TB Paru Pada Anak I

BAGIAN ILMU PENYAKIT ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN 2005

BAB I PENDAHULUAN Penyakit tuberkulosis pada anak merupakan penyakit yang bersifat sistemik, yang dapat bermanifestasi pada berbagai organ, terutama paru. Sifat sistemik ini disebabkan oleh penyebaran hematogen dan limfogen setelah terjadi infeksi Mycobacterium tuberculosis. Data insidens dan prevalens tuberkulosis anak tidak mudah. Dengan penelitian indeks tuberkulin dapat diperkirakan angka kejadian prevalens tuberkulosis an Kriteria ak. masalah tuberkulosis di suatu negara adalah kasus BTA positif per satu juta penduduk. Jadi sampai saat ini belum ada satu negara pun yang bebas tuberkulosis. TB merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan pemberian imunisasi BCG pada anak dan pengobatan sumber infeksi, yaitu penderita TB dewasa. Disamping itu dengan adanya penyakit karena HIV maka perhatian pada penyakit TB harus lebih ditingkatkan Anak biasanya tertular TB, atau juga disebut mendapat infeksi primer TB, akan membentuk imunitas sehingga uji tuberkulin akan menjadi positif. Tidak semua anak yang terinfeksi TB primer ini akan sakit TB. BAB II URAIAN 1. Patogenesis Penularan biasanya melalui udara, yaitu dengan inhalasi droplet nucleus yang mengandung basil TB. Hanya droplet nucleus ukuran 1-5 mikron yang dapat melewati atau menembus sistem mukosilier saluran napas sehingga dapat mencapai dan bersarang di bronkiolus dan alveolus. Di sini basil tuberkulosis berkembang biak dan menyebar melalui saluran limfe dan aliran darah tanpa perlawanan yang berarti dari pejamu karena belum ada kekebalan awal. Di dalam alveolus akan memfagsitosis sebagian basil spesifik. Makrofag di dalam alveolus akan memfagositosis sebagian basil tuberkulosis tersebut tetapi belum mampu membunuhnya sebagian basil TB dalam makrofag umumnya dapat tetap hidup dan berkembang biak. Basil TB yang menyebar melalui saluran limfe regional. Sedangkan yang melalui aliran darah akan mencapai berbagai organ tubuh. Di dalam organ tersebut akan terjadi pemrosesan dan transfer antigen ke limfosit. Ada jaringan dan organ tubuh yang resisten terhadap basil TB. Basil TB hampir selalu terdapat bersarang di sumsum tulang, hepar dan limfe tetapi tidak selalu dapat berkembang biak secara luas. Basil TB di lapangan atas paru, ginjal, tulang, dan otak lebih mudah berkembang biak terutama sebelum imunitas spesifik terbentuk. Imunitas spesifik yang terbentuk biasanya cukup kuat untuk menghambat perkembangbiakan basil TB lebih lanjut. Dengan demikian lesi TB akan sembuh dan tidak ada tanda dan gejala klinis. Pada sebagian kasus imunitas spesifik yang terbentuk tidak cukup kuat sehingga terjadi penyakit TB dalam 12 bulan setelah infeksi dan pada sebagian penderita TB terjadi setelah lebih dari 12 bulan setelah infeksi.

Selama infeksi primer berlangsung basil TB bersarang di kelenjar limfe hilus dan mediastinum. dan dapat juga bersarang di kelenjar limfe lainnya. Gejala dan tanda klinis TB tidak khas. Infeksi di kelenjar tersebut dapat langsung berkembang menjadi TB aktif. meningitis ata gibbus berarti TB sudah berlanjut atau berkomplikasi. Dapat juga mengenai tulang. Kadang-kadang demam merupakan satu-satunya gejala yang ada. Gejala klinik TB terdiri atas gejala umum atau sistemik (seperti demam. Pendekatan Diagnosis TB Paru Pada umunya berdasarkan hasil uji tuberkulin. kelainan foto paru dan biakan basil TB yang positif. berat badan menurun. uji tuberkulin positif. anoreksia. Kemungkinan menjadi sakit TB diperbesar pada balita. basil TB yang menyebar ke seluruh badan suatu saat di kemudian hari dapat berkembang biak dan menyebabkan penyakit. keringat malam dan malaise). Jadi kalau terkena TB sering terjadi TB yang berat dan sering gambaran klinik TB dengan HIV berbeda dengan TB biasa. pubertas dan akil balik. anoreksia. demam tidak tinggi yang berlangsung lama. . 2.Kurang lebih 10% individu yang terkena infeksi TB akan menderita penyakit TB dalam beberapa bulan atau beberapa tahun setelah infeksi. Juga keadaan yang menyebabkan turunnya imunitas memperbesar kemungkinan sakit TB. Hipersensitivitas terhadap beberapa komponen basil TB dapat dilihat pada uji kulit dengan tuberkulin yang biasanya terjadi 2-10 minggu setelah infeksi. ginjal dan organ lain. Diagnosis dini biasanya dapat ditegakkan kalau dilakukan uji tuberkulin secara rutin pada setiap anak yang datang berobat. dan gejala khusus sesuai dengan organ yang terkena. sehingga terjadi meningitis. Efusi pleura dapat terjadi setiap saat setelah infeksi primer. Tetapi pada kenyataannya menegakkan diagnosis TB pada anak tidak selalu mudah. Gejala yang didapat biasanya lesu. tetapi dapt juga terjadi setelah beberapa waktu kemudian akibat erosi fokus di dinding pembuluh darah. dapat aktif beberapa tahun kemudian atau tidak pernah menjadi aktif sama sekali. Lesi primer dan lesi di kelenjar limfe regional disebut kompleks primer. kadang-kadang juga timbul gejala seperti influensa. Kalau gejala klinis sudah jelas misalnya adanya limfadenitis di leher. foto rontgen paru dan gambaran klinis sudah dapat ditegakkan diagnosis kerja tuberkulosis. Dalam waktu 2-10 minggu ini juga terjadi cell-mediated immune response. tapi dapat juga setelah 1 tahun atau lebih. Penyakit TB dapat timbul dalam 12 bulan setelah infeksi. Lesi TB paling sering terjadi di lapangan atas paru. misalnya karena infeksi HIV dan pemakaian kortikosteroid atau obat imunosupresif lainnya yang lama. TB milier dapat mengenai banyak organ misalnya selaput otak. demikian juga pada diabetes melitus dan silikosis. TB milier dapat terjadi pada masa dini. berat badan menurun. Pada individu normal respons imunologik terhadap infeksi tuberkulosis cukup memberi perlindungan terhadap infeksi tambahan berikutnya. Setelah terjadi infeksi pertama. Efusi biasanya terjadi karena tuberkuloprotein dari paru masuk ke rongga pleura sehingga terjadi reaksi inflamasi dan terjadi pengumpulan cairan jernih di dalamnya. Pada pasien yang tidak menunjukkan gejala dan tanda klinis maka TB dapat terdeteksi kalau diketahui adanya kontak dengan pasien TB dewasa. Risiko terjadinya reinfeksi tergantung pada intensitas terpaparnya dan sistem imun individu yang bersangkutan (host=pejamu) Pada pasien dengan infeksi HIV terjadi penekanan pada imun respons.

Pada anak besar gejalanya dapat seperti pada orang dewasa. Cairan ini pun sebenarnya kurang memuaskan disamping kesulitan untuk mendapatkan biakan metode pembiakan basil TB memerlukan waktu cukup lama sehingga dibutuhkan suatu metode pembiakan yang lebih baik. Conjunctivitis phlyctenularis dapat erjadi pada anak dengan TB. TB milier dapat menimbulkan gejala akut berupa demam. Batuk dapat terjadi karena iritasi oleh kelenjar yang membesar dan menekan bronkus. Gejala umum dapat disertai gejala rangsangan meningeal. Infeksi Mycobacterium atipik dapat juga menyebabkan uji tuberkulin positif. Uji tuberkulin dapat menunjukkan infeksi tuberkulosis. Batuk tidak selalu merupakan gejala utama dan jarang ada batuk darah. kavitas. misalnya batuk dengan reak dan dapat juga terjadi hemoptisis. Gambaran foto rontgen paru pada TB anak tidak selalu khas. Gambaran klinis TB di luar paru sesuai dengan organ yang terkena. untuk mendeteksi antibodi IgG terhadap cord factor berguna untuk serodiagnosis paru aktif. Pada anak kecil tidak selalu disertai batuk. Biasanya kecurigaan ke arah TB muncul kalau ditemukan pembesaran kelenjar hilus. Imunisasi BCG dapat juga menyebabkan uji tuberkulin positif. bahkan tidak jarang TB baru terdeteksi karena adnya phlycten. Saat ini dipakai sistem BACTEC. Diameter indurasi 10 mm atau lebih dinyatakan positif. reak atau hemoptisis seperti pada TB dewasa. konsolidasi efusi pleura. Ada 2 jenis tuberkulin yang dipakai yaitu OT (Old Tuberkulin) dan Tuberkulin PPD (Purified Protein Derivatif) dan ada 2 jenis tuberkulin PPD yang dipakai yaitu PPD-S (Seibert) dan PPD-RT23. ditemukannya tuberkel pada funduskopi. Tetapi uji tuberkulin akibat imunisasi BCG biasanya tidak kuat reaksinya sehingga meskipun telah ada parut BCG kalau reaksi 15 mm atau lebih harus dicurigai adanya superinfeksi alami basil TB. Uji tuberkulin dibaca setelah 48-72 jam. sesak nafas dan sianosis. Pemeriksaan bakteriologis TB untuk mendapatkan bahan pemeriksaan bakteriologis berupa sputum pada anak sangat sukar. diameter 5-9 mm masih meragukan dan harus dinilai lagi. Infeksi M. Kadang-kadang diperlukan pengulangan uji tuberkulin untuk memastikan ada tidaknya infeksi TB. . Pada TB milier dapat ditemukan tuberkel koroid pada funduskopi. TB kelenjar limfe superfisialis paling sering mengenai leher dan supraklavikula. inguinal dan submandibula. Uji serologis TB umumnya dilakukan dengan cara ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay). paratrakeal dan mediastinum.tuberkulosis membentuk sensitifitas terhadap beberapa komponen antigen basil TB yang menjadi bahan pembuatan tuberkulin. splenomegali dan limfadenopati. Serodiagnosis. tetapi sebaiknya uji tuberkulin dilakukan dengan tuberkulin yang sama 1-2 minggu kemudian untuk mencegah efek booster. emfisema lobus dan gambaran milier. sebagai gantinya biasanya dilakukan bilasan lambung karena cairan lambung mengandung sputum yang tertelan. Juga dapat mengenai aksila. tetapi biasanya reaksinya kecil. atelektasis.Pada anak dengan TB sering tidak ditemukan tanda dan gejala. dan satu-satunya petunjuk adanya TB adalah uji tuberkulin positif. tetapi dapat juga menimbulkan gejala kronik yang disertai gejala sistemik. hepatomegali. Uji peroksidase-anti-peroksidase (PAP) merupakan uji serologis imunoperoksidase yang menggunakan kit histogen imunoperoksidase staining untuk menentukan adanya IgG spesifik terhadap basil TB. Titer antibodi faktor anti cord menurun sampai normal setelah pemberian obat anti tuberkulosis.

Manifestasi alergi atau hipersensitivitas yang disebabkan INH jarang terjadi. nyeri perut dan kuning. . PCR menggunakan DNA spesifik yang dapat mendeteksi meskipun hanya ada 1 mikroorganisme dalam bahan pemeriksaan seperti spu tum. anemia hemolitik pada pasien dengan defisiensi enzim G6PD. cairan pleura. Efek samping yang jarang terjadi antara lain pelagra. Neuritis perifer timbul akibat inhibisi kompetitif karena metabolisme piridoksin. max 300 mg/hari. Hepatotoksik mungkin terjadi pada remaja atau anak -anak dengan tuberkulosis berat. jika diberikan bersama INH. Manifestasi klinis neuritis perifer yang paling sering adalah mati rasa atau kesemutan pada tangan dan kaki. dan kadar serum puncak tercapai dalam 2 jam. Rifampisin Rifampisin bersifat bakteriosid pada intrasel dan ekstrasel. Teknik biomolekular PCR merupakan harapan meskipun manfaatnya dalam bidang klinik berlum cukup diteliti.Teknik biomolekuler. INH yang tersedia umumnya dalam bentuk tablet 100 mg dan 300 mg dan dalam bentuk sirup 100 mg/5 ml. maksimal 600mg/hari dengan dosis 1 kali pemberian perhari. Idealnya perlu pemantauan kadar transaminase pada 2 bulan pertama. dapat membunuh kuman semi-dormand yang tidak dapat dibunuh oleh INH. secara peroral. cairan asites. tetapi keduanya jarang terjadi pada anak. INH tidak dilanjutkan pemberiannya pada keadaan kadar transaminase serum naik lebih dari 3x harga normal atau terjadi manifestasi klinik hepatitis. dapat memasuki semua jaringan. dan reaksi mirip lupus yang disertai ruam dan artritis. 3. cairan serebrospinal. Penggunaan INH bersama dengan fenobartbital atau fenitoin dapat meningkatkan resiko hepatotoksik. Dosis harian INH biasa diberikan 5-15 mg/kgBB/hari. tetapi frekuensinya meningkat dengan bertambahnya usia. Obat ini efektif pada intrasel dan ekstrasel kuman. Piridoksin diberikan 1x sehari 25-50 mg atau 10 mg piridoksin tiap 100 mg INH. diberikan 1x pemberian. Penatalaksananaan Medikamentosa Obat TB yang digunakan 1. Isoniazid INH adalah obat antituberkulosis yang efektif saat ini bersifat bakterisid dan sangat efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolit aktif yaitu kuman yang sedang berkembang dan bersifat bakteriostatik terhadap kuman yang diam. dapat berdifusi kedalam seluruh jaringan dan cairan tubuh termasuk cairan serebrospinal (CSS). Hepatotoksik akan meningkat apabila INH diberikan bersama dengan Rifampisin dan PZA. bilasan lambung. atau darah. Dengan PCR mungkin juga dapat dideteksi adanya resistensi basil TB terhadap obat anti tuberkulosis. cairan pleura. INH mempunyai 2 efek toksik utama yaitu hepatotoksik dan neuritis perifer. jaringan caseosa dan angka timbulnya reaksi simpang (adverse reaction) sangat rendah. Reaksi rantai polimerase (PCR-Polimerase Chain Reaction) merupakan pemeriksaan yang sensitif. Kadar piridoksin berkurang pada anak yang menggunakan INH tetapi manifestasi klinisnya jarang sehingga tidak diperlukan piridoksin tambahan. 2. Saat ini rifampisin diberikan dalam bentuk oral dengan dosis 10-20mg/kgbb/hari. berupa mual. muntah. Rifampisin diabsorpsi dengan baik melalui sistem gastrointestinal pada saat perut kosong.

rifampisin didistribusikan secara luas ke jaringan dan cairan tubuh. Kadar yang efektif juga dapat ditemukan diginjal dan urin. Memiliki aktivitas bakteriostatik dan berdasarkan pengalaman. maksimal 1 gram perhari. Ekskresi terutama lewat ginjal dan saluran cerna. 3. Pirazinamid Pirazinamid adalah derivat dari nikotinamid berpenetrasi baik pada jaringan dan cairan tubuh termasuk SSP. EMB tersedia dalam tablet 250mg dan 500mg. Paduan obat TB Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 2 macam obat dan diberikan dalam waktu relatif lama (6-12 bulan). Kuman ekstraseluler pada keadaan basa atau netral. Pengobatan TB dibagi dalam 2 fase yaitu fase intensif (2 bulan pertama) dan sisanya sebagai fase lanjutan. 5.25g/hari dengan dosis tunggal. Rifampisin umumnya tersedia dalam sediaan kapsul 150mg. 300mg dan 450mg. Dosis etambutol (EMB) 15-20mg/kg/hari. dieksresi melalui ginjal. 4. EMB ditoleransi dengan baik pada dewasa dan anak -anak pada pemberian oral dengan dosis 1 atau 2 kali sehari. juga untuk mengurangi kemungkinan terjadinya relaps. Sedangkan pemberian obat jangka panjang selain untuk membunuh kuman. demikian juga pada keadaan meningitis. termasuk CSS. Etambutol Etambutol jarang diberikan pada anak karena potensi toksisitasnya pada mata. kadar puncak 40-50 mikrogram permilliliter dalam waktu 1-2 jam. anoreksia. Efek samping rifampisin lebih sering terjadi daripada INH. jadi tidak efektif membunuh kuman intraseluler. Toksisitas utama streptomisin terjadi pada nervus kranial VIII yang mengganggu keseimbangan dan pendengaran berupa telinga berdengung (tinismus) dan pusing. EMB dapat bersifat bakteriosid. diresorbsi baik pada saluran pencernaan. . Seperti halnya INH. Reaksi hipersensisitivitas dan hiperurisemia jarang timbul pada anak. OAT pada anak diberikan setiap hari. Kemungkinan toksisitas utama adalah neuritis optik dan buta warna merah-hijau. Tidak terdapat laporan toksisitas optik pada anak-anak. Streptomisin berdifusi dengan baik pada jaringan dan cairan pleura. tetapi tidak dapat melewati selaput otak yang tidak meradang. Rifampisin dapat menyebabkan trombositopenia. Pemberian PZA secara oral dengan dosis 15-30mb/kgbb/hari dengan dosis maksimal 2g/hari. Streptomisin Streptomisin bersifat bakteriosid dan bakteriostatik. Efek samping rifampisin adalah gangguan gastrointestinal (mual dan muntah) dan hepatotoksisitas (ikterus atau hepatitis) yang biasanya ditandai oleh peningkatan kadar transaminase serum yang asimptomatik. bakterisid hanya pada intrasel pada suasana asam. cairan serebrospinal. Streptomisin dapat diberikan secara IM dengan dosis 15-40 mg/kgBB/hari. Pirazinamid tersedia dalam bentuk tablet 500mg. Maksimal 1.dosis rifampisin tidak melebihi 15mg/kgbb/hari dan dosis INH tidak melebihi 10mg/kgbb/hari. dapat mencegah timbulnya resistensi terhadap obat-obat lain. sehingga kurang sesuai untuk digunakan pada anak-anak dengan berbagai kisaran berat badan. efek samping PZA adalah hepatotoksisitas. jika diberikan dengan dosis tinggi dengan terapi intermiten. EMB tidak berpenetrasi baik pada SSP. dan iritasi saluran cerna. Pemberian paduan obat ini ditujukan untuk mencegah terjadinya resistensi obat dan untuk membunuh kuman intraseluler dan ekstraseluler. Ekskresi rifampisin terutama terjadi melalui traktus biliaris. Streptomicin sangat baik melewati selaput otak yang meradang.

Edukasi ditujukan kepada pasien dan keluarganya agar mengetahui tentang tuberkulosis.Kesinambungan persediaan OAT jangka pendek dengan mutu terjamin . TB tulang. Evaluasi hasil pengobatan Evaluasi pengobatan dilakukan setelah 2 bulan. maka memerlukan biaya yang cukup besar. maka strategi DOTS terdiri atas 5 komponen. meningitis TB. yaitu gejala masih ada. karena pengobatan TB memerlukan kesinambungan pengobatan dalam jangka waktu yang cukup lama. maka pengobatan dapat dihentikan. dan pemeriksaan penunjang. Aspek sosial ekonomi Pengobatan tuberkulosis tidak terlepas dari masalah sosio ekonomi. INH dan pirazinamid. dan peritonitis TB diberikan kortikosteroid (prednison) dengan dosis 1-2 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis. Aktifitas fisik pasien TB anak tidak perlu dibatasi. dilanjutkan tappering off dalam jangka waktu yang sama. EMB. Pada keadaan TB berat baik pulmonal maupun ekstrapulmonal seperti TB milier. Pada fase intensif diberikan rifampisin. seperti berat badan mengingkat.Diagnosis TBC dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis . Jika masih terdapat kelainan gambaran radiologis maka dianjurkan pemeriksaan radiologis ulangan. Apabila setelah pengobatan 6-12 bulan terdpat perbaikkan klinis. Pelacakan tersebut dilakukan dengan cara anamnestik. Pelacakan dilakukan dengan cara pemeriksaan radiologis dan BTA sputum (pelacakan sentripetal). TB endobronkial. Penanggulangan dengan strategi DOTS dapat memberikan angka kesembuhan yang tinggi. PZA. Hal ini bertujuan mengurangi ketidak teraturan minum obat yang lebih sering terjadi jika obat tidak diminum setiap hari. Sumber penularan dan case finding Sumber penularan adalah orang dewasa yang menderita TB aktif dan melakukan kontak erat dengan anak tersebut. Non medika mentosa 1. efusi pleura TB.bukan 2 atau 3 kali dalam seminggu.Pengobatan dengan panduan OTA jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh pengawas menelan obat (PMO) . INH. tidak terjadi penambahan berat badan. . kecuali pada TB berat. Diagnosis TB pada anak sulit dan tidak jarang terjadi salah diagnosis. Selain itu perlu dicari pula anak lain di sekitarnya yang mungkin tertular dengan uji tuberkulin. Obat-obat baku untuk seagian besar kasus TB pada anak adalah paduan rifampisin. maka pengobatan dilanjutkan. Sesuai dengan rekomendasi WHO. pemeriksaan fisik. Apabila respon setelah 2 bulan kurang baik. napsu makan membaik. sedangkan fase lanjutan hanya diberikan rifampisin dan INH. maka obat anti TB tetap diberikan dengan tambahan merujuk ke sarana lebih tinggi atau ke konsultan paru anak. atau streptomisin) sedangkan fase lanjutan diberikan rifampisin dan INH selama 10 bulan. dan gejala-gejala lainnya menghilang. yaitu uji tuberkulin. Pasien TB anak tidak perlu diisolasi. 3. Untuk kasus TB tertentu yaitu TB milier. Pendekatan DOTS DOTS adalah strategi yang telah direkomendasi oleh WHO dalam pelaksanaan program penanggulangan TB. . perikarditis TB. Apabila berespon pengobatan baik yaitu gejala klinisnya hilang dan terjadi penambahan berat badan. Lama pemberian kortikosteroid adalah 2-4 minggu dengan dosis penuh. INH. yaitu sebagai berikut.Pencatatan dan pelaporan secara baku untuk memudahkan pemantauan dan evaluasi program penganggulangan TBC 2. dan pirazinamid. meningitis TB. .komitmen politis dari para pengambil keputusan termasuk dukungan dana. dan lain-lain pada fase intensif diberikan minimal 4 macam obat (rifampisin.

tuberkulosis dari kompleks primer yang biasanya terjadi dalam waktu 2-6 bulan pertama setelah infeksi awal. fungsi makrofag. serta syok. pasien tampak sakit berat dalam beberapa hari. tanpa disertai gejala saluran napas atau disertai gejala minimal. Beberapa minggu kemudian. dan luka bakar. dan rontgen paru biasanya masih normal. Terjadinya TB milier dipengaruhi 3 faktor yaitu kuman M. Anak yang mendapat kemoprofilaksis sekunder adalah usia balita. Kontra indikasi pemberian imunisasi BCG adalah deficiensi imun. demam lama dengan penyebab yang tidak jelas. sedangkan kemoprofilaksis sekunder mencegah aktifnya infeksi sehingga anak tidak sakit. Kemoprofilaksis Kemoprofilaksis primer bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi TB pada anak. Dosis untuk bayi sebesar 0. terutama di paru. Manifestasi Klinis Gejala yang sering dijumpai adalah keluhan kronik yang tidak khas.TB milier merupakan penyakit limfohematogen sistemik akibat penyebaran kuman M. BAB III TUBERKULOSIS MILIER Tuberkulosis milier termasuk salah satu bentuk TB yang berat dan merupakan 3 -7% dari seluruh kasus TB dengan angka kematian yang tinggi. infeksi campak. Dapat juga terjadi gangguan fungsi organ. mendapat obat imunosupresif yang lama (sitostatik. dan mekanisme lokal pertahanan parunya belum berkembang sempurna sehingga kuman TB mudah berkembang biak dan menyebar ke seluruh tubuh. . Pencegahan a.05 ml dan untuk anak 0. status imunologis penderita (non spesifik dan spesifik) dan faktor lingkungan. hati. Bila BCG diberikan pada usia lebih dari 3 bulan. Kemoprofilaksis sekunder diberikan pada anak yang telah terinfeksi. Beberapa kondisi yang menurunkan sistem imun juga dapat menyebabkan timbulnya TB milier.TB (jumlah dan virulensi). dan kortikosteroid) usia remaja dan infeksi TB baru. b. kegagalan multiorgan. pertusis. diberikan INH dengan dosis 5-10 mg/kgBB/hari dengan dosis tunggal.10 ml diberikan intrakutan di daerah insersi otot deltoid kanan. karena imunitas seluler spesifik. pada hampirdi semua organ. terutama usia dibawah 2 tahun. sebaiknya dilakukan uji tuberkulin dulu. malnutrisi. seperti infeksi HIV. menderita morbili. gagal ginjal. TB milier diawali dengan serangan akut berupa demam tinggi yang sering hilang timbul (remittent). penggunaan kortikosteroid jangka lama. Demam kemudian bertambah tinggi suhunya dan berlangsung terus menerus/kontinyu.4. tetapi tanda dan gejala penyakit saluran napas belum ada. diabetes melitus. varisela. Konversi uji tuberkulin dalam waktu kurang dari 12 bulan. TB milier lebih sering terjadi pada bayi dan anak kecil. Pada kemoprofilaksis primer. TB milier dapat terjadi pada anak besar dan remaja akibat pengobatan penyakit paru primer yang tidak adekuat atau pada usia dewasa akibat reaktivasi kuman yang dorman. Gejala klinis biasanya timbul akibat gangguan pada paru. dan sumsum tulang. dan pertusis. BCG Imunisasi BCG diberikan pada usia sebelum 2 bulan. Obat dihentikan jika sumber kontak sudah tidak menular lagi dan anak ternyata tetap tidak infeksi (setelah uji tuberkulin ulangan). infeksi berat. terbentuk tuberkel difus multipel. klinis dan radiologis normal. serta batuk dan sesak napas. keganasan. ditandai dengan uji tuberkulin positif. yaitu gejala respiratorik seperti batuk dan sesak napas disertai ronkhi atau mengi. limpa. tetapi belum sakit. seperti anoreksia dan berat badan turun atau gagal tumbuh (dengan demam ringan atau tanpa demam).

Tuberkel koroid jika ditemukan lebih dini dapat merupakan tanda yang sangat spesifik dan sangat membantu diagnosis TB milier. nodul. gambaran radiologis yang khas. maka perhatian pada penyakit TB harus lebih ditingkatkan. pungsi lumbal sebaiknya dilakukan pada setiap pasien TB milier walaupun belum timbul kejang atau penurunan kesadaran. Lesi kecil dapat begabung membentuk lesi yang lebih besar. perbaikan TB milier biasanya berjalan lambat. efusi pleura TB. yaitu penderita Tb dewasa. Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak. dan peningkatan berat badan. Lesi milier dapat terlihat pada rontgen paru dalam waktu 2-3 minggu setelah penyebaran kuman secara hematogen. 2005. meningitis TB. Pemeriksaan sputum atau bilasan lambung dan kultur M. Jakarta : UKK Pulmonologi PP IDAI : 33-50 . atau purpura.Kortikosteroid diberikan pada TB milier. Gambarannya sangat khas. Sakit kepala kronik atau berulang biasanya merupakan gejala telah terjadinya meningitis dan merupakan indikasi untuk melakukan pungsi lumbal. berupa tuberkel halus (milli) yang tersebar merata di seluruh lapangan paru. dengan bentuk yang khas dan ukuran yang hampir seragam (1-3 mm). Respons keberhasilan terapi antara lain adalah hilangnya demam setelah 2-3 minggu pengobatan. Meningitis TB dan peritonitis TB dapat ditemukan pada pasien yang penyakitnya sudah berat. Uji tuberkulin tetap merupakan alat bantu diagnosis TB yang penting pada anak. Diagnosis TB pada anak sering sulit karena gambaran rontgen paru dan gambaran klinis tidak selalu khas dan sedangkan penemuan basil TB sulit. bilasan lambung atau pemeriksaan sputum kurang sensitif dibandingkan pemeriksaan bakteriologik dan histologik dari biopsi hepar atau sumsum tulang. Uji tuberkulin yang negatif belum tentu tidak ada infeksi atau penyak it TB atau sebaliknya. Peritonitis TB ditandai oleh keluhan nyeri atau pembengkakan abdomen. Gambaran milier pada rontgen dada berangsur-angsur menghilang dalam 5-10 minggu. Disamping itu dengan adanya penyakit karena HIV.Gejala lain yang dapat ditemukan adalah kelainan kulit berupa tuberkuloid. lesi yang tidak teratur seperti kepingan salju dapat dilihat pada rontgen paru. dan peritonitis TB. Nastiti N Rahajoe. peningkatan nafsu makan. Prednison biasanya diberikan dengan dosis 1-2 mg/kgBB/hari selama 4-8 minggu kemudian diturunkan perlahan-lahan hingga 2-6 minggu kemudian. gambaran klinis. Diagnosis Diagnosis TB milier pad anak dibuat berdasarkan adanya riwayat kontak dengan pasien TB dewasa yang infeksius (BTA positif). KESIMPULAN TB masih merupakan masalah mortalitas dan morbiditas di negara-negara berkembang. serta uji tuberkulin yang positif. dkk. Sekitar 1-2 minggu setelah timbulnya penyakit. Untuk menentukan diagnosa meningitis TB. tetapi mungkin juga belum ada perbaikan sampai beberapa bulan. Penatalaksanaan Dengan pemberian 4-5 macam OAT selama 2 bulan pertama. Dengan pengobatan yang tepat. perbaikan kualitas hidup sehari-hari.tuberculosis tetap penting dilakukan. papula nekrotik. TB merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan pemberian imunisasi BCG pada anak dan pengobatan sumber infeksi. kadangkadang membentuk infiltrat yang luas. dilanjutkan dengan isoniazid dan rifampisin selama 4-6 bulan sesuai dengan perkembangan klinis. perikarditis TB. Untuk menentukan diagnosis dini. DAFTAR PUSTAKA 1.

2. dkk. Perkambangan dan Masalah Pulmonologi Anak Saat Ini. Jakarta : Fakultas Kedokteran UI : 161-179 . 1994. Noenoeng Rahajoe.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful