I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Taman nasional merupakan salah satu kawasan konservasi terbaik dengan keanekaragaman, keunikan, kekhasan dan keindahan flora/fauna endemik, langka dan dilindungi, termasuk keindahan dan keajaiban fenomena alam. Taman nasional mempunyai peranan yang sangat penting dan strategis dalam pelestarian keanekaragaman hayati sehingga penunjukan dan penetapannya diupayakan sedapat mungkin mencakup perwakilan semua tipe ekosistem yang berada dalam tujuh wilayah biogeografi pulau di Indonesia. Bioregion Wallacea merupakan kawasan yang secara biogeografi berbeda dengan kawasan lainnya di dunia. Ekspedisi pertama dengan hasil yang mengagumkan telah dilakukan oleh A.R. Wallace pada tahun 1854-1862, yang menunjukkan adanya perbedaan nyata antara keanekaragaman hayati bagian barat dan bagian timur. Garis yang memisahkan kedua bagian ini kemudian di kenal dengan garis Wallace. Pulau Sulawesi sebagai “Jantung Wallacea” terbentuk dari campuran berbagai bagian benua yang aslinya berasal dari Asia bagian barat dan Australia bagian timur. Pulau ini merupakan pulau terbesar di kawasan Wallacea dan secara geologis paling rumit karena menjadi tempat hidup bagi fauna campuran Oriental dan Australia serta menjadi arena evolusi berbagai jenis fauna endemik. Contohnya, dari delapan jenis primata yang ditemukan di Sulawesi, seluruhnya adalah jenis endemik (Supriatna & Wahyono 2000 dalam Comalasari 2006). Taman Nasional Bantimurung bulusaraung (TN Babul) merupakan taman nasional yang penunjukkannya dilakukan oleh Menteri Kehutanan melalui SK Nomor 398/Menhut-II/2004 tanggal 18 Oktober 2004. Taman Nasional Bantimurung bulusaraung dengan luas + 43.750 ha, merupakan gabungan dari Cagar Alam (CA) Karaenta, CA Bantimurung, CA Bulusaraung, Taman Wisata Alam (TWA) Bantimurung dan TWA Pattunuang. Saat ini, TN Babul merupakan habitat yang baik bagi flora fauna maskot Propinsi Sulawesi Selatan, yaitu julang sulawesi (Rhyticeros cassidix) dan lontar (Borassus flabelliber). Keistimewaan lainnya, bahwa Bantimurung dijuluki ”Kingdom of Butterfly” oleh A.R. Wallace.

1

Tercatat setidaknya 103 jenis kupu-kupu pada tahun 1977 walaupun menurun menjadi 80 jenis pada tahun 1995, tetapi pada kawasan ini dijumpai Papilio satapses yang endemik Bantimurung. Keanekaragaman hayati yang tinggi serta berbagai jenis khas dan endemik di kawasan TN Babul, menjadikan kawasan ini menjadi penting untuk dikelola secara intensif, agar kelestariannya dapat terjaga serta dapat memberikan manfaat yang besar bagi kawasan tersebut. Oleh karena itu diperlukan data yang akurat dan terbaru mengenai potensi yang ada di TN Babul agar dapat dibuat rencana pengelolaan yang paling tepat, sehingga perlu dilakukan inventarisasi terhadap potensi yang ada. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mendapatkan data terbaru tersebut yaitu dengan melakukan praktek kerja lapang profesi. Praktek Kerja Lapang Profesi (PKLP) bagi mahasiswa Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (DKSHE) merupakan praktek lapang yang dikembangkan dalam mencapai visi, misi, dan tujuan yang telah dicanangkan oleh DKSHE. Kegiatan ini dilakukan agar mahasiswa memahami pengetahuan yang telah diperoleh dalam perkuliahan dan menambah wawasan lapang serta mengimplementasikannya dalam kegiatan pengelolaan kawasan konservasi berupa Taman Nasional, sedangkan bagi mahasiswa DKSHE, kegiatan praktek ini akan lebih mempererat kerjasama di bidang konservasi dengan instansi Taman Nasional yang selama ini sudah dilaksanakan. Dengan praktek kerja lapangan ini diharapkan dapat menghasilkan data yang dapat digunakan untuk dasar perencanaan pengelolaan kawasan selanjutnya dan dapat memberikan masukan yang positif. 1.2 Tujuan Praktek Kerja Lapang Profesi mahasiswa DKSHE dimaksudkan untuk menambah wawasan serta memenuhi kompetensinya dalam rangka meningkatkan kemampuan praktek kerja lapang di bidang konservasi. Tujuan khusus pelaksanaan kegiatan ini adalah : 1. Mengetahui pengelolaan dan struktur kelembagaan kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
2. Pengelolaan jenis kupu-kupu, burung dan mamalia di Taman Nasional

Bantimurung Bulusaraung.

2

3. Identifikasi potensi tumbuhan sebagai pakan dan habitat kupu-kupu. 4. Identifikasi pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwaliar oleh masyarakat sekitar Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. 5. Pemanfaatn jasa lingkungan (Hidrologi), dikawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung 6. Pengembangan Bulusaraung. 1.2 Manfaat Manfaat dari kegiatan Praktikum Kerja Lapang Profesi mahasiswa Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata yang akan dilakukan di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Propinsi Sulawesi Selatan adalah :
1. Dapat menghasilkan data dan informasi mengenai potensi sumberdaya

objek

wisata

di

Taman

Nasional

Bantimurung

alam hayati dan non-hayati di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung sehingga dapat digunakan untuk dasar pengelolaan yang lestari. 2. Memberikan rekomendasi pengelolaan pariwisata kupu-kupu berdasarkan data potensi dan kesesuaian habitat TN Bantimurung Bulusaraung.
3.

Menjadi media untuk mempererat kerjasama DKSHE di bidang konservasi dengan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

II. KONDISI UMUM LOKASI 2.1 Sejarah Kawasan

3

Salah satu diantara sekian banyak kawasan konservasi yang ada di wilayah Republik Indonesia, yaitu Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung seluas ± 43.750 Ha yang terletak di wilayah administratif Kabupaten Maros dan Pangkep Provinsi Sulawesi Selatan ditunjuk berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor : SK.398/Menhut-II/2004 tanggal 18 Oktober 2004. Sebelum berubah fungsi menjadi taman nasional, kawasan ini berfungsi sebagai cagar alam seluas ± 10.282,65 Ha, taman wisata alam seluas ± 1.624,25 Ha, hutan lindung seluas ± 21.343,10 Ha, hutan produksi tetap seluas ± 10.355 Ha serta hutan produksi terbatas seluas ± 145 Ha. Alih fungsi kawasan-kawasan tersebut menjadi taman nasional didasarkan atas pertimbangan bahwa kawasan tersebut merupakan ekosistem karst yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dengan jenis-jenis flora dan fauna endemik, unik dan langka, keunikan fenomena alam yang khas dan indah serta ditujukan untuk perlindungan sistem tata air. 2.2 Letak Kawasan TN Babul adalah kawasan konservasi alam di daerah Makassar yang terletak di Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep, Propinsi Sulawesi Selatan, yang memiliki luas ± 43.750 ha dengan letak geografis 4033’-5002’ Lintang Selatan dan 119038’-119057’ Bujur Timur. TN Babul termasuk dalam wilayah kerja seksi konservasi wilayah II tepatnya di Kabupaten Maros pada BKSDA Sulsel I, wilayah kerja Dinas Kehutanan Kabupaten Maros-Pangkep. TN Babul terletak di wilayah Kabupaten Maros-Pangkep dengan batas-batas wilayah sebagai berikut : • • • • Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Barru dan Bone Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Bone Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Maros Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Maros dan Pangkep

2.3 Kondisi Fisik Keadaan bentuk/topografi lapangan pada kawasan TN Babul adalah mulai daratan, perbukitan dan pegunungan. Daerah daratan dicirikan oleh bentuk topografi datar, relief rendah dan tekstur topografi halus. Daerah perbukitan dapat
4

dikelompokkan ke dalam perbukitan intrusi, perbukitan sediment dan perbukitan karst. Daerah pegunungan terletak di bagian utara, tengah dengan puncak tertinggi adalah Gunung Bulusaraung setinggi 1.300 mdpl. Kawasan TN Babul tersusun atas beberapa geologi. Formasi yang didasarkan pada ciri-ciri litologi dan dominasi batuan tersebut antara lain adalah Formasi Balang Baru, Formasi Mallawa, Formasi Tonasa dan Formasi Camba. Pada bukit kapur Maros-Pangkep terdapat dua jenis tanah yang kaya akan kalsium dan Magnesium, yaitu Rendolis dan Eutripepts. Berdasarkan data iklim yang tercatat oleh Badan Meteorologi dan Geofisika Stasiun Klimatologi Kelas I Panakukang, Maros-Sulawesi Selatan (2006), iklim Bantimurung termasuk tipe iklim C (Schmidth-Ferguson), dengan iklim basah berlangsung selama delapan bulan yaitu Oktober-Mei, bulan kering selama tiga bulan yaitu Juli-September dan bulan lembap berlangsung pada bulan Juni. Suhu udara rata-rata berkisar 26,50C-27,80C dan kelembapan udara berkisar 66%-87% (Mustari 2007). Kecepatan angin rata-rata 3 knot dan maksimum 20 knot. 2.4 Kondisi Biologi Kawasan hutan pada Kelompok Hutan Bantimurung-Bulusaraung merupakan ekosistem karst Maros – Pangkep. Kawasan ini memiliki berbagai jenis flora, antara lain bintangur (Calophyllum sp.), beringin (Ficus sp.), nyatoh (Palaquium obtusifolium), lontar (Borassus flabelliber) dan flora endemik Sulawesi yaitu kayu hitam (Diospyros celebica). Berbagai jenis satwaliar yang khas dan endemik Sulawesi dapat ditemukan di TN BaBul. Diantaranya yaitu monyet hitam (Macaca maura), kuskus sulawesi (Phalanger celebencis) dan musang sulawesi (Macrogolidia musschenbroecki). Jenis mamalia lain diantaranya yaitu rusa timor (Cervus timorensis) serta berbagai jenis kelelawar buah maupun kelelawar goa. Diantara jenis burung yang ada yaitu julang sulawesi (Rhyticeros cassidix), kangkareng sulawesi (Penelopides exarhatus), kakatua jambul-kuning (Cactua sulphurea), kakatua hijau danga (Tanycnatus sumatranus), punai (Treron sp.), serta ayam hutan (Gallus gallus). Berbagai jenis reptili yang ada yaitu ular sanca (Phyton reticulatus), ular daun, biawak (Varanus salvator) dan kadal terbang. Selain itu, terdapat berbagai jenis kupu-kupu. Diantara jenis yang terkenal adalah Papilio blumei, Papilio satapses, Troides halipton, Troides Helena dan Graphium androcles.
5

7 Keadaan Sosial . Kegiatan ini difokuskan di tiga tempat. Lokasi Pertama yaitu di Dusun Panaikang. Dalam komunikasi sehari-hari mereka menggunakan bahasa Bugis dan Makassar.1 Waktu dan Tempat METODOLOGI Praktek Kerja Lapang ini akan dilaksanakan dari tanggal 21 Februari s. akan tetapi keduanya dapat saling berkomunikasi dan saling mengerti kedua jenis bahasa tersebut. 3. Adat istiadat yang mereka laksanakan dalam kehidupan sehari-hari pun sangat dipengaruhi oleh kedua etnis tersebut.8 Aksesibilitas TN Babul terletak di Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep merupakan kawasan konservasi yang memiliki aksesibilitas cukup mudah. 21 Maret 2011 di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Kabupaten MarosPangkep Propinsi Sulawesi Selatan.d. keindahan jenis flora dan fauna serta potensi goa. Resort Bantimurung. Desa 6 .5 Potensi Wisata Kawasan TN Babul memiliki obyek wisata yang dapat dikembangkan untuk dilestarikan oleh masyarakat antara lain air terjun. Rute perjalanan dapat ditempuh dengan menggunakan transportasi darat kendaraan beroda dua ataupun beroda empat yang berjarak 30 km dari Makassar (Comalasari 2006) III. 2. Lokasi Kedua di Dusun Kampoang dan Dusun Bulu-bulu.2.Ekonomi dan Budaya Masyarakat sekitar kawasan TN Babul didominasi oleh etnis Bugis dan Makassar. Mayoritas masyarakat kawasan ini menganut agama Islam. 2. keindahan pemandangan bukit karst. Desa Kallabirang.

12. 3. Alat tulis Kalkulator Kamera Kompas Golok Tali rafia Tali tambang 8. 4. 7. 3. 9. 6.Tompobulu. 2. Pita ukur Meteran gulung Thermometer Jaring kupu-kupu GPS Binokuler 7 . 10.2 Alat dan Bahan Alat yang akan digunakan dalam praktek ini diantaranya adalah: 1. 5. 11. 13. Resort Balocci serta lokasi ketiga dilakukan di daerah wisata air terjun bantimurung.

dikawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung 6. mamalia. 3. Pengelolaan dan struktur kelembagaan kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. 8 .Bahan yang akan digunakan adalah sumberdaya alam yang ada di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung termasuk flora dan faunanya. burung dan mamalia di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Pengembangan objek wisata di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Pengelolaan jenis kupu-kupu.Selanjutnya digunakan pula alkohol dan fieldguide mengenai burung. 3. 4. 5. Pemanfaatan jasa lingkungan (Hidrologi). 2. Identifikasi potensi tumbuhan sebagai pakan dan habitat kupu-kupu. Identifikasi pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwaliar oleh masyarakat sekitar Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.3 Jenis Data dan Metode Pengambilan Data Pengambilan data difokuskan kepada enam aspek yaitu : 1. kupu-kupu serta tumbuhan.

Tabel 1 Pengambilan Data Aspek Kelembagaan dan Pengelolaan Taman Nasional No 1 Jenis Data Mandat pengelolaan • • Metode Penelusuran dokumen TN Wawancara dengan pihak TN a) Uraian Mempelajari mandat pengelolaan taman nasional berdasarkan surat keputusan penunjukan atau penetapannya dan pelaksanaan program-program yang terkait dengan mandat tersebut b) Mempelajari mandate pengelolaan global yang ada pada taman nasional c) Menganalisis permasalahan-permasalahan yang terkait dengan organisasi taman nasional a) Mempelajari bentuk organisasi pengelola taman nasional dan dasar atau kriteria penetapan organisasi tersebut b) Mempelajari struktur organisasi yang meliputi tugas dan wewenang bagian dari struktur organisasi c) Menganalisis permasalahan-permasalahan yang terkait dengan organisasi taman nasional a) Mempelajari kebutuhan dan kecukupan sumberdaya manusia pengelola taman nasional b) Menganalisis permasalahan-permasalahan yang terkait dengan sumberdaya manusia taman nasional a) Menginventarisir mitra kerja dan program-program mitra kerja taman nasional b) Menganalisis manfaat kerjasama dan dampak tehadap pengelolaan taman nasional Menginventarisir program rutin dan keproyekan dalam 5 tahun terakhir 2 Organisasi • • Penelusuran dokumen TN Wawancara dengan pihak TN 3 Sumberdaya manusia • • • • • • Penelusuran dokumen TN Wawancara dengan pihak TN Penelusuran dokumen TN Wawancara dengan pihak TN Penelusuran dokumen TN Wawancara dengan pihak TN 4 5 Mitra kerja Program rutin dan keproyekan Tabel 2 Inventarisasi Jenis Kupu-kupu dan Satwaliar Lain No Jenis Jenis Data Satwa 1 Kupu-kupu Manajemen populasi • Metode metode search timea) Uraian menginventarisasi jenis kupu-kupu dalam satuan waktu yang telah ditentukan. tidak ada batasan jarak dan luas pada setiap plot pengamatan 9 .

pentingnya satwa. 2 Burung Populasi Keanekargaman jenis Identifikasi jenis • • • • • • • • • • • • • • • 3 Mamalia Inventarsisasi jenis Identifikasi jenis Pengamatan Wawancara Studi pustaka Pengamatan Wawancara Studi pustaka Wawancara Studi pustaka Pengamatan langsung. dilindungi/tidak dilindungi. udara dan air sebagai materi yang dibutuhkan untuk kelembaban lingkungan dimana kupu-kupu tersebut hidup dan berkembang biak) b) Mengetahui vegetasi yang disukai kupu-kupu Perhitungan populasi burung menggunakan metode Indeks Point of Abundance (IPA). Inventarisasi mamalia dilakukan dengan menggunakan metode strip transect dan Rapid assesment. 10 . pentingnya satwa. status populasi.Manajemen habitat • metode search time- a) Mengetahui komponen habitat yang paling penting bagi kehidupan kupukupu (cahaya. Pengamatan Wawancara Studi pustaka Wawancara Studi pustaka Pengamatan langsung. Analisis deskriptif tentang kondisi tipe-tipe ekosistem yang ada di dalam kawasan Taman Nasional. status populasi. Metode ini mencatat data jenis mamalia yang ditemukan selama berada di lokasi pengamatan Identifikasi jenis satwa target. dilindungi/tidak dilindungi. Keanekaragaman jenis burung dilakukan dengan metode indeks keragaman shanon wienner. Identifikasi jenis satwa target. Tabel 3 Identifikasi Potensi Tumbuhan sebagai Pakan dan Habitat Kupu-kupu No Jenis Data Metode 1 Tipe-tipe ekosistem • Penelusuran dokumen • Wawancara pihak pengelola • Verifikasi data di lapangan 2 Kondisi masing-masing • Penelusuran dokumen ekosistem di berbagai zona • Wawancara pihak pengelola Uraian Analisis deskriptif mengenai tipe-tipe ekosistem yang ada di dalam kawasan Taman Nasional.

penggunaan dan harga jenis yang dimanfaatkan c) Identifikasi kebijakan perizinan pemanfaatan jenis a) Identifikasi jenis-jenis yang sering dimanfaatkan b) Kebijakan terkait kuota pemanfaatan Tabel 5 Penyedia Jasa Lingkungan Hutan No Jenis Data Data yang diambil 1 Data hidrologi • Volume • Kecerahan • Debit Metode Obeservasi lapang dan pengambilan data sekunder.3 4 Bentuk gangguan terhadap ekosisitem Identifikasi tumbuhan potensi • • • • • • • Verifikasi data di lapangan Penelusuran dokumen Wawancara pihak pengelola Verifikasi data di lapangan Penelusuran dokumen Wawancara pihak pengelola Verifikasi data di lapangan Analisis mengenai gangguan terhadap masing-masing tipe ekosistem pada berbagai zona di kawasan Taman Nasional Mengidentifikasi potensi tumbuhan yang berada di dalama kawasan Taman Nasional yang dapat berfungsi sebagai habitat dan pakan kupu-kupu. meliputi : • Latar belakang pelaku yang memanfaatkan • Tujuan pemanfaatan jenis oleh pelaku a) Sosial budaya pelaku yang memanfaatkan a) Identifikasi bentuk pemanfaatan jenis yang pernah/sedang dan yang akan dilakukan b) Mengetahui jumlah. Tabel 4 Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwaliar In situ No Jenis Data Metode 1 Pelaku pemanfaatan jenis • Studi pustaka • Wawancara dengan pihak terkait • Observasi lapang 2 Bentuk atau pemanfaatan cara • • • 3 Jenis-jenis dimanfaatkan yang • • • Studi pustaka Wawancara dengan pihak terkait Observasi lapang Studi pustaka Wawancara dengan pihak terkait Observasi lapang pihak- pihak- pihak- Uraian a) Menganalisis pelaku-pelaku yang memanfaatkan jenis flora dan fauna. 11 . musim/waktu.

• Erosi Tabel 6 Pengambilan Data Aspek Manajemen Ekowisata No Jenis Data Metode 1 Manajemen pengunjung • Wawancara Observasi lapang Penelusuran dokumen TN 2 Manajemen sumberdaya • Wawancara • Observasi lapang Penelusuran dokumen TN • • Wawancara • Observasi lapang Penelusuran dokumen TN • 3. Manajemen ekowisata pelayanan Uraian Sistem informasi pada pengunjung Penyebaran pengunjung Interpretasi pada pengunjung Keselamatan pengunjung Pengelolaan Ekosistem wisata Pengelolaan obyek-obyek ekowisata yang ada Pengelolaan jalur ekowisata yang ada Pengelolaan tapak ekowisata yang ada Perencanaan kawasan dan tapak Pengelolaan bahaya dan dampak Kerjasama dengan para pihak Kompetensi Sumberdaya Manusia Sarana dan Prasarana Pendukung ekowisata 12 .

13 .

maka digunakan klasifikasi nilai indeks keanekaragaman Shanon-Wieners seperti tabel I berikut: Tabel 7 Klasifikasi nilai indeks keanekaragaman Shanon-Wiener Nilai indeks Shanon-Wiener >3 1–3 <1 • Kategori Keanekaragaman tinggi. penyebaran jumlah individu tiap spesies rendah dan kestabilan komunitas rendah Kemerataan Jenis Shannon- Indeks kemerataan jenis (evenness) digunakan untuk mengetahui gejala dominansi diantara spesies dalam suatu komunitas.4.1 Kelembagaan dan pengelolaan Taman Nasional Data tentang kelembagaan dan pengelolaan Taman Nasional yang didapatkan dari wawancara dan studi pustaka diolah dan ditelaah secara deskriptif. penyebaran jumlah individu tiap spesies tinggi dan kestabilan komunitas tinggi Keanekaragaman sedang. antara lain: 3.4 Analisis Data Analisis data yang dilakukan sesuai dengan aspek data yang diambil.3.2 Manajemen satwaliar in-situ • Indeks keanekaragaman jenis (H’) Ludwig dan Reynold (1998) dalam Irianto (2004) menyatakan bahwa keanekaragaman jenis ditentukan dengan menggunakan indeks keanekaragaman Shannon–Wiener dengan rumus : H’= -∑pi ln pi. dimana pi = Keterangan : H’ = Indeks keanekaragaman Wiener ni = Jumlah individu setiap jenis N = Jumlah individu seluruh jenis pi = Kelimpahan setiap jenis Untuk menentukan keanekaragaman jenis kupu-kupu.4. Persamaan yang digunakan adalah: keterangan: 14 . 3. penyebaran jumlah individu tiap spesies sedang dan kestabilan komunitas sedang Keanekaragaman rendah.

studi pustaka. studi pustaka. Data yang diperoleh dari hasil wawancara. Sebaliknya apabila nilai evenness tersebut kecil maka dalam komunitas tersebut terdapat jenis dominan.E = Indeks kemerataan jenis (0 – 1) H’ = Indeks Shannon S = Jumlah jenis Dari hasil ini dapat dinyatakan bahwa apabila setiap jenis memiliki jumlah individu yang sama. Psi= ni/N x 100% 3. dan observasi langsung ke lapangan diolah dan dianalisis secara deskriptif. digunakan persamaan Persentase Kelimpahan Relatif (Brower & Zar.4. 1997): keterangan : Psi = Nilai persen kelimpahan jenis ke-i n = Jumlah individu jenis ke-i N = Jumlah individu total 3. Persamaan untuk menemukan jumlah kekayaan jenis adalah : Dmg=S-1ln(N) Keterangan : Dmg = Indeks Margalef N S • = Jumlah Individu seluruh jenis = Jumlah jenis mamalia Kelimpahan jenis relatif Untuk mengetahui kelimpahan jenis relatif. sub dominan dan jenis tidak dominan. dan observasi langsung ke lapangan diolah dan dianalisis secara deskriptif. Data yang diperoleh dari hasil wawancara. maka komunitas tersebut mempunyai nilai evenness maximal.4. 15 .1 Pemanfaatan spesies satwaliar in-situ. • Indeks Kekayaan Jenis Kekayaan jenis mamalia dihitung dengan menggunakan metode Margalef (Ludwig & Reynolds.4 Manajemen jasa lingkungan hutan. 1998).

buatan. Analisis data secara kuantitatif dihitung secara terpisah menurut sumber air. b. Persentase lebar masing-masing sumber air diperoleh melalui rumus: % lb=Rataaan lebar satu jenis sumber air (meter) Total lebar satu jenis sumber air x 100% h. d. Persentase kedalaman masing-masing sumber air diperoleh melalui rumus: 16 . Lebar sumber air diperoleh melalui rumus: lb = ∑ lb satu jenis sumber air (meter) Rataan lebar (lb) sumber air diperoleh melalui rumus: Rataan lb= Total lebar satu jenis sumber air air (meter)Jumlah satu jenis sumber air g. Rumus yang digunakan. f. Data tersebut diperoleh melalui kegiatan pengukuran langsung maupun tidak langsung (wawancara pengelola). Kedalaman (dl) sumber air diperoleh melalui rumus: dl = ∑ dl satu jenis sumber air (meter) Rataan kedalaman sumber air diperoleh melalui rumus: Rataan dl= Total kedalaman satu jenis sumber air air (meter)Jumlah satu jenis kedalaman sumber air j.• Analisis Hidrologi Data yang diambil dari aspek air meliputi jenis sumber air (alami. yaitu: a. Menghitung kecepatan (v) air adalah : Kecepatan air (v)= Panjang lintasan air (meter)Waktu (sekon) Total kecepatan air = ∑ kecepatan air masing-masing sumber air (meter). Rataan kecepatan diperoleh melalui rumus: Rataan v= Total kecepatan air air (meter)Rataan waktu (sekon) Persentase kecepatan air masing-masing sumber air diperoleh melalui rumus: %v=Rataaan Kecepatan satu jenis sumber air (ms) Total rataan sumber air x 100% e. i. c. Pengukuran kecapatan air dilakukan dalam 3 kali ulangan menurut masing-masing sumber air. Analisis data aspek air dilakukan secara kuantitatif dan deskriptif. karakteristik air (debit volume. kejernihan dan kondisi secara umum) dan pengelolaan air. asal sumber air).

% lb=Rataaan kedalaman satu jenis sumber air Total kedalaman satu jenis sumber air x 100% k. l. Persentase Q masing-masing sumber air % Q=Rataaan Q satu jenis sumber air Total Q satu jenis sumber air x 100% s. Metode skoring 17 . Persentase ls masing-masing sumber air % ls=Rataaan ls satu jenis sumber air Total ls satu jenis sumber air x 100% o. m. Luas penampang air (ls) diperoleh melalui rumus: Ls= lb (meter) x dl (meter) Total luas penampang Total ls= ∑ luas penampang masing-masing sumber air (m2). p. 3.4. Rataan debit air (Q) Rataan Q = Total Q masing-masing sumber air (m3/s)Jumlah satu jenis Q sumber air r. q.5 Potensi Wisata Alam di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Data yang diperoleh mengenai potensi wisata alam di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang telah diperoleh kemudian diolah dan dianalisis dengan dua metode. Persentase kondisi sumber air % kondisi=jumlah sumber air yang baik atau rusak atau terganggaujumlah seluruh sumber air yang diamati x100% Analisis secara deskriptif dilakukan dengan untukmenggambarkan kondisi masing-masing sumber air dan hasil wawancara mengenai pengelolaan yang mencakup aspek air. Rataan luas penampang (ls) Rataan ls = Total ls masing-masing sumber air (m2)Jumlah satu jenis ls sumber air n. Debit air (Q) masing-masing sumber air Q (m3/s) = v (m/s) x ls (m2) Total debit air (Q) Total Q=∑ Q masing-masing sumber air (m3/s). yakni: 1.

dan pengaturan pengunjung. Metode Deskriptif 18 . daya dukung kawasan. Setiap lokasi objek wisata yang teridentifikasi diberikan nilai untuk setiap unsur kriteria penilaian yang kemudian dijumlahkan untuk setiap kriteria penilaian. kondisi sekitar kawasan. keamanan. aksesibilitas.Metode skoring yang digunakan dalam praktek ini merupakan modifikasi dari penilaian potensi-potensi wisata yang dianalisis dengan menggunakan Pedoman Analisa Daerah Operasi dan Daya Tarik Wisata Alam (ADOODTWA) tahun 2003 dari Direktur Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (Dirjen PHKA). potensial. yang terdiri dari daya tarik. untuk setiap lokasi objek wisata dilakukan penilaian kelayakan pengembangan wisatanya yang dikelompokkan ke dalam kategori-kategori kurang potensial. hubungan dengan objek wisata lain di sekitar Taman Nasional. dan sangat potensial dengan menggunakan persamaan (Dirjen PHKA 2003): S maks – S min K Keterangan: = Selang Selang S maks K = Nilai selang dalam penetapan selang klasifikasi = Nilai skor tertinggi = Banyaknya klasifikasi penilaian S min = Nilai skor terendah 2. Jumlah nilai-nilai unsur pada kriteria penilaian kemudian dikalikan dengan bobot nilainya untuk mendapatkan skor setiap lokasi objek wisata (Dirjen PHKA 2003): S=NxB Keterangan : S N B = Skor atau nilai = Jumlah nilai unsur-unsur pada kriteria penilaian = Bobot nilai Setelah itu. sarana.

Metode deskriptif merupakan gambaran mengenai potensi wisata di Taman Nasional Sebangau (Kelurahan Kereng Bangkirai) sehingga diperoleh identifikasi potensi wisata yang dapat digunakan sebagai gambaran pengembangan jenis wisata di lokasi tersebut.03/Menhut-II/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Taman Nasional yang kemudian menjadi dasar pengelolaan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung saat ini. IV.1.1. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung secara efektif baru beroperasional melaksanakan tugas-tugas kepemerintahan dan pembangunan sejak April 2007 karena personil dan sarana prasarana pendukungnya baru tersedia pada saat itu. Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara Republik Indonesia menyetujui usulan pembentukan unit kerja pengelola Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dan kemudian ditindaklanjuti oleh Menteri Kehutanan dengan membentuk Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung beserta 15 balai taman nasional baru lainnya. Kelembagaan Setelah penunjukan kawasan. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung adalah organisasi pelaksana teknis pengelolaan taman 19 . Menteri Kehutanan Republik Indonesia menerbitkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P. pemangkuan dan pengelolaan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung untuk sementara dilaksanakan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan I berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor : SK. Pada tahun 2006.1Kelembagaan dan Pengelolaan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung 4. Pada tanggal 1 Februari 2007. Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.29/Menhut-II/2006 tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 6186/Kpts-II/2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Taman Nasional. Walaupun telah ditetapkan pengelolanya dan diserahterimakan pengelolaannya sejak November 2006.140/IV/Set-3/2004 tanggal 30 Desember 2004.

penyusunan rencana kegiatan. Pengembangan dan pemanfaatan jasa lingkungan dan pariwisata alam. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menyelenggarakan fungsi sebagai berikut : 1. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menetapkan visi pengelolaan yang difokuskan pada pemantapan prakondisi pengelolaan kawasan yang didukung oleh kelembagaan yang mantap menuju keseimbangan dan keserasian. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung bertugas melakukan penyelenggaraan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dan pengelolaan kawasan taman nasional berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. pemantauan dan evaluasi pengelolaan kawaan taman nasional. kekuatan. 10. perlindungan dan pengamanan kawasan taman nasional. Penataan zonasi. Pengelolaan kawasan taman nasional. hambatan dan kelemahan yang ada.1. Penyidikan. Dalam melaksanakan tugas tersebut. meskipun masih ada beberapa sasaran yang belum tercapai secara optimal. Pengembangan bina cinta alam serta penyuluhan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Pengendalian kebakaran hutan.1. 7. maka 20 . Kerja sama pengembangan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya serta pengembangan kemitraan. 4.nasional setingkat Eselon III pada Kementerian Kehutanan yang berada di bawah dan bertanggung jawab secara langsung kepada Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. 8. Misi dan Tujuan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Pada awal pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya. Pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan taman nasional. 3. 2. Promosi dan informasi konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. 9. Visi yang dituangkan dalam Rencana Strategis 2007-2009 ini dapat direalisasikan dengan cukup baik. 6. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.1 Visi. Melanjutkan capaian kinerja pengelolaan hingga tahun 2009 dan dengan mempertimbangkan peluang. 5. 4.

Sehingga masih adanya peran ganda dalam pelaksanaan tugas dan wewenang.ditetapkan visi Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung periode 20102014. Dalam langkahnya untuk mewujudkan visi yang telah ditetapkan. SK. 4. Memantapkan status hukum kawasan dan pengelolaan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. mandiri dan akuntabel untuk menjamin kelestarian produksi dan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. perlindungan dan pemanfaatan sumber daya alam hayati 21 . 3. 2. Memantapkan perlindungan hutan dan penegakan hukum. Tujuan pengelolaan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung secara umum dari tahun ke tahun adalah melakukan pengelolaan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. 4.2 Organisasi Struktur organisasi yang terdapat di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung ditetapkan berdasarkan Keputusan Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dengan No. Dengan demikian. ditetapkan misi pengelolaan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung sebagai berikut : 1. Mengembangkan secara optimal pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berdasarkan prinsip kelestarian. hal tersebut dapat diantisipasi dengan peningkatan kualitas para pengelola melalui manajemen SDM (Sumber kelembagaan dan kemitraan dalam rangka pengelolaan. Namun.1. Pelaksanaan tugas dan wewenang serta permasalahan yang ada terkait pengorganisasian dapat berjalan lancar walaupun dengan kuantitas yang minim (75 orang sudah termasuk pegawai kontrak). yaitu Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung sebagai sarana rekreasi dan edukasi masyarakat yang dikelola secara profesional. Mengembangkan dan ekosistemnya. 01/BTNBABUL-1/2011 tentang struktur organisasi dan penempatan personil Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. diperlukan misi sebagai bentuk nyata implementasinya yang dilaksanakan secara berjenjang sebagai gambaran tentang tahapan pelaksanaan.1.

sehingga di masa yang akan datang.1.1 Tata Batas dan Zonasi Kawasan Proses pengukuhan kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung belum terselesaikan hingga penetapan kawasan. Melalui pengadaan literatur serta pendelegasian pada beberapa kegiatan seputar keanekaragaman hayati.1. yaitu mekanisme pengaliran tugas sesuai tugas pokok dan fungsi (Tupoksi). dapat dikatakan cukup baik. Jumlah yang minim tidak menjadi hambatan apabila etos kerja terus ditingkatkan. Batas-batas tersebut sudah banyak yang rusak. yaitu Enclave Pattanyamang.2. Enclave Bonto Marannu dan Enclave Minggi. potensi dan tata batas kawasan.Daya Manusia) yang baik. 4. biasanya dilakukan dengan melihat hasil evaluasi capaian kerja terakhir dan saran yang telah ada sebelumnya. mengingat kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang luas serta merupakan Taman Nasional baru yang masih banyak diperlukan data potensi kawasan dan data dasar lainnya.2 Pengelolaan Program utama pengelolaan taman nasional yaitu konservasi dan perlindungan keanekaragaman hayati. Sebagian besar batas luar dan batas enclave kawasan meupakan hasil pelaksanaan tata batas pada tahun 1980-an. Personil di lapangan lebih banyak dibutuhkan daripada di kantor. Pengetahuan secara personal pada setiap pengelola Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung terkait konservasi. Dalam melakukan perencanaan pengelolaan kawasan agar terlaksana dengan baik. 4. Sejak penetapan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. direncanakan untuk melaksanakan pemeliharaan batas agar status hukum kawasan dan bukti-bukti fisiknya di lapangan dapat tetap terjaga. taman nasional. pengembangan yang ada dapat dikategorikan cukup baik. Ketiga kawasan enclave tersebut telah ditata batas hingga temu gelang. Di dalam kawasan ini terdapat 3 areal enclave. Mengingat baru 4 (empat) tahun silam taman nasional ini efektif beroperasional. Semua program yang direncanakan dapat terealisasi walaupun output yang dihasilkan tidak semuanya mencapai 100% karena hambatan yang ada. 22 .

70 km. Oleh karenanya masih diadakan sosialisasi. telah dilakukan pemancangan batas sementara pada sisa panjang batas yang belum ditata batas yaitu sepanjang batas yang belum ditata batas yaitu sepanjang 45. Pengakuan kawasan oleh para pihak lainnya yang berada jauh dari lokasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung belum sepenuhnya mengetahui akan keberadaan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Penataan batas luar/batas fungsi kawasan yang direncanakan selesai/temu gelang pada tahun 2010 ini. kemudian dirancang zonasi kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. zona pemanfaatan dan zona lainnya (tradisional. Rancangan zonasi yang telah dibuat telah disosialisasakan kepada publik sampai tingkat kecamatan.52 km atau 90. zona rimba. karena tidak adanya hak milik. Permasalahan terkait zonasi yang masih belum diselesaikan adalah di Desa Tallasa.22 km. Pemancangan batas definitif yang telah dilengkapi dengan Berita Acara Tata Batas baru sepanjang 432. 2009. Pada tahun 2009. pada kawasan Taman Nasional 23 .d. khusus dan rehabilitasi). ternyata belum bisa terealisasikan hingga 100%. Untuk kebutuhan tersebut. Masyarakat di desa tersebut tidak bersedia apabila lahan tempat tinggal mereka dijadikan zona khusus. 4.1. Dalam rangka peningkatan efektifitas perlindungan dan pengamanan kawasan.44 % dari keseluruhan panjang batas sepanjang 478.2 Pengembangan Sarana dan Prasarana Untuk kepentingan efektifitas pengelolaan kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dibutuhkan setidaknya 1 (satu) unit kantor balai taman nasional berukuran 600 m2 dan 2 (dua) unit kantor seksi pengelolaan taman nasional wilayah yang berukuran 400 m2.2. religi. Pada tahun 2011 rencananya akan sampai pada tingkat kabupaten dan propinsi. Dari hasil rekonstruksi tata batas. Zona yang direncanakan berupa zona inti. dibutuhkan pula pos-pos jaga pengamanan hutan di sekeliling kawasan. Karena pengelolaan kawasan taman nasional dilakukan hingga kepada unit-unit terkecil maka telah dibentuk 7 (tujuh) resort taman nasional yang keseluruhan juga membutuhkan pondok kerja masingmasing berukuran 70 m2.Rekonstruksi tata batas dilaksanakan pada tahun 2007 s.

Setiap tahunnya pengelola mengadakan binaan pada lokasi desa yang berbeda. Pengelola bersama-sama dengan masyarakat ikut berupaya menuju desa konservasi. upaya pengamanan dan perlindungan kawasan dibantu oleh empat orang Tenaga Pegawai Tidak Tetap (TPHL) yang masing-masing berada di SPTN Wilayah I dan II serta direkrut dari masyarakat sekitar kawasan. bahkan apabila memungkinkan dapat dijadikan prioritas. ada beberapa desa binaan. Dengan demikian. 4. yaitu Desa Samanggi dan Desa Pattanyamang. Pendidikan konservasi bagi masyarakat dapat dilakukan melalui berbagai wadah.4 Kerja Sama Partisipasi masyarakat sejauh ini terkait diinisiasikannya zonasi yang belum ditetapkan adalah ikut melaksanakan aturan setiap zona dan memberi usulan yang membangun bagi kelestarian zona tersebut. Upaya untuk menjadikan pendidikan konservasi sebagai muatan lokal pada program pendidikan dasar dan menengah adalah suatu hal yang penting untuk dilakukan. maka upaya konservasi tidak hanya 24 . Selain itu pula.2. maka penguatan sumber daya perlu dilakukan sampai ke tingkat resort.3 Perlindungan dan Pengamanan Hutan Salah satu upaya preventif lain yang dilakukan dalam rangka perlindungan dan pengamanan kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung adalah patroli di dalam dan sekitar kawasan serta penjagaan pada tempat-tempat strategis. Untuk keperluan perlindungan dan pengamanan kawasan. Kegiatan ini dilaksanakan oleh seluruh personil yang tersedia dan tersebar sampai ke resort pengelolaan. Personil yang tersedia untuk keperluan perlindungan dan pengamanan kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung masih sangat terbatas apabila dibandingkan dengan kebutuhan yang sebenarnya di lapangan.2. yang telah berhasil dibina.1.Bantimurung Bulusaraung dibutuhkan sedikitnya 10 (sepuluh) unit pos jaga pengamanan hutan. Pengelolaan lainnya terangkum dalam wadah kerja sama tapi belum berjalan efektif.1. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung secara bertahap berupaya untuk memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana perlindungan hutan tersebut. Untuk kepentingan ini pula. Mengatasi keterbatasan tersebut. 4.

Untuk itulah kemudian diperlukan upaya pembentukan kader konservasi serta pembinaan kalangan pecinta alam. dan dengan demikian maka pelaksanaan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya tidak hanya menjadi bagian dari tanggung jawab pemerintah. namun dari segi kualitas daya dukung dapat dikatakan menjadi kurang baik. Pengembangan kerjasama dengan lembaga penelitian dan perguruan tinggi juga perlu dirintis dengan baik agar kontinuitas kegiatan penelitian dan pengembangan di dalam kawasan dapat berjalan dengan baik. Pendidikan konservasi bagi masyarakat lokal menjadi esensial peranannya dan perlu diupayakan terus-menerus. Kader-kader konservasi dan pecinta alam ini akan turut menyuarakan pentingnya konservasi secara mandiri.dilaksanakan oleh pengelola kawasan konservasi melainkan juga menjadi bagian yang terintegrasi di dunia pendidikan. Dalam hal ini pengelolaan Taman Wisata Alam (TWA) Bantimurung yang dikelola Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mengalami kepadatan pengunjung. sebelumnya harus dibuat Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK) yang membahas metode. Pengelolaan kolaboratif dengan Pemerintah Daerah (Pemda) menguntungkan dari segi penambahan kuantitas. Jika memungkinkan. pendidikan konservasi bagi masyarakat ini dilakukan sejak usia dini sehingga kesadaran konservasi dan pentingnya pengelolaan lingkungan yang baik sudah menjadi bagian dari hidup generasi bangsa ini. Hasil penelitian yang telah dilaksanakan diserahkan kepada perpustakaan sebanyak 1 (satu) rangkap sebagai media publikasi dan dokumentasi. Penelitian yang akan dilakukan sebagai program yang telah direncanakan. Selain itu dilakukan presentasi hasil 25 . dimana sirkulasi pengunjung di tempat wisata tersebut tidak diatur dan dikelola dengan baik sesuai daya dukung yang ada. Metode lain yang dapat ditempuh untuk memasyarakatkan upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya adalah dengan membentuk kader-kader penggerak upaya konservasi di kalangan masyarakat. Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung juga melakukan penelitian keanekaragaman hayati. tim pelaksana kegiatan dan data yang akan diambil beserta rencana anggaran biaya yang diperlukan.

Kondisi riparian adalah daerah terbuka hasil sedimentasi yang membentuk daratan dengan struktur batuan sungai di bagian pinggir. kemudian berupa pasir dan hutan pada daerah tertutup. Beberapa jenis tumbuhan yang ditemukan diantaranya adalah tempuyung (Sonchus arvensis).2.1 Hutan Riparian Habitat riparian di Panaikang memiliki komposisi vegetasi yang umumnya terdiri atas semak-semak dan pepohonan dengan tajuk agak terbuka. asam (Tamarindus indica) dan bingkuru (Morinda brancteae).kegiatan. Gambar 2 Jalur pengamatan pada habitat riparian. Habitat ini berada di pinggiran sungai berpasir dengan aliran air yang cukup deras dan jernih berasal dari hutan yang masih tertutup rapat di sekitarnya. 4. Setiap jalur pengamatan merupakan perwakilan dari tipe habitat berbeda dengan ciri khas berdasarkan komposisi floranya. Kedua tipe habitat tersebut adalah: 4.2 Manajemen Satwaliar In-situ 4.1 Kondisi habitat Secara umum kegiatan inventarisasi keanekaragaman satwaliar di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) dibagi atas dua jalur pengamatan.1. 26 .2. dimasukkan ke dalam website dan ditulis untuk media publikasi berupa jurnal.

jambu biji (Psidium guajava). Didominasi oleh pohon tinggi hasil suksesi sehingga sinar matahari sulit menembus hingga tanah menyebabkan lantai hutan bersih. Hutan sekunder yang dimaksud adalah hutan yang pernah mengalami gangguan disebabkan perambahan. Beberapa spesies tumbuhan diantaranya adalah sirih hutan (Piper sp).2 Hutan Sekunder Topografi hutan sekunder relatif bervariasi dari datar hingga curam dengan kondisi tutupan vegetasi rapat.4. 4.2. beberapa mamalia juga diidentifikasi berdasarkan hasil wawancara dengan penduduk yang tinggal di sekitar kawasan kawasan TNBB adalah Tarsius spectrum dan kuskus sulawesi (Strigocuscus celebensis). Selain dari hasil pengamatan. Beberapa jenis mamalia tersebut diperolah pada tipe habitat reparian skunder.2.2 Mamalia 4. jeruk bali (Cytrus maxima) dan Mangga hutan (Mangifera sp). Habitus lainnya yang ditemukan selain pohon berupa liana dan perdu. Ketinggian lokasi pengamatan 200-250 mdpl.1 Keanekaragamn Jenis Mamalia Berdasarkan hasil inventarisasi mamalia yang dilakukan di Dusun Panaikang Desa Kalabbirang. Resort Bantimurung Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TNBB) diperoleh 4 jenis mamalia. Gambar 3 Jalur pengamatan di hutan sekunder. Jenis mamalia yang ditemukan di tempat ini relatif sedikit karena 27 .2.1. Jenis-jenis mamalia yang diindentifikasi pada jalur pengamatan yakni monyet sulawesi (Macaca maura) dan babi sulawesi (Sus celebensisi) yang diidentifikasi melalui jejak kaki serta kubangan.2.

Sedangkan terdapat satu spesies diidentifikasi melalui jejak yakni babi sulawesi (Sus celebensis). Jenis Mamalia Nama Latin Jenis Identifikasi Famili Phalangeridae Kuskus sulawesi Famili Suidae Babi hutan sulawesi Famili Tarsiidae Tarsius Famili Cerchopitechidae Monyet dare Macaca maura Langsung Tarsius spectrum Wawancara Sus celebensis Jejak Strigocuscus celebensis Wawancara Sedangkan identifikasi yang dilakukan di Dusun Kampoang Desa Tompobulu. Tabel 8 Jenis Mamalia di Dusun Panaikang Desa Kalabbirang No. Selain itu terdapat dua jenis mamalia yang diidentifikasi melalui wawancara yakni rusa timor (Cervus timorensis) dan Tarsius tarsier. sehingga pengetahuan mengenai keberadaan satwa lebih banyak pula. tiga diantaranya temukan secara langsung yakni bajing tiga warna (Callosciurus prevosti pluto). Dari enam jenis mamalia tersebut terdapat empat jenis mamalia yang ditemukan di dalam jalur pengamatan.dapat dipengaruhioleh aktivitas manusia. Resort Balocci dapat diidentifikasi sebanyak enam jenis mamalia. Menurut Alikodra (2010) ancaman terhadap satwa dikarenakan jumlah manusia yang semakin bertambah dalam pemanfaatan lahan. tenggalung malaya (Viverra tengalunga). dan monyet sulawesi (Macaca maura). Tabel `9 Jenis Mamalia di Dusun Kampoang Desa Tompobulu 28 . Sedangkan dari hasil wawancara cukup banyak diidentifikasi karena pada umumnya masyarakat sekitar mengenal kondisi kawasan lebih banyak.

Jenis Mamalia Famili Sciuridae 1.No. 4. Bajing tiga warna Famili Viverridae 2. keanekaragaman mamalia di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung terdapat dua belas jenis mamalia. 2. Rusa timor Famili Suidae 4. 3. Monyet dare Nama Latin Jenis Identifikasi Callosciurus prevostii pluto Langsung Viverra tangalunga Langsung & Jejak Cervus timorensis Wawancara Sus celebensis Jejak Tarsius spectrum Wawancara Macaca maura Langsung Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian di atas dan data dari beberapa sumber yang telah ada yakni RPTN Bantimurung Bulusaraung (2007) dan Himakova (2007). Babi hutan sulawesi Famili Tarsiidae 5. 5. 1. Viverridae Famili Soricidae Sciuridae Jenis Mamalia Munggis rumah Bajing Kelapa Bajing tiga warna Tenggalung Malaya Musang Luwak Musang sulawesi Nama Latin Suncus murinus Callosciurus notatus Callosciurus prevostii pluto Viverra tangalunga Paradoxurus hermaphroditus Macrogalidia musschenbroekii 29 . Tenggalung Malaya Famili Cervidae 3. 6. Jenis Mamalia di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung No . Tarsius Famili Cerchopitechidae 6. Tabel 10.

1.33 dan 1. dan monyet sulawesi (Macaca maura). 11. 8. Dari hasil penelitian yang dilakukan indeks keanekaragaman di Dusun Panaikang dan Dusun Kampoang mencapai nilai 1. diantaranya adalah musang sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii).7. perlu adanya pengelolaan 30 . karena terdapat beberapa ekosistem yang memiliki keanekaragaman jenis yang rendah namun berada pada kondisi yang stabil. Keanekaragaman jenis mamalia tergolong sedang ini dikarena dengan kondisi habitat yang dipengarungi oleh kawasan kars. penyebaran jumlah individu tiap spesies sedang dan kestabilan komunitas sedang. Tarsius spectrum. Keanekaragaman jenis merupakan suatu karakteristik tingkatan komunitas berdasarkan organisasi biologinya yang dapat digunakan untuk menyatakan struktur komunitas (Soegianto. Untuk itu. dalam hal ini habitat masih cenderung stabil karena tidak terdapat gangguan habitat secara signifikan. Phalangeridae Phalangeridae Cervidae Suidae Tarsiidae Cerchopitechidae Kuskus sulawesi Kuskus beruang Rusa timor Babi hutan sulawesi Tarsius Monyet sulawesi /Dare Strigocuscus celebensis Ailurops ursinus Cervus timorensis Sus celebensis Tarsius spectrum Macaca maura 4. Nanum. Hal ini. Namun. 12. yang dipengarungi oleh tajuk kurang rapat serta banyak didominasi oleh vegersi yang dominan. 1994).1 Dominansi. 10. Indeks Keanekaragaman dan Indeks Kemerataan Jenis Mamalia Keanekaragaman jenis mamalia di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung perlu dipertahankan. karena memiliki indeks keanekaragaman sedang namun memiliki jenis yang endemik sub Sulawesi. 9. kuskus sulawesi (Strigocuscus celebensis). yakni keanekaragaman sedang. tidak semua ekosistem ditentukan oleh adanya keanekaragaman hayati yang tinggi. Keadaan stabil dapat dipengarungi oleh transfer energi dan materi dapat berjalan dengan lancar.2. akan mencipkan ekosistem yang stabil (Ludwig dan Reynold 1998). Berdasakan Shanon-Wiener yang menyatakan nilai indeks >1 dan <3 merupakan keanekaragaman jenis sedang. babi sulawesi (Sus celebensis).02.

Mamalia yang dikenal sensitif terhadap gangguan. nilai kemerataan juga perlu diperhitungkan.96 dan 0. maka keanekaragaman genetika yang terdapat dalam setiap jenis yang memberi kemampuan bagi jenis tersebut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya juga hilang. Karena dari ketersedian habitat masih cukup baik. mencegah terjadinya pencemaran. akan menghindar jika ganguan dari luar. Gambar 10. Dari hasi penelitian yang dilakukan di lokasi. setiap jenis 31 . Kondisi baik ini karena masih minim adanya gangguan oleh manusia. Nilai indeks kemeratan merupakan ukuran keseimbangan kearah suatu komunitas satu dengan yang lainnya. 1988). Seperti tersedianya air yang cukup melimpah. sumber-sumber garam mineral. seperti aktivitas manusia di dalam kawasan (Alikodra 2002). Menurut Alikodra (2010) pengelolaan habitat dapat dilakukan dengan mengatur produktivitas makanan. maka keseimbangan komunitasnya juga akan semakin tinggi. Gangguan dari aktivitas manusia lama kelamaan dapat menimbulkan hilangnya keanekaragaman hayati. tempat-tempat berlindung satwa. Hal ini. Gangguan tempat berlindung merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan mamalia. Nilai ini dipengaruhi oleh jumlah jenis yang terdapat dalam suatu komunitas ( Ludwig and Reynolds. pakan masih stabil.57.habitat yang lestari untuk menjaga kestabilan lingkungan. sumber-sumber air. Nilai kemerataan menunjukan besarnya kemerataan suatu jenis mamalia di suatu area. Semakin tinggi nilai keanekaragaman jenis di suatu habitat. Oleh karena itu. Apabila populasi tumbuhan dan hewan di suatu tempat sudah habis. Kondisi kemerataan di dua lokasi tersebut masih tergolong baik. serta mencegah kerusakan yang diakibatkan faktor lain. menunjukkan bahwa kemerataan jenis mamalia di Dusun Panaikang tergolong tinggi. sedangkan di Dusun Kampoang tergolong sedang. serta kondisi cover yang masih baik. Selain nilai kekayaan dan keanekaragaman jenis. Hilangnya keanekaragaman hayati tidak hanya berdampak pada punahnya salah satu jenis saja. diketahui bahwa nilai kemerataan di Dusun Panaikang dan Dusun Kampoang bernialai 0. Index keanekaragaman dan index kemerataan mamalia di Dusun Panaikang dan Dusun Kampoang.

41 Tahun 1999 tentang kehutanan 3. Tabel 11. Disamping itu. terdiri dari 9 Famili dan 7 Ordo. dan 1 Spesies Genting (endangered = EN). Aturan perundang-undangan tersebut adalah sebagai berikut.perlu dijaga kelestariannya agar tidak terjadi kepunahan misal terhadap makhluk hidup. Konvensi Keanekaragaman Hayati. Peraturan pemerintah RI No. 7 Tahun 1999. 3 Jenis termasuk dalam Appendix II CITES. Munggis rumah Famili Sciuridae 2. pemerintah Indonesia telah menetapkan beberapa aturan perundang-undangan dalam mendukung upaya konservasi sumberdaya alam dan kehutanan. Kelima konvensi tersebut antara lain Konvensi RAMSAR. dan Konvensi Bio-safety (Noerdjito et al 2005). Indonesia telah meratifikasi lima konvensi terkait keanekaragaman hayati.1 tahun 2011 terdapat 5 Spesies Konsentrasi rendah (Least concern=LC). Status perlindungan mamalia di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung NO. Undang-undang Republik Indonesia No. 1. 5 Spesies Rawan (vulnerable = VU).2. 5 tahun 1990 tentang Konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya 2. CITES. Dari 12 jenis tersebut terdapat 4 Spesies dilindungi PP No. Jenis Mamalia Nama Latin Status Perlindungan IUCN CITES Famili Soricidae 1.2 Status Perlindungan dan endemisitas jenis Mamalia Dalam upaya melestarikan keanekaragaman hayati. 1 Spesies Mendekati terancam (Near threatened = NT) .7 Tahun 1999 tentang pengawetan tumbuhan dan satwa. Protocol Kyoto. Bajing Kelapa Callosiciurus notatus LC Suncus murinus LC PP No.7/99 32 . Selain itu menurut status IUCN versi 3.1. Undang-undang RI No. Keanekaragaman jenis mamalia di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung terdapat 12 jenis mamalia. 4.

1 Burung 4. Rusa timor Famili Suidae Cervus timorensis Vu - √ 1 0.2. Maros pada tanggal 23 Februari.1 Keanekaragaman jenis burung Berdasarkan hasil pengamatan selama 17 hari di kedua lokasi yaitu Dusun Panaikang Desa Kalabirang Kecamatan Bantimurung. Tarsius Famili Cerchopitechidae Tarsius spectrum Vu APP II √ 1 2. App= Appendix 4. Tenggalung Malaya Musang Luwak Musang sulawesi Famili Phalangeridae Vivera tangalunga Paradoxurus hermaphrodites Macrogalidia musschenbroekii LC LC Vu - √ 7. Monyet dare Macaca maura En APP II √ Keterangan : Keterangan : NT = Near Threatened.3. LC = Least Concern.3 Maret 2011 tercatat 34 jenis burung dari 24 suku dan Dusun 33 . 6. DD = Data Deficien. 5.1. Babi hutan sulawesi Famili Tarsiidae Sus celebensis NT APP II - 1 1.2. EN = Endangered. Kuskus sulawesi Famili Phalangeridae Strigocuscus celebensis Vu - - 8. Bajing tiga warna Famili Viverridae Callosciurus prevostii pluto LC - - 4. Kuskus beruang Famili Cervidae Ailurops ursinus Vu - - 9. VU = Vulnerable.

34 . Pangkep pada tanggal 7-14 Maret 2011 tercatat 41 jenis burung dari 24 suku (Tabel 10).Kampoang Desa Tompobulu Kecamatan Balocci. Tabel 12. Penemuan jenis burung di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

1766) Bubulcus ibis (Linnaeus. 1758) Ardeola speciosa (Horsfield. 1789) Rallidae Amaurornis isabellina (Schlegel. 1865) Amaurornis phoenicurus (Pennant. 1850) Turnicidae Turnix suscitator (Gmelin. 1830 Tytonidae Tyto alba Scopoli. 1766) Streptopelia chinensis (Scopoli. 1844 Falconidae Falco moluccensis (Bonaparte.A 22 23 Taktarau Besar Walet Maluku 35 . 1783) Accipitridae Spilornis rufipectus Gould. 1822) Spizaetus lanceolatus Temminck & Schlegel. 1825 Centropus celebensis Quoy & Gaimard. 1769) Columbidae Ptilinopus melanospila (Salvadori. Müller. 1831 Apodidae Collocalia infuscatus Salvadori. 1875) Macropygia amboinensis (Linnaeus. 1843) Cuculidae Rhamphococcyx calyorhynchus Temminck.No 1 2 3 4 5 6 7 Nama Ilmiah Ardeidae Egretta garzetta (Linnaeus.AB II.1830 Caprimulgidae Eurostopodus macrotis Vigors.AB 8 9 10 11 Alapalap Sapi Gemak Loreng Kareo Sulawesi Kareo Padi II. 1769 Strigidae Otus manadensis Quoy & Gaimard.AB 12 13 14 15 16 Walik Kembang Uncal Ambon Tekukur Biasa Delimukan Zamrud Delimukan Timur √ √ √ √ √ 17 Serindit Sulawesi √ II 18 19 Kadalan Sulawesi Bubut Sulawesi √ √ √ 20 21 Serak Jawa Celepuk sulawesi √ √ √ √ II II. 1858 Ictinaetus malayensis (Temminck. 1821) Ciconidae Ciconia episcopus (Boddaert. 1786) Chalcophaps indica (Linnaeus.AB II. 1853 Psittacidae Loriculus stigmatus (S. 1758) Chalcophaps stephani Pucheran. Nama Jenis Kuntul Kecil Kuntul Kerbau Blekok Sawah Bangau Sandang-lawe Elangular Sulawesi Elang Hitam Elang Sulawesi Lokasi 1 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 2 Status AB AB B AB II.

Kerusakan hutan juga dapat mempengaruhi kehidupan burung liar atau dapat memaksa burung-burung tersebut untuk keluar dari relung ekologinya. pada lokasi kedua memiliki tipe habitat hutan sekunder dengan tingkat kerapatan dan komposisi jenis yang lebih tinggi. Pada umumnya habitat dapat mengalami perubahan kondisi musiman dalam sturktur dan ketersediaan pakan. dan tipe habitat. Appendix II NT. 5/1990 B. Jika dilihat dari tutupan vegetasi. Dilindungi menurut PP No. berbeda dengan lokasi pertama yaitu Dusun Panaikang memiliki tipe habitat hutan sekunder yang berbatasan langsung dengan hutan tanaman jati yang mendominasi sehingga komposisi vegetasi menjadi kurang beragam. menyatakan bahwa keanekaragaman spesies hewan termasuk burung dipengaruhi oleh tingkat ketersediaan makanan.7/1999 II. Perbedaan tingkat keanekaragaman jenis burung tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti ketersediaan pakan. Faktor-faktor tersebut juga akan berpengaruh pada komposisi jenis burung yang dapat ditemukan pada suatu lokasi.Keterangan : A. Menurut Odum (1994). Terdapat perbedaan jenis burung yang ditemukan pada kedua lokasi yang diamati. Hal tersebut berbanding lurus dengan tingkat keanekaragaman satwa. Sehingga akan ada perbedaan keanekaragaman jenis burung yang disebabkan tingkat ketersediaan makanan bagi burung. Bahkan beberapa kelompok burung dapat hidup lestari hingga saat ini disebabkan telah berhasil menciptakan relung yang khusus bagi dirinya sendiri untuk mengurangi kompetisi atas kebutuhan sumber daya dan sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi lingkungan. Near Threatened `Hasil pengamatan menunjukkan penemuan jenis burung banyak tercatat di lokasi kedua yaitu Dusun Kampoang. karena sutau lokasi yang memiliki tingkat keanekaragaman tumbuhan yang tinggi akan menyediakan daya dukung habitat yang lebih tinggi pula dan menjadi habitat yang digemari banyak satwa (Ewusie 1990). Dillindungi menurut PP No. waktu aktivitas. Kerusakan 36 . baik untuk mencari tempat berbiak atau mencari makanan. Perbedaan pola dan cara memperoleh mangsa ini diduga mampu menciptakan kebersamaan antara beberapa jenis burung untuk dapat hidup dan mencari mangsa bersama-sama pada waktu dan lokasi yang sama.

1998). Tabel 13. Loriculus sigmatus. Scissirostrum dubium. Dalam hal ini. Penentuan dominansi jenis burung menggunakan rumus menurut van Helvoort (1981). Jenis-jenis dominan ini dianggap sebagai jenis umum pada habitat tersebut. Rekapitulasi dominansi jenis burung. Streptocitta albicollis.1 Dominansi. Lokasi Panaikang Kampoang Jenis Dominan Collocalia linchi. 4. Jenis yang dominan memiliki nilai dominansi ≥ 5.2.habitat atau perubahannya merupakan faktor utama perpindahan burung ke habitat lainnya (Baral dan Ramji 2002) Jenis burung yang banyak ditemui secara keseluruhan pada lokasi pengamatan yaitu dari suku Columbidae. Kecuraman tersebut menggambarkan kekayaan jenis dan menentukan kemungkinan penemuan terhadap jenis burung yang belum tercatat (MacKinnon et al. Secara umum. Gambar 9 Kurva penemuan jenis dengan Metode Daftar Jenis MacKinnon. Terdapat beberapa jenis dominan yang sama di dua lokasi pengamatan (Tabel 13). Pycnonotus aurigaster. dan habitat tempat ditemukan jenis dominan tersebut merupakan habitat yang tepat bagi jenis burung tersebut. Pycnonotus aurigaster. Leptocoma sericea. Collocalia linchi. kurva penemuan jenis burung berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan peningkatan yang cukup curam (Gambar 9).1. Dicrurus hottentotus. Indeks Keanekaragaman dan Indeks Kemerataan Jenis Burung Jenis burung yang dominan merupakan jenis yang sering tercatat pada saat pengamatan dan dapat menunjukkan bahwa jenis burung tersebut mudah atau umum dijumpai pada tipe habitat tertentu. Oriolus chinensis. 37 . Oriolus chinensis. habitat yang tepat mencakup ketersediaan pakan dan cover (tempat berlindung termasuk tempat bersarang).

Indeks kemerataan jenis burung menunjukkan sebaran individu dari setiap jenis burung pada suatu habitat tertentu.50 sampai 3. terdapat beberapa jenis burung yang memiliki wilayah penyebaran yang terbatas hanya terdapat di sub-kawasan Sulawesi. diantaranya terdapat berbagai jenis yang dilindungi.2.50. 5 tahun 1990.59 0. Perbedaan nilai indeks keanekaragaman jenis burung dipengaruhi oleh pengambilan sampel saat pengamatan. Tabel 14.Indeks keanekaragaman menurut Margalef (1972) dalam Maguran (1988) berkisar antara 1. sebaliknya jika nilai indeks kemerataan jenis burung mendekati angka nol maka semakin tidak merata. makin banyak sampel yang diambil maka nilai indeks keanekaragaman jenis burung akan cenderung lebih tinggi (Rahayuningsih 2009).82 (Tabel 11).47 sedangkan di dusun Kampoang nilai indeks keanekaragamannya adalah 2. jika nilai indeks kemerataan jenis burung tersebut makin mendekati satu .47 2. Semakin merata suatu komposisi jenis burung. 9 jenis termasuk dalam Appendix II CITES (Tabel 10).76.54 sampai 0. Selain itu. Suatu komposisi jenis burung dikatakan merata. Nilai indeks keanekaragaman (H’) dan indeks kemerataan (E’) jenis burung Lokasi Panaikang Kampoang H' 1. dan PP No. Nilai indeks kemerataan jenis burung yang tercatat di dua lokasi pengamatan berkisar antara 0. Tercatat 1 jenis termasuk dalam kategori Near Threatned (IUCN). maka dapat dikatakan hanya sedikit jenis yang mendominasi. antara lain 38 .1.2 Status Perlindungan dan endemisitas jenis burung Beradasarkan jenis-jenis yang ditemukan selama pengamatan.76 E' 0. Di Dusun Panaikang nilai indeks keanekaragamannya 1. Dari jenis-jenis yang dilindungi tersebut terdapat jenis yang merupakan suatu indikator bagi keutuhan hutan yaitu dari suku Bucerotidae (Koop dalam Priatna 2002). Secara keseluruhan tercatat 18 jenis burung yang dilindungi berdsarkan UU No.82 4. 7 tahun 1999.

Semua individu-individu jenis di dalam habitat tersebut membentuk suatu populasi untuk mempertahankan hidupnya. Aceros cassidix.2.2. Mulleripicus fulvus. Lalage leucopygialis. Jalur kedua merupakan jalur hutan sekunder yang berada di lokasi Kampoang. Banyaknya kupu-kupu yang berhasil diamati pada jalur ini karena 39 . Secara keseluruhan. dan Myza celebensis. Dicrurus montanus. Centropus celebensis. vegetasi dan waktu harian (Suantara 2000). Berdasarkan nilai Indeks Keanekaragaman Jenis burung pada keseluruhan lokasi. dan hanya pada satu lokasi yang memiliki tingkat keanekaragamn yang tinggi. sinar matahari yang cukup dan di sekitar pinggiran sungai banyak ditumbuhi vegetasi pakan kupu-kupu diantaranya bingkuru (Morinda brancteae) yang menjadi pakan kupu-kupu dari famili Hesperiidae. Jenis-jenis burung yang ditemukan secara keseluruhan tersebar secara merata. Scissirostrum dubium. Rhamphococcyx calyorhynchus.Spilornis rufipectus. Habitat riparian ini sangat mendukung untuk kehadiran kupu-kupu karena memiliki semua komponen habitat yang dibutuhkan oleh kupu-kupu seperti sumber mineral. Amaurornis isabellina. Sungai-sungai yang terdapat pada jalur pengamatan ini umumnya cukup lebar dengan aliran air yang tidak terlalu.2 Kupu-kupu 4. Dalam suatu habitat memungkinkan hidup beberapa jenis kupu-kupu. Spizaetus lanceolatus. 51 genus dari 32 suku. ada yang memiliki anggota yang sangat besar dan ada pula yang terdiri dari beberapa individu saja. tingkat keanekaragaman jenis burungnya tergolong sedang. Otus manadensis. iklim. 4. Dendrocopus temminckii. Loriculus stigmatus.2. Streptocitta albicollis. Jumlah individu kupu-kupu pada jalur sungai (riparian) yang berada di lokasi Panaikang. Penelopides exhartus. Trichastoma celebense.1 Kondisi habitat kupu-kupu Keberadaan kupu-kupu pada suatu habitat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain ketinggian tempat. hasil inventarisasi di dua lokasi berhasil mencatat 57 jenis burung. Ceyx fallax. Basilornis celebensis. Jumlah kupu-kupu yang dapat ditemukan pada habitat ini sebanyak 75 individu yang terdiri dari 40 spesies.

2 Keanekaragaman jenis kupu-kupu Jenis kupu-kupu di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) yang ditemukan pada dua lokasi pengamatan disajikan dalam Tabel 2. Terdapat juga tumbuhan ketepeng (Cassia alata) dan mangga hutan (Mangifera sp) sebagai pakan kupu-kupu dari famili Nymphalidae Jumlah kupu-kupu yang ditemukan pada habitat ini sebanyak 241 individu yang terdiri dari 65 spesies. Lycaenidae 6 spesies (9 individu) dan Hesperiidae 3 spesies (3 individu). Jenis kupu-kupu yang ditemukan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Nama ilmiah Papilionidae Graphium agamemnon Graphium androcles Graphium codrus Graphium dorcus Graphium meyeri Graphium milon Graphium sarpedon Lamproptera meges Pachliopta polyphontes Papilio ascalapus Papilio blumei Papilio fuscus Papilio gigon Papilio peranthus Troides haliphron * Troides helena* Troides hypolitus* Pieridae Appias zarinda Catopsilia pomona Cepora fora Cepora celebensis Eurema alitha Eurema celebensis Eurema tominia Gandaca butyrosa Hebomoia glaucippe Panaikang 0 0 0 0 4 7 0 3 0 1 1 0 2 1 0 1 0 1 5 0 1 0 0 1 0 3 Kampoang 5 1 1 1 1 3 1 0 1 4 0 2 15 1 1 1 1 1 10 2 4 1 2 5 1 7 Jumlah 5 1 1 1 5 10 1 3 1 5 1 2 17 2 1 2 1 2 15 2 5 1 2 6 1 10 40 . kayu putih (Melaleuca leucadendra) dan jambu biji (Psidium guajava).terdapat banyak pohon dan tumbuhan berbunga yang menjadi pakan kupu-kupu berada di sepanjang jalur pengamatan. Berikut data jenis kupu-kupu yang ditemukan disajikan pada Tabel Tabel 15.2. Nymphalidae 34 spesies (140 individu). Jumlah total kupu-kupu yang teramati sebanyak 80 spesies (316 individu) yang terbagi dalam 6 famili. Pieridae 10 spesies (54 individu). 4. Beberapa vegetasi dominan pakan kupukupu dari famili Papilionidae diantaranya adalah sirih hutan (Piper sp).2. yaitu: Papilionidae 17 spesies (58 individu). Danaidae 10 spesies (51 individu).

No 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 Nama ilmiah Pareronia tritaea Nymphalidae Aoa affinis Bletogona mycalesis Cethosia biblis Cethosia myrina * Charaxes affinis Charaxes solon Chersonesia rahria Cupha maeonides Cyrestis strigata Cyrestis thyonneus Euthalia aconthea Faunis menado Hypolimnas diomea Junonia atlites Junonia hedonia Lamasia lyncides Lasippa neriphus Lexias aeetes Lohora decipiens Melanitis leda Moduza libnites Moduza lymire Mycalesis janardana Neptis ida Phalanta alcippe Rhinopalpa polynice Rohana macar Tarattia lysanias Tirumala choaspes Tirumala hamata Vindula dejone Vindula erota [Sp 3] [Sp 4] Danaidae Euploea algea Euploea configurata Euploea eleusina Euploea hewitsonii Euploea phaenareta Euploea westwoodi Idea blanchardi ^ Ideopsis juventa Ideopsis vitrea Parantica cleona Lycaenidae Arhopala argentea Caleta caleta Euchrysops cnejus Ionolyce helicon [Sp 2] [Sp 5] Hesperiidae Pelopidas mathias Pseudocoladenia dan eacus [Sp 1] Panaikang 2 1 1 0 1 0 0 1 0 1 0 1 6 1 2 4 0 3 0 0 2 1 1 0 2 0 0 0 0 0 0 3 1 0 0 0 0 1 0 1 1 1 1 0 0 0 0 2 0 1 0 1 0 1 Kampoang 8 0 0 6 1 1 1 0 1 6 1 0 16 2 0 8 1 3 5 8 6 2 1 1 8 7 1 1 2 3 1 12 0 1 2 10 4 0 9 0 12 0 3 7 1 1 1 0 3 0 1 0 1 0 Jumlah 10 1 1 6 2 1 1 1 1 7 1 1 22 3 2 12 1 6 5 8 8 3 2 1 10 7 1 1 2 3 1 15 1 1 2 10 4 1 9 1 13 1 4 7 1 1 1 2 3 1 1 1 1 1 41 .

75 Evenness 0. Nilai Evenness merupakan nilai kemerataan dengan nilai minimal nol (0) yang mengindikasikan bahwa setiap jenis yang ditemukan pada lokasi tersebut memiliki jumlah individu yang berbeda banyaknya (tidak pernah sama jumlahnya). semakin banyak spesies yang mungkin dapat ditemukan. dengan kata lain hanya akan ada 1 spesies pada lokasi tersebut.94 0. Tabel 16 Kekayaan Jenis Kupu-kupu di TN. Babul sLokasi Hutan riparian Hutan sekunder Shannon-Wienner 3.90 Nilai indeks keanekaragaman yang didapatkan yaitu sebesar 3. Sehingga semakin besar indeks. Index Shannon-Wienner merupakan ukuran yang menggambarkan seberapa besar ketidaktentuan (uncertainty) spesies-spesies yang terkandung dalam suatu lokasi. Sebaliknya. Hasil perhitungan tingkat keanekaragaman kupu-kupu di TN Babul dapat dilihat pada tabel 3.No Nama ilmiah Jumlah jenis Jumlah individu Panaikang 40 75 Kampoang 65 241 Jumlah 80 316 Keterangan : [Sp] = jenis kupu-kupu yang belum teridentifikasi * = jenis kupu-kupu yang dilindungi (Appendix II CITES) Ukuran keanekaragaman jenis merupakan salah satu ukuran dalam menilai kekayaan alam hayati pada kawasan tertentu. nilai nol (0) mengindikasikan bahwa spesies yang akan ditemukan sudah dapat dipastikan. sedangkan nilai maksimal satu (1) mengindikasikan bahwa setiap jenis yang ditemukan pada lokasi tersebut memiliki jumlah individu yang sama banyaknya. Dalam kegiatan observasi keanekaragaman jenis kupu-kupu di TN Babul ini digunakan ukuran keragaman jenis dengan indeks Shannon-Wienner yang sesuai untuk pengukuran metode time-search yang merupakan salah satu inventarisasi pengambilan sample secara acak (random). yang artinya keanekaragaman kupu-kupu di jalur hutan riparian dan hutan sekunder tergolong tinggi dengan 42 .45 3.45 untuk hutan riparian dan 3.75 untuk hutan sekunder. Hasil perhitungan tingkat kemerataan kupu-kupu TN Babul dapat dilihat pada tabel 9 di bawah.

94 dan 0. Pada daerah riparian tepatnya di bagian pinggir sungai dijumpai kupukupu mati pada tumpukan pasir di atas bebatuan. Perbedaan tingkat keanekaragam di setiap jalur pengamatan dapat dilihat pada gambar 5. Habitat riparian memiliki potensi tinggi sebagai tempat hidup kupu-kupu. Diagram nilai keanekaragaman dan kemerataan..penyebaran jumlah individu tiap spesies sedang dan kestabilan komunitas kupukupu tinggi. Sedangkan famili Papilionidae yang dominan diantaranya jenis Graphium milon dan Graphium meyeri. Jalur pengamatan di lokasi pertama merupakan habitat riparian. artinya jumlah individu per jenis yang ditemukan pada lokasi tersebut cukup merata. Perbedaan tingkat kemerataan di setiap jalur pengamatan dapat dilihat pada gambar 5. 43 . Di sepanjang jalur pengamatan banyak ditemukan letak tumpukan pasir dengan adanya bekas urine manusia yang terdapat bangkai kupu-kupu. hal ini disebabkan tersedianya sumber air. Kupu-kupu yang banyak dijumpai berasal dari famili Nymphalidae dan Papilionidae. Gambar 5. Gambar 6 Sekumpulan kupu-kupu mati di bebatuan.90. Dari hasil perhitungan indeks kemerataan (Evenness) diketahui bahwa kedua tipe habitat yakni hutan riparian dan hutan sekunder memiliki nilai kemerataan yang tinggi yaitu 0. Kupu-kupu mati di bebatuan pada daerah pinggiran sungai dapat dilihat pada gambar 6. Junonia hedonia dan Vindula dejone. Famili Nymphalidae diantaranya jenis Faunis menado. vegetasi yang terbuka dan intensitas sinar matahari yang tinggi. Bangkai kupu-kupu tersebut terdiri dari beberapa jenis dengan jumlah sekitar 10 individu setiap tumpukan pasir.

Jalur pengamatan dibuat menyusuri hutan dengan kondisi vegetasi rapat dan berkanopi tertutup.Kegiatan pengamatan di lokasi kedua yakni pada habitat hutan sekunder dimulai pada pukul 09. antara lain pada tipe habitat hutan riparian adalah jenis Faunis menado dan Vindula dejone. Jenis-jenis yang mendominasi diantaranya adalah Papilio gigon dari famili Papilionidae.2. 44 . Cethosia biblis dari famili Nymphalidae dan Euploea westwoodi dari famili Danaidae . Secara keseluruhan nilai dominansi setiap kupukupu dapat dilihat pada gambar 7. Pada saat inilah kupu-kupu senantiasa merentangkan sayapnya agar kering sehingga dapat terbang dengan ringan dan mudah. 4. Sedangkan pada habitat sekunder adalah Papilio gigon dan Euploea westwoodi. Catopsilia Pomona dari famili Pieridae. Bila temperatur tubuh meningkat kupu-kupu akan mencari tempat berteduh.00 WITA setelah cahaya matahari dapat menembus lantai hutan. Lokasi ini merupakan jalur terbanyak ditemukannya kupukupu karena terdapat banyak vegetasi pakan kupu-kupu. Gambar 7 Tingkat dominansi setiap jenis kupu-kupu. Secara keseluruhan ada beberapa jenis kupu-kupu yang mendominasi disetiap habitatnya. Sinar matahari pagi diperlukan kupu-kupu untuk mengeringkan sayapnya yang lembab sehingga sayap dapat digunakan untuk terbang (Novak 1999).3 Aktivitas kupu-kupu Kehidupan kupu-kupu dipengaruhi oleh temperatur lingkungannya. Sedangkan menurut Sihombing (1999) pada cuaca dingin kupu-kupu meningkatkan pembukaan sayapnya untuk mendapatkan cahaya matahari dan meningkatkan temperatur tubuh dengan cara terus berjemur. Jumlah kupu-kupu yang berhasil diamati sebanyak 241 individu terdiri dari 65 spesies.2.

hal ini diketahui karena pada saat pengidentifikasian kupu-kupu yang telah ditangkap tersebut ternyata berjenis kelamin berbeda.00-12.Gambar 4. Berdasarkan hasil pengamatan pada kedua tipe habitat. Di Indonesia terdapat beberapa aturan perlindungan kupu-kupu yang berlaku. 4. diantaranya adalah CITES dan PP No. Saat siang kupu-kupu hinggap di batu-batuan atau di atas daun-daunan pada tumbuhan dengan sayap terlipat yang mungkin bertujuan untuk mengurangi penguapan akibat sinar matahari yang terik.4 Jenis kupu-kupu dilindungi Habitat hutan sekunder dengan vegetasi pakan kupu-kupu yang cukup banyak memberikan potensi besar untuk kehadiran kupu-kupu sayap burung.2. kupu-kupu yang sedang berjemur.2. Kupu-kupu akan menghentikan aktivitasnya pada malam hari dengan beristirahat dibalik daun atau ranting pohon dan ditempat-tempat yang sulit dijangkau oleh pemangsa. Pada pagi hari kupu-kupu hinggap di permukaan daun dan di pucuk-pucuk tumbuhan yang terkena sinar matahari pada pagi hari. Pada saat inilah kupu-kupu berjemur dengan merentangkan sayapnya agar kering sehingga dapat terbang dengan ringan dan mudah. 45 . Ketika pengamatan pada pagi hari dijumpai pula kupu-kupu yang sedang melakukan perkawinan. 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis satwa dan tumbuhan. kupu-kupu di TN Babul secara umum memulai aktivitasnya pada pagi hari hingga mendekati siang yakni sekitar pukul 09.00 WITA. Kupu-kupu sayap burung atau yang lebih dikenal dengan nama Birdwing (famili Papilionidae) umumnya adalah golongan kupu-kupu dilindungi.

Troides haliphron.3 4. terdapat sisik-sisik halus berwarna kuning yang tersusun membentuk garis. Sayap belakang berwarna kuning emas dengan vena berwarna hitam. 4. Menurut Arief (1994) faktor lingkungan yang memiliki pengaruh dominan terhadap susunan ekosistem hutan dikelompokkan menjadi dua formasi. Pada jantan bagian ujung sayap depan bewarna hitam dan pada bagian sayap bawah terdapat titik hitam yang terpisah. yaitu formasi klimatis dan formasi edafis. Troides helena memiliki ukuran panjang sayap 70 mm. yaitu Cethosia myrina. sayap depan berwarna coklat tua kehitaman.Pada jalur pengamatan hutan sekunder ditemukan jenis kupu-kupu yang termasuk jenis kupu dilindungi dalam daftar Appendix II CITES. Jenis Helena Birdwing ini ditemukan sedang hinggap pada tumbuhan sirih hutan.3. 46 . Bentuk susunan ekosistem TN Babul dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Gambar 8 Troides helena. Troides hypolitus dan Troides helena (Gambar 8). Troides helena merupakan spesies umum yang dapat dijumpai hingga ketinggian 1.1 Tumbuhan Insitu Tipe Ekosistem Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung memiliki tipe ekosistem yang unik dengan bentang alam berupa kawasan karst yang menjulang tinggi dan berjajar membentuk tower karst yang telah dikenal dunia Internasional sebelum perang Dunia II sebagai “The Spectacular Tower Karst” ( RPTN Babul 2008).000 mdpl. Kupu-kupu ini dapat terbang tinggi namun seringkali turun dan hinggap pada bunga pohon yang rendah dan semak-semak (Soehartono & Mardiastuti 2003).

750 mm. Pattunuang dan Bulusaraung memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang sangat tinggi baik flora maupun faunanya. Kondisi curah hujan di TN Babul dibagi menjadi 4 zona. batuan gunung api terpropilitkan. 75% kawasan TN Babul berupa kawasan karst dan 25% berupa ekosistem hutan non karst yang berupa ekosistem hutan. C dan B. Faktor lingkungan tersebut mempengaruhi tipe ekosistem TN Babul. Di daerah Panaikang jenis fauna yang dominan adalah kupu-kupu. batuan Gunung Api Formasi Camba. intensitas cahaya dan angin (Indriyanto 2006). kelembaban udara. Hutan riparian di sekitar kawasan Panaikang.250 mm. A. formasi Mallawa. misalnya sifat-sifat fisika. seperti di Panaikang. Tonasa. yaitu curah hujan 2. yaitu Iklim tipe D. Iklim C terletak di wilayah te’ne. batuan Gunung Api Baturape-Cindako. 3. Jenis tanah di TN Babul dibagi menjadi dua. formasi Tonasa. sedangkan 25% terdiri dari zona rimba. Ekosistem hutan disetiap zonasi memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi. Iklim D terletak di wilayah Bengo-bengo. seperti ekosistem yang ada di hutan riparian maupun hutan pegunungan. batuan Terobosan dan batuan aluvium.250 mm dan 3. yaitu tanah yang kaya akan kalium dan tanah yang kaya akan magnesium (RPTN babul 2008). sifat kimia dan sifat biologi tanah (Indriyanto 2006). Labboro. Kondisi Tipe Ekosistem berdasarkan sistem Zonasi Sistem zonasi TN Babul 75% didominasi oleh zona inti yang tersusun atas bentang alam karst. burung dan babi hutan sulawesi (Sus celebensis). Pembentukan jenis tanah ini juga di pengaruhi oleh formasi geologi yang mendominasi pembentukan ekosistem TN Babul. Formasi edafis adalah formasi hutan yang dalam pembentukannya sangat dipengaruhi oleh keadaan tanah. sedangkan flora yang sering 47 . meliputi formasi balang baru. Kondisi ini mempengaruhi keanekaragaman hayati disetiap ekosistem yang ada di TN Babul. Pattunuang dan Bantimurung yang berupa hutan riparian dan di Bulusaraung berupa hutan pegunungan. 2.Biseang. Iklim di TN Babul memiliki 3 tipe. zona penyangga dan zona pemanfaatan. Formasi geologi tersebut. karaenta.750 mm. misalnya temperatur.Formasi klimatis merupakan formasi hutan yang dalam pembentukannya dipengaruhi oleh unsur-unsur iklim. formasi Camba. Iklim B terletak di wilayah Kecamatan Camba dan Mallawa (RPTN Babul 2008).

epifit dan jenis-jenis pohon yang tinggi. Penggembalan sapi bali secara liar di hutan Panaikang Kawasan hutan di wilayah Pattunuang berada di tepian areal riparian sungai Pattunuang. Jenis flora yang ditemukan di daerah ini adalah jenis liana. Pemanfatan sebagian kawasan sebagai area ekowisata telah mengkibatkan hilangnya keanekaragaman flora fauna khas yang dulunya sering ditemukan. Kawasan hutan riparian Bantimurung terletak di sekitar area ekowisata Bantimurung. Wilayah hutan di Panaikang sering dijadikan sebagai wilayah pengembalaan sapi bali (Bos sondaicus) yang ditandai dengan adanya padang pengembalaan yang berada di tepi riparian.ditemukan adalah jati (Tectona grandis) dan kopi (Coffea robusta) sebagai hutan tanaman yang dikelola oleh warga Panaikang. Ekosistem hutan di sepanjang jalan kawasan riparian Pattunuang di dominasi satwa oleh yang pohon-pohon sering yang tinggi dan beranekaragam jenisnya. dijumpai adalah soa-soa (Hydrosaurus amboinensis). Ekosistem hutan Kampoang termasuk ekosistem hutan pegunungan 48 . Jenis fauna endemik yang ditemukan adalah burung rangkong (Aceros cassidix) yang hanya dapat dijumpai pada sore hari di atas tebing. Di sebelah kanan maupun kiri areal riparian di batasi oleh tebingtebing karst yang menjulang tinggi. Gambar 9. Kawasan hutan riparian ini telah digunakan sebagai jalan penghubung antara jalan raya Patunuang dan desa Pattunuang yang terletak di dalam hutan. Hutan pegunungan dapat ditemukan di sekitar dusun Kampoang Desa Tompobulu Kecamatan Bulusaraung Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep).

meliputi Dare (Macaca maura). meliputi kemiri (Aleurites moluccana). Jenis fauna beraneka ragam. Macaca maura yang sering masuk ke areal perkebunan maupun pertanian warga Tompobulu. Aren (Arenga pinnata). dan kayu putih (Melaleuca leucadendra). Area hutan ini merupakan area hutan sekunder. Hal ini mempengaruhi tingkat keanekaragaman hayati di ekosistem hutan TN babul menjadi semakin berkurang. Akibat dari berkurangnya habitat ini. ketepeng (Cassia alata). keanekaman hayati dan keindahan kupu-kupu telah diganggu oleh aktifitas penangkapan liar kupu-kupu oleh warga sekitar yang mayortas dilakukan oleh kaum anak muda. barunganga (Leea sp.yang memiliki tingkat biodiversitas flora dan fauna yang tinggi. Jenis flora yang sering dijumpai di Kampoang. Selain itu. Gangguan Ekosistem Gangguan terhadap ekosistem sering diakibatkan oleh gangguan dari manusia yang menyebabkan penyempitan habitat dari flora mapun fauna sekitar. Identifikasi Potensi tumbuhan Jenis tumbuhan di kawasan TN Babul berpotensi sebagai area berlindung dan sumber pakan bagi kupu-kupu. Gangguan itu berupa penebangan liar. Penangkapan kupu-kupu melalui jebakan air kencing diatas pasir C. B. akan tetapi semakin tinggi ketinggian semakin mendekati area hutan primer yang ditandai dengan tingginya tingkat pohon-pohon yang rindang. mangga hutan (Mangivera sp). kupu-kupu dan burung. tinggi dan berdiamer besar dan semakin sedikitnya tingkat tumbuhan bawah.). Identifikasi jenis tumbuhan dilakukan di dua lokasi yaitu di Panaikang dan Kampoang. 49 . Gambar .

Berdasarkan hasil praktek lapang telah ditemukan 24 jenis tumbuhan di kawasan hutan Panaikang. Potensi pakan kupu-kupu di kawasan hutan Panaikang Famili kupu-kupu Papilionidae Famili Tumbuhan Asteraceae Piperaceae Rutaceae Piperaceae Capparaceae Fabaceae Nympalidae Hesperidae Caesalpiniaceae Rubiaceae Nama latin Sonchus arvensis Piper sp Cytrus hystris Piper sp Cleome speciosa Tamarindus indica Cassia siamea Coffea robusta Morinda sp Morinda brancteae Tamarindus indica Nama lokal Tempuyung Sirih hutan Jeruk purut Sirih hutan Maman Asam Johar Kopi-kopi Bakang Bingkuru asam Troides Fabaceae Habitat di sekitar hutan Panaikang cocok untuk pertumbuhan famili Piperaceae. Tabel 17. Fabaceae. dan Piperaceae sebagai pakan Troides. Kawasan hutan Kampoang yang terletak di desa Tompobulu memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan sebagai potensi pakan kupu-kupu yang lebih banyak daripada Panaikang. Untuk jenis Nympalidae dan Hesperidae memiliki kelimpahan jenis yang tidak melimpah. yaitu 27%. Sedangkan potesi pakan Troides dan Papilionidae seimbang. Jumlah pakan kupu-kupu berdasarkan spesies. potensi pakan Hesperidae yang mendominasi. Hal ini mempengaruhi tingkatan keanekaragaman kupu-kupu di daerah Panaikang. Tabel 18. Asteraceae. Potensi tumbuhan sebagai pakan kupu-kupu terdapat 11 jenis. Jenis tumbuhan yang berpotensi sebagai pakan kupu-kupu 50 . Rutaceae sebagai pakan Papilionidae dan Capparaceae. Berdasarkan tingkatan spesies. Gambar 11. Dai 63 jenis tumbuhan antara yang telah teridentifikasi dan yang belum teridentifikasi terdapat 18 jenis tumbuhan yang berpotensi sebagai pakan kupu-kupu. yaitu 37%.

Hal ini didukung oleh tidak adanya kegiatan penangkapan kupu-kupu yang mampu mengurangi keanekaragaman jenis kupu-kupu dan pola kebudayaan sekitar masyarakat yang masih menjaga kearifan tradisional dalam menjaga ekosistem flora fauna daerah sekitar Tompobulu. jenis tumbuhan yang berpotensi sebagai pakan kupu-kupu adalah pakan Papilionidae sebanyak 44% diikuti jenis pakan Nympalidae. 51 . Kampoang dan sekitarnya. Jenis papilionidae merupakan jenis kupu-kupu yang indah dan banyak diminati pengunjung sebagai souvenir ofset kupu-kupu.Famili Kupukupu Papilionidae Famili Myristicaceae Piperaceae Spesies Knema cinerea Piper sp Macropiper sp Piper sp Melaleuca leucadendra Psidium guajava Cytrus maxima Cytrus sinensis Piper sp Macropiper sp Piper sp Cassia alata Mangifera sp. Berdasarkan tingkatan spesies. Famili jenis pakan tersebuut meliputi famili Myristicaceae. Ficus fistulosa Ficus hispida Ficus virgata Ficus annulata Nama lokal Jileng-jileng sirih hutan Eppoh mrica-mrica kayu putih jambu biji Jeruk bali Jeruk buah Sirih hutan Eppoh Mrica-mrica Rumput tulang Ketepeng Mangga hutan buah batu Lambere Kajuara Myrtaceae Rutaceae Troides sp Piperaceae Satirydae Nymphaliydae Poaceae Caesalpiniacea e Anacardiaceae Moraceae Dari 18 jenis tumbuhan potensi pakan terbesar adalah potensi pakan bagi Papilionidae yang mencapai 45%. Dan di kampoang terdapat banyak jenis Papilionidae beserta potensi pakan dan habitat yang mendukung. myrtaceae. Jenis ini sering ditemukan di habitat hutan pegunungan daerah Kampoang dan di sekitar jalan menuju desa Tompobulu. serta di sekitar area riparian aliran sungai Kampoang. rutaceae dan piperaceae.

Pengukurannya dilakukan tiap hari. dan kecepatan aliran dekat permukaan air tidak sama dengan kecepatan pada Dasar alur. Curah hujan yang tinggi di Dusun Panaikang mengakibatkan volume air sungai meningkat sangat tinggi dan sangat berbahaya jika dipaksakan untuk mengukur debit air. atau dengan pengertian yang lain debit atau aliran sungai adalah laju aliran air (dalam bentuk volume air) yang melewati suatu penampang melintang sungai per satuan waktu.4. namun pengukuran ini hanya dilakukan pada lokasi pengamatan dua yaitu Dusun Kampoang Kecamatan Balochi. Dalam sistem satuan SI besarnya debit dinyatakan dalam satuan meter kubik per detik (m3/dt). Dengan kata lain kecepatan aliran pada tepi alur tidak sama dengan tengah alur. Salah satu kegiatan pengamatan jasa lingkungan yang dilakukan adalah pengukuran debit air sungai. Sedangkan untuk mengukur kecepatan aliran sungai dengan menggunakan metode apung. Penampang basah (A) diperoleh dengan pengukuran lebar permukaan air dan pengukuran kedalaman dengan tongkat pengukur atau kabel pengukur. Pada prinsipnya. Perlu diingat bahwa distribusi kecepatan aliran di dalam alur tidak sama arah horisontal maupun arah vertikal. Prinsip metode ini yaitu dengan mengukur luas penampang sungai dan mengukur kecepatan arus sungai Kampoang. Jumlah pakan kupu-kupu berdasarkan spesies tumbuhan 4.4 Jasa Lingkungan 4.Gambar 12.1 Debit Air Sungai Debit air sungai adalah tinggi permukaan air sungai yang terukur oleh alat ukur pemukaan air sungai. Hal ini diakibatkan kondisi lapang yang tidak memungkinkan. Formula untuk menghitung Debit air dengan Velocity method yaitu : Q = V. pengukuran dilakukan terhadap luas penampang basah dan kecepatan aliran. Debit air sungai Kampoang diukur dengan menggunakan Velocity method.A Dimana : Q = Debit Air (m3/s) V = Kecepatan aliran sungai (m/s) A = Luas Penampang sungai (m2) 52 .

kekeruhan.162523 m3 air yang mengalir dalam setiap detiknya atau mencapai 5055112.0824 m3/jam.9776 m3/hari dan 5055112. Aktifitas biologi yang menghasilkan gas CO2 akan membentuk ion buffer 53 . 14041. kadar logam dan lain-lain. Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan dapat diketahui bahwa debit air rata-rata sungai Kampoang adalah 0. Profil sungai yang tidak terlalu lebar bahkan cenderung sempit dan kedalaman yang rendah serta kondisi berbatu dan ditambah dengan crah hujan yang tidak terlalu rendah mengakibatkan debit air sungai Kampoang tidak terlalu besar. pH merupakan konsentrasi ion hidrogen (H+) dalam suatu cairan (Subchan 2008). suhu.1 m3/tahun. Berdasarkan rumus yang dipakai. dan kecepatan laju bola atau waktu tempuh. Ph air sungai merupakan salah satu parameter kimia yang dapat diukur untuk mengetahui kualitas air. bakteri dan sebagainya. Angka ini dapat dikatakan cukup kecil.1 m3 dalam satu tahun . Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan dalam PP RI No.2 Potensial Hidrogen (pH) Parameter lain yang juga diukur dalam aspek jasa lingkungan adalah pH (potensial hidrogen) air sungai. Selain faktor tersebut. dan adanya ionion. kondisi sungai yang berbatu juga mempengaruhi kecepatan laju air dalam tiap sekonnya. 4. kedalaman sungai. maka dapat diketahui bahwa beberapa hal yang dapat mempengaruhi besar kecilnya debit air sungai adalah lebar sugai. oksigen terlarut. kandungan oksigen. serta paramater mikrobiologi yang meliputi keberadaan plankton. oleh karena itu perhitungan debit aliran sungai harus dilakukan seteliti mungkin. BOD5.162523 m3/sekon atau sekitar 585. PH atau potensial hidrogen dapat dipengaruhi oleh beberapa parameter antara lain aktifitas biologi. Kecilnya jumlah debit air yang terukur disebabkan karena kondisi sungai yang memang merupakan sungai berbatu dan memiliki luas yang tidak terlalu besar. parameter kimia yang meliputi pH.Debit air yang merupakan komponen penting dalam pengeloaan Daerah Aliran Sungai (DAS).82 tahun 2001 dalam Subchan (2008) bahwa parameter kualitas air dapat meliputi parameter fisika seperti suhu. Jumlah tersebut dapat diartikan bahwa terdapat 0. Selain itu.4. padatan terlarut. dan sebagainya . curah hujan kawasan juga merupakan hal yang dapat mempengaruhi jumlah debit air yang ada.

Dengan nilai pH 6. dalam pustaka yang lain juga menyebutkan bahwa nilai pH 6. Hal ini berarti kondisi sumber mata air sungai Dusun Kampoang masih tergolong baik jika menggunakan patokan yang dibuat oleh Brook et al namun sudah termasuk tercemar jika menggunakan ukuran skala yang digunakan oleh Sastrawijaya. Sedangkan menurut Sastrawijaya (1991) jika pH air < 7 dan >8.8 dan >9.00 WITA-15.30 WITA dan pada sore harinya pada pukul 15. Hujan yang turun setiap hari menyebabkan suhu udara menjadi rendah dan kelembaban naik. Suhu ini termasuk normal bahkan relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan suhu udara kota Makassar yang mencapai 340C salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah curah hujan yang cukup tinggi.5 masih merupakan nilai pH untuk air normal yang memenuhi syarat untuk kehidupan fithria (2010).2. 4.4.30 WITA. Selain faktor hujan.2 maka sumber air sungai yang berada di dusun Kampoang masih aman untuk digunakan sebagai air minum baik bagi satwa maupunbagi masyarakat sekitar. Suhu udara rata-rata pada lokasi pertama adalah 250C pada pagi hari dan 26.2. Selain itu. Menurut Brook et al (1989) dalam Fakhry (2000) menyebutkan bahwa perairan sudah dianggap tercemar apabila memiliki nilai pH dengan kisaran pH<4.00 WITA-10. mamalia mauoun burung. Jika dilihat dari tingkat kecerahan yang masih tinggi dan banyaknya vegetasi yang hidup di pinggiran sungai maka dapat dikatakan bahwa sungai kampoang masih dalam keadaan baik. Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan pada Dusun Kampoang Kecamatan Balochi didapatkan data bahwa pH sumber mata air yang digunakan oleh warga sekitar memilki nilai pH 6. Keadaan sungai yang masih baik ini memberikan dampak yang positif bagi kehidupan satwa yang ada baik kupu-kupu.atau penyangga untuk menyangga kisaran pH di perairan agar tetap stabil (Pescod 1978 dalam Azwir 2001).2 Suhu Udara Suhu udara diukur di dua lokasi yaitu Dusun Panaikang dan Kampoang dengan dua kali pengulangan yaitu berkisar pada pukul 10.5 – 7. maka vegetasi yang menjadi sumber pakan bagi satwa-satwa tersebut dapat tumbuh dengan baik.30C pada sore hari.5 kemungkinan pencemaran sudah terjadi pada sungai tersebut. Hal ini dikarenakan dengan adanya sumber air yang baik. suhu lingkungan juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor 54 .

2%.667%. 55 . Lokasi pengamatan yang diambil memiliki ketinggian sekitar .. ketinggian tempat serta kondisi lingkungan (Kastolani 2007).??? dan dengan tutupan vegetasi yang cukup rapat sehingga suhu udaranya menjadu cukup rendah. Kelembaban udara tempat tersebut adalah 81. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelembaban udara pada lokasi pengamatan yang kedua yang hanya 77.yang lainnya seperti letak lintang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful