I.

PENDAHULUAN
Rumput laut merupakan salah satu komoditas andalan dalam program Departemen Kelautan dan Perikanan, karena usaha budidaya rumput laut teknologinya sangat sederhana dibandingkan dengan komoditas lainnya, daya serap pasarnya yang sangat tinggi serta biaya produksinya yang relatif rendah (Juneidi, 2004). Rumput laut yang banyak dimanfaatkan adalah kelas Rhodophyceae karena mengandung agar-agar, karaginan, porpiran, furcelaran maupun pigmen fikobilin yang merupakan cadangan makanan yang mengandung banyak karbohidrat. Data Badan Pusat Statistik yang diolah Departemen Kelautan dan Perikanan

memperlihatkan terjadi peningkatan ekspor rumput laut setiap tahunnya. Data tahun 2005 mencatat ekspor rumput laut meningkat menjadi 60,22 juta ton. Jumlah tersebut naik pada tahun 2006 menjadi 95,58 juta ton, tetapi tahun 2007 volume ekspor rumput laut mengalami penurunan menjadi 87,74 juta ton. Produksi rumput laut hingga saat ini masih mengandalkan hasil panen alami (Mubarak, 2005). Pengambilan rumput laut di alam secara terus menerus akan mengakibatkan terancamnya kelestarian rumput laut. Langkah awal yang strategis untuk mengatasi masalah tersebut antara lain dengan cara membudidayakan rumput laut yang mempunyai nilai ekonomis penting (Kadi, 2004). Gracilaria gigas Harvey merupakan salah satu jenis rumput laut yang berpotensi dikembangkan untuk ekspor karena mengandung agar-agar sangat tinggi yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti sebagai bahan baku gelatin, bahan baku industri obat, farmasi, cat, roti, keju, susu, es krim, sabun, dan kosmetik. Kegunaan lainnya sebagai media agar untuk medium pertumbuhan kultur

2 mikroorganisme, serta dapat juga sebagai campuran dalam pembuatan pasta gigi (Kadi, 2004; Rasyid, 2004). Selain itu talus Gracilaria gigas dapat dibuat sayur. Talus G. gigas berbentuk silindris dan ada pula yang pipih, bercabang dua atau tidak teratur. Talus G. gigas berwarna hijau atau hijau kekuningan, merah atau merah kecoklatan (Wisman et al., 2000). Diameter talus berkisar 0,5-2 mm dan dapat mencapai panjang 30 cm. Percabangannya memusat ke pangkal, berselang-seling dan berulang serta ujungnya meruncing, dan jarak antar cabang kurang lebih 5-25 mm (Atmadja et al., 1996). Pigmen (zat warna) yang terkandung di dalam talus alga merah ini terdiri dari klorofil–a, α dan β karoten, fikobiliprotein, r-fikosianin, dan rfikoeritrin (Susanto, 2002). Menurut Steward (1974) pigmen lain yang terdapat dalam rumput laut G. gigas yaitu karotenoid yang berupa zeaxantin, antheroxantin, β cryptoxantin, neoxantin, dan lutein; serta fikobilin atau biliprotein yanng berupa cfikosianin, c-allofikosianin dan c-fikoeritrin. G. gigas di alam hidup berkoloni, serta melekat pada substrat karang, pecahan cangkang kerang, karang yang sudah mati maupun batu atau holdfast berbentuk cakram kecil. G. gigas mampu hidup hingga kedalaman 10 sampai 15 meter di bawah permukaan air laut dengan salinitas 12‰ sampai 30‰. Menurut Loban and Harisson (1994), klasifikasi dari Gracilaria gigas adalah sebagai berikut: Divisi Classis Ordo Familia Genus Spesies : Rhodophyta : Rhodophycae : Gracilariales : Gracilariaceae : Gracilaria : Gracilaria gigas Harvey

Metode yang dipilih hendaknya dapat memberikan pertumbuhan yang menguntungkan. sistem penanaman pada metode apung dapat dilakukan dengan sistem tali tunggal dan sistem jaring. Suyoto (2001) menyatakan bahwa rumput laut tumbuh lebih baik pada metode apung bila dibandingkan dengan metode dasar dan metode lepas dasar. Banyak metode budidaya rumput laut diterapkan untuk mendapatkan produksi yang tinggi. Selain tali . mudah pelaksanaannya dan dilakukan dengan bahan yang murah dan mudah didapat (Insan dan Widyartini.3 Kebutuhan rumput laut G. yaitu bottom method (metode dasar). sehingga pertumbuhannya lebih cepat dan kualitas rumput laut yang dihasilkan baik. Sistem tali tunggal ini dapat dimodifikasi menjadi tali tunggal (longline) dan rakit tali tunggal. Metode budidaya sistem tali tunggal adalah metode budidaya dengan menggunakan tali panjang yang dibentangkan di dalam air permukaan. off bottom method (metode lepas dasar). Menurut Aslan (2006). Sistem budidaya dengan tali tunggal merupakan teknik yang relatif mudah dilakukan dan tidak memerlukan banyak biaya karena hanya menggunakan tali nilon dan tiang pancang. Aslan (2006) menyatakan bahwa budidaya rumput laut di lapangan (field culture) dapat dilakukan dengan tiga macam metode berdasarkan posisi tanam terhadap dasar perairan. dan floating method (metode apung). gigas yang semakin meningkat memerlukan perhatian dan penanganan yang serius yaitu dengan usaha budidaya rumput laut yang lebih intensif dan efisien. Selain itu rumput laut akan terbebas dari hama yang biasanya menyerang dari dasar perairan. Menurut Sujatmiko dan Angkasa (2003). Kedalaman dan intensitas cahaya yang berbeda di permukaan dan di dasar perairan akan mempengaruhi proses fotosintesis. 2001). metode apung lebih menguntungkan karena rumput laut cukup menerima sinar matahari yang akan digunakan untuk fotosintesis.

Aslan (1998) syarat pemilihan lokasi budidaya rumput laut G. 2002). Percabangan rumput laut pada setiap titik tanam tidak saling menutupi. Hasil penelitian Triana (2004) menunjukan bahwa jarak tanam dengan metode apung tali tunggal menghasilkan laju pertambahan berat basah relatif tinggi dan produksi Gracilaria verucosa berbeda di Tambak Goa Petruk. gigas sebagai berikut: a.677 g/hari dengan produksi basah 744. Azizah (2001) menyatakan bahwa pada metode budidaya sistem tali tunggal dengan bertambahnya beban maka tali akan melengkung sehingga intensitas cahaya yang didapat berkurang. Jarak tanam 25 cm menghasilkan laju pertambahan berat basah 4. . (Kadi dan Atmadja. Menurut Sujatmiko dan Angkasa (2003). 1995. sehingga proses fotosintesis berjalan dengan baik dan pertumbuhan Gracilaria menjadi optimal. Insan dan Widyartini (2001). Kebumen. Susanto (2002). Pada metode apung tali tunggal umumnya menggunakan jarak tanam 20-25 cm supaya memberikan ruang tumbuh yang luas sehingga penyerapan cahaya matahari dan zat hara dapat optimal. Menurut Sulistyawati (2003) ukuran talus Gracilaria gigas yang kecil dan pendek akan memberikan ruang tumbuh yang luas di semua jarak tanam dan dapat menekan persaingan. Keberhasilan budidaya rumput laut juga ditentukan oleh lokasi yang digunakan untuk budidaya. bambu atau galah yang memanjang. Lokasi sebaiknya tidak mengalami fluktuasi salinitas dan suhu air yang besar. 1988). Susanto. 3208 g/m2. Tali tunggal yang kurang stabil lebih menguntungkan karena membantu dalam penyediaan hara.4 nilon juga dapat menggunakan tali plastik. Rumput laut akan tumbuh lebih baik dengan sistem tali tunggal sebab jarak antar tanaman dapat teratur dan rumput laut mendapatkan unsur-unsur yang dibutuhkan dalam pertumbuhannya dengan merata (Aslan.

Kedalaman perairan tidak boleh kurang dari 60 cm pada saat surut terendah dan tidak boleh lebih dari 210 cm saat pasang tertinggi. Dasar perairan pasir atau karang. . panjang. Daerah Selok termasuk daerah pesisir pantai selatan yang masuk ke dalam kabupaten Cilacap. sehingga biaya transportasi tidak terlalu besar. Substrat dasar perairan berupa pasir dan lumpur. Salinitas air laut berkisar 30 ‰ sampai 37 ‰.5 dengan kisaran optimum 7. Perairan Selok. Pertumbuhan pada dasarnya tergantung pada pembesaran dan pembelahan sel pada daerah meristematik. Suhu air berkisar 20-30oC dengan fluktuasi harian maksimal 4 oC. gigas. air cukup jernih dengan demikian cukup memenuhi persyaratan untuk budidaya G. 1988). Arus di lokasi budidaya juga tidak terlalu kuat sehingga meski substrat dasar lokasi berupa pasir berlumpur. Intensitas cahaya cukup dengan tingkat kecerahan antara 1 – 5 m. e. optimal pada kadar garam 25 ‰. i. g.3-8. j. f.2. h. Lokasi budidaya yang dipilih harus mengandung zat hara untuk tumbuhnya rumput laut. Cilacap memenuhi beberapa persyaratan sebagai lokasi budidaya rumput laut. Lokasi budidaya harus mudah dijangkau. Hasil survei pendahuluan menunjukkan kedalaman air saat pasang mencapai 140 cm sedangkan saat surut 100 cm. lumpur atau campuran. Lokasi yang sesuai maka pertumbuhan rumput laut optimal. c. dan tinggi tanaman (Kadi dan Atmadja. batu. Menurut Krishnamoorthy (1981) pertumbuhan merupakan perubahan secara kuantitatif pada ukuran sel maupun organ tanaman. d. sedangkan untuk pH berkisar 7-8. Kisaran kadar garam 18 ‰ sampai 32 ‰. Pertumbuhan merupakan pertambahan berat.5 b. pH air antara 7-8. Lokasi budidaya harus dekat dengan tenaga kerja.

6 Tingginya laju pertumbuhan dan produksi rumput laut G. maka akan mengakibatkan eutrofikasi (pengayaan) yang selanjutnya menstimulir pertumbuhan algae dan tumbuhan air secara pesat. (2001) menjelaskan bahwa orthofosfat sangat penting dan diperlukan oleh algae dalam banyak proses seluler khususnya dalam transformasi energi simbolis dan dapat meningkatkan kandungan ATP dalam algae serta berperan dalam penyerapan ion oleh algae. Nitrat di perairan laut. morfologi dan distribusi rumput laut. b. Substrat ini dipengaruhi oleh tingkat kekerasan substrat.2 mg/1. untuk pertumbuhan dan perkembangan rumput laut sangat diperlukan zat hara yang cukup seperti nitrat dan orthofosfat yang digunakan sebagai bahan dasar penyusunan protein dan pembentukan klorofil dalam proses fotosintesis. Khul (1974) dalam Susanto et al.1978). penyu. Orthofosfat merupakan nutrisi yang esensial bagi pertumbuhan suatu organisme perairan.01-0. gigas juga dipengaruhi kemampuan adaptasi rumput laut pada lingkungannya (faktor biotik dan abiotik). Nitrat dan orthofosfat merupakan unsur penting dalam tumbuhan. Zat hara Menurut Insan dan Widyartini (2001) zat hara di perairan pantai mempengaruhi proses reproduksi. digambarkan sebagai senyawa mikronutrien pengontrol produktivitas primer di lapisan permukaan daerah eufotik.. Jika kadar nitrat lebih besar dari 0.. perkembangan. udang. Nitrat di perairan berada pada kisaran 0. Faktor abiotik yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi Gracilaria adalah: a.7 mg/1 (Lee et al. Nitrat juga merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan dan konsentrasi kadar karaginan rumput laut. bulu babi. Substrat Kemampuan Gracilaria melekat pada substrat tergantung pada kondisi substrat yang ada. Faktor biotik meliputi ikan herbivora. salinitas . Menurut Aslan (1998).

1990). sehingga fotosintesis tidak optimal. sedangkan suhu yang optimal dapat berpengaruh mengatur fotosintesis dan respirasi. 2003). karena suhu yang ekstrim dapat menyebabkan kematian. 2001). Menurut Afrianto dan Liviawati (1989). yang menghambat pertumbuhan rumput laut (Nurul. perairan dengan substrat pasir dan lumpur yang terlalu dangkal akan menghambat pertumbuhan rumput laut. Cahaya matahari Cahaya memberikan pengaruh pada respon fungsional dan struktur tumbuhan. reproduksi dan distribusi. Terhambatnya laju fotosintesis akan menurunkan produktifitas sumber energi bagi rumput laut. tertutupnya porus stomata dengan polutan. suberin). Suhu air berpengaruh terhadap fungsi fisiologis pada organisme perairan. Respon fungsional misalnya toleransi. 2001 dan Luning. Suhu optimum untuk pertumbuhan rumput laut sekitar 26-31oC. . Salinitas Salinitas atau kadar garam berpengaruh terhadap penyebaran dan kelimpahan organisme di perairan. d. Rendahnya intensitas sinar dapat menghambat laju fotosintesis rumput laut. (Natsir dan Sutikna. e. karena berpotensi menimbulkan kekeruhan yang dapat mengganggu proses fotosintesis. aktivitas metabolisme.7 air laut dan faktor topografi substrat (Sulistyawati. Temperatur Rumput laut dari marga Gracilaria mempunyai kemampuan adaptasi yang baik terhadap suhu. salinitas optimum 25 ‰. c. serta pertumbuhan dan pembiakan (Rahayu dan Sutisna. Menurut Nurul (2001) umumnya rumput laut tumbuh pada perairan dengan salinitas berkisar antara 15-35 ‰. sedangkan respon struktural misalnya terbentuknya senyawa-senyawa proteksi (lignin. 2001). yang nantinya akan mengarah ke respon histologis (jaringan). Semakin dalam perairan maka intensitas cahaya semakin berkurang.

hal ini terkait dengan kecepatan untuk melakukan pertumbuhan. Cilacap?. Pemilihan bibit Gracilaria sangat menentukan perolehan produksi. yang dapat mempengaruhi produksi rumput laut yang dihasilkan.8 f. Murti (2005) berpendapat bahwa produksi rumput laut yang dihasilkan tergantung dari berat awal penanaman. Apakah perbedaan sistem budidaya dan berat awal akan menghasilkan pertumbuhan dan produksi basah G. Derajat keasaman (pH) Rumput laut Gracilaria tumbuh baik pada pH antara 6. Menurut Sugiarto et al. 2002). (1999) pertumbuhan harian rumput laut juga dipengaruhi berat bibit yang digunakan dalam budidaya. Pengaruh tersebut dikarenakan berat bibit yang kecil mempunyai ruang tumbuh yang lebih luas sehingga rumput laut dapat lebih optimal dalam menyerap nutrisi serta cahaya matahari yang diperlukan dalam fotosintesis yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. agak keras dan berat serta bila dipotong terasa getas dan bebas dari tanaman lain. Dalam penelitiannya Ernawati (2004) menyatakan bahwa berat bibit yang kecil menghasilkan pertambahan berat paling tinggi dibandingkan dengan berat bibit yang lebih tinggi. Berdasarkan uraian tersebut maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. . talusnya agak tebal. memiliki banyak cabang dan pangkal lebih besar dari cabang. Menurut Susanto (2002) ciri bibit yang bermutu adalah elastis. yang berbeda di perairan Selok. gigas Harv. Kualitas dan kuantitas yang baik dapat dilihat dari bibit rumput laut. Berat bibit yang lebih kecil akan memberikan pertumbuhan yang lebih cepat.2 (OHAMA.8 sampai 8.

9 2. verrucosa dengan berat awal 10 gram dan jarak tanam 25 cm. gigas Harv. Menentukan sistem budidaya dan berat awal yang menghasilkan pertumbuhan dan produksi basah yang paling tinggi pada budidaya rumput laut G. Penelitian Ernawati (2004) menunjukkan . di Perairan Selok Adipala Cilacap. maka penelitian ini bertujuan untuk: 1. gigas Harv. Berat bibit mempengaruhi perbedaan jumlah nutrisi yang terdapat berdasarkan banyak sedikitnya jumlah rumpun serta adanya persaingan menyerap zat hara dari lingkungannya. Cilacap? Berdasarkan permasalahan di atas. menggunakan sistem budidaya dengan berat awal yang berbeda di perairan Selok. Hasil penelitian Khafidz (2006) menunjukkan rumput laut G.577g/hari dan produksi basah tertinggi sebesar 526. Menurut Aslan (2006) berat awal bibit dalam budidaya rumput laut harus disesuaikan dengan metode yang digunakan. di perairan Selok. Berat bibit akan mempengaruhi banyak sedikitnya jumlah rumpun. Cilacap.67 g/m2. pada sistem rakit tali tunggal menghasilkan pertumbuhan tertinggi sebesar 3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang sistem budidaya dan berat awal yang dapat menghasilkan pertumbuhan terbaik dan produksi yang tertinggi pada budidaya G. Cilacap. gigas Harv. gigas Harv. Pada metode sebar berat awal rumput laut yang umum digunakan antara 25-30 g. paling tinggi yang ditanam di Perairan Selok. sedangkan pada metode apung berat bibit antara 50-100 g. Mengetahui pertumbuhan dan produksi basah rumput laut G. Sistem budidaya mana dan berat awal berapa yang akan menghasilkan pertambahan dan produksi basah G. pada metode lepas dasar berat awal rumput laut kurang lebih 100 g. Penanaman rumput laut dengan berat bibit yang sesuai akan menghasilkan produksi yang maksimal. 2.

di perairan Selok.10 bahwa pada berat awal 10 g rumput laut tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan berat awal 20 dan 30 g. 15 g menghasilkan pertumbuhan dan produksi G. gigas Harv. gigas tertinggi pada berat awal 5 g sebesar 0. dan 150 g. 10 g. Hasil penelitian Amalia (2006) menunjukkan bahwa sistem budidaya rumput laut menggunakan rakit tali tunggal apung pada perlakuan berat bibit 5 g. gigas Harv. Berdasarkan landasan pemikiran tersebut muncul hipotesis : 1. Berat bibit untuk tumbuh optimal perlu disesuaikan dengan sistem budidaya. Purnomo (2008) dengan sistem budidaya rumput laut menggunakan tali tunggal apung pada perlakuan berat bibit 50 g menghasilkan pertambahan berat basah E.160 g/m2.990 g/m2. Cilacap. cotonii yang lebih tinggi yaitu sebesar 5. Sistem budidaya dan berat awal yang berbeda akan menghasilkan pertumbuhan dan produksi basah rumput laut G. 2. .333 g/hari dan menghasilkan produksi tertinggi sebesar 316. Rumput laut dengan berat awal kecil mempunyai kesempatan yang lebih luas dalam menyerap zat hara dari lingkungan yang dibutuhkan untuk proses fotosintesisnya. 100 g. yang berbeda. Sistem rakit tali tunggal dengan berat awal 50g dapat menghasilkan pertumbuhan dan produksi basah tertinggi pada G. Penelitian ini akan menggunakan sistem tali tunggal dan rakit tali tunggal apung dengan berat awal yaitu 50 g.555 g/hari dan 69.

11 II. T2B2. kantong plastik. 1. tali rafia. 2. Main Plot adalah sistem budidaya (A) yaitu : T1 = sistem tali tunggal (Longline) T2 = sistem rakit tali tunggal b.1. pisau. MATERI DAN METODE PENELITIAN 1. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain tali nilon.2. Sub Plot adalah berat bibit (B) yaitu : B1 = 50 g B2 = 100 g B3 = 150 g Kombinasi perlakuan yang dicobakan berturut-turut sebagai berikut : T1B1. T2B1. keping Secchi. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. kamera. hand refraktometer. Metode Penelitian 2. kantong plastik dan alat tulis. Materi. termometer. pH indikator universal. Materi Penelitian Materi penelitian terdiri dari alat dan bahan. . Rancangan Percobaan Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan Split Plot Design yang diulang sebanyak empat kali.1. gunting. T1B3. T1B2. bambu. timbangan. dan T2B3. Adapun perlakuan-perlakuan yang dicobakan adalah sebagai berikut : a. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di perairan laut Cilacap pada bulan Desember 2008 sampai bulan Januari 2009. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumput laut Gracilaria gigas Harv.

Cilacap. Cara Kerja 2. sedangkan variabel penunjang adalah derajat keasaman (pH). sehingga jumlah tali yang diperlukan adalah 6 buah dengan masingmasing panjangnya adalah 1000 cm.2. Rumput laut ditanam dengan menggunakan metode apung tali tunggal (longline). kecerahan.2. 2).2. 100 g dan 150 g. Penanaman a. Tali tunggal disiapkan untuk menanam bibit rumput laut dengan tali nilon sepanjang 1000 cm setiap perlakuan (lampiran 6). kandungan nitrat dan orthofosfat. Masing-masing rumput laut tersebut diikatkan pada tali nilon dengan menggunakan rafia dengan jarak tanam 25 x 30 cm dan setiap perlakuan terdiri atas 78 titik tanam (jumlah ikat bibit). 2. Variabel utama adalah pertambahan berat basah dan produksi rumput laut. sehingga seluruhnya ada 234 titik tanam. 100g. yaitu menggunakan tali nilon yang diikatkan pada bambu pancang. 150g. . Bibit rumput laut Gracilaria gigas Harv.1. Persiapan Lahan untuk budidaya terletak di perairan laut Adipala. 2.Sistem tali tunggal (longline) 1).2. 3).12 Variabel-variabel yang diamati adalah variabel utama dan variabel pendukung. diambil dari perairan Cilacap. salinitas. bibit kemudian ditimbang dengan berat 50 g. Rumput laut diambil yang segar dan dicuci dengan air laut. Bibit rumput laut ditimbang dengan berat 50g. suhu.

2.4 2.1 Pengamatan Variabel Utama Pengamatan dan pengambilan data pertambahan berat basah dilakukan pada 10. 20. Rumput laut yang telah ditimbang kemudian diikatkan pada tali nilon dengan jarak tanam 25 x 30 cm. Pertambahan berat basah (lampiran 1). Tali nilon direntangkan pada kedua sisi lebar yang saling berhadapan. 30. Rakit disiapkan sebanyak 3 buah dengan ukuran 3. dan T2B3 dengan jumlah titik tanam setiap perlakuan adalah 78 titik tanam (lampiran 7). 2).3 Pemeliharaan Rumput laut dibersihkan dari tanaman lain. Sampel diambil 3 titik tanam secara destruktif yang diulang sebanyak 4 kali dan ditimbang berat basahnya untuk mengetahui pertumbuhannya. dan kotoran yang mengganggu pertumbuhan rumput laut setiap 10 hari sekali.4. dan 40 hari setelah tanam (hst). 4). 3). Adapun cara pengamatannya adalah sebagai berikut: a). . 2.2.5 x 2 m untuk perlakuan T2B1. sehingga seluruhnya ada 234 titik tanam.13 b. 100g dan 150 g dimana setiap perlakuan sebanyak 78 titik tanam. Rumput laut ditimbang sebesar 50 g.2. 2. Sistem rakit tali tunggal 1). T2B2. Pengamatan produksi di lakukan pada hari ke 60 setelah tanam. binatang predator. Jarak antara tali nilon yang satu dengan yang lainnya 30 cm.

kecerahan.2 Variabel Penunjang Variabel penunjang adalah pH. 2001) b). Pada umur 60 hst. Pengukuran suhu air . 20 hst. rumput laut dipanen semua untuk masing-masing perlakuan dan kemudian ditimbang. Pengukuran dilakukan pada setiap hari sebanyak 3 kali 08.00 WIB. Pengukuran dilakukan pada 0 hari setelah tanam (hst). 30 hst.2. kandungan N dan P (lampiran 5). 40 hst dan 60 hst.W0 ) Β Α = = = = = g / cm 2 Keterangan: Pr Wo Wt A B Produksi rumput laut pada umur tertentu (g/cm2) Berat bibit rumput laut (g) Berat saat panen rumput laut (g) Luas rakit/lahan (cm2) Jumlah titik tanam (Sumber: Samawi dan Zainuddin. 10 hst.4. Produksi rumput laut (lampiran 2).00 WIB. a). Data hasil penimbangan dimasukkan kedalam rumus sebagai berikut: kemudian Pr = ( Wt .14 Sampel tanaman diambil sebanyak 3 titik tanam secara destruktif untuk masing-masing perlakuan dan kemudian ditimbang. 12. salinitas. suhu. 1996) 2. Data hasil penimbangan dimasukkan ke dalam rumus sebagai berikut: G= Wt 2 − Wt1 ( g / hari ) t2 − t1 keterangan : G Wt1 Wt2 t1 t2 = = = = = Pertumbuhan (g/hari) Berat rumput laut pada umur t1 (g) Berat rumput laut pada Umur t2 ( g) Waktu pengambilan sampel ke-1 Waktu pengambilan sampel ke-2 (Sumber: Heddy.00 WIB dan 16. Pengambilan sampel ini diulang sebanyak 4 kali.

kemudian suhu yang teramati dicatat. kemudian dilihat skala salinitasnya. b). Pengukuran kecerahan Pengukuran kecerahan air laut dilakukan dengan menggunakan keping secchi yang dicelupkan ke dalam laut sampai tepat keping secchi tidak terlihat lagi. Pengukuran derajat keasaman (pH) Pengukuran derajat keasaman (pH) dilakukan dengan menggunakan pH indikator universal ke dalam air. warna yang timbul dicocokkan dengan warna pada petunjuk penggunaan yang menunjukkan besarnya pH air. Absorbansi diukur menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 220 nm. d). Pengukuran salinitas Pengukuran salinitas dilakukan dengan menggunakan hand refraktometer. Pengukuran Kandungan Nitrat (NO3) Pengukuran kandungan nitrat dilakukan dengan mengambil sampel air sebanyak 50 ml dan ditambahkan 1 ml HCL 1 N. dengan cara meneteskan air laut pada kaca refraktometer. jarak tersebut dicatat sebagai x meter. f).15 Suhu diukur dengan cara memasukkan termometer ke dalam air laut selama 5 menit. ditunggu sesaat. e). c). Pengukuran Kandungan orthofosfat (PO4) .

Apabila hasilnya menunjukkan perbedaan yang nyata. Absorbansi diukur menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 880 nm.16 Pengukuran kandungan orthofosfat dilakukan dengan mengambil sampel air sebanyak 50 ml dan ditambahkan indikator pp dan NaOH sampai berwarna merah muda. dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. 3. Metode Analisis Data hasil pengamatan dianalisis dengan mengunakan uji F dengan taraf kepercayaan 95% dan 99% yaitu untuk mengetahui pengaruh faktor yang dicobakan. Sampel ditambahkan 8 ml reagen campuran dan tunggu selama 2 menit sampai berwarna biru jernih. .

Pertumbuhan berat basah tertinggi umur 7-14 hst diperoleh sebesar 3. Gambar 3. menunjukkan bahwa dengan bertambahnya umur tanam pertumbuhan rumput laut semakin meningkat. B. HASIL DAN PEMBAHASAN A.238 g/hr (Lampiran 1. Pertumbuhan berat basah tertinggi pada umur 0-7 hst sebesar 1.191 g/hr.17 I.1). Hal ini terkait dengan semakin lamanya talus dalam penyerapan cahaya matahari dan unsur hara untuk pertumbuhan.429 g/hr dan terendah sebesar 0.048 g/hr dan pada umur 21-28 hst diperoleh pertambahan berat basah tertinggi sebesar 7.476 g/hr. Umur 14-21 hst diperoleh pertumbuhan berat basah tertinggi sebesar 4.143 g/hr dan terendah sebesar 1.952g/hr dan terendah sebesar 2.095 g/hr sedang terendah sebesar 3. Produksi basah Gracilaria gigas Harvey . Pertumbuhan Hasil Pengamatan pertumbuhan rumput laut Eucheuma cottonii Doty dengan perlakuan berat awal dan sistem budidaya apung berbeda di perairan selok Cilacap.

maka perairan Selok Adipala Cilacap dapat digunakan untuk budidaya rumput laut Eucheuma cottonii Doty. 2. Sistem jaring tubuler dengan berat awal 50 g (A2B1) menghasilkan pertumbuhan tertinggi sebesar 7. KESIMPULAN DAN SARAN A. Saran Berdasarkan hasil penelitian. Untuk mendapatkan pertumbuhan dan produksi rumput laut yang baik dapat menggunakan sistem jaring tubuler dan berat awal 50 g.18 IV.200 g/m² rumput laut Eucheuma cottonii Doty. Sistem budidaya apung dan berat awal yang berbeda menghasilkan pertumbuhan rumput laut dan produksi basah Eucheuma cottonii Doty yang berbeda. Kesimpulan Berdasarkan dari hasil dan pembahasan. .095 g/hr dan produksi basah tertinggi sebesar 395. B. maka dapat diambil kesimpulan bahwa: 1.

1994. Pertumbuhan dan Produksi Gracilaria verrucosa Menggunakan Metode Tali Tunggal pada Berat Awal dan Jarak Tanam Berbeda di Tambak Karang Anyar. Departemen Pendidikan Nasional. Azizah. Universitas Jenderal soedirman. Kanisius. Amini. Oseana XXIX (4) : 25-36. A. U. 2006. Universitas Jenderal soedirman. Puslitbang Oseanologi LIPI. 1996.M. Makroalga. Jakarta. S. Ekofisiologi Tumbuhan: Suatu Kajian Kuantitatif Pertumbuhan Tanaman.. 2006. S. Yogyakarta. Laju Pertumbuhan Rumput Laut Kappaphycus alvarezii Doty Pada Berbagai Metode Budidaya Di Perairan Nusakambangan Cilacap. . Khafidz. A. Pengenalan Jenis-Jenis Rumput Laut Indonesia. Purwokerto. Atmadja.. Juneidi. 2004. dan D. Teknik Budidaya Rumput Laut. Purwokerto. Ernawati. S. Budidaya Rumput Laut. Cilacap. I. 2004. A. PT. 2004. verucosa di Perairan Pantai Baru. Kanisius. 2001. 1995. Aslan. Heddy. Jakarta. Kadi. Laporan Skripsi (tidak dipublikasikan) Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman.19 DAFTAR REFERENSI Amalia. dan W. Nancy. W. A. Atmadja. Widyartini. S. Budidaya Rumput Laut. Warta Balitdita 6 (1) : 4-7. Kadi. Laju Pertambahan Berat dan Produksi Gracilaria gigas Harvey dengan Berbagai Metode Budidaya dan Berat Awal di Tambak Goa Petruk Gombong. 2001. Laporan Skripsi (tidak dipublikasikan) Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman. A. S. 2006. Purwokerto. Budidaya dan Pasca Panen. A. Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto. Yogyakarta. Pengaruh Asal Benih dan Kedalaman Terhadap Pertumbuhan Rumput Laut G. Potensi Rumput Laut di Beberapa Perairan Pantai Indonesia. 1988. Purwokerto. Raja Grafindo Persada. . 2001. W. Machludin dan D. Jakarta. N. Satari. L. Laporan Skripsi (tidak dipublikasikan) Fakultas Biologi. Insan. Pertumbuhan dan Produksi Rumput Laut Gracilaria dengan Jenis dan Berat Awal yang Berbeda di Perairan Karanganyar Cilacap. Laporan Skripsi (tidak dipublikasikan). Jakarta. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi LIPI. Fakultas Biologi. Sulawesi Selatan. Kadi dan R. Rumput Laut (Algae) Jenis Reproduksi.

1994. Seaweed Their Environment. Departemen Kelautan dan Perikanan. Status. Laporan Skripsi (tidak dipublikasikan) Fakultas Biologi. Pertumbuhan Dan Produksi Kappaphycus alvarezii Doty Dengan Stek Bagian Talus Dan Berat Awal Yang Berbeda Pada Sistem Jaring Tabung Di Cilacap. NAD. Balitan. A. Potensi dan Usaha Budidaya. Masalah Dan Prospek Pengembangannya. dan N. . Sugiarto. Majalah Ilmiah Unsoed. 2001. 6 (1) Januari-Maret. Buletin Ilmu Kelautan.J. 2001. Luning. Nurul. Pusat dan Pengembangan Perikanan. Murti. 1990. 22-12 Rasyid. A. Garut. K. Purwokerto. Atmadja dan H. M.20 Krishnamoorthy. Biogeography and Ecophysiology. 2005. Universitas Jenderal soedirman.HTM. http: //www. H. Laju Pertumbuhan. Natsir. New Delhi. Universitas Jakarta. 1996. M. A. dan M.1999. Tahun XXVII No. S. C. Y. Harisson. Jakarta. Beberapa Catatan Tentang Agar. Budidaya Rumput Laut (Gracilaria sp. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Ujung Pandang. Rumput Laut (Algae) Manfaat. Jakarta. Purwokerto. Pertumbuhan dan Produksi Eucheuma cottonii Doty Pada Berat Awal dengan Sistem Budidaya Apung Berbeda Di Perairan Selok Cilacap. Plant Growth Substances Including Aplication in Agriculture. Budidaya Rumput laut Gracilaria sp. Surabaya 25-29 oktober 2002.) di Tambak Sulawesi Selatan. Lobban. Budidaya Rumput Laut (Training Workshop on Seafarming). 2002. D. Puslitbang Oseanologi LIPI. 2004. Mubarak. gigas Harv. Biomassa Dan Kandungan Karagenan Rumput Laut Kappaphycus Alvarezi (Doty) Doty Yang Ditanam Dengan Variasi Bagian Talus Dan Jarak Tanam Yang Berbeda Di Perqairan Pantai Sayang Heulang Pameungpeuk.fao. Tata Mc Graw-Hill Publishing Company Limited. Rahayu. N. Percobaan Penanaman Rumput Laut (G. Sulistijo. Sutisna. I.) dalam Tambak di Bali .S and P. Diakses pada tanggal 20 Oktober 2007. Samawi. Jakarta.org/docrep/field/003/AB873E/AB873E02. John Wiley and Sons Inc. Studi Penggunaan Pupuk Cair Sitto Terhadap Pertumbuhan Rumput Laut Gracilaria lichenoides. F dan Zaenudin. 2005. 1981. Purnomo. H. Mubarak. Puslitbang Oseanologi. OHAMA. Universitas Jenderal soedirman. Sutikna. 2008. S. Cambridge University Press. LIPI. 2000. Laporan Skripsi (tidak dipublikasikan) Fakultas Biologi. di Tambak Disampaikan pada Pertemuan Lintas UPT. Seaweed Ecology and Physiology. N.

. 2003. Teknik Budidaya Rumput Laut. Suyoto. Laporan Skripsi (tidak dipublikasikan). Fakultas Biologi Universitas Jendral Soedirman. Susanto. URL : http://www. A. Purwokerto. htm. Laporan Skripsi (tidak dipublikasikan). Angkasa. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Balitan. A. 2001. Purwokerto.B. Wisman. 2001. Pertumbuhan dan Produksi Berat Basah Gracilaria verucosa dengan Berat Awal dan Jarak Tanam Berbeda di Tambak Rowokele Kebumen. http: //Nakula/rvs/bielefeld.de/majalah/laut/abertikel. Laporan Skripsi (tidak dipublikasikan). Teknik Budidaya Rumput Laut dengan Metode Tali Panjang. Studi Perbandingan Pertumbuhan Kappaphycus alvarezii Doty pada Berbagai Jarak Tanam dan Metode Apung di Perairan Nusakambangan. H. Pertambahan Berat Basah dan Produksi Gracilaria verucosa Pada Berbagai Jarak Tanam Dengan Metode Apung Di Tambak Goa Petruk Kebumen. Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman. 2000. Purwoto dan J. A. 2004. Y.net.Iptek. A. Purwokerto. Laporan Skripsi (tidak dipublikasikan). Sarjito . Studi Aplikasi Tehnik Semprot dengan Penambahan Nutrien dalam Budidaya Rumput Laut Gracilaria verrucosa (huds) papenf.. Selintas Tentang Godir si Rumput Laut Gracilaria. 2003.T Anggadireja. Kelompok Studi Rumput Laut-Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Supriningsih. Purwokerto. 2004. A. I. Diakses pada tanggal 28 Juni 2008. Triana. Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman. Fakultas Biologi Universitas Jendral Soedirman. 2002. Bahan Pembuat Agar-Agar di Dalam Tambak. . Sulistyawati. W dan W.id/ttg/artlkp/artikel18. H. Diakses 15 Agustus 2008. Pertumbuhan dan Produksi Berat Basah G. I.B.21 Sujatmiko. gigas dengan Jarak Tanam dan Kedalaman yang Berbeda di Perairan Sentolo Kawat Cilacap. Djunaedi dan Safuan. Susanto. Jakarta. Fakultas Perikanan UNDIP.

Related Interests