You are on page 1of 4

ERROR DETEKTOR Dosen : Nurlita Gamayanti, ST

PENGANTAR Dalam bahasan ini akan dijelaskan tentang error detektor sebagai salah satu komponen dalam sistem pengaturan khususnya sistem pengaturan loop tertutup. Materi yang dibahas meliputi apakah fungsi error detektor, klasifikasi error detektor maupun implementasi rangkaiannya secara fisik dalam sistem pengaturan.

ERROR DETEKTOR Error detektor merupakan salah satu komponen sistem pengaturan yang sangat penting. Dalam sistem pengaturan khususnya sistem pengaturan loop tertutup atau sistem pengaturan umpanbalik, error detektor digunakan untuk membandingkan sinyal keluaran sebenarnya atau sinyal keluaran terukur dengan sinyal masukan acuan (setpoint). Kedudukan error detektor dalam sistem pengaturan dapat dilihat pada blok diagram berikut ini : error detektor R(s)

+

Σ

Kontroler E(s)

Aktuator

Plant

C(s)

-

C*(s)

Sensor / Elemen ukur

Simbol untuk menyatakan sebuah error detektor adalah sebagai berikut : R(s) + C*(s) Atau R(s) + E(s) = R(s) – C*(s) E(s) = R(s) – C*(s)

C*(s) 1

Rangkaian error detektor dengan Summing Amplifier + Inverting Amplifier : • Analisa Summing Amplifier : Rf I1 V1 V2 I2 R1 A R2 If ε + V0 Gambar 1. E : sinyal kesalahan (error) R : sinyal masukan acuan (setpoint) C* : sinyal keluaran terukur Rangkaian error detektor dapat diklasifikasikan menjadi rangkaian analog dan digital.dimana. Summing Amplifier Analisa rangkaian summing amplifier diatas adalah sebagai berikut : Di node A : i1 + i2 + i f − i0 = 0 dimana i0 ≈ 0 dan V A = ε = 0 i f = − (i1 + i2 ) ⎛ V0 − V A ⎞ ⎜ ⎟ = − ⎛ V1 − V A + V 2 − V A ⎞ ⎟ ⎜ ⎜ R ⎜ Rf ⎟ R2 ⎟ 1 ⎠ ⎝ ⎝ ⎠ ⎛V V ⎞ V0 = −⎜ 1 + 2 ⎟ ⎜R R ⎟ Rf 2⎠ ⎝ 1 jika R1 = R2 = Ri 2 . Rangkaian error detektor secara analog dapat berupa rangkaian elektronik dan rangkaian mekanik. Rangkaian elektronik dari suatu error detektor pada umumnya diimplemen tasikan dalam bentuk rangkaian amplifier.

maka V0 = − Rf Ri (V1 + V2 ) • Analisa Summing Amplifier + Inverting Amplifier : R R V1 Rf R1 -V1 V2 + R2 V0 + Inverter Phasa Summing Amplifier Gambar 2. Summing amplifier + Inverting amplifier Analisa rangkaian summing amplifier + inverting amplifier diatas adalah sebagai berikut : V0 = − Rf Ri (V2 − V1 ) = Rf Ri (V1 − V2 ) Jika R f = Ri = R Maka V0 = V1 − V2 Jika diasumsikan V0 adalah sinyal error (E(s)). V2 adalah sinyal keluaran terukur (C*(s)) dan V1 adalah sinyal masukan acuan (R(s)) maka didapatkan : E(s) = R(s) – C*(s) 3 .

error detektor berfungsi membandingkan sinyal keluaran sebenarnya atau sinyal keluaran terukur dengan sinyal masukan acuan (setpoint). Sebaliknya. RINGKASAN 1. Jika temperatur menurun dibawah temperatur setpoin. keping bimetal akan melengkung ke bawah mengakibatkan mercury strip meluncur ke bagian bawah (sisi kanan) dan menghubungkan kontak listrik (switch on). Keluaran error detektor adalah sinyal kesalahan atau sinyal error. LATIHAN Beri satu contoh lainnya realisasi error detektor dengan menggunakaan rangkaian elektronika. 2. 4 . Bimetal Tampak sebuah mercury switch pada sebuah keping bimetal pada temperatur setpont. Mercury Glass Bulb Switch Connection Base Bimetal Strip SetPoint Switch off Switch on Base Temperature Rendah Base Temperature Tinggi Gambar 3. jika temperatur naik diatas temperatur setpoin keping bimetal akan melengkung ke atas mengakibatkan mercury strip meluncur ke bagian sisi kiri dan memutuskan kontak listrik (switch off).Contoh rangkaian mekanik dari suatu error detector adalah bimetal. Pada sistem pengaturan.