You are on page 1of 9

TB Paru Pada Anak I

BAGIAN ILMU PENYAKIT ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN 2005

BAB I PENDAHULUAN Penyakit tuberkulosis pada anak merupakan penyakit yang bersifat sistemik, yang dapat bermanifestasi pada berbagai organ, terutama paru. Sifat sistemik ini disebabkan oleh penyebaran hematogen dan limfogen setelah terjadi infeksi Mycobacterium tuberculosis. Data insidens dan prevalens tuberkulosis anak tidak mudah. Dengan penelitian indeks tuberkulin dapat diperkirakan angka kejadian prevalens tuberkulosis an Kriteria ak. masalah tuberkulosis di suatu negara adalah kasus BTA positif per satu juta penduduk. Jadi sampai saat ini belum ada satu negara pun yang bebas tuberkulosis. TB merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan pemberian imunisasi BCG pada anak dan pengobatan sumber infeksi, yaitu penderita TB dewasa. Disamping itu dengan adanya penyakit karena HIV maka perhatian pada penyakit TB harus lebih ditingkatkan Anak biasanya tertular TB, atau juga disebut mendapat infeksi primer TB, akan membentuk imunitas sehingga uji tuberkulin akan menjadi positif. Tidak semua anak yang terinfeksi TB primer ini akan sakit TB. BAB II URAIAN 1. Patogenesis Penularan biasanya melalui udara, yaitu dengan inhalasi droplet nucleus yang mengandung basil TB. Hanya droplet nucleus ukuran 1-5 mikron yang dapat melewati atau menembus sistem mukosilier saluran napas sehingga dapat mencapai dan bersarang di bronkiolus dan alveolus. Di sini basil tuberkulosis berkembang biak dan menyebar melalui saluran limfe dan aliran darah tanpa perlawanan yang berarti dari pejamu karena belum ada kekebalan awal. Di dalam alveolus akan memfagsitosis sebagian basil spesifik. Makrofag di dalam alveolus akan memfagositosis sebagian basil tuberkulosis tersebut tetapi belum mampu membunuhnya sebagian basil TB dalam makrofag umumnya dapat tetap hidup dan berkembang biak. Basil TB yang menyebar melalui saluran limfe regional. Sedangkan yang melalui aliran darah akan mencapai berbagai organ tubuh. Di dalam organ tersebut akan terjadi pemrosesan dan transfer antigen ke limfosit. Ada jaringan dan organ tubuh yang resisten terhadap basil TB. Basil TB hampir selalu terdapat bersarang di sumsum tulang, hepar dan limfe tetapi tidak selalu dapat berkembang biak secara luas. Basil TB di lapangan atas paru, ginjal, tulang, dan otak lebih mudah berkembang biak terutama sebelum imunitas spesifik terbentuk. Imunitas spesifik yang terbentuk biasanya cukup kuat untuk menghambat perkembangbiakan basil TB lebih lanjut. Dengan demikian lesi TB akan sembuh dan tidak ada tanda dan gejala klinis. Pada sebagian kasus imunitas spesifik yang terbentuk tidak cukup kuat sehingga terjadi penyakit TB dalam 12 bulan setelah infeksi dan pada sebagian penderita TB terjadi setelah lebih dari 12 bulan setelah infeksi.

Dalam waktu 2-10 minggu ini juga terjadi cell-mediated immune response. dan dapat juga bersarang di kelenjar limfe lainnya. Hipersensitivitas terhadap beberapa komponen basil TB dapat dilihat pada uji kulit dengan tuberkulin yang biasanya terjadi 2-10 minggu setelah infeksi. Efusi biasanya terjadi karena tuberkuloprotein dari paru masuk ke rongga pleura sehingga terjadi reaksi inflamasi dan terjadi pengumpulan cairan jernih di dalamnya. 2. pubertas dan akil balik.Kurang lebih 10% individu yang terkena infeksi TB akan menderita penyakit TB dalam beberapa bulan atau beberapa tahun setelah infeksi. Kemungkinan menjadi sakit TB diperbesar pada balita. TB milier dapat terjadi pada masa dini. tapi dapat juga setelah 1 tahun atau lebih. Pada individu normal respons imunologik terhadap infeksi tuberkulosis cukup memberi perlindungan terhadap infeksi tambahan berikutnya. uji tuberkulin positif. . dapat aktif beberapa tahun kemudian atau tidak pernah menjadi aktif sama sekali. Tetapi pada kenyataannya menegakkan diagnosis TB pada anak tidak selalu mudah. Lesi primer dan lesi di kelenjar limfe regional disebut kompleks primer. Pada pasien yang tidak menunjukkan gejala dan tanda klinis maka TB dapat terdeteksi kalau diketahui adanya kontak dengan pasien TB dewasa. anoreksia. Diagnosis dini biasanya dapat ditegakkan kalau dilakukan uji tuberkulin secara rutin pada setiap anak yang datang berobat. Setelah terjadi infeksi pertama. demikian juga pada diabetes melitus dan silikosis. Dapat juga mengenai tulang. Kadang-kadang demam merupakan satu-satunya gejala yang ada. Infeksi di kelenjar tersebut dapat langsung berkembang menjadi TB aktif. sehingga terjadi meningitis. Kalau gejala klinis sudah jelas misalnya adanya limfadenitis di leher. misalnya karena infeksi HIV dan pemakaian kortikosteroid atau obat imunosupresif lainnya yang lama. keringat malam dan malaise). Selama infeksi primer berlangsung basil TB bersarang di kelenjar limfe hilus dan mediastinum. tetapi dapt juga terjadi setelah beberapa waktu kemudian akibat erosi fokus di dinding pembuluh darah. Gejala klinik TB terdiri atas gejala umum atau sistemik (seperti demam. Jadi kalau terkena TB sering terjadi TB yang berat dan sering gambaran klinik TB dengan HIV berbeda dengan TB biasa. anoreksia. demam tidak tinggi yang berlangsung lama. Lesi TB paling sering terjadi di lapangan atas paru. Gejala yang didapat biasanya lesu. Juga keadaan yang menyebabkan turunnya imunitas memperbesar kemungkinan sakit TB. meningitis ata gibbus berarti TB sudah berlanjut atau berkomplikasi. Gejala dan tanda klinis TB tidak khas. Pendekatan Diagnosis TB Paru Pada umunya berdasarkan hasil uji tuberkulin. berat badan menurun. ginjal dan organ lain. dan gejala khusus sesuai dengan organ yang terkena. berat badan menurun. basil TB yang menyebar ke seluruh badan suatu saat di kemudian hari dapat berkembang biak dan menyebabkan penyakit. foto rontgen paru dan gambaran klinis sudah dapat ditegakkan diagnosis kerja tuberkulosis. kelainan foto paru dan biakan basil TB yang positif. Penyakit TB dapat timbul dalam 12 bulan setelah infeksi. Efusi pleura dapat terjadi setiap saat setelah infeksi primer. Risiko terjadinya reinfeksi tergantung pada intensitas terpaparnya dan sistem imun individu yang bersangkutan (host=pejamu) Pada pasien dengan infeksi HIV terjadi penekanan pada imun respons. kadang-kadang juga timbul gejala seperti influensa. TB milier dapat mengenai banyak organ misalnya selaput otak.

Gambaran klinis TB di luar paru sesuai dengan organ yang terkena. tetapi dapat juga menimbulkan gejala kronik yang disertai gejala sistemik.tuberkulosis membentuk sensitifitas terhadap beberapa komponen antigen basil TB yang menjadi bahan pembuatan tuberkulin. Saat ini dipakai sistem BACTEC. tetapi sebaiknya uji tuberkulin dilakukan dengan tuberkulin yang sama 1-2 minggu kemudian untuk mencegah efek booster. Imunisasi BCG dapat juga menyebabkan uji tuberkulin positif. ditemukannya tuberkel pada funduskopi. Uji peroksidase-anti-peroksidase (PAP) merupakan uji serologis imunoperoksidase yang menggunakan kit histogen imunoperoksidase staining untuk menentukan adanya IgG spesifik terhadap basil TB. tetapi biasanya reaksinya kecil. paratrakeal dan mediastinum. Kadang-kadang diperlukan pengulangan uji tuberkulin untuk memastikan ada tidaknya infeksi TB. atelektasis. Pada anak besar gejalanya dapat seperti pada orang dewasa. Uji serologis TB umumnya dilakukan dengan cara ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay). Titer antibodi faktor anti cord menurun sampai normal setelah pemberian obat anti tuberkulosis. Cairan ini pun sebenarnya kurang memuaskan disamping kesulitan untuk mendapatkan biakan metode pembiakan basil TB memerlukan waktu cukup lama sehingga dibutuhkan suatu metode pembiakan yang lebih baik. Juga dapat mengenai aksila. Gambaran foto rontgen paru pada TB anak tidak selalu khas. diameter 5-9 mm masih meragukan dan harus dinilai lagi. Ada 2 jenis tuberkulin yang dipakai yaitu OT (Old Tuberkulin) dan Tuberkulin PPD (Purified Protein Derivatif) dan ada 2 jenis tuberkulin PPD yang dipakai yaitu PPD-S (Seibert) dan PPD-RT23. TB milier dapat menimbulkan gejala akut berupa demam. bahkan tidak jarang TB baru terdeteksi karena adnya phlycten. sebagai gantinya biasanya dilakukan bilasan lambung karena cairan lambung mengandung sputum yang tertelan. TB kelenjar limfe superfisialis paling sering mengenai leher dan supraklavikula. Gejala umum dapat disertai gejala rangsangan meningeal. emfisema lobus dan gambaran milier. sesak nafas dan sianosis.Pada anak dengan TB sering tidak ditemukan tanda dan gejala. hepatomegali. Infeksi M. splenomegali dan limfadenopati. Batuk tidak selalu merupakan gejala utama dan jarang ada batuk darah. Uji tuberkulin dibaca setelah 48-72 jam. reak atau hemoptisis seperti pada TB dewasa. untuk mendeteksi antibodi IgG terhadap cord factor berguna untuk serodiagnosis paru aktif. misalnya batuk dengan reak dan dapat juga terjadi hemoptisis. konsolidasi efusi pleura. Pemeriksaan bakteriologis TB untuk mendapatkan bahan pemeriksaan bakteriologis berupa sputum pada anak sangat sukar. Pada TB milier dapat ditemukan tuberkel koroid pada funduskopi. inguinal dan submandibula. kavitas. . Tetapi uji tuberkulin akibat imunisasi BCG biasanya tidak kuat reaksinya sehingga meskipun telah ada parut BCG kalau reaksi 15 mm atau lebih harus dicurigai adanya superinfeksi alami basil TB. Uji tuberkulin dapat menunjukkan infeksi tuberkulosis. dan satu-satunya petunjuk adanya TB adalah uji tuberkulin positif. Pada anak kecil tidak selalu disertai batuk. Infeksi Mycobacterium atipik dapat juga menyebabkan uji tuberkulin positif. Serodiagnosis. Biasanya kecurigaan ke arah TB muncul kalau ditemukan pembesaran kelenjar hilus. Diameter indurasi 10 mm atau lebih dinyatakan positif. Batuk dapat terjadi karena iritasi oleh kelenjar yang membesar dan menekan bronkus. Conjunctivitis phlyctenularis dapat erjadi pada anak dengan TB.

2. INH mempunyai 2 efek toksik utama yaitu hepatotoksik dan neuritis perifer. anemia hemolitik pada pasien dengan defisiensi enzim G6PD. 3. Dosis harian INH biasa diberikan 5-15 mg/kgBB/hari. dapat membunuh kuman semi-dormand yang tidak dapat dibunuh oleh INH. Isoniazid INH adalah obat antituberkulosis yang efektif saat ini bersifat bakterisid dan sangat efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolit aktif yaitu kuman yang sedang berkembang dan bersifat bakteriostatik terhadap kuman yang diam. Rifampisin Rifampisin bersifat bakteriosid pada intrasel dan ekstrasel. dan reaksi mirip lupus yang disertai ruam dan artritis. Reaksi rantai polimerase (PCR-Polimerase Chain Reaction) merupakan pemeriksaan yang sensitif. maksimal 600mg/hari dengan dosis 1 kali pemberian perhari. INH yang tersedia umumnya dalam bentuk tablet 100 mg dan 300 mg dan dalam bentuk sirup 100 mg/5 ml. cairan pleura. Rifampisin diabsorpsi dengan baik melalui sistem gastrointestinal pada saat perut kosong. diberikan 1x pemberian. Penatalaksananaan Medikamentosa Obat TB yang digunakan 1. muntah. Saat ini rifampisin diberikan dalam bentuk oral dengan dosis 10-20mg/kgbb/hari. Manifestasi alergi atau hipersensitivitas yang disebabkan INH jarang terjadi. Hepatotoksik mungkin terjadi pada remaja atau anak -anak dengan tuberkulosis berat. Penggunaan INH bersama dengan fenobartbital atau fenitoin dapat meningkatkan resiko hepatotoksik. berupa mual. bilasan lambung. INH tidak dilanjutkan pemberiannya pada keadaan kadar transaminase serum naik lebih dari 3x harga normal atau terjadi manifestasi klinik hepatitis. . Hepatotoksik akan meningkat apabila INH diberikan bersama dengan Rifampisin dan PZA. dapat memasuki semua jaringan. jika diberikan bersama INH. dan kadar serum puncak tercapai dalam 2 jam. Dengan PCR mungkin juga dapat dideteksi adanya resistensi basil TB terhadap obat anti tuberkulosis. atau darah. dapat berdifusi kedalam seluruh jaringan dan cairan tubuh termasuk cairan serebrospinal (CSS). cairan asites. Manifestasi klinis neuritis perifer yang paling sering adalah mati rasa atau kesemutan pada tangan dan kaki. jaringan caseosa dan angka timbulnya reaksi simpang (adverse reaction) sangat rendah. secara peroral. tetapi frekuensinya meningkat dengan bertambahnya usia. Teknik biomolekular PCR merupakan harapan meskipun manfaatnya dalam bidang klinik berlum cukup diteliti. cairan pleura. PCR menggunakan DNA spesifik yang dapat mendeteksi meskipun hanya ada 1 mikroorganisme dalam bahan pemeriksaan seperti spu tum. Kadar piridoksin berkurang pada anak yang menggunakan INH tetapi manifestasi klinisnya jarang sehingga tidak diperlukan piridoksin tambahan. tetapi keduanya jarang terjadi pada anak. nyeri perut dan kuning. Idealnya perlu pemantauan kadar transaminase pada 2 bulan pertama. cairan serebrospinal.Teknik biomolekuler. Neuritis perifer timbul akibat inhibisi kompetitif karena metabolisme piridoksin. max 300 mg/hari. Obat ini efektif pada intrasel dan ekstrasel kuman. Piridoksin diberikan 1x sehari 25-50 mg atau 10 mg piridoksin tiap 100 mg INH. Efek samping yang jarang terjadi antara lain pelagra.

4. kadar puncak 40-50 mikrogram permilliliter dalam waktu 1-2 jam. jika diberikan dengan dosis tinggi dengan terapi intermiten. jadi tidak efektif membunuh kuman intraseluler. termasuk CSS. rifampisin didistribusikan secara luas ke jaringan dan cairan tubuh. Pengobatan TB dibagi dalam 2 fase yaitu fase intensif (2 bulan pertama) dan sisanya sebagai fase lanjutan. Sedangkan pemberian obat jangka panjang selain untuk membunuh kuman.25g/hari dengan dosis tunggal. Pemberian PZA secara oral dengan dosis 15-30mb/kgbb/hari dengan dosis maksimal 2g/hari. Kuman ekstraseluler pada keadaan basa atau netral. Streptomisin Streptomisin bersifat bakteriosid dan bakteriostatik. Pemberian paduan obat ini ditujukan untuk mencegah terjadinya resistensi obat dan untuk membunuh kuman intraseluler dan ekstraseluler. Kadar yang efektif juga dapat ditemukan diginjal dan urin. Ekskresi terutama lewat ginjal dan saluran cerna. EMB tersedia dalam tablet 250mg dan 500mg. Streptomisin berdifusi dengan baik pada jaringan dan cairan pleura. Pirazinamid Pirazinamid adalah derivat dari nikotinamid berpenetrasi baik pada jaringan dan cairan tubuh termasuk SSP. EMB tidak berpenetrasi baik pada SSP. Streptomicin sangat baik melewati selaput otak yang meradang. tetapi tidak dapat melewati selaput otak yang tidak meradang. Rifampisin umumnya tersedia dalam sediaan kapsul 150mg. sehingga kurang sesuai untuk digunakan pada anak-anak dengan berbagai kisaran berat badan. 3. Etambutol Etambutol jarang diberikan pada anak karena potensi toksisitasnya pada mata. . Efek samping rifampisin adalah gangguan gastrointestinal (mual dan muntah) dan hepatotoksisitas (ikterus atau hepatitis) yang biasanya ditandai oleh peningkatan kadar transaminase serum yang asimptomatik. juga untuk mengurangi kemungkinan terjadinya relaps. Streptomisin dapat diberikan secara IM dengan dosis 15-40 mg/kgBB/hari. EMB ditoleransi dengan baik pada dewasa dan anak -anak pada pemberian oral dengan dosis 1 atau 2 kali sehari. 5. dieksresi melalui ginjal. dan iritasi saluran cerna. Dosis etambutol (EMB) 15-20mg/kg/hari. Ekskresi rifampisin terutama terjadi melalui traktus biliaris. anoreksia. maksimal 1 gram perhari. cairan serebrospinal. EMB dapat bersifat bakteriosid. Rifampisin dapat menyebabkan trombositopenia. demikian juga pada keadaan meningitis. 300mg dan 450mg. dapat mencegah timbulnya resistensi terhadap obat-obat lain. Reaksi hipersensisitivitas dan hiperurisemia jarang timbul pada anak. Seperti halnya INH. Pirazinamid tersedia dalam bentuk tablet 500mg. Kemungkinan toksisitas utama adalah neuritis optik dan buta warna merah-hijau. Memiliki aktivitas bakteriostatik dan berdasarkan pengalaman. efek samping PZA adalah hepatotoksisitas. Maksimal 1. OAT pada anak diberikan setiap hari. bakterisid hanya pada intrasel pada suasana asam. Paduan obat TB Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 2 macam obat dan diberikan dalam waktu relatif lama (6-12 bulan). Efek samping rifampisin lebih sering terjadi daripada INH. diresorbsi baik pada saluran pencernaan. Tidak terdapat laporan toksisitas optik pada anak-anak.dosis rifampisin tidak melebihi 15mg/kgbb/hari dan dosis INH tidak melebihi 10mg/kgbb/hari. Toksisitas utama streptomisin terjadi pada nervus kranial VIII yang mengganggu keseimbangan dan pendengaran berupa telinga berdengung (tinismus) dan pusing.

kecuali pada TB berat. Penanggulangan dengan strategi DOTS dapat memberikan angka kesembuhan yang tinggi. Diagnosis TB pada anak sulit dan tidak jarang terjadi salah diagnosis. seperti berat badan mengingkat. Pelacakan tersebut dilakukan dengan cara anamnestik. 3. EMB.Pencatatan dan pelaporan secara baku untuk memudahkan pemantauan dan evaluasi program penganggulangan TBC 2.Kesinambungan persediaan OAT jangka pendek dengan mutu terjamin . Pada fase intensif diberikan rifampisin. Sumber penularan dan case finding Sumber penularan adalah orang dewasa yang menderita TB aktif dan melakukan kontak erat dengan anak tersebut. meningitis TB. tidak terjadi penambahan berat badan. Sesuai dengan rekomendasi WHO. dan gejala-gejala lainnya menghilang. dan lain-lain pada fase intensif diberikan minimal 4 macam obat (rifampisin. dan pirazinamid. dan peritonitis TB diberikan kortikosteroid (prednison) dengan dosis 1-2 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis. meningitis TB. efusi pleura TB. Apabila setelah pengobatan 6-12 bulan terdpat perbaikkan klinis. INH. maka memerlukan biaya yang cukup besar. INH. Obat-obat baku untuk seagian besar kasus TB pada anak adalah paduan rifampisin. yaitu sebagai berikut. pemeriksaan fisik. karena pengobatan TB memerlukan kesinambungan pengobatan dalam jangka waktu yang cukup lama. maka pengobatan dilanjutkan. TB tulang. Pendekatan DOTS DOTS adalah strategi yang telah direkomendasi oleh WHO dalam pelaksanaan program penanggulangan TB. Aktifitas fisik pasien TB anak tidak perlu dibatasi. yaitu gejala masih ada. Pada keadaan TB berat baik pulmonal maupun ekstrapulmonal seperti TB milier.Pengobatan dengan panduan OTA jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh pengawas menelan obat (PMO) . Apabila respon setelah 2 bulan kurang baik. sedangkan fase lanjutan hanya diberikan rifampisin dan INH.Diagnosis TBC dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis . Apabila berespon pengobatan baik yaitu gejala klinisnya hilang dan terjadi penambahan berat badan. Pasien TB anak tidak perlu diisolasi. dilanjutkan tappering off dalam jangka waktu yang sama. maka obat anti TB tetap diberikan dengan tambahan merujuk ke sarana lebih tinggi atau ke konsultan paru anak. Jika masih terdapat kelainan gambaran radiologis maka dianjurkan pemeriksaan radiologis ulangan. TB endobronkial. maka strategi DOTS terdiri atas 5 komponen. Non medika mentosa 1. Aspek sosial ekonomi Pengobatan tuberkulosis tidak terlepas dari masalah sosio ekonomi. maka pengobatan dapat dihentikan. Selain itu perlu dicari pula anak lain di sekitarnya yang mungkin tertular dengan uji tuberkulin.bukan 2 atau 3 kali dalam seminggu. napsu makan membaik. Untuk kasus TB tertentu yaitu TB milier. PZA. Pelacakan dilakukan dengan cara pemeriksaan radiologis dan BTA sputum (pelacakan sentripetal). Edukasi ditujukan kepada pasien dan keluarganya agar mengetahui tentang tuberkulosis.komitmen politis dari para pengambil keputusan termasuk dukungan dana. Lama pemberian kortikosteroid adalah 2-4 minggu dengan dosis penuh. INH dan pirazinamid. . Evaluasi hasil pengobatan Evaluasi pengobatan dilakukan setelah 2 bulan. perikarditis TB. . Hal ini bertujuan mengurangi ketidak teraturan minum obat yang lebih sering terjadi jika obat tidak diminum setiap hari. yaitu uji tuberkulin. dan pemeriksaan penunjang. . atau streptomisin) sedangkan fase lanjutan diberikan rifampisin dan INH selama 10 bulan.

Gejala klinis biasanya timbul akibat gangguan pada paru.05 ml dan untuk anak 0. BAB III TUBERKULOSIS MILIER Tuberkulosis milier termasuk salah satu bentuk TB yang berat dan merupakan 3 -7% dari seluruh kasus TB dengan angka kematian yang tinggi. infeksi berat. dan luka bakar. Kontra indikasi pemberian imunisasi BCG adalah deficiensi imun. dan kortikosteroid) usia remaja dan infeksi TB baru. pasien tampak sakit berat dalam beberapa hari.TB milier merupakan penyakit limfohematogen sistemik akibat penyebaran kuman M. TB milier diawali dengan serangan akut berupa demam tinggi yang sering hilang timbul (remittent). hati. dan rontgen paru biasanya masih normal. serta batuk dan sesak napas. serta syok. Dapat juga terjadi gangguan fungsi organ. status imunologis penderita (non spesifik dan spesifik) dan faktor lingkungan. diberikan INH dengan dosis 5-10 mg/kgBB/hari dengan dosis tunggal. Konversi uji tuberkulin dalam waktu kurang dari 12 bulan.4. terbentuk tuberkel difus multipel. tetapi tanda dan gejala penyakit saluran napas belum ada. penggunaan kortikosteroid jangka lama.TB (jumlah dan virulensi). mendapat obat imunosupresif yang lama (sitostatik. seperti infeksi HIV. kegagalan multiorgan. yaitu gejala respiratorik seperti batuk dan sesak napas disertai ronkhi atau mengi. karena imunitas seluler spesifik.10 ml diberikan intrakutan di daerah insersi otot deltoid kanan. tetapi belum sakit. gagal ginjal. Kemoprofilaksis Kemoprofilaksis primer bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi TB pada anak. menderita morbili. dan mekanisme lokal pertahanan parunya belum berkembang sempurna sehingga kuman TB mudah berkembang biak dan menyebar ke seluruh tubuh. . terutama usia dibawah 2 tahun. pertusis. diabetes melitus. TB milier lebih sering terjadi pada bayi dan anak kecil. Demam kemudian bertambah tinggi suhunya dan berlangsung terus menerus/kontinyu. sebaiknya dilakukan uji tuberkulin dulu. b. ditandai dengan uji tuberkulin positif. Bila BCG diberikan pada usia lebih dari 3 bulan. Pada kemoprofilaksis primer.tuberkulosis dari kompleks primer yang biasanya terjadi dalam waktu 2-6 bulan pertama setelah infeksi awal. Terjadinya TB milier dipengaruhi 3 faktor yaitu kuman M. infeksi campak. malnutrisi. demam lama dengan penyebab yang tidak jelas. Kemoprofilaksis sekunder diberikan pada anak yang telah terinfeksi. pada hampirdi semua organ. Beberapa kondisi yang menurunkan sistem imun juga dapat menyebabkan timbulnya TB milier. Obat dihentikan jika sumber kontak sudah tidak menular lagi dan anak ternyata tetap tidak infeksi (setelah uji tuberkulin ulangan). fungsi makrofag. seperti anoreksia dan berat badan turun atau gagal tumbuh (dengan demam ringan atau tanpa demam). klinis dan radiologis normal. TB milier dapat terjadi pada anak besar dan remaja akibat pengobatan penyakit paru primer yang tidak adekuat atau pada usia dewasa akibat reaktivasi kuman yang dorman. keganasan. Pencegahan a. sedangkan kemoprofilaksis sekunder mencegah aktifnya infeksi sehingga anak tidak sakit. Manifestasi Klinis Gejala yang sering dijumpai adalah keluhan kronik yang tidak khas. dan sumsum tulang. dan pertusis. limpa. terutama di paru. Dosis untuk bayi sebesar 0. tanpa disertai gejala saluran napas atau disertai gejala minimal. Anak yang mendapat kemoprofilaksis sekunder adalah usia balita. Beberapa minggu kemudian. varisela. BCG Imunisasi BCG diberikan pada usia sebelum 2 bulan.

Lesi kecil dapat begabung membentuk lesi yang lebih besar. efusi pleura TB. 2005.Kortikosteroid diberikan pada TB milier. peningkatan nafsu makan. gambaran klinis. Uji tuberkulin tetap merupakan alat bantu diagnosis TB yang penting pada anak. Untuk menentukan diagnosis dini. Gambarannya sangat khas. perbaikan kualitas hidup sehari-hari. Peritonitis TB ditandai oleh keluhan nyeri atau pembengkakan abdomen. Tuberkel koroid jika ditemukan lebih dini dapat merupakan tanda yang sangat spesifik dan sangat membantu diagnosis TB milier. Sakit kepala kronik atau berulang biasanya merupakan gejala telah terjadinya meningitis dan merupakan indikasi untuk melakukan pungsi lumbal. nodul.Gejala lain yang dapat ditemukan adalah kelainan kulit berupa tuberkuloid. perikarditis TB. Meningitis TB dan peritonitis TB dapat ditemukan pada pasien yang penyakitnya sudah berat. maka perhatian pada penyakit TB harus lebih ditingkatkan. Diagnosis TB pada anak sering sulit karena gambaran rontgen paru dan gambaran klinis tidak selalu khas dan sedangkan penemuan basil TB sulit. Uji tuberkulin yang negatif belum tentu tidak ada infeksi atau penyak it TB atau sebaliknya. meningitis TB. Jakarta : UKK Pulmonologi PP IDAI : 33-50 . Lesi milier dapat terlihat pada rontgen paru dalam waktu 2-3 minggu setelah penyebaran kuman secara hematogen. KESIMPULAN TB masih merupakan masalah mortalitas dan morbiditas di negara-negara berkembang. Sekitar 1-2 minggu setelah timbulnya penyakit. bilasan lambung atau pemeriksaan sputum kurang sensitif dibandingkan pemeriksaan bakteriologik dan histologik dari biopsi hepar atau sumsum tulang. yaitu penderita Tb dewasa. Untuk menentukan diagnosa meningitis TB. dan peningkatan berat badan. Penatalaksanaan Dengan pemberian 4-5 macam OAT selama 2 bulan pertama. atau purpura. serta uji tuberkulin yang positif. dkk. papula nekrotik. dilanjutkan dengan isoniazid dan rifampisin selama 4-6 bulan sesuai dengan perkembangan klinis. perbaikan TB milier biasanya berjalan lambat. lesi yang tidak teratur seperti kepingan salju dapat dilihat pada rontgen paru. TB merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan pemberian imunisasi BCG pada anak dan pengobatan sumber infeksi. Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak. Nastiti N Rahajoe. Diagnosis Diagnosis TB milier pad anak dibuat berdasarkan adanya riwayat kontak dengan pasien TB dewasa yang infeksius (BTA positif). Pemeriksaan sputum atau bilasan lambung dan kultur M. kadangkadang membentuk infiltrat yang luas. Respons keberhasilan terapi antara lain adalah hilangnya demam setelah 2-3 minggu pengobatan. pungsi lumbal sebaiknya dilakukan pada setiap pasien TB milier walaupun belum timbul kejang atau penurunan kesadaran. Gambaran milier pada rontgen dada berangsur-angsur menghilang dalam 5-10 minggu.tuberculosis tetap penting dilakukan. Prednison biasanya diberikan dengan dosis 1-2 mg/kgBB/hari selama 4-8 minggu kemudian diturunkan perlahan-lahan hingga 2-6 minggu kemudian. gambaran radiologis yang khas. Dengan pengobatan yang tepat. berupa tuberkel halus (milli) yang tersebar merata di seluruh lapangan paru. tetapi mungkin juga belum ada perbaikan sampai beberapa bulan. DAFTAR PUSTAKA 1. Disamping itu dengan adanya penyakit karena HIV. dengan bentuk yang khas dan ukuran yang hampir seragam (1-3 mm). dan peritonitis TB.

Noenoeng Rahajoe.2. Jakarta : Fakultas Kedokteran UI : 161-179 . 1994. Perkambangan dan Masalah Pulmonologi Anak Saat Ini. dkk.