Perbedaan Kurikulum 1994 dan KTSP

Posted: 18 Maret 2010 by globotech88 in Uncategorized Tag:Perencanaan Pengajaran Geografi

0 Perbedaan Kurikulum 1994 dan KTSP 1. A. Kurikulum 1994 Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem catur wulan. Dengan sistem catur wulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak. Terdapat ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, di antaranya sebagai berikut. Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem catur wulan Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi) 1. 1. Filosofi Ralph Tyler (1949) mengemukakan asas yang digunakan sebagai landasan untuk pengembangan kurikulum yaitu azas filosofis yakni filsafat suatu bangsa. Bagi bangsa Indonesia, azas filosofisnya adalah pancasila. Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kurikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, Ella Yulaelawati (2003), mengenalkan berbagai aliran filsafat, seperti : perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran ± aliran filsafat tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan. Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu. Kurikulum 1994 sesuai dengan aliran filsafat perenialisme, karena pada kurikulum 1994 lebih fokus kepada aspek kognitif dan mengabaikan aspek-aspek lainnya. 1. 2. Tujuan Secara umum tujuan diterapkannya kurikulum 1994 adalah meningkatkan mutu pendidikan melalui siswa mampu menguasai materi yang diberikan, bahan ajar berdasarkan TIU (Tujuan Institusional Umum) dan TIK (Tujuan Institusional Khusus) dan menyiapkan siswa melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi.

berorientasi kognitif. keberhasilan siswa diukur dan dilaporkan berdasarkan perolehan nilai yang dapat diperbandingkan dengan sisa lain. karena guru menyampaikan materi hanya menggunakan satu metode saja. guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar. dan penyelidikan. baik secara mental. 1. Metode yang digunakan mengajar cenderung monotone yaitu ceramah. fisik. Evaluasi pelajaran dilaksanakan dengan teknik paper dan pecil test . dan sosial supaya tercapai target. di antaranya sebagai berikut. Guru mengajar hanya mengejar target berupa materi yang harus dikuasai dan berorientasi kognitif. Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/substansi setiap mata pelajaran. kurikulum 1994 bertujuan untuk membekali siswa untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. mengejar target berupa materi yang harus dikuasai. 1. Kurikulum ini bersifat kurikulum inti sehingga daerah yang khusus dapat mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar. Selain itu. Materi Kurikulum 1994 bersifat populis. yaitu metode ceramah. Oleh karena itu guru dianggap sebagai pusat pembelajaran. yaitu memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia dalam artian materi pembelajaran ditentukan oleh pemerintah. tidak menggunakan metode-metode lain yang melibatkan siswa aktif. dan dari hal yang sederhana ke hal yang komplek. Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu dilakukan untuk pemantapan pemahaman siswa. Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa. Kegiatan belajar cenderung didalam kelas. dari hal yang mudah ke hal yang sulit. 3. Cara Penilaian Pada kurikulum 1994 cara penilaian di fokuskan pada aspek kognitif. Dalam pelaksanaan kegiatan. divergen (terbuka. 1. pemahaman siswa tentang materi. Kegiatan belajar cenderung di dalam kelas. Pengajaran dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak. Proses Pembelajaran Pada kurikulum 1994 muncul istilah CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Selama dilaksanakannya kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan. sehingga diharapkan akan terdapat keserasian antara pengajaran yang menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran yang menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah. 5. Bahan ajar yang akan disampaikan oleh guru harus berdasarkan pada TIU dan TIK (tujuan pembelajaran). dimungkinkan lebih dari satu jawaban). Dalam mengaktifkan siswa guru dapat memberikan bentuk soal yang mengarah kepada jawaban konvergen. Guru dianggap sebagai pusat dari pembelajaran.Pada kurikulum 1994 muncul istilah CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). terutama sebagai akibat dari kecenderungan kepada pendekatan penguasaan materi (content oriented). Penyusunan bahan penilaian didasarkan pada tujuan perkelas dan persemester. 4. Proses pembelajaran bersifat klasikal dengan tujuan menguasai materi pelajaran. Pada kurikulum ini.

dan rekonstruktivisme. progresivisme. 2. KTSP sesuai dengan filsafat Rekonstruktivisme. dihimpun menjadi sebuah perangkat yang dinamakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Di samping menekankan tentang perbedaan individual lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah. sedangkan sekolah dalam hal ini guru dituntut untuk mampu mengembangkan dalam bentuk silabus dan penilaiannya sesuai dengan kondisi sekolah dan daerahnya. eksistesialisme. Filosofi Ralph Tyler (1949) mengemukakan asas yang digunakan sebagai landasan untuk pengembangan kurikulum yaitu azas filosofis yakni filsafat suatu bangsa. seperti : perenialisme. yaitu dengan lebih menitikberatkan pada filsafat rekonstruktivisme. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis. Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada beberapa negara dan khususnya di Indonesia. azas filosofisnya adalah pancasila. Pada rekonstruktivisme. tampaknya mulai terjadi pergeseran landasan dalam pengembangan kurikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan. Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kurikulum. dan melakukan sesuatu ? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses. Dalam pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran ± aliran filsafat tertentu. yaitu mengacu jiwanya desentralisasi sistem pendidikan. lahirlah kurikulum 2006 yang pada dasarnya sama dengan kurikulum 2004. Ella Yulaelawati (2003). pemerintah pusat menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar.1. 1. Secara khusus. berfikir kritis dan sejenisnya. tujuan diterapkannya KTSP adalah : . Pada kurikulum 2006. 1. Perbedaan yang menonjol terletak pada kewenangan dalam penyusunannya. uji terbatas tersebut dihentikan. B. Hasil pengembangan dari semua mata pelajaran. 1. Dan selanjutnya dengan terbitnya permen nomor 24 tahun 2006 yang mengatur pelaksanaan permen nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi kurikulum dan permen nomor 23 tahun 2006 tentang standar kelulusan. sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan. essensialisme. Bagi bangsa Indonesia. peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Pelaksanaan KBK masih dalam uji terbatas. namun pada awal tahun 2006. mengenalkan berbagai aliran filsafat. Penyusunan KTSP menjadi tanggung jawab sekolah di bawah binaan dan pemantauan dinas pendidikan daerah dan wilayah setempat. memecahkan masalah. Tujuan Secara umum tujuan di terapkannya KTSP adalah untuk memadirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan ( otonomi kepada lembaga pendidikan dengan demikian melalaui KTSP diharakan dpat mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam mengembangkan kurikulum seperti yang kita ketahui dalam model mengelolaan kurikulum yang tersentralistis seperti kurikulum yang pernah berlaku di Indonesia.

Materi Materi pembelajaran berkaitan dengan bahan pelajaran yang harus dikuasai siswa harus sesuai dengan kompetensi pembelajaran. tetapi juga fokus pada aspek psikomotor dan afektif siswa. perkembangan peserta didik dan sumber daya yang tersedia. Cara Penilaian Evaluasi dalam KTSP di arahkan bukan hanya sekedar untuk mengukur keberhasilan setiap siswa dalam pencapaian hasil belajar. Oleh sebab itu. Metode yang digunakan seperti ceramah interaktif. Memfokus pada tiga aspek. pembelajaran kolaboratif dan kooperatif.1. atau simulasi. Keberhasilan siswa diukur berdasarkan pencapaian kompetensi tertentu dan bukan atau perbandingan dengan hasil belajar siswa lain. Proses Pembelajaran Dalam KTSP. dan memberdayakan sumber daya yang tersedia. Referensi : . Dengan ini diharapkan setiap komponen sekolah baik kepala maupun guru-guru dituntut untuk lebih aktif dan kreatif melakukan berbagai upaya agar semua kebutuhan sekolah terpenuhi. diskusi kelompok. Artinya guru harus aktif dan kreatif untuk mencapai kompetensi pembelajaran. 4. observasi di sekolah. guru tidak diharuskan menyampaikan semua materi pembelajaran tetapi pembelajaran harus mencapai kompetensi. hal ini disebabkan karena cara belajar peserta didik berbeda-beda. Tetapi hal yang harus diingat. Kegiatan pembelajaran tidak hanya dilakukan di dalam kelas tetapi juga di luar kelas agar siswa tidak merasa bosan dalam menerima pelajaran. afektif dan psikomotor. diskusi kelas. eksperimen. Peningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melaui pengambilan keputusan bersama. 1. ekplorasi dan kajian pustaka atau internet. meningkat mutu pendidikan melalui kemadirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum. tanya jawab. Dalam KTSP. 3. mengelola. Materi pembelajaran disusun berdasarkan karakteristik mata pelajaran. 3. presentasi. Guru bertindak hanya sebagai fasilitator dan siswa sebagai subjek pendidikan. 2. 1. 5. dalam pelaksanaan pembelajaran setiap guru tidak hanya menentukan tes sebagai alat evaluasi akan tetapi juga menggunakan nontes dalam bentuk tugas. Materi pembelajaran ditentukan oleh sekolah berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar. demonstrasi. wawancara dan dalam bentuk sebagainya. tetapi juga untuk mengumpulkan informasi tentang proses pembelajaran yang idlakukan oleh setiap siswa. KTSP tidak hanya fokus pada aspek kognitif. Sekolah dengan KTSPnya tidak lagi hanya berfungsi sebagai pelaksana kurikulum yang telah di atur pusat akan tetapi juga sebagai pengambil keputusa tentang pengembangan dan implementasi kurikulum. Meningatkan kopetisi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai. pembelajaran harus didasarkan pada kompetensi dasar yang harus dicapai 1. yaitu kognitif. pengalaman pembelajaran menggunakan metode yang bervariasi.

2008.org (Diakses 1 Maret 2010) Akhmad Sudrajat. Padang : FIP UNP . Profesi Kependidikan. ³Kurikulum dan Landasan Pengembangan´ Sanjaya. 2009. Dasar Dasar Kurikulum (Diakses 1 Maret 2010) 2010. wendie. 2008. Jakarta : kencana Tim Pembina Mata Kuliah Profesi kependidikan. Landasan Kurikulum Muhammad Ali M.mdm99@aimalumni.wordpress. 2006. eko13. Kurikulum dan pembelajaran :teori dan praktik pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).com. wina.2008.

dan evaluasi. sikap dan keterampilanKurikulum 1994 adalah seperangkat rencana/peraturan yang menekankan pada cara belajar siswa aktif secara fisik. keterampilan. dan bertindak. Melalui kurikulum 1968 tujuan pembelajaran setiap mata pelajaran yang terkandung pada kurikulum 1968 lebih dipertegas lagi. sarana dan prasarana. inilah yang disebut konsep Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). standar kompetensi lulusan. tenaga kependidikan. Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi. serta cara untuk digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. mental. bermutu. Tujuan Tujuan . materi pelajaran. Kurikulum 1994 adalah seperangkat rencana/peraturan yang menekankan pada cara belajar siswa aktif secara fisik. dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara pegetahuan. materi. . Kurikulum 1984 tidak mengubah semua hal dalam. Setiap satuan bahsaan memiliki unsur-unsur: petunjuk umum. Kompetensi dimaknai sebagai perpaduan pengetahuan. mental. mendiskusikan. Metode. dan tujuan pengajarannya tertuang secara gambalang dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Dari hal-hal yang bersifat mengamati. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang beragam mengacu pada standar nasional. dan efisien bekerja. dam Tap MPR No IV/MPR/1999 tentang arah kebijakan pendidikan nasional. proses. proses pembelajaran dipandang merupakan wilayah otoritas guru. tujuan instruksional khusus (TIK). dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa. yang mempengaruhinya adalah konsep di bidang manajemen. hingga melaporkan. UU No 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan propinsi sebagai daerah otonom. meski mengutamakan proses tapi faktor tujuan tetap dianggap penting. KBK tidak lagi mempersoalkan proses belajar. dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir. sikap dan keterampilan Kurikulum 2004 lebih populer dengan sebutan KBK (kurikulum Berbasis Kompetensi). . intelektual. Kurikulum 2006 adalah seperangkat renana dan pengaturan mengenai tujuan. Seseorang telah memiliki kompetensi dalam bidang tersebut yang tercermin dalam pola perilaku sehari-hari. menjadi bagian penting proses belajar mengajar. yaitu MBO (Management by Objective).Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI).Bidang 1975 1984 1994 2004 2006 1. Sistem yang senantiasa mengarah kepada tercapainya tujuan yang spesifik. yang senada dengan tuntukan GBHN 1983 bahwa pendidikan harus mampu mencetak tenaga terdidik yang kreatif. nilai. Konsep Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan. 2.Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu. Lahir sebagai respon dari tuntutan reformasi. mengelompokkan. kurikulum 1975. dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara pegetahuan. agar pendidikan lebih efektif dan efesien. Melalui PPSI kemudian lahir satuan pelajaran. pembiayaan dan penilain pendidikan. yang terpenting pada tingkatan tertentu peserta didik mencapai kompetensi yang diharapkan. alat pelajaran. Posisi Siswa dalam kurikulum 1984 diposisikan sebagai subyek belajar. diantaranya UU No 2 1999 tentang pemerintahan daerah. intelektual. pengelolaan.Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon (rangsang-jawab) dan latihan Tujuan . isi dan bahan pelajaran. yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu kurikulum 1984 disebut kurikulum 1975 yang disempurnakan.

. kreatif. kemampuan mengekspresikan. . . Dari keempat dasar tersebut. dan mandiri. . tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif. . Oleh karena itu. yang mencakup masalah pengorganisasian kurikulum. Spiral adalah pendekatan yang digunakan dalam pengemasan bahan ajar berdasarkan kedalaman dan keluasan materi pelajaran.Psikologis. sebelum memilih atau menentukan bahan ajar.Meningkatkan kesadran dan wawasan peserta diaik akan status. dasar filosofis juga merupakan dasar yang fondamental dalam pengembangan kurikulum karena menjiwai seluruh aktivitas pelaksanaan dan pengembangan kurikulum. dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni. dan kewajiban dalam kehidipan bernasyarakat. semakin dalam dan luas materi pelajaran yang diberikan. . . yang pertama harus dirumuskan adalah tujuan apa yang harus dicapai siswa.Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman. Tujuan Mementingkan isi dan Mementingkan materi yang harus pemahaman dan dikuasai siswa kompetensi yang dimiliki siswa .Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal. Tujuan . Didasari oleh pandangan bahwa pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas di sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif. serta meningkatkan kualitas dirinya sebagi manusia. Semakin tinggi kelas dan jenjang sekolah. serta dasar organisatoris. . yang mencakup nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat dan juga kebutuhankebutuhan masyarakat. berbangsa dan bernegara..Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.Mengenal.Dasar sosiologis.Berorientasi kepada tujuan instruksional. hak.Sumber belajar bukan hanya guru.Materi pelajaran dikemas dengan nenggunakan pendekatan spiral. . Tujuan .Meningkatkan potensi fisik serta menanamkan sportifitas dan kesadaran hidup sehat.Membantu Peserta Didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa serta berakhlak mulia. yang mencakup filsafat suatu negara dan tujuan pendidikan. menyikapi dan mengapresiasi ilmu pengetahuan dan teknologi serta menanamkan kebiasaan berpikir dan berperilaku ilmiah yang kritis. . .Meningkatkan sensitifitas. .Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.Dasar filosofis. yang mencakup ilmu jwa belajar dan ilmu jiwa perkembangan.

(e) Keluhan masyarakat tentang mutu lulusan pendidikan untuk meninjau system yang kini sedang berlaku. (b) Adanya kebijaksanaan pemerintah di bidang pendidikan nasional yang digariskan dalam GBHN yang antara lain berbunyi : Mengejar ketinggalan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mempercepat lajunya pembangunan. materi pelajaran. alat pelajaran. yang dimulai pada tahun 1969. (3) Terdapat kesenjangan antara program kurikulum dan pelaksanaannya di sekolah. telah banyak timbul gagasan baru tentang pelaksanaan sistem pendidikan nasional. hal-hal yang merupakan faktor kebijaksanaan pemerintah yang berkembang dalam rangka pembangunan nasional tersebut belum diperhitungkan. Hal-hal yang mempengaruhi program maupun kebijaksanaan pemerintah yang menyebabkan pembaharuan itu adalah : (a) Selama Pelita I. Kurikulum 1994 berupaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya. Perkembangan Metode. Pada msa ini dikenal istilah satuan pelajaran . (2) Pada Kurikulum 1968. kegiatan belajar-mengajar. materi. yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. . misalnya bahasa daerah kesenian. Model yang berkembang pada saat itu dinamakan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL). Kurikulum 2004 atau kurikulum berbasis kompetensi (KBK) lebih menekankan pada penguraian mata pelajaran berdasar kompetensi apakah yang mesti dicapai siswa Kurikulum yang dikenal sebagai kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) lebih menkenakan hasil belajar pada Standar Isi dan Standar Kelulusan yang berdasarkan pada Kompetensi dasar siswa. (c) Adanya hasil analisis dan penilaian pendidikan nasional oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaaan mendorong pemerintah untuk meninjau kebijaksanaan pendidikan nasional. dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). (4) Terlalu padatnya isi kurikulum yang harus diajarkan hampir di setiap jenjang. (2) Terdapat ketidakserasian antara materi kurikulum berbagai bidang studi dengan kemampuan anak didik. (1) Terdapat beberapa unsur dalam GBHN 1983 yang belum tertampung ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah.3. Dalam hal ini sekolah diberikan kebebesan untuk mengembangkan kurikulum berdasarkan karakteristik sekolah 4. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi: petunjuk umum. tujuan instruksional khusus (TIK). Sehingga ketercapaian dalam belajar dilihat s dari seberapa jauh kompetensi yang diperoleh sisa salam menguasai mata pelajaran. Kurikulum ini juga sering disebut Kurikulum 1975 yang disempurnakan . sehingga diperlukan peninjauan terhadap Kurikulum 1968 tersebut agar sesuai dengan tuntutan masyarakat yang sedang membangun. dan evaluasi. yang mempunyai dampak baru terhadap program pendidikan nasional. yaitu mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984. Kurikulum ini mengusung pendekatan proses. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. keterampilan daerah. namun yang terjadi adalah pemadatan materi pelajaran.. tapi faktor tujuan tetap penting. Latar Belakang Sejak Tahun 1969 di Negara Indonesia telah banyak perubahan yang terjadi sebagai akibat lajunya pembangunan nasional. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing. (d) Adanya inovasi dalam system belajar-mengajar yang dianggap lebih efisien dan efektif yang telah memasuki dunia pendidikan Indonesia.

Sesuai dengan undang-undang pendidikan nasional No. Meskipun demikian. Proses pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan pedagogi yang mencakup strategi atau metode mengajar. dan materi pencapaian. pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk mengembangkan silabus dan sistem penilaiannya berdasarkan standar nasional. dinyatakan bahwa Kewenangan pusat adalah dalam hal penetapan tander kompetisi peserta didik dan warga belajar serta pengaturan kurikulum nasional dan penilaian hasil belajar secara nasional sserta pedoman pelaksanaannya. Tingkat keberhasilan belajar yang dicapai peserta didik dapat dilihat pada hasil belajar. Kompetensi lulusan suatu jenjang pendidikan.(5) Pelaksanaan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) sebagai bidang pendidikan yang berdiri sendiri mulai dari tingkat kanak-kanak sampai sekolah menengah tingkat atas termasuk Pendidikan Luar Sekolah. kompetensi dasar.20. Kebijakan pemerintah memberlakukan kurikulum 2004 didasarkan pada UU No. b) Pokok Kurikulum 1984 (1) Bahwa sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta agar pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan Undang-Undang. pedagogi dan penilaian yang menekankan pada standar atau hasil. sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. yang mencakup standar kompetensi. kecakapan. kesehatan. Bagian yang menjadi kewenangan daerah adalah dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang meliputi pembelajaran tatap muka dan pengalaman belajar serta instrumen penilaiannya. Implkasi penerapan pendidikan berbasis kompetnsi adalah perlunya pengembangan silabus dan sistem penilaian yang menjadikan peserta didik mampu mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan standar yang ditetapkan dengan mengintegrasikan life skill Pemberlakuan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah menuntut pelaksanaan otonomi daerah dan wawasan demokrasi dalam penyelengaraan pendidikan . Pada PP Nomor 25 tahun 2001 Pasal 4 ayat 1 dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. serta kebutuhan pembangunan. keterampilan. (6) Pengadaan program studi baru (seperti di SMA) untuk memenuhi kebutuhan perkembangan lapangan kerja. misalnya penambahan kompetensi dasar atau indikator pencapaian. Departemen Pendidikan Nasional melakukan penyusunan standar nasional untuk seluruh mata pelajaran di SMU. (2) Bahwa untuk mewujudkan pembangunan nasional di bidang pendidikan. yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian. (3) Dengan berlakunya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional maka Kurikulum Sekolah Menengah Umum perlu disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan tersebut. 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah dan PP nomor 25 tahun 2000 Pasal 36 ayat 2 tentang pembagian kewenangan pusat dan daerah Jis (berhubungan dengan) Undang-undang No. mencakup komponen pengetahuan. diperlukan peningkatan dan penyempurnaan pentelenggaraan pendidikan nasional. daerah dapat mengembangkan standar tersebut. Kurikulum berisi bahan ajar yang diberikan kepada peserta didik melalui proses pembelajaran. kemandirian. ketaqwaan dan kewarganegaraan. tugas-tugas dan pengamatan. perkembangan masyarakat. yang mencakup ujian. materi pokok. akhlak. 2003:24-25) Berdasarkan hal itu. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Menurut Wilson (2003:1) paradigma pendidikan berbasis kompetensi mencakup kurikulum. dan penetapan standar materi pelajaran pokok .(Depdiknas. kretifitas. Pendidikan berbasis kompetensi adalah pendidikan yang menekankan pada kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan suatu jajaran pendidikan.

maupun psikomotor.adalah dengan diberikannya wewenang kepada sekolah untuk menyusun kurikulum. Pendekatan keterampilan proses diupayakan dilakukan secara efektif dan efesien dalam mencapai tujuan pelajaran. Berorientasi kepada tujuan instruksional. Pemberian materi pelajaran berdasarkan tingkat kematangan mental siswa dan penyajian pada jenjang sekolah dasar harus melalui pendekatan konkret. Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). semakin dalam dan luas materi pelajaran yang diberikan. 5. Semakin tinggi kelas dan jenjang sekolah. afektif. Spiral adalah pendekatan yang digunakan dalam pengemasan bahan ajar berdasarkan kedalaman dan keluasan materi pelajaran. Materi disajikan berdasarkan tingkat kesiapan atau kematangan siswa. Pendekatan Berorientasi pada tujuan Menganut pendekatan integrative dalam arti bahwa setiap pelajaran memiliki arti dan peranan yang menunjang kepada tercapainya tujuan-tujuan yang lebih integratif. baik dalam ranah kognitif. Menggunakan pendekatan keterampilan proses. Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan. dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal. yaitu Pasal 3 tentang fungsi dan tujuan pendidikan nasional serta Pasal 35 tenang standar nasional pendidikan. CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik. seperti dalam pengelolaan kurikulum. Selain itu juga adanya tuntutan globalisasi dalam bidang pendidikan yang memacu keberhasilan pendidikan nasional agar dapt bersaing dengan hasil pendidikan negara-negara maju. Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada . Konsep-konsep yang dipelajari siswa harus didasarkan kepada pengertian. semiabstrak. Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu. Didasari oleh pandangan bahwa pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas di sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif. Keterampilan proses adalah pendekatan belajat mengajar yang memberi tekanan kepada proses pembentukkan keterampilan memperoleh pengetahuan dan mengkomunikasikan perolehannya. semikonkret. intelektual. Dari yang mudah menuju ke sukar dan dari sederhana menuju ke kompleks. Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui cara belajar siswa aktif (CBSA). dan abstrak dengan menggunakan pendekatan induktif dari contoh-contoh ke kesimpulan. Oleh karena itu. sebelum memilih atau menentukan bahan ajar. mental. Materi pelajaran dikemas dengan nenggunakan pendekatan spiral. Sistem yang senantiasa mengarah kepada tercapainya tujuan yang spesifik. Untuk menunjang pengertian alat peraga sebagai media digunakan untuk membantu siswa memahami konsep yang dipelajarinya. Disentralisasi pengelolaan penddikan yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dan kondisi daerah perlu segera dilaksanakan. yang pertama harus dirumuskan adalah tujuan apa yang harus dicapai siswa. dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa. Hal itu juga mengacu pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bukti nyata dari disentralisasi pengelolaan pendidikan ini adlah diberikannya kewenangan kepada sekolah untuk mengambil keputusan berkenaan debgan pengelolaan pendidikan. baik dalam penyusunannya maupun pelaksanaannya di sekolah. baru kemudian diberikan latihan setelah mengerti.

divergen (terbuka. Pelajaran Ilmu Aljabar dan Ilmu Ukur digabung menjadi satu dengan nama Matematika. tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif. baik secara mental. Dalam pelaksanaan kegiatan. fisik. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi. yang terdiri atas 9 bidang studi termasuk mata pelajaran PSPB. IPS dan Bahasa. c) jumlah mata pelajaran di SMP 11 bidang studi. program A3 (ilmu sosial). c) penjurusan di SMA dibagi atas 3 yaitu : jurusan IPA. Sumber belajar bukan hanya guru. dan penyelidikan. b) nama SMP dan SLTP kejuruan diganti menjadi SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama). e) penjurusan di SMA dibagi atas 5 (lima) jurusan. Ciri . program A5 (ilmu agama). a) sifat kurikulum content based curriculum. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi. Pengajaran dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak. c) mata pelajaran PSBP dan . tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.dan Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu dilakukan untuk pemantapan pemahaman siswa. dimungkinkan lebih dari satu jawaban). yaitu yang memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. dan dari hal yang sederhana ke hal yang komplek. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi. yaitu : program A1 (ilmu fisika). dan sosial. pelajaran ilmu alam dan ilmu hayat digabung menjadi satu dengan nama Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi. d) jumlah mata pelajaran di SMA-15 bidang studi untuk program inti dan 4 bidang studi untuk program pilihan. a) sifat kurikulum objective based curriculum. penjurusan dimulai di kelas I. Dalam mengaktifkan siswa guru dapat memberikan bentuk soal yang mengarah kepada jawaban konvergen. b) program mata pelajaran mencakup 11 bidang studi. Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman. JUmlah mata pelajaran di SMP dan SMA menjadi 11 bidang studi. pada permulaan semester II. guru memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal. Sumber belajar bukan hanya guru. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal. Kurikulum ini bersifat kurikulum inti sehingga daerah yang khusus dapat mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar. program A4 (ilmu budaya).materi pelajaran/isi) Kurikulum 1994 bersifat populis. b) jumlah mata pelajaran berdasarkan tingkatan SD mempunyai struktur program. 6. program A2 (ilmu biologi). sehingga diharapkan akan terdapat keserasian antara pengajaran yang menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran yang menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah. dari hal yang mudah ke hal yang sulit.ciri a) sifat kurikulum Integrated Curriculum Organization.

e) penjurusan di SMU dilakukan di kelas II. dan Bahasa. belajar sepanjang hayat.Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman. d) program pengajaran di SD disusun dalam 7 mata pelajaran. mengembangkan kemampuan sosial. yaitu : Ilmu Alam. a) sifat kurikulum Competency Based Curriculum. 5. . . mengembangkan keingintahuan. d) program pengajaran di SMU disusun dalam 10 mata pelajaran. imajinasi dan fitrah anak 6. potensi siswa. f) program pengajaran di SMA disusun dalam 17 mata pelajaran.Penyempurnaan kurikulum secara terus menerus sebagai upaya menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. belajar dengan melakukan. (3) Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu. . kalender pendidikan hingga silabusnya. tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif. . 8. Sistem yang senantiasa mengarah kepada tercapainya tujuan yang spesifik. dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa. Ilmu Sosial.Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk memperoleh kebenaran substansi materi pelajaran dan kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa. harus berpusat pada siswa yang belajar 2. (4) Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). e) program pengajaran di SMP disusun dalam 11 mata pelajaran. g) penjurusan di SMA dilakukan di kelas II. program pengajaran SD dan SLTP disusun dalam 13 mata pelajaran. b) penyebutan SLTP menjadi SMP. mengembangkan kreativitas siswa. mengembangkan kemampuan menggunakan ilmu dan teknologi 9.Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk mendapatkan proporsi yang tepat antara tujuan yang ingin dicapai dengan beban belajar. . (2) Menganut pendekatan integrative dalam arti bahwa setiap pelajaran memiliki arti dan peranan yang menunjang kepada tercapainya tujuan-tujuan yang lebih integratif. 4.Sumber belajar bukan hanya guru. struktur dan muatan kurikulum. f) penjurusan dibagi atas tiga jurusan.Terdapatnya tujuan. . . .Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.keterampilan ditiadakan. . nama SMA diganti SMU (Sekolah Menengah Umum). Prinsip (1) Berorientasi pada tujuan. visi-misi. h) penjurusan dibagi atas 3 jurusan. .Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi. menumbuhkan kesadaran sebagai warga negara yang baik. beban belajar. mengembangkan keterampilan memecahkan masalah 7. 7. yaitu jurusan IPA. g) SMK memperkenalkan program pendidikan sistem ganda (PSG).Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi. serta tuntutan kebutuhan masyarakat. dan Bahasa. c) Komponen Kurikulum 1975 1. (5) Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon (rangsang-jawab) dan latihan (drill). c) penyebutan SMU menjadi SMA. dan 10. IPS. dan keadaan lingkungan serta sarana pendukungnya. 3.

logika. Menyeluruh dan berkesinambungan. dan budi pekerti luhur. (6) pengembangan keterampilan hidup. kebutuhan masyarakat. evaluasi. Beragan dan terpadu. dan berbagai perkembangan serta perubahan yang sedang berlangsung dewasa ini. perkembangan. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. seperti tujuan materi. 7. (8) berpusat pada anak dengan penilaian yang berkelanjutan dan komperehensif. Sesuai dengan kondisi negara. estetika.Penyempurnaan kurikulum tidak mempersulit guru dalam mengimplementasikannya dan tetap dapat menggunakan buku pelajaran dan sarana prasarana pendidikan lainnya yang tersedia di sekolah. 5. (4) kesamaan memperoleh kesempatan. (7) belajar sepanjgan hayat. Relevan dengan kebutuhan hidup. Tanggap terhadap ilmu pengetahuan. 6. 4. Berpusat pada potensi. teknologi dan seni. kebutuhan dan kepentingan peserta didik. 3. dan (9) pendekatan menyeluruh dan kemitraan 1. (2) penguatan integritas nasional.. . (3) keseimbangan etika. Belajar sepanjang hayat. maka dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi perlu memperhatikan dan mempertimbangkan prinsip-prinsip: (1) keimanan. dan kinestetika. (5) abad pengetahuan dan teknologi informasi. dan sarana/prasarana termasuk buku pelajaran.Penyempurnaan kurikulum mempertimbangkan berbagai aspek terkait. . 2. pembelajaran. nilai.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful