1

SHALAT FARDHU

MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Fiqh
Dosen Pengampu : Ridwan, M.Ag













Disusun oleh:
Afridatul Adkhiyah 093811004
Ahmad Hakim 093811005
Aida Kamalia 093811007


FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011
2

SHALAT FARDHU

I. PENDAHULUAN
Kita umat Islam wajib mengadakan hubungan dengan Allah. Hubungan semacam
ini dinamai shalat sebagai hubungan utama yang wajib dikerjakan lima kali dalam sehari
semalam. Didalam shalat, kita berdialog, berkomunikasi langsung dengan Allah,
meminta ampun dari segala kekeliruan, kekurangan, dan kesalahan serta meminta
pertolongan dan petunjuk.
Dalam hadits, Rasulullah SAW menempatkan shalat itu dalam kedudukan yang
sangat penting, untuk membedakan atau memberi batas pemisah antara seorang muslim
dengan orang kafir (orang yang tidak percaya kepada Allah), karena apabila orang
munafik telah meninggalkan shalat, berarti ia telah menjadi sama dengan orang kafir.
1

Shalat yang diwajibkan bagi tiap-tiap orang dewasa dan berakal ialah lima kali
sehari semalam. Mula-mula turunnya perintah wajib shalat itu ialah pada malam Isra¶,
sebelum tahun hijriah.

II. RUMUSAN MASALAH
1. Pengertian shalat fardhu
2. Dasar hukum shalat fardhu
3. Waktu shalat fardhu
4. Syarat dan rukun
5. Hal yang membatalkan shalat fardhu
6. Kaifiyah dan analisis shalat fardhu

III. PEMBAHASAN
1. Pengertian shalat fardhu
Secara lughawi atau arti kata shalat mengandung beberapa arti; yang arti
beragam itu dapat ditemukan contohnya dalam Al Quran. Ada yang berarti ³doa´,
sebagaimana dalam surat at-Taubah ayat 103:

1
Drs. M. Zainul Arifin, Shalat Mikraj Kita, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada), hlm 9-11
3

´V+´.´« ´ò´·´H`1´´ F ´´´f ´ÓVP¬`1+´
´·N´´ ´ò´=´1 ...
Artinya: ³«dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu
(menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka «´.
Kata shalat juga dapat berarti memberi berkah, sebagaimana terdapat dalam
surat al-Ahzab ayat 56:
´´´f« ´ãBb ´´=´JAP´´´´`1´v.´ ´´¬´1+´´·
Ê`V´´ ´.´´L´1ÒBb «PF
Artinya: ³«sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya memberi berkah
kepada Nabi «´.
Secara terminologis yaitu serangkaian perkataan dan perbuatan yang dimulai
dengan takbir dan disudahi dengan salam.
2

Shalat fardhu ialah shalat yang wajib dilakukan oleh tiap-tiap mukallaf (orang
yang masuk islam dan telah baligh dan berakal), dan waktunya adalah lima kali sehari
semalam. Sedang makna shalat itu sendiri adalah berhadap hati kepada Allah sebagai
ibadat, dalam bentuk beberapa perkataan dan perbuatan, yang dimulai dengan takbir
dan diakhiri dengan salam serta menurut syarat-syarat yang telah ditentukan hukum
syara¶.

2. Dasar hukum shalat fardhu
Hukum shalat adalah wajib µain dalam arti kewajiban yang ditujukan kepada
setiap orang yang telah dikenai beban hukum (mukallaf).
Seperti tercantum dalam sabda Rasulullah SAW :

ϼλ ϦϴδϤΧ ˯΍ήγϻ΍ ΔϠϴϟ ϲΘϣ΍ ϲϠϋ Ϳ΍ νήϓ ϒϴϔΨΘϟ΍ ϪϟΎγ΍ϭ ϪόΟ΍έ΍ ϝί΍ ϢϠϓ Γ ΎϬϠόΟ ϰΘΣ
ΔϠϴϟϭ ϡϮϳ Ϟϛ ϲϓ ΎδϤΧ


2
Prof. Dr. Amir Syarifuddin, Garis-garis Besar Fiqh, (Jakarta: Prenada Media), hlm 20-21
4

³telah difardhukan Allah atas umatku pada malam isra¶ lima puluh shalat. Maka senantiasa
kami kembali kehadirat Inllahi, dan saya minta keringanan sehingga dijadikan-Nya menjadi
lima kali dalam sehari semalam´ (sepakat ahli hadits)

3. Waktu shalat fardhu
Waktu shalat fardhu antara lain:
a. Shalat dhuhur, awal waktunya adalah setelah tergelincir matahari dari
pertengahan langit. Akhir waktunya apabila ada bayang-bayang sesuatu telah
sama dengan panjangnya, selain dari bayang-bayang yang ketika matahari
menonggak (tepat diatas ubun-ubun).
b. Shalat ashar, waktunya mulai dari habisnya waktu dhuhur (bayang-bayang
sesuatu lebih dari pada panjangnya selain dari bayang-bayang yang ketika
matahari sedang menonggak) sampai terbenamnya matahari.
c. Shalat maghrib, waktunya dari terbenamnya matahari sampai terbenamnya
syafaq merah.
d. Shalat isya¶, waktunya mulai dari terbenamnya syafaq merah (sehabis waktu
maghrib) sampai terbit fajar kedua.
e. Shalat subuh, waktunya mulai dari terbit fajar kedua sampai terbit matahari.
Enam tingkatan waktu shalat:
1) Shalat pada awal waktunya, disebut Fadhillah (utama).
2) Waktu usaha (Jawaz), yaitu waktu setelah habis waktu utama tersebut.
Kalau ditunda lagi, maka nilainya akan semakin berkurang.
3) Waktu makruh (Kararah), yaitu waktu yang hampir mendekati akhir,
sehingga apabila shalat dikerjakan dengan syarat dan rukunnya, waktu
akan habis. Pada keadaan yang demikian, tidak patut lagi untuk menunda
shalat.
4) Waktu terpaksa (Dhuruurah), yaitu waktu yang amat dekat dengan saat
akhirnya sehingga tidak cukup lagi untuk melakukan shalat. Waktu ini
hanya diperbolehkan bagi orang yang berhalangan.
5

5) Waktu haram (Tahrim), waktu yang sengaja ditunda lagi, padahal waktu
itu sudah tidak cukup untuk mengerjakan shalat, sementara yang
bersangkutan tidak berhalangan apa-apa.
6) Uzur, yaitu waktu yang masih tersedia banyak, tetapi yang bersangkutan
tidak dapat memenuhi syarat dan rukun shalat (misalnya karena ia berada
di atas kendaraan ketika itu).
3

Yang lebih baik hendaklah shalat itu dikerjakan pada awal waktunya, dan haram
men-ta-khir-kan (melalaikan) shalat sampai habis waktunya, makruh tidur sesudah
waktu shalat sedang ia belum shalat. Firman Allah SWT :
´V´·.¬´ ´´C´¹b+´´ù´1´¹Ò ´´´ ´´´´C´ãBb ´ò´´
·´´ ´ò´÷´õ´A+´ ´´¬´´B´´ ´´´
Artinya: ³Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (Yaitu) orang-
orang yang lalai dari shalatnya.´ (Al Ma¶uun: 4-5)

4. Syarat dan rukun
a. Syarat shalat fardhu:
1) Beragama islam
2) Sudah baligh dan berakal
3) Suci dari hadats besar dan kecil
4) Suci seluruh anggota badan, pakaian dan tempat
5) Menutup aurat
6) Masuk waktu shalat
7) Menghadap kiblat
8) Mengetahui mana yang rukun dan mana yang sunah
b. Rukun shalat fardhu
1) Niat, disini arti niat ada dua makna:
y Asal makna niat adalah menyengaja suatu perbuatan. Dengan
adanya kesengajaan ini, perbuatan dinamakan ikhtiraji
(kemauan sendiri, bukan atas dasar paksaan)

3
Drs. Sudarsono S.H., Sepuluh Aspek Agama Islam, (Jakarta: PT Rineka Cipta), hlm. 36-37
6

y Niat pada syara¶, yaitu menyengaja suatu perbuatan karena
mengikuti perintah Allah supaya diridhai-Nya.
2) Takbirotul ihram
3) Berdiri tegak bagi yang mampu
4) Membaca surat al fatihah pada tiap-tiap rakaat
5) Rukuk, I¶tidal,duduk antara dua sujud, duduk tasyahud akhir dengan
tumakninah.
6) Membaca tasyahud akhir.
7) Membaca shalawat nabi pada tasyahud akhir.
8) Membaca salam
9) Tertib

5. Hal yang membatalkan shalat fardhu
Hal-hal yang membatalkan shalat fardhu antara lain:
a. Meninggalkan salah satu syarat, misalnya berhadas dan terkena najis yang
tidak dimaafkan (najis yang tidak dapat dibuang ketika itu), terbuka aurat
yang tidak bisa segera ditutup.
b. Banyak bergerak yang tidak ada hajat atau tidak ada perlunya dalam shalat.
c. Berkata-kata dengan sengaja.
d. Makan dan minum
e. Mengubah niat, misalnya ingin memutuskan shalat
f. Membelakangi kiblat
g. Menambah atau mengurangi rukun yang berupa perbuatan, seperti rukuk dan
sujud
h. Tertawa terbahak-bahak
i. Mendahului imamnya dua rukun
j. Murtad

6. Kaifiyah dan Analisis shalat fardhu
7

Para ulama mazhab berbeda pendapat tentang hukum orang yang
meninggalkan shalat karena malas dan meremehkan, dan ia meyakini bahwa shalat itu
wajib.
Menurut Imam Syafi¶i, Imam Maliki dan Imam Hambali : harus dibunuh,
Imam Hanafi : ia harus ditahan selama-lamanya, atau sampai ia shalat.
Rukun dan fardhu shalat:
1. Niat : semua ulama mazhab sepakat bahwa mengungkapkan niat dengan kata-
kata tidaklah diminta.
Ibnu Qayyim berpendapat dalam bukunya Zadul Ma¶ad, sebagaimana
yang dijelaskan dalam jilid pertama dari buku Al-Mughni, karya Ibnu
Qudamah, sebagai berikut : Nabi Muhammad saw bila menegakkan shalat,
beliau langsung mengucapkan ³Allahu akbar´ dan beliau tidak mengucapkan
apa-apa sebelumnya, dan tidak melafalkan niat sama sekali.
2. Takbiratul Ihram : shalat tidak akan sempurna tanpa takbiratul ihram. Nama
takbiratul ihram ini berdasarkan sabda Rasulullah saw :
³Kunci shalat adalah bersuci, dan yang mengharamkannya (dari perbuatan
sesuatu selain perbuatan-perbuatan shalat) adalah takbir, dan penghalalnya
adalah salam.´
Menurut Imam Maliki dan Imam Hambali : kalimat takbiratul ihram
adalah ³Allah Akbar´ (Allah Maha Besar) tidak boleh menggunakan kata-kata
lainnya.
Imam Syafi¶i : boleh mengganti ³Allahu Akbar´ dengan ´Allahu Al-Akbar´,
ditambah dengan alif dan lam pada kata ³Akbar´.
Imam Hanafi : boleh dengan kata-kata lain yang sesuai atau sama artinya
dengan kata-kata tersebut, seperti ³Allah Al-A¶dzam´ dan ³Allahu Al-Ajall´
(Allah Yang Maha Agung dan Allah Yang Maha Mulia).
Imam Syafi¶i, Maliki dan Hambali sepakat bahwa mengucapkannya dalam
bahasa Arab adalah wajib, walaupun orang yang shalat itu adalah orang ajam
(bukan orang Arab)
8

Imam Hanafi : Sah mengucapkannya dengan bahasa apa saja, walau yang
bersangkutan bisa bahasa Arab.
Semua ulama mazhab sepakat : syarat takbiratul ihram adalah semua yang
disyaratkan dalam shalat. Kalau bisa melakukannya dengan berdiri; dan dalam
mengucapkan kata ³Allahu Akbar´ itu harus didengar sendiri, baik terdengar
secara keras oleh dirinya, atau dengan perkiraan jika ia tuli.

3. Berdiri : semua ulama mazhab sepakat bahwa berdiri dalam shalat fardhu itu
wajib sejak mulai dari takbiratul ihram sampai ruku¶, harus tegap, bila tidak
mampu ia boleh shalat dengan duduk.
Hanafi berpendapat : siapa yang tidak bisa duduk, ia boleh shalat terlentang
dan menghadap kiblat dengan dua kakinya sehingga isyaratnya dalam ruku¶
dan sujud tetap menghadap kiblat. Hanafi : bila sampai pada tingkat ini tetapi
tidak mampu, maka gugurlah perintah shalat baginya, hanya ia harus
melaksanakannya (meng-qadha¶-nya) bila telah sembuh dan hilang sesuatu
yang menghalanginya.
Maka menurut Syafi¶i dan Hambali ia boleh shalat terlentang dan
kepalanya menghadap ke kiblat. Bila tidak mampu juga, ia harus
mengisyaratkan dengan kepalanya atau dengan kelopak matanya.
Maliki : bila sampai seperti ini, maka gugur perintah shalat terhadapnya dan
tidak diwajibkan meng-qadha¶-nya.
4. Bacaan : ulama mazhab berbeda pendapat.
Hanafi : membaca Al-Fatihah dalam shalat fardhu tidak diharuskan, dan
membaca bacaan apa saja dari Al-Quran itu boleh, berdasarkan Al-Quran
surat Muzammil ayat 20 :
´Bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Quran,´ (Bidayatul Mujtahid, Jilid
I, halaman 122, dan Mizanul Sya¶rani, dalam bab shifatus shalah).
Syafi¶i : membaca Al-Fatihah adalah wajib pada setiap rakaat tidak ada
bedanya, baik pada dua rakaat pertama maupun pada dua rakaat terakhir, baik
pada shalat fardhu maupun shalat sunnah.
9

Maliki : membaca Al-Fatihah itu harus pada setipa rakaat, tak ada bedanya,
baik pada rakaat-rakaat pertama maupun pada rakaat-rakaat terakhir, baik
pada shalat fardhu maupun shalat sunnah, sebagaimana pendapat Syafi¶i, dan
disunnahkan membaca surat Al-Quran setelah Al-Fatihah pada dua rakaat
yang pertama.
Hambali : wajib membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat, dan sesudahnya
disunnahkan membaca surat Al-Quran pada dua rakaat yang pertama.
Empat mazhab menyatakan bahwa membaca amin adalah sunnah,
berdasarkan hadits Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda :
´kalau ingin mengucapkan Ghairil maghdzubi ¶alaihim waladzdzaallin, maka
kalian harus mengucapkan amin.´
5. Ruku¶ : semua ulama mazhab sepakat bahwa ruku¶ adalah wajib di dalam
shalat. Namun mereka berbeda pendapat tentang wajib atau tidaknya ber-
thuma¶ninah di dalam ruku¶, yakni ketika ruku¶ semua anggota badan harus
diam, tidak bergerak. (Mughniyah; 2001)
Hanafi : yang diwajibkan hanya semata-mata membungkukkan badan dengan
lurus, dan tidak wajib thuma¶ninah. Mazhab-mazhab yang lain : wajib
membungkuk sampai dua telapak tangan orang yang shalat itu berada pada
dua lututnya dan juga diwajibkan ber-thuma¶ninah dan diam (tidak bergerak)
ketika ruku¶.
Syafi¶i, Hanafi, dan Maliki : tidak wajib berdzikir ketika shalat, hanya
disunnahkan saja mengucapkan :
Subhaana rabbiyal ¶adziim
´Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung´
Hambali : membaca tasbih ketika ruku¶ adalah wajib. (Mughniyah;
2001)Kalimatnya menurut Hambali :
Subhaana rabbiyal ¶adziim
´Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung´
6. Sujud : semua ulama mazhab sepakat bahwa sujud itu wajib dilakukan dua
kali pada setipa rakaat. Mereka berbeda pendapat tentang batasnya.
10

Maliki, Syafi¶i, dan Hanafi : yang wajib (menempel) hanya dahi, sedangkan
yang lain-lainnya adalah sunnah. Hambali : yang diwajibkan itu semua
anggota yang tujuh (dahi, dua telapak tangan, dua lutut, dan ibu jari dua kaki)
secara sempurna. Bahkan Hambali menambahi hidung, sehingga menjadi
delapan.
7. Tahiyyat : tahiyyat di dalam shalat dibagi menjadi dua bagian : pertama yaitu
tahiyyat yang terjadi setelah dua rakaat pertama dari shalat maghrib, isya¶,
dzuhur, dan ashar dan tidak diakhiri dengan salam. Yang kedua adalah
tahiyyat yang diakhiri dengan salam, baik pada shalat yang dua rakaat, tiga,
atau empat rakaat.
Hambali : tahiyyat pertama itu wajib. Mazhab-mazhab lain : hanya sunnah.
Syafi¶i, dan Hambali : tahiyyat terakhir adalah wajib. Maliki dan Hanafi :
hanya sunnah, bukan wajib.
8. Mengucapkan salam
Syafi¶i, Maliki, dan Hambali : mengucapkan salam adalah wajib. Hanafi :
tidak wajib. (Bidayatul Mujtahid, Jilid I, halaman 126).
Menurut empat mazhab, kalimatnya sama yaitu :
Assalaamu¶alaikum warahmatullaah
´Semoga kesejahteraan dan rahmat Allah tercurah kepada kalian´
Hambali : wajib mengucapkan salam dua kali, sedangkan yang lain hanya
mencukupkan satu kali saja yang wajib.
9. Tertib : diwajibkan tertib antara bagian-bagian shalat. Maka takbiratul Ihram
wajib didahulukan dari bacaan Al-Quran (salam atau Al-Fatihah), sedangkan
membaca Al-Fatihah wajib didahulukan dari ruku¶, dan ruku¶ didahulukan
daru sujud, begitu seterusnya.
10. Berturut-turut : diwajibkan mengerjakan bagian-bagian shalat secara
berurutan dan langsung, juga antara satu bagian dengan bagian yang lain.
Artinya membaca Al-Fatihah langsung setelah bertakbir tanpa ada selingan.
Dan mulai ruku¶ setelah membaca Al-Fatihah atau ayat Al-Quran, tanpa
11

selingan, begitu seterusnya. Juga tidak boleh ada selingan lain, antara ayat-
ayat, kalimat-kalimat, dan huruf-huruf.
4


IV. SIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa:
- Shalat mengandung arti doa dan berkah, secara istilah yaitu serangkaian perkataan
dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam.
- Shalat fardhu ialah shalat yang wajib dilakukan oleh tiap-tiap mukallaf (orang
yang masuk islam dan telah baligh dan berakal), dan waktunya adalah lima kali
sehari semalam.
- Shalat fardhu memiliki waktu yang berbeda-beda seperti waktu dzuhur, ashar,
maghrib, isya dan shubuh.
- Kaifiyah shalat fardhu menurut para imam mazhab secara kronologis niat
melakukan shalat, takbiratul ihram, berdiri, bacaan, ruku, sujud, tahiyyat,
mengucap salam, tertib, berturut-turut.

V. PENUTUP
Demikian makalah fikih mengenai shalat yang telah kami susun. Kami menyadari
bahwa makalah ini masih cukup jauh dari sempurna. Saran dan kririk yang membangun
sangat kami harapkan untuk pembuatan makalah kami selanjutnya. Semoga makalah ini
dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Amin






DAFTAR PUSTAKA

4
http://blog.uin-malang.ac.id/ilalala/2010/10/09/shalat-wajib-menurut-4-mazhab/
12


http://blog.uin-malang.ac.id/ilalala/2010/10/09/shalat-wajib-menurut-4-mazhab/
Rasjid, Sulaiman. Fiqh Islam. Bandung: Sinar Baru Algensindo. 2007
Sudarsono. Sepuluh Aspek Agama Islam. Jakarta: PT Rineka Cipta. 1994
Syarifuddin, Amir. Garis-garis Besar Fiqh. Jakarta: Prenada Media. 2003
Zainul Arifin, Zainul. Shalat Mikraj Kita. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2002



PENDAHULUAN Kita umat Islam wajib mengadakan hubungan dengan Allah. dan kesalahan serta meminta pertolongan dan petunjuk. berkomunikasi langsung dengan Allah. untuk membedakan atau memberi batas pemisah antara seorang muslim dengan orang kafir (orang yang tidak percaya kepada Allah). Hal yang membatalkan shalat fardhu 6. kekurangan. Zainul Arifin. hlm 9-11 2 . M.SHALAT FARDHU I. Shalat Mikraj Kita. sebelum tahun hijriah. Hubungan semacam ini dinamai shalat sebagai hubungan utama yang wajib dikerjakan lima kali dalam sehari semalam. Didalam shalat. Pengertian shalat fardhu 2. yang arti beragam itu dapat ditemukan contohnya dalam Al Quran. karena apabila orang munafik telah meninggalkan shalat. Dasar hukum shalat fardhu 3. Syarat dan rukun 5. RUMUSAN MASALAH 1. II. Pengertian shalat fardhu Secara lughawi atau arti kata shalat mengandung beberapa arti. Mula-mula turunnya perintah wajib shalat itu ialah pada malam Isra¶. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada). Ada yang berarti ³doa´. sebagaimana dalam surat at-Taubah ayat 103: 1 Drs.1 Shalat yang diwajibkan bagi tiap-tiap orang dewasa dan berakal ialah lima kali sehari semalam. Rasulullah SAW menempatkan shalat itu dalam kedudukan yang sangat penting. Kaifiyah dan analisis shalat fardhu III. PEMBAHASAN 1. meminta ampun dari segala kekeliruan. berarti ia telah menjadi sama dengan orang kafir. kita berdialog. Waktu shalat fardhu 4. Dalam hadits.

[U!SP^ D 0 I lP . 2. Dr. Sedang makna shalat itu sendiri adalah berhadap hati kepada Allah sebagai ibadat.2 Shalat fardhu ialah shalat yang wajib dilakukan oleh tiap-tiap mukallaf (orang yang masuk islam dan telah baligh dan berakal). Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka «´.. dalam bentuk beberapa perkataan dan perbuatan. Secara terminologis yaitu serangkaian perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam. sebagaimana terdapat dalam surat al-Ahzab ayat 56: DS ^ d O )Z P $WT « E  D «  < sP! Artinya: ³«sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya memberi berkah kepada Nabi «´. Garis-garis Besar Fiqh. yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam serta menurut syarat-syarat yang telah ditentukan hukum syara¶. Dasar hukum shalat fardhu Hukum shalat adalah wajib µain dalam arti kewajiban yang ditujukan kepada setiap orang yang telah dikenai beban hukum (mukallaf). (Jakarta: Prenada Media). Amir Syarifuddin. Seperti tercantum dalam sabda Rasulullah SAW : 2 Prof. hlm 20-21 3 . Kata shalat juga dapat berarti memberi berkah. G"^ 0 N WT«  BU[ Artinya: ³«dan mendoalah untuk mereka. dan waktunya adalah lima kali sehari semalam..

tidak patut lagi untuk menunda shalat. d. Pada keadaan yang demikian. disebut Fadhillah (utama). Kalau ditunda lagi. Waktu shalat fardhu Waktu shalat fardhu antara lain: a. e. b. selain dari bayang-bayang yang ketika matahari menonggak (tepat diatas ubun-ubun). 4 . sehingga apabila shalat dikerjakan dengan syarat dan rukunnya. waktunya mulai dari terbit fajar kedua sampai terbit matahari. dan saya minta keringanan sehingga dijadikan-Nya menjadi lima kali dalam sehari semalam´ (sepakat ahli hadits) 3. maka nilainya akan semakin berkurang. Waktu ini hanya diperbolehkan bagi orang yang berhalangan. Shalat maghrib. waktu akan habis. Shalat ashar. Enam tingkatan waktu shalat: 1) Shalat pada awal waktunya. waktunya mulai dari habisnya waktu dhuhur (bayang-bayang sesuatu lebih dari pada panjangnya selain dari bayang-bayang yang ketika matahari sedang menonggak) sampai terbenamnya matahari. 2) Waktu usaha (Jawaz). Shalat isya¶. 4) Waktu terpaksa (Dhuruurah).³telah difardhukan Allah atas umatku pada malam isra¶ lima puluh shalat. c. waktunya mulai dari terbenamnya syafaq merah (sehabis waktu maghrib) sampai terbit fajar kedua. Shalat dhuhur. Shalat subuh. Maka senantiasa kami kembali kehadirat Inllahi. 3) Waktu makruh (Kararah). yaitu waktu setelah habis waktu utama tersebut. yaitu waktu yang hampir mendekati akhir. Akhir waktunya apabila ada bayang-bayang sesuatu telah sama dengan panjangnya. waktunya dari terbenamnya matahari sampai terbenamnya syafaq merah. awal waktunya adalah setelah tergelincir matahari dari pertengahan langit. yaitu waktu yang amat dekat dengan saat akhirnya sehingga tidak cukup lagi untuk melakukan shalat.

(Jakarta: PT Rineka Cipta). hlm. tetapi yang bersangkutan tidak dapat memenuhi syarat dan rukun shalat (misalnya karena ia berada di atas kendaraan ketika itu). 6) Uzur. pakaian dan tempat 5) Menutup aurat 6) Masuk waktu shalat 7) Menghadap kiblat 8) Mengetahui mana yang rukun dan mana yang sunah b. waktu yang sengaja ditunda lagi. Rukun shalat fardhu 1) Niat. makruh tidur sesudah waktu shalat sedang ia belum shalat. Firman Allah SWT : 0 F    L^ . padahal waktu itu sudah tidak cukup untuk mengerjakan shalat. bukan atas dasar paksaan) 3 Drs.5) Waktu haram (Tahrim). perbuatan dinamakan ikhtiraji (kemauan sendiri.. Syarat dan rukun a. yaitu waktu yang masih tersedia banyak. Sepuluh Aspek Agama Islam. Dengan adanya kesengajaan ini. Syarat shalat fardhu: 1) Beragama islam 2) Sudah baligh dan berakal 3) Suci dari hadats besar dan kecil 4) Suci seluruh anggota badan. sementara yang bersangkutan tidak berhalangan apa-apa. dan haram men-ta-khir-kan (melalaikan) shalat sampai habis waktunya. (Yaitu) orangorang yang lalai dari shalatnya.  L " dWSU DS F[ 0 M ' Z^ B Artinya: ³Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. disini arti niat ada dua makna: y Asal makna niat adalah menyengaja suatu perbuatan.3 Yang lebih baik hendaklah shalat itu dikerjakan pada awal waktunya. Sudarsono S. 36-37 5 .´ (Al Ma¶uun: 4-5) 4.H.

7) Membaca shalawat nabi pada tasyahud akhir. 2) Takbirotul ihram 3) Berdiri tegak bagi yang mampu 4) Membaca surat al fatihah pada tiap-tiap rakaat 5) Rukuk. yaitu menyengaja suatu perbuatan karena mengikuti perintah Allah supaya diridhai-Nya. Tertawa terbahak-bahak i. c. misalnya berhadas dan terkena najis yang tidak dimaafkan (najis yang tidak dapat dibuang ketika itu). b. Makan dan minum e. Berkata-kata dengan sengaja. terbuka aurat yang tidak bisa segera ditutup. Meninggalkan salah satu syarat. j. d. 6) Membaca tasyahud akhir.duduk antara dua sujud. 8) Membaca salam 9) Tertib 5. Kaifiyah dan Analisis shalat fardhu 6 . Hal yang membatalkan shalat fardhu Hal-hal yang membatalkan shalat fardhu antara lain: a. misalnya ingin memutuskan shalat f. Mengubah niat. Banyak bergerak yang tidak ada hajat atau tidak ada perlunya dalam shalat.y Niat pada syara¶. I¶tidal. seperti rukuk dan sujud h. Mendahului imamnya dua rukun Murtad 6. Menambah atau mengurangi rukun yang berupa perbuatan. duduk tasyahud akhir dengan tumakninah. Membelakangi kiblat g.

Imam Hanafi : ia harus ditahan selama-lamanya. karya Ibnu Qudamah. Maliki dan Hambali sepakat bahwa mengucapkannya dalam bahasa Arab adalah wajib. beliau langsung mengucapkan ³Allahu akbar´ dan beliau tidak mengucapkan apa-apa sebelumnya. dan yang mengharamkannya (dari perbuatan sesuatu selain perbuatan-perbuatan shalat) adalah takbir. walaupun orang yang shalat itu adalah orang ajam (bukan orang Arab) 7 . seperti ³Allah Al-A¶dzam´ dan ³Allahu Al-Ajall´ (Allah Yang Maha Agung dan Allah Yang Maha Mulia). Nama takbiratul ihram ini berdasarkan sabda Rasulullah saw : ³Kunci shalat adalah bersuci. dan ia meyakini bahwa shalat itu wajib. Ibnu Qayyim berpendapat dalam bukunya Zadul Ma¶ad. dan tidak melafalkan niat sama sekali. 2. sebagai berikut : Nabi Muhammad saw bila menegakkan shalat.Para ulama mazhab berbeda pendapat tentang hukum orang yang meninggalkan shalat karena malas dan meremehkan. Imam Hanafi : boleh dengan kata-kata lain yang sesuai atau sama artinya dengan kata-kata tersebut. Imam Syafi¶i. ditambah dengan alif dan lam pada kata ³Akbar´. Niat : semua ulama mazhab sepakat bahwa mengungkapkan niat dengan katakata tidaklah diminta.´ Menurut Imam Maliki dan Imam Hambali : kalimat takbiratul ihram adalah ³Allah Akbar´ (Allah Maha Besar) tidak boleh menggunakan kata-kata lainnya. Menurut Imam Syafi¶i. atau sampai ia shalat. sebagaimana yang dijelaskan dalam jilid pertama dari buku Al-Mughni. Imam Syafi¶i : boleh mengganti ³Allahu Akbar´ dengan ´Allahu Al-Akbar´. Rukun dan fardhu shalat: 1. dan penghalalnya adalah salam. Takbiratul Ihram : shalat tidak akan sempurna tanpa takbiratul ihram. Imam Maliki dan Imam Hambali : harus dibunuh.

3. Kalau bisa melakukannya dengan berdiri. hanya ia harus melaksanakannya (meng-qadha¶-nya) bila telah sembuh dan hilang sesuatu yang menghalanginya. Hanafi berpendapat : siapa yang tidak bisa duduk. ia harus mengisyaratkan dengan kepalanya atau dengan kelopak matanya. atau dengan perkiraan jika ia tuli. Maliki : bila sampai seperti ini. maka gugur perintah shalat terhadapnya dan tidak diwajibkan meng-qadha¶-nya. baik terdengar secara keras oleh dirinya. dan membaca bacaan apa saja dari Al-Quran itu boleh. ia boleh shalat terlentang dan menghadap kiblat dengan dua kakinya sehingga isyaratnya dalam ruku¶ dan sujud tetap menghadap kiblat. Maka menurut Syafi¶i dan Hambali ia boleh shalat terlentang dan kepalanya menghadap ke kiblat. dan dalam mengucapkan kata ³Allahu Akbar´ itu harus didengar sendiri. Syafi¶i : membaca Al-Fatihah adalah wajib pada setiap rakaat tidak ada bedanya. dan Mizanul Sya¶rani. Hanafi : membaca Al-Fatihah dalam shalat fardhu tidak diharuskan. halaman 122. 8 . dalam bab shifatus shalah). Semua ulama mazhab sepakat : syarat takbiratul ihram adalah semua yang disyaratkan dalam shalat. bila tidak mampu ia boleh shalat dengan duduk. Jilid I. baik pada dua rakaat pertama maupun pada dua rakaat terakhir. Bacaan : ulama mazhab berbeda pendapat. harus tegap. walau yang bersangkutan bisa bahasa Arab. Bila tidak mampu juga. berdasarkan Al-Quran surat Muzammil ayat 20 : ´Bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Quran.´ (Bidayatul Mujtahid. 4. maka gugurlah perintah shalat baginya.Imam Hanafi : Sah mengucapkannya dengan bahasa apa saja. Hanafi : bila sampai pada tingkat ini tetapi tidak mampu. Berdiri : semua ulama mazhab sepakat bahwa berdiri dalam shalat fardhu itu wajib sejak mulai dari takbiratul ihram sampai ruku¶. baik pada shalat fardhu maupun shalat sunnah.

berdasarkan hadits Abu Hurairah. (Mughniyah. dan sesudahnya disunnahkan membaca surat Al-Quran pada dua rakaat yang pertama. Syafi¶i. baik pada shalat fardhu maupun shalat sunnah. 9 . Empat mazhab menyatakan bahwa membaca amin adalah sunnah. dan Maliki : tidak wajib berdzikir ketika shalat. dan disunnahkan membaca surat Al-Quran setelah Al-Fatihah pada dua rakaat yang pertama. dan tidak wajib thuma¶ninah. Hanafi. hanya disunnahkan saja mengucapkan : Subhaana rabbiyal ¶adziim ´Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung´ Hambali : membaca tasbih ketika ruku¶ adalah wajib. 2001) Hanafi : yang diwajibkan hanya semata-mata membungkukkan badan dengan lurus. sebagaimana pendapat Syafi¶i. bahwa Rasulullah saw bersabda : ´kalau ingin mengucapkan Ghairil maghdzubi ¶alaihim waladzdzaallin. Sujud : semua ulama mazhab sepakat bahwa sujud itu wajib dilakukan dua kali pada setipa rakaat. tidak bergerak. Hambali : wajib membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat. Namun mereka berbeda pendapat tentang wajib atau tidaknya berthuma¶ninah di dalam ruku¶. maka kalian harus mengucapkan amin. baik pada rakaat-rakaat pertama maupun pada rakaat-rakaat terakhir. yakni ketika ruku¶ semua anggota badan harus diam.´ 5. Mereka berbeda pendapat tentang batasnya.Maliki : membaca Al-Fatihah itu harus pada setipa rakaat. 2001)Kalimatnya menurut Hambali : Subhaana rabbiyal ¶adziim ´Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung´ 6. tak ada bedanya. (Mughniyah. Ruku¶ : semua ulama mazhab sepakat bahwa ruku¶ adalah wajib di dalam shalat. Mazhab-mazhab yang lain : wajib membungkuk sampai dua telapak tangan orang yang shalat itu berada pada dua lututnya dan juga diwajibkan ber-thuma¶ninah dan diam (tidak bergerak) ketika ruku¶.

9. sedangkan yang lain-lainnya adalah sunnah. sedangkan membaca Al-Fatihah wajib didahulukan dari ruku¶. Hanafi : tidak wajib. dan ashar dan tidak diakhiri dengan salam. Tahiyyat : tahiyyat di dalam shalat dibagi menjadi dua bagian : pertama yaitu tahiyyat yang terjadi setelah dua rakaat pertama dari shalat maghrib. dua lutut. Menurut empat mazhab. Bahkan Hambali menambahi hidung. Jilid I.Maliki. dan Hambali : tahiyyat terakhir adalah wajib. dan ibu jari dua kaki) secara sempurna. juga antara satu bagian dengan bagian yang lain. Mengucapkan salam Syafi¶i. Maka takbiratul Ihram wajib didahulukan dari bacaan Al-Quran (salam atau Al-Fatihah). Syafi¶i. 10. tanpa 10 . 7. Dan mulai ruku¶ setelah membaca Al-Fatihah atau ayat Al-Quran. Hambali : yang diwajibkan itu semua anggota yang tujuh (dahi. dua telapak tangan. bukan wajib. Hambali : tahiyyat pertama itu wajib. begitu seterusnya. dan ruku¶ didahulukan daru sujud. baik pada shalat yang dua rakaat. dzuhur. (Bidayatul Mujtahid. Yang kedua adalah tahiyyat yang diakhiri dengan salam. tiga. 8. dan Hambali : mengucapkan salam adalah wajib. Maliki dan Hanafi : hanya sunnah. Maliki. Berturut-turut : diwajibkan mengerjakan bagian-bagian shalat secara berurutan dan langsung. sedangkan yang lain hanya mencukupkan satu kali saja yang wajib. dan Hanafi : yang wajib (menempel) hanya dahi. Syafi¶i. Mazhab-mazhab lain : hanya sunnah. kalimatnya sama yaitu : Assalaamu¶alaikum warahmatullaah ´Semoga kesejahteraan dan rahmat Allah tercurah kepada kalian´ Hambali : wajib mengucapkan salam dua kali. Artinya membaca Al-Fatihah langsung setelah bertakbir tanpa ada selingan. sehingga menjadi delapan. halaman 126). Tertib : diwajibkan tertib antara bagian-bagian shalat. isya¶. atau empat rakaat.

sujud. mengucap salam. PENUTUP Demikian makalah fikih mengenai shalat yang telah kami susun. V. maghrib.uin-malang. Kaifiyah shalat fardhu menurut para imam mazhab secara kronologis niat melakukan shalat. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. takbiratul ihram. dan waktunya adalah lima kali sehari semalam. ashar.id/ilalala/2010/10/09/shalat-wajib-menurut-4-mazhab/ 11 . begitu seterusnya. Juga tidak boleh ada selingan lain.ac. Saran dan kririk yang membangun sangat kami harapkan untuk pembuatan makalah kami selanjutnya. Shalat fardhu memiliki waktu yang berbeda-beda seperti waktu dzuhur. secara istilah yaitu serangkaian perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam. tahiyyat. SIMPULAN Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa: Shalat mengandung arti doa dan berkah. isya dan shubuh. tertib. antara ayatayat. Kami menyadari bahwa makalah ini masih cukup jauh dari sempurna. berturut-turut.selingan.4 IV. dan huruf-huruf. Amin DAFTAR PUSTAKA 4 http://blog. ruku. Shalat fardhu ialah shalat yang wajib dilakukan oleh tiap-tiap mukallaf (orang yang masuk islam dan telah baligh dan berakal). kalimat-kalimat. berdiri. bacaan.

1994 Syarifuddin. Jakarta: PT Rineka Cipta. 2002 12 .ac.uin-malang. Sulaiman. Shalat Mikraj Kita. 2003 Zainul Arifin. Amir.http://blog. Zainul. 2007 Sudarsono. Garis-garis Besar Fiqh.id/ilalala/2010/10/09/shalat-wajib-menurut-4-mazhab/ Rasjid. Fiqh Islam. Jakarta: Prenada Media. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Sepuluh Aspek Agama Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful