BAB 1 KONSEP TEORI Pada bab ini akan dibahas mengenai konsep teori yang memuat: Konsep Lansia

, Konsep dan Asuhan Keperawatan Klien Dengan Fraktur. 1.1 Konsep Teori Lansia 1.1.1 Definisi Menua (= menjadi tua = aging) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan – lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri / mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Darmojo, 2004; 3)\ Menurut pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU no 13 tahun 1998 dikutip dari Maryam (2008:32) tentang kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun. Lansia masa dimana proses produktifitas berfikir berakhir, mengingat, menangkap dan merespon sesuatu sudah mulai mengalami penurunan secara berkala (Muhamad:15). Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia menurut Keliat (1999) dikutip dari Maryam (2008:32). 1.1.2 Batasan Lansia Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), lanjut usia meliputi: 1) 2) 3) 4) Usia pertengahan (middle age) ialah kelompok usia 45 sampai 59 Lanjut usia (elderly) antara 60 – 74 tahun Lanjut usia tua (old) antara 75 – 90 tahun Usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa anak, masa dewasa dan masa tua (Nugroho, 1992). Tiga tahap ini berbeda baik secara biologis maupun psikologis. Memasuki masa tua berarti mengalami kemuduran secara fisik maupun psikis. Kemunduran fisik ditandai dengan kulit yang mengendor, rambut memutih, penurunan pendengaran, penglihatan memburuk, gerakan tahun.

1.1.3 Proses Menua

1

lambat, kelainan berbagai fungsi organ vital, sensitivitas emosional meningkat dan kurang gairah. MeskIpun secara alamiah terjadi penurunan fungsi berbagai organ, tetapi tidak harus menimbulkan penyakit oleh karenanya usia lanjut harus sehat. Sehat dalam hal ini diartikan: 1) 2) 3) Bebas dari penyakit fisik, mental dan sosial, Mampu melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari, Mendapat dukungan secara sosial dari keluarga dan masyarakat Akibat perkembangan usia, lanjut usia mengalami perubahan – perubahan yang menuntut dirinya untuk menyesuakan diri secara terus – menerus. Apabila proses penyesuaian diri dengan lingkungannya kurang berhasil maka timbulah berbagai masalah. Hurlock (1979) seperti dikutip oleh Munandar Ashar Sunyoto (1994) menyebutkan masalah – masalah yang menyertai lansia yaitu: 1) 2) 3) 4) 5) Ketidakberdayaan fisik yang menyebabkan ketergantungan pada Ketidakpastian ekonomi sehingga memerlukan perubahan total dalam Membuat teman baru untuk mendapatkan ganti mereka yang telah Mengembangkan aktifitas baru untuk mengisi waktu luang yang Belajar memperlakukan anak – anak yang telah tumbuh dewasa. orang lain, pola hidupnya, meninggal atau pindah, bertambah banyak dan Berkaitan dengan perubahan fisk, Hurlock mengemukakan bahwa perubahan fisik yang mendasar adalah perubahan gerak. Lanjut usia juga mengalami perubahan dalam minat. Pertama minat terhadap diri makin bertambah. Kedua minat terhadap penampilan semakin berkurang. Ketiga minat terhadap uang semakin meningkat, terakhir minta terhadap kegiatan – kegiatan rekreasi tak berubah hanya cenderung menyempit. Untuk itu diperlukan motivasi yang tinggi pada diri usia lanjut untuk selalu menjaga kebugaran fisiknya agar tetap sehat secara fisik. Motivasi tersebut diperlukan untuk melakukan latihan fisik secara benar dan teratur untuk meningkatkan kebugaran fisiknya. Berkaitan dengan perubahan, kemudian Hurlock (1990) mengatakan bahwa perubahan yang dialami oleh setiap orang akan mempengaruhi minatnya terhadap perubahan tersebut dan akhirnya mempengaruhi pola 2

(Rahardjo, 1996)

hidupnya. Bagaimana sikap yang ditunjukkan apakah memuaskan atau tidak memuaskan, hal ini tergantung dari pengaruh perubahan terhadap peran dan pengalaman pribadinya. Perubahan ynag diminati oleh para lanjut usia adalah perubahan yang berkaitan dengan masalah peningkatan kesehatan, ekonomi/pendapatan dan peran sosial (Goldstein, 1992) Dalam menghadapi perubahan tersebut diperlukan penyesuaian. Ciri – ciri penyesuaian yang tidak baik dari lansia (Hurlock, 1979, Munandar, 1994) adalah: 1) Minat sempit terhadap kejadian di lingkungannya. 2) Penarikan diri ke dalam dunia fantasi 3) Selalu mengingat kembali masa lalu 4) Selalu khawatir karena pengangguran, 5) Kurang ada motivasi, 6) Rasa kesendirian karena hubungan dengan keluarga kurang baik, dan 7) Tempat tinggal yang tidak diinginkan. Di lain pihak ciri penyesuaian diri lanjut usia yang baik antara lain adalah: minat yang kuat, ketidaktergantungan secara ekonomi, kontak sosial luas, menikmati kerja dan hasil kerja, menikmati kegiatan yang dilkukan saat ini dan memiliki kekhawatiran minimla trehadap diri dan orang lain. 1.1.3 Teori Proses Menua 1) Teori – Teori Biologi a) Hayflick Limit Teori (Biological Clock = Genetic Theory = Tiap spesies di dalam inti sel mempunyai suatu jam genetik yang telah diputar menurut suatu replikasi Jam ini menghitung mitosis dan menghentikan replikasi. Jadi menurut konsep ini kita akan meninggal dunia meskipun tidak disertai kecelakaan lingkungan atau penyakit Teori ini didukung oleh kenyataan mengapa beberapa spesies mempunyai perbedaan umur harapan hidup yang nyata. Secara teoritis dapat dimungkinkan kita memutar jam ini lagi meski hanya beberapa waktu dengan pengaruh – pengaruh dari luar berupa peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dll. b) The Error Theory Terjadi mutasi progresif pada DNA sel somatic, akan menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan sel. “Error Catastophe” adalah menua disebabkan oleh kesalahan – kesalahan beruntun dalam waktu yang lama, Celluler Aging)

3

terjadai kesalahan dalam proses transkripsi (DNA RNA maupun dalam proses translasi RNA protein/ enzim). Walaupun dalam batas tertentu kesalahan dapat diperbaiki, namun kemampuan untuk memperbaiki sifatnya terbatas pada kesalahan dalam proses transkripsi (pembentukan RNA) yang tentu menyebabkan kesalahan sintesis protein atau enzim yang dapat menghasilkan zat berbahaya. c) Wear And Tear Theory Menurut teori ini meninggal adalah suatu hasil penggunaan jaringan yang berlebihan karena mereka tidak dapat meremajakan kembali karena pemakaian secara terus nmenerus dan tak ada habis – habisnya. Teori ini mewakili kepercayaan bahwa suatu organ atau jaringan mempunyai program jumlah energi untuk mereka. Menua dapat dipandang sebagai suatu proses fisiologi yang ditentukan oleh jumlah pemakaian dan kerusakan yang seorang telah digunakan. d) Free Radical Theory Radikal bebas bersifat merusak karena sangat reaktif, sehingga data bereaksi dengan DNA, protein, asam lemak tak jenuh seperti dalam membran sel. Radikal bebas dihasilkan sebagai zat antara oleh proses respirasi mengubah bahan bakar menjadi ATP yang melibatkan oksigen. Zat tersebut adalah superoksida, peroksida, hidrogen dan radikal hidroksil. Walaupun tubuh mempunyai zat penangkal yaitu: superoksida dismutase (SOD), enzim katalase yang berunsur Fe dalam bentuk Haem, enzim glutation peroksidase. Rasikal bebas juga dapat dinetralkan menggunakan senyawa nonenzymatic seperti vitamin C, provitamin A (beta karoten), Vitamin E. Ada sebagian masih tetap lolos dan makin lanjut usia makin bertambah banyak sehingga proses pengrusakan terjadi, kerusakan makin lama makin banyak dan akhirnya sel mati. e) Immunity Theory Mutasi yang berulang atau perubahan protein pasca translasi, dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem imun tubuh mengenali dirinya sendiri (self recognition). Mutasi menyebabkan terjadinya kelainan pada antigen permukaan sel, maka hal ini menyebabkan sistem imun tubuh menganggap sel mengalami perubahan sebagai sel asing dan menghancurkannya.

4

Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial lanjut usia menurun. Fiber yang baru terbentuk kemudian ditangkap fiber yang tua membentuk rantai silang.Dipihak lain imun tubuh sendiri daya pertahanannya mengalami penurunan pada proses menua. Pada lansia terjadi penurunan efisiensi sistem imun pertahanan tubuh untuk mengankat agen rantai silang. Hasil akhir rantai silang adalah peningkatan kepadatan molekul kolagen yang menyebabkan penurunan kapasitas untuk transport nutrisi dan untuk mengangkut produk sisa dari sel. Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari lanjut usia. Teori ini menjelaskan penyebab utama arteriosklerosis. Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang dimiliki. Setelah agen menyerang seharusnya mitosis terjadi tetapi dalam hal ini tidak. sehingga menyebabkan rantai silang. penurunan sistem imun dan penurunan elastisitas pada usia lanjut. Terutama adalah kolagen yang relatif panjang dan lamban dihasilkan oleh fibroblast. yakni : 5 . baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga sering terjaadi kehilangan ganda (triple loss). Teori ini merupakan gabungan dari teori diatas. daya serangnya terhadap sel kanker menjadi menurun sehingga sel kanker leluasa membelah. c) Teori pembebasan (disengagement theory) Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia. f) Cross Linkage Theory Yang memisahkan struktur molekuler adalah loncatan bersama reaksi kimia. Teori ini menyatakan bahwa usia lanjut yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial. 2) Teori Sosiologi a) Aktivitas atau kegiatan (activity theory) Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah kegiatan secara langsung. Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia b) Kepribadian berlanjut (continuity theory) Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. seseorang secara berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya. Hal ini menyebabkan penurunan dari fungsi struktur.

b) Jung’s Theory of Individualism Teori ini menjelaskan bahwa kepribadian seseorang digambarkan tidak hanya berorientasi pada dunia luar (Extroved) tetapi juga pengalaman pribadi (introved) keseimbangan antar keduanya merupakan faktor yang penting untuk kesehatan mental. Kebutuhan individu mempunyai prioritas yang berbeda. responnya harus dihormati 3) Teori Psikologi a) Maslow’s Hierarchy of Human Needs Theory Menurut teori ini tiap individu mempunyai hirarki kebutuhan dan semua individu berusaha untuk memenuhinya. kesehatan biologis individu. kepercayaan. Respon lansia dari sekarang didasarkan pada kehidupan yang telah dialami. ketika seseorang telah memenuhi kebutuhan dasar maka akan mancapai kebutuhan yang lebih tinggi. Lingkungan juga menjadi lebih mengancam dan mungkin tidak mempunyai kemampuan lagi untuk berhubungan dengan lingkungan. dan harapan. tantangan atau ketakutan untuk melepaskan diri dari interaksi. 6 . Jika mereka memberikan reaksi terhadap stres. Demikian juga jika menderita penyakit maka kemampuan akan terbatas. tingkat ketrampilan motorik. Lansia mempengaruhi mungkin mengalami penurunan untuk kemampuan yang dengan kemampuannya berhubungan lingkungannya. Seseorang yang berusaha untuk memenuhi kebutuhan yang paling tinggi aktualisasi diri. Perjalanan proses menua. Setiap orang meliputi: kekuatan ego.1. kepribadian sering dimulai perubahan dari luar difokuskan dan perhatian kemandirian dirinya dimasyarakat ke yang lebih dalam seperti individu mencari jawaban dari dalam diri. kehilangan peran hambatan kontak sosial berkurangnya kontak komitmen Teori ini menjelaskan hubungan saling ketergantungan antara d) Person – Environment Fit Theory kemampuan suatu kelompok dalam masyarakat dan lingkungan sosial mereka. 2. pada situasi sekarang sering menghasilkan beberapa respon karena lansia adalah individual. 3. kognitif dan sensori persepsi. Kebutuhan dasar digambarkan dalam segitiga.

c) Course of Human Life Theory Fokus pada teori ini adalah mengidentifikasi dan pencapaian tujuan kehidupan seseorang menurut lima fase perkembangan. Individu dapat menerima prestasi dan ketrebatsannya. Lima fase perkembangan itu yaitu : (1) Masa Kanak – kanak: tidak mempunyai tujuan hidup yang realistis (digambarkan waktu tidak jelas) (2) Remaja dan dewasa muda: mulai mempunyai konsep yang spesifik mengenai tujuan hidup (3) Usia 25 tahun: mulai lebih konkret tentang tujuan hidup dan aktif bekerja untuk mencapainya (4) Usia pertengahan: melihat kebelakang kehidupannya.1. pencapaian tugas perkembangan memberi kontribusi kebahagian dan perasaan sukses individu. Tugas perkembangan khusus beberapa sumber yaitu: (1) Kematangan fisik (2) Pengharapan budaya masyarakat (3) Nilai dan aspirasi individual Tugas perkembangan lansia meliputi: (1) (2) (3) Pengaturan penurunan kekuatan fisik dan kesehatan Pengaturan dari pengunduran diri dan penurunan penghasilan Pengaturan meninggalnya suami / istri (4) Mendirikan masyarakat (5) Membuat perencanaan kehidupan fisik yang memuaskan 1. adaptasi tugas . Kunci dari perkembangan kesehatan adalah pemenuhan kebutuhan diri. mengevaluasi apakah mempunyai atau tidak prestasi dan sering mulai merubah tujuan hidup (rencana untuk selanjutnya) (5) Fase Terakhir (Usia lanjut): merupakan waktu untuk menghentikan mencapai cita – cita tujuan hidup d) Developmental Theory Setiap individu harus belajar tugas perkembangan yang khusus pada berbagai tingkat kehidupan.4 Stereotipe Psikologik Orang Lanjut Usai 7 perkumpulan kelompok umur.Menua dikatakan sukses ketika seseorang melihat ke dalam dan menilai dirinya lebih dari kehilangan atau pembatasan fisiknya.

. Biasanya pekerjaan waktu dulunya tidak stabil. Biasanya orang ini dikuasai oleh istrinya. dan tahu diri. bersifat agresif. mengalami masa pensiun dengan tenang. mengalami penurunan kondisi sosio – ekonomi. iri hati pada orang yang muda. Biasanya sifat – sifat ini dibawanya sejak muda. tak mempunyai inisiatif dan bertindak tidak praktis. Menjadi tua dianggapnya tidak ada hal – hal yang baik. Statistik kasus bunuh diri menunjukkan angka yang lebih 8 . memegang teguh pada pada kebiasaannya. Biasanya mempunyai perkawinan yang tak bahagia. curiga. mempunyai sedikit “hobby”. masih tahu diri. 3) Tipe Defensif Orang ini biasanya dulunya mempunyai pekerjaan / jabatan tak stabil. bersifat kompulsif aktif.. 4) Tipe Bermusuhan (Hostility) Memreka mengannggap orang lain penyebab kegagalannya. takut mati. tak berambisi. tidak iri hati pada orang yang berusia muda. malahan biasanya banyak makan dan minum. sering kali emosinya tak dapat dikontrol. bersifat selalu menolak bantuan. Ia senang mengalami pensiun.. Mereka menganggap kematian sebagai suatu kejadian yang membebaskannya dari penderitaanya. selalu mengeluh. juga dalam menghadapi masa akhir. b\namun mereka menerima fakta pada proses menua. 2) Tipe Ketergantungan (Dependent) Orang lansia ini masih dapat diterima di tengah masyarakat. senang mengadu untung pada pekerjaan – pekerjaan aktif untuk menghindari masa yang sulit / buruk. merasa menjadi korban dari keadaan. tidak suka bekerja dan senang untuk berlibur. humoristik. fleksibel (luwes). Mereka dapat menerima fakta – fakta proses menua. tetapi selalu pasif. tak mempunyai ambisi. 5) Tipe Membenci / Menyalahkan Diri Sendiri (Selfhaters) Orang ini bersifat kritis terhadap dan menyalahkan diri sendiri. dapat menikmati hidupnya.Biasanya sifst –sifat stereotipe para lansia ini sesuai dengan pembawaannya pada waktu muda. mereka sudah cukup mempunyai apa yang ada. Beberapa tipe dikenal adalah sebagai berikut: 1) Tipe Konstruktif Orang ini mempunyai integritas baik. mempunyai toleransi tinggi. Anehnya mereka takut menghadapi ”menjadai tua” dan tak menyenangi masa pensiun.

1.1. (5) Belum membudaya dan melembaganya kegiatan pembinaan kesejahteraan lansia. Keadaan Patologis Entropin. (2) Berkurangnya integrasi sosial lanjut usia. 2) Permasalahan khusus : (1) Berlangsungnya proses menua yang berakibat timbulnya masalah baik fisik. kelopak mata melengkung.tinggi persentasenya pada golongan lansia ini. (2) Makin melemahnya nilai kekerabatan sehingga anggota keluarga yang berusia lanjut kurang diperhatikan . (6) Adanya dampak negatif dari proses pembangunan yang dapat mengganggu kesehatan fisik lansia 1. 1. (4) Masih rendahnya kuantitas dan kulaitas tenaga profesional pelayanan lanjut usia.5 Permasalahan Yang Terjadi Pada Lansia Berbagai permasalahan yang berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan lanjut usia.6 Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Ketuaan 1) Hereditas atau ketuaan genetik 2) Nutrisi atau makanan 3) Status kesehatan 4) Pengalaman hidup 5) Lingkungan 6) Stres 1. ektropin Trikiasis. (3) Lahirnya kelompok masyarakat industri. terlantar dan cacat.7 Perubahan – Perubahan Pada Lansia 1) Perubahan Fisik Berbagai perubahan anatomik / fisiologik akibat proses menua dan akibat patologiknya Sistem/Organ Panca Indra: Mata Perubahan morfologik Lemak per orbital hilang Perubahan Fungsional Mata tampak cekung. (3) Rendahnya produktifitas kerja lansia. (4) Banyaknya lansia yang miskin. antara lain: 1) Permasalahan umum (1) Makin besar jumlah lansia yang berada dibawah garis kemiskinan. Ca-sel basa 9 . apalagi pada mereka yang hidup sendirian. mental maupun sosial.1. (5) Berubahnya nilai sosial masyarakat yang mengarah pada tatanan masyarakat individualistik. dihargai dan dihormati.

retina dan koroid Degenerasi neuron kortikal yang berhubungan dengan penglihatan (lob. Lokalisasi suara 4. karsinoma Gastrointestinal . Artritis temporomandibularis Ulkus peptikum menurun Anoreksia.mendadak) Penurunan lapang pandang Retina lepas Pandangan atas warna Penyakit vaskuler – oklusif: rusak a/v pusat retina Adaptasi gelap melambat a serebaral posterior Muscae voluntes (obyek mengambang dilapangan pandang) Persepsi visuo – spatial dan diskriminasi kurang akurat Keadaan konfusio karena Gangguam akomodasi penurunan sensori Lihat keatas terbatas Presbiakusis menyebabkan Efek psikologik ketulian gangguan: (isolasi. motilitas. Sudut terbuka (kronis) Presbiopia Pupil mengecil. ulkus oral. suara gemetar. Vibrasi membran basiler terpengaruh oleh gangguan elastisitas Akumulasi serumen berlebihan Atrofi strie vaskularis (produksi endolimfe terganggu) Degenerasi sel rambut si kanal semi sirkularis Perubahan atrofik dimukosa. refleks melambat Degenerasi makuler Gangguan ketepatan visual (penurunan visi . Deskriminasi suara di korteks Gangguan refleks kontrol postural Ketidakpastian dan Sindroma meniere’s ketidakpercayaan bergerak dalam gelap Gangguan ras mengecap Risiko keracunan gas/ dan membau makanan meningkat. Persepsi (terutama bila ada latar Tuli konduksi belakang bising) 3. Sensitivitas nada (frekuensi tinggi) 2. depresi) 1. meningkat Penutupan sudut (akut) 2. Lakrimalis Deposit lipid dikornea Konjungtiva sika Ruang depan mendangkal Hilangnya elastisitas dan sklerosis nukleus di lensa Perubahan Fungsional Ptosis senilis Epifora Arkus senilis Air mata menurun. risiko parotitis. dan absorbsi Produksi asam basal turun 10 . ulkus kornea (penurunan visi-lambat) Katarak Sudut filtrasi mengurang Glaukoma Tekanan intra okuler 1. refluks esofagitis. kornea keruh Perubahan degeneratif di otot okomodasi. nada meninggi. gigi dan rahang Karies dentis da resesi ginggiva Perubahan atrofik rahang Esofagus sampai Anus Atrofi mukosa. otot okoler intrinsik dan ekstrinsik Telinga Hidung. avitaminosis Varikosis sublingual dan hemorhagi Ca Larings (pria) dan post – cricoid (wanita) Sisa karies tertinggal.abses lakrimalis Sklerokeratitis nekrotikans. aklorhidria (meningkat setelah 60 th) Disfagia pseudobulber. malnutrisi. sepsis dental Fisura angularis. degeneratif neuronal (penthol pengecap <64% pada usia 75 tahun) Atrofi dan hilangnya elastisitas otot dan tulang rawan larings Keadaan Patologis Dakriosistitis. kelenjar dan otot intestinal Aliran darah dan aktivitas Gastritis atrofikans Perubahan nafsu makan Perubahan asimtomatik sekresi. anoreksia Hilangnya tanggapan terhadap refleks batuk dan menelan Lipatan suara menghilang.Sistem/Organ Perubahan morfologik Stenosis kel. curiga. Tenggorokan dan Lidah Degenerasi organ korti (hilangnya sel rambut) Hilangnya neuron di kokhlea (sel gangglion dan korteks temporal). kekuatan dan jangkuan turun Kesulitan adaptasi gigi palsu dan kesesuian gigi untuk menggigit Tersedak. iris. viterus.okspital).

kalau ada kaku/ distrosi karena kiposkiliosis. hiperplasia tunika intima a. Atrofi dan fibrosis tunika media. tunika media kaku dan fibrotik Degenerasi katup jantung. regurgitasi di M. mungkin akibat HT / merokok ”Venous return” di leher kiri sering terblok (periksa JVP dileher kanan) Sukar tentukan letak apeks.Sistem/Organ Perubahan morfologik enzim di usus dan hati menurun Perubahan Fungsional Stimulasi histamin menurun Produksi faktor instrinsik menurun Sindroma malabsorbsi menurun Keadaan Patologis Sindroma malabsorbsi menurun Implikasi fekal Divertikulitis Frekuensi anemia pernisiosa dan anemia gisi meningkat Intoksikasi obat dan makanan meningkat IHD/IHSS/Dekom. fibrosis dan amiloidosis miokardial. tak harus signifikan 2) Tak ada perubahan / degeneratif jantung yang spesifik akibat menua (tak ada ”penyakit jantung senelis”) 3) Secara umum: 4) Curah jantung menurun akibat isi sekuncup menurun akibatnya kecepatan kerja fisik menurun 5) Latihan fisik yang sama naikkan TD/denyut jantung orang tua> dari orang muda 6) Konfusio mental dan kelelahan menyebabkan haruskan meningkatkan akan penyakit jantung pada lansia (gejala ini lebih sering dibanding nyeri anginal / sesak napas) Kapasitas vital menurun (volume total tetap) Difusi oksigewn terganggu. Kordis/MVP? Aritmia kordis meningkat HT sistolik / diastolik meningkat Pseudo HT meningkat Hipotensi postural meningkat Penyakit jantung katup(A. vertebra. anemia pernisiosa dll (berat jantung berhubungan dengan berat badan) Ateroma. Sensitivitas dan efisiensi mekanisme self “cleansing” menurun. kekerapannya meningkat pada penuaan. klasifikasi / sklerosis yang kadang sampai septum interventrikulis Perubahan miokardial: ddeposit lipofuchsin. Kifosis dan peningkatan kekakuan dinding dada Kapasitas cadangan fungsional pernapasan IHD merupakan penyebab utama gagal jantung pada usia lanjut Sistem Respirasi Elastisitas alveoli / aktivitas silia / daya rekoil elastin menurun Alveoli koalesen. karsinoma. refleks batuk menurun. Fungsi baroreseptor menurun Katup kaku timbulkan bising: 1) Sistolik di A.M) meningkat Kardiovaskuler Arteri (termasuk aorta) memanjang dan berkelok Penebalan intima arteri meningkat. Koronaria “Brown athropy” hanya dalam hubungannya dengan keadaan patolgis yang sangat berat: malnutrisi. efisiensi respirasi menurun. sklerosis bronkhi dan jaringan penunjang Degenerasi epitel dan kelenjar bronkhi Osteoporosis (toraks. kostae) Penurunan elastisitas dan klasifikasi tulang rawan iga Kepekaan terhadap pneumonia meningkat COPD dan bronkitis kronis meningkat Infeksi akut meningkat Mudah gagal respirasi 11 .

Berkuran gnya ketepatan dalam gerakan halus dan gerak yang berubah cepat 2. konversi androgen menjadi estrogen di jaringan perifer menurun Estrogen post menopausal menrun insulin meningkat (kulaitati?) Noreprineprin menurun Parathormon menurun Vasopressin menurun Sistem lokomotorik: Otot Terjadi atrofi pada otot. tapi gejala klinis minimal. Tingkat disposal metabolik tiroksin Perubahan Fungsional terganggu. keterbatasan jangkauan dan kecepatan gerak. terutama ekstermitas distal Kelemahan ”patologik”: 1. anemia) Hipotermia. Fibrilasi atrium tak tanggap digitalis. Anemis. baik dalm jumlah atau ukurannya disebabkan oleh gangguan metabolik dan denervasi fungsional Penampilan seksual fertilitas menurun dan Massa otot menghilang Hilangnya berkas otot Hernia: ekstra dan intra abdominal Penurunan kekeuatan fisik:”kelemahan fisiologik” Disabilitis. hipotermia oleh karena hipotiroid Testosteron bebas (tak terikat menurun perlahan). karena hilangnya rekoil elasti dibatasi oleh meningkatnya kekakuan paru (fibrosis) dn hilangnya fleksibilitas dinding dada Penurunan aktivitas tiroid fungsional Keadaan Patologis Tuberkuosis paru (reaktivitas TB yang sudah sembuh ) Ca. kecuali dipicu penyakit lain. Gerakan yang satu melambat Diabetes mellitus meningkat Hipotensi potural meningkat Gangguan keseimbanmgan cairan Pengecilan otot. kelembutan aliran gerakan dari gerakan satu ke gerakan lain menghilang 3. dan Vitamin D 2. kaku sendi dan mekanisme sentral penampilan sensori – motorik: 1. miopati kortison 3.bronkus. anemia / anoksia 4. sbg akibat dari gabungan dari kelemahan otot. Pada keduanya manifestasi atipik (debilitas nonspesifik. BMR dan ambilan iodin radioaktif menurun. Karsinomatosis 12 . K. Endokrin: tirotoksikasis. Ketepata n waktu dalam gerakan jadi tak teratur. sindroma cushing. gagal jantung dan osteoporosis oleh karena hipertiroid. Metabolisme: defisiensi Ca. Sistem Endokrin Ubahan T4 mjd T3 menurun. gonadotropin meningkat. emboli paru meningkat Terpicunya penyakit paru akibat penyakit jantung/lain Miksedema 3x4 tirotoksikosis. Penyakit kardio respirasi. paranoid oleh karena hipotiroid. Kelenturan hanya sedikit berubah.Sistem/Organ Perubahan morfologik Kelemahan otot interkostal dan aksesori pada pernapasan.

Gangguan kesadaran sensorik (terhadap rasa nyeri. agilitas menta. lebih kaku dalam memandang persoalan. fraktur penyakit paget (Osteitis deformans) Tonjolan tulang jari kaki. kifosis. plak senilis dan degenerasi granulova kuole Berbagai perubahan degeneratif terjadi dengan frekuensi meningkat pada individu >60 tahun. mental. disusul bangkaknya batang dendrit dan badan sel. eosinofil dan badan levy 7. dingin. perasaan posisi sendi) Tampilan sensori – motor untuk menghasilkanketepatan melambat Gangguan mekanisme mengontrol postur menurun juga daya antigravitasi. sentuh. tapi tak berhubungan satu dengan lainnya Korpora amilasea terdapat dimana – mana dijaringan Tanggapan intelektual. atrofi serebral (berat otak menurun 10% antara usia 30 -70 tahun) Histologik : Mula – mula secara setempat –setempat tojiolan dendrit di neuron menghilang. Pada semua sel deposit lipofuchsin (pigmen “wear&tear” yang terbentuk di sitoplasm. Gangguan persepsi. miopati. Inklusi hyalin. Nyeri tulang. Kekusutan neurofibril er. tangkah laku dam motorik dari jenis deteriorisasi mental presenil dan senil) Gejala menuduh pada parafrenia Sistem Syaraf – Syaraf Pusat Makroskopis : Penebalan meningeal. dan integrasi input sensorik menurun Memori jangka pendek dan kemampuan belajar menurun Kurang resilien. panas.Sistem/Organ Tulang Perubahan morfologik Osteoporosis: penipisan trabekulae dan melebarkannya rongga tulang (cancelous) Perubahan Fungsional dulu sebelum mulai gerakan lain Asimtomatik atau nyeri punggung ringan. RNA. mungkin berasal dari lisosom atau mitokondria) Di neuron: 5. nitokondri a dan enzim sitoplasma menghilan g 6. daya pemikiran abstrak menghilang. Secara progresif terjadi fragmentasi dan kematian sel. keseimbangan dan gerakan (kecepatan kondusif saraf menurun ±10% pada usia 75 tahun) Daya nilai dan lokalisasi rasa nyeri rusak Predisposisi jatuh cedera Instabilitas postural dan Demensia multi – infark Episoda iskemik otak sepintas Berbagai jenis stroke (mengancam. bungkuk dan tinggi badan menurun Keadaan Patologis Osteoporosis meningkat Nyeri punggung berat. berkembang dan lengkap) 13 . kifosos dan fraktur (densitas tulang tak cukup) Osteomalasia: kurangnya penulangan pada matriks tulang normal. sub-luksasi sendi tangan/kaki Telapak kaki nyeri dan masalah kaki lain Penurun cadangan intelektual merupakan predisposisi keadaan konfusio akut Demensia (suatu defisit dalam memori dan intelek serupa dengan yang terjadi pada penuaan normal. Terjadi lebih dini dan dengan intensitas tinggi menuju ke perubahan disorientasi. lebih egois dan introvet. analisis.

(Ca klinik jauh lebih jarang) Perubahan Fungsional Keadaan Patologis Syaraf Otonom Predisposisi terjadinya hipotensi postural (asimtomatik) Tanggapan terhadap manuver Valsava berubah Sensitivitas barorefleks menghilang Regulasi suhu sebagai tanggapan atas panas / dingin terganggu Penilaian atas nyeri viseral menghilang Gerakan alimeter terganggu Hipotensi postural simtomatik Otoregulasi di sirkulasi serebral rusak Mudah terjadi jatuh (falls) Predisposisi hipotermia dan heat stroke Penggambaran secara keliru penyakit Sistem Urogenital Sistem Hematologi Pertumbuhan tak berubah Sumsum RBC/WBC tulang Efisiensi ginajal dalam pembuangan sisa metabolisme terganggu dengan menurunnya massa dan fungsi ginjal 1. terutama DM dan alkoholisme Penebalan membaran basalis kapsula bowman dan terganggunya permeabilitas Perubahan degeneratif tubuli Penurunan jumlah dan atrofi nefron Perubahan vaskuler pengaruhi pembuluh darah pada semua tingkat. Tingkat filtrasi glomerulus dan kapasitas ekskresi maksimum menurun dengan proporsi sama Ginjal yang menua masih dapat mempertahankan mekanisme homeostasis normal dan ekskresi sisa metabolisme dalam batas tertentu. sisititis) Penyakit prostat Gangguan ginekologik Retensio urin Inkontinensia urin GGA/GGK Frekuensi anemia meningkat 14 . Tanggapan otonom mungkin melemah pada lansia akibat berkurangnya sintesis dan hidrolisis transmiter saraf tersebut dikombinasi dengan hilangnya reseptor Disfungsi otonom menyertai sindrom Shy-Drager. Jumlah nefron tinggal 50% pada akhir rentan hidup rata – rata 2. parkinsonisme. mulai dari penbalan inti pembuluh darah kecil sampai hialinisasi arteriol dan hiperplasia inti arteri besar Atrofi prostat dan otot dengan area fokus hiperplasia noduler benigna terdapat pada 75% pria > 90 tahun. penyakit serebrovaskuler dan berbagai neuropayi. katekolamin. degenerasi amiloid dan hialin Pembentukan anteroma meningkat dengan makin lanjutnya usia. infeksi atau gangguan curah jantung yang relatif ringan akan mempercepat gagal ginjal Absorbsi besi/folat/B12 menurun Batu ginjal Infeksi ginjal (pielonefritis.Sistem/Organ Perubahan morfologik otak Perubahan vaskuler: 8. Karenanya dehidrasi. patogenesis multifaktorial Transmisi saraf terganggu pada asetilkolin. Fibrosis intima dan media siderosis. tapi kurang efisiensi dan perlu waktu lebih lama dengan cadangan minimal. dopamin dan noradrenalin. Aliran darah ginjal tinggal 50% pada usia 75 tahun 3.

kutil seboroik Elastisitas kulit menurun Purpura sinilis Bercak Campell de Morgan Berkurangnya isolasi dan bantalan Penurunan fungsi sendi Hilangnya elastisitas dan mobilitas sendi Kekakuan sendi dan cenderung menjadi nyeri/sakit Rasa percaya dan ketepatan gerak berkurang Kesulitan dalam gerak rumit. paronikia Rematologi Degenerasi tulang rawan. Arthritis rhematoid: suatu kelainan kon Sisten Imunologik Badan Menyeluruh Timus menghilang Limfosit B/T tetap kualitas berubah tapi Penyakit oto-imun kanker meningkat Nyeri punggung berat dan Penurunan tinggi badan (postur bungkuk karena kifosis) Berat badan menurun Peningkatan ratio lemak/BB bersih Penurunan air tubuh total Mudah terjadi dehidrasi 2) Perubahan Psikososial Perubahan psikosial meliputi: (1) Pensiun: bila seseorang pensiun dia akan kehilangan finansial. Sel gepeng Dekubitus Hipotermia Berbagai penyakit arthritis menyebabkan kakauan sendi (ankilosis) dan kontaktur: 1.Sistem/Organ Kulit dan Integumen Perubahan morfologik mengandung lebih sedikit hemopoitik + tanggapan terhadap stimulus menurun Atrofi: Epidermis Kelenjar keringat Folikel rambut Degenerasi kolagen Perubahan pigmenter Hiperkeratosis epidermal Degenerasi : Kolagen Serat elastik Sklerosis arteriol Penurunan lemak subkutan Perubahan Fungsional Keadaan Patologis Kulit menipis. terutama bila bersamaan dengan adanya gangguan penglihatan Postur bungkuk. Kuku menipis. Osteoarthritis: begitu seringnya terjadi sehingga dianggap ”fisiologik” 2. kering. status. tinggi badan menurun. berubah warna Rambut menipis. pekerjaan/kegiatan (2) Merasakan/sadar akan kematian (3) Perubahan cara hidup (4) Penyakit kronis dan ketidakmampuan 15 . fragil. intertrigo. teman/relasi. Intra epidermal 2. Sel basal 3. mudah patah. beralur Lentigenesis senilis. walaupun GFR menurun Kesulitan menilai turgor Abrasi dan infeksi Pruritus. Ulkus Onikogrifosis dan gangguan kuku lain. dan distorsi lain yang disebabkan oleh atrofi / kelemahan rangka dan kelompok otot besar yang bertugas dalam pembentukan postur dan penopangan antigravitasi Penurunan fungsi imun “annate” Aktivitas sel T menurun Fungsi makrofag menurun Nyeri punggung ringan Nilai kreatinin cenderung normal. ligamen dan jaringan periartikuler Sinovia menebal dan terdapat hipertrofi villi Tulang rawan menjadi kuning dan keruh. pertumbuhamn lambat. pembentukan kista dan klasifikasi Keratosis solaris Karsinoma: 1. beruban. mungkin terjadi erosi dipermukaan atau perubahan biokimiawi yang mengarah terjadinya degenerasi mukoid.

perubahan gambaran diri. 2000). Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa (FKUI. terutama dalam tengkorak dan panggul. timbul kebutaan dan ketulian (6) Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik. atau inflamasi 3) Fraktur stres : terjadi pada tulang normal akibat stres tingkat rendah yang berkepanjangan atau berulang.3 Fisiologi Kerangka adalah rangkaian tulang yang mendukung dan melindungi beberapa organ lunak. juga disebut fraktur kelelahan (falique fraktur) dimana otot tidak dapat mereabsorbsi energi seperti berjalan kaki terlalu jauh.2 Konsep Teori Fraktur 1. perubahan konsep diri 3) Perkembangan Spiritual Perubahan spiritual meliputi: (1) Agama atau kepercayaan makin terintegrasi (2) Semakin matur dalam kehidupan keagamaan (3) Menurut Fowler (1991): perkembangan yang dicapai pada tingkat ini adalah berpikir dan bertindak dengan cara memberi contoh cara mencintai dan keadilan. 1. 4) Fraktur klavikula : fraktur yang terjadi sering disebabkan oleh jatuh / hantaman langsung pada bahu yang disertai cidera kepala dan cidera lordosis lorspinalis. 1. osteoporosis.2.(5) Gangguan saraf panca indera. 16 .2. Adapun fungsi lainnya yaitu (1) menahan seluruh bagian-bagian badan supaya jangan rubuh. 2001).2 Etiologi 1) Trauma : trauma pada anak-anak dan dewasa 2) Trauma patologis : akibat kelemahan tulang karena penyakit CA. (2) tempat melekatnya otot-otot dan untuk pergerakan tulang dengan perantaraan otot. 1998). (3) tempat pembuatan sel-sel darah terutama sel darah merah. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya (Suddarth. 1. (4) memberikan bentuk pada bangunan tubuh.1 Definisi Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang (Barbara Engram.2.

bardikinin Iskemia ↓ Eritema ↓ Dekubitus 17 .4 Patofisiologis Bila tulang yang hidup normal mendapat kekerasan yang cukup menyebabkannya patah. Periosteum terkelupas dari tulang dan terobek terus ke sisi berlawanan dari sisi yang mendapat trauma. Proses menua Penurunan Fungsi Tubuh Terganggunya sistem muskuloskeletal Kekuatan otot menurun Penurunan fungsi muskuloskeletal Trauma Fraktur Imobilisasi Menekan pada pembuluh darah Gangguan mobilitas fisik Penurunan vaskularisasi O2 menurun ↓ Metabolisme anaerob ↓ Asam laktat >> Terputusnya syaraf perifer Impuls nyeri ↓ Saraf aferen ↓ Spinal cord ↓ Talamus ↓ Korteks Gangguan Nyaman Nyeri Ansietas Spasme otot ↓ Respon peradangan keluarnya mediator radang histamine. Ruptur pembuluh darah di dalam tulang dan periosteum akan membentuk hematoma di sekeliling tempat fraktur. maka pasti timbul kerusakan hebat pada struktur jaringan lunak yang mengelilinginya.1. Darah juga keluar melalui celah periosteum ke otototot sekitarnya dan disertai pembengkakan dalam berbagai tingkatan.2.

5 Klasifikasi 1) Terbuka / Tertutup (1) Tertutup (clossed) bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. 3. atau fraktur segmental / sangat kominutif yang disebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa melihat besarnya ukuran luka. 2. Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat. Kerusakan jaringan lunak sedikit. transversal. Derajat I 1.1. Fraktur kontaminasi sedang c. 2) Komplit / Tidak Komplit Laserasi < 1 cm 2. Fraktur derajat III terbagi atas : 1. oblik atau kominutif ringan 4. Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau kontaminasi.2. Kontaminasi minimal b. meliputi struktur kulit. Fraktur kominutif sedang 4. Luka pada pembuluh arteri / saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa melihat kerusakan jaringan lunak. flap / ovulsi 18 . Derajat II 1. meskipun terhadap laserasi luas. otot dan neurovaskuler serta kontaminasi derajat tinggi. Luka < 1 cm 2. Gustillo) yaitu : a. tidak ada tanda luka remuk 3. (2) Terbuka (open / compound) bila terdapat hubungan antara fragmen luar dengan dunia luar Fraktur terbuka dibagi atas 3 derajat (menurut R. Kerusakan jaringan lunak. 3. Derajat III Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas. tidak luas. Fraktur sederhana.

trauma angulasi. bila garis patah tidak melalui Hairline fracture (patah retak Buckle fracture atau tonus penampang tulang atau melalui kortek tulang. garis patah Fraktur kompresi. bila garis patah melalui seluruh Fraktur tidak komplit. biasanya pada distal radius anak 3. trauma tarikan / fraksi otot pada inversinya di tulang contoh : fraktur patela. fraktur cruris dan fraktur tulang belakang 5) Bergeser / Tidak Bergeser (1) utuh (2) Fraktur Displaced (bergeser) terjadi pergeseran fragmen tulang yang disebut lokasi fragmen : Fraktur Undisplaced (tidak bergeser) garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak bergeser. rambut) 2. 4) Jumlah Garis Patah (1) (2) (3) Fraktur kominutif : garis patah lebih dari satu atau Fraktur segmental : garis patah > 1 tetapi tidak Fraktur multiple : garis patah > 1 tetapi pada tulang saling berhubung berhubungan pada satu garis patah disebut pola fraktur bifokal yang berlainan tempatnya contohnya : fraktur femur. Fraktur komplit. terutama rotasi. trauma angulasi Garis patah oblik. tulang panjang anak 3) Bentuk Garis Patah dan Hubungan dengan Mekanisme Trauma (1) (2) (3) (4) sponlosa (5) Fraktur ovulsi. trauma aksial fleksi pada tulang atau langsung Greenstick fracture. bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa di bawahnya. garis patah miring Garis patah spiral. mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang terjadi pada melignkari tulang 19 . seluruh penampang tulang fracture.(1) (2) 1. peristeumnya masih Garis patah melintang (tranversal).

Metastase tumor pada tulang 4. Gangguan endokrin 2) Lokal 1. Osteoporosis 2. (pergeseran yang membuat sudut) 3. Infeksi tulang 3.2. overlopping) 2. bila tak ada riwayat trauma berarti fraktur patologis 2) Jenis fraktur 3) Nyeri yang langsung dan menjadi lebih hebat karena benjolan dan tekanan pada daerah yang terkena 4) Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit 5) Nyeri tekan pada daerah fraktur 6) Perubahan bentuk 7) Hilangnya fungsi pada daerah yang cidera 8) Gerakan-gerakan yang abnormal 9) Krepitasi 20 Umum atau atau axim latus . Neuropatik (poliomyelitis) 3. Metabolis defisit vitamin D 4. 6) Fraktur Patologis Dislokasi atau longitudinal com contractionum (pergeseran searah sumbu dan Dislokasi Dislokasi (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh) Karena adanya penyakit lokal pada tulang. Desakan langsung dari aneorisma / dari tumor 1. maka kekerasan : panjang ringan saja pada bagian tersebut sudah dapat menyebabkan fraktur Penyebab fraktur patologis adalah : 1) 1.1.6 Manifestasi Klinis 1) Riwayat trauma. Tumor yang simplek seperti giant cell tumor / codioma yang ganas contoh sarkoma 2. Atropi tulang 6. Kongenital (tulang-tulang memang rapuh seperti osteogenesis infecta) 5. Kista 5.

7 Pemeriksaan Penunjang 1) 2) 3) 4) 5) 6) X-Ray untuk menentukan lokasi fraktur / trauma Bone scaning. berat badan pemberatnya 1/10 x BB Traksi kulit kebutuhan 3 ) Reduksi tertutup 4 ) Reduksi terbuka 3. berat badan pemberatnya ½ x BB Traksi kulit. ( Price & Wilson. menentukan kemungkinan tulang yang patah. 2. CT / MRI Scan : visualisasi Arteriogram : kemungkinan ada kerusakan vaskuler CBC (Complete Blood Count) kemungkinan fraktur juga mengidentifikasi jaringan lunak yang rusak (hemokonsentrasi) Cr (creatinin ) trauma otot meningkat Profil koagulasi (kondisi pembengkakan) terkait dengan hilangnya darah berbagai transfusi / trauma hepar 1. terdiri dari : 1. yang dialami permintaan spesifik untuk fraktur.10) Edem setempat 11) Shock disebabkan karena rasa nyeri yang hebat. 1995 ) / retensi – reduksi ( wilson. Imobilisasi ( sabiston. 1996 ) 2. Traksi tulang. kehilangan darah jaringan yang rusak 1. Berat traksi disesuaikan dengan spasme otot yang terjadi. 1985 ) 4. Pemulihan fungsi ( restorasi ) dan rehabilitasi 21 . Tomogram. Riwayat kecelakaan. jarak dekatnya. jenis kekuatan yang berperan dan deskripsi tentang kejadian tersebut oleh klien sendiri.2.2.8 Penatalaksanaan Prinsip penangganan fraktur terdiri dari : 1. Recognisi / pengenalan Pengenalan mengenai diagnosis pada tempat kejadian kecelakaan dan kemudian di RS. Reduksi / reposisi Pemulihan keselarasan anatomi tulang yang fraktur (mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasi anatomi) dengan cara 1 ) Reposisi 2 ) Traksi dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilsasi. 3.

Spasme / kram otot (setelah imobilisasi) 5) Keamanan Gejala : Hilang gerakan / sensasi.3 Tinjauan Asuhan Keperawatan 1. pengisian kapiler lambat. fraktur itu sendiri.1 Pengkajian 1.3. rotasi. Anamnesa 1) Apakah ada riwayat trauma ? 2) Kapan terjadinya trauma ? 3) Dimana terjadinya trauma ? 4) Apa jenis trauma yang terjadi ? 5) Berat ringan trauma ? 6) Arah trauma ? 7) Posisi dan ekstremitas yang bersangkutan ? 2. hipovolemia) Penurunan / tak ada nadi pada bagian distal yang cidera. terlihat kelemahan / hilang fungsi Agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri / ansietas atau trauma lain) 4) Nyeri / Kenyamanan Gejala : Nyeri berat tiba-tiba pada saat cidera (mungkin terlokalisasi pada area jaringan / kerusakan tulang :dapat berkurang pada imobilisasi). angulasi abnomal. dari pembengkakan jaringan nyeri) 2) Sirkulasi nyeri / ansietas) atau hipotensi (kehilangan darah) Takikardia (respos stres. atau terjadi secara sekunder. krepitasi (bunyi berderit). pemendekan.1. spasme otot Tanda : Hipretensi (kadang-kadang terlihat sebagai respons terhadap Tanda : Keterbatasan / kehilangan fungsi pada bagian yang terkena 22 . Pemeriksaan Fisik 1) Aktivitas / Istirahat (mungkin segera. pucat pada bagian yang terkena Pembengkakan jaringan atau masa hematoma pada sisi cidera 3) Neurosensori Kebas / kesemutan (parestesis) Tanda : Deformitas lokal. tak ada nyeri akibat kerusakan saraf. spasme otot.

Perilaku melindungi.3. kerusakan proses pikir) 4. ovulsi jaringan. Wajah tampak menahan nyeri (mata tak bersemangat.Tanda : Laserasi kulit. pupil. lain-lainnya 4. “tampak terpukul” gerakan atau menyebar. Perubahan pada tonus otot (dapat berkisar dari malas sampai kaku) 7.2 Rencana Asuhan Keperawatan 1. protektif 2. mondar-mandir. meringis) 5. dilatasi. Respon autonomik tidak terlihat pada nyeri stabil kronis (diaforesis.7 hari.8 hari Rencana : Panggul / pelvis 6. Diagnosa Keperawatan 1 Diagnosa Keperawatan : Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan respon peradangan keluarnya mediator radang histamine dan bradikinin Batasan Karakteristik : Mayor : Komunikasi (verbal atau kode) dari pemberi gambaran nyeri Minor 1. menarik diri dari kontak sosial. menangis. perdarahan. aktivitas perawatan diri dan tugas pemeliharaan / perawatan di rumah 1. perubahan warna pembengkakan lokal (dapat meningkat secara bertahap atau tibatiba) 6) Penyuluhan / Pembelajaran Gejala : Lingkungan cidera Pertimbangan : DRG menunjukkan rata-rata lama dirawat : femur 7. peningkatan atau panurunan frekuensi pernafasan) Tujuan : Nyeri pasien dapat diminimalkan atau hilang 23 . perubahan tekanan darah dan nedi.4 hari bila memerlukan pemulangan perawatan di RS memerlukan bantuan dengan transportasi. Memfokuskan pada diri sendiri 3. meringis) 6. Penyempitan fokus (perubahan persepsi waktu. Perilaku distraksi (merintih. mencari orang lain dan / atau terfiksasi atau menyebar.

menurunkan area tekanan lokal dan kelelahan otot 8) Dorong menggunakan teknik menejemen R : Memfokuskan kembali perhatian.Kriteria Hasil : 1) Menunjukkan tindakan santai. meningkatkan rasa kontrol dan dapat meningkatkan kemampuan koping dalam manajemen nyeri 9) Identifikasi aktivitas terapiutik yang tepat untuk usia pasien kemampuan fisik dan penampilan pribadi pilihan / pengawasan keefektifan intervensi tingkat ansietas dapat mempengaruhi presepsi / reaksi terhadap 24 . Perhatikan petunjuk nyeri non verbal (perubahan tanda vital dan emosi / perilaku) R : Mempengaruhi nyeri 5) Dorong pasien untuk mendiskusikan masalah sehubungan dengan cidera R : Membantu menghilangkan ansietas pasien dapat merasakan kebutuhan untuk menghilangkan pengalaman kecelakaan 6) Beri obat sebelum perawatan aktivitas R : Meningkatkan relaksasi otot dan meningkatkan partisipasi 7) Berikan alternatif tindakan kenyamanan R : Meningkatkan sirkulasi umum. menurunkan edema dan menurunkan nyeri 3) Hindari penggunaan sprei / bantal plastik di bawah ekstremitas R : Dapat meningkatkan ketidaknyamanan karena peningkatan produksi panas dalam balutan 4) Evaluasi keluhan nyeri / ketidaknyamanan. mempu berpartisipasi dalam aktivitas / tidur / istirahat dengan tepat 2) Menunjukkan penggunaan ketrampilan relaksasi dan aktivitas terapiutik sesuai indikasi untu situasi individual Intervensi dan Rasional : 1) Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring R : Menghilangkan nyeri dan mencegah kesalahan posisi tulang / tegangan jaringan yang cidera 2) Tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena R : Meningkatkan aliran balik vena. perhatikan lokasi dan karakteristik termasuk intensitas (skala 0 – 10).

dapat meningkatkan harga diri dan kemampuan koping 10) Selidikilah adanya keluhan nyeri yang tidak biasa / tiba-tiba atau dalam. Diagnosa Keperawatan 2 Diagnosa Keperawatan Batasan Karakteristik : Mayor a. contoh infeksi. Fisiologis Peningkatan frekuensi jantung Peningkatan tekanan darah Peningkatan frekuensi pernapasan Diaforesis Insomia Keletihan dan kelemahan Pucat atau kemerahan Mulut kering Gelisah Kedutan Berdebar-debar Sering berkemih b. Emosional Ketakutan Ketidakberdayaan Gugup Kurang percaya diri c. iskemia jaringan sindrom kompartemen 2. lokasi progresif / buruk tidak hilang dengan analgesik R : Dapat menandakan terjadinya komplikasi.R : Mencegah kebosanan. menurunkan ketegangan dan dapat meningkatkan kekuatan otot. Kognitif Tidak dapat berkonsentrasi Kurang kesadaran tentang sekitar Mudah lupa Konfusi Tujuan : : Ansietas sehubungan dengan prosedur tindakan medis (operasi pada kaki yang patah) 25 .

Diagnosa Keperawatan 2 Diagnosa Keperawatan Ditandai dengan : 1)Pasien lemah dan menyeringai 2)Ketidak mampuan bergerak 3)Pasien berbaring ditempat tidur 26 : Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan fungsi muskuloskeletal. rileks dan cemasnya berkurang. . mempu menanggulangi dan menggunakan sumber-sumber pendukung untuk memecahkan masalah yang dialaminya Kriteria Hasil : 1) Menyatakan kesadaran terhadap ansietas dan cara sehat untuk mengatasinya 2) Mengakui dan mendiskusikan takut 3) Tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat ditangani 4) Menunjukkan pemecahan masalah dan penggunaan sumber efektif Intervensi dan Rasional : 1) Kaji tingkat kecemasan klien R : Menentukan tindakan selanjutnya 2) Berikan kenyamanan dan ketenangan pada klien (temani klien. perhatikan rasa empati) R : Memudahkan penerimaan klien terhadap informasi yang diberikan 3) Berikan penjelasan pada klien tentang penyakit yang dideritanya perlahan.Pasien mengungkapkan perasaannya secara verbal. singkat dan mudah dimengerti R : Meningkatkan pemahaman klien tentang penyakit dan terapi untuk penyakit dan terapi untuk penyakit tersebut sehingga klien lebih kooperatif 4) Observasi tanda-tanda vital R : Mengetahui perkembangan klien secara dulu 5) Identifikasi sumber atau orang yang menolong R : Memberikan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri menghadapi masalah 2. tenang serta gunakan kalimat yang jelas. mengakui ketakutannya.

100%) (1) Mampu untuk bergerak dengan maksud tertentu dalam lingkungannya seperti mobilisasi ditempat tidur (2) Keterbatasan menggerakkan sendi-sendi ( Rentang gerak ) 2) Minor (50%-80%) (1) Adanya keterbatasan aktivitas (2) Malas untuk bergerak Tujuan Auhan Keperawatan Pasien dapat melakukan aktivitas atuau mobilitas : 1)Melakukan makan sendiri 2)Dapat mandi sendiri 3)Dapat berpakain sendiri 4) Dapat berjalan Kriteria Hasl : Individu akan : 1) Mendemontrasikan penggunaan mobilitas 2) Mendemonstrasikan teknik atau perilku yang memungkinkan melakukan aktivitas 3) Memmpertahankan atau meningkatkan kekuatan dan fungsi tubuh 4) Mengungkapkan pemahaman tentang situasi .tindakan dalam beraktivitas Implementasi 1) Jadwalkan aktivitas atau tindakan dengan periode waktu istirahat R: Meningkatkan penyembuhan dan membentuk kekuatan otot dan kesabaran 2) Anjurkan pasien untuk dapat berperan dalam kegiatan sehari-hari dengan keterbatasan yang dialaminya R: Peran serta pasien akan meningkatkan kemandirian dan perasaan akan pengendalian diri 3) Bantu untuk melakukan aktivitas atau ambulasi R: Sehingga penyembuhan terjadi aktivitas dibatasi dan ditingkatkan dengan perlahan sesuai dengan toleransi inividu 4) Kaji tanda-tanda vital R: Vital sign merupakan parameter untuk mengetahui perkembangan pasien 5) Ubah posisi secara periodik dan dorong latihan batuk atau nafas dalam alat yang sesui untuk meningkatkan 27 .Batasan Karakteristik 1) Mayor (80% .aturan .

R: Mencegah atau menurunkan insiden komplikasi kulit atau pernafasan seperti : dekubitus.kekuatan dan aktivitas yang mengandalkan BB juga penggunaan alat 7) Berikan perawatan kulit dengan cermat .message dengan pelembab R: Meningkatkan sirkulasi dan elastisitas kulit dan menurunkan resiko terjadinya ekskotiasi kulit 8) Periksa kembali kemampuan dan keadaan secara fungsional pada kerusakan yang terjadi R: Mengidentivikasi kemungkinan kerusakan secara fungsional dan mempengaruhi pilihan intervensi yang akan dilakukan 1.pneumonia 6) Konsul dengan ahli terapi fisik atau rehabilitasi spesialis R: Berguna dalam membenyuk aktivitas individual atau program latihan pasien dapat memerlukan bantuan jangka panjang dengan gerakan .3.3 Evaluasi 1) 2) 3) Fungsi tulang dapat diperbaiki atau distabilkan Komplikasi tidak terjadi AKS dapat terpenuhi sendiri atau dibantu orang lain 4) Keluarga memahami keadaan yang sebenarnya dan dapat terlihat dalam proses pemulihan 5) Proses / prognosis penyakit dan penanganan dapat dipahami dan mampu mengidentifikasi dan memanfaatkan sumber 28 .atelektasis.

1 2.2 RIWAYAT KESEHATAN 1) Status kesehatan umum selama lima tahun yang lalu: ± 2 tahun yang lalu pasien mengalami kecelakaan jatuh dari tangga ditempat kerja.BAB 2 TINJAUAN KASUS 2.1 PENGKAJIAN DATA BIOGRAFI Nama Klien Jenis Kelamin Alamat Umur Pendidikan Terakhir Agama Status Sumber Pendapatan Tanggal Masuk Panti Wredha Tanggal Pengkajian Dianosa Medis 2. T : Perempuan : Malang : 66 Tahun :: Kristen Katolik : Janda :: 10 Oktober 2007 : 25 April 2011 : Gerotik Indikasi Fraktur Patella Dextra . namun belum membaik. T tidak mempunyai keluarga sehingga dibawa oleh Romo ke Malang untuk mendapat pengobatan di pelayanan kesehatan dan mendapat tindakan reposisi menggunakan banded. Ny.2.2. 29 : Ny.

bulu dan lain sebagainya Obat – obatan Makanan Faktor Lingkungan 4) Penyakit lain yang pernah diderita Osteoatritis ± 4 tahun yang lalu 2. T di antar ke Panti Wredha Santo Yoseph Kediri. saat malam hari nyeri bertambah jika lutut digerakkan. Kalk 2. nyeri berkurang saat kaki diluruskan.3 RIWAYAT KELUARGA Genogram 66 tahun Keterangan: : Laki – laki hidup : Perempuan hidup : Laki – laki meninggal : Garis keturunan : Garis Pernikahan : Pasien 30 . Obat – obatan Yang Dikonsumsi (Sebelum MRS) No. NAMA OBAT 1.untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. B1 3. nyeri seperti ditusuk-tusuk. skala nyeri 4 (sedang). 2) Keluhan utama Pasien mengatakan lutut kanan rasa nyeri.2. B compleks DOSIS 1 pil 1 pil 1 pil KET setiap pagi setiap pagi setiap pagi 3) Alergi : : : Tidak mempunyai riwayat alergi obat-obatan Tidak mempunyai riwayat alergi makanan Tidak mempunyai riwayat alergi debu. oleh Romo Ny.

T dulu memiliki putra namun telah meninggal dunia. lauk pauk minum air putih dan teh. Cairan dan Elektrolit: Pemenuhan oksigenasi : pasien dapat bernafas dengan spontan. T di bantu oleh suster dan perawat. Aktivitas: lansia. Ny. gosok gigi 2x sehari.4 AKTIVITAS HIDUP SEHARI – HARI Pola Aktivitas Hidup Sehari – Hari Kemampuan Perawatan Diri 1. Ke WC 5. hanya duduk dikursi roda. aktivitas Ny. membuat Eliminasi: BAB ± 1 x per hari. T mengalami menopause pada usia 56 tahun. Ambulasi Independen √ √ Bantuan Alat Bantuan Orang Lain Bantuan Orang Lain & Peralatan √ √ √ √ Dependen 1) Oksigenasi. Mandi 3.30 3) peralatan 4) Aktivitas 5) Tidur siang Tidur Malam timbul 6) Personal Hygiene: Mandi 2x sehari. ganti pakaian setiap hari. Ny. Berpakaian 4. snack pagi jam 07. Pemenuhan cairan dan elektrolit : pasien dapat minum air putih teh 4-5 gelas per oral 2) Nutrisi: Lansia makan 3x per hari nasi. dan keramas 2x seminggu.: Perempuan Meninggal 2. Istirahat dan Tidur: : 2-3 jam : ± 6-7 jam kadang terbangun ditengah malam saat nyeri 31 . 7) Seksual: Usia Lansia 66 tahun masuk usia non produktif. berdoa. BAK 1-3 x per hari dengan bantuan orang lain dan keterampilam . Makan/Minum 2.30 dan sore jam 15.2. Transfering/Pindah 6.

8) Rekreasi: Ny.5 PENGKAJIAN PERSISTEM Keadaan Umum Tingkat Kesadaran GCS Tanda – Tanda Vital TB/BB 1) 1) 2) 3) 2) 1) Inspeksi 2) Perkusi 3) Auskultasi 1) Inspeksi 2) Palpasi Inspeksi Auskultasi tunggal. kaki disangga lurus. : Suara paru kanan dan kiri sama sonor. Kering(+) : Turgor kulit menurun. 4) Sistem Muskuloskeletal : 32 : Lansia tampak bersih dan rapi. ronkhi (-) : Tekstur kulit terlihat kendur. . kulit besisik (+). T merasa nyaman dengan kondisi sekarang (2) menerima dirinya (3) (4) Adaptasi Emosi : Stabil : Pasien mampu beradaptasi dengan lingkungan dan semua teman (5) Mekanisme Pertahanan Diri : Menghadapi masalah dengan menerima keadaannya dengan baik 2. dan berpakaian jarik : Composmentis : 4-5-6 : P : 88 x/menit N :20x/menit : Tidak Terkaji Sistem Kardiovaskuler : : Pergerakan dada simetris. suara S1 dan S2 TD:110/50 mmHG Konsep Diri : Pasien dapat (1) Persepsi Klien 3) Sistem Integumen : . 9) Psikologis: : Ny. dan perawat. suster. kasar. Palpasi : : Tidak ada pembesaran vena jugularis Sistem Pernapasan : Dada kanan dan kiri terlihat simetris. keriput.2. bekas luka (+) pergelangan kaki kiri. tidak ada retraksi otot bantu pernafasan. : vesikuler. wheezing (-). : Irama jantung teratur. memakai kursi roda. T mendapat hiburan dengan cara bersendagurau dengan teman panti.

MMT: 5 2 Keterangan: 5 : gerakan involunter (+). tanpa beban 2 : gerakan involunter (+) 1 : gerakan involunter (-) 5) 6) Inspeksi Perkusi Auskultasi 7) Reflek pupil : +/+ Reflek Pattela : -/+ Telinga 8) peradangan 9) Sistem Penciuman : Pasien mampu mencium bau dengan baik. melawan gravitasi. lidah ada massa seperti Sistem Endokrin : : Palpasi: tidak ada pembesaran kelenjar thyroid dan lymfe.2.6 PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL 1) (1) (2) Riwayat Pekerjaan Pekerjaan saat ini Alamat pekerjaan : Tidak Bekerja : Tidak ada : Ny. ada serumen pada telinga. T tinggal di Panti Wrerdha (4) (5) (6) Alat transportasi : tidak terkaji Pekerjaan sebelumnya : Pemulung sampah Berapa jarak dari rumah: Tidak ada (3) Berapa jarak dari rumah 33 . T tidak memiliki rumah. Sistem Pengecapan : Gigi ada yang caries gigi depan ompong. dengan beban maksimal 4 : gerakan involunter (+). melawan gravitasi. melawan gravitasi. 5 3 2. Sistem Gastrointestinal : Suara tympani : bising usus 8 x/menit Sistem Persarafan : : Pada perut tidak ada luka bekas operasi. tidak ada sinusitis : Paien masih mampu mendengar dengan baik. dengan beban minimal 3 : gerakan involunter (+). Ny.

(7) (8) 2) Alat transportasi : Tidak ada Sumber – sumber pendapatan dan kecukupan terhadap Riwayat Lingkungan Hidup : Tidak ada : Ny. T dibantu oleh perawat dan suster yang ada : RS Bhayangkara jaraknya ± 1km Klinik : Tak ada : Suster di panti Pelayanan Kesehatan di rumah : Menggobrol dengan penghuni panti lain Sistem Pendukung Perawat/Bidan/Dokter/Fisiotherapi : Perawat dan . T tinggal di panti wredha dengan sederhana tipe kebutuhan: dicukupi oleh panti Wredha (1) Keluarga yang tinggal bersama (2) Type Tempat Tinggal (3) Kamar : bersih tertata dengan rapi. T tinggal di panti wredha 3) (1) (2) Riwayat Rekreasi Hobbi/minat : Bercerita tentang masa lalu : Ny. dalam 1 kamar ada 6 lansia : rapi dan bersih (4) Kondisi tempat tinggal (6) Tetangga terdekat : Tidak terkaji (5) Jumlah orang yang tinggal dalam satu rumah : Tidak terkaji (7) Jumlah orang yang tinggal dalam satu rumah : Ny. T tidak Keanggotan dalam Organisasi dengan penghuni 31 orang mengikuti organisai (3) Liburan / perjalanan 4) (1) suster (2) Rumah Sakit (3) (4) Wredha (5) Makanan yang dihantarkan (6) di panti wredha (7) 5) (1) Kebiasan Ritual Lain – lain : Tak ada Diskripsi Kekhususan : Lansia berdoa setiap pagi siang dan malam. sesuai dengan yang ditentukan oleh panti Wredha 34 : Makanan dan minuman disediakan panti Wredha Perawatan sehari – hari yang dilakukan keluarga : Perawatan sehari-hari Ny.

Pasien tidak mengalami hambatan hubungan sosial 2. USG 5. Kalk B1 B compleks 1 pil 1 pil 1 pil Kediri. 2. dan Sosial : Nilai 4. 3. Obat – obatan yang didapat di Panti Wredha: 1. Radiologi 3. 25-04-2011 Mahasiswa (Heru Suwardianto) 35 .7 DATA PENUNJANG 1.2. EKG 4. CT-Scan : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada 6. pasien mengalami gangguan kognitif Inventaris Depresi Beck : Nilai 10. Laboratorium 2.(2) Yang Lainnya 6) (1) SPSMQ (2) : Tidak ada Status Kognitif. Afektif. pasien mengalami depresi ringan (3) APGAR Keluarga : Nilai 3.

nyeri seperti ditusuk-tusuk. DO: 1) MMT: histamin. skala nyeri 4 (sedang). keluarnya perawat mediator radang. saat malam hari nyeri bertambah jika lutut digerakkan. nyeri berkurang saat kaki diluruskan.2 ANALISA DATA Data Etiologi Masalah Kolaboratif / Keperawatan DS: Pasien mengatakan lutut kanan rasa nyeri.2. bradikinin 5 5 2 3 Gangguan 2) pasien rasa nyaman nyeri mengguanan alat bantu jalan (kursi Penurunan Fungsi Sistem roda) Muskuloskeletal 3) aktivitas dibantu Gangguan Mobilitas Fisik 36 . Proses menua Penurunan fungsi tubuh Terganggunya sistem muskuloskeletal Kekuatan otot menurun Gangguan rasa nyaman nyeri Trauma DO: 1) lansia menyeringai Fraktur saat kaki kanan digerakkan Terputusnya 2) lutut kanan terjadi saraf perifer udema DS: Pasien mengatakan spasme otot bahwa aktivitasnya dibantu suster dan peradangan.

oleh suster dan perawat Gangguan Mobilitas Fisik 4) Ny. ambulasi dibantu dengan suster dan perawat. bradikinin yang ditandai dengan pasien mengatakan lutut kanan rasa nyeri. nyeri berkurang saat kaki diluruskan. nyeri seperti ditusuk-tusuk. lansia menyeringai 2 25-04-2011 saat kaki kanan digerakkan. T haya duduk di kursi roda MMT: 5 2 5 3 37 . saat malam hari nyeri bertambah jika lutut digerakkan.3 DIAGNOSA KEPERAWATAN No 1 Tanggal / Jam ditemukan 25-04-2011 Masalah Kolaboratif / Diagnosa Keperawatan Gangguan nyaman nyeri berhubungan respon Tanggal / Jam Teratasi peradangan keluarnya mediator radang histamin. skala nyeri 4 (sedang). lutut kanan terjadi udema Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan Penurunan fungsi muskuloskeletal ditandai dengan pasien mengatakan bahwa aktivitasnya dibantu suster dan perawat. pasien menggunakan alat bantu jalan (kursi roda). T hanya duduk di kursi roda 2. Ny.

38 .

saat malam hari nyeri bertambah jika lutut digerakkan. nyeri berkurang saat kaki diluruskan. Bina hubungan saling percaya keperawatan nyeri dapat berkurang atau hilang dengan kriteria hasil : 2. nyeri seperti ditusuktusuk. bradikinin yang ditandai dengan pasien mengatakan lutut kanan rasa nyeri. Mengetahui perkembangan pasien 4. Puls 60-100 x/menit 2.2. Skala nyeri 0-3 3. Meningkatkan respon baroreseptor dan menutuk saraf gerbang nyeri dan menurunkan nyeri sendi 6. Observasi tanda-tanda vital pasien 4. lansia menyeringai saat kaki kanan digerakkan. Mengetahui skala nyeri sehingga dapat di identifikasi dan merencanakan intervensi selanjutnya 3. Mengurangi resiko terjadi trauma berulang 39 . Kaji skala nyeri pasien 1. skala nyeri 4 (sedang). Mengetahui ekspresi yang diberikan pasien melalui mimik wajah 5. Observasi mimik wajah pasien 5. Ajari tentang keamanan pasien 1. Menurunkan aktifitas saraf simpatik dan mengurangi reaksi berlebih dari nyeri 7. Ajari teknik nafas dalam 7. lutut kanan terjadi udema Setelah dilakukan asuhan 1.4 NO PERENCANAAN RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN ( NCP / NURSING CARE PLANS ) MASALAH KOLABORATIF / DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN & KRITERIA HASIL RENCANA RASIONAL TGL/ JAM/ PARAF DIMULAI TGL JAM/ PARAF DIHENTI KAN 1 Gangguan nyaman nyeri berhubungan respon peradangan keluarnya mediator radang histamin.Hubungan saling percaya mempermudah dalam penggalian masalah lebih lanjut 2. Lansia tampak rileks 3. Beri kompres hangat atau dingin 6.

psikologis dan sosial mengguanan alat bantu dalam meningkatkan jalan (kursi roda). Kaji kemampuan dan kelemahan secara fungsional 3. meningkatkan respon proprioseptik dan motorik 5. foot 2 3 drop 3. Membantu dalam melatih jaras saraf. Adanya peningkatan haya duduk di kursi roda kemampuan fungsi MMT: bagian tubuh 2. Mengajari Rentang gerak sendi (ROM) 6. Bantu meningkatkan keseimbangan duduk 5. Pengkajian kemampuan dan kelemahan berguna untuk pengambilan intervensi selanjutnya 3. Tidak terjadi 5 5 kontraktur. Mengurangi stres klien dan mencegah terjadinya kecelakaan 4. kemampuan mobilitas fisik ambulasi dibantu dengan dengan kriteria hasil: suster dan perawat. Bina hubungan saling percaya 2.NO MASALAH KOLABORATIF / DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN & KRITERIA HASIL RENCANA RASIONAL TGL/ JAM/ PARAF DIMULAI TGL JAM/ PARAF DIHENTI KAN 2 Gangguan mobilitas fisik Setelah dilakukan tindakan keperawatan berhubungan dengan mampu membantu Penurunan fungsi lansia seoptimal mungkin sesuai muskuloskeletal ditandai kemampuan dan dengan pasien kondisi fisik . Beri kesempatan klien untuk melakukan aktivitas secara optimal sesuai kemampuan 1. dan kekuatan 6. Meningkatkan kemampuan dan harga diri klien 40 . koordinasi. Hubungan saling percaya mempermudah dalam penggalian masalah lebih lanjut 2. Terpeliharanya integritas kulit 1. Bantu klien dalam aktivitas seharihari yang dirasakan berat bagi klien 4. T 1. Ny. Program yang khusus dapat dikembangkan untuk menemukan kebutuhan yang berarti/menjaga kekurangan tersebut dalam keseimbangan.

Membantu dalam ADL 2. membantu pasien dalam ambulasi dan pindah dari kursi roda ke tempat tidur 4.00 Gangguan Rasa Nyaman Nyeri 26-04-2011 08.5 IMPLEMENTASI TGL. Membantu meningkatkan keseimbangan duduk 25-04-2011 09.00 DIAGNOSA Gangguan Rasa Nyaman Nyeri IMPLEMENTASI 1.00 -11. RR :20 x/menit. membantu pasien ambulasi dan mobilisasi 4. Mengajari ROM 6.JAM 25-04-2011 09.00 -11. Mengajari teknik nafas dalam 3.2. Memberi HE tentang keamanan pasien 1.00 -11. Membantu meningkatkan keseimbangan duduk 1. observasi tanda-tanda vital TD : 110/50 mmHg. Membantu pindah dari kursi roda ke tempat tidur 4.00 -11. Observasi skala nyeri (skala nyeri 4 sedang) 2.00 Gangguan Mobilitas Fisik 26-04-2011 08. Membantu memberi makan dan minum 3. mengajari teknik nafas dalam Membantu dalam ADL Membantu memberi makan dan minum 3. P : 89 x/menit 2. Membantu mobilisasi 5. Membantu pindah dari kursi roda ke tempat tidur Membantu mobilisasi 5. Mengajari ROM 6. Observasi skala nyeri ( skala nyeri 2 tidak nyeri) 3.00 Gangguan Mobilitas Fisik .

Pasien dapat menggunakan nafas dalam Tujuan tercapai sebagian Intervensi dilanjutkan Lansia mengatakan bahwa kaki kanan tidak dapat digerakan “kaku” 1. Terpeliharanya integritas kulit 4. Pasien dapat menggunakan nafas dalam 3. Ekspresi wajah kadang menyeringai Tujuan tercapai sebagian Intervensi dilanjutkan Lansia mengatakan bahwa kaki kanan tidak dapat digerakan “kaku” 25-04-2011 12.00 Gangguan Mobilitas Fisik 26-04-2011 12. Tidak terjadi trauma ulang 3.00 Gangguan rasa nyaman nyeri A: P: S: O: A: P: 26-04-2011 12. Pasien mengunakan kasur busa 5. Terpeliharanya integritas kulit 4. RR : 20 3. Skala nyeri 2 (tidak nyeri) 2. Skala nyeri 4 (sedang) 2. Sudah dilakukan latihan gerak sendi 2. P : 80 4. Pasien mengunakan kasur busa 5.6 EVALUASI TGL. Tidak terjadi trauma ulang 3.00 Gangguan Mobilitas Fisik S: O: A: P: . ADL dibantu suster dan perawat Tujuan Tercapai Sebagian Intervensi dilanjutkan Lansia mengatakan kadang nyeri di lutut kanan 1.2. ADL dibantu suster dan perawat Tujuan Tercapai Sebagian Intervensi dilanjutkan EVALUASI Lansia mengatakan kadang nyeri di lutut kanan 1. Sudah dilakukan latihan gerak sendi 2.00 DIAGNOSA Gangguan rasa nyaman nyeri S: O: A: P: S: O: 1.JAM 25-04-2011 12.

Barbara.DAFTAR PUSTAKA Long C.(1993).(1996). (1996).(2002). (1996) Perawatan Medikal Bedah. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. dkk. Buku Ajar : Neurologi Klinis. Jakarta: EGC Harsono. Jakarta: Depkes Smeltzer C. Jakarta: EGC Marilynn E. Jakarta: EGC Pusat pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan. (2000). Jilid 2. Brunner & Suddarth.Yogyakarta: Gajah Mada university press . Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Ganguan Sistem Persyarafan. Suzanne. Doengoes. Rencana Asuhan Keperawatan. Bandung: Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran Tuti Pahria. Edisi 3.

semua secara menurun ! Jawaban tidak tahu Selasa Panti wredha Malang Lupa Lupa Tidak Tahu Soekarno Sukijah Tidak tahu. Dari hasil SPMSQ klien diatas didapatkan kesalahan menjawab 6 item. APGAR KELUARGA DENGAN LANSIA SKRINING UNTUK MELENGKAPI PENGKAJIAN FUNGSI SOSIAL . T : Perempuan : Katolik : Malang : Heru Suwardianto Tanggal Umur Suku : 25 -4. maka lansia dianggap mengalami penurunan fungsi kognitif.2011 : 66 Tahun : Jawa No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Pertanyaan Tanggal berapa hari ini ? Hari apa sekarang ini ? Apa nama tempat ini ? Dimana alamat anda ? Berapa umur anda ? Kapan anda lahir ? Siapa presiden Indonesia sekarang ? Siapa presiden sebelumnya ? Siapa nama kecil ibu anda ? Kurang 3 dari 20 dan tetap pengurangan 3 dari setiap angka baru. saya tidak sekolah Total Nilai Kesimpulan : 4 Jika didapatkan 4 kesalahan menjawab pada 10 item diatas maka lansia dianggap mengalami penurunan fungsi kognitif.SHORT PORTABLE MENTAL STATUS QUEATIONNAIRE (SPMSQ) PENILAIAN UNTUK MENGETAHUI FUNGSI INTELEKTUAL LANSIA Nama klien Jenis kelamin Agama Alamat Pewawancara Skor + √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ : Ny.

Dari total skor pada klien Ny. . T : Perempuan : Katolik : Malang Tanggal Umur Suku : 25 -04. sedih atau mencintai.: Selalu = 2. T diatas adalah 10. 1 : Ny.Nama klien Jenis kelamin Agama Alamat No. Kadang – kadang = 1.2011 : 66 Tahun : Jawa Uraian Saya puas bahwa saya dapat kembali pada keluarga (teman – teman) saya untuk membantu pada waktu sesuatu menyusahkan saya Saya puas dengan cara keluarga (teman – teman) saya membicarakan sesuatu dengan saya dan mengungkapkan Fungsi Adaptation Skor 2 2 Partneship 2 3 masalah dengan saya Saya puas bahwa keluarga (teman – teman ) saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan aktivitas atau arah Growth 2 baru Saya puas dengan cara keluarga (teman – teman) saya mengekspresikan afek dan berespon terhadap emosi – emosi Affection 2 saya seperti marah. Saya puas dengan cara teman – teman saya dan saya 4 5 menyediakan waktu bersama – bersama Ket. Hampir tidak pernah = 0 Kesimpulan : Resolve Total 2 10 Jika didapatkan skor total ≤ 6 maka dapat diambil kesimpulan bahwa lansia mengalami keterbatasan dalam berhubungan dengan sosialnya. Perhatikan pada item apakah terjadi hambatan hubungan social. maka dapat diambil kesimpulan bahwa lansia tidak mengalami keterbatasan dalam berhubungan dengan sosialnya.

Rasa Bersalah 3 Saya meras seolah – olah 2 Saya merasa sangat bersalah 1 Saya merasa buruk/tak berharga sebagai bagian dari waktu yang baik 0 Saya tidak merasa benar – benar bersalah A. Membahayakan diri sendiri 3 Saya akan membunuh diri saya sendiri jika saya mempunyai kesempatan 2 Saya mempunyai rencana pasti tentang tujuan bunuh diri 1 Saya merasa lebih baik mati 0 Saya tidak mempunyai pikiran – pikiran mengenai membahayakan diri sendiri C. Ketidakpuasan 3 Saya tidak puas dengan segalanya 2 Saya tidak lagi mendapatkan kepuasan dari apapun 1 Saya tidak menyukai cara yang saya gunakan 0 Saya tidak merasa tidak puas E. M : Perempuan : Islam : Wates-Kediri Tanggal Umur Suku : 22-10-2010 : 56 Tahun : Jawa Skor Uraian A. Pesimisme 3 Saya merasa bahwa masa depan adalah sia – sia dan sesuatu tidak dapat membaik 2 Saya merasa tidak mempunyai apa – apa utuk memandang ke depan 1 Saya merasa berkecil hati mengenai masa depan 0 Saya tidak begitu pesimis atau kecil hati tentang masa depan C. Rasa Kegagalan 3 Saya benar – benar gagal sebagai orang tua (suami/istri) 2 Bila melihat kehidupan ke belakang semua yang dapat saya lihat hanya kegagalan 1 Saya merasa telah gagal melebihi orang pada umumnya 0 Saya tidak merasa gagal D. Tidak menyukai diri sendiri 3 Saya benci diri saya sendiri 2 Saya muak dengan diri saya sendiri 1 Saya tidak suka dengan diri saya sendiri 0 Saya tidak merasa kecewa dengan diri sendiri B. Kesedihan 3 Saya sangat sedih/tidak bahagia dimana saya tak dapat menghadapinya 2 Saya galau/sedih sepanjang waktu dan saya tidak dapat keluar darinya 1 Saya merasa sedih atau galau 0 Saya tidak merasa sedih B.INVENTARIS DEPRESI BECK MENGETAHUI TINGKAT DEPRESI LANSIA Nama klien Jenis kelamin Agama Alamat : Ny. Menarik diri dari social 3 Saya telah kehilangan minat saya pada orang lain dan tidak peduli pada mereka 2 Saya telah kehilangan semua minat saya pada orang lain dan mempunyai sedikit 1 perasaan pada mereka Saya kurang berminat pada orang lain daripada sebelumnya .

dapat diambil kesimpulan bahwa pasien mengalami depresi ringan. Keletihan 3 Saya sangat lelah untuk melakukan sesuatu 2 Saya merasa lelah untuk melakukan sesuatu 1 Saya merasa lelah dari yang biasanya 0 Saya tidak merasa lebih lelah dari biasanya H. Kesulitan kerja 3 Saya tidak melakukan pekerjaan sama sekali 2 Saya telah mendorong diri saya sendiri dengan keras untuk melakukan sesuatu 1 Saya memerlukan upaya tambahan untuk memulai melakukan sesuatu 0 Saya dapat bekerja kira – kira sebaik sebelumnya G.Skor Uraian 0 Saya tidak kehilangan minat pada orang lain D. Keragu – raguan 3 Saya tidak dapat membuat keputusan sama sekali 2 Saya mempunyai banyak kesulitan dalam membuat keputusan 1 Saya berusaha mengambil keputusan 0 Saya membuat keputusan yang baik E. Anoreksia 3 Saya tidak mempunyai nafsu makan sama sekali 2 Nafsu makan saya sangat memburuk sekarang 1 Nafsu makan saya tidak sebaik sebelumnya 0 Nafsu makan saya tidak buruk dari yang biasanya Skor tertinggi ≥ 30 20 – 29 ≤19 : 39 : Depresi berat (masalah perlu prioritas) : Depresi sedang (perlu tindakan) : Depresi ringan Skor Inventaris Depresi Total Ny. Perubahan gambaran diri 3 Saya merasa bahwa saya jelek atau tampak menjijikkan 2 Saya merasa bahwa ada perubahan permanent dalam penampilan saya dan ini membuat saya tidak tertarik 1 Saya kuatir bahwa saya tampak tua atau tidak menarik 0 Saya merasa bahwa saya tampak lebih buruk daripada sebelumnya F. . T : 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful