You are on page 1of 12

PENELUSURAN SUMBER DAYA HAYATI LAUT (ALGA) SEBAGAI BIOTARGET INDUSTRI (MAKALAH) Oleh : Nama : Eri Bachtiar NIP

: 132317992 UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN JATINANGOR 2007 Lembar Pengesahan Judul : Penelusuran Sumber Daya Hayati Laut : Alga sebagai Biotarget Industri Nama Eri Bachtiar, S.Si., M.Si NIP 132317992 Tempat dan Tanggal Lahir Cianjur, 08 Oktober 1978 Jenis Kelamin Pria Pendidikan Tertinggi S2 Pangkat dan Golongan Ruang/TMT Penata muda TK.I (IIIb) / 01 April 2006 Jabatan Fungsional/TMT Asisten Ahli Fakultas/Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan Jatinangor, September 2007 Menyetujui : Ketua Program Studi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran Prof. Dr. H. Dulmi¶ad Iriana, Ir NIP. 130354281 Kata Pengantar Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul ´Penelusuran Sumber Daya Hayati Laut (Alga) sebagai Biotarget Industri´. Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun sangatlah diharapkan. Akhirnya penulis berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Jatinangor, 10 September 2007 Eri Bachtiar Pendahuluan Dua pertiga luas wilayah Indonesia adalah lautan yang mempunyai potensi sumberdaya alam yang sangat penting bagi kehidupan bangsa. Potensi tersebut perlu dikelola secara tepat agar dapat dimanfaatkan secara optimal dan lestari bagi kesejahteraan rakyat. Indonesia merupakan negara kepulauan yang membentang mulai dari 6oLU sampai 10oLS dan dari 95oBT sampai 142oBT, mempunyai 17.508 buah pulau besar dan kecil dengan garis pantai sepanjang 80.791 km. Indonesia merupakan salah satu anggota Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai keanekaragaman hayati dan salah satu dari tujuh negara yang mempunyai ´Mega Biodiversitas´ yang dikenal sebagai puisat konsentrasi keanekaragaman hayati

1928 Van Bosse. 17 % jenis burung. 1981 Karang Scleractinia Karang Lunak Gorgonia 461 210 350 Tomascik et al (1997) Hermanlimianto. 16 % reptil dan amphibi. Di laut tropika pada umumnya dicirikan dengan keragaman yang tinggi dari segi jumlah jenis. 1928 Van Bosse. . sesuai peran laut sebagai salah satu sumber kehidupan masyarakat. Keragaman yang tinggi dari suatu sumberdaya tidak akan selamanya terkait dengan keunggulan baik kuantitatif maupun kualitatif. 1970 Soegiarto & Polunin. 10 % tumbuhan dan sejumlah inverterbrata. Tabel 1. Lingkungan laut Indonesia dengan berbagai macam habitat yang ada di dalamnya tersebar luas di antara dua wilayah laut. Oleh karena itu dalam menyikapi hal ini perlu landasan pemahaman yang lebih jelas dimana letak keungulan keragaman hayati tersebut. fungia dan mikroorganisme (Gautam et al. bukan lagi tergantung pada daratan. Terdapatnya dua paparan luas di bagian barat dan bagian timur Indonesia yang dipisahkan oleh laut yang dalam memberikan gambaran akan terdapatnya berbagai ragam jenis biota dan habitat (Tabel I). Sebaliknya di negara beriklim sub tropis jumlah jenis relatif sedikit..3 % dari luas daratan dunia. wilayah paparan dan wilayah laut dalam. 2000) Keragaman sumberdaya hayati laut sering kali dijadikan argumen untuk menggambarkan betapa besarnya kekayaan laut Indonesia. 1928 Den Hartog. 12 % mamalia. dapat segera terwujud. 1999) Kelompok Taksa Utama Kelompok Jumlah Jenis Sumber Tumbuhan Alga Hijau Alga Coklat Alga Merah Lamun Mangrove 196 134 452 13 38 Van Bosse. Walaupun kepulauan Indonesia hanya mewakili 1. namun masing-masing kelimpahannya besar. T. tetapi memiliki 25 % jenis ikan dunia. Keanekaragaman hayati dari perairan Indonesia (Moosa.H.dunia. namun masing-masing kelimpahannya kecil. Kekayaan keragaman hayati laut ingin segera dimanfaatkan.

1971 Ikan Ikan Laut 2140 Fishbase. 1971 Krustasea Stomatopoda Brachura 112 1400 Moosa. 1996 Reptilia Penyu Buaya Ular Laut 6 1 31 Rene Marquez. Untuk itu .K. Valentine. T.H. Spons Desmospongia 850 Van Soest Moluska Gastropoda Bivalvia 1500 1000 Kastoro. Ekhinodermata Crinoidea Asteroidea Ophiuroidae Echhinoidae Holothuroidae 91 87 142 284 141 Clark & Rowe. 1971 Clark & Rowe. W.Hermanlimianto. 1971 Clark & Rowe.K. 1981 Pengelolaan sumberdaya hayati laut telah didefinisikan sebagai penerapan IPTEK kelautan terhadap permasalahan pemanfatan sumberdaya untuk memperoleh hasil optimum dalam kegiatan perikanan komersial. M. 1998 Tomascik et al. 1971 Clark & Rowe. Moosa. 1971 Clark & Rowe. M. 1998 Soegiarto & Polunin. 1997 Burung Burung Laut 148 Van Balen Mamalia Paus & Lumba-lumba Duyung 29 1 Suwelo. 1990 Suwelo.

Phaeophyta (1000 spesies). Alga Hijau Hanya kira-kira 10% dari 7000 spesies alga hijau (Divisi Chlorophyta) ditemukan dilaut. Spirulina adalah salah satu jenis alga hijau biru. Pigmen-pigmen terdapat dalam plastid dan sangat tahan terhadap cahaya panas. . pada mulanya penjelasan dijalankan berdasarkan warna. Contohnya : Entermorpha. Halimeda dan Spirulina. Caulerpa. Aspek struktur sel .platensis mengandung kloroplas. Jenis alga S. . asam fusinat (banyak terdapat pada Phaeophyta) dan komponen mukopeptida (Cynophyta). Ciri khas yang terdapat pada Chrysophyta ialah mempunyai dinding sel yang bersilika. Selama ini pengelolaan sumberdaya hayati laut pada umumnya hanya ditekankan pada pengertian yang sempit yaitu berapa kelimpahan dan ukuran biota yang akan dipanen. Tubuh Spirulina disebut trichome uniseluler. ekologi dari sumberdaya tersebut. lipid dan bahan protein. 1973).platensis yang berukuran kecil mempunyai diameter sel 1-3 mikron dengan sitoplasma homogen. Alga S. selebihnya diair tawar. namun dalam waktu jangka panjang akan menghadapi permasalahan yang sangat serius. Proses reproduksi yang terjadi pada alga Spirulina adalah dengan cara aseksual. Komponen khusus yang mencirikan dinding sel termasuk asam poliuronat. Berdasarkan tempat asalnya. kemudian potongan kecil trichome yang terlepas dari filamen yang baru (Fogg et al. Dikenali dengan warna hijau rumput yang dihasilkan adanya klorofil a dan b yang lebih dominan dibanding pigmen lain. Akibat sempitnya pemahaman ini. 3. Pigmen fotosintesis seperti klorofil dan karotenoid. seringkali ditemukan pada air payau yang bersifat alkalis. kromatophora dan pigmen yang tersebar dalam sitoplasma. asam alginat (Phaeophyta). Dinding sel lapisan luar terbentuk dari bahan pektin sedangkan lapisan dalam dari selulosa.pengelolaan suatu sumberdaya hayati laut memerlukan pengetahuan yang mendasari prinsip-prinsip biologi. dan Rhodophyta (2500 spesies).Adanya dinding sel yang melindungi mukopeptida tertentu sebagai komponen yang menguatkannya. Alga Didalam lautan terdapat bermacam-macam mahluk hidup baik berupa tumbuhan air maupun hewan air.Ketiadaan membran yang memisahkan nukleus . Salah satu mahluk hidup yang tumbuh dan berkembang di laut adalah alga. 2. Menurut Tseng (1987) Spirulina platensis termasuk alga hijau biru yang mempunyai panjang 50-500 mikiron dan lebar 8-10 mikron.Pembagian nukleus tidak berlaku secara mitosis seperti yang berlaku pada eukariot. terdapat dua jenis Spirulina yaitu Spirulina yang tumbuh di Meksiko dikenal dengan Spirulina maxima dan Spirulina yang tumbuh di Afrika dikenal dengan Spirulina platensis. Ada tiga divisi alga laut yaitu Cholorophyta (900 spesies). mungkin dalam jangka pendek belum dapat dilihat dampaknya. Komponen dinding sel Bahan dinding sel terdiri dri polisakarida. Istilah alga pertama kali diperkenalkan oleh Linnaeus pada tahun 1754.platensis berbentuk spiral dan memiliki sel yang tipis serta tidak berselaput inti. Penjelasan alga berdasarkan kepada ciri-ciri berikut : 1. Sel S.

atau dengan alat pengering modern misalnya oven pada suhu 8090 oC selama 4-6 jam. platensis dan S. Tabel 3. Pemanenan alga Spirulina platensis dapat dilakukan dengan cara meyaring alga tersebut dengan menggunakan saringan kain nylon yang berukuran 60-70 mesh. Tabel 2.Filamen yang telah masak putus beberapa bagian membentuk sel baru yang bentuknya biconcave selanjutnya bagian ini membentuk koloni sel yang terdiri dari 2-4 sel dan memisahkan diri dari filamen induk menjadi filamen baru.2). sulfur. Air hasil penyaringan dapat digunakan lagi untuk budidaya Spirulina platensis dengan penggunaan ulang sebanyak 2-3 kali. maxima Spirulina platensis Komponen (%) Spirulina maxima Laboratorium Kolam Laboratorium Kolam Protein kasar . kandungan vitaminnya tinggi terutama vitamin B12 (Suhartono. 1983). 3).platensis kering dapat mencapai lebih dari 60% (Tabel. Sel-sel dalam filamen baru kemudian bertambah jumlahnya. (Ciferri. sitoplasma menjadi granular. potassium. Komposisi alga Spirulina platensis dan Spirulina maxima Komposisi ( %) Spirulina platensis Spirulina maxima Air Abu Lemak kasar Serat kasar Karbohidrat kasar Protein kasar 6-10 4-5 9-14 3-8 10-18 56-77 4-7 6-9 9-14 1 8-13 60-71 Alga Spirulina yang dibudidayakan di laboratorium mempunyai kandungan protein lebih tinggi dibandingkan alga yang dibudidayakan di kolam (Tabel. Spirulina dapat ditumbuhkan dengan menggunakan larutan hasil pembusukan kotoran hewan atau hasil buangan dari proses pembuatan biogas dengan bahan baku kotoran hewan sebagai sumber nutrien anorganik. 2000). Menurut Santilan (1982) dalam budidaya Spirulina diperlukan penambahan mineral seperti karbon. warna sel menjadi hijau biru cerah dan ukuran filamen bertambah panjang (Ciferri. 1983). nitrogen. dan kalsium. Menurut Venkataraman (1984). magnesium. Alga Spirulina platensis yang diperoleh dari hasil pemanenan dapat dikeringkan dengan cara penjemuran dibawah sinar matahari pada suhu 32-35oC selama 6-8 jam. Perbandingan Nilai Nutrisi alga S. posfor. Protein dari S.

Lipida Spirulina platensis telah dianalisa dan ditemukan kaya akan asam lemka jenuh. Komposisi asam amino Spirulina platensis dapat dilihat pada tabel 4. 2000). dan Coelasatrum sp. Asam amino merupakan komposisi nutrisi penting yang mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup larva ikan laut pada stadia awal hidupnya (Yanti. Tabel 4.7-4.1 . Larva ikan mendapatkan suplai asam amino dalam jumlah besar dengan mengkonsumsi plankton pada saat awal makannya. Pakan alami seperti fitoplankton dan zooplankton mengandung asam amino meskipun kandungan spesifiknya bervariasi (Yanti.platensis nialianya masih rendah dibandingkan protein daging atau susu tetapi lebih tinggi protein nabati termasuk legumes dan beberapa jenis alga lain seperti Uronema sp. Komposisi Asam Amino Spirulina platensis Asam amino Esensial Kandungan (%) Asam amino Non esensial Kandungan (%) Isolisin Leusin Lisin Metionin Fenilalanin Treonin Triptofan Valin 3.Lemak kasar Karbohidrat kasar Abu 64-74 9-14 12-20 4-6 61 12 19 8 68-77 9-14 10-16 4-6 60 15 16 9 Protein S. 2002). (Ciferri. 2002). Alga tersebut juga mengandung asam amino yang cukup lengkap. 1983). Salah satu jenis yang utama adalah asam linoleat yang mencapai 20% total lipida (Suhartono.

Padahal komponen kimiawi yang terdapat dalam alga sangat bermanfaat bagi bahan baku industri makanan. alga merupakan kelompok tumbuhan yang berklorofil yang terdiri dari satu atau banyak sel dan berbentuk koloni.6-2.9-4.5 0.7 8. Dictyota. kosmetik.2-3. pemanfaatan alga sebagai komoditi perdagangan atau bahan baku industri masih relatif kecil jika dibandingkan dengan keanekaragaman jenis alga yang ada di Indonesia. Ulva.2 2. mineral dan juga senyawa bioaktif. Pigmen merah mampu menyerap cahaya biru dan ungu. Warna merah dihasilkan oleh pigmen merah yang dominan yaitu fikoeritrin.0 1.0-6. . Contohnya : Ectocarpus. Pigmen terkandung didalam plastid. hormon.2-4.9 3.9-1. Kegunaan alga Ditinjau secara biologi. vitamin. Kelpa Laminaria.3-8. Warna kuning dihasilkan oleh pigmen fukoxantin (xanthos ´coklat´). Porphyra. Kebanyakan ditemui di air dalam dan berfilamen dengan ketebalan.5-5.0 Alga Coklat Hampir 1000 spesies hidup di laut. Memiliki dindingh sel lapisan luar dari bahan pektin (terutama alginat) sedangkan lapisan dalam dari bahan selulosa. Alga Merah Terdapat 3000 spesies alga merah (divisi Rhodophyta) ditemukan di laut. Didalam alga terkandung bahan-bahan organik seperti polisakarida.5.8 2. Nereocystis. Padina.0 5.9 5. Berbagai jenis alga seperti Griffithsia.8-4. lebar aturan filamen yang berbeda. Enteromorpna.6-5. Memiliki dinding sel selulosa dan sangat peka terhadap cahaya.0 Serin Alanin Arginin Asam aspartat Sistin Asam glutamat Glisin Histidin Prolin 3. Kebanyakan spesies mempunyai kantong udara dan pembiakannya secara seksual atau aseksual.6-0.2-4. Contohnya : Gigartina.4 0.7-3.8-1.0-5. Sejauh ini. Alaria dan Agarum.0 3.1 2. Gracilaria.2-6. farmasi dan lain-lain.8 4.2 0.1 4.

Alga dapat dimanfaatkan sebagai bioindikator logam berat karena dalam proses pertumbuhannya. dan dapat terakumulasi dalam jangka waktu tertentu. Alga mempunyai kemampuan yang cukup tinggi dalam mengadsorpsi logam berat karena di dalam alga terdapat gugus fungsi yang dapat melakukan pengikatan dengan ion logam. amina. 4. Tidak perlu nutrisi tambahan. tembaga (Cu). dan seng (Zn). Agarose merupakan jenis agar yang digunakan dalam percobaan dan penelitian dibidang bioteknologi dan mikrobiologi. 3. Chlorela/Nannochloropsis yang telah dimanfaatkan sebagai adsorben logam berat. salad rumput laut maupun agarose. Dari berbagai penelitian diketahui bahwa berbagai spesies alga terutama dari golongan alga hijau (Chlorophyta). merkuri (Hg). Hypnea. Sludge yang dihasilkan sangat minim. timbal (pb). berilium (Be). dan Gelidium sebagai sumber senyawa bioaktif. Potensi alga sebagai sumber makanan (terutama rumput laut). Begitupun dengan Sargassum. dan alga merah (Rhodophyta) baik dalam keadan hidup (sel hidup) maupun dalam bentuk sel mati (biomassa) dan biomassa terimmobilisasi telah mendapat perhatian untuk mengadsorpsi ion logam. Bahan bakunya mudah didapat dan tersedia dalam jumlah banyak. dan Kappaphycus telah dikenal luas sebagai sumber makanan seperti salad rumput laut atau sumber potensial karagenan yang dibutuhkan oleh industri gel. selenium (Se). di Indonesia telah dimanfaatkan secara komersial dan secara intensif telah dibudidayakan terutama dengan tehnik polikultur (kombinasi ikan dan rumput laut). memiliki sifat toksisitas (racun) pada mahluk hidup walaupun pada konsentrasi yang rendah. alga coklat (Phaeophyta). Osmundaria. Alga Laut Sebagai Adsorben Logam Berat Berdasarkan data dari United State Environmetal Agency (USEPA). kromium (Cr). Laminariales atau Kelp dan Sargassum Muticum yang mengandung senyawa alginat yang berguna dalam industri farmasi. keuntungan pemanfaatan alga sebagai bioindikator dan biosorben adalah : 1. sulfudril imadazol. Suatu lingkungan yang memiliki tingkat kandungan logam berat yang melebihi jumlah . 2. sedangkan ketersediaan logam dilingkungan sangat bervariasi. sulfat dan sulfonat yang terdapat dalam dinding sel dalam sitoplasma. nikel (Ni). kadmium (Cd). Secara umum. hidroksil. Alga dalam keadaan hidup dimanfaatkan sebagai bioindikator tingkat pencemaran logam berat di lingkungan aquatik (perairan) sedangkan alga dalam bentuk biomassa dan biomassa terimmobilisasi dimanfaatkan sebagai biosorben (material biologi penyerap logam berat) dalam pengolahan air limbah.Euchema. Alga Laut sebagai Sumber Makanan Kandungan bahan-bahan organik yang terdapat dalam alga merupakan sumber mineral dan vitamin untuk agar-agar. arsenik (As). 5. logam berat yang merupakan polutan perairan yang berbahaya diantaranya adalah antimon (Sb). Gugus fungsi tersebut terutama gugus karboksil. Logam berat ini berbahaya karena tidak dapat didegradasi oleh tubuh. alga membutuhkan sebagai jenis logam sebagai nutrien alami. Oleh kartena itu penting dilakukan pengambilan logam berat pada daerah yang terkontaminasi. kobalt (Co). Pemanfaatan berbagai jenis alga yang lain adalah sebagai penghasil bioetanol dan biodiesel ataupun sebagai pupuk organik. Biaya operasional yang rendah.

supaya dapat dibandingkan terhadap alga yang berasal dari lokasi lain. Pengumpulan alga mudah dilakukan. 2003 Kautsky. V. dapat mengakibatkan pertumbuhan alga terhambat. Cu Pb Pb. Cr Cu. 1999 Buhani. Co. Syarat utama suatu alga sebagai bioindikator adalah harus memiliki daya tahan tinggi terhadap toksisitas akut maupun toksisitas kronis. 1995 Menurut Harris dan Ramelow (1990). 5. Tabel 5. Cd. Pb Pb. Cr Ni. Chaetocerus sp. V. Masa hidupnya cukup lama. Populasinya stabil. Cu Cd. 1998 Mamboya et al. Alga yang dipilih mempunyai hubungan geografis dengan lokasi yaitu berasal dari lokasi setempat.yang diperlukan.. 4. Fe. Alga itu terdapat dimana-mana. Cd. sehingga keberadaannya memungkinkan untuk merekam kualitas lingkungan disekitarnya. Relatif mudah dikenali di alam. Euchema sp. Cd. dan diketahui radius aktivitasnya. Zn Zn. 7. Pb. Cd. Cu. 2001 Rivai dan Supriyanto. 2001 Noegrohati. Spesies Alga yang Potensial sebagai Bioindikator Spesies Alga Logam Berat Teradsorpsi Sumber Rujukan Cladophoraglomerata Galaxaurarugosa Corallinsp Euchemaisiforme Fucusvesiculosus Padinaboergeseni Sargasum sp. Selain memiliki daya tahan yang tinggi terhadap toksisitas logam berat. 2. (Tabel 5). Pb. hidup dilokasi tersebut. Zn. Ni. 2000 Siswantoro. kemampuan alga dalam menyerap . 3. persyaratan lain untuk pemanfaatan alga sebagai bioindikator adalah : 1. 2001 Fajarwati. Cr Chmielewska dan Medved. 2003 Martadinata. Komposisi makanannya diketahui. 6. Pb Cr. Berikut adalah contoh spesies alga yang potensial sebagai bioindikator logam berat berdasarkan beberapa rujukan penelitian. sehingga dalam keadaan ini eksistensi logam dalam lingkungan adalah polutan bagi alga.

ion-ion logam sangat dibatasi oleh beberapa kelemahan seperti ukurannya yang sangat kecil. Pemanfaatan senyawa alginat didunia industri telah banyak dilakukan seperti natrium alginat dimanfaatkan oleh industri tektil untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas bahan industri. alga laut kaya akan senyawa turunan dari oksidasi asam lemak yang disebut oxylipin. anti kanker atau sebagai reversal agent dan (2) industri agrokimia terutama untuk antifeedant. Dalam industri farmasi. alginat digunakan sebagai bahan pembuatan pelapis kapsul dan tablet. Tetapi hasil penelitian akhir-akhir ini menunjukan bahwa mekanisme pertukaran ion adalah yang lebih dominan. Kemampuan alga untuk memproduksi metabolit sekunder terhalogenasi yang bersifat sebagai senyawa bioaktif dimungkinkan terjadi. penyerapan secara fisik. akrilat. dan pengendapan mikro. Alga Laut Sebagai Sumber Senyawa Bioaktif Alga hijau. hanya mengandung 16-18 % berat kering. dan (4) Karbon. Namun pemanfaatan sumber bahan bioaktif dari alga belum banyak dilakukan. pembentukan kompleks koordinasi. kalsium alginat digunakan dalam pembuatan obat-obatan. anti tumor. asam polihetero. Jepang dan Kanada mentargetkan . (2) oksida (oxides) seperti alumina. Immobilisasi biomassa dapat dilakukan dengan menggunakan (1) Matrik polimer seperti polietilena glikol. silika. Melalui senyawa ini berbagai jenis senyawa metabolit sekunder diproduksi. berbagai variasi struktur senyawa bioaktif yang sangat unik dari isolat alga merah telah berhasil diisolasi. (3) campuran oksida (mixed oxides) seperti kristal aluminasilikat. Alginat juga digunakan dalam pembuatan bahan biomaterial untuk tehnik pengobatan seperti micro-encapsulation dan cell transplantation. sulfonat dan amina yang akan berikatan dengan ion logam. Dalam dekade terakhir ini. berat jenisnya yang rendah dan mudah rusak karena degradasi oleh mikroorganisme lain. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat. Senyawa ini merupakan heteropolisakarida dari hasil pembentukan rantai monomer mannuronic acid dan gulunoric acid. Alga Laut Sebagai Penghasil Bioetanol dan Biodesel Meskipun masih dalam tahap riset yang mendalam. Kandungan alginat dalam alga tergantung pada jenis alganya. alga merah ataupun alga coklat merupakan sumber potensial senyawa bioaktif yang sangat bermanfaat bagi pengembangan (1) industri farmasi seperti sebagai anti bakteri. Kandungan terbesar alginat (30-40 % berat kering) dapat diperoleh dari jenis Laminariales sedangkan Sargassum Muticum. diantaranya dengan mengimmobilisasi biomassanya. fungisida dan herbisida. potensi alga laut sebagai penghasil bioetanol dan biodiesel sangat menjanjikan dimasa mendatang. Hal ini dimungkinkan karena adanya gugus aktif dari alga/biomassa seperti karboksil. sulfat. Berbagai mekanisme yang berbeda telah dipostulasikan untuk ikatan antara logam dengan alga/biomassa seperti pertukaran ion. Senyawa alginat juga banyak digunakan dalam produk susu dan makanan yang dibekukan untuk mencegah pembentukan kristal es. Alga Laut Sebagai Sumber Senyawa Alginat Alginat merupakan konstituen dari dinding sel pada alga yang banyak dijumpai pada alga coklat (Phaeophycota). Berdasarkan proses biosintesisnya. karena kondisi lingkungan hidup alga yang ekstrem seperti salinitas yang tinggi atau akan digunakan untuk mempertahankan diri dari ancaman predator. Untuk mengatasi kelemahan tersebut berbagai upaya dilakukan.

keanekaragaman hayati laut dan pelestariannya. 6. 2000. pengembangan produk-produk turunan berbasis alga. Santilan. Washington. 1990. Potensi Pemanfaatan Alga Laut Sebagai Penunjang Perkembangan Sektor Industri. Riset-riset kimiawan terutama dituntut untuk mencari bahan baku industri. Sci. gas CO2 yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar dan panen yang terus-terusan (continuous) yang dikarenakan waktu tanam alga hanya 1 minggu. and E. 1982. Environ. Jakarta 23 Pebruari 1999. 2.mulai tahun 2025 bahan bakar hayati (biofuel) bisa diproduksi dari budidaya cepat alga mikro yang tumbuh diperairan tawar/asin. Microbiological Reviews.42 Km. Harris dan Ramelow. Gautam. Ciferri. M.. Sumber : Tatang H. P. Makalah Ilmiah Ketua Jurusan Kimia. 499 pp. Soerawidjaja (2005) Alga Laut Sebagai Pupuk Organik Dikarenakan kandungan kimiawi yang terdapat dalam alga laut merupakan nutrien yang sangat penting bagi semua mahluk hidup termasuk tumbuhtumbuhan. M. Pemanfaatan secara lestari dilandasi penelitian dan penyelamatan. Yang DiImmobilisasi Polietilamina-Glutaraldehid. The Edible Microorganism. Fogg. Fay. London. Indonesia The Chalenges of World Bank Involvement in Forest. Tinjauan Kinetika dan Termodinamika Proses Adsorpsi Ion Logam Pb. Putra. Bandar Lampung 7. Spirulina. Mass Production of Spirulina. O. 4. Berikut adalah gambar skenario mekanisme pembuatan bioetanol dan biodiesel dari alga laut. Sinly Evan. 2006. Laporan Penelitian. Alga dapat digunakan sebagai pupuk organik karena mengandung bahanbahan mineral seperti potasium dan hormon seperti auxin dan sytokinin yang dapat meningkatkan daya tumbuh tanaman untuk tumbuh. Wolsky. Evaluation Country Case Study Series.791. Pemanfaatan alga sebagai pupuk organik ditunjang pula oleh adanya sifat hydrocolloids pada alga laut yang dapat dimanfaatkan untuk penyerapan air (daya serap tinggi) dan menjadi substrat yang baik untuk mikroorganisme tanah. 1999. senyawa bioaktif. Disepanjang garis pantai. 24 hal. et al. Berbagai riset mutlak dilakukan untuk pemanfaatan secara optimal kekayaan hayati ini secara berkelanjutan. Lokakarya Keanekaragaman Hayati Laut. Experienties. Andi. Binding of Metal Ions by Particulate Quadricauda. 627-652 5. Sumberdaya laut nusantara. Universitas Lampung. 3.D. D. The World Bank. 64 pp. maka alga laut dapat dimanfaatkan sebagai sumber alternatif penganti pupuk-pupuk pertanian yang mengandung bahan kimia sintesis. Moosa.K. Academic Press. tanpa penyemaian benih. Stewart. Setiawan.. W. 38:40-43. Widya Graha LIPI.C. berbunga dan berbuah. 47 (4) : 551-578. 8. Keuntungan lebih yang dapat diperoleh adalah tak butuh traktor seperti didarat. Daftar Pustaka 1. . 2004. The Blue Green Alga. tumbuh dan berkembang berbagai jenis alga laut yang berpotensi sebagai biotarget industri. dan mempelajari misteri dan keunikan-keunikan alga dalam hubungannya sebagai bagian dari ekosistem. Cd. 1973. Penutup Indonesia adalah negara yang mempunyai garis pantai terpanjang di dunia yaitu ± 80. dan Cu oleh Biomassa Alga Nannochloropsis sp. 1983.

peranan Asam Amino dalam Fisiologis Nutrisi pada Awal Kehidupan Ikan. 1987. 2005. IPB. Suhartono. Makalah Ilmiah Forum Biodiesel Indonesia. Shrimp Marine Culture A Practical Manual Department of Fisheries. S.T. 16 Desember 2005 Bandung. India. 10. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Membangun Industri Biodiesel di Indonesia. Central Food Technological Research Institute. W.Universitas Lampung. Tseng. S..Y. Tatang H. L. 12. 13.V. Warta Penelitian Perikanan : Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Soerawidjaja. Venkataraman. Hal 11-18. Mysore. . Port Moresby Papua New Guinea. Cetakan I. 2002. Bandar Lampung 9. The University of Papua New Guinea. M. Development of Microalgae (Spirulina) Production. Bioteknologi Hasil Laut. Yanti. 2000. 11. 1984.L. Angka. Pp 113-131.