Bab VII Efektivitas Program Jaring Perlindungan Sosial Melalui Rumah Singgah

Efektivitas Program Jaring perlindungan sosial melalui Rumah Singgah didasarkan pada tingkat korespondensi (korelasi) antara outputs dan outcomes yang diperoleh atau impacts yang terjadi. Untuk itu dilakukan Evaluasi efektivitas, yang meliputi (1) pengujian hubungan antara outputs dengan outcomes; (2) klasifikasi tingkat efektivitas program pelayanan Rumah Singgah; dan (3) identifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap efektivitas program. Untuk mengetahui tingkat efektivitas program, perlu diketahui dulu manfaat (outcomes) dari program JPS melalui Rumah Singgah. Manfaat (outcomes) yaitu kegunaan / faedah / manfaat langsung yang terjadi karena adanya investasi proyek, seperti perubahan sikap dan perilaku anak jalanan yang lebih baik di rumah singgah, peningkatan prestasi belajar, peningkatan keterampilan, dan sebagainya. Umumnya juga disebut pencapaian hasil secara fungsional atau merupakan indikator fungsional dari pencapaian tujuan spesifik/ khusus (objectives). Gambaran manfaat rumah singgah (outcomes) menurut pengelola Rumah Singgah dapat dilihat sebagai berikut: Tabel 7.1 Indeks kualitas outcomes Indikator Indeks 0.42 0.41 0.39 0.33 0.30 0.25 0.19 0.45 0.44 0.48 0.40 0.36 0.27

1. Penurunan lamanya keberadaan anak di jalanan 2. Kecenderungan kehadiran anak di sekolah a. SD b. SLTP c. SLTA 2. Kecenderungan rata-rata prestasi belajar anak a. SD b. SLTP c. SLTA 3. Peningkatan akses anak terhadap pelayanan
pendidikan dasar

4. Peningkatan akses anak terhadap pelayanan 5. 6. 7. 8.
kesehatan dasar Peningkatan tanggung jawab orang tua terhadap anaknya Berkurangnya kebiasaan buruk Perubahan sikap dan perilaku Peningkatan peran aktif masyarakat dalam pelayanan rumah singgah

4-7 jam sebanyak 39. jika menggunakan kriteria (>0.8%. Selain itu sistem pemantauan terhadap kedua indikator tersebut tidak dapat berjalan dengan baik. padahal tidak semua anak yang memperoleh beasiswa akses terhadap rumah singgah. Tampaknya rumah singgah cukup signifikan memberikan pengaruh bagi anak dalam hal lamanya waktu yang dihabiskan di jalanan. Untuk memperoleh gambaran yang lebih nyata manfaat Rumah Singgah berikut ini disajikan hasil evaluasi dampak pelayanan terhadap anak dan orang tua: Penurunan lamanya keberadaan anak di jalanan Lama kegiatan di jalanan sebelum responden mengenal rumah singgah untuk semua kota lokasi studi sebagian terbesar (50%) antara 4-7 jam.5) nampak bahwa pelayanan Rumah Singgah belum secara signifikan memberikan manfaat bagi anak jalanan.Berdasarkan indeks outcomes tersebut. orang tua dan warga masyarakat sekitarnya.5%. Setelah berada di rumah singgah. . Hal ini disebabkan untuk kegiatan tutorial masih bertumpu diselenggarakan di Rumah Singgah. karena beban tugas pekerja sosial yang terlampau berat. responden berada di jalanan kurang dari 4 jam sebanyak 67. Untuk peningkatan kehadiran anak di sekolah dan peningkatan rata-rata prestasi belajar nampak masih perlu ditingkatkan. 8-12 jam sebanyak 2. peningkatan akses anak terhadap pelayanan pendidikan dasar (0.44) dan penurunan lamanya keberadaan anak di jalanan (0.48). Manfaat Rumah Singgah yang cukup menonjol dalam hal peningkatan tanggung jawab orang tua (0.42). peningkatan akses terhadap pelayanan kesehatan dasar (0.44).73% dan tidak ada responden yang menghabiskan waktunya di jalan lebih dari 12 jam.

8 7.7 4.7 35. belajar.2 45.00 13.0 1.1 17.7 Jam 3 Makassar 8 .1 60.3 36.7 49.3 2.1 59.6 11.1 0.7 0 0 3.8 5.8 1.0 0.0 18.6 61. sholat.2 55.3 25.0 4.10 23. Aktivitas yang dilakukan di rumah singgah adalah menonton televisi.4 0 0 4.4 58.5 24.7 53. mengaji.3 0 3 33.2 40 64.1 31.9 18.2 37.70 41.8 21.2 35.12 Jakarta Jam > 12 Jam < 4 Jam 4 .55 20.6 0 1.12 4 Bandung Jam > 12 Jam 7.12 Jam > 12 Jam < 4 Jam 4 .7 Jam 8 .9 42.9 6.0 31.6 31.5 0 4.00 baik di rumah singgah maupun di jalanan. 01 Kota 02 1 < 4 Jam 4 . 2001) Waktu yang paling banyak digunakan untuk melakukan aktivitas adalah 05.5 13.9 42.1 3 77.95 8.2 19.2 9.3 1.8 67.60 9. 1999) Evaluasi Dampak Pelayanan JPS melalui Rumah Singgah bagi Kehidupan Anak Jalanan (Yashinta.7 6.8 6.5 68.90 2.5 46 33.0 80. Sementara itu aktivitas yang dilakukan di luar rumah singgah adalah : .2 0.1 11.2 11. bimbingan dengan pekerja sosial dan membersihkan rumah singgah.65 7.3 50. bermain. mandi.7 40 43.2 67.0 Sumber : Pemetaan dan Survei Sosial Anak Jalanan (Depsos & Unika Atmajaya.2 35.3 42.9 68.8 17.7 7.5 12.20 16.0 57.7 45. kursus.7 63.15 2.3 43.2 40.8 3.1 0 0 3.5 30.0 45.2 32.2 82.6 2.6 0 45.0 0.7 Jam 2 Surabaya 8 .75 50.0 2. makan.80 46.5 0 No .50 42.0 0.5 84.2 12.12 Jam > 12 Jam < 4 Jam 4 .0 47.0 20.0 0 3.2 0.2 25.75 39.7 Jam DKI 8 .0 4.6 35.0 38.Tabel 7.3 46.8 54.8 50.45 48.6 68. membaca buku.1 0.3 2.2 15.9 3.3 18.9 3. tidur.0 9.5 0.3 0 1.6 18. berlatih musik.2 Prosentase Anak Jalanan sebelum dan sesudah mengenal Rumah Singgah : perbandingan hasil PSSAJ 1999 & Evaluasi JPS Anjal 2001 Jumlah Jam di Jalan 03 Laki Perempuan Total 2001 1999 2001 1999 2001 1999 Sblm Ssdh Sbl Ssdh Sblm Ssd m h 04 05 06 07 08 09 10 11 12 4.6 64.6 56.5 21.00-21.60 28.8 0.7 44.

belajar. berdagang. telah mendapat bantuan dari rumah singgah. kebutuhan biaya sekolah agak terpenuhi. menjual koran. Sementara itu sebanyak 15% menjawab tidak ada perubahan dan sisanya tidak tahu sebesar 9%. begadang dan pulang ke rumah orang tua. dan sebagainya). serta menyadari resiko di jalan. kegiatan mencari uang (seperti mengamen. setelah memperoleh bantuan dari rumah singgah lamanya di jalan berkurang. Sebagian besar (76%) responden menjawab berkurang. mengemis. dengan alasan yang beragam.sekolah. . kursus. bermain. yaitu banyak waktu bermain dan beraktivitas di rumah singgah. Ketika dikonfirmasi kepada orang tua anak.

: Mengenai dampak rumah singgah bagaimana. kesenian dari hari ke hari detik ke detik diciptakan sedemikian rupa anak dengan sendirinya akan berharap tidak lain ke terminal apabila tidak ada kegiatan yang seperti itu saja dan pentingnya aktifitas penjangkauan. Nah kita akan melihat kalau di RS itu mengadakan kegiatan yang dimaksudkan problem kisah jalanan semakin berkurang jika RS tidak mempunyai aktifitas konkrit mengenai ya anak jalanan tidak mempunyai aktifitas di RS ya di jalan. Oleh karena itu mohon dicatat jadwal kegiatan RS.anak jalanan. Waktu untuk ke jalan sudah sangat sedikit . Banyak yang malas ke jalan. apakah kegiatan dinamakan kelompok belajar. Itu bika di RS diciptakan berbagai aktifitas dan macam-macam religi.Kegiatan di Rumah Singgah dapat menarik anak dari jalanan Hasil wawancara dengan pimpinan rumah singgah: Ks. bahkan tahun ke 3 anak datang ke RS itu seperti datang ke gelanggang remaja. Diluar Rumah Singgah mereka hanya mengamen pada waktu tertentu saja. Lha ini ke jawab skenario RS untuk menarik anak. apakah bisa narik anak-anak dari jalanan? : Kan begini rumah singgah mempunyai aktifitas rutin yang bersama. Kegiatan harus rutin dan pendekatannya profesional. Sr. sedangkan sesudahnya menjadi 28%. Sumber : Wawancara dengan pimpinan Rumah Singgah Puspa Mentari. jumlah anakanaknya disitu.1 Kegiatan bermain dan rekreasi di Bangun Pertiwi Surabaya dan Yayasan Ar-Rufi Bandung Peningkatan akses anak terhadap pelayanan pendidikan dasar. Surabaya Gambar 7. Kontribusi RS itu berapa jam sih RS menarik anak-anak. konseling terhadap kasus-kasus tertentu atau mengadakan kegiatan agama bersama yang disebut aktifitas di RS. Data yang mendukung adalah kecenderungan kehadiran mereka dari . Apakah keberadaan RS itu mampu menarik anak-anak di jalanan. Kalau di Jakarta yang saya tahu kegiatan pagi sampai sore sudah diikuti oleh anak karena kegiatannya sudah cukup lama 2 tahun berjalan. Meskipun tidak terlalu signifikan. Sebelum menerima bantuan beasiswa sebanyak 22% responden yang masuk sekolah selama 6 hari per minggu. kecenderungan kehadiran anak di sekolah dan kecenderungan rata-rata pretasi belajar anak Pengaruh program beasiswa terhadap kehadiran responden di sekolah dapat dilihat dari jumlah hari responden masuk sekolah. namun program ini memberikan pengaruh.

Pengaruh bantuan beasiswa lainnya relatif sama dengan pengaruh dari tutorial/bimbingan belajar. sementara 52% responden tidak memberikan informasi. yang memberikannya di jalanan. Kegiatan tutorial biasanya disesuaikan dengan kebutuhan belajar anak (seperti saat ujian. sabar. Mereka lebih bersemangat karena merasa tenang karena tidak lagi memikirkan biaya sekolah. dan 8% responden makan dari rumah singgah. sebanyak 11% harus mencari sendiri. Meskipun sebagian besar (26%) responden biasa makan 3 kali dan 2 kali sehari (18. Kegiatan tutorial/bimbingan belajar merupakan salah satu kegiatan yang diselenggarakan oleh rumah singgah. Pada umumnya rumah singgah tidak memberikan tambahan makanan kepada beberapa anak saja sesuai dengan pedoman proyek. yaitu anak mengalami peningkatan (61%). Namun kecenderungannya sebanyak 248% prestasi belajarnya cenderung meningkat. ulangan umum atau pekerjaan rumah yang suli). Pada umumnya makanan berasal dari orang tua (24%). Namun rata-rata adalah sekali seminggu (10%). yaitu mencari sisa makanan. namun sebagian lainnya hanya makan sekali sehari (7%). Perubahan pola perilaku makan Tambahan makanan merupakan bagian dari pelayanan rumah singgah. tetap (32%) dan 18% meningkat. terdapat sebanyak 2. namun dana yang ada digunakan untuk memberi makan sehari-hari untuk sejumlah anak yang memerlukannya. Sebanyak 59% responden menyatakan tidak ada kegiatan tutorial. percaya diri. kadangkala mereka memasak sendiri namun kadangkala membeli atau berupa nasi bungkus dari warung yang sudah ditunjuk. Khusus di Surabaya. sopan dan penurut. yaitu adanya perubahan perilaku spesifik. tidak ada peningkatan prestasi (10%) dan sisanya menjawab tidak tahu (29%). sedangkan untuk lauk atau sayurnya yang sangat sederhana. khususnya membayar SPP. Hal ini sejalan dengan pernyataan orang tua anak. serta variasi dari beberapa perilaku tersebut. setelah sisasisa makanan dari restoran yang dikumpulkan oleh restoran dikeluarkan. Bagi yang memperoleh makanan dari rumah singgah. sebanyak 23% tetap bahkan 1. giat dan rajin belajar/sekolah dan beribadah. Frekuensi penerimaan tambahan makanan yang responden peroleh bervariasi dari sekali hingga 14 kali seminggu.5%). Saat-saat tertentu mereka mendapatkan ³rejeki´ nasi bungkus dari para dermawan. Meskipun makanan yang . sebelum diangkut ke sampah. karena belum ada evaluasi belajar (rapor). Prosentase tertinggi dari semua kota lokasi studi adalah rajin dan semangat belajar dan sekolah. Pengaruh kegiatan ini belum begitu tampak.5% yang memperoleh makanan dari ³Hoyen/Oyen´. biasanya mereka memasak sendiri. meningkat prestasi. Mereka biasa mencari makanan tersebut pada malam hari. antara lain: lebih bersemangat. yaitu tidak ada informasi (38%). sedangkan sisanya 32% mengatakan tidak ada buku bacaan dan fasilitas belajar serta 18% responden tidak memanfaatkannya.sebelum dan sesudah menerima bantuan beasiswa. seperti di Mc Donald dan Delta Plaza. berpenampilan bersih dan rapi. Sementara itu dalam memanfaatkan buku bacaan dan fasilitas belajar lainnya di rumah singgah sebanyak 50% responden menyatakan memanfaatkannya.9% responden yang justeru cenderung menurun. meskipun frekuensi pelaksanaannya masih relatif rendah. Sebanyak 13% mengikuti tutorial dengan frekuensi sekali seminggu dan hanya 2% yang menyatakan frekuensinya 6 kali seminggu. terutama nasi.

karena jika anak sakit mendapat obat dari rumah singgah. Menurut mereka. Jenis pelatihan keterampilan sangat bervariasi. ada bantuan kesehatan. terpenuhinya kebutuhan kesehatan. serta setiap dua bulan sekali ada pemeriksaan kesehatan. kalau sakit dibawa ke Puskesmas. Secara umum dapat dikatakan bahwa responden selalu hadir mengikuti pelatihan. namun sebagian besar dari responden mengatakan melalui rumah singgah mereka dapat makan lebih teratur. baik yang diberikan secara langsung (biasanya untuk penyakit-penyakit ringan yang bisa diatasi dengan obat umum-yang bisa dibeli di warung/toko obat/apotik) maupun tidak langsung melalui kerja sama dengan Puskesmas atau klinik pengobatan. dinyatakan bahwa kebutuhan pelayanan kesehatan oleh salah seorang kesehatan dapat dipenuhi di rumah singgah (56%). Peningkatan akses anak terhadap pelayanan kesehatan dasar Bantuan kesehatan juga diberikan oleh rumah singgah. ada biaya pengobatan. Jenis penyakit yang paling sering diderita responden dalam 1 bulan terakhir adalah penyakit kulit (31%) dan infeksi saluran pernafasan (15%). . namun yang paling banyak diikuti oleh responden adalah mengemudi. Setidaknya apabila mereka sakit dapat memperoleh pengobatan gratis. Perbandingan kondisi kesehatan responden antara sebelum dan sesudah memperoleh bantuan kesehatan dari rumah singgah tidak jauh berbeda. komputer dan teknik memberdayakan potensi. Peningkatan keterampilan Bentuk bantuan lain yang diberikan melalui rumah singgah adalah pelatihan keterampilan.diberikan dengan menu yang sederhana. Gambar 7. Dokter yang peduli di Yayasan Nanda Dian Surabaya Alasan yang dikemukakan sesuai dengan pendapat anak. Sebanyak 74% responden menyatakan tidak lagi mengalami kesulitan untuk berobat jika sakit. Namun paling tidak bantuan kesehatan yang diberikan oleh rumah singgah sangat bermanfaat bagi responden.2 Pemeriksaaan Hasil pembuktian silang terhadap responden orang tua.

pengaruh pelatihan keterampilan belum Bangun Pertiwi Surabaya terlalu menonjol..3 Membuat layangan hias Meskipun sebagian dari responden telah memiliki keterampilan yang cukup bervariasi.500. Gambar 7.000. lebih kreatif. namun tampaknya mereka rela meninggalkan jalanan untuk mengikuti pelatihan keterampilan.4 Program alih profesi Perubahan perilaku spesifik sebagai menjadi petugas pembersih lingkungan.sampai dengan Rp 180. serta lebih giat mencari uang/menjalankan usahanya.. lebih percaya diri.Gambar 7. rajin. namun sebagian responden mengatakan lebih disiplin. Besar uang yang diberikan cukup bervariasi. Besar uang tersebut pada umumnya tidak sesuai dengan penghasilan responden apabila mencari uang di jalanan (84%).. namun sebagian besar lain mereka mengatakan bahwa belum pernah mengikuti kursus apa-apa atau tidak memiliki keterampilan apapun. berkisar antara Rp 2. lebih dapat berkomunikasi dengan lancar. Setelah mengikuti pelatihan keterampilan pada umumnya keterampilan yang dimiliki menjadi bertambah atau bahkan memiliki keterampilan baru. Salah satu kegiatan proyek adalah pemberian uang pengganti penghasilah saat anak binaan mengikuti pelatihan. tidak minder. .

Sedangkan kebiasaan memeras/ngompas/malak. di DKI Jakarta dan Surabaya (27% dan 22. Gambaran yang sama berlaku untuk kebiasaan berjudi dan minum minuman keras. Sementara itu. Namun. dapat dikatakan bahwa responden sudah banyak meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk. Perubahan sikap dan perilaku Adanya perubahan sikap dan perilaku anak setelah mendapatkan bimbingan sosial di rumah singgah diakui oleh sebagian besar orang tua (84%).5%) masih melakukannya. sebanyak 94% mengatakan tidak melakukan kebiasaan tersebut. meskipun masih terdapat sebagian kecil yang melakukan. masih dilakukan oleh sebagian kecil responden di DKI Jakarta dan Surabaya. diperoleh bahwa kebiasaan ini masih dilakukan responden di DKI Jakarta. Sebanyak 73% responden mengatakan mereka tidak merokok atau tidak merokok lagi. Sementara itu di Makassar tidak ada yang melakukan kedua kebiasaan tersebut. mayoritas (80%) responden juga mengatakan tidak melakukannya lagi. Dari hasil studi. Demikian juga dengan kebiasaan menggunakan narkotika dan sejenisnya serta kebiasaan mencuri/mencopet.5 Bimbingan mental bagi anak di Rumah Singgah Kebiasaan menggunakan obat terlarang.Berkurangnya kebiasaan buruk Dampak lain dari rumah singgah terhadap kehidupan responden dapat dilihat dari perubahan pada kebiasaan-kebiasaan mereka yang biasanya dianggap identik dengan kebiasaan buruk. mayoritas responden (96%) tidak ngelem. untuk kebiasaan bertengkar/berkelahi. Hal ini diakui oleh responden anak jalanan dan orang tua. Secara umum. dan sama sekali tidak dilakukan oleh responden di Makassar. Hubungan seks bebas merupakan salah satu kebiasaan buruk yang terjadi di kalangan anak jalanan. Juga kebiasaan ngelem. . Gambar 7. Surabaya dan Bandung. Paling tidak terdapat perubahan sikap dan perilaku responden sebelum dan sesudah memperoleh pelayanan dari rumah singgah.

menambah wawasan. diprakarsai oleh Pondok Sadar Surabaya Manfaat yang diperoleh dari kegiatan ini. bertambah pengalaman. sopan dan mengenal tata krama. Salah satu kegiatan yang diharapkan mendorong semakin cepatnya terjadi perubahan sikap dan perilaku yang lebih baik. Peningkatan tanggung jawab orang tua terhadap anaknya Kegiatan lain dari rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh rumah singgah adalah reunifikasi keluarga. sabar. pantai dan pegunungan. rajin (pulang ke rumah orang tua. dengan kata lain kegiatan ini dimaksudkan untuk dapat mendorong anak jalanan bertemu dengan keluarganya dan sebaliknya. disiplin. serta berkurang kebiasaan-kebiasaan buruk (seperti: liar. berenang.Setelah mendapat pembinaan. Gambar 7.7 Kegiatan Sholat Idul Adha bersama anak jalanan. mandiri.5% mengatakan bahwa kegiatan tersebut mendorong mereka untuk bertemu dengan keluarganya. sholat dan mengaji. bermain bola. pekerja sosial dapat memanfaatkan kegiatan ini untuk memantau perubahan sikap dan perilaku anak.6 Kegiatan mengenang jasa merokok. pemandian umum. anak menjadi antara lain: sudah teratur. Anak diajak rekreasi ke tempat-tempat pariwisata: kebun binatang. ceria. antara lain: mengalihkan kegiatan dari kegiatan di jalanan. lebih percaya diri (berani tampil). Prosentase terbanyak (31%) adalah rekreasi. rekreasi. mulai menabung. bertanggung jawab. Jenis kegiatan tersebut antara lain: bimbingan belajar dan mental kerohanian (termasuk mengaji dan buka puasa bersama). sebanyak 57. Gambar 7. berjudi dan minum minuman pahlawan di Yayasan Nanda Dian Surabaya keras) dan berkurang kegiatan di jalanan. Di Surabaya. membolos. dan penyegaran/ memperoleh hiburan. berkemah. belajar. yaitu kegiatan sosialisasi dan rekreasi. Namun demikian sebagian besar (62%) responden mengatakan bahwa kegiatan tersebut tidak mendorong mereka untuk bertemu dengan keluarganya. konsultasi dan olah raga. baik. membersihkan rumah dan mandi) penurut. terbuka. dengan tujuan untuk menyatukan anak jalanan dengan keluarganya. Pada kesempatan ini. . bergembira dan banyak teman. lebih terkontrol.

Sedang selebihnya menyatakan bahwa warga masyarakat tidak peduli terhadap upaya-upaya penanganan anak jalanan. Namun yang cukup memprihatinkan adalah terdapat sebanyak 5% responden yang tidak pernah bertemu lagi dengan orang tuanya. Gambaran mengenai frekuensi pertemuan antara responden dengan orang tuanya adalah sebagian besar dari responden (82. saling memperhatikan. pengurus RT dan warga yang tidak jauh dari rumah singgah. jarang pulang. ku-rang harmonis. komunikasi lancar dan lebih baik. agak renggang. kurang perhatian. depan dan belakang. Pandangan dan peran aktif masyarakat dalam pelayanan rumah singgah Untuk mengetahui peningkatan peran aktif masyarakat dilakukan survai terhadap warga masyarakat yang tinggal di sekitar rumah singgah. menja-di: baik. Kepedulian mereka dilatarbelakangi oleh adanya keinginan pengurangan anak jalanan. mengatakan bahwa hubungan mereka yang semula biasa-biasa saja. harmonis. yaitu mereka yang tinggal di samping kiri. orang tua bersikap terbuka. kanan. kurang komunikasi/ bertemu. Pada umumnya (49%) responden menyatakan bahwa warga masyarakat peduli.8 Bimbingan sosial dan kewirausahaan bagi orang tua anak di Rumah Singgah Lentera Surabaya Hubungan responden dengan keluarganya sebelum dan sesudah kegiatan ini berada diantara dua kutub baik/ harmonis hingga acuh tak acuh. warga masyarakat kurang peduli (42%) dan sebanyak 7% responden menyatakn masyarakat sangat peduli. diakui oleh sebagian orang tua (52%) bahwa anaknya lebih sering bertemu. Bagi yang merasakan manfaat kegiatan reunifikasi keluarga. . Setelah diselenggarakan kegiatan reunifikasi. Sebagian responden (44%) lain merasa tidak memiliki kontak atau informasi tentang keberadaan anaknya. dan tetap malas untuk bertemu dengan orang tua. sering bertemu dan sering pulang. akrab. Namun bagi yang tidak merasakan manfaat kegiatan tersebut. Hanya sebagian kecil responden (4%) mengakui merasa jarang berhubungan dengan anaknya. mengatakan bahwa mereka tetap tidak diperhatikan.5%) bertemu dengan orang tuanya setiap hari (terutama di Makassar) karena mereka tinggal bersama dengan orang tuanya. bahkan cuek.Gambar 7. orang tua mulai memperhatikan. ber-tengkar dan bertentangan. Sementara itu sebanyak 12% responden yang bertemu dengan orang tua tidak setiap hari.

Di sisi yang lain. dukungan moral dan diskusi tentang solusi anak jalanan. Saya ada data anak wilayah Bungur yang dapat bantuan dari rumah singgah mereka dapat bantuan selama dua tahun. pendapat ini nampaknya memberikan dukungan kepada pernyataan kurang peduli dan atau tidak peduli terhadap upaya-upaya penanganan anak jalanan oleh pemerintah. maksudnya kita itu jangan mengandalkan dari luar terus. di rumah singgah itu bukan berarti anak-anak itu menjadi tergantung. peralatan . sebagian responden (41%) lainnya yang menyatakan memberikan bantuan kepada rumah singgah berupa: alat mainan (catur). kesehatan dan seperti yang telah saya pelajari. Hal ini sejalan dengan pernyataan mereka (58%) bahwa mereka tidak pernah memberikan bantuan sosial kepada rumah singgah. Andaikata anak-anak ini saya minta jadi anak asuhnya seperti di tempat lain. sebanyak 28% responden menyatakan bahwa rumah singgah.Bagaimana pendapat responden tentang kepedulian pemerintah terhadap upaya penanganan anak jalanan. makanan. bimbingan tidak jalan. motivasi. Surabaya Berkaitan dengan penyataan responden tentang kepedulian pemerintah tersebut. ada tanggung jawab dan sebagainya. makanan (20%)dan uang. bimbingan mental (12%). mayoritas dari responden (52%) mengatakan pernah memberikan bantuan (kecuali di DKI Jakarta yang mayoritas 51% tidak pernah memberikan bantuan). sebanyak 23% menyatakan kurang peduli dan selebihnya hanya sebanyak 5% responden yang menilai pemerintah tidak peduli terhadap penanganan anak jalanan. Lebih lanjut ditanyakan kepada responden bahwa apakah responden pernah memberikan bantuan sosial kepada anak jalanan. dapat digambarkan bahwa: pemerintah sangat peduli (25%) responden. ceramah dan pengajian. makanan dan sepatu. andaikata bantuan dari rumah singgah ini sudah ada apakah masyarakat setempat ini tidak bisa membentuk suatu badan yang membantu anak-anak yang ada dikelurahan. dukungan moril (penyuluhan) dan keamanan. lemari. Kita akan datang dengan tokoh-tokoh setempat. pakaian bekas. kita menggunakan data dari masyarakat juga untuk masyarakat sendiri´. jadi biar dikelolka sendiri untuk masyarakat sehingga masalah sosial yang ada di masyarakat akan ditangani oleh masyarakat setempat. datanya jelas sudah ada. Sementara itu. buku pelajaran. Sumber : FGD di Rumah Singgah Puspa Mentari. Harapan Seorang Pekerja Sosial (Ti.) ³Saya cenderung pada yang disampaikan tadi. tidak melalui rumah singgah. Bantuan yang diberikan antara lain berupa alat olah raga. Sementara itu sebanyak 13% responden menyatakan jawaban yang bervariasi namun pada intinya mereka menaruh harapan munculnya kepedulian pemerintah terhadap upaya-upaya penanganan anak jalanan. pemerintah peduli (47%). jadi ada central-central tapi khusus untuk pendidikan. Pada umumnya responden memberikan bantuan langsung kepada anak jalanan. apakah tidak lebih baik jika orang-orang setempat yang membantu mereka. sebanyak 50% responden memberikan alasan bahwa adanya rumah singgah merupakan bukti dari kepedulian pemerintah terhadap anak jalanan. pak lurah. saya sudah sampaikan kepada LKMD. Pendapat mereka tertuang dalam berbagai ungkapan agar anak dapat merasakan pendidikan.

pemerintah. Panti Asuhan. sekolah. Demikian juga dengan peranan warga sekitar rumah singgah (77%) dan pengurus RT/RW (76%). karena pelayanan di Rumah Singgah selama ini lebih terfokus pada anak dan orang tua. meja kursi. Puskesmas. aparat kecamatan dan PKK/organisasi wanita hanya memiliki peranan yang rendah (36%). fasilitas RT/RW. sehingga tanggapan dari warga sekitarnya lebih mencerminkan interaksi secara alamiah dengan pengelola Rumah Singgah atau anak-anak jalanan. Namun. Untuk dampak terhadap lingkungan sekitar. Jawaban responden mengenai sumber sosial di lingkungan tempat tinggalnya yang dapat dimanfaatkan rumah singgah untuk memberikan pelayanan kepada anak jalanan sangat beragam yaitu: klinik. kepolisian. Pandangan tentang peranan sosial masyarakat dan pemerintah Pandangan responden mengenai tingkat peranan sosial dari unsur-unsur masyarakat dalam menangani masalah anak jalanan di lingkunan responden. tokoh masyarakat serta sebagian lainnya menyatakan tidak tahu. menunjukkan petugas rumah singgah sangat jelas dipandang memiliki peranan yang tinggi (91%) terhadap penanganan anak jalanan. mainan dan pelajaran. kelompok pemuda/Karang Taruna. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut nampak bahwa Rumah Singgah dapat memberikan manfaat bagi anak dan orang tua. sarana ibadah. Untuk memberikan gambaran hubungan antara outputs dengan outcomes dari pelayanan Rumah Singgah disajikan dalam gambar berikut ini: . donatur. pengamanan. makanan buka puasa. walaupun dalam beberapa hal masih belum optimal.dapur/rumah tangga. Karang Taruna. pakaian bekas. organisasi sosial/paguyuban. saran dan nasehat serta uang. sarana olah raga. PKK. belum dapat diidentifikasi secara akurat. remaja mesjid. Polsek. partisipasi masyarakat.

. . p=0.7 . misalnya dengan menggunakan Goals Attainment Scalling (GAS). .9 outputs Gambar 7.. diketahui bahwa ada hubungan positif yang nyata antara outputs dengan outcomes pelayanan Rumah Singgah ( r = 0. outcomes .9 Hubungan antara outputs dengan outcomes pelayanan Rumah Singgah Berdasarkan uji korelasi Pearson. semakin tinggi outcomes pelayanan Rumah Singgah. karena pemantauan tentang perubahan sikap dan perilaku penerima pelayanan belum didasarkan pada indikator perkembangan fungsi sosial dengan metode yang reliabel.4 . namun tetap tidak mengabaikan keunikan dari setiap individu penerima pelayanan. .0 . . Hal ini berarti ada corespondensi antara hasil pelayanan secara kuantitatif dengan hasilhasil secara kualitatif. . seperti yang telah dipaparkan secara terinci dari setiap kegiatan yang telah diselenggarakan.   ¡ ¢ £ ¤ ¥   ¢ £ ¤ ¥ .4 .497. Hal ini perlu menjadi perhatian. Perlu diciptakan sistem pemantauan secara terukur dari setiap perubahan sikap perilaku penerima pelayanan. . . Metode tersebut dapat menunjukkan outcomes secara lebih akurat. maka hasil pengujian di atas baru dapat mencerminkan manfaat dari Rumah Singgah menurut pengelola Rumah Singgah dan evaluasi peneliti. artinya semakin tinggi outputs. .009).7 .

Efektivitas Program SSN melalui Panti Sosial - .Efisiensi Program SSN melalui Panti Sosial .a. Social Safety Net bagi anak terlantar di panti sosial Profil Anak Terlantar dan Kondisi Panti Sosial Kebijakan Nasional Penanganan Masalah Anak Terlantar .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful