BAB.

1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keberadaan konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, widyaiswara, fasilitator, dan instruktur (UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 6). Kesejajaran posisi ini tidaklah berarti bahwa semua tenaga pendidik itu tanpa keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerja. Demikian juga konselor memiliki keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerja yang tidak persis sama dengan guru. Hal ini mengandung implikasi bahwa untuk masing-masing kualifikasi pendidik, termasuk konselor, perlu disusun standar kualifikasi akademik dan kompetensi berdasar kepada konteks tugas dan ekspektasi kinerja masing-masing. Dengan mempertimbangkan berbagai kenyataan serta

pemikiran yang telah dikaji, bisa ditegaskan bahwa pelayanan ahli bimbingan dan konseling yang diampu oleh Konselor berada dalam konteks tugas “kawasan pelayanan yang
1

bertujuan memandirikan individu dalam menavigasi perjalanan hidupnya melalui pengambilan keputusan tentang pendidikan termasuk yang terkait dengan keperluan untuk memilih, meraih serta mempertahankan karir untuk mewujudkan kehidupan yang produktif dan sejahtera, serta untuk menjadi warga masyarakat pendidikan”. Sedangkan ekspektasi kinerja konselor yang mengampu pelayanan bimbingan dan konseling selalu digerakkan oleh motif altruistik dalam arti selalu menggunakan penyikapan yang empatik, menghormati keragaman, serta mengedepankan kemaslahatan pengguna pelayanannya, dilakukan dengan selalu mencermati kemungkinan dampak jangka panjang dari tindak pelayanannya itu terhadap pengguna pelayanan, sehingga pengampu pelayanan profesional itu juga dinamakan “the reflective practitioner”. yang peduli kemaslahatan umum melalui

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka persoalan mendasar yang hendak ditelaah dalam makalah ini adalah bagaimana Standar Profesi Konselor dalam Bimbingan dan Konseling.

2

3 . b) Memberi pemahaman tentang standar profesi konselor dalam bimbingan dan konseling. D . Mengetahui dengan jelas tentang standar profesi konselor..C. 2.Memeberikan Pemahaman tentang standar-standar profesi konselor. Manfaat 1. Tujuan a) Mengkaji dan memahami standar profesi konselor dalam bimbingan dan konseling. c) Sebagai landasan dasar standar profesi konselor dalam bimbingan dan konseling yang baik.

tanggungjawab. potensi. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan 4 .BAB. peserta yaitu didik bidang dalam memahami. Pengembangan kehidupan sosial. Tugas guru bimbingan dan konseling/konselor yaitu membantu peserta didik dalam: a. bakat. Tugas guru bimbingan dan diri konseling/konselor peserta didik yang terkait sesuai dengan dengan pengembangan kebutuhan. b. Pengembangan pelayanan yang kehidupan membantu pribadi. II KAJIAN TEORI DAN PEMBAHASAN Tugas Guru BK dan Pengawas BK 1. minat. menilai bakat dan minat. dan kepribadian peserta didik di sekolah/madrasah. wewenang dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik. Tugas Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor Guru bimbingan dan konseling/konselor memiliki tugas.

2. kelompok belajar. dinamis. Layanan penempatan dan penyaluran. untuk menyesuaikan diri serta mempermudah dan memperlancar peran peserta didik di lingkungan yang baru. jurusan/program studi.menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial dan industrial yang harmonis. a. Jenis layanan adalah sebagai berikut: 1. yaitu layanan yang membantu peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi diri. yaitu bidang didik yang membantu peserta mengembangkan kemampuan belajar untuk mengikuti pendidikan sekolah/madrasah secara mandiri. Layanan orientasi. yaitu layanan yang membantu peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat di dalam kelas. Pengembangan pelayanan kemampuan belajar. 3. d. berkeadilan dan bermartabat. serta memilih dan mengambil keputusan karir. Pengembangan karir. program latihan. yaitu layanan yang membantu peserta didik memahami lingkungan baru. Layanan informasi. sosial. karir/jabatan. dan kegiatan ekstra kurikuler. 5 . c. magang. belajar. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi. terutama lingkungan sekolah/ madrasah dan obyek-obyek yang dipelajari. dan pendidikan lanjutan.

kemampuan karir/jabatan. industri dan masyarakat. kegiatan keputusan. Layanan membantu hubungan dan pengambilan kelompok. serta yang dan membantu peserta didik dalam pengembangan pribadi. yaitu layanan yang membantu peserta didik dalam mengentaskan masalah pribadinya. layanan belajar. Layanan penguasaan konten. dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik 9. 6 . didik melakukan kegiatan tertentu melalui dinamika kelompok. 5. 8. yaitu layanan yang membantu peserta didik menguasai konten tertentu. yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antar mereka. Layanan bimbingan kelompok. konseling peserta yaitu dalam pembahasan pengentasan masalah pribadi melalui dinamika kelompok.4. Layanan konsultasi. Layanan mediasi. 7. yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan. 6. keluarga. Layanan konseling perorangan. terutama kompetensi dan atau kebiasaan yang berguna dalam kehidupan di sekolah/madrasah. yaitu layanan yang sosial. pemahaman.

Himpunan data. Kunjungan rumah. yaitu kegiatan menyediakan berbagai bahan pustaka yang dapat digunakan peserta didik dalam pengembangan pribadi. 4. Konferensi secara berkelanjutan. kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya masalah peserta didik melalui pertemuan dengan orang tua atau keluarganya. 5. yaitu kegiatan untuk memindahkan penanganan masalah peserta didik ke pihak lain sesuai keahlian dan kewenangannya. Aplikasi instrumentasi. melalui aplikasi berbagai instrumen. yang diselenggarakan 3. yaitu permasalahan peserta didik dalam pertemuan khusus yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan data. terpadu dan bersifat rahasia. yaitu kegiatan menghimpun data yang relevan dengan pengembangan peserta didik. yang bersifat terbatas dan tertutup. 2.b. kemampuan sosial. Alih tangan kasus. Tampilan kepustakaan. yaitu kegiatan memperoleh data. kegiatan belajar. kasus. Kegiatan-kegiatan tersebut didukung oleh: 1. dan karir/jabatan. kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya masalah peserta didik. yaitu kegiatan mengumpulkan data tentang diri peserta didik dan lingkungannya. kegiatan sistematis. 6. baik tes maupun nontes. 7 . membahas komprehensif.

Beban Kerja Minimum Guru Bimbingan dan Konseling/ Konselor Beban kerja guru bimbingan dan konseling/konselor adalah mengampu bimbingan dan konseling paling sedikit 150 (seratus lima puluh) peserta didik dan paling banyak 250 (dua ratus lima puluh) peserta didik per tahun pada satu atau lebih satuan pendidikan yang dilaksanakan dalam bentuk layanan tatap muka terjadwal di kelas untuk layanan klasikal dan/atau di luar kelas untuk layanan perorangan atau kelompok bagi yang dianggap perlu dan yang memerlukan. Ekuivalensi kegiatan kerja pengawas bimbingan dan konseling terhadap 24 (dua puluh empat) jam tatap muka menggunakan pendekatan jumlah guru yang dibina di satu atau beberapa sekolah pada jenjang pendidikan yang sama atau jenjang pendidikan yang berbeda. 8 . Tugas Pengawas Bimbingan dan Konseling Lingkup kerja pengawas bimbingan dan konseling untuk melaksanakan tugas pokok diatur sebagai berikut: a.C. Sedangkan beban kerja guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah/madrasah membimbing 40 (empat puluh) peserta didik dan guru yang diberi tugas tambahan sebagai wakil kepala sekolah/madrasah membimbing 80 (delapan puluh) peserta 2.

dan (3) rencana kepengawasan akademik (RKA).b. Kegiatan penyusunan program tahunan ini diperkirakan berlangsung selama 1 (satu) minggu. Jumlah guru yang harus dibina untuk pengawas bimbingan dan konseling paling sedikit 40 (empat puluh) dan paling banyak 60 guru BK. 9 • • . Program pengawasan tahunan pengawas disusun oleh kelompok pengawas di kabupaten/kota melalui diskusi terprogram. a. Program pengawasan terdiri atas (1) program pengawasan tahunan. Uraian lingkup kerja pengawas bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut. Program pengawasan semester adalah perencanaan teknis operasional kegiatan yang dilakukan oleh setiap pengawas pada setiap sekolah tempat guru binaannya berada. Penyusunan Program Pengawasan Bimbingan dan Konseling • Setiap pengawas baik secara berkelompok maupun secara perorangan wajib menyusun rencana program pengawasan. c. (2) program pengawasan semester. Program tersebut disusun sebagai penjabaran atas program pengawasan tahunan di tingkat kabupaten/kota. Kegiatan penyusunan program semester oleh setiap pengawas ini diperkirakan berlangsung selama 1 (satu) minggu.

Kegiatan ini dilakukan di sekolah binaan. dan kerja RKBK tujuan. tahunan. Penyusunan RKBK ini diperkirakan berlangsung 1 (satu) minggu. diperlukan. Pemantauan dan Penilaian • Kegiatan supervisi bimbingan dan konseling meliputi pembinaan dan pemantauan pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan kegiatan dimana terjadi interaksi binaanya. sesuai dengan uraian kegiatan dan jadwal yang tercantum dalam RKBK yang telah disusun. b. sumberdaya keberhasilan. program memuat semester. melaksanakan dan menilai proses pembimbingan.• Rencana yang Kepengawasan rinci dan Bimbingan sistematis dan sesuai Konseling dengan (RKBK) merupakan penjabaran dari program semester lebih aspek/masalah prioritas yang harus segera dilakukan kegiatan supervisi. langsung antara pengawas dengan guru • Melaksanakan penilaian adalah menilai kinerja guru dalam merencanakan. penilaian dan instrumen pengawasan. strategi/metode kegiatan. • 10 . (teknik yang sekurang-kurangnya skenario aspek/masalah. • Program indikator supervisi). Melaksanakan Pembinaan.

pemantauan atau penilaian. • Kegiatan pembimbingan dan pelatihan profesionalitas guru BK dilaksanakan paling sedikit 3 (tiga) kali dalam satu semester secara berkelompok di Musyawarah Guru Pembimbing (MGP). Kegiatan dilaksanakan terjadwal baik waktu maupun jumlah jam yang diperlukan untuk setiap kegiatan sesuai dengan tema atau jenis keterampilan dan kompetensi yang akan ditingkatkan. Laporan ini lebih ditekankan kepada pencapaian tujuan dari setiap butir kegiatan pengawasan sekolah yang telah dilaksanakan pada setiap sekolah binaan. Menyusun Laporan Pelaksanaan Program Pengawasan • Setiap pengawas membuat laporan dalam bentuk laporan per sekolah dari seluruh sekolah binaan. Penyusunan laporan oleh pengawas merupakan upaya untuk mengkomunikasikan hasil kegiatan atau keterlaksanaan program yang telah direncanakan. • 11 . • • Menyusun laporan pelaksanaan program pengawasan dilakukan oleh setiap pengawas sekolah dengan segera setelah melaksanakan pembinaan. Melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesionalitas guru BK. d.c.

• Dalam pelatihan diperkenalkan kepada guru cara-cara baru yang lebih sesuai dalam melaksanakan suatu proses pembimbingan. observasi. dengan substansi program pelayanan mencakup: (1) empat bidang. (3) format kegiatan. individual dan group conference. Program Bimbingan dan Konseling Program pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi. sasaran pelayanan (4) . seminar. serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah/ madrasah. dan (5) volume/beban tugas konselor. 12 . Kegiatan pembimbingan dan pelatihan profesionalitas guru BK ini dapat dilakukan melalui workshop. dan mensinkronisasikan program pelayanan Bimbingan dan Konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler. (2) jenis layanan dan kegiatan pendukung. Program Bimbingan dan Konseling 1. Program pelayanan Bimbingan dan Konseling pada masingmasing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antarkelas dan antarjenjang kelas.

c.Dilihat dari jenisnya. e. Program Harian. Program Tahunan. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran. Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan. Program Semesteran. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) >Bimbingan dan Konseling. Manajemen Bimbingan dan Konseling Secara keseluruhan manajemen Bimbingan dan Konseling mencakup tiga kegiatan utama. yaitu: a. d. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. Program Bulanan. dan (3)penilaian 13 . (2) pelaksanaan. 2. yaitu : (1) perencanaan. yaitu program pelayanan b. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah. Program Mingguan. program Bimbingan dan Konseling terdiri 5 (lima) jenis program.

dalam kegiatan dan 14 pengembangan insidental . serta alat bantu yang digunakan. Pelaksanaan Kegiatan Bersama pendidik dan personil sekolah/madrasah lainnya. Satu kali kegiatan layanan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling berbobot ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran. Volume keseluruhan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam satu minggu minimal ekuivalen dengan beban tugas wajib konselor di sekolah/ madrasah. Rencana kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mingguan meliputi kegiatan di dalam kelas dan di luar kelas untuk masing-masing kelas peserta didik yang menjadi tanggung jawab konselor. (d pelaksana layanan/kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang terlibat. bulanan serta mingguan. Perencanaan Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mengacu pada program tahunan yang telah dijabarkan ke dalam program semesteran. Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling harian yang merupakan penjabaran dari program mingguan disusun dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG yang masingmasing memuat: (a) sasaran layanan/kegiatan pendukung. konselor berpartisipasi diri yang secara bersifat aktif rutin. (b) substansi layanan/kegiatan pendukung. dan (e) waktu dan tempat. (c) jenis layanan/kegiatan pendukung.a. b.

jenis kegiatan. Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan di dalam dan di luar jam pelajaran. himpunan data. waktu. kunjungan rumah. untuk menyelenggarakan layanan orientasi. penguasaan konten. kegiatan konferensi kasus. Kegiatan tatap muka secara klasikal dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan informasi. Kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah dapat berbentuk kegiatan tatap muka maupun non tatap muka dengan peserta didik. tempat. serta kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar 15 .keteladanan. Program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang direncanakan dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG dilaksanakan sesuai dengan sasaran. yang diatur oleh konselor dengan persetujuan pimpinan sekolah/madrasah. kegiatan instrumentasi. bimbingan kelompok. Pelaksanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di dalam jam pembelajaran sekolah/madrasah dapat berbentuk: (1) kegiatan tatap muka secara klasikal. penempatan dan penyaluran. pemanfaatan kepustakaan. dan (2) kegiatan non tatap muka. dan pihak-pihak yang terkait. dan mediasi. Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 2 (dua) jam per kelas per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal. konseling kelompok. Sedangkan kegiatan non tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan konsultasi. dan alih tangan kasus. konseling perorangan. serta layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan di dalam kelas. substansi.

dan (2) penilaian proses.. Penilaian jangka pendek (LAIJAPEN). Penilaian hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dilakukan melalui: a. Kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling. Penilaian jangka panjang (LAIJAPANG). Penilaian Kegiatan Penilaian kegiatan bimbingan dan konseling terdiri dua jenis yaitu: (1) penilaian hasil. c. . Setiap kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicatat dalam laporan pelaksanaan program (LAPELPROG).kelas. 3. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu minggu sampai dengan satu bulan) setelah satu jenis layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui dampak layanan/kegiatan terhadap peserta didik. Penilaian segera (LAISEG). yaitu penilaian pada akhir setiap jenis layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling untuk mengetahui perolehan peserta didik yang dilayani. Satu kali kegiatan layanan/pendukung Bimbingan dan Konseling di luar kelas/di luar jam pembelajaran ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran tatap muka dalam kelas. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu bulan sampai dengan satu 16 b. diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah.

Konferensi Kasus untuk Membantu Mengatasi Masalah Siswa 1. yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan.semester) setelah satu atau beberapa layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui lebih jauh dampak layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling terhadap peserta didik. Hasil penilaian kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicantumkan dalam LAPELPROG Hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling secara keseluruhan dalam satu semester untuk setiap peserta didik dilaporkan secara kualitatif. kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan siswa (konseli). Sedangkan penilaian proses dilakukan melalui analisis terhadap keterlibatan unsur-unsur sebagaimana tercantum di dalam SATLAN dan SATKUNG. untuk mengetahui efektifitas dan efesiensi pelaksanaan kegiatan. A. 17 . Pengertian Konferensi kasus merupakan kegiatan pendukung atau pelengkap dalam Bimbingan dan Konseling untuk membahas permasalahan siswa (konseli) dalam suatu pertemuan.

tidak semua pihak bisa disertakan dalam konferensi kasus. pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. akan tetapi konferensi kasus harus bisa menghasilkan keputusan 18 . tetapi bisa dilakukan secara kolaboratif. tidak semua masalah yang dihadapi siswa (konseli) harus dilakukan konferensi kasus. Kendati demikian. Begitu juga. dengan melibatkan berbagai pihak yang dianggap kompeten dan memiliki kepentingan dengan permasalahan yang dihadapi siswa (konseli). setiap pembicaraan yang muncul dalam konferensi kasus bersifat rahasia dan hanya untuk diketahui oleh para peserta konferensi. Tetapi untuk masalahmasalah yang tergolong pelik dan perlu keterlibatan pihak lain tampaknya konferensi kasus sangat penting untuk dilaksanakan. Artinya.Memang. konferensi kasus untuk membahas kasus narkoba yang dialami siswa X. Keputusan yang diambil dalam konferensi bukan bersifat “mengadili” siswa yang bersangkutan. hanya mereka yang dianggap memiliki pengaruh dan kepentingan langsung dengan permasalahan siswa (konseli) yang boleh dilibatkan dalam konferensi kasus. Konferensi kasus bukanlah sejenis “sidang pengadilan” yang akan menentukan hukuman bagi siswa. Misalkan. Melalui konferensi kasus. proses penyelesaian masalah siswa (konseli) dilakukan tidak hanya mengandalkan pada konselor di sekolah semata. yang ujung-ujungnya siswa dipaksa harus dikeluarkan dari sekolah.

mendapatkan pengertian.bagaimana cara terbaik agar siswa tersebut bisa sembuh dari ketergantungan narkoba. mendapatkan konsensus dari para peserta konferensi dalam menafsirkan data yang cukup komprehensif dan pelik yang menyangkut diri siswa (konseli) guna memudahkan pengambilan keputusan c. penerimaan. tujuan diadakan konferensi kasus yaitu untuk mengusahakan cara yang terbaik bagi pemecahan masalah yang dialami siswa (konseli) dan secara khusus konferensi kasus bertujuan untuk: a. Prosedur Konferensi kasus dapat ditempuh melalui langkah-langkah sebagai berikut: a. Kepala sekolah atau Koordinator BK/Konselor mengundang para peserta konferensi kasus. 3. baik atas 19 . mendapatkan konsistensi. persetujuan dari komitmen peran dari para peserta konferensi tentang permasalahan yang dihadapi siswa (konseli) beserta upaya pengentasannya. Tujuan Secara umum. kalau guru atau konselor ternyata menemukan berbagai data/informasi yang dipandang saling bertentangan atau kurang serasi satu sama lain (cross check data) b. 2.

wakil kepala sekolah. dan perilaku positif yang dimiliki siswa (konseli). dokter. Selanjutnya.insiatif guru. misalkan tentang potensi. guru tertentu yang memiliki kepentingan dengan masalah siswa (konseli). seyogyanya terlebih dahulu disampaikan tentang hal-hal positif dari siswa (konseli). disampaikan berbagai gejala dan permasalahan siswa (konseli) dan 20 . wali kelas. seperti: psikolog. khususnya asas kerahasiaan. Pada saat awal pertemuan konferensi kasus. Guru atau konselor menampilkan dan mendekripsikan permasalahan yang dihadapi siswa (konseli). polisi. sikap. dan bila perlu dapat menghadirkan ahli dari luar yang berkepentingan dengan masalah siswa (konseli). b. wali kelas atau konselor itu sendiri. kepala sekolah atau konselor membuka acara pertemuan dengan menyampaikan maksud dan tujuan dilaksanakan konferensi kasus dan permintaan komitmen dari para peserta untuk membantu mengentaskan masalah yang dihadapi siswa (konseli). dan ahli lain yang terkait. Dalam mendekripsikan masalah siswa (konseli). serta menyampaikan pentingnya pemenuhan asas–asas dalam bimbingan dan konseling. c. Mereka yang diundang kuat adalah atas orang-orang yang memiliki siswa pengaruh permasalahan dihadapi (konseli) dan mereka yang dipandang memiliki keahlian tertentu terkait dengan permasalahan yang dihadapi siswa (konseli). sehingga para peserta bisa melihat hal-hal positif dari siswa (konseli) yang bersangkutan. seperti: orang tua.

untuk mengambil langkahlangkah penting berikutnya dalam rangka pengentasan masalah siswa (konseli). Siswa (konseli) yang bersangkutan boleh dihadirkan kalau dipandang perlu. serta upaya-upaya pengentasan yang telah dilakukan sebelumnya. selanjutnya para peserta lain mendiskusikan dan dimintai tanggapan. maka selanjutnya konferensi menyimpulkan beberapa rekomendas/keputusan berupa alternatif-alternatif untuk dipertimbangkan oleh konselor.data/informasi lainnya tentang siswa (konseli) yang sudah terindentifikasi/terinventarisasi. Diusahakan sedapat mungkin kegiatan konferensi kasus yang hendak dilaksanakan mendapat persetujuan dari kasus atau siswa (konseli) yang bersangkutan b. bergantung pada permasalahan dan kondisinya. d. Setelah pemaparan masalah siswa (konseli). c. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyelenggarakan konferensi kasus. masukan. Diusahakan sedapat mungkin pada saat mendeskripsikan dan mendikusikan masalah siswa (konseli) tidak 21 . dan siswa (konseli) yang bersangkutan. dan konstribusi persetujuan atau penerimaan tugas dan peran masing-masing dalam rangka pengentasan/remedial atas masalah yang dihadapi siswa (konseli) e. antara lain: a. para peserta. boleh juga tidak. Setelah berdiskusi atau mungkin juga berdebat.

e. tetapi dengan menggunakan kode yang dipahami bersama. Peserta konferensi kasus menyadari akan tugas dan peran serta batas-batas kewenangan profesionalnya. dengan tetap tidak melupakan aspek-aspek emosional. Dalam kondisi apa pun. sebagai anak pertama semula orang tuanya berkeberatan setamat SLTP anaknya melanjutkan ke SMU di Salatiga. terutama hal-hal yang berkenaan dengan orang tua siswa (konseli) yang bersangkutan g. orang tua sebetulnya berharap agar anaknya tidak perlu susah-sudah melanjutkan sekolah ke kota. Ia berasal dari keluarga petani yang terbilang cukup secara sosial ekonomi di desa pedalaman + 17 km di luar kota Salatiga. Setiap proses dan hasil konferensi kasus dicatat dan diadminsitrasikan secara tertib.menyebut nama siswa (konseli) yang bersangkutan. Contoh Studi Kasus dalam Bimbingan dan Konseling Lia (bukan nama sebenarnya) adalah siswa kelas I SMU Favorit Salatiga yang barusan naik kelas II. Keputusan berdasarkan yang diambil dalam konferensi kasus pertimbangan-pertimbangan rasional. d. Pertimbangan wali kelasnya karena Lia 22 . tapi atas bujukan wali kelas anaknya saat pengambilan STTB dengan berat merelakan anaknya melanjutkan sekolah. f. kepentingan siswa (konseli) harus diletakkan di atas segala kepentingan lainnya.

pilih-pilih teman yang sama-sama dari keluarga kaya saja. Akhirnya benar-benar menjadi anak minder. terisolik. dan kesepian makin mencekam dan mulai timbul sikap dan anggapan sekolahnya itu bukan untuk dirinya tidak krasan. tetapi mau keluar malu dengan orang tua dan temannya sekampung. Makin lama nilainya makin jatuh sehingga beban pikiran dan perasaan makin berat. manusia terlahir dengan kecenderungan yang luar biasa kuatnya berkeinginan dan mendesak agar supaya segala sesuatu terjadi demi yang terbaik bagi kehidupannya dan sama sekali menyalahkan diri sendiri. pemalu dan serta ragu dan takut bergaul sebagaimana mestinya. Ia menganggap teman-teman dari keluarga kaya tersebut sebagai orang yang egois. orang lain. Sejak diterima di SMU favorit di satu fihak Lia bangga sebagai anak desa toh bisa diterima. sampai-sampai ragu apakah bisa naik kelas atau tidak. kurang bersahabat. susah tak ada/punya teman yang peduli. tetapi di lain fihak mulai minder dengan temantemannya yang sebagian besar dari keluarga kaya dengan pola pergaulan yang begitu beda dengan latar belakang Lia. dan sombong. MEMAHAMI LIA DALAM PERSPEKTIF RASIONAL EMOTIF Menurut pandangan rasional emotif. Makin lama perasaan ditolak. Dasar saya anak desa. terus bertahan. manusia memiliki kemampuan inheren untuk berbuat rasional ataupun tidak rasional.terbilang cerdas diantara teman-teman yang lain sehingga wajar jika bisa diterima di SMU favorit. dan dunia apabila 23 . anak miskin (dibanding teman-temannya di kota) hujatnya pada diri sendiri.

dan menghalangi berdaya seseorang diri kembai ke kejadian awal dan mengubahnya.tidak segera memperoleh apa yang diinginkannya. mengontrol dunia. Berpikir dan merasa itu sangat dekat dan dengan satu sama lainnya : pikiran dapat menjadi perasaan dan sebaliknya. akhirnya hanya kesulitan yang luar biasa besar mampu mencapai dan memelihara tingkah laku yang realistis dan dewasa. Apa yang dipikirkan dan atau apa yang dirasakan atas sesuatu kejadian diwujudkan dalam tindakan/perilaku rasional atau irasional. Bahkan akhirnya menimbulkan perasaan tak pada yang bersangkutan. Bentuk-bentuk pikiran/perasaan irasional tersebut misalnya : semua orang 24 . memainkan peranan Tuhan apa saja yang dimui harus terjadi. menumbuhkan perasaan tidak nyaman (seperti kecemasan) yang sebenarnya tak perlu. selain itu manusia juga mempunyai kecenderungan untuk melebih-lebihkan pentingnya penerimaan orang lain yang justru menyebabkan emosinya tidak sewajarnya seringkali menyalahkan dirinya sendiri dengan cara-cara pembawaannya itu dan cara-cara merusak diri yang diperolehnya. dan jika tidak dapat melakukannya dianggap goblok dan tak berguna. Bagaimana tindakan/perilaku itu sangat mudah dipengaruhi oleh orang lain dan dorongan-doronan yang kuat untuk mempertahankan diri dan memuaskan diri sekalipun irasional. Ciri-ciri irasional seseorang tak dapat dibuktikan kebenarannya. tak terlalu jelek/memalukan namun dibiarkan terus berlangsung. Akibatnya berpikir kekanak-kanakan (sebagai hal yang manunusiawi) seluruh kehidupannya.

pemalu. peduli. Ia menjadi minder. sampai pada akhirnya menyalahkan dirinya sendiri dengan hujatan dan penderitaaan serta mengisolir dirinya sendiri. Sehubungan dengan kasus. penakut dan akhirnya ragu-ragu keberhasilan/prestasinya kelak yang sebetulnya tidak perlu terjadi. kalau ada yang tidak senang terhadap saya itu berarti malapetaka bagi saya. ia telah menempatkan harga diri pada konsep/kepercayaan yang salah yaitu jika kaya. tak seperti orang/teman-teman lainnya. Itu berarti salah saya. dan lain-lain dan itu semua tidak ada/didapatkan sejak di SMU. ia menjadi bermasalah karena perilakunya dikendalikan oleh pikiran/perasaan irasional. 25 . Lia sebetulnya terlahir dengan potensi unggul. semua teman memperhatikan / mendukung. karena saya tak berharga. Ia telah berhasil membangun konsep dirinya secara tidak realistis berdasarkan anggapan yang salah terhadap (dan dari) teman-teman lingkungannya.dilingkungan saya harus menyenangi saya. Saya pantas menderita karena semuanya itu.

Program pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi.BAB. III KESIMPULAN Dari pembahasan di atas dapat di simpulkan sebagai berikut: Guru bimbingan dan konseling/konselor memiliki tugas. tanggungjawab. kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan siswa (konseli). Konferensi kasus merupakan kegiatan pendukung atau pelengkap dalam Bimbingan dan Konseling untuk membahas permasalahan siswa (konseli) dalam suatu pertemuan. wewenang dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik. yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan. 26 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful