BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Suatu perkara perdata diajukan oleh pihak yang bersangkutan kepada pengadilan untuk mendapatkan penyelesaian. Pemeriksaan perkara memang diakhiri dengan putusan, akan tetapi dengan dijatuhkan putusan saja belum dapat menyelesaikan persoalan. Putusan itu harus dapat dilaksanakan, sehingga putusan hakim mempunyai kekuatan eksekutorial, yaitu kekuatan untuk dilakasanakan apa yang ditetapkan dalam putusan itu secara paksa oleh alat-alat Negara. Adapun yang memberi kekuatan eksekutorial pada putusan hakim ialah kepala putusan yang berbunyi “ Demi Keadilan berdasarkan Ke-Tuhanan Yang Maha Esa”. Tidak semua putusan hakim dapat dilaksanakan dalam arti kata yang sebenarnya, yaitu secara paksa oleh pengadilan. Hanya putusan condemnatoir sajalah yang dapat dilaksanakan. Putusan declaratoir dan contituf tidaklah memerlukan sarana-sarana pemaksaa untuk melaksanakannya. Karena tidak dimuat adanya hak atas suatu prestasi, maka terjadilanya akibat hukum tidak tergantung pada bantuan atau ketersediaan para pihak yang dikalahkan, maka oleh karena itu tidak diperlukan sarana-sarana pemaksa untuk menjalakannya. Suatu putusan hakim yang telah memperoleh kekuatan hukum yng pasti dapat dilaksanakan secara sukarela oleh yang bersangkutan, yaitu oleh pihak yang dikalahkan. Apabila suatu perkara telah diputus dan telah memperoleh kekuatan hukum yang pasti, maka pihak yang dikalahkan secara sukarela dapat melaksanakan

1

Yogyakarta. Akan tetapi.1 1. Pelaksanaan putusan hakim atau eksekusi pada hekekatnya tidak lain adalah realisasi daripada kewajiban pihak yang bersangkutan untuk memenuhi prestasi yang tercantum dalam putusan tersebut.2. Liberty. h. sering terjadi bahwa pihak yang dikalahkan tidak mau melaksanakan putusan hakim secara sukarela sehingga diperlukan bantuan dari pengadilan untuk melaksanakan putusan tersebut secara paksa. Hukum Acara Perdata Indonesia. Pihak yang dimenangkan dalam putusan dapat mohon pelaksaan putusan (eksekusi) kepada pengadilan yang akan melaksankannya secara paksa (execution force). Rumusan Masalah Bagaimana prosedur pelaksanaan sita eksekusi lelang hak tanggungan? 1 Sudikno Mertokusumo.247 2 .putusan tersebut. Dengan demikian maka selesailah perkaranya tanpa mendapat bantuan dari pengadilan dalam melaksanakan putusan tersebut.

Oleh karena sita eksekutorial itu didasarkan atas title eksekutorial. maka fungsi pembekuan harta kekayaan debiturlah yang lebih penting. sedang pada sita eksekutorial fungsi penjualannyalah yang lebih penting. maka tidak perlu dinyatakan sah dan berharga. Putusan yang Dapat Dimohonkan Eksekusi Perdata Secara konkrit dapat dikatakan bahwa pelaksanaan putusan hakim atau eksekusi berarti menguangkan bagian tertentu dari harta kekayaan pihak yang dikalahkan atau debiturdengan tujuan untuk memenuhi putusan guna kepentinagn pihak yang dimenangkan atau kreditur. Penyitaan ini disebut sita eksekutorial. Oleh karena sita conservatoir itu tujuannya adalah untuk menjamin terlaksananya putusan.BAB II PEMBAHASAN 2. Eksekusi suatu putusan perdata itu dimulai dengan sita eksekutorial.1. kecuali apabila sebelumnya telah diadakan sita conservatoir. maka sita conservatoir ini setelah putusan dijatuhkan memperoleh title eksekutorial oleh karena sita conservatoir itu di dalam putusan tersebut dinyatakan sah dan berharga.2 Pelaksanaan putusan harus diminta oleh pihak yang bersangkutan dan tidak 2 Ibid h. maka harta kekayaan tersebut haruslah disita atau dibekukan lebih dulu. suatu penyitaan yang didasarkan atas title eksekutorial. Untuk dapat menguangkan harta kekayaan debitur.255 3 .

58) 4 . Putusan Pengadilan yang bersifat serta merta. b.1982. Putusan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde) . • Dikabulkannya gugatan provisional. dan kasasi. • Gugatan tentang hutang-piutang yang jumlahnya sudah pasti dan tidak dibantah. dengan pertimbangan hukum yang tegas 3 HR 4 Nov. Ketua Pengadilan Agama dan para hakim Pengadilan Negeri dan hakim Pengadilan Agama menjatuhkan putusan serta merta. kecuali dalam hal-hal sebagai berikut: • Gugatan didasarkan pada bukti surat otentik atau surat tulisan tangan yang tidak dibantah kebenaran tentang isi dan tanda tangannya. 1984. Putusan yang sudah berkekuatan tetap adalah putusan yang sudah tidak mungkin lagi dilawan dengan upaya hukum verzet. Berdasarkan SEMA no. HR 8 Okt. 117. 3 tahun 2000 pada dasarnya Mahkamah Agung melarang Ketua Pengadilan Negeri. N.3 Pelaksanaan putusan / eksekusi adalah putusan pengadilan yang dapat dilaksanakan. rumah. Dan putusan pengadilan yang dapat dilaksanakan adalah: a. N.J. di mana hubungan sewa menyewa sudah habos/lampau. banding. gudang dan lain-lain.J. • Pokok gugatan mengenai tuntutan pembagian harta perkawinan (gono-gini) setelah putusan mengenai gugatan cerai mempunyai kekuatan hukum tetap. atau penyewat terbukti melalaikan kewajibannya sebagai penyewa yang beritikad baik. 1955.dapat dilaksanakan secara ex officio. 1956. • Gugatan tentang sewa-menyewa tanah. yang menurut undang-undang tidak mempunyai kekuatan bukti.

2. Termasuk dalam barang bergerak adalah adalah uang.Cit.229 Rbg). Pasal 30 PP 10/1961 4 Sudikno Mertokusumo. 213 Rbg). Dalam hal penyitaan barang tetap. Barang yang Dapat Dikenai Sita Eksekusi Barang yang dapat disita secara eksekutorial teruatama adalah barang bergerak milik pihak yang dikalahkan (ps.197 ayat 8 HIR.4 2.. Pemberitahuan ini maksudnya tidak lain agar barang yang disita itu tidak diperjual-belikan (ps. Barang bergerak yang ada di tangan orang lain pun dapat juga disita. 211 Rbg). tetapi tidak boleh dijalankan atas hewan dan alat-alat yang digunakan untuk mencarin mata pencaharian (ps. surat berharga dan barang bergerak yang bertubuh. Barang bergerak yang telah disita harus dibiarkan menurut keadaan pada waktu disita pada orang yang terkena sita supaya menyimpannya dan tidak mengasingkannya. Barang bergeraklah yang harus didahulukan untuk disita secara eksekutorial. maka berita acara penyitaan diberitahukan kepada untuk diumumkan. Op.197 ayat 1 HIR.65 5 . • Pokok sengketa mengenai bezitsrecht (hak penguasaan). Pasal 231 KUHP mengancam dengan pidana barang siapa yang menjauhkan atau menyembunyikan barang yang disita. h. 198 HIR.dan jelas serta memenuhi pasal 332 Rv • Gugatan didasarkan putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dan mempunyai hubungan dengan pokok gugatan yang diajukan. 208 Rbg). Dalam Rbg dimungkinkan untuk menyita piutang dari pihak yang dihukum yang dapat ditagihnya dari pihak ketiga ( ps.

199 HIR. 2. yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap kreditor-kreditor lainnya. atau menyewakan barang tetap tersebut (ps. Tinjauan Tentang Hak Tanggungan Sebelum lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria. berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan suatu kesatuan dengan tanah itu. Hak Tanggungan dikenal sebagai hak jaminan yang dilahirkan oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA). pihak yang terkena sita tidak boleh memindahkan. h.3. istilah Hak Tanggungan belum dikenal.mewajibkan oanitera Pengadilan Negeri untuk mendaftarkan penyitaan atas tanah kepada Kepala Kantor Pendaftaran Tanah. Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah memberikan defenisi Hak Tanggungan sebagai berikut: Hak Tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah. 114 Rbg)5. dapat disimpulkan yang dimaksud Hak Tanggungan adalah suatu lembaga hak jaminan. Eksekusi Hak Tanggungan 2. 257 6 . membebani.1.. dimana objek yang menjadi jaminan suatu hutang (perikatan) 5 Sudikno Mertokusumo. Op Cit. Sehingga. yang selanjutnya disebut Hak Tanggungan adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang peraturan dasar pokok-pokok agraria. Sejak berita acara oenyitaan diumumkan. untuk pelunasan hutang tertentu.3.

Dalam ketentuan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 4 tahun 1996 tentang Hak Tanggungan ditentukan pula objek hak tanggungan. dan hasil karya sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak dimiliki oleh pemegang hak atas tanah. (5) Apabila bangunan. c. hak pakai atas tanah negara yang menurut ketentuan yang berlaku wajib didaftar dan menurut sifatnya dapat dipindahtangankan dapat juga dibebani hak tanggungan. (3) Pembebanan hak tanggungan pada hak pakai atas tanah hak milik akan diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. (2) Selain hak-hak atas tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tanaman. pembebanan hak tanggungan atas benda-benda tersebut hanya dapat dilakukan dengan penandatanganan serta pada Akta Pemberian Hak Tanggungan yang bersangkutan oleh pemiliknya atau yang 7 . (4) Hak Tanggungan dapat juga dibebankan pada hak atas tanah berikut bangunan. tanaman. Hak milik. b. Hak guna bangunan. dan hasil karya yang telah ada atau akan ada yang merupakan satu kesatuan dengan tanah tersebut. Hak guna usaha.adalah benda yang berupa tanah. dan yang merupakan milik pemegang hak atas tanah yaang pembebanannya dengan tegas dinyatakan di dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan yang bersanngkutan. Adapun ketentuan objek hak tanggungan dimaksud adalah sebagai berikut: (1) Hak atas tanah yang dapat dibebani hak tanggungan adalah: a.

Namun berdasarkan ketentuan tersebut tidak semua hak atas tanah sekalipun merupakan hak atas tanah menurut ketentuan Undang-Undang Pokok Agraria bisa menjadi objek Hak Tanggungan.diberi kuasa untuk itu olehnya dengan akta otentik. Sertifikat Hak Tanggungan yang berfungsi sebagai surat tanda bukti adanya Hak Tanggungan dibubuhi “irah-irah” dengan kata-kata Demi Keadilan Ketuhanan Yang Maha Esa untuk memberikan kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Hal ini bertujuan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan apabila cidera janji dimana sertifikatnya tidak dapat ditarik. Berdasarkan Pasal 4 ayat (4) dan ayat (5) Undang-Undang Nomor 4 tahun 1996 tentang Hak Tanggungan. (Lembaran Negara Tahun Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 42. ada ketentuan yang harus diperhatikan bagi sahnya hak tanggungan agar hak tanggungannya dapat berikut bangunan. 6 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan. Menurut Pasal 4 ayat 2 Undang-Undang Nomor 4 tahun 1996 tentang Hak Tanggungan.6 Sertifikat hak atas tanah yang dibubuhi catatan pembebanan Hak Tanggungan harus dikembalikan kepada pemberi Hak Tanggungan (pemegang hak atas tanah) kecuali apabila diperjanjikan dalam APHT (Akta Pemberian Hak Tanggungan) bahwa dapat diberikan pada pemegang Hak Tanggungan. tanaman dan hasil karya diatas tanah itu. Hak-hak atas tanah selain yang dimaksud pada Pasal 4 ayat 1. Hak Pakai atas tanah Negara yang menurut ketentuan yang berlaku wajib didaftar dan menurut sifatnya dapat dipindahtangankan dapat juga dibebani Hak Tanggungan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3632 8 .

Oleh karena itu harus dibuktikan keabsahannya kewenangan tersebut pada saat didaftarnya hak tanggungan yang bersangkutan oleh kantor pertanahan. h.id. Apabila timbul wanprestasi.Lahirnya hak tanggungan adalah pada saat didaftarnya hak tanggungan tersebut.ac. maka kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap objek hak tanggungan diharuskan ada pada pemberi hak tanggungan pada saat pembuatan buku tanah hak tanggungan. “Eksekusi Hak Tanggungan Sebagai Langkah Terakhir Penyelesaian Kredit Investasi Macet Pada Bank Pemerintah”. maka pemegang Hak Tanggungan dapat menjual objek Hak Tanggungan melalui pelelangan umum berdasarkan titel eksekutorial yang dimilikinya. dikunjungi pada tanggal 31 Oktober 2009. pelaksanaan tetap mengikuti prosedur dan ketentuan yang berlaku. Penjualan objek Hak Tanggungan dalam hal cidera janji.49.ugm.puspasca. Ketentuan tersebut memberikan kepastian bagi kreditor apabila debitor cidera janji dengan memberikan kemungkinan dan kemudahan untuk pelaksanaan parate eksekusi sebagaimana diatur dalam Pasal 224 HIR dan Pasal 258 Rbg.7 7 Tirtha Enola Marundu. www. Salah satu kelebihan dari sertikat Hak Tanggungan adalah adanya hak yang diberikan oleh Undang-Undang kepada pemegang Hak Tanggungan berupa eksekutorial yang sama dengan putusan pengadian yang telah memiliki kekuatan hukum yang tetap dan dapat berfungsi sebagai pengganti grosse akta hipotik pada hak atas tanah. Pemberi hak tanggungan ini bisa orang perseorangan atau badan hukum dengan syarat mereka mempunyai kewenangan untuk melakukun perbuatan hukum terhadap hak atas tanah yang dimilikinya. 9 . apabila dilakukan melalui pelelangan umum.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam ayat (7) Pasal 200 HIR bahwa pemberi Hak Tanggungan yaitu debitur tidak diperkenankan lagi untuk mencegah pelelangan tersebut dan membayar semua hutangnya itu.2.Undang Hak Tanggungan. maka lelang eksekusi Hak Tanggungan dapat dilaksanakan sebagai berikut : a. Pelaksanaan eksekusi lelang hak tanggungan mengacu pada Surat Edaran Nomor : SE-23/PN/2000 yang dikeluarkan oleh Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara Departemen Keuangan Republik Indonesia. Eksekusi lelang agunan hutang Hak Tanggungan yang. Pemegang Hak Tanggungan pertama menjual objek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum Pasal 6 Undang. Petunjuk terhadap pelaksanaan lelang hak tanggungan adalah sebagai berikut: 1. Berdasarkan pasal 20 ayat [1] Undang-Undang Hak Tanggungan [UUHT].2 Pelaksanaan Eksekusi Lelang Hak Tanggungan Berdasarkan Pasal 20 Undang-Undang Hak Tanggungan menyebutkan antara lain bahwa obyek Hak Tanggungan dijual melalui pelelangan umum/menurut tata cara yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan untuk pelunasan piutang pemegang Hak Tanggungan. dilaksanakan oleh Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN) dan Kantor Pelayanan Piutang Lelang Negara (KP2LN) adalah dalam kerangka yuridis Undang-Undang Nomor 49 Prp Tahun 1960 yang tetap mengacu pada Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996. b. Pemegang Hak Tanggungan berdasarkan titel eksekutorial yang terdapat dalam Sertifikat Hak Tanggungan menjual melalui pelelangan umum sesuai 10 .3.

pasal 14 ayat [2] Undang-undang hak tanggungan. Pasal 11 ayat [2] huruf e UUHT. g. e. Penjualan objek Hak Tanggungan tersebut pada dasarnya dilakukan dengan cara lelang dan tidak memerlukan fiat eksekusi dari pengadilan mengingat penjualan berdasarkan pasal 6 UUHT ini merupakan tindakan pelaksanaan perjanjian. 2. f. Tidak diperlukan persetujuan debitur untuk pelaksanaan lelang. c. yaitu apabila debitur cidera janji pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual objek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut. Lelang Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud pada butir 1 huruf a berdasarkan pasal 6 UUHT memberikan hak kepada kreditur pemegang hak Tanggungan pertama untuk menjual objek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri apabila debitur pemberi Hak Tanggungan cidera janji [wanprestasi]. d. Bertindak sebagai pemohon lelang adalah Kreditur pemegang Hak Tanggungan Pertama. Pelaksanaan lelang melalui Pejabat Lelang Kantor Lelang Negara. Pengumuman lelang mengikuti tata cara pengumuman lelang eksekusi. Oleh karenanya dalam pelaksanaan lelangnya harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. Nilai limit sedapat mungkin ditentukan oleh Panitia. Dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan harus dimuat janji sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 Jo. b. Pelaksanaan lelang pasal 6 UUHT ini dapat melibatkan Balai Lelang pada 11 .

Pelaksanaan 12 . h. Penjualan ini merupakan pelaksanaan titel eksekutorial dari sertifikat Hak Tanggungan yang memuat irah-irah “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KE-TUHANAN YANG MAHA ESA” yang mempunyai kekuatan yang sama dengan putusan Hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Salinan/fotocopy bukti bahwa debitur wanprestasi yang dapat berupa peringatan-peringatan maupun pernyataan dari Pimpinan/Direksi Bank yang bersangkutan selaku kreditur. 3.jasa pra-lelang. Penjualan objek Hak Tanggungan ini pada dasarnya dilakukan secara lelang dan memerlukan fiat eksekusi dari pengadilan. • • Salinan/fotocopy sertifikat hak atas tanah yang dibebani hak tanggungan. Lelang Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud pada butir 1 huruf b dilaksanakan dalam hal lelang berdasarkan pasal 6 UUHT tidak dapat dilakukan karena Akta Pemberian Hak Tanggungan tidak memuat janji sebagaimana dimaksud pada pasal 6 Jo. • Surat pernyataan dari Pimpinan/Direksi Bank yang bersangkutan selaku kreditur yang isinya akan bertanggung jawab apabila terjadi gugatan. Pasal 11 ayat [2] huruf e atau adanya kendala / gugatan dari debitur / pihak ketiga. Dokumen persyaratan lelang antara lain terdiri dari : • • Salinan/fotocopy Perjanjian Kredit Salinan/fotocopy Sertifikat Hak Tanggungan & Akta Pemberian Hak Tanggungan.

Salinan/fotocopy penetapan sita pengadilan. g. f. c. Bertindak sebagai pemohon lelang adalah Pengadilan Negeri. Penjualan semacam ini tidak boleh dilakukan secara lelang. Pelaksanaan lelang melalui Pejabat Lelang Kantor Lelang Negara. Salinan/fotocopy penetapan lelang pengadilan Salinan/fotocopy perincian hutang atau jumlah yang harus dipenuhi. Nilai limit sedapat mungkin ditentukan oleh penilai. d. 4. atas kesepakatan pemberi Hak Tanggungan dan Pemegang Hak Tanggungan. Pelaksanaan lelang ini dapat melibatkan Balai Lelang pada jasa pralelang. Salinan/fotocopy berita acara sita. e. Salinan/fotocopy surat pemberitahuan lelang pada termohon eksekusi. Dokumen persyaratan lelang antara lain terdiri dari : • • • • • • Salinan/fotocopy penetapan aanmaning/teguran. b.lelangnya harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. penjualan obyek Hak Tanggungan dapat dilaksanakan dibawah tangan. Berdasarkan Pasal 20 ayat [2] UUHT.8 8 Surat Edaran Nomor : SE-23/PN/2000 yang dikeluarkan oleh Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara Departemen Keuangan Republik Indonesia Sehubungan dengan dikeluarkannya Surat Edaran Nomor 19/PN/2000 tentang Pelaksanaan Surat Edaran Nomor SE-21/PN/1998 tentang petunjuk Pelaksanaan Pasal 6 Undang-Undang Hak Tanggungan 13 . Pengumuman lelang mengikuti tata cara pengumuman lelang eksekusi. Tidak diperlukan persetujuan debitur dalam pelaksanaan lelang.

BAB III PENUTUP 3. Kesimpulan Putusan pengadilan yang dapat dilaksanakan adalah putusan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde). Putusan yang sudah berkekuatan tetap adalah putusan yang sudah tidak mungkin lagi dilawan dengan upaya hukum verzet. Selain itu. banding. putusan yang dapat dimohonkan 14 .1. dan kasasi.

Hak Tanggungan dikenal sebagai hak jaminan yang dilahirkan oleh UndangUndang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA). Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah memberikan defenisi Hak Tanggungan sebagai berikut: Hak Tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah. untuk pelunasan hutang tertentu. yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap kreditor-kreditor lainnya. dimana objek yang menjadi jaminan suatu hutang (perikatan) adalah benda yang berupa tanah. berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan suatu kesatuan dengan tanah itu. Penjualan objek Hak Tanggungan dalam hal cidera janji. Ketentuan tersebut memberikan kepastian bagi kreditor apabila debitor cidera janji dengan memberikan kemungkinan dan kemudahan untuk pelaksanaan parate eksekusi sebagaimana diatur dalam Pasal 224 HIR dan Pasal 258 Rbg. apabila dilakukan melalui pelelangan umum. maka pemegang Hak Tanggungan dapat menjual objek Hak Tanggungan melalui pelelangan umum berdasarkan titel eksekutorial yang dimilikinya.untuk eksekusi adalah putusan yang bersifat serta merta. dapat disimpulkan yang dimaksud Hak Tanggungan adalah suatu lembaga hak jaminan. yang selanjutnya disebut Hak Tanggungan adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang peraturan dasar pokok-pokok agraria. 15 . Sehingga. Apabila debitur melakukan wanprestasi.

LN No. 2002 Perundang-undangan Soesilo. Politeia. 42 tahun 1996. Liberty. DAFTAR PUSTAKA Buku Mertokusumo.pelaksanaan tetap mengikuti prosedur dan ketentuan yang berlaku.. 3632. Surat Edaran . TLN No. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan. R. Prosedur pelaksanaan eksekusi lelang hak tanggungan mengikuti Surat Edaran Nomor : SE23/PN/2000 yang dikeluarkan oleh Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara Departemen Keuangan Republik Indonesia Sehubungan dengan dikeluarkannya Surat Edaran Nomor 19/PN/2000 tentang Pelaksanaan Surat Edaran Nomor SE21/PN/1998 tentang petunjuk Pelaksanaan Pasal 6 Undang-Undang Hak Tanggungan. Bogor. Yogyakarta. Hukum Acara Perdata Indonesia. 1995 . RIB / HIR Dengan Penjelasan. Surat Edaran Nomor : SE-23/PN/2000 yang dikeluarkan oleh Badan Urusan 16 . Sudikno.

puspasca.id 17 .ugm.ac.Piutang dan Lelang Negara Departemen Keuangan Republik Indonesia Sehubungan dengan dikeluarkannya Surat Edaran Nomor 19/PN/2000 tentang Pelaksanaan Surat Edaran Nomor SE-21/PN/1998 tentang petunjuk Pelaksanaan Pasal 6 UndangUndang Hak Tanggungan. Internet www.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful