ANALISIS HAMBATAN PROSES PEMBELAJARAN BIOLOGI DAN CARA PEMECAHANNYA DALAM PELAKSANAAN KURIKULUM 2004 BAGI GURU KELAS

X SMA NEGERI SE-KABUPATEN SEMARANG

SKRIPSI Diajukan dalam rangka penyelesaian Studi strata 1 Untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan

Oleh Nama NIM : Dyah Sulistiyawati : 4401401023

Program Studi : Pendidikan Biologi Jurusan Fakultas : Biologi : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2006

PENGESAHAN
Skripsi dengan judul: Analisis Hambatan Proses Pembelajaran Biologi dan Cara Pemecahannya dalam Pelaksanaan Kurikulum 2004 Bagi Guru Kelas X SMA Negeri se-Kabupaten Semarang Telah dipertahankan di depan sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang pada: Hari : Sabtu Tanggal : 1 April 2006 Panitia Ujian Ketua Sekretaris

Drs. Kasmadi I. S., M. S. NIP 130781011 Pembimbing I

Ir. Tuti Widianti, M. Biomed. NIP 130781009 Anggota Penguji

Drs. Kukuh Santoso NIP. 130529949

1.Prof. Dr. Sri Mulyani E.S .,M.Pd NIP. 130515750

Pembimbing II

Drs. Nugroho Edi K.,M.Si NIP 131863778

2. Drs. Kukuh Santoso NIP. 130529949

3. Drs. Nugroho Edi K.,M.Si NIP. 131863778

ABSTRAK Hambatan proses pembelajaran biologi dalam pelaksanaan kurikulum 2004 merupakan segala sesuatu atau keadaan yang menghambat atau menyulitkan dalam proses pembelajaran biologi menggunakan kurikulum 2004. Pelaksanaan kurikulum 2004 di berbagai sekolah masih banyak mendapatkan hambatan, para guru di banyak daerah belum begitu memahami apa, bagaimana, dan metode pembelajaran sekolah dengan menggunakan sistem kurikulum 2004. Guru merupakan faktor yang secara langsung bertanggung jawab atas keberhasilan proses pembelajaran yang dikembangkan khususnya di kelas. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui hambatan dan mengidentifikasi alternatif cara pemecahan hambatan yang dihadapi oleh guru dalam proses pembelajaran biologi pada pelaksanaan kurikulum 2004. Penelitian ini menggunakan guru biologi kelas X SMA Negeri se-Kabupaten Semarang sebagai populasi. Dalam penelitian ini menggunakan teknik sampling total sampel jadi seluruh populasi digunakan sebagai objek penelitian. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode dokumentasi, metode angket dan metode wawancara. Data dianalisis secara deskriptif persentase. Berdasarkan analisis deskriptif persentase yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa guru biologi kelas X SMA Negeri se-Kabupaten Semarang mengalami hambatan dalam melaksanakan pembelajaran menggunakan kurikulum 2004. Adapun besarnya persentase dari masing-masing indikator adalah sebagai berikut: penjabaran kompetensi 44,38%, alat dan bahan 47,40%, sumber belajar 46,48%, organisasi waktu 49,38%, faktor guru 45,88%, faktor siswa 55,13%, serta evaluasi 43,15%. Walaupun demikian sebagian besar guru telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Simpulan dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran biologi menggunakan kurikulum 2004 di SMA Negeri di Kabupaten Semarang menunjukkan adanya hambatan yang termasuk dalam kategori hambatan sedang. Alternatif cara pemecahan yang diperoleh antara lain: membuat silabus dengan mengacu silabus dari pemerintah tetapi disesuaikan dengan kondisi sekolah, menugaskan pada siswa untuk mengusahakan sendiri alat dan bahan yang dibutuhkan, memanfaatkan buku paket, buku pendamping dan lembar kerja siswa (LKS), koran/media massa dan alam sekitar sebagai sumber belajar, serta membuat skala prioritas untuk materi yang akan disampaikan. Berdasarkan hasil penelitian ini maka saran yang dapat disumbangkan adalah guru diharapkan lebih mengoptimalkan fungsi forum MGMP biologi agar dapat bertukar pengalaman tentang pelaksanaan kurikulum 2004, sehingga jika ditemukan hambatan bisa dicari pemecahannya bersama-sama. Kata Kunci: Hambatan, Kurikulum 2004

PERSEMBAHAN Dengan rendah hati karya sederhana ini kupersembahkan: Bapak dan Ibuku tercinta. Mbak Mei. kasih sayang dan semangat. Teman-teman seperjuangan “Bio Smart 01” terimakasih atas kekompakan. Woro) terimakasih untuk persahabatan. dukungan dan bantuan yang tidak ternilai harganya. yang selalu membantuku dengan doa. dan kebersamaan kita. Teman-teman eR-Ha kost terimakasih untuk persahabatan dan kasih sayang kalian. Mas Dodo dan yanti yang telah memberikan perhatian. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (Al Baqarah: 286). kasih sayang. . Heni. Almamaterku. Atik. Kakak dan adikku (Mas Andhi. dan bersama kesulitan ada kemudahan. kerjasama. Erwin. karena itu akan membuatmu mencapai tujuan. Sahabat-sahabatku (Aning. bersama kesusahan ada jalan keluar. bantuan dan semangatnya. Tetaplah melangkah walaupun selangkah demi selangkah. melainkan orang yang dapat mengambil hikmah dari setiap peristiwa. July.MOTTO DAN PERSEMBAHAN MOTTO Sesungguhnya bersama kesabaran ada kemenangan. dan A’laa) serta keluargaku yang senantiasa memberi dukungan dan motivasi. Orang yang bijaksana bukanlah orang yang selalu menyesali kejadian yang telah menimpanya.

S. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada: 1. selaku Dosen Pembimbing I yang penuh kesabaran dalam membimbing dan memberi motivasi sehingga skripsi ini dapat selesai. Si. Ketua Jurusan Biologi FMIPA Unnes yang telah memberikan kemudahan dan kelancaran dalam penyusunan skripsi. yang telah menguji dan memberi masukan terhadap penyusunan skripsi ini. . Drs. selaku Dosen Pembimbing II yang selalu memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat selesai.Pd.. 2. 3. Drs. Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Unnes yang telah memberikan kemudahan pelayanan administrasi dalam penyusunan skripsi. M. Kukuh Santoso. Sri Mulyani E. 4.KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Hambatan Proses Pembelajaran Biologi dan Cara Pemecahannya dalam Pelaksanaan Kurikulum 2004 Bagi Guru-guru Kelas X SMA Negeri seKabupaten Semarang” tanpa suatu halangan apapun. Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan studi di Unnes. 5.. Nugroho Edi K. Prof. Dr. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak lepas dari peran serta berbagai pihak. 6. M.

8. atas bantuan dan kerja samanya selama dilaksanakan penelitian. Semua Bapak/Ibu kepala Sekolah SMA Negeri se-Kabupaten Semarang yang telah memberikan ijin untuk melaksanakan penelitian. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi semua pihak pada umumnya. Maret 2006 Penulis Dyah Sulistiyawati . Oleh karena itu dengan penuh rendah hati penulis akan menerima saran dan kritik untuk menyempurnakan skripsi ini. Semua Bapak/Ibu guru pengampu mata pelajaran Biologi SMA Negeri seKabupaten Semarang. 9. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Semua pihak dan instansi terkait yang telah membantu selama dilaksanakannya penelitian sampai selesainya penulisan skripsi ini.7. Semarang.

.................................... iii MOTTO DAN PERSEMBAHAN ......... E.............. i PENGESAHAN……………………....................... ............................................. 27 Prosedur Penelitian ......................................................... iv KATA PENGANTAR ........................................................................................ 28 Metode Pengumpulan Data ............................ 35 .................. G.................................... ........ 7 A..................................................................................... xi BAB I PENDAHULUAN .. 7 Hambatan-hambatan dalam Proses Pembelajaran .............................................................................................................................................................................................................................................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL................... 9 Mata Pelajaran Biologi................................................................................................... C D................. B........................................................................... 26 Populasi dan Sampel .................................. 1 A......... C..………………............................................... Latar Belakang .......................................... ii ABSTRAK............. D............. D..................... F.......... ix DAFTAR GAMBAR .......................................................... 6 Manfaat Penelitian ....... 26 Variabel Penelitian ........................ 20 BAB III METODE PENELITIAN ......... v DAFTAR ISI............................. 32 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .................................................................................................................................................................................................................... E......................................................... Pembelajaran ......... B............................................................... 1 Permasalahan . x DAFTAR LAMPIRAN........................................................................................................................................................................ B.. C............. 12 Kurikulum 2004 .................................. 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA.......... 31 Metode Analisis Data..... 4 Penegasan Istilah.................................................................................................................................................................................... vii DAFTAR TABEL.................. 26 Rancangan Penelitian ......................................................................................................................................... Waktu dan Tempat Penelitian ................................................. 26 A............................................ 5 Tujuan Penelitian .......................................................................................................

................................................................................................................................ 66 ............... 64 A.................................................................................... 35 Pembahasan.............................. 65 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................................................................... 64 Saran......................................A................................ B........ Hasil Penelitian .............. B..................................... Simpulan ... 45 BAB V PENUTUP................

.............................................................................................................................................................. 6........... 9........41 12............ 5.......... 8.................... 36 Hambatan dalam Sumber Belajar ...................................................... Hambatan dalam Evaluasi..... Rekap Hasil Kuesioner Terbuka........................... 35 Hambatan dalam Alat dan Bahan.................................. Rekap Hasil Wawancara ......................... 44 ........ Kriteria Tingkat Hambatan......................... 42 13............... Perbedaan KBK dengan Kurikulum 1994 ........... ..................................... 14 2......... 37 Hambatan dalam Faktor Guru...................................... ................. 39 10...................... Hambatan dalam Penjabaran Kompetensi ................................ 25 3.................................. 37 Hambatan dalam Organisasi Waktu......... 40 11... ................................................................... Rekap Hasil Data Kuesioner ....DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1.......................................................... 34 4........ Standar kompetensi Mata Pelajaran Biologi Kelas X ........................................................... 7....................................... 38 Hambatan dalam Faktor Siswa............

...... Bagan Komponen Kurikulum Berbasis Kompetensi........................ .....DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1........................... Histogram Hasil Data Kuesioner...................... .... 21 2................... 41 ..

.......... ................................................... .... 5..................................DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1............................................................................................................................................................ Daftar SMA Negeri di Kabupaten Semarang dan Jumlah Guru Biologi Kelas X .............................................. 2.......................... 8............. Rekap Hasil Kuesioner Terbuka ........... Contoh Hasil Wawancara.................. 100 ...... 9................................ Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian......................................................................... 95 14......... 4............................................................... 81 Pedoman Wawancara ........................................... 68 Perhitungan Deskriptif Persentase............. 3................................... ................... Surat Ijin Penelitian.................................................................... .............. 96 15................. 93 13............................................................73 Perhitungan Validitas Angket..... 79 Surat Permohonan Penelitian ........... Rekap Hasil Wawancara ...................................................................... 97 16...................................................................................... 6... Halaman Skor Responden.... 91 11......................................... 92 12. 90 10............. 7................................... 77 Kisi-kisi Angket Penelitian ........ 70 Analisis Validitas dan Reliabilitas Angket ............................. 80 Kuesioner Penelitian .. Tingkat Hambatan Responden ..................... 76 Perhitungan Reliabilitas Angket .........

1 . perkembangan masyarakat. bagaimana. belum banyak memahami apa. serta kebutuhan pembangunan. Pendidikan di Indonesia terus mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama yang berkaitan dengan kurikulum. dan metode pembelajaran sekolah dengan sistem kurikulum berbasis kompetensi (KBK) (Yulianto. Latar Belakang Dalam mewujudkan pembangunan di bidang pendidikan diperlukan peningkatan dan penyempurnaan penyelenggaraan pendidikan. Peningkatan dan penyempurnaan pendidikan tersebut harus disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun pelaksanaan kurikulum 2004 di berbagai sekolah negeri ini banyak mendapatkan kendala yang sifatnya struktural dan sosio-psiko kultural. Penyelenggaraan kurikulum 2004 secara serentak dilaksanakan mulai tahun ajaran 2004/2005. yakni para guru di banyak daerah.1 BAB I PENDAHULUAN A. Saat ini telah diberlakukan kurikulum 2004 yang merupakan kurikulum berbasis kompetensi. SMP. untuk jenjang pendidikan SD. Komponen strategis pembelajaran. SMA dan sekolah kejuruan. dengan terlebih dahulu diawali pelaksanaan pilot project pada beberapa sekolah unggulan di berbagai daerah. 2004).

Dalam hal itu termasuk pengalaman di lapangan untuk menjalankan trifungsi edukatifnya. yang membelenggu kreativitas dan imajinasi intelektual guru. baik dari alokasi dana pendidikan atau bantuan teknis. Guru sebagai komponen strategis dalam proses pembelajaran berpotensi menjadi titik lemah atau penghambat pokok dalam ketercapaian proses pembelajaran berbasis kompetensi ketika tidak mampu mencapai kematangan profesional. hal itu disebabkan karena jumlah siswa yang relatif banyak dan penempatan siswa dalam rombongan belajar yang heterogen. yaitu sebagai fasilitator. Guru mengalami kesulitan mendeteksi karakteristik siswa secara individual. Sedangkan faktor sosio-kultural berkaitan dengan masih kuatnya budaya feodalisme dalam pola pendidikan di sekolah. motivator.2 Beberapa hambatan struktural diantaranya belum adanya goodwill dari pemerintah (pemerintah daerah). maupun alternatif penilaian yang variatif disamping sarana belajar yang sangat terbatas. . tetapi belum semua guru mengembangkan secara kreatif baik materi. dan dinamisator bagi perkembangan intelektual dan sosial anak didik. untuk pengembangan kualitas guru dan sekolah (Yulianto. 2004) KBK pada hakikatnya menekankan segi profesionalisme guru dalam menggali sumber bahan ajar yang multi sumber. Menurut Sugiaryo (dalam Yulianto. 2004). Menurut Maheri (2004) yang melaksanakan penelitian tentang penerapan KBK di salah satu sekolah uji coba mengungkapkan bahwa secara umum pembelajaran berjalan baik. pengalaman belajar yang mengarah pada pengembangan life skills. metode pembelajaran.

penyediaan media pembelajaran yang kreatif serta yang tidak kalah pentingnya adalah pemberian kesempatan pada siswa untuk melakukan pengamatan. Di Kabupaten tersebut terdapat 11 SMA Negeri . dan nilai yang dapat diaplikasikan serta dikembangkan dalam kehidupan nyata. Dengan adanya kurikulum. pendidik. guru merupakan faktor yang secara langsung bertanggung jawab atas keberhasilan proses pembelajaran yang dikembangkan khususnya di kelas. Salah satu daerah yang mulai melaksanakan KBK di tahun 2004/2005 adalah Kabupaten Semarang. Peningkatan mutu pendidikan hanya mungkin dicapai apabila semua komponen dalam pendidikan yaitu peserta didik. Sarana dan prasarana juga dapat mempengaruhi secara langsung keberhasilan proses belajar siswa. Guru memegang peranan penting dalam hal menyediakan fasilitas belajar bagi siswa.3 Dalam pembelajaran biologi. dan eksplorasi. proses investigasi/eksplorasi. Sedangkan kurikulum merupakan salah satu faktor yang berperan dalam menentukan tujuan pembelajaran. adanya interaksi antara siswa dengan lingkungannya merupakan hal yang tidak dapat dikesampingkan. kelengkapan sarana dan prasarana akan lebih memudahkan guru untuk berkreasi dan memodifikasi kegiatan pembelajaran. Fasilitas belajar tersebut dapat berupa variasi pendekatan pembelajaran. sarana serta kurikulum saling berinteraksi dengan baik. Diantara faktor-faktor tersebut. Hal lain yang harus disadari oleh guru dalam mengembangkan pembelajaran biologi adalah mencakup pengetahuan. seorang siswa akan lebih terarah dalam mencapai kompetensi tertentu.

. maupun kelengkapan sarana dan prasarana yang berbeda. Hambatan-hambatan apakah yang dihadapi guru kelas X SMA Negeri seKabupaten Semarang dalam proses pembelajaran biologi pada pelaksanaan kurikulum 2004? 2. latar belakang siswa. Permasalahan Berdasarkan uraian pada latar belakang dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut. 1. SMA Negeri yang ada di Kabupaten Semarang memiliki letak geografis. Berdasarkan uraian di atas.4 yang telah melaksanakan KBK pada tahun ajaran 2004/2005. maka diperlukan adanya penjelasan yang terperinci. maka dilakukan penelitian dengan mengambil judul “Analisis Hambatan Proses Pembelajaran Biologi dan Cara Pemecahannya dalam Pelaksanaan Kurikulum 2004 bagi Guru Kelas X SMA Negeri seKabupaten Semarang”. Bagaimanakah alternatif cara pemecahan hambatan-hambatan yang dihadapi guru kelas X SMA Negeri se-Kabupaten Semarang? C. sebagai berikut. B. Berdasarkan beragamnya kondisi SMA Negeri di Kabupaten tersebut. Penegasan Istilah Untuk menghindari kesalahpahaman terhadap judul skripsi yang diajukan. dapat dijadikan dasar penelitian untuk mengetahui hambatan-hambatan apakah yang dialami oleh guru biologi dan upaya apa sajakah yang telah dilakukan untuk mengatasi hambatan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan kurikulum 2004.

2002). 2. 2002). 4.5 1. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan analisis adalah penguraian dan penelaahan hambatan proses pembelajaran biologi dan alternatif cara mengatasinya dalam pelaksanaan kurikulum 2004. bagaimana duduk perkaranya. Pembelajaran Biologi Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan pembelajaran biologi adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk membantu siswa dalam melaksanakan proses belajar mengajar biologi. 5. Kurikulum 2004 Kurikulum 2004 merupakan kurikulum berbasis kompetensi yaitu seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa. 2002). rintangan (Poerwadarminta. Hambatan Hambatan berarti halangan. hambatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sesuatu atau keadaan yang menghambat atau menyulitkan dalam proses pembelajaran biologi pada pelaksanaan kurikulum 2004. penilaian kegiatan belajar mengajar dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah (Depdiknas. Analisis Analisis adalah penyelidikan suatu peristiwa (karangan. perbuatan) untuk mengetahui apa sebab-sebabnya. (Poerwadarminta. cara pemecahan yang dimaksud dalam penelitian adalah upaya atau cara untuk mengatasi . 2002a). 3. Cara Pemecahan Pemecahan adalah cara memecahkan (Poerwadarminta.

. Tujuan Penelitian Dalam penelitian ini tujuan yang hendak dicapai adalah: 1. Manfaat penelitian Dengan teridentifikasinya hambatan serta berbagai macam alternatif cara pemecahannya maka akan dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam pelaksanaan proses pembelajaran biologi periode berikutnya. 2. Untuk mengidentifikasi alternatif cara pemecahan hambatan yang dihadapi guru kelas X SMA Negeri se-Kabupaten Semarang dalam proses pembelajaran biologi pada pelaksanaan kurikulum 2004.6 hambatan yang terjadi pada proses pembelajaran biologi dengan sistem kurikulum 2004 yang dilaksanakan di SMA. maupun untuk perencanaan dan pengembangan kurikulum oleh Depdiknas. Untuk mengetahui hambatan yang dihadapi guru kelas X SMA Negeri seKabupaten Semarang dalam proses pembelajaran biologi pada pelaksanaan kurikulum 2004. E. D.

sehingga terjadi interaksi antara murid dengan lingkungan. termasuk guru. sehingga tercapai tujuan pelajaran yang ditentukan. Ciri-ciri Pembelajaran Ciri-ciri pembelajaran adalah sifat atau keadaan yang khas dimiliki oleh kegiatan pembelajaran. 2. Menurut Nasution (1994). Jadi dapat disimpulkan pembelajaran adalah usaha sadar guru untuk membantu siswa atau anak didik. alat pelajaran dan sebagainya yang disebut proses belajar. agar mereka dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. dengan demikian ciri-ciri pembelajaran akan membedakan 7 . Pengertian Pembelajaran Pembelajaran merupakan istilah lain untuk proses belajar mengajar. Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa. Pembelajaran 1. 2000). pembelajaran merupakan suatu usaha untuk menciptakan kondisi-kondisi atau mengatur sedemikian rupa.7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik (Darsono. Pengertian pembelajaran sebagaimana tercantum dalam undangundang RI nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional adalah suatu proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar. e. Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siswa. c. 4. Tingkah laku yang dimaksud meliputi pengetahuan keterampilan. 3. a. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik.8 pembelajaran dengan kegiatan lain yang bukan pembelajaran. Pembelajaran dilaksanakan secara sadar dan direncanakan secara sistematis. motivasi dan upaya peningkatannya b. Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik dan menantang bagi siswa. Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran. b. Unsur-unsur Dinamis Pembelajaran Unsur-unsur dinamis dalam pembelajaran merupakan unsur-unsur yang diperlukan dalam pembelajaran yang keadaannya dapat berubah-ubah. dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa. meliputi: a. f. Ciri-ciri pembelajaran adalah sebagai berikut. baik secara fisik maupun psikologis. Tujuan pembelajaran Tujuan pembelajaran adalah membantu pada siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku siswa bertambah baik kuantitas maupun kualitas. bahan belajar dan upaya peningkatannya . d.

dan keduanya mempunyai saling ketergantungan satu sama lain. hambatan yang biasa dihadapi oleh guru jika disesuaikan dengan KBK adalah: a. Menurut Djamarah dan Aswan Zain (1996) berbagai kesulitan. materi pelajaran apa yang diperlukan c. Kemampuan mengatur proses belajar mengajar yang baik akan menciptakan situasi yang memungkinkan anak belajar. alat mana yang harus dipakai d. pengaturan penggunaan waktu luang. pengaturan ruang dan alat perlengkapan pelajaran di kelas serta pengelompokkan siswa dalam belajar. suasana belajar dan upaya pengembangannya B. dan pengajaran itu sendiri. kompetensi apa yang mau dicapai b. Kegiatan dalam proses pembelajaran meliputi kompetensi yang harus dicapai. Hambatan-hambatan dalam Proses Pembelajaran 1. sehingga merupakan titik awal keberhasilan proses pengajaran. metode.9 c. Hambatan dalam Pembelajaran Proses belajar mengajar merupakan suatu rangkaian kegiatan guna menumbuhkan organisasi proses belajar mengajar yang efektif. kondisi siswa dan upaya peningkatannya e. prosedur apa yang akan ditempuh untuk melakukan evaluasi . alat bantu dan upaya penyediannya d. Dalam kegiatan belajar mengajar terdapat 2 hal yang ikut menentukan keberhasilan yaitu pengaturan proses belajar mengajar.

buku-buku tentang kependidikan dan buku sumber. Hambatan yang dihadapi oleh guru berkaitan dengan pengajaran yang dilaksanakan yakni berkaitan dengan perencanaan yang meliputi kompetensi yang . tetapi satu dengan yang lainnya saling terkait. alat peraga. 2003). unsur-unsur yang terdapat dalam pengajaran ada tiga yaitu: a. a. dalam hal ini adalah guru sebagai pengajar dan siswa sebagai subjek belajar a. Proses pengajaran yang melibatkan ketiga unsur tersebut dalam kenyataannya tidak selamanya berjalan seperti apa yang diharapkan. d. institusi. dan media. Hal ini karena adanya keterkaitan ketiga unsur pengajaran tersebut. Motivasi yang kurang dari siswa. Menurut Mulyati (dalam Tusimah. yaitu lembaga atau sekolah sebagai penyedia sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam pengajaran b. karena berbagai hambatan yang dialami pada salah satu unsur pengajaran diatas akan berpengaruh pada unsur lain. b. hambatan yang dihadapi guru dalam melaksanakan tugasnya berkaitan dengan proses pembelajaran sebagai berikut. Dukungan administrasi yang kurang. yaitu berkaitan dengan kurikulum yang merupakan pedoman materi yang akan diajarkan Ketiga unsur tersebut tidak berdiri sendiri. Kekurangan alat praktikum. pengajaran.10 Menurut Sudjarwo (1989). Kekurangan buku pegangan. manusia. c.

pengalaman guru yang masih minim b. baik kepala sekolah maupun guru yang terbelenggu rutinitas dan hanya mengejar target kurikulum. beberapa kendala yang diprediksi akan menjadi ‘pekerjaan rumah’ utama bagi lembaga pendidikan adalah: a. Hambatan dalam Penerapan Kurikulum 2004 Hambatan utama penerapan KBK adalah didominasi sikap mental dan cara berpikir pelaku pendidikan. 2. kemandirian lembaga dalam memformat KBK dalam proses jadwal belajar d. Menurut Wardana (2003). Dalam kurikulum 2004 tugas guru menjadi lebih berat. Hambatan yang dihadapi institusi dalam hal ini sekolah adalah ketersediaan alat dan bahan. buku penunjang dan perangkat administrasi lainnya yang harus disesuaikan dengan kebutuhan guru dan siswa . sumber belajar seperti media. alat peraga dan buku serta fasilitas pendukung. di samping itu pihak sekolah juga masih terbelenggu dengan anggapan peningkatan mutu diawali dari membangun fisik sekolah yang baik (Syamsyudin dalam Sarnapi 2004). Ketimpangan rasio guru dan jumlah murid dalam kelas biasa menjadi hambatan tersendiri dalam penerapan kurikulum 2004. jika kurikulum tersebut menargetkan aspek kompetensi pada murid untuk setiap mata pelajaran. metode mengajar yang digunakan dan evaluasi. alat penunjang kegiatan kegiatan belajar c.11 harus dicapai. Seorang guru melayani 40 siswa merupakan suatu hal yang tidak efektif. guru tidak lagi hanya berceramah di depan kelas dengan setumpuk buku tapi guru harus kreatif mengarahkan dan mengasuh siswanya sampai benar-benar kompeten terhadap materi pelajaran.

b. Mata Pelajaran Biologi 1. keterampilan. Beban guru/wali kelas menjadi lebih banyak dalam menyusun raport. prinsip-prinsip saja tetapi . konsep-konsep. Sarana dan prasarananya belum banyak tersedia dan yang sudah ada belum digunakan secara optimal. dan nilai. Dalam pengembangan silabus.12 Hambatan-hambatan yang ditemukan dalam pelaksanaan kurikulum 2004 di salah satu sekolah uji coba (Maheri. Biologi berkaitan dengan cara mencari tahu dan memahami tentang alam secara sistematis. Pengertian Mata Pelajaran Biologi Biologi merupakan wahana untuk meningkatkan pengetahuan. jika tidak ada kontrol/pembanding mungkin akan dapat menyimpang/keluar dari kompetensi yang diharapkan karena terlalu banyak pengembangan. 2004) sebagai berikut. serta tanggung jawab sebagai seorang warga negara yang bertanggungjawab kepada lingkungan. negara yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. a. d. c. Dalam proses pembelajaran terdapat beberapa urutan materi yang kurang tepat (banyak prasyarat yang belum dipelajari siswa). masyarakat. sehingga biologi bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta. e. sehingga diperlukan adanya pelatihan. Pembanding dapat berasal dari silabus yang dibuat musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) biologi di wilayah setempat. bangsa. C. sikap. Dalam sistem pengujian. guru selalu dituntut tugas yang lebih berat dari pada sistem pengujian yang lalu.

Keterampilan proses ini meliputi keterampilan mengamati dengan seluruh indera. 2. pelajaran biologi berupaya untuk membekali siswa dengan berbagai kemampuan tentang cara mengetahui dan cara mengerjakan yang dapat membantu siswa untuk memahami alam sekitar secara mendalam. menggali dan memilah informasi faktual yang relevan untuk menguji gagasan-gagasan atau memecahkan masalah sehari-hari. memahami konsep-konsep biologi dan saling keterkaitannya . menggolongkan. Fungsi dan Tujuan Mata Pelajaran Biologi Mata pelajaran biologi berfungsi untuk menanamkan kesadaran terhadap keindahan dan keteraturan alam sehingga siswa dapat meningkatkan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai warga negara yang menguasai sains dan teknologi untuk meningkatkan mutu kehidupan dan melanjutkan pendidikan (Depdiknas. Pengajaran biologi langsung.13 juga merupakan suatu proses penemuan. Pada dasarnya. 2003a). Karena itu. Pelajaran biologi diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari dirinya sendiri dan alam sekitarnya. Depdiknas (2003a) menyatakan bahwa mata pelajaran biologi bertujuan untuk: a. menggunakan alat dan bahan secara benar dengan selalu mempertimbangkan keselamatan kerja. mengajukan hipotesis. mengajukan pertanyaan. menekankan pada pemberian pengalaman secara siswa perlu dibantu untuk mengembangkan sejumlah keterampilan proses supaya mereka mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar. menafsirkan data dan mengkomunikasikan hasil temuan secara beragam.

3. Tabel 1. Siswa mampu menganalisis hubungan antara komponen ekosistem. Memperhatikan kedudukan jenjang pendidikan anak. lingkungan. dan implikasinya bagi sains. 2003b) disajikan pada Tabel 1 berikut. 4. . mengembangkan kepekaan nalar untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan proses kehidupan dalam kejadian sehari-hari e. perkembangan mental anak. 5. mengembangkan keterampilan dasar biologi untuk menumbuhkan nilai serta sikap ilmiah c. prinsip-prinsip. Standar Kompetensi Kelas X Mata Pelajaran Biologi. meningkatkan kesadaran akan kelestarian lingkungan f. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Biologi di SMA Standar kompetensi menggambarkan kemampuan siswa yang sifatnya terukur. Siswa mampu memahami hakikat biologi sebagai ilmu. yang harus dikembangkan selama proses pembelajaran dari kelas X sampai kelas XII. Siswa mampu menjelaskan bioteknologi. menerapkan konsep dan prinsip biologi untuk menghasilkan karya teknologi sederhana yang berkaitan dengan kebutuhan manusia d. No 1. melaksanakan serta mengkomunikasikan hasil penelitian ilmiah dengan menerapkan sikap ilmiah dalam bidang biologi. Standar Kompetensi Siswa mampu merencanakan. teknologi. karakteristik dan cakupan biologi sebagai ilmu pengetahuan. memberikan bekal pengetahuan dasar untuk melanjutkan pendidikan 3. 2. Siswa mampu mengaplikasikan prinsip-prinsip pengelompokan makhluk hidup untuk mempelajari keanekaragaman dan peran keanekaragaman hayati bagi kehidupan. peran. dan masyarakat (salingtemas). menemukan obyek dan ragam persoalan dari berbagai tingkat organisasi kehidupan yang ada di lingkungan sekitar.14 b. maka dapat dirumuskan 12 butir standar kompetensi biologi untuk SMA dan 5 butir pertama merupakan standar kompetensi untuk kelas X. Standar kompetensi untuk kelas X (Depdiknas. perubahan materi dan energi serta peranan manusia dalam keseimbangan ekosistem.

sudah semestinya mendudukkan siswa sebagai pusat perhatian utama. Peranan guru dalam menentukan pola KBM di kelas bukan ditentukan oleh didaktik-metodik apa yang akan digunakan. Pendekatan Belajar dalam Biologi Pendekatan apapun yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) Sains (biologi). learning to know. Siswa harus diberdayakan agar mau dan mampu berbuat untuk memperkaya pengalaman belajarnya (learning to do) dengan meningkatkan interaksi dengan lingkungan fisik dan sosialnya. Kesempatan berinteraksi dengan berbagai individu atau kelompok individu yang bervariasi akan membentuk kepribadiannya untuk memahami kemajemukan dan melahirkan . Ada 5 pendekatan yang perlu diperhatikan dalam KBM di kelas. (Depdiknas. sehingga mampu membangun pemahaman dan pengetahuannya terhadap dunia di sekitarnya (learning to know). Pembelajaran sains tidak seharusnya hanya mendudukkan siswa sebagai pendengar ceramah dengan guru memerankan diri sebagai pengisi ‘air informasi’ ke kepala siswa yang dianggap sebagai botol kosong yang perlu diisi dengan ilmu pengetahuan.15 4. melainkan pada bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar anak. and learning to live together yang dicanangkan oleh UNESCO merupakan salah satu pendekatan yang perlu digunakan di dalam pembelajaran sains di kelas. 2003a) sebagai berikut. learning to be. Diharapkan hasil interaksi dengan lingkungannya dapat membangun pengetahuan dan kepercayaan diri dan sekaligus membangun jati diri (learning to be). a. Pengalaman belajar yang diperoleh melalui serangkaian kegiatan dengan mengeksplorasi lingkungan melalui interaksi aktif. Empat Pilar Pendidikan Learning to do.

b. Agar anak dapat menuju ke arah yang diharapkan. dan berpikir lateral. melalui proses dan metode eksplorasi untuk menurunkan. Inkuiri Lingkungan anak menyediakan fenomena alam yang menarik dan penuh misteri. c. Pendekatan inkuiri sains adalah sesuatu yang sangat menantang dan melahirkan interaksi antara yang diyakini anak sebelumnya terhadap suatu bukti baru untuk mencapai pemahaman yang lebih baik. mengolah data. peristiwa. merancang penyelidikan. maka perlu ditumbuhkembangkan kemampuan-kemampuan untuk menggunakan keterampilan proses antara lain mengajukan pertanyaan. dan mengkomunikasikan temuannya kepada orang lain dengan berbagai cara. Anak mempunyai rasa keingintahuan (curiousity) yang tinggi. terbuka terhadap gagasan baru. mengevaluasi hasil. dan menguji gagasan-gagasan baru. salah satu sasaran belajar sains adalah membangun gagasan saintifik setelah peserta didik berinteraksi dengan lingkungan. Konstruktivisme Pada dasarnya. melakukan percobaan. menduga jawabannya.16 sikap-sikap positif dan toleran terhadap keanekaragaman dan perbedaan hidup (learning to live together). jujur. Pandangan konstruktivisme sebagai filosofi pendidikan sains mutakhir menganggap semua peserta didik mulai dari usia TK sampai . kreatif. Sudah barang tentu hal tersebut melibatkan sikap-sikap untuk mencari penjelasan dan menghargai gagasan orang lain. berpikir kritis. dan informasi dari sekitarnya.

dan isu teknologi yang ada di masyarakat. teknologi. Teknologi dan Masyarakat Pendekatan sains teknologi dan masyarakat yang di dalam bahasa Inggris disebut science technology and society merupakan suatu pendekatan terpadu antara sains. Beberapa bentuk kondisi belajar yang sesuai dengan filosofi constructivism antara lain: diskusi yang menyediakan kesempatan agar semua peserta didik mau mengungkapkan gagasan. . d. Guru tidak dapat mengindoktrinasi gagasan saintifik supaya peserta didik mau mengganti dan memodifikasi gagasannya yang non-saintifik menjadi gagasan/pengetahuan saintifik. pengujian dan penelitian sederhana. Dengan demikian.17 dengan perguruan tinggi memiliki gagasan/pengetahuan tentang lingkungan dan peristiwa/gejala alam di sekitarnya. Dengan pendekatan ini. Sains. arsitek perubah gagasan peserta didik adalah peserta didik sendiri dan guru hanya berperan sebagai fasilitator penyedia kondisi supaya proses belajar dapat berlangsung. demonstrasi dan peragaan prosedur ilmiah. dan kegiatan praktis lain yang memberi peluang peserta didik untuk mempertajam gagasannya. peserta didik dikondisikan agar mau dan mampu menerapkan prinsip sains untuk menghasilkan karya teknologi sederhana yang diikuti dengan pemikiran untuk mengatasi dampak negatif yang mungkin timbul dari munculnya produk teknologi. Para ahli pendidikan berpendapat bahwa inti kegiatan pendidikan adalah memulai pelajaran dari apa yang diketahui siswa.

4) Menginterpretasikan dan mengevaluasi pengamatan dan hasil penyelidikan. 5) Mengevaluasi metode dan menyarankan perbaikan. 1) Mengidentifikasi masalah dan merencanakan penyelidikan. dan bahan. Kurikulum 2004 bertolak pada kompetensi yang seharusnya dimiliki peserta didik setelah menyelesaikan pendidikannya. alat. Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menetapkan kebijakan untuk menyempurnakan kurikulum 1994 menjadi kurikulum 2004 yang diberlakukan mulai awal tahun pelajaran 2004/2005. Pembelajaran sains harus memberikan sumbangan terhadap terbentuknya kemampuan-kemampuan yang antara lain sebagai berikut. tetapi juga keterampilan. Kurikulum 2004 Salah satu upaya peningkatan mutu pendidikan adalah penyempurnaan kurikulum.18 e. 3) Mengorganisasi dan melaksanakan penyelidikan secara sistematik. Atas dasar hal tersebut sejak dini anak sudah mulai dilatih untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya agar memiliki kemampuan-kemampuan yang bermanfaat bagi kehidupan dewasanya. nilai serta pola berpikir dan bertindak sebagai refleksi dari pemahaman dan penghayatan atas apa yang sudah dipelajari dalam kehidupan masyarakat. . bukan saja pengetahuan. Pemecahan Masalah Pada dasarnya kegiatan yang dilakukan manusia di dalam kehidupan seharihari merupakan kegiatan pemecahan masalah untuk memenuhi kebutuhannya. 2) Memilih teknik. D.

sikap. afektif. nilai. keterampilan. Finch & Crunkilton (dalam Mulyasa. kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan. keterampilan. dan psikomotorik dengan sebaik-sebaiknya. Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan. 2003). Selama ini sumberdaya manusia yang ada di daerah dan sekolah kurang diberdayakan dalam pengelolaan kurikulum. Hal tersebut menunjukkan kompetensi mencakup tugas. dan pengelolaan kurikulum yang menentukan hasil belajar. dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya. dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan. dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. 1. Dengan . sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif. menentukan pola penilaian. 2003) mengartikan kompetensi sebagai penguasaan terhadap suatu tugas. keterampilan.19 Indikator keberhasilan pembaruan kurikulum ditunjukkan oleh adanya perubahan pada pola kegiatan belajar mengajar. Pengelolaan kurikulum berbasis sekolah diarahkan untuk memberdayakan sumber daya yang ada di daerah dan sekolah dalam mengelola Kurikulum Berbasis Kompetensi (Depdiknas. memilih media pendidikan. keterampilan. Pembaruan kurikulum akan lebih bermakna bila diikuti oleh perubahan pengelolaan kurikulum yang dengan sendirinya akan mengubah praktik-praktik pembelajaran (KBM) di kelas. Pengertian Kompetensi dan Kurikulum Berbasis Kompetensi Menurut McAshan (dalam Mulyasa. dan apresiasi yang harus dimiliki oleh peserta didik agar dapat melaksanakan tugas-tugas pembelajaran sesuai dengan jenis pekerjaan tertentu. sikap. 2002a).

pemahaman kemampuan. 2003). KBK memfokuskan pada kompetensi-kompetensi tertentu yang diperoleh peserta didik. 2. KBK dapat diartikan sebagai suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performasi tertentu. . KBK menerapkan strategi yang meningkatkan kebermaknaan pembelajaran untuk semua peserta didik terlepas dari latar belakang budaya. Oleh karena itu kurikulum ini mencakup sejumlah kompetensi. sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik. Kurikulum Berbasis Kompetensi Sebagai Sistem Kurikulum Nasional Sebagai suatu sistem kurikulum nasional. sikap. dan keberhasilan dengan penuh bertanggung jawab. berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu (Mulyasa. KBK diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan. 2002a). dan jender melalui pengelolaan kurikulum berbasis sekolah (Depdiknas. etnik. ketepatan. sehingga pencapaiannya dapat diamati dalam bentuk perilaku atau keterampilan peserta didik sebagai suatu kriteria keberhasilan (Mulyasa. dan seperangkat tujuan pembelajaran yang dinyatakan sedemikian rupa. Berdasarkan pengertian kompetensi diatas. nilai. KBK mengakomodasikan berbagai perbedaan secara tanggap budaya dengan memadukan beragam kepentingan dan kemampuan daerah. dan minat peserta didik. 2003).20 demikian terdapat hubungan antara tugas-tugas yang dipelajari peserta didik di sekolah dengan dunia kerja. agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran. agama.

Untuk lebih jelasnya. keterkaitan antar komponen KBK disajikan pada gambar 1 berikut. Bagan Komponen Kurikulum Berbasis Kompetensi (Depdiknas. dimana satu sama lain saling terkait.21 Ada empat komponen utama dalam KBK. Kurikulum dan Hasil Belajar Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah Kurikulum Berbasis Kompetensi Penilaian Berbasis Kelas Kegiatan Belajar Mengajar Gambar 1. Pengembangan ini terdiri dari pengembangan silabus. dan (d) pengelolaan kurikulum berbasis sekolah yang merupakan kesatuan pengembangan perangkat utuh dalam desentralisasi kurikulum di daerah. (c) kegiatan belajar mengajar yang merupakan kesatuan perangkat utuh sebagai standar nasional. 2002a) Rekonseptualisasi kurikulum ini mewujudkan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang berfokus pada: (a) kejelasan kompetensi dan hasil belajar siswa. (b) penilaian berbasis kelas. penetapan dan pengembangan materi yang diperlukan di sekolah atau .

KBK memiliki sejumlah kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik. penilaian dilakukan berdasarkan standar khusus sebagai hasil demonstrasi kompetensi yang ditunjukkan oleh peserta didik. keadaan sekolah. sistem kurikulum nasional dalam kurikulum berbasis kompetensi mencakup dua inovasi pendidikan yaitu: a. Mulyasa (2003) mengidentifikasi enam karakteristik kurikulum berbasis kompetensi. dan kondisi daerah. Karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi Karakteristik KBK antara lain mencakup seleksi kompetensi yang sesuai. Menurut Depdiknas (2002b). dapat dinilai kompetensinya kapan saja bila mereka telah siap. 2002a). 3. Dengan demikian. Kurikulum sebagai salah satu substansi pendidikan perlu didesentralisasikan terutama dalam pengembangan silabus dan pelaksanaannya yang disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan siswa. berfokus pada standar kompetensi dan hasil belajar. mendesentralisasikan pengembangan silabus dan pelaksanaannya. dan dalam pembelajaran peserta didik dapat maju sesuai dengan kecepatan dan kemampuan masing-masing. daerah atau sekolah memiliki cukup kewenangan untuk merancang dan menentukan hal-hal yang akan diajarkan. spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan kesuksesan pencapaian kompetensi. pengelolaan pengalaman belajar. dan b. dan pengembangan sistem pemantauan (Depdiknas. (b) menggunakan keselu- . yaitu: (a) sistem belajar dengan modul.22 daerah. pelaksanaan kurikulum. dan pengembangan sistem pembelajaran. cara mengajar. dan menilai keberhasilan suatu proses belajar mengajar.

lingkungan. dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik. Dari berbagai sumber belajar yang ada dan mungkin dikembangkan dalam pembelajaran pada garis besarnya dikelompokkan sebagai berikut. Dalam hal ini modul merupakan paket belajar mandiri yang meliputi serangkaian pengalaman belajar yang direncanakan dan dirancang secara sistematis untuk membantu peserta didik mencapai tujuan belajar. Pengalaman Lapangan Kurikulum berbasis kompetensi lebih menekankan pada pengalaman lapangan untuk mengakrabkan hubungan antara guru dengan peserta didik. operasional. dana. Modul adalah suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun secara sistematis. (d) strategi individual personal. yaitu: manusia. dan ketrampilan dalam proses belajar mengajar. Tujuan utama sistem modul adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pembelajaran di sekolah. (c) pengalaman lapangan. Keterlibatan tim guru dalam pembelajaran di sekolah memudahkan mereka untuk .23 ruhan sumber belajar. Sistem Belajar dengan Modul KBK menggunakan modul sebagai sistem pembelajaran. pengalaman. fasilitas. a. maupun tenaga guna mencapai tujuan secara optimal. c. Menggunakan Keseluruhan Sumber Belajar Secara sederhana sumber belajar dapat dirumuskan sebagai segala sesuatu yang dapat memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam memperoleh sejumlah informasi. dan (f) belajar tuntas. disertai dengan pedoman pengunaannya untuk para guru. peralatan. pengetahuan. (e) kemudahan belajar. baik waktu. dan aktifitas. b. bahan.

sedangkan belajar personal adalah interaksi edukatif berdasarkan keunikan peserta didik antara lain: bakat. televisi. Perbedaan kurikulum 1994 dengan KBK dapat dilihat pada pendekatan pembelajaran yang digunakan. Perbedaan KBK dengan Kurikulum 1994 Menurut Mulyasa (2003). Kemudahan Belajar Kemudahan belajar dalam KBK diberikan melalui kombinasi antara pembelajaran individual personal dengan pengalaman lapangan.24 mengikuti perkembangan yang terjadi selama peserta didik mengikuti pembelajaran. dan pembelajaran secara tim. materi pembelajaran. f. Strategi Belajar Individual Personal Belajar individual adalah belajar berdasarkan tempo belajar peserta didik. . seperti video. minat dan kemampuan (personalisasi). 4. Belajar Tuntas Belajar tuntas merupakan strategi pembelajaran yang dapat dilaksanakan didalam kelas. radio. jurnal dan surat kabar. e. dengan asumsi bahwa di dalam kondisi yang tepat semua peserta didik akan mampu belajar dengan baik dan memperoleh hasil belajar secara maksimal terhadap seluruh bahan yang dipelajari. proses pembelajaran dan cara penilaian. fungsi guru. buletin. perbedaan KBK dengan kurikulum 1994 disajikan dalam Tabel 2. pengembangan kurikulum. Hal tersebut dilakukan melalui berbagai saluran komunikasi yang dirancang untuk itu. standar akademis yang digunakan. d.

Sekolah diberi keleluasaan untuk menyusun dan mengembangkan silabus mata pelajaran sehingga dapat mengakomodasi potensi sekolah. masyarakat dan dunia kerja dalam bentuk kompetensi peserta didik. dan sikap di kembangkan berdasarkan pemahaman yang akan membentuk kompetensi individual. Berbasis konten sehingga peserta didik dipandang sebagai kertas putih yang perlu ditulisi dengan sejumlah ilmu pengetahuan (transfer of knowledge). KBK Menggunakan pendekatan kompetensi yang menekankan pada pemahaman. . kemampuan atau kompetensi tertentu disekolah. kebutuhan dan kemampuan peserta didik. ketepatan belajar maupun konteks sosial budaya. pemahaman. 4. Perbedaan KBK dengan Kurikulum 1994 NO KURIKULUM 1994 1. serta kebutuhan masyarakat sekitar sekolah. Pengetahuan. kebutuhan dan kemampuan peserta didik. Menggunakan pendekatan penguasaan ilmu pengetahuan. Pengetahuan. katerampilan. sehingga pemerintah dan masyarakat bersama-sama menentukan standar pendidikan yang dituangkan dalam kurikulum. 2. keterampilan. Standar kompetensi yang memperhatikan perbedaan individu. Pengembangan kurikulum dilakukan secara desentralisasi. Evaluasi nasional yang tidak dapat menyentuh aspek-aspek kepribadian peserta didik. Evaluasi berbasis kelas yang menekankan pada proses dan hasil belajar. dan evaluasi yang diambil dari bidang-bidang ilmu pengetahuan. yang menekankan pada isi atau materi. dan sikap dikembangkan melalui latihan. sebagai pemekaran terhadap potensi-potensi bawaan sesuai dengan kesempatan belajar yang ada dan diberikan oleh lingkungan. analisis. 6. 3.25 Tabel 2. Guru sebagai fasilitator yang bertugas mengkondisikan lingkungan untuk memberikan kemudahan belajar peserta didik. baik kemampuan. 5. 7. Guru merupakan kurikulum yang menentukan segala sesuatu yang terjadi di dalam kelas. Pengembangan kurikulum dilakukan secara sentralisasi. 9. seperti latihan mengerjakan soal. Standar akademis yang diterapkan secara seragam bagi setiap peserta didik. sehingga Depdiknas memonopoli pengembangan ide dan konsepsi kurikulum. Materi yang dikembangkan dan dikembangkan di sekolah sering kali tidak sesuai dengan potensi sekolah. 8. sintesis. aplikasi. Pembelajaran yang dilakukan mendorong terjadinya kerjasama antara sekolah. yang berkaitan dengan pekerjaan yang ada di masyarakat. Berbasis kompetensi. Pembelajaran cenderung hanya dilakukan di dalam kelas atau dibatasi oleh empat dinding kelas. sehingga peserta didik berada dalam proses perkembangan yang berkelanjutan dari seluruh aspek kepribadian. serta kebutuhan masyarakat di sekitar sekolah. berupa pengetahuan.

26 BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri se-Kabupaten Semarang pada bulan Januari tahun 2006. Sampel Penelitian ini menggunakan teknik sampling total sampel. seluruh populasi digunakan sebagai objek penelitian. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah guru biologi Kelas X SMA Negeri seKabupaten Semarang yang terdiri atas 16 orang dari 11 SMA Negeri yang ada di Kabupaten Semarang. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini adalah hambatan proses pembelajaran biologi dalam pelaksanaan kurikulum 2004 yang dikelompokkan dalam tiga kategori sebagai berikut. 2. C. Hambatan dalam Persiapan Pembelajaran yang meliputi: a. Penjabaran kompetensi 26 . Populasi dan Sampel 1. 1. B.

Faktor Guru b. Sebelum kuesioner disebarkan kepada responden terlebih dahulu dilakukan ujicoba instrumen terhadap 10 orang guru biologi di luar populasi. Faktor Siswa 3.27 b. Sumber data penelitian ini adalah semua guru biologi kelas X SMA Negeri se-Kabupaten Semarang. dan juga merupakan penelitian kualitatif. . hasilnya dianalisis untuk mengetahui validitas dan reliabilitas soal. Rancangan Penelitian Penelitian ini adalah penelitian ex post facto yang bersifat eksploratif yang bertujuan menggambarkan keadaan/status fenomena. Hambatan dalam Evaluasi Pembelajaran D. Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data penelitian berupa kuesioner dan lembar wawancara. Alat dan bahan c. Sumber belajar yang digunakan d. dimana penelitian ini untuk mengetahui hambatan-hambatan yang dihadapi guru biologi kelas X SMA Negeri se-Kabupaten Semarang dalam melaksanakan proses pembelajaran biologi dan cara pemecahannya. Hambatan dalam Pelaksanaan Proses Pembelajaran a. Organisasi waktu 2.

Prosedur Penelitian 1. Dalam hal ini digunakan kuesioner tertutup dan terbuka. Kuesioner tertutup merupakan bentuk kuesioner dimana responden tinggal memilih jawaban dari alternatif jawaban yang sudah disediakan. Setelah diuji cobakan diperoleh 48 butir pertanyaan yang valid yang kemudian digunakan sebagai pengambil data penelitian. yaitu berupa pernyataan tentang tingkat kesulitan yang dialami oleh responden berupa skor dari 1-4 dan responden tinggal memilih salah satu jawaban dengan memberi tanda cek (√) pada kolom yang telah tersedia sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. setiap option mempunyai kategori yang berbeda yaitu sebagai berikut. Jumlah pertanyaan dalam kuesioner uji coba sebanyak 55 butir. Sedangkan kuesioner terbuka digunakan untuk mengetahui cara pemecahan yang dilakukan oleh guru. Penelitian ini menggunakan kuesioner dengan mempertimbangkan berbagai faktor yaitu waktu. . Penyusunan Instrumen Penelitian Instrumen dalam penelitian ini berupa angket/kuesioner. jumlah data yang cukup banyak dan tersebar secara geografis. Kuesioner tertutup digunakan untuk mengetahui hambatanhambatan yang dihadapi oleh guru dalam proses pembelajaran biologi pada pelaksanaan kurikulum 2004. Setiap pertanyaan tersedia 4 alternatif jawaban.28 E. Langkah-langkah pembuatan kuesioner meliputi penyusunan kisi-kisi kuesioner yang dilanjutkan dengan menyusun pertanyaan-pertanyaan dan bentuk jawaban yang diinginkan berdasarkan kisi-kisi yang telah disusun.

pengujian validitas dilakukan dengan cara menentukan validitas item. Validitas Angket Pada penelitian ini validitas data diperoleh dengan menjumlahkan skor angka yang diperoleh dari jawaban pertanyaan pada angket yang diajukan pada responen. Uji Coba Instrumen Sebelum kuesioner digunakan untuk penelitian. Hal ini dilakukan untuk menentukan tingkat validitas dan reliabilitasnya. Untuk mencari validitas masing-masing butir angket digunakan rumus korelasi produk momen yang dikemukakan oleh Pearson (dalam Arikunto. Uji coba dilakukan di luar populasi penelitian terhadap 10 orang responden.29 Skor 1 = tidak kesulitan Skor 2 = agak kesulitan Skor 3 = kesulitan Skor 4 = sangat kesulitan 2. 1997): rxy = {N ∑ X N ∑ XY − (∑ X )(∑Y ) 2 − (∑ X ) 2 }{N ∑Y 2 − (∑Y ) 2 } Keterangan: rxy N x y = koefisien korelasi antara x dan y = jumlah peserta = nilai item tertentu = nilai item total . terlebih dahulu dilakukan uji coba. a. Analisis validitas angket menggunakan rumus korelasi produk momen.

b.30 Untuk menentukan valid tidaknya instrumen suatu item adalah dengan mengkorelasikan hasil perhitungan koefisien korelasi (r) pada taraf signifikan 5 % atau taraf kepercayaan 95%. Reliabilitas Angket Untuk menguji reliabilitas rumus yang digunakan adalah rumus alpha. karena skor instrumen merupakan rentangan antara 1 sampai 4 (Arikunto. 1997) Untuk mencari varian butir adalah sebagai berikut: Varian butir = (∑ x) ∑x − N 2 2 N . 1997). Sebab rumus lain hanya bisa untuk menghitung reliabilitas instrumen dengan skor 0 atau 1. Rumusnya: 2 ⎡ k ⎤⎡ ∑δ b ⎤ r11 = ⎢ ⎢1 − ⎥ δ t2 ⎥ ⎣ k − 1⎥ ⎢ ⎦⎣ ⎦ Keterangan: r11 K = reliabilitas instrumen = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal Σ δb2 = jumlah varian butir δt2 = varian total (Arikunto.

48. yaitu butir nomor 5. 12.978. 25. Metode Pengumpulan Data Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang analisis hambatan proses pembelajaran biologi dan cara pemecahannya dalam pelaksanaan kurikulum 2004 bagi guru kelas X SMA Negeri se-Kabupaten Semarang adalah sebagai berikut. Hal ini menunjukkan bahwa kuesioner reliabel secara statistik. karena r11< r tabel. F. dan 52. 27. Hasil perhitungan selengkapnya mengenai validitas dan reliabilitas disajikan dalam lampiran 4 dan 5 halaman 76 dan 77. . diperoleh 7 pertanyaan yang tidak valid.31 Untuk mencari varian totalnya adalah: Varian total Keterangan: x y N = skor butir = skor total = jumlah sampel = (∑ y) ∑y − N 2 2 N (Arikunto. Hasil perhitungan uji coba kuesioner menunjukkan nilai reliabilitas sebesar 0. Sehingga 7 pertanyaan tidak valid tersebut dibuang dan 48 pertanyaan valid yang digunakan untuk pengambilan data penelitian disajikan dalam lampiran 3 halaman 73. 22. 1997) Hasil perhitungan uji coba kuesioner menunjukkan dari 55 butir pertanyaan yang diujicobakan.

Metode Analisis Data Langkah-langkah analisis data adalah sebagai berikut.32 1. 2. Teknik ini sering disebut dengan teknik deskriptif kualitatif dengan persentase. Metode Wawancara Wawancara dilakukan secara tatap muka dengan responden. Menghitung frekuensi untuk tiap-tiap kategori jawaban yang ada pada masingmasing faktor. 3. 2. G. . 1. Menghitung skor yang diperoleh ke dalam bentuk persentase. untuk menggali lebih luas tentang hambatan proses pembelajaran biologi dalam pelaksanaan kurikulum 2004. Mengkuantitatifkan jawaban item pertanyaan dengan memberikan tingkattingkat skor untuk masing-masing jawaban. Metode Dokumentasi Metode ini digunakan untuk memperoleh daftar SMA Negeri se-Kabupaten Semarang dan data tentang nama guru biologi kelas X SMA Negeri se-Kabupaten Semarang sebagai populasi penelitian. 3. Metode Angket atau Kuesioner Dalam penelitian ini penulis menggunakan angket sebagai alat pengumpul data pokok tentang analisis hambatan proses pembelajaran biologi dan cara pemecahannya dalam pelaksanaan Kurikulum 2004 bagi guru SMA Negeri seKabupaten Semarang.

Hasil perhitungan dalam bentuk persentase diinterpretasikan dengan tabel kriteria tingkat hambatan. Untuk mengetahui kriteria hasil perhitungan dibuat tabel. kemudian ditafsirkan dengan kalimat yang bersifat kualitatif.33 Adapun rumus untuk analisis deskriptif persentase menurut Ali (1992) adalah: % = n x100 N Keterangan: n N % = nilai yang diperoleh responden = nilai yang semestinya diperoleh responden = persentase kesulitan/hambatan 4. Menganalisis data penelitian dengan menggunakan analisis persentase. Diketahui: Jumlah responden Skor maksimal Skor minimal Jumlah pertanyaan Jumlah skor maksimal Jumlah skor minimal Rentang skor Persentase maksimal Persentase minimal Kelas Interval Panjang kelas : 16 :4 :1 : 48 : 3072 : 768 : 768 – 3072 : 100% : 25% :4 : 576 .

75% Kriteria Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah 5. Membuat kesimpulan dari hasil penelitian deskriptif. hambatan-hambatan apakah yang dihadapi guru-guru kelas X di SMA Negeri se-Kabupaten Semarang dalam melaksankan pembelajaran biologi dengan menggunakan kurikulum 2004 dan bagaimanakah alternatif cara pemecahannya.25% 43. Hasil wawancara dianalisis secara deskriptif untuk membandingkan jawaban yang telah diperoleh melalui kuesioner. 7. sehingga dapat ditentukan alternatif pemecahan yang tepat.50% 25% < % ≤ 43.34 Tabel 3. Kriteria Tingkat Hambatan Rentangan skor 2497 – 3072 1921 – 2496 1345 – 1920 768 . Jawaban dari angket terbuka dianalisis secara deskriptif untuk menjelaskan cara pemecahan yang dilakukan oleh guru.1344 Interval 81.25% < % ≤ 100% 62. . 6.75% < % ≤ 62.50% < % ≤ 81.

75 Frekuensi 2 3 5 2 4 8 3 8 28 35. Hasil Penelitian Penelitian tentang hambatan proses pembelajaran biologi dan cara pemecahannya dalam pelaksanaan kurikulum 2004 bagi guru-guru kelas X SMA Negeri se-Kabupaten Semarang diperoleh hasil sebagai berikut. Merencanakan pengalaman belajar. Mengidentifikasi kompetensi. 21. 1 9 9 3 8 6 35 43.25 4 - Analisis data menunjukkan tidak ada guru yang menyatakan sangat kesulitan dalam menjabarkan kompetensi menjadi silabus. Persiapan Pembelajaran a. 35% guru menyatakan agak kesulitan dan 43. Hambatan dalam Penjabaran Kompetensi Item 1 2 3 4 5 Jumlah % Keterangan Menjabarkan standar kompetensi menjadi silabus. Secara keseluruhan hambatan dalam penjabaran kompetensi yang 35 . Menjabarkan materi pokok pembelajaran. Penjabaran Kompetensi Hasil yang diperoleh dari data kuesioner tentang faktor penjabaran kompetensi disajikan dalam Tabel 4. 1.25% guru menyatakan kesulitan.2 3 5 5 2 17 21. Tabel 4.35 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.75% guru menyatakan tidak kesulitan. Mengembangkan indikator.

17% guru menyatakan kesulitan. Menyiapkan alat dan bahan dalam praktikum. Ketersediaan alat dan bahan untuk kegiatan praktikum.17 12.40% dan termasuk kategori hambatan sedang (dapat dilihat dalam lampiran 2.5 Analisis data menunjukkan 12. Alat dan Bahan Hasil yang diperoleh dari data kuesioner tentang faktor alat dan bahan disajikan dalam Tabel 5. b.75% guru menyatakan agak kesulitan dan 39. Secara keseluruhan hambatan dalam alat dan bahan yang dialami guru biologi adalah 47. Sumber Belajar Hasil yang diperoleh dari data kuesioner tentang faktor sumber belajar disajikan dalam Tabel 6. 1 8 4 7 Frekuensi 2 3 6 9 6 1 1 4 2 2 2 19 21 2 6 39. 4.36 dialami guru biologi adalah 44.58% guru menyatakan tidak kesulitan.5% guru menyatakan sangat kesulitan dalam alat dan bahan.75 4. Hambatan dalam Alat dan Bahan Item 6 7 8 Jumlah % Keterangan Menyediakan alat dan bahan pendukung pembelajaran. halaman 70).38% dan termasuk kategori hambatan sedang (dapat dilihat dalam lampiran 2.58 43. 43. halaman 69). c. Tabel 5. .

19 1. Organisasi Waktu Hasil yang diperoleh dari data kuesioner tentang faktor organisasi waktu disajikan dalam Tabel 7.37 46. Mengatur alokasi waktu presentasi. Hambatan dalam Organisasi Waktu Item 13 14 15 16 17 Jumlah % Keterangan Menentukan alokasi waktu untuk mempelajari materi. Melaksanakan praktikum. halaman 70). Tabel 7. Mencapai semua kompetensi.56% guru menyatakan sangat kesulitan dalam sumber belajar. 1 5 2 6 7 2 22 27. Memberikan pengalaman belajar langsung di luar laboratorium.75 22. Menggunakan media pengajaran. Hambatan dalam Sumber Belajar Item 9 10 11 12 Jumlah % Keterangan Memilih media.68 17. Memberikan teori. 17.56 Analisis data menunjukkan 1. 1 4 6 4 Frekuensi 2 3 11 1 8 2 8 3 4 1 8 3 5 22 30 11 1 34.25 .37% guru menyatakan tidak kesulitan.5 Frekuensi 2 3 7 4 4 - 10 3 1 10 4 5 8 6 39 18 1 48.48% dan termasuk kategori hambatan yang sedang (dapat dilihat dalam lampiran 2. Secara keseluruhan hambatan dalam sumber belajar yang dialami guru biologi adalah 46. d.37 Tabel 6.68% guru menyatakan agak kesulitan dan 34. 46.19% guru menyatakan kesulitan. Ketersediaan buku pelajaran biologi.5 1.

Menciptakan kondisi siswa aktif membangun pengetahuannya sendiri.5% guru menyatakan kesulitan. halaman 70).38 Analisis data menunjukkan 1. Menggunakan metode yang berpusat pada peserta didik. Mengarahkan siswa pada pokok masalah. Menggunakan metode yang menuntut siswa bekerjasama. 1 7 7 9 4 7 4 6 5 7 5 2 63 35.25% guru menyatakan sangat kesulitan dalam organisasi waktu. Mengintegrasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok yang efektif. Secara keseluruhan hambatan dalam sumber belajar yang dialami guru biologi adalah 49. Hambatan dalam Faktor Guru Item 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Jumlah % Keterangan Memilih metode pembelajaran. 48.45 18. 22. 2. Menggunakan mketode yang menuntut siswa melakukan pengamatan.57 80 32 45.18 . Tabel 8. Memeragakan model pembelajaran. Mengkondisikan siswa selama praktikum.38% dan termasuk kategori hambatan yang sedang (dapat dilihat dalam lampiran 2. Faktor Guru Hasil yang diperoleh dari data kuesioner tentang faktor guru disajikan dalam Tabel 8. Pelaksanaan Proses Pembelajaran a.8 Frekuensi 2 3 8 1 6 3 4 10 6 7 6 7 8 10 8 2 2 3 5 4 4 1 1 6 4 1 1 0.5% guru menyatakan tidak kesulitan. Mengkaitkan materi dengan dunia nyata. Memilih model pembelajaran.75% guru menyatakan agak kesulitan dan 27.

Secara keseluruhan hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran yang dialami guru biologi adalah 45.96% guru menyatakan kesulitan.39% guru menyatakan tidak kesulitan. Memberikan pelayanan perbedaan individual siswa.68% guru menyatakan sangat kesulitan dengan siswa.39 Analisis data menunjukkan 0. Meningkatkan keaktifan siswa.18% guru menyatakan kesulitan. Hambatan dalam Faktor Siswa Item 29 30 31 32 33 34 35 Jumlah % Keterangan Membimbing siswa dalam kelas besar. 53.45% guru menyatakan agak kesulitan dan 35. 18. Faktor Siswa Hasil yang diperoleh dari data kuesioner tentang faktor siswa disajikan dalam Tabel 9. Secara keseluruhan hambatan yang dialami guru biologi dalam faktor siswa adalah 55. 1 2 3 3 3 3 2 Frekuensi 2 3 6 7 7 6 11 2 9 4 6 7 11 4 10 3 4 1 1 1 16 60 33 3 14. Mengelola siswa dalam kelas besar.13% dan termasuk kategori hambatan sedang (dapat dilihat dalam lampiran 2. Mengembangkan kreatifitas siswa.39 53. Mendeteksi karakeristik siswa.96 2. . 45. Membangkitkan motivasi belajar siswa.73% dan termasuk kategori hambatan yang sedang (dapat dilihat dalam lampiran 2).68 Analisis data menunjukkan 2.57% guru menyatakan agak kesulitan dan 14.57 29. Tabel 9. halaman 71). 29.8% guru menyatakan tidak kesulitan.57% guru menyatakan sangat kesulitan dalam pelaksanaan pembelajaran. b.

Melakukan penilaian ranah psikomotorik.15 12. Melakukan penilaian performans. Memberikan penugasan yang berkaitan dengan life skill siswa.50% guru menyatakan kesulitan. Memilih bentuk instrumen. Evaluasi Pembelajaran Hasil yang diperoleh dari data kuesioner tentang evaluasi pembelajaran disajikan dalam Tabel 10.15% dan termasuk kategori hambatan rendah (dapat dilihat dalam lampiran 2. 1 10 7 7 8 9 5 9 3 3 5 3 6 10 Frekuensi 2 3 5 1 7 2 7 2 6 2 7 7 4 5 2 9 9 8 10 10 6 4 4 2 3 - 4 1 1 0. Mengetahui tingkat ketercapaian hasil belajar siswa.87% guru menyatakan tidak kesulitan. Secara keseluruhan hambatan dalam evaluasi pembelajaran yang dialami guru biologi adalah 43. Menyusun instrumen non tes. . Menentukan jenis tagihan.48 85 96 26 40. 46. 12. Memberikan tindak lanjut dari hasil evaluasi. Melakukan penilaian ranah kognitif.48% guru menyatakan sangat kesulitan dalam evaluasi pembelajaran.40 3.87 46. Melakukan penilaian ranah afektif. Hambatan dalam Evaluasi Pembelajaran Item 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 Jumlah % Keterangan Menyusun kisi-kisi penilaian. halaman 71).50 Analisis data menunjukkan 0. Tabel 10. Menentukan panjang instrumen.15% guru menyatakan agak kesulitan dan 40. Melakukan penilaian portofolio.

15 46.28 29 .15% 46.01% 50.73 55.38 47.00% 10.40 46.00% Tingkat hambatan 50.00% 47.41 Hasil yang diperoleh dari data kuesioner disajikan dalam Tabel 11.13 43.00% 20.43% 43. Histogram dari hasil data kuesioner ditampilkan di bawah ini: 60. Hasil selengkapnya dari data kuesioner dapat dilihat pada lampiran 1 halaman 67.17 18 . Histogram hasil data kuesioner .48 49.48 5 3 4 5 11 7 13 48 320 192 256 320 704 448 832 3072 142 91 119 158 323 247 359 1439 44.84% Variabel Persiapan pembelajaran Evaluasi pembelajaran Pelaksanaan proses pembelajaran Total Gambar 2.35 36 .84 Hasil data kuesioner dapat diperjelas dengan histogram.00% 40. sedangkan perhitungan data kuesioner dapat dilihat pada lampiran 2 halaman 69.38 45. Hasil Data Kuesioner Variabel Penjabaran Kompetensi Alat dan Bahan Sumber Belajar Organisasi Waktu Guru (Strategi Pembelajaran) Siswa Evaluasi Total Butir Pertanyaan Jumlah Item Skor Maksimum Jumlah Skor Persen (%) Kategori Hambatan Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Rendah Sedang 1-5 6-8 9 .12 13 .48 1 .00% 30. Tabel 11.00% 0.

b. Dari kuesioner terbuka diperoleh data mengenai upaya-upaya yang telah dilakukan oleh guru untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi.13% dan persentase terendah pada variabel evaluasi sebesar 43. 1. Sumber belajar . a. Alat dan bahan 3. Mengusulkan kepada sekolah agar melengkapi sarana dan prasarana yang ada di sekolah. Melakukan kegiatan pembelajaran di luar ruangan. Mengoptimalkan penggunan media yang sudah ada. Menyederhanakan materi. d.15%. Mengajak siswa untuk observasi ke lingkungan sekitar baik secara langsung maupun tidak langsung. Memberikan contoh-contoh kajian di luar laboratorium yang berhubungan dengan pembelajaran (lingkungan sekitar siswa). Pemakaian laboratorium secara bergantian. Mengganti metode praktikum dengan metode demonstrasi. f. b.84% dan termasuk kategori sedang. Tabel 12. a. Variabel Penjabaran kompetensi Upaya a. e. c. Rekap Hasil Kuesioner Terbuka No. d.42 Berdasarkan tabel dan histogram di atas. d. 2. persentase tertinggi terdapat pada variabel siswa sebesar 55. Membuat silabus dengan mengacu silabus dari pemerintah. Secara umum. Berusaha mengenal karakteristik siswa. Mengoptimalkan pemanfaatan sarana dan prasarana yang tersedia di sekolah. c. hasil perhitungan yang diperoleh dari data kuesioner menunjukkan hambatan yang dihadapi oleh guru-guru biologi kelas X dalam proses pembelajaran pada pelaksanaan kurikulum 2004 di SMA Negeri seKabupaten Semarang sebesar 46. b. Menugaskan siswa untuk membawa dari rumah alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pembelajaran. Hasil yang diperoleh dari data kuesioner terbuka disajikan dalam Tabel 12. Membuat silabus sesuai dengan kondisi sekolah. c. Memanfatkan media asli (alam sekitar).

koran/media massa. Memberi tugas pada siswa untuk materi-materi yang banyak. g. Membuat kelompok-kelompok kecil. Menyederhanakan materi. Faktor guru (strategi a. Melatih siswa untuk membuat laporan ilmiah setelah melakukan praktikum.43 4. Memberikan tugas pada siswa dihubungkan dengan kemampuannya kemudian dilakukan pembahasan bersama di dalam kelas. Memanfaatkan buku paket. g. Faktor siswa a. h. Evaluasi a. c. Membuat buku pribadi anak disertai dengan foto untuk membantu mengenal siswa. g. d. Meningkatkan hubungan kekeluargaan antara pihak sekolah dengan orang tua siswa. Organisasi waktu a. Melaksanakan program pengayaan dan re-midial. e. Mengenali dulu karakteristik peserta didik pembelajaran) kemudian baru menetapkan metode yang akan digunakan. lembar kerja siswa (LKS). Mengamati tiap siswa pada saat melakukan praktikum. Melakukan analisis penilaian. Memberikan tugas mandiri pada siswa. d. b. 7. Menugaskan siswa untuk membuat kliping. Guru bertindak sebagai fasilitator. Menyelaraskan waktu sesuai dengan silabus dan kalender pendidikan. f. e. c. Memberikan latihan berupa soal-soal. Membuat skala prioritas (materi yang penting disampaikan dengan porsi waktu yang lebih banyak) b. 6. Melakukan pengamatan secara intensif ter-hadap peserta didik. Membiasakan siswa untuk berdiskusi. buku pendamping. c. f. Menentukan metode dengan melihat kondisi siswa dan sarana yang ada. Memberikan tugas pada siswa. Mengaitkan materi pembelajaran dengan imtaq. Tiap KD dilakukan tes pencapaian kompetensi. c. f. Memilih materi-materi yang penting untuk dipraktikumkan. d. d. e. Mengenal karakteristik tiap anak. f. . Memanfatkan buku paket yang ada di perpustakaan. jika diskusi sudah mulai menyimpang maka guru membenahi. 5. e. b. b. Memilih siswa yang benar-benar mampu dan siap untuk melakukan presentasi.

Chart/Gambar b.14% 21. Alokasi waktu d.25% 29.50% 37. Pemecahan masalah b. 6 16. 3. IPA) b.50% 25% 75% 41.78% 21.73% 32.43% 10. Tidak Frekuensi 10 6 4 12 5 7 16 10 4 16 16 6 3 3 16 16 15 4 1 11 10 9 2 11 12 2 6 Persentase 62. Demonstrasi Kesulitan dalam pembela. Mengoptimalkan yang dihadapi sarana yang ada b.85% 7.33% 34. Evaluasi Upaya mengatasi hambatan a.71% 10. Menyederhanakan materi c. Rekap Hasil Wawancara No 1. Wawancara dilaksanakan dengan semua responden yang terdiri dari 16 guru.77% 28.36% 31.21% 2.92% 34. Kondisi Siswa c. Pertanyaan Kunci Pelaksanaan kurikulum 2004 mengalami kesulitan atau tidak a. Ceramah b. Observasi e. Sarana dan prasajaran Biologi dengan kurirana kulum 2004 b. Tidak ada laboratorium a. Memilih materi yang penting untuk dipraktikumkan e. OHP d. Praktikum d. Ketersediaan laboratorium Biologi Jawaban a.21% . Metode pembelajaran a. Ya b. Konstruktivisme d.70% 34.a. Diskusi/tanya jawab yang digunakan c.78% 57. Tidak ada (Lab.71% 30. 6. Menghambat atau tidak Media pembelajaran yang a. 4. Inkuiri jaran yang digunakan c.25% 28. Media asli a.13% 6.69% 1. Ada b. Pendekatan pembela. Menggunakan metode yang bervariasi d.77% 30.a. Kontekstual b. Hasil wawancara dapat dilihat pada Tabel 13.43% 5.67% 58. CD Pembelajaran digunakan c. Tidak biologi menghambat b.44 Untuk melengkapi data yang diperoleh dari kuesioner maka dilakukan juga wawancara. Tabel 13.74% 8. a.41% 16. Memanfaatkan media asli (alam sekitar) 5.

21% dan memanfaatkan media asli (alam sekitar) sebesar 16. 1.25%.73%. Hambatan yang dialami guru dalam melaksanakan kurikulum 2004 adalah dalam hal sarana prasarana sebesar 34. menyederhanakan materi sebesar 32.38% . 62.84%. Pembahasan Berdasarkan analisis hasil kuesioner. Organisasi waktu : 44.40% : 46.13% dan evaluasi sebesar 6. Penjabaran kompetensi 2. menggunakan metode yang bervariasi sebesar 5. Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa upaya yang telah dilakukan oleh guru untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut adalah mengoptimalkan sarana yang ada sebesar 29. Persentase ini cenderung mendekati hambatan rendah. B.48% : 49.41 %.50% guru tidak mengalami kesulitan dalam pelaksanaan pembelajaran biologi dengan menggunakan kurikulum 2004. Persentase masing-masing faktor penghambat adalah sebagai berikut.36%.25%.38% : 47. kondisi siswa sebesar 31. memilih materi yang penting untuk dipraktikumkan sebesar 16. alokasi waktu sebesar 28. dapat diketahui bahwa guru-guru biologi kelas X di SMA Negeri se-Kabupaten Semarang dalam melaksanakan proses pembelajaran biologi dengan menggunakan kurikulum 2004 mengalami hambatan dalam kategori sedang dengan persentase 46.43%.50% guru mengalami kesulitan dan 37. Alat dan bahan 3. Sumber belajar 4.21%.45 Berdasarkan tabel di atas.

Hambatan yang dialami adalah kesulitan menjabarkan standar kompetensi menjadi silabus yaitu dalam merencanakan pengalaman belajar siswa. alat dan bahan. Penjabaran Kompetensi Analisis hasil penelitian menunjukkan hambatan yang dialami guru dalam penjabaran kompetensi sebesar 44. 1. karena pengalaman belajar yang akan diberikan disesuaikan dengan kemampuan/ keterampilan dan kreatifitas tiap-tiap guru yang berbeda.13% : 43. Menurut Suwarja (2004). serta menjabarkan materi pokok pembelajaran. Evaluasi : 45. mengidentifikasi kompetensi-kompetensi sesuai dengan kebutuhan dan masalah yang dihadapi oleh siswa. berusaha mengenal karakteristik siswa untuk mengembangkan indikator pencapaian kompetensi yang relevan dengan kebutuhan siswa. Faktor siswa 7. serta alokasi waktu yang tersedia.73% : 55. sebagian guru telah melakukan upaya antara lain: membuat silabus dengan mengacu silabus dari pemerintah. membentuk serta mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupannya. guru harus mampu menyusun suatu rencana pembelajaran yang tidak saja baik tetapi juga mampu memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mencari.38% termasuk dalam kategori hambatan sedang yang mendekati kategori rendah.46 5. sarana prasarana yang ada seperti media. Faktor guru 6. Untuk mengatasi kesulitan atau hambatan dalam penjabaran kompetensi. . membangun.15% Faktor-faktor penghambat di atas dapat dijabarkan sebagai berikut. kondisi/kesiapan siswa untuk melaksanakan pengalaman belajar yang akan dilakukan.

Selain itu diharapkan pada guru-guru untuk lebih memanfaatkan forum MGMP biologi untuk membuat dan mengembangkan perangkat pembelajaran bersama seperti silabus dan rencana pengajaran berdasarkan masukan dari para guru dan faktor lain seperti biaya. lingkungan. Sebagai saran sebaiknya guru mengubah strategi pembelajaran yaitu yang semula menekankan pada penguasaan ilmu pengetahuan menjadi strategi pembelajaran yang menekankan pada kompetensi. Upaya tersebut masih kurang tepat karena menyederhanakan materi bisa menyebabkan materi tidak bisa berkembang ataupun kompetensi yang diharapkan tidak bisa tercapai. Alat dan Bahan Analisis hasil penelitian menunjukkan hambatan yang dialami guru dalam menyediakan alat dan bahan tergolong hambatan sedang dengan persentase sebesar 47. jadi pengembangan yang dilakukan oleh guru tidak akan menyimpang dari kompetensi yang diharapkan. Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara.40%. sarana dan prasarana. Sesuai dengan pendapat Mulyasa (2004). 2. dan upaya yang telah dilakukan oleh guru adalah dengan menyederhanakan materi. kesulitan yang dialami cenderung dikarenakan alokasi waktu yang kurang.47 Dalam menjabarkan materi pokok pembelajaran. pengembangan silabus harus dilakukan secara sistematis. dimana guru . Silabus yang terbentuk bisa dijadikan kontrol/pembanding bagi silabus-silabus yang dikembangkan oleh guru di masing-masing sekolah. dan kondisi siswa. dan mencakup komponen-komponen yang saling berkaitan untuk mencapai kompetensi dasar yang telah ditetapkan. sehingga materi pembelajaran bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan kompetensi yang diharapkan bisa tercapai.

Contohnya jumlah mikroskop/alat-alat praktikum lain belum sesuai dengan jumlah siswa dan zat-zat kimia yang disediakan jumlahnya sedikit. dimana sarana dan prasarana yang ada memang masih belum memadai. sedangkan 7 orang guru yang lain merasa terhambat. Kondisi ini menyulitkan guru dalam membagi waktu. Guru kesulitan memperoleh alat dan bahan yang dibutuhkan siswa untuk melakukan kegiatan praktikum karena alat dan bahan yang dibutuhkan tersebut belum tersedia di sekolah. fisika dan kimia belum dipisahkan dan masih dalam satu ruangan.48 mengalami kesulitan dalam hal sarana dan prasarana. Dari 12 orang guru yang sekolahnya tidak memiliki laboratorium biologi sendiri. 5 orang diantaranya tidak merasa terhambat. Guru yang menyatakan tidak mengalami hambatan dalam sarana prasarana adalah guru yang mengajar di sekolah-sekolah unggulan. jika ingin menggunakan laboratorium guru harus mengkon- . Sedangkan guru yang menyatakan mengalami hambatan dalam hal sarana prasarana merupakan guruguru yang mengajar di sekolah-sekolah yang belum unggulan dan ada sekolah yang baru 2 tahun didirikan. walaupun ada juga yang bukan dari sekolah unggulan tetapi guru di sekolah tersebut mampu berkreasi untuk menggantikan pembelajaran di dalam ruang laboratorium. Dari 11 sekolah. hanya 3 sekolah yang memiliki laboratorium biologi sedangkan 8 sekolah lainnya hanya memiliki laboratorium IPA. khususnya ketersediaan laboratorium biologi sendiri dan kelengkapan alat dan bahan di dalamnya. Selain itu ruangan laboratorium biologi.

Dari hasil wawancara guru-guru yang tidak terhambat dengan tidak adanya laboratorium. Penggantian praktikum dengan metode demonstrasi juga bisa diambil sebagai alternatif pemecahan jika memang kegiatan . Dengan demikian saran yang bisa diberikan pada guru-guru lain yang merasa terhambat dengan tidak adanya laboratorium biologi di sekolah yaitu diharapkan guru-guru tersebut juga melakukan upaya-upaya seperti yang telah dilakukan oleh 7 guru di atas. pemakaian laboratorium secara bergantian dengan membuat jadwal yang terorganisir. karena upaya-upaya tersebut dapat membantu mengatasi hambatan dalam pembelajaran yang disebabkan oleh minimnya saranaprasarana. Upaya dengan melibatkan siswa dalam penyediaan alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pembelajaran tidak hanya perlu dilakukan oleh sekolah yang sarana-prasarananya terbatas tetapi juga untuk sekolah yang sudah memiliki sarana-prasarana memadai. menugaskan pada siswa untuk membawa dari rumah alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pembelajaran. karena upaya ini merupakan cara yang baik untuk memotivasi siswa dan melatih siswa untuk bertanggung jawab terhadap pembelajaran yang dilaksanakan. mengganti praktikum dengan metode demonstrasi. dan penggunaan laboratorium kurang maksimal untuk pelajaran biologi. melakukan kegiatan pembelajaran di luar ruangan laboratorium misal di halaman atau kebun sekolah karena dalam biologi laboratorium tidak hanya dalam ruangan saja.49 firmasikan dulu dengan guru mata pelajaran lain. dikarenakan guru-guru tersebut telah melakukan berbagai upaya antara lain: mengoptimalkan penggunaan sarana dan prasarana yang telah tersedia di sekolah.

memberikan pengalaman belajar langsung yang diselenggarakan di luar . bukan semata-mata karena keterbatasan fasilitas dan dana dari pemerintah. dan inovatif. dan lingkungan sekitar) memperoleh persentase sebesar 46. berimprovisasi. buku. Selain itu perlu juga dipertimbangkan upaya lain yang bisa membantu mengatasi hambatan dalam hal sarana prasarana yaitu sekolah diharapkan melengkapi sarana dan prasarana belajar yang memadai. Sumber Belajar Hasil kuesioner menunjukkan hambatan yang dialami guru dalam hal sumber belajar (media. laboratorium dengan perlengkapannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Mulyasa (2004) kreativitas diperlukan. Sarana dan prasarana memang sangat penting dalam mendukung pelaksanaan pembelajaran menggunakan kurikulum 2004. tetapi merupakan kewajiban yang harus melekat pada setiap guru untuk berkreasi. 3. perlengkapan teknis. Dalam hal ini kesulitan yang dialami adalah dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. serta ruang pembelajaran yang memadai. karena dalam kurikulum 2004 guru dituntut untuk lebih kreatif memodifikasi pembelajaran dengan memanfaatkan fasilitas yang sudah ada.50 praktikum benar-benar tidak bisa dilakukan lagi karena peralatan dan waktu yang sangat terbatas. berinisiatif. tetapi kondisi sarana prasarana yang kurang memadai tidak boleh dijadikan alasan oleh guru untuk tidak melaksanakan kurikulum 2004 secara utuh. seperti perpustakaan. dan perlengkapan administrasi.48% dan dapat dikategorikan tingkat hambatan sedang tetapi yang mendekati rendah.

sehingga banyak media di sekolah yang tidak termanfaatkan dan hal ini sangat disayangkan.78%. CD pembelajaran. Tujuan media pembelajaran adalah untuk membantu bukan mempersulit jadi guru tidak perlu takut jika siswa akan kesulitan jika pembelajaran dibantu dengan media lain selain buku. OHP sebesar 8.78%. dan media asli sebesar 34. televisi. Media pembelajaran merupakan salah satu sumber belajar. Berdasarkan hasil wawancara media yang sering digunakan oleh guru-guru adalah chart/bagan sebesar 34. Pemilihan media harus disesuaikan dengan materi dan kompetensi yang harus dicapai siswa.51 laboratorium. melainkan dapat diperoleh dari mana saja misalnya buku-buku referensi. Selain itu dengan adanya .74%. koran. majalah.70%. sehingga media yang sudah ada bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran. jurnal penelitian. meskipun demikian penggunaan media tidak boleh sembarangan. serta kesulitan dalam menyampaikan materi sehubungan dengan ketersediaan buku pegangan mata pelajaran biologi di sekolah. Hambatan tersebut bisa diatasi dengan guru lebih banyak lagi belajar tentang media pembelajaran serta berlatih untuk menggunakan media. Dalam kurikulum 2004 sumber belajar tidak hanya dari guru. fasilitas dan sumber belajar dipilih dan digunakan dalam proses belajar apabila sesuai dan menunjang tercapainya kompetensi dasar. Fasilitas dan sumber belajar perlu dikembangkan untuk mendukung suksesnya implementasi kurikulum 2004. CD pembelajaran 21. Sesuai pendapat Mulyasa (2004). internet serta dari lingkungan sekitar. Masih banyak guru yang mengalami kesulitan dalam memilih dan menggunakan media.

memanfaatkan media asli (lingkungan sekitar) sebagai sumber belajar. Untuk sekolah-sekolah yang terletak di daerah-daerah cenderung memanfatkan media asli sebagai sumber belajar. Diharapkan dengan semakin berkembangnya teknologi dapat lebih mempermudah jalannya proses pembelajaran. Dalam mengembangkan fasilitas dan sumber belajar. Selain itu sekolah yang letaknya di kota bisa memanfaatkan multi media. Guru bisa membawakan contohnya ataupun siswa diberi tugas untuk mencarinya. Pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar sebaiknya tidak hanya dilakukan oleh sekolah yang berada di desa saja. hal itu merupakan kesempatan bagus bagi siswa untuk bisa belajar lebih banyak lagi. Memanfaatkan sumber belajar bisa dilakukan dengan membawa sumber belajar ke dalam kelas dan membawa siswa ke lapangan dimana sumber belajar berada. Upaya yang telah dilakukan oleh guru untuk mengatasi hambatan dalam hal media yaitu mengoptimalkan penggunaan media yang sudah ada. sekolah yang letaknya di kota juga perlu belajar dari alam sekitar ataupun media asli. Informasi-informasi yang tidak ada di buku bisa dicari di media tersebut. . Hal ini sangat baik karena siswa akan mendapatkan pengalaman belajar yang menarik. Ada sekolah yang sudah memiliki media internet. guru disamping harus mampu membuat sendiri alat pembelajaran dan alat peraga.52 media pembelajaran justru akan menarik perhatian siswa terhadap materi yang sedang mereka pelajari. hal ini akan lebih menarik keingintahuan siswa. juga harus berinisiatif mendayagunakan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar yang lebih konkrit.

dan buku-buku pelajaran biologi yang tersedia di sekolah juga masih terbatas. fasilitas. yaitu dengan memberikan sosialisasi dan pengertian kepada mereka agar mendukung pelaksanaan kurikulum 2004. 4.38% yaitu persentase yang mendekati tingkat hambatan rendah. Selain itu sesuai dengan karakteristik KBK yaitu pembelajaran dengan modul. menyediakan fasilitas bagi anak sehingga anak merasa termotivasi. siswa tidak harus memiliki buku yang baru. siswa diperbolehkan meminjam kepada kakak kelas. dan sumber belajar apa yang harus digunakan. dana. siswa diharapkan belajar mandiri sehingga dibutuhkan buku yang bervariasi. baik waktu. bagaimana melakukannya. dengan persentase sebesar 49. Hal ini . Sistem modul bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran di sekolah.53 Ada beberapa guru yang mengalami kesulitan dalam KBM disebabkan oleh keterbatasan referensi buku yang dimiliki siswa. Buku memang masih menjadi sumber belajar yang utama dalam pembelajaran sehingga keberadaanya sangat dibutuhkan. maupun tenaga guna mencapai tujuan secara optimal. Pengadaan buku tidak harus dengan membeli. Organisasi Waktu Hasil kuesioner menunjukkan hambatan yang dialami guru dalam hal organisasi waktu tergolong kategori hambatan sedang. Untuk mengatasi hal ini bisa dilakukan dengan menjalin kerjasama dengan berbagai komponen pendidikan salah satunya orangtua siswa. Salah satu diantaranya dengan memenuhi kebutuhan belajar anak. Padahal dalam mencapai kompetensi dasar. Guru diharapkan membuat modul yang nantinya dapat membantu siswa mendapatkan informasi mengenai apa yang harus dilakukan.

memilih materi-materi tertentu untuk dipraktikumkan. Kesulitan yang dialami adalah dalam hal menentukan alokasi waktu untuk mempelajari suatu materi. kompetensi-kompetensi yang ditargetkan tidak semua bisa tercapai karena waktu yang disediakan terbatas.54 diperkuat oleh wawancara yang menyatakan kesulitan yang dialami guru salah satunya adalah dalam hal alokasi waktu sebesar 28. Sebaiknya guru menyampaikan hal-hal yang penting atau pokok sedangkan siswa tetap diberi tugas untuk mengembangkan materi yang diberikan . Upaya-upaya yang telah dilakukan oleh sebagian guru tersebut ada yang sudah tepat tetapi ada juga yang masih belum tepat. Dalam kurikulum 2004 siswa dituntut untuk mengalami sendiri dan salah satu cara agar siswa dapat mengalami sendiri adalah dengan praktikum. Beberapa upaya yang telah dilakukan oleh sebagian guru adalah dengan menyederhanakan materi. melaksanakan praktikum dan mencapai semua kompetensi yang telah ditetapkan sesuai dengan alokasi waktu yang telah disediakan. Untuk upaya menyederhanakan materi tanpa tindak lanjut apapun maka kurikulum 2004 ini tidak akan berarti apa-apa karena pelaksanaanya akan seperti kurikulum sebelumnya. Kurikulum 2004 memberikan kebebasan bagi guru untuk mengembangkan materi sesuai dengan keadaan dan kebutuhan peserta didik. tetapi jika materi terlalu banyak pengembangan. memilih siswa-siswa tertentu yaitu siswa yang benar-benar siap untuk melakukan presentasi.13%. mengatur alokasi waktu untuk presentasi siswa. tetapi untuk melakukan praktikum dan memberikan kesempatan pada siswa untuk melakukan presentasi guru mengalami kesulitan dalam mengatur waktunya karena waktu yang tersedia terbatas.

Materi yang dipilih harus sudah dapat mewakili pokok materi. Memilih materi-materi tertentu untuk dipraktikumkan merupakan usaha yang tepat. disesuaikan dengan alokasi waktu yang disediakan. Untuk mengatasi kesulitan dalam mengatur alokasi waktu untuk presentasi adalah jika waktu yang tersedia sedikit maka dilakukan dengan memilih siswa-siswa tertentu untuk melakukan presentasi yaitu siswa yang dianggap cakap untuk mengkomuniksikan hasil. karena dikhawatirkan kompetensi yang diharapkan tidak bisa tercapai. Tetapi jika waktu yang tersedia lebih banyak maka diusahakan semua siswa bisa melakukan presentasi agar guru juga bisa melihat kemampuan siswa untuk mengkomunikasikan hasil. tetapi yang perlu diperhatikan adalah dalam pemilihan materi yang dipraktikumkan haruslah tepat. Hal ini perlu dilakukan agar guru tidak hanya berusaha menyederhanakan materi saja untuk mengantisipasi waktu yang tidak cukup untuk menjabarkan materi. Dengan ini diharapkan jawaban yang diberikan tepat atau tidak menyimpang jauh dari yang diharapkan. .55 oleh guru. karena dokumen atau catatan tersebut berguna juga untuk penilaian. Selain itu perlu dipertimbangkan upaya lain untuk mengatasi kesulitan waktu yaitu dengan media by design yaitu mendesain sendiri media yang akan digunakan untuk pembelajaran. materi tersebut diprioritaskan untuk dibahas secara tatap muka di kelas/laboratorium. dan siswa dapat mencapai kompetensi yang diharapkan. karena memang tidak mungkin semua materi bisa dipraktikumkan bila dikaitkan dengan alokasi waktu yang disediakan. Guru perlu mengkaji materi-materi yang diperkirakan sulit dipahami siswa. Sedangkan materi yang dianggap mudah dipahami oleh siswa dapat dijadikan tugas/pekerjaan rumah. Guru harus memiliki dokumen siswa-siswa yang melakukan presentasi.

77%. memilih dan menggunakan strategi atau pendekatan pembelajaran.92%. dan demonstrasi 1. menuntut siswa melakukan pengamatan. guru harus menguasai prinsip-prinsip pembelajaran.56 5.73% tergolong hambatan sedang. diskusi 30. Untuk mengatasi hambatan dalam pemilihan dan penggunaan metode. menggunakan metode yang berpusat pada peserta didik. melakukan pengawasan selama kegiatan diskusi berlangsung serta mengkondisikan siswa selama praktikum. model dan pendekatan dalam pembelajaran. menuntut siswa bekerjasama dengan temannya. mengintegrasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar yang efektif. menentukan metode dengan melihat kondisi siswa dan sarana yang ada. serta meningkatkan hubungan antara pihak sekolah dengan orang tua siswa. diskusi dan praktikum . Menurut Mulyasa (2004). Faktor Guru Berdasarkan hasil kuesioner hambatan yang dialami guru dalam hal strategi pembelajaran adalah sebesar 45. Untuk metode ceramah. Dalam hal metode pembelajaran hambatan yang dialami adalah memilih metode yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. observasi 7.69%. menjadi fasilitator dalam proses pembelajaran. pemilihan dan penggunaan metode mengajar.77%. Hasil wawancara menunjukkan metode pembelajaran yang sering digunakan adalah ceramah 30. Dari hasil tersebut terlihat bahwa guru-guru biologi di kabupaten Semarang telah menggunakan berbagai macam metode pembelajaran. beberapa guru telah melakukan upaya antara lain: berusaha melihat dan mengenal karakteristik peserta didik agar bisa memilih metode yang tepat.85%. praktikum 28. Dalam hal ini hambatan yang dialami dalam hal pemilihan serta penerapan metode.

71%.57 hampir seluruh guru telah mempraktekkannya. sehingga mengalami kesulitan dalam pemilihan maupun pemeragaan model pembelajaran tersebut. Untuk mengatasi ini guru-guru perlu diikutkan sosialiasasi. Untuk metode demonstrasi hanya dilakukan oleh satu orang guru karena kondisi sarana prasarana yang tidak memungkinkan untuk melakukan praktikum. dan pemecahan masalah sebesar 10.14%. karena di situ guru akan mendapatkan informasi yang lebih banyak tentang model-model pembelajaran. menonton CD tentang penerapan model-model pembelajaran. guru telah menggunakan metode yang bervariasi. Hambatan yang dialami dalam hal model pembelajaran adalah pemilihan dan penerapan model pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran. Selain itu guru harus lebih banyak membaca buku-buku tentang model-model pembelajaran. pelatihan atau lokakarya tentang kurikulum 2004. Untuk metode observasi juga hanya dilakukan oleh sebagian kecil guru saja. inkuiri sebesar 21. diskusi dengan teman sejawat serta melakukan latihan penerapan model pembelajaran. Pendekatan yang lebih banyak digunakan . karena metode ini membutuhkan banyak waktu.43%. Hasil wawancara tentang pendekatan pembelajaran kurikulum 2004 menunjukkan pendekatan yang sudah dipakai oleh guru adalah kontekstual sebesar 57. mengikuti pelatihan tentang model pembelajaran. Ada beberapa guru yang belum memahami model-model pembelajaran yang ada. Upaya-upaya yang telah dilakukan oleh guru-guru tersebut sudah cukup baik karena telah membuat proses belajar mengajar berjalan dengan baik dan siswa dapat mencapai kompetensi yang diharapakan. konstruktivisme sebesar 10. Dalam proses pembelajaran guru tidak hanya berpatok pada satu metode saja.71%.

sehingga masih sedikit guru yang menggunakan pendekatan konstruktivisme.58 adalah kontekstual. jika guru belum memahami bagaimana pembelajaran dengan berbasis kompetensi maka siswa pun juga tidak akan paham bagaimana cara belajar yang seharusnya dalam kurikulum berbasis kompetensi. baru kemudian pada kelas yang lain. Saran yang bisa diberikan untuk mengatasi hambatan dalam pemilihan dan penerapan metode serta pendekatan pembelajaran adalah guru harus lebih banyak mencari informasi mengenai metode dan pendekatan-pendekatan dalam pembelajaran serta mencoba untuk menerapkannya. hal ini disebabkan karena guru masih kesulitan dalam menggunakan pendekatan yang lain. Penerapan bisa dilakukan pada kelas unggulan terlebih dahulu. oleh karena itu masih jarang guru yang menggunakan pendekatan pemecahan masalah. 6. Guru masih kesulitan untuk mengarahkan siswa pada suatu pokok masalah. guru juga harus banyak berdiskusi dengan guru lain tentang metode dan pendekatan dalam pembelajaran serta penerapannya. diperkuat dengan hasil . Gurulah yang bertanggungjawab atas kesiapan siswa. sehingga guru tidak lagi menyalahkan siswa karena belum siap melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan kurikulum berbasis kompetensi. Dengan sering diterapkannya suatu metode atau pendekatan maka semakin lama siswa juga akan terbiasa. guru juga masih kesulitan dalam menciptakan kondisi siswa untuk aktif membangun pengetahuan dan pemahamannya sendiri.13% tergolong hambatan sedang. Selain perlu lebih banyak latihan menerapkan metode dan pendekatan pembelajaran. Faktor Siswa Berdasarkan hasil analisis penelitian hambatan yang dialami dari faktor siswa adalah sebesar 55.

Selain itu guru juga mengalami kesulitan dalam membangkitkan motivasi belajar. disiplin di sini bukan berarti guru bersikap keras pada siswa tetapi membiasakan siswa untuk menaati apa yang sudah disepakati. Untuk membangkitkan kreativitas siswa guru berupaya dengan menggunakan strategi pembelajaran yang menarik. meningkatkan keaktifan. dan mengembangkan kreativitas siswa. serta memberikan pelayanan individual siswa.25 %. Upaya lain yang telah dilakukan adalah memberi tugas siswa untuk observasi ke home industry. Selain itu guru juga menerapkan kedisiplinan belajar. mendeteksi karakteristik individual siswa. memanfaatkan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar. dan melatih anak untuk mengumpulkan informasi dari berbagai sumber. Berbagai upaya telah dilakukan oleh guru untuk mengatasi hambatan tersebut antara lain: membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil sehingga lebih memudahkan untuk membimbing dan mengontrol siswa pada saat diskusi maupun praktikum. Hambatan dalam faktor siswa adalah berkaitan dengan jumlah siswa dalam satu kelas adalah lebih dari 30 orang sehingga termasuk kelas besar. ada juga guru yang mempraktekkan model pembelajaran tutor sebaya. untuk memperluas .59 wawancara tentang kesulitan yang dialami guru dalam pelaksanaan kurikulum 2004 salah satunya adalah kondisi siswa sebesar 31. Untuk meningkatkan keaktifan siswa beberapa guru mengupayakan dengan menggunakan metode diskusi sehingga siswa akan aktif bertukar pikiran atau bekerjasama dengan temannya. misalnya jika ada siswa yang tidak membawa tugas yang diberikan maka siswa tersebut diperbolehkan mengikuti pelajaran jika sudah membawa tugas yang diberikan. guru mengalami kesulitan dalam membimbing dan mengelola siswa.

Upaya yang telah dilakukan oleh guru-guru tersebut merupakan usaha yang cukup bagus. apalagi dengan pemberian tugas berupa observasi di lapangan akan melatih siswa untuk menemukan sendiri konsep atau ilmu juga melatih siswa untuk bekerjasama dengan teman ataupun masyarakat. Sehingga jika salah seorang guru mengalami hambatan dalam faktor tertentu dan guru lain tidak mengalami hambatan. Sebenarnya hambatan KBK tidak mutlak disebabkan karena kondisi fisik sekolah yang belum memadai tetapi karena kualitas atau kondisi sumber daya manusia (SDM) baik siswa maupun guru yang masih rendah. Sebagai pertimbangan guru perlu memanfaatkan forum MGMP biologi untuk saling bertukar informasi dan pengalaman. maka guru yang masih mengalami hambatan bisa melakukan hal yang sama seperti apa yang telah dilakukan oleh guru-guru lain yang tidak mengalami hambatan dalam faktor tersebut. . karena dengan memberikan strategi yang tepat siswa akan merasa tertarik dan termotivasi untuk belajar.60 materi pembelajaran. Faktor jumlah dan kondisi siswa tidak lagi menjadi penghambat dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi. jika semua upaya yang sudah disampaikan dilaksanakan oleh semua guru maka pelaksanaan kurikulum 2004 di Kabupaten Semarang tidak akan mengalami kesulitan. Guru-guru yang lain diharapkan juga bisa menerapkan upaya-upaya tersebut. hal ini sangat membantu siswa untuk memperoleh kecakapan hidup yaitu sadar sebagai makhluk Tuhan. baik masalah yang ditemukan maupun upaya yang telah dilakukan. Ada juga guru yang berusaha mengkaitkan pembelajaran dengan iman dan taqwa.

Guru-guru telah melakukan penilaian yang meliputi ranah kognitif. membuat buku pribadi anak untuk memudahkan guru mengenal karakteristik siswa serta pemakaian nama dada memudahkan guru mengetahui nama siswa. Sebaiknya setiap kali melakukan KBM guru mempunyai catatan tentang siswa-siswa yang bersikap baik dan tidak baik. Untuk menyusun kisi-kisi penilaian banyak guru tidak mengalami kesulitan. 7.10% dan dapat dikategorikan hambatan rendah. Evaluasi Hasil kuesioner menunjukkan tingkat hambatan dalam evaluasi/penilaian memperoleh persentase sebesar 43. guru juga bisa menggunakan lembar observasi. Sebagian besar sekolah telah menerapkan pemakaian nama dada.25%. Guru juga mengalami kesulitan untuk memantau siswa secara kontinyu. sehingga guru mengalami kesulitan untuk memberi nilai yang tepat.61 Sehingga yang perlu diperbaiki tidak hanya fisik sekolahnya saja melainkan SDMnya juga. Dari ketiga ranah ini yang paling banyak mengalami kesulitan adalah pada penilaian ranah afektif. . diperkuat dengan wawancara juga menunjukkan hambatan dalam evaluasi termasuk kategori rendah karena memperoleh persentase sebesar 6. Hal ini dikarenakan tidak adanya standar skor yang jelas untuk penilaian ranah afektif. afektif. jumlah siswa yang banyak menyebabkan guru sulit mengenal namanama siswa. Upaya yang telah dilakukan adalah dengan melakukan pengamatan intensif. dan psikomotorik. Pengamatan intensif memang diperlukan untuk benar-benar mengetahui sikap dan keadaan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Akibatnya penilaian ranah afektif masih cenderung bersifat subyektif.

62

Berdasarkan hasil wawancara, guru juga sudah mengenal penilaian portofolio, dan beberapa guru sudah melakukan penilaian portofolio. Portofolio merupakan kumpulan hasil karya, tugas, atau pekerjaan siswa yang disusun berdasarkan urutan kategori tertentu. Penilaian portofolio patut diterapkan juga oleh guru-guru yang lain, karena portofolio ini berguna untuk mengetahui perkembangan hasil belajar siswa. Portofolio ini berguna untuk penilaian psikomotorik, sehingga guru tidak mengalami kesulitan untuk melakukan penilaian ranah psikomotorik. Selain dari portofolio, sumber lain yang digunakan untuk menilai psikomotorik adalah pada saat siswa melakukan praktikum, guru juga melakukan pengamatan, walaupun tidak menggunakan lembar observasi, tetapi siswa yang cakap dapat terlihat dan guru mendokumentasikannya. Penilaian otentik (authentic assesment) mendasari penilaian dalam kurikulum 2004. Sesuai dengan karakteristiknya, penerapan kurikulum 2004 diiringi oleh sistem penilaian yang sebenarnya, yaitu penilaian berbasis kelas. Data yang dikumpulkan melalui kegiatan penilaian bukanlah untuk mencari informasi tentang belajar siswa melainkan untuk memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Jadi data yang dikumpulkan guru harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan oleh siswa pada saat melakukan proses pembelajaran. Kalau ada kesulitan dalam penilaian lebih disebabkan karena pemerintah kurang mengkondisikan pelaksanaan kurikulum 2004 dalam hal proses penilaian itu sendiri. Ujian akhir nasional (UAN) merupakan kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan untuk menentukan standar proses penilaian. UAN lebih mengutamakan hasil akhir dengan mengabaikan segi proses penilaian terhadap

63

perkembangan kemampuan peserta didik. Hal ini sangat berbeda dengan penilaian kurikulum 2004 yang lebih mengutamakan penilaian terhadap proses peserta didik dalam mengembangkan kompetensi. Guru menganggap penilaian hasil akhir bisa jadi tidak menggambarkan keseluruhan potensi yang berkembang pada anak didik. Hal ini menyulitkan guru dalam merencanakan maupun melaksanakan pembelajaran. Hasil kuesioner menunjukkan secara umum tingkat hambatan yang dialami guru-guru biologi kelas X dalam proses pembelajaran pada pelaksanaan kurikulum 2004 di SMA Negeri se-Kabupaten Semarang sebesar 46,84% termasuk dalam kategori hambatan sedang yang mendekati rendah. Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara yang menunjukkan guru yang tidak

mengalami kesulitan dalam pelaksanaan kurikulum 2004 lebih sebesar 37,50% dan yang menyatakan kesulitan adalah sebesar 62,50%. Guru sebaiknya lebih mengoptimalkan fungsi forum MGMP agar para guru bisa bertukar pengalaman tentang pelaksanaan kurikulum 2004, sehingga jika ditemukan kendala bisa dicari penyelesaiannya secara bersama-sama. Selain itu diperlukan bantuan alokasi anggaran pendidikan yang ditujukan kepada sekolah-sekolah yang

mengimplementasikan kurikulum 2004. Bantuan yang diberikan tidak hanya untuk keperluan pembangunan prasarana fisik gedung sekolah dan sebagianya, tetapi juga harus ada bantuan bimbingan berupa pelatihan keahlian profesi bagi guru yang dilakukan secara kontinyu. Sesuai pendapat Wardana (2004) bahwa guru harus mampu mengembangkan kemampuan kompetensi dirinya sendiri sebelum mampu membelajarkan peserta didik mencari, menggali, dan menemukan kompetensinya.

64

BAB V PENUTUP

A. Simpulan Berdasarkan uraian dari hasil penelitian dan pembahasan diperoleh simpulan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran biologi menggunakan kurikulum 2004 di SMA Negeri se-Kabupaten Semarang menunjukkan adanya hambatan pada

penjabaran kompetensi, alat dan bahan, sumber belajar, organisasi waktu, guru, siswa dan evaluasi. Secara keseluruhan hambatan yang dialami sebesar 46,84% dan termasuk dalam kategori hambatan sedang. Dari hasil penelitian ditemukan beberapa alternatif cara mengatasi hambatan yang dihadapi yaitu: 1. penjabaran kompetensi: silabus yang ada disesuaikan dengan kondisi sekolah 2. alat dan bahan: menugaskan pada siswa untuk membawa sendiri alat dan bahan yang dibutuhkan 3. sumber belajar: memanfaatkan seoptimal mungkin berbagai sumber belajar dalam proses pembelajaran antara lain: buku paket, buku pendamping, lembar kerja siswa (LKS), koran/media massa dan alam sekitar sebagai sumber belajar. 4. organisasi waktu: menata kembali alokasi waktu dari seluruh materi yang akan disampaikan dalam pembelajaran sesuai dengan situasi dan kondisi siswa dan sarana prasarana. 5. guru: menentukan metode dengan memperhatikan kondisi siswa dan saranaprasarana yang ada. 64

. siswa: mengorganisasikan kegiatan belajar mengajar siswa dalam bentuk kegiatan belajar kelompok 7. 3. 6. Guru diharapkan membuat bahan ajar berupa buku yang dapat membantu siswa. Guru diharapkan lebih banyak melakukan pembelajaran di luar kelas seperti laboratorium ataupun lingkungan sekitar. Guru diharapkan menyesuaikan strategi pembelajaran yang telah diterapkan sehingga materi dapat dikembangkan sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. 5. evaluasi: kegiatan evaluasi lebih diintensifkan khususnya untuk ranah afektif B. Guru diharapkan lebih mengoptimalkan fungsi forum MGMP untuk bertukar pengalaman tentang pelaksanaan.65 6. 1. 2. Guru diharapkan meningkatkan kemampuannya dengan berbagai kegiatan. Guru diharapkan mampu mendesain sendiri media yang akan digunakan untuk pembelajaran. hambatan dan cara pemecahannya dalam proses pembelajaran biologi pada pelaksanaan kurikulum 2004. disesuaikan dengan alokasi waktu yang disediakan. Saran Berdasarkan uraian di atas saran-saran yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. 4.

Sarnapi. Implementasi dan Sikap Mental Guru”. Sudjarwo. E. Pelaksanaan Uji Coba Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di SMU. 1996. Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Pembelajaran KBK. Mulyasa. ________. ________. 2003b. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:Bina Aksara.%20Biologi. 2002a. Jakarta: Rineka Cipta. Departemen Pendidikan Nasional. 2002. 2002b. Artikel. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum. Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas. Nasution. Jakarta: Bumi Aksara. Semarang: Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Negeri Semarang. http://www.or. Kurikulum Berbasis Sekolah. Bandung: Angkasa. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Maheri. 2000. S.com/cetak/1203/20/11.66 DAFTAR PUSTAKA Ali. M. www. Jakarta: Mediyatama Sarana Perkasa. Depdiknas. “KBK. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar. Arikunto. __________. 10 September 2004. Belajar dan Pembelajaran. Beberapa Aspek Pengembangan Sumber Belajar. 1989. 2004. 2003a. ________. Jakarta: Balai Pustaka. 1992.htm-14K.S. 5 Agustus 2004. Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi.puskur. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Teknologi Pendidikan. Darsono.pikiran_rakyat. Semarang: IKIP Semarang Press. 1994. Kurikulum Berbasis Kompetensi.id/data/2004/Standar %20Kompetensi/Standar%Kompetensi20SMA-MA/14. M.J.pdf. Poerwadarminta. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.S. “Kurikulum 2004”. Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas. . 2003. W. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. 2004. 1997. Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran Biologi. Djamarah & Aswan Zain. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

http://. Artikel.puskur. “Analisis Hambatan dalam Proses Pembelajaran Kimia Pokok Bahasan Larutan bagi Guru-guru Kelas 2 SMU Negeri se-Kabupaten Purworejo dan Cara Pemecahannya”.html-9k. 2003.www. D.67 Suwarja. Artikel . Artikel. 2003. Skripsi.www./2 kurikulum.id. Suyanto. T. “Kurikulum Berbasis Kompetensi”. 2003. 5 Agustus 2004 Yulianto. Artikel. Semarang: Fakultas MIPA Unnes. http://www.htm.id.artikel.www. http://.kompas.26k. Tantangan Profesionalitas Guru?”. “KBK. Wardana.us/dsuwarja. 2004./2kurikulum.puskur. E. 2003.com/kompas_cetak/0310/06/Didaktika/604355. “Menimbang Pendidikan Berbasis Kompetensi”.or.838 K. 5 Agustus 2004. ”Persoalan Kurikulum Berbasis Kompetensi”.shtml. 5 Agustus 2004 Tusimah. http://.26K. 5 Agustus 2004.shtml.or.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful