BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Karakteristik

2.1.1 Pengertian Karakteristik Karakteristik adalah sifat khas dengan perwatakan tertentu. mencakup hal-hal sebagai Karakteristik

berikut: umur, pendidikan, pelatihan, lama kerja,

kepuasan kerja dan lainnya (Depdikbud, 2000).

Soeroso (2003) menerangkan bahwa setiap individu yang dapat dipercaya pada hakikatnya merupakan fungsi karakter dan kompetensi seseorang. Kemudian ia menambahkan bahwa kepemimpinan pada tingkat antarindividu terjadi apabila seseorang yang memiliki karakter dapat dipercaya melakukan komunikasi dengan orang lain dan bekerja secara sinergis serta menghasilkan sesuatu yang lebih besar daripada apabila mereka bekerja sendirian.

2.1.2 Ruang Lingkup Karakteristik Dalam penelitian ini peneliti memfokuskan pada ruang lingkup karakteristik yang mencakup umur, pendidikan, lama kerja dan jenis kelamin, pelatihan dan ekonomi. Adapun ruang lingkup karakteristik adalah sebagai berikut:

9

2005). jenis kelamin laki-laki atau perempuan (Depdiknas. umur adalah lama hidup seseorang yang dapat dikelompokkan menjadi tiga.1.2. salah satunya adalah ilmu. Usia adalah kata lain dari umur. Umur ditentukan dengan hitungan tahun. 10 .1 Umur Umur merupakan lama hidup seseorang.2. Jenis kelamin merupakan keadaan tubuh penderita yang dibedakan secara fisik.2. memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan cinta tanah air. semakin banyak umur semakin banyak pula pengalaman yang dimiliki. Dalam hal ini Koentjaraningrat (1997) menambahkan bahwa umur seseorang yang relatif tua dapat berpengaruh terhadap pengetahuan yang dimilikinya. 1997). 2. Sementara Anderson (1989) dalam Herlina (2002) menyatakan bahwa pengetahuan bermanfaat jika pengetahuan tersebut didasarkan atas tindakan atau hal-hal apa saja yang dimengerti. pada umumnya jenis kelamin perempuan kurang berpengaruh terhadap tindakan penanganan pasien amuk dibandingkan dengan perawat laki-laki (Kusumo Lelono. Sedangkan pendidikan menurut Ketetapan MPR No. 2. Dalam penanganan pasien amuk.3 Pendidikan Menurut John Dewey (2000) pendidikan adalah suatu proses untuk memperoleh kemampuan untuk kebiasaan berfikir untuk suatu kegiatan yang intellegent atau ilmiah dalam memecahkan masalah di dalam kegiatan. S.2/1978 adalah usaha sadar untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. yaitu: <20 tahun. kecerdasan dan keterampilan mempertinggi budi pekerti.2 Jenis Kelamin Jenis adalah sifat jasmani atau rohani yang membedakan dua makhluk sebagai betina dan jantan atau wanita dan pria.1. 2004).2. 20-35 tahun dan <35 tahun (Depdikbud.1.

sifat kemanusiaan setinggi mungkin. 11 . kecakapan untuk mencipta yang baru. aktivitas yang besar. 2.4 Pelatihan Istilah pendidikan (Education) pelatihan jarang digunakan dalam bidang industri. Pendidikan perawat adalah pendidikan formal yang terakhir yang ditamatkan dan mempunyai ijazah dengan klasifikasi tamat SPK. perasaan peka dan halus. Namun. D3. kecakapan dalam meniru asli dan meniru bebas. 1995). keuletan yang besar. ketajaman berfikir serta logis. rasa tanggung jawab terhadap keselamatan negara dan bangsa serta kemanusiaan. (Soeroso.2. S2 yang diukur dengan cara dikelompokkan dan dipresentasikan dalam masing-masing klasifikasi (Depkes RI.Kemahiran menyerap pengetahuan akan meningkat sesuai dengan meningkatnya pendidikan seseorang dan kemampuan ini berhubungan erat dengan sikap seseorang terhadap pengetahuan yang diserapnya. Adapun tujuan pendidikan menurut Syafei Muhammad (1996) tujuan pendidikan adalah menjadikan manusia Indonesia yang memiki seperangkat kepelengkapan sikap yaitu. 2003). keyakinan demokrasi dalam hak dan kewajiban. (Koentjaraningrat. jasmani yang sehat dan kuat. yang sering adalah pelatihan. sedangkan pendidikan adalah pengembangan sumberdaya manusia yang bersifat “People Building Concept”. di industri perumahsakitan keadaannya berbeda. 1997).1. Pelatihan (Training) sebenarnya merupakan upaya peningkatan kemampuan sumber daya manusia yang secara langsung terkait dengan peningkatan keterampilan. S1.

jenis pekerjaan dan tidak terfokus pada satu 2.1.2.1. Perawat yang sudah lama bekerja atau berpengalaman menangani tindakan pasien amuk (kedaruratan) memiliki 12 . Dalam setiap organisasi kesehatan rumah sakit atau sejenisnya sering kali diperlukan suatu program orientasi perawat yaitu prosedur untuk memberikan gambaran kepada perawat baru tentang informasi latar belakang. 2003). tugas kewajiban. perubahan peran dalam pengembangan perawat atau memperkuat hasil pelatihan sebelumnya. Pelatihan kembali (re-training) adalah pelatihan kembali perawat dalam rangka menindaklanjuti penilaian prestasi kerja. sedangkan pekerjaan tidak tetap yaitu pekerjaan yang dilakukan dari berbagai pekerjaan saja. pekerjaan tetap adalah pekerjaan yang dilakukan hanya terfokus pada satu pekerjan saja. sejarah dan peraturan dasar tempat kerjanya yang baru (Soeroso.Pelatihan adalah proses pengajaran kepada karyawan dalam hal ini perawat baru atau perawat yang telah ada tentang keterampilan dasar yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan mereka sebagai individu maupun sebagai anggota tim untuk mencapai sasaran yang ditetapkan oleh organisasi dengan sebaik-baiknya.5 Pekerjaan Menurut Depdiknas (2005) pekerjaan adalah barang apa yang dilakukan (diperbuat. 2. Pelatihan dibutuhkan sebagai pendidikan tambahan (sumber informasi baru) bagi perawat yang menangani pasien amuk. dan sebagainya). pekerjaan terbagi atas tetap dan tidak tetap. dipekerjakan.2.6 Lama Kerja Lama kerja yang dimaksud disini adalah lamanya waktu yang telah digunakan untuk bekerja pada rumah sakit jiwa.

Kebutuhan rumah tangga b. distribusi dan pemakaian barang-barang serta kekayaan. 13 . karena memiliki pengalaman menangani pasien amuk dibandingkan dengan perawat yang baru bekerja. 2. waktu dan sebagainya yang berharga.7 Ekonomi Menurut Depkdiknas (2005) ekonomi adalah ilmu mengenai asas-asas produksi.2. Ekonomi merupakan penghasilan yang diperoleh selain dari penghasilan sebagai pegawai negeri (PNS) atau tetap. Menabung d. Biaya pendidikan c. cakupan urusan keuangan rumah tangga (organisasi.1. Ekonomi dalam penelitian ini adalah menyangkut penghasilan perawat dan diklasifikasikan sebagai berikut: a.kemampuan dalam menangani pasien. Rekreasi Dalam hal ini Soeroso (2003) menambahkan bahwa penghasilan/ekonomi tenaga kerja perawat yang minim dapat mempengaruhi prestasi kerjanya. negara). tenaga. pemanfaatan uang. Perawat dengan ekonomi biasanya kurang memberikan perhatian terhadap pasien yang ditanganinya.

Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni: indera penglihatan.2. 2. 2003).1 Pengertian Pengetahuan Menurut Bahasa Indonesia pengetahuan (Knowledge) adalah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.2 Pengetahuan 2.2. Trial dimana subjek mulai melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus. 14 . Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tertentu disini sikap subjek sudah mulai timbul. Pengetahuan atau Kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (over behaviour). pendengaran. dan apabila manusia mengadopsi perbuatan dalam diri seseorang tersebut akan terjadi proses sebagai berikut: Awarness (kesadaran) dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek). Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya terhadap stimulus tersebut bagi dirinya. penciuman.2.2 Adopsi Pengetahuan Apabila suatu pembuatan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perbuatan yang tidak didasari oleh pengetahuan. rasa dan raba. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo.

Oleh karena itu pengetahuan merupakan tingkat yang paling rendah. Namun. tetapi masih dalam satu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitan suatu samalainnya. apa yang diketahui hanya sekedar informasi yang dapat disingkat saja. Jenjang C1 mengetahui/Tahu (Know) Mengetahui berdasarkan mengingat kepada bahan yang sudah dipelajari sebelumnya. Jenjang C4 Analisa (Analisis) Analisa adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek ke dalam komponen-komponen. Jenjang C3 Penerapan / Aplikasi (Aplication) Penerapan adalah kemampuan menggunakan atau penafsirkan suatu ilmu yang sudah dipelajari ke dalam situasi baru seperti menerapkan suatu metode.- Adoption.3 Tingkat Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2003) pengetahuan yang dicakup dalam bidang atau ranah kognitif mempunyai enam tingkatan bergerak dari yang sederhana sampai pada yang kompleks yaitu : 1. konsep. Seperti menggambarkan 15 . Mengetahui dapat menyangkut bahan yang luas atau sempit seperti fakta (sempit) dan teori (luas). menjelaskan atau meringkas tentang sesuatu. Jenjang C2 Pemahaman (Comprehension) Pemahaman adalah kemampuan memahami arti sebuah ilmu seperti menafsirkan. dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus. 4.2. 2. prinsip atau teori. 2. 3.

1 Pengertian Amuk merupakan perilaku kekerasan digambarkan sebagai suatu tindakan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Jenjang C6 Evaluasi (Evaluation) Evaluasi berkenaan dengan kemampuan menggunakan pengetahuan untuk membuat penelitian terhadap suatu berdasarkan maksud atau kriteria tertentu. mengelompokkan dan 5. bagan).4. Misalnya dapat membandingkan.4 A m u k 2. 16 . membedakan. menanggapi dan dapat menafsirkan dan sebagainya. Jenjang C5 Sintesis (Syntesis) Sintesis adalah suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. 2. Ciri-ciri khas tersebut yang menjadikan individu memiliki kepribadian yang berbeda-beda. meringkas. misalnya dapat menyusun. memisahkan.(membuat sebagainya. 6. 2. menyelesaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan yang telah ada. merencanakan.3 Hubungan antara Karakteristik dengan Pengetahuan Notoatmodjo (2003) menggambarkan bahwa keterkaitan antara karakteristik dengan pengetahuan merupakan hasil dari proses belajar (pengalaman yang dimiliki) dengan ciri-ciri khas pada umumnya yang terdapat pada setiap individu.

1990) Agresif adalah satu cara dari seseorang untuk mengekspresikan marah. perilaku yang dimaksudkan untuk mengancam atau melukai harga diri korban ini berarti melawan atau menyerang (Warren. merusak diri sendiri. memberi kata-kata ancaman melukai disertai melukai pada tingkat ringan. 1991). 1989) Pengalaman emosi yang kuat dari individu dimana hasil/tujuan yang harus dicapai terhambat. 1990). merusak orang lain. merusak lingkungan (Stuart & Sundeen. Reaksi manusia yang normal pada rangsang tertentu yang membuat orang tersinggung harga dirinya/membuat kecewa dan frustasi karena segala sesuatu tidak berjalan seperti yang diinginkan (Wedge. Klien tidak mampu mengendalikan diri (Anna Keliat. Amuk merupakan salah satu jenis dari berbagai macam perilaku kekerasan selain marah dan agresif. 1998). Pada saat marah individu kehilangan kontrol emosi dan intelektual (Depkes RI. dan yang paling berat adalah melukai / merusak secara serius. Prilaku kekerasan ditandai dengan menyentuh orang lain secara menakutkan.Perilaku destruktif tetapi tidak terkontrol. 17 . Marah merupakan perasaan jengkel yang timbul sebagai respon pada kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman (Stuart dan Sundeen. Perilaku destruktif disebabkan oleh frustasi. 1999). Perilaku ini timbul dalam rangka membalas atau respon untuk bertahan (Depkes RI:1990).

4.1. Proses terjadinya marah (Becks. Rawlins. 1986) 18 .2 Proses Terjadinya Marah sampai dengan amuk Ancaman / Kebutuhan (Stressor) Merasa Kuat Menentang Masalah tidak Teratasi Marah Berkepanjangan Stres Cemas Merasa tidak adekuat Melarikan diri Marah Mengingkari marah Diungkapkan secara verbal Menjaga keutuhan Oranglain Lega Ketegangan menurun Rasa marah Teratasi Muncul rasa permusuhan Rasa bermusuhan menahun Ekspresikan marah (-) Marah pada diri sendiri Marah pada orang lain/lingkungan DEPRESI PSIKO SOMATIK AGRESIF / MENGAMUK Gambar 2.2. Williams.

merusak orang lain. dimana klien tidak mampu mengungkapkan perasaannya. Amuk : prilaku destruktif tetapi tidak terkontrol.4. Kebingungan dan gaduh ini tidak hanya melanda pasien tidak jarang keluarga atau yang 19 . Bila keadaan gaduh gelisah di bawa ke fasilitas pelayanan psikatrik dalam keadaan bingung dan gaduh. 2. 1997). merusak diri sendiri. merusak lingkungan.2. tetapi hanya menunjuk pada suatu keadaan atau sindroma dengan sekelompok gejala tertentu dengan ciri utama yaitu gaduh dan gelisah (Depkes RI. bicara kasar. 1991) Asertif : kemarahan yang diungkapkan tanpa menyakiti orang lain. Rentang Respon Marah (Stuart dan Sundeen. mencaci.5 Penanganan Kegawatdaruratan Psikatri Keadaan gaduh gelisah bukanlah merupakan suatu diagnosa. Agresif : perilaku destruktif tetapi masih terkontrol.3 Rentang Respon Amuk Respon Adaptif Respon Maladaptif Asertif Frustasi Pasif Agresif Amuk Gambar 2. Pasif : respon lanjut. menuntut. muka masam. Frustasi : kegagalan mencapai tujuan oleh karena tidak realistis/terhambat. termasuk orang lain dan barang-barang.2. Keadaan gaduh gelisah dapat dimasukkan ke dalam golongan kedaruratan psikiatrik karena keadaan ini berbahaya bagi pasien maupun lingkungannya.

di puskesmas.5. biologik dan sosiokultural. masyarakat. 1997). Penderita gaduh gelisah bisa kita jumpai dalam keluarga. Tetapi keadaan ini toleh terjadi sampai melanda para petugas pelayanan itu sendiri. namun pendekatan mana yang lebih diutamakan atau didahulukan tergantung pada keadaan dan kondisi pasien (Depkes RI. maka masalah yang ada dapat diatasi dengan pendekatan psikologik. Perkenalkan diri Jika pasien gelisah sekali. Ketiga segi pendekatan ini pada prinsipnya diusahakan pada setiap keadaan gaduh gelisah. RSU dan Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Ruang Rawat Inap dan Unit Rehabilitasi. Masalah : Dalam keadaan gaduh gelisah dapat terjadi bahaya terhadap diri pasien ataupun lingkungan. Tujuan penanganan : Pasien mampu menguasai dirinya dan berfungsi kembali dengan baik.1 Pendekatan Psikologik Adalah sikap serta kata-kata yang diucapkan yang bertujuan untuk menenangkan pasien. 1997).mengantar dilanda kebingungan dan ikut gelisah. Di RSJ keadaan ini dapat dijumpai atau terjadi di Poliklinik Rawat Jalan. Petugas tidak boleh menjadi bingung dan tidak dapat mengendalikan diri. 20 . 2. Hal-hal yang perlu mendapat perhatian: 1. Untuk mencapai tujuan tersebut. dia tidak boleh kehilangan sikap dan kemampuan profesionalismenya (Depkes RI. sentuhan tangan tidak diperlukan karena keadaan ini dapat disalahtafsirkan pasien sebagai ancaman/serangan fisik terhadap dirinya.

“Pengekangan ini maksudnya untuk menolong saudara sementara saudara belum dapat menguasai diri agar tidak terjadi kecelakaan/kelelahan” c. Pasien sudah dalam keadaan terikat/terkekang: a. 2. Janganlah terburu-buru melepas ikatan pasien b. Amati pasien sekurang-kurangnya 30 menit. senjata tajam. pisau. Coba berikan kepercayaan kepada pasien untuk mengendalikan dirinya sendiri 21 . kayu.2. seperti pengekangan atau pemberian psychofarmaka dan sebagainya. dan lain-lain) pendekatan psikologis ini lebih diutamakan. perhatikan hal-hal berikut: 1) Tanda-tanda vital: tekanan darah.5. 3.2 Pendekatan Biologik Adalah segala tindakan yang bersifat biologik/fisik yang dilakukan untuk menguasai penderita. Bila pasien masih gelisah. Jelaskan/katakan kepada pasien sebelum pengekangan dilakukan. Kendalikan diri dan sadarilah bahwa kita yang mampu mengatasi keaadaan tersebut. nadi. 4. berikan suntikan sesuai instruksi (dokter) sebelum ikatan pasien diganti dengan ikatan milik rumah sakit. tunjukkan sikap menerima dan usaha untuk menolong pasien. Prosedur dan teknik pengekangan: 1. Bila pasien bersenjata (pistol. Hendaklah dimengerti keadaan pasien. respirasi 2) Bila pasien tenang: pertimbangkan untuk melepas kekangan.

Pada waktu-waktu tertentu (waktu makan. Pasien gaduh gelisah yang belum difiksasi: Usahakan untuk melakukan pengekangan/fiksasi dan untuk itu hendaknya diperhatikan keadaan-keadaan sebagai berikut: a. atau benda-benda lainnya agar tidak dirampas pasien dan dipergunakannya untuk melukai orang lain. dan lain-lain. mandi. Sebaiknya perawat menyimpan dulu kacamata. Siapkan alat-alat yang diperlukan (selimut. d. dan lain-lain) utamakanlah pendekatan psikologis. digigit. pistol. Keselamatan semua pihak harus menjadi perhatian utama. pena. Segera berikan pertolongan yang diperlukan Cegah kemungkinan komplikasi yang akan terjadi bila fiksasi masih harus dilanjutkan seperti decubitus. dicakar. BAK) berikan kesempatan kepada pasien untuk dapat melakukan sendiri 2. Bila pasien mengenggam senjata (pisau. luxatio. lapar. Jangan mendekati pasien dari depan karena bisa disepak. golok. tali temali) serta tenaga (diperlukan sekurang-kurangnya 4 orang) b.3) Bila pasien masih gelisah: Perhatikan apakah fiksasi terlalu ketat Tanyakan apakah ada kebutuhan-kebutuhan pasien yang mendesak seperti BAB/BAK. BAB. minum. c. d. dan lain-lain. 22 . rasa nyeri. kelumpuhan.

rehabilitasi.2. Usahakan untuk dapat mempertemukan pasien dengan keluarga bila keadaan sudah tenang sekaligus amati penerimaan pasien terhadap keluarga. 5. Berusaha agar keluarga atau penanggung jawab/pengantar juga dapat mengerti keadaan pasien. 4. Perhatikan siapa yang dapat memberikan/menciptakan suasana tenang. poliklinik dapat menghubungi tenaga/petugas dari ruangan yang lain. Unit Rawat Inap atau di Unit Rehabilitasi maka langkah yang dapat diambil adalah: 1. dan sebagainya).5. Bila penderita masih gelisah dan tak kooperatif dianjurkan keluarga untuk tak menjenguk pasien dahulu. Beritahu keluarga bahwa apa yang kita perbuat bukanlah merupakan hukuman bagi pasien tetapi adalah tindakan pengobatan. Pengerahan tenaga: Di ruangan. Hal-hal yang perlu diusahakan/diperhatikan sebagai berikut: 1. bila perlu dapat minta bantuan orang lain yang disegani oleh pasien (keluarga. satpam. 6. 3. 1997). Hal-hal teknis yang perlu diperhatikan dalam penanganan pasien gaduh gelisah: Bila kita jumpai pasien gaduh gelisah baik di Unit Rawat Jalan. Kira-kira kunjungan keluarga setelah 7 sampai 10 hari pasien dirawat. sehingga pasien dapat dibawa ke rumah sakit. Berusaha mengenal/mengetahui situasi dimana terjadi keadaan gaduh gelisah 2. 23 .3 Pendekatan Sosiokultural Adalah setiap tindakan dalam menciptakan suatu lingkungan sosial yang memungkinkan pemberian rasa aman dan tenang pada pasien (Depkes RI.

maka untuk mencegah terjadinya lecet. dirubah posisi bila perlu digosok dengan kamper spiritus 4. Melakukan pendekatan psikologik agar dapat dengan mudah pasien dibawa c. sprei. Peralatan lainnya seperlunya saja atau sama sekali tidak ada bila pasien sangat gelisah. Alat seperti tali temali/selimut dan sebagainya harus senantiasa disiapkan di tiap ruangan. Menyiapkan ruang dan alat Petugas dari Unit Rehabilitas. dapat dipakai brandcard tanpa roda atau tanpa brandcard asalkan cara membawa baik dan sopan. 3. Bila perlu pengekangan. Pemberian makan/cairan Pada pasien gaduh gelisah terjadi kelelahan dan kekurangan cairan.2. Bila susah makan dan minum usahakan dengan beberapa cara. bantal. Untuk mempertahankan kondisi tubuhnya. sarung bantal. d. luxatio dan sebagainya pasien harus dibaringkan di atas kasur. perlu cairan. decubitus. Bila tidak ada peralatan yang disebutkan tersebut. bila perlu disuap atau berikan sonde. Bila tangan terikat dan non kooperatif dapat dibawa dengan kursi dorong atau brandcard dengan beberapa petugas dibagian kiri/kanan dan bagian belakang yang mendorong. Siapkan kamarnya dengan tempat tidur lengkap dengan kasur. Petunjuk pengangkutan pasien a. Untuk mempertahankan kondisi tubuhnya. Berikan suntikan sesuai instruksi dokter b. perlu diperhatikan berapa banyak makanan dan minuman yang masuh juga BAB dan BAK-nya. 24 .

Pendidikan .Lama Kerja . pendidikan. pendekatan biologik. Kerangka Konsep 25 . bijaksana dan tegas. pelatihan dan ekonomi mampu mempengaruhi perubahan atas pasien dengan gawatdarurat psikatrik. pendekatan secara biologik ditujukan agar dapat mengguasai penderita dari terapi yang diberikan saat penanganan. 2003) digambarkan kerangka teori sebagai berikut: Karakteristik Perawat . karena kegelisahannya dapat mengganggu jalannya infus. Dalam hal ini karakteristik perawat seperti umur.Ekonomi - Pengetahuan Baik Buruk Gambar 2. nadi.Pekerjaan . Bila pasien gaduh geliah diinfus.3.Berikan pelayanan yang baik. kontrol tensi. respirasi (sesuai perintah dokter) (Depkes RI. 2. lama kerja. jenis kelamin.Umur .Pelatihan . Pengekangan usahakan tidak menahan jalannya infus. dan dengan cara pendekatan sosiokultural.Jenis Kelamin .6 Kerangka Teori Diketahui bahwa hal terpenting dalam penanganan kegawatdaruratan adalah dengan cara melalui. 1997). Pendekatan dengan cara psikologik ditujukan untuk menenangkan pasien melalui sikap serta kata-kata yang diucapkan. pendekatan psikologik. Dari uraian ini dapat digambarkan karakteristik yang berhubungan dengan pengetahuan (Notoatmodjo. harus mendapat perawatan khusus. sedangkan pendekatan dengan cara sosiokultural digunakan untuk menciptakan suasana lingkungan yang bersahabat kepada pasien.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful