Kajian Yuridis Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar Serta Pengenaan Jenis dan Tarif PNBP Yang Berlaku

Pada BPN Dalam Upaya Pelaksanaan Kewenangan Daerah Di Bidang Pertanahan1
Oleh Sarjita, S.H., M. Hum.2 Pendahuluan
Tanah tidak langsung memberikan kemakmuran, tetapi pembangunan (development) yang dilakukan di atas tanah tersebut-lah yang langsung memberikan kemakmuran. Istilah pembangunan merupakan terjemahan dari kata development, adalah kata benda netral dan digunakan dalam menjelaskan proses dan/atau usaha untuk meningkatkan kehidupan ekonomi, politik, budaya, insfrastruktur masyarakat, dan sebagainya. Namun, kata pembangunan dapat dijuga dimaknai sebagai salah satu discourse, suatu pendirian atau paham, ideologi dan/atau teori tentang perubahan sosial, seperti sosialisme, dependensia, ataupun teori lain. Dalam perkembangannya pembangunan sebagai sebuah teori, akhirnya telah bergeser dan berubah menjadi suatu pendekatan dan ideologi, bahkan menjadi suatu paradigma3 (paradigm) kacamata atau alat pandang dalam perubahan sosial. Dalam ilmu sosial menurut Habermas,4 paradigma dibedakan menjadi tiga, yaitu: Pertama, instrumental knowledge dimana ilmu pengetahuan lebih dimaksudkan sebagai alat untuk menaklukan dan mendominasi objeknya; Kedua, hermeneutic knowledge atau paradigma interpretative, ilmu pengetahuan dimaksudkan untuk memahami suatu objek secara sungguh-sungguh (eksploratif). Didasarkan pada tradisi filsafat phenomenology dan hermeneutics, yaitu biarkan fakta bicara atas nama dirinya sendiri. Ketiga, paradigma kritik atau critical/emancipator knowledge. Ilmu pengetahuan tidak boleh dan tidak mungkin bersifat netral, akan tetapi memperjuangkan pendekatan yang bersifat holistik, serta menghindari cara berpikir deterministic dan reduksionistik. Mengkaji suatu fenomena sosial, misalnya terkait dengan regulasi tanah terlantar serta persoalan yang menyertainya dalam semangat era reformasi, pembaruan UU Nomor 5 Tahun 1960 (UUPA) beserta peraturan pelaksanaannya yang sekarang sedang dan akan berproses merupakan sebuah keniscayaan. Upaya-upaya tersebut merupakan realisasi dari prinsip-prinsip yang terkandung dalam Ketetapan MPR RI Nomor IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria Dan Pengelolaan Sumber Daya Alam. Ketetapan MPR RI di atas, merupakan suatu proses dalam rangka mewujudkan keadilan sosial yang secara konstitusinal diamanatkan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, yaitu tanah untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Apabila dicermati secara seksama, kelahiran Ketetapan MPR tersebut, juga didasarkan pada suatu keyakinan bahwa dalam pengelolaan SDA yang berlangsung selama ini telah menimbulkan penurunan kualitas lingkungan, ketimpangan struktur penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatannnya serta menimbulkan berbagai konflik. Kondisi dan situasi tersebut, terjadi dikarenakan secara realitas pembentukan berbagai peraturan perundang-undangan yang bersifat sektoral dilahirkan dengan tidak berlandaskan pada prinsip-prinsip UUPA. Bahkan dalam perkembangannya
Makalah Disampaikan Pada Diskusi Implementasi PP Nomor 11 dan PP Nomor 13 Tahun 2010 Di Kabupaten Sleman, Op Room Kabupaten Sleman: 8 April 2010. 2 S.H., M. Hum. Lektor (Pembina IV/a) pada Jurusan Manajemen Pertanahan Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN), Yogyakarta. 3 “a world view, a general perspective, a way of breaking down the complexity of the real world”. Konstelasi teori, pertanyaan, pendekatan, serta prosedur yang dipergunakan oleh suatu nilai dan tema pemikiran. Konstelasi dikembangkan dalam rangka memahami kondisi sejarah dan keadaan social, untuk memberikan kerangka konsepsi dalam member makna realitas social. Paradigma merupakan tempat kita berpijak dalam melihat suatu realitas. Pemahaman mengenai paradigma memberikan kemampuan kita untuk membentuk apa yang kita lihat, bagaimana cara kita melihat sesuatu, apa yang kita anggap masalah, apa masalah yang kita anggap bermanfaat untuk dipecahkan serta apa metode yang akan digunakan dalam meneliti dan berbuat. Patton (1975) dalam Mansour Fakih, (2001), Runtuhnya Teori Pembangunan Dan Globalisasi, Yogyakarta, INSIST PRESS: 19. 4 Ibid: 23-29.
1

1

dilihat dari segi ekonomi. Hal yang sama pula terjadi dengan dibatalkannya UU BHP oleh Mahkamah Konstitusi. tetapi dengan perasaan. strategi radikal tersebut tidak menguntungkan. Kemudian jika kita menengok sejarah pada masa Orde Baru7. Sehubungan dengan hal tersebut BPN-RI menetapkan 11 agenda dan dinternasilisasikan ke dalam empat prinsip untuk diposisikan sebagai jiwa. rehabilitasi dan pembangunan ekonomi gaya kapitalis. tatanan pelaksanaan pembangunan. 18 Pebruari 2006): 33). pencarian makna lebih dalam hendaknya menjadi ukuran baru dalam menjalankan hukum dan bernegara hukum. semangat. Empat prinsip tersebut adalah. (1996). meskipun sudah berlangsung pada era Reformasi. sejatinya telah tercermin dalam semangat utama dan prinsip UUPA (UU No. Menurut Joyo Winoto6 prinsip-prinisp tersebut harus kita internalisasikan dalam batin. Tanah Sebagai Komoditas. penguasaan dan pemilikan tanah. Kondisi tersebut mengakibatkan hak-hak rakyat atas tanah terpangkas untuk kepentingan investor sehingga membuahkan kemiskinan dan rakyat termarjinalkan. Angkatan darat menganggap bahwa Landreform yang disponsori golongan kiri apada awal 1960-an dapat mengancam pengendaliannya atas beberapa perkebunan milik Negara. penggunaan. 2) tatanan kehidupan bersama yang lebih berkeadilan dalam kaitannya dengan pemanfaatan. dan objek spekulasi bagi orang yang mempunyai uang banyak. Jakarta. dan proses pengelolaan pertanahan di seluruh tanah air.8 Sarjita. Hukum hendaknya dijalankan tidak menurut prinsip logika saja. 5 2 . Satjipto Rahardjo dalam Yusriyadi. Tanah yang memiliki karakter sosial telah dirubah menjadi masuk dalam skema pasar tanah. maka ketentuan dimaksud akhirnya telah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi. Semarang. 6 Joyo Winoto. Penyelesaian Sengketa Pertanahan Dalam Era Otda (Disampaikan pada Workshop Penguatan SDM Pemkab Sleman. Ketiga. Di sini Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili UU BHP telah mencari dan menempuh jalan baru (rule breaking) sebagaimana dikemukakan oleh Satjipto Rahardjo. pikiran. (Tidak dipublikasikan). yang memiliki nilai ekonomis. yaitu dari tanah yang dikelola bersama. kepedulian dan keterlibatan (compassion) kepada kelompok yang lemah. ELSAM: 33. 11 November 2008). bahwa Pertanahan harus berkontribusi secara nyata untuk: 1) meningkatkan kesejahteraan rakyat dan melahirkan sumber-sumber baru kemakmuran rakyat. Berkat kejelihan para Hakim Di Mahkamah Konstitusi yang melihat tidak hanya saja dengan pemikiran yang jernih.5 Prinsip-prinsip dalam Ketetapan MPR RI tersebut di atas. di mana tanah tidak lagi semata-mata bernilai uang menjadi asset komoditi yang bisa diperdagangkan.). pada awal Orba ada consensus di antara pendukungnya tentang perlunya stabilitasi. yaitu: Pertama. yaitu Pertama. 8 Rule Breaking. mempergunakan kecerdasan spiritual untuk bangun dari keterpurukan hukum memberikan pesan peting bagi kita untuk berani mencari jalan baru (rule breaking) dan tidak membiarkan diri terkekang oleh cara lama. Masing-masing fihak yang terlibat dalam proses penegakan hukum didorong untuk selalu bertanya kepada hati nurani tentang makna hukum yang lebih dalam. Sementara itu. dan acuan dari setiap kebijakan. Kedua. Kajian Kritis Atas Kebijakan Pertanahan Orba. kebangsaan dan kenegaraan Indonesia dengan memberikan akses seluas-luasnya pada generasi akan dating pada sumber-sumber ekonomi masyarakat-tanah. dan 4) menciptakan tatanah kehidupan bersama secara harmonis dengan mengatasi berbagai sengketa dan konflik pertanahan di seluruh tanah air dan menata sistem pengelolaan yang tidak lagi melahirkan sengketa dan konflik di kemudian hari. (Endang Suhendar dan Ifdal Kasim. Brighten Press: 3-4 7 Ada beberapa alas an mengapa Orde Baru semakin menjauh dari UUPA. 5 Tahun 1960) yang populis. Kedua. kita dihadapkan pula pada era globalisasi. Pertanahan Dan Keagrariaan Nasional (Sambutan Kepala BPN RI pada Hari Agraria Nasional 2006 (24 September 2006). dan proses-proses penyelenggaraan pertanahan di tanah air. Paradgma Sosiologis Dan Implikasinya Terhadap Pengembangan Ilmu Hukum Dan Penegakan Hukum (Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Bidang Sosiologi hukum FH Universitas Diponegoro.kedudukan UUPA didegradasi menjadi undang-undang yang bersifat sektoral yang hanya mengatur masalah pertanahan. tanah mengalami pergeseran nilai. akan tetapi juga dirasakan dengan melibatkan hati nurani. program. menjalankan hukum yang lama dan tradisional yang jelas-jelas lebih banyak melukai rasa keadilan. Ketiga. Para aktor globalisasi secara langsung ataupun secara terselubung berusaha mendesakan berbagai kepentingan agar pembaruan UUPA itu dapat memperlicin kapitalisme global. 3) menjamin keberlanjutan sistem kemasyarakatan.. sebagai contoh substansi di bidang investasi yang tertuang dalam Pasal 21-22 UU Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal terulang kembali pola tatanan masa Orde Baru. (2006). (2006). Bogor.

Jakarta. yaitu: 1) azas manfaat.9 Sebagai individu. agar tidak terjebak atau dipersamakan dengan paham sosialis yang menyatakan bahwa semua hak atas tanah adalah fungsi sosial. dan kepentingan masyarakat di sisi yang lain. tidaklah dibenarkan hak atas tanah tersebut dalam penggunaannnya hanya diorientasikan untuk kepentingan pribadinya (si empunya hak). (2001). Kompas: 42.W. Jakarta. Dari sisi kaidah agama maupun kaidah sosial telah mengajarkan. Rajawali: 32. 13 Maria S. air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. yaitu tanah diterlantarkan atau (ada unsur kesengajaan untuk menelantarkan) tanah. jika secara nyata ditemukan pelanggaran dari prinsip fungsi sosial. 12 M. Bahkan menegasikan atau peniadaan hak bagi salah satunya adalah kedzaliman. Ka. Ibid. Majalah Ilmiah Widya Bhumi Tahun 2007: 2. sudah benar dan spantasnyalah jika setiap WNI diberikan hak atas tanah (Hak Milik) maupun hak-hak yang lainnya. CV. harus dipahami secara hati-hati dan benar. Kep. pemilikan. Bahkan sang Pencipta-pun juga ada hak. maka dalam pelaksanaan hak milik atas tanah harus memperhatikan empat azas.15 yaitu apabila kewajiban ini diabaikan Negara berwenang untuk membatalkan hak. Pustaka LP3ES: 186. Program Redistribusi Tanah Di Indonesia Suatu Sarana Ke Arah Pemecahan Masalah Penguasaan Tanah Dan Pemilikan Tanah. Proses Terjadinya UUPA. (2002). dalam Pasal 2 disebutkan bahwa Pembaruan Agraria mencakup suatu proses yang berkesinambungan berkenaan dengan penataan kembali penguasaan.W Sumardjono13 menekankan bahwa hubungan atau relasi antara orang perorangan dan masyarakat dalam kaitannya dengan tanah. menurut Sudjito10. (1985). PT. sekaligus fungsi sosial. semua hak atas tanah harus mempunyai fungsi individu/pribadi.11 Notonagoro dalam M. (1980). maka hak atas tanah tersebut kembali kepada hak menguasai dari Negara. Global Visindo Consultant: 1. 2) azas usaha bersama dan kekeluargaan. dilaksanakan dalam rangka tercapainya kepastian huku dan perlindungan Sudjito. Kesemuannya harus dipenuhi dan diselaraskan. 24 Tahun 2002). Sudjito. Pada orang lainpun ada hak.: 3. 15 Arie Sukanti Hutagalung . Dengan demikian pemegang hak atas tanah tidak hanya mempunyai hak untuk menggunakan tanah yang dikuasai-nya tetapi juga berkewajiban menggunakan tanahnya sedemikian rupa sehingga baik secara langsung dan tidak langsung memenuhi kepentingan umum. 3) azas demokrasi. tanpa memperhatikan kepentingan sosial atau lingkungannya. Mahfud MD. Gadjah Mada University Press: 61. Politik Hukum Di Indonesia. Sementara Maria S. BPN No. Konsekuensi lebih lanjut. yaitu antara kepentingan individu di satu sisi. maka prinsip fungsi sosial terhadap hak milik atas tanah menurut UUPA bercorak “dwitunggal”. Penerapan prinsip bahwa tanah mempunyai fungsi sosial mengandung suatu maksud. Mahfud MD (1998). 14 Iman Sutiknjo. 11 Sarjita. Jakarta. bahwa pada setiap individu ada hak. dan 4) azas adil dan merata. Implementasi azas tersebut.12 menggunakan istilah bahwa untuk menyelaraskan dua kepentingan yang ada dalam masyarakat tersebut. Namun demikian. Fungsi Sosial Hak Atas Tanah. bahwa Pemerintah secara moral mempunyai kewajiban untuk menjaga keseimbangan antara dua kepentingan yang bersifat antinomi. Kebijakan Pertanahan Antara Regulasi Dan Implementasi. Sedangkan untuk memberi isi dan ukuran dari fungsi sosial. Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar (PP Nomor 36 Tahun 1998 Jo. Sumardjono. Regulasi Kebijakan Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 secara konstitusional telah mengamanatkan bahwa “Bumi. seharusnya tetap dijaga keberadaannya. penggunaan dan pemanfaatan sumberdaya agria. menurut Sunarjati Hartono.Penerapan Azas Fungsi Sosial Pemahaman dan keyakinan akan sifat dan hakikat manusia sebagai makluk individu dan sekaligus makluk sosial. Ketetapan MPR RI Nomor IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria Dan Pengelolaan Sumber Daya Alam. 9 10 3 . sehingga tanahnya menjadi tanah Negara.14 Pernyataan lebih ekstrim lagi dikemukakan oleh Ari Sukanti Hutagalung. Yogyakarta. Dengan kata lain. bersifat kedwitunggalan yang tidak dapat dipisahkan. CV. Yogyakarta.

Demikian pula dalam Pasal 4 huruf h. menyatakan bahwa “Semua hak atas tanah mempunyai fungsi sosial”. perencanaan. tidak dipergunakan. pengambilalihan dapat dilakukan oleh Negara tanpa kompensasi dan selanjutnya dijadikan objek reforma agraria untuk didistribusikan kepada petani tanpa lahan atau berlahan sempit yang dapat memanfaatkannya untuk lahan pertanian Pangan Pokok. Rumusan Pasal tersebut mendapat penjelasan dalam Penjelasan Umum. HGB. bahwa tanahnya akan dipergunakan atau tidak dipergunakan semata-mata untuk kepentingan pribadinya. Angka Romawi II Angka 4 UUPA.hukum serta keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. 2) Pasal 34 huruf e: HGU. tidak dipergunakan. TLN No. pemanfaatan dan pengawasan tata ruang. Pasal 29 ayat (3) menyatakan bahwa tanah terlantar merupakan salah satu objek penyiapan lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 149. Pasal 14. 16 4 . Peraturan Pemerintah Nomor 40 tahun 1996 tentang HGU. apabila: a. melainkan menjadi beban pula dari setiap orang. tanah tersebut selama 3 (tiga) tahun atau lebih tidak dimanfaatkan sejak tanggal pemberian hak diterbitkan. pelayanan pertanahan. kelestarian dan fungsi ekojologis sesuai dengan kondisi sosial budaya setempat. Hak Pakai. Sehubungan dengan itu. 3) Pasal 40 huruf e: HGB. TLN Nomor 5068). TLN Nomor 5068). sebagai Lahan Cadangan Pertanian Pangan Berkelanjutan. menyatakan Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota…meliputi: a. tetapi miskin dan memiliki keterbatasan akses terhadap factor-faktor produksi sehingga menelantarkan tanahnya. hingga bermanfaat bagi baik kesejahteraan dan kebahagiaan yang mempunyainya maupun bermanfaat pula bagi masyarakat dan Negara. … k. TLN Nomor 4437). Oleh karena itu. maka hak atas tanah hapus dengan sendirinya apabila tanahnya diterlantarkan. Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125. CV. Sebagaimana diatur dalam: 1) Pasal 27 huruf a angka 3: Hak Milik. Pemerintah dan Pemerintah Daerah berkewajiban memberikan perlindungan dan pemberdayaan serta insentif yang sesuai kepada petani yang memiliki hak atas tanah yang ingin memanfaatkan tanahnya untuk pertanian Pangan Pokok. Hak Pengelolaan. Lebih lanjut dalam Penjelasan Pasal 29 UU tersebut. Eka Jaya. pada Pasal 6. Jakarta. b. Pasal 29 ayat (4): Tanah terlantar dapat dialihfungsikan menjadi lahan Pertanian pangan Berkelanjutan. pemanfaatan dan pengawasan ruang. Kewajiban memelihara tanah tidak hanya menjadi beban pemilik atau pemegang hak semata. HGU. agar bertambah kesuburannya serta dicegah kerusakannya. Undang Undang Nomor 5 Tahun 1960 atau sering disebut dengan UUPA (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104. menyatakan bahwa Urusan Wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah provinsi… meliputi: a. (2004). atau tidak dimanfaatkan sesuai dengan keadaannya atau sifat dan tujuan pemberian hak atau dasar penguasaannya. Tentang hapusnya sesuatu hak Anonim.16 Undang Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 149. badan hukum atau instansi yang mempunyai suatu hubungan hukum dengan tanah. perencanaan. yaitu hak atas tanah apapun yang ada pada seseorang tidaklah dapat dibenarkan. Ketentuan Pasal 13 UU Nomor 32 Tahun 2004. dan tidak dimanfaatkan sesuai dengan sifat dan tujuan pemberian haknya. tanah tersebut diberikan hak atas tanahnya tetapi sebagian atau seluruhnya tidak diusahakan. Kemudian jika dikaitkan antara ketentuan Pasal 6 dengan Pasal 15 UUPA. 2043). b. Penggunaan tanah harus disesuaikan dengan keadaannya dan sifat dari pada haknya. apalagi kalau hal itu menimbulkan kerugian bagi masyarakat. 58. perencanaan dan pengendalian pembangunan. Undang Undang RI Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerag Dan Undang Undang RI Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. perencanaan dan pengendalian pembangunan. Dalam Pasal 1 butir 22 disebutkan bahwa tanah terlantar adalah tanah yang sudah diberikan hak oleh Negara berupa HM. pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/kota. atau dasar penguasaan atas tanah yang tidak diusahakan. disebutkan bahwa melaksanakan fungsi sosial. masyarakat berperan dalam pengawasan tanah terlantar dengan melaporkan pemanfaatan lahan yang dinilai diterlantarkan untuk diusulkan sebagai LCPPB. HGB dan Hak Pakai Atas Tanah (Tambahan Lembaran Negara Tahun 1996 No. TLN Nomor 3643). dinyatakan bahwa Untuk keperluan pengembangan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. maka semua hak atas tanah harus dipelihara baik-baik. atau b. … k.

Pasal 35 ayat (1) huruf: HGB. Ayat (3) Pedoman. Ayat (4) Penggunaan tanah yang tidak sesuai dengan RTRW tidak dapat diperluas atau dikembangkan penggunaannya. dilakukan melalui instrumen berupa pengaturan zonasi. Anonim. c. Kemudian untuk pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang. UU tersebut dalam perkembangannya berdasarkan ketentuapn Pasal 79 UU Nomor 26 Tahun 2007dinyatakan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. perizinan. pemberian insentif dan disinsentif dan pengenaan sanksi. 2) Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum. Rencana Tata Ruang Pulau/Kepulauan. dan Pasal 55 ayat (1) huruf e: Hak Pakai. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2010 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar (LN Tahun 2010 Nomor 16. (2007). Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. melakukan kegiatan. Peraturan Kepala BPN RI Nomor 4 Tahun 2010 tentang Tata Cara Penertiban Tanah Terlantar. Pemerintahan Daerah Provinsi Dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. termasuk ruang di dalam tubuh bumi sebagai satu kesatuan wilayah tempat manusia dan makluk lain hidup.. 5). TLN No. 3) Penyelesaian Sengketa Tanah garapan. …. 6) Penetapan Tanah Ulayat. pendidikan. Dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 3 Tahun 1998 tentang Pemanfaatan Tanah Kosong Untuk Tanaman Pangan. b. Rencana tata Ruang Kawasan Strategis. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 2010 Nomor 21. RTR Kawasan Agropolitan. izin lain berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. TLN Nomor 5098). Bandung. Perencanaan Penggunaan Tanah Wilayah Kabupaten/Kota. dan c) ruang udara. c. b. 7) Pemanfaatan dan Penyelesaian Masalah Tanah Kosong. RTR Kawasan Perkotaan. Pasal 6 PP tersebut. dijabarkan lebih lanjut oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dengan kondisi wilayah masing-masing. TLN Nomor 5103). menyatakan bahwa Kebijakan Penatagunaan tanah diselenggarakan terhadap: a. Dalam PP tersebut juga dilakukan pengaturan mengenai Penyusunan dan Penetapan RTRW Nasional. 17 5 . Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. b) ruang laut. BPN ini dalam Pasal 28 telah menyatakan tidak berlaku Keputusan Ka.atas tanah. RTRW Kota. tanah ulayat masyarakat hukum adat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. seperti diatur dalam Pasal 17 ayat (1) huruf e: HGU. Dalam Pasal 7 disebutkan bahwa Urusan wajib sebagaimana dimaksud dlam Pasal 6 meliputi: a. r. dan memelihara kelangsungan hidupnya. dalam Pasal 19 PP tersebut menyatakan mencabut dan menyatakan tidak berlaku PP Nomor 36 Tahun 1998 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar serta peraturan pelaksanaannya. (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 82. TLN Nomor 4385). serta ganti Kerugian tanah Kelebihan Maksimum dan Tanah Absente. izin lokasi. Izin dalam lingkup pemanfaatan dapat diberikan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota berupa: a. Rencana Rinci Tata Ruang. izin prinsip. bidangbidang tanah yang sudah ada haknya baik yang sudah atau belum terdfatar.. izin mendirikan bangunan. tanah Negara. Pasal 7 ayat (1) Terhadap tanah-tanah tersebut di atas. serta e. standar dan kriteria teknis yang ditetapkan oleh Pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 16 tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 45. Peraturan Ka. RTRW Provinsi. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Pertanahan sebagaimaa tercantum dalam Lampiran I meliputi:17 1) Izin Lokasi.4737). BPN Nomor 24 Tahun 2002 tentang Ketentuan Pelaksanaan PP Nomor 36 Tahun 1998 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar. Penetapan Subjek dan Objek Redistribusi Tanah. dan d. standar dan kriteria teknis tersebut. Khusus untuk Pedoman Penyusunan RTRW Kabupaten diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16/PRT/W/2009 tertanggal 27 Juli 2009. Pemerintahan Daerah Provinsi. pertanahan. dstnya. 4) Penyelesaian Masalah Ganti Kerugian dan Santunan Tanah Untuk Pembangunan. Yang dimaksud pengertian ruang dalam PP tersebut adalah meliputi: a) ruang darat. penggunaan dan pemanfaatan tanahnya harus sesuai dengan RTRW. 9). ayat (2) Kesesuaian penggunaan dan pemanfaatan tanah terhadap RTRW ditentukan berdasarkan pedoman. RTR Kawasan Perdesaan. Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). 8) Ijin Membuka Tanah (tugas perbantuan/medebewind). izin penggunaan pemanfaatan tanah. PP ini lahir untuk melaksanakan ketentuan Pasal 16 ayat (2) UU Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. RTRW Kabupaten. Fokus Media: 215-226.

tanah terlantar secara fisik dan Kedua.Profil PP Nomor 11 Tahun 2010 tentang P2T2 a. Tantangam RA Di Kawasan Timur Indonesia (Makalah disampaikan pada Seminar Lingkar Belajar RA (LIBRA) Kerjasama STPN-Fakultas Ekonomi Universitas Satya Wacana Salatiga. serta Tanah Negara Bekas Kawasan Hutan. Kedua. b. HGU. dapat diketemukan dalam Penjelasan Pasal 2 PP Nomor 11 Tahun 2010. bahwa kondisi penelantaran tanah semakin menimbulkan kesenjangan sosial. Penjelasan secara lebih dalam mengenai pengertian tanah terlantar. penulis dapat membedakan menjadi dua. tidak dipergunakan atau c. sifat dan tujuan daripada haknya. HP]. tidak dimanfaatkan sesuai dengan keadaan atau sifat dan tujuan haknya. surat keputusan pelepasan kawasan hutan. Instrumen regulasi berupa peraturan perundang-undangan yang telah ada yaitu PP Nomor 36 Tahun 1998 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar beserta peraturan pelaksanaannya tidak dapat lagi dijadikan acuan penyelesaian penertiban dan pendayagunaan tanah terlantar. tidak dimohon hak. Sehubungan dengan pengertian tanah terlantar ini. yaitu tanah yang diterlantarkan oleh pemegang hak atas tanah [HM. atau tidak dimanfaatkan sesuai dengan keadaannnya atau sifat dan tujuan pemberian hak atau dasar penguasaannya. d. ekonomi. Pengertian tanah terlantar dapat diketahui dalam Peraturan Kepala BPN RI Nomor 4 Tahun 2010. atau tidak dimanfaatkan sesuai dengan persyaratan atau ketentuan yang ditetapkan dalam iizin lokasi. HGU. Jika tanahnya tidak dimanfaatkan atau dibiarkan dalam keadaan tidak digunakan sesuai keadaan. tanah yang ada dasar penguasaannya apabila tanahnya: a. HGB. Namun secara politis sebenarnya ada tujuan yang lebih besar dan luas serta strategis dengan diterbitkannya PP Nomor 11 Tahun 2010 yaitu untuk menunjang keberhasilan pelaksanaan Program Pembaruan Agraria Nasional (PPAN). 4 Mei 2009): 7. Hak Pakai dan Hak Pengelolaan. tidak diusahakan. dan/atau dalam izin/keputusan/surat lainnya dari pejabat yang berwenang. tidak diusahakan. surat keputusan pemberian hak.19 yaitu Pertama. Sarjita. Tanah Terlantar secara Yuridis. Dasar Pertimbangan Penerbitan PP Nomor 11 Tahun 2010 Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2010 diterbitkan berdasarkan pertimbangan utama. atau dasar penguasaan atas tanah yang tidak diusahakan. Ibid: 8-9 18 6 . 19 Tanah Terlantar secara fisik (didasarkan pada kondisi lapang). d. juga telah diterbitkan SK Kepala BPN tentang Penetapan sebagai Tanah Terlantar. tanah Negara bekas HGU dan HGB yang telah berakhir jangka waktu berlakunya hak dan tidak diperpanjang. Sebagai perbandingan pengertian tanah terlantar dapat dilihat pada Pasal 1 butir 5 PP Nomor 36 tahun 1998 yang telah dicabut. tidak dipergunakan. yaitu pada Pasal 1 butir 6: tanah yang sudah diberikan hak oleh Negara berupa HM. atau ctidak dipergunakan. b. dan kesejahteraan rakyat serta menurunkan kualitas lingkungan. tanah terlantar secara yuridis. HGB. yaitu apabila tanahnya: a. apabila tanah tersebut di samping memenuhi kriteria tanah secara fisik. Baik dalam Ketentuan Umum Pasal 1 yang biasanya menjelaskan istilah yang digunakan pada Pasal-pasal berikutnya. pemegang Hak Pengelolaan. Pertama. Sarjita. atau pihak yang telah memperoleh dasar penguasaan atas tanah [izin/keputusan/surat dari pejabat yang berwenang yang menjadi dasar penguasaan atas tanah] tetapi belum memperoleh hak atas tanah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengertian Tanah Terlantar Dalam PP ini tidak diatur secara jelas rumusan apa itu pengertian tanah terlantar. Di mana tanah terlantar telah ditetapkan sebgai salah satu objek Reforma Agraria18 di samping tanah Negara Bekas Hak Barat dan/atau Swapradja dan tanah Negara lainnya.

akan menjadi objek penertiban tanah terlantar. Tanah Asset Pemerintah. apabila tanah HM atau HGB perseorangan atau tanah yang dikuasai Pemerintah (tanah Asset Pemerintah)20 tersebut. d. PP Nomor 38 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas PP Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah. Pemegang haknya memiliki kemampuan secara ekonomi dan/atau Instansi Pemerintah (Pusat/Daerah) memiliki cukup anggaran untuk mengusahakan. atau memanfaatkan tanah sesuai keadaan atau sifat dan tujuan pemberian haknya. maka perlu dijadikan asset Pemerintah dan diajukan permohonan hak atas tanahnya kepada Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota setempat. 20 7 . (2005). maka akan meningkat statusnya yang semula bukan merupakan objek tanah terlantar. Terhadap tanah yang demikian perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. 2) Tanah Hak Pakai. Tugujogja Pustaka: 41-42. Kemudian dalam Pasal 3 dirumuskan kriteria tanah yang tidak termasuk objek penertiban tanah terlantar. Sedangkan tanah yang tidak termasuk asset Pemerintah. mempergunakan. Yang berupa tanah menurut ketentuan Pasal 49 UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara harus disertipikatkan atas nama pemerintah RI/Pemerintah Daerah yang bersangkutan. atau sering dipakai istilah “tanah dalam penguasaan”. Pelaksanaan Urusan Pertanahan Dalam Era otonomi Daerah. maka yang termasuk objek tanah terlantar: 1) Tanah HGU baik yang subjeknya Perseorangan maupun Badan Hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia. Jika berstatus tanah Negara. tanah yang secara fisik dikuasai atau digunakan/dimanfaatkan oleh pihak lain berdasarkan hubungan hukum yang dibuat antara pihak lain dengan instansi Pemerintah dimaksud. dan 2) Tanah yang dikuasai pemerintah baik secara langsung maupun tidak langsung dan sudah berstatus maupun belum berstatus Barang Milik Negara/Daerah yang tidak sengaja tidak dipergunakan sesuai dengan keadaan atau sifat dan tujuan pemberian haknya. Kriteria Objek Tanah Terlantar PP Nomor 11 Tahun 2010 yang baru ini ditentukan objek tanah terlantar sebagaimana diatur dalam Pasal 2. b.c. karena keterbatasan anggaran Negara/daerah untuk mengusahakan. atau memanfaatkan. baik yang sudah ada sertipikatnya maupun yang belum ada sertipikatn tanahnya. Yogyakarta. apakah status tanahnya berstatus tanah Negara atau tanah hak. tanah-tanah bukan pihak lain dan yang telah dikuasai secara fisik ileh instansi pemerintah. e. yaitu tanah kepunyaan pihak lain yang dikuasai atau dimanfaatkan/digunakan oleh instansi Pemerintah. atau memanfaatkan. mempergunakan. mempergunakan. Sedangkan khusus Tanah yang dikuasai Pemerintah (tanah asset Pemerintah) tidak sengaja tidak dipergunakan sesuai dengan keadaan atau sifat dan tujuan pemberian haknya. Sarjita. Tanahtanah sebagaimana tersebut pada huruf a s/d b dan c. dapat ditarik kesimpulan. Hak atas tanah perseorangan yang berupa HM atau HGB tersebut tidak sengaja tidak dipergunakan sesuai keadaan atau sifat dan tujuan pemberian haknya karena pemegang hak tidak memiliki kemampuan segi ekonomi untuk mengusahakan. Kemudian untuk pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah pengaturanya dilakukan dengan PP Nomor 6 Tahun 2006 Jo. Dengan memperhatikan bahwa uraian tersebut di atas. Tanah-tanah bukan pihak lain yang telah terdaftar dalam Daftar Inventaris Instansi Pemerintah yang bersangkutan. Yang termasuk dalam pengertian tanah asset pemerintah/pemerintah daerah adalah a. c. tanah-tanah bukan pihak lain yang dikelola dan dipelihara/dirawat dengan dana dari isntansi Pemerintah. yaitu: 1) Tanah HM atau HGB atas nama perseorangan yang secara tidak sengaja tidak dipergunakan sesuai dengan keadaan atau sifat dan tujuan pemberian haknya. Dengan demikian.

bagimana dengan status tanah asset Pemerintah Desa yang sering disebut dengan istilah Tanah Kas Desa (TKD). masih harus diperjelas/dipertegas. serta berakhirnya sertipikat. 3) mengadministrasikan data hasil inventarisasi tanah terindikasi terlantar secara tertib dalam basis data untuk keperluan pelaporan bahan analsisi dan penentuan tindakan selanjutnya. 7) Tanah-tanah yang dikuasai oleh pihak yang telah memperoleh dasar penguasaan atas tanah [izin/keputusan/surat dari pejabat yang berwenang yang menjadi dasar penguasaan atas tanah] tetapi belum memperoleh hak atas tanah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hal ini perlu kami kemukakan karena secara riil di lapang besar kemungkinan ditemukan tanah yang terindikasi terlantar status tanahnya termasuk sebagaimana diuraikan di atas. serta luas tanah yang terindikasi terlantar) dan data spasial (data grafis berupa peta yang dilengkapi dengan koordinat posisi bidang tanah yang terindikasi terlantar). 6) Tanah Hak Pengelolaan. Berkaitan dengan pembahasan tentang objek tanah terlantar ini. alamat pemegang hak atas tanah. tanah yang secara tidak sengaja tidak diusahakan. Inventarisasi tanah terindikasi terlantar dilaksanakan melalui: 1) pengumpulan data mengenai tanah yang terindikasi terlantar yang meliputi data tekstual (nama. d. Nomor dan Tanggal. letak tanah. Pemegang hak berkewajiban melaporkan penggunaan dan pemanfaatan tanah sesuai dengan keputusan pemberian hak atas tanah atau dasar penguasaan atas tanah dari pejabat yang berwenang. Inventarisasi Tanah Yang Terindikasi Terlantar Inventarisasi tanah terindikasi terlantar dilakukan oleh Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi berdasarkan informasi yang diperoleh dari hasil pemantauan lapnagan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota atau dari hasil laporan Dinas/instansi lainnya. 8 . 4) Tanah Hak Guna Bangunan (HGB) yang pemegang haknya berupa Badan Hukum (Perseroan Terbatas). dipergunakan atau dimanfaatkan sesuai dengan keadaan atau sifat dan tujuan pemberian haknya. menggunakan dan memanfaatkan tanah akan tetapi dengan sengaja tidak mempergunakan tanah sesuai dengan keadaan atau sifat dan tujuan pemberian haknya. tanggal keputusan pemberian hak atas tanah. luas dan penggunaan tanah. dan tanah Negara. dan jenis hak/dasar penguasaan. dikarenakan tanah dihalang-halangi oleh pihak lain atau tanah masih dalam sengketa/perkara baik yang belum atau yang sudah diajukan melalui gugatan di Pengadilan. 2) pengelompokan data tanah yang terindikasi terlantar dilakukan menurut wilayah kabupaten/kota.3) Tanah Hak Guna Bangunan (HGB) yang pemegang haknya perorangan dan mempunyai kemampuan dari segi ekonomi untuk mengusahakan. atau para pemegang hak. laporan tertulis dari masyarakat. tanah hak ulayat masyarakat hukum adat. 5) Tanah Yang dikuasai Pemerintah (Tanah asset Pemerintah) dan mempunyai cukup anggaran untuk mengusahakan. menggunakan dan memanfaatkan tanah akan tetapi dengan sengaja tidak mempergunakan tanah sesuai dengan keadaan atau sifat dan tujuan pemberian haknya.

f. 2) Pengecekan buku tanah dan/atau warkah dan dokumen lainnya untuk mengetahui keberadaan pembebanan. 4) Melaksanakan pemeriksaan fisik berupa letak batas. Data dan informasi yang diperlukan dari tanah yang terindikasi terlantar. dan kesesuaian dengan tata ruang. adalah suatu kepanitiaan yang dibentuk oleh Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi dengan susunan keanggotaan sebagai berikut: 9 . Setelah diperoleh data hasil identifikasi. apabila pemegang hak atas tanah/kuasanya/wakilnya tidak memberikan data dan informasi atau tidak ditempat atau tidak dapat dihubungi. dilakukan identifikasi dari aspek administrasi dan dilakukan penelitian lapang (fisik tanah) oleh Panitia C yang dibentuk dan ditetapkan oleh Kepala Kantor Wilayah BPn Provinsi Identifikasi dan penelitian aspek administrasi serta penelitian lapang dilakukan terhadap tanah: 1) HM. rencana. termasuk data. HGU. Pembentukan dan Susunan Panitia C Panitia C. HGB. Identifikasi dan Penelitian Tanah Yang Terindikasi Terlantar Tanah yang terindikasi terlantar berdasarkan hasil inventarisasi dan telah ditetapkan sebagai target. Kepala Kantor Wilayah menyusun dan menetapkan target yang akan dilakukan identifikasi dan penelitian terhadap tanah yang terindikasi terlantar. 5) Melaksanakan ploting letak penggunaan dan pemanfaatan tanah pada peta pertanahan berdasartkan hasil pemeriksaan fisik. Penetapan taget didasarkan pada pertimbangan lamanya tanah tersebut diterlantarkan dan/atau luas tanah yang terindikasi terlantar. 2) Tanah yang telah diperoleh dasar penguasaaannya (izin. dan tahapan penggunaan dan pemanfaatan tanah pada saat permohonan hak atas tanah diajukan oleh pemohon. 7) Menyusun laporan hasil identifikasi dan penelitian. 3) Meminta keterangan dari pemegang hak atas tanah atau pihak lain yang terkait.e. openggunaan dan pemanfaatan tanah dengan menggunakan teknologi yang ada. maka identifikasi dan penelitian tetap dilaksanakan dengan cara lain untuk memperoleh data. meliputi: 1) Verifikasi data fisik dan data yuridis (jenis hak dan letak tanah). keputusan/surat dasar penguasaan atas tanah dari pejabat yang berwenang terhitung sejak berakhirnya dasar penguasaan tersebut. Hak Pakai terhitung mulai 3 (tiga) tahun sejak diterbitkan sertipikat hak atas tanahnya. antara lain menyangkut permasalahan-permasalahan penyebab terjadinya tanah terlantar. Penyiapan data tanah yang terindikasi terlantar dengan melakukan penelitian administrasi dan penelitian lapang fisik tanah. kesesuaian dengan hak yang diberikan. 6) Membuat analisis penyebab terjadinya tanah terlantar.

7) Menyusun hasil laporan identifikasi dan penelitian. 6) Membuat analisis penyebab terjadinya tanah terlantar. 2) Mengecek buku tanah dan/atau warkah tanah dan dokumen lainnya untuk mengetahui keberadaan pembebabanan. Tahapan Peringatan Pertama Jangka Waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal Keterangan 1) Dalam Surat peringatan disbutkan hal-hal secara kongkret yang harus dilakukan oleh Pemegang HAT dan 10 . dan kemudian diputuskan dalam Sidang Panitia C terdapat tanah terlantar yang kemudian dituangkan dalam Berita Acara Sidang Panitia C. 3) Meminta keterangan ddari pemegang hak atas tanah atau pihak lain yang terkait. Secara garis besar tahapan peringatan tertulis kepada Pemegang Hak Atas Tanah dilakukan sebagai berikut: No 1. Tugas dan fungsi Panitia C adalah: 1) Melakukan verifikasi data fisik dan data yuridis. dan pemegang hak atau pihak lain harus member keterangan atau menyampaikan data yang diperlukan. 5) Ploting letak penggunaan dan pemanfaatan tanah pada peta pertanahan. menggunakan tanahnya sesuai keadaannya atau menurut sifat dan tujuan pemberian haknya atau sesuai izin/keputusan/surat sebagai dasar penguasaannya. 3) Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota. . 8) Melaksanakan sidang Panitia C untuk membahas dan memberikan saran pertimbangan kepada Kakanwil BPN Provinsi dalam rangka mengambil tindakan penertiban tanah terlantar. agar dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal diterbitkannya Surat Peringatan. maka Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi memberitahukan dan sekaligus memberikan Peringatan Tertulis I kepada Pemegang Hak. Dinas/Instasni Kabupaten/Kota yang berkaitan dengan peruntukan tanah. sita jaminan dan lain sebagainya.1) Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi sebagai Ketua. Dinas/Instansi Provinsi yang berkaitan dengan peruntukan tanah. dan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota sebagai Anggota. 4) Pemeriksaan fisik dengan menggunakan teknologi yang ada. rencana dan tahapan penggunaan dan pemanfaatan tanah saat dijaukan permohonan hak atas tanahnya. 9) Membuat dan menandatangani Beria Acara Sidang Panitia g. Peringatan dan Pemberitahuan Kepada pemegang Hak Atas Tanah Terhadap tanah yang terindikasi terlantar setelah dilakukan identifikasi dan penelitian oleh Panitia C. termasuk data. 2) Kepala Bidang Pengendalian Pertanahan Dan Pemberdayaan Tanah sebagai Sekretaris.

2. II dan III Kakanwil BPN Provinsi melaporkan kepada Kepala BPN RI. maka terhadap tanah yang bersangkutan tidak dapat dilakukan perbuatan hukum (jual beli. Tindakan konkret yang wajib dilakukan oleh pemegang hak atas tanah. kemudian oleh Kakanwil BPN Provinsi diusulkan 11 . 2) Berdasarkan evaluasi data terhadap Surat Peringatan I. dinyatakan dalam keadaan status quo sejak tanggal pengusulan sampai diterbitkannya SK penetapan Tanah Terlantar. Surat Peringatan Kakanwil BPN Provinsi Ke III yang tidak diindahkan atau tidak dilaksanakan oleh Pemegang HAT. 2) Dalam hal tanah yang digunakan tidak sesuai dengan sifat dan tujuan pemberian haknya. maka surat periingatan diberitahukan juga kepada Pemegang Hak Tanggungan 3) Pemegang HAT wajib menyampaikan laporan kemajuan penggunaan. pemegang HAT harus mengajukan permohonan perubahan hak atas tanah kepada Kepala Kantor Pertanahan setempat sesuai peraturan yang berlaku. pada Peringatan Ke-II disebutkan kembali mengenai tindakan konkret dan sanksi yg dapat dijatuhkan kepada Pemegang HAT yg tidak mengindahkan/melaksanakan isi Surat Peringatan 3. maka Kakanwil BPN Provinsi mengusulkan kepada Kepala BPN RI untuk ditetapkan tanah tersebut sebagai tanah terlantar. putus hubungan hukum.penerbitan Surat Peringatan I sanksi yang dapat dijatuhkan apabila pemegang HAT tidak mengindahkan atau melaksanakan Peringatan ybs. yang sekaligus hapus haknya. dan tanahnya ditegaskan dikuasai langsung oleh Negara. 3) Mengajukan permohonan hak untuk dasar penguasaan atas tanah mengusahakan. menggunakan dan memanfaatkan tanah sesuai keadaan dan sifat serta tujuan pemberian haknya. Peringatan Ketiga 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Surat Peringatan III 1) Berdasarkan Peringatan I. pemanfaatan tanah setiap 2 (dua) minggu kepada Kakanwil BPN dengan tembusan Kepala Kantor Pertanahan Kab/Kota setempat. tukar menukar. Peringatan Kedua 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Surat Peringatan II 1) Kakanwil BPN Provinsi melakukan pemantauan terhadap laporan kemajuan penggunaan dan pemanfaatan tanah dari Pemegang HAT. antara lain: 1) Mengusahakan. menggunakan dan memanfaatkan tanahnya sesuai dengan izin/keputusan/surat dari pejabat yang berwenang. 2) Dalam hal tanah yang di terbitkan Surat Peringatan dibebani dengan Hak Tanggungan. Sedangkan sanksi yang dapat dijatuhkan. Konsekuensi hukumnya. dsbnya). 2) Apabila Pemegang Hak Atas Tanah tetap tidak melaksanakan substansi (isi) Peringatan Ke-III. 3) Tanah yang diusulkan untuk ditetapkan sebagai tanah terlantar. yaitu ditetapkannya tanah yang bersangkutan sebagai tanah terlantar.

serta mengumumkan di Surat Kabar 1 (satu) kali dalam waktu sebulan setelah dikeluarkannya SK Kepala BPN yang menyatakan bahwa sertipikat tersebut tidak berlaku. ≤ 25 % SK Penetapan Tanah Terlantar yang telah diberikan dasar penguasaan (Izin/Keputusan/Surat dari pejabat yang berwenang). dipergunakan atau dimanfaatkan sesuai Izin/Keputusan/surat yang telah ditetapkan oleh Pejabat yang berwenang. 12 . Kepala Kantor Pertanahan Kab/Kota setempat wajib mencoret sertipikat hak atas tanah dan/atau sertipikat HT dari Daftar Umum dan Daftar Isian lainnya dalam Tata Usaha Pendaftaran Tanah. SK Diberlakukan hanya terhadap tanah yang diterlantarkan dan selanjutnya Pemegang HAT mengajukan permohonan revisi luas bidang tanah hak tersebut dan biaya revisi menjadi beban Pemegang HAT. yaitu: No Persentase dari Luas Riil Tanah yang diterlantarkan (%) SK Penetapan Tanah Terlantar Keterangan 1. b) masih ada tanah yang belum diusahakan sesuai SK atau dasar penguasaannnya. Kepala Kantor Pertanahan serta Instansi terkait. dan selanjutnya klepada bekas pemegang HAT diberikan kembali sebagian tanah yang benar-benar diusahakan/dimanfaatkan atau dipergunakan sesuai keputusdan pemberian haknya. < 25 % ≤ 100 % SK diberlakukan terhadap seluruh hamparan tanah yang diterlantarkan SK diberlakukan terhadap seluruh hamparan tanah yang diterlantarkan. atau Bekas Pemegang HAT. melalui prosedur permohonan HAT atas beban biaya pemohon. Penetapan Tanah Terlantar Oleh Kepala BPN RI Penetapan tanah ditetapkan sebagai tanah terlantar berdasarkan pertimbangan persentase (%) dari luas tanah yang secara riil diterlantarkan. atau f) belum mengajukan permohonan hak atas tanah apabila dasar penguasaan tanah masih berdasarkan Izin/Keputusan/Surat dari pejabat yang berwenang. SK Kepala BPN RI tentang Penetapan Tanah Sebagai Tanah Terlantar disampaikan kepada Pemgang HAT. Apabila memenuhi kriteria sebagai berikut: a) tidak menggunakan dan menafaatkan tanahnya sesuai dengan sifat dan tujuan pemberian haknya. dan Pemegang HT apabila tanah ybs dibebani dengan HT. 4. h. c) masih ada tanah yang penggunannya tidak sesuai dengan SK atau dasar penguasaannya. d) tidak ada tindak lanjut penyelesaian pembangunan. 3. dan bekas pemegang dasar penguasaan mengajukan permohonan hak atas tanah sesuai dengan peraturan perundang-undangan atas bidang tanah yang benar-benar diusahakan. untuk ditetapkan sebagai tanah terlantar. 6. dengan tembusan kepada Gubernur.kepada Kepala BPN RI. 100 % 2. e) penggunaan tanah tidak sesuai dengan SK atau dasar penguasaan tanah. Bupati/Walikota. Kakanwil BPN Provinsi. 5.

Sedangkan penataan asset dan penataan akses (Acces Reform)22 masyarakat terhadap tanah Negara bekas tanah terlantar dilakukan melalui distribusi dan redistribusi tanah Negara. penyelesaian sengketa tanah (harmony) kemasyarakatan. dukungan permodalan. didayagunakan untuk kepentingan masyarakat dan Negara melalui Reforma Agraria21 dan Program Strategis Negara serta untuk Cadangan Negara lainnya. Ada delapan kewenangan di bidang pertanahan yang didesentralisasikan dan satu kewenangan yang ditugas 21 Reforma Agraria merupakan suatu proses yang berkesinambungan berkenaan dengan penataan kembali penguasaan. 13 . dalam waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak ditetapkannya SK Penetapan sebagai tanah terlantar. Jakarta. (Sarjita. Pemberdayaan Tanah Negara Bekas Tanah Terlantar Terhadap tanah Negara bekastanah terlantar. wajib dikosongkan oleh bekas Pemegang HAT atas benda-benda di atasnya dengan beban biaya yang bersangkutan. Reforma Agraria Mandat Politik Konstitusi Dan Hukum Dalam Rangka Mewujudkan Tanah Untuk Keadilan Dan Kesejahteraan Rakyat.Tanah yang telah ditetapkan sebagai tanah terlantar. sebagaimana telah diuraikan di muka. pemilikan.: 8). penggunaan dan pemanfaatan sumberdaya agrarian. kebangsaan dan kenegaraan Indonesia dan penggunaan/pemanfaatan tanah dan factor-faktor produksi lainya secara optimal (efficiency). (Psl 13 ayat (2) PP No. Jika bekas Pemegang HAT tidak memenuhi kewajiban sebagaimana tersebut pada angka 6 di atas. pembinaan dan bimbingan teknis kepada penerima manfaat.) 22 Antara lain dilakukan melalui penyediaan infrastruktur dan sarana produksi. Opcit. (Joyo Winoto. menata kehidupan masyarakat yang lebih baik berkeadilan (equity). (2007). RA ini bertujuan untuk menciptakan sumber-sumber kesejahteraan masyarakat yang berbasis agrarian (walfare). 11 Tahun 2010 i. Beberapa Permasalahan Yang Timbul Dan Peran Pemda Kabupaten/Kota Dalam Pelaksanaan P2T2 Sesuai kewenangan yang dipunyai oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Bidang Pertanahan sebagaimana di tetapkan dalam PP Nomor 38 Tahun 2007. maka benda-benda di atasnya tidak lagi menjadi miliknya dan dikuasai langsung oleh Negara. distribusi dan pemasaran hasil serta dukungan lainya. Badan Pertanahan Nasional RI. bahwa Pemerintah Kabupaten/Kota secara hukum telah dan sedang mengemban amanah untuk menyelenggarakan kewenangan di bidang pertanahan. (Pasal 13 ayat (1) PP No. dilaksanakan dalam rangka tercapainya kepastian perlindungan hukum serta keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. 11 Tahun 2010 7. meningkatkan keberlanjutan (sustainability) sistem kemasyarakatan.

terhadap status tanah yang merupakan asset Pemerintah Desa yang berupa Tanah Kas Desa (TKD). Dengan demikian. Adapun substansi pengaturanya dituangkan dalam bentuk Peraturan Bupati tentang Kebijakan Pemanfaatan dan Penyelesaian Tanah Kosong. Namun secara kelembagaan/institusi sudah menunjukan suatu keberhasilan/kemajuan yang semula dari Perangkat Organisasi yang berbentuk Badan Pengendalian Pertanahan Daerah (BPPD) sekarang telah meningkat menjadi Dinas Pengendalian Pertanahan Daerah (DPPD). dipergunakan dan dimanfaatkan sesuai sifat dan tujuan pemberian haknya. 14 . Tentunya luas ruang lingkup/cakupannya disamping tanah-tanah yang menjadi objek penertiban tanah terlantar. Dituangkan dalam bentuk kegiatan: 1) inventarisasi dan identifikasi tanah kosong untuk pemanfaatan tanaman pangan semusim. serta Tanah HM atau HGB atas nama perseorangan yang secara tidak sengaja tidak dipergunakan sesuai dengan keadaan atau sifat dan tujuan pemberian haknya sehingga tidak dijadikan/dikecualikan sebagai objek identifikasi tanah terlantar. masih ada beberapa kewenangan yang belum dapat dilaksanakan/tertangani secara baik dan utuh. Melihat peluang yang ada. pada akhirnya dapat dijadikan embrio atau cikal bakal basis data tanah di wilayah Kabupaten yang besar kemungkinan termasuk indikasi tanah terlantar. antara lain: a. Kewenagan tersebut di atas. tanah Negara. pada Pemerintah Kabupaten Sleman dengan Struktur Organisasi Dinas Pengendalian Pertanahan Daerah yang dibentuk berdasarkan Perda Kabupaten Sleman Nomor 9 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah Pemerintah Kabupaten Sleman tertanggal 4 Agustus 2009.perbantuan (medebewind). Tanah Asset Pemerintah yang dikarenakan keterbatasan anggaran tidak sengaja dan tidak diusahakan. Karena Data informasi tanah yang terindikasi terlantar dapat berasal dari laporan dari Dinas/Kantor Pemerintah Daerah. 2) Penetapan bidang-bidang tanah sebagai tanah kosong yang dapat digunakan untuk tanaman pangan semusim bersama dengan pihak lain berdasarkan perjanjian (sewa menyewa. tetapi oleh PP tersebut tidak dijadikan sebagai objek identifikasi tanah terlantar. termasuk juga tanah-tanah asset Pemda yang diperoleh atau berasal dari Fasum/Fasos Pengembang Perumahan yang telah diserahkan kepada Pemda sebagaimana diatur dengan Permedagri Nomor 9 Tahun 2009. namun dalam perkembangannya belum semua Pemerintah Kabupaten/Kota telah melaksanakan kewenangan tersebut. Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum. Terhadap persoalan tersebut. dari implementasi PP Nomor 11 Tahun 2010 muncul beberapa permasalahan. khususnya yang bukan tugas perbantuan (medebewind) secara hukum berdasarkan PP Nomor 38 tahun 2007 telah menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota. Pemerintah Daerah yang dalam hal ini adalah Dinas Pengendalian Pertanahan Daerah (DPPD) dapat segera menangkap peluang tersebut untuk dijadikan sebagai objek dari kewenangan Pemda Kabupaten di Bidang Pertanahan khususnya berkaitan dengan Pemanfaatan dan Penyelesaian Masalah Tanah Kosong. baru dapat menyelenggarakan kewenangan Izin Lokasi. jika salah satu pihak tidak memenuhi isi perjanjian. 3) Penetapan pihak-pihak yang memerlukan tanah untuk tanaman pangan semusim dengan menguatamakan masyarakat setempat. dan Perencanaan Penggunaan Tanah Wilayah Kabupaten/Kota. Masih terdapat beberapa objek dari tanah yang terindikasi terlantar. Sebagai contoh. kontrak dan/atau kerjasama operasional). 5) serta Penanganan masalah yang timbul dalam pemanfaatan tanah kosong. Sebagai contoh. bagi hasil. 4) Melakukasn fasilitasi perjanjian kerjasama antara Pemegang Hak Atas tanah dengan Pihak yang akan memanfaatkan tanah kosong tersebut dihadapan dan diketahui Kepala Desa/Lurah dan dikuatkan oleh Camat setempat. Hasil pelaksanaan inventarisasi dan identifikasi tersebut.

Pengaturan substansi kedua regulasi antara PP Nomor 11 Tahun 2010 dengan PP Nomor 40 Tahun 1996 tersebut menjadi kontra produktif. dipergunakan. Tentunya dana operasional Panitia C. pinjam pakai. tentunya tidak digunakan untuk pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya. seperti Panitia Pemeriksaan Tanah A dan Panitia Pemeriksaan Tanah B. Mengingat bahwa hak atas tanah dapat beralih dan dialihkan. maka status tanah tidak dapat dilakukan perbuatan hukum alias status quo. Selanjutnya dalam Pasal 13 ayat (1): Tanah yang ditetapkan sebagai tanah terlantar. tidak diusahakan. Petugas Konstatasi. dalam PP Nomor 13 Tahun 2010 tentang Jenis dan Tarif PNBP Yang Berlaku Pada BPN ternyata belum mengakomodasi kebutuhan Panitia C. wajib dikosongkan oleh bekas Pemegang Hak Atas Benda-benda di atasnya dengan beban biaya yang bersangkutan. Masalah hak keperdataan dari bekas pemegang hak atas tanah yang tanahnya ditetapkan sebagai tanah terlantar. Pasal 9 ayat (2) PP Nomor 11 Tahun 2010 menyebutkan bahwa Dalam hal tanah yang akan ditetapkan sebagai tanah terlantar merupakan tanah hak (HM. sebagaimana Kepanitian yang lain di bidang Pertanahan. Terhadap tanah asset Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang tidak dengan sengaja. kerjasama pemanfaatan. yang menyatakan bahwa Dalam hal bangunan dan benda-benda masih diperlukan.. maka bangunan dan benda-benda yang ada di atasnya bekas HGB itu dibongkar oleh Pemerintah tas biaya bekas pemegang HGB. dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak ditetapkannya keputusan penetapan tanah terlantar. sekaligus memutuskan hubungan hukum serta ditegaskan sebagai tanah yang dikuasai langsung oleh Negara. Hal tersebut dapat dilakukan mengingat asset Pemerintah/Pemerintah Daerah tersebut. bukan merupakan perbuatan hukum melainkan karena peristiwa hukum (pewarisan). Bagaimana jika hal tersebut. yaitu melalui pola pemanfaatan yang berupa sewa. e. Upaya fasilitasi oleh DPPD tersebut dapat diberlakukan terhadap pula terhadap tanah-tanah milik Pemerintah dan Pemerintah Desa yang ada di wilayah Kabupaten Sleman c. dan bangun guna serah dan bangun serah guna. Selama tanah yang terindikasi terlantar diusulkan oleh Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi kepada Kepala BPN. Ayat (4) menyatakan jika bekas pemegang Hak Guna Bangunan lalai dalam memenuhi kewajiban (membongkar bangunan dan benda-benda yang ada di atasnya dan menyerahkannya kepada Negara dalam keadaan kosong selambat-lambatnya dalam waktu satu tahun sejak hapusnya HGB). dan Tim Peneliti Tanah untuk dapat bekerja secara maksimal harus didukung oleh tersedianya dana untuk operasional. dimanfaatkan karena keterbatasan anggaran yang tersedia pada APBN/APBD yang bersangkutan.b. Perbuatan hukum termasuk pada peralihan hak karena dialihkan ada kesengajaan dari Pemegang haknya. Sehubungan hal tersebut. besar kemungkinan sampai terjadi tanah asset Pemerintah Daerah menjadi tanah yang terindikasi terlantar sangat kecil. Dengan demikian perlu segera dikeluarkan kebijakan dari Kepala BPN agar penertiban tanah terlantar dapat segera diselenggarakan. tidak mungkin dikenakan/dibebankan pada Pemegang Hak Atas Tanah. d. Kemudian jika dikaitkan dengan ketentuan Pasal 37 ayat (2) serta ayat (4) PP Nomor 40 tahun 1996. Dengan demikian. 15 . Pemerintah Daerah melalui DPPD dapat melakukan fasilitasi dan pemberian saran serta masukan kepada Pengelola Asset Barang Milik Daerah untuk diberdayakan sesuai mekanisme dalam PP Nomor 6 Tahun 2006 Jo. HG. Hak Pakai) penetapan tanah terlantar memuat juga penetapan haspusnya hak atas tanah. maka kepada bekas pemegang hak diberikan ganti rugi yang bentuk dan jumlahnya diatur lebih lanjut dengan Keputusan Presiden. Keberadaan Panitia C yang tugas dan fungsinya melakukan identifikasi dan penelitian lapang (fisik Tanah) yang terindikasi terlantar. PP Nomor 38 Tahun 2008.

(1980). Bandung. ELSAM Iman Sutiknjo. maka akan rawan terjadinya Gugatan di PTUN. Pemerintahan Daerah Provinsi Dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. kriteria tanah diindikasikan sebagai tanah terlantar yang disebabkan karena tanah dalam sengketa/perkara. Jakarta. Jakarta. dapat dioptimalkan untuk bersinergi dalam pelaksanaan penertiban tanah terlantar dengan cara melakukan inventarisasi dan identifikasi pemanfaatan tanah kosong yang dapat digunakan sebagai basis data awal pendataan tanah terlantar di wilayah Kabupaten/Kota. antara lain objeknya yang masih sangat terbatas. Badan Pertanahan Nasional RI 16 .itian tidak dilakukan berdasarkan AAUPB atau tahapannya besar kemungkinan bertentangan atau tidak sejalan dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Jakarta. dapat disimpulkan.f. Dengan demikian efektifitas (keberlakuan) Substansi PP Nomor 11 Tahun 2010 akan diuji oleh Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara sengketa TUN. (1996). bahwa secara politis pertimbangan dikeluarkannya PP Nomor 10 Tahun2010 difokuskan untuk menunjang keberhasilan Reforma Agraria. Proses Terjadinya UUPA. Fokus Media Arie Sukanti Hutagalung . (2006). Kajian Kritis Atas Kebijakan Pertanahan Orba. Reforma Agraria Mandat Politik Konstitusi Dan Hukum Dalam Rangka Mewujudkan Tanah Untuk Keadilan Dan Kesejahteraan Rakyat. Pertanahan Dan Keagrariaan Nasional (Sambutan Kepala BPN RI pada Hari Agraria Nasional 2006 (24 September 2006). Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Bogor. Yogyakarta. Dalam penetapan tanah sebagai tanah terlantar oleh Kepala BPN-RI yang dituangkan dalam bentuk SK Penetapan merupakan salah satu bentuk produk hukum dari Keputusan Tata Usaha Negara yang dapat menjadi Objek Gugatan di PTUN. serta pengaturan biaya operasional Panitia C yang belum diatur dalam PP Nomor 13 Tahun 2010. rawan terjadinya gugatan produk hukum berupa SK Penetapan sebagai Tanah Terlantar di Pengadilan Tata Usaha Negara. Peran Pemerintah Daerah dengan kewenangan yang dimiliki olehnya di bidang pertanahan. Jika dalam pelaksanaan identifikasi dan penel. (2007). Daftar Pustaka Anonim. Penutup Dari beberapa uraian di atas. Brighten Press Joyo Winoto. Program Redistribusi Tanah Di Indonesia Suatu Sarana Ke Arah Pemecahan Masalah Penguasaan Tanah Dan Pemilikan Tanah. CV. belum menampung peralihan hak dikarenakan peristiwa hukum. masalah hak keperdataan bekas pemegang hak atas tanah. Rajawali Endang Suhendar dan Ifdal Kasim. Regulasi substansi penertiban Tanah terlantar masih terdapat beberapa persoalan. Tanah Sebagai Komoditas. (2007). Gadjah Mada University Press Joyo Winoto. dimana tanah terlantar nmerupakan salah satu objeknya. (1985).

. Global Visindo Consultant -----------------. Runtuhnya Teori Pembangunan Dan Globalisasi. Tanah Terlantar Asas dan Pembaharuan Konsep Menuju Penertiban.Mansour Fakih. Penyelesaian Sengketa Pertanahan Dalam Era Otda (Disampaikan pada Workshop Penguatan SDM Pemkab Sleman. Yusriyadi. ----------------. 4 Mei 2009 (Tidak dipublikasikan). Majalah Ilmiah Widya Bhumi September Tahun 2007 Suhariningsih. Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar (PP Nomor 36 Tahun 1998 Jo. Yogyakarta. Kep. CV. (2006). Sudjito. Mahfud MD (1998). Paradgma Sosiologis Dan Implikasinya Terhadap Pengembangan Ilmu Hukum Dan Penegakan Hukum (Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Bidang Sosiologi hukum FH Universitas Diponegoro. (2001). Yogyakarta. 11 November 2008).W. BPN No. (2008). Yogyakarta. Kebijakan Pertanahan Antara Regulasi Dan Implementasi. (Tidak dipublikasikan). Jakarta. Kompas: M. Politik Hukum Di Indonesia. 24 Tahun 2002). Jakarta. Fungsi Sosial Hak Atas Tanah. Jakarta. Tantangam RA Di Kawasan Timur Indonesia (Makalah disampaikan pada Seminar Lingkar Belajar RA (LIBRA) Kerjasama STPN-Fakultas Ekonomi Universitas Satya Wacana Salatiga. Ka. Tugujogja Pustaka -----------------. 18 Pebruari 2006): 17 . Prestasi Pustaka. Pustaka LP3ES: Sarjita. Pelaksanaan Urusan Pertanahan Dalam Era otonomi Daerah. . Sumardjono. (2005). PT. (2002). Semarang. (2009). (2001). (2009). INSIST PRESS Maria S.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful