SEORANG PRIA 66 TAHUN DENGAN GAMBARAN X-FOTO THORAX EFUSI PLEURA DUPLEKS DAN GAMBARAN AWAL OEDEMA PULMO

Diajukan untuk melengkapi syarat kepaniteraan senior Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Disusun oleh : Baso Asrar Sayidin Huda Toriq Marsaban Ayu Rinda Sari Indri Puspitasari Pembimbing: dr. Ratih Penguji: dr. Bambang Satoto, Sp.Rad, M.Kes G6A 009 167 G6A 009 168 G6A 009 169 G6A 009 170 G6A 009 171

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR ILMU RADIOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2011

1

HALAMAN PENGESAHAN
Nama mahasiswa : Baso Asrar Sayidin Huda Toriq Marsaban Ayu Rinda Sari Indri Puspitasari Judul kasus : Laporan Kasus Radiodiagnostik seorang pria 66 tahun dengan gambaran x-foto thorax efusi pleura dupleks dan gambaran awal oedema pulmo Bagian Pembimbing Penguji : Radiologi Fakultas Kedokteran UNDIP : dr. Ratih : dr. Bambang Satoto, Sp.Rad, M.Kes

Semarang, 09 Mei 2011 Pembimbing Penguji

dr. Ratih

dr. Bambang Satoto,Sp.Rad, M.Kes

2

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkat dan rahmat-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan kasus radiodiagnostik dengan judul “seorang pria 66 tahun dengan x-foto thorax efusi pleura dupleks dan gambaran awal oedema pulmo” ini. Laporan kasus ini disusun untuk memenuhi tugas dan syarat dalam menempuh kepaniteraan senior di Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang. Pada kesempatan ini kami menyampaikan terima kasih kepada: 1. dr. Bambang Satoto, Sp.Rad, M.Kes selaku penguji yang telah meluangkan waktunya. 2. dr. Ratihselaku pembimbing yang telah memberi masukan, petunjuk serta bantuan dalam penyusunan laporan kasus ini. 3. 4. Keluarga Tn. W sebagai subyek dari laporan kasus ini. Teman-teman yang telah memberikan bantuan dalam menyelesaikan laporan ini. Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam laporan kasus ini, maka kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak. Kami sangat berharap agar laporan kasus ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Semarang, 09 Mei 2011 Penulis

3

DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN....................................................................................... 2 KATA PENGANTAR .................................................................................................. 3 DAFTAR ISI ................................................................................................................. 4 BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................................ 5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................... 7 2.1. EFUSI PLEURA ............................................................................................ 7 Definisi .................................................................................................... 7 ANATOMI .............................................................................................. 7 FISIOLOGI ............................................................................................. 9 PATOFISIOLOGI ................................................................................. 10 ETIOLOGI ............................................................................................ 15 Gambaran Radiologi Efusi Pleura......................................................... 22 Penatalaksanaan .................................................................................... 30

2.1.1. 2.1.2. 2.1.3. 2.1.4. 2.1.5. 2.1.6. 2.1.7.

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 42

4

permukaan superior dari diafragma. cairan tersebut mengisi kavum pleura. atau neoplasma). Berdasarkan klasifikasi yang dikembangkan tahun 1970. Terdapat mekanisme filtrasi cairan ke dalam rongga pleura melalui kapiler pada pleura parietalis tetapi cairan ini segera direabsorpsi oleh saluran limfe. dan berisi protein berkonsentrasi tinggi dibandingkan protein transudat. dan obstruksi (McGrath and Anderson. 1997). hanya beberapa mililiter yaitu 1-5 ml. Protein yang 5 . Eksudat merupakan cairan yang terbentuk melalui membran kapiler yang permeabilitasnya abnormal karena peradangan (infeksi. Apabila jumlah ini menjadi lebih dari cukup. 2011). maka kelebihan tersebut akan dipompa keluar oleh pembuluh limfatik dari rongga pleura menuju ke dalam mediastinum. peningkatan permeabilitas membran. ataupun permukaan lateral pleura parietalis (Rasad.BAB 1 PENDAHULUAN Efusi pleura merupakan akumulasi cairan yang berlebihan pada rongga pleura. dimana antara produksi dan reabsorpsinya tidak seimbang (produksinya meningkat atau reabsorpsinya menurun). Adanya akumulasi cairan pada kavum pleura ini mengindikasikan adanya suatu kelainan atau penyakit. yaitu transudat dan eksudat (Joseph et al. infark paru. 2001). 2005). Akumulasi cairan di kavum pleura mengindikasikan suatu penyakit.. Pada keadaan normal jumlah total cairan dalam setiap rongga pleura sangat sedikit. Akumulasi tersebut disebabkan oleh berbagai kondisi medis yang mengakibatkan peningkatan tekanan kapiler paru. Cairan dalam jumlah yang berlebihan dapat mengganggu pernapasan dengan membatasi peregangan paru selama inhalasi (Rachmatullah. sehingga terjadi keseimbangan antara produksi dan reabsorpsi (Rasad. 2005). penurunan tekanan onkotik. efusi pleura diklasifikasikan menjadi dua.

dan tes cairan pleura dengan marker tuberculosis (McGrath and Anderson.5 2. Kadar LDH cairan pleura > 2/3 kadar normal tertinggi serum (>200) 6 . Kegagalan aliran protein limfe ini (misalnya pada pleuritis tuberkulosa) akan menyebabkan peningkatan konsentrasi protein cairan pleura. Efusi transudat atau eksudat dapat dibedakan menurut perbandingan jumlah laktat dehidrogenase (LDH) dan protein yang terdapat di dalam cairan pleura dan serum. 2011). antara lain jumlah dan hitung jenis sel leukosit. Efusi pleura eksudatif memenuhi setidaknya salah satu dari ketiga kriteria berikut. Perbandingan kadar protein cairan pleura/protein serum > 0. sehingga menimbulkan eksudat. Perbandingan kadar LDH cairan pleura/LDH serum > 0.terdapat dalam cairan pleura kebanyakan berasal dari saluran limfe.(Halim and Hadi. analisis sitologik. Pemeriksaan penunjang yang dimaksud. kultur organisme. 2006) Pada efusi eksudat diperlukan pemeriksaan penunjang yang disesuaikan dengan manifestasi klinik.6 3. sementara transudatif tidak sama sekali memenuhi kriteria ini: 1. pengukuran kadar glukosa dan kadar laktat dehydrogenase.

Efusi pleura adalah jumlah cairan ion purulen yang berlebihan dalam rongga pleura. Cairan dalam jumlah yang berlebihan dapat mengganggu pernapasan dengan membatasi peregangan paru selama inhalasi (McGrath and Anderson.2. Adanya akumulasi cairan pada kavum pleura ini mengindikasikan adanya suatu kelainan atau penyakit. Jadi. Efusi pleura adalah akumulasi cairan di dalam rongga pleura (McGrath and Anderson.BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. antara lain visceral dan parietal. EFUSI PLEURA 2. 1997). Dibatasi oleh sternum dan costa bagian depan didepannya. 2007).1. Rachmatullah. 2011. Pustaka lain mendefinisikan efusi pleura sebagai jumlah akumulasi cairan pleura di kavum pleura yang berlebihan yang merupakan hasil dari ketidakseimbangan antara produksi cairan pleura dengan absorbsi cairan pleura (Diaz-Guzman and Dweik. ANATOMI Kavum thoraks adalah ruangan bagian tubuh yang terletak diantara leher dan abdomen.1. Cairan tersebut mengisi ruangan yang mengelilingi paru. DEFINISI Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan dari dalam kavum pleura diantara pleura parietalis dan pleura viseralis dapat berupa cairan transudat atau cairan eksudat. 2011). lengkung costa 7 . columna vertebralis dibelakang.1. 2.1. efusi pleura adalah akumulasi cairan yang berlebihan pada rongga pleura.

pulmonalis. Didalam Kavum thoraks terdapat: kavum pleura (paru-paru kanan dan kiri beserta pleuranya masing-masing) dan mediastinum (Rasad. Mediastinum dibagi oleh bidang khayal yang terbentang dari angulus sternalis ke tepi bawah corpus vertebra Th IV menjadi mediastinum superior dan mediastinum inferior. Sedang paru kiri terbagi 2 lobus: superior dan inferior (Ahmad et al.. Paru kanan mempunyai 3 lobus. Basis pulmonis sesuai lengkung diafragma. recessus costomediastinalis posterior kanan kiri (Halim and Hadi. Terdapat 6 recessus yaitu recessus phrenicocostalis kanan kiri.dilateral. margo anterior dan margo inferior serta hilus pulmonalis. Pleura adalah suatu kantong cairan serous tertutup untuk melicinkan permukaan yang beraposisi. Hilus pulmonis adalah suatu area berbentuk triangular pada fasies medialis pulmonis tempat keluar masuknya radix pulmonis (dari depan kebelakang susunannnya: v. recessus costomediastinalis anterior kanan kiri. yaitu lobus superior. Pada keadaan normal kavum pleura merupakan ruang potensial untuk ditempati paru saat inspirasi. 2006). yang menyelubungi hampir seluruh permukaan paru. fasies costalis dan fasies medialis. pulmonalis. Bangunan ditengah yaitu arkus kosta dengan ketiga 8 . 2005). Pulmo terdiri dari apeks pulmonis. v. lobus inferior. 2009). basis pulmonis. Ruang potensial yang tak ditempati paru pada keadaan normal dan hanya ditempati paru bila inspirasi dalam disebut recesssus.anonyma.cava superior bagian atas. Mediastinum superior dibagi menjadi bangunan diretrosternal yaitu thymus. Apex pulmonis setinggi costa I. bronkhus dengan vasa bronkhialisnya diaspek dorsal. apertura thoraks superior diatas dan diafragma dibawah. a. v. lobus medius.

Sudoyo. n. terdapat lapisan tipis cairan mukoid yang terletak diantara pleura parietalis dan pleura viseralis. Sedangkan mediastinum inferior terbagi menjadi mediastinum anterior yang terdiri dari jaringan lemak dan limfonodi. mediastinum medius terdiri dari pericardium yang meliputi kor dan pangkal pembuluh darah besar. azigos dan hemiazigos serta esofagus (Halim and Hadi. Ahmad et al. duktus thoraksikus. Ilmu Penyakit Dalam FKUI) 9 . Bangunan prevertebra yaitu esofagus.1.vagus. v. FISIOLOGI Bila paru-paru mengembang dan berkontraksi selama bernafas normal. (Rasad. duktus thoraksikus. 2009). 2. 2006. Untuk memudahkan pergerakan ini. maka paru-paru bergerak ke arah depan dan kebelakang dalam rongga pleura. phrenicus. trakhea. Mekanisme peradangan yang menyebabkan efusi (Aru W. madiastinum posterior terdiri dari aorta desenden.cabangnya.rekurens sinistra. n.3.. n. 2005) Gambar 1.

hanya beberapa mililiter yaitu 1-5 ml. Kapanpun jumlah ini menjadi lebih dari cukup untuk memisahkan kedua pleura. Cairan ini membawa protein jaringan yang memberi sifat mukoid pada cairan pleura yang memungkinkan pergerakan paru agar berlangsung dengan sangat mudah. dimana sejumlah kecil transudat cairan intersisial dapat terus menerus melaluinya untuk masuk kedalam ruang pleura. permukaan superior dari diafragma.4. maka kelebihan tersebut akan dipompa keluar oleh pembuluh limfatik (yang membuka secara langsung) dari rongga pleura kedalam mediastinum. 2005). cairan pleura dibentuk secara lambat sebagai filtrasi melalui pembuluh darah kapiler. Masing-masing dari kedua pleura merupakan membran serosa mesenkim yang berpori-pori. Jumlah total cairan dalam setiap rongga pleura sangat sedikit. Dalam keadaan normal.Gambar 1 memperlihatkan dinamika pertukaran cairan dalam ruang pleura. Filtrasi ini terjadi karena perbedaan tekanan osmotik plasma dan jaringan interstisial submesotelial. dan permukaan lateral pleural parietalis (Rasad.1. karena ruang ini normalnya begitu sempit sehingga bukan merupakan ruang fisik yang jelas. Selain itu cairan 10 . 2003). 2. Oleh karena itu. kemudian melalui sel mesotelial masuk ke dalam rongga pleura. ruang pleura (ruang antara pleura parietalis dan pleura visceralis) disebut ruang potensial. PATOFISIOLOGI Patofisiologi terjadinya efusi pleura tergantung pada keseimbangan antara cairan dan protein dalam rongga pleura. Dalam kepustakaan lain menyebutkan bahwa jumlah cairan pleura sebanyak 12-15 ml (Hanley and Welsh.

sehingga terjadilah empyema/piotoraks. Efusi cairan dapat berbentuk transudat dan eksudat. Bila proses radang disebabkan oleh kuman piogenik akan terbentuk pus/nanah..60-7.pleura dapat melalui pembuluh limfe di sekitar pleura (Hanley and Welsh. 2009): • • • • • • pH 7. sindroma nefrotik. sirosis hati. Proses ini sering disebabkan oleh trauma dada atau alveoli yang kurang elastis lagi seperti pada pasien emfisema paru. Karakteristik biokimia dari cairan fisiologis dalam rongga pleura ialah sebagai berikut (Ahmad et al. 2003). Efusi transudat terjadi karena penyakit lain bukan primer paru seperti pada gagal jantung kongestif.64 Kandungan protein 1-2 g/dL 1000 leukosit/mmk Kandungan glukosa yang menyerupai kandungan pada plasma Kadar laktat dehydrogenase kurang dari 50% dibanding kadar pada plasma Konsentrasi kalium dan kalsium mirip dengan cairan interstitial Proses penumpukan cairan dalam rongga pleura dapat disebabkan oleh peradangan. Bila proses ini mengenai pembuluh darah sekitar pleura dapat menyebabkan hemotoraks. perikarditis 11 . hipoalbuminemia oleh berbagai keadaan. dialisis peritoneum. Proses terjadinya pneumotoraks karena pecahnya alveoli dekat pleura parietalis sehingga udara akan masuk ke dalam rongga pleura.

Protein yang terdapat dalam cairan pleura kebanyakan berasal dari saluran limfe. dan akibat radiasi (Müller et al. paragonimiosis. proses imunologik seperti pleuritis lupus (Systemic Lupus Eritematous). 2007). Transudat terjadi apabila hubungan normal antara tekanan kapiler hidrostatik dan osmotik koloid terganggu sehingga terbentuknya cairan akan melebihi reabsorbsinya. parasit (amuba. sarkoidosis. pleuritis uremia. atelektasis paru. Penyebab pleuritis eksudativa yang paling sering adalah akibat M. glomerulonefitis. Sebab lain seperti parapneumonia. tuberculosis dan dikenal sebagai pleuritis eksudativa tuberkulosa. keganasan paru. emboli pulmonal. ekinokokus).. terjadi bila ada proses peradangan yang menyebabkan permabilitas kapiler pembuluh darah pleura meningkat sehingga sel mesotelial berubah menjadi bulat atau kuboidal dan terjadi pengeluaran cairan ke dalam rongga pleura. asbestosis.konstriktiva. hidrotoraks. Eksudat merupakan cairan yang terbentuk melalui membran kapiler yang permeabilitasnya abnormal karena peradangan (infeksi. obstruksi vena kava superior. infark paru. Kegagalan aliran protein limfe ini (misal: pada pleuritis tuberkulosa) akan menyebabkan peningkatan 12 . mikaedema. dan pneumotoraks. mikoplasma. pneumonia atipik (virus. atau neoplasma) dan berisi protein berkonsentrasi tinggi dibandingkan protein transudat. radang sebab lain seperti pancreatitis. Biasanya hal ini terdapat pada: 1) Meningkatnya tekanan kapiler sistemik 2) Meningkatnya tekanan kapiler pulmoner 3) Menurunnya tekanan osmotik koloid dalam pleura 4) Menurunnya tekanan intra pleura Sedangkan pada efusi eksudat. pleuritis rematoid. jamur. legionella).

5 2. Kadar proteinnya tinggi sehingga apabila diperiksa dengan reagens Rivalta akan menghasilkan kekeruhan (uji Rivalta +).6 3. Pada efusi eksudat diperlukan pemeriksaan penunjang yang disesuaikan dengan manifestasi klinik. analisis sitologik. Efusi transudat atau eksudat dapat dibedakan menurut perbandingan jumlah laktat dehidrogenase (LDH) dan protein yang terdapat di dalam cairan pleura dan serum. maupun kronik seperti pleuritis eksudatif tuberkulosa. warnanya kekuning-kuningan. antara lain jumlah dan hitung jenis sel leukosit. Dengan demikian eksudat ini cukup kental. Hidrotoraks 13 . kultur organisme. pengukuran kadar glukosa dan kadar laktat dehydrogenase.konsentrasi protein cairan pleura. Perbandingan kadar protein cairan pleura/protein serum > 0. 1993). Efusi pleura eksudatif memenuhi setidaknya salah satu dari ketiga kriteria berikut. Pemeriksaan penunjang yang dimaksud. sehingga menimbulkan eksudat (Collins et al. 2007). Kadar LDH cairan pleura > 2/3 kadar normal tertinggi serum (>200) Pleuritis eksudatif Umumnya didasari suatu proses peradangan yang dapat akut seperti pneumonia akut akibat infeksi virus.. dan jernih serta cukup banyak mengandung sel-sel limfosit dan mononuklear (Juhl and Crummy. sementara transudatif tidak sama sekali memenuhi kriteria ini: 1. 1993). Perbandingan kadar LDH cairan pleura/LDH serum > 0. dan tes cairan pleura dengan marker tuberculosis (Juhl and Crummy.

asites. 1993). Hidropneumotoraks dan piopneumotoraks Bila pada suatu piotoraks didapatkan juga udara di atas pus. maka disebut piopneumotoraks. Chylothorax Dapat terjadi karena suatu proses keganasan dalam mediastinum sehingga terjadi erosi dari duktus toraksikus serta fistulasi ke dalam rongga pleura.Pada keadaan hipoproteinemi/hipoalbuminemia berat bisa timbul transudat. dimana cairannya adalah cairan limfe (putih kekuningan seperti susu). dan hidrotoraks) (Juhl and Crummy. Piotoraks/empiema Akibat infeksi primer maupun sekunder bakteri piogenik yang menyebabkan cairan pleura berubah menjadi pus/nanah. 1993). Hematotoraks/hemotoraks Timbul perdarahan dalam rongga pleura akibat trauma dada/toraks. Cairannya encer dengan warna dan konsistensi seperti serum. dimana cairan asites ini akan menembus diafragma dan masuk ke rongga pleura. Hidrotoraks biasa ditemukan bilateral. dan tidak mengandung protein sehingga uji Rivalta pun akan negative. Sebab lain yang mungkin adalah gagal jantung kanan. sirosis hati dengan asites. Kelainan ini dapat pula ditemukan pada kasus sirosis hati dengan chylous ascites. Namun bila cairan masih belum berupa pus maka disebut hidropnemotoraks (air-fluid level) (Juhl and Crummy. Cairan pleura hemato-sanguinus 14 . serta sebagai salah satu trias dari sindroma Meig (fibroma ovarii.

tapi kemudian sel limfosit. Jumlah leukosit antara 500-2. Penyebaran dapat pula secara hematogen dan menimbulkan efusi pleura bilateral. tapi adalah karena reaksi hipersensitivitas terhadap tuberkuloprotein.000 per cc dengan dominasi awal sel polimorfonuklear.Bila cairan patologis dihasilkan oleh proses maligna pada pleura. atau kolumna vertebralis.5. Ada banyak macam penyebab terjadinya pengumpulan cairan pleura. iga. 2. Cairan efusi yang keluar biasanya serosa. Penyebab lain dapat pula berasal dari robeknya perkejuan ke arah saluran getah bening yang menuju rongga pleura. maka cairan akan berwarna kemerahmerahan sampai coklat (hemato-sanguinus). baik primer maupun sekunder. namun kadang-kadang bisa juga hemoragik. ETIOLOGI Kalau seorang pasien ditemukan menderita efusi pleura. kita harus berupaya untuk menemukan penyebabnya. 15 .1. Pleuritis tuberkulosa Penyakit ini terjadi sebagai komplikasi tuberculosis paru melalui fokus subpleura yang robek atau melalui aliran getah bening. Cairan efusi sangat sedikit mengandung kuman tuberkulosis. Suatu abses hati (amuba) yang menembus diafragma akan pula menimbulkan efusi pleura kanan dengan cairan hemato-sanguinus bercampur pus . Efusi pleura transudatif terjadi kalau faktor sistemik yang mempengaruhi pembentukan dan penyerapan cairan pleura mengalami perubahan. Tahap yang pertama adalah menentukan apakah pasien menderita efusi pleura jenis transudat atau eksudat.

Chlamydia. gejala perikarditis. Efusi pleura berupa: a. sakit dada. disebabkan oleh: 1. Pseudomonas. Gejala penyakit dapat dengan keluhan sakit kepala. 3. pleura. mialgia. malaise. sakit perut. Cairan efusi biasanya eksudat dan berisi leukosit antara 100-6000/cc. 2. Rickettsia. Eksudat.5 LDH cairan pleura / cairan serum > 0. Protein cairan pleura / protein serum > 0. Pleuritis karena virus dan mikoplasma : virus coxsackie.Efusi pleura eksudatif terjadi jika faktor lokal yang mempengaruhi pembentukan dan penyerapan cairan pleura mengalami perubahan. 16 . 2. Staphylococcus aureus. Pleuritis karena bakteri piogenik: permukaan pleura dapat ditempeli oleh bakteri yang berasal dari jaringan parenkim paru dan menjalar secara hematogen.6 LDH cairan pleura melebihi dua per tiga dari batas atas nilai LDH yang normal di dalam serum. demam. Efusi pleura eksudatif memenuhi paling tidak salah satu dari tiga kriteria berikut ini. Efusi pleura tipe transudatif dibedakan dengan eksudatif melalui pengukuran kadar Laktat Dehidrogenase (LDH) dan protein di dalam cairan. Diagnosa dapat dilakukan dengan cara mendeteksi antibodi terhadap virus dalam cairan efusi. sementara efusi pleura transudatif tidak memenuhi satu pun dari tiga kriteria ini: 1. Bakteri penyebab dapat merupakan bakteri aerob maupun anaerob (Streptococcus paeumonie. Hemophillus.

dyspneu. Kuman ini hidup sebagai parasit intraseluter didalam sitoplasma makrofag. menimbukan reaksi hipersensitivitas tipe lambat. dll. Fusobakterium. dapat juga secara hemaogen dan menimbulkan efusi pleura bilateral. sehingga tuberkuloprotein yang ada didalamnya masuk ke rongga pleura. dan lain-lain). Pada pasien pleuritis tuberculosis ditemukan gejala febris. Pseudomonas. 3.E. Kriptococcus. penurunan berat badan. Pleuritis tuberkulosa merupakan komplikasi yang paling banyak terjadi melalui focus subpleural yang robek atau melalui aliran getah bening. Bakteri ini adalah sejenis kuman berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4 mm dan tebal 03-0. Aspergillus. Efusi yang disebabkan oleh TBC biasanya unilateral pada hemithoraks kiri dan jarang yang masif. Sifat lain kuman 17 . Kuman ini tahan terhadap asam dikarenakan kandungan asam lemak (lipid) di dindingnya. Penatalaksanaan dilakukan dengan pemberian antibotika ampicillin dan metronidazol serta mengalirkan cairan infus yang terinfeksi keluar dari rongga pleura. Timbulnya cairan efusi disebabkan oleh rupturnya focus subpleural dari jaringan nekrosis perkijuan. 4. Coli. dan nyeri dada pleuritik. Pleuritis karena fungi penyebabnya: Aktinomikosis. Makrofag yang semula memfagositasi malah kemudian disenanginya karena banyak mengandung lipid. Bakteriodes. Kuman ini dapat hidup pada udara kering maupun dingin. Efusi timbul karena reaksi hipersensitivitas lambat terhadap organisme fungi. Penyebabnya adalah Mycobacterium tuberculosis.6 mm. Hal ini karena kuman berada dalam sifat dormant yang suatu saat kuman dapat bangkit kembali dan aktif kembali.

Khas dari penyakit ini adalah dijumpai predominan sel-sel PMN dan pada beberapa penderita cairannya berwarna purulen (empiema). Obstruksi bronkus. Cairan pleura yang ditemukan berupa eksudat dan kadar glukosa dalam cairan pleura tersebut mungkin menurun jika beban tumor dalam cairan pleura cukup tinggi. abses paru atau bronkiektasis. Efusi pleura terjadi bilateral dengan ukuran jantung yang tidak membesar. Dalam hal ini tekanan oksigen pada bagian apikal paru-paru lebih tinggi daripada bagian lain. Meskipun pada beberapa kasus efusi parapneumonik ini dapat 18 . ovarium. yang merangsang reaksi inflamasi dan terjadi kebocoran kapiler. 6. 5.ini adalah aerob. hillus atau mediastinum. Efusi pleura karena neoplasma misalnya pada tumor primer pada paru-paru. Patofisiologi terjadinya efusi ini diduga karena : • • Infasi tumor ke pleura. sehingga bagian apikal ini merupakan predileksi penyakit tuberkulosis. menyebabkan gangguan aliran balik sirkulasi. • bronkhopulmonary. kelenjar linife. menyebabkan peningkatan tekanan-tekanan negatif intra pleural. mammae. Sifat ini menunjukan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. sehingga menyebabkan transudasi. Invasi tumor ke kelenjar limfe paru-paru dan jaringan limfe pleura. Diagnosis dibuat melalui pemeriksaan sitologik cairan pleura dan tindakan blopsi pleura yang menggunakan jarum (needle biopsy). gaster. Efusi parapneumoni adalah efusi pleura yang menyertai pneumonia bakteri.

15 unit lebih rendah daripada nilai pH bakteri Penanganan keadaan ini tidak boleh terlambat karena efusi parapneumonik yang mengalir bebas dapat berkumpul hanya dalam waktu beberapa jam saja. Gangguan kardiovaskular Penyebab terbanyak adalah decompensatio cordis. terdapat 4 indikasi untuk dilakukannya tube thoracostomy pada pasien dengan efusi parapneumonik: • • • • Adanya pus yang terlihat secara makroskopik di dalam kavum pleura Mikroorganisme terlihat dengan pewarnaan gram pada cairan pleura Kadar glukosa cairan pleura kurang dari 50 mg/dl Nilai pH cairan pleura dibawah 7. Penyakit AIDS. dan sindroma vena kava superior. Transudat. Efusi pleura karena penyakit kolagen: SLE. Sedangkan penyebab lainnya adalah perikarditis konstriktiva. Patogenesisnya adalah akibat terjadinya peningkatan tekanan vena sistemik dan tekanan kapiler dinding dada sehingga terjadi 19 . 7. Skleroderma 8. disebabkan oleh : 1. b. namun drainage kadang diperlukan pada empiema dan efusi pleura yang terlokalisir.00 dan 0.diresorpsis oleh antibiotik. Menurut Light. Pleuritis Rheumatoid. pada sarkoma kapoksi yang diikuti oleh efusi parapneumonik.

Efusi yang terjadi kebanyakan bilateral dan cairan bersifat transudat. Hidrothoraks hepatik Mekanisme yang utama adalah gerakan langsung cairan pleura melalui lubang kecil yang ada pada diafragma ke dalam rongga pleura. 2. Hipoalbuminemia Efusi terjadi karena rendahnya tekanan osmotik protein cairan pleura dibandingkan dengan tekanan osmotik darah.peningkatan filtrasi pada pleura parietalis. Terapi ditujukan pada payah jantungnya. Pengobatan adalah dengan memberikan diuretik dan restriksi pemberian garam. Tekanan hidrostatik yang meningkat pada seluruh rongga dada dapat juga menyebabkan efusi pleura yang bilateral. digitalis. Tapi pengobatan yang terbaik adalah dengan memberikan infus albumin. Di samping itu peningkatan tekanan kapiler pulmonal akan menurunkan kapasitas reabsorpsi pembuluh darah subpleura dan aliran getah bening juga akan menurun (terhalang) sehingga filtrasi cairan ke rongg pleura dan paru-paru meningkat. tidak ada alternatif yang baik. Bila kelainan jantungnya teratasi dengan istirahat. Apabila penatalaksanaan medis tidak dapat mengontrol asites dan efusi. Pertimbangan 20 . efusi pleura juga segera menghilang. 3. Kadang-kadang torakosentesis diperlukan juga bila penderita amat sesak. Tapi yang agak sulit menerangkan adalah kenapa efusi pleuranya lebih sering terjadi pada sisi kanan. Efusi biasanya di sisi kanan dan biasanya cukup besar untuk menimbulkan dyspneu berat. diuretik dll.

Perpindahan cairan dialisat dari rongga peritoneal ke rongga pleura terjadi melalui celah diafragma. torakotomi) dengan perbaikan terhadap kebocoran melalui bedah. 5. Asites timbul karena sekresi cairan yang banyak oleh tumornya dimana efusi pleuranya terjadi karena cairan asites yang masuk ke pleura melalui porus di diafragma. Meig’s Syndrom Sindrom ini ditandai oleh ascites dan efusi pleura pada penderitapenderita dengan tumor ovarium jinak dan solid. keruh. 2007).. Hal ini terbukti dengan samanya komposisi antara cairan pleura dengan cairan dialisat. fibromyomatoma dari uterus. berdarah < 1. 2007). tumor ovarium ganas yang berderajat rendah tanpa adanya metastasis.. Dialisis Peritoneal Efusi dapat terjadi selama dan sesudah dialisis peritoneal. PARAMETER Warna BJ Jumlah set TRANSUDAT Jernih < 1.016 Banyak (> 500 sel/mm2) 21 . atau torakotomi pipa dengan suntikan agen yang menyebakan skelorasis (Rahman et al. Tumor lain yang dapat menimbulkan sindrom serupa : tumor ovarium kistik. 4. Klinisnya merupakan penyakit kronis (Rahman et al.016 Sedikit EKSUDAT Jernih. Efusi terjadi unilateral ataupun bilateral.tindakan yang dapat dilakukan adalah pemasangan pintas peritoneumvenosa (peritoneal venous shunt.

Darah hemothorak yang baru diaspirasi tidak membeku beberapa menit. 2.6.Jenis set Rivalta Glukosa Protein Rasio protein TE/plasma PMN < 50% Negatif PMN < 50% Negatif 60 mg/dl (= GD plasma) 60 mg/dl (bervariasi) < 2.5 g/dl < 0.6 LDH < 0. GAMBARAN RADIOLOGI EFUSI PLEURA Pada pemeriksaan foto toraks rutin tegak.1. Bila darah aspirasi segera membeku. Darah Adanya darah dalam cairan rongga pleura disebut hemothoraks. cairan pleura tampak berupa perselubungan homogen menutupi struktur paru bawah yang biasanya radioopak dengan permukaan atas cekung. maka biasanya darah tersebut berasal dari trauma dinding dada.6 Rasio LDH T-E/plasma c. Hal ini mungkin karena faktor koagulasi sudah terpakai sedangkan fibrinnya diambil oleh permukaan pleura.5 g/dl < 0.5 < 200 IU/dl < 2. berjalan dari lateral 22 .5 < 200 IU/dl < 0. Kadar Hb pada hemothoraks selalu lebih besar 25% kadar Hb dalam darah.

Jumlah cairan minimal yang dapat terlihat pada foto thoraks tegak adalah 250 – 300 ml (Rasad. Gambar 2. Chest radiology 2nd edition) 23 . dan kadang – kadang mendorong mediastinum ke arah kontralateral. Gambaran radiologis tidak dapat membedakan jenis cairan mungkin dengan tambahan keterangan klinis atau kelainan lain yang ikut serta terlihat sehingga dapat diperkirakan jenis cairan tersebut. B. Apabila pengambilan Xfoto toraks pasien dilakukan dalam keadaan berbaring (AP). Foto toraks AP. 2005).Janette et all. yang mampu mendeteksi cairan pleura kurang dari 5 ml dengan arah sinar horisontal di mana cairan akan berkumpul di sisi samping bawah.atas ke arah medial bawah. maka penilaian efusi dapat dilihat dari adanya gambaran apical cup sign. menunjukkan sudut costophrenicus kanan tumpul (tanda panah). Karena cairan mengisi ruang hemithoraks sehingga jaringan paru akan terdorong ke arah sentral / hilus. Pemeriksaan radiografi paling sensitif mengidentifikasi cairan pleura yaitu dengan posisi lateral dekubitus. A. Foto toraks lateral menunjukkan sudut costophrenicus posterior tumpul (tanda panah) (Collins.

Foto toraks PA menunjukkan elevasi dari hemidiafragmakanan B. Meningkatnya opasitas pada bagian hemitoraks kanan akibat dari adanya cairan pleura (Collins. Janette et all. A.Gambar 3. Chest radiology 2nd edition) 24 .

Tanda panah B besarnya cavum thoraks yang ditarik dari garis median tubuh ke lateral dari kavum thoraks Pada contoh di Gambar 3.Gambar 4. cara mengukur Pleural Effusion Index ialah a/b x 100 25 . Tanda panah A menunjukkan cairan dari efusi pleurapada cavum pleura kanan.

Gambar 6.Gambar 5. Krishnadas S.4 CT-Scan menunjukkan adanya akumulasi cairan sebelah kanan 26 . Froeschele P 2009). Efusi pleura. Ultrasonogram dengan metastasis efusi pleura. Posisi RLD menunjukkan efusi pleura menempati bagian paling dasar dengan densitas yang sama dengan jaringan lunak sepanjang dinding dada. (Ahmad Z. Cairan anechoic (E) dapat dilihat pada hemithoraks kiri bawah CT-Scan dada Gambar 2.

Gambar 7. CT Scan menunjukkan adanya akumulasi cairan sebelah kanan 27 .

abses paru atau tumor (Kallanagowdar and Craver. • USG dada USG bisa membantu menentukan lokasi dari pengumpulan cairan yang jumlahnya sedikit. Gambar 8. USG Efusi pleura dengan celah yang multipel 28 . sehingga bisa dilakukan pengeluaran cairan.CT scan dengan jelas menggambarkan paru-paru dan cairan dan bisa menunjukkan adanya pneumonia. 2006).

Chest tube drainage semestinya segera dilakukan apabila dari hasil analisa cairan pleura menunjukkan pH kurang dari 7.2 kadar glukosa < 40mg/dl dan kadar LDH lebih dari 1000 U/mL (Kallanagowdar and Craver.aereus atau pneumococcus). Pada orang dewasa. Jika dengan torakosentesis tidak dapat ditentukan penyebabnya. namun pada anak-anak tidak semuanya memerlukan torakosentesis sebagai prosedur yang sama. organism tertentu (misalnya S. nyeri pleura.Torakosentesis Penyebab dan jenis dari efusi pleura biasanya dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan terhadap contoh cairan yang diperoleh melalui torakosentesis (pengambilan cairan melalui sebuah jarum yang dimasukkan diantara sela iga ke dalam rongga dada dibawah pengaruh pembiusan lokal) (Demirhan et al. maka dilakukan biopsi. Efusi parapneumonik yang dihubungkan dengan sudut costoprenicus yang tumpul minimal tidak seharusnya mendapat prosedur torakosentesis (Kallanagowdar and Craver. toksisitas. 2008). torakosentesis sebaiknya dilakukan pada setiap pasien dengan efusi pleura yang sedang-berat. kesulitan dalam bernafas. Torakosentesis atau penyaluran saluran dada (chest tube drainage) dianjurkan pada pasien anak-anak yang memiliki demam menetap.. pergeseran mediastinum. gangguan pernafasan yang membahayakan. 2006). 2006). dimana contoh lapisan pleura 29 .

1. Pengeluaran efusi yang terinfeksi memakai pipa intubasi melalui sela iga. 2006). Mungkin sebelumnya dapat dibantu dengan irigasi cairan garam fisiologis atau larutan antiseptik.sebelah luar diambil untuk dianalisa. Pada anak dilakukan apabila peradangan efusi pleura tidak bisa dijelaskan. Bleomicin. Untuk mencegah terjadinya lagi efusi pleura setelah aspirasi dapat dilakukan pleurodesis yakni melengketkan pleura viseralis dan pleura parietalis. perlu tindakan operatif. Corynecbaterium parvum dll.7. meskipun telah dilakukan pemeriksaan menyeluruh. tetapi terapi ini tidak berarti bila tidak diiringi pengeluaran cairan yang adequate. Yang menjadi komplikasi utama adalah pneumotoraks dan perdarahan. 30 . Pengobatan secara sistemik hendaknya segera dilakukan. 2. Zat-zat yang dipakai adalah tetrasiklin. Pada sekitar 20% penderita.1. Bila cairan pusnya kental sehingga sulit keluar atau bila empiemanya multiokuler. penyebab dari efusi pleura tetap tidak dapat ditentukan (Kallanagowdar and Craver. PENATALAKSANAAN Pada efusi yang terinfeksi perlu segera dikeluarkan dengan memakai pipa intubasi melalui selang iga. Teknik ini memiliki peran yang terbatas pada anakanak namun memiliki kepentingan yang besar dalam membedakan TB atau keganasan.

2. 3. mendapatkan spesimen (analisis). 7. 31 . 4. untuk mencegah terjadinya lagi efusi pleura setelah aspirasi. dispnea. Water seal drainage (WSD) Drainase cairan (Water Seal Drainage) jika efusi menimbulkan gejala subyektif seperti nyeri. Irigasi cairan garam fisiologis atau larutan antiseptik (Betadine). Antibiotika jika terdapat empiema. jika jumlah cairan efusi lebih banyak maka pengeluaran cairan berikutya baru dapat dilakukan 1 jam kemudian. dll. menghilangkan dispnea. 5. Torasentesis: untuk membuang cairan. 6. Pleurodesis.2 liter perlu dikeluarkan segera untuk mencegah meningkatnya edema paru. Operatif. Cairan efusi sebanyak 1 – 1.

 Kualitas : sesak nafas tidak sampai mengi.Kariadi. Faktor memperberat : aktivitas. Lokasi : Onset dan kronologis: ± 1 minggu sebelum masuk rumah sakit pasien merasa sesak nafas perlahanlahan.tidur telentang Faktor memperingan: istrahat. makin lama makin berat sehingga pasien dibawa berobat ke RSU PKU dan mondok selama 5 hari namun tidak membaik. terbangun malam hari oleh karena sesak (-). posisi stengah duduk 32 .1.    Kuantitas : sesak nafas terus-menerus setiap hari. M : 66 tahun : Laki-laki : Boeh Tlogorejo RT 4 RW 2 tegowangu grobogan : Islam : buruh : 24 April 2011 : C289022 3. dipengaruhi aktivitas. tidak dipengaruhi cuaca dan emosi.    Keluhan Utama : Sesak napas. lalu dirujuk ke RSUP Dr. CM : Tn. sesak nafas menyebabkan pasien sulit menyelesaikan 1 kalimat penuh. DATA DASAR Anamnesis ( tgl 24 April 2011) Data dasar diperoleh dari catatan medis pasien.BAB 3 LAPORAN KASUS 3.2. IDENTITAS PENDERITA Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Agama Pekerjaan Masuk RSDK No.

Pasien belum pernah sakit seperti ini sebelumnya.  Riwayat Penyakit Dahulu : . Istri 1. palpebra bengkak (+) Telinga : discharge -/- 33 .3oC Frekuensi Napas : 32x/menit Suhu    Kepala Mata : mesosefal : konjungtiva palpebra pucat (-/-). nyeri uluhati (+).sakit jantung.Kencing manis (-) . anak 5 orang (4 sudah mandiri). keringat dingin (+). nyeri perut kanan atas (+) tidak dijalarkan ke kaki.Hipertensi (-) . Kesan: sosial ekonomi kurang. batuk(+). muntah (-).Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama seperti pasien . berdebar-debar (+). ▪ Riwayat Sosial Ekonomi Pasien dahulu petani dan berhenti setelah sakit-sakitan. Gejala Penyerta : sesak (+).nyeri dada (+) sebelah kanan seperti ditusuk-tusuk sampai keleher kanan.demam (-).Tidak ada anggota keluarga yang menderita kelainan ginjal. sklera ikterik (-/-).  Riwayat Penyakit Keluarga : . Biaya pengobatan ditanggung Jamkesmas. reguler. mual (-). isi/tegangan cukup : 36. rasa tercekik. Pemeriksaan Fisik Status Praesens Keadaan Umum Kesadaran  Tanda Vital : tampak sakit sedang : GCS E4M6V5 = 15 : Tekanan Darah Nadi : 150/90 mm Hg : 80x/menit.

suara tambahan (-) Abdomen I : cembung. bising (-). nyeri tekan (-) Pe : pekak sisi (+)meningkat.4 gr% Nilai normal 13-16 gr% L 34 . Iktus kordis tak kuat angkat Pe : konfigurasi jantung dalam batas normal Au: BJ I-II normal. • • • • Hidung Mulut Tenggorokan Leher Dada Jantung : napas cuping (-). 2 cm medial LMCS. pekak alih (+) Ekstremitas Oedema  Genitalia Eksterna : oedema skrotum (+) Superior +/+ Inferior +/+ Pemeriksaan Penunjang Laboratorium tgl 24 april 2011 Hematologi Hemoglobin : 9. paru kiri setinggi SIC VI ke bawah Au: paru kanan dan kiri suara dasar vesikular melemah. gallop (-) Paru I : hemitoraks kanan sedikit tertinggal saat inspirasi Pa : stem fremitus melemah di bagian basal paru kanan dan kiri Pe : redup pada paru kanan setinggi SIC IV ke bawah. hiperemis (-) : pembesaran nnll (-/-). discharge (-/-) : bibir sianosis (-) : T1-1. venektasi (-) Au :bising usus (+) N Pa : hepar/lien sulit dinilai. JVP tak meningkat I : iktus kordis tak tampak Pa : iktus kordis SIC V.

1 98-107 2.Hematokrit Eritrosit MCH MCV MCHC Leukosit Trombosit : 27.12-2.52 0.74-0.20 pg : 87.4 % : 3.5-5.3 g/dl Nilai normal 15-39 mg/dl 0.50-6.70 Fl : 34.99 L L : 153 mg/dl : 3.12 juta/mmK : 30.50 ribu/mmK : 643 ribu/mmK 40-54 % 4.97 mmol/L 136-145 3.03 mmol/L : 0.40 g/Dl : 13.0 g/dl H H L Radiologi Pemeriksaan X-Foto Toraks PA / LATERAL TGL 24 April 2011: 35 .30 mg/dl 3.51 mg/dl : 1.60-1.4-5.50 juta/mmK 27-32 pg 76-96 Fl 29-36 4-11 ribu/mmK 150-400 ribu/mmK L L H H Laboratorium tgl 24 April 2011 Kimia Klinik Ureum Kreatinin Albumin Elektrolit Natrium Kalium Chorida Calsium Magnesium : 135 mmol/L : 4.9 mmol/L : 105 mmol/L : 2.

Gambar 9. Tampak perselubungan homogen pada basal paru kedua hemitoraks Hemidiafragma kanan tertutup perselubungan. Sudut kostofrenikus kanan kiri tertutup perselubungan Kesan : Cor sulit dinilai Gambaran awal edema pulmonum Efusi pleura duplex 36 . X-Foto toraks PA pada pasien dalam kasus ini Cor : sulit dinilai Pulmo : Corakan bronkovaskuler meningkat disertai cepalisasi Tampak bercak simetris pada perihiler kanan dan kiri dan paracardial kiri.

Diagnosis Efusi pleura dupleks Edema pulmonum Terapi Infus D5 10 tetes/ menit Methylprednisolon 16 mg 3-2-0(Hr) Simvastatin 1x16 mg (malam) Spironolacton 1x100 mg Diltiazem 3x60 mg Cyclofosfamidimvastatin 1x10 mg (malam) Clobazam 0-0-1 Amlodipin 1x5 mg (malam) 37 .

rasa tercekik. keringat dingin (+). mual (-).  Faktor memperberat : aktivitas. auskultasi : paru kanan dan kiri suara dasar vesikuler melemah. pada perkusi didapatkan redup serta melemahnya suara dasar 38 . palpasi : stem fremitus melemah di basal paru kanan dan kiri. muntah (-). paru ditemukan kelainan pada inspeksi: hemitoraks kanan sedikit tertinggal saat inspirasi. pada palpasi stem fremitus melemah di basal paru kanan dan kiri. dipengaruhi aktivitas.nyeri dada (+) sebelah kanan seperti ditusuk-tusuk sampai keleher kanan.tidur telentang  Faktor memperingan: istrahat.Kariadi. lalu dirujuk ke RSUP Dr.  Kualitas : sesak nafas tidak sampai mengi. nyeri uluhati (+).BAB 4 PEMBAHASAN Kasus pasien seorang pria berumur 66 tahun datang ke RSDK dengan keluhan ± 1 minggu sebelum masuk rumah sakit pasien merasa sesak nafas perlahanlahan. sesak nafas menyebabkan pasien sulit menyelesaikan 1 kalimat penuh.  Kuantitas : sesak nafas terus-menerus setiap hari. berdebar-debar (+). terbangun malam hari oleh karena sesak (-). batuk(+). perkusi : redup pada paru kanan setinggi SIC V ke bawah dan pada paru kiri redup setinggi SIC VI ke bawah. suara tambahan (-). tidak dipengaruhi cuaca dan emosi. nyeri perut kanan atas (+) tidak dijalarkan ke kaki. Pada pemeriksaan tanda vital didapatkan tekanan darah yang di atas normal yaitu 150/90 mmHg dan RR 32x/menit. Dari pemeriksaan fisik didapatkan positive finding yaitu pada inspeksi ada hemitoraks kanan yang tertinggal. Pada pemeriksaan fisik toraks. makin lama makin berat sehingga pasien dibawa berobat ke RSU PKU dan mondok selama 5 hari namun tidak membaik. posisi stengah duduk  Gejala Penyerta : sesak (+).demam (-).

tampak perselubungan homogen pada basal paru kedua hemitoraks. Berdasarkan teori. Pada pasien ini telah dilakukan pemeriksaan USG. Selain dengan pemeriksaan x-foto toraks. Gambaran tersebut sesuai dengan kepustakaan yang menyebutkan bahwa pada pemeriksaan foto toraks rutin tegak. Dari pemeriksaan penunjang X foto toraks didapatkan Corakan bronkovaskuler meningkat disertai cepalisasi. dan keadaan pasien itu sendiri. SDM/operator (operator dependent). Pemeriksaan USG memberikan hasil lebih baik dalam menilai adanya cairan efusi. Selain dengan pemeriksaan X-foto dan USG. Hal tersebut mungkin dapat dikarenakan terlewatnya pengambilan gambaran efusi pleura pada pasien ini oleh operator yang melakukan USG. menilai adanya cairan pada kavum pleura dan rongga abdomen dapat dilakukan dengan pemeriksaan CT-scan.vesikuler pada kedua paru menunjukkan kemungkinan adanya penumpukan cairan pada kavum pleura yang disebut dengan efusi pleura. hemidiafragma kanan tertutup perselubungan. menilai efusi pleura dilakukan dengan pemeriksaan USG. Ketiga kemungkinan ini dapat menentukan hasil dari pemeriksaan USG. namun hasil pemeriksaan USG untuk menilai efusi tidak terlampir pada catatan medik pasien ini. Pada pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan CT-scan mungkin dikarenakan faktor 39 . Pada pasien ini tidak dapat dihitung perkiraan jumlah cairan efusinya dengan Pleural Efussion Index (PEI) dikarenakan pada pasien ini tidak dilakukan pengambilan X-foto toraks RLD. berjalan dari lateral atas ke arah medial bawah. sudut kostofrenikus kanan kiri tertutup perselubungan dengan kesan : Efusi pleura duplex dan gambaran awal edema pulmonum. Pemeriksaan USG memang sangat bergantung pada alat. jumlah cairan minimal yang dapat terlihat pada foto thoraks tegak adalah 250 – 300 ml. tampak bercak simetris pada perihiler kanan dan kiri dan paracardial kiri. efusi pleura akan tampak berupa perselubungan homogen menutupi struktur paru bawah yang biasanya radioopak dengan permukaan atas cekung.

Di samping itu. Hal ini menunjukkkan telah adanya penurunan fungsi ginjal. mengingat ini adalah pasien jamkesmas. Jika pemeriksaan CT-scan dilakukan. Pada pemeriksaan laboratorium darah tanggal 25 April 2011 didapatkan adanya peningkatan kadar ureum (175 mg/dl) dan kreatinin (3. Pada pemeriksaan urin tanggal 24 April 2011 didapatkan proteinuri massif yaitu dengan nilai >300 mg/dl.63 mg/dl) dalam darah di atas nilai normal. Pada pemeriksaan laboratorium darah tanggal 24 april 2011 didapatkan kadar kolesterol dalam darah (440 mg/dl) di atas nilai normal yang berarti terdapat hiperkolesterolemia.1 gr/dl. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dengan laboratorium darah dan urin serta radiologi berupa X-foto toraks didapatkan diagnosis efusi pleura dan edema pulmonum. maka dengan pemeriksaan CT-scan dapat dibedakan apakah cairan ascites tersebut jenis transudat atau eksudat. dengan pemeriksaan x-foto dan USG pun sudah dapat menunjukkan adanya cairan efusi dan ascites. Kadar albumin darah di bawah nilai normal. 40 .biaya. Berdasarkan anamnesis. Eksudat memberikan gambaran lebih hiperdens dan biasanya tidak memungkinkan untuk mengalami perpindahan lokasi pada kavum peritoneum. yaitu 1. Transudat memberikan gambaran densitas yang lebih rendah dan dapat dengan bebas berpindah lokasi tergantung posisi pasien. yang menandakan bahwa adanya azotemia.

serta torachocintesis. CT Scan. Jumlah cairan minimal yang dapat terlihat pada foto thoraks tegak adalah 250 – 300 ml. cairan pleura akan tampak berupa perselubungan homogen menutupi struktur paru bawah yang biasanya radioopak dengan permukaan atas cekung. pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang diantaranya X-foto toraks. Pada laporan kasus ini. berjalan dari lateral atas ke arah medial bawah. pada pemeriksaan USG yang dilakukan pada pasien ini diharapkan dapat sekaligus menilai cairan efusi pleuranya. Selain itu. Pada pemeriksaan X-foto toraks pasien ini didapatkan kesan efusi pleura dupleks. yaitu dengan menunjukkan tanda adanya efusi pleura. pemeriksaan klinik. Pada pasien ini dapat diusulkan pemeriksaan radiologis x-foto toraks posisi RLD untuk dapat menilai pleural efussion index.BAB 5 KESIMPULAN Diagnosis efusi pleura dapat ditegakkan dari anamnesis. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dengan laboratorium darah dan urin serta radiologi berupa X-foto toraks didapatkan diagnosis efusi pleura dupleks dan edema pulmonum. Radiologi paru membantu dalam penegakan diagnosis. 41 . berdasarkan anamnesis pada pasien. Kelainan radiologis efusi pleura pada pemeriksaan foto toraks rutin tegak. USG Abdomen.

108. quiz 128. P. E. C.. MÜLLER. Current diagnosis & treatment in pulmonary medicine. 19. KALLANAGOWDAR. M. & SAHN. MCGRATH. JUHL. Philadelphia. N. Philadelphia.. H. S. A. 237-46. [New York]: McGraw-Hill Companies. Pleural effusion: diagnosis and management. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. Compr Ther. & WELSH. Paul and Juhl's essentials of radiologic imaging. DIAZ-GUZMAN. 2011. S. & FROESCHLE. E. E. 2nd ed. A. KRISHNADAS. E. Am J Crit Care. LEE. I. C. 2007. 2003. SANCAKLI. D. P. 242-7. JOSEPH.. Acta Chir Belg.. A.. Penyakit-penyakit Pleura. Lippincott Williams & Wilkins. 2009. STERN. KIRAL. E. (ed. & ARMAN. B.. 33. Diagnosis of pleural effusion: a systematic approach. R. B. R. 20. R. COLLINS. KOSAR. Imaging of pulmonary infections. Lippincott. C. P. 1993.B. T. A. DEMIRHAN. 119-27. A. FRANQUET. H. Arch Pathol Lab Med. 130. L. 2001.. 2007.) Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. S. J. I. 4 ed. In: EKAYUDA. Diagnosis and management of pleural effusions: a practical approach. 56. 867-70. Neonatal pleural effusion. 42 .. BADRINATH. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen IPD FKUI. Z. H. S. BASRAN. R. Spontaneous chylothorax in a newborn with trisomy 21. 2008. Management of postpneumonic empyemas in children. HALIM & HADI 2006. & CRAVER. K. & ANDERSON. & CRUMMY. J. e22-3. B. J Perioper Pract. I. 2006... & DWEIK.DAFTAR PUSTAKA AHMAD. Is the pleural fluid transudate or exudate? A revisit of the diagnostic criteria. J. HANLEY. G. Chest radiology the essentials. 2007. 208-11. J. & SILVA. & OVID TECHNOLOGIES INC. Thorax. ORKI. J.

R.. 43 .RACHMATULLAH. 2005. N. Seri Ilmu Penyalit Dalam. F. BMJ. 1997. J. RAHMAN. RASAD. Semarang. Balai Penerbit FKUI. S. 206-7. M. V. 2007. & GLEESON. 334. Radiologi Diagnostik. Jakarta. P. Investigating suspected malignant pleural effusion. Undip. DAVIES. Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru (Pulmonologi).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful