1

TITIK-TITIK KISAR DI PERJALANANKU
(Otobiografi Ahmad Syafii Maarif)

I.

BUMI KELAHIRAN, IBU-BAPAK, dan SAUDARASAUDARAKU

A.

Sumpur Kudus, Makkah Darat, dan Perdagangan Aku lahir di bumi Calau, Sumpur Kudus, Sumatera Barat, pada 31 Mei 1935. Sumpur Kudus “Makkah Darat” (Makah Darek dalam Bahasa Minang) adalah bumi bersejarah. “Makkah Darat” adalah ungkapan yang sering diulang-ulang tidak saja oleh kaum elit nagari itu, rakyat jelata pun tak lupa pula menyebutnya. Apakah mereka paham makna yang sebenarnya di belakang ungkapan historis itu, tentu sulit untuk dikatakan. Mungkin sebagian kecil orang tua masih agak mengetahuinya secara remang-remang melalui cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut, tetapi pasti tidak akan bisa menjelaskannya secara utuh dan mendalam. Fakta dan legenda di sini sering telah bercampuraduk. Era orang-orang tua itu dengan kejadian sejarah yang dimaksud telah dibatasi oleh jarak waktu yang jauh. Dengan wafatnya Raja Ibadat di awal abad ke19 Sumpur Kudus telah berhenti jadi pusat perhatian dalam sejarah Minangkabau. Akibatnya sedikit sekali orang Minang modern yang tahu di mana letak Sumpur Kudus itu karena makna historisnya telah tertimbun di bawah debu zaman selama hampir dua abad. Baru

2

setelah sejarah Minangkabau dibuka, nama itu pasti muncul. Apalagi dengan generasiku, jarak itu sudah semakin menjauh saja. Dipisahkan tidak saja oleh lapisan tahun, tetapi juga oleh perkisaran abad. Kalaulah tersedia keterangan tertulis yang memadai, tentu akar sejarahnya tidak sulit untuk ditelusuri. Catatan tertulis yang agak memadai tentang ini tidak mudah didapatkan. Ada semacam kekosongan atau rantai yang terputus antara meninggalnya Raja Adityawarman (1347-1375) dari Pagaruyung dengan proses masuknya Islam menggantikan posisi Hinduisme/Budhisme yang semula tertanam kuat di seluruh Minangkabau, termasuk di kawasan Sumpur Kudus. Adityawarman sendiri beragama Budha Tantrayana. Sekiranya Islam tidak pernah bertapak kuat secara politik dan kultural di kampungku di masa dulu, nama Sumpur Kudus boleh jadi tidak akan pernah muncul dalam peta. Atau di zaman modern, sekiranya P.D.R.I.(Pemerintah Darurat Republik Indonesia) pada 1949 tidak menjadikannya sebagai pusat pemerintahan Indonesia sekitar tiga minggu, siapa yang mau berurusan dengan desa terpencil dan miskin ini. Juga sekiranya P.R.R.I. (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) tidak menjadikan Sumpur Kudus sebagai sebagai salah satu tempat persembunyian di akhir 1950-an atau awal 1960-an, kawasan ini pasti akan jarang disebut. Baru pada permulaan abad ke-21, nagari ini mulai mendapat perhatian dari teman-teman Jakarta, tetapi dari perspektif lain: pembangunan sarana publik yang langsung menyentuh secara kongkret kehidupan rakyat banyak, sebagaimana yang akan dibicarakan lebih jauh. Oleh sebab itu aku berharap agar rakyat Sumpur Kudus

3

setelah diguyuri rahmat dan ni’mat, pandai-pandailah bersyukur, karena pada masa revolusi nagari atau kecamatan ini cukup beruntung. Namanya sempat terbaca di peta politik nasional, sementara puluhan ribu desa lainnya di seluruh nusantara tidak dikenal orang, sekalipun juga punya jasa dalam satu dan lain peristiwa sejarah. Politik Jakarta yang sentralistik telah menyebabkan daerah dianaktirikan selama puluhan tahun dengan segala akibat buruknya bagi perjalanan bangsa ini secara keseluruhan. Menurut rekaman sejarah Indonesia kuno, Adityawarman lahir dan dibesarkan dalam kerajaan Majapahit, punya darah campuran Sumatera-Jawa. Dia datang ke Sumatera tahun 1340-an untuk menguasai kawasan pengekspor emas Dhamasraya di hulu sungai Batanghari yang sejak 1270-an sebagai pembayar upeti kepada kerajaan Hindu-Jawa yang berpusat di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Tetapi beberapa prasasti sejak 1347 menunjukkan bahwa dia telah melepaskan kesetiaannya kepada Majapahit, kemudian dia pindah ke Tanah Datar untuk mendirikan kerajaan independen. Adityawarman memakai gelar Maharajadiraja dan Kanakamedinindra (penguasa bumi yang mengandung emas). Pusat kerajaannya berada di sekitar Bukit Gombak dan Saruaso. Sumpur Kudus sebagai salah satu pusat perdagangan emas adalah bagian dari daerah kekuasaan Adityawarman ini. Sistem kerajaannya tidak saja mengikuti pola Majapahit, unsur Minangkabau sangat dominan. Di bawah kekuasaannya Minangkabau mulai mengembangkan kebudayaan tingginya sendiri, dengan seni, bahasa, dan tulisannya sendiri. Terjadilah di sini perpaduan dan perkawinan antar unsur Melayu dan

4

unsur Jawa. Tetapi setelah raja Minang-Jawa ini wafat, kerajaannya mulai berantakan. Perang saudara pecah, sebab tak seorang pun dari keturunannya yang mampu meneruskan kepemimpinannya.1 Pada abad berapa Sumpur Kudus dan kawasan sekitarnya berubah dari penganut Hinduisme-Budhisme menjadi penganut Islam sehingga dijuluki Makah Darek? Tidak mudah untuk dikatakan. Sejarah Minangkabau secara keseluruhan adalah sejarah yang galau, serba simbolik, tidak berterus terang. Semuanya dibungkus dalam kemasan petatah-petitih, sekalipun punya nilai sastra yang tinggi. Tetapi kematian Adityawarman telah membawa perubahan besar bagi sejarah Minangkabau. Kaum bangsawan yang telah terpecah itu mencari daerah tempat berpijaknya masing-masing. Sebagian menetap di lembah Batang Sinamar, di sekitar Buo, Sumpur Kudus, dan Pagaruyung yang masih terletak di sekitar Kumanis sekarang. Batang Sinamar menjadi sangat vital bagi perjalanan perahu para saudagar emas, lada, dan kopi untuk mengangkut barang dagangannya menuju Inderagiri, kawasan yang sudah dikuasai oleh pedagangpedagang Muslim. Di daerah baru ini, yang terjadi tidak saja interaksi komersial, tetapi juga interaksi relijius. Maka di seputar pertengahan abad ke-16, Sumpur Kudus, Buo, Pagaruyung, dan kawasan sekitarnya mengalami proses Islamisasi secara berangsur tetapi pasti.2 Salah satu akibatnya adalah Hinduisme/Budhisme secara formal semakin menghilang dari peredaran digantikan Islam, sekalipun dalam praktik, unsur-unsur lama itu tetap
Lih. Christine Dobbin, Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy: Central Sumatra, 17841847. London & Malmo: Curzon Press, 1983, hlm. 61-63
1 2

Ibid., halaman 63 - 64

5

bertahan. Bahkan dalam berbagai kebiasaan penduduk, Islam hanyalah sampai di lapisan kulit saja. Praktik Hinduisme-Budhisme dan tradisi lokal masih saja diikuti, seperti yang juga dialami oleh unit-unit peradaban lain di muka bumi. Apa yang disebut sinkretisme juga berlaku di sini. Pada bagian akhir abad ke-16 di seluruh Minangkabau penyebaran Islam tampaknya sudah merata dengan kualitas yang masih sinkretik itu. Sultan Alif rupanya adalah raja Muslim pertama di Minangkabau, sekalipun penduduknya mungkin sudah lebih dulu masuk Islam. Anehnya, kapan Sultan Alif ini lahir dan tahun berapa mulai naik takhta, semuanya serba gelap. Yang banyak disebut adalah tahun wafatnya pada 1580, bahkan ada yang mengatakan tahun 1680, berbeda satu abad bukan?.3 Akibat Sultan Alif tidak punya keturunan langsung, politik jadi kacau, perebutan takhta pun terjadi. Kerajaan terpaksa dikeping menjadi tiga. Inilah yang dikenal kemudian sebagai “Tungku Nan Tigo Sajarangan” atau “Tali Sapilin Tigo”. Maksudnya terdapat tiga raja (rajo) yang sama-sama naik takhta. Ada Yang Dipertuan Raja Alam sebagai koordinator kerajaan di Pagaruyung, ada Raja Ibadat di Sumpur Kudus yang menangani masalah hukum syarak, ada Raja Adat di Buo yang bertanggung jawab dalam soal adat dan lembaga. Ketiga raja inilah yang disebut “Rajo Tiga Selo”, atau lengkapnya “Rajo Nan Tigo Selo”.4 Ungkapan Makah Darek ternyata punya akar sejarah panjang dalam proses pergumulan Islam dengan kultur
3 Lih. Asmaniar Idris, “Kerajaan Pagaruyung” dalam Kamardi Rais Dt. P. Simulie, Khairul jasmi, dan Syofiardi Bachyul Jb. Menelusuri Sejarah Minangkabau. Padang: Yayasan Citra Budaya IndonesiaLKAAM Sumatra Barat, 2002, hlm. 68 4 Ibid., hlm. 68-69

6

Hindu-Budhis di pedalaman Minangkabau. Ia adalah simbol dari pusat gerakan dan kajian Islam yang terletak jauh dari pantai, baik pantai barat mau pun pantai timur di daerah Riau sekarang. Istilah “adat nan menurun, syarak nan mendaki” harus dilihat dari gerak adat dari tempat yang tinggi dari Pariangan Padangpanjang di lereng gunung Merapi. Syarak mendaki dari dataran rendah pantai Timur dan dari Ulakan di pantai barat menuju tempat yang tinggi.5 Gerak turun dan gerak mendaki inilah kemudian membuahkan formula strategis berupa “adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah”, dan “syarak mengata adat memakai” (syarak mangato adaik mamakai, dalam Bahasa Minang), sekalipun masih banyak unsur adat itu yang berlawanan dengan agama. Keengganan Syekh Ahmad Khatib Sulaiman untuk pulang ke Minangkabau dan memilih menetap di Makkah sebagai salah seorang imam besar Masjidil Haram harus dilihat dalam perspektif adat yang dinilai masih bercampur dengan unsur-unsur lokal yang dinilainya tidak Islami ini. Tetapi ide dasarnya adalah bahwa adat tidak boleh berlawanan dengan ajaran Islam. Dari sisi formulasi sudah benar, tetapi dalam implementasi tidak selalu mudah. Lapisan adat kebiasaan yang sudah berusia bilangan abad amat sulit diubah secara total, apalagi jika da’wah kurang menampilkan dimensi-dimensi yang lebih fundamental dari ajaran Islam. Makah Darek dikaitkan dengan Makkah alMukarramah di Arabia ketika Islam mulai menapakkan kakinya di kawasan pedalaman itu. Penamaan Sumpur Kudus sebagai Makah Darek sekaligus menunjukkan
5

Lih. Kamardi Rais Dt. P. Simulie dalam Kamardi Rais Dt. P. Simulie dkk, op.cit., hlm. xvi.

7

keberhasilan Islam secara formal menundukkan hati manusia di kampungku dan sekitarnya. Tentu telah terjadi pergumulan antar Islam dengan Hinduisme/Budhisme plus kepercayaan lokal yang telah berakar terlebih dulu. Catatan di bawah ini menunjukkan bahwa istana raja Pagaruyung punya pengawal dengan jumlah yang fantastik. Itu artinya keadaan belum sepenuhnya aman karena masih memerlukan pengawalan ketat dengan jumlah personil yang besar. Biasa, sebuah masa peralihan ditandai oleh ketegangan, jika bukan bentrokan. Tetapi berapa lama proses ini berlangsung, perlu kajian lebih lanjut. Berapa jumlah penduduk ketika itu, susah juga untuk dikatakan. Tetapi Dobbin mencatat bahwa Thomas Diaz, seorang Portugis yang menjadi utusan Belanda pada 1684 telah berkunjung ke Pagaruyung yang ketika itu masih berpusat di sekitar Kumanis. Menurut Diaz, penduduk Pagaruyung pada waktu itu sekitar 8000, tidak termasuk kawasan pinggiran. Sumpur Kudus sendiri juga punya penduduk sejumlah itu. Menariknya adalah Diaz dalam sebuah kunjungannya ke suatu tempat diiringi oleh 4000 pengawal istana. Bahkan ketika utusan Belanda ini bergerak meninggalkan Pagaruyung menuju Siluka, tidak kurang dari 3000 perajurit bersenjata yang mengawalnya. Para prajurit ini terus saja menembakkan bedilnya ke udara.6 Kita bisa membayangkan bagaimana ngeri atau gelinya rakyat menyaksikan prajurit raja yang ugal-ugalan itu, main tembak segala, sebuah kebiasaan primitif yang belum sepenuhnya hapus di era modern. Aku tidak tahu bagaimana perasaan si Portugis ini diperlakukan seperti
6

Dobbin, op.cit., hlm. 68.

Tetapi juga dapat ditafsirkan bahwa petinggi Pagaruyung begitu bangganya dengan kedatangan si bule ini.000 jiwa. 82 tahun sebelum Diaz mengunjungi pusat kerajaan Pagaruyung di tepi Batang Sinamar itu. Mungkin dia senang karena merasa begitu dimuliakan oleh seorang raja beragama Islam.8 itu. orang lalu berpindah ke kawasan lain. Secara kultural. sekalipun petingginya beragama Hindu atau Budha. Tetapi bahwa korban pasti ada. atau bahkan di . ia melambangkan sebuah gerak perlawanan terhadap apa yang bernama kultur hitam jahiliyah yang dikuasai preman sangar di daerah pedalaman.C. masih galau bagiku. Atau lebih banyak korban karena alasan ekonomi yang tidak bisa lagi memberi kehidupan layak. sebab di Ranah Minang sebelum datangnya Islam juga dikenal banyak parewa (preman) dengan segala perbuatannya yang buruk dan merusak masyarakat. Sebab sekarang saja (2006) jumlah penduduk untuk seluruh kecamatan Sumpur Kudus hanyalah sekitar 20. kita tidak tahu. Apakah dalam pergumulan Islam dengan kepercayaan sebelumnya harus minta korban. Yang aku heran adalah kemana penduduk dan prajurit dalam jumlah besar itu menghilang dalam perjalanan waktu kemudian. Jadi Makah Darek bukan suatu ungkapan sederhana biasa yang hanya bisa dibaca sambil lalu. sebagaimana yang akan disoroti lebih lanjut. (Kompeni India Timur) sudah mulai beroperasi di daerah-daerah tertentu di nusantara sejak 1602. Sebuah suasana inferiority complex (rasa rendah diri) boleh jadi berlaku di sini. Apalagi V. Apakah dalam proses Islamisasi di kawasan ini tidak berlaku teori penetration pacifique (masuk atau menembus secara damai).O.

seperti Muhammadiyah menjadi sangat penting dan strategis. sebagaimana yang masih saja kita jumpai di zaman modern. peran organisasi kemasyarakatan. suatu on-going process. baik terhadap sesama mau pun terhadap Tuhan. Akhirnya Islam mencatat kemenangan abadi. Maka jika aku bangga dengan kemenangan Islam dalam pertarungan kultur itu. Ia bergerak terus secara dinamis dan kreatif untuk mencari pendukung baru. setidak-tidaknya secara statistik. parewa ini belum hilang. santun. maha Pencipta.9 masa Islam sampai hari ini. sekalipun mencari kader yang handal dalam jumlah yang memadai ternyata . bukan kultur otak. rasanya cukup punya alasan. Aku sendiri di hari tua ini juga terlibat secara tidak langsung dalam proses memajukan kegiatan Muhammadiyah di kampung sendiri. sekalipun proses Islamisasi tidak pernah mengenal batas akhir. di sisi meningkatkan kualitas dirinya. Islam datang untuk melunakkan hati manusia dan melepaskannya dari pasungan yang mencekam fisik dan jiwanya. Gerak Islam ini bertujuan untuk mencerahkan hati dan mencerdaskan otak manusia agar terbebas dari segala macam kelakuan buruk dan jahat yang merusak dan mengancam masyarakat yang tak berdaya. Kultur preman adalah kultur hukum rimba yang mengutamakan otot. Untuk mempercepat proses Islamisasi kualitatif ini. kata teori antropologi. Kesulitan yang dihadapi Muhammadiyah di berbagai daerah adalah salah satu fakta kurangnya pemimpin yang mengerti agama dan rela berkorban dalam makna yang luas. Kampungku termasuk salah satu pusat penting dalam gerakan perlawanan kultural itu. Agama wahyu terakhir ini ingin membentuk manusia merdeka. dan bertanggungjawab.

H. Aku tidak tahu di mana lokasi tambang emas itu dahulunya. Gerakan Muhammadiyah sudah memasuki kampungku setahun menjelang meledaknya P. dia sendiri tidak pernah secara resmi menjadi anggota persyarikatan ini. sebab bekasnya tidak ditemukan lagi. Ada memang nama kampung Tombang (Tambang?) dalam kenagarian Sumpur Kudus. Maninjau. Tokoh-tokoh yang berkepribadian kokoh inilah yang menanamkan urat tunggang Muhammadiyah di Ranah Minang. Dr. Sutan Mansur. tetapi dahulunya juga sebagai kawasan perdagangan emas dan kopi. jika ranah ini tidak mau terus hanyut dalam gelombang tarekat dengan berbagai aliran yang “memperbudak” jiwa manusia di samping punya tujuantujuan ekonomi. Mereka akan kehilangan pedoman dan acuan dalam bermuhammadiyah. Yang pokok bagi sahabat Dahlan ini adalah agar Muhammadiyah harus menjadi masa depan Minangkabau. Abdulkarim Amrullah. Sumpur Kudus tidak saja dikenal karena Rajo Ibadatnya sebagai petinggi agama. A. Apakah di sekitar tempat ini dahulu . Jusuf Amrullah.R. Mungkin saja terletak di nagari lain di sekitar Sumpur Kudus. Karim Amrullah sekalipun menjadi penggerak awal Muhammadiyah.D. dan diikuti oleh generasi sesudahnya. Pelopor utamanya adalah Dr. Hamka. Itu hanyalah urusan administrasi. Mungkin punya kartu anggota itu tidak penting baginya. pada tahun 1925.10 sulit sekali. Oleh sebab itu siapa pun yang mengaku menjadi pemimpin Muhammadiyah di Ranah Minang tetapi tidak kenal dengan pribadi-pribadi besar tersebut adalah sebuah malapetaka sejarah. atau 13 tahun setelah gerakan Islam modern ini menancapkan kukunya di Sungaibatang Tanjungsani. (Perang Dunia) II (1939-1945).

sedangkan emas jika sudah habis.l. Dari kawasan inilah a. kemudian ke Eropa. Aku hanya terkaget-kaget membaca catatan sejarah masa lampau ini tentang kampungku.R. Semuanya kini telah berubah sejalan dengan bergulirnya waktu dalam rentangan yang panjang. tidak dapat diperbarui lagi. sekalipun semuanya itu kini tinggal kenangan belaka. Siapa nama-nama saudagar kampungku ketika itu.11 terdapat tambang emas. Kalau kopi tentu tidak sulit ditelusuri. itu berdasarkan alasan yang sederhana saja. karena sekolah di kampungku adalah salah satu gejala abad ke-20. semuanya gelap bagiku. Tanaman kopi dan lada adalah komoditas yang dapat diperbarui terus menerus. ya habis. atau mungkin mereka hanya pekerja tambang dan petani kopi melulu. Ini hanya sekadar perkiraanku belaka. tetapi itulah tugas sejarawan yang cukup menantang. Aku menyelesaikan . amat sulit untuk disimpulkan. tetapi sekaligus tentu memuat kebanggaan khusus. Sebuah kelampauan yang indah telah berlalu digilas perputaran roda zaman. berupa sebuah S. Inilah sekolah dasarku dan sekolah dasar generasi jauh sebelumku. Mengapa kukatakan mereka buta huruf. dahulu barang dagangan itu diangkut ke Singapura via Riau sekarang. Membongkar masa lampau kemudian membangunnya kembali adalah pekerjaan sulit dan melelahkan. Bagaimana kenyataan yang sebenarnya. karena sampai hari ini masih ada saja warga masyarakat yang menanamnya. Tentu mereka semua buta huruf Latin. (Sekolah Rakyat) di pusat “kota” Sumpur Kudus. perlu dikaji lebih jauh oleh orang lain yang berminat dan punya waktu. tetapi sudah mengerti bahwa emas dan kopi adalah komoditas komersial yang memberi kemakmuran kepada penduduk.

Satu nagari saja bisa punya lima S. antar anak Sumpur dan anak Calau. termasuk aku.). Sumpur Kudus ini. Pernah juga terjadi sekali-kali perkelahian sesama pelajar. Aku masih ingat betul pernah bacakak (berkelahi) dengan Amirusjid (alm. Sejalan dengan pertambahan penduduk. sekalipun karena alasan ekonomi mereka belajar di SD tidak sampai tamat. Umumnya dengan kaki telanjang. Mungkin karena mereka merasa sebagai orang “kota” yang memandang enteng anak kampung. Mungkin akan lebih baik kalau yang diadu itu kemampuan otak. Sebenarnya fisikku tidaklah terlalu kuat untuk adu otot. Rasanya tidak ada yang kalah. Dalam soal pendidikan dasar ini. Mungkin pada dasa warsa pertama awal abad ke-20. sekolah ini sudah muncul. Aku tidak tahu tahun berapa persisnya sekolah ini didirikan oleh pemerintah kolonial. Inilah satu-satunya sekolah dulu untuk “mencerdaskan” nagari-nagari Unggan. Sekarang keadaannya sudah jauh berubah. tidak dia dan tidak aku. dan Mangganti.R.D. Aku sendiri yang tinggal di Calau hanya berjalan kaki sepanjang 2 km. Ke pusat “kota” inilah para pelajar berdatangan dengan berjalan kaki yang berjarak antara 2-7 km. terjadi pulalah pemekaran pusat-pusat pendidikan dasar. Sumpur Kudus.12 sekolah di sini pada tahun 1947. sewaktu aku masih kecil. Ayahku kelahiran 1900 adalah alumnus sekolah itu juga. Silantai. Aku sudah lupa siapa yang menghasung kami sampai bacakak itu. tentu sudah sulit mencari anak-anak usia sekolah yang masih buta huruf. kemerdekaan bangsa bagi kampungku punya . antar anak Sumpur dan anak Silantai. (Sekolah Dasar) sudah bertebaran di mana-mana.D. teman sekelas di S. S. Anak Sumpur banyak yang sombong. Dengan perubahan positif ini.

Tetapi jangan ditanya tentang sarana-sarana publik lain yang baru pada tahuntahun belakangan ini saja diperhatikan. kecamatan. Maka jumlah nagari dalam kecamatan Sumpur Kudus setelah pemekaran menjadi sembilan. kota. propinsi. Secara berangsur sesudah itu berdirilah kampung atau nagari baru. Dan juga tidak tertutup kemungkinan kecamatan ini akan dipecah pula pada waktunya. Nama Sumpur Kudus sendiri disebut dalam 11 halaman8. Mangganti. Unggan. Ibid. asal masih dalam koridor sebuah bangsa yang utuh. nagari-nagari seperti Sumpur Kudus. aku hampir tidak pernah lupa menekankan perlunya keutuhan bangsa ini dijaga dan dipertahanlan. Biasanya jika ada pembukaan sebuah kampung baru. memang merupakan pusat-pusat perdagangan yang terkenal. . mungkin keduanya adalah nagari baru yang menyusul kemudian. Pada berbagai forum dan kesempatan. Belakangan Sisawah telah mekar pula menjadi dua nagari: Sisawah dan Kabun. dan lainlain. 298. Karena 7 8 Lih. memisah dengan induknya. Nama Silantai dan Sisawah tidak muncul dalam buku itu. Dengan bertambahnya jumlah penduduk.13 makna yang sangat berarti. Kumanis. dalam Bahasa Jawa) lebih dulu. aku pun tidak bisa menjelaskan7. mekar pulalah nagari. rakyat meneroka (babat alas. indeks buku Dobbin hlm. kabupaten. Siluka. dengan Kabun sebagai nagari termuda. Sumpur Kudus sudah agak lama “merdeka”. Dari sisi ini. Bagiku masalah keutuhan bangsa menjadi sesuatu yang sangat mutlak. Sarjana Skandinavia Christine Dobbin dalam karyanya di atas dengan cukup menarik menggambarkan betapa pada abad-abad permulaan era penjajahan Belanda. Durian Gadang.

2005. sekalipun pasti akan menimbulkan banyak gesekan dan persoalan. untuk tujuan baik atau karena ingin memunculkan raja-raja lokal.14 sikapku inilah barangkali Bung Taufik Kiemas (suami Presiden Megawati. Cermin Untuk Semua: Refleksi 70 Tahun Ahmad Syafii Maarif. Jika perpecahan ini yang berlaku. Tetapi tanpa gesekan bukanlah politik namanya. Perkembangan politik di Indonesia pada tingkat akar rumput di awal abad ke-21 dengan berlakunya UU Otonomi Daerah tampaknya sedang bergerak dan berubah secara dinamis.9 Jakarta: Maarif Institute. Latar belakang Minang dan keislamanku turut menjadi faktor penting mengapa aku menyayangi Indonesia. atau propinsi. jadi gerundang (anak katak) di kubangan pun jadi. Abd Rohim Ghazali dan Saleh Partaonan Daulay (ed. Asal saja gesekan itu tidak membawa bencana perpecahan. 2000-2004) menilaiku sebagai seorang yang “memiliki komitmen kebangsaan yang tinggi”. kecamatan dan desa pun berlomba untuk memekarkan diri. 369). hlm. Jakarta: Maarif Institute. Lih. Rasanya penilaian semacam itu tidaklah keliru karena cintaku kepada bangsa ini adalah sebuah cinta yang tulus dan autentik. 369 9 . hlm. kabupaten. Tidak dibuat-buat. tidak pula untuk mencari posisi duniawi.” Tetapi marilah kita berbaik sangka bahwa semua proses ini memang merupakan tuntutan alamiah dengan bertambahnya jumlah penduduk dan pertimbangan masalah jarak dengan ibu kota kecamatan.). Bukan saja propinsi dan kabupaten yang dimekarkan. 2005. Ada peribahasa: “Jika tak jadi buaya di lautan. sudah pasti akan menelan biaya tinggi dan menguras energi. Tentu pada saatnya kelak akan tercapai keseimbangan dalam sebuah tatanan Indonesia baru.

Tetapi dia adalah tukang jagal bagian tubuh anak lelaki yang ditakuti. pakaiannya putih necis. Bahkan aku disunat (dikhitan) juga di sebuah tepian mandi di Calau. (Tanomeh= sutan emas). Sungainya pun bernama Batang Sumpur tanpa dilengkapi dengan Kudus. berdenyut sampai ke otak. Orangnya berkumis. ketika upacara khitan itu berlangsung. agak langsing. Bibirku sampai berubah warna karena kedinginan. Sekalipun badanku sudah gemetar keras karena kedinginan yang sangat menusuk. persis seperti anak-anak kampung yang lain. Pertemuan Batang Sumpur dengan Batang Sinamar disebut juga Muara Sumpur (dalam Bahasa Minang: Muaro Sumpu). Di kala kecil. Bagindo Tanomeh. Aku tentu berterima kasih kepadanya yang telah “mengislamkanku” melalui cara yang dramatis itu. Kata orang kampungku. Oleh sebab itu bersunat=menjadi orang Islam. juga nama kecamatan di era modern.15 Sumpur Kudus itu sendiri di samping nama nagari. Jangan main-main dengannya. Banyak sekali teman sambil bersoraksorai mengguyur sekujur tubuhku yang ditutupi dedaunan. rasanya masih perih sekali. Tranportasi perahu sangat menyenangkan. Tepian tempat mandiku di kala kecil ya di sungai ini. hanya orang kafir yang tidak bersunat. Maklumlah bius ala kampung yang dikomandani oleh seorang dukun bernama Dt. Batang Sumpur mengalir dari utara ke selatan menuju Sisawah dan Padang Lawas. Sebelum disunat aku dilomeh (diguyur) dengan air Batang Sumpur sampai menggigil untuk menghilangkan rasa sakit ketika disunat. Di sini aku harus berterus terang bahwa pada saat naik . sebab kita dapat bersahabat dengan air sebagai sumber kehidupan. tinggi sedang. aku pun pernah naik perahu dari Sisawah ke muara itu.

karena memang apa yang dikenal belakangan dengan teori eko-sistem sangat asing bagi penalaranku pada saat naik perahu itu. belum menggeliat. Perasaan itu tumbuh dan berkembang kemudian secara alamiah dengan merangkaknya usia dan bertambahnya bacaan serta pengalaman. Bersamaan dengan melajunya perahu yang dikayuh juru mudi. tak seorang pun yang mampu mengelak . paling-paling buku pelajaran membaca tingkat S. Prosesnya berjalan lamban sekali.16 perahu itu apresiasiku terhadap lingkungan alam terasa dingin-dingin saja. samasekali tidak takut kalau-kalau perahunya karam. Yang ada ketika itu adalah perasaan lepas. Bacaan lain sangat langka. Apa yang mau direnungkan. Ada juga bacaan Arab-Melayu. Gembira ya gembira duduk santai di atas perahu sambil mengulurkan tangan ke air. wawasanku hanyalah sebatas Batang Sumpur dan Bukit Bakul. Bacaanku nol. sebuah bukit yang membatasi kampungku dengan wilayah Riau. Dan akan menjadi hal yang luar biasa jika teori serba canggih itu diketahui bocah ingusan seperti aku. tetapi aku sudah lupa judulnya. sebagian telah menguning ditelan usia untuk kemudian berguguran menyatu dengan bumi. dan itu pun tidak ada yang mendorong rasa ingin tahu lebih jauh.R. Bagaimana mau menggeliat. dan tidak ada orang yang mengusik batinku untuk mencintai alam. Pulang ke asalnya. persis seperti manusia. Maklumlah masih dalam usia S. karena aku tokh bisa berenang. berjudul Cahaya. jika bukan tumpul sama sekali.R. Sebagian daunnya ada menjulai menyentuh air. tetapi jauh dari suasana renungan. siapa pun dia. melaju pulalah tatapan mataku menumbuk berbagai jenis pepohonan yang tumbuh dengan subur di kiri kanan Batang Sumpur.

17 dari ketentuan Langit ini. Batang Sumpur hampir tidak ada yang lengang dari pepohonan. Air Batang Sumpur sekarang telah menyatu dengan air yang berasal dari sungai-sungai lain. dan bermacam jenis makhluk bermain. kera. bersenda gurau. Kemudian di Muaro Sijunjung. sebelum . Sejak dari hulu jauh di utara nagari Unggan sampai ke Muaro Sumpu. saling mendukung. tupai. Cara kasar inilah yang telah merusak Indonesia sampai batas-batas yang sangat jauh. tetapi sering mendapat perlindungan dari aparat. Sebuah eko-sistem yang harmonis sekali. Demikianlah Batang Sumpur akhirnya merelakan dirinya untuk lebur ke dalam Batang Sinamar yang perkasa. dan mencari makan. padahal jenis ini tidak dapat dibudidayakan karena pertumbuhan batangnya teramat lambat. demi upeti. apalagi hutan lindung adalah manusia yang tidak beradab. Masing-masing saling memerlukan. ke tanah kita pasti akan kembali. Oleh sebab itu para perusak hutan. Dari tanah kita berasal. Dan memang tidak perlu mengelak. maka itu adalah akibat dari dosa dan dusta kolektif mereka yang main dalam proses penggundulan hutan itu. Hutan di Indonesia sekarang sudah berada dalam tahap rentan dan berbahaya. sementara kotorannya yang jatuh ke tanah memberi kesuburan kepada pepohonan. Pohon memberi kehidupan kepada makhluk di atas. tempat burung. kabarnya sudah hampir punah. Kayu ulin (kayu besi) misalnya yang tumbuh di Kalimantan dan Sumatera. hanya cara dan prosesnya yang mungkin berbeda. Jika pada satu saat ada pulau di nusantara berubah menjadi padang pasir yang tandus. Batang Sinamar menyatu dengan Batang Kuantan yang jauh lebih perkasa.

Bencana ini dapat terjadi pada semua unit peradaban. Apalah daya air Batang Sumpur yang lemah berhadapan dengan lingkungan raksasa lain yang serba asin. Air Batang Sumpur diangkut ke laut oleh Batang Kuantan yang merupakan gabungan dari banyak sekali sungai sejak dari hulu sampai ke muara. Tinggallah kesigapan dan kemampuan . Hujan membasahi dan menyuburkan bumi untuk kepentingan makhluk hidup. Alangkah teratur dan dahsyatnya perputaran ini. air hujan akan mendatangkan banjir yang dapat meluluhlantakkan kampung dan kota. Batang Ombilin yang berasal dari danau Singkarak itu sebelumnya telah ditelan oleh Batang Sinamar untuk menyatukan diri ke dalam Batang Kuantan. Tidak hanya berhenti di situ. Jangan main-main dengan air. sawah dan ladang.18 semuanya itu menyatukan diri dengan laut lepas yang telah berubah rasa. bahkan peradaban. sebab pilihan untuk tetap tawar tidak ada lagi. Manusia dapat kehilangan segala-galanya. termasuk jiwanya sendiri diamuk banjir. Ia senantiasa bergerak dari tempat yang lebih tinggi menuju tempat yang rendah. Itulah undang-undang alam yang serba keras dan pasti untuk dipatuhi oleh apa pun. Dari lautan maha luas itu air dengan sistemnya sendiri menguap ke angkasa lepas untuk kemudian turun lagi menjadi hujan. sementara rasa asinnya tidak dibawa terbang. Sungai mana pula di muka bumi ini yang kuasa melawan dan menundukkan laut? Semua sungai pasti mengarah dan bermuara ke laut. lalu lingkungan dirusak semau gue tanpa memperhatikan dampaknya bagi kehidupan berjenis makhluk. Prilakunya mesti dipelajari. Air sungai ini pun larut menjadi asin. Tetapi jika manusia tidak cukup cerdas membaca perkisaran ini. oleh siapa pun.

Indonesia makin lama makin tak berdaya menghadapi bahaya banjir dan tanah longsor yang telah membunuh banyak manusia. Bahkan sudah . sewaktu masih di S. bersamaan dengan bergantinya musim. puitis sekali. Sekarang semua kenangan ini masih terekam dalam memoriku dengan bayangan yang tidak terlalu jelas. Tidak ada juga kegelisahan yang terbersik untuk menghadapi masa depan. Tidak urut. bertukarnya tahun. tidak teratur. Teknologi menjinakkan air sangat diperlukan untuk menghadapi bahaya banjir yang dapat marah sewaktu-waktu. Semuanya mengalir begitu saja. ke rumah adik-adik seayahku. sampai tahun 1947 plus masa menganggur selama tiga tahun kemudian. Tetapi jelas sebelum aku belajar ke Lintau tahun 1950. Kerakusanlah yang menjadi sebab utama kerusakan lingkungan ini.R. garagara orang menzalimi hutan dan lingkungan. Semakin lama orang berpisah dengannya. semakin mengecil dan menciut pula gambaran yang tersisa.19 manusia untuk menanggulanginya. khususnya pada musim hujan. Selama menganggur. Alangkah gembiranya berakit bersama ayah. tidak ada kesan yang mendalam. Dari kejauhan semua kenangan masa silam itu tampak serba indah dan elok. Semuanya berlalu begitu saja. Akibatnya yang fatal adalah bahwa tanah kehilangan kekuatan penyanggahnya. Tahun-tahun yang persis tidak bisa lagi ditentukan. tidak ada rasanya sesuatu yang besar yang melintas dalam otak dan angananganku. Rasanya aku pernah juga naik perahu bersama ayahku dari Sisawah ke Muaro Sumpu ini. sedangkan ketika dijalani tidak ada sesuatu yang istimewa yang dirasakan. Seterusnya kami melintasi Batang Sinamar untuk naik ke Padang Lawas menuju Tanjung Ampalu.

Sisa dari kebiasaan buruk masa lampau ini. Tabiat buruk ini tentu tak perlu kusesali. penyebar Islam di kampungku. Sebelumnya mungkin merupakan tempat yang dikuasai preman dengan judi. sampai saat menulis bagian ini. karena itu merupakan bagian dari sport masa anak-anak. mengatakan bahwa nama itu berarti sampurna suci yang diberikan oleh Syekh Ibrahim. Sekiranya pakai taruhan. B. Kebiasaan berjudi di kampungku kadang-kadang masih juga kambuh sampai sekarang.20 berjalan puluhan tahun ketika gigi-gigiku mulai berguguran. aku pun tidak tahu. di mana pula aku dapat uang? . Syekh inilah tampaknya yang mengubah Sumpur Kudus dari kawasan hitam menjadi hunian putih. Ke mana-mana seekor ayam jantan aku kundang (bawa) mencari lawannya. Syekh Ibrahim dan Dinamika Sejarah Dengan menerima Islam Sumpur Kudus menjadi beradab. Dari mana asal-usul nama Sumpur Kudus ini. Sebelumnya bernama Koto Ijau (Koto Hijau) yang lokasinya di Koto Tuo. sekalipun rasa ingin tahu tidak pernah menyusut. belum terlalu lama hilangnya. Ada kemungkinan syekh ini berasal dari Aceh sekitar abad ke-16. pertanda usia sudah semakin mendekati hari-hari terakhir. rampok. Fisik pun sudah mulai renta. seakan-akan segalanya tidak sedang bergerak menuju tempat perhentian terakhir. yaitu menyabung ayam dengan bertaruh. Tetapi sport adu ayam tanpa taruhan adalah juga bagian dari hidup masa kecilku. dan sabung ayam sebagai profesinya. Zulfahmi (Emi). Tidak jarang kepala ayam itu berdarah-darah setelah bertempur mati-matian. asalkan tidak pakai taruhan. adik iparku yang sedikit tahu tentang sejarah Sumpur Kudus.

Tetapi setelah aku sedikit kenal Muhammadiyah yang melarang orang makan di tempat- . Kita kembali ke Tanah Bato. tidak peduli darah apa pun. Aku kenal sekali dengan binatang ini. Mereka ke sana untuk berkaul (Bahasa Jawa: khol). Akibatnya tidak jarang tungau (kutu kecil berwarna merah yang bersembunyi di balik bulu ayam atau burung) sering menyerang bagian-bagian badanku untuk menghisap darah sebagai bukti bahwa ayam adalah sahabat aduanku. dan tentu nasi sebagai menu pokoknya tidak boleh ketinggalan. Di saat kecilku. Wakil-wakil dari berbagai suku dengan perasaan bahagia berbondong membawa jamba (makanan lengkap di atas piring besar atau talam) ke sana. lalu kondisinya seperti tak bertenaga lagi. tempat berkuburnya Syekh Ibrahim yang terletak di seberang Batang Sumpur. sekalipun perut misalnya sudah diisi penuh dengan makanan lain. Gigitan makhluk kecil ini menimbulkan rasa gatal yang luar biasa. si warna merah penghisap darah. sebagaimana pernah memarahi abangku yang suka berjudi. darah siapa pun. karena di masa kecilku sering berurusan dengan ayam jantan untuk diadu. aku pun tak ketinggalan meramaikan tempat itu. Ia menggigit dan terus menggigit.21 Ayahku pasti akan marah. Sepengetahuanku tak ada seekor ayam pun yang bebas dari serangan tungau. Sampai hari ini orang kampungku pasca panen padi masih mendatangi Tanah Bato. dan baru berhenti setelah tubuhnya menggelembung penuh darah. Bukankah makan bersama anakanak lain merupakan sebuah kegembiraan tersendiri yang serba mengasyikkan? Semuanya berbahagia menghadapi jamba yang sarat dengan aneka sambal khas kampungku. Tidaklah bernama makan tanpa nasi.

untuk tujuan baik tentunya. Karena dia memasuki kawasan hitam. Dalam kasus semacam ini. sekalipun kadang-kadang merugikan dari sisi sejarah. mana pula yang berbau syirik. Bahkan lebih dari itu. Muhammadiyah memang sangat ketat menjaga masyarakat agar tidak tercebur ke dalam perbuatan syirik. Menurut cerita Zulfahmi lagi. Ini adalah sikapku yang kurang dewasa. serba puritan. Tanah Bato yang bernilai historis menjadi luput dari perhatianku. Pertanyaannya adalah apakah makan-makan di Tanah Bato ini syirik atau lebih bercorak budaya.22 tempat yang dianggap keramat. sebuah sebutan yang diturunkan dari generasi ke generasi yang datang silih berganti. Minatku untuk mengenal siapa Syeh Ibarahim menjadi hilang. Sumpur Kudus jelas sangat berutang budi kepada Syekh Ibrahim melalui jasa da’wahnya itu. Tetapi ada segi buruknya. tidak bisa memisahkan mana yang sejarah. Aku sendiri memang tidak pernah lagi ke sana untuk berkaul itu. pengaruh wahabi memang dirasakan di lingkungan Muhammadiyah. aku tidak lagi ke sana. tergantung dari sisi mana orang melihatnya. . seperti kuburan. syekh ini juga mengerti ilmu irigasi dan pertanian yang kemudian mengajarkannya kepada penduduk. besar kemungkinan syekh ini juga ahli silat kenamaan yang dapat menundukkan preman yang sok jagoan. Syekh Ibrahim adalah tokoh sejarah penyampai Islam di Sumpur Kudus yang layak dikenal lebih jauh. Si alim inilah yang menerangi batin orang kampungku dan sekitarnya dengan cahaya Islam. Aku kemudian menganggap tempat itu sebagai pusat syirik belaka. Orang kampungku dengan rasa hormat memanggil syekh ini dengan sebutan Iniak Tanahbato (Nenek Tanahbato).

Tanah Bato jelas punya nilai sejarah yang sangat penting bagi penyebaran Islam. tetapi belakangan kabarnya telah banyak dirusak oleh tangan-tangan jahil. taratak Talao di Calau. Kota Sawahlunto. Ada informasi bahwa Syekh Ibrahim bekerja sama dengan Rajo Ibadat. Wilayah yang menjadi obyek da’wahnya kira-kira meliputi kecamatan Sumpur Kudus sekarang ditambah kawasan-kawasan lain yang bisa dijangkaunya. Tentu dengan berjalan kaki atau paling-paling dengan menggunakan kuda tunggangan. Sejarah sebenarnya juga bertugas meneliti itu.J. Tetapi sejarah hanya tertarik kepada sesuatu yang benar dan bermakna. Ini menurut Azwir Ma’ruf yang pernah meneliti tempat itu bersama Dr. Kota Klaten. Kota Semarang. dalam mengembangkan Islam. Jika arti Sumpur Kudus memang adalah “sempurna suci”. Ini pun sebenarnya tidak aneh. Bandaro Lubuk Sati.Toynbee pernah berteori dalam karyanya A Study of . Tampaknya syekh ini dan pembantunya memang berkubur di Tanah Bato.23 Tempat ini dulunya dilingkari pohon-pohon tinggi yang rindang. sekalipun masih perlu diteliti lebih lanjut tentang kebenarannya. Sjamsu Anwar. yang lain mungkin makam pembantunya. Masih terdapat dua kuburan panjang di situ: satu makam syekh. jika dibandingkan dengan keadaan kita di zaman modern. Kota Banjarmasin. nagari Unggan. M. entah yang ke berapa. desa. Dapat dibayangkan betapa sukarnya medan yang harus dilalui dan betapa pula tabah dan sabarnya para pekerja da’wah ini. sebagaimana A. nagari. karena ada sejumlah ribuan nama kota. Sanusi Latief. dan lain-lain yang kita tidak tahu makna dan asal-usulnya. jorong. seperti sejarah Kota Solok. alangkah bagus dan elok nama itu. sejarah nagari Tamparungo. dan Jafri Dt. dan 1001 yang lain yang sulit diketahui sejarah awalnya.

kemampuan juga terbatas. Tetapi setidak-tidaknya para sejarawan telah berupaya menghadirkan masa lampau itu. yang terus berlanjut dari satu generasi ke generasi yang lain tanpa henti. Yang dikumpulkan adalah fragmen-fragmen yang berserakan. Jika kehendak hati diperturutkan. 12 jilid. betapa pun masih banyak lobang yang harus ditutupi oleh mereka yang datang kemudian. Bagaimana menentukan yang benar dan bermakna itu? Menentukan yang bermakna itu pun dalam sejarah bersifat relatif di kalangan sejarawan. Mereka terikat dengan “hukum” relativisme manusia. selama itu pulalah roda kehidupan bergerak tanpa henti.24 History. Berlakulah di sini sebuah ketegangan kreatif antara keingintahuan dan keterbatasan. rasanya pikiran dan kemauan ingin “berdansa” terus menerus tanpa henti. sementara rasa keingintahuannya adalah tanpa batas. Umur manusia terbatas. tetapi ada ringkasannya dalam satu jilid dengan judul yang sama. Selama matahari masih bersifat dermawan memberikan cahayanya. Itulah sejarah yang kita sebut sebagai sebuah gambaran masa lampau yang sebenarnya. sampai pada suatu ketika saraf-saraf otak yang jumlahnya milyaran itu kehabisan daya dan tenaga untuk kemudian menyerah. sejarah terbatas. Bila sudah sampai di titik ini dian kehidupan itu akan padam secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan lebih dulu. Di antara sejarawan sendiri belum tentu sama dalam melihat masa silam itu. Sekali . Ujung dan perhentian terakhirnya itulah yang bernama maut. Orang tak mungkin mengetahui masa lampau secara utuh. kemudian disusun dalam sebuah bangunan yang kelihatan utuh dengan alur logika yang cermat di belakangnya.

dan pada perkisaran angin. maka padam pulalah lampu kehidupan untuk seluruh makhluk. setelah itu menghilang tanpa bekas. al-Jatsiyah: 5 Makna ayat al-Qur’an s. yang menghidupkan bumi setelah mati. ketegangan itu tidak begitu dirasakan. setelah itu berlalu tanpa ada sesuatu yang bermakna yang dapat dikenang orang. Mereka singgah ke dunia hanyalah untuk beranak pinak. sementara sikap mereka menghadapi serba ketertinggalan sangat beragam. Sesungguhnya pada yang demikian itu merupakan ayat-ayat bagi kaum yang berpikir. 10 11 Makna ayat al-Qur’an s. “Dan pada pergantian malam dan siang dan pada apa yang diturunkan Allah dari langit berupa rezki. Saraf otaknya terlalu dimanjakan. Belum ada bahasa yang sama dalam upaya mencari jalan ke luar dari kondisi ketertinggalan ini.”11 Tetapi mengapa kemudian umat Islam berhenti berpikir selama ratusan tahun? Tidak ada lagi karya besar yang dapat disumbangkan untuk kepentingan kemanusiaan.25 cahaya itu padam. bahkan saling berlawanan. al-Jatsiyah : 13 . parah sekali. tanpa pilih kasih.”10 Al-Qur’an sangat simpati kepada manusia yang mau berpikir. Ayat 13 dalam surat yang sama mengatakan yang artinya: “Dan [Allah] telah menundukkan bagimu apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi seluruhnya yang berasal dariNya. Ada pun bagi manusia yang malas berpikir. Inilah sebuah keteledoran sejarah yang terlalu parah. Apa yang disebut kemajuan sebenarnya adalah hasil dan buah dari ketegangan itu. padahal risalah Islam itu dialamatkan untuk kebahagiaan alam semesta. merupakan ayat-ayat bagi kaum yang menggunakan akalnya. Semuanya dibiarkan berlalu begitu saja.

Hanya parameter yang dipakainya bersifat parokial. Alangkah sukarnya membangun kembali peradaban Islam itu. Terlalu bertimbun masalah dan sasaran penelitian yang tidak mungkin diselesaikan oleh manusia seumur hidupnya. Serba keterbatasan ini adalah bagian dari hakekat manusia yang nisbi. dia tidak akan pernah berada pada posisi maha kuasa atau maha tahu. Keadaan semacam ini jelas merisaukan mereka yang berpikir. sekiranya mereka punya minat. Betapa pun hebatnya daya nalar manusia. subjektif. Atribut serba maha ini bukan milik manusia. dari suasana batin umat Islam sendiri yang jauh dari cahaya pencerahan. Allah maha tahu segala-galanya. sedangkan kemampuan ilmu manusia teramat sedikit dan sangat terbatas. dan merasa serba cukup serta bangga diri. Generasi yang datang kemudian meneruskan kerja itu. Ia sepenuhnya .26 Umat Islam sampai permulaan abad ke-21 masih saja berada di persimpangan jalan. setelah itu menghadap Allah. Hidup tanpa perbandingan dapat membuat orang bersikap serba linear. sempit. Dengan kata lain. sulit diterima pihak lain yang ingin mendapatkan ukuran objektif yang standar. bangunan peradaban. Ini adalah pertanda sebuah kebangkrutan peradaban. meskipun ada saja kelompok yang merasa tercerahkan terus. Adapun apa yang mungkin dilakukan oleh seorang sejarawan atau peminat sejarah hanyalah ibarat menating sebuah bata untuk bangunan. bahkan belum banyak beranjak dari buritan peradaban. pilihan yang terbuka bagi umat Islam adalah berpikir dan beramal terus sambil berinteraksi dengan peradaban lain untuk dijadikan perbandingan dengan situasi kita. Kesukaran itu justru lebih banyak berasal dari dalam. oleh otak jenius sekalipun.

Penyair Chairil Anwar (19221949) yang mau “hidup seribu tahun lagi. Jika kemauan hati tidak dikendalikan. Paling tidak ada rasa bangga menyelinap dalam diriku bahwa kampungku punya masa lampau yang diperhitungkan. al-Qur’an s. Thaha: 115-124. McGill.). tetapi tidak mungkin kecapaian. Montreal. sekalipun di antara mereka ada pula jenis pengrusak dan penghancur kejam yang pernah dicemaskan para malaikat dalam dialognya dengan Tuhan pada saat Adam diciptakan. al-Baqarah: 30-39 12 . Tentang penciptaan Adam. atas kebaikan Munawir Sjadzali (alm. sebagai dosen tamu. selain sebagai pusat bisnis. Kanada. Manusia didatangkan juga ke muka bumi untuk membangun dunia dan peradaban. 1993-1994.27 kepunyaan Langit yang berada di luar kemampuan manusia untuk mengukurnya. Aku yang lahir di kawasan ini tidak pernah tahu sebelumnya secara agak mendalam. sampai peneliti asing itu menerbitkan karyanya yang kubaca sewaktu sedang bertugas di Univ. juga sebagai pusat kajian Islam seperti terlukis di atas. lih. serta sikap Tuhan kepada reaksi mereka itu. Informasi ini bagiku sekarang menjadi luar biasa pentingnya. para malaikat kehabisan argumen berhadapan dengan Tuhan yang tidak bergeming untuk membela kehadiran manusia dengan segala kekuatan dan kelemahannya. Ditambah 1000 tahun lagi. Protes malaikat tidak mempan.” meninggal dalam usia 27 tahun. juga tidak akan cukup. al-A’raf: 11-25. Manusia adalah makhluk misterius yang ingin menggapai dan menaklukkan segala-galanya. Maka tidaklah heran kita. Khusus untuk Sumpur Kudus di masa lampau. s. reaksi malaikat dan iblis. rasanya umur 1000 tahun pun tidak memadai.12 Kembali kepada cerita kampungku. menteri agama waktu itu.

Bukankah sampai abad ke-18 keadaan tranportasi hampir sama saja di seluruh Minangkabau. yaitu bendi.28 Bahwa di sana terdapat kuburan Rajo Ibadat dan makam Syekh Ibrahim. karena memang lingkungan alamnya yang rentan dan sulit untuk ditaklukkan. Beberapa ruas jalan sekitar delapan km menjelang memasuki kampungku sampai hari ini masih banyak tempat yang rentan. sehingga sisi-sisi historis Sumpur Kudus tidak singgah lagi dalam otakku. Rasa ingin tahuku selama 18 tahun tinggal di sana memang belum muncul untuk mengenal lebih jauh sejarah kampung halaman sendiri. kampungku tetap terpencil. Tetapi itulah sarana jalan menuju nagari Sumpur Kudus dengan . kecuali dalam bentuk cerita remang-remang di atas yang kudengar sambil lalu. Sesungguhnya kita tidak perlu heran benar mengapa kawasan tersuruk itu pernah punya nilai historis bila diukur dengan kondisi zaman dan lingkungan pada waktu itu. perahu. Ruas dan luas jalan pun ketika itu masih serba terbatas. batu bersurat. daerah lain kurang lebih sama kondisinya. kemudian runtuh lagi dan runtuh lagi. pedati. Jadi sebenarnya tidak hanya Sumpur Kudus yang tersuruk dan terisolasi. Bahkan ada manusia yang dijadikan kendaraan oleh manusia lain dengan upah tertentu. Diperbaiki berulang kali. Baru setelah kereta api dan kendaraan bermesin lainnya ditemukan orang dan menjamah daerah tertentu di kawasan itu. tetapi hanya sekadar itu. Setelah dewasa hidupku kemudian malah lebih banyak “bertualang” di rantau orang mengikuti garisgaris nasib yang tidak kukuasai. kuda tunggang. aku sudah lama diberi tahu. dan kuda beban. mudah runtuh karena terdiri dari tanah pasir yang rapuh.

termasuk heran terhadap diri sendiri. 500 per kg. . karena letak geografisnya yang tersuruk dan alamnya yang kurang bersahabat. Inilah daya tarik kampung yang tak pernah sirna dari perasaanku. daerah ini lebih baik mengembangkan industri otak. Sekali terbuka.D. Lahannya terlalu sempit dan sumber-sumber alamnya serba terbatas. Bagiku mereka bukan hanya harus punya perasaan cinta kampung. gambir. menghadapi kendala dalam masalah biaya transportasi. Yang aku heran. samasekali tidak memadai untuk menghidupi rakyatnya. dan terakhir soklat. Ayahku dan diikuti oleh yang lain selama bertahun-tahun malah mengalihkan transportasi karet via Batang Sumpur menuju Padang Lawas atau Muaro. Biaya angkutan Sumpur Kudus-Padang Rp.29 julukan Makkah Darat itu. Arah jalan dari utara dan selatan masih dalam proses pembangunan untuk membuka isolasi itu. rakyat kampungku akan lebih lincah dalam kegiatan ekonominya. adalah rasa cinta kepada kampung halaman yang tersuruk itu tidak pernah surut sampai sekarang. apalagi untuk pembangunan. Kata orang. ranah tidak mungkin berkembang. sama dengan ongkos Padang-Jakarta. Aku tidak tahu apakah teman-teman perantau yang lain yang seangkatan denganku punya perasaan seperti itu pula. Hasil-hasil alam seperti karet. setelah lebih setengah abad kutinggalkan. Bahkan P. Sumpur Kudus termasuk kawasan yang sulit sekali untuk dikembangkan. (Penghasilan Asli Daerah) Sumatera Barat hanyalah sekitar 30%.A. tetapi juga mau bekorban untuk bumi tempat kelahirannya dalam batas kemampuan mereka tentunya. Tanpa rantau. yaitu terus meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi sebagai syarat untuk meningkatkan kemakmuran rakyatnya.

tetapi yang . kebudayaan. aku juga seorang kolumnis. alangkah bersyukurnya aku karena dimudahkan Allah pada akhirnya dalam upaya mencari rezki. Sekali-sekali nama Sumpur Kudus muncul juga dalam kolomku. dan bertanggung jawab tentu akan mengilhami generasi yang datang kemudian. dan dunia Muslim pada umumnya.30 Tidak jarang karet itu hilang dalam perjalanan jika Batang Sumpur lagi menguap pada musim hujan. pemikiran. aku ingin melihat sosok pengusaha yang berhasil dari Sumpur Kudus. sekalipun kondisi alamnya serba sulit. Bukan untuk apa-apa. politik. Mengenang ini semua. Kalau untuk tingkat kabupaten atau propinsi. Ada satu dua orang dari kecamatan itu yang menjadi pegawai di Jakarta. Semestinya kawasan yang punya sejarah tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. Maka para pekerja harus berjibaku mengeluarkannya. perhatianku kemudian memang lebih terpusat pada masalah-masalah nasional dan global: agama. Satu saat. sudah ada beberapa anak Sumpur Kudus yang berperan. Pada usiaku menjelang malam. Sejarah kampung sendiri luput dari agenda kajianku. Sebagai seorang peminat sejarah. objektif. tetapi masa lampau sebuah kawasan yang menyimpan peristiwa-peristiwa penting jika direkonstruksi secara teliti. khususnya dalam jarak beberapa km menjelang mencapai nagari Sumpur Kudus. Siapa tahu dari kawasan ini akan lahir manusia yang dihitung orang setidak-tidaknya secara nasional pada suatu ketika. menyoroti berbagai masalah bangsa yang tak putus juga dirundung malang. baik sebagai anggota legislatif mau pun di birokrasi pemerintahan. Kadang-kadang karet itu “menghilang” ditelan air terjun yang curam. entah kapan.

bagian hilir telah membentuk kabupaten baru dengan nama Dhamasraya. sebuah nama yang juga bersejarah pada masa dulu. Dalam catatan Dobbin Rajo Ibadat terakhir wafat pada 1817. Puteri Raja Ibadat terakhir ini bahkan dikawini oleh Tuanku Lintau. sedangkan dua puteranya terbunuh. dan Rajo Adat berkedudukan di Buo. kemudian menggabungkan kedudukan Raja Adat dan Raja Ibadat.. berusia sekitar 70 tahun bersama cucunya berhasil lari ke Lubuk Jambi di Inderagiri.13 Sejak itu 13 Dobbin. yaitu Rajo Ibadat. sekarang karena pemekaran wilayah. berkedudukan di Sumpur Kudus. Mengingat begitu pentingnya posisi kawasan itu di masa lampau bila diukur dalam konteks zamannya. op. sekalipun mungkin ikatan itu tidak akan sekuat temanteman Sulit Air (Solok) yang fenomenal itu. Dua rajo yang lain bertahta di Pagaruyung (Rajo Alam). Dulu kabupaten ini meliputi kawasan hilir sampai ke Pulau Punjung. Tuanku Lintau adalah pendatang baru yang membawa paham wahabi ke Pagaruyung. empat tahun sebelum meledaknya Perang Paderi (1821-1837) melawan kaum adat dan Belanda. Pagaruyung dan Buo sekarang merupakan bagian Kabupaten Tanah Datar. Raja Alam terakhir Sultan Arifin Muning Alamsyah yang renta. berpusat di Lintau.31 tetap punya ikatan batin dengan kampung halamannya. 136-137 . maka tidaklah mengherankan benar mengapa salah seorang rajo (raja) Tigo Selo. yang perkasa dan kejam setelah berhasil meluluhkanlantakkan Pagaruyung dengan senjata. sedangkan Sumpur Kudus belakangan berada di lingkungan Kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung dengan ibu kabupaten sekarang Muaro. tokoh Paderi.cit. hlm.

atau puti bagi perempuan. Tetapi sebagai bagian dari sejarah. dan seluruh bangunan kerajaan Pagaruyung hancur. Kehidupan raja-raja kecil ini kemudian tak ubahnya seperti rakyat biasa. apalagi belum terlalu jauh. Tidak mustahil memang. karena nenek moyang raja-raja Negeri Sembilan di Malaysia memang adalah migran dari Pagaruyung. tidak berasal dari doktrin Islam yang otentik. Tugasnya menggali dan menggali. Aku sendiri sebenarnya sudah tidak begitu tertarik untuk melacak silsilah raja-raja ini. bahkan ada yang menjadi tukang kampo (mengolah daun gambir untuk diambil getahnya). Mereka tak punya kebanggaan apa-apa lagi. seperti sistem tanah ulayat milik suku yang tidak bisa diganggugugat oleh negara. kecuali sebagian masih menyandang rajo atau sutan di awal namanya bagi laki-laki. tetapi tidak jelas mereka berasal dari pohon silsilah yang mana. Yang dipertuan Negeri Sembilan di Malaysia kabarnya juga punya hubungan darah dengan Sumpur Kudus. sebuah pekerjaan yang berat sekali.32 Sumpur Kudus berhenti menjadi salah satu pusat kekuasaan. banyak yang melarat. asal bukan bertujuan untuk melanggengkan sistem kerajaan yang sudah usang dan ditolak semangat zaman. jika perlu . jika bukan sebuah penyimpangan. Adapun rakyat Sumpur Kudus yang mengaku keturunan raja jumlahnya cukup banyak. Yang jauh pun dikaji orang. itulah profesi kaum arkeolog. pelacakan itu memang diperlukan. Adat istiadat dan bahasa ala Minang masih bertahan di sana dengan modifikasi tertentu. Orang memang perlu bercermin ke masa lampau. karena sistem serba kerajaan adalah produk sejarah belaka.

yang ada Hindia Belanda. digelar upacara peresmian listrik masuk ke sana berkat uluran tangan banyak pihak dengan penekanan tombol oleh Dr. Sekiranya nusantara ini tidak pernah dijajah. menelusuri dan mencari jejakjejak peninggalan manusia purba. Sebagai bagian dari tradisi Minangkabau. miskin. Sejarawan melacak kelampauan dari bekas-bekas yang sudah ada tulisan. direktur produksi dan transmisi P. Sumpur Kudus masih memelihara apa- . Sebelum itu tidak ada Indonesia. Akibat sudah tidak lagi menjadi salah satu pusat kerajaan. Lengang. Siapa tahu melalui jejak-jejak kelampauan itu kita dapat bercermin dan menemukan kearifan lokal sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional Indonesia yang masih dalam proses mencari bentuk dan jati-diri yang kokoh. (Perusahaan Listrik Negara) pusat yang sengaja datang untuk maksud itu.N. ternyata ada juga segi positifnya. Ir. itulah gambaran kampung itu setelah Indonesia merdeka. Indonesia sebagai bangsa dan negara adalah hasil temuan baru pada 1920an dan 1940-an. tertinggal. Aku turut mendampinginya dalam upacara yang cukup meriah ala kampung.33 sampai ke pitala bumi. apakah bangsa dan negara yang bernama Indonesia itu akan muncul dalam peta dunia? Belum tentu bukan? Di samping penjajahan itu memang jahat dan eksploitatif. Mereka melicinkan jalan untuk sebuah Indonesia merdeka yang berdaulat menjelang pertengahan abad ke-20. Herman Darnel Ibrahim. tanpa ikatan nasional sama sekali. Jauh sebelum itu pula di nusantara telah berkembang kerajaan-kerajaan independen. disambut dengan tari gelombang segala. Dan baru pada tanggal 29 Januari 2005 terjadi terobosan baru. jadilah kampungku itu terlupakan selama hampir dua abad. gelap (bila malam).L.

Semoga rakyatnya patuh dan disiplin dalam pembayaran rekening listrik setiap bulan sebagai tanda rasa bersyukur pula.34 apa yang bercorak Minang. sementara beberapa kawasan lain dalam kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung masih ada yang gelap di malam hari. Tetapi membaca peta kepentingan bangsa tidak boleh hanya dilihat dari untung rugi secara materi.R. Tamu-tamu berdatangan dengan membawa dana bantuan untuk kepentingan . C. Sumpur Kudus beroleh cahaya listrik. mungkin malah rugi. bersedia memberi cahaya listrik ke pelosok itu.N.I Aku bersyukur kepada Allah atas segala kurnia yang tak ternilai ini bagi kampungku. Proses listrik masuk desa ini tergolong sangat cepat. hanya dalam hitungan bulan kemudian menjadi kenyataan.” jika syarat merdeka itu adalah listrik dan aspal.L. sekalipun aspalnya masih belum merata sampai akhir 2006. Hari itu sungguh luar biasa artinya bagi rakyat pedesaan. Sejak cahaya itu masuk. pada 29 Januari 2006 diadakan upacara syukuran listrik masuk desa bertempat di nagari Silantai.N.. Demikian gembiranya rakyat di kecamatan itu. Aku sungguh berterima kasih kepada mereka yang empati terhadap kampungku. Dari sisi inilah barangkali P. Luar biasa memang perhatian para sahabat terhadap Sumpur Kudus. Ternyata harus menanti 60 tahun pasca proklamasi. Sumpur Kudus sudah mulai “merdeka. Tentu jika ditengok dari kepentingan bisnis P. Kewajiban pada Tanah Kelahiran dan P. aliran api ke kampungku tidak menguntungkan.D.L. Ada nilai-nilai sejarah dan kebudayaan yang harus dipertimbangkan.

dan di lokasi mana seseorang berada. padahal belum terlalu lama dibangun ayahku. Sehari sebelum itu. Dengan listrik ini. Pada waktu itu dinding itu sudah mulai dimakan asai (kutu bubuk).35 masyarakat desa. atau mendung. Menurut cacatan kakak sulungku. Solok Selatan. Aku masih akan menulis tentang listrik ini pada bagian akhir otobiografi ini. tidak ada yang keras atau lembut. sebuah taratak (jorong) kecil dan lengang sekitar dua km ke arah selatan nagari Sumpur Kudus. Aku pun hadir di Bidar Alam dan memberikan makalah di sana. meni’mati kurnia kemerdekaan bangsa yang penuh makna. Bagaimana keadaan cuaca juga akan tergantung pada musim apa.I. jika ingatanku tidak keliru. kupanggil kaktuo Hima. 31 Mei 1935. Asai makhluk kecil dan lembut. asal mereka pandai membaca dan memanfaatkan peluang dan fasilitas yang telah tersedia. Informasi tentang tanggal kelahiranku itu kulihat tertulis dengan kapur di dinding selatan beranda rumah kelahiranku yang bertanduk empat sewaktu aku masih duduk di bangku S. seperti tahun yang lalu diadakan di Bidar Alam. Terasa Sumpur Kudus yang gelap di kala malam itu. hujan. tetapi bukan . Bagiku hari itu sama saja. sebuah hari yang keras menurut tuturan orang kampungku. almarhumah Rahima. Tempat kelahiranku sendiri bernama Calau. ekonomi rakyat kecil pun mulai menggelinding dan berkembang. panas. akan kututurkan pada saatnya. Bagaimana keadaan kampung ini. kini sudah mulai bernafas dan menggeliat kembali. (Sekolah Rakyat).R. (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) ke-56 di nagari Sumpur Kudus. diselenggarakan pula Peringatan Ulang Tahun P.R.D. aku lahir pada hari Sabtu. yaitu tanggal 28 Januari.

“Bak kayu dimakan bubuk.” Inilah makhluk kecil yang dilengkapi dengan kelebihan untuk menghancurkan bangunan besar. di dalam remuk. Anai-anai (rayap) juga punya keampuhan yang mirip dengan asai dalam menaklukkan kayu. misalnya surat Ali ‘Imran: 190-191 . lambat tetapi pasti. Dengan keampuhan air liurnya yang mungkin lebih tipis dari embun pagi. betapa pun terlihat lemah. kecil. Kayu sekeras itu dapat dijadikan mangsanya. dan sungkai yang tidak bisa ditaklukkannya. jati. Oleh sebab itu orang tidak boleh menganggap enteng setiap makhluk Allah. bukan? Tetapi penciptaannya oleh Allah pasti punya tujuan yang kita belum tentu tahu. bila diukur dengan tubuhnya yang rapuh dan lembut itu. Dengan sabar dinding itu digerogotinya dari dalam sampai lapuk. kayu dibuatnya tak berkutik. dan seperti tak berguna. sekalipun dari luar belum tentu selalu kelihatan kerapuhannya. sekalipun dilihat dari sisi kepentingan manusia cukup merugikan.” kata peribahasa Melayu. Allah maha kuasa memberi rahasia kekuatan kepada makhluk alit ini. “di luar tampak rata dan licin. Dalam serba kelemahannya itu. kecuali kayu besi. Mencari hikmah di balik penciptaan itu sangat dianjurkan kepada umat manusia oleh al-Qur’an.14 Tulisan kapur Rahima di dinding itu tentu sangat penting bagiku untuk menentukan kapan aku meninggalkan rahim ibuku untuk kemudian datang ke muka bumi.36 main ganasnya. tersembunyi kekuatan dahsyat. Allah menciptakan semua makhluk pasti punya tujuan. Tetapi beberapa tahun setelah itu aku 14 lih. Bangunan besar yang terbuat dari kayu tetapi tak terpelihara dengan baik dapat dirubuhkannya. tidak pernah sia-sia.

aku menggunakan tanggal 31 Mei. Peminat sejarah sangat memperhatikan akurasi dalam penulisan. Aku lahir sama persis dengan kelahiran anakanak kampung. kurang peka pada momen-momen tertentu yang ternyata penting bagiku. Dengan demikian umur pensiunku sebagai pegawai negeri berlebih satu minggu. Inilah di antara kritikku kepada diri sendiri. masalahnya tentu menjadi lain. di saat banjir dahsyat melanda kota Sala. mungkin sewaktu aku kuliah pada Universitas Cokroaminoto Surakarta tahun 1960-an. Pasti semua anak. karena itu yang lebih dulu kuketahui. setidak-tidaknya untuk keperluan penulisan ini agar lebih akurat. sekalipun boleh jadi yang benar adalah catatan ayahku. seminggu lebih tua dari cacatan kakakku. Dalam ijazah dan riwayat hidupku. baik dalam menentukan sumber mau pun metode dalam analisis.37 menemukan catatan ayahku bahwa aku lahir pada 24 Mei 1935 pada hari yang sama. Amat kusayangkan karena cacatan ayahku dalam bentuk sebuah buku tulis kecil telah hilang entah ke mana. Mana yang benar di antara dua catatan itu. lahir dengan bantuan dukun beranak. perbedaan tanggal itu tidaklah bermakna banyak. Namun bagi diriku. Kalau ada bedanya. tetapi semuanya sudah berlalu. aku tidak dapat memastikannya karena tidak sempat minta konfirmasi kepada keduanya semasa mereka masih hidup. Sepintas lalu perbedaan seminggu tidak punya arti banyak. karena ayahku seorang terpandang di lingkungannya. tetapi kalau hari-hari itu memuat kejadian sejarah. Belakangan baru terasa keperluan untuk menanyakan masalah itu. termasuk aku. karena bidan belum ada di kampungku ketika itu. tidak ada kejadian sejarah yang berarti masa itu. . tidak bisa dikejar lagi. Banyak dokumenku yang lenyap ditelan bencana air itu.

Untung ada . Setidaktidaknya cantik menurut ukuran nagari tentu tampak pada diri ibuku. tetapi aku tidak mengenal wajahnya. Ibuku wafat pada 1937 dalam usia sekitar 32 tahun. Tetapi ajaibnya hal serupa kemudian justru juga berlaku pada diriku. sudah meninggalkanku sewaktu usiaku 18 bulan. Mungkin saja demikian. Mereka kawin tentu karena dijodohkan oleh keluarga kedua belah pihak. bahkan kuno. batang usiaku sudah berangkat jauh. aku tidaklah tergolong modern. tanggal kelahiran kami empat beradik tertulis di dalamnya. terpaut lima tahun usia keduanya. bini saja harus dicarikan. Dari sisi ini.38 sedangkan aku lagi tidak berada di tempat saat itu. padahal usia ayahku sewaktu wafat pada 5 Oktober 1955 hanyalah sekitar 55 tahun. sempat dua tahun mengasuh dan menyusuiku. Bukankah ayahku seorang terpandang di kampung. Orang mengatakan bahwa ibuku cukup cantik. sementara ibuku Fathiyah. saudagar gambir. sedangkan ayahku sekitar tahun 1900. Dalam catatan ayahku itu. Aku tidak mencari jodoh sendiri. mana mungkin ayahku mau mengawininya. yaitu 68 tahun 92 hari. Sudah merantau ke mana-mana. Ibuku lahir kira-kira tahun 1905. tetapi memang itulah aku. seperti yang berlaku pada masa modern. sehingga kepastian tanggal dan tahun kelahiran tidak dapat dilacak. Pada masa itu tidak ada Akte Kelahiran. sebab pada masa itu hampir tidak ada orang yang mencari pasangannya sendiri. sebab jika tidak. Pada saat otobiografi ini mulai ditulis pada 2 September 2003 (-dan terus mengalami perubahan dan perbaikan-). tetapi dicarikan pihak keluarga. jauh sebelum dia diangkat menjadi Kepala Nagari tahun 1936? Ayahku tentu punya selera tinggi dalam mencari pasangan hidup.

Menurut teori Ibn Khaldun (1332-1406). karena ayahku adalah putera tertua dari tujuh bersaudara) atau sebutan dan panggilan lain. dan datuk jika suaminya menyandang gelar suku.. t. Bahkan ada yang memanggilnya inyo. sudah mulai terdengar di pelosok Minang yang jauh tersuruk. dan uni. sebab berkat kemajuan komunikasi dan informasi. Kata-kata om. kawasan pedesaan sudah semakin mengecil digusur oleh kekuatan urbanisasi. Ada yang memanggilnya kaktuo. aku tidak bisa mengatakannya.v.39 gadis yang mau bersuamikan anak rantau si bujang lapuak yang tidak punya apa-apa secara materi dalam usianya yang hampir mencapai 30 tahun ketika itu. Apalagi sekarang dengan masuknya listrik. udo. karena itu sudah berbau kota dan akan lucu kedengarannya di telinga orang kampung. onga. orang desa bergairah sekali untuk meniru dan menyerap pola hidup . Jarang yang memanggil suaminya uda. Desa semakin kehilangan ciri kedesaannya. tante. kakoncu. Panggilan seorang isteri kepada suaminya di kampung punya kekhasannya sendiri. Tetapi apakah itu merupakan sebuah yang patut ditangisi? Belum tentu juga. Aku tidak sempat merasakan betapa manis atau pun pahitnya hidup bersama ibu. atau kadang-kadang terjadi pula gesekan. uda. cara-cara kota telah semakin merasuk ke kawasan pedalaman. dan parabola akan semakin mempercepat gaya kota menular ke pedesaan. Juga aku tidak diberi tahu bagaimana suasana rumah tangga orang tuaku. Apakah ibuku memanggil ayahku dengan kaktuo (kakak tertua. aku pun tidak tahu. sesuatu yang lumrah dalam kehidupan sebuah rumah tangga. Apakah mereka selalu akur saja. Memang belakangan ini.

Kembali kepada lingkungan ayah-ibuku. dan kakoncu. mak oncu. sebagaimana hormatnya ibu-ibu tiriku kepadanya. tempat masyarakat mengadu tentang berbagai masalah. Bahkan tidak jarang berlaku kondisi moral di kota tertentu jauh lebih baik dari suasana kampung yang citra moralnya tidak dijaga oleh para elit yang seharusnya bertanggungjawab untuk itu.40 kota. Di sinilah penerangan dan pendidikan agama sangat perlu diintensifkan. sekalipun di dalamnya sarat dengan unsur yang tidak sehat. kakonga. Apalagi ayahku sebagai kepala suku Malayu dengan menyandang gelar Datuk Rajo Malayu yang dijabatnya sampai wafat. Jika semuanya sudah beruda-uda. tidak saja yang menyangkut masalah ekonomi. Warga Muhammadiyah khususnya jelas punya tanggung jawab yang besar untuk tetap menjaga moral masyarakat kampung agar tidak larut dalam budaya kota yang negatif. Kampung sekalipun lengang menyimpan suatu kedamaian dan ketenangan yang belum tentu dimiliki kota. Hanya sering muncul perasaan kehilangan akan sesuatu yang khas dan unik desa. kakudo. ber-om-om. di mana panggilan kaktuo. bertante-tante. Yang aku risaukan adalah budaya kota yang serba bebas juga akan menular ke lingkungan kampungku akibat tv dan parabola. Pun secara ekonomi ayahku termasuk dalam kategori elit di kampung. juga masalah adat dan lembaga tingkat nagari. Kira-kira ibuku sangat hormat kepada ayahku. Nagari sebagai warisan Rajo Ibadat dan Iniak Tanahbato jangan sampai binasa oleh pengaruh buruk media elektronik modern ini. Tentu tidak semua yang sifatnya serba kota itu buruk. . pak oncu harus ditempatkan? Dibiarkan sirna digilas arus urbanisasi? Rasanya tak rela juga.

Orang yang menemui ayahku. sebelum Saiful Wahid. semua orang kampung mengakui. keduanya sudah wafat dalam usia yang relatif muda. Sepengetahuanku. Etekku Bainah wafat pada 1973 dalam usia yang belum terlalu tua. Seakan-akan akulah yang menjadi anak pertamanya. adik sepupuku. alangkah pilunya. padahal waktu itu tukang foto sudah ada. Rumah buatan ayahku ini bertanduk empat. aku tinggal di rumah ini kurang dari dua tahun untuk kemudian ayahku menitipkanku pada bibiku Bainah (kupanggil etek) yang tempat tinggalnya sekitar 500 meter dari tempat kelahiranku. Potretnya tidak kutemui sama sekali di rumah kelahiranku itu. kecuali pusaranya yang juga tidak jauh dari rumah tempat kelahiranku. tidak ada lagi tanda-tanda yang dapat kutelusuri. Bahwa ayahku cerdas. Saiful punya dua orang adik kandung: Yusnida dan Muslim. Untuk ibuku. Aku sendiri sering menyaksikan betapa rasa hormat masyarakat kepada ayahku. lahir tahun 1939.41 Pengetahuan agama ayahku diperolehnya dengan membaca. semua adik perempuan ayahku tidak ada yang disekolahkan. Apakah ibuku memang tidak pernah difoto? Kini yang tersisa dari rumah itu tinggallah bekasnya belaka. kulihat tak seorang pun yang . Kemenakanku dan keturunannya yang menempati bekas rumah kelahiranku. Bangunan utamanya dengan bergulirnya waktu telah rubuh atau dirubuhkan karena sudah lapuk. Alangkah sedihnya. Jadi mereka sepanjang usianya hidup dalam “rahmat” buta huruf. seperti umumnya gaya arsitektur Minangkabau masa lampau. Karena ibuku wafat masih muda. pasti datang dengan sikap sopan sebagai pertanda bahwa yang ditemui itu memang layak untuk itu.

U. ada saja teman yang tetap percaya memberi dana agar disalurkan untuk kepentingan sosial. di samping sasaran-sasaran yang lain di lingkungan Muhammadiyah. lalu pulang ke kampung dengan tangan kosong. kucarikan kerja di Medan sambil kuliah. bertani dan menyadap karet.42 bermaya (Bahasa Malaysia: berhasil) secara ekonomi. Seorang lagi.M. semoga telah mengenai sasarannya. bukan? Dan dana yang dititipkan para pengusaha dan sahabat-sahabat yang kusalurkan untuk kepentingan pendidikan. dana teman-teman itu masih . karena sudah kucarikan juga kerja sebagai karyawan U. cucu kakakku Nursiah. Aku bersyukur di hari tuaku. Sejak pertengahan tahun 2005 semua bantuan untuk yang kuliah di Medan kuhentikan agar belajar berdikari.P. tidak saja untuk kampungku. Jika yang seorang ini bisa menyelesaikan S1-nya. Setelah aku tidak lagi menjadi Ketua P. tetapi tidak punya nyali untuk hidup di rantau.S. tentu merupakan sesuatu yang patut dibanggakan oleh orang tuanya. tetapi untuk beberapa amal-usaha Muhammadiyah di berbagai bagian Indonesia yang sangat memerlukannya. sebab dengan cara itu aku bisa membantu orang lain yang memerlukan dalam jumlah yang lebih banyak. Mereka menjalani hidup seperti kebanyakan orang kampung. (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara) dengan gaji yang sangat sederhana.. Kepercayaan semacam ini bagiku sangat penting. dan kemanusiaan. Muhammadiyah dalam Muktamar ke-45 di Malang (3-8 Juli 2005). pendidikan. semoga yang satu ini tidak kandas pula di tengah jalan. Pernah kubantu di antara mereka mendapatkan kerja di Jawa.

Yang aku agak heran dengan menantu kakakku Nursiah sebagai ayah kandung anak yang kuliah di Medan ini. tetapi untuk turut memikirkan sebisanya kuliah anak kandungnya adalah kewajiban seorang ayah.M. (Sekolah Teknik Menengah). yang kuliah di Medan ini sudah duduk pada semester IV Fakultas Hukum pada universitas itu. Tetapi bukankah sudah ada beberapa contoh bahwa dengan kondisi ekonomi yang relatif sama. tak perlu kuperpanjang cerita tentang pendidikan anak ini. tanpa masa depan yang jelas. Namanya Indra Kurniawan. Contohnya cukup banyak di kampungku di mana orang tua memang tidak hirau dengan masalah pendidikan anaknya.T. bukan kewajiban orang lain. Mereka tidak akan mengalami apa yang disebut dalam teori sosiologi sebagai proses mobilitas sosial secara vertikal. Semoga yang seorang ini berhasil meraih sarjana hukum untuk bekal hidupnya di kemudian hari. berkat perhatian yang serius dari orang tua yang sadar tentang mutlaknya pendidikan anak? Pada Agustus 2005. sekalipun modalnya dari S. memang kondisi ekonominya tidak mengizinkan. tetapi . sementara mereka yang gigih umumnya berhasil memperbaiki kondisi hidupnya dengan belajar sambil merantau. seperti tidak ikut bertanggung jawab untuk membantu kelanjutan studi anaknya.43 tersisa sedikit untuk terus kusalurkan pada sasaransasaran yang tepat. biasanya tidak pernah beranjak dari tempat. beberapa anak nagari Sumpur Kudus berhasil menjadi sarjana. Bahwa mereka umumnya miskin. betul. Mungkin untuk membiayai kuliah secara penuh. Tetapi sudahlah. Beranak pinak di situ. Orang desa kalau tidak gigih dan tabah untuk mengubah nasib.

seperti sering kututurkan setelah dewasa. sukuku. umumnya berhasil menjadi sarjana. kakak beradik).44 sekali-kali pulang kampung untuk bantu keluarga atau buat rumah untuk hari tua bagi mereka yang ingin berhari tua di sana. demi ilmu. juga dari suku Caniago. Mereka punya ibu-bapa sampai umur dewasa. seperti yang bertahun-tahun kualami. Oleh sebab itu aku agak terlatih untuk berurusan dengan berbagai ragam situasi yang berat sekalipun.B. sekalipun sering tertatih-tatih dan menggapai ke kiri dan ke kanan. Aku bangga dengan mereka.T. sekiranya mereka memang punya citacita itu. bahkan dua telah menjadi guru besar Universitas Andalas Padang (Novirman dan Novesar. hanyalah karena belas kasihan ombak dapat terdampar ke tepi. anak-anak nagari Silantai cukup pantas untuk disebut. Di antara orang kecamatanku. Mereka yang tabah dalam penderitaan. Tidak mudah bagiku untuk menyadarkan keturunan kakakku ini agar berani hidup menderita untuk meraih sebuah cita-cita. Jalannya panjang dan berliku-liku. sementara aku. Tempaan hidup serba kekurangan selama tahun-tahun yang panjang dalam perjalanan hidup menjadi penting bagiku untuk tidak lupa kepada asalusul. Tetapi aku tidak pernah patah harapan untuk terus belajar. . Dari Novirman aku mendapat keterangan bahwa ayahnya Djamarun (keluarga Muhammadiyah) dengan susah payah menyekolahkan mereka agar menjadi “orang” dengan bekal ilmu pengetahuan. kadang-kadang tak tentu saja kaki ini mau melangkah ke mana. Novirman doktor alumnus sebuah universitas di Filipina dan Novesar doktor dari I.

atau 45 tahun setelah ditinggal ibuku. Masalah ini termasuk wacana dalam kisaran pemikiran keislamanku menjelang usiaku setengah abad. 26 tahun sepeninggal ayahku. bahkan tidak jarang harus menggadaikan barang yang ada. Mungkin agar anak-anaknya tidak terganggu oleh beban itu. tanpa mobilitas menaik. tetapi jumlahnya sangat kecil. Ayahku pandai sekali menyembunyikan sesuatu yang berat yang dirasakannya. Sedikit sekali orang kecamatanku yang berhasil menunaikan rukun Islam yang kelima itu. Di hari tua Djamarun dan isterinya telah pula menunaikan ibadah haji. setelah aku rampung belajar di Universitas Chicago pada tahun 1982. anak sepantasnya harus mengungguli orang tua dalam soal pendidikan. adalah contoh yang ditinggalkannya. Betapa pun berat beban yang dipikul. Seakan-akan semuanya berjalan biasa tanpa rintangan. Tetapi aku tidak menyesali ayahku yang tidak terlalu bersemangat untuk melanjutkan sekolahku karena beban ekonomi dari dua rumah tangga sudah teramat berat yang harus terpikul di bahunya seorang. karena . akan kujelaskan pada bagian-bagian lain otobiografi ini.45 Tidak banyak orang tua di kecamatanku yang bisa menandingi Djamarun dalam berjibaku untuk mendidik anak-anaknya sampai tuntas. dari menyadab karet. ayahku jarang sekali mengeluh. demi sekolah anak. Djamarun yang hanya tamatan SR ternyata punya cita-cita tinggi untuk keturunannya agar tidak tetap menempel di kampung. Bagaimana pandanganku tentang seorang laki-laki beristeri lebih satu. bertukang. Orang tua seperti Djamarun juga terdapat di nagari-nagari lain dalam kecamatan Sumpur Kudus. Menurut logika biasa. Djamarun telah menandangi berbagai pekerjaan.

telah menjadi acuan bagi mereka yang mau belajar dan bekerja keras.U. Riau. Ada lagi sepupuku dari pihak ayah Azwir Ma’ruf dan kemenakanku Ramadhan. Unggan.46 memang tidak terjangkau oleh kemampuan ekonomi mereka.A. Tamparungo. sekarang bekerja sebagai peneliti di Solok. Semula sebagai Kepala Biro A.A. Pada saat aku menulis kalimat ini (Pebruari 2006). Mangganti. Harapanku tentu saja agar mereka yang sudah berjaya ini tidak melupakan kampung yang sudah puluhan atau bahkan ratusan tahun hidup dalam serba kekurangan.N. demi . dan Sisawah. anak Rahima. dan Jambi. Siapa lagi yang diharapkan bisa membantu kampung. pada I. Ini dalil sederhana belaka dalam kehidupan manusia. adalah di antara contoh manusia tabah. jika bukan mereka yang terdidik. Aku pun turut membantu di Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Jakarta agar proses pengangkatan Novirman ini berjalan lancar.K. kemudian beralih karier sebagai dosen. lahir batin. Siapa yang bisa membayangkan sebelumnya bahwa seorang anak yang dibiayai dengan susah payah oleh ayahnya pada suatu hari akan memegang posisi setinggi itu. Azwir pada waktu ini dosen negeri yang diperbantukan pada perguruan tinggi swasta di Padang. Nama-nama yang kusebut ini.I. Ramadhan seorang sarjana pertanian bidang agronomi. Ketabahan dan kerja keras untuk meraih sebuah cita-cita umumnya membawa orang kepada keberhasilan. Novirman sedang menjabat Ketua Kopertis untuk wilayah Sumatera Barat. sekiranya mereka punya kepekaan terhadap lingkungan yang telah membesarkan mereka. Imam Bonjol. tentu masih ada yang lain dari Tanjung Bonai Aur.

orang tuanya dari kecamatan Sumpur Kudus.M.47 mengubah status sosial sebagai anak desa yang hidup dalam kondisi pas-pasan. demi cita-cita dan mobilitas sosial. Dari Sisawah akan muncul seorang doktor dalam kajian dakwah Islam tamatan U. Sekiranya Indonesia tidak merdeka. dengan ibu Sumpur Kudus. yaitu sepupunya ada yang pula berhasil jadi dokter A. seperti layaknya anak kampung yang lain.D. (Angkatan Darat).K. pribadi yang sangat gigih melawan segala keterbatasan. Namanya Sabiruddin. Dari keluarga isteriku.N. tidak dapat ditawar. setelah itu membiarkan nasib ditarik oleh situasi yang serba tak menentu. pernah bertugas ke luar negeri (Bosnia) sebagai dokter A. (Universiti Kebangsaan Malaysia). ayah dari Tarusan. Painan. Oleh sebab itu. kita bisa membayangkan betapa gelapnya kondisi bangsa ini. Dokter ini cukup santun dalam penampilannya. kemerdekaan bagiku adalah sesuatu yang mutlak. Ada lagi dokter lulusan Universitas Sumatera Utara. dosen Fak. Sabiruddin kelahiran Muaro karena orang tuanya merantau lokal ke daerah itu. apalagi kawasan Sumpur Kudus yang sudah terpencil itu pasti akan semakin terpuruk lagi.A. Rasanya tidak akan lebih maju dari itu. Dakwah I. Dia adalah dokter pertama warga kampungku lulusan Universitas Indonesia Jakarta. Ruswandi Aswad.D.I. Maka sangatlah besar jasa mereka yang telah membelanjakan sebagian usia produktifnya untuk . yaitu Mayor dr. tetapi belum pernah menetap di Sumpur. Dokter ketiga masih dalam pendidikan dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang yang kedua orang tuanya asli Sumpur Kudus. Imam Bonjol Padang.R.. Dan aku sendiri tentu hanya akan menikmati pendidikan tingkat S.

otak-otak Sumpur Kudus ternyata tidak kalah dalam bersaing dengan otak orang kota asal berani merebut kesempatan dan .” Sungguh padat dan padu kalimat ini. sebuah perumusan sikap bangsa yang bernilai strategis universal. maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. sesuai dengan semangat zaman yang sudah talak tiga dengan segala bentuk penjajahan. hidup tanpa inisiatif.48 berjuang dalam upaya meraih kemerdekaan bangsa. dan lebih suka menadahkan tangan minta bantuan. Benarlah Pembukaan U. jangan berharap akan muncul dewi fortuna dari langit untuk menolong. Memang tidak ada jalan lain untuk mengubah nasib kecuali dengan cara bekerja keras. dan mau mengalami proses pencerahan terus menerus. Kemerdekaan kemudian harus diisi dengan mencerdaskan jiwa dan otak anak-anak bangsa. sekalipun itu sesuatu yang halal. Setelah dilepas ke gelanggang.D. dengan segala pengorbanan yang luar biasa dan beratnya beban derita yang telah mereka tanggungkan. Tanpa kemauan keras untuk maju. Bukankah tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah? Iqbal dengan filsafat ego-nya yang terkenal mengatakan bahwa seseorang sebaiknya menghindari harta warisan. di samping di tangan Allah. bukan suatu yang diwariskan kepada kita. demi lepas dari penjajahan durjana. akan banyak ditentukan oleh dirinya sendiri. Allah baru mau intervensi manakala manusia mengambil inisiatif untuk menentukan hari depannya. Nasib seseorang. Milik kita yang sejati ialah apa yang kita usahakan.U. tabah. Agama sangat tidak senang kepada mereka yang malas. 1945: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu.

Salah satu alasannya mungkin karena aku lahir di sana. seperti yang telah kusinggung di muka. Sekalipun belakangan ini aku kadangkadang kesal melihat perilaku sebagian anak nagari Sumpur Kudus yang tidak pandai bersyukur dan tidak hirau dengan agama. dibesarkan selama 18 tahun oleh air Batang Sumpur yang tidak pernah berhenti mengalir itu. Ini memang adat kebiasaan orang kampungku. Kalau sudah lebur ke dalam samudera. membangun rumah di tanah suku isterinya. karena ini berkaitan dengan masalah pendidikan yang banyak sekali tantangannya. aku sering mengunjunginya. lahir di Tepi Balai. Ibuku berasal dari “kota” Sumpur Kudus. Aku tidak tahu apakah kakak-kakak dan abangku juga lahir di Calau atau di Sumpur Kudus. Boleh jadi. Masalah moral anak-anak muda kampung menjadi bagian dari perhatianku.49 membaca peluang untuk maju. apalah artinya Batang Sumpur yang hanya sebuah unsur kecil belaka di antara ratusan ribu sungai di muka bumi? Alasan lain yang tidak kalah pentingnya mengapa aku tidak bisa melupakan Sumpur Kudus adalah karena ibuku lahir dan berkubur di sana. setelah ayahku mengawini ibuku. . Peluang itu tentu tidak selalu datang. Sungai yang berhulu jauh di utara menuju selatan. Aku tidak tahu mengapa begitu. baik di kota mau pun di desa. sekalipun belum tentu menginap agak satu malam. sampai bergabung dengan Batang Sinamar di Padang Lawas. Di hari tuaku. cintaku kepada kampung ini tidak pernah memudar. sebelum akhirnya menuju ke laut lepas dan menjadi asin. mereka kemudian pindah ke dan membangun rumah di Calau di tanah suku Caniago belahanku.

dia harus merelakan hasil jerih payahnya itu untuk bekas isterinya. Kembali ke masalah rumah. anak laki-laki punya kamar tersendiri di rumah orang tuanya. Atapnya yang terbuat dari seng juga pasti dimakan karat. lelaki Minang tidak jarang tidur di surau. tetapi untuk pedesaan pola di atas seakan telah menjadi norma. Tentu pada zaman modern ini telah terjadi perubahan di sana-sini. bila berlaku perceraian. Jarang yang bisa akur jika masing-masing sudah berkeluarga. . Perbedaan tingkat ekonomi pasti akan menyulut masalah dan sering menimbulkan ketegangan demi ketegangan. rumah model dan gaya semacam ini sudah semakin sedikit peminatnya. Rumah kayu yang bukan terbuat dari kayu jati atau kayu sungkai memang tidak kebal dimakan bubuk zaman. Beruntung kalau si lelaki ini punya keturunan. Malang bagi yang tidak. karena memang tidak praktis. Rumah bertanduk yang sering dihuni beberapa keluarga. Repotnya adalah bila terjadi perceraian. Sekarang di Minangkabau. Pencarian apa yang disebut gono-gini untuk tingkat kampung tidak terdapat di sini. rumah itu pada gilirannya akan menjadi milik anaknya sendiri. Oleh sebab itu seorang lelaki Minang yang belum disentuh budaya kota harus menyiapkan mental.50 Penyimpangan tentu selalu ada. untuk pulang ke rumah orang tuanya mungkin dengan tangan kosong. si lelaki harus meninggalkan rumah hasil jerih payahnya itu untuk ditempati oleh lelaki lain yang mengawini jandanya. Jika bisa bertahan 5075 tahun sudah cukup bagus. Sama sekali tidak nyaman bagi mereka yang ingin hidup mandiri setelah bersuami di antara sesama saudara perempuan. sungguh ruwet untuk dipertahankan. Jika rumah orang tua tidak mencukupi.

ladang. dan sulit untuk bernapas lega. sementara luas tanah umumnya tidak bertambah bahkan menyusut. Bagiku. Kenyataan ini jelas mengundang masalah di antara sesama saudara. jangan menyerah kepada rintangan. jika seseorang sudah berumah tangga harus memisah dari lingkungan rumah bertanduk sebagai warisan itu. Lahan sempit sedangkan jumlah manusia yang memerlukannya berkembang biak. tidak banyak: otak jangan dibiarkan menganggur. Tanpa berusaha untuk menjadi manusia bebas. dunia ini akan terasa semakin sempit. sekalipun pada masa modern ini. kebun. jangan percaya kepada kegagalan. Bergantung kepada tanah semata. Sebagian giat dalam dunia perdagangan yang memang menjadi salah satu ciri orang Minang. Berpikir terus dan terus berpikir. beban melulu. Tanah adalah milik suku atau keluarga. cara hidup semacam itu sudah banyak yang ditinggalkan. Jumlah anggota bertambah terus. jika otak tidak dipakai untuk mencari jalan ke luar. kolam ikan. risikonya hanya satu: terjadi proses pemiskinan. atau pekarangan. Untuk kelangsungan hidupnya. dan memang harus ditinggalkan. Sebagian tanah tadi tidak saja berganti fungsi tapi di atas sebagian tanah ini telah didirikan berbagai bangunan.51 Aku tidak tahu sudah berlangsung berapa abad orang Minang bertahan dalam suasana komunal yang berdesak-desakan semacam itu. Manusia memerlukan udara bebas dan iklim merdeka sebagai unit keluarga baru yang memang harus belajar hidup merdeka. Syaratnya hanya satu. Jadikan kegagalan sebagai tangga untuk meraih keberhasilan bagi mereka yang berpikir positif. orang Minang pada mulanya sangat tergantung kepada tanah berupa sawah. Aku mungkin termasuk anak kampung yang berupaya . jelas tidak memadai.

sementara rantau adalah negeri orang tempat warga Minang mencari nafkah atau meniti karier. Kabarnya lebih dari 50% penduduk Minang yang mencari rezki di rantau. Dengan terbentuknya Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara persatuan. Para perantau tidak sedikit mengirimkan bantuan untuk nagarinya masing-masing. Sesuatu yang semula dinilai tabu oleh adat Minang. sesuatu yang hampir tabu pada zaman Siti Nurabaya atau Salah Asuhan. semakin banyak saja orang Minang melakukan kawin campur dengan suku-suku lain. baik untuk keluarganya sendiri atau untuk keperluan publik. tetapi ada pula sedikit yang menetap kembali di kampung. betapa pun beratnya berbagai cobaan dan keprihatinan silih berganti menerpa dan menghimpit perasaan pada suatu ketika. dengan perubahan sosial yang tidak bisa dibendung. Aku dan keluargaku tampaknya termasuk dalam kategori “merantau Cina” ini. Sebagian besar “merantau Cina”. kawin lintas suku itu alamiah belaka. Setelah proklamasi kemerdekaan. Mungkin realitas sosio-ekonomi yang serba tidak kondusif inilah yang merupakan salah satu faktor pendorong kuat mengapa si Minang laki-laki khususnya harus pergi merantau. Maka istilah ranah merujuk kepada bumi Minang dan mereka yang menetap di sana. Tanpa rantau. Ranah dan rantau saling melengkapi. Banyak sekali di antara mereka yang berhasil di negeri orang. . ranah Minang tidak mungkin menghidupi diri sendiri. tidak kembali ke kampung secara permanen. sekalipun banyak pula yang tidak mau lagi mengaku sebagai berasal dari ranah Sumatera Barat.52 untuk tidak menyerah kepada rintangan. dua novel karya Marah Roesli dan Abdoel Moeis tahun 1920-an. Ini fakta keras yang harus diakui semua pihak.

tetapi juga harus pandai membaca alam semesta. Secara filosofis. tidak saja terkurung dalam kategori pengecut.” Dengan berpegang kepada filosofi ini. orang Minang semestinya tidak cuma belajar di bangku sekolah atau madrasah. pengguna harta pusaka. Bagiku tidak ada masalah. Bahwa banyak juga orang Minang yang tidak meninggalkan rumah “mande” (ibu) seumur hidup tentu selalu ada dan memang harus ada. apakah ranah akan dibiarkan lengang tanpa penghuni? Tentu mustahil bukan? Yang perlu diupayakan terus menerus adalah agar ranah dan rantau tetap melangsungkan dialog dan komunikasi untuk kemajuan si Minang dalam bingkai Indonesia yang bersatu. penyandang gelar suku.53 semuanya telah mencair dan berganti. Filosofi itu berbunyi: “Alam terkembang jadi guru. asal nilai-nilai dasar Islam tidak dilangkahi. merupakan kekuatan pendorong yang dahsyat untuk maju dan berkembang. tidak mungkin netral. Di sinilah letak kepentingannya bagi si Minang untuk mengetahui masa lampau Minangkabau dengan karakteristiknya yang khas. seharusnya orang Minang itu tidak saja berani merantau. Dalam perspektif ini. Jika semuanya merantau. dan pewaris adat Minang. Merekalah yang umumnya menjadi penghuni dan penjaga nagari. si Minang yang ciut nyalinya bila memasuki kawasan kultur lain yang asing sifatnya. dan . aku jelas seorang yang berpihak. demokratik. Dalam masalah dasar ini. tetapi juga berupaya untuk tampil sebagai warga dunia dengan wawasan universal. Filosofi ini jika dipahami secara benar dan dalam. sekalipun bukan tanpa gesekan. tetapi memang tidak paham filosofi dasar Minangkabau yang sering dituturkan kaum adat pada upacara-upacara tertentu. berani.

Banyak cara hidup itu yang sudah lapuk dan rapuh bila ditengok melalui parameter perubahan zaman. dan ekonomi. Natsir. Namun orang juga harus jujur. Sjabilal Rasjad. khususnya bagi mereka yang sudah mengenal unsurunsur positif dari sub-kultur suku-suku lain selama di rantau. Bahder Djohan. Assaat. memang adalah sebuah kenyataan. tetapi mereka jadi “orang” setelah bergumul dengan kultur lain di rantau. Sjahrir. ranah Minang itu bak sri-gunung. Hatta. Rusjad Nurdin. Seorang Tan Malaka (lahir 1896 di nagari Pandan Gadang. dikungkung oleh alam Minang yang sempit. mungkin seperasaan denganku. bahwa dalam beberapa hal. Isa Anshary. setelah didekati terlihat banyak boroknya. adalah Minang belaka. jauh terlihat cantik.” Pandan Gadang adalah adalah nagari kecil dalam Kabupaten Lima Puluh Koto.” Sekiranya mereka tidak beranjak dari kampungnya masing-masing. intelektual. Si Minang yang sudah pernah hidup di rantau. sebab rantaulah yang memberi peluang kepada mereka untuk maju dalam mengaktualisasikan potensinya: baik secara spiritual. Dari rahim Ranah Minang sudah banyak contoh yang patut disebut. Hamka. Sumatera Barat. tidak betah lama-lama tinggal di kampung.54 egalitarian. potensi mereka yang luar biasa tidak akan berkembang. sebab itu semua merupakan bagian dari “alam terkembang. Halim. Oleh sebab itu si Minang wajib menghargai tanah rantau. Suliki. Bahwa mereka tetap bangga dengan Minang. dan terbunuh 1949 di Jawa Timur) pernah tampil sebagai salah seorang tokoh Komintern (Komunis Internasional) tentu diilhami juga oleh doktrin “Alam terkembang jadi guru. tetapi kebanggaan . Tokohtokoh seperti Agus Salim.

Selain rumah tempat kelahiranku ini. nagari. Tidak ada dosa sejarah dengan mengambil sikap semacam ini. etekku. Di luar semuanya itu boleh saja diubah atau bahkan ditinggalkan. Aku pun tidak percaya dengan pepatah: “tak lekang karena panas. itu semata-mata karena capaian pribadi yang juga terbuka untuk semua orang untuk mencapainya. juga rumah untuk adiknya Bainah. bupati.” kecuali bila itu bersangkut paut dengan nilai-nilai dasar adat yang dibenarkan Islam. Filosofi sosial Minang mengajarkan agar semua orang merdeka. Kita tengok lagi rumah gaya lama gaya Minang. Rumah-rumah ini umumnya berdinding dan berlantai kayu dengan atap seng. rumah kakakku itu masih berdiri. Kalau ada yang lebih. di mana penguasa sajalah yang benar-benar merdeka. Mungkin agar jejak sejarah yang serba Minang tidak pupus begitu saja. 2005. wali kota. camat. Pada waktu aku berkunjung ke Sumpur Kudus pada Jan. dan lain-lain. Bagiku parameter yang benar dalam mengukur sesuatu yang menyangkut adat adalah parameter Islam yang dipahami secara benar sesuai dengan realitas zaman yang sedang dihadapi. Aku sendiri sudah tidak tertarik lagi dengan rumah bertanduk empat itu. tak lapuk karena hujan. semua orang setaraf dan sederajat. masih mengabadikan bangunan gaya lama ini. Mungkin budaya egalitarian Minang sebagai fondasi sistem demokrasi merupakan salah satu unsur budaya yang dibanggakan itu. seperti juga yang aku rasakan dan praktikkan selama ini. tetapi mungkin sudah tak . dan rumah untuk kakak sulungku Rahima. Memang kantor gubernur. Ayahku telah membangun beberapa rumah. Orang Minang akan merasa sangat gelisah hidup di bawah sebuah sistem politik otoritarian.55 mereka biasanya disertai sikap yang sangat kritikal.

demi membela kemerdekaan.D. itu yang memang tinggal di rumah ayahku. Gudang dalam pengertian di atas bukan untuk menyimpan barang.D. Kedatangan tokoh-tokoh P. Ada yang masih bertahan. Pokoknya sudah mengikuti bentuk dan model arsitektur modern.R. Aku tidak tahu mengapa orang kampungku menyebutnya gudang. Orang kampung menyebutnya gudang Hima karena bentuknya sudah meniru bangunan kota tanpa tanduk.D.R. dan sekarang dijadikan surau untuk mengaji. Apa yang ada pada mereka telah disumbangkan. pedagang gambir terkenal. Mungkin rumah ini dibangun ayahku pada 1930-an untuk menyambut anak perempuan pertamanya. pimpinan Sjafruddin Prawiranegara tahun 1949 untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa. kampungku ternyata juga punya andil untuk kemerdekaan. tetapi rumah biasa untuk tempat tinggal manusia.I. Aku bayangkan. dan kemudian untuk dirinya sebelum dan sesudah ibuku wafat. Entah sudah berapa ton beras yang disumbangkannya untuk kepentingan revolusi kemerdekaan sejak 1945 sampai . disambut hangat oleh orang kampungku. kecuali kabarnya digunakan untuk menyimpan padi oleh anak Rahima. anak. Sekalipun tersuruk. alangkah berhasilnya ayahku dalam membangun ekonomi dirinya pada tahun 1930-an itu sehingga mampu mendirikan beberapa rumah untuk adik.R.I.I. Salah seorang adik Lintauku lahir di sini dan diberi nama Aurina Radiati oleh staf radio pemancar P. Yang terbesar menyumbang adalah Pak Halifah.56 layak huni. Aku pun sewaktu masih kecil pernah juga sekali-sekali menginap di sana. Surau ini dulu dipakai oleh pusat pemancar radio P.

dan komoditas lain. seperti jalan yang beraspal dan listrik. Di atas reruntuhan itulah ayahku mendirikan bangunan baru yang sangat sederhana. Sumpur Kudus termasuk yang tidak diperhatikan selama puluhan tahun. Rumah yang di Lintau juga hancur karena sudah tua. Kembali kepada ibuku. terutama untuk sarana-sarana publik melalui berbagai lobi yang kulakukan di Jakarta pada usia tuaku. Tanah itu sendiri adalah milik suku etek Lamsiah. Setelah pengakuan kedaulatan. juga dibuatkan rumah oleh ayahku. kerbau. Suasana semacam ini pun semakin menambah cintaku kepada nagari yang memang perlu dibantu ini.57 1949 di samping uang. kemudian adikku Nurhayati bersama suaminya Herman telah pula membangun rumah baru di atas bekas tanah perumahan yang didirikan ayahku itu. Tujuanku tidak lain kecuali agar tanah kelahiranku dan sekitarnya merasakan pula fasilitas modern. tetapi semuanya sudah hancur. Tetapi sebagaimana nasib kebanyakan desa di seluruh Indonesia yang pernah berjasa untuk perjuangan kemerdekaan. sapi. ayahku sudah tidak mampu lagi membangun yang baru. Revolusi banyak membawa bencana dan korban. Pusara ibu inilah yang sesekali aku ziarahi sewaktu aku pulang kampung. Devisa negara tersedot oleh para penguasa di kota. Jasadnya . Untuk adik-adikku di Tanjung Ampalu dan Lintau. sementara sebagian besar desa tetap dibiarkan sunyi tak dipedulikan. sekalipun bertujuan mulia untuk kemerdekaan. ekonomi ayahku sudah tidak pernah pulih seperti sediakala untuk menghidupi dua rumah tangga sekaligus dengan adik-adikku yang masih kecil-kecil. berkunjung kepada ibuku dalam kenangan. Yang di Tanjung Ampalu dibakar pada zaman revolusi.

aku malah “dipaksa” lagi untuk menjadi guru besar emeritus di kampus yang sama. yaitu tiga orang kakakku. Kesadaran sejarahku waktu itu masih tumpul dan lemah sekali. aku betahkan juga untuk membantu mereka dengan alokasi waktu yang sangat terbatas. Alangkah bahagianya sekiranya ada foto ibuku yang sedang menggendongku. Tentu selagi aku masih bayi sempat juga digendongnya. Dan jelas tak seorang pun. Tetapi demi menenggang perasaan teman-teman. Rahima bahkan sudah punya anak satu (Zainal Abidin. lahir 1936) sewaktu ibuku wafat. Nursahih.58 telah luluh menyatu dengan tanah. Rahima. dan bibi-bibiku pasti mengerti sifat-sifat ibuku. Juga mereka tentu ingat bagaimana perawakan ibu. Sulit sekali aku membayangkan sosok ibuku. dan seperti apa pula ketika dia menggendong anak-anaknya. Aku sungguh menyesal mengapa aku tidak bertanya tentang ibuku. paman-paman. Kepada kakakku . Setelah memasuki masa pensiun pada 1 Juni 2005. Ibu yang tak terbayangkan seperti apa perawakannya. termasuk aku dan keluargaku. tanah sebagai asalmuasalnya. yang memperkirakan bahwa aku setelah dewasa menjadi seorang peminat sejarah. kakak-kakakku. seperti apa senyumnya. dan pamanpamanku masih hidup aku tidak menanyakan tentang itu. sedangkan kakakku Nursiah pada tahun 1937 itu sudah berusia sekitar 10 tahun. sementara aku sendiri sebenarnya sudah jenuh memberi kuliah. Akan kutatap foto itu berkali-kali sambil membiarkan air mataku meleleh tak tertahankan. sebab mereka cukup lama hidup bersama. Tentu segalanya ini berlaku karena kelalaianku sendiri. bahkan guru besarku adalah dalam filsafat sejarah pada Universitas Negeri Yogyakarta. Mengapa sewaktu ayah.

Pada masa itu. Usiaku dengan Zainal hanyalah berbeda setahun. tetapi dengan Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) yang telah berdiri dengan megah di kampungku sekarang. Tidak seperti aku yang tidak sempat mengenal wajah ibuku. . tidak lebih dari itu. orang kampung lebih memilih berobat ke dokter. aku pun tidak pernah bertanya tentang ibu yang setiap hari ada dalam ingatanku. Allah bertindak menurut kemauan-Nya yang tetap misteri bagi manusia sepanjang masa. Yang bertindak sebagai tabib adalah para dukun yang biasa menghembus-hembus penyakit seseorang dengan napas mulutnya yang bercampur air liur. Inilah di antara rahmat kemerdekaan yang telah dirasakan oleh orang kampungku sebagai warisan pemerintah Soeharto yang dalam hal ini patut dipuji. Dukun model ini masih ada saja sisa-sisanya di pelosok-pelosok yang belum tersentuh proses pencerahan. menteri kesehatan saja tidak ada di kampungku. Kita hanya mampu berspekulasi menafsirkan kehendak-Nya itu. tetapi sepenuhnya merupakan rahasia Langit. jangankan dokter. Spekulasi tidak akan pernah memberi jawaban pasti. Tentu aku tidak boleh menyesali semua yang berlaku ini.59 Nursahih yang dekat denganku. Mengapa ibuku berangkat ke alam baka dalam usia yang masih muda? Jawaban terhadap pertanyaan ini bukan urusan manusia. sebab rahasianya bukan di tangan manusia. kita hanya bisa mengira-ngira. Zainal dan adik-adiknya betul-betul puas hidup bersama kedua orang tuanya sampai keduanya wafat dalam usia 80 tahunan. Aku pun tidak tahu betapa gembiranya ibuku sewaktu menyambut kedatangan cucu pertamanya Zainal.

Bagiku gelar-gelar sayid. karena mengabaikan filsafat sebagai metode berpikir kritikal. atau bahkan keturunan nabi. jika anda mau mengatakannya demikian. atau keturunan bajak laut dan perompak lanun yang kemudian ditakdirkan menjadi raja. Tidak jarang memang sebagian manusia terpuruk ke dalam lembah ini.” Apakah ada doktrin Kitab Suci selain al-Qur’an yang menilai begini tinggi kerja spiritual seseorang? Di sini apa yang dikenal dengan ungkapan personal achievement (raihan pribadi) menjadi sangat penting dan menentukan. dan apa pun. termasuk dalam kategori perbudakan spiritual ini. Posisi . Filsafat dalam kaitan ini adalah pembantu iman dalam pergumulannya dengan serba realitas. Untuk merebut posisi taqwa. yang mengaku keturunan nabi. dan rasional. menjadi budak spiritual. radikal. dan dianggap keramat dan suci oleh sebagian orang. Filsafat juga melakukan kritik terhadap iman-iman palsu yang menyimpang dari tauhid. Fungsi filsafat hanyalah agar otak manusia jangan sampai lumpuh berhadapan dengan sesuatu yang tidak rasional. sultan. syarifah. ulama. wali. habib. Hubungan darah sudah tidak punya makna apa-apa. atau keturunan raja.60 sekalipun para filosuf telah mencobanya selama berabadabad. yang dapat menyebabkan manusia menjadi korbannya. dan 1001 gelar lain. Mereka yang mendewakan keturunan raja. amir. hulubalang. terbuka bagi seluruh orang beriman. menurut pemahamanku. ekonomi. akan runtuh berkeping-keping berhadapan dengan ayat al-Qur’an surat al-Hujurat 13: “Sesungguhnya yang termulia di antara kamu di sisi Allah adalah kamu yang paling taqwa. sejarah. tanpa terkait dengan latar belakang keturunan. kultur.

tinggi sedang. kualitas iman dan amalnya. Inilah aku setelah dewasa setelah belajar al-Qur’an pada Fazlur Rahman selama beberapa tahun di Chicago. Kebiasaannya pakai kopiah sutera hitam.61 seseorang di dunia ini menurut yang kupahami ditentukan oleh kualitas hidupnya. Makamnya terdapat di Tapi Selo. Ayat di atas sungguh dahsyat dalam memberikan status sama tanpa diskriminasi kepada manusia untuk merebut martabat dan keagungan nilai ruhani sejauh yang mungkin dicapai dalam batas kapasitas manusia. kulit agak hitam. Jika dengan ayah aku sempat bergaul sampai tahun 1953 sebelum aku berangkat ke Jogjakarta. di tanah persukuan orang Melayu. Atas . Bagiku al-Qur’an adalah rujukan terakhir dan tertinggi dalam merumuskan sikap hidup beragama. Wajahnya bersih. berkumis agak tebal. Dengan paradigma semacam ini. tempat pendidikanku yang terakhir. sekalipun dalam usia yang hampir mendekati setengah abad. Semula ayahku sakit di Tanjung Ampalu. tidak oleh yang lain. Terserahlah kepada kesungguhan dan ketulusan manusia untuk bergerak menuju posisi mulia yang terbuka itu. sekalipun sudah menua. karena memang demikianlah jalan hidup yang harus dilalui. Sesudah itu aku tidak pernah lagi berjumpa secara fisik dengannya. memboyongnya ke Tapi Selo sampai wafat di sana. kemudian etek Lamsiah. Islam bagiku pada akhirnya sudah merupakan pilihan secara sadar. Rambutnya tak pernah memutih secara total seperti rambutku juga. dan bila berjalan melenggok. di tempat ibu tiriku mak Maran. bukan hanya karena keturunan. terbukalah peluang yang sama bagi semua anak Adam untuk berfastabiqul khairat (berlomba untuk kebaikan) di muka bumi ini. ibu tiriku yang lain.

Sayang aku lupa namanya. Wahid. di alam yang lain sama sekali. suku ayahku. Ayah dan ibuku. dalam umur yang setua ini. entah di bumi mana. Entah ayahbundaku. khususnya dengan ibuku. nagari tetangga Sumpurkudus. apakah di akhirat kita dapat berkumpul kembali. Di atas itu semua aku tak sempat membalas jasa keduanya. sebuah alam yang abadi menurut ajaran agama. salah seorang dipanggil Ani. jasa yang tanpa batas dan tanpa ujung itu. makam ayah kami telah kami pugar sekadar tanda bahwa ayah kami berkubur di sana. Pada saat-saat tertentu rinduku kepada keduanya terasa sangat dalam dan dalam sekali. sedangkan ayahnya (gayekku) berasal dari suku Melayu. beristirahatlah di sana. sedangkan kakak ibuku tampaknya wafat sewaktu masih kecil. yang pernah kujumpai sewaktu aku masih kanak-kanak. suatu sikap ruhani yang memang dituntunkan al-Qur’an. yang kata orang rupanya mirip ibuku. Aku pun tidak mengerti mengapa cintaku kepada orang tuaku sampai berlarut-larut begini. Ada tiga lagi saudara ibuku yang seayah berasal dari Silantai. aku pun tidak tahu. Uwoku (ibu dari ibuku) bernama Rajo Aminah. Mungkin karena aku tidak sempat hidup bersama mereka dalam tempo yang relatif cukup lama. Ibuku bersaudara seibu seayah ada tiga orang: ibuku dan adiknya Marah. pamanku. dan tidak jarang aku menangis sendirian. Aku memanggilnya ande .62 saran adikku Nurhayati beberapa tahun yang lalu. kewajibanku sebagai anak bungsu dari isteri pertama ayahku adalah mendo’akan ampunan bagi keduanya yang telah mengasuh dan membesarkanku. anak bungsumu ini rasanya tidak lama lagi akan menyusulmu. Setelah ibu-ayahku pergi. Adiknya yang lain A. lain ayah dengan ibuku.

tetapi punya dua keturunan perempuan. kontak psikologisku dengan saudara-saudara yang tinggal di Silantai tidak begitu terasa. Siti Dariyah. Tak lama kemudian adik ibuku ini wafat. Baili. Rauf dan Bailam) berjumlah tujuh: Ma’rifah. Nurbahri. Semuanya sudah tiada. Aku pun pernah dibuatkannya lading (pisau panjang) yang sering kubawa ke mana-mana. Tidak jarang aku makan di rumahnya bersama adik-adik sepupuku yang masih kecil-kecil. Yang masih hidup tinggal satu. yaitu mereka yang umurnya di bawah ibuku. sementara dua adik laki-lakinya yang kupanggil datuk telah lebih dulu pergi. sementara Saidina Hasan (kupanggil pak oncu Naksan) wafat pada 1949 di Rumah Sakit Sawahlunto dalam usia sekitar 32 tahun karena sakit.63 Ani. tinggal lagi keturunannya yang aku tidak tahu jumlahnya. Beberapa tahun yang lalu. Mattudin Rauf. Bainah. dan Ahmad. Orang kampung memanggil ibuku onga Tiah. Karena tidak bergaul sejak dari kecil. Onga adalah panggilan untuk anak kedua dalam tradisi kampungku. Karimah. . merangkap dukun. aku menangis sejadi-jadinya karena aku sungguh kehilangan pak oncu yang dekat denganku. adik perempuan ibuku di sana sedang sakit berat. dan Jiwahur (wafat waktu kecil). sementara anak dan cucunya masing-masing entah berapa jumlahnya. Oncu Naksan amat menyayangiku. Pada saat wafatnya. dan aku berkunjung menengoknya dalam keadaannya yang setengah sadar. baik laki-laki atau pun perempuan. Dia tukang kayu dan sekaligus pandai besi. Isterinya bernama Saujah yang kupanggil ande. Saidina Hasan. Ayahku bersaudara seayah-seibu (Abd. Karimah dan Ahmad wafat sewaktu masih kecil.

ayam. Suara elang ini sungguh menakutkan bila berbunyi di waktu malam. Sewaktu aku belajar di sekolah rakyat dan madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah. Rauf (dipanggil Badurau). gelar Manti Besar. tetapi aku tak pernah bertemu dengannya. jumlahnya aku tidak tahu. dari suku Domo. Mangsanya tidak hanya ikan. dan A. Tentu aku bangga karena seumur itu sudah biasa menembak. Sampai tua uwo . Yang jelas aku sudah biasa menikmati daging hasil buruannya yang segar dan manis. adalah seorang dukun dan tukang yang cukup dikenal sampai ke nagari-nagari lain dalam kecamatan Sumpur Kudus. hubunganku cukup dekat. Lebih dari itu. Ibu ayahku Bailam masih sempat kujumpai pada saat kecilku. bedil pakoncu Tudin biasa kupakai untuk menembak binatang dan burung. ular. Aku masih ingat pada suatu sore di kampung Patopang aku menembak jatuh seekor elang hantu (Bahasa Sumpur: olang katutuih) yang biasa mencuri ikan di kolam penduduk. Matanya tajam menembus. dan binatang lainnya adalah santapan hariannya. Orang tua ayahku Abd. dengan anak dan cucu yang juga berkembang biak. Binatang-binatang ini disambarnya dengan kukunya yang sangat kuat dan paruhnya yang tajam agak membungkuk. tikus. Aku memanggilnya uwo. Raadin. Sudah berapa ekor rusa dan kijang yang direbahkannya dengan bedil. Pak enek Wahab hampir seumur denganku. Ayahku sangat menghormati ibunya. Sedangkan pakoncu Tudin memang dikenal sebagai pemembak ulung. Wahab.64 Dengan pakoncu Mattudin Rauf (pakoncu Tudin) dan isteri pertamanya onga Sarikayo. Saudara ayahku lain ibu (uwo Datun) ada tiga: Raayan (sudah wafat). aku sering makan di rumah pasangan ini di kawasan Patopang.

Maklumlah anak desa yang tidak cukup punya angan-angan sejauh itu untuk bertanya. watak dan sifat-sifatnya bagaimana. Yang aku sedikit menyesal. seperti telah kusinggung. / S. Belahan sepupu ibuku dari pihak ibu umumnya berpihak ke Perti. M. Sekiranya itu aku lakukan. Kariernya sebagai guru dan Kepala Sekolah cukup lama. ayahku sangat terhormat di mata adik-adik dan familinya. dan mungkin juga Rivai dari suku Piliang yang pernah menjadi camat Sumpur Kudus. . Suami Rahima. adalah karena aku tidak pernah bertanya kepada ayahku tentang ibuku. Hubunganku dengan ayahku akrab sekali. seorang guru S. Ibuku sendiri sewaktu wafat belum lagi mengenal Muhammadiyah karena memang gerakan pembaruan ini belum lagi menjamah kampungku. adalah salah seorang pelopor Muhammadiyah di kampungku. Oleh sebab itu. sukuku sendiri. Mungkin karena ibuku wafat muda. begitu juga dengan abangku Nursahih. yang pandai berbahasa Belanda.65 Bailam di bawah tanggungan ayahku. sekalipun dia sudah berumahtangga dengan isteri-isteri lain. Bahkan sempat bertugas di Pitala (Padang Panjang) dan di Kubang Sirakuk (dalam Kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung).D. di samping membantu adik-adiknya. tentu ayahku dengan senang hati akan menuturkannya. Nalam (alumnus Normaal School). hubunganku dengan keluarga ayah (suku Melayu) jauh lebih akrab dibandingkan dengan keluarga pihak ibu (suku Caniago). Pada waktu itu dan bahkan sampai sekarang orang kampungku yang pandai berbahasa Belanda adalah kakak iparku itu. Belakangan kekurangakraban ini ditambah lagi oleh perbedaan organisasi antar kami: Perti dan Muhammadiyah.R.

I. Dari kampus I. dan Malaysia.P. dan Surakarta.P.I. Ohio University (Athens). aku pun tidak tahu. Lombok. Aku sudah sulit mengenal mereka semua. Keturunan darah Abdurrauf-Bailam mungkin jumlahnya sudah ratusan.I. Jawa.K.Y. U. dan the University of Chicago (Chicago) antara tahun 1972-1982.N. Bertemu di jalan mungkin kami sudah tidak saling menegur karena jarang atau tidak pernah berjumpa. dan antara Nursiah dan aku juga sekitar tujuh tahun. bertebaran di seluruh nusantara. Jarak umur antara kami bersaudara seibu-seayah bervariasi.K.S. dan menetap di kota ini sampai saat tua. Antara Rahima dan Nursahih hanya terpaut sekitar dua tahun. Dengan kakakkakak perempuanku. seorang pendekar yang baru menjalankan salat setelah agak berumur. khususnya Sumatera.-I.) aku meneruskan studi ke Amerika Serikat dengan mengunjungi tiga kampus: Northern Illinois University (DeKalb). Tentang kuliah ini akan kuuraikan pada porsinya. Akhirnya di mana aku akan menetap bila tugastugas kemasyarakatanku telah usai. apalagi mereka pun telah berumah tangga dengan unit keluarganya masing-masing. Ayah-ibuku membina hidup bersama selama 18 tahun dengan membuahkan dua puteri dan dua putera dengan keturunannya masing-masing jumlahnya hitungan peleton dan siapa namanya aku pun tidak tahu. Mungkin akan sangat tergantung kepada kondisi . hubungan itu terasa biasa saja.K. antara Nursahih dan Nursiah tujuh tahun. (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta.66 kupanggil onga Sahih. Aku sudah merantau sejak tahun 1953 dalam usia 18 tahun: ke Jogjakarta. Kemudian kembali ke Jogja untuk meneruskan kuliah pada F.

kadang-kadang juga tidak jelas benar. dan ikannya jinak. jangan terlalu ngoyo (Bahasa Jawa: tak sabaran. Banyak dokumen yang tidak berguna. Bahwa aku seorang pekerja keras. mungkin banyak orang yang sudah tahu. pasirnya putih. Semboyanku sederhana saja. dan banyak yang miskin. yaitu kita jalani hidup ini secara wajar dan sebaik mungkin. sekalipun kamar kerjaku sering berantakan dan sumpek (Jawa: tidak segar) karena dipadati buku. dan ikannya tidak pernah jinak. semuanya itu adalah rahasia Allah. Dalam soal kerapian kamar kerja aku memang tidak dapat dicontoh. terlalu menguras enerji untuk mencapai sesuatu). karena memang di situ duniaku. Sungai ini tak pernah kering. dan dokumen yang tak sempat kuatur. semuanya serba dielokkan. Tetapi begitulah caranya orang kampung memuja tanah kelahirannya. aku diberi tahu bahwa ayahku menggendongku ke tepi Batang Sumpur. Dalam kamar inilah aku menulis. majalah. alamiah.67 kesehatanku dan pertimbangan isteriku Hj. tebingnya landai. sumber penghidupan para petani yang merupakan mayoritas penduduk kampungku. Sesaat setelah ibuku wafat. tak seorang pun yang dapat menentukan. semuanya serba dilebihlebihkan. Di kala kecil. kecuali yang sakit atau pingsan. Batang Sumpur ini digambarkan sebagai: “Airnya jernih. . kubiarkan saja “berkeliaran” dalam ruang kerja yang sekaligus kamar tidurku. membaca. sekalipun penduduknya serba sederhana.” sekalipun dalam kenyataannya ketika hujan lebat airnya keruh juga. tak jauh dari rumah kelahiranku sebelah barat melalui pematang sawah. aku juga gemar memuja kampungku. karena sempitnya ruangan yang tersedia. dan merenung. Nurkhalifah dan anak tunggal kami: Mohammad Hafiz. Apa yang direnungkan. Pun di mana aku akan berkubur.

apalagi oleh mereka yang sudah berumur tua. Aku hanya bisa membayangkan betapa runtuh dan remuk perasaannya ketika ditinggal isteri pertamanya dalam usia yang masih muda dengan meninggalkan seorang anak kecil yang sudah piatu dan samasekali belum paham apa makna kematian seorang ibu bagi dirinya. sebagaimana telah kusinggung sebelumnya. digantikan oleh kendaraan serba bermesin. adalah mak Sarialam. ibunda Sanusi Latief. aku masih sering berkunjung ke kampung. suatu kebiasaan yang tak terlalu lazim di kampungku. membantunya dalam batas-batas kemampuanku. Gambaran tentang sosok ibuku hanyalah terbayang dalam imajinasiku yang serba kabur. Tetapi kerinduanku kepada ibu tidak pernah surut. Terasa teramat dalam dan tulus. masyarakat dapat memakluminya. . berasap. Selagi sehat kabarnya ibuku kalau bepergian biasa naik kuda dengan selendang sarung Bugis yang diselempangkan di bahunya. dan tentu mengotori lingkungan. Alangkah anggunnya ibuku barangkali ketika sedang berada di atas punggung kuda. Mereka ini semua adalah perempuan-perempuan elit pada masanya. sebuah panorama yang tidak lagi diikuti oleh generasi berikutnya. Ayah sewaktu ditinggal ibuku jelas merasa gundah dan sangat kesepian. menurut keterangan Nasaruddin (lahir 1928). mak Rasia. kakak sesukuku di kampung. Saat sering pulang. aku masih cukup dikenal oleh penduduk Sumpur Kudus. ande Lia. Apalagi budaya naik kuda sudah lampau. tidak lebih dari itu. Selain ibuku yang sering menunggang kuda. Tetapi sebagai isteri orang terkemuka pada tingkat nagari. kemudian menjadi kakak iparku. seorang perempuan kaya di kampungku.68 Sampai setua ini. ande Karang.

Di sana terdapat pula pasar ternak. kaum perempuan . Kumanis memang dikenal sebagai pasar serba ada. yaitu dari Sumpur Kudus ke pasar Kumanis pergipulang. Mengapa mereka tidak belajar kepada orang Minang dalam perkara manjat memanjat ini? Seekor beruk atau cigak mampu menurunkan kelapa sampai dalam jumlah ratusan sekali main. durian. Aku pun pernah memelihara beruk yang dikaryakan ini.69 Aku bayangkan betapa gagahnya perempuanperempuan yang menjadi ibu itu di punggung kuda. Hasil belian itu dibawa pulang oleh kuda beban dengan seorang pengiring. dan hasil hutan lainnya. bahkan dari Bukit Tinggi dan Padang. Sesekali dapat juga upah sebagai hasil menurunkan buah kelapa orang lain. Apa bukan merupakan sesuatu yang luar biasa. Mereka ke sana untuk berbelanja membeli keperluan sehari-hari. seperti dari Tanah Datar. karet. petai. Payakumbuh. Para pedagang berdatangan ke sana dari berbagai kabupaten. Di Minang. mangga. terbanyak di daerah Pariaman sebagai gudang kelapa. Istilah kuda beban menunjukkan profesi seseorang yang tugasnya mengangkut barang: dari Sumpur bawa gambir. dengan syarat disediakan makanan bergizi. Mereka menunggang kuda dengan jarak sekitar 60 km. Binatang pemanjat ini dilatih untuk memetik buah kelapa. budaya beruk dan cigak (kera) ini tetap lestari sampai hari ini. berangkat hari Senen. dan lainlain. Kembali kepada perempuan dan kuda. dari Kumanis bawa barang dagangan keperluan harian penduduk. kembali hari Rabu. Hari Selasa merupakan pasar besar di Kumanis. Keadaan ini sangat kontras dengan apa yang kusaksikan di Sulawesi Utara. Juga pasar kera dan beruk. di mana peran manusia pemanjat kelapa sangat besar dan menentukan. seperti telor dan tebu.

Aku pun bangga mendengar cerita semacam ini. kaum perempuan secara teori memang punya posisi dominan. setelah ada mobil. Aku yang laki-laki dalam perkara menunggang kuda ini jauh tertinggal oleh ibuku. karena aku memang tak pernah dilatih untuk itu. Akibatnya roda peradaban pun berputar semakin cepat. Sekarang jangankan naik kuda atau memelihara kuda beban. karena ibuku ternyata bukanlah manusia kolot pada saat Indonesia masih berada di bawah sistem penjajahan. apakah terkait dengan konsep itu? Aku tidak tahu! Yang pasti adalah bahwa ibuku merupakan salah seorang di antara yang pandai menunggang kuda. Sungguh besar perubahan akibat revolusi transporatasi dengan kekuatan mesin. kebiasaan perempuan naik kuda. dipanggil Patiah. Entah untuk berapa miliar tahun lagi. tidak kalah dengan kaum pria? Dalam kultur Minangkabau yang matrilinial. bensin. Di sebuah nagari yang tersuruk. Dan salah seorang di antaranya adalah ibu kandungku. tetapi kebiasaan menunggang kuda. Orang kampung menyebutnya onga Tiah. Fathiyah. terutama untuk menarik delman (bendi). tak seorang pun yang bisa mengatakan.70 melebihi sebagian besar kaum pria yang bisa dan biasa naik kuda pada masa itu. sinar yang memberikan kehidupan kepada seluruh makhluk. matahari sudah tidak akan bersinar lagi. Dengan budaya naik kuda. orang kampungku sudah tak pernah lagi melihat kuda. bukankah itu berarti pula bahwa posisi perempuan di kampungku sangat terhormat. dan solar. . bagiku adalah sebuah lambang kemajuan dan kesetaraan. bahwa perputaran itu akan berhenti suatu ketika. Tetapi iman menyebutkan. kecuali dalam tv atau pergi ke daerah lain yang masih memelihara kuda.

Sapi ini sering kuadu dengan sapi-sapi lain yang jauh lebih besar dan gagah. sapi putih yang bertanduk tumpul ini belum pernah terkalahkan. Yang menang pastilah sapi peliharaanku. . adik sepupuku yang pernah kuasuh dan kuajar mengaji selagi kecil karena umur kami berjarak empat tahun. Aku bangga memang dengan si bagak ini. adik ibuku seibu. aku juga membantu bekerja di sawah. khususnya antara dia dan mertuaku Sarialam. Mereka berdua telah sangat berjasa memelihara dan membesarkanku dengan segala suka-dukanya.71 Sepeninggal ibuku aku dipelihara bibiku Bainah. Aku tak sempat membalas jasanya secara berarti. Wahid. Sapi (disebut jawi di kampungku) ini milik Saiful. Tampaknya ayahku sengaja menitipkan anaknya pada adiknya sendiri mungkin agar dapat diawasinya dari dekat. sekalipun yang aku pelihara hanyalah seekor sapi jantan warna putih tetapi luar biasa berani (bagak)-nya. karena rumah ayahku sangat berdekatan dengan rumah bibiku. yang kemudian kawin dengan pamanku A. Kemudian sebelum aku berumah tangga pada 1965. Bersama paman dan bibiku. selama 16 tahun pada periode pertama aku hidup bersama bibi dan pamanku. Menyabit dan menjunjung rumput untuk makanan sapi tidaklah asing bagiku. adik ayahku. Kabarnya yang turut mencarikan isteriku Nurkhalifah adalah bibiku ini melalui pendekatan antar keluarga. Seingatku. aku masih juga ke tempat bibiku Bainah yang sangat menyayangiku. Kadang-kadang aku dan teman-teman pergi ke Menganti (sekitar 5 km dari tempat tinggalku) untuk mencari lawan sapi peliharaanku ini. jika pulang kampung. Sebelum aku pergi merantau. bahkan aku turut mengembalakan sapi milik mereka. Semasa di kampung biaya hidupku umumnya dibantu ayahku.

Perkara badan menjadi gatal oleh miang jerami. sementara air Batang Sumpur ketika itu sedang naik. lalu ditinggal di seberang sana. warnanya keruh kemerah-merahan. tentu dengan perasaannya yang sangat mendongkol akibat ulah buruk kami. Pokoknya bersianyut sepanjang dua km. jelas merupakan sebuah kekurangan dan agak aneh. menjala ikan dan memancing di Batang Sumpur. apalagi laki-laki. tak diraskan ketika itu. juga memerlukan kepandaian berenang. Orang kampung yang tak pandai berenang. Tentu bersama teman-teman sekampung yang sebagian masih hidup sampai awal 2006. Tak lama kemudian kami jemput lagi. Aku dan . Namanya Husin yang tak pandai berenang. Jelas saja Husin menangis sejadi-jadinya. Bukankah anak-anak muda di kampungku ketika itu suka bersianyut (berenang dari arah hulu ke hilir)? Kadang-kadang dengan menggunakan perahu batang pisang dan jerami. Suatu hari kami bimbing dia menyeberangi sungai itu persis di sebuah tepian di Calau. Sebagai lukisan tentang masa anak-anak yang ceria tanpa beban. tanpa anganangan yang membubung ke langit tinggi. Aku tidak tahu apakah Husin sampai tua tidak pandai berenang atau keadaannya tetap saja seperti kami “kerjain” puluhan tahun yang lalu. Kejadian lain yang masih terekam dalam memoriku adalah bahwa aku dan temanku Makdiah “mengerjain” teman lain. untuk bernostalgia tentang kehidupan kampung yang penuh warna-warni dan kadang-kadang menggelikan. Mereka rata-rata sudah berusia 70 tahunan seperti halnya aku. Aku berharap agar otobiografi ini akan sempat dibaca teman-teman sekampungku yang masih hidup. Tidak saja bersianyut.72 Sifat burukku adalah ini: suka mengadu sapi dan mengadu ayam.

Engkau ditarik orang untuk dijual atau disembelih. tetapi punya semangat tempur yang dahsyat. Mungkin aku . memandang hidup ini dari sisi negatif melulu. jika hal itu boleh digunakan di sini. ungkapan ini berlaku baginya: “alu tertarung patah tiga. Alangkah kagetnya aku kemudian. Islam menyatakan “ya” terhadap hidup. aku pun tidak tahu. Kembali ke sapi. Ternyata seorang anak manusia seperti aku dapat saja punya kaitan batin yang dalam dengan seekor hewan. biasanya tak pernah berjaya. Andaikata engkau mengerti. dengan segala tantangan dan risikonya. Sapi gagah bertanduk panjang dan runcing belum tentu menang bertarung dengan sapi bertanduk tumpul. aku melihat sapi yang pernah kupelihara itu ternyata sudah dijual dan dibawa orang ke arah Payakumbuh. Kenangan akan keberanianmu menghadapi lawan berkelahi tak pernah pupus dari ingatanku. tentu engkau paham betapa luluh perasaanku sewaktu engkau melewati Madrasah Mu’allimin Lintau pada saat aku sedang istirahat. Bagiku. Mungkin juga manusia tidak banyak berbeda dengan hewan. apalagi hewan itu bagak sekali. merengek. Selamat jalan sapi peliharaanku untuk tidak mungkin berjumpa lagi. dan sering menggerutu. tetapi semangat hidupnya lembek. Cukup berat batinku dibuatnya. Sebaliknya sosok manusia kecil tetapi punya élan vital (semangat hidup yang perkasa). entah di mana.73 teman-teman sebaya sama-sama menikmati suasana penuh nostalgia itu. Seorang yang tungkainya gagah perkasa. tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa karena bukan aku yang punya.” untuk sekadar mengutip bagian kalimat lagu Minang. sewaktu aku sudah belajar di Mu’allimin Lintau. tak pernah terkalahkan.

bahkan sebagian sudah punya cucu. tersuruk. sedangkan saudara seayah dari dua ibu yang lain yang masih hidup (Jan. apalagi usia ibuku. Nietzsche. Aurina Radiati. Agustar. kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung. 244 meter di atas permukaan laut. Usiaku sekarang sudah jauh melampaui usia ayahku. Rajo Malayu. Penduduknya umumnya bertani. Di antara bait itu berbunyi: “Tak kan kukayuh bidukku ke lautan tanpa buaya. tinggallah aku yang dikurniai Allah hidup sampai sekarang. Nursahih. di samping bertani juga berdagang gambir dan karet. Amrina. Jawa Barat. Seluruhnya sudah berkeluarga. filosuf Jerman. Dari empat bersaudara seibu seayah (Rahima. Ayahku Ma’rifah Rauf Dt. yang kontroversial itu. Nurhayati. dan Armayulis. Asnarti. sebagaimana telah kusebut . Syukri.” Iqbal sampai batasbatas tertentu dalam hal kehebatan manusia terpengaruh juga oleh sebagian gagasan F. Kondisi nagari ini. Adik-adikku di Bandung turut jadi panitia dalam perkawinan ini sebagai wakil orang tua Hafiz. Baru bulan pada 10 Juni 2005 Hafiz putera kami menikah dengan puteri Jawa Ginda Pramita Sari di Cimahi. sangat sederhana. dan aku). Yusnaini. jangankan punya cucu. karena besanku punya rumah dan sekolah di sana. 2006) berjumlah sembilan: Safinar. Nursiah.74 dipengaruhi puisi Iqbal dalam Israr-e Khudi (Rahasia Pribadi) dan karya-karya lain yang sudah menjadi klasik itu. punya menantu pun belum pada saat otobiografi ini mulai ditulis. sedangkan aku dengan putera tunggal (yang hidup). entah apa alasannya) dalam lingkungan kenagarian Sumpur Kudus. Di atas sudah kukatakan bahwa desa kelahiranku bernama Calau (pernah diubah menjadi Koto Salo. 30 km dari jalan raya. Sumatera Barat.

tidak ada angan-angan untuk jadi apa atau siapa. Sudah merasa dihargai orang banyak. Sewaktu kecilku tidak ada cita-cita tinggi yang ingin diraih. Andaikan itu terjadi. karena memang lingkungan nagari yang sempit dan sederhana itu tidak mendorong orang untuk menjadi sosok yang melebihi orang kampungnya. Jadi ibuku setidak-tidaknya pernah pula menjadi nyonya Kepala Nagari. sekalipun hanya sebentar kemudian dia dipanggil Allah. Cita-citapun hanya tertumbuk sampai di situ. Rahman Gafur (guru S. Wawasanku pun hanyalah sebatas nagari Sumpurkudus. Ketika aku berusia setahun pada 1936 ayahku diangkat menjadi Kepala Nagari yang dijabatnya sampai tahun 1945. Aku memang mengagumi orang yang mahir berpidato. Tetapi aku tidak pernah tahu apakah ayahku pernah pula mencangkul di sawah sewaktu mudanya. rasanya sudah luar biasa. Semasa kecilku. nagari. sesuatu yang mustahil bagi seseorang seperti ibuku yang boleh jadi buta huruf. boleh jadi ibuku tidak bisa melakukannya. Tetapi kira-kira bagi ibuku menjadi nyonya orang penting atau bukan tidak banyak bedanya. Jadi ibuku tidak pernah jadi ketua P.K. karena televisi saat itu belum lagi ada.K.R.K. karena kadang-kadang harus berpidato dan memberi pengarahan (entah apa yang mau diarahkan). Sewaktu masih duduk di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus. Budaya P.K.).K.K. pengaruh kota belum menjalar ke kampungku. Paling-paling sekiranya aku pandai berpidato di masjid kampung. aku pernah dibuatkan teks pidato oleh A. P. adik . baru dikenalkan sejak masa pemerintahan Jenderal Soeharto (1966-1998) yang berlanjut sampai sekarang. (Program Kesejahteraan Keluarga) belum muncul ketika itu.75 sebelumnya.

menjala. sangat belia bukan? Sebuah usia yang penuh canda. menembak burung dengan senapan angin milik abangku.76 Muchtar Gafur. mengadu sapi. Dasar anak kampung. kelahiran Calau lagi.P. mengail. Di madrasah Mu’allimin Balai Tangah aku belajar antara 1950-1953. salah seorang tokoh Muhammadiyah yang pernah menjabat sebagai Ketua D.D. Pernah juga aku mencangkul sawah (batobo) bersama pak enek A. seperti telah disinggung di atas. adik bungsu ayahku lain ibu. sudah tentu wawasanku sudah semakin luas. tidak banyak yang menjadi beban. sewaktu aku masih belum belajar ke madrasah Muallimin Lintau di Balai Tangah dalam kabupaten Tanah Datar. Tetapi ungkapan “gedebak-gedebur” memang ada dalam teks pengantar pidato itu. kata-kata pembukaan yang dibuatkan Rahman itu masih melekat di benakku. dan gembala sapi. sekalipun mungkin tidak persis seperti kutipan itu karena terjadi lebih setengah abad yang lalu. Wahab. membuat ungkapan “gedebak-gedebur” saja harus minta bantuan segala. Di tempat baru ini.” Sebagai pengagum pidato orang.R. Aku masih ingat di antara teks pengantar pidatoku itu ada ungkapan yang kira-kira berbunyi: “Dengan hati gedebak-gedebur saya beranikan diri berdiri di depan para hadirin dan hadirat yang mulia. mengadu ayam. Dinamika Retorika dan Mu’allimin Balai Tangah atau Lintau. Sawahlunto atau Sijunjung dari partai Masyumi tahun 1950-an. tetapi cita-cita untuk jadi D. Itu terjadi antara tahun 1947-1950. Kab. Usiaku ketika itu sedang merangkak menuju 15 tahun. . Dalam kehidupan sehari-hari aku bergaul dengan teman-teman sekampung.

Agus seorang insinyur teknik industri dan Arma tamatan D3. Adik-adik Lintau ini tak seorang pun yang tinggal di kampung asalnya.A. jauh sepeninggal ayah kami. Di antara adik-adikku. semuanya di kota Bandung. Dengan modal pendidikan ini mereka memperbaiki status sosialnya. baru Syafril (alm. hubunganku dengan guru ini tidak begitu akrab. Di tahun 1950-an itu di Lintau seorang tamatan S. Sekiranya kami semua masih . Sesekali kami masih saling mengunjungi. Dua dari adik Lintauku. Mereka tidak lupa bahwa separo darahnya berasal dari Sumpur Kudus dan pernah dibesarkan oleh air Batang Sumpur.A. Karena kurang berbakat dalam ilmu serba eksak ini. kata sarjana itu sendiri aku pun tidak paham. Sebuah catatan perlu kutambahkan di sini.. Jangankan terbayang. jauh melebihi orang tuanya sendiri. Belakangan ini adik-adik ini tidak lupa menyiapkan seekor sapi qurban untuk disembelih di kampung ayahnya. di Tapi Selo. insinyur. Pernah juga di rumah etek Lamsiah. aku yang memberi nama: Agustar dan Armayulis. saja sudah sangat dihormati. Pokoknya sebagian besar anaknya jadi sarjana.M. Tempat tinggalku di Lintau berpindah-pindah. Salah seorang guruku dalam mata pelajaran aljabar dan ilmu ukur di Lintau yang berasal dari Kamang kabarnya tidak tamat S.77 sarjana tidak terbayang sama sekali. Maklumlah masing-masing terbenam dengan kesibukan hidupnya di rantaunya masing-masing.M. Rantau telah menjadi tumpuan hidup mereka. tetapi sudah diminta jadi guru Mu’allimin. karena populasinya masih sangat langka. Ada yang jadi dokter. Begitu tingginya posisi seorang terpelajar masa itu. sebuah sikap yang patut dipuji.) dan Nurhayati yang paling berhasil mendidik anak-anaknya.

aku tentu bisa melihat buku-buku apa saja yang pernah dibaca ayahku dan yang telah mempengaruhi pola fikirnya. aku dekat sekali dengan tempat tinggal ayahku bersama ibu tiriku: Maran dan Lamsiah. Sebagai kepala suku Malayu. buku-buku peninggalannya terserak entah ke mana. Saat masa kecilku tinggal bersama bibi dan paman. tetapi di balik itu ternyata selalu tersimpan hikmah yang baru kemudian dapat dirasakan. setahun setelah ibuku wafat. Atau tidak akan bergerak ke mana pun. Dialah tempat orang bertanya dan mengadu. Sekiranya masih tersimpan dengan baik. tidak lebih dari itu. Keduanya berasal dari kecamatan yang berbeda: Koto VII dan Lintau Buo yang dikawini ayahku tahun 1938. Sekalipun pendidikannya hanyalah sampai tingkat S. ayahku sangat paham adat nagari dalam bingkai alam Minangkabau. ayahku pernah hidup bersama tiga isteri. pengetahuannya di atas rata-rata orang kampung. Allah mengatur semuanya ini. Setelah wafat. ayahku cukup disegani masyarakat. karena kesukaan dan hobinya membeli dan membaca buku. salah seorang dari nagari Sisawah. yang didatangkan secara bergiliran ke Calau. sulit untuk dikatakan. tetapi tidak punya keturunan. Ayahku masih punya tiga isteri yang lain.78 “terbenam” di Calau. tetapi aku belum pernah tahu apakah ayahku pernah naik podium untuk berpidato. sementara manusia hanya bisa mengancang-ancang. tidak tahulah ke mana biduk nasib ini akan dikayuh selanjutnya. nama- . dalam waktu yang bersamaan. Seingatku.R. berhimpit dan berdesak-desak di Sumpur Kudus. tetapi yang bertahan sampai ajalnya hanyalah dengan mak Maran dan etek Lamsiah. lima tahun. Sebagai Kepala Nagari dan pedagang. Kematian seorang ayah memang sangat ditangisi dan terasa pilu sekali.

Dari satu ayah dengan tiga isteri kami bersaudara berjumlah 15. yaitu aku. Paling-paling jadi pedagang kecil tingkat desa atau kecamatan.. dari Universitas Chicago (1983).79 nama yang telah kusebut di atas. Ph. atau S.M. Amerika Serikat. Sepengahuanku. Salah satu sifat ayahku adalah bahwa dia tidak pernah menyia-nyiakan anakanaknya. Sampai saat ibuku wafat pada 1937. Hanya Engkaulah ya Allah yang memahami betul betapa dalamnya rasa syukurku kepadaMu.D. Kariman. Semua anaknya dirawat. sekalipun hanya sampai S. ayahku berpisah dengan isteri keduanya ini. mak Maran dan etek Lamsiah jarang sekali bertengkar bila bertemu. celoteh Minang berhamburan ke luar tanpa kendali. Oleh sebab itu jangan biarkan aku lengah dalam bersyukur kepadaMu. anak piatu yang digendong ayahnya ke tepi Batang Sumpur setelah ibunya wafat boleh jadi tidak akan ke mana-mana. Di antara 15 bersaudara. tetapi tidak bertahan lama. sebagian sudah wafat. dan madrasah Muallimin. Demi menenggang perasaan ibuku. cara perempuan untuk menunjukkan kebolehannya dalam menundukkan saingannya. ayahku pernah pula menikahi seorang perempuan desa. sesuatu yang tak terbayangkan oleh ayah apalagi oleh ibuku. Tentu ketika saling menarik rambut itu. saling menarik rambut.R. ayahku tidak menambah isterinya. Tanpa bimbinganMu ya Allah. Sewaktu ibuku masih hidup. lalu beranak pinak di sekitar itu. dibesarkan.D. dan dididiknya. Arwah ayahbundaku tentu akan tersenyum menyaksikan anak bungsunya sampai belajar jauh ke Barat.P. Jangan Engkau . (Syafril). karena pendidikanku sampai tuntas. Kabarnya ibuku tidak bisa dimadu. S. Hanya sekali aku ingat mereka berkelahi. aku lebih daripada bersyukur.

Bagaimana akibat buruknya bagi keturunannya tidak dipikirkan jauh. Kebiasaan beristeri lebih dari satu ini di Sumpur Kudus bukanlah dimonopoli ayahku sendiri. Agar rakyatnya juga merasakan bagaimana rasanya hidup di lingkungan fisik yang agak modern . juga ada yang berpoligami. desa tertinggal. Tidak berbeda dengan ayahku. pamanku Mattudin. Aku heran. dan kakakku Nursahih yang juga beristeri lebih dari satu juga yang tidak pernah menelantarkan anak-anaknya. tetapi tidak ada yang bertahan lama karena kualitas campurannya yang tidak baik. kecuali dengan diesel. tanpa batas. Sebagian manusia kampungku memandang praktik kawin-cerai sebagai suatu yang enteng saja. ni’matMu yang tanpa putus. Sebagian teman-teman sebayanya jika kondisi ekonominya memungkinkan juga melakukan hal serupa. di Jakarta aku turut melobi ke sana ke mari agar desaku ini diperhatikan. Sebagian lakilaki orang kampungku bila sudah bercerai. Sumpur Kudus. seorang lelaki yang tak mampu secara ekonomi.80 biarkan aku mati rasa setelah bergunung ni’matMu dilimpahkan kepadaku sekeluarga. Di usia lanjutku. sampai 2003 belum lagi mengenal listrik. anaknya umumnya menderita tanpa belas kasih dari ayahnya. Aspal sudah. mengapa perempuan juga mau dimadu dengan kondisi semacam ini? Sekarang kebiasaan itu di desaku sudah jauh berkurang. Maka terserahlah kemudian kepada bekas isterinya untuk menghidupi anak-anak yang telah ditinggal hidup ayahnya sendiri. terutama bagi anak-anak yang dihasilkannya. tetapi hobi kawin-cerai masih berlangsung dengan segala akibat buruknya. Sebuah tabiat yang buruk sekali dari manusia yang tidak bertanggungjawab. Yang tidak masuk akal adalah.

Biaya yang dikeluarkan untuk itu sekitar Rp. 3 miyar. Muhammadiyah Jakarta. mudah-mudahan lobi-lobi ini bakal membuahkan hasil dalam tempo dekat.P. yang dikenalkan kepadaku oleh Al Hilal Hamdi.R. Seingatku aku bertanya kepada kaktuo Djarah. yang juga menginap di hotel itu: apakah listrik itu bisa dibawa . aku teringat pada suatu hari aku dibawa ke Padang dalam usia kelas II atau kelas IV S. Mungkin itulah aku pertama kali mengenal lampu listrik yang bisa dihidupkan atau dimatikan hanya dengan menekan tombolnya di dinding.3 milyar. Bahkan Bung Herman berkunjung sendiri ke kampungku dan berjanji bahwa listrik akan mengalir ke nagari tersuruk itu.P. sahabat kakakku Nursahih. mantan menteri era reformasi. 4. Sebelum aku melanjutkan cerita tentang perjalanan hidupku semasa di kampung.81 dengan aspal dan listrik. Aku senantiasa berharap pada waktu itu. Herman Darnel Ibrahim. sebuah angka yang sangat besar bagi ukuran kampungku. akhirnya telah membuahkan suatu hasil yang sangat spektakuler: listrik masuk kampungku dan ke nagari lain dalam kecamatan Sumpur Kudus. Peresmiannya dilakukan tanggal 29 Januari 2005. pusat yang paling berjasa adalah Dr. Di antara pejabat P. Aku menginap di sebuah hotel di kota itu. sebuah tanggal hasil rundinganku dengan Bung Herman yang akan datang sendiri untuk menekan tombol. Keberhasilan lobi ini tentu tidak bisa dilepaskan dari posisiku sebagai Ketua P. Pertemuanku dengan Herman di Kantor P. Dapat dibayangkan betapa bahagianya orang kampungku karena mendapat “durian runtuh” ini. kemudian juga dikuatkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Poernomo Yusgiantoro.N. salah seorang direktur. kemudian membengkak menjadi Rp. Muhammadiyah (periode 1998-2005).L.

Itulah panggilan seorang guru yang tidak mengenal putusasa dalam mendidik anak-anak kampung.82 ke kampung. Jasa mereka semua telah turut mengisi otak dan hatiku melalui pendidikan S. Alangkah hinanya. seperti orang membawa lampu minyak tanah saja. cukup kutempuh dalam masa lima tahun. semuanya tidak teratur. Pada masa revolusi.R. Tentu cerita “orang pandir” ini tidak ada kaitannya dengan masuknya listrik ke kampungku puluhan tahun sesudah aku bertanya kepada kaktuo Djarah pada tahun 1940-an. Kaktuo Djarah pernah menjabat Kepala Nagari Sumpur Kudus setelah ayahku. tetapi itulah risiko kesulitan hidup yang hampir-hampir tak tertahankan. Tanpa pengabdian mereka tentu anak-anak usia sekolah di kampungku akan terlantar dan buta aksara. Sekolah rakyat enam tahun aku tamatkan di Sumpurkudus pada tahun 1947. semuanya berantakan. Cobalah bayangkan betapa pandirnya aku yang ingin membawa listrik ke kampung. Kadangkadang bagian muka diputar ke belakang dan sebaliknya agar lebih tahan lama. namun proses belajar-mengajar tetap berlangsung. maka pendidikan S. tanpa ijazah karena sekolah kami pada masa revolusi kemerdekaan itu tidak mengeluarkannya. bukan? Pada sore hari untuk beberapa lama aku belajar agama pada Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah . sampai-sampai merotasikan letak celananya. Guruguru pun tidak pernah lengkap.R. Tentu saja dijawab bahwa itu tidak bisa. tetapi karena aku termasuk mereka yang pernah naik dua kali dalam setahun. Aneh memang. Bahkan aku masih ingat salah seorang guru kami lantaran sulitnya hidup (aku agak lupa apakah pada masa Jepang atau masa revolusi). Seharusnya aku baru tamat pada 1948.

Di madrasah inilah aku mulai mengenal gerakan Islam yang bernama Muhammadiyah. Mattudin Rauf (adik ayahku. Nalam (suami Rahima. Rajolelo. Latief Dt.40 pagi di Calau dalam usia 87 tahun). Makkah. sebagian pendukung Muhammadiyah. nama-nama di atas di saat bagian ini ditulis telah tiada semua. Dari famili senenek pihak ibu. Muchtar Gafur. Atau mungkin juga karena kesenjangan umur antara ayahku dan pimpinan Muhammadiyah. Maangkat. Malamnya di surau di Calau aku belajar mengaji al-Qur’an dengan guru utamanya A. Mungkin karena kedudukannya sebagai kepala nagari harus bersikap netral. Mengapa demikian. Syamsuar. Wahid. dan Kahar. tokoh Muhammadiyah dari Lintau. Sutan Bachtiar. saling berebut . Rajo Malayu. Muhammadiyah masuk ke Sumpur Kudus sekitar tahun 1937/1938. Terasa sekali bahwa pada masa-masa itu di Sumpur Kudus antar Perti dan Muhammadiyah senantiasa bersaing. M. kami terbelah dalam paham agama dalam arti fiqh harian.83 Sumpur Kudus. juga berjasa dalam mengembangkan Muhammadiyah di kampungku. seperti telah disinggung di muka. Ayahku tampaknya juga pengagum Hamka lewat Tasawuf Modern-nya. Rajo M. Tari. Jadi terdapat jarak psikologis dengan mereka. A. aku tidak tahu. Ayahku sendiri tampaknya tidak terlibat langsung dalam Muhammadiyah. sebagian besar pendukung Perti. wafat pada 3 Jan. Tokoh-tokoh Muhammadiyah setempat di antaranya: Harun Malik. Kecuali Kahar. tidak berpihak kepada Perti atau kepada Muhammadiyah. sementara pamanku Marah lebih dekat ke Perti. jam 6. Suki Khatib Rajo. Wahid. Zulkifli Mahmud. M. Rivai Dt. A. pamanku. wafat pada 2 Mei 2004. 2004 dalam usia yang sudah sangat lanjut). Rusjid. sewaktu usiaku dua atau tiga tahun.

Tanjung Bonai Aur. Muhammadiyah. Perhatian terhadap Muhammadiyah di sana kini besar sekali hingga beberapa ranting telah resmi berdiri. dan Kumanis. Dari delapan nagari dalam kecamatan Sumpur Kudus sampai barubaru ini. soal qunut subuh. Sebenarnya tidak ada masalah besar tentang agama yang diperbincangkan mereka. Namun sejak tahun 2000. Maka perjalanan Muhammadiyah di seluruh tanah air sering ditandai oleh sikap-sikap permusuhan. antipati. Sisawah. Mangganti. tetapi kemudian diam-diam diikuti.P. Ya. dan yang sebangsa itu. Masa kecilku ditempa dalam suasana persaingan itu. hanyalah Sumpur Kudus dan Silantai yang berhasil ditembus oleh Muhammadiyah. ketika Muhammadiyah belum mereka pahami. Nagari-nagari yang lain: Unggan.84 pengaruh. permulaan puasa dan hari raya. karena gerakan ini berbuat sesuatu yang kongkret untuk kepentingan masyarakat banyak. ushalli. Muhammadiyah telah mulai mengembangkan sayapnya ke seluruh nagari dalam kecamatan Sumpur Kudus. dan masalah kenduri orang mati. sesuatu yang tidak pernah kuimpikan sebelumnya. anehnya adalah semua gerakan pembaru di mana pun di muka bumi. rakaat tarawih. Kepada pengurus cabang Sumpur Kudus yang sekarang selalu kukatakan agar energi jangan . telah dilawan dan dimusuhi. Palingpaling berdebat tentang persoalan khilafiah. Tamparungo. biasa Muhammadiayah dinilai sebagai gerakan pembawa agama baru yang merusak Islam. sesuatu yang tak terbayangkan 50 tahun yang lalu. Dalam perjalanan waktu. seakan-akan tertutup bagi gerakan Islam nonmazhab ini. Sudah tentu aku bangga mengikuti perkembangan itu semua karena berlaku pada waktu aku menjabat Ketua P.

Melalui metode dan pendekatan model ini. Tunjukkan secara tulus dan dengan bukti bahwa Muhammadiyah adalah gerakan untuk kepentingan orang banyak bagi upaya pencerdasan. di Sumpur Kudus tentu ada pengaruhnya dalam pembentukan kepribadianku kemudian. tetapi untuk jangka panjang tidak bernilai strategis harus ditinjau kembali oleh kalangan Muhammadiyah. dan prinsip egalitarian. Tapi kebiasaan cara desa tetap saja melekat pada diriku di usia senja ini. Tetapi amal kongkret untuk menyantuni masyarakat yang sudah menjadi merek paten Muhammadiyah wajib diteruskan dan dikembangkan secara kreatif. khususnya setelah aku belajar di Chicago.R. lambat atau cepat. tentang mutlaknya penguasaan ilmu pengetahuan. dan pencerahan. penyadaran.85 dihabiskan untuk masalah khilafiah. Harus disusun strategi baru dengan mengemukakan pandangan dunia al-Qurán yang menilai kehidupan dunia ini penting. prilaku hidup yang jujur. penyantunan. Pengalaman masa kecil dan masa belajar di S. Hobi berbelanja ke pasar atau ke lepau kecil sekalipun . sekalipun bukan tujuan. konsep persaudaraan universal sesama Muslim dan antar Muslim dan non-Muslim. Semua atribut mulia ini kuketahui setelah aku mengembara ke berbagai bagian dunia sambil membaca beberapa literatur. Suatu metode da’wah yang menguras tenaga. hubungan antar tauhid dan keadilan. bersih. Sudah tentu ide-ide besar di atas tidak pernah singgah dalam benakku sewaktu aku terlibat dalam debat khilafiah di kampungku tempo doeloe. Muhammadiyah akan menjadi milik masyarakat tanpa kecuali. Muhammadiyah harus memahami dengan baik tradisi dan kondisi lokal agar gerak da’wahnya berjalan lebih lancar dan efektif.

Betul. aku bisa bertanding dengan siapa saja dari segi rasa. tanpa ajinomoto. atau di rumah sepupuku Asril Ma’ruf. Untuk membuat menu sambal yang agak lezat. Aku tidak pernah merasa jadi kecil dengan kebiasaan semacam ini. aku sering minta diajari isteriku. tanpa bumbu masak yang aneh-aneh. Sekarang untuk jenis makanan rebus ikan. aku sering menginap di rumah anak kakakku Suherman. Bahkan lebih jauh dari itu. Banyak orang bertanya tentang ini kepadaku. tentu aku menginap di rumah saudara isteriku setelah aku berumah tangga pada Pebruari 1965 yang pada gilirannya akan kubicarakan apa adanya tentang suasana perkawinanku yang serba sederhana. Apa sulitnya bagiku untuk hidup seperti orang desa. sebab aku tidak mungkin menjadi pribadi lain selain diriku.86 sampai hari ini masih belum berpisah dari diriku. . aku biasa berbelanja dan memasak sendiri. Dalam budaya hidup mandiri ini. Juga tidak merasa besar kalau hidup ala kampung itu kutinggalkan. asal tidak untuk perjalanan yang terlalu jauh. jika isteriku tidak ada di rumah. Bukankah aku selama 18 tahun telah dibentuk oleh suasana lingkungan desa? Desa yang sampai sekarang masih sering kukunjungi. Bagi sementara orang. Dalam usia di atas 70 tahun aku masih biasa menyetir mobil sendiri. Bahkan aku malah merasa bangga karena ciri kedesaan tetap melekat pada diriku. karena itulah aku. aku termasuk yang beruntung karena merasa tidak ada kecanggungan sama sekali. cara hidupku ini terlalu bersifat desa. karena memang aku orang desa. Jika pulang kampung. sekalipun aku tidak punya rumah lagi untuk tinggal di sana. tetapi kujawab dengan penuh kebanggaan. Jika pulang bersama keluarga.

Lintau. Sumpur Kudus memang dikenal sebagai Mekkah Darat. sekalipun tidak selalu. dan lain-lain. Seorang tokoh Chairul Saleh. Lintau jauh lebih maju. dan cara itu pernah kujalani sewaktu libur kuwartal untuk pulang kampung. berasal dari Lubuk Jantan. Ada beberapa catatan penting yang patut direkamkan di sini dalam proses dan selama aku belajar di Balai Tangah. yaitu sekitar 48 km. orang penting pada era Bung Karno. sebab di sanalah pada abad-abad yang lalu terdapat pusat kajian Islam. maka Sumpur Kudus ditinggalkan. Aku tidak tahu mengapa seorang rajo (raja) pernah bertahta di Sumpur Kudus. Bila terpaksa. di samping pusat perdagangan emas. Tetapi dari tuturan sejarah. memang sudah sepantasnya. . Jadi jika aku belajar ke sana. Rajo Alam di Pagarruyung. Bukankah Buo dikenal sebagai tempat Rajo Adat dalam tambo Minangkabau setelah Islam? Dari trio raja tigo-selo. kopi. seperti berulang telah kututurkan pada halaman-halaman lain.87 Pengalaman selama di Lintau Di atas sudah disinggung bahwa aku melanjutkan pelajaran ke Lintau setelah menganggur selama tiga tahun akibat revolusi. Bila dibandingkan dengan Sumpur Kudus. Tetapi yang terus kulakukan adalah berjalan kaki dari Sumpur ke Kumanis sepanjang 27 km. berjalan kaki pun mungkin. dan lokasinya pun mudah dicapai. Rajo Adat di Buo. salah satu nagari di Kecamatan Lintau-Buo. dan jadilah ia sebagai desa yang lengang dan miskin. untuk sekadar mengulangi apa yang sudah kusebutkan. Kemudian pusat itu berpindah. Pertama. Lintau tidak terlalu jauh dari kampungku. Masalah sarana jalan raya sudah lama dimilikinya. dan Rajo Ibadat di Sumpur Kudus. dan sebaliknya.

Damhuri Gafur.R. Ujian itu aku lalui dengan susah payah karena bekal S. Kedua. Sjamsu Kamar. Namun karena berasal dari desa terpencil. Ismael Rusyid. Kemudian menyusul Ali Akbar (Silantai). Hasilnya sudah dapat diduga: aku tidak lulus. setelah aku secara berangsur dapat menyesuaikan diri dengan suasana belajar.-ku sama sekali tidak memadai.88 Jika rata-rata 5 km per jam. pada awal 1950-an di kampungku beredar berita bahwa madrasah Muallimin Lintau itu hebat sekali. aku diturunkan menjadi nomor enam. aku semula meraih ranking nomor lima. maka pada ujian kenaikan dari kelas satu ke kelas dua. Nawadir Makkah. Maka sepakatlah keluargaku untuk meneruskan sekolahku ke sana. Tetapi malangnya karena salah hitung angka rapor. keduanya dari Sumpur Kudus. Seorang anak udik tampaknya perlu disantuni oleh guru-guru madrasah pada waktu itu. Dalam tempo tiga tahun orang akan mendapatkan ilmu agama melebihi dari sekolah-sekolah lain dengan sistem belajar yang lebih lama. apalagi antara Muhammadiyah Sumpur Kudus dengan Muhammadiyah Lintau telah terjalin hubungan yang rapat. Ketiga. Tentu aku tidak sendirian “lawalata” sejauh itu. Enam teman ini setahun di atasku. Sjafril Tahar. Sebelum itu telah pula belajar ke sana Djuli Taha. Generasi sesudahku masih ada juga yang belajar ke sana. aku terpaksa diterima juga. perjalanan Lintau-Sumpur akan memakan tempo sekitar 11 jam plus istirahat di jalan. Aku mungkin adalah generasi ketiga yang belajar di sana. tetapi harus melalui ujian masuk. sebab teman-teman Sumpur dan Silantai banyak juga yang belajar di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Balai Tangah. sebab ternyata ada murid lain yang seharusnya . Ini menguntungkan posisiku yang tidak lulus tes masuk.

89 mendapat nomor dua. tetapi bangganya bukan main. Pada saat-saat menjelang ujian. Tetapi bagiku tidak mengapa karena ranking enam bagi orang yang tak lulus ujian masuk adalah suatu prestasi yang luar biasa. Indonesia sudah merdeka? Keempat. Aku lulus dengan baik dalam ujian bersama itu. murid kelas tiga Mu’allimin harus ikut ujian bersama Mu’allimin-Mu’allimin yang lain. Bayangkan. Pengumunan mengatakan bahwa ranking nomor enam terpaksa diadakan karena kesalahan kalkulasi di atas. Payakumbuh. atau yang sederajat. gara-gara revolusi kemerdekaan. tentu aku akan merasa malu. diadakan ujian persamaan Mu’allimin dalam satu propinsi. apakah pada 17 Agustus 1945. aku turun menjadi nomor dua karena kelalaianku sendiri. usia 15 tahun baru masuk kelas satu Mu’allimin. demi menjaga mutu. Mungkin jika tidak naik kelas. Tetapi tanpa perlawanan dalam revolusi. Pada ujian penghabisan. Perasaanku ketika itu.M.A. Tidak dapat ranking pun. Apa tidak hebat Muhammadiyah daerah ketika itu. . Aku pun merasa bangga dapat turut dalam ujian ini. aku selalu menjadi juara nomor satu sejak kelas dua. Seumur itu ibuku sudah berumah tangga dengan ayahku. karena itu dapat diartikan sebagai seorang yang tidak layak untuk belajar lanjut ke tingkat sekolah menengah. semula terlupa tidak dimasukkan. Selain ujian sekolah. Dalam keadaan normal. usia sekian itu sudah ancang-ancang untuk melanjutkan ke S. orang kampung bisa naik sepeda. hingga waktu belajarku menjadi tersita karenanya dan kakiku terluka sampai berdarah-darah. bertempat di Bunian. kecuali ujian terakhir kelas tiga. aku belajar naik sepeda sewaan dengan semangat tinggi di lapangan bola di Balai Tangah. aku gembira. alangkah rancak-nya kota tempat ujian persamaan ini.

populasi babi hutan sebagai musuh petani dapat dikurangi. mereka semua adalah para kiyai yang mumpuni. tempatku belajar selama tiga tahun. Khusus untuk guru-guru agama menurut kesanku mereka semua adalah ahli di bidangnya. babi hutan yang biasa menjadi makanan empuk raja hutan ini menjadi merajalela. aku tak mungkin mengembara begini jauh. Pada saat tulisan ini dibuat. Akibat menghilangnya harimau ini. Kini sebagian besar mereka telah tiada. jejaknya saja sudah sulit untuk dijumpai. Payakumbuh bagiku pada waktu itu adalah sebuah kota yang ramai. orang kampung pernah diterkamnya. Belakangan kabarnya harimau itu sudah menghilang. guru . Untunglah orang Minang punya hobi berburu babi untuk santapan anjing-anjing mereka. Indomadjo. kadang-kadang di kala malam. dikalahkan oleh manusia yang memburunya untuk tujuan komersial. Bahkan tentu lebih ramai bila dibandingkan dengan Lintau. Kelima. Adapun kampungku demikian sunyinya. ngauman harimau masih terdengar dengan penuh wibawa dan sangat menakutkan penduduk. Dengan cara ini. aku harus mengucapkan rasa terima kasih yang tulus kepada semua guruku selama aku belajar di Lintau. sekalipun sewaktu mengganas. Bandaro Ratih dan Ustaz Mahyuddin Dt.90 Rancak (bagus). Penguasaan Bahasa Arab mereka cukup bagus hingga bila diukur dengan standar pesantren di Jawa. Pencinta lingkungan hidup dan satwa tentu risau dengan menghilangnya raja hutan ini. Khath (tulisan Arab) mereka bagus sekali. Tanpa didikan mereka. tentu bila dibandingkan dengan kampungku dan Lintau. mungkin ada dua guruku yang masih hidup: Dt. di dalam hutan yang jauh sekalipun.

Keenam. Sebenarnya sewaktu aku hampir merampungkan belajar di Mu’allimin Lintau. Sanusi kelahiran . Bandaro Ratih dalam usia hampir 90 tahun masih kuat pergi meninggalkan Lintau. pelopor gerakan pencerahan intelektual Sumpur Kudus. tetapi bagaimana selanjutnya? Sebuah pertanyaan yang tidak mudah dipecahkan. berlaku perkisaran secara mendasar. Pikiran ini pernah kusampaikan kepada etek Lamsiah dan mendapat dukungan. Yang penting aku akhirnya dapat menyelesaikan madrasah Mu’allimin dengan prestasi yang tidak mengecewakan. Tetapi pertemuan dengan Sanusi Latief di kampung telah mengubah jalan hidupku.91 Bahasa Arab dan guru Bahasa Inggris/Bahasa Indonesia. selama belajar di Lintau aku bersama teman-teman dari Sumpur Kudus dan Silantai hidup secara berdikari. Seharusnya muridlah yang mengunjungi guru. karena pada waktu itu kondisi ekonomi ayahku tidak lagi kuat. sudah terbetik pikiran untuk berdagang kecil-kecilan ke daerah hilir (daerah Riau Daratan sekarang). belanja dan masak sendiri dengan menu yang serba sederhana. sementara adik-adikku masih kecil-kecil dari dua rumah tangga. Sanusi Latief. Bahkan pada waktu syukuran setahun listrik masuk desa tanggal 29 Januari 2006. guruku ini malah datang menemuiku di nagari Silantai. Kemana aku setelah Mu’allimin Lintau. sekalipun kemudian sering tertatih-tatih dan berliku-liku. sementara usiaku sudah 18 tahun? Jawaban terhadap pertanyaan ini berkait erat dengan peran M. sekitar 2 km utara Sumpur Kudus. Tetapi karena keterbatasan waktu aku tidak dapat berbicara agak lama dengan beliau. tiga pelajaran yang sangat kugemari. Dt.

92 1928 adalah pekerja keras dan sosok yang sangat gigih dalam mencapai cita-cita. Kampung dan teman-teman harus aku tinggalkan. II. Pokoknya melangkah dan terus melangkah. Sanusi Latief dan Hijrah Menuntut Ilmu Peranan kakak sesukuku M. pada waktu itu belum dibayangkan. perintis pendidikan tinggi tidak lahir dari rahim Sumpur Kudus. entah untuk berapa lama. Sebuah contoh kegigihan dari seorang pekerja keras. Liku-liku perjalanan hidupnya yang penuh warna akan dapat mengilhami generasi yang datang kemudian di nagari itu. Sanusi pernah merangkap jadi tukang potong rambut di pinggir jalan. sementara abangku Nursahih bersikap biasa-biasa saja. mungkin karena mengingat biaya. . Reaksi ayahku terhadap ajakan ini tidaklah terlalu positif. Dialah yang mengajakku belajar ke Jogjakarta bersama dua adik sepupunya: Azra’i dan Suwardi. sedangkan pak oncuku Mattudin Rauf memberikan dorongan kuat. sekiranya mereka mau mengambil pelajaran. Akhirnya diputuskan bahwa aku berangkat meneruskan sekolah pada madrasah Muallimin Jogjakarta yang memakai sistem lima tahun. KE YOGYAKARTA dan PERAN SANUSI LATIEF M. Aku tidak bisa membayangkan masa depanku jika seorang Sanusi. akan ke mana kaki ini melangkah setelah merantau ke Jawa. toh pada akhirnya akan sampai jua setelah melewati liku-liku hidup yang sarat dengan beban. Sanusi Latief (kemudian bergelar Dt. Akhirnya dia berjaya. Bandaro Hitam) cukup besar dalam mengubah jalan hidupku. Untuk selanjutnya. A. tetapi penting bagi pembentukan karakter. Di Jogja untuk mempertahankan hidup. demi ilmu pengetahuan.

Rantaulah kemudian yang mengubah cara berpikirku. Sesampai di Jogja semula kami berempat tinggal dalam satu kamar berukuran kecil di Kauman sebelum kemudian kami . Merantau ke Jawa telah mengubah seluruh jalan hidupku. milik kakakku. Setelah beberapa hari dalam perjalanan darat-lautdarat. Maklumlah anak kampung yang belum biasa merantau jauh. Aku tidak akan ke mana-mana. Memang Sanusi Latief adalah pionir pertama yang paham betul apa makna pendidikan lanjut bagi anak kampung seperti kami. sebagaimana banyak anak nagari berbuat serupa. seperti telah kusinggung di atas. maka nama Sanusi Latief harus diletakkan paling atas sebagai pelopor utamanya. berkat Sanusi Latief. Apalagi Sumpur Kudus yang hanya sebuah sekrup belaka dalam kultur Minang yang selalu kusanjung itu. meneruskan kebiasaaanku sebelum ke Lintau. Dengan menompang dek kapal laut kami berangkat menuju Jawa dengan perasaan yang bercampur-aduk. Tanpa Sanusi Latief. menjala. aku barangkali akan tetap sibuk dengan senapan angin. Rasa terima kasihku yang dalam tak pernah kulupakan terhadap guru besar pertama yang lahir dari bumi Sumpur Kudus. apalagi ke tanah Jawa. sesuatu yang agak luar biasa pada waktu itu. perjalanan jauh ini tidak akan terjadi. Tanpa Sanusi Latief.93 Merantau ke Jawa bagi orang kampungku ketika itu bukan perkara biasa. Interaksiku dengan sub-kultur suku lain telah memaksaku untuk mengatakan bahwa Minang bukanlah segala-galanya. Akan berlaku involusi dalam cara pandangku membaca kenyataan yang terus berubah. dan memancing. Kalau sejarah pendidikan lanjut Sumpur Kudus ditulis. Aku akan melebur kembali dalam tradisi kampung. tibalah kami di kota tujuan.

tentu kisah hidupku akan berbeda dengan apa yang aku jalani kemudian. sekalipun tidak kemenakan kandung. sisa zaman Belanda. Aku datang ke Jogjakarta dengan membawa ijazah kelas tiga Muallimin Lintau. jalan ke Mangganti. Aku berangkat ke Jogja dengan sebuah kopor besi kuno.94 berpisah tempat. Bahkan tidak jarang aku tidur di selasela goni gambir milik ayahku. kasur saja harus diangkut dari kampung. Untuk bekal berangkat ke Jawa bibiku juga merendangkan daging burung kikiak hasil tembakanku di daerah Ranah Payo. karena di kampung pun aku tidur tanpa kasur. Di dek kapal kasur itu dipakainya. Bagiku keadaan seperti ini tidak menjadi halangan. Kenapa berbeda sekali sikap pimpinan Mu’allimin Lintau dengan Mu’allimin Jogja. sekalipun nilai ujian masukku tak memenuhi syarat. Mungkin Lintau lebih mengenal lingkungan dari mana aku berasal. jika tak salah. sementara aku cukup tidur di atas tikar. tugas pertama yang kuurus adalah masalah sekolah karena itu tujuan utama berangkat ke Jawa. Mengapa aku ternyata tidak bisa langsung diterima? Mengapa nasibku setengah kandas untuk masuk Mu’allimin Jogja? Pertanyaan ini sangat mengganggu benak seorang anak desa seperti aku. Kopor ini adalah juga saksi hidup tentang betapa sederhananya keluarga bibi dan pamanku. . Sampai di Jogja. kemenakan ayahku dari suku Melayu. aku sendirilah yang tidak punya kasur untuk tidur. membawa kasur dari kampung. Sekiranya aku ditolak masuk. Kami masak bersama secara bergantian. Semula diperkirakan tidak akan ada halangan apa-apa untuk masuk ke kelas empat. oleh karena itu perlu disantuni. kadang-kadang bersama sahabatku Khaidir. Azra’i dan Suwardi. Coba bayangkan pada waktu itu. Di antara yang berempat itu.

dari seorang guru aku mendengar bahwa kualitas pelajaran di Jogja lebih tinggi dibandingkan dengan Mu’allimin daerah lain. karena gedung baru di Jl.95 entah bagaimana jadinya. tetapi di sini tak perlu diteruskan. Jelas aku merasa terhina oleh pernyataan ini. tetapi aku tidak mampu berbuat apa-apa kecuali pasrah. tetapi ditolak untuk meneruskan ke kelas empat karena katanya kualitas tidak sama. Apakah di sini berlaku semacam keangkuhan Jawa vis a vis Luar Jawa? Tentu tidak akan sejauh itu. Dua situasi berbeda yang sulit aku lupakan. Kedua. Jadi bangku tidak tersedia untukku. Bermacam alasan dari pihak madrasah yang masih aku ingat . Jadi aku akan mengalami kesulitan bila langsung masuk ke kelas empat. Kita boleh saja berandai-andai. di Jogja aku membawa ijazah dengan nilai tinggi. jika aku tidak mau mengulang kelas tiga. kelas empat sudah penuh. Jika di Lintau tidak lulus ujian masuk tetapi terpaksa diterima karena orang desa. Ada semacam keangkuhan yang kuterima di sini. 68 itu belum lagi rampung untuk ditempati. sebab mungkin tanpa pengalaman-pengalaman pahit seperti itu aku tidak akan menjadi orang yang tabah dalam menghadapi goncangan demi goncangan yang datang silih berganti. karena memang tidak terjadi. sampai saat tuaku ini. Tamansari No. Namun aku tetap bersyukur. Semuanya berada dalam rahim sejarah yang tidak akan pernah dibuka. apalagi sesama Muhammadiyah. termasuk . Akibatnya aku harus menganggur. sebab hanya akan memperpanjang cerita yang tak pernah ada. Pertama. Perasaanku jelas sangat tertusuk oleh sikap penolakan ini.

P. swasta juga tidak betah lama di sana. tetapi pengalaman di atas tak pernah kuceritakan kepada para pelajar. Dalam keadaan seperti itu. Muhammadiyah dan terus ke S. Muhammadiyah. Lalu pulang ke kampung.A. teori dan praktik. tetapi karena satu dan lain sebab tidak sampai selesai.96 goncangan dalam keluarga yang berkali-kali mendera kami. kembali mengikuti irama hidup secara kampung. Adapun Suwardi bernasib lebih baik. Kedua sahabatku ini sekarang menetap di daerah kelahirannya. sementara Azra’i pindah ke Purwokerto untuk sekolah sopir. Suwardi pindah ke Unggan . masuk S. Ngabean (sekarang Jl.M. budaya lapang dada mungkin yang terbaik yang tidak boleh hilang dari diriku selama hidup di dunia. Akan diteruskan ke sekolah sopir atau melamar lagi ke Mu’allimin? Lagi onga Sanusi memberi nasehat agar aku bersedia masuk ke Muallimin. mengikuti mentornya dari Jogja yang pindah ke kota itu. tetapi kemudian kebingungan mulai mendera lagi. Siapa mengira bahwa pada satu saat aku diangkat jadi guru Madrasah Mu’allimin Jogja untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Tidak peduli berhadapan dengan siapa. Bahwa semula aku bingung dan kecewa adalah wajar belaka. Azra’i yang semula masuk S.P. Ahmad Dahlan). aku lulus.M. dengan persetujuan onga Sanusi aku bersama Azra’i mengikuti sekolah montir di Jl. Setelah sekian bulan belajar montir.M. Mungkin inilah sikap yang bijak yang harus kukembangkan di mana pun berada. Semuanya sudah berlalu dan dijadikan modal untuk melangkah ke depan dengan membuang semua perasaan yang tidak enak untuk dihanyutkan melalui Batang Sumpur. sekalipun dengan perasaan terhina.

Azra’i kini bergelar Dt. mengingat sangat terbatasnya uang sakuku. gelar yang dulu disandang oleh A. waktu telah bergulir lebih setengah abad sejak kami meninggalkan Kauman Jogjakarta. Azra’i telah berapa kali membina rumah tangga. paman kandung Azra’i. Di Kauman inilah kami mengenal bakmi. Gara-gara lapar di Kauman tahun 1950-an. sekitar 1 km dari Calau. Aku tidak tahu sudah berapa jumlah anaknya dari berbagai isteri itu. ayah kandung Sanusi Latief. Tak terasa. sesuatu yang harus diterima apa adanya. Teman yang satu ini tetap setia dengan isteri satu. Rajo Lelo dari suku Melayu-Kampai. pesan setengah piring sudah tidak pernah terjadi lagi. Terakhir dengan perempuan Mancang Labuah. Pengalaman Jogja tentu tidak pernah kami lupakan. Latief. jenis makanan asal Cina tetapi yang sudah dijawakan. Kontakku dengan keduanya masih terjalin sampai sekarang. karena sudah tersimpan dalam memori kolektif kami bertiga. meniti titian nasib masing-masing.97 mengikuti isterinya yang memang berasal dari nagari itu. kesukaan kepada bakmi tetap berlanjut. Suwardi adalah saudara satu ayah dengan dua profesor Unand yang telah kusebut di atas. Suka dan duka terekam dalam memori itu. tetapi apa daya sering aku membelinya hanya separo piring saja seharga 50 sen ketika itu. Tentu tidak ada yang salah di sini bukan? . Kesukaan kepada bakmi ini tidak pernah punah sampai usia tuaku kemudian. Luar biasa aku menyukainya. Karena kondisi ekonomi sudah semakin membaik. Azra’i juga sangat menyenangi jenis makanan yang satu ini. tetapi jalan hidupnya berbeda. Teman-teman masjid Nogotirto amat sering “berkeliaran” bak kelelawar di malam hari untuk mencari bakmi di berbagai sudut kawasan di Jogjakarta.

tidak perlu dijadikan gesekan. Dia dan anaknya Hafiz menyukai bakmi goreng. sementara aku tetap saja jenis rebus dengan kuah yang melimpah. Perbedaan selera ini tetap bertahan di antara kami sampai hari ini. Kembali kepada masalah sekolah. dan dengan mudah kemudian aku naik ke kelas empat. Kami sangat toleransi dalam hal perbedaan ini. semakin tinggi rasanya seleraku untuk tidak berpisah dengan makanan ini. Ternyata tidak seperti bayangan guru di atas. kadang-kadang juga nyemeg (antara goreng dan rebus). dia mengajakku berdebat dalam soal politik. kalau tak salah. Dengan perasaan yang serba bercampur. Seorang guru Ilmu Hitung marah-marah di muka kelas karena nilai mata pelajarannya di kalangan murid umumnya buruk. Bukan saja dalam selera makan. Tidak jarang. perbedaan itu sering mengemuka. juga tidak jarang dalam selera politik. ibunya. aku bisa mengikuti pelajaran. Dibandingan dengan Hafiz yang kurang menyukai politik. sebuah keadaan yang harus disikapi dengan lapang dada. semuanya ini lumrah belaka. Tetapi ada pengalaman penting di kelas tiga yang cukup dahsyat kualami. aku siapkan mental untuk mengulang kwartal terakhir kelas tiga Mu’allimin. Semakin aku ingat pengalamanku di Kauman sekarang ini dengan porsi separo piring itu. Isteriku Nurkhalifah suatu saat juga suka sekali memasak bakmi dengan campuran daging ayam hampir sepertiga ekor. Tidak sekadar marah. pada hari pertama aku masuk kelas. cukup bergairah dalam masalah ini. guru ini bahkan menancapkan pisau ke . Nurkhalifah. Bagiku. Kadang-kadang penilaian kami terhadap seorang figur berlawanan sama sekali.98 Masih tentang bakmi. Sangat berbeda dengan pengalamanku sewaktu tinggal di Kauman.

Bila semuanya ini kukenang kemudian.. 7. Sebab jika dia tetap mengajar. aku cukup ngeri. sekalipun belum tentu menarik.99 punggung meja dengan tangan bergetar. tetapi tidak jadi rampung. Seorang yang semula ditolak untuk masuk Mu’allimin Jogja. memang tidak pernah sangat tinggi. Jangan-jangan pisau tertancap lagi di punggung meja. alumnus Mu’allimin Jogja yang pernah menjabat Ketua P. yang tersisa hanyalah rasa geli sebagai intermezo di masa sekolah di Mu’allimin Jogja.R. Ilmu Ukur. sekalipun diawali dengan tancapan pisau. Tetapi A. kemudian .P. Fachruddin yang terlama menjadi Ketua P. juga pernah belajar di Mu’allimin. persiapan mental ekstra kuat amat diperlukan. Djindar Tamimy. 7. Tetapi betapa pun jua. Melihat panorama ini. Dengan tancapan pisau di meja. Aljabar. Nilaiku dalam Ilmu Hitung. pernah menjadi wakil ketua. Tanpa tancapan pisau ini. Untunglah di kelas empat guru ini tidak lagi mengajar. dan kami harus mendengarnya. Nilai ujian terakhirku pada kelas lima untuk mata pelajaran di atas adalah: 8. Muhammadiyah barulah aku. tentu dimensi human interest (menarik secara manusiawi) yang agak menegangkan ini tidak terangkum di sini. Guru ini dengan segala hormatku kepadanya suka sekali bercerita tentang keluarganya di muka kelas. aku wajib berterimakasih kepada guruku ini karena telah mengajarku Ilmu Hitung.P. Yang lain seperti Djarnawi Hadikusumo. semakin sadarlah aku bahwa aku harus siap untuk kena marah oleh guru Ilmu Hitung ini pada suatu saat. dan 6. Sampai tahun 2005. sebab pengalaman macam ini sangat baru dan asing bagiku. dan Ilmu Alam. Madrasah Mu’allimin telah banyak mencetak kader Muhammadiyah yang tangguh.

aku dapat cobaan berat dengan wafatnya ayahku yang kucintai. . Seperti telah disinggung di muka sebelum aku menyelesaikan pelajaran di Mu’allimin. Namun batinku tergoncang keras sewaktu aku sedang duduk di kelas lima. Sjafii Sulaiman (Bahasa Indonesia dan Sejarah). masih sangat muda.P. Muhammad Thajib namanya. Kelas empat dapat kulalui secara wajar tanpa rintangan yang berarti. Wiludjeng (Bahasa Inggris). Salah salah satu kekuatan Mu’allimin Yogya barangkali terletak pada suasana pendidikan bagi pembentukan watak untuk jadi pemimpin yang pandai berpidato. Muhammad Djamil (Ilmu Hayat). setelah aku berpisah dengannya sejak 1953. tak terekam dengan baik dalam ingatanku. dan masih banyak yang lain. Balija Umar (Musthallah Hadits). Rowijan (Aljabar). Djarnawi Hadikusumo (Bahasa Inggris).H. Tetapi aku bersyukur karena sempat hidup bersama ayah selama 18 tahun.H. Djazarie Hisjam (Ushul Fiqh). Sudiro (Ilmu Alam). Ternyata paham agamanya kuno. K. Beberapa nama perlu kusebut di sini: K. Mahfudz Siradj (Ilmu Tafsir). Tiap pagi murid-murid dilatih bicara secara bergiliran di lapangan terbuka. Tetapi ada seorang guru Bahasa Arab baru didatangkan ke Mu’allimin. tamatan Mekkah. Mohammad Mawardi (Ilmu Guru).100 malah terpilih menjadi Ketua P. Fakih (Bahasa Arab). Para guru Mu’allimin umumnya punya wibawa karena kemampuan ilmunya yang mumpuni. Inilah dunia yang tidak mudah diperkirakan ke mana dia akan bergerak. Kemudian aku naik ke kelas lima dengan nilai yang tidak mengecewakan. Aku tak lagi ingat berapa kali aku mendapat giliran itu. tak sesuai dengan yang kami pelajari selama ini di lingkungan Muhammadiyah. Muhammadiyah yang membawahi madrasah ini.

Tentu apa pula hubungannya perdebatan ini dengan urusan asrama segala.W. bukan? Melalui tulisan ini aku berterimakasih kepada seluruh guruku di Mu’allimin Jogja. Aku pun pada saat itu sudah sejak lama mengikuti A. termasuk yang mau berdebat dengan kami para pelajar. apalagi dengan guru tamatan Mekkah yang konservatif. Aku yang sudah agak terlatih berdebat sejak di Mua’llimin Lintau. Kadang-kadang sangat keras.101 Dasar anak Mu’allimin yang “nakal”. Terjadilah perdebatan berkalikali dengan guru ini. Pak Djazarie. tak peduli dengan siapa pun. A. Hassan adalah salah seorang guru agama Mohammad Natsir sewaktu masih tinggal di Bandung. merasa kesempatan semacam itu sangat menggairahkan. aku tak ingat lagi bahwa aku membayar uang asrama di bawah harga teman-teman. yang aku . tetapi sopan dalam pembawaan. Di Mu’allimin aku juga turut aktif dalam kepanduan Hizbul Wathan.Hassan dalam buku soaljawabnya yang sangat kusukai. guru Ushul Fiqh adalah seorang alim dengan wawasan agama yang sangat luas. Aku masih ingat betul celana panjang biru dan baju warna soklat plus topi H. karena selalu disertai dalil agama yang ditafsirkan secara tegas dan jelas. sekalipun kadangkadang lupa soal kesopanan ini waktu berdebat. Aku amat berutang budi kepadanya. Aku adalah salah seorang di antara yang “nakal” itu. sama-sama mengurus Persis (Persatuan Islam) yang lebih radikal dalam soal agama dibandingkan Muhammadiyah. Pelajar Mu’allimin menurut penilaianku memang dididik untuk menjadi manusia penuh yang merdeka. di sisi sifatnya yang penyabar. Masalah yang dibicarakan apa lagi kalau bukan soal khilafiah. suka berdebat. sekalipun aku tak sempat agak lama dilatih di sana. Sewaktu berdebat.

sebuah partai yang pada saat itu menjadi idolaku. setelah tamat sekolah. Begitulah perasaanku ketika itu. Aku pernah menjadi pemimpin redaksinya. Bengkulu Utara. Sebuah majalah Masyumi memuat tulisanku selagi aku masih di Mu’allimin. tetapi pasti yang harga murah. sekalipun tidak pernah dilatih dalam perkaderan I.M. Aku tak ingat lagi sepatu yang kupakai. Itulah sebabnya .P. (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah). Sempat beberapa artikelku muncul dalam majalah ini. pada 1954 aku mengirimkan sebuah tulisan pula untuk majalah Hikmah. Sekalipun memakan waktu lebih tiga tahun baru dimuat.102 banggakan itu. Mu’allimin sedangkan ketuanya Muhammad Badjuri yang kemudian ditugaskan ke Bintuhan.K. (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) atau I. Pengalaman Mu’allimin Jogja ini di kemudian hari ternyata menjadi faktor penting bagiku untuk menjadi Ketua P. milik dan suara resmi Partai Masyumi. sesuai dengan kondisi keuanganku yang serba mepet.M. Muhammadiyah (1998-2005). Tulisantulisanku umumnya bermuatan politik pro-Masyumi dan anti-P. Bukankah aku dengan demikian adalah tamatan sekolah kader.M. Kalau tak khilaf aku dipilih sebagai sekretaris H. Kalau tidak khilaf.P. gembiraku luar biasa. apa bukan hebat. sekalipun pada tahun itu aku sudah meninggalkan Jogja. Tentang apa? Apalagi kalau bukan tentang kampungku Sumpurkudus. Melalui majalah inilah aku belajar mengarang. Aku memandang terlalu tinggi orang yang pandai menulis.W.I. Apakah aku masih memerlukan itu semua sebagai syarat sekiranya aku pada suatu ketika naik ke puncak dalam Persyarikatan? Pelajar Mu’allimin juga menerbitkan majalah bernama Sinar sebagai media cetak untuk berlatih menulis. Tulisan itu baru dimuat pada 1957.

Ayahku paling-paling terlatih menulis surat biasa atau catatan untuk kepentingan dagangnya. sebuah profesi yang ternyata dikemudian hari juga sebagai tambahan rezki pada saat-saat kepepet. Mungkin bukan dari siapa-siapa. rasa percaya diriku jelas semakin meningkat. Ibuku sendiri mungkin belum pernah menulis. Pada waktu itu aku sedang gila-gilaan dengan Masyumi. Di kelas lima Mu’allimin aku memilih jurusan A: akan cepat terjun ke masyarakat dan tidak akan meneruskan. Mungkin baru berhenti setelah tanganku tidak bisa digerakkan lagi karena sudah renta dan keriput. sekalipun setelah studi lanjut di Amerika Serikat aku kemudian juga mengeritiknya. Pada usia senja menjelang malam ini. karena partai ini tidak selalu mendasarkan keputusan yang diambilnya pada data sosiologis yang cermat dan akurat. sebab ibuayahku jelas tidak pernah menyusun karangan. aku sudah turut kampanye Pemilu 1955 ke daerah Bantul untuk kemenangan Masyumi. Sampai pada usia tua ini aku tak pernah menghitung sudah berapa puluh atau malah ratusan juta rupiah aku menerima honorarium dari kerja tulis menulis ini. dan bahkan partai ini dibubarkan dalam proses pembelaan itu. dalam dan luar negeri. Jadi barangkali karena pengaruh lingkunganlah aku belajar menulis. aku tetap saja menulis dan menulis. termasuk menulis makalah untuk berbagai forum. Tetapi pada tataran moral politik. Aku tidak tahu dari aliran darah mana bakat menulis ini kuwarisi. Partai ini juga dikenal sebagai pembela yang paling gigih terhadap sistem demokrasi dan konstitusi. Sewaktu aku duduk di kelas lima Mu’allimin.103 bila tulisanku dimuat di sebuah majalah di Jakarta. partai ini hampir tidak ada tandingannya di Indonesia. karena bayangan suram untuk biaya menyambung sekolah sudah .

Syafril Maarif. Keinginan untuk belajar lanjut harus ditekan. Aku masih ingat betul. beaya asrama Muallimin pada waktu itu adalah Rp. Betapa parah dan gundahnya perasaanku mendengar kepergian ayahku di Lintau. karena tanggungannya yang juga cukup berat. aku diberi keringanan dengan hanya membayar Rp. Faried Ali. Selebihnya dari aku ke bawah belum seorang pun yang mandiri. Kami kemudian mengikuti garis dan guratan nasib masing-masing. apalagi adik-adik seayahku telah menjadi yatim semuanya.104 terpampang di pelupuk mata. Berita tentang wafatnya ayahku pada 5 Oktober 1955 diberikan oleh adikku alm. sedangkan Pengurus Muhammadiyah Majlis Pengajaran tertanda Moh. Muhammad. 125. 175 per bulan. B. karena syarat untuk itu memang tidak tersedia. Djazarie. Mawardi dan Penulis Moh. Patahlah sudah salah satu tempat pergantunganku. Perginya Seorang Ayah dan Nasib Anak-Anaknya. sementara peninggalan ayah hampir-hampir tidak ada lagi. Penulis R. Dalam ijazah tertulis nama Majlis Ujian: Pemimpin H. yang wafat beberapa tahun yang lalu di Lampung dalam usia 56 tahun. jauh dari diriku. Untunglah ada abangku Nursahih yang turut membantu beaya sekolahku dengan standar yang minim. anak-anaknya yang sudah dewasa barulah dua kakakku dan seorang abangku. madrasahku yang telah turut menyuburkan kepekaan jiwaku dan telah meringankan beaya belajarku! Aku tamat Mu’allimin pada 12 Juli 1956. tetapi karena sudah ditinggal orang tua. Fotoku yang . Sewaktu ayahku wafat. anak sulung dari etek Lamsiah. Terimakasih Muallimin.

kopiah sutera hitam yang mudah dilipat. Setiap mengingat sosok ayahku. kecuali dalam do’a. tetapi sewaktu ayahku menyusul 18 tahun kemudian. aku tak ingat lagi. sedangkan aku tak punya kesempatan membalas jasa itu. beban batinku akan bertambah berat menyaksikan adik-adikku yang masih kecil-kecil. tampaknya seperti baju kaos. Akan pulang kampung? Tidak banyak gunanya.105 tertempel pada ijazah sungguh sangat belia. ditinggal seorang ayah yang menjadi tulang punggung ekonomi dan payung pelindung mereka selama ini. Sekiranya itu aku lakukan. padahal di dalamnya ada nilai 10 untuk Bahasa Arab. Melalui do’a inilah aku berdialog dengan arwah ayahku. di samping tidak ada biaya untuk itu. yang terbayang adalah pakaiannya berupa celana batik dan baju teluk belanga. air mataku meluncur tak tertahankan. Bila peristiwa perih ini kukenang. seperti umumnya orang kampungku. Jika sewaktu ibuku wafat. batinku benarbenar remuk dan tercabik-cabik dengan pukulan yang datang secara tiba-tiba itu. khususnya kalau pergi salat Jum’at ke mesjid Sumpurkudus dengan berjalan kaki. apalagi itu berlaku jauh dari diriku. Mengapa batinku begitu remuk ditinggal ayah? Karena cintaku kepadanya hampir tanpa batas. semuanya mengalir begitu saja. Semoga Allah mengampuni segala kesalahan dan dosanya dan melupakan segala kekurangannya. Ayah. pakai kopiah agak tinggi dan baju lorek-lorek. anakmu yang dulu digendong ke tepi Batang Sumpur sewaktu ibunya . tanpa payung pelindung. Ayah kami pergi untuk tidak kembali. Semuanya berantakan. Kematian ayah benar-benar kurasakan terlalu berat. aku tidak paham apa makna kematian itu. Raporku pada Mu’allimin Lintau hilang entah ke mana.

Setahuku ayahku memang tidak pernah mengunjungi pulau Jawa seumur hidupnya. Kemudian jauh sepeninggal ayahku. etek Lamsiah berucap: “Sekitar tiga bulan sebelum wafat. Tetapi etek Lamsiah untuk beberapa tahun kemudian masih berulang ke kampung suaminya sambil berdagang kecilkecilan. Mereka harus mengarungi bahtera hidupnya tanpa suami dan ayah yang selama ini menjadi pelindungnya. Teritorial jelajahnya hanyalah berputar di sekitar . sebab keinginan itu tidak pernah menjadi kenyataan.” Pi’i adalah panggilan namaku di kampung. karena memang demikianlah yang biasa berlaku di ranah Minang. Sekiranya niat itu dapat diwujudkan. Sewaktu kami duduk-duduk sambil bercerita. kembali ke nagari asalnya. setelah mereka hidup bersama ayahku selama 17 tahun. tempatku dididik oleh Muhammadiyah. demi menghidupi adik-adikku yang telah kehilangan ayah. aku pernah mengunjungi etek Lamsiah dan adik-adikku di Bandung. Sepanjang ingatanku ayah tak pernah marah kepadaku. Mendengar ini. mungkin juga karena terkait dengan urusan dagang. setidaktidaknya untuk Sumpur Kudus. Kedua ibu tiriku bersama anak-anaknya kemudian terpaksa meninggalkan Sumpur Kudus untuk selamalamanya. tentu ayahku akan menemuiku di asrama Mu’allimin. Adik-adikku beserta ibunya masing-masing meninggalkan kampung Ma’rifah Rauf tanpa kepastian masa depan.106 meninggal tak pernah melupakan segala jasa dan kebaikan ayah. tetapi aku juga tidak pernah dimanja. Hubungan abangku Nursahih dengan etek Lamsiah sepeninggal ayahku tampaknya akrab sekali. jiwaku bergetar lagi. bapak Pi’i ingin mengunjungi Pi’i ke Jogja.

tebingnya landai. Orang kampungku pada dasa warsa belakangan ini bukan saja telah merantau ke Jawa. sebab tekanan ekonomi di kampung belum banyak berubah. tetapi mereka tidak pernah jera. kereta api. Mungkin letak geografisnya yang terisolasi sehingga dorongan untuk merantau dirasakan tidak terlalu kuat. dan orang kampungku termasuk yang agak terlambat untuk urusan ini. ikannya jinak. sesungguhnya kebiasaan merantau jauh ini barulah terjadi pasca proklamasi kemerdekaan. Sumpurkudus sebagai bagian dari tanah Minang. pasirnya putih. Jangankan berlayar ke Jawa.” seperti yang telah disinggung sedikit di depan. sepulangnya pasti banyak cerita yang akan disampaikan kepada teman-teman di kampung. yang mengadu nasib ke Malaysia pun sudah ratusan jumlahnya. Alangkah jauh perbedaannya bila diukur dengan situasi sekarang. seperti cerita tentang lampu listrik yang dihidupkan tanpa korek api.107 Sumatera Barat (waktu itu Sumatera Tengah karena meliputi Riau dan Jambi). aku berkunjung ke Padang saja misalnya. Banyak di antara mereka yang berhasil secara . Solok. Ini berbeda sekali misalnya dengan orang Sulit Air. pergi ke Jawa pada zaman itu merupakan sesuatu yang luar biasa. khususnya dari mereka yang berhasil dan bersikap hemat di negeri orang. dan yang sebangsa itu. menginap di hotel. sekalipun nagari ini tetap saja digambarkan oleh penduduknya sebagai: “Sumpurkudus Makkah Darat. Jauh sebelum merdeka mereka sudah mengelana ke ujung-ujung nusantara. Dari perantauan tidak sedikit devisa masuk ke kampungku. Tentu saja cerita-cerita sepele. Bagi orang kampungku. Tidak sedikit pula yang dikategorikan sebagai pendatang haram oleh polisi Malaysia.

Bertugas di Lombok Timur Sebelum aku tamat belajar di Mu’allimin Jogja. Dan mereka punya kebiasaan pulang sekali setahun. Harist. Lombok Timur. Penguasaan Bahasa Arab dan Ilmu Agamanya tentu saja sangat mumpuni. Konsul itu adalah H. Entah mengapa konsul ini ingin mencari tamatan Mu’allimin yang berasal dari Sumatera Barat. Nagari Sulit Air tentu banyak sekali mendapat bantuan untuk perbaikan dari para perantau yang jumlahnya mungkin ratusan. datanglah konsul Muhammadiyah dari Lombok mencari seorang guru untuk bertugas di Pohgading. berangkatlah aku ke Lombok sendirian dalam usia 21 tahun. Alangkah baiknya orang tua itu. Alangkah mulia hatinya. Lintau) dan aku. Maka tinggallah aku yang jadi pilihan. Masih segar dalam ingatanku. Tamatan jurusan A banyak yang bertebaran ke berbagai sudut tanahair. Ahli debat yang cukup dikenal. Pak Djazarie turut mengantarkanku. Hasan adalah kakak kelasku dan ditugaskan di daerah lain. UJUNG TOMBAK MU’ALLIMIN A. Paham agamanya modern. Pada waktu kalau tidak salah hanya ada dua orang di Mu’allimin Jogja: Hasan Basri (asal Lubuk Jantan. III.108 finansial. Dengan bekal pas-pasan. sewaktu akan aku naik kereta api dari Tugu menuju Surabaya. sebuah pulau yang belum . Sebagai anak panah Muhammadiyah (begitu kami dijuluki pada waktu itu) tidak lama setelah aku tamat. menjadi guru dan muballigh Muhammadiyah. pada hari raya ‘Idul Fithri. sesuatu yang tidak mudah untuk dijawab. tamatan Darul Hadist Mekkah. Pringgabaya. aku kini menuju Lombok.

Tanggungannya terhadap keluarganya sendiri sudah cukup berat dengan anak-anaknya yang masih kecil. aku mulai melangkahkan kaki untuk belajar hidup mandiri. seorang tokoh Muhammadiyah untuk kemudian terus ke Pohgading dengan bus plat nomor DR. Malu rasanya. aku bayarlah sewa becak itu. menginap semalam di rumah Pak Asmo. Aku minta turun sebentar untuk ke belakang. tetapi . Ternyata aku harus membuang celana dalamku ke sungai kecil karena tidak dapat dipakai lagi. Bang becak dengan kasar menolak. termasuk disuguhi kopi coklat yang manis sekali. Bermalam semalam di kantor Muhammadiyah Surabaya. Sampai di tempat tujuan. Masalahnya selesai dengan perasaan yang kurang enak. Di tengah perjalanan perutku meronta kesakitan. Pokoknya tidak banyak. karena memang tempat bergantung sudah tak dapat diharapkan lagi. Mungkin akibat minuman coklat yang kelewat manis. padahal bekal perjalananku sedikit sekali. Besok harinya aku akan naik kapal menuju Mataram. aku lemparkan lagi sewa tambahan itu. Selama menginap di rumahnya. aku bebas makan dan minum. Aku melapor kepada pengurus kantor untuk menginap semalam. aku tak ingat berapa jumlahnya. Maklumlah kondisi ekonomi mereka juga pas-pasan saja. Dari stasiun Semut menuju kantor Muhammadiyah. Pak Asmo terlalu ramah untuk kukenang. tetapi pijakan ekonomi sudah rapuh semua. Sedangkan dari paman-paman aku hampir tidak mendapatkan bantuan yang berarti. Inginnya meneruskan sekolah.109 pernah kukunjungi sebelumnya. Maka dari pada bertengkar. Abangku (kupanggil onga) Nursahih sudah tidak mungkin lagi membantuku. aku naik becak tanpa kutawar sewanya terlebih dulu. Bismillah. minta ditambah lagi.

Seperti terlihat dalam ijazahku. Santoso. bahkan aku dapat angka enam dalam Ilmu Alam.G. Sebab kalau tidak. Untunglah aku tidak pernah mengajar Ilmu Alam itu. Muhammadiyah Pohgading yang terletak di pinggir sungai. tetapi jelas tidak memuaskan.G. karena memang tidak ada pilihan lain.D. jelas perlu tambahan ilmu. nilaiku dalam ilmu itu sedang-sedang saja. Ilmu Pasti adalah mata pelajaran yang dipegang Santoso. Pada suatu saat Santoso pulang ke Blitar. Lalu siapa yang harus mengajar Ilmu Pasti sementara? Timbullah masalah yang agak gawat. Kedatanganku di Lombok Timur disambut oleh pengurus Muhammadiyah setempat. Harist yang juga sebagai kepala desa. Untunglah jarak antara Mataram dan Pohgading tidak terlalu jauh. Aku ditempatkan di kampung Batuyang. Akhirnya bisa juga. yang tidak terlalu kuingat lagi. ilmu yang kita dapat sebenarnya serba tanggung.A. Untuk sekolah menengah.A. Aku tak ingat lagi jam berapa aku sampai di tempat tujuan. lebih siap dibandingkan aku untuk . Memang tamatan Mu’allimin kelas lima. Tetapi apa boleh buat. di rumah Pak Subki. tamatan S. agama dan umum. adalah teman mengajarku di sana. terpaksa juga aku lakukan. tidak ada masalah. bisa keluar keringat dingin. Yang jelas sakit perutku telah sembuh.G. adik kandung H. Di sinilah aku tinggal selama setahun: mengajar pada P. sesuatu yang harus kulakukan. dari Blitar.A.110 bagaimana lagi. Mungkin untuk mengajar S. karena aku tidak menguasai ilmu itu. Bayangkan untuk mengajar besok pagi aku harus berjaga malam-malam untuk menyiapkan Ilmu Pasti itu. sekalipun menyimpan kenangan yang agak getir dan rasa malu. Aku pegang macam-macam. Tampaknya tamatan S.

makanan orang Lombok banyak sekali miripnya dengan makanan kampung saya di Sumpur . Memang dalam masalah makanan aku tidak merasa kesulitan apa pun. aku mengerti bagaimana pengurus Muhammadiyah mencari infaq untuk honorarium guru yang besarnya hanyalah sekedar untuk bertahan hidup. Demikianlah. tetapi tidak sempat mengajar bersama kami karena sudah harus pulang ke daerahnya masing-masing. yaitu kelapa muda yang dibubuhi sambal trasi. hampir setiap hari aku bertugas mengajar dalam tempo setahun. tetapi di situlah nikmatnya. Sebagai guru Muhammadiyah di tempat yang tingkat ekonominya serba sederhana. Air mata biasanya menjadi berlelehan karena kepedasan. berasal dari Bangka dan Sulawesi Selatan. aku langsung diminta menjadi khatib tetap pada hari Jum’at di desa Batuyang (Pohgading). dan tidak pernah kapok. Berkali-kali aku diajak pesta kelapa muda plus sambal trasi ini. tidak memerlukan persiapan seperti mengajar Ilmu Pasti yang dapat menyebabkan kita terengah-engah ditambah kurang tidur lagi. aku tak terkejut menghadapi kondisi yang semacam itu. Dasar lidah Minang yang suka pedas-pedas. aku sudah agak terlatih sejak dari Mu’allimin.111 mengajar mata pelajaran umum. Lalu dicampuraduk dalam tempurungnya yang dipotong pada bagian kepala dan langsung siap untuk disantap. Ada kebiasaan orang Lombok yang aku suka dalam perkara makanan yang serba pedas dan merangsang. Tetapi karena berasal dari keluarga desa. Sebagai alumnus Mu’allimin. Kalau perkara khotbah ini. untuk kemudian aku kembali ke Jawa. Dipungut dari sana-sini. Sebelum kami datang sudah ada sebelumnya dua guru tamatan Mu’allimat Jogja.

Keranjang bawang itu aku bawa ke tempatku menginap di rumah pak Halifah. Semua anaknya aku kenal. Malam itu aku main remis dengan kakak-kakaknya. Ada sebuah anekdot dalam masalah bawang merah ini yang sampai sekarang aku agak malu mengenangnya. pasar untuk Kecamatan Sumpur Kudus. sekalipun telah jadi pak guru selama beberapa bulan. kami terus saja main. Sekitar bulan Maret 1957 pada saat usiaku 22 tahun. Dari Padang aku menompang truk pak Halifah menuju Kumanis. Nanti pada saatnya akan kusambung lagi cerita ini. aku pulang kampung dengan membawa bibit bawang merah sekeranjang dengan maksud untuk dikembangbiakkan di kampungku.) dan Rosma. saudagar terkaya menutut ukuran kampungku. yang aku dapat adalah pengalaman yang berharga sebagai anak panah Muhammadiyah yang memang disiapkan oleh Mu’allimin. Jarak antara Padang dan Sumpur Kudus sekitar 148 km. Memang pedas. Ada adiknya lagi seorang puteri yang dipanggil Lip. Tentu saja bawang tetap setia bersamaku. Waktu terus bergulir tanpa terasa. Mengapa dengan truk? Jawabannya langsung: karena tidak perlu dibayar.112 Kudus. termasuk yang puteri: Rahmah (alm. sesuai dengan nama pulaunya: Pulau Lombok (lada). Sesampai di Padang aku tidak langsung ke hotel mengingat persediaan sangu yang serba terbatas. tidak terus dengan truk ke Kumanis. Perjalanan Lombok-Padang memakan tempo 11 hari dengan kapal laut. Tetapi itu perlu direkamkan di sini sebagai bumbu otobiografi ini. sekalipun aku singgah dulu di Padang Panjang. Kumanis-Sumpur Kudus masih 27 km lagi . Merantau beberapa bulan di Lombok. Kadang-kadang dia pindah ke ruang lain.

aku telah berembuk dengan pengurus Muhammadiyah Cabang Pohgading tentang siapa penggantiku sekiranya aku tidak lagi terus mengajar di sana. Luluh juga perasaan pada waktu itu. Syukri Maarif (dipanggil Buyung). datang menemuiku. Usianya pada 1957 itu sekitar 13 tahun sebaya dengan si Celana Merah.113 yang harus ditempuh dengan jalan kaki. Tidak ada yang sukar bagiku menempuh jarak sekian itu. Dengan berat hati pengurus Muhammadiyah setempat harus melepasku untuk kembali ke Jawa. sementara bawang ditompangkan pada kuda beban. Kami dua beradik hanyalah saling menangis mengenang ayah yang baru dua tahun wafat. anak orang kaya itu. Di kampung aku punya seorang . sejarah hidupku mungkin akan menempuh arah lain lagi. Kemudian kami berpisah. Lombok-Sumpurkudus-Surakarta Sebelum pulang kampung. Tidak pasti akan ke mana kaki ini selanjutkan harus dilangkahkan. Buyung kembali ke Tanjung Ampalu. tetapi jika itu aku jalani. jika mungkin orang kampungku juga lepasan Mu’allimin Lintau. Aku langsung ke kampung. karena memang sudah menjadi latihanku sejak usia sekolah rakyat. B. Untuk itu aku harus mencarinya. Tentu warga Muhammadiyah Lombok masih menginginkanku tetap bertugas di sana. Yang dapat kuberikan kepadanya hanyalah sedikit uang hasil pendapatanku yang kecil di Lombok. seperti ayam kehilangan induk. Lalu bagaimana tugasku di Lombok? Sebab jika aku pergi harus dicarikan gantinya dari Minang juga. Keinginanku untuk meneruskan sekolah masih belum pudar. Di Kumanis adikku dari Tanjung Ampalu.

Ahmad Husein yang kemudian terkenal dengan P. Ada pikiran kami untuk masuk kelas 6 Mu’allimin agar punya ijazah tingkat S.A. Karena dasar ijazahku hanya lima tahun. Teman inilah yang kemudian aku ajak mengajar di Lombok. Mungkin tidak sampai setahun. dan ia bersedia.T. Karena beban psikologis inilah kemudian kami pergi ke Surakarta cari perguruan tinggi. adik kelasku di Mu’allimin. Bukan karena apa-apa.114 teman.I. (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) mulai memanas. aku semula ragu akan melanjutkan ke mana. Hubungan Sumatera Barat dengan Jakarta mulai memanas.R.L. tetapi mengalami kesulitan dalam perjalanan karena pada waktu itu pergolakan daerah pimpinan Letkol. rasanya tak enak juga kembali ke Mu’allimin. sementara usiaku sudah 23 tahun pada 1958 itu. namanya Bachtasar Tahar. (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) untuk kemudian terus ke perguruan tinggi. Mengapa aku ke Jawa? Tidak lain karena ingin sekolah lagi. Dia adalah adik ipar kakakku Nursahih. ia harus pulang kampung. alumnus Mu’allimin Lintau. Bersama temanku Muhammad Saman dari Krui (Lampung). Tetapi setelah ditimbang-timbang. Untunglah Bachtasar selamat sampai di kampung. Sayang teman ini tidak bisa lama tinggal di sana. Kalau tidak salah pada awal 1958 teman ini telah kembali ke Sumpurkudus.R. Harus masuk sekolah pendahuluan terlebih dulu karena . sementara aku ketika itu sudah berada di Jawa lagi. jelas aku tidak bisa langsung mendaftar sebagai mahasiswa. hanya soal perasaan kurang mantap untuk duduk bersama adik-adik kelas yang juga meneruskan ke kelas 6. Kami kemudian memutuskan untuk mendaftar pada Universitas Cokroaminoto Surakarta.

sekalipun dengan perasaan mendongkol. Bermacam tugasku di toko ini: pelayan. Jelas aku dirugikan. sekalipun bertele-tele.A. Selain yang tiga di atas ditambah lagi dengan Pancasila dan Manipol R. Lama juga aku belajar di lingkungan Universitas Cokroaminoto itu. hubungan putus dengan kampung.P. (Fakultas Keguruan Ilmu Sosial) I. tetapi karena ingin cepat rampung. Aku lulus dengan baik. Mata pelajaran di sekolah ini hampir sama dengan kelas tiga S.P. 1957-1964. Teman- . dan Bahasa Inggris hilang entah kemana.K. Ada lima mata pelajaran yang diujikan dalam colluqium itu.115 memang disediakan oleh universitas. Maka mulailah aku bekerja apa saja untuk melangsungkan kuliah.I. Setelah setahun aku belajar.M. Pimpinan universitas lalu mengambil kebijakan untuk memberi angka enam untuk tiga mata pelajaran itu. Pernah aku mengajar mengaji anak orang Minang yang ada di Solo. Pernah pula bekerja sebagai buruh dalam memilih besi tua pada seorang pedagang asal Silungkang. Jogjakarta. Tetapi yang kurang enak adalah dokumen nilaiku untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia.I. Dengan ijazah ini aku sekarang diizinkan untuk menempuh ujian negara yang dilaksanakan oleh F. Kemudian aku diterima sebagai pelayan toko kain oleh Pak Burhan dengan Toko Anti Mahal-nya pada 1958. tetapi aku harus bekerja menghidupi diri sendiri. Karena pergolakan daerah. sekalipun nanti sebelum ujian sarjana muda pada F.K.K.S. jurusan Sejarah Budaya pada 1964.I.I. Bukan karena apa-apa. di mana nilaiku masing-masing delapan dan tujuh. dan tidak jarang disuruh beli barang ke Bandung dan Surabaya. serta Pengetahuan Sejarah. kasir. lalu ujian. ijazah aku terima juga. aku harus menempuh apa yang disebut ujian Colluqium Doctum. Pengetahuan Umum.

Dengan Jusuf aku dapat mengatur presensiku.116 teman Minang yang diterima bekerja di toko ini adalah M. Pak Burhan sudah lama wafat dan jauh sebelum itu tokonya sudah dijual. Maka pindahlah aku ke F. Muchktar. Hawari. M. Nasai adalah yang terlama bekerja pada toko kain milik Pak Burhan ini.I. Korban pergolakan daerah. Kuliah sambil bekerja terasa tidak mudah. baik melalui ujian lokal maupun ujian negara. kontakku dengan Jusuf sudah putus samasekali. Nasai pada waktu tulisan ini dibuat masih tinggal di Solo setelah pensiun sebagai guru agama pada Sekolah Teknik Negeri Solo.P.I. Mungkin ia sudah beranak pinak di tanah kelahirannya.R. Maklumlah sama-sama perantau yang putus hubungan dengan daerahnya masing-masing. Temanku Hawari wafat beberapa tahun yang lalu di rumah keluarganya di Cirebon. Sejak aku meninggalkan Solo tahun 1965. berasal dari Sulawesi Utara. Dari segi disiplin presensi aku jelas salah. aku tidak mungkin bisa. Jusuf. Jusuf banyak menolongku dalam masalah presensi ini. Semula aku masuk ke Fakultas Hukum. bagian pengajaran. . Nasai. jurusan Sejarah-Budaya. dan aku.R. yang juga putus hubungan dengan kampungnya gara-gara pemberontakan Permesta (Perjuangan Semesta) yang kemudian bergabung dengan P. Kurang lebih setahun aku bekerja sebagai pelayan toko kain sampai datanglah suatu hari teman sekelasku di Mu’allimin Jogja berkunjung ke toko Anti Mahal. sehingga pada saat ujian tidak ada masalah. tetapi karena kuliahnya teratur.K. Jusuf yang baik hati telah banyak menolongku sampai berhasil mendapatkan sarjana muda. yang presensinya dipegang oleh Jusuf. Jalan semacam ini harus aku tempuh karena tidak ada cara lain. mahasiswa Cokroaminoto.

kepala sekolah. pemilik warung di Baturetno. Untunglah selain itu. tidak dapat dikatakan. entah ke mana pula aku harus mengelana selanjutnya. asal Baturetno. Mula-mula dagang kecil-kecilan.N. besar kemungkinan aku akan diangkat jadi guru tetap. tetapi semuanya merugi. Surakarta. tembakau. meninggalkan posisiku sebagai pelayan toko. Cukup lama aku bertugas sebagai guru pada beberapa sekolah menengah di Baturetno. yang semula ditugaskan di Donggala (Sulawesi Tengah) sebagai anak panah Muhammadiyah pula. Sampai menjelang usia 70 tahun ini. Sekiranya Murdiyo tidak berkunjung ke toko Anti Mahal suatu ketika.P. Baturetno. aku dan Hawari diminta jadi guru pada beberapa sekolah menengah di kota kecamatan itu. dapat jugalah aku . Pertemuan kami ternyata kemudian membawaku dan Hawari ke Baturetno. sebab aku juga diminta mengajar Bahasa Inggris di S. Sekiranya aku punya ijazah negeri. yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan hidupku. ayam dan kambing. Sebagai guru honorer. sekalipun ternyata tidak ideal samasekali untuk mengangkat ekonomi kami. Pak Sujadi. Tetapi setelah digabung dengan apa yang dipungut di sana-sani. sesekali aku masih bertemu dengan Murdiyo yang juga telah lama pindah sebagai pedagang yang berhasil ke kawasan Jogjakarta.T. Tugas sebagai guru honorer ini sangat penting bagi kelangsungan hidup kami di tanah rantau. tentu pendapatanku jangan dibandingkan dengan pendapatan guru tetap. (Sekolah Teknik Pertama Negeri) di sana. Warung ini kami beri nama Warung Ideal. Karena merugi.117 Namanya Murdijo. Pertemuan yang tak sengaja itu ternyata telah turut menentukan perjalanan hidup seseorang. sangat menyukaiku mengajar di sekolah itu. kami lalu jualan rokok. dan lain-lain bersama Pak Markum.

Sosialisme Indonesia. karena opsi lain pada waktu itu belum terbuka. Undang-undang Dasar 1945.B. Tampil dengan gaya Bung Karno. Tentu Hatta geli mendengar pidato berapi-api yang meneriakkan revolusi yang tak pernah . Pembicara utama dalam pekan indoktrinasi itu adalah Purwanto. atau suatu permanent revolution dalam istilah V. Lenin. kemudian menyusullah masa pembangunan. adalah perubahan radikal dalam tempo yang relatif singkat. Keluarga Pak Makruf dan keluarga Pak Baitani. sebagai tokoh Muhammadiyah di sana telah berbuat baik menyantuniku selama mengajar di kota kecil itu. kata Hatta.R. Ketertarikan Pak Sujadi kepadaku bermula dari suatu kejadian pada saat gencar-gencarnya indoktrinasi Manipol-Usdek (Manifesto Politik. dari kantor penerangan kabupaten Wonogiri. Revolusi. Demokrasi Terpimpin. Dikatakan bahwa revolusi belum selesai sebelum masyarakat adil-makmur terwujud di Indonesia. Slogan politik Soekarno ini sedang membahanahi bumi dan udara Indonesia ketika itu. Kebaikan mereka tidak akan pernah kulupakan. Aku tinggal di Baturetno selama beberapa tahun karena itulah jalan yang harus kulalui. Bagi Hatta.I. Aku harus tabah bergumul dengan realitas. aku tidak tahu lagi apakah Pak Sujadi masih hidup atau sudah wafat. Ekonomi Terpimpin). Pada saat menulis catatan ini.118 melangsungkan hidup secara sederhana. Pada waktu itu Departemen Penerangan di seluruh tanah air telah menjadi mesin politik Soekarno sebagai P. Masalah revolusi selesai atau belum ini telah menjadi wilayah perbedaan pandangan yang tajam antara Soekarno dan Hatta. tidak ada revolusi berkepanjangan yang berlangsung di muka bumi ini. (Pemimpin Besar Revolusi) yang tidak ada tandingannya.

T. Perbedaan lain adalah: Soekarno mengutip dari sumber aslinya. sedangkan aku masih sedang mencari jati diri pada tingkat kecamatan.119 rampung sampai ke pelosok-pelosok yang terpencil. Pak Sujadi mengira bahwa aku pandai berbahasa Inggris. Pada saat ada kesempatan tanya-jawab. tetapi kosong itu. aku tidak menyia-nyiakannya. padahal Bahasa Inggrisku masih terbata-bata. Bukan main bersemangatnya juru bicara Manipol ini memuji Bung Karno dan pemikirannya yang terekam dalam TUBAPI (Tujuh Bahan Pokok Revolusi Indonesia). dalam majalah Panji Masyarakat atau Gema Islam. Untuk menunjukkan bahwa aku tidaklah terlalu kampungan. Maka tak lama kemudian. Sebuah trik anak desa yang belum percaya diri. Mendengar kutipan mentereng ini. Rakyat Indonesia terbius oleh retorika politik yang serba panas. dan ada buahnya untuk tambahan rezki. aku lalu teringat beberapa kutipan Bahasa Inggris dari alm. akan . sehingga dapat “mempesona” orang lain. Soekarno tokoh nasional dan dunia. aku hanyalah menghafal-hafal kutipan dari kutipan orang lain. jadilah aku diangkat sebagai guru di S. tidak mustahil aku akan diangkat jadi guru tetap di sana. Mr. Mungkin saja aku mengucapkan kutipan itu memang dengan cara yang benar. Bukankah kutipan-kutipan asing itu juga menjadi senjata Soekarno di muka pengadilan kolonial jauh sebelum proklamasi? Bedanya. Di antara kutipan itu adalah scientific approach dan scientific consideration ( pendekatan ilmiah dan pertimbangan ilmiah). dan mungkin aku tidak akan ke mana-mana lagi. Andaikan aku punya ijazah negeri. entah dari sumber mana diambilnya. Abdullah Sjahir. kedua majalah ini di bawah pimpinan Hamka. di atas. Tetapi cara itulah yang kulakukan.

aku bakal terpilih jadi Ketua P.D. Sebagai kader Muhammadiyah. Garis nasib ternyata kemudian bergerak ke arah lain. Amien Rais.D. karena kita .. cerita tentang pengalaman ini aku sampaikan kepada Bung M.M. sekiranya aku terus “terbenam” dan membenamkan diri di Baturetno. (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) kabupaten Wonogiri. dengan menambahkan bahwa perlu dicari pembicara lain yang bukan anggota P.P. Jika itu yang terjadi. memberi pengajian kepada warga Persyarikatan di daerahku. Dan tidak mustahil pula dalam musyawarah daerah.M. dan aku malah bangga menuturkannya kembali. beberapa tahun setelah itu. alumnus Mu’allimin Jogja lagi. Itulah aku. Semuanya ini kemudian harus kulaporkan kepada pengurus P.D. tentu pada suatu hari sebagai Ketua P. dengan terkekeh itu saja. untuk menjadi ketua cabang Baturetno. Pada suatu ketika.M. Aku percaya bahwa pengurus tentu akan menyetujui saranku..P. aku tinggal mengikutinya saja. aku akan berkunjung ke kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk memohon anggota P. tentu tidak akan terlalu sukar bagiku.P. Bung Amien.120 menetap dan terpaku di sana bak perantau Cina (sebuah ungkapan orang Minang perantau yang tidak pernah kembali). Dan tidak mustahil jawaban yang akan kuterima adalah bahwa pada saat itu semua anggota P. malah menambah abrabnya persahabatan kami. Demikian tinggi rupanya penghormatan daerah kepada tokoh Muhammadiyah tingkat pusat. sedang sibuk menyiapkan Sidang Tanwir sehingga kunjungan ke daerahku terpaksa ditunda. setidaknya majelis tingkat P.P. komentator yang tajam. dia hanya terkekeh-kekeh sambil mengulangi kutipan Bahasa Inggris itu. dasar anak desa.

T. aku juga mendapatkan tiwul (makanan dari tapioka kering) sebagai tambahan gizi (kalau tiwul itu masih ada zat gizinya) saban bulan. jika Persyarikatan yang telah turut membentuk kepribadiannya terus saja melaju dan berkembang untuk beramal bagi kebaikan sesama. (Guru Tak Tetap) di sebuah sekolah negeri.P. Tetapi sebagai selingan. Di samping dapat sekadar uang.M. Pada saat kondisi ekonomi yang lemah di tengah-tengah gencarnya indoktrinasi Manipol-Usdek. Kutipan perkataan Inggris di atas ternyata telah memancing orang untuk memintaku menjadi G. Geli juga rasanya aku mengenang semuanya itu sekarang ini.T.T.. Sekarang (tahun 2006) Muhammadiyah kabarnya semakin berkibar di daerah itu. Yang jelas aku tidak pernah menjadi Ketua Cabang atau Ketua P.D. Wonogiri yang memohon anggota P.121 memang ingin selalu mendapat penyegaran dari pimpinan yang lebih atas. tidak akan ada ujungnya. . Untuk turut serta dalam upaya mempercepat proses pencerdasan dan pencerahan bangsa Indonesia yang masih dilanda kesulitran. Siapa yang takkan bangga. untuk berkunjung ke sana. Demikianlah kalau kita berandai-andai.T. bangga juga aku rasanya ketika itu. peran Muhammadiyah tentu akan semakin penting dan strategis. asal saja kita tidak membiarkan diri tenggelam dalam lingkaran pengandaian itu. Tiwul merupakan makanan pokok bagi sebagian rakyat Wonogiri. Sekalipun hanya dalam posisi G. aku mendapat sedikit rezki dari sekolah negeri ini. berandai-andai ini perlu juga untuk mengurangi ketegangan saraf bila beban otak terlalu sarat dan berat. sesuatu yang selalu aku banggakan.

S. aku juga mengajar di kota Solo: di madrasah Mu’allimat N. Pada tahun 1960-an itu di samping mengajar di Baturetno. Mata pelajaran yang kuasuh umumnya sama dengan yang di Baturetno: Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Tingkat intelektualitasku baru sampai di situ. di samping Sidi Gazalba. untuk memahami satu alinea saja. Cukup lama juga aku bolak-balik SoloBaturetno dengan kereta api. M. karena minimnya kosa-kata yang dikuasai. padahal usiaku ketika itu sudah sekitar 25 tahun. S. Peta bumi Wonogiri telah banyak mengalami perubahan dan kemajuan sejak aku meninggalkannya sekian puluh tahun yang lalu. Jika kukenang semuanya ini. demi kelangsungan hidup sebagai anak rantau yang “terlunta” akibat perang saudara. . Peluang untuk berkembang dan maju lebih terbuka bagi mereka. adalah di antara penulis favoritku. tentu kamus harus dibuka.M. pimpinan Pak Suhardi. Aku sendiri pada waktu itu jelas belum punya akses membaca buku-buku asing.I. Sewaktu masih kecil di Sumpur Kudus. Aku naik di Pasar Pon terus melaju ke Baturetno dengan jarak 52 km pada saat itu. sekalipun jumlahnya juga tidak banyak.A.M.122 Pada tahun 1960-an itu. Abdullah Sjahir. Andaikan punya akses. alangkah jauh tertinggalnya wawasan dan pengetahuanku dibandingkan dengan sebagian anak muda pintar dan kreatif belakangan. Sekarang kabarnya lebih jauh lagi karena harus mengitari Waduk Mungkur yang dibangun setelah aku meninggalkan daerah itu. (Modern Islamic School) pimpinan Pak Abdul Manan Kadim. terutama karena kutipan-kutipan Bahasa Inggrisnya yang memukauku. Mudah mengagumi orang-orang pintar yang kreatif dan produktif.D. tak seorang pun yang mengira bahwa aku akan mondar-mandir antara SoloBaturetno.

Amien Rais. karena cara inilah satu-satunya jalan bagiku untuk dapat meneruskan kuliah di Solo: Universitas Tjokroaminoto. dan rakyat umum. Sewaktu aku belajar pada Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus. Sanusi Latief dan Prof. Prof. Bukankah seperti sering kukatakan bahwa “aku terdampar ke tepi semata-mata karena belas kasihan ombak?” Kalaulah aku harus menyebut dua nama yang telah turut mengubah perjalanan intelektualku di samping peran “ombak”. Malaysia. maka alm. Juga telah membebaskanku dari kebiasaan menyandang bedil ke sana-ke mari sebagai wujud kesukaanku menembak hewan.A. M. anak sekolah. Modal dasarku ketika itu jauh di bawah batas minimal. manakala dia pulang kampung dari tempat belajarnya di Bukit Tinggi. Dr. dan Kanada. Sanusi Latief berjasa karena telah membebaskanku dari lingkungan kampung yang serba sederhana dan rutin. Amien Rais adalah sahabat yang mengenalkanku dan yang meminta rekomendasi kepada Fazlur Rahman agar aku dapat diterima untuk meneruskan kuliah pada Universitas Chicago tahun . Maka adalah sebuah perbuatan gila kalau mengimpikan yang bukanbukan. M. untuk kemudian berangkat ke Jogjakarta setelah aku merampungkan Madrasah Mu’allimin Lintau selama tiga tahun. adalah yang paling berjasa melalui caranya masing-masing. sebagai guru selingan. Samasekali tidak ada bayangan waktu itu bahwa suatu saat aku akan belajar dan mengajar ke dan di luar negeri: Amerika Serikat. Semua ini kujalani tanpa perasaan gelisah yang menganggu.A. Solo-Baturetno ini adalah kendaraan para pedagang kecil (bakul). M. Dr. Aku termasuk dalam kategori yang terakhir ini.123 K. dengan Batang Sumpurnya yang terus mengalir tanpa henti. Sanusi Latief pernah mengajarku.

Dengan demikian. apalagi masyarakat kampungku. dan perhatian terhadap orang yang hidup tentu akan kecil sekali. rasa terima kasihku takkan pernah sumbing kepada keduanya. karena bertentangan dengan harkat dan martabat manusia. tentu sebagian besar rakyat Indonesia. Apalagi jika dikaitkan dengan doktrin tauhid . Kemudian terserahlah kepada masyarakat luas untuk menimbang-nimbang perbedaan-perbedaan kecil itu. tidak hanyut dalam arus perbudakan fisikal dan spiritual. Muhammadiyah dengan demikian adalah gerakan pembebasan teramat penting agar manusia Indonesia tampil sebagai orang merdeka lahir-batin. Sekalipun kadang-kadang berlaku perbedaan pendapat. Bagiku kemerdekaan adalah bagian yang menyatu dengan bangunan imanku.H. Mereka telah berperan penting pada saat-saat aku sedang berada di persimpangan jalan dalam menentukan pilihan. Aku tidak dapat membayangkan sekiranya K. Dahlan (1868-1923) tidak berjaya membentuk dan mengembangkan Muhammadiyah.124 1979-1982. Persyarikatan inilah yang membebaskan kami dari kerikatan yang kaku terhadap mazhab-mazhab pemikiran Islam yang sudah berabad-abad usianya. Jasa kedua tokoh ini sudah terekam baik dalam memori hidupku. akan tetap saja sebagai pemuja kuburan yang dikeramatkan. kami bertiga berasal dari sub-kultur yang sama: Muhammadiyah yang telah turut membentuk jiwa kami. perbudakan dalam bentuk apa pun harus dilenyapkan dan dimusnahkan. Keduanya adalah fasilitator yang efektif bagiku untuk mengembara lebih jauh dengan modal dasar yang semakin bertambah. Tokh.A. Perbedaan bagiku adalah kekayaan ruhani untuk mempertajam wawasan kemanusiaanku.

Sumpur Kudus dan sepupu jauhku. tetapi terasa sebagai sesuatu yang hampir mustahil. teman sekelasku di S.R. adik kandung Rahma. terjadi perkembangan baru dalam hidupku. Mereka tampaknya telah merundingkan suatu masalah yang kemudian ternyata telah menentukan pula perjalanan hidupku. kemudian kembali menggunakan nama aslinya Nurkhalifah). Tidak hanya dikenalkan. Bagiku. sudah tua lagi jika dibandingkan dengan umurnya? Berkecamuk juga A. St.M. Tanjung Ampalu. Apakah mungkin seorang gadis belasan tahun dari keluarga berada bisa diajak membicarakan masalah rumah tangga dengan seorang yang tak punya pencarian tetap. seorang menteri kesehatan di Simalanggang.P.) . suami Rahma. memang sangat dekat dengan keluarga etekku. seperti telah kusinggung di depan.125 yang hanya kepada menghambakan diri. Mengapa tidak? Seorang bujang lapuak diincar oleh keluarga kaya yang aku kenal. . dikenalkan kepadaku melalui surat. Sebagai seorang yang belum punya pilihan untuk teman hidup. aku sempat termenung. dikebumikan di Sumpur Kudus 7 Sept. Allah sajalah orang boleh IV. Payakumbuh. Ismael Rusyid (wafat 6 September 2005 di Payakumbuh. jika aku dan yang bersangkutan bersedia. Teman ini. tetapi mau dijodohkan. MENITI BIDUK KEHIDUPAN Mulai Dijodohkan Sikitar tahun 1963 pada saat usiaku 28 tahun. ini merupakan hiburan yang membanggakan. anak Sarialam-Halifah. Lifuarda (namanya sewaktu di S. secara diam-diam telah menghubungi etekku Bainah.

Bersamaku. dalam perjalanan pulang ke Sumpur Kudus dari Lombok. Bulan Maret tahun 1957. sampai di mana aku menompang truknya. Seorang guru Muhammadiyah pulang kampung dari rantau hanya punya biaya pas-pasan untuk naik bus sendiri. aku diterima dengan baik oleh keluarga ini. tetapi sebagai mahasiswa dan guru pada beberapa perguruan sewasta yang hidupnya pas-pasan. Rasanya tidak sampai ke Kumanis. sebab aku singgah dulu di Padang Panjang untuk menemui teman-teman . Bukan sebagai pedagang yang mapan seperti umumnya orang Minang. Tetapi surat Ismael seakan-akan telah memastikan bahwa Lip (panggilan gadis itu) tidak keberatan. Seperti biasa. Alangkah geli bercampur malunya rasanya. isteri Ismael yang sudah berumah tangga sejak 1959. ada sekeranjang bawang dari Lombok yang akan dijadikan bibit untuk dikembangkan di kampung. Padang. kalau mungkin sampai ke Kumanis. jika bukan kurang dari itu. Aku agak lupa. bila kukenang ini semua belakangan. Ayah Lip adalah seorang pedagang gambir yang terkenal dengan beberapa truk yang menjadi miliknya. Ibunya Sarialam memang kenal diriku sebagai anak piatu yang kini sedang berada di perantauan.126 perasaanku antara senang dan bimbang. Aku sendiri hampir seusia dengan Rahma (wafat tahun 2003). Mengapa aku mau singgah di rumah orang kaya ini? Pertimbangannya sederhana: untuk menompang truknya. dan besoknya aku menompang truk miliknya. pasar gambir dan karet yang terkenal di Kabupaten Sawah Lunto/Sijunjung. seperti telah kututurkan. aku singgah dan menginap di rumah keluarga ini di Seberang Padang. tetapi aku juga kenal Lip ini pada saat usianya 13 tahun.

pimpinan Sjafruddin Prawiranegara. . Dalam hati kecilku aku hanya bergumam.I. sebab aku sadar betul akan posisiku. sekalipun tokoh-tokohnya telah ditangkap. matanya tajam. Tetapi hanya sekadar sampai di situ. Mungkin saja dia tidak biasa main remis. masih belum mendingin betul. Sewaktu aku dan putera-puteri Sarialam-Halifah main remis bersama.R. juga tidak mungkin. sementara mereka ini semua hidup dalam kondisi serba ada dalam ukuran ekonomi. apalagi usia terpaut jauh. ada gadis dengan celana panjang merah. dengan sekeranjang bawang yang kubawa dari Lombok langsung ke Teluk Bayur. Yang juga aku heran adalah: mengapa si kecil ini mau dihubungkan dengan pemuda tua yang jarak usianya sekitar sembilan tahun. Ismael jelas berjasa dalam masalah ini. Semuanya berlalu begitu saja. sebentar muncul sebentar menghilang. Nampaknya si celana merah ini manja sekali. datanglah surat Ismael di atas. miskin lagi. Aku tidak tahu bagaimana cara Mak Sarialam memintanya untuk menemui etekku Bainah di Calau untuk menjajaki persoalan Lip dan aku.127 Mu’allimin Lintau di sana. karena tidak ikut main. Semalam di Seberang Padang rupanya telah membentuk kenangan tersendiri bagiku di kemudian hari. lincah juga gadis ini. adiknya. Baru setelah itu bergerak ke Kumanis untuk kemudian berjalan kaki ke kampung.R. Apa yang mau ditawarkan oleh seorang guru swasta yang tidak jelas penghasilannya. Akan dilirik kakak-kakaknya. Enam tahun kemudian. pada saat situasi politik antara Jakarta dan bekas P. Rahma (bintang desa) dan Rosma. rambutnya panjang terurai. Tidak ada fikiran macam-macam pada malam itu. Ingatan pertamaku adalah pada “peristiwa” Seberang Padang itu: si celana merah dengan rambut terurai itu.

hanya badanku agak kurus. aku melihat perempuan tiga beradik sedang duduk-duduk di tras beranda rumah. aku kemudian berbelok dengan berjalan kaki ke arah rumah si kecil. ragu jangan-jangan dia sudah berbalik arah dan haluan. Senang. Dari kejauhan. rumah si kecil yang baru yang belum beberapa tahun dibangun ayahnya di kawasan elit Padang Baru. tentu dengan perasaan bercampur-aduk antara senang. Anda bisa bayangkan seorang guru swasta mau dijodohkan dengan keluarga pengusaha! Apakah ini bukan sesuatu yang lucu? Apakah nanti bisa bertahan lama? Setelah melewati jalan Raden Saleh.128 Tak lama kemudian. Pada waktu itu Mak Sarialam masih hidup. sekalipun sudah sakit-sakitan karena asma. Ke mana aku singgah dulu sebelum ke kampung? Ke mana lagi. Rumahnya gagah dan kokoh. Kalau tak salah. dibangun di atas tanah 1000 meter persegi. Ayah si kecil adalah seorang pedagang yang gigih dan ulet. ragu. sebagai simbol keluarga pedagang terkenal. diambil dari nama kampung yang samasama kami cintai. karena akan bertemu dengan si kecil. malu. Truknya diberi nama Sumpur Kudus. Di depannya beberapa truk biasa diparkir. Padang. di situ ada Rahma (yang sudah punya anak). aku pulang kampung pada tahun 1963 itu. setidaktidaknya di beberapa kawasan Sumatera Barat. sekalipun bajuku ketika itu tidaklah terlalu buruk. kemudian menjadi pengusaha yang berhasil secara mandiri. karena tak punya apaapa. Sumpur Kudus setidak-tidaknya sedikit dikenal orang ramai. Dengan truk yang menyandang nama kampung yang biasa berkelana antar propinsi. semula dari posisi sebagai sopir selama bertahuntahun. apalagi di kalangan orang kampungku. jika bukan ke Rimbo Kaluang. ada . dan malu.

bukanlah caraku. kabarnya Rahma berkomentar: “Tampaknya yang datang itu orang susah!” Maklumlah aku agak kurus. Ini persoalan besar yang tidak mudah dipecahkan. Setelah melihat penampilanku dari kejauhan yang melenggok-lenggok. Dalam serba kesederhanaan. Tetapi itulah aku dalam keadaan polos. termasuk merantau dekat ke Lintau selama tiga tahun sebelumnya. sekalipun telah merantau sambil sekolah selama 10 tahun sampai saat itu. aku pinjam pakaian dan sepatu teman untuk menunjukkan bahwa aku orang berada. Aku memang tidak berbakat jadi aktor. dalam keadaan apa adanya. Umpamanya. Jadi bukan kecil lagi sebenarnya. aku terbiasa berdiri di atas kaki sendiri. Masalahnya adalah aku akan berumah tangga. demi gensi. mencari yang lain. tentu aku adalah seorang pemain sandiwara yang suka berpura-pura. sekiranya di Padang aku punya teman. sebelum berkunjung ke rumah si kecil. tetapi tidak autentik. pandai bertanam tebu di bibir.129 Rosma (juga sudah punya anak). Yang aku heran adalah mengapa Mak Sarialam. Sebuah risiko harus dihadang. Jika itu aku lakukan. agar kelihatan agak sedikit parlente. Perkara si kecil kemudian mau berpaling arah. Apakah masih boleh aku berpikir seperti sendirian? Apalagi calonku ini tidak terbiasa hidup miskin. tidak ada yang harus terlalu dirisaukan. ada si kecil. mungkin kurang gizi. dan kakakku Rahima bersikeras menjodohkanku dengan si kecil gesit yang biasa manja. Galau dan bimbang juga fikiran dibuatnya. aku tentu tak dapat berbuat apaapa. bukan? Bagi si piatu yang sudah terbiasa malang melintang mengarungi nasib. Apa pun yang diingininya secara materi selama ini di . yang waktu itu sudah berusia 19 tahun. bibiku Bainah.

Sampai tahun 1963 itu. Apakah kawin dengan bunga kelas ini tidak akan menimbulkan masalah di kemudian hari? Di samping jarak usia yang jauh. Tanjung Ampalu di akhir 1950-an. teman-teman sepermainan di kampung sudah beranak pinak. Dalam kondisi semacam itu. Sekalipun aku telah mengantongi dua ijazah B. Baru setahun kemudian melalui ujian negara pada Universitas Cokroaminoto Surakarta. sekalipun secara ekonomi dalam kenyataannya aku sama sekali tidak siap. tokh aku tetap saja sebagai seorang setengah penganggur dengan mengajar di sana-sini di daerah Surakarta. juga terbentang jarak psikologis.130 lingkungan keluarganya selalu tersedia. ada kejadian kecil yang mungkin baik . Tetapi bibiku dan kakakku demikian kuat mendorong agar aku cepat berumah tangga karena batang usiaku telah bergulir semakin larut. Herry Komar (wafat 13 Feb. di samping ijazah hasil ujian lokal untuk derajat yang sama. sekalipun tidak lapar. pengalaman hidup. Perasaan semacam ini pada waktu itu memang tidak terlalu tajam kurasakan. demi kelangsungan hidup dalam keadaan tertatih-tatih. Bagaimana akan siap. aku mendapatkan ijazah persamaan negeri untuk tingkat sarjana muda. pada 1964. sementara aku masih terombang-ambing di putaran roda nasib yang tidak menentu. tak secarikpun ijazah sekolah negeri yang terpegang di tanganku. Sebelum aku kembali ke Jawa dari kampung pada tahun 1963 itu. aku belum punya pekerjaan tetap.M.P. 2006 di Jakarta). Teman sekelas si kecil di S. dan jarak ekonomi yang tentu tidak mudah dijembatani dan dipertemukan. mantan wartawan senior Indonesia.A. aku tak mungkin melamar jadi pegawai negeri. pernah menyebut si kecil sebagai bunga kelas.

Andaikan pada waktu itu dia merasa bosan melihatku. kakak sepupuku dari pihak ayah. langkahnya bergegas. Semuanya biar . aku akan pasrah. dia membuang muka ke arah lain. Kami tidak saling berteguran. Ia baru datang dari Padang. Yang jelas aku menyukainya. Si bunga kelas juga pulang kampung beberapa hari kemudian. Si kecil ini ternyata kemudian memang bukan seorang materialistik. Aku hanya meliriknya sepintas lalu. berselisih jalan dengannya. Aku tidak tahu apakah hatinya semakin mantap atau sebaliknya semakin hambar berselisih jalan denganku. Sumpur Kudus. Seingatku ia pakai baju putih. Aku ini anak Muhammadiyah alumnus Madrasah Mu’allimin Lintau dan Jogjakarta yang dilarang berbuat macammacam di luar bingkai dan alur tauhid. dalam perjalanan hidup kami kemudian sekalipun banyak pancarobanya. Kekayaan mana pula yang mau diburu dari seorang aku yang kurang gizi? Tetapi aku harus jujur.131 juga diungkapkan di sini. agak menjauh ke tepi jalan. baju anak sekolah. sebagaimana yang akan kututurkan. tidak akan pergi ke dukun untuk minta “obat pekasih” demi melunakkan hatinya. Andaikan pertalian itu akan patah di tengah jalan. bukan atas inisiatif kami berdua. pada suatu pagi aku dan teman-teman. yang memburu kekayaan. Tampaknya ia sangat pemalu. termasuk Manirun. aku pun tidak akan bertingkah di luar jalur agama. khususnya setelah usia perkawinan kami agak lanjut. sekalipun orang kampung sudah tahu semua bahwa kami telah dijodohkan. rezki secara berangsur terus mengalir. karena sebelumnya belum pernah aku bercinta secara serius yang menuju ke perkawinan. Sebelum berbelok ke rumahnya. tidak jauh dari Simpang Balai.

tentu batin ini akan terluka juga. Qul huwallah sungsang. Tetapi betapa pun perihnya hati. Muhammad sungsang. Muhammadiyah adalah gerakan pembebasan manusia menuju posisi tauhid sejati dan persaudaraan universal umat manusia dengan segala perbedaan yang ada. Inilah di antara jasa Muhammadiyah yang cukup penting dalam membentuk pribadiku. Di antara bacaan untuk menyembuhkan penyakit sijundai (semacam sakit kepala) yang masih terngiang-ngiang dalam ingatanku adalah sebagai berikut (aslinya dalam Bahasa Minang): Hai sungsang. sekalipun sekiranya nasib malang yang akan menimpa.132 berjalan secara alamiah. Bagiku pada sisinya yang terdalam. jauh sebelum aku mengenal Muhammadiyah. Muhammadiyah lebih dari pada gerakan sosial keagamaan yang giat menyantuni manusia. agama melarangku untuk main mata dengan tukang guna-guna yang di kampungku cara itu masih sering disebut-sebut orang. aku sangat kokoh. Aku tak bisa membayangkan sekiranya Muhammadiyah tidak berhasil menembus kampungku. Dukun ini kenal baik dengan bibiku Bainah. Dalam perkara ini. tidak akan berganjak sedikit pun. Maka salah satu buahnya yang elementer adalah membebaskan manusia dari segala macam bentuk kepercayaan yang menyimpang dari tauhid. . Memang di masa kecil aku pernah pula diajar oleh seorang dukun perempuan dari nagari Menganti bacabacaan yang serba karut itu. yang berbau syirik. tentu aku ini tidak akan pernah mengalami proses pencerahan batin yang teramat menentukan bagi perjalanan hidupku.

atau seperti bayi yang lahir kakinya lebih dulu keluar. Artinya aku tidak boleh oleng menghadapi apa pun yang mungkin terjadi. Ilmu andai-andai di atas sengaja kutuliskan dalam kaitannya dengan serba kemungkinan hubunganku dengan si kecil. Ini tentu berbeda dengan cerita Malin Kundang. Masuk sekalian tawar. sebab tak terjangkau oleh kantongku. Pendeknya suasana hidup miskin adalah pakaianku sehari-hari selama bertahun-tahun. semata-mata sebagai bunga dan bumbu penuturan. Bukankah perjalanan hidupku sampai detik itu belum pernah merasakan apa yang bernama hidup berkelapangan? Pernah berbulanbulan di Solo aku tak pernah merasakan enaknya daging. Aku memantrakan obat parang sijundai. si anak durhako dalam Hikayat Sabai Nan Aluih itu. Akan dibelenggu Muhammad-lah engkau. Keluar sekalian penyakit Berkat do’a. Nama malin di sini dikaitkan dengan orang yang dianggap tahu agama merangkap dukun. sekalipun di dalamnya termuat juga sebuah keyakinan agama yang mendalam yang menjadi peganganku. sebab ada gelar malin dan ungkapan-ungkapan bernafas Islam. Mungkin nama salah seorang dukun dalam legenda Minangkabau yang sudah berbau Islam. Sungsang artinya kaki di atas kepala di bawah. masakan Muhammad dan ayat Allah dikatakan sungsang.133 Akan dirantai Allah-lah engkau. Gontai dan tertatih langkah ini untuk berumah tangga pada waktu itu sering benar dibayangi oleh situasi yang serba kekurangan itu. Goncang batinku . Aku pun tidak tahu siapa itu Malin Karimun yang disebut itu. do’a Malin Karimun Baris kedua dan ketiga jelas gawat.

dan pengusaha. tidak peduli terhadap masalah kemiskinan bangsa. Interaksiku dengan tokoh-tokoh lintas agama. tetapi dengan segala keterbatasan. birokrat.P. lintas etnis. dan beberapa daerah Muhammadiyah di seluruh tanah air setidaktidaknya mengerti apa yang aku maksud. Muhammadiyah dan masa-masa sesudah itu. Tidak banyak memang yang dapat kuperbuat kemudian. Sumpur Kudus dan Kabupaten Sawah Lunto/Sijunjung. . apa makna serba kesulitan hidup bagi manusia. para jenderal. Oleh sebab itu. aku paham benar apa makna kemiskinan. aku setidak-tidaknya telah berbuat sesuatu untuk kepentingan orang banyak. Penyebab utamanya terletak pada kualitas kepemimpinan pada semua tingkat yang tidak serius mencarikan jalan ke luar dari serba kekurangan yang menimpa rakyat banyak ini. lintas kultural. sungguh sangat subur di hari-hari tuaku. Muslim dan non-Muslim.134 juga tidak terlepas dari lingkaran situasi yang masih serba melilit itu. Pada tempatnya nanti aku akan mengulas lagi masalah ini. Jangan sampai aku merasa diri seperti orang yang lupa daratan. Mudah-mudahan semuanya ini akan tetap mendidikku untuk tidak lupa terhadap masa-masa sulitku yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari seluruh proses pembentukan diriku. tidak memperhatikan orang miskin. sekalipun itu semua aku lakukan di saat batang usiaku telah beranjak jauh. Inilah yang sedikit membahagiakan batinku. lupa lautan. Apalagi kemiskinan di Indonesia bukan disebabkan oleh langkanya sumber daya alam yang langka. Tetapi pada masa itulah kesempatan untuk berbuat itu datang. Ini jelas terkait dengan kiprahku sebagai Ketua P.

Aku masih gamang. Bukankah semuanya itu belum ada dalam agendaku? Mengapa mau bicara agenda segala. Orang tua seorang teman di kampung kabarnya pernah pula mendatangi Mak Sarialam untuk menjodohkan anaknya dengan si kecil. apa yang akan diagendakan? Seperti . apakah ada akar sejarah masa lampau. Sudahlah.135 Kita kembali kepada alur cerita semula. yaitu sembilan tahun. Apa yang mau diucapkan tentang kemungkinan masa depan segala. Selama beberapa hari di kampung. Beberapa kali aku bertandang ke rumah si kecil selama di kampung sungguh menyenangkan. Jika muncul masalah. sementara si kecil kabarnya tidaklah keberatan benar. Entah bagaimana akhirnya. sebab siapa tahu. Aku belum punya pegangan apa-apa dalam masalah ekonomi. selesaikan sebaik dan seadil mungkin. mungkin si kecil akan lebih bahagia bersamanya dibandingkan hidup bersamaku. sekiranya itu menjadi kenyataan. Aku pun tidak bisa bertutur banyak tentang masa depan. aku suka juga bertandang ke rumah si celana merah yang disertai Mak Sarialam yang anggun dan dermawan itu. kita tak perlu selidik menyelidik lagi. Kita terima suratan nasib sebagaimana adanya. Mungkin karena jarak usia yang jauh. kemudian hadapi kenyataan secara wajar dan penuh optimisme. Aku pun tak tahu mengapa ibu yang ramah ini mau menjodohkan anaknya denganku. Itu aku dengar sendiri dari si kecil setelah ia kemudian menjadi isteriku. sekalipun ia tidak terlalu terbuka untuk menyampaikan isi hatinya. tidak ada kelanjutannya. menjadi salah satu kendala baginya untuk berkata terus terang. ini perkara jodoh. tidak jelas bagiku. karena aku belum punya peta masa depan. Aku hanya senyum-senyum ketika mendengarnya.

antri minyak. Indonesia pada waktu itu adalah sebuah Indonesia yang sedang terkapar. dan sedikit sebatas propinsi. juga tidak memberi saran apa-apa. Dengan kalimat lain. membakar semangat rakyat yang sering kedinginan lantaran perut kosong.T.B. dan famili yang lain. tidak pelak lagi juga merasakan dampak buruk dari cara Jakarta mengurus negeri yang sedang kelaparan itu. . kabupaten. karena kesalahan pemimpin di tengah-tengah kerumunan rakyat yang menderita penyakit amnesia (pelupa).136 seorang pengusaha saja dengan menyusun anggaran segala! Aku tak perlu malu mengatakan bahwa aku tak punya agenda apa-apa. lugu. abang. 1959-1966) dengan politik mercu suar yang tidak berpijak di bumi? Politik sebagai panglima! Sumpur Kudus sebagai bagian tersuruk dari Indonesia. antri garam. ekonomi bangsa sedang morat-marit di bawah sistem D.R. lapar. Antri beras. antri sabun. Bung Karno sebagai P. Wawasan mereka pun sebatas kecamatan. (Pemimpin Besar Revolusi) tetap saja berpidato di mana-mana. sebuah kebijakan untuk mengalihkan perhatian rakyat dari suasana perut keroncong karena negara dibiarkan berada dalam kondisi centang-perenang secara ekonomi dan politik. Paman. antri bensin dan antri apa lagi. Ditambah lagi konfrontasi dengan Malaysia yang banyak menyedot energi dan perhatian publik. merupakan pemandangan dan panorama sehari-hari pada masa itu. tetapi itulah aku dalam keadaan polos. dan mungkin kekanak-kanakan. Bukankah pada masa itu. (Demokrasi Terpimpin. karena mereka pun telah terlalu sibuk dengan urusan diri dan rumah tangganya masing-masing.

” (Jika anda tidak mampu memukul mereka. sekolah. Di antara pengeritik yang paling vokal. Aku yang sudah agak mengerti politik dan . paling-paling seumur penciptanya. gedung-gedung. Dialah sebenarnya Bapak Demokrasi Indonesia yang autentik. Suasana politik bangsa panas sekali. majalah pimpinan Hamka itu akhirnya diberangus. join them. dan berpengaruh adalah Bung Hatta yang menulis artikel dalam majalah Panji Masyarakat bulan Mei 1960 dengan judul “Demokrasi Kita”. Selama periode yang panas ini. Warga negara terbelah menjadi dua: pendukung atau pengeritik konsep revolusi yang tak pernah selesai itu. argumentatif. Sekalipun Hatta tidak ditangkap. Dalilnya adalah: “If you cannot beat them. semuanya dihiasi dengan tulisan Manipol-Usdek dengan hurufhuruf besar untuk menunjukkan bahwa revolusi belum selesai. Dalam sejarah kontemporer Indonesia tulisan Hatta ini (sudah dicetak dalam bentuk buku kecil) telah menjadi klasik. Hatta menurut penilaianku adalah seorang demokrat dalam teori dan praktik par excellence. Kebanyakan orang telah menjual hati nurani dan kemerdekaan pribadinya. Dalam artikel inilah Hatta meramalkan bahwa sistem kekuasaan otoritarian itu tidak akan bertahan lama. apa yang dikenal dengan pelacuran intelektual terjadi secara besar-besaran dalam masyarakat Indonesia. Sudah lebih 40 tahun karya penting ini tetap saja dikutip manakala orang berbicara tentang masalah demokrasi di Indonesia. demi keamanan dan kelangsungan hidup yang serba sulit dan penuh risiko. Rasanya kita sedang berada dalam kondisi kebingungan dan konflik semesta. Partai-partai yang masih tersisa turut pula dalam koor manipolis itu dengan segala kepura-puraan yang memuakkan mereka yang siuman. ikuti mereka).137 Atap-atap rumah.

dan dua kali menjabat perdana menteri sebelum era D. Salah seorang tokoh P.I. Ali Sastroamidjojo. Ternyata akal sehat dalam situasi tidak menentu sering tidak berfungsi secara wajar.I. (Ali-Roem-Idham.N.. sungguh merasa amat terpukul oleh situasi yang serba manipolis itu. sekalipun Bung Karno gerah dibuatnya.T.I.K.I. P. Akhirnya Bung Karno “menyerah. Sesungguhnya Ali sebagai formatur kabinet pasca Pemilu 1955 pernah melihatkan taringnya sewaktu “membentak” Bung Karno karena dipaksa juga membentuk kabinet berkaki empat dengan memasukkan P. Orang boleh mengeritik dan menyayangkan sikap mereka mengapa harus demikian. (Partai Komunis Indonesia) yang memang terlatih dalam jor-joran politik berperan amat sentral dalam mendukung konfrontasi Bung Karno.I. terpaksa atau sukarela.I. aku tidak tahu.” maka kemudian terbentuklah Kabinet A. Aku pun heran. mantan duta besar di Washington D.. tokoh-tokoh yang dulu pernah ditempa oleh dan dalam P.T.C.I.K. yang mendukung D. kecuali Hatta dan para pengikutnya. juga larut dalam kompetisi manipolis ini. tetapi yang ditolak oleh partai-partai lain..Masyumi-N.). Genderang politik manipolis serta yel-yel konfrontasi dengan semangat tinggi adalah panorama sehari-hari.U. diplomat ulung. termasuk partai-partai Islam selain Masyumi. Otak normal sulit sekali membaca peta politik yang sedang berkembang. (Perhimpunan Indonesia) di negeri Belanda seperti turut menikmati bunyi genderang manipolis itu. . Partai-partai lain pada umumnya tinggal menari saja mengikuti irama genderang yang sedang ditabuh. P. tetapi itulah fakta yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun.138 simpatisan berat Partai Masyumi yang telah dibubarkan.R.. Ini yang terlihat dalam sikap sebagian alumni P.

Aku pun tidak tahu apakah cinta itu tertarik revolusi atau ungkapan-ungkapan politik yang membosankan. kita sebenarnya tidak perlu terlalu heran. sebab Jerman yang maju itu. sebuah usia yang layak untuk berumah tangga.T? Inilah politik yang kadang-kadang sulit dikalkulasi dan dipahami oleh pikiran jernih dan rasional. Semua noda hitam sejarah ini tidak mungkin dihapus dari memori kolektif kita. pernah pula memuja Hitler yang haus darah dan ekspansif selama bertahun-tahun. aku pun tidak bisa menjelaskannya. Aku tidak bertanya apakah si kecil mengikuti politik atau tidak. Romantisme perjuangan telah mengalahkan akal sehat dengan segala akibat buruknya. Menengok fenomena ini. Dalam suasana politik semacam itulah aku menganyam dan menjalin cinta dengan si kecil. Sejarah Indonesia pasca proklamasi sarat dengan contoh-contoh yang lucu-lucu tetapi melelahkan ini. kita tinggal memberikan penafsiran yang cerdas dan jujur mengapa semuanya harus itu terjadi dalam kondisi dan situasi tertentu.139 Tetapi mengapa kemudian Ali seperti tidak berkutik pada masa D. Baginya serba kesulitan mungkin tidak begitu terasa karena roda bisnis ayahnya masih berputar dan bergulir. apa pula hubungan cinta dengan revolusi yang tak kunjung selesai menurut Bung Karno? Pertanyaan semacam ini biarlah tetap menggantung. Sungguh luar biasa Indonesia pada waktu itu. dan diharapkan tidak terulang lagi. dari buminya telah lahir puluhan filosuf. termasuk filosuf eksistensialis Martin Heidegger (18891976) yang membingungkan kalangan yang masih berpikir nalar. karena tidak ada jawabannya. sekalipun mulai agak melemah. Tentu akan ada yang bertanya. . Usiaku pada waktu itu sudah 28 tahun. di mana akal sehat. Di mana rasionalitas.

yang melawan Jakarta sungguh gawat bagi Sumatera Barat. temannya sewaktu belajar di S. Seharusnya dua situasi sejarah yang berbeda tajam itu jangan dicampuraduk. seperti dia cemburu kepadaku kemudian. seperti telah disebut sebelumnya? Dampak P.D. 1950 selain memberontak yang ternyata berakibat fatal bagi keutuhan Indonesia. seperti halnya P. sementara awak tak punya apa-apa.I. sementara tidak sedikit pemuda yang telah lama mengintainya.R. Tanjung Ampalu di masa pergolakan daerah. inilah pertanyaannya. Bukankah dia bunga kelas dalam pandangan Bung Herry Komar. Apakah memang tidak ada cara lain pada waktu itu untuk menginsafkan Bung Karno agar tetap setia kepada U. Sejak itu sosok Sjafruddin telah menjadi tokoh kontroversial dalam sejarah kontemporer Indonesia sampai hari ini. tetapi keterlibatannya dalam P. Mengapa dia mau kawin dengan seorang yang nekat. itu adalah bagian dari sikap nekatku.P.R. dan Sumpur Kudus pernah pula menjadi pusatnya.D.I..D. perlu kajian ulang. 1958-1963.M. Dapatkah orang membayangkan sebuah republik yang sedang panik tanpa P. Jadi bila akhirnya aku kawin dengan si kecil. pada masa revolusi mempertahankan kemerdekaan.R.I.I. tetapi aku tak pernah cemburu kepadanya. karena ketidakpastian ekonomi yang membayangiku selama bertahun-tahun dalam usia dewasaku. wartawan kawakan Indonesia. di samping darah anak bangsa yang .? Aku sangat hormat kepada Sjafruddin karena integritas pribadinya sebagai salah seorang pemimpin bangsa yang moralis.R. Bagaimana mau menikahi seseorang.R.140 Berbeda denganku yang gamang menentukan langkah.U.R.

R. Rendra adalah penganut doktrin “daulat tuanku?” Di usia tuaku.R. apakah sudah benar atau karena larut dalam emosi anti komunis yang mendukung Manipol-Usdek. seperti baru saja kukatakan.I. Aku yang pada masa itu pro-P. jika pemimpinnya berjiwa besar dan demokratik.D..I.R.S.R.I. aku bersahabat dengan anak-anak dan menantu Sjafruddin. Bukankah Bung Karno dalam istilah W. belakangan mulai mempertanyakan sikapku itu.. Situasi saat itu sangat sulit bagi mereka yang bersikap kritikal. dan pemimpinnya. Soekarno dengan egonya yang kelewat besar menjadi tidak stabil bila dilawan dengan senjata pemberontakan itu.D. karena kami sama-sama sering berbicara tentang P. setelah Sjafruddin baru saja menyerahkan mandat kepadanya bulan Juli 1949 sebagai Ketua P. Demokrasi Indonesia lebih banyak dituturkan dari pada dipraktikkan dalam kehidupan nyata. sama sekali tidak menyebut P.141 tak berdosa telah banyak pula yang tertumpah secara siasia? Jawaban terhadap pertanyaan semacam ini belum selesai di otakku sampai sekarang. Aku yang semula proP.S.R. yang . Memang harus diakui secara jujur bahwa bintik-bintik hitam sebenarnya tidak elok berlaku dalam sejarah modern Indonesia..D. padahal pemerintahan gerilya ini selama tujuh bulan yang kritikal adalah penyelamat Republik Indonesia setelah Soekarno-Hatta ditangkap Belanda pada 19 Desember 1948 di istana Jogjakarta.I. yang selama sekian tahun tidak dihargai oleh Jakarta.I.I. perlu mempertanyakan cara-cara berjuang untuk menekan Jakarta dengan membentuk pemerintah tandingan. tetapi melihat korban yang begitu banyak. apalagi bagi simpatisan Masyumi dan P. Bahkan Bung Karno dalam Pidato 17 Agustus 1950.R.R.

P. ada kalanya kita sulit memahami sikap politik rakyat banyak.I. putera Mattudin Rauf-Sarikayo terbunuh kena bom pada saat pesawat A. Sebuah kehilangan yang berat bagi kami.R. bukan karena dipilih.I.K. adik sepupuku Azwar Makruf (siswa S. Dia korban sengketa politik daerah-pusat. Kembali kepada dunia dagang ayah si kecil. Tidak memikirkan nasib rakyat kecil yang menderita karena kelakuan mereka.I.I.R.I. Korban sengketa politik para elit bangsa yang sering lupa diri. Sampai hari ini suara Azwar masih terngiang-ngiang di telingaku.U.R.K. Karena Sumpur Kudus pernah pula menjadi pusat P. dan .K. tetapi situasi politik sungguh berpihak kepada mereka. Dia panggilku kakoncu. sekalipun mereka lapar. Sungguh berlaku yang aneh-aneh. dari suku Caniago. Bahkan posisi sebagai sebagai Wali Nagari Sumpur Kudus pernah dijabat oleh seorang P. Dengan susah payah pak Halifah membangun dan mempertahankan dunia bisnisnya dalam situasi yang serba manipolis itu. Siapa yang bertanggungjawab dalam tragedi seperti ini? Rakyat kecil hanya korban. Bayangkan ketika itu. Sungguh peristiwa ini sangat menyayat hati. Entah sudah berapa harta bendanya dikorbankan semasa krisis itu. Azwar adalah adikku yang sangat lincah dan pandai bergaul. di Kecamatan Sumpur Kudus tidak seberapa. Jumlah anggota P. dapat menyelusup ke kampung yang sangat jauh itu. tetapi karena diangkat.. P.M.K. menjatuhkan bom di desa itu.I. Di pedesaan P. kelas 1). seperti ratusan anak Minang yang lain yang juga menjadi korban. seorang anak manusia tak berdosa harus terbunuh dalam konflik elit politik bangsa. juga mengganas dan merajalela karena merasa sedang berada di atas angin.142 aku heran adalah sikap rakyat umumnya tetap saja terpaksa mendukung rezim otoritarian itu.

khususnya dagang gambir dan karet yang diangkut ke Padang.A.R. Aku dan si kecil bersama rombongan berangkat meninggalkan kampung dengan jalan kaki ke Kumanis untuk kemudian naik bus menuju tempat persinggahan masing-masing. mengelola perusahaan. Bukankah di antara isu politik yang diangkat P. Sebelum meninggalkan kampung mak Sarialam telah membuatkan rendang daging sapi untuk . Negeri di sana. B. Kembali ke Jawa dan Pulang untuk Menikah Aku kembali ke Solo tahun 1963 itu juga. Barulah setelah ditinggal mak Sarialam pada 1964. tidak saja di dunia dagang.I. Semuanya ini berlaku terutama karena P.I. Mak Sarialam dikenal sebagai perempuan yang bertangan dingin dalam mendampingi suaminya. Sikap optimisme dalam berdagang tidak pernah surut.M.R.R.R. ayah si kecil tidak terlalu berjaya lagi dalam membangun bisnisnya.143 sekaligus menjadi wali nagari. Rupanya peran isteri dalam karier suami sering sangat menentukan. adalah isu anti komunisme? Untungnya ayah si kecil tidak dikenal sebagai orang politik. naluri saudagarnya “berdansa” terus. jika ingatanku tidak salah. sehingga usaha dagangnya masih bisa berjalan di sela-sela kemelut politik yang panas itu. kalah perang. Si kecil kembali ke Padang meneruskan sekolahnya ke S. Dalam keadaan sulit. sekalipun tidak secara langsung. tetapi juga di arena kehidupan yang lain. ayah si kecil demikian piawai dan tabah dalam mengatasi berbagai rintangan yang datang silih berganti. Aku pun merasakan betul seorang isteri dalam setiap langkah yang kuayunkan. Sebagai seorang yang merangkak dari bawah dalam dunia dagang.

Semua diserahkan kepada mak Sarialam yang anggun ini. Damailah di sana. Kenyataannya. Akibatnya si kecil menderita dan tertekan sekali. Sayang sekali usia Mak Sarialam tidak berlanjut sampai pada saat kami berumah tangga. Memang sekiranya aku punya mata pencarian tetap sebelumnya. saling menjajaki. peran mak Sarialam begitu besar. mungkin aku sudah lama berumah tangga. aku dan si kecil selalu bersurat-suratan. tidak punya pilihan lain. Salah satunya adalah info yang diterimanya bahwa aku sudah punya anak di Baturetno. entah di mana. di seberang makam. wahai mertuaku yang baik hati! Selama ini dalam soal perjodohan dan perkawinan anak-anaknya. jangankan menghidupkan orang lain.144 kubawa ke Jawa. Bukankah kedua orang tua si kecil dikenal dermawan? Di Solo aku kembali mengajar di berbagai sekolah demi kelangsungan hidup. Terlalu baik dan lembut calon mertuaku ini. tetapi aku sedang kepepet. Tetapi ada satu hal yang memberi harapan bahwa pak Halifah akan membantu biaya perkuliahanku jika aku meneruskan sekolah setelah kawin dengan anaknya. aku merasa malu. mungkin lebih lembut dibandingkan si kecil yang sering keras kepala. padahal aku bukanlah pribadi seperti yang digambarkan info itu. Sesunggguhnya perasaan kecilku tidak terlalu enak dijanjikan biaya semacam ini setelah kawin. sekalipun bapak si kecil akan dengan tulus memberi bantuan itu. sementara pak Halifah biasanya tinggal menyetujui saja siapa pun yang akan menjadi calon menantunya. Sampai Desember 1964. menghidupi diri . Kapan pula aku tidak kepepet? Jika kukenang sekarang. Selama masa pertunangan itu berbagai berita tentang aku telah sampai kepada si kecil.

Awal 1965 aku pulang kampung untuk menikah. sekalipun harus hidup menderita. Sejak di Mu’allimin Lintau. Apalagi pada era D. termasuk tidak punya persiapan untuk sekadar membayar mas kawin. Jangankan orang seperti aku yang saban hari mengais ke sana ke mari. apalagi ibu yang sangat dekat dengannya telah dipanggil Allah pada bulan Juli 1964. Terima kasih mak! Sejak bertunangan. Jogja. Dia beli sendiri. batinku rasanya sudah agak tenang. karena masih ingin sekolah juga. tidak akan betah tinggal di Sumatera Barat. Si kecil pernah mengatakan sebelumnya kepadaku bahwa ia ingin merantau. Begitulah aku dan si kecil akhirnya berumah tangga setelah diterpa berbagai info yang negatif tentang diriku. tetapi pertunangan tidak sampai kandas di tengah jalan.T. Rendang ini kubawa sampai ke Jawa. sekalipun gamang juga bila mengingat bagaimana nanti menghidupi anak orang yang terbiasa manja. Aku adalah di antara anak Minang yang tidak terjun ke dunia dagang.145 sendiri saja bertele-tele. Tetapi inilah potretku yang sebenarnya yang tak . sampai tahun 1960-an itu. Cincin pertunangan yang dipasang di jari si kecil jangan dikira aku yang membelikan. para pegawai pun yang berpenghasilan tetap menjerit dihimpit dan dililit serba kekurangan.. aku belum pernah merasakan hidup lapang yang layak untuk dibanggakan. Secara materi aku tak punya bekal apa pun. bukan? Tetapi ada yang sedikit menghibur. kondisi ekonomi bangsa benar-benar terpuruk dan sarat tangis rakyat lapar. Jodoh memang tidak dapat direncanakan. sangat kontras dengan perjalanan hidupku. Dengan apa kubelikan. Pertemuan terakhirku dengannya adalah sewaktu memberikan rendang ke tanganku.

Si kecil tahu betul keadaanku. Jawaban lain adalah memang kami sedang mencari jodoh masing-masing. Kekuatannya terletak pada sifatnya yang mudah tersentuh melihat orang menderita. Pedih juga rasanya bila mengenang ini semua. Si kecil memang berhati keras. baik dalam umur mau pun dalam ekonomi. Memang kawin dengan keluarga berada bisa mengundang berbagai persoalan yang tidak mudah diatasi. Sifat ini tampaknya menetes dari darah orang tuanya. Seakan-akan aku dibiarkan berjalan seorang diri. Dari pihak keluargaku. Bahkan sebagian khawatir bahwa aku akan menjadi pengiring truk milik ayah si kecil. sesuatu yang tak pernah terbayangkan olehku. yaitu etek Bainah dan kakakku Rahima. . Seluruh saudara kandungnya berpendapat demikian. tidak ada bayangan akan membantu proses perkawinanku ini. adalah di antara persoalan yang harus dihadapi dan dipecahkan. aku banyak belajar padanya. Dalam masalah ini. kakak. paman. tetapi ekonomi mereka juga pas-pasan. dan lain-lain. tetapi sebuah pertanyaan tetap saja belum hilang dari hatiku: mengapa dia mau? Jawaban yang paling sederhana adalah karena suratan nasib sudah menetapkan begitu. Dan si kecil pun tidak akan membolehkanku berstatus sebagai pengiring itu. Untungnya. baik etek mau pun kakakku punya hubungan yang sangat baik dan erat dengan mak Sarialam. tidak mungkin mampu mengeluarkan biaya yang sederhana sekalipun. Banyak sudah contoh yang dialami orang lain.146 perlu kututupi. Perkara kondisi tidak seimbang. Kalau ditanya siapa yang paling proaktif dalam proses perkawinanku ini? Jawabannya jelas. Tetapi apakah aku harus pula seperti itu? Perkembangan selanjutnya ternyata tidak demikian.

entah dari mana ia dapat “ilmu”. sesudah salat Jum’at di masjid Rajo Ibadat pada tanggal 5 Februari 1965 di rumah si kecil yang dikenal dengan kawasan Mandahiling dalam sebuah upacara sederhana. entah apa sebabnya. sebagaimana banyak yang menimpa si Minang. Etek dan kakakku sudah terlalu terpukau oleh si kecil. Ini dapat dipahami karena dua hal.147 Mungkin inilah di antara modal mereka untuk menjodohkanku dengan si kecil. tokoh spiritual Perti. tetapi jelas tidak ada kemewahan dalam serimoni itu. Aku dinikahkan oleh engku kadi Sumpur Kudus. seharusnya aku punya kearifan dalam memahami calon isteriku. Ini berbeda kabarnya dengan upacara perkawinan kakak-kakak si kecil sebelumnya yang relatif meriah. Ternyata itu tidak kumiliki. mak . Engku kadi mengatakan bahwa aku dengan lancar mengucapkan lafaz akad nikahku. Bagaimana tidak akan lancar. Entahlah! Aku tidak berfikir apakah bertuah atau tidak. Pada tingkat usia 30 tahun itu. Dua makhluk lain jenis dengan latar belakang yang berbeda dan usia yang berjarak jauh tentu perlu pendekatan khusus. Di sinilah terletak salah satu kelemahan dan kekuranganku. memang pernah mengatakan bahwa si kecil adalah ibarat “jawi bangka” yang bertuah. Kukira semuanya akan lancar begitu saja setelah akad nikah. Potong kambing segala. sebab itu akan tergantung kepada kesediaan pasangan untuk memahami satu sama lain untuk membina hidup bersama. bukankah aku alumnus madrasah Mu’allimin dari dua tempat? Biaya perkawinan sepenuhnya ditanggung oleh keluarga si kecil. Suami etekku A. sesuatu yang menuntut kesabaran tingkat tinggi.Wahid. Mungkin saja karena mereka tidak ingin aku “hilang” di rantau. Pertama.

kakak Lip atau kakak iparku yang kupanggil uda Nasar. tetapi etekku Bainah dari suku Melayu telah lama berfungsi sebagai pengganti ibuku. sekalipun cukup membahagiakan. sebuah tradisi kampungku yang masih bertahan sampai sekarang. Kedua faktor inilah tampaknya sebagai penyebab mengapa pesta perkawinan kami berjalan biasa saja. Di atas sudah kusinggung nama Nasaruddin. sempat juga berarak keesokan harinya ke rumah etekku Bainah. Maka akan sangat eloklah kalau Lip dengan rombongan dengan pihak keluarganya berarak ke sana dengan berjalan kaki sepanjang dua km. Masa membujangku berakhirlah sudah. tetapi sudah jauh menyusut setelah kepergian mak Sarialam. Pemuda Sumpur Kudus mendapatkan gadis Sumpur Kudus. Selama . untuk seterusnya kupanggil Lip. si kecil. Sekalipun upacara perkawinan kami berlangsung sederhana.148 Sarialam sudah wafat tujuh bulan sebelumnya. Kedua. Aku tak ingat berapa jumlah rombongan itu. Etekku Bainah dan kakakku Rahima bulan main senangnya. sekalipun jauh dari suasana mewah. sekalipun kekayaan keluarga si kecil masih ada. sekalipun lahirnya di Payakumbuh pada saat orang ayahnya memusatkan bisnisnya di sana. sementara aku menunggunya di rumah etekku itu bersama teman-teman dengan perasaan “gedebak-gedebur”. Seharusnya Lip berarak ke rumah kakakku Rahima dari suku Caniago. sehingga peran utama yang biasa dimainkannya tidak ada lagi yang dapat menggantikan. karena buah kelapa tidak sampai jatuh di tanah rantau. Kenekatanku akhirnya memetik hasil. Payakumbuh tempatku menempuh ujian persamaan Mu’allimin se Sumatera Tengah pada 1953. Indah juga untuk dikenang upacara dalam tradisi kampung model ini.

Sebenarnya pihak keluarganya. termasuk abangku Nursahih. Alhamdulillah beberapa tahun yang lalu uda Nasar sudah kembali kepada agama aslinya. entah apa penyebabnya. Di akar rumput. Uda Nasar pada saat syukuran itu memakai kopiah hitam. Aku tidak ingat berapa lama perdebatan itu berlangsung. aku berdebat dengannya tentang masalah agama bertempat di sebuah madrasah Sumpur Kudus. tetapi ia masih tetap dalam agamanya. Di akhir perdebatan uda Nasar mengakui bahwa Islam adalah agama yang lebih masuk akal. maka kami mengadakan upacara syukuran di rumah Mandailing dengan memotong kambing. Apalagi penduduk Sumpur Kudus 100% sebagai pemeluk Islam. kecuali seorang kakak iparku itu. Hampir semua orang penting tingkat nagari diundang untuk menyaksikan kejadian itu. Karena kejadian ini untuk ukuran kampung merupakan sesuatu yang penting. Beberapa hari sebelum perkawinanku. sebab apabila wafat pada suatu saat tidak akan ada lagi masalah dalam proses upacara penguburan jenazahnya. Bagiku kejadian ini tentu mengingatkan perdebatan sekitar . khususnya mak Sarialam sangat risau dan gundah dengan perpindahan agama anaknya ini. Yang hadir ramai sekali.149 beberapa tahun uda Nasar menjadi pengikut agama lain. maka angka 100% pemeluk Islam di Sumpur Kudus menjadi sempurna kembali. dan semua yang hadir menyalaminya tanda senang dan gembira. Aku jelas bersyukur karena pada akhirnya kerisauan keluarga gara-gara pindah agama dari seorang anggotanya telah terobat. Bukan main pihak keluarga senangnya. masalah pindah agama ini sangat peka dan jadi omongan tak habis-habisnya sampai di kedai-kedai. yaitu Islam. Dengan kembalinya uda Nasar ke pangkuan Islam.

Universitas Cokroaminoto Surakarta pada 1964.P.150 puluhan tahun yang lalu. Sayangnya. sesuatu yang ternyata tidak menjadi kenyataan.K. Lip yang jarak usianya terpaut jauh denganku mulai gelisah di Solo karena merasa tidak enak untuk terus menompang di rumah uni Nudiar. sekalipun belum tentu semua menjalankan ibadah harian. Sekarang dari sisi agama. Ke mana? Tentu ke Solo dulu karena aku masih punya harapan untuk dapat meneruskan sekolah pada tingkat doktoral F. Tingkat pendidikanku baru sarjana muda dari F.P. anak pak Burhan. aku dan Lip berangkat ke Padang untuk tinggal sementara di rumahnya di kawasan Padang Baru Barat dalam persiapan untuk ke Jawa. jurusan sejarah Universitas Cokroaminoto. tahan bantingan sejarah. Kekurangan Sumpur Kudus belakangan ini adalah langkanya guru agama yang mampu menyampaikan Islam dengan bahasa sederhana. Kegelisahan itu dipicu lagi oleh kabar bahwa aku . mak Sarialam dan pak Halifah sudah lama wafat ketika anak yang dirisaukannya itu telah kembali kepada agama yang dianut ibu-bapaknya. tetapi yang ketika itu belum membuahkan hasil yang berarti. tidak ada lagi penduduk Sumpur Kudus yang beragama lain selain Islam. Perkara rajin salat atau malah sering ditinggalkan adalah masalah disiplin yang perlu latihan terus menerus. C. tetapi mencakup nilai-nilai fundamentalnya yang universal.I.K.I. Belajar Sambil Bekerja Sewaktu aku menikah usiaku sudah 30 tahun dan belum punya pekerjaan tetap. seperti telah kujelaskan. induk semangku sewaktu aku menjadi pelayan tokonya di Solo. Setelah beberapa hari di kampung.

M. (Himpunan Mahasiswa Islam) pada 1947.) yang mengantarkanku menemui Lafran Pane menguatkan rekomendasi Pak Wuryanto.R. Anak itu memang datang ke rumah uni Nudiar.M.S.P. Berbagai upaya telah kulakukan agar bisa meneruskan kuliah.-I. Bukankah aku sudah punya ijazah negeri tingkat sarjana muda melalui ujian negara? Sekalipun sudah lengkap dengan ijazah negeri. Sunan Kalijaga Jogjakarta juga menulis surat kepada Lafran Pane agar aku dapat diterima. Jika aku tak salah ingat Drs. tetapi Lip tidak mau ke luar kamar untuk menemuinya.K. Lafran Pane. (kemudian jadi professor dan pernah pula jadi rektor I. Semarang dan anggota D.P. tetapi hikmahnya cukup besar. adalah pembantu dekan I pada fakultas yang akan kumasuki itu tidak mudah menerimaku.P.N.I.K.I. Terjadilah sedikit gesekan antar kami. Juga bantuan Komandan Lasykar Ampera Padamulia Lubis (alm.K. R.S. Negeri Yogyakarta. Maka bantuan Drs. entah apa sebabnya.151 katanya pernah akan dijodohkan dengan seorang gadis asal Sulit Air yang sudah lama menetap di Solo bersama keluarganya sebagai pedagang buku dan alat tulis.I.I.A. sebab tidak mungkin seorang gadis anak pedagang mau menjadi isteri si penganggur.I. pendiri H. yaitu mempercepat proses keberangkatan ke Jogja untuk meneruskan kuliah di I.K. Yogyakarta jurusan pendidikan sejarah. Kabar itu sebenarnya tidak betul. ketua jurusan pendidikan sejarah F. Sanusi Latief yang pada saat itu sudah menjadi dosen I. Wuryanto.I.K.I. Drs.) sangat besar untuk memuluskan jalanku memasuki perguruan tinggi ini dengan memberiku surat rekomendasi agar aku diterima. pada mulanya cukup sulit bagiku untuk mendaftarkan diri pada F. .I.P.

Kahar sendiri tinggal hanya beberapa meter saja jaraknya dengan rumah Nyai Amir.-I. sekitar 6 km dari kota tanpa menyewa. Yogyakarta.H.P. Kami ditawarkannya untuk tinggal di rumah ibunya Nyai Amir di Kotagede Jogjakarta. Aku diajaknya menulis bersama. Karena aku tak punya cukup uang untuk menyewa rumah sendiri. Amir (suami Nyai Amir) mengasuh dan memberikan pengajian. tetapi aku tak sempat menjumpainya karena sudah wafat sewaktu kami tinggal di Kotagede. . Selain memperoleh ilmu dari Prof. Informasi yang sampai kepadaku adalah bahwa Kiyai Amir adalah seorang alim besar yang sangat dihormati oleh umat Islam umumnya. Muhammadiyah. Banyak pengalaman yang kudapat selama menetap di Kotagede ini. seorang penulis buku-buku pelajaran agama untuk sekolah. tempat alm.P. akhirnya aku dapat diterima untuk tingkat doktoral F. Bakir Amir sungguh sangat berjasa membantu mengatasi kesulitanku dalam masalah tempat tinggal ini.I. Kahar dalam berbagai pertemuan. salah seorang penanda tangan Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945. sahabatku sewaktu kuliah di Cokroaminoto alm.I. abang Bakir Amir.K. Kahar sebagai imamnya. Nyai Amir adalah kakak seibu Prof.K. Abdul Kahar Muzakkir. sementara biaya kuliahku dibantu oleh pak Halifah.). Prof.S. apalagi oleh kalangan Muhammadiyah. Kami hampir selalu berjamaah salat maghrib di emper rumah Nyai Amir dengan Prof. Kiyai Amir pernah menjadi anggota Majelis Tarjih P. Keuntungan lain yang kudapat di Kotagede adalah perkenalanku dengan Kiyai Dja’far Amir (sekarang alm. aku juga sering diminta jadi khatib Juma’at di Masjid Gede Kotagede dan Masjid Perak. K.152 Melalui berbagai upaya itu. mertuaku.

milik seorang pedagang Sunda. yang kemudian mengakhiri sebuah periode sejarah Indonesia. karena arsipnya sewaktu menulis autobiogarfi ini belum ketemu. Dia sendiri adalah guru P.A. Negeri Surakarta. Muhammadiyah Jogjakarta yang kami beri nama Salman. Selama setahun lebih tinggal di Kotagede. Sekalipun masih mahasiswa.A.I. miskin lagi. Kekuatan komunis yang merajalela sebelumnya harus berhadapan dengan kekuatan antikomunis dengan intinya Angkatan Darat plus anak-anak K. kegiatan sampingan ini ada juga manfaatnya. Peralihan periode ini sungguh dramatis dan bermandikan darah. dan masih ada yang lain yang aku tak ingat lagi.I.K. Buku-buku itu meliputi: sejarah Islam. Di Kotagede inilah kami mengalami peristiwa G30S/P.G. Situasi bangsa sangat genting dan berbahaya.A. usiaku sudah bergerak tua. Sekalipun honorarium yang kuterima tidak banyak. Kondisi ekonomi kami jauh dari memadai. berkeluarga.K. Perang saudara sesama anak bangsa tidak dapat dihindari. masalah ibadah.U. yaitu aku telah turut menulis buku pelajaran untuk kepentingan siswa. dari era Bung Karno ke era Pak Harto bersama Generasi ’66 yang banyak dipuja dan dielukan kala itu. sementara aku sedang kuliah. (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) dan K.P.M. Peranku selama masa bergolak itu tidak ada yang penting.I. pada bulan Maret 1966 lahirlah anak kami yang pertama di P. Ada beberapa judul buku pelajaran sekolah yang kami tulis bersama yang diterbitkan oleh Penerbit Kota Kembang Jogjakarta. (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia).153 Tentu aku menjadi senang karena setidak-tidaknya dapat menambah sumber biaya hidup kami. Yel-yel anti-komunis bertaburan di mana-mana.P. Ada tawaran dari pak .

Jl. Keadaan umum masyarakat Indonesia sungguh memprihatinkan pada masa ini. Bastari Asnin untuk majalah Suara Muhammadiyah. Andaikan ada. Mohammad Diponegoro. B. masih belum ada ketika itu. Kasur pun hanya punya separo. demonstrasi merebak di mana-mana.K.H.I.P. sementara Lip dan aku tidur tanpa kasur. seraya mengikuti perkembangan keadaan sebisanya. K. aku tetap saja kuliah sambil bekerja.. (Suara Muhammadiyah).A. Di samping sebagai korektor. dan alm. Bagiku keadaan semacam ini tidaklah menjadi persoalan besar.A. Ekonomi morat-marit. Bersihkan Kabinet dari Unsur G30S/P. H. sekalipun aku kemudian diterima menjadi tukang koreksi membantu alm. Turunkan Harga dan Perbaiki Ekonomi. karena peta kekuatan politik belum terlalu jelas. T. hanya Salman saja yang kami belikan kasur pendek.V.K. aku juga disuruh mengurus iklan untuk majalah. tokh aku tidak mungkin memilikinya.Dahlan 99.154 Halifah untuk menambah kiriman. khusus . Ada lagi sedikit tambahan penghasilan. Sekalipun ujung tombak demo sebenarnya sudah mengarah kepada pimpinan tertinggi negara. Namun itulah yang harus dijalani dengan penuh keprihatinan. Untung ada beberapa koran di kantor S. bahasa yang dipakai masih sangat samar-samar. Sebagai seorang yang bukan aktor. pimpinan alm. aku lupa-lupa ingat berapa. Muhammadiyah yang lama. lantai II Kantor P.. Basuni. Tetapi bagi Lip tentu sangat tidak nyaman. Tuntutan mereka terkristal dalam Tritura yang dicetuskan pada 12 Januari 1966: Bubarkan P.I. A. Mungkin sebagian kecil hasil iklan terselip dalam kantongku. tetapi Lip dan aku tidak sampai hati mengiyakannya.M. Untuk perlengkapan tempat tidur. karena sudah terbiasa sejak kecil.

Beban mentalku menjadi berat. Setelah sekian lama aku jadi korektor. sementara kondisi Salman tidak selalu sehat. Dengan menempuh 6-7 km dari Kotagede aku mengayuh sepeda tua yang catnya sudah berantakan menuju kota Jogjakarta: mengoreksi S. sebab sebagian besar rakyat Indonesia ketika itu lebih parah dibandingkan keadaanku. Selama di Kotagede. Bukan main bahagianya perasaan. Cukup untuk membeli 4 kg beras pada waktu itu. Karena kondisi ekonomi rumah tangga kami sangat sederhana. Ini yang membuatku kadang-kadang pusing memikirkannya. Jika aku masih sendirian. Masalah beras cepat teratasi. Seorang tukang koreksi tentu penghasilannya jauh di bawah redaksi. tetapi tiba-tiba muncul wesel honorarium tulisanku sebesar Rp. sekalipun sudah tambahan penghasilan dari S. Pernah suatu hari benar-benar tidak beras.155 untuk anak yang baru lahir. 20 dari sebuah majalah di Solo. perhiasaan emas Lip beberapa kali dilego ke rumah gadai.M. Mungkin lebih setahun kami menetap di sana.. Ruang tempat tinggal pun tidak cukup mendapatkan cahaya matahari. tidak jarang nasi dibagi sebelum disuap. pagi dan kuliah sore hari. posisi redaksi kemudian diberikan kepadaku . Perkembangan fisiknya berjalan lambat. Bila kiriman pak Halifah agak terlambat datangnya.M. Untung dia punya perhiasan. Kalau aku apa yang mau digadaikan. karena ada isteri dari keluarga kaya plus anak yang masih bayi yang memerlukan susu tambahan. Isteri dan anak tinggal di rumah seharian di rumah Nyai Amir di Selokraman. Lip tidak pernah gemuk. tetapi jumlahnya tidak seberapa. bukan? Perkara hidup melarat ini sebenarnya tidak perlu terlalu dirisaukan. mungkin sewaktu dalam kandungan kekurangan gizi. tentu tidak ada persoalan.

dituduh sebagai kekuatan anti Manipol. Lip ke Padang Bersama Salman (1966-1967) Aku lupa pada bulan apa Lip dan anaknya kembali sementara ke Padang. MUSIBAH SILIH BERGANTI A. Bastari adalah salah seorang penandatangan Manifes Kebudayaan pada 17 Agustus 1963 untuk mengimbangi gerak laju Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) milik P. Kepada Bung Bastari aku berterima kasih atas bimbingannya dalam kerja koreksi. tetapi tempat tinggal sudah pindah dari Kotagede agar tidak terlalu jauh dari tempat bekerja dan kuliah.156 sampai aku berhenti bekerja di sana karena mau berangkat ke Amerika Serikat Juli 1972.I. Klaim sebagai penyambung lidah rakyat yang sering diucapkan Bung Karno dalam berbagai kesempatan.. Sangat disayangkan. kini telah berubah menjadi penyambung lidah P. V.K. sedangkan aku tetap kuliah di Jogja.I. akhirnya dibubarkan Soekarno dalam pernyataannya pada 8 Mei 1964. Sayang sahabat yang satu ini tidak berusia panjang untuk meneruskan kariernya sebagai sastrawan Indonesia bersama dengan yang lain.I. . Salman yang sering sakit sampai di Padang dalam beberapa bulan malah semakin parah. salah seorang tokoh utamanya adalah Pramudya Ananta Toer. Bung Karno waktu itu seperti kena hipnotis oleh komunis.K. Alasan utama mengapa mereka pulang tidak lain karena masalah ekonomi. Manifes atas desakan P.K. Suara Muhammadiyah telah turut menyelamatkan ekonomi rumah tangga kami yang sering mengalami kekurangan dan kegoncangan.

sekalipun masih serba kurang. Setelah Lip dan Salman berada di Padang. Jika kukenang sekarang. 868 (delapan ratus enam puluh delapan rupiah) plus pendapatanku di Suara Muhammadiyah yang aku lupa berapa angkanya. untung ia mau membantu. bolehjadi kuliahku tidak akan pernah selesai. maka ini namanya “pemerasan” oleh menantu. Inilah di antara buahnya Lip kawin dengan orang yang nekat. padahal dari sisi agama tidak lagi menjadi kewajibannya. Anaknya sudah diberikan. Suasana negara dalam masa peralihan dari . Pada saat-saat sulit itu. Ingat tingkat inflasi Indonesia saat itu sudah mencapai 650%. bayangan perbaikan ekonomi secara mandiri belum kunjung kelihatan. Sudah lebih dua tahun kami berumah tangga. sedangkan ibunya merasai (menderita) bersama anaknya. ayahnya “diperas” lagi. ada sedikit kemajuan dari sember penghasilanku. Pada waktu Lip dan anaknya tinggal di Padang. tambahan pendapatan tentu sedikit menolong. biaya hidupku sudah kutanggung sendiri. sebuah angka yang sangat mengerikan. Bantuannya yang tulus tentu dihargai Allah.157 Ayahnya jauh di rantau. Semoga arwah mak Sarialam dan arwah pak Halifah diterima Allah dan ditempatkan di tempat yang terpuji. Kalaulah pak Halifah menghentikan bantuannya terhadap kami pada tahun pertama perkawinan. Coba kalau tidak. sebab jika dibantu pula. Oleh sebab itu jasanya untuk kelanjutan kuliah menantunya cukup penting dan menentukan. Amin. yaitu aku diangkat menjadi pegawai negeri dengan jabatan asisten Perguruan Tinggi tertanggal 1 Juni 1967 dengan gaji per bulan Rp. sekalipun bantuan itu tidak pernah cukup. seperti telah kusebutkan di depan. entah ke mana pula langkah ini harus diayunkan.

Yogyakarta.P.158 era Soekarno ke era Soeharto sungguh sangat melelahkan dan berbahaya. Rasa terima kasihku kepadanya sungguh besar. Tanpa pintu itu. baik sekali. Pak Sanusi sering muncul membantuku pada saat-saat aku perlu pertolongannya.S.K.I. pak Lafran Pane juga turut melicinkan karierku sebagai tenaga pengajar di perguruan tinggi. Sejak itu hubunganku dengan Pane adalah ibarat hubungan bapak-anak. Dengan kenyataan ini. Nasib pegawai negeri kempas-kempis.I. justru sekarang Pak Lafran yang mengusulkanku untuk diangkat sebagai pegawai negeri. Tetapi sekarang setidak-tidaknya aku buat pertama kali punya ijazah negeri.K. Universitas Cokroaminoto Surakarta jurusan Sejarah Budaya. Yogya yang menghadapi banyak sekali kendala.K. sebab jika sikapnya tetap seperti ketika aku mau meneruskan kuliah di F. apalagi aku yang baru masuk dengan pangkat E/II berdasarkan ijazah sarjana mudaku lewat ujian negara pada tanggal 5-7 Nopember 1964 pada F.I. sulit kubayangkan akan ke mana perjalanan hidup ini mau mengarah.I. M. di samping juga menjadi asisten Sejarah Islam pada Fakultas Syari’ah dan Tarbiyah U.P.-I. Jika kinerjaku dinilai baik.K.S. .I.I.K.I. Yogyakarta.I. (Universitas Islam Indonesia) atas bantuan pak Drs. Sebagai asisten aku diberi tugas mengajar Sejarah Indonesia Kuno pada F.K. Pintu masuk melalui asisten Perguruan Tinggi menjadi sangat penting bagi perjalanan karierku di kemudian hari.K. Berbeda dengan situasi sewaktu akan masuk I. tentu aku akan dapat melanjutkan tugas sebagai dosen pada saatnya.S. I.I.P.. Sanusi Latief yang telah menjadi orang penting pula di sana.P. sampai ia wafat beberapa tahun setelah dikukuhkan menjadi guru besar Hukum Tata Negara pada F.

Pitono datang sekali sebulan ke Solo dan selalu diberi fasilitas oleh sahabatku Bakir Amir (alm. pada 1947 pada saat Indonesia masih dalam era revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan. Pak Lafran yang semula begitu ketus terhadapku. gara-gara ibunya tidak mau dimadu? Katanya sejak bayi sudah diberi air susu panas oleh sang ibu.I. mata kuliah ini dipegang oleh Drs. Untuk Sejarah Indonesia Kuno. Pitono dari I.I.M.K. apalagi aku adalah anggota H. Bukankah sewaktu Lip masih dalam rahim ibunya. aku beruntung karena sewaktu belajar pada Universitas Cokroaminoto. selalu berliku-liku. Sekalipun pengetahuanku tentang sejarah kuno Indonesia sudah banyak yang lupa.I. Entahlah. Kegaduhan rumah tangga sudah berkali-kali terjadi pada tahun-tahun pertama itu kerena berbagai sebab: gizi yang tidak memadai (ini perkiraan semula) dan cemburu sebagai bawaannya dari dalam kandungan. . Selain mak Sarialam. perkelahian antara ibu dan bapaknya sering terjadi. Tampaknya perjalanan hidupku ini tidak pernah linear. Seperti ayahku juga. kemudian berubah 180 derajat menjadi bapak dan pembimbingku. pengusaha batik.R.159 tentu akan menjadi tidak jelas pula akan ke mana aku setelah gelar sarjana kuperoleh. Kembali kepada suasana rumah tanggaku.P.M.). seorang dosen yang ahli di bidang ini. sejak dari Solo. teman sekelasku di Cokroaminoto. Malang. Lafran Pane adalah pendiri H. Nasib seseorang ternyata tidak bisa dirancang secara pasti. sekalipun sudah kelebihan gizi. kuliah Pitono yang menarik sungguh sangat membantuku sebagai asisten di perguruan tinggi negeri. pak Halifah pernah mengawini beberapa perempuan. Dan cemburu ini ternyata masih setia sampai saat tua.

sementara karierku tetap saja melaju dan melaju.160 ada tiga yang diberi keturunan. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya. aku menulis: “Kepada isteriku Nurkhalifah dan anakku Mohammad Hafiz yang telah betah hidup bersama dalam keadaan suka dan duka. tinggal di Tanjung Ampalu. realitas yang sebenarnya memanglah demikian.” Ungkapan “perang dan damai. Rupanya memang sudah bawaan dari lahir. semakin sempurna gizi. Kesimpulannya adalah cemburu tidak ada kaitannya dengan gizi. setidak-tidaknya dalam kasus rumah tanggaku. Dia menderita.” disampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang tak terbatas. Semula aku kira faktor kesulitan ekonomilah yang menjadi penyulut utama cemburu plus terlalu banyak tinggal di rumah. Gaduh ya gaduh. “penyakit” yang satu itu tetap setia.” sekalipun dikurung dalam dua tanda kutip. Dalam Pidato Pengukuhanku sebagai Guru Besar Filsafat Sejarah pada 4 Januari 1997. atau dalam Bahasa Jawa “gawan bayen. aku pun menderita.” sesuatu yang harus kuterima dengan menjadikannya sebagai pendorong untuk maju. . Bisa jadi. dalam keadaan “perang dan damai. setelah dua faktor itu hilang. Bagaimana seterusnya. tidak usah dibicarakan. semakin menjadi pula sifat yang satu ini. Lip tampaknya juga menyadari bahwa cemburunya sebuah penyakit yang tidak bisa diatasi. Untunglah iklim semacam itu datang sekalisekali. sedangkan perang yang melelahkan pecah juga sekali-kali. tetapi ternyata rumah tangga kami masih bertahan lebih 40 tahun. Sudah tentu iklim damainya jauh lebih lama. tetapi saudara seayah Lip yang hidup sampai sekarang tinggal seorang perempuan.

Lip sangat rapi dalam mengatur rumah. terutama sikap hidupnya yang dermawan dan pengiba terhadap orang yang terlantar. terasa berat sekali. Sebelum kawin denganku. jangan ditanya lagi. Seperti telah kukatakan. Untuk makanan anaknya saja.161 Kesulitan telah dibaca sebagai peluang untuk bergerak terus tanpa henti. cantik juga kelihatan. Pergilah kami ke toko Ramai. karena memang aslinya adalah bunga kelas. misalnya. dibungkus dengan baju baru yang tidak mahal. ditambah lagi jarak usia dan jarak psikologis yang jauh serta kondisi ekonomi yang tidak seimbang.” untuk menunjukkan orang tidak boleh berlebihan dalam kebersihan. harga pakaiannya pasti di luar jangkauan orang kebanyakan. Pada suatu ketika semasa tinggal di Kotagede. sampai-sampai kukatakan: “Yang terakhir cucilah dengan air susu. dialah juaranya. Kelebihan lain. seperti pengakuan Bung Komar. bagiku seorang saja rasanya sudah kewalahan. Aku masih ingat warna baju yang dibeli itu jambon. aku semula memang tidak siap untuk berumah tangga. Masalah kebersihan. sekalipun di hari tuanya agak menurun. sekalipun badan kurus. Tanah. Lumaian jugalah. Perhatiannya terhadap tanaman untuk menghias pekarangan malah semakin dahsyat. sekalipun aku banyak belajar padanya. sedangkan roknya biru muda berombak-ombak. dibasuhnya berkali-kali. aku punya sedikit uang untuk mengganti baju Lip yang sudah lusuh. tanaman. Kadang-kadang hubungan kami sudah berada di ujung tanduk. dan bunga adalah sahabatnya yang . di kawasan perbelanjaan di Jogja. “Jawi Bangka” yang “bertuah” ini memang termasuk manusia sulit dan rumit. Bisa berjam-jam ia merawat tanaman itu hampir saban hari. Dibandingkan dengan ayahku yang beristeri banyak.

jurusan sejarah. Pada waktu aku pulang ke Padang. engkau pergi tanpa dosa. dihitung sejak tahun wafatmu pada bagian akhir tahun 1967. Salman belum bisa. ketika Lip sudah sangat lelah. I.I. Sungguh nak. sementara ayahmu belum tentu lagi nasibnya. Yogyakarta. pergi untuk tidak kembali. “Anakku. Setelah sakit beberapa lama di Padang. Kalimatnya berbunyi: “Maman (panggilannya) sudah tidak ada kak oncu. . Aku cukup banyak menggendongnya. demi cintaku kepada anak ini.K. aku dan Lip tidak punya pilihan lain. engkau telah meninggalkan kami selama 38 tahun. Sebagai orang beragama. Jadi Salman Sumpur sebagai nama samaranku. sekarang sudah tidak ada bekasnya lagi karena telah ditelan ombak. Sewaktu ayahmu menulis bagian ini (Oktober 2005). termasuk di malam hari. apalagi pada usia yang seharusnya sudah berjalan. Kuburan Salman di pinggir laut. aku masih duduk pada doktoral dua F. Salman sejak lahir tampak lamban dan di biji salah satu matanya terlihat bintik putih kecil. Salman akhirnya dipanggil Allah pada usia kurang sedikit dari 20 bulan.S. Dalam tulisan-tulisanku.” Bayangkan perasaanku waktu itu sungguh remuk. kepergianmu menyebabkan batin ayah sangat goncang. Mungkin juga ini semua sebagai hiburan yang mengasyikkan baginya.I. Hanya ibunyalah dibantu famili Lip yang lain yang menjaga dan merawat Salman sampai wafat.P. tetapi ditambah dengan kata Sumpur. berita kematian inilah yang disampaikan Lip kepadaku. Sewaktu Salman wafat. Rasa sayang kepada anak ini terasa dalam sekali.162 setia. aku sering benar meminjam nama anak ini. Anak pertama wafat tidak di depan ayahnya.K. kecuali merelakan kepergian anak pertama kami.

163

tetapi inilah kenyataan pahit dan perih yang harus dilalui. Engkau wafat dalam keadaan ekonomi orang tuamu masih kucar-kacir, sehingga kami tidak mampu memeliharamu secara maksimal. Maafkan nak. Air mata ayah terus saja meleleh sewaktu menulis kalimat ini, sekalipun usia ayah sudah di atas 70 tahun. Kenangan kepadamu kembali menguat, dan itu melukai batin ayah yang terasa sangat dalam.” Beban mental akibat kematian anak hampir-hampir tak terpikul. Hanya iman saja yang dapat menolong agar tidak terus larut dalam suasana ketidakstabilan jiwa. Inilah perasaanku selanjutnya ketika menulis bagian ini: “Salman, sewaktu engkau wafat, usia ayahmu baru 32 tahun, sedangkan ibumu Nurkhalifah 23 tahun. Masih panjang rantau yang harus ditempuh, dan itu menjadi bagian yang menyatu dengan pengalaman dan penderitaan tahun-tahun awal berumah tangga ayahibumu nak. Ketika keadaan kami sudah mulai membaik, engkau telah pergi, anakku.” Enam tahun kemudian, kematian anak kedua berlaku pula. Bertimpa-timpa, beruntun, selama delapan tahun berumah tangga, hilang satu, hilang dua. Ini surat kecil Lip sebagai pengantar kiriman kalamai (dodol model Minang untukku di Jogja: Kanda, ini kalamai adinda kirimkan sedikit. Yang pakai kacang yang enak. Berilah teman-teman kakanda di kantor. Kalau masih ada, kirimi si Tatang, anak sdr. Abduh. Salman waktu memasukkan kalamai ini, dia tertawa-tawa. Adinda bisikkan padanya bahwa kalamai ini untuk ayah Maman yang jauh di rantau orang. Wassalam dan maaf, adinda Nurkhalifah 19 Januari 1967

164

Kiriman yang mengharukan ini kuterima jam 11.25 tanggal 1 Februari 1967. Abduh, adik Mohammad Diponegoro, adalah teman sekerjaku di Suara Muhammadiyah. Siapa menyangka tidak lama setelah itu, Salman pergi meninggalkan ayah-bundanya untuk tidak kembali. B. Kembali ke Jogja, lulus S1, dan Lahirnya Ikhwan Tidak lama sesudah Salman pergi, aku dan Lip kembali ke Jogja dalam proses penyelesaian kuliahku. Seingatku, dalam beberapa bulan kemudian Lip hamil yang kedua yang nanti akan melahirkan anak kedua pada 2 Nopember 1968 yang kami beri nama Ikhwan. Tanggal ini aku ingat karena bertepatan dengan dimulainya kongres Parmusi (Partai Muslimin Indonesia) di Malang yang kemudian memilih Mohamad Roem sebagai ketua umum, tetapi yang ditolak oleh rezim Soeharto. Roem tokoh moderat Masyumi masih ditakuti rezim karena pengaruhnya dalam masyarakat masih cukup kuat. Kelahiran Ikhwan tentu sedikit mengobat hati yang luka. Sungguh besar harapan orang tua agar anak kedua ini berusia panjang. Aku tidak selalu ingat berapa kali kami harus pindah rumah sewaktu Iwan (panggilan anak ini) masih kecil. Pernah di sekitar Rumah Sakit Mangkulayan kami pindah dua kali. Pertama di bekas rumah sewaan sahabatku alm. A. Bastari Asnin, sastrawan terkenal, kelahiran Muara Dua, yang wafat dalam usia 40 tahun. Asnin pernah memenangkan Hadiah Sastra dari majalah Sastra dengan cerpennya “Di Tengah Padang.” Seperti telah kuceritakan bahwa Asninlah yang mengajarku jadi korektor majalah Suara Muhammadiyah di Percetakan Negara, Jl. Jenderal Katamso, Jogjakarta. Berbulan-bulan aku dan Asnin

165

bekerja di percetakan itu, sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Aku bergaul dengan para karyawan percetakan yang umumnya bergaji kecil. Mereka wajib minum susu segar tiap hari untuk menghindari T.B.C. karena selalu bergumul dengan timah percetakan. Karena aku sudah kenal baik para karyawan, akan dengan mudah saja aku minta tolong untuk dibuatkan stempel namaku dari timah: Ahmad Syafii Maarif, B.A. Mentereng bukan? Pakai B.A. segala, tetapi pada 1960-an itu gelar sarjana muda belum terlalu mengalami inflasi. Berbeda dengan abangnya Salman, Iwan sejak lahir tampak sehat dan ceria. Serasa usianya akan panjang. Tetapi setelah menginjak usia sekitar dua tahun, Iwan diserang virus miningitis, radang selaput otak, entah dari mana asalnya. Mungkin sewaktu kami tinggal dekat Mangkulayan, setelah kami pindah dari rumah sewaan Asnin. Suasana sekitar rumah itu memang lembab. Cukup lama Iwan menjadi pasien alm. Prof. Ismangun, dokter ahli anak terkenal di Jogja. Segala macam obat yang diwajibkan, betapa pun pahitnya, ditelan Iwan tanpa ragu. Kadang-kadang malah dikunyahnya, karena lidahnya sudah kebal. Melihat itu, batinku terenyuh pedih, tetapi itulah kenyataan yang harus dihadapi. Kalau dikenang sekarang, seperti tak kuat batin ini menanggungkannya. Dalam perjalanan hidupnya yang masih sangat bocah itu, Iwan telah bergumul dengan radang itu, dan kami telah mengobatnya dalam batas kemampuan kami. Sumber penghasilanku ada dua pada waktu itu: pegawai negeri dan redaktur Suara Muhammadiyah merangkap korektor. Bantuan dari pak Halifah memang sudah agak lama kami hentikan, karena sudah mulai bisa berdikari, meskipun masih kuliah. Adapun untuk keperluan obat

166

Iwan tidak boleh sampai terlambat, dan itu sangat kami utamakan, sekalipun mengalahkan keperluan yang lain. Aku merampungkan kuliah untuk tingkat S1 pada 1968, bulan-bulan menjelang Iwan lahir. Skripsi yang kutulis berjudul “Gerakan Komunis di Vietnam (19301954),” bimbingan Pak Dharmono Hardjowidjono, dosen Sejarah Asia Tenggara. Berbulan-bulan aku menyiapkan skripsi ini sambil tetap bekerja pada Suara Muhammadiyah sebagai redaktur. Dengan Bahasa Inggrisku sudah jauh lebih baik, sumber-sumber untuk skripsiku umumnya berasal dari bahasa itu. Entah apa sebabnya aku begitu tertarik dengan komunisme yang pada waktu itu memang masih menjadi musuh terbesar dari blok kapitalisme, khususnya Amerika Serikat. Ijazah S1-ku Jurusan Sejarah tertanggal 28 Agustus 1968 ditandatangani oleh Dekan F.K.I.S. Dochak Latief, Sekretaris Gading Tua Siregar (alm.), dan Rektor I.K.I.P. Sutrisno Hadi dengan materai Rp. 1. (Bandingkan dengan materai senilai Rp. 6000 setelah tiga dasa warsa kemudian). Sejak tanggal itu resmilah aku menjadi sarjana plus pegawai negeri pula yang sudah kujalani sejak setahun sebelumnya. Mata kuliah untuk tingkat doktoral yang tercantum dalam ijazah selain skripsi adalah: Kapita Selekta Sejarah Asia Selatan, Kapita Selekta Sejarah Eropa, Kapita Selekta Sejarah Indonesia Kuno, Kapita Selekta Sejarah Afrika, Kapita Selekta Sejarah Asia Tenggara, Kapita Selekta Sejarah Indonesia Baru, Teori Sejarah, Bimbingan Tesis, Manipol/Pancasila. Dosen penguji tesisku selain Dharmono Hardjowidjono adalah alm. Drs. Sasjardi, dosen senior jurusan sejarah. Untuk mata kuliah Manipol/Pancasila, aku harus mengayuh sepeda burukku ke Bulak Sumur (gedung unit V kampus

167

Universitas Gadjah Mada) karena perkuliahan indoktrinasi itu dipusatkan di sana. Entah berapa ratus mahasiswa yang mengikuti mata kuliah yang wajib itu yang menumpuk dalam sebuah ruangan besar. Dosennya Kunto Wibisono dari Fakultas Filsafat U.G.M., yang setelah bertahun-tahun kemudian menjadi sahabatku. Kami sering bertemu dalam berbagai seminar, tetapi aku tidak pernah menyentuh soal Manipol segala. Yang berlalu, biarlah berlalu, tak perlu terlalu dirisaukan karena penguasa memang senang indoktrinasi, demi melanggengkan kekuasaan yang otoritarian. Untuk teman-teman seangkatan, aku adalah lulusan pertama. Bangga juga rasanya, sekalipun usia sudah 33 tahun. Ada catatan kecil yang tidak boleh dilewatkan sewaktu aku menghadapi ujian ini. Peraturan fakultas mengatakan agar dalam menempuh ujian skripsi (waktu itu dipakai istilah tesis), mahasiswa harus memakai baju putih lengan panjang berdasi, sementara aku tak punya. Maka kupinjamlah baju temanku Hermansjah Nazirun yang juga redaktur Suara Muhammadiyah, berasal dari Curup, kemudian menjadi anggota D.P.R. Pusat dari P.A.N. (Partai Amanat Nasional), periode 2004-2009, sarjana hukum alumnus Universitas Gadjah Mada. Dengan baju pinjaman itulah aku merampungkan kuliah pada F.K.I.S.-I.K.I.P. Jogjakarta setelah aku berulang ke kampus sebagai mahasiswa sejak 1965. Tentu sesudah itu aku masih terus ke kampus sebagai tenaga pengajar yang kujalani sampai pensiun pada 1 Juni 2005, sebuah karier yang cukup panjang, bukan? Dari kampus I.K.I.P. atau U.N.Y. dan dari kantor pusat Muhammadiyah aku selama bertahun-tahun kemudian berulang kali menapak berbagai bagian dunia sebagai pembawa makalah, tenaga pengajar, dan atau

168

sebagai tamu undangan. Negara-negara yang telah kukunjungi sampai akhir tahun 2005 selain Amerika Serikat, tercatat Singapura, Malaysia, Thailand, Pakistan, India, Iran, Iraq, Jordan, Malta, Libia, Saudi Arabia, Qatar, Chad, Jerman, Inggris, Belgia, Belanda, Australia, Kanada, Italia, Roma, Yunani (hanya menginjakkan kaki di bandara semata-mata untuk menyentuh bumi yang pernah melahirkan para filosuf dengan izin awak pesawat), dan Hong Kong. Dengan rampungnya kuliahku sekalipun melalui berbagai kesulitan, sebuah tanggungjawab telah terlampaui. Pada waktu itu aku sekeluarga tinggal di rumah sewaan di Patang Puluhan. Selama menyiapkan tesis, aku bekerja di ruang tamu dan sekaligus tidur di atas kursi yang terbuat dari rotan di bawah sorotan lampu. Warna rotan itu kemudian telah berubah menjadi kemerah-merahan akibat cucuran keringatku. Bukan saja warnanya yang telah berubah, pada bagian-bagiannya malah sudah ada jamurnya. Aku memang agak urakan, mungkin sampai hari ini masih belum sembuh sama sekali. Sekalipun masih pinjam baju segala, keadaan ekonomi rumah tangga tidaklah terlalu parah lagi. Bukankah aku sudah menjadi pegawai negeri sejak Juni 1967 di samping redaktur S.M. (Suara Muhammadiyah). Gaji dari kedua sumber itu memang pas-pasan, tetapi paling tidak sudah ada yang diandalkan secara pasti tiap bulan. Keadaan ekonomi Indonesia saat itu sama sekali belum pulih sebagai akibat dari sistem Demokrasi Terpimpin yang menelantarkan bangsa dan negara dengan proyek mercu suarnya yang terkenal itu. Bakat menulisku banyak disalurkan melalui S.M. Bermacam topik yang kutulis, tetapi umumnya menyangkut masalah

169

agama, sejarah, dan politik. Sewaktu bekerja pada S.M., aku pun pernah menjadi anggota P.W.I. (Persatuan Wartawan Indonesia) cabang Jogjakarta. Kartuku ditandatangani oleh alm. Mahboeb Djunaidi sebagai ketua P.W.I. Pusat ketika itu. Pada tahun-tahun itu aku memang pengagum Abul A’la Maududi dan Maryam Jemeelah, mualaf dari Amerika Serikat yang menjadi murid Maududi di Pakistan. Beberapa tulisan Maududi kuterjemahkan untuk dimuat dalam S.M.. Kemudian sebagian distensil untuk dipakai sebagai bahan kuliah pada F.K.I.S. untuk sejarah Asia Barat, salah satu mata kuliah yang kuasuh selama bertahun-tahun. Maududi memang seorang penulis prolifik yang produktif, apalagi karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa asing, seperti Inggris, Arab, dan Indonesia. Baru setelah belajar di Chicago, aku mulai bersikap kritis terhadap pengarang ini, sekalipun dikagumi oleh tokoh-tokoh Masyumi. Mulai terasa perbedaan-perbedaan signifikan dalam pemikiran politik terutama antara aku dan tokoh-tokoh yang aku banggakan itu. Adapun sikap moralnya, aku junjung tinggi sampai sekarang. Beruntunglah rahim bumi Indonesia telah melahirkan para moralis yang sukar dicari tandingannya. Semuanya ini menunjukkan bahwa bacaanku baru sampai ke batas itu, apalagi tokoh-tokoh Masyumi mengagumi Maududi yang dipandangnya sebagai salah seorang pemikir besar abad ke-20. Bukankah aspirasi politikku berkiblat kepada Masyumi sejak aku masih belajar pada madrasah Mu’allimin Jogja? Hampir semua tokoh puncak partai itu aku hafal namanya sampai sekarang, apalagi Muhammadiyah memang menjadi anggota istimewa Masyumi. Nama-nama mereka itu

tidak mustahil kondisi demokrasi di Indonesia akan jauh lebih baik. sebuah perjuangan yang gagal untuk memaksa Soekarno kembali kepada rel U. akan kujelaskan pada ruang yang lain. karena ada kekuatan politik yang menjadi penyanggahnya. dan Burhanuddin.. Ny. Pada saat Masyumi dibubarkan pada akhir 1960. Di antara nama itu ada tiga orang yang pernah menjadi ketua umum. Mohammad Sardjan. dan Burhanuddin sedang berada di pedalaman Sumatera Barat untuk memimpin P. Amelz. sekiranya aku bukan pengagum partai itu? Sekiranya partai ini bisa bertahan lama. Tahun-Tahun Kritis Sampai Iwan Wafat pada 1973 Lulus ujian pada Agustus 1968 dan kedatangan Iwan pada Nopember 1968 semestinya menandai momen-momen bahagia dalam kehidupan kami.170 adalah: Soekiman Wirjosandjojo. Ny.D. Kasman Singodimedjo. yang menjadi ketua umum adalah Prawoto Mangkusasmito dengan sekretaris umum M. Junan Nasution. Adapun kritikku kepada partai ini. sementara Natsir. Muhammad Isa Anshary. Sjafruddin. Soekapti Mangunpuspito. Sjafruddin Prawiranegara.. Dan di antara meerka itu ada tiga orang yang pernah menjabat Perdana Menteri Republik Indonesia: Natsir. Junan Nasution.R. Sumber ekonomi rumah tangga belum berubah: pegawai negeri dan . dan Prawoto Mangkusasmito.R.U. Jusuf Wibisono. Abu Hanifah. Mana mungkin aku masih ingat nama-nama mereka. Burhanuddin Harahap. yaitu Soekiman Wirjosandjojo. Hafni Abu Hanifah. Mohammad Natsir. Soekiman. C. Apalagi kehilangan Maman telah sedikit terobati dengan kehadiran Iwan sebagai anak kedua. Mohamad Roem. Mohammad Natsir. Zainal Abidin Ahmad. Prawoto Mangkusasmito.I.

Sekiranya aku sempat membaca kuliah-kuliah H. dan aku turut memberi kata pengantar. Bahasa Inggrisku sudah mulai lancar. Ia memerlukan waktu dan pancingan-pancingan radikal dan serius secara intelektual dari berbagai pihak dan sumber. Tetapi semuanya tidak terjadi karena catatan kuliah Bapak Kaum Intelektual Muslim Indonesia itu baru terbit melampaui setengah abad kemudian. . Kegemaran menambah ilmu semakin kugalakkan dengan jalan membaca dan membaca. Muhammadiyah sendiri lebih menekankan kepada amal saleh dan kurang pada pemikiran. Di kampus “orientalis” inilah otakku dicuci melalui kajian al-Qur’an dari Fazlur Rahman. karena proses dan perkembangan pemikiran tidak datang dengan tiba-tiba. Virus politik untuk sebuah Negara Islam di Indonesia telah banyak menguras energi umat. Salim di Cornell tahun 1953. Periode antara 1950-an sampai dibubarkannya Majelis Konstituante pada 5 Juli 1959. sementara Bahasa Arab kurang terpelihara setelah aku tamat Mu’allimin pada 1956. Paham keislamanku belum banyak beranjak sampai aku pada suatu hari aku belajar di Chicago. Tetapi semuanya ini tidak perlu disesali. proses pencucian otak ini seharusnya telah lama kualami.A. sekalipun kaedah pokok dalam nahwu-sharaf masih melekat di otakku. tetapi yang berakhir dengan sebuah kegagalan. dan bahkan sampai tahun akhir 1970-an aku adalah salah seorang pendukung kuat gagasan Negara Islam Indonesia. sekalipun batin sering goncang. Pancingan semacam inilah yang tidak kuperoleh sebelum ke Chicago.171 redaksi Suara Muhammadiyah. Ini amat disayangkan. Terlalu lama otakku “berdansa” di panggung paham keislaman yang kurang mencerahkan.

kalaulah iman tidak kuat. Illinois untuk bidang sejarah dengan beasiswa Fulbright.). mungkin aku tidak akan memikirkan kuliah lanjut. I’ll convert Indonesia into an Islamic State” (Profesor Rahman.I. Periode ini. saya akan mengubah Indonesia menjadi sebuah Negara Islam).U. Pemeliharaan Iwan . anak mungil ini jatuh sakit sampai wafat bulan Oktober 1973 setelah tiga tahun menjalani pengobatan terus menerus di bawah pengawasan Prof. Menginjak dua tahun usia Iwan. Dr. Dengan segala pertimbangan keluarga. tetapi dengan sopan dijawab: “You can take all of my knowledge. tes-tes Bahasa Inggris tetap kujalani. Kita kembali kepada pokok tuturan pada bagian ini.” (Anda boleh ambil seluruh ilmuku). Coba anda bayangkan bahwa di akhir 1970-an dalam usia menjelang 40 tahun aku masih satu perahu dengan Masyumi dalam masalah Negara Islam ini. Ismangoen menyuruh hentikan obat utamanya. DeKalb. Dengan tetap berkonsentrasi pada masalah anak. Ismangoen (alm. mohon limpahkan kepadaku seperempat dari ilmumu tentang Islam. Pembicaraan yang agak mendalam mengenai isu ini harus ditunggu sampai aku kuliah di Chicago awal 1980-an.172 Pemikiran tokoh-tokoh Masyumi plus Maududi adalah rujukan primerku. (Northern Illinois University). Tentu Rahman geli mendengar ucapan ingusan ini. Dr. please just give me one fourth of your knowledge of Islam. Lip sungguh telah berkorban terlalu banyak untuk anak yang satu ini. Cobalah ikuti pernyataan vulgarku di depan Rahman di Chicago sekitar tahun 1979: “Profesor Rahman. Saat-saat di akhir hayatnya kesehatan Iwan tampak membaik. tetapi memusatkan perhatian semata-mata pada kesehatan anak. pada tahun 1972 aku terpilih untuk kuliah lanjut ke N.

Hampir saban pagi aku menjemur Iwan sambil melatihnya berjalan. Tidak selang berapa lama setelah obat dihentikan. Bulan Maret 1973 aku pulang ke Padang untuk menjemput Lip dan Iwan. sekalipun tubuhnya sarat oleh suntik plus obat yang terus menerus. Tetapi Allah punya ketetapan lain. masih di bawah pengawasan Dr. Seperti telah kusinggung di atas. Siang malam aku dan Lip menunggui Iwan di Pugeran. Mungkin orang lain menilaiku sebagai egoistis. Dr. kembali kepada Pemilik yang sebenarnya. Iwan meninggalkan dunia fana ini. kadang-kadang bergantian. Ismangoen. Lip sudah tidak mampu menghadapi anaknya tanpa ayahnya. di depan lapangan sepak bola. Keadaan anak yang semakin kritis harus lebih diutamakan. Habislah sudah upaya duniawi kami untuk membesarkan . aku mendengar suara Iwan: Ibu! Kebetulan ibunya sedang pulang ke rumah malam itu. Ismangoen menghentikan pemakaian obat untuk Iwan karena sudah banyak kemajuan. Selama beberapa bulan kesehatan agak membaik. Maka hari berkabung yang sangat tidak diharapkan itu akhirnya datang jua. sekalipun tidak parah pada mulanya. Tetapi setelah kuliah berjalan selama dua semester. dalam sejarah. tegateganya meninggalkan anak yang sedang sakit. Iwan jatuh sakit lagi.173 kemudian sepenuhnya berada di tangan ibunya yang sengaja pulang ke Padang agar dekat dengan familinya. Allah! Sebelum nyawanya dicabut malaikat. lupakan kuliah. Terasa banyak kemajuan. Maka tidak ada pilihan lain bagiku kecuali pulang ke tanah air dengan risiko gagal untuk meraih M.A. sehingga sulit melangkah sendiri. apalagi tempat tinggalku saat itu di asrama Mu’allimin Mancasan. Dini hari. dan harus menginap di rumah sakit Pugeran.

Muhammadiyah) membawa jenazah Iwan ke Mancasan dengan becak untuk besok harinya dimakamkan di pekuburan Kuncen. Semoga jiwaku akan cepat pulih untuk meneruskan otobiografi ini). adalah kelucuannya. Kami berterima kasih kepada keluarga pak Kad. terlalu berat nak melepas kepergianmu pada 21 Oktober 1973 menyusul abangmu Salman. kepala S. Terngiang panggilan Iwan terhadap ibunya sebelum wafat. “Anakku.D. untuk sebutan Nurkhalifah. Terasa sangat tidak mudah melupakan Iwan. delapan . isteriku. Sewaktu aku latih berjalan di lapangan Mancasan. Jika kutanyakan siapa nama ibunya. sementara Lip 29 tahun dalam keadaan hamil antara 3-4 bulan. (Untuk sementara bagian ini harus kuhentikan pada jam 21. Sekitar dua minggu kami tinggal di sana menenangkan perasaan yang pilu dengan membaca al-Qur’an dan berzikir. Yang terkenang dari anak ini di samping penderitaannya.D.174 Iwan. ke rumah pak Sukadijono. anak ini cukup ceria. Dapat dibayangkan betapa luluh perasaan kami ditinggal anak kedua ini. Demi meringankan beban batin. panggilannya sehari-hari. aku dan Lip menyingkir ke Cangkringan (Sleman. wajahnya selalu terbayang. di Jogja-Padang-Jogja. usiaku sudah 38 tahun. Muhammadiyah Wirobrajan. Subuh itu aku dan sahabat tetangga pak guru Sugeng (guru S. Lucu dalam penderitaan selama tiga tahun. Jogja). Tempat ini di daerah pegunungan yang sepi dan dingin. Sudah dua anak kami yang dipanggil Allah dalam usia 20 bulan dan lima tahun kurang sedikit. 50 tanggal 2 Desember 2005 karena beban perasaan mengenang anak yang telah tiada menjadi sangat berat kembali. akan dijawab: Nun Epah. Pada saat Iwan wafat.

VI. Mengapa cobaan beruntun semacam ini menimpa kami? Hanya iman sajalah yang menjaga kami tidak larut dalam kebingungan. sementara Lip tengah hamil sekitar 2-3 bulan. Tetapi perkara ini bukan urusan manusia. Memang serba dilematis. Kematian Ibrahim anak laki-laki beliau satu-satunya adalah bukti bahwa nyawa bukan di tangan manusia. hilang dua. Berhari-hari perasaan lengang itu menerpa kami. Untuk sementara keinginan belajar lanjut tidak dipikirkan dulu sampai suatu saat jiwa telah stabil. nabi pun mengalami cobaan demi cobaan. air mataku meluncur tak tertahankan). memberi kuliah.” (Terpaksa kuhentikan menulis sementara pada jam 08. Jangankan aku yang lemah dan sarat dosa ini. bukan anak. Kepergian Iwan telah menyebabkan aku dan Lip menjadi kesepian dan perasaan tidak menentu. Anak satu-satunya telah berangkat pula menyusul abangnya Salman. Boleh jadi musibah ini sebagai teguran Allah kepadaku. Rasul pun tidak dapat berbuat apa-apa bila perintah Allah telah datang.20 pagi tanggal 3 Desember 2005. Ada kekhawatiran kalau musibah ini akan mempengaruhi kandungannya karena batin yang goncang berat. Kalaulah boleh digantikan. maulah rasanya aku yang lebih dulu pergi. aku pun tidak dapat menjawabnya. aku bertugas seperti biasa. Kelahiran Hafiz dan Keinginan Sekolah Lagi Setelah perasaan berangsur pulih. . SECERCAH HARAPAN TANTANGAN dan BERAGAM A.175 bulan setelah kepulangan ayahmu dari DeKalb. jauh dari stabil. Hilang satu.

Pengalamanku di DeKalb. kemudian baru boleh dibawa pulang.K.U.176 seorang dosen yang hanya berijazah S1 pasti akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugasnya. mencoba mengadu untung dengan mengikuti tes untuk ke Saigon. Kecemasan aku dan Lip bahwa kandungannya mungkin akan mengalami gangguan serius. demi perbaikan ekonomi.S. alhamdulillah tidak terbukti. suasana kampus dengan perpustakaan yang hampir lengkap tidak pernah lupa dari ingatanku. teman dosen jurusan sejarah. Dalam pada itu setelah anggota keluarga bertambah satu yang kami syukuri benar. sekalipun anak kami yang ketiga lahir prematur pada 25 Maret 1974. pada tahun 1974 itu aku dan Husain Haikal. Hardjo Djojodarmo (alm). Gelar doktorandus memang tidak laku jual. menengok perkembangan Hafiz yang dari ke hari menunjukkan perkembangan dan kemajuan yang positif. Kami beri nama Mohammad Hafiz dengan berat badan hanya 2. Di saat lahir dan selanjutnya Hafiz berada di bawah pengawasan ahli kebidanan Dr. Gaji sebagai dosen hanyalah sekadar untuk menutup biaya . Alhamdulillah kami tidak diterima. siapa yang kenal? Sebenarnya keinginan bekerja di luar negeri lebih banyak bertujuan untuk perbaikan ekonomi rumah tangga.K. Adapun aku saat itu. Tiap hari kami berulang ke P. kecuali penyandangnya dikenal luas oleh lembagalembaga asing. Karena kondisi yang belum stabil ini Hafiz harus menjadi penduduk R. sebab yang diajar berada dalam tingkat yang sama. Muhammadiyah Jogjakarta selama satu bulan. sekalipun semula terasa sangat berat. P. Mudah-mudahan aku bukanlah orang yang mementingkan diri sendiri jika aku ingin belajar lagi ke Barat.20 kg.U.

Prof.P. Tahun berikutnya Husain dan aku berputar arah ke L. sementara Husain berhasil. Dr. apakah tidak akan menggangu asap dapur.D. Para dosen yang memberi kuliah di lembaga ini sebagian besar adalah guru besar. dan masih ada yang lain. Alasan utamanya tidak lain karena lapangan kerja yang sulit sekali. Achmad Sanusi. (Lembaga Pendidikan Pos Doktoral) yang melekat dengan I. S.P. Prof. agak sedikit . Mereka adalah Prof. dan Bahasa Inggris (B).I.K. Dr. Bandung. aku tidak lulus karena kurang nilai setengah. Korupsi yang sudah menggurita terjadi di sebuah bangsa Muslim terbesar di dunia. Kepemimpinan & Manajemen (B).P. Itu pun orang banyak masih berebut untuk menjadi pegawai.P. dengan nilai tanpa A. Dr. nasib pegawai negeri di Indonesia belum juga mengalami perbaikan yang mendasar.P. Filsafat Ilmu & Pendidikan (B+). yaitu Filsafat Pengetahuan Alam/Sosial (B+). Sampai awal abad ke-21. Itulah prestasi akademikku di Bandung.177 hidup sederhana dari bulan ke bulan.D. Pada tanggal 10 Maret 1976 aku lulus dari L. Kenyataan pahit ini amat memberatkan batinku. Dr. sementara jumlah angkatan kerja semakin membengkak dari tahun ke tahun. dari lima mata kuliah. Garnadi Prawirodirdjo. Sistim Pengembangan Kurikulum (B+). atau setidaktidaknya menyandang gelar doktor. Jika ingin beli buku harus difikir matang-matang lebih dulu. Tampaknya negara ini belum berhasil menciptakan lapangan kerja yang layak bagi rakyatnya. Baru tahun berikutnya lagi aku lulus dan diterima untuk belajar di lembaga itu selama satu semester. Dr. Supardjo. Sikun Pribadi. sementara praktik korupsi belum semakin berkurang. Setelah mengikuti tes. Prof. Nasution.

tunjukkan bahwa nilai A juga milik mahasiswa. Semarang diundang ke rumahnya untuk ditemukan dengan Suryadi.I.A.D. nilaiku jauh lebih baik. Sikun. Tanpa nilai A. Sikun hanya tunduk mengiyakan tuturan gurunya. Sikun sebagai salah seorang guru besar di program . Suryadi malam itu menjelaskan masalah alam semesta yang dipelihara oleh banyak tuhan. Pada suatu malam aku dan teman dari I. Apakah para guru besar Bandung ini memang terlalu hebat sehingga nilai A adalah untuk mereka? Aku tidak boleh berprasangka demikian. Isteri Prof. (Universitas Padjadjaran) Bandung sampai tingkat sarjana muda. tokoh spiritual Prof.N. aku jelas tidak puas. Sikun. padahal yang yang bersangkutan adalah bekas mahasiswanya di U. tetapi ada Tuhan dengan huruf T besar dengan nama Robina sebagai kepala dari tuhantuhan itu. sementara teman dari Semarang karena hormat kepada Prof. tetapi itulah kenyataan yang harus diterima.P. terimalah apa adanya.P. Sikun bersikap lebih banyak diam. termasuk milikku tentunya. Sikun yang malam itu mendampingi suaminya sesaat mendengar perkataan Robina berucap: “Kok seperti nama perempuan ya!” Aku hanya semakin geli dengan suasana semacam ini dan bertanya dalam hati: “Mengapa seorang profesor begitu mudahnya menjadi budak spiritual dari seorang Suryadi dari Cirebon itu?” Kurekamkan kembali episode ini bukan untuk mengurangi rasa hormatku kepada mendiang Prof. padahal sewaktu belajar di DeKalb.178 memalukan. Aku yang geli mendengar cerita karut ini telah melabrak habis ocehan Suryadi yang berlangsung sampai larut malam.K. Prof. Dan jika masih punya kesempatan belajar ke Barat. Ada pengalamanku yang agak aneh dan menggelikan dengan Prof.

dan kaum elit negeri ini yang minta nasehat dukun dalam menjalankan tugasnya.H.P. Ternyata seorang guru besar filsafat pendidikan tanpa dasar tauhid yang jelas dan kuat dengan mudah saja menjadi pengikut dukun klenik seperti Suryadi. Tentu aku senang. sudah di atas 500.D. Karena hasil itu aku dapat diterima di Univeritas Hawaii dan O. karena hanya akan merendahkan harkat dan martabat manusia merdeka! Lebih dari itu. Ringkas cerita dengan beasiswa Fulbright untuk kedua kalinya aku pilih Ohio untuk mendapat M. Dalam perkara ini. sekalipun aku sering mendebatnya dalam perkuliahan. yang hubungannya denganku cukup baik. Hasil tes lumayan.179 L. tidak banyak bedanya antara mereka yang terdidik dan berpangkat dengan sebagian rakyat awam yang memang biasa minta-minta kepada orang mati. Tidak selang berapa lama sebelum meninggalkan Bandung untuk kembali ke Jogja. jenderal. sekalipun masih di bawah 600.P. Ini penting kuungkapkan di sini karena banyak sekali pejabat. Aku yang sejak kecil dilatih dalam kultur Muhammadiyah tentu hanya punya satu sikap: lawan segala bentuk klenik itu.A. pada . (Ohio University. Bagaimana bangsa kita akan cerdas dan cerah jika sebagian para elitnya lebih mempercayai dukun dari pada akal sehat dan pertimbangan rasional dalam proses mengambil keputusan untuk kepentingan negara? Tidak hanya sampai di situ. klenik dengan segala cabangnya hanyalah akan memasung manusia secara kejiwaan. Di antara para elit itu bahkan ada yang pergi ke kuburan untuk mohon petunjuk dan berkat. Univeritas Ohio) di Athens. aku telah menempuh ujian TOEFL (Test of English as Foreign Language) dalam upaya meneruskan kuliah yang terbengkalai karena Iwan sakit sebelum wafat.

seorang seniman dari suku Sunda. sudah lebih dulu belajar di Universitas Ohio. Lip dan Hafiz harus ditinggal lagi. Bahkan terlalu baik. sekalipun akhir 1978 aku sudah berada di Chicago.P. Mengapa lama? Karena tesis yang kutulis baru rampung pada 1979.. Di sinilah peran penting dari Prof. B+. A. Frederick yang selalu memberikan “komando” dari . Dengan nilaiku dari NIU dapat dipindahkan ke Ohio sebanyak 51 kredit.P. sekalipun tentu dengan perasaan berat mengingat pengalaman traumatik yang pernah diderita. A. A-. penulisan tesisku masih terbengkalai menanti saat aku sudah mengambil program Ph.A.atau I.P. dia kembali mengajar di Jogja sampai pensiun. Setelah meraih gelar M.67. Ratarata A. Sebenarnya cukup berat bagiku menyelesaikan tesis sambil kuliah S3. Aku hanya mengambil delapan mata kuliah plus tesis dengan nilai B+. seorang sahabat dosen jurusan sejarah dari Jogjakarta.A. bila dibandingkan dengan nilaiku di L. tahun ke-176 dari usia universitas. Kali yang kedua ini alhamdulillah berhasil dengan mengantongi ijazah M. tetapi mereka rela. William H. Sekalipun kuliahku telah rampung di akhir tahun 1977. di Universitas Chicago. maka beban kuliahku di kampus baru ini agak sedikit ringan. Cukup lumaian bukan. Di Athens.D. seorang ahli sejarah Indonesia dan sejarah Jepang yang teramat baik denganku. Frederick. (Indeks Prestasi Kumulatif)3. Doddy Soejono. tanpa nilai A satu pun. Ijazahku dikeluarkan pada tanggal 7 Juni 1980 dari O.. B.D. dalam bidang sejarah dengan tesis “Islamic Politics under Guided Democracy in Indonesia (19591965) di bawah penyelia Prof. A-.K.180 departemen sejarah. Pertengahan tahun 1976 aku berangkat lagi ke Amerika dan kuliah di Ohio selama empat kuartal. A-..untuk tesis. dan A.H. Ph.D.

Maryam Jameela. Gerald Doxie. semuanya akan menjadi beres. Jadi tidak terlalu buruk. apalagi dari seorang penyelia yang begitu ingin agar tesisku cepat dipertahankan di depan tim penguji. belum reflektif dan kontemplatif. yang masih sangat merindukan tegaknya sebuah negara Islam di suatu negeri. dan gagasan tentang negara Islam. (Muslim Students’ Association). Apalagi aku aktif dalam M. tokoh-tokoh Ikhwan. dari segi pemikiran keislamanku belum ada perkembangan yang berarti. Betapa sederhananya cara berpikir seperti ini. Iqbal. dosen sejarah Asia Barat dan Afrika Utara. . Dorongan semacam ini sangat penting. Masih berkutat pada Maududi. Untuk keperluan ini aku harus terbang dari Chicago menuju Columbus. seorang Katholik yang taat dan sangat bagus dalam memberikan kuliah. Frederick.181 Athens agar aku tetap menggarap tesis.S. tim penguji yang lain adalah Prof. kampus lamaku. B.dan A. pemikir dan penyair besar Pakistan itu memang telah ikuti. Masyumi. Di samping Prof. Semua nilaiku dari dosen ini bergerak antara A. sebagaimana telah kusinggung selintas di atas pada waktu menyebut Fazlur Rahman. Seakan-akan dengan merek serba Islam itu. Alhamdulillah.A. dan dari sana meluncur ke Athens. Aku masih terpasung dalam status quo. bukan? Periode Athens: Status Quo dalam Pemikiran Selama periode Athens (1976-1978). tetapi ruh ijtihadnya belum singgah secara mantap di otakku yang masih bercorak aktivis. akhirnya aku diuji pada 7 Juni dengan hasil seperti telah kusebutkan di atas.

S. semuanya akan membaik? Inilah di antara pertanyaan krusial yang susah dijawab.A. di samping teman-teman dari Indonesia dan Malaysia. yang masih serba belia. aku bergaul dengan teman-teman dari Saudi Arabia.S.S. kalau pemerintahnya bergantung di ketiak asing. Kesulitanku adalah: apakah secara moral dalam makna umum. M. Ilmu Barat dipelajari.A. kita perlu mempertanyakan sampai di mana kedaulatan sebuah negara Muslim. Kuwait. adalah ibarat sebuah pulau tersendiri di tengah gelombang peradaban sekuler. aku adalah salah seorang khatib pada hari Jum’at yang kami selenggarakan di sebuah ruangan luas di lingkungan kampus. sungguh bagus.A. dan saling menjaga. seperti Saudi dan Kuwait misalnya. Dengan membaca peta semacam ini. hati-hati. Tidak ada di antara mereka yang larut dalam budaya serba bebas ala Barat. Iraq. Libia. . Budaya saling menasehati dan mengawasi anggota merupakan bagian penting dari missi M. Bagiku semuanya ini tidak lain dari pada akibat kerapuhan negeri-negeri Muslim secara politik. Di lingkaran M. M.A. Dari segi menjaga nilai-nilai keislaman harian anggotanya.S. Aljazair.182 Di Athens aku tinggal bersama teman-teman Malaysia yang juga aktivis M. sangat berjasa.S. negeri Muslim lebih baik dari Barat? Bagaimana tentang korupsi yang merebak di dunia Muslim.A. Dari segi moral pergaulan.A. sementara usiaku sudah di atas 30 tahun. tetapi nilai-nilai budayanya yang serba bebas sejauh mungkin dihindari. Mesir. dunia M. dan bagaimana pula disiplin sosial yang sangat rapuh? Apakah dengan memberi label Islam kepada suatu negara.S. Itu belum lagi kita berbicara tentang betapa kuatnya pengaruh Amerika di negeri-negeri Muslim.. Jadi secara moral. Di Athens.

Nasr meninggalkan negerinya setelah revolusi Khomeini berhasil secara dramatis menggulingkan rejim Shah pada 1979. Dia tidak terlibat dalam gerakan di bawah tanah untuk meruntuhkan rezim diktatur dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat. Semua seakan-akan menjadi beres semua dengan sebuah negara Islam itu. menggali khazanah klasik Islam yang kaya itu.183 ekonomi. Sebagai penulis prolifik. Dengan demikian label Islam belum bisa menolong selama masalah-masalah mendasar itu belum diatasi. Nasr bukanlah tipe itu. Bukankah dunia Muslim sampai di awal abad ke-21 masih berkutat di buritan peradaban? Pada periode Athens. yang datang ke Athens dari berbagai negara bagian Amerika dan Kanada hampir semuanya adalah aktivis yang dipengaruhi Ikhwan dan Jama’at Islami. Nasr cukup populer di kalangan kaum akademisi. Maka tidaklah mengherankan Nasr sampai usia tuanya adalah guru besar pada Universitas Washington untuk kajian-kajian keislaman. Pokoknya dengan negara Islam. tokoh syi’ah moderat dari Iran.A. Beberapa pemimpin M. Beberapa teman dari Saudi yang hidup kesehariannya sangat saleh. tetapi tak satu pun yang mencoba berangkat dari pandangan dunia al-Qur’an.S. Rupanya berbeda dengan Ali Shariati yang melawan Shah. pertanyaan-pertanyaan besar itu belum singgah di otakku sebagai bawaan dari Indonesia. Pemikir lain yang juga kukutip dalam khutbah dan tulisan adalah Hossen Nasr. Oleh sebab itu tumbangnya kekuasaan Shah berarti tanah Iran sudah tidak nyaman bagi seorang Nasr yang lebih banyak berfilsafat. Muslim dan Barat. Karyanya cukup banyak yang meliputi berbagai bidang kajian keislaman yang umumnya diterbitkan di Barat. ilmu. dan teknologi. dunia kita atur. tetapi cara berpikirnya terasa .

Kekayaan minyak yang melimpah di Saudi bolehjadi merupakan salah satu sebab mengapa kaum intelektualnya menjadi manja dan malas berpikir. Teman-teman Indonesia alumni Saudi rata-rata tidak bisa diajak berpikir melampaui guru-gurunya di sana. Inilah salah satu sebab mengapa sarjana-sarjana Saudi sedikit sekali yang bisa diajak berpikir filosofis radikal. Kenyataan ini merupakan kesulitan tersendiri bagi umat Islam Indonesia karena begitu beragamnya hasil pemikiran keislaman yang lahir dalam sejarah kontemporer Indonesia. pencetus gerakan puritan di Arabia pada abad ke-18. Mereka yang tamatan Barat . Adapun gerakan Wahabi lebih banyak mengambil sisi aktivisme dari Ibn Taimiyah. Bedanya adalah Ibn Taimiyah. dia juga seorang intelektual kelas satu pada masanya yang kemudian mengilhami gerakangerakan pembaruan di seluruh dunia Muslim. Saudi hampir tidak ada yang dapat ditiru karena sudah terkurung dalam pasungan Wahabisme yang menyatu dengan penguasa otoritarian. Dari sisi terobosan intelektual Islam. sementara dimensi intelektual dilupakan. kecuali mereka yang berani membuka hati dengan membaca sumber-sumber pemikiran dari sarjana Muslim yang lain.184 kaku dan buntu. Dari nama inilah dunia kemudian mengenal gerakan Wahabi yang banyak diilhami oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan penerusnya Ibn Taimiyah. di samping seorang aktivis. Ibn Taimiyah juga turut angkat senjata melawan pasukan Mongol yang menjarah negerinya. Pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab yang puritan begitu dominan di Saudi sehingga pemikiran lain yang berbeda tidak boleh berkembang. Di sini tragedi intelektual itu terjadi. Mereka begitu menilai tinggi Muhammad bin Abdul Wahab.

The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World. Sebuah paradoks berlaku di sini. New York. Qutb bukanlah . (Lih. dalam ilmu pendidikan dari Wilson’s Teachers College (Kolorado) pada 1950. Dia menjadi pembela negara Islam dan anti Barat setelah pernah tinggal di Amerika sekitar tiga tahun. lingkungan pergaulanku berada di tengah-tengah orang-orang saleh. “Qutb.). Di Athens. Bahkan mendapatkan M. New York-Oxford: Oxford University Press. Bahkan anak Maududi seorang dokter malah tinggal di Buffalo. 1995. Kasus Said Qutb sedikit berbeda. karena berhadapan dengan penguasa yang korup. Dialog terbuka dan mendalam tentang pemikiran Islam yang beragam belum terjadi di Indonesia secara mendalam dan tuntas. tetapi hampir sepi dari pemikiran yang memungkinkan kita keluar dari kebuntuan intelektual yang sudah berabad diderita dunia Muslim. hlm. Setidak-tidaknya dia telah mengenal Barat melalui pengalaman langsung dan pendidikan. Sharough Akhavi. yang mengeritik Barat in toto. Justru mereka memilih hidup di Barat yang dijadikan sasaran kritik itu. Teori-teori keislaman yang bertolak dari sikap anti asing (baca Barat) ternyata tidak mampu menawarkan solusi bagi masalah modernitas yang semakin sekuler kalau bukan ateistik. 401). umumnya tidak betah tinggal di negerinya sendiri. dan proZionisme. Sayyid” dalam John L. Dia mengakui perkembangan ilmu dan ekonomi di Amerika dan Barat lainnya. dan ulama yang konservatif. dermawan. kebebasan seks. Esposito (ed.185 sering dicurigai sebagai pengikut kaum orientalis yang digambarkan serba merusak Islam. tetapi dia sangat ngeri menyaksikan rasisme.A. Qutb. otoritarian. Para pendukung Maududi.

Mengurung diri dalam pasungan pemikiran sempit atau hanya mengenal satu alur aliran pasti akan memperlama orang berada dalam suasana kebuntuan intelektual yang pengap. Dalam usia 43 tahun. Di tanah airnya masing-masing belum tentu mereka mengenal salat dan praktik-praktik harian Islam lainnya. di Barat justru muncul kesadaran baru untuk menjadi Muslim yang baik. Bahkan terlalu “baik” sehingga menjadi kaku dan sempit. rasanya tidak ada yang dapat kutawarkan untuk menembus kebuntuan intelektualisme Islam. Oleh sebab itu akan lebih bijak bila orang bersikap lapang dada saja. wawasan keislamanku tidak pernah melampaui . dan penuh rahmat yang dapat diukur dengan parameter apa pun. Bahkan bisa membawa orang hidup dalam dunia semu. adil. Ini fakta keras sejarah yang tidak boleh dimungkiri oleh siapa pun. sebab Barat-Timur itu milik Allah. Sampai aku meninggalkan Athens tahun 1978. Bukan saja bersentuhan. Di antara mahasiswa Muslim yang datang dari berbagai penjuru dunia. Orang bisa saja menemukan kearifan itu di mana saja asal dicari dengan sungguh-sungguh melalui hati dan otak yang terbuka semata-mata karena rindu kepada kebenaran. tidak sedikit yang menemukan Islam setelah mereka belajar di Barat. sebab dia bergabung dengan gerakan ini setelah pulang dari Amerika.186 termasuk pendiri Ikhwan. Kearifan tidak bersifat Barat atau bersifat Timur. Padahal Islam menurut pandanganku haruslah senantiasa bersentuhan dengan realitas. Bahkan sebagian mereka menjadi puritan. tidak menyentuh realitas. tetapi malah wajib berupaya mengubah realitas yang pengap menjadi sesuatu yang asri. Di dunia ini ternyata kita tidak boleh memakai kaca mata hitam putih. jangan ekstrem anti sesuatu.

tetapi tidak pernah menempatkannya sebagai yang terhebat. Dalam arti intelektual.C. Proyek I.T. Teman-teman M. aku belum pernah berdialog secara langsung. aku mungkin lebih dekat kepada Ibn Taimiyah. Aku hormat kepada alGhazali. Konsepsinya tentang pendidikan Islam dipopulerkan oleh Prof. (International Institute of Islamic Thought and Civilization)-nya sesungguhnya sangat .A. dan teman dekatku. aku merasakan sesuatu yang kurang pas pada dirinya: anti egalitarianisme.S. status quo pemikiran sebenarnya patut disayangkan.A. Dengan al-Faruqi. Malaysia. Kesanku adalah bahwa al-Attas adalah seorang al-Ghazalian yang kental. Hanya kami berbeda dalam menilai al-Attas dan guru spiritualnya al-Ghazali. Dalam masalah ibadah harian tidak ada masalah. Maududi. sementara dengan al-Attas pernah berjam-jam di rumahnya di kawasan Petaling Jaya. Tentang al-Attas dengan segala kelebihannya. Al-Attas kelahiran Bogor. sekalipun beberapa hadits yang dikutip dalam teori politiknya telah kupertanyakan secara serius dalam disertasiku di Chicago. sebab paham Muhammadiyah sudah lama menjadi bagian menyatu dengan diriku. Fazlur Rahman hampir tidak dikenal di lingkungan M. kemudian hijrah ke Malaysia. Dominasi politik begitu terasa.S. seakan-akan al-Ghazali adalah segala-galanya. Nor Wan Daud. Wan Mhd. memang banyak yang idealis. salah seorang murid Rahman di Chicago. tetapi aku tidak bisa lebih dari itu. Ini berbeda dengan Ismail al-Faruqi dan Naquib al-Attas dengan proyek islamisasi ilmu pengetahuannya cukup populer di kalangan mereka.187 Ikhwan. Dr. Pada saat usia yang sudah demikian jauh.A. yang bagiku merupakan bagian dari tauhid sejati.S. dan Masyumi. tetapi jalan keluar dari kebuntuan belum ditemukan.

C. proyek ini akhirnya digabungkan dengan Universitas Islam Internasional Malaysia. Chicago I: Sebelum Titik Kisar Tidak mudah bagiku untuk meneruskan belajar ke Universitas Chicago. tetapi karya besarnya harus dijunjung tinggi dan dikembangkan lebih jauh. Pada saat-saat awal itu tidak terbayang dalam otakku bahwa Chicago akan mengubah secara fundamental sikap intelektualku tentang Islam dan kemanusiaan. ruhnya menjadi sirna.C. Orang boleh berseberangan dengan al-Attas. Amien Rais. Bahkan seluruh perpustakaan Rahman telah dibeli dan diboyong ke kampus I. sungguh menjadi penting bagiku untuk belajar Islam ke kampus “orientalis” ini.S. beasiswa itu kudapatkan. Amat disesali. Rahman pada saat-saat terakhir cukup diapresiasi di sana. sekalipun aku sudah diterima untuk program Ph.I.A. sebagaimana telah kukatakan terdahulu. tetapi Mahathir Mohamad karena bentrok dengan Anwar Ibrahim yang dipandang sebagai orang dekat al-Attas. Lagi Profesor Frederick turut membantuku untuk mendapatkan beasiswa dari Ford Foundation dan U. Bantuan sahabatku M.S.T. Akhirnya dengan bantuan banyak pihak.D.D. dalam pemikiran Islam.C. C. mau dijadikannya pusat kajian ilmiah bagi pemikiran Islam yang sangat beragam.S. Karena proyek al-Attas berupa I. politisi Malaysia tidak paham makna dari proyek besar al-Attas yang ingin membangun sebuah peradaban alternatif setidaktidaknya di kawasan Asia Tenggara terlebih dulu. Kalau Rahman masih .A. kehilangan kemandiriannya.A.T.A.188 strategis bagi pengembangan pemikiran Islam.T.S. melalui perwakilannya di Jakarta. Yang positif dari al-Attas adalah bahwa I.

Aku stres menghadapi “ancaman” semacam ini.189 belum alergi menggunakan ungkapan negara Islam. Gila bukan? Otak sudah tua. aku pada akhirnya tidak tertarik lagi dengan proyek serba mewah itu. periode Chicago-ku bisa buyar berantakan di tengah jalan. Di mata mereka hanya orang nekat saja yang mau pergi terus dengan meninggalkan isteri dan anak. Sudah kujelaskan bahwa sebutan nekat itu bukan asing bagiku. ada masalah lain yang pribadi dan keluarga sifatnya. Mungkin istilah nekat bisa diganti dengan “berani” agar lebih . disuruh cari nilai A lagi. Sebelum kuteruskan tuturan yang agak berbau intelektual ini. Egoismeku untuk terus belajar tidak boleh dibiarkan mengelana sebebasbebasnya. Pihak Ford Foundation melalui kantor Pusat Latihan Ilmu-Ilmu Sosial di Jakarta yang mendanai transportasiku memberi syarat yang sangat berat jika aku ingin mengikutsertakan keluarga ke Chicago. beban mental dalam bekeluarga tidak ringan. sekarang suami pergi lagi untuk ketiga kalinya. Sepintas lalu bagi sementara orang apa yang kulakukan ini sudah tidak pada tempatnya. Bukankah keluarga harus lebih diutamakan dari pada belajar terus dan terus belajar. seperti telah kujelaskan sebelumnya. Tanpa penyelesaian yang bijak tentang persoalan keluarga ini. Hanya si gila saja yang berbuat begitu. karena aku punya tanggung jawab keluarga yang sarat dengan beban traumatik. Syarat itu adalah bahwa pada semester pertama aku harus meraih nilai A untuk semua mata kuliah yang kuambil. Perkawinanku dengan Lip adalah buah dari kenekatanku. Isteriku Lip sudah lama menderita karena ditinggal pergi oleh dua anak pertamanya. tetapi tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja.

Dalam pepatah Minang ada ungkapan: “Tak kaya berani pakai. Sekarang aku harus belajar Bahasa . Ini bagiku sebuah modal yang luar biasa nilainya. Dengan do’a dan kerja keras nilai A untuk semester pertama harus kuupayakan agar menjadi kenyataan. Lip tidak melarangku untuk terus belajar. sekalipun dia menderita. Untuk sikapnya ini aku berterima kasih kepadanya. Jika upaya itu kandas. tentu semua langkah akan terhenti seketika. sekalipun hakekatnya tidak banyak berbeda. Rasa cemasku akan menjadi sangat berat jika masalah keluarga tak dapat terselesaikan. Maka terjadilah pergumulan yang menegangkan selama beberapa bulan antara kemampuan otak dalam usia tua dengan persoalan keluarga yang sering goncang oleh bermacam persoalan. aku tidaklah termasuk dalam kategori pengecut.” seperti telah kukutip terdahulu. jauh sebelum aku mengenal lontaran puisi Iqbal: “Takkan kukayuh bidukku ke lautan tanpa buaya. Aku punya rasa takut dan cemas. Coba bayangkan kalau dia merengek dan memberontak. Yang menguntungkanku.190 beradab kedengarannya. tidak mungkin bergerak lebih jauh. Aku mendaftar di Departemen Bahasa-Bahasa Timur Dekat dan Peradaban dengan fokus kajian tentang pemikiran Islam di bawah payung Studi Kearaban dan Islam. dan tantangannya adalah bagaimana upaya untuk memboyong mereka segera ke Chicago. maka beban batin akan semakin bertambah dan bisa runyam akibatnya.” Aku anak Minang yang juga dibesarkan dalam budaya petatah-petitih itu. Memang jika dibandingkan dengan rata-rata orang Indonesia. apalagi dengan kebanyakan orang kampungku Sumpur Kudus yang tetap saja ingin bersianyut di Batang Sumpur. Sebenarnya aku tidaklah seberani itu.

Rantau telah mendidikku untuk tidak bermain-main dengan harta warisan. Tantangan di depanku ketika itu sangat nyata: tanpa nilai rata-rata A. bukan sematamata untuk meraih prestasi akademik yang tinggi.” (Dalam Bahasa Minang: “Sawahnyo alah tagadai untuak ongkos sekolah di lua nagari. keluarga tidak bisa dibiayai untuk berangkat ke Chicago. aku lulus dengan angka P+.191 Arab lagi plus Bahasa Persi. sekalipun sekarang sudah lupa semua. Syafii hanya mamikiahkan dironyo sorang”). Bunyinya kira-kira demikian: “Sawahnya telah tergadai untuk ongkos sekolah di luar negeri. Juga harus lulus Bahasa Perancis sebelum ujian disertasi. Cemeeh dari mulut ke mulut akan berkeliaran ke mana-mana. artinya baik sekali. di samping mata kuliah yang diasuh Rahman. tetapi juga karena terkait dengan masalah keluarga. Andaikan kuusulkan untuk menggadai. padahal hasilnya belum jelas. Bahkan sawah-sawah yang tergadai oleh paman dan abang. sebab kelangsungan hidup mereka sangat tergantung kepada keberadaan sawah itu. Syafii hanya memikirkan diri sendiri. Selama semester pertama aku harus belajar keras. Setelah kursus Bahasa Perancis selama 75 jam. sebagian sudah kutebus untuk kepentingan agama sebelum kuserahkan kembali kepada pihak keluarga . Bukankah Minangkabau dikenal sebagai pusat cemeeh di muka bumi? Aku terbebas dari lingkaran cemeeh itu karena harta keluarga tidak kusentuh untuk belajar di luar negeri. padahal hasiahnyo alun jaleh. sekalipun misalnya dengan menggadaikan sawah milik familiku di Sumpur Kudus yang memang hampir tak pernah kumanfaatkan. Biaya sendiri mana mungkin. pasti seluruh saudaraku akan menentang dan kampung akan turut gaduh.

Dengan nafas agak terengah-engah pada musim gugur aku mengikuti kuliah. lantaran desakan hidup misalnya. Aku adalah di antara berempat anak Fathiyah-Ma’rifah yang sedikit sekali memanfaatkan harta warisan. Akibatnya wibawa mamak jatuh di mata kemenakan. aku lupa. Segera Lip dan perwakilan Ford Foundation di Jakarta dikontak untuk menyampaikan kabar gembira ini. Harta keluarga dibawa ke rumah bini dan anak. Ini pasti membuahkan gunjingan demi gunjingan. Apalagi jika menyandang gelar suku. Mungkin . Di kalangan keluarga dekatku. Tesis S2 untuk Athens sementara dilupakan dulu. menulis makalah. entah berapa ratus dolar Lip diberi Ford yang disimpan begitu saja dalam tas tangannya. Dalam perjalanan sejauh itu mereka berangkat dengan bantuan bahasa isyarat. Terbanglah mereka dua beranak dengan mengucapkan bismillah dengan pesawat apa. bukan mustahil pula aku akan menggadaikan harta warisan. Rantau telah menyelamatkanku dari segala macam perbuatan melego harta pusaka itu. Sekiranya tidak merantau. Tidak sedikit orang kampungku yang hobi dalam transaksi gadai menggadai ini. Biaya cukup. Bukan main rasa syukurku.192 setelah sekian tahun. harapan untuk meraih nilai A bagi tiga mata kuliah benar-benar menjadi kenyataan. dan menempuh ujian akhir. kelakuan semacam ini juga terjadi. Kembali kepada nilai A pada semester pertama 1978-1979. Konsentrasi adalah untuk meraih nilai A. Pendek cerita semuanya berjalan dengan lancar sekalipun tanpa bekal Bahasa Inggris. Nilai A= keluarga datang. Alhamdulillah. Aku tentu bangga dengan ini semua. Lip diminta menyiapkan mental untuk berangkat ke Chicago bersama anaknya yang baru berusia kurang sedikit dari lima tahun pada Februari 1979. berkat rantau.

Tugasku kemudian menjemput mereka ke bandara O’Hare yang sangat sibuk itu. Liku-liku perjalanan jauh banyak menyimpan cerita lucu.. Hafiz belajar pada Taman Kanak-Kanak lebih dulu. Mungkin karena lelah. kadang-kadang menegangkan. Tidak langsung ke Chicago. kebetulan sampai di hotel tidak minta minum. harus singgah di jalan. Rintangan bahasa dapat diatasi. Hafiz. yaitu menginap di hotel mewah di Hong Kong yang lengkap dengan berbagai fasilitas. tanpa menunggu jemputan yang sudah disiapkan Ford dari Jakarta. Baru keesokan harinya di bandara mereka beli air minuman kaleng. dan semuanya itu telah terekam dengan baik dalam memori kolektif kami. Bahasa Inggris pun cepat dikuasainya. mereka tidak sempat membuka kulkas yang menyimpan berbagai jenis minuman. Kami dapat berkumpul di rantau asing setelah sering berpisah dengan berbagai trauma yang menyertainya. Sampai di Chicago masalah lain datang pula. aku hampir tiap hari ke kampus. Tuhan memudahkan perjalanan mereka ke Chicago hampir tanpa rintangan yang berarti. Hafiz sekolah. Semua itu kulakukan dengan rasa lega dan bersyukur. Sebelum masuk S. Karena anak kecil. Ini masalah baru yang harus dicarikan jalan ke luar. Pagi-pagi buta Lip dan anaknya sudah berangkat ke bandara. Tokh dalam pergaulan harian. Perjalanan panjang itu kini telah jadi kenangan.193 dengan pesawat Thai Air dari Jakarta-Hong Kong dan dengan North Western Hong Kong-Chicago . bahasa Inggris itu akan dipahami juga. Hafiz cepat sekali menyesuaikan diri dengan lingkungan baru itu. nama anak kami. cari informasi ke sana dan ke mari. Setelah beberapa minggu di Chicago. Lip akhirnya dapat kerja .D. Lip tidak betah menganggur.

Mula-mula dengan keluarga hitam-putih (suami hitam isteri putih).000 pada saat rupiah masih belum terjun bebas. 419. dia berangkat dengan sepeda.000=Rp. Sebelum pulang ke tanah air. gajiku sekitar Rp.000 per bulan.419. Lip telah jadi “orang kaya” baru. tetapi harus diadang dan dilalui dengan tabah. tidak menghabiskan gaji gabungan per bulan. Tahun terakhir gajinya meningkat menjadi $5 per jam. 868 per bulan. Pernah juga kuantar dengan mobil. Pagi-pagi buta Lip berangkat sendirian ke tempat kerja.000 per bulan pada waktu yang sama bedanya teramat jauh. Lip punya sifat tabah ini.000. maka penghasilan kami berdua dalam rupiah menjadi 2x Rp. demi membantu beasiswaku yang kecil. Pada waktu aku pertama kali jadi pegawai negeri bulan Juni 1967 gajiku hanya Rp. 60. 750. Untuk biaya hidup kami sehari-hari Lip tidak pernah kikir menyerahkan sebagian penghasilannya. Cuaca dingin sekali.50 x lima hari kerja per minggu menjadi $140 x 4 =$560 per bulan.194 sebagai baby sitter (pengasuh anak). Pendapatan total per bulan rata-rata dinilai dengan rupiah adalah Rp. Di musim dingin harus berjuang dengan es yang menggumpal. bukan? Tahun 1979. Jika aku tak salah ingat gaji pertama yang diterimanya per hari $3. 419. Kurs ketika itu $1=Rp. Pinto ini kujual kepada teman bengkel kulit . Beasiswaku ya sekitar itu. 838. Tahun 1979 kami sudah berani beli sebuah mobil merek Pinto buatan Ford tahun 1974 dengan harga $900. terakhir dengan keluarga putih (suami Yahudi. isteri Kristen). Bila dijumlah dengan besiswa yang kuterima $560 juga. Dibandingkan dengan pendapatan Lip Rp. Lebih tiga tahun Lip bekerja sebagai pengasuh anak ke tempat yang agak jauh dari rumah kami di lingkungan kampus. Dengan kerja delapan jam per hari. demi menambah beasiswaku. Di musim panas.

Aku merasa sedang mengalami kelahiran kedua dalam pemikiran. begitu juga berpuasa.P. AlQur’an adalah Kitab Suci dengan sebuah benang merah pandangan dunia yang jelas sebagai pedoman dan acuan tertinggi dalam semua hal. (Kredit Perumahan Rakyat) tipe 70 di Nogotirto yang kami tempati sejak tahun Nopember 1985. Sebelum pulang ke tanah air. sebagaimana yang baru saja kujelaskan. kami sempat melalukan ibadah ‘umrah. puasa dengan membayar fidyah. Sudah kututurkan bahwa selama periode Athens tidak banyak yang berubah dalam pola pemikiranku tentang Islam. D. setelah dikaryakan sekitar empat tahun. Islam bagiku adalah sumber moral utama dan pertama. sungguh jauh nian bedanya. Jalan ke luarnya adalah salat dikumpulkan seluruhnya setelah pulang. Chicago II: Setelah Titik Kisar Titik kisar ini berlaku sejak sekitar 1979 sampai selanjutnya di usia tuaku. melaksanakan salat menjadi cukup sulit. Selama bekerja. Aku tidak tahu apakah fiqh mengizinkan dalam kondisi yang serba sulit itu. sekalipun kemudian telah mengalami perombakan setelah rezki agak sedikit mengalir. Bekerja delapan jam per hari kali kali lima hari seminggu. termasuk acuan dalam . Sisa pendapatan dari baby sitter itulah yang kami gunakan untuk membayar uang muka rumah K. Luas tanahnya 230 m2. Cukup fantastik hasilnya. penghasilan isteriku cukup tinggi.195 hitam dengan harga $250. apalagi bila dibandingkan dengan penghasilan di Indonesia. Baru di Chicago perubahan mendasar itu terjadi.R. Bulan-bulan terakhir menjelang pulang pada awal Januari 1983. yaitu lima dolar per jam.

Kelas Rahman tidak pernah terlalu ramai. Ilmu seorang alim ada di tangannya. Entah berapa bahasa asing yang dikuasainya. Kaum santri tinggal ikut saja dengan gagasan mewah itu. kira-kira kualitas pemikiran Islam di Indonesia tentu sudah terbang jauh ke angkasa. sementara kajian orientalis tentang Islam telah lama dikuasainya. Sekiranya Salim sempat pula belajar Islam seperti Rahman.A. Pandangan Maududi dan Said Qutb tentang kaitan Islam dan negara terlalu dominan.D. Keinginan Salim untuk belajar menjadi dokter di negeri Belanda kandas karena ketiadaan beasiswa. Berbagai latar belakang mahasiswa datang menghadiri kuliah- . di Inggris. Bandingannya untuk Indonesia adalah H. Bagiku Rahman dengan segala kelebihan dan kekurangannya adalah seorang pemikir Muslim yang sangat akrab dengan kajian Islam klasik dan modern plus pengetahuannya yang luas tentang tetapi sangat kritikal terhadap dunia modern. sementara Salim mengenal Islam lebih banyak dengan belajar sendiri berkat penguasaan bahasa asing sampai jumlahnya sembilan macam. Karya merekalah yang banyak dijadikan rujukan untuk memperjuangkan tegaknya sebuah negara Islam di Indonesia. Pergumulanku dengan kuliah-kuliah Rahman selama empat tahun telah mempengaruhi sikap hidupku dengan secara sangat mendasar. terutama di kalangan cendekiawan Muslim Indonesia selama lebih 20 tahun. Salim. Rahman belajar secara teratur sampai memperoleh Ph.196 berpolitik. dan tak kunjung selesai. Bedanya. termasuk aku sebelum titik kisar pemikiranku terjadi di Chicago periode kedua. Persoalan hubungan Islam dan negara tidak perlu menguras energi umat Islam Indonesia selama bertahun-tahun.

Kanada. Nurcholish Madjid (Indonesia). Muhammad Rasyid Ridha (Suria). ibarat sumur tanpa dasar. Mungkin baginya. ada Kristen. Malaysia. Muhammad Asad (Austria/Pakistan). Hamka (Indonesia). Iraq. Abou El Fadl (Kuwait). Muhammad Abduh (Mesir). Muhammad Amin Abdullah (Indonesia). Fazlur Rahman (Pakistan). Agus Salim (Indonesia) Malek Bennabi (Aljazair). Kecuali Shah Wali Allah. Ada Shah Wali Allah (India). Ismail al-Faruqi (Palestina/Amerika). Hossein Nasr (Iran). Khaled M. Argumen-argumen Rahman tentang Islam jauh dari sifat menda’wahi. Indonesia. Para pemikir modern Muslim sejak abad ke-18 sampai permulaan abad ke-21 telah datang dan pergi. Iqbal (India/Pakistan). Jamal al-Din al-Afghani (Iran/Afghanistan). Muhammad Al-Naquib al-Attas (Indonesia/Malaysia). Otakku mau tidak mau telah mengalami pencucian: aktivisme tanpa kontemplasi yang mendalam akan bermuara dengan kesia-siaan. dan Hossein Nasr yang . Ada Muslim (sunni dan syi’i). Abdulaziz Sachedina (Iran). Abdullahi Ahmed An-Na’im (Sudan). ada Yahudi. Muhammad Arkoun (Aljazair). Mereka ini telah menghasilkan karya keislaman yang cukup banyak dan bermutu. al-Faruqi. Muhammad Abed Al-Jabiri (Maroko). Ada dari Eropa.197 kuliahnya tentang ilmu-ilmu keislaman. semuanya dengan tekun mengikuti kuliah-kuliahnya yang selalu hangat dan menantang. Bassam Tibi (Suria). Amerika Serikat. Al-Attas. Natsir. jumlah besar tanpa kualitas yang prima lebih merupakan beban sejarah. Saudi. dan dari negara lain. Hamka. kelasik dan modern. Rasyid Ridha. Ahmad Khan (India). dan beberapa nama lagi yang bisa ditambahkan. Dan itulah situasi umat Islam sampai hari ini. Mohammad Natsir (Indonesia).

hukum. kiyai besarnya tentang Islam adalah Rahman sampai dia wafat pada 1988. Mata kuliah yang diasuhnya adalah tentang al-Qur’an. mendalam. Mereka diberi kebebasan penuh untuk mendebat. tetapi rekonstruksi yang lebih utuh untuk Islam masa depan masih perlu dikerjakan lebih lanjut oleh pemikir Muslim yang datang kemudian. Selama belajar di Chicago. modernisme Islam. tegas. dan komprehensif. dan masih ada yang lain. Kita kembali ke ruang kelas Rahman. para pemikir lainnya telah mencoba melakukan dekonstruksi terhadap berbagai aspek pemikiran Islam abad pertengahan itu. Malam hari sebelum kuliah besoknya aku dengan susah payah membaca sajak-sajak Iqbal dalam Bahasa Persi dengan bantuan terjemahan dalam Bahasa Inggris. bahkan selama aku belajar di perguruan tinggi. berarti aku masih berada dalam perahu fundamentalisme yang penuh semangat tetapi sunyi dari pemikiran kontemplatif yang mendalam. Banyak persamaan di antara mereka. Pokoknya di Universitas Chicago. Semua kuliah disampaikan Rahman dengan jelas. I will convert Indonesia into an Islamic state?” Kalau kalimat masih juga kuucapkan. Satu mata kuliah pilihan selama satu kuartal yang mahasiswanya hanyalah aku seorang adalah Readings in Iqbal dengan sumber-sumber Bahasa Inggris dan Bahasa Persi. Terserah kepada mahasiswa untuk menilainya. tasawuf. hanya dalam mata kuliah Iqbal ini nilai . filsafat Islam. aku tidak lagi berucap: “Professor Rahman. kritikal.198 kurang bersikap kritikal terhadap khazanah pemikiran kelasik. teori politik Islam. Tidak ada manfaatnya aku pergi belajar jau-jauh ke rantau asing. Setelah beberapa bulan kuliah dengannya. please give me one fourth of your knowledge of Islam. obyektif.

Lebih satu jam aku diuji oleh sebuah Tim Penguji yang terdiri dari enam guru besar. aku telah mengambil sebanyak 25 mata kuliah dengan nilai: satu A+. Dukungan moral keduanya telah semakin menguatkan batinku dalam menghadapi ujian disertasi sebagai tugas akademik terakhir sebelum aku mengucapkan sayonara kepada almamaterku: the University of Chicago. Iqbal dengan bahasa puisinya tidak bisa ditandingi Rahman yang memang sering mengutip bait-bait puisi itu dalam perkuliahan. Selama kuliah di Chicago. pada saat aku sudah berada di tanah air.15 A. Berdasarkan angka-angka itu. sekalipun . Mungkin memang jawaban ujianku untuk yang satu ini mendekati sempurna. Jadi tidak sia-sia aku belajar sampai larut malam di perpustakaan Regeinstein Universitas Chicago yang cukup melelahkan selama empat tahun empat bulan. Sekalipun disertasi telah kupertahankan pada tanggal 3 Desember 1982. tiga B. dan itu dari Rahman.A.-nya dalam bahasa al-Qur’an itu. lima B+. Nurcholish Madjid dan Salim Said.67. Dalam menghadapi peristiwa penting ini. Tentu aku berhak merasa bangga dengan prestasi akademik semacam ini dalam usiaku menjelang setengah abad. Tetapi dalam membaca realitas umat Islam.P. biasa disingkat U. Lebih baik dari apa yang kudapatkan di Ohio yang hanya 3.K. maka I. Yang aku agak heran. Terlalu banyak yang dihafalnya.C. Untuk disertasi aku juga mendapatkan nilai A. satu A-. aku didampingi oleh dua sahabatku alm. wisuda baru diadakan pada tanggal 10 Juni 1983. yang kuperoleh adalah 3.84. Dengan demikian nilai A menjadi 16. Rahman masih sedikit meragukan tentang kemampuan Bahasa Arab Iqbal.199 A+ kudapatkan. padahal gelar M.

200

kritiknya terhadap Iqbal kadang-kadang cukup keras. Dalam tradisi akademik cara-cara semacam ini rupanya lumrah belaka. Bagaimana dengan gagasan negara Islam? Rahman sendiri masih menggunakan istilah itu dan berpendapat bahwa proyek itu adalah sebuah kemungkinan dengan berbagai syarat yang harus dipenuhi. Di antara syarat itu adalah agar cita-cita al-Qur’an bagi pembentukan sebuah masyarakat yang bermoral dan beretika betul-betul dijadikan tujuan dan pedoman utama. Di luar itu, merek Islam adalah sebuah kemewahan belaka, sementara isinya sarat dengan korupsi dan prilaku elit yang tidak senonoh. Syarat lain yang bisa kutangkap dari Rahman adalah agar seluruh produk teori politik yang pernah berkembang dalam sejarah Islam ditinjau kembali secara cerdas dan kritikal dengan mengambil al-Qur’an dan praktik nabi sebagai rujukan utama. Dengan kata lain, sebuah proses dekonstruksi dan sekaligus rekonstruksi secara radikal dan besar-besaran harus dilakukan. Teori politik Islam yang diciptakan dalam lingkungan budaya imperial dan dinastik harus dibongkar. Tanpa pembongkaran ini, Islam akan menjadi tawanan dari berbagai kepentingan dan intrik politik yang a-moral. Kegagalan umat Islam berurusan dengan kekuatan modernitas tidak boleh lalu lari berlindung dalam kungkungan masa lampau yang diidolakan secara tidak cerdas dan kritikal. Dari perspektif ini, aku gagal memahami upaya segelintir gerakan Islam untuk membangun kembali sistem kekhilafahan yang telah hancur di ujung era Turki Usmani. Bagiku upaya model ini hanya akan menghabiskan tenaga, fikiran, dan dana. Buahnya sudah bisa diperkirakan: kegagalan untuk membangun peradaban Islam yang penuh wibawa

201

sebagai alternatif bagi peradaban sekuler yang zalim dan kering. Bagiku sendiri mungkin karena terikat juga oleh suasana Indonesia, sebutan negara Islam itu tidak diperlukan lagi. Tetapi bahwa moral Islam harus menyinari masyarakat luas adalah sebuah keniscayaan, jika memang Indonesia ingin menjadi sebuah negeri yang adil dan makmur. Ada pun perangkat hukum-hukum Islam dapat dikawinkan dengan sistem hukum nasional melalui proses demokratisasi. Ungkapan Hatta yang kirakira berbunyi: ”Janganlah gunakan filsafat gincu, tampak tetapi tak terasa; pakailah filsafat garam, tak tampak tetapi terasa,” sering kukutip untuk menjelaskan posisiku dalam masalah hubungan Islam dan negara. Oleh sebab itu, Pancasila yang sudah disepakati itu harus membukakan pintu seluas-luasnya bagi masuknya sinar wahyu, sehingga tuduhan bahwa Indonesia yang berdasarkan Pancasila tidak berbeda dengan negara sekuler akan dapat ditangkal. Pancasila yang hanya dimuliakan dalam kata, tetapi dikhianati dalam laku, hanyalah akan memperpanjang derita bangsa ini, sementara tujuan kemerdekaan berupa tegaknya sebuah masyarakat adil dan makmur akan semakin menjauh juga. Dengan cara ini, masalah hubungan Islam dan negara yang masih mengundang kontroversi akan dapat dikurangi dan ditiadakan. Setelah 60 tahun merdeka, sebagian orang belum mau berpikir ke arah yang kuusulkan ini. Masih saja misalnya muncul kelompokkelompok kecil radikal yang bercita-cita untuk mendirikan sebuah negara Islam di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Bagiku cara berfikir semacam ini bukan saja usang dan tidak realistik, tetapi merupakan sebuah

202

halusinasi politik yang sia-sia. Selama empat tahun lebih di Chicago, perkisaran cara berpikirku ini sungguh terasa sekali. Bahwa aku pernah dituduh sebagai antek kaum orientalis, biarlah tuduhan itu diteriakkan terus, sikap moral yang kubuktikan selama ini akan menjelaskan di mana sebenarnya posisiku dalam soal bernegara ini. Aku lebih mementingkan substansi yang memberi solusi terhadap masalah kemasyarakatan dan kemanusiaan, bukan merek luar dengan isi yang penuh borok politik. Aku sudah lama kehilangan kepercayaan kepada kelompok-kelompok radikal yang sesungguhnya sangat haus kekuasaan itu. Amat disayangkan, pada abad modern belum ada satu contoh pun tentang negara Islam yang dapat dijadikan teladan. Semuanya bermasalah. Islam malah sering digunakan untuk tangga mendapatkan keuntungan duniawi. Dalam ungkapan lain, nama Tuhan sering dibajak untuk tujuan-tujuan rendah. Aku tidak rela dan bahkan berontak melihat kenyataan buruk semacam ini. Aku tidak mau lagi menyaksikan bilamana Islam dijadikan “barang dagangan” dengan harga murah. Islam adalah pedoman hidup maha sempurna. Aku melihat proyek negara Islam yang diawali abad ke-20 tidak satu pun yang berdasarkan hasil penelitian komprehensif dan mendalam dengan menyiginya di bawah cahaya alQur’an dengan konsep syuranya yang menempatkan manusia pada posisi setara dan sejajar. Jika upaya serba radikal ini gagal, dan memang tidak punya syarat untuk berhasil, maka sebab utamanya adalah karena sebuah gagasan besar dikerjakan oleh otak-otak kecil yang lebih banyak dikuasai oleh emosi, bukan oleh kekuatan penalaran yang mantap secara teori. Ada mereka bangun semacam teori, tetapi belum

203

berangkat dari pemahaman al-Qur’an dan sunnah nabi secara autentik. Suasana dunia Islam yang terjepit telah dijadikan dasar tak langsung dari teori yang coba dibangun itu. Hasil akhirnya pasti akan kacau balau karena suasana batin yang marah menghadapi realitas telah dijadikan pangkal tolak dalam membangun teori. Pasti akan sia-sia. Sekalipun aku sendiri belum melahirkan sebuah teori yang utuh tentang hubungan Islam dan negara, setidak-tidaknya aku telah merintis kerja ke arah itu dalam beberapa buku yang telah kuhasilkan. Beberapa orang telah menulis tentang beberapa aspek pemikiranku untuk skripsi, tesis, dan bahkan kabarnya juga disertasi. Nguyen Canh Toan dari departemen luar negeri Vietnam yang belajar pada Universitas Gadjah Mada telah menulis tesis tentang padanganku mengenai pluralisme budaya dan agama selama aku menjadi Ketua P.P. Muhammadiyah (1998-2005). Mungkin saja hasil pemikiranku ini baru berupa fragmen-fragmen, tetapi telah mulai menarik minat orang untuk mengkajinya. Titik kisar dalam pemikiranku tentang Islam tidak hanya bertalian dengan teori kekuasaan. Masalah toleransi inter dan antar agama, juga mendapat porsi yang penting setelah aku “dibasuh” di Chicago. Sementara keyakinanku kepada Islam Qur’ani (jika ungkapan ini boleh kugunakan) semakin kuat dan utuh, sikap toleransiku terhadap pemeluk agama dan keyakinan lain juga semakin mendasar. Bukan saja terhadap pemeluk agama lain, aku pun bisa hidup berdampingan dengan seorang yang mengaku sebagai ateis. Syaratnya tentu saja agar masing-masing pihak saling menghormati secara tulus dan siap untuk hidup berdampingan secara damai di muka bumi ini di atas

204

dasar formula: “Bersaudara dalam perbedaan, dan berbeda dalam persaudaraan.” Prinsip ini telah kupasarkan dalam berbagai forum pertemuan dengan rasa kepercayaan diri yang sangat tinggi. Teman-teman lintas agama sangat akrab denganku, karena sikap dasarku dibangun di atas formula itu. Dengan formula ini, imanku rasanya tidak semakin lemah, malah semakin kokoh, sementara hubungan persaudaraan dengan siapa pun dapat terjalin secara bebas dan bermartabat. Kalau aku mengatakan bahwa Islam merupakan pilihanku yang terbaik dan terakhir, hak sama harus pula diberikan secara penuh kepada siapa saja yang mempunyai keyakinan selain itu. Semuanya ini kulakukan berdasarkan pemahamanku terhadap ayat-ayat al-Qur’an dalam surat al-Baqarah: 256, surat Yunus: 99, dan masih ada beberapa ayat lagi. Bagiku planet bumi ini bukan hanya untuk pemeluk Islam, tetapi untuk semua, apakah mereka beriman atau pun tidak. Semuanya punya hak yang sama untuk hdup dan memanfaatkan kekayaan bumi ini di atas dasar keadilan dan toleransi. Tak seorang pun punya hak monopoli atas bumi ini. Oleh sebab itu umat Islam semestinya secara aktif mengembangkan budaya toleransi ini dengan syarat pihak lain pun berbuat serupa. Jika ada gerakan agama atau politik yang ingin mengusir pihak lain dari muka bumi, maka mereka adalah musuh peradaban dan kemanusiaan yang harus dilawan. Ada pun sebagian besar pemeluk Islam telah kalah dalam persaingan dalam memanfaatkan isi bumi, itu semata-mata karena kelalaian mereka yang tidak mau belajar bagaimana memenangkan kompetisi. Dalam ungkapan lain, mereka yang selalu menyalahkan pihak lain manakala kalah dalam perlombaan, maka itulah

205

mereka yang tak mau belajar secara sungguh-sungguh untuk menang. Sudah berulang kali kusampaikan agar umat Islam tidak hanya pandai mengarahkan telunjuknya kepada pihak lain, tetapi harus lebih sering telunjuk itu dihadapkan kepada diri sendiri. Tengok diri secara berani pada kaca kehidupan dan kemudian simpulkan apa yang salah pada diri kita: kalah berkepanjangan selama berabad-abad! Tanpa perubahan sikap yang nendasar dalam masalah ini, masih akan panjang waktu yang diperlukan sampai umat Islam mau berkaca diri secara jujur, sungguh-sungguh, dan cerdas. Jangan harapkan pihak lain akan menolong kita, jika kita tidak siap menolong diri sendiri. Barangkali saja usiaku yang menjelang malam ini tidak akan punya kesempatan lagi untuk menyaksikan kebangkitan peradaban Islam yang autentik, toleran, dan berkualitas tinggi. Tetapi setidak-tidaknya aku dengan bekal dari “pesantren” Chicago tidak pernah tinggal diam dalam menyuarakan pemikiran-pemikiran terobosan, sekalipun nilainya belum seberapa dikaitkan dengan harapan yang teramat besar untuk sebuah perubahan yang fundamental dengan al-Qur’an sebagai hakim yang tertinggi. Dalam pemahamanku terhadap syura (mutual consultation), sistem politik demokrasi rasanya lebih sesuai untuk dilaksanakan dalam konteks modern. Demokrasi tidak harus bercorak Barat. Aspek-aspek sekuler dari sistem ini dapat saja disingkirkan, sehingga tidak ada alasan bagi umat Islam untuk menolaknya. Kita ambil contoh, sebutlah misalnya parlemen sebuah negara menghalalkan judi karena didukung oleh lebih 50% anggotanya. Dalam sistem demokrasi Barat, judi dengan demikian menjadi halal. Dalam sistem politik syura, hal

206

itu tidak mungkin berlaku, sekalipun didukung oleh 100% anggota parlemen sebagai perumus dan pembuat undang-undang. Dalam sistem syura, di atas parlemen ada ketentuan agama yang tidak boleh dilanggar dengan alasan apa pun, kecuali dalam kondisi yang sangat darurat. Seperti bolehnya memakan daging babi dalam kondisi terpaksa, demi mempertahankan hidup seseorang. Dalam kondisi normal, memakan daging babi adalah haram mutlak, sekalipun misalnya parlemen membolehkannya. Mengapa demokrasi lebih ditekankan? Karena sistem ini menempatkan manusia pada posisi sama dalam proses pengambilan keputusan untuk kepentingan bersama. Di sini doktrin egalitarian mendapatkan tempatnya secara wajar, sementara dalam sistem kerajaan yang masih berlaku pada beberapa negara Muslim, rakyat tidak punya hak untuk berkuasa. Pada waktu membahas konsep “daulat rakyat” dan “daulat tuanku” sebelumnya aku sudah menyinggung masalah ini. Dengan demikian di mana posisiku dalam masalah sistem politik ini sudah sangat jelas, tidak perlu diperpanjang lagi, kecuali dalam konteks yang sangat memerlukan. Tetapi jika aku berbicara tentang demokrasi, hendaklah dibaca dalam konsep “demokrasi yang berkeadilan.” Tanpa keadilan, sistem politik mana pun tidak lebih dari panggung sandiwara yang mengatasnamakan rakyat. Banyak contoh sudah dalam sejarah, demokrasi hanya dipakai sebagai kedok untuk keuntungan pribadi dan kelompok. Jika ini yang berlaku, maka kesimpulan kita adalah bahwa orang telah berkhianat dengan topeng demokrasi. Perkembangan pemikiran lain akibat Chicago adalah tentang posisi perempuan dalam politik. Bagiku tidak ada masalah dan halangan seorang perempuan

Tidak saja pada masa kelasik. Seorang Muslim laki-laki dan perempuan yang bertaqwa dijamin ayat ini untuk meraih kemuliaan di sisi Allah. di era modern pun masih cukup banyak ulama dan sarjana Muslim yang menolak perempuan untuk jadi pemimpin dengan berbagai alasan. Pendapatku ini sudah tentu bertabrakan dengan pendapat sebagian ulama yang masih terikat dengan warisan kelasik. Tafsiran mana yang mendekati kebenaran. Aku setidak-tidaknya sejak seperempat abad yang lalu telah mengemukakan pendapat ini.207 dipilih jadi bupati. Posisi pemimpin formal (laki-laki dan . Tentu tidak asal perempuan. Syarat lain yang harus dipenuhi adalah izin suaminya. dan akan lebih baik pasca usia 40 tahun pada saat ia telah lebih longgar untuk berkiprah di bidang politik. Pendapatku tentang masalah kepemimpinan perempuan ini berangkat dari diktum al-Qur’an tentang terbukanya pintu kemuliaan di sisi Allah buat mereka yang paling taqwa. surat al-Hujurat: 13 dan ayat-ayat lain yang saling mendukung). bermoral. Dengan demikian perhatian untuk membela rakyat menjadi terbuka lebar. Tetapi biarlah wacana semacam ini berkembang terus karena masing-masing pihak punya alasan dari sudut agama dan kemaslahatan rakyat. asal diperjuangkan dengan sungguhsungguh. Rintangan-rintangan alamiah sebagai risiko menjadi perempuan sudah sangat berkurang. laki-laki mau pun perempuan (lih. dan bahkan presiden. biarlah perkembangan masyarakat yang akan menilai. sekiranya ia masih bersuami. gubernur. Harus dicari untuk dipilih pribadi yang benar-benar punya kemampuan prima. sesuatu yang tabu dalam khazanah kelasik Islam. sementara Rahman sendiri tidak terlalu banyak berbicara tentang masalah krusial ini.

monogami atau poligami. Memang dalam . Pendapat klasik yang tidak didukung Kitab Suci ini harus dibongkar dan diganti dengan teori yang lebih adil terhadap perempuan. Pemimpin laki-laki atau perempuan yang adil haruslah memenuhi kriteria yang elementer tetapi cukup mendasar ini. Tidak lagi dimainkan oleh ketentuan fiqh yang pada umumnya ditulis oleh laki-laki. Poligami dibuka pada saat-saat yang sangat terpaksa dengan syarat-syarat yang berat. dengan pendapat ini telah memperoleh hak-haknya yang sejati. Dengan pemikiran semacam ini aku ingin melihat dunia ini tanpa diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. Dalam masalah ini. keadilan gender harus ditegakkan secara proporsional. Kaum perempuan yang merasa tertindas selama berabad-abad.208 perempuan) akan menjadi mulia di mata rakyat jika ia bertaqwa dengan menegakkan keadilan dan siap bekerja keras untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bersama tanpa pilih kasih. pendapat Rahman cukup dominan dalam mempengaruhi pendirianku. tidak terkecuali di dunia Islam. kasus Aceh adalah contoh yang menarik. Sebaliknya zalim adalah meletakkan sesuatu pada tempat yang salah. di mana kaum perempuan pernah menduduki posisi puncak dalam militer dan pemerintahan. Jadi telah ada contoh empirik untuk kemudian kita bangunkan teorinya berdasarkan pemahaman yang benar dan cerdas terhadap al-Qur’an. Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya yang tepat. Dalam wacana modern. Pokoknya sistem perkawinan yang benar menurut al-Qur’an adalah monogami. Sebenarnya dalam sejarah nusantara. Masih terkait dengan masalah perempuan ini adalah mengenai sistem perkawinan.

Tidak ada kaitannya dengan sistem Barat yang lebih banyak hipokritnya. Pendapat ini jelas bersikap tidak adil terhadap perempuan. sekalipun sang suami ingin sekali berbuat adil. sekalipun aku tidak melakukannya karena memang tidak mungkin dan karena trauma Lip yang menderita karena ibunya dimadu. Memang di Arabia sebelum dan pada masa awal Islam. aku berada dalam biduk yang sama dengan para ulama yang pro-poligami. maka aku menyimpulkan bahwa perkawinan dalam Islam adalah monogami. Tetapi kesan itu akan berguguran dengan menghubungkan pernyataan kebolehan itu dengan ayat 129 pada surat yang sama. Sebelum berangkat ke Chicago. Kalau ayat tiga mensyaratkan berlaku adil terhadap isteri-isteri.209 surat al-Nisa: 3 terkesan selintas kebolehkan beristeri lebih dari satu. sistem perkawinan dalam Islam haruslah menuju kepada sistem isteri tunggal dengan catatan kaki seperti di atas. ayat 129 menegaskan bahwa keadilan itu tidak mungkin. sedangkan pintu poligami tertutup rapat kecuali dalam kasus-kasus yang sangat darurat. kecuali bagi yang tidak mau. tetapi bini tak resmi berkeliaran di mana-mana. seakan-akan laki-laki sudah ditakdirkan bersifat polygamous dan perempuan monogamous. Maka di sini berlaku hukum evolusi: secara berangsur tetapi pasti. Jangan dibalik: sistem perkawinan dalam Islam pada dasarnya adalah poligami. Tidak mungkin diubah dalam sekejap mata. Seks bebas telah menghancurkan sistem famili dan pasti akan . Dengan memadukan kedua ayat ini. Pendapatku tentang sistem monogami sudah final berdasarkan pemahamanku terhadap dua ayat dalam surat al-Nisa di atas. Isteri satu. praktik poligami itu sangat merebak.

Di Barat sekarang konsep single parent (orang tua tunggal) bukan lagi suatu yang ditutupi. tidak berkepingkeping. Bagaimana pendapatku tentang tragedi ini. baiklah kuturunkan kolomku dengan judul “Mengapa Sunisme. halaman 12 dengan sedikit modifikasi. Aspek pemikiranku yang lain berkaitan aliran-aliran dan firqah-firqah yang marak dalam sejarah umat Islam pada umumnya berpangkal dari konflik politik berdarah yang terjadi antara Ali dan Mu’awiyah dalam Perang Shiffin pada 37 H/657 M dan kemudian diikuti oleh Tahkim di Daumat al-Jandal yang menghebohkan itu. Syai’i. umat Islam tunggal. pada masa nabi Muhammad. praktik seks bebas ini juga mulai menggejala. sehingga seks bebas. Sepanjang pengetahuan saya. Apa yang disebut anak hasil kumpul kebo sudah hampir merata di Barat. sesuatu yang bila tidak dihentikan. struktur keluarga lambat atau cepat akan berantakan. mayoritas penduduk Indonesia secara statistik sebagai pemeluk Islam dengan Pancasila sebagai dasar negara.210 berakibat destruktif bagi perjalanan peradaban manusia jangka panjang. 22 Maret 2005. dan Khawarij . Ironisnya lagi. Atau bapaknya diketahui tetapi telah berpisah dengan ibunya. terang-terangan atau secara sembunyi harus distop dan tidak dibiarkan meracuni generasi yang baru muncul yang masih relatif bersih. Konsep ini menunjukkan bahwa si anak hanya mengenal ibunya. Syi’isme Masih Juga Diberhalakan?” yang dimuat dalam Republika. Kabarnya di kota-kota besar Indonesia. Munculnya kelompok Suni. Sila pertama Ketuhanan yang maha esa semestinya dijadikan panduan moral dalam kehidupan bermasyarakat. sementara bapaknya entah siapa.

Kelompok inilah yang kemudian merencanakan makar terhadap Mu’awiyah. Pertanyaannya adalah: mengapa umat Islam yang datang kemudian mau pula turut berkubang dalam sengketa yang dipicu oleh persoalan kekuasaan itu? Di mana kita mendudukkan al-Qur’an sebagai al-Furqan (kriterium pembeda antara benar dan salah)? Sebagian pendukung Ali yang menentang perundingan itu marah besar kepada Ali yang dinilai terlalu lemah menghadapi lawan. Ali. Ketua perunding dari pihak Ali yang dipimpin oleh Abu Musa al-Asy’ari dikalahkan secara telak oleh kepiawaian “Amr ibn al-‘Ash sebagai pendukung setia Mu’awiyah. terhadap kedua sumber ajaran pokok Islam itu. Al-Qur’an dan nabi yang kemudian dibawabawa dalam sengketa politik ini jelas merupakan penghinaan dan sekaligus pengkhianatan. dan Ibn al-‘Ash yang mereka percayai sebagai pemicu perpecahan umat. Perbelahan yang kita warisi sampai hari ini berasal dari pertikaian politik di antara puak-puak Arab di atas. sedangkan dua yang lain selamat. Sempalan dari Ali ini dikenal dalam sejarah dengan sebutan khawarij (yang memisahkan diri). sadar atau tidak sadar. Dengan terbunuhnya Ali. maka lapanglah jalan bagi Mu’awiyah untuk menjadi penguasa pasca al- . padahal kemenangan sudah hampir di tangan.211 baru seperempat abad setelah wafatnya nabi. Hanya Ali yang berhasil dibunuh oleh Ibn Muljam pada tahun 661 M di Kufah. Kelahiran mereka adalah akibat tahkim (perundingan) di Daumat alJandal pada 657 antara kelompok Ali dan kelompok Mu’awiyah untuk mengakhiri Parang Shiffin yang berdarah-darah dan membuahkan perpecahan itu.

Perpecahan yang terjadi akibat Perang Shiffin dan Perundingan Daumat al-Jandal ternyata berdampak sangat jauh dan dalam bagi bangunan persaudaraan umat yang kemudian terbelah menjadi tiga: Suni (golongan terbesar) yang umumnya berpihak kepada pemenang. Tinggal lagi bagaimana kita menyikapi kejadiankejadian tragis itu dengan penuh kearifan. sekalipun bukan mustahil. dan Khawarij. Dengan kata lain.212 Khulafa al-Rasyidun. isteri nabi. politik ternyata dapat menyeret manusia ke jurang perpecahan dan peperangan. Tak seorang pun. sebab ‘Aisyah tidak dikurniai keturunan. Fathimah. Perang saudara ini adalah yang kedua sepeninggal nabi. Yang pertama adalah Perang Jamal antara ‘Aisyah dan Ali. Ini fakta keras sejarah yang tak seorang pun dapat menutup dan membantahnya. sesuatu yang sudah lama diincarnya. tidak terkecuali para sahabat nabi yang mulia ini. Anda bisa bayangkan bahwa yang berperang adalah ‘Aisyah. dengan syarat al-Qur’an dijadikan pedoman dan acuan utama dan pertama dalam merumuskansetiap langkah duniawi kita. puteri nabi bersama Khadijah. yang anti terhadap keduanya. sesuatu yang tidak selalu mudah. pembela Ali. dan Ali. sekalipun isteri Ali. yang dimenangkan pihak Ali. Syi’i. bukan? Tetapi kita harus senantiasa ingat bahwa mereka adalah manusia biasa yang tidak kebal dari kesalahan. Siapa yang meragukan kualitas iman mereka ini semua. al-Qur’an menjadi tidak relevan untuk memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan . sepupu dan menantu nabi. Jika tidak demikian.

Afghanistan. mengapa luka-luka lama itu diungkit-ungkit juga.” 15 15 (Lih. al-Furqan: 30). Timbul pertanyaan. Selama jubah-jubah itu tetap saja disandang. . seperti yang berlaku berabad-abad. Inilah realitas kita yang tidak perlu diingkarai. Saya ingin mereka bersedia mendekati al. kecuali jika kita memang mau membuang alQur’an ke dalam limbo sejarah dan digantikan oleh “Islam” dalam jubah sunisme.Qur’an dengan melepaskan jubah-jubah politik dan teologi sebagai ekor Perang Shiffin yang membawa malapetaka panjang itu. tragedy berdarah yang tak kunjung usai jua. tetapi harus dihadapi dengan jiwa besar dan sabar. saya amat khawatir keluhan rasul kepada Allah sedang dialamatkan kepada dunia Islam sekarang ini. sesungguhnya kaumku telah menyebabkan al-Qur’an ini ditelantarkan. Bukankah semua ini adalah berhala politik yang tidak layak diteruskan. dan di mana lagi. “Dan mengeluh [aslinya berkata] rasul: Ya Tuhanku. dan isme apa lagi.213 kita yang selalu timbul dan berkembang sepanjang zaman. sebab itu hanyalah akan menambah beban psikologis umat yang sedang kalah ini? Jawabannya sederhana saja: bagaimana mau menutupinya karena luka itu masih tetap saja memancarkan darah segar dari tubuh umat ini di berbagai belahan dunia: Iraq. al-Qur’an s. Palestina. jika memang kita mengaku setia kepada al-Qur’an? Semangat di atas pernah saya lontarkan di depan forum ulama dan sarjana Suni di Kuala Lumpur dan di depan ulama dan sarjana Syi’ah di Teheran beberapa tahun yang lalu. syi’isme. sambil diupayakan pemecahannya sejujur dan secerdas mungkin.

Oleh sebab itu kebangkitan Islam yang sering disebut-sebut itu tidak harus muncul dari bumi yang berbahasa Arab. tetapi Islam tidak sama dengan Arab. dada lapang. pemahaman seseorang terhadap Kitab Suci belum tentu sama persis. mengapa umat Islam di bagian-bagian lain dunia hanya mengekor saja terhadap apa yang berlaku dalam masyarakat Arab yang sarat dengan konflik dan pertengkaran? Benar. Bagiku. Mereka yang berbahasa Arab belum tentu faham Islam. ialah dengan menggandengkannya dengan al-Qur’an yang dipahami secara jujur. jalan terbaik dan benar untuk mengukur apakah suatu aliran pemikiran bersifat Islam atau bukan. BERKIPRAH MENYONGSONG MASA DEPAN A. Harapan. sekalipun untuk memahami agama secara dalam. perbedaan pemahaman itu tidak akan terlalu jauh. Islam lahir pertama kali di Arabia. Tentu sebagai manusia yang relatif. apalagi saling bertentangan secara tajam. Perkisaran Abad. Sama halnya dengan orang yang berbahasa Indonesia. dan punya ilmu yang memadai. bila kejujuran dan sikap rindu kepada kebenaran yang dikedepankan. dan cerdas (bi al-‘uqul al-shahihah wa al-qulub al-salimah). sekiranya semua pihak memakai pikiran jernih. VII.214 Kalau realitasnya memang demikian. dan Kecemasanku Siapa pun berhak berbicara tentang masalahmasalah besar yang menyangkut hari depan umat . banyak yang bahlul tentang Indonesia. Bagiku tidak ada masalah yang terlalu sulit untuk dipecahkan. Tetapi setidak-tidaknya. penguasaan Bahasa Arab merupakan sesuatu yang mutlak. adil.

khususnya yang terlihat di belahan bumi barat. hlm. No. 8. Yang kita lihat tidak lebih dan tidak kurang selain apa yang diizinkan imajinasi. 1).215 manusia. Ia adalah sebuah alat penunjuk yang dilemparkan ke pantai di gelap malam sementara sungai sejarah mengalir dengan deras. Amerika Serikat. guru besar hukum internasional pada Universitas Princeton. Sub-bagian berikut sebagian kuambil dari kolomku dengan judul “Peradaban di Tengah Harapan dan Kecemasan” (Republika. 14 Juni 2005. Falk menulis: “Kedatangan milenium baru setidak-tidaknya mendorong imajinasi. Berlalunya milenium ini mendorong kutub-kutub harapan [ke arah] yang serba berlawanan: berakhirnya dunia atau bermulanya sebuah tatanan baru. hlm. Dunia memang belum berakhir. Dua tahun sebelum pergantian abad ke-20 ke abad ke-21. Just Commentary. tetapi tatanan baru yang lebih ramah dan manusiawi juga belum tampak bayangannya. betapa pun belum mendalam. tentu tidak terlalu sukar bagiku untuk berbicara tentang topik semacam ini. yang sering berbicara tentang masalah-masalah besar yang tengah menerpa dunia dan kemanusiaan di abad modern atau pasca-modern. 12) dengan perubahan dan tambahan di sanasini. Afghanistan . Sungai sejarah telah mengalir selama tujuh tahun sejak tulisan Falk muncul. 1998. Sebagai orang yang pernah mengajar sejarah peradaban Islam. aku telah agak sering berbicara tentang dunia modern yang terlepas dari jangkar transendental sejak 300-400 tahun yang lalu. Jan. Dalam berbagai tulisanku yang tersebar di media cetak. Adalah Richard Falk.” (Lih. terutama harapan-harapan kita yang terdalam dan kecemasan-kecemasan kita yang mengerikan.

di samping harus menerima pukulan alam berupa gempa dan tsunami yang telah meluluhlantakkan sebagian wilayah republik tercinta ini. keadaannya setali tiga uang. Jika abad pertengahan di Eropa dianggap tidak menghormati martabat manusia demi Tuhan. dan Palestina belum juga merdeka. sebagai bangsa Muslim terbesar di muka bumi. masih belum pula bebas dari berbagai penyakit sosial dan politik yang parah. Gagasan besar tentang Tuhan menjadi tertindas. situasinya terbalik 180 derajat. padahal Presiden Bush pernah mengatakan bahwa tahun 2005 adalah kemerdekaan bagi bangsa Arab yang sudah terlalu lama menderita akibat kekejaman Israel dengan dukungan dari Amerika. Iraq kacau balau. khususnya Amerika Serikat. tetapi laku manusia pada umumnya sudah . Dunia Islam? Apakah ada dunia Islam? Yang ada bangsa-bangsa Muslim yang belum tentu terikat dengan agamanya. Negara-negara maju dengan teknologi super canggih belum juga sadar tentang tanggung jawab globalnya untuk menolong dunia miskin. Dunia Islam masih tetap rentan karena juga belum siuman untuk berbenah diri di bawah tekanan atau rayuan Barat. Indonesia. Tetapi baiklah istilah dunia Islam tetap kita pakai. Alangkah sukarnya menciptakan sebuah dunia yang beradab melalui parameter universal di tengah arus global yang semakin sekuler dan bahkan ateistik. demi manusia. Bahkan yang berlaku adalah dunia miskin masih saja dihisap oleh negara kaya dengan berbagai dalih dan tipu. diawali terutama sejak renaisans. sekalipun prilaku sebagian para elitnya belum tentu mencerminkan ajaran Islam autentik dan sejati.216 berantakan. Memang pengakuan dan penghormatan lahiriah terhadap Tuhan masih tampak di berbagai unit peradaban.

tetapi Langit diundang untuk menyapa bumi kembali. Apakah sebuah keseimbangan baru akan tercipta. P. (Perserikatan BangsaBangsa) telah lama mandul untuk menyetop agresi biadab negara kuat. Membiarkan situasi disikuilibrium (ketidakseimbangan) seperti sekarang. Tuhan memang masih disebut pada koin Amerika misalnya. Tetapi. Salah satu sebabnya adalah kenyataan bahwa masalah internal agama sendiri masih jauh dari suasana damai.B. di mana martabat manusia tetap dalam terhormat. Abad kita sekarang sedang berada di antara jepitan sekularisme ateistik dengan harapan besar manusia untuk kembali mengenal Tuhan. tetapi belum pernah efektif. di mana aku sering juga terlibat.B. apakah Tuhan masih belum juga mau mendengar jeritan mayoritas manusia menderita di tengah-tengah kemewahan kelompok minoritas yang angkuh dan mati rasa? Atau apakah jeritan itu masih . rasanya sudah sangat berat. tetapi perang neo-imperialisme terhadap bangsa-bangsa yang tak berdaya di bawah komando Amerika Serikat tetap saja berlangsung dengan seribu dalih dan retorika murahan. Tokoh-tokoh agama besar telah sering berkumpul di berbagai belahan bumi. Bahkan Tuhan dianggap sebagai penghalang kemajuan dan kebebasan manusia. Abad modern yang semakin jauh dari nilai-nilai moral-transendental terasa semakin gersang dan ganas saja.217 lama tidak menghiraukan-Nya. sementara manusia sekuler modern telah muak terhadap apa yang bernama iman. dalam upaya mencari titik temu untuk merumuskan sumbangan agama terhadap perdamaian. Akankah abad ke-21 yang baru di awal jalan ini menawarkan secercah harapan untuk sebuah dunia yang lebih ramah dan adil? Sulit kita menjawabnya.

Kesimpulannya: fundamentalisme agama yang bernafsu memonopoli kebenaran atas nama Tuhan akan berakibat tidak jauh berbeda dengan sekularisme-ateistik yang telah talak tiga dengan apa yang bernama iman. ada satu yang pasti: dunia tanpa Tuhan adalah dunia yang tanpa rujukan. hampir serupa dengan laku mereka yang telah meelupakan Tuhan. Bumi kehilangan wasit sejati. ambillah pelajaran wahai kamu yang mempunyai penglihatan. tetapi mengapa doktrin ini sering benar dilanggar? Iman di tangan mereka yang berhati sempit pasti akan melahirkan malapetaka.” seru al-Qur’an dalam surat al-Hasyr: ayat 2. Prinsip moral tertinggi menjadi musnah tanpa Tuhan. . Dalam ungkapan lain.218 belum sungguh-sungguh padahal air mata hamba Allah sudah banyak yang kering? Kita pun tidak bisa menjawabnya. semua agama mengajarkan kebaikan dan keutamaan. Sampai berapa lama mereka memperalat Tuhan untuk kepentingan-kepentingan duniawi jangka pendek yang jauh dari suasana yang diajarkan Langit? Secara teoretis. Penglihatan yang tajam inilah yang susah kita dapatkan di lingkungan peradaban yang lebih terpaku dan terpukau oleh kilauan yang serba kulit. Untuk berapa lama? Pertanyaan ini terutama harus dijawab oleh mereka yang mengaku beragama. “Maka. tanpa sapaan Langit. bumi akan tetap diterpa ketidakadilan dan penderitaan panjang. Imajinasi kita dapat menjadi liar. Tetapi menurut apa yang kurenungkan. jika kita mencoba menyahutinya dengan pasti. Kita tidak tahu apa sebenarnya yang ada di balik kesenjangan yang parah ini. lupa hakekat. tempat manusia dan kemanusiaan mangadu mencari keadilan yang autentik.

Jika pikiran itu dinilai sudah usang. namun realitas tidak beranjak juga. untuk menunjukkan bahwa telah terjadi perkembangan penting dari bentuk I. tidak lagi menantang.P. tetapi alangkah kecilnya otak manusia pendukungnya.. 2006)..P. Sampai di mana ujungnya nanti akan sangat tergantung kepada kesehatanku dan tanggapan masyarakat luas terhadap pikiran-pikiran kusampaikan.I. Kegiatan pertamaku setelah pulang adalah mengajar pada Jurusan Sejarah F.I. Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Universitas Negeri Yogyakarta). termasuk aku di dalamnya.P. Fakultas Ilmu Sosial. Harapanku tentunya agar tidak menyusahkan keluarga dan masyarakat sebelum aku sampai ke ujung jalan kehidupan dunia itu. Sajian itu ke itu juga yang mengundang kebosanan.S. Selama dua tahun tempat tinggalku dan keluarga masih berpindahB. kemudian berubah menjadi F. . Yogyakarta (sekarang F.K. ke universitas. Alangkah mulianya tujuan missi ini. syaraf otak pun tidak lagi dapat berfungsi secara prima.S. F.219 Dunia Islam juga belum punya kesadaran yang cerdas tentang missi Islam yang sebenarnya: menebarkan rahmat untuk alam semesta. Kegiatanku di Indonesia Pasca Chicago Kegiatan ini berlangsung sejak aku kembali ke tanah air awal tahun 1983 sampai saat aku menulis bagian ini (Peb.P. aku harus sadar bahwa tidak saja fisik yang sudah melemah.I. Bila itu terjadi.I. karena tidak ada halhal baru yang dilontarkan.S.I.P.I. dengan sendirinya kegiatan kemasyarakatanku akan menyusut.P.K. I. Semuanya sudah berada dalam proses laruik sanjo (larut senja) menuju tempat perhentian terakhir: kuburan. Batin meronta keras.S.

Nitibuana yang berpusat di Kudus.P. Semua pegawai bernasib sama.D. itu adalah bak sarang merpati.I..A.. tetapi itulah yang baru dapat dijangkau secara mencicil oleh seorang pemegang ijazah Ph. Rektor .G. dan bahkan Pancasila. Miskin bukan. Cara ini harus ditempuh. Baru akhir tahun 1985. Tugas ini kupegang selama beberapa tahun.I. Aku diminta sebagai salah seorang tenaga pengajar. agama. Dua perguruan tinggi I.S.N. pemikiran ideologi. Aku yang sudah beroleh Ph. adalah tempatku memberikan kuliah.M.R.I. dan U. tamatan Amerika. Tahun 1986 selama 100 hari aku diminta untuk mengajar studi keislaman di Universitas IOWA.I.220 pindah karena belum punya tempat tinggal permanen. Solusinya adalah aku harus memberi kuliah di perguruan lain. Bung Profesor Ichlasul Amal Achmad.P. dari salah satu universitas terkenal harus puas dengan kondisi kesejahteraan pegawai yang demikian itu. pada suatu ketika sambil bergurau mengatakan bahwa perumahan model K. U. Ada sejarah Islam.A.P. Sedangkan kekayaanku kalau tidak salah hanya tinggal di bawah $22.N.P.N.D. mantan rektor U.R.K.. selain mengemban tugas pokokku di I.R. kami pindah ke rumah permanen di Nogotirto melalui K.. sebab tanpa itu kehidupan kami sekeluarga akan tetap saja tidak berubah seperti sebelum berangkat. Mata kuliah yang kupegang bervariasi. Ya. (Kredit Perumahan Rakyat) dari perusahaan P. negeri atau swasta. membuka program pasca sarjana. untung Lip punya sisa uang dari hasil baby sitter-nya di Chicago. Untuk pembayaran uang muka rumah K.I.T. Tahun 1984 I. teman lama sejak dari DeKalb. sementara gaji sebagai pegawai negeri tidak cukup untuk menghidupi tiga jiwa dengan standar yang sangat sederhana.

Maka aku dan Prof.” . aku dihalangi untuk berangkat tanpa alasan yang jelas. mungkin setua mobil yang pernah kupakai selama kuliah di Chicago dengan merek Pinto buatan Ford. Vembriarto.P. Agak aneh bin ajaib.K. sekalipun S. Barnadib.221 I. Vembriarto tidak dapat berbuat apa-apa untuk mencegah. Atas kebaikan awak bus. Inilah mobil stasiun pertama yang kumiliki di Indonesia pada saat aku sudah menginjak usia 51 tahun. Gaji tidak besar. St.. pickup tua ini diantar ke Nogotirto. Kemudian menjadi kapok ketika mobil berhenti seketika di belakang bus kota. dan berhasil.3. Padahal sewaktu masih di Chicago aku telah membantunya dengan mengopikan buku-buku yang diperlukannya di Indonesia.I. Tetapi pihak IOWA memotong rintangan itu melalui Jakarta. aku tidak mau tinggal diam. Dijawab: “Itu antara lain. Rektor harus kudatangi untuk menanyakan apa pasal penahanan kenaikan pangkatku. Pengalaman lain dengan Vembriarto adalah menahan proses kenaikan pangkatku selama beberapa bulan. Suasana politik di kampus sewaktu Daud Jusuf menjadi menteri pendidikan memang cukup tegang dan panas. Sejak itu ibu Hafiz tak mau lagi pegang stir. “Mungkin pak rektor berbuat begini karena saya tak mau pakai pakaian seragam”. Pulang dari sana ada sisa uang yang kubelikan sebuah pickup Suzuki yang sudah tua.M. yang pada waktu itu baru sampai pada tahap penandatanganan D. kala itu adalah mendiang Drs. Terjadi dialog.P. sama-sama berangkat ke universitas yang sama. tetapi jauh lebih baik dari pendapatanku di Indonesia.I. (Surat Izin Mengemudi) diurus juga. Sebagai seorang yang dilahirkan merdeka. mantan rektor I.K.I. Isteriku Nurkhalifah pernah juga memakai pickup ini untuk mengantarkan Hafiz ke sekolah ketika aku tidak di Jogja.P.

Sejak tahun 1985 atas dorongan M. Sebelumnya sewaktu bekerja pada majalah Suara Muhammadiyah aku pun pernah menjadi anggota Majelis Pustaka P. Aku jelas bangga karena tidak hanyut dalam budaya yang serba menyerah di bawah payung sistem politik negara yang otoritarian di era Orde Baru.I. A. Rais.A.” Hanya dalam tenggang waktu dua-tiga hari semuanya menjadi beres. Sebagai alumnus Madrasah Mu’allimin. Majelis Pustaka ini kurang aktif dalam menjalankan kegiatannya. Basuni. Jl. “Mohon D.A. Dalam berkiprah pada Majelis Tabligh ini aku mulai berkunjung ke daerah-daerah. Majelis pimpinan M. Setelah didatangi dengan sikap percaya diri.P.P.P.P. Aku sekalipun pernah menjadi anak panah Muhammadiyah yang dikirim ke Lombok. yang tetap menjaga kemerdekaan di tengah-tengah tekanan politik untuk serba seragam selama berada di kampus. Muhammadiyah pimpinan H. Jogjakarta.K.P. Aku adalah di antara sedikit dosen I. paham kelakuanku ini. tampaknya perlu menyegarkan diri kembali dengan memasuki majelis yang menjadi ujung tombak P. Muhammadiyah yang dipimpinnya. tentu tidak sulit bagiku untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan tabligh ini.P.222 Peluang ini kumanfaatkan untuk memberi tekanan kepadanya.3 saya ditandatangani secepatnya. K. . Muhammadiyah ini. yang sekaligus pimpinan majalah. yang lama. B.A. Kegiatan lain adalah di Muhammadiyah. semua keangkuhan itu menjadi berguguran.I.P. Ternyata manusia ini begitubegitu saja. Amat rajin majelis ini mengadakan rapat reguler saban minggu di kantor P. Berlagak seperti orang yang tak dapat disentuh.H. Semua orang di I.K. aku diminta aktif sebagai anggota Majelis Tabligh P.A. Dahlan 99.

Seakan-akan majelis ini adalah P. penerbitan pun digalakkan. A. Teman-teman P. Ini terbukti dalam Muktamar ke-42 tahun 1990 di Jogjakarta.R. karena tokh fungsi bendahara sehari-hari dapat dijalankan oleh bagian keuangan. (Universiti Kebangsaan Malaysia). Di samping Rais.P. dalam P. tokoh yang paling lama memimpin Muhammadiyah.K.. Pengalamanku dalam soal ini adalah nol.P.P. karena memang belum terlalu dikenal pada tingkat akar rumput. Fachruddin. Rupanya posisi ini diberikan kepadaku. tidak terlalu tergantung pada bendahara P. Yang lain mengikuti. Muhammadiyah. Sekalipun berada pada angka 12. sedangkan aku seumur hidup belum pernah terlibat dalam urusan keuangan organisasi. Posisi 13 diisi oleh A. tidak saja secara lisan. Angka 12 yang jatuh atas diriku sesungguhnya tidak terlalu mengherankan karena beberapa bulan sebelum muktamar aku sudah bertolak ke Malaysia menjadi dosen tamu pada U. Watik Pratiknya juga merupakan motor dari majelis ini.223 Rais ini sangat aktif dalam menjalankan missi da’wahnya. aku sudah masuk ke dalam jajaran P.P. aku menempati nomor buntut kedua dari bawah. 1990-1992. Akibat aku tidak bisa aktif sebagai anggota P. sebuah posisi yang tidak selalu mudah dimasuki oleh kader persyarikatan. posisi bendahara diberikan kepadaku.P. Posisiku dalam Muhammadiyah belum begitu kuat.P. Dr. yaitu 12.M. Maka jadilah aku sebagai bendahara simbol sampai kembali dari Malaysia. cukup baik dengan mengizinkanku untuk tidak bertugas . Nama Rais melambung melalui Majelis Tabligh ini. kemudian tidak bersedia lagi jadi ketua. Suasana kerja dengan demikian menjadi sangat hidup dan menggairahkan.

kutipan di bawah tentang hasil perolehan suara perlu diturunkan sebagai berikut: Ahmad Azhar Basyir (997). seperti yang dituntunkan al-Qur’an (lih.224 aktif. s. Mengapa kita sulit sekali menyesuaikan langkah dengan perintah al-Qur’an? Dalam masalah ini. Dan Tuhan pun menurut perasaanku tidak suka bahkan benci dengan cara-cara demikian itu. Prodjokusumo (638). Angka-angka ini sekaligus menunjukkan bahwa aku. nama Lukman Harun dan Djazman al-Kindi yang juga berseberangan tidak muncul. Bagiku. yang lain.P. Muktamar Jogja karena ada gesekan-gesekan internal ini menjadi panas. Untuk lebih memberi gambaran tentang konfigurasi kepemimpinan Muhammadiyah sebagai hasil Muktamar Jogja. A. Ismail Suny (890). Sutrisno Muhdam (830). Rosjad Sholeh (748). S. Fahmy Chatib (701). selesaikan melalui mekanisme musyawarah. Kasus semacam ini pernah juga berlaku pada teman-teman P. Ali ‘Imran: 159. itu. sebuah sikap yang kemudian aku koreksi secara total. Djarnawi Hadikusumo (676). Dalam daftar di atas. Aku pada waktu itu masih partisan. belum begitu berakar dalam Muhammadiyah. Abdurrozak Fachruddin (516). s.P. dalam organisasi seperti Muhammadiyah. Ramli Thaha (671). Ahmad Syafii Maarif (557). Rusjdi Hamka (774). Para pemilih kadang-kadang cukup jeli dalam menentukan siapa yang seharusnya menjadi anggota P. sebab jika ada perbedaan. seperti tersebut di atas. budaya saling menjegal sesama teman adalah a-moral. al-Syura: 38). M. Ahmad Watik Pratiknya (655). kader . Sama sekali tidak sehat. Amien Rais (993). sekalipun alumnus Madrasah Mu’allimin. Ini ditambah lagi dengan keberangkatanku ke Malaysia.

I. Imaduddin Abdul Rahim. Yang lain di samping sebagai anggota P. selama itu pulalah aku tidak menunaikan amanah secara langsung sebagai bendahara. dengan tetap menerima gaji bulanan. Wakil Ketua: Ismail Suny. Sekalipun suasana muktamar pernah memanas. tanpa berfikir panjang dan dalam. Ir. Maka dimulailah proses pengurusan izin dari I. memerlukan tenaga dosen dari Indonesia dengan kualifikasi Ph. Wakil Ketua: M. Ijazahku dari Chicago memang dalam bidang itu.M. Semoga Allah memaafkan.P.P. termasuk menekan kontrak untuk dua tahun.K. Yogya dan proses pelamaran untuk U.K..P.. Rapat anggota P.225 Muhammadiyah belum tentu selalu setia kepada Kitab Suci ini. Prodjokusumo dan Ahmad Syafii Maarif. Amien Rais. sebagai berikut: Ketua: Ahmad Azhar Basjir. tujuan utama tercapai juga. Dua tahun aku bertugas di U. tokoh pergerakan Islam yang bersahabat dekat dengan Anwar Ibrahim. Jika aku tidak berangkat ke Malaysia.M.K.P. Statusku tetap sebagai dosen I. sekalipun dengan persetujuan P. Proses keberangkatan ke Malaysia dimulai dari informasi Dr.K..P. terpilih kemudian menetapkan pengurus harian P. Bang Imad memberi tahukan bahwa U..M.P. ikut-ikut teman. Semua proses ini relatif berjalan lancar. Sekretaris: Ahmad Watik Pratiknya dan Ramli Thaha. juga merangkap ketua bidang. Rosjad Sholeh karena kesibukannya di Departemen Agama. tentu aku akan ditempatkan pada jabatan yang lebih sesuai. tetapi tanpa tunjangan . bukan dengan status cuti di luar tanggungan negara. dalam kajian Islam.I. Bendahara: S. kecuali A. Aku kemudian benar-benar menyadari ketelodoranku karena pernah menjadi partisan.D.K.

maka gaji yang diterima di U. berakhir.M. sementara ongkos hidup harian tidak banyak perbedaan. untuk kembali ke lembaga asal bukan main sulitnya.A. sebab jika statusku bertugas di luar tanggungan negara. terlalu berbaik hati. Dengan pertimbangan bahwa sewaktu berangkat pangkatku di I.226 fungsional. Hafiz malah mengalami kemunduran dalam pelajarannya.M.I. Setelah setahun belajar di S.K. karena berbagai pertimbangan.K.P.A. yaitu sekitar empat kali lipat ketika itu. Tinggallah aku dan Lip yang menetap sementara di Malaysia.A. maka setelah pulang sebagian gaji kuserahkan kepada karyawan fakultas sebagai tanda terima kasihku kepada lembaga yang telah mengizinkanku untuk bertugas di luar negeri selama dua tahun. Semula kami berangkat tiga beranak: aku.I.M. Vembriarto pada waktu itu sudah bukan rektor lagi. sebab pendapatan di U. Hafiz kembali ke Jogja. Indonesia.. 8 Jogja sampai rampung. Karena I.K. Maka mulailah aku menabung sebagai persiapan untuk hidup di Indonesia selanjutnya setelah tugas di U. anak kami satu-satunya. aku ditugaskan negara untuk memberi kuliah di Malaysia. Ini bagiku menguntungkan. Allah yang maha penyayang ternyata masih memudahkan jalan hidupku.K. Tidak masalah bagiku. disesuaikan dengan kepangkatanku di tanah air. Pasti berliku-liku. Indonesia di Kuala Lumpur. setahun setelah Hafiz memisahkan diri untuk meneruskan pelajarannya di S.M. Lip. Dengan kata lain.P.M. Ini memang menurut peraturan yang berlaku di sana. Teknis tranportasi dari Kajang ke .I. dan Hafiz.K. belum guru besar.M.P. Teman-teman kampus pun tidak ada yang mencoba menghalangi.K. Selama belajar di S. jauh lebih besar dari yang kuterima dari I.

Ada catatan penting yang perlu kurekamkan sebelum masa kontrakku di U. Abu Bakar dari jurusan Ushuluddin U.K. Watik menelponku dari Jogja untuk dijadikan sebagai salah seorang Naib Amiril Hajj. Cukup menguras fisik dan mental. Islam dan Perubahan Sosial di Asia Tenggara.227 Kuala Lumpur juga tidak sederhana. Pada tahun 1992.K. aku menompang kendaraan Profesor Ibrahim Abu Bakar yang tinggal di kawasan Kajang. Karena itu aku harus pulang . Dr. dan masih ada lagi mata kuliah lain yang aku lupa. Dinihari Lip sudah harus bangun untuk menyiapkan pakaian sekolah Hafiz. maka dalam menyiapkan perkuliahan tidak banyak rintangan yang kuhadapi.K. adalah di antara teman dosen yang sering berbincang denganku dalam berbagai kesempatan.K. Berangkat pagi dengan bus dari Sungai Jelok kembali sore juga dengan bus. Sore kembali ke Sungai Jelok. Berbeda dengan Indonesia. Lip juga akan turut. Di ruang inilah aku membaca dan menyiapkan perkuliahan sambil menulis artikel untuk koran Indonesia dan koran Malaysia. Ini semua kujalani selama dua tahun. Sebagai dosen aku diberi sebuah ruangan kantor yang cukup mewah.M.K.M. tiap hari Hafiz harus naik bus ke Kuala Lumpur.. aku diberi tugas untuk mengajar mata kuliah Sejarah Perang Salib. harus berada di kampus sehari penuh. Karena buku-buku sumber untuk mengajar relatif mudah didapatkan di perpustakaan U. berakhir. sesuai dengan perkembangan ekonomi negara tetangga itu. Kecuali Ahad. Kadang-kadang sewaktu pulang.M.M. Mata kuliah Perubahan Sosial terbuka untuk mahasiswa dari jurusan lain. Kebetulan kami memang belum menunaikan rukun Islam ke-5 itu. seorang dosen di U.M. Di U.

semuanya berjalan lancar tanpa gangguan yang berarti. Tidak ringan memang. Setelah ditimbang masak-masak. padahal pihak U. Watik yang bertujuan mulia itu. Tetapi mengingat kedudukanku sebagai anggota P.K. tidak hanya menjadi bendahara tituler. Profesor Dr.M. Keduanya meminta dengan serius agar aku masih mau melanjutkan tugas di U. berkat telepon sahabatku Dr. baru tahu betul apa makna amanah itu. Hafiz . Faisal Othman.M. Alhamdulillah.M.K.P. ketua Jururan Da’wah dan Kepimpinan. benar-benar memintaku untuk memperpanjang dan memperbarui kontrak. masih membujukku untuk meneruskan tugasku. dan Dr. Aku dan Lip harus kembali ke Jogja sambil menyiapkan mental untuk menunaikan ibadah haji.. Jika terpilih sebagai pimpinan berarti amanah yang harus ditunaikan. Rasanya tidak sekali mereka mendatangiku untuk tujuan serupa.K. Muhammadiyah secara langsung.M. ada ketentuan moral yang harus ditaati. Di lingkungan Muhammadiyah. dekan Fakulti Pengkajian Islam. aku dan Lip memutuskan untuk pulang. Kajang. Agar aku memperkuat barisan P. Aku terpilih. apalagi pihak U. dan itu adalah sebuah amanah yang tidak boleh dianggap enteng.P. Muhammadiyah yang belum pernah kujalani.P. tetapi dari sudut iman nilainya mulia dan tinggi. Semula terasa agak bimbang juga untuk memutuskan: antara pulang atau meneruskan kontrak. maka imbauan Watik yang menang. Muhammadiyah beberapa bulan kemudian. (sekarang Menteri Agama Malaysia) datang ke rumah tempat tinggalku di Sungai Jelok.K. Abdullah Zin.228 dengan tidak memperpanjang kontrak di U. Aku sendiri setelah aktif di P.

rasanya aku sudah bahagia. Sederhana. harapanku adalah agar dia tidak pernah lupa kepada kebaikan ibunya. terutama oleh ibunya. Hafiz terbiasa manja. Tanpa Muhammadiyah ayahnya entah ke mana. kecuali dia hidup secara benar. Enaknya punya ibu. sarung bantal dan kain sarung hampir tidak pernah dicuci. bukan? Tetapi sisi negatifnya adalah menjadikan seseorang tidak bisa mengurus diri sendiri. Hafiz kutemui di rumah kontrakannya yang masih di lingkungan Nogotirto.229 kembali berkumpul dengan orang tuanya. Hafiz tinggal menggunakan. dan tidak pernah lupa beribadah. Muhammadiyahlah yang membebaskan ayahnya dari sikap taqlid buta dalam memahami agama. masya Allah. Terhadap ayahnya. Sudah mengeras dengan baunya yang lumayan. Hafiz harus paham benar apa yang kukatakan ini. Entah sudah berapa lama tidak disentuh air. Aku tidak berharap banyak kepada anak ini. Mencuci pakaian. entah di mana. Tidak ada yang kami harapkan dari anak. Sekiranya dia bisa hidup layak dengan agama yang mantap. adalah bagian dari kerja masa kecilku. Semuanya disiapkan. dan entah jadi siapa. Aku cukup terlatih. Ibunya sebenarnya punya sikap serupa. Benar. Berbeda denganku yang terbiasa mengurus diri sendiri sejak kecil. terserah sajalah. bukan? Sekiranya pada suatu saat rezkinya cukup. . Rupanya. inilah perbedaannya dengan orang yang sudah mandiri sejak usia masih sangat kecil. Semuanya berantakan. membersihkan kamar tidur. tidak kikir. aku mengharapkan agar Hafiz tidak lupa kepada Muhammadiyah yang telah digumuli ayah selama bertahun-tahun. Jika pada satu saat Hafiz membaca tulisan ini. setelah setahun belajar hidup sendiri di rumah sewaan yang tidak jauh dari rumah kami.

Formula itu berbunyi: “Mengurus Muhammadiyah itu melelahkan. Tetapi . selalu ada pahala jangka dekat yang dijanjikan atau diharapkan.M. Itu pun jika seseorang ikhlas beramal. aku mulai sibuk. atau posisi di B. Sangat giat mendatangi daerah.U. dan sederetan kiprah yang lain. Biarlah Allah yang menilai. Ada formula filosofis yang pernah kusampaikan kepada Bung Shofwan Karim.W.W. Dengan aktif di Majelis Tabligh sambil memberi kuliah. waktu itu sebagai Ketua P. Dosen tamu di Singapura. Jika tidak. Bahasa Inggris lancar. tetapi sekaligus membahagiakan!” Shofwan Karim katanya telah mengulang-ulang formula ini selama berkiprah dalam Muhammadiyah. (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) Sumatera Barat.M. Tokoh ini punya komunikasi publik yang cukup bagus. apakah itu jadi pejabat eksekutif. Inilah tempat beramal yang tepat bagiku. Bahasa politik selalu menjurus kepada janji-janji seperti itu.230 sekalipun misalnya tidak aktif dalam kegiatan Muhammadiyah. Berbeda dengan Muhammadiyah yang hanya menjanjikan pahala jangka jauh di akhirat.M. Aku sendiri tidak tahu. Sumbar tidak asing baginya.N. pahala jauh itu pun tidak akan diraih. Rasa cintaku kepada Muhammadiyah menjadi semakin dalam. Ada sedikit catatan tentang Shofwan Karim ini dalam kaitannya dengan Muhammadiyah Sumatera Barat. apakah aku ikhlas atau tidak. diakui atau tidak. Aku sekarang beralih kepada masalah tugas-tugas kemasyarakatanku. legislatif. bahkan cabang-cabang Muhammadiyah di lingkungan P. (Badan Usaha Milik Negara). Agama mengajarkan sesuatu yang sangat halus ke dalam batin manusia. Kalau dalam partai politik. Sudah berkali-kali berkunjung ke luar negeri.

ketentuan yang hampir baku di lingkungan persyarikatan. khususnya untuk Sumatera Barat. anggota Muhammadiyah di akar rumput sangat peka. apakah kejadian ini positif atau negatif menurut pendapatku. Aku hanya berharap agar semuanya ini diterima dengan tenang sambil berkaca diri. Biarlah kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua kader Muhammadiyah. Dalam menghadapi kasus-kasus tertentu. Kepada Dr. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Shofwan sendiri.P. apa yang dialami Shofwan termasuk sesuatu yang langka di lingkungan Muhammadiyah. Tetapi betapa pun juga. Apakah karena sikap-sikap politiknya. kejadian dramatis ini telah kusampaikan. Yunahar Ilyas. Dijawab. . Shofwan tidak termasuk dalam daftar calon 39. sebagaimana semua kita perlu berkaca. Mungkin lebih dari itu sudah pernah dialaminya. Tidak mudah kujawab.231 mengapa dalam Musywil (Musyawarah Wilayah) bulan Desember 2005 di Kota Sawahlunto. Muhammadiyah pilihan Muktamar Malang Juli 2005 yang menghadiri Musywil itu. Dia terpental ke nomor 43. Shofwan telah cukup dewasa menghadapi kejadian seperti ini. kemudian Yunahar malah balik bertanya. aku tidak bisa mengatakannya. tetapi untuk Indonesia. terutama bila bersentuhan dengan isu politik. Bagiku kejadian ini luar biasa. memang di luar dugaan. salah seorang Ketua P. Di balik itu semua pasti ada hikmah yang dapat ditelusuri yang berguna bagi semua pihak yang terlibat dan yang tak terlibat. tidak saja untuk Sumatera Barat. Shofwan tidak terpilih. Mungkin baru pertama kali terjadi di lingkungan Muhammadiyah. tetapi perlu dikaji agak mendalam mengapa semuanya itu harus berlaku.

Masjid ini diresmikan pada 1989 oleh pak Munawir sendiri sebagai wakil yayasan yang didirikan Presiden Soeharto itu.P. sebab hanya akan melemahkan persyarikatan yang sama-sama dicintai. yang berlalu biarlah berlalu. Kadangkadang orang Minang ini terlalu peka terhadap sesuatu yang belum tentu diketahuinya secara lengkap. Kanada. Aku berangkat lagi bersama Lip.” (Belum terkilat sudah terbayang). Hubunganku dengan pak Munawir demikian akrabnya. melalui jasa baik pak Munawir pula sebuah masjid Y.A. tetapi belum tentu benar. . sulit untuk mengatakannya. Belum sampai setahun aku aktif di P. (Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila) didirikan di perumahan Nogotirto Elok Jogjakarta. bukan tanpa alasan. Balum begitu lama pulang dari Malaysia. kini pergi pula Kanada. Apakah kasus tidak terpilihnya Shofwan berada dalam kategori pepatah-petitih itu. sekalipun ada perasaan kurang enak dengan teman-teman Muhammadiyah. Bukankah aku dibesarkan dalam lingkungan budaya Minang dengan pepatahpetitihnya yang antara lain mengatakan: “Alun takilek alah tabayang. Kesimpulan cepat diambil. Tetapi sudahlah.P.M. datang pula tawaran dari Menteri Agama Munawir Sjadzali untuk mengajar di Universitas McGill. Oleh sebab itu aku terkejut dengan kejadian yang dialaminya. Ke depan orang harus lebih hati-hati dalam memimpin Muhammadiyah. jangan sampai berlaku gesekan yang tidak perlu. Hubungannya denganku cukup akrab. di bawah program Lembaga Studi Islam antara 1993-1994. Jauh sebelum tawaran ke Kanada ini. Jalan hidupku memang tidak pernah linear.232 Jika perhatianku agak sedikit beralih ke Sumatera Barat. Muhammadiyah.

salafiyah. tidak terasa. Selama dua semester aku memberi kuliah di McGill tentang masalah-masalah keislaman.233 Dana yayasan ini berasal potongan gaji pegawai negeri yang beragama Islam setiap bulan. Seharusnya yang baik dan positif diteruskan. Aku berkeyakinan bahwa tidak ada kusut yang tak dapat . Pada saat berbicara tentang sunni dan syi’ah. biasanya perdebatan menjadi ramai.M. di McGill perpustakaannya hampir lengkap. dan lain-lain.A. Sebenarnya gagasan ini cukup mulia. Posisiku sudah kujelaskan kepada mereka: tidak sunni tidak syi’ah. sekalipun dana yang masuk dari pegawai sudah dihentikan sejak turunnya Soeharto. termasuk Islam di Indonesia. sebagaimana telah kujelaskan sebelumnya. Kabarnya sudah hampir 1000 masjid yang didirikan Y. Dengan pengetahuanku tentang sejarah Islam agak lumayan. Mesir. Mahasiswa yang mengambil kuliahku berasal dari berbagai negara: Iran. Semuanya ini adalah produk manusia pasca nabi yang dapat senantiasa dipertanyakan dengan mengambil al-Qur’an sebagai hakim tertinggi. Ada beberapa mahasiswa Iran alumni Qum yang mengambil kuliahku. sebab kedua aliran itu tidak lain dari pada produk sejarah dengan latar belakang politik. Sulit bangsa Indonesia berpikir dielektik. dan Indonesia. Seperti perpustakaan-perpustakaan lain di Barat. suasana telah berubah. sekalipun rezim telah berganti. Kanada. Aku sudah lama tidak tertarik dengan konsep-konsep ahlu al-sunnah wa al-jama’ah. tetapi karena bersifat serba Soeharto akhirnya dihentikan. Jepang. ini sampai tahun 2005. termasuk mengenai sumber-sumber Islam dalam berbagai aspek dalam berbagai bahasa. syi’ah. sanggahan-sanggahan mahasiswa tidak terlalu sulit untuk kujawab.P.

Jika al-Qur’an tidak lagi dapat menyelesaikan masalah-masalah umat dan manusia pada umumnya. Pertama. dan Qur’ani. surat al-Anbiya: 107). sekalipun masih saja terasa kurang. jauh dari filosofi rahmatan lil-‘alamin (lih. sementara usia sudah lari dan lari . Selama bertugas di McGill aku cukup banyak membaca. asal orang pergi ke pangkal: al-Qur’an yang dipahami secara jujur. Tetapi ini hanyalah sekadar alasan.234 diselesaikan. Kelemahanku terletak pada kenyataan bahwa aku belum juga mampu menulis sebuah karya yang lebih berbobot yang dapat menjelaskan secara lebih detil lontaran-lontaran pendapat yang telah kusampaikan selama 22 tahun terakhir. Modal Chicago telah kukembangkan lebih jauh. Alasan yang sebenarnya adalah bahwa kemampuanku untuk berkarya yang lebih komprehensif tentang Islam dan kemanusiaan tidaklah seperti yang diperkirakan orang. dan cerdas. kita tidak jujur kepada Kitab Suci ini. akibatnya solusi fundamental tentang masalah-masalah umat dan kemanusiaan sulit sekali ditemukan. autentik. Sebagai alasan dapat saja kukatakan bahwa kegiatan kemasyarakatanku telah menyita waktu terlalu banyak untuk merenung dan menulis secara lebih dalam. disadari atau tidak disadari. Kedua. Dengan kata lain. Ini merupakan salah satu pangkal benang kusut itu. Latar belakang sosio-politik dan kultural sering menjadi kendala untuk membiarkan al-Qur’an berbicara tentang dirinya. pendekatan yang serba parsial dan ad hoc terhadap Kitab Suci ini telah melahirkan pandangan dunia yang sempit. sistematis. maka ada dua kemungkinan penyebabnya. egoisme kultural dan subjektivisme sejarah sering ditempatkan lebih tinggi dari al-Qur’an. Aku ternyata juga manusia lemah.

Kurnia itu mengalir dan terus mengalir. Entahlah. Sewaktu di Kanada inilah berita duka tentang wafatnya Prof. sepenuhnya di tangan Allah.235 menuju perhentian terakhir. Otakku adalah otak desa yang terlambat untuk maju dan berkembang. Kiprahku dalam Memimpin Muhammadiyah Aku pulang dari Kanada bulan Maret 1994 setelah mengajar selama dua semester dengan berbagai pengalaman dan rezki yang telah kukumpulkan. aku pun tidak bisa mengatakannya. Sanusi Latief pada 3 Maret 1994 dalam usia 66 tahun disampaikan kepadaku. kuserahkan sepenuhnya kepada yang menilai. sampai di mana nanti perjalanan intelektualku untuk memunculkan karya-karya kreatif yang bermutu tinggi. Aku tidak dapat berbuat apa-apa kecuali berdo’a semoga amal-baktinya selama hidup diterima di sisi Allah dan kemudian ditempatkan pada tempat yang baik bersama orang-orang yang beramal saleh selama hidup di dunia. aku wajib bersyukur kepada Allah atas segala karunia-Nya yang tak putus-putusnya kuterima. Penilaian terakhir. Mungkin yang dapat kukerjakan hanyalah menulis fragmen-fragmen. aku telah sempat menyelesaikan studi Islam sampai ke ujung. Tetapi di atas itu semua. sedangkan gagasan yang ada di belakangnya berkaitan dengan persoalanpersoalan besar dan dahsyat yang memerlukan otak besar yang tulus dan jujur. M. bukan otak-otak besar yang culas dan curang. atau sebaliknya. Sanusi dimakamkan di . Inilah aku dengan segala kekurangan dan kelemahan yang melekat pada diriku. Apakah aku kemudian dinilai sementara orang menjadi semakin sekuler. Sebagai anak kampung yang tersuruk. liberal. C.

P. Kalau Sanusi Latief bukan bagian dari P.236 pekuburan Tunggul Hitam. menulis.P. Anak bungsu pasangan Sanusi-Salima (Salima berasal dari Bukittinggi) Ahmad Hanif masih sering mengirimkan bantuan untuk kepentingan kampung ayahnya.P. Ketiganya adalah sarjana dan sudah hijrah ke Jakarta bersama pasangannya masing-masing. Engkau adalah guru besar pertama dari Sumpur Kudus. tidak jauh dari bandara Tabing. dua puteri dan satu putera. bukan? Sesampainya di Indonesia aku kembali melakukan kegiatan seperti sebelum berangkat: mengajar. Muhammadiyah. musibah kedua ini benar-benar menggoncangkan. yaitu wafatnya Ahmad Azhar Basjir. Pelopor pencerahan intelektual Sumpur Kudus ini telah pergi untuk selama-lamanya dengan meninggalkan tiga anak. dan mengurus Muhammadiyah. Muhammadiyah sejak Muktamar Jogjakarta 1990 dalam usia yang hampir sebaya dengan Sanusi Latief. sukuku.P. Seperti telah kuakui dengan jujur bahwa tanpa Sanusi Latief. dari suku Caniago lagi. tetapi itulah kenyataan yang harus dihadapi oleh seluruh warga persyarikatan modern itu. . aku setamat dari Mu’allimin Lintau entah akan ke mana melangkah. Padang. Terima kasih ongaku. Sekali-kali menyebut nama suku untuk maksud baik tidak apa-apa. Muhammadiyah segera mengadakan sidang untuk memilih dan menetapkan siapa yang akan menggantikan Pak Azhar sebagai Pejabat Ketua sebelum tanwir menentukan yang definitif. tidak ada kepastian. intelektual. musibah kedua terjadi lagi. Muhammadiyah berduka dalam. Ketua P. Tidak diragukan lagi bahwa bola kepemimpinan itu pasti jatuh ke tangan tokoh enerjetik. Tetapi bulan Juni 1994. Onga Sanusilah yang memberi kepastian itu.

” nun tersuruk di lembah Bukit Barisan di pulau Andalas. “tanah air” Rais terlalu dekat dengan Jogja untuk dijamah Muhammadiyah. Paling-paling menjadi saudagar alit (kecil) tingkat kecamatan. Sekiranya Muhammadiyah tidak merayap ke lembah ini menjelang P. Aku hadir dan memberi sambutan di depan jenazahnya yang padat dengan para takziah di aula Paramadina. Sedangkan Sumpur Kudus yang lengang. Tidak ada alasan sama sekali.D. Tentu aku akan kenal dengan nama besar M. Tetapi retak tangan telah menentukan lain. sama-sama dari kelompok “mafia Chicago. Keduanya tidak mungkin mengenalku. Keduanya adalah sababatku. Aku tidak perlu berkecil hati dalam urutan generasi ini. Mohammad Amien Rais. boleh jadi aku tidak akan melebihi nasib kebanyakan orang kampungku. “tanah airku. Amien Rais dan Cak Nur (Nurcholish Madjid). Rais adalah generasi ketiga dalam lingkungan keluarganya yang aktif terlibat dalam Muhammadiyah. Muhammadiyah era Azhar. Hatiku hanya menangis melepas seorang sahabat . Untung saja Muhammadiyah “tersesat” ke sana. Itu pun sudah merupakan sebuah prestasi. anggota “mafia Chicago.” dengan perbedaan-perbedaan kecil yang telah memperkaya wawasan antar kami bertiga. Nurcholish telah berangkat lebih duluan pada 29 Agustus 2005 untuk tidak kembali.237 alumnus Universitas Chicago Departemen Ilmu Politik tahun 1980: Dr. dan untuk apa pula. (Perang Dunia) II.P. Kampung Kemasan (Solo).” melalui media cetak yang kadang-kadang sampai juga ke kampungku dan melalui media elektronik sambil mengaguminya dari jarak jauh sebagai idolaku. sedangkan aku adalah generasi kedua. Tokoh ini sebelumnya telah menjabat sebagai salah seorang Wakil Ketua P.

Tanpa kritik diri. Saya rasa M. Siapakah aku tanpa Muhammadiyah? Itulah salah satu pertanyaan sentral yang perlu disampaikan. M. Bukankah dalam Tanwir Surabaya tahun 1993. Amien Rais jelas menimbulkan kegoncangan yang membawa panik. Amien Rais. Benarlah Bung Haedar Nashir. tinggal menanti momen yang tepat kapan berakhirnya sebuah rezim. Amien Rais sudah sama-sama “luluh” dalam Muhammadiyah dalam tempo yang panjang. Amien Rais telah mengantisipasi suasana semacam itu. Amien Rais dan aku tetap menjaga kesetiaan yang utuh terhadap Muhammadiyah. Adapun aku dan M. Gejala pembusukan kekuasaan otoritarian ini sudah agak lama dilihat para pengamat. Banyak persamaan. Mudahmudahan penilaian itu benar-benar didukung oleh kenyataan seterusnya. proses kemunduran. Jika aku mengeritik Muhammadiyah. tak menentu. Bertahun-tahun aku bergaul dengan Cak Nur. jika bukan pembusukan. berbagai masalah kami bicarakan.238 cendekiawan besar Indonesia. di masaku dan salah seorang ketua P. tetapi tanwir dinilai sebagai forum strategis untuk melontarkan sebuah gagasan penting yang . Amien Rais telah melontarkan bola panas berupa perlunya suksesi kepemimpinan nasional? Karena peserta tanwir umumnya adalah mereka yang bersifat ‘amal-oriented (beroriensi kepada kerja). terobosan M.P. Muhammadiyah mulai dibawa ke tengah-tengah kisaran politik bangsa yang semakin panas. akan berlaku dalam gerakan apa pun. pasca Muktamar Malang bahwa M. Di bawah nahkoda M.P. itu sama artinya dengan mengeritik diri sendiri yang memang harus dilakukan terus menerus. di samping ada perbedaan di sani-sini. sekretaris P.

239 menyangkut nasib bangsa secara keseluruhan. Cukup panas suasana tanwir waktu itu. M. seperti dia saja yang paham etika Muhammadiyah itu. tentu bukan karena substansinya. Amien Rais sepanjang yang aku amati memang punya naluri politik yang kuat. M. Aku yang sudah muak dengan suasana politik bangsa yang pengap mendukung lontaran M. Ini berbeda denganku. Tetapi apalah artinya aku yang ketika itu kata orang masih berada di bawah bayang-bayang Amien Rais. Paling-paling saling menggerutu. Amien Rais tampaknya meni’mati perubahan yang penuh risiko itu. M. Keinginan inilah kemudian yang mengkristal dalam pencalonannya sebagai kandidat . Sudah dapat diperkirakan bahwa tanwir akhirnya menolak gagasan itu. Tetapi dasar orang Muhammadiyah yang rasional dan lugu. suasana panas tidak membawa perpecahan. sementara energiku sudah berkurang ditelan usia. setelah itu mendingin kembali. tetapi ingin memimpin dan mengarahkan perubahan itu jika mungkin. Sewaktu gagasan itu dilontarkan aku bersama Rusjdi Hamka berada di meja pimpinan. Amien Rais itu. Amien Rais cukup piawai dalam membuat move-move semacam ini. Ada peserta tanwir yang mengatakan bahwa lontaran itu tidak sesuai dengan etika Muhammadiyah. tetapi karena takut nasib yang akan menimpa Muhammadiyah di tengah-tengah budaya politik yang bertuan seorang itu. Intelektualisme Fazkur Rahman yang sedikit kuwarisi dari Chicago belum tentu selalu efektif bila dihadapkan kepada realitas politik keras yang bergerak dengan kencang sekali. Bukan saja meni’mati. mungkin karena umur yang sudah semakin lanjut. Pekerjaan politik pasti menuntut pengerahan energi yang lebih besar.

tetapi mereka segan untuk berterus terang. gaungan pesannya terus bergulir selama berbulan-bulan pasca tanwir. Bahwa sekali-sekali pimpinan harus pukul meja. Bahkan tidak kurang sebagian anggota P. tetapi hanyalah sebuah dinamika dalam berorganisasi. dan itu pun lebih terbatas pada dunia wacana. Amien Rais. Nama M. Amien Rais sejak Tanwir 1993 semakin melambung tinggi di balantara perpolitikan bangsa. Puncaknya kemudian adalah turunnya Soeharto sebagai presiden yang dijabatnya lebih dari tiga dasa warsa. Bukankah aku sejak di Mu’allimin Jogja sudah turut berkampanye untuk partai Masyumi pada pemilihan umum pertama tahun 1955? Dalam usia lanjut itu. . Tetapi dibandingkan dengan iklim partai politik yang sarat gesekan dan intrik. merasa kecut dengan gagasan M. Pengalamanku dengan politik bangsa sangat terlambat dimulai. Kadang-kadang bertele-tele juga. Korankoran terus saja mengulasnya. Sekalipun tanwir menolak gagasan “gila” M. Sebagaimana telah kuakui bahwa usiaku tidak memungkinkan lagi aku menerjuni dunia politik praktis. dunia Muhammadiyah terasa lebih tenang dan damai. sekalipun bakat untuk itu mungkin ada. bukanlah pertanda buruk. sekalipun tidak kurang pula banyak masalah yang harus dicarikan jalan ke luar.240 presiden yang berpasangan dengan Siswono Yudo Husodo dari sub-kultur nasionalis. sementara sebagian warga Muhammadiyah yang tidak suka gejolak menjadi gamang dan cemas. Amien Rais itu. dunia Muhammadiyah tampaknya lebih nyaman dan sesuai untukku. Kembali ke Surabaya.P. Maklumlah iklim politik sejak awal tahun 1990-an itu sudah mulai dirasakan pengap dan oleng.

Amien Rais. M. Namun cinta mereka terhadap M.241 Para peserta tanwir yang pegawai negeri. Ada pun kemudian setelah rezim otoritarian itu tumbang. tidak saja dari Sumatera Barat tetapi juga dari daerah lain. Ada istilah manis kemudian yang digunakan seorang wartawan dalam melukiskan sosok M. Duka Muhammadiyah belum lagi hilang.M. Pak Azhar baru saja wafat. Amien Rais dicintai.C. tetapi gagasannya menakutkan. Amien Rais tidak berhasil melakukan konsolidasi kekuatan penentang adalah perkara lain yang belum saatnya direkamkan di sini. (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) yang dibentuk pada akhir 1990 sewaktu aku masih bertugas di Malaysia. Jadi aku tidaklah termasuk salah seorang bidan I.J. Amien Rais sebagai seorang “yang telah putus urat takutnya. Untungnya M. umumnya menjadi resah dengan gagasan suksesi itu. Amien Rais dalam mengeritik rezim.M. tidak ada di antara anak bangsa ini yang melebihi keberanian M.C.” Memang di saat-saat kritikal pada tahun-tahun terakhir ORBA (Orde Baru). Pada tahun 1994 itu Muhammadiyah mulai disibukkan oleh persiapan muktamar yang akan diadakan pertengahan tahun 1995 di Banda Aceh. Amien Rais yang telah tampil sebagai tokoh utama bangsa mulai bergerak mencari dana muktamar yang jumlahnya tidak kecil.I. Keduanya juga sebagai tokoh I. Di sinilah dilema itu terletak. Amien Rais masalah dana ini ternyata tidaklah terlalu sulit untuk dipecahkan. Amien Rais tidak pernah menyusut.I. Bagi M. Tugasku waktu itu hanyalah membantu-bantu di mana yang mungkin. Habibie sebagai wakil presiden masa itu punya hubungan yang baik dengan M. tetapi . M. Jaringannya yang sudah cukup luas dengan berbagai kalangan akan memudahkannya mendapat dana itu. B.

242

aku mendukungnya, dan bahkan kemudian menjadi salah seorang penasehat di dalamnya. Sekalipun masalah dana bukanlah masalah besar bagi M. Amien Rais, ada persoalan politik yang cukup pelik dan rawan yang harus dihadapi. Umum sudah tahu bahwa sejak Tanwir Surabaya, Presiden Soeharto sudah tidak bahagia melihat kiprah M. Amien Rais yang mulai menghadapkan tombak berbisa kepada rezim yang dipimpinnya. Gagasannya tentang suksesi kepemimpinan nasional sungguh menyakitkan hatinya. Kultur politik Jawa pedalaman yang semi feodal tidak boleh diperlakukan secara “kurang ajar” itu. Itulah sebabnya menjelang Muktamar Aceh (6-10Juli 1995), pihak istana berusaha keras agar M. Amien Rais tidak terpilih menjadi Ketua P.P. Muhammadiyah. Tetapi M. Amien Rais sudah terlanjur sangat populer tidak saja di lingkungan Muhammadiyah, di kalangan bangsa pun hampir tidak ada yang tidak mengenalnya. Jika koran dan tv cukup berjasa dalam menokohkan sosok ini, memang sudah pada tempatnya, tidak berlebihan. Maka segala upaya untuk membendungnya agar tidak terpilih dalam muktamar adalah sebuah kesia-siaan. Tak ada gunanya. Warga yang penakut pun akan memilih M. Amien Rais, karena dialah pilihan yang paling tepat ketika itu. Pada masa-masa genting itu hubunganku dengan Rais sungguh dekat sekali, apalagi kedudukanku sebagai salah seorang Wakil Ketua P.P. Muhammadiyah setelah Pak Azhar wafat tahun 1994. Sekalipun usiaku sembilan tahun lebih tua dari padanya, dalam menghadapi isu-isu besar politik bangsa, posisiku tidak bisa dibandingkan dengan M. Amien Rais. Aku kadang-kadang hanya menasehatinya agar lebih bijak dan hati-hati dalam melontarkan kritik, sekalipun belum tentu didengar dan

243

diperhatikannya. Di sini letaknya salah satu kelemahan M. Amien Rais. Suasana semacam ini berlangsung terus sampai satu ketika agak mendingin pada tahun-tahun ketika mulai menghangatnya iklim pemilihan presiden pada permulaan abad ke-21. Kita tengok sebentar suasana menjelang Muktamar Aceh tahun 1995 dan jalannya muktamar itu sendiri. Ketegangan hubungan M. Amien Rais dan Soeharto mewarnai dengan kental bulan-bulan menjelang muktamar. Dalam rapat-rapat P.P. Muhammadiyah bahkan muncul pendapat agar faktor Soeharto jangan terlalu dipertimbangkan benar. Muhammadiyah bisa saja melangsungkan muktamar tanpa dibuka presiden. Tetapi yang lain berpendapat bahwa jika itu terjadi, apakah bukan sebuah preseden yang kurang baik. Hubungan Muhammadiyah dengan negara bisa jadi akan semakin memburuk. Apalagi akar budaya oposisi tidaklah terlalu kuat di kalangan warga Muhammadiyah. Masalah yang memberati otak warga adalah nasib yang akan menimpa amal-usaha persyarikatan yang tidak bisa dilepaskan sepenuhnya dari lingkungan birokrasi pemerintah. Kondisi semacam ini sangat mengganggu bagi Muhammadiyah untuk bersikap terlalu tegas terhadap penguasa. Aku rasa persasaan seperti ini wajar-wajar saja. Tetapi rasa takut yang keterlaluan dapat mengurangi nilai tauhid. Jadi jika ada dari kalangan warga yang takut dengan gerak M. Amien Rais, sesungguhnya berdasarkan pertimbangan pragmatis saja: nasib amal-usaha yang ribuan jumlahnya boleh jadi akan mengalami kesulitan, seperti baru saja disinggung di atas. Muhammadiyah belum bisa lepas sepenuhnya dari birokrasi pemerintahan. Jika hubungan dengan pusat kekuasaan

244

memburuk, dampaknya akan dirasakan sampai jauh ke pelosok tanah air, di mana amal-usaha Muhammaiyah yang sudah bertebaran akan dihadapkan kepada “rajaraja lokal” yang membebek ke Jakarta. Ada pengalaman sejarah pahit yang dirasakan Muhammadiyah misalnya terjadi pada waktu Masyumi dibubarkan Presiden Soekarno akhir tahun 1960-an. Masyarakat luar ketika itu susah sekali membedakan antara Masyumi dan Muhammadiyah. Kasus yang hampir mirip mengenai hubungan Muhammadiyah dengan politik juga berlaku pada saat P.A.N. (Partai Amanat Nasional) dibentuk pada Agustus 1998 dengan pimpinan tertingginya M.A. Rais. Masalah ini akan aku berikan uraian khusus dan sikap yang kuambil menghadapinya setelah aku menjadi Ketua P.P. Muhammadiyah. Pengalaman Muhammadiyah pada era 1960-an itu benar-benar pahit. Warganya dihadapkan kepada situasi yang sangat sulit dan rumit, karena tidak saja sebagai salah satu pendiri partai itu, sekaligus menjadi anggota istimewa Masyumi. Trauma masa lampau ini masih segar dalam ingatan kalangan warga Muhammadiyah, khususnya mereka yang sudah agak berumur. Politik itu dirasakan sangat menyakitkan, sekalipun tidak bisa dihindari. Pertimbangan inilah yang menjadi salah satu alasan dalam Muktamar Ujung Pandang 1971 yang memutuskan bahwa Muhammadiyah harus menjaga jarak yang sama dengan semua kekuatan politik. Saransaran Kasman Singodmedjo dan A. Malik Ahmad telah menjadi bahan pertimbangan penting oleh muktamar menghadapi perkisaran angin yang semakin sulit diperkirakan. Keputusan ini masih tetap dijadikan acuan Muhammadiyah selanjutnya selama puluhan tahun, sekalipun tidak selalu mudah dilaksanakan di lapangan.

245

Warga Muhammadiyah yang libido politiknya tinggi amat sulit untuk tidak mengaitkan persyarikatan ini dengan partai yang didukungnya. Kecenderungan ini sebenarnya lebih menyangkut kepentingan pribadi jangka pendek warga yang terlibat, sekalipun tidak diakui terus terang. Muktamar 1971 yang telah memberi kebebasan kepada setiap warga untuk menentukan sendiri pilihan politiknya malah membuka peluang untuk terperangkap ke dalam formula: “Seiring bersimpang jalan.” Dengan demikian di lapangan ternyata sering terjadi gesekan sesama warga, sekalipun tidak sampai berdarah-darah seperti yang pernah dialami oleh warga organisasi Islam lain yang tak perlu kutulis namanya di sini. Dalam hal ini Muhammadiyah masih lebih dewasa dan berlapang dada dibandingkan dengan yang lain. Dalam berpolitik, tampaknya orang tidak boleh memakai parameter yang serba idealis. Gesekan di lapangan pasti terjadi, keras atau lunak. Jika itu yang digunakan, maka dunia ini pasti terlihat gelap belaka, Muhammadiyah dikatakan sudah hancur. Politik di mana pun di muka bumi ini, pasti sarat dengan intrik dan gesekan itu, tidak peduli siapa pelakunya, beragama atau ateis. Ini fakta keras dalam sejarah. Yang membedakan mereka yang beragama punya rujukan moral yang pasti. Tergantung kemudian, apakah acuan moral itu dipakai atau dibuang pada saat-saat kritikal. Jika dibuang, kita akan sukar membedakan antara mereka yang percaya kepada wahyu dengan mereka yang telah membebaskan dirinya dari agama. Warga Muhammadiyah sepanjang pengetahuanku tidaklah ada yang terlalu larut dalam godaan kekuasaan. Kalau pun ada, jumlahnya tentu sedikit sekali, dan akan tersingkir dari persyarikatan, lambat atau cepat.

246

Muhammadiyah terlalu besar untuk hanya dijadikan kuda tunggangan politik. Menurut tuturan R.B. Khatib Kayo, Ketua P.W.M. Sumatera Barat sebagai hasil Musyawarah Sawahlunto awal Desember 2005, dalam Muktamar Ujung Pandang Kasman Singadimedjo pernah berkata: “Muhammadiyah tidak boleh dijadikan onderbouw (bawahan) atau oderdil partai politik,” sebuah penegasan yang patut direnungkan. Kasman Singodimedjo yang sudah kenyang dengan asam garam politik sejak zaman penjajahan, paham betul apa yang sengaja dilontarkannya secara terang-terangan itu, demi menjaga independensi Muhammadiyah. Jika boleh kutambahkan: “Menjadikan Muhammadiyah sebagai tangga untuk naik dalam urusan-urusan duniawi, risikonya hanya satu: pasti menyesal pada akhirnya karena telah berkhianat terhadap kepribadian persyarikatan.” Dengan bergulirnya waktu, Muktamar Aceh semakin mendekat. Persiapan secara finansial, seperti kukatakan, bukan masalah besar. Tetapi gesekan politik antara M. Amien Rais dengan Soeharto harus dicermati betul menjelang muktamar. Salah-salah langkah bisa sangat menyulitkan. Apalagi di kalangan tokoh Muhammadiyah ada satu dua yang Soehartois. Muhammadiyah mau tidak mau harus menemui presiden sebelum muktamar. Itu sudah menjadi adat tak tertulis dalam budaya politik Indonesia sejak proklamasi. Akan menjadi sangat lucu di mata publik jika P.P. Muhammadiyah dalam pertemuan dengan presiden itu tidak dipimpin oleh M. Amien Rais. Aku terus mengikuti perkembangan ini dari jarak yang sangat dekat sejalan dengan dekatnya hubunganku dengan M. Amien Rais. Demikianlah beberapa bulan menjelang muktamar P.P. Muhammadiyah lengkap pada suatu hari diterima

247

Presiden Soeharto di Istana Negara, dan dipimpin langsung oleh ketuanya Mohammad Amien Rais. Anda bisa membayangkan betapa “semaraknya” suasana ketika itu. Aku melihat bibir M. Amien Rais selalu komatkamit, entah apa yang dibacanya, sebab akan berhadapan dengan seorang penguasa yang kabarnya punya ilmu kebatinan yang tangguh. M. Amien Rais yang sudah terlatih dalam budaya tauhid Muhammadiyah tentu tidak perlu terlalu risau, tetapi juga tidak boleh sombong. Kami anggota P.P. yang lain berupaya bersikap biasa saja, sebab tokh kita hanya akan berhadapan dengan seorang anak manusia yang kebetulan jadi presiden, mengaku Muhammadiyah lagi. Setelah menunggu beberapa saat di ruang tamu, kami semua dipanggil protokol untuk bertemu presiden di tempat yang telah ditentukan. M. Amien Rais berjalan paling depan menuju ruang pertemuan itu, kemudian diikuti oleh yang lain. Perasaanku ketika itu tidak ada gejolak yang berarti. Komandan pertemuan dari pihak Muhammadiyah adalah M. Amien Rais, bukan aku. Jadi tidak perlu persiapan mental yang serba ekstra dari diriku. Apalagi aku yang sudah diajar Muhammadiyah untuk tidak takut kepada sesuatu selain Allah, ingin tetap bersikap sebagai manusia merdeka berhadapan dengan siapa pun. Maka sejurus kemudian berlangsunglah pembicaraan antara Rais dan Soeharto. M. Amien Rais menjelaskan maksud kedatangan P.P. hari itu dengan memohon kesediaan presiden membuka muktamar. Permohonan lain (ini biasa kita lakukan) ialah minta bantuan presiden untuk meringankan beban panitia muktamar yang akan digelar dalam tempo dekat. Seperti yang diharapkan dari awal, ternyata Presiden Soeharto mengabulkan semua permohonan ini. Bantuan

248

akan diguyurkan setengah milyar, sekalipun yang sampai kepada panitia kabarnya kurang dari jumlah itu. Bukan karena keleledoran Soeharto, tetapi itulah wajah birokrasi Indonesia sampai hari ini, suatu birokrasi yang sarat dengan upeti. Maka sekarang bereslah segalanya. Kendala politik telah teratasi. M. Amien Rais tak perlu komat-kamit lagi. Missinya berhasil hampir tanpa rintangan. Dengan iklim semacam ini, diharapkan Muktamar Aceh akan berjalan mulus pada saatnya. Ilmu kebatinan Soeharto luluh berhadapan dengan kekuatan tauhid M. Amien Rais. Tetapi apakah semuanya sudah mulus? Benar, semua yang tampak di permukaan seakanakan tidak ada persoalan antara M. Amien Rais dengan Soeharto, aman-aman saja, sekalipun kita tahu persis pihak istana sudah sejak sekitar dua tahun menjadi gerah karena sikap-sikap politik Ketua P.P. itu. Muatan politik di lingkungan Muhammadiyah di bawah nakoda M. Amien Rais memang terasa sekali. Tetapi semua ini adalah pengalaman penting bagi persyarikatan untuk memberi bobot tambahan yang lebih menyeluruh terhadap missi da’wahnya dalam formula “amar ma’ruf nahi munkar”. Adapun banyak rangkaian gerbong persyarikatan belum tentu siap untuk mengangkut tugas akibat perubahan orientasi yang radikal itu, adalah persoalan adaptasi belaka, sekalipun dirasakan oleh sebagian pimpinan tidak sederhana. M. Amien Rais terus melaju dengan agenda-agendanya, baik dalam tanwir, muktamar, maupun setelah terpilih jadi ketua dalam muktamar. Muktamar Aceh relatif berjalan tenang. Tetapi ada sebuah catatan kaki yang tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja dalam masalah “persaingan” kepemimpinan

249

yang segera akan muncul. Ada sementara kader Muhammadiyah, a.l. Lukman Harun, Din Sjamsuddin, Hajriyanto Y. Thohari, dan para pendukungnya yang berupaya mengusung tokoh sepuh Jenderal H.S. Prodjokusumo untuk dicalonkan menjadi Ketua P.P. di medan muktamar. Tentang kesetiaan jenderal pensiun ini terhadap Muhammadiyah, tak seorang pun yang meragukan. Hampir seluruh hidupnya telah dibaktikan untuk persyarikatan. Dia adalah menantu Muljadi Djojomartono, tokoh penting Muhammadiyah sejak zaman penjajahan sampai wafatnya. Selain itu Muljadi sangat dekat dengan Presiden Soekarno. Bahkan pernah menjadi menteri dalam kabinet di era itu. Karena sikap politiknya yang sangat akomodatif, Muljadi sering dipuji Bung Karno. Keduanya bahkan saling memuji. Dengan adanya Muljadi dalam pemerintahan, posisi Muhammadiyah menjadi sedikit aman, sekalipun tudingan dari kekuatan kiri sebagai antek Masyumi tetap saja berjalan. Muljadi pernah memimpin Masyumi Jawa Tengah, tetapi sikap oposisi keras partai ini kepada rezim Soekarno telah membuatnya memisahkan diri. Hubungannya dengan Muhammadiyah tidaklah putus, karena persyarikatan ini memang memerlukan payung pelindung dari kekuasaan, demi kelangsungan amalusahanya yang sekian banyak. Inilah politik, kawan dan lawan sering tidak berumur panjang. Tidak putusnya hubungan Muhammadiyah dengan Muljadi semakin memperkuat apa yang kukatakan di atas bahwa untuk membangun sikap oposisi total terhadap penguasa, betapa pun korup dan otoritariannya tidak selalu mudah bagi Muhammadiyah. Aku yang mengusung M. Amien Rais untuk menjadi nahkoda, terpaksa sedikit bergesekan dengan

250

Lukman dan Din di arena muktamar. Ya, gesekan ala Muhammadiyah, tidak menjurus kepada permusuhan abadi. Jenderal Prodjo sebenarnya secara fisik sudah kurang sehat, tetapi untuk membendung M. Amien Rais, dicoba diusung juga. Dalam gesek menggesek ini, aku mungkin telah bersikap kurang arif ketika itu. Telah ke luar dari mulutku perkataan yang menyinggung perasaan alm. Lukman, sahabat lamaku yang pernah sangat dekat denganku sampai tahun 1993. Untuk itu aku mohon dimaafkan. Aku akui pada tahun-tahun itu seakan-akan ada formula ini: “Lawan Amien Rais seolah-olah telah menjadi lawanku.” Begitu kokoh dan eratnya hubungan itu. Tetapi bukan terhadap semua orang. M. Amien Rais yang juga berseberang jalan dengan alm. Djazman alKindi, persahabatanku dengan pendiri I.M.M. ini tetap utuh, tak berubah, sampai dia wafat. Berbagai pandangannya tentang M. Amien Rais sering disampaikan kepadaku, padahal dia tahu bahwa aku adalah teman M. Amien Rais. Lukman dan M. Amien Rais memang sudah agak lama bersilang jalan karena politik dan faktor lain. Begitu juga antara Lukman dan Djazman yang sudah sejak lama susah untuk berlayar dalam satu biduk. Pokoknya ada yang lucu-lucu juga dalam Muhammadiyah, bukan? Tetapi ada alasan lain mengapa aku tidak selalu sejalan dengan Lukman, yaitu sikap politiknya yang mudah ganti kendaraan. Dari Parmusi ke P.P.P. (ini masih nalar), lalu terakhir bergabung dengan Golkar (Partai Golongan Karya), kendaraan politik ORBA. Aku dalam persoalan ini boleh dinilai sebagai “konservatif”, tetapi itulah caraku memandang politik. Namun di atas itu semua, Lukman adalah sahabatku dan juga sahabat M. Amien Rais dalam Muhammadiyah.

251

Lukman, sang politikus, tidak kurang tajam menyerangku sebagai seorang yang terlalu cepat naik ke puncak, padahal tidak pernah menjadi pengurus ranting atau cabang, katanya. Betul, aku tak pernah mengurus ranting dan cabang secara langsung, tetapi sebagai alumnus Madrasah Mu’allimin Lintau dan Jogjakarta, apa sulitnya bagiku untuk mendaki ke puncak, kalau warga menginginkan. Yang jelas aku tidak pernah membuat rekayasa atau manuver dalam bentuk apa pun agar dipilih dalam muktamar. Itu bukan watak dan tabiatku. Semua orang Muhammadiyah paham ini. Bukanlah caraku untuk bergerak ke atas dengan membentuk timtim sukses agar menang, karena aku tahu secara diamdiam warga Muhammadiyah telah menjadi tim suksesku secara sukarela. Mungkin dari sisi inilah aku lebih baik tidak memasuki partai politik yang selalu ramai dengan tim-tim sukses yang saling berebut menjual barang dagangannya dengan retorika yang kadang-kadang sangat murahan. Muktamar Aceh akhirnya dibuka Presiden Soeharto. Biasa, Muhammadiyah dipuji. Tetapi ada yang di luar kebiasaan. Di luar teks pidato, presiden berucap, kira-kira a.l. berbunyi: “Tanpa tedeng aling-aling, aku adalah bibit Muhammadiyah yang ditanam di bumi Indonesia.” Mungkin tidak persis demikian, tetapi intinya begitu. Hebat bukan? Pak Harto berpuisi. Muktamar gaduh dalam kesenangan. Ada bibit yang menjadi presiden. Berbulan-bulan setelah itu masih banyak mulut Muhammadiyah yang mengulang-ulang pujian itu. Ucapan inilah kemudian yang disebarkan setelah dicetak bagus di berbagai daerah oleh warga Muhammadiyah. Mereka merasa mendapatkan

252

perlindungan yang lebih kuat dalam situasi politik yang serba bercorak “daulat tuanku” itu. Bukan karena latah tentunya, tetapi bertujuan untuk lebih mengamankan posisi Muhammadiyah di mata penguasa setempat. Pejabat mana yang berani berhadapan dengan Pak Harto sebagai bibit Muhammadiyah, sekalipun di panggung bangsa dia sedang dilawan oleh bibit yang lain. Jadi ada “pertempuran” antara bibit dengan bibit. Menarik dan menegangkan. Dalam perjalanan waktu beberapa tahun kemudian, bibit pertama jatuh dari kekuasaan secara dramatis, bibit yang kedua kalah dalam pemilihan presiden Juli 2004 dengan segala kenangan yang berwarna-warni. Inilah dunia, tetapi Muktamar Aceh berjalan relatif lancar. M. Amien Rais terpilih dengan suara terbanyak. Lukman pun setelah melalui pemungutan suara ulangan di tanwir karena urutan namanya berada di ujung, akhirnya masuk pula dalam pencalonan, dan kemudian terpilih menjadi anggota P.P. urutan nomor 10 setelah lima tahun ditinggalkannya sejak Muktamar Jogja tahun 1990. Aku sendiri masuk nomor tiga, selisih satu suara dengan Pak Sutrisno Muhdam, yang berada pada urutan kedua, sebagaimana akan terlihat dalam daftar di bawah. Jika pada Muktamar Jogja, aku berada pada nomor bontot kedua, di Aceh aku sedang bergerak ke pucuk secara alamiah, sekalipun masih kurang layak di mata Bung Lukman karena tidak pernah memimpin ranting dan cabang. Bagiku, komentar-komentar model ini adalah intermezo belaka sebagai bagian yang memperkaya proses titik kisar di perjalanan hidupku. Kalaulah sekarang Bung Lukman masih hidup, aku akan mendatanginya untuk rekonsiliasi permanen. Tidak ada

253

gunanya melanggengkan formula “seiring bersimpang jalan, serumah berlain rasa,” sekalipun dalam kenyataan pergaulan manusia tidak selalu mudah, betapa pun terdidiknya mereka. Mukatamar Aceh telah memilih 13 anggota P.P. Muhammadiyah dengan urutan suara sebagai berikut: M. Amien Rais (1245), Sutrisno Muhdam (1048), Ahmad Syafii Maarif (1047), A. Watik Pratiknya (886), A. Rosjad Sholeh (874), Yahya A. Muhaimin (866), Ramli Thaha (852), Asjmuni Abdurrahman (802), M. Muchlas Abror (730), Lukman Harun (660), Anhar Burhanuddin (628), Rusjdi Hamka (624), M. Sukriyanto (589). Pada waktu pemungutan suara aku tidak memilih diri sendiri sehingga yang kuperoleh kurang satu di bawah Sutrisno Muhdam. Tetapi dibandingkan dengan Muktamar Jogjakarta, aku telah melompati sembilan nama. Di antara mereka ada yang sudah puluhan tahun mengurus PP Muhammadiyah. Dari 13 nama itu, ditetapkan tujuh anggota yang menjadi pengurus harian sebagai berikut: Ketua: M. Amien Rais, Wakil Ketua: Sutrisno Muhdam, Wakil Ketua: Ahmad Syafii Maarif, Sekretaris: A. Rosjad Sholeh, Sekretaris: M. Muchlas Abror, Bendahara: Anhar Burhanuddin, Bendahara: M. Sukriyanto A.R. Sebenarnya salah satu alasan mengapa muktamar diadakan di Aceh adalah untuk menunjukkan kepada dunia bahwa propinsi itu cukup aman. Muktamar Muhammadiyah adalah di antara test-case-nya. Memang selama muktamar berlangsung, hampir tidak ada gangguan yang berarti, sebab pengamanan sangat ketat. Tetapi pada tahun 1995 itu, situasi yang sebenarnya di lapangan adalah bahwa Aceh jauh dari aman. Peluru dari G.A.M. dan T.N.I. masih saling menyalak. Korban sesama anak bangsa tetap saja berjatuhan tanpa henti.

254 Dari sisi ini. Alasan lain berupa harapan agar muktamar itu akan dapat memberi suntikan dan dorongan kepada warga Muhammadiyah setempat untuk bangkit dalam kerangka sebuah Indonesia yang utuh. T. Djohan telah bekerja maksimal untuk mensukseskan Muktamar Aceh. Di mata kebanyakan warga Muhammadiyah. Ini saja sudah menunjukkan bahwa pengamanan muktamar harus ekstra ketat. sebagaimana terbaca dalam puisi yang kutulis sembilan tahun pasca muktamar pada saat Aceh dihantam gempa dan tsunami dahsyat pada 26 Desember 2004. Ingat ketua panitia lokal adalah seorang jenderal Angkatan Darat yang sekaligus ketua Golkar propinsi Aceh. Muhammadiyah adalah gerakan da’wah. Sikap Muhammadiyah memang lentur berhadapan dengan fluktuasi politik karena mengingat kondisi lapangan seperti tersebut di atas. Tentu tragedi maut ini tidak ada hubungannya dengan peran Jenderal Djohan dalam penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah ke-43 di ibu kota propinsi bergolak itu. Di atas itu semua. Amat disesali. beberapa tahun yang lalu jenderal ini ditembak mati oleh kekuatan gelap tidak jauh dari masjid raya Baiturrahman. Apakah pernah Muhammadiyah tidak berani? Berani yang dibungkus dalam kesopanan sering dibaca orang sebagai pengecut dalam kemasan berani. dan karena itu Muhammadiyah berutang budi kepadanya. muktamar di kawasan tak aman itu adalah sebuah keberanian yang luar biasa. Banda Aceh. Terserah sajalah segala penilaian itu. . bukan partai. tetapi diakui bahwa Jakarta telah memperlakukan propinsi secara tidak adil selama bertahun-tahun. opsi merdeka untuk Aceh tidak realistik.

emas. dari sisi sejarah. dan ketua terpilih kemudian juga seorang bibit lain yang lebih autentik sedang berseberangan jalan dengan bibit pertama. Mereka telah menyerahkan segala yang terbaik untuk membela kehormatan dan martabat manusia. dan mungkin yang lain. tembaga. engkau adalah bumi pahlawan. bumimu mengandung kekayaan minyak. dibuka oleh bibit. tapi hanya 30 tahun. Sebagai pencinta Aceh. sebagai wujud dari harga diri untuk melawan si kafe dan kezaliman. laki-laki dan perempuan.255 Itulah bagian-bagian human interest dari panggung Muktamar Aceh yang digelar dengan meriah. beberapa hari pasca tsunami. kayu. aku menulis puisi historis untuk menunjukkan duka yang teramat dalam pada bait-bait berikut: Aceh: Mengapa Harus Dihukum? Aceh. Aceh. Sementara engkau sendiri Menderita dan menjerit. . juga dari sisi sejarah. Sejak itulah engkau resmi dijajah. Aceh. Sebagian telah dikuras untuk engkau berikan kepada Indonesia secara paksa atau suka rela. Sampai hari ini. engkau adalah wilayah yang tersingkat dijajah Belanda. Perang Aceh berakhir pada 1912.

Tanpa dinyana. demi kemerdekaan yang telah engkau perjuangkan dalam rentang waktu berbilang musim. Aceh. engkau berontak karena merasakan dilecehkan Jakarta. Engkau bela republik dengan darah. Sebagian besar rakyatmu ingin tetap bersama Indonesia. dengan sisa-sisa kekuatanmu yang terpecah dan terbelah. engkau kembali menunjukkan keperkasaanmu. . Belanda sangat takut kepadamu. pada tahun 1950-an. Tanahmu lepas dari Belanda.256 Pada 1942 si kafe pontang-panting dihalau Jepang. Aceh. karena engkau turut mendirikannya. dengan meninggalkan korban dan dendam. di masa revolusi kemerdekaan. engkau sumbang Indonesia dengan harta untuk beli pesawat. luka-luka tubuhmu masih memancarkan darah segar. karena engkau pantang dijajah. engkau kembali melawan. perang saudara belum usai. sekalipun telah dianiaya. tanpa ada tanda-tanda. Tapi tidak bertahan lama. Aceh. Perang saudara berlangsung selama beberapa tahun. untuk kemudian berdamai.

2005 Puisi ini dimuat pertama kali sebagai “Resonansi” dalam harian Republika. Itulah Aceh. Jakarta: Grafindo. tempat Muktamar Muhammadiyah ke-43 digelar dengan meriah. 2005. akibat kemurkaan alam. 4 Januari 2005. lahirlah gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan tubu dan jiwamu. Sekitar 200. Dunia berduka dan terluka. dan Husni Amriyanto Putra. hlm. Tanah Pahlawan. perih sekali! Sebuah pertanyaan tetap saja tak terjawab: mengapa Aceh harus dihukum? Bukankah ia telah berkorban dan berkorban untuk kepentingan Indonesia? Sebuah rahasia yang belum dibukakan Langit kepada kita semua. sembilan tahun sebelum diserang gempa dan tsunami yang menyebabkan kita semua bertanya: mengapa Aceh . 1 Jan. kemudian dimuat lagi dalam kumpulan tulisanku.257 alam tiba-tiba mengamuk dengan garang. sebagian wilayahmu menjadi rata dengan bumi. dengan penyunting Hery Sucipto. Allahu ‘alam! Jogja. Menerobos Kemelut: Refleksi Cendekiawan Muslim. Anton Syafriuni. Indonesia meratap tanpa air mata.000 rakyatmu menjadi mayat sebagai syuhada’. halaman 12. berserakan di mana-mana. Akibat gesekan lempeng bumi. 131-132. karena sudah kering. Tanah Rencong.

Allah maha tahu segala akibat perkara.258 harus dihukum? Sebuah pertanyaan yang tak mungkin dijawab manusia. sesuatu yang lama kurindukan agar menjadi kenyataan. jangan diulang lagi. Sebagai warga Muhammadiyah aku harus berterima kasih kepada Bumi Rencong yang telah menjaga jalannya Muktamar Aceh 1995 dengan aman.M. seperti tersebut di atas. (Gerakan Aceh Merdeka) pada Agustus 2005. Maka adalah sebuah rahmat Allah. Semoga arwahnya diterima Allah dan ditempatkan pada tempat terhormat sesuai dengan amal-baktinya semasa hidup di dunia. Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden telah diberi tugas oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah berbuat maksimal untuk merampungkan tragedi Aceh. dan alhamdulillah berhasil. muktamar bisa berlangsung tanpa gangguan di bumi sengketa tahun 1995 itu.. darah sudah tak tertumpah lagi. sekalipun saat itu belum ada perdamaian antara Jakarta dan G. Tentu dengan . selamat Indonesia. damai. akhirnya Bumi Rencong berdamai sudah. Jakarta harus lebih arif menghadapi daerah yang terlalu lama dianaktirikan sebagai ciri utama dari politik sentralistik a-moral yang dipraktikkan sekian lama. Selamat Bumi Rencong. Yang berlalu. Peluru masih mendesing di mana-mana. dan berhasil.M.A. Lukaluka sengketa sesama anak bangsa lambat laun akan sembuh secara alamiah. Peranan Jenderal Tengku Djohan sebagai ketua panitia lokal muktamar sangat penting dan menentukan keberhasilan perhelatan Muhammadiyah itu. Amat disayangkan beberapa waktu kemudian jenderal yang berjasa ini telah ditembak mati oleh kekuatan gelap di Banda Aceh. tidak terkecuali di Banda Aceh. Melalui perundingan Helshinki 10 tahun kemudian antara Jakarta dan G. biarlah berlalu. Mari kita saling memaafkan.A.

yang baru dipilih ini segera menyusun pengurus lengkap.. tetapi di balik itu ada saja segi positifnya. karena masing-masing pihak. yaitu terwujudnya perdamaian setelah perang saudara bertahun-tahun.A. Benturan antara dua kutup ini harus dibayar dengan harga mahal sekali.P. di samping teman-teman Aceh yang tinggal di Jakarta.N. aku ditempatkan sebagai salah seorang wakil ketua di samping Sutrisno Muhdam.A.P. Jakarta selalu saja memandang Aceh dari kaca mata negara kesatuan.I.M. dan lembaga. disusul oleh majelis. Usul ini disetujui rapat pimpinan. Ali Yafie. Nurcholish Madjid. Ada sebuah perkembangan baru pada Majelis Tarjih dengan tambahan tugasnya menjadi Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam.N.M.A. . bukan dari Fakultas Syari’ah seperti biasanya. dibantu oleh bagian keamanan Muhammadiyah. Tsunami memang merupakan kiamat kecil. Amin Abdullah dari Fakultas Ushuluddin I. Segera disusun pengurus lengkap P. Di bawah komandan Rais P. Surjadi Sudirdja.. Syuja’ kemudian menjadi politikus sebagai anggota parlemen di Jakarta dari P. Di Jakarta aku sendiri juga turut membicarakan penyelesaian masalah Aceh ini bersama Ali Alatas. Sunankalijaga. badan. M. semula sama-sama keras kepala. sementara G. Amien Rais setelah Muktamar Aceh semakin kokoh.259 pengamanan ekstra ketat dari aparat di bawah pengarahan Jenderal Djohan. Imam Syuja’ adalah Ketua Wilayah Muhammadiyah saat muktamar berlangsung dan masih dijabatnya sampai tahun 2005. Posisi M. Untuk ketuanya aku usulkan Dr. Kembali ke Muhammadiyah. menuntut keadilan. Jakarta dan G.A.

Majelis Tarjih sekalipun diprotes. sesuai dengan nama baru yang disandangnya. Dari sudut pandangan ini mungkin benar. Ini akan sangat merugikan warga jika . Bagiku kekhawatiran ini berlebihan. Bagiku munculnya buku ini sangat strategis dalam upaya memberikan dimensi intelektual kepada warga yang selama ini terasa lemah sekali. Tetapi kekuatan konservatif dalam Muhammadiyah ternyata tidak menyukai buku ini.P. Rupanya di kalangan sebagian warga persyarikatan istilah pengembangan pemikiran dinilai berbahaya bagi Muhammadiyah. sementara tidak semua mereka memiliki saringan yang kuat. P. karena dinilai telah berangkat terlalu jauh dalam penafsiran al-Qur’an. sebab salah satu akibatnya adalah otak-otak cerdas dan kreatif tetapi tetap beriman akan merasa sesak nafas dalam lingkungan Muhammadiyah. di antaranya melalui diterbitkannya buku Tafsir Tamatik yang cukup penting. Pemikiran di dunia ini tidak pernah statis. buku ini tetap saja beredar sampai sekarang.260 Dengan Amin Abdullah diharapkan majelis ini tidak hanya membicarakan masalah-masalah hukum agama. Di bawah kepemimpinan Abdullah. Aku menyayangkan bahwa sesuatu yang tidak terlalu elok telah berlaku belakangan. Dikhawatirkan berbagai aliran pemikiran akan merambat ke dalam lingkungan warga. juga di bumi Muslim. Tetapi mengapa tidak dipertimbangkan dari dimensi lain untuk merangsang kegiatan intelektual di kalangan warga. tetapi juga akan meluas ke kawasan pemikiran Islam. majelis ini telah melakukan terobosan-terobosan. Muhammadiyah hasil Muktamar Malang 2005 mengubah lagi nama Majelis Tarjih menjadi Majelis Tarjih dan Tajdid.

Selama sebagian warga Muhammadiyah hanya berkutat di lingkungan yang sempit. sepanjang pengetahuanku adalah sosok yang tidak pernah gamang berhadapan dengan siapa saja. Muhammadiyah akan lengang dari otak-otak kreatif di tengah-tengah gelombang pertarungan pemikiran yang semakin sengit dan dahsyat. Mari sama kita ikuti apakah mereka akan menjadi semakin sekuler. Belakangan anak-anak muda persyarikatan telah tampil ke gelanggang intektualisme Indonesia. sementara al-Qur’an sendiri telah menantang manusia untuk beriman atau tidak beriman dengan risikonya masing-masing.261 Muhammadiyah memang punya keinginan untuk juga tampil sebagai gerakan ilmu. selama itu pulalah mereka tidak akan kenal cara berpikir pihak lain. dan siapa saja. Ahmad Dahlan. sekalipun dengan perkembangan terakhir penilaian semacam itu sudah tidak benar. Bahkan dia bergaul kaum komunis. Mengapa kemudian sebagian warga Muhammadiyah tidak percaya diri? Jawabannya hanya tunggal: kurang bacaan! Inilah salah satu sebab mengapa Muhammadiyah dinilai sebagian pengamat sebagai gerakan yang gersang dari kerja-kerja intelektual. suatu gagasan yang sudah kulontarkan sejak tahun 1985. Pertanyaan yang muncul dalam hatiku adalah: apa sebenarnya yang dicemaskan terhadap pemikiran baru yang lebih segar selama masih dikawal oleh koridor Kitab Suci? Apa yang ditakutkan. liberal. Kepada anak-anak muda yang gelisah terhadap gejala konservatisme ini. atau semakin beriman. aku selalu mengingatkan agar mereka jangan sampai hengkang dari Muhammadiyah. Kristen. karena berbahaya bagi kemajuan berpikir. Sebab bila hal itu terjadi. . Pendiri Muhammadiyah.

dan tetap anak kampung. Sebaliknya kaum sekuler hanya mau menempuh jalan pintas saja dengan membuang secara kasar apa saja yang berbau agama dan nilai-nilai kenabian sebagai sumber satu-satunya dari keamanan ontologi. Keruntuhan Rezim. Beberapa tulisanku yang sudah diterbitkan banyak menyinggung persoalan-persoalan fundamental yang tengah dihadapi dunia modern yang sekuler-ateistik. Semua teman tahu. tetapi agama tidak disentuhkan dengan masalah-masalah kemanusiaan yang semakin akut dari tahun ke tahun akibat perubahan sosial yang kencang. Pendukung kekuatan pertama seperti sangat beriman. berkat M. sebab menonjolkan diri bukanlah watakku. Ia dikepung oleh berbagai kekuatan yang saling bersaing karena potensi bahan bakar yang tersimpan di buminya. Mereka tidak punya poin lagi yang dapat ditawarkan untuk mengarahkan perubahan itu sebagaimana dituntut oleh wahyu. Habibie. Adapun pikiranku telah menerawang jauh . di samping menyoroti dunia Muslim yang tak berdaya. Sama sekali tidak. Muhammadiyah. Amien Rais. Dengan keterangan ini. D. Yang hendak kututurkan pada bagian ini adalah bahwa dengan kejatuhan ORBA yang dipimpin oleh “bibit” Muhammadiyah. bukanlah maksudku untuk menunjukkan bahwa aku orang penting. Aku adalah anak kampung. Sedangkan aku sebagai sebuah skrup kecil dalam Muhammadiyah juga sangat diusik oleh getaran itu. dan Aku Dengan sub judul ini.262 Bagiku konservatisme dan sekularisme dalam kenyataan tidak banyak bedanya. aku berharap tidak ada yang salah tafsir terhadap judul bagian ini. getaran kuatnya sangat dirasakan oleh warga persyarikatan.

itu.M. Aku tak peduli lagi.F. Berbeda dengan sikap yang diambil pemerintah Indonesia yang membungkuk kepada I. Tidak ada yang perlu ditakuti kecuali Yang Tunggal. Dikatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat ternyata tidak didukung oleh data empirik. Jadi mohon dimaklumi anak didik Muhammadiyah ini telah memilih jalan seperti itu secara sadar. Jaminan seorang menteri keuangan yang menegaskan bahwa Indonesia tidak perlu cemas dengan krisis yang melanda adalah jaminan yang rapuh. Dengan keterangan ini. Apa yang digulirkan M. tawaran itu diterima.M.F. tetapi tak satu pun yang mujarab. Presiden Soeharto gelagapan. Dipicu oleh krisis moneter pada 1997 yang semula menghantam Thailand. susahnya bukan main. sebab Indonesia sudah dalam tawanannya. (International Monetary Fund) segera menawarkan “jasa baiknya” kepada pemerintah. dalam tempo hanya beberapa bulan Indonesia diterjangnya dengan pukulan yang lebih dahsyat. Dalam keadaan bingung. Mahathir Mohamad dari Malaysia justeru melawan badan keuangan dunia yang . Akan ke luar. I.263 memasuki berbagai arus peradaban..F. Tidak punya dasar. Amien Rais sejak 1993 akan perlunya sebuah suksesi kekuasaan di Indonesia setelah rentang waktu lima tahun akhirnya menjadi kenyataan. Resep terus diberikan. biarlah sejarah pada akhirnya yang akan memberi keputusan tentang siapa yang sekuler sesungguhnya.M. Akhirnya Presiden Soeharto yang “bibit” ini menyerah. tuduhantuduhan yang sering dialamatkan kepadaku sebagai orang sekuler didikan Barat. itu adalah karena Muhammadiyah telah mengajarku untuk menjadi manusia merdeka yang berani. Maka jadilah Indonesia kemudian masuk dalam perangkap kapitalisme yang bernama I.

F. Subang Jaya: Pelanduk Publications. tetapi tetap menghisap darah orang yang sedang sekarat.M. hlm. hlm.M.F.F. (Lih. Pernyataan Mahathir di bawah ini menjelaskan dengan sangat terang siapa I. 2202. dan mengizinkan para bangsawan kulit putih asing untuk mengambil bank-bank dan perusahaan-perusahaan lokal yang lagi jatuh nilainya. . ibid.264 dikuasai Amerika ini. Mahathir Mohamad. 122). Dalam perspektif ini Mahathir adalah pahlawan.M. penjaga kedaulatan ekonomi negaranya. dan badan-badan keuangan dunia lainnya sebagai predators (pemangsa). Indonesia ketika itu adalah salah satu negara yang nafasnya sedang kembang-kempis. Aku yang tidak begitu paham masalah keuangan.. (Lih.M. campur tangan asing yang terlalu jauh terhadap masalah domestik suatu negara tidak lain dari pada bentuk neoimperialisme yang berlagak dermawan. Ekor dari kebijakan ekonomi yang memalukan ini masih cukup panjang untuk diselesaikan Indonesia yang lagi kepayahan itu. itu.F. Malaysia yang jumlah penduduknya hanya sepersepuluh Indonesia ternyata masih punya harga diri untuk menjaga kedaulatannya sebagai negara merdeka. tetapi pinjaman itu hanyalah akan diberikan jika pemerintah menyerahkan manajemen ekonomi kepada I. untuk dibantai. suatu penegasan yang berani sekali. Amat disesalkan para ekonom ORBA telah kehilangan kapekaan patriotiknya dengan menyerahkan leher bangsa RI kepada I. pemerintah harus meminjam dari I. Dengan ekonomi yang compang-camping. Mahathir bahkan mengatakan bahwa I. 15)..F. Globalisation and the New Realities.M.

. Amien Rais yang terlalu kritikal terhadap Habibie setelah beberapa bulan menjadi presiden. Amien Rais memintaku segera ke Jakarta untuk membantunya membaca peta perkembangan politik.J. hari naas bagi Soeharto berlakulah sudah. Aku ingat betul pada tanggal 19 Mei M. Amien Rais pada waktu itu masih terjaga baik. sekalipun beberapa catatan kaki telah kumiliki. Hubunganku dengan M. Fadjar adalah Rektor Universitas Muhammadiyah Malang merangkap Universitas Muhammadiyah Surakarta sebelum diangkat menjadi dirjen. Dia menyerahkan kekuasaannya kepada B. Amien Rais sangat pro-aktif dalam menggumuli perubahan cepat yang sedang terjadi antara tanggal 19-21 Mei itu. M. Mondar-mandir antara Gedung Muhammadiyah Menteng Raya dengan kediaman Dirjen Bimbaga Islam A. Yang aku gagal memahami adalah sikap M. Dua tokoh yang semula begitu akrab. Amien Raislah Muhammadiyah secara tidak langsung telah terlibat dalam pusaran politik bangsa dalam bilangan bulan. Aku sangat menyayangkan mengapa hal itu harus terjadi. Malik Fadjar di Jalan Indramayu. Amien Rais bukan main sibuknya. Dalam situasi yang sangat kritikal itu. karena berdasarkan kalkulasi politik masing-masing. tetapi penglihatanku terhadap apa yang sedang terjadi tidak cukup tajam. Sebagai wakil ketua aku segera terbang. Muhammadiyah di bawah nahkoda M. Komukasi antar keduanya mulai tidak lancar sebagai pertanda bahwa kongsi mereka telah hampir buyar. Habibie yang sedang menjabat Wakil Presiden ketika itu. karena faktor M.265 Pada tanggal 21 Mei 1998. hubungannya dari hari ke hari semakin memburuk dan renggang.

Aku banyak belajar pada tahun-tahun transisi yang menegangkan itu. peran M. Inflasi yang telah mencapai titik puncak yang sangat berbahaya. kecuali hubungan baik. Sebagai seorang tokoh yang punya hubungan international luas. 15. Amien Rais adalah sesuatu yang aneh. Amien Rais cukup besar untuk membantu teman-teman yang punya selera politik tinggi. Aku masih ingat betul sewaktu Adi Sasono datang menemui M. Saya rasa M. Aku hanya membantu di sana-sini bila diperlukan.7). Kran demokrasi dibukanya untuk memenuhi . Amien Rais di P. Muhammadiyah agar ia benar-benar diperjuangkan menjadi menteri koperasi dalam kabinet. sekalipun belakangan mengalami fluktuasi yang agak dramatis. Ini prestasi yang luar biasa dari seorang presiden untuk menolong sebuah negeri yang sedang sekarat. terutama dengan Eropa. termasuk dengan M.P.000) dalam beberapa bulan turun menjadi 1: 6. tidak sulit bagi Habibie mengajak negara-negara lain untuk membangun kembali Indonesia yang sedang terpuruk.266 Pada waktu Habibie membentuk kabinet. Habibie berhasil. Maka semakin mengertilah aku bahwa kekuasaan itu sering membutakan dan memekakkan manusia. Amien Rais tidak mengaharapkan apa-apa dari Adi. Malik Fadjar tetap menjaga hubungan baik dengan banyak orang. sikapnya semakin dingin terhadap M. Amien Rais. Adapun kemudian setelah Adi jadi menteri. secara berangsur tetapi pasti ditekan demikian rupa. Rupiah yang terjun bebas berhadapan dengan dolar Amerika berbanding 1:15 ($1=Rp. Masuknya Adi Sasono dan Malik Fadjar menjadi menteri tidak lepas dari peran M. Amien Rais.

P. Di dalamnya berkumpul kekuatan .R. Jika KRP gagal mengatasi krisis dalam tempo yang singkat boleh jadi akan bernasib sama dengan kabinet yang digantikannya. yang ketiga.I. 6. (Kabinet Reformasi Pembangunan). Krisis politik sedang berada di puncaknya dan Indonesia tengah memasuki babak baru dalam sejarah nasionalnya setelah sebelumnya ratusan anak bangsa mati tertembak dan terbakar sebagai tumbal reformasi yang dipekikkan mahasiswa Indonesia yang perkasa. Aku yang sedikit tahu tentang proses pembentukan kabinet ini pada 24 Mei menulis sebuah tanggapan yang dimuat dalam Harian Republika tanggal 3 Juni 1998. Pada 22 Mei Presiden Habibie mengumumkan nama-nama menteri kabinet baru dengan nama KRP (Kabinet Reformasi Pembangunan) menggantikan Kabinet Reformasi yang hanya berusia dua bulan lebih sedikit. apalagi kabinet ini adalah kabinet gado-gado. khususnya kaum elit dan para mahasiswa. hlm. Habibie yang kemudian dilantik menjadi presiden R.267 tuntutan masyarakat. Ini tantangan terberat bagi Habibie. Orde Baru yang disimbolkan mantan Presiden Soeharto telah tumbang sewaktu beliau menyerahkan kekuasaannya pada 21 Mei kepada wakilnya B. Pada 22 Mei 1998 Habibie membentuk kabinet yang diberi nama K. Untuk mengingat kembali apa yang kukatakan tentang proses itu.J. umur kabinet terpendek sepanjang sejarah Orba. di bawah ini direkamkan lagi secara lengkap pendapat itu: Minggu ketiga bulan Mei 1998 benar-benar merupakan hari-hari bersejarah yang sangat kritikal.

Di sinilah terletak kekuatan dan sekaligus kelemahannya. Habibie tampaknya tidak cukup punya daya untuk membentuk kabinet yang sepenuhnya proreformasi.H. dan selalu punya sangka baik kepada setiap manusia. Bahwa Habibie seorang jujur. Dan sifat semacam inilah yang sering dimanfaatkan oleh orangorang “dekatnya” untuk menggunting dalam lipatan. Nasution. Pemungutan suara dalam DPR baru-baru ini tentang proses penurunan presiden adalah salah satu bukti tentang apa yang kita gambarkan di atas.268 reformasi dan kekuatan anti-reformasi. posisinya secara moral dan politik akan jauh lebih kuat. lugu. Dengan perbandingan suara 229 lawan 175. Menurut A. Seharusnya menurut saran saya. Tetapi politik tidak semudah yang kita bayangkan. Sebagian asistennya barangkali lebih banyak memikirkan posisi birokrasinya masing-masing tinimbang didorong oleh pertimbangan kepentingan bangsa. Sekiranya Habibie berani banting stir setelah mendapat pelimpahan kekuasaan dengan membentuk sebuah kabinet reformis. tak seorang pun yang meragukan. Atau mungkin juga Habibie memang tidak punya asisten reformis yang piawai yang siap memberikan masukan kepadanya secara pas dan demi kepentingan bangsa secara keseluruhan. dua syarat perlu dipenuhi oleh para asisten: loyal tetapi kritikal. Keterkaitannya dengan mantan Presiden Soeharto selama lebih seperempat abad menyulitkan dirinya untuk mengambil posisi yang tegas dan mantap. salah satu kelemahan Habibie adalah tidak pernah selektif dalam memilih pembantu. DPR akhirnya sepakat hanya menurunkan Soeharto bukan dalam satu . Ini dilema terbesar baginya.

269 paket dengan Habibie. Lukman yang belum juga akur dengan Amien Rais dan aku. dan efektif. Tim penasehat ini harus punya on-line setiap saat dengan presiden. Dengan cara ini diharapkan Habibie akan dapat memutuskan sesuatu kebijakan secara tepat. dengan kriteria di atas: loyal tetapi kritikal.P. bijak. Keluguan Habibie telah dimanfaatkan orang dengan cara yang tidak bermoral. Siapa pelopor kekuatan yang meraih suara 175 yang ingin menurunkan Soeharto dan Habibie dalam satu paket? Tidak lain adalah adik “teman dekat” Habibie yang kini masih bercokol dalam kabinet. juga terjadi proses dinamika internal yang cepat dalam Muhammadiyah. Bukankah masuk kabinet dirindukan oleh banyak anak bangsa? Dalam pada itu antara bulan Mei dan Agustus 1998. Habibie benar-benar berlomba dengan waktu. punya watak negarawan. Lagi-lagi faktor Amien Rais sebagai penyebab utamanya. adakalanya dengan perasaan khawatir. Anggota P. Para oportunis tentu akan terus kasak-kusuk untuk melihat peluang bagi dirinya dalam pemerintahan. sebab pengaruhnya di Muhammadiyah sudah jauh merosot. tetapi diabaikan saja. Jumlah penasehat itu cukup lima atau tujuh orang saja. yang lain umumnya lebih banyak mengikuti. Itulah analisisku tentang perkembangan politik dalam masa transisi yang gaduh. kadang-kadang juga memunculkan riakriak yang agak mengganggu. Seperti sudah kukatakan sahabat yang satu ini tidak masuk dalam Kabinet Muhammadiyah dalam Muktamar Jogjakarta tahun 1990 karena sikap-sikap politiknya yang . Untuk menghadapi masa transisi yang sangat kritikal ini saya menyarankan agar Presiden Habibie secepatnya mengangkat tim penasehat presiden yang piawai.

Watik berpendapat lain. Siapa tahu dengan majunya Amien Rais ke gelanggang politik. Seandainya rapat tidak menyetujui langkah Amien Rais untuk terus maju ke pentas politik.P. Pada waktu itu aku benar-benar mendorongnya untuk bergerak tidak kepalang tanggung. Dengan kata lain. sebagaimana yang telah kusebut sebelumnya. Aku dan Dr. kendaraan politik Soeharto selama ini. saya rasa seorang diri pun dia akan bergerak. Dukungan kuatku dan Watik terhadap Amien Rais tentu sedikit banyaknya akan meringankan perasaannya dalam mengambil langkah-langkah strategis selanjutnya. Untuk menentukan sikap P. menginginkan Amien Rais agar mundur dari politik agar dapat sepenuhnya berkonsentrasi mengurus Muhammadiyah. Kalau mandi. karena aku tahu betul naluri politiknya sangat kuat.P. diadakanlah rapat pleno P. pada bulan Mei itu bertempat di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih dengan agenda tunggal. dia akan . Sampai jatuhnya Orba. Amien Rais jelas sangat setuju dengan pendapat ini.P. Tokh pendukungnya sudah semakin meluas. Amien Rais harus maju terus dalam perjuangannya untuk memperbaiki kondisi bangsa yang sedang rusak. menghadapi perkembangan politik bangsa setelah Soeharto jatuh atau menjatuhkan diri dan Habibie telah jadi presiden. teman-teman PP yang lain tampaknya kurang menyadari kenyataan psikologis seorang petanding politik yang mau naik ring ini. Setelah berdiskusi agak lama.270 dinilai kurang pas di mata warga persyarikatan. yaitu bagaimana menyikapi perkembangan politik yang sedang hangat. Tokh tugas utamanya menjatuhkan rezim telah rampung. Lukman masih bagian dari Golkar. sebagian besar anggota P. jangan kepalang basah.

M. Rais diberi mandat penuh untuk merumuskan langkah-langkah politiknya untuk kepentingan bangsa dan Muhammadiyah. seperti A. Yang lain juga mengikuti. tetapi tidak sekuat Amien Rais. itu. sekalipun tidak banyak kemudian yang tetap setia kepada Muhammadiyah. mantan tahanan politik ORBA. Persoalan belum selesai dengan keputusan rapat P.M. Sekiranya langkah Rais itu mengarah kepada pembentukan partai baru. Warga Muhamadiyah yang selera politiknya juga mencuat. Jelas di sini aku juga punya naluri politik. akhirnya cita-citanya tercapai juga untuk menjadi seorang pemain politik kelas bantam di Indonesia. tidak diadakan pemungutan suara untuk melepas Amien Rais ke medan yang lebih luas.271 berbuat banyak untuk kepentingan bangsa ini secara keseluruhan.P.P. Pada waktu itu aku menyadari bahwa pengaruhku mulai dirasakan dalam lingkungan Muhammadiyah. Fatwa. Dalam rapat di atas P. Adapun kemudian gagal mencapai puncak tertinggi. (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) se Indonesia. Perlu langkah-langkah selanjutnya untuk merumuskan sikap yang lebih pasti tentang bentuk langkah Amien Rais itu. itu adalah karena garis tangan yang belum mengizinkan. untuk mengadakan Rapat Pleno yang diperluas di Semarang bulan berikutnya dengan mengundang P. Tetapi ada masalah yang sedikit pelik.P. bahkan turut bersuara memberi masukan kepada peserta. juga tidak ketinggalan hadir dalam pertemuan itu. karena memang di situ habitat yang tepat baginya. lalu siapa yang akan menjadi ketuanya? Aku sejak awal sudah . Ramai sekali yang hadir. rumah tangga asli mereka. Pucuk dicinta ulam tiba. Pikiran inilah kemudian yang “memaksa” P.W. Fatwa.

tetapi kuhargai seperti biasa.P.A. bertempat di kantor P. Ketua P. bertindak cepat. jawabanku lugu.272 menentukan pilihan agar Rais yang tetap maju. Anehnya dia menyebut aku yang akan menjadi ketua partai baru itu.M. maka berdirilah P. Rais sendiri semula agak ragu-ragu. termasuk aku. Antara Juni-Agustus 1998. Fanatiknya kepada Amien Rais sudah berada di luar nalar. Muhammadiyah selain memimpin partai. Tokh peminat politik di kalangan Muhammadiyah cukup tersedia. bukan yang lain. Amien Rais dan sebagian besar peserta memilihku untuk tampil.P. Di ujung upaya. Rapat Pleno yang diperluas diadakan lagi pada 22 Agustus 1998. Biarlah orang yang berbakat yang harus memikul tugas politik itu. Rais dan pendukungnya. Entah dipengaruhi siapa. Muhammadiyah? P. tanpa merasa . (Partai Amanat Nasional) pada 20 Agustus 1998 yang dideklarasikan di Jakarta dengan Ketua Umumnya Mohammad Amien Rais. Biasa. Akibatnya wartawan mulai menguntitku. Ini luar biasa memang. Sulawesi Selatan yang bersikukuh agar Amien Rais tetap merangkap sebagai Ketua P.N.P. Djamaluddin Amin. kecuali sahabatku K. mulai sibuk melobi ke sana-sini dalam upaya mencari format yang pas bagi kendaraan politik yang akan dibentuk itu. tidak boleh terlambat.W. karena energiku lebih baik digunakan untuk yang lain.H. Lalu bagiamana posisinya sebagai Ketua P. Selesai rapat aku hengkang ke Jogja sebagai isyarat kuat untuk tidak mau terlibat dalam permainan politik. untuk maksud baik atau sebaliknya.P. Acara pokoknya tunggal lagi: siapa yang akan menggantikan Rais sebagai Pejabat Ketua P. Politik bukan duniaku. Muhammadiyah Jakarta. Muhammadiyah sampai Sidang Tanwir berikutnya.P.

persahabatanku dengan kyai ini tetap utuh. tidak peduli ke tempat yang tersembunyi sekalipun. Nasehat ini mungkin didengarnya. apakah dia merasa lebih bermanfaat di politik atau tetap mengurus Muhammadiyah yang telah digelutinya selama puluhan tahun.. Tidak seperti di bawah kepemimpinan Amien Rais yang telah membawa Muhammadiyah bersinar terang. Inilah sosok yang aku gantikan.273 tersinggung sedikit pun. Alasannya sederhana saja. sekalipun bukan tanpa masalah di lapangan. Semua wartawan berduyunduyun mengejarnya.P. orang Minang kedua sesudah . Repot bukan? Memang repot! Salah-salah melangkah. Setelah bola mulai terpegang di tanganku sebagai pejabat ketua P. Muhammadiyah juga akan kurang diperhitungkan orang. Aku tidak terlatih menjadi orang pertama. bahkan tidak di tingkat ranting atau cabang. tingkat wilayah. aku akan tenggelam. tetapi teman yang terakhir ini lebih arif dalam memposisikan diri.A. sekalipun aku pernah menasehatinya agar tidak turut bermain di arena politik praktis. Sampai hari ini. Aku menggantikan posisi seorang yang sedang berada di atas angin.N. Mungkin semula dia berharap agar Amien Rais juga begitu. Sekarang tahu-tahu sudah berada di pucuk pimpinan Muhammadiyah. aku semula merasa agak gamang juga. Mungkin kritik Lukman Harun kepadaku ada unsur kebenarannya. Aku kemudian belum sempat bertanya lagi kepada kiyai Sulawesi ini. tetapi kondisi Muhammadiyah setempat mengharuskannya memimpin P. karena debut politiknya secara lebih mengarah sudah dimulai sejak Tanwir Surabaya. Maka jadilah Djamaluddin Amin mulai dikenal sebagai tokoh politik di samping tokoh Muhammadiyah. Ini tidak mengherankan. Namanya disebut di mana-mana.

tanyakan langsung saja nanti. 1998. Tokoh piawai inilah yang batinnya ditaklukkan Dahlan untuk menceburkan diri ke dalam Muhammadiyah. Pertanyaannya kemudian adalah apakah Muhammadiyah merosot di bawah kepemimpinanku.P..G. pejabat. selama setahun pertama aku masih berada di bawah bayang-bayang Amien Rais. Budha. selama setahun aku harus belajar banyak tentang bagaimana sebaiknya aku melangkah.” Sebelumnya tidak ada pembicaraan apa-apa tentang masalah ini. cendekiawan. (Dewan Pertimbangan Agung). Bukan aku. atau siapa saja. Sutan Mansur. Dan panggilan batin itu dilakukannya dengan sepenuh hati. Tokoh inilah yang senantiasa mengarahkan Hamka untuk tetap istiqamah dalam hidup.. bulan Mei mengontak Lip (karena aku tidak berada di tempat) untuk menanyakan apakah aku bersedia menjadi anggota D. politisi..R. sebab masih ada bayang-bayang yang melindungi bukan? Tahun 1998 itu ada lagi perkembangan lain yang menyangkut diriku. Tetapi harus kuakui. biarlah orang banyak yang menjawab. Tokoh ini pulalah dulu yang sering menasehati Soekarno agar pandai-pandai menjaga amanah kekuasaan. Des. Kata orang. setelah ditetapkan menjadi ketua definitif sampai muktamar berikutnya dalam Sidang Tanwir Bandung.I.W.I. Orang kantor Akbar Tanjung. Hindu. dunia kampus. P.274 A. Lip menjawab: “Saya tidak tahu. Merekalah yang punya otoritas untuk menentukan citra publik dalam menilai kepemimpinanku. sekneg (Sekretaris Negara) ketika itu.Tanyalah tokohtokoh N. tetapi orang seumurku mungkin memang .U. budayawan. Bagiku hal ini baik saja.A. K. Aku bukanlah sosok yang sepiawai itu. warga Muhammadiyah. militer.

aku seakan-akan memasuki sekolah baru dalam politik secara langsung. Dari pengamatanku. tetapi dibungkus dalam kemasan bahasa yang sopan. mantan sekretaris jenderal. Entah berapa ribu halaman kertas yang telah digunakan untuk tujuan itu.275 dinilai cocok sebagai penasehat presiden. Sebagai seorang yang sudah agak melek politik. Abdurrahman Wahid... Pada 11 Juni 1998 aku dilantik bersama anggota D. mantan jenderal.A. menganggapnya tidak diperlukan lagi.A. berhadapan dengan tiga presiden bertutut-turut: B. Apakah presiden mau dinasehati atau sebaliknya. yang lain. juga dari Muhammadiyah. D. mantan anggota parlemen. termasuk Sutrisno Muhdam.A.P.R. Lebih lima tahun aku menjadi anggota D.P.J. bukanlah urusan D. Baramuli. Habibie. dan mantan-matan petinggi lainnya.P. pada tahun itu juga. Kemudian pada akhir tahun 2003.A.A.P. politisi. Aku mulai belajar bagaimana caranya merumuskan sebuah pertimbangan dan pernyataan yang padat dan mengenai sasaran yang tepat. Habibie yang kebetulan punya hubungan baik dengan Ketua D.A. dan Megawati. Itulah .. Para mantan menteri. baik A.P. Dengan bergabung ke dalam dewan yang terdiri dari mereka yang umumnya sudah berumur lanjut. maupun Achmad Tirtosoediro. dilikuidasi karena M.P. selama periodeku bukan main aktifnya membuat berbagai pertimbangan dan saran untuk disampaikan kepada presiden. Aku diberi hak pensiun sebagai anggota D.P.P. aku tidak merasa canggung bergabung dengan mereka. Pengetahuanku tentang sejarah Indonesia sangat membantu tugasku sebagai anggota dewan.A.J. D. memang tidak banyak dari pertimbangan dan saran itu yang dipakai rujukan oleh presiden.A. kecuali oleh B.

Melalui Gafur. tidak sampai rampung menjalankan tugasnya sebagai anggota . sebagai Dewan Pensiunan Agung. Muhammadiyah untuk tidak selalu memikirkan ongkos perjalananku sebaagi ketua. menteri pertahanan dalam kabinet SBY-Kalla. Di samping banyak belajar pada teman-teman anggota.A. politisi. tanpa kecuali. Sewaktu aku masuk D. Sambil mengurus Muhammadiyah di Jakarta. umurku sudah menginjak 63 tahun.P. Apakah itu jenderal. Rosjad Saleh setelah Amien Rais mundur.A. untuk D. aku hampir saban minggu bolak-balik Jogja-Jakarta-Jogja untuk menghadiri sidang-sidang D. sedangkan Tirtosudiro dan Sulasikin Moerpratomo. Aku mendaftar sebagai anggota Komisi Politik sampai saat-saat terakhir. kiyai. penghasilanku dengan sendirinya juga meningkat. Wakil Ketua P. Sutrisno Muhdam.A. agak jauh di atasku. Dengan demikian aku punya dua kantor di Jakarta. aku banyak dikenal di kalangan korps marinir.P.P.A. aku sungguh banyak belajar dari anggota-anggota lain yang sudah kenyang dengan pengalaman dalam menangani berbagai masalah bangsa dan negara ini. Bagiku apa pun kata orang. tokoh masyarakat. di samping A. Muhammadiyah.P.A.P.P. marsekal. mereka terlalu baik denganku. Ini juga meringankan P.P. satu di Mentang Raya untuk Muhamadiyah dan di Jalan Veteran. bahkan pernah memberikan makalah di depan para elitnya di Jakarta bersama Profesor Joewono Soedarsono. Semua anggota D. baik sipil maupun militer. dekat istana presiden.276 sebabnya barangkali ada orang yang membaca D. Sampai hari ini yang selalu saja berkomunikasi denganku adalah Jenderal Marinir Gafur Chalik.. secara berangsur telah menjadi teman baikku. karena dinilai kurang efektif dan banyak diisi oleh para pensiunan.

banyak merokok bukan?” Jawabannya pendek. ketua P. cepat selamat. Karena upaya beraninya ini. apakah dirinya bagian dari Muhammadiyah atau Muhammadiyah bagian dari dirinya. Muhdam adalah menantu A. Hanya soal waktu.P. dan semua kita pasti akan menyusul pula.R.R.277 D. Aku sungguh banyak belajar dengan Pak A. Itulah gaya Pak A.R. Muhammadiyah kehilangan dengan kepergian mereka.R. mertua Muhdam.R. cepat. Amien Rais dan aku mungkin agak berbeda.. aku pernah menyebut Habibie sebagai Bapak Demokrasi Kedua . Satu ketika aku bertanya: “Pak A. penuh kharisma. hanya satu-satu. Tidak diragukan lagi bahwa presiden ketiga ini punya niat luhur untuk memulihkan kedaulatan rakyat sesuai dengan konstitusi yang selama ini diabaikan oleh sistem “daulat tuanku”. Aku tidak tahu. Hubunganku dengan Muhdam manis sekali.. Apakah kemudian Muhammadiyah benarbenar selamat.A. karena pribadinya selalu kalem dan tulus. Catatanku tentang ini adalah sebagai berikut. sebagaimana telah kusinggung lebih dari sekali sebelumnya. biarlah publik yang menilai.P. Setelah aku membicangkan sedikit tentang D.A. yang terlama. alon-alon asal kelakon (pelan tetapi dilaksanakan). dikenal oleh warga sebagai sesuatu yang teduh dan sejuk. Begitu menyatunya hubungan itu. karena wafat setelah sakit beberapa lama. Semoga Allah menerima semua amal-bakti mereka yang tulus selama hidup. Rasa humornya tinggi. Kepemimpinan Pak A. “Tidak. dan sedikit menggelikan.P. segar. sekarang kusambungkan lagi dengan masalah langkah Habibie dalam menegakkan demokrasi di Indonesia. biar lambat asal selamat.” Mana pula orang memasukkan rokok dua sekaligus ke mulutnya. Fachruddin.

Informasi itu mengatakan bahwa hampir 80% rakyat pasti akan . aku tidak selalu bisa mengikuti Amien Rais. Tetapi setelah teraju kekuasaan tergenggam di tangannya. Keadaan sukar sekali dikontrol. termasuk Amien Rais. Dalam situasi serba dilematis ini. apakah Habibie masih Soehartois? Ternyata ‘kan tidak. Habibie memang telah melangkah terlalu jauh dengan mengizinkan penyelesaian masalah Timtim (Timor Timur) melalui referendum. Mengapa Habibie tidak diberi waktu yang cukup untuk membuktikan kemampuannya sebagai negarawan. Kran demokrasi dibukanya terlalu lebar. Amien Rais juga turut mengeritik Habibie dengan keras. Kran demokrasi yang dibukanya adalah bukti telanjang bahwa dia telah mengoreksi secara tegas pendahulunya. Seluruh dunia memujinya. sesuatu yang seharusnya tidak dilakukannya. Bahwa Habibie pernah sangat dekat dengan Soeharto. masyarakat menjadi liar. Tampak di sini Amien Rais juga kurang sabar dalam membaca peta persoalan yang sedang berkembang. Karena Indonesia sedang berada dalam proses transisi kritikal dari rezim sebelumnya yang antidemokrasi ke era demokrasi. Tetapi ada catatan lanjutannya. Inilah yang kurang diapresiasi para elit.278 sesudah Hatta. Dalam menghadapi Habibie. sehingga yang berjalan bukan demokrasi yang sehat dan bertanggungjawab. Situasi ini dimanfaatkan kaum elit yang berseberangan dengan Habibie untuk menangguk di air keruh. semua orang tahu. tetapi ultra-demokrasi yang penuh eforia. Pemerintah mendapat data dan informasi yang keliru tentang Timtim ini ketika itu. pemerintah tampaknya cukup khawatir kalau tidak cepat-cepat memenuhi tuntutan masyarakat yang ingin berubah spontan.

Aku rasa tuduhan itu tidak berlebihan. Tetapi penyerbuannya terhadap Afghanistan dan Iraq belum . Tetapi apa pula urusan Amerika dengan hukum internasional segala jika invasi itu menguntungkan politik luar negerinya yang anti komunis? Itu perkara kecil baginya. Amerika Serikat yang masih takut dengan marxisme/komunisme malah merasa sangat senang dengan invasi Indonesia ini. langkah pemerintah cukup antisipatif. bahkan sering dipuji oleh I. Politik memang sarat dengan kepentingan pragmatis. Hanya sekitar 22. Apa hak politik kita untuk mengambil secara paksa tanah orang lain yang dulu tidak merupakan bagian dari Hindia Belanda? Satu-satunya alasan adalah karena dikhawatirkan Timtim akan menjadi sebuah negara marxis setelah ditinggal Portugis.279 berpihak kepada Indonesia. pengambilalihan Timtim telah lama dituduh sebagian orang sebagai langkah imperialistik dari Indonesia. dan Bank Dunia.M. Kondisi semacam ini jelas fatal bagi Habibie. Aku tidak tahu siapa penasehat politik Habibie yang telah memberikan data tidak akurat ini tentang Timtim. hasilnya adalah kebalikan 100% dari perkiraan pemerintah itu. Yang patut dicatat adalah Amerika Serikat yang biasanya sangat peka dalam masalah invasi suatu negara terhadap bangsa lain.5% rakyat Timtim yang ingin tetap bergabung dengan Republik Indonesia.F. Dengan kata lain. Soeharto memang dikenal dunia sebagai seorang piawai dalam menghancurkan komunisme. sekalipun sebenarnya jika dilihat dari sejarah penggabungan Timtim itu. Setelah referendum diadakan. sekalipun itu bertentangan dengan hukum internasional. kali ini malah mendukung pemerintah Soeharto.

dan ternyata memang itulah yang terjadi. Seperti sudah diperkirakan oleh banyak pengamat bahwa M. akan menolak pertanggungjawaban Habibie. Golkar sendiri tidak sungguh-sungguh mempertahankan Habibie.P. Orang melihat pemimpin dua organisasi besar Islam: N. sekalipun ekonomi bangsa telah diperbaikinya.R. Abdurrahman Wahid tidak ketinggalan menghantamnya. sekalipun tidak ada aturan . Habibie jelas salah hitung dengan Timtim. Ringkas kaji. Sidang M.P. Power politics (politik kekuasaan) begitu dominan menguasai pendapat para politisi yang tidak berpikir jauh. Jawaban yang kami dapat adalah jawaban seorang negarawan bahwa dia sebagai kesatria tidak akan maju lagi. Suara keras Wahid dan Amien Rais sungguh telah semakin melemahkan posisi Habibie.280 lama ini tidak ada perkataan lain yang tepat ditembakkan kepadanya kecuali tindakan biadab. digelar untuk “mengadili” Habibie terhadap langkah-langkah politiknya yang dinilai merugikan. Terlalu lama berada di rantau asing: Jerman. Tetapi siapa pula yang akan mempertimbangkan suara silent majority (mayoritas yang diam) dalam sebuah sistem demokrasi yang belum sehat? Inilah tragedi Habibie yang memang agak terlambat mengenal watak bangsanya sendiri. Padahal aku tahu bahwa warga kedua organisasi itu belum tentu sepakat dengan pemimpinnya. dan Muhammadiyah tidak lagi mendukung Habibie. Kritik terhadapnya semakin merebak.U.R. Salahuddin Wahid dan aku menemui Habibie di kediamannya di Patra Kuningan. Tidak selang lama setelah sidang.R. Kami menanyakan kepadanya apakah masih akan maju sebagai calon presiden setelah tidak didukung oleh suara mayoritas dalam M.P.

Fuad Bawazir. di Indiana. persahabatan kami tidaklah rusak. penasehat dan salah .. Pertanyaan yang hendak dicari jawabannya adalah: siapa pengganti Habibie? Amien Rais sebagai tokoh gerakan reformasi pada saat-saat kritikal itu tetap menjadi sorotan publik. Kejatuhan Habibie telah membuat politisi bangsa menjadi sangat sibuk. Habibie sangat tahu diri dan menghormati keputusan M. sekalipun telah membidik dirinya sendiri. termasuk Amien Rais. Muhammadiyah yang harus sedikit banyaknya tahu situasi yang sedang berkembang.281 konstitusi yang melarangnya. Disiplin ilmunya pun. Sekalipun aku tidak sependapat dengan Amien Rais dalam menilai Habibie.P. Ada perkembangan yang agak sulit rumit untuk dipahami. Sebuah teladan demokrasi yang baik dalam praktik telah diwariskan Habibie kepada bangsanya. politik adalah habitat yang sebenarnya baginya. Aku senantiasa mengamatinya dari dekat.P. tetapi dia telah berbuat banyak untuk kepentingan Indonesia yang sedang menghadapi masamasa sulit sebagai warisan dari masa sebelumnya. mau pun di Universitas Chicago adalah ilmu politik. Aku beruntung karena bersahabat dengan Amien Rais yang selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain. baik pada saat belajar di Universitas Gadjah Mada. Maklumlah. apalagi pada waktu itu sudah menjadi Pejabat Ketua P. Seolah-olah rasa lelah tidak pernah singgah di otaknya. Muncul gagasan Poros Tengah yang kabarnya berasal dari Dr. Krisis moneter adalah penyebab utama mengapa Presiden Soeharto harus meletakkan jabatan pada 21 Mei 1998 itu. tidak peduli siang atau malam.R. Masa kekuasaan Habibie hanya 17 bulan. Aku dan Salahuddin hanya terpaku dan kagum atas sikap yang diambilnya.

yang tidak mudah diatasi.P.P.A..K. gagasan kembali ke khittah selalu dihadapkan kepada realitas lapangan yang bertolak . Wahid sesungguhnya bukanlah orang yang tepat untuk menjadi presiden mengingat fisiknya yang bermasalah.K. Amien Rais cukup bersemangat mendukung pemimpin N. sebenarnya punya naluri politik yang tinggi.U..) merasa sejajar dengan P.P.282 seorang penyandang dana Amien Rais dalam politik. Tetapi di mata Poros Tengah dari pada memilih Megawati biarlah Wahid yang tampil..P.” (SMS 26 Januari 2006 jam 22. keluar dari Masyumi pada tahun 1952 dan mengubah dirinya menjadi partai politik.D. tokoh-tokohnya rupanya sangat sulit berpisah dengan politik praktis. (Partai Kebangkitan Bangsa). Sejak N. Inilah dilema N. Intinya dari tokoh-tokoh P.I.P.N. Tetapi sewaktu kuajukan pertanyaan kepada Bawazir tentang siapa pencetus gagasan Poros Tengah. P.U. 1984 di Situbondo.U.D.49/51. dan Golkar.B. maka mereka (P. yang dipimpinnya telah kembali ke khittah 1926 pada Muktamar N. jawabannya adalah: “Jujur saja.U.U. P. dan P. termasuk Wahid.P. P. Wahid yang sebelumnya dinilai sebagian orang sebagai tokoh pluralis dan kulturalis.R.S.. Amien Rais sendiri baru saja dipilih menjadi ketua M.A. Dengan membentuk Poros Tengah. Tata tulis disesuaikan dengan EBJ).D. ini untuk ditandingkan dengan Megawati dari P.R. dalam Sidang M.I.P. mengalahkan Matori Abdul Djalil dari P.N.S. Poros inilah yang mengusung Abdurrahman Wahid untuk menjadi presiden pengganti Habibie. gagasan Poros Tengah lahir dari suatu proses perenungan dan diskusi-diskusi yang diadakan segera setelah Pemilu 1999 di mana partai-partai Islam kalah dari P.K. Sekalipun N.I.P.P. dan Golkar.

Aku lihat yang hadir itu di samping Habibie. Seperti mereka faham saja watak umat . Sementara itu Muhammadiyah relatif lebih aman. Tetapi siapa tahu pula. banyak yang lain.283 belakang dengan harapan itu. Jadi kita hanya bisa berandai-andai dalam ungkapan bersayap “siapa tahu.U. Semuanya meminta agar Amien Rais yang maju. dia baru saja 10 hari menjabat Ketua M. Ini mengingat hubungan Muhammadiyah-N. di akar rumput bisa gaduh.P. ini aku dengar dari Rais sendiri. Akbar Tandjung. setelah babak belur. Ibarat jago silat. sekalipun aku sendiri bukan bagian dari partai. Aku sangat setuju sekiranya Amien Rais tidak terlanjur menyebut Wahid untuk dicalonkan. sekalipun beberapa kadernya juga punya selera politik tinggi. pilihan penolakan itu yang terbaik bagi Amien Rais di kemudian hari. Mereka yang akan mengatasi. Sebenarnya dalam pertemuan di rumah Habibie pada tanggal 21 Oktober 1999 subuh. Yusril Ihza Mahendra. semua yang hadir mengarahkan mata mereka kepada Amien Rais. Dawam Rahadjo. Adi Sasono. Kalau kemudian orang bertanya mengapa bukan Amien Rais yang diusung jadi presiden? Agak berbelit cerita tentang ini.R. Adi Sasono Dawam Rahardjo subuh itu mengatakan kepadaku bahwa jangan risau dengan hubungan N.” Situasinya memang rumit sekali. Aku mengikuti kejadian ini dari jarak yang agak dekat. baru teringat silatnya. Selain itu. jika Rais yang maju. tetapi tetap ditolaknya. di antaranya Jenderal Wiranto. Pada saat itu siapa yang dapat mengatakan bahwa itulah momen yang tepat bagi Amien Rais untuk tampil sebagai pemimpin puncak bangsa.U. Hamzah Haz. Marzuki Darusman. Jadi tidaklah elok tampil lagi sebagai calon presiden.-Muhammadiyah.

A. Tidak mungkin seorang Adi Sasono atau Dawam Rahardjo bisa memadamkannya. Ketua Umum Alwasliyah yang pada waktu itu kami sama-sama menjadi anggota . Muhammadiyah Jakarta. Rahman Wahid yang berharap macammacam itu.U.284 di akar rumput. Sebelum aku mendampingi Amien Rais pergi ke tempat Habibie.. Saksi yang hadir dalam pertemuan di atas adalah H. Azidin. Ada cerita lain yang terkait dengan naluri politik A. Rahman Wahid ini. atau Gus Dur yang akan menemuinya.” Dia menjawab: “Saya yang akan mengunjungi mereka.P. Sekitar bulan Juni 1998 sewaktu menemuiku di kantor P. diobat oleh para kiyai. Dinihari itu A. pasti akan kewalahan jika di masyarakat bawah terjadi huru-hara antara massa N. Rahman Wahid yang sedang bersiap-siap menjadi presiden keempat setelah Habibie.” Aku lalu bertanya: “Para kiyai itu datang ke sini. atas inisiatif sendiri aku menemui Wahid di sebuah kamar Hotel Mulia. Rahman Wahid sudah yakin bahwa dia akan jadi presiden. Rahman Wahid yang punya rasa percaya diri yang kuat sekali.P. Aku yang pada waktu itu sudah menjadi Ketua P.E. Shihab hanya senyum-senyum mendengar A. Bahkan kabinet bayangan telah dibentuknya.” Lalu sebelum pamit aku ucapkan selamat kepadanya. maka eskalasinya bisa jadi akan sangat meluas. Jadi memang serba dilematis. Katanya akan ada dua wakil Muhammadiyah dalam kabinet yang dirancangnya itu. Ada Alwi Shihab dan seorang lagi yang setia menemani A. Tetapi itulah A. dan massa Muhammadiyah. Rahman Wahid mengatakan kepadaku: “Besok pagi mata saya akan melihat. padahal Habibie waktu itu masih berkuasa. S. Umpamanya dalam huru-hara itu ada yang mati.

Dan Abdurahman Wahid terpilih betul.P. Megawati bersedia dicalonkan menjadi wakil presiden. Tetapi tidak menimbulkan kegoncangan yang berbahaya.P.-pun tidak mempersoalkan tentang kesehatan jasmani dan ruhani sebagai syarat bagi seorang calon presiden.A. Dengan terpilihnya Abdurahman Wahid sebagai presiden oleh M.P. sempat sebentar terjadi ketegangan antara pendukung Abdurahman Wahid dan mendukung Megawati. Abdurahman Wahid memang suka berbicara seenaknya.R.R. Abdurahman Wahid juga menyebut nama Matori Abdul Djalil yang akan dijadikannya sebagai Ketua D. Entah itu keinginan Mega sendiri atau karena dorongan teman-teman P. Poros Tengah dengan Amien Rais sebagai salah seorang tokoh puncaknya malah mengusung Abdurahman Wahid untuk dicalonkan jadi presiden menghadapi Megawati. Perasaan saya adalah karena faktor yang kedua ini.I.B. mengalahkan Megawati untuk menggantikan Habibie.R.R.” Padahal Matori bukan preman setahuku. sekalipun pada era Habibie hubungan Abdurahman Wahid dengan Mega ibarat kakak beradik.M.285 D. Di samping berbicara tentang kabinet. yang tidak mau kehilangan segala-galanya. Aneh bin ajaib kemudian berlaku. perlu dipimpin oleh preman. Pada hari-hari itu memang beredar kasak-kusuk A.D. Bahkan Abdurahman Wahid mengatakan: “D. tempat . dan masyarakat tertentu.-P. Bukankah ini sebuah keajaiban dalam sejarah Indonesia modern? M.P.P. (asal bukan Mega) di kalangan anggota M.P. sebab keajaiban berikutnya juga terjadi.R. Mereka biasa pergi bersama ke makam Bung Karno di Blitar atau ke Tebu Ireng. Saya dan Azidin hanya tertawa geli dalam hati mendengar tuturan Abdurahman Wahid itu.

I. Ziarah-ziarah politik ini memang telah membuahkan kursi presiden dan wakil presiden untuk mereka. sekalipun kemudian kongsi mereka pecah lagi oleh berbagai sebab.M. sampai sujud syukur di gedung M.N. Pertanyaannya adalah: untuk berapa lama mereka dapat bertahan? Apakah mereka bersatu hati dan strategi untuk membangun Indonesia dengan cara-cara demokratis? Ingat.M. dan Budha. yang cukup menentukan bagi terpilihnya Abdurahman Wahid. Amien Rais. ini kongsi politik yang sering rentan diterpa berbagai virus kepentingan yang tidak sederhana. Luar biasa bukan? Santri sekarang sedang memimpin Indonesia. Akbar puak H.U.U.R.-Muhammadiyah jangan ditanya lagi.R. bapak spiritual N.U. sebagai tanda bahagia dengan terpilihnya Abdurahman Wahid. Mereka semuanya gembira. tokoh P. Hubungan N. untuk pertama kali terjadi negara Indonesia dipimpin oleh para santri: Abdurahman Wahid.P. Abdurahman Wahid mewakili puak N. apalagi dengan kondisi moral . Fatwa.A. Wahid memang telah lama dikenal sebagai seorang tokoh pluralis yang bersemangat. umumnya disambut dengan antusiasme yang tinggi oleh berbagai golongan dalam masyarakat plural Indonesia.. Apalagi dikaitkan dengan peran Amien Rais sebagai Ketua M. dalam lingkup nasional. Lebih dari itu. Teman-temanku dari pihak Katolik. Amien Rais puak Muhammadiyah. Bukan saja mereka. semula punya harapan yang besar bahwa Abdurahman Wahid akan bisa memperbaiki kondisi bangsa yang sudah rusak ini.R. Hindu.P.P. seorang A. kakek Abdurahman Wahid. Tampilnya Abdurahman Wahid sebagai presiden. Kristen.286 berkuburnya Syekh Hasjim Asj’ari. dan Akbar Tandjung sebagai Ketua D.

seperti ungkapan dalam bait lagu Minang pada akhirnya yang berlaku pada diri mereka adalah: “sepayung berjauh hati. Umar Wahid (adik Presiden Wahid) berupaya agar umat di akar rumput dapat dikendalikan. Rakyat jelata pun tidak kurang antusiasnya mengikuti gonjangganjing politik yang diciptakan para elit. dan Akbar Tandjung telah tampil sebagai pemain utama di pentas politik nasional. demi menolong posisi idolanya yang sedang oleng. Abdurahman Wahid..P. Iklim politik menjadi panas. Mereka yang naluri politiknya tidak begitu tajam berharap betul bahwa kongsi tiga tokoh ini akan bertahan lama. dan memang keduanya adalah petarung sejati.R. Sebelum jatuh sama sekali. para pengikutnya telah berupaya mempertahankan Abdurahman Wahid dengan segala cara. tidak saja di kalangan elit. Tiga figur santri: Amien Rais.” Belum sampai dua tahun. Tidak kurang para kiyai pun telah terjun ke gelanggang.287 bangsa Indonesia yang masih rapuh dan tak menentu. Tetapi alangkah sukarnya. Sepintas lalu. Tetapi mereka yang sudah kenal dengan watak ketiga pemain itu tidak terlalu berharap bahwa ketiganya akan bebas dari macam-macam gesekan politik yang akan membuyarkan kongsi mereka secara dramatis. termasuk dengan jalan yang sama sekali tidak masuk akal. Aku. sebab kata mereka Abdurahman Wahid dan Amien Rais tidak saja sedang “berjauhan hati. tidak saling bertarung dalam mempertahankan kedudukan pemimpinnya masingmasing. bukan . sebuah peristiwa yang baru sekali ini terjadi sejak Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Padahal yang menurunkan Abdurahman Wahid adalah M. cabinet Abdurahman Wahid diterpa angin limbubu. serumah berlain rasa. M. seorang pengusaha pribumi. Deddy Julianto. dan Dr.” tetapi sudah bertarung.

R. termasuk dengan Ketua Umumnya K. N. dan ketuanya M. Drs. sekalipun aku punya hubungan baik dengan elit N. Di akar rumput Muhammadiyah juga telah kena getahnya.U. karena dinilai telah menyalahgunakan kekuasaannya dalam masalah bantuan dana dari Brunai. Apt.U. Tetapi umat banyak sukar sekali membedakan M. masjid-masjid dan bangunan lain milik Muhammadiyah dirusak. warga diteror dengan diberi tanda X di rumahnya. tidak berhasil meredakan ketegangan situasi.M. Amien Rais.288 Amien Rais. Karena kejadian itu cukup menegangkan. dan H. P. maka pernyataan P.H. Ini adalah reaksi yang cukup beradab yang dilakukan oleh Muhammadiyah wilayah itu. Sekolahnya pun ada yang dibakar hangus seperti di Situbondo. DR.P. Bukan dengan membalas perbuatan brutal dengan cara serupa.B. Nadjib . tidak mudah bagiku memimpin Muhammadiyah. Menghadapi keadaan yang mencemaskan itu. Dalam situasi serba sulit ini. Beredar berita bahwa Amien Rais adalah tokoh utama yang menggoyang kepresidenan Abdurahman Wahid. Akibatnya sangat nyata. khususnya bagaimana agar Muhammadiyah tidak dijadikan sasaran kemarahan mereka yang mengaku pengikut Abdurahman Wahid. (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) Jawa Timur yang ditandatangani oleh ketua dan sekretarisnya: Prof. Akibat emosi akar rumput susah dikendalikan. Fasich. Hasjim Muzadi. Pimpinan Muhammadiyah Jawa Timur telah bertindak sangat arif. H. A. tetapi dengan menulis semacam buku putih sebagai dokumen yang memaparkan secara objektif apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.. Khususnya di Jawa Timur.W.

hlm.W.289 Hamid.U. sambil mendesak aparat agar tidak membiarkan tindakan kekerasan itu semakin meluas. Bacalah pernyataan itu baik-baik yang dengan cara sopan mengimbau aparat untuk cepat bertindak terhadap siapa pun yang mengacau keadaan. 3. (Lih. Muhammadiyah Korban Kekerasan Politik. Apa yang terjadi di Jawa Timur ini menjadi perhatian utamaku bersama anggota P.. Mendukung gerakan demokrasi dengan cara damai dan konstitusional. Menyerukan kepada aparat keamanan untuk dapat segera mengantisipasi timbulnya kerusuhan dan perusakan serta secepat mungkin mengusut dan menindak tegas tindakan yang melawan hukum. yang lain. Ainur R. tanpa menyebut golongan mana mereka. Menghimbau kepada masyarakat Jawa Timur agar tetap tenang dan waspada terhadap kemungkinan adu domba dari pihak-pihak tertentu. Faaisol Taselan. Cukup banyak milik . 2. 2002.Sos. Jawa Timur. 4. S. Muhammadiyah tidak ingin dan tidak rela karena gara-gara politik. yang dekat denganku terus dihubungi agar menggunakan jasa-jasa baik mereka untuk turut meredakan keadaan.M. tertanggal 5 Februari 2001. Menyesalkan pelbagai tindakan yang mengarah kepada anarkisme dan perusakan. tetapi mereka menemui kesulitan karena massa emosional sangat sulit dikendalikan. Anak-anak muda N. Dengan menyembunyikan nama pelaku teror ini. Surabaya: P. Jawa Timur terus dilakukan. perlu kukutip di bawah ini. Nadjib Hamid. Kontak dengan P. Sophiaan.W. persaudaraan umat di tingkat akar rumput menjadi kacau dan berantakan. 89). 1.M.P.

M.B.U. hubungan N.W. 94). Kata orang. (Ibid. Dien Syamsuddin. Di antara spanduk yang mengancam Muhammadiyah terdapat misalnya di Jl. Tetapi awal .” ( Ibid.H.. Janganlah energi dihabiskan untuk tujuan yang sia-sia. Jawa Timur dengan cara sopan telah menolaknya karena… “secara spontan warga Muhammadiyah telah mulai melakukan perbaikanperbaikan. Bagiku semuanya harus dimaafkan. benar-benar bisa bahu membahu untuk memperbaiki moral bangsa dan negara yang terlanjur rusak ini..-Muhammadiyah di tingkat bawah berangsur pulih secara perlahan. Tetapi P. Kholil Gresik. A. bukan tidak mengakui bahwa milik Muhammadiyah telah dirusak oleh warganya dan karena itu menawarkan bantuan untuk turut memperbaikinya kembali. N. hlm. P. tetapi pasti. Fatwa: …bajingan negara.U. aku cukup berperan dalam proses pemulihan hubungan ini. tetapi jangan diulang lagi di masa yang akan datang. tetapi isi tidak berubah). 55. dengan sedikit perbaikan ejaan. tentu sangat kecewa dengan apa yang dialami Muhammadiyah berupa ancaman teror dan pengrusakan di atas.U. Aku dan teman-teman telah bekerja keras agar Muhammadiyah-N.U. K. Aku yang telah bekerja keras sejak Muktamar Muhammadiyah Juli 2000 untuk merajut persaudaraan tulus dengan N. Alhamdulillah beberapa bulan kemudian setelah Abdurahman Wahid tidak berkuasa lagi.290 Muhammadiyah yang menjadi sasaran tindakan brutal dan kekerasan selama berbulan-bulan sampai Abdurahman Wahid benar-benar harus rela meninggalkan kursi kepresidenannya. hlm. berbunyi: “Generasi Muhammadiyah Gresik jangan ikut-ikut munafiq seperti Pimpinan MD Pusat yang cacat mulut sbb: Syafii Maarif.M..

Sekretaris: Haedar Nashir dan Goodwill Zubir.W. Muhaimin (971). Thoyar ingin memusatkan perhatiannya sebagai Ketua P. Kita surut sebentar ke belakang untuk menengok Muktamar Muhammadiyah ke-44 di Jakarta. (kemudian digantikan oleh Dasron Hamid karena Sukri minta berhenti) dan Husni Thoyar (kemudian mengundurkan diri dan digantikan oleh Bambang Sudibyo). Daerah Khusus Jakarta. Yahya A.R.M. Din Syamsuddin. Inilah risiko yang harus dilalui persyarikatan karena masyarakat tertentu belum bisa membedakan figure Amien Rais sebagai Ketua M. A. M. Wakil-wakil Ketua: A.R. Malik Fadjar. Sukriyanto A.P. . Wakil Sekretaris: Hajryanto Y. Malik Fadjar (1041). M. Gambaran urutannya adalah sebagai berikut: Ahmad Syafii Maarif (1282). Ahmad Watik Pratiknya (803). A. Din Syamsuddin (1048). M. Thohari dan Abdul Munir Mulkhan. (706). 8-11 Juli 2000. Asjmuni Abdurrahman (769).291 tahun 2002 upaya itu kuteruslan lagi dan secara berangsur semakin tampak hasilnya. M. di mana akhirnya aku terpilih sebagai ketuanya dengan perolehan suara yang cukup tinggi. Amin Abdullah. Sukriyanto A.P.P. sekalipun Muhammadiyah harus banyak berkorban. Muchlas Abror (788). A. M. Ismail Suny (921). Rosjad Sholeh (1034). Rapat Pleno P. Tidak lama sesudah itu. periode 2000-2005 dengan pengurus harian sebagai berikut: Ketua: Ahmad Syafii Maarif. Mohammad Dawam Rahardjo (910). Bendahara: M. Rosjad Sholeh. Muhammadiyah telah menyusun pengurus P. dengan Muhammadiyah yang pada waktu itu berada di bawah pimpinanku.R. Haedar Nashir (748). Amin Abdullah (940).

isi Pidato Iftitah itu: Sampai dengan Muktamar ke-41 Surakarta 1985. Cukup sampai di sini saja penderitaan yang ditimpakan atas jiwa dan raga rakyat banyak. apalagi memberhalakannya. Muhammadiyah telah mengubah dan memperbarui Anggaran Dasarnya sebanyak 12 kali.l. Analog dengan ini pula. Sudah berjalan hampir 60 tahun pasca proklamasi.P. M. Semoga jumlah ini tidak bertambah lagi. UUD 1945 yang “disucikan” selama sekian dasa warsa adalah salah satu sebab utama mengapa kita masih saja kebingungan dalam mencari format dan sistem politik yang lentur dan pas bagi bangunan sebuah bangsa dan negara modern. Ketua D. dan Anggaran Rumah Tangga sebanyak tujuh kali.292 Karena masih menjabat ketua pada waktu muktamar dilangsungkan. Inilah a. Ketua M. Akbar Tandjung. sementara korban manusia karena sistem-sistem otoritarian yang diberlakukan telah ribuan jumlahnya. dan banyak yang lain.P. Persyarikatan ini tidak pernah mensakralkan Anggaran Dasarnya. sebab bila itu terjadi resikonya hanya satu: memasung diri dalam kepengapan dan kebuntuan kultural.R. aku harus menyampaikan apa yang sudah menjadi tradisi Muhammadiyah: Pidato Iftitah pada pembukaan yang dihadiri oleh para pembesar Indonesia: Presiden Abdurrahman Wahid. Amien Rais. Akrobatik dan petualangan politik yang amoral jangan lagi diteruskan! Para politisi yang . kita belum juga memiliki sistem politik yang mantap. Pengalaman ini semestinya mengajarkan kepada kita bahwa “pemberhalaan” suatu ciptaan dan hasil pemikiran adalah pertanda dari lonceng kebangkrutan dan kematian yang dapat menyebabkan kita kehabisan agenda dan wacana.R.

Oleh sebab itu dalam kapasitas dan posisi kita masing-masing. dan orang-orang beriman akan memperhatikan (hasil) amalmu itu. maka Allah. Ayat 105 surat al-Taubah yang juga tertulis pada dinding atas bagian utara aula kantor Pusat Pimpinan Muhammadiyah Yogyakarta telah menjadi landasan filsafat sosial Persyarikatan ini. … … Muhammadiyah dengan filsafat sosialnya yang telah teruji tidak akan pernah putus asa dan patah harapan. Maka Muhammadiyah menawarkan diri kepada seluruh komponen kekuatan masyarakat yang memiliki sense of crisis untuk bahu membahu dalam menjaga dan memelihara bangsa ini agar tidak terus bergerak dan meluncur menuju jurang kehinaan dan kehancuran. agar lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan negara secara keseluruhan. Kemudian kamu akan dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. rasulnya. Kita tidak akan lari meninggalkan bangsa yang sedang dililit banyak masalah ini.293 masih rabun ayam (myopic) diharapkan agar mempertajam visi masa depannya. dan untuk jangka panjang. Oleh sebab itu. tetapi berlanjut sampai ke seberang makam. Bangsa ini adalah milik kita semua. kita harus berbuat yang terbaik untuk kepentingan semua dan sesama. berapa pun biaya yang perlu dikeluarkan untuk itu. Muhamadiyah sadar betul bahwa tanggung jawab kita sebagai manusia yang beriman tidak hanya terhenti di dunia fana ini saja. Ayat itu berbunyi [yang dikutip di sini artinya saja]-Dan katakan: “Beramallah kamu. Lalu kepadamu akan . masa hidup yang pendek dan singkat ini tidak boleh dihabiskan untuk sesuatu yang sia-sia.

Islam adalah untuk menebarkan kasih sayang untuk semua. pada umumnya lebih tertarik kepada pemilihan pimpinan. menghadapi pemilihan pimpinan pusat terasa juga nuansa politik itu ikut “mengacau” keadaan. Bilamana sebaliknya yang berlaku. karena kurang mengunjungi wilayah dan daerah. sekalipun tanpa tim sukses. A. Berarti aku memang belum berakar kuat di kebun Muhammadiyah. dan Din Syamsuddin untuk posisi ketua. seperti biasa. Biar orang lain yang dipilih. dan sejarah. apalagi pertarungan antar figur. Masyarakat memang demam pertandingan. agama. Sayap amalnya harus mampu melindungi siapa saja yang perlu dilindungi. Amien Rais sempat khawatir bahwa aku akan terjungkal dalam pemilihan. apalagi usiaku ketika itu sudah 65 tahun lebih sedikit. Tetapi sekitar sebulan sebelum muktamar Amien Rais baru yakin bahwa pendukungku sudah meluas. Apalagi di kalangan publik luas sudah beredar isu bahwa akan ada pertarungan segi tiga antara Ahmad Syafii Maarif. Dari kutipan sebagian Pidato Iftitah itu aku ingin mengatakan bahwa Muhammadiyah menurut jalan pikiran ini tidak boleh hanya berkutat di kandangnya sendiri. Malik Fadjar. terserah saja kepada para pemilih di muktamar. Sekalipun Muhammadiyah bukan partai politik. Jawabanku biasa dan datar. Muktamar Jakarta cukup semarak. tanpa melihat latar belakang sosial. tetapi masih . tetapi pers. Sekitar tiga bulan sebelum muktamar. aku betul-betul terjungkal. Jika dipilih sebagai ketua berarti aku meneruskan kepemimpinanku melalui muktamar untuk lima tahun lagi.294 diberitakanNya (hasil dan jejak) dari apa-apa yang telah kamu kerjakan…. ya diterima saja. sesuatu yang memang tidak kusukai. suku.

P. sekalipun dalam tradisi Muhammadiyah tidak ada ketentuan bahwa yang memperoleh suara terbanyak pasti otomatis menjadi ketua. Muhammadiyah jangan sampai menjadi bagian dari Indonesia yang sudah oleng secara moral. wibawa organisasi ini akan sangat merosot di depan publik. sebab sekali Muhammadiyah dibencanai oleh praktik a-moral ini. Anggota yang lain setuju saja. Orang melakukannya tanpa rasa dosa dan salah. Sepengetahuanku.295 dalam batas-batas yang tidak terlalu jauh. Suasana partai politik jangan ditanya lagi. seperti main uang. Rapat berjalan sangat singkat dan secara aklamasi menetapkanku sebagai ketua. apa yang disebut permainan politik uang belum menjangkiti Muhammadiyah. mentalku harus benar-benar disiapkan. Dengan kenyataan ini. Bagaimana berharap agar negeri ini semakin membaik. seingatku yang pertama angkat bicara adalah Malik Fadjar yang mengusulkanku untuk menjadi Ketua P. Semoga begitu seterusnya.P. Dalam perkara yang satu ini. ketiga belas yang terpilih di atas mengadakan rapat pertama untuk menetapkan siapa Ketua P. Permainan uang seakan telah menjadi norma. Muhammadiyah untuk periode 2000-2005. misalnya. sebab jika usia masih . Ongkosnya teramat mahal jika Muhammadiyah dijadikan ajang pertarungan duniawi yang bernilai rendah itu. Warga dan simpatisan Muhammadiyah tampaknya sungguh berharap agar gerakan Islam ini terhindar dari praktik-praktik busuk dan pengap itu. Dalam rapat kilat itu. jika para pemain politik dan ekonominya banyak yang bermental maling? Segera setelah angka-angka di atas diketahui. Muhammadiyah yang akan diusulkan kepada muktamar. Ini pertanda bahwa kepekaan moral telah semakin terkikis dilanda nafsu mumpungisme.

Geovanie melalui SMS tanggal 6 Januari 2006 jam 22:08 menulis: “Dibayangi dalam pengertian mempengaruhi kepemimpinan Buya di P. buya menurut saya menunjukkan sikap “mengalah” karena persahabatan dan menjaga agar tidak ada friksi dalam Muhammadiyah. Bravo. Aku mulai melepaskan diri dari bayang-bayang Amien Rais yang sudah dikenal sebagai tokoh politik nasional terkemuka.P.” Artinya aku sudah mandiri dalam menentukan sikap. sekalipun aku sudah sedikit punya pengalaman dalam memimpin gerakan Islam modern yang perkasa dalam amal kongkret ini.P. Muhammadiyah sebagai ketua menurut saya tidak pernah. sekalipun keduanya melihat tahun yang berbeda. Muhammadiyah. Muktamar Jakarta telah semakin membawaku ke pusaran masalah bangsa dan negara yang semakin kompleks dan penuh ranjau politik.” Selengkapnya berbunyi: “Sejak Muktamar Jakarta sampai Tanwir [Makassar?].296 dipanjangkan. namun tidak bisa didikte oleh MAR. buya revealed to all of us that there was a boundry that no one should ever crossed. Ketika segelintir orang di sekitar MAR pushed it.” (SMS pada . Geovanie bahkan mengatakan bahwa sejak menjadi Ketua P. tak seorang pun yang mempengaruhiku. Kepemimpinan Buya bernuansa sangat berbeda dengan pendahulu-pendahulu yang mana pun. Adalah Jeffrie Geovanie dan Rizal Sukma yang dengan jeli melihat bahwa aku sudah tidak dibayangi oleh siapa pun lagi. periode itu adalah periode ‘let wisdom prevailed [sic] by itself. Kalau dalam muktamar seolah-olah Buya terbayangi oleh yang sebelumnya lebih karena perkubuan Yogya saja. Jadi. Sukma lebih spesifik mengatakan bahwa antar muktamar dan tanwir. aku terlihat “mengalah. periode lima tahun cukup berat bagiku.

Mengapa dua anak muda ini aku kutip? Karena mereka cukup faham peta gerak Muhammadiyah. Aku mau berdamai dengan siapa saja. . demi menjaga keutuhan Muhammadiyah. bukan? Bagiku yang penting adalah agar citra Muhammadiyah di depan publik tidak rusak sebagai kekuatan sipil yang independen vis-à-vis politik kekuasaan. Tetapi perasaan yang kurang sedap pada suatu ketika dengan bergulirnya musim akan sirna dengan sendirinya. asal dilakukan dengan tulus dan autentik. if you ordered me to pull my support for MAR. sekalipun kadang-kadang menyakitkan. Banyak pujian yang disampaikan kepadaku dari berbagai kalangan karena aku dinilai berhasil menjaga Muhammadiyah dari tarikan politik kanan kiri. khususnya yang menyangkut langkah-langkahku dalam memimpin persyarikatan ini dalam situasi yang sarat dengan kepentingan politik jangka pendek. Dalam suasana yang tidak normal itu.297 6 Januari 2006 jam 22. jika ada sikap-sikap yang kurang proporsional pada saat-saat suku politik sedang mendidih dapat dimaklumi. di bawah panas di atas panas. Saya kan pernah menyampaikan ke buya sekitar bulan Mei 2004. Mungkin Sukma benar dalam membaca sikapku yang “mengalah” berhadapan dengan MAR dan pendukungnya. saya mau keluar saja dari tim karena tidak tahan atas cara mereka mempersepsikan buya. bika tidak akan masak. ejaan disesuaikan). I would have listened gladly. Tetapi jika tidak demikian.” (SMS pada 6 Januari 2006 jam 22. Hidup yang singkat ini tentu tidak elok dipakai untuk sesuatu yang sia-sia.24. Jawaban buya sangat jelas: Jangan. Lebih jauh Sukma menulis: “After Tanwir Makassar. aku kadang-kadang merasa seperti bika. Bagiku sendiri. ejaan disesuaikan).30. bantulah dia sebisanya.

Barangkali usia yang telah merangkak jauh semakin menyadarkanku untuk lebih berhati-hati dalam menjaga hubungan dengan sesama. Muhammadiyah. Aku belajar banyak dari pengalaman muktamar ke muktamar.” Bagiku pesan ayat ini terlalu gamblang. menggunting dalam lipatan”. bukan gerakan politik yang tidak bebas dari budaya “menohok kawan seiring. sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.P. Apalagi Muhammadiyah adalah gerakan da’wah. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Dan bertaqwalah kepada Allah. jauhilah olehmu kebanyakan dari prasangka. sekalipun pasti ada saja kekeliruan yang kulakukan. sesungguhnya Allah Penerima taubat lagi Maha Penyayang. baik teman seagama maupun dengan teman lintas agama yang sampai sekarang tetap terjaga dengan baik. Sukakah salah seorang di antaramu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka kamu tentu merasa jijik kepadanya.298 Inilah filosofi hidupku yang sederhana yang terasa semakin tajam setelah aku menjadi Ketua P. Pergumulanku dengan berbagai kalangan yang masih mempertahankan idealisme selama tujuh tahun terakhir telah semakin menyuburkan kepekaan batinku untuk tidak larut dalam suasana saling curiga yang hanya membuahkan kesia-siaan. tetapi mengapa aku pada saat-saat tertentu di masa lampau kurang atau bahkan tidak menghiraukannya? Aku menyesal karena pada saat Muktamar Jogja dan Aceh aku belum bebas dari iklim yang kurang sehat karena mata sering terpaku kepada masalah kepemimpinan. Itulah sebabnya dalam Pidato Iftitah di . Al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 12 menegaskan yang maksudnya: “Hai orang-orang beriman.

aku mencoba menarik garis pembeda antara politik dan da’wah: Politik mengatakan: Si A adalah kawan Si B adalah lawan Da’wah mengoreksi: Si A adalah kawan Si B adalah sahabat. Kami anggota P. Muhammadiyah sebelumnya sudah memutuskan untuk mengundang Presiden Megawati agar memberi sambutan dalam tanwir dalam rangka sosialisasi da’wah kultural. Sesungguhnya jauh sebelum Muktamar Jakarta.299 Sidang Tanwir Denpasar. sahabatku ini membatalkan niatnya untuk hadir dalam pembukaan.P. . aku sudah bertekad untuk tidak turut lagi dalam “permainan” internal politik dalam Muhammadiyah. tetapi ada sedikit bintik kecil yang perlu direkamkan di sini. Amien Rais yang diundang secara khusus untuk menghadiri Sidang Tanwir semula juga datang.P. Bali. Tetapi setelah dia tahu bahwa Megawati juga hadir. Din Syamsuddin disalahkan karena dikira dialah yang mengundang Mega dan aku tak bisa mengontrol Din. Politik cenderung berpecah dan memecah Da’wah merangkul dan mempersatukan. 24 Januari 2002. Dan undangan itu dikabulkannya. telah berupaya meyakinkan agar Amien Rais jangan membatalkan niatnya. Apa yang kukatakan di atas adalah endapan dan kristalisasi dari apa yang sudah agak lama kurenungkan. tetapi sia-sia belaka. M. Presiden yang didampingi oleh suaminya Taufik Kiemas telah memberikan sambutan pada waktu pembukaan Tanwir. Tanwir Denpasar relatif berlangsung manis. Rapat Pleno P.

dan aku mendukung. maka dapatlah dipahami mengapa Amien Rais merasa terganggu di Denpasar dengan kedatangan Megawati itu. Dengan anggapan yang bersimpang siur ini. mengundang presiden adalah dalam rangka da’wah kultural dan itu melalui keputusan rapat. aku pun dari Muhammadiyah. Amien Rais dari Muhammadiyah. bukan kemauan seseorang. P. Akhirnya Sidang Tanwir berjalan bagus dan semarak tanpa Amien Rais. P. Dr.15). jauh sebelum itu aku sudah mengatakan: “Sesama bus kota tidak boleh saling mendahului. Untuk menanggapi kabar-kabar burung model ini. Dengan demikian di mana posisiku telah teramat jelas.P.” Ungkapan ini telah banyak dikutip pers. sekiranya aku turut pula dalam perlombaan . Apakah layak dari sudut moral dan etika jika aku mempersulit Amien Rais sebagai calon presiden. jam 17. Informasi lain datang dari Rizal Sukma yang ketika itu merupakan bagian dari tim Amien Rais. Dikatakannya bahwa di lingkungan terdekat Amien Rais ada kecurigaan bahwa aku sedang mempertimbangkan untuk menerima tawaran menjadi cawapres (calon wakil presiden) Megawati (SMS tanggal 11 Januari 2006. Di antara kalimat yang diucapkannya yang masih terngiang di teligaku adalah: “Dulu kita sudah sepakat untuk tidak membungkuk-bungkuk kepada penguasa.300 Yang benar bukan begitu. yang mengundang Mega.P.” Jawabanku adalah: “Siapa yang membungkuk-bungkuk? Tidak seorang pun. Sulastomo bahkan telah menjadikannya untuk judul tulisannya dalam rangka 70 tahun usiaku.” Amien Rais tidak mau dengar semua alasan ini. Jadi tidak benar Din dijadikan sasaran kecurigaan dalam kasus ini. Amien Rais akhirnya tidak mau hadir. lalu meninggalkan Bali.

padahal yang memilih Megawati sebagai presiden adalah M.P. mencabut mandat Presiden Abdurrahman Wahid. Kekuasaan itu. Keduanya cukup profesional.R. Kutipan Pidato Iftitah di atas adalah refleksiku dalam membaca perseteruan politik kekuasaan di Indonesia di era reformasi. memang dapat membutakan hati manusia. mobilitasku memang meningkat drastis. Amien Rais setelah M. Semenjak Tanwir Denpasar inilah aku semakin sulit memahami cara berpikir Amien Rais yang kadangkadang begitu emosional dan temperamental. sebab merekalah yang mengatur agendaku. Muhammadiyah Jakarta. Tamu-tamu berdatangan ke P.P. Dalam perseteruan ini. Pada bulan-bulan pasca Muktamar Jakarta. asing atau domestik.R. Kepada kedua anak muda ini aku wajib menyampaikan rasa terima kasih yang dalam atas segala kebaikan dan ketekunan mereka dalam menjalankan tugas. Saudara Zaenuddin dan Hefinal dari sekretariat P.301 politik yang melelahkan itu? Jika itu dilakukan aku harus “bertempur” dulu dengan isteri dan anakku yang sama sekali tidak rela kalau suami dan ayahnya memasuki gelanggang politik praktis. pimpinan M. kata orang. tidak ada urusan . Muhammdiyah tahu betul tentang kesibukanku ini.P. Undangan dari dalam dan luar negeri juga banyak sekali. Aku melihat permainan politik itu kejam. Tidak jarang aku baru bisa tidur setelah larut malam. siang dan malam. ganas.P. Kearifan dalam bersikap sering pupus begitu saja ditiup angin politik yang bertiup tak terkendali. aku menyaksikan betul bahwa apa yang bernama iman yang mengharuskan orang menjaga persaudaraan sering tidak berfungsi. kawan dan lawan sering berubah tergantung kepada kepentingan jangka pendek.

Adnan Buyung Nasution. pengusaha. Fuad Bawazir. Nurcholish Madjid. Tarub. Muchlas Abror. Josef Handojo. Franz Magnis Suseno. Dengan demikian tak seorang pun yang akan rugi bila bersahabat denganku. tetapi dari berbagai kalangan birokrat. Muhammadiyah dan sesudahnya. Tidak saja dari mereka. budayawan/seniman. M. Todung Mulia Lubis. M. A. Bambang Sudibyo. Abdurrahman Wahid. Fuad Amsyari. mungkin karena ada gelombang yang sama. Hidayat Nur Wahid. Mungkin mereka melihatku sebagai seorang tua tanpa agenda pribadi untuk sebuah jabatan penting. Romo Benny. aku telah biasa berdialog dengan tokoh-tokoh seperti B.S. Keikhlasan mereka terlihat di wajahnya yang tidak pernah menampakkan rasa tidak senang. . Din Syamsuddin. menteri. Dengan kata lain. Rasanya apa yang kukatakan memang tidak dibuat-buat. Perkawananku dengan tokoh-tokoh lintas agama semakin meyakinkanku bahwa sikap-sikap yang kuperlihatkan dalam memimpin Muhammadiyah mendapat apresiasi yang tinggi dari mereka. M. Biku Pannyavaro. Kadang-kadang mereka tidak mengenal waktu dalam bertugas. Hatta Rajasa. Megawati. H. Susilo Bambang Yudhoyono.J. Gunawan Mohamad.302 yang tidak beres. Dillon. Amien Rais.A. Kaban. perasaanku dengan mudah ditangkap oleh kawan-kawan itu. Sejak aku muncul sebagai Ketua P. Achmad Tirtosudiro. Pdt. Salim Said.P. dan banyak yang lain. M. Gewanggoe. mantan menteri. Weinata Sairin. Ajib Rosidi. Habibie. Denny J.S..A. Sri-Edi Swasono. sekalipun lelah. Jusuf Kalla. Semuanya keluar dari hati tanpa agenda jangka pendek. sangat menghargai sikap dan pernyataanku untuk konsumsi publik. Dawam Rahardjo. jenderal.

M. Muhammad Najib. T. Jacob. termasuk dengan anak-anak muda dari berbagai latar belakang. Salahuddin Wahid. Ahmad Hasyim Muzadi. Jeffrie Geovanie. Fatwa. Richard .303 Anas Urbaningrum. A. Rosjad Sholeh. Sulaiman Abdul Manan. Siswono Yudo Husodo. Sjafri Sairin. Muhammad Muqoddas. M.H. Tentu prinsip-prinsip demokrasi harus pula dijadikan pegangan agar orang mampu berpikir secara proporsional dan adil. Gafur Chalik. Pertukaran pikiran dengan berbagai kalangan itu. Masdar F. Boyce (Amerika). tidak terkecuali dengan kaum muda yang tidak jarang punya gagasan-gagasan cemerlang. Sulasikin Murpratomo. dan puluhan yang lain.M. Albert Hasibuan. Deddy Julianto. Dasron Hamid. Sofyan Wanandi. Sutrisno Bachir. Suyanto. Achmad Bagdja. Taufiq Ismail. A. Malik Fadjar. Herman Darnel Ibrahim. Di dalamnya termasuk anak-anak muda Muhammadiyah yang aktif menulis pada berbagai media cetak. Rosihan Anwar. Rusdi Latif. Hendropriyono. Amin Abdullah. Untuk teman-teman sebangsa dan setanah air yang seide. A. aku sungguh banyak belajar. Taufik Abdullah. Hamid Basyaib. Watik Pratiknya. Haedar Nashir. Jakob Utama. Bambang Widjojanto. Zamroni. Beberapa duta besar asing juga menyambut kehadiranku sebagai teman yang bisa diajak bertukar pikiran. kita semua berpendapat bahwa Indonesia adalah milik bersama. Dengan duta besar Ralph L. Fasli Djalal. tak seorang pun yang berhak mengklaim bahwa dirinya punya hak-hak istimewa di sini. M. Lu Shumin (Cina). Ramadhan K. Rizal Sukma. Mustofa Bisri. Yunahar Ilyas. A. Umar Wahid. Kuntowijoyo. Mas’udi. Matori Abdul Djalil. Jusuf Wanandi. Syamsir Siregar.. A. Handojo S. Muljadi. Sudhamek AWS. Edward Lee (Singapura).

tokoh yang pada tahun 1980an sangat populer di Indonesia. seperti menilai kasus Abu Bakar Baasyir yang dituduh Amerika sebagai gembong teror. aku sudah bertemu dan berbincang. Maka aksi teror yang melibatkan sekelompok amat kecil Muslim harus dibaca dari kacamata ketidakberdayaan atau keputusasaan yang mereka rasakan sangat kejam dan menghimpit.l. Di antara pertanyaan sentral yang diajukan Toffler adalah mengenai sebab-sebab mengapa posisi Islam pada tataran global dinilai banyak pihak sebagai tertinggal jauh di buritan. untuk menyebut hanya berapa nama. a. Seperti biasa jawabanku lugas tanpa basa-basi. tetapi menuduhnya sebagai Godfather kaum teroris. Dalam kondisi yang semacam itu akan sulitlah bagi mereka untuk berani mengeritik diri sendiri. aku belum punya bukti. Tetapi mengapa mereka memakai jubah agama? Kedua. sekalipun menghadapi masalah-masalah krusial tertentu yang menyangkut tuduhan terhadap seseorang. terutama melalui karyanya Future Shock yang banyak dikomentari itu. Dengan Boyce malah sering. Aku memang tidak sepaham dalam banyak hal dengan Baasyir.304 Gozney (Inggris). aku dan dia bersimpang jalan. Pernah juga atas prakarsa Jeffrie Geovanie. kepada Toffler kujelaskan bahwa jika Islam itu dipahami secara benar dan autentik dalam perspektif .: Pertama kukatakan bahwa sebagian besar umat Islam tidak berorientasi ke depan. karena pikirannya tidak lagi bersentuhan dengan realitas yang sebenarnya. pada tanggal 19 Desember 2003 aku berdialog hampir dua jam dengan Alvin Toffler. tetapi tenggelam dalam imajinasi kebesaran masa lampau yang bukan mereka sebagai penciptanya.

Ya. dan ini sangat Qur’ani. seorang Yahudi.M. Amien Rais sudah sibuk dengan dunianya.P. Toffler.R. Pak A. surat itu dikirimkan . Memang dari amal-usaha modal dasar sudah disiapkan untuk setiap muktamar. tetapi katanya kepadaku sudah tidak beragama lagi. maka orang tidak akan dengan mudah mencap Islam sebagai agama anti peradaban. Fachruddin cukup hanya dengan menulis surat singkat dalam Bahasa Jawa kepada Presiden Soeharto. Menariknya. Dasron Hamid (ketika itu). Allah maha pemurah. Aku ingat misalnya ketika Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sangat memerlukan dana untuk membeli tanah untuk membangun kampus barunya di Kasihan. Pergaulanku dengan berbagai ragam manusia telah semakin menyadarkanku bahwa manusia itu sungguh banyak sekali dimensinya. Ini sangat memudahkanku mencari dana muktamar. hubungan mereka denganku terasa begitu akrab. itu dipercaya banyak pihak. Untuk mencari tambahan dana inilah yang menjadi salah tugasku sebagai ketua. sesuatu yang semula sangat aku khawatirkan. tugas ini sering kulakukan sambil lalu. Kabarnya konon para Ketua P. baik sebelum mau pun sesudah Muktamar Jakarta. Islam sejak tragedi 11 September 2001 telah dijadikan agama tertuduh oleh pers Barat yang tidak mau meneliti lebih dalam apa Islam itu sebenarnya.Y. tetapi belum cukup. Bantul. Entah apa alasan dan daya pikatnya.305 tradisi spiritual nabi Ibrahim yang bertujuan menebarkan rahmat di muka bumi. Cukup banyak tangan yang diulurkan kepadaku untuk meringankan beban panitia penyelenggaraan muktamar dengan biaya besar itu. maka masalah dana muktamar harus aku ambilalih. Menurut keterangan Rektor U. termasuk dengan beberapa pengusaha.

Aku benar-benar bersyukur atas segala kepercayaan yang diberikan oleh berbagai kalangan.000. Melihat kenyataan ini. aku pun bisa. seperti yang kulakukan juga. seperti yang dilakukan Bung Dokter Hariman Siregar. Donatur yang lain berdatangan satu persatu. kepercayaanku kepada diri sendiri semakin kuat.000. Ada yang datang langsung ke P. Muhammadiyah Menteng Raya dengan membawa dolar. Dalam upaya pencarian dana ini.P. sekalipun sudah saling mengenal nama. Dasron Hamid sungguh besar. Hubungan baik dan akrab sahabat-sahabat ini denganku tampaknya tetap bertahan. tetapi harus dicatat bahwa tanah kampus Universitas Muhammadiyah di kawasan Bantul itu diperoleh berkat hubungan baik A. Semoga aku pandai menjaga amanah. tanpa meminta kuitansi. Ternyata. peran Bung Sumaryono dari Rumah Sakit Islam Jakarta sebagai tangan kanan Bendahara P. dana itu telah turun dengan mudah.P. sebagaimana umumnya pemimpin Muhammadiyah sebelumku. Jadi orang boleh mengeritik Pak Harto. termasuk dari sahabat-sahabat non-Muslim. 500. Aku hanya meneruskan apa yang telah dicontohkan oleh para pendahuluku. Dialah yang berkeliaran ke mana-mana menemui .R. besar-besar lagi. pemimpin demonstrasi tahun 1970-an. Kadang-kadang pihak calon donatur hanya dihubungi melalui HP (telpon genggam) saja. seorang perwira yang sangat dipercaya Pak Harto. Hasilnya memang di luar dugaan. Muhammadiyah ternyata punya tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia. sebuah angka yang cukup besar kala itu. Fachruddin dengan presiden Indonesia kedua itu. Tidak perlu menunggu lama. Jumlahnya Rp.306 via Kolonel Ali Afandi dari sekneg (sekretaris negara). Pada waktu itu kami belum akrab.

Jaringan persahabatan dengan berbagai pihak telah mulai dirajut. Muhammadiyah akan kesulitan dalam penyelenggaraan muktamar di ibu kota yang serba mahal itu. Hendropriyono. Fuad Bawazir. Hatta Rajasa. datar. Tidak sekali cara ini kualami. Uang . Jadi aku pernah juga “bergelimang dengan uang” yang berasal dari bantuan berbagai pihak itu. Ada sekadar catatan kecil lagi. Dana datang tanpa diduga. kepercayaan masyarakat sudah semakin kuat.J. ternyata kemudian kempis. Al Hilal Hamdi.M. M.307 para donatur yang telah kutentukan. tetapi juga untuk PP Muhammadiyah adalah dari B. Oleh sebab itu terima kasihku kepada para darmawan ini sangat dalam dan tulus. reaksinya sangat biasa.W. Kadang-kadang diantar dalam tas kertas besar sejumlah Rp. pimpinan pabrik rokok Sampoerna (aku lupa namanya). Jenderal Muchdi.M. Tetapi untunglah. menjadi semakin berat dalam masalah dana ini.P. Herianto). tidak menjadi kenyataan. Suasana semacam ini sangat membantu tugasku dalam bermasyarakat dan mengurus Muhammadiyah. tidak saja untuk muktamar. Habibie. Bilamana kuceritakan tentang bantuan ratusan juta ini kepada isteriku. H. yang sewaktu Sidang Tanwir di Banjarmasin menjelang Muktamar Jakarta telah memenangkan wilayahnya untuk menjadi tuan rumah muktamar. Kaban. Maka tugasku dan teman-teman P.S. 50. Dana-dana besar yang pernah kuterima dari pihak luar. dan masih ada yang lain. Abdurrahman Wahid. Jenderal A.K. P.000. 500. Mereka begitu menggebu untuk menanggung sebagian biaya muktamar sampai 60%.I. D.000 dengan pecahan Rp.000 lagi yang harus kuangkut ke Jogja untuk diserahkan kepada panitia. Tanpa uluran tangan mereka. Taufik Kiemas (ini yang terbesar disampaikan via adik iparnya Drs.

P. kuajak meninjaunya. Masih ada yang lain.000. Sewaktu masih dalam proses pembangunan Bung Hatta Rajasa. yang baru di Jl. Kantor yang baru ini diresmikan pemakaiannya pada tanggal 1 Muharram 1423/15 Maret 2002 dengan penandatangani sebuah prasasti. 4 miliar kantor baru yang cukup megah ini menelan biaya.000 untuk membantu pelaksanaan Muktamar Malang.000. Dengan bantuan Bung Muhammad Najib. Muhammadiyah. 400. Sebagai menteri perhubungan dalam Kabinet SBY-Kalla. Jadi Muslim dan non-Muslim telah menjadi sahabat-sahabatku yang akrab dan tulus. 23. Jogja. juga dibantu Rajasa. Itu pun dikabulkannya. menristek ketika itu. Rajasa dengan mudah menyediakan dana sebesar Rp. tetapi jika tak punya. Kurekamkan semuanya di sini bukan untuk apa-apa. panitia akhirnya bisa menyisihkan sebagian untuk membangun kantor P. di akhir masa jabatanku di P.308 tampaknya memang tidak pernah menggiurkannya.75. Hampir Rp. Cik Di Tiro No. Coba kalau isteri mata duitan. Karena dana yang masuk cukup lumayan jumlahnya. Muhammadiyah pernah juga mengantarkan cek sebesar Rp. . tentu sambil “merogoh” kantongnya. Salah seorang sahabatku Sudhamek. ketua umum Majelis Budhayana Indonesia.P.P. Rajasa tidak hanya membantu pembangunan gedung ini. aku mohon lagi dibelikan sebuah mobil kijang untuk Majelis Tabligh P. Oleh sebab itu sifat-sifat mulia seperti ini juga harus kita tiru dalam batas kemampuan kita. dia pusing juga. tentu sedikit banyaknya akan jadi beban batin yang mempersukar gerakku di Muhammadiyah. tetapi untuk mengatakan bahwa banyak pihak yang membantuku dalam hidup ini.000. beasiswa untuk anakku Hafiz yang belajar di Negeri Belanda.

Sebagai wakil ketua tentu kiprahku lebih banyak membantu ketua. Pidato Iftitah yang kusampaikan di Bali telah menjelaskan perbedaan antar sikap politik dan sikap da’wah. Sekiranya aku menjadi politikus. sesuatu yang jarang berlaku dalam dunia politik yang sarat dengan bahasa retorika kepentingan pragmatis jangka pendek.P. 1998-2005 Bagian ini adalah penekanan pada butir-butir tertentu yang dipandang perlu tentang langkahlangkahku sebagai Ketua P. hubunganku dengan mereka tentu akan berbeda.P. sedangkan sebagai ketua dijabat oleh Muhammad Amien Rais yang sebelumnya adalah sebagai salah seorang wakil ketua. E. Tetapi aku senantiasa belajar dan . Pengakuan tentang ini beberapa kali telah kudengar langsung dari berbagai kalangan. Sebagai Ketua P. suasana semacam ini belum lagi tercipta. Muhammadiyah setelah Ahmad Azhar Basjir wafat pada Juni 1994. Sekitar tujuh tahun aku dipercaya menjadi komandan Muhammadiyah di era yang sering disebut Era Reformasi setelah bangunan Orba runtuh.309 Sewaktu aku masih menjadi Wakil Ketua P.P. jabatan tertinggiku adalah sebagai Wakil Ketua P. seperti telah disinggung sebelumnya. Rupanya orang kemudian melihat bahwa kiprahku sebagai ketua sedikit atau banyak telah turut membawa kesejukan dalam masyarakat luas di Indonesia. Muhammadiyah. Muslim dan non-Muslim. Di Era Orba. Da’wah selalu merangkul dan mempersatukan atau mencari kawan sebanyak-banyaknya.P. Muktamar Aceh 1995 mengukuhkan posisi Amien Rais sebagai ketua dan aku sebagai salah seorang wakil ketua. Muhammadiyah yang di sana-sini telah disinggung di depan menurut konteksnya..

Wajahnya adalah wajah Muhammadiyah sejati. Suasana inilah yang kemudian mendorongku untuk menggantikan posisinya. Tetapi pada waktu itu tidak ada tokoh lain yang bisa menyaingi Amien Rais. untuk memimpin P. Pada bulan Agustus 1998 Amien Rais meninggalkan P.P.A. Jadi tidak ada alasan yang kuat untuk terus mencurigai Muhammadiyah. Muhammadiyah otomatis menjadi bahan perbincangan. Tetapi perubahan peta politik nasional telah mengubah pula jalan sejarah. malang yang tak dapat ditolak.” Sebagaimana telah kujelaskan di muka Muktamar Aceh telah berjalan lancar dan Amien Rais dikukuhkan lagi sebagai Ketua P. sebagaimana telah kusinggung sebelumnya. apalagi move Amien Rais di Surabaya tidak didukung secara formal oleh peserta tanwir. Sejak itu hubungan Muhammadiyah dengan Presiden Soeharto agak sedikit terganggu. apalagi antara Amien Rais dan Soeharto lagi dalam suasana “tidak enak badan.P. seorang alim yang tidak punya naluri politik. dan Amien Rais naik sebagai pajabat ketua sampai Sidang Tanwir berikutnya menetapkan seorang ketua definitif. . Namanya sedang jadi buah bibir publik. Tanwir Surabaya pada 1993 yang “heboh” itu menjadi catatan tersendiri bagiku dalam membaca peta perjalanan bangsa. Ahmad Azhar wafat bulan Juni 1994.N. termasuk sejarah Muhammadiyah. Yang sedikit membantu keadaan adalah karena yang menjadi Ketua P. Mujur yang tak dapat diraih.P.310 mengikuti perkembangan Muhammadiyah dalam kaitannya dengan dinamika masyarakat Indonesia yang sedang berubah dengan cepat. tetapi Ahmad Azhar Basjir. Muhammadiyah waktu itu bukan Amien Rais. Muhammadiyah periode 1995-2000.P. semula sebagai pejabat ketua sebelum ditetapkan sebagai Ketua P.

Suasana semacam ini memang memprihatinkan. secara kuantitatif. (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) telah pula dikunjungi. tidak saja dengan wilayah. Sekitar 400 jumlah P. Satu dua cabang. bahkan ranting pernah pula didatangi.M. jika mungkin. Muhammadiyah dengan segala kelemahannya masih berada di papan atas. tetapi tidak mungkin ditandangi. seluruh daerah jangan sampai ditinggalkan. kecuali beberapa propinsi baru yang belum sempat dikunjungi. dan Sulawesi Barat Daya. Tetapi yang menjadi sorotan adalah karena Muhammadiyah menyebut dirinya sebagai gerakan .M. Tetapi kalau hitungannya dimulai sejak pejabat ketua. Muhammadiyah masih saja berada di awal jalan. tetapi beberapa P.D. maka periodeku menjadi tujuh tahun.D. Hampir semua wilayah telah kudatangi. Tentu untuk bergerak ke sana merupakan tanggung jawab semua kekuatan bangsa dengan pimpinan pemerintah yang juga harus bermoral. Keinginan warga. apalagi seumurku. Inilah masa-masaku menggumuli Muhammadiyah secara intensif. yaitu Gorontalo. Tetapi bila parameter yang digunakan adalah cita-cita al-Qur’an untuk menciptakan sebuah masyarakat Indonesia yang bermoral. Kesanku selama kunjungan-kunjungan itu adalah bila dibandingkan dengan gerakan sosial lain di Indonesia. Bangka-Belitung. Bila dihitung dari Desember 1998 sampai dengan 8 Juli 2005. Aku paham betul tentang benarnya harapan itu. terlalu dahsyat untuk dapat didatangi seorang ketua. Interaksiku dengan warga persyarikatan rasanya cukup lancar. aku telah menjalankan tugas sebagai ketua selama enam tahun delapan bulan lebih sedikit.311 Muhammadiyah oleh Sidang Tanwir Bandung Desember 1998.

A. Tetapi di bidang pemikiran keislaman. Muslim Abdurrahman. Muhammadiyah belum mampu menawarkan sistem alternatif. mengurus dunianya sendiri saja Muhammadiyah sudah kelelahan. gerakan da’wah amar ma’ruf nahi munkar. Ahmad Fuad Fanani. Jangankan menangani masalah-masalah yang punya cakupan luas itu. Yang kukenal hanya sebagian kecil saja. Pradana Boy ZTF. Norma . seorang kiyai-antropolog. Dalam berbagai forum aku sering mengatakan bahwa di bidang pendidikan dan kesehatan. Sebagian dekat dengan Dr. Zakiyuddin Baydhawi. maupun untuk bidang-bidang kemanusiaan lain yang selalu memerlukan perhatian khusus. kesehatan. beberapa nama telah muncul sebagai penulis. Saleh Partaonan Daulay. Hilman Latief. Abd. Rumusan semacam ini mengisyaratkan tanggung jawab yang besar sekali.312 Islam. Menurut Fuad Fanani. Rohim Ghazali. di antaranya Ahmad Najib Burhani. buahnya sudah mulai tampak dengan munculnya potensi pemikir-pemikir muda Muhammadiyah yang senantiasa kudorong dan diberi payung perlindungan. Masalah bangsa secara keseluruhan sering tidak sempat terpikirkan secara mendalam. sebagian yang lain muncul sebagai penulis-penulis bebas. ternyata belum banyak yang dapat kulakukan. sementara energi Muhammadiyah lebih banyak terkuras oleh kerja-kerja sosial kemasyarakatan. Zuly Qodir. Asep Purnama Bahtiar. Selama tujuh tahun sebagai ketua. baik untuk pendidikan. Muhammadiyah hanyalah sebagai pembantu pemerintah. Hery Sucipto. tidak lebih dan tidak kurang. Suasana moral bangsa yang terus meluncur sejak 25 tahun terakhir menunjukkan bahwa kiprah Muhammadiyah sebagai gerakan da’wah belum efektif.

M. Mun’im A.P.313 Permata. Maka jika tidak mantap misalnya dengan pimpinan. Aku ulangi di sini filosofi Minangkabau yang mungkin baik juga untuk mereka perhatikan. M. Promono U. Hilaly Basya. padalah niat semula adalah untuk beramal. Entah berapa orang di antara nama itu yang akan tampil menjadi pemikir kaliber nasional. Kuni Khoirun Nisa’. Seorang pengurus terpilih yang punya pengaruh besar minta saran kepadaku untuk mundur dari P. Sukidi Mulyadi. karena alasan tertentu. kadang-kadang bertubi-tubi. Kita aktif di . Fajar Riza Ul Haq. tetapi dengan cita-cita persyarikatan. Berbagai masalah pasti muncul. Andar Nubowo. Orang yang tidak sabar lalu hengkang sambil menjelekkan pengurus yang lain. Cara semacam ini hanyalah akan menambah beban Muhammadiyah. sekuat-kuatnya secara kritikal. Tidak jarang pula terjadi gesekan sesama pengurus karena masalah sepele. Nur Hidayah. Sirry. Ilham Mundzir. Thantowi. kita belum bisa mengatakan. Abduh Hisyam. Ada contoh yang terjadi sesudah Muktamar Malang Juli 2005.” Kepada anak-anak muda Muhammadiyah aku tekankan benar bahwa yang harus dibela adalah persyarikatan sebagai institusi. demi wawasan mondial yang perlu dikembangkan sebagai pemikir: “Alam terkembang jadi guru. bergabung dengan yang lain. Jawabanku adalah: “Jangan. Akan sangat tergantung kepada kesetiaan mereka kepada idealisme yang telah mulai tertanam dalam diri mereka dengan membaca sebanyakbanyaknya. Budi Asyhari Arman. Keterikatan kita bukan dengan manusia. Terlibat dalam Muhammadiyah menuntut kesabaran tingkat tinggi. jangan lalu meninggalkan Muhammadiyah. Rahayu Arman.

di tingkat P. Karena masyarakat terus bergerak. Yang penting jika ada masalah cepat diselesaikan.314 Muhammadiyah adalah karena didorong panggilan iman untuk beramal secara teratur. Posisi ini . itu bukan hal baru. maka pemimpin Muhammadiyah harus pula punya wawasan dan otak yang tidak boleh diam. kritikal. kecuali kembali kepada ruh agama. pun. Di sinilah perlunya kesabaran dan niat baik untuk senantiasa dijaga dan dipertahankan. seperti telah kukatakan. Sekalipun tidak sempat aktif benar. hampir satu abad yang lalu. kepada niat tulus untuk bergerak dan aktif beramal dalam Muhammadiyah. pada akhir Nopember 1999 aku dipilih sebagai salah seorang presiden internasional dari W. jangan dibiarkan membusuk. Iman seorang Muslim tidak membuka peluang untuk “seiring bersimpang jalan.” Kadang-kadang memang sesama pengurus tidak bisa kompak karena faktor macam-macam. Bahwa kadang-kadang terjadi gesekan sesama pengurus. bukan karena yang lain. ada beberapa kegiatan samping yang kulakukan.C. (World Confrerence on Religions for Peace) dalam sidangnya yang ke-7 di Amman.P. Selama periodeku memimpin Muhammadiyah. hal serupa terjadi. tidak saja di tingkat bawah. Kekuatan Muhammadiyah selama ini banyak ditentukan oleh adanya figur-figur yang benar-benar paham untuk apa persyarikatan ini didirikan pada 1912/1330. Yordania. Sepanjang sejarah Muhammadiyah ada saja peristiwa yang tidak sedap dirasakan. tetapi tetap berada dalam koridor kepribadian yang telah dirumuskan.R.P. Muhammadiyah harus dibaca sebagai gerakan Islam dengan cara kreatif.” Bagiku tidak ada resep yang mujarab untuk membangun persaudaraan yang ramah dan produktif.

seorang Katolik yang taat. Abd. New York.R. tetapi sebaliknya sejarah yang membebaskan dan memberi harapan. op. aku belum berbuat maksimal untuk kepentingan semua pihak pihak. beberapa undangan yang dikirimkan kepadaku tidak sempat dihadiri seperti pertemuan di Nairobi pada Juni 2002.. terbuka.S. Suharyo agak berlebihan menilai peranku. berada di New York dengan sekjennya Dr. Suharyo.16 Rasanya Dr.P.P. Uskup Agung Semarang. I. 555. NY 10017.cit. adalah: 777 United Nations Plaza. Untuk itu dituntut mutlak peran para tokoh sejarah. 16 Lih.315 sebelumnya diduduki oleh Abdurrahman Wahid dari N. Karena kesibukan dalam Muhammadiyah. Kantor pusat W. Tetapi tidak-tidaknya dalam segala keterbatasanku. Bapak Syafii adalah salah seorang tokoh terkemuka yang sudah lama memainkan peranan itu—dengan pemikiranpemikiran beliau yang cerdas. seorang sahabatku Dr. menulis: “Melepaskan diri dari belenggu-belenggu sejarah bukanlah perkara mudah dan dapat dilaksanakan dalam waktu singkat. William F. Alamat kantor pusat W. dan langkah-langkah moral beliau yang berani— dan kita harapkan akan terus memerankannya.U. .A.C. Dalam pergaulan lintas iman.R. aku telah membawa Muhammadiyah sebagai salah satu tenda besar untuk turut serta memayungi semua pemeluk agama di Indonesia. Rohim Ghazali dan Saleh Partaonan Daulay. setelah pertemuan Amman. hlm. haruslah dibangun sejarah baru yang tidak membelenggu. Yang jelas. Selama dalam pergaulan lintas iman itu. Vendley. U.C. tetapi aku mengirimkan surat permohonan maaf kepada Vendley. inspiratif.

Nh.D.316 Rupanya sikap-sikap yang kubangun itu telah dirasakan sebagai suatu yang sangat positif oleh teman-teman lain yang berbeda iman. Tatiek Maliyati W. di atas 60 tahun. dan para penulis terkenal.J. Sardono W. Firous. Koesnadi Hardjasoentri untuk mengetuai akademi ini yang tidak pernah absen dalam memimpin rapat. atas dorongan seniman W. Sardono W. . wartawan. cendekiawan. yang sarat dengan pengalaman hidup dan renungan mendalam tentang bangsa dan hakekat kemanusiaan.” Apakah ini bukan terbalik? Akulah yang banyak berguru kepada para anggota A. Dr. Rendra. Dini.J. Endo Suanda. aku dimasukkan menjadi anggota A. Rendra. Kusumo. yang rajin menghadiri rapat-rapat adalah: Rosihan Anwar. Anggota A. Kegiatan samping lain sejak Nopember 2002. Ramadhan K. Kusumo. (Akademi Jakarta) di samping 26 anggota yang lain. Slamet Abdul Syukur..S.J. Rektor Institut Kesenian Jakarta. Kami memilih Prof. Ahmad Syafii Maarif.. Misbach Yusa Biran. aku sungguh merasa rikuh karena ada tulisan: “Untuk guruku Bpk Syafii.M. Orangnya penyabar menghadapi para seniman dan intelektual yang banyak tingkah. Ratarata usia anggota A. Taufik Abdullah. Ajib Rosidi. Pada saat Prof. pada 12 Pebruari 2006 menghadiahkan buku tentang Aceh. Kadang-kadang aku merasa malu sendiri berbicara dengan mereka karena pengetahuanku tentang seni sangat terbatas.H.S. Saini K. A. Gunawan Mohamad. Ungkapan Suharyo tentang “sejarah yang membebaskan dan memberi harapan” mencerminkan apresiasi itu. Toeti Heraty N.. Aku belajar kepada teman-teman anggota yang terdiri dari para seniman.J. Rooseno.

317 Dengan belajar ini. TIM. Dia berdiri dan dengan suara garang mengancam akan keluar dari A. Kaum intelektual.J. ungkapnya. jika kecerdasannya dia sumbangkan untuk kepentingan kemanusiaan: dia akan jadi pahlawan. telah semakin meluaskan radius pergaulanku dengan para seniman/sastrawan Indonesia di luar A. Sitor begitu emosi karena usulnya tentang sesuatu kurang mendapat perhatian dari rapat. jika dia gunakan .J.J. aku menonton debat singkat antara Gunawan dengan Sitor.” Tentu debat semacam ini tidak ada kaitannya dengan “sengketa” antara pendukung Manifes Kebudayaan (Gunawan) dan Sitor yang kekiri-kirian pada era Demokrasi Terpimpin dan menentang keras kehadiran Manifes bersama Pramoedya Ananta Toer dan kameradnya. akan menjadi berkah pada umat.J. Kenggotaanku dalam A. seniman Endo Suanda yang hadir malam itu mengomentari pidatoku itu di bawah judul “Pahlawan dan Pengkhianat”: Dua kata di atas merupakan isu pokok dalam Pidato Kebudayaan Buya Syafii Maarif. di Gedung Graha Bhakti Budaya. aku semakin mengerti bahwa manusia tetap manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Demikianlah pada suatu rapat yang juga dihadiri oleh anggota sastrawan Sitor Situmorang. Gunawan dengan tenang menjawab: “Adalah hak anda untuk keluar. 22 Nopember 2005 lalu. Anggota A. Banyak tokoh nasional yang hadir pada malam itu. Pada tanggal 22 Nopember 2005 oleh Dewan Kesenian Jakarta aku diminta untuk menyampaikan Pidato Kebudayaan dengan judul “Pengkhianatan Kaum Intelektual Dalam Perspektif Kebudayaan”. Tapi sebaliknya.

Karena berasal dari ranah Minang. untuk bisa jujur. kita pun tidak cuma mendengar kata yang terucap. 16:23:58. akan terbaca buaya. 2006. pena. 3. Kejujuran di situ terasa. Ya. sadar ataupun tidak. ketika kita membaca suatu karya sastra. ingatan kita terhadap kiprah pembicara puluhan tahun sebelum berucap di podium. dengan menghancurkan yang lain: ia akan jadi pengkhianat. tangan. yang mengantarkan kita pada peristiwa pidato. melainkan kalbu yang berujar—seperti melihat tinta. dan kejujuran rasanya satu-satunya modal yang saya punya. No. Semoga saja aku tidak hilang keseimbangan bila dihargai seorang teman atau siapa pun. aku sering dipanggil buya. bukan? Aku menyaksikan di ranah Minang pada permulaan abad ke-21 ini. [Endo Suanda]. Dalam perkataan buya jika saja disisipkan huruf a di antara bu dan ya. 77/VIII/2006. pemaknaan kita bukan yang eksplisit saat itu. hlm. memang. melainkan titik-titik yang merentang panjang. sedangkan aku sendiri merasa tidak layak untuk menduduki posisi itu. pantangannya jangan berdusta.(SMS tanggal 15 Feb. dan pribadi pengarangnya. jawaban yang kuterima adalah: “… saya menulis secara jujur saja. ejaan disesuaikan). Salam”. Itu berarti bahwa selama mendengarkan sekitar satu jam pidato. sangat menentukan. setelah para buya masuk 17 Lih.318 kekuatannya itu untuk kepentingan dirinya.17 Sewaktu kusampaikan kepada Endo bahwa pernyataan di atas telah menjadikanku tersanjung terlalu tinggi yang belum pada tempatnya. Jadi. … Dalam mendengarkan pidato Buya Syafii…. “Pahlawan atau Pengkhianat” dalam Gong: Media Seni dan Pendidikan Seni. karena pendengar umumnya tahu siapa Buya Syafii. .

integritasnya sebagai buya sering berantakan. karena itu semuanya itu telah terekam dalam memori publik.U.S. Salah-salah tingkah dapat menimbulkan cibiran dan cemeeh yang menyakitkan. wibawanya merosot ke titik nol. MASA DEPAN INDONESIA Gerakan Moral Anti Korupsi dan Pencalonan K. sepakat untuk turut menyadarkan masyarakat bahwa korupsi adalah penyakit dan musuh semua agama dan peradaban.R.K. Oleh sebab itu aku takut menyandang suatu atribut yang mungkin aku tak kuasa memikulnya.. Muhammadiyah dan N. VIII. sejarawan muda asal Makassar dan seorang penulis prolifik yang kuminta membaca draf otobiografi ini. menyarankan agar kegiatan Muhammadiyah di bawah pimpinanku dalam melawan korupsi perlu dimasukkan. (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi) jangan sampai ditinggalkan. Kedua saran ini setelah kutimbang-timbang. Dalam pertemuan itu Ahmad Hasyim Muzadi sebagai Ketua Umum N. H.S. Aku lebih senang dipanggil nama tanpa atribut. aku.. dan Dillon menandatangani sebuah deklarasi untuk memulai gerakan moral anti korupsi. S. Sekalipun kita tahu bahwa korupsi di Indonesia bersifat sistemik dan berlapis-lapis sehingga untuk memberantasnya menjadi sesuatu yang A. . Dillon dari Lembaga Kemitraan untuk Reformasi Tata Pemerintahan.K. rasanya memang tidak salah jika dijadikan bagian dari riwayat hidupku.U.319 politik. Adalah Nursam.R. Juga disarankan agar proses pencalonanku untuk menjadi anggota K. Dalam sebuah deklarasi bulan Oktober 2003 yang difasilitasi Dr.

Sebaliknya jika gagal. Gerakan ini agak sedikit mengendor setelah Hasyim Muzadi turut dalam pertandingan pemilihan presiden/wakil presiden melalui duet Mega-Hasyim. setidak-tidaknya masyarakat luas akan tergugah dan sadar bahwa masyarakat sipil di bawah payung Muhammadiyah dan N. mengerti betul betapa sulitnya melawan penyakit sosial berupa korupsi itu.S. sebagai orang dalam. apalagi juga didukung oleh semua kekuatan agama di Indonesia. mungkin masih ada masa depan.320 sangat sulit. Saya. 18 . sebagai salah satu sayap besar umat Islam di bawah Lih.U. hlm.U. ada harapan bahwa Indonesia masih punya masa depan.. masih mau angkat senjata moral dengan mengumumkan perang terhadap korupsi. op. Gemanya luar biasa. Menurut catatan Dillon. Dillon. N. Pemberantasan Korupsi.18 Seorang jenderal polisi yang beragama Katholik mengatakan kepada saya bahwa pada suatu ketika dia gembira dengan gerakan moral ini.cit. dan Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia” dalam Cermin Untuk Semua. Saya berada di belakang gerakan sipil ini. Tetapi dengan deklarasi di atas. H. katanya. “Syafii Maarif. Tentu aku sangat berterima kasih kepada jenderal yang punya gelombang nurani yang sama dengan tokoh-tokoh agama yang mencoba menyadarkan masyarakat bahwa hari depan Indonesia akan tergantung kepada berhasil atau gagalnya bangsa ini melawan korupsi ini. tidak kurang dari 16 media nasional dalam tajuknya telah menyambut gerakan moral ini dan berharap akan ada hasilnya. belum tidur benar. tetapi sebuah masa depan yang gelap-gulita. Jika berhasil. Seperti kita ketahui pemenang dalam pertandingan yang digelar pada bulan Juli 2004 itu adalah pasangan Susilo Bambang Yudhoyono/Muhammad Jusuf Kalla. 290.

321 pimpinan Hasyim Muzadi semula diharapkan bersama Muhammadiyah akan tetap teguh berada pada posisi independen menghadapi tarikan politik praktis. Sebagai gerakan penyadaran. masyarakat banyak masih melihat titik-titik terang di ujung lorong gelap yang telah .U. Sahabatku Hasyim Muzadi barangkali punya perhitungan lain dalam mengambil langkah kontroversial itu. sekiranya pemerintah dan semua aparat penegak hukumnya tidak membuka telinga terhadap suara-suara keras yang datang dari masyarakat luas. Sebagai kekuatan sipil kedua sayap umat ini bersama dengan seluruh kekuatan lintas agama dengan caranya masing-masing akan tetap bersuara lantang dalam upaya memperbaiki moral bangsa yang terlanjur rusak ini. sekalipun sebagian orang sudah putusasa dengan keadaan. bukan gerakan eksekutor. Tetapi suara lantang ini tidak akan punya dampak besar. sampai batas-batas tertentu Muhammadiyah-N. karena itu semua adalah tugas aparat negara penegak hukum. telah berhasil menyadarkan masyarakat bahwa korupsi adalah penyakit sosial yang dapat membunuh peradaban. oleh sebab itu merupakan sebuah jihad menurut ajaran agama untuk memberantasnya. Allahu a’lam! Gerakan moral anti korupsi ini adalah gerakan penyadaran melalui bahasa dan media agama. ini. Diharapkan dengan gerakan moral di atas.U. Pernah dia menyampaikan kepadaku bahwa langkahnya itu adalah juga untuk memperbaiki moral bangsa melalui struktur kekuasaan. Memang aku sadar bahwa apa yang kami lakukan di atas adalah untuk menyatakan bahwa hati nurani masyarakat sipil belumlah mati suri. Selanjutnya tergantung kepada alat penegak hukum untuk merespons apa yang telah diteriakkan Muhammadiyah-N.

(Hak-hak Asasi Manusia) yang tidak dapat diselesaikan via pengadilan H.K.A. ini merupakan pelaksanaan TAP M. akan ditangani K..M. VI/2000 tentang Persatuan Nasional. Ad. Hoc.U. yang bertugas mencari solusi terhadap konflik-konflik anak bangsa yang tidak bisa diselesaikan oleh badan-badan hukum yang sudah ada. Tentang pencalonan K. Untuk masuk seleksi menjadi calon anggota. maka pemerintah tidak boleh mainmain dalam perkara yang satu ini. dapat kujelaskan sebagai berikut. Setidak-tidaknya genderang ke arah pemberantasan penyakit akut itu telah ditabuh dengan suara keras.U. No. S. M.Si. 26/2000 pasal 43. Beberapa tokoh muda Muhammadiyah di Jakarta di awal tahun 2005.. surat keterangan dari .M. Anakanak muda Muhammadiyah dan anak-anak muda N. kemudian ditegaskan lagi dalam U.. Hasilnya sampai hari ini belum terlalu nyata.R. bersama kekuatan lintas agama.R. di antaranya Rizaluddin. Indonesia jaya atau bangkrut akan sangat tergantung kepada kesungguhan atau kelalaian kita semua untuk berjihad melawan korupsi yang sudah sangat menyesakkan nafas seluruh anak bangsa.U.l.R. Adanya K. telah menemuiku agar bersedia dicalonkan menjadi anggota K.322 menyiksa bangsa ini dalam bilangan dasa warsa. Tekad SBY-Kalla untuk melawan korupsi sudah mulai dilaksanakan. Dikatakan bahwa pelanggaran H.. a.K.A.K. tetapi menurut para pengamat.R. Sebuah pekerjaan melelahkan dan penuh duri telah ditempuh Muhammadiyah-N. ada beberapa syarat yang harus ada. masih belum terlalu fokus.K.P.Ag. No. dengan cara dan metodenya masing-masing cukup proaktif dalam memasyarakatkan gagasan besar yang terkandung dalam Deklarasi 15 Oktober 2003 di atas.R.

tetapi mereka yang apatis tidak yakin bahwa harapan itu akan menjadi kenyataan. Dr. aku akan menjadi kecil. termasuk dari orang-orang pemerintah sendiri. Aku yang sebenarnya tidak berminat untuk masuk ke dalam komisi ini.R. Mereka yang menyetujui kemunduran diri itu adalah kelompok yang sudah apatis dengan negara ini. Melihat gelagat semacam ini. syarat-syarat itu kuusahakan juga dan berhasil. Dr. kuputuskan untuk menarik diri dari pencalonan. Dr.K. Bukankah K. Di mata mereka K. Karena itu.K. Adapun kelompok yang mendukung pencalonanku dan kecewa atas sikap mundurku berdalil bahwa komisi . Artinya aku tidak lagi ikut seleksi selanjutnya. Maka setelah berunding dengan beberapa anak muda. kemudian komisi ini bertugas mendamaikan mereka. Asvi Warman Adam. Setelah semuanya dibongkar dan siapa yang bersalah juga sudah dikenali.323 dokter. Namun setelah dua seleksi berjalan. kata Rizaluddin.R. Pertanyaannya adalah: apakah aku pernah jadi besar? Rasanya juga tidak. Menurut Rizaluddin. Deliar Noer. Natan Setiabudi. ini tidak mungkin dapat menjalankan tugasnya karena pasti banyak rintangan. Anhar Gonggong. dan mereka saling memaafkan. juga akan melacak akar-umbi penyebab konflik sesama anak bangsa yang telah banyak menumpahkan darah itu. namaku terus muncul bersama dengan nama-nama lain seperti Prof. Dr. keputusanku itu tidak diterima secara aklamasi oleh anak-anak muda Muhammadiyah dengan argumennya masing-masing. Semula kuberharap agar aku tidak lolos dalam seleksi. Itulah idealnya yang hendak dicapai oleh komisi ini. tetapi demi rasa hormatku kepada anak-anak muda Muhammadiyah. aku mulai khawatir jangan-jangan nanti masuk betul.

Agar masalah ini tidak terus mengambang. sekalipun dahulunya mereka. Dalam hati kecilku. Tentu aku gembira diberi penghargaan semacam ini.K. memang menyayangkan mengapa aku mundur dari pencalonan. dalam Muktamar Malang. orang tua. sekalipun sekiranya aku masuk.324 itu akan dapat menjalankan tugasnya dengan menunjukkan kinerja yang bagus. (Persatuan Gereja-gereja Indonesia). dan dalam pemilihan pimpinan aku terpilih . Dr. sekalipun masih ada saja pihak yang berharap agar tetap maju. Natan Setiabudi.G. Menurut sahabat ini. Serba kekurangan akan dapat diperbaiki sambil berjalan. Pada waktu dicalonkan aku masih menjabat sebagai Ketua P.I. atau nenek mereka telah saling membinasakan. Komisi ini memang akan punya pekerjaan berat: mendamaikan anak bangsa. Tetapi mengapa aku mundur? Pertanyaan inilah yang dinilai oleh sementara orang masih saja mengambang karena aku belum memberikan keterangan yang jelas kepada publik. jika aku diterima masuk bersama dengannya. mantan Ketua Umum P. seandainya aku diterima sebagai anggota K.. Nah. belum tentu harapan-harapan itu akan menjadi kenyataan. Muhammadiyah. Umumnya karena perbedaan ideologi politik. keterangan di bawah ini semoga sedikit atau banyak akan bisa menjawab pertanyaan di atas. Kata kelompok ini aku adalah orang yang dapat dipercaya.P.R. Tetapi aku sudah berkalikali menyatakan tidak bersedia lagi untuk dicalonkan menjadi anggota P.P. mungkin kami dapat berbuat sesuatu untuk mendekati tujuan komisi yang sarat tantangan itu. tugas komisi sebenarnya cukup menantang dan bukanlah watakku untuk lari dari tantangan. seorang sahabatku.

K. kemudian saling berkomukasi untuk berdamai dan memaafkan masa lampau. jika masih diperlukan. bersedia sementara P. 2006 pada saat bagian digarap. (Darul Islam) dan simpatisannya dengan P. jika benarbenar difungsikan dengan maksimal akan sangat menguras energi. Muhammadiyah ditinggalkannya. aku tentu dengan senang hati akan memberikannya.P. Begitu juga mereka atau orang tuanya yang pernah bermusuhan dengan tentara.K. Dan jika aku diminta pendapat dan saran untuk melancarkan tugas komisi ini.K. Dengan keterangan yang tidak memuaskan ini.K.R.R. tidak lagi dijadikan bahan untuk diperkatakan. pelindung. khususnya di kalangan anak-anak muda Muhammadiyah . dan yang sebangsa itu. Berilah peluang kepada mereka yang lebih muda.K.R. aku berharap mundurnya aku dari pencalonan anggota K. Orang seperti aku. komisi ini belum juga diumumkan. nama-nama anggota K. (sampai tanggal 23 Peb. entah mengapa). energetik.R. Bayangkan komisi ini tentunya akan bertugas mendamaikan bekas-bekas D. apakah ini tidak lucu? Akan ada gumaman begini: menjadi Ketua K. dan punya waktu yang lebih banyak.K. komisi ini juga akan mencari sebab pokoknya.325 misalnya menjadi ketua. Tidaklah elok bagi semua. Pertimbanganku yang kedua adalah karena mengingat usia yang sudah di atas 70 tahun sebaiknya tidak lagi memegang posisi penting dan strategis. Sungguh sangat mulia tujuan yang hendak diraih.I dan sisa-sisa pendukungnya.K.R. cukuplah menjadi penasehat.I. Ada apa? Ini namanya membiarkan pertanyaan tergantung di awang-awang. Oleh sebab itu aku mendukung dan memberi selamat kepada teman-teman yang terpilih menjadi anggota K.

P. (Bank Persyarikatan Indonesia ) yang cukup merepotkan P. Perasaan satu bangsa inilah yang dicemaskan oleh berbagai kalangan yang prihatin. Masalah B. Adapun bahwa bangsa ini harus kita bela bersama sesuai dengan posisi dan kemampuan kita masing-masing. M. sebagai Pembina Ekonomi Muhammadiyah begitu bersemangat untuk terjun ke dunia perbankan. Bahkan Bung Dawam tidak tanggung-tanggung mengatakan bahwa untuk dana .I. B.P. Komitmen kebangsaan dinilai sudah semakin memudar akibat salah tingkah sebagian kaum elit yang tidak tahu diri.E. S. Teman-teman Majelis Ekonomi P. Apalagi Muktamar Aceh mendorong Muhammadiyah untuk bergerak ke sana. maka kasus B. Muhammadiyah di bawah komandan Prof.P. Dawam Rahardjo. Maka atas rekomendasi Majelis Ekonomi pada tahun 2002. selama lebih tiga tahun.326 dan teman-teman L. ini perlu dimasukkan dalam otobiografi ini. tidak ada perbedaan di antara kita. sebuah bank swasta yang diakusisi. Aku yang tidak paham soal bank. mengatakan kepada Bung Dawam bahwa pintu masukku untuk masalah ini adalah Bung Dawam sendiri sebagai ekonom dan pernah bekerja di Bank Amerika di Jakarta. (Lembaga Swadaya Masyarakat).P.I. Semua ini terjadi di bawah kepemimpinanku.S. Kita satu. sebagai seorang pakar perbankan yang ingin membantu Muhammadiyah dalam masalah keuangan.P. seorang yang bernama Lulu Harsono dikenalkan kepada rapat P.I.P.I. Di tengah-tengah gencarnya Muhammadiyah melawan korupsi.M. di dalam diri sendiri ada masalah B. adalah singkatan dari Bank Persyarikatan Indonesia sebagai perubahan dari Bank Swansarindo.P.

I.I. Lulu dengan caranya sendiri menemuiku di kantor P. termasuk Din Syamsuddin dan Hajriyanto Y. M.A. Deddy Julianto bahwa Lulu punya rapor merah. dengan Bung Dawam sebagai Komut (Komisaris Utama). kecuali kebaikan. Sebagai dari permainan yang penuh misteri ini..P..327 Muktamar Muhammadiyah yang akan datang. sedangkan komandan bahlul adalah ketuanya. Ungkapan semacam . tetapi Majelis Ekonomi dan beberapa anggota P. Lulu yang katanya banyak punya uang cukup bermain di belakang karena izin dari B. Cukup dari kegiatan bisnis Muhammadiyah. Muhammadiyah itu bahlul.P. padahal tak sesen pun aku menyetorkan modal. tetapi tetap saja ada yang membela Lulu. Dalam sebuah rapat P. Tidak ada motif macam-macam. yaitu aku sendiri. itu tidak benar. Thohari.P.E.P.P. (waktu itu) Saefuddin Hasan. di Jakarta dan di Malang aku mengatakan bahwa P.. Dalam perjalanan waktu akhirnya berdirilah B. dan M. termasuk di dalamnya perbankan.I. Jadi ini adalah saham fiktif. S. yang lain tetap saja ingin bekerja sama dengan Lulu.N.I. Pada waktu aku mulai curiga terhadap bisnis perbankan ini.P.I. Tetapi Lulu dan temanteman Majelis Ekonomi selalu membela diri dan mengatakan bahwa B. Seperti begitu gampangnya mengelola sebuah bank. (Bank Indonesia) untuk orang ini tidak mudah didapat karena track record-nya tidak bagus. kita tidak perlu lagi mencari dana ke luar. aku dan Dawam semula ditulis sebagai pemegang saham terbesar dalam B. Jogja sambil mencium kakiku bahwa dia benar-benar berniat baik untuk Muhammadiyah. Aku sebenarnya sudah mendapat peringatan dari Dirut B. Cerita ini kusampaikan dalam rapat Pleno P.P.

Dawam tidak lagi membela Lulu yang kemudian wafat karena kanker hati. aku diberi hadiah hari raya berupa komputer laptop mini merek Sony. seperti tersebut di atas. Sekitar tahun 2003 sewaktu aku berkunjung ke Jerman. Kemudian saham ini didistribusikan kepada beberapa teman.. Hatta mengatakan bahwa itu bukan dari Lulu. Aku bergembira sekali dan langsung kusetujui. Sekiranya kuterima. Membaca gelagatku itulah barangkali Lulu sengaja menemuiku di Jogja bahwa dia benar-benar punya niat baik untuk membantu Muhammadiyah.P. tetapi kutolak dengan sopan. Suatu hari melalui Hajri. Ini adalah sebuah blessing in disguise (sesuatu yang tampaknya tidak enak. . Tetapi setelah beberapa hari di tanganku ada perasaan tidak nyaman dalam diriku. Baru di saatsaat terakhir setelah keadaan semakin parah. lalu hadiah itu kuserahkan lagi kepada si Minang yang memberikan.P.I. tetapi mengandung kebaikan di dalamnya) bagiku.P. pernah ditawari Lulu mobil BMW atau Mercedes. melepaskan sahamnya di B. tentu riwayat hidupku akan sedikit berbeda. orang kepercayaan Lulu.I.P. Din Syamsuddin menelpon bahwa sebaiknya Ketua P. dari masalah bank yang sarat kongkalingkong itu. Ketua P. tetapi semuanya tidak dilakukannya dengan baik. Bung Dawam sebagai Komisaris Utama yang digaji seharusnya bertugas mengawasi cash flow (aliran dana) B. Ada sebuah catatan kaki yang terkait dengan masalah bank ini.P. Juga melalui si Minang bernama Hatta Abdullah.328 kulontarkan karena aku sangat kesal dengan bisnis perbankan yang sangat mengecewakan. Untuk ini aku berterima kasih kepada Din yang telah menyelamatkan posisi Ketua P.

Jawaban langsung dari M.J.J. Muhammadiyah sejak Muktamar Malang Juli 2005. tetapi ongkos yang harus kutanggung karena sikap bahlul-ku.P. ini. sekalipun pengetahuanku nol tentang bank. aku kirim SMS kepada M.P.I.K.K. aku masih saja dihubungi Hajri untuk turut memikirkan.J. dapat “diselamatkan” melalui sebuah konsorsium yang dipimpin oleh Bukopin sebagai investor baru. aku memang tidak bisa lepas tangan. maka tunggu sajalah saat kehancurannya.329 Karena kondisi B. Semua permintaan Hajri kujalankan.I.P. Hajriyanto yang kemudian menggantikan posisi Dawam sebagai Komut telah bekerja keras menyelamatkan B.J.” Akhirnya setelah 17 langkah (istilah Hajri) B. Setelah terlihat titik-titik terang. sampai aku merasa malu sendiri dengan M.K. tetapi alangkah sulitnya.I.” Ternyata Bung Dawam yang ekonom dan pendukungnya .P. benarlah ucapan M.I. Sebagai orang yang dilibatkan dalam soal perbankan ini sejak semula. Setelah aku tidak lagi menjabat sebagai Ketua P.. sekalipun masih ada ganjalan hukum.K.I.K. Kalau aku melakukan refleksi tentang B. Berkalikali Hajri memintaku agar melakukan pendekatan politik dengan menemui Wakil Presiden Mohammad Jusuf Kalla (M. bukan karena Lulu pernah mencium kakiku. dalam sebuah pertemuan di kediaman wakil presiden dengan mengutip sebuah hadist: “Jika sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya.P. kalau ada masalah B.P.I. karena seringnya pertemuan itu.J.) dalam upaya mencari jalan ke luar.P. untuk mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan dan bantuannya untuk menyelamatkan B. semakin memburuk dari hari ke hari. yang kuterima berbunyi: “Demi Muhammadiyah dan buya.

pengalaman periodeku harus dijadikan cermin untuk bersikap ekstra hati-hati. (Universitas Indonesia). yang bersemangat sekali mengumpulkan dan kemudian menerbitkan kumpulan tulisanku dengan judul: Mencari Autentisitas. Toni.330 dalam soal bank ini tidak kurang bahlul-nya dibandingkan yang lain. Kedua anak muda ini menurut penilaianku punya potensi untuk tampil sebagai intelektual sekaligus aktivis. Kedua anak muda yang bersemangat ini bekerja tidak tanggung-tanggung dalam proses menyiapkan penerbitan buku di atas. 2004. Ph.. Pada masa yang akan datang. telah berhasil menyelesaikan S2-nya di Inggris. William Liddle. Raja Juli Antoni (Toni) dan Rizaluddin Kurniawan (Rizal). guru besar Universitas Negeri Ohio. Jakarta: PSAP. (Ikatan Remaja Muhammadiyah). sementara Rizal di U. Bahkan mereka sampai menghubungi Prof.R. anak Kuantan. B. dengan syarat mereka mau terus belajar dan belajar dengan menguasai satu atau dua Bahasa Asing. Liddle adalah salah seorang guruku sewaktu aku kuliah di Universitas Ohio.D. Peluncuran Buku dan Ultah 70 Tahun Ada dua orang anak muda Muhammadiyah.M. untuk membubuhi kata pengantar. dan berdarah Minang. Usul seorang ekonom tidak boleh lagi dijadikan acuan satusatunya untuk melangkah ke sebuah dunia yang sarat masalah dan liku-liku. R. Sebuah pengalaman pahit tetapi berharga selama aku memimpin Muhammadiyah. Keduanya telah punya jaringan dengan berbagai pihak dalam upaya turut memperbaiki kondisi moral bangsa Indonesia. Columbus. Riau.I. mantan ketua umum dan sekretaris jenderal I. . sebelum memutuskan segala sesuatu yang menyangkut perbankan. Amerika Serikat.

Rendra. Rosihan Anwar.331 Athens. di antaranya Muhammad Jusuf Kalla.S. W. dia berlaku bagi angkatan muda yang semoga saja akan melihat lebih jauh sebab mereka berdiri di atas pundak para pendahulu yang cemerlang dan berjasa besar. sekalipun aku hanya sebagai mahasiswa pendengar di kelasnya. H.S. Muhammad Najib. yang pernah belajar lama di mancanegara dan berprofesi dosen di Tanah Air. bertempat di Hotel Aryaduta. Kini. Taufiq Ismail. Dillon. terutama dilihat kepada jumlah tamu yang hadir. tentu tidak boleh diremehkan. Jeffrie Geovannie. Namun. M. apakah dari Sumatra. .” Di ujung kata pengantarnya. Tamu yang hadir cukup banyak. Peluncuran buku ini dinilai orang sebagai suatu yang berhasil. Hukum ini berlaku bagi Mohammad Hatta dan Syafii Maarif. Douglas Rumage. Natan Setiabudi. Rizal Sukma. Jakob Utama. pasti akan menyokong pesan ini (lih. local knowledge tersebut harus dilengkapi dengan pemikiran dan keahlian yang terbaik dari seluruh dunia. Deddy Julianto. Sebagai anak Minang dengan filosofi “alam terkembang jadi guru”. Din Syamsuddin. Wiranto. Liddle menulis: Local knowledge ‘pengetahuan setempat’. atau pulau lain. Jakarta. XX). Salahuddin Wahid. sahabat. Pesan ini sebenarnya merupakan salah satu manifestasi atau wujud dari sekelumit ajaran hijrah. Liddle yang baik hati menulis kata pengantar itu di bawah judul “Syafii Maarif dan Indonesia. terutama dalam bidang ilmu. hlm. Buku setebal 220 halaman plus indeks diluncurkan pada tanggal 8 Maret 2004. Jawa. Itu artinya simpatisan dan sambutan teman. bagiku. Akbar Tandjung. Syafii Maarif. pesan Liddle berfungsi sebagai penguat apa yang telah ada di otak belakangku sekian lama.

tebal 267 halaman dengan indeks. dieditori oleh Saleh Partaonan Daulay. Jakarta: Grafindo. Tidak kurang dari 93 tulisan yang termuat dalam buku. Atas prakarsa anak-anak muda Muhammadiyah yang aktif di Maarif Institute. dikumpulkan dan dieditori oleh Hery Sucipto. 2005. (3) Kumpulan makalah dan tulisan-tulisan lepasku. Menerobos Kemelut: Refleksi Cendekiawan Muslim. melampaui usia nabi. Anton Syafriuni. tebal 317 dengan indeks. Ada empat buku yang diluncurkan malam itu: (1) Cermin untuk Semua (editornya sudah disebut sebelumnya). sementara tulisan teman-teman yang masuk masih ada. Sudah tentu aku berterima kasih kepada mereka semua yang telah meluangkan waktu untuk hadir malam itu. (4) Kumpulan kolomku di harian Republika plus beberapa tulisanku yang lain. . maka dibuat buku (2) dengan editor sama. sebagian cukup panjang. Buku setebal 271 ini memuat 17 tulisan. Tamu yang hadir agak di luar perkiraan banyaknya. Husni Amriyanto Putra.332 baik yang seagama mau pun yang lintas agama cukup tinggi. Jakarta: Maarif Institute. Rohim Ghazali dan Saleh Partaonan Daulay dengan diberi judul Muhammadiyah dan Politik Islam Inklusif. yaitu Abd. berisi tulisan teman-teman untuk menyambut 70 tahun usiaku. Diberi judul Menggugah Nurani Bangsa. termasuk dari penulis asing. sebagaimana sudah membudaya di Indonesia. seperti tulisan Gunawan Mohamad dan Wan Mohd Nor Wan Daud (guru besar dari ISTAC Malaysia). Jakarta: Maarif Institute. 2005. usiaku 70 tahun diperingati sambil juga meluncurkan buku. Bulan Maret 2004 usiaku sudah mendekatan 69 tahun. Karena jika diterbitkan dalam satu buku ternyata cukup tebal. 2005. Bulan 31 Mei 2005 aku 70 tahun. di antaranya Mantan Wakil Presiden Try Soetrisno.

S. A. Hatta Rajasa. Jakob Utama. 700. Rizal Sukma. Sutrisno Bachir. Nasrullah Setiawan (staf khusus Menteri Pendidikan Nasional). Untuk membiayai ultah dan peluncuran buku ini. Tidak ketinggalan teman-teman dari Nogotirto dan para dosen Jurusan Sejarah F. Kardinal Julius Darmaatmadja. seluruhnya kuserahkan kepada Maarif Institute.000. Akbar Tandjung. Bambang Sudibyo. Muljadi. Syamsir Siregar. Fadilah Supari. C. lama dan banyak warga yang menyarankan agar putusanku itu ditinjau kembali. M. Sebuah angka yang sangat besar bagiku. Sudhamek. Dillon..P. Universitas Negeri Yogyakarta. H. Salahuddin Wahid. Dani Pratomo (Dirut Indofarma). Karena sudah lama kupertimbangkan. Tidak kurang dari Rp. sumbangan datang dari berbagai penjuru. Hajriyanto Y.P. cepat kuisi dengan tidak bersedia lagi dicalonkan. Suyanto. . Malik Fadjar. Ada dari pengusaha Handojo S. Dana yang masuk melaluiku.I.S. Panitia penyelenggara umumnya berasal dari pimpinan Maarif Institute dan anak-anak muda Muhammadiyah. Hasyim Muzadi.000 dana yang masuk untuk keperluan ini. Natan Setiabudi. Muhammadiyah setelah tujuh tahun aku pimpin. A. Muktamar Muhammadiyah Malang dan Sesudahnya Seperti telah kusebutkan di atas bahwa aku harus meninggalkan P. Hiburan tunggal diberikan oleh penyanyi Ebiet. Jeffrie Geovanie. M. Sjafri Sairin.333 Hidayat Nur Wahid. Thohari. Herman Darnel Ibrahim. Sewaktu lembar pencalonan dikirimkan kepadaku awal 2005. dan banyak dermawan yang lain. Deddy Julianto. Masih ada teman-teman P. yang sengaja meluangkan waktu ke Jakarta untuk hadir di Hotel Aryaduta malam itu. Deddy Julianto dan teman-temannya. Dasron Hamid.

khususnya M. M. Alhamdulillah. baru ditetapkan.L. M. Akhirnya dengan berat hati aku setujui. Bagaimana . demi kemenangan jagonya. Abdurrahim Nur.M.P. L. sesuatu yang tak mungkin kulakukan.A. terarah. Rais.P. Malik Fadjar di Malang sebelum susunan P.P. Aku masih mengamati berlakunya kampanye yang kurang elok oleh sementara tim-tim sukses. tetapi semata-mata ingin memberi peluang seluas-luasnya kepada pimpinan baru untuk mengayuh biduk Persyarikatan ini agar melaju lebih cepat. harapanku ini menjadi kenyataan. semua yang hadir. Tetapi dalam sebuah rapat di kediaman A.A. Bukankah Islam itu datang ke muka bumi untuk memayungi semua makhluk. dan Ahmad Syafii Maarif. Prof. Tetapi praktik main uang tidaklah terjadi dalam setiap Muktamar Muhammadiyah sepanjang pengetahuanku. Amien Rais. dan beradab. pasca Muktamar Malang menetapkan lima penesehat: Prof.A. termasuk mereka yang tidak beriman? Beberapa bulan sebelum muktamar aku sudah berkali-kali menekankan di berbagai forum Persyarikatan agar Muktamar Malang berjalan mulus. Dr.. Ismail Suny.H. dan benar-benar menjadi tenda bangsa. Keenggananku ini bukan karena ingin mengucapkan sayonara (selamat tinggal) kepada Muhammadiyah. M. Prof. sekalipun ada beberapa kritikku terhadap proses pemilihan. Dr. Semula jadi anggota penasehat juga aku keberatan. tetap meminta agar aku mau dicalonkan menjadi salah seorang anggota Penasehat P. S. Aku lebih menyukai istilah tenda bangsa dari pada tenda umat.. Asjmuni Abdurrahman. Muhammadiyah. sesuatu yang telah kurintis sebelumnya.334 maka aku berketapan hati untuk tidak masuk lagi dalam jajaran pimpinan pusat. anggun... Maka jadilah P.

sehingga memprihatinkan mereka yang lugu dalam politik. Suasana yang sejuk seperti itu pulalah yang berlaku dalam muktamar. Muhammadiyah tidaklah pantas untuk diperlakukan dengan cara itu.335 penilaianku dengan Muktamar Malang (3-8 Juli 2005). hlm. pada muktamar yang akan datang jangan terulang lagi. Din Syamsuddin. adalah agar muktamar ini . Sebagai bagian dari lingkungan masyarakat Indonesia yang umumnya belum pulih secara moral dan etika. Tetapi. Tanwir berjalan dengan mulus. apa yang kutulis di atas akan diturunkan selengkapnya di bawah ini: Judul di atas merupakan tiga kata kunci yang memuat harapan agar Muktamar ke-45 Muhammadiyah di Malang. sudah kutuangkan dalam ruang Resonansi dengan judul “Mulus. 12). berlangsumg dengan aman. Adapun telah terjadi cara-cara kampanye yang kurang sehat dalam proses pemilihan final untuk menetapkan 13 anggota PP. Anggun. Agar penilaian itu menjadi bagian dari otobiografi ini. produktif. melihat suasana sidang tanwir yang melekat dengan muktamar pada 1-2 Juli dengan agenda tunggal untuk memilih calon tetap sebanyak 39 dari 126 nama yang bersedia dan sah. dan Beradab”(Republika. dan beradab. terbersit juga sedikit kekhawatiran jangan-jangan Muhammadiyah akan mengikuti kekuatan-kekuatan sosio-politik yang lain: gaduh dalam kongres yang memang menjadi tren buruk dalam pembangunan demokrasi kita. 12 Juli 2005. dalam bingkai moral yang prima. Tetapi dihindarkannya proses voting untuk memilih ketua umum yang memperoleh suara terbanyak. anggun. 3-8 Juli 2005. kecemasan di atas sudah jauh berkurang.

sekalipun harus tetap diwaspadai akan adanya kemungkinan perilaku yang menyimpang yang dapat saja terjadi. selain berterima kasih yang setulus-tulusnya atas segala . tidak selalu mudah untuk bersih 100 persen. patut disyukuri. gesekan terselubung pasti terjadi. sehingga tidak ada lagi beban berat yang berarti yang harus dipikul setelah tanggung jawab itu terlepas dari tangan. seperti yang telah disinggung di atas.336 tetap berlangsung mulus dan beradab. agar keutuhan tetap terjaga. Pembukaan muktamar oleh Presiden SBY pada 3 Juli malam dalam lingkaran sorotan cahaya yang sangat cantik. Kepada para sahabat yang tulus ini. dan spektakuler adalah sebagai rahmat dari penggunaan teknologi informasi modern. Warga Muhammadiyah harus banyak belajar untuk tidak terbiasa dengan prilaku yang dapat mencoreng wajah dakwah yang menjadi wataknya selama ini. Budaya tenggang rasa yang tinggi yang ditunjukkan oleh berbagai pihak selama muktamar. Keadaan ini semakin meyakinkan peserta dan anggota muktamar bahwa perhelatan akbar itu akan berjalan dengan baik. karena Muhammadiyah adalah bagian dari sebuah bangsa yang belum siuman secara moral. saya benar-benar berdoa agar akhir masa jabatan saya akan husnul khatimah (ujung yang manis). Memang. Para sahabat dari berbagai kalangan dan kelompok sama berharap agar saya jangan sampai meninggalkan catatan kaki yang buruk di belakang hari. penuh warna. Memang. bila virus politik masuk ke tubuh organisasi sosial. sebuah penyakit yang masih mendera kita semua. saya tidak punya kosa kata lain. Sebagai Ketua PP Muhammadiyah 2000-2005.

tahun 2000. saya sama sekali tidak pernah berkampanye dan membentuk tim-tim sukses. “Pak Syafii telah menyudahi akhir jabatan dengan cara yang manis sekali. Saya semakin sadar bahwa hidup ini akan terasa kerontang bila sunyi dari teman dan sahabat yang diikat oleh tali batin yang kokoh. Akhirnya. Kepada dua-tiga wilayah . Ternyata punya sahabat baik yang banyak itu adalah sebuah kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan benda. saya mohon maaf. para pengusaha. Dalam muktamar Jakarta. saya mohon maaf kepada semua pihak atas segala salah tutur dan salah langkah yang saya lakukan selama tujuh tahun kepemimpinan (1998-2005) saya di PP Muhammadiyah. sekalipun belum tentu seagama. Bukankah kemanusiaan itu tunggal? Persahabatan yang semacam inilah yang telah dirajut selama saya diberi amanah sebagai Ketua P. Filosofi dasar saya ambil dari ucapan almarhum Mohammad Natsir. Muhammadiyah. pejabat-pejabat negara. Kepada teman-teman lintas agama dan kultural. “Memimpin adalah untuk melepaskan. kemudian harus saya lepaskan untuk tidak mau dicalonkan lagi. Mendiknas Bambang Sudibyo menyalami saya sambil bertutur. yang masih berharap agar terus. karena semuanya itu bukanlah watak saya sebagai kader Muhammadiyah.” Dengan segala kekurangan dan kelemahan yang melekat pada diri saya.” Semoga penilaian salah seorang anggota PP yang terpilih untuk periode 2005-2010 ini tidaklah terlalu jauh dari kenyataan yang sebenarnya. filosofi ini sebagai anutan yang sering saya ulang-ulang menyebutnya.337 doa dan harapan yang telah mereka nyatakan melalui SMS yang bertubi-tubi dan media lain.P.

itulah aku. di mana aku memberikan makalah. Pasca Malang. tetapi tidak goyang dalam menjaga khittah. dan undangan departemen luar negeri Indonesia untuk turut menghadiri dialog lintas iman di Cebu.338 baru yang belum sempat dikunjungi. kreatif. Cara berjalanku kadang-kadang agak oleng karena engsel lutut yang sering rewel. Filipina pada bulan Maret 2006. Kekuatan fisik sudah semakin terbatas. Jantung saya sudah berdetak selama lebih dari 70 tahun. Jagalah Muhammadiyah dari segala tarikan politik praktis yang memang bukan kepribadian otentik dari gerakan Islam ini. kuajak isteriku Nurkhalifah untuk menemani. baru dua yang kukabulkan. Dari kutipan di atas sudah jelas bagaimana filosofi dasarku dalam memimpin Muhammadiyah selama satu setengah periode. Aku sendiri yang sudah berupaya agar tetap berada pada posisi independen. hidup yang hanya sekali ini tidak boleh dipermain-mainkan. Beberapa undangan dari luar negeri. Bagiku. dinamis. saya juga mohon dimaafkan. khususnya bila menghadapi fluktuasi politik yang tidak menentu di Indonesia. Apa yang kukatakan. kegiatan kemasyarakatanku ternyata tidak semakin berkurang. Tidak mudah memang menjaga Persyarikatan ini. sekalipun aku sendiri sering lalai menjaga filosofi ini. pada saat pencalonan Amien Rais sebagai presiden masih . yaitu dari sebuah lembaga kajian di Singapura akhir 2005. tetapi untuk menolak undangan dari kalangan luar Muhammadiyah jauh lebih ringan dibandingkan dengan undangan yang datang dari kalangan sendiri. baik di dalam mau pun di luar. Karena aku sudah semakin tua. Selanjutnya harapanku adalah agar Muhammadiyah di bawah pimpinan yang baru akan jauh lebih maju.

mungkin sebagai terminal terakhir dari hidupku. (Bank Tabungan Negara) untuk jangka waktu 15 tahun. Aku harus menyertakan komunitas ini karena aku sekeluarga telah tinggal di Nogotirto sejak Nopember 1985. D. Jadi keputusan itu adalah keputusan bersama yang harus dilaksanakan. . Nitibuana untuk dijadikan perumahan penduduk.339 dikritik orang juga. Adapun dalam kenyataannya tidak semua warga Muhammadiyah mematuhi keputusan itu. kita tidak dapat memaksa. warga Muhammadiyah tidak terikat lagi dengan keputusan di atas.R. Kami mengangsur perumahan K. Kawasan ini sebelumnya adalah daerah pesawahan. Sebenarnya nama Nogotirto ini telah kusebut juga pada bagian lain.N. (Kredit Prumahan Rakyat) kepada B. Diserahkan sepenuhnya kepada mereka dalam menentukan pilihan dengan berpedoman kepada suara hati nurani masingmasing. Tetapi pemihakan Muhammadiyah kepada pencalonan Rais adalah keputusan rapat pleno yang diperluas dengan melibatkan semua wilayah.T. Ini adalah pilihan politik sebagai warga negara yang harus dihormati. tetapi belum mendapatkan porsi khusus. lebih 20 tahun yang lalu. artinya banyak air. Selama rentang waktu 20 tahun usia tuaku telah “dibelanjakan” di sana.P. Nogotirto terdiri dari dua kata: nogo (naga) dan tirta (air). sementara pihak kelurahan mendapatkan tanah di tempat lain sebagai gantinya. Setelah Amien Rais gugur dalam putaran pertama. Komunitas Nogotirto-Trianggo Ini adalah bagian akhir sebelum penutup dari otobiografi ini. Sebagaimana sudah kusebutkan bahwa untuk pembayaran uang muka. kemudian oleh lurah (kepala desa) dijual kepada P.T.

dan dari lain-lain pulau. dokter manusia dan dokter hewan. Dari jenis profesi. Sumatera. Tetapi karena ekonomi rumah tangga semakin membaik. Jumlah angsuran ini pada tahun 1980-an itu terasa cukup berat. karyawan RRI. Sebagian besar tentu sebagai penganut Islam sesuai dengan komposisi penduduk Indonesia. Tetapi untunglah aku tidak pernah menunggak untuk membayar kredit rumah ini. Dr. jenis kerja. belum sampai 15 tahun. Ada Prof. Yang mayoritas tentu berasal dari Jawa. jaksa. pertamina. dan mungkin masih ada dari jenis pekerjaan lain. dosen negeri dan swasta. Alhamdulillah tidak sampai 10 tahun aku telah melunasi semua tuggakan rumah itu. Dengan demikian sebagian gaji tak perlu lagi dipakai untuk rumah. pembayaran rumah sudah lunas sama sekali. Dengan demikian aku tak perlu lagi berulang menyetorkan angsuran rumah ke bank. Madura. pegawai departemen pendidikan nasional. dimulai sejak Desember 1985.670.D. Di perumahan Nogotirto inilah muncul sebuah komunitas baru yang berasal dari berbagai daerah di nusantara dengan latar belakang etnis. (Doctor of Philosophy) tamatan America dan Perancis adalah di antara pendatang baru itu. Untuk angsuran saban bulan memang diambilkan dari gajiku sebagai pegawai negeri sebesar Rp.340 bukan uangku yang dikeluarkan karena memang tidak punya. tentara. Beberapa pemegang Ph. wiraswasta. Ada yang berasal dari Kalimantan. dinas pubakala. di antara mereka ada karyawan bank. Tanpa aku bekerja sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi Jogja dan Solo. 87. tetapi diambilkan dari penghasilan isteriku Nurkhalifah selama bekerja di Chicago. polisi. dan agama yang berbeda. Mohtar . bisa jadi dapur tidak berasap.

Sebelum ada masjid kami melakukan salat tarawih di rumah-rumah yang belum ditempati ketika itu. H. Sekitar empat tahun kami melakukan itu.G. (Rukun Wilayah). pimpinan P. Prof. Kebetulan mereka ini adalah jama’ah masjid Nogotirto. Sewaktu menulis bagian ini. Mereka yang sudah menunaikan ibadah sudah puluhan jumlahnya. Ada Drs. ada saja rombongan yang berangkat. Bagiku jama’ah masjid ini adalah teman-teman baru yang mengesankan.341 Masoed.T. (Rukun Tetangga) ada kegiatan arisan. keduanya tamatan Amerika. tarawih dan Jum’at dipusatkan di masjid ini sampai sekarang.W. Teman karibku ini pandai sekali . tergantung keadaan masing-masing. Dr. Sebagaimana telah kujelaskan sebelumnya. alumnus Perancis. Sungguh kami tidak bisa membayangkan jika di perumahan baru ini tidak terdapat masjid. masjid Nogotirto ini adalah hasil perjuangan teman-teman jama’ah kepada Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila. Tidak pernah putus saban tahun.P. Beberapa tahun menjabat ketua R. padahal aku lihat mereka umumnya adalah dari kelas menengah seperti aku juga. (Pusat Pendidikan dan Pengembangan Guru). Suyanto. Untuk salat Jum’at kami bertebaran ke berbagai masjid.P. Muhammad Romli (darah Madura kelahiran Solo). terbayang olehku wajah Drs. Hubungan persaudaraan tanpa masjid juga tidak akan mudah. sekalipun untuk tingkat R. Hubungannya denganku sangat dekat. ada juga Dr. Djumari. tetapi hati dan dedikasinya untuk kepentingan agama dan manusia kental sekali. Kehadiran masjid di lingkungan kami telah memberikan nuansa tersendiri bagi jama’ah. Tetapi setelah masjid berdiri pada tahun 1989. yang pernah bekerja sebagai kepala dinas purbakala selama puluhan tahun. H. Marchaban. Agak sedikit emosional.

. Terbayang juga olehku sahabat jama’ah Sjamzaini. sahabat ini termasuk yang rajin salat berjama’ah. Negeri Jogjakarta. Setelah tidak banyak bertugas ke luar Jawa. H. Muhammad Bachtiar. Nur Hidayat jama’ah tetap di samping sebagai imam favorit karena bacaannya yang fasih. tidak ada yang tidak selesai.T. Ada lagi H.. Sosok ini aktif sekali dalam .E. Ada lagi bung Drs.K. Berasal dari Prembun (Kebumen). dosen fakultas psikologi UII. mantan kepala R. adalah yang paling menonjol. Duriat Subekti. Salah seorang anggota panitia pembangunan masjid yang sejak awal telah terlibat adalah Drs. dan karyawan pada sebuah bank.A. sahabat yang satu ini adalah guru dan wakil kepala sekolah salah satu S. Teman ini diberi julukan “imam besar” masjid Nogotirto.M. entah sudah berapa ratus juta dia meraup keuntungan dari jual-beli tanah ini.H. 16.342 menyiasati harga tanah. mantan jaksa. karena seringnya menjadi imam untuk salat subuh. B. VII. Tugas sehari-hari adalah sebagai dosen sebuah perguruan tinggi sewasta di Jojakarta.. Heru. S. pernah menjabat Ketua R.R.Si. Sumenep. Ada saja peluang untuk mendapatkan tanah yang diintainya. penah bertugas di Timor Timur sebelum daerah itu lepas dari Indonesia.I. Tidak jarang bersamaku tetap tinggal di masjid antara maghrib dan ‘isya.Si. Belakangan mulai pula aktif berjamaah Drs. Semua urusan di tangannya beres. maghrib.M.W. Kemudian Ahmad Syamlawi. juga tarawih. maka nama Kastolani. dan ‘isya’. pengurus R. M. H. Dalam pada itu jika ada anggota yang tidak pernah menolak menjadi sekretaris kepanitiaan dan kordinator konsumsi untuk kegiatan masjid. S. Kadang-kadang jadi muazzin dan imam salat. Sahabat ini seakan-akan telah menjadi sekretaris abadi kepanitiaan..

dia juga seorang muazzin dan komandan takbir bila hari raya datang.. Pd. aku pernah minta tolong kepadanya. ada Drs. di samping ketua Y. S. Sekalipun baru pertama kali.” Ada lagi Drs. Dalam peribasa tipe yang satu ini adalah “cepat kaki ringan tangan. M. (Yayasan Amal Sosial Islam Nogotirto). M. seorang ahli komputer.I. Namanya Hartoyo.A. M. Thohar Fuaedy. dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta yang sarat dengan titel akademik. sesekali juga bertindak sebagai muazzin. dan humoris.Si. Selama bulan puasa. Tidak saja itu. Mulai tahun 1426 hijriyah/2005 miladiyah Irawadi adalah salah seorang pelopor pemotongan hewan qurban untuk blok tiga utara sehingga meringankan tugas panitia masjid Nogotirto dalam masalah distribusi daging. dialah ahlinya.. H. Tidak pernah menolak permintaan masyarakat untuk membantu mereka. dia juga pemegang aba-aba untuk salat tarawih/witir.N. Kalau ada urusan pengeras suara.T.. M. di samping khatib Jum’at. Tak jauh dari rumah Bung Thohar. Anak Lampung yang punya darah MinangJawa ini adalah tempat mengadu jika masjid menghadapi masalah lampu dan kipas angin.343 kegiatan masyarakat dan Muhammadiyah Nogotirto. M... tidak boleh dilupakan.M. beberapa tahun menjadi ketua takmir.S. pemaaf. ada sahabat yang sangat ceria dari pertamina. Inilah sosok yang punya naluri L. Eko Supriyanto.S. Nama Ir.seorang sarjana teknik listrik.Pd.Si. Dadanya lapang. Dengan cepat dia akan memperbaikinya. Tampak pula wajah Dr. karyawan perusahaan . H. Irawadi Buyung. Mohammad Hatta. jumlah korban sapi mencapai lima ekor plus kambing. Jika komputerku sedikit rewel. (Lembaga Swadaya Masyarakat).H. Tinggal agak ke utara masjid.

dari Manna. tugas pokoknya adalah menimbang daging.. Entah berapa puluh sudah resensinya yang telah dimuat di berbagai media cetak. Berat badannya mungkin di atas 80 kg. sudah puluhan jika bukan ratusan. ada kalanya terlalu sibuk di luar. Ada pula si Minang kelahiran Jogja. Jumlah kambing yang telah “dihabisinya”. hilang kala tertawa. Berasal dari Lirik. Orang tuanya berasal dari Sulit Air. Hermansyah. Teringat juga sosok Drs. Muazin yang sangat aktif sejak dua tahun terakhir adalah Drs.Si. M. Riau Daratan. alumnus Jepang yang mahir berbahasa Jepang. Ketika datang hari raya ‘Idul Qurban. . maka Yulian termasuk dalam daftar teratas. Jama’ah masjid yang hampir tidak pernah absen salat berjama’ah ada beberapa orang. Dia teliti sekali. Ketika bahuku pada suatu saat terasa agak kaku.A.344 minyak itu. Dia dikenal sebagai perisensi karya tulis orang lain. Perawakannya tinggi semampai. Namanya H. berasal dari Bengkulu. Dia saudagar alat-alat tulis di Pasar Kranggan Jogja. Aku pernah berkunjung ke kampungnya. dosen Fakultas Ekonomi UII (Universitas Islam Indonesia). M.. Hartoyo mengajakku untuk mencoba tusuk jarum yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Yang lain adalah Drs. Usmar Salam. Yulian Yamit. Pendeknya kawan yang satu ini agak mirip dengan Eko: “cepat kaki ringan tangan”. Miska Amin. dosen Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. dialah salah seorang jagal yang ditakuti kambing. dosen Fisipol Universitas Gadjah Masa. Jika ada orang yang ceria di Nogotirto. juga dari Bengkulu. Tertawanya yang keras dengan menggerak-gerakkan kepala selalu mengundang lingkungan untuk juga terbahak. Setiap ‘Idul Qurban. Kadangkadang rajin ke masjid. M. Apalagi matanya. di samping sebagian sudah kesebut di atas.

Warsono Muhammad. S.E. untuk maghrib dan ‘isya sering datang. Dalam rangka mengurus daging korban. Hermanlah orangnya. Bekerja untuk kepentingan masjid tanpa pamrih. dan Hawaii.. Toto Purwantoro yang juga rajin salat berjama’ah. Bung Marsono yang dulu adalah penggemar berat sate kambing. Tambahan Muhammad ini dipakainya setelah menunaikan ibadah haji. Jarang absen. sejak beberapa tahun terakhir telah talak tiga.R. Ada pula drh. Rasanya pernah dikatakannya.I.I. Untuk memeriksa kesehatan sapi korban. Keduanya sama-sama ekonom. Abdul Aziz dari pertamina. masih juga sering datang ke masjid Nogotirto utnuk bergabung dengan temanteman. analisis ekonominya tidak kalah dibandingkan dengan para pengamat ekonomi yang lain. dari unit Syari’ah bank B. Dosen Fakultas Ekonomi yang lain adalah Drs. berasal dari Bojonegoro. Teman inilah yang memprakarsai arisan Jum’at sekali sebulan yang sangat bermanfaat untuk kepentingan dana masjid Nogotirto. Marsono. sebab bisa menaikkan tekanan darahnya.. Aku lihat cara berpikirnya cepat dan tangkas. Ketiga sahabat ini sangat amanah dalam urusan uang. Ketiganya adalah jama’ah tetap masjid. seperti wajah teman-teman lain.A. apalagi pada hari Juma’at dan hari-hari raya. agar citra santrinya lebih kentara. biasanya sahabat kita ini yang diminta untuk turut ke . Bung Warsono juga bersama Yulian bertugas menimbang daging.345 Seingatku jika untuk simpan menyimpan uang masjid.I. Aku tidak tahu apa alasannya. Kecuali untuk jama’ah subuh. Pernah dua periode menjabat dekan. Aku melihat wajah ketiga teman ini. di samping H. M. Abdul Aziz sekalipun telah membangun rumah pula di Pundong. alumnus U. Berat badannya sekitar 80 kg. H. dan H. adalah wajah ikhlas. H.

P.I. dan subuh. Siswojo.P. U. Lingkungan masjid telah membentuk mereka menjadi anak-anak muda yang taat.. Mulai tahun 1426/2006 dia menjadi penitia korban di perumahan utara masjid Nogotirto.Sc.M. pindahan dari Kalimantan Tengah. M. Hilman Nadjib. Ada Drs. adalah di antara sahabatku yang aktif salat berjama’ah. Masih banyak yang lain sehingga Masjid Nogotirto tidak pernah sepi dari jamaah. mantan kepala kantor pertanahan Sleman dan Gunung Kidul yang rajin sekali salah berjamaah. berasal dari Kudus.I. Jama’ah lain adalah H..Si. S. Teman-teman lain masih banyak. Universitas Negeri Yogyakarta.. H. dari pimpinan Bank Mandiri U. asal Sumatera Selatan. spesialis anak. (Lembaga Pendidikan Perkebunan).G. sejak dua tahun terakhir juga aktif sebagai jama’ah masjid. dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Kadang-kadang juga berfungsi sebagai muazzin dengan suaranya yang cukup bagus. Dia bekerja sebagai distributor makanan ternak dengan kantor pusatnya di Semarang yang dilajunya dari Nogotirto. pemilik apotik di Bantul. M.346 tempat pembelian. Universitas Muhammadiyah . Sudiyono. Ada lagi Suharwidjono. Di antara mereka ada yang kuliah di Universitas Gadjah Mada. mantan kepala L. Hampir setiap malam mereka membaca al-Qur’an. Teman lain adalah Bambang Samiyo. begitu juga dr. di samping sekolah mereka yang lancar. Banyak memberikan dana untuk urusan masjid.E. khususnya untuk maghrib. mengajar dan belajar sesama mereka.M. Yang cukup menarik juga untuk dicatat adalah kegiatan anak-anak muda di masjid. Idam Nawawi. Yang juga mulai rajin ke masjid adalah Drs. H.M. Sesekali masih sempat berjama’ah di masjid jika kebetulan ada di Nogotirto. ‘isya’.

N. demi estafet generasi di lingkungan masjid Nogotirto. Mereka tidak pernah terlibat dalam berbagai minuman keras dan tindak kekerasan. ada juga yang masih belajar di sekolah menengah. 500. Komunitas Nogotirto/Trianggo sebagai unit persahabatan baru bagiku sangat mengesankan. dan pendapatan bulan Ramadan terus meningkat. 6.000. Itu kita belum lagi berbicara tentang infaq insidental yang begitu mudah didapatkan. istilah Minang untuk jutawan. dan iuran pengajian kaum ibu di masjid Nogotirto.I.000. dan mungkin masih ada yang kuliah di tempat lain. Sebelum dihidangkan kepada tamu. mereka selalu diikutsertakan. Masjid telah mendidik mereka menjadi manusia santun dan bertanggung jawab. dia pasti tanya dulu padaku: bagaimana hasil masakannya? Tentu aku jawab dengan mengangkat ibu . Isteriku Nurkhalifah adalah di antara jama’ah masjid yang aktif. Ramadan 1426 hijriyah mencapai sekitar Rp. Infaq masjid tiap Juma’at rata-rata sekitar Rp. Seperti telah kukatakan.S. Begitu mudahnya mendapatkan dana di sini untuk keperluan sosial keagamaan.000. Dalam kegiatan kepanitiaan.N.I. Tampaknya banyak yang senang hasil masakannya. Dana ini dipakai untuk memberikan beasiswa kepada sektor masyarakat yang kurang mampu. VII perumahan Nogotirto. rata-rata Rp. di samping juga turut membayar iuran untuk Y. Tidak seorang pun di antara anak-anak muda ini yang mempunyai perilaku menyimpang. Tidak semua mahasiswa.347 Yogyakarta.S.T. 200. anggota komunitas baru ini tidak ada yang kaya “meletus”. Kemudian infaq yang dikumpulkan Y.A.A.000 per bulan. Dia juga dikenal sebagai juru masak kambing dan sop buntut di lingkungan masjid dan R.

biasanya setelah salat zuhur. Yogyakarta boleh dikatakan berasal dari karya tulisnya.I..A. khususnya pada Hari Raya Qurban ini. sudah menjadi tradisi kami untuk masak dan makan bersama dalam rangka penyembelihan hewan qurban.K. tinggal menunggu ujian doktor yang ternyata tidak terkejar oleh usianya. tempatku memberi kuliah selama dua tahun. M. Teman lain yang sudah wafat adalah Sutjipto. kadang-kadang mungkin sudah sedikit berlebihan. Rusli Karim. Biaya kuliahnya pada I. Program S3 dengan biaya pribadi diambilnya pada U. beberapa taman jama’ah masjid telah mendahului kami. Muhammadiyah pun kehilangan. salah satu kelemahanku adalah suka makan. Entah berapa sudah karya tulis yang dihasilkannya. Bung Rusli adalah seorang aktivis Muhammadiyah sejak masih mahasiswa. Dia wafat dalam usia yang relatif muda. asal Palembang. mantan jaksa.348 jari. . M. tidak jauh dari perumahan Nogotirto. seperti yang telah kusebut terdahulu.K. Disertasinya telah rampung ditulis. Dia dimakamkan di pemakaman kampung.P. Hasil masakan isteriku sepanjang pengetahuanku tidak pernah bersisa. Berbagai jenis masakan dihidangkan. Bagiku pesta tahunan ini sangat menyenangkan. seorang penulis prolifik. Gulai kambing masakan isteriku sungguh fantastik. Sebagai manusia kelahiran Minang. Bukan saja aku. Aku benarbenar merasa kehilangan dengan kepergian teman yang satu ini. Setiap Hari Raya Qurban. dinihari sudah dipanggil Allah. Malamnya masih menyanyi menyambut 17 Agustus 2005. Selama 20 tahun menjadi penduduk Nogotirto. (Universiti Kebangsaan Malaysia).M. Di antaranya Drs.

politik. rumah kami di Nogotirto telah direnovasi agar lebih luas dengan tiang baja. Hafiz. Yang aku masih prihatin adalah karena Hafiz belum serius menjalankan agama. Hafiz belum begitu tertarik dengan filsafat. Jika hal itu terjadi aku dan Lip benar-benar telah gagal sebagai seorang ayah dan ibu. Tetapi dimensi kemanusiaannya tidaklah kurang. Harapanku adalah bahwa pada satu saat. Hafiz berhasil menyelesaikan studi S2-nya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. mungkin lebih banyak diwarisi dari darah ibunya. Alhamdulillah. pernah mengeritik ayahnya mengapa buku terlalu banyak. Rumah lama terasa terlalu sempit untuk tempat bukuku yang terus saja berdatangan dari berbagai penerbit. Untuk salat Jum’at tampaknya dia cukup rajin.I. seorang sarjana teknik U.349 Atas prakarsa isteri dan anakku Hafiz. sekalipun sering aku peringatkan. kajian agama. agama akan menjadi sesuatu keperluan mutlak bagi anak ini melalui pilihannya yang sadar. Sebagai orang tua aku sering kecewa terhadap sikapnya yang sering acuh tidak acuh dalam melakukan salat. dan S2 di Rotterdam (Belanda).I. Tetapi aku akan naik pitam. Bukankah itu hanyalah kumpulan pikiran orang? Tentu saja pertanyaan itu wajar saja karena disampaikan oleh sarjana teknik yang tidak terlalu banyak memerlukan bacaan sebagaimana yang dituntut oleh ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Perbedaan ini wajar saja. Bagiku seorang anak bebas saja untuk menentukan bidang apa yang mau digelutinya. Kamar tidurku sebelum rumah dirombak sudah tidak layak untuk ditiduri. karena harus bersaing dengan buku dan kertas. . Berbeda denganku. apalagi sejarah. jika anak tidak tertarik untuk belajar.

Sangat praktis. terakhir bertugas di Jayapura. Untuk penyembelihan kambing aku masih berperan aktif dengan menggunakan pisau yang sangat tajam.. ekonomi. Angka pengangguran malah semakin bertambah. Teman ini adalah pensiunan B. bicara macam-macam. Jagal-jagal lain yang lebih muda telah bermunculan menggantikan posisiku. Entah sudah berapa puluh leher hewan qurban yang “dibinasakan” oleh pisau kesayanganku ini. politik. Kubeli ketika menunaikan ibadah haji beberapa tahun yang lalu. Perbedaan agama tidak pernah menjadi alasan untuk tidak mengakrabkan persahabatan. Apalagi temanteman ini tahu betul bahwa aku berkawan dengan tokohtokoh puncak mereka di Jakarta. Kami biasa bersenda gurau. Hubungan lintas agama di sini baik sekali. seperti sakit atau kematian.R. Saling membantu dan saling menjenguk bila ada keperluan. Untuk mengasah pisau ini cukup digesekkan saja pada sarungnya. Di perumahan Nogotirto ini.350 Salah satu faktor mengapa aku sering menolak untuk memberi khutbah Hari Raya ‘Idul Qurban di luar kota Jogjakarta adalah suasana qurban di sekitar masjid Nogotirto yang benar-benar menyenangkan. Sejak dua tahun terakhir aku tidak lagi banyak melakukan penyembelihan sapi.I. . Ringkas kata. suasana lingkungan perumahan Nogotirto cukup nyaman untuk didiami oleh masyarakat majemuk. Pisau ini selama masa penyembelihan tersisip di pinggangku yang sewaktuwaktu dikeluarkan untuk memotong leher sapi atau kambing. ada juga teman-teman Katolik dan Kristen yang berdampingan dengan komunitas Muslim yang mayoritas. dan keprihatinan yang sama terhadap keadaan bangsa yang masih saja belum menggembirakan. Bahkan tetangga dekatku adalah seorang penganut Katolik.

dan panitia lokal di bawah pengawasan Prof. Sijunjung. . Padang. Di bawah kordinasi M. Tamu yang hadir tidak tanggung-tanggung: dari Jakarta. Dr. Untuk mengenang suasana syukuran istimewa itu.351 Syukuran Listrik Sudah dijelaskan bahwa peresmian pemakaian listrik untuk beberapa nagari di kecamatan Sumpur Kudus berlangsung pada tanggal 29 Januari 2005. Kopertis Sumatera Barat. Khairuddin Kanaan dari Pemda Kabupaten Sawahlunto Sijunjung. Novirman Djamarun. seperti telah kusinggung sedikit terdahulu. Novirman yang aku dukung sepenuhnya pada tanggal 29 Januari 2006 diadakan syukuran setahun listrik masuk desa bertempat di masjid Silantai. Jambi. di bawah ini kuturunkan kembali apa yang kutulis dalam “Resonansi” yang muncul dalam Republika 7 Pebruari 2006. Peristiwa ini bagi orang kampungku sangat penting dan menggembirakan untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah bahwa pada akhirnya listrik yang sudah lama dirindukan kedatangannya menjadi kenyataan. dibantu oleh Drs. halaman 12 dengan judul “Syukuran Listrik di Silantai”: Kabarnya konon sepanjang sejarah perlistrikan di Indonesia peristiwa semacam ini adalah yang pertama kali terjadi. Bandung. Deddy Julianto. Atas gagasan Prof. dan tentu saja dari kecamatan Sumpur Kudus dengan camatnya. Nagari Silantai yang terletak sekitar dua km di utara nagari Sumpur Kudus sebagai lokasi upacara seperti berada dalam E. Lintau. maka digelarlah upacara syukuran itu pada 29 Januari 2006. yang saya sebut sebagai “Panglima Jawa”. Riau. Solok. Muaro.

baik berupa voucher mau pun uang kontan. dua orang dari Maarif Institute. adalah dua dirjen departemen pendidikan nasional: manajemen pendidikan dasar/menengah dan luar sekolah. Ir. dan dari “Panglima Jawa” untuk Puskesmas. suatu angka yang terlalu amat besar bagi desa yang tersuruk itu. direktur IGM (Indofarma Global Medica). panti. Hatta Rajasa akan hadir. dirut Indofarma dan staf. dan Cabang Muhammadiyah Sumpur Kudus. dan beberapa anak miskin. staf khusus menteri pendidikan nasional. Sofyan Amin mantan General Manager PLN Sumbar sebelum digantikan oleh Ir. karo keuangan departemen pendidikan nasional. Nilai keseluruhan bantuan. M. seperti tersebut di atas. TK dan panti. mantan dirut BNI. masjid. keduanya alumni ITB dengan memberikan bantuan untuk Panti Asuhan. karo kesra wakil presiden. rektor Universitas Negeri Jakarta. ketrampilan. tetapi telah mengguyurkan bantuan untuk berbagai lembaga pendidikan. Sebelum bertolak ke . Herman Darnel Ibrahim. TK. mantan dirut BNI. saya hitung-hitung lebih dari satu milyar.352 suasana mimpi yang tak terbayangkan sebelumnya. dua dari departemen perhubungan. Sudirman. puluhan dari PLN di bawah komandan Dr. surau. salah seorang direktur PLN Pusat.M. Tidak ketinggalan Ir. tetapi karena mendadak dipanggil presiden. Tamu-tamu yang datang tidak sekadar menghadiri syukuran. Juga ada obatobat dan sedekah/infaq dari dirut Indofarma.l. dia mengirim wakil dua orang staf ahli dan staf khusus. Tamu dari Jakarta a. Apalagi semula diperkirakan Menhub M.

jika tidak waspada. saya tidak tahu berapa jumlah iringan mobil yang mengangkut tamu ke lokasi. pemda kabupaten Sawahlunto atau Sijunjung.353 Silantai sesudah Subuh 29 Jan. Indofarma. yaitu 27%. telah menjamu dan menyediakan penginapan bagi seluruh tamu yang datang. mungkin akan bertanya: apa-apaan ini? Tetapi setelah mencermatinya. baru akan berucap: dalam rangka membantu kawasan IDT (Inpres Desa . Amerika adalah yang terbanyak memakainya. serta kendaraan pribadi. PLN. seolah-olah listrik telah menempati posisi kedua dalam kehidupan manusia. Sepintas lalu. bukan? Tentu bintang dalam upacara syukuran itu adalah Bung Darnel Ibrahim yang pada malam sebelumnya telah memberikan “kuliah” memukau dan juga mencemaskan tentang perlistrikan Indonesia yang. Seperti perhelatan besar saja. sesudah oksigen. Berapa jumlah kendaraan yang “menyerbu” Sumpur Kudus hari itu? Karena berada di barisan depan. Bupati Darius Apan malam 28 Jan.. padahal penduduknya hanya 270 juta. Sisanya yang 73% adalah untuk bangsa-bangsa lain yang bilangannya sekitar 200 itu. Kabarnya di atas 50. jika orang tidak membaca informasi tentang sumbangan di atas. Menurut Darnel. baik yang disediakan dephub. akan menghadapi masalah sangat serius pada masa depan yang dekat. Dari seluruh penggunaan tenaga listrik di muka bumi. Oleh sebab itu pemerintah harus memantau betul dan mengambil langkah dan kebijakan yang tepat dalam soal listrik ini yang pasti punya politik tinggi karena melibatkan dana puluhan triliun rupiah.

seperti telah kusebutkan di . Bukankah ini sebuah panorama yang membuat kita iba? Tanpa kesediaan mereka secara pribadi dalam melestarikan khazanah kelasik itu. bukan? Tulisan ini kusiapkan di Air Dingin Padang. Bupati dalam sambutannya pada upacara yang dipusat kandi masjid Silantai yang masih terbengkalai itu mengulangi lagi ucapannya bahwa dia tidak sanggup memasukkan listrik ke Sumpur Kudus tanpa Jakarta turun tangan. akan punah dimakan musim. Ada berita dari Silantai yang menyentuh batin kita sewaktu menyambut tamu. Malu jika dilihat tamu penting dari Jakarta. 31 Januari 2006 untuk Republika. 200. Sayang mereka terlambat memberi tahu sehingga tidak sempat dibelikan ke kota. Karena perhatian Jakarta inilah PLN Sumbar bergerak cepat untuk memberi cahaya ke nagari-nagari itu sejak setahun terakhir. Mereka disembunyikan di belakang kerumunan manusia yang berjubel. Jadi angka 100% lunas adalah salah satu bentuk rasa syukur itu. seni khas daerah itu pasti.354 Tertinggal) dengan memanfaatkan syukuran setahun listrik masuk desa. tetapi hanya suara pelaku yang terdengar. Dan perlu dicatat keterangan pimpinan PLN ranting Sijunjung bahwa tidak ada tunggakan masyarakat di sana dalam pembayaran rekening listrik setiap bulan. Padahal harga pakaian mereka itu hanyalah sekitar Rp. Bunyi talempong dan salung disertai ungkapan-ungkapan puitis khas Minang yang mengharukan digelar.000 per orang. Mengapa? Novirman mengatakan karena tidak punya pakaian seragam. 150. lambat atau cepat.000 s/d Rp.

20. IX. Barangkali ini adalah peristiwa besar terakhir dalam hidupku di mana aku turut mendorongnya.000.000 dan Rp. 50. Dibandingkan dengan peresmian masjid Y.000. Sumpur Kudus. Masjid Silantai yang terbengkalai itu mendapat bantuan dari P.L. AKHIRNYA Inilah potret perjalanan hidupku yang diberi judul “Titik-titik Kisar di Perjalananku”. baik diukur dari jumlah tamu yang hadir mau pun dari suasana syukuran yang jauh lebih semarak.000. Dari seorang anak piatu di desa Calau. sehingga masjid ini akan melakukan da’wah tanpa kata.355 atas. maka pertemuan kali ini jauh lebih besar. Calau dan peresmian listrik masuk desa sebelumnya yang cukup meriah. aku telah merangkak mengikuti arah retak tangan.A. Setiap orang yang masuk ke dalamnya akan bergumam: alangkah bersihnya masjid ini. Semoga tokoh-tokoh lain dari desa ini akan muncul pula di kemudian hari untuk memajukan kampung halaman yang sudah puluhan jika bukan ratusan tahun berada dalam kategori desa tertinggal.M. terlibat dalam pusaran waktu yang cukup panjang dan berliku. dan karo keuangan departemen pendidikan nasional masing-masing Rp. Tempat wudhunya juga mencerminkan watak Islam sebagai agama yang menjadikan kebersihan sebagai bagian dari iman. Di kala kecil tidak ada cita-cita tinggi yang hendak kuraih. Alam . Aku meminta takmirnya agar kebersihan betul-betul dijaga. Dengan bantuan ini masjid ini dalam beberapa bulan akan muncul sebagai masjid cantik di nagari itu. demi menggembirakan rakyat Sumpur Kudus.N.P.

mengadu ayam bersama mereka. aku telah berani berdebat di masjid menghadapi kaum elit Sumpur Kudus dengan semangat tinggi. Aku menjala. Lintau. Dengan modal pendidikan Mu’allimin sedikit banyaknya aku telah berani berpidato di depan publik kampung yang jumlahnya terbatas. aku akan bisa tidur nyenyak tanpa kasur. Bahkan lebih dari itu. setelah menganggur selama tiga tahun pasca S. Aku tumbuh dan berkembang bersama teman-teman desa yang serba sederhana. Modal ini pernah “menghilang” sementara ketika aku sibuk dengan ilmu-ilmu sekuler. mengadu sapi. Sekalipun aku lahir sebagai anak Kepala Nagari. hidupku tidak ada bedanya dengan teman-teman kampung itu. Tikar kasar adalah sahabat setiaku dalam rentang waktu yang panjang. Topik perdebatan tidak melebihi masalah-masalah khilafiah di tingkat kampung. . aku sudah berani pula memberi ceramah di tempat-tempat lain. Paham agama Muhammadiyah yang telah “dipompakan” ke dalam otak dan hatiku sejak masih belajar di madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus telah menjadi modalku untuk berkayuh lebih jauh sampai ke lingkungan Universitas Chicago di Amerika Serikat. karena sudah terlatih sejak kecil. memancing ikan di Batang Sumpur. Sampai setua ini. Titik kisar pertama terjadi pada waktu aku belajar di madrasah Mu’allimin Muhammadiyah di Balai Tangah.R. kemudian hadir kembali dengan fondasi yang lebih mantap dan kokoh.356 Sumpur Kudus yang sempit dan terpencil di lembah Bukit Barisan telah turut membentuk diriku untuk tidak punya angan-angan besar yang aneh-aneh. Dengan bekal ilmu agama yang serba kurang. Seingatku sejak masa kanak-kanak sampai dewasa jarang sekali aku tidur di atas kasur.

paham agamaku belum banyak mengalami perubahan. Bahkan sampai aku belajar sejarah pada Universitas Ohio di Athens. Wawasan semakin luas. Salah seorang guruku di sini adalah ibu Nurjannah dari Padang yang kemudian kawin dengan Muchtar Gafur. jika bukan semakin menguat. seorang tokoh Masyumi tingkat kabupaten. Harun Malik. Di lingkungan kampus Universitas Chicago-lah aku mengalami kebangkitan spiritual dan intelektual yang baru dan sekaligus merupakan titik kisar yang ketiga. Otak dan hatiku ketika itu belum mendapatkan “virus” pencerahan untuk memasuki gerbang titik kisar tahap ketiga. Ini adalah titik kisar dalam pemikiran keislaman dan keindonesiaanku. Sanusi Latief juga pernah mengajarku di madrasah ini. Peran Fazlur Rahman. aku mulai belajar agama menurut paham Muhammadiyah. dengan segala kritikku kepadanya. Titik kisar kedua terjadi setelah meneruskan pelajaran ke madrasah Mu’allimin Jogjakarta. Amerika Serikat.357 Di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus (sudah lama mati). tetapi naluri sebagai seorang “fundamentalis” belum berubah. dan mungkin yang terakhir sebelum maut menyudahi karierku di muka bumi. Sanusi Latief hanya mengajar ketika pulang kampung dari Bukittinggi. tetapi tidak tetap. Strategi dan pendekatan yang digunakannya agar aku menimbang seluruh kekayaan khazanah Islam klasik dan modern dengan al-Qur’an barangkali telah membuatku . Wahid dan M. Cita-cita politikku tetap saja ingin “menaklukkan” Indonesia agar menjadi negara Islam. sungguh sangat besar. tempat dia belajar di Sekolah Menengah Islam. A. padahal batang usiaku ketika itu sudah di atas 40 tahun.

Semua hasil sejarah pasti terikat dengan ruang dan waktu. syi’i. Masa lampau adalah milik mereka yang menciptakan. adalah hasil sejarah belaka yang boleh dan harus dipertanyakan. Biarlah para pengamat yang menjawabnya. bukan dari Rahman. Al-Qur’an sudah terlalu lama dicampakkan ke dalam limbo sejarah. Sebagaimana nenek mereka terdahulu. Di sinilah perlunya orang belajar sejarah secara cerdas. Milik kita hanyalah semua yang kita ciptakan. sementara keindonesiaanku telah lama menyatu dengan keislamanku. Aku sendiri hanya berharap bahwa perjalanan hidupku tetap berada dalam koridor Islam yang autentik. Memang pada akhirnya aku berkesimpulan bahwa apa yang dikenal dengan kelompok sunni. karena al-Qur’an tidak dijadikan rujukan pertama dan utama. cicit-cicit ini juga tidak jarang terlibat untuk saling bahu hantam yang tak putus-putusnya. dan kritikal. dengan menempatkan al-Qur’an sebagai hakim tertinggi. diterima atau ditolak. Pandangan Mohammad Hatta dan H. Kesimpulan ini adalah dari aku sendiri. bukan milik kita.358 mengalami titik kisar terakhir di perjalanan intelektualku. jujur. Untuk Indonesia ke depan. Pertanyaannya adalah: apakah titik kisar yang ketiga ini sudah berada di jalan yang lurus dan benar secara agama? Aku tidak bisa mengatakannya.A. Salim barangkali perlu dijadikan salah satu rujukan untuk merumuskan proses integrasi Islam . sekalipun kita tidak mungkin melompat dari sebuah kekosongan. khawarij. tugas yang cukup menantang adalah bagaimana mengawinkan secara sadar dan cerdas nilai-nilai dasar keislaman yang ramah dengan unsur-unsur keindonesiaan. dan cicit-cicitnya yang telah berkembang biak selama puluhan abad pada berbagai unit peradaban Muslim.

terpaan sejarah yang berkali-kali memukul Indonesia. di samping Bahasa Indonesia. aku ingatkan bahwa cara-cara semacam itu sepanjang sejarah Indonesia hanya punya satu risiko: gagal! Oleh sebab itu bacalah baik-baik peta sosiologis masyarakat Indonesia sebelum melangkah terlalu jauh dengan menggunakan cara-cara yang radikal yang sia-sia itu. Tanpa upaya yang serius ke arah tujuan mulia ini. Demikianlah otobiografi ini kususun dengan lobang-lobang yang terdapat di sana-sini karena kelemahanku semata.359 dan Indonesia itu. Dalam perspektif ini Pancasila dengan nilai-nilai luhurnya harus berhenti untuk hanya dijadikan retorika politik. Dalam ungkapan lain. tidak pernah berhenti. Semua nilai itu harus diterjemahkan ke dalam format yang kongkret sehingga prinsip “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” benar-benar menjadi kenyataan. Islam bila dipahami dan ditafsirkan secara benar dan autentik. akan sangat sulit bagi Indonesia untuk bertahan sebagai sebuah bangsa dan negara yang berdaulat dan adil. Kepada teman-teman yang memilih radikalisme untuk mencapai tujuan. Jika aku menyebut nama seorang teman secara kurang proporsional dan dari sudut etika . ia adalah sebuah proses yang terus berlangsung. Integrasi nasional bukanlah sesuatu yang sudah final. Tetapi alangkah sukarnya orang belajar dari pengalaman pahit masa lampau. Di sinilah sebenarnya sumber pokok dari segala konflik pusat-daerah yang berkali-kali kita alami dengan biaya yang sangat tinggi. akan memberikan sumbangan yang sangat menentukan bagi pemantapan proses integrasi ini. sesungguhnya dapat dicari akar-umbinya pada kelalaian fatal para elit bangsa dalam melaksanakan prinsip keadilan ini.

karena Indonesia merupakan bangsa Muslim terbesar di muka bumi yang harus dijaga martabat dan kedaulatannya. Semua itu kulakukan semata-mata dalam konteks kiprahku. Selanjutnya dalam usia yang sudah sangat larut ini. Apakah angan-angan mewah ini akan menjadi kenyataan sebelum aku tutup mata.360 kurang tepat. Masuk tidak menggenapkan. Indonesia dan Islam telah lebur menjadi satu. Dalam pergumulan pemikiranku pasca Chicago. tidaklah penting bagiku. Terserahlah kepada semua pihak untuk menilainya secara bebas dan adil. permohonanku hanya tunggal: maafkan aku! Tidaklah maksudku untuk menyinggung perasaan seseorang sekiranya aku menyebut namanya. khususnya selama memimpin Muhammadiyah dalam bingkai bangsa dan negara Indonesia. Adapun muncul kelompok . sebab aku sadar betul bahwa masalah Indonesia cukup ruwet dan sarat dengan serba ketidakpastian. agar Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara tetap utuh. Bagiku membela bangsa adalah dalam rangka membela Islam. tidak terkoyak oleh berbagai kepentingan politik jangka pendek yang tidak sehat. agenda utamaku adalah turut berbuat sesuatu. keluar tidak mengurangi. Apalah artinya seorang aku yang hanya sebagai sebuah skrup alit yang seperti kata dalam pepatah Minang: “Bak melukut (pecahan beras karena ditumbuk) di atas gantang. betapa pun kecilnya.” Tetapi aku mencintai bangsa ini secara tulus dan dalam sekali. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air tetapi berbeda iman haruslah dilindungi dan diperlakukan secara adil dan proporsional. Tetapi setidaktidaknya sebagai warga negara biasa aku telah menyampaikan sesuatu kepada bangsa yang kucintai ini. Islam yang dianut mayoritas penduduk tidak boleh mau menang sendiri.

telah membawaku ke pusaran perkembangan politik.T. sosial. Pihak minoritas juga harus memahami dengan baik peta sosiologis masyarakat Indonesia yang plural agar gesekan-gesekan di akar rumput dapat ditiadakan dengan terus membangun budaya saling pengertian. Diskusi. apalagi saling meniadakan. 19982005. tetapi hanya sedikit yang dapat . Undangan dari berbagai daerah masih saja berdatangan. Kampungku Sumpur Kudus setidak-tidaknya telah sedikit terangkat berkat perhatian dan bantuan teman-teman yang empati dan simpati terhadap kawasan I. simposium. Aku tidak punya kosa-kata untuk mengomentari pendapat atau penilaian yang diberikan oleh siapa saja. atau setengah gagal. Tidak untuk saling menggusur.D. gagal. sekalipun yang berlaku belakangan mereka malah sering diwasiti karena kualitas di bawah standar. sekalipun secara selektif. seminar. dan kultural secara nasional. ternyata tidak demikian. Setelah tidak lagi menjabat sebagai ketua P. diperkirakan semula kegiatan kemasyarakatanku akan berkurang. dan yang sebangsa itu tetap saja kujalani. (Inpres Desa Tertinggal) itu.. Sebuah rentang waktu yang tersibuk bagi diriku. terhadap kiprahku selama delapan tahun terakhir. Karierku sebagai Ketua P.P. Umat Islam semestinya menjadi wasit dalam pergaulan antar peradaban.361 kecil Muslim yang mau menang sendiri tidak paham esensi ajaran Islam yang mengajarkan persaudaraan semesta dengan dasar saling menghormati. Selanjutnya terserahlah kepada para pengamat untuk menempatkanku pada posisi berhasil. setengah berhasil.P. Planet bumi hanya satu untuk tempat kediaman seluruh makhluk. Muhammadiyah. domestik atau pihak asing.

Unsur yang tak teringat mungkin lebih banyak lagi.Ag. aku masih terlihat sehat. Penyakit gula yang ada pada diriku sejak beberapa tahun yang lalu.. alhamdulillah. Sebegitu jauh aku tidak menghadapi kesulitan dalam soal makanan. dengan pil amaryl ukuran 1 mm dan vitamin nerviton E.P. ada saja yang . jangan sampai merepotkan orang lain. dan Zainuddin. S. Sebagai pembawaan dari Minang. Kata orang dalam usia di atas 70 tahun. Langsung malam itu dengan kebaikan Bung Hefinal. mengingat kondisi fisik yang belum tentu selalu mendukung. Sebagai seorang anak manusia yang serba kurang. Mungkin karena terlalu lelah. termasuk tidak memberatkan kekuarga sendiri. jika tidak lupa.E. Hanya gula pasir yang hampir tak pernah kusentuh lagi.. Selain itu aku juga makan bawang putih satu siung saban pagi. Muhammadiyah Jakarta. dunia terasa berputar kencang sekali. S.E. Sebagai gantinya aku minum susu kaleng bercampur madu hampir tiap malam. dapat dikontrol sebaikbaiknya. Untuk selanjutnya permohonanku kepada Allah adalah bahwa jika sekiranya aku jatuh sakit lagi. S. aku baru sekali menginap di Rumah Sakit Islam Jakarta selama beberapa hari pada tahun 2004. Selama hidup. pemandanganku berkunang-kunang dan jungkir-balik. tentu di sanasini terdapat kelemahan data karena sebagian besar diolah dari ingatan yang masih melekat dalam otakku.362 kukabulkan. karyawan P. selera makanku belum menyusut. Oleh sebab itu setiap aku baca ulang draf ini. aku dilarikan ke rumah sakit dan tinggal di sana sampai kesehatanku pulih sama sekali. Otobiografi ini adalah potret terbuka tentang diriku yang mudah-mudahan ada gunanya bagi keturunanku atau bagi siapa saja yang sempat membacanya.

aku menyampaikan rasa terima kasih yang dalam atas segala saran yang telah diberikan. aku harus memaksa komputer berhenti sampai di sini saja bagi penulisan otobiografi ini. Dibaca ulang. Jogjakarta 55292) .00 di rumah sewaan Perum Nogotirto Elok II. diperbaiki. (Draf sementara otobiografi ini mulai ditulis pada 2 September 2003 jam 20.363 perlu ditambah. Halmahera D/76. atau bahkan dibuang. Jl. tidak akan ada ujungnya. Oleh sebab itu. dikurangi. Jawa no. Muhammadiyah dan Bung Nursam. sejarawan. Kepada para sahabat yang kuminta membaca draf ini sebelum diterbitkan. Tetapi sudahlah. tidak ada gading yang tak retak. bisa jadi akan berlarutlarut. dan rampung pada 28 Februari 2006 jam 10. Jl. demikian seterusnya tanpa putus. dari Penerbit Ombak Jogjakarta.P. khususnya kepada Bung Haedar Nashir Ketua P. dikurangi lagi. 19.42 di Perum Nogotirto Elok II. Jika tidak ada disiplin untuk berhenti menulis. ditambah.

. . . . .I . . . Lombok-Sumpurkudus-Surakarta . . . . . . . . . . . D. . . . . . 125 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Tahun-Tahun Kritis Sampai Iwan Wafat pada 1973 VI A. . . . . Makkah Darat. . . . . . . . Kembali ke Jogja. . Bertugas di Lombok Timur . . . . dan Kecemasanku . . . 235 D. . Lulus S1. . 214 A. . Habibie. . . . . . . . . . . Mulai Dijodohkan . . . . Chicago I: Sebelum Titik Kisar . . . . . . . . . . . . . . .R. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Syekh Ibrahim dan Dinamika Sejarah . . . . IBU-BAPAK. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Kewajiban pada Tanah Kelahiran dan P. Perkisaran Abad.. . . . A. . . . . . 170 . . . . . Dinamika Retorika dan Mu’allimin Balai Tangah atau Lintau II KE YOGYAKARTA dan PERAN SANUSI LATIEF A. Belajar Sambil Bekerja V MUSIBAH SILIH BERGANTI A. . . . Muhammadiyah. . . . . . . . 175 B. . . 113 IV MENITI BIDUK KEHIDUPAN A. . . . . . . . . . . Kegiatanku di Indonesia Pasca Chicago . . Sanusi Latief dan Hijrah Menuntut Ilmu III B. . . . . . . . . . . . . 214 B. . . . . . . . . . . . . . . . . . . 164 . . . . 156 B. . . . . . . . .364 DAFTAR ISI BAB I Halaman BUMI KELAHIRAN. . Perginya Seorang Ayah dan Nasib Anak-Anaknya . . . . . . . . . . . . . 1998-2005 . . dan SAUDARA-SAUDARAKU . . . . Sebagai Ketua P. . . . . . Periode Athens: Status Quo dalam Pemikiran D. .D. . B. . . . . Keruntuhan Rezim. . . dan Aku . . . . . . . dan Lahirnya Ikhwan C. . . . 309 . . . . . 195 BERKIPRAH MENYONGSONG MASA DEPAN . . . . 175 . . . . . . . . Lip ke Padang Bersama Salman (1966-1967) . 262 E. . . . . 108 A. . . . . 125 . . . . . . . . . . . . . . . . Sumpur Kudus. . . . . . . . 156 . Kiprahku dalam Memimpin Muhammadiyah . . . . . 150 . . . . . . . . 188 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 104 UJUNG TOMBAK MU’ALLIMIN . . . . . . . 219 C. . . C. . . . . . M. 108 B. . dan Perdagangan . . . . . .P. Muhammadiyah. . . Chicago II: Setelah Titik Kisar VII SECERCAH HARAPAN dan BERAGAM TANTANGAN . . Harapan. . . . . . . . 1 1 20 34 76 92 92 . . . . . . 143 C. . . . . . . . . . . . . . . . Kembali ke Jawa dan Pulang untuk Menikah . . Kelahiran Hafiz dan Keinginan Sekolah Lagi B. 181 C.

. Komunitas Nogotirto-Trianggo . 319 B. . . . .R. . . . . . . . . . . . . . . Gerakan Moral Anti Korupsi dan Pencalonan K. . . . . . . . . . . . .K. 351 IX AKHIRNYA . . 330 C. . . . . . . . . . . . . . . . .365 VIII MASA DEPAN INDONESIA . . 339 E. . . . . . . . . . . . . . . . . . 319 A. . . . . . . . . . . . . . . . Muktamar Muhammadiyah Malang dan Sesudahnya . . . 355 . Syukuran Listrik . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Peluncuran Buku dan Ultah 70 Tahun . . . . . . . . . . . . 333 D. . . . . . . . . . . . .

366 GLOSSARY Halaman 1 5 6 8 9 12 13 15 16 20 21 22 23 24 31 36 38 42 52 55 61 Makah Darek = Makkah Darat Rajo = Raja Syarak mangato adaik mamakai = Syarak mengata adat memakai inferiority complex = rasa rendah diri penetration pacifique = masuk atau menembus secara damai parewa = preman on-going process = proses yang terus berjalan bacakak = berkelahi babat alas = pembukaan sebuah kampong baru dilomeh = diguyur gerundang = anak katak tanomeh = sutan emas Muaro Sumpu = Muara Sumpur Koto Ijau = Koto Hijau kundang = bawa jamba = makanan lengkap di atas piring besar atau talam Iniak Tanahbato = Nenek Tanahbato taratak = jorong = puti = gelar untuk putrid yang merasa sebagai keturunan raja di Minangkabau seperti halnya gelar rajo atau sutan untuk kaum pria Tukang kampo = pengolah daun gambir untuk diambil getahnya asai = kutu bubuk alit = kecil Anai-anai = rayap lapuak = tua kaktuo = kakak tertua kaktuo. kakoncu. inyo. panggilan isteri terhadap suami bermaya (Malaysia) = berhasil rumah “mande” = rumah ibu etek = bibi uwo = ibu dari ibu gayek = ayah dari ibu personal achievement = raihan pribadi berfastabiqul khairat = berlomba untuk kebaikan ande = bibi onga = panggilan untuk anak kedua baik pria atau wanita oncu = paman lading = pisau panjang olang katutuih = elang hantu ngoyo (Jawa) = tidak sabaran sumpek (Jawa) = tidak segar cigak = kera bagak = berani bersianyut = berenang dari arah hulu ke hilir jawi = sapi 62 64 67 68 71 . udo. onga.

367 74 76 90 91 98 99 élan vital = semangat hidup yang perkasa Israr-e Khudi = Rahasia Pribadi batobo = sawah rancak = bagus Khath = tulisan Arab nyemeg = antara goreng dan rebus human interest = menarik secara manusiawi .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful