1

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Remaja adalah masa peralihan antara kanak-kanak menuju dewasa. Remaja mempunyai keinginan yang kuat untuk mengetahui dan memahami perubahan-perubahan yang terjadi pada remaja termasuk masalah masalah kesehatan reproduksi. Akan tetapi sampai saat ini pemberian informasi terhadap remaja tentang kesehatan reproduksi dari orang tua masih rendah. (Jurnal Kesehatan

Masyarakat Nasional,2007) Dibanyak negara, anak perempuan dan laki-laki yang belum menikah sudah aktif secara seksual sebelum mencapai umur 15 tahun. Survei terakhir terhadap anak laki-laki yang berusia 15-19 tahun di Brazil, Hungaria, Kenya, menemukan bahwa lebih dari seperempat dilaporkan telah melakukan hubungan seksual sebelum usia mereka mencapai 15 tahun. ( UNICEF & WHO, 2002) Hasil riset Synovate tahun 2004 yang dilakukan di empat kota yakni Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan. Dari 450 responden, 44% mengaku berhubungan seks pertama kali pada usia 16-18 tahun. Bahkan ada 16 responden yang mengenal seks sejak usia 13-15 tahun. Sebanyak 40% responden melakukan hubungan seks di rumah. Sedangkan 26% melakukannya di tempat kos, dan 20 % lainnya di hotel. (PKBI, 2008)

2

Berdasarkan survei terhadap 8084 remaja laki-laki dan remaja putri usia 15-24 tahun di 20 kabupaten pada empat propinsi (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Lampung) menemukan 46,2% remaja masih menganggap bahwa perempuan tidak akan hamil hanya dengan sekali melakukan hubungan seks. Kesalahan persepsi ini sebagian besar diyakini oleh remaja laki-laki (49,7%) dibandingkan pada remaja putri (42,3%). Dari survei yang sama juga didapatkan bahwa hanya 19,2% remaja yang menyadari peningkatan risiko untuk tertular PMS bila memiliki pasangan seksual lebih dari satu. 51% mengira bahwa mereka akan berisiko tertular HIV hanya bila berhubungan seks dengan pekerja seks komersial.

(www.kesrepro.com, 2007) Usaha-usaha untuk memasyarakatkan kesehatan reproduksi melalui keluarga telah dilakukan oleh pemerintah melalui beberapa program antara lain Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) telah membentuk kelompok-kelompok Bina keluarga Remaja (BKR) yang sasarannya adalah keluarga yang memiliki anak remaja. Namun demikian dari program pemerintah yang telah dilaksanakan, masih banyak kendala yang ditemui di lapangan diantaranya komunikasi antara orang tua dan remaja masih lemah. Kondisi tersebut didukung dengan beberapa penemuan dari berbagai studi. Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia yang

dilakukan pada tahun 2002 – 2003, menemukan bahwa remaja wanita yang melakukan diskusi tentang kesehatan reproduksi dengan orang

3

tuanya sebesar 49 %, sedangkan pada remaja pria hanya sebesar 13 %. Sejauh ini relatif sedikit remaja yang menerima informasi mengenai kesehatan reproduksi dari orang tua atau keluarga. Informasi yang tersering diterima remaja dari orang tua nya tentang haid (42,2%), senggama (15,5%), PMS (16,9%). Remaja laki-laki lebih senang membahas masalah seksualitas dengan teman (24,4%), dari pada dengan ayah (15%) atau ibunya (20,6%). Sedangkan pada remaja perempuan lebih suka membahas permasalah seksualitas dengan pasangannya (46%) dari pada dengan ayah (2,2%) atau ibunya (38,2%). Remaja usia 10-24 tahun yang pernah membicarakan masalah kesehatan reproduksi remaja dengan ibunya sekitar (46%), sedangkan yang membicarakan dengan ayahnya (17%). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ekasari di kecamatan Soreang dan Banjaran Kabupaten Bandung tahun 2007, dengan subjek penelitian adalah ayah yang mempunyai anak remaja berusia 10-19 tahun menunjukkan hasil bahwa remaja putri yang berdiskusi tentang kesehatan reproduksi dengan orang tuanya sebesar 49 % sedangkan remaja putri hanya sebesar 13 %. Selain itu penelitian ini menemukan bahwa 51 % responden memperlihatkan pola komunikasi dan pemberian informasi yang kurang. Penelitian ini menunjukkan variabel ketersediaan waktu ayah pada hari kerja terlihat berhubungan secara bermakna dengan pola komunikasi dan pemberian informasi kesehatan reproduksi antara

4

ayah dan anak remaja. Ayah dengan waktu sedikit berisiko lebih besar untuk mempunyai pola komunikasi dan pemberian informasi yang kurang. Jalinan komunikasi dengan teman lebih baik bila dibandingkan dengan orang tua. Diantara kedua orang tua, ibu lebih akrab dengan anak-anak, baik anak laki-laki maupun perempuan. Ayah cenderung kurang dekat dengan anak-anak karena cepat marah, jarang ada waktu untuk ngobrol, ditakuti dengan ayah umumnya oleh anak, serta jika berhubungan karena anak-anak memerlukan.

(Ekasari,2007) Peneliti dari Boston College, Rebekah Levine Coley

menyatakan terdapat kemungkinan bahwa hubungan dekat antara ayah dan putrinya bisa membantu mencegah anak remaja melakukan aktivitas seksual berisiko, seperti berhubungan badan di luar nikah dan berhubungan badan tanpa pengaman dengan rekan sebayanya. Semakin penuh perhatian si ayah, semakin ia mengetahui lebih banyak teman-teman anaknya, maka semakin besar pula dampaknya terhadap kehidupan seksual sang anak, demikian yang ditemui dalam riset terhadap 3.206 remaja usia 13-18 tahun di Amerika. Meski sang ibu juga memiliki kemampuan untuk melakukan hal yang sama, namun ketika sang ayah yang memberi nasihat akan berdampak 2 kali lipat. (bkkbn.go.id) Dampak pergaulan bebas mengantarkan pada kegiatan menyimpang seperti seks bebas, tindak kriminal termasuk aborsi,

5

narkoba, serta berkembangnya penyakit menular seksual (PMS). Dari aspek medis meburut Dr. Budi Martino L, SPOG, seks bebas memiliki banyak konsekuensi misalnya penyakit menular seksual (PMS), selain juga infeksi infertilitas, dan kanker. Menurut WHO di seluruh dunia, setiap tahun diperkirakan sekitar 40-60 juta ibu yang tidak menginginkan kehamilan melakukan aborsi. Setiap tahun diperkirakan 500.000 ibu mengalami kematian oleh kehamilan dan persalinan. Sekitar 30-50% diantaranya meninggal akibat komplikasi abortus yang tidak aman dan 90% terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia. (halalsehat.com) Berdasarkan survei yang dilakukan pada delapan SMU/SMK periode September hingga Oktober tahun 2008 oleh PKBI terhadap sejumlah siswa-siswi di Samarinda, dari 300 sampel yang diambil disetiap sekolah, dari pengetahuan remaja tentang seksual, 49% remaja mengartikan perilaku seksual adalah hubungan seksual, 24% bergandengan tangan, 11% berpelukan, 16% bercumbu. Dari aktivitas yang dilakukan pada saat pacaran, 45% berpegangan tangan, 24% berpelukan, 18% berciuman, 9% melakukan hubungan seksual, dan 4% tidak melakukan apa-apa. Dari 300 sampel sebanyak 12% atau 36 siswa-siswi diantaranya pelajar di Samarinda (Kalimantan Timur) mengaku pernah melakukan hubungan seks di luar nikah. Survei yang dilakukan dengan menggunakan metode

kuisioner ini menunjukkan, 33% karena alasan dorongan seksual, 28% sebagai bukti cinta, 22% suka sama suka, 17% terpaksa melakukan

6

hubungan seks. Dari tempat melakukan hubungan seksual, sebanyak 14 % hubungan seks tersebut dilakukan di sekolah, 28% responden mengaku melakukannya dirumah. Umumnya siswa melakukan

hubungan badan diluar nikah dengan pekerja seks komersial (PSK), sisanya dengan teman sekolah dan lainnya. Sementara siswi melakukan hubungan seks dibawah umur diperkirakan didominasi faktor nafsu (kurang moral), serta mengikuti trend (pergaulan bebas). (PKBI KALTIM, 2008) Pengetahuan seksualitas yang diterima oleh remaja dari sumber yang benar dapat menjadikan faktor untuk memberikan dasar yang kuat bagi remaja dalam menyikapi segala perilaku seksual yang semakin menuju kematangan. Masalah-masalah perilaku seksual di kalangan remaja diakibatkan karena kurangnya pengetahuan

mengenai seksualitas, sehingga praktis mereka buta terhadap masalah seks. (http : eprints.ums.ac.id) Berdasarkan paparan diatas, bahwa pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi mereka sangatlah penting, kemudian upaya-upaya telah dilakukan oleh berbagai pihak, hasil upaya tersebut menunjukkan bahwa peran ayah masih sangat rendah serta belum adanya penelitian tentang hubungan pengetahuan remaja tentang dan peran ayah dalam komunikasi tentang kesehatan reproduksi terhadap perilaku seks remaja maka dipandang perlu diadakan penelitian untuk mengetahui hal tersebut.

7

Penelitian

ini

bertujuan

untuk

mengetahui

hubungan

pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dan peran ayah dalam komunikasi terhadap perilaku seks remaja. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda. Penelitian ini dilakukan di SMA Katolik WR.Soepratman Samarinda didasarkan kepada beberapa pertimbangan antara lain belum pernah dilakukan penelitian tentang hubungan pengetahuan remaja dan peran ayah dalam komunikasi tentang kesehatan reproduksi terhadap perilaku seks remaja. SMAK WR. Soepratman Samarinda terletak dengan pusat kota Samarinda dengan akses transportasi yang sangat mudah yang tentunya juga memudahkan para siswa-siswi untuk mendapatkan berbagai informasi pengetahuan termasuk informasi pengetahuan mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi remaja melalui berbagai sumber. Selain itu siswa-siswi termasuk dalam golongan

usia remaja yang sudah mulai melakukan aktivitas berpacaran, walaupun tidak semua bersikap terbuka terhadap aktivitas berpacaran mereka. Mereka selalu ingin tahu tentang masalah seksualitas dan kesehatan reproduksi, yang biasanya malah mereka dapatkan melalui teman sebaya. Pengetahuan yang salah tentang kesehatan reproduksi akan berisiko terhadap mereka untuk melakukan hal yang

membahayakan bagi kesehatan mereka seperti melakukan hubungan seks pra nikah.

8

Di SMAK WR.Soepratman diketahui bahwa jenis pekerjaan orang tua khususnya ayah lebih di dominasi oleh pekerjaan pegawai perusahaan swasta dan wiraswasta apabila di bandingkan dengan

pegawai negeri sipil yaitu dengan perbandingan 70% : 30%. Hal itu sangat berbanding terbalik apabila di bandingkan dengan SMA Negeri. Berdasarkan informasi yang didapatkan di SMA Negeri 1 Samarinda diketahui bahwa jenis pekerjaan orang tua khususnya ayah lebih di dominasi oleh pekerjaan pegawai negeri sipil apabila di bandingkan dengan pekerjaan pegawai perusahaan swasta dan wiraswasta yaitu dengan perbandingan 75% : 25%. Dimana biasanya jumlah kerja swasta lebih banyak apabila dibandingkan dengan PNS. Sehingga secara langsung akan

mempengaruhi ketersediaan waktu ayah di rumah dan intensitas dalam berkomunikasi dengan anak-anaknya. Penelitian ini berkaitan dengan pilar kesehatan masyarakat yaitu tentang pendidikan ilmu dan perilaku kesehatan, khususnya kesehatan reproduksi remaja. Selain itu melihat tingginya angka hubungan seks pra nikah pada remaja SMA serta latar belakang di atas maka dengan demikian perlunya melakukan penelitian dengan judul : “Hubungan pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dan peran ayah dalam komunikasi terhadap perilaku seks remaja.di SMA Katolik WR. Soepratman Kota Samarinda Tahun 2009 ”

9

B.

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas maka dapat dirumuskan sebagai berikut : “Apakah ada hubungan pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dan peran ayah dalam komunikasi terhadap perilaku seks remaja di SMA Katolik WR. Soepratman Kota Samarinda Tahun 2009”.

C.

Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui hubungan pengetahuan remaja tentang

kesehatan reproduksi dan peran ayah dalam komunikasi terhadap perilaku seks remaja di SMA Katolik WR. Soepratman Kota Samarinda Tahun 2009. 2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui hubungan pengetahuan remaja tentang kesehatan

reproduksi terhadap perilaku seks remaja di SMA Katolik WR. Soepratman di Kota Samarinda.
b. Mengetahui hubungan peran ayah dalam komunikasi terhadap

perilaku seks remaja di SMA Katolik WR. Soepratman di Kota Samarinda.

10

D.

Manfaat 1. Bagi Instansi Kesehatan Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi Instansi Kesehatan Kota Samarinda dalam rangka penentuan arah kebijakan di bidang kesehatan, khususnya mengenai

kesehatan reproduksi remaja. 2. Bagi Fakultas Memberikan tambahan informasi ilmiah yang berhubungan dengan ilmu dan perilaku kesehatan khususnya tentang kesehatan reproduksi remaja. 3. Bagi Sekolah Sebagai bahan masukan untuk kurikulum lokal memasukkan mata pelajaran kesehatan reproduksi di sekolah. 4. Bagi Peneliti Sebagai tambahan wawasan dan pengetahuan bagi peneliti mengenai hubungan pengetahuan remaja dan peran ayah dalam komunikasi tentang kesehatan reproduksi terhadap perilaku seks remaja. agar

11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengetahuan 1. Pengertian Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang di milikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya ). Dengan sendirinya, pada waktu pengindraan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui melalui indera pendengaran (telinga), dan indera penglihatan (mata). Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda (Notoatmodjo, 2005) 2. Tingkat Pengetahuan Menurut Bloom yang dikutip Notoatmodjo (2005) bahwa pengetahuan secara garis besar dibagi dalam enam tingkatan , yaitu :
a.

Tahu ( know)

12

Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu.
b.

Memahami (comprehension)

Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak sekedar menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut.
c.

Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan apbila orang yang telah memahami objek yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain.
d.

Analisis (analysis)

Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan/atau memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang itu sudah sampai pada tingkat analisis adalah apabila orang telah dapat membedakan, atau memisahkan, mengelompokkan

membuat diagram (bagan) terhadap pengetahuan atas objek tersebut.
e.

Sintesis (synthesis)

13

Sintesis menunjukan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakan dalam suatu hubungan yang logis dari komponen-komponen pengetahuan yang dimilki. Dengan kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi-formulasi yang telah ada.
f. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi

berkaitan

dengan

kemampuan

seseorang

untuk

melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku di masyarakat. Berdasarkan survei yang dilakukan pada delapan SMU/SMK periode September hingga Oktober tahun 2008 oleh PKBI terhadap sejumlah siswa-siswi di Samarinda, sebanyak 300 sampel yang diambil disetiap sekolah. Pengetahuan remaja tentang seksual, 49% remaja mengartikan perilaku seksual adalah hubungan seksual, 24% bergandengan tangan, 11% berpelukan, 16% bercumbu. Pengertian remaja pendidikan seks, 46% mempelajari organ reproduksi dan 3% mempelajari cara bercinta. Kapan pendidikan seks diberikan pada remaja, 38% sedini mungkin, 13% masa pacaran. (PKBI KALTIM, 2008) Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan

wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang

14

ingin diukur dari subyek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat disesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut di atas. (Notoatdmodjo, 2005) Skala Guttman akan didapat jawaban yang tegas yaitu “ya-tidak”, “benar-salah”, “positif-negatif”, “Pernah- tidak pernah”dan lain-lain. Penelitian dengan menggunakan skala Guttman dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan. (Riduwan, 2009) Skala ini dapat digunakan untuk mengukur berbagai macam fenomena yang berbeda, misalnya pengetahuan, penggunaan obatobatan terlarang, kepemilikkan. (Prasetyo dan Jannah, 2008) B. Peran Ayah Memahami Peran Ayah Sejak tahun 1970-an, banyak ahli psikologi secara langsung meneliti peran ayah dalam keluarga. Hasil penelitian terhadap perkembangan anak yang tidak mendapat asuhan dan perhatian ayah menyimpulkan, perkembangan anak menjadi pincang.

Kelompok anak yang kurang mendapat perhatian ayahnya cenderung memiliki kemampuan akademis menurun, aktivitas sosial terhambat dan interaksi sosial terbatas. Bahkan bagi anak laki-laki ciri-ciri maskulinnya bisa menjadi kabur. Jumlah waktu bukanlah faktor penentuan dalam

menimbulkan pengaruh orang tua pada anaknya. Yang menjadi inti

15

sesungguhnya

adalah

bagaimana

kualitas

dan

intensitas

pertemuan ini. Keseringan kontak orang tua dengan anaknya bukanlah suatu ukuran dan jaminan. Pernyataan yang lebih mendasar adalah bukan jumlah waktu seorang ayah bersama anaknya setiap hari tetapi apa dan bagaimana yang ia lakukan pada saat bersama anaknya. Tidak diragukan lagi ayah berperan penting dalam

perkembangan anaknya secara langsung. Ayah juga dapat mengatur serta mengarahkan aktivitas anak. Misalnya

menyadarkan anak menghadapi lingkungannya dan situsi di dunia luar. Semua tindakan ini adalah cara ayah (orang tua) untuk memperkenalkan anak dengan lingkungan hidupnya dan dapat mempengaruhi anak dalam menghadapi perubahan sosial dan membantu perkembangan kognitifnya di kemudian hari. Peran Ayah pada Pengasuhan Anak Tugas seorang ayah tidaklah mudah, mencari nafkah dan mengusahakan keutuhan keluarga adalah dua tugas penting yang harus disandangnya. Disamping itu ayah juga harus berperan dalam menciptakan kebersamaan dan komunikasi dengan

keluarganya. Kebersamaan dan komunikasi yang baik dapat diciptakan melalui beberapa kegiatan yang bisa dilakukan ayah bersama keluarga. Kegiatan tersebut dapat dibagi ke dalam tiga jenis, yaitu melakukan aktivitas sehari-hari, berolahraga, dan bermain bersama istri dan anak-anak.

16

Keluarga yang sehat memerlukan keterlibatan kedua orang tua dalam mengasuh dan mendidik anak, dengan demikian anak pun akan mempunyai figur orang tua yang seimbang serta memiliki hubungan emosional yang lebih kuat dengan ayah ibunya. Ikatan antara ayah dan anak memberikan warna tersendiri dalam pembentukan karakter anak. Hal ini dikarenakan karakter pria yang berbeda dengan sosok wanita yang akan memberikan sumbangan unik pada anak. Ayah membantu anak bersifat tegar, kompetitif, menyukai tantangan, dan senang bereksplorasi. Jika ibu memerankan sosok yang memberikan perlindungan dan keteraturan, sedangkan ayah membantu anak bebas bereksplorasi dan menyukai tantangan. Jika anak diasuh oleh keduanya secara optimal, maka akan terbentuk rasa aman dan percaya dalam diri anak. Peranan Ayah dalam Perkembangan Seksual Anak Orang tua memperlihatkan sikap jelas terhadap anak lakilaki dan perempuan. Keinginan harapan dan perilaku orang tua terhadap anaknya akan membentuk suatu pola. Dan semenjak ini pula awal perbedaan kisah pri-wanita. Tetapi pada masyarakat sekarang sudah ada gejala untuk memperkecil jurang perbedaan tersebut. Ayah mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan peran seksual. Hubungan timbal-balik ayah dengan anak putri yang mengatakan, figur ayah itu penting bagi anak putri dalam

17

mempelajari lawan jenisnya. Dikatakan gejala ini mulai sebelum masa remaja. Biasanya anak putri dari seorang ibu yang janda akan memperlihatkan sikap malu dan perasaan tidak enak bila berada di sekitar anak laki-laki. Berbeda dengan anak putri yang hidup dengan ayahnya. Ia lebih tegas terhadap anak laki-laki dan laki-laki umumnya. Anak putri ini bahkan lebih memberikan respon terhadap kaum pria. Anak laki-laki dalam perkembangannya menuju dewasa juga situasi keluarga. Tergantung pada siapakah yang paling berperan dalam keluarga. Bila posisi ibu lebih dominan maka hal itu dapat menyebabkan si anak menganggap bahwa ayah bukan model panutannya. Situasi ini bagi anak laki-laki akan mengakibatkan kurang memperlihatkan sikap sebagai seorang laki-laki. Tetapi bila dalam keluarga yang lebih dominan berperan adalah ayah maka anak menganggap ayahnya sebagai tokoh panutan. Sementara pada anak putri keadaan ini kurang dipengaruhi. Ayah memang mempengaruhi putrinya namun dengan cara yang berbeda. Sifat kewanitaan seorang putri berkaitan dengan cara yang berbeda. Sifat kewanitaan seorang putri berkaitan dengan sifat kelaki-lakian seorang ayah. Ketika menginjak usia remaja pergaulan seorang anak putri terhadap lawan jenisnya akan lebih ditentukan bagaimana hubungan awal antara ayah dengan anak putrinya itu. Bila hubungan itu tidak intim maka dapat

18

membawa kesulitan bagi putrinya dalam bergaul dengan teman pria di kemudian hari. Ada cara lain bagaimana seorang ayah mempengaruhi anaknya untuk bersikap sesuai dengan peran jenis kelaminnya, yaitu dengan cara mendidik dan mendikte secara pribadi. Dauglas Sawin dan Ross de Parke telah menemukan bahwa perhatian seorang ayah terhadap putrinya secara pribadi jauh lebih kuat daripada terhadap putranya. Ayah mempengaruhi perkembangan anak-anaknya dengan berbagai cara. Penampilan mereka

merupakan model panutan bagi anak-anaknya dalam pergaulan dan sikap sehari-hari. Malah lebih dari ibu, ia lebih memberikan kesan mendalam dalam perkembangan sikap putra-putrinya. Revolusi Peran Ayah Beberapa sejarahwan berkeyakinan bahwa kecilnya peran ayah terhadap anaknya bukan sebagai akibat perbedaan biologis. Perubahan pandangan ini mulai berkembang sejak revolusi industri. Pola pikiran tradisional yang membedakan siapa yang bekerja di luar rumah dan siapa di rumah tidak pelak lagi dalam perjalanan sejarah sudah mulai berubah. Adanya perubahan sosial pada saat ini, misalnya ayah tidak bekerja dan berdiam di rumah, serta adanya fleksibilitas jam kerja memungkinkan seorang ayah mempunyai lebih banyak waktu bersama anaknya. Jumlah Waktu Ayah

19

Baru-baru ini pemerintah Swedia mengeluarkan peraturan yang mengizinkan semua kaum pria untuk tinggalkan pekerjaan pada waktu tertentu, pada saat istrinya bersalin. Dan bahkan 15 % di antaranya tinggal bersama bayinya selama sebulan atau lebih. Fleksibilitas jam kerja seorang ayah dapat menyebabkan ia lebih banyak waktu dengan anaknya. Misalnya ia masih sempat mengurus keperluan ketika anaknya pergi atau pulang sekolah. Hubungan antara ayah dengan anaknya dapat menjadi dekat sekali jika setiap hari secara rutin ada bersama anak-anaknya. Banyak perubahan lain yang muncul dalam bidang

pekerjaan, yang menimbulkan kemungkinan lebih besar bagi kaum laki-laki untuk mengambil bagian dalam mengasuh anak.

Perubahan di bidang kerja ini menjadi biasa di Amerika dan Eropa. Juga muncul bentuk jam kerja yang lain seperti bekerja hanya penggal waktu, juga membawa dampak dalam keluarga.

Fleksibilitas jam kerja dapat memunculkan hal-hal baru antara lain dapat mempengaruhi hubungan ayah dengan anak. (Dagun,Save M, 2002) Peran ayah dapat menurunkan potensi seks dini pada anak Kemudahan untuk mengakses informasi yang semakin terbuka membuat anak-anak mudah terekspos pada hal-hal yang sebenarnya belum waktunya mereka ketahui. Masalah seks misalnya. Apalagi jika ditambah dengan dorongan untuk

berhubungan badan di usia dini mendapat "stimulasi" dari teman-

20

teman sebayanya. Untuk mencegah hal ini terjadi pada anak perempuan, diperlukan sebuah usaha lebih dari seorang ayah untuk mendekatkan diri dan membantu mereka lebih pandai menjaga diri. Peneliti dari Boston College, Rebekah Levine Coley menyatakan terdapat kemungkinan bahwa hubungan dekat antara ayah dan putrinya bisa membantu mencegah anak remaja melakukan aktivitas seksual berisiko, seperti berhubungan badan di luar nikah dan berhubungan badan tanpa pengaman dengan rekan sebayanya. Semakin penuh perhatian si ayah, semakin ia mengetahui lebih banyak teman-teman anaknya, maka semakin besar pula dampaknya terhadap kehidupan seksual sang anak, demikian yang ditemui dalam riset terhadap 3.206 remaja usia 1318 tahun di Amerika. Meski sang ibu juga memiliki kemampuan untuk melakukan hal yang sama, namun ketika sang ayah yang memberi nasihat akan berdampak 2 kali lipat. Tolan juga menyatakan, semakin banyak orang tua

menghabiskan waktu bersama anak-anak, semakin sedikit waktu yang mereka habiskan di luar pengawasan orang tua. Juga, ketika orang tua menyisihkan waktu untuk berbincang dengan anak-anak, mereka akan mempelajari nilai-nilai yang orang tua miliki. Dan mereka akan lebih banyak berpikir sebelum bertindak. Mereka akan memikirkan apa yang akan pikir tentang mereka sebelum mereka memutuskan melakukan tindakan-tindakan tertentu.

21

Namun, waktu yang dihabiskan bersama anak pun harus diisi dengan kegiatan yang berkualitas. Jika anak-anak

menghindari orangtuanya karena atmosfer di rumahnya tegang, menambah waktu bersama tak akan membantu. Diperlukan usaha ekstra dari ayah dan ibu untuk bisa tetap memiliki hubungan yang erat dengan anak-anak remajanya meski si anak menolak mereka. (www.bkkbn.go.id) Penelitian yang dilakukan oleh Ekasari tentang pola komunikasi dan informasi kesehatan reproduksi antara ayah dan remaja menemukan 51 (51 %) responden dengan pola komunikasi dan pemberian informasi kategori kurang 49 (49%) responden dengan pola komunikasi dan pemberian informasi kategori baik. Ditemukan ayah yang bekerja 78 orang (78%) dan ibu yang bekerja 62 orang (62%) responden menyatakan istrinya tidak bekerja. Responden yang mempunyai anak laki-laki 41 (41%) responden, yang mempunyai anak perempuan 41 (41%) responden, dan yang mempunyai anak laki-laki dan perempuan adalah 18 (18%). Responden dengan pengetahuan tinggi 47 (47%) responden. Ketersediaan waktu ayah dibedakan atas ketersediaan waktu ayah pada hari kerja dan ketersediaan waktu ayah hari libur. Ketersediaan waktu ayah pada hari kerja yang sedikit (< 3 jam) adalah 72 (72%) dan ketersediaan waktu ayah pada hari libur yang sedikit (< 3 jam) adalah 51 (51%) dan dengan waktu banyak (> 3 jam) 49 (49%) responden. Keterpaparan media informasi

22

dikategorikan berdasarkan akses responden dalam mendapatkan informasi. Responden pernah mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi remaja meskipun hanya 1 kali dan dari media apapun, maka dikategorikan terpapar. Responden yang tidak pernah terpapar informasi tentang kesehatan reproduksi dari media 51 (51%). Penelitian ini menunjukkan variabel ketersediaan waktu ayah pada hari kerja terlihat berhubungan secara bermakna dengan pola komunikasi dan pemberian informasi kesehatan reproduksi antara ayah dan anak remaja. Ayah dengan waktu sedikit berisiko lebih besar untuk mempunyai pola komunikasi dan pemberian informasi yang kurang. (Ekasari,2007) C. Pola Komunikasi dalam Keluarga 1. Pengertian Komunikasi adalah inti dari semua perhubungan.

Komunikasi dapat berlangsung setiap saat, kapan saja, oleh siapa saja dan dengan siapa saja. Kelompok pertama yang dialami oleh individu yang baru lahir ialah keluarga. Hubungan yang dilakukan oleh individu itu dengan ibunya, bapaknya dan anggota keluarga lainnya. Karena tanggung jawab orang tua adalah mendidik anak, maka komunikasi yang berlangsung dalam keluarga bernilai pendidikan. Dalam komunikasi itu ada sejumlah norma yang ingin

23

diwariskan oleh orang tua kepada anaknya dengan pengandalan pendidikan. Norma-norma itu misalnya norma agama, norma akhlak, norma sosial norma etika, norma estetika dan norma moral. Fungsi komunikasi dalam keluarga yaitu sebagai fungsi komunikasi sosial dan fungsi komunikasi kultural. Fungsi

komunikasi sosial mengisyaratkan bahwa komunikasi itu penting untuk membangun konsep diri, aktualiasi diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagian, untuk menghindarkan diri dari tekanan dan ketegangan. Sedangkan fungsi komunikasi kultural turut menentukan memelihara, mengembangkan atau mewariskan budaya. Tanpa adanya komunikasi dalam keluarga akibatnya adalah kerawanan hubungan antara anggota keluarga, oleh karena itu komunikasi dalam keluarga perlu dibangun secara harmonis dalam rangka membangun pendidikan yang baik dalam keluarga. (Bahri, 2004) Komunikasi yang efektif penting dalam kehidupan

berkeluarga. Namun tidak semua orang memahami bagaimana resep bagaimana berkomunikasi yang efektif antara ayah dan ibu serta orang tua dan anak.
2. Tipe Komunikasi

24

Tipe komunikasi yang dikemukakan oleh F. Philip Rice yang dikaitkan dengan pola asuh yaitu : a. Tipe Terbuka Tipe ini merupakan tipe komunikasi paling sehat. Antara anak dan orang tua terjalin komunikasi saling terbuka. Orang tua mau mendengarkan anak dan anak secara leluasa dapat bercerita, mengekspresikan perasaan dan pikirannya sera berdiskusi dengan orang tua. Tipe komunikasi seperti ini ada pada pola asuh demokratis atau authoritative. Umpamanya, saat kedua orang tua berbicara mereka memperbolehkan anak menanggapi dan menghargai pendapatnya.

b. Tipe Permukaan Komunikasi yang terjali bukan pada hal-hal penting, tidak detail, tidak nyata, dan sekedar basa-basi saja sebatas permukaan. Di saat orang tua atau anak ingin menggali cerita lebih dalam, komunikasi tidak dapat terwujud karena tidak ada saling keterbukaan. Penyebabnya dapat berupa perasaan takut mengecewakan, malu dan sebagainya. Tipe ini biasanya ada pada pola asuh permisif atau indulgent.
c. Tipe Mengabaikan (avoidance)

25

Komunikasi dimana masing-masing anggota keluarga saling menghindar sehingga tidak terjalin komunikasi. Hal ini bisa disebabkan karena hubungan orang tua yang tidak harmonis atau memang karena pribadi orang tua yang tidak terbuka terhadap anak, dan tidak peduli dengan kebutuhan komunikasi anak dan orang tua. Tipe ini biasanya ada pada pola asuh cuek atau neglectful. Sebenarnya tipe ini hampir sama dengan tipe permukaan hanya saja pada tipe

mengabaikan ini cara bicara orang tua seringkali terbawa emosi.
d. Tipe komunikasi salah

Biasanya terjadi pada pola asuh otoriter dimana orang tua cenderung menuntut anak. Bila tidak sesuai dengan keinginan yang diharapkan orang tua langsung marah-marah. Akibatnya anak selalu takut berbuat salah. Sehingga anak akan lebih sering berbohong. Anak selalu berusaha untuk

menceritakan yang baik-baik saja

atau berbicara seadanya.

Pola asuh seperti ini bisa membuat anak jadi tertutup kepada orang tuanya.
e. Tipe Komunikasi Satu Arah

Tipe komunikasi satu arah terjadi jika dalam keluarga hanya ada satu figur dominan dalam berkomunikasi.
f. Tipe Tanpa Ada Komunikasi

26

Antara anggota keluarga jarang terjadi pembicaraan walaupun sedikit sebenarnya diantara mereka tida ada konflik nyata. Namun akibat darti tipe komunikasi seperti ini adalah orang tua tidak tahu keadaan dan kebutuhan anak. (http : afficeria.multiply.com) 3. Hubungan orang tua dengan anak Salah satu ciri yang menonjol dari remaja yang

mempengaruhi relasinya dengan orang tua adalah perjuangan untuk memperoleh otonomi baik secara fisik dan psikologis. Orang tua tidak lagi dipandang sebagai otoritas yang serba tahu. Secara optimal remaja mengembangkan pandangan-

pandangan yang lebih matang dan realistis dari orang tua mereka, kesadaran bahwa mereka adalah seseorang yang memiliki kemampuan, bakat dan pengetahuan tertentu, mereka memandang orang tua sebagai orang yang dihormati dan sekaligus sebagai orang yang dapat berbuat kesalahan. Hubungan orang tua yang suportif memungkinkan untuk

mengungkapkan perasaan positif dan negatif, yang membantu perkembangan kompetensi social dan otonomi yang bertanggung jawab. Keterikatan dengan orang tua selama masa remaja dapat berfungsi adaptif, yang menyediakan landasan yang kokoh dimana

27

remaja dapat, menjelajahi dan menguasai lingkungan-lingkungan baru dan suatu dunia sosial yang luas dengan cara-cara yang sehat secara psikologis. Keterikatan yan kokoh dengan orang tua akan meningkatkan relasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten dan hubungan erat yang positif di luar keluarga. Keterikatan yang kokoh dengan orang tua juga dapat menyangga remaja dari kecemasan dan perasaan-perasaan depresi sebagai akibat dari masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. (Mar’At, 2008) 4. Konflik Orang Tua - Remaja Masa awal remaja adalah waktu dimana konflik orang tua – remaja meningkat lebih dari konflik orang tua-anak (Montermayor 1982; Steinberg,1991) dalam Santrock,2003. Peningkatan ini bisa terjadi karena beberapa faktor yang telah dibicarakan yang melibatkan pendewasaan orang tua seperti perubahan biologis pubertas, perubahan sosial yang berpusat pada kebebasan dan jati diri, harapan yang tak tercapai, dan perubahan fisik, kognitif dan sosial orang tua sehubungan dengan usia paruh baya. Kebanyakan konflik tersebut jarang melibatkan kejadian sehari-hari dalam kehidupan keluarga. Konfik tersebut jarang melibatkan dilemadilema utama seperti obat-obatan dan kenakalan. Tingkat konflik yang tinggi menandai beberapa hubungan orang tua – remaja. Suatu perkiraan presentase orang tua dan remaja yang terlibat

28

dalam konflik tidak sehat berulang-ulang dan berkepanjangan adalah sekitar satu dalam lima keluarga (Montemayor, 1982 dalam Santrock, 2003) 5. Pendidikan seks oleh orang tua Pendidikan seks adalah salah satu cara untuk mengurangi atau mencegah penyalahgunaan seks, khususnya untuk mencegah dampak-dampak negatif yang tidak diharapkan seperti kehamilan yang tidak direncanakan, penyakit menular seksual, depresi, dan perasaan berdosa. Pandangan pro-kontra pendidikan seks ini pada hakikatnya tergantung sekali pada bagaimana kita mendefinisikan pendidikan seks itu sendiri. Jika pendidikan seks diartikan sebagai pemberian informasi mengenai seluk beluk anatomi dan proses faal dari reproduksi manusia semata ditambah dengan teknik-teknik

pencegahannya (alat kontrasepsi), kecemasan yang disebutkan diatas memang beralasan. Pandangan yang pro menyatakan bahwa remaja yang telah mendapatkan pendidikan seks tidak cenderung lebih sering melakukan hubungan seks, tetapi mereka yang belum pernah mendapat pendidikan seks cenderung lebih banyak mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Penelitian oleh Fox dan Inazu (1980) dalam Sarwono (2006) menunjukkan hasil yang mendukung perlunya pendidikan seks

29

untuk remaja khususnya yang dilakukan oleh orang tua. Penelitian yang dilakukan terhadap 449 pasangan ibu-anak remaja putri (kulit hitam dan kulit putih) ini membuktikan bahwa semakin sering terjadi percakapan tentang seks antara ibu dan anak, tingkah laku seksual anak makin bertanggung jawab. Selanjutnya mereka mengatakan bahwa jika komunikasi antara ibu dan anak dilakukan sebelum anak melakukan hubungan seks, hubungan seks dapat dicegah. Makin awal komunikasi dilakukan, fungsi pencegahannya makin nyata. Akan tetapi jika komunikasi dilakukan setelah hubungan seks terjadi, komunikasi itu justru akan mendorong lebih sering dilakukannya hubungan seks. Meskipun demikian dalam hal ini, pengaruh positif dan komunikasi itu tetap ada, yaitu hubungan seks yang terjadi tidak sampai menimbulkan kehamilan yang tidak diharapkan. (Sarwono,2006) Berdasarkan hasil penelitian Universitas Muhamadiyah Surakarta (2006) terdapat hubungan yang sangat signifikan antara pengetahuan seksualitas dan kualitas komunikasi orang tua-anak dengan perilaku seksual pra-nikah (R= 0,531 dengan p<0,01). (http : eprints.ums.ac.id) Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap siswa SMA kelas XI di kota Bandung tahun pelajaran 2005/2006 hasil perhitungan membuktikan terdapat korelasi positif antara pola komunikasi orang tua-anak dengan stabilitas emosi remaja yaitu sebesar 30.9% dengan tingkat signifikansi sebesar 99%. Pola

30

komunikasi yang dirasakan remaja SMA kelas XI di kota Bandung cenderung pada pola komunikasi interaksional dengan persentase sebesar 87.17%. Sedangkan gambaran emosi remaja SMA Kelas XI di kota Bandung berada pada kategori stabil dengan persentase sebesar 95.23%. Hubungan masing-masing pola komunikasi terhadap stabilitas emosi berbeda-beda. Pola komunikasi stimulus respon dan simetri tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan stabilitas emosi remaja, sedangkan pola komunikasi interaksional memiliki hubungan yang signifikan sebesar 20.9% pada tingkat kepercayaan 99% dengan stabilitas emosi remaja. (www. digilib.upi.edu, 2006) D. Kesehatan Reproduksi Kesehatan reproduksi merupakan keadaan sehat baik secara fisik, jiwa maupun sosial yang berkaitan dengan sistem, fungsi dan proses reproduksi. Reproduksi sendiri merupakan prose salami untuk melanjutkan keturunan. Reproduksi sehat berkaitan dengan sikap dan perilaku sehat dan bertanggung jawab seseorang berkaitan dengan alat reproduksi dan fungsi-fungsinya serta pencegahan terhadap gangguan-gangguan yang mungkin timbul. Maka pemeliharaan kesehatan reproduksi mutlak diperlukan dalam rangka

mengembangkan keturunan yang sehat dan berkualitas di masa dewasanya.

31

Masa remaja merupakan pancaroba yang pesat, baik secara fisik, psikis, dan sosial. Masuknya berbagai informasi yang bebas tidak melalui saringan yang benar menurut etika dan moral, menyebabkan remaja rentan terhadap pengaruh yang merugikan. Keadaan ini diperberat dengan kurang pedulinya keluarga dan masyarakat, bahkan menganggap tabu membicarakan masalah reproduksi. Inilah sebabnya remaja perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan kesehatan reproduksi agar peduli serta dapat menentukan sikap dan bertanggung jawab. Definisi remaja menurut WHO adalah 10-19 tahun dan UU perlindungan anak No. 23 tahun 2002 adalah 10-18 tahun. Anatomi dan fungsi Organ Reproduksi Perempuan : a. Ovarium (indung telur), terdapat pada kiri dan kanan ujung tuba (fimbria dan umbai-umbai) dan terletak di rongga panggul, merupakan kelenjar yang memproduksi hormon estrogen dan progesteron. b. Tuba fallopii (saluran telur), merupakan dua saluran pada kanan dan kiri rahim sepanjang +10 cm yang menghubungkan uterus dan ovarium melalui fimbrae. c. Fimbrae (Umbai-umbai), berfungsi untuk menangkap sel telur yang dikeluarkan indung telur. d. Uterus (rahim),bila tidak terjadi pembuahan maka lapisan uterus akan terlepas dan keluar melalui vagina yang disebut menstruasi.

32

e. Serviks (leher rahim), merupakan daeran bagian bawah rahim yang berhubungan dengan bagian atas vagina. f. Vagina (liang kemaluan), merupakan saluran yang elastis, panjangnya sekitar 8-10 cm, dan berakhir pada rahim. Vagina dilalui darah pada saat menstruasi dan merupakan jalan lahir. g. Klitoris (kelentit), organ kecil yang berada di atas uretra dan dilindungi lipatan labium minora. h. Labia (bibir kemaluan), terdiri dari dua bibir yaitu bibir luar dan bibir dalam. Remaja perempuan akan mengalami menstruasi, menstruasi adalah proses peluruhan lapisan dalam atau endometrium yang banyak mengandung pembuluh darah dari uterus melalui vagina. Menstruasi yang pertama (menarche) merupakan tanda awal pubertas. Biasanya siklus menstruasi pada remaja belum teratur, dapat terjadi 2 kali dalam sebulan, atau beberapa bulan tidak menstruasi lagi. Hal ini beralangsung kira-kira tiga tahun. Masalah keperawanan pada remaja, dikatakan perawan apabila belum pernah melakukan hubungan seksual (penis masuk ke dalam vagina). Di mulut vagina terdapat selaput dara (hymen), suatu selaput yang akan robek pada saat bersenggama,

kecelakaan, masturbasi/onani yang terlalu dalam, olah raga dan sebagainya. Sunat pada perempuan / pemotongan kulit klitoris tidak bermanfaat bahkan bila dilakukan tidak steril menimbulkan infeksi, sehingga secara medis tidak dianjurkan.

33

Anatomi dan fungsi Organ Reproduksi Laki-laki : a. Testis (buah pelir), merupakan organ (2 buah)

penghasil hormon testosteron dan spermatozoa. b. Skrotum, kantong kulit yang melindungi testis,

berwarna gelap dan berlipat – lipat. Scrotum adalah tempat bergantungnya testis ke dinding perut dengan maksud

mengatur testis agar relatif tetap. c. Vas deferens (saluran sperma), saluran yang

menyalurkan sperma dari testis epididimis menuju ke uretra / saluran kencing pars prostatika. d. Prostat, vesikula seminalis dan beberapa kelenjar

lainnya. Kelenjar-kelenjar yang menghasilkan cairan sperma yang berguna untuk memberi makanan pada sperma. e. Penis, berfungsi sebagai alat senggama dan sebagai

saluran untuk pengeluaran sperma dan air seni. Banyak mengandung pembuluh darah dan syaraf. Dapat berubah dari yang semula kecil dan lemas menjadi besar dan tegang saat ereksi. Hal ini terjadi karena penis terisi darah saat terangsang. Penis tidak mengandung tulang dan tidak terbentuk dari otot. Ukuran dan bentuk penis bervariasi, namun umumnya bila penis ereksi ukurannya hampir sama. f. Preputium, lekukan kulit yang melindungi kepala penis. Mekanisme fungsi yang khusus dari organ reproduksi lakilaki dapat ditunjukkan dengan beberapa peristiwa seperti :

34

Ereksi, pengerasan dan pembesaran pada penis yang terjadi ketika pembuluh darah dipenuhi dengan darah. Ereksi diperlukan laki-laki untuk melakukan hubungan seksual. Ereksi bisa terjadi karena rangsangan seksual. Misalnya, ketika orang lain atau diri sendiri menyentuh penis atau buah pelir. Kita juga bisa terangsang ketika kita menonton adegan erotis di televisi, melihat gambargambar seksi, atau berfantasi seksual yaitu membayangkan adegan-adegan erotis. Ejakulasi, keluarnya cairan sperma melalui saluran kemih, bisa terjadi melalui rangsangan maupun tanpa rangsangan (mimpi basah). Ejakulasi yang dilakukan dengan rangsangan terhadap organ seks sendiri disebut masturbasi atau onani. Mimpi basah, peristiwa keluarnya sperma saat tidur, sering pada saat mimpi tentang seks. Mimpi basah sebetulnya merupakan salah satu cara alami berejakulasi. Ejakulasi terjadi karena sperma, yang terus menerus diproduksi dan perlu keluar. Masturbasi atau onani merupakan aktifitas merangsang dengan menyentuh atau meraba organ genitalia dengan cara merangsang diri sendiri pada penisnya sehingga terjadi ereksi dan berakhir dengan ejakulasi. Dengan demikian produksi spermatozoa yang bertumpuk akan dilepaskan secara paksa. ( Depkes RI, 2007) Kelompok remaja adalah segmen yang besar dan berkembang sebagai bagian dari populasi. Walaupun masa remaja secara umum adalah suatu periode yang sehat dalam kehidupan, banyak anak

35

remaja sering kurang mendapatkan penerangan, kurang pengalaman, dan kurang nyaman mengakses pelayanan keluarga berencana dan jasa kesehatan reproduksi jika dibandingkan dengan orang dewasa. Kelompok remaja kemungkinan mengalami kesulitan, bahkan

permusuhan dari kelompok dewasa, ketika mereka mencoba untuk memperoleh jasa dan informasi kesehatan reproduksi yang mereka butuhkan. Sebagai akibatnya, mereka kemungkinan mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi, dan PMS dan HIVAIDS. (Zohra & Raharjo, 1999) Unwanted Pregnancy atau dikenal sebagai kehamilan yang tidak diinginkan adalah suatu kehamilan yang karena suatu sebab maka keberadaannya tidak diinginkan oleh salah satu atau kedua calon orang tua bayi. Kehamilan ini bisa merupakan akibat dari suatu perilaku seksual atau hubungan seksual baik yang disengaja maupun tidak disengaja. (Yani, Anita dan Yuliasti, 2009) Kehamilan yang tidak diinginkan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan yang lengkap dan benar mengenai proses terjadinya kehamilan dan metode-metode pencegahan kehamilan. Kehamilan yang tidak diinginkan dilatarbelakangi oleh: a. Kehamilan yang terjadi akibat perkosaan. b. Kehamilan yang datang pada saat yang belum diharapkan. c. Janin ternyata diketahui menderita cacat berat. d. Kehamilan yang terjadi akibat hubungan seksual di luar nikah. (Zohra & Raharjo, 1999)

36

Ada dua hal yang bisa dilakukan oleh remaja terhadap kehamilan yang tidak diinginkan, yaitu mempertahankan kehamilan dan mengakhiri kehamilan. Aborsi adalah upaya terminasi kehamilan dengan alasan sosial, ekonomi, dan kesehatan. (Yani, Anita dan Yuliasti, 2009) Melakukan gugur kandung tetap belum dapat diterima karena bertentangan dengan ajaran agama. Akibat gugur kandung yang ditangani orang yang kurang dapat dipertanggung jawabkan akan terjadi pendarahan, kerusakan alat reproduksi remaja, dan infeksi yang mengakibatkan kematian. Disamping itu kesembuhan yang kurang sempurna mengakibatkan kerusakan alat reproduksi dan menimbulkan infeksi menahun dan infertilitas. (Manuaba, 1999) Penelitian PKBI DI Yogyakarta selama tahun 2001 menunjukkan data angka sebesar 722 kasus kehamilan tidak diinginkan pada remaja. Menurut Fakta HAM 2002 data PKBI Pusat menunjukkan 2,3 juta kasus aborsi setiap tahun dimana 15 % diantaranya dilakukan oleh remaja (belum menikah). Faktor penyebab dari perilaku tersebut antara lain yaitu: semakin panjangnya usia remaja, informasi tentang seks yang terbatas, melemahnya nilai-nilai keyakinan serta lemahnya hubungan dengan orang tua. (http://eprints.ums.ac.id) Selain masalah kehamilan remaja, tingkah laku seksual yang menyimpang dapat menyebabkan remaja terjangkit PMS ( Penyakit Menular Seksual). Penyakit menular seksual merupakan salah satu infeksi saluran reproduksi yang ditularkan melalui hubungan kelamin.

37

Kuman penyebab infeksi tersebut dapat berupa jamur, virus, parasit. Termasuk didalam kelompok PMS adalah gonore, sifilis, HIV/AIDS, Hepatitis B, C. Cara penularan PMS termasuk HIV/AIDS, dapat melalui : 1. Hubungan seksual yang tidak terlindungi, baik melalui

vagina, anus maupun oral. 2. Penularan dari ibu ke janin selama kehamilan, persalinan,

sesudah bayi baru lahir. 3. Melalui tranfusi darah, suntikan atau kontak langsung

dengan cairan darah. (Yani, Anita dan Yuliasti, 2009) Hampir setengah dari infeksi HIV secara keseluruhan terjadi pada pria dan perempuan dengan usia di bawah 25 tahun, dan di banyak negara berkembang, data menunjukkan bahwa sampai 60 % dari semua infeksi HIV baru terjadi pada kelompok usia antara 15-24 tahun. (Bunga Rampai,2005) Di sebuah daerah, 36% penderita penyakit menular seksual adalah pelajar. Dalam sebuah survei ditemukan hanya 27% remaja Indonesia yang tahu kegunaan kondom, artinya kurang lebih 27% pula yang tahu bahwa kondom dapat mengurangi risiko tertular penyakit seksual. Dari jumlah itu, 1% pernah memakai, 10% mungkin akan membeli bila perlu, sedangkan 12% menyatakan tidak tahu . Dari 14.628 kasus HIV/AIDS, 242 kasus di antaranya adalah anak muda berusia 15-19 tahun (98 kasus karena penggunaan narkoba

38

suntik),4.884 kasus terjadi pada remaja 20-29 tahun (3.089 kasus karena penggunaan narkoba suntik ). Ini artinya, 1 dari 2 penderita HIV/AIDS adalah remaja berusia 15-29 tahun. Jumlah ini masih dapat berlipat ganda dan nyatanya banyak remaja memiliki informasi yang salah tentang HIV/AIDS. Hasil survei UNICEF menunjukkan bahwa 20% dari responden remaja yakin bahwa Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) pasti terlihat sangat sakit, 7% mengenali ODHA dari bercak di kulitnya, 4% dari wajah yang pucat pasi, dan 41% mengaku tidak tahu bagaimana mengenali ODHA. Hanya 12% yang percaya pada hasil tes darah. (www.duniawanita.com) E. Remaja Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescere (kata bendanya, adolescentia yang berarti remaja) yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolesence, seperti yang digunakan saat ini, mempunyai arti yang lebih luas mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik. Pandangan ini diungkapkan oleh Piaget (121) dalam (Hurlock,2006) dengan mengatakan ” Secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak.

39

Integrasi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek efektif, kurang lebih berhubungan dengan masa puber, termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok. Transformasi intelektual yang khas dari cara berpikir remaja ini memungkinkannya untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa, yang kenyataannya merupakan perkembangan ini”. Lazimnya masa remaja dianggap mulai pada saat anak secara seksual menjadi matang dan berakhir saat ia mencapai usia matang secara hukum. Namun, penelitian tentang perubahan perilaku, sikap dan nilai-nilai sepanjang masa remaja tidak hanya menunjukkan bahwa setiap perubahan terjadi lebih cepat pada awal masa remaja daripada tahap akhir masa remaja, tetapi juga menunjukkan bahwa perilaku, sikap dan nilai-nilai pada awal masa remaja berbeda dengan pada akhir masa remaja. Dengan demikian secara umum masa remaja dibagi menjadi dua bagian, yaitu awal masa dan akhir masa remaja. Awal masa remaja berlangsung kira-kira dari tiga belas tahun sampai enam belas atau tujuh belas tahun dan akhir masa remaja bermula dari usia 16 atau 17 tahun sampai delapan belas tahun. Dengan demikian akhir masa remaja merupakan periode yang sangat singkat. (Hurlock, 2006) ciri khas yang umum dari periode

Mohammad (1994) dalam Notoatmodjo (2007) mengemukakan bahwa remaja adalah anak berusia 13-25 tahun, di mana usia 13

40

tahun merupakan batas usia pubertas pada umumnya, yaitu ketika secara biologis sudah mengalami kematangan seksual dan usia 25 tahun adalah usia ketika mereka pada umunya secara sosial dan psikologis mampu mandiri. Berdasarkan uraian di atas ada dua hal penting menyangkut batasan remaja, yaitu mereka sedang mengalami perubahan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa dan perubahan tersebut menyangkut perubahan fisik dan psikologis. Aspek Perubahan pada Remaja : Dua aspek pokok dalam perubahan remaja, yakni perubahan fisik atau biologis dan perubahan psikologis. a. Perubahan Fisik Pubertas Masa remaja diawali dengan pertumbuhan yang sangat cepat dan biasanya disebut pubertas. Seperti yang

dikemukakan oleh santrock (1993) dalam Notoatmodjo (2007) puberty is a rapid change to phisycal maturation involving hormonal and bodily changes that occur primarily during early adolescence. Dengan adanya perubahan yang cepat itu terjadilah perubahan fisik yang dapat diamati seperti

pertambahan tinggi dan berat badan pada remaja atau biasa disebut pertumbuhan dan kematangan seksual sebagai hasil dari perubahan hormonal. Antara remaja putra dan remaja putri kematangan seksual terjadi dalam usia yang agak berbeda. Coleman and

41

Hendry (1990) dan Walton (1994) dalam Notoatmodjo (2007) mengatakan bahwa kematangan seksual pada remaja pria biasanya terjadi pada usia 10,0 – 13,5 tahun sedangkan pada remaja putri terjadi pada usia 9,0 – 15,0 tahun. Bagi anak lakilaki perubahan itu ditandai oleh perkembangan pada organ seksual mulai tumbuhnya rambut kemaluan, perubahan suara dan juga ejakulasi pertama melalui wet dream atau mimpi basah sedangkan pada remaja putri pubertas ditandai dengan menarche (haid pertama), perubahan pada dada (mamae), tumbuhnya rambut kemaluan, dan juga pembesaran panggul. Usia menarche rata-rata juga bervariasi dengan rentang umur 10 hingga 16,5 tahun. b. Perubahan Psikologis Masa remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Masa transisi sering kali menghadapkan individu yang bersangkutan pada situasi yang membingungkan, di satu pihak ia masih kanak-kanak dan di lain pihak ia harus bertingkah laku seperti orang dewasa. Situasisituasi yang menimbulkan konflik itu sering menyebabkan banyak tingkah laku yang aneh, canggung, dan kalu tidak dikontrol bisa menimbulkan kenakalan. Masa remaja merupakan masa dimana banyak terjadi perubahan fisik sebagai akibat mulai berfungsinya kelenjar

42

endrokin yang menghasilkan berbagai hormon yang akan mempengaruhi pertumbuhan secara keseluruhan dan

pertumbuhan organ seks pada khususnya. Masa remaja serinng disebut juga sebagai masa pancaroba, masa krisis dan masa pencarian identitas. Kenakalan remaja terjadi pada umumnya karena tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan mereka seperti kebutuhan akan prestasi, kebutuhan akan konformitas,

kebutuhan seksual, kebutuhan yang berhubungan dengan kehidupan keluarga dan kebutuhan akan identitas diri serta kebutuhan popularitas. Dalam usahanya untuk mencari identitas diri, seorang remaja sering membantah orang tuanya karena ia mulai mempunyai pendapat-pendapat sendiri, cita-cita dan nilai-nilai sendiri yang berbeda dengan orang tuanya. Sebenarnya mereka belum cukup mampu untuk berdiri sendiri oleh karena itu sering mereka terjerumus ke dalam kegiatan-kegiatan yang menyimpang dari aturan atau disebut dengan kenakalan remaja. Salah satu bentuk kenakalan remaja itu adalah perilaku seksual remaja pranikah. Determinan Perkembangan Remaja : Keluarga, sekolah, dan tetangga merupakan aspek yang secara langsung mempengaruhi kehidupan remaja. Sedangkan struktur sosial, ekonomi, politik dan budaya lingkungan merupakan

43

aspek yang memberikan pengaruh secara tidak langsung terhadap kehidupan remaja. Secara garis besarnya ada dua tekanan pokok yang berhubungan dengan kehidupan remaja, yaitu internal pressure (tekanan dari dalam diri remaja) dan external pressure (tekanan dari luar). Tekanan dari dalam (internal pressure) merupakan tekanan psikologis dan emosional. Sedangkan teman sebaya, orang tua dan masyarakat merupakan sumber dari luar (external pressure). Teori ini akan membantu kita memahami masalah yang dihadapi remaja salah satunya adalah masalah kesehatan reproduksi. (Notoatmodjo,2007) F. Perilaku Dari segi biologis, perilaku adalah suatu kegiatan aktivitas organisme (mahluk hidup)yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari sudut pandang biologis, semua mahluk hidup mulai dari tumbuhtumbuhan mempunyai aktivitas masing-masing. Sehingga yang dimaksud dengan peilaku manusia, pada hakikatnya adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah menulis, membaca dan sebagainya. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung, maupun tidak dapat diamati dari pihak luar. (Notoatmodjo,2003)

44

Bloom dalam Notoatmodjo (2003), membagi perilaku kedalam 3 domain (ranah/ kawasan), yang terdiri dari : ranah kognitif (cognitive
domain), ranah afektif (affective domain), ranah psikomotor (pcychomotor domain). Dalam perkembangan selanjutnya oleh para ahli pendidikan

dan untuk kepentingan pengukuran hasil pendidikan, ketiga domain ini diukur dari: a. Pengetahuan peserta didik terhadap materi pendidikan yang diberikan (knowledge). b. Sikap dan anggapan peserta didik terhadap materi pendidikan yang diberikan (attitude). c. Praktek dan tindakan yang dilakukan peserta didik sehubungan dengan materi pendidikan yang diberikan (practice). Pengukuran atau cara mengamati perilaku dapat dilakukan melalui dua cara, secara langsung maupun secara tidak langsung. Pengukuran yang paling baik adalah secara langsung, yakni dengan pengamatan (observasi), yaitu mengamati tindakan tindakan dari subjek dalam rangka memelihara kesehatannya. Sedangkan cara tidak langsung dengan menggunakan metode mengingat kembali (recall). Metode ini dilakukan melalui pertanyaan-pertanyaan terhadap subjek tentang apa yang telah dilakukan berhubungan dengan objek tertentu. (Notoatmodjo, 2005)

45

G. Perilaku Seksual Remaja Perilaku seksual adalah perilaku yang muncul karena adanya dorongan seksual. Bentuknya bermacammacam, mulai dari

bergandengan

tangan,

berpelukan,

bercumbu,

sampai

dengan

berhubungan seks. (PKBI, 2004). Perilaku seksual remaja terdiri dari tiga buah kata yang memiliki pengertian yang sangat berbeda satu sama lainnya. Perilaku dapat diartikan sebagai respons organisme atau respon seseorang terhadap stimulus (rangsangan) yang ada. Sedangkan seksual adalah

rangsangan – rangsangan atau dorongan yang timbul berhubungan dengan seks. Jadi perilaku seksual remaja adalah tindakan yang dilakukan oleh remaja berhubungan dengan dorongan seksual yang datang baik dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya. (Notoatmodjo, 2007) Adanya penurunan usia rata-rata pubertas mendorong remaja untuk aktif secara seksual lebih dini. Dan adanya persepsi bahwa dirinya memiliki risiko yang lebih rendah atau tidak berisiko sama sekali yang berhubungan dengan perilaku seksual, semakin

mendorong remaja memenuhi dorongan seksualnya pada saat sebelum menikah. Persepsi seperti ini disebut youth vulnerability oleh Quadrel et.al (1993) dikutip dalam (Notoatmodjo,2007) juga

menyatakan bahwa remaja cenderung melakukan underestimate terhadap vulnerability dirinya. Banyak remaja mengira bahwa

kehamilan tidak akan terjadi pada intercourse (senggama) yang

46

pertama kali atau mereka merasa bahwa dirinya tidak akan pernah terinfeksi HIV/ AIDS karena pertahanan tubuh yang kuat. Ada beberapa konsep mengenai kesehatan reproduksi. Batasan kesehatan reproduksi menurut International Conference on Population and Development (ICPD) hampir berdekatan dengan batasan ‘sehat’ dari WHO. Kesehatan reproduksi menurut ICPD adalah keadaan sehat jasmani, rohani, dan bukan hanya terlepas dari ketidak hadiran penyakit atau kecacatan semata, yang berhubungan dengan sistem, fungsi dan proses reproduksi (ICPD,1994) dalam Notoatmodjo (2007). Beberapa tahun sebelumnya Rai dan nassim mengemukakan definisi kesehatan reproduksi mencakup kondisi dimana wanita dan pria dapat melakukan hubungan seks secara aman, dengan atau tanpa tujuan terjadinya kehamilan, dan bila kehamilan diinginkan, wanita dimungkinkan menjalani kehamilan dengan aman, melahirkan anak yang sehat serta di dalam kondisi siap merawat anak yang dilahirkan (iskandar 1995) dalam Notoatmodjo (2007). Dari definisi kesehatan reproduksi tersebut ada beberapa faktor yang berhubungan dengan status kesehatan reproduksi seseorang yaitu faktor sosial, ekonomi, budaya perilaku lingkungan yang tidak sehat, dan ada tidaknya fasilitas pelayanan kesehatan yang mampu mengatasi gangguan jasmani dan rohani. Dan tidak adanya akses informasi merupakan faktor tersendiri yang juga mempengaruhi kesehatan reproduksi.

47

Secara umum terdapat 4 (empat) faktor yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi yakni : 1. Faktor sosial ekonomi dam demografi. Faktor ini

berhubungan dengan kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah dan ketidaktahuan mengenai perkembangan seksual dan proses reproduksi, serta lokasi tempat tinggal yang terpencil. 2. Faktor budaya dan lingkungan, antara lain adalah

praktik tradisional yang berdampak buruk terhadap kesehatan reproduksi, keyakinan banyak anak banyak rezeki dan informasi yang membingungkan anak dan remaja mengenai fungsi dan proses reproduksi. 3. Faktor psikologis. Keretakan orang tua akan

memberikan dampak pada kehidupan remaja, depresi yang disebabkan ketidak seimbangan hormonal, rasa tidak berharganya wanita di mata pria yang membeli kebebasan dengan materi. 4. Faktor biologis, antara lain cacat sejak lahir, cacat

pada saluran reproduksi dan sebagainya. (Notoatmodjo, 2007) Menurut Pendidikan Penelitian Kesehatan (1999). Sebuah stándar untuk mengukur strategi interpersoneal heterogen perilaku dikalanagn kaum muda Adolescent Seksual Activity Indeks (ASAI). Tujuan dari ASAI adalah untuk menyajikan tentang data baru yang mengukur aktivitas seksual dari remaja. ASAI adalah alat ukur pertama dari aktivitas seksual yang menggunakan skala Guttman sebagai dasar skala penciptaan.

48

Ada 13 Indeks ASAI yang digunakan dalam pengukuran, yaitu sebagai berikut :
1.

Berpelukan (Hugging). Memegang tangan. Menghabiskan waktu berduaan. Berciuman (kissing). Bermanja-manjaan (cuddling). Tidur bersama-sama. Membiarkan pasangan/kekasih meraba anggota tubuh. Meraba anggota tubuh pasangan/kekasih. Melepaskan pakaian dan memperlihatkan alat kelamin. Terlibat dalam hubungan badan (intercourse). Tiga (3) item tambahan yaitu sebagai berikut : 11. Frekuensi melakukan hubungan seks selama 30 hari sebelumnya.

2. 3.
4. 5.

6. 7. 8.
9. 10.

12.

Jumlah pasangan seksual yang berbeda selama 30 hari. Jumlah pasangan seksual yang berbeda selama 1 tahun. Dalam pengukuran ASAI terdapat 11 poin indeks ( 0-10), yang potensial digunakan untuk menilai individu dengan kelompok skor, misalnya secara praktis dapat menetapkan nilai 7,0 pada ASAI

13.

49

sebagai skor relatif. Subjek dengan skor 6,0 mendekati resiko untuk melakukan hubungan seksual. Sedangkan subjek dengan skor 3,0

memiliki resiko kurang untuk melakukan hubungan seksual dan subjek dengan skor yang melebihi 8,0 memiliki karakteristik aktif melakukan hubungan seksual. (http://her.oxfordjournals.org) Hubungan seksual yang pertama dialami oleh remaja

dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu : 1. Waktu atau saat mengalami pubertas. Saat itu mereka tidak pernah memahami tentang apa yang akan dialaminya. 2. Kontrol sosial kurang tepat yaitu terlalu kurang tepat atau terlalu longgar. 3. Frekuensi pertemuan dengan pacarnya. Mereka mempunyai kesempatan untuk melakukan

pertemuan yang makin sering tanpa kontrol yang baik sehingga hubungan akan makin mendalam. 4. Hubungan antar mereka makin romantis. 5. Kondisi keluarga yang tidak memungkinkan untuk mendidik anak-anak untuk memasuki masa remaja dengan baik.

50

6. Kurangnya kontrol dari orang tua, orang tua terlalu

sibuk sehingga perhatian terhadap anak kurang baik.
7. Status ekonomi, mereka yang hidup dengan fasilitas

yang berkecukupan akan mudah melakukan pesiar ke tempat-tempat rawan yang memungkinkan

adanya kesempatan melakukan hubungan seksual. 8. Korban pelecehan seksual yang berhubungan

dengan fasilitas antara lain sering mempergunakan kesempatan yang rawan misalnya pergi ke tempattempat sepi. 9. Tekanan dari teman sebaya, kelompok sebaya kadang-kadang saling ingin menunjukkan

penampilan diri yang salah untuk menunjukkan kematangannya, misal mereka ingin membujuk seorang perempuan untuk melayani kepuasan seksualnya. 10. Peningkatan penggunaan obat terlarang dan alkohol makin lama makin meningkat. 11. Mereka kehilangan kontrol sebab tidak tahu akan batas-batasnya mana yang boleh dan mana yang tidak boleh.

51

12. Mereka merasa sudah saatnya untuk melakukan aktifitas seksual sebab sudah merasa matang secara fisik. 13. Adanya keinginan untuk menunjukkan cinta pada pacarnya 14. Penerimaan aktifitas seksual pacarnya 15. Sekedar untuk menunjukkan kegagahan dan kemampuan fisiknya 16. Terjadi peningkatan rangsangan seksual akibat peningkatan kadar hormon reproduksi seksual. (Soetjiningsih, 2004) Penelitian yang dilakukan pusat penelitian UGM (1991) pada remaja 14-24 tahun di Manado mengungkapkan laki-laki 151 orang dari 146 wanita terbukti 26,6 % melakukan perilaku seks pranikah. Studi PKBI di Kupang, Palembang, Singkawang, Cirebon dan Tasikmalaya (2001) menunjukkan Sebanyak 17 % remaja telah melakukan hubungan seksual pra nikah Studi DKT di Surabaya,

Medan, Jakarta dan Bandung sebanyak 67% pernah melakukan hubungan seksual pra nikah. Pusat studi kesehatan UI (2002) menunjukkan 30 % dari kasus aborsi dilakukan oleh remaja. Survei yang dilakukan pada delapan SMU / SMK di Samarinda periode September hingga Oktober 2008 terhadap sejumlah siswasiswi di Samarinda, dari 300 sampel yang diambil di seluruh sekolah , sebanyak 73 % siswa-siswi mengaku pernah berpacaran, 49 % dari mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dengan perilaku seksual

52

adalah apabila melakukan hubungan seksual, sebanyak 12 % diantaranya mengaku pernah melakukan hubungan badan (seks), 30 % menjawab untuk mencegah terjadinya kehamilan maka

menggunakan alat kontrasepsi pada saat berhubungan seks. H. Hasil-hasil Penelitian Terdahulu Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya oleh Ekasari (2007) tentang pola komunikasi dan informasi kesehatan reproduksi antara ayah dan remaja menunjukkan bahwa remajaputri yang berdiskusi tentang kesehatan reproduksi dengan orang tuanya (49%), sedangkan remaja putra hanya (13%). Penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional ini dilakukan di kecamatan Soreang dan Banjaran, Kabupaten Bandung dengan subjek penelitian adalah ayah yang mempunyai anak remaja usia 10 – 19 tahun. Variabel yang diteliti meliputi faktor predisposisi, faktor pemungkin dan faktor penguat. Faktor predisposisi meliputi status pekerjaan ayah, status bekerja ibu, pendidikan ayah, jenis kelamin anak pengetahuan kesehatan reproduksi. Faktor pemungkin meliputi waktu kumpul ayah dan anak, pajanan dan media informasi. Faktor penguat meliputi dukungan keluarga dan masyarakat. Penelitian ini menemukan bahwa (51%) responden

memperlihatkan pola komunikasi dan pemberian informasi yang kurang. Pada analisis multivariat ditemukan variabel independen yang

53

berhubungan secara bermakna adalah waktu kumpul, dukungan keluarga dan masyarakat. (Ekasari, 2007) Hasil penelitian yang dilakukan oleh SMA Negeri 2 Denpasar April 2007 yang lalu, diperoleh informasi bahwa dari 766 responden terdapat 526 responden yang menyatakan mereka telah melakukan aktivitas seksual seperti pelukan, 458 responden sudah berciuman bibir, 202 responden sudah pernah mencium leher (necking), disusul 138 responden sudah menggesek-gesekkan alat kelamin tanpa berhubungan seks (petting), 103 responden sudah pernah hubungan seksual, dan 159 menyatakan aktivitas seksual lain selain yang disebutkan tadi. Hasil penelitian Persatuan Keluarga Berencana Indonesia pada tahun 2002 diperoleh informasi bahwa minimnya pengetahuan remaja mengenahi kesehatan reproduksi remaja dapat menjerumuskan remaja pada perilaku seks pra nikah dan sebaliknya, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja dapat menunda prilaku seks pra nikah dikalangan remaja. Sementara itu hasil penelitian Soetjiningsih terhadap 398 siswa SMA di Yogyakarta menunjukkan bahwa 95% dari mereka menyatakan pernah mendapat pendidikan yang berkaitan dengan seksualitas dan mereka (94.80%) juga setuju dengan pemberian pendidikan seks bagi kalangan remaja dan figure yang dianggap cocok memberikan pendidikan seks adalah dokter, psikolog dan seksolog. (http:h2dy.wordpress.com)

54

I. Kerangka Teori Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2003), mencoba menganalisis perilaku manusia, berangkat dari tingkat kesehatan. Bahwa kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor pokok, yakni faktor perilaku (behavior causes) dan faktor diluar perilaku (non behavior causes). Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau dibentuk dari tiga faktor, yakni: a. Faktor predisposisi Merupakan faktor anteseden terhadap perilaku yang menjadi dasar atau motivasi bagi perilaku, yang termasuk kedalam faktor ini adalah pengetahuan, sikap, keyakinan dan nilai. Meskipun faktor demografi seperti status sosio ekonomi, umur, jenis kelamin, jumlah anggota keluarga yang juga menyebabkan timbulnya masalah kesehatan. b. Faktor pemungkin Faktor anteseden terhadap perilaku yang memungkinkan suatu motivasi atau inspirasi terlaksana. Yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidaknya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, seperti puskesmas, obat-obatan, alat kontrasepsi, jamban dan lain-lain. c. Faktor penguat Faktor penguat adalah faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan memperoleh dukungan atau tidak. Faktor

55

penguat merupakan faktor penyerta (yang datang sesudah) perilaku yang memberikan ganjaran, insentif, atau hukuman atas perilaku dan berperan bagi memantap dan lenyapnya perilaku itu. Yang termasuk dalam faktor ini adalah tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, keluarga dan teman sebaya. Secara matematis, perilaku menurut Green itu dapat digambarkan sebagai berikut : B = F ( Pf , Ef , Rf ) Keterangan : B = Behavior F = Fungsi Pf = Predisposising Faktors Ef = Enabling Faktors Rf = Reinforcing Faktors Disimpulkan bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap,

kepercayaan, tradisi dan sebagainya dari orang atau masyarakat yang bersangkutan. Disamping itu ketersediaan fasilitas, sikap dan perilaku para petugas kesehatan terhadap kesehatan juga akan mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku.

56

Berikut ini adalah acuan kerangka teori penelitian :
Faktor Predisposisi Pengetahuan. Sikap Nilai

Faktor Pemungkin Lingkungan fisik (tersedia atau tidak nya fasilitas atau sarana kesehatan) Contoh : puskesmas,obatobatan,alat kontrasepsi,jamban.

Perilaku

Faktor Penguat Tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, keluarga dan teman sebaya.

Gambar kerangka konsep berdasarkan acuan dari teori Lawrence Green dalam Notoadmodjo (2005)

57

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian yaitu

Observasional dengan rancangan Cross Sectional Study

suatu rancangan penelitian yang mempelajari hubungan antara variabel bebas dengan variabel tergantung pengukuran sesaat. Penggunaan Cross Sectional Study dalam penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan remaja dan peran ayah dalam komunikasi tentang kesehatan reproduksi terhadap perilaku seks remaja, dengan cara pengumpulan data pada suatu saat atau periode yang sama, dengan langkah-langkah: 1. Merumuskan pertanyaan penelitian beserta hipotesis yang sesuai 2. 3. 4. Mengidentifikasi variabel bebas dan tergantung. Menetapkan subyek penelitian. Melaksanakan pengukuran. dengan melakukan

58

5.

Melakukan analisis. (Sastroasmoro dan Ismael, 2002)

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian dilaksanakan di SMAK WR. Soepratman Samarinda yang merupakan salah satu sekolah swasta katolik yang ada di Samarinda. 2. Waktu Penelitian Waktu penelitian dilakukan pada tanggal 28 November sampai dengan 04 Desember tahun 2009. C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Penelitian ini dilaksanakan di sekolah pada setiap

kecamatan di wilayah Samarinda termasuk Kecamatan Samarinda Ulu. Dengan kriteria inklusi sebagai berikut : 1. Bukan merupakan sekolah kejuruan 2. Bukan merupakan sekolah yang berasrama

59

3. Bukan merupakan sekolah unit malam dan unit mobil 4. Sekolah yang memiliki jumlah siswa minimal siswa Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMAK WR. Soepratman Samarinda tahun 2009. SMAK WR. Soepratman merupakan salah satu SMA yang terletak di kecamatan samarinda Ulu Pada saat penelitian dilakukan jumlah seluruh siswa yang aktif bersekolah adalah 436 siswa. 100

2. Sampel Sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan kriteria inklusi sebagai berikut : 1. Siswa yang pernah berpacaran ataupun yang sedang berpacaran dan siswa yang ayah nya masih hidup. Sampel di SMAK WR. Soepratman Samarinda, yang terpilih untuk dijadikan responden, yang meliputi kelas X, XI dan XII sebanyak 163 siswa. Besar sampel ini menurut Lemeshow (1997), diperoleh dengan menggunakan rumus :
N= Z 2 1 − α / 2 p 1 − p1 d2

(

)
)

N =

1,96 2 × 0,12 1 − 0,12 1 ( 0,05 ) 2

(

60

N=

N =

1,96 2 ×0,1056 162,27 ( 0,0025 )

N = 163 Keterangan : N Z (1- α/2) : besar sampel : z skore berdasarkan derajat kepercayaaan (α) yang Dikehendaki p1 dan p2 d : proporsi penelitian sebelumnya : preposisi yang diinginkan

Dari jumlah sampel di atas maka jumlah tersebut menjadi 163 sampel. 3. Cara Pengambilan Sampel Pemilihan sampel dilakukan secara Proporsional Stratified Random Sampling dengan menggunakan prosedur pengambilan sampel sebagai berikut :
a. Menghitung jumlah siswa pada SMAK WR. Soepratman Samarinda berdasarkan daftar absensi untuk mengetahui jumlah

populasi. Jumlah seluruh populasi adalah 436 siswa.
b. Menghitung besar sampel dengan menggunakan rumus

Lemeshow sehingga didapatkan jumlah sampel sebanyak 163 siswa.

61

c. Menghitung sampel untuk masing-masing tingkatan kelas di

SMAK WR. Soepratman Samarinda. Diperoleh hasil sebagai berikut : Jumlah sampel untuk SMAK WR. Soepratman Samarinda:
1. Sampel kelas X =

Jumlah siswa kelas X Jumlah seluruh siswa SMAK

x Sampel

=

150 436

x

163

=

56 x Sampel

2. Sampel kelas XI = Jumlah siswa kelas XI

Jumlah seluruh siswa SMAK = 150 436 = 56 x Sampel x 163

3. Sampel kelas XII = Jumlah siswa kelas XII

Jumlah seluruh siswa SMAK = 136 436 = D. Kerangka Konsep Kerangka konsep menggambarkan hubungan antara konsepkonsep spesifik yang berbeda-beda ingin diteliti dan bersumber dari konsep-konsep teoritis yang telah digunakan dan dijabarkan di atas. 51 x 163

62

Berdasarkan konsep di atas maka disusunlah pola pikir variabel yang diteliti sebagai berikut :
Faktor predisposisi (predisposing factors) - Pengetahuan remaja terhadap kesehatan reproduksi dan seksualitas

-

Faktor penguat (reinforcing factors) Peran ayah dalam komunikasi tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas

Perilaku Seksual

1. Pernah atau tidaknya ayah berkomunikasi tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas 2. Ketersediaan waktu ayah untuk berkomunikasi

E. Hipotesis Penelitian Berdasarkan kajian teoritis dan empiris maka dapat dirumuskan jawaban sementara yaitu : a. perilaku Ada hubungan antara pengetahuan remaja terhadap seksual pada siswa SMAK WR. Soepratman

Samarinda.

63

b.

Ada hubungan antara pernah atau tidaknya ayah

berkomunikasi tentang masalah kesehatan reproduksi dan perilaku seksual terhadap perilaku seksual pada siswa SMAK WR. Soepratman Samarinda. c. Ada hubungan antara ketersediaan waktu ayah untuk

berkomunikasi terhadap perilaku seksual pada siswa SMAK WR. Soepratman Samarinda. d. Ada hubungan antara peran ayah dalam komunikasi

tentang kesehatan reproduksi terhadap perilaku seksual remaja pada siswa SMAK WR. Soepratman Samarinda.

E. Variabel Penelitian Variabel penelitian terdiri atas : 1. Variabel terikat atau dependen Perilaku seks pranikah pada siswa SMAK WR.Soepratman Kota Samarinda 2. Variabel bebas atau independen a. Pengetahuan remaja b. Pernah atau tidak ayah berkomunikasi tentang kesehatan reproduksi c. Ketersediaan waktu ayah untuk berkomunikasi d. Peran ayah dalam komunikasi

F. Definisi Operasional

64

Tabel 1. Definisi Operasional
NO Variabel Definisi Skala Ukur Alat Ukur Kriteria Objek

1

Perilaku seksual

Aktivitas/kegiatan responden terhadap perilaku seksual dengan menggunakan ASAI yang terdiri dari berpelukan, berpegangan tangan, memeluk, berciuman, menghabiskan waktu berduaan, bermanjaan, tidur bersama-sama, membiarkan pasangan meraba anggota tubuhnya, meraba anggota tubuh orang lain, melepaskan pakaian dan memperlihatkan organ seks, frekuensi melakukan hubungan seks selama 30 hari, jumlah pasangan seksual berbeda selama 30 hari, jumlah pasangan seks yang berbeda selama 12 bulan.

Ordinal ya= 1 tidak= 0

Angket

0. 7-10 = Resiko Tinggi 1. 4-6 = Resiko sedang 2. 1-3 = Resiko rendah 3. 0 = tidak beresiko

2

Pengetahuan tentang kespro dan perilaku seksual

Sejauh mana responden tahu tentang organ reproduksi, pubertas, ciri-ciri seks sekunder, pengertian dan jenis perilaku seksual, seks pranikah, akibat seks pranikah (PMS, kehamillan, aborsi ).

Ordinal Angket Benar = 1 Salah= 0

1.

Cukup : ≥ 80% dari skor total 0. Kurang : < 80%

3

Pernah atau tidak nya berkomunikasi tentang kesehatan reproduksi

Pernah atau tidak nya anak berkomunikasi tentang kesehatan reproduksi dan masalah perilaku seksual kepada ayahnya

Ordinal Pernah = 1 Tidak Pernah = 0 Angket

1. Pernah : Pernah berkomunikasi tentang kesehatan reproduksi dan masalah perilaku seksual kepada ayahnya 0. Tidak Pernah : tidak pernah berkomunikasi tentang kesehatan reproduksi dan masalah perilaku seksual kepada ayahnya

Lanjutan Tabel 1. Definisi Operasional
NO 4 Variabel Ketersediaan waktu ayah Definisi Lamanya ketersediaan waktu ayah untuk berkomunikasi dengan anaknya dalam sehari Skala Ukur Ordinal Alat Ukur Angket Kriteria Objek 1. cukup = jika lama ketersediaan waktu ayah untuk berkomunikasi dengan anak > 3 jam 0. kurang = jika lama ketersediaan waktu ayah untuk berkomunikasi dengan

65

anak < 3 jam

5

Peran ayah dalam komunikasi tentang kesehatan reproduksi (Variabel Komposit)

Pernah atau tidak nya anak berkomunikasi tentang kesehatan reproduksi dan masalah perilaku seksual kepada ayahnya dan Lamanya Ketersediaan waktu ayah untuk berkomunikasi dengan anaknya dalam sehari

1. Baik: jika anak pernah berkomunikasi tentang kesehatan reproduksi dan masalah perilaku seksual kepada ayahnya dan jika lama ketersediaan waktu ayah untuk berkomunikasi dengan anak > 3 jam Ordinal Angket ya= 1 tidak= 0 0. kurang baik : jika anak tidak pernah berkomunikasi tentang kesehatan reproduksi dan masalah perilaku seksual kepada ayahnya dan jika lama ketersediaan waktu ayah untuk berkomunikasi dengan anak < 3 jam

G. Pengumpulan Data 1. Data Primer

Data primer diperoleh melalui daftar pertanyaan (Angket) yang telah disusun sebelumnya berdasarkan tujuan penelitian kemudian diberikan dan diisi sendiri oleh responden. 2. Diperoleh dari instansi Data Sekunder terkait yaitu Tata Usaha Sekolah

bersangkutan dan instansi kesehatan.

H. Pengolahan dan Analisis Data 1. Pengolahan Data

66

a. Coding Adapun langkah dalam tahap pengkodean variabel adalah : 1) Pembuatan daftar variabel, yaitu untuk memberi kode pada semua variabel yang ada dalam angket. 2) Pemindahan hasil pengisian angket ke dalam daftar kode yang ada di dalam angket. 3) Pembuatan daftar koding, yaitu untuk memindahkan hasil pengisian daftar koding angket ke dalam daftar koding tersendiri yang siap untuk dimasukkan di dalam program pemasukan data di komputer. b. Entry Data Proses pemindahan data kedalam komputer agar diperoleh data masukan yang siap diolah sistem dengan menggunakan perangkat lunak pengolahan data statistik. c. Tabulating Mengelompokkan data sesuai dengan tujuan penelitian

kemudian dimasukkan dalam tabel yang sudah disiapkan.

2. Analisis Data Model analisis data yang dilakukan adalah sebagai berikut : a. Analisis Univariat Dilakukan dengan menghitung frekuensi dalam bentuk

persentase dari variabel tingkat pengetahuan remaja dan peran ayah dalam komunikasi tentang kesehatan reproduksi terhadap

67

perilaku seks remaja di SMAK WR. Soepratman Kota Samarinda. b. Analisis Bivariat Dilakukan terhadap tiap variabel untuk melihat hubungan pengetahuan remaja dan peran ayah dalam komunikasi tentang kesehatan reproduksi terhadap perilaku seks remaja di SMAK WR. Soepratman Kota Samarinda dengan

menggunakan uji Chi Square dengan tingkat signifikansi ( α ) = 0,05.

I. Penyajian Data Penyajian data dilakukan dalam bentuk tabel distribusi dan persentase disertai penjelasannya. Selain itu dilakukan dalam bentuk tabel analisis disertai dengan narasi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil

68

1. Gambaran Umum SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda

SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda terletak di jalan WR Supratman No. 18 Samarinda, Kalimantan Timur. SMA Katolik WR. Soepratman di Samarinda berdiri tahun 1963. SMA Katolik WR. Soepratman mempunyai visi terwujudnya SDM yang berilmu pengetahuan dan cerdas terampil dan kreatif serta bermoral kristiani. Sarana dan prasarana yang ada di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda antara lain : 13 ruang kelas, laboratorium IPA, laboratorium komputer, laboratorium bahasa, ruang osis,

ruang UKS, gudang dan ruang perpustakaan. Jumlah siswa pada saat dilaksanakan penelitian berjumlah 436 siswa. Sebanyak 150 siswa kelas X, sebanyak 150 siswa kelas XI, dan sebanyak 136 siswa kelas XII. Jumlah guru di SMA Katolik sebanyak 27 orang, yaitu

sebanyak 22 guru tetap dan 5 guru tidak tetap. Tingkat pendidikan tenaga pengajar tetap, yaitu 1 orang dengan tingkat pendidikan strata-2, 20 orang dengan tingkat pendidikan strata-1 dan 1 orang dengan tingkat pendidikan SLTA. Sedangkan untuk tenaga pengajar tidak tetap, sebanyak 3 orang dengan tingkat pendidikan strata-1, 1 orang dengan tingkat pendidikan D-3, dan 1 orang

dengan tingkat pendidikan SLTA. Dimana seluruh guru memiliki

69

latar belakang pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan. 2. Karakteristik Responden Karakteristik responden meliputi kelas, jenis kelamin, umur, pekerjaan ayah, pendidikan ayah.
a.

Karakteristik responden berdasarkan kelas Karakteristik responden berdasarkan kelas pada siswa SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2. Distribusi responden Berdasarkan Kelas Pada Siswa SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda tahun 2009
Kelas X XI XII Total Jumlah 56 56 51 163 Persentase 34.4 34.4 31.3 100

Berdasarkan kelas, maka responden pada SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda untuk masing-masing tingkatan kelas yaitu kelas X sebanyak 56 siswa, kelas XI sebanyak 56 siswa dan untuk kelas XII sebanyak 51 siswa.

70

b.

Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin pada

siswa SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 3. Distribusi responden Berdasarkan Jenis Kelamin Pada Siswa SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda tahun 2009.
Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Jumlah 81 82 163 Persentase 49.7 50.3 100

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah responden di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 49,7% dan yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 50.3 %
c. Karakteristik responden berdasarkan Umur

Karakteristik responden berdasarkan umur pada siswa SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda dapat dilihat pada tabel berikut :

71

Tabel 4. Distribusi responden Berdasarkan Umur Pada Siswa SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda tahun 2009
Umur Responden < 17 tahun ≥17 tahun Total Jumlah 114 49 163 Persentase 69.9 30.1 100

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar responden di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda berumur kurang dari 17 tahun yaitu dengan persentase sebesar 69.9%.
d. Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan ayah

Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan ayah pada siswa SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 5. Distribusi responden Berdasarkan Pekerjaan Ayah Pada Siswa SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda tahun 2009
Jumlah 139 24 163 Persentase 85.3 14.7 100

Pekerjaan Ayah Swasta PNS Total

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar ayah responden di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda bekerja di sektor swasta yaitu dengan persentase sebesar 85.3%.
e.

Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan

ayah

72

Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan ayah pada siswa SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 6. Distribusi responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Ayah Pada Siswa SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda tahun 2009
Tingkat Pendidikan Ayah
SD SMP SMA D3 Strata-1 Strata-2 Total

Jumlah
8 14 85 4 44 8 163

Persentase
4.9 8.6 52.1 2.5 27 4.9 100

Dari tabel berdasarkan tingkat pendidikan ayah diketahui sebagian besar ayah responden di SMA Katolik WR.

Soepratman Samarinda dengan pendidikan akhir SMA yaitu dengan persentase sebesar 52.1%.

3. Analisa Univariat Analisa ini dilakukan untuk memperoleh gambaran deskripsi tiap-tiap variabel yang digunakan dalam penelitian, data yang dianalisis berasal dari distribusi frekuensi. a. Perilaku Seksual

73

Perilaku

seksual

remaja

adalah

Aktivitas/kegiatan

responden terhadap perilaku seksual dengan menggunakan ASAI yang terdiri dari berpelukan, berpegangan tangan, memeluk, bermanjaan, berciuman, tidur menghabiskan waktu berduaan, pasangan

bersama-sama,

membiarkan

meraba anggota tubuhnya, meraba anggota tubuh orang lain, melepaskan pakaian dan memperlihatkan organ seks, frekuensi melakukan hubungan seks selama 30 hari, jumlah pasangan seksual berbeda selama 30 hari, jumlah pasangan seks yang berbeda selama 12 bulan.

Perilaku

seksual

Remaja

di

SMA

Katolik

WR.

Soepratman Samarinda dibedakan berdasarkan jenis kelamin. dapat dilihat melalui tabel di bawah ini : Tabel 7. Distribusi Perilaku Seksual Responden di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda tahun 2009.
Perempuan Ya tidak n % n % 80 97.56 2 2.44 Laki-Laki tidak n % n % 78 96.3 3 3.7 Ya

No Perilaku seksual 1. Berisiko Tidak berisiko 2. Aktivitas yang dilakukan dengan lawan jenis

74

3.

4.

/pasangan - Berpelukan - Berpegangan tangan - Menghabiskan waktu berduaan - Ciuman - Bermanjaan, mengusap rambut - Tidur-tiduran (baring) bersama - Pasangan meraba anggota tubuh dibalik pakaian - Meraba anggota tubuh pasangan didalam pakaiannya - Melepaskan pakaian & memperlihatkan alat kelamin - Hubungan intim/ seks seperti suami istri Pasangan melakukan aktivitas perilaku seksual : - Pacar - Teman atau TTM - Sahabat - Keluarga - Pekerja seks komersil / PSK Tempat melakukan aktivitas perilaku seksual : - Rumah - kost/kontrakan - sekolah - tempat wisata - rumah makan/warung - hotel, motel, losmen - bioskop - lain-lain

70 80 64 56 57 23 13 12 3 2 82 21 29 1 61 1 26 17 25 41

85.4 97.6 78 68.3 69.5 28 15.9 14.6 3.7 2.4 100 25.6 64.6 1.2 74.4 1.2 31.7 20.7 30.5 50

12 14.6 66 81.5 15 2 2.4 77 95.1 4 18 22 66 81.5 15 26 31.7 53 65.4 28 25 30.5 56 69.1 25 59 72 34 42 47

18.5 4.9 18.5 34.6 50.9 58 66.7 65.4 72.8 75.3 56.8 85.2 97.5 96.3 45.7 86.4 67.9 70.4 92.6 66.7

69 84.1 27 33.3 54 70 85.4 28 34.6 53 79 96.3 22 27.2 59 80 97.6 20 24.7 61 81 100 61 74.4 35 43.2 46 53 35.4 12 14.8 69 81 98.8 2 2.5 79 82 100 3 3.7 78 21 81 56 65 57 82 41 25.6 98.8 68.3 79.3 69.5 100 50 44 11 26 24 6 27 54.3 13.6 32.1 29.6 7.4 33.3 37 70 55 57 75 54

Lanjutan Tabel 7. Distribusi Perilaku Seksual Responden di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda tahun 2009.
Perempuan Ya Tidak n % n % 1 50 Ya n 7 2 7 1 Laki-Laki Tidak % % % 35 10 35 5

No 5.

Perilaku seksual Usia pertama kali melakukan hubungan seksual - 13 - 14 - 15 - 16

75

6.

7.

8. 9. 10. 11. 12. 13.

- 17 Pasangan melakukan hubungan seksual: - Pacar - Teman atau TTM - Sahabat - Keluarga - Pekerja seks komersil / PSK - Pacar dan PSK - Melakukan hubungan seksual selama satu bulan terakhir - Berapa kali melakukan hubungan seks a. 2 b. 3 Memiliki pasangan seks yang berbeda selama satu bulan terakhir Memiliki pasangan seks yang berbeda selama satu tahun terakhir Sedang berpacaran Pernah Berpacaran Usia pertama kali tertarik dengan lawan jenis - < 15 tahun - ≥ 15 tahun Usia mulai berpacaran - < 15 tahun - ≥ 15 tahun

1 2 -

50 100 -

3 19 9 2 4 3 9 7 4 6

15 95 45 10 20 15 45 35 20 30 14 70 45 46.9 1 11 18 20 16 17 11 5 55 90 100 80 85 55

2 2 2 2

100 100 100 100

1 1 52 82 74 8 58 24

50 50 -

1 1 2 2

50 50 100 100

2 100 11 55 9 63.4 32 36.6 43 53.1 38 100 81 100 90.2 9.8 70.7 29.3 75 92.6 6 7.4 62 76.5 19 23.5

Dari tabel berdasarkan perilaku seksual pada semua siswa yang pernah berpacaran ataupun sedang berpacaran di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda diketahui bahwa dari seluruh jumlah responden perempuan sebanyak 81 responden terdapat 2 responden yang tidak berisiko melakukan perilaku seksual dengan persentase (2.44%) sedangkan untuk

responden laki-laki dari 82 responden terdapat 3 responden

76

yang tidak berisiko melakukan perilaku seksual dengan persentase (3.7%). Pada responden terdapat juga yang melakukan perilaku seksual yang mengkhawatirkan seperti melepaskan pakaian & memperlihatkan alat kelamin pada responden perempuan sebesar (3.7%) dan pada responden laki-laki (27.2%). Bahkan terdapat responden yang sampai melakukan hubungan

intim/seks seperti suami istri yaitu sebesar (2.4%) pada responden perempuan dan (24.7%) pada responden laki-laki. Sebagian besar responden melakukan aktivitas seksual tersebut di rumah dengan persentase sebesar (74.4%) pada responden putri sedangkan (54.3%) pada responden laki-laki, dan terdapat responden yang berani melakukan aktivitas seksual di lingkungan sekolah dengan persentase sebesar (31.7%) pada responden perempuan dan (32.1%) pada responden laki-laki. Dari 81 responden perempuan diketahui sebanyak 2 orang atau sebesar (2.4%) yang melakukan hubungan seks pranikah sedangkan pada 82 responden laki-laki diketahui sebanyak 20 orang yang melakukan hubungan seks pranikah atau sebesar (24.7%). Responden perempuan yang telah melakukan seks pra nikah mengatakan usia pertama kali saat melakukan hubungan seksual yaitu usia 16 tahun (50%) dan 17

77

tahun (50%). Sedangkan pada responden laki-laki usia pertama kali saat melakukan hubungan seksual yang paling besar yaitu pada usia 13 tahun (35%) dan 15 tahun (35%). Kemudian pada responden perempuan pasangan

mereka pada saat melakukan hubungan seks adalah dengan pacar (100%) namun pada responden laki-laki terdapat juga responden yang melakukan hubungan seks selain dengan pacar yaitu juga melakukan hubungan seks dengan teman (45%) dan sahabat (10%) bahkan dengan pekerja seks komersil / PSK yaitu sebesar (20%). Yang melakukan hubungan seks sekaligus dengan pacar dan PSK sebanyak 3 orang (15%). Dari pertanyaan tentang aktivitas atau kegiatan

responden terhadap perilaku seksual dengan menggunakan kriteria ASAI yang terdiri dari berpelukan, berpegangan tangan, memeluk, bermanjaan, berciuman, tidur menghabiskan waktu berduaan, pasangan

bersama-sama,

membiarkan

meraba anggota tubuhnya, meraba anggota tubuh orang lain, melepaskan pakaian dan memperlihatkan organ seks, frekuensi melakukan hubungan seks selama 30 hari, jumlah pasangan seksual berbeda selama 30 hari, jumlah pasangan seks yang berbeda selama 12 bulan maka dapat dilihat kriteria resiko

perilaku seksual responden di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda melalui tabel berikut :

78

Tabel 8 Distribusi responden Berdasarkan Kriteria Perilaku Seksual Pada Siswa SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda tahun 2009
Total Sampel Kriteria Perilaku Seksual Tidak Beresiko Resiko Rendah Resiko Sedang Resiko Tinggi Total Perempuan n 2 23 44 13 81 % 2.4 28 53.7 15.9 100 Laki-laki n 3 25 26 27 82 n 3.7 30.9 32.1 33.3 100 n 5 47 70 41 163 % 6.1 58.9 85.8 49.2 200

Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa jumlah responden di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda dengan kriteria

perilaku seksual tidak beresiko pada responden perempuan sebesar (3.7 %) dan pada responden laki-laki (2.4%), beresiko rendah sebesar (28%) pada responden perempuan dan (30.9%) pada responden laki-laki, beresiko sedang (53.7%) pada responden perempuan dan (33.3%) pada responden laki-laki, sedangkan yang beresiko tinggi sebesar (15.9%) pada

responden perempuan dan (33.3%) pada responden laki-laki.

b.

Pengetahuan Pengetahuan adalah Sejauh mana responden tahu tentang organ reproduksi, pubertas, ciri-ciri seks sekunder, pengertian dan jenis perilaku seksual, seks pranikah, akibat

79

seks pranikah. Pengetahuan siswa di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda di bedakan berdasarkan kelas dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 9. Distribusi Pengetahuan Responden Mengenai Perilaku Seksual di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda tahun 2009.
KELAS X Ya tidak n % n % 47 83.9 9 KELAS XI Ya tidak n % n % 8 KELAS XII Ya tidak n % n % 4 7.8

No 1.

2.

3. 4. 5.

6.

7.

Pengetahuan Pengertian kesehatan reproduksi Menjawab benar seluruhnya mengenai organ Reproduksi laki-laki Menjawab benar seluruhnya mengenai Organ reproduksi perempuan Pubertas Pengertian pubertas - Masa peralihan dari masa kanak-kanak menjadi dewasa - Periode dalam kehidupan anak yang mulai matang secara seksual Menjawab benar seluruhnya mengenai ciri-ciri seks sekunder pada laki-laki Menjawab benar seluruhnya mengenai Ciri-ciri seks sekunder pada perempuan

16.1 48 85.7

14.3 47 92.2

1

1.8

55 98.2

3

5.4

53 94.6

5

9.8

46

90.2

1 56

1.8 100

55 98.2

4 7.1 52 92.9 10 19.6 41 54 96.4 2 3.6 50 98 1

80.4 2

29

51.8 27 48.2 31 55.4 25 44.6 25

49

26

51

42

75

14

25

37 66.1 19 33.9 41 80.4 10

19.6

11

19.6 45 80.4 23 46.1 33 53.9 26

51

25

49

19

33.9 37 66.1 25 44.6 31 43.6 25

49

26

51

Lanjutan Tabel 9.

Distribusi Pengetahuan Responden Mengenai Perilaku Seksual di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda tahun 2009.

No

Pengetahuan

KELAS X Ya tidak

KELAS XI Ya tidak

KELAS XII Ya tidak

80

n Menjawab benar seluruhnya mengenai hal-hal yang termasuk perilaku seksual Tahu akibat seks pra nikah Menjawab benar seluruhnya mengenai hal-hal yang disebabkan seks pra nikah Bersenggama menyebabkan kehamilan Menjawab benar seluruhnya mengenai cara mencegah kehamilan Tahu tentang penyakit menular seksual Pengertian penyakit menular seksual Menjawab benar seluruhnya mengenai macam-macam penyakit menular seksual Menjawab benar seluruhnya mengenai hal-hal yang menyebabkan PMS Pengertian kehamilan yang tidak diinginkan Mengetahui tentang aborsi Menjawab benar seluruhnya mengenai pengertian aborsi Menjawab benar seluruhnya mengenai akibat aborsi

%

n

%

n

%

%

n

%

%

n

%

8. 9.

2 55

3.6 98.2

54 96.4 1 1.8

2

3.6

54 96.4 3 5.4

1 50

2 98

50 1

98 2

53 94.6

10. 11.

17 53

30.4 39 69.6 17 30.4 39 69.6 13 25.5 38 94.6 3 5.4 48 85.7 8 14.3 48 94.1 3

74.5 5.9

12. 13. 14.

53 53

94.6 94.6

56 3 3

100 5.4 5.4

-

-

56 8 4

100

1

2

50 8 5

98 15.7 9.8

48 85.7 52 92.9

14.3 43 84.3 7.1 46 90.2

15.

4

7.1

52 92.9

6

10.7 50 89.3

8

15.7 43

84.3

16. 17. 18. 19. 20.

10 42 56 2 3

17.9 46 82.1 16 28.6 40 71.4 22 43.1 29 75 100 3.6 5.4 14 25 36 64.3 20 35.7 34 66.7 17 49 87.5 5 8.9 7 56 12.5 50 100 6 98 1

56.9 33.3 2 100 74.5

54 96.4

11.8 45

53 94.6 10 17.9 46 82.1 13 25.5 38

Pada tabel distribusi pengetahuan dapat dilihat bahwa secara umum pengetahuan responden mengenai kesehatan reproduksi dan perilaku seksual di SMA Katolik WR.

81

Soepratman Samarinda tahun 2009 belum cukup baik. Hal ini terlihat dari persentase jawaban ya masih ada yang mendapat persentase di bawah 50 %. Secara umum, pengetahuan responden yang sudah cukup baik yang dibedakan berdasarkan kelas di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda yaitu pengetahuan mengenai pengertian kesehatan reproduksi sudah terlihat dari persentase (83.9%) pada kelas X, (85.7%) pada kelas XI dan (92.2%) pada kelas XII. Sebagian besar responden juga mengetahui bahwa bersenggama menyebabkan kehamilan terlihat dari persentase (94.6%) pada kelas X, (85.7%) pada kelas XI, dan (94.1%) pada kelas XII. Sebagian besar responden juga mengetahui

mengenai penyakit menular seksual terlihat dari besarnya persentase yaitu (94.6%) pada kelas X, (85.7%) pada kelas XI, dan (84.3%) pada kelas XII. Sedangkan secara umum, pengetahuan responden yang belum cukup baik yang dibedakan berdasarkan kelas di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda yaitu pengetahuan

mengenai organ reproduksi laki-laki hanya sebagian kecil responden yang mengetahui organ reproduksi laki-laki secara lengkap terlihat dari persentase (1.8%) pada kelas X, (5.4%) pada kelas XI, dan (9.8%) pada kelas XII. Begitu juga pengetahuan mengenai organ reproduksi perempuan hanya sebagian kecil responden yang mengetahui organ reproduksi

82

perempuan secara lengkap

terlihat dari persentase (1.8%)

pada kelas X, (7.1%) pada kelas XI, dan (19.6%) pada kelas XII. Untuk pertanyaan mengenai ciri-ciri seks sekunder pada laki-laki responden pada kelas X hanya sebagian kecil yang mengetahuinya secara lengkap terlihat dari persentase (19.6%) begitu juga mengenai ciri-ciri seks sekunder pada perempuan (33.9%). Untuk pertanyaan mengenai hal-hal yang termasuk ke dalam perilaku seksual hanya sebagian kecil responden yang mengetahui secara lengkap terlihat dari persentase (3.6%) pada kelas X, (3.6%) pada kelas XI, dan (2%) pada kelas XII. Untuk pertanyaan mengenai cara mencegah kehamilan hanya responden pada kelas XII yang mengetahui cara mencegah kehamilan secara lengkap dengan persentase (2%). Untuk pertanyaan mengenai macam-macam penyakit menular seksual hanya sebagian kecil responden yang mengetahuinya secara lengkap terlihat dari persentase (7.1%) pada kelas X, (10.7%) pada kelas XI, dan (15.7%) pada kelas XII. Begitu juga pada pertanyaan mengenai akibat aborsi yang menjawab lengkap hanya (5.4%) pada kelas X, (17.9%) pada kelas XI, dan (25.5%) pada kelas XII. Dari tersebut keseluruhan maka dapat pertanyaan dilihat tentang pengetahuan kriteria

pengelompokan

83

pengetahuan responden berdasarkan kelas di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda melalui tabel di bawah ini : Tabel 10. Distribusi responden Berdasarkan Kriteria Pengetahuan Pada Siswa SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda tahun 2009
Total Sampel Kriteria Pengetahuan Cukup Kurang Total Kelas X n 2 54 56 % 3.6 96.4 100 Kelas XI n 6 50 56 % 10.7 89.3 100 Kelas XII n 12 39 51 % 23.5 76.5 100 n 20 143 163 % 37.8 262.2 300

Dari tabel diatas dapat dilihat kriteria pengetahuan cukup di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda yaitu (3.6%) pada kelas X, (10.7%) pada kelas XI, dan (23.5%) pada kelas XII. Sedangkan kriteria pengetahuan kurang yaitu (96.4%) pada kelas X, (89.3%) pada kelas XI, dan (76.5%) pada kelas XII.

c.

Peran Ayah dalam komunikasi tentang kesehatan reproduksi Pernah atau tidaknya anak berkomunikasi tentang kesehatan reproduksi dan masalah perilaku seksual kepada ayahnya dan Lamanya Ketersediaan waktu ayah untuk berkomunikasi dengan anaknya dalam sehari. Peran ayah tersebut dapat dilihat melalui tabel sebagai berikut :

84

Tabel 11.

Distribusi responden Berdasarkan Pernah atau Tidaknya Ayah Berkomunikasi mengenai Kesehatan Reproduksi Pada Siswa SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda tahun 2009

Anak berkomunikasi tentang kesehatan reproduksi dan masalah perilaku seksual kepada ayahnya Pernah Tidak Pernah Total

Jumlah 75 88 163

Persentase 46 54 100.0

Dari tabel diatas terlihat responden yang pernah berkomuniaksi dengan ayahnya mengenai kesehatan

reproduksi dan perilaku seksual sebanyak (46%) dan yang tidak pernah berkomunikasi mengenai hal tersebut sebesar (54%).

Tabel

12.

Distribusi responden Berdasarkan Lamanya Ketersediaan waktu ayah untuk berkomunikasi dengan anaknya dalam sehari Pada Siswa SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda tahun 2009

Lama berkomunikasi dalam sehari ≥ 3 jam (Baik) < 3 jam (Kurang baik ) Total

Jumlah 72 91 163

Persentase 44.2 55.8 100

Dari

hasil

tabel

terlihat ketersediaan

waktu ayah

responden, untuk berkomunikasi dalam sehari kurang dari 3 jam sebanyak (55.8%), dan sama dengan atau lebih dari 3 jam sebanyak (44.2%).

85

Selain kedua tabel tabel di bawah ini diatas juga menunjukkan distribusi peran ayah : Tabel 13. Distribusi Peran Ayah dalam komunikasi tentang kesehatan reproduksi di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda tahun 2009.
Ya No 1. Peran ayah dalam komunikasi Tinggal dengan siapa - orang tua (ayah / ibu) - saudara Pertama kali mendapatkan informasi tentang pubertas - orang tua (ayah / ibu) - saudara - teman - media - lain-lain Anak pernah bertanya informasi tentang kesehatan reproduksi dan perilaku seksual. Ayah pernah memberikan informasi tentang kesehatan reproduksi dan perilaku seksual. Anak berkomunikasi tentang kesehatan reproduksi dan masalah perilaku seksual kepada ayahnya Langsung ditanggapi apabila bertanya kesehatan reproduksi dan masalah perilaku seksual pada ayahnya Pernah berdiskusi dengan ayah mengenai: -Menstruasi -Mimpi basah -Ciri-ciri memasuki remaja/pubertas -Hubungan seksual -Kehamilan -Alat kontrasepsi -HIV/AIDS n 163 33 74 29 73 146 17 75 75 75 % 100 20.2 45.4 17.8 44.8 89.6 10.4 46 46 46 n 130 89 134 90 17 146 88 88 88 Tidak % 79.8 54.6 82.2 55.2 10.4 89.6 54 54 54

2.

3. 4. 5.

6. 7.

75 17 25 54 34 43 20 50

46 22.7 33.3 72 45.3 57.3 26.7 66.7

88 58 50 21 41 32 55 25

54 77.3 66.7 28 54.7 42.7 73.3 33.3

86

Lanjutan Tabel 13. Distribusi Peran Ayah dalam komunikasi tentang kesehatan reproduksi di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda tahun 2009.
Ya Peran ayah dalam komunikasi Bercerita masalah pubertas dan 8. berpacaran 9. Lama ayah bekerja dalam sehari - ≥ 8 jam - < 8 jam Pernah atau tidaknya ayah mendapatkan informasi tentang 10. kesehatan reproduksi No n 54 118 45 114 % 33.1 72.4 27.6 69.9 n 109 45 118 49 Tidak % 66.9 27.6 72.4 30.1

Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa sebanyak (100%) responden tinggal dengan orang tua (ayah dan ibu). Untuk informasi tentang pubertas pertama kali sebagian besar responden mendapatkannya melalui media Kemudian Sebanyak (46.0%) responden yaitu (89.6%). pernah bertanya

informasi tentang kesehatan reproduksi dan perilaku seksual kepada ayahnya. Sebanyak (46.0%) Ayah responden pernah memberikan informasi tentang kesehatan reproduksi dan perilaku seksual, Sebanyak (46.0%) responden pernah berkomunikasi tentang kesehatan reproduksi dan masalah perilaku seksual kepada ayahnya, dan juga sebanyak (46.0%) responden Langsung

87

ditanggapi apabila bertanya kesehatan reproduksi dan masalah perilaku seksual pada ayahnya. Dari 75 orang responden yang pernah berdiskusi atau berkomunikasi dengan ayahnya hal-hal yang pernah

didiskusikan dengan ayah yang paling besar persentasenya adalah ciri-ciri memasuki remaja/pubertas (72.0%) dan

HIV/AIDS (66.7%). Kemudian dari 163 responden sebanyak (33.1%) responden yang pernah bercerita masalah pubertas dan berpacaran kepada ayahnya. Untuk waktu kerja ayah

dalam satu hari kurang dari 8 jam sebanyak (27.6%) dan sama dengan atau lebih dari 8 jam sebanyak (72.4%). Dan sebanyak (69,9%) ayah responden pernah mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi baik melalui media cetak, elektronik ataupun penyuluhan. Dari pertanyaan tentang pernah atau tidaknya ayah berkomunikasi tentang kesehatan reproduksi dan lamanya ketersediaan waktu ayah berkomunikasi dalam sehari maka dapat dilihat kriteria peran ayah responden di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda dalam komunikasi bawah ini : Tabel 14 Distribusi responden Berdasarkan Kriteria Peran Ayah dalam Komunikasi Pada Siswa SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda tahun 2009 Kriteria Peran Ayah Jumlah Persentase melalui tabel di

88

Baik Kurang Baik Total

54 109 163

33.1 66.9 100

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah responden di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda dengan peran ayah yang kurang baik sebesar (66.9%) dan peran ayah dengan kriteria baik sebanyak (33,1%). 4. Analisa Bivariat Analisa bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dan peran

ayah dalam komunikasi terhadap perilaku seksual remaja di SMA Katolik WR. Soepratman Kota Samarinda.
a. Hubungan

pengetahuan

remaja

tentang

kesehatan

reproduksi terhadap perilaku seks remaja di SMA Katolik WR. Soepratman Kota Samarinda. Hubungan rata-rata pengetahuan responden mengenai kesehatan reproduksi dengan perilaku seksual remaja di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 15. Distribusi Rata-rata Hubungan Pengetahuan Responden Mengenai Kesehatan Reproduksi dengan Perilaku Seksual Remaja di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda tahun 2009.
Kriteria Pengetahuan Perilaku seksual Total P value

89

Cukup Kurang Total

resiko tinggi 0 (0%) 40 (28%) 40 (24.5%

resiko sedang 7 (35%) 63 (44.1%) 70 (42.9%)

resiko rendah 11 (55%) 37 (25.9%) 48 (29.4%)

tidak bere siko 2 20 (10%) (100%) 3 143 (2.1%) (100%) 5 163 (3.1%) (100%)

0.002

Dari tabel tersebut dapat dilihat responden dengan kriteria pengetahuan kurang resiko tinggi untuk melakukan perilaku seks sebesar dengan kriteria (28.0%), sedangkan untuk responden cukup resiko tinggi untuk

pengetahuan

melakukan perilaku seks sebesar (0%). Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0.002 berarti pada alpha 5% terlihat ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan responden mengenai kesehatan reproduksi dengan perilaku seksual remaja di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda.
b. Hubungan antara pernah atau tidaknya ayah berkomunikasi

tentang masalah kesehatan reproduksi dan perilaku seksual terhadap perilaku seksual remaja di SMA Katolik WR.

Soepratman Kota Samarinda. Hubungan rata-rata antara pernah atau tidaknya ayah berkomunikasi tentang masalah kesehatan reproduksi dan perilaku seksual terhadap perilaku seksual remaja di SMA

Katolik WR. Soepratman Kota Samarinda dapat dilihat pada tabel berikut :

90

Tabel 16. Distribusi Rata-rata Hubungan antara pernah atau tidaknya ayah berkomunikasi tentang masalah kesehatan reproduksi dan perilaku seksual terhadap perilaku seksual remaja di SMA Katolik WR. Soepratman Kota Samarinda tahun 2009.
Pernah atau tidak ayah berkomunikasi tentang kesehatan reproduksi dan perilaku seksual Ya pernah Tidak pernah Total P value

kriteria seks resiko tinggi 7 (9.3%) 33 (37.5%) 40 (24.5% resiko sedang 26 (34.7%) 44 (50.0%) 70 (42.9%) resiko rendah 39 (52.0%) 9 (10.2%) 48 (29.4%) tidak bere siko 3 (4.0%) 2 (2.3%) 5 (3.1%)

Total

75 (100%) 88 0.000 (100%) 163 (100%)

Dari tabel diatas dapat dilihat responden yang tidak pernah berkomunikasi tentang masalah kesehatan reproduksi dan perilaku seksual dengan ayahnya beresiko tinggi untuk melakukan perilaku seks sebesar responden yang pernah (37.5%), sedangkan untuk tentang masalah

berkomunikasi

kesehatan reproduksi dan perilaku seksual dengan ayahnya beresiko tinggi untuk melakukan perilaku seks sebesar (9.3%). Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0.000 berarti pada alpha 5% terlihat ada hubungan yang signifikan antara pernah atau tidaknya ayah berkomunikasi tentang masalah kesehatan reproduksi dan perilaku seksual terhadap perilaku seksual remaja di SMA Katolik WR. Soepratman

Samarinda.

91

c. Hubungan

antara

ketersediaan

waktu

ayah

untuk

berkomunikasi terhadap perilaku seksual pada siswa SMAK WR. Soepratman Samarinda. Hubungan rata-rata antara ketersediaan waktu ayah untuk berkomunikasi terhadap perilaku seksual pada siswa SMAK WR. Soepratman Samarinda dapat dilihat pada tabel 17 :

Tabel 17. Distribusi Rata-rata Hubungan antara ketersediaan waktu ayah untuk berkomunikasi terhadap perilaku seksual pada siswa SMAK WR. Soepratman Samarinda tahun 2009.

kriteria seks Lama berkomunikasi dalam satu hari . Cukup (≥3 jam) Kurang (< 3 jam) Total resiko resiko resiko tinggi sedang rendah 8 23 37 (11.1%) (31.9%) (51.4%) 32 47 11 (35.2%) (51.6%) (12.1%) 40 70 48 (24.5% (42.9%) (29.4%) tidak bere siko 4 (5.6%) 1 (1.1%) 5 (3.1%)

Total

P value

72 (100%) 91 (100%) 163 (100%)

0.000

Dari tabel diatas dapat dilihat responden yang lama berkomunikasi dengan ayahnya dalam satu hari kurang dari 3 jam beresiko tinggi untuk melakukan perilaku seks sebesar

92

(35.2%), sedangkan untuk responden yang lama berkomunikasi dengan ayahnya dalam satu hari sama dengan atau lebih dari 3 jam beresiko tinggi untuk melakukan perilaku seks sebesar (11.1%). Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0.000 berarti pada alpha 5% terlihat ada hubungan yang signifikan antara ketersediaan waktu ayah untuk berkomunikasi dalam

sehari terhadap perilaku seksual remaja di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda.

d.

Hubungan antara peran ayah

dalam komunikasi terhadap perilaku seksual remaja pada siswa SMAK WR. Soepratman Samarinda. Hubungan rata-rata antara peran ayah dalam komunikasi terhadap perilaku seksual remaja pada siswa SMAK WR. Soepratman Samarinda dilihat dari pernah atau tidaknya ayah berkomunikasi tentang kesehatan reproduksi dan ketersediaan waktu ayah untuk berkomunikasi dalam sehari. Maka dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 17. Distribusi Rata-rata Hubungan antara peran ayah dalam komunikasi terhadap perilaku seksual pada siswa SMAK WR. Soepratman Samarinda tahun 2009.
Peran Ayah dalam Komunikasi resiko tinggi kriteria seks resiko resiko sedang rendah Total tidak bere P value

93

Baik Kurang Baik Total

4 (7.4%) 36 (33.0% 40 (24.5%

14 (25.9%) 56 (51.4%) 70 (42.9%)

33 (61.1%) 15 (13.8%) 48 (29.4%)

siko 3 (5.6%) 2 (1.8%) 5 (3.1%)

54 109 (100%) 163 (100%) 0.000

Dari tabel tersebut dapat dilihat responden dengan kriteria peran ayah dalam komunikasi yang kurang baik beresiko tinggi untuk melakukan perilaku seks sebesar (33.0%), sedangkan untuk responden kriteria peran ayah dalam komunikasi yang baik beresiko tinggi untuk melakukan perilaku seks sebesar (7.4%).

Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0.000 berarti pada alpha 5% terlihat ada hubungan yang signifikan antara peran ayah dalam komunikasi terhadap perilaku Katolik WR. Soepratman Samarinda. seksual remaja di SMA

B. Pembahasan Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data maka dilakukan pembahasan hasil penelitian sesuai dengan variabel yang diteliti.
1.

Perilaku Seksual Perilaku seksual adalah perilaku yang muncul karena adanya dorongan seksual. Bentuknya bermacam- macam, mulai dari bergandengan tangan, berpelukan, bercumbu, sampai dengan berhubungan seks. (PKBI, 2004).

94

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda didapatkan hasil bahwa sebagian besar perilaku seksual pada responden baik putri maupun putra tergolong dalam kriteria perilaku seksual beresiko sedang terlihat dari persentase (32.1%) pada responden putri dan (53.7%) pada responden putra. Namun juga terdapat responden yang tidak beresiko pada responden putri sebanyak 3 orang (3.7%) dan pada responden putra sebanyak 2 orang (2.4%). Perilaku seks pranikah ini meliputi aktivitas berpacaran sampai pada aktivitas melakukan seks pranikah. Aktivitas ini terdiri dari berpelukan, berpegangan tangan, memeluk, berciuman, menghabiskan waktu berduaan, bermanjaan, tidur bersama-sama, membiarkan pasangan meraba anggota tubuhnya, meraba anggota tubuh orang lain, melepaskan pakaian dan memperlihatkan organ seks, frekuensi melakukan hubungan seks selama 30 hari, jumlah pasangan seksual berbeda selama 30 hari dan jumlah pasangan seks yang berbeda selama 12 bulan. Berpacaran sebagai proses perkembangan kepribadian seorang remaja karena ketertarikan antar lawan jenis. Namun, dalam perkembangan budaya justru cenderung permisif terhadap gaya pacaran remaja. Akibatnya, para remaja cenderung

melakukan hubungan seks pranikah. Perilaku reproduksi terwujud dalam hubungan sosial antara pria dan wanita. Hubungan antara pria dan wanita tersebut dalam

95

waktu yang lama menyebabkan munculnya norma-norma dan nilainilai yang akan menentukan bagaimana perilaku reproduksi disosialisasikan. Berbagai bentuk perilaku yang diwujudkan

lazimnya sejalan dengan norma-norma yang berlaku. Ada perilaku yang diharapkan dan sebaliknya ada perilaku yang tidak

diharapkan dalam hubungan sosial masyarakat; begitu pula hubungan antara pria dan wanita dalam perilaku reproduksi. Perilaku reproduksi dalam hal ini adalah mengacu kepada perilaku seks pranikah di kalangan remaja. Perilaku seks remaja

dipengaruhi oleh berbagai faktor. (http.ejournal.unud.ac.id) Perilaku seks pranikah cenderung dilakukan karena

pengaruh teman sebaya yang negatif. Terutama bila remaja itu bertumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga yang kurang sensitif terhadap remaja. Selain itu, lingkungan negatif juga akan membentuk remaja yang tidak punya proteksi terhadap perilaku orang-orang di sekelilingnya. Bahkan, remaja yang merasa bebas dan tidak terkekang, ternyata lebih mudah melakukan perilaku seperti merokok dan mengkonsumsi alkohol. Pada akhirnya dari perilaku itu, pelajar akan berperilaku negatif seperti mengonsumsi narkoba dan melakukan seks pranikah. Tidak dapat dipungkiri bahwa fenomena revolusi seks bebas sedang merebak di kalangan remaja Indonesia.banyak sekali faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya fenomena tersebut salah satu penyebab yang ditengarai adalah kurangnya informasi

96

yang didapatkan remaja dalam hal reproduksi dan seks. Rasa keingintahuan yang besar dan rasa haus akan informasi tentang perkembangan reproduksi yang mengalami pertumbuhan pesat . sebuah penelitian menyimpulkan bahwa 94% remaja menyatakan butuh nasehat tentang seks dan kesehatan reproduksi dalam usaha mengerti perubahan pada diri mereka sendiri. Tetapi pada kenyataannya malah sulit untuk mengakses informasi yang benar dari jalur formal seperti dari petugas kesehatan atau dari sekolah karena adanya asumsi bahwa informasi tersebut malah mendorong remaja untuk melakukan tindakan coba-coba, sehingga mereka memenuhi rasa ingin tahu mereka dengan mencoba mencari tahu sendiri dari jalur non formal seperti seperti membahas dengan teman, membaca buku-buku seks, menonton film porno, dan berakhir dengan mengadakan percobaan untuk melakukan

hubungan seks. (karya-ilmiah.um.ac.id) Namun dari hasil penelitian tidak semua siswa yang pernah berpacaran ataupun sedang berpacaran di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda beresiko melakukan perilaku seksual hal ini terlihat dari hasil yang didapat bahwa terdapat 5 orang

responden yang tidak beresiko melakukan perilaku seksual. Apabila dilihat dan ditelaah dari latar belakang responden untuk pendidikan ayah sebagian besar sarjana yaitu sebesar (60%), walaupun pekerjaan ayah pada 5 orang responden tersebut di sektor swasta dengan jumlah jam kerja yang cukup namun lama

97

berkomunikasi dalam sehari dengan anaknya sebagian besar lebih dari 3 jam yaitu sebesar (80%), selain itu ayah responden seluruhnya juga pernah mendapatkan informasi mengenai

kesehatan reproduksi dan perilaku seksual yang juga disampaikan dan dikomunikasikan kepada anak-anak mereka sehingga terjadi komunikasi dengan intensitas dan kualitas yang baik yang tentunya akan mempengaruhi anak dalam berperilaku dan dalam bertindak terhadap segala hal. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Patrick Tolan, profesor, psikiater, dan Direktur Institute for Juvenile Research di University of Illinois di Chicago mengatakan semakin banyak orang tua menghabiskan waktu bersama anak-anaknya maka semakin sedikit waktu yang dihabiskan di luar pengawasan orang tua. Juga, ketika orang tua menyisihkan waktu untuk berbincang dengan anak-anaknya, maka anak akan mempelajari nilai-nilai yang orang tua miliki dan anak akan lebih banyak berpikir sebelum bertindak. (www.bkkbn.go.id) Dari 163 Responden yang diteliti didapatkan yang sudah pernah melakukan hubungan seks di SMA Katolik WR Soepratman Samarinda yaitu sebanyak 22 orang, 2 orang pada responden putri (2.4 %) dan 20 orang pada responden putra (24.7%). Dari 22

responden yang telah melakukan hubungan seks para nikah tersebut terdapat 4 orang yang melakukan hubungan seks dengan pekerja seks komersial.

98

Dari hasil tersebut terlihat bahwa perilaku remaja putra lebih agresif daripada remaja putri dan jumlah seks pranikah yang dilakukan oleh remaja putra pun lebih besar apabila dibandingkan dengan remaja putri. Hasil tersebut sejalan dengan yang dikemukakan oleh Damayanti (2007), penelitian yang dilakukan di Depok, Jawa menunjukkan perilaku remaja laki-laki dan perempuan hingga cium bibir masih sama. Akan tetapi, perilaku laki-laki menjadi lebih agresif dibandingkan remaja perempuan mulai dari tingkatan meraba dada. Seks pranikah yang dilakukan remaja lakilaki pun dua kali lebih banyak dibandingkan remaja perempuan. (http:h2dy.wordpress.com)

Dari hasil penelitian diketahui dari 22 responden terdapat (20%) yang melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersil. Perilaku melakukan seks berganti pasangan juga begitu beresiko terhadap penularan penyakit menular seksual (PMS) dan HIV/AIDS. Hampir setengah Hampir setengah dari infeksi HIV secara keseluruhan terjadi pada pria dan perempuan dengan usia di bawah 25 tahun, dan di banyak negara berkembang, data menunjukkan bahwa sampai 60 % dari semua infeksi HIV baru terjadi pada kelompok usia antara 15-24 tahun. (Bunga

Rampai,2005). Dari hasil penelitian juga diketahui bahwa umur pertama kali melakukan seks pra nikah terbanyak yaitu umur 13 dan 15 tahun

99

dengan persentase masing-masing (35%). Hasil tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh KISARA PKBI Bali (2002) sebanyak (2.28%) dari siswa SMP kelas 3 hingga SMA kelas 1 (dibawah usia 17 tahun) telah melakukan hubungan seksual pra nikah. Hubungan seks pra nikah pada usia dini tersebut tentunya banyak berdampak negatif bagi remaja mulai dari kehamilan yang tidak diinginkan hingga terjadinya penyakit menular seksual (www.matabumi.com) Dari hasil penelitian juga diketahui sebagian besar

responden melakukan aktivitas seksual tersebut di rumah dengan persentase sebesar (74.4%) pada responden putri dan (54.3%) pada responden putra, bahkan terdapat responden putra yang sengaja menyewa hotel/motel/losmen untuk melakukan aktivitas seksual yaitu sebesar (7.4%), dan terdapat responden yang berani melakukan aktivitas seksual di lingkungan sekolah dengan persentase sebesar (31.7%) pada responden putri dan (32.3%) pada responden putra. Cukup besarnya persentase responden yang melakukan perilaku seksual di rumah dapat disebabkan karena kurangnya ketetatan pengawasan dari orang tua sehingga orang tua tidak tahu bahwa anak mereka telah melakukan berbagai aktivitas seksual di rumah. Begitu juga responden yang melakukan aktivitas seksual di sekolah, hal ini dapat disebabkan karena kurangnya pengawasan dari pihak sekolah dan dapat juga terjadi karena tata tertib dan

100

peraturan yang kurang tegas dari sekolah sehingga banyak siswa yang berani melakukan aktivitas seksual tersebut. Menurut Willis (2005), sebagian remaja mengatakan bahwa orang tua mereka dan bahkan guru, tidak pernah memberikan pengawasan terhadap tingkah laku remaja sehingga menimbulkan berbagai kenakalan. Pengawasan terhadap remaja dimaksudkan untuk menghindari tingkah laku yang kurang baik dan

menumbuhkan tingkah laku yang positif bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat. Pengawasan bukan berarti menutup kebebasan remaja, melainkan memberikan bimbingan ke arah perkembangan yang wajar dengan berbagai kegiatan pendidikan remaja di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Di lingkungan keluarga kenakalan remaja dapat terjadi karena kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tua terhadap anak, maka apa yang dibutuhkan oleh remaja mereka cari di luar rumah, yang banyak mereka cari melalui teman-teman sebayanya. Sedangkan sekolah merupakan tempat pendidikan kedua setelah rumah tangga karena itu cukup berperan dalam membina anak untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab. Dalam hal ini peranan guru sangat diperlukan sekali, selain itu peranan sekolah juga berpengaruh terhadap kenakalan remaja. Hal ini mungkin bersumber dari guru, fasilitas pendidikan dan norma-norma tingkah laku yang ada di sekolah.

101

Aktivitas beresiko saat berpacaran yang dilakukan siswa Katolik WR Soepratman Samarinda cukup mengkhawatirkan. Hal itu terlihat dari hasil yang telah dipaparkan diatas. Aktivitas berisiko ketika berpacaran ini terjadi karena beberapa hal yang

mempengaruhi, seperti kurangnya pengawasan dari orang tua mengenai perilaku berpacaran anak mereka, pengaruh lingkungan pergaulan yang membawa pada perilaku berisiko, serta karena begitu besarnya keingintahuan remaja mengenai sesuatu hal yang belum mereka ketahui. Keingintahuan yang besar namun tidak diimbangi dengan pengetahuan yang benar, maka akan

menimbulkan suatu perilaku yang salah. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Persatuan Keluarga Berencana Indonesia pada tahun 2002 dimana diperoleh informasi bahwa minimnya pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi remaja dapat menjerumuskan remaja pada perilaku seks pra nikah dan sebaliknya, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja dapat menunda prilaku seks pra nikah dikalangan remaja. (http:h2dy.wordpress.com) Berdasarkan kesepakatan internasional di Kairo 1994 (the Cairo Consesus) tentang kesehatan reproduksi yang berhasil ditandatangani oleh 184 negara termasuk Indonesia, diputuskan tentang perlunya pendidikan seks bagi para remaja. Dalam salah satu butir konsesus tersebut ditekankan tentang upaya

menyediakan informasi yang benar tentang kesehatan reproduksi

102

dan seksual yang benar, bertanggung jawab dan komperhensif bagi remaja. Menurut tokoh nasional Arif Rahman Hakim, pendidikan seks adalah perlakuan proses sadar dan sistematis di sekolah, keluarga, dan masyarakat agama untuk dan menyampaikan yang sudah proses

perkelaminan

menurut

ditetapkan

masyarakat. Dengan demikian pendidikan tentang seks tersebut bukanlah pendidikan tentang how to do (bagaimana melakukan hubungan seks) atau tentang hubungan seks aman, tidak hamil, dan lain sebagainya tetapi pendidikan seks diberikan sebagai upaya preventif. (karya-ilmiah.um.ac.id). Berdasarkan survey yang dilakukan oleh IRRMA di 5 Propinsi di Sumatera (Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Lampung dan Bengkulu) terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku seksual remaja tahun 2003 misalnya, dari 1,450 remaja yang menjadi responden, sebanyak 78,95% remaja tidak memiliki pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan seksual. Dampak dari rendahnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan seksual menjadi sangat luar biasa terhadap sikap dan perilaku seksual mereka, dibandingkan dengan remaja yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang kesehatan reproduksi dan seksual. (saeroni.wordpress.com)

103

Dari 1,450 responden, sebanyak 22,36% pernah melakukan hubungan seksual sejak usia 16 tahun untuk remaja perempuan dan 17 tahun untuk remaja laki-laki. Dari remaja yang telah aktif melakukan hubungan seksual, sebanyak 19,70% melakukannya dengan pelacur dan 79,30% dengan pacar. Sebagian besar ( 86,87%) dari mereka yang telah melakukan seksual aktif tidak memiliki pengetahuan sedikitpun tentang kesehatan reproduksi, sedangkan selebihnya, pengetahuannya hanya sepotong-sepotong yang mereka peroleh dari teman atau melalui media.

(saeroni.wordpress.com) Survei yang dilakukan pada delapan SMU / SMK di Samarinda periode September hingga Oktober 2008 juga

mendapatkan hasil bahwa subjek yang melakukan hubungan seksual terhadap sejumlah siswa-siswi di Samarinda dari 300 sampel yang diambil di seluruh sekolah , sebanyak 73 % siswasiswi mengaku pernah berpacaran, 49 % dari mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dengan perilaku seksual adalah apabila melakukan hubungan seksual, sebanyak 12 % diantaranya mengaku pernah melakukan hubungan badan (seks), 30 % menjawab untuk mencegah terjadinya kehamilan maka

menggunakan alat kontrasepsi pada saat berhubungan seks. (www.pkbi.com) Perilaku seksual ini memang kasat mata, namun ia tidak terjadi dengan sendirinya melainkan didorong atau dimotivasi oleh

104

faktor-faktor tertentu. Secara

lebih terinci perilaku manusia

sebenarnya merupakan refleksi dari berbagai gejala kejiwaan seperti pengetahuan, motivasi, persepsi, dan sikap. Persepsi merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Apabila dalam kehidupan seseorang sudah terbentuk persepsi, maka persepsi ini akan menentukan cara seseorang dalam bertingkah laku terhadap obyek persepsi tersebut. Persepsi merupakan dasar dari proses kognisi, yaitu termasuk di dalamnya merupakan proses mengolah informasi. Notoatmodjo (2003).

2.

Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang di milikinya sendirinya, (mata, pada hidung, waktu telinga dan sebagainya). sampai Dengan

pengindraan

menghasilkan

pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (over behavior)

(Notoatmodjo, 2005). Menurut Lawrence Green, pengetahuan merupakan salah satu faktor predisposisi yang membentuk suatu perilaku seseorang,

105

disamping adanya faktor pendukung (enabling factor) dan faktor pendorong perilaku tersebut (reinforcing factor). Sedangkan

menurut teori kognitif yang dikemukakan oleh Piaget (Sarwono, 2006), remaja sudah berada pada suatu tahapan berfikir formal operasional. Pada tahap ini, seorang remaja dianggap mampu menerima informasi secara tepat, untuk kemudian dianalisa dan diserap untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan. Disisi lain, remaja secara umum sudah mencapai tahapan pemikiran tertinggi yang mampu melakukan analisis terhadap informasi yang telah diterimanya serta dapat menimbang terhadap baik atau tidaknya informasi tersebut sebelum dia mengadopsi dan mencoba perilaku barunya sesuai dengan tingkat pengetahuan, kesadaran dan sikap terhadap informasi tersebut. Pengetahuan siswa mengenai seks pranikah didapat melalui pendengaran dan penglihatan, bahkan sebagian beradasarkan pengalaman pribadi. Melalui beberapa hal itulah siswa di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda memperoleh pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi dan perilaku seksual. Seperti melalui buku, internet, cerita teman, majalah porno, televisi dan sebagainya. Berdasarkan hasil penelitian di SMA Katolik WR.

Soepratman Samarinda diketahui kriteria pengetahuan cukup di yaitu (3.6%) pada kelas X, (10.7%) pada kelas XI, dan (23.5%)

106

pada kelas XII. Sedangkan kriteria pengetahuan kurang yaitu (96.4%) pada kelas X, (89.3%) pada kelas XI, dan (76.5%) pada kelas XII. Dari hasil tersebut dapat dilihat perbedaan jumlah dan persentase kriteria pengetahuan pada tiap kelas. Terlihat semakin tinggi tingkatan kelas maka jumlah dan persentase kriteria pengetahuan cukup semakin besar. Dan begitu sebaliknya semakin tinggi tingkatan kelas maka jumlah dan persentase kriteria pengetahuan kurang semakin kecil. Hal ini dikarenakan semakin tinggi tingkatan kelas maka materi pendidikan yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi di sekolah akan semakin banyak diperoleh dan dipelajari. Dari hasil tersebut juga menunjukkan tingkat pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi dan perilaku seksual di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda masih tergolong rendah hal ini terlihat dari besarnya persentase responden yang berpengetahuan kurang. Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan perilaku seksual ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor baik faktor eksternal maupun internal. Faktor-faktor itu antara lain kurangnya sarana dan prasarana untuk memperoleh informasi, pengaruh pergaulan atau teman sebaya, serta pendidikan yang

107

diberikan orang tua di rumah khususnya mengenai kesehatan reproduksi dan perilaku seksual. Kurangnya pengetahuan mengenai organ reproduksi dan ciri-ciri seks sekunder pada remaja juga dapat mempengaruhi body image yang dipikirkan oleh remaja. Sehingga dapat menimbulkan permasalah bagi mereka. Menurut dr. Ramona Permasalahan akibat perubahan fisik banyak dirasakan oleh remaja awal ketika mereka mengalami pubertas. Pada remaja yang sudah selesai masa pubertasnya (remaja tengah dan akhir) permasalahan fisik yang terjadi berhubungan dengan ketidakpuasan/ keprihatinan mereka terhadap keadaan fisik yang dimiliki yang biasanya tidak sesuai dengan fisik ideal yang diinginkan. Kebanyakan remaja mempersiapkan diri menyambut

perubahan fisik ketika masa puber. Remaja putri berharap agar payudara mereka bertambah besar sedangkan remaja putra berharap otot-otot di tubuh mereka bertambah kekar. Tetapi, tubuh sering mengalami serangkaian proses perubahan sebelum,

selama, dan setelah puber. Perubahan yang terjadi terkadang sangat berbeda dibanding yang diharapkan. Misalnya pada remaja putri maupun putra menemukan ada perubahan yang terjadi pada bagian lain yang kurang familiar, seperti pantat. Atau berubah menjadi lebih tinggi atau lebih kurus.

108

Perubahan

yang

terjadi

pada

masa

puber

dapat

mempengaruhi bagaimana mereka menilai tubuh mereka dan diri mereka sendiri di masa mendatang. Memahami perubahan pada tubuh tidak hanya melihat perubahan bentuk. Kebanyakan remaja melihat image tubuh mereka berdasarkan perasaan dan

penampilan. (wwwaatartunhalu.multiply.com) Masalah body image juga dapat berpengaruh terhadap perilaku seksual remaja. Remaja yang memiliki pemahaman secara benar dan proporsional tentang kesehatan reproduksi cenderung memahami risiko perilaku serta alternatif cara yang dapat digunakan untuk menyalurkan dorongan seksual secara sehat dan bertanggung jawab. Faktor lain yang kadang-kadang diduga sebagai pendorong perilaku seksual adalah citra diri yang menyangkut keadaan tubuh (body images) dan kontrol diri. Mengenai citra diri terhadap tubuh ada pendapat bahwa orang yang kurang mengenal keadaan tubuhnya sendiri atau menilai keadaan tubuhnya kurang sempurna cenderung mengompensasikannya dengan perilaku seksual.

Biasanya tipe ini membutuhkan "pengakuan" dari lawan jenis atau pasangan tentang tubuhnya (ingin dikagumi) sehingga kontrol diri terhadap perilakunya berkurang. Orang-orang yang percaya bahwa ia mampu mengatur dirinya sendiri akan berkurang perilaku seksualnya ketimbang orang-orang yang merasa dirinya mudah

109

dipengaruhi atau merasa bahwa keadaan dirinya lebih banyak ditentukan oleh faktor-faktor luar. (wwwaatartunhalu.multiply.com) Berdasarkan penelitian ini juga diperoleh data bahwa dari 163 responden terdapat 40 responden (28.0%) yang

berpengetahuan kurang dan beresiko tinggi untuk melakukan perilaku seksual, 63 responden (44.1%) yang berpengetahuan kurang dan beresiko sedang untuk melakukan perilaku seksual. Didapatkan hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0.002 berarti pada alpha 5% terlihat ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan responden mengenai kesehatan reproduksi dengan perilaku seksual remaja di Samarinda. Hasil penelitian ini jika dikaitkan dengan tinjauan teori yang dikemukakan pada paragraf sebelumnya, dan dengan SMA Katolik WR. Soepratman

mempertimbangkan berbagai informasi yang sudah diterima, dan dengan hasil tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi terlihat bahwa pengetahuan tentang kesehatan

reproduksi pada responden yang kurang berpengaruh terhadap resiko perilaku seksual pada diri remaja. Informasi seputar kesehatan reproduksi (kespro) hingga saat ini belum banyak menyentuh kaum remaja. Hampir semua akses kepada pelayanan kesehatan reproduksi dan program-program pemerintah lebih banyak diberikan kepada mereka yang telah

110

dewasa. Padahal, jumlah remaja saat ini mencapai hampir setengah dari jumlah penduduk negeri. Sehingga banyak remaja mencari lewat caranya sendiri dan salah dalam memahami pentingnya menjaga kesehatan reproduksi. Prevalensi penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS di kalangan remaja masih sangat tinggi. Sementara pengetahuan remaja akan kesehatan reproduksi masih sangat rendah. Bahkan, Survei Data Dasar Kesehatan Reproduksi Remaja yang dilakukan BKKBN dan Lembaga Demografi Universitas Indonesia (LD-UI) pada (1999) menyimpulkan, tidak banyak remaja mengetahui proses reproduksi, padahal kehidupan remaja saat ini, di desa maupun di kota, lebih toleran terhadap hubungan seks sebelum menikah. Pengetahuan yang setengah-setengah justru lebih

berbahaya ketimbang tidak tahu sama sekali. Kata-kata bijak ini nampaknya juga berlaku bagi para remaja tentang pengetahuan seks kendati dalam hal ini ketidaktahuan bukan berarti lebih tidak berbahaya. Pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi maupun seks pranikah juga cenderung lebih banyak didapatkan dari teman sebaya dan media massa. Padahal informasi yang diberikan belum tentu benar dan banyak yang keliru. Sehingga informasi mengenai seksualitas cenderung menciptakan pengetahuan yang salah. Kehamilan tidak dikehendaki, aborsi ilegal dan tidak aman, peningkatan kasus penyakit menular seksual termasuk infeksi

111

HIV/AIDS merupakan masalah kesehatan reproduksi remaja di Indonesia. Hal tersebut sebagai akibat perilaku seksual remaja yang cenderung permisif dan berani serta adanya keterbatasan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi. Faktor lain yang mendukung adalah mudahnya akses informasi seksualitas yang keliru dari teman sebaya dan media massa serta adanya anggapan dari orang tua atau guru bahwa pengetahuan kesehatan reproduksi masih dianggap tabu,

membangkitkan keingintahuan remaja terhadap hal seputar seksual menjadi besar dan mempengaruhi kebebasan remaja mengambil keputusan terhadap situasi tertentu khususnya seksual terkait

kecenderungan

melakukan

hubungan

(intercourse)

pranikah. (gemari.or.id) Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sirajudin (2004) mengenai hubungan pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja dengan kecenderungan remaja melakukan hubungan seksual (intercourse) pranikah di Indonesia, didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan bermakna secara statistik pengetahuan

kesehatan reproduksi pada remaja pria dan wanita dengan kecenderungan remaja pria dan wanita melakukan hubungan seksual (intercourse) pranikah p<0,05. Pengetahuan Kesehatan reproduksi yang lebih rendah pada remaja pria berpeluang 1,37 kali dan wanita 1,55 kali cenderung lebih tinggi melakukan hubungan

112

seksual (intercourse) pranikah dibanding remaja pria dan wanita yang berpengetahuan lebih tinggi. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh IRRMA di 5 Propinsi di Sumatera (Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Lampung dan Bengkulu) terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku seksual remaja tahun 2003 misalnya, dari 1,450 remaja yang menjadi responden, sebanyak 78,95% remaja tidak memiliki pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan seksual. Dampak dari rendahnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan seksual menjadi sangat luar biasa terhadap sikap dan perilaku seksual mereka, dibandingkan dengan remaja yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang kesehatan reproduksi dan seksual. (saeroni.wordpress.com) Pada masa remaja, rasa ingin tahu mengenai seksualitas sangat penting dalam pembentukan hubungan baru dengan lawan jenisnya karena hal ini sesuai dengan perkembangan fisio-logis remaja. Besarnya keingintahuan remaja mengenai hal–hal yang ber-hubungan dengan seksualitas, me-nyebabkan remaja selalu berusaha mencari tahu lebih banyak informasi mengenai

seksualitas. Karena ber-kaitan dengan perkembangannya, hal ini tentu saja tidak dapat dicegah. Bersamaan dengan itu pula, berkembang aspek psikoseksual dengan lawan jenis dan remaja akan berusaha untuk bereksplorasi dengan kehidupan seksual.

113

Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar remaja tidak mengetahui dampak dari perilaku seksual yang mereka lakukan. Seringkali remaja sangat tidak matang untuk melakukan hubungan seksual terlebih lagi jika harus menanggung resiko dari hu-bungan seksual tersebut (eprints.ums.ac.id)

3.

Peran Ayah dalam Komunikasi Ayah berperan penting dalam perkembangan anaknya secara langsung. Ayah juga dapat mengatur serta mengarahkan aktivitas anak. Semua tindakan ini adalah cara ayah (orang tua) untuk memperkenalkan anak dengan lingkungan hidupnya dan dapat mempengaruhi anak dalam menghadapi perubahan sosial dan membantu perkembangan kognitifnya di kemudian hari. Disamping itu ayah juga harus berperan dalam menciptakan kebersamaan dan komunikasi dengan keluarganya. Berdasarkan hasil penelitian di SMA Katolik WR.

Soepratman Samarinda responden

dengan kriteria peran ayah

yang kurang baik sebanyak (66.9 %) dan peran ayah dengan kriteria baik sebanyak (33,1%). Hal ini menunjukkan peran ayah responden di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda dalam komunikasi dengan anaknya masih tergolong rendah hal ini terlihat dari besarnya persentase responden dengan kriteria peran ayah yang kurang baik. Peran ayah ini dilihat dari pernah atau tidaknya ayah berkomunikasi tentang kesehatan reproduksi dan lamanya

114

ketersediaan waktu ayah berkomunikasi dalam sehari. Persentase responden yang pernah berkomunikasi dengan ayahnya mengenai kesehatan reproduksi dan perilaku seksual sebesar (46.0%) dan ketersediaan waktu ayah yang cukup untuk berkomunikasi dalam sehari dengan kriteria sama dengan atau lebih dari 3 jam sebes ar
(44.2%).

Berdasarkan penelitian ini juga diperoleh data bahwa dari 163 responden terdapat 36 responden (33.0%) dengan peran

Ayah dalam Komunikasi kurang baik beresiko tinggi untuk melakukan perilaku seksual, 56 responden (51.4%) beresiko sedang, 15 responden (13.8%) beresiko rendah, dan 2 responden (1.8%) tidak beresiko untuk melakukan perilaku seksual.

Sedangkan responden dengan peran ayah baik beresiko tinggi untuk melakukan perilaku seksual sebanyak 4 responden (7.4%), beresiko sedang 14 responden (25.9%), beresiko rendah 33 responden (61.1%), dan 3 responden (5.6%) tidak beresiko untuk melakukan perilaku seksual. Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0.000 berarti pada alpha 5% terlihat ada hubungan yang signifikan antara peran ayah dalam komunikasi dengan perilaku seksual remaja di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda. Selain itu dari hasil penelitian ini juga diperoleh data bahwa dari 163 responden terdapat 114 ayah responden (69.9%) yang

115

pernah mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas baik melalui media maupun penyuluhan kesehatan namun hanya (46.0%) yang langsung menanggapi apabila anak bertanya mengenai masalah kesehatan reproduksi dan perilaku seksual, (46.0%) yang pernah mengkomunikasikan hal tersebut dengan anak, (46.0%) yang pernah memberikan informasi tersebut dan juga sebesar (46.0%) anak yang pernah bertanya tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas. Kemudian dari hasil penelitian juga terlihat sebagian besar responden mendapatkan informasi mengenai pubertas melalui media yaitu sebesar (89.6%). Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Psikolog Elly Risman yaitu banyak orang tua tidak siap mempersiapkan anaknya menghadapi informasi. Banyak dari mereka yang tidak siap mengetahui bahwa anaknya lebih siap dan lebih tahu dari mereka. Pada akhirnya anak mencari sarana lain yang bisa memberikan apa yang mereka inginkan. (http:// digilib.unnes.ac.id/) Selain itu hal tersebut dapat disebabkan oleh berbagai faktor apabila dilihat dari rata-rata pekerjaan ayah responden di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda yang bekerja di sektor swasta yang memiliki jumlah jam kerja cukup lama bahkan lebih dari 8 jam per hari hal ini tentunya akan mempengaruhi intensitas pertemuan antara ayah dan anak sehingga berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas komunikasi antara ayah dan anak hal ini terlihat dari

116

hasil yang ditemukan pada penelitian ini sebanyak (55.8%) ayah yang berkomunikasi dengan anaknya kurang dari 3 jam perhari. Dari seluruh Hasil tersebut menunjukkan peran ayah yang penting dalam mencegah anak remaja melakukan aktivitas seksual berisiko. Peneliti dari Boston College, Rebekah Levine Coley menyatakan terdapat kemungkinan bahwa hubungan dekat antara ayah dan putrinya bisa membantu mencegah anak remaja melakukan aktivitas seksual berisiko, seperti berhubungan badan di luar nikah dan berhubungan badan tanpa pengaman dengan rekan sebayanya. Semakin penuh perhatian si ayah, semakin ia mengetahui lebih banyak teman-teman anaknya, maka semakin besar pula dampaknya terhadap kehidupan seksual sang anak, demikian yang ditemui dalam riset terhadap 3.206 remaja usia 13-18 tahun di Amerika. Meski sang ibu juga memiliki kemampuan untuk melakukan hal yang sama, namun ketika sang ayah yang memberi nasihat akan berdampak 2 kali lipat. Arus informasi yang makin terbuka dan mudah diakses membuat anak-anak mudah terekspos pada hal-hal yang

sebenarnya belum saatnya mereka ketahui, seperti masalah seks. Apalagi jika dorongan untuk berhubungan badan di usia dini itu mendapat stimulasi dari teman-teman sebayanya. Untuk mencegah hal ini terjadi pada anak perempuan, diperlukan sebuah usaha lebih

117

dari ayah untuk mendekatkan diri dan membantu mereka lebih pandai menjaga diri. Peran ayah juga beragam, sebagai pemberi nafkah yang tak pernah ada di rumah, partner ibu dalam membesarkan anak. Pada anak-anak, mereka seringkali menilai ayah sebagai hukum di rumah. Ayahlah yang memegang kendali di rumah. Umumnya, peran ibu sebagai pengemong lebih bersifat konstan, sementara ketika si ayah ada di rumah, peran dan kekuatan si ibu jadi berkalikali lipat karena ada pendukung. Patrick Tolan, profesor, psikiater, dan Direktur Institute for Juvenile Research di University of Illinois di Chicago mengatakan bahwa penelitian ini masih menggarisbawahi pentingnya peran kedua orangtua secara keseluruhan untuk membantu anak berkembang optimal dan tidak melakukan aktivitas seksual yang tak aman. Tolan juga menyatakan, semakin banyak orang tua menghabiskan waktu bersama anak-anaknya maka semakin sedikit waktu yang dihabiskan di luar pengawasan orang tua. Juga, ketika orang tua menyisihkan waktu untuk berbincang dengan anakanaknya, maka anak akan mempelajari nilai-nilai yang orang tua miliki. Dan anak akan lebih banyak berpikir sebelum bertindak.

Anak akan memikirkan apa yang akan pikir tentang mereka sebelum mereka memutuskan melakukan tindakan-tindakan

tertentu. (www.bkkbn.go.id).

118

Penelitian

Ekasari

(2007),

menunjukkan

variabel

ketersediaan waktu ayah pada hari kerja terlihat berhubungan secara bermakna dengan pola komunikasi dan pemberian

informasi kesehatan reproduksi antara ayah dan anak remaja. Ayah dengan waktu sedikit berisiko lebih besar untuk mempunyai pola komunikasi dan pemberian informasi yang kurang. Fleksibilitas jam kerja dapat memunculkan hal-hal baru antara lain dapat

mempengaruhi hubungan ayah dengan anak. (Dagun,Save M, 2002). Salah satu ciri remaja adalah memiliki rasa keingintahuan yang besar dan rasa haus akan informasi. Diantaranya adalah informasi perubahan tentang pesat kesehatan pada usia reproduksi remaja. yang Sebuah mengalami penelitian

menyimpulkan bahwa 94% remaja menyatakan butuh nasehat tentang seks dan kesehatan reproduksi dalam usaha mengerti perubahan pada mereka sendiri. Tapi kebanyakan dari mereka mencoba mencari tahu sendiri seperti membahas dengan teman, membaca buku-buku seks, menonton film porno, dan berakhir dengan mengadakan percobaan untuk melakukan hubungan seks. (karya-ilmiah.um.ac.id) Pemahaman yang keliru mengenai seksualitas pada remaja menjadikan mereka mencoba untuk bereksperimen mengenai masalah seks tanpa menyadari bahaya yang timbul dari

perbuatannya, dan ketika permasalahan yang ditimbulkan oleh

119

perilaku

seksnya

mulai

bermunculan,

remaja

takut

untuk

mengutarakan permasalahan tersebut kepada orang tua. Remaja lebih senang menyimpan dan memilih jalannya sendiri tanpa berani mengungkapkan kepada orang tua. Hal ini disebabkan karena ketertutupan orang tua terhadap anak terutama masalah seks yang dianggap tabu untuk dibicarakan serta kurang terbukanya anak terhadap orang tua karena anak merasa takut untuk bertanya. Agar pengetahuan tentang masalah seks yang diberikan optimal, maka diperlukan komunikasi yang efektif antara orang tua dengan remaja. Komunikasi orang tua–anak dikatakan efektif bila kedua belah pihak saling dekat, saling menyukai dan komunikasi diantara keduanya merupakan hal yang menyenangkan dan adanya keterbukaan sehingga tumbuh sikap percaya. Komunikasi yang efektif dilandasi adanya kepercayaan, keterbukaan, dan dukungan yang positif pada anak agar anak dapat menerima dengan baik apa yang disampaikan oleh orang tua. Komunikasi antara orang tua dengan anak dikatakan berkualitas apabila kedua belah pihak memiliki hubungan yang baik dalam arti bisa saling memahami, saling mengerti, saling mempercayai dan menyayangi satu sama lain, sedangkan komunikasi yang kurang berkualitas mengindikasikan kurangnya perhatian, pengertian, kepercayaan dan kasih sayang di antara keduanya. (eprints.ums.ac.id)

120

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari hasil penelitian dan analisa yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan

responden mengenai kesehatan reproduksi dengan perilaku seksual remaja di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda. Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0.002. 2. Ada hubungan yang signifikan antara pernah atau tidaknya

ayah berkomunikasi tentang masalah kesehatan reproduksi dan perilaku seksual terhadap perilaku seksual remaja di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda. Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0.000. 3. Ada hubungan yang signifikan antara ketersediaan waktu

ayah untuk berkomunikasi dalam sehari terhadap perilaku seksual remaja di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda. Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0.000. 4. Ada hubungan yang signifikan antara peran ayah dalam

komunikasi terhadap perilaku seksual remaja di SMA Katolik WR. Soepratman Samarinda. Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0.000

121

B. Saran Dari hasil kesimpulan yang dikemukakan maka ada beberapa hal yang dapat disarankan : Dari hasil kesimpulan yang dikemukakan maka ada beberapa hal yang dapat disarankan :
1. Meningkatkan

pengetahuan

siswa,

khususnya

pengetahuan

tentang kesehatan reproduksi mengenai organ reproduksi, ciri-ciri seks sekunder, penyakit menular seksual, dan mengenai aborsi serta perilaku seks yang benar kepada siswa SMA Katolik WR. Soepratma Samarinda dengan cara memasukkan mata pelajaran mengenai kesehatan reproduksi ke dalam kurikulum sekolah
2. Kerjasama pihak dinas pendidikan, sekolah dan lembaga-lembaga

yang

bergerak

dibidang

pendidikan

kesehatan

khususnya

kesehatan reproduksi atau seks pranikah untuk memberikan promosi kesehatan secara terintegrasi dengan pendidikan

kesehatan reproduksi remaja sesuai keilmuan, moral dan agama.
3. Mengadakan promosi kesehatan dengan tema yang didasarkan

pada pendekatan pemecahan masalah (problem solving approach), yakni penyuluhan disertai kesempatan berkonsultasi dengan guru, konsultan psikologi sekolah, atau guru agama.

122

4. Kerjasama sekolah dengan pakar untuk memadukan berbagai

disiplin ilmu yang terkait dalam masalah seks dari berbagai sudut pandang, seperti pakar kesehatan, psikologi, psikiatri dan lainnya..
5. Keterbukaan komunikasi

yang dimulai dari lingkungan keluarga

dengan kuantitas komunikasi yang cukup dan kualitas komunikasi yang baik, agar perilaku anak dapat lebih terkontrol dan berpikir sebelum bertindak.
6. Memberikan pendidikan seks usia dini kepada anak yang dimulai

dari lingkungan keluarga. Pendidikan seks bukan hanya

kesehatan reproduksi dan mengenai kesehatan

menginformasikan

reproduksi manusia tetapi juga menanamkan pada remaja bahaya melakukan free sex dan bagaimana cara bergaul yang baik. Sehingga pada akhirnya mereka memiliki kesadaran yang kuat untuk menghindari free sex. 7. Meningkatkan IMTAQ siswa dengan cara melakukan kegiatan keagamaan secara rutin atau kegiatan lain sesuai dengan keyakinan masing- masing siswa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful