BAB I PENGANTAR

A. Latar Belakang Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa kondisi koperasi di Indonesia jika dibandingkan dengan praktik-praktik koperasi di berbagai negara industri maju, dinilai oleh banyak kalangan masih jauh tertinggal, bahkan cenderung bergantung pada bantuan pemerintah. Sedangkan organisasi koperasi di sejumlah negara maju baik di Eropa, Amerika, Canada dan beberapa negara Asia lainnya mampu tumbuh dan berkembang seiring dengan perubahan pola perdagangan yang mensyaratkan kompetisi tinggi di era globalisai saat ini. Dorongan global menuntut koperasi melakukan reorientasi dan restrukturisasi agar mampu berperan dan berfungsi sebagai tulang punggung perekonomian bangsa (Swasono, 1992). Koperasi sejak awal diperkenalkan baik di negara-negara Eropa Barat maupun di Indonesia sudah diarahkan untuk mampu mengatasi masalah sosial ekonomi masyarakat golongan ekonomi lemah yang kurang beruntung dalam sistem ekonomi pasar liberal kapitalistik. Koperasi diyakini sangat sesuai dengan budaya dan tata kehidupan bangsa Indonesia dengan nilai-nilai kerja sama (gotong royong), menolong diri sendiri, solidaritas, kejujuran, keterbukaan, mengutamakan kebersamaan dan keadilan serta beberapa esensi moral positif lainnya. Hal ini dapat dilihat pada UUD 1945, dalam pasal 33 tercantum dasar demokrasi ekonomi, produksi dikerjakan oleh semua untuk semua di bawah pimpinan atau

1

2

pemilikan masyarakatlah

anggota-anggota yang diutamakan,

masyarakat. bukan

Kemakmuran orang

kemakmuran

seorang. “Sebab itu, perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Bangun perusahaan yang sesuai dengan itu ialah koperasi" (Baswir, 2008) dalam Ekonomi Kerakyatan Ekonomi Rakyat dan Koperasi Sebagai Sokoguru Perekonomian Nasional. Pernyataan diatas sejalan dengan apa yang terdapat dalam regulasi yaitu Undangundang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Koperasi, dimana pada Pasal. 4 Ayat (1) menyebutkan bahwa fungsi dan peran Koperasi adalah: Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya; Berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan masyarakat; Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai sokogurunya; Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi. Keberadaan Koperasi di Indonesia menrurut Data Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), menyebutkan dari sisi jumlah, koperasi di Indonesia mengalami kemajuan yang pesat. Hal ini dapat dilihat dari jumlah koperasi, jumlah anggota dan volume usahanya, dimana sampai dengan 30 Juni 2009 jumlah koperasi di Indonesia mencapai 166.155 unit dengan jumlah koperasi yang aktif sebanyak 118.616 unit. Jumlah anggota sebanyak 27.951.247 orang, dengan volume

3

usaha mencapai nilai Rp. 55.260.796.960.000,-. Selain itu kegiatan koperasi secara keseluruhan telah menyerap 343.370 orang tenaga kerja yang terdiri dari manajer dan karyawan. (Data lengkap lihat Tabel-1). Tabel-1 Rekapitulasi Data Koperasi Berdasarkan Propinsi Per 30 Juni 2009
No.
(1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Propins i (2) NAD Sumut Sumba r Riau Jambi Sumsel Bengku lu Lampu ng Babel Kepri DKI Jakarta Jabar Jateng DIY Jatim Banten Bali NTB NTT Kalbar Kalteng Kalsel Kaltim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Goront alo

Aktif (Uni t)
(3) 3.709 5.710 2.405 3.097 2.254 3.100 1.089 1.996 587 1.153 4.697 15.22 1 19.69 7 1.868 15.49 4 3.986 3.264 2.444 1.410 2.156 1.729 1.516 2.908 3.470 1.180 5.110 2.311 588

Tidak Aktif (Unit)
(4) 2.905 4.169 1.059 1.356 795 1.307 338 1.407 228 451 2.556 7.301 5.052 445 3.727 1.919 282 496 339 1.300 595 678 979 2.010 590 2.009 377 288

Total Koper asi
(5) 6.614 9.879 3.464 4.453 3.049 4.407 1.427 3.403 815 1.604 7.253 22.522 24.749 2.313 19.221 5.905 3.546 2.940 1.749 3.456 2.324 2.194 3.887 5.480 1.770 7.119 2.688 876

Anggo ta (orang )
(6) 519.31 4 1.216.5 07 524.27 3 599.87 8 332.42 8 766.08 0 111.89 7 607.90 9 74.852 133.03 0 980.86 0 4.363.9 70 4.772.8 82 645.69 5 5.101.8 72 947.65 8 850.00 1 566.96 6 464.93 3 705.07 7 217.04 4 300.23 5 406.79 4 495.71 8 229.55 2 1.209.8 73 202.17 1 122.75 0

Mana jer (oran g)
(8) 2.143 1.289 417 601 514 542 122 855 132 299 1.091 2.482 2.387 424 4.046 756 1.175 486 848 508 289 464 689 1.145 653 3.063 597 319

Karya wan (orang )
(9) 6.698 11.102 4.027 5.739 3.326 8.204 1.138 6.113 1.299 1.287 18.363 39.332 49.732 4.401 56.774 5.598 12.875 6.101 3.398 3.230 2.625 3.146 9.054 11.185 3.593 12.808 6.781 1.925

Modal Sendiri (Rp juta)
(10) 394.513,2 5 1.241.804 ,91 1.167.372 ,55 715.791,0 0 151.887,1 3 817.965,8 4 178.582,1 1 428.732,0 0 54.999,75 31.431,00 961.507,0 0 3.030.469 ,71 5.781.946 ,00 383.588,2 9 5.604.660 ,70 548.707,0 9 1.124.235 ,58 385.004,0 0 328.723,1 0 657.080,7 5 109.983,0 0 187.725,0 0 228.335,0 0 332.401,8 2 189.161,0 0 795.320,7 8 136.217,0 0 78.866,12

Modal Luar (Rp juta)
(11) 295.007,0 0 1.590.392 ,51 800.990,4 7 842.913,0 0 204.609,5 0 732.091,6 0 113.558,3 6 937.431,0 0 35.739,86 28.465,00 1.184.697 ,00 3.666.628 ,80 8.220.653 ,00 382.819,1 2 6.345.718 ,90 723.774,2 2 4.970.797 ,00 654.246,0 0 321.200,5 8 1.886.241 ,93 110.851,0 0 345.286,0 0 173.194,0 0 428.898,9 8 172.590,0 0 556.052,2 0 98.101,00 185.718,5 1

Volume Usaha (Rp juta)
(12) 604.589,00 3.361.751,6 7 2.143.689,0 2 1.855.650,0 0 895.282,25 2.446.914,1 4 673.632,25 1.352.811,0 0 196.247,46 66.672,00 4.538.998,0 0 7.731.474,4 5 7.821.197,0 0 1.372.473,7 8 6.357.218,9 4 2.445.584,9 9 4.044.861,2 7 828.657,00 517.500,78 1.565.336,0 5 146.757,00 289.566,00 901.167,00 105.989,94 211.676,00 1.662.586,9 5 318.237,00 217.899,52

4

29 30 31 32 33

Sulbar Maluku Papua Malut Papua Barat Jumlah Nasion al

361 1.684 1.194 855 373 118.6 16

284 634 918 202 543

645 2.318 2.112 1.057 916 166.15 5

72.322 146.63 0 157.41 6 63.113 41.547 27.951. 247

181 587 444 445 173

1.140 3.795 1.446 2.207 4.762

27.592,99 68.107,63 83.796,27 62.400,10 16.357,31 26.305.26 5,78

15.553,83 83.225,82 54.139,15 54.213,81 43.033,47 36.258.83 2,62

51.783,16 90.976,22 250.943,11 137.395,15 55.278,86 55.260.796, 96

47.539

30.166

313.204

Sumber: Kementerian Negara Koperasi dan UKM Juli 2009

Namun demikian, dari sisi kualitas berdasarkan Penetapan Peringkat Koperasi yang dilakukan oleh Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2007, dapat dilihat pada tabel-2. Tabel-2 Survey Koperasi Nasional Tahun 2007 Wilayah Sumatra Jawa Nusra-Bali Kalimantan Sulawesi Maluku-Papua Jumlah Jumlah Sangat Cukup Berkualitas Disurvey Berkualitas Berkualitas 1396 6402 605 391 1168 96 100% 0 3 1 0 0 0 0,04% 224 2057 104 88 83 17 18,78% 829 3406 312 179 542 53 51,92% Kurang dan Tidak Berkualitas 343 936 188 124 543 26 29,26%

Sumber: Kementerian Negara Koperasi dan UKM Deputi Bidang Kelembagaan Th.2008

Untuk mendorong koperasi agar mampu mewujudkan dirinya sebagai badan usaha yang sehat, maju dan berdaya saing tinggi, diperlukan langkah pemberdayaan secara terencana, terpadu dan terkoordinasikan dengan berbagai pihak baik di pusat maupun di daerah, seperti upaya keberpihakan, penumbuhan iklim usaha yang kondusif dan kerjasama yang sinergis. Namun demikian, untuk mewujudkan koperasi agar lebih memiliki peran dalam meningkatkan kesejahteraan anggota dan mendukung ketahanan ekonomi wilayah, masih dihadapkan pada berbagai permasalahan.

5

Permasalahan yang dihadapi dalam membangun koperasi adalah masalah struktural dengan berbagai cirinya, misalnya masalah kelemahan pengelolaan/ manajemen dan kelangkaan akan modal (Nasution, 2008). Kelemahan manajemen tersebut biasanya disebabkan oleh tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki masyarakat dalam hal ini pengurus koperasi masih terbatas, sedangkan kelangkaan akan modal disebabkan oleh kondisi ekonomi masyarakat Indonesia yang umumnya masih lemah. (Meliani & Ismulyati, 2002) menambahkan, kendala yang sering dihadapi koperasi selain faktor permodalan adalah kurangnya partisipasi anggota, padahal partisipasi anggota merupakan unsur utama dan terpenting dalam kegiatan koperasi serta untuk kebersamaan dalam koperasi. Perkembangan koperasi saat ini tidak terlepas dari pengaruh kebijakan pembangunan koperasi di masa lalu, dimana peran pemerintah sangat dominan. Koperasi pada umumnya tergantung pemerintah, dengan mengharapkan pemerintah dapat menyediakan semua fasilitas yang diperlukan koperasi, hal ini menimbulkan kesan bahwa koperasi tidak mampu menciptakan kemandirian, selain itu dengan kondisi demikian dapat dipastikan koperasi akan sulit untuk meningkatkan daya saing, sehingga harapan untuk dapat meningkatkan kesejahteraan anggota dalam rangka mendukung ketahanan ekonomi wilayah masih belum dapat diwujudkan. Melihat potensi ekonomi dari usaha perkoperasian yang demikian besar, pemberdayaan koperasi menjadi cukup relevan dan penting untuk dibahas melalui penelitian, dari hasil penelitian ini diharapkan koperasi akan dapat memberikan kontribusi yang semakin besar dalam meningkatkan kesejahteraan anggota sehingga mampu mendukung ketahanan ekonomi wilayah.

6

Pemberdayaan koperasi guna meningkatkan kesejahteraan anggota dalam rangka mendukung ketahanan ekonomi wilayah sangat dipengaruhi oleh bagaimana koperasi dapat menghasilkan keuntungan dalam hal ini Sisa Hasil Usaha (SHU) secara maksimal. Untuk menghasilkan SHU secara maksimal sangat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal dari koperasi itu sendiri yaitu: Faktor internal yang terdiri dari partisipasi anggota dan manajemen pengelolaan; dan Faktor eksternal yang terkait dengan kondisi wilayah dan kebijakan pemerintah. Partisipasi anggota, dipengaruhi oleh peran aktif anggota dan kedisiplinan anggota serta pengetahuan anggota terhadap dasar-dasar manajemen koperasi. Faktor manajemen pengelolaan, dipengaruhi oleh kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pengelola dan pengurus, pengetahuan pengelola dan pengurus terhadap manajemen koperasi, cara pengelola dan pengurus menghimpun permodalan dan cara pengelola dan pengurus memasarkan produknya. Kondisi wilayah operasi koperasi akan berpengaruh terhadap kerjasama koperasi dengan koperasi lain dan dengan lembaga keuangan serta dengan pemerintah daerah, dan kebijakan pemerintah akan sangat menentukan terhadap peranserta koperasi dalam mengakses potensi sumber daya ekonomi wilayah. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan uraian diatas, untuk memudahkan analisa dalam penelitian ini, permasalahan yang akan diteliti adalah bagaimana proses pemberdayaan koperasi dapat dilakukan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan

7

anggota dalam mendukung ketahanan ekonomi wilayah. Secara rinci diajukan 3 (tiga) pertanyaan sebagai berikut: 1. Bagaimana gambaran umum dan kinerja koperasi? 2. Bagaimana strategi pemberdayaan koperasi berlangsung dalam meningkatkan kesejahteraan anggota? 3. Bagaimana kesejahteraan anggota mendukung ketahanan ekonomi wilayah? Pengertian kinerja koperasi dalam penulisan ini akan ditinjau dari partisipasi atau peranserta anggota koperasi terhadap kegiatan yang diselenggarakan koperasi dan manajemen pengelolaan koperasi, karena anggota koperasi merupakan salah satu pihak yang sangat menentukan keberhasilan sebuah koperasi, sedangkan manajemen pengelolaan diperlukan untuk mengelola koperasi agar berlangsung secara efektif dan efisien. Dalam kaitan ini agar dapat memberikan kontribusi pada ketahanan ekonomi wilayah, maka koperasi perlu meningkatkan usahanya untuk menghasilkan SHU secara maksimal sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan anggotanya, sehingga secara stimultan akan dapat menjamin keberlangsungan perekonomian di wilayahnya. Dalam teori ketahanan ekonomi nasional, ketahanan ekonomi suatu wilayah dapat dikatakan kuat dan mampu menghadapi dan mengatasi segala ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan serta menjamin kelangsungan perekonomian wilayah apabila masyarakatnya sejahtera, karena tingkat kesejahteraan mencerminkan kemajuan perekonomian wilayah (Sunardi, 2004: 11).

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

8

Dalam penelitian ini yang akan menjadi obyek penelitian adalah sebuah koperasi yang berada ditengah-tengah aktifitas kegiatan ekonomi rakyat yaitu: “Koperasi Pasar Pondok Labu”, dengan alamat Lantai I Unit No. 12A, Pasar Pondok Labu, Jl. Margasatwa No. 1 Pondok Labu, Kecamatan Cilandak, Kota Jakarta Selatan 12450, bertujuan untuk mengetahui: 1. Gambaran umum dan kinerja koperasi. 2. Strategi pemberdayaan koperasi untuk meningkatkan kesejahteraan anggota. 3. Kontribusi kesejahteraan anggota dalam mendukung ketahanan ekonomi wilayah. Manfaat dari penelitian ini untuk: 1. Mengetahui prospek pemberdayaan dan pengembangan Koperasi Pasar Pondok Labu. 2. Menyusun rekomendasi tentang strategi pemberdayaan koperasi pasar Pondok Labu guna meningkatkan kesejahteraan anggota dalam rangka mendukung ketahanan ekonomi wilayah. 3. Memberikan masukan kepada pengurus dan pengelola Koperasi Pasar Pondok Labu untuk mengambil keputusan dalam meningkatkan kinerja koperasi. 4. Menjadi bahan referensi atau sumber data sekunder untuk peneliti lain yang melakukan penelitian terhadap lembaga koperasi dengan kegiatan usaha sejenis dengan koperasi pasar Pondok Labu. D. Keaslian Penelitian

9

Untuk mengetahui pemberdayaan koperasi pasar Pondok Labu guna meningkatkan kesejahteraan anggota dalam rangka mendukung ketahanan ekonomi wilayah, perlu dilakukan penelitian lebih mendalam terhadap kondisi obyektif di lapangan sehingga akan dihasilkan suatu kajian yang berkualitas. Sepengetahuan Penulis, bahwa koperasi pasar Pondok Labu sampai saat ini belum pernah diteliti keberadaannya terkait upaya pemberdayaan koperasi guna

meningkatkan kesejahteraan anggota dalam rangka mendukung ketahanan ekonomi wilayah.

E. Sistematika Penulisan Penulisan tesis ini disusun secara sistematis bab per bab dan adanya keterkaitan antar bab yang dapat dijelaskan sebagai berikut : Bab I menjelaskan hal-hal yang bersifat umum yang melandasi latar belakang pemilihan judul, selanjutnya dilengkapi dengan rumusan masalah, maksud dan tujuan penelitian, keabsahan penelitian dan sistematika penulisan. Bab II menyajikan tinjauan pustaka dan landasan teori yang relevan dengan judul penelitian serta metode penelitian yang digunakan. Bab III menjelaskan kondisi obyektif lokus penelitian yang memuat gambaran umum obyek penelitian, partisipasi anggota dalam kegiatan koperasi, manajemen pengelolaan koperasi, kondisi wilayah dan kebijakan pemerintah yang memberikan pengaruh terhadap pemberdayaan koperasi pasar Pondok Labu.

10

Bab IV memuat analisa penulis dalam menjawab berbagai hambatan yang ada untuk memberdayakan koperasi pasar Pondok Labu melalui strategi pemberdayaan koperasi pasar Pondok Labu guna meningkatkan pemberdayaan anggota dalam rangka meningkatkan ketahanan ekonomi wilayah. Bab V menguraikan kesimpulan yang diperoleh melalui analisis atas keseluruhan pembahasan pada bab-bab sebelumnya yang diakhiri dengan pemberian saran terkait dengan upaya memberdayakan koperasi pasar Pondok Labu guna meningkatkan kesejahteraan anggota dalam rangka mendukung ketahanan ekonomi wilayah.

11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN METODE PENELITIAN A. Tinjauan Pustaka

1. Pengertian Koperasi Koperasi berasal dari kata bahasa inggris yaitu “co” yang artinya sama-sama, dan “operation” yang berarti bekerja atau bertindak. Secara harfiah koperasi berarti bekerjasama dari sekelompok orang yang mempunyai kepentingan yang sama dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan anggota. Menurut pendekatan ilmiah esensialis yaitu pengertian koperasi menurut hukum, dalam ketentuan International Labour Organization (ILO) Tahun 1986 Nomor 127, Pasal 12 ayat (1) menyatakan bahwa: “Koperasi adalah suatu kumpulan orang-orang yang berkumpul secara sukarela untuk berusaha bersama mencapai suatu tujuan bersama melalui suatu organisasi yang dikontrol secara demokratis, bersama-sama berkontribusi sejumlah uang dalam menbentuk modal yang diperlukan untuk mencapai tujuan bersama tersebut dan bersedia turut bertanggungjawab menanggung risiko dari kegiatan tersebut, turut menikmati manfaat usaha bersama tersebut sesuai dengan kontribusi permodalan yang diberikan orang-orang tersebut, kemudian orang-orang tersebut secara bersamasama dan langsung turut memanfaatkan organisasi tadi”. International Cooperative Alliance (ICA) sebuah Aliansi Koperasi

Internasional tahun 1995 mendefinisikan Koperasi sebagai berikut: “Koperasi adalah perkumpulan orang-orang yang mandiri (autonomous) bersatu secara

12

sukarela untuk memenuhi kepentingan bersama dalam bidang ekonimi, sosial, budaya, dan aspirasi, melalui suatu badan usaha (enterprise) yang dimiliki bersama dan dikontrol secara demokratis”. Menurut Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang perkoperasian, dalam pasal 1 ayat (1) menyatakan bahwa : “Koperasi adalah usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan; ayat (2) Perkoperasian adalah segala sesuatu yang menyangkut kehidupan koperasi; ayat (3) Koperasi Primer adalah Koperasi yang didirikan oleh dan beranggotakan orang-seorang; ayat (4) Koperasi Sekunder adalah Koperasi yang didirikan oleh dan beranggotakan Koperasi; ayat (5) Gerakan Koperasi adalah keseluruhan organisasi Koperasi dan kegiatan perkoperasian yang bersifat terpadu menuju tercapainya cita-cita bersama Koperasi”. Berbeda dengan pendapat para esensialis, maka menurut pengertian nominalis, yang sesuai dengan pendekatan ilmiah modern dalam ilmu ekonomi koperasi, koperasi adalah lembaga-lembaga atau organisasi-organisasi yang tanpa memperhatikan bentuk hukum atau wujudnya tetapi memenuhi kriteria berikut: 1) Sejumlah individu yang bersatu dalam suatu kelompok atas dasar sekurangkurangnya satu kepentingan atau tujuan yang sama (Kelompok Koperasi); 2) Anggota-anggota kelompok koperasi secara individual bertekad mewujudkannya, yaitu memperbaiki situasi ekonomi dan sosial mereka, melalui usaha bersama dan saling tolong menolong (Swadaya dari Kelompok Koperasi); 3) Sebagai instrumen

13

(wahana) untuk mewujudkannya adalah suatu perusahaan yang dimiliki dan dibina secara bersama (Perusahaan Koperasi); 4) Perusahaan Koperasi itu ditugaskan untuk menunjang kepentingan para anggota koperasi itu, dengan cara menyediakan atau menawarkan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh para anggota dalam kegiatan ekonominya, yaitu dalam perusahaan atau rumah tangganya masing-masing. (Dufler, 1974:9; Munkner, 1976:5, Hanel, 1989:29) Djojohadikoesomo memberikan definisi koperasi, yaitu: “Koperasi adalah perkumpulan manusia, seorang-seorang yang dengan sukanya sendiri hendak bekerjasama untuk memajukan ekonominya” (Hendrojogi, 2000 : 21). Dari berbagai definisi diatas, terlihat ada dua kutub pemikiran yang berbeda. Melalui berbagai kajian yang telah dilakukan oleh beberapa pihak untuk mencari titik terang konsep mana yang cocok dikembangkan untuk koperasi di Indonesia pada masa yang akan datang, apakah koperasi berdasarkan konsep esensialis atau nominalis, namun di antara kedua pendapat esensialis maupun nominalis, jika ditelusuri lebih cermat, ternyata selain ada perbedaan, ada juga kesamaan. Perbedaannya, konsep esensialis lebih berpegang kepada aspek hukum dan prinsip-prinsip koperasi, sedangkan konsep nominalis lebih bersifat pragmatis yang berlandaskan kepada adanya kesamaan kepentingan dari para anggota koperasi, sedangkan yang menjadi kesamaan antara keduanya adalah: 1) Baik pendekatan esensialis maupun pendekatan nominalis, kedua-duanya melihat koperasi sebagai organisasi yang mempunyai prinsip identitas ganda (dual identity), yaitu anggota sebagai pemilik (owner) dan anggota sebagai pelanggan

14

(user) yang dalam kegiatannya melakukan usaha bersama untuk kepentingan bersama; 2) Koperasi dipandang merupakan organisasi yang otonom yang berada dalam lingkungan sosial ekonomi dan dan sistem ekonomi, yang memungkinkan setiap individu dan setiap kelompok orang merumuskan tujuan-tujuannya secara otonom dan mewujudkan tujuan-tujuan itu melalui aktivitas-aktivitas ekonomi yang dilaksanakan secara bersama. Untuk penerapannya dalam perkoperasian di Indonesia, jika dicermati dari peraturan perundangan tentang perkoperasian yang berlaku, dapat disimpulkan bahwa perkoperasian Indonesia merupakan penerapan campuran dari dua sistem pemikiran nominalis dan esensialis, namun kebanyakan koperasi lebih cenderung menerapkan sistem pemikiran nominalis karena: 1) Dilihat dari arti perkoperasian seperti dijelaskan dalam pasal 1 Undang-undang Perkoperasian, pernyataan dari undang-undang ini berdasarkan prinsip koperasi dan atas asas kekeluargaan, jelas merupakan penegasan aspek esensial dari koperasi; 2) Dalam perkoperasian Indonesia diberlakukan 7 (tujuh) prinsip koperasi yang secara tegas menggariskan nilai-nilai dasar (esensial) dari perkoperasian. Hal ini dinyatakan dalam Undangundang Perkoperasian Pasal. 5; dan 3) Koperasi Indonesia bertujuan untuk promosi ekonomi anggota, pembagian Sisa Hasil Usaha secara adil sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing, koperasi juga harus memberikan Manfaat Ekonomi Langsung (MEL) kepada anggota berupa selisih harga dengan harga pasar. Pernyataan-pernyataan ini menggambarkan aspek nominalis dari koperasi.

15

2. Pemberdayaan Koperasi Burhanudin (2005) menyebutkan, keberadaan koperasi semenjak

kemerdekaan hingga saat ini memiliki landasan hukum yang kuat. Landasan hukum ini secara positif diterjemahkan kedalam bentuk peraturan perundangundangan tersendiri yaitu Undang-undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian. Dalam hal ini Burhanudin menyoroti tentang legalitas koperasi. Ariffin (2004) menyebutkan, landasan yang digunakan sebagai pondasi didirikannya suatu koperasi adalah membangun aktivitas ekonomi bersama yang berpijak pada kekuatan sendiri dan kesamaan derajat dalam rangka mencapai perbaikan kehidupan ekonomi bagi seluruh anggota. Dalam kaitan ini Ariffin menekankan tujuan koperasi untuk kepentingan anggota. Swasono (1993) menyatakan, koperasi sebagai suatu institusi ekonomi harus berusaha untuk mengkombinasikan segala sumber daya dan faktor produksi yang dimilikinya secara optimal, dalam rangka menghasilkan barang dan jasa yang diperlukan oleh anggotanya. Dalam kaitan ini Swasono menilai bahwa bisnis dan prinsip ekonomi serta hukum-hukum ekonomi juga harus diberlakukan pada usaha koperasi di Indonesia. Ismangil (1987) menyatakan, koperasi pada dasarnya merupakan sistem terbuka, yang sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Pilihan terhadap badan usaha koperasi dikarenakan kemampuannya memberikan manfaat ekonomi kepada anggotanya. Sutrisno (2003) menambahkan, bahwa koperasi dapat dilihat sebagai wahana koreksi oleh masyarakat pelaku ekonomi, baik produsen maupun konsumen, dalam memecahkan kegagalan pasar dan mengatasi inefisiensi karena

16

ketidaksempurnaan pasar. Dalam hal ini, baik Ismangil maupun Sutrisno menekankan perlunya manajemen dalam pengelolaan koperasi. Yulhendri (2006) menyebutkan, keberadaan koperasi suatu wilayah akan mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan aktivitas ekonomi secara keseluruhan yang akhirnya bisa meningkatkan pendapatan anggota jika mampu bergerak di bidang unit usaha unggulan dan potensial unggul. Untuk mewujudkan hal tersebut Yulhendri mensyaratkan, unit usaha (koperasi) selain mempunyai keterkaitan yang besar terhadap sumber daya lokal juga mempunyai prospek pengembangan di masa depan. Dari beberapa pandangan diatas, dapat disimpulkan bahwa koperasi merupakan institusi ekonomi berbadan hukum dan keberadaannya diutamakan untuk memenuhi kebutuhan anggota tanpa meninggalkan prinsip-prinsip koperasi. Secara teoritis koperasi akan tetap mampu bertahan jika terjadi kegagalan pasar, namun demikian jika pasar dapat berkembang dan semakin kompetitif maka koperasi akan menghadapi persaingan, oleh karena itu koperasi perlu ditangani dengan manajemen yang baik. Untuk mendukung ketahanan ekonomi wilayah, koperasi harus mampu memanfaatkan semaksimal mungkin potensi sumber daya lokal (wilayah) dan dapat bekerjasama secara sinergis dengan pemerintah daerah. Literatur lain menyebutkan bahwa untuk memberdayakan koperasi sangat dipengaruhi oleh faktor internal yang menyangkut partisipasi anggota koperasi dan pengelolaan koperasi, selain itu pemberdayaan koperasi juga dipengaruhi

17

oleh faktor eksternal koperasi yaitu menyangkut kondisi wilayah dimana koperasi tersebut berada dan kebijakan pemerintah daerah. Mengenai partisipasi anggota, Ariffin (2004) menyebutkan, bahwa

keanggotaan dalam koperasi merupakan salah satu aspek penting, karena maju mundurnya sebuah koperasi antara lain dipengaruhi oleh tingkat partisipasi anggota di koperasi. Pernyataan ini sesuai dengan hasil penelitian Rachmad (1993) yang menyatakan bahwa anggota merupakan faktor penentu keberhasilan pengembangan koperasi. Dalam (Rachmad, 1993:171) disebutkan, bila dilihat faktor yang turut mempengaruhi aktivitas partisipasi anggota maka mutu

pelayanan koperasi kepada anggota merupakan faktor kunci dalam peningkatan partisipasi anggota koperasi, sementara itu Burhannudin (2005) menyebutkan salah satu kriteria determinan keberhasilan koperasi adalah kemampuan koperasi menumbuhkan partisipasi demokratis anggota dalam pembagian manfaat ekonomi dan risiko. Dengan demikian partisipasi anggota memegang peranan penting dalam mewujudkan keberhasilan pemberdayaan koperasi. Dari berberapa pendapat diatas, untuk memberdayakan koperasi guna meningkatkan kesejahteraan anggota, maka pengurus dapat memanfaatkan keunikan anggota koperasi sebagai kekuatan pokok dan pilar koperasi dalam menjalankan usahanya. Karena apabila koperasi yang lepas dari kepentingan anggota berarti lepas dari pilar penyangga kekuatannya sendiri. Pada pengelolaan koperasi, aspek manajemen sangat erat kaitannya dengan keberhasilan suatu koperasi, menurut Munker (1997) hal ini dapat diukur dari keberhasilan koperasi, yaitu : a) Kesejahteraan anggota tampak nyata dan konkrit,

18

pengembalian sisa hasil usaha kepada anggota dilakukan, meskipun pemasaran dilakukan dengan harga dan mutu yang bersaing dengan harga pasar; b) Efisiensi ekonomi cukup tinggi; c) Penggunaan sisa hasil usaha untuk tujuan koperasi; d) Adanya pengurus yang khusus bertanggung jawab pada hubungan dengan anggota, saluran informasi dan komunikasi yang baik; e) Profit usaha yang jelas; dan f) Kepemimpinan dengan konsep koperasi yang jelas. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh Rahardjo (2004) yang menyatakan kunci keberhasilan pemberdayaan koperasi terletak pada kemampuan manajemen yakni : a) Harus memiliki rencana usaha (corporate plan) yang mencakup rumusan mengenai visi, misi dan tujuan budaya bisnis, strategi pengembangan, target-target jangka pendek dan menengah, dan rencana keuangan (cahs flow); b) Pembinaan kelembagaan melalui proses profesionalisasi; dan c) Setiap unit koperasi mikro memiliki standar prosedur koperasi. Hal yang sama juga disampaikan oleh Burhannudin (2005) yang menyebutkan beberapa kriteria determinan keberhasilan koperasi adalah kemampuan manajemen pengelola koperasi yakni: a) Kelayakan ekonomis koperasi sebagai suatu perusahaan; b) Kapasitas koperasi untuk beradaptasi, tumbuh dan melakukan inovasi; c) Kemampuan koperasi untuk menyediakan jasa yang dibutuhkan anggotanya; d) Kemampuan koperasi untuk menumbuhkan partisipasi demokratis anggota perencanaan dan implementasi pengambilan keputusan termasuk dalam pembagian manfaat ekonomi dan risiko; dan e)

Kemampuan koperasi meraih sasaran-sasaran sosial dan ekonomi yang telah dicanangkan.

19

Sejalan dengan pendapat diatas, untuk memberdayakan koperasi guna meningkatkan kesejahteraan anggota, maka pengurus dan karyawan secara bersama-sama ataupun saling menggantikan menjadi pelaku organisasi yang aktif, dan menjadi staf lini depan dalam melayani anggota koperasi. Keadaan saling menggantikan seperti ini, banyak terjadi dalam praktik manajemen koperasi di Indonesia. Kemampuan manajemen pengurus memiliki dampak terhadap kepuasan pihak-pihak yang memiliki kaitan dengan pengembangan koperasi, antara lain adalah anggota sebagai pemilik dan pemanfaat, pemerintah sebagai pembina serta pihak mitra bisnis yang berperan sebagai pemasok, distributor, produsen, penyandang dana dan lain sebagainya. Hal ini berarti bahwa mutu pelayanan koperasi kepada anggota sangat ditentukan oleh tingkat efektivitas dari manajemen yang dilakukan oleh pengurus koperasi. Pada aspek pengaruh faktor eksternal, faktor eksternal yang dominan mempengaruhi pemberdayaan koperasi adalah kondisi wilayah dan kebijakan dari pemerintah daerah. Menurut Santosa (2008), pemberdayaan dan pengembangan koperasi di masa depan sebaiknya berbasis pada satu siklus ekonomi yang terjadi di suatu daerah tertentu menguntungkan anggotanya. Dengan demikian, untuk memberdayakan koperasi perlu memperhatikan kondisi dan potensi wilayah termasuk kebijakan di bidang perkoperasian yang telah ditentukan oleh pemerintah. melalui suatu sistem kerjasama yang saling

20

3. Kesejahteraan Anggota Koperasi Kementerian Koperasi dan UKM (2004), menyebutkan bahwa pemberdayaan koperasi masih memiliki berbagai kendala sebagai badan usaha, yaitu: 1) Rendahnya partisipasi anggota; 2) Rendahnya efisiensi usaha; 3) Rendahnya tingkat profitabilitas koperasi; 4) Rendahnya citra koperasi dalam pandangan masyarakat; 5) Rendahnya kompetensi Sumber Daya Manusia koperasi; dan 6) Kurang optimalnya kerjasama antar koperasi dan kerjasama koperasi dengan badan usaha lainnya. Subyakto (1996) mempunyai pandangan bahwa, kendala yang sangat mendasar dalam pemberdayaan koperasi dan usaha kecil adalah masalah Sumber Daya Manusia, hal ini diperkuat dengan pernyataan Sandiaga (2009) yang menyatakan, bahwa SDM adalah faktor penentu berhasil atau tidaknya suatu organisasi mencapai tujuannya, kultur UKM dan koperasi di Indonesia yang tidak profesional akibat rendahnya kualitas SDM, akibatnya koperasi tidak maksimal dalam meningkatkan kesejahteraan anggota. Prasetya (2008) menyebutkan, dalam menjalankan kegiatan usahanya koperasi sering mengalami kesulitan untuk memperoleh bahan baku. Salah satu bahan baku pokok yang sulit diperoleh adalah modal, hal ini diperkuat dengan pernyataan Nasution (2008) yang menyebutkan, permasalahan yang dihadapi dalam membangun sistem ekonomi kerakyatan khususnya koperasi adalah masalah kelemahan pengelolaan/manajemen dan kelangkaan akan modal. Kelemahan pengelolaan/ manajemen disebabkan oleh tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki masyarakat masih terbatas. Sedangkan kelangkaan

21

akan modal disebabkan oleh kondisi ekonomi masyarakat Indonesia umumnya masih lemah, kondisi ini berakibat pada kinerja koperasi yang tidak maksimal dan selanjutnya tidak maksimal pula dalam memperoleh SHU sehingga upaya meningkatkan kesejahteraan anggota menjadi kurang maksimal. Dari berbagai pendapat diatas, secara umum kendala yang terjadi pada kegiatan usaha koperasi adalah terkait dengan masalah SDM, Manajemen, Permodalan faktor kondisi wilayah termasuk dalam hal kebijakan pemerintah. Sesuai dengan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yang cenderung mengarah pada pendekatan ilmiah nominalis (meskipun tidak murni), maka dapat diindikasikan bahwa permasalahan yang dihadapi dalam

pemberdayaan koperasi adalah : 1) Partisipasi Anggota. Partisipasi anggota sangat dipengaruhi oleh kondisi bagaimana peran aktif anggota dan kedisiplinan anggota serta pengetahuan anggota terhadap manajemen koperasi; 2) Pengelolaan Koperasi. Dalam pengelolaan koperasi faktor yang mempengaruhi adalah kondisi kualitas SDM pengurus koperasi, pengetahuan terhadap manajemen koperasi, penghimpunan modal dan bagaimana cara memasarkan produk; 3) Kerjasama. Dalam kerjasama ini baik antar koperasi, dengan lembaga keuangan maupun dengan pemerintah daerah sangat dipengaruhi oleh kondisi wilayah dan kebijakan pemerintah. Berbagai permasalahan tersebut akan mempengaruhi upaya pemberdayaan koperasi sehingga perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh dan dicarikan solusi pemecahannya agar tujuan pemberdayaan koperasi pasar Pondok Labu guna meningkatkan kesejahteraan anggota dalam rangka mendukung ketahanan

22

ekonomi wilayah dapat berlangsung sesuai yang diharapkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja koperasi diilustrasikan sebagai berikut (Lihat Gambar 1).
FAKTOR EKSTERNAL
KONDISI WILAYAH DAN KIBIJAKAN PEMERINTAH BELUM OPTIMAL

KINERJA KOPERAS I TIDAK OPTIMAL

SISA HASIL USAHA TIDAK MAKSIM AL

BELUM MAKSIMAL MENINGKATK AN KESEJAHTERA AN ANGGOTA

BELUM MAKSIMA L MENDUK UNG KETAHAN AN EKONOMI WILAYAH

FAKTOR INTERNAL
PARTISIPASI ANGGOTA PENGELOLAAN KOPERASI

BELUM OPTIMAL

Gambar – 1 Faktor yang mempengaruhi kinerja koperasi

Untuk mencapai keberhasilan dalam pemberdayaan koperasi, maka kinerja koperasi harus lebih ditingkatkan, oleh sebab itu faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut harus mampu memberikan kontribusi terhadap kinerja koperasi, yang dapat dilakukan dengan mengatasi berbagai permasalahan yang ada sehingga koperasi mampu lebih berdayaguna. 4. Ketahaan Ekonomi Wilayah Kegiatan koperasi tidak saja berdampak pada meningkatkan kesejahteraan anggota, namun pada skala makro dapat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat secara luas dan perekonomian nasional melalui ketahanan ekonomi wilayah, hal

23

ini antara lain dapat dilihat dari: a. koperasi makin memasyarakat dan makin melembaga dalam perekonomian; b. meningkatnya manfaat koperasi bagi masyarakat lingkungannya; c. pemahaman yang lebih mendalam terhadap asas dan sendi dasar koperasi serta tata kerja koperasi; d. meningkatnya pemerataan dan keadlian melalui koperasi. Ketahanan ekonomi wilayah dalam penelitian ini merupakan lingkup yang lebih kecil dari pada ketahanan ekonomi nasional, karena wilayah yang diteliti merupakan bagian wilayah secara nasional. Sunardi (2004:11) menyebutkan, Ketahanan nasional sesungguhnya merupakan gambaran atau model dari kondisi tata kehidupan nasional pada suatu saat tertentu. Sebagai kondisi sudah barang tentu berubah menurut waktu, atau merupakan fungsi dari waktu, karena itu disebut dinamik. Tiap-tiap aspek di dalam tata kehidupan nasional selalu berubah-ubah menurut waktu sehingga interaksinya yang kemudian menciptakan kondisi umum amat sulit dipantau karena sangat kompleks. Ketahanan ekonomi suatu wilayah dapat dikatakan kuat dan mampu menghadapi dan mengatasi segala ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan serta manjamin kelangsungan perekonomian wilayah apabila masyarakatnya sejahtera. Wujud ketahanan ekonomi tercermin dalam kondisi kehidupan perekonomian bangsa yang mengandung kemampuan memelihara stabilitas ekonomi yang sehat dan dinamis serta kemampuan menciptakan kemandirian ekonomi nasional dengan daya saing tinggi dan mewujudkan kemampuan ekonomi rakyat (dalam kaitan ini adalah kemampuan ekonomi anggota koperasi).

24

Pernyataan diatas sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Lepi T. Tarmidi dari LPEM-UI dalam memberikan kuliahnya kepada mahasiswa angkatan XI program pasca sarjana Pengkajian Ketahanan Nasional, Universitas Indonesia tahun 1994. Pendapat Tarmidi lebih menekankan pentingnya ciri demokratis dalam penyelenggaraan koperasi (sebagai ciri yang membedakan dengan bentuk usaha lainnya) dan menekankan bahwa keberhasilan suatu koperasi dapat diukur dari peranan dan kontribusi yang diwujudkan kepada anggota, masyarakat dan perekonomian daerah. Apa yang dikemukakan Lepi T. Tarmidi dapat dijadikan tolok ukur seberapa besar koperasi dapat mewujudkan kontribusinya kepada berbagai pihak tersebut khususnya terhadap perekonomian wilayah setempat. B. Landasan Teori

1. Teori Pemberdayaan Terminologi pemberdayaan atau yang dikenal dengan istilah empowerment yang berawal dari kata daya (power), berarti kekuatan yang berasal dari dalam tetapi dapat diperkuat dengan unsur–unsur yang datang dari luar. Konsep pemberdayaan Mubyarto (1998) menekankan keterkaitan dengan pemberdayaan ekonomi rakyat, dimana proses pemberdayaan diarahkan pada pengembangan sumber daya manusia (di pedesaan), penciptaan peluang berusaha yang sesuai dengan keinginan masyarakat. Dalam pemberdayaan koperasi, masyarakat yang menjadi anggota koperasi melakukan proses pemberdayaan dengan menekankan pada proses memberikan kemampuan kepada kelompoknya (koperasi) agar menjadi berdaya, mendorong

25

atau memotivasi usaha kelompoknya agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan. Masyarakat dapat menentukan jenis usaha, kondisi wilayah yang pada gilirannya dapat menciptakan lembaga dan sistem pelayanan dari, oleh dan untuk masyarakat itu sendiri. Dengan demikian keberdayaan koperasi merupakan unsur dasar yang memungkinkan suatu koperasi bertahan, dan dalam pengertian yang dinamis koperasi mampu mengembangkan diri dan mencapai kemajuan. Keberdayaan koperasi itu sendiri menjadi sumber dariketahanan ekonomi nasional, artinya apabila koperasi memiliki kemampuan ekonomi yang tinggi, maka hal tersebut merupakan bagian dari ketahanan ekonomi anggotanya sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap ketahanan ekonomi wilayah maupun nasional. Pemberdayaan yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah pemberdayaan koperasi sebagai bagian dari kegiatan bidang ekonomi yang bersentuhan langsung dengan masyarakat khususnya anggota koperasi itu sendiri, dengan demikian keberadaan koperasi perlu dan membutuhkan penanganan atau pengelolaan yang sebaik-baiknya sehingga dapat mendorong peningkatan pendapatan usaha (SHU) yang bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan anggota. 2. Teori Kesejahteraan Kesejahteraan atau sejahtera, menurut W. J.S Poerwadarminto diartikan sebagai keadaan yang aman sentosa, makmur, atau selamat atau terlepas dari segala macam gangguan maupun kesukaran dan sebagainya.

26

Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kemenkokesra) memberikan definisi kesejahteraan sebagai berikut: “Kesejahteraan yaitu suatu kondisi seseorang atau masyarakat yang telah terpenuhi kebutuhan dasarnya, kebutuhan dasar tersebut berupa kecukupan sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, lapangan pekerjaan, dan kebutuhan dasar lainya seperti lingkungan bersih, aman dan nyaman dan juga terpenuhinya hak asasi dan partisipasi serta terwujudnya masyarakat yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa”. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 menyebutkan, tujuan koperasi adalah memajukan kesejahteraan para anggota, hal ini sebagaimana di sebutkan dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian bahwa koperasi bertujuan memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang 1945. Dalam rangka mewujudkan kesejahteraan anggota, koperasi harus dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Kebutuhan manusia diatur dalam suatu seri tingkatan atau suatu hirarkhi menurut pentingnya masing-masing kebutuhan, dalam artian setelah kebutuhan-kebutuhan manusia pada tingkatan yang lebih terendah terpenuhi, maka muncullah tingkatan berikutnya yang lebih tinggi menuntut kepuasan. Untuk mencapai suatu taraf hidup yang sejahtera dapat dicapai dengan adanya perluasan kesempatan kerja dan pemerataan pendapatan,

27

yaitu pendapatan anggota yang didapat melalui kegiatan berkoperasi, yang di bagikan kepada anggota, sesuai dengan hasil keuntungan koperasi. Sukamdiyo ( 1996 : 102 ) menambahkan, kesejahteraan lain yang didapat anggota koperasi adalah: a. Membangkitkan aspirasi dan pemahaman para anggota tentang konsep, prinsip, metode dan praktek serta pelaksanaan usaha koperasi; b. Mendorong dan menopang kebijakan pemerintah serta gerakan koperasi dalam rangka pembangunan sosial – ekonomi; dan c. Mengubah perilaku dan kepercayaan serta menumbuhkan kesadaran pada masyarakat, khususnya para anggota koperasi tentang arti penting atau manfaat bergabung dan berpastisipasi aktif dalam kegiatan usaha dan pengambilan keputusan koperasi sebagai upaya perbaikan terhadap kondisi sosial-ekonomi mereka. Koperasi merupakan suatu badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi, dengam melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. Koperasi dalam menjalankan usahanya, juga mengalami berbagai hambatan-hambatan, sehingga koperasi harus melakukan berbagai upaya agar koperasi dapat meningkatkan kesejahteraan anggota. Dalam hal ini, keberhasilan koperasi dalam mencapai tujuanya tergantung dari aktifitas anggota, apakah mereka mampu malaksanakan kerja sama dan mentaati segala peraturan yang telah ditetapkan dalam Rapat Anggota. c. Teori Ketahanan Ekonomi Wilayah Keberhasilan usaha koperasi pada dasarnya dapat berperan pula dalam menunjang peningkatan Ketahanan Nasional Indonesia. Ketahanan Nasional dalam konteks ini didefinisikan sebagai kondisi dinamik suatu bangsa, yang merupakan

28

keuletan dan ketangguhan dan mangandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional di dalam menghadapi dan mengatasi segala ancaman, tantangan, gangguan, dan hambatan, baik yang dating dari luar maupun dari dalam, yang langsung maupun tak langsung, baik yang dari luar maupun dari dalam, yang langsung maupun tak langsnug yang membahayakan integritas, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan Negara serta perjuangan mengejar tujuan perjuangan nasionalnya. Dalam pengertian yang dikemukakan oleh Lembaga Ketahanan Nasional RI (Lemhannas RI) ini mencerminkan, bahwa Ketahanan Nasional sebagai suatu kondisi mengalami perubahan dari waktu ke waktu.

Kondisi Ketahanan Nasional saat ini merupakan modal dasar untuk meningkatkan kondisi Ketahanan Nasional di masa yang akan datang, dan seterusnya. Untuk menuju perubahan itu dilaksanakan melaui pembangunan nasional yang meliputi segenap aspek kehidupan, yang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia disederhanakan menjadi delapan aspek atau yang dikenal dengan sebutan Asta Gatra yang terdiri dari aspek Tri Gatra dan aspek Panca Gatra. Trigatra meliputi aspek Geografi, Demografi dan Sumber Kekayaan Alam yang dapat menjadi modal dasar bagi Panca Gatra yaitu aspek Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya dan Pertahanan Keamanan). Mengingat hubungan antara Ketahanan Nasional dan Pembangunan Nasional tersebut, maka kelancaran dan keberhasilan pelaksanaan pembangunan nasional secara langsung berkonsekuensi logis terhadap peningkatan kondisi Ketahanan Nasional. Pembangunan nasional adalah suatu usaha yang disengaja atau terencana dengan menggunakan metode-metode dan teknik-teknik tertentu, dengan tujuan

29

agar segenap aspek kehidupan dapat meningkat atau lebih baik. Salah satu program pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah adalah Koperasi yang dinilai selaras dengan cita-cita konstitusional. Koperasi diupayakan agar tumbuh kembang di Indonesia dengan harapan dapat berperan sebagai salah satu subsistem ekonomi yang dapat mengisi struktur perekonomian nasional dan menunjang kondisi Ketahanan Nasional. Dengan kata lain, koperasi diharapkan dapat berperan mendukung kondisi Ketahanan Nasional yang semakin tangguh di masa kini dan yang akan datang. Peranan yang diwujudkan oleh Koperasi terhadap Ketahanan Nasional khususnya ketahanan ekonomi wilayah dapat dikemukakan hipotesis sebagai berikut: 1. Dari aspek ideologi, penyelenggaraan koperasi dapat lebih memperkukuh nilai kebersamaan pada masyarakat Indonesia, karena koperasi memang dibentuk atas dasar asas kebersamaan. Implikasinya, koperasi yang sukses dan tangguh dapat menjadi sarana ampuh dalam memperkuat integritas bangsa dan Negara. 2. Dari aspek politik, koperasi langsung maupun tidak langsung mengenalkan dan menanamkan cara-cara berorganisasi modern serta nilai-nilai demokratis kepada anggotanya. Hal ini sejalan dengan penyelenggaraan organisasi dan kegiatan usaha, serta prinsip demokratis yang ada pada demokrasi, yang sekaligus merupakan wahana pendidikan politik yang terarah sesuai dengan perkembangan jaman.

30

3. Dari aspek ekonomi, koperasi dapat menciptakan peluang kerja

dan

menyerap tenaga kerja, terutama mengingat koperasi merupakan bahan usaha yang dimulai dari “bawah” dan padat karya. Di sisi lain, sukses koperasi bermakna sebagai peningkatan kesejahteraan ekonomi anggota khususnya. 4. Dari aspek sosial budaya, peningkatan kesejahteraan ekonomi anggota koperasi dapat berdampak langsung, kepada perbaikan kondisi kehidupan lainnya, seperti pendidikan anak yang semakin baik, kesehatan keluarga yang semakin meningkat, gizi keluarga yang semakin baik, dan sebagainya. 5. Dari aspek pertahanan keamanan, sukses-sukses di atas pada dasarnya dapat meningkatkan kondisi pertahanan-keamanan sekitar, akibat kualitas penduduk yang semakin baik. Di sisi lain, sukses koperasi akan menimbulkan partisipasi dalam kegiatan ekonomi daerah, sehingga dapat menyeimbangkan kekuatan ekonomi antar daerah. Atas dasar hipotesis di atas penelitian ini dilaksanakan, yakni bermaksud untuk mengkaji penyelenggaraan koperasi di suatu wilayah/daerah. Pengertian

wilayah/daerah di dalam tulisan ini dipersempit yang dalam lingkup penelitian ini batasannya adalah daerah operasional koperasi pasar Pondok Labu. Tegasnya penelitian ini berasumsi, bahwa suksesnya penyelenggaraan koperasi di suatu wilayah/daerah akan menunjang pembentukan kondisi Ketahanan ekonomi Wilayah/Daerah yang bersangkutan akan lebih tangguh. Sukses koperasi yang tersebar di seluruh wilayah nusantara ini, penulis yakini akan mampu mendukung ketahanan ekonomi wilayah, sehingga dalam konteks inilah koperasi akan mapu pula mendukung ketahanan nasional.

31

Dengan demikian, untuk mencapai keberhasilan pemberdayaan koperasi pasar Pondok Labu guna meningkatkan kesejahteraan anggota dalam rangka mendukung ketahanan ekonomi wilayah, maka kinerja koperasi perlu dilakukan pembenahan secara sungguh-sungguh dari semua pihak terkait, dalam hal ini yang paling utama adalah pihak pengurus dan pengelola koperasi. C. Metode Penelitian

Dalam penelitian ini akan digunakan 4 (empat) metode pengumpulan data yaitu: 1. Metode kuesioner; Metode kuesioner yang dipakai dalam penelitian ini adalah

bentuk angket kombinasi antara angket tertutup dan terbuka. Yang dimaksudkan angket tertutup dalam penelitian ini adalah angket yang sudah disediakan alternatif jawaban sehingga responden tinggal memilih alternatif jawaban yang tersedia, sedangkan pada angket terbuka responden dapat mengisi jawaban pada kolom yang tersedia sesuai dengan yang diinginkan. Angket ini dimaksudkan untuk mengambil data yang terkait dengan tingkat partisipasi anggota dalam kegiatan usaha koperasi, pengelolaan koperasi, kesejahteraan yang diperoleh anggota dan peran koperasi dalam mendukung ketahanan ekonomi wilayah (Lihat Lampiran-1). 2. Metode dokumentasi; Dalam penelitian ini metode dokumentasi digunakan untuk mendapatkan data mengenai laporan pelaksanaan kegiatan usaha koperasi pasar Pondok Labu.

32

3. Metode wawancara; Metode wawancara yang digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan informasi guna melengkapi data yang diperoleh dari metode kuesioner dan dokumentasi. 4. Metode Observasi; Dalam penelitian ini, metode observasi digunakan untuk mengetahui secara langsung tingkat partisipasi anggota dalam kegiatan usaha koperasi, pengelolaan koperasi, kesejahteraan yang diperoleh anggota dan peran koperasi dalam mendukung ketahanan ekonomi wilayah. Hasil observasi menjadi catatan tersendiri yang nantinya dapat digunakan untuk melengkapi dan membandingkan data yang diperoleh dari metode pengumpulan data lainnya. D. Sumber Data Penelitian

Sumber data adalah subjek dari mana data dapat diperoleh (Arikunto,1997 : 114). Menurut Lofland & Lofland dalam Moeleong, (2002 : 112) sumber utama dari penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Dalam penelitian ini digunakan data Primer dan data Skunder sebagai berikut : 1) Data primer yaitu data yang diambil secara langsung dari sumber primer, melalui wawancara dengan anggota, pengurus dan pengawas koperasi pasar Pondok Labu. Jumlah yang diwawancarai adalah 43 orang, terdiri dari 36 orang anggota dari jumlah total anggota sebanyak 118 orang atau 30,5%, 6 orang pengurus (100%) dan 1 orang pengawas (50%). Data primer lainnya berasal dari penyebaran kuesioner kepada anggota sebanyak 75 bundel, setelah terkumpul dan diteliti dengan seksama hanya 60 bundel atau 80% yang relevan untuk digunakan

33

sebagai data pendukung dalam penelitian ini, selain itu juga dilakukan observasi keadaan fisik dan struktur organisasi koperasi pasar Pondok Labu. 2) Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dari literatur dan catatan yang menyebutkan pokok permasalahan yang akan dijadikan sebagai landasan yang bersifat teoritis, seperti laporan pertanggungjawaban pengurus dan pengawas pada Rapat Anggaran Tahunan dan Anggaran Dasar Rumah Tangga koperasi pasar Pondol Labu. E. Keabsahan Data Pemeriksaan terhadap keabsahan data merupakan salah satu bagian yang sangat penting didalam penelitian kualitatif. Keabsahan data dalam penelitian ini dipergunakan untuk: 1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara. 2. Membandingkan apa yang dilakukan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu. 3. Membadingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan. F. Motode Analisis Data Data yang terkumpul dalam suatu penelitian akan lebih bermakna apabila diadakan kegiatan analisa data. Dalam penelitian ini karena menggunakan metode pendekatan kualitatif maka menggunakan data non- statistik. Penelitian ini, dengan pendekatan kualitatif, strategi pendekatanya bersifat induktif konseptiualisasi, dengan alur proses penelitian dapat digambarkan sebagai berikut (Lihat Gambar-2).

34

Pengumpulan Data

Penyajian Data

Reduksi Data

Kesimpulankesimpulan atau penafsiran Data

Gambar-2 Alur Proses Penelitian, (Sumber : Milles dan Huberman 1992: 20)

Keempat komponen diatas saling interaktif yaitu saling mempengaruhi dan terkait. Pertama-tama peneliti melakukan penelitian di lapangan dengan mengadakan wawancara atau observasi yang disebut tahap pengumpulan data. Karena banyaknya data yang dikumpulkan maka diadakan reduksi data (meneliti data yang relevan), selain itu, pengumpulan data juga digunakan untuk penyajian data. Apabila ketiga hal tersebut selesai dilakukan, maka diambil suatu kesimpulan atau penafsiran data.

35

BAB III KONDISI OBYEKTIF KINERJA KOPERASI PASAR PONDOK LABU A. Gambaran Umum Koperasi Pertimbangan pemerintah dalam menyusun Undang-undang Nomor 25 Tahun 1992 (UU No.25/1992) tentang Perkoperasian dilandasi bahwa koperasi, baik sebagai gerakan ekonomi rakyat maupun sebagai badan usaha berperan serta untuk mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur berlandaskan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 dalam tata perekonomian nasional yang disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi. Dengan demikian koperasi perlu lebih membangun dirinya dan dibangun menjadi kuat dan mandiri berdasarkan prinsip koperasi sehingga mampu berperan sebagai sokoguru perekonomian nasional, selain itu pembangunan koperasi merupakan tugas dan tanggung jawab Pemerintah dan seluruh rakyat. Penjelasan Pasal 33 menempatkan koperasi baik dalam kedudukan sebagai sokoguru perekonomian nasional maupun sebagai bagian integral tata perekonomian nasional. Dengan memperhatikan kedudukan koperasi tersebut maka peran koperasi sangatlah penting dalam menumbuhkan dan mengembangkan potensi ekonomi rakyat serta dalam mewujudkan kehidupan demokrasi ekonomi yang mempunyai ciri-ciri demokratis, kebersamaan, kekeluargaan dan keterbukaan. Dalam kehidupan ekonomi seperti itu koperasi seharusnya memiliki ruang gerak dan kesempatan usaha yang luas yang menyangkut kepentingan kehidupan ekonomi rakyat. Tetapi dalam

perkembangan ekonomi yang berjalan demikian cepat, pertumbuhan koperasi selama

32

36

ini belum sepenuhnya menampakkan wujud dan perannya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar 1945. Demikian pula peraturan perundang-undangan yang ada masih belum sepenuhnya menampung hal yang diperlukan untuk menunjang terlaksananya koperasi baik sebagai badan usaha maupun sebagai gerakan ekonomi rakyat. Pembangunan koperasi perlu diarahkan sehingga semakin berperan dalam perekonomian nasional. Pengembangannya diarahkan agar koperasi benar-benar menerapkan prinsip koperasi dan kaidah usaha ekonomi. Dengan demikian koperasi akan dapat menjadi organisasi ekonomi yang mantap, demokrasis, otonom, partisipatif, dan berwatak sosial. Sejarah kelahiran dan berkembangnya koperasi di negara maju dan negara berkembang memang berbeda. Di negara maju koperasi lahir sebagai gerakan untuk melawan ketidakadilan pasar, oleh karena itu tumbuh dan berkembang dalam suasana persaingan pasar, bahkan dengan kekuatannya itu koperasi meraih posisi tawar dan kedudukan penting dalam konstelasi kebijakan ekonomi termasuk dalam perundingan internasional. Peraturan perundangan yang mengatur koperasi kemudian tumbuh sebagai tuntutan masyarakat koperasi dalam rangka melindungi dirinya. Sedangkan di negara berkembang koperasi dihadirkan dalam kerangka membangun institusi yang dapat menjadi mitra negara dalam menggerakkan pembangunan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu kesadaran antara kesamaan dan kemuliaan tujuan negara dan gerakan koperasi dalam memperjuangkan peningkatan

kesejahteraan masyarakat lebih dikedepankan di negara berkembang, baik oleh pemerintah kolonial maupun pemerintah Indonesia setelah kemerdekaan.

37

Pengalaman Indonesia lebih unik lagi, karena koperasi yang pernah lahir dan telah tumbuh secara alami di jaman penjajahan, kemudian setelah kemerdekaan diperbaharui dan diberikan kedudukan yang sangat tinggi dalam penjelasan undangundang dasar, dan atas dasar itulah kemudian melahirkan berbagai penafsiran bagaimana harus mengembangkan dan memberdayakan koperasi. Kondisi obyektif koperasi pasar Pondok Labu akan ditinjau dari beberapa hal berikut : 1. Sejarah Pendirian Tidak berbeda jauh dengan sejarah kehadiran koperasi di Indonesia, kehadiran koperasi pasar Pondok Labu tujuan utamanya adalah meningkatkan kesejahteraan anggota dan masyarakat di wilayah sekitarnya. Sejarah berdirinya koperasi ini berawal ketika diadakannya forum khusus untuk membentuk angket suara untuk membentuk koperasi. Dari sekian banyak pedagang ternyata lebih dari 20% jumlah pedagang menyatakan sepakat bersedia menjadi anggota koperasi, maka beberapa bulan kemudian terbentuklah koperasi dengan nama "KOPEPOLA" (Koperasi Pedagang Pasar Pondok Labu). Setelah beberapa lama koperasi berjalan dengan mengemban tugas operasional koperasi sudah menunjukkan kemajuan dalam pengelolaan dan akhirnya pada tanggal 13 Desember 1979 secara resmi ditetapkan sebagai hari "KOPEPOLA". Koperasi pasar Pondok Labu memiliki landasan hukum sejak tahun 1986 dengan akta pendirian Nomor : 1950/B.H/I. Tanggal. 11 Maret 1986. Koperasi ini juga mengalami perubahan Nama yang semula KOPEPOLA menjadi KOPPAS Pondok Labu pada tanggal 22 Januari 1995, Akta perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD / ART) dalam rapat anggota

38

dikuasakan dan ditandatangan oleh Lahmudin, Edi Erianto, Ardy Aimunir, Achmadsyah dan Alimusim Maat serta mendapat pengesahan dari Departemen Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil pada tanggal 16 Mei 1995 dengan Nomor 1950a / BH / I. 2. Organisasi Tata kehidupan dalam organisasi koperasi mengatur bagaimana hubungan di antara anggota dan pengurus koperasi. Tata kehidupan ini secara prinsip diatur oleh prinsip-prinsip koperasi. Pasal 5 UU No.25/1992 merinci ada 7 (tujuh) prinsip koperasi Indonesia, yaitu: (a) keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka; (b) Pengelolaan dilakukan secara demokratis; (c) Pembagian Sisa Hasil Usaha dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota; (d) Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal; (e) Kemandirian; (f) Pendidikan perkoperasian; dan (g) Kerjasama antar koperasi. Pasal 21 UU No.25/1992 menjelaskan bahwa perangkat organisasi koperasi terdiri dari (a) Rapat Anggota; (b) Pengurus; dan (c) Pengawas. Rapat Anggota merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam Koperasi, dalam Rapat Anggota pelaksanaannya diatur dalam Anggaran Dasar. Rapat Anggota berhak meminta keterangan dan pertanggungjawaban Pengurus dan Pengawas mengenai pengelolaan Koperasi, dan dilakukan paling sedikit sekali dalam 1 (satu) tahun, dan untuk mengesahkan pertanggungjawaban Pengurus Rapat Anggota diselenggarakan paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun buku lampau.

39

Pengawas dipilih dari dan oleh anggota Koperasi dalam Rapat Anggota dan bertanggung jawab kepada Rapat Anggota. Persyaratan untuk dapat dipilih dan diangkat sebagai anggota Pengawas ditetapkan dalam Anggaran Dasar. Pengawas bertugas melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijaksanaan dan pengelolaan Koperasi, dan membuat laporan tertulis tentang hasil pengawasannya. Pengurus dipilih dari dan oleh anggota Koperasi dalam Rapat Anggota dan merupakan pemegang kuasa Rapat Anggota. Pengurus bertugas : (a) Mengelola Koperasi dan usahanya; (b) Mengajukan rencana-rencana kerja serta rancangan rencana anggaran pendapatan dan belanja Koperasi; (c) Menyelenggarakan Rapat Anggota; (d) Mengajukan laporan keuangan dan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas; (e) Menyelenggarakan pembukuan keuangan dan inventaris secara tertib; dan (f) Memelihara daftar buku anggota dan pengurus. Pengurus bertanggung jawab mengenai segala kegiatan pengelolaan Koperasi dan usahanya kepada Rapat Anggota atau Rapat Anggota Luar Biasa. Susunan kepengurusan koperasi pasar Pondok Labu periode 2009-2011 dapat dilihat pada gambar-3.

Gambar-3 Susunan kepengurusan koperasi pasar Pondok Labu periode 2009-2011

40

Pengawas

:

1. Bpk. Lahmudin 2. Bpk. Darmawan

Pengurus dan Pengelola Koperasi : a. Ketua b. Sekretaris c. Bendahara d. Pengelola : Bpk. H. Kuswandi : Bpk. Gusman ST Bangindo : Bpk. Jafman Tirzan : 1) Nurlailah 2) Rismar 3) Susilowati 3. Permodalan Sesuai dengan Pasal 41 UU No.25/1992 menjelaskan bahwa modal koperasi terdiri dari modal sendiri dan modal pinjaman. Modal sendiri dapat berasal dari simpanan pokok; simpanan wajib; dana cadangan; dan hibah. Sedangkan modal pinjaman dapat berasal dari anggota; Koperasi lainnya dan/atau anggotanya; bank dan lembaga; penerbitan obligasi dan surat hutang lainnya; serta sumber lain yang sah. Selain itu, koperasi dapat pula melakukan pemupukan modal yang berasal dari modal penyertaan yang diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pengelolaan koperasi yang baik membutuhkan modal. Modal koperasi bisa berasal dari anggota maupun dari non anggota. Semakin besar modal yang berasal dari anggota maka akan semakin baik, karena ini berarti koperasi dapat hidup dari biaya sendiri. Agar kebutuhan modal koperasi dapat dipenuhi, dibutuhkan partisipasi anggota dalam permodalan. Bentuk partisipasi anggota dalam permodalan dapat dilakukan dengan membayar berbagai simpanan yang ada dalam

41

koperasi yaitu simpanan pokok, simpanan wajib dan simpanan sukarela secara teratur. Adanya modal yang dimiliki kopersi, maka koperasi akan lebih mudah memenuhi kebutuhan anggota dengan menyediakan berbagai jasa pelayanan. Usaha koperasi dapat berkembang dengan anggota yang hendaknya mau memanfaatkan jasa yang disediakan oleh koperasi. Pada saat ini permodalan koperasi pasar Pondok Labu hampir keseluruhannya berasal dari anggota yaitu sebesar Rp. 653,465,880,- sementara total passiva dan kekayaan bersih koperasi per 31 Desember 2009 sebesar Rp. 1,203,290,364,-. Modal luar yang masih dikelola koperasi saat ini sebesar Rp. 40,000,000,merupakan sisa pinjaman modal tahun 2002 sebesar Rp. 100,000,000,-. Modal sendiri atau kekayaan koperasi pasar Pondok Labu pada 3 (tiga) tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel-3. Tabel-3 Permodalan Koperasi Pasar Pondok Labu KETERANGAN Simpanan Pokok Simpanan Wajib Simpanan Wajib Khusus Simpanan Suka Rela Donasi Cadangan Jumlah TAHUN 2007 (Rp.) 11,308,000 136,027,000 217,024,857 5,945,188 20,000,000 79,241,396 459,546,441 TAHUN 2008 (Rp.) 52,015,000 144,212,000 259,667,136 3,260,736 20,000,000 68,701,415 537,856,287 TAHUN 2009 (Rp.) 52,400,000 170,726,775 326,895,044 7,522,995 20,000,000 75,921,066 653,465,880

Sumber : Laporan RAT Januari 2010

42

4. Anggota Anggota Koperasi adalah pemilik dan sekaligus pengguna jasa Koperasi. Yang dapat menjadi anggota Koperasi ialah setiap warga negara Indonesia yang mampu melakukan tindakan hukum atau Koperasi yang memenuhi persyaratan sebagaimana ditetapkan dalam Anggaran Dasar. Setiap anggota mempunyai kewajiban dan hak yang sama terhadap Koperasi sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar. Jumlah anggota koperasi pada tiga tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel-4. Tabel-4 Jumlah Anggota Koperasi Pasar Pondok Labu No 1 2 3 Tahun 2007 2008 2009 Jumlah Awal 131 118 118 Masuk 6 5 4 Keluar 18 3 4 Meninggal 1 2 1 Jumlah Akhir 118 118 117

Catatan : Jumlah Calon Anggota sampai dengan Maret 2010 sebanyak 118 orang.

5. Jenis Usaha Koperasi pasar Pondok Labu merupakan koperasi yang memiliki usaha tunggal yaitu menampung simpanan anggota dan melayani peminjaman. Anggota yang menabung (menyimpan) akan mendapatkan imbalan jasa dan bagi peminjam dikenakan jasa. Besarnya jasa bagi penabung dan peminjam ditentukan melalui rapat anggota. Dari sinilah, kegiatan usaha koperasi dapat dikatakan dari, oleh, dan untuk anggota. Pada tahun buku 2009, koperasi pasar Pondok Labu

43

menyelenggarakan jenis usaha Simpan Pinjam yang ditetapkan berdasarkan persetujuan RAT sebagai berikut : a) Simpan Pinjam, dengan jasa ditetapkan sebesar 1% setiap bulan. b) Pinjaman Spontan, dengan jasa ditetapkan sebesar 1,25 % setiap bulan. c) Pinjaman Subsidi BBM, dengan jasa ditetapkan sesuai dengan Keputusan Menteri Koperasi No. No. 23/KEP/M.KUKM/II/2003. d) Pinjaman Paket, dengan jasa ditetapkan sebesar 1,5 % setiap bulan. e) Pinjaman untuk anggota yang dilayani, dengan jasa ditetapkan sebesar 1,5% setiap bulan. Setelah menyimak kondisi umum koperasi pasar Pondok Labu, kemudian muncul pertanyaan bagaimana kinerja koperasi pasar Pondok Labu saat ini ? Apakah koperasi pasar Pondok Labu telah melakukan ”strategic positioning” sebagai wadah anggota ”bekerjasama” untuk kesejahteraan bersama anggota serta masyarakat di wilayah sekitarnya?; Ataukah bekerja ”bersama-sama” untuk kepentingan masing-masing anggota atau hanya untuk kepentingan pengawas dan atau pengurus koperasi saja? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut akan diuraikan secara obyektif kinerja koperasi pasar Pondok Labu berdasarkan hasil penelitian yang hasilnya disajikan pada pembahasan selanjutnya. B. Kinerja Koperasi 1. Partisipasi Anggota UU No.25/1992 pada bab V telah mengatur tentang keanggotaan koperasi. Pasal 17 ayat(1) menyebutkan bahwa anggota koperasi adalah pemilik dan

44

sekaligus pengguna jasa koperasi. Pasal 18 ayat(1) dijelaskan yang dapat menjadi anggota koperasi adalah setiap warga negara Indonesia yang mampu melakukan tindakan hukum atau koperasi yang memenuhi persyaratan sebagaimana ditetapkan dalam Anggaran Dasar. Dalam pasal 19 ayat (1) disebutkan bahwa keanggotaan koperasi didasarkan pada kesamaan kepentingan ekonomi dalam lingkup usaha koperasi. Sedangkan kewajiban dan hak anggota koperasi diatur dalam pasal 20 undang-undang ini. Dari amanat undang-undang diatas, jelas bahwa setiap anggota wajib untuk berpartisipasi dalam setiap kegiatan usaha koperasi seperti dijelaskan pada pasal 20 ayat (1) butir b. Partisipasi merupakan faktor yang paling penting dalam mendukung keberhasilan atau perkembangan koperasi. Dalam koperasi, semua program manajemen harus memperoleh dukungan dari anggota. Pihak manajemen memerlukan berbagai informasi yang berasal dari anggota, khususnya informasi tentang kebutuhan dan kepentingan anggota. Informasi ini hanya akan diperoleh jika partisipasi anggota dalam koperasi berjalan dengan baik. Peningkatan partisipasi akan dapat meningkatkan rasa tanggung jawab serta semangat dan kegairahan kerja. Tanpa partisipasi, anggota koperasi tidak akan dapat bekerja secara efisien dan efektif. Suatu koperasi bisa berhasil dalam kompetisi jika seluruh anggota dapat memanfaatkan kemampuannya masing-masing dan bekerjasama untuk suatu tujuan yang akan dicapai. Dengan demikian partisipasi anggota sangatlah diperlukan dalam permberdayaan suatu koperasi. Partisipasi anggota meliputi berbagai bidang, yaitu partisipasi dalam demokrasi ekonomi koperasi, modal dan dalam penggunaan jasa usaha koperasi.

45

Bidang demokrasi ekonomi koperasi, anggota berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan pengambilan keputusan yang diselenggarakan melalui rapat-rapat anggota maupun di luar rapat anggota. Bidang modal koperasi, anggota koperasi aktif turut serta menanggung beban modal koperasi, hal itu bisa dilakukan dengan membayar simpanan pokok, simpanan wajib, dan simpanan sukarela. Bidang jasa usaha koperasi, anggota sebagai pengguna dari setiap kegiatan usaha koperasi, di sini anggota koperasi sebagai konsumen bahkan pelanggan dari kegiatan usaha koperasi. Dalam berpartisipasi terhadap koperasinya dalam bidang jasa koperasi dapat dilakukan dengan cara anggota sering menggunakan berbagai jasa atau unit usaha yang disediakan oleh koperasinya. Dari pengamatan lapangan terhadap partisipasi anggota diperoleh hasil sebagai berikut : a) Dalam bidang demokrasi ekonomi koperasi Anggota ikut serta dalam hal demokrasi koperasi yaitu anggota berpartisipasi aktif dalam setiap proses pengambilan keputusan koperasi. Hal itu bisa dilakukan dalam kegiatan rapat-rapat anggota seperti Rapat Anggota Tahunan (RAT) maupun di luar rapat anggota. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anggota belum berperan serta secara aktif dalam demokrasi ekonomi koperasi. Peran aktif anggota untuk mengembangkan dan memberdayakan koperasi sampai saat ini masih terbatas misalkan pada Rencana Kerja dan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja untuk tahun 2010 hanya dihadiri oleh 13,6% dari jumlah anggota, dan pada pelaksanaan RAT Januari 2010 hanya dihadiri oleh 48% dari jumlah anggota,

46

sebagian lain karena kesibukannya menyatakan untuk diwakilkan sebesar 43%, sedangkan sisanya atau sebanyak 11% tidak hadir (Hasil Laporan Pengurus Terhadap Pelaksanaan RAT Tahun 2010) . Kondisi ini tidak sesuai dengan ketentuan dalam AD/ART yang mensyaratkan pelaksanaan RAT minimal harus dihadiri 75% dari seluruh jumlah anggota. Meskipun sebagian anggota (sebesar) 43% menyatakan untuk mewakilkan kehadirannya, namun hal demikian belum mencerminkan partisipasi anggota dalam bidang demokrasi ekonomi koperasi berlangsung dengan baik. b) Dalam permodalan Sukses setiap kegiatan usaha koperasi tidak terlepas dari modal usaha yang diperoleh koperasi. Modal utama koperasi diperoleh dari iuran anggota, dengan demikian partisipasi anggota koperasi dalam permodalan dapat dilakukan dengan cara aktif dalam membayar simpanan pokok, simpanan wajib, dan simpanan sukarela. Partisipasi anggota dalam bidang permodalan dari pengamatan di lapangan data tahun buku 2009 menunjukkan prosentase 85% atau Rp. 556,544,814,- merupakan modal sendiri yang dihimpun dari anggota. Sementara itu, untuk mendukung suksesnya pemberdayaan koperasi sangat dipengaruhi oleh tingkat kedisiplinan anggota. Tanpa disiplin, seseorang tak akan mampu menyelesaikan segala apa yang telah direncanakannya. Disiplin akan mampu menjalankan rencana berada pada jalur yang telah ditentukan, tidak peduli seberapa besar hambatan yang dihadapi. Pengamatan di lapangan terhadap disiplin anggota terindikasi bahwa sebagian anggota dalam melaksanakan hak dan kewajiban masih belum

47

disiplin (tepat waktu), data dilapangan terdapat 11 % anggota yang kurang disiplin dalam melaksanakan hak dan kewajibannya atau memiliki tunggakan pinjaman sebesar Rp. 48,139,800,- atau 8,65% dari jumlah modal. Partisipasi modal adalah kontribusi anggota dalam memberi modal koperasinya baik berupa simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan usaha, maupun simpanan lainnya. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa permodalan koperasi yang dihimpun dari anggota mencapai nilai sebesar 85% dan mampu melebihi ketentuan AD/ART koperasi yang mensyaratkan minimal modal sendiri adalah sebesar 51%, dengan kondisi demikian dapat menjadi indikator bahwa partisipasi anggota dalam permodalan sudah menunjukkan hasil yang baik, namun untuk tingkat kedisiplinan anggota dalam mengembalikan pinjaman permodalan masih perlu ditingkatkan. Dari penjelasan pengurus, idealnya setiap anggota harus tepat waktu dalam mengembalikan modal koperasi, jikalaupun tidak tepat waktu, maksimal tidak boleh lebih dari 2 (dua) bulan selama masa pengembalian pinjaman. c) Dalam menggunakan jasa koperasi Koperasi sebagai suatu usaha bersama, dari, oleh, dan untuk anggota maka partisipasi anggota dalam menggunakan jasa koperasi sangatlah perlu. Partisipasi anggota dalam menggunakan jasa koperasi yaitu anggota koperasi sebagai pemakai atau konsumen dari setiap kegiatan usaha koperasi. Anggota koperasi yang berpartisipasi dalam menggunakan jasa koperasi sesuai dengan laporan pelaksanaan RAT Januari 2010 menunjukkan prosentase sebesar 84% dari seluruh jumlah anggota.

48

Salah satu hubungan penting yang harus dilakukan koperasi adalah dengan para anggotanya, yang kedudukannya sebagi pemilik sekaligus pengguna jasa koperasi. Anggota sebagai pengguna akan mempersoalkan kontinuitas pengadaan kebutuhan barang-jasa, menguntungkan tidaknya pelayanan koperasi dibandingkan penjual di luar koperasi. Pada dasarnya setiap anggota akan berpartisipasi dalam kegiatan pelayanan koperasi apabila kegiatan koperasi sesuai dengan kebutuhannya, terlebih jika pelayanan itu di tawarkan dengan harga, mutu atau syarat-syarat yang lebih menguntungkan di banding yang di perolehnya dari pihak-pihak lain di luar koperasi, maka partisipasi anggota dalam menggunakan jasa koperasi akan semakin meningkat, dan keadaan ini akan menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilan pemberdayaan koperasi. Dengan jumlah anggota koperasi yang berpartisipasi dalam menggunakan jasa koperasi sebesar 84% dari jumlah anggota, mengindikasikan bahwa partisipasi anggota dalam menggunakan jasa koperasi dapat dinilai cukup baik, penilaian ini sesuai dengan penjelasan pengurus bahwa pemanfaatan jasa koperasi oleh anggota dinilai berhasil apabila mencapai minimal 75% dari jumlah anggota. 2. Pengelolaan Pengurus sebagai pengelola memiliki tanggung jawab yang besar terhadap seluruh anggota koperasi, karena pengurus yang dipilih oleh anggota dalam rapat anggota merupakan pengelola yang dipercaya untuk mengurus koperasi. Cakupan tugas pengelola koperasi meliputi pengelolaan organisasi koperasi maupun

49

pengelolaan usaha koperasi. Secara normatif pengelola (pengurus) dalam organisasi koperasi memiliki fungsi yang amat strategis yaitu bertindak sebagai pengusaha yang menjaga kesinambungan koperasi sebagai lembaga ekonomi yang efisien. Oleh karena itu apabila kualitas pengurus koperasi rendah akan mengakibatkan proses manajemen koperasi lemah sehingga arah dan tujuan yang hendak di capai koperasi tidak bisa diraih terutama dalam pemberdayaan koperasi. Seperti yang diungkapkan oleh Partadiredja (1995:9) “Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan suatu Koperasi adalah Manajemen”. Dengan kata lain berhasil tidaknya koperasi sangat tergantung pada kemampuan manajemen, dalam hal ini manajemen yang diterapkan oleh pengurus. Untuk mengetahui apakah pengurus koperasi sudah menerapkan prinsipprinsip manajemen dalam pengelolaan koperasi sesuai dengan UU No.25/92, akan dilihat dari hasil penelitian sebagai berikut : a) Prinsip pengelolaan keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka Prinsip ini mengandung pengertian bahwa, seseorang tidak boleh dipaksa untuk menjadi anggota koperasi, namun harus berdasar atas kesadaran sendiri. Setiap orang yang akan menjadi anggota harus menyadari bahwa, koperasi akan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan sosial ekonominya. Dengan keyakinan tersebut, maka partisipasi aktif setiap anggota terhadap organisasi dan usaha koperasi akan timbul. Karena itu, dalam pembinaan dan pengembangan koperasi, prinsip ini sebaiknya dilaksanakan secara konsekuen sehingga koperasi dapat tumbuh dari bawah dan mengakar.

50

Terdapat 2 (dua) makna sifat sukarela dalam keanggotaan koperasi yaitu: keanggotaan koperasi tidak boleh dipaksakan oleh siapapun, dan seorang anggota dapat mengundurkan diri dari koperasinya sesuai dengan syarat yang ditentukan dalam AD/ART koperasi. Sifat terbuka mengandung makna bahwa, di dalam keanggotaan koperasi tidak dilakukan pembatasan atau diskriminasi dalam bentuk apapun. Keanggotaan koperasi terbuka bagi siapa pun yang memenuhi syarat-syarat keanggotaan atas dasar persamaan kepentingan ekonomi atau karena kepentingan ekonominya dapat dilayani oleh koperasi. Penerapan prinsip keanggotaan sukarela dan terbuka tidak berarti bahwa anggota secara mutlak bebas masuk dan keluar setiap waktu, menyimpan atau menarik modal di koperasi. Seseorang dapat masuk atau keluar dari koperasi sepanjang tidak merusak kepentingan anggota lain dan sepanjang dia tidak melanggar peraturan di koperasinya. Dari pengamatan dilapangan dapat diketahui bahwa di satu sisi koperasi pasar Pondok Labu selalu membuka kesempatan kepada masyarakat untuk menjadi anggota koperasi, sepanjang mampu memenuhi persyaratan yang ditetapkan, namun pada sisi lain terdapat tuntutan kriteria keanggotaan yang relatif ketat, hal ini dapat dilihat persyaratan untuk menjadi anggota tidak hanya kewajiban membayar simpanan pokok dan wajib, melainkan ada persyaratan khusus baik dari kondisi usaha anggota yang sedang dijalankan bahkan sampai dengan uji kelayakan karakteristik kepribadian. Penerapan kriteria pada persyaratan keanggotaan ini terbukti berdampak

51

positif terhadap ketahanan keanggotaan koperasi itu sendiri. Ketahanan bermakna pada kualitas anggota yang lebih baik, partisipasi anggota lebih baik, dan peluang keluar-masuk keanggotaan relatif rendah. Kondisi ini sejalan dengan ketentuan AD/ART koperasi dan telah diterapkan menjadi bagian terintegrasi dari manajemen keanggotaan di koperasi. Dalam konteks manajemen keanggotaan yang dilakukan oleh koperasi pasar Pondok Labu telah memperlihatkan efektifitasnya secara baik sehingga dapat dijadikan salah satu referensi untuk pemodelan manajemen keanggotaan. Dari hasil wawancara dengan pengurus, dapat diketahui bahwa manajemen keanggotaan yang ada sampai saat ini akan terus dipertahankan sampai dengan beberapa tahun kedepan atau sampai dengan adanya kesepakatan rapat anggota untuk melakukan perubahan. Dengan model manajemen keanggotaan yang diterapkan ini, terbukti minat masyarakat untuk menjadi anggota terus meningkat, hingga Maret 2010 calon anggota atau anggota yang dilayani (bukan anggota tetap), mencapai 118 orang calon anggota, dan ditargetkan sampai akhir tahun 2010 jumlah keseluruhan anggota tetap dan calon anggota koperasi akan mencapai 400 orang anggota. Dari uraian diatas, kinerja pengelolaan koperasi terkait dengan prinsip keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka, pengurus telah melaksanakan prinsip tersebut, dan berdasarkan hasil survey (kuesioner yang terkumpul) dari anggota terhadap kinerja koperasi dalam menjalankan prinsip ini, didapat hasil 31 quesioner menyatakan sangat baik (86%), 4 quesioner menyatakan cukup baik (11%), dan 1 quesioner (3%) tidak diisi. Dalam pengelolaan manajemen

52

keanggotaan secara umum dapat dinilai telah sesuai dengan prinsip pengelolaan keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka. b) Prinsip Pengelolaan Dilakukan Secara Demokratis RAT yang merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam koperasi, memberlakukan asas kesamaan derajat, di mana setiap anggota mempunyai hak satu suara. Dengan demikian, pengertian demokrasi koperasi mengandung arti pengelolaan koperasi dilakukan atas kehendak dan keputusan para anggota, serta anggota adalah pemegang dan pelaksana kekuasaan tertinggi dalam koperasi. Prinsip ini mengedepankan posisi anggota sebagai pemilik (owner) yang sangat strategis dalam merumuskan, melaksanakan, dan mengevaluasi koperasi. Bila masa kepengurusan telah berakhir atau menjelang berakhir, RAT akan menetapkan pengurus koperasi untuk periode selanjutnya. Dari penelitian dilapangan hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut: 1) Pemasaran produk, pengurus berupaya untuk selalu membuat terobosan program baru salah satunya yang dilakukan saat ini adalah dengan mengembangkan perluasan wilayah usahanya, dengan perluasan wilayah usaha tersebut akan memberikan peluang yang besar bagi koperasi untuk meraih pangsa pasar yang lebih luas dan keuntungan akan semakin meningkat, hal ini dikarenakan produk yang ditawarkan sudah dianalisis oleh pengurus dapat bersaing dengan produk sejenis yang ditawarkan oleh pelaku usaha sejenis yang beroperasi di wilayah yang sama dengan wilayah

53

operasi pasar Pondok Labu. 2) Penghimpunan permodalan masih menjadi kelemahan pengurus, karena saat ini pengurus hanya mengandalkan modal dari anggota (85%), padahal untuk memperoleh permodalan sudah banyak pihak (perbankan) yang menawarkan modalnya, namun belum dapat memanfaatkan secara optimal. 3) Pelaksanaan one man one vote, terdapat dua pola, pola pertama dilakukan secara langsung artinya semua anggota memberikan suaranya secara langsung pada Rapat Anggota, dan pola kedua dengan cara perwakilan. 4) Laporan keuangan tahun buku 2009, tercatat semua transaksi keuangan yang terjadi pada koperasi telah dicatat oleh bagian administrasi keuangan secara rapih dan baik, terbuka, dan benar, sementara dilihat dari format penyajian laporan sangat mudah dimengerti oleh pihak-pihak yang bekepentingan. c) Prinsip Pembagian Sisa Hasil Usaha Dalam koperasi, keuntungan yang diperoleh disebut sebagai sisa hasil usaha (SHU). SHU adalah selisih antara pendapatan yang diperoleh dengan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam pengelolaan koperasi. Pendapatan koperasi diperoleh dari pelayanan anggota dan masyarakat. Setiap anggota yang memberikan partisipasi aktif dalam usaha koperasi akan mendapat bagian sisa hasil usaha yang lebih besar dari pada anggota yang pasif. Anggota yang menggunakan jasa koperasi akan membayar nilai jasa tersebut terhadap koperasi, dan nilai jasa yang diperoleh dari anggota tersebut akan

54

diperhitungkan pada saat pembagian sisa hasil usaha. Transaksi antara anggota dan koperasi inilah yang dimaksud dengan jasa usaha. Makna dari prinsip ini dapat disimpulkan sebagai berikut : 1) Koperasi bukanlah badan usaha yang berwatak kapitalis sehingga SHU yang dibagi kepada anggota (di badan usaha swata disebut dividen) tidak berdasarkan modal yang dimiliki anggota dalam koperasinya, tetapi berdasarkan kontribusi jasa usaha yang diberikan anggota kepada koperasinya. Dengan kata lain, semakin banyak seorang anggota melakukan transaksi bisnis (jual beli) dengan koperasinya, maka semakin besar SHU yang diterima. Prinsip ini tentunya berlaku apabila koperasinya tidak mengalami kerugian; 2) Koperasi Indonesia tetap konsisten untuk mewujudkan nilai-nilai keadilan dalam kehidupan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan, pada tahun buku 2009, koperasi pasar Pondok Labu berhasil mendapatkan keuntungan usaha sebesar Rp. 254,023,900.00,-. Dari jumlah keuntungan tersebut terdapat pengeluaran

biaya sebesar Rp. 149, 463,781.53,- sehingga terdapat SHU sebesar Rp. 104,560,118.47,-. Dari jumlah SHU tersebut, berdasarkan laporan

pelaksanaan RAT 2010, jasa SHU yang dibagikan atas jasa simpanan dan jasa atas usaha sebesar 25%, sisanya diperuntukkan bagi cadangan koperasi, dana sosial, dan lain-lain. Dalam prinsip-prinsip koperasi, anggota berhak menerima sebagian keuntungan yang diperoleh koperasinya, agar tercermin asas keadilan,

55

demokrasi, transparansi, dan sesuai dengan prinsip-prinsip koperasi, maka perlu diperhatikan prinsip-prinsip pembagian SHU. Pada hakekatnya SHU yang dibagi kepada anggota adalah yang bersumber dari anggota sendiri. Sedangkan SHU yang bukan berasal dari hasil transaksi dengan anggota pada dasarnya tidak dibagi kepada anggota, melainkan dijadikan sebagai dana cadangan koperasi. Dalam kasus koperasi tertentu, bila SHU yang bersumber dari non anggota cukup besar, maka rapat anggota dapat menetapkannya untuk dibagi secara merata sepanjang tidak membebani likuiditas koperasi. Pada koperasi yang pengelolaan pembukuannya sudah baik, biasanya terdapat

pemisahan cumber SHU yang berasal dari anggota dengan yang berasal dari nonanggota. Oleh sebab itu, langkah pertama dalam pembagian SHU adalah memilahkan yang bersumber dari hasil transaksi usaha dengan anggota dan yang bersumber dari non anggota. Sebenarnya belum ada formula yang baku mengenai penentuan proporsi jasa modal dan jasa transaksi usaha, tetapi hal ini dapat dilihat dari struktur permodalan koperasi itu sendiri. Pembagian SHU dapat dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa usaha masingmasing anggota atau partisipasi ekonomi anggota. Anggota-anggota menyumbang secara adil dan mengendalikannya secara demokrasi terhdap modal koperasi mereka. Sekurang-kurangnya sebagian dari modal tersebut biasanya merupakan milik bersama dari koperasi dan angota-anggota biasanya menerima kompensasi yang terbatas terhadap modal.

56

Pembagian SHU yang dilakukan koperasi pasar Pondok Labu berdasarkan laporan keuangan tahun buku 2009 adalah sebagai berikut: 1) Cadangan Koperasi 2) Cadangan Simpana Wajib 3) Jasa Atas Simpanan 4) Jasa Atas Usaha 5) Dana Pengurus 6) Dana Karyawan 7) Dana Pendidikan 8) Dana Sosial 9) Dana Pemda 25% 20% 10% 15% 10% 10% 3% 6% 1%

Dengan proporsi pembagian SHU diatas, maka prinsip pembagian sisa hasil usaha yang dilakukan koperasi pasar Pondok Labu sudah sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam AD/ART koperasi. Untuk pembagian SHU kepada anggota dalam AD/ART diberlakukan rumus atau cara penghitungan SHUA = JUA + JMA di mana: SHUA = Sisa Hasil Usaha Anggota, JUA=Jasa Usaha

Anggota dan JMA=Jasa Modal Anggota Dengan menggunakan model matematika, pembagian SHU kepada masing-masing anggota dapat dihitung sebagai berikut: SHUPa = Va x JUA + Sa x JMA VUK TMS di mana:

57

SHU Pa

= Sisa Hasil Usaha per Anggota

JUA = Jasa Usaha Anggota JMA = Jasa Modal Anggota Va UK Sa = Volume Usaha Angggota (total transaksi anggota) = Volume Usaha Total Koperasi (total transaksi koperasi) = Jumlah Simpanan Anggota

TMS = Total Modal Sendiri (simpanan anggota total) Bila SHU bagian anggota menurut AD/ART Koperasi pasar Pondok Labu adalah 25% dari total SHU, dan rapat anggota menetapkan bahwa SHU bagian anggota tersebut dibagi secara proporsional menurut jasa modal dan usaha, dengan pembagian Jasa Usaha Anggota sebesar 60%, dan Jasa Modal Anggota sebesar 40%, maka ada 2 cara menghitung persentase JUA dan JMA yaitu: JUA = 60% x 25% total SHU Koperasi setelah biaya pengeluaran = 15% dari total SHU Koperasi. JMA = 40% x 25% total SHU Koperasi setelah biaya pengeluaran = 10% dari total SHU Koperasi. Dengan model pembagian SHU demikian ternyata dapat diterima seluruh anggota dan memenuhi prinsip pembagian hasil sisa usaha yang berkeadilan dan proporsional. d) Prinsip Pemberian Balas Jasa Terhadap Modal Anggota adalah pemilik koperasi, sekaligus sebagai pemodal dan

58

pelanggan. Simpanan yang disetorkan oleh anggota kepada koperasi akan digunakan koperasi untuk melayani anggota. Apabila anggota menuntut pemberian tingkat suku bunga yang tinggi atas modal yang ditanamkan pada koperasi, maka hal tersebut berarti akan membebani dirinya sendiri, karena bunga modal tersebut akan menjadi bagian dari biaya pelayanan koperasi terhadapnya, sehingga tujuan berkoperasi untuk meningkatkan efisiensi dalam mencapai kepentingan ekonomi bersama tidak akan tercapai. Modal dalam koperasi pada dasarnya digunakan untuk melayani anggota dan masyarakat sekitarnya, dengan mengutamakan pelayanan bagi anggota. Dari pelayanan itu, diharapkan bahwa koperasi akan mendapatkan nilai lebih dari selisih antara biaya pelayanan dan pendapatan. Karena itu, balas jasa terhadap modal yang diberikan kepada anggota ataupun sebaliknya juga terbatas, tidak didasarkan semata-mata atas besarnya modal yang diberikan. Yang dimaksud dengan terbatas adalah pemberian balas jasa atas modal yang ditanamkan pada koperasi akan

disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki koperasi. Modal koperasi pasar Pondok Labu, selain berasal dari modal sendiri juga berasal dari modal luar yaitu modal penyertaan dari lembaga keuangan / Bank maupun dari institusi pemerintah. Dari Laporan RAT 2010 dapat dilihat bahwa jasa yang diberikan terhadap modal luar adalah sebagai berikut: 1) Modal dari Bank Mandiri sebesar Rp. 125,000,000,- diberikan jasa Rp. 11,887,542.53,- atau setara dengan bunga sebesar 9.5% dalam 1 tahun.

59

2) Modal dari Subsidi BMM (dari Sudin Koperasi Jaksel) sebesar Rp. 50,000,000,- diberikan jasa sebesar Rp. 6,000,000,- atau setara dengan bunga sebesar 12% dalam 1 (satu) tahun. Dari data diatas dapat diketahuai bahwa pemberian balas jasa terhadap modal besarnya tidak sama. Terkait dengan hal ini, pengurus periode 20092011 telah menetapkan untuk tidak menerima modal dari Sudin Koperasi Jaksel, karena jasa atau bunga yang dikenakan sangat membebani koperasi. Dari data diatas juga dapat diketahuai bahwa besarnya pemberian balas jasa terhadap modal merupakan ketetapan sepihak yang diberlakukan oleh pemilik modal, sedangkan untuk modal dari anggota, besar balas jasa terhadap modal diberlakukan sesuai dengan AD/ART yang ada. e) Prinsip Kemandirian Kemandirian pada koperasi dimaksudkan bahwa koperasi harus mampu berdiri sendiri dalam hal pengambilan keputusan usaha dan organisasi. Mandiri berarti dapat berdiri sendiri tanpa tergantung pada pihak lain. Prinsip ini pada hakekatnya merupakan faktor pendorong (motivator) bagi koperasi untuk meningkatkan keyakinan akan kekuatan sendiri dalam mencapai tujuan. Dalam UU No.25/92, prinsip ini dikemas dalam "Swadaya, Swakerta, dan Swasembada" merupakan prinsip yang menggambarkan adanya percaya pada diri sendiri. Swadaya berarti kekuatan atau usaha sendiri, Swakerta mengandung arti mengerjakan atau membuat sendiri, dan Swasembada bermakna mencukupi dengan kemampuan sendiri.

60

Dalam kemandirian terkandung pula pengertian otonomi, dan keberanian untuk mempertanggungjawabkan segala tindakan atau perbuatan sendiri dalam pengelolaan usaha dan organisasi. Dengan demikian koperasi harus dapat berdiri sendiri dan tidak bergantung pada pihak lain serta dalam menjalankan usahanya harus dilandasi dengan kepercayaan,

pertimbangan, keputusan, kemampuan, dan usaha sendiri. Kemandirian pada koperasi pasar Pondok Labu yang bergerak dalam bidang usaha simpan pinjam, mengandung makna bahwa kemandirian dalam hal ini adalah kemandirian dalam hal permodalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal koperasi pasar Pondok Labu saat ini didomonasi oleh modal sendiri yakni sebesar 85% dan modal luar sebesar 15% dari keseluruhan modal. Dengan demikian pengelolaan koperasi pasar Pondok Labu dalam menerapkan prinsip kemandirian akan ditinjau dari faktor pengambilan keputusan dan faktor kemandirian dalam membiayai usaha yang dilakukan. Dalam suatu wawancara dengan pengurus koperasi, dapat diketahui bahwa atas nama anggota, pengurus koperasi mampu memutuskan dengan bijaksana terhadap berbagai masalah yang dihadapi koperasi, salah satu contoh adalah keputusan untuk tidak menerima dana pinjaman dari Sudin Koperasi Jaksel, hal ini dilakukan karena persyaratan terhadap balas jasa (bunga) lebih tinggi dari apa yang menjadi standar koperasi. Dengan penolakan terhadap masuknya modal tersebut maka koperasi telah berupaya seoptimal mungkin untuk dapat mandiri di bidang permodalan, termasuk menghimpun modal penyertaan khusus dari anggota.

61

Namun demikian, mengingat potensi untuk mengembangkan usaha pada koperasi cukup besar, maka masuknya modal luar yang memenuhi ketetapan atau persyaratan koperasi khususnya dalam hal suku bunga, perlu untuk ditingkatkan. f) Prinsip Pendidikan Perkoperasian Organisasi koperasi dikatakan sehat apabila kesadaran anggota koperasi tinggi, AD/ART dilaksanakan, rapat anggota/pengurus/badan pengawas dapat berfungsi secara optimal. Kesehatan mental koperasi dapat dilihat dari besarnya tanggung jawab rapat anggota/pengurus/badan pengawas, pengelolaan koperasi berdasarkan kemanusiaan/kekeluargaan, keterbukaan, kejujuran, dan keadilan, konflik-konflik disfungsional dapat diatasi, dan koperasi dapat hidup mandiri serta yang tidak kalah penting adalah program pendidikan koperasi dilaksanakan secara rutin. Dari hasil penelitian melalui wawancara dengan pengurus dan laporan RAT 2010, pengurus koperasi selama tahun buku 2009 tidak melakukan pendidikan perkoperasian baik kepada pengurus maupun anggota, meskipun dana pendidikan telah dialokasikan sebesar Rp. 5,166,710,-. Dengan hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa koperasi pasar Pondok Labu belum melaksanakan prinsip pendidikan perkoperasian secara baik. Dalam berbagai teori tentang koperasi, keberhasilan pemberdayaan koperasi ditentukan oleh kemampuan pengurus dan anggotanya. Sebagai pengurus mereka dituntut mampu membuat kebijakan yang baik, dalam

62

kaitan

ini

idealnya

pengurus

harus

berkualitas,

yaitu

memiliki

kemampuan, berwawasan luas, dan solidaritas yang kuat dalam mewujudkan tujuan berkoperasi, dan sebagai anggota, mereka harus mengetahui dan memahami tujuan koperasi, manfaat terhadap dirinya dan cara organisasi itu dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu, baik pengurus maupun anggota perlu mendapat pendidikan yang memadai tentang koperasi. Pendidikan tentang perkoperasian merupakan bagian yang tidak terpisahkan (bahkan sangat penting) dalam mewujudkan koperasi yang berkualitas. Melalui pendidikan, pengurus dan anggota dipersiapkan untuk memahami dan menghayati prinsip dan praktik dalam berkoperasi. Inti dari prinsip ini ialah bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia koperasi memegang peran sangat vital dalam mengoptimalkan pemberdayaan koperasi. g) Prinsip Kerjasama Antar Koperasi Koperasi ada yang mempunyai bidang usaha yang sama dan ada pula usaha yang berbeda serta tingkatan yang berbeda. Pada masingmasing usaha tersebut disadari bahwa kemampuan koperasi masih bervariasi, namun koperasi-koperasi tersebut pada dasarnya mengemban misi yang sama yaitu meningkatkan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa koperasi pasar Pondok Labu sampai dengan tahun buku 2009 belum melakukan kerjasama dengan koperasi

63

lain, baik untuk bidang usaha maupun permodalan termasuk juga dalam hal kerjasama pendidikan perkoperasian. Untuk mencapai tujuan koperasi, masing-masing koperasi memiliki kelebihan dan kekurangannya, untuk saling memanfaatkan kelebihan dan menutupi kelemahan masing-masing, maka koperasi perlu melakukan kerjasama. Kerjasama antar koperasi dimaksudkan agar dapat saling menunjang pendayagunaan sumber daya sehingga diperoleh hasil yang lebih optimal. Tentunya banyak keuntungan yang diperoleh apabila kerjasama antar koperasi ini berjalan dengan baik, misalnya kerjasama dalam promosi hasil-hasil produksi anggota koperasi, kerjasama dalam mengatasi penetrasi pasar, kerjasama dalam tukar menukar informasi bisnis, dan kerjasama pada bidang lain yang bermanfaat bagi koperasi. Dengan melaksanakan keseluruhan prinsip-prinsip koperasi diatas, koperasi pasar Pondok Labu diharapkan dapat mewujudkan dirinya sebagai badan usaha sekaligus juga merupakan sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berwatak sosial,

wadah kekuatan ekonomi rakyat, mensejahterakan anggota dan ketahanan perekonomian di wilayahnya. C. Pengaruh Faktor Eksternal

mendukung

Di Indonesia, ukuran keberhasilan koperasi seringkali didasarkan pada penilaian pemerintah terhadap pencapaian target yang sudah ditetapkan dan kurang mempertimbangkan aspek kepuasan anggota sebagai tolok ukur keberhasilan koperasi. Dengan berpedoman pada manajemen koperasi dimana rapat anggota

64

mempunyai kekuasaan tertinggi, maka pengurus koperasi harus berhasil dalam menjalankan kegiatan operasionalnya sehingga anggota bisa merasa puas atas kinerja koperasinya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa apa yang dihasilkan koperasi sebagai sistem terbuka pada hakikatnya dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal yaitu: kondisi wilayah dan kebijakan pemerintah. 1. Kondisi Wilayah Kondisi lingkungan yang memungkinkan untuk pemberdayaan koperasi, adalah: adanya semangat gotong-royong, tidak ada kekuatan monopolis, persaingan yang sehat serta potensi ekonomi yang terdapat di wilayah setempat, selain itu, pelayanan birokrasi, pendidikan, penyuluhan, sarana perhubungan dan pengangkutan serta perkreditan, akan dapat memberikan kontribusi terhadap pemberdayaan koperasi. Dasil pengamatan yang mendalam terhadap kondisi wilayah operasional koperasi pasar Pondok Labu, dapat dikatakan sangat potensial untuk mengembangkan dan memberdayakan perekonomian di wilayah ini melalui usaha koperasi, karena wilayah operasional koperasi ini adalah tempat berkumpulnya pedagang dalam melakukan transaksi keuangan atau pasar, dan di wilayah ini terdapat sejumlah pertokoan serta 2 (dua) lokasi pasar bayangan (pasar tidak resmi) yang banyak dikunjungi oleh masyarakat sekitar wilayah ini yaitu masyarakat dari pinggiran wilayah kota Depok dan Tangerang Selatan, bahkan tidak jarang banyak pedagang sayur mayur yang datang dari wilayah Bogor

65

melakukan transaksi jual beli di wilayah ini. Dengan kondisi wilayah yang demikian strategis sangat mendukung upaya pemberdayaan koperasi. Hasil kajian terhadap pengaruh kondisi wilayah, penulis dapat mengetahui bahwa koperasi pasar Pondok Labu belum dapat memanfaatkannya secara maksimal. Hal ini terindikasi dari kenyataan bahwa jumlah pedagang (pasar) baik pedagang di pasar resmi (milik pemerintah) maupun pedagang di pasar bayangan (milik perorangan) yang berada di wilayah operasional koperasi, ternyata jumlahnya jauh lebih banyak dari jumlah pedagang yang menjadi anggota koperasi (pedagang yang menjadi anggota koperasi 102 orang, sementara jumlah pedagang resmi (yang memiliki tempat usaha) di wilayah tersebut mencapai jumlah 272 orang), ini belum termasuk pedagang di pertokoan yang berada di pinggir jalan raya sekitar wilayah operasional koperasi Pasar pondok Labu. Dari survey yang dilakukan, penulis dapat mengetahui bahwa sebagian pedagang untuk mendapatkan modal usaha, mereka menggunakan jasa keuangan perorangan yang bunganya jauh lebih tinggi dari pada apa yang seharusnya dibayarkan kepada koperasi. Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara dengan ketua koperasi pasar Pondok Labu, bahwa sebagian pedagang masih menggunakan jasa “rentenir” untuk menambah modal usahanya. Melihat kenyataan ini, akan semakin memperkuat keyakinan penulis bahwa koperasi pasar Pondok Labu belum mampu memanfaatkan secara maksimal kondisi wilayah untuk

memberdayakan koperasi.

66

2. Kebijakan Pemerintah Dalam sistem perekonomian Indonesia dikenal ada tiga pilar utama yang menyangga perekonomian. Ketiga pilar itu adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Swasta (BUMS), dan Koperasi. Ketiga pilar ekonomi tersebut mempunyai peranan yang masing-masing sangat spesifik sesuai dengan kapasitasnya. Dari ketiga pilar tersebut, ternyata koperasi yang sering disebut sebagai soko guru perekonomian nasinal secara umum merupakan pilar ekonomi yang "jalannya paling terseok" dibandingkan dengan BUMN dan apalagi BUMS Widiyanto (1998). Dalam penjelasan regulasi juga disebutkan bahwa sistem ekonomi Indonesia didasarkan pada asas Demokrasi Ekonomi, di mana produksi dilakukan oleh semua dan untuk semua yang wujudnya dapat ditafsirkan sebagai koperasi. Dalam wacana sistem ekonomi dunia, koperasi disebut juga sebagai the third way, atau "jalan ketiga", istilah yang akhir-akhir ini dipopulerkan oleh sosiolog Inggris, Anthony Giddens, yaitu sebagai "jalan tengah" antara kapitalisme dan sosialisme (Rahardjo, 2002b). Dukungan pemerintah yang cukup besar kepada koperasi dapat dilihat dari dikeluarkannya regulasi yang mengatur tentang perkoperasian. Pemerintah berharap melalui kegiatan berkoperasi akan dapat memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai sokogurunya. Seiring dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, Chatib (2006) menyebutkan bahwa, kebijakan yang ditempuh dalam menyikapi perubahan saat ini yang mendorong lebih kuatnya

67

pelaksanaan otonomi daerah adalah menciptakan lingkungan iklim yang kondusif bagi dunia usaha dengan peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah dan Pusat untuk pembinaan dan pengembangan koperasi; mengembangkan usaha di bidang jasa keuangan dengan mengembangkan lembaga kredit pada koperasi kredit dan koperasi simpan pinjam; melakukan kerjasama antar koperasi dalam mengembangkan potensi usaha yang ada untuk bersaing dengan pelaku usaha, baik dari dalam negeri maupun luar negeri apalagi dalam era pasar bebas. Dengan demikian kebijakan pemerintah untuk mendukung pemberdayaan koperasi sudah cukup jelas. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa, kebijakan pemerintah baik Pusat maupun Daerah dalam pemberdayaan koperasi dan UMKM selama ini, baru sebagian kecil saja yang dapat dinikmati oleh koperasi pasar Pondok Labu, misalnya saja dalam kurun waktu tahun 2005 sampai dengan tahun 2009, koperasi hanya memperoleh satu kali kesempatan untuk mengikuti program pendidikan perkoperasian yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah (dalam hal ini Sudin Koperasi dan UKM Jakarta Selatan), itupun hanya untuk satu orang pengurus. Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara dengan ketua koperasi yang menyatakan bahwa, kebijakan pembinaan dan pengembangan untuk mengoptimalkan pemberdayaan koperasi pasar Pondok Labu guna meningkatkan kesejahteraan anggota dalam rangka mendukung ketahanan ekonomi wilayah, selam ini masih sangat kurang. Dukungan dari pemerintah yang selama ini dirasakan manfaatnya oleh koperasi pasar Pondok labu adalah kesediaan beberapa pejabat dari dinas koperasi Jakarta Selatan dan Koperasi Provinsi DKI Jakarta untuk menjadi Ketua

68

kehormatan sekaligus sebagai penasehat pada koperasi ini, dan juga kesediaan untuk menghadiri beberapa acara yang terkait dengan kegiatan koperasi pasar Pondok labu.

69

BAB IV STRATEGI PEMBERDAYAAN KOPERASI PASAR PONDOK LABU A. Strategi Dasar Pemberdayaan Koperasi Strategi pemberdayaan koperasi adalah upaya yang berkelanjutan terhadap koperasi untuk terus maju dan berfungsi dengan baik melalui aplikasi strategi, yang disertai kemampuan melakukan upaya yang maksimal. Sesuai dengan pemikiran dasar terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja koperasi sehingga belum dapat meningkatkan kesejahteraan anggota dan belum mampu mendukung ketahanan ekonomi wilayah, maka strategi pemberdayaan koperasi pasar Pondok Labu guna meningkatkan kesejahteraan anggota dalam rangka mendukung ketahanan ekonomi wilayah, akan difokuskan pada upaya mengoptimalkan berbagai pengaruh tersebut agar dapat mendukung kinerja koperasi secara optimal, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan anggota dan ketahanan ekonomi wilayah, yang diilustrasikan pada Gambar-4.
FAKTOR EKSTERNAL KONDISI WILAYAH DAN KIBIJAKAN PEMERINTAH DIOPTIMALKAN KINERJA KOPERASI OPTIMAL

SISA HASIL USAHA MENING KAT

KESEJAHTER AAN ANGGOTA MENINGKAT

MAMPU MENDUKU NGKETAH ANAN EKONOMI WILAYAH

FAKTOR INTERNAL PARTISIPASI ANGGOTA PENGELOLAAN KOPERASI DIOPTIMALKAN

Gambar-4. Ilustrasi strategi pemberdayaan koperasi pasar Pondok Labu

64

70

B. Optimalisasi Faktor Internal Pada pembahasan sebelumnya telah disampaikan bahwa faktor internal koperasi mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kinerja suatu koperasi, oleh karena itu faktor internal tersebut perlu dioptimalkan, yaitu dari sisi anggota dan dari sisi pengelolaan koperasi. Dengan demikian pemberdayaan koperasi pasar Pondok Labu 64 akan difokuskan pada optimalisasi pemberdayaan anggota dan pengelolaan koperasi. 1. Pemberdayaan Anggota Keberadaan koperasi pasar Pondok Labu sangat dibutuhkan oleh para pedagang kecil di wilayah ini dan memiliki potensi besar dibidang perekonomian, oleh karena itu keberadaan anggota koperasi pasar Pondok Labu perlu diberdayakan secara maksimal. Pemberdayaan anggota dilakukan dengan strategi: 1. Meningkatkan partisipasi anggota pada setiap kegiatan koperasi; 2. Meningkatkan mutu layanan kepada anggota; 3. Meningkatkan insentif anggota; dan 4. Meningkatkan pengetahuan anggota tentang perkoperasian. Tujuan yang ingin dicapai dari strategi ini adalah membangun kesadaran anggota koperasi untuk berpartisipasi secara aktif. Sasaran dari strategi ini adalah meningkatnya partisipasi anggota pada berbagai kegiatan koperasi. Metode atau cara yang dipilih untuk melaksanakan strategi ini adalah dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya.

71

2. Pengelolaan Koperasi Pemberdayaan koperasi dari sisi pengelolaan akan dilakukan sesuai prinsipprinsip manajemen dalam pengelolaan koperasi dengan strategi sebagai berikut: a) Menerapkan pengelolaan keanggotaan secara sukarela dan terbuka b) Menerapkan pengelolaan secara demokratis c) Membagikan sisa hasil usaha secara proporsional d) Memberikan balas jasa terhadap modal secara proporsional e) Menerapkan prinsip kemandirian secara proporsional f) Meningkatkan pengetahuan perkoperasian kepada pengelola g) Melakukan kerjasama antar koperasi Tujuan yang ingin dicapai dari strategi ini adalah meningkatkan kesejahteraan anggota secara optimal. Sasaran dari strategi ini adalah meningkatnya kinerja pengelola koperasi pasar Pondok Labu. Metode atau cara yang dipilih untuk melaksanakan strategi ini adalah dengan meningkatkan kemampuan manajemen pengelolaan koperasi. C. Optimalisasi Faktor Eksternal Secara kelembagaan, sebuah koperasi merupakan suatu organisasi resmi yang didirikan dan dijalankan oleh anggota sebagai sebuah unit operasi yang sering disebut sebagai perusahaan koperasi. Fungsi koperasi seperti unit-unit ekonomi resmi lainnya adalah memberikan jasa-jasa komersial dan keuangan, memasarkan produk-produk industri dan lain-lain. Demikian halnya dengan keberadaan koperasi pasar Pondok

72

Labu yang telah dijadikan wadah berhimpunnya pedagang kecil dan menengah yang berada di wilayah tersebut dalam rangka meningkatkan posisi tawar mereka, oleh karena itu diantara anggota saling menjalin hubungan agar koperasi mereka semakin kuat dan memiliki daya tahan terhadap berbagai pengaruh baik dari dalam organisasi itu sendiri maupun dari luar organisasi demi menjaga kepentingan anggotaanggotanya. Satu aliran teori baru kelembagaan seperti ditulis North (1990) menyatakan bahwa fokus utama penguatan kelembagaan adalah pada masalah kerjasama. Definisidefinisi dari teori North mengenai kelembagaan-kelembagaan dan organisasiorganisasi sangat berguna dalam membuat suatu gambaran yang lengkap perkembangan suatu koperasi. Salah satu pembahasan mengenai koperasi dilihat dari perspektif teori baru kelembagaan tersebut dapat dilihat dari apa yang pernah ditulis oleh Conry dkk, (1986). Mereka memfokuskan pembahasan pada faktor-faktor kelembagaan yang mempengaruhi perkembangan suatu organisasi usaha yang beroperasi di pasar-pasar pertanian, yakni koperasi pertanian. Konsep yang dituliskan Conry yaitu koperasi pertanian dapat berkembang dan beroperasi dalam konteks-konteks kelembagaan ekonomi, budaya dan dalam sistem yang legal. Konsep dari Conry dkk, menjelaskan bahwa kelembagaan-kelembagaan informal, formal dan pasar tidak beroperasi secara terisolasi, melainkan saling mempengaruhi satu dengan lainnya yang dapat positif maupun negatif, sebagimana digambarkan pada Gambar-5.

73

Gambar-5: Integrasi operasional kelembagaan koperasi, dikutip dari Conry dkk. (1986)

Salah satu aspek yang perlu untuk diperhatikan dalam penguatan kelembagaan dan daya tahan koperasi adalah adanya faktor perekat dalam koperasi. Dalam penelitian ini, adanya perekat antara kondisi wilayah dan kebijakan pemerintah harus saling mendukung terhadap operasional koperasi, sehingga keberhasilan koperasi selain berorientasi kepada kepentingan ekonomi anggota juga dapat mendukung kepentingan ekonomi wilayah dan

kepentingan ekonomi nasional. Dengan demikian, strategi yang diperlukan untuk penguatan kelembagaan dan peningkatan daya tahan koperasi adalah adanya komitmen yang kuat dan sekaligus upaya nyata dari pihak-pihak terkait khususnya lembaga koperasi dan pemerintah.

74

Dalam optimalisasi pengaruh faktor eksternal, konsep pemberdayaan koperasi difokuskan pada pengaruh faktor kondisi wilayah dan faktor kebijakan pemerintah yang digambarkan sebagai mana dapat dilihat pada Gambar-6.

Gambar-6. Optimalisasi pengaruh faktor eksternal untuk pemberdayaan koperasi.

Gambar diatas menunjukkan area dimana terdapat faktor-faktor berpengaruh yang dapat dijelaskan sebagai berikut: Area Ab, Operasional Koperasi hanya berorientasi pada kondisi wilayah tanpa memperhatikan kebijakan pemerintah. Area Ac, Operasional Koperasi yang disetujui pemerintah atau didukung oleh kebijakan pemerintah tanpa memperhatikan kondisi wilayah. Area Aa merupakan kondisi yang ideal untuk pemberdayaan koperasi yakni mencakup faktor kondisi wilayah dan kebijakan pemerintah yang saling mendukung operasional koperasi.

75

-

Area d, berada diluar wilayah operasional koperasi.

Strategi untuk optimalisasi faktor eksternal tersebut adalah optimalisasi faktor kondisi wilayah dan faktor kebijakan pemerintah, strategi ini dipilih dengan tujuan untuk memperkuat organisasi koperasi dalam upaya mendukung ketahanan ekonomi wilayah. Sasaran strategi ini adalah meningkatnya posisi atau kedudukan koperasi baik dari sisi legalitas maupun dari sisi keberadaan organisasinya. Metode yang digunakan untuk melaksanakan strategi ini adalah dengan mengkaji keberadaan koperasi, melakukan sosialisasi terhadap perkembangan koperasi dan melakukan kerjasama dengan berbagai pihak dalam pelaksanaan kegiatan koperasi. Dengan menerapkan konsep diatas, diharapkan koperasi akan dapat diberdayakan secara optimal, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan anggota dan ketahanan ekonomi wilayah. D. Upaya yang perlu dilakukan 1. Upaya yang dilakukan untuk melaksanakan strategi optimalisasi faktor internal adalah sebagai berikut: a)Upaya meningkatkan pemberdayaan anggota 1) Meningkatkan partisipasi anggota; Sebuah koperasi dikatakan berhasil atau sukses jika mampu meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Koperasi dapat mensejahterahkan anggotanya, karena ia menciptakan nilai tambah dari usaha mereka dan anggota bisa memperoleh nilai tambah jika mereka mau berpartisipasi dalam koperasinya. Dengan demikian semakin sering

76

anggota berpartisipasi, semakin besar nilai tambah yang mereka dapatkan. Agar partisipasi dapat meningkat, maka pengurus koperasi harus mampu menunjukkan kinerja yang baik, dengan kinerja yang baik akan dapat memberikan nilai tambah kepada anggota. 2) Meningkatkan mutu layanan kepada anggota; Dalam konteks koperasi, mutu layanan adalah kriteria organisasional. Kriteria organisasional berkaitan dengan kemampuan organisasi untuk menghasilkan keluaran yang terbaik dari sumberdaya yang dimiliki dan dikelola. Kriteria ini melihat efektivitas organisasi koperasi dalam memuaskan anggota melalui proses pelayanannya. Dengan demikian setiap segala gerak langkah koperasi harus selalu ditujukan untuk memenuhi kebutuhan anggotanya. Perhatian terhadap kepentingan anggota dengan cara melihat kebutuhan serta kepuasan atas pelayanan menjadi faktor kunci untuk keberhasilan usaha di tengah iklim persaingan yang semakin ketat saat ini. 3) Memberikan insentif yang menarik kepada anggota; Di dalam Pernyataan Standar Akuntansi Koperasi No. 27, tahun 1999 paragrap 80, secara tegas disebutkan bahwa manfaat ekonomi langsung bagi anggota koperasi adalah berupa manfaat harga, yaitu harga barang dan jasa (dalam pembelian dan penjualan) dan harga uang (bunga uang dalam simpan pinjam). Di dalam pemasaran atau penjualan, manfaat harga berupa selisih harga antara harga yang dibayar oleh non koperasi kepada anggota. Dalam koperasi simpan pinjam maka insentif yang dapat diberikan kepada anggota diantaranya adalah bunga kredit yang dibayarkan anggota kepada koperasi lebih rendah

77

dari bunga kredit yang berlaku di luar koperasi, hal ini biasa disebut manfaat efisiensi penarikan kredit dan manfaat lain misalnya dalam bentuk biaya transaksi kredit yang murah, persyaratan kredit yang ringan dan lain-lain. Dengan demikian, kinerja pengelola koperasi harus mampu ditingkatkan untuk menjaga dan mengamankan kekayaan para anggotanya yang sudah tertanam dalam koperasi sehingga kepercayaaan anggota akan terbentuk dan pada akhirnya anggota akan bersedia menanamkan modalnya lebih besar di koperasi. 4) Melakukan pendidikan perkoperasian kepada anggota; Pendidikan tentang perkoperasian kepada anggota meliputi pengertian koperasi, nilainilai moral koperasi yaitu nilai menolong diri sendiri, tanggung jawab sendiri, demokrasi, persamaan, keadilan dan kesetiakawanan serta nilai-nilai etis dari kejujuran, keterbukaan, tanggung jawab sosial serta kepedulian terhadap orang lain dan prinsip-prinsip kerja koperasi yang non kapitalis dan berwatak sosial dengan program pendidikan moral koperasi. Dengan pemahaman anggota terhadap koperasi yang semakin meningkat, akan mempermudah terjalinnya komunikasi yang harmonis antara pengelola koperasi dengan para anggotanya, sehingga dapat menghindari segala bentuk kesalahpahaman dan perselisihan yang mungkin saja terjadi. b) Upaya meningkatkan pengelolaan koperasi 1) Pengurus koperasi membuat database keanggotaan dan melakukan evaluasi terhadap persyaratan untuk menjadi anggota serta

mengkonsultasikan pada rapat anggota tahunan.

78

2) Pengurus koperasi membuat laporan kondisi koperasi secara berkala setiap 3 (tiga) bulan sekali dengan penyajian yang lebih transparan dan mudah dimengerti oleh seluruh anggota. 3) Pengurus koperasi sebelum membagikan sisa hasil usaha perlu mengkonsultasikan pada rapat anggota. 4) Pengurus koperasi melakukan evaluasi pemberian balas jasa terhadap modal yang dapat menjadi beban biaya operasional koperasi, dan segera melakukan penyelesaian terhadap sisa pinjaman bank yang mensyaratka jasa cukup tinggi. 5) Pengurus koperasi tenaga pemasaran yang memiliki kemampuan dibidang pemasaran produk koperasi, disertai persyaratan lain yaitu mengenal kondisi wilayah operasional koperasi pasar Pondok Labu 6) Pengurus koperasi meningkatkan pengetahuan perkoperasian kepada pengelola koperasi melaui pendidikan, pelatihan dan seminar-seminar. 7) Pengurus koperasi meningkatkan kerjasama dengan lembaga keuangan baik lembaga keuangan pemerintah maupun swasta dalam rangka menambah permodalan koperasi, disertai syarat-syarat yang menguntungkan kedua belah pihak. 8) Pengurus koperasi meningkatkan kerjasama dengan institusi yang memiliki usaha sejenis dengan koperasi pasar Pondok Labu dalam rangka menciptakan persaingan usaha yang sehat dalam suasana yang kondusif.

79

9) Pengurus koperasi meningkatkan kerjasama dengan Pemerintah Daerah dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan sarana dan prasarana

pembangunan serta potensi sumberdaya daerah lainnya. 10) Pengurus koperasi meningkatkan meningkatkan kerjasama dengan pelaku-pelaku ekonomi di wilayah sekitar dalam rangka mengembangkan potensi sumberdaya lokal. 11) Pengurus koperasi meningkatkan kegiatan sosial untuk masyarakat sekitar dengan melibatkan secara aktif jajaran birokrasi maupun tokoh masyarakat setempat. 2. Upaya yang dilakukan untuk optimalisasi faktor

eksternal melalui strategi penguatan kelembagaan dan daya tahan koperasi adalah sebagai berikut: a) Pemerintah dalam hal ini Suku Dinas Koperasi Jakarta Selatan bekerjasama dengan koperasi di wilayah Jakarta Selatan menyusun standar dan metoda yang tepat untuk materi ajaran koperasi yang dapat mendukung kaderisasi koperasi di wilayahnya. b) Suku Dinas Koperasi Jakarta Selatan bekerjasama dengan koperasi pasar Pondok Labu melakukan penyuluhan serta pendidikan dan pelatihan kepada pengurus dan pembina koperasi dengan materi dan metoda yang disesuaikan dengan

80

kebutuhan dalam pengelolaan koperasi pasar Pondok Labu, agar mereka benar-benar memahami koperasi secara utuh. c) Pengurus dan pembina koperasi melakukan sosialisasi atau promosi kegiatan koperasi melalui media yang tepat, terarah dan terencana serta berkesinambungan. d) Suku Dinas Koperasi Jakarta Selatan mengkaji secara cermat bidang usaha yang mempunyai keunggulan komparatif yang tepat untuk diusahakan oleh koperasi dan sesuai dengan usaha anggotanya sebagai fokus pengembangan usaha koperasi. e) Pengurus dan pengelola koperasi melakukan dalam

melaksankan kegiatan koperasi hanya atas dasar perencanaan dan kelayakan bisnis bukan karena adanya suatu program yang diciptakan oleh pemerintah (sektoral di tingkat pusat). f) Pengurus dan pengelola koperasi membangun jaringan antara koperasi dengan lembaga usaha lainnya baik dalam keperluan pengadaan bahan baku dan teknologi maupun pemasaran hasil produksi. g) Pengurus dan pengelola koperasi merancang sekaligus melaksanakan model pendidikan dan latihan teknis usaha yang sesuai dengan kebutuhan pengembangan usaha anggota koperasi.

81

h) Suku Dinas Koperasi Jakarta Selatan menyerahkan sebagian besar tugas dan tanggung jawab pembinaan dan

pengembangan koperasi kepada gerakan koperasi itu sendiri.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Pada pembahasan bab-bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa pemberdayaan koperasi pasar Pondok Labu guna meningkatkan kesejahteraan anggota dalam rangka mendukung ketahanan ekonomi wilayah, dipengaruhi oleh faktor internal yaitu pemberdayaan anggota dan pengelolaan koperasi serta faktor eksternal yaitu kondisi wilayah dan kebijakan pemerintah. Hasil kajian terhadap kinerja koperasi pasar Pondok Labu dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Pemberdayaan anggota untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan koperasi masih kurang maksimal, padahal keanggotaan dalam koperasi merupakan salah

82

satu aspek penting dari keberhasilan suatu koperasi, karena maju mundurnya sebuah koperasi sangat ditentukan oleh tingkat partisipasi aktif anggota. 2. Pengelolaan koperasi, masih belum optimal pada beberapa hal yaitu: a) Penerapan prinsip demokratis, simpulan dari hasil kajian terindentifikasi bahwa pengurus koperasi belum optimal menerapkan prinsip tersebut, hal ini salah satunya terlihat pada saat pembahasan RK/RAPB pengurus hanya melibatkan 16% dari seluruh anggota, dimana yang ideal adalah pengurus menampung masukan-masukan dari seluruh anggota. b) Penerapan prinsip pemberian balas jasa terhadap modal, meskipun dalam implementasinya pengurus belum dapat mengoptimalkan pemanfaatan modal luar, namun secara konsep pengurus telah menerapkan prinsip pemberian balas jasa terhadap modal, baik modal sendiri maupun modal luar. 7 c) Penerapan prinsip kemandirian, kinerja koperasi pasar Pondok Labu dalam 1 menerapkan prinsip kemandirian dapat ditinjau dari faktor pengambilan keputusan dan faktor kemandirian dalam membiayai usaha yang dilakukan. Dari faktor pengambilan keputusan, pengurus secara tegas dapat dikatakan mampu mandiri, sementara dari faktor modal, meskipun saat ini sudah mampu mandiri, namun demikian, mengingat potensi untuk mengembangkan usaha pada koperasi cukup besar, maka masuknya modal luar yang memenuhi ketetapan persyaratan standar koperasi masih perlu untuk ditingkatkan. d) Penerapan prinsip pendidikan perkoperasian, kinerja koperasi dalam menerapkan prinsip pendidikan perkoperasian, selama kurun waktu 2006-2009 dapat dikatakan sangat buruk, hal ini terlihat dari hasil kajian bahwa pendidikan

83

perkoperasian terakhir berlangsung pada tahun 2005, itupun hanya satu orang staf koperasi yang melaksanakan pendidikan. e) Kinerja koperasi pasar Pondok Labu dalam menerapkan prinsip kerjasama antar koperasi masih sangat lemah, baik dalam bentuk kerjasama pemasaran, kerjasama permodalan maupun kerjasama pada bidang lain yang bermanfaat bagi koperasi. Dengan kinerja dan pengelolaan koperasi pasar Pondok Labu yang belum optimal, maka upaya untuk menghasilkan SHU yang maksimal belum tercapai, akibatnya upaya untuk meningkatkan kesejahteraan anggota juga belum optimal, meskipun pada tahun 2009 koperasi telah mampu menghasilkan SHU bersih sebesar lebih kurang 20% dari modal, namun masih perlu ditingkatkan, karena masih banyak potensi ekonomi yang belum dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh pengurus koperasi. 3. Kondisi wilayah dan kebijakan pemerintah dalam mendukung pemberdayaan koperasi, sangat memungkinkan untuk koperasi pasar Pondok Labu menjadi lebih berdayaguna dalam meningkatkan kesejahteraan anggota maupun dalam mendukung ketahanan ekonomi wilayah. Namun kebijakan pemerintah terhadap pembinaan dan pengembangan koperasi masih perlu ditingkatkan, sehingga peran koperasi pasar Pondok Labu dalam memberikan kontribusi terhadap perekonomian wilayah dapat maksimal. Dari penjelasan diatas, maka kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut: 1. Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Anggota

84

Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan anggota, koperasi pasar Pondok Labu hingga saat ini masih dihadapkan pada permasalahan pemberdayaan anggota dan pengelolaan koperasi yang belum optimal, sehingga SHU yang diperolehnya juga tidak optimal, akibatnya upaya untuk meningkatkan kesejahteraan anggota menjadi tidak optimal. 2. Upaya Mendukung Ketahanan Ekonomi Wilayah Pemberdayaan koperasi pasar Pondok Labu dalam rangka mendukung ketahanan ekonomi wilayah saat ini masih dipengaruhi oleh kondisi wilayah operasional koperasi pasar Pondok Labu dan kebijakan pemerintah dibidang koperasi. Kondisi Wilayah yang mempengaruhi, dari hasil kajian terhadap kinerja koperasi pasar Pondok Labu dalam memanfaatkan kondisi wilayah

operasionalnya, sampai saat ini masih belum maksimal, hal ini dapat dilihat dari masih banyaknya potensi ekonomi di wilayah ini yang belum mampu dimanfaatkan secara maksimal oleh koperasi, salah satunya adalah kebutuhan modal usaha bagi para pedagang yang jumlahnya cukup banyak di wilayah operasional koperasi masih belum bisa dilayani oleh koperasi. Sementara itu, pengaruh Kebijakan Pemerintah terhadap kinerja koperasi, dari hasil kajian memperlihatkan bahwa regulasi pemerintah dalam mendukung pemberdayaan cukup besar, namun implementasi dari kebijakan pemerintah untuk pembinaan dan pengembangan koperasi serta kebijakan terhadp akses potensi ekonomi daerah masih sangat kurang. Kondisi ini terjadi salah satunya diakibatkan belum optimalnya koperasi pasar Pondok Labu dalam melakukan kerjasama dengan suku dinas koperasi kota Jakarta Selatan.

85

B. Saran Untuk mendukung keberhasilan pemberdayaan koperasi pasar Pondok Labu guna meningkatkan kesejahteraan anggota dalam rangka mendukung ketahanan ekonomi wilayah, disarankan beberapa hal berikut : 1. Manajemen keanggotaan koperasi perlu dilakukan dengan manajemen tersendiri yang mencakup aktivitas rekrutasi anggota, pengembangan anggota, pemberian manfaat, pemeliharaan anggota, dan pemutusan hubungan keanggotaan. Jika manajemen keanggotaan berjalan secara efektif dan efesien maka partisipasi insentif akan meningkat. 2. Persyaratan untuk menjadi anggota koperasi pasar Pondok Labu yang selama ini terkesan memberatkan calon anggota (khususnya pedagang), perlu direvisi dengan mempertimbangkan perilaku atau track record calon anggota, sehingga persyaratan yang mengharuskan calon anggota memiliki kios selayaknya dipertimbangkan kembali. 3. Prinsip penerapan pendidikan perkoperasian baik kepada anggota maupun pengurus, perlu mendapatkan perhatian sungguh-sungguh dari pengelola, pendidikan perkoperasian perlu dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan. 4. Meskipun pemerintah mempunyai kewajiban untuk membina dan

mengembangkan koperasi, namun pengurus perlu untuk bertindak proaktif mencari informasi mengenai program pemerintah tentang perkoperasian yang dapat diikuti dan bermanfaat bagi koperasi pasar Pondok Labu. 5. Pengurus perlu berupaya untuk meningkatkan permodalan dalam rangka mengembangkan usaha koperasi, mengingat masih banyak potensi usaha yang

86

dapat dikembangkan oleh koperasi pasar Pondok Labu di wilayah Pondok Labu dan sekitarnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.