Kelompok 5 Sosiologi Umum Sistem pondok SISTEM PONDOK

Mayoritas migran sikuler berasal dari rumah tangga desa yang hanya memiliki lahan sempit dan mereka rata-rata berpendidikan rendah, pada umumnya mereka kurang mampu dan berketidakcukupan. Hal tersebut menjadikan mereka termotivasi untuk mau berusaha dan bekerja yaitu dengann cara menggunakan modal yang tidak terlalu besar dan peralatan yang mahal. Pada awalnya mereka telah melakukan usaha dengan menggunakan tenaga orang lain, namun hal tersebut tidak menarik bagi para pemilik modal. Para migran sirkuler kemudian bergerak dalam “usaha sisa’, mereka menggunakan peralatan yang sederhana dan modal terbatas serta keterampilan yang mudah dipelajari. Selain itu mereka juga pernah bekerja sebagai karyawan dalam proses pembuatan barang, sehingga memiliki pengalaman mengenai seluk beluk proses produksi. Keterbatasan yang mereka miliki diimbangi dengan melaksanakan asas kerukunan atau asas kegotongroyongan. Jenis-jenis “usaha sisa” yang mereka lakukan antara lain usaha membuat dan menjual makanan (makanan jajanan) atau minuman murah, usaha transportasi becak, usaha pengumpulan barang bekas untuk di daur ulang (kertas, plastik, logam, botol, karung bekas), usaha jual beli barang kebutuhan sehari-hari yang tidak tahan lama (sayur mayor, ikan basah) dan kerajinan tangan yang kurang laku jika di jual di toko. Dalam hal ini biasanya ‘azas kerukunan” atau azas kekeluargaan” menjadi sendi utama walaupun tujuan utama sistem pondok adalah keuntungan ekonomi. Dipihak pemilik modal menghendaki laba yang besar, sedangkan para penghuni pondok menghendaki penghasilan yang cukup sebagai sumber nafkah, dalam hal ini diperlukan hubungan yang selaras dan harmonis antara pemilik pondok dan karyawan. Macam Sistem Pondok Didasarkan kepada besarnya sumbangan tenaga kerja migran sirkuler dalam proses produksi dan penjualan hasil. 1. Sistem pondok dimana setiap anggota mempunyai kedudukan yang sama Setiap anggota memiliki taggung jawab yang sama terhadap usaha bersama. Dalam sistem pondok ini tidak dikenal majikan/bos/tauk dan juga tidak ada

. Kelompok ini dibentuk atas dasar gotong royong para anggota. Tugas pokok setiap anggota selama di kota adalah menjual barang dagangan sampai semua barang habis. semua hutang dilunasi dan semua biaya telah dibayar (transport. Hubungan dalam kelompok kuat.karyawan. tugas tersebut dirangkap oleh migran sirkuler tanpa di bebani tugas di luar perusahaan (misalnya tugas rumah tangga pemilik pondoh). Barang akan dikirimkan ke Bogor. Jumlah anggota kelompok rata-rata 8-12 orang. Proses pembentukan dimulai ketika beberapa penduduk desa (antara 8-12 orang) sepakat untuk bekerjasama dalam jual beli hasil kerajinan keramik. Mereka berjualan di kota rata-rata 30-40 hari dalam 1 siklus sirkulasi. Kepastian harga ditentukan berdasarkan tawar menawar harga dengan pembeli. Jika permintaan mereka di setujui maka Bandar akan memberi kredit berupa barang dagangan (misalnya sejumlah 1truk). pemondokan dll) maka hasil keuntungan dibagi sama rata di antara anggota. Pada waktu sedang berjualan setiap anggota diperbolehkan menggunakan sebagian uang milik bersama untuk keperluan makan. Sistem pondok dimana kedudukan pemilik pondok (pengusaha pondok) berkedudukan lebih mirip dengan “kepala rumah tangga” dari pada majikan dan kedudukan para penghuni pondok boro mirip dengan kedudukan”anggota rumah tangga” dari pada karyawan. Jumlah anggotanya biasanya sedikit karena tergolong jenis usaha rumah tangga. terdapat rasa saling percaya diantara sesama anggota. Modal usaha yang mereka gunakan diperoleh dari bantuan salah seorang “Bandar pengumpul” hasil kerajinan di mayong. kerusakan barang sesudah diserahkan kepada kelompok menjadi tanggung jawab kelompok serta kerusakan selama pengiriman merupakan tanggung jawab kelompok. Setelah sampai di tempat tujuan barang tersebut disimpan di rumah kontrakkan selama 1-2 bulan. Antara pemilik pondok boro dengan para pembantunya terdapat hubungan yang dilandasi “azas kekeluargaan”. Sistem pondok seperti disebut sebagi “sistem pondok gotong royong”. Dalam sistem ini tidak ada pembagian tugas pembuat barang dengan tugas menjual hasil. 2. Setelah semua barang terjual. Dalam hal ini pemilik pondok boro menyediakan penginapan.

sedikit biaya pengobatan serta kadang-kadang migrant sirkuler akan pulang ke desa. 3. Namun majikan tersebut tidak hanya mengelola proses produksi tetapi juga mengelola pemasaran hasil produksinya. Antara majikan dan penjual ada hubungan saling membutuhkan. dan majikan memberikan imbalan berupa upah yang jumlahnya telah ditetapkan. Hubungan dalam Sistem pondok ini mirip dengan hubungan dalam rumah tangga maka sistem ini disebut “sistem rumah tangga”. Tugas utama para penjual adalah bekerja memasarkan hasil produksi pondok boro. jaminan hidup (pangan) dan sedikit bantuan apibila karyawan sakit. Proses produksi pun harus di jual pada hari yang sama untuk menghindari kerugian. Selain itu majikan juga menyediakan tempat penginapan bagi para penjual. . Sistem pondok dimana telah dikenal diferensiasi tenaga yang bertugas dalam proses produksi (karyawan) dengan tenaga yang bertugas dalam pemasaran hasil produksi (penjual). Hubungan karyawan dengan majikan lebih erat daripada hubungan majikan dengan tenaga penjual. sampai ketika waktu mereka akan kembali ke desa. terkadang juga memberikan pinjaman uang kepada seorang penjual yang sedang membutuhkan bantuan karena dalam sistem pondok berlaku “azas kekeluargaan” dan biasanya pinjaman dibayar dengan cara angsuran. Pondok boro menjual “bakso” para migran sirkuler dari malang (Jatim) dan menjual sate ayam dari madura.kebutuhan pangan. rokok. sehingga pekerjaan memerlukan banyak tenaga kerja agar proses produksi dapat diselesaikan secara singkat. Kebiasaan ini menguntungkan karena penggunaan uang titipan lebih produktif dan majikan mendapat uang pinjaman untuk menambah modal tanpa bunga. bantuan penginapan. Namun. kebiasaan lain yang sering dilakukan adalah para migran sirkuler menitipkan uang penghasilan yang belum dikirimkan ke desa kepada majikan. Dalam pondok ini keddudukan pemilik pondok mirip dengan seorang “majikan” dalam perusahaan perseorangan. Tugas karyawan bekerja untuk proses produksi. Alasan pemilik ponok boro mengerahkan tenaga para penjual untuk membantu bekerja dalam pembuatan barang adalah belum digunakan teknologi dalam proses produksi. besar kecilnya untung majikan tergantung jumlah penjual yang tinggal di pondoknya.

oleh karena itu hubunganya renggang. dan bahan baku dibeli dari pemilik pondok. terdapat pemisahan antara pembuat krupuk dan penjual. . karena tidak memproduksi barang. Barang produksi dijual dengan tenaga sendiri ke pasar atau “ider”(bahasa sunda. Ada pula sistem pondok yang tidak punya karyawan. dan kekeluargaan yang kurang jelas. Krupuk mentahnya dibeli dan digoreng dengan alat milik majikan dan tempat majikan. Dalam sistem pondok ini biasanya telah digunakan peralatan/teknologi yang cukup produktif. Dalam sistem pondok ini pemilik pondok tidak berperan sebagai majikan dan para migran sirkuler tidak berperan sebagai karyawan. jawa) dari kampung ke kampung dengan peralatan pemilik pondok. Pemilik pondok hanya menyewakan tempat untuk penginapan. peralatan untuk menjual barang dan bahan baku untuk produksi. Sebagai imbalanya para migran sirkuler membayar uang sewa yang besarnya didasarkan pada kemampuan produksi masing-masing. mempunyai puluhan karyawan dan penjual sehingga lebih mirip dengan perusahaan perorangan. Para migrant yang tinggal di pondok boro berperan sebagai penyewa. Jawa Barat). Sistem ini dilaksanakan dalam pondok boro produksi tahu migran sirkuler dari ciamis (Jabar) di cimanggu (Bogor. karena hubungan pemilik pondok dengan migrant sirkuler ditandai hubungan sewa-menyewa. hanya menampung para penjual saja. Hubungan antar pemilik pondok boro dengan para migran sirkuler bersifat agak renggang karena atas dasar sewa menyewa. dan menjual produknya sendiri. namun mereka tidak mendapat upah atau jaminan makan. Sistem ini disebut “Sistem Pondok Sewa”. Selain keempat siistem pondok tersebut. Misalnya. mesin-mesin untuk produksi. pondok boro usaha krupuk (migran sirkuler dari Ciamis). Sistem Pondok di mana pemilik pondok tidak melibatkan diri dalam kegiatan produksi ataupun pemasaran barang. di tempat yang disediakan. Dalam memproduksi barang mereka menggunakan mesin dan peralatan milik pemilik pondok boro.Sistem ini dilaksanakan migran sirkuler dari Sumedang (Jawa Barat) dab Bumiayu (Jawa Tengah). terkadang menyewakan tempat usaha. produsen kecil yang mandiri. 4. ada pula sistem pondok campuran.

karena bertanggung jawab terhadap kehadiran migran sirkuler di pondoknya. Pondok boro produksi. Hampir semua pemilik pondok boro berperan sebagai pelindung penghuni pondok. Pondok boro dapat dibagi menjadi 3 jenis didasarkan pada kegiatan penghuninya. Warung tersebut selain untuk memenuhi kebutuhan para penghuni pondok. Pondok boro buruh. di mana pondok selain sebagai tempat kediaman juga untuk berproduksi. di mana penghuninya bekerja sebagai buruh. Misalnya pondok boro produksi tahu dan pondok boro produksi kerupuk. yaitu tanggung jawab terhadap urusan administrasi di tingkat RT/RW atau tingkat desa.Dalam berbagai macam pondok sering dilengkapi kantin/warung makan yang diselenggarakan pemilik pondok. 2. di mana penghuni pondok bekerja sebagai penjual barang. dan berusaha menjaga pondok boro tenang dan tentram sehingga migran sirkuler focus bekerja. 3. . misalnya penjual barang kerajinan daerah pedesaan. Pondok boro penjual. yaitu: 1. sebagai penjual sayur. misalnya pengemudi becak. juga dilakukan sebagai cara pendekatan pribadi kepada pemilik pondok boro.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful