LAPORAN AKHIR

BAB VII. RENCANA STRUKTUR RUANG KOTA

A. RENCANA PENGEMBANGAN STRUKTUR RUANG PERKOTAAN 1. Kriteria Sistem Perkotaan a) Rencana Pusat-Pusat Kegiatan Dalam rumusan pusat-pusat kegiatan, secara umum dapat dikategorikan dalam pembagian pusat kegiatan pemerintahan, ekonomi, social dan budaya berada di kawasan perkotaan. Secara umum pula Makassar`telah mampu menjadi kota yang mandiri, hal ini di dukung oleh wilayah kota yang cukup strategis, memiliki ragam pulau yang eksotik dan keunikan-keunikan local lainnya. Selain itu peningkatan dari aspek ekonomi maupun social budaya cukup signifikan. Hal ini dapat dilihat dari hasil APBD setiap tahunnya. Rencana pusat-pusat kegiatan di kota Makassar didesain dan terstrukutur dalam pembagian kawasan terpadu, kawasan khusus dan kawasan prioritas. Pusat-pusat kegiatan tersebut tersebar di beberapa kawasan yang tentunya memiliki derajat aksesbilitas dan interkonektifitas yang besar, serta pelayanan prasarana wilayah yang memadai sehingga melahirkan Makassar sebagai wujud ruang kota yang indah, sinergis dan simbiosis mutualism antar ruang-ruang kota di dalamnya. Berdasarkan PP No 26 Tahun 2008 tentang RTRW Nasional sistem perkotaan ditentukan sebagai berikut:

Pusat Kegiatan Nasional (PKN) berupa kawasan perkotaan dengan skup pelayanan nasional atau beberapa provinsi yang fungsi kota dan prasarana wilayahnya strategis. RTRWN menempatkan PKN di Kota Makassar

Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) berupa Kawasan perkotaan dengan skup pelayanan provinsi atau beberapa kabupaten dan atau kota dengan fungsi dan prasarana wilayah strategisnya. Wilayah ini berada di wilayah Kota Makassar.

Pusat Kegiatan Lokal (PKL) merupakan pusat-pusat kegiatan skala Kecamatan, sebagai pusat administrasi, pusat kegiatan perdagangan, bisnis, industri dan jasa, serta simpul transportasi yang melayani skala kecamatan.

b) Kriteria PKN dan PKL 1. Pusat Kegiatan Nasional (PKN) PKN minimal memenuhi fungsinya sebagai: (i) pusat jasa pelayanan keuangan/perbankan yang cakupan pelayanannya berskala nasional atau beberapa provinsi; (ii) pusat pengolahan/ pengumpul barang secara nasional/ beberapa provinsi, (iii) simpul transportasi skup pelayanan nasional/ beberapa provinsi; (iv) jasa pemerintahan nasional/ beberapa provinsi; (v) jasa publik lainnya yang skup pelayanannya nasional/ beberapa provinsi; (vi) berdaya dorong pertumbuhan wilayah sekitarnya; (vii) potensiil menjadi pintu gerbang internasional.

VII - 1

Ketersediaan minimal fasilitas umum: Perhubungan Ekonomi Kesehatan Pendidikan : Pelabuhan laut (utama) dan atau terminal Tipe A. : Pasar induk antar wilayah, perbankan skup Nasional dan internasional. : Rumah sakit umum tipe A. : Perguruan tinggi.

2. Pusat Kegiatan Lokal (PKL) PKL minimal berfungsi sebagai: (i) pusat pengolahan/pengumpulan barang yang melayani kecamatan beberapa

dalam satu kota ; (ii) simpul transportasi yang melayani kota dan beberapa kecamatan

kota/kabupaten tetangga; (iii) jasa pemerintahan kabupaten/kota; serta (iv) pusat pelayanan publik lainnya untuk kota dan beberapa kabupaten tetangga. Fasilitas minimal yang harus tersedia di PKL: Perhubungan Ekonomi Kesehatan Pendidikan : Terminal bis tipe C. : Pasar Induk kabupaten/kota, perbankan skup kabupaten/kota. : Rumah Sakit umum tipe C. : SLTA

Selanjutnya SISTEM STRUKTUR RUANG Kota Makassar disusun terutama berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Sistem Transportasi Nasional, Sistem Struktur Pulau Sulawesi, Selatan, dan Sistem Perkotaan Kota Makassar. Untuk lebih jelasnya, lihat peta berikut: RTRWP Provinsi Sulawesi

Gambar 7-1 Peta Rencana Struktur Ruang Wilayah Kota Makassar 2010-2030

VII - 2

Mengacu pada peta rencana pola ruang wilayah di atas, bahwa rencana kawasan perkotaan di Makasaar di konsentrasikan di beberapa kecamatan seperti kecamatan Makassar, Mariso, Ujung Pandang, Wajo, Bontoala. Kecamatan-kecamatan tersebut merupakan kawasan yang dianggap cukup potensial dan strategis. Strategis tidak hanya menghubungkan antar wilayah kecamatan, kabupaten tetapi juga strategis dalam skala provinsional, nasional dan bahkan skala internasional. Dengan background tersebut sehingga kawasan tersebut dijadikan sebagai kawasan pusat kota, dimana kegiatan utama kawasan sebagai tempat pemukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial serta kegiatan ekonomi. 2. Rencana Kerangka Kota Makassar Rencana Struktur Ruang Kota Makassar berguna untuk menciptakan pembangunan fisik kota dan pemanfaatan ruang kota Makassar yang berkelanjutan. Oleh karena itu, suatu Rencana Struktur Ruang Kota yang secara komprehensif mempertimbangkan seluruh aspek perencanaan kota sehingga terwujud sesuai dengan Visi dan Misi Kota Makassar. Rencana Struktur Ruang Kota Makassar digunakan sebagai pedoman untuk:    Perumusan kebijakan pokok pemanfaatan ruang Perwujudan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan antar kawasan terpadu dan khusus serta keserasian antar sektor pembangunan Pelestarian dan Pengendalian terhadap kawasan lindung

Ruang-ruang struktural merupakan ruang dengan fungsi-fungsi utama kota yang memiliki fungsi, peranan dan pengaruh yang sangat besar/vital, baik dari aspek ekonomi, sosial, budaya, maupun alam/lingkungan. Ruang-Ruang Struktural di Kota Makassar meliputi:                   Rencana PERSEBARAN dan KEPADATAN PENDUDUK; Rencana PENGEMBANGAN Kawasan Hijau; Rencana PENGEMBANGAN Kawasan Permukiman; Rencana PENGEMBANGAN Bangunan Umum; Rencana PENGEMBANGAN Kawasan Industri; Rencana PENGEMBANGAN Kawasan Pergudangan; Rencana PENGEMBANGAN Kawasan Pedagang Kaki Lima; Rencana PENGEMBANGAN Prasarana Wilayah; Rencana INTENSITAS RUANG; Rencana PENGEMBANGAN Sistem Prasarana Wilayah; Rencana PENYEDIAAN Fasilitas Umum dan Sosial; Rencana PENGELOLAAN Air Bersih; Rencana PENGELOLAAN Air Limbah; Rencana PENGELOLAAN Persampahan; Rencana PENGEMBANGAN Listrik; Rencana PENGEMBANGAN Jaringan Telepon; Rencana PENGEMBANGAN Centerpoint Of Indonesia (COI); Rencana PENGEMBANGAN Kampus Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP).

Dalam Rencana Struktur Ruang Kota, yang menjadi Kerangka Kota – Urban Struktur adalah jalan-jalan utama kota yang menjadi jalan primer kota serta alur sungai utama yang penting.

VII - 3

Jaringan Jalan Utama Kota meliputi: 1) Jalan Lingkar Luar Barat – Utara Outer Ring Road, direncanakan menggunakan dan meningkatkan kualitas jalan eksisting, terletak menyusuri sisi pantai kota Makassar dengan kelas jalan arteri primer, lebar ROW = 50 m. Di sisi barat dimulai dari kawasan Barombong, melalui kawasan Tanjung Bunga, Center Point of Indonesia, Pantai Losari, Pelabuhan Sukarno – Hatta, kemudian ke sisi Utara melewati Kawasan Ujung Tanah, dan menerus ke Jl. Tol Sutami sampai ke Maros. Jalan ini juga membuka koridor ke arah selatan yaitu wilayah Gowa/Takalar; 2) Jalan Lingkar Luar Utara Outer Ring Road, direncanakan terletak di sepanjang pesisir pantai utara Kota

Makassar dengan kelas jalan arteri primer, lebar ROW = 50 m. Selain berfungsi untuk membagi beban Jalan Lingkar Luar Barat – Utara Outer Ring Road yang ada sekarang, juga membuka koridor baru menuju Kabupaten Maros melalui sisi paling utara kota Makassar; Merangkai kawasan mulai dari Pelabuhan Laut Sukarno-Hatta, menyeberangi area muara Sungai Tallo, melalui kawasan pantai kecamatan Tamalanrea, area Untia, sampai ke wilayah Kabupaten Maros; 3) Jalan Lingkar Kawasan Utara Sungai Tallo, direncanakan menggunakan dan meningkatkan kualitas jalan eksisting dan pembukaan jalan baru dengan kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 – 50 m. Merangkai kawasan Tamalanrea dan kawasan Biringkanaya, jalur ini menyusuri sisi utara Sungai Tallo dan perbatasan timur sampai utara Makassar dengan Kabupaten Maros. Di segmen utara jalan ini terdapat 3 koridor baru ke wilayah Kabupaten Maros; 4) Jalan Lingkar Luar Timur Outer Ring Road (Jalan Rencana Utama Mamminasata), direncanakan terletak menembus sisi timur kota dengan kelas jalan arteri primer, lebar ROW = 50 m. Merangkai kawasan mulai dari Kabupaten Gowa (jalan poros Gowa – Takalar), melewati wilayah kecamatan Manggala (di sisi Timur Perumnas Antang), melalui wilayah Kab. Maros dan menembus Kecamatan Tamalanrea (di sisi Timur Perumahan Bumi Tamalanrea Permai), kemudian berbelok ke arah barat dan bertemu dengan Jl. Perintis Kemerdekaan (Perempatan Terminal Daya); 5) Jalan Lingkar Dalam (Jalan Rencana Mamminasata), direncanakan melewati bagian tengah kota, melingkupi area antara sungai Tallo dan Jene’berang, dengan kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 m. Dimulai dari perempatan Tamalate menuju daerah Antang (Regulation Pond), kemudian menerus ke utara dan bercabang di wilayah Panakukkang, satu jalan mengarah ke barat melewati kawasan Lakkang dan bertemu dengan Jl. Tol Reformasi, satu jalan lainnya mengarah ke utara dan bertemu dengan Jl. Tol Sutami; 6) Jalan Poros Tengah Utara – Selatan, direncanakan menggunakan dan meningkatkan kualitas jalan eksisting dan pembukaan jalan baru dengan kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 – 50 m. Menghubungkan kawasan selatan kota (wilayah Tamalate) sampai dengan wilayah utara kota (wilayah Ujung Tanah). Melalui Jl. A.P. Pettarani dan Jl. Tol Reformasi; 7) Jalan Poros Utara – Selatan Pusat Kota bagian Timur, direncanakan menggunakan dan meningkatkan kualitas jalan eksisiting dengan kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 m.

VII - 4

Menghubungkan kawasan Ujung Tanah di utara kota, kawasan Bontoala, kecamatan Makassar sampai dengan kawasan Pa’baeng-baeng. Melalui Jl. Veteran Selatan, Jl. Veteran Utara, Jl. Bandang, Jl. Tentara Pelajar, Jl. Yos Sudarso, dan bertemu dengan Jl. Tol Reformasi; 8) Jalan Poros Utara – Selatan Pusat Kota bagian Barat, direncanakan menggunakan dan meningkatkan kualitas jalan eksisting dengan kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 m. Menghubungkan kawasan pusat kota (Karebosi) ke selatan sampai dengan kawasan batas kota Makassar – Gowa. Melalui Jl. Jend. Sudirman, Jl. Sam Ratulangi, bertemu dengan Jl. Veteran Selatan dan berbelok ke arah tenggara melalui Jl. Sultan Alauddin sampai dengan batas kota di wilayah Tamalate; 9) Jalan Poros Tengah Timur – Barat, direncanakan menggunakan dan meningkatkan kualitas jalan eksisting dengan kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 – 50 m.
Gambar 7-1 Salah satu sudut Jl. Jend. Sudirman

Menghubungkan batas kota Makassar – Maros (kawasan Biringkanaya), kawasan Tamalanrea, kawasan Panakkukang sampai dengan kawasan pusat kota (Lapangan Karebosi). Melalui Jl. Perintis Kemerdekaan, Jl. Urip Sumoharjo, Jl. G. Bawakaraeng; 10) Jalan Poros Timur – Barat Pusat Kota, direncanakan menggunakan dan meningkatkan kualitas jalan eksisting dengan kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 m. Menghubungkan kawasan Fort Rotterdam dengan kawasan Masjid Raya dan masjid Al Markaz Al Islami. Melalui Jl. Riburane, Jl. A. Yani, Jl. Bulusaraung, Jl. Masjid Raya, dan bertemu dengan Jl. Urip Sumoharjo – Jl. G. Bawakaraeng; 11) Jalan Poros Timur – Barat Rappocini – Manggala, direncanakan menggunakan dan meningkatkan kualitas jalan eksisting serta pembukaan jalan baru dengan kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 m. Terletak di sisi Timur dari Jl. A.P. Pettarani (Poros Tengah Utara – Selatan), menghubungkan kawasan Pettarani dengan sisi Timur kompleks Perumnas Antang, direncanakan bertemu dengan Jalan Lingkar Dalam dan Jalan Lingkar Luar Timur (Outer Ring Road). Segmen antara kedua jalan Lingkar ini merupakan Jalan rencana Utama Mamminasata; 12) Jalan Poros Timur – Barat Tallo – Panakkukang (jalan rencana utama Mamminasata), direncanakan menggunakan dan meningkatkan kualitas jalan eksisting serta pembukaan jalan baru dengan kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 m. Terletak di sisi Timur dari Jl. Tol Reformasi (Poros Tengah Utara – Selatan), menghubungkan kawasan Barawaja dengan Kecamatan Panakkukang, melalui kawasan Lakkang, terhubung dengan jalan Lingkar Dalam Utara Selatan; 13) Jalan Poros Timur – Barat Pesisir Sungai Tallo, direncanakan menggunakan dan meningkatkan kualitas jalan eksisting serta pembukaan jalan baru dengan kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 m. Terletak di sisi Selatan Sungai Tallo, menghubungkan kawasan muara Sungai Tallo dan menyusuri sisi selatan koridor sungai sampai pertemuan dengan Jalan Lingkar Luar Timur Outer Ring Road; 14) Jalan Poros Timur – Barat Muara Tallo – Tamalanrea, direncanakan menghubungkan kawasan Pusat Bahan Bakar dan Energi di Muara Sungai Tallo dengan kawasan di sisi timur kompleks BTP, menjadi koridor baru Makassar – Maros, kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 m; 15) Jalan Poros Timur – Barat Kawasan Industri Makassar – Tamalanrea, direncanakan menghubungkan Jalan Lingkar Luar Pantai Utara sampai dengan wilayah timur kota (kawasan sisi timur kompleks BTP), kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 m; 16) Jalan Poros utara – selatan Pusat Kota – Batara Bira, direncanakan menggunakan dan meningkatkan kualitas jalan eksisting serta pembukaan jalan baru dengan kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 m. Menghubungkan area Karuwisi dengan area Batara Bira melalui area Barawaja, Lakkang, Tamalanrea dan berakhir di pertemuan dengan Jl. Sutami – Batara Bira;

VII - 5

17) Jalan Lingkar Tanjung Bunga – Jene’berang, direncanakan menggunakan dan meningkatkan kualitas jalan eksisting serta pembukaan jalan baru dengan kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 m. Menghubungkan lingkar kawasan Tanjung Bunga dan Tanah Tumbuh serta menyusuri sisi utara koridor Danau Tanjung Bunga (ex Sungai balang Beru) sampai dengan batas kota Makassar – Sungguminasa di area Tamalate; 18) Jalur Lingkar Delta Sungai Jene’berang, direncanakan menggunakan dan meningkatkan kualitas jalan eksisting serta pembukaan jalan baru dengan kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 m. Menghubungkan sisi Selatan koridor Danau Tanjung Bunga (ex Sungai Balang Beru) dengan lingkar kawasan delta dan menyusuri sisi utara koridor sungai Jene’berang dan bersambung dengan Jalan Lingkar Tanjung Bunga – Jene’berang menuju batas kota Makassar – Sungguminasa di area Tamalate; 19) Jalur Lingkar Kawasan Selatan Sungai Jene’berang, direncanakan menggunakan dan meningkatkan kualitas jalan eksisting serta pembukaan jalan baru dengan kelas jalan kolektor primer, lebar ROW = 30 m. Jalur ini menyusuri sisi selatan koridor sungai Jene’berang serta melingkupi wilayah Barombong dan sekitarnya. Jaringan Alur Sungai Utama meliputi: Jalur sungai utama yang merupakan saluran drainase primer kota menjadi bagian dari kerangka Kota Makassar, antara lain: 1) Di bagian Selatan Kota, yang bermuara di Pantai Barat Makassar adalah Sungai Jeneberang; 2) Dibagian Timur Kota, yang bermuara di Pantai Utara Makassar adalah Sungai Tallo. B. RENCANA RUANG-RUANG STRUKTURAL KOTA MAKASSAR Rencana Struktur Ruang Kota Makassar berguna untuk menciptakan pembangunan fisik kota dan pemanfaatan ruang kota Makassar yang berkelanjutan. Oleh karena itu, suatu Rencana Struktur Ruang Kota yang secara komprehensif mempertimbangkan seluruh aspek perencanaan kota sehingga terwujud sesuai dengan Visi dan Misi Kota Makassar. 1. RENCANA PERSEBARAN DAN KEPADATAN PENDUDUK Rencana persebaran penduduk dalam distribusi dan tingkat kepadatannya dimaksud untuk mengetahui: a. b. c. d. e. Tingkat kepadatan maksimum dan perkembangan penduduk pada satu kawasan; Trend pertumbuhan dan perkembangan distribusi penduduk di masing-masing kawasan; Komposisi ruang maksimal dari luas lahan terbangun dan kosong; Tingkat intensitas ruang yang dibutuhkan; Rencana tindak penanganan pengendalian pemanfaatan ruang.

Berikut ini, rencana tingkat kepadatan dan distribusi penduduk maksimal di Kota Makassar, yang didalamnya berisi mengenai tingkat kepadatan rencana, distribusi penduduk maksimal, dan hubungannya terhadap tingkat ketersediaan lahan terpakai dan kosong di Kota Makassar.

VII - 6

Tabel 7-1 Tingkat Kepadatan dan Distribusi Penduduk Maksimal Kota Makassar

Sumber: Hasil Analisis Tim

Dari uraian tabel 7-1 di atas, menunjukkan bahwa dari masing-masing kawasan terpadu telah ditentukan nilai tingkat kepadatan rencananya, yang diukur dari estimasi jumlah orang dalam kawasan dengan jumlah luas lahan yang tersedia. Sementara nilai distribusi penduduk maksimal diperoleh dari nilai perkalian dengan malakukan perkalian antara tingkat kepadatan rencana dengan luas lahan masing-masing kawasan terpadu. Dari hasilnya menunjukkan bahwa untuk kawasan permukiman terpadu dan pendidikan tinggi terpadu secara signifikan akan tumbuh menjadi daerah tujuan utama pergerakan orang dalam kawasan beberapa tahun kedepan.
Tabel 7-2 Tingkat Kepadatan,Distribusi Penduduk maksimal, dan distribusi penduduk Tahun 2008

Sumber: Hasil Analisis Tim

Untuk tahun 2008 distribusi penduduk maksimal dapat dilihat dalam tabel 7-2 di atas, menunjukkan bahwa secara rata-rata konsentrasi penduduk akan berpusat pada kantong-kantong penduduk yang dalam wilayah Makassar merupakan daerah perkotaan dan menjadi pusat kegiatan perkotaan berada.
Tabel 7-3 Tingkat Kepadatan,Distribusi Penduduk, Lahan Terpakai dan Kosong Tahun 2015

Sumber: Hasil Analisis Tim

VII - 7

Dari estimasi perencanaan pemanfaatan lahan di tahun 2015 diprediksikan bahwa jumlah penduduk kota Makassar ditahun tersebut sudah akan mencapai 1.344.088,92 jiwa, dengan tingkat pemakaian lahan akan meningkat secara signifikan, yakni seluas 5.967,70 Ha dengan persentase sekitar 6,73%. Peningkatan luas lahan terpakai secara otomatis menjadikan luas lahan kosong di Kota Makassar semakin kecil, sehingga pada tahun 2015 diprediksikan akan menyusut sebesar 37,0% atau sama dengan 401,52 Ha. Penyusutan lahan ini terkonversi menjadi lahan terpakai dengan berbagai ragam pemanfaatan lahan. Pada tahun yang sama untuk kawasan industri, maritim, pergudangan, olahraga terpadu diprediksikan luas lahan kosong SUDAH TIDAK ADA lagi. Hal ini menunjukkan bahwa KEBIJAKAN BARU bagi pembangunan industri BERTINGKAT dan pembangunan secara vertikal sudah perlu dipikirkan sebagai salah satu solusi dalam mengantisipasi luas lahan industri yang semakin sempit.
Tabel 7-4 Tingkat Kepadatan,Distribusi Penduduk, Lahan Terpakai dan Kosong Tahun 2020

Sumber: Hasil Analisis Tim

Berdasarkan data tabel 7-4 di atas, menunjukkan bahwa untuk luas lahan terpakai pada tahun 2020 akan meningkat lebih dari 4,85 persen atau sama dengan 303,50 Ha. Tingkat pertumbuhan ini salah satunya dipicu oleh tingkat pertambahan jumlah penduduk yang pada tahun tersebut juga meningkat diatas 4,8 persen. Beberapa catatan penting yang perlu dipertimbangkan bahwa pada tahun 2020 luas lahan kasong pada berbagai kawasan terpadu menunjukkan trend yang yang semakin berkurang dari luas lahannya. Kawasan Pelabuhan, maritim, budaya, olahraga, Industri bisnis dan pariwisata terpadu merupakan kelompok kawasan terpadu yang luas lahan kosongnya diprediksikan sudah mencapai titik minimum.
Tabel 7-5 Tingkat Kepadatan,Distribusi Penduduk, Lahan Terpakai dan Kosong Tahun 2025

Sumber: Hasil Analisis Tim

Berdasarkan tabel 7-5 di atas menunjukkan bahwa estimasi distribusi penduduk tahun 2025 akan mencapai 1.484.710,38 jiwa. Peningkatan ini dipicu oleh penggunaan lahan yang terpakai semakin meningkat cukup signifikan, yakni seluas 6592,05 Ha. Peningkatan ini juga jika dipersentasekan mencapai 4,85% atau sekitar 319,94 Ha dari lima tahun sebelumnya.

VII - 8

Pada tahun yang sama lahan kosong untuk kawasan industri, budaya, olahraga, bisnis dan pariwisata, pergudangan dan kawasan riset terpadu cukup minim dan tidak terdapat lahan kosong. Hal ini perlu disikapi sejak dini dalam penanganan dan pemberian kebijakan dalam hal pengembangan kawasan. Pada kawasankawasan tersebut dapat dilakukan pembangunan secara vertikal untuk mengefisien lahan yang semakin minim dalam periodenya.
Tabel 7-6 Tingkat Kepadatan,Distribusi Penduduk, Lahan Terpakai dan Kosong Tahun 2030

Sumber: Hasil Analisis Tim

Berdasarkan tabel 7-6 di atas menunjukkan bahwa peningkatan jumlah distribusi penduduk tahun 2030 diprediksikan mencapai 1.560.445,51 jiwa/org. Peningkatan ini disebabkan oleh penggunaan lahan yang selalu meningkat tiap periodenya. Hampir disetiap kawasan mengalami peningkatan dalam penggunaan lahan, sehingga mengakibatkan penyusutan lahan kosong/lahan tidak terbangun. Secara rata-rata akibat penyusustan tersebut diestimasikan tahun 2030 tidak terdapat lagi lahan kosong. Jika dilihat secara rinci tiap kawasan hanya kawasan pusat kota, pemukiman, pelabuhan dan bandara terpadu yang masih memiliki lahan kosong. Namun, tidak menuntut kemungkiman lahan ini juga masih terdapat lahan kosong. Hali ini perlu antisipasi sejak dini untuk menyikapi peningkatan distribusi penduduk yang selalu meningkat cukup signifikan setiap periodenya. 2. RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN HIJAU Kawasan hijau adalah ruang terbuka hijau yang terdiri dari kawasan hijau lindung dan hijau binaan. Ruang Terbuka Hijau yang selanjutnya disebut RTH adalah Kawasan atau areal permukaan tanah yang didominasi oleh tumbuhan yang dibina untuk fungsi perlindungan habitat tertentu, dan atau sarana kota/lingkungan, dan atau pengaman jaringan prasarana, dan atau budidaya pertanian. Dalam kepentingan perencanaan pengembangan kawasan hijau di Kota Makassar di bagi dalam kawasan hijau lindung dan binaan. Kawasan Hijau Lindung adalah Bagian dari kawasan hijau yang memiliki karakteristik alamiah yang perlu dilestarikan untuk tujuan perlindungan habitat setempat maupun untuk tujuan perlindungan wilayah yang lebih luas. Sementara Kawasan Hijau Binaan adalah bagian dari kawasan hijau di luar kawasan hijau lindung untuk tujuan penghijauan yang dibina melalui penanaman, pengembangan, pemeliharaan maupun pemulihan vegetasi yang diperlukan dan didukung fasilitasnya yang diperlukan baik untuk sarana ekologis maupun sarana sosial kota yang dapat didukung fasilitas sesuai keperluan untuk fungsi penghijauan tersebut.

VII - 9

Tabel 7-7 Rencana Tingkat Prosentase Hijau Kota Makassar

Sumber: Hasil Analisis Tim

Berdasarkan tabel 7-7 di atas menunjukkan bahwa sumbangsih dalam penggunaan RTH terbesar dari setiap kawasan adalah kawasan pemukiman terpadu. Kawasan RTH ini seluas 378,21 Ha. Pengembangan kawasan hijau lindung dilakukan melalui pembinaan kawasan sesuai dengan fungsinya, meliputi: kawasan pesisir PANTAI UTARA MAKASSAR sebagai kawasan HUTAN BAKAU dan KAWASAN HILIR SUNGAI TALLO sebagai kawasan HUTAN BAKAU dan AREA PEMBIBITAN MANGROVE. Selain itu bagian barat (hilir) Sungai JENEBERANG sebagai kawasan HIJAU LINDUNG. Pengembangan Kawasan hijau binaan dapat dilakukan dengan upaya: Memanfaatkan peran dan fungsi dari lahan tak terbangun dengan luas area sekitar 8703,67 Ha. Kawasan tersebut meliputi, area/ fasilitas umum seperti kuburan, taman, lahan kosong, rawa, danau/ kanal, tambak, koridor jalan, semak dan fasilita umum lainnya); Memberdayakan TAMAN MANGROVE sebagai unsur ekowisata; Perlindungan dan pemanfaatan pulau LAKKANG sebagai kawasan hijau terbuka dan kawasan lindung, dengan luas area tersebut 487,02 Ha dengan sumbangsih ruang terbuka hijau sebesar 55% atau seluas 50,33 Ha; Pemanfaatan kawasan area SUTET sebagai kawasan RTH, dimana SUTET tersebut merupakan medan elektromagnetik yang dapat membawa pengaruh negatif terhadap kesehatan organ tubuh manusia. Sehingga pada kawasan tersebut relatif jarang dijadikan sebagai tempat pemukiman; Pengendalian dan pemanfaatan HUTAN HIJAU KOTA dan TAMAN MANGROVE sebagai GREEN OVER SPACE yang merupakan daerah pengembangan kawasan CENTERPOINT OF INDONESIA, dengan angka sumbangsi sebesar 47 %; Perlindungan dan pemanfaatan hutan kota, seperti kawasan UNHAS, daerah sekitar kantor Gubernur.  RTH berbentuk areal dengan fungsi sebagai fasilitas umum;  RTH berbentuk jalur untuk dan fungsi atau pengaman, estetika

peneduh, lingkungan.

penyangga

nilai

Selain itu, pengembangan kawasan hijau binaan yang dijabarkan dalam 12 Kawasan Terpadu, dengan

persentase luas ruang terbuka hijau sebagai berikut:
Gambar 7-2 Taman Segitiga Jl. Balaikota Makassar

VII - 10

1. Persentase luas RUANG TERBUKA HIJAU pada KAWASAN PUSAT KOTA ditargetkan sebesar 5 persen dari luas kawasan pusat kota, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:  Mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif dipekarangan;  Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang garis pantai barat dan utara kota;  Mempertahankan lahan pemakaman dan

lapangan olah raga yang ada;  Meningkatkan RUANG TERBUKA HIJAU di daerah permukiman padat;  Melestarikan taman-taman lingkungan di

kawasan permukiman serta pengadaan RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa kawasan;  Mendorong pengembangan areal budidaya
Gambar 7-3 Citra SPOT Kawasan Balang Tonjong

tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur;  Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, pinggir sungai terutama pada lingkungan padat; 2. Persentase luas RUANG TERBUKA HIJAU pada KAWASAN PERMUKIMAN TERPADU ditargetkan sebesar 7 persen dari luas kawasan pemukiman terpadu, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:  Menata kawasan resapan air di daerah BALANG TONJONG;  Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif di pekarangan rumah;  Mempertahankan lahan pemakaman dan lapangan olah raga yang ada;  Meningkatkan ruang terbuka hijau di daerah permukiman padat;  Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman serta pengadaan RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa kawasan;  Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur;  Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, pinggir sungai terutama pada lingkungan padat. 3. Persentase luas RUANG TERBUKA HIJAU pada KAWASAN PELABUHAN TERPADU ditargetkan sebesar 7 persen dari luas kawasan pelabuhan terpadu, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:  Mendorong peningkatan ruang terbuka hijau pada areal reklamasi pengembangan pelabuhan Sukarno Hatta, yang sekaligus berfungsi sebagai sarana sosialisasi.  Menata bagian hilir muara Sungai Tallo.  Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif di pekarangan;  Meningkatkan ruang terbuka hijau di daerah permukiman padat;  Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman serta pengadaan RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa kawasan;  Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur;  Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, pinggir sungai terutama pada lingkungan padat.

VII - 11

4. Persentase luas RUANG TERBUKA HIJAU pada KAWASAN BANDARA TERPADU ditargetkan sebesar 15 persen dari luas kawasan bandara terpadu, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:  Mengamankan RTH di sekitar kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan BANDARA Hasanuddin dengan budidaya pertanian;  Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif di pekarangan;  Mempertahankan lahan pemakaman dan lapangan olah raga yang ada;  Mengembangkan penghijauan pada pusat-pusat kegiatan;  Meningkatkan ruang terbuka hijau di daerah permukiman padat;  Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman serta pengadaan RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa kawasan;  Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur;  Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, terutama pada lingkungan padat. 5. Persentase luas RUANG TERBUKA HIJAU pada KAWASAN MARITIM TERPADU ditargetkan sebesar 10 persen dari luas kawasan maritim terpadu, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:  Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang garis PANTAI UTARA Makassar;  Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif di pekarangan;  Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan PERMUKIMAN NELAYAN UNTIA serta pengadaan RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa wilayah;  Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur;  Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, terutama pada lingkungan padat. 6. Persentase luas RUANG TERBUKA HIJAU pada kawasan industri terpadu ditargetkan sebesar 7 persen dari luas kawasan industri terpadu, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:  Menata jalur hijau di sepanjang JALAN TOL Ir. Sutami.  Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan dalam kawasan;  Mendorong tersedianya ruang terbuka hijau yang lebih seimbang pada areal kawasan industri;
Gambar 7-4 Citra SPOT Kawasan Industri Makassar

 Melestarikan taman-taman lingkungan di dalam kawasan industri dan kawasan permukiman sekitarnya serta pengadaan RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa kawasan;  Mendorong penanaman pohon di halaman rumah, ruas jalan, pinggir sungai, terutama di lingkungan padat

VII - 12

7. Persentase luas RUANG TERBUKA HIJAU pada KAWASAN PERGUDANGAN TERPADU ditargetkan sebesar 5 persen dari luas kawasan pergudangan terpadu, dengan arahan

pengembangannya sebagai berikut:  Menata jalur hijau di sepanjang jalan tol Makassar;  Menata bagian hilir muara Sungai Tallo;  Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di
Gambar 7-5 Citra SPOT Kawasan Pergudangan

sepanjang jalan dalam kawasan;  Mendorong tersedianya ruang terbuka hijau yang lebih seimbang pada areal kawasan industri;

 Melestarikan taman-taman lingkungan di dalam kawasan pergudangan dan kawasan permukiman serta pengadaan RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa wilayah;  Mendorong penanaman pohon-pohon

besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, pinggir sungai terutama pada lingkungan padat; 8. Persentase luas RUANG TERBUKA HIJAU pada pada KAWASAN PENDIDIKAN TINGGI TERPADU ditargetkan sebesar 7 persen dari luas kawasan pendidikan tinggi terpadu, dengan arahan pengembanganya sebagai berikut:
Gambar 7-6 Koridor Hijau sepanjang Jl. Perintis Kemerdekaan

 Mengembangkan penghijauan di Pusat-Pusat Kegiatan Pendidikan (UNHAS, UMI, UIM, Dipanegara, UNM);  Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif di pekarangan;  Mempertahankan lahan pemakaman ISLAM ”PANAIKANG” dan KRISTEN ”PANNARA”;  Meningkatkan ruang terbuka hijau di daerah permukiman padat;  Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman serta pengadaan RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa kawasan;  Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur;  Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, terutama pada lingkungan padat. 9. Persentase luas RUANG TERBUKA HIJAU pada KAWASAN BUDAYA TERPADU ditargetkan sebesar 15 persen dari luas kawasan budaya terpadu, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:     Mengamankan RTH dalam areal Kawasan Taman Miniatur Sulawesi; Menata bagian hilir daerah aliran sungai Jene’berang dan Balang Beru; Mengembangkan kegiatan; penghijauan di pusat-pusat
Gambar 7-7 Citra SPOT kawasan Taman Miniatur Sulawesi

Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif dalam kawasan pengembangan Taman Miniatur Sulawesi;

VII - 13

Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman serta pengadaan RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di

beberapa kawasan;  Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur. Persentase luas RUANG TERBUKA HIJAU pada KAWASAN OLAHRAGA TERPADU ditargetkan sebesar 18 persen dari luas kawasan olahraga terpadu, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:        Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang garis PANTAI BAGIAN BARAT MAKASSAR; Menata bagian hilir MUARA SUNGAI JE’NEBERANG Meningkatkan penghijauan di dalam areal
Gambar 7-8 Birdview kawasan Olah raga Terpadu

pengembangan kawasan; Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif pada pusatpusat kegiatan; Mendorong pembentukan taman-taman kota sebagai wadah sosialisasi warga; Meningkatkan ruang terbuka hijau di pusat-pusat kegiatan; Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung (pohon Trambesi) pada halaman rumah, ruas jalan, pinggir sungai terutama pada lingkungan padat. Pohon dengan akar yang besar dan daun lebat menghijau. 10. Persentase luas RUANG TERBUKA HIJAU pada KAWASAN BISNIS DAN PARIWISATA TERPADU ditargetkan sebesar 10 persen dari luas kawasan bisnis dan pariwisata terpadu, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:  Mengembangkan sepanjang         garis jalur PANTAI hijau terbuka di

BAGIAN

BARAT

MAKASSAR; Menata bagian hilir MUARA SUNGAI
Gambar 7-9 Foto Udara Sungai Jene’berang

JENEBERANG dan BALANG BERU;

Meningkatkan penghijauan di daerah sekitar danau tanjung bunga (Sungai Balang Beru) guna menjadi wadah rekreasi dan sosialisasi warga; Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif di pekarangan; Mempertahankan lapangan olah raga yang ada; Meningkatkan ruang terbuka hijau di daerah permukiman padat sekitar kawasan pengembangan kota Tanjung Bunga; Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman serta pengadaan RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa kawasan sekitar kota tanjung bunga; Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur; Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan terutama pada lingkungan padat.

11. Persentase luas RUANG TERBUKA HIJAU pada KAWASAN BISNIS GLOBAL TERPADU ditargetkan sebesar 12 persen dari luas kawasan bisnis dan global terpadu, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:

VII - 14

     

Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang garis PANTAI BAGIAN BARAT MAKASSAR; Menata dan mengembangkan kawasan hijau baru dari proses REKLAMASI PANTAI LOSARI; Menata bagian Hilir Muara KANAL KOTA; Menata bagian HILIR MUARA SUNGAI BALANG BERU; Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan; Meningkatkan ruang terbuka hijau melalui
Gambar 7-10 Foto Udara Kawasan Muara S.Jene’berang

pembuatan hutan dan taman-taman kota secara seimbang dalam kawasaan global terpadu. 3. RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN Dari rencana pengembangan KAWASAN PERMUKIMAN dalam TATA RUANG KOTA MAKASSAR, arahan pengembangannya dikelompokkan dalam kategori pengembangan kawasan permukiman yang berkepadatan tinggi, sedang, dan rendah. Pengembangan kawasan permukiman dalam 12 Kawasan Terpadu Kota Makassar memungkinkan untuk dikembangkan. Hanya saja, dibutuhkan KETENTUAN-KETENTUAN BARU yang mengatur pola dan bentuk permukiman tersebut berkembang. Pola dan bentuk tersebut diantaranya menjadikan VISI, MISI, DAN STRATEGI masing-masing kawasan terpadu sebagai TOLAK UKUR penetuan pola dan bentuk permukiman yang ingin dikembangkan dalam 12 kawasan terpadu tersebut. Pengembangan kawasan permukiman, secara bertahap diharapkan melengkapi infrastruktur kawasannya dengan sarana dan prasarana lingkungan, yang jenis dan jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat berdasarkan standar fasilitas umum/fasilitas sosial. Adapun fasilitas umum/fasilitas sosial sebagaimana yang dimaksudkan diatas, meliputi:         Fasilitas Pendidikan; Fasilitas Kesehatan; Fasilitas Peribadatan; Fasilitas Olah Raga/Kesenian/Rekreasi; Fasilitas Pelayanan Pemerintah; Fasilitas Bina Sosial; Fasilitas Perbelanjaan/Niaga; Fasilitas Transportasi.

Secara umum, strategi pengembangan kawasan permukiman dalam 12 kawasan terpadu dilakukan dengan mengembangkan cara-cara progresif melalui program REVITALISASI, PEREMAJAAN LINGKUNGAN secara TERBATAS dan TERUKUR dan ataupun MEMBANGUN BARU dari kawasan yang direncanakan sebagai kawasan permukiman serta mengembangkan sarana dan prasarana kawasan secara seimbang sesuai kebutuhan masyarakat setempat.

VII - 15

Tabel 7-8 Rencana Pengembangan Kawasan Perumahan Kota Makassar

Sumber: Hasil Analisis Tim

Pengembangan kawasan perumahan yang dijabarkan dalam 12 Kawasan Terpadu, dengan persentase luas ruang perumahan sebagai berikut: 1. Rencana Pengembangan KAWASAN PERMUKIMAN pada KAWASAN PUSAT KOTA ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 733,50 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai berikut:  Mengembangkan pola perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh berat dan sedang termasuk pada kawasan sepanjang bantaran KANAL KOTA;    Mendorong pengembangan peremajaan lingkungan pada KAWASAN PERMUKIMAN KUMUH BERAT secara terbatas; Mengembangkan pola perbaikan kawasan pemukiman kumuh dengan membangun RUMAH SUSUN, dan memberi kredit mikro kepada masyarakat yang berpenghasilan rendah; Mendorong pengembangan kawasan permukiman secara vertikal dan memperkecil perpetakan untuk penyediaan perumahan golongan menengah-bawah yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai;  Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur, yang tersebar dalam kelompok-kelompok perumahan berkompleks di dalam kota dan meningkatkan kualitas rumah sewa yang selama ini masih terabaikan;     Mendorong dan meningkatkan perbaikan fisik infrastruktur ruang kota, seperti jembatan; Mengembangkan dan mendorong pemukiman (RUKO) yang serasi dengan lengkap fasilitas ruang parkir yang teratur. Mendorong dan meningkatkan kualitas sistem drainase yang baik di sekitar pemukiman; Mendorong dan meningkatkan sistem letak bangunan yang lebih teratur dan mengurangi pemasangan reklame di sepanjang koridor pemukiman kota yang dapat mengurangi nilai estetika ruang kota. Sehingga tercipta pola ruang kota yang elegan dan minimalis tetapi berkarakter;   Membatasi pemanfaatan dan pelestarian lingkungan khusus pada kawasan pemugaran dan bangunan bersejarah dalam kota; Mengembangkan dan mendorong pembangunan uniform pada pedagang kaki lima ataupun toko/kios-kios kecil yang berada pada muka kota;
Gambar 7-11 Foto Udara Kawasan Pemukiman Kumuh Kota

VII - 16

  

Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan mantap; Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman; Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya.

2. Rencana PERMUKIMAN TERPADU

Pengembangan pada KAWASAN

KAWASAN PERMUKIMAN wilayah

ditargetkan

menempati

perencanaan seluas 2.160,10 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai berikut:  Mengembangkan kawasan permukiman secara vertikal melalui peremajaan terutama pada lokasi yang kondisinya kumuh berat;  Mengembangkan kawasan permukiman baru
Gambar 7-12 Foto Udara Kawasan Selatan Kota Makassar

terutama di wilayah bagian timur kota (antara jalan lingkar tengah dan luar);

 Mendorong pengembangan kawasan permukiman KDB rendah beserta fasilitasnya di daerah pengembangan permukiman Panakukang Mas;  Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur, yang tersebar dalam kelompok-kelompok perumahan berkompleks didalam kawasan;  Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan terbangun;  Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman;  Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya. 3. Rencana Pengembangan KAWASAN PERMUKIMAN pada KAWASAN PELABUHAN Terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 29,16 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai berikut:  Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur yang terdapat dalam kawasan;  Mengembangkan perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh sedang dan ringan secara terbatas melalui pengembangan secara vertikal, yang dilengkapi sarana dan prasarana yang memadai;  Mengembangkan permukiman masyarakat menengah-atas pada areal reklamasi pantai utara;  Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman di kawasan Kota Tua/bersejarah dan Pelabuhan Soekarno-Hatta sekaligus melestarikan budaya lingkungannya;  Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur;  Membatasi pemanfaatan dan pelestarian lingkungan khusus pada kawasan pemugaran dan bangunan bersejarah dalam kota;  Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan mantap;  Melengkapi fasilitas umum/utilitas di kawasan permukiman;  Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya. 4. Rencana Pengembangan KAWASAN PERMUKIMAN pada KAWASAN BANDARA TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 201,18 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai berikut:  Mengarahkan pengembangan kawasan permukiman KDB rendah di sekitar KAWASAN KESELAMATAN OPERASI PENERBANGAN BANDARA INTERNASIONAL SULTAN HASANUDDIN dengan upaya mengembangkan budidaya tanaman hias dan pertanian produktif;

VII - 17

 Mendorong pengembangan peremajaan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh berat,sedang, dan ringan;  Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur, yang tersebar dalam kelompok-kelompok perumahan berkompleks didalam kawasan;  Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan mantap;  Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman;  Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya. 5. Rencana Pengembangan KAWASAN PERMUKIMAN pada KAWASAN MARITIM TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 53,01 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai berikut:  Mengembangkan pola perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh berikut dengan penyediaan saranan dan prasarana yang memadai;  Mengembangkan permukiman nelayan yang bernuansa wisata dan berwawasan lingkungan hidup di kawasan Pantai utara dan pulau-pulau yang dihuni di Kepulauan Spermonde;  Mengembangkan kawasan permukiman baru;  Mempertahankan lingkungan permukiman nelayan yang sudah ada;  Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan terbangun;  Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman;  Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya. 6. Rencana Pengembangan KAWASAN PERMUKIMAN pada KAWASAN INDUSTRI TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 151,81 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai berikut:  Mengembangkan perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh sedang dan ringan secara terukur dan terkontrol;  Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur yang terdapat dalam kawasan;  Mengembangkan perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh sedang dan ringan secara terbatas melalui pengembangan secara vertikal, dan memperkecil perpetakan untuk penyediaan perumahan golongan menengah-bawah yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai;  Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur;  Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan mantap;  Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman;  Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya; 7. Rencana Pengembangan KAWASAN PERMUKIMAN pada KAWASAN PERGUDANGAN TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 156,20 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai berikut:  Mengembangkan perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh sedang dan ringan secara terukur dan terkontrol;  Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur yang terdapat dalam kawasan;  Mengembangkan perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh sedang dan ringan secara terbatas melalui pengembangan secara vertikal, yang dilengkapi sarana dan prasarana yang memadai;  Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur;  Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan mantap;  Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman;

VII - 18

 Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya. 8. Rencana Pengembangan KAWASAN PERMUKIMAN pada KAWASAN PENDIDIKAN TINGGI DAN KAWASAN PENELITIAN TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 358,86 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai berikut:  Mengembangkan pola perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh berikut dengan penyediaan saranan dan prasarana yang memadai;  Mengembangkan dan meningkatkan pola perbaikan jalan setapak di lokasi yang padat pemukiman;  Meningkatkan pola pemukiman dengan membagi kawasan tersebut yang lebih terkoordinir;  Mengembangkan dan meningkatkan kualitas ruang pedagang kaki lima dan memanagement pola ruang yang teratur;  Mengembangkan POLA MANAJEMEN SAMPAH TERPADU dengan menetapkan tempat pembuangan sampah sementara;  Mengembangkan dan meningkatkan keteraturan pola ruang di lingkup ruang parkir;  Mengembangkan kawasan permukiman KDB rendah dalam areal kawasan;  Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan terbangun;  Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman;  Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya;  Membatasi perubahan fungsi lahan/kawasan yang tidak mencerminkan pola ruang kawasan pendidikan tinggi/kawasan penelitian terpadu;  Memberikan stimulan untuk tumbuhnya pengembangan kawasan yang berorientasi pendidikan/penelitian; 9. Rencana Pengembangan KAWASAN PERMUKIMAN pada KAWASAN BUDAYA TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 3,30 Ha, dengan uraian araha pengembangannya sebagai berikut:  Mengarahkan perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman warga dengan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai;  Membatasi pemanfaatan dan pelestarian lingkungan khusus pada kawasan pemugaran dan bangunan bersejarah dalam kota;  Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur yang terdapat dalam kawasan;  Mengarahkan pembangunan lingkungan permukiman baru yang disesuaikan dengan atmosfir ruang kawasan yang ingin dicapau sebagai kawasan budaya;  Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan terbangun;  Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman;  Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya. 10. Rencana Pengembangan KAWASAN PERMUKIMAN pada KAWASAN OLAHRAGA TERPADU ditargetkan ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 161,08 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai berikut:  Mendorong pengembangan kawasan permukiman baru berikut dengan lingkungannya yang sesuai dengan irama, aroma dan warna kawasan olahraga;  Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur yang terdapat dalam kawasan;  Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur;  Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan terbangun;  Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman;  Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya. VII - 19

11. Rencana Pengembangan KAWASAN PERMUKIMAN pada KAWASAN BISNIS DAN PARIWISATA TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 72,40 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai berikut:  Mempertahankan kawasan permukiman KDB rendah pada daerah permukiman TANJUNG BUNGA;  Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur yang terdapat dalam kawasan;  Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan terbangun;  Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman;  Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya. 12. Rencana Pengembangan KAWASAN PERMUKIMAN pada KAWASAN BISNIS GLOBAL TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 62,91 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai berikut: Mendorong perbaikan dan penataan lingkungan pada kawasan perencanaan melalui pengembangan secara vertikal, yang dilengkapi sarana dan prasarana yang memadai; Mengembangkan kawasan permukiman KDB rendah pada melalui pengembangan permukiman masyarakat menengah-atas pada areal REKLAMASI PANTAI; Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman; Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya; Mengembangkan dan mendorong kawasan pemukiman yang serasi dan teratur yang berwawasan lingkungan. 4. RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN BANGUNAN UMUM Rencana pengembangan kawasan Bangunan Umum dalam TATA RUANG MAKASSAR diarahkan dan diperuntukkan bagi pengembangan PERKANTORAN, PERDAGANGAN, JASA, PEMERINTAHAN DAN FASILITAS UMUM/FASILITAS SOSIAL beserta fasilitas penunjangnya dengan Koefisien Dasar Bangunan lebih besar dari 20%.
Tabel 7-9 Rencana Pengembangan Bangunan Umum Kota Makassar

Sumber: Hasil Analisis Tim

1. Rencana Pengembangan KAWASAN BANGUNAN UMUM pada KAWASAN PUSATKOTA ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 439,67 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:  Mengembangkan FASILITAS PERDAGANGAN terutama untuk pasar tradisional sesuai kebutuhan dan jangkauan pelayanannya;  Mengarahkan pengembangan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan lingkungan dengan menyediakan fasilitas umum yang memadai;

VII - 20

 Membatasi pengembangan perdagangan, jasa dan perkantoran sepanjang jalan arteri primer dan kolektor dengan memperhatikan lalulintas dan penyediaan parkir;  Mengembangkan kawasan campuran untuk membantu peningkatan daya tampung penduduk yang dikembangkan secara VERTIKAL terutama di koridor jalan arteri sekunder;  Mengendalikan perkembangan kawasan campuran secara terbatas;  Menata fungsi kawasan kota tua/bersejarah untuk mendukung kegiatan perkantoran, perdagangan, ,jasa dan pariwisata;  Mendorong pengembangan bangunan umum yang integrasi dengan penataan kawasan sekitar pantai. 2. Rencana Pengembangan KAWASAN BANGUNAN UMUM pada KAWASAN PERMUKIMAN TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 540,30 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:  Mengembangkan fasilitas perdagangan terutama untuk PASAR TRADISIONAL sesuai kebutuhan dan jangkauan pelayanannya;  Meningkatkan kualitas pola ruang PASAR TRADISIONAL yang lebih modern tanpa menghilangkan peran dan fungsi didalamnya;  Mengembangkan penyediaan fasilitas pembuangan sampah sementara dan memberi wewenang kepada pihak tertentu dalam sistem manajemennya;  Meningkatkan kualitas pola ruang parkir yang bersih dan teratur dengan memanfaatkan preman kota sebagai pihak penanggung jawab;  Mengembangkan kawasan multifungsi bertaraf global secara terpadu di KAWASAN EKONOMI PROSPEKTIF terutama yang berada pada KAWASAN NIAGA PANAKUKANG SQUARE.  Mengarahkan pengembangan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan lingkungan dengan menyediakan fasilitas umum yang memadai dan terkoordinir;  Mendorong pengembangan bangunan umum yang terintegrasi dengan penataan kawasan sekitar SUNGAI TALLO;  Mengembangkan program perbaikan lingkungan pada kawasan yang terbangun dengan penyediaan dan/atau penambahan fasilitas penunjangnya beserta penghijauan yang lebih nyaman;  Mengembangkan Sentra Primer Baru Timur yang bertaraf internasional. 3. Rencana Pengembangan KAWASAN BANGUNAN UMUM pada KAWASAN PELABUHAN TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 25,30 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:  Mengembangkan fasilitas perdagangan terutama untuk mendukung pengembangan kawasan yang sesuai kebutuhan dan jangkauan pelayanannya;  Mengarahkan pengembangan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan lingkungan dengan menyediakan fasilitas umum yang memadai;  Mengembangkan dan mengontrol sistem bangunan yang seragam sebagai wujud pola ruang yang lebih teratur;  Mengembangkan wilayah Pantai Utara di sub-kawasan pengembangan pelabuhan dengan pola pengembangan multifungsi/Super Blok dengan fasilitasnya yang bertaraf international;  Mengendalikan pengembangan perdagangan, jasa dan perkantoran sepanjang jalan arteri primer dengan memperhatikan lalulintas dan penyediaan lahan parkir;  Mengembangkan dan mengendalikan kawasan campuran secara terbatas untuk membantu peningkatan daya tampung penduduk yang dikembangkan secara vertikal terutama di koridor jalan arteri sekunder;  Mendorong pengembangan bangunan umum yang integrasi dengan perencanaan pengembangan pelabuhan secara terpadu;  Mengembangkan Sentra Primer Baru Utara yang bertaraf internasional.

VII - 21

4. Rencana Pengembangan KAWASAN BANGUNAN UMUM pada KAWASAN BANDARA TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 167,68 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:  Mengembangkan fasilitas perdagangan terutama untuk pasar tradisional sesuai kebutuhan dan jangkauan pelayanannya;  Mengembangkan kawasan multifungsi bertaraf global secara terpadu di kawasan ekonomi prospektif terutama yang berada dekat dengan kawasan bandara;  Mengarahkan pengembangan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan lingkungan dengan menyediakan fasilitas umum yang memadai;  Mengembangkan program perbaikan lingkungan pada kawasan yang terbangun dengan penyediaan dan/atau penambahan fasilitas penunjangnya beserta penghijauan yang lebih nyaman;  Mengendalikan perkembangan kawasan campuran terutama yang berada pada jalan arteri primer  Mengembangkan Sentra Primer Baru Utara yang berskala nasional. 5. Rencana Pengembangan KAWASAN BANGUNAN UMUM pada KAWASAN MARITIM TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 17,06Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:  Mengembangkan fasilitas perdagangan terutama untuk pasar tradisional sesuai kebutuhan dan jangkauan pelayanannya;  Mengembangkan fasilitas perdagangan yang sesuai dengan kebutuhan, jenis dan jangkauan pelayanan yang dibutuhkan;  Mengarahkan pengembangan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan lingkungan dengan menyediakan fasilitas umum yang memadai;  Mengembangkan wilayah Pantai Utara di sub-kawasan pengembangan maritim dengan pola pengembangan yang lebih terencana, terkontrol dan terintegrasi dengan atmosfir ruang rencana kawasan maritim;  Mengembangkan program perbaikan lingkungan pada kawasan yang terbangun dengan penyediaan dan/atau penambahan fasilitas penunjangnya beserta penghijauan yang lebih nyaman;  Mendorong pengembangan bangunan umum yang integrasi dengan perencanaan pengembangan maritim secara terpadu;  Mengembangkan Sentra Primer Baru Utara yang bertaraf internasional. 6. Rencana Pengembangan KAWASAN BANGUNAN UMUM pada KAWASAN INDUSTRI TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 41,40 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:  Mengembangkan KAWASAN MULTIFUNGSI secara terpadu di kawasan ekonomi prospektif terutama yang berada pada Kawasan Niaga Daya;  Mengarahkan pengembangan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan lingkungan dengan menyediakan fasilitas umum yang memadai;  Mengembangkan program perbaikan lingkungan pada kawasan yang terbangun dengan penyediaan dan/atau penambahan fasilitas penunjangnya beserta penghijauan yang lebih nyaman;  Mendorong pengembangan bangunan umum yang integrasi dengan perencanaan pengembangan kawasan industri secara terpadu. 7. Rencana Pengembangan KAWASAN BANGUNAN UMUM pada KAWASAN PERGUDANGAN TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 195,21 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:   Mengembangkan KAWASAN MULTIFUNGSI secara terpadu di kawasan ekonomi prospektif terutama yang berada pada KAWASAN NIAGA DAYA; Mengarahkan pengembangan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan lingkungan dengan menyediakan fasilitas umum yang memadai;

VII - 22

 

Mengembangkan program perbaikan lingkungan pada kawasan yang terbangun dengan penyediaan dan/atau penambahan fasilitas penunjangnya beserta penghijauan yang lebih nyaman; Mendorong pengembangan bangunan umum yang integrasi dengan perencanaan pengembangan kawasan industri secara terpadu.

8. Rencana Pengembangan KAWASAN BANGUNAN UMUM pada KAWASAN PENDIDIKAN TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 52,77 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:  Mengembangkan fasilitas perdagangan terutama untuk pasar tradisional sesuai kebutuhan dan jangkauan pelayanannya;  Mengarahkan pengembangan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan lingkungan dengan menyediakan fasilitas umum yang memadai;  Membatasi pengembangan perdagangan, jasa dan perkantoran sepanjang jalan arteri primer dengan memperhatikan lalulintas dan penyediaan parkir;  Mengembangkan kawasan campuran untuk membantu peningkatan pelayanan pada masyarakat;  Mengendalikan pengembangan bangunan umum secara terbatas yang terintegrasi dengan penataan kawasan sekitar sungai Tallo. 9. Rencana Pengembangan KAWASAN BANGUNAN UMUM pada KAWASAN BUDAYA TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 1,50 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:  Mengarahkan pengembangan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan lingkungan dengan menyediakan fasilitas umum yang memadai;  Mengembangkan wilayah bagian selatan kota di sub-kawasan pengembangan kawasan taman miniatur sulawesi dengan pola pengembangan multifungsi yang tetap terintegrasi baik secara bentuk dan ruang sesuai dengan atmosfir ruang budaya yang ingin dicapai;  Mengarahkan pengembangan bangunan umum yang tetap terintegrasi dengan rencana pengendalian dan revitalisasi sungai balang beru dan jeneberang secara terpadu;  Melestarikan dan menata fungsi-fungsi kawasan/bangunan bersejarah untuk mendukung kegiatan perdagangan, jasa, dan pariwisata dengan pengaturan dan penataan lalulintas beserta pedestrian yang lebih nyaman;  Mengembangkan Sentra Primer Baru Selatan, dengan penempatan sektor budaya sebagai warna dari pengembangan kawasan. 10. Rencana Pengembangan KAWASAN BANGUNAN UMUM pada KAWASAN OLAHRAGA TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 80,55 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:  Mengarahkan pengembangan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan lingkungan dengan menyediakan fasilitas umum yang memadai. yang mendukung fungsi utama sebagai kawasan olahraga terpadu dan mengarahkan pembentukanya disesuaikan dengan kebutuhan dan jangkauan pelayanannya;   Mengembangkan kawasan multifungsi bertaraf global secara terpadu di kawasan ekonomi prospektif terutama yang berada pada Kawasan Barombong; Mendorong pengembangan bangunan umum yang terintegrasi dengan penataan kawasan sekitar pantai makassar bagian barat;  Mengembangkan program perbaikan lingkungan pada kawasan yang terbangun dengan penyediaan dan/atau penambahan fasilitas penunjangnya beserta penghijauan yang lebih nyaman;  Mengembangkan Sentra Primer Baru Selatan yang bertaraf internasional. 11. Rencana Pengembangan KAWASAN BANGUNAN UMUM pada KAWASAN BISNIS DAN PARIWISATA TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 35,87 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:

VII - 23

     

Mengembangkan fasilitas perdagangan terutama untuk pasar tradisional sesuai kebutuhan dan jangkauan pelayanannya; Mengembangkan kawasan multifungsi bertaraf global secara terpadu di kawasan ekonomi prospektif terutama yang berada pada kawasan permukiman Tanjung Bunga; Mengarahkan pengembangan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan lingkungan dengan menyediakan fasilitas umum yang memadai; Mengendalikan pengembangan perdagangan, jasa dan perkantoran secara terbatas sepanjang jalan arteri primer dengan memperhatikan lalulintas dan penyediaan parkir; Mendorong pengembangan bangunan umum yang integrasi dengan penataan kawasan sekitar pantai Makassar bagian barat; Mengembangkan kawasan campuran untuk membantu peningkatan daya tampung penduduk yang dikembangkan secara vertikal terutama di koridor jalan arteri sekunder.

12. Rencana Pengembangan KAWASAN BANGUNAN UMUM pada KAWASAN BISNIS GLOBAL TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 30,09 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:      Mengembangkan fasilitas perdagangan terutama untuk pasar tradisional sesuai kebutuhan dan jangkauan pelayanannya; Mengembangkan kawasan multifungsi bertaraf global secara terpadu di kawasan ekonomi prospektif terutama yang berada pada kawasan Tanjung Beringin; Mengarahkan pengembangan bangunan umum yang lebih nyaman dan berwawasan lingkungan dengan menyediakan fasilitas umum yang memadai; Mengarahkan dan mengendalikan pengembangan perdagangan, jasa dan perkantoran secara terbatas dan terkontrol sepanjang jalan arteri primer dengan memperhatikan lalulintas dan penyediaan parkir; Mendorong pengembangan bangunan umum yang terintegrasi dengan penataan kawasan sekitar pantai makassar bagian barat. 12.1 Pengembangan Kawasan Bangunan Umum KDB rendah:  Mengembangkan kawasan bangunan umum KDB rendah secara terbatas terutama pada daerah sebelah UTARA DAN TIMUR yaitu pada kawasan industri terpadu, kawasan pergudangan terpadu, kawasan maritim terpadu dan kawasan Pendidikan Tinggi Terpadu;  PERSENTASE LUAS KAWASAN BANGUNAN UMUM KDB RENDAH ditargetkan sebesar 6,92% dari luas selurah kawasan terpadu Kota Makassar. 12.2 Pengembangan Kawasan Campuran : Pengembangan Kawasan Campuran dalam 12 kawasan terpadu Kota Makassar diuraikan sebagai berikut:
Tabel 7-10 Pengembangan Kawasan Campuran (Bangunan Umum dan Perumahan)

Sumber: Hasil Analisis Tim

VII - 24

           

Pengembangan kawasan campuran pada kawasan pusat kota ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 586,22 Ha; Pengembangan kawasan campuran pada kawasan permukiman terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 1.080,60 Ha; Pengembangan kawasan campuran pada kawasan pelabuhan terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 56,22 Ha; Pengembangan kawasan campuran pada kawasan bandara terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 335,31 Ha; Pengembangan kawasan campuran pada kawasan maritim terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 68,25 Ha. Pengembangan kawasan campuran pada kawasan industri terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 276,02 Ha; Pengembangan kawasan campuran pada kawasan pergudangan terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 390,42 Ha; Pengembangan kawasan campuran pada kawasan pendidikan tinggi Terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 211,10 Ha; Pengembangan kawasan campuran pada kawasan budaya terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 1,50 Ha; Pengembangan kawasan campuran pada kawasan olahraga terpadu 161,10 Ha. Pengembangan kawasan campuran pada kawasan bisnis dan pariwisata terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 89,67 Ha; Pengembangan kawasan campuran pada kawasan bisnis global terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 56,43 Ha.

5. RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI Kegiatan industri yang dimaksudkan dalam perencanaan penataan ruang Kota Makassar adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi dan atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri.
Tabel 7-11 Rencana Pengembangan Industri Kota Makassar

Sumber: Hasil Analisis Tim

Bahwa dari rencana pengembangan kawasan industri di Makassar yang memiliki PERSYARATANPERSYARATAN TERTENTU dalam pengembangannya maka dari 12 kawasan Terpadu Kota Makassar, yang hanya diperbolehkan hanya pada 4 kawasan terpadu sebagai berikut:

VII - 25

1. Rencana pengembangan KEGIATAN INDUSTRI pada KAWASAN PELABUHAN TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 14,06 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:  Mengarahkan pengembangan industri selektif yang mendukung fungsi pelabuhan secara terpadu;  Mengembangkan kegiatan industri pada kawasan yang terbangun dengan penyediaan dan/atau penambahan fasilitas penunjang beserta penghijauan yang lebih nyaman. 2. Rencana pengembangan KAWASAN INDUSTRI pada KAWASAN BANDARA TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 167,66 Ha.  Mengarahkan pengembangan industri berteknologi tinggi yang tidak mengganggu lingkungan hidup sebagai satu kesatuan kawasan berikat.  Mengembangkan industri kecil yang tidak berpolusi dan berwawasan lingkungan hidup 3. Rencana pengembangan kawasan industri pada KAWASAN MARITIM TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 17,06 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:  Mengarahkan kegiatan industri yang berlokasi di dekat permukiman hanya untuk jenis-jenis industri kecil dan tidak polutif serta berwawasan lingkungan;  Mengarahkan pengembangan kegiatan industri yang berhubungan dengan kegiatan industri perikanan. 4. Rencana pengembangan kawasan industri pada KAWASAN INDUSTRI TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas759,05 Ha dengan arahan rencana sebagai berikut:  Menjadi pusat dari semua kegiatan pengembangan industria;  Merelokasi industri menengah dan besar dari pusat kota kedalam kawasan;  Mengatur dan mengendalikan kegiatan industri secara terbatas terhadap kegiatan industri yang berisiko tinggi menimbulkan efek negatif terhadap perkembangan manusia dan lingkungan. 6. RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN PERGUDANGAN
Tabel 7-12 Rencana Pengembangan Pergudangan Kota Makassar

Sumber: Hasil Analisis Tim

Bahwa dari rencana PENGEMBANGAN KAWASAN PERGUDANGAN di Makassar memiliki persyaratanpersyaratan tertentu dalam pembangunan dan peruntukannya maka dari 12 KAWASAN TERPADU KOTA MAKASSAR, yang diperbolehkan hanya pada 4 kawasan terpadu sebagai berikut: 1. Rencana pengembangan KAWASAN PERGUDANGAN pada KAWASAN PELABUHAN TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 56,22 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:  Mengembangkan kawasan pergudangan untuk mengantisipasi perkembangan PELABUHAN

SOEKARNO-HATTA dan menunjang kegiatan perdagangan dan jasa;  Mengembangkan kawasan pergudangan yang nyaman, asri, dan tertata serta tetap terintegrasi baik dengan atmosfir kawasan pelabuhan.

VII - 26

2. Rencana pengembangan KAWASAN PERGUDANGAN pada KAWASAN BANDARA TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 335,31 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:  Mengarahkan pengembangan kawasan pergudangan yang dapat menunjang kegiatan industri, perdagangan, dan jasa yang ada di bandara;  Mengarahkan pengembangan kawasan pergudangan yang lebih tertata secara bentuk dan berwawasan lingkungan. 3. Rencana pengembangan KAWASAN PERGUDANGAN pada KAWASAN MARITIM TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 34,12 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:  Mengarahkan pengembangan kawasan pergudangan yang dapat menunjang kegiatan industri, perdagangan, dan jasa kemaritiman;  Mengarahkan pengembangan kawasan pergudangan yang lebih tertata secara bentuk dan berwawasan lingkungan. 4. Rencana pengembangan KAWASAN PERGUDANGAN pada KAWASAN PERGUDANGAN TERPADU ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 897,97 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:  Merelokasi kewasan pergudangan dari dalam kota;  Menjadi pusat konsentrasi dan relokasi gudang dalam kota;  Mengarahkan pengembangan kawasan pergudangan yang sejalan dengan nilai ruang rencana yang ingin dicapai. 7. RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN SISTEM PUSAT KEGIATAN Dalam rencana pengembangan kawasan sistem pusat kota di Makassar, luasan pada sentra-sentra kawasan terpadu tidak seragam. Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut ini:
Tabel 7-13 Rencana Pengembangan Landmark, Kota Makassar

Sumber: Hasil Analisis Tim

Sistem pusat kegiatan dibedakan berdasarkan kegiatan kawasan sebagai pembentuk struktur ruang dan kawasan fungsi khusus sebagai pusat pemerintahan, pusat kegiatan sosial, ekonomi dan budaya. Sistem pusat kegiatan yang dimaksud terdiri dari Pusat Kegiatan Utama dan Pusat Kegiatan Penunjang. 1. Sistem PUSAT KEGIATAN UTAMA menurut FUNGSI KAWASAN sebagai pembentuk struktur ruang sebagaimana dimaksud diatas, ditetapkan sebagai berikut:  Sentra Primer Baru Timur Kota sebagai pusat perkantoran, perdagangan, dan jasa;  Sentra Primer Baru Barat Kota sebagai pusat pemerintahan kota, perkantoran, perdagangan dan jasa yang bertaraf global;

VII - 27

 Sentra Primer Baru Selatan Kota sebagai pusat bisnis, pariwisata, perdagangan, budaya, dan olahraga;  Sentra Primer Baru Utara Kota sebagai pusat bisnis, pariwisata, perdagangan, dan jasa kemaritiman. 2. Sistem PUSAT KEGIATAN UTAMA menurut FUNGSI KHUSUS ditetapkan sebagai berkut:  Pusat Pemerintahan Propinsi di Wilayah Pengembangan II (Kawasan Urip Sumoharjo);  Pusat Pemerintahan Kota di Wilayah Pengembangan III (Pusat Kota);  Pusat Bisnis dan Pariwisata diwilayah pengembangan II, III, IV dan V: Kota Baru Tanjung Bunga, Panakukang Square, dan Kepulauan spermonde;  Pusat Bisnis Global di wilayah Pengembangan IV (Tanjung Beringin);  Pusat Olahraga di Wilayah Pengembangan IV (di Barombong);  Pusat Energi dan Gas di Wilayah Pengembangan III (Kawasan Strategis Pusat Energi dan Bahan Bakar Terpadu);  Pusat Kesehatan di Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Rumah Sakit Labuang Baji. 8. RENCANA PENGEMBANGAN PEDAGANG KAKI LIMA Dalam rencana tata ruang wilayah Kota Makassar, eksistensi pedagang kaki lima sudah ikut diakomodir sebagai salah satu bentuk pemanfaatan ruang yang mutlak untuk diberi perhatian dan arahan dalam rencana struktur pemanfaatan ruangnya. Berikut ini beberapa alasan yang mendasari mengapa pedagang kaki lima perlu dan penting untuk diatur dalam rencana tata ruang wilayah Kota Makassar, sebagai berikut: 1. Tingkat pertumbuhan pedagang kaki lima didalam Kota Makassar dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang signifikan; Terhitung bahwa dari HASIL SURVEY TATA RUANG yang dilakukan terdapat kurang lebih 5.919 pedagang kaki lima yang ada di Kota Makassar, dengan bentuk dan jenis jualan yang beragam (terdapat kurang lebih 70 jenis jualan), dimulai dari usaha campuran yang umum dilakukan hingga usaha yang sifatanya khusus yaitu penjualan perlengkapan jenazah; 2. Secara KERUANGAN rata-rata pedagang kaki lima menempati PUSAT-PUSAT KEGIATAN UTAMA dan TEMPAT-TEMPAT STRATEGIS didalam kota sebagai tempat berjualan dengan kebanyakan memanfaatkan bahu dan badan jalan secara tidak teratur; 3. Eksistensi keindahan dan kebersihan kota ikut TERANCAM dengan kehadiran pedagang kaki lima yang sebagian besar tidak lagi memperdulikan keindahan dan kebersihan kota sebagai sesuatu yang perlu untuk dijaga; 4. Keberadaan Kaki Lima seringkali mengundang KEMACETAN LALU LINTAS pada ruas-ruas jalan didalam kota. Dari data berikut ini menunjukkan bahwa kurang lebih 80% pedagang kaki lima didalam kota menempati bahu jalan dan drainase sebagai tempat berjualan dengan sifat jualan yang tidak permanen kurang lebih 90%.
Tabel 7-14 Letak, Sifat dan Bentuk Kaki Lima di Kota Makassar Saat Ini Letak, Sifat, dan Bentuk Kaki Lima Persentase

1 Bahu Jalan 2 Drainase 3 Trotoar 4 Non Permanen 5 Permanen 6 Movable 7 Mobile 8 non insidentil 9 insidentil
Sumber: Hasil Survey Pedagang Kaki Lima, 2005

41,97% 41,61% 16,42% 90,08% 9,92% 93,61% 6,39% 93,73% 6,27%

VII - 28

Atas dasar dari ALASAN-ALASAN di atas maka secara keruangan dari tabel berikut ini keberadaan pedagang kaki lima secara proporsional diatur dalam 12 kawasan Terpadu Kota Makassar.
Tabel 7-15 Rencana Pemanfaatan Ruang Pedagang Kaki Lima Kota Makassar

Sumber: Analisis Tim

9. RENCANA PENGEMBANGAN PRASARANA WILAYAH Untuk SISTEM PRASARANA dalam perencanaan penataan ruang Kota Makassar meliputi prasarana transportasi, sumber air dan air bersih, pengendalian banjir dan drainase, irigasi, air limbah, persampahan, prasarana energi dan telekomunikasi, utilitas, public servis, pariwisata, reklame dan public sinage, prasarana sektor informal, dan prasarana street scapes. 1. Pengembangan prasarana transportasi meliputi prasarana untuk pejalan kaki dan kendaraan bermotor,

angkutan sungai dan penyeberangan, angkutan laut dan udara yang dikembangkan sebagai pelayanan angkutan terpadu untuk lalu lintas lokal, regional, nasional dan internasional.  Pengembangan sistem ini diarahkan untuk mencapai tujuan sebagai berikut: a. Tersusunnya suatu jaringan sistem transportasi yang efisien dan efektif; b. Meningkatnya kelancaran lalu lintas dan angkutan; c. Terselenggaranya pelayanan angkutan yang aman, tertib, nyaman, teratur, lancar dan efisien; d. Terselenggaranya pelayanan angkutan barang yang sesuai dengan perkembangan sarana angkutan dan teknologi transportasi angkutan barang; e. Meningkatnya keterpaduan baik antara sistem angkutan laut, udara dan darat maupun antar moda angkutan darat; f. Meningkatnya disiplin masyarakat pengguna jalan dan pengguna angkutan.      Mengembangkan sistem angkutan jalan melaui pengembangan jaringan jalan sesuai dengan fungsi dan hirarki jalan serta terminal bis antar kota dan terminal bis dalam kota; Mengembangkan dan menerapkan management angkutan kota ”ONE DAY ONE TICKET”, sehingga sistem dan pola arus transportasi lebih terkontrol. Menata pelayanan angkutan umum yang disesuaikan dengan hirarki jalan, dengan sistem lalulintas angkutan umum yang terbagi dalam 16 trayek kota; Melaksanakan penerapan manajemen lalu lintas, termasuk di dalamnya SISTEM SATU ARAH, pengaturan dengan lampu lalu lintas, dan kebijakan pembatasan lalu lintas pada daerah-daerah tertentu; Membangun gedung-gedung dan atau taman parkir pada pusat-pusat kegiatan untuk menghilangkan parkir pada badan jalan secara bertahap;

VII - 29

  

Mengembangkan fasilitas pejalan kaki yang memadai dengan memperhitungkan penggunaannya bagi penyandang cacat; Lokasi terminal angkutan barang dengan fasilitasnya dan pangkalan truk diarahkan pada kawasan pelabuhan dan industri/pergudangan serta lokasi yang ditetapkan pada jaringan jalan arteri primer; Mengembangkan pelabuhan laut dan dermaga penyeberangan sebagai berikut: kegiatan ekspor/impor, angkutan penumpang dan barang di Sukarno-Hatta, pelabuhan perikanan nusantara di Untia, pelabuhan tradisional dan pelayaran rakyat di Paotere, serta pelabuhan penyeberangan dari dan ke Kepulauan Spermonde di Kayu Bangkoa.

 

Mengembangkan pelabuhan-pelabuhan sebagaimana dimaksud diatas secara terintegrasi dengan pengembangan jaringan angkutan jalan. Mengembangkan Pelabuhan Udara Hasanuddin untuk mendukung fungsi kota Makassar sebagai Ibukota Provinsi dan untuk memenuhi pelayanan lainnya termasuk pelayanan haji.

2. Pengembangan prasarana sumber air dan air bersih  Pengembangan prasarana sumber air dan air bersih diarahkan untuk mencapai tujuan : a. Berkurangnya pemakaian air tanah dan terpeliharanya sumber daya air tanah dan air permukaan sebagai air baku; b. Terlaksananya distribusi air bersih untuk seluruh lapisan masyarakat; c. Terlaksananya konservasi air bawah tanah untuk pengendalian penurunan muka tanah, penurunan muka air tanah, dan kerusakan struktur tanah.  Pengembangan prasarana sumber air dan sumber air bersih dilakukan untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk sebesar 38,00 m3/detik pada tahun 2015 dengan tingkat konsumsi maksimal sebesar 175 liter/orang/hari.  Pembagian zona pelayanan air bersih, prioritas pelayanan, jaringan pengaliran air baku, lokasi-lokasi Instalasi Pengolahan Air (IPAL), dan lokasi-lokasi pusat distribusi air yang direncanakan. 3. Pengembangan Prasarana Konservasi sumber Daya Air Kota Pengembangan prasarana ini tidak hanya dilakukan kesisi ruang saja akan tetapi juga dilakukan upayaupaya/strategi dalam arah pelaksanaannya:   Pembatasan pengambilan air tanah dangkal di kawasan perumahan dan permukiman secara bertahap; Perluasan kawasan resapan air melalui penambahan ruang terbuka hijau di masing-masing kawasan terpadu, waduk, danau, sempadan sungai dan sempadan pesisir pantai UTARA UNTIA serta PULAU LAKKANG yang saat ini telah beralih fungsi menjadi KAWASAN HIJAU TERBUKA;   Pencegahan peresapan air limbah ke dalam tanah dan pencemaran sumber-sumber air terutama di sekitar zona-zona kritis, seperti di daerah sekitar KANAL JONGAYA dan PAMPANG; Mengembangkan pembangunan jaringan prasarana air limbah pada kawasan sekitar Pasar TERONG, PASAR PAKBAENG-BAENG, PASAR BUTUNG dan pasar tradisional lain yang jaringan prasarana air limbah masih belum terkoordinir dengan baik system operasionalnya; 4. Pengembangan Prasarana Banjir  Pengembangan prasarana pengendalian banjir dan drainase diarahkan untuk: a. Menciptakan lingkungan kota yang bebas banjir dan genangan air; b. Menata daerah aliran atau koridor 2 sungai utama sebagai bagian penting dari unsur kota dengan menjadikannya sebagai orientasi kawasan; c. Mengoptimalkan dan memadukan fungsi jaringan saluran makro, sub makro, mikro, dan lokasi tampungan air (waduk/situ) dalam pengelolaan sistem kawasan.  Pengembangan prasarana pengendalian banjir ditujukan untuk meningkatkan kapasitas prasarana pengendalian banjir 100 tahunan dengan tetap mempertahankan debit minimal aliran mantap beserta kualitasnya VII - 30

Pengembangan prasarana sebagaimana dimaksud diatas dilakukan melalui: a. Normalisasi aliran 3 sungai (jeneberang, tallo, dan pampang); b. Penyempurnaan sistem aliran kanal kota;

      

Penataan kembali sempadan sungai sejalan dengan penataan sungai menurut fungsinya yaitu sebagai pengendali banjir, drainase, dan penggelontor; Pembangunan, peningkatan dan pengembangan fungsi situ-situ sebagai lokasi tempat penampungan air terutama di bagian hulu dan daerah cekungan atau palung secara terbatas; Rasio badan air yang mencakup saluran, kali, sungai, banjir kanal, situ dan waduk tahun 2030 seluas 4,92% dari luas wilayah Kota Makassar; Pengembangan drainase diarahkan sebagai saluran air hujan yang merupakan saluran umum; Badan air berupa saluran, kali, banjir kanal, situ dan waduk tidak dapat diubah peruntukannya.

5. Pengembangan prasarana air limbah Pengembangan prasarana air limbah diarahkan untuk meminimalkan tingkat pencemaran pada badan air dan tanah, serta meningkatkan sanitasi kota melalui pengaturan fungsi drainase; Memperluas pelayanan pengelolaan air limbah sistem perpipaan tertutup melalui pengembangan sistem terpusat di kawasan permukiman, kawasan pusat bisnis, kawasan industri dan pelabuhan serta pengembangan sistem modular dengan teknologi terbaik yang dapat diterapkan;  Menentukan di sentra-sentra tertentu pusat pencemaran atau pusat akumulasi sampah sebagai area pengembangan/ pembangunan IPAL. 6. Pengembangan prasarana persampahan   Pengembangan prasarana persampahan diarahkan untuk meminimalkan volume sampah dan

pengembangan prasarana pengolahan sampah dengan teknologi yang berwawasan lingkungan hidup; Pengembangan prasarana persampahan ditujukan untuk mencapai target penanganan 90% dari jumlah total sampah, yang dilakukan baik pada sumbernya, proses pengangkutannya maupun pengelolaannya di tempat pembuangan akhir (TPA);   Pengelolaan prasarana sampah dilakukan dengan teknologi tepat guna untuk meningkatkan efisiensi dan mengoptimalkan pemanfaatan prasarana sampah; Pengembangan prasarana sampah bahan berbahaya dan beracun (b3) serta pengelolaannya dilakukan dengan teknologi yang tepat. 7. Pengembangan prasarana energi  Pengembangan prasarana energi diarahkan untuk tujuan terlaksananya pemanfaatan energi gas bagi kebutuhan rumah tangga dan transportasi, dan tersedianya tenaga listrik yang terjamin keandalan dan kesinambungan penyediaannya.  Pengembangan prasarana energi dilakukan melalui: a. Pengembangan pelayanan terminal gas dan bahan bakar di wilayah PANTAI UTARA MAKASSAR; b. Pengembangan jaringan distribusi listrik untuk kawasan perkantoran, perdagangan/jasa, industri dan perumahan baru; c. Memperluas pengadaan gardu induk dan gardu distribusi. 8. Pengembangan prasarana telekomunikasi diarahkan untuk mencapai tujuan mewujudkan sistem

telekomunikasi lokal, antar kota dan antar negara dan terjamin keandalannya untuk menunjang Kota Makassar sebagai kota jasa.

VII - 31

10. RENCANA INTENSITAS RUANG Intensitas Ruang dalam penataan ruang Kota Makassar adalah besaran ruang untuk fungsi tertentu yang ditentukan berdasarkan pengaturan Koefisien Lantai Bangunan, Koefisien Dasar Bangunan dan Ketinggian Bangunan tiap kawasan bagian kota sesuai dengan kedudukan dan fungsinya dalam pembangunan kota. 1. Kepadatan Bangunan Pada tahap RDTRK. rencana kepadatan bangunan yang diberikan adalah dalam arti kasar, yaitu jumlah bangunan dibagi luas seluruh kawasan terbangun di dalam unit lingkungan/kawasan tertentu. Sedangkan rencana kepadatan bersih (net density) bangunan dalam arti jumlah bangunan di bagi jumlah luas kapling dalam unit lingkungan/kawasan tertentu baru diberikan pada tahap rencana terperinci kota (RTK). Kepadatan bangunan belumlah secara mutlak membatasi tingkat intensitas penggunaan ruang (atau juga intensitas kegiatan perkotaan), oleh karena itu masih ada dua faktor penentu berikutnya yaitu koefisien dasar bangunan (KDB) dan koefisien lantai bangunan (KLB). Penetapan besarnya KLB dan KDB dilakukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor:  Rencana kepadatan penduduk dan rencana kepadatan bangunan yang telah ditentukan terlebih dahulu dalam RDTRK;  Nilai lahan, semakin tinggi nilai lahan semakin lokasi dalam kota;  Faktor keamanan, yaitu dengan melihat karakteristik fisik lingkungan termasuk struksi teknis dan sebagainya, maka KDB dan KLB ditetapkan untuk menjaga keamanan dari penghuni dan kegiatan yang berlangsung dalam bangunan-bangunan yang bersangkutan;  Faktor estetika dan kenyamanan lingkungan KDB dan KLB ini banyak mempengaruhi kerapatan bangunan, tinggi bangunan, dan lain-lain yang pada gilirannya menentukan juga garis langit bangunan (skyline), banyak penyinaran sinar matahari, sirkulasi udara/angin antara bangunan dan lain-lain. 2. Koefisien Luas Bangunan Yang dimaksud dengan Koefisien Luas Bangunan (KLB) adalah angka besaran jumlah luas lantai bangunan (berbagai tingkat lantai bila ada) dibagi luas kapling (petak lahan tempat bangunan tersebut) dalam angka rasio desimal. Secara teoritik angka rasio desimal ini bisa tiada lantai bangunan sedikit pun/tiada bangunan (0,00) sampai lebih dari jumlah tingkat/lantai bangunan (1,00). Pada keadaan bangunan tidak bertingkat/bersusun, maka angka KDB akan pararel dengan angka KLB.
MAKS 1,8
Lt.3 Lt.2 Lt.1

tinggi intensitas penggunaan ruang yang diinginkan,

sehubungan dengan harga / sewa lahan yang relatif tinggi di sana, nilai lahan ini berbeda antara berbagai

MAKS 4,8 MAKS 4,2 MAKS 3,6 MAKS 3,0 MAKS 2,4 MAKS 1,8 MAKS 1,2 MAKS 0,6

Lt. 8 Lt. 7 Lt. 6 Lt. 5 Lt. 4 Lt. 3 Lt. 2 Lt. 1

Maksud penetapan angka KLB adalah untuk mengatur kepadatan suatu kawasan, yang ditujukan dengan

MAKS 1,2 MAKS 0,6 Koefisien Lantai Bangunan lantai Bangunan lantai Bangunan lantai

mengaitkan antara luas lantai bangunan im dengan luas lahan tanah/kapling tempat bangunan berdiri. PENGATURAN KEPADATAN ini bertujuan untuk:  Menciptakan memungkinkan ruang luar nyaman, yang masih dan

Bangunan (KLB) 1, maksimal 0,6 2, maksimum 1,2 3, maksimum 1,8

Ketinggian Bangunan 8 lantai

Koefisien Lantai Bangunan (KLB) untuk Row Houses MAKS 4,8 MAKS 1,8 MAKS 1,2
Lt.3 Lt.2 Lt.1 Lt. 8 Lt. 7 Lt. 6 Lt. 5 Lt. 4 Lt. 3 Lt. 2 Lt. 1

masuknya

pencahayaan

pengudaraan alami pada daerah terbuka, serta cukup tersedia jalur pejalan kaki untuk menampung arus manusia yang ditimbulkan oleh adanya kegiatan di kawasan tersebut;

MAKS 4,2 MAKS 3,6 MAKS 3,0 MAKS 2,4 MAKS 1,8 MAKS 1,2 MAKS 0,6

MAKS 0,6

Bangunan lantai 1, maksimal 1,0 Bangunan lantai 2, maksimum 2,0 Bangunan lantai 3, maksimum 3,0

Ketinggian Bangunan 8 lantai

Gambar 7-13 Skematik Koefisien Luas Bangunan

VII - 32

 Memperoleh keseimbangan antara arus atau kapasitas kendaraan yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan dalam suatu bangunan dengan kapasitas jalan yang ada;  Memberikan karakter pada suatu kawasan yang dipertahankan dan diremajakan;  Dilihat dari ketiga aspek peninjauan, umumnya bila suatu kawasan akan dipertahankan maka diberikan tingkat kepadatannya sama dengan sekarang, dan bila suatu kawasan akan diremajakan maka diberikan tingkat kepadatan yang lebih besar;  Adapun pertimbangn-pertimbangan dalam menentukan angka-angka KLB adalah jenis penggunaan lahan, angka KDB, ukuran jalan, jarak bangunan dan ketinggian bangunan maksimum yang diijinkan. Dari rencana Koefisien Dasar Bangunan (KDB), maka rencana Koefisien Lantai Bangunan (KLB) di wilayah perencanaan adalah sebagai berikut:  Pada kawasan padat/strategis, nilai KLB tinggi (lebih dari 3 lantai dan kurang dari 6 lantai);  Pada kawasan dengan kepadatan sedang, nilai KLB sedang (2-3 lantai);  Pada kawasan dengan kepadatan rendah, nilai KLB rendah (antara 1-2 lantai). 3. Koefisien Dasar Bangunan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah angka besaran luas dasar (tapak bangunan dibagi luas kapling/ petak lahan tempat bangunan tersebut) dalam angka persen. Secara teoritis angka ini dapat berkisar antara tiada bangunan (0%) sampai tiada pekarangan, hanya ada bangunan (100%). Maksud penentuan angka KDB adalah untuk tetap

menyediakan perbandingan yang seimbang antara lahan terbangun dan tidak terbangun di suatu kawasan sehingga:     Peresapan air tanah tidak terganggu; Kebutuhan air secara alami dapat dipenuhi; Citra arsitektur lingkungan dapat dipelihara; Nilai estetika lingkungan dapat terjaga.
PERTIGAAN Koefisien Dasar Bangunan (KDB): Maksimal 100% untuk Row Houses Koefisien Dasar bangunan (KDB): Maksimul 80% untuk bangunan pertigaan dan perempatan jalan. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) maksimal 60%

ROW 15-20 M

ROW 15-20 M

Angka KDB dipergunakan untuk mengatur intensitas kepadatan dasar bangunan di suatu kawasan yang ditujukan dengan mengkaitkan antara luas lantai dasar bangunan dengan luas tanah / kavling tempat bangunan itu sendiri. Koefisien dasar bangunan di kawasan perencanaan adalah
ROW 15-20 M

sebagai berikut:  Pada Kawasan padat/strategis, nilai KDB dimungkinkan dan direncanakan lebih dari 50 %; 
Koefisien Dasar Bangunan (KDB) maksimal 60%

Gambar 7-14 Skematik Koefisien Dasar Bangunan

Pada kawasan dengan kepadatan sedang, nilai KDB dimungkinkan dan direncanakan tidak lebih dari 3040%;

Pada kawasan dengan kepadatan rendah, nilai KDB dimungkinkan dan direncanakan kurang dari 30%.

4. Sempadan Bangunan Sempadan Bangunan (GSB) adalah jarak yang diperbolehkan mendirikan bangunan dihitung dari as jalan. Pengaturan garis sempadan dimaksudkan untuk menciptakan keteraturan bangunan dan yang menjadi dasar pertimbangan rencana garis sempadan bangunan adalah:   Keterkaitan dengan pengembangan kawasan perencanaan secara terarah dan terencana, yang berkaitan pula dengan system pergerakan baik dalam skala makro maupun mikro; Memberikan daerah bebas pandang bagi pemakai jalan;

VII - 33

Jaringan jalan yang terkait dengan besarannya serta fungsi dari jalan tersebut yang akan berpengaruh dengan bangunan yang ada disepanjang jalan.

Memberikan jarak tertentu terhadap batas pandang manusia yang memakai jalan.

Gambar 7-15 Skematik Garis Sempadan Bangunan Area Perkantoran Pemerintahan

Gambar 7-16 Skematik Garis Sempadan Bangunan Area Komersial – Mix Use

Garis sempadan bangunan ditentukan dari letak bangunan tersebut terhadap jalan yang ada didepannya: 5. Ketinggian Bangunan Ketinggian Bangunan aalah titik bangunan maksimum yang diperbolehkan dihitung dari permukaan tanah, dan apabila terdapat basement (ruang bawah tanah) maka ruang tersebut tidak dihitung. Ketinggian bangunan di kawasan perencanaan adalah sebagai berikut:    Pada kawasan padat / strategis, ketinggian bangunan relatif sedang; Pada kawasan dengan kepadatan sedang, ketinggian bangunan relatif sedang; Pada kawasan dengan kepadatan rendah, ketinggian bangunan relatif pendek.
Gambar 7-17 Skematik Ketinggian dan Fungsi Bangunan

11. RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM PRASARANA WILAYAH 1. Sistem Jaringan Jalan dan Transportasi a. Transportasi Darat

VII - 34

 Sistem Jaringan Jalan dan Lalu Lintas Kendaraan Berdasarkan pola pengembangan fisik tata ruang kota dan perkiraan pertambahan penduduk, maka luas lahan terbangun di Kota Makassar akan semakin luas. Berdasarkan pertimbangan tersebut diperlukan adanya rencana jaringan jalan di kota Makassar untuk memperlancar dan meningkatkan aksesibilitas di seluruh bagian wilayah Makassar serta untuk pemerataan akses, memperpendek waktu dan jarak tempuh. Pada umumnya sistem jaringan jalan yang ada di Kota makassar berpola linier yang menghubungkan area pusat kota Makassar yang berada di bagian barat wilayah kota dengan bagian kota lainnya yang berada di bagian selatan dan timur wilayah kota. Dalam wilayah selatan dan timur kota yang umumnya area permukiman pola jalan
A. Jenis Permukaan
1. 2. 3. 4. Aspal Kerikil Batu Lainnya 1024,14 187,22 166,35 173,16 42,59 -

Uraian

Kota

Status Jalan Propinsi Negara

Jumlah

(km )

1066,73 187,22 166,35 173,16

B. Kondisi Jalan
1. 2. 3. 4. Baik Sedang Rusak Ringan Rusak Berat 545,9 536,02 394,9 116,64 545,9 536,02 394,9 116,64

menggunakan sistem grid. Panjang jalan menurut jenis permukaan, kondisi, kelas dan status jalan dapat dilihat pada tabel berikut.  Jaringan Prasarana Fasilitas perlengkapan jalan yang ada saat ini adalah rambu lalu-lintas pada jalan nasional sebanyak 734 buah, jalan kota sebanyak 3.120 buah, marka jalan yang sudah terpasang pada

C. Kelas Jalan
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Kelas I Kelas II Kelas III Kelas III - A Kelas IV Kelas V Tak Terinci 98,59 53,45 479,02 962,46 98,59 53,45 479,02 962,46

TOTAL

2003 2002 2001

1593,46 1593,46 1593,46

1593,46 1593,46 1593,46

Tabel 7-16 Panjang jalan Menurut Jenis Permukaan, Kondisi, Kelas dan Status Jalan

jalan nasional sepanjang 35,703 km, pada jalan kota sepanjang 37,297 km, lampu penerangan jalan yang sudah terpasang pada jalan nasional sebanyak 1.165 buah, pada jalan kota sebanyak 3.485 buah, tempat pemberhentian angkutan umum atau halte pada saat ini adalah pada jalan nasional sebanyak 19 buah, sedangkan pada jalan kota sebanyak 51 buah. Fasilitas pejalan kaki yang ada pada saat ini yang terpasang adalah zebra cross sebanyak 285 buah, jembatan penyebrangan sebanyak 4 buah. Alat pemberi isyarat lalu lintas (traffic light) adalah pada simpang empat sebanyak 39 unit, simpang tiga sebanyak 2 unit, penyebrangan jalan sebayak 1 unit pada ruas jalan sebanyak 4 unit. Fasilitas ruang parkir yang sudah terpasang adalah pada jalan nasional tidak ada, sedangkan pada jalan kota sudah terpasang sebanyak 385 satuan ruang parkir (SRP). Jaringan Jalan yang terdapat di kota Makassar saat ini menyimpan beberapa permasalahan penting, yakni:
1. Sistem jaringan jalan kota Makassar masih berpola KONVENSIONAL; 2. BELUM TERBENTUKNYA sistim jaringan jalan terpadu yang terkoneksi satu sama lain sesuai sistim

hirarki jaringan jalan;
3. Luas cakupan wilayah pelayanan jaringan jalan belum terencana dengan baik sesuai dengan fungsi,

jenis dan kapasitas jaringan jalan;
4. Kemacetan permanen di ruas jalan tertentu (Bawakaraeng, Perintis Kemerdekaan, dan Ir. Sutami)

disebabkan karena volume jalan yang sudah TIDAK MAMPU menampung volume kendaraan;
5. Pembangunan jalan setelah kawasan ruang sudah berkembang menjadi penyebab utama

rendahnya kualitas jaringan jalan kota;
6. Strategi dan manajemen tanah untuk jaringan jalan yang buruk menyebabkan banyak jaringan jalan

yang terputus.

VII - 35

Analisis Kebutuhan Jaringan Prasarana 1. Kebutuhan rambu lalu lintas di masa yang akan datang adalah rambu lalu lintas pada jalan nasional sebanyak 1.087 buah, jalan kota sebanyak 2.667 buah; 2. Kebutuhan marka jalan di masa yang akan datang adalah pada jalan nasional sepanjang 43,631 km, pada jalan kota sepanjang 151,781 km; 3. Kebutuhan lampu penerangan jalan di masa yang akan datang adalah pada jalan nasional sebanyak 1.865 buah, pada jalan kota sebanyak 4.150 buah, kebutuhan tempat pemberhentian angkutan umum atau halte di masa yang akan datang adalah pada jalan nasional sebanyak 30 buah, sedangkan pada jalan kota sebanyak 63 buah; 4. Kebutuhan fasilitas pejalan kaki di masa yang akan datang adalah zebra cross sebanyak 415 buah, jembatan penyebrangan sebanyak 8 buah; 5. Kebutuhan alat pemberi isyarat lalu lintas (traffic light) dimasa yang akan datang adalah pada simpang empat sebanyak 4 unit dan pada ruans jalan sebanyak 4 unit; 6. Kebutuhan fasilitas ruang parkir di masa yang akan datang adalah pada jalan nasional 500 SRP, sedangkan pada jalan kota sudah terpasang sebanyak 2.500 satuan ruang parkir (SRP); 7. Kebutuhan Jalan Lingkar untuk rencana pengembangan prasarana transportasi darat dalam 10 tahun mendatang akan dibangun sepanjang 17 km. 8. Kebutuhan trotoar jalan di masa yang akan datang pada jalan nasional sepanjang 39,34 km, jalan kota sepanjang 40,54 km. Untuk itu, dalam analisis Kebutuhan Jaringan Jalan dibutuhkan USAHA-USAHA sebagai berikut: 1. Pengadaan sistim dan jenis jaringan jalan modern seperti:     Jalan tol; Jalan By Pass; Ring Road; Monorail.

2. Menata kembali sistim jaringan jalan, jalan terpadu kota Makassar sesuai dengan hirarkinya; 3. Pengadaan sistim jaringan pada koridor sungai Tallo dan Je’neberang sebagai usaha menyeimbangkan kebutuhan sistim jaringan jalan arah Timur-Barat; 4. Pembuatan jalan baru pada kawasan ruang kota rencana sebelum pengisian fungsi ruang tersebut dilaksanakan; 5. Pembuatan “JALAN LINGKAR KAWASAN” setiap kawasan ruang kota sebagai bingkai kawasan (frame); 6. Penataan sistem dan manajemen pembebasan lahan untuk jalan.  Lalu Lintas Kendaraan Sesuai dengan pola perkembangan fisik kota, kepadatan lalu lintas di Kota Makassar cenderung terkonsentrasi pada ruas-ruas jalan utama di sekitar pusat kota dimana beban yang cukup tinggi pada jam puncak (awal dan akhir jam kerja) mengakibatkan kemacetan. Dari kondisi yang ada terdapat beberapa potensi dan permasalahan jaringan transportasi kota Makassar, antara lain :

VII - 36

1. Kepadatan lalu lintas terjadi pada jalan-jalan poros utama dan jalan-jalan alternatif antar kawasan dalam kota yang menghubungkan area pusat kota dengan kawasan-kawasan permukiman utama di Makassar; 2. Jalan utama dianggap terlalu jauh memutar sehingga orang memilih jalur alternatif yang relatif sempit yang akhirnya menyebabkan kemacetan; 3. Jaringan jalan di pusat kota rawan terhadap kemacetan karena pola parkir belum memadai dan kurangnya sistem manajemen transportasi yang tegas dalam mengatur pergerakan moda transportasi lalu lintas sehingga masih ada moda angkutan berat yang memasuki area pusat kota pada jam sibuk serta banyak angkutan kota yang mangkal membentuk ”TERMINAL BAYANGAN”; 4. Penataan MANAJEMEN JALUR belum memenuhi kebutuhan optimum dari masing-masing kepentingan kawasan menyebabkan ketidakseimbangan volume lalu lintas; 5. Sistem TRAFFIC yang belum terintegrasi baik antar jalur pejalan kaki - becak - motor - mobil - bus truk – monorail; 6. Adanya ketimpangan mendasar dari hirarki pergerakan transportasi kota barat - timur (bisnis & pekerjaan) dan transportasi utara – selatan (bisnis & perdagangan). Untuk itu, dalam analisis kebutuhan Lalu Lintas Kendaraan dibutuhkan USAHA yaitu mendesain SISTEM TRAFFIC TERPADU sesuai dengan konsep dan kebutuhan 13 ruang kota & 12 kawasan strategis.  Streetscape Elemen ini merupakan bagian yang penting dalam menunjang kenyamanan pengguna jalan terutama bagi pejalan kaki. Minat masyarakat untuk mengurangi penggunaan kendaraan dan mulai aktif berjalan kaki dapat dimulai dari penataan streetscape yang menarik. Beberapa identifikasi permasalahannya di Makassar yaitu: 1. Penataan “streetscape” (trotoar, hutan kota, curb, drainase, signage, outdoor lighting, utilitas) kota Makassar belum tertata baik; 2. Tidak adanya desain prototype yang baku tentang “streetscape” menyebabkan tidak seragamnya ketinggian bahu jalan yang umumnya lebih tinggi dari badan jalan berakibat tidak mengalirnya air hujan ke drainase sehingga terjadi genangan air yang mengganggu lalu lintas 3. Kualitas desain STREETSCAPE yang sangat konvensional; 4. Streetscape adalah “Frame Kota” kualitas streetscape menentukan kualitas estetika kota. Kualitas kota modern dan kota konvensional adalah terletak pada kualitas streetscape; 5. Penataan streetscape yang tidak baik akan mengundang ekspansi pedagang kaki lima. Untuk itu, dalam analisis Kebutuhan Streetscape dibutuhkan USAHA-USAHA sebagai berikut: 1. Mendesain sistim jaringan STREETSCAPE yang terintegrasi baik; 2. Menetapkan standar desain prototype streetscape sesuai dengan “Tema “ masing-masing fungsi kawasan dengan kekhasan Kota Makassar; 3. Menetapkan standar komposisi prosentasi hijau kota minimal 47% pada semua kawasan ruang kota untuk mewujudkan konsep GARDEN CITY/GREEN CITY.  Jembatan Elemen ini menjadi vital bagi kota Makassar, karena anatominya yang dilalui oleh dua buah sungai, yaitu Sungai Jene’berang dan Sungai Tallo. Beberapa hasil identifikasi permasalahannya adalah :

VII - 37

1. BELUM ADANYA analisa rencana kebutuhan jembatan untuk kota Makassar terkhusus 2 sungai besar (Je’neberang dan Tallo) 2. KETERGANTUNGAN kota Makassar terhadap dua jembatan Sungai Tallo dan dua jembatan Sungai Je’neberang yang sangat tinggi menimbulkan “kerawanan” sistim transportasi kota Untuk itu, dalam analisis Kebutuhan Jembatan dibutuhkan USAHA-USAHA sebagai berikut: 1. Sungai Tallo membutuhkan idealnya 7 JEMBATAN (termasuk 2 jembatan yang ada) 2. Sungai Je’neberang membutuhkan idealnya 6 JEMBATAN (termasuk 2 jembatan yang ada).
Tabel 7-17 Survey Volume Lalu Lintas Pada Beberapa Jalur Utama Pada Waktu Puncak Di Kota Makassar Jumlah Moda per Jam No. Nama Jalan Mobil 1. 2. 3. 4. 5. 6. Jl. Perintis Kemerdekaan Jl. Sultan Alauddin Jl. Rappocini Jl. Abd. Dg. Sirua Jl. A. Yani Jl. Veteran Selatan 1326 1306 440 816 1090 843 Motor 5695 4173 1516 2804 1836 2363 Angkot 1095 1293 5 634 654 7 Taksi 104 136 53 84 112 Truk 84 409 66 153 5 117 Bus 7 32 0 1 2 0 Becak 24 238 192 2 22 244 Gerobak 4 1 2 1 1 7 Sepeda 29 570 97 10 31 143

Sumber: Hasil Survey, 2005

Sistem Jalur Angkutan Umum Dan Terminal Moda transportasi umum di Kota Makassar sebagian besar dilayani oleh Angkutan Kota “pete-pete” (kendaraan minibus), selain beberapa bis kota DAMRI dan taksi. Untuk jarak dekat sampai menengah masyarakat menggunakan moda transportasi umum ojek, becak motor, dan becak. Angkutan umum yang ada terdiri dari 16 trayek yang melayani angkutan ke wilayah-wilayah di Kota Makassar. Untuk pengangkutan barang menggunakan kendaraan berupa truk dan mobil pick-up yang merupakan mobil khusus angkutan barang. Sedangkan untuk lokasi terminal Kota Makassar ada dua terminal angkutan kota yang bewrfungsi, yaitu: 1. Terminal Regional Daya yang berlokasi di area Pusat Niaga Daya (Jalur utama Jl. Perintis Kemerdekaan) 2. Terminal Malengkeri yang berlokasi di Jl. Dg. Tata. (Jalur utama Jl. S. Alauddin)

VII - 38

Gambar 7-18 Salah Satu Jalur Trayek Angkutan Umum di Kota Makassar

Sistem Jalur Angkutan Umum Berikut ini asumsi-asumsi yang digunakan dalam menganalisis permasalahan angkutan umum : 1. Dari kondisi tidak tertata baiknya wilayah pelayanan moda transportasi darat menjadi salah satu penyebab terjadinya kesemrawutan sistim transportasi di Makassar; 2. Belum tersedianya fasilitas transportasi massa dalam kota, yang menyebabkan beban transportasi kota semakin berat; 3. Karakter pola pergerakan “pete-pete” dan volume yang tidak terkendali salah satu penyebab utama kemacetan lalu lintas di Makassar; 4. Kecepatan, pola pergerakan, dan ketidakdisiplinan “Becak” juga menjadi PENYEBAB UTAMA kesemrawutan lalu lintas dalam kota. Untuk itu, dalam analisis Kebutuhan Jalur Angkutan Umum diperlukan USAHA-USAHA sebagai berikut: 1. Mengkaji kembali pilihan teknologi transportasi angkutan umum dan pilihan terhadap kebutuhan pelayanan kepada masyarakat memerlukan pertimbangan kebijakan sosial tersendiri. Keterlambatan menciptakan sistem pelayanan angkutan umum saat ini, telah banyak mendorong masyarakat untuk mengatasi persoalannya sendiri dengan caranya masing-masing. Tingginya penggunaan angkutan pribadi dan munculnya fenomena moda (alat angkut) yang tidak terencana, seperti ojek, becak motor, menunjukkan kegagalan sistem perencanaan di tingkat makro, meso, maupun mikro. khususnya pada aspek koordinasi perencanaan dan implementasi di lapangan. Pengadaan moda transportasi massa yang dibutuhkan Kota Makassar, sebagai berikut: o Monorail; o Bus Kota; o Bus Sekolah; o Bus Kampus. VII - 39

Tabel 7-18 Jumlah Sarana Angkutan (Umum & Pribadi) Tahun 2004

No (1) 1. 2. 3. 4.

Jenis Kendaraan

(2) Sepeda Motor Mobil Penumpang Mobil Barang Mobil Bus • Umum Bus Besar Bus Sedang Bus Kecil • Bukan Umum 5. Kendaraan Khusus 6. Mobil Penumpang Umum 7. Kendaraan Roda Tiga Jumlah

2002 (unit) (3) 203.601 19.578 19.105

2003 (unit) (4) 316.864 20.281 20.212

2004 (unit) (5) 449.947 21.009 21.383

674 16.426 12.536 306 103 13.136 16.000 301.465

761 16.648 12.704 164 164 13.286 16.000 417.084

859 16.873 12.874 391 261 13.438 16.000 553.035

Sumber: Lantas Polwiltabes Kota Makassar, 2004

Dalam analisis ini dikemukakan bahwa untuk mere-evaluasi semua permasalahan mendasar dari pola transportasi darat, salah satu yang diusulkan adalah bagaimana Menata Kembali HIRARKI MODA TRANSPORTASI KOTA yang dimulai dari: o Becak o Ojek o Pete-Pete (Angkot) o Bus Kota o Bus Sekolah o Bus Kampus o Monorail o Taxi o Bus Wisata Untuk dan kepentingan jalur antar blok/kavling; Untuk dan kepentingan jalur antar sub-sub kawasan/kavling; Untuk dan kepentingan jalur antar sub kawasan; Untuk dan kepentingan jalur antar kawasan; Untuk dan kepentingan jalur antar sekolah dan pemukiman; Untuk dan kepentingan jalur antar kampus dan pemukiman; Untuk dan kepentingan jalur antar pusat-pusat kawasan; Untuk dan kepentingan jalur antar pusat-pusat kawasan; Untuk dan kepentingan jalur seluruh wilayah kota.

Disamping pembatasan volume jenis moda transportasi sesuai dengan besar wilayah pelayanannya dan pengendalian motor dan mobil pribadi pada limitasi tertentu sesuai dengan kemampuan sistim transportasi kota Makassar. Dalam melakukan analisis perencanaan terhadap sistem angkutan umum pada wilayah Kota Makassar, beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah Kota Makassar, antara lain: 1. Perlunya memiliki data base sistem transportasi yang meliputi sistem jaringan jalan dan sistem angkutan umum; 2. Kompilasi data mengenai perilaku pengguna angkutan umum terhadap adanya perubahan tarif dan tingkat pendapatan; 3. Beban angkutan umum tiap route/jalur angkutan umum maupun tiap ruas jalan yang dilalui angkutan umum; 4. Usulan-usulan route untuk angkutan umum yang didasarkan pada kecenderungan perjalanan (desire line) penduduk bias; dan 5. Pemodelan system angkutan umum dapat dibentuk dengan menggunakan masukan data system angkutan umum, data pola perjalanan penduduk serta data preferensi pengguna angkutan umum terhadap perubahan tariff serta tingkat pendapatan

VII - 40

Terminal dan Halte Berikut ini asumsi-asumsi yang digunakan dalam menganalisis permasalahan terminal dan halte: 1. Sistem persinggahan transportasi mulai dari halte - terminal pembantu – terminal induk, BELUM SESUAI dengan kebutuhan KAWASAN RUANG KOTA; 2. Kuantitas & kualitas halte & terminal yang tidak artistik dan memadai dalam standar keamanan & kenyamanan; 3. TIDAK TERKONEKSINYA secara baik halte dengan jaringan pedestrian dari pusat-pusat kegiatan kota. Untuk itu, dalam analisis Kebutuhan Terminal dan Halte dibutuhkan USAHA-USAHA sebagai berikut: 1. Menata kembali sistem persinggahan transportasi secara makro sesuai dengan jenis, tuntutan dan karakter “KAWASAN KOTA” yang dilayani; 2. Menata kembali sistem interkoneksitas antar “Pusat Kegiatan” - Pedestrian Street dan Halte yang sesuai dengan karakter wilayah pelayanannya; 3. Mendesain Konsep Baru halte yang sesuai dengan standar Kota Internasional.

b. Transportasi Laut 1. Sarana Pelabuhan di Makassar Berdasarkan catatan sejarah, sudah sejak lama Kota Makassar menjadi kota pelabuhan dan bandar transit untuk berbagai jenis komoditas dagang, baik dari dan ke wilayah Timur Indonesia, maupun dari dan ke wilayah Barat Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri. Dengan demikian transportasi laut juga menjadi salah satu penunjang utama pergerakan kedalam dan keluar Makassar untuk lalu lintas barang dan penumpang. Jenis pelayaran yang dilayani di Pelabuhan Makassar adalah Pelayaran Samudera, Pelayaran Nusantara dan Pelayaran Rakyat. Selain mengangkut penumpang ke berbagai tujuan di perairan Nusantara, jenis lalu lintas barang yang diakomodir di Pelabuhan Makassar adalah dalam bentuk: (a) Curah; (b) Container; (c) General Cargo; (d) Bulk Cargo. Di Kota Makassar terdapat beberapa pelabuhan yang dikelola pemerintah daerah dan pelabuhan penyeberangan. Pelabuhan besar terdapat di sisi barat laut kota Makassar, sementara pelabuhanpelabuhan yang lebih kecil terletak di sisi pantai utara. Pelabuhan yang ada di Makassar yaitu : (a) Pelabuhan Sukarno – Hatta, merupakan pelabuhan laut utama, melayani lalu lintas penumpang, peti kemas, barang, dan juga logistik dan bahan baku dalam bentuk cargo maupun curah; (b) Pelabuhan perikanan Paotere, merupakan pelabuhan perikanan utama, terletak di kawasan pantai utara kota Makassar dan menjadi salah satu obyek wisata perahu tradisional Phinisi; (c) Pelabuhan Lantamal TNI AL, terletak di sisi pantai utara kota Makassar; (d) Pelabuhan Perikanan Nusantara, yang sementara dikembangkan di daerah Untia, dekat perbatasan Makassar – Maros; (e) Pelabuhan penyeberangan, terletak di sisi pantai barat Makassar di kawasan Benteng Fort Rotterdam. Merupakan pelabuhan rakyat untuk penyeberangan dari Makassar ke pulau-pulau Spermonde. Sebagai bandar transit modern, Pelabuhan Sukarno Hatta memiliki prospek yang menjanjikan. Pengembangannya sebagai terminal peti kemas semakin meningkatkan kemampuannya. Proyeksi VII - 41

statistik arus barang dan arus kapal dengan kemampuan tahun 2030 adalah:  Proyeksi Arus Kapal (2030) = 19.785 Call

Gambar 7-19 Proyeksi Arus Kapal (2007-2030)

Proyeksi Arus Barang (2030) = 25.817.636 ton

Gambar 7-20 Proyeksi Arus Barang (2007-2030)

Proyeksi Arus Penumpang (2030) = 3.520.910 Orang.

Gambar 7-21 Proyeksi Arus Penumpang (2007-2030)

Merupakan Inlet sekaligus Outlet (Kran) yang sangat strategis bagi perkembangan perekonomian Kota Makassar yang akan dikembangkan menjadi PELABUHAN LAUT INTERNASIONAL. 2. Jaringan Transportasi Laut – Sungai – Pulau (a) Pengadaan sistim jaringan transportasi Sungai Je’neberang – Pesisir Makassar – Pulau – Sungai Tallo sebagai pilihan alternatif yang menarik bagi sistim transportasi Kota Makassar; (b) Berfungsi sebagai jaringan transportasi laut untuk bisnis, jasa dan pariwisata.

VII - 42

3. Terminal, dermaga dan marina sepanjang pesisir Pantai Makassar dalam analisisnya dibutuhkan: (a) Sungai Je’neberang  Kawasan Cultural City – terminal dermaga wisata (b) Pesisir Pantai Makassar  Barombong - terminal dan dermaga Water Sport Venues;  Tanjung Bunga – dermaga Water Sport Tourism;  CBD “Global” – terminal, dermaga & marina internasional (pribadi);  Pantai Losari – terminal & dermaga transportasi laut – pulau – sungai kota serta marina kota;  Muara Sungai Tallo – dermaga jaringan pipa untuk bahan bakar & gas;  Pantai Kuri – terminal dan dermaga nelayan serta marina nelayan. (c) Sungai Tallo  Lakkang – terminal & dermaga jasa, bisnis serta wisata;  Kampus – terminal & dermaga jasa serta bisnis wisata;  Baruga – terminal & dermaga jasa serta bisnis wisata. (d) Traffic laut Untuk itu dibutuhkan pengaturan yang jelas dan teratur antara: 1. 2. 3. 4. 5. Jalur dan ruang tangkapan nelayan; Water sport; Jalur wisata bahari; Jalur perhubungan laut; Area berlabuh kapal.

c. Transportasi Udara Sebagai pusat dari Kawasan Timur Indonesia maka transportasi udara menjadi sarana angkutan utama dari dan menuju kawasan Barat Indonesia maupun wilayah Indonesia Timur. Untuk sarana angkutan udara saat ini Kota Makassar memiliki satu buah bandar udara yaitu Bandar Udara Hasanuddin yang berstatus sebagai Bandara Internasional. Secara umum Bandara Hasanuddin tergolong sebagai bandara jelas IA yang melayani penerbangan nasional maupun internasional dengan luas 197 hektar dan elevasi 14 m diatas permukaan laut. Jarak dari Kota Makassar adalah 22 km, dan area bandara termasuk dalam wilayah Kabupaten Maros. Saat ini Bandara Hasanuddin memiliki satu runway sepanjang 2.500 meter dengan lebar 45 meter. Pengembangan berikutnya diproyeksikan untuk memperpanjang runway menjadi 3.500 meter agar dapat didarati pesawat-pesawat berbadan lebar. Sekarang jenis pesawat yang dapat mendarat adalah sekelas MD11, DC 10, B737, DC 9 dan F-100. Rute penerbangan domestik melalui Bandara Hasanuddin antara lain menghubungkan Makassar dengan kota-kota utama di Pulau Jawa dan Kalimantan serta Sumatera (Medan dan Palembang), Bali, ibukota propinsi-propinsi di Pulau Sulawesi, dan kota-kota besar di selatan dan timur Sulawesi. Sedangkan rute yang dilayani untuk penerbangan internasional adalah Malaysia, Filipina, Singapura, dan penerbangan haji ke Arab Saudi. Namun saat ini jalur internasional yang dilayani hanya penerbangan haji ke Arab Saudi, sementara untuk jalur lain sementara dirintis kembali.

VII - 43

Gambar 7-.22 Denah Layout Bandara Hasanuddin

12. RENCANA Penyediaan FASILITAS UMUM DAN SOSIAL Fasilitas umum dan sosial berfungsi sebagai salah satu aspek penunjang terselenggara dan berkembang kehidupan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat. Oleh karena itu, perencanaan fasilitas umum dan sosial merupakan salah satu aspek penting dalam proses perencanaan di kawasan perencanaan. Secara umum konsep dan strategi perencanaan fasilitas umum dan sosial yang dilakukan adaian sebagai berikut: 1. Fasilitas umum dan sosial yang direncanakan meliputi kelompok fasilitas perniagaan, pendidikan, kesehatan, peribadatan, pemerintahan dan pelayanan umum, serta berbagai bentuk ruang terbuka; 2. Jenis, jumlah, alokasi dan distribusi fasilitas yang direncanakan untuk masing-masing kelompok fasilitas tersebut disesuaikan dengan standar kebutuhan minimal, jumlah penduduk pendukung minimum dan jangkauan pelayanan; 3. Rencana distribusi fasilitas umum dan sosia! dikaitkan dengan rencana sistem hirarki kelompok hunian (Konsep neighbourhood units). Dalam sistem ini, masing-masing fasilitas umum dan sosial tersebut berfungsi sebagai unsur pengikat datam suatu hirarki kelompok hunian: o Unsur pengikat kelompok hunian hirarki sub blok diantaranya berupa taman/lapangan bermain dengan skala pelayanan sub blok; o Unsur pengikat kelompok hunian hirarki blok dapat berupa taman/ lapangan bermain dengan skaia pelayanan blok, sekolah dasar, musholla, GSG/ balai warga atau klinik /posyandu / balai pengobatan; o Unsur pengikat kelompok hunian hirarki sub lingkungan dapat berupa taman/lapangan bermain dengan skala pelayanan sub lingkungan Masjid, SLIP dan pertokoan sub lingkungan; o Unsur pengikat kelompok hunian hirarki lingkungan dapat berupa fasilitas SMU, masjid, gereja, pasar, puskesmas, BKIA, kantor kelurahan, kantor pos pembantu, pos polisi, pos pemadam kebakaran, serta fasilitas perdagangan lingkungan. 4. Fasilitas umum dan sosial direncanakan dibangun secara berkelompok pada suatu lokasi berdasarkan sistem pusat-pusat pelayanan lingkungan. Lokasi pembangunan pusat pelayanan merupakan lokasi yang mudah dijangkau oleh seluruh bagian yang menjadi wilayah pelayanan; 5. Perencanaan memperhatikan kondisi fasilitas umum and sosial eksisiting. Fasilitas eksisting harus dapat dimanfaatkan secara optimal selama berada pada lokasi yang sesuai dengan peruntukannya. Proses

optimalisasi diwujudkan memaluli perbaikan, menambah perlengkapan, maupun penambahan alokasi lahan sehingga sesuai dengan skala pelayanan;

VII - 44

6. Perencanaan memperhatikan kondisi fasilitas umum dan sosial eksisting. Fasilitas eksisting harus dapat dimanfaatkan secara optimal selama pada loksai yang sesuai dengan peruntukannya. Proses optimalisasi diwujudkan melalui perbaikan, menambgah perlengkapan, maupun penambahan alokasi lahan sehingga sesuai dengan skala pelayanan; 7. Berkaitan dengan efisiensi pemanfaatan ruang dan optimalisasi penggunaannya, maka pemabgunan fasilitas umum dan sosial dapat dilakukan melalui: o Pembangunan secara vertikal (bertingkat); o Pemanfaatan berdasarkan sistim shift, misalnya pemanfaatan suatu komplek bangunan sekolah untuk sekolah pagi dan sekolah siang; o Pemanfaatan berdasarkan sistim multifungsi, misalnya bangunan GSG yang dapat difungsikan sebagai balai pertemuan warga, tempat penyelenggaraan acara-acara kesenian, olahraga dan kegiatan kemasyarakatan lainnya;
o Memiliki kedudukan rangkap, misalnya ruang terbuka hijau dengan skala pelayanan blok uang sekaligus

merupakan ruang terbuka hijau dengan skala pelayanan sub blok. 13. RENCANA Pengelolaan AIR BERSIH Rencana Pemanfaatan Ruang sistem Air Bersih Kota Makassar dapat dibagi dalam dua (2) sistem pelayanan air bersih. Ditinjau dari wilayah (zona) Kota Lama dan Kawasan Pengembangan serta lokasi Instalasi Pengelolaan Air (IPA) yang akan dimanfaatkan. Penggunaan air bersih di kota Makassar selalu mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Peningkatan tersebut dalam tiap tahunnya jika dipersentasekan mencapai 2,1% dari volume air yang disalurkan atau sekitar 92.4770 m3. Dan diestimasi pada tahun 2030 tingkat volume kebutuhan air bersih kota Makassar dapat mencapai 52.141.655,43 m3.

Gambar 7-23 Volume Penggunaan Air Bersih Kota Makassar

Pelayanan air bersih kota Makassar direncanakan mencapai 90 % sampai akhir tahun perencanaan dengan prioritas permukiman dengan kepadatan tinggi serta kawasan komersial serta fasilitas umum dan sosial lainnya. Proyeksi kebutuhan air bersih kota Makassar sampai akhir tahun 2030 dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Kebutuhan air bersih diatas dapat dilayani melalui peningkatan instalasi pengolahan air (IPA) yang ada serta IPA baru terlebih dahulu dilakukan studi khusus potensi sumber air baku yang dapat dijadikan sebagai penyediaan air bersih serta pengembangan IPA.

VII - 45

14. RENCANA PENGELOLAAN AIR LIMBAH  Tujuan Pengembangan Pengembangan jaringan air kotor / limbah domestik ditujukan untuk mengendalikan dan menanggulangi pencemaran akibat pembuangan air kotor / limbah cair rumah tangga melalui pengelolaan secara terpadu, serta non domestik diolah secara khusus melalui IPAL masing-masing industri sesuai dengan karakteristik industrinya.  Rencana Pengembangan Rencana pemanfaatan ruang sistem pengelolaan air limbah Kota Makassar meliputi : a. Pengelolaan air limbah domestik 1) Pengelolaan Limbah Cair Sistem Setempat (On Site Sanitation) o Pengelolaan Limbah Cair Sistem Setempat (On Site Sanitation); o Diterapkan pada kawasan dengan kepadatan relatif rendah, menggunakan tangki septik dan peresapan. Hingga tahun 2030 pengguanan tangki septik dan peresapan direncanakan mencapai 80 % dari total penduduk pada kawasan kepadatan rendah. o Diterapkan pada kawasan permukiman di atas air di pesisir pantai, dengan menggunakan sistem tangki septik terapung yang sesuai dengan standard untuk pengaruh pasang surut air laut. Hingga tahun 2030 penggunaan tangki septik terapung direncanakan mencapai 90 % dari total penduduk pada kawasan rumah diatas air kepadatan rendah; o Penyediaan prasarana jamban jamak / MCK pda kawasan permukiman kumuh dan berpenghasilan relatif rendah, dengan kriteria 1 unit jamban jamak / MCK melayani 5 KK. 2) Pengelolaan Limbah Cair Sistem Terpusat (Off Site Sanitation) o Diterapkan pada kawasan permukiman perkotaan atau kawasan dengan kepadatan penduduk yang relatif tinggi dengan menggunakan tangki septik komunal. Hingga tahun 2030 pengelolaan limbah domestik direncanakan mencapai 80 % dari total limbah cair perkotaan; o Diterapkan pada permukiman di atas air dengan septic tank terapung komunal yang sesuai dengan standard teknis untuk pasang surut air laut. Hingga tahun 2030 pengelolaan limbah domestik direncanakan mencapai 90 % dari total penduduk kawasan permukiman diatas air kepadatan tinggi; o Kriteria kebutuhan prasarana air limbah dengan tangki septik komunal adalah 1 unit tangki septik komunal melayani 10 – 15 KK; o Untuk kawasan strategis dan kawasan pengembangan baru, pengelolaan limbah memakai sistem assainering (terpusat menggunakan riol-riol). Kriteria perencanaan kebutuhan untuk penggunaan sistem assainering, meliputi:
o Topografi lahan mencukupi kelandaiannya karena aliran menggunakan riol; o Pengaliran air limbah dari rumah tangga menuju riol menggunakan sistem; o Ukuran riol minimum 200 mm, sambungan pipa rapat air, setiap pergantian; o Pada saat tertentu dilakukan penggelontoran air sehingga limbah yang mengendap atau masih

tertinggal dapat mengalir ke tangki penampungan;

VII - 46

o Air limbah dari riol dialirkan ke bak penampungan dengan kapasitas sesuai kebutuhan; o Bak penampungan harus melalui sistem pengolahan yang memenuhi standar yang berlaku atau

diambil dan dibawa ke IPLT untuk diolah.

Limbah Cair dari Kawasan

Pipa Pipa Riol Tangki Penampungan

Gambar 7-24. Skema Pengolahan Limbah Sistem Assainering

3) Pembuangan air limbah rumah tangga lain (cuci, mandi) masih dapat dibuang ke saluran drainase yang ada mengingat limbah yang terkandung belum begitu besar dan dapat diuraikan. Institusi untuk menangani pengelolaan air limbah secara terpadu di Kota Makassar dilakukan oleh Dinas Lisda dan Dinas Kesehatan. 4) Pengelolaan air limbah non domestik o Pengelolaan Limbah Cair Non Domestik direncanakan agar masing-masing industri yang ada di kota Makassar harus memiliki IPAL untuk mengolah limbah-limbah yang dihasilkan sesuai dengan karakteristiknya; o Perancangan peraturan yang mengatur serta mengelola air limbah dalam bentuk produk hukum dan peraturan. 15. RENCANA PENGELOLAAN PERSAMPAHAN  Tujuan Pengembangan Mengelola persampahan Kota Makassar secara terkoordinir dan terpadu dengan upaya efisiensi lahan dan pemanfaatan sisa sampah yang berguna untuk rehabilitasi kesuburan tanah.  Rencana Pengembangan Rencana pemanfaatan ruang sistem pengelolaan persampahan kota Makassar meliputi : a. Teknis Pengelolaan Teknis pengelolaan sampah dilakukan dengan fungsi, tugas dan tanggung jawab yang jelas dimana badan pengelola persampahan dilakukan oleh institusi yang mempunyai daerah atau wilayah yang jelas, yaitu: o Dinas Keindahan, bertugas untuk operasi kebersihan di wilayah kota yang dipandang sebagai wajah kota, yaitu jalan-jalan utama perkotaan dan pengangkutan sampah pemukiman dan pertokoan ke TPA; o Dinas Pasar, bertanggung jawab menangani kebersihan wilayah pasar dan pertokoan sekitarnya. o Organisasi Masyarakat dan Swasta; o Operasi kebersihan lingkungan dapat dikelola oleh lembaga masyarakat yang bermitra dengan institusi pengelola. Sedangkan peran serta swasta dapat menangani kawasan pemukiman baru dan kawasan serta turut dalam kegiatan pengangkutan, pemindahan atau pembuangan akhir. VII - 47

b. Teknis Operasional Teknis operasional penanganan sampah dilakukan secara terpadu melalui perwadahan, pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan akhir sampah. o Pada lokasi pelayanan teratur berpenghasilan menengah ke atas yang berlokasi pada jalan-jalan utama kota, teknis operasional dilakukan dengan ”Pola Individual Langsung (door to door)”.

Gambar 7-.25 Skema Penanganan Sampah Pola Individual Langsung

o Pada daerah pelayanan teratur seperti pertokoan, perkantoran dan pada lokasi lahan yang relatif datar, teknis operasional dilakukan dengan ”Pola Pengumpulan Individual Tidak Langsung”.

Gambar 7-26 Skema Penanganan Sampah Pola Individual Tidak Langsung

o Pada daerah-daerah padat, kumuh dan kurang teratur dengan penghasilan rendah, teknis operasional dilakukan dengan ”Pola Pengumpulan Komunal Langsung”.

Gambar 7-27 Skema Penanganan Sampah Pola Pengumpulan Komunal Langsung

o Pada daerah-daerah pelayanan yang teratur dengan jalan-jalan yang cukup lebar, relatif datar dan mudah dilalui oleh gerobak sampah dan armada pengangkut sampah, teknis operasional dilakukan dengan ”Pola Pengumpulan Komunal Tidak Langsung”.

Gambar 7-28 Skema Penanganan Sampah Pola Pengumpulan Komunal Tidak Langsung

VII - 48

c. Peran Serta Masyarakat dan Swasta Peningkatan peran serta masyarakat dan swasta dalam pengelolaan persampahan kawasan, dilakukan melalui : o Penyuluhan akan arti pentingnya kebersihan lingkungan; o Membentuk mitra kerja dengan masyarakat sebagai partner di lapangan dan jenis kegiatan yang dapat dilakukan atau diserahkan kepada masyarakat; o Perlakuan hukum dengan sosialisasi peraturan terlebih dahulu. o Membentuk mitra kerja dengan swasta melalui : 1. Turut dalam kegiatan pengangkutan, pemindahan (transfer depo) atau pembuangan akhir; 2. Turut dalam penanganan suatu kawasan pemukiman baru dan kawasan strategis. d. Peraturan Pengelolaan persampahan didukung oleh peraturan yang melibatkan wewenang dan tanggung jawab pengelola serta partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan. e. Sistem Pembuangan Akhir Sampah dan Pengolahannya Pengelolaan sampah Kota Makassar hingga tahun 2013 direncanakan menangani 70% total sampah domestik dan non domestik, dengan prioritas pelayanan pada wilayah dengan kepadatan penduduk lebih dari 50 jiwa/Ha.

Gambar 7-29 Gambar Teknis Sistem Operasional Pembuangan Akhir dan Pengolahannya

VII - 49

Dengan asumsi bahwa timbulan sampah adalah 2,5 liter/orang/hari, dengan komposisi sampah domestik adalah 75% dan sampah non domestik 25% maka TIMBULAN SAMPAH KOTA MAKASSAR sampai dengan tahun 2030 adalah sebagai berikut:
Tabel 7-19 Timbulan Sampah Kota Makassar (m3/hari) No. 1. 2. 3. 4. 5. Konsentrasi Kawasan Permukiman Komersial Industri Perkantoran Lainnya (jalan, dll) Jumlah 821 276 477 43 75

Total

1692

Sumber: Hasil survey Tim Studi Jica, 2005

Dari hasil Survey Tim Studi JICA menyebutkan bahwa limbah organik merupakan limbah yang paling banyak diproduksi oleh masyarakat. Dimana sebagian besar diantaranya berasal dari limbah rumah tangga dan pasar (±65%). Dengan kandungan air pada limbah secara rata-rata mencapai sekitar 70-80%. Kepadatan curah limbah rumah tangga menunjukkan angka yang lebih tinggi (0,35 kg/l) jika dibandingkan dengan survei tahun 1996 (0,23 kg/l). Jumlah limbah padat yang timbul di wilayah Makassar DIPROYEKSIKAN berdasarkan kerangka sosial untuk limbah rumah tangga dan kerangka ekonomi untuk limbah industri dan komersial sebagai berikut (sumber tim studi Jica):     Tahun 2005 Tahun 2010 Tahun 2020 Tahun 2030 = 1676 m3/hari = 2023 m3/hari = 2753 m3/hari = 4758 m3/hari

Sementara itu bila dilihat dari kondisi saat ini dari TAMANGAPA yang juga merupakan tempat pembuangan akhir sampah Kota Makassar kondisinya cukup memprihatinkan, hal ini ditunjukkan dari kondisi air bawah tanah telah terkontaminasi oleh infiltrasi kandungan air sampah yang tinggi. Diperkirakan untuk beberapa tahun kedepan daya tampung TPA ini sudah tidak memungkinkan lagi sehingga dibutuhkan LOKASILOKASI BARU sebagai tempat pembuangan sampah akhir Kota Makassar. Namun demikian dalam perencanaan lokasi TPA baru diperlukan adanya studi kelayakan terhadap lokasi tersebut. Kelayakan lokasi tersebut dapat dilihat terhadap:   Kesesuaian terhadap tata guna tanah atau rencana penggunaan lahan; Tinjauan dari segi geologi lingkungan (daerah banjir, tipe material lepas, ketebalan material lepas, tipe batuan dasar, jarak sumber air yang potensial, topografi, tersedianya tanah urug, daerah bencana alam);      Tinjauan terhadap sosial budaya masyarakat sekitarnya; Kemungkinan sebagai zona perlindungan tanaman dan satwa; Daerah situs purbakala; Daerah dekat dengan tempat rekreasi; Lokasi dekat dengan pemukiman padat. VII - 50

Sedangkan kriteria PEMBANGUNAN TPA BARU adalah:          Tidak berdekatan dengan daerah yang secara geologis dapat merusak keutuhan sarana TPA; Muka air tanah tertinggi 3 m di bawah dasar TPA, jarak disebelah hulu sumur air minimum 150 meter dan tidak terletak pada daerah batu gamping berongga; Jarak dari badan air permukaan 60 meter; Tidak berada pada bukit yang lerengnya tidak stabil dan daerah depresi yang berair; Jarak terhadap lapangan terbang 3000 meter, diluar wilayah untuk perlindungan satwa dan pelestarian tanaman, berjarak lebih dari 75 meter dari perumahan dan 300 meter dari taman nasional; Jauh dari daerah banjir; Tersedia tanah penutup; Tidak boleh merusak peninggalan sejarah; Kapasitas TPA cukup untuk pemakaian 10 tahun.

Sejalan dengan rencana pembangunan TPA baru, arahan pengelolaan persampahan Kota Makassar secara prinsipil mengikuti arahan yang diberikan dari Rencana Tata Ruang Wilayah Metropolitan Mamminasata yang mengusulkan 4 lokasi alternatif tempat pembuangan akhir sampah selain Tamangapa yaitu Samata, Bajeng, dan Pattalassang. Hasil studi diatas mengungkapkan bahwa Lokasi Pattalassang adalah lokasi paling layak untuk bisa dijadikan tempat pembuangan akhir sampah, selain merupakan tanah negara (luas lahan sekitar 220 Ha), juga layak dijadikan sebagai tempat pembuangan akhir sampah oleh Kota Makassar dan Kabupaten Gowa. Berikut ini KARAKTERISTIK TPA TAMANGAPA Makassar, terdiri atas:          Lokasi Tahun Operasi Luas Kapasitas (m3) Proses Peralatan Fasilitas : Tamangapa, Kecamatan Manggala : 1993 : 14,3 Ha : 810 (m3) : Ditutup dengan tanah tapi tidak berkala : 4 Unit Bulldozer dan 1 Unit Excavator : 1 Unit kantor; 1 kolam pelumeran (tdk dioperasikan secara tepat); 1 unit sistem ventilasi gas Aktivitas Pemulung Industri Daur Ulang : 178 Pemulung : Usaha Luhur Plastik, mengolah/mendaur ulang bahan Plastik CV. Andalas Jaya, mengolah/mendaur ulang bahan Aluminium PT. Barawaja, mengolah/mendaur ulang bahan Logam PT. Batatex, mengolah/mendaur ulang Serpihan Kayu PT. Orgi, mengolah/mendaur ulang Limbah Organik (Sumber: Dinas Keindahan Kota Makassar, 2005) PERALATAN PENGANGKUTAN SAMPAH Kota Makassar:      Gerobak (1 m3) Truk Penjemput (6 m3) Truk Kontainer (6 m3) Truk Kontainer (10 m3) Truk Kompaktor (6 m3) : 299 Unit : 64 Unit : 48 Unit : : 2 Unit 4 Unit

VII - 51

 

Kontainer Motor Kendaraan Lain

:

6 Unit

: 12 Unit

(Sumber: Dinas Keindahan Kota Makassar, 2005) 16. RENCANA PENGEMBANGAN LISTRIK Seperti halnya dengan rencana pengembangan sistem prasarana kota yang lain, rencana pengembangan sistem jaringan listrik dan penerangan merupakan pengembangan sistem jaringan yang berdasarkan rencana pemanfaatan ruang, tata letak, tata perkaplingan dan bangunan serta pengembangan sistem jaringan jalan dan diakhiri dengan penerangan jalan dan hiasan lampu-lampu kota. Dengan demikian perlu dibuat rencana pengembangan dan penataan jaringan yang sudah ada, meliputi :     Penambahan jaringan listrik sesuai dengan rencana jaringan jalan pada kawasan perencanaan; Perbaikan jaringan listrik yang sudah ada di Kota Makassar; Penyusunan rencana induk sistem jaringan listrik pada Kota Makassar; Penentuan jenis jaringan listrik yang akan digunakan dan dikembangkan.

Perubahan fungsi suatu bangunan dalam sebuah kawasan yang berkembang akan mempengaruhi kebutuhan layanan listrik. Penempatan gardu-gardu listrik dan jaringan-jaringan listrik yang baru di proposionalkan dengan kondisi area terbangun. Sesuai dengan kebutuhan yang ada, serta analisa data-data tersebut maka usulan dan prioritas program adalah:  Penambahan jaringan dan trafo hubung dengan akibat perkembangan kawasan karena adanya perencanaan kawasan permukiman, komersial, dll;  Pembenahan jaringan listrik yang tidak terdaftar dalam pelayanan listrik dengan melakukan pemutihan pada setiap rumah dengan koordinasi instansi terkait;  Penambahan titik lampu untuk fasilitas umum dan jalan baru.

KRITERIA dalam menentukan BESARNYA KEBUTUHAN LISTRIK untuk masing-masing kegiatan dalam rencana pemanfaatan ruang Kawasan Kota Makassar meliputi: a) Domestik    Perumahan Besar : 1.300 watt; Perumahan Sedang : 900 watt; Perumahan Kecil : 450 watt.

b) Non Domestik     Perdagangan dan perkantoran : 25 % domestik;

Kegiatan Sosial dan Pelayanan Umum : 25 % domestik; Penerangan Jalan Kehilangan Energi / Transmisi : 10 % domestik; : 10 % total energi.

VII - 52

c) Sumber Energi Daya listrik yang digunakan bersumber dari PLN yang dikelola oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) Makassar. Penyediaannya didukung dengan beberapa pembangkit listrik yang terdapat dalam kota Makassar seperti PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) di Kecamatan Panakkukang, PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas) di Kecamatan Tallo dan PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) di Kecamatan Ujung Tanah. Dari ketiga sumber tenaga tersebut dihasilkan daya sebesar 203,88 MW. Selain itu untuk memenuhi kebutuhan energi listrik di kota Makassar, PLN Wilayah VIII Kota Makassar juga di suplai listrik dari PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) Bakaru Kabupaten Pinrang, dan dari PLTG Pompanua Kabupaten Wajo. d) Wilayah Pelayanan Sebagian besar wilayah Kota Makassar sudah termasuk dalam jaringan PLN. Aliran listrik dari gardu induk didistribusikan ke tiang listrik pelayananya melalui gardu distribusi. Kapasitas satu buah gardu distribusi disesuaikan dengan jumlah gardu distribusi di kawasan perencanaan tergantung kebutuhan kawasan yang bersangkutan. Jaringan distribusi direncanakan memiliki tegangan tertentu dan struktur jaringan sistem open loop dengan pola operasional radial. Jaringan listrik akan menjangkau seluruh wilayah dengan jumlah konsumen / pelanggan sebanyak perumahan, fasilitas umum dan fasilitas sosial yang ada. Pelanggan adalah rumah tangga dengan batas daya 450 – 2250 watt. Dengan demikian sebagian besar penggunaan listrik adalah untuk penerangan dan dapat dikembangkan / dimanfaatkan secara maksimal untuk keperluan kegiatan ekonomi / industri. 1. Kriteria Perencanaan Sistem Transmisi Kriteria perencanaan minimum yang harus dipenuhi oleh sistem transmisi agar perencanaan memberikan suatu hasil yang memuaskan antara lain adalah :   sistem harus mampu bertahan bila ada gangguan tertentu tegangan ada pada batas yang ditentukan baik pada beban maksimum maupun beban ringan

Dalam hal ini bila terjadi gangguan pada suatu bagian maka bagian lain mampu menggantikannya tanpa mengurangi fungsi utamanya. Langkah – langkah perencanaan sistem distribusi :      perkiraan beban (Load Demand & Energy Forecast) Penyusunan Rencana Jaringan Distribusi Penentuan Penempatan Gardu Distribusi Baru Alternatif feeder Tegangan Menengah Optimasi konfigurasi perluasan sistem distribusi dengan fungsi perkembangan.

2. Sistem Distribusi Tegangan Rendah  Jaringan Tegangan Rendah (JTR) umumnya dipasok dari Gardu Distributor (GD) Tegangan Menengah / Tegangan Rendah (TM/TR)  Layout JTR mengikuti keadaan geografis area yang dilayani, pada umumnya mengikuti rute jalan guna menjangkau pelanggan  Luas Wilayah yang dicakup serta bentuk layout JTR dari suatu GD sangat tergantung pada faktor berikut : (1) Kapasitas trafo Gardu Distribusi (kVA) (2) Distribusi serta kerapatan beban (kVA/Ha) di area yang dilayani VII - 53

(3) Ukuran penampang JTR yang dipakai (4) Persyaratan susut tegangan yang diijinkan 3. Model Jaringan Tegangan Rendah Sebuah GD memasuki suatu area pelayanan melalui beberapa feeder TR (dengan kisaran antara 1 s/d 8 buah). Makin besar kapasitas trafo GD, makin besar jumlah feeder TR yang keluar dari GD. Makin besar kerapatan beban area yang dilayani makin besar jumlah TR yang keluar dari GD. Konfigurasi JTR yagn keluar dari GD terdiri dari :   Feeder Utama (Main Feeder) Feeder Cadangan (Branch Feeder)

Tujuan analisis adalah untuk memperkirakan luas maksimum area yang dapat dijangkau oleh sebuah GD. Adapun beberapa asumsi yang dipakai sebagai dasar analisis adalah :    Kedudukan GD tepat di pusat area pelayanan Beban terdistribusi secara merata dengan kerapatan beban sama (Uniformly Distributed Load) Susut tegangan terbesar di JTR yang diijinkan adalah sebesar 6%

17. RENCANA PENGEMBANGAN JARINGAN TELEPON Rencana pengembangan sistem jaringan telepon merupakan sistem pengembangan jaringan yang berdasarkan rencana pemanfaatan ruang, tata letak, tata perkaplingan dan bangunan serta pengembangan sistem jaringan jalan, dan diakhiri perletakan tipe-tipe dan sistem jaringan telepon kota. Rencana pengembangan utilitas ini diarahkan pada penambahan jarinngan pada kawasan yang baru untuk memenuhi permintaan penambahan sambungan rumah yang baru. Selain itu juga ditambah dengan penyediaan telepon umum untuk memenuhi kebutuhan akan utilitas ini. Kebutuhan pengembangan Jaringan Telepon Jangkauan pelayanan jaringan telepon Kota Makassar diharapkan semakin mudah dan murah untuk memperolehnya serta semakin meluas jumlah pelanggannya. Perencanaan jaringan telepon memerlukan studi khusus, karena didasarkan pada perhitungan jumlah pemohon (permintaan atau demand) dari masyarakat, tidak seperti fasilitas lainnya (misal jaringan jalan, air bersih, dan lainnya). Untuk memprediksi kebutuhan telepon digunakan pendekatan atau asumsi pertumbuhan penduduk serta potensi pengembangan Kota Makassar. Adapun wilayah-wilayah yang potensial untuk dikembangkan jaringan telepon pada masa mendatang adalah merupakan kawasan yang didorong pertumbuhannya sesuai dengan peruntukan kawasan dalam 12 kawasan terpadu dan kawasan strategis serta 1 kawasan lindung. 18. RENCANA PENGEMBANGAN CENTERPOINT OF INDONESIA (COI) Rencana pengembangan Centerpoint Of Indonesia merupakan pengembangan kawasan di pesisir barat Kota Makassar yang dibangun dengan alasan kawasan Centerpoint Of Indonesia menjadi trigger Makassar sebagai kota dunia. Rencana pengembangan Centerpoint Of Indonesia dilatarbelakangi oleh beberapa masalah sebagai: Terjadinya sedimentasi berat yang melalui aliran DAS Sungai Jene’berang; Timbulnya spot-spot abrasi akibat pola gelombang dan aksi arus yang berubah sejalan dengan perubahan iklim dunia; Kondisi pesisir yang labil sebagai akibat dari proses sedimentasi Sungai Jene’berang sehingga terjadi perubahan bentuk pesisir; Kondisi Pulau Lae-Lae yang tergerus oleh pusaran arus menyebabkan luasan Pulau Lae-Lae berkurang; VII - 54

Matinya terumbu karang akibat sedimentasi; Pendangkalan pelabuhan akibat arah arus dan volume sedimentasi yang menyebabkan penumpukan sedimentasi di sudut bawah pelabuhan Soekarno-Hatta; Ancaman tertutupnya Pantai Losari karena daratan tanah tumbuh “kepala burung” akibat pola arus dan sedimentasi makin hari makin mendekati pelataran; Terjadinya pencemaran berat yang berasal dari 7 outlet yang bermuara ke kawasan pengembangan Centerpoint Of Indonesia; Terjadinya kemiskinan pesisir khususnya di kawasan kumuh “lette” yang hampir mencapai 80%; Dampak global warming tentang kenaikan muka air laut hingga 110 cm di tahun 2100. Rencana pengembangan Centerpoint Of Indonesia meliputi : Design bangunan lokasi pengembangan yang modifikasi guna mengantisipasi bahaya sedimentasi; Penguatan struktur konstruksi bangunan berdasarkan prinsip engineering sebgai upaya persiapan menghadapi bahaya abrasi sehingga ruang-ruang yang berada diatasnya relatif aman. 19. RENCANA PENGEMBANGAN KAMPUS POLITEKNIK ILMU PELAYARAN (PIP) Rencana pengembangan Kampus Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) merupakan pengembangan kawasan pesisir pantai utara yang perencanaannya didasarkan UU No.26 Tahun 2007 tentang penataan ruang dan UU No.27 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana alam. Penanggulangan terhadap bencana sebagai upaya mitigasi dengan melihat kondisi saat ini dan masa akan datang di lokasi pengembangan. Rencana pengembangan Kampus Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) meliputi : Adanya kenaikan suhu bumi sampai mencapai 6 derajat celcius (SIX DEGREE SCENARIO) yang menyebabkan kenaikan paras muka air laut yang diperkirakan sekitar 1.10 cm pada tahun 2100. Upaya mitigasi yang dilakukan dengan peningkatan leveling permukaan tanah dengan memperhitungkan kenaikan sea level rise di tahun 2100 terhadap kondisi muka air laut rata-rata saat ini (2010);

Gambar 7-30 Design Levelling Permukaan Tanah di Kampus PIP Tahun 2010

VII - 55

Gambar 7-31Uji Design Levelling Permukaan Tanah di Kampus PIP Tahun 2100

Perbaikan sistem drainase dan pengembangan kawasan Kampus PIP sebagai ruang terbuka hijau untuk mengantisipasi kemungkinan bahaya banjir yang akan dihadapi oleh kawasan pembangunan Kampus PIP yang berasal dari meluapnya Sungai Bonelengga akibat tidak langsung dari naiknya permukaan air laut (Sea Level Rise) atau akibat curah hujan yang berlebihan akibat CLIMATE CHANGE yang diperparah dengan rusaknya kawasan DAS.

VII - 56

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful