LAPORAN AKHIR

BAB VIII. RENCANA POLA RUANG WILAYAH KOTA MAKASSAR

A. UMUM TATA RUANG adalah Wujud STRUKTUR RUANG dan POLA RUANG. Dimana pola ruang merupakan distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya. POLA RUANG merupakan alokasi pemanfaatan ruang yang pada prinsipnya merupakan perwujudan dari upaya pemanfaatan sumberdaya alam di suatu wilayah melalui pola pemanfaatan yang diyakini dapat memberikan suatu proses pembangunan yang berkesinambungan. Dalam filisofi ruangnya secara lebih tegas dinyatakan bahwa pola ruang adalah bentuk pemanfaatan ruang yang menggambarkan ukuran, fungsi, serta karakter kegiatan manusia dan atau kegiatan alam. Secara umum rencana pola ruang kota Makassar, digambarkan sebagai berikut:

Gambar 8-1 Rencana Pola Ruang Kota Makassar 2010-2030

B. RENCANA POLA RUANG KAWASAN LINDUNG Secara umum Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. Berdasarkan Keputusan Presiden RI No.32 Tahun 1990 tentang pengelolaan Kawasan Lindung, dalam penetapan pola perencanaan kawasan lindung kota Makassar mengakomodasi kawasan-kawasan berikut: VIII - 1

1. Kawasan Resapan Air Kawasan resapan air adalah kawasan/wilayah yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah instrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah. Dalam spasial pola ruang Kawasan Resapan Air adalah kawasan yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akifer) yang berguna bagi sumber air. Kriteria kawasan resapan air adalah curah hujan yang tinggi, memiliki struktur tanah yang mudah meresapkan air dan bentuk geomorfologi yang mampu meresapkan air hujan secara besar-besaran. Kawasan resapan air di Kota Makassar sangat perlu mendapat perlindungan untuk memberikan ruang yang cukup bagi peresapan air hujan pada daerah tertentu untuk keperluan penyediaan kebutuhan air tanah dan penanggulangan banjir, baik untuk kawasan bawahannya maupun kawasan yang bersangkutan. Apalagi peningkatan dalam penggunaan lahan kosong cukup signifikan tiap tahunnya. Hal ini tentunya dapat berpengaruh terhadap penyusutan atau berkurangnya area/ sentra-sentra daerah resapan air di ruang kota Makassar. Daerah resapan air di Kota Makassar berada di danau Balang Tonjong yang selama ini menjadi kawasan prioritasnya. Namun, jika dilihat dari segmen ataupun peran dari kawasan, tidak hanya daerah tersebut yang dapat diperuntukkan sebagai area resapan air, tetapi kawasan lain juga dapat difungsikan. Dalam arah perencanaannya segmen daerah tersebut adalah daerah sekitar sungai Tallo dan sungai Jeneberang, dan berada disekitar kantong-kantong danau, tambak dan rawa ataupun pesisir pantai. Yang semua itu tersebar di area kawasan kota Makassar (Tabel 8-1).
Tabel 8-1 Daerah Resapan Air (Ha), 2009

Total Luasan

Danau

Rawa

Sungai

84,95105999 382,6467371 530,1948464

Untuk itu dalam arah pemanfaatan maupun kebijakan dalam pengembangan kota kedepan harus mendapat perhatian. Sehingga tercipta keseimbangan antara manusia dan lingkungan yang dinamis. 2. Kawasan Sempadan Pantai Kota Makassar sebagai kota Water Front City memiliki panjang garis pantai sekitar 35 Km dengan lintasan sempadan pantai dari arah utara (Untia) sampai kearah Selatan (Tanjung Bunga). Secara fungsi, bagian dari kawasan sempadan pantai di Kota Makassar adalah Kawasan Hutan Mangrove yang lokasinya berada di wilayah pesisir laut bagian utara (Pantai Untia) dan merupakan habitat alami hutan bakau (mangrove) yang berfungsi memberi perlindungan kepada perikehidupan pantai dan lautan. Hutan mangrove pada umumnya berada di muara sungai, daerah pasang surut atau tepi laut. Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut akar nafas (pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen atau
Gambar 8-2 Sempadan Pantai Losari

bahkan anaerob.

VIII - 2

Berdasarkan keadaan eksisting sempadan pantai sepanjang koridor pantai Losari saat ini telah dibangun bangunan pantai yang berfungsi sebagai pemecah ombak. Dengan keadaan tersebut arus dan energi gelombang yang berasal dari laut dalam dapat teredam karena terjadi refraksi dan difraksi gelombang di daerah tersebut. Sehingga dapat mengurangi tingkat abrasi pada area kawasan. Selain di Losari di pantai Tanjung Bunga juga telah dibangun pemecah gelombang (breakwater). Breakwater tersebut dibangun semicircular ke arah muara sungai dengan tujuan sedimen yang berasal dari sungai Jeneberang dapat terakumulasi pada kantong bangunan, sehingga tidak secara langsung tersedimentasi di pantai. Dalam arah perencanaannya sempadan pantai yang masih alami dan tidak terjadi degradasi dilakukan upaya-upaya pemanfaatan dengan melakukan kebijakan-kebijakan yang tentunya dapat mengkonservasi daerah tersebut. Upaya-upaya ataupun kebijakan tersebut dapat dilakukan dengan cara mempertahankan kawasan sekitar mangrove dan menjaga kelestarian lingkungan di area tersebut (Untia, dan pantai sekitar teluk Losari yang membentuk lidah pasir). Sedangkan daerah/kawasan yang telah mengalami degradasi pantai dapat dilakukan upaya-upaya sebagai berikut: Membangun breakwater terhadap sempadan pantai yang diiringi dengan penghijauan mangrove di sekitar koridor pantai Tanjung bunga. Sehingga mengurangi derajat abrasi pantai. Melakukan kegiatan artificial reef sebagai upaya rehabilitasi lingkungan laut. Dimana fungsi dari ekosistem karang tersebut merupakan media peredam gelombang laut secara alami, sehingga energi gelombang yang dihempaskan di pantai tidak cukup besar. 3. Kawasan Sempadan Sungai Kawasan Sempadan sungai adalah kawasan sepanjang kiri kanan sungai, termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer, yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. Perlindungan terhadap sempadan sungai dilakukan untuk melindungi sungai dari kegiatan manusia yang dapat mengganggu dan merusak kualitas air sungai, kondisi fisik pinggir dan dasar sungai, ekosistem sungai dan disekitarnya serta mengamankan aliran sungai.
Gambar 8 -3 Sungai Jeneberang, Makassar

Berdasarkan Keputusan Presiden RI No.32 Tahun 1990 tentang pengelolaan Kawasan Lindung, sempadan sungai ditetapkan pada kawasan yang sekurang-kurangnya 50 meter di kiri kanan anak sungai yang berada di luar permukiman dan sekitar 10-15 meter di kiri dan kanan anak sungai yang berada di kawasan permukiman. Selanjutnya, dalam arah rencana penetapannya sepanjang koridor Sungai Je‟[neberang dan Tallo merupakan kawasan sempadan sungai di Makassar. Dalam kondisi eksisting, Sungai Tallo telah banyak mengalami degradasi. Pada umumnya daerah sekitar sempadan sungai ini telah beralih fungsi menjadi kawasan pemukiman dan kawasan bisnis, sehingga ruang sempadan tersebut semakin sempit. Pengalihan fungsi kawasan inilah yang menyebabkan inkonsistensi lingkungan, karena telah banyak campur tangan manusia di dalamnya. Lain halnya dengan sungai Jeneberang, sungai ini masih dapat terkontrol keseimbangan lingkungannya. Disepanjang koridor sempadan jeneberang dapat dijumpai pemanfaatan lahan sebagai objek pemanfaatan lahan dengan adanya penanaman tanaman hias. Dalam arah pengembangan pola ruang kota Makassar, dilakukan upaya dan rencana sebagai berikut: VIII - 3

Merencanakan pemanfaatan tanggul-tanggul dengan ketinggian tertentu sehingga luapan air Sungai pada musim penghujan tidak memberikan pengaruh yang cukup besar; Mengatur dan menata kembali sistem drainase kota; Pada daerah sungai yang mendapat pengaruh pasang surut air laut (hilir Jeneberang dan Tallo) dapat dimanfaatkan sebagai area jalur hijau. 4. Kawasan Sekitar Danau Danau secara umum memiliki pengertian yakni bagian dari sungai yang lebar dan kedalamannya secara alamiah melebihi ruas lain dari sungai yang bersangkutan. Danau memiliki berbagai manfaat untuk pengairan irigasi, ternak dan kebun, sebagai objek pariwisata, sebagai tempat usaha perikanan darat, sebagai sumber daya listrik dan juga sumber penyediaan air bagi makhluk hidup sekitar dan juga sebagai pengendali banjir dan erosi. Kota Makassar memiliki beberapa danau yang terletak di kawasan permukiman terpadu, kawasan pusat kota dan kawasan riset dan pendidikan terpadu, dengan luasan masing-masing sekitar 71,53 Ha, 6,11 Ha, dan 7,3 Ha. Pada umumnya danau di kota Makassar difungsikan sebagai area/kawasan resapan air.
Gambar 8 -4 Danau Unhas

Dalam arah perencanaanya kawasan danau dapat diperuntukkan untuk: memfungsikan ekosistem yang ada; Memanfaatkan area sekitar danau sebagai area ruang terbuka hijau; Memanfaatkan kawasan danau sebagai kawasan wisata/olahraga memancing. 5. Kawasan Rawan Bencana Alam Bencana diartikan sebagai suatu kejadian di luar kebiasaan (kondisi normal). Bencana dapat dibagi dalam bencana fisik dan bencana non fisik. Bencana selain disebabkan oleh faktor alam yang diluar kondisi normal dapat juga disebabkan oleh tindakan manusia yang secara simultan dapat mendatangkan bencana. Kawasan rawan bencana alam di Kota Makassar adalah kawasan yang diidentifikasi sering dan berpotensi tinggi mengalami bencana alam seperti gempa bumi, angin topan, kenaikan sea level, banjir, longsor. a. Bencana Banjir Berdasarkan topografinya, kota Makassar dikategorikan sebagai pedataran landai dengan ketinggian mencapai 1-22 m dpl. Kondisi tersebut dapat memicu terjadinya banjir atau luapan air yang juga didukung oleh sistem drainase kota yang belum optimal. Kawasan yang sering mengalami banjir terkonsentrasi di daerah dengan elevasi 1-4 m dpl. Daerah tersebut seperti di kecamatan Tamalanrea, Tallo, Ujung Tanah dan area sekitar kawasan sungai Jeneberang. Selain itu kota Makassar juga sering terjadi luapan air terkhusus di daerah yang padat penduduk, daerah kumuh, dan daerah yang belum jelas system drainasenya. Dalam arah perencanaan dan pengembangan pola ruang kota Makassar, upaya dan kebijakan yang perlu dilakukan adalah: Memperbaiki atau menata kembali system drainase kota, terutama drainase yang berfungsi relatif belum optimal. Seperti KecamatanTamalanrea dan kawasan kota yang padat penduduk; Memfungsikan secara optimal daerah/kawasan resapan air. Jika perlu membuat danau buatan di kawasan belum terbangun. b. Gempa Bumi Gempa bumi adalah getaran yang terjadi di permukaan bumi. Gempa bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng bumi). Kata gempa bumi juga digunakan untuk menunjukkan daerah VIII - 4

asal terjadinya kejadian gempa bumi tersebut. Bumi kita walaupun padat, selalu bergerak dan gempa bumi terjadi apabila tekanan yang terjadi karena pergerakan itu sudah terlalu besar untuk dapat ditahan. PREDIKSI GEMPA BUMI sampai sekarang masih dalam taraf PENELITIAN dan belum ada yang akurat, prediksi bencana alam yang tepat dan teliti belum bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah karena tanda-tandanya (precursor) tidak pasti, sehingga FAKTOR MITIGASI lebih penting untuk mencegah kerugian dan bencana yang lebih besar. Untuk itu diperlukan ANALISA RESIKO yang mencakup parameter gempa bumi, bangunan dan geologi setempat. Dalam arah perencanaan dan pengembangannya, upaya dan kebijakan yang perlu dilakukan adalah : Mengembangkan pola pembangunan pemukiman yang mengakomodasi faktor resiko dari gempa bumi; Menerapkan sepenuhnya pembangunan gedung-gedung dan fasilitas umum yang tahan gempa; Membangun kesadaran Waspada Bencana bagi masyarakat kota. c. Kenaikan Sea Level Rise Kenaikan muka air laut tinggi telah terjadi dibeberapa daerah dan pulau di Indonesia, seperti hilangnya salah satu pulau di Maluku, di Pulau Bonetambung Makassar telah terjadi perubahan garis pantai dan air masuk hingga daratan pulau. Untuk daerah pesisir Makassar ancaman terbesar berada dipantai Selatan yaitu Tanjung Bunga dan Pantai Akkarena yang saat ini juga dipengaruhi oleh abrasi pantai. Hal ini juga akan semakin parah karena pantai tersebut tidak memiliki pelindung pantai seperti mangrove ataupun tanggul laut yang dapat meredam gelombang pantai dan mengurangi pengaruh kenaikan muka air laut. Sementara dipantai bagian Utara yang merupakan pantai landai, telah terdapat vegetasi mangrove sebagai barier atau penghalang walaupun dalam jumlah kepadatan yang semakin menurun. Dalam analisis ilmuwan didunia melalui forum UNFCC, bahwa dalam 100 tahun kedepan kenaikan muka air laut setinggi 110 cm sebagai akibat peningkatan suhu global sebesar 6o C, dan kejadiannya akan mengancam pulau dan daerah pesisir yang dapat merendam daratan hingga batas ketinggian diatas muka air laut rata rata. Untuk daerah Makassar dengan ketinggian muka air laut rata rata saat ini dalam kisaran 157 cm, maka dalam prediksi 100 tahun kedepan, tinggi muka air laut rata rata meningkat hingga 267 cm, yang mengakibatkann ancaman terhadap daerah relief rendah dan ketinggian diatas permukaan air laut dibawah 2,5 meter. Adapun daerah yang terancam bencana kenaikan air laut di kota Makassar adalah sebagai berikut:
Tabel 8-2 Kawasan Sebagai Ancaman Kenaikan Sea Level Rise

Dalam arah perencanaan pengembangan kawasan dilakukan upaya atau strategi, sebagai berikut: 1. Membuat tanggul di area sepanjang pantai yang terancam kenaikan sea level rise; VIII - 5

2. Melakukan pembangunan, reklamasi pantai maupun bangunan pantai di atas nilai rata-rata sea level rise. d. Kawasan Rawan Bencana Longsor Bencana Tanah longsor yang terjadi di kaki gunung Bawakaraeng tahun 2004 lalu masih menyisakan permasalahan dan ancaman yang perlu mendapatkan perhatian serius. Ancaman itu berupa endapan sedimentasi yang saat ini terus bertambah di kawasan Bendungan Bili-Bili. Jika semakin menebal, sedimentasi itu bisa menjebol Waduk Bili-Bili dan menyebabkan banjir besar hingga ke Kota Makassar. Gunung Bawakaraeng memiliki tingkat

longsor potensial sekitar 115 juta meter kubik. Dari volume potensial longsor

tersebut, 22 juta meter kubik termasuk dalam kategori level satu atau bisa patut saja hujan.

diwaspadai. runtuh,

Sewaktu-waktu

terutama

dimusim

Bendungan Bili-bili di Kabupaten Gowa, saat ini menampung 60 juta m3 material longsor dari 300 juta meter kubik potensi longsor Gunung Bawakaraeng. Selain ancaman Banjir, peristiwa longsornya waduk Bili-Bili ini juga mempengaruhi pasokan air bersih ke 3 wilayah, Makassar, Gowa dan daerah lainnya. Berikut juga, ancamannya akan mengarah pada pasokan energi listrik. Untuk ke-depan, arahan kebijakan dalam penanggulangan dan antisipasi bencana longsoran Gunung Bawakaraeng akan dilakukan sebagi berikut : 1. Menyediakan daya dukung yang maksimal pada upaya-upaya pencegahan sedimentasi di Waduk BiliBili. Termasuk pula dengan pembangunan sejumlah embung atau situ-situ besar di kawasan Kota Makassar yang memungkinkan untuk itu. 2. Merevitalisasi kawasan-kawasan aliran sungai agar bisa meminimalisir dampak bencana yang mungkin terjadi. 3. Membangun kesadaran awal „Sadar Ancaman Bencana‟ bagi masyarakat yang termasuk dalam

kawasan rawan, agar memiliki kesadaran antisipatif terhadap ancaman bencana yang ada saat ini. Termasuk di dalamnya, penghijauan di areal sempadan sungai sebagai penahan laju sedimentasi. 6. Rawa Rawa adalah suatu genangan air secara alamiah yang terjadi terus menerus atau musiman akibat drainase alamiah yang terhambat serta mempunyai ciri-ciri yang khusus secara fisik, kimiawi dan biologis. Rawa secara alami berfungsi sebagai daerah resapan air, yang dalam artian bahwa dapat menampung luapan/genangan air pada saat terjadi hujan. Di kota Makassar rata-rata luasan rawa yang terluas adalah di kawasan permukiman, yakni 254,79 Ha (data Eksisting, 2009). Dan luasan rawa
Gambar 8-5 Rawa, Makassar

secara menyeluruh di Makassar sekitar 382,65 Ha.

VIII - 6

Dalam arah perencanaanya area rawa ini merupakan kawasan lindung yang harus mendapat perhatian dalam penetapan kebijakan bagi pengembangan kawasan kota Makassar. Dan upaya-upaya yang dilakukan adalah sebagai berikut: Memfungsikan ekosistem lingkungan sekitar rawa; Memanfaatkan area sekitar rawa sebagai area Ruang Terbuka Hijau (RTH); Memanfaatkan kawasan rawa sebagai area resapan/tangkapan air, atau sebagai area/kawasan wisata/olahraga memancing. C. RENCANA POLA RUANG KAWASAN BUDIDAYA 1. Cagar Budaya a. Kriteria Kawasan Cagar Budaya Cagar Budaya adalah kegiatan untuk menjaga atau melakukan konservasi terhadap benda-benda alam atau buatan manusia yang dianggap memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Di Indonesia, benda cagar budaya harus berumur sekurang-kurangnya 50 tahun (UU No.5 tahun 1992). Adapun Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan adalah Daerah Karst (kering dan berair), daerah dengan budaya masyarakat istimewa, dan kawasan lokasi situs purbakala/peninggalan sejarah bernilai tinggi. b. Eksisting Kawasan Cagar Budaya di Kota Makassar Kawasan Cagar Budaya di Kota Makassar memiliki kriteria berupa tempat serta ruang disekitar bangunan bernilai budaya tinggi, situs purbakala yang mempunyai manfaat tinggi untuk

pengembangan ilmu pengetahuan dan nilai histori peradaban Kota Makassar. Kawasan Cagar Budaya di Kota Makassar ini terdapat beberap kecamatan. Adapun bangunan yang bernilai budaya di Makassar meliputi: 1. Benteng Fort Rotterdam (Kecamatan Wajo) Fort Rotterdam yang juga akrab disebut dengan Benteng Makassar ini akan mudah dikenali karena sangat mencolok dengan arsitektur era 1600 an yang berbeda dengan rumah dan kantor diseputarnya. di Bagian depannya berdiri kokoh patung Sultan Hasanuddin menunggang kuda putih, dan bila kita bertanya benteng ini kepada penduduk sekitar akan dengan mudah kita mendapat jawabannya. Dari ketinggian, bentuk benteng seperti bentuk totem penyu yang
Gambar 8-6 Benteng Fort Rotterdam, Makassar

bersiap hendak masuk kedalam pantai.

Benteng ini awalnya dibangun tahun 1545 oleh raja Gowa ke X yakni Tunipallangga Ulaweng. Bahan baku awal benteng adalah tembok batu yang dicampur dengan tanah liat yang dibakar hingga kering. Bangunan didalamnya diisi oleh rumah panggung khas Gowa dimana raja dan keluarga menetap didalamnya. Ketika berpindah pada masa raja Gowa ke XIV, tembok benteng lantas diganti dengan batu padas yang berwarna hitam keras. Benteng Fort Rotterdam dijadikan kantor pemerintah yakni Pusat Kebudayaan Makassar, sehingga suasana seram yang biasa kita jumpai dilokasi tua semacam ini tidak begitu kental karena masih dijumpai manusia berseliweran kian kemari. Karena area ini dipakai sebagai kantor, sehingga kebersihan dan kerapihan lingkungan disana masih terawat cukup baik. VIII - 7

Sebagai kota yang kental aspek sejarah dan kebudayaan-nya, harus ada upaya

terpadu untuk

merevitlisasi keberadan serta pemanfaatan Benteng Fort Rotterdam ini. Dalam arah perencanaannya upaya yang dilakukan untuk itu adalah : 1. Revitalisasi kondisi dan lingkungan eksisting sekitar Benteng Fort Roterdam, dengan menyediakan kawasan yang lebih luas untuk itu. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan peninjauan kembali gedung-gedung yang ada disekitar lokasi Benteng tersebut 2. Memaksimalkan peran dan fungsi setiap gedung yang ada dalam kompleks Benteng Fort Misalnya saja dengan menyediakan toko-toko

Rotterdam untuk kepentingan Seni Budaya.

souvenir atau cinderamata, dan menyediakan panggung serbaguna untuk kepentingan seni tradisi budaya. 3. Menjadikan Benteng Ford Rotterdam sebagai salah satu „Land Mark Kota Makassar‟. 2. Arsitektur Masjid Al-Markaz (Kec.Bontoala) Arsitektur masjid merupakan perpaduan dari Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjid Katangka Gowa dan rumah adat Bugis-Makasar. Pendirian masjid diatas lahan seluas 10 hektar, yang terletak di jalan Masjid Raya no. 57 Makasar. Bangunan utama masjid ini terdiri atas tiga lantai dengan luas keseluruhan 6.932 m2 dengan perincian luas lantai satu 2.932 m2, lantai dua 2.916m2, dan lantai tiga seluas 1.100 m2. Tinggi menara mencapai 84 meter dengan ukuran 3 x 3 m. ika bangunan masjid dilihat dari arah depan atau dari sebelah timur,
Gambar 8-7 Masjid Al-Markaz, Makassar

tampak perpaduan arsitektur Timur Tengah dan arsitektur lokal. Terdapat lima menara di sekeliling masjid, yang salah satu di

antaranya tinggi menjulang hingga 84 meter. Dalam bidang keagamaan, Masjid Al-Markaz telah menjadi pusat ibadah umat. Banyak jamaah dari dalam dan luar kota melaksanakan shalat lima waktu di masjid ini. Apalagi pada hari-hari besar Islam, jumlah jamaah membeludak, melebihi hari-hari biasa. Secara keseluruhan, masjid ini mampu menampung sebanyak 10.000 jamaah. Dan bila memanfaatkan halamannya untuk kegiatan ibadah atau kegiatan keagamaan, diperkirakan bisa mencapai 50.000 jamaah. Masjid ini juga disebut-sebut sebagai salah satu yang termegah di kawasan Asia Tenggara, karena bentuk fisiknya yang memang begitu megah. Arahan pemanfaatan ke depan dari Masjid Al MArkaz ini adalah : 1. Menjadikan Al Markaz sebagai pusat interaksi dan integrasi sosial masyarakat, dengan memanfaatkan ketersediaan lahannya yang cukup luas. 2. Mendayagunakan Masjid Al Markaz sebagai pusat pengembangan nilai-nilai religious dan keIslaman melalui peningkatan intensitas kajian-kajian keber-Agamanan dan studi-studi Islam lainnya. 3. Menjadikan Masjid Al Markaz sebagai pusat pendidikan dan pembelajaran Islam melalui peningkatan kapasitas perpustakaan dan studi-studi literal lainnya. 3. Benteng Somba Opu Benteng Somba Opu adalah salah satu bangunan tembok besar yang dibangun mengelilingi kompleks kerajaan Gowa yang terletak di Jalan Daeng Tata, Kelurahan Somba Opu, Kecamatan Tamalate. Benteng ini dibangun pada abad ke-XV oleh Raja Gowa Daeng Marante Tuparisi Kallonna. Benteng tersebut merupakan pusat pemerintahan, perniangaan dan pelayaran kerajaan Gowa di masa lampau VIII - 8

hingga masa berkuasanya raja Gowa ke XVI Sultan Hasanuddin yang diberi julukan oleh Belanda “Ayam Jantan dari Timur”. Benteng Somba Opu pernah menjadi ajang pertempuran sengit antara serdadu Belanda dan prajurit kerajaan Gowa pada masa itu yang disebut “Perang Makassar” terbukti dengan terdapatnya meriam yang jumlahnya kurang lebih 272 buah untuk melindungi benteng termasuk satu meriam yang diberi nama “Anak Makassar” dan 30.000 peluru meriam yang ditembakkan oleh VOC. Benteng Somba Opu terletak dibagian selatan kota Makassar ± 7 km dari pusat kota. Nama lengkap Kareng Pattingalloang adalah Imangadacinna Daeng Sitaba yang merupakan putra Raja Tallo I bernama I Mallingkung Daeng Manyonri dan ibunya bernama I Wara. Karaeng Pattingalloang walaupun terkenal dengan ketegaran dan kewibawaannya akan tetapi ia tidak berhasil menjabat Raja Tallo menggantikan ayahnya. Walaupun demikian saudara dari karaeng Pattingalloang yang kemudian menjabat sebagai Raja Tallo bernama Mangkubumi yang menggantikan Ayahnya. Dalam arah perencanaan pola ruangnya kawasan cagar budaya tetap dipertahankan eksistensinya sebagai kawasan yang bernilai sejarah, budaya dan pendidikan. 1. Merekonstruksi bagian-bagian Benteng Somba Opu yang terancam rusak dengan memperhatikan sepenuhnya aspek-aspek historis. Sejauh mungkin tidak sampai merusak orisinilitas bangunan; 2. Merevitalisasi keberadaan rumah-rumah budaya dari Kabupaten/Kota di Sulsel yang ada di sekitaran Lokasi Benteng agar bisa mendukung peran kultural-historisnya; 3. Memperkaya titik-titik informasi di kawasan Benteng Somba Opu sebagai pengenalan komprehensif dari sejarah Benteng tersebut; 4. Memperhatikan sepenuhnya kondisi eksisting sekitar Benteng Somba Opu, terutama sedimentasi sungai Jeneberang agar tidak mengancam keberadaan Benteng tersebut. 2. Industri (KIMA) Kawasan industri adalah kawasan yang di dalamnya difungsikan untuk kegiatan industri. Kawasan Industri Makassar tertetak di sebelah Utara Kota Makassar dengan luas 759,05 Ha dan akan dikembangkan menjadi 703 Ha merupakan tempat yang sangat ideal dan strategis untuk mendirikan berbaga industri karena lokasinya berada disekitar 5 km dari Pusat Kota dan pelabuhan Laut Makassar serta 10 km dari Bandara Hasanuddin. Areal Kawasan Indusrti Makassar menyediakan kapling tanah matang yang tetah ditengkapi dengan sarana dan
Gambar 8-9 KIMA, Makassar Gambar 8-8 Somba Opu, Makassar

prasarana. Kapling yang disediakan bervariasi antara 0,5 Ha - 5,0 Ha dan masing-masing dilengkapi dengan fasilitas Lampu Penerangan, Jalan, Air Bersih dan Saluran Pembuangan Air Limbah serta dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan kemudahan antara lain: . 1. Tersedia Pusat pengolahan Limbah dengan kapasitas 3000 m3/detik. 2. Tenaga listrik PLN dengan kapasitas 60.000 KVA. 3. Jaringan telepon 2.000 SST. 4. Sarana jalan yang dilengkapi dengan lampu. VIII - 9

5. Instalansi penglohanan limbah 6. AMDAL kawasan Industri Dalam arah perencanaan pola ruang Kawasan Industri Terpadu, dilakukan upaya pemanfaatan ruangruang sebagai berikut : 1. Peningkatan kapasitas sarana dan prasarana jalan penghubung untuk mendukung akselerasi di Kawasan KIMA 2. Perluasan kawasan KIMA melalui pengembangan kawasan serupa di wilayah Gowa , Maros dan Takalar, sebagai bentuk antisipasi terhadap peningkatan investasi di Kota Makassar. 3. Pariwisata Kawasan pariwisata adalah kawasan yang secara anatomi ruang memiliki keunikan atau potensi tersendiri secara alami, sehingga dalam pemanfaatan dan pengolaannya dapat bernilai ekonomi. Kawasan pariwisata juga merupakan medan magnet yang cukup kuat untuk menarik para wisatawan, dan secara fisik ruangnya dapat menjadi jati diri atau innerbeauty. Dengan
Gambar 8-10 Pantai Losari, Makassar

branding

kawasan

”Gowa

Makassar yang

Tourism dan

Development”,

merupakan

kawasan

diarahkan

diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan bisnis dan pariwisata yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid. Mencakup wilayah Kecamatan Tamalate dan Kecamatan Mariso. Objek-objek pariwisata di Makassar, ada yang bersifat kultural sebagai indentitas kota Makassar, objek wisata Alam serta objek wisata Leisure sebagai bentuk akomodasi ‟Makassar Kota Metropolitan‟. Nilainilai objek wisata budaya yang sarat nilai-nilai lokal akan diintegrasikan agar saling mendukung dengan objek wisata moderen khas Metropolitan. Adapun strategi arahan pengembangan Pariwisata adalah : 1. Menciptakan ruang yang lebih nyaman, aman bagi para wisatamawan/pengunjung di Kota Makassar, terutama di sekitar kawasan pariwisata; 2. Menyediakan sebuah jaringan interkoneksitas antar kawasan pariwisata, melalui penyediaan sarana transportasi langsung yang nyaman dan efisien. 3. Menciptakan sebuah iklim integrasi antara berbagai jenis objek wisata yang ada, sehingga satu sama lain bisa saling mengisi dan melengkapi. 4. Mengendalikan pertumbuhan kawasan di sekitar lokasi objek pariwisata supaya bisa sepenuhnya memberi daya dukung yang maksimal terhadap keberadaan objek pariwisata tersebut. 4. Permukiman Perkembangan Kota Makasar sebagai Kota Metropolitan, telah mengarahkan kebijakan pengembangan kawasan pemukiman ke daerah-daerah pinggiran Kota. Selain karena keterbatasan ruang, kebijakan ini diambil sebagai bentuk antisipatif terhadap ancaman banjir. Maraknya kawasan pemukiman telah

menghadirkan titik-titik banjir di sejumlah tempat di Kota Makassar. Pembangunan kawasan pemukiman di pinggiran Kota ini juga sebagai bentuk implementasi tata ruang Metropolitan Mamminasata. Titik pengembanganya nanti akan berada di empat kawasan utama dengan keunggulan masing-masing. Secara umum, strategi pengembangan kawasan permukiman dalam 12 kawasan terpadu dilakukan dengan mengembangkan cara-cara progresif melalui program REVITALISASI, PEREMAJAAN VIII - 10

LINGKUNGAN secara TERBATAS dan TERUKUR dan ataupun MEMBANGUN BARU dari kawasan yang direncanakan sebagai kawasan permukiman serta mengembangkan sarana dan prasarana kawasan secara seimbang sesuai kebutuhan masyarakat setempat. 1. Mengendalikan sepenuhnya pertumbuhan kawasan pemukiman di pusat Kota dengan berlandaskan tata aturan pemanfaatan ruang yang ada; 2. Mendorong pengembangan kawasan pemukiman vertikal sebagai adaptasi terhadap keterbatasan lahan yang tersedia di kawasan perkotaan; 3. Mengembangkan strategi pengelolaan kawasan kumuh berat dan sedang di wilayah perkotaan, termasuk di sepanjang aliran kanal; 4. Mendorong arah pengembangkan kawasan pemukiman baru di daerah pinggiran Kota, melalui penyediaan berbagai fasilitas sarana dan prasarana penunjangnya; 5. Mengambangkan dan memaksimalkan pembangunan Kawasan pemukiman terpadu yang berada di Kecamatan Manggala dan Rappocini; 6. Mengendalikan dan membatasi perubahan fungsi di tiap-tiap kawasan yang sudah ada. D. RENCANA RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) Pulau Lakkang, yang merupakan kawasan delta Sungai Tallo itu, direncanakan sebagai kawasan lindung, yaitu kawasan yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai ruang terbuka hijau (RTH). Sumbangsih yang dikeluarkan adalah sebesar 55% dari luas kawasan lakkang seluruhnya (487,314 Ha.) Kawasan hijau yang berupa sempadan sungai terdapat di
Gambar 8-11 Pulau Lakkang

Kecamatan Tamalate,

Kota Makassar dan Kecamatan Palangga

dan Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Sedangkan

kawasan hijau yang terdapat di perbatasan Kota Makassar dan Kabupaten Maros terdapat di Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar dan Kecamatan Marusu, Kabupten Maros. Kawasan hijau yang terdapat di perbatasan Kabupaten Maros dan Kabupaten Gowa terdapat di Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros dan Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa. Kawasan hijau merupakan faktor penyisih untuk pengembangan wilayah. Secara garis besar, kosentrasi ruang terbuka hujau di Kota Makassar terletak di tiga kecamatan, yaitu : Kecamatan Manggala, Kecamatan Biringkanaya dan Kecamatan Tamalate. Di ketiga Kecamatan ini, perbandingan antara luas ruang terbuka hijau dengan peruntukan lainya masih cukup besar. 1. Kawasan Pusat Kota : Mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif dipekarangan; Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang garis pantai barat dan utara kota; Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman serta pengadaan RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa kawasan; Meningkatkan RUANG TERBUKA HIJAU di daerah permukiman padat; Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur; Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, pinggir sungai terutama pada lingkungan padat. 2. Kawasan Pemukiman Terpadu : Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif di pekarangan rumah; VIII - 11

Mempertahankan lahan pemakaman dan lapangan olah raga yang ada; Meningkatkan ruang terbuka hijau di daerah permukiman padat; Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman serta pengadaan RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa kawasan; Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, pinggir sungai terutama pada lingkungan padat; Mendorong perilaku hijau bagi segenap penduduk di kawasan pemukiman terpadu. 3. Kawaan Pelabuhan Terpadu : Mendorong peningkatan ruang terbuka hijau pada areal reklamasi pengembangan pelabuhan Sukarno Hatta, yang sekaligus berfungsi sebagai sarana sosialisasi; Menata bagian hilir muara Sungai Tallo; Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif di pekarangan; Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman serta pengadaan RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa kawasan; Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, pinggir sungai terutama pada lingkungan padat. 4. Kawasan Bandara Terpadu : Mengamankan RTH di sekitar kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin dengan budi daya pertanian; Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan masuk Bandara serta ruang hijau produktif di pekarangan dan areal bandara; Mengembangkan penghijauan pada pusat-pusat kegiatan; Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur; Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, terutama pada lingkungan padat. 5. Kawasan Maritim Terpadu : Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang garis PANTAI UTARA Makassar; Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif di pekarangan; Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan PERMUKIMAN NELAYAN UNTIA serta pengadaan RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa wilayah; Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur; Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, terutama pada lingkungan padat 6. Kawasan Industri Terpadu : Menata jalur hijau di sepanjang JALAN TOL Ir. Sutami; Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan dalam kawasan; Mendorong tersedianya ruang terbuka hijau yang lebih seimbang pada areal kawasan industri; Melestarikan taman-taman lingkungan di dalam kawasan industri dan kawasan permukiman sekitarnya serta pengadaan RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa kawasan; VIII - 12

Mendorong penanaman pohon pada halaman rumah, ruas jalan, pinggir sungai terutama pada lingkungan padat. 7. Kawasan Pergudangan Terpadu : Menata jalur hijau di sepanjang jalan tol Makassar; Menata bagian hilir muara Sungai Tallo; Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan dalam kawasan; Mendorong tersedianya ruang terbuka hijau yang lebih seimbang pada areal kawasan industri; Melestarikan taman-taman lingkungan di dalam kawasan pergudangan dan kawasan permukiman serta pengadaan RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa wilayah. 8. Kawasan Riset Pendidikan Tinggi Terpadu : Menjaga kelestarian dan penghijauan di kawasan Riset dan Pendidikan Tinggi Terpadu Tamabiring; Mengembangkan dan mendorong penghijauan di Pusat-Pusat Kegiatan Riset dan Pendidikan Tamabiring; Meningkatkan ruang terbuka hijau di daerah permukiman yang ada disekitar Kawasan; Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur; Mendorong Aktifitas riset dan kegiatan pendidikan yang bernuansa penghijauan. 9. Kawasan Bisnis dan Pariwisata Terpadu : Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang garis PANTAI BAGIAN BARAT MAKASSAR; Menata bagian hilir MUARA SUNGAI JENEBERANG dan BALANG BERU; Meningkatkan penghijauan didaerah sekitar danau tanjung bunga (Sungai Balang Beru) guna menjadi wadah rekreasi dan sosialisasi warga; Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif di pekarangan; Mempertahankan lapangan olah raga yang ada; Meningkatkan ruang terbuka hijau di daerah permukiman padat sekitar kawasan pengembangan kota tanjung bunga; Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman serta pengadaan RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa kawasan sekitar kota Tanjung Bunga; Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur. 10. Kawasan Bisnis Global Terpadu : Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang garis PANTAI BAGIAN BARAT MAKASSAR; Menata dan mengembangkan kawasan hijau baru dari proses REKLAMASI PANTAI LOSARI; Menata bagian Hilir Muara KANAL KOTA; Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan; Meningkatkan ruang terbuka hijau melalui pembuatan hutan dan taman-taman kota secara seimbang dalam kawasaan global terpadu; Mengembangkan Center Point of Indonesia, yang nantinya akan menjadi sentrum Kawasan Hijau Terbuka di Pusat Kota.

VIII - 13

11. Kawasan Energi Center Memaksimalkan pemanfaatan ruang kosong di sekitar wilayah muara Sungai Tallo untuk penghijauan; Menata jalur hijau berbunga di sepanjang jalan kawasan Energi Center; Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur. 12. Kawasan Olahraga Terpadu Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang garis PANTAI BAGIAN BARAT MAKASSAR; Menata bagian hilir MUARA SUNGAI JE‟NEBERANG; Meningkatkan penghijauan di dalam areal pengembangan kawasan; Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif pada pusatpusat kegiatan; Mendorong pembentukan taman-taman kota sebagai wadah sosialisasi warga; Meningkatkan ruang terbuka hijau di pusat-pusat kegiatan.

VIII - 14