PENDAHULUAN Kematian adalah suatu proses yang dapat dikenal secara klinis pada seseorang melalui pengamatan terhadap

perubahan yang terjadi pada tubuh mayat. Perubahan itu akan terjadi dari mulai terhentinya suplai oksigen. Manifestasinya akan dapat dilihat setelah beberapa menit, jam dan seterusnya. Terhentinya suplai oksigen bisa juga menjadi penyebab kematian. Hal ini disebabkan karena adanya hambatan masuknya oksigen ke dalam sistem respirasi. Hambatan ini juga akan berakibat terganggunya pengeluaran karbon dioksida dari tubuh sehingga kadarnya dalm darah meningkat. Keadaan dimana terjadi gangguan dalam pertukaran udara pernafasan yang normal disebut asfiksia. Asfiksia yang paling sering dijumpai di dalam kasus tindak pidana yaitu asfiksia mekanik, dimana terjadi obstruksi saluran pernafasan secara mekanik. Definisi asfiksia adalah suatu keadaan dimana terjadi kekurangan suplai oksigen yang berat pada tubuh sehingga akan meningkatkan ketidakmampuan tubuh untuk bernapas secara normal. Etiologi asfiksia adalah alamiah : misalnya penyakit yang menyumbat saluran pernafasan seperti laringitis difteri, atau menimbulkan gangguan pergerakan paru seperti fibrosis paru ; mekanik : misalnya trauma yang mengakibatkan emboli udara vena, emboli lemak, pneumotoraks bilateral, sumbatan pada saluran nafas dan sebagainya. Kejadian ini sering dijumpai pada keadaan gantung diri, tenggelam, pencekikan, dan pembekapan ; keracunan : Bahan yang menimbulkan depresi pusat pernafasan misalnya barbiturat, narkotika. Salah satu etiologi asfiksia yang telah disebutkan di atas adalah pembekapan. Pembekapan merupakan salah satu bentuk mati lemas, dimana pada pembekapan baik mulut maupun lubang hidung tertutup sehingga proses pernafasan tidak dapat

berlangsung. Penyebab kematian pada pembekapan (smothering), yaitu : asfiksia, 4 oedema paru, dan hiperaerasi. Edema paru dan hiperaerasi terjadi pada kematian yang lambat dari pembekapan. Dalam Ilmu Kedokteran Forensik disebutkan bahwa pemeriksaan makroskopis, data-data klinis, dan pemeriksaan secara mikroskopis merupakan cara identifikasi yang lebih baik untuk meminimalisasi kemungkinan-kemugkinan lain yang dapat terjadi. Ada 3 hal yang penting kita lakukan pada pemeriksaan otopsi kasus pembekapan (smothering), yaitu : mencari penyebab kematian, menemukan tanda-tanda asfiksia, menemukan edema paru, hiperaerasi dan sianosis pada kematian yang lambat. Dalam era ini dibutuhkan penentuan saat kematian secara tepat. Otak sebagai organ yang relatif terlindung maksimal dengan batok kepala diperkirakan mengalami proses kimiawi yang relatif cepat dan tidak dipengaruhi lingkungan. Proses kimiawi akibat terhentinya suplai zat asam/oksigen mengakibatkan jaringan otak yang sangat sensitif terhadap kekurangan zat asam itu akan lebih cepat mengalami disintegrasi kimiawi, yang diamati melalui perubahan konduktivitas listrik yang terjadi. 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. DEFINISI Dalam dunia medis definisi asfiksia masih merupakan perbincangan, namun beberapa ahli menyimpulkan bahwa asfiksia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan pertukaran udara pernafasan, mengakibatkan oksigen darah berkurang (hipoksia) disertai dengan peningkatan karbondioksida (hiperkapnea). Dengan demikian organ tubuh mengalami kekurangan oksigen (hipoksia hipoksik) dan terjadi kematian.

Pembekapan (smothering) merupakan salah satu bentuk mati lemas dimana terjadi obstruksi mekanik aliran udara dari lingkungan sekitar ke dalam mulut dan atau rongga hidung, yang menghambat pemasukan udara ke paru-paru, dengan cara menutup mulut dan hidung. Penutupan lubang hidung dan mulut bisa menggunakan tangan, bantal, atau kantong plastik. B. ANGKA KEJADIAN Korban kematian akibat asfiksia termasuk yang sering diperiksa oleh dokter. Umumnya urutan ke-3 sesudah kecelakaan lalu-lintas dan trauma mekanik. C. ETIOLOGI 1. Alamiah Misalnya penyakit yang menyumbat saluran pernafasan seperti laringitis difteri, atau menimbulkan gangguan pergerakan paru seperti fibrosis paru. 6 2. Mekanik Yang menyebabkan asfiksia mekanik, misalnya trauma yang mengakibatkan emboli udara vena, emboli lemak, pneumotoraks bilateral, sumbatan pada saluran nafas dan sebagainya. Kejadian ini sering dijumpai pada keadaan gantung diri, tenggelam, pencekikan, dan pembekapan. 3. Keracunan Bahan yang menimbulkan depresi pusat pernafasan misalnya barbiturat, narkotika. D. PATOFISIOLOGI Dari pandangan patologi, kematian akibat asfiksia dapat dibagi dalam dua golongan :

hati. Perubahan yang karakteristik terlihat pada sel-sel serebrum. Penghentian primer dari pernafasan akibat kegagalan pada pusat pernafasan. akibatnya tekanan arteri dan vena meninggi. paru-paru. 2. Sekunder (berhubungan dengan penyebab dan usaha kompensasi dari tubuh) Jantung berusaha mengkompensasi keadaan tekanan oksigen yang rendah dengan mempertinggi outputnya. Sel-sel otak sangat sensitif terhadap kekurangan O2. Karena oksigen dalam darah berkurang terus dan tidak cukup untuk kerja jantung maka terjadi gagal jantung dan kematian berlangsung dengan cepat. dengan demikian bagian tersebut lebih rentan terhadap kekurangan oksigen. Obstruksi jalan nafas seperti pada mati gantung. tidak tergantung pada tipe dari asfiksia. serebelum dan ganglia basalis. ginjal dan yang lainnya perubahan akibat kekurangan O2 langsung atau primer tidak jelas. c. Primer (akibat langsung dari asfiksia) Kekurangan oksigen ditemukan di seluruh tubuh. misalnya pada luka listrik dan beberapa bentuk keracunan. JENIS ASFIKSIA Secara fisiologis dapat dibedakan empat bentuk asfiksia (sering disebut . sehingga pada organ tubuh yang lain yakni jantung. Di sini sel-sel otak yang mati akan digantikan oleh jaringan glial. Penutupan mulut dan hidung (pembekapan) 7 b. Gangguan gerakan pernafasan karena terhimpit atau berdesakan (traumatic asphyxia) d. Keadaan ini didapati pada : a. pencekikan dan korpus alienum dalam saluran nafas atau pada tenggelam karena cairan menghalangi udara masuk ke paru paru. E.1. Bagianbagian otak tertentu membutuhkan lebih banyak O2. penjeratan.

bernafas dalam selokan tertutup atau di pegunungan yang tinggi. pencekikan. tetapi sirkulasi darah tidak lancar. dan sebagainya. Anoksia jaringan (histotoxic anoxia) Gangguan terjadi di dalam jaringan sendiri. syok. dimana terjadi hambatan masuknya oksigen ke dalam tubuh yang berakibat kadar oksigen (O2) dalam . STADIUM ASFIKSIA Pada pembekapan terjadi keadaan asfiksia. sehingga jaringan atau tubuh tidak dapat menggunakan oksigen secara efektif.anoksia) : 1. 8 3. F. Anoksia anoksik (anoxic anoxia) Keadaan ini diibaratkan dengan tidak atau kurang pemasokan oksigen untuk keperluan tubuh. gantung diri. kepala ditutupi kantong plastik. Hambatan mekanik dari luar maupun dari dalam jalan nafas seperti pembekapan. Ini bisa karena gagal jantung. Ini disebut asfiksia murni (suf ocation) b. Ini disebut sebagai asfiksia mekanik (mechanical asphyxia) 2. Anoksia anemia (anaemic anoxia) Dimana tidak cukup hemoglobin untuk membawa oksigen. 4. Tidak ada atau tidak cukup O2 bernafas dalam ruangan tertutup. Dalam keadaan ini tekanan oksigen cukup tinggi. udara yang kotor atau busuk. Ini didapatkan pada anemi berat dengan pendarahan yang tiba-tiba. Pada tipe ini O2 tidak dapat masuk ke dalam paru-paru karena : a. udara lembab. pemitingan atau korpus alienum dalam tenggorokan. Anoksia hambatan (stagnant anoxia) Tidak lancarnya sirkulasi darah yang membawa oksigen. penjeratan.

tanda sianosis terutama pada muka dan tangan. 2. Fase dispnoe Penurunan kadar oksigen sel darah merah da penimbunan CO2 dalam plasma akan merangsang pusat pernafasan di medulla oblongata. dan akhirnya timbul episode opistotonik. . Pada orang yang mengalami asfiksia akan timbul gejala yang dapat dibedakan dalam 4 fase. Nadi cepat. Di dalam udara ruangan normal terdapat oksigen (O2) kurang lebih 21%. tekanan darah meninggi dan mulai tampak tanda . yang mula . Kekurangan oksigen. Pada konsentrasi oksigen (O2) 10-15% akan mengakibatkan kerusakan pada fungsi kognitif dan motorik. Efek ini berkaitan dengan paralisis pusat yang lebih tinggi dalam otak akibat kekurangan O2. tekanan darah juga menurun. Meskipun kecepatan terjadinya hipoksia bebedabeda. Konsentrasi oksigen (O2) kurang dari 10% akan menyebabkan kehilangan kesadaran.darah berkurang (hipoksik-hipoksia). yaitu : 9 1.mula berupa kejang klonik tetap kemudian menjadi kejang tonik. baik sebagian (hipoksia) atau total (anoksia) akan menyebabkan kematian. dan pada konsentrasi kurang dari 8% akan terjadi kematian. Fase konvulsi Akibat kadar CO2 yang naik maka akan timbul rangsangan terhadap susunan saraf pusat sehingga terjadi konvulsi ( kejang ). sehingga amplitude dan frekuensi pernafasan akan meningkat. orang akan kehilangan kesadaran dalam 40 detik. denyut jantung menurun.3 Pupil mengalami dilatasi. dan akan meninggal dalam beberapa menit pada lingkungan oksigen (O2)yang sangat rendah sekitar 4-6%.2. dan hambatan dalam pengeluaran karbon dioksida (CO2) dari dalam tubuh sehingga kadarnya dalam darah meningkat (hiperkapnea).

PEMBEKAPAN Pembekapan berarti obstruksi mekanik terhadap aliran udara dari lingkungan ke dalam mulut dan atau lubang hidung. Pembekapan dapat terjadi secara sebagian atau seluruhnya. pernafasan melemah dan dapat berhenti. 10 Normalnya. . dan tertimbunnya tubuh korban misalnya tertimbun tanah longsor atau bangunan runtuh ( traumatic or crush asphyxia ). Kesadaran menurun dan akibat relaksasi sfingter dapat terjadi pengeluaran cairan sperma. Jantung masih berdenyut beberapa saat setelah pernafasan berhenti. Pernafasan berhenti setelah kontraksi otomatis otot pernafasan kecil pada leher. meskipun lebih sedikit dari kebutuhannya. dimana pada pembekapan baik mulut maupun lubang hidung tertutup sehingga proses pernafasan tidak dapat berlangsung. urin dan tinja. 4. Pembekapan merupakan salah satu bentuk mati lemas. dimana yang terjadi secara sebagian mengindikasikan bahwa orang tersebut yang dibekap masih mampu untuk menghirup udara. Fase akhir Terjadi paralisis pusat pernafasan yang lengkap.3. yang biasanya dilakukan dengan menutup mulut dan hidung dengan menggunakan kantong plastik. G. menindih atau menekan dada korban sehingga dada tidak dapat bergerak ( overlying ). pembekapan membutuhkan paling tidak sebagian obstruksi baik dari rongga hidung maupun mulut untuk menjadi asfiksia. Selain pembekapan yang juga termasuk mati lemas adalah : tindakan menyumpal rongga mulut dengan benda asing ( choking ). Fase apnoe Depresi pusat pernafasan menjadi lebih hebat.

Sering juga didapatkan memar dan robekan pada bibir. yaitu : .Sianosis Tanda ini dapat dengan mudah dilihat pada ujung-ujung jari dan bibir dimana terdapat pembuluh darah kapiler. maka yang lainnya yaitu : overlying. khususnya di daerah wajah. Pada kasus yang 11 hebat perdarahan tersebut dapat dilihat pada kulit. orang tua yang lemah. Sianosis mempunyai arti jika keadaan mayat masih baru (kurang dari 24 jam post mortal). Tardiu`s Spot) Keadaan ini mudah dilihat pada tempat dimana struktur jaringannya longgar. venula. hidung. . dan subserosa lain.Warna lebam mayat merah-kebiruan gelap dan terbentuk lebih cepat. Korban pembekapan umumnya wanita yang gemuk. dan traumatic asphyxia biasanya bersifat kecelakaan. Tanda-tanda asfiksia.Perdarahan Berbintik (petechial haemorrhages. dan kapiler. dan daerah sekitarnya. seperti pada konjunctiva bulbi. . Pelebaran pembuluh darah konjunctiva bulbi dan palpebra yang terjadi pada fase 2. orang dewasa yang berada di bawah pengaruh obat atau anak-anak. hipoksia dapat merusak endotel kapiler sehingga dinding kaplier yang terdiri dari selapis sel akan pecah dan timbul bintik-bintik perdarahan. Distribusi lebam lebih luas akibat kadar CO2 yang tinggi. Akibatnya tekanan hidrostatik dalam pembuluh darah meningkat terutama dalam vena. khususnya bibir bagian dalam yang berhadapan dengan gigi.Kecuali pembekapan dan penyumpalan atau penyumbatan rongga mulut yang pada umumnya merupakan kasus pembunuhan. Selain itu. Kelainan yang terjadi karena pembekapan adalah berbentuk luka lecet dan atau luka memar terdapat di mulut. palpebra. .

Bunuh diri dengan cara pembekapan dapat terjadi pada pasien dengan gangguan jiwa. atau pada tumpukan tepung dan sejenisnya. misalnya pada pekerja yang jatuh pada cairan yang kental. Keluar masuknya udara yang cepat dalam saluran sempit akan menimbulkan busa yang kadang-kadang bercampur darah akibat pecahnya kapiler.Terdapat busa halus pada hidung dan mulut yang timbul akibat peningkatan aktivitas pernafasan pada fase 1 yang disertai sekresi selaput lendir saluran nafas bagian atas. yaitu bila ia tertindih oleh selimut atau 12 bantal. Pada orang dewasa dapat pula terbekap tanpa disengaja. yang untuk membuktikannya kadang-kadang harus dilakukan sayatan untuk melihat otot bagian dalamnya. Bunuh diri (suicide) . Tanda-tanda asfiksia ini juga disertai dengan adanya luka lecet tekan dan memar di daerah mulut. dan sekitarnya. hidung. Pembekapan yang dilakukan dengan satu tangan dan tangan yang lain menekan kepala korban dari belakang. yaitu : 1. maka dapat ditemukan adanya lecet atau memar pada otot leher bagian belakang. yaitu dengan membenamkan wajahnya ke dalam kasur atau menyumbat dengna benda-benda yang ada di sekitarnya. Pada bayi dapat terbekap secara tidak disengaja (accidental smothering). dan merupakan petunjuk pasti bahwa pada korban telah terjadi pembekapan yang mematikan. atau membuka seluruh kulit yang menutupi daerah tersebut.. dan hal tersebut dapat terjadi khususnya bila dalam keadaan mabuk. Pembekapan dapat diklasifikasikan menurut cara kematiannya. khususnya bila bayi tersebut prematur. yang dapat pula terjadi pada kasus pencekikan dengan satu tangan.

misalnya terbekap dengan atau dalam kantong plastik. pakaian. orang sakit berat. 3.Bunuh diri dengan cara pembekapan masih mungkin terjadi misalnya pada penderita penyakit jiwa. 2. Selain itu juga dapat terjadi kecelakaan dimana seorang anak yang tidur berdampingan dengan orangtuanya dan secara tidak sengaja orangtuanya menindih si anak sehingga tidak dapat bernafas. Orang dewasa yang terjatuh waktu bekerja atau pada penderita epilepsi yang mendapat serangan dan terjatuh. gandum. Pada anak-anak dan dewasa muda bisa terjadi kecelakaan terkurung dalam suatu tempat yang sempit dengan sedikit udara. yaitu dengan membenamkan wajahnya ke dalam kasur. Keadaan ini disebut overlying. terutama bayi prematur bila hidung dan mulut tertutup oleh bantal atau selimut. orang dalam keadaan mabuk. 13 Pada pembunuhan dengan pembekapan biasanya dilakukan dengan cara hidung dan mulut diplester. orang dalam pengaruh obat atau minuman keras. Pada orang dewasa hanya terjadi pada orang yang tidak berdaya seperti orangtua. orang tahanan. . kain atau dasi yang dibekapkan pada hidung dan mulut. Bisa juga dengan menggunakan plester yang menutupi hidung dan mulut. Pembunuhan (homicidal smothering) Biasanya terjadi pada kasus pembunuhan anak sendiri. atau menggunakan bantal. bantal ditekan ke wajah. Kecelakaan (accidental smothering) Kecelakaan dapat terjadi misalnya pada bayi dalam bulan-bulan pertama kehidupannya. sehingga mulut dan hidung tertutup dengan pasir. dan sebagainya. tepung. yang diikatkan menutupi hidung dan mulut.

14 b. Biasanya dalam waktu 4-5 menit setelah mengalami sufokasi komplit. yaitu karena adanya makanan. Penyebab kematian Penyebab kematian pada sufokasi adalah asfiksia dan syok (jarang). akan mengakibatkan sufokasi yang fatal. Penekanan pada dada. Hal ini bisa disebabkan karena kecelakaan ataupun bunuh diri. Yaitu jika terdapat benda asing di dalam saluran pernafasan.Pembunuhan dengan pembekapan dapat juga dilakukan bersamaan dengan menindih atau menduduki dada korban. Hal ini lebih sering akibat kecelakaan. Jarang sekali hal ini terjadi sebagai upaya pembunuhan. tulang. . a. Orang dewasa juga sangat jarang mengalami kematian akibat pembekapan. Bayi didekap terlalu erat pada dada ibu sewaktu menyusui. Keadaan ini biasanya adalah kecelakaan berupa asfiksia pada anak atau bayi karena ibu yang kurang berpengalaman. Jenis . Penekanan pada dada akan disertai dengan cedera dada dan fraktur tulang iga. Sufokasi merupakan bentuk asfiksia akibat obstruksi pada saluran udara menuju paru-paru yang bukan karena penekanan pada leher atau tenggelam. Misalnya biji kopi. Gas yang sering terhirup adalah karbon dioksida. Tersedak benda asing (gagging and choking). Keadaan ini dinamakan burking. berdasarkan penyebabnya dibedakan atas: Pembekapan (smoothering). Jika seluruh ruangan penuh berisi gas yang berbahaya. karbon monoksida dan sulfur dioksida. biji-bijian atau cairan yang diaspirasi dari saluran pernafasan sehingga menyebabkan asfiksia parsial. Inhalasi gas-gas berbahaya. Pada kasus pembunuhan maka akan tampak tanda-tanda perlawanan.jenis sufokasi. Keadaan ini sering terjadi akibat kecelakaan dan jarang sekali merupakan upaya pembunuhan.

dagu. Ujung lidah juga dapat mengalami memar atau cedera. · Kekerasan yang mungkin dapat ditemukan adalah luka lecet jenis tekan atau geser. yang tidak jarang sampai merembes ke bagian yang lebih dalam. Pemeriksaan Luar · Tanda kekerasan yang dapat ditemukan tergantung dari jenis benda yang digunakan dan kekuatan menekan. maka pada bantal tersebut akan tercetak bentuk bibir yang bergincu tadi. jejas bekas jari/kuku di sekitar wajah. hidung. dan orang yang dibekap kebetulan memakai gincu (lipstick). yaitu ke bantalnya sendiri. Pada pembekapan dengan mempergunakan bantal. yang dapat pula terjadi pada kasus 15 . gusi dan lidah. Memar atau luka masih dapat ditemukan pada bibir bagian dalam. · Pada anak-anak oleh karena tenaga untuk melakukan pembekapan tersebut tidak terlalu besar.Pada beberapa kasus terjadi kematian mendadak. c. kelainan biasanya minimal. maka pada pemeriksaan luar jenazah mungkin tidak ditemukan tandatanda kekerasan. 1. · Pembekapan yang dilakukan dengan satu tangan dan tangan yang lain menekan kepala korban dari belakang. bila tekanan yang dipergunakan cukup besar. misal dengan bantal. · Bila pembekapan terjadi dengan benda yang lunak. Gambaran post mortem. · Luka memar atau lecet dapat ditemukan pada bagian/permukaan dalam bibir akibat bibir yang terdorong dan menekan gigi. yaitu luka lecet tekan dan atau memar pada bibir bagian dalam yang berhadapan dengan gigi dan rahang. yang mungkin terjadi akibat korban melawan. pinggir rahang. lidah dan gusi.

dan tidak sempat masuk ke dalam pembuluh darah oleh karena cepatnya proses kematian · Kongesti (pembendungan yang sistemik) Kongesti pada paru-paru yang disertai dengan dilatasi jantung kanan merupakan ciri klasik pada kematian karena asfiksia. · Edema pulmonum Edema pulmonum atau pembengkakan paru-paru sering terjadi pada kematian yang berhubungan dengan hipoksia. · Bisa didapatkan luka memar atau lecet pada bagian belakang tubuh korban. subpleura visceralis paru .pencekikan dengan satu tangan. Pemeriksaan Dalam · Tetap cairnya darah Darah yang tetap cair ini sering dihubungkan dengan aktivitas fibrinolisin. 2. adakah darah atau epitel kulit si pelaku. atau membuka sluruh kulit yang menutupi daerah tersebut. epikardium pada bagian belakang jantung daerah aurikuloventrikular. Pada pengirisan mengeluarkan banyak darah. · Perdarahan Berbintik (Petechial haemorrhages) Dapat ditemukan pada mukosa usus halus. yang untuk membuktikannya kadang-kadang harus dilakukan sayatan untuk melihat otot bagian dalamnya. maka dapat ditemukan adanya lecet atau memar pada otot leher bagian belakang. · Selanjutnya ditemukan tanda-tanda asfiksia baik pada pemeriksaan luar maupun pada pembedahan jenazah. Pendapat lain dihubungkan dengan faktor-faktor pembekuan yang ada di ekstra vaskuler. Perlu pula dilakukan pemeriksaan kerokan bawah kuku korban.

petekie dan emboli. Ditambah pemeriksaan secara makroskopis dan histopatologis kerusakan umum pada . kolapnya alveolus (col). Dalam penerapan ilmu forensik. d. Hiperinflasi duktus yang terjadi akibat emfisema yang akut merupakan tanda khas dari kasus sufokasi. untuk mengetahui penyebab kematian karena asfiksia dapat menimbulkan berbagai pertanyaan apabila tidak disertai tanda-tanda luka di luar maupun di dalam tubuh atau sumbatan pada saluran pernafasan. kulit kepala sebelah dalam terutama daerah otot temporal.terutama di lobus bawah pars diafragmatika dan fisura interlobaris. dan kondisi saat kematian tidak diketahui secara pasti. Reaksi vital yang umum berupa perdarahan yaitu ekimosis. Pemeriksaan secara histopatologi pada parenkim paru dapat meminimalisir diagnosis banding dari beberapa kasus kematian yang disebabkan karena asfiksia. Gangguan jalan napas pada pembekapan akan menimbulkan suatu keadaan dimana oksigen dalam darah berkurang yang disertai dengan peningkatan kadar karbondioksida. Reaksi ini penting untuk membedakan apakah luka terjadi pada saat seseorang masih hidup atau sudah mati. dan edema interstisiel (ed). Gambaran mikroskopis parenkim paru karena peembekapan dapat diperoleh antara lain sebagai berikut: 17 Pada gambaran di atas terdapat hiperinflasi duktus (ov). mukosa epiglottis dan daerah subglotis. Gambaran Mikroskopis Pemeriksaan mikroskopik sangat penting dilakukan untuk melihat reaksi intravitalitas yang merupakan reaksi tubuh manusia yang hidup terhadap luka. 16 · Bisa juga didapatkan busa halus dalam saluran pernafasan.

keracunan : Bahan yang menimbulkan depresi pusat pernafasan misalnya barbiturat. yang biasanya dilakukan dengan menutup mulut dan hidung dengan menggunakan kantong plastik Tanda-tanda asfiksia disertai dengan adanya luka lecet tekan dan memar di . Kejadian ini sering dijumpai pada keadaan gantung diri. pencekikan. narkotika. dimana pada pembekapan baik mulut maupun lubang hidung tertutup sehingga proses pernafasan tidak dapat berlangsung. kongesti pasif dan degenerasi sel yang biasanya bervariasi dan tidak mengarah pada penemuan tunggal. Etiologi asfiksia adalah alamiah : misalnya penyakit yang menyumbat saluran pernafasan seperti laringitis difteri. mengakibatkan oksigen darah berkurang (hipoksia) disertai dengan peningkatan karbondioksida (hiperkapnea). emfisema. sumbatan pada saluran nafas dan sebagainya. tenggelam. dan pembekapan . atau menimbulkan gangguan pergerakan paru seperti fibrosis paru . Pembekapan merupakan salah satu bentuk mati lemas. emboli lemak. Dengan demikian organ tubuh mengalami kekurangan oksigen (hipoksia hipoksik) dan terjadi kematian. namun beberapa ahli menyimpulkan bahwa asfiksia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan pertukaran udara pernafasan. perdarahan.18 BAB III RESUME Definisi asfiksia masih merupakan perbincangan.hipoksia seperti edema. Pembekapan juga berarti obstruksi mekanik terhadap aliran udara dari lingkungan ke dalam mulut dan atau lubang hidung. mekanik : misalnya trauma yang mengakibatkan emboli udara vena. pneumotoraks bilateral.

pembekapan membutuhkan paling tidak sebagian obstruksi baik dari rongga hidung maupun mulut untuk menjadi asfiksia. pneumotoraks . 1997): 1.1. emboli lemak. 2008). 20 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. merupakan petunjuk pasti bahwa pada korban telah terjadi pembekapan yang mematikan. misalnya penyakit yang menyumbat saluran pernapasan seperti laringitis difteri atau menimbulkan gangguan pergerakan paru seperti fibrosis paru.1. Penyebab alamiah. meskipun lebih sedikit dari kebutuhannya.1. hidung. dan sekitarnya. dimana yang terjadi secara sebagian mengindikasikan bahwa orang tersebut yang dibekap masih mampu untuk menghirup udara. 1997). 2. Defenisi Asfiksia Asfiksia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan pertukaran udara pernapasan. asfiksia dapat disebabkan oleh hal berikut (Ilmu Kedokteran Forensik. mengakibatkan oksigen darah berkurang (hipoksia) disertai dengan peningkatan karbon dioksida (hiperkapnea). Secara klinis keadaan asfiksia sering disebut anoksia atau hipoksia (Amir. Etiologi Asfiksia Dari segi etiologi. ASFIKSIA 2.1. 2.daerah mulut. Trauma mekanik yang menyebabkan asfiksia mekanik. misalnya trauma yang mengakibatkan emboli udara vena.2. Normalnya. Dengan demikian organ tubuh mengalami kekurangan oksigen (hipoksia hipoksik) dan terjadi kematian (Ilmu Kedokteran Forensik. 19 Pembekapan dapat terjadi secara sebagian atau seluruhnya.

penjeratan. Anoksia Anemia (Anemia anoxia) Di mana tidak cukup hemoglobin untuk membawa oksigen. Dalam keadaan ini tekanan oksigen cukup tinggi. 1996 ). Anoksia Hambatan (Stagnant anoxia) Tidak lancarnya sirkulasi darah yang membawa oksigen.3. yaitu: 1. udara yang kotor atau busuk. gantung diri. 3.bilateral. syok dan sebagainya. 2. 2008). udara lembab. sumbatan atau halangan pada saluran napas dan sebagainya. bernafas dalam selokan tetutup atau di pegunungan yang tinggi. misalnya barbiturat dan narkotika. Keadaan ini diibaratkan dengan sedikitnya kendaraan yang membawa bahan bakar ke pabrik. kepala di tutupi kantong plastik. Ini didapati pada anemia berat dan perdarahan yang tiba-tiba. dibandingkan dengan penyebab yang lain seperti penyebab alamiah ataupun keracunan (Knight. pemitingan atau korpus alienum dalam tenggorokan. Bernafas dalam ruangan tertutup. 3. Fisiologi Secara fisiologi dapat dibedakan 4 bentuk anoksia (Amir. Ini di kenal dengan asfiksia mekanik.Tidak ada atau tidak cukup O2. Penyebab tersering asfiksia dalam konteks forensik adalah jenis asfiksia mekanik.Hambatan mekanik dari luar maupun dari dalam jalan nafas seperti pembekapan. Keadaan ini diibaratkan lalu . tetapi sirkulasi darah tidak lancar. . pencekikan. 2. Anoksia Anoksik (Anoxic anoxia) Pada tipe ini O2 tidak dapat masuk ke dalam paru-paru karena: Universitas Sumatera Utara. Ini di kenal dengan asfiksia murni atau sufokasi. Keracunan bahan yang menimbulkan depresi pusat pernapasan. Ini bisa karena gagal jantung.1.

Anoksia Jaringan (Hystotoxic anoxia) Gangguan terjadi di dalam jaringan sendiri. sehingga jaringan atau tubuh tidak dapat menggunakan oksigen secara efektif. sitokrom dihambat secara parsial sehingga kematian berlangsung perlahan.lintas macet tersendat jalannya.1. 2008). misalnya pada keracunan zat anastetik yang larut dalam lemak seperti kloform. eter dan sebagainya.4. . Tipe ini dibedakan atas: .Substrat Dalam hal ini makanan tidak mencukupi untuk metabolisme yang efisien. 2. Patologi Dari pandangan patologi. 4.Ekstraseluler Anoksia yang terjadi karena gangguan di luar sel.Intraselular Di sini oksigen tidak dapat memasuki sel-sel tubuh karena penurunan permeabilitas membran sel. Pada keracunan Sianida terjadi perusakan pada enzim sitokrom oksidase. yang dapat menyebabkan kematian segera. Pada keracunan Barbiturat dan hipnotik lainnya. Primer (akibat langsung dari asfiksia) Kekurangan oksigen ditemukan di seluruh tubuh. kematian akibat asfiksia dapat dibagi dalam 2 golongan (Amir. tidak tergantung pada tipe . Universitas Sumatera Utara. . misalnya pada keadaan hipoglikemia.Metabolik Di sini asfiksia terjadi karena hasil metabolik yang mengganggu pemakaian O2 oleh jaringan seperti pada keadaan uremia. yaitu: 1.

. Stadium Pada Asfiksia Pada orang yang mengalami asfiksia akan timbul gejala yang dapat dibedakan .Gangguan gerakan pernafasan karena terhimpit atau berdesakan (Traumatic asphyxia).Penghentian primer dari pernafasan akibat kegagalan pada pusat pernafasan.1. misalnya pada luka listrik dan beberapa bentuk keracunan. . paru-paru.dari asfiksia. pencekikan dan korpus alienum dalam saluran napas atau pada tenggelam karena cairan menghalangi udara masuk ke paru-paru. hati.5. 2. Perubahan yang karakteristik terlihat pada sel-sel serebrum. dengan demikian bagian tersebut lebih rentan terhadap kekurangan oksigen. Sekunder (berhubungan dengan penyebab dan usaha kompensasi dari tubuh) Jantung berusaha mengkompensasi keadaan tekanan oksigen yang rendah dengan mempertinggi outputnya. akibatnya tekanan arteri dan vena meninggi. 2. Sel-sel otak sangat sensitif terhadap kekurangan oksigen.Obstruksi jalan napas seperti pada mati gantung. dan basal ganglia. Keadaan ini didapati pada: Universitas Sumatera Utara. ginjal dan yang lainnya perubahan akibat kekurangan oksigen langsung atau primer tidak jelas. Bagian-bagian otak tertentu membutuhkan lebih banyak oksigen.Penutupan mulut dan hidung (pembekapan). maka terjadi gagal jantung dan kematian berlangsung dengan cepat. . Karena oksigen dalam darah berkurang terus dan tidak cukup untuk kerja jantung. serebellum. sedangkan pada organ tubuh yang lain yakni jantung. Di sini sel-sel otak yang mati akan digantikan oleh jaringan glial. penjeratan.

2008).6. dilatasi pupil. akhirnya berhenti bersamaan dengan Universitas Sumatera Utaralumpuhnya pusat-pusat kehidupan. Wajah cemas. 2. yaitu: 1. Denyut nadi dan tekanan darah masih tinggi. Walaupun nafas telah berhenti dan denyut nadi hampir tidak teraba. bibir mulai kebiruan. sianosis makin jelas. Tanda Kardinal Asfiksia Selama beberapa tahun dilakukan autopsi untuk mendiagnosis kematian akibat . Bila keadaan ini berlanjut.1. maka penderita akan masuk ke stadium apnoe. spinkter mengalami relaksasi sehingga feses dan urin dapat keluar spontan. maka masuk ke stadium kejang. hilangnya refleks. otot menjadi lemah. 2. Stadium Apnea Korban kehabisan nafas karena depresi pusat pernafasan. Masa dari saat asfiksia timbul sampai terjadinya kematian sangat bervariasi.dalam 4 stadium (Amir. gerakan pernafasan (inspirasi dan ekspirasi) bertambah dalam dan cepat disertai bekerjanya otot-otot pernafasan tambahan. denyut nadi dan tekanan darah meningkat. pada stadium ini bisa dijumpai jantung masih berdenyut beberapa saat lagi. kesadaran hilang dengan cepat. 3. mata menonjol. Stadium Dispnea Terjadi karena kekurangan O2 disertai meningkatnya kadar CO2 akan merangsang pusat pernafasan. pernafasan dangkal dan semakin memanjang. Bila kekurangan O2ini terus berlanjut. tekanan darah menurun. Stadium Kejang Berupa gerakan klonik yang kuat pada hampir seluruh otot tubuh. Umumnya berkisar antara 3-5 menit.

perikardium. Ini tidak dapat dinyatakan sebagai anemia. paru dan otak. yaitu: a. mukosa laring dan faring.asfiksia. Cairan plasma ini akan mengisi pada sela-sela jaringan ikat longgar dan rongga badan (terjadi oedema). c. 1996). terjadi peningkatan tekanan hidrostatik intravaskular (tekanan yang mendorong darah mengalir di dalam vaskular oleh kerja pompa jantung) menimbulkan perembesan cairan plasma ke dalam ruang interstitium. konjungtiva dan sklera mata. Selain itu juga bisa terdapat dipermukaan jantung. Kongesti dan Oedema Ini merupakan tanda yang lebih tidak spesifik dibandingkan dengan ptekie. telah ditetapkan beberapa tanda klasik (Knight. Tardieu s spot (Petechial hemorrages) Tardieu s spot terjadi karena peningkatan tekanan vena secara akut yang menyebabkan overdistensi dan rupturnya dinding perifer vena. Bisa juga terdapat pada lapisan viseral dari pleura. timus. sehingga terjadi akumulasi darah dalam organ yang diakibatkan adanya gangguan sirkulasi pada pembuluh darah. jarang pada mesentrium dan intestinum. terutama pada jaringan longgar. peritoneum. seperti kelopak mata. b. circumoral skin. Pada kondisi vena yang terbendung. kulit dibagian belakang telinga. . Kongesti adalah terbendungnya pembuluh darah. dibawah kulit dahi. Sianosis Merupakan warna kebiru-biruan yang terdapat pada kulit dan selaput lendir yang terjadi akibat peningkatan jumlah absolut Hb tereduksi (Hb yang Universitas Sumatera Utaratidak berikatan dengan O2). terlepas dari jumlah total hemoglobin. harus ada minimal 5 gram hemoglobin per 100 ml darah yang berkurang sebelum sianosis menjadi bukti.

Perhatikan bagian di belakang bibir luka akibat penekanan pada gigi. seperti darah vena yang kandungan hemoglobinnya berkurang setelah perfusi kepala dan leher dibendung kembali dan menjadi lebih biru karena akumulasi darah. Hal ini tidak relevan dalam diagnosis asfiksia 2. d. Ada garis ludah di pinggir salah satu sudut mulut. Tetap cairnya darah Terjadi karena peningkatan fibrinolisin paska kematian. yaitu: a.1. sianosis hampir selalu diikuti dengan kongesti pada wajah. maka lebam mayat didapati di kedua kaki dan tangan. begitu pula di belakang kepala atau tengkuk akibat penekanan. seperti akhirnya pencairan bekuan tersebut diakibatkan oleh enzim fibrinolitik. Kesannya leher sedikit memanjang.7. Bila dilakukan dengan bahan halus. Kematian terjadi akibat tekanan di leher oleh pengaruh berat badan sendiri. Pembekuan yang terdapat pada jantung dan sistem vena setelah kematian adalah sebuah proses yang tidak pasti. kelainan terdapat disekitar lobang hidung dan mulut. Gambaran tentang tetap cairnya darah yang dapat terlihat pada saat autopsi pada kematian akibat asfiksia adalah bagian dari mitologi forensik. Namun bila segera diturunkan. b. kadang-kadang sulit mendapatkan tanda-tanda kekerasan. Biasanya korban anak-anak atau orang yang tidak berdaya. 2007). Tanda Khusus Asfiksia Didapati sesuai dengan jenis asfiksia (Amir. maka lebam mayat akan . Bila korban cukup lama tergantung. Dapat berupa luka memar atau lecet.Pada kebanyakan kasus forensik dengan konstriksi leher. Mati tergantung. Pada pembekapan. dengan bekas jeratan di leher.

Tandatanda pembendungan seperti pada keadaan asfiksia yang lain juga didapati. Muka korban lebih sering pucat. Pada pembukaan kulit di daerah leher.8. Keluar masuknya udara yang . Namun tanda-tanda di leher tetap menjadi petunjuk yang baik. demikian juga di pangkal tenggorokan dan oesophagus. Yang khas disini adalah adanya perdarahan berupa garis yang letaknya melintang pada tunika intima dari arteri karotis interna. didapati resapan darah setentang jeratan. tidak sempat terjadi proses pembendungan. Sianosis pada bibir. ujung-ujung jari dan kuku. kecuali bila dibunuh dengan cara asfiksia. Pada pemeriksaan luar jenazah dapat ditemukan (Ilmu Kedokteran Forensik. 1997): 1. 2.1. setentang dengan tekanan tali pada leher.didapati pada bagian terendah tubuh. 2. Universitas Sumatera Utarakarena peristiwa kematian berlangsung cepat. 3. Terdapat busa halus pada hidung dan mulut yang timbul akibat peningkatan aktivitas pernapasan pada fase 1 yang disertai sekresi selaput lendir saluran napas bagian atas. 4. Pembendungan sistemik maupun pulmoner dan dilatasi jantung kanan merupakan tanda klasik pada kematian akibat asfiksia. Tanda-tanda diatas tidak didapati pada korban yang digantung setelah mati. Pemeriksaan Jenazah a. Warna lebam mayat merah-kebiruan gelap dan terbentuk lebih cepat. Distribusi lebam mayat lebih luas akibat kadar karbondioksida yang tinggi dan aktivitas fibrinolisin dalam darah sehingga darah sukar membeku dan mudah mengalir.

epikardium pada bagian belakang jantung belakang daerah aurikuloventrikular. venula dan kapiler. Pembendungan sirkulasi pada seluruh organ dalam tubuh sehingga menjadi lebih berat. . Kadang-kadang dijumpai pula di kulit wajah. 2. misalnya pada konjungtiva bulbi. 4. Busa halus di dalam saluran pernapasan. subpleura viseralis paru terutama di lobus bawah pars diafragmatika dan fisura interlobaris. Selain itu. kulit kepala sebelah dalam terutama daerah otot temporal. Gambaran pembendungan pada mata berupa pelebaran pembuluh darah konjungtiva bulbi dan palpebra yang terjadi pada fase 2. 1997): 1. hipoksia dapat merusak endotel kapiler sehingga dinding kapiler yang terdiri dari selapis sel akan pecah dan timbul bintik-bintik perdarahan yang dinamakan sebagai Tardieu s spot. 3. Akibatnya tekanan hidrostatik dalam pembuluh darah meningkat terutama dalam vena. Petekie dapat ditemukan pada mukosa usus halus.cepat dalam saluran sempit akan menimbulkan busa yang kadangkadang bercampur darah akibat pecahnya kapiler. karena fibrinolisin darah yang meningkat paska kematian. b. palpebra dan subserosa lain. Penulis lain mengatakan bahwa Tardieu s spot ini timbul karena permeabilitas kapiler yang meningkat akibat hipoksia. Universitas Sumatera Utara5. berwarna lebih gelap dan pada pengirisan banyak mengeluarkan darah. Kapiler yang lebih mudah pecah adalah kapiler pada jaringan ikat longgar. Darah berwarna lebih gelap dan lebih encer. Pada pemeriksaan dalam jenazah dapat ditemukan (Ilmu Kedokteran Forensik.

2. Universitas Sumatera Utara2. c.2. (Ilmu Kedokteran Forensik. yaitu: a. 2. Asfiksia Merupakan penyebab kematian yang tersering. seperti fraktur laring langsung atau tidak langsung.1. Etiologi Kematian pada Penggantungan Ada 6 penyebab kematian pada penggantungan (Modi. Defenisi Mati gantung (hanging) merupakan suatu bentuk kematian akibat pencekikan dengan alat jerat. 5. Penekanan dinding dada dari luar (asfiksia traumatik) 2. ASFIKSIA MEKANIK Asfiksia mekanik adalah mati lemas yang terjadi bila udara pernapasan terhalang memasuki saluran pernapasan oleh berbagai kekerasan (yang bersifat mekanik). Penekanan dinding saluran pernapasan. misalnya: a. Alat penjerat biasanya .1988). perdarahan faring terutama bagian belakang rawan krikoid (pleksus vena submukosa dengan dinding tipis). 1996).3. Penutupan lubang saluran pernapasan bagian atas. pencekikan (manual strangulation. seperti pembekapan (smothering) dan penyumbatan (gagging dan choking). Edema paru sering terjadi pada kematian yang berhubungan dengan hipoksia. 7.mukosa epiglotis dan daerah sub-glotis. 6. 1997). seperti penjeratan (strangulation).3. MATI GANTUNG (HANGING) 2. di mana gaya yang bekerja pada leher berasal dari hambatan gravitasi dari berat tubuh atau bagian tubuh (Knight.3. Kelainan-kelainan yang berhubungan dengan kekerasan. b. throttling) dan gantung (hanging).

Syok Vagal Menyebabkan serangan jantung mendadak karena terjadinya hambatan pada refleks vaso-vagal secara tiba-tiba.3. Iskemik Otak (anoxia) Disebabkan oleh penekanan pada arteri besar di leher yang berperan dalam menyuplai darah ke otak. 2008). c. e.3. Fraktur atau Dislokasi dari Verterbra Servikal 2 dan 3 Biasanya terjadi pada kasus judicial hanging. hal ini terjadi karena adanya tekanan pada saraf vagus atau sinus karotid.berada di atas tulang rawan tiroid yang menyebabkan penekanan pada leher. Dari letak tubuh ke lantai dapat dibedakan menjadi 2 tipe (Amir. Jenis Penggantungan a. sehingga saluran pernafasan menjadi tersumbat. yaitu: . b. 2. Universitas Sumatera Utarad. seperi pada kebanyakan kasus dimana saluran napas tidak seluruhnya dihalangi oleh penjerat yang berada di sekitar leher. Kongesti Vena Disebabkan oleh lilitan tali pengikat pada leher sehingga terjadi penekanan pada vena jugularis oleh alat penjerat sehingga sirkulasi serebral menjadi terhambat. hentakan yang tiba-tiba pada ketinggian 1-2 m oleh berat badan korban dapat menyebabkan fraktur dan dislokasi dari vertebra servikalis yang selanjutnya dapat menekan atau merobek spinal cord sehingga terjadi kematian yang tiba-tiba. Kombinasi Asfiksia dan Kongesti Vena Merupakan penyebab kematian yang paling umum. umunya pada arteri karotis dan arteri vertebralis. f.

2008). sianose dan fase akhir konvulsi lebih menonjol. 2008). Bila kematian karena tekanan pembuluh darah vena. respiratory distress. Kalau kematian terutama akibat sumbatan pada saluran pernafasan maka dijumpai tanda-tanda asfiksia. bertumpu pada kedua lutut. Tekanan pada saluran nafas dan arteri karotis paling besar pada tipe ini. maka sering didapati tanda-tanda pembendungan dan perdarahan (ptechial) di konjungtiva bulbi.1. Tanda Post Mortem Tanda post mortem sangat berhubungan dengan penyebab kematian atau tekanan di leher. Tekanan pada sinus karotikus menyebabkan jantung tiba-tiba berhenti dengan tanda-tanda post mortem yang minimal.4. dimana tidak seluruh bagian tubuh tergantung. jeratan berjalan simetris di samping leher dan di bagian depan leher di atas jakun. 2. dimana tubuh seluruhnya tergantung di atas lantai. okuli dan di otak bahkan sampai ke kulit muka. Setengah Tergantung (partial). maka tanda-tanda kekurangan darah di otak lebih menonjol (iskemi otak). yaitu: 1. Atipikal. bila letak simpul di samping. Tergantung Total (complete).tanda di atas jarang berdiri sendiri. Tipikal. b.3. 2. Tanda. korban segera tidak sadar. misalnya pada posisi duduk. yang menyebabkan gangguan pada sentra respirasi dan berakibat gagal nafas. dalam posisi telungkup dan posisi lain. sehingga leher dalam posisi sangat miring (fleksi lateral) yang akan mengakibatkan hambatan pada arteri Universitas Sumatera Utarakarotis dan arteri vetebralis. Bila tekanan lebih besar sehingga dapat menutup arteri. . dimana letak simpul di belakang leher. tetapi umumnya akan didapati tanda-tanda gabungan (Amir. Dari letak jeratan dibedakan menjadi 2 tipe (Amir. 2. Saat arteri terhambat.

bintik perdarahan Tardieu s spot tidak begitu jelas. yaitu: 1. Kita dapat memastikan letak simpul dengan menelusuri jejas jeratan. terletak di bagian atas leher. . Simpul terletak di bagian yang tidak ada jejas jeratan. feses dan sperma. di bagian atas jeratan warna kulit akan terlihat lebih gelap karena adanya lebam mayat. tidak bersambung. Muka pucat atau bisa sembab. Bila bahan penggantung kecil dan keras (seperti kawat). Leher bisa didapati sedikit memanjang karena lama tergantung. dalam kasus ini didapati beberapa jejas jeratan yang lengkap.5. lidah terjulur dan kadang tergigit. Bekas jeratan (ligature mark) berparit. Pemeriksaan Luar Pada pemeriksaan luar penting diperiksa bekas jeratan di leher (Amir. berat badan korban dan ketatnya jeratan.2. 3. sianose. berwarna kecoklatan. tetesan saliva dipinggir salah satu sudut mulut. kadang-kadang disertai luka lecet dan vesikel kecil di pinggir jeratan. 2. Bila lama tergantung.3. Jejas jeratan juga dapat dipengaruhi oleh lamanya korban tergantung. kering seperti kertas perkamen. sebaliknya bila bahan lembut dan lebar (seperti selendang). bentuk oblik seperti V terbalik. kadang di dapati juga jejas tekanan simpul di kulit. Pemeriksaan Jenazah a. tetapi pada satu bagian tetap ada bagian yang tidak tersambung yang menunjukkan letak simpul. maka jejas jeratan tampak dalam. maka jejas jeratan tidak Universitas Sumatera Utarabegitu jelas.2008). kadang-kadang ada tetesan urin. Pada keadaan lain bisa didapati leher dibeliti beberapa kali secara horizontal baru kemudian digantung. bila segera diturunkan tanda memanjang ini tidak ada.

Terdapat Tardieu s spot di permukaan paru-paru. demikian juga paru-paru dan organ dalam lainnya. Universitas Sumatera UtaraTabel 2. lebam mayat bisa di dapati di bagian depan atau belakng tubuh sesuai dengan letak tubuh sesudah diturunkan.1 : Cara membedakan kematian (pembunuhan atau bunuh diri) Pembunuhan Bunuh Diri Alat penjerat: . Didapati adanya robekan melintang berupa garis berwarna merah (red line) pada tunika intima dari arteri karotis interna. Bila segera diturunkan.Jumlah lilitan . Bila korban lama diturunkan dari gantungan. saluran pernafasan congested. b.Arah . Kadang penis tampak ereksi akibat terkumpulnya darah. sedangkan tulang rawan yang lain jarang 3.Simpul . 2008): 1.Jarak titik tumpusimpul Biasanya simpul mati Hanya satu Mendatar . Pemeriksaan Dalam Pada pemeriksaan dalam perlu diperhatikan (Amir. Darah berwarna gelap dan encer 2. Jaringan otot setentang jeratan didapati hematom. Patah tulang lidah (os hyoid) sering didapati. lebam mayat didapati di kaki dan tangan bagian bawah. jantung dan otak.4.

Dekat Simpul hidup Satu atau lebih Serong ke atas Jauh .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful