Tabel3-6.

Klasifikasi persepsi disartria Mayo Clinic Tipe Disartria flasid Disartria spastik Disartria ataksik Disartria hipokinetik Karakteristik persepsi Lokalisasi Penyebab Kondisi neuromuskuler

bahkan dapat menjelaskan fenomena afasia ini. Afasia. pemahaman. Kertesz meringkas bahwa ada banyak klasifikasi.ile PICA 75% . Sistem klasifikasi dan tes yang berhubungan dengan afasia Kriteria Contoh Keparahan Ringan. namun menunjukkan adanya kerusakan area tertentu pada otak.ile Tes yang berhubungan Aphasia Language Performances Scale (ALPS) Examining for Aphasia (EA) Minnesota Test for the Differential Diagnosis of Aphasia (MTDDA) Porch Index of Communicative Ability (PICA) Language Modalities Test (LMT) Boston Diagnostic Aphasia Examination (BDAE) Pendukung Keenan & Brassell (1975) Eisenson (1954) Schuell (1965) Statistik Porch (1981) Linguistuk Afasia semantic Afasia sintaktik Sindroma Afasia Broca Afasia Global Wepman & Jones (1961) Goodglass & Kaplan (1972) Sindroma afasia bukan merupakan sebuah tanda neurologis yang berat. Rao mengulas kontroversi klasifikasi dan lokalisasi afasia. tapi semua klasifikasi ini diperlukan dan dapat membantu mendiagnosa dan menerapi afasia. AOS. yang disebabkan oleh rusaknya area di otak yang bertanggung jawab dalam proses bahasa. Ada kurang lebih enam jenis sistem klasifikasi dari sistem berdasarkan tingkat keparahan yang sederhana sampai sistem dengan pendekatan melalui penilaian yang kompleks (table 3-7). yaitu kelancaran berbahasa. seorang klinisi harus segera mengidentifikasi tipe afasianya. dimana pasien yang masih lancar . Aspek program (volitional) AOS dan pelatihan bicara pada disartria dapat mengurangi perburukan kelainan berbahasa pada afasia. Sedang. Beberapa kasus pada literatur tidak menggunakan istilah sindrom. afasia dengan keterlibatan visual PICA 40% . Meskipun sindroma-sindroma tampaknya merupakan pendekatan yang lebih dipilih dalam praktek sehari-hari. Jika ada seorang pasien dengan lesi pada lekukan ketiga pada area frontal kiri juga mengalami hemiplegic dan tidak lancar berbicara dengan pemahaman yang baik. Tiga kebiasaan bahasa biner tertentu yang dapat berbeda sangat membantu klasifikasi afasia. Berat Modalitas Sikap Reseptif. dan kemudian diketahui berhubungan dengan kelainan neurogenik. dan disartria merupakan masalah komunikasi yang biasanya muncul setelah serangan stroke pada hemisfer kiri. Tabel3-7. Tabel 3-8 meringkas macam-macam sindroma afasia dan mengarahkan lokasi CVA otak kiri. Ekspresif Afasia sederhana. berhubungan dengan proses reseptif dan ekspresif. secara pasien-pasien yang tidak lancar berbahasa memiliki lesi pada daerah anterior (lobus frontalis). para ahli mempertentangkan kegunaan bahkan keteradaan sindroma-sindroma tersebut. dan pengulangan. Kelancaran berbahasa menunjukkan gambaran biner anteroposterior pada hemisfer kiri. Jika afasia sudah terdiagnosa. tapi kelompok afasia. menunjukkan tidak ada satupun klasifikasi yang memuaskan. pasien hampir seutuhnya dapat dikatakan mengalami afasia Broca.Afasia merupakan penurunan kemampuan berbahasa.

ataupun occipital). berbicara dengan beberapa persamaan dengan struktur gramatikal. Afsia global Pasien dengan afasia global mengalami penurunan pada semua kemampuan berbahasa sampai menyebabkan ketidakmampuan dalam berkomunikasi secara lisan. berkata pulpen. Afasia Wernicke Pasien dengan afasia Wernicke fasih dengan apa yang disebut dengan pragmatis. Kesulitan memahami pendengaran merupakan tanda cardinal. Afasia konduksi Pasien dengan afasia konduksi mengalami kesulitan dalam mengulang kata atau kalimat yang diucapkan pemeriksa. Pasien dengan afasia Broca umumnya memiliki pemahaman secara fungsional. Wernicke. dan pemahaman terganggu secara menyeluruh. atau bahkan afasia global. Kelencaran berbicara dan kemampuan mengulang biasa-biasa saja. kemampuan mengulang. Afasia anomik Pasien dengan afasia anomik khas dengan kehilangan kata-katanya saat berbicara maupun menulis. Mereka cenderung berbicara berputar-putar (pemakaian kata yang terlalu banyak) dan secara umum memiliki kemampuan membaca dan mendengar. padahal pensil yang dimaksud) dan pengulangan yang buruk. Berbeda dengan dimensi biner pada proses pemahaman. tapi memiliki masalah yang kompleks dalam menyatakan maksudnya. Pasien CVA daerah kiri tidak dapat mengulang dicurigai mengalami afasia Broca. dimana pasien post-stroke pada daerah distribusi arteri cerebri media dapat menunjukkan penurunan pemahaman pendengaran. Pengulangan (repetion) membedakan pasien dengan infark daerah arteri cerebri media dengan yang bukan. . tanpa kata penghubung) dan kehilangan makna pembicaraan. Kemampuan berbicara yang spontan relative lancar dengan pemahaman yang baik. parietal. sedangkan pasien post-stroke pada daerah distribusi arteri cerebri posterior menunjukkan penurunan pemahaman membaca. Pasien juga mengalami penurunan kemampuan membaca dan menulis. Panjang kalimat biasanya tidak lebih dari empat kata dan repertoar verbal hanya terdiri dari kata-kata pokok (kata benda dan kata kerja) tanpa kata penghubung ataupun kata depan.berbahasa menujukkan lesi pada daerah posterior (lobus temporal. Panjang kalimat bisa lebih dari 5 kata dan produksi bicara terputus-putus dengan kekacauan parafasik (misal. Kelancaran berbicara. Afasia Broca Pasien dengan afasia Broca tidak lancar atau berbicara telegraf (seperti telegram.

cerebri anterior. kecuali kemampuan untuk mengulang.cerebri media. Saat ini pemeriksaan afasia baku yang paling sering digunakan adalah Boston Diagnostic Aphasia Examination (BDAE) dan Western Aphasia Battery (WAB). lobus temporal A. namun memiliki kemampuan pengulangan yang lebih rendah. occipital media dan splenium corpus callosum Assessment Pada penilaian kemampuan berbahasa.cerebri posterior. menetapkan prognosis.cerebri posterior. penamaan. fasikulus arkuata A. sintak. prefrontal A.cerebri posterior. Klasifikasi dan lokalisasi afasia setelah CVA sisi kiri Penurunan dan Gejala Penurunan kemampuan berbahasa meliputi komponenkomponen semantik. Sindroma isolasi Pasien dengan sindroma yang jarang ditemukan ini mengalami gangguan pada hampir semua aspek berbahasa. Tabel 3-9 adalah table 4x4 dengan 16 subtes yang dapat secara mudah disajikan sebagai dasar inventaris dari fungsi berbahasa. girus angularis A. Tabel3-8. Speech Language Pathologist (SLP) tergantung pada bagaimana mengarahkan diagnosa banding. dan menulis secara sistematis dan menyeluruh. area watershed Thalamus dan Ganglia basalis A. Afasia sensorik transkortikal Sindroma yang jarang ditemukan ini mirip dengan afasia Wernicke.cerebri media. Sebutan untuk sindroma seperti ini adalah adynamia (kesulitan dalam memulai bicara). .Afasia motorik transkortikal Pasien dengan afasia motorik transkortikal memiliki kelancaran berbahasa dan pemahaman seperti afasia Broca.cerebri media. parietooccipital A.cerebri media. membaca. lobus frontalis A. Penilaian umum berbahasa merupakan inventaris dari input berbahasa dan modalitas keluaran. multilobus A. dan penatalaksanaan yang sesuai. dimana kemampuan pengulangannya tertahan. girus angularis A.cerebri ant/post. pengulangan. fonologi. atau kombinasi beberapa Klasifikasi Broca Wernicke Konduksi Anomik Global Transkortikal motorik Transkortikal sensorik Isolasi Subkortikal Alexia dengan agrafia Alexia tanpa agrafia Lokalisasi A. Kedua tes tersebut hampir sama.cerebri media. dengan menggunakan pendekatan sindroma dan memperhatikan kemampuan bicara spontan (isi dan kelancaran). Tabel 3-10 merangkum komponenkomponen penilaian umum berbahasa. atau pragmatis.

pasien. Matriks respon terhadap stimulus dalam penilaian berbahasa Stimulus Lihat benda Dengar kata (kalimat) Tunjuk Sesuai visual Diskriminasi kata Pemahaman kalimat Ucap Menamai Pengulangan kata Pengulangan kalimat atau menjawab pertanyaan Membaca oral Tulis Menulis nama Menulis yang didiktekan Respon Lakukan Pantomim (praxis) Mengikuti perintah Lihat kata (kalimat) Sentuh benda Sesuai kata-benda Meniru Mengikuti perintah yang tertulis Sesuai visual-raba (stereognosis) Menamai dengan taktil Menamai taktilyang ditulis Penilaian fungsi komunikasi merupakan sebuah area yang kemudian muncul di bawah pengawasan yang intensif. dan keakraban dengan pendengarnya. alat-alat yang dapat digunakan. Tabel3-10. pegawai) sangat tertarik dengan hasil. Klien yang menjalani program rehabilitasi (payers. Komponen penilaian bahasa umum Pemahaman audio Identifikasi / diskriminasi kata Ya / tidak reliabilitas untuk pertanyaan personal / general Kemampuan mengikuti perintah (panjang dan kompleksitas) Retensi dan pemahaman kalimat / paragraf Kemampuan untuk memasangkan simbol/huruf Ketrampilan identifikasi kata Retensi dan pemahaman kalimat / paragraph Membaca oral Ketrampilan membaca fungsional Berbicara spontan/sosial Repetisi kata/kalimat Menamai konfrontasi/responsive Pemahaman visual Berbicara . Definisi yang tepat dari penilaian yang fungsional dari sebuah komunikasi adalah mengikuti kaedah berikut : ³Menilai besarnya kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain dari segi konteks dengan memperhatikan perubahan lingkungan sekitar. dan upaya yang optimal menuju kepada hasil yang fungsional adalah penilaian yang fungsional pula.Tabel3-9. Akomodasi khusus dari seorang partner komunikasi untuk menerima ataupun menambahkan harus dipertimbangkan. waktu yang dibutuhkan.

Faktor apa saja yang positif? 3. angka. meniru/dikte Tingkat kata/kalimat Contoh spontan Alat penilaian sebuah komunikasi yang fungsional yang menjanjikan dalam memperoleh masukan konsumen dan mengukur hasil adalah Communication Effectiveness Index (CETI). variable medis dan bahasa lebih kuat disbanding subyek itu sendiri dan variable lainnya. Dalam merumuskan sebuah prognosis. Faktor apa saja yang negatif? Walaupun korespondensi tidak satu persatu. Prognosis Pendekatan variable prognosis adalah hal yang umum dalam memproyeksikan status komunikasi yang utama. mereka dapat menilai sendiri kemampuan berkomunikasi menggunakan CETI. ketrampilan hidup. panjang ucapan. Tabel 3-11 merangkum penelitian variable prognosis pada afasia dan kelainan dalam berkomunikasi yang bersifat neurologis setelah stroke. kebutuhan dasar. Contoh sederhana CETI: Benar-benar tidak dapat melakukan Kemampuan sama seperti sebelum stroke Mendapatkan perhatian seseorang Menyampaikan emosi Mengerti tulisan Saat pasien berada dalam level tertinggi dalam berkomunikasi. Hal ini berdasarkan pengamatan langsung signifikansi pasien terhadap kemampuan pasien untuk menunjukkan 16 ketrampilan komunikasi yang menunjukkan kemampuan premorbid dalam area-area ketrampilan tersebut. dan ancaman kesehatan.Menulis Ketangkasan verbal. CETI memfokuskan kepada kebutuhan komunikasi dan menilai komunikasi sebagai kebutuhan sosial. tingkat kelancaran Analisa bentuk dan isi Informasi biografi Kata. Sekalipun . Menurut Rao. Prognosis untuk apa? 2. tim menanyakan 3 hal berikut: 1. praktisi masih dapat membuat perkiraan yang baik mengenai pembaruan odds berdasarkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut.

Jika ya. klinisi harus memperkirakan respon pasien terhadap terapi 1.keseluruhan prognosis dibuat untuk mengembalikan komunikasi fungsional. modalitas yang mana yang harus diterapi dan dalam kondisi seperti apa? 3. Apakah terapi cukup membantu? 2. Terapi mana yang seharusnya digunakan? .