuk heksagonal. menembus membrane bowman melepaskan selubung schwannya. Endotel tidak mempunyai daya regenarasi.bersifat sangat elastik dan berkembang terus seumur hidup. berlapis satu. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea. endotel melekat pada membrane descement melalui hemidesmosom dan zonula okluden. mempunyai tebal 40µm.2 5. Seluruh lapis epitel dipersarafi sampai pada kedua lapis terdepan tanpa ada akhir saraf.4. dimana 40 dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea. . saraf nasosiliar. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan di daerah limbus. membrane descement . Endotel .merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membran basalnya. 2 Kornea dipersyarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar longus. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan. 2 Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan system pompa endotel terganggu sehingga dekompensasi endotel dan terjadi edema kornea.berasal dari mesotellium.

2 Pterigium II. 5 . mirip daging yang menjalar ke kornea 6.2.1 Definisi Pterigium adalah suatu penebalan konjungtiva bulbi yang berbentuk segitiga. pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif 2.II.

Sehingga dapat disimpulkan penurunan angka kejadian di lintang atas dan peningkatan relatif angka kejadian di lintang bawah.3 II. Di daratan Amerika serikat.II. cahaya sinar matahari.2. Untuk pasien umurnya diatas 40 tahun mempunyai prevalensi yang tertinggi.2 EPIDEMIOLOGI Di Amerika Serikat.3 II.2.4 Etiologi Pterigium diduga disebabkan iritasi kronis akibat debu.2. Jenis Kelamin Pterygium dilaporkan bisa terjadi pada golongan laki-laki dua kali lebih banyak dibandingkan wanita. Prevalensinya berkisar kurang dari 2% untuk daerah di atas 40o lintang utara sampai 5-15% untuk daerah garis lintang 28-36o.2. Umur Jarang sekali orang menderita pterygium umurnya di bawah 20 tahun. kasus pterigium sangat bervariasi tergantung pada lokasi geografisnya. 3 Berdasarkan beberapa faktor diantaranya : 1.5 Patofisiologi 6 . sedangkan pasien yang berumur 20-40 tahun dilaporkan mempunyai insidensi pterygium yang paling tinggi. dan degenerasi. radang. Sebuah hubungan terdapat antara peningkatan prevalensi dan daerah yang terkena paparan ultraviolet lebih tinggi di bawah garis lintang. Mata bisa menjadi inflamasi sehingga menyebabkan iritasi okuler dan mata merah. 3 2. 2 II. Etiologinya tidak diketahui dengan jelas dan diduga merupakan suatu neoplasma.3 Mortalitas/Morbiditas Pterygium bisa menyebabkan perubahan yang sangat berarti dalam fungsi visual atau penglihatan pada kasus yang kronis. dan udara panas.

6 Daerah nasal konjungtiva juga relatif mendapat sinar ultraviolet yang lebih banyak dibandingkan dengan bagian konjungtiva yang lain. pterigium merupakan akumulasi dari jaringan degenerasi subepitel yang basofilik dengan karakteristik keabu-abuan di pewarnaan H & E . Semua kotoran pada konjungtiva akan menuju ke bagian nasal. debu dan kekeringan. Epitel diatasnya biasanya normal. debu.9 7 . Jaringan ini juga bisa dicat dengan cat untuk jaringan elastic akan tetapi bukan jaringan elastic yang sebenarnya. Berbentuk ulat atau degenerasi elastotic dengan penampilan seperti cacing bergelombang dari jaringan yang degenerasi. atau bahkan displastik dan sering menunjukkan area hiperplasia dari sel goblet. Histopatologi kolagen abnormal pada daerah degenerasi elastotik menunjukkan basofilia bila dicat dengan hematoksin dan eosin. tetapi mungkin acanthotic. dengan permukaan yang menutupi epithelium.Konjungtiva bulbi selalu berhubungan dengan dunia luar. kekeringan mengakibatkan terjadinya penebalan dan pertumbuhan konjungtiva bulbi yang menjalar ke kornea 6 Pterigium ini biasanya bilateral. oleh karena jaringan ini tidak bisa dihancurkan oleh elastase. karena itu pada bagian nasal konjungtiva lebih sering didapatkan pterigium dibandingkan dengan bagian temporal.3 Histologi. kemudian melalui pungtum lakrimalis dialirkan ke meatus nasi inferior. karena di samping kontak langsung. karena kedua mata mempunyai kemungkinan yang sama untuk kontak dengan sinar ultraviolet. Kontak dengan ultraviolet. Pemusnahan lapisan Bowman oleh jaringan fibrovascular sangat khas. bagian nasal konjungtiva juga mendapat sinar ultra violet secara tidak langsung akibat pantulan dari hidung. 6 Patofisiologi pterygium ditandai dengan degenerasi elastotik kolagen dan proliferasi fibrovaskular. hiperkeratotik.

Beberapa keluhan yang sering dialami pasien antara lain: • • • mata sering berair dan tampak merah merasa seperti ada benda asing timbul astigmatisme akibat kornea tertarik oleh pertumbuhan pterigium tersebut.11 8 . Sclera dan selaput lendir luar mata (konjungtiva) dapat merah akibat dari iritasi dan peradangan. berkembang menuju ke arah kornea dan pada permukaan kornea.10 II.7 Pemeriksaan Fisik Adanya massa jaringan kekuningan akan terlihat pada lapisan luar mata (sclera) pada limbus.6 Gejala Klinis Gejala klinis pterigium pada tahap awal biasanya ringan bahkan sering tanpa keluhan sama sekali (asimptomatik).2.II.2. biasanya astigmatisme with the ruleataupun astigmatisme irreguler sehingga mengganggu penglihatan • pada pterigium yang lanjut (derajat 3 dan 4) dapat menutupi pupil dan aksis visual sehingga tajam penglihatan menurun.

9 Diagnosa Banding 1. berbentuk nodul yang berwarna kekuningan. dan dapat dibagi menjadi 4 (Gradasi klinis menurut Youngson ): • • Derajat 1: Jika pterigium hanya terbatas pada limbus kornea Derajat 2: Jika pterigium sudah melewati limbus kornea tetapi tidak lebih dari 2 mm melewati kornea • Derajat 3: Jika pterigium sudah melebihi derajat dua tetapi tidak melebihi pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya normal (diameter pupil sekitar 3-4 mm) • Derajat 4: Jika pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil sehingga mengganggu penglihatan. pada pterigium tidak dapat dilalui oleh sonde seperti pada pseudopterigium.2.Pinguekula penebalan terbatas pada konjungtiva bulbi. disertai rasa gatal. penderita juga dapat melaporkan sejarah paparan berlebihan terhadap sinar matahari atau partikel debu.2. Sensasi benda asing dapat dirasakan. Derajat pertumbuhan pterigium ditentukan berdasarkan bagian kornea yang tertutup oleh pertumbuhan pterigium.Berbentuk segitiga yang terdiri dari kepala (head) yang mengarah ke kornea dan badan. dan mata mungkin tampak lebih kering dari biasanya.10 II. pada akhirnya menyebabkan penglihatan terganggu.6 9 . ketidaknyamanan dari peradangan dan iritasi. kemerahan dan atau bengkak.8 Diagnosa Penderita dapat melaporkan adanya peningkatan rasa sakit pada salah satu atau kedua mata.11 Test: Uji ketajaman visual dapat dilakukan untuk melihat apakah visi terpengaruh.10 II. Dengan menggunakan slitlamp diperlukan untuk memvisualisasikan pterygium tersebut. Kondisi ini mungkin telah ada selama bertahun-tahun tanpa gejala dan menyebar perlahan-lahan.11 Dengan menggunakan sonde di bagian limbus.

pasien dapat diberikan obat tetes mata kombinasi antibiotik dan steroid 3 kali sehari selama 5-7 hari.10.2.10 II.2. Sedapat mungkin setelah avulsi pterigium maka bagian konjungtiva bekas pterigium tersebut ditutupi 10 .10.10 Terapi II. sonde dapat masuk di antara konjungtiva dan kornea. Untuk pterigium derajat 1-2 yang mengalami inflamasi.2.Pseudopterigium Merupakan suatu reaksi dari konjungtiva oleh karena ulkus kornea. Pada pengecekan dengan sonde.2 Bedah Pada pterigium derajat 3-4 dilakukan tindakan bedah berupa avulsi pterigium.6 II.2.1 Konservatif Pada pterigium yang ringan tidak perlu di obati. Diperhatikan juga bahwa penggunaan kortikosteroid tidak dibenarkan pada penderita dengan tekanan intraokular tinggi atau mengalami kelainan pada kornea.

Banyak dokter mata lebih memilih untuk memisahkan ujung pterigium dari kornea yang mendasarinya.dengan cangkok konjungtiva yang diambil dari konjugntiva bagian superior untuk menurunkan angka kekambuhan.1 1. Teknik Autograft Konjungtiva memiliki tingkat kekambuhan dilaporkan serendah 2 persen dan setinggi 40 persen pada beberapa studi prospektif. Penggunaan Mitomycin C (MMC) sebaiknya hanya pada kasus pterigium yang rekuren. dan dijahit di atas sclera yang telah di eksisi pterygium tersebut. Teknik Pembedahan Tantangan utama dari terapi pembedahan pterigium adalah kekambuhan. Keuntungan termasuk epithelisasi yang lebih cepat. biasanya dari konjungtiva bulbar superotemporal. mengupayakan komplikasi seminimal mngkin. meskipun tidak ada yang diterima secara universal karena tingkat kekambuhan yang variabel. mengingat komplikasi dari pemakaian MMC juga cukup berat. Tujuan utama pengangkatan pterigium yaitu memberikan hasil yang baik secara kosmetik. berair dan silau karena astigmatismus 4. dan untuk hasil yang optimal ditekankan 11 . Tingkat kekambuhan tinggi.1 2. eksisi pterigium adalah langkah pertama untuk perbaikan. Prosedur ini melibatkan pengambilan autograft. Kosmetik. telah didokumentasikan dalam berbagai laporan. sementara memungkinkan sclera untuk epitelisasi. antara 24 persen dan 89 persen. Terlepas dari teknik yang digunakan. Teknik Bare Sclera Melibatkan eksisi kepala dan tubuh pterygium. Pterigium mencapai jarak lebih dari separuh antara limbus dan tepi pupil 3.6 B. dibuktikan dengan pertumbuhan fibrovascular di limbus ke kornea.10 A. jaringan parut yang minimal dan halus dari permukaan kornea. Banyak teknik bedah telah digunakan. Pterigium yang sering memberikan keluhan mata merah. Pterigium yang menjalar ke kornea sampai lebih 3 mm dari limbus 2. Indikasi Operasi 1. terutama untuk penderita wanita. Komplikasi jarang terjadi. angka kekambuhan yang rendah.

dosis minimal yang aman dan efektif belum ditentukan. Sebuah keuntungan dari teknik ini selama autograft konjungtiva adalah pelestarian bulbar konjungtiva. Dua bentuk MMC saat ini digunakan: aplikasi intraoperative MMC langsung ke sclera setelah eksisi pterygium.1 MMC telah digunakan sebagai pengobatan tambahan karena kemampuannya untuk menghambat fibroblas.1 C. MBBS. Cangkok Membran Amnion Mencangkok membran amnion juga telah digunakan untuk mencegah kekambuhan pterigium. tingkat kekambuhan sangat beragam pada studi yang ada. diantara 2.6 persen dan 10. Membran Amnion biasanya ditempatkan di atas sklera .5 persen untuk kekambuhan pterygia.pentingnya pembedahan secara hati-hati jaringan Tenon's dari graft konjungtiva dan penerima. Studi telah menunjukkan bahwa tingkat rekurensi telah jatuh cukup dengan penambahan terapi ini. dengan membran basal menghadap ke atas dan stroma menghadap ke bawah. Lem fibrin juga telah digunakan dalam autografts konjungtiva. manipulasi minimal jaringan dan orientasi akurat dari grafttersebut. sebagian besar peneliti telah menyatakan bahwa itu adalah membran amnion berisi faktor penting untuk menghambat peradangan dan fibrosis dan epithelialisai. Hirst. Terapi Tambahan Tingkat kekambuhan tinggi yang terkait dengan operasi terus menjadi masalah. Namun. Meskipun keuntungkan dari penggunaan membran amnion ini belum teridentifikasi.1 3.Sayangnya. dan terapi medis demikian terapi tambahan telah dimasukkan ke dalam pengelolaan pterygia. Lawrence W.7 persen untuk pterygia primer dan setinggi 37. dan penggunaan obat tetes 12 . dari Australia merekomendasikan menggunakan sayatan besar untuk eksisi pterygium dan telah dilaporkan angka kekambuhan sangat rendah dengan teknik ini. Beberapa studi terbaru telah menganjurkan penggunaan lem fibrin untuk membantu cangkok membran amnion menempel jaringan episcleral dibawahnya. Efeknya mirip dengan iradiasi beta. namun ada komplikasi dari terapi tersebut.

dan steroid selama 1 minggu.11 Komplikasi 1.1% : 4x1 tetes/hari kemudian tappering off sampai 6 minggu. diberikan bersamaan dengan salep mata dexamethasone. Sinar Beta 4. dikombinasikan dengan pemberian: 1.1 Beta iradiasi juga telah digunakan untuk mencegah kekambuhan.4 mg/ml) : 4x1 tetes/hari selama 14 hari. diberikan bersamaan dengan salep antibiotik Chloramphenicol. Komplikasi dari pterigium meliputi sebagai berikut: - Gangguan penglihatan Mata kemerahan 13 - .04% (o.1 Untuk mencegah terjadi kekambuhan setelah operasi. efek buruk dari radiasi termasuk nekrosis scleral . dan ini telah mendorong dokter untuk tidak merekomendasikan terhadap penggunaannya. Namun. Mitomycin C 0. meskipun tidak ada data yang jelas dari angka kekambuhan yang tersedia.02% tetes mata (sitostatika) 2x1 tetes/hari selama 5 hari. Mitomycin C 0. Topikal Thiotepa (triethylene thiophosphasmide) tetes mata : 1 tetes/ 3 jam selama 6 minggu.2.6 II. endophthalmitis dan pembentukan katarak. 2. bersamaan dengan pemberian dexamethasone 0.mata MMC topikal setelah operasi. Beberapa penelitian sekarang menganjurkan penggunaan MMC hanya intraoperatif untuk mengurangi toksisitas. 3. karena menghambat mitosis pada sel-sel dengan cepat dari pterygium.

12 Pencegahan Pada penduduk di daerah tropik yang bekerja di luar rumah seperti nelayan.2.2. petani yang banyak kontak dengan debu dan sinar ultraviolet dianjurkan memakai kacamata pelindung sinar matahari.13 Prognosis 14 . Timbul jaringan parut kronis dari konjungtiva dan kornea Dry Eye sindrom 3 2. sekitar 50-80%. Komplikasi post-operatif bisa sebagai berikut: - Infeksi Ulkus kornea Graft konjungtiva yang terbuka Diplopia Adanya jaringan parut di kornea 3 Yang paling sering dari komplikasi bedah pterigium adalah kekambuhan.6 II. Angka ini bisa dikurangi sekitar 5-15% dengan penggunaan autograft dari konjungtiva atau transplant membran amnion pada saat eksisi 3 II.- Iritasi Gangguan pergerakan bola mata. Eksisi bedah memiliki angka kekambuhan yang tinggi.

Pterigium adalah suatu neoplasma yang benigna. Pasien dengan pterygia yang kambuh lagi dapat mengulangi pembedahan eksisi dan grafting dengan konjungtiva / limbal autografts atau transplantasi membran amnion pada pasien tertentu 3 BAB III 15 .6 Eksisi pada pterigium pada penglihatan dan kosmetik adalah baik. Kekambuhan dapat dicegah dengan kombinasi operasi dan sitotastik tetes mata atau beta radiasi. Prosedur yang baik dapat ditolerir pasien dan disamping itu pada beberapa hari post operasi pasien akan merasa tidak nyaman. Umumnya prognosis baik. . kebanyakan setelah 48 jam pasca operasi pasien bisa memulai aktivitasnya.

bisa juga menunjukkan keluhan mata iritatif. merah. BAB IV Penutup 16 . hanya perawatan secara konservatif seperti memberikan anti inflamasi pada pterigium yang iritatif. Walaupun begitu penyakit ini dapat dicegah dengan menganjurkan untuk memakai kacamata pelindung sinar matahari. sensasi benda asing hingga perubahan tajam penglihatan tergantung dari stadiumnnya. serta dialami oleh pasien di atas 40 tahun karena faktor degeneratif.Kesimpulan Pterigium merupakan salah satu dari sekian banyak kelainan pada mata dan merupakan yang tersering nomor dua di indonesia setelah katarak. gatal. Penderita dengan pterigium dapat tidak menunjukkan gejala apapun (asimptomatik). Pada pembedahan akan dilakukan jika piterigium tersebut sudah sangat mengganggu bagi penderita semisal gangguan visual. hal ini di karenakan oleh letak geografis indonesia di sekitar garis khatulistiwa sehingga banyak terpapar oleh sinar ultraviolet yang merupakan salah satu faktor penyebab dari piterigium. Terapi dari pterigium umumnya tidak perlu diobati. dan pembedahan ini pun hasilnya juga kurang maksimal karena angka kekambuhan yang cukup tinggi mengingat tingginya kuantitas sinar UV di Indonesia. Pterigium banyak diderita oleh laki-laki karena umumnya aktivitas laki-laki lebih banyak di luar ruangan.

gejala klinis. patofisiologi. Ravi Singh. MD. Management of Pterygium 17 . di dalamnya telah dibahas mengenai anatomi. and David Liang. dan penatalaksanaan. komplikasi. diagnose banding. Ardalan Aminlari. definisi. MD.Demikian telah dibahas tentang Pterigium. pemeriksaan. Daftar Pustaka 1. Sekiranya apa yang telah kami bahas dalam referat ini dapat bermanfaat bagi temanteman yang membacanya agar dapat lebih memahami tentang pterigium dan penatalaksanaannya. MD.

Bag/SMF Ilmu Penyakit Mata.com/pterygium 18 .wikipedia. Jerome P Fisher.medscape. Oftalmologi umum .en. Jakarta : Balai Penerbit FKUI . 2007. hal: 102 – 104 7. www. 116 – 117 3. 1996. Ilyas S. Philadelphia: Butterworth Heinemann Elsevier. 18th ed. Paul Riordan-eva. 2009 Hal 119 8. PTERYGIUM.org/wiki/Pterygium_(conjunctiva) 9. 2006. London : Churchill Livingstone .org/aao/publications/eyenet/201011/pearls. Clinical Ophthalmology: A Systematic Approach. Edisi 6.com/article/1192527-overview 4. Miller SJH. Pedoman Diagnosis dan Terapi. Voughan & Asbury.mdguidelines. 2006 :242-244.142 6.aao. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3.aao. 5. John P. Parson’s Disease of The Eye. hal:2-6.org/pterygium/ 11.eyewiki.inascrs. www. 2009 http://emedicine.org/Pterygium 10. Kanski JJ. Whitcher edisi 17 Jakarta : EGC. Edisi III penerbit Airlangga Surabaya. www.cfm? 2. p. www.http://www.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer: Get 4 months of Scribd and The New York Times for just $1.87 per week!

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times