BAB I PENDAHULUAN

1.1 Maksud
• • •

Menginterpretasikan kenampakan bentang alam karst pada peta topografi. Mengetahui kenampakan morfologi bentang alam karst pada peta topografi. Mengetahui kelas lereng bentang alam karst pada tiap satuan konturnya pada peta topografi.

1.2 Tujuan
• • •

Mampu menginterpretasikan kenampakan bentang alam karst pada peta topografi. Mampu mengetahui kenampakan morfologi bentang alam karst pada peta topografi. Dapat menghitung persentase kelerengan bentang alam karst pada tiap satuan konturnya pada peta topografi.

1.2 Waktu Pelaksanaan Hari / Tanggal : Rabu, 23 Maret 2011 Waktu Tempat : 15.30 s.d. 17.30 WIB : Gedung Pertamina Sukawati Ruang GS 103

1

berkembang pada batuan yang mudah larut (memiliki derajat kelarutan yang tinggi) pada air alam dan dijumpai pada semua tempat pada lahan tersebut. penyaluran tidak teratur. menunjukkan relief yang khas. aliran sungainya secara tiba-tiba masuk kedalam tanah dan meninggalkan lembah kering untuk kemudian keluar ditempat lain sebagai mata air yang besar”. 2. penyaluran yang tidak teratur.BAB II DASAR TEORI 2. Flint dan Skinner (1977) mendefinisikan topografi karst sebagai daerah yang berbatuan yang mudah larut dengan surupan (sink) dan gua yang berkombinasi membentuk topografi yang aneh (peculiar topography) dan dicirikan oleh adanya lembah kecil. dalam Blomm 197). topografi karst didefinisikan sebagai lahan dengan relief dan pola penyaluran yang aneh.1979).2.1. Menurut Jenning (1971. 2 . Berdasarkan kedua definisi diatas maka dapat ditetapkan suatu pengertian tentang topografi karst yaitu: “Suatu topografi yang terbentuk pada daerah dengan litologi berupa batuan yang mudah larut.1 Faktor Fisik Faktor fisik yang mempengaruhi pembentukan topografi karst meliputi ketebalan batugamping. aliran sungai secara tiba-tiba masuk ke dalam tanah meninggalkan lembah kering dan muncul sebagai mata air yang besar. porositas dan permeabilitas batugamping serta intensitas struktur (kekar) yang mengenai batuan tersebut. Pendahuluan Karst adalah istilah dalam bahasa Jerman yang diambil dari istilah Slovenian kuno yang berarti topografi hasil pelarutan (solution topography) (Blomm. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Bentang Alam Karst 2.2.

Porositas (baik primer maupun sekunder) biasanya mempengaruhi permeabilitas yaitu kemampuan batuan batuan untuk melalukan air. porositas primer ditentukan oleh tekstur batuan dan berkurang oleh proses sementasi. tidak sebaik batugamping yang massif dan tebal dalam pembentukan topografi karst ini. Disamping itu permeabilitas juga dipengaruhi oleh adanya kekar yang saling berhubungan dalam batuan. batuan mudah larut (dalam hal ini batugamping) yang baik untuk perkembangan topografi karst harus tebal. Porositas dan Permeabilitas Kedua hal ini berpengaruh terhadap sirkulasi air dalam batuan. 2. Ketebalan Batugamping Menurut Von Engeln. Ritter (1978) mengemukakan bahwa batugamping yang berlapis (meskipun membentuk satu unit yang tebal).1. Sebaliknya dengan porositas sekunder yang biasanya terbentuk oleh adanya retakan atau pelarutan dalam batuan. sirkulasi air akan berjalan lancar sehingga mempermudah terjadinya proses karstifikasi. Intesitas Struktur Terhadap Batuan 3 . rekristalisasi dan penggantian mineral (misal: dolomitisasi) sehingga porositas primer tidak begitu berpengaruh terhadap proses karstifikasi. Semakin besar permeabilitas suatu batuan maka sirkulasi air akan berjalan semakin lancar sehingga proses karstifikasi akan semakin intensif. Sebaliknya pada batugamping yang massif. Hal ini dikarenakan material sukar larut dan lempung yang terkonsentrasi pada bidang perlapisan akan mengurangi kebebasan sirkulasi air untuk menmbus seluruh lapisan. Batugamping tersebut dapat masif atau terdiri dari beberapa lapisan yang membentuk satu unit batuan yang tebal. sehingga mampu menampilkan topografi karst sebelum batuan tersebut habis terlarutkan dan tererosi. 3. Menurut Ritter (1978).

zona kekar merupakan zona yang lemah yang mudah mengalami pelarutan dan erosi sehingga dengan adanya kekar dalam batuan proses pelarutan dan erosi berjalan intensif. Disamping itu permeabilitas mejadi sangat tingi sehingga waktu sentuh batuan dan air sangat cepat. tetapi sesuai dengan 50% mineral karbonat yang umumnya berupa kalsit (CaCO3). bila batuan mengandung mineral dolomite lebih dari 50% maka batuannya disebut dolomite 4 . 1. Hal ini menghambat proses kartifikasi (Ritter. Ritter (1978) mengemukakan bahwa kekar biasanya terbentuk dengan pola tertentu dan berpasangan (kekar gerus). Disamping kekar dapat mempertinggi permeabilitas batuan. Apabila intensitas pengkekaran sangat tinggi maka batuan menjadi mudah hancur atau tidak memiliki kekauatan yang cukup. Menurut Leigton dan Pendexter (1962 dalam Ritter. Hal inilah yang menyebabkan kekar dapat mempertinggi porositas dan permeabilitas sekaligus sebagai zona lemah yang menyebabakan proses pelarutan dan erosi berjalan lebih intensif. 1978).Intersitas struktur terutama kekar sangat berpengaruh terhadap proses karstifikasi. Secara umum berdasarkan komposisinya batugamping namanya batugamping sedikitnya mengnadung dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok. Kondisi Kimia Batuan Kondisi kimia batuan yang dimaksud adalah komposisi dan sifat kimia (kelarutannya). 1973 dalam Ritter. 2. Dua jenis mineral karbonat yang umum ada pada batugamping adalah kalsit dan dolomite (Sweeting.2. tiap pasang membentuk sudut antara 70° sampai 90° dan mereka saling berhubungan. 1978). 1978).2 Faktor Kimiawi Faktor kimiawi yang berpengaruh dalam proses karstifikasi adalah kondisi kimia batuan dan kondisi kimia media pelarut.

Kondisi Kimia Media Pelarut Media pelarut dalam proses karstifikasi adalah air alam (natural water) (Jehning. Larutan inilah yang akan melarutkan batugamping. maka kemampuan air untuk melarutkan batuan menjadi lebih tinggi. 2. maka proses karstifikasi berjalan lebih intensif. 1979). air hujan akan mengikat karbondioksida (CO2) dari udara dan dari tanah disekitarnya membentuk air / larutan yang bersifat asam yaitu asam karbonat (H2CO3). 2. Menurut Bloom (1979) aktifitas biologis (dalam hal ini tumbuh-tumbuhan dan mikrobiologis) dapat menghasilkan humus yang akan menutupi batuan dasar.4 Faktor Iklim dan Lingkungan 5 . 1971 Vide Bloom.3 Faktor Biologi Aktifitas biologis dapat mempengaruhi pembentukan topografi karst. akan tetapi ia akan larut dalam air yang mengandung asam. Batugamping inilah yang mempunyai kecenderungan untuk membentuk topografi karst.2. Humus ini menyebabkan batuan dasar tersebut menadi anaerobik. Karena tekanan parsial CO2 naik. Di alam. sehingga air permukaan yang masuk sampai kebatuan dasar (sampai zona anaerob) tekanan parsial CO2nya bertambah besar sampai 10 kali lipat dibanding dengan saat dia berada dipermukaan. Dengan demikian berarti dengan terbentuknya humus oleh aktifitas biologis. baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan demikian bahwa sifat kimiawi media pelarut sangat dipengaruhi oleh banyaknya karbondioksida yang diikatnya. Flint dan Skinner (1979) mengemukakan bahwa kalsit sangat sulit larut dalam air murni. Kondisi kimiawi media pelarut ini sangat berpangaruh pada proses karstifikasi. 2.2.dan bila batuannya mengandung mineral kalsit lebih dari 50% maka batuannya disebut batugamping.

Selanjutnya dikemukakan pula bahwa kondisi biotik dan abiotik tersebut sangat mempengaruhi proses eksogenik. Selanjutnya air tanah tersebut masuk kedalam lembah sebagai air permukaan. presipitasi dan penguapan) daerah yang dimaksud. kombinasi suhu dan presipitasi ideal untuk berlangsungnya proses pelarutan sehingga proses karstifikasi berjalan sangat bagus (Riter. Air tanah di daerah ini sangat reaktif untuk pelarutan dan suhu udara cukup tinggi sehinga reaksi kimia untuk melarutkan batugamping berjalan lebih cepat. Menurut Bloom (1979). menembus batugamping tersebut dan melarutkannya dengan bebas. Dengan demikian berarti bahwa iklim sangat mempengaruhi proses eksogenik pada suatu daerah.Iklim dan lingkungan merupakan dua hal yang sering kali sulit untuk dipisahkan. Selain itu sikulasi air tanah sangat baik. Lingkungan dalam arti sempit adalah kondisi disekitar tempat yang dimaksud (dalam hal ini adalah lahan pembentukan topografi karst) dan lingkungan dalam arti luas meliputi seluruh aspek biotik dan abiotik yang ada di daerah yang dimaksud. yaitu baik pelapukan ataupun pelarutan batugamping. Kondisi biotik dan abiotik disuatu daerah sangat ditentukan oleh iklim daerah tersebut (Bloom. 1978). Kondisi ini menyebabkan air tanah pada tempat yang tinggi dapat turun. air tanah di daerah tropis mengandung asam organik dan komponen nitrat sehingga 6 . curah hujan. Daerah yang beriklim tropis basah (lintang 0° – 13°) curah hujan cukup tingggi. tumbuh-tumbuhan lebah dan aktifitas mikroba cukup tinggi sehingga sangat mendukung terjadinya proses karstifikasi. Lingkungan dalam arti luas mencakup kondisi biotik (aktifitas biologis) dan kondisi abiotik (suhu. Didalam membahas lingkungan dalam arti sempit. Von Engeln (1942) mengemukakan bahwa kondisi lingkungan yang mendukung pembentukan topografi karst adalah adanya lembah besar yang mengelilingi tempat yang tinggi. yang terdiri dari batuan mudah larut (batugamping) yang terkekarkan dengan intensif. 1979).

mengemukakan bahwa parit karst ini merupakan karst split yang memajang sehingga membentuk parit karst. 1984. Dengan kondisi daerah semacam ini maka topografi kras dapat berjalan dengan baik di daerah beriklim tropis basah. Bentuk-bentuk konstruksional adalah bentuk topografi yang dibentuk oleh proses pelarutan batugamping atau pengendapan material karbonat yang dibawa oleh air.3. yaitu bentuk-bentuk minor dan bentuk-bentuk mayor. dalam Widagdo. Bila jumlah karst runnel banyak dan saling berpotongan maka akan membentuk karst split. d) Palung Karst. adalah celah pelarutan yang terbentuk dipermukaan. sedang bentang alam karst mayor adalah bentang alam yang dapat diamati baik didalam foto udara atau peta topografi. topografi konstruksional dapat dikelompokkan menjadi dua macam. 2. Bentuk-bentuk topografi minor adalah : a) Lapies. merupakan bentuk tak rata pada permukaan batugamping akibat adanya proses pelarutan. 1984). Bentang Alam Hasil Proses Karstifikasi Bentuk morfologi yang menyusun suatu bentang alam karst dapat dibedakan menjadi dua macam (Srijono. yaitu bentuk-bentuk konstruksional dan bentuk-bentuk sisa pelarutan. b) Karst split. Topografi karst yang dapat terbentuk pada daerah tropis basah sangat bervariasi baik konstruksional maupun topografi sisa. dibentuk oleh proses pelarutan. yang dimaksud dengan bentang alam karst minor adalah bentang alam yang tak dapat diamati pada foto udara atau peta topografi. Karst split sebenarnya merupakan perkembangan dari karst-runnel (solution runnel). Kedalamannya dapat mencapai lebih dari 7 . Srijono (1984). penggerusan atau karena proses lain. adalah alur pada permukaan batuan yang besar dan lebar.agrasifitasnya naik. Menurut Bloom (1979). Berdasarkan ukurannya. adalah alur pada permukaan yang memanjang membentuk parit. c) Parit Karst.

dengan lubang-lubang yang saling berhubungan. e) Lembah Karst. f) Fitokarst. yaitu depresi tertutup hasil pelarutan denagn diameter mulai dari beberapa meter sampai beberapa kilometer. f) Gua. adalah permukaan yang berlekuk-lekuk. adalah depresi tertutup yang besar. Bentuk-bentuk topografi mayor adalah : a) Surupan. adalah lembah atau alur yang besar yang terdapat pada lahan karst. Hiasan ini merupakan endapan CaCO3 yang mengalami presipitasi pada saat air tanah yang membawanya masuk kedalam gua. d) Jendela karst. bentuknya seperti tetesan air. mengkilat dan menonjol. yaitu lorong bawah tanah yang terbentuk oleh pelarutan dan penggerusan air tanah atau oleh aliran bawah sedangkan terowongan alam memiliki ukuran yang bervariasi artinya dapat berukuran besar atau kecil. b) Uvala. yaitu serambi tau ruangan bawah tanah yang dapat dicapai dari permukaan dan cukup besar bila dimasuki oleh manusia. adalah lubang pada atap gua yang menghubungkan antara ruang dalam gua dengan udara diluar yang terbentuk karena atap gua tersebut runtuh. c) Polje. depresi tertutup yang besar dengan lantai dasar dan dinding yang curam. g) Terowongan dan jembatan alam. 8 . terdiri dari gabungan beberapa doline. kedalamannya mencapai ratusan meter dan bentuknya dapat bundar atau lonjong (oval). adalah hiasan yang terdapat didalam gua yang dihasilkan oleh endapan berwarna putih. e) Speleothem. biasanya terbentuk pada permukaan batuan yang datar atau miring rendah dan dikontrol oleh struktur yang memanjang.50 cm. lantai dasarnya tidak rata. bentuknya tidak teratur dan biasanya memanjang searah jurus perlapisan atau zona lemah structural.

tegak atau menggantung. terpisah satu dengan yang lain dan dikelilingi oleh dataran alluvial. adalah bukit sisa pelarutan dan erosi berbentuk menara dengan lereng yang terjal. umumnya dikelilingi oleh dataran alluvial yang hampir rata (flat). adalah bukit terjal yang merupakan sisa pelarutan dan erosi. berlereng terjal dan dikelilingi oleh depresi yang biasanya disebut sebagai bintang. Bentuknya kadang-kadang tidak simetri antara sisi yang mengarah ke arah datangnya angin dengan sisi sebaliknya 9 . b) Menara karst. c) Mogote.Bentuk-bentuk sisa pelarutan adalah morfologi yang terbentuk karena pelarutan dan erosi sudah berjalan sangat lanjut sehingga meninggalkan sisa yang khas untuk lahan karst. yaitu bukit karst yang berbentuk kerucut. Bentuk lahannya adalah sebagai berikut : a) Kerucut karst.

1 Satuan Daerah Karst IK = 12000 × skala = 12000 ×25000 = 12.5100×100 % = 100 m • % Sayatan 3 d = 0.BAB III PERHITUNGAN MORFOMETRI 3.5 % 62.5 cm x 25000 = 12500 cm = 125 m % lereng = ∆hd ×100 % = 62.5 m = 62.5 m • Sayatan 1 d % = 0.4 cm x 25000 = 10000 cm % lereng = ∆hd ×100 = = 62.7 cm x 25000 % lereng = ∆hd ×100 10 .5125×100 = 50 % • % Sayatan 2 d = 0.5 m Δh = jumlah kontur x IK = 5 x 12.

5 m Δh = jumlah kontur x IK = 5 x 12.5 m 11 .5200×100 % % lereng = ∆hd ×100 % = = 31.5150×100 % % lereng = ∆hd ×100 % = = 41.714+41.714 % = 175 m • Sayatan 4 d = 0.6 cm x 25000 = 15000 cm 62.25 % = 200 m rata-rata % lereng beda tinggi = 50+62.2 Satuan Daerah Struktural IK = 12000 × skala = 12000 ×25000 = 12.5175×100 % = = 35.67+31.255 = 44.= 17500 cm 62.227 % = 663-610 = 53 m 3.67 % = 150 m • Sayatan 5 d = 0.8 cm x 25000 = 20000 cm 62.5+35.

67 % • Sayatan 4 d = 1.4 cm x 25000 = 35000 cm % lereng = ∆hd ×100 = = 17.5 cm x 25000 = 37500 cm = 375 m % lereng = ∆hd ×100 % = = 16.5350×100 % = 350 m • Sayatan 3 d 62.73 % • % Sayatan 2 d = 1.86 % 62.625 % 62.5 m • Sayatan 1 d % = 1.5375×100 % = 1.= 62.5400×100 % = 400 m • Sayatan 5 d = 1 cm x 25000 % lereng = ∆hd ×100 % 12 .5275×100 = 22.1 cm x 25000 = 27500 cm = 275 m % lereng = ∆hd ×100 % = 62.6 cm x 25000 = 40000 cm % lereng = ∆hd ×100 % = = 15.

67 % = 250 m rata-rata % lereng beda tinggi = 22.73+17.625+255 = 19.5250×100 % = = 41.67+15.= 25000 cm 62.86+16.577 % = 671-388 = 283 m 13 .

dan batuan metamorf tetapi litologi yang paling dominan adalah batuan sedimen. Litologi yang terdapat disini adalah batuan sedimen. dan morfometri dari bentang alam karst dan bentang alam struktural. 4. Morfologi yang terdapat di bentang alam struktural ini adalah sungai dengan pola pengaliran dendritik yang dapat dicirikan dengan kenampakan anak sungai yang menyerupai cabang pohon dengan suatu garis yang memotong kontur. batuan beku.BAB IV PEMBAHASAN Bentang alam karst adalah bentang alam yang proses pembentukannya dipengaruhi oleh proses pelarutan batuan. Pada bentang alam ini. Pada praktikum kali ini. Dari hasil perhitungan morfometri didapat persentase kelerengan satuan daerah volkanik berkontur sangat rapat sebesar 19. Pada satuan daerah berkontur sangat rapat ini juga didapat perbedaan tinggi antara top hill dan down hill-nya yaitu sebesar 283 m. praktikan mendeliniasi bentang alam karst dengan warna oranye dan bentang alam struktural dengan warna ungu tua. batuan yang biasanya terlarutkan adalah batugamping yang dimana batuan tersebut mempunyai porositas dan permeabilitas yang tinggi. Vegetasi yang terdapat di satuan daerah struktural adalah pepohonan. pola pengaliran. 14 .1 Satuan Daerah Struktural (Ungu Tua) Satuan daerah bentang alam struktural ini dideliniasi dengan menggunakan warna ungu tua. Selain itu praktikan juga diharuskan membuat pola jalan.577% atau berdasarkan klasifikasi kelerengan Van Zuidam termasuk berbukit terjal atau curam. Kemudian dibuat sayatan yang mewakili 5 kontur yang kemudian digunakan untuk menghitung morfometri atau persentase kelerengannya.

objek studi geologi. dan penambangan batukapur. erosi. Tata guna lahannya adalah sebagai lahan untuk dibangun pemukiman warga dan juga sebagai lahan perkebunan dan pertanian.277% atau berdasarkan klasifikasi kelerengan Van Zuidam termasuk daerah perbukitan sangat terjal. Litologi yang terdapat disini adalah batuan beku dan batugamping. campuran pembuatan semen. Kemudian dibuat sayatan yang mewakili 5 kontur yang kemudian digunakan untuk menghitung morfometri atau persentase kelerengannya.2 Satuan Daerah Karst Satuan daerah bentang alam karst ini dideliniasi dengan menggunakan oranye. 4. bahan baku industriindustri seperti untuk bahan pemutih. Dari hasil perhitungan morfometri didapat persentase kelerengan satuan daerah volkanik berkontur sangat rapat sebesar 44. Morfologi yang terdapat di bentang alam karst ini adalah sungai dengan pola pengaliran multibasinal yaitu pola pengaliran yang timbul dan tiba-tiba menghilang. erosi dan gerakan tanah sering terjadi. ornamen/hiasan. Bentang alam karst ini terbentuk dari proses pengangkatan daratan laut dangkal dengan dicirikan yaitu adanya batu gamping dan juga beraksinya batuanbatuan jika ditetesi oleh larutan HCL. Sedangkan potensi negatifnya adalah longsor. Vegetasi yang terdapat di bentang alam karst adalah pohon jati. penjernih air dan bahan pestisida. Dan juga karst sendiri tersusun oleh sisasisa organisme laut dangkal yang telah mati dan akhirnya membentuk batuan sedimen karbonatan.Potensi positif dari satuan daerah struktural berkontur renggang adalah sebagai objek studi geologi. dan sering terjadi gerakan tanah. 15 . Tata guna lahannya adalah sebagai tempat aktivitas penambangan batukapur dan pemanfaatan sumber air. Pada satuan daerah berkontur rapat ini juga didapat perbedaan tinggi antara top hill dan down hill-nya yaitu sebesar 53 m. Potensi positif dari bentang alam karst adalah sebagai sumber mineral karbonatan.

BAB V PENUTUP 5. 16 . • Litologi yang terdapat pada bentang alam karst umumnya batugamping 5. erosi dan gerakan tanah sering terjadi dan beda tinggi antara top hill dan down hill nya sebesar 53 m. • Besar rata-rata persentase kelerengan satuan daerah bentang alam volkanik berkontur rapat dengan sayatan 5 kontur adalah sebesar 44.577 % atau atau berdasarkan klasifikasi Van Zuidam tergolong berbukit terjal dan beda tinggi antara top hill dan down hill nya sebesar 283 m.2 Saran • • Praktikan sebaiknya menguasi materi sebelum melakukan praktikum. Praktikan harus serius mengikuti kegiatan praktikum dan menjaga ketertiban selama praktikum berlangsung.1 Kesimpulan • Besar rata-rata persentase kelerengan satuan daerah bentang alam struktural dengan sayatan 5 kontur adalah sebesar 19.277% atau berdasarkan klasifikasi Van Zuidam tergolong pegunungan sangat terjal.

com/2010/05/26/potensi-topografi-karst-di-gunungkidul/ (diakses pada 2 Mei 2011 pukul 15. Djauhari. 2009. Semarang : Program Studi Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.DAFTAR PUSTAKA Asisten Geologi Fisik 2010.com 17 . 2010. Panduan Praktikum Geologi Fisik dan Dinamik.wordpress. Proses-Proses Geologi dalam : http://www. http://cahyaroma.00) Noor.docstoc.