BENIH HIBRIDA Deskripsi Padi hibrida adalah hasil perkawinan dua tetua yang berbeda genotipenya.

Melalui perkawinan itulah terkumpul gen-gen yang keberadaannya secara bersamaan memberikan efek heterosis, yaitu fenomena di mana tanaman yang tumbuh dari benih hasil persilangan dua genotipe yang berbeda (disebut generasi F1) memiliki sifat lebih baik dari tetuanya. Oleh karena itu, jika padi tersebut tumbuh dan secara alami melakukan kawin sendiri, akan terjadi segregasi gen-gen di dalamnya, sehingga keturunan yang dihasilkan tidak akan seragam. Contoh Padi varietas Intani 1 dan Intani 2, varietas Maro dan Rokan, jagung varietas Semar 3-8, BISI 1-8, C 1-15, P 6-9. Teknik membuat benih Berikut ini contoh teknik membuat benih hibrida pada tanaman padi. Pembentukan padi hibrida dilakukan dengan menggunakan galur mandul jantan (cytoplasmic male sterile, CMS). Sifat mandul jantan dikendalikan oleh interaksi suatu gen resesif dalam inti sel dengan sitoplasma. Suatu galur akan mandul jantan apabila mempunyai gen homozigot resesif dan sitoplasma steril. Benih padi hibrida dihasilkan melalui persilangan antara galur mandul jantan yang sering disebut sebagai galur A, dengan galur pemulih kesuburan (restorer, R). Galur restorer mempunyai gen dominan pemulih kesuburan, sehingga bila disilangkan dengan galur A menghasilkan F1 hibrida fertil. Gen yang mengendalikan pemulihan fertilitas tersebut disebut Rf, sehingga galur R mempunyai genoptipe Rf Rf, sedangkan galur A mempunyai genotipe rf rf. Galur A mempunyai sitoplasma steril (S) sedangkan galur R mempunyai sitoplasma steril atau fertil (F). Galur A bersifat mandul jantan sehingga tidak dapat menghasilkan benih tanpa melalui persilangan dengan galur/varietas lain yang mempunyai folen fertil, sehingga bersifat normal. Genetik galur B sama dengan galur A, tetapi sitoplasmanya berbeda, sehingga galur B mempunyai sifat-sifat yang sama dengan galur A, kecuali sterilitas jantannya, dan galur A mempunyai polen steril sedangkan galur B fertil. Kadang-kadang ada sedikit perbedaan umur dan tinggi tanaman yang disebabkan oleh pengaruh sitoplasma. Persilangan polen tidak membawa sitoplasma, sehingga keturunan yang dihasilkan mempunyai sitoplasma yang sama dengan tetua betinanya. Dengan demikian , persilangan antara tetua betina galur A dengan pejantan galur B menghasilkan keturunan dengan gen homozigot resesif dan sitoplasma steril, sama seperti galur A. Untuk lebih jelasnya, persilangan antara galur tetua dan keturunan yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 1.

yaitu benih sumber atau breeder seed (BS) dan benih dasar (FS) untuk benih galur tetua. (b) bukan daerah endemik hama dan penyakit utama. terutama wereng colat dan virus tungro. dan benih hibrida. Isolasi waktu. Jarak minimal antara areal pertanaman produksi benih galur A atau hibrida dengan pertanaman padi lainnya adalah : a. Isolasi dapat menggunakan isolasi jarak atau isolasi waktu. Akan tetapi. (e) kecepatan angin sedang. lingkungan Kondisi lingkungan yang harus diperhatikan yakni (a) tanah subur dan irigasi terjamin. Berbeda dengan benih padi hibrida. Di daerah tertentu sangat sulit mendapatkan lahan yang bukan bekas tanaman padi. (d) kelembaban nisbi sekitar 80%. terjadinya persilangan antar varietas tanaman padi sangat kecil meskipun ditanam berdekatan. Oleh sebab itu produksi benih padi galur A maupun benih hibrida harus dilakukan pada areal yang terisolasi dengan baik. Kondisi .Persyaratan dalam memproduksi benih hibrida 1. (c) suhu harian maksimal 300C. Lahan untuk produksi benih sebaiknya bukan bekas tanaman padi. Pada kondisi normal (fertil). 100 m untuk produksi benih hibrida Diantara jarak tersebut dapat ditanami tanaman lain yang bukan padi. 2. tetapi pada lahan bera atau bekas tanaman lainnya. (f) tidak hujan selama masa pembungaan. pada benih padi hibrida hanya terdapat tiga kelas benih. 200 m untuk produksi benih CMS kelas FS c. Penyiapan lahan Areal produksi benih padi galur A dan hibrida harus bebas atau terisolasi dari pertanaman padi lainnya. pada galur mandul jantan sangat mudah terjadi kontaminasi. Isolasi jarak. 500 m untuk produksi benih CMS kelas BS b. Dapat dilakukan dengan mengatur waktu tanam sehingga perbedaan waktu berbunga antara tanaman pada areal produksi benih dengan pertanaman di sekitarnya minimal 21 hari.

SP36 dan KCl masing-masing sebanyak 15 g/m2 . dan antara tanaman B/R: 15 x 30 cm. 7 MST: 75 kg urea + 20 kg KCl/ha . dan 4 (4 hari sebelum. Lahan persemaian diberi pupuk urea. b. 5. lebar 110 cm dan panjang sesuai kebutuhan. galur B ditabur dua kali yaitu pada hari ke 0 dan ke 4 (bersamaan dan 4 hari setelah penaburan benih galur A). Saat tanam 60 kg urea + 50 kg SP36 + 80 kg KCl/ha b.Apabila produksi benih terpaksa dilakukan pada lahan bekas pertanaman padi. b. minimal 5 hari sebelum tanam atau sesuai dengan anjuran pemakaian herbisida yang bersangkutan. Untuk menghindari ketidak-sinkronan masa berbunga. diratakan. digenangi selama dua hari. Buat bedengan persemaian dengan tinggi 5-10 cm. antara tanaman A: 15 x 15 cm. tanah diolah untuk kedua kalinya (bajak II). Untuk menekan pertumbuhan gulma. kemudian dikeringkan dan dibiarkan selama tujuh hari. yaitu pada hari ke -4. Waktu penaburan benih galur A dan galur B atau R diperhitungkan sedemikian rupa agar diperoleh waktu berbunga bersamaan. 4 MST (minggu setelah tanam): 90 kg urea/ha c. Untuk galur B atau R yang ditabur lebih dari satu kali. Umur bibit 21 hari. Penanaman Jarak tanam antara tanaman A dan B/R: 30 cm. kemudian tiriskan dan peram selama 24 jam sebelum ditabur. digenangi lagi selama dua hari. tanah diolah (bajak I). Perlakuan sanitasi tersebut dimaksudkan agar gabah yang tercecer pada pertanaman sebelumnya tumbuh sehingga dapat dibersihkan dari areal pertanaman. bibit dicabut secara bersamaan kemudian dicampur dengan baik. c. Taburkan benih dengan kerapatan 25 g/m2 atau 1 kg benih/40 m2 . 4. Persemaian a. Untuk galur R ditabur tiga kali . Benih ditabur lebih jarang daripada penaburan benih biasanya. 3. semprot lahan dengan herbisida pratumbuh. bersamaan. Kebutuhan benih per hektar untuk benih galur A (CMS): 7. Jumlah bibit: 1 tanaman per rumpun untuk galur A dan 1-2 tanaman per rumpun untuk galur B atau R. sehingga pada umur 21 hari telah beranak.5 – 15 kg sedangkan untuk benih galur B atau R : 5 – 7. kemudian dikeringkan (air dikelurakan) dan dibiarkan selama tujuh hari. dan 4 hari setelah hari yang ditetapkan berdasarkan umur berbunga agar diperoleh waktu berbunga bersamaan antara galur A dengan galur R). maka perlu dilakukan sanitasi lahan saat pengolahan tanah sebagai berikut: a.5 kg. Rasio barisan 2B : 6 A untuk produksi benih galur A dan 2 R : 8 A untuk produksi benih F1 hibrida. Penanaman dilakukan satu tanaman per rumpun bukan satu batang per rumpun. Rendam benih selama 24 jam. d. 0. Penanaman bibit dilakukan pada kedalaman 2-3 cm. Pemupukan Takaran pupuk adalah 300 kg urea + 150 kg SP36 + 100 kg KCl per hektar dengan waktu pemberian sebagai berikut : a. dan dibersihkan dari bibit padi yang tumbuh liar serta gulma lain. lakukan pengolahan ketiga (garu). jadi anakan yang telah terbentuk tidak boleh dipisahkan. c.

Pengaturan air dilakukan sejak penanaman sampai menjelang panen : a. g. Pada masa primordia sampai bunting genangi lahan setinggi sekitar 5 cm untuk mencegah tumbuhnya anakan baru. d. Pada masa pengisian bulir hingga 7 hari menjelang panen lahan dikeringkan dan diairi secara bergantian. Pada masa bunting hingga berbunga lahan dikeringkan dan diairi secara bergantian f. e. 7. 6. 5% berbunga: 75 kg urea/ha Takaran dan waktu pemberian pupuk urea dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman berdasarkan metode Bagan Warna Daun. Lahan dikeringkan sejak 7 hari menjelang panen hingga panen. Selesai masa pembungaan hingga masa pengisian bulir lahan diairi setinggi sekitar 3 cm. pengaturan air serta pengendalian hama penyakit. minimal tiga kali selama pertanaman. . b. Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan tanaman meliputi penyiangan. Keringkan lahan kemudian dalam keadaan macak-macak selama 10 hari c. Genangi lahan setinggi 3 cm selama masa pembentukan anakan hingga menjelang primordia. Seleksi Untuk menghasil benih murni perlu dilakukan pembuangan rumpunrumpun yang tidak dikehendaki.d. Lahan pertanaman diairi setelah selesai tanam setinggi sekitar 3 cm selama 3 hari. h.

Jika pembungaan rumpun tanaman tidak serempak. Stadia berbunga (80-90 hari setelah tanam) a. Cara pembuatan larutan GA3 yakni dengan mearutkan butiran GA3 dalam alkohol 70% sesuai kebutuhan. Kegiatan ini dilakukan 4-5 klai setiap hari pada waktu entesis (09. Apabila setelah penyemprotan pertama turun hujan selama 3 hari berturut-turut. c. semua daun bendera galur A maupun galur B/R dipotong. b. d. 50% dan 30%. 9. maka penyemprotan dilakukan selama 3 hari berturut-turut dengan konsentrasi 20%. 10. Tanaman yang tumbuh diluar jalur Tanaman yang kedudukan. d. b. e. Tanaman yang mempunyai malai dengan jumlah bulir isi normal b.00). Penyemprotan dapat dilakukan pada pagi atau sore. maka penyemprotan kedua tidak perlu dilakukan.Tanaman yang dibuang adalah sebagai berikut: 1. stigma (agar lebih banyak bagian yang keluar bulir). apabila hendak digunakan campurkan larutan tersebut dengan air sesuai takaran. Pemotongan daun bendera Untuk memudahkan penyerbukan. Stadia anakan maksimum (50 hari setelah tanam): a. 3. Penyemprotan pertama dilakukan pada saat tanaman berbunga 5-10% dengan konsentrasi larutan 60 ppm (30 g GA3 untuk 500 l air). pada saat cuaca cerah dan tidak ada angin. Suplementasi penyerbukan Faktor penting yang menentukan keberhasilan produksi benih padi hibrida adalah suplementasi penyerbukan. Untuk menghindari penyebaran penyakit hawar daun bakteri dan bakteri daun bergaris. e. waktu reseptif stigma terhadap polen. selama lebih kurang 10 hari. Tanaman yang memiliki bentuk dan ukuran gabah berbeda. bentuk dan ukuran daunnya berbeda Tanaman yang warna kakinya berbeda Tanaman yang tingginya berbeda Pembuangan rumpun tanaman tersebut dilakukan dengan cara dicabut untuk menghindari tumbuh kembali. pemotongan daun bendera dilakukan pada tanaman sehat terlebih dahulu. c. Penyemprotan kedua dilakukan pada saat tanaman berbunga 35-40% atau 2 hari setelah penyemprotan pertama dengan konsentrasi 30 ppm. b.30-12. Penyemprotan GA3 Tujuan penyemprotan GA3 yakni untuk memperpanjang: leher malai (sehingga malai keluar dari selubung daun bendera). c. Stadia masak (110-115 hari setelah tanam) a. Pemotongan dilakukan pada saat tanaman bunting dengan memotong daun bendera sekitar 2/3 dari panjangnya. Tanaman Tanaman Tanaman Tanaman yang terlalu cepat/lambat berbunga pada galur A yang anternya berwarna kuning dan gemuk pada galur A yang berleher malai yang bentuk dan ukuran gabahnya berbeda 2. d. Takaran penyemprotan adalah 45 g/ha dengan cara: a. Cara yang efektif untuk suplementasi penyerbukan adalah dengan . 8.

Wayapoburu. Panen Waktu panen yang tepat adalah pada saat tanaman masak fisiologis atau apabila 90% gabah telah menguning. Maka. Panen dilakukan pada galur B atau galur R terlebih dahulu. Panca panen Seperti halnya dalam pascapanen padi pada umumnya. Selain itu. Contoh Padi varietas PB5. Contoh benih unggul hibrida: varietas Intani 1 dan Intani 2. sebaiknya dibersihkan lebih dahulu dari sisa gabah yang tertinggal untuk menghindari tercampurnya benih hibrida dengan benih lain. petani memilih untuk menggunakan benih hibrida. IR-64.menggoyang tanaman galur B atau galur R menggunakan tongkat sepanjang 2 m sambil berjalan di antara barisan tanaman. Widas. PERUSAHAAN BENIH HIBRIDA Perusahaan benih tertarik untuk memproduksi benih hibrida karena benih keturunan dari benih hibrida tidak seperti kualitas tetuanya. Bila menggunakan alat perontok. Cisadane. . PB8. Semakin tinggi tingkat adopsi benih hibrida. kemudian galur A. dilakukan pengeringan dengan memanfaatkan sinar matahari atau mesin pengering. dan lain-lain. Artinya. semakin tinggi pula permintaan atas benih tersebut. Cimelati. Selanjutnya. Gilirang. BENIH UNGGUL NASIONAL Benih terbaik sesuai dengan tujuan pemuliaan dilepas sebagai varietas unggul. 12. Karena. IR-64. maka perusahaan benih berusaha untuk memenuhi jumlah permintaan benih oleh petani. petani selalu membeli benih tersebut dari perusahaan. maka dikatakan galur tersebut telah murni (galur murni) dan akan melakukan penyerbukan sendiri menghasilkan keturunan yang seragam dan sama persis dengan pertanaman generasi sebelumnya. Gilirang. Widas. yaitu varietas yang berupa galur murni. varietas Maro dan Rokan. petani cenderung menggunankan bibit unggul yang kualitas dan kuantitas hasil produksinya tinggi. Untuk meningkatkan kemurnian benih. tingkat adopsi petani terhadap hadirnya benih hibrida semakin tinggi. Cimelati. Jika semua lokus (tempat gen) pada tanaman tersebut telah homosigot (terisi oleh gen yang sama). Ciherang. sebelum panen galur A lakukan pengontrolan dan seleksi terhadap tanaman-tanaman yang sistem pengisiannya (jumlah bulir per malai) normal. Wayapoburu. seiring berjalannya waktu. BENIH NON HIBRIDA/BENIH LOKAL/BENIH BERSARI BEBAS Deskripsi Varietas inhibrida (lokal). petani cenderung berusaha tani untuk tujuan komersial. Dengan demikian. Contoh benih unggul inhibrida: Padi varietas PB5. Pengeringan dianggap selesai apabila kadar air benih mencapai 13%. Ciherang. Cisadane. yakni dilakukan perontokan gabah (baik manual atau dengan mesin perontok). PB8. 11.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful