POTENSI ISOLAT BAKTERI ENDOFIT SEBAGAI PENGHAMBAT

PERTUMBUHAN BAKTERI (Ralstonia solanacearum) DAN JAMUR
(Fusarium sp. dan Phytopthora infestans) PENYEBAB
PENYAKIT LAYU PADA TANAMAN





SKRIPSI





Oleh:

SHOHIHATUD DINIYAH
NIM. 05520026














JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2010
POTENSI ISOLAT BAKTERI ENDOFIT SEBAGAI PENGHAMBAT
PERTUMBUHAN BAKTERI (Ralstonia solanacearum) DAN JAMUR
(Fusarium sp. dan Phytopthora infestans) PENYEBAB
PENYAKIT LAYU PADA TANAMAN






SKRIPSI





Diajukan Kepada :
Fakultas Sains Dan Teknologi
Universitas Islam Negeri (UIN)
Maulana Malik Ibrahim Malang
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam
Memperoleh Gelar Sarjana Sains (S.Si)







Oleh:

SHOHIHATUD DINIYAH
NIM. 05520026







JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2010
POTENSI ISOLAT BAKTERI ENDOFIT SEBAGAI PENGHAMBAT
PERTUMBUHAN BAKTERI (Ralstonia solanacearum) DAN JAMUR
(Fusarium sp. dan Phytopthora infestans) PENYEBAB
PENYAKIT LAYU PADA TANAMAN






SKRIPSI






Oleh :

SHOHIHATUD DINIYAH
NIM. 05520026




Telah disetujui oleh :

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II




Dr. Ulfah Utami, M. Si Dr. Ahmad Barizi, MA
NIP. 19650509 199903 2 002 NIP. 19731212 199803 1 001



Tanggal, 9 Juli 2010
Mengetahui
Ketua Jurusan Biologi




Dr. Eko Budi Minarno, M. Pd
NIP. 19630114 199903 1 001
POTENSI ISOLAT BAKTERI ENDOFIT SEBAGAI PENGHAMBAT
PERTUMBUHAN BAKTERI (Ralstonia solanacearum) DAN JAMUR
(Fusarium sp. dan Phytopthora infestans) PENYEBAB PENYAKIT LAYU
PADA TANAMAN


SKRIPSI


Oleh:

SHOHIHATUD DINIYAH
NIM. 05520026


Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Skripsi dan
Dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk
Memperoleh Gelar Sarjana Sains (S.Si)

Tanggal, 27 Juli 2010



Susunan Dewan Penguji Tanda Tangan

1. Penguji Utama : Ir. Lilik Haranie AR, M.P ( )
NIP. 19620901 199803 2 001
2. Ketua : Suyono, MP ( )
NIP. 19710622 200312 1 002
3. Sekretaris : Dr. Ulfah Utami, M. Si ( )
NIP. 19650509 199903 2 002
4. Anggota : Dr. Ahmad Barizi, MA ( )
NIP. 19731212 199803 1 001



Mengetahui dan Mengesahkan
Ketua Jurusan Biologi





Dr. Eko Budi Minarno, M. Pd
NIP. 19630114 199903 1 001
SURAT PERNYATAAN
ORISINILITAS PENELITIAN

Saya yang betanda tangan di bawah ini :
Nama : Shohihatud Diniyah
NIM : 05520026
Fakultas/Jurusan : Sains dan Teknologi /Biologi
Judul Penelitian : Potensi Isolat Bakteri Endofit sebagai Penghambat
Pertumbuhan Bakteri (Ralstonia solanacearum) dan
Jamur (Fusarium sp. dan Phytopthora infestans)
Penyebab Penyakit Layu pada Tanaman

Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa hasil penelitian saya ini
tidak terdapat unsur-unsur penjiplakan karya penelitian atau karya ilmiah yang
pernah dilakukan atau dibuat oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis dikutip
dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.
Apabila ternyata hasil penelitian ini terbukti terdapat unsur-unsur jiplakan,
maka saya bersedia untuk mempertanggung jawabkan, serta diproses sesuai
peraturan yang berlaku.


Malang, 27 Juli 2010
Yang Membuat Pernyataan



Shohihatud Diniyah
NIM. 05520026




SURAT PERNYATAAN
ORISINILITAS PENELITIAN

Saya yang betanda tangan di bawah ini :
Nama : Shohihatud Diniyah
NIM : 05520026
Fakultas/Jurusan : Sains dan Teknologi /Biologi
Judul Penelitian : Potensi Bakteri Endofit sebagai Penghambat Pertumbuhan
Bakteri (R. solanacearum) dan Jamur (Fusarium sp. dan
P. infestan) Penyebab Penyakit Layu pada Tanaman

Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa hasil penelitian saya ini
tidak terdapat unsur-unsur penjiplakan karya penelitian atau karya ilmiah yang
pernah dilakukan atau dibuat oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis dikutip
dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.
Apabila ternyata hasil penelitian ini terbukti terdapat unsur-unsur jiplakan,
maka saya bersedia untuk mempertanggung jawabkan, serta diproses sesuai
peraturan yang berlaku.


Malang, 27 Juli 2010
Yang Membuat Pernyataan



Shohihatud Diniyah
NIM. 05520026











MOTTO DAN PERSEMBAHAN


´Úö‘{#´ρ $γ≈Ρ÷Š‰Β $´ΖøŠ)ø9&´ρ $γŠÏù ´Å›≡´ ρ´ ‘ $´Ζ÷F´;Ρ&´ρ $κŽÏù ÏΒ Èe≅ä. &ó« 5βρã—öθ¨Β ∩⊇∪
Artinya: “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya
gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu
menurut ukuran.” (QS. Al Hijr: 19)






Kupersembahkan skripsi ini kepada:
Ayah dan Ibu tercinta
Kakak dan adik-adik tersayang
Teman-teman seperjuangan
i
KATA PENGANTAR


Puji syukur ke hadirat Allah SWT, atas rahmat, taufiq, serta hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan judul “Potensi
Bakteri Endofit sebagai Penghambat Pertumbuhan Bakteri (R. solanacearum) dan
Jamur (Fusarium sp. dan P. infestan) Penyebab Penyakit Layu pada Tanaman”.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad
SAW yang akan memberi syafaat kepada umatnya yang taat.
Penulis menyadari dalam penyusunan skripsi ini tidak akan terlepas dari
bimbingan, dukungan, dan bantuan dari semua pihak sehingga terselesaikannya
skripsi ini. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Imam Suprayogo, selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN)
Maulana Malik Ibrahim Malang, yang memberikan dukungan serta
kewenangan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
2. Prof. Drs. Sutiman Bambang Sumitro, S.U,DSc, selaku Dekan Fakultas
Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik
Ibrahim Malang.
3. Dr. Eko Budi Minarno, M. Pd selaku Ketua Jurusan Biologi Universitas
Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.
4. Dr. Ulfah Utami, M.Si selaku Dosen Pembimbing yang telah sabar
memberikan bimbingan, arahan dan meluangkan waktu untuk
membimbing penulis sehingga skripsi ini terselesaikan dengan baik.
ii
5. Dr. Ahmad Barizi, MA selaku Dosen Pembimbing Agama yang telah
sabar memberikan bimbingan, arahan dan meluangkan waktu untuk
membimbing penulis sehingga skripsi ini terselesaikan dengan baik.
6. Para Dosen / Staf Pengajar di lingkungan UIN Maliki Malang.
7. Kedua orang tuaku yang selalu memberikan doa, semangat, motivasi serta
nasehat-nasehat dengan penuh keikhlasan, kesabaran serta kasih sayang
yang tiada tara sehingga penulis bisa mengenyam pendidikan setinggi ini.
8. Kakak dan adik-adikku yang telah memberikan doa, motivasi, kasih
sayang serta semangat yang tiada hentinya sehingga terselesaikannya
skripsi ini.
9. Seluruh keluargaku terima kasih atas doa, motivasi dan jasa-jasanya.
10. Teman-temanku Biologi angkatan 2005 terima kasih untuk semua
persahabatan dan kekompakannya.

Sebagai ungkapan terima kasih, penulis hanya mampu berdoa semoga
bantuan yang telah diberikan kepada penulis diterima disisi-Nya serta mendapat
imbalan yang setimpal.
Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi
pembaca pada umumnya dan bagi penulis khususnya.

Malang, Juli 2010

Penulis

iii
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ................................................................................ i
DAFTAR ISI .............................................................................................. iii
DAFTAR TABEL ...................................................................................... v
DAFTAR GAMBAR .................................................................................. vi
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................. vii
ABSTRAK ................................................................................................... viii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................... 7
1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................ 7
1.4 Manfaat Penelitian ....................................................................... 7
1.5 Batasan Masalah ......................................................................... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Macam-macam Tanaman dalam Alqur’an .................................. 9
2.2 Penyakit Layu Tanaman .............................................................. 10
2.3 Bakteri Ralstonia solanacearum .................................................. 13
2.3.1 Deskripsi Bakteri Ralstonia solanacearum ......................... 13
2.3.2 Klasifikasi Bakteri Ralstonia solanacearum ........................ 14
2.3.3 Mekanisme Kerusakan pada Tanaman ................................. 15
2.3.4 Gejala Serangan Bakteri Ralstonia solanacearum ................ 16
2.4 Jamur Phytophthora infestans ...................................................... 16
2.4.1 Deskripsi Jamur Phytophthora infestans .............................. 16
2.4.2 Klasifikasi Phytophthora infestans ...................................... 17
2.4.3 Siklus penyakit .................................................................... 17
2.4.4 Gejala Penyakit ................................................................... 19
2.5 Jamur Fusarium sp. ..................................................................... 20
2.5.1 Deskripsi Jamur Fusarium sp. ............................................. 20
2.5.2 Klasifikasi Jamur Fusarium sp. . ......................................... 22
2.5.3 Gejala kerusakan ................................................................. 22
2.6 Deskripsi Bakteri Endofit............................................................. 23
2.6.1 Potensi Bakteri Endofit........................................................ 23
2.6.2 Mekanisme Kerja Bakteri Endofit Sebagai Antimikroba ...... 28
2.7 Bahan Antimikroba ..................................................................... 31
2.8 Mekanisme kerja bahan antimikroba ........................................... 32
2.9 Pengujian Aktivitas Bahan Antimikroba ..................................... 34



iv
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian .................................................................. 36
3.2 Waktu dan Tempat ...................................................................... 36
3.3 Variabel Penelitian ...................................................................... 36
3.3.1 Variabel Bebas ................................................................... 36
3.3.2 Variabel Terikat ................................................................. 36
3.4 Alat dan Bahan ........................................................................... 36
3.4.1 Alat ..................................................................................... 36
3.4.2 Bahan ................................................................................. 37
3.5 Prosedur Penelitian ..................................................................... 37
3.5.1 Sterilisasi Alat dan Bahan .................................................... 37
3.5.2 Pembuatan Media ................................................................ 37
3.5.2.1 Pembuatan Media TSA ............................................. 37
3.5.2.2 Pembuatan Media TSB ............................................. 38
3.5.2.3Pembuatan Media PDA ............................................. 38
3.5.2.4 Pembuatan Media NA ............................................. 38
3.5.3 Penyiapan dan Peremajaan Isolat Bakteri Endofit ................. 39
3.5.4 Produktifitas Metabolit Antibakteri dan Antijamur ............... 39
3.5.5 Uji Antibakteri ..................................................................... 38
3.5.6 Uji Antijamur ....................................................................... 40
3.5.7 Pengukuran Zona Hambat .................................................... 40
3.5.8 Tabel Pengamatan ................................................................ 40

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Kemampuan Bakteri Endofit dalam Menghambat Pertumbuhan
Bakteri Ralstonia solanacearum .................................................. 41
4.2 Kemampuan Bakteri Endofit dalam Menghambat Pertumbuhan
Jamur Fusarium sp. dan Phytopthora infestan ............................ 42

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ................................................................................. 56
5.2 Saran .......................................................................................... 56

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 57

LAMPIRAN-LAMPIRAN ......................................................................... 62









v
DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman
4.1 Rata-rata diameter zona bening/hambat bakteri endofit terhadap bakteri
Ralstonia solanacearum (dalam mm) ..................................................... 41
4.2 Rata-rata diameter zona bening/hambat bakteri endofit terhadap jamur
Fusarium sp. (dalam mm) ...................................................................... 47
4.3 Rata-rata diameter zona bening/hambat bakteri endofit terhadap bakteri
jamur Phytopthora infestan (dalam mm) ................................................ 47


































vi
DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman
2.1 Tanaman Kentang terinfeksi bakteri Ralstonia solanacearum.................. 16
2.2 Morfologi Phytophthora infestan ............................................................ 17
2.3 Siklus Hidup Phytophthora infestan ...................................................... 19
2.4 Serangan Phytophthora infestan pada tanaman kentang .......................... 20
2.5 Morfologi Fusarium oxysporum .............................................................. 22
2.6 Siklus Fusarium sp ................................................................................. 24
4.1 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri Ps. Pseudomallei terhadap
bakteri R. solanacearum pada medium NA ............................................. 43
4.2 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri K. ozanae terhadap bakteri
R. solanacearum pada medium NA ......................................................... 43
4.3 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri B. mycotes terhadap bakteri
R. solanacearum pada medium NA ......................................................... 44
4.4 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri B. mycoides terhadap jamur
Fusarium sp. pada medium PDA ............................................................. 49
4.5 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri K. ozanae terhadap jamur
Fusarium sp. pada medium PDA ............................................................. 49
4.6 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri P. Pseudomallei terhadap
jamur Fusarium sp. pada medium PDA ................................................... 50
4.7 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri B. mycoides terhadap jamur
P. infestans pada medium PDA ............................................................... 50
4.8 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri K. ozanae terhadap jamur
P. infestans pada medium PDA ............................................................... 51
4.9 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri P. pseudomallei terhadap
jamur P. infestans pada medium PDA ..................................................... 51



















vii
DAFTAR LAMPIRAN

No. Judul Halaman
Lampiran 1. Analisis Data ............................................................................. 62
Lampiran 2. Alat Penelitian .......................................................................... 63

























viii
ABSTRAK

Diniyah, Shohihatud. 2010. Potensi Bakteri Endofit sebagai Penghambat
Pertumbuhan Bakteri (Ralstonia solanacearum) dan Jamur (Fusarium
sp. dan Phytopthora investans) Penyebab Penyakit Layu Pada
Tanaman.
Pembimbing I : Dr. Ulfah Utami, M.Si
Pembimbing II: Dr. Ahmad Barizi, MA

Kata Kunci: Bakteri Endofit, Bakteri Ralstonia solanacearum, Jamur Fusarium
sp., Jamur Phytopthora investans, Layu Tanaman

Penyakit layu pada berbagai jenis tanaman,selalu dikaitkan dengan
beberapa patogen penyebab, yaitu bakteri Ralstonia solanacearum, Jamur
Fusarium sp., dan Jamur Phytopthora investans, serta penyebab lainnya.
Ralstonia solanacearum masih menjadi kendala produksi berbagai tanaman
pertanian Indonesia, terutama pada kentang, tomat, cabai, tembakau, kacang
tanah, jahe dan pisang. Di Indonesia penyakit layu daun yang disebabkan oleh
jamur Phytopthora investans dan penyakit layu yang disebabkan oleh jamur
Fusarium oxysforum merupakan penyakit yang sangat penting pada tanaman
kentang dan tomat. Pengendalian penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan
jamur pada tanaman yang paling banyak dilakukan saat ini adalah penggunaan
pestisida dan fungisida kimia. Cara pengendalian bakteri dan jamur dengan
menggunakan pestisida dan fungisida kimiaiwi dapat menimbulkan dampak
negatif berupa keracunan pada manusia dan hewan peliharaan, pencemaran air
tanah, serta terbunuhnya organisme bukan sasaran. Beberapa tahun terakhir ini
penggalian sumber daya mikrobia yang terdapat di dalam jaringan tanaman mulai
banyak mendapat perhatian. Telah diketahui pula bahwa hubungan antara
mikrobia endofit dengan tanaman adalah karena kontribusi senyawa kimia yang
dihasilkan oleh mikrobia yang memiliki berbagai jenis bioaktif. Adapun tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan bakteri endofit dalam
menghambat pertumbuhan Bakteri (Ralstonia solanacearum) dan Jamur
(Fusarium sp. dan Phytopthora investans).
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai April 2010, di
laboratorium Mikrobiologi Universitas islam negeri maulana Malik Ibrahim
Malang. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplorasi dan eksperimental
dengan menguji isolat bakteri endofit dari akar tanaman kentang (Solanum
tuberosum L) terhadap bakteri Ralstonia (Pseudomonas) solanacearum, jamur
Fusarium sp., dan jamur Phytopthora infestans.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahawa Isolat bakteri endofit P.
pseudomallei, B. mycoides, dan K. ozaenae memiliki kemampuan dalam
menghambat pertumbuhan bakteri R. solanacearum. Dengan potensi berturut-
turut “sangat kuat”, “kuat”, dan “sedang”. Isolat bakteri endofit P. pseudomallei,
B. mycoides, dan K. ozaenae memiliki kemampuan dalam menghambat
pertumbuhan jamur Fusarium sp., masing-masing memiliki potensi "lemah".
Sedangkan jamur p. Infestan. mempunyai potensi “kuat” dan “lemah”.
1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Penyakit layu pada berbagai jenis tanaman, antara lain pada tanaman
kentang, selalu dikaitkan dengan dua patogen penyebab, yaitu bakteri Ralstonia
solanacearum dan jamur Fusarium oxysforum. Selain itu, ada lagi penyebab
penyakit layu yang sangat jarang diperhatikan, yaitu penyakit busuk daun yang di
sebabkan jamur Phytopthora infestans (Suganda dkk, 2009).
Penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum
merupakan salah satu penyakit tanaman paling berbahaya yang tersebar luas di
daerah tropika dan sub tropika (Hayward, 1984). Penyakit tersebut masih menjadi
kendala produksi berbagai tanaman pertanian di Indonesia, terutama pada
kentang, tomat, cabai, tembakau, kacang tanah, jahe, dan pisang (Machmud,
1986).
Selain penyakit layu yang disebabkan oleh bakteri patogen, petani juga
seringkali direpotkan dengan serangan penyakit yang disebabkan oleh jamur. Di
Indonesia penyakit busuk daun yang di sebabkan oleh jamur Phytopthora
infestans dan penyakit layu yang disebabkan oleh jamur Fusarium oxysforum
merupakan penyakit yang sangat penting pada tanaman kentang dan tomat
(Purwanti, 2002).
Dampak dari serangan mikroba tersebut sangat merugikan para petani
kentang, tomat, nilam, tembakau, pisang dan lain sebagainya. Akhir-akhir ini
2
penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh bakteri R. solanacearum pada pisang
sudah sampai pada tingkat membahayakan industri pisang di tanah air karena
penyakit layu ini sulit dikendalikan (Machmud dkk, 2009).
Penyakit busuk daun dan umbi (lodoh) tanaman kentang yang disebabkan
oleh serangan jamur patogen ganas Phytophthora infestans merupakan penyakit
yang paling penting di antara penyakit dan hama yang menyerang tanaman
kentang di Indonesia. Penyakit ini dapat menurunkan produksi kentang hingga
90% dari total produksi kentang dalam waktu yang amat singkat. Serangan
penyakit layu yang disebabkan oleh Fusarium sp. juga memiliki dampak yang
besar bagi pertanian karena selain menyerang tanaman kentang di lahan pertanian,
jamur ini juga menyerang umbi yang ada di gudang peyimpanan sehingga
menurunkan hasil produksi (Yunasfi, 2002).
Pengendalian penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan jamur pada
tanaman yang paling banyak dilakukan saat ini adalah menggunakan bakterisida
dan fungisida kimia. Cara pengendalian bakteri dan jamur dengan menggunakan
bakterisida dan fungisida kimiawi dapat menimbulkan dampak negatif berupa
keracunan pada manusia dan hewan peliharaan, pencemaran air tanah, serta
terbunuhnya organisme bukan sasaran (Mustika dan Nuryani, 2006).
Segala yang terjadi sekarang, menunjukkan fakta bahwa manusia telah
melalaikan tanggung jawabnya sebagai khalifah dengan cara menghancurkan
alam ciptaan Allah, manusia cenderung mengeksploitasi kemampuan tanah tanpa
memperhatian keberlanjutan suatu sistem usahatani, misalnya mengatasi serangan
hama atau penyakit (Khalid, 1999).
3
Penggalian manfaat dari alam, harus juga diikuti upaya pelestarian itu
sendiri. Artinya, hendaklah dijaga keseimbangan ekologi dan dihindari
pencemaran serta diupayakan agar kekayaan itu digunakan sehemat mungkin
(Khaelany, 1996).
Salah satu ciri yang menonjol dalam konsep Islam adalah adanya prinsip
keseimbangan dan keharmonisan hidup, firman Allah SWT dalam Alqur'an surat
Al-Mulk ayat 3.
“%!$# t,n=y{ yì¯7y™ N≡uθ≈yϑy™ $%$t7Û $Β 3“ts? †û ,=yz ≈uΗq¯9$# Β N'θ≈xs? ì_¯‘$$sù
uŽ|Çt79$# ¯≅yδ 3“ts? Β ‘θÜù ∩⊂∪
Artinya: Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali
tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang
tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat
sesuatu yang tidak seimbang ?(Qs. Al-Mulk /67:3).

Keseimbangan dan keharmonisan dalam Islam sesuai dengan bentuk dan
jenis penciptaan alam raya yang menggambarkan keseimbangan sebagaimana
yang diungkapkan Al-qur’an denga n istilah fitrah. Fitrah pada Q.S. Al-Mulk
(67):3, menggunakan kata yang diartikan seimbang, karena sifat fitrah itu sendiri
adalah seimbang dan harmoni (Yusuf, 2006).
Pada Alqur'an surat Al-A’raf ayat 56 Allah telah memperigatkan bahwa:
Ÿωuρ (#ρ‰¡? †û Ú¯‘F{$# y‰èt/ $yγs≈n=¹) νθ`ãŠ$#uρ $ù¯θyz $´èyϑsÛuρ β) |MuΗqu‘ «!$#
'=ƒs% š∅Β tΖ¡`sϑ9$# ∩∈∉∪
Artinya: Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah)
memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak
akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat
Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik (Qs. Al-
A’raf/7: 56).
4

Kata-kata “ba’da ishlahiha” pada ayat di atas dengan jelas menunjukkan
adanya hukum keseimbangan (equilibrium) dalam tatanan lingkungan hidup yang
harus diusahakan agar tetap terpelihara kelestariannya (Khalid, 2006). Salah satu
rahmat yang diturunkan oleh Allah SWT adalah bakteri endofit untuk membantu
menjaga keseimbangan di alam. Hal ini dikarenakan endofit menempati relung
ekologi yang sama dengan hama, hal ini menyebabkan terjadinya kontak antara
hama dan endofit semakin dekat sehingga endofit dapat digunakan sebagai agen
pengendalian secara biologi (Athman, 2006).
Beberapa tahun terakhir ini penggalian sumber daya mikrobia yang
terdapat di dalam jaringan tanaman mulai banyak mendapat perhatian. Mikrobia
tersebut mulai dipelajari untuk berbagai tujuan. Telah diketahui pula bahwa
hubungan antara mikrobia endofitik dengan tanaman adalah karena kontribusi
senyawa kimia yang dihasilkan oleh mikrobia yang memiliki berbagai jenis
bioaktif (Melliawati, 2006).
Pemanfaatan bakteri endofit sebagai antibakteri dan antijamur pada
tanaman merupakan pengendalian yang tidak menimbulkan efek negatif terhadap
kehidupan manusia dan lingkungan. Compant dkk, (2005) dalam Firmansah
(2008), melaporkan bahwa bakteri endofit telah diketahui mempunyai
kemampuan dalam meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit.
Ketahanan tanaman terhadap penyakit didefinisikan sebagai suatu karakter yang
memungkinkan tanaman terhindar, mempunyai daya tahan atau daya sembuh dari
serangan penyakit dalam kondisi yang akan menyebabkan kerusakan lebih besar
5
pada tanaman oleh patogen (Hammerschmidt dan Dann, 2000 dalam Firmansyah,
2008).
Manfaat bakteri endofit juga dijelaskan oleh Arwiyanto (1997) dalam
Djatmiko (2007) yang menyimpulkan bahwa bakteri endofit kelompok
“Pseudomonas spp. dan Bacillus spp. mempunyai kemampuan yang baik dalam
menekan pertumbuhan jamur Ralstonia solanacearum secara in vitro”.
Bakteri endofit didefinisikan sebagai bakteri yang hidup dalam jaringan
tanaman, tanpa menyebabkan kerugian bagi tanaman inang. Hubungan antara
tanaman dan bakteri endofit merupakan interaksi secara tertutup, hubungan ini
berjalan dengan tanaman menyediakan nutrien bagi bakteri endofit dan bakteri
endofit meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan tanaman (Hallmann, 1999).
Banyak endofit mampu menghasilkan senyawa bioaktif untuk
menghambat pertumbuhan organisme lain. Pada beberapa kasus, mereka mampu
mensintesis senyawa alami yang diproduksi oleh tanaman sebagai alat pertahanan
(Strobel dan Strobel, 2007). Chandrashekhara dkk (2007), menyatakan bahwa
bakteri endofit dari beberapa genera seperti Pseudomonas, Bacillus dan
Azospirillum, dilaporkan mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman,
menguraikan dinding sel patogen, dan menghambat pertumbuhan patogen dengan
menghasilkan senyawa antimikroba seperti siderophores. Siderofor adalah
senyawa organik selain antibiotik yang dapat berperan dalam pengendalian hayati
penyakit tumbuhan (Fravel 1988 dalam Hasanudin, 2003).
Menurut Saikkonen dkk, (1998) dalam Arnold dkk, (2003), keuntungan
dengan adanya endofit pada tanaman inang adalah meningkatnya toleransi
6
terhadap logam berat, meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan, menekan
serangan hama dan meningkatkan resistensi sistemik terhadap patogen.
Peningkatan ketahanan menggunakan bakteri endofit pada tanaman
terhadap serangan patogen dapat menjadi alternatif pengendalian patogen. Untuk
mengetahui potensi bakteri endofit dalam memproteksi tanaman dari serangan
penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan jamur, maka dilakukan penelitian
dengan Judul “Potensi Bakteri Endofit sebagai Penghambat Pertumbuhan Bakteri
(R. solanacearum) dan Jamur (Fusarium sp. dan P. infestan) Penyebab Penyakit
Layu pada Tanaman”.

1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah bakteri endofit dapat menghambat pertumbuhan bakteri Ralstonia
solanacearum?
2. Apakah bakteri endofit dapat menghambat pertumbuhan jamur Fusarium sp.
dan Phytopthora infestans?

1.3 Tujuan
Tujuan dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui kemampuan bakteri endofit dalam menghambat
pertumbuhan bakteri Ralstonia solanacearum.
2. Untuk mengetahui kemampuan bakteri endofit dalam menghambat
pertumbuhan jamur Fusarium sp. dan Phytopthora infestans.
7
1.4 Manfaat
Manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Bagi pengembangan ilmu biologi, dapat memberikan sumbangan berupa data
tentang pengaruh bakteri endofit terhadap pertumbuhan mikroba patogen.
2. Dengan penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan sekaligus
bermanfaat bagi pengembangan mikrobiologi pada umumya, bakteriologi dan
mikologi pada khususnya.
3. Dapat dijadikan sumber informasi bagi penelitian selanjutnya untuk
mengembangkan bakteri endofit sebagai agen pengendali patogen tanaman.

1.5 Batasan Masalah
Penelitian ini diharapkan dapat mengena pada sasaran dan tidak
menyimpang dari permasalahan yang dibahas, karena itu perlu diberikan batasan-
batasan masalah yang meliputi:
1. Isolat bakteri endofit yang digunakan diperoleh dari koleksi laboratorium
mikrobiologi UIN Maliki Malang. Isolat bakteri endofit yang digunakan
terdiri dari: Bacillus mycoides, Pseudomonas pseudomallei dan Klebsiella
ozaenae.
2. Zona penghambatan adalah diameter daerah dimana tidak ada pertumbuhan
koloni di sekitar kertas cakram yang ditandai dengan adanya zona
bening/hambat.


8
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Macam-macam Tanaman dalam Alqur’an
Allah Swt. menciptakan bumi beserta isinya untuk kemaslahatan manusia,
diantaranya adalah ditumbuhkannya berbagai macam tanaman yang memiliki
banyak keragaman baik dalam segi bentuk pohon, bentuk buah, rasa dan
manfaatnya. Sebagaimana yang tercantum dalam Alqur'an surat Al-An'am ayat
141 yang berbunyi:
´θδ´ρ “%!# !:Σ¦ ·≈Ψ> ·≈:ρ·¸-Β ´¸¯s´ρ ·≈:ρ'¸-Β Ÿ≅‚Ζ9¦´ρ ~¯‘“9¦´ρ !±=.ƒΧ …`&#2¦
šχθ.ƒ“9¦´ρ šχ!Β”,9¦´ρ !κ.≈:.`Β ´¸¯s´ρ µ.≈:.`Β ¦θ=2 Β ν,ϑ. ¦Œ| ,ϑ.¦ ¦θ.¦´´ρ
…µ)> ´Θ¯θƒ νŠ!.> Ÿω´ρ ¦θ·¸.· …µ‾Ρ| Ÿω ´.>† š·¸.ϑ9¦ ∩⊇⊆⊇∪
Artinya: Dan dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang
tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-
macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan
warnanya) dan tidak sama (rasanya). makanlah dari buahnya (yang
bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di
hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan
janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang yang berlebih-lebihan. (Qs. Al-An'am/6: 141).

Ayat di atas menjelaskan beberapa jenis tanaman yang ada di bumi.
Tanaman tersebut memiliki beberapa kelompok berdasarkan ukuran, bentuk,
warna dan rasanya. Dalam ayat tersebut terdapat lafadh "ma'rusyatin wa ghoiro
ma'rusyatin" yang bermakna "berjunjung dan tidak berjunjung". Dalam hal ini
yang dimaksud tanaman yang tidak berjunjung adalah tanaman yang memiliki
9
ukuran yang tidak terlalu tinggi atau yang disebut dengan tanaman herba /semak,
contohnya adalah tanaman kentang, tomat, cabai dan lain sebagainya.
Ditambahkan dalam Alqur’an surat ‘Abasa ayat 27-32:
!´Ζ..Ρ!· !ꎷ !'.> ∩⊄∠∪ !´.´Ζs´ρ !´..%´ρ ∩⊄∇∪ !Ρθ.ƒ—´ρ ξƒΥ´ρ ∩⊄∪ ,←¦‰>´ρ !´.=. ∩⊂⊃∪
πγ3≈·´ρ !.¦´ρ ∩⊂⊇∪ !´-≈.Β ¯/39 ¯/3ϑ≈-Ρ{´ρ ∩⊂⊄∪
Artinya: Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran,
zaitun dan kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buahbuahan serta
rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang
ternakmu. (Qs. ‘Abasa/80: 27-32).

Secara tersurat tanaman kentang tidak dijelaskan dalam Alqur’an, tetapi
merupakan salah satu jenis tanaman sayur-sayuran (Qodlban) sebagaimana
disebutkan pada ayat tersebut, berbagai macam tumbuhan yang disebutkan antara
lain anggur, sayur-sayuran, zaitun, kurma, buah-buahan, tanaman perkebunan dan
rumput-rumputan. Keanekaragaman jenis tumbuhan juga diikuti dengan
keanekaragaman manfaatnya bagi kehidupan manusia, seperti tumbuh-tumbuhan
sebagai bahan makanan, bahan bangunan, bahan obat dan potensi lainnya yang
masih perlu dicari. Salah satu jenis tanaman sayur-sayuran ciptaan Allah Swt.
adalah tanaman kentang yang memiliki kandungan protein cukup tinggi
dibandingkan biji serealia dan umbi lainnya. Kandungan asam aminonya juga
seimbang sehingga sangat baik bagi kesehatan manusia (Nurmayulis, 2005).
2.2 Penyakit Layu Tanaman
Menurut Sitohang (2008), penyakit yang umumnya menyerang tanaman
terutama kentang adalah:
a) Penyakit Bercak Kering (Early Blight)
10
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Alternaria solani. Jamur ini hidup
disisa tanaman sakit dan berkembang di daerah kering. Gejala yang timbul adalah
daun berbercak kecil tersebar tidak teratur, warna coklat tua, meluas ke daun
muda. Permukaan kulit umbi berbercak gelap tidak beraturan, kering, berkerut dan
keras. Pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dengan pergiliran tanaman.
b) Penyakit Layu Bakteri
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum. Gejala
yang ditimbulkan yaitu beberapa daun muda pada pucuk tanaman layu dan daun
tua, daun bagian bawah menguning. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara
sanitasi kebun, pergiliran tanaman.
c) Penyakit Busuk Umbi
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Colleotrichum coccodes. Gejalanya
daun menguning dan menggulung, lalu layu dan kering. Bagian tanaman yang
berada dalam tanah terdapat bercak-bercak berwarna coklat. Infeksi akan
menyebabkan akar dan umbi muda busuk. Pengendalian dapat dilakukan dengan
pergiliran tanaman , sanitasi kebun dan penggunaan bibit yang baik.
d) Penyakit Busuk Daun
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Phytopthora infestans. Gejalanya
timbul bercak-bercak kecil berwarna hijau kelabu dan agak basah hingga
warnanya berubah menjadi coklat sampai hitam dengan bagian tepi berwarna
putih yang merupakan sporangium dan daun membusuk/mati. Pengendalian
dilakukan dengan sanitasi kebun.
e) Penyakit Fusarium
11
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Fusarium sp. Gejala yang timbul
adalah busuk umbi yang menyebabkan tanaman layu. Penyakit ini juga
menyerang kentang di gudang penyimpanan. Infeksi masuk melalui luka-luka
yang disebabkan nematoda/faktor mekanis. Pengendalian dilakukan dengan
menghindari terjadinya luka pada saat penyiangan dan pendangiran.
f) Penyakit karena Virus
Virus yang menyerang adalah: Potato Leaf Roll Virus (PLRV)
menyebabkan daun menggulung; Potato Virus X (PVX) menyebabkan mosaik
laten pada daun; Potato Virus Y (PVY) menyebabkan mosaik atau nekrosis lokal;
Potato Virus A (PVA) menyebabkan mosaik lunak, Potato Virus M (PVM)
menyebabkan mosaik menggulung, Potato Virus S (PVS) menyebabkan mosaik
lemas. Akibat serangan tanaman tumbuh kerdil, lurus dan pucat dengan umbi
kecil-kecil atau tidak menghasilkan sama sekali, daun menguning dan jaringan
mati. Penyebaran virus dilakukan oleh peralatan pertanian, kutu daun Aphis
spiraecola, A. gossypii dan Myzus persicae, kumbang Epilachna dan Coccinella
dan nematoda.
Penggunaan pestisida tidak dapat digunakan untuk mengendalikan
serangan virus. Pencegahan dan pengendalian terhadap serangan virus dilakukan
dengan menanam bibit bebas virus, membersihkan peralatan, memangkas dan
membakar tanaman sakit, mengendalikan vektor dengan Pestona atau BVR dan
melakukan pergiliran tanaman (Sitohang, 2008).

2.3 Bakteri Ralstonia solanacearum
12
2.3.1 Deskripsi dan Klasifikasi Bakteri Ralstonia solanacearum
Ralstonia solanacearum adalah bakteri aerobik, berbentuk batang,
berukuran (0,5 – 1,0 x 1,5 – 2,5) µm, gram negatif, bergerak dengan satu flagel
yang terletak diujung sel. Umumnya isolat yang virulen memiliki flagella
sedangkan isolat non virulen flagelnya panjang (Goto, 1992 dalam Wijiono,
2009). Bakteri ini diketahui mempunyai banyak ras yang berbeda virulensinya.
Ras 1 menyerang terung-terungan dan tanaman lain, seperti tomat, tembakau, dan
kacang tanah. Ras 2 menyerang pisang dan Heliconia. Ras 3 khususnya
menyerang tanaman kentang (Semangun, 1996 dalam Anaf, 2009).
Bakteri ini mampu menghidrolisa gelatin dan twin 80, mampu mereduksi
nitrat, dapat menghasilkan asam sukrosa, arginin, dehidrolase negatif, jumlah
guanin, dan sitosin dalam DNA 66-69%. Mengandung poly B-hidroksibutirat.
Beberapa strain dapat menghasilkan gas dan nitrat (Hayward, 1983 dalam Anaf,
2009).
Bakteri mempunyai generasi waktu yang sangat pendek pada keadaan
optimal < 20 menit. Selama pertumbuhan, bakteri dalam media cair akan
membentuk suspensi yang keruh sedangkan pada media padat akan membentuk
koloni yang bervariasi bergantung pada jenisnya (Habazar dan Rivai, 2000).
Menurut Rukmana (1997) dalam Wijiono (2009), bakteri ini mempunyai
banyak ras dan dapat diisolasi dengan baik pada medium yang mengandung 2, 3,
5- trifenil-tetra sodium klorida (Medium TTK). Infeksi terutama melalui luka pada
bagian tanaman. Bakteri terangkut dalam pembuluh kayu dan pada batang yang
lunak, masuk dalam ruang antar sel dalam kulit dan empulur, menguraikan sel-sel
13
sehingga terjadi rongga-rongga. Suhu yang relatif tinggi mendukung
perkembangan penyakit. Di dataran rendah penyakit timbul lebih berat karena
suhu udara relatif tinggi. Bakteri berkembang baik di tanah alkalis yang suhunya
agak tinggi di saat banyak hujan. Intensitas penyakit sangat dipengaruhi oleh
tanaman terinfeksi pada musim sebelumnya. Penyakit ini banyak dijumpai di
Jawa, Sumatera dan Sulawesi khususnya di Sulawesi Utara.
Klasifikasi bakteri Ralstonia solanacearum penyakit layu pada kentang
menurut E.F. Smith dalam Buchman dan Gibbions (1974), Yabuuch dkk (1995)
dalam Wijiono (2009) adalah :
Kingdom : Prokariotik
Divisio : Gracilicutes
Kelas : Schizomycetes
Ordo : Eubacteriales
Famili : Pseudomonadaceae
Genus : Ralstonia
Spesies : Ralstonia solanacearum
Sinonim : Pseudomonas solanacearum

2.3.2 Mekanisme Kerusakan pada Tanaman
Virulensi merupakan kapasitas relatif patogen untuk merusak tanaman
inang. Virulensi penyakit tanaman berhubungan dengan sifat-sifat bakteri yang
menetukan kecepatan pertumbuhan dan penyebarannya pada inang dan
meningkatkan kerusakan pada jaringan tanaman. Faktor virulensi yang
14
disekresikan dapat berupa toksin termasuk Ekstraseluler Polisakarida, enzim, dan
hormon tumbuh yang menginduksi seperti jenis gejala seperti menguning, busuk
lunak, hiperplasia, nekrosis dan layu (Habazar dan Rivai, 2000 dalam Anaf,
2009).
Pada bakteri Ralstonia solanacearum, Ekstraseluler Polisakarida sangat
berperan dalam patogenis, utamanya dalam menghambat translokasi unsur hara
dan air, juga menjadi pelindung bakteri dari keadaan yang ekstrim, dapat
menetralisir senyawa-senyawa yang dikeluarkan oleh tanaman (Wydra dan
Rudolph, 1993 dalam Wijiono, 2009).
Beberapa mekanisme kerusakan Ekstraseluler Polisakarida sebagai
penyebab layu antara lain: penyebaran patogen dalam xylem, pembentukan
senyawa ekstraseluler polisakarida hanya pada isolat yang virulen dan pemberian
dengan senyawa metabolit dari patogen pada tanaman. Aspek-aspek penyebab
layu adalah: pengaliran terbatas dan transportasi air ke daun menjadi terhambat,
viskositas cairan dalam jaringan pembuluh meningkat, terjadi penyumbatan
terhadap transport air, bagian yang paling kritis adalah tangkai dan tulang daun,
terjadinya kerusakan pada membran luar dan membran dalam sel dan keluarnya
elektrolit dari dalam sel (Habazar dan Rivai, 2000 dalam Anaf, 2009).
2.3.3 Gejala Serangan Bakteri Ralstonia solanacearum
Gejala awal adalah tanaman mulai layu. Kemudian menjalar ke daun
bagian bawah. Gejala yang lebih lanjut : seluruh tanaman layu, daun menguning
sampai coklat kehitam-hitaman, dan akhirnya tanaman mati (Gambar 2.1).
15
Serangan pada umbi menimbulkan gejala dari luar tampak bercak-bercak kehitam-
hitaman, terdapat lelehan putih keruh (massa bakteri) yang keluar dari mata tunas
atau ujung stolon (Rukmana, 1997).




Gambar 2.1 (a) Tanaman Kentang terinfeksi bakteri Ralstonia solanacearum
(Thurston, 2009).



2.4 Jamur Phytophthora infestans
2.4.1 Deskripsi dan Klasifikasi Jamur Phytophthora infestans
Phytophthora infestans memiliki bentuk miselium interseluler tidak
bersekat, mempunyai banyak houstorium. Konidiofor keluar dari mulut kulit,
berkumpul 1-5, dengan percabangan simpodial, mempunyai bengkakan yang
khas. Konidium berbentuk buah peer, 22-32 x 16-24 µm, berinti banyak 7-32
terlihat pada (Gambar 2.2). Konidium berkecambah secara tidak langsung dengan
membentuk hifa (benang) baru, atau secara tidak langsung dengan membantuk
spora kembara, konidium dapat juga disebut sebagai sporangium atau
zoosporangium seperti pada (Gambar 2.2). Cendawan ini dapat membentuk
oospora meskipun agak jarang. Jamur P. infestans diketahui mempunyai banyak
a
16
ras fisiologi (Semangun, 1991).




Gambar 2.2 Morfologi Phytophthora infestan (a) konidium, (b) hifa
(Istiarini, 2009).

Menurut Hawksworth et al (1995), klasifikasi cendawan Phytophthora
infestans adalah
Kingdom : Stramenopiles
Divisio : Eumycota
Kelas : Oomycetes
Ordo : Peronosporales
Famili : Pythiaceae
Genus : Phytophthora
Spesies : Phytophthora infestans.


2.4.2 Siklus Penyakit
Patogen dapat tersebar sampai ke batang dengan sangat cepat dalam
jaringan korteks yang menyebabkan kerusakan sel di dalamnya. Selanjutnya,
miselium tumbuh diantara isi sel batang, tetapi jarang terdapat dalam jaringan
a
b
17
vaskuler. Miselium tumbuh menembus batang sampai ke permukaan tanah. Ketika
mesilium mencapai udara disekitar bagian tanaman miselium memproduksi
sporangiospor yang dapat menembus stomata dan menetap serta menyebar
melalui daun. Sporangiospor akan terlepas dan menyebabkan infeksi baru, sel-sel
dimana miselium berada dapat mati dan menjadi busuk, miselium menyebar luas
sampai ke bagian yang sehat. Beberapa hari setelah infeksi baru, sporangiospor
timbul dari stomata dan memproduksi banyak sporangia yang dapat menginfeksi
tanaman baru (Agrios, 1996). Siklus penyakit P. infestans dapat dilihat pada
Gambar 2.3.
Selama musin hujan, sporangia terbawa sampai ke tanah. Umbi dekat
permukaan tanah dapat terserang zoospore yang bertunas dan berpenetrasi pada
umbi menembus lenti sel atau melalui luka alami atau luka akibat serangga dan
alat pertanian (Cholil dan Abadi, 1991).

18
Gambar 2.3 Siklus Hidup Phytophthora infestan (Agrios, 1996).



2.4.3 Gejala Penyakit
Gejala awal penyakit ini berupa bercak pada bagian tepi dan ujung daun,
kemudian bercak melebar dan terbentuk daerah nekrotik yang berwarna coklat
(Gambar 2.6). Bercak dikelilingi oleh massa sporangium yang berwarna putih
dengan belakang hijau kelabu. Serangan dapat menyebar ke batang, tangkai dan
umbi. Jamur ini berkembang baik pada musim hujan dengan kelembaban sekitar
20
o
C. Serangan berat terjadi pada bulan Oktober-Februari (Anonymous, 2002).
Jika suhu tidak terlalu rendah dan kelembaban cukup tinggi, bercak-bercak
tersebut akan meluas dengan cepat dan menyebabkan kematian seluruh daun.
Bahkan jika cuaca demikian berlangsung lama, seluruh bagian tanaman di atas
akan mati. Dalam cuaca yang kering jumlah bercak terbatas, segera mengering
dan tidak meluas. Umumnya gejala baru tampak bila tanaman berumur lebih dari
satu bulan, meskipun kadang-kadang sudah terlihat pada tanaman yang berumur 3
minggu (Semangun, 2001).


a
19
Gambar 2.4 (a) Serangan Phytophthora infestan pada tanaman kentang
(Anonymous, 2001).



Phytophthora infestans dapat juga menyerang umbi, jika keadaan baik
bagi pertumbuhannya pada umbi terjadi bercak yang agak mengendap, berwarna
coklat atau hitam ungu, yang masuk sampai 3-6 mm ke dalam umbi. Bagian yang
terserang ini tidak menjadi lunak. Bagian yang busuk kering tadi dapat terbatas
sebagai bercak-bercak kecil, tetapi dapat juga meliputi suatu bagian yang luas
pada satu umbi. Gejala ini dapat tampak pada waktu umbi digali, tetapi sering
tampak jelas setelah umbi disimpan (Semangun, 2000).




2.4 Jamur Fusarium sp.
2.5.1 Deskripsi dan Klasifikasi Jamur Fusarium sp.
Bagian vegetatif jamur pada umumnya berupa benang-benang halus
memanjang, bersekat (septa) atau tidak, disebut hifa. Kumpulan benang-benang
hifa disebut miselium. Hifa bercabang-cabang atau tidak, tebalnya 0,5-100 µm.
Demikian pula pada seluruh miselium mungkin hanya mempunyai beberpa µm,
tetapi dapat pula membentuk lapisan atau benang-benang besar yang panjangnya
bermeter-meter (Semangun, 1996).
Daerah–daerah yang terserang oleh cendawan ini adalah pada pangkal
batang dan akar, sedikit di bawah permukaan tanah. Jamur ini menyerang
20
pertanaman dan penyebarannya sangat luas hampir di seluruh dunia. Jamur ini
menghasilkan tiga macam toksin yang menyerang pembuluh xylem yaitu : asam
fusaric, asam dehydrofusaric dan lycomarasmin. Toksin-toksin tersebut akan
mengubah permeabilitas membrane plasma dari sel tanaman inang sehingga
mengakibatkan tanaman yang terinfeksi lebih cepat kehilangan air daripada
tanaman yang sehat (Sastrahidayat, 1990).
Morfologi dari Fusarium oxysporum yaitu memiliki struktur yang terdiri
dari mikronidia dan makronidia. Permukaan koloninya berwarna ungu, tepinya
bergerigi, permukaannya kasar berserabut dan bergelombang. Di alam, jamur ini
membentuk konidium. Konidiofor bercabang-cabang dan makro konidium
berbentuk sabit, bertangkai kecil, sering kali berpasangan. Miselium terutama
terdapat di dalam sel khususnya di dalam pembuluh, juga membentuk miselium
yang terdapat di antara sel-sel, yaitu di dalam kulit dan di jaringan parenkim di
dekat terjadinya infeksi. Fusarium oxysporum adalah fungi aseksual yang
menghasilkan tiga spora yaitu mikronidia, makronidia, dan klamidospora.
Mikronidia adalah spora dengan satu atau dua sel yang dihasilkan Fusarium pada
semua kondisi dan dapat menginfeksi tanaman (Gambar 2.5 ). Makronidia adalah
fungi dengan tiga sampai lima sel biasanya ditemukan pada permukaan (Gambar
2.5). Klamidospora adalah spora dengan sel selain diatas, dan pada waktu dorman
dapat menginfeksi tanaman, sporanya dapat tumbuh di air (Gambar 2.5)
(Damayanti, 2009).

21

Gambar 2.5 Morfologi Fusarium oxysporum (Damayanti, 2009).

Menurut Agrios (1996), bahwa klasifikasi dari cendawan ini adalah
sebagai berikut:
Kindom : Fungi
Divisi : Eumycota
SubDivisi : Deuteromycotina
Kelas : Hypomycetes
Ordo : Moniliales
Famili : Tuberculariaceae
Genus : Fusarium
Spesies : Fusarium oxysporum

2.5.3 Gejala Kerusakan
Gejala permulaan dari serangan penyakit ini adalah terjadinya pemucatan
daun dan tulang daun, diikuti dengan merunduknya tangkai daun. Daun layu dan
lambat laun berwarna kuning, tangkai daun tersebut bila disentuh akan mudah
22
lepas dan jatuh dari batang utama. Kelayuan terjadi mulai dari daun terbawah dan
terus ke daun bagian atas, kelayuan tanaman mungkin hanya terjadi sebagian saja
atau dapat juga secara keseluruhan (Sastrahidayat, 1990).
Keefektifan serangan dari cendawan ini ditentukan oleh banyaknya spora
yang diproduksi, karena spora merupakan sumber inokulum yang paling penting
dari cendawan. Kapasitas penyebaran dari Fusarium oxysporum merupakan
kemampuan mendistribusi dari dalam lingkungan inang. Patogen dapat memiliki
virulensi dan daya tahan yang tinggi, tetapi ada kalanya tidak mampu menyebar,
tergantung agen biotik (Steinhaus 1963 dalam Agustina, 2004).
Daur hidup jamur Fusarium spp. Dalam menginfeksi tanaman berawal
dari benih yang yang ditumbuhi jamur tersebut, kemudian menjalar ke dalam
tanaman, selanjutnya tanaman menjadi layu dan berwarna coklat kehitam-
hitaman. Hal ini disebabkan karena permeabilitas membran terganggu sehingga
pergerakan air terhambat yang mengakibatkan kematian tanaman, seperti terlihat
pada Gambar 2.6.


Gambar 2.6 Siklus Fusarium sp. (Anonymous, 2009)

23
Parasit-parasit tanaman terutama jamur, menghasilkan bermacam-macam
senyawa kinia yang dapat menghasilkan gejala penyakit-penyakit tanaman
meskipun tidak ada organisme penyebab penyakit. Salah satu contohnya adalah
asam fusarat yang dihasilkan oleh Fusarium spp. Asam fusarat atau asam 5-
nbutilpiridin-2-karboksilat merupakan racun yang larut dalam air yang sekaligus
juga merupakan antibiotik. Toksin ini mengganggu permeabilitas membran dan
akhirnya mempengaruhi kebutuhan air tanaman. Adanya hambatan pergerakan air
dalam tubuh tanaman menyebabkan terjadinya layu patologis yang tidak bisa
balik yang berakibat kematian tanaman seperti kasus-kasus penyakit layu pada
kapas dan tomat yang disebabkan oleh Fusarium spp (Yunasfi, 2002).



2.6 Deskripsi Bakteri Endofit
2.6.1 Potensi Bakteri Endofit
Selain mengkaji sumberdaya tumbuhan, Islam juga menganjurkan untuk
mengkaji sumberdaya hewan seperti mikroba atau hewan dengan ukuran yang
sangat kecil, Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-Baqarah 26.
¤ β| ´<¦ Ÿω ∏.`.ƒ β¦ ´.¸.„ ξ:Β !Β π.θ`-. !ϑ· !γ%¯θ· !Β!· š%!¦
¦θ`ΨΒ¦´ βθϑ=-´Š· µ‾Ρ¦ ‘,>9¦ Β ¯Νγ.¯‘ !Β¦´ρ %!¦ ¦ρ`,±Ÿ2 šχθ9θ)´‹· ¦Œ!Β Š¦´‘¦
´<¦ ¦‹≈γ. ξ:Β ‘≅.`ƒ µ. ¦¸:Ÿ2 “‰γƒ´ρ µ. ¦¸.. !Β´ρ ‘≅.`ƒ µ. āω|
).≈±9¦ ∩⊄∉∪
24
Artinya: Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa
nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. adapun orang-orang yang
beriman, Maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan
mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah
menjadikan Ini untuk perumpamaan?." dengan perumpamaan itu banyak
orang yang disesatkan Allah dan dengan perumpamaan itu (pula)
banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. dan tidak ada yang disesatkan
Allah kecuali orang-orang yang fasik (Qs. Al-Baqarah/2 26).

Mikroba walaupun berukuran sangat kecil (matsalamma ba’udlotan fama
fauqoha) dan umumnya sangat dibenci orang karena merugikan manusia, tetapi
sekali lagi segala sesuatu yang diciptakan Allah SWT di bumi ini tidak sia-sia.
Mikroba ada yang merugikan, tetapi juga ada yang menguntungkan yaitu salah
satunya mikroba endofit yang hidup pada jaringan tanaman dan dapat
menghasilkan zat antibiotik yang sangat berguna sebagai obat.
Menurut Purwanto (2009), mikroba endofit umumnya dapat menghasilkan
senyawa sejenis yang terkandung pada tanaman inang dengan bantuan aktivitas
suatu enzim. Beberapa senyawa endofit yang bersimbiose dengan tanaman
inangnya juga ada yang mampu menghasilkan senyawa antibiotik. Senyawa
antibiotik ini aktif terhadap mikroba-mikroba patogen manusia dan patogen
tanaman.
Bekteri endofit adalah mikroorganisme yang sebagian atau seluruh dari
siklus hidupnya tinggal dalam jaringan tanaman tanpa menyebabkan gejala
penyakit bagi tanaman inang. Mereka berada pada jaringan yang sehat seperti
berbagai macam jaringan, biji, akar, batang dan daun. Tanaman mendapatkan
manfaat dengan kahadiran bakteri endofit ini seperti memacu pertumbuhan
tanaman, dan meningkatkan resistensi tanaman pada dari berbagai macam patogen
25
dengan memproduksi antibiotik. Endofit juga memproduksi metabolit sekunder
yang sangat penting bagi tumbuhan (Bandara dkk, 2006).
Bakteri endofit awalnya berasal dari lingkungan eksternal dan masuk ke
dalam tanaman melalui stomata, lentisel, luka (seperti adanya trichoma yang
rusak), melalui akar lateral dan akar yang berkecambah (Kaga, 2009). Luka pada
tumbuhan yang diakibatkan oleh faktor biotik seperti nematoda juga menjadi
faktor utama untuk masuknya bakteri endofit ke dalam tanaman (Athman, 2006).
Petrini dalam artikelnya yang berjudul Ecology, Metabolite Production
and Substrate Utilization in Endophytic Fungi menyatakan bahwa dalam satu
jaringan tanaman kemungkinan ditemukan beberapa jenis mikroba endofit.
Jumlah taksa isolate yang diperoleh dari suatu bagian tanaman inang sangat
banyak, tetapi hanya beberapa jenis saja yang dominan pada satu inang. Tanaman
obat tradisional besar kemungkinan memiliki mikroba endofit berpotensi yang
terkandung dan hidup secara simbiotik di dalamnya. Bergantung dari potensi
tanaman yang diteliti, ada juga Mikroba endofit yang mampu menjadi sumber
senyawa bioaktif yang memiliki potensi sebagai antimikroba (Syarmalina, 2009).
Senyawa anti mikroba yang dihasilkan tersebut mampu menghambat
pertumbuhan mikroba atau membunuh mikroba yang merugikan. Berdasarkan
sifat kerjanya, antimikroba melawan mikroba patogen dengan cara mengganggu
metabolisme sel mikroba, menghambat sintesis dinding sel mikroba, mengganggu
permeabilitas membrane sel mikroba, menghambat sintesis protein sel mikroba,
atau menghambat sintesis/merusak asam nukleat sel mikroba. Mikroorganisme
endofit memiliki hubungan mutualistik dengan tanaman inang, yaitu
26
mikroorganisme tersebut memperoleh kebutuhan hidupnya pada tanaman inang
yang di tempatinya dan berperan dalam melindungi tanaman inang terhadap hama
serangga, patogen, dan hewan pemangsanya (Purwanto, 2009).
Produksi enzim oleh mikroorganisme endofit dapat mendegradasi atau
memecah peptin dan polygalacturonic yang berperan untuk degradasi pada
lapisan tengah dinding sel selama penetrasi dan kolonisasi pada jaringan inang
oleh simbion-simbion (Purwanto, 2009).
Metabolit sekunder yang dihasilkan oleh mikroorganisme endofit
merupakan suatu zat aktif atau antibiotik atau produk toksin yang mampu
melindungi tanaman dari serangan insekta, mikroba patogen atau hewan
pemangsanya sehingga dapat dimanfaatkan sebagai agen biokontrol. Proses
terinfeksinya tanaman dengan jamur endofit dapat dilihat dengan mekanisme
masuknya jamur tersebut ke dalam biji, sehingga siklus hidup jamur endofit dapat
dianggap mengikuti siklus hidup pembentukan biji baik secara langsung maupun
tidak langsung (Purwanto, 2009).
Antibiotik menggambarkan kemampuan dari bakteri endofit untuk
menghambat pertumbuhan patogen dengan memproduksi antibiotik atau toksin.
Walaupun sebagian besar dari bakteri endofit menunjukkan perlawanannya
terhadap patogen secara in vitro (Krechul dkk, 2002, Sturz dkk, 1999 dalam
Schulz, 2006), sangat sedikit yang mengetahui tentang pengaruh dari antibiotik
sebagai kontrol patogen pada jaringan akar (Schulz, 2006).
Bagaimanapun, hanya mikroba antagonis yang mampu memanfaatkan
bermacam-macam hasil dari mekanisme untuk mendominasi interaksi dengan
27
patogen. Patogen mempunyai bermacam-macam respon untuk melawan antagonis
(Duffy dan Defago, 1997 dalam Schulz, 2006). Bakteri endofit diisolasi dari akar
kentang yang menghasilkan enzim hidrolisis seperti selulase, kitinase dan
glukanase (Krechel dkk, 2002 dalam Schulz, 2006).
Setiap tanaman tingkat tinggi dapat mengandung beberapa mikroba
endofit yang mampu menghasilkan senyawa biologi atau metabolit sekunder yang
diduga sebagai akibat koevolusi atau transfer genetik (genetic recombination) dari
tanaman inangnya ke dalam mikroba endofit (Tan RX dkk, 2001 dalam Radji,
2005). Menurut pandangan evolusi, bakteri endofit mula-mula berasal dari
patogen tanaman yang virulensinya hilang dan berada dalam tanaman selama
periode pertumbuhan tanaman tersebut atau merupakan patogen yang tidak
mampu mengekspresikan gen spesifik penyebab penyakit (Hallmann, 1999).
Asosiasi endofit dengan tumbuhan inangnya, oleh Carrol (1988) dalam
Worang (2003), digolongkan dalam dua kelompok, yaitu mutualisme konstitutif
dan induktif. Mutualisme konstitutif merupakan asosiasi yang erat antara endofit
dengan tumbuhan terutama rumput-rumputan. Pada kelompok ini endofit
menginfeksi ovula (benih) inang dan penyebarannya melalui benih serta organ
penyerbukan inang. Mutualisme induktif adalah asosiasi antara endofit dengan
tumbuhan inang, yang penyebarannya terjadi secara bebas melalui air dan udara.
Jenis ini hanya menginfeksi bagian vegetatif inang. Kolonisasi bakteri endofit
pada lapisan luar sel (exodermis, sclerenchyma) dan korteks akar, terjadi secara
inter dan intraseluler dalam waktu 2-3 minggu, menyebabkan bagian aerenchyma
(korteks) menjadi berair dan ini merupakan tempat terbesar bagi terbentunya
28
mikrokoloni. Sebagain besar kolonisasi secara interseluler menyebabkan
pengambilan nutrient, terutama karbon oleh bakteri. Kadangkala bakteri endofit
mampu melakukan penetrasi ke dalam akar sampai pada Stele, dan juga terdapat
pada parenchyma dan dalam jaringan xylem (Prakamhang, 2007).

2.6.2 Mekanisme Kerja Bakteri Endofit Sebagai Antimikroba
Antimikroba alamiah merupakan suatu produk atau bahan metabolit yang
dihasilkan oleh satu jenis mikroorganisme yang dapat menghambat pertumbuhan
mikroorganisme lainnya. Bahan metabolit yang dapat menghambat atau
membunuh mikroorganisme disebut antibiotika dan cara kerjanya disebut
antibiosis. Antibiotika tersebar dialam bebas, tetapi hanya beberapa yang tidak
toksit dipakai dalam pengobatan dan kebanyakan diperoleh dari genus Bacillus
pinicillium dan Stepomyces. Sebagai contoh antiboitika alami adalah pinisilin,
tetrasiklin dan aritromisin (Tortoa dkk, 2001).
Volk dan Wheeler (1993), senyawa antimikroba didefinisikan sebagai
senyawa biologis atau kimia yang dapat menghambat pertumbuhan dan aktivitas
mikroba. Beberapa senyawa yang mempunyai aktivitas antimikroba adalah
sodium benzoat, senyawa fenol, asam-asam organik, asam lemak rantai médium
dan esternya, sulfur dioksida, nitrit, senyawa kolagen, dimetil karbonat dan metil
askorbat.
Menurut Volk dan Wheeler (1984), berdasarkan cara memperoleh obat
antimikroba ada tiga jenis golongan antimikroba yaitu antimikroba sintetik,
antimikroba semisintetik dan mikroba alamiah. Antimikroba sintetik secara kimia
29
dibuat dilaboratorium. Obat antimikroba tersebut bisa disebut dengan istilah
kemoteraputika misalnya obat golongan sulfonamid dan golongan kuinolon.
Menurut Van Vuurde dan Recuenco (2005) dalam Firmansah (2008),
bakteri endofit dapat mengolonisasi apoplas pada ruang antar sel (interselular),
terutama jaringan korteks, jaringan pembuluh, bahkan ke bagian antar sel
(intraselular), sehingga dapat secara sistemik menyebar keseluruh jaringan
tanaman. Bakteri endofit juga dapat menghasilkan zat antimikroba seperti
antibiotik atau HCN yang berperan penting dalam mekanisme melawan patogen
tanaman (Reiter dkk, 2002).
Sturz (2006), menyatakan bahwa bakteri endofit ditemukan mampu
melawan invasi pitopatogen. Adapun lima mekanisme penghambatan patogen
oleh bakteri yang sering disebutkan adalah:
1) Kompetisi sumber daya (unsur hara). Sebagai contoh siderophore (chelator),
dihasilkan oleh bakteri dalam jumlah yang sangat banyak, untuk bersaing
memanfaatkan unsur-unsur mineral spesifik sehingga dapat menghambat
phytopatogen untuk memenuhi unsur-unsur kebutuhannya pada mineral-
mineral yang terbatas.
2) Menghasilkan antibiosis; pada mulanya diketahui bahwa bakteri mampu
memproduksi metobolit antibakteri, antijamur dan antinematoda. Beberapa
antibiotik telah diidentifikasi, seperti yang dihasilkan oleh Pseudomonas sp.,
zat yang berfungsi sebagai antibiotik tersebut diantaranya adalah
phloroglucinols, phenazine derivative, pyoluteorin, pyrrolnitrin, siklis
lipopeptides dan sianida hydrogen, dan zat antibiotic lainnya adalah agrocin
30
84 (Agrobacterium sp.), Herbicolin A (Erwinia sp.), Iturin A, surfactin, dan
zwittermicin A (Bacsil sp.) dan xanthobacin (Stenotrophomonas sp.).
3) Aktivitas enzim lytic: Beberapa jenis bakteri yang berfungsi sebagai agen
pengendali terbukti benar, dan biasanya mengakibatkan degradasi dinding sel
patogen atau mengakbatkan gangguan pada bagian-bagian tertentu. Sebagai
contoh enzim kitinase yang diproduksi oleh Serratia plymuthica dilaporkan
mampu menghambat pertumbuhan spora dan elongasi jaringan (germ-tube)
pada Botrytis cinerea. Sedangkan enzim ß- 1,3-glucanase yang disintesis dari
Paenibacillus sp. and Streptomyces sp. Dapat menyebabkan lisis pada dinding
sel jamur Fusarium oxysporum dan enzim lain yang diproduksi oleh bakteri
tersebut meliputi hydrolase, laminarinase and protease.
4) Sistem resistensi pada tanaman: bakteri mempengaruhi gen ketahanan dengan
melalui produksi jasmonate yang disandikan, peroxidase atau enzim yang
terlibat dalam sintesis phytoalexins. Sampai sekarang bukti keterlibatan
liposakarida, siderophores dan phloroglucinols telah banyak diketahui.
5) Kamuflase akar. Hal ini berarti bahwa baberapa bakteri yang bersifat resisten
pada beberapa jenis penyakit meminimalkan “ketertarikan alami” pada sistem
akar inang dengan meningkatkan kepadatan populasi untuk menghindari
kehadiran patogen tanaman.
Siderophore merupakan suatu zat yang memiliki berat molekul rendah,
yang dapat terikat erat dengan besi (Fe). Siderophore dihasilkan oleh berbagai
mikroorganisme sehingga dapat menjamin bahwa mikroorganisme bersangkutan
dapat memperoleh cukup Fe dari lingkungan tumbuhnya. Beberapa strain RPTT
31
seperti Pseudomonas fluorescens B10 mampu menghasilkan yellow-green
florescent siderophores (disebut pseudobactin) yang dapat menghambat
perkembangan jamur patogen Erwinia caratovora penyebab busuk pada kentang
(Husen, 2006).
Siderofor diproduksi secara ekstrasel, senyawa dengan berat molekul
rendah dengan affinitas yang sangat kuat terhadap besi (III). Kemampuan
siderofor mengikat besi (III) merupakan pesaing terhadap mikroorganisme lain,
banyak bukti-bukti yang menyatakan bahwa siderofor berperan aktif dalam
menekan pertumbuhan mikroorganisme patogen (Hasanudin, 2003:5).
2.7 Bahan Antimikroba
Menurut Pelczar dan Chan (1988) bahan antimikroba/antifungi adalah
suatu bahan yang dapat mengganggu pertumbuhan dan metabolisme
mikroorganisme. Pemakaian bahan antimikroba merupakan suatu usaha untuk
mengendalikan bakteri maupun jamur, yaitu segala kegiatan yang dapat
menghambat, membasmi, atau menyingkirkan mikroorganisme. Dijelaskan lebih
lanjut oleh Pelczar dan Chan (1988) tujuan utama pengendalian mikroorganisme
adalah:
a. Mencegah penyebaran penyakit dan infeksi
b. Membasmi mikroorganisme pada inang yang terinfeksi.
c. Mencegah pembusukan dan perusakan oleh mikroorganisme

2.8 Mekanisme kerja bahan antimikroba
32
Menurut Pelezar dan Chan (1988) cara kerja zat antimikroba dalam
melakukan efeknya terhadap mikroorganisme adalah sebagai berikut :
1. Merusak dinding sel
Pada umumnya bekteri memiliki suatu lapisan luar yang kaku disebut
dinding sel. Dinding sel ini berfungsi untu mempertahankan bentuk dan menahan
sel, dinding sel bakteri tersusun atas lapisan peptidoglikan yang merupakan
polimer komplek yang terdiri atas rangkaian asam N-asetil glukosaminm dan
asam N-asetilmuramat yang tersusun secara bergantian.
Keberadaan lapisan peptidoglikan ini menyebabkan dinding sel bersifat
kaku dan kuat sehingga mampu menahan tekanan osmotik dalam sel yang kaku.
Struktur dinding sel dapat dirusak dengan cara menghambat pembentukannya atau
dengan mengubahnya setalah selesai dibentuk. Pada konsentrasi rendah, bahan
antimikroba yang ampuh akan menghambat pembentukan ikatan glikosida
sehingga pembentukan dinding sel baru tergangu. Selanjutnya dijelaskan bahwa
pada konsentrasi tinggai bahan antimikroba akan memyebabkan ikatan glikosida
menjadi terganggu dan pembentukan dinding sel terhenti.
2. Merubah protein dan asam nukleat
Kelangsungan hidup sel sangat tergantung pada molekul-molekul protein
dan asam nukleat. Hal ini berati bahwa gangguan apapun yang terjadi pada
pembentukan atau fungsi zat-zat tersebut dapat mengakibatkan kerusakan total
pada sel (Pelezar dan Chan, 1988). Bahan antimikroba yang dapat mendenaturasi
protein dan asam nukleat dapat merusak sel tanpa dapat diperbaiki lebih lanjut.
3. Merubah permeabilitas sel
33
Sitoplasma dibatasi oleh selaput yang disebut membran sel yang
mempunyai permeabilitas selektif, membran ini tersusun atas fosfolipid dan
protein. Membran sitoplasma berfungsi mengatur keluar masuknya bahanbahan
tertentu dalam sel. Proses pengangkutan zat-zat yang lebih diperlukan baik
kedalam maupun keluar sel kemungkinan karena didalam membran sitoplasma
terdapat enzim protein untuk mensintesis peptidoglikan komponen membran luar.
Apabila fungsi membran sel terganggu oleh adanya bahan antimikroba, maka
permeabilitas sel bakteri akan mengalami perubahan, sehingga akan
mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sel atau kematian sel .

4. Menghambat kerja enzim
Di dalam sel terdapat enzim protein yang membantu kelangsungan proses-
proses metabolisme, banyak zat kimia telah diketahui dapat mengganggu reaksi
biokimia misalnya logam berat, golongan tembaga, perak, air raksa dan senyawa
logam berat lain, umumnya efektif sebagai bahan antimikroba pada konsentrasi
relatif rendah. Dengan demikian kerja enzim yang terhambat akan menyebabkan
proses metabolisme terganggu, sehinga aktifitas sel bakteri akan terganggu, hal ini
dapat menyebabkan sel bakteri hancur dan akan mati.
5. Menghambat sintesis DNA, RNA, dan protein
DNA, RNA, dan protein memegang peranan penting dalam proses
kehidupan normal sel, beberapa bahan antimikroba dalam bentuk antibiotik dapat
menghambat sintesis protein. Apabila keberadaan DNA, RNA dan protein
34
mengalami gangguan atau hambatan pada pembentukan atau fungsi zat tersebut
dapat mengakibatkan kerusakan sel sehingga proses kehidupan sel terganggu.

2.9 Pengujian Aktivitas Bahan Antimikroba
Menurut Tortora dkk, (2001) dalam Utami (2005), pengujian aktivitas
bahan antimikroba secara in vitro dapat dilakukan melalui dua cara yaitu:
1. Metode Dilusi
Cara ini digunakan untuk menentukan KHM (kadar hambat minimum) dan
KBM (kadar bunuh minimum) dari bahan antimikroba. Prinsip dari metode dilusi
adalah menggunakan satu seri tabung reaksi yang diisi medium cair dan sejumlah
tertentu sel mikroba yang diuji. Selanjutnya masing-masing tabung diisi dengan
bahan antimikroba yang telah diencerkan secara serial, kemudian seri tabung
diinkubasi pada suhu 37 o C selama 18-24 jam dan diamati terjadinya kekeruhan
konsentrasi terendah bahan antimikroba pada tabung yang ditunjukkan dengan
hasil biakan yang mulai tampak jernih (tidak ada pertumbuhan jamur adalah
merupakan konsentrasi hambat minimum). Biakan dari semua tabung yang jernih
ditumbuhkan pada medium agar padat, diinkubasi selama 24 jam, dan diamati ada
tidaknya koloni jamur yang tumbuh. Konsentrasi terendah obat pada biakan pada
medium padat yang ditunjukan dengan tidak adanya pertumbuhan jamur adalah
merupakan konsentrasi bunuh minimum bahan antimikroba terhadap jamur uji.
2. Metode Difusi Cakram (Uji Kirby-Bauer)
Prinsip dari metode difusi cakram adalah menempatkan kertas cakram
yang sudah mengandung bahan antimikoba tertentu pada medium lempeng padat
35
yang telah dicampur dengan jamur yang akan diuji. Medium ini kemudian
diinkubasi pada suhu 37o C selama 18-24 jam, selanjutnya diamati adanya area
(zona) jernih disekitar kertas cakram. Daerah jernih yang tampak di sekeliling
kertas cakram menunjukkan tidak adanya pertumbuhan mikroba. Jamur yang
sensitif terhadap bahan antimikroba akan ditandai dengan adanya daerah
hambatan disekitar cakram, sedangkan jamur yang resisten terlihat tetap tumbuh
pada tepi kertas cakram.
36
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplorasi dan eksperimental dengan
menguji isolat bakteri endofit dari akar tanaman kentang (Solanum tuberosum L)
terhadap bakteri Ralstonia (Pseudomonas) solanacearum, jamur Fusarium sp.,
dan jamur Phytopthora infestans.

3.2 Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai April 2010, di
Laboratorium Mikrobiologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim
Malang.

3.3 Variabel Penelitian
3.3.1 Variabel Bebas
Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah spesies bakteri
endofit dengan beberapa spesias bakteri endofit yang ditumbuhkan pada medium
TSA (Triptic Soy Agar).

3.3.2 Variabel Terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini merupakan variabel yang dapat
diukur yaitu daya hambat bakteri endofit terhadap bakteri Ralstonia
solanacearum, jamur Fusarium sp., dan jamur Phytopthora infestans yang
diletakkan pada cawan petri.

3.4 Alat dan Bahan
3.4.1 Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: cawan petri,
Autoklaf, laminar flow cabinet, jarum ose, kertas label, kertas saring, beaker
glass, oven, bunsen, hot plate, pengaduk kaca, pinset, inkubator, benang woll,
37
kapas, plastik tahan panas, korek api, kain kasa, alumunium voil, gelas ukur,
shaker, sentrifugasi, tabung reaksi, mikro pipet, erlenmeyer, jangka sorong,
timbangan analtik dan plastik wrap.

3.4.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah biakan bakteri
Ralstonia solanacearum, jamur Fusarium sp., dan jamur Phytopthora infestans,
biakan bakteri endofit yang diisolasi dari akar tanaman kentang varietas Granola
Kembang yang sehat, TSA (Triptic Soy Agar), TSB, PDA, NA, Aquades, apirtus
dan alkohol 70%.

3.5 Prosedur Penelitian
3.5.1 Sterilisasi Alat dan Bahan
Sterilisasi alat dan bahan dengan cara membungkus alat-alat dengan
alumunium foil dan plastik tahan panas, kemudian memasukkannya ke dalam
autoklaf pada suhu 121° C dengan tekanan 15 psi (per square inchi) selama 15
menit.

3.5.2 Pembuatan Media
3.5.2.1 Pembuatan Media TSA
Pembuatan media TSA (Triptic Soy Agar) dilakukan sebagai berikut:
1) TSB (Triptic Soy Broth) ditimbang sebanyak 30 g.
2) Media agar ditambahkan 15 g.
3) Aquades diukur sebanyak 1000 ml.
4) TSB dan agar dicampur dengan 1000 ml aquades.
5) Campuran dipanaskan sampai mendidih selama ± 40 menit. Kemudian media
ditunggu sampai hangat-hangat kuku.
6) Dimasukkan ke dalam erlenmeyer masing-masing 250 ml.
7) Menutup erlenmeyer dengan kapas dan alumunium foil.


38
3.5.2.2 Pembuatan Media TSB
Pembuatan media TSB (Triptic Soy broth) dilakukan sebagai berikut:
1) TSB (Triptic Soy Broth) ditimbang sebanyak 30 g.
2) Aquades diukur sebanyak 500 ml.
3) TSB dicampur dengan 500 ml aquades.
4) Campuran dipanaskan sampai mendidih selama ± 40 menit. Kemudian media
ditunggu sampai hangat-hangat kuku.
5) Dimasukkan ke dalam tabung erlenmeyer 100 ml masing-masing 18 ml.
6) Menutup erlenmeyer dengan kapas dan alumunium foil.

3.5.2.3 Pembuatan Media PDA
Pembuatan media PDA (Potato Destrosa Agar) dilakukan sebagai berikut:
1) PDA (Potato Destrosa Agar) ditimbang sebanyak 19,5 g.
2) Aquades diukur sebanyak 500 ml.
3) PDA dicampur dengan 500 ml aquades.
4) Campuran dipanaskan sampai mendidih selama ± 40 menit. Kemudian media
ditunggu sampai hangat-hangat kuku.
5) Dimasukkan ke dalam tabung reaksi masing-masing 10 ml dan erlenmeyer.
6) Menutup erlenmeyer dengan kapas dan alumunium foil.

3.5.2.4 Pembuatan Media NA
Pembuatan media PDA (Potato Destrosa Agar) dilakukan sebagai berikut:
1) NA (Nutrient Agar) ditimbang sebanyak 19 g.
2) Aquades diukur sebanyak 500 ml.
3) NA dicampur dengan 500 ml aquades.
4) Campuran dipanaskan sampai mendidih selama ± 40 menit. Kemudian media
ditunggu sampai hangat-hangat kuku.
5) Dimasukkan ke dalam tabung reaksi masing-masing 10 ml dan erlenmeyer.
6) Menutup erlenmeyer dengan kapas dan alumunium foil.


39
3.5.3 Penyiapan dan Peremajaan Isolat Bakteri Endofit
Penyiapan dan peremajaan bakteri endofit dilakukan dengan cara sebagai
berikut:
1. Bakteri endofit diremajakan pada media TSA masing-masing pada medium
lempeng agar dan medium TSA miring.
2. Menginkubasi selama 24-48 jam pada suhu kamar.
3. Kemudian isolat murni bakteri endofit yang telah diperoleh diperbanyak.

3.5.4 Produktivitas Metabolit Anti Bakteri dan Anti Jamur
Produksi metabolit anti bakteri oleh bakteri endofit dilakukan dengan cara
menumbuhkannya di dalam medium TSB. Koloni bakteri di ambil 1µL kemudian
di encerkan dengan 18 ml medium TSB, kemudian diinkubasi dengan shaker
selama 24 jm dengan kecepatan 130 rpm pada suhu 30°C. Kemudian
disentrifugasi selama 20 menit dengan kecepatan 2000 rpm.

3.5.5 Uji Antibakteri
Medium yang digunakan untuk uji aktivitas anti bakteri yaitu medium NA.
Uji aktifitas antibakteri metabolit bakteri endofit terhadap bakteri Ralstonia
solanacearum dilakukan dengan metode difusi agar (Kirby – Bauer)
menggunakan kertas cakram. Kertas cakram dibuat dari kertas saring Whatman
dengan cara melubanginya dengan alat pembolong kertas sehingga didapatkan
kertas cakram dengan diameter 6 mm.
Secara aseptic, kertas cakram yang sudah disterilkan direndam di dalam
supernatan kultur bakteri endofit selama 30 menit. Kertas cakram diambil dengan
menggunakan pinset steril dan diletakkan di atas medium uji aktifitas antibakteri
(media plat NA) yaitu media yang telah terinokulasi bakteri patogen. Kemudian
diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37°C. Setelah masa inkubasi selesai,
dilakukan pengamatan terhadap zona jernih yang terbentuk dan diukur
diameternya. Sampel yang mempunyai potensi menghasilkan zat antibakteri
ditunjukkan dengan adanya zona jernih.

40
3.5.6 Uji Antijamur
Medium yang digunakan untuk uji aktivitas antifungi yaitu media PDA.
Uji aktivitas antifungi metabolit bakteri endofit terhadap jamur Fusarium sp. dan
Phytopthora infestans dilakukan dengan metode uji Kirby-bauer menggunakan
kertas saring whatman dan membuat bulat dengan alat lubang kertas sehingga
didapatkan kertas cakram dengan diameter 6 mm.
Secara aseptic kertas cakram yang sudah disterilkan direndam di dalam
supernaton kultur bakteri endofit selama 30 menit. Kertas cakram diambil dengan
menggunakan pinset steril dan diletakkan diatas medium uji aktivitas antifungi
(medium PDA), kemudian diinkubasi selama 3x24 jam pada suhu 37°C. Setelah
masa inkubasi selesai, dilakukan pengukuran diameter zona jernih yang terbentuk.
Sampel yang mempunyai potensi menghasilkan zat antifungi ditunjukkan dengan
terbentuknya zona jernih atau zona hambat.

3.5.7 Pengukuran Zona Hambat
Data diperoleh dengan cara mengukur diameter zona hambat yang
terbentuk, pengumpulan data dilaksanakan sebagai berikut, mengukur diameter
zona hambat dengan menggunakan jangka sorong. Diameter zona hambat adalah
diameter yang tidak ditumbuhi oleh jamur di sekitar kertas cakaram dikurangi
diameter kertas cakram.

3.5.8 Tabel Pengamatan
Bakteri Endofit Mikroba Uji
Ulangan
Total
Rata-
rata
1 2
3
P. pseudomeallei
R. solanacearum
Fusarium sp.
P. infestans

K. ozaenae
R. solanacearum
Fusarium sp.
P. infestans

B. mycoides
R. solanacearum
Fusarium sp.
P. infestans

Total

41
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Kemampuan Bakteri Endofit dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri
Ralstonia solanacearum

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh diameter zona hambat/bening
(dalam mm) melalui pengukuran dengan penggaris. Pengamatan dilakukan setelah
bakteri Ralstonia solanacearum diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37
0
C,
adapun rata-rata deameter zona hambat dari uji aktivitas antibakteri dan anti jamur
metabolit bakteri endofit dari akar kentang terhadap bakteri Ralstonia
solanacearum dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.1 Rata-rata diameter zona bening/hambat bakteri endofit terhadap bakteri
Ralstonia solanacearum (dalam mm)
Species
Rata-rata Perbandingan Zona Hambat
R. solanacearum (mm)
Keterangan
P. pseudomallei 20 Sangat kuat
K.ozaenae 15,33 Kuat
B.mycoides 5 Sedang

Berdasarkan Tabel 4.1 di atas, tampak bahwa 3 isolat bakteri endofit
mampu menghambat pertumbuhan bakteri Ralstonia solanacearum. Hal ini
menunjukkan bahwa bakteri endofit dari akar kentang mampu menghasilkan
metabolit sekunder sebagai antibakteri. Dari hasil pengujian menunjukkan bahwa
3 isolat bakteri dari akar tanaman kentang terhadap bakteri Ralstonia solanacerum
mempunyai potensi antibiotik “sangat kuat”, “kuat”, dan “sedang” ditandai
dengan terbentuknya zona hambat. Terbentuknya zona hambat tersebut
menandakan bahwa bakteri endofit tersebut kemungkinan mengandung antibiotik.
42
Antibiotik digolongkan sebagai metabolit sekunder yang dihasilkan oleh bakteri
endofit dalam jalur metabolisme dan oleh enzim yang tidak diperlukan untuk
pertumbuhan dan pemeliharaan sel tumbuhan. Antibiotik merupakan suatu
substansi yang dihasilkan oleh organisme hidup yang dalam konsentrasi rendah
dapat menghambat atau membunuh organisme lainnya (Hasim, 2003).
Dari hasil penelitian terlihat bahwa bakteri Ps. pseudomallei (Gambar 4.1)
membentuk zona hambatan rata-rata 20 mm, memiliki potensi antibiotik “sangat
kuat”, K. ozanae (Gambar 4.2) membentuk zona hambatan rata-rata 15,33 mm,
memiliki potensi antibiotik “kuat”, sedangkan B. mycoides (Gambar
4.3)membentuk zona hambatan 5 mm, memiliki potensi antibiotik “sedang”.
Menurut Hasim (2003), kekuatan antibiotik dapat ditentukan sebagai berikut:
daerah hambatan 20 mm atau lebih mempunyai potensi antibiotik “sangat kuat”,
daerah hambatan 10 mm-20 mm mempunyai potensi antibiotik “kuat”, daerah
hambatan 5-10 mm mempunyai potensi antibiotik “sedang” dan daerah hambatan
5 mm atau kurang mempunyai potensi antibiotik “lemah”.
Isolat Ps. pseudomallei pada Tabel 4.1 pada uji metabolit bakteri endofit
terhadap bakteri R. solanacearum menghasilkan rata-rata deameter zona hambatan
tertinggi yaitu 20 mm, sedangkan isolat K. ozaenae menghasilan rata-rata
diameter zona hambatan terendah yaitu 5 mm. Hasil pengujian beberapa isolat P.
fluorescens yang berasal dari rizosfer nilam menunjukkan sebagian besar isolat
tersebut dapat menghambat pertumbuhan koloni R. solanacearum secara
bakteriostatik dan bakterisidal dengan zona penghambatan 1−40 mm (Nasrun dkk,
2004).
43
Adapun zona hambatan yang ditimbulkan metabolit bakteri endofit
terhadap bakteri R. solanacearum dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 4.1 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri Ps. Pseudomallei terhadap
bakteri R. solanacearum pada medium NA




Gambar 4.2 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri K. ozanae terhadap bakteri
R. solanacearum pada medium NA



44

Gambar 4.3 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri B. mycotes terhadap bakteri
R. solanacearum pada medium NA

Arwiyanto (1997), menyatakan bahwa Pseudomonas fluoresen yang
diperoleh dari mimosa infisa mampu menghambat pertumbuhan R. solanacearum.
Mekanisme penghambatan sebagian besar adalah bakterisidal dan hanya beberapa
yang bersifat bakteriostatik. Isolat Bacilus spp. Cenderung memiliki kemampuan
yang sama sebagai pengendali R. solanacearum.
Menurut Djatmiko (1997), kemampuan antagonis dalam menekan patogen
in vitro karena pada kondisi laboratorium antagonis hanya berhadapan dengan
patogen dan ada pada lingkungan yang kaya nutrisi sehingga mampu
memunculkan kemampuannya dalam menghambat patogen.
Supriyadi (2006). Menyatakan bahwa B. subtilis diketahui secara luas
sebagai bakteri saprofit, tidak menyebabkan penyakit pada tanaman, dapat hidup
dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen), bersifat Gram positif, dan membentuk
spora, serta menghasilkan beberapa jenis senyawa antimikroba seperti basitrasin,
basilin, basilomisin B, difisidin, oksidifisidin, lesitinase, dan subtilisin.
Menurut Sastrosuwignyo (1988) dalam Chrisnawati dkk (2009), bahwa
Bacillus spp. dapat menghasilkan antibiotic polipeptida-subtilin, gramisidin,
45
bacitracin, polimiksin, fitoaktin dan bulbiformin. Begitu pula dengan strain
Pseudomonad fluoresen juga dapat menghasilkan antibiotic seperti Pseudomonas
fluorescens CHAO dapat menghasilkan antibiotik pyoluteorin (Plt) dan 2-4-
diacetyl phyloroglucinol (Phl) yang dapat menghambat Erwinia carotovora dan
Gaeunannomyces graminis.
Hasil penelitian Sachdev dkk (2009), menunjukakan bahwa bakteri
Klebsiella pneumoniae yang diinkubasi selama 72 jam mampu menghasilkan
mampu menghasilkan hormon IAA sebesar 22,7 mg/l. Menurut Kremer (2006),
adanya hormon auksin (IAA) dapat mempengaruhi ketahanan tanaman terhadap
serangan penyakit. Adanya respon tanaman terhadap sintesis auksin secara
mikrobiologi dipengaruhi oleh konsentrasi yang dilepaskan ke rizosfer. Bakteri
yang mendukung pertumbuhan tanaman secara tidak langsung memproduksi
senyawa antagonis berupa siderophores atau menginduksi sistem pertahanan
tanaman terhadap patogen.
Pleban dkk (1997), menganalisis pentingnya enzim lisis antagonis dari Bacillus
cereus strain 65 ke arah jamur pathogen Rhizoctonia solani. B. cereus strain 65 diisolasi
dari benih Sinapis arvensis yang permukaannya disterilisasi terlebih dahulu, hasil isolasi
memperlihatkan bahwa bakteri ini mengeluarkan enzim kitinase 36 kDa, hasil obserasi
menunjukkan bahwa bakteri ini mampu memproteksi benih tanaman kapas dari penyakit
akar yang disebabkan oleh R. solani. Sebagai tambahan, enzim pengurai kitin Bacillus
subtilis juga dapat mengurangi penyakit Verticillium dahlia pada beberapa tanaman
(Tjamos dkk,. 2004).
46
Menurut Cook and Baker (1996) dalam Djatmiko (2002), kemampuan
ketiga bakteri endofit tersebut dalam menekan pertumbuhan bakteri Ralstonia
solanacerum karena ketiga bakteri tersebut mempunyai sprektum yang luas.
Menurut Tortora (2001), aktivitas antibiotik yang senesitif menghambat
pertumbuhan bakteri baik golongan bakteri Gram positif maupun Gram negatif,
dikatakan mempunyai spektrum yang luas. Sebaliknya suatu antibiotik yang
hanya efektif terhadap golongan bakteri Gram tertentu dikatakan antibiotik
spektrum sempit. Seperti golongan pinisilin yang aktif pada bakteri Gram positif,
golongan streptomycin aktif menghambat pada golongan bakteri Gram negatif
sedangkan tetracyclin mempunyai spektrum luas pada dua daerah bakteri Gram
positif dan Gram negatif.
Muncul penyakit pada tanaman termasuk penyakit yang disebabkan oleh
bakteri merupakan salah satu peringatan kepada umat manusia untuk selalu
memperhatikan keseimbangan dan kelestarian makhluk hidup. Munculnya
penyakit pada tanaman mengingatkan pada Firman Allah Swt. dalam surat Az-
Zumar ayat 21 yang berbunyi:
öΝ9& ? β& ´!# Α“Ρ& ´Β $ϑ´¡9# ´$Β …µ3=¡ù ì‹6≈Ψƒ †û Ú¯‘{# ¯ΟO lƒ† µ/
%´æ¯‘— $=Gƒ’Χ …µΡ≡´θ9& ¯ΝO kŠγƒ µ1´ŽIù #´`Á`Β ¯ΟO …`&#èg† $ϑ≈Ü`m β) ’û š9≡Œ
“.%! ’<`ρ{ =≈79{# ∩⊄⊇∪

Artinya: Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah
menurunkan air dari langit, Maka diaturnya menjadi sumber-sumber air
di bumi Kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman
yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu
melihatnya kekuning-kuningan, Kemudian dijadikan-Nya hancur
47
berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (Qs. Az-
Zumar/39:21).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa selain menciptakan tumbuh-tumbuhan
di muka bumi, Allah Swt. juga berkuasa untuk merusaknya, kerusakan tersebut di
tandai dengan munculnya hama, penyakit dan penyebab kerusakan lainnya. Salah
satu penyakit yang menyerang tanaman yaitu penyakit layu yang disebabkan oleh
bakteri R. solanacearum. Dengan adanya fenomena tersebut hendaknya manusia
dapat berfikir bagaimana cara menanggulangi masalah tersebut, dalam hal ini
adalah mencari agensia hayati yang dapat digunakan untuk pengendalian penyakit
tersebut.
Allah Swt. telah menciptakan dan menghidupkan senyawa bioaktif melalui
mikroba endofit yang juga tumbuh bersama-sama dengan senyawa yang
terkandung di dalam jaringan tumbuhan. Sehingga senyawa metabolit sekunder
bisa bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia dan makhluk ciptaan Allah
lainnya.

4.2 Kemampuan Bakteri Endofit dalam Menghambat Pertumbuhan Jamur
Fusarium sp. dan Phytopthora infestan
Pengamatan dilakukan setelah jamur Fusarium sp. dan Phytopthora
infestan pada suhu 37
0
C. Kemudian hasil penelitian diperoleh diameter zona
hambat/bening (dalam mm) melalui pengukuran dengan jangka sorong, adapun
rata-rata deameter zona hambat dari uji aktivitas antijamur metabolit bakteri
48
endofit dari akar kentang terhadap jamur Fusarium sp. dan Phytopthora infestan
dapat dilihat pada tabel berukit ini:
Tabel 4.2 Rata-rata diameter zona bening/hambat bakteri endofit terhadap jamur
Fusarium sp. (dalam mm)
Species
Rata-rata Perbandingan Zona Hambat
terhadap Fusarium sp. (mm)
Keterangan
P. pseudomallei 1,67 Lemah
K.ozaenae 2,67 Lemah
B.mycoides 4,67 Lemah



Tabel 4.3 Rata-rata diameter zona bening/hambat bakteri endofit terhadap bakteri
jamur Phytopthora infestan (dalam mm)
Species
Rata-rata Perbandingan Zona Hambat
terhadap P. Infestan (mm)
Keterangan
P. pseudomallei 17 Kuat
K.ozaenae 1,33 Lemah
B.mycoides 1 Lemah

Berdasarkan Tabel 4.2, terlihat bahwa 3 isolat bakteri endofit mampu
menghambat pertumbuhan jamur Fusarium sp. dan Phytopthora infestans. Hal ini
menunjukkan bahwa bakteri endofit dari akar tanaman kentang mampu
menghasilkan metabolit sekunder berupa antibiosis sebagai antijamur. Menurut
Schulz, dkk. (2006), antibiosis dideskripsikan sebagai kemampuan bakteri endofit
dalam menghambat pertumbuhan patogen dengan menghasilkan antibiotik atau
toksin. Meskipun demikian, mayoritas bakteri endofit memperlihat sifat sebagai
antibiosis melawan jamur patogen, namun sangat sedikit diketahui antibiosis yang
mengendalikan jamur patogen pada jaringan akar tanaman.
Dari hasil penelitian, ketiga isolat bakteri tersebut terlihat membentuk
zona hambatan yang memiliki potensi “lemah” yaitu antara 1,67 – 4,67 mm.
49
Sedangkan dari hasil penelitian bakteri endofit terhadap jamur P. infestans memiliki
dua golongan, terlihat bahwa P. pseudomallei membentuk zona hambatan 17 mm
yang menunjukkan bahwa bakteri tersebut memiliki potensi “kuat” sedangkan
bakteri K. ozanae dan B. mycoides membentuk zona hambatan 1,33 dan 1 mm,
menunjukkan bahwa kedua bakteri tersebut memiliki potensi “lemah”.
Menurut Davis Stout dalam dalam Hasim (2003), kekuatan antibiotik
dapat ditentukan sebagai berikut: daerah hambatan 20 mm atau lebih mempunyai
potensi antibiotik “sangat kuat”, daerah hambatan 10 mm-20 mm mempunyai
potensi antibiotik “kuat”, daerah hambatan 5-10 mm mempunyai potensi
antibiotik “sedang” dan daerah hambatan 5 mm atau kurang mempunyai potensi
antibiotik “lemah”.
Isolat K.ozaenae pada Tabel 4.2, uji metabolit bakteri endofit terhadap
jamur Fusarium sp. tampak menghasilkan rata-rata diameter zona hambatan
tertinggi yaitu 4,67 mm, sedangkan isolat Ps.pseudomallei menghasilkan rata-rata
diameter zona hambatan terendah yaitu 1,67 mm. Isolat Ps.pseudomallei pada uji
metabolit bakteri endofit terhadap jamur P. Infestan tampak menghasilkan rata-
rata diameter zona hambatan tertinggi yaitu 17 mm, sedangkan isolat B. mycoides
menghasilkan rata-rata diameter zona hambatan terendah yaitu 1 mm.
Adapun zona hambatan yang ditimbulkan metabolit bakteri endofit
terhadap jamur Fusarium sp. dan Phytopthora infestans dapat dilihat pada gambar
sebagai berikut:
50

Gambar 4.4 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri B. mycoides terhadap jamur
Fusarium sp. pada medium PDA




Gambar 4.5 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri K. ozanae terhadap jamur
Fusarium sp. pada medium PDA


51

Gambar 4.6 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri P. Pseudomallei terhadap
jamur Fusarium sp. pada medium PDA


Hal ini sesuai yang diungkapkan oleh Mehrotra (1980) dan Modjo (1991)
dalam Djatmiko (2002), bahwa Bacillus sp. dapat menghasilkan antibiotik yang
mampu menekan pertumbuhan berbagai patogen tanaman. Schulz dkk, (2006),
menambahkan bahwa senyawa antijamur yang berhubungan dengan bakteri endofit
adalah iturin A (dihasilkan oleh Bacillus subtilis) dan pyrrolnitrin (dihasilkan oleh
Serratia plymuthica).


Gambar 4.7 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri B. mycoides terhadap jamur
P. infestans pada medium PDA
52

Gambar 4.8 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri K. ozanae terhadap jamur
P. infestans pada medium PDA




Gambar 4.9 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri P. pseudomallei terhadap
jamur P. infestans pada medium PDA

Menurut Campbell (1989) dan Keel (2003), P. fluorescens dapat menekan
pertumbuhan patogen di dalam tanah dan permukaan akar melalui mekanisme
kompetisi ruang dan nutrisi, produksi antibiosis (antibiotik dan asam sianida) dan
siderofor serta stimulasi ketahanan tanaman.
Menurut Schulz, dkk. (2006), kompetisi dianggap sebagai faktor yang
sangat penting dalam pengendalian jamur patogen oleh bakteri endofit, kompetisi
Zona hambat
53
terjadi ketika kedua organisme berada pada tempat yang sama dan menggunakan
nutrisi yang sama. Data yang memperlihatkan kompetisi sebagai mekanisme
pengendalian yang sangat besar oleh bakteri endofit sangat sedikit.
Pada bakteri rizosfer memperlihatkan bahwa dibawah kondisi terbatasnya
unsur besi, bakteri menghasilkan siderophores (senyawa organik selain antibiotik)
dengan afinitas yang sangat tinggi untuk unsur besi ferric. Melalui pengikatan unsur besi
yang ada oleh bakteri, maka dapat jamur patogen akan kekurangan unsur besi, sehingga
dapat membatasi pertumbuhan jamur tersebut (Schulz, dkk, 2006).
Selain itu, menurut (Krechel dkk, 2002), penguraian dinding sel merupakan
mekanisme potensial lain yang dimiliki oleh bakteri endofit dalam mengendalikan
jamur patogen. Mekanisme ini telah ditetapkan dalam pengendalian jamur
patogen oleh bakteri rhizosphere. Bakteri endofit dari akar tanaman kentang
memperlihatkan tingginya enzim hidrolisis seperti cellulase, chitinase dan glucanase.
Antibiotik yang dihasilkan mikrorganisme termasuk dalam hal ini bakteri
endofit, dalam melakukan kerjanya menghambat mikroorganisme lain menurut
Suwandi (1992) terdapat 4 jalur, yaitu: menghambat sintesis dinding sel,
menghambat fungsi selaput sel, menghambat sintesa protein dan menghambat
sintesis asam nukleat.
Adapun rendahnya potensi bakteri endofit dalam menekan pertumbuhan
jamur patogen dikarenakan beberapa faktor. Sebagian besar pekerjaan pada area
ini berada pada tingkatan bakteri endofit, dan hampir tidak diketahui regulasi
metabolit antijamur yang diperlihatkan oleh bakteri endofit. Meskipun demikian,
54
karena antibiosis kelihatannya menjadi salah satu mekanisme yang digunakan oleh
bakteri endofit dalam mengendalikan jamur patogen.
Menurut Rahman (1989), fase pertumbuhan stationer merupakan fase
dimana bakteri endofit mengahasilkan metabolit sekunder, pada saat ini aktivitas
metabolit bakteri sangat menentukan pembentukan zona hambat/ bening karena
bakteri endofit telah siap mensekresikan metabolitnya yang dapat digunakan
sebagai antibakteri. Menurut Stobel (2002), terbentuknya zona hambat juga dapat
dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan bakteri uji yang berlebihan sehingga
pengaruh metabolit yang dihasilkan oleh bakteri endofit tidak signifikan terhadap
pertumbuahan bakteri R. Solanacearum, jamur Fusarium sp dan jamur P. infestan.
Penelitian ini membuktikan bahwa akar kentang (Solanum tuberosum L.)
ditemukan adanya bakteri endofit, dimana semua senyawa kimia yang dihasilkan
bakteri endofit terbukti mempunyai potensi sebagai penghambat pertumbuhan
bakteri R. Solanacearum, jamur Fusarium sp. dan jamur P. Infestan.
Dari pernyataan di atas, menujukkan banyaknya kekayaan alam yang telah
Allah ciptakan yang seharusnya dapat dimanfaatkan bagi kemaslahatan manusia,
sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hijr ayat 19-20:
´Ú¯‘{#´ρ $γ≈ΡŠ‰Β $´ΖŠ)9&´ρ $γŠù ´›≡´ρ´‘ $´ΖF´;Ρ&´ρ $κŽù Β ≅. `« βρ`—¯θΒ ∩⊇∪
$´Ζ=è_´ρ ¯/39 $κŽù ·Š≈èΒ Β´ρ Λ`¡9 …µ9 %—≡/ ∩⊄⊃∪
Artinya: Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya
gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut
ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-
keperluan hidup, dan (kami menciptakan pula) makhlukmakhluk yang
kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya. (QS. Al- Hijr/15: 19-
20)

55
Ayat di atas menjelaskan bahwa semua kekayaan alam yang ada di bumi
diciptakan Allah untuk kemaslahatan hidup manusia. Karena semuanya yang ada
di alam baik yang hidup maupun yang mati, yang kecil maupun yang besar sudah
pasti memiliki manfaat masing-masing. Dan telah dijelaskan bahwa dibumi ini
Allah telah menumbuhkan berbagai jenis tumbuhan menurut timbangan dan
ukuran masing-masing, maka tidak ada sesuatu tumbuhan yng tidak terukur
unsur-unsur yang tidak mengandung faedah. Semua tumbuhan mempunyai
hikmah dan maslahat walaupun itu tidak diketahui oleh banyak manusia (As-
Shiddieqy, 2000).
Allah SWT telah menciptakan dan menghidupkan mikroba endofit di
dalam jaringan tumbuhan yang mana senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan
bermanfaat bagi kelangsungan hidup tumbuhan itu sendiri dan makhluk ciptaan
Allah lainnya.
Dalam sebuah hadits yang di riwayatkan imam Bukhari berbunyi:
ل'- ة:-:ه _-ا ó- : ْ-ُ آِ -َ =َ أ ِ باَ :َ ~ _ِ - ُ ب'َ - --ا َ ¿َ -َ و اَ ذِ إ --~و ª--- =ا _-~ =ا ل:~ر ل'-
ً ء'َ -ِ ~ِ :َ =َ Vْ'ىِ -َ وً ءاَ د ِ ªْ -َ ='َ -َ =ِ -َ =َ أ _ِ - نِ 'َ - ُ ªْ -َ :ْ -َ -ْ - -ُ - ُ ªْ ~ِ -ْ ·َ -ْ -َ - ) ىر'=- ª=:=أ (
Artinya: Dari abu hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Bila ada lalat
yang jatuh di dalam minuman salah satu di antara kalian semua maka
tenggelamkanlah kemudian ambillah lalat itu karena sesungguhnya di
salah satu kedua sayap lalat itu ada satu penyakit dan sayap yang lain
terdapat obat” (HR. Bukhori).

Hadits tersebut memberi pandangan pada manusia bahwa obat-obatan bisa
diperoleh dari mana saja termasuk dari organisme itu sendiri, yang mana dari
hadits tersebut memberi contoh pada seekor lalat yang memiliki dua sisi yang
56
berbeda. Di mana sayap yang satu mengandung penyakit sedangkan sayap yang
lain mengandung obat. Hal tersebut dapat diaplikasikan terhadap tanaman kentang
yang mana dalam akar tanaman kentang yang terserang penyakit yang disebabkan
oleh bakteri dan jamur patogen ternyata di dalam jaringan akar tanaman
terkandung bakteri yang perperan untuk menghambat pertumbuhan bakteri dan
jamur patogen tersebut.
Dari hasil penelitian ini diharapkan sudah dapat memberikan informasi
atau petunjuk sebagai alternatif baru dalam pemanfaatan sumber daya hayati
tanpa harus mengurangi populasi yang ada melainkan dengan cara menggali
bakteri endofit dalam jaringan tanaman yang mempunyai fungsi yang sama
dengan tumbuhan aslinya. Beberapa isolat bakteri yang di isolasi dari akar
tanaman kentang mampu menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur patogen,
selain disebabkan oleh kemampuan bakteri endofit yang menghasilkan senyawa
kimia juga disebabkan oleh kemampuan bakteri endofit dalam menghasilkan
enzim kitinase.

56
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Isolat bakteri endofit Ps. pseudomallei, B. mycoides, dan K. ozaenae memiliki
kemampuan dalam menghambat pertumbuhan bakteri R. Solanacearum,
dengan potensi “sangat kuat” yaitu zona hambat 20 mm, “kuat” zona hambat
15,33 mm, dan “sedang” zona hambat 5 mm.
2. Isolat bakteri endofit Ps. pseudomallei, B. mycoides, dan K. ozaenae memiliki
kemampuan dalam menghambat pertumbuhan jamur Fusarium sp., dengan
potensi "lemah" zona hambat 1,6 mm, “lemah” zona hambat 2,67 mm dan
“lemah” zona hambat 4,67 mm. Sedangkan jamur P. Infestans mempunyai
potensi “kuat” zona hambat 17 mm, “lemah” zona hambat 1,33 mm dan
“lemah” zona hambat 1 mm.

5.2 Saran
Penelitian tentang potensi bakteri endofit sebagai penghambat
pertumbuhan bakteri (R. solanacearum) dan jamur (Fusarium sp. dan P.
infestans) penyebab penyakit layu pada tanaman ini perlu dilanjutkan dan
disarankan untuk melakukan aplikasi isolat bakteri endofit ke dalam tanah dan
melakukan kombinasi perlakuan untuk mencari teknik terbaik.
57
DAFTAR PUSTAKA


Agriseeds. 2009. Endophyt Summary. www.cycle.files.endophyte-summary.htm.
Akses 01 Oktober 2009

Anaf. 2009. Ralstonia solanacearum. http://iant.toulouse.inra.fr/bacteria
/annotation /cgi/ralso.cgi. Akses 7 Mei 2009.

Arnold, A. E. 2003. Fungal Endophytes Limit Pathogen Damage in a Tropical
Tree. PNAS vol. 100 No. 26: 15649 – 15654.

Arwiyanto, T. 1997. Potensi Tiga Genus Bakteri dari Tiga Rizosfer Tanaman
sebagai Agensia Pengendali Penyakit Lincat. Jurnal ilmu-ilmu pertanian
Indonesia.

Athman, S. Y. 2006. Review of The Role of Endophytes in Biological Control of
Plant-Parasitic Nematodes with Special Reference to The Banana
Nematode, Radopholus Similes (Cobb) Thourne. University of Pretoria.
Pp 5-28. http://www.upetd.up.ac.za/thesis/available/etd - 12072006 -
105803/unrestricted/01 chapter 1. Akses 7 Mei 2009.

Bandara, W.M.MS. Seneviratne, Gammi, dan Kulasoonya, S.A. 2006. Interactions
among Endophytic Bacteria and Fungi : Effects and Potentials. J. Biosci.
31 (5), December 2006, 645-650. Indian academy of Sciences,
http://www.ias.ac.in/jbiosci. Akses 24 April 2009.

Biro Pusat Statistik. 1998. Survei Pertanian Produksi Tanaman Sayuran dan
Buah-Buahan 1998. BPS, Jakarta.

BPOM (Badan Pengawas Obat dan Minuman). 2008. Racun Alami pada Tanaman
Pangan http://perpustakaan.pom.go.id/KoleksiLainnya/InfoPOM/0308.pdf.
Akses 19 Mei 2009.

Chandrashekhara. 2007. Endophytic Bacteria from Different Plant Origin
Enhance Growth and Induce Downy Mildew Resistance in Pearl Millet.
http://www. scialert.net/qredirect.php?doi=ajppaj.2007.1.11&linkid=pdf -
similarby-SN-Chandrashekhara–2007. Akses 25 Mei 2009

Compant, S., Duffy, B., Nowak, J., Clement,C dan Barka, E. A. 2005. Use of
Plant Growth-Promoting Bacteria for Biocontrol of Plant Diseases:
Principles, Mechanisms of Action, and Future Prospects. Applied and
Environmental Microbiology.Vol.71,No.9

Damayanti, D. 2009. Jamur Fusarium. http://sciweb.nybg.org/science2
/hcol/fusarium3.asp. Akses 03 Oktober 2009
58
Department of Plant Pathology. 2009. Late Blight of Potato and Tomato. Akses
11 September 2009.

Djatmiko, H A. 2007. Potensi Tiga Genus Baketri dari Rizosfer Tanaman Sebagai
Agensia Pengendali Hayati Penyakit Lincat. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian
Indonesia. Volume 9, No. 1. Hal: 40-47.

Firmansah, R. 2008. Effectiveness of Endophyte and Philloplen Bacteria of
Mucuna pruriens Linn Leaves in Promoting Plant Growth and Suppressing
Leaf Spot Desease (Cercospora sp.) on Peanut (Arachis hipogaea L.).
http:www.doestoc.com/does/2324531. Akses 25 Mei 2009.

Gallery Pustaka. 2009. Tanaman Kentang.
http://iptek.net.id/ind/teknologi_pangan/index.php?mnu=2&id=1. Akses
29 mei 2009.

Hallmann, J. 1999. Plant Interactions with Endophytic Bacteria.
http://www.bspp.org.uk/archives/bspp1999/session3.php. Akses 25 Mei
2009.

Harni, R, Supramana, Munif, A dan Mustika, I. 2006. Pengaruh Metode Aplikasi
Bakteri Endofit Terhadap Perkembangan Nematoda Pelukaa Akar
(Platylenchus brachyurus) pada Tanaman Nilam. Jurnal Litri 12 (4) Hal:
161-165.

Hasim. 2003. Menanam Rumput, Memanen Antibiotik. Jakarta :Kompas No.
127. Tahun ke-39

Khaelany. 1996. Islam Kependudukan dan Lingkungan Hidup. Jakarta: Rineka
Cipta.

Khalid, F M. 1999. Al-Qur’an: Ciptaan dan konservasi. Jakarta: Conservation
International Indonesia

Kahar, A. 1996. Pengarahan Direktur Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura
pada Seminar Agribisnis Kentang, Jakarta 18-19 Januari 1996.

Kompas. 1998. Berharap kentang mampu berdentang. Kompas Senin 4 Mei 1998,
Halaman D.

Kuc, J. 1995. Phytoalexins, Stress Metabolism, and Disease Resistance in Plants.
Annual Review of Phytopathology. Terjemahan Willy Bayuardi Suwarno.
http://willy.situshijau.co.id. Akses 21 Mei 2009.

Machmud M. 1986. Bacterial wilt in Indonesia. In Persley, G.J. (Ed.). Bacterial
Wilt in Asia and Southern Pacific. ACIAR Proc. 13:30-34.
59
Melliawati, R. 2006. Pengkajian Bakteri Endofit Penghasil Senyawa
Bioaktif untuk Proteksi Tanaman. Jurnal Bioteknologi. Hlm 221-224.

Minarno, E. B., dan Hariani, L. 2008. Gizi dan Kesehatan Perspektif Al-Qur’an
dan Sains. Malang: UIN Malang Press.

Mustika, Ika dan Nuryani, Y. 2006. Strategi Pengendalian Nematoda Parasit
pada Tanaman Nilam. Jurnal Litbang Pertanian, 25(1).
http://www.pustaka-deptan.go.id/publikasi/p3251062.pdf. Akses 7 Mei
2009.

Nasrun, Crhistanti, Triwidodo A., dan Ika M. 2009. Karakteristik Fisiologis
Ralstonia solanacearum Penyebab Penyakit Layu Bakteri Nilam. Jurnal
penelitian. Hlm 1-7.

Nur, H S. 2005. Pembentukan Asam Organik oleh Isolat Bakteri Asam Laktat
pada Media Ekstrak Daging Buah Durian (Durio zibethinus Murr.).
Bioscientiae, Vol. 2, No. 1. Hal: 15-24.

Nurmayulis. 2005. Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kentang (Solanum
tuberosum L.) yang Diberi Pupuk Organik Difermentasi, Azospirillum sp.,
dan Pupuk Nitrogen di Pangalengan dan Cisarua. Disertasi Tidak
Diterbitkan. Bandung: Magister Ilmu Pertanian Program Pascasarjana
Universitas Padjadjaran Bandung.

Pelczar, M J dan Chan, E S C. 1988. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Edisi 2.
Terjemahan Ratna Siri H, Teja Imas, S. Sutarmi dan Sri Lestari A.
Jakarta: UI-Press.

Prabowo, Y A. 2009. Budidaya Kentang. http://teknis-
budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-kentang.html. Akses 29 Mei
2009.

Purwantisari, S. 2004. Produksi Biofungisida Berbahanbaku Mikroba Antagonis
Indigenous untuk Pengendalian Penyakit Lodoh Tanaman Kentang Di
Sentra-sentra Penanaman Kentang di Jawa Tengah. Jurnal Bioma 10 (2):
13-19. Diakses tanggal 12 November 2009

Purwanto. 2008. Peranan Mikroorganisme Endofit sebagai Penghasil Antibiotik.
www.kabarindonesia.com. Akses 12 April 2009.

Rubatzky, V E dan Yamaguchi. 1998. Sayuran Dunia 1 Prinsip, Produksi,
dan Gizi. Edisi kedua. ITB, Bandung.

Rukmana, R. 1997. Kentang Budidaya dan Pascapanen. Yogyakarta: Kanisius.

60
Samanhudi. 2009. Skrining ketahanan klon kentang terhadap penyakit Layu
bakteri. Staf Pengajar Fakultas Pertanian UNS Surakarta. Diakses 18 April
2009.

Schulz, B J E, Boyle, C J C, Sieber, T N. 2006. Microbial Root Endophytes.
Jerman: Springer.

Simarmata, R. 2007. Isolasi Mikroba Endofitik dari Tanaman Obat
Sambung Nyawa (Gynura Procumbens) dan Analisis Potensinya sebagai
Antimikroba. Berk. Penel. Hayati (13) Hal: 1-6.

Sitohang, B. 2009. Kentang. http://www.benss.co.cc/budidaya-tanaman/102-
kentang?tmpl. Diakses 29 Mei 2009.

Strobel, S A dan Strobel, G A. 2007. Plant Endophytes as a Platform for
Discovery-Based Undergraduate Science Education. Nature
Chemical Biology Volume 3. http://www.nature.com/naturechemical
-biology. Akses 25 Mei 2009.

Suganda. 1995. Deteksi jamur Verticillium dahkiae Kelebihan Penyebab Penyakit
Layu Tanaman Di Sentra Budidaya Kentang Lembang dan Pangalengan.
Bandung. Laporan Penelitian. http://www.iptek.net. Akses 18 April 2009

Sugih Cipta Santosa. 2004. Penyakit Lodoh pada Kentang.
http://sugihsantosa.atspace.com/artikel/lodoh.html. Akses 29 Mei 2009.

Sunarjono, H. 2007. Petunjuk Praktis Budi Daya Kentang. Jakarta: Agromedia
Pustaka.

Supriadi. 2006. Analisis Risiko Agens Hayati untuk Pengendalian Patogen pada
Tanaman. Jurnal Litbang Pertanian. Akses 20 Juni 2009

Suwarno, W B. 2008. Sistem Perbenihan Kentang di Indonesia.
http://www.situshijau.co.id. Diakses Tanggal 13 April 2009.

Syarmalina. 2009. Endofit dan Pelestarian Alam. www.isfinational.or.id/endofit
dan pelestarian alam. Akses 12 april 2009.

Thurston, 2009. Ralstonia Solanacearum. Jurnal Nasional. Hal: 1–2.

Tortoa. 2001. Microbiology in Introduction. International Edition. Banjamin
Cummings, Inc

Utami, U. 2005. Isolasi Bakteri Endofit Penghasil Antimikroba Dari Tanaman
Rhizopora musronata. Malang: UIN Malang

61
Volk dan Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar 1. Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.

Wijiono. 2009. Ralstonia solanacearum. http://wijiyovan.wordpress.com. Akses 3
Oktober 2009

Wikipedia. 2009. Kentang. http://id.wikipedia.org/wiki/Kentang. Akses 29 Mei
2009.

Wikipedia, 2009. Ralstonia solanacearum. http://www.wikipedia.org/ralstonia.
Akses 20 Mei 2009.

Yunasfi. 2002. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit dan
Penyakit yang Disebabkan oleh Jamur. USU Digital Library.

Yusuf, A A. 2006. Islam dan Sains Modern: Sentuhan Islam terhadap
berbagai Disiplin Ilmu. Bandung: CV. Pustaka Setia.

62
Lampiran 1. Analisis Data

A. Data Hasil Rata-Rata Zona Hambat Bakteri dan Jamur
Data hasil penelitian untuk rata-rata zona hambat bakteri dan jamur.
Pengamatan ini dilakukan terhadap bakteri Ralstonia solanacearum, jamur
Fusarium sp. dan jamur Phytopthora infestan.

Tabel 1 Data Rata-Rata Zona Hambat Bakteri dan Jamur
Perlakuan Ulangan Total zona
hambat (mm)
Rata-Rata
(δ) Endofit Mikroba uji I II III
Be1 M1 39 14 7 60 20
M2 2 1 2 5 1,6
M3 19 18 14 51 17
Be2 M1 28 9 9 46 15,33
M2 5 1 2 8 2,67
M3 2 1 1 4 1,33
Be3

M1 4 3 8 15 5
M2 3 6 5 14 4,67
M3 1 1 1 3 1
Total 103 54 49 206

Keterangan:
Be1 = Pseudomonas pseudomeallei
Be2 = Klebsiella ozaenae.
Be3 = Bacillus mycoides

M1 = Ralstonia solanacearum
M2 = Fusarium sp.
M3 = Phytopthora infestans








63
Lampiran 2. Foto Penelitian



(a) (b)



(c) (d)

Gambar 1: Alat-alat penelitian (a) Autoklav, (b) Timbangan analtik, (c) inkubator,
(d) hot plate

64

Gambar 2: Shaker



Gambar 3: Laminar air flow


DEPARTEMEN AGAMA RI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
Jl. Gajayana 50 Malang Telp. (0341) 551354 Fax. (0341) 572533


BUKTI KONSULTASI

Nama : Shohihatud Diniyah
NIM : 05520026
Fakultas/Jurusan : Sains dan Teknologi/Biologi
Pembimbing : Dr. Ulfah Utami, M.Si
Judul : Potensi Bakteri Endofit sebagai Penghambat Pertumbuhan
Bakteri (R. solanacearum) dan Jamur (Fusarium sp. dan
P. infestan) Penyebab Penyakit Layu pada Tanaman


No. Tanggal Hal yang dikonsultasikan Tanda Tangan
1. 29 Mei 2009 Pengajuan Bab I, II, III 1.
2. 5 Juni 2009 Revisi Bab I, II, III 2.
3. 10 Juni 2009 Revisi Bab I, II, III 3.
4. 12 November 2009 Acc Bab I, II, III 4.
5. 17 November 2009 Seminar Proposal 5.
6. 26 Juni 2010 Pengajuan Bab IV dan V 6.
7. 2 juli 2010 Revisi Bab IV dan V 7.
8. 8 Juli 2009 Acc Bab IV dan V 8.


Malang, 27 Juli 2010
Mengetahui
Ketua Jurusan Biologi




Dr. Eko Budi Minarno, M. Pd
NIP. 19630114 199903 1 001







DEPARTEMEN AGAMA RI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
Jl. Gajayana 50 Malang Telp. (0341) 551354 Fax. (0341) 572533


BUKTI KONSULTASI

Nama : Shohihatud Diniyah
NIM : 05520026
Fakultas/Jurusan : Sains dan Teknologi/Biologi
Pembimbing : Dr. Ahmad Barizi, MA
Judul : Potensi Bakteri Endofit sebagai Penghambat Pertumbuhan
Bakteri (R. solanacearum) dan Jamur (Fusarium sp. dan
P. infestan) Penyebab Penyakit Layu pada Tanaman

No. Tanggal Hal yang dikonsultasikan Tanda Tangan
1. 26 Juni 2010 Pengajuan Bab I, II, III, IV dan
V
1.
2. 2 Juli 2010 Revisi Bab I, II, III, IV dan V 2.
3. 9 Juli 2010 Acc Keseluruhan 3.


Malang, 27 Juli 2010
Mengetahui
Ketua Jurusan Biologi




Dr. Eko Budi Minarno, M. Pd
NIP. 19630114 199903 1 001

POTENSI ISOLAT BAKTERI ENDOFIT SEBAGAI PENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI (Ralstonia solanacearum) DAN JAMUR (Fusarium sp. dan Phytopthora infestans) PENYEBAB PENYAKIT LAYU PADA TANAMAN

SKRIPSI

Diajukan Kepada : Fakultas Sains Dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Sains (S.Si)

Oleh: SHOHIHATUD DINIYAH NIM. 05520026

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2010

POTENSI ISOLAT BAKTERI ENDOFIT SEBAGAI PENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI (Ralstonia solanacearum) DAN JAMUR (Fusarium sp. dan Phytopthora infestans) PENYEBAB PENYAKIT LAYU PADA TANAMAN

SKRIPSI

Oleh : SHOHIHATUD DINIYAH NIM. 05520026

Telah disetujui oleh : Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Dr. Ulfah Utami, M. Si NIP. 19650509 199903 2 002

Dr. Ahmad Barizi, MA NIP. 19731212 199803 1 001

Tanggal, 9 Juli 2010 Mengetahui Ketua Jurusan Biologi

Dr. Eko Budi Minarno, M. Pd NIP. 19630114 199903 1 001

POTENSI ISOLAT BAKTERI ENDOFIT SEBAGAI PENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI (Ralstonia solanacearum) DAN JAMUR (Fusarium sp. dan Phytopthora infestans) PENYEBAB PENYAKIT LAYU PADA TANAMAN

SKRIPSI

Oleh: SHOHIHATUD DINIYAH NIM. 05520026

Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Skripsi dan Dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains (S.Si) Tanggal, 27 Juli 2010

Susunan Dewan Penguji 1. Penguji Utama 2. Ketua 3. Sekretaris 4. Anggota : Ir. Lilik Haranie AR, M.P NIP. 19620901 199803 2 001 : Suyono, MP NIP. 19710622 200312 1 002 : Dr. Ulfah Utami, M. Si NIP. 19650509 199903 2 002 : Dr. Ahmad Barizi, MA NIP. 19731212 199803 1 001

Tanda Tangan ( ( ( ( ) ) ) )

Mengetahui dan Mengesahkan Ketua Jurusan Biologi

Dr. Eko Budi Minarno, M. Pd NIP. 19630114 199903 1 001

27 Juli 2010 Yang Membuat Pernyataan Shohihatud Diniyah NIM.SURAT PERNYATAAN ORISINILITAS PENELITIAN Saya yang betanda tangan di bawah ini : Nama NIM Fakultas/Jurusan Judul Penelitian : Shohihatud Diniyah : 05520026 : Sains dan Teknologi /Biologi : Potensi Isolat Bakteri Endofit sebagai Penghambat Pertumbuhan Bakteri (Ralstonia solanacearum) dan Jamur (Fusarium sp. maka saya bersedia untuk mempertanggung jawabkan. Apabila ternyata hasil penelitian ini terbukti terdapat unsur-unsur jiplakan. Malang. serta diproses sesuai peraturan yang berlaku. dan Phytopthora infestans) Penyebab Penyakit Layu pada Tanaman Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa hasil penelitian saya ini tidak terdapat unsur-unsur penjiplakan karya penelitian atau karya ilmiah yang pernah dilakukan atau dibuat oleh orang lain. 05520026 . kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.

Apabila ternyata hasil penelitian ini terbukti terdapat unsur-unsur jiplakan. 27 Juli 2010 Yang Membuat Pernyataan Shohihatud Diniyah NIM.SURAT PERNYATAAN ORISINILITAS PENELITIAN Saya yang betanda tangan di bawah ini : Nama NIM Fakultas/Jurusan Judul Penelitian : Shohihatud Diniyah : 05520026 : Sains dan Teknologi /Biologi : Potensi Bakteri Endofit sebagai Penghambat Pertumbuhan Bakteri (R. kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dan daftar pustaka. solanacearum) dan Jamur (Fusarium sp. Malang. 05520026 . infestan) Penyebab Penyakit Layu pada Tanaman Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa hasil penelitian saya ini tidak terdapat unsur-unsur penjiplakan karya penelitian atau karya ilmiah yang pernah dilakukan atau dibuat oleh orang lain. serta diproses sesuai peraturan yang berlaku. dan P. maka saya bersedia untuk mempertanggung jawabkan.

” (QS. ÏΒ $pκŽÏù $uΖ÷Fu.MOTTO DAN PERSEMBAHAN ∩⊇∪ 5βρã—öθ¨Β &óx« Èe≅ä. Al Hijr: 19) Kupersembahkan skripsi ini kepada: Ayah dan Ibu tercinta Kakak dan adik-adik tersayang Teman-teman seperjuangan ./Ρr&uρ zÅ›≡uρu‘ $yγŠÏù $uΖøŠs)ø9r&uρ $yγ≈tΡ÷Šy‰tΒ uÚö‘F{$#uρ Artinya: “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT, atas rahmat, taufiq, serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan judul “Potensi Bakteri Endofit sebagai Penghambat Pertumbuhan Bakteri (R. solanacearum) dan Jamur (Fusarium sp. dan P. infestan) Penyebab Penyakit Layu pada Tanaman”. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang akan memberi syafaat kepada umatnya yang taat. Penulis menyadari dalam penyusunan skripsi ini tidak akan terlepas dari bimbingan, dukungan, dan bantuan dari semua pihak sehingga terselesaikannya skripsi ini. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Prof. Dr. Imam Suprayogo, selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, yang memberikan dukungan serta kewenangan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. 2. Prof. Drs. Sutiman Bambang Sumitro, S.U,DSc, selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. 3. Dr. Eko Budi Minarno, M. Pd selaku Ketua Jurusan Biologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. 4. Dr. Ulfah Utami, M.Si selaku Dosen Pembimbing yang telah sabar memberikan bimbingan, arahan dan meluangkan waktu untuk

membimbing penulis sehingga skripsi ini terselesaikan dengan baik.

i

5. Dr. Ahmad Barizi, MA selaku Dosen Pembimbing Agama yang telah sabar memberikan bimbingan, arahan dan meluangkan waktu untuk membimbing penulis sehingga skripsi ini terselesaikan dengan baik. 6. Para Dosen / Staf Pengajar di lingkungan UIN Maliki Malang. 7. Kedua orang tuaku yang selalu memberikan doa, semangat, motivasi serta nasehat-nasehat dengan penuh keikhlasan, kesabaran serta kasih sayang yang tiada tara sehingga penulis bisa mengenyam pendidikan setinggi ini. 8. Kakak dan adik-adikku yang telah memberikan doa, motivasi, kasih sayang serta semangat yang tiada hentinya sehingga terselesaikannya skripsi ini. 9. Seluruh keluargaku terima kasih atas doa, motivasi dan jasa-jasanya. 10. Teman-temanku Biologi angkatan 2005 terima kasih untuk semua persahabatan dan kekompakannya.

Sebagai ungkapan terima kasih, penulis hanya mampu berdoa semoga bantuan yang telah diberikan kepada penulis diterima disisi-Nya serta mendapat imbalan yang setimpal. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis khususnya.

Malang,

Juli 2010

Penulis

ii

DAFTAR ISI

Halaman KATA PENGANTAR ................................................................................ i DAFTAR ISI .............................................................................................. iii DAFTAR TABEL ...................................................................................... v DAFTAR GAMBAR .................................................................................. vi DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................. vii ABSTRAK................................................................................................... viii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ........................................................................... 1.2 Rumusan Masalah ....................................................................... 1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................ 1.4 Manfaat Penelitian ....................................................................... 1.5 Batasan Masalah ......................................................................... BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Macam-macam Tanaman dalam Alqur’an .................................. 2.2 Penyakit Layu Tanaman .............................................................. 2.3 Bakteri Ralstonia solanacearum .................................................. 2.3.1 Deskripsi Bakteri Ralstonia solanacearum ......................... 2.3.2 Klasifikasi Bakteri Ralstonia solanacearum ........................ 2.3.3 Mekanisme Kerusakan pada Tanaman ................................. 2.3.4 Gejala Serangan Bakteri Ralstonia solanacearum................ 2.4 Jamur Phytophthora infestans ...................................................... 2.4.1 Deskripsi Jamur Phytophthora infestans .............................. 2.4.2 Klasifikasi Phytophthora infestans ...................................... 2.4.3 Siklus penyakit .................................................................... 2.4.4 Gejala Penyakit ................................................................... 2.5 Jamur Fusarium sp. ..................................................................... 2.5.1 Deskripsi Jamur Fusarium sp. ............................................. 2.5.2 Klasifikasi Jamur Fusarium sp. . ......................................... 2.5.3 Gejala kerusakan ................................................................. 2.6 Deskripsi Bakteri Endofit............................................................. 2.6.1 Potensi Bakteri Endofit........................................................ 2.6.2 Mekanisme Kerja Bakteri Endofit Sebagai Antimikroba...... 2.7 Bahan Antimikroba..................................................................... 2.8 Mekanisme kerja bahan antimikroba ........................................... 2.9 Pengujian Aktivitas Bahan Antimikroba .....................................

1 7 7 7 8

9 10 13 13 14 15 16 16 16 17 17 19 20 20 22 22 23 23 28 31 32 34

iii

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian .................................................................. 3.2 Waktu dan Tempat ...................................................................... 3.3 Variabel Penelitian ...................................................................... 3.3.1 Variabel Bebas ................................................................... 3.3.2 Variabel Terikat ................................................................. 3.4 Alat dan Bahan ........................................................................... 3.4.1 Alat ..................................................................................... 3.4.2 Bahan ................................................................................. 3.5 Prosedur Penelitian ..................................................................... 3.5.1 Sterilisasi Alat dan Bahan.................................................... 3.5.2 Pembuatan Media ................................................................ 3.5.2.1 Pembuatan Media TSA............................................. 3.5.2.2 Pembuatan Media TSB ............................................. 3.5.2.3Pembuatan Media PDA ............................................. 3.5.2.4 Pembuatan Media NA ............................................. 3.5.3 Penyiapan dan Peremajaan Isolat Bakteri Endofit ................. 3.5.4 Produktifitas Metabolit Antibakteri dan Antijamur ............... 3.5.5 Uji Antibakteri ..................................................................... 3.5.6 Uji Antijamur ....................................................................... 3.5.7 Pengukuran Zona Hambat .................................................... 3.5.8 Tabel Pengamatan ................................................................ BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kemampuan Bakteri Endofit dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Ralstonia solanacearum .................................................. 4.2 Kemampuan Bakteri Endofit dalam Menghambat Pertumbuhan Jamur Fusarium sp. dan Phytopthora infestan ............................ BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ................................................................................. 5.2 Saran .......................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. LAMPIRAN-LAMPIRAN .........................................................................

36 36 36 36 36 36 36 37 37 37 37 37 38 38 38 39 39 38 40 40 40

41 42

56 56 57 62

iv

................. 41 4... (dalam mm) .. 47 v .................................................... 47 4...3 Rata-rata diameter zona bening/hambat bakteri endofit terhadap bakteri jamur Phytopthora infestan (dalam mm) ......................2 Rata-rata diameter zona bening/hambat bakteri endofit terhadap jamur Fusarium sp..................................1 Rata-rata diameter zona bening/hambat bakteri endofit terhadap bakteri Ralstonia solanacearum (dalam mm) ......... Judul Halaman 4....DAFTAR TABEL No...............................

. 20 2.................................. solanacearum pada medium NA ............3 Siklus Hidup Phytophthora infestan .. mycotes terhadap bakteri R........ Judul Halaman 2.. 17 2.......................5 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri K.......8 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri K.................... 51 4..................4 Serangan Phytophthora infestan pada tanaman kentang ........................... 51 vi ..................................................... 49 4......................................... 44 4..... mycoides terhadap jamur P... 50 4...............................................................7 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri B.2 Morfologi Phytophthora infestan .............. pada medium PDA ....6 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri P............. solanacearum pada medium NA .......................... Pseudomallei terhadap bakteri R...................... infestans pada medium PDA ............................9 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri P....... solanacearum pada medium NA ..... 16 2......................................................... pseudomallei terhadap jamur P.................. infestans pada medium PDA ...........................6 Siklus Fusarium sp ...... pada medium PDA ....................... 24 4........................... ozanae terhadap bakteri R. 22 2....................................5 Morfologi Fusarium oxysporum ... 50 4............1 Tanaman Kentang terinfeksi bakteri Ralstonia solanacearum................2 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri K...... Pseudomallei terhadap jamur Fusarium sp...........4 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri B.... infestans pada medium PDA ...........3 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri B......DAFTAR GAMBAR No.......... mycoides terhadap jamur Fusarium sp............................1 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri Ps...... 43 4..... 19 2........................ 49 4.............. ozanae terhadap jamur Fusarium sp........................... pada medium PDA ...... 43 4.... ozanae terhadap jamur P....................

................... Alat Penelitian .................. Judul Halaman Lampiran 1........... 63 vii .................................. 62 Lampiran 2.................................................... Analisis Data.DAFTAR LAMPIRAN No....................

dan Phytopthora investans) Penyebab Penyakit Layu Pada Tanaman. Di Indonesia penyakit layu daun yang disebabkan oleh jamur Phytopthora investans dan penyakit layu yang disebabkan oleh jamur Fusarium oxysforum merupakan penyakit yang sangat penting pada tanaman kentang dan tomat. dan Jamur Phytopthora investans. Telah diketahui pula bahwa hubungan antara mikrobia endofit dengan tanaman adalah karena kontribusi senyawa kimia yang dihasilkan oleh mikrobia yang memiliki berbagai jenis bioaktif. tembakau.Si Pembimbing II: Dr. pseudomallei. 2010. M. Infestan. pseudomallei. dan Phytopthora investans). jamur Fusarium sp.. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai April 2010. Pengendalian penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan jamur pada tanaman yang paling banyak dilakukan saat ini adalah penggunaan pestisida dan fungisida kimia. serta terbunuhnya organisme bukan sasaran. dan K. “kuat”. Ahmad Barizi. solanacearum. dan jamur Phytopthora infestans. mempunyai potensi “kuat” dan “lemah”. Bakteri Ralstonia solanacearum. jahe dan pisang. B. MA Kata Kunci: Bakteri Endofit.. yaitu bakteri Ralstonia solanacearum. Jamur Phytopthora investans. terutama pada kentang. mycoides. Pembimbing I : Dr. Hasil penelitian ini menunjukkan bahawa Isolat bakteri endofit P. ozaenae memiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan bakteri R. Ulfah Utami. cabai. Dengan potensi berturutturut “sangat kuat”. masing-masing memiliki potensi "lemah". kacang tanah. dan K. Jamur Fusarium sp. Jamur Fusarium sp. viii . ozaenae memiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan jamur Fusarium sp. Beberapa tahun terakhir ini penggalian sumber daya mikrobia yang terdapat di dalam jaringan tanaman mulai banyak mendapat perhatian.ABSTRAK Diniyah. B. pencemaran air tanah. Shohihatud. dan “sedang”. Ralstonia solanacearum masih menjadi kendala produksi berbagai tanaman pertanian Indonesia. Sedangkan jamur p. mycoides. tomat. di laboratorium Mikrobiologi Universitas islam negeri maulana Malik Ibrahim Malang. Layu Tanaman Penyakit layu pada berbagai jenis tanaman. Potensi Bakteri Endofit sebagai Penghambat Pertumbuhan Bakteri (Ralstonia solanacearum) dan Jamur (Fusarium sp.. Isolat bakteri endofit P. serta penyebab lainnya. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplorasi dan eksperimental dengan menguji isolat bakteri endofit dari akar tanaman kentang (Solanum tuberosum L) terhadap bakteri Ralstonia (Pseudomonas) solanacearum. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan bakteri endofit dalam menghambat pertumbuhan Bakteri (Ralstonia solanacearum) dan Jamur (Fusarium sp.selalu dikaitkan dengan beberapa patogen penyebab. Cara pengendalian bakteri dan jamur dengan menggunakan pestisida dan fungisida kimiaiwi dapat menimbulkan dampak negatif berupa keracunan pada manusia dan hewan peliharaan..

tembakau. kacang tanah. yaitu penyakit busuk daun yang di sebabkan jamur Phytopthora infestans (Suganda dkk. Penyakit tersebut masih menjadi kendala produksi berbagai tanaman pertanian di Indonesia. ada lagi penyebab penyakit layu yang sangat jarang diperhatikan. tembakau. cabai. nilam. 2002). dan pisang (Machmud. Dampak dari serangan mikroba tersebut sangat merugikan para petani kentang. pisang dan lain sebagainya. Selain itu. Di Indonesia penyakit busuk daun yang di sebabkan oleh jamur Phytopthora infestans dan penyakit layu yang disebabkan oleh jamur Fusarium oxysforum merupakan penyakit yang sangat penting pada tanaman kentang dan tomat (Purwanti. Selain penyakit layu yang disebabkan oleh bakteri patogen. selalu dikaitkan dengan dua patogen penyebab. 1984).BAB I PENDAHULUAN 1. terutama pada kentang. 2009). petani juga seringkali direpotkan dengan serangan penyakit yang disebabkan oleh jamur. 1986).1 Latar Belakang Penyakit layu pada berbagai jenis tanaman. tomat. jahe. Akhir-akhir ini 1 . Penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum merupakan salah satu penyakit tanaman paling berbahaya yang tersebar luas di daerah tropika dan sub tropika (Hayward. antara lain pada tanaman kentang. yaitu bakteri Ralstonia solanacearum dan jamur Fusarium oxysforum. tomat.

misalnya mengatasi serangan hama atau penyakit (Khalid. solanacearum pada pisang sudah sampai pada tingkat membahayakan industri pisang di tanah air karena penyakit layu ini sulit dikendalikan (Machmud dkk. manusia cenderung mengeksploitasi kemampuan tanah tanpa memperhatian keberlanjutan suatu sistem usahatani. pencemaran air tanah. Cara pengendalian bakteri dan jamur dengan menggunakan bakterisida dan fungisida kimiawi dapat menimbulkan dampak negatif berupa keracunan pada manusia dan hewan peliharaan. juga memiliki dampak yang besar bagi pertanian karena selain menyerang tanaman kentang di lahan pertanian. serta terbunuhnya organisme bukan sasaran (Mustika dan Nuryani. . Pengendalian penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan jamur pada tanaman yang paling banyak dilakukan saat ini adalah menggunakan bakterisida dan fungisida kimia. Penyakit busuk daun dan umbi (lodoh) tanaman kentang yang disebabkan oleh serangan jamur patogen ganas Phytophthora infestans merupakan penyakit yang paling penting di antara penyakit dan hama yang menyerang tanaman kentang di Indonesia. 2006). Serangan penyakit layu yang disebabkan oleh Fusarium sp. menunjukkan fakta bahwa manusia telah melalaikan tanggung jawabnya sebagai khalifah dengan cara menghancurkan alam ciptaan Allah. Penyakit ini dapat menurunkan produksi kentang hingga 90% dari total produksi kentang dalam waktu yang amat singkat.2 penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh bakteri R. Segala yang terjadi sekarang. jamur ini juga menyerang umbi yang ada di gudang peyimpanan sehingga menurunkan hasil produksi (Yunasfi. 1999). 2009). 2002).

Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik (Qs.Nâθ≈x s? ÏΒ Ç≈uΗ÷q§9$# È. Artinya. Maka lihatlah berulang-ulang. Al-Mulk (67):3.3 Penggalian manfaat dari alam.S. 1996). AlA’raf/7: 56). 2006). adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang ?(Qs.N≡uθ≈yϑy™ yìö7y™ t. menggunakan kata yang diartikan seimbang. harus juga diikuti upaya pelestarian itu sendiri. firman Allah SWT dalam Alqur'an surat Al-Mulk ayat 3. ÆìÅ_ö‘$$sù ( . Pada Alqur'an surat Al-A’raf ayat 56 Allah telah memperigatkan bahwa: «!$# |MuΗ÷qu‘ ¨βÎ) 4 $—èyϑsÛuρ $]ùöθyz çνθãã÷Š$#uρ $yγÅs≈n=ô¹Î) y‰÷èt/ ÇÚö‘F{$# †Îû (#ρ߉šø è? Ÿωuρ ∩∈∉∪ tÏΖÅ¡ósßϑø9$# š∅ÏiΒ Ò=ƒÌs% Artinya: Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Salah satu ciri yang menonjol dalam konsep Islam adalah adanya prinsip keseimbangan dan keharmonisan hidup. karena sifat fitrah itu sendiri adalah seimbang dan harmoni (Yusuf.ù=yz †Îû 3“ts? $¨Β ( $]%$t7ÏÛ .n=y{ “Ï%©!$# ∩⊂∪ 9‘θäÜèù ÏΒ 3“ts? ö≅yδ uŽ|Çt7ø9$# Artinya: Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Al-Mulk /67:3). Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. hendaklah dijaga keseimbangan ekologi dan dihindari pencemaran serta diupayakan agar kekayaan itu digunakan sehemat mungkin (Khaelany. Fitrah pada Q. . Keseimbangan dan keharmonisan dalam Islam sesuai dengan bentuk dan jenis penciptaan alam raya yang menggambarkan keseimbangan sebagaimana yang diungkapkan Al-qur’an denga n istilah fitrah.

2006). Mikrobia tersebut mulai dipelajari untuk berbagai tujuan. hal ini menyebabkan terjadinya kontak antara hama dan endofit semakin dekat sehingga endofit dapat digunakan sebagai agen pengendalian secara biologi (Athman. Beberapa tahun terakhir ini penggalian sumber daya mikrobia yang terdapat di dalam jaringan tanaman mulai banyak mendapat perhatian. Pemanfaatan bakteri endofit sebagai antibakteri dan antijamur pada tanaman merupakan pengendalian yang tidak menimbulkan efek negatif terhadap kehidupan manusia dan lingkungan. Compant dkk. Telah diketahui pula bahwa hubungan antara mikrobia endofitik dengan tanaman adalah karena kontribusi senyawa kimia yang dihasilkan oleh mikrobia yang memiliki berbagai jenis bioaktif (Melliawati. Salah satu rahmat yang diturunkan oleh Allah SWT adalah bakteri endofit untuk membantu menjaga keseimbangan di alam. Ketahanan tanaman terhadap penyakit didefinisikan sebagai suatu karakter yang memungkinkan tanaman terhindar. (2005) dalam Firmansah (2008). 2006). Hal ini dikarenakan endofit menempati relung ekologi yang sama dengan hama.4 Kata-kata “ba’da ishlahiha” pada ayat di atas dengan jelas menunjukkan adanya hukum keseimbangan (equilibrium) dalam tatanan lingkungan hidup yang harus diusahakan agar tetap terpelihara kelestariannya (Khalid. 2006). melaporkan bahwa bakteri endofit telah diketahui mempunyai kemampuan dalam meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit. mempunyai daya tahan atau daya sembuh dari serangan penyakit dalam kondisi yang akan menyebabkan kerusakan lebih besar .

1999). mereka mampu mensintesis senyawa alami yang diproduksi oleh tanaman sebagai alat pertahanan (Strobel dan Strobel. 2007). dan menghambat pertumbuhan patogen dengan menghasilkan senyawa antimikroba seperti siderophores. keuntungan dengan adanya endofit pada tanaman inang adalah meningkatnya toleransi . tanpa menyebabkan kerugian bagi tanaman inang. Siderofor adalah senyawa organik selain antibiotik yang dapat berperan dalam pengendalian hayati penyakit tumbuhan (Fravel 1988 dalam Hasanudin. 2008). (2003). Bacillus dan Azospirillum. Hubungan antara tanaman dan bakteri endofit merupakan interaksi secara tertutup. Menurut Saikkonen dkk. Pada beberapa kasus. 2000 dalam Firmansyah. dilaporkan mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman. hubungan ini berjalan dengan tanaman menyediakan nutrien bagi bakteri endofit dan bakteri endofit meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan tanaman (Hallmann. dan Bacillus spp. Chandrashekhara dkk (2007). (1998) dalam Arnold dkk. Bakteri endofit didefinisikan sebagai bakteri yang hidup dalam jaringan tanaman. Banyak endofit mampu menghasilkan senyawa bioaktif untuk menghambat pertumbuhan organisme lain. mempunyai kemampuan yang baik dalam menekan pertumbuhan jamur Ralstonia solanacearum secara in vitro”. Manfaat bakteri endofit juga dijelaskan oleh Arwiyanto (1997) dalam Djatmiko (2007) yang menyimpulkan bahwa bakteri endofit kelompok “Pseudomonas spp. 2003).5 pada tanaman oleh patogen (Hammerschmidt dan Dann. menguraikan dinding sel patogen. menyatakan bahwa bakteri endofit dari beberapa genera seperti Pseudomonas.

2. meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan. . menekan serangan hama dan meningkatkan resistensi sistemik terhadap patogen. Apakah bakteri endofit dapat menghambat pertumbuhan bakteri Ralstonia solanacearum? 2. dan Phytopthora infestans. infestan) Penyebab Penyakit Layu pada Tanaman”. Untuk mengetahui kemampuan bakteri endofit dalam menghambat pertumbuhan jamur Fusarium sp. dan Phytopthora infestans? 1. maka dilakukan penelitian dengan Judul “Potensi Bakteri Endofit sebagai Penghambat Pertumbuhan Bakteri (R. Apakah bakteri endofit dapat menghambat pertumbuhan jamur Fusarium sp. 1. Peningkatan ketahanan menggunakan bakteri endofit pada tanaman terhadap serangan patogen dapat menjadi alternatif pengendalian patogen. solanacearum) dan Jamur (Fusarium sp.6 terhadap logam berat. Untuk mengetahui kemampuan bakteri endofit dalam menghambat pertumbuhan bakteri Ralstonia solanacearum. dan P.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui potensi bakteri endofit dalam memproteksi tanaman dari serangan penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan jamur.3 Tujuan Tujuan dalam penelitian ini adalah: 1.

Pseudomonas pseudomallei dan Klebsiella ozaenae. karena itu perlu diberikan batasanbatasan masalah yang meliputi: 1. 2.7 1.5 Batasan Masalah Penelitian ini diharapkan dapat mengena pada sasaran dan tidak menyimpang dari permasalahan yang dibahas. bakteriologi dan mikologi pada khususnya. 3.4 Manfaat Manfaat dari penelitian ini adalah: 1. Isolat bakteri endofit yang digunakan terdiri dari: Bacillus mycoides. Dapat dijadikan sumber informasi bagi penelitian selanjutnya untuk mengembangkan bakteri endofit sebagai agen pengendali patogen tanaman. 2. Isolat bakteri endofit yang digunakan diperoleh dari koleksi laboratorium mikrobiologi UIN Maliki Malang. Zona penghambatan adalah diameter daerah dimana tidak ada pertumbuhan koloni di sekitar kertas cakram yang ditandai dengan adanya zona bening/hambat. dapat memberikan sumbangan berupa data tentang pengaruh bakteri endofit terhadap pertumbuhan mikroba patogen. 1. . Dengan penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan sekaligus bermanfaat bagi pengembangan mikrobiologi pada umumya. Bagi pengembangan ilmu biologi.

Ayat di atas menjelaskan beberapa jenis tanaman yang ada di bumi. bentuk. Dalam hal ini yang dimaksud tanaman yang tidak berjunjung adalah tanaman yang memiliki 8 . pohon korma. warna dan rasanya. Tanaman tersebut memiliki beberapa kelompok berdasarkan ukuran.M≈x©ρâ÷÷êtΒ uŽöxîuρ . (Qs. Al-An'am/6: 141). dan janganlah kamu berlebih-lebihan. diantaranya adalah ditumbuhkannya berbagai macam tanaman yang memiliki banyak keragaman baik dalam segi bentuk pohon. zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya).1 Macam-macam Tanaman dalam Alqur’an Allah Swt. menciptakan bumi beserta isinya untuk kemaslahatan manusia. Dalam ayat tersebut terdapat lafadh "ma'rusyatin wa ghoiro ma'rusyatin" yang bermakna "berjunjung dan tidak berjunjung".BAB II KAJIAN PUSTAKA 2. dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin). Sebagaimana yang tercantum dalam Alqur'an surat Al-An'am ayat 141 yang berbunyi: …ã&é#à2é& $¸ Î=tFøƒèΧ tíö‘¨“9$#uρ Ÿ≅÷‚¨Ζ9$#uρ .M≈x©ρá÷è¨Β . bentuk buah. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. tanam-tanaman yang bermacammacam buahnya.M≈¨Ψy_ r't±Σr& ü“Ï%©!$# uθèδuρ (#θè?#uuρ tyϑøOr& !#sŒÎ) ÿÍν̍yϑrO ÏΒ (#θè=à2 4 7µÎ7≈t±tFãΒ uŽöxîuρ $\κÈ:≈t±tFãΒ šχ$¨Β”9$#uρ šχθçG÷ƒ¨“9$#uρ ∩⊇⊆⊇∪ šÏùΎô£ßϑø9$# =Ïtä† Ÿω …çµ‾ΡÎ) 4 (#þθèùΎô£è@ Ÿωuρ ( ÍνÏŠ$|Áym uΘöθtƒ …絤)ym Artinya: Dan dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung. makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah. rasa dan manfaatnya.

‘Abasa/80: 27-32). seperti tumbuh-tumbuhan sebagai bahan makanan. Keanekaragaman jenis tumbuhan juga diikuti dengan keanekaragaman manfaatnya bagi kehidupan manusia. 2. 2005). adalah tanaman kentang yang memiliki kandungan protein cukup tinggi dibandingkan biji serealia dan umbi lainnya. dan buahbuahan serta rumput-rumputan. bahan bangunan. Salah satu jenis tanaman sayur-sayuran ciptaan Allah Swt. tomat. Ditambahkan dalam Alqur’an surat ‘Abasa ayat 27-32: ∩⊂⊃∪ $Y6ù=ñ t.2 Penyakit Layu Tanaman Menurut Sitohang (2008). tetapi merupakan salah satu jenis tanaman sayur-sayuran (Qodlban) sebagaimana disebutkan pada ayat tersebut. bahan obat dan potensi lainnya yang masih perlu dicari.←!#y‰tnuρ ∩⊄∪ WξøƒwΥuρ $ZΡθçG÷ƒy—uρ ∩⊄∇∪ $Y7ôÒs%uρ $Y6uΖÏãuρ ∩⊄∠∪ ${7ym $pκŽÏù $uΖ÷Kt7/Ρr'sù ä Í ∩⊂⊄∪ ö/ä3Ïϑ≈yè÷ΡL{uρ /ä3©9 $Yè≈tG¨Β ∩⊂⊇∪ $|/r&uρ ZπyγÅ3≈sùuρ ö Artinya: Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu. cabai dan lain sebagainya. kurma. Kandungan asam aminonya juga seimbang sehingga sangat baik bagi kesehatan manusia (Nurmayulis. kebun-kebun (yang) lebat. (Qs. Secara tersurat tanaman kentang tidak dijelaskan dalam Alqur’an. contohnya adalah tanaman kentang. penyakit yang umumnya menyerang tanaman terutama kentang adalah: a) Penyakit Bercak Kering (Early Blight) . anggur dan sayur-sayuran.9 ukuran yang tidak terlalu tinggi atau yang disebut dengan tanaman herba /semak. buah-buahan. sayur-sayuran. berbagai macam tumbuhan yang disebutkan antara lain anggur. tanaman perkebunan dan rumput-rumputan. untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu. zaitun. zaitun dan kurma.

Pengendalian dilakukan dengan sanitasi kebun.10 Penyakit ini disebabkan oleh jamur Alternaria solani. daun bagian bawah menguning. meluas ke daun muda. Permukaan kulit umbi berbercak gelap tidak beraturan. Jamur ini hidup disisa tanaman sakit dan berkembang di daerah kering. sanitasi kebun dan penggunaan bibit yang baik. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sanitasi kebun. Pengendalian dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman . b) Penyakit Layu Bakteri Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum. warna coklat tua. lalu layu dan kering. pergiliran tanaman. Gejala yang ditimbulkan yaitu beberapa daun muda pada pucuk tanaman layu dan daun tua. Gejalanya daun menguning dan menggulung. Infeksi akan menyebabkan akar dan umbi muda busuk. kering. Pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dengan pergiliran tanaman. Gejalanya timbul bercak-bercak kecil berwarna hijau kelabu dan agak basah hingga warnanya berubah menjadi coklat sampai hitam dengan bagian tepi berwarna putih yang merupakan sporangium dan daun membusuk/mati. Gejala yang timbul adalah daun berbercak kecil tersebar tidak teratur. berkerut dan keras. d) Penyakit Busuk Daun Penyakit ini disebabkan oleh jamur Phytopthora infestans. e) Penyakit Fusarium . Bagian tanaman yang berada dalam tanah terdapat bercak-bercak berwarna coklat. c) Penyakit Busuk Umbi Penyakit ini disebabkan oleh jamur Colleotrichum coccodes.

daun menguning dan jaringan mati. Infeksi masuk melalui luka-luka yang disebabkan nematoda/faktor mekanis. f) Penyakit karena Virus Virus yang menyerang adalah: Potato Leaf Roll Virus (PLRV) menyebabkan daun menggulung. 2008). Penyebaran virus dilakukan oleh peralatan pertanian. 2.11 Penyakit ini disebabkan oleh jamur Fusarium sp. Pencegahan dan pengendalian terhadap serangan virus dilakukan dengan menanam bibit bebas virus. Pengendalian dilakukan dengan menghindari terjadinya luka pada saat penyiangan dan pendangiran. memangkas dan membakar tanaman sakit. Penyakit ini juga menyerang kentang di gudang penyimpanan. kutu daun Aphis spiraecola. Potato Virus A (PVA) menyebabkan mosaik lunak. kumbang Epilachna dan Coccinella dan nematoda. A. Potato Virus M (PVM) menyebabkan mosaik menggulung. Gejala yang timbul adalah busuk umbi yang menyebabkan tanaman layu. Potato Virus X (PVX) menyebabkan mosaik laten pada daun. membersihkan peralatan. lurus dan pucat dengan umbi kecil-kecil atau tidak menghasilkan sama sekali. Potato Virus S (PVS) menyebabkan mosaik lemas. Penggunaan pestisida tidak dapat digunakan untuk mengendalikan serangan virus. mengendalikan vektor dengan Pestona atau BVR dan melakukan pergiliran tanaman (Sitohang. Potato Virus Y (PVY) menyebabkan mosaik atau nekrosis lokal. Akibat serangan tanaman tumbuh kerdil. gossypii dan Myzus persicae.3 Bakteri Ralstonia solanacearum .

Umumnya isolat yang virulen memiliki flagella sedangkan isolat non virulen flagelnya panjang (Goto. gram negatif. Ras 2 menyerang pisang dan Heliconia. 2009). bakteri dalam media cair akan membentuk suspensi yang keruh sedangkan pada media padat akan membentuk koloni yang bervariasi bergantung pada jenisnya (Habazar dan Rivai.5 – 1.trifenil-tetra sodium klorida (Medium TTK). seperti tomat. 1996 dalam Anaf. tembakau. masuk dalam ruang antar sel dalam kulit dan empulur. 3. dehidrolase negatif.1 Deskripsi dan Klasifikasi Bakteri Ralstonia solanacearum Ralstonia solanacearum adalah bakteri aerobik.3.5 – 2. Bakteri mempunyai generasi waktu yang sangat pendek pada keadaan optimal < 20 menit. bergerak dengan satu flagel yang terletak diujung sel. Selama pertumbuhan. dan kacang tanah. 2000).0 x 1. bakteri ini mempunyai banyak ras dan dapat diisolasi dengan baik pada medium yang mengandung 2. arginin. 5. Bakteri ini diketahui mempunyai banyak ras yang berbeda virulensinya. Ras 3 khususnya menyerang tanaman kentang (Semangun. dan sitosin dalam DNA 66-69%. mampu mereduksi nitrat. Menurut Rukmana (1997) dalam Wijiono (2009).5) µm. Beberapa strain dapat menghasilkan gas dan nitrat (Hayward. Mengandung poly B-hidroksibutirat. 2009). jumlah guanin.12 2. Bakteri terangkut dalam pembuluh kayu dan pada batang yang lunak. 2009). dapat menghasilkan asam sukrosa. Ras 1 menyerang terung-terungan dan tanaman lain. 1983 dalam Anaf. Infeksi terutama melalui luka pada bagian tanaman. berukuran (0. menguraikan sel-sel . Bakteri ini mampu menghidrolisa gelatin dan twin 80. berbentuk batang. 1992 dalam Wijiono.

13 sehingga terjadi rongga-rongga.3. Virulensi penyakit tanaman berhubungan dengan sifat-sifat bakteri yang menetukan kecepatan pertumbuhan dan penyebarannya pada inang dan meningkatkan kerusakan pada jaringan tanaman. Sumatera dan Sulawesi khususnya di Sulawesi Utara. Penyakit ini banyak dijumpai di Jawa. Di dataran rendah penyakit timbul lebih berat karena suhu udara relatif tinggi.F. Faktor virulensi yang . Suhu yang relatif tinggi mendukung perkembangan penyakit. Smith dalam Buchman dan Gibbions (1974). Klasifikasi bakteri Ralstonia solanacearum penyakit layu pada kentang menurut E. Intensitas penyakit sangat dipengaruhi oleh tanaman terinfeksi pada musim sebelumnya. Yabuuch dkk (1995) dalam Wijiono (2009) adalah : Kingdom Divisio Kelas Ordo Famili Genus Spesies Sinonim : Prokariotik : Gracilicutes : Schizomycetes : Eubacteriales : Pseudomonadaceae : Ralstonia : Ralstonia solanacearum : Pseudomonas solanacearum 2. Bakteri berkembang baik di tanah alkalis yang suhunya agak tinggi di saat banyak hujan.2 Mekanisme Kerusakan pada Tanaman Virulensi merupakan kapasitas relatif patogen untuk merusak tanaman inang.

viskositas cairan dalam jaringan pembuluh meningkat. terjadi penyumbatan terhadap transport air. Pada bakteri Ralstonia solanacearum.3. 2009). Beberapa mekanisme kerusakan Ekstraseluler Polisakarida sebagai penyebab layu antara lain: penyebaran patogen dalam xylem.14 disekresikan dapat berupa toksin termasuk Ekstraseluler Polisakarida. nekrosis dan layu (Habazar dan Rivai. pembentukan senyawa ekstraseluler polisakarida hanya pada isolat yang virulen dan pemberian dengan senyawa metabolit dari patogen pada tanaman. 2009). dan akhirnya tanaman mati (Gambar 2. 2009). 2000 dalam Anaf. busuk lunak. Kemudian menjalar ke daun bagian bawah. dan hormon tumbuh yang menginduksi seperti jenis gejala seperti menguning. utamanya dalam menghambat translokasi unsur hara dan air. 2. . hiperplasia.3 Gejala Serangan Bakteri Ralstonia solanacearum Gejala awal adalah tanaman mulai layu. 2000 dalam Anaf. Ekstraseluler Polisakarida sangat berperan dalam patogenis.1). dapat menetralisir senyawa-senyawa yang dikeluarkan oleh tanaman (Wydra dan Rudolph. Aspek-aspek penyebab layu adalah: pengaliran terbatas dan transportasi air ke daun menjadi terhambat. 1993 dalam Wijiono. bagian yang paling kritis adalah tangkai dan tulang daun. enzim. daun menguning sampai coklat kehitam-hitaman. Gejala yang lebih lanjut : seluruh tanaman layu. terjadinya kerusakan pada membran luar dan membran dalam sel dan keluarnya elektrolit dari dalam sel (Habazar dan Rivai. juga menjadi pelindung bakteri dari keadaan yang ekstrim.

berinti banyak 7-32 terlihat pada (Gambar 2.1 (a) Tanaman Kentang terinfeksi bakteri Ralstonia solanacearum (Thurston. Jamur P.4. konidium dapat juga disebut sebagai sporangium atau zoosporangium seperti pada (Gambar 2.2). atau secara tidak langsung dengan membantuk spora kembara. infestans diketahui mempunyai banyak . mempunyai banyak houstorium. Konidium berbentuk buah peer.4 Jamur Phytophthora infestans 2. 2009).15 Serangan pada umbi menimbulkan gejala dari luar tampak bercak-bercak kehitamhitaman. terdapat lelehan putih keruh (massa bakteri) yang keluar dari mata tunas atau ujung stolon (Rukmana. Konidium berkecambah secara tidak langsung dengan membentuk hifa (benang) baru. 22-32 x 16-24 µm.1 Deskripsi dan Klasifikasi Jamur Phytophthora infestans Phytophthora infestans memiliki bentuk miselium interseluler tidak bersekat. a Gambar 2. Cendawan ini dapat membentuk oospora meskipun agak jarang. mempunyai bengkakan yang khas. dengan percabangan simpodial. Konidiofor keluar dari mulut kulit. 2. berkumpul 1-5. 1997).2).

Menurut Hawksworth et al (1995).2 Siklus Penyakit Patogen dapat tersebar sampai ke batang dengan sangat cepat dalam jaringan korteks yang menyebabkan kerusakan sel di dalamnya.4.2 Morfologi Phytophthora infestan (a) konidium. 2009). tetapi jarang terdapat dalam jaringan . miselium tumbuh diantara isi sel batang. 2. Selanjutnya. (b) hifa (Istiarini. 1991). a b Gambar 2.16 ras fisiologi (Semangun. klasifikasi cendawan Phytophthora infestans adalah Kingdom Divisio Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Stramenopiles : Eumycota : Oomycetes : Peronosporales : Pythiaceae : Phytophthora : Phytophthora infestans.

sel-sel dimana miselium berada dapat mati dan menjadi busuk. Miselium tumbuh menembus batang sampai ke permukaan tanah. Selama musin hujan.3. sporangiospor timbul dari stomata dan memproduksi banyak sporangia yang dapat menginfeksi tanaman baru (Agrios. . 1991). 1996). Siklus penyakit P. Sporangiospor akan terlepas dan menyebabkan infeksi baru. sporangia terbawa sampai ke tanah. Beberapa hari setelah infeksi baru. Ketika mesilium mencapai udara disekitar bagian tanaman miselium memproduksi sporangiospor yang dapat menembus stomata dan menetap serta menyebar melalui daun. Umbi dekat permukaan tanah dapat terserang zoospore yang bertunas dan berpenetrasi pada umbi menembus lenti sel atau melalui luka alami atau luka akibat serangga dan alat pertanian (Cholil dan Abadi. infestans dapat dilihat pada Gambar 2.17 vaskuler. miselium menyebar luas sampai ke bagian yang sehat.

2002). Jamur ini berkembang baik pada musim hujan dengan kelembaban sekitar 20o C. Jika suhu tidak terlalu rendah dan kelembaban cukup tinggi. meskipun kadang-kadang sudah terlihat pada tanaman yang berumur 3 minggu (Semangun.3 Gejala Penyakit Gejala awal penyakit ini berupa bercak pada bagian tepi dan ujung daun. Serangan berat terjadi pada bulan Oktober-Februari (Anonymous. bercak-bercak tersebut akan meluas dengan cepat dan menyebabkan kematian seluruh daun. Bahkan jika cuaca demikian berlangsung lama. 2.18 Gambar 2.6). a . tangkai dan umbi.4. Dalam cuaca yang kering jumlah bercak terbatas. 1996). kemudian bercak melebar dan terbentuk daerah nekrotik yang berwarna coklat (Gambar 2. segera mengering dan tidak meluas. Serangan dapat menyebar ke batang. 2001). seluruh bagian tanaman di atas akan mati. Bercak dikelilingi oleh massa sporangium yang berwarna putih dengan belakang hijau kelabu. Umumnya gejala baru tampak bila tanaman berumur lebih dari satu bulan.3 Siklus Hidup Phytophthora infestan (Agrios.

tetapi dapat pula membentuk lapisan atau benang-benang besar yang panjangnya bermeter-meter (Semangun. 2001). 2.4 Jamur Fusarium sp. sedikit di bawah permukaan tanah. jika keadaan baik bagi pertumbuhannya pada umbi terjadi bercak yang agak mengendap. tebalnya 0. yang masuk sampai 3-6 mm ke dalam umbi. bersekat (septa) atau tidak. Bagian yang busuk kering tadi dapat terbatas sebagai bercak-bercak kecil. disebut hifa. Kumpulan benang-benang hifa disebut miselium. tetapi sering tampak jelas setelah umbi disimpan (Semangun. 1996).4 (a) Serangan Phytophthora infestan pada tanaman kentang (Anonymous. 2000).5. berwarna coklat atau hitam ungu. Bagian vegetatif jamur pada umumnya berupa benang-benang halus memanjang.19 Gambar 2. Jamur ini menyerang . tetapi dapat juga meliputi suatu bagian yang luas pada satu umbi.1 Deskripsi dan Klasifikasi Jamur Fusarium sp. Hifa bercabang-cabang atau tidak. Phytophthora infestans dapat juga menyerang umbi. Gejala ini dapat tampak pada waktu umbi digali. Bagian yang terserang ini tidak menjadi lunak. Demikian pula pada seluruh miselium mungkin hanya mempunyai beberpa µm. 2.5-100 µm. Daerah–daerah yang terserang oleh cendawan ini adalah pada pangkal batang dan akar.

dan klamidospora. yaitu di dalam kulit dan di jaringan parenkim di dekat terjadinya infeksi. dan pada waktu dorman dapat menginfeksi tanaman. Toksin-toksin tersebut akan mengubah permeabilitas membrane plasma dari sel tanaman inang sehingga mengakibatkan tanaman yang terinfeksi lebih cepat kehilangan air daripada tanaman yang sehat (Sastrahidayat. permukaannya kasar berserabut dan bergelombang. Fusarium oxysporum adalah fungi aseksual yang menghasilkan tiga spora yaitu mikronidia.5 ). Konidiofor bercabang-cabang dan makro konidium berbentuk sabit.5) (Damayanti. makronidia. Klamidospora adalah spora dengan sel selain diatas. juga membentuk miselium yang terdapat di antara sel-sel. asam dehydrofusaric dan lycomarasmin. sering kali berpasangan. Di alam. Miselium terutama terdapat di dalam sel khususnya di dalam pembuluh. 2009). jamur ini membentuk konidium. Morfologi dari Fusarium oxysporum yaitu memiliki struktur yang terdiri dari mikronidia dan makronidia. bertangkai kecil. Jamur ini menghasilkan tiga macam toksin yang menyerang pembuluh xylem yaitu : asam fusaric. Mikronidia adalah spora dengan satu atau dua sel yang dihasilkan Fusarium pada semua kondisi dan dapat menginfeksi tanaman (Gambar 2.5). sporanya dapat tumbuh di air (Gambar 2. Permukaan koloninya berwarna ungu. 1990).20 pertanaman dan penyebarannya sangat luas hampir di seluruh dunia. . tepinya bergerigi. Makronidia adalah fungi dengan tiga sampai lima sel biasanya ditemukan pada permukaan (Gambar 2.

21 Gambar 2. Menurut Agrios (1996). tangkai daun tersebut bila disentuh akan mudah . 2009). diikuti dengan merunduknya tangkai daun.5 Morfologi Fusarium oxysporum (Damayanti.3 Gejala Kerusakan Gejala permulaan dari serangan penyakit ini adalah terjadinya pemucatan daun dan tulang daun. Daun layu dan lambat laun berwarna kuning. bahwa klasifikasi dari cendawan ini adalah sebagai berikut: Kindom Divisi SubDivisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Fungi : Eumycota : Deuteromycotina : Hypomycetes : Moniliales : Tuberculariaceae : Fusarium : Fusarium oxysporum 2.5.

6. Kapasitas penyebaran dari Fusarium oxysporum merupakan kemampuan mendistribusi dari dalam lingkungan inang. seperti terlihat pada Gambar 2. Keefektifan serangan dari cendawan ini ditentukan oleh banyaknya spora yang diproduksi. karena spora merupakan sumber inokulum yang paling penting dari cendawan. 2009) . kemudian menjalar ke dalam tanaman. 1990). Hal ini disebabkan karena permeabilitas membran terganggu sehingga pergerakan air terhambat yang mengakibatkan kematian tanaman. Gambar 2.6 Siklus Fusarium sp. 2004). Kelayuan terjadi mulai dari daun terbawah dan terus ke daun bagian atas. Dalam menginfeksi tanaman berawal dari benih yang yang ditumbuhi jamur tersebut. selanjutnya tanaman menjadi layu dan berwarna coklat kehitamhitaman. tetapi ada kalanya tidak mampu menyebar. Daur hidup jamur Fusarium spp. kelayuan tanaman mungkin hanya terjadi sebagian saja atau dapat juga secara keseluruhan (Sastrahidayat. Patogen dapat memiliki virulensi dan daya tahan yang tinggi. tergantung agen biotik (Steinhaus 1963 dalam Agustina.22 lepas dan jatuh dari batang utama. (Anonymous.

Allah SWT berfirman dalam Q. ϵÎ/ “ωôγtƒuρ #ZŽÏVŸ2 ϵÎ/ ‘≅ÅÒム¢ WξsVtΒ #x‹≈yγÎ/ ª!$# Ï ‘ u ∩⊄∉∪ tÉ)Å¡≈x ø9$# . šÏ%!$# $¨Βr'sù 4 $yγs%öθsù $yϑsù ZπÊθãèt/ $¨Β WξsVtΒ z>ΎôØo„ βr& ÿÄ÷∏tGó¡tƒ Ÿω ©!$# ¨βÎ) * © | Š#u‘r& !#sŒ$tΒ χθä9θà)u‹sù (#ρãx Ÿ2 tÏ%©!$# $¨Βr&uρ ( öΝÎγÎn/§‘ ÏΒ ‘. Islam juga menganjurkan untuk mengkaji sumberdaya hewan seperti mikroba atau hewan dengan ukuran yang sangat kecil. 2. 2002).6 Deskripsi Bakteri Endofit 2. Asam fusarat atau asam 5nbutilpiridin-2-karboksilat merupakan racun yang larut dalam air yang sekaligus juga merupakan antibiotik.S Al-Baqarah 26. Salah satu contohnya adalah asam fusarat yang dihasilkan oleh Fusarium spp.23 Parasit-parasit tanaman terutama jamur.6. Adanya hambatan pergerakan air dalam tubuh tanaman menyebabkan terjadinya layu patologis yang tidak bisa balik yang berakibat kematian tanaman seperti kasus-kasus penyakit layu pada kapas dan tomat yang disebabkan oleh Fusarium spp (Yunasfi.1 Potensi Bakteri Endofit Selain mengkaji sumberdaya tumbuhan. Toksin ini mengganggu permeabilitas membran dan akhirnya mempengaruhi kebutuhan air tanaman. menghasilkan bermacam-macam senyawa kinia yang dapat menghasilkan gejala penyakit-penyakit tanaman meskipun tidak ada organisme penyebab penyakit.ys9$# çµ‾Ρr& tβθßϑn=÷èuŠù (#θãΨtΒ#u y š ø s āωÎ) ÿµÎ/ ≅ÅÒム$tΒρ 4 #ZŽÏWx.

Bekteri endofit adalah mikroorganisme yang sebagian atau seluruh dari siklus hidupnya tinggal dalam jaringan tanaman tanpa menyebabkan gejala penyakit bagi tanaman inang. mikroba endofit umumnya dapat menghasilkan senyawa sejenis yang terkandung pada tanaman inang dengan bantuan aktivitas suatu enzim. tetapi juga ada yang menguntungkan yaitu salah satunya mikroba endofit yang hidup pada jaringan tanaman dan dapat menghasilkan zat antibiotik yang sangat berguna sebagai obat. Tanaman mendapatkan manfaat dengan kahadiran bakteri endofit ini seperti memacu pertumbuhan tanaman. adapun orang-orang yang beriman. Mereka berada pada jaringan yang sehat seperti berbagai macam jaringan. Mikroba ada yang merugikan. Beberapa senyawa endofit yang bersimbiose dengan tanaman inangnya juga ada yang mampu menghasilkan senyawa antibiotik. dan meningkatkan resistensi tanaman pada dari berbagai macam patogen . Menurut Purwanto (2009)." dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka. tetapi sekali lagi segala sesuatu yang diciptakan Allah SWT di bumi ini tidak sia-sia.24 Artinya: Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. akar. Mikroba walaupun berukuran sangat kecil (matsalamma ba’udlotan fama fauqoha) dan umumnya sangat dibenci orang karena merugikan manusia. tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan Ini untuk perumpamaan?. Al-Baqarah/2 26). Senyawa antibiotik ini aktif terhadap mikroba-mikroba patogen manusia dan patogen tanaman. biji. batang dan daun. dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik (Qs.

yaitu . 2006). tetapi hanya beberapa jenis saja yang dominan pada satu inang. melalui akar lateral dan akar yang berkecambah (Kaga. ada juga Mikroba endofit yang mampu menjadi sumber senyawa bioaktif yang memiliki potensi sebagai antimikroba (Syarmalina. Bakteri endofit awalnya berasal dari lingkungan eksternal dan masuk ke dalam tanaman melalui stomata. Berdasarkan sifat kerjanya. luka (seperti adanya trichoma yang rusak). Endofit juga memproduksi metabolit sekunder yang sangat penting bagi tumbuhan (Bandara dkk. atau menghambat sintesis/merusak asam nukleat sel mikroba. lentisel. Petrini dalam artikelnya yang berjudul Ecology.25 dengan memproduksi antibiotik. Mikroorganisme endofit memiliki hubungan mutualistik dengan tanaman inang. Metabolite Production and Substrate Utilization in Endophytic Fungi menyatakan bahwa dalam satu jaringan tanaman kemungkinan ditemukan beberapa jenis mikroba endofit. Senyawa anti mikroba yang dihasilkan tersebut mampu menghambat pertumbuhan mikroba atau membunuh mikroba yang merugikan. menghambat sintesis dinding sel mikroba. menghambat sintesis protein sel mikroba. Tanaman obat tradisional besar kemungkinan memiliki mikroba endofit berpotensi yang terkandung dan hidup secara simbiotik di dalamnya. 2009). Bergantung dari potensi tanaman yang diteliti. Jumlah taksa isolate yang diperoleh dari suatu bagian tanaman inang sangat banyak. 2006). antimikroba melawan mikroba patogen dengan cara mengganggu metabolisme sel mikroba. mengganggu permeabilitas membrane sel mikroba. 2009). Luka pada tumbuhan yang diakibatkan oleh faktor biotik seperti nematoda juga menjadi faktor utama untuk masuknya bakteri endofit ke dalam tanaman (Athman.

26 mikroorganisme tersebut memperoleh kebutuhan hidupnya pada tanaman inang yang di tempatinya dan berperan dalam melindungi tanaman inang terhadap hama serangga. mikroba patogen atau hewan pemangsanya sehingga dapat dimanfaatkan sebagai agen biokontrol. 2009). patogen. 2002. sangat sedikit yang mengetahui tentang pengaruh dari antibiotik sebagai kontrol patogen pada jaringan akar (Schulz. Walaupun sebagian besar dari bakteri endofit menunjukkan perlawanannya terhadap patogen secara in vitro (Krechul dkk. 2009). Bagaimanapun. Antibiotik menggambarkan kemampuan dari bakteri endofit untuk menghambat pertumbuhan patogen dengan memproduksi antibiotik atau toksin. Metabolit sekunder yang dihasilkan oleh mikroorganisme endofit merupakan suatu zat aktif atau antibiotik atau produk toksin yang mampu melindungi tanaman dari serangan insekta. 1999 dalam Schulz. Proses terinfeksinya tanaman dengan jamur endofit dapat dilihat dengan mekanisme masuknya jamur tersebut ke dalam biji. Produksi enzim oleh mikroorganisme endofit dapat mendegradasi atau memecah peptin dan polygalacturonic yang berperan untuk degradasi pada lapisan tengah dinding sel selama penetrasi dan kolonisasi pada jaringan inang oleh simbion-simbion (Purwanto. 2009). 2006). dan hewan pemangsanya (Purwanto. hanya mikroba antagonis yang mampu memanfaatkan bermacam-macam hasil dari mekanisme untuk mendominasi interaksi dengan . Sturz dkk. sehingga siklus hidup jamur endofit dapat dianggap mengikuti siklus hidup pembentukan biji baik secara langsung maupun tidak langsung (Purwanto. 2006).

oleh Carrol (1988) dalam Worang (2003). Mutualisme konstitutif merupakan asosiasi yang erat antara endofit dengan tumbuhan terutama rumput-rumputan. 2006). Jenis ini hanya menginfeksi bagian vegetatif inang. 2001 dalam Radji. yang penyebarannya terjadi secara bebas melalui air dan udara. Menurut pandangan evolusi. sclerenchyma) dan korteks akar. 1999). Mutualisme induktif adalah asosiasi antara endofit dengan tumbuhan inang. Pada kelompok ini endofit menginfeksi ovula (benih) inang dan penyebarannya melalui benih serta organ penyerbukan inang. 1997 dalam Schulz. Kolonisasi bakteri endofit pada lapisan luar sel (exodermis. terjadi secara inter dan intraseluler dalam waktu 2-3 minggu. 2002 dalam Schulz. Patogen mempunyai bermacam-macam respon untuk melawan antagonis (Duffy dan Defago. 2006). Setiap tanaman tingkat tinggi dapat mengandung beberapa mikroba endofit yang mampu menghasilkan senyawa biologi atau metabolit sekunder yang diduga sebagai akibat koevolusi atau transfer genetik (genetic recombination) dari tanaman inangnya ke dalam mikroba endofit (Tan RX dkk. kitinase dan glukanase (Krechel dkk. menyebabkan bagian aerenchyma (korteks) menjadi berair dan ini merupakan tempat terbesar bagi terbentunya . Bakteri endofit diisolasi dari akar kentang yang menghasilkan enzim hidrolisis seperti selulase.27 patogen. digolongkan dalam dua kelompok. Asosiasi endofit dengan tumbuhan inangnya. yaitu mutualisme konstitutif dan induktif. 2005). bakteri endofit mula-mula berasal dari patogen tanaman yang virulensinya hilang dan berada dalam tanaman selama periode pertumbuhan tanaman tersebut atau merupakan patogen yang tidak mampu mengekspresikan gen spesifik penyebab penyakit (Hallmann.

Bahan metabolit yang dapat menghambat atau membunuh mikroorganisme disebut antibiotika dan cara kerjanya disebut antibiosis. dimetil karbonat dan metil askorbat. dan juga terdapat pada parenchyma dan dalam jaringan xylem (Prakamhang. tetapi hanya beberapa yang tidak toksit dipakai dalam pengobatan dan kebanyakan diperoleh dari genus Bacillus pinicillium dan Stepomyces. Sebagain besar kolonisasi secara interseluler menyebabkan pengambilan nutrient. 2007). terutama karbon oleh bakteri. Beberapa senyawa yang mempunyai aktivitas antimikroba adalah sodium benzoat.6. senyawa antimikroba didefinisikan sebagai senyawa biologis atau kimia yang dapat menghambat pertumbuhan dan aktivitas mikroba. Antibiotika tersebar dialam bebas. antimikroba semisintetik dan mikroba alamiah. Sebagai contoh antiboitika alami adalah pinisilin. berdasarkan cara memperoleh obat antimikroba ada tiga jenis golongan antimikroba yaitu antimikroba sintetik.28 mikrokoloni. 2001). Volk dan Wheeler (1993). senyawa kolagen. nitrit. Kadangkala bakteri endofit mampu melakukan penetrasi ke dalam akar sampai pada Stele. Menurut Volk dan Wheeler (1984).2 Mekanisme Kerja Bakteri Endofit Sebagai Antimikroba Antimikroba alamiah merupakan suatu produk atau bahan metabolit yang dihasilkan oleh satu jenis mikroorganisme yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme lainnya. asam-asam organik. sulfur dioksida. Antimikroba sintetik secara kimia . tetrasiklin dan aritromisin (Tortoa dkk. 2. senyawa fenol. asam lemak rantai médium dan esternya.

antijamur dan antinematoda. siklis lipopeptides dan sianida hydrogen. seperti yang dihasilkan oleh Pseudomonas sp. dan zat antibiotic lainnya adalah agrocin . Sebagai contoh siderophore (chelator). phenazine derivative. bakteri endofit dapat mengolonisasi apoplas pada ruang antar sel (interselular). bahkan ke bagian antar sel (intraselular). sehingga dapat secara sistemik menyebar keseluruh jaringan tanaman. untuk bersaing memanfaatkan unsur-unsur mineral spesifik sehingga dapat menghambat phytopatogen untuk memenuhi unsur-unsur kebutuhannya pada mineralmineral yang terbatas. jaringan pembuluh. pyoluteorin. Sturz (2006). pada mulanya diketahui bahwa bakteri mampu memproduksi metobolit antibakteri. dihasilkan oleh bakteri dalam jumlah yang sangat banyak. terutama jaringan korteks.. Beberapa antibiotik telah diidentifikasi. Bakteri endofit juga dapat menghasilkan zat antimikroba seperti antibiotik atau HCN yang berperan penting dalam mekanisme melawan patogen tanaman (Reiter dkk. Obat antimikroba tersebut bisa disebut dengan istilah kemoteraputika misalnya obat golongan sulfonamid dan golongan kuinolon. Adapun lima mekanisme penghambatan patogen oleh bakteri yang sering disebutkan adalah: 1) Kompetisi sumber daya (unsur hara). 2002). Menurut Van Vuurde dan Recuenco (2005) dalam Firmansah (2008). menyatakan bahwa bakteri endofit ditemukan mampu melawan invasi pitopatogen. zat yang berfungsi sebagai antibiotik tersebut diantaranya adalah phloroglucinols. 2) Menghasilkan antibiosis.29 dibuat dilaboratorium. pyrrolnitrin.

Sebagai contoh enzim kitinase yang diproduksi oleh Serratia plymuthica dilaporkan mampu menghambat pertumbuhan spora dan elongasi jaringan (germ-tube) pada Botrytis cinerea. Hal ini berarti bahwa baberapa bakteri yang bersifat resisten pada beberapa jenis penyakit meminimalkan “ketertarikan alami” pada sistem akar inang dengan meningkatkan kepadatan populasi untuk menghindari kehadiran patogen tanaman.1. laminarinase and protease. Siderophore dihasilkan oleh berbagai mikroorganisme sehingga dapat menjamin bahwa mikroorganisme bersangkutan dapat memperoleh cukup Fe dari lingkungan tumbuhnya. Iturin A.30 84 (Agrobacterium sp.). yang dapat terikat erat dengan besi (Fe). Sedangkan enzim ß. Siderophore merupakan suatu zat yang memiliki berat molekul rendah. dan zwittermicin A (Bacsil sp. siderophores dan phloroglucinols telah banyak diketahui. peroxidase atau enzim yang terlibat dalam sintesis phytoalexins. Dapat menyebabkan lisis pada dinding sel jamur Fusarium oxysporum dan enzim lain yang diproduksi oleh bakteri tersebut meliputi hydrolase. 4) Sistem resistensi pada tanaman: bakteri mempengaruhi gen ketahanan dengan melalui produksi jasmonate yang disandikan. 3) Aktivitas enzim lytic: Beberapa jenis bakteri yang berfungsi sebagai agen pengendali terbukti benar.) dan xanthobacin (Stenotrophomonas sp. Sampai sekarang bukti keterlibatan liposakarida. Herbicolin A (Erwinia sp.). dan biasanya mengakibatkan degradasi dinding sel patogen atau mengakbatkan gangguan pada bagian-bagian tertentu.). and Streptomyces sp.3-glucanase yang disintesis dari Paenibacillus sp. Beberapa strain RPTT . 5) Kamuflase akar. surfactin.

Siderofor diproduksi secara ekstrasel. Kemampuan siderofor mengikat besi (III) merupakan pesaing terhadap mikroorganisme lain. membasmi. 2006). c. atau menyingkirkan mikroorganisme. 2003:5). Dijelaskan lebih lanjut oleh Pelczar dan Chan (1988) tujuan utama pengendalian mikroorganisme adalah: a. Pemakaian bahan antimikroba merupakan suatu usaha untuk mengendalikan bakteri maupun jamur. Mencegah pembusukan dan perusakan oleh mikroorganisme 2. banyak bukti-bukti yang menyatakan bahwa siderofor berperan aktif dalam menekan pertumbuhan mikroorganisme patogen (Hasanudin. Mencegah penyebaran penyakit dan infeksi b. 2. Membasmi mikroorganisme pada inang yang terinfeksi. yaitu segala kegiatan yang dapat menghambat.31 seperti Pseudomonas fluorescens B10 mampu menghasilkan yellow-green florescent siderophores (disebut pseudobactin) yang dapat menghambat perkembangan jamur patogen Erwinia caratovora penyebab busuk pada kentang (Husen.8 Mekanisme kerja bahan antimikroba .7 Bahan Antimikroba Menurut Pelczar dan Chan (1988) bahan antimikroba/antifungi adalah suatu bahan yang dapat mengganggu pertumbuhan dan metabolisme mikroorganisme. senyawa dengan berat molekul rendah dengan affinitas yang sangat kuat terhadap besi (III).

bahan antimikroba yang ampuh akan menghambat pembentukan ikatan glikosida sehingga pembentukan dinding sel baru tergangu. 1988). Merusak dinding sel Pada umumnya bekteri memiliki suatu lapisan luar yang kaku disebut dinding sel. Merubah permeabilitas sel . 2. Dinding sel ini berfungsi untu mempertahankan bentuk dan menahan sel. 3. Pada konsentrasi rendah.32 Menurut Pelezar dan Chan (1988) cara kerja zat antimikroba dalam melakukan efeknya terhadap mikroorganisme adalah sebagai berikut : 1. dinding sel bakteri tersusun atas lapisan peptidoglikan yang merupakan polimer komplek yang terdiri atas rangkaian asam N-asetil glukosaminm dan asam N-asetilmuramat yang tersusun secara bergantian. Merubah protein dan asam nukleat Kelangsungan hidup sel sangat tergantung pada molekul-molekul protein dan asam nukleat. Struktur dinding sel dapat dirusak dengan cara menghambat pembentukannya atau dengan mengubahnya setalah selesai dibentuk. Bahan antimikroba yang dapat mendenaturasi protein dan asam nukleat dapat merusak sel tanpa dapat diperbaiki lebih lanjut. Hal ini berati bahwa gangguan apapun yang terjadi pada pembentukan atau fungsi zat-zat tersebut dapat mengakibatkan kerusakan total pada sel (Pelezar dan Chan. Keberadaan lapisan peptidoglikan ini menyebabkan dinding sel bersifat kaku dan kuat sehingga mampu menahan tekanan osmotik dalam sel yang kaku. Selanjutnya dijelaskan bahwa pada konsentrasi tinggai bahan antimikroba akan memyebabkan ikatan glikosida menjadi terganggu dan pembentukan dinding sel terhenti.

RNA. Apabila fungsi membran sel terganggu oleh adanya bahan antimikroba. Dengan demikian kerja enzim yang terhambat akan menyebabkan proses metabolisme terganggu. RNA. umumnya efektif sebagai bahan antimikroba pada konsentrasi relatif rendah. membran ini tersusun atas fosfolipid dan protein. golongan tembaga. Apabila keberadaan DNA. RNA dan protein . hal ini dapat menyebabkan sel bakteri hancur dan akan mati. Membran sitoplasma berfungsi mengatur keluar masuknya bahanbahan tertentu dalam sel. perak.33 Sitoplasma dibatasi oleh selaput yang disebut membran sel yang mempunyai permeabilitas selektif. sehinga aktifitas sel bakteri akan terganggu. beberapa bahan antimikroba dalam bentuk antibiotik dapat menghambat sintesis protein. 4. maka permeabilitas sel bakteri akan mengalami perubahan. Menghambat sintesis DNA. Proses pengangkutan zat-zat yang lebih diperlukan baik kedalam maupun keluar sel kemungkinan karena didalam membran sitoplasma terdapat enzim protein untuk mensintesis peptidoglikan komponen membran luar. dan protein DNA. Menghambat kerja enzim Di dalam sel terdapat enzim protein yang membantu kelangsungan prosesproses metabolisme. banyak zat kimia telah diketahui dapat mengganggu reaksi biokimia misalnya logam berat. air raksa dan senyawa logam berat lain. sehingga akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sel atau kematian sel . dan protein memegang peranan penting dalam proses kehidupan normal sel. 5.

pengujian aktivitas bahan antimikroba secara in vitro dapat dilakukan melalui dua cara yaitu: 1. Biakan dari semua tabung yang jernih ditumbuhkan pada medium agar padat. Prinsip dari metode dilusi adalah menggunakan satu seri tabung reaksi yang diisi medium cair dan sejumlah tertentu sel mikroba yang diuji. kemudian seri tabung diinkubasi pada suhu 37 o C selama 18-24 jam dan diamati terjadinya kekeruhan konsentrasi terendah bahan antimikroba pada tabung yang ditunjukkan dengan hasil biakan yang mulai tampak jernih (tidak ada pertumbuhan jamur adalah merupakan konsentrasi hambat minimum). 2. Selanjutnya masing-masing tabung diisi dengan bahan antimikroba yang telah diencerkan secara serial. Metode Dilusi Cara ini digunakan untuk menentukan KHM (kadar hambat minimum) dan KBM (kadar bunuh minimum) dari bahan antimikroba. Konsentrasi terendah obat pada biakan pada medium padat yang ditunjukan dengan tidak adanya pertumbuhan jamur adalah merupakan konsentrasi bunuh minimum bahan antimikroba terhadap jamur uji. 2. (2001) dalam Utami (2005). dan diamati ada tidaknya koloni jamur yang tumbuh. diinkubasi selama 24 jam. Metode Difusi Cakram (Uji Kirby-Bauer) Prinsip dari metode difusi cakram adalah menempatkan kertas cakram yang sudah mengandung bahan antimikoba tertentu pada medium lempeng padat .9 Pengujian Aktivitas Bahan Antimikroba Menurut Tortora dkk.34 mengalami gangguan atau hambatan pada pembentukan atau fungsi zat tersebut dapat mengakibatkan kerusakan sel sehingga proses kehidupan sel terganggu.

sedangkan jamur yang resisten terlihat tetap tumbuh pada tepi kertas cakram.35 yang telah dicampur dengan jamur yang akan diuji. . Daerah jernih yang tampak di sekeliling kertas cakram menunjukkan tidak adanya pertumbuhan mikroba. Medium ini kemudian diinkubasi pada suhu 37o C selama 18-24 jam. selanjutnya diamati adanya area (zona) jernih disekitar kertas cakram. Jamur yang sensitif terhadap bahan antimikroba akan ditandai dengan adanya daerah hambatan disekitar cakram.

2 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai April 2010.3 Variabel Penelitian 3. dan jamur Phytopthora infestans. hot plate. pinset. 3. beaker glass. kertas label. inkubator.. 3.3. kertas saring. Autoklaf. 3.1 Variabel Bebas Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah spesies bakteri endofit dengan beberapa spesias bakteri endofit yang ditumbuhkan pada medium TSA (Triptic Soy Agar).2 Variabel Terikat Variabel terikat dalam penelitian ini merupakan variabel yang dapat diukur yaitu daya hambat bakteri endofit terhadap bakteri Ralstonia yang solanacearum.1 Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: cawan petri. benang woll. dan jamur Phytopthora infestans diletakkan pada cawan petri.1 Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplorasi dan eksperimental dengan menguji isolat bakteri endofit dari akar tanaman kentang (Solanum tuberosum L) terhadap bakteri Ralstonia (Pseudomonas) solanacearum. pengaduk kaca. jamur Fusarium sp. jarum ose. bunsen. 36 .4. 3.4 Alat dan Bahan 3. laminar flow cabinet.3. jamur Fusarium sp.BAB III METODE PENELITIAN 3. di Laboratorium Mikrobiologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.. oven.

mikro pipet. 2) Media agar ditambahkan 15 g.5. plastik tahan panas. 3) Aquades diukur sebanyak 1000 ml. 5) Campuran dipanaskan sampai mendidih selama ± 40 menit. gelas ukur. 3. korek api.2. erlenmeyer. kain kasa.5.4. timbangan analtik dan plastik wrap. TSA (Triptic Soy Agar).5 Prosedur Penelitian 3. shaker. dan jamur Phytopthora infestans. 3. jamur Fusarium sp. tabung reaksi. PDA. sentrifugasi. 7) Menutup erlenmeyer dengan kapas dan alumunium foil.2 Pembuatan Media 3.1 Sterilisasi Alat dan Bahan Sterilisasi alat dan bahan dengan cara membungkus alat-alat dengan alumunium foil dan plastik tahan panas. jangka sorong. NA. apirtus dan alkohol 70%. Aquades.1 Pembuatan Media TSA Pembuatan media TSA (Triptic Soy Agar) dilakukan sebagai berikut: 1) TSB (Triptic Soy Broth) ditimbang sebanyak 30 g. .37 kapas.5. kemudian memasukkannya ke dalam autoklaf pada suhu 121° C dengan tekanan 15 psi (per square inchi) selama 15 menit.2 Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah biakan bakteri Ralstonia solanacearum.. biakan bakteri endofit yang diisolasi dari akar tanaman kentang varietas Granola Kembang yang sehat. 6) Dimasukkan ke dalam erlenmeyer masing-masing 250 ml. 4) TSB dan agar dicampur dengan 1000 ml aquades. Kemudian media ditunggu sampai hangat-hangat kuku. 3. TSB. alumunium voil.

6) Menutup erlenmeyer dengan kapas dan alumunium foil. 3. 5) Dimasukkan ke dalam tabung erlenmeyer 100 ml masing-masing 18 ml. 4) Campuran dipanaskan sampai mendidih selama ± 40 menit. .5. Kemudian media ditunggu sampai hangat-hangat kuku. Kemudian media ditunggu sampai hangat-hangat kuku.2 Pembuatan Media TSB Pembuatan media TSB (Triptic Soy broth) dilakukan sebagai berikut: 1) TSB (Triptic Soy Broth) ditimbang sebanyak 30 g. 3) TSB dicampur dengan 500 ml aquades.4 Pembuatan Media NA Pembuatan media PDA (Potato Destrosa Agar) dilakukan sebagai berikut: 1) NA (Nutrient Agar) ditimbang sebanyak 19 g. Kemudian media ditunggu sampai hangat-hangat kuku.5. 6) Menutup erlenmeyer dengan kapas dan alumunium foil. 3) NA dicampur dengan 500 ml aquades. 2) Aquades diukur sebanyak 500 ml.2.3 Pembuatan Media PDA Pembuatan media PDA (Potato Destrosa Agar) dilakukan sebagai berikut: 1) PDA (Potato Destrosa Agar) ditimbang sebanyak 19.5. 4) Campuran dipanaskan sampai mendidih selama ± 40 menit. 2) Aquades diukur sebanyak 500 ml. 5) Dimasukkan ke dalam tabung reaksi masing-masing 10 ml dan erlenmeyer.38 3. 3) PDA dicampur dengan 500 ml aquades.2. 5) Dimasukkan ke dalam tabung reaksi masing-masing 10 ml dan erlenmeyer. 2) Aquades diukur sebanyak 500 ml. 6) Menutup erlenmeyer dengan kapas dan alumunium foil.5 g.2. 3. 4) Campuran dipanaskan sampai mendidih selama ± 40 menit.

Kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37°C. kertas cakram yang sudah disterilkan direndam di dalam supernatan kultur bakteri endofit selama 30 menit. 3.5. Menginkubasi selama 24-48 jam pada suhu kamar. Kemudian disentrifugasi selama 20 menit dengan kecepatan 2000 rpm. 3. 3. Bakteri endofit diremajakan pada media TSA masing-masing pada medium lempeng agar dan medium TSA miring. Sampel yang mempunyai potensi menghasilkan zat antibakteri ditunjukkan dengan adanya zona jernih.4 Produktivitas Metabolit Anti Bakteri dan Anti Jamur Produksi metabolit anti bakteri oleh bakteri endofit dilakukan dengan cara menumbuhkannya di dalam medium TSB.5 Uji Antibakteri Medium yang digunakan untuk uji aktivitas anti bakteri yaitu medium NA.5. Secara aseptic. Kemudian isolat murni bakteri endofit yang telah diperoleh diperbanyak. Koloni bakteri di ambil 1µL kemudian di encerkan dengan 18 ml medium TSB. kemudian diinkubasi dengan shaker selama 24 jm dengan kecepatan 130 rpm pada suhu 30°C. Kertas cakram diambil dengan menggunakan pinset steril dan diletakkan di atas medium uji aktifitas antibakteri (media plat NA) yaitu media yang telah terinokulasi bakteri patogen.39 3. dilakukan pengamatan terhadap zona jernih yang terbentuk dan diukur diameternya. Kertas cakram dibuat dari kertas saring Whatman dengan cara melubanginya dengan alat pembolong kertas sehingga didapatkan kertas cakram dengan diameter 6 mm. . 2. Setelah masa inkubasi selesai.5. Uji aktifitas antibakteri metabolit bakteri endofit terhadap bakteri Ralstonia solanacearum dilakukan dengan metode difusi agar (Kirby – Bauer) menggunakan kertas cakram.3 Penyiapan dan Peremajaan Isolat Bakteri Endofit Penyiapan dan peremajaan bakteri endofit dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1.

Secara aseptic kertas cakram yang sudah disterilkan direndam di dalam supernaton kultur bakteri endofit selama 30 menit.40 3. infestans Total .7 Pengukuran Zona Hambat Data diperoleh dengan cara mengukur diameter zona hambat yang terbentuk. solanacearum Fusarium sp. Uji aktivitas antifungi metabolit bakteri endofit terhadap jamur Fusarium sp. kemudian diinkubasi selama 3x24 jam pada suhu 37°C. infestans R. dilakukan pengukuran diameter zona jernih yang terbentuk. pseudomeallei Mikroba Uji 1 Ulangan 2 3 Total Ratarata R.5.6 Uji Antijamur Medium yang digunakan untuk uji aktivitas antifungi yaitu media PDA. solanacearum K. solanacearum B. Kertas cakram diambil dengan menggunakan pinset steril dan diletakkan diatas medium uji aktivitas antifungi (medium PDA).8 Tabel Pengamatan Bakteri Endofit P. P. Diameter zona hambat adalah diameter yang tidak ditumbuhi oleh jamur di sekitar kertas cakaram dikurangi diameter kertas cakram. 3. mengukur diameter zona hambat dengan menggunakan jangka sorong.5. 3. dan Phytopthora infestans dilakukan dengan metode uji Kirby-bauer menggunakan kertas saring whatman dan membuat bulat dengan alat lubang kertas sehingga didapatkan kertas cakram dengan diameter 6 mm. mycoides Fusarium sp.5. Setelah masa inkubasi selesai. P. infestans R. ozaenae Fusarium sp. pengumpulan data dilaksanakan sebagai berikut. P. Sampel yang mempunyai potensi menghasilkan zat antifungi ditunjukkan dengan terbentuknya zona jernih atau zona hambat.

ozaenae B. tampak bahwa 3 isolat bakteri endofit mampu menghambat pertumbuhan bakteri Ralstonia solanacearum.1 Kemampuan Bakteri Endofit dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Ralstonia solanacearum Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh diameter zona hambat/bening (dalam mm) melalui pengukuran dengan penggaris. dan “sedang” ditandai dengan terbentuknya zona hambat. “kuat”. 41 . solanacearum (mm) 20 15.mycoides Rata-rata Perbandingan Zona Hambat R.1 Rata-rata diameter zona bening/hambat bakteri endofit terhadap bakteri Ralstonia solanacearum (dalam mm) Species P.1 di atas. Pengamatan dilakukan setelah bakteri Ralstonia solanacearum diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37 0C.33 5 Keterangan Sangat kuat Kuat Sedang Berdasarkan Tabel 4. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri endofit dari akar kentang mampu menghasilkan metabolit sekunder sebagai antibakteri. adapun rata-rata deameter zona hambat dari uji aktivitas antibakteri dan anti jamur metabolit bakteri endofit dari akar kentang terhadap bakteri Ralstonia solanacearum dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 4. pseudomallei K. Dari hasil pengujian menunjukkan bahwa 3 isolat bakteri dari akar tanaman kentang terhadap bakteri Ralstonia solanacerum mempunyai potensi antibiotik “sangat kuat”. Terbentuknya zona hambat tersebut menandakan bahwa bakteri endofit tersebut kemungkinan mengandung antibiotik.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.

daerah hambatan 5-10 mm mempunyai potensi antibiotik “sedang” dan daerah hambatan 5 mm atau kurang mempunyai potensi antibiotik “lemah”. memiliki potensi antibiotik “sangat kuat”. daerah hambatan 10 mm-20 mm mempunyai potensi antibiotik “kuat”. mycoides (Gambar 4. memiliki potensi antibiotik “kuat”. Antibiotik merupakan suatu substansi yang dihasilkan oleh organisme hidup yang dalam konsentrasi rendah dapat menghambat atau membunuh organisme lainnya (Hasim.2) membentuk zona hambatan rata-rata 15.3)membentuk zona hambatan 5 mm. sedangkan B. Isolat Ps. ozanae (Gambar 4.1 pada uji metabolit bakteri endofit terhadap bakteri R.42 Antibiotik digolongkan sebagai metabolit sekunder yang dihasilkan oleh bakteri endofit dalam jalur metabolisme dan oleh enzim yang tidak diperlukan untuk pertumbuhan dan pemeliharaan sel tumbuhan.33 mm. K. pseudomallei pada Tabel 4. fluorescens yang berasal dari rizosfer nilam menunjukkan sebagian besar isolat tersebut dapat menghambat pertumbuhan koloni R. . memiliki potensi antibiotik “sedang”. 2004). Dari hasil penelitian terlihat bahwa bakteri Ps. ozaenae menghasilan rata-rata diameter zona hambatan terendah yaitu 5 mm. 2003).1) membentuk zona hambatan rata-rata 20 mm. Hasil pengujian beberapa isolat P. Menurut Hasim (2003). solanacearum secara bakteriostatik dan bakterisidal dengan zona penghambatan 1−40 mm (Nasrun dkk. kekuatan antibiotik dapat ditentukan sebagai berikut: daerah hambatan 20 mm atau lebih mempunyai potensi antibiotik “sangat kuat”. pseudomallei (Gambar 4. sedangkan isolat K. solanacearum menghasilkan rata-rata deameter zona hambatan tertinggi yaitu 20 mm.

Pseudomallei terhadap bakteri R. ozanae terhadap bakteri R.2 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri K. solanacearum dapat dilihat pada gambar di bawah ini: Gambar 4.1 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri Ps. solanacearum pada medium NA .43 Adapun zona hambatan yang ditimbulkan metabolit bakteri endofit terhadap bakteri R. solanacearum pada medium NA Gambar 4.

menyatakan bahwa Pseudomonas fluoresen yang diperoleh dari mimosa infisa mampu menghambat pertumbuhan R. kemampuan antagonis dalam menekan patogen in vitro karena pada kondisi laboratorium antagonis hanya berhadapan dengan patogen dan ada pada lingkungan yang kaya nutrisi sehingga mampu memunculkan kemampuannya dalam menghambat patogen. lesitinase. dan membentuk spora. gramisidin. Menurut Djatmiko (1997). basilin. Cenderung memiliki kemampuan yang sama sebagai pengendali R. mycotes terhadap bakteri R. dapat hidup dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen). basilomisin B. bersifat Gram positif. . Isolat Bacilus spp. solanacearum. Menurut Sastrosuwignyo (1988) dalam Chrisnawati dkk (2009). dapat menghasilkan antibiotic polipeptida-subtilin.3 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri B. Supriyadi (2006). bahwa Bacillus spp. oksidifisidin. serta menghasilkan beberapa jenis senyawa antimikroba seperti basitrasin. dan subtilisin. solanacearum pada medium NA Arwiyanto (1997). subtilis diketahui secara luas sebagai bakteri saprofit.44 Gambar 4. Menyatakan bahwa B. difisidin. Mekanisme penghambatan sebagian besar adalah bakterisidal dan hanya beberapa yang bersifat bakteriostatik. solanacearum. tidak menyebabkan penyakit pada tanaman.

cereus strain 65 diisolasi dari benih Sinapis arvensis yang permukaannya disterilisasi terlebih dahulu. Begitu pula dengan strain Pseudomonad fluoresen juga dapat menghasilkan antibiotic seperti Pseudomonas fluorescens CHAO dapat menghasilkan antibiotik pyoluteorin (Plt) dan 2-4diacetyl phyloroglucinol (Phl) yang dapat menghambat Erwinia carotovora dan Gaeunannomyces graminis. hasil isolasi memperlihatkan bahwa bakteri ini mengeluarkan enzim kitinase 36 kDa. 2004). solani. Adanya respon tanaman terhadap sintesis auksin secara mikrobiologi dipengaruhi oleh konsentrasi yang dilepaskan ke rizosfer. Hasil penelitian Sachdev dkk (2009).. menunjukakan bahwa bakteri Klebsiella pneumoniae yang diinkubasi selama 72 jam mampu menghasilkan mampu menghasilkan hormon IAA sebesar 22. hasil obserasi menunjukkan bahwa bakteri ini mampu memproteksi benih tanaman kapas dari penyakit akar yang disebabkan oleh R.7 mg/l. menganalisis pentingnya enzim lisis antagonis dari Bacillus cereus strain 65 ke arah jamur pathogen Rhizoctonia solani. Sebagai tambahan. Bakteri yang mendukung pertumbuhan tanaman secara tidak langsung memproduksi senyawa antagonis berupa siderophores atau menginduksi sistem pertahanan tanaman terhadap patogen. B. fitoaktin dan bulbiformin. . Pleban dkk (1997). enzim pengurai kitin Bacillus subtilis juga dapat mengurangi penyakit Verticillium dahlia pada beberapa tanaman (Tjamos dkk. adanya hormon auksin (IAA) dapat mempengaruhi ketahanan tanaman terhadap serangan penyakit. polimiksin. Menurut Kremer (2006).45 bacitracin.

Menurut Tortora (2001).Ï%s! Artinya: Apakah kamu tidak memperhatikan. Maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi Kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya. aktivitas antibiotik yang senesitif menghambat pertumbuhan bakteri baik golongan bakteri Gram positif maupun Gram negatif. kemampuan ketiga bakteri endofit tersebut dalam menekan pertumbuhan bakteri Ralstonia solanacerum karena ketiga bakteri tersebut mempunyai sprektum yang luas.46 Menurut Cook and Baker (1996) dalam Djatmiko (2002). dikatakan mempunyai spektrum yang luas. Sebaliknya suatu antibiotik yang hanya efektif terhadap golongan bakteri Gram tertentu dikatakan antibiotik spektrum sempit. dalam surat AzZumar ayat 21 yang berbunyi: ϵÎ/ ßl̍øƒä† ¢ΟèO ÇÚö‘F{$# †Îû yì‹Î6≈oΨtƒ …çµs3n=|¡sù [!$tΒ Ï!$yϑ¡¡9$# zÏΒ tΑt“Ρr& ©!$# ¨βr& ts? öΝs9r& šÏ9≡sŒ ’Îû ¨βÎ) 4 $¸ϑ≈sÜãm …ã&é#yèøgs† ¢ΟèO #vx óÁãΒ çµ1uŽtIsù ßkŠÎγtƒ §ΝèO …çµçΡ≡uθø9r& $¸ Î=tGøƒ’Χ %Yæö‘y— ∩⊄⊇∪ É=≈t7ø9F{$# ’Í<'ρT{ 3“tø. Munculnya penyakit pada tanaman mengingatkan pada Firman Allah Swt. bahwa Sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit. Seperti golongan pinisilin yang aktif pada bakteri Gram positif. Kemudian dijadikan-Nya hancur . Muncul penyakit pada tanaman termasuk penyakit yang disebabkan oleh bakteri merupakan salah satu peringatan kepada umat manusia untuk selalu memperhatikan keseimbangan dan kelestarian makhluk hidup. lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan. golongan streptomycin aktif menghambat pada golongan bakteri Gram negatif sedangkan tetracyclin mempunyai spektrum luas pada dua daerah bakteri Gram positif dan Gram negatif.

47 berderai-derai. Kemudian hasil penelitian diperoleh diameter zona hambat/bening (dalam mm) melalui pengukuran dengan jangka sorong. (Qs.2 Kemampuan Bakteri Endofit dalam Menghambat Pertumbuhan Jamur Fusarium sp. juga berkuasa untuk merusaknya. kerusakan tersebut di tandai dengan munculnya hama. Allah Swt. 4. dan Phytopthora infestan Pengamatan dilakukan setelah jamur Fusarium sp. Salah satu penyakit yang menyerang tanaman yaitu penyakit layu yang disebabkan oleh bakteri R. Ayat tersebut menjelaskan bahwa selain menciptakan tumbuh-tumbuhan di muka bumi. AzZumar/39:21). Allah Swt. solanacearum. adapun rata-rata deameter zona hambat dari uji aktivitas antijamur metabolit bakteri . penyakit dan penyebab kerusakan lainnya. telah menciptakan dan menghidupkan senyawa bioaktif melalui mikroba endofit yang juga tumbuh bersama-sama dengan senyawa yang terkandung di dalam jaringan tumbuhan. Dengan adanya fenomena tersebut hendaknya manusia dapat berfikir bagaimana cara menanggulangi masalah tersebut. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. dan Phytopthora infestan pada suhu 37 0C. Sehingga senyawa metabolit sekunder bisa bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia dan makhluk ciptaan Allah lainnya. dalam hal ini adalah mencari agensia hayati yang dapat digunakan untuk pengendalian penyakit tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa bakteri endofit dari akar tanaman kentang mampu menghasilkan metabolit sekunder berupa antibiosis sebagai antijamur.33 1 Keterangan Kuat Lemah Lemah Berdasarkan Tabel 4.67 Keterangan Lemah Lemah Lemah Tabel 4.ozaenae B.mycoides Rata-rata Perbandingan Zona Hambat terhadap P. Menurut Schulz. pseudomallei K.67 – 4.67 4. namun sangat sedikit diketahui antibiosis yang mengendalikan jamur patogen pada jaringan akar tanaman. mayoritas bakteri endofit memperlihat sifat sebagai antibiosis melawan jamur patogen. Dari hasil penelitian.48 endofit dari akar kentang terhadap jamur Fusarium sp. (dalam mm) Species P.67 2. dan Phytopthora infestans. . (2006).2. (mm) 1.mycoides Rata-rata Perbandingan Zona Hambat terhadap Fusarium sp.ozaenae B. terlihat bahwa 3 isolat bakteri endofit mampu menghambat pertumbuhan jamur Fusarium sp. ketiga isolat bakteri tersebut terlihat membentuk zona hambatan yang memiliki potensi “lemah” yaitu antara 1.67 mm.2 Rata-rata diameter zona bening/hambat bakteri endofit terhadap jamur Fusarium sp. antibiosis dideskripsikan sebagai kemampuan bakteri endofit dalam menghambat pertumbuhan patogen dengan menghasilkan antibiotik atau toksin. Meskipun demikian. Infestan (mm) 17 1.3 Rata-rata diameter zona bening/hambat bakteri endofit terhadap bakteri jamur Phytopthora infestan (dalam mm) Species P. dan Phytopthora infestan dapat dilihat pada tabel berukit ini: Tabel 4. pseudomallei K. dkk.

tampak menghasilkan rata-rata diameter zona hambatan tertinggi yaitu 4.2. terlihat bahwa P. pseudomallei membentuk zona hambatan 17 mm yang menunjukkan bahwa bakteri tersebut memiliki potensi “kuat” sedangkan bakteri K. dan Phytopthora infestans dapat dilihat pada gambar sebagai berikut: . Adapun zona hambatan yang ditimbulkan metabolit bakteri endofit terhadap jamur Fusarium sp.67 mm. mycoides membentuk zona hambatan 1.pseudomallei pada uji metabolit bakteri endofit terhadap jamur P. sedangkan isolat Ps. daerah hambatan 10 mm-20 mm mempunyai potensi antibiotik “kuat”.49 Sedangkan dari hasil penelitian bakteri endofit terhadap jamur P. Isolat Ps. Infestan tampak menghasilkan ratarata diameter zona hambatan tertinggi yaitu 17 mm.ozaenae pada Tabel 4. infestans memiliki dua golongan. kekuatan antibiotik dapat ditentukan sebagai berikut: daerah hambatan 20 mm atau lebih mempunyai potensi antibiotik “sangat kuat”. mycoides menghasilkan rata-rata diameter zona hambatan terendah yaitu 1 mm. Menurut Davis Stout dalam dalam Hasim (2003). daerah hambatan 5-10 mm mempunyai potensi antibiotik “sedang” dan daerah hambatan 5 mm atau kurang mempunyai potensi antibiotik “lemah”. ozanae dan B. uji metabolit bakteri endofit terhadap jamur Fusarium sp. sedangkan isolat B.67 mm.pseudomallei menghasilkan rata-rata diameter zona hambatan terendah yaitu 1.33 dan 1 mm. menunjukkan bahwa kedua bakteri tersebut memiliki potensi “lemah”. Isolat K.

5 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri K. pada medium PDA Gambar 4.4 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri B. pada medium PDA .50 Gambar 4. mycoides terhadap jamur Fusarium sp. ozanae terhadap jamur Fusarium sp.

dapat menghasilkan antibiotik yang mampu menekan pertumbuhan berbagai patogen tanaman. Pseudomallei terhadap jamur Fusarium sp.7 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri B. Gambar 4.6 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri P. menambahkan bahwa senyawa antijamur yang berhubungan dengan bakteri endofit adalah iturin A (dihasilkan oleh Bacillus subtilis) dan pyrrolnitrin (dihasilkan oleh Serratia plymuthica). infestans pada medium PDA . bahwa Bacillus sp. pada medium PDA Hal ini sesuai yang diungkapkan oleh Mehrotra (1980) dan Modjo (1991) dalam Djatmiko (2002). (2006).51 Gambar 4. Schulz dkk. mycoides terhadap jamur P.

Menurut Schulz.52 Zona hambat Gambar 4. pseudomallei terhadap jamur P. kompetisi dianggap sebagai faktor yang sangat penting dalam pengendalian jamur patogen oleh bakteri endofit. ozanae terhadap jamur P. (2006). dkk.8 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri K. P. fluorescens dapat menekan pertumbuhan patogen di dalam tanah dan permukaan akar melalui mekanisme kompetisi ruang dan nutrisi. infestans pada medium PDA Menurut Campbell (1989) dan Keel (2003).9 Zona hambat yang di bentuk oleh bakteri P. infestans pada medium PDA Gambar 4. produksi antibiosis (antibiotik dan asam sianida) dan siderofor serta stimulasi ketahanan tanaman. kompetisi .

Adapun rendahnya potensi bakteri endofit dalam menekan pertumbuhan jamur patogen dikarenakan beberapa faktor. Selain itu. . dkk. Data yang memperlihatkan kompetisi sebagai mekanisme pengendalian yang sangat besar oleh bakteri endofit sangat sedikit. menghambat fungsi selaput sel. Pada bakteri rizosfer memperlihatkan bahwa dibawah kondisi terbatasnya unsur besi. Meskipun demikian. 2002). maka dapat jamur patogen akan kekurangan unsur besi. Bakteri endofit dari akar tanaman kentang memperlihatkan tingginya enzim hidrolisis seperti cellulase.53 terjadi ketika kedua organisme berada pada tempat yang sama dan menggunakan nutrisi yang sama. 2006). Antibiotik yang dihasilkan mikrorganisme termasuk dalam hal ini bakteri endofit. penguraian dinding sel merupakan mekanisme potensial lain yang dimiliki oleh bakteri endofit dalam mengendalikan jamur patogen. menghambat sintesa protein dan menghambat sintesis asam nukleat. chitinase dan glucanase. Sebagian besar pekerjaan pada area ini berada pada tingkatan bakteri endofit. dan hampir tidak diketahui regulasi metabolit antijamur yang diperlihatkan oleh bakteri endofit. Melalui pengikatan unsur besi yang ada oleh bakteri. dalam melakukan kerjanya menghambat mikroorganisme lain menurut Suwandi (1992) terdapat 4 jalur. menurut (Krechel dkk. Mekanisme ini telah ditetapkan dalam pengendalian jamur patogen oleh bakteri rhizosphere. bakteri menghasilkan siderophores (senyawa organik selain antibiotik) dengan afinitas yang sangat tinggi untuk unsur besi ferric. sehingga dapat membatasi pertumbuhan jamur tersebut (Schulz. yaitu: menghambat sintesis dinding sel.

Solanacearum. Solanacearum. (QS. ÏΒ $pκŽÏù $uΖ÷Fu. menujukkan banyaknya kekayaan alam yang telah Allah ciptakan yang seharusnya dapat dimanfaatkan bagi kemaslahatan manusia. jamur Fusarium sp. sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hijr ayat 19-20: ∩⊇∪ 5βρã—öθ¨Β &óx« Èe≅. Dari pernyataan di atas. Menurut Stobel (2002). Menurut Rahman (1989). dan (kami menciptakan pula) makhlukmakhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya.54 karena antibiosis kelihatannya menjadi salah satu mekanisme yang digunakan oleh bakteri endofit dalam mengendalikan jamur patogen. terbentuknya zona hambat juga dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan bakteri uji yang berlebihan sehingga pengaruh metabolit yang dihasilkan oleh bakteri endofit tidak signifikan terhadap pertumbuahan bakteri R. fase pertumbuhan stationer merupakan fase dimana bakteri endofit mengahasilkan metabolit sekunder. pada saat ini aktivitas metabolit bakteri sangat menentukan pembentukan zona hambat/ bening karena bakteri endofit telah siap mensekresikan metabolitnya yang dapat digunakan sebagai antibakteri.) ditemukan adanya bakteri endofit./Ρr&uρ zÅ›≡uρu‘ $yγŠÏù $uΖøŠs)ø9r&uρ $yγ≈tΡ÷Šy‰tΒ uÚö‘F{$#uρ ä ∩⊄⊃∪ tÏ%Η≡tÎ/ …çµs9 ÷Λäó¡©9 tΒuρ |·ÍŠ≈yètΒ $pκŽÏù ö/ä3s9 $uΖù=yèy_uρ Artinya: Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Penelitian ini membuktikan bahwa akar kentang (Solanum tuberosum L. Al. dimana semua senyawa kimia yang dihasilkan bakteri endofit terbukti mempunyai potensi sebagai penghambat pertumbuhan bakteri R. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluankeperluan hidup. Infestan.Hijr/15: 1920) . dan jamur P. jamur Fusarium sp dan jamur P. infestan.

yang kecil maupun yang besar sudah pasti memiliki manfaat masing-masing. yang mana dari hadits tersebut memberi contoh pada seekor lalat yang memiliki dua sisi yang . Allah SWT telah menciptakan dan menghidupkan mikroba endofit di dalam jaringan tumbuhan yang mana senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan bermanfaat bagi kelangsungan hidup tumbuhan itu sendiri dan makhluk ciptaan Allah lainnya. Karena semuanya yang ada di alam baik yang hidup maupun yang mati. maka tidak ada sesuatu tumbuhan yng tidak terukur unsur-unsur yang tidak mengandung faedah. Dalam sebuah hadits yang di riwayatkan imam Bukhari berbunyi: ْ ‫َ َاب أ َ ِآ‬ ُ َِ ِ ‫إ َا و َ َ ا َ ب‬ ُ َ ‫ِذ‬ (‫رى‬ ‫و‬ ‫ا‬ ‫لا‬ ‫ة ل: لر‬ ‫ه‬ ‫ا‬ ‫َ ْ َ ْ ِ ْ ُ ُ ْ َ ْ َ ْ ُ َِن ِ أ َ ِ َ َ َ ْ ِ َاءو ِى ْ َ َ ِ ِ َ ء )أ‬ ً ًَ ‫د‬ َ Artinya: Dari abu hurairah berkata. 2000).55 Ayat di atas menjelaskan bahwa semua kekayaan alam yang ada di bumi diciptakan Allah untuk kemaslahatan hidup manusia. Hadits tersebut memberi pandangan pada manusia bahwa obat-obatan bisa diperoleh dari mana saja termasuk dari organisme itu sendiri. Semua tumbuhan mempunyai hikmah dan maslahat walaupun itu tidak diketahui oleh banyak manusia (AsShiddieqy. Rasulullah SAW bersabda: “Bila ada lalat yang jatuh di dalam minuman salah satu di antara kalian semua maka tenggelamkanlah kemudian ambillah lalat itu karena sesungguhnya di salah satu kedua sayap lalat itu ada satu penyakit dan sayap yang lain terdapat obat” (HR. Bukhori). Dan telah dijelaskan bahwa dibumi ini Allah telah menumbuhkan berbagai jenis tumbuhan menurut timbangan dan ukuran masing-masing.

56 berbeda. selain disebabkan oleh kemampuan bakteri endofit yang menghasilkan senyawa kimia juga disebabkan oleh kemampuan bakteri endofit dalam menghasilkan enzim kitinase. Beberapa isolat bakteri yang di isolasi dari akar tanaman kentang mampu menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur patogen. Hal tersebut dapat diaplikasikan terhadap tanaman kentang yang mana dalam akar tanaman kentang yang terserang penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan jamur patogen ternyata di dalam jaringan akar tanaman terkandung bakteri yang perperan untuk menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur patogen tersebut. . Dari hasil penelitian ini diharapkan sudah dapat memberikan informasi atau petunjuk sebagai alternatif baru dalam pemanfaatan sumber daya hayati tanpa harus mengurangi populasi yang ada melainkan dengan cara menggali bakteri endofit dalam jaringan tanaman yang mempunyai fungsi yang sama dengan tumbuhan aslinya. Di mana sayap yang satu mengandung penyakit sedangkan sayap yang lain mengandung obat.

ozaenae memiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan jamur Fusarium sp.. dan P. Infestans mempunyai potensi “kuat” zona hambat 17 mm. Isolat bakteri endofit Ps.67 mm dan “lemah” zona hambat 4. pseudomallei. solanacearum) dan jamur (Fusarium sp. dan K.67 mm. mycoides.BAB V PENUTUP 5.33 mm dan “lemah” zona hambat 1 mm.33 mm.6 mm. Sedangkan jamur P.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. “lemah” zona hambat 2. 56 . Solanacearum. dan “sedang” zona hambat 5 mm. B. dan K. dengan potensi "lemah" zona hambat 1. “lemah” zona hambat 1. pseudomallei. “kuat” zona hambat 15. infestans) penyebab penyakit layu pada tanaman ini perlu dilanjutkan dan disarankan untuk melakukan aplikasi isolat bakteri endofit ke dalam tanah dan melakukan kombinasi perlakuan untuk mencari teknik terbaik.2 Saran Penelitian tentang potensi bakteri endofit sebagai penghambat pertumbuhan bakteri (R. mycoides. B. 5. dengan potensi “sangat kuat” yaitu zona hambat 20 mm. 2. ozaenae memiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan bakteri R. Isolat bakteri endofit Ps.

DAFTAR PUSTAKA Agriseeds. Chandrashekhara. http://www. Akses 25 Mei 2009 Compant. Akses 7 Mei 2009.nybg. Biro Pusat Statistik. Indian academy of Sciences.. Akses 7 Mei 2009.id/KoleksiLainnya/InfoPOM/0308. E. Arwiyanto. 1998. Akses 24 April 2009. Arnold. 2009. www.go. 2008. December 2006. A. Jurnal ilmu-ilmu pertanian Indonesia. S. PNAS vol.M. Racun Alami pada Tanaman Pangan http://perpustakaan.. BPOM (Badan Pengawas Obat dan Minuman). http://www. Y.pdf. Ralstonia solanacearum. W.up. J.asp. Fungal Endophytes Limit Pathogen Damage in a Tropical Tree. Survei Pertanian Produksi Tanaman Sayuran dan Buah-Buahan 1998.ac.net/qredirect. 2009.. Use of Plant Growth-Promoting Bacteria for Biocontrol of Plant Diseases: Principles. 100 No.C dan Barka.Vol. A. Akses 19 Mei 2009. Review of The Role of Endophytes in Biological Control of Plant-Parasitic Nematodes with Special Reference to The Banana Nematode. 2006. 2005. Akses 03 Oktober 2009 57 . 2006.files. T.endophyte-summary. Potensi Tiga Genus Bakteri dari Tiga Rizosfer Tanaman sebagai Agensia Pengendali Penyakit Lincat.org/science2 /hcol/fusarium3. Clement.11&linkid=pdf similarby-SN-Chandrashekhara–2007.A. Endophyt Summary. Applied and Environmental Microbiology.upetd.pom.No. S. Duffy.2007. E.ac.inra. Interactions among Endophytic Bacteria and Fungi : Effects and Potentials. University of Pretoria. Athman. http://www.ias.9 Damayanti. Jamur Fusarium. scialert. Gammi. 645-650.php?doi=ajppaj.cycle. Akses 01 Oktober 2009 Anaf. B.cgi.za/thesis/available/etd . http://sciweb. Bandara.htm.MS. 2003. http://iant. Endophytic Bacteria from Different Plant Origin Enhance Growth and Induce Downy Mildew Resistance in Pearl Millet. 2007. D.toulouse. 2009. 1997.fr/bacteria /annotation /cgi/ralso. Pp 5-28. and Future Prospects. Jakarta.71. Biosci. dan Kulasoonya. Radopholus Similes (Cobb) Thourne. Seneviratne.in/jbiosci. 31 (5).1. Mechanisms of Action. S. BPS. J. 26: 15649 – 15654. Nowak.12072006 105803/unrestricted/01 chapter 1.

) on Peanut (Arachis hipogaea L. H A. Djatmiko. Akses 21 Mei 2009. A. http://www.id. Tahun ke-39 Khaelany. Pengarahan Direktur Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura pada Seminar Agribisnis Kentang. Memanen Antibiotik. Halaman D. Al-Qur’an: Ciptaan dan konservasi. Terjemahan Willy Bayuardi Suwarno. Phytoalexins. Munif. http://iptek. Kompas Senin 4 Mei 1998. Stress Metabolism.php. and Disease Resistance in Plants. R. (Ed. Pengaruh Metode Aplikasi Bakteri Endofit Terhadap Perkembangan Nematoda Pelukaa Akar (Platylenchus brachyurus) pada Tanaman Nilam. Jakarta :Kompas No.doestoc.).J. Akses 29 mei 2009. 1986. 2003. 2009. Hal: 40-47.id/ind/teknologi_pangan/index. Late Blight of Potato and Tomato. Bacterial wilt in Indonesia. 2008. Berharap kentang mampu berdentang. Menanam Rumput. Hasim. 2006. G. J.net.uk/archives/bspp1999/session3. Potensi Tiga Genus Baketri dari Rizosfer Tanaman Sebagai Agensia Pengendali Hayati Penyakit Lincat. Harni. In Persley. Jurnal Litri 12 (4) Hal: 161-165. Khalid. Jakarta: Conservation International Indonesia Kahar. Akses 25 Mei 2009. A dan Mustika. Kuc. ACIAR Proc. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia.com/does/2324531. Jakarta 18-19 Januari 1996.). 1998. 1999. Supramana. 1996. No. Akses 25 Mei 2009. Annual Review of Phytopathology. 127. R. 1999. 2007. F M. Tanaman Kentang. Machmud M. 13:30-34. I. Hallmann. Gallery Pustaka.co. 1. http://willy. Volume 9. Firmansah. 2009.bspp. 1996.org. http:www. Akses 11 September 2009. . 1995. Islam Kependudukan dan Lingkungan Hidup.58 Department of Plant Pathology. Plant Interactions with Endophytic Bacteria. Jakarta: Rineka Cipta. J.situshijau.php?mnu=2&id=1. Bacterial Wilt in Asia and Southern Pacific. Kompas. Effectiveness of Endophyte and Philloplen Bacteria of Mucuna pruriens Linn Leaves in Promoting Plant Growth and Suppressing Leaf Spot Desease (Cercospora sp.

Karakteristik Fisiologis Ralstonia solanacearum Penyebab Penyakit Layu Bakteri Nilam. No. Terjemahan Ratna Siri H. Crhistanti. Malang: UIN Malang Press. Bioscientiae. Prabowo. R. 1997. Budidaya Kentang. 2008. dan Pupuk Nitrogen di Pangalengan dan Cisarua.pdf. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jurnal Bioma 10 (2): 13-19.html.. Sayuran Dunia 1 Prinsip. S.com. Bandung. Edisi 2.. M J dan Chan. Akses 7 Mei 2009.pustaka-deptan. Hal: 15-24. Pembentukan Asam Organik oleh Isolat Bakteri Asam Laktat pada Media Ekstrak Daging Buah Durian (Durio zibethinus Murr. Minarno. 1988. Nur.go. Jakarta: UI-Press. Hlm 221-224. ITB. 2006. Strategi Pengendalian Nematoda Parasit pada Tanaman Nilam. dan Ika M. Y A. 1998. Sutarmi dan Sri Lestari A. 2005. Teja Imas. E. R. Y. Produksi.). Azospirillum sp. 25(1). E S C. Jurnal Bioteknologi. Diakses tanggal 12 November 2009 Purwanto. 2004. Rukmana. Bandung: Magister Ilmu Pertanian Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran Bandung.59 Melliawati. Pengkajian Bakteri Endofit Penghasil Senyawa Bioaktif untuk Proteksi Tanaman. http://teknisbudidaya. http://www. www. B. Yogyakarta: Kanisius.kabarindonesia. Produksi Biofungisida Berbahanbaku Mikroba Antagonis Indigenous untuk Pengendalian Penyakit Lodoh Tanaman Kentang Di Sentra-sentra Penanaman Kentang di Jawa Tengah. Nasrun. 2005. Disertasi Tidak Diterbitkan. 2009. Jurnal penelitian. Nurmayulis. 1. . Akses 12 April 2009. Rubatzky. Gizi dan Kesehatan Perspektif Al-Qur’an dan Sains. 2006. Akses 29 Mei 2009. Pelczar. V E dan Yamaguchi. dan Hariani. Jurnal Litbang Pertanian. Kentang Budidaya dan Pascapanen. S. 2009. Mustika. 2.) yang Diberi Pupuk Organik Difermentasi. Peranan Mikroorganisme Endofit sebagai Penghasil Antibiotik. Vol.id/publikasi/p3251062. H S. Edisi kedua. dan Gizi.. Purwantisari. 2008.com/2007/10/budidaya-kentang. Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L. L. Triwidodo A. Hlm 1-7. Ika dan Nuryani.blogspot.

2006. Strobel. 2009. B. 2007. 2007. Jurnal Litbang Pertanian. Penel. Deteksi jamur Verticillium dahkiae Kelebihan Penyebab Penyakit Layu Tanaman Di Sentra Budidaya Kentang Lembang dan Pangalengan. Akses 25 Mei 2009. 1995. Banjamin Cummings. http://www.html.cc/budidaya-tanaman/102kentang?tmpl. 2009. 2005. Nature Chemical Biology Volume 3. Endofit dan Pelestarian Alam. Sitohang.situshijau. Syarmalina. Berk. 2001. 2008. Jurnal Nasional. 2009. Laporan Penelitian. Microbiology in Introduction. Sieber.net. Kentang. http://www. Boyle.id. Suganda. 2007. Isolasi Bakteri Endofit Penghasil Antimikroba Dari Tanaman Rhizopora musronata. International Edition. www. http://sugihsantosa.com/artikel/lodoh. Hayati (13) Hal: 1-6. Malang: UIN Malang .co. Petunjuk Praktis Budi Daya Kentang. Isolasi Mikroba Endofitik dari Tanaman Obat Sambung Nyawa (Gynura Procumbens) dan Analisis Potensinya sebagai Antimikroba.iptek.or. Akses 18 April 2009 Sugih Cipta Santosa. 2009.com/naturechemical -biology. T N. U. Simarmata. Sunarjono. 2006. Staf Pengajar Fakultas Pertanian UNS Surakarta. Diakses 29 Mei 2009. Microbial Root Endophytes. 2004. G A. C J C. Skrining ketahanan klon kentang terhadap penyakit Layu bakteri. Akses 29 Mei 2009. Akses 20 Juni 2009 Suwarno. Sistem Perbenihan Kentang di http://www. Akses 12 april 2009. Jerman: Springer. H. Indonesia. Ralstonia Solanacearum.atspace.id/endofit dan pelestarian alam. Analisis Risiko Agens Hayati untuk Pengendalian Patogen pada Tanaman. Thurston. S A dan Strobel.60 Samanhudi.benss.co. W B. Inc Utami. http://www. Hal: 1–2.isfinational. Plant Endophytes as a Platform for Discovery-Based Undergraduate Science Education. Diakses Tanggal 13 April 2009. B J E. Tortoa. Jakarta: Agromedia Pustaka.nature. Penyakit Lodoh pada Kentang. Supriadi. Bandung. R. Diakses 18 April 2009. Schulz.

org/wiki/Kentang. Edisi Kelima. Pustaka Setia. A A. 1993. Kentang. 2006. http://wijiyovan. USU Digital Library. 2009. Jakarta: Erlangga. Akses 3 Oktober 2009 Wikipedia. http://id. http://www. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit dan Penyakit yang Disebabkan oleh Jamur. 2009. Ralstonia solanacearum. Bandung: CV. Akses 20 Mei 2009. 2009.wikipedia. Islam dan Sains Modern: Sentuhan Islam terhadap berbagai Disiplin Ilmu.com. Akses 29 Mei 2009.org/ralstonia. Wijiono.61 Volk dan Wheeler. 2002. Yusuf.wikipedia. Ralstonia solanacearum. .wordpress. Yunasfi. Wikipedia. Mikrobiologi Dasar 1.

6 17 15. Analisis Data A. Pengamatan ini dilakukan terhadap bakteri Ralstonia solanacearum.Lampiran 1.33 2.67 1 Be2 Be3 Total Keterangan: Be1 = Pseudomonas pseudomeallei Be2 = Klebsiella ozaenae. Tabel 1 Data Rata-Rata Zona Hambat Bakteri dan Jamur Endofit Be1 Perlakuan Mikroba uji M1 M2 M3 M1 M2 M3 M1 M2 M3 I 39 2 19 28 5 2 4 3 1 103 Ulangan II 14 1 18 9 1 1 3 6 1 54 III 7 2 14 9 2 1 8 5 1 49 Total zona hambat (mm) 60 5 51 46 8 4 15 14 3 206 Rata-Rata (δ) 20 1.33 5 4. jamur Fusarium sp. M3 = Phytopthora infestans 62 . Data Hasil Rata-Rata Zona Hambat Bakteri dan Jamur Data hasil penelitian untuk rata-rata zona hambat bakteri dan jamur. dan jamur Phytopthora infestan. Be3 = Bacillus mycoides M1 = Ralstonia solanacearum M2 = Fusarium sp.67 1.

(d) hot plate . (c) inkubator. Foto Penelitian (a) (b) (c) (d) Gambar 1: Alat-alat penelitian (a) Autoklav.63 Lampiran 2. (b) Timbangan analtik.

64 Gambar 2: Shaker Gambar 3: Laminar air flow .

8. II. 7. 7. Eko Budi Minarno. Malang. 1. Tanggal 29 Mei 2009 5 Juni 2009 10 Juni 2009 12 November 2009 17 November 2009 26 Juni 2010 2 juli 2010 8 Juli 2009 Hal yang dikonsultasikan Pengajuan Bab I.DEPARTEMEN AGAMA RI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI Jl. solanacearum) dan Jamur (Fusarium sp. 6. 5. 8. 3. M. 27 Juli 2010 Mengetahui Ketua Jurusan Biologi Dr. dan P. M. (0341) 551354 Fax. 5. 6. Gajayana 50 Malang Telp. II. Ulfah Utami. II. III Seminar Proposal Pengajuan Bab IV dan V Revisi Bab IV dan V Acc Bab IV dan V Tanda Tangan 1. III Revisi Bab I. 2. II. Pd NIP. infestan) Penyebab Penyakit Layu pada Tanaman No. 3. (0341) 572533 BUKTI KONSULTASI Nama NIM Fakultas/Jurusan Pembimbing Judul : Shohihatud Diniyah : 05520026 : Sains dan Teknologi/Biologi : Dr. III Revisi Bab I.Si : Potensi Bakteri Endofit sebagai Penghambat Pertumbuhan Bakteri (R. 4. III Acc Bab I. 4. 19630114 199903 1 001 . 2.

DEPARTEMEN AGAMA RI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI Jl. II. Ahmad Barizi. III. 2. 19630114 199903 1 001 . Tanggal 26 Juni 2010 2 Juli 2010 9 Juli 2010 Malang. Gajayana 50 Malang Telp. III. 1. Pd NIP. No. IV dan V Revisi Bab I. Eko Budi Minarno. solanacearum) dan Jamur (Fusarium sp. 3. M. IV dan V Acc Keseluruhan Tanda Tangan 1. 27 Juli 2010 Mengetahui Ketua Jurusan Biologi Dr. (0341) 551354 Fax. II. 2. 3. infestan) Penyebab Penyakit Layu pada Tanaman Hal yang dikonsultasikan Pengajuan Bab I. MA : Potensi Bakteri Endofit sebagai Penghambat Pertumbuhan Bakteri (R. (0341) 572533 BUKTI KONSULTASI Nama NIM Fakultas/Jurusan Pembimbing Judul : Shohihatud Diniyah : 05520026 : Sains dan Teknologi/Biologi : Dr. dan P.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful