Manajeman Terapi Manajemen terapi untuk mengatasi HIV dan AIDS adalah terapi ARV (ART) untuk menghambat

replikasi virus dan pemberian obat selain ARV untuk mencegah infeksi oportunistik (IO). Terdapat empat kelas antiretroviral yang tersedia untuk pengobatan HIV.

Nukleosida Reverse Transcriptase Inhibitor (NRTIs) Target obat golongan ini adalah pada enzim reverse transcriptase. Sebagai substrat alternatif, berkompetisi dengan nukleosida fisiologis. Perbedaan antara nulkeosida analog dengan nukleosida fisiologis adalah dengan modifikasi minor dalam molekul ribose. Penggabungan nukleosida analog menginduksi aborsi sintesis DNA karena jembatan fosfodiester tidak bisa dibentuk untuk menstabilisasi double strand. Nukleosida analog difosforilasi ke derivat trifosfat untuk menjadi metabolit aktif. Stavudine (d4t) dan zidovudine (AZT atau ZDV) adalah analog timidin sedangkan zalcitabine (ddC), emtricitabine (FTC), dan lamivudine (3CT) adalah analog cytidine. Kombinasi yang mengandung AZT + d4T, ddC+ 3TC atau FTC+3TC adalah tidak berguna karena masing-masing obat akan berkompetisi untuk basis yang sama. Didanosine (ddI) adalah analog inosin dan abacavir (ABC) adalah analog guanosin. Efek samping yang sering timbul adalah fatigue, sakit kepala, nausea, muntah, dan diare. Efek samping jangka panjang yang sering timbul adalah miolotoksisitas, asidosis laktat, polineuropati dan pankreatitis. Analog nukleosida dieliminasi melalui ginjal sehingga tidak berinteraksi dengan obat yang dimetabolisme oleh enzim di hepar (Hoffmam and Mulcahy, 2006).

Non-Nukleosida Transcriptase Inhibitors (NNRTIs) Sama seperti nukleosida analog target obat golongan ini adalah enzim reverse transcriptase. Namun obat ini langsung berikatan secara non kompetitif dengan enzim reverse transcriptase pada posisi dekat dengan tempat berikatan nukleosida. Pada akhirnya, akan mengurangi pengikatan nukleosida. Berbeda dengan NRTIs, NNRTIs tidak perlu diaktivasi

pengikatan koreseptor melalui perubahan konformasi dan akhirnya fusi virus ke dalam sel. Setiap tahapan pemasukkan virus ke dalam sel bisa dihambat. Entry inhibitors Terdapat tiga tahapan yang penting dalam proses pemasukkan HIV dalam CD4 sel T yaitu pengikatan HIV melalui gp120 pada reseptor CD4. Contoh PIs adalah indinavir (IDV). Protease inhibitors (PIs) HIV protease memotong polipeptida virus menjadi subunit fungsional. . Contoh obat golongan ini adalah T-20.dalam sel. ritonavir (RTV) dan saquinavir (SQV) (Hoffmam and Mulcahy. 2006). (1) Attachment Inhibitor Obat ini menghambat proses pengikatan gp120 dengan receptor CD4 T limfosit. coreceptor antagonists dan fusion inhibitors (Hoffmam and Mulcahy. Tiga NNRTIs yang diperkenalkan pada tahun 1996 dan 1998 adalah nevirapine (NVP). Jika enzim protease dihambat maka akan terbentuk partikel virus yang tidak bisa menginfeksi. 2006). 2006). Terdapat tiga kelas obat yang termasuk dalam golongan Entry inhibitors ( EIs) yaitu attachment inhibitor. (3) Fussion Iinhibitors Golongan obat ini menghambat fusi virus kedalam sel. delavirdine (DLV) dan efavirenz (EFV) (Hoffmam and Mulcahy. (2) Coreceptor Antagonists Golongan obat ini menghambat ikatan antara virus dengan chemokine receptor yaitu CXCR4 dan CCR5.

2004). (3) Viral load menunjukkan tingginya replikasi HIV. (5) Tingkat progresivitas penyakit pada ODHA dapat berbeda-beda.namun karena waktu paruh ( half-life) virus bebas (virion) sangat singkat maka sebagian besar virus akan mati. sedikitnya terbentuk sepuluh miliar virus setiap hari. sedangkan penurunan CD4 menunjukkan tingkat kerusakan sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV. Penekanan virus secara efektif ini mencegah timbulnya virus yang resistan . menurunkan angka kesakitan dan kematian yang berhubungan dengan HIV.8 Tujuan pengobatan ARV Tujuan pengobatan ARV adalah untuk mengurangi laju penularan HIV di masyarakat. sehingga semakin rentan terhadap infeksi oportunistik (IO). kehilangan berat badan secara nyata (wasting) dan berakhir dengan kematian. Keputusan pengobatan harus berdasarkan pertimbangan individual dengan memperhatikan gejala klinis. memulihkan dan memelihara fungsi kekebalan tubuh serta menekan replikasi virus secara maksimal dan secara terus menerus ( DEPKES. Walaupun ada replikasi yang cepat sebagian pasien merasa tetap sehat tanpa ART selama sistem kekebalan tubuh nya masih berfungsi baik.2. (6) Terapi kombinasi ARV dapat menekan replikasi HIV hingga di bawah tingkat yang tidak dapat dideteksi. hitung limfosit total dan bila memungkinkan jumlah CD4. 2. memperbaiki kualitas hidup Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA). (2) Replikasi HIV yang terus-menerus mengakibatkan kerusakan sistem kekebalan tubuh semakin berat. penyakit saraf.9 Pengetahuan Dasar Penggunaan ARV Pengetahuan dasar penggunaan ARV adalah: (1) Replikasi HIV sangat cepat dan terus menerus sejak awal infeksi. kanker. Pemeriksaan secara berkala jumlah CD4 dan viral load (jika memungkinkan) dapat menentukan progresivitas penyakit dan mengetahui saat yang tepat untuk memulai atau mengubah regimen ART. (4) Nilai viral load menggambarkan progresivitas penyakit dan resiko kematian.

Hubungan baik antara pasien dengan dokternya sangat diperlukan. Keterlibatan pasien dan pendampingnya seperti keluarga. walaupun sering dijumpai efek samping ringan. Alkohol. (12)Untuk menghindari timbulnya resistensi ART harus dipakai terus-menerus dengan kepatuhan yang sangat tinggi. Pada pasien yang pernah diterapi tidak boleh menggunakan obat yang memiliki resistensi silang (cross resistant) dengan obat yang pernah dipakai. (10)Prinsip pemberian ART diperlakukan sama pada anak maupun dewasa. pasangan dan teman sangat penting dalam semua pertimbangan dan keputusan untuk memulai ART. (7) Cara paling efektif untuk menekan replikasi HIV secara terus menerus adalah memulai pengobatan dengan kombinasi ARV yang efektif. Sampai saat ini pengetahuan tentang mekanisme kerja dan jenis ARV masih terbatas dan ada laporan resistansi silang pada obat-obat tertentu. (8) Terapi kombinasi ARV harus menggunakan dosis dan jadwal yang tepat. Mereka harus diberi konseling agar menghindari hubungan seks yang tidak aman atau penggunaan Narkotika. seharusnya menerima ART yang optimal. Psikotropika dan Zat Adiktif lain (NAPZA) suntikan yang dapat menularkan HIV atau patogen menular lain. Jadi tujuan terapi adalah menekan perkembangan virus secara maksimal. ODHA yang mendapat ART harus tetap dianggap menular. (13)Pemberian ART harus dipersiapkan secara baik dan matang dan harus digunakan seumur hidup. . (11)Walaupun viral load tidak terdeteksi. Semua obat yang dipakai harus dimulai pada saat yang bersamaan pada pasien baru. walaupun pengobatan pada anak perlu mendapat pertimbangan khusus. (9) ODHA perempuan baik yang sedang hamil ataupun tidak.terhadap obat dan memperlambat progresivitas penyakit.

pemeriksaan fundus mata (retinitis dan papil edema). ( DEPKES. pemeriksaan saluran kelamin dan alat kandungan. Pertanyaan mengenai riwayat penyakit meliputi. kapan dan di mana diagnosis HIV ditegakkan. kebiasaan sehari hari dan riwayat perilaku seksual. 2004) 2. pruritic papular eruption (PPE). selaput lendir orofaringeal (kandidiasis. berkurangnya fungsi motoris dan sensoris). dermatitis HIV. riwayat dan kemungkinan adanya kehamilan. riwayat penyakit sebelumnya. tanda vital. (4) Pemeriksaan psikologis yang bertujuan untuk mengetahui status mental dan menilai kesiapan menerima pengobatan jangka panjang atau seumur hidup .10 Penilaian Klinis Sebelum memulai terapi perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut: (1) Penggalian riwayat penyakit secara lengkap. kemungkinan sumber infeksi HIV. paru dan abdomen. Herpes simplex virus). jejas suntikan atau jejas sayatan). limfadenopati. Sarkoma Kaposi. kulit (herpes zoster. riwayat kemungkinan infeksi menular seksual (IMS). sarkoma Kaposi. dermatitis seboroik berat.(14)Disamping ART maka infeksi oportunistik harus pula mendapat perhatian dan harus segera diobati bila ditemukan. dan riwayat penggunaan NAPZA suntik (3) Pemeriksaan fisik lengkap yang meliputi berat badan. pemeriksaan sistem saraf dan otot rangka ( keadaan kejiwaan. gejala dan keluhan pasien saat ini. riwayat penyakit dan pengobatan tuberkulosis (TB) termasuk kemungkinan kontak dengan TB sebelumnya. riwayat pengobatan dan penggunaan kontrasepsi oral pada perempuan. riwayat penggunaan ART termasuk riwayat rejimen untuk pencegahan penularan dari ibu ke anak sebelumnya. diagnosis dan pengobatan yang diterima termasuk. (2) Infeksi oportunistik. hairy leukoplakia. pemeriksaan jantung.

pemeriksaan darah lengkap terutama hemoglobin. . lipid serum dan amilase serum. kimia darah terutama fungsi hati dan fungsi ginjal dan pemeriksaan kehamilan. pemeriksaan urin rutin dan mikroskopik.serologi virus hepatitis C (HCV) dan virus hepatitis B (HBV). profil kimia darah diperiksa yang meliputi kreatinin serum dan/atau ureum darah untuk menilai fungsi ginjal pada awal. Jika memungkinkan. SGOT/SGPT untuk mengetahui kemungkinan adanya hepatitis serta memantau adanya keracunan obat dan pemeriksaan lain bila perlu seperti bilirubin serum. (5) Pemeriksaan tambahan yang diperlukan sesuai riwayat penyakit dan pemeriksaan kli is yang n meliputi foto toraks. glukosa darah. (6) Hitung Total Lymphocyte Count (TLC) dan bila memungkinkan pemeriksaan jumlah CD4. pemeriksaan serologi untuk HIV dengan menggu nakan.(4) Pemeriksaan laboratorium rutin. limfosit total atau CD4 jika tersedia.

tanda-tanda bahaya dan lain sebagainya yang terkait dengan ART dan pasien yang mendapat ART harus menjalani pemeriksaan untuk pemantauan secara klinis dengan teratur ( DEPKES.(7) Persyaratan lain yaitu sebelum mendapat ART pasien harus dipersiapkan secara matang dengan konseling kepatuhan yang telah baku.12. tanpa memandang jumlah limfosit total (2)Stadium III WHO. efek samping obat. (2) Mengidentifikasi penyakit yang berhubungan dengan HIV di masa lalu. tanpa memandang jumlah CD4 T limfosit (2) Infeksi HIV Stadium III menurut kriteria WHO dengan jumlah CD4 T limfosit <350 sel/mm³ (3) Infeksi HIV Stadium I atau II menurut kriteria WHO dengan jumlah CD4 <200 sel/mm³ 2.11 Tujuan penilaian klinis (1) Menilai stadium klinis infeksi HIV.2004.12. sehingga pasien faham benar akan manfaat. 2004).1 Pemberian ART jika tersedia test CD4 T limfosit (1) Infeksi HIV Stadium IV menurut kriteria WHO.2 Pemberian ART jika tidak tersedia test CD4 T limfosit (1) Stadium IV WHO. tanpa memandang jumlah limfosit total (3) Stadium II WHO dengan jumlah limfosit total <1200 sel/mm³ (DEPKES. WHO. 2006) . 2. 2. cara penggunaan. 2004). (3) Mengidentifikasi penyakit yang terkait dengan HIV saat ini yang membutuhkan pengobatan. (4) Mengidentifikasi pengobatan lain yang sedang dijalani yang dapat mempengaruhi pemilihan terapi ( DEPKES.12 Pemberian ART Sesuai rekomendasi WHO edisi tahun 2006 maka ODHA dewasa seharusnya segera mulai ART apabila: 2.

23 .

bila tersedia sarana pemeriksaan CD4 akan membantu untuk menentukan saat pemberian terapi yang lebih tepat. Bagi pasien dalam stadium I atau II. ODHA asimtomatik tidak boleh diter api karena pada saat ini belum ada petanda lain yang terpercaya (DEPKES. 2004. Jumlah limfosit total ”1200 sel/mm³ dapat dipakai sebagai pengganti bila pemeriksaan CD4 tidak dapat dilaksanakan dan terdapat gejala yang berkaitan dengan HIV. Kriteria memulai terapi ARV pada bayi dan anak dapat dilihat pada lampiran 2. Sedangkan pada pasien asimtomatik jumlah limfosit total kurang berkorelasi dengan jumlah CD4. CD4 dianjurkan digunakan untuk membantu menentukan mulainya terapi. Contoh. maka yang digunakan sebagai indikator pemberian terapi pada infeksi HIV simtomatik adalah jumlah limfosit total 1200 sel/mm³ atau kurang misalnya pada Stadium II WHO. oleh karena harganya yang mahal dan pemeriksaannya rumit. Maka.Artinya jika tersedia test CD4 T limfosit ART untuk penyakit Stadium IV menurut kriteria WHO tidak seharusnya tergantung pada jumlah CD4. 24 . bila tidak ada pemeriksaan CD4. demam berkepanjangan. Tuberkulosis (TB) paru dapat muncul kapan saja pada nilai CD4 berapapun dan kondisi lain yang menyerupai penyakit yang bukan disebabkan oleh HIV misal. maka jumlah CD4 <200 sel/mm³ merupakan indikasi pemberian terapi. Untuk Stadium III. WHO. diare kronis. 2006). Hal ini tidak dapat dimanfaatkan pada ODHA asimtomatik. Untuk kondisi Stadium III terpilih nilai ambang 350 sel/mm³ karena pada nilai di bawahnya biasanya kondisi pasien mulai menunjukkan perkembangan penyakit yang cepat memburuk. Pemeriksaan viral load dengan menggunakan kadar RNA HIV-1 dalam plasma tidak dianggap perlu sebelum dimulainya ART dan tidak direkomendasikan oleh WHO sebagai tindakan rutin untuk memandu pengambilan keputusan terapi. Apabila tidak ada sarana pemeriksaan CD4. Nilai yang tepat dari CD4 di atas 200-350 sel/mm³ di mana ART harus dimulai belum dapat ditentukan.

terutama ketersediaan kombinasi dosis tetap (2) Efikasi obat (3) Profil efek-samping obat (4) Persyaratan pemantauan laboratorium (5) Kemungkinan kesinambungannya sebagai pilihan obat di masa depan (6) Antisipasi kepatuhan oleh pasien (7) Kondisi penyakit penyerta (8) Kehamilan dan resikonya (9) Penggunaan obat lain secara bersamaan dan potensi terjadinya interaksi obat (10) Infeksi virus lain yang potensial meningkatkan resistensi terhadap satu atau lebih ARV. termasuk ARV lain yang diberikan sebelumnya sebagai profilaksis atau terapi (11) Ketersediaan dan harga ARV (DEPKES. 2006) Rejimen ARV lini-pertama yang terdiri dari dua NRTIs dan satu NNRTIs untuk ODHA remaja dan dewasa yang direkomendasikan oleh WHO adalah : (1) AZT+3TC/FTC+NVP/EFV (zidovudine + lamivudine/emtricitabine +nevirapine/ efavirenz) (2) d4T+3TC/FTC+NVP/EFV (stavudine + lamivudine/emtricitabine +nevirapine/ efavirenz) (3) TDF+3TC/FTC+NVP/EFV (tenofovirdisoproxilfumarate+lamivudine/emtricitabine +nevirapine/ efavirenz) (4) ABC+ 3TC/FTC + NVP/EFV (Abacavir + lamivudine/emtricitabine +nevirapine/ efavirenz) Kombinasi ARV yang direkomendasikan oleh DEPKES adalah: . WHO.2. 2004.13 Rejimen ARV Lini-pertama bagi ODHA dewasa Faktor yang harus diperhatikan dalam memilih regimen ART baik di tingkat program ataupun di tingkat individual menurut DEPKES adalah: (1) Kesesuaian formulasi obat.

2.2 Dosis ARV untuk dewasa (DEPKES. Dosis 2004. Kepatuhan pasien untuk ran meminun obat sesuai aturan pakai sangat menentukan keberhasilan terapi. Regimen lini pertama yang tersedia dengan tiga NRTIs adalah AZT + 3TC + ABC dan AZT +3TC +TDF (WHO.(1) AZT +3TC +NVP (zidovudine + lamivudine + nevirapine) (2) d4T +3TC +NVP (stavudine +lamivudine + nevirapine) (3) AZT +3TC +EFV (zidovudine + lamivudine+efavirenz) (4) d4T +3TC +EFV (stavudin +lamivudine + efavirenz) (DEPKES.14 Dosis Sebelum terapi dimulai. tenaga kesehatan harus melakukan konseling dengan pasien untuk menjelaskan berapa jumlah obat yang harus diminum dan atu pakai. 2006). Tabel II. 2006) ARV Golongan NRTIs Abacavir (ABC) Didanosine (ddI) Lamivudine (3TC) Stavudine (d4T) Zidovudine (AZT atau ZDV) Tenofovir (TDF) Emtricitabine (FTC) 300mg dua kali sehari 600mg sekali sehari 250 mg sekali sehari jika < 60kg 400 mg sekali sehari jika > 60kg 150 mg dua kali sehari 300 mg sekali sehari 40 mg dua kali sehari jika > . WHO. Dosis penggunaan ARV untuk bayi dan anak dapat dilihat pada lampiran 3. 2004) Terdapat juga regimen lini pertama yang terdiri dari tiga NRTIs yang merupakan alternatif yang digunakan pada keadaan seperti NNRTIs menyebabkan komplikasi tambahan dan preserve PIs untuk regimen lini kedua. Tabel II.2 menunjukkan dosis ARV untuk dewasa.

Pemilihan antimikroba untuk mengatasi infeksi oportunistik pada penderita AIDS harus memperhatikan beberapa hal seperti kondisi infeksi penderita dan status imunokompromise karena hampir semua mikroorganisme potensial tumbuh dan berkembang untuk menyerang tubuh sehingga harus dipilih antimikroba yang mempunyai spektrum luas sehingga bisa mengeliminasi bakteri gram positif. Kandidiasis esofagus . farmakodinamik. Kandidiasis Candida albican merupakan penyebab utama infeksi jamur pada pasien HIV. interaksi. timbul efek samping obat. eritematosa. mukosa bukal. Jika dilepaskan. yaitu pseudomembran. Oral biasanya dipakai untuk infeksi ringan dan penderita poliklinis. virus) yang berasal dari luar tubuh. Infeksi ini dapat timbul karena mikroba( bakteri.Pemberian antimikroba rasional tergantung pemahaman mekanisme kerja. Infeksi ini belum digolongkan infeksi oportunistik kecuali jika sudah mengenai esofagus (kandidiasis esofagus). 2005). dan cheilitis angularis. Evaluasi efisien tidaknya obat ditentukan dengan berbagai cara. Oleh karena penyebab infeksi oportunistik adalah berbagai macam organisme maka jenis antimikroba yang digunakan juga bervariasi agar sesuai dengan penyebab penyakitnya. Pemakaian yang tidak baik akan meningkatkan biaya pemeliharaan kesehatan.tempat infeksi. rute pemberian sangat menentukan. 200 mg sekali sehari Infeksi oportunistik Infeksi oportunistik adalah infeksi yang timbul akibat penurunan kekebalan tubuh. maupun yang sudah ada dalam tubuh manusia namun dalam keadaan normal terkendali oleh kekebalan tubuh(Imran dkk. gram negatif serta anaerob. terjadi resistensi obat. Kandidiasis osofaring yang sering terjadi pada pasien HIV dengan jumlah CD4 <200/ L terdiri dari tiga bentuk. terutama bila klirens obat berjalan cepat. fisura. Infeksi kandida pada permukaan mukosa rongga mulut umumnya tampak sebagai selaput putih dan mengeluarkan eksudat berwarna kekuningan pada lidah dan daerah posterior orofaring (Depkes RI.60kg 30 mg dua kali sehari jika <60 kg 250 -300 mg dua kali sehari 300 mg sekali sehari. namun tidak semua obat dipakai oral. status imunitas dan fungsi ekskresinya. atau permukaan dorsal lidah.Cheilitis angularis tampak berupa kemerahan. terutama untuk mencapai dosis terapi yang hendak dicapai. 2003). pseudomembran tersebut akan meninggalkan bercak kemerahan atau perdarahan. Penentuan kadar obat memang juga bermanfaat. jamur.namun paling penting adalah keadaan klinis.. Kandidiasis eritematosa berupa plak kemerahan halus di palatum. Kandidiasis pseudomembran membentuk plak putih 1-2 cm atau lebih luas di mukosa mulut.farmakokinetik. atau keretakan di sudut bibir. Antibiotika yang dipilih sebaiknya mempunyai potensi endotoxin release minimal untuk menghindari terjadinya induksi dan sekresi sitokin berlebihan karena akan berdampak negatif pada penderita AIDS. toksisitas. interaksi obat. strategi resistensi bakteri.Dalam pemberian antibiotika.

. dengan gejala klinis berupa disfagia (sulit menelan). 2006) Orofaring kandidiasis Flukonazol 100mg PO Itrakonazol 200mg PO Klotrimazol troches 10mg PO Nistatin 4-6 ml Esofagus kandidiasis Flukonazol 100mg PO atau IV Itrakonazol 200mg PO Vorikonazol 200mg PO Kaspofungin 50mg IV Azole topikal( klotrimazole. 2005). Kandidiasis dapat diterapi seperti pada tabel II. 2006). Pada pasien HIV-1 dengan Toksoplasmosis serebral selalunya seropositif IgG antibodi manakala Anti-toxoplasma IgM antibodi selalunya hadir. 2005). demam. butokonazol.Table II..Gejala klinis pada pasien adalah sakit kepala. Tabel II. kejang (Depkes RI. Toksoplasmosis serebral akut dapat diterapi dengan obat seperti pada tabel II. tikonazol) Nistatin topikal 100. odinofagia (nyeri saat menelan).4 Terapi kandidiasis untuk pasien AIDS (CDC.biasanya muncul disertai dengan kandidiasis orofaring (80%).2006) Terapi dengan primetamin dan leukovorin adalah untuk menghindari toksiksitas hematologi. bingung dan tanda fokal neurologi( hemiplegia dan seizure) (FHI. 2006) Terapi akut Primetamin 200mg PO setelah itu diteruskan 50mg(<60kg berat badan) dan 75 (>60kg berat badan) PO + Leukovorin 10-20mg PO Terapi diteruskan selama 6 minggu Sulfadiazin 500-1000mg + Primetamin 25-50mg + leukovorin 1025mg PO/ hari Klindamisin 300-450mg PO setiap 6-8 jam + Primetamin 25-50mg PO + leukovorin 10-25mg PO Terapi penjagaan untuk kronik Terapi pilihan pertama Terapi pilihan kedua Atovakuon 750mg PO setiap 6-12 jam . atau nyeri retrosternum. Alternatif regimen terapi adalah klindamisin kombinasi dengan pirimetamin dan leukovorin( CDC.Umumnya terjadi pada pasien dengan jumlah CD4 < 200/ L. mikonazol.Gejala penyakit ini adalah pusing.4 (Imran dkk. demam. 2006).000 unit /hari sebagai tablet vaginal untuk 14 hari Vulvovaginitis Itrakonazol 200mg sehari 2 kali Toksoplasmosis serebral Penyakit ini disebabkan oleh Toxoplasma gondii (Imran dkk.8. Kandidiasis kulit menyebabkan iritasi dan luka berwarna merah (FHI.8 Terapi toksoplasmosis serebral ( CDC. 2003).

Tabel II. 2006). Terapi untuk esofagitis atau kolitis dapat digunakan gansiklovir atau foskarnet sampai gejala hilang (CDC. 2003). Tanpa pengobatan akan timbul kebutaan dalam beberapa minggu (Depkes RI. Gansiklovir intraokular dan valgansiklovir oral adalah untuk menghindari timbulnya retinitis lagi. Kadar CD4 <50-100/ L merupakan faktor resiko mendapat infeksi CMV (Imran dkk. 2005). Pada CMV retinitis.Dengan atau tanpa Primetamin 25mg PO Primetamin dan klindamisin 600mg IV atau PO Trimetomprim(5mg/kg)Sulfametoksazol(25mg/kg) IV atau PO sehari dua kali Atovakuon 1500mg PO sehari dua kali dengan makanan dan sulfadiazin 1000-1500mg PO Terapi alternatif Primetamin dan azitromisin 900-1200mg PO Cytomegalovirus (CMV) Cytomegalovirus merupakan virus yang mempunyai rantai DNA ganda yang mengaktivasi penyebaran pada pasien imunosupresi yang sebelumnya terinfeksi oleh CMV (CDC. pasien mengeluh pandangan buram. atau fosekarnet iv dengan cidofovir sebagai alternatif.. 2006) CMV retinitis Lesi yang parah:Gansiklovir itraokular implan dan Valgansiklovir 900 mg PO Lesi periferal :Valgansiklovir 900mg PO sehari dua kali selama 14-21 hari Lesi periferal kronik:Valgansiklovir 900 mg PO Foskarnet 90-120mg/kg IV CMV esofagitis atau kolitis Gansiklovir IV atau Foskarnet IV selama 21-28 hari atau sampai gejala hilang CMV neurologi Gansiklovir IV dan Foskarnet IV diteruskan sampai gejala hilang Alternatif CMV retinitis Gansiklovir 5mg/kg IV selama 14-21 hari setelah itu Valgansiklovir 900mg Foskarnet 60mg/kg IV atau 90mg/kg selama 14-21 hari setelah itu 90-120mg/kg IV Cidofovir 5mg/kg IV untuk 2 minggu setelah itu 5mg/kg setiap minggu yang diberikan dengan hidrasi salin IV dan probenesid Cidofovir 5mg/kg IV setiap minggu dengan probenesid 2g PO . ada titik yang mengambang di depan matanya atau merasa ada selaput yang menghalangi penglihatannya. 2006). Gejala klinis pada CMV esofagitis adalah nyeri sewaktu menelan dan demam(FHI.11 Terapi cytomegalovirus untuk pasien AIDS (CDC. Terapi kombinasi gansiklovir dan foskarnet lebih efektif daripada gansiklovir atau foskarnet tunggal (Fauci and Lane. 2006).gansiklovir iv. 2006). Terapi terdiri dari valgansiklovir oral. Kolitis dan esofagitis juga dapat disebabkan oleh CMV yaitu sebanyak 5%-10% pada pasien HIV/AIDS (CDC. 2005).

Terapi penjagaan untuk kronik Fomivirsen 1 vial (300mg) diulang 2-4 minggu. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful