v

ANALISIS PEMANFAATAN TPA SAMPAH PASCA OPERASI BERBASIS MASYARAKAT (Studi Kasus TPA Bantar Gebang, Bekasi)

ROYADI

Disertasi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR TAHUN 2006

ii

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Analisis Pemanfaatan TPA Sampah Pascaoperasi Berbasis Masyarakat (Studi Kasus TPA Bantar Gebang, Bekasi) adalah karya saya sendiri dengan arahan komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau yang dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar Pustaka Acuan dibahagian akhir disertasi ini.

Bogor, April 2006 Royadi Nrp.99522708

iii

ABSTRAK
ROYADI. Analisis Pemanfaatan TPA Sampah Pascaoperasi Berbasis Masyarakat (Studi Kasus TPA Bantar Gebang, Bekasi). Dibimbing oleh M. Sri Saeni, Lala M. Kolopaking dan Hartrisari Hardjomidjojo.

TPA Bantar Gebang yang beroperasi sejak tahun 1989 selesai kontrak pakainya oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tanggal 31 Desember 2003. Untuk mengatasi permasalahan TPA Sampah Pascaoperasi, perlu dilakukan kajian dan analisis untuk melihat kemungkinan yang terjadi dimasa depan didasarkan pada keadaan saat ini seperti sumberdaya dan lingkungan alam, sosial ekonomi, fisik kimia, mikrobiologi, dan keterlibatan masyarakat dalam pemanfaatan TPA Sampah Pascaoperasi Berbasis Masyarakat. Tujuan dan manfaat dari penelitian ini antara lain adalah: 1). Melakukan evaluasi terhadap kualitas air sumur, air sungai, air lindi dan mikrobiologi; 2). Memilih alternatif yang sesuai untuk pemanfaatan TPA Sampah Pascaoperasi Berbasis Masyarakat. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini antara lain adalah analisis fisik kimia, analisis sosial ekonomi dan prospektif analisis serta Analitic Hierarki Proces (AHP). Kesimpulan dari penelitian ini antara lain adalah: 1). Kualitas fisik kimia dan biologi air sumur, air sungai dan air lindi masih dibawah ambang batas yang diperbolehkan, kecuali untuk kekeruhan air sungai, kandungan nitrat, nitrit, BOD5 , COD air lindi. 2). Alternatif pemanfaatan adalah sebagai TPA Terpadu, dengan kegiatan setiap zone sebagai berikut: Zone I dan II sebagai hutan kota/penghijauan, zone III, IV dan zone V sebagai TPA Sampah. Pema nfaatan sebagai TPA Terpadu menjadi sinergis antara pengelolaan sampah dengan hutan kota/penghijauan, daur ulang dan kompos. Faktor yang dominan dalam penentuan strategi bagi pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyarakat antara lain adalah: luas lahan, IPAS, Peraturan Perundangan, Pendanaan, Keterlibatan Swasta, Teknologi dan donor agency; 3). Pemanfaatan sebagai TPA Terpadu akan menimbulkan multiplyer effect baik bagi lingkungan, masyarakat sekitar lokasi TPA dan pemerintah sebagai berikut: a). Bagi masyarakat sekitar lokasi TPA, terciptanya lapangan kerja mulai dari perencanaan, kontruksi dan pada saat operasi serta keterlibatan dalam pemilahan sampah, pembuatan kompos dan pembuatan bahan-bahan bangunan. b). Bagi lingkungan pupuk kompos yang dihasilkan dapat bermanfaat untuk meningkatkan tingkat kesuburan lingkungan melalui kegiatan penghijauan, pemulihan atau memperbaiki ekosistem yang rusak, serta dapat menghemat penggunaan lahan TPA; c). Bagi peningkatan pertanian, pupuk kompos yang dihasilkan dapat mengurangi tingkat keasaman tanah lahan pertanian akibat penggunaan pupuk kimia secara terus menerus, disamping itu pupuk kompos dapat meningkatkan produktivitas lahan; d). Pengembangan ekonomi lokal, dengan terkonsentrasinya tenaga kerja dalam jumlah besar dapat membuka peluang usaha baru bagi kegiatan lainnya berupa kegiatan usaha warungan, usaha- usaha jasa keuangan, jasa cetring untuk makan para perkerja serta usaha rumah/kost/pengontrakan rumah; dan e). Bagi Pemerintah Daerah, terserapnya tenaga kerja unskill dalam kegiatan ini dapat mengurangi kerawanan sosial yang ditimbulkan karena ketiadaan lapangan kerja. Kegiatan hasil produk dari kegiatan ini dapat menjadi sumber PAD bagi pemerintah dan sumber penerimaan pajak bagi negara.

The goal of this research area: 1) evaluate to quality well water. construction and operation the TPA. home rental. Conclusion of this research is: 1) Physical. The exploited of this TPA as an integrated TPA being sinergy among garbage management with city forest/greenery. Under the direction of M. revitalization of envoronment. Zone III. increasing of the employee the bussines will be developt such as shop. microbiological. such as: a). river water and microbiological component. for city forest/greenery. prospective analysis and AHP analysis. biological quality in the up and down wells and waters around TPA by BOD5 and of COD. Analysis which used in this research is chemical-physical analysis. For Environment. such as: a). Lala M. IV and V. c). Exploited TPA as an integrated TPA will drive given multiplyer effect. finance. and food services. For Development economic locally. besides increase land productivity. Dominant factor in determining strategy for exploiting of TPA garbage after operation base on society is volume land. 2) Alternatives for re. e). TPA Bantar Gebang operating since 1989 finishing contract wear him by Local Government of DKI Jakarta on 31 December 2003. b). dropping social crisis by employing the unskill employee finally will increasing the PAD. nitrate. 2) Alternative which exploiting TPA garbage after operation being based on society. d). For community around the TPA. 3). nitrit have been exceed of ESQ (environmental standard quality). and effectivewly of TPA land use. Kolopaking dan Hartrisari Hardjomidjojo. regulation. socio -economic. was so that needed effort to see possibility that happened future able to solve problem TPA after operation for based by situation of natural environment and resources. for TPA itself. . so that the exploiting of being based on the society.iv ABSTRACT ROYADI. IPAS. chemical. production of artificial fertilize (kompos) will be raising (increasing) the land fertilization. technology and donor agency. base on zonation. Zones I and II. Bekasi). open vacancy for employee since the planning. b). Sri Saeni. For Agriculture. Analysis Pemanfaatan TPA Sampah Pascaoperasi Berbasis Masyarakat (Case Study at TPA Bantar Gebang. re-cyeling and making artificial fertilize (kompos).use of TPA Areais Interated TPA. kompos can dropped land zcid from using chemical fertilize. For local government. chemicalphysical. socio economic analysis of society. involvement of private sector. financing.

Dr. Ir. Ir. Lala M. Ir. MSc Dekan Tanggal Ujian: 8 Mei 2006 Tanggal Lulus: . DEA Anggota Ketua Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. Syafrida Manuwoto. Dr.vi JUDUL DISERTASI : ANALISIS PEMANFAATAN TPA SAMPAH PASCA OPERASI BERBASIS MASYARAKAT (Studi Kasus TPA Bantar Gebang Bekasi) Nama Mahasiswa Nomor Pokok : : Royadi 99522708 Disetujui. Hartrisari Hardjomidjojo. Kolopaking. H. Ir. MS Ketua Dr. MS Anggota Diketahui Dr. M. Sri Saeni. Surjono Hadi Sutjahjo. Komisi Pembimbing Prof. MS Prof. Ir.

2.. Provinsi Jawa Barat. Surjono Hadi Sutjahjo. Bunasor Sanim. 4. Sri Saeni. Dalam melaksanakan penelitian dan penulisan ini penulis telah banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Hartrisari Hardjomidjojo.Ir. M. 3. Dekan Sekolah Pascasarjana I stitut Pertanian Bogor yang selalu mendukung n penulis sebagai mahasiswa di Sekolah Pascasarjana IPB. Lokasi Penelitian ini adalah pada TPA sampah Bantar Gebang. 7. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atas pemberian izin penelitian di TPA Sampah Bantar Gebang. SU selaku penguji luar komisi. Penelitian yang dilakukan dengan judul Analisis Pemanfaatan TPA Sampah Pascaoperasi Berbasis Masyarakat (Studi Kasus TPA Bantar Gebang. Bogor. Kolopaking. 8 Mei 2006 ROYADI . 6. DEA. baik secara moral maupun material. Dr. Departemen Dalam Negeri atas dukungan dan memberikan izin kepada penulis untuk dapat mengikuti pendidikan di Sekolah Pascasarjana IPB. Lala M. Bekasi kepada penulis. sehingga Disertasi ini dapat diselesaikan. Penulis mengharapkan semoga karya ini dapat bermanfaat bagi Pemerintah DKI Jakarta dan Pemda Kota Bekasi serta dunia ilmu pengetahuan dan pihak lain yang membutuhkannya. 5. selaku Ketua komisi pembimbing.Sc dan Prof. yang selalu memacu agar cepat selesai dalam studi. Ir. Bekasi) dilaksanakan mulai dari bulan Juli 2004 sampai dengan Nopem ber 2004. Pimpinan Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah. MS dan Dr. selaku Ketua Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan.vii PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia-Nya. Dr.MS. sehingga pada kesempatan ini panulis ingin memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada: 1. Semua pihak yang telah membantu penulis tidak dapat disebut satu persatu namanya. Ir. selaku anggota komisi pembimbing atas segala waktunya untuk memberikan bimbingan dan arahan serta saran yang diberikan kepada penulis. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Prof. Dr.Dr. Bekasi. MS.Ir.Dr. Prof. M. Tjahya Supriatna.

viii

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 25 Mei 1962 di Jakarta, sebagai putra keempat dari tujuh bersudara dari ayah Mukdi (almarhum) dan Ibu Sareah (almarhumah). Pada tahun 1976, penulis lulus dari SDN Gempol Pagi I Jakarta, lulus dari SMP Negeri 79 Jakarta tahun 1980 dan lulus dari SMA YMIK Jakarta jurusan Ilmu Pasti Alam tahun 1983 kemudian masuk CATAR AKABRI pada tahun 1983 di Ma gelang dan menyelesaikan Sarjana S1 pada Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta pada tahun 1992. Pada tahun 1994 mengikuti pendidikan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) di LPEM-UI kemudian tugas belajar di University of New South Wales, Sdney Australia, dan tahun 1996 mengikuti pendidikan Pascasarjana pada Program Studi Ilmu Sumberdaya Manusia, Program Pascasarjana Institut Pengembangan Wiraswasta Indonesai, Jakarta lulus tahun 1998. Pada tahun 2000 penulis melanjutkan studi pada Program Doktor di program studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Program Pascasarjana IPB Bogor. Penulis bekerja di Departemen Dalam Negeri, pernah menjabat sebagai Kepala Seksi Perencanaan Kabupaten Kota, Direktorat Perencanaan Daerah, Kepala Seksi Bencana Alam pada Subdit Pengendalian Dampak dan Bencana Alam, Direktorat Fasilitasi Lingkungan Hidup dan Penataan Ruang dan pada saat ini menjabat sebagai Kepala Seksi Penataan Wilayah Khusus , Direktorat Fasilitasi Penataan Ruang dan Lingkungan Hidup, Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah.

ix

DAFTAR ISI DAFTAR ISI ............................................................................................................... i DAFTAR TABEL .................................................................................................. ... ii DAFTAR GAMBAR ............................................................................................... iii DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................ iv I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ........................................................................................... 1.2. Tujuan dan Manfaat Penelitian .................................................................. 1 2

A. Tujuan Penelitian...................................................................................... 2 B. Manfaat Penelitian.................................................................................... 3 1.3. Kerangka Pemikiran ................................................................................... 3 1.4. Perumusan Masalah ................................................................................... 1.5. Ruang Lingkup............................................................................................. 5 5

A. Lingkup Wilayah Penelitian.................................................................... 5 B. Lingkup Materi Penelitian....................................................................... 6 1.6. Hipotesis....................................................................................................... 6 1.7. Novelty (Kebaruan)...................................................................................... 6 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pemberdayaan Masyarakat .......................................................................... 7 2.2. Partisipasi Masyarakat................................................................................. 13 2.3. Pencemaran Lingkungan ............................................................................. 24 2.4. Pengertian-pengertian ................................................................................ 26 A. Pengertian Sampah ............................................................................... 26 B. Sumber dan Jenis Sampah..................................................................... 27 C. Pengelolaan Sampah ............................................................................. 29 D. Tempat Pembuangan Akhir (TPA)........................................................ 34 E. Lindi ...................................................................................................... 35 III. METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................... 37 3.2. Metode Pengumpulan Data..................................................................... 37 A. Data Primer ....................................................................................... 37

x

a. Fisik dan Kimia............................................................................. 37 b. Mikrobiologi Lingkungan............................................................. 41 c. Sosial Ekonomi Masyarakat......................................................... 43

B. Data Sekunder.................................................................................. 44 3.3. Tahapan Kegiatan Penelitian .................................................................. 45 3.4. Metode dan Analisis Data....................................................................... 45 A. Data Fisik Kimia................................................................................ a. Analisis Kualitas Air Sumur......................................................... b. Analisis Kualitas Air Sungai....................................................... c. Analisis Kualitas Air Lindi........................................................... 46 46 47 47

B. Data Mikrobiologi.............................................................................. 47 C. Sosial Ekonomi dan Kesehatan Masyarakat...................................... D. Umur Pemanfaatan TPA.................................................................... E. Analitik Hierarki Proses (AHP)......................................................... F. Teknik Prospektif.............................................................................. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Lokasi…………………………………………………... 54 A. Letak Geografi ........................................................................................ a. Letak dan Luas Wilayah.................................................................... 54 54 47 48 48
50

b. Iklim................................................................................................... 56 c. Penduduk .......................................................................................... B. Karakteristik Sampah Perkotaan dan TPA.............................................. 56 58

a. Karakteristik Sampah......................................................................... 58 b. Komposisi Sampah............................................................................ c. Densitas atau Kepadatan Sampah...................................................... C. Umur Teknis TPA Bantar Gebang.......................................................... D. Kualitas Lingkungan............................................................................... E. TPA Liar dan Pemulung......................................................................... a. TPA Liar........................................................................................... b. Pemulung.......................................................................................... F. Dampak Pengelolaan TPA pada Lingkungan......................................... 59 60 61 61 62 62 62 64

107 F.......................... 85 C...................................... Evaluasi Fisik Kimia......................................................................................................... Komponen Sosial Ekonomi................... Tanggapan Responden terhadap TPA Bantar Gebang....... 76 Nitrat (NO 3?)................................................ Karakteristik Responden ........................................................ Umur Teknis TPA....................... Chimical Oxigen Demand (COD)......................................... Peranserta Swasta.... Suhu............. 99 B................... Perkembangan Kualitas Air Sungai........................................................................................................ 79 j................... Perkembangan Kualitas Air Sumur..... f......... Kekeruhan......... 97 4.......3....... 107 ............................................. 79 Sulfida (S²¯ ).....................................................................xi G.................................................................................................................2.................................................. c........................... 84 B........................................ c............ 103 E.................................................. 76 Kesadahan. 100 C...................................................... e...... Kemasaman (pH)........ Total Disolved Solid (TDS)...................................................... 101 D...................... b. Nitrit (NO2 )............................................................ Pengelola TPA........................................ g........... ............................................................................................................................................................................ A.. Peranserta Masyarakat.............................. 67 67 67 68 70 70 70 73 74 75 b.............................................. Kompos dan Daur Ulang.. Kesehatan Masyarakat.................................... Sosial Ekonomi Respond en...................... a..................4..................................... Perkembangan Kualitas Air Lindi...... Swasta dan Pengelola TPA........... a..... 77 Besi (Fe). 81 l................................................................................................................ d................................... Orto Fosfat................................................................ Komponen Mikrobiologi .................. 92 4... 99 A.......................................... Escherichia Coli................... 4........................... 82 m.................................. Koliform Total (MPN).................................................................................................................................... i.................................... Ammonia (N-NH3 )........................ h............................................. 80 k........... Peranserta Masyarakat............... 83 n....................................

..........2.............................................. Existing codition...................... Gabungan antara Existing Condition dan Need Analysis......................6.......................................................... 107 b.....1.......................................... 115 E........................ Saran .......... Instalasi Pengelolaan Air Sa mpah (IPAS).........5.................. 5..................... 126 f...................... Hasil Sintesis AHP pada zone III................................ Hasil Sintesis AHP pada zone II............. 117 118 A....................................... Prioritas Pemanfaatan TPA setiap zone................................. Luas Lahan........................... Hasil Sintesis AHP pada zone V... 116 F................................ Hasil Sintesis AHP............................................................................................................................................................................................................................... 123 b....... Daur Ulang. 142 ............................... 109 4................................................ 128 V................. Need Analysis................ Donor Agency................................................................................... 113 C......................................... Komposting..... 112 B......................................... 119 B.......................xii a.... 123 c......................... 125 e.................... 110 A............................................................................................................... Hasil Sintesis AHP pada zone IV................................................... 131 133 135 LAMPIRAN .......................................... Keterlibatan Swasta......................................................... 120 122 a........ DAFTAR PUSTAKA ......... 124 d.................................. Simpulan ........... Pendanaan.................................... 127 g.............. Hasil Sintesis AHP pada zone I... Teknologi.............. 4................................................... Implikasi Kebijakan Skenario Prospektif Masa Depan............... Peraturan Perundangan.......................... SIMPULAN DAN SARAN 5....................................... 114 D.................................... C..................................................................................................................................................................................................................

......... Beberapa Jenis Penyakit Bawaan Air……………………………........................ Persepsi responden terhadap gangguan kesehatan tahun 2001 s/d 2004....………………………….................... Perkiraan Jenis Dampak Penting di TPA Bantar Gebang…………… Kualitas Air Sumur di Atas dari TPA 2004.......................................... Distribusi lalat di kawasan TPA Bantar Gebang dan sekitarnya……........................ Pedoman Penilaian Analisis Prospektif...xiii DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1: 2: 3: 4: 5: 6: 7: 8: 9: 10: 11: 12: 13: 14: 15: 16: 17: 18: 19: 20: 21: 22: 23: 24: 25: 26: 27: 28: 29: Evaluasi Partisipatif............................. Penyebab gangguan terhadap air tanah…………………………… ... Komposisi bahan organik dan anorganik di TPA Bantar Gebang…..... Jumlah sampah yang dibawa ke TPA Bantar Gebang Tahun 2004... Nilai dan definisi pendapat kualitatif……………………………......... Analisis Kualitas Air Sungai Sebelum TPA (inlet) 2004................. Penyebab gangguan bau…………………………………………….................................................................................................... Wujud gangguan terhadap air tanah.......... 20 28 30 38 39 40 41 42 48 52 58 60 61 65 71 72 86 87 99 101 101 102 102 103 104 106 107 122 129 ................….......... Jenis penyakit di Kota Bekasi dalam 7 tahun terakhir…………….. Kualitas Air Sumur Bawah dari TPA 2004............. Penyakit Bawaan Sampah………………………………………….............. Tingkat pendapatan responden............................................................ Jenis pekerjaan responden.......... Kualitas Air Sungai Ciketing…………... Jumlah dan perkembangan penduduk di tiga Kelurahan……………..................................... Sumber dan Jenis Sampah………... Kualitas Air Lindi…………………………………………………............................................................................... Faktor-faktor penentu atau kunci hasil gabungan faktor existing condition dan need analysis.......... Analisis tingkat kepentingan antar faktor...................... Umur Teknis TPA Bantar Gebang…………........ Kualitas air sumur di TPA Bantar Gebang………………………........................ Hasil Analisis Lindi Sistem Sanitary Landfill (ppm)………… ...........................…………………….. Analisis Kualitas Air Sungai Sesudah TPA (outlet) 2004...............................

.....……………………….....................faktor existing condition yang berpengaruh pada pemanfaatan TPA Terpadu.................................................................................... 8: Pengelolaan air lindi di TPA Bantar Gebang.……………....................................... 9: Struktur Organisasi Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta............ 11: Perkembangan parameter pH air sumur............……….................................................xiv DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1: Kerangka Pikir pemanfaatan TPA Pascaoperasi Berbasis Masyarakat... 23: Hasil sintesis AHP untuk penggunaan zone III.. 7: Kegiatan pemulung di TPA Bantar Gebang …...... 15: Perkembangan Nitrit di IPAS Periode Oktober-Nopember 2004..............……………………………..........................................................................................................…………......................... 120 ............................................................. 17: COD di IPAS Periode Oktober-Nopember 2004................ 24: Hasil sintesis AHP untuk penggunaan zone IV....................... 21: Hasil sintesis AHP untuk penggunaan zone I.................... 4 31 45 51 55 57 63 66 69 70 74 86 92 94 95 96 96 97 110 111 112 113 114 115 116 26: Tingkat Kepentingan faktor... 14: Perkembangan Nitrat di IPAS Periode Oktober-Nopember 2004................... 3: Tahapan Kegiatan Penelitian....................………… 10: Lokasi Sumur bawah dari TPA. 25: Hasil sintesis AHP untuk penggunaan zone V........ 18: pH di IPAS periode Oktober-November 2004..................................... 12: Sungai C iketing (outlet)…………….. 6: Peta TPA Bantar Gebang…………………………………………….................... 2: Diagram kerangka dasar pemikiran pengelolaan sampah.... 20: Struktur Hirarki .............. 5: Peta Kota Bekasi………………………………………...... 22: Hasil sintesis AHP untuk penggunaan zone II..................................... 19: Lokasi TPA Bantar Gebang zone IV................................ 13: Perkembangan parameter Nitrat air lindi ………………........... 16: Perkembangan BOD5 di IPAS Periode Oktober-Nopember 2004……................................ 4: Tingkat pengaruh dan ketergantungan antar faktor dalam sistem….....

.....................faktor need analysis yang berpengaruh pada sistem pemanfaatan TPA Terpadu..................xv 27: Tingkat kepentingan faktor............................................. 28: Tingkat kepentingan faktor........................faktor gabungan antara existing condition dan need analysis yang berpengaruh pada sistem pemanfaatan TPA Terpadu...... 29: Model Pemanfaatan TPA Sampah Pascaoperasi Berbasis Masyarakat................. 121 122 130 ........................

. 156 Lampiran 14: Lampiran 15: Lampiran 16: Lampiran 17: Lampiran 18: Lampiran 19: Lampiran 20: Lampiran 21: Lampiran 22: Lampiran 23: Lampiran 24: Kualitas Air Lindi Titik Inlet dan Outlet Tahun 2001.... 158 Kualitas Air Sumur di Sekitar TPA Bantar Gebang Ta hun 2003.........………………..... 2004.. 157 Kualitas Air Lindi Titik Inlet dan Outlet Tahun 2000............... 2004................... 169 Perjanjian Kerjasama No........ 178 .. 146 Analisis Kualitas Air Lindi sebelum diolah IPAS I (Inlet).......……...........................……....... 151 Analisis Kualitas Air Lindi sesudah dio lah IPAS 2 (Outlet) 2004........Bekasi....... 162 Kualitas Air Sungai Ciketing pada titik Inlet dan Outlet.......... Kota Bekasi....96 Tahun 1999/168 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Sampah dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah di Kecamatan Bantar Gebang. 159 Kualitas Air Sumur di Sekitar TPA Bantar Gebang Tahun 2002.............. 149 Analisis Kualitas Air Lindi sebelum diolah IPAS 4 (Inlet) 2004... 141 Curah hujan bulanan di Bekasi (mm) tahun 1979-1988 Sta 841-Bekasi..................…......... 2004... 166 Daftar pertanyaan masa lah TPA Bantar Gebang …………………..... 2004.......xvi DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman Lampiran 1: Lampiran 2: Lampiran 3: Lampiran 4: Lampiran 5: Lampiran 6: Lampiran 7: Lampiran 8: Lampiran 9: Lampiran 10: Lampiran 11: Lampiran 12: Pertanyaan Analisis Prospektif........ 150 Analisis Kualitas Air Lindi sesudah diolah IPAS I (Outlet)... 148 Analisis Kualitas Air Lindi sebelum diolah IPAS 3 (Inlet)................... tahun 1979-1988 Sta 841. 160 Kualitas Air Sumur di Sekitar TPA Bantar Gebang Tahun 2001..... 161 Kualitas Air Sumur di Sekitar TPA Bantar Gebang Tahun 2000........... 147 Analisis Kualitas Air Lindi sebelum diolah IPAS 2 (Inlet) 2004....... 155 Lamp iran 13: Kualitas Air Lindi Titik Inlet dan Outlet Tahun 2002.... 153 Analisis Kualitas Air Lindi sesudah diolah IPAS 4 (Outlet) 2004........ 152 Analisis Kualitas Air Lindi sesudah diolah IPAS 3 (Outlet)... 145 Jumlah curah hujan bulanan.... 154 Kualitas Air Lindi Titik Inlet dan Outlet Tahun 2003.. 164 Analisis Regresi Persepsi.................. 163 Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) LPA Bantar Gebang........

.. Bekasi.............. Lampiran 26: 186 190 ........ Kota Bekasi.. Perjanjian Tambahan (ADDENDUM) Kedua No..xvii Lampiran 25: Perjanjian Tambahan (ADDENDUM) No............................ 127 tahun 2000 dan 227/2000 tentang Perjanjian Kerjasama Pengelolaan Sampah dan TPA Sampah di Kecamatan Bantar Gebang............22 Tahun 2002 dan 41 Tahun 2002 tentang Perjanjian Kerjasama Pengelolaan Sampah dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Kecamatan Bantar Gebang...

2.500 m³ atau 365 hari x 7. TPA Bantar Gebang secara administratif terletak di Kota Bekasi. Zone I total lahan 25 ha. tercecer di dalam kota.000 m³ per hari dengan bobot 25.5 liter x 365 = 900 liter = 0.lokasi informal. di kota-kota besar Indonesia setiap orang menghasilkan sampah 2 . namun sistem pengelolaannya dibatasi oleh wilayah administratif. Jakarta dengan luas 655 km². Latar Belakang Salah satu masalah lingkungan hidup pada saat ini adalah masalah sampah. PENDAHULUAN 1.750 ton per hari. Kondisi TPA saat ini tidak mampu l gi a menampung sampah. Meningkatnya pertumbuhan penduduk dan aktivitasnya. dan 13 % tidak terkelola. 2002).000.000 m³ per hari dengan sistem sanitary landfill. daerah industri 15 %. Menurut Widyatmoko (2001). saat ini meningkat menjadi 20.5 % ke lokasi. jumlah penduduk 10.3 – 0.000 m³ x 0.8 ha. lahan yang efektif digunakan dan mulai diisi pada setiap zone berbeda tahunnya.5 liter per hari. Persoalan sampah merupakan permasalahan lingkungan yang menyebar tidak mengenal batas-batas wilayah administratif.35 ton per m³. Dari jumlah tersebut. Sampah-sampah ini dapat dibagi dalam dua jenis sampah. dengan luas 108 ha dan dapat menampung sampah 14.000 jiwa menghasilkan sampah 25. serta jalan. misalnya untuk lokasi TPA sampah.500 m³ = 2.1.35 ton = 8.35 kg/ m³ = 0. taman dan sungai 2 %.1 I.737.000 m³ per hari. Sampah yang terkumpul dan diangkut kurang lebih 70 % ke TPA Bantar Gebang. . Oleh karena itu untuk menangani masalah persampahan dibutuhkan kerjasama antar wilayah administratif.315 ton = 315 kg per tahun. sampah yang tidak terangkut setiap harinya 7. pasar 10 %.500 m³ per tahun. jalan atau dibuang ke sembarang tempat misalnya ke sungai dan sepanjang pinggir jalan (Dinas Kebersihan DKI Jakarta. dengan mengasumsikan bahwa sampah yang dihasilkan mempunyai kepadatan yang sama dengan kepadatan sampah dalam truk yaitu 0. Sampah ini ditimbulkan dari berbagai lokasi kegiatan masyarakat yaitu daerah perumahan 58%. maka dalam satu tahun setiap orang me nghasilkan sampah 2. dengan lahan efektif yang digunakan 16.9 m³ x 0. daerah komersial 15 %. memberi kontribusi signifikan pada peningkatan sampah. yaitu sampah organik 65 % dan sampah non-organik 35 %.9 m³ atau 0. 16.

6 meter. b.3 ha saat ini ketinggian sampah 6.3 ha saat ini ketinggian sampah 4.3 ha saat ini ketinggian sampah 6. perlu pengelolaan yang baik. dengan lahan efektif yang digunakan 11. A. zone III total lahan 30.7 meter. pembentukan gas metana.2. zone II total lahan 23 ha. lahan ini mulai diisi sejak 1989 sampai dengan 1991. air lindi. dengan lahan efektif yang digunakan 20. dengan lahan efektif yang digunakan 12.2 saat ini ketinggian sampah 8. meter. dengan lahan efektif yang digunakan 11.7 ekor per grill melebihi baku mutu Departemen Kesehatan RI Nomor 281-11/PD. fisik kimia. untuk mengatasi permasalahaan TPA sampah pascaoperasi. dala m pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasiskan masyarakat. lahan ini mulai diisi sejak 1995 sampai dengan 1998.1. lahan ini mulai diisi sejak 1999 sampai dengan 2001. Dengan demikian. limpasan dan peresapan serta pembentukan air lindi yang berlangsung dan aliran air lindi ke dalam pengolahan terus berjalan. proses akumulasi. degradasi. sosial ekonomi.1 meter. dampak biologi khususnya keberadaan lalat tinggi 36. timbunan sampah besar. Tujuan dan Manfaat Penelitian.2 ha. gas dan konflik. mikrobiologi.5 ha. 1. Melakukan evaluasi terhadap TPA saat ini dan melakukan analisis kualitas air sumur. lahan ini mulai diisi sejak 1992 sampai dengan 1994.2 ha saat ini ketinggian sampah 8. lahan ini mulai diisi sejak 2002 sampai dengan 2003. Tujuan Penelitian a. sungai. dan zone V total lahan 15. Memilih alternatif yang sesuai untuk pemanfaatan TPA Pascaoperasi berbasis masyarakat.11 tanggal 30 Oktober 1989 yaitu 30 per grill. komponen mikrobiologi serta sosial ekonomi dan kesehatan masyarakat. Sedangkan pada zone yang aktif.3 ha.04.2 meter. Oleh karena itu pengelolaan sampah pada zone yang masih aktif perlu memperhatikan standar sanitary landfill dengan menimbun dan menutup sampah dengan tanah agar tidak menimbulkan bau menyengat hasil pembusukan bahan organik yang akan merangsang keberadaan lalat. pencemaran sumur. Pada zone yang tidak aktif terjadi proses suksesi vegetasi. air sungai. dan keterlibatan masyarakat.03. zone IV total lahan 14. perlu dilakukan kajian dan analisis untuk melihat kemungkinan yang terjadi di masa depan didasarkan pada keadaan saat ini seperti sumberdaya dan lingkungan alam. .

c. dari berbagai alternatif pemanfaatan yang diperoleh dari analisis AHP. Manfaat Penelitian a. kemudian untuk menentukan skenario yang optimal dalam memprediksi semua kemungkinan keadaan yang akan terjadi di masa yang akan datang digunakan analisis Prospektif . Dalam rangka memanfaatkan lahan bekas TPA. Secara skematis kerangka pemikiran dalam merumuskan masalah penelitian ini secara ringkas dapat dilihat pada Gambar 1. maka untuk menentukan alternatif pemanfaatannya digunakan AHP. maka pemanfaatan TPA Pasca operasi berbasis masyarakat perlu mendapat perhatian yang sangat serius. Memberi masukan kepada Pemda DKI Jakarta maupun Pemda Kota Bekasi alternatif memanfaatkan TPA pascaoperasi berbasis masyarakat yang sesuai dengan kondisi lingkungan sekitar. maka perlu dirumuskan kebijakan dan formulasi strategi. Dapat digunakan kebijakan Pemerintah DKI Jakarta dan Kota Bekasi untuk pemanfaatan TPA Bantar Gebang Pascaoperasi. Bekasi Pascaoperasi. Meningkatkan pendalaman di bidang ilmu lingkungan yang berkaitan dengan peranserta masyarakat dalam pengelolaan lingkungan khus usnya pemanfaatan TPA Pascaoperasi. Pengembangan model partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup khususnya pemanfaatan TPA Pascaoperasi.3. Sehubungan telah berakhirnya pengelolaan TPA menurut Kesepakatan Kerjasama antara Pemerintah DKI Jakarta dan Pemerintah Kota Bekasi tahun 2003. 1. b. d. Untuk menjawab permasalahan tersebut.3 B. . Kerangka Pemikiran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang adalah suatu tempat penampungan sampah Kota Jakarta yang lokasinya berada di Kota Bekasi. maka kerangka pikir dalam penelitian ini dengan menggunakan berbagai skenario yang optimal dalam memprediksi semua kemungkinan keadaan yang akan terjadi di masa yang akan datang digunakan analisis Prospektif (Hartrisari 2002). Permasalahan yang terjadi mulai kondisi TPA saat ini hingga pada pemanfaatan TPA pascaoperasi dapat dilihat secara menyeluruh (holistik) dengan melibatkan semua stakeholders yang ada di dalamnya. Memberi masukan untuk penanggulangan dan pengendalian pencemaran di TPA Bantar Gebang. e.

Sungai dan air lindi MIKROBIOLOGI E. 5 zone. degradasi dan limpasan serta peresapan Pemulung. keracunan gas. dan konflik. coli. sungai. proses akumulasi. sanitary landfill Kontrol Pemerintah kurang Pembentukan air lindi. penyakit menular.4 TPA SAMPAH BANTAR GEBANG TPA SAAT INI Luas 108. coliform dan populasi lalat SOSEKMAS Persepsi dan partisipasimasyarakat Pemilihan alternatif Pemanfaatan Model Pemanfaatan TPA Pascaoperasi Berbasis Masyarakat Gambar 1: Kerangka Pikir Pemanfaatan TPA Pascaoperasi Berbasis Masyarakat. gas metan. . Analisis FISIK KIMIA Kualitas Air Sumur. mencemari sumur.

menurunkan kualitas air permukaan. terdiri 5 zone. perlu dilakukan penelitian mengenai pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyarakat. TPA menyebabkan tumbuh dan berkembangnya media pembawa penyakit seperti lalat. ekonomi.5 1. kecoa. Penumpukan sampah di TPA akan menghasilkan lindi yang dapat merembes ke dalam air tanah dan sungai. biologi. Upaya pemecahan masalah pemanfaatan TPA pascaoperasi dilakukan dengan mengetahui kondisi TPA saat ini maupun kondisi sosial ekonomi dan kesehatan masyarakat sekitar TPA kemudian masukan dan pendapat para pakar yang kemudian dianalisis untuk mengetahui pemanfaatan kedepan yang sesuai dengan kondisi yang ada. dengan ketinggian sampah yang masih dibawah standar sanitary landfill rekomendasi JAICA.5. tikus. dapat dimanfaatkan beberapa alternatif kegiatan. Dalam penelitian ini aspek-aspek yang mempengaruhi pemanfaatan TPA pascaoperasi diuraikan menjadi aspek lingkungan fisik kimia. b. lahannya luas. maka pokok permasalahannya dapat dirumuskan sebagai berikut: a. Lingkup Wilayah Penelitian Lingkup wilayah atau lokasi penelitian adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Bantar Gebang adalah suatu tempat penampungan sampah Kota Jakarta yang lokasinya berada di Kota Bekasi yang meliputi tiga kelurahan pada Kecamatan Bantar . TPA Bantar Gebang memiliki potensi timbunan sampah cukup besar. memiliki 4 IPAS yang masih beropersi dengan baik. A. sosial budaya dan kesehatan. Ruang Lingkup. c. 1. Untuk mengatasi permasalahan ini. sungai dan sumur penduduk. nyamuk dan cacing. Analisis aspek-aspek tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi dan menentukan alternatif skenario unggulan yang menjadi masukan untuk merumuskan kebijakan pemanfaatan TPA Sampah Bantar Gebang pascaoperasi berbasis masyarakat. d. Perumusan Masalah Berdasarkan informasi dari uraian sebelumnya.4. Bagaimana konsep pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyarakat.

Berdasarkan latarbelakang dan perumusan masalah yang dikemukakan serta sesuai dengan kerangka pemikiran dan tujuan penelitian.6 Gebang dalam Kota Bekasi. Kelurahan Cikiwul. Alternatif terbaik pemanfaatan TPA Sampah Pascaoperasi adalah digunakan sebagai TPA Terpadu. kebaruan penelitian yang dilakukan adalah penyusunan model pemanfaatan TPA Sampah Pascaoperasi menjadi TPA Terpadu dengan analisis integratif pada aspek fisik kimia. c. Hipotesis . mikrobiologi serta sosial dan kesehatan dan pendapat pakar yang berbasis masyarakat. maka ruang lingkup materi penelitian dibatasi dengan pengembangan model pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyarakat. B. dan c). Kelurahan Ciketing Udik. b. maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebabagi berikut: a. Lingkup Materi Penelitian Sehubungan telah berakhirnya pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Bantargebang menurut Kesepakatan Kerjasama antara Pemerintah DKI Jakarta dan Pemerintah Kota Bekasi tahun 2003. Kelurahan Sumurbatu. 1. Pemanfaatan sebagai TPA Terpadu menimbulkan multiplier effect bagi lingkungan. Sumur penduduk baik yang diatas maupun di bawah dari TPA dan air Sungai Ciketing telah tercemar.6. 1. Novelty (Kebaruan) Berkaitan dengan novelty tersebut. . masyarakat sekitar TPA dan pemerintah.7. b). Jawa Barat. Secara administrasi tiga kelurahan tersebut adalah sebagai berikut: a).

keterampilan serta sumber lainnya dalam rangka mencapai tujuan mereka tanpa bergantung pada pertolongan dari hubungan eksternal. negara. b. jaringan kerja dan keadilan. menyatakan bahwa proses pemberdayaan adalah upaya menjadikan suasana kemanusiaan yang adil dan beradap menjadi semakin efektif secara struktural baik di dalam kehidupan keluarga. ekonomi dan lain.7 II.lain. TINJAUAN PUSTAKA 2. Pemberdayaan masyarakat dipengaruhi pula oleh faktor sosial. kekuatan atau kemampuan kepada masyarakat agar individu menjadi lebih berdaya. partisipasi. ekonomi dan sosial yang tidak dapat dipaksakan dari luar. akan tetapi lebih pada makna pentingnya proses dalam pengambilan keputusan. internasional maupun bidang politik. Proses pemberdayaan mengandung dua kecenderungan: a. Pemberdayaan Masyarakat Kemandirian dan keberdayaan masyarakat merupakan prasyarat untuk menumbuhkan kemampuan masyarakat sebagai pelaku dalam pengelolaan lingkungan hidup bersama dengan pemerintah dan pelaku pembangunan lainnya (Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997). Konsep pemberdayaan dalam wacana pembangunan masyarakat selalu dihubungkan dengan konsep mandiri. Namun. . bukan hanya untuk mencapai tujuannya yang penting. Upaya untuk memberdayakan masyarakat adalah meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat yang kondisinya sekarang tidak mampu untuk melepaskan diri dari perangkap ketidak mampuan dan keterbelakangan. adalah suatu proses pemahaman situasi yang sedang terjadi sehubungan dengan politik. Menurut McArdle (1989). Menekankan pada proses pemberian atau mengalihkan sebagian kekuasaan.1. regional. orang-orang yang telah mencapai tujuan kolektif diberdayakan melalui kemandiriannya. Kemampuan individu untuk mengendalikan lingkungannya. Friedmann (1992). Konsep pemberdayaan masyarakat ini mencerminkan paradigma baru pembangunan. bahkan merupakan keharusan untuk lebih diberdayakan melalui usaha mereka sendiri dan akumulasi pengetahuan. masyarakat. politik dan psikologi. pemberdayaan sebagai proses pengambilan keputusan oleh orang-orang yang secara konsekuen melaksanakan keputusan.

Menurut Syaukani (1999). Sedangkan menurut Oppenheum (Sumardjo dan Saharudin. nilai. partisipasi. tetapi juga pendukungnya misalnya peraturan. Konsep pemberdayaan dalam wacana pembangunan masyarakat selalu dihubungkan dengan konsep mandiri. menurut Uphoff (Sumardjo dan Saharudin. Oleh karena itu dalam pemberdayaan masyarakat pada dasarnya masyarakat perlu mengembangkan kesadaran atas potensi. pemberdayaan masyarakat merupakan strategi pembangunan yang berpusat pada kepentingan dan kebutuhan rakyat yang mempunyai arah pada kemandirian masyarakat. proses ini akan dapat menciptakan pembangunan yang lebih berpusat pada rakyat. baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia. Proses ini bertitik tolak untuk memandirikan masyarakat agar dapat meningkatkan taraf hidupnya. jaringan kerja dan keadilan Hikmat (2001). sosial dan transformasi budaya. 2003) ada tiga alasan utama yaitu (1) sebagai langkah awal mempersiapkan masyarakat untuk berpartisipasi dan merupakan suatu cara untuk menumbuhkan rasa memiliki dan rasa tanggung jawab masyarakat terhadap program pembangunan yang dilaksanakan (2) sebagai alat untuk memperoleh informasi mengenai kebutuhan potensi dan sikap masyarakat setempat (3) masyarakat mempunyai hak untuk memberikan pemikir annya dalam menentukan program-program yang akan dilaksanakan di wilayah mereka. menggunakan dan mengakses sumberdaya setempat sebaik mungkin. Melibatkan masyarakat dalam perencanaan dan pengambilan keputusan dalam kegiatan pembangunan dan pemberdayaan sangat penting. masalah dan kebutuhannya sehingga akan terwujud rasa tanggungjawab dan kesadaran untuk memiliki dan memelihara program pengembangan masyarakat. 2003) ada dua hal yang mendukung terjadinya partisipasi masyarakat dalam kegiatan pemberdayaan dan pembangunan. Pemberdayaan masyarakat adalah pengalaman dan pengetahuan masyarakat tentang keberdayaannya yang sangat luas dan berguna serta kemauan masyarakat untuk menjadi lebih baik.8 Menurut Hikmat (2001). . yaitu: (1) adanya unsur yang mendukung untuk berperilaku tertentu pada diri seseorang dan (2) iklim dan lingkungan yang memungkinkan terjadinya pelaku tersebut. Pemberdayaan dan partisipasi merupakan strategi yang sangat potensial dalam rangka meningkatkan ekonomi. pemberdayaan tidak hanya terpusat pada individuindividu masyarakat.nilai modern.

tokoh masyarakat dan warga masyarakat dengan tidak membedakan jenis kelamin. Masyarakat akan ikut menangani limbah domestik apabila mereka memiliki "keberdayaan". dan menempatkan manusia sebagai subyek pembangunan. Dalam memperdayakan masyarakat. 2002). pemerintah mengarahkan program-program yang diperuntukkan dan langsung akan dinikmati masyarakat. dengan tujuan dan sasarannya. Daerah Kabupaten dan Daerah Kota mempunyai kewenangan dan keleluasaan untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat (Elfian. rasa tanggung jawab dan lain sebagainya. Pembangunan Masyarakat Desa adalah seluruh kegiatan pembangunan yang dilaksanakan di desa dan kelurahan dan mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat. menempatkan otonomi daerah secara utuh pada daerah Kabupaten dan Daerah Kota dengan tujuan untuk memberdayakan masyarakat. hemat. pencapaian tujuan pembangunan masyarakat.9 kerja keras. mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). meningkatkan kualitas manusia dan masyarakat. Undang-undang Nomor 22 tahun 1999. Pemberdayaan masyarakat adalah suatu kegiatan yang bertujuan membekali keterampilan dan pengetahuan kepada masyarakat agar mampu memberikan kontribusi dan dukungan terhadap proses pembangunan yang terjadi di lingkungannya. rencana dan pelaksanaannya dilakukan oleh masyarakat dan lembaga kemasyarakatan yang pelaksanaannya dilakukan oleh LKMD. Menurut Departemen Dalam Negeri (1996). menumbuhkan prakarsa dan kreativitas. Pemberdayaan masyarakat adalah kemampuan setiap individu untuk terlibat dan berperan dalam pembangunan. 2001). keterbukaan. Kegiatan ini dilaksanakan secara terpadu dengan mengembangkan prakarsa dan swadaya gotong royong. semangat membangun pada seluruh masyarakat. dengan demikian masyarakat berhak dan wajib menyumbangkan potensinya dalam pembangunan. sekecil dan selemah apapun kualitas sumberdaya seseorang bisa diberdayakan dalam pembangunan di daerahnya. Sasarannya adalah pimpinan lembaga kemasyarakatan. Atas dasar ini. meningkatkan peranserta masyarakat. sehingga pemberdayaan masyarakat menjadi penting dan mendesak (Ditjen Bina Bangda. Pemberdayaan masyarakat adalah upaya meningkatkan kemampuan dan kualitas sumberdaya manusia dan masyarakat agar mampu secara mandiri melaksanakan kegiatan pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraannya. .

Selanjutnya menurut Bangd a (2002). c. termasuk peningkatan kemampuan. orientasi. b. sehingga masyarakat menjadi faham dan mengerti. Responsif dan aspiratif. tapi menyerahkan pengendalian. Mengembangkan semangat “perang terhadap limbah domestik” dalam diri masyarakat melalui media elektronik. yang segala sesuatunya dibicarakan dengan masyarakat. sehingga berperan sebagai penjinak bencana bukan menjadi korban bencana (Jurnal Otonomi Daerah. Jemput bola. Keterbukaan Pemerintah Daerah dalam pengelolaan limbah domestik. kelompok ini menjadi ujung tombaknya. 2001). cetak. keputusan publik harus mampu menjawab permasalahan dengan memanfaatkan sumberdaya secara optimal di bidang pemerintahan. Dengan membentuk kelompok (1 kelompok = 10 orang) untuk mengelola dan menangani limbah domestik. Dengan demikian pemberdayaan bukanlah masalah . pembangunan dan kemasyarakatan. Setelah masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan diharapkan mampu dan ikut serta dalam pengelolaan limbah domestik. spanduk dan brosur. dan keterampilan menuju kemandirian. Pemberdayaan bukan berarti melepaskan pengendalian. RW dan Desa atau Kelurahan. seminar. Pelaksanaannya dapat berbentuk peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat antara lain: kursus. tetapi aktif untuk membantu masyarakat dalam keadaan apapun. studi banding. melaksanakannya dan mengawasi keputusan tersebut. tidak menunggu timbul masalah baru bekerja. menampung dan menindaklanjuti keinginan masyarakat dan tidak membiarkan masalah menjadi berlarut-larut.10 Prinsip dasar otonomi daerah adalah memberdayakan daerah dan pemberdayaan masyarakat. pengetahuan. d. diseminasi dan sosialisasi. lokakarya. e. Agar Pemerintah Daerah mampu mengelola sumberdaya secara optimal. Menurut Stewart (1994) pemberdayaan merupakan pelimpahan proses pengambilan keputusan dan tanggung jawab secara penuh. pelatihan. Mengembangkan budaya bersih dan sehat dalam lingkungan RT. strategi pemberdayaan masyarakat antara lain adalah: a. f. Pemberdayaan masyarakat mempunyai makna sejauh mana masyarakat terlibat dalam pengambilan keputusan.

hal lain. Dalam hal ini. Seringkali kecendrungan primer terwujud melalui kecenderungan sekunder terlebih dahulu. diskusi.hak yang harus dihargai. kekuatan atau kemampuan kepada masyarakat agar individu yang bersangkutan menjadi lebih berdaya. dan pihak yang menaruh kepedulian sebagai pihak memberdayakan. Dalam kaitan dengan upaya memberdayakan masyarakat guna mencapai kehidupan yang lebih baik. praktisi pembangunan berperan dalam memfasilitasi proses dialog. sehingga masyarakat lebih mampu mengenali kebutuhannya dan dilatih untuk dapat merumuskan rencana serta melaksanakan pembangunan secara memadai dan swadaya. Pertama. Sumodiningrat (1997).11 hilangnya pengendalian atau hilangnya hal. Payne (1997) suatu proses pemberdayaan bertujuan membantu masyarakat memperoleh daya untuk mengambil kep utusan dan menentukan tindakan yang dilakukan melalui peningkatan kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunakan daya yang dimiliki masyarakat. yaitu masyarakat yang belum berkembang sebagai pihak yang harus diberdayakan. proses pemberdayaan mengandung dua kecenderungan. Kedua. pemberdayaan masyarakat mengacu kepada kemampuan masyarakat untuk mendapatkan dan memanfaatkan akses dan kontrol atas . Menurut Moebyarto (1995). antara lain melalui transfer daya dari lingkungannya. Proses ini dapat dilengkapi dengan upaya membangun aset material guna mendukung pembangunan kemandirian mereka melalui organisasi. proses pemberdayaan dengan kecenderungan sekunder menekankan atau memotivasi agar individu mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi pilihan hidupnya melalui proses dialog. Selanjutnya disebutkan bahwa proses pemecahan masalah berbasiskan pemberdayaan masyarakat yang berdasarkan prinsif bekerja bersama masyarakat mempunyai hak. yang paling penting pemberdayaan memungkinkan pemanfaatan kecakapan dan pengetahuan masyarakat seoptimal mungkin untuk kepentingan masyarakat itu sendiri. proses pemberdayaan dengan kecenderungan primer menekankan pada proses memberikan keleluasaa n. MAcArdle (1989) mengemukakan bahwa hal terpenting dalam pemberdayaan adalah partisipasi aktif dalam setiap proses pengambilan keputusan. curah pendapat dan mensosialisasikan temuan masyarakat. Pemberdayaan menyangkut dua kelompok yang saling terkait. Menurut Hikmat (2001).

Hemelrijk. kedudukan. Partisipasi merupakan komponen penting dalam pembangkitan kemandirian dan proses pemberdayaan (Craig dan Mayo.laki menggunakan pendekatan dua arah. .faktor determinin yang mempengaruhi proses pemberdayaan. UNICEF dan Yayasan Dian Desa (1999). pemberdayaan pere mpuan merupakan proses kesadaran pembentukan kapasitas terhadap partisipasi perempuan yang lebih besar dan tindakaan transformasi.laki dan perempuan memiliki kesamaan hak dan kewajiban yang terwujud dalam kesempatan.laki adalah kondisi dimana laki. 1995). 1986). saling mendengar dan menghargai keinginan serta pendapat orang lain. antara lain. Bila tidak ada kaitan tertentu yang dilakukan untuk melibatkan semua segmen dalam komunitas dalam aksi partisipatif dari proyek. perubahan sistem sosial yang diperlukan sebelum pembangunan yang sebenarnya dimungkinkan terjadi.laki. Faktor. yang biasanya terjadi adalah laki-laki yang berpendidikan dan elit yang terlibat seperti yang ada dalam struktur kekuasaan dimana suara perempuan anggota masyarakat yang tidak beruntung dan miskin tidak didengar. Strategi pemberdayaan perempuan sebagai mitra sejajar laki. terjadi pembagian kekuasaan secara demokratis atas dasar kebersamaan. Karena itu perubahan struktur sosial masyarakat dalam sistem sosial menjadi faktor terpenting dalam melaksanakan pemberdayaan masyarakat. Dalam proses pemberdayaan ini. termasuk di dalamnya sistem ekonomi dan politik (Rojek. Pemberdayaan perempuan sebagai mitra sejajar laki.12 sumber hidup yang penting. yaitu saling menghormati. IRC. keutamaan dan tenggang rasa. Dalam rangka mewujudkan kesamaan derajat yang lebih besar antara perempuan dan laki.laki dan perempuan. Partisipasi aktif dalam setiap proses pengambilan keputusan merupakan hal penting dalam pemberdayaan. sehingga dapat menciptakan kemitraan yang adil. peranan yang dilandasi sikap dan perilaku yang saling membantu dan mengisi disemua bidang kehidupan (Priyono . Dalam rangka peningkatan partisipasi aktif laki. Praktek proyek pembangunan menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif tidak secara otomatis diterapkan dengan cara yang sensitif gender. Proses pemberdayaan merupakan wujud perubahan sosial yang menyangkut relasi antara lapisan sosial sehingga kemampuan individu "senasib" untuk saling berkumpul dalam suatu kelompok cenderung dinilai sebagai bentuk pemberdayaan yang paling efektif. maka perempuan harus terlibat secara proporsional. 1996). et al (2001).

Sedangkan dalam kamus Webster. Rakyat memegang hak dan wewenang yang tinggi untuk menentukan kebutuhan pembangunan. ikut terlibat secara aktif dalam pembangunan dan mengontrolnya serta memperoleh fasilitas dari pemerintah (Santoso. Fairchild (1977). Jadi pemberdayaan masyarakat adalah memberi daya atau kekuatan dan kemampuan serta meningkatkan harkat dan martabat untuk dapat berdiri sendiri diatas kakinya sendiri melalui penyuluhan dan pendampingan pada suatu kegiatan yang bertujuan membekali keterampilan dan pengetahuan kepada masyarakat agar mampu memberikan kontribusi dan dukungan terhadap pembangunan di lingkungannya. Partisipasi masyarakat merupakan insentif moral untuk mempengaruhi lingkup. arti partisipasi "mengambil bagian atau ikut menanggung bersama orang lain" Natsir (1986). Selayaknya birokrasi harus kembali ke hakikat fungsi yang sebenarnya ialah sebaga i pelayan masyarakat.13 Di dalam kerangka pemberdayaan dan kemandirian masyarakat. 2. Partisipasi dapat didefinisikan secara luas sebagai "bentuk keterlibatan dan keikutsertaan masyarakat secara aktif dan sukarela. "keikutsertaan atau peran serta dalam suatu kegiatan". tempat dibuatnya suatu keputusankeputusan yang sangat menentukan kesejahteraan mereka. bukan mencampuradukan dengan pembangunan maupun pemberdayaan. . Dari sudut terminologi partisipasi masyarakat dapat diartikan sebagai suatu cara melakukan interaksi antara dua kelompok. partisipasi berarti "turut berperanserta dalam suatu kegiatan". Apabila dihubungkan dengan masalah sosial. maka haruslah terjadi pergeseran fungsi birokrasi sebagai fasilitator. yaitu kelompok yang selama ini tidak diikutsertakan dalam proses pengambilan keputusan dan kelompok yang melakukan pengambilan keputusan.2. "peran serta aktif atau proaktif dalam suatu kegiatan". Secara harfiah. 2004). maka arti partisipasi adalah suatu keadaan dimana seseorang ikut merasakan sesuatu bersama -sama dengan orang lain sebagai akibat adanya interaksi sosial. baik karena alasan-alasan dari da lam dirinya maupun dari luar dirinya dalam keseluruhan proses kegiatan yang bersangkutan" (Moeliono.makro yang lebih tinggi. Partisipasi Masyarakat Partisipasi berasal dari bahasa Inggris "participation" yang berarti ambil bagian atau melakukan kegiatan bersama-sama dengan orang lain. 2002).

partisipasi merupakan bentuk nyata kehidupan masyarakat yang sejahtera. Agar masyarakat dapat berpartisipasi dalam pembangunan diperlukan tiga syarat sebagai berikut: 1). menyatakan bahwa partisipasi masyarakat adalah keterlibatan masyarakat dalam menentukan arah. strategi dalam kebijaksanaan kegiatan. Masyarakat diharapkan ikut serta. adanya kesempatan untuk membangun. memikul beban dan pelaksanaan kegiatan.14 Tjokroamidjojo (1990). adanya kemauan untuk memanfaatkan kesempatan. Cary (1970). dimana ditekankan bahwa partisipasi itu adalah hak dan kewajiban bagi setiap masyarakat. dalam hal ini pemerintah memberi bantuan dan masyarakat mempunyai tanggapan untuk berpartisipasi secara aktif dalam proses pembangunan tersebut. untuk menjamin kesinambungan pembangunan. yang ditekankan adalah hak dan kewajiban setiap orang. 2). Koentjaraningrat (1974) berpendapat bahwa partisipasi berarti memberi sumbangan dan turut menentukan arah atau tujuan pembangunan. memetik hasil dan manfaat kegiatan secara adil. mempercepat dan menjamin keberhasilan usaha pembangunan Santoso dan Iskandar (1974). Sebagai alat pembangunan. Peranserta masyarakat berarti masyarakat ikut serta. Partisipasi berarti memberi sumbangan dan turut serta menentukan arah atau tujuan pembangunan. dalam hal ini kegiatan pembangunan untuk menciptakan. yaitu mengikuti dan menyertai pemerintah dalam memberikan bantuan guna meningkatkan. Menurut Cary (1970). memperlancar. demokratisasi kehidupan sosial ekonomi serta yang berasaskan kepada pemerataan dan keadilan sosial. karena hasil pembangunan yang dilaksanakan pemerintah bersama-sama dengan masyarakat adalah untuk kesejahteraan masyarakat sendiri. dan 3). pemerataan hasil pembangunan yang bertumpu pada kepercayaan kemampuan masyarakat sendiri. adil dan makmur. partisipasi berperan sebagai penggerak dan pengarah proses perubahan sosial yang dikehendaki. agar partisipasi dalam pembangunan dapat terus . maka partisipasi masyarakat harus tetap diperhatikan dan dikembangkan. Secara teoritis. Jadi partisipasi dapat diartikan sebagai sesuatu keterlibatan seseorang atau masyarakat untuk berperanserta secara aktif dalam suatu kegiatan. adanya kemauan untuk berpartisipasi dalam pembangunan. selanjutnya sebagai tujuan pembangunan. partisipasi merupakan alat dan sekaligus tujuan pembangunan masyarakat. melaksanakan serta memelihara lingkungan yang bersih dan sehat.

dan juga tidak optimal jika mereka yang berkepentingan tidak diberi keleluasaan untuk ambil bagian. Dalam prakteknya. beberapa tipe partisipasi itu ialah: a. kemampuan untuk mengambil tindakan secara cepat dan tepat. Terdapat beberapa model partisipasi pada saat ini yang didasarkan pada pemikiran dan pendekatan terhadap persoalan. Partisipasi sukarela (voluntary). partisipasi dalam pembangunan berarti masyarakat ikut ambil bagian dalam suatu kegiatan. partisipasi tidak dapat didefinisikan secara terbatas. 2). Menurut Cressey (1987). Partisipasi manajeman sendiri (self management) yang mengembangkan demokrasi dan formalitas kontitusi seperti diskusi investasi dan pengembangan. muncul berdasarkan kebutuhan kelompok dan kebutuhan perusahaan dan bersifat positif kadang-kadang kepada pengambil keputusan bersama perusahaan. Partisipasi dilihat sebagai kesatuan organik dari kepentingan perusahaan (organic unity of interest) partisipasi mengambil tempat melalui kerja kelompok dan struktur untuk mengusahakan aspek-aspek peningkatan dan pengembangan sesuai dengan sasaran dan tujuan perusahaan. Menurut Hassan (1973). legitimasi serta pengendalian dan tampak terkait dengan aspek-aspek politik. dan tidak dapat dilepaskan dari pertanyaanpertanyaan tentang kewenangan. biasanya dimulai dari legalitas. Dengan kata lain. d. tergantung pada aktor yang terlibat. b. biasanya dijumpai pada masyarakat yang memiliki konsensus politik yang stabil. ikut ambil bagian dalam suatu kegiatan hanya dapat diharapkan bila yang bersangkutan merasa dirinya berkepentingan dan diberi kesempatan untuk ambil bagian. aspek partisipasi yang mendasar adalah luasnya pengetahuan dan latar belakang kemampuan untuk mengidentifikasi dan menentukan prioritas pemecahan masalah. partisipasi menjadi fokus utama dalam usaha peningkatan tarap hidup masyarakat. . tidak diprogram.15 berkembang perlu diperhatikan prasyarat sebagai berikut: 1). berkembang ke lembaga-lembaga seperti perwakilan atau pengaturan tripartit. umumnya bersifat formal. c. otoritas. Partisipasi berdasarkan lembaga yang ada (statutory). partisipasi tidak mungkin optimal jika diharapkan dari mereka yang merasa tidak berkepentingan terhadap suatu kegiatan. dan 3). adanya kemampuan untuk belajar terhadap berbagai masalah sosial dan cara mengambil keputusan pemecahannya.

menyatakan bahwa partisipasi dipengaruhi oleh konteks sosial ekonomi atau pemasaran. Selanjutnya Soekanto (1986) berpendapat bahwa masyarakat adalah kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja secara cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri sendiri dan menganggap diri mereka suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang telah dirumuskan dengan jelas. . kelompok tani. 1986). Selanjutnya Cressey (1987). usulan dan harapan merupakan hal yang sangat diperlukan. guru.luasnya (Widjaja. Perangkat dan pranata tersebut dijadikan pedoman untuk memenuhi kebutuhan kelompok dalam arti seluas. manajer perorangan. bahwa komponen penting dalam partisipasi meliputi: waktu dan tahapan. Mereka memiliki norma-norma. isi kegiatan dan konstruksi proses termasuk didalamnya aktor yang terlibat. pelaku bisnis. pedagang. berpendapat bahwa masyarakat adalah pergaulan hidup manusia (sehimpunan orang yang hidup bersama disuatu tempat dengan ikatanikatan aturan yang tertentu). Sasaran yang dimaksud meliputi pembenahan administratif dan kepentingan umum. anggota lembaga keuangan dan organisasi-organisasi lainnya. baik secara individu maupun secara institusional misalnya melalui kegiatan Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) dan Lembaga Masyarakat Desa (LMD). baik sempit maupun luas mempunyai peranan akan adanya persatuan di antara anggota kelompok dan menganggap dirinya berbeda dengan kelompok lain. menyatakan bahwa partisipasi dilakukan dalam berbagai refleksi di antaranya dalam pengambilan keputusan. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan secara teknis berlangsung berdasarkan pertimbangan sasaran dan tujuan. yang membedakan dengan kelompok lain dan hidup diam dalam wilayah atau daerah tertentu secara tersendiri. Kelompok ini. kontribusi mereka dalam mempersiapkan perencanaan yang direfleksikan dalam kepentingan gagasan. spesialis.16 Sedangkan Poerwadarminta (1986). politisi. Selanjutnya Departemen Dalam Negeri (1982). Masyarakat adalah sekelompok orang yang mempunyai identitas sendiri. berbagai kelompok pada hakekatnya terlibat dalam pembangunan di daerah seperti administratur pembangunan. Jenssen (1992) berpendapat. teknologi dan produktivitas. Upaya meningkatkan peranserta masyarakat dibutuhkan dalam pembangunan agar dapat memberikan hasil yang optimal. serta organisasi sosial dan kelembagaan. Selanjutnya menurut Cressey (1987) dan FAO (1991). ketentuan-ketentuan dan peraturan-peraturan yang dipatuhi bersama sebagai suatu ikatan. Untuk itu. teknisi.

Pada akhirnya disimpulkan bahwa tidak . kesukarelaan. di antara warga desa dan antara warga desa dan Kepala Desa beserta Pamong Desa. Keempat. melaksanakan pekerjaan bagi kepentingan lingkungan tetangga. sedangkan fase lainnya akan lebih singkat. berupa pengarahan kemampuan pikiran. yaitu rasionalitas. Pertama. yaitu bahwa swadaya dan gotong-royong. Hasil studi Uphoff dalam Cernea (1988) terhadap tiga proyek pembangunan pedesaan di Gana. sosial dan hartabenda (daya). analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa organisasi sosial dalam partisipasi tergolong lemah atau malahan tidak ada. sikap. Dalam partisipasi masyarakat terkandung dua makna dwitunggal. dikebanyakan bagian dunia perlengkapan khusus untuk memperkenalkan dan mendukung partisipasi memang diperlukan. tenaga. meski ada komitmen rencana untuk bersama-sama memikul tanggung jawab di semua tahap siklus proyek. Jika dihubungkan dengan masalah sosial. dan Nepal menyimpulkan bahwa kegagalan suatu proyek disebabkan oleh ketergantungan yang luar biasa pada perencanaan yang tersentralisasi. maka arti pe rtisipasi adalah suatu keadaan yang seseorang ikut merasakan sesuatu bersama -sama dengan orang lain sebagai akibat adanya interaksi sosial (Fairchild. masyarakat dan pemerintah (rumah tangga) desa.17 Hamidjojo (1993) mengemukakan bahwa partisipasi masyarakat yang berintikan gotong-royong yang diangkat dari tradisi khas bangsa Indonesia dengan diberi persyaratan atau kualifikasi baru. dan prilaku aktif yang langgeng. masyarakat yang dewasa dan harus bisa menolong diri sendiri. Bahkan sekalipun perencanaan mulai memperhatikan partisipasi. Keberhasilan partisipasi masyarakat haruslah didasari kewajaran. dan merupakan suatu prinsif kerjasama dan bentuk kerja yang spontan. Selanjutnya Uphoff (1988) lebih lanjut mendefinisikan lima cara untuk menjamin partisipasi pemanfaat dalam rancangan proyek dan pelaksanaan. yang mengandung unsur: kekuatan atau prakarsa sendiri. 1977). tidak mendorong partisipasi. harus ada tujuan yang realistis untuk partisipasi dan kelonggaran meski diberikan untuk kenyataan bahwa beberapa tahap perencanaan relatif berlarut. Ketiga. Partisipasi diartikan mengambil bagian atau ikut serta menanggung bersama orang lain. dengan menjunjung tinggi semangat kebersamaan dan rasa keterikatan timbal balik dalam meraih dan menikmati hasil karya. otoaktivitas (swadaya. taraf partisipas i yang dikehendaki m eski diperjelas sejak semula dan dengan cara yang dapat diterima untuk semua pihak. individualitas atau kepribadian yang otonom. Meksiko. Kedua.

Selanjutnya menurut Suratmo (1999). maka kerugian yang akan timbul tidak akan berarti dibandingkan manfaatnya (Suratmo. memberikan pemahaman teknis. yakni untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Di samping itu partisipasinya juga lebih bersifat "murni" tanpa pamrih. pendekatan partisipatif diperlukan untuk melibatkan semua pihak sejak langkah awal. untuk memperoleh upah. Menurut Davis dalam Sastropoetro (1988). penetapan rencana kerja sampai pelaksanaan dan evaluasinya. Menurut GTZ (1997). seseorang yang kemampuan ekonominya rendah akan berpartisipasi atas dasar pamrih. Kebutuhan ini bisa terpenuhi dengan berpartisipasi sebagai tenaga kerja. Sebaliknya. ada beberapa syarat agar terdapat pertisipasi yang efektif. Dengan adanya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup. Kegiatan partisipatif dapat dikelompokkan pada dua kelompok sasaran yaitu: partisipasi para pengambil keputusan. Sedangkan menurut Arianta (1995) dalam penelitiannya mengenai partisipasi anggota lembaga perkeriditan desa menemukan bahwa faktor ekonomi merupakan salah satu faktor penyebab utama partisipasi dari anggota lembaga tersebut. mencatat bidang keahlian lokal yang dapat memberikan kontribusi sesungguhnya bagi rancangan proyek: mengumpulkan data sosial ekonomi. memantau dan mengevaluasi proyek yang dikumpulkan oleh orang luar. diantaranya adalah kemampuan. dan memberikan kontribusi informasi ruang dan sejarah tentang proyek terdahulu yang mungkin sejenis dan penyebab keberhasilan dan kegagalan. mulai tahapan analisis masalah.18 semata dalam pembuatan keputusan proyek. tanpa motif ekonomi. ide atau pemikiran dan sebagainya. Seseorang dengan kemampuan ekonomi yang tinggi mampu berpartisipasi dalam berbagai bentuk. Anggota masyarakat terdorong untuk berpartisipasi terhadap lembaga tersebut karena faktor ekonomi berupa keinginan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak. manfaat partisipasi adalah: . Hal ini berarti bahwa tingkat partisipasinya juga lebih tinggi dibanding seseorang yang kemampuan ekonominya lebih rendah. uang. misalnya tenaga. 1977). tetapi juga menggali pengetahuan penduduk. apabila berjalan sesuai dengan peraturan yang ada dan setiap masyarakat menjalankannya secara obyektif tidak hanya mengutamakan kepentingan dirinya atau kelompoknya saja. dan partisipasi kelompok setempat yang terkait dalam pengelolaan lingkungan hidup.

Informasi yang masuk dari masyarakat bermacam. b. Pemerintah mendapatkan informasi dari masyarakat yang tidak ada dalam Amdal. Masyarakat terkadang tidak berminat lagi dalam dengar pendapat. Informasi dan pendapat dari masyarakat yang tidak banyak tahu atau tidak memahami mengenai proyek pembangunan. d. antara lain adalah: a. Kerugian partisipasi masyarakat yang sering terjadi berdasarkan pengalaman di Amerika Serikat menurut Canter (1977). f. dampak dan pengelolaan lingkungan. b. e. Menurut Adimihardja (2001). Dapat dihindarinya kesalah pahaman dan terjadinya konflik. pengawasan dan evaluasi. dikerahkan secara paksa untuk aktif dalam kegiatan lingkungan (Huntington and Nilson (1977). dilakukan jika praktek pembangunan tidak berjalan sebagai perencana untuk masyarakat. Kalau ada perbedaan pendapat diantara kelompok masyarakat. Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai masalah lingkungan. Partisipasi ini dikatagorikan sebagai partisipasi langsung. Masyarakat dapat menyampaikan informasi dan pendapatnya atau persepsinya kepada pemerintah. yaitu apabila warga dikerahkan karena adanya gagasan dari atas dimana warga dimobilisasi. Dimanipulasikan untuk kepentingan pribadi atau suatu kelompok yang tidak baik. tetapi sebagai pendapat dalam proses perencanaan yang . c. e. Sebaliknya ada partisipasi tidak langsung. c. tetapi berdasarkan pendapat-pendapat dan informasi yang logis dan dapat diterima secara ilmiah oleh pemerintah. serta dapat menanggulangi. Meningkatnya perhatian dari pemerintah dan pemrakarsa proyek pada masyarakat. Penyimpulan pendapat masyarakat tidak selalu berpegang pada pendapat terbanyak (mayoritas). Masyarakat akan dapat menyiapkan diri untuk menerima manfaat proyek. d.macam bentuknya.19 a. mempersulit untuk mengambil keputusan. karena penjelasan yang diberikan pada masyarakat sering terlalu teknis. proses partisipasi sesungguhnya adalah keterlibatan masyarakat secara menyeluruh mulai dari tahap perencanaan. Tahap perencanaan. Masyarakat dapat mengetahui rencana pembangunan di daerahnya. adalah: a. pelaksanaan. g. dan mengetahui dampak yang akan terjadi. maka rumusan atau keputusan yang akan diambil menyebabkan selalu ada kelompok yang tidak puas. f.

Tahap pengawasan dan evaluasi kegiatan pengawasan dan evaluasi partisipatif. Begitupula dengan penghasilan. produk sederhana yang diadaptasi dengan budaya lokal. Pemberdayaan masyarakat lokal untuk intensitas. metode sederhana yang diadaptasi dengan budaya lokal. Evaluasi sendiri. Tahap pelaksanaan perencanaan partisipatif merupakan konsekwensi logis dari implementasi pemberdayaan masyarakat. antara lain: umur. staf proyek. makin tinggi penghasilan makin banyak partisipasi yang dib erikan. instrumentasi. Tabel 1. Individu yang mempunyai pekerjaan tetap cend erung untuk berpartisipasi. Sumber: Narayama (1993). Evaluasi sendiri. penghasilan. mengontrol. ada diskusi hasil dengan melibatkan partisipan dalam proses evaluasi. sebab jika seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya cend erung untuk tidak berpartisipasi. . menyatakan bahwa faktorfaktor yang mempengaruhi partisipasi seseorang dalam mengikuti kegiatan di lingkungannya. Sedangkan Angell dalam Murray and Lappin (1967). seperti Tabel 1. teknik dan prosedur.20 dilakukan oleh masyarakat. Tergantung atas proses perkembangan masyarakat dan intensitas relatif sering. Individu yang berusia menengah keatas cendrung untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan yang ada dilingkungannya. ada diskusi hasil yang melibatkan persyaratan dalam proses evaluasi. pendidikan dan lama tinggal. pengumpulan. sebagai pengelola perencanaan mulai identifikasi potensi dan pendayagunaan sumbersumber lokal sehingga penyusunan usulan rencana serta evaluasi mekanisme perencanaan. masyarakat mempunyai peran utama. b. serta pelaporan harus diberikan kewenangan kepada masyarakat untuk melakukan kegiatan pengawasan dan evaluasi internal. melakukan tindakan koreksi. Evaluasi Partisipatif Aspek Siapa Apa Bagaimana Kapan Mengapa Evaluasi Partisipatif Anggota masyarakat. pengelolaan dan analisis data. dengan melakukan diskusi kelompok terarah untuk membahas persoalan-persoalan yang terjadi diantara kelompok-kelompok atas organisasi sosial masyarakat dan mempraktekan analisa pola keputuasan yang dilakukan masyarakat dalam proses perencanaan. pekerjaan. fasilitator masyarakat mengidentifikasi sendiri indikator keberhasilan termasuk hasil produk yang akan dicapai.

tenaga. Latar belakang sosial kultural. baik pikiran.21 Inkeles (1969) menyatakan bahwa faktor. Interaksi tersebut merupakan kristalisasi dan faktor. Partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan akan terwujud sebagai suatu kegiatan nyata apabila terpenuhi faktor-faktor yang mendukungnya. (3) adanya kemauan. status sosial dan tingkat kehidupan menentukan kesempatan dan kemampuan untuk turut berproses dalam pembangunan. yaitu: (1) adanya kesempatan. keinginan. Individu yang mempunyai tingkat pendidikan dan penghasilan yang tinggi cenderung untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan yang ada di lingkungannya. terorganisasi atau tidak terorganisasi yaitu secara spontan dan sukarela. penghasilan. bekerjasama dengan lembaga pemerintahan mempunyai makna penting dalam pembangunan sumberdaya manusia yang berkelanjutan (Supriatna. yaitu adanya kesadaran atau keyakinan pada dirinya bahwa dia mempunyai kemampuan untuk berpartisipasi. antara lain: umur. sikap. Pada hakekatnya. pendidikan dan lama tinggal. strategi dan pendekatan pembangunan manusia adalah menumbuhkan otonomi perilaku pribadi dan sosial yang terintegrasi. 1997). terutama lembaga sosial untuk menumbuhkan self sustain capacity masyarakat.faktor situasional dan beserta kognisi. Partisipasi dapat bersifat individual atau kolektif. Faktor lama tinggal juga merupakan salah satu faktor yang tidak kecil perannya dalam mempengaruhi partisipasi seseorang dalam kegiatan yang ada di lingkungannya. Faktor internal manusia dan lingkungan sosial. semakin besar rasa memiliki dan perasaan dirinya sebagai bagian dari lingkungannya. Ia juga mengemukakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan individu. 1994). sehingga timbul keinginan untuk selalu menjaga dan memelihara lingkungan dimana dia menetap. misalnya berupa manfaat yang dapat dirasakan atas partisipasinya tersebut. yaitu adanya suasana atau kondisi lingkungan yang disadari oleh orang tersebut bahwa dia berpeluang untuk berpartisipasi. motivasi dan responnya. semakin luas pengetahuannya dan kesadarannya terhadap lingkungan yang akhirnya akan diikuti dengan keterlibatannya pada masalah-masalah kemasyarakatan. (2) adanya kemauan. adanya sesuatu yang mendorong/menumbuhkan minat dan sikap mereka untuk termotivasi. .faktor yang mempengaruhi partisipasi seseorang dalam mengikuti kegiatan di lingkungannya. waktu atau sarana dan material lainnya (Slamet. Semakin lama tinggal di suatu tempat. pekerjaan.

Sedangkan menurut Bumberger dan Shams . (2). Terdapat tiga prinsip dasar dalam menumbuhkan partisipasi masyarakat desa agar ikut serta dalam pembangunan. modal dan pengalaman yang dimiliki. Karena institusi atau pranata sosial masyarakat merupakan daya tampung dan daya dukung sosial. dan penguatan informasi. (3) Participatory. Faktor yang mendorong adalah pendidikan. sosial dan transformasi budaya. kelembagaan yang mendukung. menganalisa kebutuhan dan keinginan masyarakat. yaitu: (1) Learning process (learning by doing) : Proses kegiatan dengan melakukan aktivitas kegiatan pelaksanaan program dan sekaligus mengamati. seperti psikologis individu (needs. Faktor yang memberikan kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi adalah pengaturan dan pelayanan. Sedangkan menurut Oppenheim (1973) dalam Sumardjo dan Saharudin (2003). Menurut Sahidu (1998) faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kemauan masyarakat untuk berpartisipasi adalah motif harapan. budaya lokal serta peraturan dan pelayanan pemerintah. teknologi. Secara sederhana partisipasi mengandung makna peran serta seseorang untuk sekelompok orang atau sesuatu pihak dalam suatu kegiatan atau upaya mencapai sesuatu secara sadar diinginkan oleh pihak yang berperan serta tersebut. struktur dan stratifikasi sosial. Menurut Hikmat (2001). pemberdayaan dan partisipasi merupakan strategi yang sangat potensial dalam rangka peningkatan ekonomi. harapan. ada unsur yang mendukung untuk berperilaku tertentu pada diri seseorang dan terdapat iklim atau lingkungan yang memungkinkan terjadinya perilaku tertentu.22 Ketiga faktor tersebut akan dipengaruhi oleh berbagai faktor di seputar kehidupan. struktur dan stratifikasi sosial. 2003). manusia yang paling berinteraksi atau dengan lainnya. evaluasi dan menikmati hasilnya atas suatu usaha perubahan masyarakat yang direncanakan untuk mencapai tujuan-tujuan masyarakat (Sumardjo dan Saharudin (2003). Institusional development. budaya lokal. kepemimpinan. proses ini pada akhirnya dapat menciptakan pembangunan yang lebih berpusat pada rakyat. keterampilan. merupakan suatu pendekatan yang umum dilakukan untuk dapat menggali need yang ada dalam masyarakat (Marzali. maka menyangkut keterlibatan secara aktif dalam pengambilan keputusan. pelaksanaan. adanya informasi. motif. kelembagaan. Bila menyangkut partisipasi dalam pembangunan masyarakat. Melakukan kegiatan melalui pengembangan pranata sosial yang sudah ada dalam masyarakat. sarana dan prasarana. reward) pendidikan.

Dalam konteks partisipasi masyarakat yang bersifat kemitraan. penetapan rencana kerja sampai pelaksanaan dan evaluasinya. mencari alternatif pemecahan masalah dan membahas keputusan. terdapat dua pendekatan mengenai partisipasi masyarakat. Kenyataan menunjukan bahwa masih banyak yang memandang partisipasi masyarakat semata. Mereka bersama-sama membahas masalah. dimana keputusan terakhir tetap berada ditangan pejabat pembuat keputusan tersebut. Hal ini sangat penting untuk implementasi proyek yang lebih efisien. suasana atau kondisi lingkungan yang disadari oleh orang . Pendekatan partisipatif diperlukan untuk melibatkan semua pihak sejak langkah awal. Partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan berdasarkan sifatnya dapat dibedakan menjadi yang bersifat konsultatif dan bersifat kemitraan. penyuluhan bahkan sekedar alat public relation agar proyek tersebut dapat berjalan tanpa hambatan. pejabat pembuat keputusan dan anggota-anggota masyarakat merupakan mitra yang relatif sejajar kedudukkannya. partisipasi merupakan proses sadar tentang pengembangan kelembagaan dan pemberdayaan dari masyarakat yang kurang beruntung berdasarkan sumberdaya dan kapasitas yang dimilikinya. anggota-anggota masyarakatnya mempunyai hak untuk didengar pendapatnya dan untuk diberi tahu. mulai analisis masalah. mengingat kualitas sumber daya dan kapasitas masyarakat tidak memadai. Dalam proses ini tidak ada campur tangan dan prakarsa pemerintah. masyarakat miskin tidak leluasa sebebas-bebasnya bergerak sendiri berpartisipasi dalam pengembangan kelembagaan dan pemberdayaan. hanya dapat dirasakan bila masyarakat berkepentingan dan diberi kesempatan untuk ambil bagian. Kedua. kesempatan. jadi. Partisipasi dalam pemanfaatan TPA berarti masyarakat ikut ambil bagian dalam suatu kegiatan. partisipasi harus mempertimbangkan adanya investasi dari pemerintah dan LSM. di samping peran serta masyarakat. Pertama.23 (1989). Dalam partisipasi masyarakat dengan pola hubungan konsultatif antara pihak pejabat pengambil keputusan dengan kelompok masyarakat yang berkepentingan. yaitu adanya: 1). Lebih lanjut disebutkan bahwa seseorang akan berpartisipasi apabila terpenuhi prasyarat untuk berpartisipasi. Karena nya partisipasi masyarakat tidak saja digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Partisipasi tidak mungkin optimal jika masyarakat yang berkepentingan tidak diberi keleluasaan untuk ambil bagian. tetapi juga digunakan sebagai tujuan.mata hanya sebagai penyampaian informasi.

kemampuan.23 Tahun 1997). Zat yang bersifat racun dan yang sering mencemari lingkungan misalnya merkuri (Hg). sesuatu yang mendorong atau menumbuhkan minat dan resiko. salah satu jenis bahan pencemar yang dapat membahayakan kesehatan manusia adalah logam berat. tenaga. 23 Tahun 1997. strategi dan tujuan pembangunan. zat. 2).24 tersebut bahwa dia berpeluang untuk berpartisipasi. Menurut pasal 1 ayat 11 UU No.3. bisa berupa pikiran. yang menyebabkan timbulnya pengaruh yang berbahaya . 2.macam mahluk hidup. misalnya berupa manfaat yang dapat dirasakan atas partisipasinya tersebut. Perusakan lingkungan hidup adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan hayatinya yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang pemba ngunan berkelanjutan (UU No. zatzat pada suatu lingk ungan. mereka untuk termotivasi berpartisipasi. Pencemaran Lingkungan Menurut Saeni (1989). atau menurunkan nilai lingkungan itu. kadmium (Cd). Selanjutnya menurut Saeni (1997).macam bahan sebagai hasil dari aktivitas manusia ke dalam lingkungan yang biasanya memberikan pengaruh berbahaya terhadap lingkungan itu. bahan. waktu atau sarana dan material lainnya. dan tembaga (Cu). Kontaminan tidak digolongkan sebagi zat pencemar bila tidak menimbulkan penurunan kualitas lingkungan. baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup. timbal (Pb). dan 3). Zat pencemar adalah zat yang mempunyai pengaruh menurunkan kualitas lingkungan. Pasal 14 ayat 1 menyatakan bahwa setiap usaha kegiatan dilarang melanggar baku mutu dan kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. Pencemaran lingkungan merupakan bermacam. kemauan. adanya kesadaran atau keyakinan pada dirinya bahwa dia mempunyai kemampuan untuk berpartisipasi. pencemaran adalah peristiwa adanya penambahan bermacam. Kontaminan adalah zat yang menyebabkan perubahan dari susunan normal dari suatu lingkungan. energi atau komponen yang ada atau harus ada zat pencemar yang ditanggung keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu. Dengan demikian partisipasi masyarakat adalah keterlibatan dan keikutsertaan seseorang atau masyarakat untuk berperanserta melakukan kegiatan bersama -sama dengan orang lain secara aktif dan sukarela dalam menentukan arah.

lain. Oleh sebab itu untuk . virus. Selanjutnya Eugene (1987) mengemukakan bahwa lindi akan mencemari tanah. maupun biologis (Supardi. tingkat kepadatan sampah pada kondisi awal. keracunan dan lainlain (Slamet. Jadi tingkat pencemaran air yang disebabkan oleh lindi tergantung dari sifat lindi. Ada empat hal penyebab pencemaran air tanah yaitu: a. olume sampah pada landfill dengan nilai persen masing-masing gas. d. air tanah dan sungai. jamur dan lain. c. perolehan gas nitrogen (N2). Masuknya debu yang sudah tercemar ke dalam sumur terbuka. jarak aliran dengan air tanah dan sifat-sifat tanah yang dilaluinya. Secara umum perolehan gas N2 CO2. menurut jangka waktu penimbunan sampah. 1994). air tanah dangkal maupun air tanah dalam. waktu tercemarnya. maka air permukaan tersebut akan berperan sebagai penyebar mikroba patogen atau penyakit menular di dalam air. waktu penimbunan dan lain. CH4 pada landfill dapat dihitung dengan melakukan perkalian antara v . et.lain yang ada dalam timbunan sampah. Bila jarak antara sumur dan jamban kurang dari 10 m untuk tanah biasa dan paling dekat 15 m untuk tanah porus atau gembur. hara yang tersedia. karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4). Lokasi sumur tersebut sebelumnya merupakan lokasi sumber limbah rumahtangga atau dekat industri atau bekas lokasi sampah (TPA).al (1977). b. karena adanya perubahan yang bersifat fisik. Merembesnya air permukaan yang telah tercemar. didasarkan pada konsentrasi zat pencemar. kadar air pada sampah. Pencemaran lingkungan mempunyai derajat pencemaran atau tahap pencemaran yang berbeda. lamanya kontak antara bahan pencemaran dengan lingkungan. dapat berpindah tempat ke tempat lain melalui proses lindi. pada landfill tergantung banyaknya komponen organik pada landfill. 1994). Sampah merupakan sumber beberapa jenis penyakit menular. Dari keempat sumber pencemaran air tanah yang berasal dari TPA merupakan rembesan dari timbunan limbah di TPA sampah.25 terhadap lingkungan. Bahan beracun. dan merupakan sumber kontaminan potensial bagi air permukaan. WC dan air cucian ke dalam sumur. Menurut Tchobanoglous. kimiawi. bakteri. Apabila cairan dari sampah yang mengandung bibit penyakit masuk kedalam air permukaan.

Di samping itu pergerakan air sangat mudah dipengaruhi oleh pengambilan air atau pemompaan air tanah dangkal melalui sumur-sumur bor yang umumnya disiapkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. yang lebih umum dan lebih banyak terdapat di perairan atau tanah adalah jenis E. Nitrat dalam hal ini merupakan pencemar utama yang dapat mencapai air tanah dangkal maupun air tanah dalam yang diakibatkan oleh aktivitas manusia termasuk dari penempatan sampah. Pencemaran air dapat mengganggu tujuan penggunaan air dan akan menyebabkan bahaya bagi manus ia melalui keracunan atau sumber dan penyebab penyakit. coli. Pengertian Sampah Pengertian sampah dapat lebih jelas diketahui dengan mempelajari beberapa pengertian. Menurut Bouwer (1987) menambahkan. yaitu sebagai indikator pencemar fecal (tinja). Jenis bakteri coliform sebagai indikator adalah Escherichia coli dan Aerobacter coli. Secara umum sumber pencemaran air tanah berasal dari tempat-tempat pembuangan sampah. Sampah adalah istilah umum yang sering digunakan untuk menyatakan limbah padat. 1991). kolera dan tipus. jarak aman dari bidang resapan adalah 30 meter untuk daerah di atas muka air tanah. mudah meresap ke dalam tanah. 1984 dalam Wuryadi. sehingga bakteri ini dipakai sebagai bakteri indikator terhadap kualitas perairan karena jumlahnya banyak dan mudah diukur (Diana. Daerah perkotaan dengan tingkat aktivitas masyarakat dan industri yang demikian tinggi secara bersamaan akan menghasilkan sampah sehingga membutuhkan tempat pembungan akhir sampah kota yang perlu dikelola dengan baik agar dampak pencemarannya tidak mempengaruhi masyarakat sekitarnya. dan 60 meter di bawah muka air tanah. 2. Bakteri patogen yang biasanya disebarkan melalui air adalah bakteri amuba disentri. sumber air sumur dangkal yang umumnya masih digunakan oleh penduduk sebagai air minum harus terletak jauh dari sanitary landfill. Sedangkan limbah itu sendiri pada dasarnya adalah suatu bahan yang .26 menghindari pencemaran oleh lindi. (1998). Pengertian-pengertian A. 1992). Vasu at. Jumlah bakteri patogen dalam air umumnya sedikit dibandingkan dengan bakteri coli (coliform). sehingga sampah organik merupakan sumber primer pencemaran bakteriologik (Bitton. 1990). dihitung berdasarkan MPN (most probabel number) (Saeni. Dari kedua jenis tersebut.al.4.

. bahkan dapat mempunyai nilai ekonomi yang negatif. misalnya kaca. mudah terurai. Pavoni menyatakan bahwa. bahkan dari hari-kehari. Sampah merupakan segala bentuk buangan padat yang sebagian besar berasal dari aktivitas manusia (domestik). ayam. maupun proses-proses alam dan tidak atau belum mempunyai nilai ekonomi.lain. sampah dibagi atas: 1). 2). ikan dan burung. 3). tidak bermanfaat atau barang-barang yang dibuang karena kelebihan (Tchobanoglous et al. tergantung kebijakan negara setempat. meskipun tipe dan komponennya berpartisipasi dari satu kota ke kota lainnya. anjing. Sampah jalanan. secara kuantitatif sampah jenis ini sedikit. semua sampah yang dikumpulkan di jalan-jalan. Sampah (solid waste) adalah semua jenis bahan padat yang dibuang sebagai bahan buangan. berdasarkan teknis dan berdasarkan sumbernya sebagai berikut: a. misalnya daundaunan. misalnya bangkai tikus. sampah domestik lebih banyak didominasi oleh bahan organik. dua cara pembagian yang sering digunakan. Sampah anorganik sukar terurai karena mempunyai rantai ikatan kimiawi yang panjang. kertas dan lain. 4). Sampah bersifat semi basah. Sampah berupa jasad hewan mati. disamping juga dapat mencemari lingkungan (Sa’id. berasal dari manusia dan binatang yang dibuang sebagai barang yang tidak berguna atau tidak dibutuhkan lagi. menurut Hadiwijoto (1983). 1977). Berdasarkan teknis. sampah restoran berupa sisa buangan sayuran dan buah-buahan.. Sampah mempunyai nilai negatif karena penanganan untuk membuang atau membersihkannya memerlukan biaya yang cukup besar. plastik dan selulosa. sampah adalah semua bahan buangan yang umumnya dalam bentuk padat. B. tetapi pengaruhnya bagi kesehatan cukup besar. Sumber dan Jenis Sa mpah Menurut Sa’id (1987) penggolongan atau pembagian sampah dapat dilakukan berbagai cara. Sampah berupa abu hasil pembakaran. kantong plastik. 1998). 5).27 terbuang atau dibuang dari suatu hasil aktivitas manusia. karena mempunyai rantai ikatan kimiawi yang rendah. misalnya sampah dapur. golongan bahan organik.

abu. kimia. Rumah sakit. penyulingan. onderdil. sehingga tidak mengganggu kelangsungan hidup (Azwar. pasar. Sisa makanan membusuk. Sampah digolongkan dalam ilmu kesehatan lingkungan adalah: . pembangkit tenaga. Jalan. warung. b. sampah digolongkan dalam: 1). sampah perkotaan. Sampah domestik (domestic waste). sampah khusus. Sampah di pedesaan umumnya bahan-bahan organik sisa produk pertanian. apotik. kebun. Sisa makan. Berdasarkan sumbernya. serta jenis sampah organiknya secara kuantitatif dan kualitatif lebih kompleks. lapangan bermain. 1983). sampah khusus. secara kuantitatif limbah ini banyak. Sampah komersial dari kegiatan perdagangan. IPAL. restoran. sampah khusus. Tabel 2: Sumber dan Jenis Sampah Sumber Jenis. sisa atau bekas buangan. rubbish. Sisa makanan. sampah berbahaya. percetakan. tetapi ragamnya tergantung jenis industri tersebut. sampah khusus. rubbish. Rumah sakit. Pengertian sampah dalam ilmu kesehatan lingkungan adalah benda yang dipandang tidak digunakan. Berasal dari lingkungan perumaha n. pertambangan. peternakan. Aktivitas. pabrik. rumah susun. baik di perkotaan maupun pedesaan. tempat rekriasi. Sisa makan. toko bangunan. tetapi lebih merujuk kepada jenis kegiatan yang menghasilkannya. rubbish. instalasi. rubbish. proses pengolahan industri. sampah berbahaya. apotik. sampah khusus. Bangunan. Sumber: Tehobauoglous (1997). perusahaan. sisa kantor. tidak dipakai. puskesmas. poliklinik. bangunan Sisa makan. rubbish . restoran dan pasar atau toko swalayan. sedangkan sampah anorganiknya lebih sedikit. Sampah komersial (commercial waste) Tidak berarti sampah tersebut mempunyai nilai ekonomi. PDAM. 2). puskesmas.28 6). Sampah industri. Fasilitas. Hasil semua atau ladang. jalan tol. tanah kosong. Toko. Lokasi Timbulnya Sampah Jenis Sampah Perumahan Komersial Fasilitas kesehatan Perkotaan Industri Lapangan terbuka Industri pengolahan Pertanian Rumah tinggal. taman. Sampah dan instalasi lumpur residu. dari kegiatan produksi. hotel. abu. seperti toko. poliklenik. rubbish. apartemen atau Sisa makan. ragam sampah perkotaan lebih banyak. tidak disenangi atau harus dibuang. Sampah khusus rubbish. pantai.

d. Street sweeping. sisa pengolahan makanan yang mudah membusuk. Menurut Sumirat (1994). Ashes. sampah jenis ini tidak membusuk. c. kucing. yang mengandung padatan terlarut dan zat. Garbage. daerah industri. Pengelolaan Sampah Pengelolaan sampah bertujuan mengubah sampah menjadi bentuk yang tidak mengganggu dan menekan volume. sampah tidak terbuka selama 24 jam karena apabila air hujan yang terserap ke lapisan tanah dan melalui lapisan sampah akan membentuk cairan lindi.lapis (sanitary landfills). b. tempat pardagangan. yang mudah membusuk karena aktivitas mikroorganisme. konsentrasi atau sifat kimiawi. sarana pelayanan masyarakat milik pemerintah maupun swasta. dan yang tidak mudah terbakar: kaleng dan kaca). kertas. tikus. misal industri kaleng dengan potongan-potongan sisa kaleng. Rubbish. Segala jenis bangkai yang besar seperti kuda. Jadi pada dasarnya sumber sampah dapat diklarifikasi beberapa kategori yang berhubungan dengan tata guna tanah: permukiman penduduk. ialah segala jenis abu hasil pembakaran kayu. Sampah yang membusuk (garbage). Lindi tersebut dapat mengalir bersama air hujan atau air permukaan dan . c. plastik dan lainnya yang tidak dapat membusuk. tempat-tempat umum. sehingga mudah diatur. Cara pengelolaan sampah yang dianggap terbaik saat ini adalah penimbunan dan pemadatan secara berlapis.zat lain hasil perombakan bahan organik oleh mikroba. batubara. fisika dan mikrobiologinya dapat menimbulkan bahaya. Sampah yang tidak membusuk (refure). bahan atau sisa pengelolaan yang tidak mudah membusuk (mudah terbakar: kayu.29 a. restoran. pertanian dan rumah sakit. logam. sapi. jenis sampah dibagi atas dasar sifat-sifat biologi dan kimianya. misalnya koto ran dapur rumah tangga.lain. adalah sampah karena jumlah. d. Sampah yang berbentuk debu atau abu hasil dari pembakaran. C. karet. ialah segala benda padat sisa sampah hasil industri. tetapi dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan tanah atau penimbunan. b. baik pembakaran bahan bakar. jenis ini terdiri dari kertas-kertas. yaitu: a. hotel dan lain. Sampah berbahaya.

khususnya air sumur gali (Slamet. secara tidak langsung dapat menimbulkan pencemaran terhadap air tanah. .0 8 000.0 Klorida (C1¯) mg/l 900. dan biodegradasi.0 Jumlah Padatan mg/l 1 697.0 Kesadahan mg/l 15. sedangkan komposisi lindi dipengaruhi oleh asal dan umurnya. 1977). Hasil Analisis Lindi Sistem Sanitary Landfill (ppm) Umur Lindi Parameter Satuan 2 Tahun 6 Tahun mg/l 39 68.0 6 795.0 540.0 1 330. recycle dan reuse). USA (1972) terdapat pada Tabel 3. filtrasi. pengelolaan sampah di TPA terdiri dari open dumping. Pada Tabel 3 dijelaskan semakin lama umur lindi. karena zat-zat tersebut telah mengalami penguraian oleh tanah.4 Tinggi rendahnya curah hujan. insinerator.0 0. konsentrasi zat pencemar semakin berkurang.0 5.6 2.0 Natrium (Na?) mg/l 5 500. Menurut Suratmo (2002). jarak aliran dengan air tanah.0 74.0 BOD5 mg/l 54 610.0 135.0 1 198.0 2.0 14 080.0 2 200.30 meresap kedalam lapisan. Sedangkan partisipasi masyarakat dalam hal pengelolaan sampah harus diperhatikan ketersediaan tempat sampah di rumah.8 1. 17 Tahun 40. Hasil analisis lindi oleh Department of Public Health. 1994).0 810.0 COD mg/l 9 144. lindi yang terjadi harus aman dari pencemaran sebelum disalurkan ke saluran pembuangan.0 Sulfat (SO4 ²¯) mg/l 7830.0 6.0 225. Tabel 3. untuk menghindari kontaminasi terhadap lingkungan.5 mg/l Logam-logam berat Sumber: Department of Public Health USA (1972). landfill. dan sifat lindi akan mempengaruhi tingkat pencemaran yang ditimbulkannya. Dengan demikian. ketaatan membayar iuran dan ketaatan membuang sampah di tempat yang telah ditentukan.lapisan tanah dan masuk ke dalam air tanah (Clark. baik melalui pertukaran ion. Dalam hal ini ion Cl¯ dapat dipakai sebagai indikator terhadap aliran lindi. pembuatan kompos dan teknologi baru (reduce.3 Besi (Fe) mg/l 680. dan sifat-sifat tanah yang dilalui akan mempengaruhi sifat lindi. ketersediaan TPS. Ion klorida (Cl¯) sebagai ion anorganik sulit teruraikan. adsorbsi.

Teknik dan cara pengolahan sampah dapat dilakukan dengan metode daur ulang. pengangkutan dan pengolahan dan pembuangan akhir. mengganggu kelestarian dan sumberdaya alam. perlindungan alam. pemrosesan dan pembuangan sampah dengan cara yang sesuai dengan prinsip -prinsip terbaik dari kesehatan masyarakat. keindahan dan pertimbangan lingkungan lainnya dan juga mempertimbangkan sikap masyarakat. yaitu: penyimpanan atau pewadahan. . pemadatan dan insinerator. pemindahan dan pengangkutan. yang perlu mendapat perhatian adalah pengelolaan dan pembuangan akhir sampah. pengumpulan. penyimpanan dan pengolahan serta pemusnahan. Pengolahan sampah merupakan proses antara sebelum dilakukan pembuangan sampah di TPA yang bersifat optimal. penyimpanan. Pengelolaan sampah adalah suatu proses mulai dari sumber sampai dengan di buang ke tempat pembuangan akhir (TPA) dengan tidak menimbulkan kerusakan lingkungan.31 UU & PERDA Penyuluhan Penghasil Sampah (masyarakat) Pengumpul Sampah Disiplin Kesadaran Pengetahuan Prilaku atau Kebiasaan Membuang Sampah Dinas Kebersihan (Petugas Kebersihan) Sarana & Prasarana Angkutan Sampah Terkumpul Sampah Terangkut Lingkungan Bersih Sehat dan Nyaman Gambar 2: Diagram Kerangka Dasar Pemikiran Pengelolaan Sampah Menurut Sa’id (1988). biologis (pembuatan kompos). teknik. pengelolaan sampah adalah perlakuan atau tindakan yang dilakukan terhadap sampah yang meliputi pengumpulan. Dari beberapa syarat pokok tersebut. pengelolaan sampah adalah perlakuan terhadap sampah guna menghilangkan masalah yang berkaitan dengan lingkungan. pengangkutan. ekonomi. Pengelolaan sampah didefinisikan sebagai suatu bidang yang berhubungan dengan pengaturan terhadap penimbunan. Secara umum syarat pokok pengelolaan sampah. pengumpulan. Sedangkan menurut Soewedo (1983).

7) Hog feeding. 4) Dumping in water. seperti pembusukan. 6) Individual insenerator. dibuang. warung. sampah sayuran dijadikan untuk pakan babi. membuang sampah di perairan misalnya di sungai atau di laut.32 Azwar (1983) menyatakan bahwa dalam pengelolaan sampah terdapat tiga aktivitas meliputi: a. c. 9) Discharge to sewers. membuang dalam lembah dan ditutup dengan selapis tanah. . Penyimpanan ini dilakukan pada tempat pengumpulan sementara sebelum sampah diangkut. b. pembakaran sampah secara besar-besaran dan tertutup dengan menggunakan insenerator. atau kadar air yang meningkat. 5) Insiner asi. 8) Composting. menyatakan pemusnahan dan pemanfaatan tersebut sebagai berikut: 1) Sanitary landfill. Tempat-tempat ini sering dijumpai di toko-toko. Menurut Partoatmodjo (1993). sehingga sampah tidak berada di alam secara terbuka. pengelolaan sampah organik menjadi pupuk. Pengangkutan Pengangkutan sampah dari pemukiman penduduk yang terletak di pinggir jalan raya diangkut dengan gerobak. 3) Open Dumping. Pemusnahan. kantor dan rumah. sampah dihaluskan kemudian dibuang ke dalam saluran air. restoran. Dari hasil pengumpulan dari rumah ke rumah dipindahkan ke tempat pembuangan sementara (TPS). yang dilakukan lapis demi lapis. 2) Landfill. yang bermanfaat untuk menyuburkan tanah. membuang sampah di atas permukaan tanah. Penyimpanan atau pengumpulan Cara ini dimaksudkan untuk menjaga agar hasil pengumpulan sampah tidak terjadi perubahan yang dikehendaki. pembakaran sampah dengan insenerator yang dilakukan oleh perorangan dalam rumahtangga. dimanfaatkan serta dimusnahkan. selanjutnya diangkut dengan truk ke tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. sampah dibuang dalam lembah tanpa ditimbun oleh lapisan tanah. hotel.

Resiko yang tidak dapat dihindarkan dari pembuangan sampah di landfill adalah terbentuknya gas dan lindi yang dipengaruhi oleh dekomposisi dari mikroba dan iklim.33 10) Pendaur ulangan sampah dengan cara memanfaatkan kembali barang. c. unsur-unsur tersebut juga berbahaya bagi manusia yang mengkonsumsi produk pertanian tersebut.barang yang masih bisa dipakai. Perpindahan gas dan lindi dari lendfill ke lingkungan sekitarnya menyebabkan dampak yang serius pada lingkungan. Sanitary Landfill Pada sistem ini sampah ditimbun dalam tanah yang luas kemudian dipadatkan dan ditutup dengan tanah penutup harian pada setiap hari dan akhir operasi (Suryanto. Pembuangan akhir sampah adalah upaya untuk memusnahkan sampah di tempat tertentu yang disebut tempat pembuangan akhir sampah (TPA). seperti keberadaan karbon dan kobalt yang dapat menimbulkan gangguan pada tanaman. sehingga dapat menimbulkan gangguan terhadap lingkungan. Pada cara ini penutupan sampah dengan lapisan tanah dilakukan setelah TPA penuh dengan timbunan sampah yang dipadatkan setelah mencapai tahap tertentu. Hal ini dapat berkembang menjadi masalah yang serius. (1991) dalam usaha penanggulangan masalah sampah melalui pemanfaatan sampah tersebut. selain berdampak buruk terhadap kesehatan juga menyebabkan kebakaran dan peledakan. 11) Reduksi. Menurut Sumitro et al. b. Controlled Landfill Adalah sistem open dumping yang diperbaiki atau ditingkatkan. menghancurkan sampah menjadi bagian kecil-kecil dan hasilnya dimanfaatkan.. merupakan peralihan antara teknik open dumping dan sanitary landfill. perlu diperhatikan kandungan zat kimia. misalnya meracuni tanaman tomat. kerusakan pada . sifat dari sampah dan iklim pengoperasian sampah di landfill. Open Dumping Metode open dumping adalah cara pembuangan akhir dengan hanya menumpuk sampah begitu saja tanpa ada perlakuan khusus. dan dalam pembuangan akhir ada beberapa metode yaitu: a. 1988). karena selain dapat merusak hasil tanaman.

biologi. Hal ini didukung oleh Freeze and Cherry (1979) yang menyatakan bahwa kontaminasi air tanah oleh bahan organik yang dapat . sumur relief dan parit perlindungan dan sistim pengumpulan untuk masalah pengontrolan lindi. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pada era saat ini tempat pembuangan sampah akhir yang umum dipergunakan di beberapa negara adalah dengan tanah urugan atau dikenal dengan landfill yang berfungsi sebagai tempat pembuangan akhir (TPA). masalah setelah penutupan landfill... D. (2002) hendaknya TPA dioperasikan dengan sistem sanitary landfill yang dilengkapi dengan pemasangan instalasi recovery gas. (1997). Menurut Tchobanoglous 1999. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang dikenal dengan sanitary landfill adalah sistem pembuangan sampah dengan cara dipadatkan dan ditutupi serta dilapisi tanah setiap hari. Di dalam sistem TPA akan terjadi proses dekomposisi sampah secara kimia. TPA adalah suatu fasilitas fisik yang digunakan untuk pembuangan sisa limbah padat atau sampah diatas permukaan tanah dari bumi. penghalang hid rolik seperti ekstraksi dan sumur pantauan. Widyatmoko dan Sintorini (2002). dan fisik yang menghasilkan gas-gas dan bahan organik lainnya. Menurut El. Akan tetapi saat ini istilah TPA mengacu pada rekayasa fasilitas untuk pemusnahan limbah padat kota yang dirancang dan dioperasikan untuk meminimumkan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan. sistem pengolahan dan pengumpulan gas yang mencegah pemindahan gas dari TPA atau emisi gas melalui permukaan landfill. El-fadil (1997). komposisi air lindi bervariasi antara satu lokasi dengan lokasi lainnya.34 tanaman. dan Samom et al.fadil et al. bau yang tidak sedap. Menurut Novotny dan Olem (1994) saat ini Tempat Pembuangan Akhir termasuk sumber pencemaran air tanah utama di dunia setelah tanki septik dengan perhitungan saat itu di Amerika Serikat hanya 6 % dari seluruh sanitary landfill yang tidak menyebabkan masalah lingkungan dan beroperasi secara baik. udara dan pencemaran global. Selain itu untuk meminimisasi dampak lingkungan jika mungkin diusulkan kepada pemerintah untuk mengadopsi sistem pengubahan sampah menjadi energi karena tidak mungkin hanya dengan sanitary landfill dapat menghilangkan semua pengaruh negatif sampah dan lingkungan. pencemaran air tanah. Air hujan yang jatuh pada lokasi TPA akan berinfiltrasi ke dalam sistem sampah dan melarutkan hasil dekomposisi ini berupa cairan yang disebut air lindi.

air lindi yang akan timbul diperkirakan sebesar 50 persen. pH. komposisi lindi bervariasi karena proses pembentukan lindi dipengaruhi oleh macam buangan (zat organik atau anorganik). karakteristik sumber air (kuantitas dan kualitas). TPA Bantar Gebang. komposisi tanah penutup. air tanah dan air yang berasal dari mata air bawah tanah. kelembaban. 1995). Pengertian lain lindi adalah limbah cair yang timbul akibat masuknya air eksternal ke dalam timbunan sampah. kelembaban sampah dan kondisi lingkungan sanitary landfill. Fasilitas air lindi diharapkan dapat menampung jumlah air lindi pada bulan-bulan basah. kondisi landfill (suhu. Air lindi merupakan bahan cair yang timbul pada bagian bawah sanitary landfill. yakni bulan Januari dan Februari (Dinas Kebersihan DKI Jakarta. mudah tidaknya peruraian (larut atau tidak larut).zat terlarut. Menurut Chen (1975). seperti aliran air permukaan. melarutkan dan membilas zat-zat terlarut. kepadatan sampah. kemiringan dan jenis lapisan tanah penutup. yang jumlahnya tergantung pada berbagai faktor seperti: curah hujan. Lindi Masalah yang timbul dalam pengurugan atau penimbunan sampah ke dalam tanah adalah kemungkinan pencemaran sumber air oleh lindi Tchobanoglous (1977) . umur). Debit air lindi berhubungan positif dengan besarnya curah hujan. Jadi dapat disimpulkan bahwa lindi adalah cairan yang timbul akibat masuknya air eksternal ke dalam timbunan sampah. potensial redoks. menyatakan lindi merupakan limbah cair atau cairan yang melalui timbunan sampah yang mengekstrak bahan yang terlarut atau tersuspensi di dalamnya. 2002). air hujan. melarutkan dan membilas zat. Cairan tersebut mengandung bahan organik yang tinggi sebagai hasil dekomposisi sampah dan juga berasal dari proses infiltrasi dari air limpasan. pada proses penimbunan dan 20 persen setelah penimbunan.35 bergerak akan menjadi masalah yang sangat serius. Cairan tersebut berasal dari dekomposisi sampah dan dapat juga berasal dari sumber luar. pengumpulan lindi dan pengolahannya pada 4 kolam aerasi. pada prinsipnya merupakana suatu landfill yang dirancang dan dikonstruksikan secara modern. termasuk juga zat organik hasil proses dekomposisi biologis (Damanhuri. . E.

terletak di garis pantai terluar (batas pasang 10 tahun) dan jauh dari badan air. 1992). perlakuan pendahuluan untuk mengurangi volume dan kelarutan. Hal ini dapat mempercepat reaksi kimia dalam air. sekurang-kurangnya 3 meter di atas permukaan air tanah tertinggi. pengumpulan dan pengolahan. Pembentukan lindi akibat air hujan tidak dapat dihindari pada awal pengisian sampah. Pada prinsipnya pada TPA telah disiapkan unit pengolah air lindi yang dikumpulkan sebelum dibuang ke sistem air permukaan. minimal 300 meter dari air permukaan. Suhu limbah yang berasal dari lindi umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan air penerima. suhu air. Pengelolaan lindi dapat dilakukan dalam beberapa metode secara umum yaitu: pengurangan secara alami oleh tanah.36 Pengaruh sanitary landfill adalah pencemaran air tanah dan air permukaan. untuk menghindari pencemaran oleh lindi. rasa. Suspensi yang terdapat di dalam lindi dapat terbawa sampai ke dalam tanah yang lebih jauh. dan detoksifikasi limbah berbahaya sebelum dibuang ke saluran. Sedangkan Menurut Schmeider (1970). menyarankan lokasi pengelolaan sampah harus menjauhi jaringan drainase. sehingga menyebabkan pencemaran air tanah (Thank. meresap dan turun melalui lapisan kedap air ke badan air yang lebih rendah. Permasalahan TPA yang memerlukan penanganan khusus dari operasi sistem TPA ini adalah mengusahakan agar air lindi tidak meresap ke dalam sistem air tanah dangkal supaya tidak mencemari lingkungan. 1985). Air lindi akibat proses degradasi sampah dari TPA merupakan sumber utama yang mempengaruhi perubahan sifat fisik air. terjadi bila sanitary landfill berdampingan dengan badan air. mempercepat pengaruh rasa dan bau (Husin dan Kustaman. Selanjutnya Environmental Protection Agency (1977). harus terletak jauh dari kantong air dan memiliki lapisan kedap air. jika air hujan jatuh di atas permukaan landfill. Setelah lindi melalui tanah pada kedalaman beberapa meter kontaminasi bakteriologis tidak ditemui lagi. Pada kondisi normal air lindi ditemukan pada dasar TPA dan bergerak melewati lapisan dasar yang juga tergantung pada sifat-sifat bahan sekitarnya. mengurangi kelarutan gas dalam air. menghambat pembentukan lindi. maka tempat pembuangan akhir sampah. bau dan kekeruhan. .

Data primer melalui survai dan wawancara langsung di lokasi TPA dengan responden di Kelurahan Sumur Batu. Ciketing Udik dan Sumur Batu yaitu pada sumur gali penduduk yang bermukim di sekitar TPA. Kelurahan Ciketing Udik. Dalam satu kelurahan dilakukan kegiatan lapangan meliputi: kegiatan wawancara pada aspek karakteristik responden. faktor dan kreteria yang mempengaruhi dan variabel skor dari pertanyaan tersebut. sampel tersebut dimasukkan ke dalam cooler box untuk diawetkan. + 2 km dari jalan Raya Bekasi-Bogor. Bekasi. METODE PENELITIAN 3. Institut Pertanian Bogor. Lokasi TPA terletak + 13 km sebelah selatan Kota Bekasi. Cara pengambilan sampel air dilakukan dengan menggunakan botol plastik berukuran 1.37 III. sebelah Utara dan Timur: Kelurahan Sumur Batu. sebelah Utara dan Barat: Kelurahan Cikiwul. para pakar dan stakeholder yang terkait dengan TPA.5 liter. Penelitian laboratorium dilakukan di Laboratorium Kimia Fisik dan Lingkungan. Contoh air dan lindi dianalisis di laboratorium FMIFA. Tempat dan Waktu Penelitian. Persiapan penelitian dan gambaran umum obyek yang diteliti dilaksanakan dalam bulan Pebruari sampai dengan Nopember 2004. Data Primer a. FMIPA.1. Data sekunder berupa . terdiri dari lima zone. Metode Pengumpulan Data Dalam pene litian ini dikumpulkan data primer dan data sekunder. Kecamatan Bantar Gebang. Fisik dan Kimia Pengambilan sampel air dilakukan di Kelurahan Cikiwul. Cikiwul. Aparat Kecamatan Bantar Gebang. Penelitian dilaksanakan di lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah. Institut Pertanian Bogor. Pertanyaan prospektif di peruntukkan sebagai kemungkinan pemanfaatan TPA di masa mendatang. Luas lahan TPA 108 ha. 3. sedangkan data sekunder dikumpulkan melalui penelusuran berbagai pustaka yang ada. A. sosial ekonomi dan tanggapan responden terhadap keberadaan TPA. Ciketing Udik. terletak di tiga Kelurahan yaitu: sebelah Selatan.2. Provinsi Jawa Barat.

diperoleh melalui Dinas Kebersihan DKI Jakarta dan Pemda Kota Bekasi. Alat yang digunakan pH meter.416/Menkes/Per/IX/1990 Keterangan: ( . parameter sesuai Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 416/Menkes/Per/IX/1990 seperti Tabel 4. coli Satuan ºC FTU mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l MPN/100ml MPN/100ml Peralatan Termometer Turbidimeter Timbangan analitik pH-Meter DO-Meter Buret Buret Spektrofotometer Spektrofotometer Spektrofotometer Buret Buret Buret Spektrofotometer Spektrofotometer Spektrofotometer Tabel MPN Tabel MPN Metode Analisis Pemuaian air raksa Turbidimetrik Gravimetrik Potensiometrik Potensiometrik Titrimetrik Titrimetrik Spektrofotometrik Spektrofotometrik Spektrofotometrik Titrimetrik Titrimetrik Titrimetrik Spektrofotometrik Spektrofotometrik Spektrofotometrik MPN MPN Sumber: Permenkes RI No. Air sumur Untuk mengetahui kualitas air sumur penduduk. Tabel 4.): Tidak ada satuan . untuk pengukuran parameter kimia digunakan alat spektrofotometer kecuali zat organik (KMnO4 ) menggunakan metode titrasi. Kualitas Air Sumur di TPA Bantar Gebang Parameter Fisika : Suhu Bau Rasa Kekeruhan Kimia: Zat padat terlarut pH DO BOD5 COD Amonia N-NH3 Nitrat-N Nitrit-N Kesadahan (CaCO3 ) Klorida Sulfida Fosfat Besi (Fe) Timbal (Pb) Mikrobiologi: Coliform E. turbidimeter.38 gambaran umum serta data pelengkap lain. maka pengelolaan dan pengukuran sampel dilakukan pada saat musim hujan dan musim kemarau. 1).

sehingga akan didapatkan dua sampel air sungai. radius 200 m dari lokasi TPA. lebar sekitar 2 m. utara dan selatan dari TPA. maka sungai yang dijadikan sampel adalah sungai Ciketing. barat. pada empat penjuru lokasi yaitu timur. Air Permukaan (sungai) Untuk mengetahui kualitas air sungai. debit air 0.38 tgl 12 Juni tahun 1991. Untuk masing-masing lokasi sampel diambil satu titik sehingga akan didapatkan empat sampel air sumur. Tabel 5. 2).409 m³ /detik. .39 Titik pengambilan sampel berdasarkan aliran air tanah. Pengambilan sampel didasarkan pada sistem aliran air dari hulu sungai menuju hilir sungai atau dari tempat yang tinggi menuju ke tempat yang rendah. Sampel diambil pada aliran sungai sebelum memasuki wilayah TPA dianggap sebagai hulu sungai dan aliran sungai sesudah melewati wilayah TPA dianggap sebagai hilir sungai. diambil dari pompa atau sumur-sumur penduduk di Kelurahan Cikiwul. Ciketing Udik dan Sumur Batu.8 tanggal 12 Juni 1991 (Tabel 5). Kualitas Air Sungai Ciketing Parameter Fisika Padatan terlarut Warna Kekeruhan Kimia pH Besi (Fe) Mangan terlarut (Mn) Tembaga (Cu) Seng (Zn) Krom heksava len Kadmium (Cd) Air Raksa (Hg) Nikel (Ni) Timbal (Pb) Sulfida Nitrat-N Nitrit-N Satuan mg/l PtCo FTU mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l Metode Analisis Gravimetrik Turbidimetrik pH meter Potensiometrik SNI-M-63-1990-03 SNI-M-73-1990-03 SNI-M-73-1990-03 AAS SNI-M-35-1990-03 AAS SNI-M-86-1990-03 Spektrofotometrik Titrimetrik Spektrofotometrik Spektrofotometrik Titrimetrik Titrimetrik BOD5 COD Baku Mutu: Keputusan Gubernur Jawa Barat No. Parameter kualitas air sesuai dengan Baku Mutu Keputusan Gubernur Jawa Barat No.

Parameternya sesuai dengan Peraturan Pemerintah RI No.40 3). 20 tahun 1990. . C Penggunaan Air untuk Perikanan dan Pertanian.Pengendalian Pencemaran Baku Mutu gol. gol. Air lindi disetarakan denga n air limbah cair yang baku mutunya diatur oleh Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Kualitas Air Lindi Parameter Fisika Padatan terlarut Warna Kekeruhan Kimia pH Besi (Fe) Mangan terlarut (Mn) Tembaga (Cu) Seng (Zn) Krom heksavalen (Cr6+) Kadmium (Cd) Air Raksa (Hg) Timbal (Pb) Sulfida Nitrat-N Nitrit-N BOD5 COD Satuan mg/l PtCo FTU mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l Metode Analisis Gravimetrik Turbidimetrik pH meter Potensiometrik SNI-M-63-1990-03 SNI-M-73-1990-03 SNI-M-73-1990-03 AAS SNI-M-35-1990-03 AAS Spektrofotometrik Titrimetrik Spektrofotometrik Spektrofotometrik Titrimetrik Titrimetrik Baku Mutu: PP RI No.20 tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Baku Mutu golongan B untuk Bahan Baku Air Minum. Air Lindi Untuk mengetahui kualitas air lindi dan infiltrasi air hujan yang masuk ke dalam timbunan sampah dan terkontaminasi (bercampur dengan senyawa-senyawa di dalam sampah) membentuk lindi. Titik inlet adalah air lindi yang masuk ke dalam IPAS dari landfill. Kep- 51/MENLH/10/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi kegiatan Industri. untuk itu perlu dilakukan pengujian kualitas air lindi. Sampel diambil dari setiap zone karena pemanfaatannya berbeda waktu dan dari kolam-kolam (bak) pada unit IPAS . Tabel 6. B untuk Bahan Baku Air Minum. sedangkan outlet air lindi yang telah mengalami pengolahan dari IPAS. satu titik diambil satu samp el. sehingga didapatkan delapan sampel air lindi. Baku Mutu golongan C Penggunaan air untuk Perikanan dan Pertanian (Tabel 6). meliputi sampel pada inlet dan outlet .

bakteri. virus. Penyakit bawaaan lalat: Dysentriae basilaris (disentri) Dysentriae amoebica (disentri) Thypus abdominalis (tifus) Kolera Ascariasis (cacingan) Ancylostomiasis (cacingan) 2. Beberapa jenis penyakit bawaan sampah dapat diperlihatkan pada Tabel 7. Mikrobiologi Lingkungan Jenis mikroorga nisme yang terdapat dalam lingkungan adalah: bakteri. Keracunan: Metana Carbon monoxide. jamur dan lain.lain. . Dioxida Hidrogen sulfide Logam berat Sumber: Juli (1994).lain yang ada dalam timbunan sampah. protozoa. dan lain.lain. virus. Jenis-jenis mikroorganisme yang dapat berkembang baik dengan cepat dalam sampah adalah: bakteri. Sampah merupakan sumber beberapa jenis penyakit menular. dan lain. Penyakit Bawaan Sampah Nama Penyakit 1. ganggang. virus. dapat berpindah tempat ke tempat lain melalui proses lindi. Bahan beracun. cacing. Tabel 7. jamur. fungi.lain. Apabila cairan dari sampah yang mengandung bibit penyakit masuk ke dalam air permukaan. maka air permukaan tersebut akan berperan sebagai penyebar mikroba patogen atau penyakit menular di dalam air. Penyakit bawaan tikus: Pest Leptospirosis icterohaemonhagica Penyebab Shigella shigae Entamoeba histolytica Salmonella thypii Vibrio cholerae Ascariasis lumbricoides Ascariasis duodenale Pasteurella pestis Leptospira icterohaemonhagica Rat bite fever 3. bahan kimia.41 b. Stretobacillus monilliformis Penyakit menular yang disebabkan oleh air sering disebut penyakit bawaan air Tabel 8. protozoa. keracunan. cacing dan lain. jamur. Jenis mikroba yang dapat menyebar lewat air antara lain adalah: bakteri.

Kelurahan Ciketing Udik 3 titik. keberadaan dan banyaknya lalat dapat dianggap sebagai cerminan keadaan sanitasi lingkungan. Jarak pengambilan sampel adalah 100 m sampai dengan jarak 600 m dari TPA. semakin menurun kondisi sanitasi lingkungannya. Kelurahan Sumur Batu 5 titik dan Kelurahan Cikiwul 6 titik. Dengan kondisi ini. poliomyelitis Bakteri: Vibrio cholerae Escherichia coli enteropatogenik Salmonella typhi Salmonella paratyphi Shigella dysenteriae Protozoa: Entamoeba histolytica Balantida coli Giardia lamblia Metazoa: Ascaris lumbricoides Clonorchis sinensis Diphyllobothrium latum Taenia saginata Schistosoma .masing diukur dalam waktu 30 detik di lokasi yang berbeda di Kelurahan sekitar TPA. Lalat diambil dengan metode grill net per satuan waktu umpan lokasi ke arah Kelurahan Taman Sari 5 titik. lalat dianggap sebagai indikator penyebaran vektor beberapa penyakit yang berbahaya. begitu juga sebaliknya. Penyebab Virus: Rotavirus V. Hepatitis A V. daerah permukiman. Semakin banyak lalat. Tabel 8. pemulung yang sekaligus juga dipergunakan untuk tempat mencuci plastik bekas.42 Data biologi khususnya penyebaran lalat diambil dari data primer. Beberapa Jenis Penyakit Bawaan Air Nama Penyakit Diare pada anak Hepatitis A Polio (myelitis anterior acuta) Cholera Diare atau dysentrie Typhus abdo minalis Paratyphus Dysenterie Dysenterie amoeba Baiantidiasis Giardiasis Ascariasis Clonorchiasis Diphylobothriasis Taeniasis Schistosomiasis Sumber: Juli (1994). masing.

maupun warga di sekitar TPA.00 pagi sebagai kegiatan mencari makan setelah beristirahat cukup lama pada malam hari. Selain itu. seperti musim dan curah hujan. Aparat Kecamatan. pemerintah. tokoh masyarakat (formal dan informal) untuk mengetahui permasalahan terhadap keberadaan dan pengelolaan TPA dan yang terkait di lapangan. Karakteristik responden Pemilihan responden dengan melakukan kegiatan wawancara dengan menggunakan daftar kuisioner yang dilakukan terhadap 50 orang responden. dilakukan pada kelompok masyarakat sekitar TPA (non pemulung. menimbulkan dampak positif dan negatif secara langsung maupun tidak langsung. Responden yang dipilih dilakukan secara acak sebanyak 50 orang. Dampak positif secara langsung. Ciketing Udik dan Sumur Batu.00 – 10.04. Keberadaan pengelolaan sampah juga menimbulkan perubahan tingkat perekonomian bagi pengelola. dengan asumsi pada jam tersebut lalat melakukan aktivitasnya. Variabel yang akan ditanyakan karakteristik. Lurah.43 Pengukuran dan pengamatan distribusi lalat dilakukan pada jam 09. maka pendapatan asli daerah (PAD) melalui retribusi dan pajak akan dapat ditingkatkan. aktivitas lalat akan tinggi pada waktu pukul 08. terdiri . Menurut Keputusan Dirjen P2MPLP Departemen Kesehatan RI Nomor 281-II/PD. pemulung). dampak negatif secara langsung keberadaan pengelolaan sampah timbul masalah sosial.03.LP tanggal 30 Oktober 1989 baku mutu jumlah keberadaan lalat adalah 30 ekor per grill. Menurut Yulianto (2000). adalah pengaruh dari kegiatan pengelolaan sampah pada warga atau masyarakat maupun pemerintah. sosial ekonomi dan tanggapan responden terhadap keberadaan TPA seperti: 1). bila penambangan TPA untuk pembuatan kompos dan gas metana. c.00 WIB. yang memerlukan tenaga kerja atau sumber daya manusia yang tersedia di sekitar TPA. Pada umumnya keberadaan pengelolaan sampah. pemeliharaan unit pengelolaan sampah.30 – 15. ada tenaga kerja yang dapat tertampung. Perubahan tingkat perekonomian karena adanya kegiatan pembangunan. Keberadaan lalat dipengaruhi oleh kondisi iklim. Sosial Ekonomi Masyarakat Keadaan sosial ekonomi. di sekitar lokasi pengelolaan sampah seperti Kelurahan Cikiwul.

Kecamatan Bantar Gebang. lama tinggal atau menetap. dan dari berbagai sumber seperti laporan. kecepatan angin. Tanggapan responden terhadap TPA Diantaranya adalah persepsi responden tentang kesehatan dan keberadaan TPA serta keuntungan dan kerugian terhadap keberadaan TPA di sekitar tempat tinggal responden. jarak rumah dengan TPA. pemulung. keadaan kesejahteraan masyarakat dan kesehatannya. jumlah penghuni. 3). Data Sekunder Pengumpulan data sekunder dilakukan melalui studi pustaka yang dapat melengkapi penelitian antara lain: jumlah sampah kumulatif. dengan mengetahui tingkat pendidikan responden. biaya pendidikan. Ciketing Udik dan Sumur Batu. 2). Cikiwul dan Sumur Batu. Populasi dalam penelitian sosial ekonomi adalah kelompok masyarakat.44 dari 30 responden masyarakat yang terlibat dalam pemanfaatan di TPA dan 20 responden lembaga pemerintah. dokumen dan hasil penelitian dari berbagai instansi yang berhubungan penelitian antara lain dari Dinas Kebersihan DKI Jakarta. usia. kelembaban nisbi. pengelola dan masyarakat yang berada di Kelurahan sekitar TPA Bantar Gebang meliputi Kelurahan Ciketing Udik. sedangkan data sekunder dari data potensi Kelurahan. curah hujan. Kecamatan dan instansi terkait. Masyarakat yang dijadikan responden adalah masyarakat yang tinggal di sekitar TPA yang jaraknya antara 0 – 1 km dan 1 – 10 km dari TPA. alamat. lama waktu atau umur TPA. tokoh masyarakat di Kelurahan Cikiwul. pendapatan dan pengeluaran kebutuhan hidup sehari-hari. luas lahan TPA yang terpakai. Data primer diambil melalui metode wawancara dengan responden. profil tempat tinggal. B. lama penyinaran matahari) dari . Sosial ekonomi responden Data sosial ekonomi akan dikumpulkan melalui pengumpulan data sekunder dan data primer berupa pekerjaan responden dan jenis pekerjaannya. status dan tanggungan. Data iklim rata-rata bulanan selama 10 tahun terakhir (suhu. Kecamatan Bantar Gebang. status kependudukan (untuk kelompok pemulung).

11. 17. coli 5. 7. 12. 9. 3.4. Data sosial ekonomi penduduk dicatat dari Biro Statistik. 6. Lalat SOSIAL EKONOMI 7. 3.45 Badan Meteorologi dan Geofisika Jakarta.Kualitas air sumur MIKROBIOLOGI 4. 13.3. KONDISI SAAT INI ANALISIS HASIL PEMANFAATAN TUJUAN 1. 16. 10. Metode dan Analisis Data Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) analisis fisik kimia. Tahapan Kegiatan Penelitian Tahapan pelaksanaan kegiatan penelitian dan metode analisis untuk menjawab tujuan selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 3. (3) sosial ekonomi.Persepsi masyarakat AHP Prospektif Hutan Kota/ Penghijauan Pariwisata TPA Terpadu Lapangan golf Ppenambangan Gas. 3. (2) mikrobiologi lingkungan (distribusi lala t). listrik Lahan budidaya TPA Terpadu Perumahan Potensi TPA Bantar Gebang 5 zone Industri Kondisi SosialEkonomi Gambar 3: Tahapan Kegiatan Penelitian. Coliform 6. sedangkan data kesehatan masyarakat dari Puskesmas di Kecamatan Bantar Gebang. E.Kualitas air lindi 2. 14. coli Coliform Tingkat pendidikan Pendapatan masyarakat Persepsi masyarakat Pemulung Pengelola Kesehatan Kondisi Lingkungan Biofisik KIMIA 1. 19. Jawa Barat. 5. Bekasi. (4) pengaruh . 8. 4. Kota Bekasi.Kualitas air sungai 3. Luas lahan 108 ha Volume sampah Tinggitumpukan sampah IPAS Kualitas air lindi Kualitas air sungai Kualitas air sumur Gas metana Kualitas udara Kebisingan Lalat E. 15. 18. 2.

mangan (Mn). nitrat (N-NO3) dan orto fosfat (Suratmo.faktor yang mempengaruhi. keasaman. Data Fisik Kimia Analisis fisik -kimia dilaksanakan pada musim hujan dan musim kemarau. alkalinitas dan kandungan besi (Fe). sedangkan Proses Hierarki Analitik (AHP) digunakan untuk pengambil keputusan. nitrit. kesadahan. tentang persyaratan kualitas air minum. Zn ). menetapkan faktor dominan dan merancang skenario yang mungkin terjadi di masa datang.46 TPA terhadap kualitas air dan masyarakat. A. jumlah karbon organik dan oksigen terlarut (D. Parameter anorganik di dalam air dapat digambarkan dalam bentuk salinitas. Pengujian lain untuk melihat kandungan zat organik dapat melalui Chemical Oxygen Demand (COD). ). bahan organik total dan kekeruhan (turbiditas). klorida (Cl?). organik ammonia (N-NH3 nitrit (N-NO2). ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor Kep-02/MENKLH/I/1988. sulfida ( S²¯ ). dan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 416/MENKES/IX/1990. . besi (Fe). Pengujian yang dipakai ialah pengukuran Biochemical Oxygen Demand (BOD) contoh dalam keadaan aerobik pada suhu 20° C selama lima hari. Pengukuran suhu. Pb. Analisis Kualitas Air sumur Data yang terkait dan diukur adalah suhu. Untuk menetapkan kelayakan air sumur sebagai bahan baku air minum. tentang Baku Mutu Air golongan B. Pada penelitian ini metode yang dipakai disesuaikan dengan parameter yang diteliti. Teknik Prospektif untuk mengidentifikasi faktor. Cu. 1991): a. Data tersebut digunakan untuk melakukan kajian potensi pencemaran air yang diakibatkan oleh keberadaan TPA sampah. air sungai dan air lindi. pH dan turbiditas dilakukan di lapangan (in situ). kadmium (Cd). (5) umur pemanfaatan TPA. nitrat. pH. sulfat (SO4²? ). Cr. mangan (Mn).O). dengan melakukan kegiatan analisis kualitas air sumur. pH air sumur. logam berat ( Hg.

COD. pH.03. ammonia. Titik inlet adalah air lindi yang masuk ke dalam IPAS dari landfill. c. oleh karena setiap zone digunakan untuk penimbunan sampah dengan waktu yang berbeda.LP tanggal 30 Oktober 1989. Analisis Kualitas Air sungai Data yang terkait dengan pengaruh TPA terhadap kualitas air sungai diperoleh dari pengujian laboratorium seperti pengukuran suhu. maka data tersebut dianalisis. kekeruhan (turbiditas). metode grill net persatu waktu umpan. klorida. data dikumpulkan dan disederhanakan pencatatannya baik dengan coding maupun tabulasi. parameter Departemen Kesehatan RI Nomor 281-II/PD. B. BOD dan COD. coliform dan penyebaran lalat diambil dari data primer. sulfida. Data tersebut selanjutnya digunakan untuk melakukan kajian potensi pencemaran air yang diakibatkan oleh pencemaran air lindi. Sosial Ekonomi dan Kesehatan Masyarakat Analisis sosial ekonomi masyarakat didasarkan atas kuisioner. turbiditas dan kecepatan arus dilakukan di lapangan (in situ).47 b. yaitu air lindi pada titik inlet IPAS dan outlet IPAS. Air lindi yang dianalisis antara lain dari zone I sampai dengan zone V untuk mengetahui perbedaan kondisi fisik kimia. Konduktivitas (DHL). nitrit dan nitrat. khususnya E. Data tersebut untuk melakukan kajian potensi pencemaran air sungai yang diakibatkan oleh kegiatan TPA sampah. Analisis Kualitas air lindi Data yang terkait dengan kualitas air lindi diperoleh dari pengujian laboratorium seperti nitrat. Data yang . Data sosial ekonomi yang diamati merupakan data kualitatif. seng dan besi.04. tabulasi silang untuk melihat hubungan antara beberapa variabel. Gambaran kualitas air lindi terbagi dalam dua kategori. sehingga dinilai berdasarkan scoring. Analisis persentase adalah frekuensi distribusi relatif. C. Data Mikrobiologi Analisis data mikrobiologi. DHL. Pengukuran suhu. nitrit. padatan tersuspensi (TSS) dan kecepatan arus. Analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif meliputi analisis persentase dan tabulasi silang. pH. data dibagi dalam beberapa kelompok dan dinyatakan dalam persentase. coli. sedangkan outlet adalah air lindi yang telah mengalami pengolahan di IPAS. BOD. pH. jumlah keberadaan lalat 30 per grill.

Data yang terkait dengan tinggi tumpukan sampah dilakukan melalui studi literatur pada komponen luas dan ketinggian sampah pada seluruh zone yang kemudia n dibandingkan antara ketinggian rencana dengan ketinggian aktual. 1990). . Nilai dan definisi pendapat kualitatif dari skala seperti Tabel 9. Tujuan analisis adalah untuk mengetahui tingkat keeratan hubungan antar peubah sosial ekonomi.4. Penilaian kriteria dan alternatif dinilai melalui perbandingan berpasangan. b). Analitik Hierarki Proses (AHP) Dengan AHP. Mutlak lebih penting dari B 2. dengan pertimbangan hubungan peubah sosial ekonomi tersebut bukanlah hubungan sebab akibat.8 Apabila ragu-ragu antara dua nilai yang berdekatan Nilai 1. maka digunakan model analisis korelasi. kemudian disusun menjadi struktur hirarki. A sedikit penting dari B 5. Menurut Saaty (1983) dalam Marimin 2004. persoalan yang akan diselesaikan diuraikan menjadi kreteria dan alternatif. 3. A jelas lebih penting dari B 7. E. luas pada seluruh zone serta laju penyusutan sampah.6. karena itu metode analisis yang digunakan analisis statistik non-parametrik.2. Penyusunan hierarki yaitu. untuk berbagai persoalan.48 discoring tersebut merupakan data yang diskontinyu (1. Umur Pemanfaatan TPA Untuk menentukan umur TPA. A sangat jelas lebih penting dari B 9. Oleh karena itu dipilih metode Korelasi Rank Spearman (Siegel.3 …n). Tabel 9: Nilai dan Definisi Pendapat Kualitatif Keterangan Kriteria atau alternatif A sama penting dengan kriteria atau alternatif B. proses keputusan kompleks dapat diurai menjadi keputusan lebih kecil yang dapat ditangani dengan mudah antara lain: a). melainkan hubungan setaraf. Sedangkan penyusutan sampah dan untuk mempridiksi penurunan ketinggian sampah sesuai dengan dimensi umurnya serta untuk menghitung umur pemanfaatan TPA digunakan studi literature . dilakukan studi literatur tinggi tumpukan sampah. D. skala 1 sampai 9 adalah skala terbaik dalam mengespresikan pendapat.

c). Perumusan masalah. dan 3). Penentuan sasaran yang ingin dicapai. 3). b. bobot atau prioritas dihitung dengan manipulasi matriks atau melalui penyelesaian persamaan matematik. maka perlu dilakukan tiga langkah berikut: 1). semua bagian dikelompokkan secara logis dan diperingkatkan sesuai dengan suatu kriteria yang logis. Penentuan prioritas. susunlah matriks berpasangan untuk alternatif-alternatif bagi setiap kriteria. Menggunakan prinsip kerja AHP. untuk mendapatkan nilai eigen adalah: 1). Penyelesaian misalnya dengan syarat 4 angka di belakang koma. c. penyelesaian dengan menipulasi matriks. Penyelesaian dengan manipulasi matriks. pembobotan kriteria. Hentikan proses ini. . d. Pembobotan kriteria. Hitung jumlah nilai dari setiap baris kemudian lakukan normalisasi. 2). Konsistensi logis. Penentuan kriteria pemilihan. yaitu perbandingan berpasangan. Untuk melihat prinsip kerja AHP perlu dilakukan antara lain: a. 2). kriteria dan alternatif tersebut kemudian disusun dalam bentuk diagram. Pembobotan alternatif. Menentukan bobot secara sembarang.nilai perbandingan relatif kemudian diolah untuk menentukan peringkat relatif dari seluruh alternatif. dan 3). untuk menyelesaikan masalah tersebut. yang disusun dalam bentuk diagram. Membuat skala interval untuk menentukan ranking setiap kriteria. matrik diolah untuk menentukan bobot dari kriteria dengan menentukan nilai eigen (eigenvector). d). Kuadratkan matriks tersebut. Nilai. untuk setiap kriteria dan alternatif perlu dilakukan perbandingan berpasangan. bila perbedaan antara jumlah dari dua perhitungan berturut-turut lebih kecil dari nilai batas tertentu. dari ketiga kriteria perlu ditentukan tingkat kepentingannya. 2). Informasi mengenai sasaran. tingkat kepentingan suatu kriteria relatif terhadap kriteria lain dapat dinyatakan dengan jelas. Kriteria kualitatif maupun kuantitatif dapat dibandingkan sesuai dengan judgement yang telah ditentukan untuk menghasilkan bobot dan prioritas. Penentuan alternatif pilihan.49 Nilai perbandingan A dengan B adalah 1 dibagi dengan nilai perbandingan B dengan A. dengan cara: 1).

2) Mengidentifikasi keterkaitan. yang dilakukan pada tahap pertama analisis prospektif digunakan matriks seperti pada Lampiran 1. Mengidentifikasi faktor penentu di masa depan. Analisis Prospektif merupakan suatu jenis analisis yang digunakan untuk melihat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di waktu yang akan datang. Analisis ini digunakan dengan tujuan (1) mempersiapkan tindakan strategis. b. Menurut Hardjomidjojo (2002). 2) Memeriksa perubahan mana yang dapat terjadi bersamaan. dengan metode analisis prospektif yang akan menentukan partisipasi masyarakat serta kelembagaannya dan kemungkinan pemanfaatan TPA masa depan. Mendefinisikan dan menggambarkan evolusi kemungkinan masa depan. (2) melihat apakah perubahan dibutuhkan di masa depan. dengan cara: 1) Mencatat seluruh elemen penting. Menentukan tujuan strategis dan kepentingan pelaku utama.50 F. 3) Menggambarkan skenario dengan memasangkan perubahan yang akan terjadi dengan cara mendiskusikan skenario dan implikasinya. c. Analisis prospektif dalam penelitian ini akan digunakan untuk mengidentifikasi faktorfaktor yang mempengaruhi sistem. lindi. Sedangkan menentukan faktor dominan digunakan softwer analisis prospektif yang memperlihatkan . dengan tahapan sebagai berikut: 1) Mengidentifikasi bagaimana elemen kunci dapat berubah dengan menentukan keadaan pada setiap faktor. maka untuk menentukan skenario pemanfaatan TPA masa mendatang dilakukan modeling. Di dalam melakukan analisis berdasarkan jawaban responden. sungai. 3) Membuat tabel untuk menggambarkan keterkaitan. biologi dan sosial ekonomi serta kesehatan. dengan langkah-langkah berupa: a. Untuk melihat pengaruh langsung antar faktor dalam sistem. 4) Memilih elemen kunci untuk masa depan. serta menetapkan faktor dominan dan skenario dalam pemanfaatan TPA pascaoperasi berbasis masyarakat. Teknik Prospektif Setelah diketahui kondisi lingkungan di sekitar TPA berdasarkan pengujian laboratorium untuk kualitas air sumur.

diperoleh beberapa faktor yang akan dilihat hubungannya secara timbal balik (mutual). maka tahap yang dilakukan adalah: a. dengan tampilan seperti Gambar 4. Pendapat para pelaku tersebut didapatkan melalui bantuan kuesioner. Berdasarkan tujuan studi. Penentuan faktor kunci dan tujuan strategis tersebut adalah sangat penting. Analisis prospektif merupakan eksplorasi tentang kemungkinan di masa yang akan datang. melihat apakah perubahan dibutuhkan di masa depan. Pedoman penilaian dapat dilihat pada Tabel 10. P e n g a r u h Faktor Penentu INPUT Faktor Penghubung STAKES Faktor Bebas UNUSED Faktor Terikat OUTPUT Ketergantungan Gambar 4: Tingkat pengaruh dan Ketergantungan antar faktor dalam sistem. dan sepenuhnya merupakan pendapat dari pihak yang berkompeten sebagai pelaku dan ahli mengenai pemanfaatan di masa mendatang. Analisis ini digunakan sebagai salah satu alat (tool) dalam penelitian. Dari hasil indentifikasi kriteria. responden dimohon untuk memberikan faktor. Oleh karena analisis prospektif dapat digunakan untuk mempersiapkan tindakan strategis.51 tingkat pengaruh dan ketergantungan antar faktor di dalam sistem. Dari analisis prospektif didapatkan informasi mengenai faktor kunci dan tujuan strategis apa saja yang berperan dalam peruntukan ruang sebagai kebutuhan para pelaku (stakeholders) yang terlibat di dalam pemanfaatan masa depan. berdasar tabel matriks analisis pengaruh antar faktor yang akan diisikan dengan skor antara 0-3. . kreteria dan variabel yang mempengeruhi pencapaian tujuan studi. b. Selanjutnya faktor kunci dan tujuan strategis (kebutuhan) tersebut akan digunakan untuk mendefinisikan dan mendeskripsikan evolusi kemungkinan masa depan bagi pemanfaatan TPA.

52 Tabel 10. Keterangan Tidak ada pengaruh Berpengaruh kecil Berpengaruh sedang Berpengaruh sangat kuat Jika faktor yang diberikan oleh responden lebih dari 1. maka dilakukan diskusi lebih lanjut kepada stakeholder.2. Seleksi dilakukan berdasarkan kekuatan global ter timbang dan posisi faktor dalam gambar hubungan antar faktor. maka nilai sel tersebut 0.2 dan 3 bersamasama berjumlah >½ N. Gambar hubungan antar faktor berdasarkan total pengaruh dan ketergantungan. Nilai-nilai sel telah disepakati oleh para responden. maka nilai sel tersebut ditentukan berdasarkan yang paling banyak dipilih antara nilai 1. Kekuatan global tertimbang 5). sebanyak N. untuk menentukan nilai sel tersebut. Ketergantungan global 3). Pengaruh langsung global. yaitu pada kuadran kiri atas. dilakukan analisis matriks gabungan dengan cara: 1) Apabila pengaruh antar satu faktor dengan faktor lainnya (sel) mempunyai nilai 0 dengan jumlah >½ N.2 dan 3. 2). Jika nilai 1. Kekuatan global 4). f. e. Seleksi 5 sampai 7 merupakan fakktor untuk diskusi tahap selanjutnya membangun skenario berdasarkan keadaan kriteria (tahap 3). Nilai-nilai sel yang telah disepakati oleh responden dimasukkan kembali dalam program seleksi faktor dalam bentuk: 1). dimasukan dalam program seleksi faktor yang telah tersedia. 2) Jika jumlah faktor (N) adalah genap dan diperoleh dalam satu sel jumlah nilai 0 sama banyak dengan jumlah nilai 1. d. . Pedoman Penilaian Analisis Prospektif Skor 0 1 2 3 c. tidak langsung dan total antar faktor dalam bentuk: 1) Pengaruh langsung global 2) Ketergantungan global 3) Kekuatan global 4) Kekuatan global tertimbang 5) Gambar hubungan antar faktor berdasarkan total pengaruh dan ketergantungan.3. Selanjutnya hasil analisis tersebut dalam bentuk pengaruh langsung.

buruk. dari kombinasi beberapa faktor dibuat skenario-skenario yang mungkin terjadi di masa yang akan datang dan dipilih skenario yang mungkin terjadi berdasarkan hasil identifikasi dari responden. Seleksi 6 sampai 7 adalah faktor untuk diskusi selanjutnya membangun skenario berdasarkan keadaan. j. Selanjutnya membuat keadaan suatu faktor berdasarkan pemanfaatan yang telah menjadi prioritas di TPA. kriteria (tahap 3).53 g. i. 2) Keadaan bukan merupakan tingkatan atau ukuran suatu faktor (seperti besar. . seleksi dilakukan berdasarkan kekuataan global tertimbang dan posisi faktor dalam gambar hubungan antar faktor. Dari keadaan yang ada. yaitu pada kuadran kiri atas. Untuk setiap faktor dapat dibuat satu atau lebih keadaan dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Keadaan harus memiliki peluang sangat besar untuk terjadi (bukan hayalan) dalam satu waktu di masa yang akan datang. h. kecil atau baik. tetapi merupakan deskripsi tentang situasi dari sebuah faktor. Keadaan yang ada diidentifikasi dari keadaan yang paling optimis sampai paling pesimis. sedang.

Kelurahan Mustika Jaya dan Kelurahan Mustika Sari.049 ha. wilayahnya berbatasan dengan Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Barat.masing terdiri beberapa kelurahan. Jati Asih. Medan Satria. Bekasi Timur. Kelurahan Cikiwul 434. Gambaran Umum Lokasi A. Luas dari ketiga kelurahan yang merupakan lokasi TPA adalah Kelurahan Ciketing Udik 343. Kecamatan Bantar Gebang meliputi delapan kelurahan yaitu: Kelurahan Bantar Gebang. Kelurahan Cikiwul. Kelurahan Padurenan. kantor dan instansi pengolahan lindi. Kelurahan Cimuning.IV.95 ha (di timur dan utara TPA). 20 % digunakan untuk prasarana TPA seperti pintu masuk. Kecamatan Bantar Gebang. jalan.1.masing wilayah Kecamatan tersebut adalah Bekasi Utara. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Bantar Gebang. Provinsi Jawa Barat. dengan ketinggian 19 m di atas permukaan laut dan luas wilayah 21. Bekasi Barat. Masing. Bekasi Selatan. Luas lahan TPA Bantar Gebang seluruhnya adalah 108 ha yang terdiri dari lima wilayah atau zone. Jati Sempurna dan Pondok Gede (Gambar 5). Letak dan luas wilayah Letak Kota Bekasi relatif strategis. Letak Geografi a. Kota Bekasi. Batas Kecamatan Bantar Gebang dengan daerah sekitarnya adalah sebagai berikut: Sebelah Utara : Bekasi Timur dan Bekasi Barat Sebelah Selatan : Kabupaten Bogor Sebelah Barat Sebelah Timur : DKI Jakarta : Setu Kabupaten Bekasi Lokasi TPA dibatasi tiga kelurahan yaitu Kelurahan Ciketing Udik. Kota Bekasi berada pada posis i 106° 55’ Bujur Timur dan 6° 7’– 6° 15’ Lintang Selatan. .34 ha (di selatan dari TPA). Luas efektif TPA yaitu luas yang digunakan untuk menimbun sampah adalah 80 % dari seluruh luas lahan.70 ha (di barat dan utara TPA) dan Kelurahan Sumur Batu 568. Kelurahan Cikiwul dan Kelurahan Sumur Batu. Secara geografis. Kota Bekasi terbagi menjadi 10 wilayah kecamatan yang masing. Kelurahan Sumur Batu. Rawa Lumbu. Kelurahan Ciketing Udik.

Bekasi Barat 9. Pondok Gede Kec. Jati Asih Kec. Bekasi Timur 6.55 SKALA 1:50. Kec. Kec. Kec. Rawa Lumbu 7. Jati Sampurna Kec. Bekasi Utara GAMBAR 5: Peta Kota Bekasi . Kec.000 U 9 DKI 10 8 5 7 6 1 3 4 2 Kabupaten Bogor Lokasi TPA • • • • • Kec. Kec. Bantar Gebang Kec. Medan Satria 10. Bekasi Selatan 8.

Jumlah dan perkembangan penduduk di Kelurahan Sumur Batu. Curah hujan rata-rata tergolong tinggi yaitu sebesar 2.masing tercatat 1.230 mm³ pertahun. Februari dan Maret yaitu masing. . dengan variasi hujan antara 79 – 300 mm. Kecamatan Bantar Gebang terletak di daerah tropis yang mengalami musim hujan dan kemarau. kepadatan penduduk sebesar 22.704 kepala keluarga. dioperasikan tahun 1989 direncanakan mampu menampung sampah dari Jakarta dan Kota Bekasi hingga tahun 2005 (Gambar 6). Suhu udara rata-rata berkisar 24 – 33° C sepanjang tahun. Madura dan lain.56 TPA Bantar Gebang dimiliki oleh Pemda DKI Jakarta yang ditujukan untuk penyelenggaraan sistem pengolahan sampah dengan memperhatikan segi lingkungan. memiliki laju pertumbuhan penduduk alami 1. 1999). 1.700. dengan jumlah curah hujan bervariasi setiap tahunnya. Penduduk Jumlah penduduk Kota Bekasi 1.50 persen per tahun dengan laju pertumbuhan penduduk migran 3.5 m per detik.36 jiwa per km². Jumlah curah hujan tertinggi tercatat di Kecamatan Bekasi Utara pada bulan Januari yaitu 608 mm³ dengan jumlah hari hujan selama 19 hari. seperti: dari Jakarta. c.69 persen (Statistik Kota Bekasi dalam Angka. kecepatan angin berkisar antara 0. Sedangkan jumlah curah hujan pada bulan lainnya di musim hujan ratarata kurang dari 400 mm³. Kelembaban udara bervariasi antara 60 – 99 persen. Cikiwul dan Ciketing Udik pada tahun 2001 setiap bulannya bertambah.049 mm³. b.454 jiwa laki.312 jiwa perempuan dalam 6.lain (Tabel 11). Jumlah penduduk di Kecamatan Bantar Gebang berjumlah 99. Iklim Keadaan iklim Kota Bekasi panas.049 ha. Cirebon.094 mm³ dan 1.678 jiwa dengan luas wilayah 21.5 – 1.539 mm³. tahun 2001 jumlah curah hujan yang relatif tinggi hanya terjadi pada bulan Januari. disebabkan banyaknya penduduk yang datang dari luar Bekasi.laki dan 33.766 jiwa yang terdiri dari 66.

57 Gambar : 6 Peta TPA Bantar Gebang .

58

Tabel 11. Jumlah dan Perkembangan Penduduk di tiga Kelurahan. Kelurahan No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Bulan Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah Sumur Batu (Jiwa) 7.227 7.246 7.248 7.274 7.286 7.292 7.309 7.324 7.474 7.474 7.477 7.469 88.100 Ciketing Udik (Jiwa) 6.308 10.126 10.146 10.168 10.189 10.193 10.229 10.244 10.270 10.282 10.289 10.303 109.504 Cikiwul (Jiwa) 7.121 16.813 16.813 16.815 16.816 16.824 16.839 16.855 16.903 16.909 16.952 16.954 192.614

Sumber: Kantor Kecamatan Bantar Gebang, Bekasi 2001.

B. Karakteristik Sampah Perkotaan dan TPA a. Karakteristik sampah Sampah mempunyai karakteristik yang berbeda antara satu kota dengan kota lainnya, tergantung dari sumber, tingkat sosial ekonomi penduduk dan iklim (Suryanto, 1988). Karakteristik untuk berbagai jenis sampah seperti nilai kalor dan kadar air sampah dan kadar abu (Laboratorium Balai Pelatihan Air Bersih dan Penyehatan Lingkungan, Departemen Kimpraswil, 2005), 45,93 %, pasar modern 36,59 %, nilai kadar air sampah permukiman

sekolahan 31,31 %, dan industri 23,73 %. Nilai

kadar air tertinggi berasal dari sumber sampah pasar tradisional 56,58 %, hal ini disebabkan adanya banyak komponen sampah yang memiliki kandungan air yang cukup tinggi seperti kulit buah, sisa sayuran, dan buah yang sudah membusuk, sedangkan kadar air terendah didapatkan dari sumber sampah yang bersumber dari perkantoran 23,17 %, jenis sampah yang banyak ditemui umumnya kandungan air yang rendah seperti karet, plastik, kertas dan logam.

59

Sedangkan kadar abu sampah dipengaruhi oleh banyak sedikitnya kandungan bahan yang mudah terbakar yang terdapat di dalam sampah, kadar abu yang terdapat dari sumber sampah pasar modern 17,13 %, permukiman 16,24 %, sekolahan 13,92 % dan industri 11,93 %. Kadar abu tertinggi adalah sampah yang berasal dari sampah perkantoran 17,60 %, sedangkan kadar abu terendah berasal dari sampah pasar tradisional 10,26 % . Nilai kalor merupakan salah satu karakteristik sampah yang dapat

mempengaruhi proses incenerator, nilai kalor dari sumber sampah sekolahan 3248 kal/kg, perkantoran 2434 kal/kg, pasar modern 2102 kal/kg dan permukiman 2072 kal/kg. Nilai kalor sampah tertinggi berasal dari sampah indus tri nilai kalor 3553 kal/kg sedangkan terendah didapatkan yang berasal dari sampah pasar tradisional nilai kalor 1778 kal/kg. Sampah yang berasal dari industri mempunyai nilai yang relatif tinggi, karena adanya komponen tertentu yang dapat menghasilkan nilai kalor yang tinggi dan dilihat dari jenis komponen yang ada maka prosentase yang tertinggi pada jenis komponen tekstil atau kain, kertas dan plastik, sedangkan sampah yang berasal dari pasar merupakan sampah yang menghasilkan nilai kalor yang terendah karena dilihat dari komposisinya maka keadaannya berlawanan dengan sampah yang berasal dari sampah industri, dimana komposisi sampah pasar terbesar adalah organik. b. Komposisi sampah 1). Komposisi fisik sampah DKI Jakarta adalah besarnya komponen pembentukan sampah yang dihasilkan rata-rata terdiri dari sampah organik 65,05 %, kertas 10,11 %, kayu 3,12 %, kain dan tekstil 2,45 %, karet, kulit dan yang sejenis 0,55 %, logam 1,90 %, kaca, gelas 1,63 %, baterai 0,28 %, plastik 11,08 %, tulang, kulit telur 1,09 % dan lain- lain 2,74 % ( Dinas Kebersihan DKI Jakarta, 1999). Data Dinas Kebersihan 2004, jumlah sampah yang terangkut ke TPA Bantargebang sebanyak 6.446.886 m³ Tabel 12.

60

Tabel 12. Jumlah sampah yang dibawa ke TPA Bantar Gebang Tahun 2004
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Sumber sampah Dinas Kebersihan Sudin Jakarta Pusat Sudin Jakarta Utara Sudin Jakarta Barat Sudin Jakarta Selatan Sudin Jakarat Timur SPA Sunter SPA Cakung PD Pasar Jaya Swastanisasi Kebersihan Swasta Umum Kendaraan sewa Jumlah Sampah per tahun (m³) 79.524 154.448 101.915 82.510 441.319 313.285 1.032.328 935.486 275.801 1.989.910 13.536 1.026.824 6.446.886

Sumber: Dinas Kebersihan DKI Jakarta (2005). 2). Komposisi kimia, adalah besarnya kandungan zat kimia yang terdapat dalam sampah. Komposisi kimia berhubungan dengan alterna tif pemrosesan atau pengolahan dan pilihan pemulihan (Suryanto, 1988). Pada sistem sanitary landfill dan open dumping, komposisi kimia dapat dimanfaatkan untuk mengetahui tingkat pencemaran yang ditimbulkan oleh lndi i terhadap air tanah. Umumnya komposisi kimia sampah terdiri dari zat karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur dan fospor (C,H,O,N,S,P), serta unsur lainnya yang terdapat dalam protein, karbohidrat dan lemak (Suryanto, 1988). c. Densitas atau Kepadatan Sampah Kepadatan sampah menyatakan bobot sampah per satuan volume. Pada sistem sanitary landfill, kepadatan sampah diperlukan untuk menentukan ketebalan lapisan sampah yang akan dibuang pada sistem tersebut. Tempat Pemusnahan Akhir (TPA) Bantar Gebang, menampung sampah dari DKI Jakarta dan Kota Bekasi. Menurut Butler (2002), sampah yang berasal dari Kota Jakarta dengan volume 19.500 sampai dengan 23.000 m³ perhari atau, sekitar 6.000 ton

71 4. 2. Fluktuasi debit air ekstrim terjadi pada musim hujan dan debit air sungai minimal musim kemarau.49 1. Plastik 6. antara 80 hingga 90 % dari total sampah organik dan anorganik (Tabel 13). Lainnya Sumber: Butler (2002). komposisi bahan organiknya serupa dengan kota-kota lain di Indonesia. Faktor teknis dipengaruhi oleh dinamika faktor. Fluktuasi debit air sungai yang tajam tidak diharapkan. Tinggi rendahnya batas kadar zat pencemar lindi dipengaruhi oleh tinggi rendahnya atau fluktuasi debit air sungai sebagai media penerimanya. D.faktor teknis.4 8.70 10. Fluktuasi debit air sungai yang relatif stabil lebih diharapkan terjadi dan lebih baik dibandingkan dengan debit yang sangat fluktuatif. Kaca 7. Presentase 5. sehingga zat pencemar berada dalam batas-batas toleransi dalam lingkungan. C.14 1.61 perhari.96 86. Sedangkan faktor sosial menyangkut toleransi masyarakat di sekitar TPA dengan kualitas lingkungan terutama dampak lingkungan. Logam 8.24 2. Tabel 13. 3. Kualitas Lingkungan Kualitas lingkungan adalah keadaan lingkungan yang diindikasikan oleh tinggi rendahnya batas kadar parameter pencemaran lingkungan.71 . 4. Komposisi bahan organik dan anorganik di TPA Bantar Gebang Material Kayu Kertas Tekstil Organik (yang dapat membusuk) Total Zat Organik 5. tinggi sampah. Umur Teknis TPA Bantar Gebang Umur pemanfaatan TPA menyangkut faktor teknis dan sosial. karena menimbulkan risiko banjir dan mempengaruhi amplitudo konsentrasi zat pencemar dalam badan air sungai (Dinas Kebersihan DKI 2002). yakni luas zone.05 65. No 1. laju penyusutan dan laju penimbunan sampah.

Keberadaan pemulung di TPA Bantar Gebang yang setiap hari bekerja mengambil sebagian sampah yang masih bernilai ekonomi untuk didaur ulang atau digunakan kembali seperti plastik. 2002). tuntutan pemulung dan sebagainya. dan mikroba. peningkatan kinerja pengelolaan sampah perkotaan. antara lain potongan besi. kebutuhan pasar. b. dengan sistem open dumping. Standar yang digunakan untuk memahami karakteristik bahan organik terhadap media air adalah BOD. Pemulung Kegiatan pemulung. antara lain kerjasama pemulung dan supir truk sampah.mata menyangkut faktor teknis. asap. TPA liar dipengaruhi oleh faktor yang kompleks. botol dan sebaginya. karena air merupakan komponen lingkungan yang sangat esensial untuk kehidupan. dan sebagainya. dan pemanfaatan sampah perkotaan secara komersial dalam skala besar. Keberadaan . khususnya di TPA dan wilayah yang diteliti. Untuk itu pengendalian TPA liar tidak semata. kertas. juga menyangkut aspek sosial ekonomi. disamping itu juga dapat menggambarkan keadaan alamiah dari lingkungan tersebut (Dinas Kebersihan DKI. kayu. COD. akan menimbulkan dampak ke arah hulu maupun hilir dalam konteks sosial ekonomi secara luas ( Ken. botol kaleng. TPA Liar dan Pemulung a. Dipandang dari sudut sosial ekonomi. TPA liar dibuat oleh masyarakat secara ilegal di sekitar TPA utama. logam berat. kayu. Sistem open dumping menimbulkan dampak yang cukup besar terutama air lindi masuk ke dalam air tanah. merupakan refleksi dari ketimpangan sosial ekonomi pada masyarakat secara luas (Gambar 7). Pengabaian dalam mengusahakan kehidupan yang lebih baik dari pemulung. Status zat pencemar relatif dapat menggambarkan karakteristik kegiatan manusia dalam pengelolaan sumberdaya alam. 2002). karton. TPA Liar. lalat dan bau.62 Zat pencemar yang dianalisis adalah zat pencemar yang berada dalam perairan. TPA liar ditujukan untuk menguasai sampah secara pribadi untuk diambil bahan yang laku di pasar. pengentasan dan pemberdayaan pemulung di kawasan TPA merupakan “bagian yang tidak terpisahkan” dari perbaikan lingkungan hidup. botol plastik. E. Sisa sampah umumnya dimusnahkan dengan cara dibakar.

lain) sehingga bernilai ekonomis. tetapi tidak disadari manfaat yang dapat dikerjakan oleh pemulung sampah. Jalur ekonomi itu mempunyai landasan dalam sistem pemulungan. (2002) cara terbaik untuk pemisahan sampah pada sumbernya yaitu dengan diberikan insentif keuangan. Pemisahan ini dilakukan secara manual karena pemisahan barang-barang yang dapat didaur ulang secara otomatis sukar dilakukan. Di Bangkok 90 % dari sampah padat dibuang dengan sistem buangan terbuka. di sekitar TPA ada sejumlah toko-toko kecil (SSR) yang menjual barang-barang bekas dari tempat sampah. peraturan dan penciptaan kesadaran lingkungan. Kegiatan pemulung di TPA Bantar Gebang Menurut Samom et al. Total ton harian dari barang-barang yang dikumpulkan oleh para pemulung diperkirakan sekitar 5 % dari jumlah sampah kota. logam dan lain. kondisi ini diakibatkan oleh kehendak atau kebutuhan hidup yang ditunjang adanya permintaan terhadap berbagai jenis barang yang dikumpulkan dari sampah tersebut.63 pemulung tersebut sangat mengganggu kelancaran pengoperasian alat-alat berat dan dapat menimbulkan kecelakaan bagi para pemulung. . Gambar 7.. karton. Masyarakat banyak berpandangan tentang rendahnya pekerjaan pemulung. Secara informal pemulung mengambil barang (sampah) yang mempunyai potensi untuk didaur ulang (kertas. Pekerja itu bukanlah menjadi hambatan bagi mereka yang melihatnya dari aspek pemanfaatan dan dapat dipahami sebagai mata pencaharian atau dipandang sebagai aspek ekonomi yang dapat menunjang kehidupan keluarga. barang-barang ini dikumpulkan dan dijual oleh pegawai pengumpul dan pemulung. Ridlo (1998). Jumlah barang yang diantarkan ke setiap SSR ini sekitar 1-6 ton/hari.

Kedua. Apabila komentarnya itu terjadi. dalam kurun waktu yang sama. dimanfaatkan untuk: (1). Dampak Pengelolaan TPA pada Lingkungan Menurut Usman (2003). dan sering menimbulkan konflik sosial dengan masyarakat sekitar lokasi TPA sampah. Hasil yang diharapkan dari aspek sosial dalam kegiatan dampak lingkungan adalah pengetahuan komprehensif tentang dampak suatu usaha atau kegiatan terhadap kehidupan masyarakat di sekitarnya.. Sesuatu yang dianggap bermanfaat oleh lapisan atau sekelompok lainnya.hal yang sudah terbukti merugikan. keberadaan suatu usaha atau kegiatan mempunyai dampak positif sekaligus negatif terhadap kehidupan masyarakat di sekitarnya. penilaian atau respon masyarakat terhadap keberadaan suatu usaha atau kegiatan berubah-ubah.nilai sosial. dapat berperan ganda. proses pengambilan keputusan (khususnya dalam memperhitungkan resiko yang dihadapi. yaitu: keresahan sosial. konflik sosial (benturan) dan integrasi sosial dari kelestarian nilai. (1982). kaleng dan lain sebagainya Garna et al. Ketiga. Secara tidak langsung mereka telah melakukan daur ulang terhadap sampah anorganik yang sulit diuraikan oleh mikroba. F. misalnya plastik. demonstrasi dan gerakan-gerakan politik lain yang dilandasi oleh ketidak puasan. yaitu menimbulkan efek estetika. kehidupan masyarakat boleh jadi bersentuhan dengan beberapa usaha atau kegiatan sekaligus. dalam kajian dampak sosial paling tidak ada tiga alasan mengapa aspek sosial diperlukan bagi para pengambil kebijakan. Keresahan sosial antara lain ditandai oleh protes yang dilakukan oleh penduduk lokal (baik tertulis maupun lisan). Pengumpulan sampah oleh pemulung akan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Paling tidak terdapat 4 variabel kunci yang perlu dikaji sehubungan dengan introduksi suatu usaha atau kegiatan. dan sesuatu yang dianggap baik pada kurun waktu tertentu tidak dianggap baik pada kurun waktu tertentu tidak selamanya dianggap baik pada kurun waktu selanjutnya. secara langsung dapat mensejahterakan pemulung melalui penjualan sampah yang dipungut dari TPA. . itu berarti dampaknya adalah negatif. alumunium. logam. sedangkan (2). memperbaiki kebijaksanaan (terutama menghilangkan hal. besi.64 Keterlibatan pemulung dalam pengelolaan sampah. Pertama.

gubuk dan menumpuk sampah di sekitar tempat pemukiman mereka dan di sepanjang jalan masuk ke TPA Sumber: Rencana Pengelolaan Lingkungan LPA Bantar Gebang ( 1997). sedangkan kele starian nilai. upacara adat dan upacara siklus kehidupan (kelahiran. Perkiraan Jenis Dampak Penting di TPA Bantar Gebang No Jenis Dampak Penting 1. 2. Meliputi jumlah taka. dampaknya adalah negatif dan sebaliknya. Berkurangnya nilai estetika akibat adanya aktivitas pemulung sampah yang membangun gubuk. 7. 8. Tabel 14. jumlah individu. Apabila kontek ini sering terjadi. 3. berupa peluang usaha dan kesempatan kerja. . 4. yang mengikat secara hukum. Rencana Pengelolaan Lingkungan merupakan wujud nyata dalam meminimkan dampak lingkungan dari TPA (Dinas Kebersihan DKI 1997).65 Konflik (benturan) sosial dalam kontek kajian dampak lingkungan meliputi hubungan diantara penduduk lokal antara lokal dan pendatang serta antara pendatang. Prakiraan dampak penting tersebut menjadi dasar dalam Rencana Pengelolaan dan Rencana Pemantauan Lingkungan. 6. pengangkutan sampah ke TPA Timbulnya keresahan dan konflik sosial terutama masyarakat dengan pemulung Peningkatan peluang terjadinya kecelakaan kerja akibat aktivitas pemulung di TPA. Kegiatan TPA menurut dokumen AMDAL diperkirakan akan menimbulkan dampak lingkungan tergolong penting meliputi komponen fisik-kimia. Sebaliknya. apabila jarang terjadi (bahkan hampir tidak pernah terjadi) dampaknya adalah nol.nilai kultural antara lain dapat diidentifikasi dari keberadaan upacara keagamaan. 11. 10. Apabila upacara-upacara semacam ini terganggu atau semakin terabaikan. dampak suatu usaha atau kegiatan adalah negatif. sosial ekonomi. Peluang usaha dan kesempatan kerja Penurunan kesehatan masyarakat di sekitar lokasi TPA Peningkatan kepadatan lalu lintas dan kemacetan. Penurunan kualitas udara Peningkatan kebisingan Penurunan kualitas air permukaan (sungai Ciketing dan sungai sumur batu) Penurunan kualitas air tanah Komponen biologi. dan kesehatan masyarakat (Tabel 14). biologi. Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat bahwa kehadiran TPA di satu sisi menimbulkan dampak negatif dan pada sisi lain menimbulkan dampak positif. perkawinan dan kematian). 5. serta keanekaragaman plankton. 9.

Sebagian logam berat ini ada yang secara alamiah dibutuhkan oleh tumbuhan dalam jumlah tertentu. Gambar 8: Pengelolaan air lindi di TPA Bantar Gebang Berdasarkan surat perjanjian antara Pemerintah DKI Jakarta dan Pemerintah Kota Bekasi Nomor 96 Tahun 1999/168 tentang Pengelolaan Sampah dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah di Kecamatan Bantar Gebang. guna menghasilkan pupuk organik berkualitas (Gambar 8). tetapi karena keterkaitannya dengan mata rantai makanan yang potensial bisa membahayakan bagi kesehatan manusia dan hewan. . maupun tumbuhan. virus. hewan. Mengembangkan dan meningkatkan pengelolaan sampah dan pengelolaan TPA berdasarkan azas manfaat dan kebersamaan serta saling menguntungkan.66 Sampah perkotaan dapat mengandung bakteri patogen. gangrene. Botulisme. pengelolaannya merupakan tanggung jawab bersama dan memiliki tujuan antara lain: a. dan sebagainya. Sebagian lagi tidak diperlukan secara esensial oleh tanaman. (2002). bakteri yang membahayakan adalah bakteri yang dapat membentuk spora. juga potensial dalam sampah perkotaan. Kandungan logam berat. Kota Bekasi. Menurut Ken. bila dikonsumsi dalam jangka waktu yang panjang. Air lindi yang dikelola dengan baik dibutuhkan sebagai komponen penting bagi kompos. Air lindi juga dihasilkan oleh sistem sanitary landfill. yang dikenal mengakibatkan penyakit Anthrax. apabila tidak dikelola dengan baik merupakan ancaman bagi penyedia air bersih. protozoa dan parasitic helminthes yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia. baik air permukaan maupun air tanah.

Pengelolaan sampah di TPA merupakan suatu proyek yang akan berpengaruh terhadap aspek sosial lainnya baik secara langsung maupun tak langsung. dan 3). TPA. Peranserta Masyarakat. setidaknya ada tiga dampak positif yang akan timbul sebagai akibat kesejahteraan penduduk. semakin terbukanya informasi daerah sekitar TPA terhadap daerah lainnya. Peranserta masyarakat Pada saat ini peranserta masyarakat dalam pengumpulan sampah di koordinasikan oleh RT/RW. serta upaya pengumpulan sampah di sumbernya. yaitu: 1). namun masih perlu ditingkatkan terutama untuk proses pemilihan sampah organik dan anorganik. dengan pengadaan petugas gerobak sampah swadaya masyarakat dan merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan oleh sistem pengumpulan serta pengangkutan sampah yang diselenggarakan oleh Dinas Kebersihan.67 b. 2). Peran swasta dalam pengembangan sistem pengelolaan sampah secara bertahap akan diterapkan peran Dinas Kebersihan sebagai Regulator dimana secara bertahap pula diharapkan peran swasta dan masyarakat setempat menjalankan operasionalisasi peran operator per bidang yang diminati. telah melakukan antara lain adalah: a. G. Peran sektor swasta ini masih perlu ditingkatkan kearah investasi untuk pembangunan fasilitas pengelolaan sampah (SPA. terjadinya peningkatan interaksi sosial masyarakat di sekitar TPA dengan masyarakat lainnya. Tonny (1990). b. pengoperasian SPA dan TPA Bantar Gebang berdasarkan sistem kontrak kerja. Proses pengumpulan sampah sudah cukup besar. swasta dan pengelola sampah pada saat ini menurut Dinas Kebersihan DKI Jakarta 2005. Swasta dan Pengelola TPA Peranserta masyarakat. incinerator) termasuk pengoperasiannya agar mengurangi beban biaya pemerintah. sejalan dengan kesenjangan pendapatan di kalangan masyarakat. Peranserta Swasta Pada saat ini sektor swasta telah ikut berperan dalam pengelolaan sampah baik dalam proses pengangkutan sampah. terjadinya peningkatan perbedaan status sosial. . Untuk memadu-serasikan pengelolaan sampah dan pengelolaan TPA. sehingga aman dan memenuhi persyaratan kesehatan masyarakat serta tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.

656 orang petugas gerobak swadaya masyarakat (Dinas Kebersihan Propinsi DKI Jakarta. Sedangkan TPA Bantar Gebang telah melaksanakan hal penting dalam pengelolaan lingkungan antara lain: a. c. c.masing terdiri dari 6 Seksi dan 1 Sub-Bagian. Pelapisan tumpukan sampah oleh tanah merah (soil cover) telah dilakukan hampir di seluruh zone. pengangkutan sampah. Proses pengolahan sudah terlihat adanya keterpaduan antara perlakuan fisik. dan tiap Kelurahan terdapat 1 Sub-Seksi. Pengelola TPA Berdasarkan SK. Dinas Kebersihan terdiri dari 6 Sub Dinas. Sub Dinas Kebersihan masing. c. peningkatan peran sektor swasta ini jangan bersifat monopolistik dan kapitalistik. truk Kapsul dan dump truck). Jumlah petugas Dinas Kebersihan terdiri dari 3. komposisi dan atau mereduksi jumlah sampah atau residu yang harus dibuang ke TPA. namun harus partisipatif dan bersifat pemerataan (memberi peran berarti pada perusahaan kecil dan menengah termasuk para pemulung). kecuali pada zone yang aktif (adanya kegiatan pengumpulan sampah). IPAS konstruksinya telah direhabilitasi. 18 Seksi. b. dan biologi. Penertiban TPA liar dan diupayakan bekas TPA tersebut dilapisi oleh tanah merah. Stasiun Peralihan Antara (SPA) dan truk sampah (truk compector. Struktur Organisasi Dinas Kebersihan saat ini seperti pada Gambar 9. Terdapat 6. Langkah selanjutnya adalah mendorong sektor swasta untuk investasi dalam pembangunan dan pengoperasian fasilitas pengolahan sampah termasuk prasarana dan sarana penunjangnya seperti ITF (Intermediate Treatment Facility) suatu teknologi yang merubah bentuk. d. kimia. . 2005). b. Akan tetapi. dan 1 Unit Pelaksana Teknis. Gubernur Nomor 15 tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kebersihan Propinsi DKI Jakarta. pengoperasian SPA Cakung dan pengoperasian TPA Bantar Gebang perlu terus ditingkatkan dan dikembangkan dalam rangka pembinaan sektor swasta sebagai operator.633 orang pegawai dan 2950 orang pegawai harian lepas. 1 Bagian. Ditiap Kecamatan terdapat 1 Seksi.68 Peranserta sektor swasta yang selama ini telah berjalan dalam kegiataankegiatan penyapuan jalan. 5 Sub-Bagian. dengan kegiatan sebagai berikut: a. namun proses pengolahannya sedang dalam penyempurnaan.

69 Gambar 9: Struktur Organisasi Dinas Kebersihan Propinsi DKI Jakarta .

Pescod (1973). seperti senyawa organik. Pengukuran kekeruhan biasa dipakai JTU (Jeckson Turbidity Unit) dan NTU (Nephelometric Turbidity Unit) Gambar 10. Kekeruhan juga dapat mempengaruhi kehidupan ikan dan organisme air lainnya. sehingga proses fotosintesis akan berlangsung pada lapisan air yang lebih tipis.2. Kekeruhan Kekeruhan dapat menggambarkan tingkat penetrasi cahaya ke dalam perairan. Lokasi Sumur bawah dari TPA Kekeruhan merupakan suatu ukuran banyaknya bahan-bahan tersuspensi yang terdapat di dalam air. tergantung pada derajat turbilansinya.70 4. Bahan tersuspensi tersebut terdiri dari bahan organik dan anorganik yang berasal dari limbah domestik. kekeruhan terjadi karena adanya bahan tersuspensi yang bervariasi dari ukuran koloidal sampai dengan dispensi kasar. Air yang keruh akan memberi . Gambar 10. Secara tidak langsung kekeruhan dapat mempengaruhi produktivitas perairan. Nilai kekeruhan yang tinggi akan mengurangi penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan. Perkembangan Kualitas Air Sumur a. Tingkat kekeruhan dipengaruhi oleh padatan tersuspensi dan koloid yang terkandung di dalam perairan. dengan demikian produktivitas perairan akan semakin menurun. Evaluasi Fisik-Kimia A. limbah industri dan juga dari erosi. Menurut Saeni 1988. sehingga dapat mengakibatkan kematian. derajat kekeruhan yang tinggi akan mengganggu organ-organ pernapasan atau alat penyaring makanan dari organisme air.

5 90. IPB 2004 Permenkes RI No.69-6.05 <0.299-0.3 90.06 Sulfida 0.015 0.fisika dan biologi dapat dilihat pada Tabel 15.08 3.804 2.3x10¯¹ 5.71 perlindungan pada kuman. kekeruhan air sumur bawah dari TPA dan yang di atas wilayah TPA pada tanggal 2 Oktober 2004 masing.5 98.06 <0. coli 3 6.05 <0.05 <0.44 Kisaran 23.245 2.66 5.3x10¯¹ 8.017 0.73 6.6 0.74 252 3. mikroorganisme dapat berkembang dan hidup baik.70 3. Oleh karena itu bakteri terdapat pada semua sistem air yang dapat merugikan atau tidaknya tergantung pada kondisi optimum yang menunjang pertumbuhannya.06 <0.05 2.8 1 2 2 6.83 0.06 7.1 3.69 288 279 189 2.81 6.4-598. Tabel 15 .3 598.5-102.70-3.018 97.5 1.804 Nitrit (N-NO2 ) 0.609 0.06 3.05 <0.5 DO 3.45 11.11 3.05 Ortho-Phosfat 0.05 <0.44 6.015-0.359 245 2.34 2.6 5.81 189-288 2.245-2.3 Nitrat (N-NO3 ) 2.11 Besi (Fe) 1.1 <0.001 <0.2x10¯¹ 5.06 <0.001 <0.89 2.06 <0.5 2.3 66. Bila dihubungkan dengan DO.001 MPN/100ml Coliform 50 6. Air sumur yang dibawah dari TPA jauh lebih keruh daripada air sumur yang di atas wilayah TPA.89 Seng (Zn) 15 <0.001 <0.05 Timbal (Pb) 0. maka kekeruhan ini konsisten dengan konsentrasi DO .9-8.05 <0.376 0.7 1–2 6. Temuan hasil penelitian terhadap kualitas air sumur penduduk yang berada di Kelurahan Ciketing Udik yang terletak di atas dari TPA dengan parameter kimia.299 0.022 Klorida 102.300 6 10 0 500 10 1 600 Air Sumur Atas TPA 2 Okt 04 23 Okt 04 27 Nop 04 27. Pada air yang mengandung zat organik dan anorganik.022 0.416/Menkes/Per/IX/1990 Keterangan Lokasi : Sumur pantek milik penduduk di Kelurahan Ciketing Udik.7 26.05 <0.0x10¯¹ 63-80 MPN/100ml E.4 70.11 3.0 <0.780 2.76 2.34-2.404 0.0x10¯¹ 7.05 <0. Ammonia(N-NH3 ) Kekeruhan yang terjadi di sumur atas dan sumur bawah berfluktuasi cukup tajam.66 <0.8 23. Kualitas Air Sumur Atas dari TPA 2004 Parameter Suhu Kekeruhan pH TDS BOD5 COD Satuan ºC NTU mg/l mg/l mg/l ppm mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l Standard 5 6. Penyimpangan terhadap standar kualitas yang telah ditetapkan yaitu 25 NTU (Nephelometric Turbidity Units) akan menyebabkan gangguan estetika dan mengurangi efektivitas desinfeksi air.08-3.44 Ratarata 26.001 71 55.7 6.masing adalah 1 NTU dan 15 NTU (Tabel 15 dan 16).8-27.05 <0.404 Kesadahan 66.1 1.2x10¯¹ 52-63 Sumber: Laboratorium Kimia Fisik dan Lingkungan.44-11.

01x10¹ 0.3 38. coli 3 0.80 <0.56-4.8 3. Tingkat kekeruhan air sumur bawah pada tanggal 27 Nopember 2004 mengalami penurunan dibandingkan dengan kekeruhan pada tanggal 23 Oktober 2004.99-11. Sedangkan kisaran kekeruhan air sumur yang dibawah dari .504 <0.001 <0.88 156 3.0 14 14-18 6.044 0.5 1.46 15.80 Seng (Zn) mg/l 15 <0.06 <0.047 61.53 23.879 0.7-45.02-3.7 NTU.56 <0. Hal ini masih dibawah BMPSA yang dianjurkan.masing adalah 14 NTU dan 18 NTU (Tabel 16). 5 6.6 15 6.047 59. yaitu masing.5 3.0 18 6. yaitu masing.3 -1.66 6.6 Nitrat (N-NO3 ) mg/l 1.6 1.55 6.56 3.11 Besi (Fe) mg/l 1.04 0.6 1.56-4.02 0.11 3. Kekeruhan air sumur pada tanggal 23 Oktober 2004 menunj ukkan peningkatan tingkat kekeruhan baik air sumur yang dibawah TPA maupun yang di atas dari wilayah TPA.8-27.99 0.07 <0.05 8.80 9.09 BOD5 COD mg/l 11.690 0.044-0.05 4.1-50 Sumber: Laboratorium Kimia Fisik dan Lingkungan.81 9. Kualitas Air Sumur Bawah dari TPA 2004 Parameter Suhu Kekeruhan pH TDS Satuan ºC NTU Standard Air Sumur Bawah TPA 2 Okt 04 23 Okt 04 27 Nop 04 Kisaran 22.557 38.414 <0.03x10¹ 0. tetapi untuk sumur yang di atas dari wilayah TPA.0 3.442 0.87 3.06 <0.2x10¯² 0.9 59.09 3.06 <0.05 3.052 65.416/Menkes/Per/IX/1990 Keterangan Lokasi : Sumur pantek milik penduduk di Kelurahan Sumur Batu.masing 18 NTU dan 2 NTU.5x10¯² 0.0 0.03x10¯¹ Coliform 50 0.663-1.7 1.0 MPN/100ml E.8-65.001 Ratarata 25. dibawah yang dianjurkan.288 0.9-8.0 DO mg/l 3.300 6 10 0 500 10 1 600 26. Tabel 16.744 0.052 Klorida mg/l 59.486 45.55-6.485 42.01x10¯² 0.36 Kisaran kekeruhan air sumur di atas wilayah TPA secara keseluruhan selama priode tanggal 2 Oktober 2004 sampai dengan 27 Nopember 2004 minimum adalah 1 NTU dan maksimum 2 NTU dan rata-ratanya adalah 1.001 MPN/100ml 0.402 <0.001 27.05 0.06 <0.12 0.05 Ammonia (N-NH3 ) ppm 0.05 <0.663 1.66 3.06 Sulfida mg/l 0.70 135 3. Tingkat kekeruhannya di atas BMAPSA – KEPMENLH yang diperbolehkan.72 yaitu air sumur yang di bawah dari wilayah TPA mempunyai DO lebih kecil dari pada air sumur yang di atas dari wilayah TPA. IPB 2004 Permenkes RI No. Hal ini menunjukkan bahwa penyinaran sumur di bawah lebih banyak terpencar daripada sumur diatas pada tanggal 23 Oktober 2004.05 <0.88 mg/l 176 135-176 mg/l 4.56 8.288-0.8 22.504 Timbal (Pb) mg/l 0.05 Orto-Phosfat mg/l 0.71 155.557 Kesadahan mg/l 44.05 <0.442-0.001 0.72 1.879 Nitrit (N-NO2 ) mg/l 0.05 4.

.7 ºC.1 ºC dan langsung dipindahkan ke dalam perairan bersuhu 32.73 wilayah TPA pada periode yang sama adalah 14 – 18 NTU dengan rata-rata 15. maka dianjurkan agar perubahan suhu air pada perairan mengalir yang disebabkan oleh limbah bersuhu tinggi tidak lebih dari 2. karena erat hubungannya dengan kehidupan dalam air. NTAC (1968) mengemukakan bahwa ikan yang hidup di perairan yang suhu airnya tidak pernah lebih dari 21.66 NTU yang berarti diatas BMPSA yang dianjurkan. susunan jenis dan penyebaran organisme perairan. kecepatan reaksi kimia dan daya racun bahan pencemar dipenga ruhi oleh suhu air. Sedangkan menurut Pescod (1973) untuk menjamin kehidupan ikan dan organisme air lainnya denga n baik. kekeruhan. Sifat-sifat kimia seperti kelarutan oksigen (DO) dan gas. b. tanah dan udara serta komponen-komponen fisik dalam air. Suhu merupakan parameter kualitas air yang berpengaruh dalam reaksi kimia dan kelarut an gas dalam air. kegiatan manusia di sekitar perairan maupun kegiatan dalam badan perairan itu sendiri dapat mempengaruhi suhu perairan. kekeruhan. kecepatan reaksi kimia dan kehidupan organisme di dalamnya.gas lainnya. Suhu merupakan parameter yang terpenting. Hasil pengukuran suhu air sumur di atas dan bawah dari TPA seperti pada Tabel 15 dan 16. Komposisi substrat. Suhu berpengaruh terhadap kelarutan oksigen. sedangkan untuk perairan tergenang tidak lebih dari 1. kedalaman perairan. Suhu dipengaruhi oleh lingkungan.8 ºC. jenis-jenis makanan ikan pada suhu tersebut merupakan titik mati karena dalam tubuhnya yang mengatur metabolisme terdiri dari enzim yang rusak pada suhu tinggi. Berbagai faktor lingkungan dapat mempengaruhi suhu air. pertukaran panas air dengan panas udara akibat respirasi. Selain itu suhu air dapat mempengaruhi proses-proses fisiologis. Suhu Suhu air merupakan salah satu faktor ekologis yang berperan di lingkungan perairan. cuaca. yaitu + 3° C menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 416 Tahun 1990 tentang syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air. Ikan dan organisme air lainnya mempunyai daya adaptasi yang berbeda-beda terhadap suhu air. menunjukan bahwa berada di atas kadar maksimum yang diperbolehkan.2 ºC akan mengalami tekanan fisiologis yang dapat menyebabkan kematian. musim. kecerahan.

8 °C dan maksimum 27. Berubahnya nilai pH dapat menimbulkan perubahan terhadap keseimbangan kandungan karbon dioksida. c. diatas baku mutu yang dianjurkan.74 Kisaran air sumur atas dari wilayah TPA periode tanggal 2 Oktober sampai dengan tanggal 27 Nopember 2004 minimum adalah 23. khususnya perkembangan dalam 5 tahun terakhir.46 °C yang berarti masih diatas baku mutu. 12 10 8 p H 6 4 2 0 2000 2001 2002 Tahun 2003 2004 Sumur Bawah Sumur Atas Gambar 11. Ikan dan organisme akuatik lainnya masih dapat . Kemasaman (pH) Kualitas air sumur juga ditentukan oleh kemasaman (pH). Menurut Pescod (1973).0 °C dengan rata-rata 25. mempengaruhi tersedianya hara serta toksisitas dari unsur renik. keperluan rumahtangga dan keperluan lainnya. oleh sebab itu menjadi penting untuk mengetahui parameter pH air sumur di lokasi penelitian.1 °C. seperti pada Gambar 11. bikarbonat dan karbonat di dalam air.8 – 27. Kemasaman dapat mempengaruhi jenis dan susunan zat dalam lingkungan perairan. Perkembangan Parameter pH Air Sumur Kemasaman (pH) suatu perairan mencirikan keseimbangan antara kandungan asam dan basa dalam air serta merupakan pengukuran konsentrasi ion hidrogen dalam larutan.7 °C dan rataratanya adalah 26. oksigen terlarut. nilai pH dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroba dalam air. tergantung pada suhu. Sedangkan kisaran suhu air sumur yang berada dibawah dari TPA pada periode yang sama adalah 22. Derajat kemasaman (pH) berperan penting dalam menentukan nilai guna perairan untuk kehidupan organisme. batas toleransi organisme perairan terhadap pH bervariasi. adanya berbagai anion dan kation.

5 NTAC (1968). Hasil pengukuran Padatan Terlarut Total pada air sumur di atas dan bawah dari TPA seperti pada Tabel 15 dan 16.75 mentolerir lingkungan perairan yang mempunyai kisaran pH antara 4. Nilai pengukuran TDS (Total Disolved Solid) pada sumur di atas dan bawah dari TPA masih berada dibawah ambang batas yang diperbolehkan (baku mutu air bersih 1.55-6. Total Disolved Solid (TDS) Padatan Terlarut Total merupakan bahan yang masih tetap tinggal dalam air. 416/Menkes/Per/X/1990. .. (1989) mengemukakan apabila dalam air terdapat zat Padat Terlarut Total dalam jumlah besar melebihi kader maksimum (1.66 mg/l. kecuali air sumur bawah pada tahun 2001 yang mengalami peningkatan pH menjadi 10 setelah sebelumnya bernilai 6. sebagai sisa dari lapukan selama penguapan dan pemanasan. Perkembangan pH air sumur di lokasi penelitian tidak terlalu berbeda jauh dari tahun 2001-2004. terjadinya cardiae disease serta toxemia pada wanita hamil.60 (Gambar 11). Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. Secara keseluruhan kisaran pH sumur dalam periode tanggal 2 Oktober sampai dengan tanggal 27 Nopember 2004 untuk sumur di atas TPA adalah 6. pH air sumur bawah ini mendekati sangat basa.88 dengan rata-rata 6. Secara keseluruhan pH sumur di atas maupun di bawah TPA masih dalam batas-batas normal BMAPS-MENKLH. pH air sumur bawah dan atas di tahun 2002-2004 masih berada di bawah ambang batas yang diperbolehkan 6-9.71.300 mg/l berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 416 Tahun 1990 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air.69 – 6.0. b). maka akan menimbulkan antara lain: a). dan c). Kisaran TDS air sumur atas dari wilayah TPA periode tanggal 2 Oktober sampai dengan 27 Nopember 2004 adalah 189-288 mg/l dengan rata-rata 252 mg/l. rasa mual terutama apabila zat padat terlarut tersebut berasal dari senyawa natrium sulfat dan magnesium sulfat.0 .11. memberi rasa yang tidak enak. d.500 mg/l). namun suatu perairan yang produktif dan ideal bagi kehidupan akuatik adalah perairan yang pH airnya berkisar antara 6. sedangkan sumur di bawah TPA adalah 6. tanggal 3 September 1990. Sanropie et al.74. sedangkan sumur di bawah wilayah dari TPA adalah 135-176 mg/l dengan rata-rata 155. dan tidak aman untuk dikonsumsi sebagai air minum oleh masyarakat.81 dengan rata-rata 6.5 -8.

Berdasarkan Tabel 15 dan 16. Kisaran COD air sumur atas dari wilayah TPA periode tanggal 2 Oktober sampai dengan 27 Nopember 2004 adalah 5. e. (1999). yaitu dapat mengoksidasi berbagai senyawa anorganik dengan menggunakan senyawa permenganat atau dikromat atau dikromat sebagai oksidator. COD adalah kebutuhan oksigen yang ekivalen untuk mengoksidasi senyawa-senyawa kimia yang dapat dibiodegradabel. Biasanya yang menimbulkan kesadahan adalah kation Ca dan Mg. misalnya kalium dikromat untuk mengosidasi bahanbahan organik yang terdapat di dalam air. Untuk mengetahui jumlah kandungan bahan organik di dalam air dapat dilakukan dengan uji yang berdasarkan reaksi kimia dari suatu bahan oksidan.76 Secara keseluruhan TDS sumur atas maupun di bawah dari TPA masih berada dibawah ambang batas yang di perbolehkan. Nilai COD dapat digunakan memperkirakan jumlah berbagai senyawa ano rganik dalam limbah cair. yaitu merupakan uji yang dapat menentukan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bahan oksidan. maka nilai kandungan COD di sumur atas dan bawah dari TPA berada masih di bawah ambang batas yang diperbolehkan (10 mg/l. Chemical Oxigen Demand (COD) COD (Chemical Oxigen Demand) jumlah oksigen dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan-bahan kimia di dalam sistem air.99-11. sedangkan sumur di bawah wilayah dari TPA adalah 8. Radojevic dan Bashkin.05 mg/l dengan rata-rata 9. menurut Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor Kep. .02/MENKLH/I/1998 tentang Baku Mutu Air pada Sumber Air menurut Golongan Air).44-11. Secara keseluruhan COD rata-rata sumur atas maupun sumur bawah dari TPA masih berada dibawah ambang batas yang di perbolehkan. f. Hasil pengukuran COD pada air sumur di bawah dan atas dari TPA seperti pada Tabel 15 dan 16. b).83 mg/l. Kesadahan Kesadahan air disebabkan oleh adanya mineral dari kation logam bervalensi dua dalam jumlah yang berlebihan. Jika nilai COD melebihi kadar batas maksimum yang diperbolehkan (10 mg/l) maka akan mengakibatkan sakit perut.72 mg/l. mengurangi efektivitas sabun. Air yang mempunyai kesadahan tinggi melebihi kadar maksimum yang diperbolehkan yaitu 500 mg/l menimbulkan efek: a).6 mg/l dengan rata-rata 7. Juga dapat digunakan menentukan nilai BOD pada proses karbonatasi.

Sanropie at. g. Kesadahan air sumur pada tanggal 23 Oktober 2004 masing. dan e). Kisaran kesadahan sumur yang di atas TPA adalah 66.77 menyebabkan lapisan karak pada alat-alat dapur yang terbuat dari logam. Secara keseluruhan kisaran kesadahan sumur yang di bawah TPA adalah 38. Nitrogen merupakan komponen utama protein yang penting bagi pertumbuhan organisme.4 mg/l atau lebih tinggi 27. kemungkinan terjadinya ledakan pada boiler.3 mg/l dan 598.3 mg/l. (1989) mengemukakan bahwa kandungan nitrat dalam jumlah besar di dalam usus cendrung untuk berubah menjadi nitrit yang dapat bereaksi langsung dengan haemoglobine dalam darah sehingga dapat menghalangi perjalanan oksigen di dalam tubuh.7 mg/l dan yang diatas dari wilayah TPA adalah 66. oleh sebab itu menjadi penting untuk mengetahui parameter nitrat air sumur di lokasi penelitian. senyawa nitrat mudah diserap oleh organisme nabati. Kesadahan air sumur di bawah dari TPA dan atas dari TPA masing. Dari hasil pengukuran kesadahan air sumur di bawah dan atas dari TPA seperti pada Tabel 15 dan 16. Nitrat (NO3¯ ) Nitrat (NO3¯ ) merupakan salah satu senyawa nitrogen yang paling stabil dibandingkan dengan nitrit dan ammonia.7 mg/l dan 45.masing pada tanggal 27 Nopember 2004 adalah 44.3 mg/l jauh lebih tinggi daripada kesadahan tanggal 23 Oktober 2004.6 mg/l dan 70.3 mg/l dengan rata-rata 245 mg/l. d). Konsentrasi ion Ca²? dan ion Mg²? pada sumur yang diatas dari wilayah TPA lebih tinggi daripada sumur yang dibawah dari TPA. c).al. sayuran menjadi keras apabila dicuci dengan air yang sadah.6 mg/l dengan rata-rata adalah 42. Perbedaaan konsentrasi kesadahan ini diduga karena perbedaan dari konsentrasi ion Ca²? pada sumur-sumur tersebut. ammonia dan ammonium.6 mg/l. Kualitas air sumur juga ditentukan oleh nitrat. Senyawaan ini terdapat dalam . Kesadahan air sumur di bawah wilayah TPA pada tanggal 2 Oktober 2004 adalah 38. nitrat. Kesadahan pada tanggal 27 Nopember 2004 ini merupakan yang tertinggi untuk sumur yang di atas TPA (Tabel 15 dan 16). Di perairan nitrogen terdapat dalam bentuk gas (N2 nitrit.7 mg/l.masing untuk sumur dibawah wilayah TPA dan yang diatas wilayah TPA adalah 45. Nitrogen dalam bentuk ). merupakan masalah pada ketel pemanas yang akan menyebabkan karat sehingga menyumbat pipa dan berdampak mengurangi efesiensi pemanasan.4 mg/l dan 598.

879 mg/l.garam yang terlarut.78 perairan alami sebagai garam. Keberadaan nitrat dalam air sumur baik di atas dan dibawah dari TPA terjadi akibat proses nitrifikasi yaitu pemberian oksigen pada ammonia menjadi nitrat dan nitrit oleh bakteri dalam suasana aerob (Sugiarto.34 mg/l tahun 2000 menjadi 9. ini berarti pada sumur tersebut yang diatas maupun di bawah TPA sudah tercemar NH3?. 416/Menkes/Per/X/1990.1 ppm sampai kurang libih 45 ppm. Perkembangan nitrat air sumur di lokasi penelitian mengalami penurunan tajam pada tahun 2001 dan 2003 (Lampiran 16 dan 18). Besi (Fe) Besi (Fe) dalam jumlah kecil dibutuhkan oleh tubuh untuk pembentukan sel-sel darah merah. Untuk air minum N-NH3 konsentrasinya harus 0. dan penurunan kadar nitrat dari 9. sedangkan nilai nitrat yang dapat memberikan faktor pembatas bagi pertumbuhan alagae dan f toplangton i berkisar antara 0.7 ppm.64 mg/l. Saeni (1989). Untuk itu air sumur disekitar TPA sebaiknya tidak untuk dikonsumsi. Setiap organisme (alga dan fitoplangton) membutuhkan kadar nitrat yang berbeda.68 mg/l untuk sumur bawah dan 2. 1987). Saeni (1989) mengemukakan bahwa melebihi 0. tersuspensi atau dalam bentuk endapan. sedangkan sumur di atas TPA kisaran 2. Kadar nitrat mengalami sedikit peningkatan pada tahun 2004.3-1.663 – 1.48 mg/l tahun 2001.31 mg/l dapat . h. tanggal 3 September 1990.609 mg/l.744 mg/l.42 mg/l untuk sumur atas.245-2. nilai rata-rata 1. maka secara drastis terjadi penurunan kadar nitrat di tahun 2003 menjadi 1. namun masih di bawah ambang batas yang diperbolehkan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. Setelah terjadi peningkatan kadar nitrat pada air sumur bawah dari sebelumnya 6.804 mg/l dengan nilai rata-ratanya 2. Nitrat sumur bawah TPA konsentrasi pada tangga l 2 Oktober sampai dengan tanggal 27 Nopember 2004 kisaran 1. Namun nilai nitrat optimum yang dibutuhkan bagi pertumbuhan alga dan fitoplangton umumnya berkisar antara 0.20 mg/l menjadi 7.

merusak keindahan pakaian.05 mg/l (Tabel 15 dan 16). yaitu masing. Besi (Fe) yang terjadi di sumur atas dan sumur bawah berada dibawah ambang batas yang diperbolehkan.1 mg/l dapat menimbulkan kemasaman air. oleh karena itu zat ini tidak boleh terdapat pada air minum. Dalam jumlah besar yaitu melebihi 0. pengendapan pada pipa dan kekeruhan. Besi (Fe) air sumur pada tanggal 23 Oktober 2004 menunjukkan peningkatan pada air sumur yang dibawah TPA menjadi 0. akan tetapi bila sulfida ini berbentuk gas.414 mg/l dan 0. akhirnya terjadi keracunan akut yang mematikan dalam waktu singkat.288 – 0.05 mg/l. Sulfida (S²¯) Senyawa sulfida sangat beracun dan berbau busuk.05 mg/l.0 mg/l).05 mg/l dan rata-ratanya adalah lebih kecil dari 0.masing adalah 0.504 mg/l dan yang di atas dari wilayah TPA tetap tidak mengalami peningkatan maupun penurunan. Tingkat besi air sumur bawah pada tanggal 27 Nopember 2004 menga lami penurunan dibandingkan dengan besi pada tanggal 2 Oktober 2004. Sedangkan kisaran besi air sumur yang dibawah dari wilayah TPA pada periode yang sama adalah 0. i.05 mg/l dan maksimum lebih kecil dari 0. zat ini cepat menjalar sehingga orang tidak sempat melarikan diri.402 mg/l yang berarti masih dibawah ambang batas yang dianjurkan. b). Hal ini masih dibawah ambang batas yang diperbolehkan. Temuan hasil penelitian terhadap kualitas air sumur penduduk yang berada di Kelurahan Ciketing Udik yang terletak di atas dari TPA dapat dilihat pada Tabel 15. Merubah air menjadi berwarna .masing sumur atas 0.414 mg/l dan sumur atas lebih kecil dari 0.504 mg/l dan sumur bawah lebih kecil dari 0. Rasa bau yang tidak enak. Jika kandungan sulfida dalam air lebih besar dari kadar maksimum yang diperbolehkan (0. menimbulkan rasa yang tidak enak pada air minum. sehingga menyebabkan korosifitas pada pipa-pipa logam dan iritasi. besi air sumur bawah dari TPA dan yang di atas wilayah TPA pada tanggal 2 Oktober 2004 masing. yaitu masing.288 mg/l (Tabel 16).masing adalah 0. Keracunan akibat kandungan sulfida jarang terjadi. Tingkat besi di bawah ambang batas yang diperbolehkan (1.79 menimbulkan bekas karat.1 mg/l) maka akan menimbulkan: a). Kisaran besi air sumur di atas wilayah TPA secara keseluruhan selama priode tanggal 2 Oktober 2004 sampai dengan 27 Nopember 2004 minimum adalah lebih kecil dari 0.504 mg/l dengan rata-rata 0.

Selain itu nitrit adalah zat yang bersifat racun. Untuk mengurangi kelebihan kadar sulfida dengan cara pengudaraan. Nitrit (NO2¯ ) Nitrit (NO2¯ ) merupakan salah satu ion nitrogen anorganik dalam air.044 mg/l sampai dengan yang tertinggi 0. menimbulkan rasa. Temuan hasil penelitian terhadap kualitas air sumur pend uduk yang berada di Kelurahan Ciketing Udik. pemberian chlor dan penyaringan. sehingga standar persyaratan baku mutu kualitas air bersih tidak membolehkan kehadiran bahan nitrit lebih dari 1 mg/l. Secara keseluruhan nitrit di sumur bawah TPA masih dalam batas baku mutu air golongan A berdasarkan SK KEP.047 mg/l.015 sampai dengan yang tertinggi yaitu 0. Nitrit (NO2¯ ) di sumur bawah dari TPA relatif rendah yang berkisar mulai dari 0. Kisaran Sulfida air sumur di atas dan sumur bawah wilayah TPA secara keseluruhan selama priode tangga l 2 Oktober 2004 sampai dengan 27 Nopember 2004 menunjukan angka yang sama yaitu minimum adalah lebih kecil dari 0.1608/1988. Cikiwul dan Sumur Batu yang terletak di atas dan bawah dari TPA dapat dilihat pada Tabel 15 dan 16. Pada tanah-tanah yang padat dan kurang gembur.80 dan bersifat korosif. Ion ini dapat terjadi dari adanya reduksi nitrat ataupun oksidasi ammonia. hal ini dibawah ambang batas yang diperbolehkan. Kandungan nitrit dalam air sebesar 1. Ion nitrit lebih berbahaya daripada ion nitrat (Sanropie et al. Rata-rata konsentrasi nitrit pada periode tanggal 2 Oktober sampai dengan tanggal 27 Nopember 2004 adalah 0.0 mg/l dapat menyebabkan terbentuknya methemoglobin yang dapat menghambat perjalanan oksigen dalam tubuh terutama pada bayi (blue babies) dan menyebabkan diare.052 mg/l yang terjadi pada tanggal 2 Oktober 2004 (Tabel 16).02/MENKLH/1988 dan SK Gub. nitrit dapat merembes kedalam sumur.05 mg/l. karena dapat m erusak kehidupan akuatik. j. KDH-DKI No. dan c).05 mg/l untuk baku mutu air bersih menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 416 Tahun 1990 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air.05 mg/l dan rata-ratanya adalah lebih kecil dari 0. Nitrit sumur atas TPA berkisar 0.022 mg/l yang terjadi pada tanggal .05 mg/l dan maksimum lebih kecil dari 0. 1989). Sulfida yang terjadi di sumur atas dan sumur di bawah dari TPA berada dibawah kadar maksimum yang diperbolehkan yaitu 0.

56 mg/l.07 mg/l yang berarti diatas yang dianjurkan.76 mg/l dan 4.masing adalah 4. yaitu ma sing. limbah domistik. Kisaran fosfat air sumur di atas wilayah TPA secara keseluruhan selama priode tanggal 2 Oktober 2004 sampai dengan 27 Nopember 2004 minimum adalah 2.fisika dan biologi dapat dilihat pada Tabel 15. k.018 mg/l.81 27 Nopember 2004. Temuan hasil penelitian terhadap kualitas air sumur penduduk yang berada di Kelurahan Ciketing Udik yang terletak di atas dari TPA dengan parameter kimia.34 mg/l dan 3.87 mg/l (Tabel 16). Tingkat fosfat di atas ambang batas yang diperbolehkan (0. masih dalam batas baku mutu air golongan A. Kadar fosfat berbahaya terhadap kesehatan.56 – 4. Tingkat fosfat air sumur bawah pada tanggal 27 Nopember 2004 menga lami penurunan dibandingkan dengan fosfat pada tanggal 2 Oktober 2004.masing 2. fosfat air sumur bawah dari TPA dan yang di atas wilayah TPA pada tanggal 2 Oktober 2004 masing. l.66 mg/l. Sedangkan kisaran fosfat air sumur yang dibawah dari wilayah TPA pada periode yang sama adalah 3. yaitu masing. Orto fosfat Djabu et al.5 mg/l) untuk baku mutu air bersih berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah DKI Jakarta Nomor 1608 tentang Baku Mutu Air Sungai di DKI Jakarta dan Baku Mutu Air Golongan A: Air Baku Air Minum. Sumber fosfat akibat dari pencemaran industri.80 mg/l dan 3. Hal ini diatas ambang batas yang diperbolehkan.80 mg/l (Tabel 15 dan 16). (1991) mengemukakan jika kandungan fosfat rata-rata dalam waktu 24 jam lebih besar dari 2 mg/l akan menyebabkan gangguan pada tulang. hanyutan pupuk. Ammonia (N-NH3) .80 mg/l dengan rata-rata 4.masing adalah 2.34 mg/l dan maksimum 2.89 mg/l dan rata-ratanya adalah 2. Rata-rata keseluruhan nitrit di sumur atas dari TPA adalah 0. Fosfat yang terjadi di sumur atas dan sumur bawah berfluktuasi cukup tajam. dan bahan mineral fosfat.5 mg/l) dapat mengganggu pencernaan. Fosfat air sumur pada tanggal 23 Oktober 2004 menunjukkan penurunan tingkat fosfat baik air sumur yang dibawah TPA maupun yang di atas dari wilayah TPA. Jika kandungan fosfat me lebihi batas kadar maksimum (0.

376 mg/l diatas baku mutu yang diperbolehkan.iastate.404 mg/l.5 mg/l. Nilai ini diatas BMPAS air Ag. Berdasarkan BMPAS Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup KEP. Sedangkan kandungan N-NH3 pada air sumur atas pada tanggal 2 Oktober 2004 sebesar 0. 1983. Ammonia dalam air permukaan berasal dari air seni dan tinja serta dari oksidasi zat organik secara mikrobiologi yang berasal dari industri dan penduduk.htm.359 mg/l. golongan B. tanggal 23 Oktober 2004 sebesar 0.01 ppm dan maksimum yang diperbolehkan 0.02/MENKLH-1988 maksimum yang dianjurkan dan yang diperbolehkan untuk air minum harus nihil atau 0 ppm dan untuk air golongan B maksimum yang dianjurkan 0. Menurut Morne dan Goldman (1994) dalam (http://. Kadar ammonia yang tinggi pada air sungai menunjukkan adanya pencemaran. Rata-rata N-NH3 selama periode 2 Oktober sampai dengan 27 Nopember 2004 adalah 1. Selama periode tanggal 2 Oktober sampai dengan 27 Nopember 2004 adalah nilai sumur bawah 0. Menurut Alaert et al. Mengacu pada peraturan ini.557 ppm dengan rata-ratanya 1.5 ppm.82 Ammonia (N-NH3) air sumur atas berfluktuasi mulai dari 0.485 ppm. Pada air minum kadar ammonia harus nol dan pada air sungai harus dibawah 0. Namun.404.edu/centers/wrg/Lavene/webpages/NH A. maka konsentrasi N-NH3 untuk baku mutu air golongan B konsentrasi pada tanggal 2 Oktober 2004 di sumur bawah menunjukkan nilai yang semakin besar daripada di atas. tahun 2004 kandungan N-NH3 air sumur bawah berada diatas ambang batas yang diperbolehkan. Rata-rata N-NH3 selama periode 2 Oktober sampai dengan 27 Nopember 2004 ini adalah 0.485 ppm. 2002) Ammonia berada dalam sistem perairan terutama sebagai disosiasi ion NH4? yang cepat diambil oleh fitoplankton dan tanaman perairan lainnya untuk pertumbuhan.442–0. Ammonia merupakan senyawa nitrogen yang menjadi NH4? pada pH rendah yang disebut ammonium. Ammonia berada dimana.mana dalam jumlah yang kecil beberapa mg per liter sampai dengan 30 mg/l pada air buangan. Nilai tertinggi pada tanggal 23 Oktober 2004.2999 sampai dengan 0. Nilai konsentrasi N-NH3 tertinggi di sumur bawah adalah 0.557 ppm dengan rata-ratanya 1.485 mg/l. apabila ammonia .

ammonia terpisah menjadi ion NH4? dan ion CH¯ (ammonium hidroksida). Organisme patogen yang sering ditemukan dalam air adalah bakteri-bakteri penyebab infeksi saluran pencernaan seperti vibrio cholera. Temuan hasil penelitian terhadap kualitas air sumur penduduk yang berada di Kelurahan Ciketing Udik yang terletak di atas dari TPA dapat dilihat pada Tabel 15. Struktur tanah yang dominan pasir.83 kontak dengan air.macam bakteri di dalam perairan. maka ammonia hidroksida akan menjadi toksik baik bagi tumbuh-tumbuhan ataupun hewan. b). Sugiarto (1987) mengemukakan bahwa jarak penyebaran pencemaran bakteri dari tempat penampungan tinja harus sesuai dengan arah aliran air tanah yaitu mencapai 9 m. untuk itu syarat jarak lokasi tanki septic dari sumber air bersih minimal 10 m. Pada pH netral dengan nilai 7 ammonia tidak mempunyai masalah. Lokasi tanki septic jarak dari sumber air bersih kurang dari syarat minimal.0 MPN/100 ml . yang menyebabkan penyakit kolera.3 – 1. Fardiaz (1992) mengemukakan bahwa air dapat menjadi medium pembawa mikroorganisme petogenik yang berbahaya bagi kesehatan. Hal ini diatas ambang batas yang diperbolehkan. Koliform Total (MPN) Koliform Total (MPN) merupakan parameter yang ditekankan terhadap keberadaan bermacam. disebabkan antara lain: a). Kisaran Koliform air sumur di atas wilayah TPA secara keseluruhan selama priode tanggal 2 Oktober 2004 sampai dengan 27 Nopember 2004 minimum adalah 63 MPN/100 ml dan maksimum 80 MPN/100 ml dan rata-ratanya adalah 71 MPN/100 ml. Sedangkan kisaran Koliform air sumur yang dibawah dari wilayah TPA pada periode yang sama adalah 0. m. Koliform yang terjadi di sumur atas berada diatas kadar maksimum yang diperbolehkan dan sumur yang dibawah dari TPA berada masih dibawah yang diperbolehkan (50 sel dalam 100 ml menurut baku mutu air bersih Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 416 Tahun 1990 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air) Peningkatan hasil jumlah perkiraan terbesar (Most Probability Number) pada sumur di atas lokasi TPA tersebut. sedangkan penyebaran vertikal pada lapisan tanah yang jauh dari muka air tanah adalah 3 m dengan lebar sekitar 1 m. c). Perilaku masyarakat yang kurang memperhatikan kebersihan lingkungan. tetapi apabila pH lebih besar dari 7.

tetapi bila jumlahnya berlebih yaitu 3 sel dalam 100 ml dapat bersifat patogen. dan d).Perilaku masyarakat yang sering meletakan tali timba di lantai. Tinja potensial dalam menularkan penyakit yang berhubungan dengan air. Dalam keadaan normal bateri ini tidak menimbulkan penyakit.84 dengan rata-rata 0. Temuan hasil penelitian terhadap kualitas air sumur penduduk yang berada di Kelurahan Ciketing Udik yang terletak di atas dari TPA dapat dilihat pada Tabel 15. b). bakteri ini diangkat sebagai indikator pencemar lingkungan oleh tinja. disebabkan antara lain: a). Sumur-sumur tersebut jaraknya dari tanki septic kurang 10 m. n. Karena keterkaitannya yang kuat dengan tinja manusia atau hewan. Air yang mengandung Escherichia coli berarti disimpulkan air tersebut telah tercemar tinja. Hasil pengukuran Escherichia coli pada air sumur di atas dan bawah dari TPA dapat dilihat pada Tabel 15 dan 16.1 – 50 MPN/100 ml dengan rata-rata 23. Escherichia coli Bakteri ini disebut Escherichia coli sesuai dengan sumber keberadaannya yang berasal dari tinja manusia. Peningkatan jumlah sel pada sumur-sumur tersebut. Kisaran Escherichia coli air sumur di atas wilayah TPA secara keseluruhan selama priode tanggal 2 Oktober 2004 sampai dengan 27 Nopember 2004 minimum adalah 52 MPN/100 ml dan maksimum 63 MPN/100 ml dan rata-ratanya adalah 55. Berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan sebagai berikut: air sumur di atas dan sumur bawah dari TPA di Kelurahan Ciketing . Hal ini diatas ambang batas yang diperbolehkan. struktur tanah berpasir. c).53 MPN/100 ml yang berarti masih dibawah ambang batas yang dianjurkan. Tingkat kemiringan tanah. Keadaan ini memberikan indikasi bahwa air sumur diatas dan di bawah dari TPA telah terkontaminasi oleh tinja dengan resiko adanya patogen yang dapat menimbulkan penyakit seperti muntaber dan penyakit disentri.66 MPN/100 ml.36 MPN/100 ml yang berarti diatas ambang batas yang dianjurkan. Escherichia coli yang terjadi di sumur atas dan sumur di bawah dari TPA berada diatas kadar maksimum yang diperbolehkan yaitu 3 sel dalam 100 ml untuk baku mutu air bersih menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 416 Tahun 1990 tentang Syarat-syarat dan Pengewasan Kualitas Air. Sedangkan kisaran Escherichia coli air sumur yang dibawah dari wilayah TPA pada periode yang sama adalah 0.

maka ikan dan hewan kekurangan oksigen. kenaikkan suhu diatas normal akan mengakibatkan antara lain sebagai berikut: 1). Jika batas suhu yang mematikan terlampaui. COD. Suhu ini sudah melampaui Baku Mutu air sungai di DKI Jakarta. (Tabel 17). Jumlah oksigen terlarut akan menurun. koliform total dan Escherichia coli. Air Baku Air Minum. Perkembangan Kualitas Air Sungai Suhu air Sungai Ciketing pada inlet kecendrungan naik pada musim kemarau.5–31. Cikiwul dan Sumurbatu telah mela mpaui ambang baku mutu untuk air bersih untuk parameter kekeruhan. Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1608 Tahun 1988 tanggal 26 September 1988 tentang Baku Mutu Air Sungai di DKI Jakarta dan Baku Mutu Air Golongan A. Menurut Fardiaz 1992. fosfat. Cikiwul dan Sumurbatu tidak layak sebagai sumber air minum berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 416 Tahun 1990 tentang Syarat-syarat dan pengawasan Kualitas Air. Kecepatan reaksi kimia akan meningkat. Air sumur di atas dan bawah dari TPA yang berada di Kelurahan Ciketing Udik. koliform total dan Escherichia coli. Untuk sumur atas dari TPA parameter yang telah melampaui ambang baku mutu untuk air bersih yaitu: COD. . 3). Untuk sumur atas dari TPA parameter yang telah melampaui ambang baku mutu untuk air bersih yaitu: COD.6 ºC.5 ºC. secara keseluruhan suhu air Sungai Ciketing pada inlet berkisar 28. 2).8 ºC.8 ºC dan nilai rata-ratanya 30. B.85 Udik.6 ºC dan tanggal 23 Oktober 2004 sebesar 31. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor 02 Tahun 1988 tentang Baku Mutu Air pada Sumber Air Menurut Golongan A). tanggal 2 Oktober 2004 sebesar 31. Kehidupan ikan dan hewan lainnya akan terganggu. selanjutnya suhu mengalami penurunan pada awal musim hujan pada tanggal 27 Nopember 2004 menjadi 28. dan 4). koliform total dan Escherichia coli.

49 1.0024 <0.01 Ratarata 30.03 0.03 0.5-31.66 919.8 ºC dan nilai rata-ratanya 31.03 0.05 <0. Analisis Kualitas Air Sungai sebelum TPA (Inlet).07 <0.465 <0.00 244 879 31.3 – 32.05 0.0019 <0.05 <0.06 <0.3 7.416/Menkes/Per/IX/1990 Suhu Sungai Ciketing pada outlet tanggal 2 Oktober sampai dengan 27 Nopember 2004 mempunyai kecenderungan yang tinggi.93 271 936 24.207 <0.05 <0.238 <0.05 <0.04 0.54 273.06 <0.06 <0.04 0.465 <0.0060 <0.04 0. dan ada sedikit penurunan yaitu pada saat memasuki musim hujan (Tabel 18).04 0. Secara keseluruhan suhu air Sungai Ciketing pada outlet berkisar antara 29.187-0.01 Kisaran 28.06 <0.05 <0.8 77 8.1 1 10 1 1 0.01 28.48 1. IPB 2004 Permenkes RI No.8 4.93 244-306 879-944 24.34 5.87 11.04 0.9 92.5 0.5-31.3 7.5–9 31.56 3. Gambar 12.187 <0.5 83 8.01 31.56 ºC.0024 <0.03 0. Sungai Ciketing (outlet) .34 3.6 Sulfida PtCo mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l 15 0.238 <0.07 <0. Air Sungai Sebelum TPA Parameter Satuan BM 2 Okt 04 23 Okt 04 27 Nop 04 Suhu Kekeruhan pH Warna TDS BOD5 COD Nitrat (N-NO3¯ ) Nitrit (N-NO2¯ ) Besi (Fe) Mangan (Mn) Kadmium (Cd) Air raksa (Hg) Timbal (Pb) Tembaga (Cu) Nikel (Ni) Seng (Zn) Krom Val.01 Sumber: Laboratorium Kimia Fisik dan Lingkungan.48 1.400 <0.54-8.0034 <0.8 69-77 8.86 Tabel 17.338 <0.07 <0.197 <0.40 12.00-8.96 11.07 <0.03 0.33 1.01 0.6 69 8.001 ºC NTU 6.83 88.54 10.07 <0.9 83-92.399 <0.7 306 944 30.2 7. 2004.22 28.66 1.1 91.338-1.54 5.5 76 8.83 7.33-12.0019-0.87-5.40 10.6 74 8.06 <0.

3 738 8.03 0.001 1 15 0. Angka ini masih dibawah yang diperbolehkan (150 NTU) berdasarkan surat Keputusan Gubernur KDH Ibukota Jakarta No.179 <0. Tabel 18.42 3.42 3165-3225 4999-5540 445-456 1188-1515 2.3-32.0008 <0.220 <0.06 <0. IPB 2004 Kekeruhan air Sungai Ciketing pada tanggal 2 Oktober di inlet adalah 69 NTU.1 2.97 1.213 0. Parameter Suhu Kekeruhan PH Warna TDS BOD5 COD Nitrat (N-NO3¯ ) Nitrit (N-NO2¯ ) Besi (Fe) Mangan (Mn) Kadmium (Cd) Air raksa (Hg) Timbal (Pb) Tembaga (Cu) Nikel (Ni) Seng (Zn) Krom Val.5 0.30 0.06 <0.42 3225 5460 445 1344 10 1 1 0.325 0.395 29.01 32.395 32.276 <0.72 1.42 4.06 <0.03 0. sehingga penetrasi sinar matahari sangat mudah mencapai dasar sungai yang mengakibatkan suhunya naik cukup tinggi.66 1.05 4.33 3178 5540 513 1515 2.03 0.6 Satuan ºC NTU BM Air Sumur sesudah TPA 2 Okt 04 23 Okt 04 27 Nop 04 Kisaran 29.05-1.320 <0.01 0.325 0.046 0. Konsentasi yang semakin tinggi ini akan mengurangi penetrasi sinar yang masuk . Analisis Kualitas Air Sungai sesudah TPA (Outlet).83 0.01-0.8 738-905 8.05 0.433 <0.17-4.30 0.0008 <0.07 0.6 905 8.220 <0.167 0.33 <0.235 0.0008 <0.15 3.56 827.21 3.276-04.02 0.04 0.0008 <0. 1608 tahun 1988.167-0.265 Ratarata 31.06 <0.5–9 8.8 840 6.04-<0. 2004. Angka ini sudah diatas BMAS di DKI yang diperbolehkan.03 0.0008 <0.203 <0. karena pada musim kemarau airnya dangkal dan alirannya lambat.253 PtCo mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l Sulfida Sumber: Laboratorium Kimia Fisik dan Lingkungan.05-8.05 0.114 <0.07 0.114-0.17 0.343 <0.07 0. Tingkat kekeruhan air Sungai Ciketing semakin besar setelah keluar dari wilayah TPA (outlet) yaitu menjadi 840 NTU.05 0.07 <0. Ini berarti tingkat kekeruhan air Sungai Ciketing setelah keluar dari wilayah TPA ada peningkatan 771 NTU.06 <0.07 <0.87 Kenaikan suhu air Sungai Ciketing ini terjadi.26 3169 5333 471 1349 2.97 1.6 8.05 0.03 0.55 1.05 3165 4999 456 1188 2.55-2.

Tingkat kekeruhan ini di atas BMAS-DKI yang tidak diperbolehkan. Fluktuasi air Sungai Ciketing selama periode tanggal 2 Oktober sampai dengan 27 Nopember 2004 di outlet diatas BMAS-DKI.88 kedalam air dan hal ini akan mempengaruhi proses fotosintesis dalam air oleh fitoplangton dan tumbuhan lainnya. nilai pH suatu perairan mencerminkan keseimbangan antara asam dan basa yang diidentifikasikan melalui pengukuran konsentrasi ion hydrogen dalam suatu larutan. Sedangkan pada tanggal 27 Nopember 2004 kekeruhan air Sungai Ciketing di inlet adalah 76 NTU atau menurun 1 NTU dibandingkan pada kondisi tanggal 23 Oktober 2004. Sedangkan kisaran kekeruhan air Sungai Ciketing pada outlet periode yang sama. . Namun adanya karbonat. Namun demikian kekeruhan pada tanggal 27 Nopember 2004 masih diatas BMAS-DKI. Perairan bersifat asam apabila pH nya lebih kecil dari 7 dan bersifat basa apabila pHnya lebih besar atau sama dengan 7. kisaran kekeruhan minimum 738 NTU dan maksimum 905 NTU. Menurut Saeni.mineral bebas. karena mengandung asam mineral yang tinggi. Secara keseluruhan kisaran konsentrasi air Sungai Ciketing pada inlet periode tanggal 2 Oktober sampai dengan 27 Nopember 2004 adalah minimum 69 NTU dan maksimum 77 NTU dengan nilai rata-rata 74 NTU. Nilai rata-rata ini menunjukkan masih dibawah BMAS. dengan nilai rata-rata 827. 1986. karena banyak mengandung asam-asam organik.6 NTU. Apabila pH air diatas atau dibawah angka kisaran tersebut. karena air sungai setelah keluar wilayah TPA telah bercampur dengan lindi. karena sudah bercampur dengan buangan lindi. sehingga akan mengurangi konsentrasi oksigen terlarut. Hal ini dapat terjadi di TPA sampah. Setelah keluar dari wilayah TPA (outlet) kekeruhannya semakin meningkat menjadi 738 NTU. Pada industri makanan pada umumnya pHnya rendah. Pada tanggal 23 Oktober 2004 Sungai Ciketing di inlet kekeruhannya sebesar 77 NTU dan setelah masuk dalam wilayah TPA (otlet) kekeruhannya naik menjadi 905 NTU. tergolong tidak normal. Kondisi ini menunjukkan bahwa pencemaran semakin meningkat. Nilai pH air normal adalah netral yaitu antara pH 6–8. Namun pada air buangan industri pH nya juga rendah. karena sampah yang dibuang banyak mengandung padatan terlarut dan tersuspensi dan disamping mineral. hidroksida dan bikarbonat menaikkan kebasaan air.

pada tahun 2003 pH air sungai di inlet sedikit di atas pH air sungai di outlet. berarti ada peningkatan pencemaran. Angka ini sudah jauh diatas BML air sungai di wilayah DKI yaitu 100 unit PtCo (yang diperbolehkan).54 masih sesuai BMAS Baku Mutu Air Sungai Golongan A dan Golongan B Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. Tingkat warna air Sungai Ciketing pada tanggal 2 Oktober 2004 di inlet adalah 271 unit PtCo dan di outlet adalah 3225 unit PtCo.54. Secara keseluruhan kisaran pH Sungai Ciketing di inlet berada pada 8. Pada tanggal 23 Oktober 2004 air Sungai Ciketing di inlet adalah 306 unit PtCo. Dengan adanya kenaikkan dari 271 unit PtCo ke 3225 unit PtCo menunjukkan adanya peningkatan pencemaran di wilayah TPA yang merupakan kemungkinan besar kontribusi dari kebocoran di TPA tersebut. Sedangkan kisaran pH di outlet adalah 8. 02/MENKLH/1988. sehingga terjadi peningkatan pH.00-8. sehingga pencemarannya semakin meningkat.02/MENKLH/1988 dan BMAS (Baku Mutu Air Sungai) DKI Surat Keputusan Gubernur KDH Jakarta No.89 Perkembangan pH air Sungai Ciketing di lokasi penelitian tidak terlalu berbeda jauh dari tahun 2000-2004. pH air sungai di inlet di bawah dari outlet.00 – 8.42 dengan rata-ratanya adalah 8.1608 tahun 1988 dan Keputusan Menteri Negara Kependudukkan dan Lingkungan Hidup No. Hal ini dapat dimaklumi. . dan di outlet pada tanggal yang sama adalah 3178 unit PtCo.05 – 8. terjadi peningkatan aktivitas manusia untuk beragam keperluan seperti membuang air buangan hasil pencucian peralatan dapur di tengah aliran Sungai Ciketing. Dari ke dua kisaran pH dan rata-rata kisaran pH Sungai Ciketing bersifat basa kisaran pH 8. Dari tahun 2000-2002. Nilai ini menunjukkan bahwa fluktuasi pH air Sungai Ciketing selama periode tanggal 2 Oktober 2004 sampai dengan 27 Nopember 2004 masih normal. 1608 tahun 1988. Namun.26.93 dengan rata-rata 8. lebih tinggi daripada di inlet. Tanggal 27 Nopember 2004 warna air Sungai Ciketing pada inlet 244 unit PtCo dan di outlet menjadi 3165 unit PtCo. karena telah bercampur dengan buangan lindi. Sedangkan peningkatan pH air Sungai Ciketing di inlet pada tahun 2003 lebih disebabkan adanya peningkatan aktivitas di daerah inlet. Tingkat warna air sungai tersebut semuanya diatas BMAPSA (Baku Mutu Air pada Sumber Air) berdasarkan Keputusan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. sedangkan pada tahun sebelumnya. Disamping itu peningkatan pencemaran rembesan dari sisi zone TPA pada waktu hujan.

kecendrungan ada kenaikan nilai COD.5 – 31. namun nilai COD di inlet nilainya mengalami fluktuasi setelah mengalami peningkatan di tahun 2002 dan 2003.08 mg/l. Kisaran warna kualitas air Sungai Ciketing di outlet adalah 3165 – 3225 unit PtCo dan nilai warna rata-ratanya adalah 3169 unit PtCo. Nilai COD ini terus mengalami penurunan sehingga pada tahun 2004. Salah satu parameter untuk mengetahui kualitas air sungai adalah BOD5 . pada tahun 2004 nilainya mengalami penurunan. kandungannya hanya sekitar 118.66 unit PtCo. Wardhana.60 mg/l. 1995.. Secara keseluruhan kisaran COD sebagai salah satu indikator kualitas air Sungai Ciketing di inlet 83-92.50 mg/l dan titik inlet sebesar 43. 1984). Selain BOD.50 mg/l. nilai BOD tertinggi terjadi pada tahun 2000 dengan titik outlet memberikan sumbangan BOD sebesar 228. Nilai COD yang ditemukan di Sungai Ciketing tahun 2000 sangat tinggi. Alaert et al. Nilai ini lebih tinggi daripada nilai warna rata-rata di inlet.83 mg/l. 1988). Nilai COD di inlet dan outlet Sungai Ciketing memiliki perkembangan seperti nilai BOD. Adapun perkembangan COD dalam 5 tahun terakhir dapat dilihat pada (Lampiran 20). sehingga pada tahun 2004 di titik inlet hanya sebesar 31. Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD) adalah pengukuran jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme selama penghancuran bahan organik dalam waktu tertentu dan suhu 20 ºC (Saeni. Fardiaz. Oksigen terlarut merupakan senyawa yang sangat penting dalam kehidupan perairan pada tingkat konsentrasi tertentu dan berguna untuk penghancuran bahan organik atau zat pencemar dalam air (Saeni.90 Secara keseluruhan kisaran warna sebagai salah satu indikator kualitas air Sungai Ciketing di inlet adalah antara 244 unit – 306 unit PtCo dengan rata-rata dari tanggal 2 Oktober 2004 sampai dengan tanggal 27 Nopember 2004 adalah 273. 1988. Kisaran BOD air Sungai Ciketing di outlet adalah 445 – 456 mg/l dan nilai rata-ratanya adalah 471 mg/1. 1993. 1992. Jenie. Nilai BOD ini terus mengalami penurunan. parameter lain yang harus diperhatikan dalam melihat kualitas air Sungai Ciketing adalah COD.9 mg/l dengan rata-rata dari tanggal 2 Oktober 2004 sampai dengan tanggal 27 Nopember 2004 adalah 28.80 mg/l. Selama jangka waktu 5 tahun terakhir.90 mg/l dan di titik outlet sebesar 45. dan dengan nilai . Nilai ini lebih tinggi daripada nilai warna rata-rata di inlet. Secara keseluruhan kisaran BOD sebagai salah satu indikator kualitas air Sungai Ciketing di inlet adalah antara 24. terutama di outlet yang mencapai nilai sebesar 2864.3 mg/l.

55 – 2. Mengacu pada peraturan ini. 1991). di inlet Sungai Ciketing selama periode tanggal 2 Oktober sampai dengan 27 Nopember 2004 adalah 7. kandungan nitrat dan nitrit juga harus diperhatikan dalam pengamatan kualitas air sungai. Nilai konsentrasi N-NO3 tertinggi di outle adalah 2. Konsentrasi nitrit tertinggi dicapai pada tanggal 27 Nopember 2004. Di dalam air nitrogen diikat oleh bakteri dan ganggang (Saeni. KEP. Berdasarkan BMPAS Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup KEP.5 mg/l. Selain BOD dan COD.91 rata-rata dari tanggal 2 Oktober 2004 sampai dengan tanggal 27 Nopember 2004 adalah 88. MENEG KLH No.87 – 5. Konsentrasi tertinggi terjadi pada tanggal 27 Nopember 2004 yaitu 5.34 mg/l dengan rata-ratanya 7. Nitrit (NO2¯) di inlet Sungai Ciketing (Tabel 17) secara keseluruhan menunjukkan konsentrasi yang tinggi berkisar antara 3. Secara keseluruhan kisaran N-NO3¯. Rata-rata konsentrasi nitrit selama periode tanggal 2 Oktober sampai dengan 27 Nopember 2004 adalah 4. Nitrat juga terdapat di dalam tanah dan air dengan cara biologis melalui bantuan mikroorganisme. Berarti pencemaran air Sungai Ciketing di outlet semakin bertambah. Sastrawijaya.01 mg/l dan maksimum yang diperbolehkan 0. Akar tumbuhan polongan atau kacangkacangan terdapat bakteri yang mempunyai kemamp uan mengikat nitrogen di udara dan selanjutnya melalui proses kimiawi dengan katalis bakteri akan terbentuk nitrat. maka konsentrasi N-NO3 untuk baku mutu air golongan B konsentrasi pada tanggal 2 Oktober sampai dengan 27 Nopember 2004 baik di inlet dan di outlet menunjukkan nilai yang semakin besar daripada di inlet. Nilai ini lebih tinggi daripada nilai rata-rata di inlet. Kisaran COD air Sungai Ciketing di outlet adalah 1188-1515 mg/l dan nilai rata-ratanya adalah 1349 mg/l. Nilai ini sudah diatas BMPAS air golongan B.34 sampai dengan 7.40 mg/l.72 mg/l. Nilai ini sudah diatas BMAPS air golongan A berdasarkan S.54 mg/l.54 – 8.K.8 mg/l.02/MENKLH-1988 maksimum yang dianjurkan dan yang diperbolehkan untuk air minum harus nihil atau 0 mg/l dan untuk air golongan B maksimum yang dianjurkan 0. Nilai tertinggi pada tanggal 2 Oktober 2004.83 mg/l.96 mg/l. Nitrat Sungai Ciketing di inlet berfluktuasi (Tabel 17) mulai dari 8.97 mg/l dengan rata-ratanya 2. 1988.02/MENKLH.54 mg/l. Nitrit di outlet Sungai Ciketing secara keseluruhan selama periode tanggal 2 Oktober sampai dengan tanggal 27 Nopember 2004 dilihat dari rata-rata lebih besar .

sehingga darah tidak dapat mengangkut oksigen.42 mg/l. Nitrit NO2¯ adalah nitrogen yang teroksidasi dengan tingkat oksidasi +3 dan merupakan keadaan sementara proses oksidasi antara ammonia dan nitrat yang dapat terjadi pada pengolahan air buangan. 300 250 200 mg/l 150 100 50 0 IPAS 1 IPAS 2 IPAS 1 IPAS 2 IPAS 1 IPAS 2 IPAS 1 IPAS 2 IPAS 1 IPAS 2 2000 2001 2002 Tahun 2003 2004 inlet outlet Gambar 13. 1983). kandungan nitrat yang ditemukan pada IPAS 1 dan IPAS 2 Gambar 13 masih di atas ambang batas yang diperbolehkan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. KDH DKI No. tanggal 3 September 1990 untuk nitrat yaitu sebesar 20 mg/l. terutama pada IPAS 2. Secara keseluruhan nilai nitrit rata-rata di atas baku mutu air golongan B berdasarkan S. maka perlu diperhatikan kualitas IPAS dengan menilai parameter nitrat.92 (Tabel 18). Perkembangan Parameter Nitrat Air Lindi . C.K. Nilai nitrat tertinggi. 416/Menkes/Per/X/1990. MENEG KLH No. Perkembangan Kualitas Air Lindi Untuk mengetahui kualitas air lindi. BOD5 COD dan pH.21 mg/l. 1988).K. Nilai rata-rata keseluruhannya adalah 1.. karena dapat bereaksi dengan hemoglobin dalam darah.05 mg/l dan nitrit tertinggi dicapai pada tanggal 23 Oktober 2004 yaitu 1. 1608/1988. Konsentrasi nitrit terendah dicapai pada tanggal 27 Nopember 2004 yaitu 1. 1977. KEP.02/MENKLH dan baku mutu air golongan A berdasarkan S. nitrit. Saeni. Keadaan ini akan mengakibatkan keracunan pada bayi yang disebut blue baby (Manahan.. Nitrit dalam tubuh manusia sangat membahayakan. Gub. Sampai tahun 2003. baik pada . Disamping itu nitrit juga dapat menimbulkan nitrosamin pada air buangan tertentu yang dapat menyebabkan kanker (Alaert et al. 1983). inlet maupun outlet terjadi pada tahun 2000 dan 2001. dalam air sungai dan sistem drainase dan merupakan pencemar berbahaya dalam konsentrasi yang tinggi (Alaert et al.

23 mg/l. N-NO3 pada IPAS 2 (inlet) periode tanggal 2 Oktober sampai dengan tanggal 27 Nopember 2004 berada dibawah ambang batas yang diperbolehkan. Rata-rata N-NO3 selama periode 2 Oktober sampai dengan tanggal 27 Nopember 2004 ini adalah 14.71 mg/l (Lampiran 4).35 mg/l (Lampiran 6).08 – 8.44 – 3.39 mg/l.43 mg/l (Lampiran 5).65 mg/l. dengan kisaran 2. dan rata-rata sebesar 5.88 mg/l.93 Namun.78 mg/l. dan raa-rata sebesar 3. dan IPAS 4 pada bulan Oktober dan November. N-NO3 pada tanggal 27 Nopember 2004 ini adalah 3.09 mg/l. NNO3 yang tertinggi terjadi pada tanggal 23 Oktober 2004 dengan konsentrasi sebesar 4. dengan rata-rata 3.92 mg/l. Sedangkan kandungan nitrat tertinggi di IPAS 1 (outlet) pada tanggal 2 Oktober 2004 sebesar 20.55 – 3. untuk tahun 2004 kandungan nitrat air lindi pada IPAS 1 (Inlet) sudah berada dibawah ambang batas yang diperbolehkan. kecuali pada IPAS 1 bulan Oktober. dan rata-rata sebesar 2. dengan rata-rata N-NO3 selama periode 2 Oktober sampai dengan tanggal 27 Nopember 2004 ini adalah 7. kecuali pada tanggal 27 Nopember 2004 yang merupakan N-NO3 terendah dalam perode 2 Oktober sampai dengan tanggal 27 Nopember 2004.89 mg/l. kecuali pada tanggal 23 Oktober 2004 sebesar 3.01 mg/l dibawah baku mutu yang diperbolehkan. Nilai nitrat yang tinggi lebih banyak dijumpai pada outlet.99 –3. Sedangkan nitrat di IPAS 3 (outlet) periode tanggal 2 Oktober sampai dengan tanggal 27 Nopember 2004 sebesar kisaran 3.95 mg/l diatas baku mutu yang diperbolehkan. Periode tanggal 2 Oktober sampai dengan tanggal 27 Nopember 2004 N-NO3 pada IPAS 3 (inlet) dengan kisaran 2. Sedangkan kandungan nitrat di IPAS 2 (outlet) periode tanggal 2 Oktober sampai dengan tanggal 27 Nopember 2004 sebesar kisaran 7. Rata-rata N-NO3 selama periode 2 Oktober sampai dengan tanggal 27 Nopember 2004 ini adalah 3. dan pada IPAS 4 (inlet) kisaran 4. sedangkan pada IPAS 4 dengan rata-rata 3.77 mg/l (Lampiran 7) berada dibawah ambang batas yang diperbolehkan.98 – 6. kisaran 3.02 – 2. Konsentrasi nitrat .46 mg/l.03.69 mg/l.69 mg/l (Lampiran 11) dibawah baku mutu yang diperbolehkan.

khususnya pada outlet berada di atas baku mutu yang 25 20 15 10 5 0 Okt 1 Nov. kecuali pada IPAS 4. Okt 4 Nov. dan IPAS 2. Nilai nitrit air lindi di IPAS 1 (inlet) berkisar mulai dari 28.02 mg/l. Okt 3 Nov. Nilai rata-rata selama periode 2 Oktober sampai dengan tanggal 27 Nopember 2004 adalah 36.97 mg/l dan terendah pada IPAS 3 di bulan Oktober di inlet yang mencapai nilai 2. Untuk . melebihi baku mutu yang diperbolehkan. Sedangkan kandungan nitrit air lindi pada inlet masih berada di bawah baku mutu yang diperbolehkan. mg/l inlet outlet Gambar 14.6 yang terendah sampai dengan 43.044 mg/l. Nilai nitrit yang tinggi lebih banyak dijumpai pada titik outlet. Pada IPAS 4 (inlet) nilai nitrit menunjukkan angka yang sangat tinggi. Secara keseluruhan nitrit rata-rata menunjukkan sudah jauh diatas baku mutu air limbah golongan II. Untuk lebih jelasnya mengenai perkembangan nilai nitrat di IPAS periode OktoberNovember 2004 dapat dilihat pada Gambar 14.2 mg/l. kecuali pada tahun 2000 dan di IPAS 1 pada tahun 2004. Konsentrasi nitrit tertinggi terjadi pada IPAS 4 di bulan Oktober di inlet dengan nilai mencapai 1444 mg/l dan terendah pada IPAS 2 di bulan Oktober. Angka terendah dicapai pada tanggal 27 Nopember 2004 dan tertinggi dicapai pada tanggal 23 Oktober 2004. Perkembangan Nitrat di IPAS Periode Oktober.November 2004 diperbolehkan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 416/Menkes/Per/X/1990 tanggal 3 September 1990 karena memiliki nilai di atas 1 mg/l.1 yang tertinggi.5 dengan rata-rata 1037 (Lampiran 7).94 tertinggi terjadi pada IPAS 1 di bulan November di outlet dengan nilai mencapai 19. Sedangakan pada IPAS 2 dan 3 (Inlet) berada dibawah baku mutu. hanya pada IPAS 2 tanggal 27 Nopember 2004 dengan nilai 1. kecuali pada tahun 2001. Okt 2 IPAS Nov. periode tanggal 2 Oktober sampai dengan tanggal 27 Nopember 2004 kisaran 116.7 – 1552.

Untuk lebih jelasnya mengenai perkembangan nilai BOD di IPAS periode Oktober-November 2004 dapat dilihat pada Gambar 16. nilainya berada di bawah baku mutu yang diperbolehkan. inlet outlet Gambar 15. nilai BOD di inlet lebih tinggi daripada di outlet. nilai BOD5 di IPAS 2 pada inlet mencapai 1008 mg/l. Okt 3 Nov. kecuali pada IPAS 2 di tahun 2000 dan 2001 (Lampiran 15 dan 16). Bahkan pada tahun 2004. Perkembangan Nitrit di IPAS Periode Oktober-November 2004 Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. sehingga kandungan BOD sedikit berkurang. 1600 1400 1200 1000 mg/l 800 600 400 200 0 Okt 1 Nov. Okt 2 IPAS Nov. Hal ini disebabkan sesudah inlet air lindi terkontaminasi oleh beragam zat atau unsur lain. baik di IPAS 1 maupun IPAS 2 sangat tinggi dan hanya ketika tahun 2002 di IPAS 1. Nilai BOD5 tertinggi terjadi pada IPAS 4 di bulan Oktober 2004 di inlet dengan nilai mencapai 1267 mg/l dan terendah pada IPAS 2 di bulan Oktober 2004 di outlet yang mencapai nilai 144 mg/l.95 lebih jelasnya mengenai perkembangan konsentrasi nitrit di IPAS periode OktoberNovember 2004 dapat dilihat pada Gambar 15. 416/Menkes/Per/X/1990 tanggal 3 September 1990 yang menetapkan bahwa batas BOD5 yang diperbolehkan adalah 50 mg/l. Nilai BOD5. maka keberadaan BOD air lindi telah sangat mengkhawatirkan. Okt 4 Nov. Secara umum. Nilai BOD lebih banyak ditemukan pada inlet. .

416/Menkes/Per/X/1990 tanggal 3 September 1990 yang menetapkan bahwa batas COD yang diperbolehkan adalah 100 mg/l. nilai COD di titik inlet lebih tinggi daripada di titik outlet. Okt 2 IPAS Nov. inlet outlet Gambar 16. Nilai COD dengan BOD tidak terlalu berbeda perkembangannya. Okt 3 Nov. Bahkan pada tahun 2004. Nilai COD yang tinggi ditemukan pada IPAS 3 tahun 2001 (Lampiran 14 dan 15). Secara umum. inlet outlet Gambar 17. Nilai COD tertinggi terjadi pada IPAS 4 di bulan Oktober di titik inlet dengan nilai 3455 mg/l dan terendah pada IPAS 2 di bulan Nopember di titik outlet mencapai nilai 380 mg/l. 4000 3500 3000 2500 m / gl 2000 1500 1000 500 0 Okt 1 Nov. nilainya juga berada di atas baku mutu yang diperbolehkan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. Untuk lebih jelasnya mengenai perkembangan nilai COD di IPAS periode Oktober-November 2004 dapat dilihat pada Gambar 17. Okt 2 IPAS Nov.96 1400 1200 1000 mg/l 800 600 400 200 0 Okt 1 Nov. Perkembangan BOD5 di IPAS Periode Oktober-November 2004 Nilai COD lebih banyak ditemukan pada titik inlet. Okt 4 Nov. Okt 4 Nov. Okt 3 Nov. kecuali pada IPAS 2 di tahun 2001 dan IPAS 4 tahun 2000. COD di IPAS Periode Oktober-November 2004 . kandungan COD di IPAS 2 pada titik inlet mencapai 3188 mg/l. Untuk nilai COD air lindi yang ditemukan.

coli dan coliform. Pada Gambar 18 terlihat bahwa pH di IPAS yang tinggi lebih banyak dijumpai pada bulan Oktober dengan nilai tertinggi berada pada IPAS 3.3. 8.2 7 6. fitoplankton dan bentos. Nilai pH juga lebih tinggi pada inlet.8 6. seperti air kolam renang. Komponen Mikrobiologi Kualitas air secara biologis.97 Nilai pH air lindi di IPAS menentukan keseimbangan antara asam dan basa yang diidentifikasikan melalui pengukuran konsentrasi ion hidrogen dalam suatu larutan. nilainya masih berada dalam baku mutu yang diperbolehkan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.4 8. Parameter tersebut adalah E.6 Okt 1 Nov. khususnya secara mikrobiologis. Air bersifat asam apabila pH nya lebih kecil dari 7 dan bersifat basa apabila pH nya lebih besar atau sama dengan 7. ditentukan oleh banyak parameter.6 8.8 pH 7.6 7. Okt 4 Nov. Apabila pH air diatas atau dibawah angka kisaran tersebut tergolong tidak normal. Kehadiran mikroba berupa bakteri pencemaran tinja di dalam air yang digunakan untuk kepentingan hidup manusia (rumah tangga) sangat tidak diharapkan. dalam 100 ml air . inlet outlet Gambar 18. Untuk nilai pH air lindi yang ditemukan.4 7. Okt 3 Nov. kecuali pada IPAS 1 di bulan November dan IPAS 4 bulan Oktober. Nilai pH air yang normal adalah sekitar netral yaitu kisaran pH 6-8. Untuk keperluan di luar untuk air minum.2 8 7. Okt 2 IPAS Nov. Secara keseluruhan pH air lindi pada IPAS periode bulan Oktober sampai dengan bulan Nopember 2004 berada lebih besar atau sama dengan 7 bersifat basa . 416/Menkes/Per/X/1990 tanggal 3 September 1990 yang menetapkan bahwa pH yang diperbolehkan adalah 6-9. pH di IPAS Periode Oktober-November 2004 4.

ini berarti pada sumur-sumur tersebut baik yang diatas maupun yang dibawah dari TPA sudah tercemar E. Dari beberapa komponen mikrobiologi pada kawasan TPA. coli pada periode yang sama. sedangkan pada sumur bawah dari TPA kisarannya 0. coli sumur atas dari TPA konsentrasi pada tanggal 2 Oktober sampai dengan tanggal 27 Nopember 2004 kisarannya 52 – 63 MPN/100 ml dengan nilai rata-ratanya 55. misalnya penyebab penyakit tipus (Salmonella). baik yang hidup secara anaerobik maupun yang hidup secara aerobik. Kandungan E. Pengukuran komponen lalat dilaksanakan pada tanggal 4 Nopember 2004 antara pukul 9. Angka ini masih dibawah BMPSA dan BMAS. Selain itu banyak bakteri patogen berkembang dan menyebar melalui air. Dengan kondisi ini. Kandungan rata-rata 71 MPN/100 ml.98 kandungan bakteri coli tidak boleh lebih dari 200. disentri (Shigella). kolera (Vibrio). Banyak jenis bakteri patogen (penyebab penyakit) berkembang dan menyebar melalui badan air. Kontak makanan dengan air yang mengandung bakteri tersebut akan dinyatakan berbahaya kalau kemudian termakan. lebih banyak disebabkan oleh buruknya kondisi lingkungan setempat dan pencemaran di sumur atas dan sumur bawah tidak hanya dipengaruhi oleh pencemar dari TPA. .00 WIB. salah satu diantara yang terpenting adalah faktor keberadaan dan distribusi lalat. tetapi juga akibat adanya pencemaran di sekitar sumur seperti WC dan tumpukan sampah yang dikumpulkan oleh pemulung di sekitarnya. Kondisi ini dan buruknya air sumur tersebut. sementara untuk air rekriasi tidak boleh mengandung lebih dari 1000 bakteri coli.36 MPN/100 ml (Tabel 16). coli akan tetapi masih di bawah ambang batas BMPSA dan BMAS. lalat dianggap sebagai indikator penyebaran vektor beberapa penyakit yang berbahaya. semakin menurun kondisi sanitasi lingkungannya.1 – 50 MPN/100 ml dengan nilai rata-ratanya 23. Keberaaan dan banyaknya lalat juga dapat dianggap sebabagai cerminan keadaan sanitasi lingkungan. Kandungan tertinggi dicapai pada tanggal 27 Nopember 2004 dan terendah pada tanggal 2 Oktober 2004. Semakin banyak lalat. Kandungan koliform sumur jauh lebih tinggi daripada kandungan E. Jumlah keberadaan lalat menurut lokasinya di TPA Bantar Gebang dan sekitarnya seperti pada Tabel 19. dan dipteri (Coryne bacterium).66 MPN/100 ml (Tabel 15). begitu juga sebaliknya.30 sampai dengan 15.

berangin Tempat cucian plastik Permukiman Berangin. S. * Baku Mutu Kep. 2. Dirjen P2M PLP Depkes No. Ciketing Udik ♦ Titik 11 Kel. Karakteristik Responden Masyarakat yang dijadikan responden adalah masyarakat yang tinggal di sekitar TPA Bantar Gebang.4 0.8 Landfill Berangin Sampah kering Landfill Permukiman Landfill Banyak grobak sampah Landfill Permukiman Tempat cucian plastik 2. Distribusi Lalat di Kawasan TPA Bantar Gebang dan Sekitarnya No 1.9 3. Cikiwul ♦ Titik 15 zone IIIA ♦ Titik 16 zone IIB ♦ Titik 17 zone IC ♦ Titik 18 zone IA ♦ Titik 19 zone VB Jumlah Baku Mutu 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 Keterangan 8.99 Tabel 19.8 melebihi baku mutu Kep. landfill lama Berangin.5 30 30 30 30 30 30 30 30 30 Permukiman Leachate.04 LP tanggal 30 Oktober 1989 Pada Tabel 19 tersebut bahwa jumlah populasi lalat di lokasi arah desa Taman Sari yaitu pada titik 10 tempat pencucian pelastik terdapat jumlah lalat 36.7 0.9 7. 3. Komponen Sosial-Ekonomi A. landfill lama Sampah baru.5 % dari mereka tinggal yang jarak rumahnya antara 0-1 km . 4.03. Dirjen P2MPLP Depkes No.4 9.8 0.04LP tanggal 30 Oktober 1989 hal ini terjadi karena dilokasi pencucian pelastik yang dilakukan para pemulung menimbulkan bau busuk mengundang lalat. berangin Berangin.9 7. rumput & landfill Berangin. landfill 4.4 5.4. 49. Batu Ke Arah Kelurahan Taman Sari ♦ Titik 6 zone IIIC ♦ Titik 7 jalan pembatas zona IIIC ♦ Titik 8 tenggara zone IIIC ♦ Titik 9 Kelurahan Taman Sari ♦ Titik 10 tempat cucian plastik Ke Arah Kel.5 12.4 6.28-1 11/PD.6 1. Lokasi Ke Arah Kelurahan Sumur Batu ♦ Titik 1 zone IIIC ♦ Titik 2 ♦ Titik 3 ♦ Titik 4 Kelurahan Sumur Batu ♦ Ttitik 5 Batas Kel.2 3.5 36.9 7.28-1 II/PD 03. Ciketing Udik ♦ Titik 12 jala n pembatas TPA ♦ Titik 13 empang cuci plastik Ke Arah Kelurahan Cikiwul ♦ Titik 14 Kel.8 1.1 3.3 10.

3 % seperti Tabel 20.100 dari lokasi TPA Bantar Gebang dan 3. Hal tersebut diperlukan untuk bisa segera memahami sejauhmana pengaruh dari suatu program pembangunan pada keseimbangan sistem sosial-ekosistem dan keseimbangan tersebut diharapkan agar senantiasa lestari. Mengenai pengaruh ekonomi.7 % dari mereka telah menikah. Sosial Ekonomi Responden Menurut Haeruman (1979) perubahan atau pengaruh pembangunan tidak hanya dalam bentuk fisik. Guna mengetahui sejauhmana pengaruh suatu program pembangunan. Sebagian besar memiliki tanggungan antara 1-4 orang. B. Kegiatan ekonomi bukan basis mencakup berbagai usaha ekonomi yang terkait secara tidak langsung dengan ekonomi di sektor basis.4 % responden tinggal antara 1-10 km dari TPA Bantar Gebang.9 % dan 92. yang terjadi karena kurangnya pendekatan yang serasi terhadap masyarakat di sekitar lokasi pembangunan.4 %. sedangkan yang berprofesi sebagai karyawan swasta hanya 18. maka dilaksanakan pemantauan dan evaluasi secara terus. akan berkembang pula usaha jasa transportasi pedesaan. Pekerjaan responden mayoritas adalah bergerak di bidang wiraswasta atau berdagang 33. sebagai contoh jika balai industri berkembang.menerus.faktor penyebab dan mengurangi tekanannya terhadap lingkungan sosial tersebut. sehingga kelestarian tetap tercapai. maka program pembangunan tersebut perlu mendapatkan masukan untuk menghilangkan faktor. Suratmo (1988) mengemukakan bahwa perubahan dalam basis ekonomi akan mempengaruhi perubahan dalam kegiatan bukan berbasis ekonomi. Tingkat pendidikan responden mayoritas tamatan SD sebanyak 41. serta jasa-jasa perdagangan lainnya di desa setempat. Apabila kelestarian belum tercapai. Pengaruh ekonomi tersebut bersifat sekunder yang harus diperhitungkan. usaha warung. . tetapi juga sosial atau ekonomi yang seringkali menimbulkan keresahan sosial yang gawat.

7 0 1.6 %.000 500. 6. Jawaban responden tentang gangguan terhadap air tanah adalah 29.2 %. 2.2 % mengganggap kegiatan TPA mengganggu yang menyatakan mendukung atas kehadiran TPA sebanyak 17. Tabel 21.8 % menganggap masih ada gangguan terhadap kualitas air tanah mereka.6 2 100 Ditinjau dari segi pendapatan 27.000 Tidak menjawab Total Peresentase (%) 26 27. 5.000 – 1.3 % seperti Tabel 22.4 16. 4. . Pengeluaran terbesar dari penduduk adalah untuk kebutuhan hidup sehari.000.000 – 2. 5.000.7 % penduduk menganggap bahwa aktivitas TPA tidak mengganggu dan berpengaruh terhadap kehidupan mereka.000 1. 3.000 – 1. Wujud gangguan terhadap air tanah menurut responden pada tahun 2004 adalah 19.101 Tabel 20.00 – Rp.4 15.4 % mempunyai pendapatan rata-rata antara Rp.000. namun jika dibandingkan dengan tahun 2002 terjadi penurunan karena pada tahun 2002 jawaban responden sebesar 23. 7.00. Tanggapan Responden terhadap TPA Bantar Gebang Pada umumya 54.2 18.500.000. Tingkat Penghasilan 500.3 %.500.4 100 C.4 27 6. Sumber air yang digunakan oleh w arga pada umumnya berasal dari air tanah atau sumur.1 % seperti pada Tabel 21. Pada tahun 2001 jumlah responden yang menyatakan ada gangguan sebesar 43.2 % masalah kebauan. maka ada penurunan.000. 4. 6.500.000 2. Tingkat Pendapatan Responden No 1.000 1. Jenis Pekerjaan Pegawai Negeri atau TNI Swasta Wiraswasta Buruh atau petani Mengojek Lainnya Total Peresentase (%) 7.000.3 33.000. 3.6 %.hari atau 53.1. 2.000. Jenis Pekerjaan Responden No 1. Namun jika dibandingkan dengan tahun 2001.1 13. 27.000 – 2.500.000 > 3. bahkan masih ada yang membeli air dari tukang air keliling sebanyak 5.4 % sedangkan untuk biaya pendidikan sebanyak 34. sedangkan yang punya pendapatan lebih dari satu juta sebanyak 15.

lain 18 1.25 5. parameter tersebut merupakan sifat fisik air yang secara langsung berpengaruh terhadap konsumen (Peany et al.1 – 18 % dengan nilai rata-rata 5.45 %.7-20 1. Menurut responden g angguan bau di wilayah TPA Bantar Gebang berasal dari aktivitas TPA Bantar Gebang baik tahun 2001 maupun 2002.3 19.7 % yang menyatakan penyebabnya adalah TPA Bantar Gebang.2 % dikarenakan aktivitas TPA Bantar Gebang (pada tahun 2001 jumlah tersebut adalah 20 %).22 %.4 1.2 2004 19.22 8. Penyebab Gangguan Terhadap Air Tanah Presentase ( % ) PenyebabGangguan No 2001 2002 2003 2004 1.45 Kisaran 18. 1986).8 3. Berbau 25 23. Penyebab gangguan terhadap air tanah periode tahun 2001 sampai dengan 2004 persentase tertinggi pada tahun 2001 sebesar 20 % dan terendah pada tahun 2004 sebesar 18.1-18 Dari Tabel 23 tersebut dapat disimpulkan bahwa.1 Total 38 20.5 Kisaran 19.6 20.3 1.2 19.8 Selanjutnya apa yang menjadi penyebab gangguan air tanah menurut responden 19. TPA Bantar Gebang 20 19.8 5.102 Tabel 22.2 5.3 21.2 .3 – 6. Terdapat penurunan tingkat gangguan dengan nilai kisaran 18.7 – 20 % dan nilai ratarata 19. menurut masyarakat gangguan terhadap air tanah karena aktivitas TPA Bantar Gebang berkurang.22 5.3 0 0 Total 43.1 27. Tabel 23.3 Ratarata 22.22 0.8 0 – 3.3 30. sedangkan karena adanya aktivitas lainnya menurun. Sedangkan yang menyatakan penyebab gangguan dari lain. Lain. .4 2.7 2. Berminyak 3. Keruh 15 6.3 0 24.8 Ratarata 19. Bau merupakan parameter penting dalam kualitas air minum.0 18.lain adalah kisaran 11. Wujud Gangguan Terhadap Air Tanah Presentase ( % ) No Wujud Gangguan 2001 2002 2003 1. Penyebab gangguan air tanah secara rinci diuraikan pada Tabel 23. 2003 dan 2004 dan secara rinci dapat dilihat pada Tabel 24.

yakni ISPA.9 81.4 1.7 Ratarata 82. Dekomposisi sampah biasanya terjadi secara aerobik. Penyebab Gangguan Bau Intensitas Gangguan Presentase ( % ) No Asap 2001 2002 2003 2004 1. korosif terhadap tubuh.0 Gebang 2.7 Sekitar TPA Total 100 100 100 100 Kisaran 81. (986) Perkembangan kesehatan masyarakat di sekitar kawasan TPA didekati dengan analisis data sekunder khususnya persentase penyakit di Kecamatan Bantar Gebang. bau dan sebagainya Saruji.3 Bantar Gebang 3. (1994).5-6. dilanjutkan secara fakultatif. infeksi kulit dan diare. dan lalat merupakan vektor utama terhadap penyakit disentri Slamet.3 1. selain menimbulkan penyakit.7 1.0-83.22 Berdasarkan hasil analisis kualitas udara. Aktivitas TPS di Luar 1.3 82. ya ng menjadi sumber bau adalah NH3 (amonia) dan H2S. Aktivitas TPA Bantar 83. bahkan terjadi secara anaerobik jika kehabisan oksigen.22 3.103 Tabel 24. Tabel tersebut memperlihatkan jenis penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat Kota Bekasi.47 14.7 15. teratogenik dan ada juga yang mengandung kuman patogen yang langsung dapat menularkan penyakit Slamet. (1994). pembakaran dan pembuangan sampah. terhadap 5 penyakit besar.4 6. seperti disajikan dala m Tabel 25. penyakit gigi. gastritis. Pengaruh tidak langsung juga terjadi melalui vektor yang dibawa hewan inang yang hidup dan berkembang biak di sampah. Dekomposisi secara aerobik menghasilkan lindi dan gas. terutama penurunan estetika yang ditunjukan adanya kesan jorok. dimana sampah tersebut ada yang bersifat racun.7 15. Pengelolaan sampah yang kurang baik. . Aktivitas TPA Liar di 14.9 82. jijik. namun demikian nilai kedua parameter tersebut masih dibawah baku mutu lingkungan. Pengaruh langsung terjadi akibat kontak langsung dengan sampah.7-15. D. Kesehatan Masyarakat Pengaruh sampah terhadap kesehatan lingkungan dapat terjadi melalui pengaruh langsung maupun tidak langsung.7 12. Pengaruh tidak langsung dapat dirasakan oleh manusia terutama akibat pembusukan. karsionogenik. misalnya tikus adalah inang pinjal sebagai vektor penyakit pes. juga dapat menimbulkan efek terhadap kualitas sosial lingkungan.3 12.

2-15.7 10.5 3.4 9.1 11.5 6.2 8.9 2.9 4.5 14.4 %.4 12. Gastritis 4.8 9.7 34.4 11.6 22.5 28.8 14.4 3. Berdasarkan Uji T menunjukkan bahwa jenis penyakit ISPA di wilayah Kota Bekasi dan Kecamatan Bantar Gebang tersebut adalah relatif sama atau tidak berbeda secara nyata.0 32.9 24.8 4.9 37.0 5.2 17.2 10.3 11. Misalnya penyakit ISPA untuk wilayah Bantar Gebang antara 32.8 36.4 7.2-24 %.2 5.3 %.2 6.6 12.5 11. Penyakit Gigi 3. Diare Perkembangan penyakit gigi di wilayah Kecamatan Bantar Gebang sebesar 11.7 ISPA 2.2 5.9 30.104 Berdasarkan Tabel 25 dapat dilihat bahwa perkembangan pola penyakit di wilayah Kota Bekasi dan Kecamatan Bantar Gebang dalam 7 tahun terakhir.1 44.2 8.3 40.8 14. Tahun 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 Jenis Penyakit Wilayah Kota Bekasi ( % ) Bantar Gebang ( % ) 44.8 5.9 7.1 9. Begitu juga untuk . Tabel 25.5 7. Infeksi Kulit 5.4 7.9 6.2 15.4 – 44.5 10.5 10.7 17.4 6. sedangkan wilayah Kota Bekasi sebesar 2.3 40.7 10.2 8.3 6.3 34.4 29.7 7.0 5.1 8.4 4.6 8.6 10.4 38.9 31.2 10.6 2.0 2. terutama dari tahun 1998-2004 menunjukkan pola yang relatif sama.7 7.9 – 44. Jenis Penyakit di Kota Bekasi dalam 7 tahun terakhir No 1.3 %. sedangkan wilayah Kota Bekasi juga sebesar antara 37.4 3.2 14.

0 % dengan nilai rata-rata 16.2 % dengan nilai rata-rata 38. Jenis penyakit yang sering responden alami adalah flu dan batuk pilek yaitu sebesar atau intensitas rasa sakit penyakit batuk. sedangkan sisanya kadang-kadang merasakan sakit. Namun demikian perhatian pada masyarakat sekitar tetap perlu mendapat perhatian yang serius sehubungan dengan upaya pemberian kompensasi berupa pengobatan cuma-cuma bagi masyarakat dan penderita beberapa penyakit pada masyarakat di sekitar lokasi TPA yang sangat erat hubungannya dengan saluran pernapasan. intensitas sakit dalam beberapa tahun terakhir yang menyatakan tidak pernah 9.2 % tahun 2004 (Tabel 26). maka perkembangan penyakit tersebut perlu mendapat perhatian yang serius.02 %. Perbedaan tersebut berdasarkan persentasenya terlihat berbeda. Pada tahun 2004 persepsi masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar lokasi TPA Bantar Gebang terhadap gangguan kesehatan mulai bergeser ke arah yang lebih baik.0 %) menyatakan tidak pernah. Kisaran terhadap gangguan kesehatan. .6 %.47 %. namun berdasarkan uji T.5 %. Sedangkan yang menyatakan kadang-kadang dengan kisaran 20-50. Hal ini menunjukkan bahwa pola penyebaran penyakit tersebut adalah sama untuk seluruh wilayah Kecamatan di Kota Bekasi. sesak napas. Secara lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 26. penyakit gigi. gastritis dan diare. Jenis penyakit yang sering responden alami adalah flu dan batuk pilek tahun 2003 menjadi 50. Namun demikian karena menyangkut penyakit pada manusia.105 penyakit Gastritis untuk wilayah Bantar Gebang lebih besar yakni 9. Kedua perkembangan penyakit lainnya yaitu penyakit kulit dan diare menunjukkan distribusi yang sama antara wilayah Kota Bekasi dan wilayah Bantar Gebang. Perkembangan pola penyakit di wilayah Bantar Gebang relatif memiliki karakteristik sama dengan wilayah Kota Bekasi. Pada tahun 2004 sebanyak 9. penyakit kulit. tidak ada gejolak yang berbeda dengan wilayah Kota Bekasi.5 % dan wilayah Kota Bekasi sebesar 3. menunjukkan bahwa penyakit yang paling banyak diderita adalah ISPA. ISPA.4-35.7-14. Status kesehatan masyarakat di sekitar lokasi TPA Bantar Gebang hingga medio tahun 2004 data Puskesmas Bantar Gebang.4 % responden (Tahun 2001 sebanyak 35. menunjukkan relatif tidak berbeda nyata. TPA Bantar Gebang memberikan kontribusi terhadap pencetusan pusing dan sakit perut.2-17. Nilai ini menunjukkan peningkatan dari 43.

3 28.3 %.82 16. Persepsi Responden terhadap Gangguan Kesehatan tahun 2001-2004 No 1 Karakteristik Intensitas sakit dalam Beberapa tahun terakhir Uraian Sering Kadang-kadang Jarang Tidak Pernah Flu.0 0.8 58.52 23.9 5.9 19.106 58.2 % (tahun 2001 sebanyak 41.9 59 15.5 47.5 56. dan sisanya oleh berbagai jenis penyebab.6 24.4 23.6 29.9 23.0 11.2 48.6 % (tahun 2004).3 20.2 11. gangguan pernapasan sebanyak 24.2 0.7 43.7 9.4 5.0-50.6 15-36.3-48 0.4 30.3 33.6 50.3 43.0 38.6-33. diare dan muntaber sebanyak 3.6 39.0 27.6 8.77 0.8 5.7 %).3 30.8 38.4-33.1 10.8 4.0 30.47 53.7-43.1 12-7.9 14.1 24.9 15.3 % (tahun 2001 sebanyak 15.1-30.4 58.9 27.4 % (tahun 2001 sebanyak 27.6 15.5 30.6 3 Penyebab sakit 22-25.9 29.5 85. Pernapasan Diare.7-50 4.0 22.4 42. Adanya kesepakatan antara pihak Pemda DKI Jakarta dan Pemerintah Kota Bekasi dalam .0 35.6-33.1 4.6 12.3 3. Sakit sering Dialami yang 3.6 30.3 %).7-59 10.5 43.3 0.7 24.8 50.8 45.7 5.4-35.7 26.35 27.0 36.92 38.7 4. dan pergi ke dokter sebanyak 44.7 20.9 5.8 44.0 29 17.85 15 34. Sehubungan dengan upaya untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat yang berada di sekitar lokasi TPA Bantar Gebang.6 5 Institusi pengelola Pengobatan gratis 5.8 %).6 Presen (%) 2002 2003 11.6 30. sebanyak 5.0 38.0 %).9-5.4 36.7 4.6 15.0 41.8-43.7 24.57 39.5 331 17. salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan meningkatkan pelayanan kesehatan termasuk diantaranya adalah penyediaan fasilitas kesehatan di sekitar lokasi TPA Bantar Gebang. Pada tahun 2004 responden yang berpendapat bahwa instansi yang melakukan pengobatan sebagai kompensasi dampak negatif adalah Pemerintah DKI Jakarta sebanyak 22.2 43.35 26.2 14.2 7.7 % responden menyatakan bahwa instansi pengelola pengobatan gratis adalah Pemerintah Kota Bekasi (tahun 2001 sebanyak 50.7 % (tahun 2004). Tabel 26.8 Kisaran 8.2 11.8 16.3 20.6 0. membeli obat sendiri sebanyak 36.8-44. Pilek.4 25. Batuk.57 2.0 16.0 10. cara berobat 43.6 22.55 5.7 9.7 10.95 26.3-16.02 33.3 44.1 4.0 % (tahun 2001 sebanyak 43.7 40.5 Ratarata 15.95 8.2 29.7 2004 8.8-16. Muntaber Lainnya Aktivitas TPA Aktivitas TPA liar Lingkungan kurang sehat Sebab-sebab lain Beli obat sendiri Ke Dokter Ke Puskesmas Dukun atau tabib Pemrov DKI Pemerintah Kota/Bekasi Instansi pemerintah lain Institusi swasta Tidak jawab 2001 33.5-58.2 6.2 4 Bila sakit.0 10.7 35.8 Responden berobat ke Puskesmas sebesar 48.0 22.0 19.4-35.0 %).

6 4.000 167. 2002.7 Sumber: Evaluasi Pemantauan TPA Bantar Gebang.4 331.042 0.06 ha.900 95. hal ini berimplikasi pada peningkatan kemampuan pengelolaan air lindi.115 64. Berdasarkan skenario ini.3 5.2 6. Umur Teknis TPA Bantar Gebang Zone Luas (m²) Tinggi Teknis (m) Tinggi Aktual Selisih (m) (3-4) Tinggi Harian Susut Harian Selisih (6-7) Umur (hari) I II III IV V Jumlah 183. harus sempurna sehingga dapat digunakan sebagai dasar bagi penumpukkan sampah berikutnya.002 0.700 12 12 12 12 12 8.107 bentuk penyediaan dana kompensasi termasuk di dalamnya adalah penyediaan fasilitas kesehatan berupa Puskesmas pembantu dengan segala kelengkapannya.000 760. Sampah domestik merupakan potensi yang sangat besar untuk produksi kompos.9 91. Tabel 27. dengan luas total 76. Namun upaya yang diperlukan untuk .059 0.9 0.066 0. F. Kompos dan Daur Ulang a. serta meningkatkan kemampuan IPAS. Keberadaan fasilitas kesehatan seperti Puskesmas pembantu tersebut. dan untuk beroperasinya alat berat.002 0. E.171 0.117 0. karena beban air lindi akan semakin besar. paling tidak untuk jangka waktu 5 tahun kedepan.1 3.061 0. sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi TPA Bantar Gebang.169 0. Umur Teknis TPA Perkiraan umur teknis TPA ditetapkan beberapa skenario antara lain menetapkan bahwa ketinggian sampah adalah sebesar 17 m dari dasar konstruksi atau 12 m dari permukaan tanah. 2002).1 8.064 0.002 0.002 0.4 7. Komposting Program komposting belum dapat sebagai faktor utama dalam reduksi sampah.2 51. ketinggian 12-15 m secara teknis memerlukan persyaratan tertentu berupa pemadatan.9 3.7 6.002 0. Berdasarkan ketinggian tumpukan sampah tersebut. Walaupun demikian upaya-upaya tersebut perlu terus diperbaiki dan dikembangkan.600 64.6 43.000 250. maka umur teknis TPA adalah selama 332 hari atau 1 tahun seperti pada Tabel 27 (Dinas Kebersihan DKI Jakarta. Diharapkan dengan adanya fasilitas kesehatan tersebut angka kesakitan masyarakat di sekitar lokasi TPA Bantar Gebang dapat ditekan seminimal mungkin.044 0.8 5.6 80.

Karena itu. terutama dalam waktu dekat.108 merubah perilaku dan kelembagaan pemilahan sampah pada sumbernya. kebutuhan lahan. yang dapat dikumpulkan secara terpisah. Asumsi bahwa sumber kompos yang paling mudah dan praktis adalah sampah pasar. Selama ini melalui pilot proyek semua stakholder diundang. (2). (3). maka kegiatan kompos berhenti dan masyarakat tidak melangsungkan pemilahan sampahnya lagi. tidak termasuk introduksi minset untuk memandang kompos sebagai produk bermanfaat. Hal lain adalah faktor ongkos angkut. Komposting sampah domestik sekala besar dapat dilaksanakan melalui kemitraan dengan sektor swasta. adalah kotoran cacing tanah yang bercampur dengan hasil pembusukan sampah organik. Kompos melalui proses windrow pada program UDPK (Unit Daur Ulang dan Produksi Kompos). Program kompos secara umum perlu digerakan dari lapisan masyarakat bawah. Kualitasnya sedikit lebih unggul dari proses windrow. komposisinya. Program komposting sampah domestik perlu dikembangkan melalui proyek-proyek percontoha n. akan sangat banyak. Dari segi waktu proses aerob lebih . yang menjadi kendala pertama adalah modal investasi. Dengan demikian. Rencana perkomposan perlu disusun tersendiri. jika dana proyek tidak dikucurkan lagi. komposting tidak dapat dijadikan prioritas mendesak. Produksi kompos skala kecil menunjukkan bahwa proses windrow dapat ditingkatkan kapasitasnya. Dengan demikian. kondisi dan permasalahan pengkomposan terdiri dari beberapa aspek antara lain adalah: a. Pada produksi skala sedang. bahan bakar sampah organik terpilih kelokasi instalasi kompos. Ketekunan pengelola dan pemeliharaan cacing serta pasar kompos vermics ini sangat menentukan berhasil tidaknya metodologi ini. meliputi identifikasi pemanfaatan kompos. bagi Jakarta. namun didalam pelaksanaan dilapangan hanya mereka yang benar-benar ingin memperoleh manfaat dari proyek tersebut. Pembeli hanya dari kalangan pengguna tanaman hias. khususnya sampah domestik. Jelas harga kompos yang saat ini berlaku tidak akan cocok (berarti akan lebih mahal). melalui rekayasa mesin kompos Aerob maupun Anaerob. Kompos skala kecil dapat berhasil karena secara pembiayaan modal dapat kembali karena pasar juga belum terbentuk secara baik. serta pengelolaannya secara menyeluruh. Aspek Teknis: (1). akan sulit pengembalian dan pinjaman karena pasar tidak membeli produk sebanyak itu. Sebetulnya ada proses produksi kompos lain yang disebut Vermics.

dan (4). sedangkan proses anaerob sudah dapat diperoleh produksi kompos setelah 18-20 hari. Kelompok swasta yang berkiprah di bidang kompos skala kecil umumnya membiayai usahanya yang umumnya mereka mempunyai langganan pembeli. Pasar kompos belum terbentuk secara baik dan banyak usahawan lama. Salah satu program 3R adalah daur ulang. Aplikasi dari proses biologi seperti misalnya pengomposan limbah atau produksi gas bio. Proses biologi dapat juga digunakan setelah proses pengumpulan sampah sebagai berikut: mengurangi volume sampah pada TPA (lebih dari 50%). Karena itu produksi kompos secara informal dan skala kecil cukup berhasil. namun diproses menjadi material yang bermanfaat dan bernilai ekonomis. Program kompos dapat dikatagorikan program sampah tidak dapat didaur ulang. Daur ulang Diasumsikan bahwa 20 % sampah per tahun akan dikembangkan termasuk tambahan 2 % untuk daur ulang di Bantar Gebang. Perbedaan penting adalah bahwa daur ulang sedang berlangsung serta harus dibatasi di dalam kota dan dimodifikasi di Bantar Gebang. sedangkan komposting dapat dikatakan bahwa ada dan harus dibina sepanjang waktu. zero waste atau UDPK. yaitu membutuhkan waktu di atas 35 hari.lama yang menon-aktifkan produksinya. c. d. pemulihan energi yang terdapat pada sampah (sebagai biogas) dan menghasilkan suatu produk yang lebih stabil dan bermanfaat (seperti pupuk kompos). Aspek Pembiayaan: Pada umumnya kegiatan produksi skala kecil yang dibina oleh pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah termasuk pembiayaanya pada program 3R. Model pemb uangan sampah di tiap daerah pelayanan memperkirakan 20 % daur ulang dan 4 % di komposkan. b. dapat dikatakan bahwa sejumlah sampah yang akan diolah di TPA dapat diolah dengan proses . Aspek Kelembagaan: Produk kompos hanya mempunyai pasar pada masyarakat yang gemar tanaman hias atau taman pekarangan saja. b. kadang-kadang belum tertarik pada produk kompos ini. dapat mengkonversi limbah dalam aliran limbah.109 lama. Proses konversi biologis sampah memiliki peran utama dalam menejemen persampahan dan dapat diterapkan pada beberapa bagian dalam aliran limbah. Permasalahan pengkomposan ini terletak di pasar petani yang membutuhkan pupuk. Aspek Hukum: SK Gubernur Nomor 1281/1988 tanggal 21 Juli 1988 tentang Pola Penanggulangan Kebersihan Lingkungan di DKI Jakarta.

bahwa TPA Bantar Gebang yang dimaksudkan untuk dioperasikan secara sanitari landfill secara sempurna tidak jadi masalah berapa lama TPA tersebut akan digunakan. Kondisi daur ulang di Bantar Gebang merupakan hal yang agak berbeda dan memerlukan upaya. maka dapat diambil sintesisnya untuk dianalisis lebih lanjut dengan menggunakan AHP. Pemilahan sampah pada sumbernya merupakan aktivitas penting dalam sistem manajemen persampahan terpadu. Untuk menentukan pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi diperlukan alternatif pemilihan yang akan ditentukan kemudian. penentuan urutan prioritas parameter penilai pemanfaatan TPA pasca operasi dan penentuan formula pembobotan parameter.5.110 daur ulang. penentuan urutan prioritas penentuan formula pembobotan. . mencakup: 1) identifikasi material untuk diubah atau diproses. Struktur hirarki disusun dari empat level.upaya drastis untuk memperbaiki kondisi sekarang yang sangat disesalkan. Hasil Sintesis AHP Setelah proses pembentukan pohon hirarki keputusan. Pendekatan yang dapat dilakukan dalam kegiatan daur ulang. kriteria untuk membuat keputusan antara lain seperti Gambar 20. dan 3) spesifikasi dari pembeli terhadap materi yang akan dipulihkan. Penyusunan struktur hirarki pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyarakat berdasarkan keterkaitan yang menjadi bagian dari lingkup permasalahan tersebut. Setelah proses pembentukan pohon hirarki keputusan. membiarkan para pemulung yang hidup dalam kondisi menyedihkan dan bahkan bekerja dalam kondisi yang lebih menyedihkan lagi. 2) identifikasi kesempatan pakai ulang dan proses daur ulang. maka dapat diambil sintesisnya untuk dianalisis lebih lanjut. 4. kriteria dan alternatif kebijakan. aktor. Sangat memperhatikan. Gambar 19: Lokasi TPA Bantar Gebang zone IV Level I Level I menggambarkan tujuan utama penggunaan AHP sebagai metode analisis keputusan yaitu memilih kebijakan pemanfaatan TPA Sampah Pascaoperasi Berbasis Masyarakat. yaitu fokus.

8. dan sangat buruk. Kriteria yang dijadikan bahan pertimbangan adalah: fisik-kimia.111 Level II Level II menampilkan aktor-aktor yang harus diperhitungkan dalam rangka pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyarakat. meliputi: masyarakat. Hutan Kota/Penghijauan Pariwisata Lapangan Golf TPA Terpadu Perumahan Penambangan Gas dan Energi Listrik Lahan Budidaya Industri Alternatif Gambar 20: Struktur Hirarki . Level III Level III menyajikan kriteria yang diperhitungkan dalam pemanfaatannya. buruk. mikrobiologi dan sosial ekonomi serta kesehatan yang merupakan arahan bagi perencanaan ke depan dalam pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi. Level IV Level IV menampilkan penilaian untuk masing. 7. Untuk lebih jelasnya tiap level dalam aktor-aktor tersebut memberikan arahan pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi pada Gambar 20. Ditetapkan lima tingkat penilaian yaitu sangat baik.masing kriteria yang mengacu pada kondisi exsisting dan perencanaan terhadap alternatif keputusan yang ditawarkan. sedang. 5. Pemanfaatan TPA Sampah Pascaoperasi Berbasis Masyarakat Fokus Pemerintah Swasta Masyarakat Aktor Kriteria Sosial Ekonomi dan Kesehatan Fisik Kimia Mikrobiologi 1. baik. swasta dan pemerintah. 4. 6. 3. Penilaian terhadap kriteria diberikan oleh pengambil keputusan berdasarkan pada data yang diperoleh di lapangan. 2.

112

Dari ketiga kriteria tersebut: fisik-kimia, mikrobiologi serta sosial ekonomi dan kesehatan, perlu ditentukan tingkat kepentingannya dengan menentukan bobot secara sembarang atau dengan membuat skala interval untuk menentukan ranking setiap kriteria atau perbandingan berpasangan, tingkat kepentingan suatu kriteria relatif terhadap kriteria lain dapat dinyatakan dengan jelas. Untuk menentukan bobot dari kriteria dengan jelas menentukan nilai eigen dengan menguadratkan matriks, menghitung jumlah nilai dari setiap baris, kemudian melakukan normalisasi. Berdasarkan nilai eigen maka diketahui bahwa kriteria yang paling penting adalah fisikkimia, sosial ekonomi dan kesehatan serta mikrobiologi. Untuk menentukan alternatif yang akan dipilih dari delapan alternatif yang ada, dalam pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyarakat, kemudian dilakukan analisis setiap zone dengan menggunakan AHP (Gambar 21). Hal ini sangat baik dilakukan mengingat kondisi TPA sampah saat ini dan untuk menentukan pemanfaatannya kedepan, serta mengharapkan keterlibatan masyarakat sekitar TPA, dengan tetap menjaga kua litas lingkungan. Kajian pembahasan AHP meliputi: data keluaran dan hasil. Data sintesis ditampilkan untuk level I dan masing- masing kriteria di level II. AHP dalam masing- masing model penilaian pemanfaatan dapat diuraikan sebagai berikut: A. Hasil Sintesis AHP pada zone I Hasil sintesis untuk AHP dalam penilaian zone I adalah sebagai berikut:

Gambar: 21 Hasil sintesis AHP untuk penggunaan zone I Gambar 21 menunjukkan bahwa urutan peringkat alternatif tiga teratas pada zone I pemanfaatannya adalah: Hutan Kota/Penghijauan dengan nilai 0,381, TPA Terpadu dengan nilai 0,297, dan Penambangan gas dan energi listrik dengan nilai

113

0,179. Artinya ketiga alternatif pemanfaatan tersebut secara fisik-kimia, mikrobiologi dan sosial ekonomi serta kesehatan masyarakat pada zone I mempunyai daya dukung lebih baik dibanding alternatif sisanya. Dari alternatif yang dipilih pada zone I dalam pemanfaatan TPA Pascaoperasi Berbasis Masyarakat maka prioritas utama adalah Hutan Kota/Penghijauan,

berdasarkan analisis kesesuaian lahan dengan menggunakan AHP dengan skor berturutturut: 0,381; 0,297; 0,179; 0,073; 0,030; 0,021; 0,014 dan 0,005. Selain dapat membandingkan peringkat antara zone untuk pemanfaatan lahan, maka dapat dibandingkan perbedaan skor dan alternatif ketiga teratas. Misalnya antara Hutan Kota/Penghijauan dengan TPA Terpadu terdapat perbedaan skor 0,87 dan TPA Terpadu dengan penambangan gas energi listrik perbedaannya 0,118, sedangkan antara penambangan gas dan energi listrik dengan lahan budidaya memiliki perbedaan skor 0,124. Secara teoritis perbedaan kesesuaian lahan untuk Hutan Kota/Penghijauan dengan TPA Terpadu sangat kecil. B. Hasil Sintesis AHP pada zone II Hasil sintesis untuk AHP dalam penilaian zone II adalah sebagai berikut:

Gambar: 22 Hasil sintesis AHP untuk penggunaan zone II Gambar 22 menunjukkan bahwa urutan peringkat alternatif tiga teratas pada zone II pemanfaatannya adalah: Hutan Kota/Penghijauan dengan nilai 0,361, TPA Terpadu dengan nilai 0,292, dan penambangan gas dan energi listrik dengan nilai 0,154. Artinya ketiga alternatif pemanfaatan tersebut secara fisik-kimia, mikrobiologi dan sosial ekonomi serta kesehatan masyarakat pada zone II mempunyai daya dukung lebih baik dibanding alternatif sisanya. Dari alternatif yang dipilih pada zone II dalam pemanfaatan TPA Pascaoperasi Berbasis Masyarakat maka prioritas utama adalah Hutan Kota/Penghijauan,

114

berdasarkan analisis kesesuaian lahan dengan menggunakan AHP dengan skor berturutturut: 0,361; 0,292; 0,154; 0,095; 0,042; 0,032; dan 0,024. Selain dapat membandingkan peringkat antara zone untuk pemanfaatan lahan, maka dapat dibandingkan perbedaan skor dan alternatif ketiga teratas. Misalnya antara Hutan Kota/Penghijauan dengan TPA Terpadu terdapat perbedaan skor 0,069 dan TPA Terpadu dengan penambanga n gas dan energi listrik perbedaannya 0,138, sedangkan antara penambangan gas dan energi listrik dengan lahan budidaya memiliki perbedaan skor 0,059. Secara teoritis perbedaan kesesuaian lahan untuk Hutan Kota/Penghijauan dengan TPA Terpadu sangat kecil. C. Hasil Sintesis AHP pada zone III Hasil sintesis untuk AHP dalam penilaian zone III adalah sebagai berikut:

Gambar: 23 Hasil sintesis AHP untuk penggunaan zone III Gambar 23 menunjukkan bahwa urutan peringkat alternatif tiga teratas pada zone III pemanfaatannya adalah: TPA Terpadu dengan nilai 0,336, Hutan Kota/Penghijauan dengan nilai 0,294, dan penambangan gas dan energi listrik dengan nilai 0,137. Artinya ketiga alternatif pemanfaatan tersebut secara fisik-kimia, mikrobiologi dan sosial ekonomi serta kesehatan masyarakat pada zone III mempunyai daya dukung lebih baik dibanding alternatif sisanya. Dari alternatif yang dipilih pada zone III dalam pemanfaatan TPA Pascaoperasi Berbasis Masyarakat, maka prioritas utama adalah TPA Terpadu, berdasarkan ana lisis kesesuaian lahan dengan menggunakan AHP dengan skor berturut-turut: 0,336; 0,294; 0,137; 0,112; 0,080; 0,022; 0,016 dan 0,003. Selain dapat membandingkan peringkat antara zone untuk pemanfaatan lahan, maka dapat dibandingkan perbedaan skor dan alternatif ketiga teratas. Misalnya antara TPA Terpadu dengan Hutan Kota/Penghijauan dengan terdapat perbedaan skor 0,042 dan Hutan Kota/Penghijauan dengan

mikrobiologi dan sosial ekonomi serta kesehatan masyarakat pada zone IV mempunyai daya dukung lebih baik dibanding alternatif sisanya.098. dan Penambangan gan dan energi listrik dengan nilai 0. berdasarkan analisis kesesuaian lahan dengan menggunakan AHP dengan skor berturut-turut: 0.092 dan Hutan Kota/Penghijauan dengan penambangan gas dan energi listrik perbedaannya 0.157.145. Secara teoritis perbedaan kesesuaian lahan untuk TPA Terpadu dengan Hutan Kota/Penghijauan sangat kecil. Secara teoritis perbedaan kesesuaian lahan untuk TPA Terpadu dengan Hutan Kota/Penghijauan sangat kecil. Hutan Kota/Penghijauan dengan nilai 0. Selain dapat membandingkan peringkat antara zone untuk pemanfaatan lahan. Misalnya antara TPA Terpadu dengan Hutan Kota/Penghijauan terdapat perbedaan skor 0.335.036. Dari alternatif yang dipilih pada zone IV dalam pemanfaatan TPA Pascaoperasi Berbasis Masyarakat maka prioritas utama adalah TPA Terpadu. sedangkan antara penambangan gas dan energi listrik dengan lahan budidaya memiliki perbedaan skor 0. maka dapat dibandingkan perbedaan skor dan alternatif ketiga teratas. .081.243.109.052. 0.335.027 dan 0. Artinya ketiga alternatif pemanfaatan tersebut secara fisik-kimia. 0. sedangkan antara penambangan gas dan energi listrik dengan lahan budidaya memiliki perbedaan skor 0. 0. 0.115 penambangan gas dan energi listrik perbedaannya 0. Hasil Sintesis AHP pada zone IV Hasil sintesis untuk AHP dalam penilaian zone IV adalah sebaga i berikut: Gambar: 24 Hasil sintesis AHP untuk penggunaan pada zone IV Gambar 24 menunjukkan bahwa urutan peringkat alternatif tiga teratas pada zone IV pemanfaatannya adalah: TPA Terpadu dengan nilai 0. D.243. 0.008.025. 0.145.

Selain dapat membandingkan peringkat antara zone untuk pemanfaatan lahan.342. Dari alternatif yang dipilih pada zone V dalam pemanfaatan TPA Pascaoperasi Berbasis Masyarakat. 0. mikrobiologi dan sosial ekonomi serta kesehatan masyarakat pada zone V mempunyai daya dukung lebih baik dibanding alternatif sisanya. dan 0.195. Hutan Kota/Penghijauan dengan nilai skor 0. berdasarkan analisis kesesuaian lahan dengan menggunakan AHP dengan skor berturut-turut: 0.077. sedangkan pada zone III sampai dengan zone V terbaik untuk TPA Terpadu.147.070. Hasil Sintesis AHP pada zone V Hasil sintesis untuk AHP dalam penilaian zone V adalah sebagai berikut: Gambar: 25 Hasil sintesis AHP untuk penggunaan zone V Gambar 25 menunjukkan bahwa urutan peringkat alternatif tiga teratas pada zone V pemanfaatannya adalah: TPA Terpadu dengan nilai 0. 0.387.147. Prioritas pemanfaatan TPA setiap zone Terlihat bahwa hasil AHP menunjukkan untuk pemanfaatan TPA Bantar Gebang pascaoperasi pada zone I dan zone II alternatif terbaik adalah untuk hutan kota/penghijauan.342. maka dapat dibandingkan perbedaan skor dan alternatif ketiga teratas. sedangkan antara penambangan gas dan energi listrik dengan lahan budidaya memiliki perbedaan skor 0.044.010. 0. dan penambangan gas dan energi listirk dengan nilai skor 0.045 dan Hutan Kota/Penghijauan dengan penambangan gas dan energi listrik perbedaan skor 0. F.387. Jadi dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan TPA pascaoperasi dapat .116 E. maka prioritas utama adalah TPA Terpadu. 0. Secara teoritis perbedaan kesesuaian lahan untuk TPA Terpadu dengan Hutan Kota/Penghijauan sangat kecil. Misalnya antara TPA Terpadu dengan Hutan Kota/Penghijauan terdapat perbedaan nilai skor 0. Artinya ketiga alternatif tersebut secara fisik-kimia.

Faktor pembatas masingmasing pemanfaatan lahan yaitu: TPA Terpadu. dan TPA Bantar Gebang dijadikan pusat kajian pengelolaan sampah negara Asia. dan (5) Instalasi Pengelolaan Air Sampah. sedangkan pada zone III sampai dengan zone V dijadikan TPA yang dapat menampung sampah dari DKI Jakarta dan Kota Bekasi. sehingga dapat dijadikan acuan dalam rencana pemanfaatan TPA pascaoperasi. penambangan gas dan energi listrik. Dengan memanfaatkan lahan TPA setiap zone secara proporsional. lahan budidaya. pilihan pemanfaatan TPA Terpadu dapat dilihat dari tingkat kesesuaiannya. pariwisata. (3) ketinggian sampah. untuk zone I dan zone II dijadikan untuk hutan kota/penghijauan. (2) mulai digunakan setiap zone. Untuk pemanfaatan perumahan dan industri tidak direkomendasikan. dan . Pilihan pemanfaatan lainnya yang dapat dikembangkan adalah hutan kota/penghijauan. penambangan gas dan energi listrik. memiliki potensi untuk kompos cukup besar. pengelolaannya cukup baik. lapangan golf. karena sangat banyak faktor pembatasnya. maka harus mempertimbangkan: (1) Luas lahan setiap zone. kawasan ini strategis dan terjadi keterpaduan dalam pemanfaatan lahan setiap zone. maka TPA Terpadu akan mendapat suplai sampah organik untuk proses pembentukan kompos sekaligus melakukan penanaman pohon penghijauan. Dari alternatif yang dipilih dalam pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyarakat adalah TPA Terpadu. tetapi untuk suatu kawasan zone. maka pengambilan kebijakan dapat memilih 3 alternatif yang peringkat kesesuaian lahannya berada di atas. maka faktor pembatas di tiap-tiap zone harus diminimalkan dan apabila memungkinkan dihapuskan.117 digunakan sebagai TPA Terpadu. keterlibatan masyarakat sekitar sudah ada dalam pengelolaan. sehingga memerlukan masukan tinggi untuk meningkatkan kualitas kawasan setiap zonenya. Bagi pengambil kebijakan. perumahan. (4) lahan yang efektif digunakan. pengelolaan TPA dilaksanakan oleh pihak swasta yang melibatkan masyarakat sekitar TPA sebagai operator dan pemulung untuk mengambil sampah yang dapat di jadikan daur ulang. hutan kota/penghijauan. hal ini sangat baik dilakukan mengingat TPA sampah pada kondisi saat ini masih dapat digunakan. dan akan mengurangi beban TPA terhadap sampah non organik dan akan mempengaruhi usia dari TPA itu sendiri dengan tetap menjaga keselamatan pekerja dan kelestarian lingkungan sekaligus proses pembuatan kompos karena pada TPA tersebut memiliki potensi cukup besar. lahan budidaya. Untuk meningkatkan tingkat kesesuaian lahan untuk alternatif pemanfaatan.

Dalam analisis ini digunakan suatu alat bantu (software) Prospektif Analysis untuk mengkalkulasi pengaruh langsung dan tidak langsung antar faktor. faktor kunci atau penentu yang diperoleh dari analisis kebutuhan (need analysis) dari semua pihak yang berkepentingan terhadap sistem yang dikaji melalui diskusi para pakar dengan bantuan kuesioner. dilakukan tiga tahap. sosial ekonomi dan kesehatan masyarakat) dan AHP memberikan gambaran tentang keadaan (existing condition) fisik-kimia. Analisis prospektif bertujuan untuk mempersiapkan tindakan strategis di masa depan dengan cara menentukan faktor kunci yang berperan penting terhadap kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. faktor kunci atau penentu yang berasal dari atributatribut yang sensitif mempengaruhi nilai indeks TPA saat ini (existing condition) pada setiap dimensi dan kedua. mikrobiologi. mengidentifikasi faktor kunci atau penentu di masa depan. Kemungkinan keadaan di masa depan tersebut diformulasikan dalam bentuk skenario strategi pemanfaatan TPA pascaoperasi. mendefinisikan dan mendiskripsikan evolusi kemungkinan masa depan sekaligus menentukan strategi prioritas sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki oleh para pelaku utama dan implikasinya bagi sistem yang dikaji. menentukan tujuan strategis dan kepentingan pelaku utama. Untuk menentukan faktor kunci atau penentu dalam pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyarakat sebagai TPA Terpadu di masa yang akan datang.6. A. mikrobiologi serta sosial ekonomi dan kesehatan masyarakat di wilayah studi pada saat ini. 4. Analisis prospektif mengeksploitasi kemungkinan di masa yang akan datang sesuai dengan tujuan yang sudah ditetapkan. Tiga tahap analisis yang perlu dilakukan dalam analisis prospektif. yaitu: 1). 2).118 industri. Implikasi Kebijakan Skenario Prospektif Masa Depan Implikasi kebijakan ini dirancang berdasarkan analisis prospektif yang merupakan suatu kajian tentang kemungkinan di masa yang akan datang. yaitu: pertama. urutan prioritas dan kendala pengembangannya dilakukan agar pengambil kebijakan. dan 3). pelaksana lapangan serta investor dapat memperhitungkan kendala serta biaya investasinya apabila akan dikembangkan. Tahapan analisis yang telah dilakukan sebelumnya (fisik kimia. dari tiga alternatif pemanfaatan peringkat teratas. Existing Condition .

coli 13. 6. Persepsi masyarakat keberadaan TPA 17. Lalat 12.119 Berdasarkan hasil analisis pemanfaatan TPA pascaoperasi sebagai TPA Terpadu pada existing condition. Luas lahan 108 ha Volume sampah Tinggi tumpukan sampah IPAS Kimia: 5. Kesehatan Masyarakat . berupa fisik-kimia. 9. 7. Kualitas air lindi Kualitas air sungai Kualitas air sumur Gas metana Kualitas udara 10. Pengelola TPA 19. Tingkat pendidikan masyarakat 15. Pemulung 18. Kebisingan Biologi: 11. Pendapatan masyarakat sekitar TPA 16. 8. 4. E. biologi dan sosial ekonomi serta kesehatan masyarakat berupa 19 atribut yang sensitif mempengaruhi nilai indeks yaitu: Fisik: 1. 3. Coliform Sosial ekonomi dan kesehatan masyarakat 14. 2.

dari 19 faktor tersebut didapatkan sebanyak enam faktor yang mempunyai pengaruh tinggi terhadap kinerja sistem dan ketergantungan antar faktor yang tinggi pula.00 2. 2).50 Luas lahan 108 ha 1. 5).120 Gambaran Tingkat Kepentingan Faktor-Faktor yang Berpengaruh pada Sistem yang Dikaji 3.50 Ketergantungan Gambar 26. Luas lahan 108 ha. 3).00 Pengaruh Kualitas air lindi Kesehatan masyarakat Pengelola TPA 1.00 Volume Sampah 2. Volume Sampah. Kesehatan masyarakat. Tingkat kepentingan faktor-faktor existing condition yang berpengaruh pada pemanfaatan TPA Terpadu.50 Tinggi Tumpukan Sampah IPAS 2. yaitu: 1). Faktor tersebut adalah sebagai berikut: 1) Pendanaan 2) Dukungan PEMDA 3) Dukungan DPRD 4) Dukungan Masyarakat 5) Teknologi 6) Sumberdaya Manusia . coli Pindidikan masyarakat Coliform Kualitas udara Lalat Kebisingan Persepsi masyarakat pada Kualitas air sumur Pendapatan masyarakat sekitar keberadaan TPA TPA - 0. 6).50 E. Pengelola TPA.00 Pemulung Kualitas air sungai Gas metana 0. Need Analysis Hasil identifikasi faktor kunci atau penentu berdasarkan hasil need analysis dari para pelaku utama (responden) diperoleh sebanyak 19 faktor kunci atau penentu untuk mewujudkan pemanfaatan. Tinggi Tumpukan Sampah. B.50 2. Kualitas air lindi serta satu faktor yang mempunyai pengaruh yang tinggi dengan ketergantungan antar faktor yang rendah.00 1. IPAS. Berdasarkan nilai pengaruh langsung antar faktor seperti yang disajikan pada Gambar 26. yaitu: 1).50 1. 4).

Teknologi (Gambar 27).50 2. 4).50 1.00 Pengaruh Keterlibatan Swasta Dukungan PEMDA Pendanaan Peraturan Perundangan Donor Agency Teknologi Tata Ruang Keterlibatan Pusat Keamanan Dukungan Masyarakat Kelembagaan Kebijakan Pemerintah Partisipasi Masyarakat Sumberdaya Manusia 1.00 2.121 7) Peraturan Perundangan 8) Kelembagaan 9) Tata Ruang 10) Kebijakan Pemerintah 11) Kerjasama lintas Sektor 12) Keterlibatan Pusat 13) Donor Agency 14) Keterlibatan swasta 15) Keamanan 16) Konflik 17) Proses akumulasi dan degradasi 18) Partisipasi masyarakat dalam perencanaan 19) Kualitas lingkungan sekitar TPA Berdasarkan penilaian pengaruh langsung antar faktor. 5). Dukungan Pemda. yaitu: 1).50 Konflik Proses Akumulasi dan degradasi Kualitas lingkungan Kerjasama Lintas Sektor - 0. Pendanaan.50 1. Dukungan Masyarakat. . dari 19 faktor yang teridentifikasi didapatkan sebanyak lima faktor yang mempunyai pengaruh tinggi terhadap kinerja sistem dan ketergantungan antar faktor yang juga tinggi yaitu: 1). Kelembagaan serta empat faktor yang mempunyai pengaruh yang tinggi walaupun ketergantungan antar faktor yang rendah.50 Dukungan DPRD 2.00 0. Keterlibatan swasta: 2).50 Ketergantungan Gambar 27. Dukungan DPRD. 3). Donor agency.00 2. Peraturan perundangan. Gambaran Tingkat Kepentingan Faktor-Faktor yang Berpengaruh pada Sistem yang Dikaji 3. 4). Tingkat Kepentingan faktor-faktor need analysis yang berpengaruh pada sistem pemanfaatan TPA Terpadu. 3).00 1. 2).

60 1.00 1.20 1.20 0.00 1.122 C. Selanjutnya di antara 16 faktor tersebut yang memiliki kesamaan dapat digabungkan.20 1.20 0.80 2.60 0. No Existing Condition Need Analysis 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Volume sampah Tinggi tumpukan sampah IPAS Luas lahan 108 ha Kualitas air lindi Pengelola TPA Kesehatan masyarakat Kelembagaan Dukungan DPRD Dukungan PEMDA Pendanaan Dukungan Masyarakat Keterlibatan Swasta Peraturan Perundangan Donor Agency Teknologi Gambaran Tingkat Kepentingan Faktor-Faktor yang Berpengaruh pada Sistem yang Dikaji 2. Tabel 28. Gabungan Antara Existing Condition dan Need Analysis Berdasarkan hasil analysis tingkat kepentingan antar faktor pada tahap pertama dan kedua (Gambar 26 dan 27) maka diperoleh sebanyak 11 faktor kunci atau penentu (6 faktor dari existing condition dan 5 faktor dari need analysis) dan 5 faktor yang mempunyai pengaruh yang tinggi walaupun ketergantungan antar faktor yang rendah (1 faktor dari existing condition dan 4 faktor dari need analysis).00 0. Faktor-faktor penentu atau kunci hasil gabungan faktor existing condition dan need analysis. sehingga faktor kunci atau penentu gabungan menjadi 15 faktor (Tabel 28).40 1.80 0.40 0.80 1.00 Ketergantungan Dukungan masyarakat Gambar 28.40 Pengaruh 1.60 Kesehatan Masyarakat Kelembagaan Dukungan DPRD Keterlibatan Swasta Peraturan Perundangan Teknologi Pendanaan Donor Agency Kualitas air lindi Tinggi tumpukan sampah Dukungan PEMDA Volume sampah 0.80 Luas lahan IPAS 1. Tingkat kepentingan faktor-faktor gabungan antara existing condition dan need analysis yang berpengaruh pada sistem TPA Terpadu. .60 1.40 0.

Instalasi Pengolahan Air Sampah (IPAS) IPAS bebannya perlu dijaga dengan menambahkan bangunan interciptor agar air hujan tidak masuk. Dengan demikian ketujuh faktor tersebut perlu dikelola dengan baik dan dibuat dengan berbagai keadaan (state) yang mungkin terjadi di masa depan agar terwujud sistem TPA Terpadu di TPA Bantar Gebang pascaoperasi berbasis masyarakat. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. COD sampai batas yang dipersyaratkan baku mutu lingkungan. dan 3) donor agency. yang efektif digunakan 69 ha. 3) Peraturan Perundangan. 2) keterlibatan swasta.600 m² dan zone V luas 95. zone IV sebesar. TPA wajib dilengkapi dengan zone penyangga yang berfungsi untuk mengurangi akibat dari gangguan bau. dan 4) Pendanaan. Perbaikan sarana dan prasarana TPA harus dilakukan seperti 4 buah IPAS yang ada. . Deskripsi masing. 2) IPAS. dan aerator ditingkatkan kapasitasnya sampai 130 persennya. zone II sebesar 113.123 Analisis tingkat kepentingan antar faktor sebagaimana disajikan pada gambar 28 menunjukkan bahwa terdapat empat faktor yang mempunyai pengaruh tinggi terhadap kinerja sistem dan ketergantungan antar faktor yang tinggi pula. (beraspal).000 m Setiap zone dikelilingi dengan jalan yang kondisinya cukup baik ².masing faktor kunci hasil analisis pengaruh langsung antar faktor sebagaimana Gambar 28 adalah sebagai berikut: a. Pemda Kota Bekasi. Mensyaratkan perbaikan IPAS ke kapasitas beban penutupan permukaan sampah dengan soil cover dan meratakan (compaction) sesuai standar dan m elengkapi dengan aerator. dibagi 5 zone.16 tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (Pasal 21 Ayat (2). swasta dan masyarakat. 106. Luas Lahan Pemanfaatan lahan TPA Bantar Gebang pada zone I. luas zone I sebesar 168. yaitu: 1) teknologi.000 m². dengan menghilangkan unsur toxic melalui pengolahan kimia-fisik sebelum memasuki proses biologi. TPA Bantar Gebang mempunyai luas 108 ha. sepanjang deposit sampah belum di exploitasi. IV dan zone V . perlu dilengkapi dengan rencana tindak sebagai arah dan acuan Propinsi DKI Jakarta. yaitu: 1) luas lahan. kebisingan dan estetika. pengelolaannya perlu ditingkatkan dengan pengurangan BOD. serta tiga faktor yang mempunyai pengaruh yang tinggi walaupun ketergantungan antar faktor yang rendah. III.800 m². II. b.000 m². zone III sebesar 202.

Penegakan hukum tentang kebersihan (termasuk sampah) masih lemah.lokasi TPA kecil. perlindungan hukum bagi stakeholders serta sebagai landasan untuk kebijakan. Dengan perubahan paradigma pengelolaan kebersihan mengikuti hasil kajian ini. pengelolaan sumberdaya manusia dan pengembangan riset dan teknologi. maka perlu diuraikan lebih lanjut aspek kelembagaan dan dasar hukumnya. Aspek hukum harus dikembangkan untuk: Pembagian tanggung jawab dalam pengelolaan sampah. diperlukan penataan kembali peraturan yang telah ada. lintas sektor. dan berbagai paket pekerjaan yang terbuka peluanganya dalam kebijakan pengelolaan kebersihan sampah padat misalnya . meliputi aspek hukum. program dan kegiatan pada pengelolaan sampah. Selain itu perumusan dasar hukum mencakup ketentuan fungsi operator yakni: menerima limpahan wewenang dan tanggung jawab pengelolaan sampah dari Pemerintah Daerah. pengangkutan sampah dari TPS ke SPA/TPA atau dari SPA ke TPA. konsisten. pendidikan sosial. dan Perubahan cakupan daerah pelayanan. terpadu. Kebijakan jangka panjang "harus ditegakan".124 c. dan Peraturan hukuman terhadap pembuangan sampah ilegal. Pengawasan lokasi. perencanaan. Pengawasan terhadap pengumpulan sampah yang dilaksanakan pihak swasta. efektif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat perlu adanya Undang-undang pengelolaan sampah sebagai kepastian hukum. SK Gubernur dan Instruksi Gubernur sesuai kebutuhan. Upaya untuk memebrikan landasan hukum yang kuat dalam pengelolaan sampah yang komprehensif. serta penerbitan peraturan yang baru baik berupa Perda. Peraturan Perundangan Kemauan politik dari pengelola persampahan dan kesadaran masyarakat akan bahaya yang ditimbulkan dari pengelolaan sampah yang kurang tepat sangat diharapkan ketimbang harus terus menerus berkonflik dengan pihak-pihak pengelola sampah. Dinas Kebersihan yang akan melaksanakan tugas operasional antara lain meliputi: penyapuan jalan-jalan utama. baik menyangkut aspek institusi maupun teknis operasional. untuk mendukung sistem pengelolaan sampah yang baru. Perubahan fungsi pelaku pelayanan antar regulator (Dinas Kebersihan) dan operator (Dinas Kebersihan dengan swasta atau swasta penuh). Hal-hal mendasar yang menyebabkan perubahan paradigma adalah: Struktur pengelolaan kebersihan lebih terarahkan pada bentuk korporasi dan bukan lagi sepenuhnya di Pemerintah Daerah.

pinjaman rupiah murni dari Pemerintah Pusat serta Bank Pemerintah dan Bank Komersial. Sepanjang ada kegiatan pembuangan sampah ke TPA. akan menarik investasi. Perubahan kebijakan pengelolaan sampah DKI Jakarta dimasa akan datang menyangkut waktu dan investasi yang signifikan. d. Pemda DKI Jakarta menganggarkan dana setiap tahunnya. Sampah merupakan komoditi ekonomi. mengacu Undang-undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. sehingga berkemungkinan menghasilkan PAD. . harus diperhitungkan dalam menentukan teknologi sampah.125 menerima konsesi pelayanan suatu daerah atau kawasan tertentu. Pendanaan Terbatasnya dukungan dana untuk operasional dan ivestasi pengelolaan TPA. jalan lingkungan prasarana dan sarana ke PU-an). Biaya pendampingan investasi oleh swasta hendaknya dibatasi pada dana conterpart seperti prasarana dan sarana pendukung yang strategis (antara lain penyediaan lahan. bila sampah diolah menjadi barang yang bernilai ekonomi. menunggu terbentuknya Badan Usaha tersebut. Dengan perubahan dasar hukum ini selanjutnya diatur pelaksanaan perubahan tata laksananya secara bertahap seperti halnya keadaan yang selama ini sudah berlangsung sesudah terjadinya kebijakan swastanisasi persampahan sejak tahun 1990an. dalam rangka merealisasi addendum SKB. Alternatif sumber dana pinjaman jangka panjang yang saat ini dapat diajukan oleh Pemerintah DKI Jakarta adalah pinjaman dari Pemerintah Pusat yang dananya dari luar negeri. yang juga akan berakhir pada tahun 2006. Dalam perjanjian kerja sama antara Pemerintah DKI Jakarta dengan Pemerintah Kota Bekasi disebutkan bahwa pengoperasian TPA Bantar Gebang akan dilaksanakan oleh Badan Usaha yang harus terbentuk paling lambat tahun 2006. lembaga keuangan bank. lembaga keuangan bukan bank dan masyarakat. hal ini memungkinkan Pemerintah DKI Jakarta untuk memperoleh pinjaman jangka panjang dari Pemerintah Pusat. . atau dengan kata lain Dinas Kebersihan secara berangsur melepas perannya sebagai operator terutama bagi pelayanan terhadap daerah cukup mampu. pertimbangan investasi yang murah salah satu kriteria. saat ini TPA Bantar Gebang dioperasikan oleh PT. Patriot Bangkit Bekasi. Pemerintah Daerah lain. maka untuk pelaksanaan pembangunan prasarana dan sarana diperlukan dana besar. menyelenggarakan investasi pemusnahan sampah.

pada dasarnya sama dengan TPST (Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu). Fasilitas ITF yang menggunakan beberapa jenis teknologi secara terpadu pada satu lokasi. masyarakat sekitar dan pemerintah. besi/logam. memakai kembali (re-use).lain untuk . antara lain pemilahan upaya mengurangi (reduce). sebuah ITF dapat menggunakan satu atau lebih teknologi. Pemilihan teknologi yang dapat memadukan beberapa metode pemusnahan sampah yang sudah ada. botol. bagi lingkungan dan potensi ekonomi dapat digali dari tumpukan sampah di TPA dengan proses pemilahan sebagai berikut: 1). sampah dapat diurai sesuai dengan bahan dan jenisnya untuk memindahkan proses pengelolaan selanjutnya. sistem ini diharapkan mencakup komposting sampah pasar. Pengembangan teknologi harus memperhatikan kriteria dan standar minimal penentuan lokasi penampungan akhir sampah. tiap daerah pelayanan harus dipandang sebagai TPST. Metode pengelolaan sampah dengan sistem pemilahan juga dapat menimbulkan multiplier effect baik bagi lingkungan. kendala. Manfaatnya adalah untuk menggali potensi dari bagian-bagian sampah tersebut serta kompos yang dihasilkan untuk memperbaiki lingkungan serta dapat menghemat penggunaan lahan TPA. hutan kota/penghijauan dan lingkungan permukiman. Sebagai fasilitas tunggal. kebutuhan lahan. Secara khusus. penetapan lokasi pengelolaan akhir sampah. efisiensi dan efektifitas. 2). Sampah non organik yang bernilai ekonomi: plastik. tergantung dari faktor. luas minimal lahan untuk lokasi pengolahan akhir sampah dan penetapan lahan penyangga (buffer zone). dan minimal daur ulang sampah yang tidak dapat dibakar. sebagai tambahan proses daur ulang. kaca dan lain. Teknologi Intermediate Treatment Facility (ITF) adalah teknologi yang merubah bentuk. komposisi dan volume sampah padat dengan tujuan mereduksi jumlah sampah atau residu yang harus dibuang ke TPA. kardus. sejumlah teknologi tersebut dapat digunakan. Sebagai satu sistem. Sampah organik yang tertimbun diolah menjadi kompos untuk meningkatkan kesuburan tanah di sekitar lokasi TPA. mendaur ulang (recyeling) sampah dan mengganti (replace) secara terpadu. kayu.126 e. Jadi. biaya. kertas. Teknologi pengelolaan atau pemusnahan sampah yang diyakini dapat mengurangi polusi udara dan yang dilaksanakan sebaiknya sanitary landfill (sampah ditumpuk dikubur pada daerah yang cekung atau lokasi yang sudah digali lalu dipadatkan dan dilapisi tanah penutup). bagi sampah yang terkumpul di TPA.

seluruh asset ditransfer kepada Pemerintah DKI Jakarta. Banyak swasta yang berminat untuk investasi dalam pembangunan dan pengoperasian prasarana pengelolaan sampah. swasta bergerak karena ada pembiayaan dari APBD. dalam hal ini investor swasta mungkin harus membayar bunga yang lebih tinggi. dimana setelah habis masa kontrak. Lebih jauh swasta dapat diberdayakan menjadi mandiri dengan status operator. kontrak jangka panjang atau kerjasama dengan mitra internasional diatur dalam peraturan daerah. Kerjasama dengan pihak swasta saat ini masih cost center. atau Built Operate and Transfer (BOT). TPA. dalam kenyataannya sumber dana mereka juga sangat tergantung dari bank. swasta dan masyarakat. dengan pembagian tugas dan tanggung jawab secara proporsional. insinerator) termasuk pengoperasiannya. Pada umumnya swasta akan berusaha sebagian besar dana investasinya pinjaman bank jangka panjang. conblok. dimana Dinas Kebersihan akan lebih memfokuskan sebagai regulator setatusnya sebagai pembina. Diperlukan swasta dalam rangka penanganan pembangunan akhir sampah yang melibatkan semua pihak terkait. pengatur dan pengawas. Oleh karena itu. jika kerjasama dalam jangka panjang.127 bahan baku daur ulang. Keterlibatan Swasta Swasta telah berperanserta dalam pengelolaan sampah seperti pengoperasian SPA Cakung dan TPA Bantar Gebang. internit dan lain sebagainya. abunya dijadikan bahan pembuatan batako. terutama dalam investasi. Kemitraan dengan swasta dalam penyediaan pelayanan dan investasi prasarana dan sarana persampahan dengan meningkatkan iklim yang kondusif bagi kemitraan Pemerintah. Sampah non organik tidak bernilai ekonomi. f. Masyarakat dan swasta diberi peran . jangka waktu pengembalian pinjaman juga lebih pendek daripada jangka waktu yang diberikan. keterlibatan investasi swasta dalam pembangunan dan pengoperasian prasarana persampahan akan mengakibatkan peningkatan faktor biaya modal. bagianbagian sampah yang sudah hancur kemudian dibakar. yaitu sekitar 15 % per tahun. untuk membangun pasilitas pengolahan sampah (SPA. Kerjasama dengan mitra swasta untuk kontrak jangka pendek dibawah lima tahun cukup menjadi kewenangan Gubernur. Perlu ditingkatkan. disamping itu. jika kerjasama dalam jangka panjang dimana permodalan dan resiko investasi sepenuhnya pada mitra swasta. daripada tingkat bunga yang dikenakan. dan 3). Kerjasama dengan swasta dapat berwujud Built Operate and Own (BOO).

termasuk 5 tahun periode bebas bunga (contoh 15 tahun periode pembayaran kembali). saat ini pengoperasian TPA oleh PT. 2). termasuk 7 tahun periode bebas bunga (contoh 18 tahun periode pembayaran kembali) dengan suku bunga 4% per tahun. sungai dan kanal. Pinjaman dalam negeri. hal ini tidak mencakup investasi untuk pengumpulan sampah pasar. Pinjaman dalam negeri dimaksudkan untuk didanai melalui Departemen Keuangan via saluran rup iah murni Rekening Pembangunan Daerah. Kedua: Pinjaman luar negeri setara dengan 60% dari kebutuhan investasi dari rencana investasi proyek. Dinas Kebersihan akan memusnahkan sampah pasar dan akan bertanggung jawab untuk pengangkutan dan pemusnahan sampah sungai dan kanal. g. Pengoperasian TPA diatur berdasarkan Perjanjian Kerja antara Pemerintah Propinsi DKI Jakarta dengan Pemerintah Kota Bekasi tentang Pemanfaatan lahan TPA Bantargebang Kota Bekasi sebagai Tempat Pembuangan dan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang ditandatangani tanggal 2 Juli tahun 2004. jangka waktu 20 tahun. jangka waktu 25 tahun. pertama. mengutamakan perbaikan pengembangan lokasi TPA Bantar Gebang. Rasional usulan rencana finansial harus didukung dengan pertimbangan sebagai berikut: Pertama: Kontribusi APBD per tahun. Pinjaman luar negeri. Analisis tingkat . dan kedua perluasan areal TPA. Donor Agency Investasi mencakup perbaikan pengumpulan sampah. perlu dirangsang untuk mau lebih berperan aktif dalam pengelolaan persampahan dengan pendekatan win-win solution. Sumber pinjaman luar maupun dalam negeri dalam bentuk subsidiary loan agreements (SLA). Patriot Bangkit Bekasi. dengan suku bunga 4% per tahun. Tahapan investasi tersebut adalah. peralatan penyapuan jalan dan bengkel. Sampai bulan Pebruari 2006 Badan Usaha tersebut belum terbentuk. Diperkirakan kondisi dasar pinjaman adalah sebagai berikut: 1). Dalam perjanjian kerjasama antara Pemda DKI Jakarta dengan Pemda Kota Bekasi disebutkan bahwa pengoperasian TPA dilaksanakan oleh Badan Usaha yang harus terbentuk paling lambat tahun 2006. pembangunan Stasiun Peralihan Antara dan pengembangan TPA. Sumber dana untuk investasi adalah anggaran tahunan (APBD) dan pinjaman luar negeri dan dalam negeri. akan tetapi.128 lebih dalam pengelolaan persampahan. yang akan tetap dibawah pengawasan instansi pemerintah yang bertanggung jawab pada saat itu. dan Ketiga: pinjaman dalam negeri untuk memenuhi keseimbangan kebutuhan finansial.

Luas lahan 108 ha 3. sedangkan keterlibatan pihak asing (donor agency) perlu dikoordinasikan terlebih dahulu dengan pihak pemerintah seperti pada gambar 29. Dukungan DPRD 2. Kualitas air lindi 2. IPAS 1. Keterlibatan swasta 1. Donor agency 3. Tabel 29. Peraturan 2. Secara skematis model pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyarakat melibatkan pihak swasta untuk mendisiminasikan faktor teknologi. need analysis dan gabungan seperti Tabel 29. Kelembagaan 1. Tinggi tumpukan sampah 6. Teknologi 2. coli dan coliform Need Analysis Gabungan 1. Donor agency 4. Luas lahan 2. Keterlibatan swasta 1. Pendanaan 3. .129 kepentingan antar faktor hasil prospektif pada existing condition. Dukungan 4. Teknologi masyarakat 5. IPAS 3. Analisis tingkat kepentingan antar faktor Hasil Prospektif Existing condition Kuadran I Kesehatan masyarakat Kuadran II Keterangan Bau Tercemar air sumur dengan e. Pengelola TPA 4. Volume sampah 5. Peraturan Periundangan 4. Dukungan Pemda Perundangan 3. Kelembagaan Perlu: Peraturan Keterlibatan swasta Donor Agency Teknologi Keterlibatan swasta Donor agency dan teknologi.

130 Donor Agency Pemerintah Swasta Teknologi TPA Terpadu Masyarakat Sekitar TPA Gambar 29: Model Pemanfaatan TPA Sampah Pascaoperasi berbasis masyarakat .

Untuk itu TPA Terpadu mempunyai kesesuaian terbaik dan sinergis antara pengelolaan sampah dengan hutan kota/penghijauan. Artinya dengan memanfaatkan menjadi TPA Terpadu secara propesional TPA menjadi kegiatan mengolah sampah dan kegiatan ekonomi dengan keterlibatan swasta sebagai pengelola. 2). Bagi masyarakat sekitar TPA. masyarakat sekitar lokasi sebagai tenaga kerja dan pemulung sebagai pemilah dan pengumpul sampah untuk di daur ulang serta lokasi tersebut dapat menjadi pusat kajian atau penelitian model pengolahan sampah Asia. dimana pemanfaatan setiap zone sebagai berikut: 1). dan sumur yang di atas dari TPA telah melampaui baku mutu lingkungan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor 2 Tahun 1988 dan Keputusan Gubernur KDH Ibukota Jakarta Nomor 1608. Dengan memanfaatkan sebagai TPA Terpadu akan menimbulkan multiplier effect bagi lingkungan. nitrit. COD. pembuatan kompos. padatan terlarut. dan kawasan TPA menjadi strategis. karena operasional TPA dapat menciptakan lapangan kerja yang melibatkan tenaga kerja unskill dalam proses pemilahan sampah. terciptanya lapangan kerja dengan pelibatan secara langsung dalam pemanfaatan TPA pascaoperasi pada saat perencanaan.1. Pencemaran fisik-kimia dan biologi di sumur bawah dan atas dari TPA seperti: pH. Kualitas rata-rata air Sungai Ciketing secara keseluruhan telah terjadi peningkatan pencemaran.131 V. BOD5. komposting serta daur ulang. c. Pemanfaatan sebagai TPA Terpadu menyatukan pemanfaatan nilai ekonomi sampah baru dan sampah lama menjadi kompos dan sampah non organik bahan daur ulang. . Zone I dan II digunakan sebagai hutan kota dan penghijauan. b. SIMPULAN DAN SARAN 5. kontruksi maupun operasi. Zone III sampai dengan Zone V sebagai TPA Sampah. pembuatan bahan bangunan dan lainnya. Jadi pemanfaatan TPA pascaoperasi terjadi keterpaduan antara hutan kota/penghijauan dan TPA sampah. masyarakat sekitar TPA dan pemerintah sebagai berikut: 1). nitrat. coli dan coliform. E. Keterpaduan pengelolaan sampah DKI Jakarta dan Kota Bekasi dengan penghijauan. potensial untuk pembuatan kompos dan proses daur ulang. Simpulan a.

pemulihan ekosistem yang rusak. terserapnya tenaga kerja unskill dapat mengurangi kerawanan sosial yang ditimbulkan karena ketiadaan lapangan kerja. 4). Luas Lahan. dan menghemat penggunaan lahan TPA. Pusat sudah saatnya merumuskan sampah regional dan menerbitkan Undang. Biaya pendampingan investasi oleh swasta dibatasi pada dana conterpart seperti prasarana dan sarana pendukung yang strategis seperti penyediaan lahan. tergantung dari dukungan masyarakat dan empat faktor yang mempunyai pengaruh tinggi dan ketergantungan yang tinggi yaitu: 1).132 2). kompos yang dihasikan dapat mengurangi tingkat keasaman tanah lahan pertanian akibat penggunaan pupuk kimia secara terus menerus. pemanfaatan lahan TPA pada zone I sampai dengan zone V perlu dilengkapi dengan rencana tindak sebagai arahan dan acuan Pemerintah DKI Jakarta. perlu segera dirumuskan. Pengembangan ekonomi lokal. menjadi sumber PAD dan penerimaan pajak bagi negara. pengolahan dan pemusnahan sampah.undang tentang pembentukan organisiasi untuk pemusnahan sampah gabungan. jasa keuangan. COD sampai batas baku mutu lingkungan. 4). membuka peluang usaha baru bagi kegiatan lainnya berupa kegiatan warung. Instalasi Pengelolaan Air Sampah (IPAS). Bagi Pemerintah Daerah. melengkapi dengan aerator dan kapasitasnya ditingkatkan sampai dengan 130 persen dan menghilangkan unsur toxic. dengan terkonsentrasinya tenaga kerja dalam jumlah besar. Bagi lingkungan. prasarana dan sarana ke PU-an. 3). Pemda Kota Bekasi. d. 2). Berhasil tidaknya TPA Terpadu. ketring serta usaha rumah/kost/pengontrakan rumah. 3). perlu ditingkatkan dengan pengurangan BOD. jalan lingkungan. 5). Pendanaan. kompos yang dihasilkan bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan lingkungan melalui kegiatan penghijauan. Dasar hukum tentang fungsi operator seperti menerima limpahan wewenang dan tanggung jawab pengelolaan sampah dari Pemerintah Daerah. disamping itu kompos dapat meningkatkan produktivitas lahan serta membantu perairan dalam menga tasi kelengkapan fisik. Dana pinjamman jangka panjang Pemda DKI Jakarta mengacu . hasil produk kegiatan ini. Peraturan Perundangan. Bagi pertanian. swasta dan masyarakat. segera dibuat standar pengumpulan.

Pengembangan kemitraan dengan swasta dalam penyediaan pelayanan dan investasi prasarana dan sarana persampahan dengan meningkatkan iklim yang kondusif. 5. mendaur ulang (recyeling) sampah dan mengganti (replace) secara lebih terpadu. investasi ini mengutamakan perbaikan pengembangan lokasi TPA. Keterlibatan swasta. Pemilihan teknologi agar dapat memadukan beberapa metode pemusnahan sampah upaya mengurangi (reduce). Model pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyarakat melibatkan pihak swasta untuk mendisiminasikan faktor teknologi. Teknologi.2. Agar TPA Terpadu dapat efektif dan optimal.fisik sebelum memasuki proses biologi. perlu ditingkatkan dengan pengurangan BOD dan COD sampai dengan batas yang dipersyaratkan baku mutu lingkungan agar tidak mencemari sungai dan sumur-sumur penduduk sekitar TPA. sampah yang ke TPA terlebih dahulu dilakukan pemisahan sampah organik dan an organik dan memperhatikan . memakai kembali (re-use). Pengelolaan air lindi pada IPAS 1 sampai dengan IPAS 4 sebaiknya masih tanggung jawab Pemerintah DKI Jakarta. dan 3). beban IPAS perlu dijaga dengan menambahkan bangunan interciptor agar air hujan tidak masuk dan melengkapi IPAS dengan aerator.133 Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. 2). Faktor dominan dalam pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyarakat. e. SARAN a. Serta tiga faktor yang mempunyai pengaruh tinggi walauapun ketergantungan antara faktor yang rendah: 1). dan kapasitasnya ditingkatkan sampai 130 %. Perlu ditingkatkan dan dikembangkan untuk berinvestasi membangun fasilitas pengelolaan sampah termasuk pengoperasiannya. b. hasil gabungan antara existing condition dengan need analysis antara lain adalah keterlibatan swasta. sedangkan keterlibatan pihak asing (donor agency) perlu dikoordinasikan dengan pihak pemerintah. donor agency dan teknologi. Donor Agency. Sumberdana untuk investasi adalah anggaran tahunan (APBD) dan pinjaman luar negeri dan dalam negeri dalam bentuk Subsidiary Loan Agreement (SLA). menghilangkan unsur toxic melalui pengolahan kimia.

lembaga keuangan bukan bank dan dana luar negeri. swasta dan masyarakat yang dilengkapi zone penyangga yang berfungsi untuk mengurangi gangguan bau. Keterbatasan dana operasional dan ivestasi.undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. . harus memperhitungkan dalam menentukan teknologi. Pemerintah Daerah lain. investasi yang murah salah satu kriteria. Keterlibatan masyarakat sekitar TPA dalam memanfaatkan TPA sampah pascaoperasi perlu diperhatikan oleh pengambil keputusan baik pihak pemerintah maupun swasta. yang kepemilikan sahamnya dimiliki oleh pemerintah. kebisingan dan estetika. Pemanfaatan sebagai TPA Terpadu sebaiknya digunakan bersama oleh Pemerintah DKI Jakarta dan Kota Bekasi yang secara geografis letaknya berdekatan. pemerintah daerah dan swasta serta masyarakat. Pemerintah Daerah DKI Jakarta me mungkinkan perolehan pinjaman jangka panjang dari Pemerintah Pusat. d. operator pelaksana dibentuk perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas. hal ini dapat dijadikan dasar operasional bagi pengambil keputusan. Pemda Kota Bekasi. pembangunan dan pengelolaan TPA.134 luas lahan yang efektif digunakan dan melengkapi rencana tindak sebagai acuan DKI Jakarta. Model pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi perlu dilengkapi dengan analisis dinamis agar dapat dipridiksi perubahan dari waktu kewaktu. lembaga keuangan bank. mengacu Undang. Pendampingan investasi swasta dibatasi pada dana conterpart prasarana dan sarana pendukung yang strategis seperti penyediaan lahan. c. e. jalan lingkungan prasarana dan sarana.

Bowerman.R. Participatory Research Appraisal: Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat. 1998. Alaer. G. 2001. Institut Pertanian Bogor. L. dan M.Y. Glasgow. Michigan. Participation Review.R. 1989. L. Ann Arbor Science. 1995. Bumberger.W. Bogor. 331 pp. Jhon Wiley & Sons. 1977. Chen. Yen (ed). Groundwater Hydrology. Environmental Impac Assessment. N. Agriculter. Program Pascasarjana. K.M. Departemen PU RI. I. Bouwer. Yayasan Obor Indonesia. Center. K. Arianta. G. University Glasgow Europeans Foundation. K. University of Missouri.S. London. 2002. 1975. Domestic.Tokyo. dan H. Mayo (ed). dan Sumesti.and F. Industrial. Ltd. Surabaya. J.135 DAFTAR PUSTAKA Adimihardja. Jakarta. Bandung. Costal Ecosystem Management. W. 1995.Grow-Hill Kogakusha. Kuala Lumpur. Departemen Pekerjaan Umum. International Centre for Application of Solar Energy. Community Participation in Project Management. Bernadette. Cary. Columbia. Mc. H. Hikmat. . Tata Cara Pere ncanaan Tempat Pembuangan Akhir. Landfill Resource Recovery (LRR) on LPA Bantar Gebang. Mc. 1999. 1970. Humaniora Utama Press. Jakarta. Penerbit Mutiara. Clark. 1984. 1978. Craig. Shams. Asian and Pacific Development Centre. A. Mechanisms of leachate Formation in Sanitary Landfill. 1987. J. Jakarta.F. R. Usaha Nasional. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Bali) (Tesis). Cressey. 1977. Rececling and Disposal of Solid Waste.Y.P. Azwar. F. Community Development as a Perocess. Zed Books. Butler. 1983. Aspek Sosial Lembaga Perkeriditan Desa: Paktor Penyebab Partisipasi dan Status Sosial Anggota (Kasus Perbedaan LPD Berhasil dan Kurang Berhasil di Kabupaten Badung. Metode Penelitian Air. Community Enpowerment: A Reader in Participation and Development. M dan K.Graw Hill. Panduan Pemberitaan Lingkungan Hidup (Acuan untuk Wartawan). New York.

Jakarta. Environ Mgort. Water Quality Management Course. 1992. Dinas Kebersihan DKI Jakarta.. Jakarta.N. IPB Bogor. Friedmann. H. Empowerment the politics of alternative development. Laporan Akhir Western Java Management Project. Bandung. Yayasan Nuansa Cendekia. GTZ dan Meneg LH RI. 2002. M. 2002. Findikakis. Dictionary of Social Science and Related Science and Related Science. M. Washington D. Fairchild. Versnel. 2004. 1996. Foundation Environmental Management Couses from AusAID’s PCI Project.136 Depdagri RI. Dinas Kebersihan DKI Jakarta. A. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 907/Menkes/SK/VII/2002 tentang Syarat-syarat Pengawasan Kualitas Air Minum. Godet. Environmental Impacts of Solid Waste Landfilling. Water quality criteria: A. New Jersy. Jakarta. Environmental Protection Agency. Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. and O. Jangan Menunggu Kapal Pecah. Jakarta. Littlefield. Diana. Black Will. P. Informala Sector Project Cooverative Action Research Program. Elfian. E. France. 50-1-25. 1999. Emilsalim. Report of the Committee on water quality criteria. Pemantauan Dampak Lokasi Pembuangan Akhir Sampah secara Sanitary Landfill Bantar Gebang terhadap Kualitas Air Permukaan. Banyak Tragedi Kehancuran Hutan. 2005. Lembaga Penerbit FE-UI. Garna. A. Perencanaan Partisipatif Departemen Dalam Negeri. dan A. E. 1992. Toolbox For Scenario Planning Librairie des Arts et Matiers. Bumi Makin Panas. Cambrigl. . Adams & Co. 1997. J. 1977. Pembangunan Masyarakat Desa.C. 2001. Depkes RI. 1982. Environmental El-Fadel. Enka.. J. J. Air Tanah dan Sosial Ekonomi Masyarakat di Sekitarnya. H. Environmental Agency. Scenarios and Strategies. Sistim Mulung di Sukabumi. Leckie. 1977. Paris. Pedoman Pendekatan Partisipatif Prencanaan Program Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah. 1999. Departemen Kesehatan. 1997. Solid Waste Management for Jakarta. (Tesis) Program Pascasarjana. Banjir Makin Luas.J. Evaluasi Pemantauan TPA Sampah Bantar Gebang Bekasi.

Final Report Evaluasi Pemanfaatan TPA Bantargebang Kerjasama Dinas Kebersihan Propinsi DKI Jakarta. Humaniora Utama Press. (IRC) International Resource Centre (UNICEF) United Nations Children's Fund.S. Eary Choice: Political Participation In Developing Countries Harvard University Press. . Konsultan Independen. Y. Kota Bekasi. Bogor. Massachusets. Jurusan Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan.A. Metoda dan Teknik Analisis Kualitas Air. Kota Bekasi Dalam Angka. Perencanaan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. J. 1993. Koentjaraningrat. MacArdle. B. PPLHLembaga Penelitian IPB. Haeruman. 1979.137 Hadiwiyoto. Bekasi. 1984. Institut Pertanian Bogor. Kesehatan Lingkungan. Masyarakat Desa di Indonesia. Nilson. Pengelolaan yang Berkesinambungan dalam Program Penyediaan Air Bersih dan Sanitasi. H. 1993. S. Juli. S. H. 1989. Bandung. 2002. Yogyakarta. FES. Jakarta. Hardjomidjojo. Gajah Mada University Press. Strategi Pengembangan dan Peningkatan Pembangunan Masyarakat dalam Pembangunan Desa: Suatu Evaluasi dan Tinjauan Perspektif Masa Depan. Community Quartely Journal. Jakarta. YTKI Departemen Agama. 1992. Samuel P. Jensen. dan E. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. Badan Pusat Statistik. Spring Research Series Planning as a Dialogue. Cambrige. Hamidjojo. 16. 1999. Vol. Pusat Penelitian Sumberdaya Manusia dan Lingkungan Universitas Indonesia dan Pusat Studi Pengembangan Lingkungan Universitas Islam ”45” Bekasi. 2001. Jakarta. Peranan Pemuka-Pemuka Agama Dalam Peningkatan Partisipasi Agama Dalam Pembangunan. Hikmat. Jakarta. Huntington. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. BKKBN. Sekolah Pascasarjana. Husin. Hassan. Penanganan dan Pemanfaatan Sampah. Bahan Kuliah Analisis System dan Permodelan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan. 1994. 1977. Jakarta. No. Yayasan Dian Desa. 2003. S. and Joan M. 1992. 1999. Community Development Tools of Trade. 1973. Kustaman. Yayasan Idaya. Panduan Analisis Prospektif. Program Pascasarjana IPB Bogor.

or. Oppenheim. Questionnare Design and Attitude Measurement.id/prapar. Menteri Negara Lingkungan Hidup. Pescod. Fakultas Teknologi Pertanian. Jakarta. I. Peluang Kerja dan Berusaha di Pedesaan BPEE. 2004. 2003. Group Pengembangan Teknologi Manajemen dan Sistem Informasi Jurusan Teknologi Industri Pertanian. Jakarta. Pemda DKI Jakarta. Kebijaksanaan. 1999. Himpunan Peraturan Perundang-undangan di Bidang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pengendalian Dampak Lingkungan Era Otonomi Daerah. Diedit oleh Bambang Rudito. 1997. Analisis Dampak Lingkungan Pembangunan dan Pengelolaan TPA Bantar Gebang Bekasi. London. Strategi dan Rencana Aksi Pengelolaan Lingkungan Hidup. http://www. 1993. Partisipasi Manipulatif: Catatan Reflekktif tentang Pendekatan PRA dalam Pembangunan Masyarakat.138 Marimin. 2003. 1999. Heinemanm. Marzali. Investigation of Rational Effluen and Stream Standa rd for Tropical Countries. Penyelesaian persoalan AHP (Analytical Hierarchy Process) dengan Criterium Decision Plus. Meneg LH RI. Water Quality Criteria. 1997. 2004. 1985. M.N. Pascasarjana IPB Bogor. Washington. Modern Social Work Theory. Adi Prasetijo. AIT. Macmillan Press Ltd. Jakarta: Koperasi Bapedal Lestari. Penerbit ICSD. dan Kusairi. Jakarta. Federal Water Pollution Control Administration. NTAC. IPB. A. 1973. Jakarta. Bangkok. S. Yogyakarta. Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk. Mubyarto. Moeliono.balaidesa.B. . Gramedia Widiasarana Indonesia. Marimin. 1973. 1968.htm. Pengelolaan Sampah Pola Padang. Payne. 2000-2025. Partoatmodjo. London. Meneg LH RI dan Japan International Cooperation Agency (JICA). M. The Study for Development of Regulatory System of Solid Waste Management. A. 2002. Meneg LH RI. Bahan Kuliah masalah Pembangunan da n Lingkungan. Teknik Identifikasi Kebutuhan dalam Program Community Development dalam Akses Peranserta Masyarakat: Lebih Jauh Memahami Community Development.

1989. 1970. Schmeider. Penerbit IRE Press Yogyakarta. Siegel.L. Saeni. dan Santoso. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bandung. Dalam Seminar Pengelolaan Sampah di Kotamadya Surabaya. 1987. T 1983. R. D. Partisipasi Masyarakat TaniPengguna Lahan Sawah dalam Pembangunan Pertanian di Daerah Lombok. 1986. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. CSIS. M.S. Nusa Tenggara Barat.L. untuk Ilmu. Prijono dan Pranarka.139 Poerwadarminto. Penerbit. 2002. Saaty. Kursus Dasar Penyusun AMDAL PPLH Lembaga Penelitian IPB-Bogor. Pittsburgh. Hydrologic Imlication of Solid Waste Disposal. S. M. Samom. Saeni. Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Ilmu Kimia Lingkungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Sastropoetro. (Disertasi) Program Pascasarjana. Saeni. Rozaki A.S. Sales. 1998. Bogor.C. Merubah Watak Negara. 2004. Sampah Masalah Kita Bersama. A. A. 1988.U. Alumni. Solid Waste Racycling Disposal and Management in Bangkok. Pemberdayaan: Konsep. W. J. 1991.S. 2002.S. Pustaka Utama. G. C. Yogyakarta. 1986. Decision in Complex World RWS Publication. Santoso. Balai Pustaka. M. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta. Persuasi dan Disiplin dalam Pembangunan. P. Decision Making for Leaders: The Analytical Hierarchy Process for . Kebijakan.. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Institut Pertanian Bogor. Bahan Pengejaran Kimia Lingkungan. Saruji. M. British Journal of Social Work 16(1) 65-79. . and S. IPB. The Subject in Social Work. 1986. Madiyatama Sarana Perkasa. Phunsiri. Environ Res 28:106-112. Statistik Nonparametrik. Sampah Ditinjau dari Segi Kesehatan Lingkungan. 1997. Geological Survey. 1990. dan Implementasi.ilmu Sosial. Promosi Otonomi Desa. Dampak pada kualitas air. Partisipasi Komunikasi. 1996. LAPPERA. Washington D. Rojek and Chris. Jakarta. Penentuan Tingkat Pencemaran Logam Berat dengan Analisis Rambut. Sa’id. Sahidu. IPB.

. 2002. Humaniora . Metode-Metode Partisipatif Dalam Pengembangan Masyarakat. Soeratmo. F. Bandung. Jakarta. Slamet. Soeratmo. Jakarta. Gadjah Mada University Press. F. Bogor. 1988. Yogyakarta. F. Panduan Penelitian Multidisiplin. Sumitro. Suyoto. 1991. IPB. Kesehatan Lingkungan. Utama Press. (Tesis) Fakultas Pascasarjana. Soemirat. 2001. Jakarta. Penanganan Sampah di Daerah. T 1997.S. Kesehatan Lingkungan. 1980. Studi Pendahuluan tentang Komposisi Kimia Energi Pembakaran dan Mikroorganisme Dominan pada Sampah di Kotamadya Malang. T. 1994. Progress Report I Proyek Community Development Dalam Pengelolaan Sampah Secara Partisipatif di Desa Sumur Batu Kecamatan Bantar Gebang. Sumodiningrat. Syaukani.S. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Jakarta. 1999. Pemberdayaan dan Pengentasan Kemiskinan. bahan rapat teknis alternatif solusi penangan sampah di daerah. 1986. Sumardjo dan Saharudin. Persampahan. Birokrasi. Malang 3:9 -15. 1994. Surat Perjanjian antara Pemda DKI Jakarta dengan Kota Bekasi. Jakarta. Pokok-pokok Pemikiran Pemberdayaan Masyarakat. Jurnal Universitas Brawijaya. Bina Rena Pariwara. Bekasi.140 Silalahi. Bekasi.G. Soeratmo. Suryanto. Proyek Kerjasama antara Komite Pemantauan Sampah oleh YPKM dengan dukungan dana UNDP. IPB Press. Yayasan Indayu. G. H. Soekanto. 1998. 2001. Raja Grafindo Persada. Studi Kualitas Fisik -Kimia Air Kali Cakung Sehubungan dengan Daerah Industri Pulo Gadung di DKI Jakarta. Pembangunan Daerah dan Pemberdayaan Masyarakat PT.G. H. 1999. 2003. Gadjah Mada University Press. J. Gerbang Dayaku. Nomor 96 Tahun 1999/168 tentang Pengelolaan Sampah dan tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Kecamatan Bantar Gebang. Penanganan dan Pemanfaatan Sampah.G. B. J. Supriatna. Sosiolog: Suatu Pengantar. B. 1997.R. Soewedo. 1983. Yogyakarta.S. Gajah Mada Press.

Lingkungan Hidup dan Kelestariannya. 1988. Widyatmoko. London.W. Handbook of Solid Maste Management. Jakarta.variabel Sosiologi di dalam Pembangunan Pedesaan. Waste disposal and resource recovery. Telaah Kelangsungan Hidup Escherichia coli dalam Air Sumur Gali dan Kaitannya sebagai Indikator Pencemaran Tinja dalam System Air Tanah. H. Jakarta. New York. Bandung. Menjernihkan Air Kotor. Inc. Membuat Alat Penjernih Air. Supardi. Penerbit Alumni. Kursus Penyusunan AMDAL IPB Bogor. S. Akademika Pressindo. Menyesuaikan Proyek pada Manusia.141 Suyoto. Yogyakarta. Dalam Mengutamakan Manusia di dalam Pembangunan: Variabel. Pustaka Pelajar. McGrow-Hill Companies. Solid Waste Engeneering Principles and Management Issues. Tjokroamidjojo. Widjaja. 1995. 2001. UI-Press. Empowering People. Adi Kencana Aji. 1996. Wuryadi. Aileen Mitchell. B. Jakarta. Metoda dan Teknik Sosial Ekonomi. Jakarta. Teori Strategi Pembangunan Nasional. Graw Hill Book Company. 1985. 2002. Tchobanolous. Bangkok. Puspa Swara. Uphoff. Tchobanolous. 1980. Mc. A. Fakultas Pascasarjana IPB.. Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta. 1986. Peranan Motivasi dalam Kepemimpinan. Menghindari. Widarto L. Tonny. 1990. Bintoro dan A. Kanisius. Stewart. 2004. 1994. Bogor. O. Mengolah dan Menyingkirkan Sampah.R. Usman. Abdi Tandur. Malapetaka Sampah. Jakarta. New York. Gunung Agung. Pitmen Publishing. Mustopadidjaja. Untung. Kasus TPA Bantar Gebang. Kasus TPA dan IPLT Sumur Batu serta Kasus TPST Bojong. F. I. 2003. 1990. Introduction In George Tchobanolous dan Frank Kreith. Yogyakarta. In Proceeding of Seminar on Solid Management Asian Institut of Tehchnological. Thank.1977. 1994. .

....... pembentukan air lindi... Departemen Dalam Negeri....Ir.Wb...... Dr...Membandingkan pengaruh langsung antar faktor (pada butir a) dalam pemanfaatan TPA sampah pasca operasi berbasis partisipasi masyarakat... Atas kesediaan Bapak/Ibu saya haturkan terima kasih.Dr...... Sri Saeni.. keadaan yang terjadi dalam TPA proses akumulasi............ 2)... Hartrisari H.. Alamat : ..... DEA dan Dr.Ir..... Menuliskan jawaban apa yang menjadi faktor kunci/penting/strategis.Ir.... Oleh karena itu dampak lingkungan pascas operasi tergantung dari pemanfaatannya. TPA Bantar Gebang luas 108 Ha terdiri 5 zona.M...... Kondisi TPA saat ini sudah penuh.... Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan..... MS...... Sehubungan dengan penyusunan disertasi yang berjudul ”Pemanfaatan TPA Sampah Pascaperasi Berbasis Masyarakat.. Nama saya Royadi.... degradasi dan perasapan air lindi... Bekasi ) Identitas Responden Nama : ... Lala M... MS. Assalamualaikum Wr....... Kolopaking....... secara administrative berada di Kota Bekasi........ pekerjaan Staf Ditjen Bina Bangda.............. Sementara ini saya sedang mengikuti Sekolah Pascasarjana S3 IPB...... SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR TAHUN 2005 ..... Besar harapan saya Bapak/Ibu dapat berpartisipasi dalam penelitian ini dengan cara: !)... gas...... studi Kasus TPA Bantar Gebang Bekasi”... dibawah Bimbingan Prof................142 Lampiran 1: Pertanyaan Analisis Prospektif PEMANFAATAN TPA SAMPAH PASCA OPERASI BERBASIS MASYARAKAT ( Studi Kasus TPA Bantar Gebang.....

Donor Agency R. Limpasan dan penyerapan air lindi M. Teknologi D. 1999. jika ya beri nilai 3. atau berpengaruh sedang=2. § Jika ada pengaruh. 3. Peraturan Perundangan F. Pengaruh langsung antar faktor dalam pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyar akat di TPA Bantar Gebang Bekasi. Pedoman penilaian: Skor: O Keterangan: Tidak ada pengaruh. baru dilihat jika pengaruhnya kecil=1. jika ya beri nilai O.faktor kunci (penting dan strategis) dalam pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyarakat (Need Analysis): A. Pencemaran sungai O. Pedoman pengisian: § Dilihat dulu apakah faktor tersebut tidak ada pengaruhnya terhadap faktor lain. Keterlibatan Swasta 1. SDM H. Berpengaruh sedang. Kerjasama Lintas Sektor I. Proses akumulasi dan degradasi L. Dukungan Pemda C. Faktor . § Jika ada pengaruh.143 1. Kelembagaan E. Berpengaruh kuat. Keterangan: A-Z = Faktor penting E 2 3 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 0 3 3 3 3 F 3 2 2 2 2 1 1 1 1 0 1 0 0 0 2 1 2 2 G 2 3 3 3 2 1 1 1 2 1 1 0 0 1 1 3 1 1 H 2 3 2 2 2 1 2 1 1 1 0 0 0 1 3 2 2 3 I 2 2 2 2 2 1 0 1 3 1 1 1 1 1 1 1 2 1 J 1 3 3 1 1 2 1 1 1 1 0 1 1 1 2 1 2 2 K 2 1 1 1 1 1 1 0 1 1 2 3 2 1 1 0 1 1 L 2 2 2 1 1 1 1 0 2 0 2 1 1 1 1 0 2 1 M 1 2 2 2 1 1 1 0 2 0 2 3 2 2 1 0 2 2 N 1 2 2 1 2 1 1 0 1 1 2 3 3 1 1 0 1 1 O 2 3 1 2 2 2 1 1 3 2 2 2 3 2 1 0 2 1 P 3 3 2 2 2 2 1 2 1 0 0 1 1 0 1 1 2 2 Q 3 2 2 2 2 1 1 1 0 2 0 0 0 0 1 1 1 2 R 3 3 3 2 2 2 1 3 1 1 1 1 1 2 1 2 3 2 S 3 3 3 2 2 2 0 1 0 2 0 0 0 1 0 2 3 2 . Keterlibatan Pemerintah Pusat Q. Dari A B C D Terhadap 3 3 2 A 3 2 3 B 3 3 2 C 2 2 2 D 2 3 2 3 E 1 2 1 2 F 2 2 3 2 G 2 2 2 1 H 1 1 1 1 I 1 2 1 1 J 1 1 1 1 K 1 1 1 1 L 1 1 1 0 M 1 1 1 0 N 1 2 0 0 O 2 3 2 2 P 3 3 2 3 Q 3 3 2 3 R 3 3 3 1 S Sumber: godet. Dukungan legislatif DPRD/DPR-RI S. 1. Persepsi masyarakat J. 2. Berpengaruh kecil. Pendanaan B. Tabel 1: Pengaruh langsung antar faktor dalam pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyarakat (need analysis). selanjutnya dilihat apakah pengaruhnya sangat kuat. Konflik P. Partisipasi masyarakat ikut dalam perencanaan K. Pencemaran sumur N. RTRWK G.

Luas lahan Volume sampah Tinggi tumpukan sampah Pembentukan air lindi Gas metan Pencemaran sumur Pencemaran sungai E. Dari A B C D E F G H I J K L M Terhadap 3 2 2 1 1 2 1 1 2 2 1 1 A 3 3 1 3 3 3 2 3 2 2 1 3 B 3 3 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 C 1 1 1 2 2 2 2 1 2 1 1 2 D 2 2 3 1 0 0 0 0 0 1 2 1 E 3 2 2 2 0 3 2 1 1 1 1 2 F 2 2 2 2 0 2 1 0 2 0 0 2 G 1 2 2 1 1 2 2 1 1 1 1 1 H 1 3 1 1 0 0 1 0 0 0 0 1 I 3 2 2 2 2 2 2 1 0 0 1 2 J 1 2 1 0 2 0 0 0 0 0 1 0 K 1 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 1 L 1 1 2 1 2 1 2 1 1 1 0 1 M 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 N 3 3 2 1 2 1 2 2 3 1 2 1 2 O 2 2 2 1 2 2 2 1 2 1 1 1 1 P 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 1 2 Q 1 2 2 1 1 0 0 1 1 0 0 0 3 R 2 2 1 0 0 0 0 1 0 1 0 1 1 S Sumber: godet. Faktor-faktor kunci (penting/strategis) dalam pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyarakat (existing condition): A. K.144 2. Q. Pedoman pengisian: § Dilihat dulu apakah faktor tersebut tidak ada pengaruhnya terhadap faktor lain. G. § Jika ada pengaruh. P. Coli Distribusi Lalat IPAS Pendapatan Masyarakat Partisipasi masyarakat Frekwensi konflik Pengaruh daerah sekitar Pemulung Pengelola Kebijakan Pemerintah Pencemaran udara Kebisingan 2. 3. Tabel 2: Pengaruh langsung antar faktor dalam pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyarakat (existing condition). I. J. Keterangan: A-Z = Faktor penting N 2 3 2 1 2 1 1 2 1 2 1 1 1 2 2 2 2 2 O 2 3 3 1 0 1 1 2 0 1 2 1 1 1 2 2 1 1 P 2 3 2 2 2 1 2 1 2 2 1 2 2 1 2 2 3 2 Q 3 2 2 1 2 2 2 1 1 2 1 1 1 1 2 2 3 1 R 2 2 3 1 3 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1 2 2 1 S 2 1 2 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 2 1 2 1 . C. N. R. § Jika ada pengaruh. 1999. Berpengaruh kuat. L. 2. selanjutnya dilihat apakah pengaruhnya sangat kuat. jika ya beri nilai 3. M. S. Pengaruh langsung antar faktor dalam pemanfaatan TPA sampah pascaoperasi berbasis masyarakat di TPA Bantar Gebang Bekasi. E. Berpengaruh kecil. O. H. B. D. 1. Berpengaruh sedang. jika ya beri nilai O. atau berpengaruh sedang=2. Pedoman penilaian: Skor: Keterangan: O Tidak ada pengaruh. F. baru dilihat jika pengaruhnya kecil=1.

Keterangan: A-Z = Faktor penting . 1999.145 Tabel 3: Faktor-faktor Pene ntu Hasil Gabungan (existing condition dan need anayis). Dari Terhadap A B C D E F G H I J A 3 3 3 2 0 0 1 3 1 B 3 2 3 1 0 0 0 2 1 C 3 3 3 3 2 0 2 3 0 D 3 3 3 2 1 0 1 2 0 E 3 2 3 2 1 0 0 1 0 F 1 0 1 2 1 0 1 1 0 G 0 0 0 0 0 0 2 3 1 H 2 1 2 2 1 3 2 2 2 I 3 2 3 2 3 2 3 3 0 J 0 0 0 0 0 0 1 1 0 Sumber: godet.

30 198 Sumber: Badan Meteorologi dan Geofisika. tahun 1979-1988. Keterangan: .146 Lampiran: 2.: Tidak terdeteksi. . Curah Hujan Bulanan di Bekasi (mm). Jakarta. Sta 841 Bekasi No 1 Tahun 2 Jan 3 Feb 4 Mar 5 April 6 Mei 7 Juni 8 Juli 9 Agust 10 Sept 11 Okt 12 Nop 13 Des 14 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1988 1987 1986 1985 1984 1983 1982 1981 1980 1979 Rata-rata 339 382 190 372 333 464 454 391 3666 136 271 170 187 121 162 132 168 222 205 105 360 270 318 159 234 282 241 315 265 327 72 205 244 112 206 403 54 26 109 147 151 194 109 121 159 36 5 104 141 184 43 6 153 88 27 92 172 26 136 170 113 123 241 182 50 87 195 151 255 198 199 250 286 238 295 47 244 394 533 31 464 304 293 157.

Jakarta. Jumlah Curah Hujan Bulanan di Bekasi (mm). Keterangan: . Sta 841 Bekasi No 1 Tahun 2 Jan 3 Feb 4 Mar 5 April 6 Mei 7 Juni 8 Juli 9 Agust 10 Sept 11 Okt 12 Nop 13 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1988 1987 1986 1985 1984 1983 1982 1981 1980 1979 Rata-rata 21 25 18 14 15 13 17 18 18 16 15 7 6 6 11 19 11 14 9 7 13 13 12 13 12 14 9 7 13 13 72 12 11 6 7 7 3 3 6 4 129 10 5 3 5 4 2 9 9.5 11 3 1 10 6 2 6 9 0 5 7 7 7 7 10 11 4 4 13 8 12 12 7 9 8 10 20 6 7 14 19 13 Sumber: Badan Meteorologi dan Geofisika. . tahun 1979-1988.: Tidak terdeteksi.147 Lampiran: 3.

6 4.38 8. IPB 2004 .07 0.498 0.06 0.1 5.07 0.23 28.559 <0.4 1235-1550 7.81 37.819 0.03 0.03 0.142 <0.87-8.0008 31.07 0.199 0.2-35.6-43.498-5.176-0.02 22 <0.05 0.05 0.09 43.243 0.243 <0.0009 <0.06 0.7 1523 8.0008 27 Nop 04 31.0013 Ratarata 33.555 <0.55 <0.003 0.04 0.87 5690 7957 548 1449 3.04 0.05 650 1974 3.07 0.148 Lampiran 4: Analisis Kualitas Air Lindi sebelum diolah IPAS 1 (Inlet).176 0.06 0.100-0.956 0.205 <0.205 <0.206 0.07 0.003 0.06 0.621 <0.03 5574 8346 596 1767 3.7 1436 8.621 <0.71 36.0 4.0008-0.1 4.22 5334-5700 7957-9032 548-650 1449-1974 3.09 28.05 0. Air Lindi IPAS I (Inlet) BM Kisaran Parameter Satuan 2 Okt 04 Suhu Kekeruhan pH Warna TDS BOD5 COD Nitrat (N-NO 3) Nitrit(N-NO 2) Besi (Fe) Mangan (Mn) Kadmium (cd) Air raksa (Hg) Timbal (Pb) Tembaga (cu) Nikel (Ni) Seng (Zn) Kromium (cr) Sulfida ºC NTU PtCo Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter 35.03 0.100 <0.03 0.55 5 0.4 1550 6– 9 23 Okt 04 34.26 <0. 2004.2 4.06 0.498-0.26-0.03 0.05 0.123 <0.35 Sumber: Laboratorium Kimia Fisik dan Lingkungan.2 1235 7.03-0.23-4.0013 0.22 5334 9032 598 1879 4.16 5700 8050 50 100 20 1 5 2 0.498 <0.03 0.

06 <0.3 1428 8.0 31.149 Lampiran 5: Analisis Kualitas Air Lindi sebelum diolah IPAS 2 (Inlet).05 0.0008 <0.6 <0.065 1.43 0.1-34.175 <0.07 28.07 29.06 <0.89 0.218 0.375 1.06 <0.41 1.503 1.133 <0.05 0.07 22.0008 <0.133-0.05 0.437 <0.0008 23 Okt 04 34.0008 Ratarata 33.89 0.44 5721 9005 1012 3154 2.044 1. IPB 2004 . Parameter Suhu Kekeruhan pH Warna TDS BOD5 COD Nitrat (N-NO 3) Nitrit(N-NO 2) Besi (Fe) Mangan (Mn) Kadmium (cd) Air raksa (Hg) Timbal (Pb) Tembaga (cu) Nikel (Ni) Seng (Zn) Kromium (cr) Sulfida Satuan ºC NTU PtCo Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter 5 0.05 0.9 Sumber: Laboratorium Kimia Fisik dan Lingkungan.437 <0.202 0.53 5475 8830 1020 3046 3.157 1.03 <0.226 0.07 22.065-1.05 0.53 5177-5721 7590-9005 1008-1020 3046-3188 2.08 5177 7590 1008 3188 3.99-3.202-0.05 0.0 <0.3 1238-1440 8.06 <0.175 <0.06 <0.02 22 50 100 20 1 5 2 0.1 1238 8. 2004.044 1.05 6– 9 BM Air Lindi IPAS 2 (Inlet) 2 Okt 04 34.175 <0.0 <0.640 1.99 0.05 0.03 <0.157 1.157 1.256-1.226 0.03 <0.126 1343 <0.03 <0.0008 27 Nop 04 Kisaran 31.375-1.338 <0.9-29.161 <0.35 5457 8475 1013 3129 3.226 0.256 <0.08-8.1 1368 8.07 26.1 1440 8.03 <0.

03 <0.099 <0.0008 Ratarata 32.05 740 2230 2.259 1.06 <0.07 4.02 22 <0.06 <0.069-0.07 4.03 <0.243 0.176-1350 <0.325 30.197 1.06 <0.03 <0.06 <0.44 2963 7454 733 2068 2.69 0.05 0.07 5.02-2.243 0.58 4365 8003 809 1987 2.379 1.05 0.07 5.05 0. IPB 2004 . Parameter Suhu Kekeruhan pH Warna TDS BOD5 COD Nitrat (N-NO 3) Nitrit(N-NO 2) Besi (Fe) Mangan (Mn) Kadmium (cd) Air raksa (Hg) Timbal (Pb) Tembaga (cu) Nikel (Ni) Seng (Zn) Kromium (cr) Sulfida Satuan ºC NTU PtCo Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter BM Air Lindi IPAS 3 (Inlet ) 2 Okt 04 33.069 <0.218 0.348 5 0.498 1.05 0.2 854-1003 8.34 0.69 0.234.176 <0.290 <0.0008 0.07 6.6 944 8.35 0.2 854 8.188-0.204 1. 2004.06 <0.224 <0.62 399-4365 6590-8003 650-809 1987-2230 2.05 0.099 <0.12 399 6590 650 1987 2.0008 27 Nop 04 Kisaran 30.05 0.350 <0.076 <0.62 4125 7890 50 100 20 1 5 2 0.0008 <0.0008 <0.03 <0.03 <0.885 <0.401 1.02 0.519 8.197-1.188 0.401 1.5 975 6–9 23 Okt 04 34.393 1.498 1.885-6.05 0.325 Sumber: Laboratorium Kimia Fisik dan Lingkungan.399 1.379-0.2 1003 8.081 <0.12-8.150 Lampiran 6: Analisis Kualitas Air Lindi sebelum diolah IPAS 3 (Inlet).344 <0.

05 0.03 0.7 4.79 8225 8266 1267 3455 5.55 7890 8219 986 2975 4.278 0.02 22 <0.316 <0.01 23 Okt 04 31.151 Lampiran 7: Analisis Kualitas Air Lindi sebelum diolah IPAS 4 (Inlet ). Parameter Suhu Kekeruhan pH Warna TDS BOD5 COD Nitrat (N-NO 3) Nitrit(N-NO 2) Besi (Fe) Mangan (Mn) Kadmium (cd) Air raksa (Hg) Timbal (Pb) Tembaga (cu) Nikel (Ni) Seng (Zn) Kromium (cr) Sulfida Satuan ºC NTU PtCo Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter BM Air Lindi IPAS 4 (Inlet) 2 Okt 04 30.05 0.094 <0.445 0.365-0.2 1880-2075 7.092 <0.365 0.06 0.884 0.7 2075 6– 9 7.6 0. IPB 2004 .088 <0.2 1978 7.82 7890-8500 8050-8266 986-1267 2975-3455 4.445 0.346 0.05 1084 3276 6.663 0.98-6.2 1880 7.349 5 0.03 27 Nop 04 Kisaran 28.46 1552.5 5.255-0.094 <0.06 0.5 4.255 <0.377 0.287 <0.884 0.0007 <0.72 8205 8178 1112 3235 5.06 0.412 0.01 0.088 <0.278-0.03 0.55-7.0007-0.87 1444 5.03 0.189.03 0.316 <0.8-31.06 0.0029 <0.05 0.01 Ratarata 30.0044 <0.06 0.412 0.05 0.77 1037 5.022 0.05 0.7-1552.01 Sumber: Laboratorium Kimia Fisik dan Lingkungan.05 0.0038 0.05 0.0044 <0.022-5.46 116.8 1980 7.286 <0.01 28.82 8500 8050 50 100 20 1 5 2 0.395 0. 2004.98 116.

301 1.6 0.027 <0.6 165 8.05 0.07 0.068 0.07 0.05 0.034 <0.04 547-743 4450-5640 200-234 604-742 3.4 0.05 0.03 0.0008 23 Okt 04 33. Parameter Suhu Kekeruhan pH Warna TDS BOD5 COD Nitrat (N-NO 3) Nitrit (N-NO 2) Besi (Fe) Mangan (Mn) Kadmium (cd) Air raksa (Hg) Timbal (Pb) Tembaga (cu) Nikel (Ni) Seng (Zn) Kromium (cr) Sulfida Satuan ºC NTU PtCo Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter BM Air Lindi IPAS I (Outlet) 2 Okt 04 33.032 <0.03 232.101 <0.03 0.071 0.01 <0.287-0.95 209.287 1.0008 <0.65 213.06 <0.97 198.101 <0.05 0.07 0. 2004.5 0.020-0.066-0.87 547 5640 234 623 19.06 <0.87-8.04 5 0.9 0. IPB 2004 .009-1.05 0.03 0.048 <0.0008 <0.03-20.079 <0.079 0.06 <0.07 0.02 0.066 0.03 <0.06 <0.1 145 6– 9 8.04 743 5033 211 742 3.329 1.287 1.06 <0.2 155 7.95 198.03 0.97 636 5041 215 656 14.05 0.02 <0.02 Sumber: Laboratorium Kimia Fisik dan Lingkungan.329 1.04 30.032 <0.05 0.9-232.0 156 7.6 145-165 7.0008 Ratarata 32.05 200 604 20.0008 27 Nop 04 Kisaran 30.01-0.009 <0.152 Lampiran 8: Analisis Kualitas Air Lindi sesudah diolah IPAS 1 (Outlet).07 0.0-33.03 0.00 620 4450 50 100 20 1 5 2 0.4 0.02 2 <0.

3 89-101 7.03 <0.0008 0.07 0.29 0.7-33.05 Rata-rata 32.10 0.03 <0.01 7.57 399 4989 122 380 8.153 Lampiran 9: Analisis Kualitas Air Lindi sesudah diolah IPAS 2 (Outlet).07 0.05 0.07 0.1 90 6– 9 7.89 445 5310 50 100 20 1 5 2 0.07 0.06 <0.276 <0.06 <0.81 414 519 134.01 Sumber: Laboratorium Kimia Fisik dan Lingkungan.04 <0.223 <0.301 1.99 399-445 4989-5310 122-144 380-423 7.08-8.04-0.330-0.409 1.0008 27 Nop 04 Kisaran 31.0008 <0.223-1.89-9.10 0.05 0.57-7.7 93 7.08 9. 2004.04 1.330 1.3 101 7.05 0.336 <0.409 1.240 <0. IPB 2004 .03 <0.276 <0.03 <0.08 7.02 31.03 <0.216.39 8.112-1.01-0.301 1.336 <0.05 0.7 89 7.05 138 423 7.02 <0.90 0.99 399 5288 144 395 7.02 2 <0.04 5 0. Parameter Suhu Kekeruhan pH Warna TDS BOD5 COD Nitrat (N-NO 3) Nitrit (N-NO 2) Besi (Fe) Mangan (Mn) Kadmium (cd) Air raksa (Hg) Timbal (Pb) Tembaga (cu) Nikel (Ni) Seng (Zn) Kromium (cr) Sulfida Satuan ºC NTU PtCo Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter BM Air Lindi IPAS 2 (Outlet) 2 Okt 04 33.0008 23 Okt 04 33.89 0.112 <0.6 399 7.246 <0.389 1.0008 <0.127 1.05 1.06 <0.05 0.06 <0.06 <0.07 0.376 1.01 7.6 <0.05 0.202 <0.

06 <0.199 <0.07 <0.578 0.05 0.644 0.08 1124 5883 383 1129 3.07 <0.02 2 <0.06 <0.657 <0.0008 <0.3 0.545 <0.9-522.7-31.754 <0.22 1005-1256 5490-6170 356-406 989-1222 3.05 0.05 0.5 0.01 Sumber: Laboratorium Kimia Fisik dan Lingkungan.3 348 8.01 29.05 0.07 <0.046 0.545-0.199 <0.07 <0.03 0.92 388.039 0.173 <0.673 <0.6 298 8.05 0.87-8.039 0.78 445.137 <0.457 0.03 0.92 522.046 5 0.0008 <0.7 288 7.55-3.5 0. Air Lindi IPAS 3 (Outlet ) Kisaran Rata-rata Parameter Satuan BM 2 Okt 04 Suhu Kekeruhan pH Warna TDS BOD5 COD Nitrat (N-NO 3) Nitrit (N-NO 2) Besi (Fe) Mangan (Mn) Kadmium (cd) Air raksa (Hg) Timbal (Pb) Tembaga (cu) Nikel (Ni) Seng (Zn) Kromium (cr) Sulfida ºC NTU PtCo Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter 30.5 0.06 <0.06 <0.0043 <0.01 30.22 1256 5990 406 1222 3.9 0. 2004.154 Lampiran 10: Analisis Kualitas Air Lindi sesudah diolah IPAS 3 (Outlet).754 <0.06 <0.01 23 Okt 04 31. IPB 2004 .03 0.05 0.033 0.88 425.137-0.0008 <0.15 1113 6170 50 100 20 1 5 2 0.033-0.635 0.05 388 1177 3.183 <0.87 1005 5490 356 989 3.457-0.07 <0.03 0.01 0.644 0.9 260 6– 9 8.55 388.3 260-348 7.05 0.03 27 Nop 04 29.0047 0.

062 5 0.07 <0.06 <0.448 <0.402 <0.343 <0.07 <0.221 0.88 643 0.05 0.330 0.533 <0.5-643 0.34-7.8 1133 3. IPB 2004 .03 0.246 0.9 1240 3.070 0.07 <0.06 <0.05 0.188 0.0 202 7.7-1240 3.06 <0.73 872 8088 363 1123 3.07 <0.9 996.8 165 7.0027 <0.9-31.155 Lampiran 11: Analisis Kualitas Air Lindi sesudah diolah IPAS 4 (Outlet ).9 128 7.69 603.448-0.05 0.99 860-880 7900-8340 323. 2004.01 23 Okt 04 31.044-0.06 <0.34 876 8024 323.044 0.44 641 0.254 <0.02 2 <0.03 0.254-0.03 0. Air Lindi IPAS 4 (Outlet) Kisaran Rata -rata Parameter Satuan BM 2 Okt 04 Suhu Kekeruhan pH Warna TDS BOD5 COD Nitrat (N-NO 3) Nitrit (N-NO 2) Besi (Fe) Mangan (Mn) Kadmium (cd) Air raksa (Hg) Timbal (Pb) Tembaga (cu) Nikel (Ni) Seng (Zn) Kromium (cr) Sulfida ºC NTU PtCo Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter 30.402 <0.01 Sumber: Laboratorium Kimia Fisik dan Lingkungan.07 <0.8 0.0032 0.01 27.330 0.0032 <0.87 880 8340 388.533 <0.05 0.5 0.375 <0.99 860 7900 50 100 20 1 5 2 0.05 0.7 3.493 <0.0027 <0.05 376.8-388.0 128-202 7.5 165 6– 9 7.75 527.88 527.499 <0.44-3.01 29.188-0.03 27 Nop 04 27.03 0.0030 <0.8 996.070 0.06 <0.01 0.05 0.058 0.05 0.

07 8.94 0.51 <0.28 0.01 <0.17 7.56 56.05 Lampiran 13: Kualitas Air Lindi Titik Inlet dan Outlet Tahun 2002 Parameter Suhu Satuan oC BM IPAS 1 Outlet Inlet 25 25 IPAS 2 Outlet Inlet 25 25 IPAS 3 Outlet Inlet 25 25 .36 8246 218 14395 8036 1728 118 4409 314 26.004 0.01 Mg/liter Tembaga (cu) 2 0. IPAS 1 Outlet Inlet 25 25 1468 126 7.01 0.05 <0.80 2.97 1.05 <0.24 0.05 6847 870 14301 7057 1812 549 4796 1443 26.001 IPAS 2 Outlet Inlet 25 25 1592 420 7.01 0.14 0.96 6.02 0.29 0.05 <0.25 <0.10 6.002 Air raksa (Hg) Mg/liter 0.93 <0.15 Mg/liter 0.52 <0.05 Kadmium (cd) Mg/liter 0.77 23.02 Mg/liter Nikel (Ni) <0.001 <0.001 0.33 0.01 0.01 <0.02 <0.002 <0.72 3.52 1.003 IPAS 3 Outlet Inlet 25 25 982 246 8.39 17.20 <0.37 0.003 0.05 Kromium (cr) 0.56 <0.001 0.01 0.05 <0.65 8.01 0.01 <0.62 0.004 0.05 <0.01 <0.156 Lampiran 12: Kualitas Air Lindi Titik Inlet dan Outlet Tahun 2003 Parameter Satuan BM oC Suhu NTU Kekeruhan pH 6–9 PtCo Warna Mg/liter TDS Mg/liter BOD5 50 Mg/liter COD 100 20 Nitrat (N-NO3) Mg/liter Mg/liter Nitrit(N-NO 2) 1 Mg/liter Besi (Fe) 5 Mg/liter Mangan (Mn) 2 Mg/liter 0.02 Timbal (Pb) <0.02 <0.67 6743 720 10546 8031 591 441 1544 1423 1939 930 5.05 3.05 <0.91 1.23 0.12 Mg/liter 0.12 <0.96 0.80 <0.001 <0.13 <0.59 3098 1.001 <0.05 Sulfida <0.01 Mg/liter Seng (Zn) 5 0.33 0.05 Sumber: Dinas Kebersihan DKI Jakarta 17 Nopember 2003.

01 Sumber: Dinas Kebersihan DKI Jakarta.03 0.14 0.04 <0.73 <0.006 <0.21 3.006 Mg/liter 0.11 <0.00005 Air raksa (Hg) Mg/liter 0.12 7.03 <0.98 0.64 43.17 Nitrat (N-NO3) Mg/liter 1 0.9 4289 2936 8725 4024 7.03 0.60 281.04 <0.90 7.07 <0.03 0.07 <0.80 8.006 <0.580 4.30 2.78 <0.35 Mg/liter 20 47.68 0.03 2.70 5495 8870 197 468 2.07 <0.74 0.48 124.03 1.03 0. 2002.26 <0.428.40 732 321.006 <0.6 8.00005 0.00005 <0.07 <0.03 8.6 1483 1207 8.47 1.03 Mg/liter Nikel (Ni) <0.10 5467 464 4210 1128 4.05 Kromium (cr) <0.20 4.00005 <0.27 <0.47 <0.31 3.06 <0.900 5865 6.48 <0.00 1.789.00005 3044 6.12 445 5320 164 386 35.02 Timbal (Pb) <0.00005 IPAS 2 IPAS 3 Outlet Outlet Inlet Inlet 35.03 <0.03 <0.03 <0.01 <0.00005 <0. 4668 7.00005 9036 7.03 0.00005 <0.006 <0.42 <0.00005 <0.04 Mg/liter 0.02 2 IPAS 1 Outlet Inlet 35.01 <0.34 7.07 <0.27 0.05 0.03 <0.50 256.04 Mg/liter Seng (Zn) 5 0.09 <0.03 8.49 1113 6140 106 250 34.15 .90 3.27 1.2 34.03 0.006 <0.32 <0.03 Mg/liter <0.20 0.05 Sulfida <0.03 <0.643.57 0.46 2.24 <0.81 0.48 1.8 33.69 4128 7870 387 922 2.95 PtCo Warna 5600 620 Mg/liter TDS 8045 4460 Mg/liter BOD5 50 59.03 1.39 <0.48 <0.03 <0.03 <0.47 <0.31 <0.11 Mg/liter Mangan (Mn) 2 0.07 <0.32 <0.8 30.01 <0.06 <0.07 <0.03 <0.10 Mg/liter COD 100 139 92.4 34.03 0.20 7.10 36.40 986.00005 2498 7.40 5824 640 6075 1.03 0.07 <0.13 <0.06 <0.07 <0.27 1.07 <0.03 <0.100 145 651.40 297.00005 <0.355 620 144 1980 321.02 1.19 0.03 0.36 0.08 <0.46 0.01 Lampiran 14: Kualitas Air Lindi Titik Inlet dan Outlet Tahun 2001 Parameter Suhu Kekeruhan pH Warna TDS BOD5 COD Nitrat (N-NO3) Nitrit(N-NO 2) Besi (Fe) Mangan (Mn) Kadmium (cd) Air raksa (Hg) Timbal (Pb) Tembaga (cu) Nikel (Ni) Satuan oC NTU PtCo Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter Mg/liter BM 6–9 50 100 20 1 5 2 0.03 2.01 <0.46 0.24 <0.16 114.27 Mg/liter 0.32 <0.04 <0.05 Kadmium (cd) <0.535 Nitrit(N-NO 2) Mg/liter Besi (Fe) 5 3.03 0.157 NTU Kekeruhan 1350 1102 pH 6–9 7.03 <0.03 3.07 Mg/liter Tembaga (cu) 2 <0.07 <0.03 <0.

40 3.01 Sumber: Dinas Kebersihan DKI Jakarta.03 0.03 <0.05 Sulfida <0.36 1.42 7.25 0.07 Mg/liter Tembaga (cu) 2 <0.05 Sulfida <0.01 0.07 <0.04 <0.580 7.00 441.06 0.20 Ø.32 0. 2000.47 3.6 32.02 Timbal (Pb) <0.07 Mg/liter 0.05 Kromium (cr) Mg/liter 0.01 <0.03 <0.01 <0.940 6.86 1.10 7432 425 10.05 Kromium (cr) Mg/liter 0.26 1.03 <0. 0.00005 IPAS 3 Outlet Inlet 32.01 Sumber: Dinas Kebersihan DKI Jakarta.40 1.01 <0.00 651.50 4.40 732.03 0.00005 IPAS 2 Outlet Inlet 33.80 321.61 2.40 6847 826 8264 7942 420 144.70 8.00005 <0. Nopember 2001.158 Mg/liter Seng (Zn) 5 0.46 0.03 Mg/liter Nikel (Ni) 0.4 1.48 256.86 4.00005 Air raksa (Hg) Mg/liter 0.04 <0.100 8.20 5896 852 12641 9264 145.08 Mg/liter Seng (Zn) 5 0.36 0.92 30. IPAS 1 Outlet Inlet 34.00 682.03 0.03 <0.05 0.01 .355 8.82 321.05 <0.82 7.06 <0.03 0.07 <0.60 1.06 <0.40 281.10 2.25 <0.01 <0.48 102.22 278.05 Mg/liter 0.07 0.05 Kadmium (cd) Mg/liter <0.718 8392 942.36 643.01 <0.03 0.16 3.03 <0.36 0.07 <0.03 0.01 <0.44 1.90 7.42 <0.03 <0.36 0.47 114.07 <0.21 0.00005 <0.31 <0.64 31.01 Lampiran 15: Kualitas Air Lindi Titik Inlet dan Outlet Tahun 2000 Parameter Satuan BM oC Suhu NTU Kekeruhan pH 6–9 PtCo Warna Mg/liter TDS Mg/liter BOD5 50 Mg/liter COD 100 20 Nitrat (N-NO3) Mg/liter Mg/liter 1 Nitrit(N-NO 2) Mg/liter Besi (Fe) 5 Mg/liter Mangan (Mn) 2 Mg/liter 0.03 0.03 <0.04 <0.847 1.900 4.15 2.02 <0.428.00005 <0.08 1.07 <0.01 0.

398 <0.03x10¹ 0.016 92.06 <0.4x10¯¹ mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter MPN/ml MPN/ml 500 1 600 1.002 34.502 0.3 2 6.06 <0.25 2.4 3 6.8 0.06 <0.7x10¯² 5.425 1.84 402 4.76 198 3.412 68.05 4.27 0.9 56.05 <0.4 46.83 8.1x10¯¹ 0.0 0.466 0.32 0.159 Lampiran 16: Kualitas Air Sumur di Sekitar TPA Bantar Gebang Tahun 2003 Nama/Kode Lokasi Pengambilan Sampel Air Sumur Parameter Satuan Standard S.05 15 9.5 5 25.24 0.001 0.319 157.423 0.001 0.47 <0.5 1.684 0.75 164 3.4x10¯¹ 6.08 0. Batu (1) Cikiwul (2) Ciketing (3) Ciketing (4) Suhu Kekeruhan pH TDS BOD5 COD Ammonia (N-NH3) Kesadahan Nitrat (N-NO 3) Nitrit (N-NO 2) Klorida DO Besi (Fe) Timbal (Pb) Sulfida Ortho-Phosfat Seng (Zn) Coliform E.40 25.09 6.46 <0.002 0.14 <0.512 <0.04x10¹ 6.3 3.05 <0.89 8.07 26.001 <0.05 3.2x10¯¹ Sumber: Dinas Kebersihan DKI Jakarta.63 283 3.038 58. 2003 .3x10¯² 26.4 16 6.9 2.9-8.7 2 6.06 <0.04 0.06 3.54 <0.4 3.6 3.05 2.05 <0.001 6.327 40. coli oC NTU 6.

30 6.85 3.1 3.40 6. 2002.05 3.05 1.01 28.2 0.10² mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter MPN/ml MPN/ml 500 1 600 1.96 900.05 15 Sumber: Dinas Kebersihan DKI Jakarta.98 300.10³ 300.47 300.4 0.9 0. Batu (1) Cikiwul (2) Ciketing (3) Ciketing (4) Suhu Kekeruhan pH TDS BOD5 COD Ammonia (N-NH3) Kesadahan Nitrat (N-NO 3) Nitrit (N-NO 2) Klorida DO Besi (Fe) Timbal (Pb) Sulfida Ortho-Phosfat Seng (Zn) Coliform E.7 0.26 138.02 0.07 3.50 40.26 <2 <2 23.06 <0.8 1.72 8.10 300.6 0.0 0.09 0.38 47.04 37.02 60.05 4.05 10.83 3.44 <0.69 8.09 11.93 <0.22 <0.05 0.44 11.10² 300.64 44. Coli oC NTU 6.5 5 5.9-8. Keterangan: .06 0.05 1.3 0.43 3.01 67.: Tidak terdeteksi .10 23.12 10.05 0.70 189 3.20 6 176 4.8 3.27 598.3 0.58 0.20 169 3.5 5 22.160 Lampiran 17: Kualitas Air Sumur di Sekitar TPA Bantar Gebang Tahun 2002 Nama/Kode Lokasi Pengambilan Samp el Air Sumur Parameter Satuan Standard S.10³ 22.8 4.

16 <0.05 4.15 88.20 7.161 Lampiran 18: Kualitas Air Sumur di Sekitar TPA Bantar Gebang Tahun 2001 Nama/Kode Lokasi Pengambilan Samp el Air Sumur Parame ter Satuan Standard S.09 0.12 479.20 3.68 7.32 0.20 6.02 8 8 3.60 198.05 3.9-8.05 5000 5000 500 1 600 1.40 6.8 7.62 142.00 3.34 3.6 10.01 0.48 0.20 317.0 0.05 492 8.05 <0.: Tidak terdeteksi .01 23 23 5.05 1.00 215.72 9.02 0.04 11. coli ºC NTU mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter MPN/ml MPN/ml 5 6.06 0.5 5. Batu (1) Cikiwul (2) Ciketing (3) Ciketing (4) Suhu Kekeruhan pH TDS BOD5 COD Ammonia (N-NH3) Kesadahan Nitrat (N-NO 3) Nitrit (N-NO 2) Klorida DO Besi (Fe) Timbal (Pb) Sulfida Ortho-Phosfat Seng (Zn) Coliform E.14 <0.04 0.09 <0.02 0.02 16000 1600 4.00 4.64 0.01 2.00 4.05 <0.90 3.83 8.47 3.80 230.00 0.26 0.50 10.92 0.01 51.05 15 Sumber: Dinas Kebersihan DKI Jakarta.07 <0. 2001 Keterangan: .11 457 9.05 4.70 3.59 8.

2000 Keterangan: .: Tidak terdeteksi Lampiran 20: Kualitas Air Sungai Ciketing pada titik Inlet dan Outlet 2000 Parame ter Suhu Kekeruhan pH 2001 Outlet 20.00 7.00 7.46 7.64 7.08 0.82 8.50 2002 Inlet 28.4 0.10 8.30 9.05 <0.0 16.21 40.05 4.7 188.366 .05 3.02 170.7 6.05 80.35 6.70 10.02 49.02 8 8 26.00 Outlet 22.07 0.00 3.5 500 5.26 7.12 <0.5 6.00 3.8 8.86 9.0 9.04 80.162 Lampiran 19: Kualitas Air Sumur di Sekitar TPA Bantar Gebang Tahun 2000 Nama/Kode Lokasi Pengambilan Sampel Air Sumur Parameter Satuan Standard S.60 Outlet 30. Batu (1) Cikiwul (2) Ciketing (3) Ciketing (4) Suhu Kekeruhan pH TDS BOD5 COD Ammonia (N-NH3) Kesadahan Nitrat (N -NO 3) Nitrit (N-NO2) Klorida DO Besi (Fe) Timbal (Pb) Sulfida Ortho-Phosfat Seng (Zn) Coliform E.05 0.61 0.92 118.23 Satuan oC NTU BM Inlet 6.40 240 3.6 68.5 23.0 6. coli ºC NTU mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter MPN/100ml MPN/100ml 5 6.26 0.5–9 22.45 6.0 600 1.00 7.5 25.00 7.84 69.20 Inlet 24.15 <0.9-8.60 3.13 205 3.01 23 23 25.1 10.50 3.01 0.01 16000 1600 25.20 328 4.20 6.05 1.06 0.20 9.38 0.5 68.45 10.02 5000 5000 1.08 <0.05 15 Sumber: Dinas Kebersihan DKI Jakarta.0 0.60 246 5.34 8.05 2.

01 Sumber: Dinas Kebersihan DKI Jakarta tahun 2000 s/d 2003 yang diolah.07 0.7797 0.01 Air raksa (Hg) mg/liter 0.00 255 43.038 0.26 400.3577 0.50 2864.0638 0.05 Sulfida mg/liter 0.72 1. Keterangan: .5 8.166 0.02 0.163 Warna TDS BOD COD Nitrat (N-NO 3) PtCo mg/liter mg/liter mg/liter mg/liter 250.62 0.49 5.013 0.6 mg/liter 0.01 <0.68 1.0004 Ttd 0.014 0.01 <0.37 0.00027 0.368 556 653 21.01 mg/liter 1 0.00 14.04 1.1 <0.03 Nitrit (N-NO 2) Besi (Fe) mg/liter 1 1.00004 0.32 0.001 Timbal (Pb) mg/liter Tembaga (Cu) mg/liter 1 Nikel (Ni) mg/liter Seng (Zn) mg/liter 15 0.02 <0.85 Kadmium (cd) mg/liter 0.58 0.0567 0.01 Kromium Val.49 0.356 345.650 228.08 7.00008 0.136 10 88.75 257.57 Mangan (Mn) mg/liter 0.65 - 742.50 06.00 112.06 0.30 7.08 0.1072 0.: Tidak terdeteksi .310 0.00002 0.19 3.0 2.708 825.74 4.39 160 962 15.

164 Lampiran: 2. Sta 841 Bekasi No 1 Tahun 2 Jan 3 Feb 4 Mar 5 April 6 Mei 7 Juni 8 Juli 9 Agust 10 Sept 11 Okt 12 Nop 13 Des 14 1 2 3 4 1988 1987 1986 1985 339 382 190 - 136 - 222 - 282 241 112 - 194 109 141 184 172 - 241 182 255 198 295 47 198 . Curah Hujan Bulanan di Bekasi (mm). tahun 1979-1988.

165
5 6 7 8 9 10 1984 1983 1982 1981 1980 1979 Rata-rata 372 333 464 454 391 3666 271 170 187 121 162 132 168 205 105 360 270 318 159 234 315 265 327 72 205 244 206 403 54 26 109 147 151 121 159 36 5 104 43 6 153 88 27 92 26 136 170 113 123 50 87 195 151 199 250 286 238 244 394 533 31 464 304 293 157,30

Sumber: Badan Meteorologi dan Geofisika, Jakarta. Keterangan: - : Tidak terdeteksi.

Lampiran: 3. Jumlah Curah Hujan Bulanan di Bekasi (mm), tahun 1979-1988, Sta 841 Bekasi
No
1

Tahun
2

Jan
3

Feb
4

Mar
5

April
6

Mei
7

Juni
8

Juli
9

Agust
10

Sept
11

Okt
12

Nop
13

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

1988 1987 1986 1985 1984 1983 1982 1981 1980 1979 Rata-rata

21 25 18 14 15 13 17 18 18

16 15 7 6 6 11 19 11

14 9 7 13 13 12 13 12

14 9 7 13 13 72 12 11

6 7 7 3 3 6 4 129

10 5 3 5 4 2 9

9,5 11 3 1 10 6 2 6

9 0 5 7 7 7 7

10 11 4 4 13 8

12 12 7 9 8 10

20 6 7 14 19 13

Sumber: Badan Meteorologi dan Geofisika, Jakarta. Keterangan: - : Tidak terdeteksi.

166

Lampiran 23: Daftar Pertanyaan Masalah TPA Bantar Gebang I. KONDISI MASYARAKAT:
A. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat: 1. Berapa usia Bapak/Ibu/Sdr saat ini:
a b c d e a b c d e a b c d e 21 s/d 30 tahun 31 s/d 40 tahun 41 s/d 50 tahun Kurang dari 21 tahun. Lebih dari 50 tahun. Petani Pedagang Buruh Karyawan Lain-lain (sebutkan………………………………) Petani Pedagang Buruh Karyawan Lain-lain (sebutkan………………………………)

2. Matapencaharian utama Bapak/Ibu/Sdr sebelum ada TPA:

3. Setelah adanya TPA Bantar Gebang:

4. Berapa pendapatan/penghasilan Bapak/Ibu/Sdr/bulan sebelum ada TPA: a Lebih kecil dari Rp.150.000,b Rp.150.000,- s/d Rp.200.000, c Rp.250.000,- s/d Rp.350.000, d Rp.400.000,- s/d Rp.500.000, e Rp.550.000,- s/d Rp.700.000, f Rp.750.000,- s/d Rp.900.000, g Lebih dari Rp.900.000,5. Pendapatan/penghasilan Bapak/Ibu/Sdr/bulan setelah adanya TPA:
a b c d e f g Lebih kecil dari Rp.150.000,Rp.150.000,- s/d Rp.200.000,Rp.250.000,- s/d Rp.350.000,Rp.400.000,- s/d Rp.500.000,Rp.550.000,- s/d Rp.700.000,Rp.750.000,- s/d Rp.900.000,Lebih dari Rp.900.000,-

6. Berapa besar biaya yang Bapak/Ibu/Sdr keluarkan untuk kebutuhan hidup sehari-hari:
a b c d e f g Rp.3.000,- s/d Rp.5.000,Rp.>5.000,- s/d Rp.7.000,Rp.>7.000,- s/d Rp.9.000,Rp.>9.000,- s/d Rp.10.000,Rp.>10.000,- s/d Rp.15.000,Rp.>15.000,- s/d Rp.20.000,Lebih dari Rp.20.000,-

167 B. Kondisi Sosial Budaya Masyarakat:
a b c d e f g h i Buta huruf Tidak tamat SD Tamat SD Tidak tamat SLTP Tamat SLTP Tidak tamat SLTA Tamat SLTA Tamat Akademi Tamat Universitas

1. Tingkat pendidikan Bapak/Ibu/Sdr adalah:

2. Apa tanggapan Bapak/Ibu/Sdr. Dengan kehadiran para pemulung dari luar daerah:
a b a b a b

Menimbulkan konflik dengan masyarakat sekitar Ada konflik antara pemulung pendatang dengan masyarakat sekitar TPA. Tidak ada konflik antara petugas TPA dengan masyarakat sekitar Ada konflik antara petugas TPA dengan masyarakat sekitar. Ada kerjasama contohnya apa ? ………… Tidak ada kerjasama antara petugas TPA dengan masyarakat sekitar.

3. Apakah ada konflik antara petugas TPA dengan masyarakat sekitar:

4. Apakah ada kerjasama antara petugas TPA dengan masyarakat sekitar:

5. Apakah ada kerjasama antara pemulung, pendatang dengan masyarakat sekitar:
a b a. b. c. d. e. f. a b c Ada kerjasama contohnya:………………. Tidak ada kerjasama 1 (satu) orang (belum berkeluarga) 2 (dua) orang 3 (tiga) orang 4 (empat) orang 5 (lima) orang lebih dari 5 (lima) orang Bersekolah di sekitar lokasi TPA. Sekolah di kampung (daerah asal). Lain-lain.

6. Berapakah jumlah tanggungan keluarga Bapak/Ibu/Sdr:

7. Apakah fasilitas pendidikan/sekolah yang digunakan:

C. Persepsi masyarakat atas keberadaan TPA Bantar Gebang:
a. Setuju adanya TPA, dengan alasan: 1). Menambah lapangan kerja 2). Meningkatkan penghasilan 3). Menambah peluang usaha 4). Menambah fasilitas umum (misal: jalan, MCK, dll). b. Tidak setuju dengan keberadaan TPA, dengan alasan: 1). Menimbulkan kemacetan 2). Menimbulkan kesan kumuh, kotor dan bau. 3). Menambah jumlah penduduk pendatang. 4). Menambah kerawanan di sekitar lokasi.

1. Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu/Sdr mengenai keberadaan TPA:

Sejak kapan Bapak/Ibu/Sdr bekerja sebagai pemulung: a b c d e f g Sebelum ada TPA Sejak TPA beroperasi hingga sekarang Kurang dari 1 tahun 1 s/d 2 tahun 3 s/d 4 tahun 5 s/d 7 tahun lebih dari 7 tahun .350.Rp. Apakah mata pencaharian Bapak/Ibu/Sdr sebelum jadi pemulung: 3. b.700. 5. Harapan Bapak/Ibu/Sdr dengan adanya TPA: a.s/d Rp.500. Berapa usia Bapak/Ibu/Sdr saat ini: Kurang dari 15 tahun 15 s/d 20 tahun 21 s/d 30 tahun 31 s/d 40 tahun 41 s/d 50 tahun lebih dari 50 tahun Petani Buruh Pedagang Lainnya (sebutkan:…………………………. Berapa penghasilan Bapak/ibu/Sdr/bulan sebelum jadi pemulung: 4.168 2.Rp.250.000.400.000..000.000.150..150.. KONDISI PEMULUNG: a b c d e f a b c d a b c d e f A. Agar TPA segera ditutup Agar pengelola TPA lebih baik Sumber air bersih maasyarakat sekitar TPA diperhatikan Agar dijaga suasana di sekitar TPA tetap aman Agar sampah-sampah liar ditertibkan . d. Bagaimana persepsi masyarakat menganai keamanan dan ketertiban masyarakat di sekitar TPA: a Aman b Rawan 4. II.000. e.700.Rp.000. Kondisi sosial ekonomi pemulung: 1.s/d Rp.000.000.Rp. Apa pengaruh keberadaan TPA terhadap pendapatan masyarakat: a b Meningkatkan pendapatan dan tarap hidup Tidak merubah pendapatan.550.000.000.- 2. Bagaimana tanggapan/persepsi masyarakat mengenai pengelolaan sampah di TPA: a b c Baik Cukup Buruk 3.s/d Rp.Lebih dari Rp.200.s/d Rp.) Kurang dari Rp. c..

Kondisi Sosial Budaya Pemulung: 1. Dimana tempat tinggal Bapak/Ibu/Sdr: a.Rp..s/d Rp. Tinggal menetap di dalam lokasi TPA 3. Tidak tamat SD c.150.Rp. Apakah ada perubahan penghasilan setelah menjadi pemulung: 9... Tidak tamat SLTA g.000.000. Dilahan orang lain.. Tidak tamat SLTP e.Rp. Apakah pekerjaan sebagai pemulung merupakan pekerjaan utama: 8.150. 2.000..s/d Rp.000.000.000. 7. Berapakah pendapatan/penghasilan Bapak/Ibu/Sdr dari hasil penjulan barang pulungan: a b c d e f g a b a b c a b Kurang dari Rp. Cara pengangkutan barang pulungan ketangan pembeli: a b c Diangkut sendiri oleh pembeli Menyewa truk sampah Lainnya 6. Di dalam lokasi TPA Di luar lokasi TPA: 1).s /d Rp.Lebih besar dari Rp.000. Berapa lama untuk pulang ke daerah asal Bapak/Ibu/Sdr: a b c d e Satu bulan sekali Tiga bulan sekali Empat bulan sekali Satu tahun sekali Tidak tentu . Buta huruf b. Tinggal menetap di luar lokasi TPA b. Tamat Universitas 4..900.000.s/d Rp. Tamat SLTP f.000. Tamat SLTA h.169 5.200.s/d Rp.700. Tingkat pendidikan Bapak/Ibu/Sdr adalah: a.000.Ya Tidak Penghasilan meningkat Tidak ada perubahan Lainnya.Rp.900. Tamat SD d. Dimana lokasi pulungan sampah: B.750.500.250.400. Dilahan sendiri 2).000. Tamat Akademi i.350.550. Daerah asal Bapak/Ibu/Sdr: ………………………………….000.Rp.

Apakah ada pembinaan yang dilakukan oleh organisasi pemulung/pihak lain: a b a b a b c d e a b Tidak ada Ada pembinaan (Siapa: …………………………. Apakah ada konflik sesama pemulung di lokasi TPA: 14. Bagaimana system kerja Bapak/Ibu/Sdr sebagai pemulung di TPA: 9. Apakah Bapak/Ibu setuju sebagai pemulung ada yang mengkoordinir: 12.170 5. Berapakah tanggungan keluarga Bapak/Ibu/Sdr: a b c d e f 1 (satu) orang 2 (dua) orang 3 (tiga) orang 4 (empat) orang 5 (lima) orang lebih dari 5 orang a b c a b c a b Sekolah di sekitar TPA Sekolah di kampung/daerah Lainnya. Rumah dan tanah warisan.) Setuju Tidak setuju Para pemulung itu sendiri Lembaga Swadaya Masyarakat/LSM Pemerintah Lembaga lainnya Bos lapak Tidak ada konflik Ada konflik 11. 6. Dimanakah tempat sekolah anak Bapak/Ibu/Sdr: 8. Apakah ada konflik antara pemulung dengan petugas TPA: . Bekerja secara sendiri-sendiri Bekerja secara berkelompok berdasarkan suku (daerah asal) Bekerja secara bersama-sama (tidak atas suku/kelompok) Tidak ada yang mengkoordinir Ada yang mengkoordinir (siapa: …………………………) 7. Siapa sebaiknya yang mengkoordinir: 13. bangunan buat sendiri Kontrak tanah berikut bangunan/rumah. Membeli tanah berikut bangunan rumah. Status tempat tinggal Bapak/Ibu yang tinggal menetap di luar TPA: a b c d Kontrak tanah. Apakah ada konflik antara pemulung dengan masyarakat sekitar TPA: a b a b Tidak ada konflik Ada konflik Tidak ada konflik Ada konflik 15.. Apakah Bapak/Ibu/Sdr sebagai pemulung ada yang mengkoordinir: 10.

MCK.) C. 3. Rawan 4. Tidak tahu 5. Kondisi sosial ekonomi pengelola: 1. Cukup c. Buruk/jelek. Para pemulung diperhatikan c. III. Meningkatkan pendapatan/penghasilan 3). Harapan-harapan apa dengan adanya kegiatan TPA: a. Meningkatkan tarap hidup b.171 16. Apakah ada kerjasama antara pemulung di lokasi TPA: a b Tidak ada Ada (misalnya:………………………………. dll) b. Tidak setuju. Kegiatan TPA terus berlanjut b. Pengaruh TPA dari pendapatan/penghasilan: a. KONDISI PENGELOLA: A. Sejak kapan Bapak/Ibu/Sdr bekerja sebagai pengelola TPA: . Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu/Sdr dengan keberadaan TPA: a. Berapa usia Bapak/Ibu/Sdr saat ini: a b c d a b c d e 20 s/d 30 tahun 31 s/d 40 tahun 41 s/d 50 tahun lebih dari 50 tahun Kurang dari 1 tahun 1 s/d 2 tahun 3 s/d 4 tahun 5 s/d 7 tahun lebih dari 7 tahun 2. Menambah fasilitas umum (mis: jalan. Menambah peluang usaha 4). Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu/Sdr tentang pengelolaan TPA: a. Tidak berpengaruh apa-apa c. Persepsi pemulung dengan keberadaan TPA: 1. 2. Aman b. Bagaimana situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di sekitar TPA: a. Fasilitas kesehatan diperhatikan seperti pengobatan gratis. Setuju dengan alasan: 1). Agar suasana di TPA tetap aman. Menambah lapangan kerja 2). d. Baik b.

.Rp. Kondisi Sosial Budaya Pengelola: 1.350. bangunan buat sendiri Kontrak tanah berikut bangunan/rumah. Tidak tamat SLTP e.000.Rp.Rp.000.s/d Rp. Tinggal menetap di dalam lokasi TPA 3.- 4.000.s/d Rp. Tinggal menetap di luar lokasi TPA b. Tamat SD d. Tamat Akademi i. Dimanakah tempat sekolah anak Bapak/Ibu/Sdr: a Sekolah di sekitar TPA b Sekolah di kampung/daerah c Lainnya.200.172 3.150.. Apakah ada perubahan penghasilan setelah menjadi pengelola TPA: a Penghasilan meningkat b Tidak ada perubahan c Lainnya.Rp. Status tempat tinggal Bapak/Ibu yang tinggal menetap di luar TPA: a b c d a b c d e f Kontrak tanah. Dimana tempat tinggal Bapak/Ibu/Sdr: a.000. Daerah asal Bapak/Ibu/Sdr: ………………………………….000. Tamat Universitas 4.s/d Rp.Lebih besar dari Rp.400.750. Tamat SLTA h. . Membeli tanah berikut bangunan rumah.700. Buta huruf b. 2. Berapakah pendapatan/penghasilan Bapak/Ibu/Sdr/bulan: a b c d e f g Kurang dari Rp. Tidak tamat SLTA g. Apakah pekerjaan sebagai pengeloa TPA merupakan pekerjaan utama: a Ya b Tidak 5.s/d Rp.900.000.250.000.s/d Rp. Berapakah tanggungan keluarga Bapak/Ibu/Sdr: 6.Rp. Tidak tamat SD c.. B.000.000. 1 (satu) orang 2 (dua) orang 3 (tiga) orang 4 (empat) orang 5 (lima) orang lebih dari 5 orang 5.000.000.900.150.550.. Rumah dan tanah warisan.. Tamat SLTP f.000.. Tingkat pendidikan Bapak/Ibu/Sdr adalah: a.500.

Apakah ada konflik antara pengelola dengan pemulung: a Tidak ada konflik b Ada konflik a Tidak ada konflik b Ada konflik 15. Tidak setuju. . 2. Buruk/jelek. dll) b. Setuju dengan alasan: 1). Menambah fasilitas umum (mis: jalan. Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu/Sdr dengan keberadaan TPA: a. Menambah lapangan kerja 2). Meningkatkan pendapatan/penghasilan 3). Siapa sebaiknya yang membina: a b c d Para pengelola itu sendiri Lembaga Swadaya Masyarakat/LSM Pemerintah Lembaga lainnya 12. Apakah ada konflik sesama pengelola di lokasi TPA: a Tidak ada konflik b Ada konflik 13. Apakah ada konflik antara pengelola dengan masyarakat sekitar TPA: 14. Apakah Bapak/Ibu/Sdr setuju sebagai pengelola ada yang membina: a Setuju b Tidak setuju 11. Cukup c..173 7. Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu/Sdr tentang pengelolaan TPA: a.) 10. MCK. Apakah ada pembinaan yang dilakukan oleh organisasi pemerintah/pihak lain: a Tidak ada b Ada pembinaan (Siapa: ………………………….) C. Menambah peluang usaha 4). Bagaimana system kerja Bapak/Ibu/Sdr sebagai pengelola TPA: a Bekerja secara sendiri-sendiri b Bekerja secara berkelompok berdasarkan jadwal kerja c Bekerja secara bersama-sama 8. Persepsi pengelola dengan keberadaan TPA: 1. Apakah Bapak/Ibu/Sdr sebagai pengelola ada yang membina: a Tidak ada yang membina b Ada yang membina (siapa: …………………………) 9. Apakah ada kerjasama antara pengelola di lokasi TPA: a Tidak ada b Ada (misalnya:………………………………. Baik b.

Aman b. Meningkatkan tarap hidup b. Agar suasana di TPA tetap aman. . Kegiatan TPA terus berlanjut b. Rawan 4. Harapan-harapan apa bagi pengelola dengan adanya kegiatan TPA: a. Para pemulung diperhatikan c.174 3. Fasilitas kesehatan diperhatikan seperti pengobatan gratis. Pengaruh TPA dari pendapatan/penghasilan: a. d. Bagaimana situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di sekitar TPA: a. Tidak tahu 5. Tidak berpengaruh apa-apa c.

Responden diharapkan memberikan nilai dalam angka terbatas untuk memberi tingkat urutan (skala) pentingnya strategis-strategis tersebut. AHP adalah salah satu alat analisis dalam pengambilan keputusan untuk menentuklan kebijakan yang akan diambil dengan menetapkan prioritas dan membuat keputusan yang paling baik ketika aspek Kualitatif dan Kuantitatif dibutuhkan untuk dipertimbangkan. Tujuan Integrasi untuk meningkatkan basis informasi kuantitatif dari proses-proses perencanaan strategis. Dalam AHP digunakan skala angka Saaty. Penentuan prioritas strategi dilakukan dengan dua tahap yakni pembuatan hirarki prioritas dan survei penentuan bobot. mulai dari 1 yang menggambarkan antara satu atribut terhadap atribut lainnya sama penting dan untuk atribut yang sama selalu bernilai satu. Integrasi AHP kedalam Prospektif menghasilkan prioritasprioritas yang ditentukan secara analitik berdasarkan faktor. Wawancara dilakukan terhadap responden yang berkompeten dengan pemanfaatan TPA. Sedangkan untuk menentukan bobot dari strategi digunakan metode survai. . AHP memberikan kerangka dasar untuk pembentukan suatu analisis keputusan . sementara Prospektif membantu dalam membuat AHP lebih analitik dan melakukan analisis sehingga strategi-strategi alternatif keputusan dapat diprioritaskan.175 ANALISIS KEBIJAKAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Analisis Kebijakan Pemberdayaan masyarakat di TPA berbasis masyarakat dengan pendekatan AHP diintegrasikan kedalam Prospektif.faktor yang mencakup dalam AHP dan membuat mereka sepadan. sampai dengan 9 yang menggambarkan satu atribut ekstrim penting terhadap atribut lainnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful