DIKTAT KULIAH TL-3104

PENGELOLAAN SAMPAH

Disiapkan oleh Prof. Enri Damanhuri Dr. Tri Padmi

Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
Edisi Semester I - 2010/2011

Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010)

Kata Pengantar
Diktat ini pertama kali disusun sebagai bahan kuliah bagi Mahasiswa Program Sarjana, Program Studi Teknik Lingkungan ITB yang mengambil mata kuliah Pengelolaan Sampah pada Semester Ganjil Kurikulum ITB 2003. Edisi pertama diktat ini dikeluarkan pada Semester I - 2004/2005. Sedangkan diktat ini merupakan edisi ke-empat yang merupakan revisi (perbaikan) dari edisi pertama dan diterbitkan pada Semester I - 2010/2011. Bahan kuliah ini merupakan ringkasan dari Buku Ajar yang sedang dalam persiapan dengan judul yang sama, yang merupakan materi wajib bagi mahasiswa peserta Program Sarjana Teknik Lingkungan. Bahan yang terdapat dalam diktat ini merupakan kumpulan pengalaman dan informasi dalam pengelolaan sampah di Indonesia, dilengkapi dengan bahan-bahan yang berasal dari literatur-literatur terkait, serta dari makalah-makalah Penyusun dalam masalah Persampahan di Indonesia. Daftar referensi yang digunakan disusun berdasarkan urutan nomor pengutipannya. Dalam beberapa hal diupayakan agar materi kuliah ini mengacu pada kondisi nyata yang ada di Indonesia, dan mahasiswa dapat membandingkan dengan kondisi yang ada di negara maju melalui referensi yang umumnya berbahasa Inggris. Bahan yang terdapat dalam diktat ini mungkin dapat pula digunakan oleh praktisi dalam pengelolaan persampahan di Indonesia. Penyusun mengucapkan penghargaan dan terima kasih yang tulus kepada berbagai pihak yang memungkinkan terbitnya diktat ini, khususnya kepada Saudara Ir. I Made Wahyu Widyarsana, MT. yang telah berkontribusi dalam penyiapan diktat ini. Semoga diktat ini bermanfaat bagi yang menggunakan.

Bandung, 30 Agustus 2010 Penyusun Enri Damanhuri dan Tri Padmi

Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB

2

Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010)

DAFTAR ISI
halaman

KATA PENGANTAR 2 DAFTAR ISI 3 BAGIAN 1 PENDAHULUAN 5
1.1 1.2 1.3 1.4 Terminologi Umum 5 Terbentuknya Limbah Secara Umum 6 Penggolongan Jenis Sampah 7 Permasalahan Persampahan di Indonesia 8

BAGIAN 2

SUMBER, KARAKTERISTIK, DAN TIMBULAN SAMPAH 13
2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 Sumber dan Timbulan Sampah 13 Komposisi Sampah 15 Karakteristik Sampah 17 Metode Pengukuran 18 Sampah Berbahaya dari Rumah Tangga 20

BAGIAN 3

PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI PENGURANGAN 22
3.1 3.2 3.3 3.4 Konsep Minimasi Limbah 22 Konsep Pengurangan 23 Pembatasan Timbulan sampah 25 Guna-Ulang dan Daur-ulang Sampah 28

BAGIAN 4

DAUR ULANG SAMPAH 31
4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 Alasan Daur-Ulang 31 Daur-Ulang Limbah Secara Umum 31 Potensi Daur Ulang Sampah 32 Daur Ulang Sampah di Indonesia 34 Peran Sektor Informal 37

BAGIAN 5

PENANGANAN SAMPAH 41
5.1 5.2 5.3 5.4 5.5 5.6 5.7 Pendahuluan 41 Stakeholders Pengelola Sampah Kota 41 Tingkat Pengelolaan 41 Daerah Pelayanan 42 Teknik Operasional Pengelolaan Sampah 45 Pengelolaan Sampah Terpadu 46 Pengelolaan Sampah Regional 49

BAGIAN 6

PEWADAHAN, PENGUMPULAN DAN TRANSFER 51
6.1 6.2 6.3 6.4 6.5 Pewadahan Sampah 51 Pengumpulan Sampah 52 Beberapa Kriteria yang Berlaku di Indonesia 56 Pemindahan Sampah 57 Pengumpulan Sampah di Negara Maju 58

BAGIAN VII PENGANGKUTAN SAMPAH 59
7.1 7.2 7.3 7.4 8.1 8.2 Pengangkutan Sampah secara Umum 59 Metode Pengangkutan Sampah 61 Operasional Pengangkutan Sampah 63 Pola Pengangkutan Sampah 63 Pengolahan Sampah Secara Umum 66 Pengomposan (Composting) 66

BAGIAN VIII PENGOLAHAN SAMPAH 66

Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB

3

6 9.3 8.8 Insinerator 67 Instalasi Waste-to-energy di Negara Industri 72 Pirolisis dan Gasifikasi 72 Proses Termal dengan Gasifikasi Plasma 79 Pemrosesan Akhir Sampah (TPA) Secara Umum 80 Perkembangan Landfilling 80 Jenis Landfil 82 Aplikasi landfill 87 Langkah Kerekayasaan dalam Aplikasi Pengurugan 88 Penyiapan Sarana dan Prasarana 90 Pengoperasian landfill di TPA 92 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Kota di Indonesia 93 BAGIAN IX PENGURUGAN (LANDFILLING) SAMPAH 80 DAFTAR REFERENSI 95 Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 4 .7 9.3 9.5 9.1 9.4 9.4 8.2 9.6 9.5 8.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) 8.

estetika.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) BAGIAN 1 PENDAHULUAN Bagian ini menjelaskan terminologi yang terkait dengan limbah. penggolongan sampah serta permasalahan sampah dan kondisi pengelolaanya di Indonesia secara umum 1. menyeluruh. Berdasarkan sifat bahayanya: Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) Limbah domestik : dihasilkan dari aktivitas primer manusia.1 Terminologi Umum Limbah [1]: Semua buangan yang dihasilkan oleh aktivitas manusia dan hewan yang berbentuk padat. Penghasil sampah (UU-18/2008): Setiap orang atau kelompok orang atau badan hukum yang menghasilkan timbulan sampah. bagaimana membiayai dan bagaimana melibatkan masyarakat penghasil limbah agar ikut berpartisipasi secara aktif atau pasif dalam aktivitas penanganan tersebut. menyiram. cair maupun gas yang dibuang karena tidak dibutuhkan atau tidak diinginkan lagi. Penanganan tersebut mencakup cara memindahkan dari sumbernya. dan lingkungan. Berdasarkan fasanya/bentuknya: Limbah padat Limbah berlumpur (sludge) Limbah cair Limbah padat. seperti bagaimana mengorganisir. Pengelolaan sampah (UU-18/2008): Adalah kegiatan yang sistematis. namun bahan tersebut kadang–kadang masih dapat dimanfaatkan kembali dan dijadikan bahan baku . dan mendaur-ulang kembali. tidak termasuk tinja dan sampah spesifik. Limbah domestik: Limbah yang dihasilkan dari kegiatan rutin (sehari-hari) manusia. Walaupun dianggap sudah tidak berguna dan tidak dikehendaki. Sampah sejenis sampah rumah tangga (UU-18/2008): Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 5 . bagaimana limbah terbentuk dari sebuah proses produksi. umumnya dalam bentuk: Cair: dari kegiatan mencuci pakaian dan makanan. tetapi mencakup juga aspek non teknis. Pembagian limbah: antara lain dibagi berdasarkan sumbernya. dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. mandi. Sampah yang diatur dalam UU-18/2008 • Sampah rumah tangga • Sampah sejenis sampah rumah tangga • Sampah spesifik Sampah rumah tangga (UU-18/2008): Sampah yang berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga. Sampah (UU-18/2008): Definisi sampah menurut UU-18/2008 tentang Pengelolaan Sampah [68] adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. lumpur (sludge). dan kegiatan lain yang menggunakan air di rumah Padat: dikenal sebagai sampah (domestik). Pengelolaan limbah: Penanganan limbah secara keseluruhan agar limbah tersebut tidak mengganggu kesehatan. mengolah. kakus (tinja dan air seni). Catatan: pengertian pengelolaan bukan hanya menyangkut aspek teknis. seperti : Limbah kegiatan kota (masyarakat) Limbah industri Limbah pertambangan Limbah pertanian.

• Puing bongkaran bangunan • Sampah yang secara teknologi belum dapat diolah. pertokoan (kegiatan komersial/perdaganan). enersi. kawasan industri. Usaha modifikasi proses akan mengurangi terbentuknya limbah jenis ini Limbah yang terbentuk akibat penggunaan bahan baku sekunder. produk yang dihasilkan dan limbah dari sebuah proses industri. seperti sisa batere. Dengan mengenal keterkaitan tersebut. atau tempat umum lainnya. fisika.2 Terbentuknya Limbah Secara Umum Terdapat keterkaitan antara bahan baku.1). maupun aktivitas manusia sehari-hari. 4. 3. fasilitas umum. maka akan lebih mudah mengenal bagaimana limbah terbentuk dan bagaimana usaha penanggulangannya.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Sampah yang berasal dari kawasan komersial. sisa bekas pemusnah nyamuk. penyapuan jalan. liter per meter-persegi bangunan per hari (L/m /h). Limbah yang berasal dari bahan baku yang tidak mengalami perubahan komposisi baik secara kimia maupun biologis. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 6 . dan biologis. Limbah ini ada yang dapat menjadi bahan baku bagi industri lain atau sama sekali tidak dapat dimanfaatkan. Limbah yang dihasilkan mempunyai sifat yang berbeda dari bahan baku semula. dan/atau fasilitas lainnya Sampah spesifik (UU-18/2008): • Sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun.1 : Proses pembentukan buangan [3] 1. sisa biosida tanaman. dan/atau • Sampah yang timbul secara tidak periodik Timbulan sampah [1]: Banyaknya sampah dalam : Satuan berat: kilogram per orang perhari (Kg/o/h) atau kilogram per meter-persegi bangunan perhari 2 (Kg/m /h) atau kilogram per tempat tidur perhari (Kg/bed/h). Sumber sampah [1]: Berasal dari kegiatan penghasil sampah seperti pasar. Bahan baku sekunder ini tidak ikut dalam reaksi proses pembentukkan produk. Banyak cara untuk mengidentifikasi limbah dengan tujuan utama untuk mengevaluasi resiko yang mungkin ditimbulkan dan untuk mengevaluasi cara penanganannya. fasilitas sosial. dan sebagainya. • Sampah yang timbul akibat bencana. misalnya pelarut atau pelumas. dsb 2 Satuan volume: liter/orang/hari (L/o/h). Kota-kota di Indonesia umumnya menggunakan satuan volume. Bahan terbuang (limbah) dapat berasal dari proses produksi atau dari pemakaian barang-barang yang dikonsumsi. Setidaknya ada 5 (lima) kelompok bagaimana limbah terbentuk [3]: Bahan baku sekunder Produk Bahan baku primer Proses Produksi Bahan terbuang Pemakaian produk Gambar 1. Ada produk samping yang harus 2. kawasan khusus. dsb. sisa oli/minyak rem mobil. Limbah ini kadangkala sangat berarti dari sudut kuantitas dan merupakan sumber utama dari industrial waste water. dan kegiatan lain seperti dari industri dengan limbah yang sejenis sampah Sampah yang dihasilkan manusia sehari-hari kemungkinan mengandung limbah berbahaya. 1. Mekanisme transformasi yang terjadi hanya bersifat fisis semata seperti pemotongan. penggergajian. Limbah kategori ini sangat cocok untuk dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku. • Sampah yang mengandung limbah bahan berbahaya dan beracun. Sampah kota banyak termasuk dalam kategori ini Limbah yang terbentuk akibat hasil samping dari sebuah proses kimia. liter per tempat tidur perhari (L/bed/h). yang dapat digambarkan sebagai berikut (Gambar 1. Pada dasarnya semua pengolah limbah tidak dapat mentransfer limbah menjadi 100% non limbah. taman. atau karena kesalahan ataupun ketidak-optimuman proses yang berlangsung. Teknik daur ulang ataupun penghematan penggunaan bahan baku sekunder banyak diterapkan dalam menanggulanginya Limbah yang berasal dari hasil samping proses pengolahan limbah. rumah tangga. dsb.

Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) 5. logam. limbah berbahaya dan sebagainya Daerah komersial: yang meliputi pertokoan. kaca. selain terdiri atas sampah organik dan anorganik. dan sebagainya Institusi: yaitu sekolah. tabung kosong. ditangani lebih lanjut. karet. jenis sampah atau yang dianggap sejenis sampah. Limbah jenis ini dapat dimanfaatkan kembali sesuai fungsinya semula atau diolah terlebih dahulu agar menjadi produk baru. Sampah kota banyak terdapat dalam kategori ini. lumpur (misalnya dari unit pengolah limbah cair) atau bahkan limbah cair (misalnya dari lindi sebuah lahan urug) Limbah yang berasal dari bahan samping pemasaran produk industri. gas. sisa pertanian. pantai. Pembagian yang lain sampah dari negara industri antara lain berupa [6]: Sampah organik mudah busuk (garbage): sampah sisa dapur. Jenis sampah yang ditimbulkan antara lain lumpur hasil pengolahan. dan lain-lain Fasilitas umum: seperti penyapuan jalan. juga dapat berkategori B3. logam. dan lain-lain Komponen bervolume kecil dan mudah terbakar (small combustible) Komponen bervolume kecil dan sulit terbakar (small noncombustible) Wadah bekas: botol. kertas. Sampah yang mudah terdekomposisi. kayu. Sampah organik bersifat biodegradable sehingga mudah terdekomposisi. sampah kebun. Jenis sampah yang ditimbulkan sama dengan jenis sampah pada daerah komersial Konstruksi dan pembongkaran bangunan: meliputi pembuatan konstruksi baru. Bagian anorganik sebagian besar terdiri dari kaca. mineral. dan debu. rumah makan. bangkai. kertas. anjing. baik organik maupun non organik Puing bangunan Kendaraan tak terpakai Sampah radioaktif. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 7 . plastik. kayu. karet. dan sebagainya Pertanian: jenis sampah yang dihasilkan antara lain sisa makanan busuk. plastik. taman. limbah berbahaya dan beracun. daun Sampah buangan sisa konstruksi (demolition waste). kertas. misalnya kertas. tekstil. kertas. dan lain-lain. Penggolongan tersebut di atas lebih lanjut dapat dikelompokkan berdasarkan cara penanganan dan pengolahannya. beton. plastik. baja. dan abu (dari insinerator). kotoran binatang. pasar.3 Di negara industri. ikan. sayuran. sisa makanan. gelas Sarnpah sisa abu pembakaran penghangat rumah (ashes) Sarnpah bangkal binatang (dead animal): bangkai tikus. dan sampah kebun. kayu. pusat pemerintahan. kayu. sampah taman. kulit. dan lain-lain Komponen bervolume besar dan mudah terbakar (bulky combustible): kayu. Penggolongan Jenis Sampah 1. logam. yaitu [5]: Komponen mudah membusuk (putrescible): sampah rumah tangga. biasanya dalam proses dekomposisinya akan menimbulkan bau dan mendatangkan lalat. dan sebagainya Kawasan Industri: jenis sampah yang ditimbulkan antara lain sisa proses produksi. tembikar. kardus. kain plastik. Jenis sampah yang ditimbulkan antara lain rubbish. drum dan lain-lain Tabung bertekanan/gas Serbuk dan abu: organik (misal pestisida). dan lain-lain. drum. dan sebagainya. debu. sisa makanan. Instalasi pengolahan air buangan. non metalik. kaca. buah-buahan. bahan amunisi dsb Lumpur. Jenis sampah yang ditimbulkan antara lain sisa makanan. kardus. penjara. dsb Sampah yang berasal dari pemukiman/tempat tinggal dan daerah komersial. Bagian organik sebagian besar terdiri atas sisa makanan. kardus. daun. dsb dan tidak mudah terbakar (non-combustible) seperti logam. buangan non industri. Jenis sampah yang ditimbulkan antara lain kayu. logam metalik. tekstil. perkantoran. Jenis sampah yang ditimbulkan antara lain kertas. kaleng. tempat rekreasi. baik berupa partikulat. ranting. dan lan-lain. barang bekas rumah tangga. terutama dalam cuaca yang panas. logam. dan kulit buah-buahan Sampah organik tak rnembusuk (rubbish): mudah terbakar (combustible) seperti kertas. rumah sakit. dan insinerator. plastik. debu. dikelompokkan berdasarkan sumbernya seperti [4]: Pemukiman: biasanya berupa rumah atau apartemen. karton. dan lain-lain. plastik. kulit dan lain-lain Komponen bervolume besar dan sulit terbakar (bulky noncombustible): logam. sampah sisa sayur. dan sebagainya Pengolah limbah domestik seperti Instalasi pengolahan air minum. dan binatang ternak Sampah sapuan jalan (street sweeping): sisa-sisa pembungkus dan sisa makanan. sedangkan sampah anorganik bersifat non-biodegradable sehingga sulit terdekomposisi. kontainer. perbaikan jalan. hotel. kulit.

karton dan masih dapat digolongkan dalam golongan sampah yang seragam Sampah yang tidak seragam (campuran). rumah sakit. plastik. dll. logam. logam. Dari sumber ini umumnya dihasilkan sampah berupa kertas. seperti sisa makanan. kayu. kaca. atau sekelompok rumah yang berada dalam suatu kawasan permukiman. saluran darinase kota. pasir / lumpur. Diperkirakan hanya sekitar 60 % sampah di kota-kota besar di Indonesia yang dapat terangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). sampah perkotaan yang dikelola oleh Pemerintah Kota di Indonesia sering dikategorikan dalam beberapa kelompok. dll. seperti misalnya baterei. atau sampah basah. Sampah dari perkantoran / institusi: sumber sampah dari kelompok ini meliputi perkantoran. daun. Dari kelompok sumber ini umumnya dihasilkan sampah berupa sisa makanan. Sampah dari daerah komersial: sumber sampah dari kelompok ini berasal dari pertokoan. sampah biasanya dapat dibedakan menjadi: Sampah kota (municipal solid waste). tulang. atau daun-daunan saja. sampah dibedakan menjadi dua macam : Sampah yang seragam. karton / dos. Sampah dari kegiatan industri pada umumnya termasuk dalam golongan ini. Dari daerah ini umumnya dihasilkan sampah berupa daun / dahan pohon. plastik. seperti mebel. maka sebagian besar komponennya adalah seragam. dan kadang-kadang sampah berukuran besar seperti dahan pohon. ataupun sampah yang tercecer dan secara sistematis dibuang ke badan air [9]. sehingga muncullah kasus-kasus kegagalan TPA. dll. Sampah dari jalan / taman dan tempat umum: sumber sampah dari kelompok ini dapat berupa jalan kota. 1. Di Indonesia. Khusus dari pasar tradisional. makanan yang mudah membusuk. hotel. bagaimana agar sampah yang tidak sejenis sampah kota tersebut tidak masuk dalam sistem pengelolaan sampah kota. dll. taman. buah. lembaga pemasyarakatan. Praktis tidak terdapat sampah yang biasa dijumpai di negara industri. yaitu sampah yang terkumpul di perkotaan Sampah perdesaan (rural waste). TV bekas. penggolongan sampah yang sering digunakan adalah sebagai (a) sampah organik. Yang perlu mendapat perhatian adalah. dan sebagai (b) sampah anorganik. Sampai saat ini paradigma pengelolaan sampah yang digunakan adalah: KUMPUL – ANGKUT dan BUANG [10]. perkantoran. kayu. sampah umum seperti plastik. lampu TL. yaitu [7]: Sampah dari rumah tinggal: merupakan sampah yang dihasilkan dari kegiatan atau lingkungan rumah tangga atau sering disebut dengan istilah sampah domestik. dan andalan utama sebuah kota dalam menyelesaikan masalah sampahnya adalah pemusnahan dengan landfilling pada sebuah TPA. Banyaknya sampah yang tidak terangkut kemungkinan besar tidak terdata secara sistematis. Kelompok ini dapat meliputi rumah tinggal yang ditempati oleh sebuah keluarga. Karena itu berdasarkan komposisinya. kertas. kertas. tempat parkir. TPA dapat Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 8 . yang operasi utamanya adalah pengurugan (landfilling). Tabel 1. kaca. Misalnya sampah yang hanya terdiri atas kertas. sisa obat-obatan. Pengelola kota tampaknya beranggapan bahwa TPA yang dipunyainya dapat menyelesaikan semua persoalan sampah. sayur. pusat perdagangan. Sampah dari industri dan rumah sakit yang sejenis sampah kota: kegiatan umum dalam lingkungan industri dan rumah sakit tetap menghasilkan sampah sejenis sampah domestik. dll. sisa-sisa makanan ternak. Secara umum sampah dari sumber ini adalah mirip dengan sampah domestik tetapi dengan komposisi yang berbeda. sekolah. sehingga komponen penyusunnya juga akan sama. mengakibatkan munculnya persoalan dalam pelayanan prasarana perkotaan. Dari rumah tinggal juga dapat dihasilkan sampah golongan B3 (bahan berbahaya dan beracun). dan lain-lain. maupun unit rumah tinggal yang berupa rumah susun. kertas. kain. banyak dihasilkan sisa sayur. oli bekas. Apabila tidak tercampur dengan bahan-bahan lain. logam. Sedangkan bila dilihat dari sumbernya. yaitu sampah yang dihasilkan di perdesaan. misalnya sampah yang berasal dari pasar atau sampah dari tempat-tempat umum. Dari sumber ini potensial dihasilkan sampah seperti halnya dari daerah komersial non pasar. pasar. besi dan logam-logam lainnya. dll. kertas. plastik. plastik. Jarang diperhitungkan sampah yang ditangani masyarakat secara swadaya. karena biasanya dihitung berdasarkan ritasi truk menuju TPA. tanpa harus memberikan perhatian yang proporsional terhadap sarana tersebut.1 merupakan proporsi penduduk yang dilayani oleh Dinas Kebersihan setempat.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Pada suatu kegiatan dapat dihasilkan jenis sampah yang sama. seperti masalah sampah. dan juga sisa makanan. Sampah dari kantor sering hanya terdiri atas kertas. Kadang kertas dimasukkan dalam kelompok ini. atau sampah kering yang terdiri atas kaleng. karton. yang terdiri atas daun-daunan. kayu. Bila dilihat dari status permukiman. tempat rekreasi. Pengelola kota cenderung kurang memberikan perhatian yang serius pada TPA tersebut.4 Permasalahan Persampahan di Indonesia Besarnya penduduk dan keragaman aktivitas di kota-kota metropolitan di Indonesia seperti Jakarta. gelas dan mika. buah. kasur dll.

8 232.8 6. karena biasanya sarana ini tidak disiapkan dan tidak dioperasikan dengan baik [10]. Konsep ini sempat diuji coba di beberapa kota termasuk di Jakarta. mulai dari sumber sampah (dari rumah-rumah) sampai ke TPA. Sisanya (sekitar 2%) tergolong B3 yang perlu dikelola tersendiri [12]. termasuk cara pandang Pengelola Kota setempat. atau secara umum dikenal sebagai sampah organik. Gambar 1.7 Penduduk dilayani (juta-jiwa) 23. Tetapi konsep ini tidak berjalan lancar karena membutuhkan kesiapan semua fihak untuk merubah cara fikir dan cara pandang dalam penanganan sampah. Maluku dan Papua Total Penduduk (juta-jiwa) 49. gerobak Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 9 . terutama dari lindi (leachate) yang dapat mencemari air tanah serta timbulnya bau dan lalat yang mengganggu.3 137. yaitu dimulai dari sampah di rumah yang telah dipisah.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) menjadi bom waktu bagi pengelola kota [11]. Cara ini mempunyai banyak resiko. Tabel 1. karena alternatif pengolahan lain belum dapat menuntaskan permasalahan yang ada.2 : Pengelolaan sampah kumpul – angkut – buang [9] Berdasarkan hal itulah di sekitar tahun 1980-an Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) ITB memperkenalkan konsep Kawasan Industri Sampah (KIS) pada tingkat kawasan dengan sasaran meminimalkan sampah yang akan diangkut ke TPA sebanyak mungkin dengan melibatkan swadaya masyarakat dalam daur-ulang sampah [13]. pengoperasiannya mudah dan luwes dalam menerima limbah.5 80. Secara teknis keberhasilan cara ini banyak tergantung pada bagaimana memilah dan memisahkan sampah sedini mungkin. dan sekitar 28 % adalah sampah nonhayati yang menjadi obyek aktivitas pemulung yang cukup potensial.1 Proporsi pelayanan sampah di Indonesia [8] Pulau Sumatera Jawa Bali dan Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi. Gambar 1.2 12. terutama akibat kemungkinan pencemaran air tanah.0 14.9 20.2 130. Cara penyingkiran limbah ke dalam tanah yang dikenal sebagai landfilling merupakan cara yang sampai saat ini paling banyak digunakan.3 % penduduk dilayani 48 59 47 46 68 56 Penyingkiran dan pemusnahan sampah atau limbah padat lainnya ke dalam tanah merupakan cara yang selalu digunakan. Konsep yang sejenis diperkenalkan oleh BPPT dengan zerowaste nya.2 berikut merupakan skema pengelolaan sampah secara umum di Indonesia. Konsep sejenis sudah dikembangkan di Jakarta yaitu Usaha Daur-ulang dan Produksi Kompos (UDPK) yang dimulai sekitar tahun 1991. Sampah yang tergolong hayati ini untuk kota-kota besar bisa mencapai 70 % dari total sampah. Dilihat dari komposisi sampah. Di negara majupun cara ini masih tetap digunakan walaupun porsinya tambah lama tambah menurun.6 12. maka sebagian besar sampah kota di Indonesia adalah tergolong sampah hayati.0 6. Namun fasilitas ini berpotensi mendatangkan masalah pada lingkungan. karena biayanya relatif murah.

Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 10 . Sampah yang kering akan mudah beterbangan dan mudah terbakar. Bau yang timbul akibat adanya dekomposisi materi organik dan debu yang beterbangan akan mengganggu saluran pernafasan. jenis penanganan sampah yang berlangsung di Indonesia adalah sebagai berikut [8]: Pengurugan: 68. anjing liar. Pencemaran air tanah oleh lindi merupakan masalah terberat yang mungkin dihadapi dalam pengelolaan sampah. Dari studi dan evaluasi yang telah dilaksanakan di kota-kota di Indonesia. Misalnya tumpukan sampah kertas kering akan mudah terbakar hanya karena puntung rokok yang masih membara. Timbulan lindi (leachate). di antaranya [4. terutama air tanah di bawahnya. Kondisi seperti ini dapat menimbulkan bahaya banjir akibat terhambatnya pengaliran air buangan dan air hujan. Di negara-negara berkembang. Beberapa permasalahan yang berkaitan dengan keberadaan sampah. Juga merupakan sumber dari berbagai organisme patogen. Situasi dana serta prioritas penanganan yang relatif rendah dari pemerintah daerah merupakan masalah umum dalam skala nasional. Beberapa sifat dasar dari sampah seperti kemampuan termampatkan yang terbatas. terutama kehidupan manusia. 11]: Masalah estetita (keindahan) dan kenyamanan yang merupakan gangguan bagi pandangan mata. Kondisi seperti ini akan menimbulkan bahaya kebakaran. tikus. Adanya sampah yang berserakan dan kotor. serta kurang terbukanya kemungkinan modifikasi konsep tersebut di lapangan. kurangnya kesadaran penghasil sampah merupakan masalah tersendiri dalam pengelolaan sampah. Keterbatasan sumber daya manusia yang sesuai yang tersedia di daerah untuk menangani masalah sampah. Berdasarkan data tahun 2008. atau adanya tumpukan sampah yang terbengkelai adalah pemandangan yang tidak disukai oleh sebagaian besar masyarakat.86% Pengomposan: 7. waktu untuk terdekomposisi sempurna yang cukup lama. Pertambahan penduduk yang demikian pesat di daerah perkotaan (urban) telah mengakibatkan meningkatnya jumlah timbulan sampah. terutama yang bertempat tinggal dekat dengan lokasi pembuangan sampah. diperlukan lahan yang cukup luas dan terletak agak jauh dari pemukiman penduduk. khususnya di kota-kota besar. Keheterogenan tingkat sosial budaya penduduk kota menambah kompleksnya permasalahan.59% Non-pengurugan: 9.19% Open burning: 4. kucing. Pergeseran teknik penanganan makanan. kecoa.58% Sampah yang dibuang ke lingkungan akan menimbulkan masalah bagi kehidupan dan kesehatan lingkungan. sehingga akumulasi sampah merupakan sumber penyakit yang akan membahayakan kesehatan masyarakat. merupakan sarang atau tempat berkumpulnya berbagai binatang yang dapat menjadi vektor penyakit. seperti Indonesia. sebagai efek dekomposisi biologis dari sampah memiliki potensi yang besar dalam mencemari badan air sekelilingnya. seperti lalat. Misalnya. Sampah yang berbentuk debu atau bahan membusuk dapat mencemari udara. Sampah yang terdiri atas berbagai bahan organik dan anorganik apabila telah terakumulasi dalam jumlah yang cukup besar. dan sebagainya. Peningkatan kepadatan penduduk menuntut pula peningkatan metode/pola pengelolaan sampah yang lebih baik.99% Insinerator skala kecil: 6.79% Dibuang ke sungai: 2. Volume sampah yang besar merupakan masalah tersendiri dalam pengangkutannya. dapat menimbulkan beberapa kesulitan dalam pengelolaannya. diantaranya [11]: Bertambah kompleksnya masalah persampahan sebagai konsekuensi logis dari pertambahan penduduk kota. serta penyakit lainnya. Pengembangan perancangan peralatan persampahan yang bergerak sangat lambat.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) sampah yang terdiri dari beberapa kompartemen serta truk sampah yang akan mengangkut sampah sejenis menuju pemrosesan [11]. skala prioritas yang rendah. Partisipasi masyarakat yang pada umumnya masih kurang terarah dan terorganisir secara baik. dapat diidentifikasi masalah-masalah pokok dalam pengelolaan persampahan kota. Konsep pengelolaan persampahan yang kadangkala tidak cocok untuk diterapkan. sebagai lokasi pembuangan akhir sampah. keanekaragaman komposisi. kurangnya kemampuan pendanaan. Sampah yang dibuang sembarangan dapat menyumbat saluran-saluran air buangan dan drainase. misalnya menuju ke pengemas yang tidak dapat terurai seperti plastik. Masalah tersebut dewasa ini menjadi isu yang hangat dan banyak disoroti karena memerlukan penanganan yang serius. dan sebagainya. begitu juga dengan masalah pemisahan komponen-komponen tertentu sebelum proses pengolahan.

dan sumber daya manusia. pengumpulan. demografi. yaitu [14]: • Peraturan / hukum • Kelembagaan dan organisasi • Teknik operasional • Pembiayaan • Peran serta masyarakat. Manajemen persampahan kota di Indonesia membutuhkan kekuatan dan dasar hukum. bagaimana membiayai sistem tersebut dan yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana melibatkan masyarakat penghasil sampah dalam aktivitas penanganan sampah. estetika. dimana sendi-sendi kehidupan bertumpu pada hukum yang berlaku. Peraturan/hukum: Aspek pengaturan didasarkan atas kenyataan bahwa negara Indonesia adalah negara hukum. seperti bagaimana mengatur sistem agar dapat berfungsi. Kebijakan yang diterapkan di Indonesia dalam mengelola sampah kota secara formal adalah seperti yang diarahkan oleh Departemen Pekerjaan Umum sebagai departemen teknis yang membina pengelola persampahan perkotaan di Indonesia. seperti perencanaan kota. harus melibatkan berbagai disiplin ilmu. geografi. sosial. misalnya Dinas Pekerjaan Umum (PU) terutama apabila masalah kebersihan kota masih bisa ditanggulangi oleh suatu seksi di bawah dinas tersebut Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) di bawah suatu dinas. konsep ini sebetulnya berlaku tidak hanya untuk pendekatan pemecahan masalah persampahan. dan pembuangan akhir sampah. dan memperhatikan pihak yang dilayani yaitu masyarakat kota. sosiologi. misalnya Dinas PU terutama apabila dalam struktur organisasi belum ada seksi khusus di bawah dinas yang mengelola kebersihan. lahan. Keberhasilan pengelolaan. dan ilmu bahan. Kelembagaan dan organisasi: Aspek organisasi dan manajemen merupakan suatu kegiatan yang multi disiplin yang bertumpu pada prinsip teknik dan manajemen yang menyangkut aspek-aspek ekonomi. atau kerjasama dengan fihak swasta. lingkungan. pemungutan retribusi. kebijakan pengelolaan sampah perkotaan (yang dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum) di Indonesia memposisikan bahwa pengelolaan sampah perkotaan merupakan sebuah sistem yang terdiri dari 5 komponen sub sistem. konservasi. Sebelum UU18/2008 dikeluarkan. diantaranya kerjasama antar daerah. mulai dari pewadahan. konservasi. ekonomi. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 11 . Pengelolaan persampahan di negara industri sering didefinisikan sebagai kontrol terhadap timbulan sampah. Namun bila diperhatikan. dan sebagainya. keteknikan/engineering. bagaimana lembaga atau organisasi yang sebaiknya mengelola. tetapi mencakup juga aspek non teknis. proses. Masalah pengelolaan sampah perkotaan antara lain adalah keterbatasan peralatan. ekonomi. ketertiban masyarakat. Peraturan yang diperlukan dalam penyelenggaraan sistem pengelolaan sampah di perkotaan antara lain adalah yang mengatur tentang: Ketertiban umum yang terkait dengan penanganan sampah Rencana induk pengelolaan sampah kota Bentuk lembaga dan organisasi pengelola Tata-cara penyelenggaraan pengelolaan Besaran tarif jasa pelayanan atau retribusi Kerjasama dengan berbagai fihak terkait.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Peningkatan jumlah penduduk menyebabkan peningkatan aktivitas penduduk yang berarti juga peningkatan jumlah timbulan sampah. dengan prinsip-prinsip terbaik untuk kesehatan. pemindahan. Pengelolaan persarnpahan mempunyai beberapa tujuan yang sangat mendasar yang meliputi [6]: Meningkatkan kesehatan lingkungan dan masyarakat Melindungi sumber daya alam (air) Melindungi fasilitas sosial ekonomi Menunjang pembangunan sektor strategis. Bentuk institusi pengelolaan persampahan kota yang dianut di Indonesia: Seksi Kebersihan di bawah satu dinas. Masalah ini timbul di kota-kota besar ataupun kota-kota kecil. komunikasi. kesehatan masyarakat. pengangkutan. seperti telah dijelaskan sebelumnya. bukan hanya tergantung aspek teknis semata. Perancangan dan pemilihan bentuk organisasi disesuaikan dengan: Peraturan pemerintah yang membinanya Pola sistem operasional yang diterapkan Kapasitas kerja sistem Lingkup pekerjaan dan tugas yang harus ditangani. dan juga terhadap sikap masyarakat [4]. Untuk menjalankan sistem tersebut. dan kondisi fisik wilayah kota. seperti dalam pembentukan organisasi. Oleh karenanya kelima komponen tsb lebih tepat disebut sebagai aspek-aspek penting yang mempengaruhi manajemen persampahan. tetapi untuk sektor lain yang umumnya terkait dengan pelayanan masyarakat. budaya.

Teknik operasional: Teknik operasional pengelolaan sampah kota meliputi dasar-dasar perencanaan untuk kegiatan: Pewadahan sampah Pengumpulan sampah Pemindahan sampah Pengangkutan sampah Pengolahan sampah Pembuangan (sekarang: pemrosesan) akhir sampah. Peran serta masyarakat: Tanpa adanya partisipasi masyarakat penghasil sampah. transportasi.Kehawatiran pengelola bahwa inisiatif masyarakat tidak akan sesuai dengan konsep pengelolaan yang ada. Sektor pembiayaan ini menyangkut beberapa aspek. Retribusi persampahan merupakan bentuk konkrit partisipasi masyarakat dalam membiayai program pengelolaan persampahan. merupakan organisasi pengelola yang dibentuk bila permasalahan di kota tersebut sudah cukup luas dan kompleks. Dinas ini perlu dibentuk karena aktivitas dan volume pekerjaan yang sudah meningkat Perusahaan Daerah (PD) Kebersihan. Pembiayaan / retribusi: Sebagaimana kegiatan yang lain. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 12 . Kegiatan pemilahan dan daur ulang diutamakan di sumber. pemeliharaan. Bentuk penarikan retribusi dibenarkan bila pelaksananya adalah badan formal yang diberi kewenangan oleh pemerintah. Aspek pembiayaan merupakan sumber daya penggerak agar roda sistem pengelolaan persampahan di kota tersebut dapat bergerak dengan lancar. Pengelolaan sampah B3 rumah tangga dikelola secara khusus sesuai aturan yang berlaku. Permasalahan yang terjadi berkaitan dengan peran serta masyarakat dalam pengelolaan persampahan. seperti: Proporsi APBN/APBD pengelolaan sampah. Bentuk ini sesuai untuk kota metropolitan.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) - sehingga lebih memberikan tekanan pada masalah operasional. Pada prinsipnya perusahaan daerah ini tidak lagi disubsidi oleh pemerintah daerah (pemda). termasuk disini dengan pembentukan perusahaan daerah. dan lebih mempunyai otonomi daripada seksi Dinas Kebersihan akan memberikan percepatan dan pelayanan pada masyarakat dan bersifat nirlaba. dan budaya setempat Kebiasaan dalam pengelolaan sampah selama ini. pendidikan dan pengembangan serta administrasi Proporsi antara retribusi dengan pendapatan masyarakat Struktur dan penarikan retribusi yang berlaku. maka komponen pembiayaan sistem pengelolaan sampah kota secara ideal dihitung berdasarkan: Biaya investasi Biaya operasi dan pemeliharaan Biaya manajemen Biaya untuk pengembangan Biaya penyuluhan dan pembinaan masyarakat. struktur. Hal ini antara lain menyangkut: Bagaimana merubah persepsi masyarakat terhadap pengelolaan sampah yang tertib dan teratur Faktor-faktor sosial. antara retribusi dan biaya pengelolaan sampah Proporsi komponen biaya tersebut untuk gaji. Kegiatan pemilahan dan daur ulang semaksimal mungkin dilakukan sejak dari pewadahan sampah sampai dengan pembuangan akhir sampah. semua program pengelolaan sampah yang direncanakan akan sia-sia. sehingga efektivitas penarikan retribusi akan lebih menentukan. Teknik operasional pengelolaan sampah perkotaan yang terdiri atas kegiatan pewadahan sampai dengan pembuangan akhir sampah harus bersifat terpadu dengan melakukan pemilahan sejak dari sumbernya. yaitu di antaranya: Tingkat penyebaran penduduk yang tidak merata Belum melembaganya keinginan dalam masyarakat untuk menjaga lingkungan Belum ada pola baku bagi pembinaan masyarakat yang dapat dijadikan pedoman pelaksanaan Masih banyak pengelola kebersihan yang belum mencantumkan penyuluhan dalam programnya . Salah satu pendekatan kepada masyarakat untuk dapat membantu program pemerintah dalam kebersihan adalah bagaimana membiasakan masyarakat kepada tingkah laku yang sesuai dengan tujuan program itu. Kegiatan pemilahan dapat pula dilakukan pada kegiatan pengumpulan pemindahan. Diharapkan bahwa sistem pengelolaan persampahan di Indonesia akan menuju pada 'pembiayaan sendiri'.

1.300 No.100 0. Oleh karenanya. Demikian juga timbulan (generation) sampah masingmasing sumber tersebut bervariasi satu dengan yang lain.15 0. Sampah dari masing-masing sumber tersebut dapat dikatakan mempunyai karakteristik yang khas sesuai dengan besaran dan variasi aktivitasnya.350 0. Permukiman atau rumah tangga dan sejenisnya b. 16] Komponen sumber sampah Satuan Volume (Liter) Berat (kg) Rumah permanen Rumah semi permanen Rumah non-permanen Kantor Toko/ruko Sekolah Jalan arteri sekunder Jalan kolektor sekunder Jalan lokal Pasar /orang/hari /orang/hari /orang/hari /pegawai/hari /petugas/hari /murid/hari /m/hari /m/hari /m/hari /m2/hari 2.0.50 2.0.250 .3.025 . faktor musim sangat besar pengaruhnya terhadap berat sampah. sumber sampah kota dibagi berdasarkan [14]: a.0. mahasiswa diminta mengamati selama seminggu jumlah timbulan sampah di tempat tinggal masing-masing. seperti terlihat dalam standar pada Tabel 2. Dalam hal ini. Jumlah timbulan sampah ini biasanya akan berhubungan dengan elemen-elemen pengelolaan sampah antara lain [15]: − Pemilihan peralatan.0. Kegiatan komersial seperti pertokoan d. Penyapuan jalan h.050 0.15 0. alat pengumpulan. 1. 7. Data mengenai timbulan.10 . Kegiatan perkantoran e. Bagi negara berkembang dan beriklim tropis seperti Indonesia. rumah sakit. Kadang dimasukkan pula sampah dari sungai atau drainase air hujan.10 0. Pasar c. beserta komposisinya.010 .50 . Dijelaskan bagaimana metode sampling dan pengukuran timbulan sampah. Bila sampah domestik ini berasal dari lingkungan perkotaan. yaitu: a.60 0.020 . 6.1 Sumber dan Timbulan Sampah Secara praktis sumber sampah dibagi menjadi 2 kelompok besar. dan pengangkutan − Perencanaan rute pengangkutan − Fasilitas untuk daur ulang − Luas dan jenis TPA.020 0. Kegiatan dari institusi seperti industri. yang cukup banyak dijumpai. daerah komersial dsb. 4. Sedang sampah non-domestik adalah sampah atau limbah yang bukan sejenis sampah rumah tangga.25 1.0. musim bisa terkait musim hujan dan kemarau.100 .00 0.50 .300 . Hotel dan restoran f. Data tersebut harus tersedia agar dapat disusun suatu alternatif sistem pengelolaan sampah yang baik. Di samping itu.15 0. 8. berat sampah juga sangat dipengaruhi oleh faktor sosial budaya lainnya. Berdasarkan hal tersebut di atas. dalam bahasa Inggeris dikenal sebagai municipal solid waste (MSW).400 0. misalnya limbah dari proses industri. Dijelaskan pula secara umum jenis sampah yang berkatagori berbahaya yang dihasilkan oleh rumah tangga. sebaiknya evaluasi timbulan sampah dilakukan beberapa kali Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 13 .100 0.75 2.0.0. misalnya wadah. DAN TIMBULAN SAMPAH Bagian ini menjelaskan sumber. komposisi dan karakteristik sampah.300 0. dan karakteristik sampah merupakan hal yang sangat menunjang dalam menyusun sistem pengelolaan persampahan di suatu wilayah.0.10 .1: Besarnya timbulan sampah berdasarkan sumbernya [15.20 .150 .025 0.0.00 .350 0.00 0. Sampah dari kedua jenis sumber ini (a dan b) dikenal sebagai sampah domestik.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) BAGIAN 2 SUMBER.2.0. Sampah dari permukiman.010 . Sampah dari non-permukiman yang sejenis sampah rumah tangga.0. tetapi dapat juga berarti musim buah-buahan tertentu. 9.350 .0.10 . KARAKTERISTIK.2. 2. Tabel 2.75 .05 . dalam pengelolaan sampah kota di Indonesia. 5. atau sampah rumah tangga b.0.0. untuk sampah yang sejenis sampah permukiman g. 3. seperti dari pasar.0. Guna lebih memahami. Taman-taman.2. 10.0. timbulan. komposisi.005 .25 . 2.

Bagi kota-kota di negara berkembang. Rata-rata timbulan sampah biasanya akan bervariasi dari hari ke hari. Berat sampah akan tetap.5 0. Variasi ini terutama disebabkan oleh perbedaan. 9. Sebagai ilustrasi. Pemukiman: 1. dan pengkajian sistem pengelolaan persampahan. Di Indonesia umumnya menerapkan satuan volume.54 7. dalam hal mengkaji besaran timbulan sampah. timbulan sampah akan mencapai angka minimum pada musim panas − Cara hidup dan mobilitas penduduk − Iklim: di negara Barat.2: Timbulan sampah kota Bandung. Rumah: Permanen Semi permanen Non permanen Rerata Non pemukiman: 2.5 di bawah ini.3: Jumlah sampah di Jakarta [19] 2000 (Ton/hari) 4169 963 641 640 6413 (%) 65 15 10 10 100 2005 (Ton/hari) 3067 280 308 1583 516 246 6000 (%) 51 5 5 26 9 4 100 Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 14 . Terdapat faktor kompaksi yaitu densitas. beberapa angka tentang timbulan sampah diberikan dalam Tabel 2. 4.86 L/o/h L/o/h L/o/h L/o/h L/m2/h L/km/h L/unit/h L/unit/hari L/unit/h L/bed/h L/pegawai/h L/bed/h No. dan antara satu negara dengan negara lainnya.3 (Jakarta tahun 2000 dan 2005). Untuk memberikan gambaran tentang timbulan sampah ini. agaknya perlu diperhitungkan adanya faktor pendaurulangan sampah mulai dari sumbernya sampai di TPA.5 356.3 2.98 l/o/h 5. Timbulan sampah ini dinyatakan sebagai [15]: 2 − Satuan berat: kg/o/hari. Prakiraan timbulan sampah baik untuk saat sekarang maupun di masa mendatang merupakan dasar dari perencanaan. Pasar Jalan Toko Kantor Rumah makan Hotel Industri Rumah sakit Sources Rumah tangga Pasar Sekolah Komersial Industri/institusi Jalan. Timbulan sampah dapat diperoleh dengan sampling (estimasi) berdasarkan standar yang sudah tersedia.14 l/o/h 1. Beberapa studi memberikan angka timbulan sampah kota di Indonesia berkisar antara 3 2-3 liter/orang/hari dengan densitas 200-300 kg/m dan komposisi sampah organik 70-80%. Prakiraan rerata timbulan sampah akan merupakan langkah awal yang biasa dilakukan dalam pengelolaan persampahan. bila sampah tersebut disatukan dalam sebuah wadah. kg/m /hari. yang merupakan rangkuman dari beberapa laporan hasil penelitian sebagai gambaran.77 l/o/h 2.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) dalam satu tahun.0 85. 7. 1994 [18] Sumber sampah Timbulan Satuan 2. 10 unit wadah yang berisi air masing-masing 100 liter. saluran dll Total Tabel 2. 2. 3.04 l/o/h 1. Tabel 2. kg/bed/hari dan sebagainya 2 − Satuan volume: L/o/hari. L/bed/hari dan sebagainya. Satuan timbulan sampah ini biasanya dinyatakan sebagai satuan skala kuantitas per orang atau per unit bangunan dan sebagainya. debu hasil pembakaran alat pemanas akan bertambah pada musim dingin − Cara penanganan makanannya. bila air tersebut disatukan dalam wadah yang besar. maka volume sampah akan berkurang karena mengalami kompaksi. antara lain [17]: − Jumlah penduduk dan tingkat pertumbuhannya − Tingkat hidup: makin tinggi tingkat hidup masyarakat.4 dan 2. perancangan. Penggunaan satuan volume dapat menimbulkan kesalahan dalam interpretasi karena terdapat faktor kompaksi yang harus diperhitungkan. antara satu daerah dengan daerah lainnya. Contoh timbulan sampah adalah seperti tercantum dalam Tabel 2. 8.94 24.2 yang berasal dari kota Bandung pada tahun 1994. L/m /hari. makin besar timbulan sampahnya − Musim: di negara Barat. maka akan tetap berisi 1000 liter air. 6. 5.35 516. Namun 10 unit wadah yang berisi sampah 100 liter.

Bila jumlah sampah dari sektor non-permukiman diasumsi berkontribusi 35% dari total sampah di kota tersebut. atau = 0.5 3 kg/orang/hari.12 0.000.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Tabel 2. plastik. misalnya dinyatakan sebagai % berat (biasanya berat basah) atau % volume (basah) dari kertas.550 Konakry 0. Tabel 2.06 5. Namun tambah besar sebuah kota.870 Manila 0. kulit. karet.84 Kain dan produk tekstil 6. pasir Sampah organic 16. dan lain-lain.38 % Volume 62.38 Plastik.440 Karachi 0.550 Singapura 0.5 kg/orang/hari − Satuan timbulan sampah kota sedang/kecil = 1.31 9. atau = 769 ton/hari.4: Timbulan Sampah di Beberapa Negara [20] Kota Timbulan (kg/orang/hari) Paris 1.61 0.1 5. seperti contoh di bawah ini. kantor dsb. Bila satuan timbulan sampah = 2. atau = 0. kulit.625 Rabat 0. maka untuk menghitung besaran sistem. kayu.5 L/orang/hari.5x1. Contoh : Jumlah penduduk sebuah kota = 1 juta orang. logam.74 0.98 Kayu/produk dari kayu 0. maka total sampah yang dihasilkan dari kota 3 tersebut = 2500/0.07 8.6 menggambarkan tipikal komposisi sampah pemukiman di kota di negara maju.7 Jawa 21.0 Total 38. jalan.5: Jumlah sampah di Indonesia 2008 [19] Jumlah sampah kota Pulau (ribu ton) Sumatera 8.635 Fes 0.06 10.4 – 0.3 Sulawesi. hotel.26 26. Bila dikonversi terhadap total penduduk.6: Komposisi sampah domestik [22] Kategori sampah % Berat Kertas dan bahan-bahan kertas 32. kaca.5 – 2 L/orang/hari. baik saat di rumah.2 Bali dan pulau-pulau Nusa Tenggara 1. dan tambah membesar porsi sampah non-permukiman.5 Menurut SNI 19-3964-1995 [21]. Maluku dan Papua 5.4 kg/orang/hari Karena timbulan sampah dari sebuah kota sebagian besar berasal dari rumah tangga. dapat digunakan angka timbulan sampah sebagai berikut: − Satuan timbulan sampah kota besar = 2 – 2.65 = 3846 m /hari. Komposisi dan sifat-sifat sampah menggambarkan keanekaragaman aktivitas manusia.3 Kalimantan 2. bila pengamatan lapangan belum tersedia. pasar.15 9. atau = 3.85 L/orang/hari.650 Tabel 2. Sedang Tabel 2. sehingga asumsi tersebut di atas perlu penyesuaian. yang merupakan satuan timbulan ekivalensi penduduk.36 Gelas Logam Bahan batu.2 Komposisi Sampah Pengelompokan berikutnya yang juga sering dilakukan adalah berdasarkan komposisinya. maka 3 kota tersebut dapat dinyatakan menghasilkan timbulan sampah sebesar 3846 m /har/1 juta orang/hari.5 L/orang/hari atau 0.7 menggambarkan contoh komposisi sampah kota di beberapa tempat di dunia.100 Damaskus 0. maka jumlah sampah dari permukiman adalah = 2. maka untuk perhitungan secara cepat satuan timbulan sampah tersebut dapat dianggap sudah meliputi sampah yang ditimbulkan oleh setiap orang dalam berbagai kegiatan dan berbagai lokasi. 2.000 /1000 m /hari = 2500 3 m /hari atau setara dengan 500 ton/hari. Tabel 2.58 Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 15 .3 – 0. maka tambah mengecil porsi sampah dari permukiman. dan produk karet 6. taman. kain. makanan.550 Jakarta 0.

apabila tidak maka diperlukan proses lain untuk memusnahkannya.1 Pengertian sampah organik seperti tercantum dalam Tabel di atas lebih bersifat untuk mempermudah pengertian umum. Pembusukan sampah ini dapat menghasilkan bau tidak enak. sedangkan negara berkembang seperti Indonesia banyak menggunakan plastik sebagai pengemas. Penumpukan sampah yang cepat membusuk perlu dihindari.6 6. pembuangan.1 32. Sampah jenis ini sebaiknya dikelola oleh suatu badan yang berwenang dan dikeluarkan ke lingkungan sesuai dengan peraturan yang berlaku.8 di bawah ini. Lihat uraian butir 2. atau juga dikenal sebagai sampah organik.7: Komposisi sampah di beberapa kota (% berat basah) [17] Komponen London Singapura Hongkong Jakarta Bandung Organik 28 4.5. dihasilkan pula gas-gas hasil dekomposisi.4 Kertas 37 43. Sampah kelompok ini kadang dikenal sebagai sampah basah. kelembaban sampah juga akan cukup tinggi − Frekuensi pengumpulan: semakin sering sampah dikumpulkan maka semakin tinggi tumpukan sampah terbentuk. dan fauna. seperti gas metan dan sejenisnya.6 9. Sampah yang membusuk (garbage) adalah sampah yang dengan mudah terdekomposisi karena aktivitas mikroorganisme. khususnya bila mengandung plastik PVC. − Kemasan produk: kemasan produk bahan kebutuhan sehari-hari juga akan mempengaruhi. untuk menggambarkan komponen sampah yang cepat terdegradasi (cepat membusuk). terutama yang berasal dari sisa makanan. Di negara beriklim dingin. Sampah ini pada umumnya terdiri atas zat kimia organik maupun anorganik serta logam-logam berat. logam.4 2 6 8 0. dan lain-lain. dan yang akan terus bertambah adalah kertas dan dan sampah kering lainnya yang sulit terdegradasi − Musim: jenis sampah akan ditentukan oleh musim buah-buahan yang sedang berlangsung − Tingkat sosial ekonomi: Daerah ekonomi tinggi pada umumnya menghasilkan sampah yang terdiri atas bahan kaleng. Kelompok sampah ini dikenal pula sebagai sampah kering. Negara maju cenderung tambah banyak yang menggunakan kertas sebagai pengemas. flora. sampah berupa debu dan abu banyak dihasilkan sebagai produk hasil pembakaran. dsb). Sampah jenis ini tidak dapat dicampurkan dengan sampah kota biasa. Sampah berbahaya adalah semua sampah yang mengandung bahan beracun bagi manusia. Tipikal komposisi sampah didasarkan atas tingkat pendapatan digambarkan pada Tabel 2.6 6.3 9.2 29. dan berpotensi sebagai sumber pencemaran udara yang bermasalah. maupun abu hasil pembakaran sampah dari insinerator. Abu debu di negara tropis seperti Indonesia.7 9.4 1. abu yang berukuran <10 µm dapat memasuki saluran pernafasan dan menyebabkan penyakit pneumoconiosis. yang kebanyakan merupakan buangan industri.6 9.3 6. yang umumnya Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 16 . maka tambah kecil proporsi sampah yang berasal dari kegiatan rumah tangga. Suatu penelitian (1989) yang dilakukan di beberapa kota di Jawa Barat menggambarkan hal tersebut dalam skala kota. Sampah kering (refuse) sebaiknya didaur ulang. baik pembakaran bahan bakar untuk pemanas ruangan. dan sebagainya − Pendapatan per kapita: masyarakat dari tingkat ekonomi rendah akan menghasilkan total sampah yang lebih sedikit dan homogen dibanding tingkat ekonomi lebih tinggi. misalnya dalam pengomposan atau gasifikasi.4 74 73.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Tabel 2. maupun pengangkutannya.9 berikut ini. Komposisi sampah juga dipengaruhi oleh beberapa faktor: − Cuaca: di daerah yang kandungan airnya tinggi. gelas.3 8. Namun. seperti tampak dalam Tabel 2.5 Kaca Tekstil Plastik/Karet Lain-lain 9 3 3 11 1. Tetapi sampah organik akan berkurang karena membusuk. seperti pembakaran. tambah banyak komponen sampah organik (sisa makanan. Kelompok inilah yang berpotensi untuk diproses dengan bantuan mikroorganisme.2 2 0. Sampah yang tidak membusuk atau refuse pada umumnya terdiri atas bahan-bahan kertas. banyak berasal dari penyapuan jalan-jalan umum. Tambah besar dan beraneka ragam aktivitas sebuah kota.5 8 9. Dengan demikian pengelolaannya menghendaki kecepatan.7 Logam 9 3 2. baik dalam pengumpulan. yang dapat membahaykan keselamatan bila tidak ditangani secara baik. Namun pembakaran refuse ini juga memerlukan penanganan lebih lanjut. Selama tidak mengandung zat beracun. atau sering pula disebut sebagai sampah anorganik. Dengan mengetahui komposisi sampah dapat ditentukan cara pengolahan yang tepat dan yang paling efisien sehingga dapat diterapkan proses pengolahannya. Selain itu. abu tidak terlalu berbahaya terhadap lingkungan dan masyarakat. Tambah sederhana pola hidup masyarakatnya. seperti ammoniak dan asam-asam volatil lainnya.1 32. kertas. plastik. kaca.

96 1.1 7.59 0.10: Komposisi sampah kota Bandung berdasarkan sumber (% berat basah ) 1988 [23] Permukiman Komposisi dengan pendapatan Pasar Pertokoan Sapuan TPS TPA Rendah Sedang Tinggi Sampah 78.78 basah Daun-daun 1.45 17.30 3.52 11.5 1.05 18.19 1.76 87.07 0.0 Tabel 2.9 2.5 Komersial 17.76 Karet 1. nilai kalor.8: Tipikal komposisi sampah pemukiman (% berat basah) [20] Pemukiman Pemukiman Pemukiman Komposisi low income middle income high income Kertas 1-10 15-40 15-40 Kaca.16 4.8 14.77 0.51 1.09 0.80 0. N.69 0.77 0. O.10 Logam 0.12 Lain-lain 0.9: Tendensi komposisi sampah di Jawa Barat (%berat basah) [15] Sumber sampah Jakarta Bandung Cirebon Pelab.6 Lain-lain 5. maka densitas sampah akan tergantung pada sarana pengumpul dan pengangkut yang digunakan.35 2.36 67.4 16.10 menggambarkan contoh komposisi sampah berdasarkan sumbernya. Tabel 2. Berdasarkan tabel tersebut tampak bahwa pemukiman merupakan sumber sampah terbesar dengan komposisi sampah basah atau sampah organik sebesar 73-78%.89 0. seperti: Karakteristik fisika: yang paling penting adalah densitas.13 0.19 0.91 9.16 1.18 0.14 3.51 1. Menurut pengamatan di lapangan.48 0.35 Plastik 6.4 4. biasanya untuk kebutuhan desain digunakan angka [24] : 3 − Sampah di wadah sampah rumah: 0. karet 1-5 Kayu 1-5 Tekstil 1-5 2-10 2-10 Sisa makanan 40-85 20-65 20-50 Lain-lain 1-40 1-30 1-20 Tabel 2.2 Kantor 3.60 Tekstil 1. maka sampah akan sangat cepat membusuk.94 0.76 Kertas 6.20 ton/m 3 − Sampah di gerobak sampah: 0. Dengan kondisi seperti itu disertai kelembaban sampah yang tinggi.6 0. distribusi ukuran (Gambar 2.10 7.43 1. dsb.10 0.15 5.79 0.01 1.19 0.38 0. P.0 Industri 15.19 0.81 0. Sampah kota di negara-negara yang sedang berkembang akan berbeda susunannya dengan sampah kota di negara-negara maju.4 17.32 5.25 0. H. keramik 1-10 1-10 4-10 Logam 1-5 1-5 3-13 Plastik 1-5 2-6 2-10 Kulit.41 86.95 73. tergantung pada komponenkomponen sampah.94 4.10 Kayu 0.8 1.0 5.05 29.01 – 0.29 0.9 1.51 0.28 0.20 – 0.53 1. maka karakteristik lain yang biasa ditampilkan dalam penanganan sampah adalah karakteritik fisika dan kimia.3 Karakteristik Sampah Selain komposisi.Ratu Rumah tangga 49.08 0.68 9.16 4.23 82.0 Pasar 16.96 0.14 2. Karakteristik sampah dapat dikelompokkan menurut sifat-sifatnya.55 0. Karakteristik tersebut sangat bervariasi.03 42. kadar abu.31 7.70 2.17 0.72 1.85 2.25 ton/m Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 17 .67 8.69 0.85 4.71 Kulit 0.8 Jalan 1.29 0.1 merupakan skematis berat bahan) .1 73.72 75.06 0. S.2 Sekolah 1. kadar volatil.0 5. Tabel 2.03 0.13 Kaca 0.Karakteristik kimia: khususnya yang menggambarkan susunan kimia sampah tersebut yang terdiri dari unsur C. kadar air.4 77.80 0.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) didominasi sampah organik. Kekhasan sampah dari berbagai tempat/daerah serta jenisnya yang berbeda-beda memungkinkan sifat-sifat yang berbeda pula.3 53.

32 68.41 86.241 Kadar abu (% berat kering) 23.12 Contoh karakteristik sampah Kadar air Kadar volatil (% berat basah) (% berat kering) 88.4 Metode Pengukuran [15.11: Karakteristik sampah kota Bandung 1988 [25] Parameter Persentase Kadar air (% berat basah) 64. 21] Timbulan sampah yang dihasilkan dari sebuah kota dapat diperoleh dengan survey pengukuran atau analisa langsung di lapangan.70 Nitrogen (% berat kering) 1.31 3.70 Karbon (% berat kering) 44. yaitu: a.30 0.65 80.48 11. Tabel 2.56 Posfor (% berat kering) 0.69 34.33 88.57 94.62 96. dimana data Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 18 . maka jumlah sampah yang masuk ke fasilitas penerima sampah akan dapat diketahui dengan mudah dari waktu ke waktu.52 2.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) 3 − Sampah di truk terbuka: 0.27 pH 6. Dengan melacak jumlah dan jenis penghasil sampah yang dilayani oleh gerobak yang mengumpulkan sampah tersebut.21 Abu pada 550oC Komponen Sisa makanan Kertas-tissu Daun Botol kaca Botol/cup plastik Karton Kertas putih Tekstil Plastik macam-macam Kadar abu (% berat kering) 11.68 1.09 Nilai kalor ( kkal/kg) 1197 Tabel 2.27 Materi organik (% berat basah) 44. Mengukur langsung satuan timbulan sampah dari sejumlah sampel (rumah tangga dan non-rumah tanga) yang ditentukan secara random-proporsional di sumber selama 8 hari berturut-turut (SNI 193964-1995 dan SNI M 36-1991-03) b. Kadar air hilang pada 105oC Berat basah Volatil hilang pada 550oC Berat kering Fixed carbon hilang pada 850oC Karbonat Gambar 2.00 3.91 0. Weigh-volume analysis: bila tersedia jembatan timbang. sehingga akan diperoleh satuan timbulan sampah per-ekivalensi penduduk c.45 50.57 88. Jumlah sampah sampah harian kemudian digabung dengan perkiraan area yang layanan.52 5. serta untuk perencanaan fasilitas pembuangan akhir.50 – 0. 2.09 5.30 – 0.55 20.1: Posisi bahan pada temperatur pembakaran Tabel 2.03 99.12 merupakan contoh karakteristik di kota sebuah TPS di kota Bandung pada tahun 2007.08 99.79 Informasi mengenai komposisi dan karakteristik sampah diperlukan untuk memilih dan menentukan cara pengoperasian setiap peralatan dan fasilitas-fasilitas lainnya dan untuk memperkirakan kelayakan pemanfaatan kembali sumberdaya dan energi dalam sampah.40 ton/m 3 − Sampah di TPA dengan pemadaran konvensional = 0. Load-count analysis: Mengukur jumlah (berat dan/atau volume) sampah yang masuk ke TPS.92 1.00 13.11 merupakan contoh karakteristik sampah yang sering dimunculkan di Indonesia. selama 8 hari berturut-turut. misalnya diangkut dengan gerobak.48 6.60 ton/m . Tabel 2.45 98.

c..... dan aliran bahan yang menjadi sampah dari sebuah sistem yang ditentukan batas-batasnya (system boundary) Dalam survey.... Penentuan jumlah sampel sampah yang akan diambil dapat menggunakan formula berikut: a. " penduduk 10 6 ! Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 19 ... .... 6 Bila jumlah penduduk > 10 jiwa P = Cd. Metode stratified random sampling: yang biasanya didasarkan pada komposisi pendapatan penduduk setempat. dengan anggapan bahwa kuantitas dan kualitas sampah dipengaruhi oleh tingkat kehidupan masyarakat. misalnya menentukan volume yang dibutuhkan untuk pewadahan sampah atau menentukan potensi daur ulang... perlu diupayakan untuk mengukur jumlah sampah di sumber. Metode yang umum digunakan untuk menentukan kuantitas total sampah yang akan dikumpulkan dan diangkut ke TPA adalah sebagai berikut: − Rata-rata angkutan per hari dikalikan volume rata-rata pengangkutan dan dikonversikan ke satuan berat dengan menggunakan densitas rata-rata yang diperoleh melalui sampling − Mengukur berat sampel di dalam kendaraan angkut dengan menggunakan jembatan timbang. Metode pengambilan dan pengukuran contoh timbulan dan komposisi sampah di Indonesia biasanya dilaksanakan berdasarkan SNI M 36-1991-03 [21]. seperti: − Hanya dilakukan 1 hari saja − Dilakukan dalam seminggu.... frekuensi pengambilan sampel sebaiknya dilakukan selama 8 (delapan) hari berturut-turut guna menggambarkan fluktuasi harian yang ada.. Penentuan jumlah sampel yang biasa digunakan dalam analisis timbulan sampah adalah adalah dengan pendekatan statistika... yaitu minimum 500 liter atau sekitar 200 kg...Jumlah penduduk = 900. sampling sampah di sumber harus dilaksanakan selama satu minggu (umumnya 8 hari berturut-turut). tetapi pengambilan sampel setiap 2 atau 3 hari − Dilakukan dalam 8 hari berturut-turut...... Bila jumlah penduduk ≤ 10 jiwa P = Cd.(2.000 jiwa... dan berapa derajat kepercayaan yang bisa diterima........ kemudian rata-ratanya dikalikan dengan total angkutan per hari − Mengukur berat setiap angkutan di jembatan timbang di TPA..1) Keterangan: 6 Ps= jumlah penduduk bila ≤ 10 jiwa Cd = koefisien Cd = 1 bila kepadatan penduduk normal..... Cd >1 bila kepadatan penduduk padat. dengan menganalisa secara cermat aliran bahan masuk......... Cd < 1 bila kepadatan penduduk jarang... terutama karena adanya aktivitas pemulungan atau pemilahan sampah.. Ps . Karena aktivitas domestik bervariasi dari hari ke hari dengan siklus mingguan. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan sampling sampah langsung di sumbernya... Dilanjutkan dengan kegiatan bulanan guna menggambarkan fluktuasi dalam satu tahun....... b.. Penerapan yang dilaksanakan di Indonesia biasanya telah disederhanakan. Pendekatan praktis: dapat dilakukan dengan pengambilan sampel sampah berdasarkan atas jumlah minimum sampel yang dibutuhkan untuk penentuan komposisi sampah. maka akan diperoleh satuan timbulan sampah per-ekuivalensi penduduk Material balance analysis: merupakan analisa yang lebih mendasar.. Jumlah sampah yang sampai di TPA sulit untuk dijadikan indikasi yang akurat mengenai timbulan sampah yang sebenarnya di sumber.. Ps .. aliran bahan yang hilang dalam system. yaitu: a. ………………………………………………………………… (2....Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) d.....Cd = 1....... penduduk dan sarana umum terlayani dapat dicari...........2) Contoh : ..... Jumlah sampel minimum: ditaksir berdasarkan berapa perbedaan yang bisa diterima antara yang ditaksir dengan penaksir......... berapa derajat kepercayaan yang diinginkan...... Untuk keperluan tertentu.Cj... Biasanya sampling dilakukan di TPS atau pada gerobak yang diketahui sumber sampahnya....... Hal ini disebabkan oleh terjadinya kehilangan sampah di setiap tahapan proses operasional pengelolaan sampah tersebut... Cj = 6 ! b..

2010. yaitu: − di dapur.. cat dan solven pengencer.10 jiwa = 950 jiwa. Bahan-bahan tersebut digunakan dalam hampir seluruh kegiatan di rumah tangga.... Setiap 1 rumah diasumsikan terdiri atas 6 jiwa 950 Jumlah rumah = = ± 160 rumah 6 ! Jumlah sampel yang harus diambil dari masing-masing strata pendapatan. cairan pmbersih....32..... Kegiatan agrowisata...... Cp = 0.... tabung bekas pewangi ruangan.. minyak tanah.0103) = 2. alkohol.. Cqn = 3. seperti cairan setelah mencukur..... shampo anti ketombe......82% + 3.........(1+0..........5 Sampah Berbahaya dari Rumah Tangga [27] Bahan sehari-hari yang digunakan di rumah tangga dewasa ini.. pembunuh kecoa − di kamar tidur.32 l/o/hari. kamfer......000 = 9. semir..32.... Cs: peningkatan/pertumbuhan kota..  Ci = 9..... P: laju pertumbuhan penduduk.(1+0. yang dampaknya disamping akan menghasilkan residu yang terbuang pada badan penerima alamiah. Qt: timbulan sampah pada tahun awal perhitungan.. Cqn: laju peningkatan pendapatan per kapita. kosmetik. 37% + 0 .. perekat.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Penyelesaian : 2 P = 1 x 900.... seperti adanya lapangan golf dan sebagainya menambah intesifnya penggunaan bahan biosida yang umumnya resistan dan bersifat biokumulasi serta mendatangkan dampak negatif dalam jangka panjang bagi manusia yang terpaparnya.(1+0.. Cp: laju pertumbuhan sektor pertanian... seperti korek api..... air freshener.... Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 20 . yang kemungkinan besar tetap berkategori berbahaya... spiritus / alkohol − di kamar mandi dan cuci..... termasuk pula bekas pewadahannya seperti bekas cat..........47 l/o/hari. asam cuka... pembersih toilet. 2. seperti pembersih saluran air.... obat-obatan.......34 l/o/hari. 49%) / 3] [1+1..... batere.... − di garasi/taman.. 2020? Penyelesaian : Cs = [1+ ( 9 .. 6 Q(2010) = 2.......32...... ! dimana : Qn: timbulan sampah pada n tahun mendatang..... 16 Q(2020) = 2..88%] = 1. oli mobil...  P = 1..82%....37%. penggunaan bahan berbahaya agaknya juga sulit dihindari... seperti penggunaan pestisida dalam kegiatan pertanian..0103) = 2. pembunuh nyamuk − di ruang keluarga.. khususnya di kota..... maka bahan tersebut akan menjadi limbah. yaitu : X High income = X→ x160 Medium income = Y→ Low income = Z ! (X +Y +Z ) Y x160 (X +Y +Z ) Z → x160 (X +Y +Z ) Untuk memprediksi timbulan sampah dapat digunakan persamaan sebagai berikut: ! Qn = Qt(1+Cs)n . pupuk..49%....... tidak terlepas dari penggunaan bahan berbahaya.... Contoh:  Timbulan sampah suatu kota saat ini (tahun 2004) = 2.. dengan Cs= ! (2. soda kaustik.. Ci: laju pertumbuhan sektor industri.... seperti pestisida dan insektisida.4) !+ (Ci + Cp + Cqn ) / 3] [1 [1+ p ] . namun dapat pula masih tersisa pada makanan yang dikonsumsi sehari-hari seperti dalam sayur mayur dan buah-buahan....73 l/o/hari. gas elpiji....88% Berapa besar timbulan sampah pada tahun 2005. obat-obatan.... Bila bahan tersebut tidak lagi digunakan. hairspray.....3) (2..0103) = 2... aki bekas Di lingkungan pedesaan serta di lingkungan yang terlihat asri...5.....03% Jadi: 1 Q(2005) = 2.. kaporit atau desinfektan.... seperti parfum...

4 Produk untuk otomotif 30. pada kemasan bahan-bahan tersebut biasanya tertera aturan penyimpanan. pupuk: toksik − aerosol: mudah terbakar. misalnya tidak terpapar pada temperatur atau diletakkan agar tidak terjangkau oleh anak-anak. Produk rumah tangga lain: − cat: mudah terbakar. seperti timbulnya gas toksik bila pembersih mengandung senyawa amonia bercampur dengan pengelantang yang mengandung khlor. Perawatan badan: − shampo (anti ketombe): toksik − penghilang cat kuku: toksik. toksik − pelarut / tiner: mudah terbakar − baterei: korosif dan toksik − khlorin kolam renang: korosif dan toksik − biosida anti insek: toksik. lamban. Oleh karenanya. mudah terbakar − minyak wangi: mudah terbakar − kosmetika: toksik − obat-obatan: toksik c. Produk pembersih: − bubuk penggosok abrasif: korosif − pembersih mengandung senyawa amunium dan turunannya : korosif − pengelantang: toksik. Survai yang dilakukan di Amerika Serikat menggambarkan porsi limbah berbahaya pada sampah kota yang berasal dari bahan yang biasa digunakan di rumah di Amerika Serikat. Pencampuran dua atau lebih dapat pula menimbulkan masalah.13: Limbah berbahaya dari rumah tangga [4] Komponen Persen Penggunaan untuk pembersih 40. minyak tanah: mudah terbakar. iritasi mata atau kulit. atau menimbulkan ledakan bila tabung sisa aerosol terbakar di bak sampah. seperti kesulitan bernafas.0 Penggunaan untuk perawatan badan 16. mudah meledak Bahan tersebut dapat pula menimbulkan bahaya lain bila bercampur satu dengan yang lain. korosif − pembersih saluran air: korosif − pengkilap mebel: mudah terbakar − pembersih kaca: Korosif (iritasi) − pembersih oven: korosif − semir sepatu: mudah terbakar − pengkilap logam (perak): mudah terbakar − penghilang bintik noda: mudah terbakar − pembersih toilet dan lantai: korosif − pembersih karpet/kain: korosif. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 21 . seperti tertera dalam Tabel 2.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Pada dasarnya bahan berbahaya tidak akan menimbulkan bahaya jika pemakaian.0 Contoh di bawah ini lebih lanjut menggambarkan karakteristik bahaya dari bahan yang biasa digunakan di rumah tangga tersebut di atas: a. mudah terbakar b. Tabel 2. Efek pada kesehatan manusia yang paling ringan umumnya akan terasa langsung karena bersifat akut.13 di bawah ini. penyimpanan dan pengelolaannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.1 Cat dan sejenisnya 7. mudah terbakar − herbisida.5 Penggunaan rumah tangga lain 6. toksik d. Produk otomotif: − cairan anti beku: toksik − oli: mudah terbakar − aki mobil: korosif − bensin. kepala pusing.

dikenal sebagai pendekatan end-of-pipe. Langkah 6 Remediasi: media lingkungan (khusunya media air dan tanah) yang sudah tercemar akibat limbah yang tidak terkelola secara baik. perlu direhabilitasi atau diperbaiki melalui upaya rekayasa yang sesuai. yaitu [28]: a. b. Langkah 5 Dispose (singkir): residu/limbah yang tidak dapat diolah perlu dilepas ke lingkungan secara aman. yaitu melalui rekayasa yang baik dan aman seperti menyingkirkan pada sebuah lahan-urug (landfill) yang dirancang dan disiapkan secara baik f. Langkah 4 Treatment (olah): residu yang dihasilkan atau yang tidak dapat dimanfaatkan kemudian diolah. R2 dan R3 adalah upaya minimasi atau pengurangan sampah yang perlu ditanganii. Konsep ini mengandalkan pada teknologi pengolahan dan pengurugan limbah. reuse dan recycle. baik sebagai bahan baku maupun sebagai sumber enersi d. dan/atau melalui sebuah proses terlebih dahulu sebelum dilakukan pemanfaatan (recycle) terhadap limbah tersebut. Sedangkan penyingkiran limbah bertujuan mengurangi volume dan bahayanya Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 22 . Selanjutnya. Dijelaskan bahwa 3R (reduce. Pendekatan reaktif: yaitu penanganan limbah yang dilakukan setelah limbah tersebut terbentuk Pendekatan proakatif merupakan strategi yang diperkenalkan pada akhir tahun 1970-an dalam dunia industri. ada 2 (dua) pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan akibat adanya limbah. Pendekatan proaktif: yaitu upaya agar dalam proses penggunaan bahan akan dihasilkan limbah yang seminimal mungkin. dengan penekanan pada reduce. agar memudahkan penanganan berikutnya. dikenal sebagai proses bersih atau teknologi bersih yang bersasaran pada pengendalian atau reduksi terjadinya limbah melalui penggunaan teknologi yang lebih bersih dan yang akrab lingkungan.1 Konsep Minimasi Limbah Dilihat dari keterkaitan terbentuknya limbah. khususnya limbah padat.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) BAGIAN 3 PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI PENGURANGAN Bagian ini menjelaskan konsep utama pengelolaan sampah yang bertumpu pada pengurangan (minimasi) sejak sebelum sampah itu terbentuk. seperti bioremediasi dan sebagainya. agar emisi dan residu yang dihasilkan aman dilepas kembali ke lingkungan. Upaya R1. usaha pengolahan atau pemusnahan sampah bertujuan untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan bila residu tersebut dilepas ke lingkungan. Pengelolaan sampah hendaknya bersifat terpadu sesuai dengan karakteristik sampah itu sendiri. fluida dan enersi yang digunakan − Pemakaian kembali bahan baku tercecer yang masih bisa dimanfaatkan − Penggantian bahan baku. dengan tingkat bahaya yang serendah mungkin. yang dikenal sebagai pendekatan 3R. yaitu konsep yang dianggap perlu diperbaiki. Sebagian besar pengolahan dan/atau pemusnahan sampah bersifat transformasi materi yang dianggap berbahaya sehingga dihasilkan materi lain yang tidak mengganggu lingkungan. Konsep proses bersih di atas kemudian diterapkan lebih spesifik dalam pengelolaan sampah. reuse dan recycle) merupakan dasar penanganan sampah menurut UU-18/2008. atau agar dapat secara aman dilepas ke lingkungan e. Konsep ini secara sederhana meliputi: − Pengaturan yang lebih baik dalam manajemen penggunaan bahan dan enersi serta limbahnya melalui good house keeping − Penghematan bahan baku. Langkah 1 Reduce (pembatasan): mengupayakan agar limbah yang dihasilkan sesedikit mungkin b. 3. Secara ideal kemudian pendekatan proses bersih tersebut dikembangkan menjadi konsep hierarhi urutan prioritas penanganan limbah secara umum. Langkah 3 Recycle (daur-ulang): residu atau limbah yang tersisa atau tidak dapat dimanfaatkan secara langsung. maka upayakan memanfaatkan limbah tersebut secara langsung c. kemudian diproses atau diolah untuk dapat dimanfaatkan. Konsep pengendalian limbah secara reaktif tersebut kemudian diperbaiki melalui kegiatan pemanfaatan kembali residu atau limbah secara langsung (reuse). fluida dan enesi − Pemodivikasian proses bahkan kalau perlu penggantian proses dan teknologi yang digunakan agar emisi atau limbah yang dihasilkan seminimal mungkin dan dengan tingkat bahaya yang serendah mungkin − Pemisahan limbah yang terbentuk berdasarkan jenisnya agar lebih mudah penanganannya Pendekatan reaktif. yaitu: a. adalah konsep dengan upaya pengendalian yang dilakukan setelah limbah terbentuk. Langkah 2 Reuse (guna-ulang): bila limbah akhirnya terbentuk.

Pengomposan Insinerasi) Pemrosesan Akhir Langkah 5: Kembalikan residu yg tidak dapat dimanfaatkan lagi. yaitu: a. Langkah 4b: Pemanfaatan enersi yang terkandung dalam sampah. dan tidak ada alternatif lain Pengolahan (Recycling. Penanganan sampah (waste handling). termasuk dalam proses produksi di sebuah industri c. yang terdiri dari: − Pemilahan: dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis. Langkah 3: Penggunaan produk yang dikonsumsi berulang-ulang d. Distribusi Langkah 2: Batasi (reduksi) konsumsi penggunaan bahan Langkah 4a: Daur-ulang bahan yg tidak dapat di-reuse sebagai bahan baku Konsumsi Langkah 3: Gunakan bahan berulang-kali Residu Langkah 4b: Permanfaatan enersi dari bahan yang tidak terdaurulang. dan/atau sifat sampah − Pengumpulan: dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah terpadu − Pengangkutan: dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir − Pengolahan: dalam bentuk mengubah karakteristik.1: Konsep sound material-cycle society [modifikasi dari 29] 3. yang biasanya dilakukan melalui teknologi insinerasi f. terdapat 2 kelompok utama pengelolaan sampah. guna-ulang (R2) dan daur-ulang (R3) b. yang diperkenalkan di Jepang sebagai Masyarakat Berwawasan Bahan-Daur (Sound Material Material-Cycle Society) dengan langkah sebagai berikut [29]: a.2 Konsep Pengurangan dalam Pengelolaan Sampah menurut UU-18/2008 Menurut UU-18/2008 tentang Pengelolaan Sampah. secara sehat dan aman Gambar 3. Langkah 2: Pembatasan konsumsi penggunaan bahan dalam kegiatan sehari-hari.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) (seperti insinerasi) ataupun pengurugan dalam tanah seperti landfilling (lahan-urug). Pengurangan sampah (waste minimization). dan jumlah sampah Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 23 . jumlah. Gambar 3. Langkah 5: Pengembalian residu atau limbah yang tidak dapat dimanfaatkan lagi melalui disposal di alam secara aman dan sehat Langkah 1: Hemat penggunaan SDA Input SDA bahan baku Proses Produksi Manufaktur.1 adalah skema umum yang sejenis seperti dibahas di atas melalui pendekatan 3R. yang terdiri dari pembatasan terjadinya sampah R1). komposisi. Langkah 1: Penghematan penggunaan sumber daya alam b. Langkah 4a: Pendaur-ulangan bahan yang tidak dapat digunakan langsung e.

Oleh karenanya. Guna-ulang (reuse): bila limbah akhirnya terbentuk. didaur ulang. Secara teoritis. bahkan kalau muingkin meniadakan. yaitu memperbaiki barang ynag rusak agar dapat dimanfaatkan kembali. yaitu agar semua kegiatan manusia handaknya berupaya untuk meminimalkan terbentuknya limbah atau meminimalkan tingkat bahaya dari limbah. Masyarakat dalam melakukan kegiatan pengurangan sampah menggunakan bahan yang dapat diguna ulang. Daur-ulang (recycle): residu atau limbah yang tersisa atau tidak dapat dimanfaatkan secara langsung. baik sebagai bahan baku maupun sebagai sumber enersi Ketiga pendekatan tersebut merupakan dasar utama dalam pengelolaan sampah. Konsep daur-ulang (recycle) mengandung pengertian pemanfaatan semaksimal mungkin residu melalui proses. Bagian sampah atau residu dari kegiatan pengurangan sampah yang masih tersisa selanjutnya dilakukan pengolahan (treatment) maupun pengurugan (landfilling). dapat didaur ulang. atau memanfaatkan enersi yang dihasilkan dari proses recycling tersebut. Sebagai pembanding. UU-18/2008 ini menekankan bahwa prioritas utama yang harus dilakukan oleh semua fihak adalah bagaimana agar mengurangi sampah semaksimal mungkin. yang mempunyai sasaran utama minimasi limbah yang harus dikelola dengan berbagai upaya agar limbah yang akan dilepas ke lingkungan. dan sampahnya mudah untuk diguna-ulang dan didaur-ulnag − Menggunakan bahan yang berasal dari hasil daur-ulang limbah − Mengurangi penggunaan bahan berbahaya − Menggunakan eco-labeling Konsep guna-ulang (reuse) mengandung pengertian bukan saja mengupayakan penggunaan residu atau sampah terbentuk secara langsung. yaitu [29]: a. dan/atau mudah diurai oleh proses alam d. Gagasan yang lebih radikal adalah melalui konsep kegiatan tanpa limbah (zero waste). gagasan ini lebih ditonjolkan sebagi semangat dalam pengendalian pencemaran limbah. b. baik melaui tahapan pengolahan maupun melalui tahan pengurugan terlebih dahulu. maka upayakan memanfaatkan limbah tersebut secara langsung c. Konsep pembatasan (reduce) jumlah sampah yang akan terbentuk dapat dilakukan antara lain melalui: − Efisiensi penggunaan sumber daya alam − Rancangan produk yang mengarah pada penggunaan bahan atau proses yang lebih sedikit menghasilkan sampah.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) − Pemrosesan akhir sampah: dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman. tetapi juga upaya yang sebetulnya biasa diterapkan sehari-hari di Indonesia. Masyarakat penghasil sampah: − Memahami dampak akibat sampah yang dihasilkan − Mempertimbangkan ulang pola hidupnya Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 24 . dan/atau mudah diurai oleh proses alam. Pelaku usaha dalam melaksanakan kegiatan menggunakan bahan produksi yang menimbulkan sampah sesedikit mungkin. Bagi prosdusen. baik sebagai bahan baku untuk produk sejenis seperti asalnya. Pemerintah memberikan: − insentif kepada setiap orang yang melakukan pengurangan sampah − disinsentif kepada setiap orang yang tidak melakukan pengurangan sampah Ketentuan tersebut di atas masih perlu diatur lebih lanjut dalam bentuk Peraturan Pemerintah agar dapat dilaksanakan secara baik dan tepat sasaran. Beberapa hal yang diatur dalam UU-18/2008 terkait dengan upaya minimasi (pembatasan) timbulan sampah adalah [2]: a. gagasan ini dapat dilakukan. atau sebagai bahan baku untuk produk yang berbeda. dapat diguna ulang. akan menjadi sesedikit mungkin dan dengan tingkat bahaya sesedikit mungkin. yang masing-masing mempunyai peran utama dalam membatasi sampah yang akan dihasilkan. memproduksi produk yang mempunyai masa-layan panjang sangat diharapkan. kemudian diproses atau diolah untuk dapat dimanfaatkan. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib melakukan kegiatan: − menetapkan target pengurangan sampah secara bertahap dalam jangka waktu tertentu − memfasilitasi penerapan teknologi yang ramah lingkungan − memfasilitasi penerapan label produk yang ramah lingkungan − memfasilitasi kegiatan mengguna ulang dan mendaur ulang − memfasilitasi pemasaran produk-produk daur ulang. Pembatasan (reduce): mengupayakan agar limbah yang dihasilkan sesedikit mungkin b. Pengurangan sampah melalui 3R menurut UU-18/2008 meliputi: a. Jepang membagi stakeholders utama dalam pengelolaan sampah yang berbasis 3R dalam 5 kelompok. tetapi secara praktis sampai saat ini belum pernah dapat direalisir. c.

dan peningkatan pemahaman masyarakat − Menjamin masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan − Bertindak sebagai fasilitator dalam kegiatan 3R dan fihak bisnis − Bertindak sebagai koordinator lokal dalam pengembangan masyarakat berwawasan daur-bahan − Menyedian ruang dan kesempatan untuk saling bertukar barang-bekas dan informasi antar stakeholders − Promosi kerjasama internasional Pemerintah Pusat: − Mengembangkan sistem. yang sulit untuk dipisahkan satu dengan lainnya. logam. serta volume/massanya yang sesedikit mungkin. e. Pengemas untuk makanan merupakan residu yang paling banyak dijumpai di tingkat konsumen.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) b. disatukan dengan lem secara kuat dan sebagainya. c.3 Pembatasan (Reduce) Timbulan Sampah Di Eropa dan USA. − Memilih barang dan pelayanan yang berwawasan lingkungan − Berpartisipasi aktif dalam pengelolaan sampah. Diestimasi pula bahwa sepertiga dari seluruh produk plastik adalah untuk penggunaan jangka pendek. seperti botol minuman. terdiri dari beragam komponen dengan pengemasan yang berbeda karena mempunyai fungsi yang berbeda. termasuk aspek legal yang dibutuhkan − Memberikan subsidi dan pengaturan pajak untuk fasilitas. tingkatan pengemas yang diinginkan adalah [3]: − Tanpa packaging − Minimal packaging − Consumable. plastik adalah bahan yang biasa didaur-ulang. Dengan demikian dalam konsep reduksi sampah. tidak mengandung bahan berbahaya. returnable. Beberapa negara industri telah menerapkan program kemasan yang ramah lingkungan. reusable packaging − Recyclable packaging Bahan buangan berbentuk padat. Bahan ini bisa saja didaur-pakai secara langsung atau harus mengalami proses terlebih dahulu untuk Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 25 . Pengemas yang sulit dipisah misalnya bahan polyethylene yang dilapis karton. Beberapa jenis produk kadang membutuhkan kemasan yang komplek. yaitu [3]: − Produk yang tanpa pengemas sama sekali − Pengemas level-1 (primary packaging): pengemas yang kontak langsung dengan produk − Pengemas level-2 (secondary packaging): pengemas suplementar dari primary packaging − Pengemas level-3 (tertiary packaging): pengemas yang dibutuhkan untuk pengiriman. maka akan mengurangi sampah yang harus ditangani serta akan mengurangi biaya pengangkutan. Dengan mengurangi pengemas ini. yaitu sebagai pengemas produk [2]. tidak semua pengemas otomatis akan menghasilkan limbah yang harus ditangani. Pengemas yang diinginkan adalah yang mudah dipisahkan satu dengan lain. yang mensyaratkan penggunaan kemasan yang kandungan terdaur-ulangnya maksimum. misalnya pemilahan sampah − Berpartsipasi dalam pengembangan pengelolaan sampah berbasis 3R LSM: − Mempromosikan kegiatan-kegiatan positif 3R dalam level masyarakat − Mempromosikan peningkatan kesadaran − Menyiapkan-melakukan training dan sosialisasi − Memantau upaya-upaya yang dilakukan oleh kegiatan bisnis dan pemerintah − Memberikan masukan kebijakan yang sesuai Fihak Swasta: − Menyiapkan barang dan jasa yang berwawasan lingkungan − Melaksanakan kegiatan ’take-back’. Terdapat berbagai tingkat fungsi pengemasan. Namun dermikian. seperti kertas. sekitar 30 % sampah kota merupakan bahan pengemas (packaging). penelitian dan pengembangan untuk membangun masyarakat yang berwawasan daur-bahan − Memberikan dorongan dan infoirmasi bagi warga dan LSM yang akan melaksanakan kegiatan secara sukarela − Menyiapakan dasar yang dibutuhkan bagi kegiatan seluruh stakeholders − Mempromosikan kerjasama dan dialog internasional terkait dengan kegiatan 3R 3. d. karena beberapa di antaranya berupa kemasan yang dapat dipakai berulang-ulang. guna-ulang dan daur-ulang terhadap produk bekas-nya − Mengelola limbah secara berwawasan lingkungan − Mengembangkan sistem pengelolaan lingkungan − Memberi informasi yang jujur kepada konsumen melalui label dan laporan Pemerintah Daerah: − Memastikan diterapkannya peraturan dan panduan − Menyiapkan rencana tindak − Mendorong ’green purchasing’.

dan disimpan dalam tas tangan yang digunakan sehari-hari. Upaya mereduksi sampah sebetulnya akan menimbulkan manfaat jangka panjang seperti: − Mengurangi biaya pengelolaan dan investasi. biasanya dilipat secara rapi. adalah pembatasan adanya sampah sebelum barang yang kita gunakan menjadi sampah. termasuk upaya pembatasan limbah. yaitu strategi yang dirancang dengan menginternalkan biaya lingkungan ke dalam biaya produksi sebuah produk. upaya mereduksi sampah masih belum mendapat perhatian yang baik karena dianggap rumit dan tidak menunjukkan hasil yang nyata dalam waktu singkat. Di Indonesia.3 adalah langkah EPR yang diterapkan di Jepang. Dikenal konsep Extended Producer Responsibility (EPR). UU-18/2008 menggaris bawahi bahwa pengurangan sampah dilakukan sebelum sampah tersebut terbentuk. namun sangat sulit dibiasakan di Indonesia khususnya pada masyarakat urban. Gambar 3. mendorong reparasi pada barang yang rusak. menggunakan bahan baku atau menghasilkan produk yang berasal dari hasil daur-ulang serta mengupayakan penggunaan dan pengembangan teknologi daur-ulang Disamping mendorong produsen untuk menerapkan EPR. melalui penggunaan bahan berulang-ulang. tetapi juga ditujukan pada produsen produk. Bahan buangan ini banyak dijumpai. misalnya melalui penghematan penggunaan bahan. Bahan inilah yang pada tingkat konsumen kadang menimbulkan permasalahan. Membawa kantong sendiri adalah salah satu upaya yang sangat dianjurkan agar timbulan sampah dapat dikurangi.2). tidak terbatas pada produk utamanya. terdapat seni membuat kantong dari kain biasa untuk membawa barang keperluan sehari-hari termasuk barang yang dibeli dari toko atau pasar. seperti biaya penangan residu atau limbah yang muncul akibat penggunaan produk tersebut menjadi bagian dari komponen harga produk yang dipasarkan tersebut. di beberapa negara maju. − Mengurangi potensi pencemaran air dan tanah. bukan saja terhadap penghasil sampah rumah tangga. Jepang termasuk negara dengan kebijakan Pemerintahnya yang sangat mendorong upaya 3R. − Mengurangi kebutuhan sarana sistem kebersihan. melalui beberapa langkah: − Langkah 1: penghematan bahan baku di proses produksi − Langkah 2: memproduksi barang yang berumur panjang. biasanya merupakan bahan pengemas produk. maka peran produsen yang menggunakan pengemas untuk memasarkan produknya menjadi mata rantai awal yang diatur oleh UU tersebut. pengemas yang mudah didaur-ulang akan menjadi salah satu faktor dalam meningkatkan nilai saing produk tersebut di pasar. termasuk servis bergaransi − Langkah 3: menerima pengembalian produk bekas termasuk pengemas. − Memperpanjang usia TPA. juga terhadap kegiatan industri dan pengusaha lainnya. Kain tersebut sebelum digunakan. khususnya dalam pengelolaan sampah kota.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) menjadi bahan baku baru. tetapi termasuk pula pengemas dari produk utama tersebut. Di negara industri. Salah satu upaya sederhana. Kewajiban pengurangan sampah ditujukan bukan saja bagi konsumen. yaitu Furoshiki (Gambar 3. − Menghemat pemakaian sumber daya alam. Gambar 3. Dengan demikian biaya lingkungan.2: Seni Furoshiki dalam pembatasan sampah melalui 3R di Jepang [29] Terkait dengan pengemas produk yang dibahas di atas. peran dan tanggung jawab produsen dimasukkan dalam pengelolaan limbah secara menyeluruh yang dikenal sebagai Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 26 . Di Jepang. seperti penggunaan kantong plastik yang secara ’manja’ disediakan secara berlimpah bila kita berbelanja di toko.

835 Yen). 55% TV set.830 Yen) dan mesin cuci (2. kulkas (4. serta botol saus kedele) − Wadah dan pembungkus dari kertas − Wadah dan pembungkus dari plastik Mekanisme EPR di Jepang untuk wadah dan pengemas adalah sebagai berikut [30]: − Pemerintah kota bertanggung jawab untuk membiaya pengumpulan. coklat dan hijau) − Botol PET (untuk minuman beralkohol dan non alkohol. 85 Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 27 . sedang pengusaha bertanggung jawab untuk biaya recycling dan pemrosesan − Pengusaha bertanggung jawab terhadap pengemas atau wadah yang mereka buat atau mereka jual bersama produknya − Untuk melaksanakan kewajiban tersebut. Dengan demikian. produk dengan umur layan panjang.520 Y). 1. yaitu Undang-undang tentang: − Masyarakat bebasis daur-bahan (material-cycle society) − Pengelolaan limbah dan kebersihan − Penggunaan secara efektif sumberdaya − Recycling wadah dan pengemas − Recycling peralatan rumah tangga − Recycling sisa makanan − Recycling puing bangunan − Recycling end-of-life Kendaraan − Promosi produk hijau 60% sampah kota di Jepang merupakan wadah dan pembungkus. berdasarkan UU-tentang peralatan rumah tangga. pemilahan dan penyimpanan.675 Yen). Mekanisme yang diterapkan adalah sebagai berikut [30]: − Konsumen membayar biaya pengumpulan barang bekasnya: TV (2.2: Kaitan 3R dengan extended producer responsibility (EPR) [29] Bila di Indonesia baru tersedia sebuah UU yang mengatur pengelolaan sampah. pengembangan teknologi recycling Langkah 3: Pengembalian produk telah terpakai Gambar 3. maka setiap pengusaha yang memproduksi atau menjual mempunyai kewajiban untuk mendaur-ulang paling tidak 60% AC. pembuatan produk dan bahan baku dari bahan bekas. maka yang diatur untuk didaur-ulang adalah: − Gelas/botol (tidak berwarna. maka di Jepang tersedia paling tidak 9 (sembilan) UU yang terkait dengan sampah. Pemerintah Jepang menugaskan Japan Containers and Packaging Recycling Association (JCPRA) untuk melaksanakan aktivitas daur-ulang atas nama pengusaha yang membayar recycling-fee kepada JCPRA Dalam hal alat-alat elektronik rumah tangga. 50% refrigerataor dan 50% mesin cuci untuk di-reproduksi.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) internalisasi biaya lingkungan dalam biaya produk. servis bergaransi REUSE (R2) HULU Produksi Distribusi Konsumsi Pengolahan Disposal HILIR RECYCLING (R3) Langkah 4 Reuse – recycling produk bekas. Langkah 2: Reparasi. biaya penanganan limbah dan dampaknya sudah termasuk di dalamnya. Langkah 1: Reduksi di sumber 2. AC (3. Kurs 1 Yen = Rp. Berdasarkan UU-tentang Recycling Wadah dan Pengemas.

Gambar 3. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 28 . yang menandakan bahwa produk tersebut dibuat dengan memperhatikan aspek lingkungan. khususnya limbah yang bersifat hayati. upaya daur-ulang akan berhasil baik bila dilakukan pemilahan dan pemisahan komponen sampah mulai dari sumber sampai ke proses akhirnya. maka bila PC tersebut sudah tidak berfungsi akan bebas biaya recycling. pengurangan volume dan pengurangan ukuran. ada beberapa pendekatan teknologi.65. Penanganan pendahuluan yang umum dilakukan saat ini adalah pengelompokan limbah sesuai jenisnya. upaya daurulang memang cukup menonjol. daun-daunan dsb.3 berikut. seperti pedagang sampah (tukang loak). Dalam usaha mengelola limbah atau sampah secara baik.000Y. termasuk upaya daur-ulang. Penanganan pendahuluan umumnya dilakukan untuk memperoleh hasil pengolahan atau daur-ulang yang lebih baik dan memudahkan penanganan yang akan dilakukan. Di Indonesiapun. seperti tercantum dalam Gambar 3.2: Simbol eco-labeling dari beberapa negara [30] (1) Blue Angel (Jerman) (2) European Union Ecolabel (3) Green Seal (USA) (4) Terra Choise (Kanada) (5) China Environmental Labeling (6) Jepang (7) Nordic White Swan (8) Austria (9) Taiwan (10) India (11) Israel (12) Milijeukeur (Belanda) (13) Environment 2000 (Zimbabwe) (14) Korea Selatan (15) Aenor (Spanyol) (16) Green Label (Muangthai) (17) Green Label (Hongkong) 3.4 Guna-ulang (Reuse) dan Daur-ulang (Recycle) Sampah Daur-ulang limbah pada dasarnya telah dimulai sejak lama. Dalam pengelolaan sampah. walaupun umumnya baru melibatkan sektor informal. khususnya di daerah pertanian. Usaha penanganan pendahuluan ini dilakukan dengan tujuan memudahkan dan mengefektifkan pengolahan sampah selanjutnya. Salah satu upaya EPR yang biasa diterapkan terhadap produk yang dipasarkan adalah pencantuman eco-labeling. tukang servis alat-alat elektronika. pemulung.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) − − Pengusaha retailer yang menjual barang tersebut sebelumnya bertanggung jawab untuk mengumpulkan dan mengangkut menuju titik pengumpulan yang telah ditentukan Pabrik dan importir bertanggung jawab mendaur-ulang barang yang mereka buat atau import yang telah dikumpulkan oleh retailer. seperti sisa makanan. Dalam pengelolaan persampahan di Indonesia. di antaranya penanganan pendahuluan.000Y untuk setiap kendaraan yang 'dibuang' atau yang menurut inspeksi dianggap tidak layak jalan. petugas sampah. sedang yang tidak mempunyai label harus membayar − Pemilik kendaraan bermotor membayar antara 10. Hal lain yang diatur dalam tanggung jawab EPR antara lain [30]: − PC yang mempunyai label. Sampai saat ini Indonesia belum mempunyai simbol tentang eco-labeling. bandar/lapak dsb. masyarakat sudah mengenal daur ulang limbah.

Dari sebuah literatur. termasuk pemerintah untuk secara nyata menerapkan konsep ini. melalui upaya pengumpulan dan pemisahan yang baik. dengan penekanan pada [31]: Reduce: upaya mengurangi terbentuknya limbah. sehingga dapat menjadi input baru dari suatu kegiatan produksi.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Upaya pemilahan sangat dianjurkan dan hendaknya diprioritaskan sehingga termasuk yang paling penting didahulukan. Manfaat dari upaya tersebut dalam jangka panjang antara lain adalah [13]: − Berkurangnya secara drastis ketergantungan terhadap tempat pemrosesan akhir. sehingga bisa dimanfaatkan kembali dalam berbagai bentuk. dan kualitas produk yang dihasilkan. bukan hanya penghasil sampah. Resources RECYCLING Fluida Raw Material Energi Waste Energy Waste REDUCE Proses Produksi RECLAMATION REUSE Produk ke Konsumen Residual by product Waste RECOVERY / RECUPERATION Gambar 3. Mungkin dalam bahasa Indonesia kosa kata yang sepadan adalah daur-ulang. tetapi sampai saat ini upaya-upaya nyata belum terlihat. − Terciptanya peluang usaha bagi masyarakat dari pengelolaan sampah (usaha daur ulang dan pengomposan). reduce. seperti yang tercantum dalam Gambar 3. tetapi juga stakeholders lainnya. − Terciptanya jalinan kerjasama antara pemerintah kabupaten/kota dan antara pemerintah dan masyarakat/swasta dalam rangka menuju terlaksananya pelayanan sampah yang lebih berkualitas. namun selama ini pengertiannya bukan hanya identik dengan recycle. Persoalannya adalah bagaimana meningkatkan keterlibatan masyarakat. tapi digunakan juga untuk menjelaskan aktivitas lain. repair. karena sampah tersebut masih murni dalam pengertian masih memiliki sifat awal yaitu belum tercampur atau terkontaminasi dengan sampah lainnya. 31] Semua fihak di Indonesia sepakat bahwa program 3R dinilai sangat bermanfaat. reuse. Sebelum terminologi 3R menjadi acuan umum dalam penanganan sampah dikenal beragam terminologi yang menggunakan ”R”. Reclamation: bila limbah tersebut dikembalikan menjadi bahan baku baru. Pilihan daur-ulang hendaknya disertai alasan yang rasional seperti bagaimana aspek biaya. misalnya botol minuman kembali menjadi botol minuman Recycle: misalnya botol minuman dilebur namun tetap dijadikan produk yang berbasis pada gelas. Reuse: upaya yang dilakukan bila limbah tersebut dimanfaatkan kembali tanpa mengalami proses atau tanpa transformasi baru. Pemilahan yang dianjurkan adalah pola pemilahan yang dilakukan mulai dari level sumber atau asal sampah itu muncul. dan dihasilkan produk yang mungkin berbeda dibanding produk asalnya. termasuk penghematan atau pemilihan bahan yang dapat mengurangi kuantitas limbah serta sifat bahaya dari limbah Recovery: upaya untuk memberikan nilai kembali limbah yang terbuang.4 : Konsep daur-ulang sampah [dimodifikasi dari Ref. refurbishment. Terminologi daur-ulang di Indonesia sudah cukup lama digunakan. − Adanya pemisahan dan pemilahan sampah baik di sumber timbulan maupun di tempat pembuangan akhir dan adanya pemusatan kegiatan pengelolaan akan lebih menjamin terkendalinya dampak lingkungan yang tidak dikehendaki.3 berikut ini yang intinya adalah upaya pemanfaatan limbah. sampai kepada rethinking dan masih banyak lagi. Limbah tersebut diproses terlebih dahulu. Dari sudut permasalahan sampah di suatu Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 29 . seperti reuse dsb. seolah-olah sumber daya alam yang baru. Jadi terminologi ’daur-ulang’ di Indonesia biasanya digunakan untuk seluruh upaya pemanfaatan kembali. Kosa kata inilah yang paling sering digunakan. seperti recovery. Bisa saja terjadi bahwa kualitas produk yang baru sudah mengalami penurunan dibanding produk asalnya. masing-masing kosa kata tersebut mempunya pengertian yang berbeda. Daur-ulang limbah tidak selalu harus diartikan bahwa upaya ini adalah yang paling baik. − Lebih meningkatkan efisiensi dan efektifitas penggunaan sarana dan prasarana persampahan. Perlu kemauan semua fihak. recycle. enersi. sehingga harus selalu dilaksanakan.

maka harus dilihat bahwa sekian ratus atau ribu ton sampah harus ditangani setiap tahun. seperti reuse. akan sulit dan mahal biayanya bila hendak didaur-ulang kembali. Biaya yang dibutuhkan akan lebih tinggi dibandingkan reuse. dipakai ber-ulang dari produsen minuman ke konsumen setelah melalui proses pencucian dan pengisian minuman. suatu ketika botol tersebut setelah tiba di produsen minuman dianggap kurang layak untuk diteruskan. misalnya kertas atau plastik. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 30 . Dikenal terminologi lain. ukurannya akan tambah lama tambah memendek. direct recycling. Jadi aspek biaya dan kualitas perlu menjadi perhatian utama pada saat memutuskan apakah perlu dilakukan direct recycling. bila sebuah bahan telah mengalami proses indirect recycling. ternyata dari sudut kualitas bahan kurang baik. sudah pecah dan bercampur dengan gelas warna lain yang. misalnya karena adanya biaya pengangkutan. maka opsi ini jelas kurang menguntungkan untuk diteruskan. serta pengotor lain. bahan ini digunakan sebagai campuran bahan pelapais dasar pembuatan jalan. karena enersi dan biaya yang dibutuhkan paling sedikit • Direct recycling: contoh botol minuman. Atau dimanfaatkan sebagai sumber enersi (a) memproduksi gas bahan bakar dalam prirolisis atau (b) bahan bakar langsung dalam pabrik semen dalam eco-cement. Secara sederhana. Plastik yang ternyata tidak dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan wadah yang baik.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) kota atau daerah. seperti kertas koran diproses agar tinta-nya disingkirkan (deink). Serat kertas yang diproses berulang-ulang akan mengalami penurunan kualitas. Reuse adalah opsi yang paling diinginkan. apalagi bila hendak dikembalikan pada posisi sebagai raw-material aslinya. lalu botol tersebut dikirim ke pabrik pembuat botol untuk dilebur untuk dijadikan bahan pembuat botol baru. sebagian besar penanganannya hanya dengan pengurugan sederhana. Untuk memisahkan dibutuhkan upaya yang mengakibatkan biayanya menjadi mahal. Maka pemanfaatan lanjut adalah. atau repulping yang akan dihasilkan bahan kertas baru. Biasanya. misalnya digunakan untuk bahan baku barang yang tidak membutuhkan persyaratan estetika (warna. akan mengalami penurunan derajat. Bahan yang diproses dengan cara ini kemungkinan mengalami degradasi dari segi kualitas. Daur-ulang akan merupakan salah satu solusi bersama solusi yang lain yang perlu dipertimbangkan. Penanganan akhir dari bahan yang demikian adalah biasanya landfilling atau insinerasi. Jadi sebetulnya landfilling atau insinerasi adalah digunakan sebagai upaya menangani limbah yang telah tidak mempunyai nilai lagi untuk didaur-ulang. dsb) atau sifat-sifat lain. indirect recycling: • Reuse: contoh botol minuman. Proses indirect recycling ini dinilai mempunyai level yang terendah. Bila bahan cullet (bahan kaca) ini ternyata lebih mahal dibandingkan biaya dari bahan baku murni. dan hanya sebagian kecil saja yang didaur-ulang atau dikompos. daur-ulang adalah upaya untuk mendapatkan sesuatu yang berharga dari sampah. • Indirect recycling: misalnya botol minuman di atas.

Paling tidak terdapat dua bentuk enersi hasil daur-ulang yang telah biasa dijumpai di lapangan. Hal lain yang mempengaruhi adalah ketersediaan tenaga operasional agar proses berkelanjutan. 4. Sebenarnya sampah mempunyai potensi untuk didaur-ulang. dapat meminimalkan biaya pengangkutan ke pembuangan akhir. Di negara industri. Yang lain termasuk dalam katagori tidak terbarukan. Dalam beberapa hal alasan-alasan tersebut saling terkait seperti yang lain dan saling mendukung. maka salah satu alasan daur-ulang adalah ketersediaan sumber-daya alam b. seperti sisa makanan. Bahan inilah yang pada tingkat konsumen kadang menimbulkan permasalahan. sehingga ketersediaannya di alam menjadi kendala utama. Alasan nilai ekonomi: limbah yang dihasilkan dari suatu kegiatan ternyata dapat bernilai ekonomi bila dimanfaatkan kembali. Juga dijelaskan tentang peran sektor informal dalam daur-ulang sampah di Indonesia. maka hal tersebut akan menjadi pilihan yang cukup menarik. Daur ulang yang dilakukan di sumber maupun penampungan sementara atau di skalab kawasan. Bahan buangan berbentuk padat. − Sebagai enersi kimia seperti yang dikeluarkan dari sebuah reaktor anaerob atau sebuah landfill limbah organik seperti sampah. khususnya di daerah pertanian. khususnya plastik dan kertas di Indonesia. daun-daunan dsb. dan umumnya melibatkan sektor informal. bagaimana potensi daur-ulang sampah kota. seperti siklus air.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) BAGIAN 4 KEGIATAN DAUR ULANG SAMPAH DI INDONESIA Bagian ini menjelaskan mengapa daur-ulang diperlukan. seperti kertas. Bentuk lain pemanfaatan limbah dalam daur-ulang adalah kemungkinannya sebagai sumber enersi. khususnya limbah yang bersifat hayati. dan biasanya merupakan bahan pengemas produk. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 31 . yaitu [32]: − Sebagai enersi panas seperti yang dikeluarkan dari sebuah insinerator dengan bahan bakar limbah bernilai kalor tinggi. Beberapa alasan mengapa daur-ulang mendapat perhatian [31]: a. yaitu dalam bentuk gas metan Kemungkinan lain dari pemanfaatan limbah misalnya sebagai sumber protein atau bahan lain. baik sebagai bahan utama ataupun sebagai bahan pembantu c. aplikasi pengemas yang mudah didaurulang akan menjadi salah satu faktor dalam meningkatkan nilai saing produk tersebut di pasar. Pemisahan dan pengelompokan: yaitu untuk mendapatkan limbah yang sejenis. mahasiswa diminta mengamati aktivitas daur-ulang yang terjadi di lingkungannya. Sebagai bahan makanan pendekatan ini telah banyak digunakan di Indonesia. Pengolahan limbah akan menjadi kewajiban. 4. Bahan buangan ini banyak dijumpai. upaya daur-ulang memang cukup menonjol.1 Alasan Daur-Ulang Daur-ulang (yang dimaksud di sini adalah reuse dan recycling) limbah pada dasarnya telah dimulai sejak lama. Kegiatan ini dapat dilaksanakan secara manual (dilakukan dengan tangan manusia secara langsung) maupun secara mekanis (dilakukan oleh mesin). baik dengan rekayasa yang sistematis seperti dalam pembuatan alkohol. Pemanfaatan tersebut dapat dalam bentuk pemanfaatan enersi. Alasan ketersediaan sumber daya alam: beberapa sumber daya alam bersifat dapat terbarukan dengan siklus yang sistematis. terutama bila daur ulang dilakukan di tempat pembuangan akhir. Di Indonesiapun. maupun sebagai bahan makanan. sehingga upaya daur-ulang menjadi lebih terarah dan menarik. misalnya sebagai pakan ternak atau sebagai pakan cacing. atau pemanfaatan bahan. logam. khususnya dalam pengelolaan sampah kota. plastik adalah bahan yang biasa didaur-ulang. masyarakat sudah mengenal daur ulang limbah. Namun bila dalam upaya tersebut dapat pula dimanfaatkan nilai ekonomisnya. Proses daur ulang juga dilakukan di sumber timbulan dan tempat penampungan sementara. Guna lebih memahami. khsususnya dari limbah yang berkatagori organik. Komponen limbah yang dibuang ke lingkungan dalam banyak hal mendatangkan dampak negatif pada lingkungan dengan pencemarannya. Berdasarkan hal itu. Alasan lingkungan: alasan lain yang paling mendapat perhatian adalah perlindungan terhadap lingkungan. Proses daur ulang harus memperhatikan komposisi dan karakteristik limbah yang dominan.2 Daur-Ulang Limbah Secara Umum Proses daur-ulang pada umumnya membutuhkan rekayasa dalam bentuk [33]: a. atau pada skala kawasan. Bahan ini bisa saja didaur-pakai secara langsung atau harus mengalami proses terlebih dahulu untuk menjadi bahan baku baru. Dalam sistem pengelolaan persampahan.

cetakan yang ada. 33] BAHAN YANG DIDAUR-ULANG Alumunium Kertas : • Kertas koran • Corrugated cardboard • Kertas kualitas tinggi • Kertas campuran Plastik dan nomor kelompoknya: • PETE : Kode 1 • HDPE : Kode 2 • PVC : kode 3 • LDPE : kode 4 • PP : kode 5 • PS : kode 6 • Multilayer dan lain-2 : kode 7 • Plastik campuran : 4 % Glass Logam ferrous Metal non-ferrous Limbah bahan bangunan Kayu Oli bekas Ban Batteri accu (Lead-acid) Batteri rumah tangga 4. karakteristik fisik dan kimia. misalnya sejenis limbah dicampur dengan limbah lain atau dengan bahan lain d. plastik. kertas kantor. lain-lain bahan film bungkus • Label untuk botol/kontainer. coklat Tin cans Alumunium. ember. baik melalui proses fisik. seperti sludge. Hg.7 % JENIS PENGGUNAAN Wadah soft drink. Pencampuran: yaitu untuk mendapatkan bahan yang lebih bermanfaat.3 Potensi Daur Ulang Sampah Daur Ulang Kertas Bekas Di negara maju kertas merupakan komponen sampah yang paling banyak dijumpai. kertas pembungkus. Pemurnian: yaitu untuk mendapatkan bahan/elemen semurni mungkin. c. beer Kardus packaging Kertas komputer. kimia. kayu.1: Sampah anoganik dalam sampah [32. koran. casing battery • Packaging komponen listrik/ elektronik. atau termal. logam Kotak kontainer.4 % − Kertas kantor: 10. Botol susu • Pipa. karton.40 % berat. homogenitas. plate • Packaging multilayer. Upaya pertama daur-ulang adalah bagaimana memisahkan limbah di sumbernya. botol • Bungkus tipis. aspal. Ag Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 32 . putih/berwarna • • • • Botol soft drink.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) b. Pengolahan atau perlakuan: yaitu untuk mengolah buangan menjadi bahan yang siap pakai. atu residu lain. menjadi bermasalah karena berkatagori sebagai limbah berbahaya.6 % − Tissu dan pembersih: 5. Bersama dengan wadah karton gelombang serta boxboard. arsip kantor. kertas tulis HVS Campuran kertas bersih.9 % − Bahan corrugated: 22. beberapa botol • Kombinasi di atas Botol dan wadah warna jernih. buku.7 % − Buku dan majalah: 8. mempunyai serat panjang dengan persentase tinggi. Kadangkala limbah yang terbentuk tersebut. scrap. seperti majalah. tergantung pada jenis serat. timah Tanah. jumlahnya sekitar 25 . Pb Daur-ulang Zn. Sasaran utama dari rekayasa tersebut adalah bagaimana mendapatkan bahan yang sebaik mungkin sesuai fungsi dari bahan daur-ulang tersebut. film • Botol air. seperti kertas komputer. Banyak pengolahan limbah (padat. beton. Tabel 4. − Kertas koran: surat kabar Masing-masing mempunyai tingkat kualitas tertentu. sumber. − Karton bergelombang − Kertas kraft putih maupun berwarna yang belum dicetak. tembaga. Persentase jenis kertas bekas yang biasa dijumpai di Amerika Serikat adalah [4]: − Kertas koran: 17.7 % − Cetakan komersial: 6. majalah. Kertas berkualitas tinggi.1 % − Paperboard lain: 10. yang pada gilirannya harus ditangani lebih lanjut. biologi. sisa proyek Proses ulang oli bekas daur ulang : macam-macam Daur-ulang : asam. Tabel 4.1 % − Packaging kertas: 7.1 berikut adalah potensi daur-ulang dari sampah. yang sebetulnya merupakan kegiatan yang mudah dilaksanakan. hijau.8 % − Paper non-packaging lain: 10. tableware. Beberapa jenis kertas yang dijumpai dalam sampah adalah [4]: − Kertas campuran: kertas beraneka ragam dengan kualitas yang bervariasi. cair dan gas) menghasilkan residu seperti sludge atau debu.

2 adalah contoh bentuk skema pembuat kertas yang dibuat oleh PPT ITB. baju dingin − Post consumer PETE digunakan untuk fiber karpet. kabel listrik. kontainetr makanan. film. • Polypropylene (PP/5): biasanya untuk bungkus batere. karena: − Lebih ringan − Lebih kuat − Lebih mudah dibentuk − Dapat diatur agar fleksibel atau kaku − Merupakan isolator yang baik − Dapat digunakan untuk pengemas makanan dingin atau panas Bahan plastik dijumpai dalam bentuk 7 kelompok seperti yang disebutkan dalam Tabel 4. selang kebun. Kertas Daur Ulang Siap Dikerin gkan Bubur Kertas di Atas P encetak Alas Pencetak Kertas Motor Penggerak Mesin Daur Ulang Mesin Pembuat Kertas Daur Ulang Gambar 4. • Untuk skala besar. floor tile.1. Sebagian besar berakhir pada sampah dan landfill. Penggunaan plastik sebagai packaging mempunyai keunggulan dibanding yang lain. sekarang terdapat upaya pembuatan botol depolymerisasi menjadi ethylene glycol dan terephthalic acid. khususnya pada sektor informal adalah: • Kertas direndam dalam air hingga menjadi lembut untuk memudahkan proses penghancuran menjadi bubur kertas. Hampir semua plastik packaging akhirnya dibuang. label. • Polystyrene (PS/6) • Lain-lain bahan-bahan plastik multilayer (7) Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 33 . digunakan mesin pencetak daur ulang kertas. sehingga jumlahnya dalam sampah meningkat dari 3 % berat (1970-an) menjadi 7 % (1990-an). Gambar 4.1: Mesin pembuat kertas daur ulang Daur Ulang Plastik [4] Walaupun plastik telah dipakai lebih dari 60 tahun yang lalu. namun penggunaannya sebagai packaging meningkat secara tajam dalam 35 tahun terakhir ini. kertas yang masih basah dikeluarkan dari cetakan kemudian dikeringkan di terik matahari. bantal. ember − Produk daur-ulang lain: kontainer non-makanan. dengan uraian ringkas sebagai berikut [4]: • Polyethylene terephthalate (PETE/1): − Didaur ulang sebagai fiber polyester untuk sleeping bag. isolasi kabel. mainan. pipa plastic. pot bunga. plastik otomotif − Dari daur-ulang konvensional. • Setelah tercetak. baik sebagai bahan kontainer (wadah) maupun sebagai pembungkus. kemudian repolimerisasi menjadi resin botol soft drink.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Prinsip daur ulang kertas secara sederhana yang banyak dijumpai di Indonesia. atau kadangkalan untuk kontainer makanan. • Bubur kertas yang terbentuk diletakkan dalam suatu cetakan dengan ukuran tertentu. misalnya coca-cola • High-density polyethylene (HDPE/2): − Sifatnya berbeda satu dengan lain tergantung produk yang akan dihasilkan − Botol susu dari resin dengan indeks leleh rendah − HDPE rigid terbuat dari resin dengan indeks leleh yang tinggi − Misalnya digunakan pada lapis dalam dari botol oli yang terdiri dari 3 lapis • Polyvinyl chloride (PVC/3): − Banyak digunkan untuk packaging makanan. pipa drainage • Low-density polyethylene (LDPE/4): misalnya untuk packaging makanan. tutup botol.

Penanganan sampah tingkat kawasan. lem dan kotoran lainnya − Pemisahan: setelah dicuci. kemudian dicuci dengan air panas. Plastik yang tidak diinginkan dibuang. Perlu ada insentif untuk pengangkutan • Pengangkutan dan pengolahan plastik bekas belum tersedia secara luas. diendapkan (PETE) sedang yang ringan (HDPE) mengapung. dikenal sebagai melt filtration • Pelletizing: melt extruder berbentuk seperti spageti. yaitu sampah hayati (sampah organik) dan sampah non-hayati (sampah nonorganik). Penanganan sampah tingkat kota.3 di bawah ini. dibutuhkan adanya survei tentang persentase sampah pada masing-masing sumber. • Setelah kering. yaitu: − Clean commercial grade scrape (plastik awal) − Post consumer scrap (plastik limbah) Dua jenis plastik post consumer yang paling sering didaur ulang adalah PETE(1). upaya daur-ulang (R2 dan R3) dalam sistem penanganan sampah kota adalah sebagai berikut: Guna menentukan potensi daur-ulang. plastik biasanya diklasifikasi dalam 2 katagori umum. Pemilahan sampah di sumbernya paling tidak dilakukan dengan mengelompokkan sampah menjadi dua kelompok besar. diaduk untuk menghilangkan label. dan pada masing-masing tingkat penanganan sampah. sehingga dapat dibuat neraca alur sampah mulai dari sumber sampai ke TPA. Beberapa permasalah pemasaran plastik: • Harga plastik daur-ulang relatif murah. yaitu mulai dari TPS sampah ke titik akhir di TPA. Pelet dipasarkan dengan kadar air kurang dari 0. yaitu: a. terutama PS untuk produk busa spons. Langkah awal agar upaya kegiatan R2 dab R3 berhasil adalah melakukan pemilahan. • Granulation dan washing: − Botol dipotong-potong. sehingga konsumer kesulitan menemukan outletnya • Specific weight yang rendah: rasio volume-ke-berat plastik sangat tinggi. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 34 . dsb yang menyulitkan dalam daur-ulangnya Pengolahan plastik secara profesional meliputi: • Tahap bale breaking dan sorting: − Pemilahan awal (presorted) dipecah kemudian dipilah kembali − Botol PETE misalnya secara manual dipisah berdasarkan warna. atau pembungkus detergen. biasanya untuk wadah susu. plastik dimasukkan dalam cetakan kemudian dipanaskan/dibakar di dalam tungku pembakar sampai terbentuk cairan plastik. Contoh neraca persentase sampah dari mulai sumber sampai ke TPA adalah seperti terlihat dalam Gambar 4. botol air kemasan. dan HDPE(2).2): • Plastik bekas yang terkumpul. dikeringkan melalui matahari kemudian ditutup dengan ram kawat agar plastik (terutama plastik kresek) tidak beterbangan. − Pengeringan: untuk menghilangkan air. Berdasarkan arus pergerakan sampah sejak dari sumber hingga menuju ke pemrosesan akhir. • Terkontaminasi dengan bahan lain seperti makanan.5 %. detergen. Cetakan yang digunakan berupa logam agar plastik cair tidak lengket 4. Selanjutnya melalui orifice.5 % − Air classification: pemisahan bagian plastik ringan (missal tutup polypropylene) dengan yang berat − Pemisahan electrostatic: missal memisahkan tutup alumunium − Ekstrusi resin: resin kemudian difluidisasi menggunakan extruder. lembaran plastik dikeluarkan dari cetakan. • Setelah dingin. Pengolahan plastik sederhana di sektor informal di Indonesia (lihat Gambar 4. • Cairan plastik yang terbentuk kemudian didinginkan dengan direndam dalam air. Uraian lanjut tentang penanganan sampah terdapat pada Bagian 5 Diktat ini. kemudian dipotong kecil-kecil.4 Daur-ulang dalam Penanganan Sampah Kota Upaya 3R bukan saja terbatas dilakukan pada sumber sampah. karena bahan bakunya juga relatif murah. Penanganan sampah tingkat sumber b. tetapi sangat dianjurkan untuk dillaksanakan dalam seluruh rangkaian penanganan sampah. Secara umum.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Disamping itu. penanganan sampah di suatu kota di Indonesia dapat dibagi dalam 3 kelompok utama. dan c. lalu didinginkan dengan air. kemudian dikeringkan dengan udara panas agar kelembaban mejadi lebih kecil dari 0. dan dilelehkan. yang banyak digunakan untuk botol soft drink.

maka dibutuhkan pengaturan warna: o Sampah organik: warna gelap o Sampah anorganik: warna terang o Sampah B3 rumah tangga: warna merah (standar internasional) Pemilahan sampah dikelompokkan menjadi beberapa jenis sampah seperti : o Sampah basah. yang akan digunakan misalnya sebagai bahan baku kompos o Sampah kering. disamping kriteria yang terkait dengan fungsi. di pasar.3: Contoh neraca persentase sampah mulai sumber sampai ke TPA Untuk memudahkan penggunaan. Cerobong Asap Tempat Pemasukkan Cetakan Plastik Ruang Bakar P intu Ruang Bakar Tem pat Cetakan Plastik Gambar 4. dsb. yang digunakan sebagai bahan daur ulang Teknik-teknik pengolahan dan pemanfaatan sampah antara lain adalah: o Pemotongan sampah o Pengomposan sampah baik dengan cara konvensional maupun dengan rekayasa - Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 35 .Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) - Pemilahan di sumbernya seperti di rumah tangga. sangat membantu upaya R2 dab R3 karena akan memperoleh bahan dengan kondisi bersih.2 : Mesin daur ulang plastik [35] SAMPAH 100% Sampah Organik 70% Sampah Anorganik 28% Sampah B 3 2% Pengomposan 30-40% Pemanfaatan lain 2% Residu 28-38% Residu 3-13% Daur-ulang 15-25% Residu 4% Insinerasi Sampah 25% Residu 4% Tempat Pemerosesan Akhir (TPA ) Gambar 4. di industri.

2. pertokoan. restoran.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) o Pengomposan sampah secara vermi-kompos o Pemrosesan sampah sebagai sumber gas-bio o Pembakaran dalam Insinerator. Contoh pengerjaan upaya 3-R untuk daerah komersial (pasar. hotel) tercantum dalam Tabel 4. seperti pakan ternak Sediakan perlengkapan untuk pengisian kembali produk umum isi ulang (minyak. atau wadah belanjaan yang diproduksi oleh swalayan yang bersangkutan sebagai bukti pelanggan setia Gunakan kembali sampah yang masih dapat dimanfaatkkan untuk produk lain. sedang sampah non-hayati (anorganik) diangkut dengan frekuensi seminggu sekali.4. hendaknya diangkut paling lama 2 hari sekali.2: Contoh pengerjaan 3R pada perumahan dan fasilitas sosial Penanganan 3R R1 1 2 3 4 1 2 3 4 5 1 2 Contoh Cara Pengerjaan Pilih produk dengan pengemas yang dapat didaur-ulang Hindari pemakaian dan pembelian produk yang menghasilkan sampah dalam jumlah besar Gunakan produk yang dapat diisi ulang (refill) Kurangi penggunaan bahan sekali pakai Gunakan kembali wadah/kemasan untuk fungsi yang sama atau fungsi lainnya Gunakan wadah/kantong yang dapat digunakan berulang-ulang Gunakan baterai yang dapat di-charge kembali Jual atau berikan sampah yang telah terpilah kepada pihak yang memerlukan Lakukan penanganan untuk sampah anorganik menjadi barang yang bermanfaat Pilih produk dan kemasan yang dapat didaur ulang dan mudah terurai Lakukan penanganan untuk sampah organik menjadi kompos dengan berbagai cara yang telah ada (sesuai ketentuan) atau manfaatkan sesuai dengan kreativitas masing-masing R2 R3 Tabel 4.3: Contoh pengerjaan 3R pada fasilitas umum Penanganan 3R 1 2 3 4 5 6 1 2 1 2 Cara pengerjaan Gunakan kedua sisi kertas untuk penulisan dan fotokopi Gunakan alat tulis yang dapat diisi kembali Sediakan jaringan informasi dengan komputer (tanpa kertas) Maksimumkan penggunaan alat-alat penyimpan elektronik yang dapat dihapus dan ditulis kembali Khusus untuk rumah sakit.3.4 : Contoh pengerjaan 3R pada daerah komersial Penanganan 3R 1 2 R1 3 4 5 6 7 1 R2 2 1 2 3 4 5 Cara pengerjaan Berikan insentif oleh produsen bagi pembeli yang mengembalikan kemasan yang dapat digunakan kembali Berikan tambahan biaya bagi pembeli yang meminta kemasan/bungkusan untuk produk yang dibelinya Memberikan kemasan/bungkusan hanya kepada produk yang benar-benar memerlukannya Sediakan produk yang kemasannya tidak menghasilkan sampah dalam jumlah besar Kenakan biaya tambahan untuk permintaan kantong plastik belanjaan Jual atau berikan sampah yang telah terpilah kepada yang memerlukannya Berikan insentif bagi konsumen yang membawa wadah sendiri. Beberapa contoh kegiatan upaya 3R adalah sebagai berikut: Contoh pengerjaan upaya 3-R untuk daerah perumahan dan fasilitas sosial tercantum dalam Tabel 4. gunakan incinerator untuk sampah medis Gunakan produk yang dapat diisi ulang (refill) Kurangi penggunaan bahan sekali pakai Gunakan alat kantor yang dapat digunakan berulang-ulang Gunakan alat-alat penyimpan elektronik yang dapat dihapus dan ditulis kembali Olah sampah kertas menjadi kertas/karton kembali Olah sampah organik menjadi kompos R1 R2 R3 Tabel 4. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 36 . rumah sakit) tercantum dalam Tabel 4. Contoh pengerjaan upaya 3-R untuk daerah fasilitas umum (perkantoran. Tabel 4. minuman) Jual produk-produk hasil daur ulang sampah dengan lebih menarik Berilah insentif kepada masyarakat yang membeli barang hasil daur ulang sampah Olah kembali buangan dari proses yang dilakukan sehingga bermanfaat bagi proses lainnya Lakukan penanganan sampah organik menjadi kompos atau memanfaatkan sesuai dengan kebutuhan Lakukan penanganan sampah anorganik R3 Fungsi pemilahan dapat dilaksanakan dengan pengaturan: − Penyekatan sarana pengumpulan-pengangkutan sesuai dengan jenis sampah − Penjadwalan waktu pengumpulan sampah yang mudah membusuk. sekolah.

dan sebagainya. kardus. Sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga akan berkurang beratnya sesuai dengan perjalanan sampah tersebut ke tempat pembuangan akhir. tetapi dengan berat yang rendah. Namun di sisi yang lain. Dari komposisi sampah tersebut.3 : Alur aktivitas daur-ulang sector informal [modivikasi dari Ref. Hal ini di satu sisi menunjukkan bahwa kegiatan pemulungan memberikan kontribusi kepada Pemerintah Daerah dalam hal penanganan sampah. bantuan kegiatan pemulungan terhadap penaggulangan masalah sampah menjadi tidak nyata terasa manfaatnya. mulai dari rumah tangga sampai ke TPA. sehingga potensi daur-ulang sampah diprakirakan sebesar 45-65 %. perkantoran maupun di TPS sampai ke TPA. Berdasarkan komposisinya. Bila perhitungan yang digunakan berdasarkan volume. yaitu sampah organik (atau sampah basah) dan sampah anorganik (atau sampah kering).Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) 4. metal/logam. sedang potensi sampah basah yang dapat dikomposkan adalah 30-40%. para pemulung memungut sampah anorganik yang masih bernilai ekonomis dan dapat didaur ulang sebagai bahan baku industri atau langsung diolah menjadi barang jadi yang dapat dijual. Recovered materials Bandar Suppliers and Intermediate Factories Market Bos Lapak Prcocessed Goods Waste Trades Mobile Scavengers Scavengers Temporary Dumping Scavengers Final Disposal Handcart Crews Drivers Team Gambar 4. Secara skematis aktivitas pemulungan ini ditunjukkan dalam Gambar 4. dan pengomposan jumlahnya diprakirakan tidak lebih dari 10% (satuan berat). juga akan membantu mengurangi sampah yang harus diangkut. kaca/gelas. seperti terlihat di Denpasar. Barang-barang buangan yang dikumpulkan oleh para pemulung adalah yang dapat digunakan sebagai bahan baku primer maupun sekunder bagi industri tertentu. Namun tingkat daur-ulang di kota-kota di Indonesia baik melalui usaha pemulung maupun usaha daur-ulang di rumah tangga. terutama oleh pemulung. maka angka tersebut akan menjadi tinggi karena faktor densitas. Kehadiran kelompok pemulung dalam sistem pengelolaan persampahan menimbulkan dua pendapat controversial yang berbeda. Tetapi metode daur ulang yang dilakukan oleh pemulung terbatas pada pemisahan/pengelompokan. karena mungkin Pemerintah Daerah menganggap bahwa kegiatan pemulungan merupakan hal yang sudah semestinya terjadi. misalnya botol plastik yang mempunyai volume besar. Terdapat pula aktivitas pemilahan sampah sisa makanan dan/atau sampah dapur yang dapat digunakan sebagai makanan ternak. Pendapat lain menganggap bahwa upaya ini dari sudut harga diri bangsa tidaklah baik. Bahan-bahan anorganik yang biasa dipungut oleh para pemulung mencakup jenis kertas. plastik. maka dapat dikatakan bahwa sampah anorganik yang diserap oleh pemulung merupakan sampah yang belum dapat tertanggulangi oleh Pemerintah Daerah.5 Peran Sektor Informal di Indonesia Daur ulang sampah di Indonesia banyak dilakukan oleh sektor informal. yaitu mereka yang menganggap bahwa aktivitas ini disamping memberikan kesempatan pada masyarakat tidak mampu untuk berusaha di sektor ini. bahan kompos dan sebagainya. Berdasarkan cara kerja pemulung yang sebagian besar beroperasi di kawasan-kawasan pemukiman. 37] Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 37 . sampah terbagi dalam dua kategori besar. dan lain-lain. Sampah yang dipisahkan umumnya adalah sampah yang dapat dimanfaatkan kembali secara langsung. karet. koran. misalnya sampah botol. Menurut prakiraan Agenda 21 Indonesia [36] potensi daur-ulang sampah kering adalah 15-25%. dengan mengabaikan segi bantuannya terhadap penanganan kebersihan kota.3 berikut ini. pasar. barang-barang plastik.

Oleh karena itu. drum). HVS). HDPE. arsip. Pengomposan merupakan salah satu teknik pengolahan limbah yang mengandung bahan organik biodegradabel (dapat diuraikan oleh mikroorganisme). kertas koran. Secara bertahap konsep pengolahan sampah secara terpadu tersebut telah dicoba diterapkan dalam skala terbatas di beberapa kota di Indonesia. Pedagang perantara hadir di pelosok-pelosok kampung di kota-kota di Indonesia untuk membeli barang-barang bekas ini langsung dari rumah ke rumah. besi. pemulungan sampah juga terjadi di TPA. hasil pemulungan sampah di TPA juga memiliki kualitas yang rendah atau bahkan lebih rendah dibandingkan di TPS. PS.26. dan karet. basah. botol kecap. dan sebagainya) karena sampah tersebut sudah tercampur dengan sampah lainnya dari berbagai sumber. Daur-ulang sampah kota sudah sejak tahun 1980-an yang lalu telah dirasakan pentingnya. Sarana yang terletak di kawasan permukiman ini diproyeksikan menerima dan memilah sampah sesuai jenisnya untuk didaur-ulang [13]. kapas). namun umumnya tidak berlangsung lama. kertas (warna. dalam upaya pengurangan sampah yang harus diangkut. Pemisahan sampah oleh pemulung ini relatif masih sedikitl. logam (alumunium. Terdapat kehawatiran mereka bahwa upaya ini akan mengganggu sistem operasional yang telah baku yaitu dengan konsep “kumpul – angkut – buang”. PP. kuningan. botol bekas.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Sampah yang dipisahkan umumnya sudah tidak murni lagi (kotor. Sedang sampah yang dinilai tidak terdaur-ulang oleh pemulung antara lain adalah sisa makanan. dan antara 21. khususnya dalam upaya memperoleh penghargaan kota terbaik yang secara rutin diberikan oleh pemerintah [9]. batu batere. petugas kebersihan. Penyebab lain adalah karena pengelola sampah di kota-kota Indonesia belum secara penuh menganggap bahwa konsep ini sebagai bagian dari sistem penanganan sampah kota.9% . seng. akan berfungsi pula untuk memperbaiki struktur tanah. diprakirakan kurang dari 2% dari jumlah sampah yang terkumpul di TPS. khususnya dari sebagian besar pengelola persampahan.5% untuk permukiman menengah ke bawah.9% . tercecer di tanah Dipulung oleh pemulung Dibakar. Tabel 4. tercecer di tanah Dipilah oleh petugas Tercecer ke tanah Dipulung oleh pemulung Tercecer ke tanah Dipilah petugas Tercecer ke tanah Dipulung pemulung Dikomposkan.2 : Pengurangan sampah dari sumber ke final disposal [28] Sumber sampah Rumah Perlakuan sampah Dipilah oleh ibu rumah tangga Dipilah oleh pembantu Dibakar. Tabel 4. Konsep kawasan industri sampah sudah diperkenalkan sejak tahun 1980-an oleh Prof. Baju bekas. juga pemulung. Bahan yang didaur-ulang oleh aktivitas pemulung adalah plastik (PE. duplex. lampu.2 berikut menggambarkan pengurangan sampah dari sumber sampai ke TPA. pemulungan di TPA memiliki persentase yang lebih besar. Selain di TPS. LDPE. Aktivitas pemulung yang banyak dijumpai di kota-kota dalam mendaur-ulang sampah kering dinilai dapat membantu menurunkan jumlah sampah yang harus diangkut ke final disposal.6% untuk permukiman kelas menegah ke atas. kertas bekas semen dsb dianggap bukan sampah tetapi barang yang dapat dijual kembali. Seperti halnya pemulungan di TPS. gelas/kaca (botol bir. plastik kemasan makanan ringan. Hasan Poerbo melalui PPLH ITB dalam upaya membantu pengelola persampahan mengurangi sampah yang perlu diangkut. kain (majun. kondisi sampah yang dihasilkan oleh pemulung umumnya memiliki kualitas yang tidak begitu baik dibandingkan dengan yang dipisahkan di sumber sampah. Mereka lebih melihat sarana ini sebagai upaya untuk memperoleh penghargaan dari pemerintah. cone. polyster. Fungsi kompos adalah selain sebagai pupuk organik. Tetapi bila dibandingkan dengan di TPS. tembaga. Residu sampah yang tidak terdaur-ulang akan diangkut ke pembuangan akhir. memperbesar kemampuan tanah untuk Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 38 .14. penjual barang bekas. bahwa mereka telah memasukkan upaya daur-ulang dalam sistem pengelolaan persampahannya. khususnya melalui aktivitas daur-ulang yang ada di Indonesia. PVC dan drum). koran. dengan melibatkan aktivitas sektor informal lainnya yaitu dari ibu rumah tangga. Sampah kering merupakan obyek daur-ulang yang paling banyak dijumpai di kota-kota besar di Indonesia. Konsep ini kurang mendapatkan tanggapan yang positif dari pemerintah kota. yaitu kira-kira 5% dari sampah yang tiba di TPA. botol obat). dsb Dibakar Diurug dalam tanah Bak sampah Gerobak sampah Penampungan sementara Pengangkutan sampah TPA Studi yang dilakukan di Bandung [38] mengungkapkan bahwa sampah kering yang didaur ulang dari lingkungan permukiman besarnya antara 10.

Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010)

menyerap dan menahan air serta zat hara yang lain. Dilihat dari komposisi, maka sebagian sampah kota di Indonesia adalah tergolong sampah hayati, atau secara umum dikenal sebagai sampah organik, atau sampah basah. Melihat komposisinya yang sebagian besar adalah sisa-sisa makanan, khususnya sampah dapur, maka jenis sampah ini akan cepat membusuk, atau terdegradasi oleh mikroorganisme yang berlimpah di alam ini. Bila ini terjadi, massanya akan berkurang dengan besar. Cara inilah yang sebetulnya dikembangkan oleh manusia dalam bentuk pengomposan dan biogasifikasi. Namun bila mekanisme ini berlangsung secara alamiah, khususnya di lingkungan yang sudah jenuh daya dukungnya, maka akan timbullah masalah estetika serta gangguan lainnya terutama karena adanya bau, seperti terjadi di timbunan sampah yang tidak terurus dengan baik. Dengan kondisi kelembaban yang tinggi, serta temperatur yang relatif tinggi seperti di Indonesia ini, maka kecepatan mikroorganisme dalam menguraikan materi-materi sampah yang biodegradabel ini akan lebih baik pula. Cara-cara inilah yang mendorong misalnya untuk: − Pengembangan ‘composter’ individual di rumah-rumah [39, 40] yang sudah diuji cobakan di beberapa permukiman di Indonesia, − Pembuatan kompos di lingkungan permukiman atau di final disposal [39] − Uji coba penggunaan cacing tanah sebagai pemusnah sampah basah [41] Dari penelitian terhadap porsi bagian sampah anorganik yang dianggap mempunyai nilai ekonomis, ternyata bagian sampah yang terdaur-ulang antara 4-6% (berat), sementara sebagian besar yaitu 3234% (berat) tidak mempunyai nilai ekonomis (Tabel 4.3). Nilai ini diperoleh berdasarkan hasil pemilihan bagian sampah yang dilakukan oleh pemulung yang biasa melakukan pemulungan sampah untuk dijual pada lapan atau bandar. Tabel 4.3: Contoh potensi daur-ulang dari sampah kering [19]
Komponen Kertas keras Kertas arsip putih Botol gelas Komponen terdau-ulang Botol air minum Gelas minum plastik Can Plastik PE Plastik lain-lain Alumunium Karton/cardboard Kertas koran Logam Total komponen ter-daur-ulang Sisa makanan Komponen organik Daun dsb Tisu- kertas Tekstil kayu Total komponen organik Lain-lain: an-organik non-daur ulang 5,69 33,90 12,32 11,02 0,89 1,98 60,10 34,21 % berat basah TS-1 0,92 0,14 1,77 0,29 0,17 0,22 0,03 1,63 0,06 0,33 0,13 TS-2 0,95 0,34 0,50 0,19 0,34 0,32 0,42 0,47 0,05 0,31 0,16 0,03 4,08 58,04 2,21 1,78 0,90 0,70 63,62 32,30

Pengomposan secara tradisional telah dikenal di Indonesia. Beberapa kota besar di Indonesia telah menerapkan cara ini. Namun permasalahan utama yang dijumpai adalah masalah pemasaran. Banyak usaha pengomposan tidak dapat berlanjut, karena tidak tersedianya pasar yang dapat menyerap produk yang dihasilkan. Disamping masalah harga yang perlu memperhitungkan ongkos pengangkutan, juga karena kualitas yang dihasilkan belum memenuhi keinginan pasar. Penelitian-penelitian skala laboratorium maupun lapangan terus berlanjut untuk meningkatkan kualitas kompos yang dihasilkan, misalnya mencampur dengan dedak, penggunaan enzim sellulase untuk mempercepat masa pengomposan [39]. Uji coba individual composter telah menunjukkan hasil yang positif. Sebuah composter dengan kapasitas 60 m3 yang rata-rata menerima sampah dapur dari 5 orang perhari, dapat digunakan sampai 6 bulan. Setelah 6 bulan akan dihasilkan kompos yang kualitasnya cukup baik. Beberapa kota di Indonesia telah mencoba cara ini di beberapa permukiman. Bila cara ini dapat diterapkan dan diterima oleh masyarakat, maka sebagian sampah dari permukiman akan dapat tertangani.

Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB

39

Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010)

Upaya lain yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan sampah basah sebagai makanan cacing. Cacing yang digunakan umumnya dari jenis Lumbricus. Masalah utama yang perlu mendapat perhatian adalah pemisahan sampah di sumber, yaitu untuk memperoleh sampah yang cocok untuk makanan cacing. Sampah yang telah dipilah tersebut kemudian dikomposkan selama 2 minggu. Berdasarkan uji coba skala permukiman [41], maka sebanyak 40% sampah basah dari rumah tangga melalui pemilahan manual yang dapat dimanfaatkan untuk makanan cacing. Dari kegiatan ini akan diperoleh casting yaitu bahan sejenis kompos, dengan kualitas yang baik dan dengan ukuran butir yang sudah halus dan siap dijual. Disamping itu dihasilkan biomas cacing yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein, misalnya untuk pakan ternak dan ikan.

Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB

40

Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010)

BAGIAN 5 PENANGANAN SAMPAH KOTA
Bagian ini menjelaskan tentang tingkat pengelolaan, tingkat/kualitas pelayanan, daerah / jenis pelayanan dari sistem pengelolaan sampah kota, serta stakeholders yang berperan dalam pengelolaan sampah. Dijelaskan pula komponen teknis operasional dalam pengelolaan. Tugas bagi mahasiswa adalah mengamati sistem pengelolaan sampah di lingkungannya.
5.1 Pendahuluan Menurut UU-18/2008 tentang Pengelolaan Sampah, terdapat 2 kelompok utama pengelolaan sampah, yaitu: c. Pengurangan sampah (waste minimization), yang terdiri dari pembatasan terjadinya sampah, gunaulang dan daur-ulang d. Penanganan sampah (waste handling), yang terdiri dari: − Pemilahan: pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah − Pengumpulan: pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah terpadu − Pengangkutan: membawa sampah dari sumber dan/atau dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir − Pengolahan: mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah − Pemrosesan akhir sampah: pengembalian sampah dan/atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman. Dalam terminologi pengelolaan sampah di Indonesia selama ini, penanganan sampah dikenal sebagai teknik operasional persampahan. Dalam bahasan berikut diuraikan beberapa hal penting yang terkait dalam kegiatan penanganan sampah dalam sistem pengelolaan sampah kota di Indonesia, khususnya: − Tingkat pengelolaan − Tingkat dan kualitas pelayanan − Daerah pelayanan − Jenis pelayanan. Di samping sebagai bagian dari infrastruktur sebuah kota, pengelolaan sampah merupakan salah satu dari sekian banyak upaya dalam pengelolaan lingkungan. Akan tetapi dalam kenyataan di lapangan kadangkala terjadi penyimpangan pengelolaan, sehingga timbul ekses yang mengakibatkan dampak negatif terhadap lingkungan itu sendiri. Kelemahan dalam manajemen dan keterbatasan biaya operasional ditambah dengan langkanya tenaga profesional dalam penanganan persampahan merupakan faktor penyebab utama permasalahan tersebut. Permasalahan yang dihadapi dalam teknis operasional penanganan persampahan di antaranya [42]: − Kapasitas peralatan yang belum memadai − Pemeliharaan alat yang kurang − Lemahnya pembinaan tenaga pelaksana khususnya tenaga harian lepas − Terbatasnya metode operasional yang sesuai dengan kondisi daerah − Siklus operasi persampahan tidak lengkap/terputus karena berbedanya penanggungjawab − Koordinasi sektoral antar birokrasi pemerintah seringkali lemah − Manajemen operasional lebih dititikberatkan pada aspek pelaksanaan, sedangkan aspek pengendaliannya lemah − Perencanaan operasional seringkali hanya untuk jangka pendek. 5.2. Stakeholders Pengelola Sampah Kota Dalam pengelolaan persampahan skala kota yang rumit, terdapat beragam stakeholders yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung. Setiap stakeholders berperan sesuai dengan posisinya masingmasing. Dalam skala kota, peran Pemerintah Kota dalam mengelola sampah sangatlah penting, dan pengelolaan sampah merupakan salah satu tugas utamanya sebagai bentuk pelayanan yang merupakan bagian dari infrastruktur kota tersebut. Stakeholders utama yang biasa terdapat dalam pengelolaan sampah di Indonesia antara lain [43]: a. Pengelola kota, yang biasanya bertindak sebagai pengelola sampah b. Institusi swasta (non-pemerintah) yang berkarya dalam pengelolaan sampah

Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB

41

termasuk perguruan tinggi. pemilahan. Penanganan sampah tingkat kota. yaitu [43]: a. LSM. Pembuangan sampah tahap pertama dilakukan oleh penghasil sampah. f. Berdasarkan hal di atas. atau bersifat heterogen. bandar. b. yaitu: d. 5. baik secara langsung maupun tidak langsung. dan penjualan sampah untuk didaur-ulang. Demikian pula keberhasilan upaya-upaya sektor informal saat ini tidak dapat begitu saja diaplikasikan dalam menggantikan sistem formal yang selama ini ada. diangkut dengan sarana yang disiapkan sendiri oleh masyarakat. Beberapa ciri penanganan sampah di tingkat ini: − Sangat tergantung pada karakter. seperti swasta.yang secara tidak disadari telah ikut berperan serta dalam penanganann sampah kota. misalnya dengan penanganan sampah daerah pedesaan. menuju ke tempat penampungan sementara. Pengelolaan sampah dari sebuah kota adalah sebuah sistem yang kompleks. Tahap berikutnya. pengelolaan ini biasanya dilaksanakan oleh RT/RW. seperti produsen yang menggunakan pengemas bagi produknya. e. dsb − Dapat berkarakter homogen. Penanganan sampah tingkat kawasan. dsb yang aktivitasnya perlu berkoordinasi dengan pengelola sampah kota Masyarakat yang bertindak secara individu dalam penanganan sampah. Penanganan Sampah Tingkat Sumber: Penanganan sampah tingkat sumber merupakan kegiatan penanganan secara individual yang dilakukan sendiri oleh penghasil sampah dalam area dimana penghasil sampah tersebut berada. dan f. − Pada level ini peran serta masyakat sebagai penghasil sampah sangatlah dominan. Dibutuhkan waktu yang lama karena menyangkut juga perubahan perilaku masyarakat serta kemauan semua fihak untuk menerapkannya. sehingga pendekatan penanganan sampah yang berbasiskan masyarakat penghasil sampah merupakan dasar dalam strategi pengelolaan sampah. dimana sampah diangkut dari bak sampah ke TPS. atau institusi lain termasuk swasta yang ditunjuk oleh Kota. kebiasaan dan cara pandang penghasil sampah − Dapat berbentuk individu atau kelompok individu atau dalam bentuk institusi misalnya kantor. seperti dari sebuah rumah tinggal. Pengelolaan formal: biasanya dilaksanakan oleh Pemerintah Kota. misalnya di rumah-rumah. atau ke tempat pemrosesan lainnya.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) c. seperti pejalan kaki di keramaian. misalnya kelompok pemulung yang memanfaatkan sampah sebagai sumber penghasil Institusi yang tertarik dan peduli (concern) terhadap persoalan persampahan. Di kota-kota. lapak. Institusi swasta yang terkait secara langsung dengan persoalan sampah. penanganan sampah di suatu kota di Indonesia dapat dibagi dalam 3 kelompok utama tingkat pengelolaan. c. Penanganan sampah tingkat sumber e. pengelolaan sampah di Indonesia. mengenal 3 (tiga) kelompok pengelolaan. pedagang kaki lima di tempat-tempat umum − Keberhasilan upaya-upaya dalam penanganan sampah sangat tergatung pada tingkat kesadaran masing-masing individu. Di daerah pemukiman biasanya kegiatan ini dilaksanakan oleh RT/RW. sampah dari TPS diangkut ke TPA oleh truk sampah milik pengelola kota atau institusi yang ditunjuk. dengan kegiatan mengumpulkan sampah dari bak sampah di sumber sampah. Pengelolaan Informal: terbentuk karena adanya dorongan kebutuhan untuk hidup dari sebagian masyarakat . hotel. Masyarakat atau institusi penghasil sampah yang menggantungkan penanganan sampahnya pada sistem yang berlaku di sebuah kota Institusi non-pemerintah yang bergerak dalam pengelolaan sampah. dan industri daur-ulang dalam rangkaian sistem perdagangan. g. pengelola real estate. tukang loak.3 Tingkat Pengelolaan [44] Berdasarkan arus pergerakan sampah sejak dari sumber hingga menuju ke pemrosesan atau akhir. Rangkaian kegiatan ini melibatkan pemulung. Sistem informal ini memandang sampah sebagai sumber daya ekonomi melalui kegiatan pemungutan. termasuk aktivitas daur-ulang. khususnya di sebuah kota. Pengelolaan oleh swadaya masyarakat: pengelolaan sampah mulai dari sumber sampai ke tempat pengumpulan. Biasanya anggaran suatu kota belum mampu menangani seluruh sampah yang dihasilkan. Beberapa kriteria penanganan sampah di tingkat sumber: Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 42 . dan tidak dapat disejajarkan atau disederhanakan begitu saja. d.

kantor. Beberapa kriteria penanganan sampah di tingkat kawasan: − Pengelolaan sampah tingkat kawasan harus mendorong peningkatan upaya minimisasi sampah untuk mengurangi beban pada pengelolaan tingkat kota. atau lainnya. yang bertugas untuk melayani sebagian atau seluruh wilayah yang ada dalam kota yang menjadi tanggung jawabnya. baik dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah. memilih bahan yang mengandung sedikit sampah. agar sistem pengelolaan tingkat kawasan ini tetap merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam sistem pengelolaan sampah kota secara menyeluruh. atau LSM yang mengorganisir pengelolaan sampah pada tingkat ini sangat penting − Peran serta masyarakat seperti yang diharapkan terjadi pada tingkat sumber. misalnya dengan composter. membatasi konsumsi sesuai kebutuhan. sekolah. yang selanjutnya akan dikelola sesuai dengan ketentuan yang berlaku. yang akan digunakan misalnya sebagai bahan baku kompos o Sampah kering. khususnya yang akan diangkut ke TPA − Pengelolaan sampah kawasan harus mampu melayani masyarakat yang berada dalam daerah pelayanan yang telah ditentukan − Lokasi pengumpulan sementara (TPS) dapat difungsikan sebagai pusat pengolahan sampah tingkat kawasan. karena akan menyebabkan tinginya konsumsi bahan bakar tambahan serta menimbulkan pencemaran udara akibat tidak tersedianya fasilitas penanggulangan pencemaran yang memadai. Upaya mendaur ulang sampah dapat dilakukan dengan memilah sampah menurut jenisnya Pengomposan sampah. dengan kontrol kualitas pelayanan tetap dibawah kendali Pemerinta Daerah Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 43 . pengangkutan dan pembuangan sampah Penanganan sampah di tingkat sumber diharapkan dapat menerapkan upaya minimasi yaitu dengan cara 3R Minimasi sampah hendaknya dilakukan sejak sampah belum terbentuk yaitu dengan menghemat penggunaan bahan. dsb Upaya memanfaatkan sampah dilakukan dengan menggunakan kembali sampah sesuai fungsinya seperti halnya pada penggunaan botol minuman atau kemasan lainnya. Beberapa ciri penanganan sampah tingkat kawasan: − Bersifat heterogen.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) − − − − − Penanganan sampah hendaknya tidak lagi hanya bertumpu pada aktivitas pengumpulan. dll) yang secara signifikan akan megurangi sampah pada tingkat berikutnya. seperti Ketua RT. pada tingkat kawasan akan relatif lebih sulit dibangun − Peran aktif pengelola kota sangat menentukan. − Insinerator skala kecil tidak direkomendasi karena biasanya belum sesuai dengan kondisi sampah yang memiliki kandungan organik tinggi (> 60 %). Unit Pelayanan Teknis (UPTD) atau sebagai Seksi dari sebuah Dinas. Penanganan Sampah Tingkat Kawasan: Penanganan sampah tingkat kawasan merupakan kegiatan penanganan secara komunal untuk melayani sebagian atau keseluruhan sampah yang ada dalam area dimana pengelola kawasan berada. Lurah. atau sebaliknya. maka bentuk pengelolaan dapat berupa Perusahaan Daerah. daur ulang. Kelurahan. RW. Dinas. maupun sebagian dari pelayanan. − Terdapat kemungkinan bahwa pengelolaan tersebut dilaksanakan oleh fihak luar atau swasta. maka peran organisasi pengelola serta dukungan inisiator dan atau stakeholders penentu lainnya. baik keseluruhan pelayanan. Oleh karena kelompok ini terdiri dari individu-individu yang mungkin mempunyai pemahaman berbeda tentang persampahan. Beberapa ciri penanganan sampah di tingkat ini: − Pengelolaan sampah diposisikan sebagai bagian dari infrastruktur perkotaan − Bila dikelola langsung oleh Pemerinta Daerah. misalnya RT. atau penanganan sampah lainnya dari daerah yang bersangkutan − Pemilahan sampah dikelompokkan menjadi beberapa jenis sampah seperti: o Sampah basah. sampah berasal dari sumber-sumber yang berbeda − Dalam level ini akan bertemu dan saling berinteraksi stakeholders yang berasal dari tingkat sumber dengan tingkat kota − Keberhasilan upaya dalam penanganan sampah skala ini sangat tergatung pada level kesadaran kelompok pembentuk tingkat kawasan. Penanganan Sampah Tingkat Kota: Penanganan sampah tingkat kota merupakan penanganan sampah yang dilakukan oleh pengelola kebersihan kota. kadar air tinggi (> 60 %) dan nilai kalor rendah (< 1200 kkal/kg). diharapkan dapat diterapkan di sumber (rumah tangga. atau dilaksanakan oleh institusi lain yang ditunjuk untuk itu. yang digunakan sebagai bahan daur ulang o Sampah berbahaya rumah tangga. Ketua RW. yang berfungsi untuk pemindahan.

pada sarana pengumpul dan pengangkut. perkantoran. tetapi juga mengandung pengertian bahwa pengelolaan sampah mencakup pelayanan agar sampah yang ditangani tidak mengganggu kesehatan dan lingkungan. yang didasarkan atas kondisi serta kemampuan sistem itu sendiri. instansi penting. Kualitas pelayanan: Kualitas pelayanan meliputi frekuensi pengumpulan dan pengangkutan. seperti jalan protokol. Beberapa kriteria penanganan sampah di tingkat kota: − Sumber sampah dari kegiatan kota yang dianggap khusus. digunakan 2 (dua) indikator utama. dukungan dan kondisi prasarana/sarana. hotel. seperti yang tinggal di sekitar TPA. paling tidak sampah didaerah tersebut diangkut menuju pengolahan Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 44 . namun dasar pemikiran pengolahan dan daur-ulang sampah hendaknya didasarkan atas pendekatan non-profit-center. Maka dalam 5 tahun ke depan diproyeksikan menjadi 50%. Frekuensi pengumpulan dan pengangkutan akan terkait dengan sistem pelayanan yang ada serta jenis sampah yang akan dikelola. Sampah basah sangat dianjurkan untuk diangkut minimum 2 hari sekali. rumah sakit. Guna menentukan tingkat pelayanan pengelolaan sampah di kota tersebut. dan fasilitas umum mendapat prioiritas utama misalnya ditargetkan menjadi 100%. dan tidak mendatangkan permasalahan terhadap kesehatan dan estetika bagi masyarakat sekitarnya 5. seperti pengomposan. taman kota.4 Daerah Pelayanan Tingkat pelayanan: Tingkat pelayanan merupakan ukuran kemampuan pengelola kota untuk menyediakan pelayanan kebersihan kepada masyarakat. pasar. dimana sampah langsung dikumpulkan dan diangkut oleh truk sampah ke tempat pemrosesan akhir − Prinsip pengolahan dan daur-ulang sampah adalah mengedepankan pemanfaatan sampah sebagai sumber daya sehingga sampah yang harus dibuang ke TPA menjadi lebih sedikit − Keberhasilan upaya pengolahan dan daur-ulang sangat tergantung pada adanya pemilahan sampah mulai dari sumber. baik secara kuantitas maupun kualitas. Daerah pelayanan: Daerah pelayanan merupakan daerah yang berada dalam tanggung jawab pengelola sebuah kota. untuk ditangani lebih lanjut − Sampah yang telah terpisah di sarana tersebut siap untuk diangkut ke TPA oleh institusi yang diserahi wewenang untuk pengangkutan sampah − Konsep penanganan sampah di TPA hendaknya bertumpu pada beberapa prinsip. Pelayanan tidak terbatas dalam arti hanya menyingkirkan sampah dari lingkungan sumber sampah. sedangkan sampah kering dapat dilakukan 1-2 kali seminggu. sehingga area yang merupakan wajah sebuah kota akan lebih diprioritaskan pelayanannya. ataupun insinerasi bila memenuhi syarat o Sarana ini berfungsi pula sebagai tempat penyimpanan sementara bahan berbahaya yang terkumpul dari kegiatan kota. Pengertian penduduk kota yang dilayani biasanya tidak terbatas pada pelayanan dimana penduduk tersebut bertempat tinggal. khususnya bagi masyarakat dan lingkungan yang bukan penghasil sampah yang ditangani tersebut. biogasifikasi. yang dilayani pengelolaan sampahnya. pusat perdagangan. yaitu [14]: − Persentase jumlah penduduk kota dan sarana lain yang memperoleh pelayanan dari sistem − Persentase timbulan sampah yang dapat dikelola oleh pengelola sampah tingkat kota Dalam merancang sistem pengelolaan sampah. yaitu [45]: o Penanganan sampah di sarana ini hendaknya terpadu o Bahan yang masih bernilai ekonomis hendaknya diupayakan untuk didaur-ulang sebelum dilakukan upaya terakhir dengan pengurugan sampah ke dalam tanah o Pada lokasi ini dapat dioperasikan beberapa jenis pengolahan sampah. dan keluar dari kota tersebut.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) − Ciri khas dari level ini adalah bagaimana memperlihatkan agar kota itu terlihat bersih. maka persentase pelayanan setiap sumber sampah perlu ditentukan. misalnya: − Pelayanan bagi lingkungan permukiman saat ini baru mencapai 40%. serta estetika hasil pelayanan. taman kota. sehingga sampah yang akan diangkut ke lokasi pengolahan telah terpilah sesuai jenis atau komposisinya − Walaupun terdapat kemungkinan mendapatkan nilai tambah dari hasil penjualan produk pengolahan atau daur-ulang. dan 10 tahun ke depan diproyeksikan menjadi 75% − Pelayanan di daerah jalan protokol. pada wadah komunal. tetapi mencakup pula dimana penduduk itu beraktivitas. dan sejenisnya dapat dilayani dengan sistem langsung (doorto-door). untuk diangkut ke lokasi pemrosesan yang sesuai o Sarana ini dioperasikan secara bertanggung jawab. Upaya tersebut bertujuan untuk mengurangi sampah yang akan diurug di landfill − Sarana di tingkat kawasan atau TPS dapat berfungsi untuk pengumpulan sampah berkatagori B3 dari kegiatan rumah tangga. sehingga tidak mendatangkan pencemaran lingkungan.

pusat kota. kawasan strategis atau kawasan andalan − Pengembangan daerah pelayanan diarahkan dengan menerapkan model “rumah tumbuh” yaitu pengembangan ke wilayah yang berdekatan atau berbatasan langsung dengan wilayah yang telah mendapat pelayanan. daerah permukiman baru.1 berikut. Sub sistem pengumpulan sampah dikenal dengan beberapa pola seperti: − Pola individual: pada pola ini dilakukan pengumpulan sampah dari rumah ke rumah dengan alat angkut jarak pendek seperti gerobak atau yang lainnya untuk diangkut ke penampungan sementara. Jenis pelayanan: Berdasarkan penentuan skala kepentingan daerah pelayanan. jenis sarana dan prasarana. jumlah penduduk. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 45 . frekuensi pelayanan dapat dibagi dalam beberapa kondisi sebagai berikut [7]: − Kondisi-1: wilayah dengan pelayanan intensif. meliputi alat dan personel. daerah komersial. kawasan pemukiman tidak teratur. potensi pendapatan jasa pelayanan serta rute dan penugasan Jenis pelayanan pengelola sampah dapat dibagi seperti terlihat dalam Tabel 5. kerapatan timbulan sampah. dan belum terjangkau oleh truk pengangkut sampah.1. Teknik operasional pengelolaan sampah perkotaan yang terdiri atas kegiatan pewadahan sampai dengan pemrosesan akhir sampah harus bersifat terpadu dengan melakukan pemilahan sejak dari sumbernya.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) atau pemrosesan akhir. maupun secara komunal. kepadatan rumah/bangunan. Kegiatan pemilahan dan daur ulang semaksimal mungkin dilakukan sejak dari pewadahan sampah sampai dengan pemrosesan akhir sampah. − Prioritas daerah pelayanan dimulai dari daerah pusat kota. dan daerah komersial − Kondisi-2: wilayah dengan pelayanan menengah adalah kawasan pemukiman teratur − Kondisi-3: wilayah dengan pelayanan rendah adalah daerah pinggiran kota − Kondisi-4: wilayah tanpa pelayanan. yang dilakukan berdasarkan pengembangan tata ruang kota. Skema teknik operasional pengelolaan persampahan dapat dilihat pada Gambar 5.1.5 Teknik Operasional Penanganan Sampah Teknik operasional penanganan sampah perkotaan meliputi dasar-dasar perencanaan untuk kegiatankegiatan [4]: − Pewadahan sampah − Pengumpulan sampah − Pemindahan sampah − Pengangkutan sampah − Pengolahan dan pendaur-ulangan sampah − Pemrosesan akhir sampah. kapasitas perencanaan. misalnya karena lokasinya terlalu jauh. Daerah yang tidak dilayani diharapkan menangani sampahnya secara mandiri baik secara individu. yaitu: − Penyapuan jalan − Pengumpulan sampah − Pengangkutan sampah − Penanganan sampah 5. − Peta pemecahan masalah : menggambarkan pola yang digunakan. penentuan jenis pelayanan berdasarkan skala kepentingan daerah pelayanan dapat dilihat pada Tabel 5. tata guna lahan. Hasil perencanaan daerah pelayanan berupa identifikasi masalah dan potensi yang tergambar dalam peta-peta sebagai berikut [3] : − Peta problem : minimal menggambarkan kerawanan sampah. tingkat kesulitan pelayanan. yang dilakukan langsung oleh penghasil sampah untuk kemudian diangkut ke TPA. Beberapa pertimbangan yang biasa digunakan di Indonesia adalah [7]: − Daerah dengan kepadatan rendah dianggap masih memiliki daya dukung lingkungan yang tinggi sehingga dapat menerapkan pola penanganan sampah setempat yang mandiri − Daerah dengan tingkat kepadatan di atas 50 jiwa/ha perlu mendapatkan pelayanan persampahan karena penerapan pola penanganan sampah setempat akan berpotensi menimbulkan gangguan lingkungan. adalah daerah di jalan protokol. Lebih lanjut. − Pola komunal: pada pola ini pengumpulan sampah dari beberapa rumah dilakukan pada satu titik pengumpulan. Pola ini dapat dilakukan juga dengan cara door-to-door menggunakan truk sampah untuk langsung diangkut ke pengolahan/pemrosesan sampah. permukiman dengan kepadatan tinggi.

Hal ini terutama menyangkut pengamanan selama perjalanannya. Datar/rata (kemiringan < 5% b. angka-angka berikut di bawahnya merupakan pelayanan selanjutnya. 1 Parameter Fungsi dan nilai daerah : a.1 : Skala kepentingan daerah pelayanan [7] Nilai No. Daerah perumahan teratur d.2 berikut ini. selokan Kepadatan penduduk : a. Bergelombang (kemiringan 5-15%) c. dan hutan kota f. Tinggi Topografi : a. Dikenal dua pola yaitu sistem yang permanen dan yang dapat diangkut (dipindahkan). pengelolaan limbah berangkat dari fungsi kerekayasaan. Daerah komersial c. Jalan. Yang dekat dengan yang sudah dilayani c. enersi dan fluida dalam masyarakat modern dan produk ikutannya yang berupa limbah ditunjukkan dalam Gambar 5. untuk kemudian diangkut ke TPA. baik dari sudut biaya operasi maupun keselamatan kerja dan lingkungan. Baik (sampah dikelola. yang memanfaatkan kemampuan berproduksi secara massal.6 Pengelolaan Sampah Terpadu Secara historis. > 300 jiwa/ha (tinggi) Daerah pelayanan : a. Sedang c. yaitu: − Pengangkutan dari satu lokasi pemindahan ke TPA − Pengangkutan dari kelompok pemindahan menuju ke TPA − Pengangkutan dengan pola door-to-door. Yang jauh dari daerah pelayanan Kondisi lingkungan : a. Subsistem pemindahan menerima sampah yang berasal dari sumber. Berbukit/curam (kemiringan > 15%) Bobot 3 − − − − − − 3 − − − 3 − − − 2 − − − − 2 − − − 1 − − − Kerawanan sanitasi − 3 3 4 2 3 5 − 1 3 5 − 5 3 1 − 1 2 3 4 − 5 3 1 − 2 3 3 Potensi ekonomi − 4 5 4 4 1 1 − 4 3 1 − 4 3 1 − 4 3 2 1 − 1 3 5 − 4 3 1 2 3 4 5 6 Keterangan : angka total tertinggi dari skor (bobot nilai) merupakan pelayanan tingkat pertama. Daerah industri e. > 100 jiwa/ha < 300 jiwa/ha (sedang) c.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Tabel 5. lingkungan kotor) d. Buruk (sampah tidak dikelola. Yang sudah dilayani b. Buruk sekali (sampah tidak dikelola. Subsistem pemindahan mempunyai sasaran-sasaran sebagai berikut: − Sebagai peredam tingkat ketergantungan fase pengumpulan dengan fase pengangkutan − Pos pengendalian tingkat kebersihan wilayah yang bersangkutan. Hal ini terkait dengan evolusi masyarakat teknologi. lingkungan kotor) c. Subsistem pengangkutan terdiri atas tiga jenis. daerah endemis penyakit menular Tingkatan pendapatan penduduk : a. Sedang (sampah dikelola. Daerah perumahan tidak teratur. Daerah di jalan protokol/pusat kota b. Aspek pengangkutan sampah kadang dilupakan dan dianggap dapat berjalan dengan sendirinya sehingga menjadi permasalahan besar apabila sampah harus diangkut ke luar dari sumber asalnya guna diproses lebih jauh. Rendah b. Aliran bahan baku. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 46 . taman. 5. > 50 jiwa/ha < 100 jiwa/ha (rendah) b. lingkungan sangat kotor). Aspek penyimpanan dan pengumpulan membutuhkan pengetahuan dasar tentang karakteristik masingmasing sampah agar tidak menimbulkan permasalahan. lingkungan bersih) b.

Semua disiplin ini diharapkan saling berkomunikasi dan berinteraksi satu Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 47 . Pendekatannya tidak lagi sesederhana menghadapi masyarakat non-industri.1 : Skema teknik operasional pengelolaan sampah [modifikasi dari Ref. finansial. kerekayasaan.2 : Aliran bahan baku dan limbah dalam masyarakat industri [32] Pengelolaan sampah pada masyarakat modern bertambah lama bertambah kompleks sejalan dengan kekomplekan masyarakat itu sendiri. Pengelolaan sampah pada masyarakat modern membutuhkan keterlibatan beragam teknologi dan beragam disiplin ilmu. pengangkutan (transportation). pemindahan (transfer). Seluruh proses tersebut hendaknya diselesaikan dalam rangka bagaimana melindungi kesehatan masyarakat. legal.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Timbulan Sampah Penanganan Sampah : Pemisahan – Pewadahan – Proses di sumber Pengumpulan Pemindahan dan Pengangkutan Pemisahan – Pemerosesan – dan Transformasi Sampah Pembuangan Akhir (Disposal) Pemrosesan akhir Gambar 5. 4] Bahan Proses Residu Bahan Baku Residu Manufacturing Residu Proses dan Recovery 2nd Manufacturing Konsumen (Penggunaan Produk) Final Disposal Gambar 5. planning. arsitektural. pelestarian lingkungan hidup. seperti di perdesaan. pembuangan akhir (final disposal) sampah yang dihasilkan pada masyarakat tersebut. pengumpulan (collection). Beragam pertimbangan perlu dimasukkan. pemrosesan (processing). Termasuk di dalamnya teknologi-teknologi yang terkait dengan bagaimana mengontrol timbulan (generation). namun secara estetika dan juga secara ekonomi dapat diterima. seperti aspek adminsitratif.

Landfilling yang artinya transformasi sampah baru dipertimbangkan bila telah dilakukan upaya-upaya recycling atau pengomposan sebelumnya. Landfilling Negara Bagian Kalifornia mengartikan konsep integrasi tersebut dengan menerapkan secara hierarkhi pilihan teknologi tersebut. yaitu : a. teknologi.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) dengan yang lain dalam hubungan interdipliner yang positif agar sebuah pengelolaan persampahan yang terintegrasi dapat tercapai secara baik.Besi Landfill . Masing-masing kota diperkirakan pada tahun-tahun mendatang akan mengalami penambahan penduduk yang cukup besar sehingga pembuangan sampah akan mengalami peningkatan yang pesat pula.Enersi /gas Gambar 5. antara lain ketersediaan lahan untuk pembuangan akhirnya.Kertas . untuk mencapai sasaran dan tujuan yang spesifik dari pengelolaan sampah.3 merupakan konsep pengelolaan sampah permukiman secara terintegrasi. Pengelolaan sampah yang hanya mengandalkan proses kumpul-angkut-buang menyisakan banyak permasalahan dan kendala. terutama sampah organik yang merupakan jumlah sampah terbanyak.Metan . dan program-program manajemen yang sesuai. Recycling dan pengomposan c.Kompos . Reduksi sampah di sumber b. Gambar 5. yaitu: a. guna mengurangi secara kuantitatif sampah. Recycling dan pengomposan c.Karton . Daur ulang sampah sudah menjadi dasar yang diamanatkan oleh UU-18/2008. Untuk mendukung upaya pemerintah dalam strategi pengurangan sampah tentunya pemanfaatan kembali sampah merupakan hal yang sangat penting dan sangat diajurkan. Persentase pemanfaatan kembali sampah oleh masyarakat masih jauh dari jumlah sampah yang dihasilkan. Sumber Sampah Permukiman Pemilahan Sampah Pengumpulan Curb side Pengumpulan atau ke produsen Kembali ke Produsen Ke Fasilitas Penampung Sampah Berbahaya Pusat Penerima Pengemas . sehingga volume sampah yang belum tertanggulangi masih banyak. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 48 . kaleng minuman . USEPA di Amerika Serikat [46] mengidentifikasi 4 (empat) dasar pilihan manajemen strategi.Plastik .Gelas . Reduksi sampah di sumber b. Transformasi limbah d. dsb TPS atau Pusat Recovery Sampah Fasilitas Transformasi Sampah .Aluminium . Transfer ke enersi (waste-to-energy) d. bahwa penanganan sampah yang terintegrasi bertujuan untuk meminimalkan atau mengurangi sampah yang terangkut menuju pemrosesan akhir.3 Pengelolaan sampah permukiman secara terintegrasi [32] Telah dibahas sebelumnya. Pengelolaan sampah terpadu dapat didefinisikan sebagai pemilihan dan penerapan teknik-teknik.

dan Kemasyarakatan dalam Pengelolaan Sampah antara Pemerintah Kota Denpasar. Kabupaten Badung. hal ini seiring dengan tahap pengembangan pengelolaan persampahan yang semakin meningkat. akan tetapi juga diterapkan di tempat transit sampah (TPS) yang dapat disebut sebagai pengolahan skala kawasan. yang di dalam pelaksanaannya khusus menyangkut persampahan ditangani oleh Proyek Pengelolaan Sampah Bali (Solid Waste Menagement in Bali) mulai Tahun Anggaran 1997/1998 sampai dengan 2001/2002. nomor 390.2/2868/Sekret. Kabupaten Gianyar. dengan konsep pengelolaan sampah bersama antara Kota DenpaSAR. tentang Pokok-Pokok Kerjasama Pemerintahan. dikenal dengan konsep Pengolahan Sampah Terpadu. fungsi dari tempat pemrosesan akhir sampah pada beberapa tahun mendatang dapat menjadi tidak dominan karena kapasitas sampah yang akan diurug lebih kecil daripada sampah yang dapat diolah atau dimanfaatkan lagi. PPT dan PPLH ITB pada tahun 1980-an telah memperkenalkan dan menguji-coba konsep ini sebagai Kawasan Industri Sampah (KIS) [13]. Kabupaten BAdung. Sampai saat ini timbulan sampah yang dapat ditangani oleh pemerintah daerah belum mencapai 100%. Konsep pertama yang muncul adalah berasal dari Denpasar dan sekitarnya. dan upaya lainnya agar sampah yang akan diurug menjadi lebih sedikit. Kabupaten GIanyar dan Kabupaten TAbanan atau SARBAGITA.7 Pengelolaan Sampah Regional Dengan terbatasnya lahan untuk pemrosesan. serta makin banyaknya permasalahan yang dihadapi oleh sebuah kota. Institusi atau badan tersebut mempunyai fungsi dan tugas pokok masing-masing yang sudah ditetapkan melalui Keputusan Bersama Pemerintah Daerah/Kota [47]. yaitu pengelolaan sampah bersama. Upaya pemanfaatan kembali. BOgor.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Selain dapat mengurangi timbulan sampah yang berasal dari sumbernya sendiri. Konsep yang sama dicoba dikembangkan di Jakarta dan sekitarnya. dan Kabupaten Tabanan. nomor 840. Manfaat lain yang mungkin dirasakan oleh pemerintah adalah mengurangi subsidi untuk penanganan sampah. dan Kabupaten Tabanan. organisasi. Program daur-ulang pada dasarnya tidak hanya dilakukan di sumber-sumber timbulan sampah. lapak dan bandar perlu diintegrasikan dalam sistem pengelolaan sampah kota yang berpusat pada sarana pengelolaan sampah tersebut. Berdasarkan Peraturan Bersama antara Pemerintah Kota Denpasar. juga memperkuat peranserta masyarakat. dan lain-lain. pembukaan lapangan pekerjaan baru.B tahun 2000. pengolahan dan kampanye pengurangan sampah terutama sampah non-organik merupakan alternatif yang sangat positif sebagai kerangka untuk menjawab permasalahan persampahan tersebut. telah disepakati melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) tanggal 16 April 2001 di antara keempat Pemerintah Daerah/Kota Sarbagita. maka idea pengelolaan sampah bersama dari daerah yang saling berdekatan atau beskala regional. Sektor informal yang selama ini telah aktif dalam upaya daur-ulang sampah kota yaitu pemulung. Untuk meningkatkan kondisi lingkungan hidup daerah dan perkotaan di Propinsi Bali. ditetapkan 4 (empat) program pokok atau disebut program strategis yang mencakup [47]: Penetapan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah lintas kabupaten/kota. Dengan pengembangan sistem pengolahan sampah terpadu ini. atau dalam lokasi pengolahan/pemrosesan akhir. Penerapan program daur-ulang dan proses pengolahannya di tempat pengolahan/pemrosesan akhir. Kabupaten Badung. Konsep ini prinsipnya menyatukan secara terpadu kegiatan pembuangan akhir dengan kegiatan proses pemilahan. bagi kota JAkarta.B tahun 2000 tanggal 24 Juli 2000. nomor 658.4 berikut. Salah satu skenario kegiatan dan proses dari pengolahan sampah terpadu ini dapat dilihat pada Gambar 5. TAngerang dan BEKas. dan Badan Pengawas Pengelolaan Kebersihan Sarbagita (BP2KS). seperti diperolehnya usaha sampingan. Badan Pengelola Kebersihan Sarbagita (BPKS). dan komposting. Restrukturisasi pembentukan institusi pengelolaan persampahan di Bali Selatan. nomor 660. Hal ini berarti masih terdapat sampah yang tertinggal atau tidak tertangani oleh pemerintah daerah disebabkan oleh keterbatasan sarana dan prasarana yang ada. khususnya dalam pengadaan TPA. 5. khususnya di Bali Selatan yang mengalami pertumbuhan urbanisasi yang sangat pesat. makin banyak mendapat perhatian di Indonesia. Pembangunan. Sektor informal yang berkecimpung dalam masalah pendaur-ulangan barang-barang bekas atau sampah memiliki potensi dalam pengurangan sampah khususnya sampah non-organik yang ada di perkotaan. daur ulang. Institusi atau badan yang telah disepakati untuk dibentuk adalah : Badan Pengatur dan Pengendalian Kebersihan Sarbagita (BPPKS). Pemerintah Pusat mendapat bantuan dari Bank Dunia (IBRD) melalui Program Bali Urban Infrastructure Project (BUIP)-P3KT. Kabupaten Gianyar. kegiatan pemanfaatan kembali khususnya sampah an-organik ini banyak sekali manfaatnya bagi warga. memperkuat kepedulian terhadap lingkungan. yang kemudian disebut Sarbagita. DEpok. pengawasan. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 49 . seperti tarif. Pembentukkan wadah kerjasama dalam suatu badan pengelola kebersihan Bali bagian Selatan Pembentukan wadah pengawasan independen Pembentukan Peraturan Pemerintah (Perda) yang mendukung pengelolaan sampah.1/3367/Ek. perencanaan.

Sumedang. Hal yang sama dirintis di tempat lain. sampai saat ini belum terlihat realisasinya. Kota Bandung. atau KARTAMANTUL. Kabupaten Bandung. dan Kota Cimahi [48] yang telah dirintais sejak tahun 2004. yaitu antara Daerah Istimewa YogyaKARTA.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) atau JABODETABEK. Kabupaten SleMAN dan dan Kabuoaten BanTUL. Namun upaya yang mendapat dukungan dari Pemerintah pusat tersebut.4 : Flow chart pengolahan sampah terpadu [47] Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 50 . Konsep sejenis berjalan cukup baik di Yoyakarta. Sedang Bandung Raya menampilkan idea pengelolaan sampah bersama antara Garut. Gorontalo dsb. seperti di metropolitan Makassar. Sumber Timbulan Sampah Swadaya Masyarakat Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPA) Proses Pemisahan Proses Pemilahan Sampah Organik Sampah Anorganik Layak Kompos Tak Layak Kompos Tak Layak Daur Ulang Layak Daur Ulang INSTALASI KOMPOS Residu SLF Abu Abu Pilihan Campuran Kompos Insinerator Produk Kompos Produk Lain Bahan Daur Ulang Gambar 5. Terdapat perbedaan persepsi dan kepentingan diantara kota dan kabupaten yang terlibat di dalamnya.

maka guna kemudahan dalam pemindahannya. misalnya diletakkan di dapur. biasanya bervolume besar yang akan menampung sampah dari wadah level-2. Level-1 : wadah sampah yang menampung sampah langsung dari sumbernya. kulit buah lunak. seperti daun sisa. seperti yang diarahkan dalam SNI tentang pengelolaan sampah di Indonesia. Wadah sampah individual umumnya ditempatkan di muka rumah atau bangunan lainnya. yaitu: a. serta sistem transfer. maka paling tidak hendaknya wadah tersebut menampung secara terpisah. Dijelaskan pula subsistem ini di Indonesia dan di negara maju. dapat kendalikan − Pencampuran sampah yang tidak sejenis. Pada umumnya wadah sampah pertama ini diletakkan di tempat-tempat yang terlihat dan mudah dicapai oleh pemakai. Sampah bahan berbahaya beracun dari rumah tangga dengan warna merah. b. maka: − Bau akibat pembusukan sampah yang juga menarik datangnya lalat. misalnya: a. dan lain-lainnya. seperti dalam apartemen bertingkat . sekolah. yang menambah waktu operasi untuk pengosongannya. akan dijumpai wadah sampah dalam bentuk bak sampah permanen di depan rumah. dan dianjurkan diberi lambang (label) khusus Di Indonesia dikenal pola pewadahan sampah individual dan komunal. teratur. Mengingat bahaya-bahaya yang dapat ditimbulkan oleh sampah tersebut. Level-3 : merupakan wadah sentral. Di negara maju adalah hal yang umum dijumpai wadah sampah yang terdiri dari dari beragam jenis sesuai jenis sampahnya. kedap air. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 51 . tidak mengeluarkan bau. Wadah sampah hendaknya mendorong terjadinya upaya daur-ulang. mulai dari pewadahan sampai ke transfer. tidak dapat dimasuki serangga binatang dan air hujan serta kapasitasnya sesuai dengan sampah yang akan ditampung. sisa makanan. 6. Wadah sampah ini sebaiknya terbuat dari konstruksi khusus dan ditempatkan sesuai dengan sistem pengangkutan sampahnya. plastik. Namun pada kenyataannya di permukiman permanen. Biasanya wadah sampah jenis ini adalah tidak statis. dengan adanya wadah yang baik. dengan wadah warna terang seperti kuning c. Dijelaskan tentang jenis dan pola pewadahan. maka pewadahan sampah dapat dibagi menjadi beberapa tingkat (level). Sampah organik. Idealnya jenis wadah disesuaikan dengan jenis sampah yang akan dikelola agar memudahkan dalam penanganan berikutnya. Di samping itu. dengan wadah warna gelap seperti hijau b. yaitu disesuaikan dengan jenis sampah yang telah terpilah. dan wadah sampah komunal terletak di suatu tempat yang tebuka. merupakan wadah yang menampung sampah dari wadah level-1 maupun langsung dari sumbernya. Pewadahan dimulai dengan pemilahan baik untuk pewadahan individual maupun komunal. dan sebaiknya disesuaikan dengan jenis sampah. sehingga memudahkan para petugas untuk mengambilnya dengan cepat. logam. Level-2 : bersifat sebagai pengumpul sementara. atau tepi jalan atau dalam ruang yang disediakan. rumah.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) BAGIAN 6 PEWADAHAN. tetapi mudah diangkat dan dibawa ke wadah sampah level-2. c. − Air hujan yang berpotensi menambah kadar air di sampah. atau sebuah bangunan. dapat dihindari Berdasarkan letak dan kebutuhan dalam sistem penanganan sampah. sedang wadah komunal memungkinkan sampah yang ditampung berasal dari beberapa rumah atau dari beberapa bangunan. di ruang kerja. dapat diatasi. Namun di Indonesia. Wadah individual adalah wadah yang hanya menerima sampah dari sebuah rumah. Sedangkan wadah sampah komunal ditempatkan di tempat terbuka yang mudah diakses. wadah sampah ini seharusnya tidak bersifat permanen. sayuran. Wadah sampah level-2 ini diletakkan di luar kantor. bila sistem memang membutuhkan. Guna lebih memahami. Melihat perannya yang berfungsi sebagai titik temu antara sumber sampah dan sistem pengumpul. mahasiswa diminta mengamati aktivitas susb-sistem ini di lingkungannya. Sampah anorganik seperti gelas. PENGUMPULAN DAN PEMINDAHAN Bagian ini menjelaskan aktivitas teknik operasional persampahan. dsb. yang sampai saat ini masih belum berhasil menerapkan konsep pemilahan. Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan: − Pada umumnya wadah sampah individual level-2 ditempatkan di tepi jalan atau di muka fasilitas umum. dan higienis. Sampah diwadahi sehingga memudahkan dalam pengangkutannya. khususnya dalam upaya daur-ulang. maka wadah sampah yang digunakan sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai berikut : kuat dan tahan terhadap korosi.1 Pewadahan Sampah Pewadahan sampah merupakan cara penampungan sampah sementara di sumbernya baik individual maupun komunal.

b. khususnya bila terletak di jalan protokol Tidak mengganggu pemakai jalan atau sarana umum lainnya. Alternatif bahan harus bersifat kedap terhadap air. tahan diperlakukan kasar. Bin plastik/tong volume 50-60 Iiter.Bin plastik/tong. Pertokoan . mudah dibersihkan. kantung.Kantong plastik. jalan.Bak sampah permanen. tertutup. mudah dibersihkan. Perkantoran/Hotel 3 . dan dijamin kebersihannya. − Ukuran: 100-500 liter untuk pinggir jalan. Mudah dijangkau oleh petugas sehingga waktu pengambilan dapat lebih cepat dan singkat. instansi pengelola. 3 . maka: a. Bentuk ditentukan oleh pihak instansi pengelola karena sifat penggunaannya adalah umum. a. tahan diperlakukan kasar. volume 50–60 Iiter . toko kecil. panas matahari.Bin/tong sampah. − Sifat: dapat diangkat. dengan tutup. plastik. toko besar.1: Jenis pewadahan dan sumber sampahnya [7] Jenis pewadahan . pasar.1. Aman dari gangguan binatang ataupun dari pemungut barang bekas. volume 40-60 Iiter. − Bahan: logam. Tabel 6. dianjurkan tidak di luar pagar. plastik. volume 1. − Bahan: logam. timbulan sampah per pemakai. ukuran bervariasi. kecuali bagi wadah sampah untuk pejalan kaki Didesain secara indah. khususnya permukiman yang pernah dibina oleh Dinas Kebersihan . − Pengadaan: pemilik. kontainer. − Sifat: tidak bersatu dengan tanah. volume sesuai yang tersedia di pasaran . volume 120-140 liter dgn roda. − Pengadaan: pribadi. rumah makan. volume 120-140 Iiter dengan tutup dan memakai roda. volume 120 . .Kontainer dari Armroll kapasitas 6–10 m . 100-500 liter untuk kantor. dapat diangkat. 3 .Kontainer volume 1 m beroda. instansi pengelola.3. Berdasarkan pedoman dari Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah [7]. silinder. yaitu mudah dan cepat untuk dikosongkan. dengan kriteria: − Bentuk: kotak. Jarak antar wadah sampah untuk pejalan kaki minimal 100 m. hotel. dan permanen. taman b. volume 50-60 Iiter.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) − − − − − − − − − Wadah sampah dari rumah sebaiknya diletakkan di halaman muka. Tertutup dan tidak mudah rusak dan kedap air. Beberapa jenis wadah berdasarkan sumber sampahnya dapat dilihat pada Tabel 6.Kontainer besar volume 6-10 m .Bin plastik/tong. Contoh wadah dan penggunaannya dapat dilihat pada Tabel 6. sedang wadah sampah hotel dan sejenisnya ditempatkan di halaman belakang Tidak mengambil lahan trotoar. Alternatif bahan harus bersifat kedap terhadap air. manual atau mekanik. tingkat hidup masyarakat. frekuensi pengambilan atau pengumpulan sampah dan cara pemindahan sampah. taman kota.Bak sampah.2. dengan kriteria: − Bentuk: kotak. . taman kota. yang dipasang secara Tempat umum. swadaya masyarakat. tertutup. .Bin plastik. sehingga sampah tidak dalam keadaan berserakan.0 m . jalan. panas matahari. silinder. Sumber sampah Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 52 . Mudah untuk pengoperasiannya. Bentuk yang dipakai tergantung selera dan kemampuan pengadaan dari pemiliknya.140 L dengan roda. Pola pewadahan komunal : diperuntukkan bagi daerah pemukiman sedang/kumuh. sedang persyaratan untuk bahan adalah seperti pada Tabel 6. Bin plastik.Kantong plastik/kertas. Penentuan ukuran volume biasanya berdasarkan jumlah penghuni tiap rumah/sumber. volume bervariasi. badan swasta (sekaligus sebagai usaha promosi hasil produksi). − Ukuran: 10-50 liter untuk pemukiman.Bin plastik. Pasar 3 . 1-10 m3 untuk pemukiman dan pasar. kontainer. Pola pewadahan individual: diperuntukkan bagi daerah pemukiman berpenghasilan menengah-tinggi dan daerah komersial. biasanya dari Daerah perumahan pasangan .Gerobak sampah.

Keterangan Individual Maksimal pengambilan 3 hari 1 kali. instansi.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) No. atau secara tidak langsung (dengan menggunakan transfer depo/container ) sebagai Tempat Penampungan Sementara (TPS). rotan. Dalam hal ini. mudah dipindahkan. dengan penjelasan sebagai berikut [7]: a. sebelum diangkut ke tempat pemrosesan.3: Contoh wadah dan penggunaannya [7] Umur wadah Wadah Kapasitas Pelayanan (life time) Kantong plastik 10-40 L 1 KK 2-3 hari Bin Bin Bin Kontainer Kontainer Bin 40 L 120 L 240 L 1. bambu. bin Bentuk/jenis semua bertutup. kayu. kontainer. dan Sifat dikosongkan. Dengan adanya TPS ini maka proses pengumpulan sampah secara tidak langsung dapat digambarkan seperti pada Gambar 6. 4.2: Pola dan karakteristik pewadahan sampah [7] Pola pewadahan Individual Komunal Karakteristik Kotak. 1. plastik. Toko Komunal Komunal 6. Logam. dan memiliki kriteria persyaratan sebagai berikut: − Mudah dalam loading dan unloading − Memiliki konstruksi yang ringan dan sesuai dengan kondisi jalan yang ditempuh − Sebaiknya mempunyai tutup Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 53 . Kotak. Pada sistem communal ini. 1. 3. Secara langsung (door to door): Pada sistem ini proses pengumpulan dan pengangkutan sampah dilakukan bersamaan.2 Pengumpulan Sampah Jenis Pengumpulan sampah Pengumpulan sampah adalah proses penanganan sampah dengan cara pengumpulan dari masingmasing sumber sampah untuk diangkut ke (1) tempat penampungan sementara atau ke (2) pengolahan sampah skala kawasan. pengelola Tabel 6. dan mudah Ringan. mudah dipindahkan. silinder. fiberglass kayu. dapat dilakukan dengan dua cara. 6. 7. mudah dikosongkan. atau ke tempat pemrosesan akhir. kertas. bin (tong). 5. b. Bahan rotan. sampah dari masing-masing sumber dikumpulkan dahulu oleh sarana pengumpul seperti dalam gerobak tangan (hand cart) dan diangkut ke TPS.000 L 500 L 30-40 L 1 KK 2-3 KK 4-6 KK 80 KK 40 KK Pejalan kaki. Pinggir jalan dan taman = 30–40 L Volume Pemukiman dan toko kecil 10–40 L Untuk pemukiman dan pasar = 100–1000 L Pengadaan Pribadi.1). Logam. dan kantong plastik. silinder. Instansi. plastik. dikumpulkan dan langsung diangkut ke tempat pemrosesan. atau (3) langsung ke tempat pemrosesan akhir tanpa melalui proses pemindahan. kontainer. 2. pengelola. yaitu secara langsung (door to door). Ringan. bambu. 2. 5. 3. Gerobak tangan merupakan alat pengangkutan sampah sederhana yang paling sering dijumpai di kota-kota di Indonesia. 4. Operasional pengumpulan dan pengangkutan sampah mulai dari sumber sampah hingga ke lokasi pemrosesan akhir atau ke lokasi pemrosesan akhir. (tong). Tabel 6. semua bertutup. sampah dari masing-masing sumber akan dikumpulkan dahulu dalam gerobak tangan (hand cart) atau yang sejenis dan diangkut ke TPS. taman 2-3 tahun 2-3 tahun 2-3 tahun 2-3 tahun 2-3 tahun 2-3 tahun No. atau ke tempat pembuangan akhir (lihat Gambar 6. Secara tidak langsung (communal): Pada sistem ini. TPS dapat pula berfungsi sebagai lokasi pemrosesan skala kawasan guna mengurangi jumlah sampah yang harus diangkut ke pemrosesan akhir.2. fibreglass. Sampah dari tiap-tiap sumber akan diambil.

maka dibutuhkan tambahan luas lahan sesuai aktivitas yang akan dijalankan. Bila lokasi ini berfungsi juga sebagai tempat pemrosesan sampah skala kawasan. kontainer atau langsung ke truk pengangkut sampah.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Daerah pelayanan Pemero sesan atau TPA Transportasi Koleksi Transportasi Transmisi Gambar 6. maka perlu diatur kegiatan penyapuan jalan. Frekuensi pengumpulan sampah menentukan banyaknya sampah yang dapat dikumpulkan dan diangkut perhari. atau di Indonesia dikenal sebagai Tempat Penampungan 2 Sementara (TPS) seperti di atas diperlukan areal tanah minimal seluas 200 m . Dibutuhkan landasan permanen sekitar 2 25-50 m untuk meletakkan kontainer. penyapuan jalan dilakukan dengan pembagian kelompok kerja (shift). Dalam hal ini sampah kering dapat dikumpulkan lebih jarang. Pada umumnya. − Tempat penyimpanan peralatan. dan kontainer diletakkan begitu saja di lahan tersedia. Bila sistem pengumpulan telah memasukkan upaya daur-ulang. − Bangunan tempat penampungan/pemuatan sampah. 3 b. Kontener besar (steel container) volume 6 – 10 m : Diletakkan di pinggir jalan dan tidak mengganggu lalu lintas. landasan ini tidak disediakan. sampah hasil penyapuan jalan berupa daun-daunan kering. Penempatan sarana ini juga bermasalah karena sulit untuk memperoleh lahan. Transfer station I / transfer depo. c.2: Bagan proses pengumpulan dan pengangkutan secara tidak langsung Tempat penampungan sementara merupakan suatu bangunan atau tempat yang digunakan untuk memindahkan sampah dari gerobak tangan (hand cart) ke landasan. dan belum tentu masyarakat yang tempat tinggalnya dekat dengan sarana ini bersedia menerima. Semakin besar frekuensi pengumpulan sampah. mengumpulkannya dalam wadah serta mengangkutnya ke tempat penampungan sementara dengan menggunakan gerobak tangan. semakin banyak volume sampah yang dikumpulkan per service per kapita. Bak komunal yang dibangun permanen dan terletak di pinggir jalan: Hal yang harus diperhatikan adalah waktu pengumpulan dan frekuensi pengumpulan. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 54 . Untuk suatu lokasi transfer depo. misalnya pagi hingga siang hari. Untuk memudahkan pengawasan dan untuk menjaga kebersihan kawasan. yaitu menyapu sampah di jalan. dahan/ranting dan debu jalan. Sebaiknya waktu pengumpulan sampah adalah saat dimana aktivitas masyarakat tidak begitu padat. Untuk menjaga kebersihan dan keindahan jalan-jalan. Tempat penampungan sementara ini berupa [49. 50]: a. maka frekuensi pengumpulan sampah dapat diatur sesuai dengan jenis sampah yang akan dikumpulkan. Di banyak tempat di kota-kota Indonesia. Penyapuan jalan sebaiknya dilakukan secara simultan oleh juru sapu. − Pelataran parkir. biasanya terdiri dari: − Bangunan untuk ruangan kantor.1 : Bagan proses pengumpulan dan pengangkutan secara langsung Daerah pelayanan TPS atau Pemerose san Kawasan Pemrose san atau TPA Transportasi Koleksi Transportasi Transmisi Gambar 6.

Luas daerah operasi. tanah. daerah elite. sedang alat pengumpul non-mesin akan sulit beroperasi. dan jalan protokol. kawasan pemukiman yang tersusun rapi. Beberapa hal penting yang perlu mendapat perhatian adalah [7]: a. Peran serta masyarakat tinggi. Petugas pengangkut tidak masuk ke gang. Jumlah penduduk. misal dengan bunyi-bunyian. Kondisi dan jumlah alat memadai. Pola komunal tidak langsung. hanya akan memberi tanda bila sarana pengangkut ini datang. kontainer kecil beroda dan karung. dapat digunakan alat pengumpul non mesin (gerobak. gang). Wadah komunal ditempatkan sesuai dengan kebutuhan dan di lokasi yang mudah dijangkau oleh alat pengangkut (truk). Optimasi penggunaan alat. c.3 m /hari. Kepadatan penduduk dan tingkat penyebaran rumah. Pola individual langsung oleh truk pengangkut menuju ke pemrosesan: Bila kondisi topografi bergelombang (rata-rata > 5%). Individual tidak langsung. Lebar jalan/gang dapat dilalui alat pengumpul tanpa mengganggu pemakai jalan lainnya. waktu dan petugas. Kondisi sarana penghubung (jalan. dapat diterapkan bila: Lahan untuk lokasi pemindahan tersedia. a. Kondisi jalan cukup lebar dan operasi tidak mengganggu pemakai jalan lainnya. dan lain-lain). Lebar jalan atau gang cukup lebar untuk dapat dilalui alat pengumpul tanpa mengganggu pemakai jalan lainnya. Pengumpulan sampah harus memperhatikan: Keseimbangan pembebanan tugas. Jarak titik pengumpulan dengan lokasi. Komunal langsung. Lahan untuk lokasi pemindahan tersedia. e. 3 Jumlah timbulan sampah > 0.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Pola Pengumpulan Sampah Bersama dengan kegiatan pewadahan. Pola penyapuan jalan. Komunal tidak langsung. Wadah komunal ditempatkan sesuai dengan kebutuhan dan di lokasi yang mudah dijangkau alat pengumpul. Pola individual tidak langsung. Harus ada organisasi pengelola pengumpulan sampah. Penyapuan jalan dan taman. hanya alat pengumpul mesin yang dapat beroperasi. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 55 . Pemukiman tidak teratur. dengan menggunakan pengumpul sejenis gerobak sampah. becak). Terdapat organisasi pengelola pengumpulan sampah dengan sistem pengendaliannya. Panjang dan lebar jalan. Pola pengumpulan sampah terdiri atas [7]: Individual langsung. b. dengan persyaratan sebagai berikut : Juru sapu harus mengetahui cara penyapuan untuk setiap daerah pelayanan (diperkeras. Biasanya daerah layanan adalah pertokoan. dengan persyaratan sebagai berikut : Peran serta masyarakat tinggi. bila : Alat angkut terbatas Kemampuan pengendalian personil dan peralatan relatif rendah. lapangan rumput. Alat pengumpul sulit menjangkau sumber-sumber sampah individual (kondisi daerah berbukit. d. Lahan ini dapat difungsikan sebagai tempat pemrosesan sampah skala kawasan Bagi kondisi topografi yang relatif datar (rata-rata < 5%). becak) dan bagi kondisi topografi > 5% dapat digunakan cara lain seperti pikulan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pola pengumpulan sampah: Jumlah sampah terangkut. maka pengumpulan sampah merupakan kegiatan awal dalam rangkaian pengelolaan sampah. Minimasi jarak operasi. b. Alat pengumpul masih dapat menjangkau secara langsung. dapat digunakan alat pengumpul non-mesin (gerobak. Pola komunal langsung oleh truk pengangkut dilakukan. Lahan ini dapat difungsikan sebagai tempat pemrosesan sampah skala kawasan Kondisi topografi relatif datar (rata-rata < 5%). gang/jalan sempit). Layanan dapat pula diterapkan pada daerah gang.

Pengumpulan langsung − Pengumpulan langsung dilakukan di daerah pemukiman teratur dengan lebar jalan memadai untuk dilalui truk. desain peralatan. maka: a. satu hari 2 trip. serta 3 sumber sampah > 1 m . Penyapuan/kebersihan jalan merupakan tanggung jawab pemilik atau pengguna persil. − Pengumpulan langsung menggunakan truk dengan kapasitas 6-10 m3. semakin kecil periodisasi pelayanan. − Periodisasi: untuk sampah mudah membusuk maksimal 3 hari sekali namun sebaiknya setiap hari. misalnya sampah organik warna hijau. dan jenis sampah yang akan diangkut. tergantung dari kapasitas kerja. sebelum jam 7. Pengendalian personel dan peralatan harus baik. Jadwal pengumpulan adalah di saat tidak mengganggu aktivitas masyarakat terpadat. − Pembebanan pekerjaan diusahakan merata dengan kriteria jumlah sampah terangkut. 2 hari. C-120 (120 L) dan C-240 (240 L). − Pengumpulan langsung mengumpulkan sampah dari wadah sampah individual atau wadah sampah komunal dengan kapasitas 120-500 liter. d. Semakin besar persentase sampah organik. c. 3 − Pengumpulan langsung dengan menggunakan truk kapasitas 6 m . jam 10. b. serta sumber sampah besar.00 – 15.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) - Penanganan penyapuan jalan untuk setiap daerah berbeda tergantung pada fungsi dan nilai daerah yang dilayani. − Mempunyai petugas pelaksana yang tetap dan perlu dipindahkan secara periodik. kualitas kerja. − Untuk meningkatkan efisiensi pengumpulan. − Himbauan bahwa sampah non organik hanya dikeluarkan pada hari tertentu (misalnya setiap hari sabtu).5-1 hari. atau maksimal 3 hari sekali. sampah non organik dilaksanakan 4-8 hari sekali. Perencanaan operasional pengumpulan harus memperhatikan: − Ritasi antara 1 . Pengumpulan secara terpisah − Pemisahan dengan warna gerobak. pusat perbelanjaan.000 penduduk. h.00. tidak terkecuali perkantoran (pemerintah/non pemerintah). jarak tempuh. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 56 . 3 − Bila tidak bermesin disesuaikan dengan kapasitas tenaga kerja maksimal yaitu 1.00. 6. rumah sakit. − Mempunyai daerah pelayanan tertentu dan tetap. termasuk saluran air hujan. dan restoran besar. e. pasar. Frekuensi pengumpulan ditentukan menurut lokasi pelayanan/pemukiman. dan hanya untuk daerah datar. truk dapat dilengkapi dengan alat pengangkat wadah sampah otomatis (lifting unit) yang kompatibel dengan wadah sampah kontainer C-90 (90 L). Rasio tenaga pengumpulan terhadap jumlah penduduk/volume sampah − Pengumpulan dengan menggunakan gerobak: 2 petugas dengan 1 gerobak kapasitas 1 m3. dan sebagainya. dan daerah protokol. periode pengumpulannya dapat dilakukan lebih dari 3 hari 1 kali. g.00. serta kondisi komposisi sampah. − Bermesin untuk daerah yang berbukit. semakin besar persentase organiknya. Kriteria alat pengumpul (ukuran/kapasitas. dan lain-lain. periodisasi pelayanan semakin sering. − Pengumpulan sampah organik dilaksanakan 1-2 hari sekali. − Diatur dengan jadwal dan periode pengumpulan. atau sesudah jam 17. − Kapasitas kerja. tergantung dari beberapa kondisi seperti: − Komposisi sampah. Pengumpulan sampah hasil penyapuan jalan diangkut ke lokasi pemindahan untuk kemudian diangkut ke pemrosesan akhir. − Gerobak dengan 2 kontainer terpisah. − Dilaksanakan untuk titik komunal. pusat ibadah. seperti : pasar. pada umumnya 2-4 kali sehari. melayani 1000 penduduk untuk radius pelayanan tidak lebih dari 1000 meter. Periodisasi pengumpulan 1 hari. Contoh: untuk pasar 0. Untuk sampah kering. tetapi perkantoran 3 hari.5 m . rumah susun. f. 1 truk dengan crew 2 orang dengan wadah sampah berupa tong atau kontainer maksimum 120 liter dapat melayani 10. hotel. − Kualitas pelayanan yang diinginkan. Sedang sampah B3 disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. jenis) − Sesuai dengan kondisi jalan.3 Beberapa Kriteria yang Berlaku di Indonesia Berdasarkan pedoman dari Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (sekarang Departemen Pekerjaan Umum) [14]. kondisi daerah.4 rit per hari. pusat perkantoran. bangunan besar. − Desain peralatannya.

Jalan kolektor pusat kota 2 hari 1x . − Jalan pinggir kota pusat perbelanjaan. Berdasarkan pedoman dari Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah [14]. Kriteria Titik Komunal untuk lokasi pengumpulan (1m .Jalan pemukiman pendapatan rendah 2 hari 1x Rasio kebutuhan personil penyapuan/panjang jalan = 1 orang petugas untuk 1 km jalan 6.Lokasi penempatan kontainer komunal (1. Pemrosesan sampah atau pemilahan sampah dapat dilakukan di lokasi ini. Tipe pemindahan sampah dapat dilihat pada Tabel 6.4 Tabel 6.Tempat pemilahan. sedangkan pengangkutan kontainer ke atas truk dilakukan secara mekanis (load haul).5 : Tipe pemindahan (transfer) [7] No. − Mudah dijangkau.Jalan pusat kota area perbelanjaan 3 x per-hari . . . − Jalan kolektor pusat kota. − Terisolasi. jalan utama pusat kota. perlu ada penjadwalan pengisian dan pengosongan. − Jalan pemukiman pendapatan tinggi. Tabel 6. atau kombinasi misalnya pengisian kontainer dilakukan secara manual oleh petugas pengumpul. − Jalan di area pasar.Tempat pemilahan. Baik sekali untuk daerah yang mudah mendapat lahan.Jalan di area pasar. Tempat pengomposan. dan tidak jauh dari sumber sampah. − Jalan pemukiman pendapatan rendah.Tempat parkir gerobak. Tempat penyimpanan atau kebersihan. sehingga sarana ini dapat berfungsi sebagai lokasi pemrosesan tingkat kawasan.Daerah yang sulit mendapat lahan yang kosong dan daerah protokol. tetap bersih. Klasifikasi jalan menurut frekuensi penyapuan seperti dalam Tabel 6.Jalan pusat kota area perbelanjaan 2x per-hari . tipe transfer dipo): − Pelataran berdinding: 57 Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB .20 m2 .Jalan pemukiman pendapatan tinggi 2 hari 1x .Tempat pertemuan gerobak dan kontainer (610 m3). Transfer Tipe II 60 . 10m ) − Dikosongkan setiap hari minimal dengan frekuensi 1 kali.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) i. 1 2 Uraian Luas lahan Fungsi Transfer Tipe I >= 200 m2 Tempat pertemuan peralatan pengumpul dan pengangkutan sebelum pemindahan. Transfer Tipe III 10 .Jalan pinggir kota pusat perbelanjaan 2 hari 1x . Bengkel sederhana. Pemindahan sampah dilakukan oleh petugas kebersihan. Kriteria tipe tempat penampungan sementara (tipe landasan kontainer. tidak mengganggu arus lalu lintas. Klasifikasi jalan menurut kerawanan sampah − Jalan pusat kota area perbelanjaan. Kantor Wilayah/ pengendali.5.4 Pemindahan Sampah Pemindahan sampah merupakan tahapan untuk memindahkan sampah hasil pengumpulan ke dalam alat pengangkut untuk dibawa ke tempat pemrosesan atau ke pemrosesan akhir. . atau kenyamanan pejalan kaki. j. Tempat pemilahan.200 m2 . Lokasi pemindahan sampah hendaknya memudahkan bagi sarana pengumpul dan pengangkut sampah untuk masuk dan keluar dari lokasi pemindahan. − Untuk memaksimalkan kebersihan lokasi transfer.4 Klasifikasi jalan menurut frekuensi penyapuan Klasifikasi jalan Frekuensi penyapuan .10 m3). 6m . − Pembongkaran titik pemindahan sebaiknya memperhatikan kaidah isolasi pencemaran dan diatur jadwalnya yang tidak mengganggu kenyamanan dan kesehatan masyarakat pemakai jalan dan sekitarnya b. - - 3 Daerah Pemakai . jalan utama pusat kota 3x per-hari . yang dapat dilakukan secara manual atau mekanik. . maka: 3 3 3 a.Tempat pertemuan peralatan pengumpul dan pengangkutan sebelum pemindahan.

Untuk itu perlu kepastian dan kejelasan jadwal pengumpulan. Sampah tidak dipilah (commingled wastes) b. sehingga tumpahan sampah dapat dihindari. maka kontainer di setiap rumah harus standar. Apartemen bertingkat tinggal lebih dari 7 tingkat Sampah yang berasal dari masing-masing penghuni rumah tinggal biasa sampai rumah tinggal berbentuk apartemen tingkat menengah. Dinding dibuat cukup tinggi sehingga dapat berfungsi sebagai isolator terhadap daerah sekitarnya. − Sampah. Rumah tinggal yang tidak bertingkat b. 32]: a. Setelah penuh maka kontainer ini akan dibawa ke lokasi pembuangan akhir.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) − Ukuran panjang dan lebar dibuat sedemikian rupa sehingga memudahkan keluar masuk dan pemuatan truk. Seseorang yang berminat dengan barang bekas tersebut secara gratis dapat mengambilnya untuk digunakan kembali. Sistem pemindahan dari kontainer ke truk pengumpul biasanya mekanis. kemudian membawanya ke tempat pemindahan atau ke tempat pemrosesan. maka mekanisme transfer sampah ke kontainer pengumpul di tingkat dasar dapat berupa: − Sampah dikumpulkan di tiap tingkat. yang terdiri dari beberapa apartemen tingkat tinggi. kulkas. dsb dibawa secara sendiri oleh penghasil ke lokasi penampungan sementara. dan membawa kembali ke halaman apartemen atau rumahnya bila telah diambil sampahnya oleh petugas. mebel. kertas bekas. adalah secara langsung-individual (door-to-door).5 Pengumpulan Sampah di Negara Maju Terminologi pengumpulan (collection) sampah di negara maju adalah mengumpulkan sampah dari beragam sumber sampah. yaitu: a. atau kendaraan yang sama tetapi dengan jadwal pengumpulan yang berbeda − Pengumpulan sampah terdaur-ulang (biasanya sampah kering) dengan sistem curb. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 58 . Apartemen sampai tingkat menengah (sampai 7 tingkat) c. maka tata-cara pengumpulan yang sering dijumpai adalah: − Pengumpulan sampah dilakukan dengan dengan sistem curb.. yang dikenal sebagai sistem curb . 6. Sedang bila berbentuk apartemen tinggi. Dalam kompleks apartemen yang luas. dengan menggunakan kendaraan pengumpul yang berbeda. sampah dari masing-masing apartemen disalurkan melalui sistem pneumatis menuju ke tempat penampungan komunal. limbah B3. Bila bersifat mekanis. Gerobak langsung menumpahkan muatannya ke dalam kontainer ini. Bila pemuatan tidak langsung dilakukan dari gerobak maka harus tersedia tempat khusus penimbunan sampah sementara. Sampah dipilah Berdasarkan jenis permukiman yang biasa digunakan. Isolasi bertujuan menghilangkan kesan kotor dari kerja pemindahan. Terdapat variasi pelayanan yang mirip dengan sistem komunal yang biasa diterapkan di Indonesia. TV. Metode ini membutuhkan biaya modal yang cukup besar karena dibutuhkan truk dengan tipe khusus (load hauled truck). lalu kontainer berisi sampah dari tiap tingkat dibawa ke kontainer pengumpul di lantai dasar. Barang-barang tersebut sesuai jadwal yang ditentukan kemudian diangkut ke tempat pemrosesan lebih lanjut sesuai jenisnya oleh pengelola sampah kota. Dengan cara ini. Dibedakan antara sistem pengelolaan untuk [4. Bila pengelolaan sampah di daerah tersebut telah mengenal sistem pemilahan berdasarkan jenis sampahnya. dan pengumpulan sampahnya dilakukan oleh organisasi kemanusiaan yang khusus mengumpulkan bahan-bahan tidak terpakai seperti baju bekas. dsb − Barang-barang yang tidak terpakai lagi. Kontainer muat-hela: Berupa kontainer yang umumnya bervolume 8-10 m3. menuju kontainer pengumpul di lantai dasar − Sistem pelayanan yang sering dijumpai. atau menuju tempat pemrosesan komunal. yang telah tersedia di lokasi tersebut. maka pengumpulan sampah juga mempertimbangkan jenis bangunan yang akan dilayani. biasanya dibawa sendiri oleh penghuni ke kontainer yang lebih besar di lantai dasar. penghuni atau penanggung jawab apartemen membawa wadah sampah yang penuh ke pinggir jalan di depan apartemen atau rumahnya. seperti kasur. khususnya bila sampah berasal dari apartemen bertingkat. biasanya telah terbungkus plastik. dijatuhkan melalui sistem yang berada di setiap tingkat. dan dimasukkan sendiri ke masing-masing kontainer terpisah atau ruangan khusus bila limbah berbahaya.

cepat. Gambar 7. Gambar 7. − Sebaiknya ada alat ungkit. Walaupun metode transportasi sampah di Indonesia belum berkembang. mahasiswa ditugaskan untuk mengamati bagaimana sistem transfer sampah dari TPS ke pengangkut serta kendala yang mungkin dihadapi dalam pengangkutan.10: Jenis truk pengangkut multi-loader. Di negara maju.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) BAGIAN 7 PENGANGKUTAN SAMPAH Bagian ini menjelaskan secara teoritis metode pengangkutan sampah. Dijelaskan pula peralatan serta penentuan rute. dengan sasaran mengoptimalkan waktu angkut yang diperlukan dalam sistem tersebut. serta perhitungan optimasinya.6 m. yang digabung dengan pemadatan sampah. Pengangkutan sampah merupakan salah satu komponen penting dan membutuhkan perhitungan yang cukup teliti. atau TPA.1 Pengangkutan Sampah secara Umum Pengangkutan sampah adalah sub-sistem yang bersasaran membawa sampah dari lokasi pemindahan atau dari sumber sampah secara langsung menuju tempat pemrosesan akhir. seperti yang terdapat di Cilincing Jakarta. − Bak truk/dasar kontainer sebaiknya dilengkapi pengaman air sampah. khususnya bila: Terdapat sarana pemindahan sampah dalam skala cukup besar yang harus menangani sampah Lokasi titik tujuan sampah relatif jauh − Sarana pemindahan merupakan titik pertemuan masuknya sampah dari berbagai area − Ritasi perlu diperhitungkan secara teliti − Masalah lalu-lintas jalur menuju titik sasaran tujuan sampah Dengan optimasi sub-sistem ini diharapkan pengangkutan sampah menjadi mudah.2 dan Tabel 7. minimal dengan jaring. − Kapasitas disesuaikan dengan kondisi/kelas jalan yang akan dilalui. dan biaya relatif murah. 7. Beberapa jenis/tipe truk yang dioperasikan pada subsistem pengangkutan ini.9: Contoh kontainer dan truk pengangkut di negara maju Gambar 7. arm-roll dan roll-on Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 59 . yaitu seperti ditampilkan pada Gambar 7. Persyaratan alat pengangkut sampah antara lain adalah: − Alat pengangkut sampah harus dilengkapi dengan penutup sampah. pengangkutan sampah menuju titik tujuan banyak menggunakan alat angkut dengan kapasitas besar.1 berikut. pola dan operasional pengangkutan sampah.1. − Tinggi bak maksimum 1.

Diperlukan lokasi banyak. hygienis. .Praktis dan cepat .Cocok pada lokasilokasi dengan jumlah sampah yang relatif banyak.Diperlukan lokasi membawa pengoperasian. banyak tenaga pengangkatan.Cocok pada lokasilokasi dengan produksi sampah yang relatif banyak.Tidak memerlukan tenaga kerja yang banyak. .Lebih bersih dan mahal. .Volume sampah .Kurang sehat.Perawatan lebih sulit. dilengkapi dengan lebih cepat.Tidak memerlukan .Biaya investasi dan pemadat sampah banyak.Kurang sehat peninggian bak kerja pada saat . .Hidrolis sering rusak. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 60 . . kondisi jalan di . .Tidak diperlukan penempatan dan secara hidrolis.Tidak diperlukan lebih mahal. mengangkut sampah yang besar (bulky waste).Relatif lebih mudah .Cocok untuk pengumpulan dan angkutan secara komunall .Harga lebih mahal.Memerlukan waktu . (areal) untuk . hygienis.Estetis dan Indonesia umumnya. . jalannya sempit dan .Pengoperasian .Praktis dan cepat . tidak berbatu.Baik untuk jalanjalan protokol : yang rata.Biaya perawatan kontainer-kontainer .Belum memerlukan memungkinkan untuk pekerjaan cepat. lama bila untuk .Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Jenis Peralatan Truck biasa terbuka Dump truck/tipper truck Arm roll truck Compactor truck Multi loader Truck with crane Mobil penyapu jalan (street sweeper) Tabel 7.Harga relatif mahal. lebih efisien dan . (areal) untuk kontainer-kontainer .1 : Peralatan subistem pengangkutan [50.Lebih bersih dan penempatan dan sehat.Pernah digunakan di Makasar. pembongkaran.Dump truck dengan banyak tenaga . . .Perawatan relatif pengoperasian lebih besi lebih mudah dan lama.Perawatan lebih alat penghisap .Truk dilengkapi . .Bak konstruksi . .Truk untuk . sampah ke truk. pengoperasian. jalan protokol yang . pemuatan.Waktu pengumpulan .Sesuai untuk jalanmahal. .Tidak diperlukan banyak tenaga kerja.Tidak diperlukan . . murah. .Sulit untuk efektif.Penempatan lebih fleksibel. . . .Estetika kurang. . dan dengan batas jalan yang baik.Pengoperasian berkarat.Truk untuk .Truk dilengkapi .Truck yang .Bak konstruksi plat .Hidrolis sering rusak.Praktis dalam sistem door to door. 52] Konstruksi/bahan Kelebihan Kelemahan .Cocok untuk tidak teratur.Diperlukan tenaga lebih banyak.Hidrolis sering rusak. dengan alat banyak tenaga . hidrolis tenaga kerja yang . pengangkutnya. kerja. . mengangkat / dalam .Estetika baik.Telah digunakan di DKI Jakarta. kayu.Estetika baik. pemeliharaan lebih . sampah.Kurang estetis. . . .Banyak dipakai di Indonesia. murah.Sulit digunakan di pengangkat untuk menaikkan daerah yang sampah. Catatan .Perlu modifikasi bak. . pengangkatan. . . mengangkut dalam .Harga relatif mahal. .Penempatan lebih fleksibel.Harga relatif . membawa pengoperasian.Bak plat baja. dengan alat terangkut lebih .

.................... Untuk menghitung waktu ritasi dari sumber ke TPS atau ke TPA: THCS = (PHCS+S+ h) ............................. atau 3-5 ton... x = jarak pulang pergi (km)........................... waktu pemuatan..3) PHCS = pc + uc + dbc .... c = ukuran rata-rata kontainer (volume/hari).. f = faktor penggunaan kontainer...... Nd = Vd c.......... P dan S relatif konstan h → tergantung kecepatan dan jarak. dan pembongkaran sampahnya............. (7....... Hauled container system (HCS) Adalah sistem pengumpulan sampah yang wadah pengumpulannya dapat dipindah-pindah dan ikut dibawa ke tempat pembuangan akhir... kemudian setelah dikosongkan wadah sampah tersebut dikembalikan ke tempatnya semula.......................... 2)....... f .......... Konvensional Wadah sampah yang telah terisi penuh akan diangkut ke tempat pembongkaran............. Jumlah ritasi per kendaraan per hari untuk sistem HCS dapat dihitung dengan: [ H (1"w )"(t1 +t 2 ) T HCS Nd = ... Usia pakai (lifetime) minimal 3 5-7 tahun....................... Jumlah ritasi/hari dapat dibandingkan dengan perhitungan atas jumlah sampah yang terkumpul/hari.... Hauled container system dapat dilakukan dengan dua cara................Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengoperasian sarana angkutan sampah kemungkinan penggunaan stasiun atau depo container layak diterapkan...... maka pengangkutan sampah dapat dilakukan dengan dua metode... Ritasi truk angkutan per hari dapat mencapai 4-5 kali untuk jarak tempuh di bawah 20 km. 7........................................ t1 = waktu dari pool kendaraan (garasi) ke kontainer 1 pada hari kerja tersebut (jam).. sehingga: THCS = PHCS + S + a + bx ................... PHCS = waktu pengambilan (jam/rit).............. Dari pusat kontainer ini truk kapasitas besar dapat mengangkut kontainer ke lokasi pemrosesan atau ke TPA.............. Catatan: pada pelayanan dengan gerobak lain → PHCS = waktu mengambil sampai mengembalikan bin kosong di TPS. yang dapat dihitung dengan : h = a + bx ..... ! w = off route faktor (waktu hambatan → sebagai friksi). uc = waktu untuk mengosongkan kontainer. H = waktu kerja (jam/hari).. t2 = waktu dari kontainer terakhir ke garasi (jam).............1) Keterangan: THCS = waktu per ritasi (jam/rit).. a = jam/ritasi....... dbc = waktu untuk menempuh jarak dari kontainer ke kontainer lain (jam/rit)......... (7. Dengan demikian jumlah ritasi truk sampah kota dapat ditingkatkan..... sedangkan truk sampah kota (kapasitas kecil) tidak semuanya perlu sampai ke lokasi tersebut......... S = waktu di tempat (TPS atau TPA) untuk bongkar muat (jam/rit)..........5) Keterangan: Nd = jumlah ritasi/hari (rit/hari)......... (7... yang pada dasarnya akan tergantung waktu per ritasi sesuai kelancaran lalu lintas.... yaitu: 1)......... HCS ini merupakan sistem wadah angkut untuk daerah komersial.................. (7.............7) ! Keterangan: Vd = jumlah sampah terkumpul (volume/hari)......... (7.......... (7..... Volume muat sampah 6-8 m ............. hanya cukup sampai depo container saja.... yaitu [4]: a......... b = jam/jarak.... dan 2-4 rit untuk jarak tempuh 20-30 km...2 Metode Pengangkutan Sampah Bila mengacu pada sistem di negara maju...................................... THCS = waktu pengambilan/ritasi (jam/rit).4) PHCS = waktu pengambilan/rit........... pc = waktu untuk mengangkut kontainer isi (jam/rit)............. Stationary container system (SCS) Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 61 ............ h = waktu pengangkutan dari sumber → TPS atau TPA..........2) a dan b = konstanta empiris.......

............ b.... w = 0...... Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB ! 62 ............. Data yang diberikan: T1 = 15’ T2 = 20’ W = 0.... Stationary container system (SCS) Sistem pengumpulan sampah yang wadah pengumpulannya tidak dibawa berpindah-pindah (tetap). THCS = 1.1)jam/ritasi = 0..................r c......21 jam c)............21 jam / rit = 5. • Tentukan jumlah kontainer yang dapat dikosongkan per hari........9) Keterangan: CT = jumlah kontainer yang dikosongkan/rit (kontainer/rit)...........................4 + 0..331) ] 1..... 3 V = volume mobil pengumpul (m /rit)....... Np = jumlah lokasi kontainer yang diambil per rit (lokasi/rit).. s = 0..8 jam......15 jam............15)"(0.. f . (7. Jumlah ritasi per hari : Nd = Vd V .... Untuk stationary container system (dengan mechanical loaded collection vehicles)........14 rit/jam Nd → diambil ≈ 5 rit → artinya diperlukan waktu sekitar 7........... (7............. F = faktor penggunaan kontainer........... SCS merupakan sistem wadah tinggal ditujukan untuk melayani daerah pemukiman......... Jumlah ritasi/kendaraan dengan rumus (7... 3 ! C = volume kontainer (m /kontainer).. (7.018(31)] jam = 1......... → THCS = [(0.......11) ! Contoh: Untuk mengangkut sampah dari beberapa lokasi kontainer di suatu daerah digunakan sistem HCS................ (7. Jumlah kontainer yang dapat dikosongkan per ritasi pengumpulan: CT = V ...133 + 0.......21 jam.......5 + 0............................133 jam/rit..5 jam/rit.(TSCS ) [ 1 2 ] (1"w ) ..4 jam/ritasi • Waktu rata-rata untuk bergerak dari kontainer ke kontainer = dbc = 6’ = 0. maka: TSCS = (PSCS + s + a + bx) ..1 jam......... PHCS = pc + uc + dbc = (0.018 jam/mil............... t1 = 0.. Wadah pengumpulan ini dapat berupa wadah yang dapat diangkat atau yang tidak dapat diangkat.........33 jam...........10) Keterangan : 3 Vd = jumlah sampah yang dikumpulkan/hari (m /hari) ! Waktu yang diperlukan per hari: H= (t +t )+Nd ..016 jam/rit. bila jam kerja = 8 jam.........r ...........Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Wadah sampah yang telah terisi penuh akan diangkut dan tempatnya akan langsung diganti oleh wadah kosong yang telah dibawa...................... THCS = (PHCS + s + a + bx) Asumsi: a = 0..... b = 0. dengan: H = 8 jam.... Dbc = waktu terbuang untuk bergerak dari satu lokasi ke lokasi kontainer lain (jam/lokasi)....25+0............................5)......... t2 = 0....... b)...............15 (pc+ uc) = 0..25 jam.016 + 0......... Nd = [ 8(1"0.. R = rasio kompaksi.......8) PSCS = CT (Uc) + (np-1)(dbc) Keterangan: CT = jumlah kontainer yang dikosongkan/rit (kontainer/rit). Uc = waktu pengosongan kontainer (jam/rit)................ Penyelesaian: a).........

kendaraan tersebut langsung kembali ke pool. − Dapat memanfaatkan waktu kerja semaksimal mungkin dengan meningkatkan jumlah beban kerja semaksimal mungkin dengan meningkatkan jumlah beban kerja/ritasi pengangkutan. Dan pada ritasi terakhir sesuai dengan yang ditentukan.3: Skema pola pengangkutan sampah secara langsung (door-to-door) [4. dan pekerja mengambil sampah serta mengisi bak truk sampah sampai penuh. truk langsung menuju ke tempat pemrosesan atau ke TPA − Dari lokasi pemrosesan tersebut.4): − Kendaraan keluar dari pool langsung menuju lokasi TD. kendaraan kembali ke jalur pelayanan berikutnya sampai shift terakhir. maka pola pengangkutan yang dilakukan adalah sebagai berikut (Gambar 7. − Setelah terisi penuh.7.5 : Pola pengangkutan sampah sistem individual langsung [7. Pool Pemerosesan/TPA Sumber Sampah Gambar 7. dan dari TD sampah-sampah tersebut langsung diangkut ke pemrosesan akhir − Dari pemrosesan tersebut. maka sistem pengangkutan sampah dapat menggunakan pola pengangkutan sebagai berikut (Gambar 7. Kontong Plastik +/. Untuk sistem door-to-door. 51] Untuk sistem pengumpulan secara tidak langsung.4 Pola Pengangkutan Sampah Pengangkutan sampah dengan sistem pengumpulan individual langsung (door to door) adalah seperti terlihat pada sekema Gambar 7. kemudian kembali ke pool.5 berikut ini. − Truk sampah berhenti di pinggir jalan di setiap rumah yang akan dilayani. yaitu dengan menggunakan Transfer Depo/TD).120 ltr Pemeroses an/TPA Gambar 7. 7. 51] 7.3 Operasional Pengangkutan Sampah Untuk mendapatkan sistem pengangkutan yang efisien dan efektif maka operasional pengangkutan sampah sebaiknya mengikuti prosedur sebagai berikut: − Menggunakan rute pengangkutan yang sependek mungkin dan dengan hambatan yang sekecil mungkin. 51] 63 Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB . kendaraan kembali ke TD untuk pengangkutan ritasi berikutnya. Pool TPS/TD Pemerosesan/TPA Gambar 7.40 ltr Compactor Truck Bin Plastik +/.4: Skema pola pengangkutan secara tidak langsung [4. − Menggunakan kendaraan angkut dengan kapasitas/daya angkut yang semaksimal mungkin.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) 7. yaitu pengumpulan sekaligus pengangkutan sampah.3): − Kendaraan keluar dari pool dan langsung menuju ke jalur pengumpulan sampah. − Menggunakan kendaraan angkut yang hemat bahan bakar.30 ltr Dump Truck Sumber timbulan sampah Bin/Tong +/.

8 : Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer Cara-2 [7. truk menuju kembali ke lokasi sumber sampah berikutnya sampai terpenuhi ritasi yang telah ditetapkan. Isi Kosong a Kontainer a 4 b b 7 c c 1 Pool 10 ke Pool 3 2 5 6 8 9 Pemero sesan/ TPA Gambar 7. Untuk pengumpulan sampah dengan sistem kontainer (transfer tipe III). Kontainer kosong dikembalikan ke tempat semula.2.10 adalah rute alat angkut. Pengumpulan sampah melalui sistem pemindahan di transfer depo Tipe I dan II.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Penjelasan ringkas dalam sistem tersebut adalah: − Truk pengangkut sampah berangkat dari pool menuju titik sumber sampah pertama untuk mengambil sampah − Selanjutnya truk tersebut mengambil sampah pada titik-titik sumber sampah berikutnya sampai truk penuh sesuai dengan kapasitasnya. Pemerosesan/TPA Gambar 7. − Selanjutnya kendaraan tersebut kembali ke transfer depo untuk pengambilan pada rit berikutnya.6: Pola pengangkutan sistem transfer depo Tipe I dan II [7. Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer Cara-2 (Gambar 7. Menuju ke kontainer isi berikutnya untuk diangkut ke pemrosesan atau ke TPA.Demikian seterusnya sampai rit terakhir.6: Pool Kendaraan Transfer Depo Tipe I dan II Pengangkutan sampah. − Sampah diangkut ke lokasi pemrosesan atau ke TPA − Setelah pengosongan sampah di lokasi tersebut.51] Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 64 . . 51] Keterangan gambar: angka 1.7: Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer Cara-1 [7. Sebagaimana telah dibahas pada Bagian 6 (lihat Tabel 6.5) terdapat 3 jenis sistem transfer.….7) dengan keterangan: Kendaraan dari pool menuju kontainer isi pertama untuk mengangkut sampah ke pemrosesan atau ke TPA. Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer Cara-1 (Gambar 7. b. pola pengangkutannya dapat dilihat pada Gambar 7. yaitu Tipe I.8): Isi Kontainer 1 Pool 3 2 4 5 6 Pemero sesan/ TPA 7 Ke Lokasi Kontainer Awal Gambar 7. Kontainer kosong dikembalikan ke tempat semula. II dan III. 51] Keterangan sistem: − Kendaraan pengangkut sampah keluar dari pool langsung menuju lokasi pemindahan di transfer depo untuk mengangkut sampah langsung ke pemrosesan atau TPA. Kembali lagi ke transfer depo untuk rit berikutnya.3. pola pengangkutannya adalah sebagai berikut: a.

Dengan selalu mengikuti peraturan lalu lintas yang berlaku. − Kendaraan dengan membawa kontainer kosong dari TPA menuju ke kontainer isi berikutnya.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Keterangan sistem: − Kendaraan dari pool menuju kontainer isi pertama untuk mengangkut sampah ke pemrosesan − Dari sana kendaraan tersebut dengan kontainer kosong menuju ke lokasi kedua untuk menurunkan kontainer kosong dan membawa kontainer isi untuk diangkut ke pemrosesan. untuk kemudian langsung ke pemrosesan atau ke TPA. 51] Penentuan rute pengangkutan sampah dimaksudkan agar kegiatan operasional pengangkutan sampah dapat terarah dan terkendali dengan baik. Isi Kosong Kontainer Truk dari Pool Pemero sesan/ TPA Gambar 7.7: Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer Cara-3 [7.10: Kontainer tetap biasanya untuk kontainer kecil serta alat angkut berupa truk compactor. misal pengambilan pada jam tertentu atau mengurangi kemacetan lalu lintas.9) dengan keterangan sebagai berikut: − Kendaraan dari pool dengan membawa kontainer kosong menuju ke lokasi kontainer isi untuk mengganti/mengambil dan langsung membawanya ke Pemrosesan atau ke TPA. namun karena panjangnya rute. − Demikian seterusnya sampai dengan rit terakhir. Pola pengangkutan sampah dengan sistem kontainer tetap dapat dilihat pada Gambar 7. Untuk Indonesia yang menggunakan peraturan lalu lintas jalur kiri (left way system). Akan tetapi diusahakan agar hal tersebut terjadi sesedikit mungkin. Pola pengangkutan sampah dengan sistem pengosongan kontainer Cara-3 (Gambar 7. − Peraturan lalu lintas yang berlaku. diusahakan agar rute pengangkutan adalah yang sependek mungkin. Untuk menentukan rute pengangkutan ini. maka perlu diperhatikan: − Lebar jalan yang akan dilalui. − Demikian seterusnya sampai dengan rit terakhir. Keterangan sistem adalah: − Kendaraan dari pool menuju kontainer pertama. maka rute pengangkutan diusahakan untuk menghindari belokan ke kanan. − Waktu-waktu padat. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 65 . − Demikian seterusnya sampai pada rit terakhir. 51] d. sampah dituangkan ke dalam truk compactor dan meletakkan kembali kontainer yang kosong. maka belokan melawan sistem ini seringkali tidak dapat dihindari. − Kendaraan menuju ke kontainer berikutnya sehingga truk penuh. − Sistem ini diberlakukan pada kondisi tertentu. Pengangkutan sampah hasil pemilahan yang bernilai ekonomi dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah disepakati. − Pada rit terakhir dengan kontainer kosong dari pemrosesan atau TPA menuju ke lokasi kontainer pertama. Kosong Isi Kontainer 1 Pool 2 3 4 5 6 Pemero sesan/ TPA 7 Ke Pool Gambar 7. c.10: Pola Pengangkutan dengan sistem kontainer tetap [7.

khususnya sampah yang berasal dari dapur. Dari upaya ini akan dihasilkan vermi-kompos yang berasal dari casting-nya serta bioamas cacing yang kaya protein [11]. Sampah juga merupakan sumber biomas sebagai pakan ternak atau sebagai pakan cacing. sebagai bahan baku maupun sebagai sumber enersi. khususnya dalam bentuk teknologi waste-to-energy. jenis sampah yang cocok adalah sampah hayati. maka sampah jenis ini akan cepat membusuk. sebetulnya menyimpan enersi yang dapat dimanfaatkan. Dalam skala kota. akan dapat ditahan di alat ini karena terjadi pengurangan volume sampah akibat pembusukan. Khusus untuk pakan cacing. Untuk mewujudkan maksud tersebut dapat dijalin hubungan kerjasama antar daerah dan atau bermitra usaha dengan sektor swasta yang potensial dan berpengalaman. baik secara manual maupun secara mekanis berdasarkan jenisnya − Pemadatan sampah (baling) − Pemotongan sampah − Pengomposan sampah baik dengan cara konvensional maupun dengan rekayasa − Pemrosesan sampah sebagai sumber gas-bio − Pembakaran dalam Insinerator.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) BAGIAN 8 PENGOLAHAN SAMPAH Bagian ini menjelaskan beragam jenis pengolahan sampah secara umum. Cara ini diperkenalkan dan telah diuji coba oleh Puslitbang Permukiman – Departemen Pekerjaan Umum beberapa tahun yang lalu.1 Pengolahan Sampah Secara Umum Seperti dibahas pada Bagian sebelumnya. Pembangunan sistem persampahan yang lengkap dan dikelola secara terpadu. Teknik-teknik pemrosesan dan pengolahan sampah yang secara luas diterapkan di lapangan. Pengomposan merupakan salah satu teknik pengolahan limbah organik (hayati) yang mudah membusuk. Namun perlu ditekankan bahwa hasil enersi yang dihasilkan tidak aka pernah dapat menghasilkan uang yang dapat menutup biaya pengembalian modal dan operasipemeliharaan sistem tersebut. Penjelasan lanjut lebih diarahkan pada pengenalan teknologi pengomposan dan insinerasi. maka upaya ini sulit untuk tercapai baik. atau terdegradasi oleh mikroorganisme yang berlimpah di alam ini. Kompos dapat disebut berkualitas baik bila mempunyai karakteristik sebagai humus dan bebas dari bakteri patogen serta tidak berbau yang tidak enak. misalnya penggunaan komposter individual. baik secara langsung. Sampah yang telah membusuk di sebuah timbunan sampah misalnya di landfill sebetulnya adalah kompos anaerob yang dapat dimanfaatkan pada pasca operasi. yang dihasilkan adalah kompos yang perlu penanganan lebih lanjut. Hasil penjualan listrik digunakan sebagai upaya menurunkan biaya yang dibutuhkan dalam menjalankan teknologi tersebut. Aktivitas daur-ulang sampah dapat dimulai dari rumah-rumah. Sampah yang terbuang. yang perlu dikembangkan secara bertahap dengan mempertimbangkan pemrosesan yang bertumpu pada pemanfaatan kembali. menangkap panas yang keluar akibat pembakaran. yang menghasilkan enersi panas atau gas-bio yang berhasil dikeluarkan untuk kebutuhan enersi terbarukan. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 66 . 8. Teknologi pengolahan sampah yang saat ini berkembang dan sangat dianjurkan bertujuan bukan hanya untuk memusnahkan sampah tetapi untuk me-recovery bahan dan/atau enersi yang terkandung di dalamnya. sistem operasional pengelolaan sampah mencakup juga sub-sistem pemrosesan dan pengolahan sampah. menangkap gas bio yang terbentuk dari sebuah landfill c. Pemanfaatan enersi merupakan salah satu teknologi yang paling banyak dikembangkan dan diterapkan. dua teknologi yang paling banyak digunakan. selain memerlukan modal investasi awal yang cukup besar. misalnya melalui insinerasi. menangkap gasbio hasil proses degradasi secara anaerobik pada sebuah reaktor (digestor) b. Teknologi tersebut tetap diposisikan sebagai pengolah sampah. khususnya sampah dapur. khususnya di negara industri antara lain adalah: − Pemilahan sampah. dimana sistem pengumpulan dan pengangkutan sampah masih tercampur. juga memerlukan kemampuan manajemen operasional yang baik. Tipikal alat ini dapat menerima sampah dari sebuah keluarga selama lebih dari 6 bulan sebelum penuh. dengan pilihan pemanfaatan enersi panas Melihat komposisi sampah di Indonesia yang sebagian besar adalah sisa-sisa makanan. Setelah penuh. bukan sebagai pembangkit enersi sebagai peran utamanya. Dengan volume kontainer sekitar 60 Liter. ternyata sampah dapur khususnya sisa-sisa makanan. Pemanfaatan enersi sampah dapat dilakukan dengan cara: a. Alasan utama utama kegagalan pengomposan selama ini adalah pemasaran.

sampah kota di Indonesia dikenal mempunyai kadar air yang tinggi (sekitar 60 %).Volume sampah yang terbuang berkurang.Sistem pembakaran terputus untuk kapasitas kecil (<100 ton/hari) . angka ini umumnya merupakan ambang tertinggi. khususnya PVC. Insinerasi modular juga sering disebut-sebut sebagai alternatif dalam mengurangi massa sampah yang akan diuangkut ke TPA.Harga kompos yang dihasilkan lebih mahal daripada pupuk kimia. yang dapat diminimalkan bila bahan plastik.Proses pengomposan lebih cepat.Volume sampah menjadi sangat berkurang. Baling (Pemadatan) Incinerator (Pembakaran) - Recycling (Daur Ulang) - Tidak semua jenis sampah bisa didaurulang. sehingga akan mempersulit untuk terbakar sendiri. . Ada 2 (dua) tipe : . dan yang paling penting adalah bagaimana mengurangi dampak negatif dari pencemaran udara.1: Kelebihan dan kelemahan alternatif sistem pengolahan sampah [50] Jenis Pengolahan Composting (Pengomposan): 1. atau dikenal pula sebagai biomas. bau pembakaran. . Dapat menimbulkan polusi udara. Tabel 8.Sistem pembakaran berkesinambungan untuk kapasitas besar (>100 ton/hari). dan pemeliharaan relatif mahal. . operasi. Kelemahan Memerlukan peralatan lebih banyak dan kompleks. tujuan pengomposan adalah: a.Merupakan lapangan kerja bagi pemulung sampah (informal).Dianjurkan bila jarak ke pemrosesan akhir lebih dari 25 km.Volume sampah yang terbuang dapat dikurangi.1 merupakan gambaran umum tentang beberapa pengolahan. . Jadi sampah tersebut harus terbakar dengan sendirinya.Hygienis. Pengomposan dapat dipercepat dengan mengatur faktor-faktor yang mempengaruhinya sehingga berada dalam kondisi yang optimum untuk proses pengomposan. Saat ini teknologi insinerator dengan penangkap panas (enersi) dikenal sebagai waste-toenergy. Mengubah bahan organik yang biodegradable menjadi bahan yang secara biologi bersifat stabil b. Pemanfaatan panas dari insinerator dapat dipertimbangkan bila karakteristik dan jumlah sampah yang akan dibakar mencukupi [4]. Biaya investasi. Sejenis sampah akan disebut layak untuk insinerator. - Perlu perawatan yang baik dan kontinu. Persoalan yang timbul adalah bagaimana mencari lokasi yang cocok. Untuk sampah kota di Indonesia.Sesuai untuk sampah yang banyak mengandung unsur organik. Penelitian lain khususnya di negara industri seperti Amerika Serikat adalah mencoba membuat alkohol dari sampah organik ini. Disamping itu. . maka tampaknya yang paling dikhawatirkan adalah munculnya dioxin. Catatan . Bila prosesnya pembuatannya secara aerob. sebuah insinerator akan dianggap layak bila selama pembakarannya tidak dibutuhkan subsidi enersi dari luar.Tidak memerlukan banyak peralatan. termasuk adanya asap. . Proses pengomposan lebih lama. Memerlukan tenaga lebih banyak. Salah satu jenis pengolah sampah yang sering digunakan sebagai alternatif penanganan sampah adalah insinerator. 8. dsb. .2 Pengomposan (Composting) Proses pengomposan (composting) adalah proses dekomposisi yang dilakukan oleh mikroorganisme terhadap bahan organik yang biodegradable. maka proses ini akan membunuh bakteri patogen. Beberapa Dinas Kebersihan di Indonesia juga mempunyai minat yang serius dengan pembakaran sampah di tingkat kawasan sebelum sampah diangkut ke TPA. . menghemat lahan pembuangan akhir. Khusus untuk sampah kota.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Ide lain yang telah diterapkan di beberapa negara industri seperti Jepang adalah membuat ‘pelet’ sampah sebagai bahan bakar.Pemanfaatan kembali bahanbahan (anorganik) yang sudah terpakai. Dari sekian banyak jenis pencemaran udara yang mungkin timbul. Biaya investasi dan operasi mahal. Hambatan utama penggunaan insinerator adalah kekhawatiran akan pencemaran udara. . Windrow Composting (sederhana) Kelebihan .Volume sampah yang terbuang berkurang.Praktis/efisien dalam pengangkutan ke TPA.Biaya operasi lebih tinggi dari harga jual. telur serangga. bila mempunyai nilai kalor sebesar paling tidak 1200 kcal/kg-kering. . . High Rate (modern) 2. . Tabel 8. Biasanya produk ini digabungkan dengan insinerasi waste-to-energy yang enersinya dimanfaatkan. Memerlukan peralatan yang relatif mahal bila dilaksanakan secara mekanis. tidak ikut terbakar di insinerator ini [11].Untuk kapasitas besar hasil sampingan dari pembakaran dapat dimanfaatkan antara lain untuk pembangkit tenaga listrik. . . Kurang sehat bagi pemulung sampah (informal). Biaya investasi mahal.Biaya investasi lebih murah. . Secara umum. .Volume sampah yang terbuang berkurang. dan mikroorganisme lain yang tidak tahan pada temperatur di atas temperatur normal Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 67 .Dianjurkan pemisahan mulai dari sumber sampahnya.

.. 1..5 [b – nx – 3(d – nx)] s = a .... + panas Bila materi organik adalah CaHbOcNd... transformasi umum buangan aerob dapat dijelaskan sebagai berikut [4]: Input: Materi organik + O2 + nutrisi + bakteri Materi organik belum terdegradasi + biomass sel bakteri + CO2 + H2O + NH3 + ..... dan bila materi orgnanik belum terdegradasi adalah CwHxOyNz . suplai udara..... Pengomposan aerobik lebih banyak dilakukan karena tidak menimbulkan bau.5 (ny + 2s + r –c) O2 → nCwHxOyNz + sCO2 + rH2O + (d-nx) NH 3 . CO2..... maka [4]: C aH bO c N d + 4 a +b"2c"3d 4 ! O2 → aCO2 + (b . Kondisi suhu: − Suhu mesofilik: berlangsung pada suhu normal. seperti pengaturan pH. karena zat hara yang dikandungnya akan tergantung pada karakteristik bahan baku yang digunakan...Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) c.. No. CO2. Secara umum... (8...3) Dengan : s = a – nw – m ! r = c – ny . Endotermis.... Ketersediaan oksigen: − Aerob bila dalam prosesnya menggunakan oksigen (udara) − Anaerob bila dalam prosesnya tidak memerlukan adanya oksigen b.. suhu..... maka biasanya proses pengomposan dilakukan secara aerob. kelembaban. ! (8... maka transformasinya adalah : CaHbOcNd → nCwHxOyHz + mCH4 + sCO2 + (d . terjadi pada kondisi aerob c. 6... 4. 40] Karakteristik Aerob Anaerob Reaksi pembentukannya Eksotermis.. Proses pembuatan kompos adalah dekomposisi material organik limbah padat (sampah) secara biologis. CH4 Reduksi volume Lebih dari 50% Lebih dari 50% Waktu proses (20-30) hari (20-40) hari Tujuan utama Reduksi volume Produksi energi Tujuan sampingan Produksi kompos Stabilisasi buangan Estetita Tidak menimbulkan bau Menimbulkan bau Karena pertimbangan di atas.... materi organik belumlah dapat dikatakan stabil.....nz)NH3 + rH2O ......... namun dapat disebut stabil secara biologis.. 5.. Adapun perbedaan antara keduanya dapat dilihat pada Tabel 8..2) Bila proses berlangsung anaerob..1) Dengan: r = 0. maka konsumsi reaksi yang terjadi adalah [4]: CaHbOcNd + 0. pencampuran. dihasilkan gas-bio sumber enersi Produk akhir Humus.... 7. dsb. H2O Lumpur. Tabel 8..2: Perbandingan pengomposan aerob dan anaerob [4.. Teknologi yang digunakan: − Pengomposan tradisional (alamiah) misalnya dengan cara windrow − Pengomposan dipercepat (high rate) yang bersasaran mengkondisikan dengan rekayasa lingkungan proses yang mengoptimalkan kerja mikroorganisme. walaupun dikenal pula sebagai pupuk organik..2 berikut ini. 2....2s Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 68 . Klasifikasi pengomposan antara lain dapat dikelompokkan atas dasar: a... waktu pengomposan lebih cepat. biasanya proses anaerob o − Suhu termofilik: berlangsung di atas 40 C.. (8. butuh enersi luar.... temperatur proses pembuatannya tinggi sehingga dapat membunuh bakteri patogen dan telur cacing. bila sel biomas bakteri diabaikan. Menghasilkan produk yang dapat digunakan untuk memperbaiki sifat tanah Beberapa manfaat kompos dalam memperbaiki sifat tanah adalah: − Memperkaya bahan makanan untuk tanaman − Memperbesar daya ikat tanah berpasir − Memperbaiki struktur tanah berlempung − Mempertinggi kemampuan menyimpan air − Memperbaiki drainase dan porositas tanah − Menjaga suhu tanah agar stabil − Mempertinggi daya ikat tanah terhadap zat hara − Dapat meningkatkan pengaruh pupuk buatan Kompos kurang tepat bila disebut sebagai pupuk. Oleh karena sampah kota karakteristiknya sangat heterogen dan fluktuatiif maka kualitasnya akan mengikuti karakteristik sampah yang digunakan sebagai bahan kompos setiap saat..... tidak butuh enersi dihasilkan panas luar.3d)/2 + H2O + dNH 3 .nw Bila terjadi reaksi sempurna. misalnya dalam landfilling yang berlangsung secara alamiah.... di bawah kontrol kondisi proses yang berlangsung. sehingga kompos yang dihasilkan lebih higienis.. 3... Dalam produk akhir.

kemudian pH akan naik dan stabil pada pH 7 . tancapkan bambu ke tengah tumpukan.3): − Timbunan kompos harus selalu lembab. serta tidak berbau busuk. − Adanya panas yang terbentuk. misalnya makin banyak kandungan kayu atau bahan yang mengandung lignin. dapat langsung digunakan. Jika lumpur ditambahkan.8 sampai kompos matang. Kandungan karbon dan nitrogen (lihat Tabel 8. terdapat dalam bahan organik yang akan dikomposkan seperti jerami. Hal ini akan menaikkan temperatur menjadi sangat tinggi. Bulking agent. biasanya sekitar nilai 50-60%. Sebaliknya. diperlukan udara yang mengandung lebih dari 50% oksigen. Tinggi tumpukan sebaiknya 1. − Pada proses mekanis. Diameter yang baik adalah antara (25-75) mm. Pada rasio yang lebih rendah. Pada proses konvensional. sedang C/N di akhir proses adalah 12 – 15. Untuk meminimalkan kehilangan nitrogen dalam bentuk gas ammonia. Ukuran bahan yang dikomposkan : bila ukuran sampah makin kecil. sampah kota. − Pada pengomposan tradisional. Namun bila diameter terlalu kecil. 2/3 dari karbon digunakan sebagai sumber energi bagi pertumbuhan mikroorganisme. − Pada pengomposan tradisional. − Harga C/N tanah adalah 10 – 12. Nilai optimum adalah = 55%. Suhu tinggi (60-70)ºC menyebabkan pecahnya telur insek. pH tidak boleh melebihi 8. − Bila terlalu basah. h. g. misalnya diberi tutup plastik atau terpal. maka akan makin sulit terurai b. pembalikan biasanya dilakukan setiap 5 hari sekali. ammonia akan dihasilkan dan aktivitas biologi akan terhambat. Temperatur: − Suhu terbaik adalah 50º-55ºC. daundaunan dsb. d. − Kadang-kadang diperlukan penambahan air ke dalam timbunan setiap 4 – 5 hari sekali. Kondisi asam basa (pH): − pH memegang peranan penting dalam pengomposan. sehingga tumpukan menjadi kering. menyebabkan pengomposan akan lama.2 m. − Waktu pengomposan dapat direduksi dengan proses pencampuran dengan bagian yang sudah terdekomposisi sampai (1-2)% menurut berat. Buangan lumpur dapat juga ditambahkan dalam penyiapan sampah. sedang pada ratio yang lebih tinggi.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Hal yang perlu diperhatikan dalam proses pengomposan. f.25 . misalnya dalam kotoran hewan. dedak atau kompos matang. kurang lebih selembab karet busa yang diperas. Bahan yang dikomposkan: apakah mudah terurai atau sulit terurai. dan 1/3 lainnya digunakan untuk pembentukan sel bakteri. − Bila pH terlalu rendah. seperti zeolit. Mikroorganisme: mikroorganisme seperti bakteri. dan matinya bakteri-bakteri patogen yang biasanya hidup pada temperatur mesofilik. Kadar air (lihat Tabel 8. tersedianya oksigen akan dipengaruhi tinggi tumpukan. maka timbunan kompos harus dilindungi dari hujan. antara lain [4. Biasanya pengadukan atau pembalikan kompos pada proses konvensional akan mengembalikan kondisi dalam timbunan menjadi normal kembali. terjadi pemadatan bahan-bahan dan akan terjadi efek selimut. akan makin luas permukaan. batang tebu. Perbandingan C dan N awal yang baik dalam bahan yang dikomposkan adalah 25-30 (satuan beratnkering). dan oksdigen berkurang sehingga proses menjadi anaerob. dan dibutuhkan dalam pembentukan sel bakteri. sehingga udara dari luar yang kaya oksigen menggantikan udara yang ditarik keluar yang kaya CO2. maka pori-pori timbunan akan terisi air. Bila bambu basah dan hangat. ragi. akibatnya akan makin cepat proses pembusukan. kondisi bisa menjadi anaerob karena ruang untuk udara mengecil. dan akan mencapai (55-60)ºC pada periode aktif. sehingga bahan-bahan yang mempunyai harga C/N mendekati C/N tanah. bila tumpukan terlalu tinggi. Pada awal pengomposan. − Nitrogen (N) adalah komponen utama yang berasal dari protein. jamur yang sesuai dengan bahan yang akan diuraikan akan dapat menguraikan bahan organik c. banyak digunakan untuk mempertahankan kadar air agar tidak terlalu lembab. nitrogen akan menjadi variabel pembatas. 53]: a. untuk daerah yang mempunyai curah hujan yang tinggi.3): − Karbon (C ) adalah komponen utama penyusun bahan organik sebagai sumber enersi. dan oksigen menjadi berkurang. Pembalikan menyebabkan distribusi sampah dan mikroorganisme akan lebih merata. pH akan turun sampai 5. dan proses pembusukan dapat terganggu.5. Pada saat itu bagian tengah tumpukan dapat menjadi kering. sehingga makin baik kontak antara bakteri dan materi organik. suplai oksigen dilakukan secara mekanis. − Untuk mengukur suhu secara mudah. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 69 . Untuk hasil yang optimum. Suhu rendah. − Timbunan akan berasap bila panas mulai timbul. Ketersediaan oksigen: − Pada proses aerob selalu dibutuhkan adanya oksigen. kadar air akhir merupakan variabel pengontrol. maka proses pengomposan berjalan dengan baik. menyebabkan air menguap. biasanya dengan menarik udara yang berada dalam kompos. Secara praktis. − Dalam proses pengomposan. perlu penambahan kapur atau abu. suplai oksigen dilakukan dengan pembalikan tumpukan sampah. e.

2 sampai 8. − Proses pengomposan dilakukan dalam reaktor. dsb dapat digunakan juga sebagai indikator tingkat dekomposisi.3: Perbandingan C/N dan kadar air [4] Jenis Bahan Harga C/N Kadar Air (%) Kayu 200-400 75-90 Jerami padi 50-70 75-85 Kertas 50 55-65 Kotoran ternak 10-20 55-65 Sampah kota 30 50-60 i. − Horisontal: cara yang paling dikenal adalah metoda Dano. dan membutuhkan 3 . yang dikembangkan oleh PPT ITB. antara lain di Kebun Binatang Ragunan. Beberapa teknologi menyalurkan uap panas hasil pengomposan pada bagian sampah yang baru masuk. Langkah yang digunakan seperti terlihat dalam Gambar 8. Metoda ini berasal dari Denmark (1933). Pada pengomposan ini. Panas terbentuk selain membunuh bakteri patogen juga membantu proses perbaikan dan pengeringan secara perlahan. Fermentasi terjadi selama transport material dari bagian atas sampai ke dasar reaktor yang terdiri dari beberapa tahap. dengan pasokan oksigen dan air untuk menjamin kondisi tetap aerob. tingkat kapasitas panas. Tingkat dekomposisi: dapat diperkirakan melalui pengukuran penurunan suhu akhir. disamping penambahan air untuk menjaga kelembaban.3 minggu untuk mencapai kompos setengah matang.1. pengomposan sampah kota sudah biasa dilaksanakan secara mekanis. yang pada pengomposan tradisional (konvensional) membutuhkan waktu sekitar 3 minggu.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Tabel 8. pertumbuhan jamur. Beberapa catatan dalam pengomosan dipercepat adalah [56]: − Bahan yang akan dikomposkan disortir dari logam. Beberapa jenis reaktor pengomposan modern adalah [54]: − Vertikal (menara): diperkenalkan pada tahun 1939 di Amerika. Di negara industri. dan bagaimana agar mikroorganisme pengurai menjadi lebih aktif dalam menguraikan kompos. Sistem Windrow merupakan teknologi yang relatif paling sederhana melalui penumpukan bahan kompos secara tradisional.4 berikut. jumlah materi yang dapat didekomposisi. Contoh-contoh pengomposan dipercepat dalam reaktor dapat dilihat dalam Gambar 8. Sejak awal tahun 1980-an Pusat Studi Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) ITB memperkenalkan pengomposan sederhana. materi asing yang tidak bisa dikomposkan akan terpisahkan di ujung akhir kiln. dikenal dengan metoda EarpThomas. Kompos adalah makanan yang ideal bagi vermikultur sehingga tidak ada biaya tambahan produksi yang diperlukan [41]. dikenal sebagai pengomposan dipercepat (accelerated composting). dikenal sebagai Vermikultur. pembuatan kompos dengan menggunakan cacing dapat pula diterapkan. sekam padi dan diperkaya dengan pembubuhan urea dan NPK. dimana materi sampah dimasukkan dari atas. Sampah dimasukkan dari bagian atar reaktor. Pembibitan mikroorganisme dilakukan dengan resirkulasi air lindi yang terbentuk. kaca. Disamping itu. − Metode Siloda adalah menggunakan alat yang secara sistematis dan berkala memindahkan kompos ke sisi lain. Fermentasi dilakukan dalam reaktor bertipe rotary kiln. dan sampah turun ke bawah karena adanya putaran pada reaktor. kebutuhan oksigen. Sampah diputar secara perlahan dalam kiln. plastik dan bahan lain yang tidak dapat dikomposkan. Pada pengomposan ini. Prinsip yang digunakan adalah bagaimana agar bahan baku kompos menjadi lebih baik. Percepatan ini dilaksanakan pada proses pembuatan kompos setengah matang. ditambahkan juga kapur . sehingga terjadi pengadukan secara sempurna Dengan sistem reaktor tersebut. Suplai oksigen dari udara bebas dimasukkan dari bawah tumpukan. waktu yang dibutuhkan dipercepat sampai menjadi 1 minggu. Cara pengomposan ini kemudian diterapkan dibeberapa tempat.4 bulan berikutnya untuk menghasilkan kompos matang. maka variabel yang dapat mempertinggi kerja mikroorganisme diatur secara sistematis dan menerus. Dengan pemutaran ini. Disamping itu dilakukan pembalikan/ pengadukan secara mekanikal. Metode sejenis adalah jenis Triga. dengan melengkapi drainase penyalur udara di bawahnya. Cara ini adalah penerapan vermikultur dengan skala yang memadai untuk memproduksi volume cacing yang diperlukan oleh petani untuk mampu mengkonsumsi sekitar 3-5% kompos kasar produksi TPA. Materi kompos dibiarkan terdekomposisi secara alamiah dan oleh kegiatan bakteri yang menghasilkan panas pada tumpukan kompos. Contoh lain dari proses pengomposan sederhana dapat dilihat pada gambar berikut. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 70 . Untuk pemisahan bahan tersebut dapat digunakan alat pemisah mekanis atau manual. bersamaan dengan dikembangkannya Kawasan Industri Sampah. Proses ini membutuhkan waktu sekitar 2 . Kenaikan potensial redoks.

Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Gambar 8.1: Pengomposan dengan cetakan model PPLH ITB [55] Gambar 8.2: Metode pengomposan Siloda [54] Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 71 .

6 berikut adalah skema insinerator. serta materi padatan yang sulit terbakar. thermal converter [33] . sehingga nama insinerator cenderung berubah seperti waste-to-energy.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Gambar 8. teknologi insinerasi sudah diterapkan dengan kapasitas besar (skala kota). Insinerasi adalah metode pengolahan sampah dengan cara membakar sampah pada suatu tungku pembakaran.4 : Skema pengomposan vertikal Triga dan Tower [54] 8. Di beberapa negara maju. Teknologi insinerator skala besar terus berkembang.3 : Metode pengomposan Dano [54] Gambar 8.5 dan 8. Gambar 8. Salah satu kelebihan yang dikembangkan terus dalam teknologi terbaru dari insinerator ini adalah pemanfaatan enersi. yaitu abu (bottom ash) dan debu (fly ash). khususnya dengan banyaknya penolakan akan teknologi ini yang dianggap bermasalah dalam sudut pencemaran udara. misalnya untuk pembangkitan listrik dan air panas. Panas yang dihasilkan dari proses insinerasi juga dapat dimanfaatkan untuk mengkonversi suatu materi menjadi materi lain dan energi. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 72 .3 Insinerator Insinerator Skala Kota Teknologi insinerasi merupakan teknologi yang mengkonversi materi padat (dalam hal ini sampah) menjadi materi gas (gas buang).

operasi. yang sudah tidak dapat didaurulang lagi. Insinerasi merupakan proses pengolahan buangan dengan cara pembakaran pada temperatur yang sangat tinggi (>800ºC) untuk mereduksi sampah yang tergolong mudah terbakar (combustible). Abu yang dihasilkan dari proses pembakaran bisa digunakan untuk bahan bangunan. Sasaran insinerasi adalah untuk mereduksi massa dan volume buangan.5: Prinsip proses Insinerasi Udara/gas Cerobong Udara BBM Pemasok Penerima Gas APC Tungku Tungku Udara Pemisah Debu Terbang LIMBAH BBM Landfill Pengolah air Gambar 8. serta memudahkan penanganan limbah selanjutnya. Fasilitas pembakaran sampah dianjurkan hanya digunakan untuk memusnahkan/membakar sampah yang tidak bisa didaur ulang. Insinerasi dapat mengurangi volume buangan padat domestik sampai 85-95 % dan pengurangan berat sampai 70-80 %. namun teknologi insinerasi membutuhkan biaya investasi. Sedangkan residu dari sampah yang tidak bisa dibakar seperti sisa logam bisa didaur ulang. dan pemeliharaan yang cukup tinggi. dibuat bahan campuran kompos.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Suplai air pendingin Suplai Buangan Unit Penerima (Ruang Bakar) Air Pollution Control (APC) Suplai udara Unit pemisah Gambar 8. membunuh bakteri dan virus dan meredukdi materi kimia toksik. atau dibuang ke landfill. Alat ini harus dilengkapi dengan sistem pengendalian dan kontrol untuk memenuhi batas-batas emisi partikel dan gas-buang sehingga dipastikan asap yang keluar dari tempat pembakaran sampah merupakan asap/gas yang sudah netral.6: Unit-unit pada Insinerator Skala Kota [5] Meskipun teknologi ini mampu melakukan reduksi volume sampah hingga 70%. ataupun tidak layak untuk diurug. yaitu: Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 73 . Proses insinerasi berlangsung melalui 3 (tiga) tahap.

maka akan dibutuhkan serangkaian unit-unit APC yang sesuai. − Cerobong (stack): semakin tinggi akan semakin baik. Insinerator yang bekerja terus menerus akan menghemat bahan bakar. Skema insinerator kapasitas besar untuk sampah kota umumnya terdiri atas bagian-bagian sebagai berikut (lihat Gambar 8. dan tidak menyalurkan panas keluar. hasilnya limbah menjadi kering yang akan siap terbakar. tetapi tidak berarti tidak mengotori udara. − Aspek pencegahan pencemaran udara : menyangkut penanganan debu terbang.603S. limbah sisa pembakaran dan abu. − Suplai udara: agar tetap memasok udara sehingga sistem dapat terbakar. yaitu 3-T (Temperature.63O1. Teknologi insinerasi mempunyai beberapa sasaran. − Time (waktu): Berkaitan dengan lamanya fasa gas yang harus terpapar dengan panas yang telah ditentukan. Bila pembakaran sempurna. Kebutuhan oksigen dan nilai kalor yang dikandungnya dapat dihitung berdasarkan metode pendekatan kadar unsur sampah. Dengan cerobong yang tinggi maka terjadi pendinginan-pengenceran. Pasokan udara dari bawah adalah suplai utama. dan operasional insinerator. yaitu pembakaran tidak sempurna. − Sistem Feeding/Penyuplai: agar instalasi terus bekerja secara kontinu tanpa tenaga manusia. − Turbulensi: Limbah harus kontak sempurna dengan oksigen. dan sampah kertas 16% adalah C351. kadar air. − Tungku pembakar: harus bisa mendorong dan membalik sampah. misalnya dengan rumus kimia sampah Indonesia dengan dominasi rata–rata kandungan sampah organik sekitar 60%. Pada insinerator modular yang sering digunakan di kota-kota di Indonesia. sampah plastik 17%. NOx . paling tidak untuk mengurangi partikel-partikel debu yang keluar. sehingga tidak dibutuhkan enersi tambahan dari luar. o Dioxin o Panas Setiap jenis pencemar.65N13. Temperatur ideal o untuk sampah kota tidak kurang dari 800 C. tekanan uap. khususnya: o Debu atau partikulat o Air asam o Gas yang belum sempurna terbakar: CO o Gas-gas hasil pembakaran seperti CO2.6): − Unit Penerima: perlu untuk menjaga kontinuitas suplai sampah. Udara sekunder perlu untuk membakar bagian-bagian gas yang tidak sempurna. Panas yang tersedia dari pembakaran limbah sebelumnya akan berpengaruh terhadap jumlah bahan bakar yang dipasok.368. − Selanjutnya terjadi proses pirolisis. Nilai kalor sampah Indonesia mencapai 1. − Dinding insinerator harus tahan panas. Akan dikeluarkan abu. b.42H2. yaitu: a. Agar terjadi proses yang optimal maka ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam menjalankan suatu insinerator. Biasanya sekitar 2 detik pada fase gas. dan uap metalik. terutama untuk daerah sekitarnya. dari kegiatan Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 74 . − Unit pemisah: memisahkan abu dari bahan padat yang lain. sedang insinerator kecil (modular) tungkunya adalah statis. antara lain: − Aspek keterbakaran: menyangkut nilai kalor. dan diperoleh pula enersi panas. − Terdapat 3 parameter utama dalam operasi insinerator yang harus diperhatikan. sehingga bila seluruh jenis pencemar ini ingin dihilangkan. membutuhkan APC yang sesuai pula. akan tambah sedikit limbah tersisa dan gas yang belum sempurna terbakar (seperti CO). gas toksik. seperti dari industri (termasuk limbah B3). dimana temperatur belum terlalu tinggi − Fase berikutnya adalah pembakaran sempurna. dan kadar abu dari buangan padat. Time dan Turbulence) [5]: − Temperature (Suhu): Berkaitan dengan pasokan oksigen (melalui udara). sehingga terjadi pembakaran sempurna.000 – 2. Dapat dicapai proses insinerasi yang ekonomis bila sampah memiliki nilai kalor paling tidak 2. Mengurangi massa / volume: proses insinerasi adalah proses oksidasi (dengan oksigen atau udara) limbah combustible pada temperatur tinggi. Insinerator besar diatur dengan kisi-kisi atau tungku yang dapat bergerak. gas. − Kebutuhan udara: tergantung dari jenis limbah − Pembubuhan air: mendinginkan residu/abu dan gas yang akan keluar stack agar tidak mencemari lingkungan. Mendestruksi komponen berbahaya: insinerator tidak hanya untuk membakar sampah kota. khususnya sampah. − Aspek keamanan: menyangkut titik nyala.099. SOx. dapat dikatakan sarana ini belum dilengkapi unit APC. Sudah diterapkan untuk limbah non-domestik.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Mula-mula membuat air dalam sampah menjadi uap air. deteksi logam berat.000 kkal/kg-kering. Udara yang dipasok akan menaikkan temperature karena proses oksidasi materi organik bersifat eksotermis. − APC (Air Pollution Control): terdapat beragam pencemaran yang akan muncul.000 kkal/kg-kering.

Cara pengoperasian: batch atau kontinu b. Dalam hal ini limbah tidak harus combustible. Namun karena permasalahan teknis yang sejak awal telah terjadi. Sudah digunakan untuk limbah non-padat. Insinerator tidak hanya untuk membakar limbah padat. yaitu dapat menghasilkan enersi yang dapat dimanfaatkan. Pengoperasian: − Pengoperasian secara batch dengan pemasokan manual − Pengoperasian secara batch dengan pemasokan semi kontinu − Pengoperasian secara kontinu: untuk skala di atas 40 ton/hari. slurry) Masing-masing jenis kemudian berkembang lagi. b. ruang pembakaran akan tetap tersedia untuk limbah yang baru. Kuantitas harus cukup untuk menghasilkan enersi secara kontinu agar suplai enersi tidak terputus. Tungku yang digunakan: − Statis (insinerator modular atau kecil. dicat dengan cat tahan temperatur tinggi Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 75 . Beberapa informasi di bawah ini menjelaskan secara ringkas tentang insinerator jenis modular dengan: a. Faktor penting yang harus diperhatikan adalah kuantitas dan kontinuitas limbah yang akan dipasok. Insinerator skala modular (skala kecil). Insinerator yang paling sederhana adalah 1 kamar. Kapasitas pembakaran biasanya digunakan tidak lebih dari 75%. Tambah besar kapasitas insinerator. yang kemudian dibagi lagi menjadi: − Multi chambre − Multi chambre – starved control-air Insinerator Modular Di Indonesia. Dinding Isolasi panas berfungsi untuk menghemat bahan bakar dan mempertahankan temperatur. − Pengeluarkan abu: bila abu dapat dikeluarkan secara terus menerus. seperti sludge dan limbah cair yang sulit terdegradasi. walaupun ternyata mengalami beberapa permasalahan. yang terdiri dari: − Lapis luar: baja tahan karat dengan ketebalan tertentu (mis 6 mm). Kapasitas nominal tungku pembakaran: dinyatakan sebagai Kg/jam. misalnya dalam insenarator modular dikenal insinerator kamar-jamak. konsumsi dan jenis bahan bakar. tambah sedikit bahan bakar yang dibutuhkan per satuan limbah yang akan dibakar. e. Pasokan oksigen dilakukan dengan memasukkan udara secara: − Manual: untuk insinerator sederhana − Blower: memasok udara dengan debit tetap atau debit yang disesuaikan dengan kebutuhan. Ton/hari atau m3/jam untuk 8 jam kerja per shift. g. Pemasokan limbah dapat dilakukan: − Secara manual: khususnya untuk insinerator kecil − Secara mekanis/hidrolis: memperpanjang waktu operasi − Bila pemasokan limbah dilakukan secara kontinu tanpa mematikan dan mendinginkan ruang pembakaran. gas. Syarat utamanya o adalah panas yang tinggi (dioperasikan di atas 800 C). perlu diperhatikan dalam memilih incinerator. Bila limbahnya combustible maka limbah selanjutnya berfungsi sebagai bahan bakar. banyak dicoba di beberapa kota di Indonesia. Cara penyuplaian limbah: dikaitkan dengan fasa limbah (padat. akan dihemat bahan bakar dan kontinuitas operasi dapat dijamin. sludge. seperti insinerator RS) − Mechanical stoker : biasanya untuk sampah kota − Fluiduized bed : biasanya untuk limbah homogen − Rotary kiln : untuk limbah industri (limbah padat atau cair) − Multiple hearth : untuk limbah industri c. f. insinerator ini cendererung kurang berfungsi. timbulnya permasalahan lingkungan yang terlihat nyata secara visual seperti asap dan bau. Sasaran utamanya adalah mendestruksi patogen yang berbahaya seperti kuman penyakit menular. Pengeluaran abu dapat dilakukan: − Secara manual − Secara mekanis: biasanya di atas 20 ton/hari c. seperti mahalnya biaya operasi. Teknologi ini merupakan sarana standar untuk menangani limbah medis dari rumah sakit. sehingga dibutuhkan subsidi bahan bakar dari luar Insinerasi adalah identik dengan combustion. Selanjutnya dikenal insinerator kamar-jamak dengan sasaran: − Menghemat bahan bakar − Menghemat enersi untuk suplai udara − Mempertahan temperatur − Kontrol pencemaran udara d. penggunaan insinerator skala kota baru dilaksanakan di Surabaya. Jumlah burner. Insinerator dapat dibagi berdasarkan perbedaan: a.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) c. Dinding insinerator yang baik biasanya berlapis-lapis. medis (untuk limbah infectious). Limbah yang baru dimasukkan (dingin) membutuhkan pasokan api melalui burner (pembakar bahan bakar).

Secara logika. akan tergantung dari nilai kalor sampah itu sendiri. bila yang dikejar adalah nilai kalor tinggi. Namun perlu pemahaman bahwa: − Produk panas yang nanti dikonversi menjadi listrik. maka akan tambah banyak enersi yang dibutuhkan untuk memulai sampah itu terbakar. − Apapun teknologinya. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 76 . serta sistem pewadahan sampah yang tidak tertutup. akan tambah banyak jenis logam berat yang akan menguap. scruber. Akan dihasilkan 3 jenis produk. dsb. − Dioxin akan muncul sebagai proses antara dalam pembakaran material. k. Seperti halnya insinerasi. maka akan dihasilkan by-product lain seperti gas pencemar. Ini juga perlu diklarifikasi dalam teknologi yang ditawarkan dalam air pollution control. dioxin. Sampah Indonesia mengandung abu sampai mencapai 30% berat. pengontrol uap asam (scruber basa. akan menambah tingginya kadar air. Bila sampah yang digunakan adalah sejenis sampah di negara industri. yang diantaranya berupa gas-buang. residu yang belum dapat terurai. yang biasanya didinginkan dengan air. maka proses ini dikenal sebagai pirolisis. Tambah tinggi temperatur. Nilai kalor sampah Indonesia biasanya sulit mencapai angka 1200 Kcal/kg-kering. guna mengurangi terjadinya hujan asam. Abu biasanya dikenal mempunyai potensi sebagai bahan bangunan. Namun dengan adanya uap air. Dengan kondisi sampah Indonesia yang mempunyai nilai kalor hanya sekitar 1000 kkal/kg-kering. seperti: pengontrol partikulat (bag house. tambah tinggi kadar air. dsb. Modivikasi dari pirolisis adalah gasifikasi yang memasukkan sedikit udara dalam proses. beberapa logam berat yang berada dalam sampah. Biasanya jalan terakhir yang dilakukan adalah diurug − Dalam proses termal. atau pada awal operasi atau di akhir operasi. dengan baha seperti asbes. maka masalah ini dapat muncul. − Bila material berbasis khlor terbakar.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) h. yang tergantung dari titik uapnya. cair atau padat) tergantung dari temperatur dan waktu pembakaran. debu dan residu lain. j. − Terdapat serangkaian upaya konversi enersi dalam sistem insinerator penghasil panas. dsb). pengontrol gas-gas spesifik. akan teruapkan seperti Zn dan Hg. serta kadar air yang cukup tinggi. Tambah tinggi temperatur. mulai dari combustor – boiler – steam generator sampai ke electric generator. − Proses termal menawarkan destruksi massa limbah secara cepat. bukan hanya pada insinerator. Enersi tersebut berasal dari panas dalam tungku. maka akan dihasilkan produk gas khlor. − Sampah Indonesia mengandung banyak sisa makanan (bisa mencapai 70%) yang dikenal mempunyai kadar air tinggi. Bangunan pelindung: untuk melindungi dari hujan dsb Perlengkapan pengendali pencemaran udara: biasanya dijual terpisah dari insinerator. yang tidak akan mampu mengkonversi enersi secara mulus 100%. Dilemna yang muncul adalah. maka upaya daurulang tidak mendukung teknologi ini. temperatur. yaitu paling tidak 2000-2500 kkal/kg-kering. maka karena yang digunakan sebagai bahan adalah sampah yang sangat heterogen. bandingkan dengan sampah dimana teknologi insinerator itu berasal. Residu ini berada dalam bentuk abu. Bila sistem tidak tercampur sempurna dan pembakaran menjadi tidak sempurna. Dikenal beberapa pengontrol. Ditambah musim hujan. Debu atau partikulat akan merupakan salah satu permasalahan pencemaran udara yang perlu diperhatikan. yang sangat berbahaya karena korosif maupun karena toksik. udara panas yang keluar akan tambah terencerkan dan tersebar secara baik di lingkungan. maka residu-nya akan tambah sedikit. yaitu (a) gas hasil oksidasi tanpa oksigen seperti CH4 dan H2 (b) C2H4 (ethyelene) dan tar dan (c) arang atau karbon. Panel pengontrol dan petunjuk: digunakan untuk mengetahui debit udara. maka akan dihasilkan gas-gas yang belum terbakar sempurna. atau kalsium silikat dsb − Lapis dalam: langsung kontak dengan temperatur tinggi. maka sebetulnya berdasarkan perhitungan yang konvensional akan diperoleh paling sekitar 4 MW per kg sampah-basah. Lapis tengah: isolator panas dengan ketebalan tertentu. − Recovery Panas dan Permasalahan Lingkungan [57. apalagi bila kertas dan plastiknya dikeluarkan untuk didaur-ulang. dsb). maka dalam proses oskidasi (pembakaran) akan dihasilkan produk oksidasi. misalnya dari bahan bata tahan api Tinggi dan bahan cerobong: tambah tinggi cerobong. maka enersi listrik sebesar 20 MW/1000 ton-kering sampah dapat dicapai. gas yang sangat reaktif ini dengan mudah menangkap uap air menjadi HCl. dimana temperatur berada pada level yang rendah. Bila terjadi kegagalan dalam mempertahankan panas. dan uap air yang terjadi dapat digunakan sebagai penggerak turbin pembangkit listrik. Komponen sampah yang dikenal mempunyai nilai kalor tinggi adalah kertas dan plastik. alat untuk mengontrol waktu operasi (timer). Tambah tinggi panas. Merkuri (Hg) pada temperatur kamarpun akan menguap. 58] Enersi panas yang dapat dikonversi menjadi listrik dan recovery panas merupakan salah satu keunggulan yang ditawarkan dari insinerator jenis baru. karena mengandung silikat tinggi. Namun semua proses termal tetap akan menghasilkan residu ( bagian non-combustible) yang tidak bisa terbakar pada temperatur operasi. − Bila pemanasan dilakukan tanpa oksigen. i. Agak sulit menangani jenis pencemar ini. maka biasanya tambah sedikit bahan antara ini. Proporsi produk yang dihasilkan (gas.

dimana sampah dipilah. dengan fabric filter bag yang membersihkan udara dari asap dan logam berat • Scrubber: menyemprotkan bubur kapur dan air ke dalam uap panas. Walaupun sampah termasuk sumber enersi terbarukan. lalu dipasok pada boiler untuk menghasilkan uap. yang dapat memutar turbin uap yang menghasilkan listrik. Di negara industri dimana sampahnya banyak mengandung kertas dan plastik. minyak. tetapi sistem WTE melalui refused-derived-fuel (FDR). yang membedakannnya adalah bahan bakarnya adalah sampah. sehingga sistem ini dianggap lebih unggul dibandingkan pembangkit listrik tradisional. Sistem WTE yang sekarang banyak digunakan dianggap perlu ditingkatkan. dan kayu. dan menghasilkan sekitar 2. dicacah.4. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 77 . atau bahan plastik mengandung chloride lainnya masuk ke sistem pembakaran. menghasilkan panas • Panas terbentuk menguapkan air • Uap dengan tekanan tinggi memutar sudu (blade) generator turbin untuk menghasilkan listrik • Listrik yang dihasilkan digunakan untuk berbagai keperluan Di USA. yang terdiri dari sisa makanan. US-EPA telah mengembangkan web-site Clean Energy untuk informasi perbandingan dampak beragam sumber enersi terhadap lingkungan. yaitusampah yang tidak dapat didaur-ulang atau yang non-B3.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) 8. hydroelectricity. sehingga enersi yang dapat digunakan tidak bisa disamakan dengan sumber enersi biasa seperti minyak bumi dan batu-bara. menjadi nitrogen. karena dianggap penurunan panas yang biasa akan berpotensi kembali terbentuknya dioxin. yang selanjutnya dapat direcovery (lihat gasifikasi plasma). • Sejumlah WTE dirancang/dioperasikan sebagai co-generation. Denmark memproses lebih dari 80% sampahnya dengan WTE. misalnya dengan sistem pelelehan (melting) pada temperatur yang lebih tinggi yang memungkinkan abu direduksi menjadi elemen-elemen pembentuknya. karena mempunyai sifat seperti mortar yang mengeras bila telah dipakai. sampah kota. yaitu: • Bahan bakar dibakar. sekitar 10% volume. sesuai uji pelindian di USA leaching test aman untuk digunakan kembali dan diurug. dengan peralatan kontrol standar. bukan solar. Namun sampah bukanlan bahan bakar. yang memanfaatkan juga uap sebagai pemanas. Sampah dianggap sebagai sumber enersi terbarukan. WTE bekerja layaknya pembangkit listrik biasa. yaitu sumber gas alam. karena emisi pencemar yang dihasilkan. dirajang. dan beragam variasi dampak yang dapat ditimbulkan. dan sekaligus mensteril dan mengurangi volume sampah yang dibutuhkan untuk landfill. tetapi kehadirannya banyak menimbulkan kontroversi. dan meningkatkan penangkapan merkuri pada udara yang ke luar • Selective non-catalytic reduction: mengkonversi NOx. penyebab kabut asap (smog). kertas. batu-bara. yang merupakan 17% dari total sampah yang dihasilkan.5 ton batubara. WTE saat ini bukan lagi sekedar membakar mix-waste tanpa pemilahan. sejak tahun 2000 fasilitas WTE sudah disesuaikan dengan standar pengendalian pencemaran dari Clean Air Act Section 129. sampah di-unloaded dari truk. Pada pembangkit listrik.4 Instalasi Waste-to-Energy di Negara Industri [59. serta sistem pengumpulan yang tertutup sehingga kadar air sampah lebih kecil. Di Eropa. dan non-hydroelectricity-renewable energy seperti terlihat pada Tabel 8. enersi nuklir.5 ton batu-bara. diperkirakan sekitar 1 ton sampah mempunyai nilai panas sekitar 0. Listrik yang dihasilkan dari WTE Sistem WTE tergantung pada sumber enersi terbarukan.500 MW listrik. 60] Sistem Waste-to-energy (WTE) membakar sampah kota non-B3 untuk menghasilkan listrik dan/atau uap air. yang menetralkan gas asam. sehingga paling banyak menghasilkan listrik setara 0. yaitu: • Baghouse: bekerja layaknya vacuum cleaner raksasa. batu-bara atau gas. Prinsip WTE adalah sejalan dengan pembangkit listrik tenaga batubara (coal fire power plant). Di Jepang misalnya. sedang di Jepang lebih dari 60%. WTE dianggap sebagai alternatif sumber enersi terbarukan dan US-EPA menyimpulkan bahwa WTE dinilai menghasilkan listrik dengan dampak lingkungan terendah dibandingkan pembangkit listrik dari sumber yang lain. Reduksi panas yang akan diemisikan ke luar cerobong juga dirancang berlangsung secara sangat cepat. fasilitas WTE memproses sekitar 56 juta ton per-tahun. atau diproses agar memudahkan penanganannya. Data tahun 2007 [59] mengungkapkan bahwa di USA sistem ini digunakan untuk memproses sekitar 95. Di USA instalasi pembangkit listrik diatur oleh peraturan Federal dan Negara bagian. dengan menyemprotkan ammonia atau urea ke dalam tungku panas • Sistem carbon injection: menyemprotkan karbon aktif ke dalam exhaust gas untuk menjerab (sorbsi) logam berat ldan sekaligus mengontrol emisi organik lain seperti dioxin • Abu hasil pembakatan. termasuk bahan non-renewable yang berasal dari bahan bakar fosil seperti plastik dan karet. dan dibuat pelet (briket) bahan bakar. mereka melarang sampah berbahan PVC.000 ton sampah perhari atau 35 juta ton per tahun. atau sebagai bahan penutup landfill.

dan hidrokarbon kompleks. karena dapat mengandung batere. padat. CO CO2.249 13 6 1.806 7 87.672 12 4 1.5 Perbandingan emisi udara [60] CO2 SO2 NOx lb/MWh 837 0. metanol.737 51 119. yang dapat digunakan sebagai bahan bakar Arang (char) yang berupa karbon murni.185 ….883. 3.1 1. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 78 .900 0. WTE sampah akan menghasilkan CO2. seperti senyawa merkuri dan dioxin. maka proses lain yang banyak digunakan dalam konversi biomas secara termal adalah pirolisis dan gasifikasi. sumber utama green-house gas (GHG).406 3 649. Terdapat 2 pendapat yang berbeda dalam hal GHG ini. yaitu: • Gas/uap: mengandung hidrogen.988 lb/MWh: bila memasukkan CO2 dari emisi kedua jenis sumber yang ada dalam sampah.973. Emisi rata-rata di USA untuk pembakaran sampah kota adalah sekitar [60]: • 2. menggunakan sumber enersi dari luar untuk menggerakan reaksi pirolisa yang bersifat endotermis • Gasifikasi bersifat self sustaining.4 2. Produk yang dihasilkan adalah tergantung pada panas yang berlangsung dalam reactor (lihat Tabel 8. yaitu biomas dan bahan bakar fosil • 837 lb CO2 /MWh: bila CO2 dari emisi biomas sampah diabaikan dalam perhitungan.4 Produksi enersi di USA 2003 [59] Ribu MW-hours Persen 2. sejumlah variasi teknologi pengendali pencemaran udara ketat diterapkan pada WTE sampah kota di negara-negara Jepang.051 71 1.Batubara . karena bukan berasal dari bahan bakar fosil.4 lb NOx/MWh Tabel 8. disertai materi-materi solid lain dari biomas asal.185 100 Perbandingan emisi pencemar udara Membakar sampah akan menghasilkan NOx dan SOx serta sejumlah pencemar seangin lain. liquid. yaitu: • Diabaikan karena dianggap bagian dari siklus karbon bumi (earth’s natural carbon cycle) • Diperhitungkan. • 0.Sampah kota Lain-lain Total Tabel 8. dan beraneka ragam gas. Disamping itu. menggunakan udara atau oksigen yang terbatas untuk pembakaran sebagian dari biomas Sebagian besar meteri organik secara termal tidak stabil. aseton.7 Bahan bakar Sampah kota Batubara Minyak Gas alam 8. ban-bekas. Proses ini bertujuan mengkonversi biomas padat menjadi gas.Minyak . yaitu proses destruksi menggunakan panas tanpa kehadiran oksigen.5 Pirolisa dan Gasifikasi Di luar proses pembakaran sampah dengan insinerator.Gas alam Nuklir Hydroelectric Terbarukan .6). dan bahan toksik lain yang terkandung dalam sampah kota.8 lbSO2/MWh • 5. Eropa di USA.733 21 275. karena pembakaran sampah juga menghasilkan CO2 yang dianggap bukan bagian dari earth’s atmosphere untuk jangka panjang.908 17 763. yang tergantung dari • • karakteristik biomasnya Bagian cair: mengandung tar atau oil stream yang mengandung asam asetat.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Bahan bakar Bahan fosil . sehingga dapat dipanaskan tanpa kehadiran oksigen dan akan menghasilkan gas. Oleh karenanya.6 13.410 2 21. komponen sampah juga mengandung bahan yang berasal dari sumber enersi fosil Variasi komposisi sampah menaikkan perhatian terhadap pembakaran sampah kota.135 0.8 5. metan. atau sedikit oksigen. cair (tar) dan padat (arang): • Pirolisis: berlangsung tanpa kehadiran oksigen sama-sekali.743.

Temperatur tinggi dari busur plasma. Barang-barang elektrik-elektronik tersebut merupakan hal yang biasa dijumpai dalam rantai pengelolaan sampah di negara maju. Gasifikasi biasa bekerja pada rentang temperatur 370 – 815 C. Limbah medical biasanya diolah terpisah dari sampah. dan hanya mengandung sangat sedikit elemen-elemen dalam partikulat. AC dsb. maka elemen ini dengan cepat akan bereaksi dengan H+ membentuk HCl. tetapi langsung ditransformasi menjadi gas sebagai CO. Sebuah busur (torch) plasma memanaskan udara secara reguler. Gas ini merupakan sumber enersi lain. selain panas yang dihasilkan. dengan penekanan pada perlindungan kesehatan manusia dan alam. karena semuanya dikonversi menjadi gas. Udara super panas ini akan secara termal mendegradasi material yang kontak dengannya.45 Gas 12. yaitu daur-ulang seluruh bahan kembali ke alam atau ke pasar sebagai unsur ekonomi. akan melelehkan seluruh bahan anorganik yang ada. sehingga dapat bergabung menjadi vitrified glass. berukuran yang relatif homogen. nitrogen dan uap air. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 79 .31 0. walaupun mereka sudah menerapkan upaya daur-ulang dengan teknologi canggih.4. Produk tar dan arang tidak terjadi.200 C. yang hanya bekerja o dengan temperatur paling tinggi 1. Teknologi plasma merupakan teknologi yang telah mapan. Temperatur di dalam busur sampai o mencapai 14. H2.6 Proses Termal dengan Gasifikasi Plasma [59] Filosofi Zero-Waste (Tanpa-Limbah). bandingkan dengan WTE modern yang baik.76 C2 H6 3. Karena prosesnya destruksi total secara termal.36 33.6: Contoh pengaruh panas terhadap % produk gasifikasi [33] H2 CH4 CO2 C2 H4 CO 5. Freon pada AC harus dikeluarkan terlebih dahulu.400 C (5.03 1. Gasifikasi plasma menggunakan sumber panas dari luar untuk menggasifikasi material.000 F).45 2. yang sebagian masih mengandung enersi. yang akan menghasilkan uap bertekanan tinggi yang kemudian dapat diumpankan pada turbin uap untuk menghasilkan enersi listrik. sampah harus cukup kering. pada gasifikasi plasma material organik tidak terbakar seperti di WTE. dengan suhu berkisar antara o o 2. temperatur di luar yang berkontak dengan bahan yang akan didestruksi o akan mempunyai temperatur sampai 4. Dengan demikian akan terjadi penurunan sensible heat. Selain itu. yang dapat dipisahkan dari residu berbentuk gelas. Temperatur yang sangat tinggi o tersebut kemudian perlu diturunkan sampai 300 C atau kurang sesuai dengan standar yang berlaku.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) (%) 480°C 920°C Tabel 8. Busur (torches) plasma yang terletak di dasar reaktor akan menghasilkan panas. Sumber enersi dari busur adalah listrik. Gas buang yang dihasilkan lebih bersih dibanding proses gasifikasi biasa.48 (%) 480°F 920°F 12. Teknologi ini dapat memproses segala jenis bahan.56 32.08 58.750 .25 44.50 35.43 Karbon 21.33 24. Industri baja sejak lama menggunakan teknologi ini untuk melelehkan baja.07 Asam-asam dan tar 61. sehingga tidak butuh lagi landfill. Sampah diumpankan ke transformer termal yang dikenal sebagai reaktor atau plasma gasifier. tampaknya mendekati produk yang dihasilkan melalui proses gasifikasi plasma. Plasma adalah gas yang terionisasi dalam udara super-panas. Produk yang dihasilkan tidak sebersih gasifikasi plasma.71 17.000 – 8. Tidak terbentuk furan atau dioxin. Hampir seluruh karbon yang terkandung dari material yang diolah akan dikonversi menjadi bahan bakar gas. Praktis tidak ada abu seperti dalam proses insinerasi/WTE. tidak membutuhkan pemilahan dan tidak terpengaruh oleh kadar air bahan yang dimasukkan. kecuali untuk bahan dasar yang belum mempunyai nilai ekonomi. sulfur tetap perlu ditangani sebagaimana layaknya seperti dalam proses WTE.43 10. Akibatnya. Perbedaan dasar teknologi gasifikasi plasma dengan gasifikasi biasa adalah pada temperatur yang o digunakan untuk mendestruksi material. Bila mengadung komponen khlor. Gasifikasi merupakan partial combustor dimana hanya sebagian karbon yang di-”bakar” untuk mendukung reaksi. karena temperatur rendah tidak akan dapat menguraikan seluruhnya.000 C.70 8. Unsur-unsur logam juga leleh dan membentuk unsure-unsur logam. Tanah kaca dsb akan leleh menjadi unsur-unsur membentuk vitrified (molten) glass. Permasalahan utama gasifikasi adalah timbulnya tar yang sulit dikeluarkan dari reaktor. Seperti halnya pirolisis dan gasifikasi.400 C. seperti kulkas.77 18. kecuali pemotongan untuk menyesuaiakan dengan kebutuhan reactor. Adanya arang sebagai residu membutuhkan landfill. Sebagian besar partikulat dikembalikan kembali ke proses. maka tidak dibutuhkan pemilahan atau pre-treatment sampah terlebih dahulu. Elemen-elemen pencemar udara yang masih tersisa seperti HCl. Gas keluar dari cerobong juga akan menjadi bersih karena tidak dihasilkan partikulat atau fly ash.

karena aplikasinya memperhatikan aspek sanitasi lingkungan. Dikenal sebagai metode slope (ramp). atau sulit untuk diolah secara kimia Metode landfilling saat ini digunakan bukan hanya untuk menangani sampah kota. dengan menyebarkan sampah secara lapis-perlapis pada sebuah site (lahan) yang telah disiapkan. maka dilakukan pengupasan site sampai kedalaman tertentu (lihat Gambar 9. Cara ini dikenal dengan metode pit atau canyon atau quarry. Dijelaskan tentang peran TPA. Kadangkala pengupasan site tidak dilakukan sekaligus.3 di bawah).Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) BAGIAN 9 PENGURUGAN (LANDFILLING) SAMPAH Bagian ini menjelaskan metode yang selalu digunakan dalam pengelolaan sampah yaitu TPA. Landfilling dibutuhkan karena: − Pengurangan limbah di sumber. Dijelaskan pula tentang kondisi TPA di Indonesia yang sampai saat ini selalu bermasalah. Terbentuk parit-parit tempat pengurugan sampah (lihat Gambar 9. Perlu diperhatikan: • tinggi muka air tanah • struktur batuan / tanah keras • peralatan pengupasan / penggalian yang dimiliki Dengan demikian akan diperoleh tanah untuk bahan penutup. Mengupas site Dengan terbatasnya site yang sesuai . tidak dapat menyingkirkan limbah semuanya − Pengolahan limbah biasanya menghasilkan residu yang harus ditangani lebih lanjut − Kadangkala sebuah limbah sulit untuk diuraikan secara biologis. jenis landfilling. tetapi dilakukan secara bertahap. penyiapan prasarana yang baik dengan memanfaatkan teknologi yang sesuai. mudah dan luwes.1). serta percepatan degradasi dan sebagainya. urugan sampah tersebut kemudian ditutup dengan tanah penutup. dan pada akhir hari operasi. sehingga lahan tersebut menjadi baik kembali. aspek engineering yang perlu diperhatikan khususnya dalam pengendalian lindi dan gasbio. atau sulit untuk dibakar. misalnya bekas pertambangan. Beberapa hal yang perlu dicatat adalah: – Banyak digunakan untuk menyingkirkan sampah.2). – Bukan pemecahan masalah limbah yang baik.2 Perkembangan Landfill Berikut ini adalah uraian tentang perkembangan landfilling mulai dari awal keberadaannya sebagai sarana penanganan sampah kota: Mengisi lembah Pada awalnya landfilling sampah dilaksanakan pada lahan yang tidak produktif. sehingga terminologi sanitary landfill sebetulnya sudah kurang relevan untuk digunakan. Cara ini dikenal sebagai metode parit (trench) Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 80 . mengisi cekungan-cekungan (lihat Gambar 9. – Untuk mengurangi dampak negatif dibutuhkan pemilihan lokasi yang tepat. atau minimasi limbah. Open dumping tidak mengikuti tata cara yang sistematis serta tidak memperhatikan dampak pada kesehatan. daur-ulang. 9. 9. terutama dari lindi (leachate) yang mencemari air tanah. dan dengan pengoperasian yang baik pula. – Digunakan pula untuk menyingkirkan limbah industri.1 Pemrosesan Akhir Sampah (TPA) secara Umum Penyingkiran limbah ke dalam tanah (land disposal) merupakan cara yang paling sering dijumpai dalam pengelolaan limbah. Dapat mendatangkan pencemaran lingkungan. karena murah. kemudian dilakukan pemadatan dengan alat berat. Metode sanitary landfill kemudian berkembang dengan memperhatikan juga aspek pencemaran lingkungan lainnya. seperti sludge (lumpur) dari pengolahan limbah cair. Definisi yang sederhana tentang sanitary landfill adalah [4]: Metode pengurugan sampah ke dalam tanah. Cara penyingkiran limbah ke dalam tanah dengan pengurugan atau penimbunan dikenal sebagai landfilling. Cara ini dikenal sejak awal tahun 1900-an. Dengan demikian terjadi reklamasi lahan. dengan nama yang dikenal sebagai sanitary landfill. Metode tersebut dikembangkan dari aplikasi praktis dalam peyelesaian masalah sampah yang dikenal sebagai open dumping. termasuk limbah berbahaya. yang diterapkan mula-mula pada sampah kota.

3 Pengupasan serta menimbun sampah Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 81 .Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Gambar 9.2 Landfilling dengan mengupas site Gambar 9.1 Landfilling mengisi lembah / cekungan Gambar 9.

0 ton/m atau lebih − Transportasi lebih murah karena sampah lebih padat.3 Jenis landfill Berdasarkan penanganan sampahnya Dilihat dari bagaimana sampah ditangani sebelum diurug.30 cm.1.5): − Banyak digunakan di Amerika Serikat − Sampah dipadatkan dengan mesin pemadat menjadi ukuran tertentu (misalnya bervolume 1 3 3 m ).6m) sampai ketinggian 1.5 m − Urugan sampah membentuk sel-sel (Gambar 9.2 . maka dikenal beberapa jenis aplikasi ini. dapat ditimbun lebih tebal (> 1.5-0. Biaya menjadi sangat mahal − Dihasilkan lindi hasil pemadatan yang perlu mendapat perhatian Landfill tradisional: − Cara yang dikenal di Indonesia sebagai sanitary landfill − Sampah diletakkan lapis perlapis (0. Maka cara yang dilakukan adalah menimbun sampah di atas area tersebut (lihat Gambar 9. maka tidak perlu tanah penutup − Degradasi (pembusukan) lebih cepat sehingga stabilitas lebih cepat − Butuh alat pemotong sehingga biaya menjadi mahal • Pemadatan sampah dengan baling (Gambar 9. dan benbentuk praktis − Pengurugan di lapangan lebih mudah (dengan fork-lift) − Pengaturan sel lebih mudah dan sistematis − Butuh investasi dan operasi alat/mesin. sehingga memungkinkan proses aerobik yang menghasilkan panas sehingga dapat menghindari lalat − Binatang pengerat (tikus dsb) berkurang karena rongga dalam timbunan berkurang / dihilangkan.8 – 1. sulit untuk mengupas site.5 M) − Dapat digunakan sebagai pengomposan (aerobik) in-situ dengan ketingian sel-sel 50 cm. Kepadatan mencapai 1. paling tidak dalam 48 jam − Kondisi di lapisan (lift) teratas bersifat aerob (ada oksigen). sedang bagian bawah anaerob (tidak ada oksigen) sehingga dihasilkan gas metan − Bagian-bagian sampah yang besar diletakkan di bawah agar tidak terjadi rongga • Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 82 .6 .4 Landfilling dengan menimbun ke atas 9. dan timbunan lebih padat − Bila tidak ada masalah bau. Gambar 9.8 3 ton/m − Membutuhkan penutupan harian 10 .Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Untuk daerah yang datar. Cara ini dikenal sebagai metode area. dengan muka air tanah tinggi.0. yaitu: • Pemotongan sampah terlebih dahulu [62]: − Sampah dipotong dengan mesin pemotong 50-80 mm sehingga menjadi lebih homogen.4).6) dan membutuhkan ketelitian operasi alat berat agar teratur − Kepadatan sampah dicapai dengan alat berat biasa (dozer atau loader) dan mencapai 0.0 ton/m ). lebih 3 padat (0.

dan dicapai densitas timbunan 0.5 Landfilling dengan baling [62] Gambar 9. serangga dan tikus sulit bersarang − Keuntungan dibanding lahana-urug tradisional adalah tanah penutup menjadi berkurang.0 ton/m3 − Proses yang terjadi menjadi anaerob − Karena densitas tinggi.50 cm. truk mudah berlalu lalang dan masa layan lebih lama − Biaya operasi menjadi meningkat Gambar 9.1.7 Dozer kaki-kambing Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 83 .7): − Banyak digunakan untuk lahan-urug yang besar dengan dozer khusus yang bisa memadatkan sampah pada ketebalan 30 .8 .6 Pembuatan sel-sel sampah [4] • Landfill dengan kompaksi (Gambar 9.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) (a) Peletakan sampah di landfill (b) Mesin pengepres sampah Gambar 9.

maka literatur USA membagi landfill dalam beberapa kelompok yaitu: • Metode area: − Dapat diterapkan pada site yang relatif datar. − Leachate yang dihasilkan relatif lebih baik dibanding landfill anaerob.8a Perkembangan landfill : improved sanitary landfill [66] • Landfill aerobik: − Mengupayakan agar timbunan sampah tetap mendapat oksigen. dan dihasilkan lindi (leachate) dengan konsentrasi tinggi − Perkembangan berikunya berkembang improved sanitary landfill Improved Sanitary Landfill • • Sarana dilengkapi dengan sistem drainase air permukaan. − Sampah membentuk sel-sel sampah yang saling dibatasi oleh tanah penutup − Setelah pengurugan akan membentuk slope − Penyebaran dan pemadatan sampah berlawanan dengan kemiringan • Metode slope/ram : − Sebagian tanah digali − Sampah kemudian diurug pada tanah − Tanah penutup diambil dari tanah galian − Setelah lapisan pertama selesai. Oleh karenanya terdapat kemungkinan pembusukan sampah secara aerobik maupun secara anaerobik. tidak dibutuhkan penutup tanah harian. Lindi yang tertampung kemudian diolah sebelum dilepas ke lingkungan. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 84 . seperti halnya pengomposan biasa. pengumpul dan penampung lindi. dan H2S yang menyebabkan jenis landfill ini berbau bila tidak ditutup tanah. • Landfill anaerobik (Gambar 9. Berdasarkan ketersediaan oksigen dalam timbunan [66]: Seperti halnya pengomposan.8): − Landfill yang banyak dikenal saat ini. − Pencapaian kondisi aerobik dapat dilakukan dengan pendekatan :  lapisan sampah dibiarkan beberapa hari berkontak dengan oksigen. dipadatkan dan ditutup harian − Digunakan bila airtanah cukup rendah sehingga zone non-aerasi di bawah landfill cukup tinggi ( ≥ 1. Gambar 4. Dihasilkan pula uap-uap asam-asam organik. − Kondisi anaerob menghasilkan gas metan (gas bakar). Disamping itu. stabilitas sampah tidak cepat tercapai. sampah ditebarkan dalam galian. − Karena kondisinya anaerob. Dengan demikian proses pembusukan lebih cepat. sebelum diatasnya dilapis sampah lain. Timbunan sampah dilakukan lapis perlapis tanpa memperhatikan ketersediaan oksigen di dalam timbunan.5 m) − Digunakan untuk daerah datar atau sedikit bergelombang − Operasi selanjutnya seperti metode area • Metode pit/canyon/quarry: − Memanfaatkan cekungan tanah yang ada (misalnya bekas tambang) − Pengurugan sampah dimulai dari dasar − Penyebaran dan pemadatan sampah seperti metode area − Kenyataan di lapangan. maka pada dasarnya landfilling adalah pengomposan dalam reaktor yang luas.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Berdasarkan kondisi site: Dilihat dari kondisi topografi site. khususnya di Indonesia. operasi berikutnya seperti metode area • Metode parit (trench): − Site yang ada digali. Bila perlu dilakukan pembalikan pada lapisan sampah tersebut. cara tersebut dapat berkembang lebih jauh sesuai dengan kondisi yang ada. Juga bau akan banyak berkurang.

8 Perkembangan landfill: aerobic landfill [66] Berdasarkan karakter lahan (site): Di Perancis misalnya.Cara lain adalah memasukkan udara ke dalam timbunan secara sistematis. termasuk limbah B3 • Site landfill kelas 2 : –4 –7 − site semi-kedap dengan nilai permeabilitas (k) antara 10 sampai 10 cm/detik − migrasi leachate lambat − untuk limbah sejenis sampah kota • Site landfill kelas 3 : –4 − site tidak kedap dengan nilai permeabilitas (k) > 10 cm/detik − migrasi leachate cepat untuk limbah inert dengan pencemaran diabaikan Berdasarkan jenis limbah yang akan diurug Di beberapa negara maju. Proses degradasi optimal. landfill dibagi menjadi [63]: • Landfill sampah domestik (sampah kota) • Landfill industri. • Landfill semi-aerobik − Hindari leachate tergenang dalam timbunan. sehingga proses pembusukan berjalan secara aerob. udara disuplai ke timbunan sampah Proses berlangsung sepenuhnya secara aerob seperti pengompsoan biasa Bau dan gas metan dihindari. yaitu [62]: • Site landfill kelas 1 : –7 − site kedap dengan nilai permeabilitas (k) < 10 cm/detik − migrasi leachate dapat diabaikan − untuk limbah industri. dikenal sebagai co-disposal Di Jepang. Gambar 9. seperti: • Landfill sampah kota dan sejenisnya • Landfill limbah industri • Landfill yang menerima kedua jenis limbah tersebut.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010)  Dibutuhkan area yang luas.8b Perkembangan landfill: semi aerobic landfill [18] Sanitary Landfill Aerob • • • Untuk mempercepat proses. yang dibagi menjadi : Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 85 . pembagian landfill saat ini dilakukan berdasarkan jenis limbah yang akan diurug. hubungan karakter permeabilitas site dengan limbah dijadikan dasar pembagian landfill. dengan drainase leachate dan ventilasi gasbio yang baik − Tanah penutup tidak terlalu kedap - Gambar 4.

karet. yang dibatasi oleh tanggul ataupun parit. plastik. Sanitary landfill with leachate recirculation: − Masalah lindi (leachate) sudah diperhatikan. Calon lahan telah dipilih dan disiapkan secara baik. 86 Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB . asap dan lalat dapat dikurangi. landfill limbah terdegradasi : oli.11 : Landfill limbah terdegradasi [63] Berdasarkan aplikasi tanah penutup dan penanganan leachate: Di Jepang. sehingga masalah bau. serta penanggulangan leachate. − Aplikasi tanah penutup tidak dilakukan setiap hari − Konsep ini banyak dianjurkan di Indonesia.1 : Landfill dengan shut-off [63] Landfill limbah B3 di Indonesia Peraturan Bapedal – Indonesia tentang landfill (untuk limbah B3) membagi katagori landfill limbah B3 menjadi 3 jenis. namun dengan liner geomembran tunggal. Liner yang –7 digunakan adalah clay dengan nilai permeabilitas lebih kecil dari 10 cm/detik. yang menjadi keharusan dari sanitary landfill standar. Sanitary landfill with a bund and dailiy cover soil: − Peningkatan controlled tipping. Landfill jenis ini identik dengan landfill sampah kota (sanitary landfill) yang baik.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) − − − landfill untuk limbah industri yang stabil : limbah sisa bangunan. logam dan keramik (Gambar 9. - Gambar 4. • Landfill katagori III: untuk limbah B3 yang dianggap tidak begitu berbahaya. Controlled tipping: − Peningkatan dari open dumping. c.10).9: Landfill limbah stabil [63] Gambar 4. residu hewan / tanaman.11) Gambar 4. diperlukan adanya pengolah lindi (Gambar 9.9) landfill dengan shut-off : dengan mengisolasi kontak air dari luar seperti air hujan dan air tanah (Gambar 9. kayu. landfill sampah kota dibagi berdarkan aplikasi tanah penutup. Pembagian tersebut adalah sebagai berikut [63]: a. − Penutupan timbunan sampah dilakukan setiap hari. yaitu [19]: • Landfill katagori I: Landfill dengan liner ganda dari geomembran HDPE. kertas. dikenal sebagai controlled landfill b. digunakan untuk limbah yang dinilai sangat berbahaya • Landfill katagori II: seperti katagori I. − Lahan penimbunan dibagi menjadi berbagai area.

tetapi paling tidak diperlukan monitoring selama 5 tahun. desain. jaminan penutupan dan pasca operasi • Langkah-14 : pengoperasian landfill dan monitoring aktivitas Fase-4 Tahapan pasca-operasi yang terdiri dari langkah-15 sampai langkah-16 • Langkah-15 : Penutupan landfill • Langkah-16 : Pemantauan pasca operasi Data site ini merupakan data utama. yaitu: Fase-1 Penentuan site merupakan fase tahapan studi kelayakan. yang terdiri dari langkah-1 sampai langkah-6. yang antara lain mencakup: Pengukuran topografi • Peta situasi/kontur dengan level 0. yaitu : • Langkah-1 : estimasi volume landfill yang dibutuhkan • Langkah-2 : investigasi dan pemilihan calon site • Langkah-3 : penentuan regulasi yang terkait • Langkah-4 : penilaian opsi landfill sebagai sumber enersi dan recoveri bahan • Langkah-5 : pertimbangan penggunaan site pasca operasi • Langkah-6 : penentuan kecocokan site Fase-2 Tahap desain dan analisis dampak lingkungan berdasarkan rancangan aktivitas. analisis dampak lingkungan dan tahap konstruksi. Beberapa data harus dikaji (diobservasi) ulang untuk mendukung perancangan nanti. dan memang merupakan studi di titik (lokasi) tersebut. − − 9.5 m (minimum). • Situasi jalan eksisting. Di Indonesia belum ada pengaturan untuk landfill sampah kota. baik yang bersifat teknis. Perencanaan yang mengutamakan kehati-hatian oleh pengelola atau calon pengelola sangat penting dikedepankan. terdiri dari langkah-13 sampai langkah-14 • Langkah-13 : kajian finansial untuk rencana pengoperasian. Elemen biaya yang harus menjadi pertimbangan adalah: • Penentuan site. • Terdapat beberapa langkah yang dibutuhkan. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 87 .4 Aplikasi Landfill Pengembangan landfill mencakup berbagai langkah aktivitas. disertai profil memanjang. regulasi di Indonesia mensyaratkan 30 tahun • Kegiatan remediasi : perlu dilakukan untuk menyehatkan kembali site atau air tanah yang tercemar. paling tidak dibutuhkan waktu 2 tahun • Operasi. d.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Terdapat sarana untuk mengalirkan lindi dari dasar landfill ke penampungan (kolam) Lindi kemudian dikembalikan ke timbunan sampah melalui ventilasi biogas tegak atau langsung ke timbunan sampah. Untuk landfill limbah B3. seperti kesesuaian dengan regulasi terkait. melintang khususnya rencana jalan akses • Situasi bangunan-2 yg ada. Sanitary landfill with leachate treatment: − Lindi dikumpulkan melalui sistem pengumpul − Kemudian diolah secara lengkap seperti layaknya limbah cair − Pengolahan yang diterapkan bisa secara biologi maupun secara kimia. dengan catatan dapat berasal dari studi terdahulu yang dapat dipertanggung jawabkan. terdiri dari langkah-7 sampai langkah 12: • Langkah-7 : desain area pengurugan dan pengembangan • Langkah-8 : pengembangan rencana pengelolaan lindi • Langkah-9 : pengembangan rencana monitoring lingkungan • Langkah-10 : pengembangan rencana pengelolaan gas • Langkah-11 : penyiapan spesifikasi tanah penutup • Langkah-11 : penyiapan panduan pengoperasian • Langkah-12 : analisa dampak lingkungan Fase-3 Tahapan pengoperasian. monitoring. Disamping permasalahan sosial dan lingkungan yang selalu menyertai aplikasi landfill. yang dapat dikelompokkan menjadi 4 fase. maupun yang sifatnya non-teknis. pengembangan landfill membutuhkan investasi dana untuk periode waktu yang cukup lama. dan administrasi : sesuai umur landfill • Aktivitas penutupan : 1 sampai 2 tahun • Monitoring dan pemeliharaan pasca-operasi : tergantung regulasi yang berlaku di sebuah negara.

Pelakunya adalah para lapak dan pemulung yang mengkonsentrasikan kegiatan di TPA. maka negara-negara maju sangat membatasi kadar organik limbah yang boleh masuk ke landfill: − Negara Eropa membatasi kadar organik yang boleh terkandung dalam limbah yang akan di-landfill yaitu maksimum 5%. Sehingga masih banyak dijumpai bahan/material bernilai guna yang masih terangkut bersama sampah ke TPA. indeks plastisitas. gas yang dianggap mempunyai potensi gas rumah kaca sebesar 21 kali gas CO2. bulk density. potensi evaporasi dsb • Bila tersedia : data hasil sondir untuk kebutuhan struktur bangunan. yang pada dasarnya adalah proses pengomposan. misalnya [9]: − Pendaurulangan sampah (Reuse. dan analisa kualitas airnya di lab • Data klimat dari stasiun meteorologi terdekat : data curah hujan lengkap selama paling tidak 10 tahun terakhir. kedalaman. termasuk penggunaan closed landfill. arah angin. Kalau mungkin geolistrik: untuk menduga akuifer di bawah. Karena dalam abu insinerasi tersebut terkonsentrasi logam berat. sifat-sifat fisik. yaitu sebagai pretreatment sampah yang akan diurug. kapasitas sorpsi (KTK). karena kualitasnya yang tidak memenuhi persyaratan. menyangkut informasi akurat tentang : gradasi butiran. baru boleh diurug dari sebuah landfill − Sejalan dengan negara Eropa. Dengan adanya isu ini. maka struktur atap tersebut kemudian dapat dipindahkan ke area atau sel lain yang akan aktif. Di sisi lain. Landfill bisa dipastikan akan mengemisi gas metan. • Data hidrologi dan kualitas air: − lokasi badan air dan sumber air − arah aliran : dapat diperoleh dengan melakukan observasi sumur-sumur penduduk − melakukan sampling air di hulu dan hilir rencana. Ada berbagai dampak merugikan yang dapat ditimbulkan oleh landfilling ini. dilanjutkan dengan aerasi sampah. kesehatan dan estetika lainnya. Recycling. sehingga keberadaannya dapat mengganggu operasional lahan TPA. Sejak isu pemanasan global mendunia. Proses pendaur-ulangan pada tingkat sumber memiliki tingkat keberhasilan yang relatif rendah. penanganan sampah di TPA yang selama ini umum diterapkan di Indonesia yaitu dengan open dumping harus diubah secara keseluruhan. melalui pemotongan. maka Jepang sangat membatasi aplikasi landfilling. Produk dari proses MBT ini di negara Eropa dianggap bukan kompos. kadar air. maka aplikasi landfilling yang digunakan menganut landfilling limbah B3. atau melakukan proses reduksi bahan organik melalui konsep Mechanical Biological Treatment (MBT). yaitu [55]: Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 88 . yaitu kira-kira 5% dari sampah yang tiba di TPA. Landfill dianggap sumber utama gas rumah kaca dari kegiatan pengelolaan limbah. Setelah dilakukan penutupan final yang kedap. pemulungan sampah di TPA di beberapa kota di Indonesia rata-rata memiliki persentase yang lebih besar. Upaya yang banyak diterapkan di negara-negara tersebut adalah insinerasi limbah. Bab XVI (Peralihan) Ps 44 dari UU tersebut mengamanatkan bahwa: (1) Pemerintah daerah harus membuat perencanaan penutupan TPA sampah yang menggunakan sistem pembuangan terbuka paling lama 1 (satu) tahun terhitung sejak berlakunya UU tersebut (2) Pemerintah daerah harus menutup TPA sampah yang menggunakan sistem pembuangan terbuka paling lama 5 (lima) tahun terhitung sejak berlakunya UU tersebut. − Pembuatan kompos (Composting) − Insinerasi. Untuk area 1 Ha dibutuhkan sekitar 4 titik
 Untuk memperpanjang umur pemakaian TPA. Berdasarkan UU18/2008. maka sorotan penggunaan landfill untuk sampah yang mengandung bahan organik tinggi mendapat perhatian besar. Produk ini setelah memenuhi batas kadar organik. porositas. dan timbulnya bau serta gangguan lingkungan. permeabilitas. Proses daur ulang berupa pemanfaatan kembali bahan-bahan yang ada pada sampah biasanya dilaksanakan oleh pemulung. • Data laboratorium analisa tanah dari hasil bor log di atas. Hanya abu insinerasi saja yang boleh diurug dari sebuah landfill. yaitu seluruh penimbunan sampah dilaksanakan di dalam area tertutup dengan menggunakan atap.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) • • Situasi mata air/badan air lain Situasi tanaman/pohon Data hidrogeologi • Bila tersedia : data geolistrik • Data dari hasil bor tangan dan atau bor mesin tentang jenis tanah/batuan. jenis mineral. melalui reduksi volume sampah yang akan diurug. Bila dibandingkan dengan TPS. Kegiatan pendaurulangan yang efektif justru banyak terdapat pada lahan TPA. maka isu dampak negatif aplikasi landfilling lebih banyak ditujukan pada pencemaran akibat leachate. maka salah satu solusi adalah pengolahan dan daur-ulang sampah sebelum diurug. Recovery). posisi muka air tanah. keberadaan para pemulung seringkali menimbulkan masalah terhadap pengelolaan sampah di TPA karena kegiatan pemulung memang belum diatur. Sebelum isu pemanasan global mencuat luas.

Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 89 . Dalam proses ini kriteria digunakan semaksimal mungkin guna proses penyaringan. Tanpa penanganan yang baik gas ini dapat memicu kebakaran di TPA. lalat dan nyamuk. d. Biasanya hal ini dilakukan dengan cara pembobotan. b. Degradasi materi organik yang terdapat dalam sampah akan menimbulkan gas yang mudah terbakar seperti metan. Salah satu fungsi dari penutupan sampah dengan tanah adalah mencegah tumbuh dan berkembangbiaknya vektor penyakit tersebut. Gambar 9. Berbagai vektor penyakit senang bersarang ditimbunan sampah karena merupakan sumber makanan mereka.5 Langkah Kerekayasaan dalam Aplikasi Landfilling Karena metode landfilling sensitif terhadap terjadinya pencemaran. Guna memudahkan evaluasi pemilihan sebuah lahan yang dianggap paling baik. maupun pada pasca operasi Pemilihan Calon Lokasi Pengurugan Tahapan dalam proses pemilihan lokasi landrilling adalah menentukan satu atau dua lokasi terbaik dari calon lokasi yang dianggap potensial. Produksi gas yang timbul dari degradasi materi sampah akan menyebabkan bau yang tidak sedap dan juga ditambah dengan debu yang beterbangan. Karena lahan tidak dikelola secara baik. Metode lain antaranya adalah Metode Le Grand [65]. khususnya untuk site di kota kecil. Kebakaran selalu terjadi dalam lahan TPA yang menggunakan metode open dumping. bau dan debu. Berkurangnya estetika lingkungan. Tahap regional yang merupakan tahapan untuk menghasilkan peta yang berisi daerah atau tempat dalam wilayah tersebut yang terbagi menjadi beberapa zona kelayakan. maka aplikasi landfilling membutuhkan serangkaian langkah engineering (rekayasa). digunakan beberapa tolok ukur untuk merangkum semua penilaian dari parameter yang digunakan. c. yaitu [61]: − Pemilihan site agar dampak negatif dapat dikurangi − Perancangan secara rakayasa sarana dan prasarana landfill − Pengoperasian landfill dengan kaidah-kaidah yang benar − Pemantauan sarana baik selama masa operasi. Berkembangnya berbagai vektor penyakit seperti tikus. yaitu [64.6 Pengurugan Sampah pada Lahan Tersedia Secara umum pemilihan site landfilling dalam SNI T-11-1991-03 dibagi berdasarkan 3 (tiga) tahapan. e.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) a. khususnya akibat timbulnya lindi. 65]: a. Ada beberapa metode penilaian calon lokasi yang diterapkan di Indonesia. Ketiadaan tanah penutup akan menyebabkan polusi udara tidak teredam. Tidak adanya lapisan dasar dan tanah penutup akan menyebabkan leachate yang semakin banyak dan akan dapat mencemari air tanah Pencemaran udara akibat gas. maka dalam jangka panjang lahan tidak dapat digunakan kembali secara baik. yang paling sederhana adalah SNI T-11-1991-03 [64]. Resiko kebakaran cukup besar. yang bersasaran mengurangi dampak tersebut. 9. Pencemaran air tanah yang disebabkan oleh lindi (leachate).

Persyaratan umum lokasi pembuangan akhir berdasarkan cara tersebut adalah sebagai berikut: − Sudah tercakup dalam perencanaan tata ruang kota dan daerah. Lahan Efektif: merupakan bagian lahan yang digunakan sebagai lokasi pengurugan atau penimbunan sampah. bangunan pengolah leachate. − Tidak membahayakan/mencemarkan sumber air. jembatan timbang. workshop. Lahan Utilitas: merupakan bangunan atau sarana lain di TPA khususnya agar pengurugan dan kegiatan lainnya dapat berlangsung. dan lain-lain − Prasarana penunjang (hidrant kebakaran. Tahap penyisihan yang merupakan tahapan untuk menghasilkan satu atau dua lokasi terbaik di antara beberapa lokasi yang dipilih dari zona-zona kelayakan pada tahap regional. pengomposan. Langkah 5: catatan tentang keakuratan data. − Jenis tanah kedap air. Terdapat 10 langkah dalam penilaian tersebut. daerah buffer (pohon-pohon) lingkungan. gudang.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) b. c. sumur pemantauan. hanggar. dan lainlain).10 tahun. dsb Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 90 . garasi. Sarana untuk perlindungan terhadap lingkungan: − Sistem liner dasar dan dinding yang kedap − Drainase sekeling TPA dan dalam area pengurugan sampah − Sarana penangkap. Langkah 2: menentukan jarak vertikal (kedalaman) muka air tanah terhadap dasar lahan urug. Langkah 9: penentuan Protection of Aquifer Rating (PAR) berdasarkan langkah 7 dan langkah 8 Langkah 10: iterasi ulang bila terjadi perbaikan site dengan masukan teknologi 9. yaitu: Langkah 1: menentukan jarak horizontal antara lokasi dengan sumber air minum. − Daerah yang bebas banjir. insinerasi. kantor. bengkel. − Jarak dari daerah pusat pelayanan ± 10 km. Langkah 7: penentuan deskripsi hidrogeologi calon lokasi berdasarkan langkah 1 sampai 6 Langkah 8: penentuan kaitan jenis limbah dengan media tanah di bawah site. Lahan efektif direncanakan sebesar ± 70% dari luas total keseluruhan TPA b. − Lahan penunjang kegiatan lain. rumah penjaga. bangunan kantor. − Daerah yang tidak produktif untuk pertanian. Sarana dan prasarana di sebuah kegiatan TPA akan terdiri dari: a. − Dapat dipakai minimal untuk 5 . dan sebagainya. Pada tahap ini disusun beberapa parameter penentu disertai bobot dan nilainya.Peralatan untuk pengoperasian: − Alat berat: trackloader dan bulldozer − Stok tanah penutup − Alat transportasi lokal − Cadangan bahan bakar − Cadangan insektisida − Pelataran pengurugan c. bangunan pencucian kendaraan. Lahan utilitas ini akan mengakomodasi berbagai sarana dan prasarana penunjang yang diperlukan dalam pengelolaan site. Langkah 3: menentukan kemiringan hidrolis air tanah dan arah alirannya. pengumpul dan pengolah lindi − Sumur pemantau − Ventilasi gasbio − Sarana analisa air − Jalur hijau penyangga − Pengendali vektor b. Penilaian berdasarkan Metode Le Grand [65] digunakan untuk menilai suatu calon lokasi. seperti jalan. Langkah 4: menetukan potensi pencemaran dan kemampuan sorpsi. Lahan utilitas direncanakan luasnya mencapai sekitar 30% dari lahan yang tersedia. tempat cuci mobil − Jalan akses dan operasi − Fasilitas pengolahan selain pengurugan : daur ulang. Sarana penunjang: − Pagar dan papan nama site − Jembatan timbang − Pos penjaga. Tahap penetapan yang merupakan tahap penentuan lokasi tepilih sesuai dengan kebijaksanaan instansi yang berwenang setempat dan ketentuan yang berlaku.6 Penyiapan Sarana dan Prasarana Lahan di lokasi TPA yang direncanakan biasanya dibagi menjadi: a. khususnya ditinjau dari sudut hidrogeologi. seperti transit sampah. reservoir penampungan air. Langkah 6: catatan tentang kondisi sekitar.

Diharapkan setelah dilakukan pengolahan tidak terjadi pencemaran terhadap lingkungan sekitar.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Sistem Pengelolaan Lindi (Leachate) Lindi (Leachate) adalah cairan yang merembes melalui tumpukan sampah dengan membawa materi terlarut atau tersuspensi terutama hasil proses dekomposisi materi sampah atau dapat pula didefinisikan sebagai limbah cair yang timbul akibat masuknya air eksternal ke dalam timbunan sampah. Dalam perencanaan suatu landfill. ada beberapa cara yang dapat digunakan.7: Neraca Air [61] Untuk meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan lindi. Metan merupakan gas yang eksplosif. baik lapisan tanah penutup harian. Lindi yang telah terkumpul diolah terlebih dahulu sehingga mencapai standar aman untuk kemudian dibuang ke dalam badan air penerima. dapat meledak jika terkonsentrasi hingga 5 sampai 15% di udara. Beberapa perangkat lunak tersedia di pasar untuk mempermudah perhitungan tersebut. baik terhadap sungai maupun air tanah. gas nitrogen (N2). melarutkan dan membilas materi terlarut. iklim.RO . pembentukan gas perlu diperhatikan.ST Gambar 9. Semakin banyak air yang masuk maka semakin banyak pula leachate yang ditimbulkan dan yang harus dikelola. Oleh karena itu dalam pengelolaan sebuah TPA yang baik tidak terlepas dari pengelolaan leachatenya [61]. − Penyediaan sarana pengolah lindi yang dihasilkan. Masalah yang dihadapi adalah bahwa debit lindi yang keluar dari timbunan sampah sangat berfluktuasi. kondisi kelembaban dalam timbulan sampah serta waktu penimbunan sampah. termasuk juga materi organik hasil proses dekomposisi biologis. khususnya zat organik dalam kondisi anaerobik mengakibatkan produksi gas. uap air (H2O). kolam oksidasi. Produksi gas metan dapat diperkirakan secara stoichiometri. Gas bio adalah gas yang dihasilkan dari proses penguraian materi organik oleh mikroorganisme dalam kondisi anaerob. Gambar 9. antara lain: − Penggunaan lapisan tanah penutup. − Pemakaian lapisan dasar/liner untuk mencegah lindi berinfiltrasi ke air tanah. Kondisi lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 91 . Tanah penutup yang baik dapat mencegah atau meminimasi air yang masuk kedalam lahan urug. dan lain-lain. Kualitas dan kuantitas leachate tergantung dari banyak faktor. terutama pada timbunan sampah yang masih baru. Secara teoritis leachate tidak akan keluar dari timbunan sampah sebelum kapasitas serap air dari sampah terlampaui. Pengadaan sistem pengolahan leachate sangat diperlukan untuk mengurangi beban pencemaran terhadap badan air penerima.ET . maupun akhir. antara lain karakteristik dan komposisi sampah. Gas-gas yang dihasilkan dari proses penguraian antara lain gas metan (CH4). Karbondioksida dapat menjadi penyebab peningkatan mineral pada air tanah serta membentuk asam karbonik. Secara umum leachate mengandung zat organik dan anorganik dengan konsentrasi tinggi. Presipitasi (P) Evapotranspirasi (ET) Run Off (RO) Moisture Storage (ST) Perkolasi Lindi = P . Pengolah lindi yang banyak digunakan di Indonesia hingga saat ini adalah kontak stabilisasi. terutama berasal dari air hujan.7 merupakan skema umum dalam memprediksi timbulan lindi. Gas bio ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembantu. Sistem Pengelolaan Gas Dekomposisi sampah. antara. karbondioksida (CO2). Untuk menghilangkan pengaruh negatif yang ditimbulkan maka perlu pengelolaan gas bio yang dihasilkan oleh landfill. yang dipilih berdasarkan kesederhanaan serta tersedianya sinar matahari. jenis tanah penutup. Penetrasi air yang masuk merupakan sumber terbentuknya leachate yang merupakan pencemar bagi lingkungan. termasuk di antaranya pemasangan saluran lindi di lapisan dasar. dan penerapan pengolah lindi. pembangunan saluran drainase.

misalnya tidak tersedianya alat berat untuk melaksanakannya. Secara teoritis. dan ketersediaan makro-mikro nutrisi yang dibutuhkan (ratio C/N antara 35-40). Di samping itu. adalah muka air tanah. dan kemampuan pengelola untuk melaksanakan. Sebelum dimanfaatkan. Pengupasan yang tidak disertai data lapangan akan mengakibatkan masalah misalnya: − Terdapatnya lapisan yang sulit untuk dikupas. kepadatan sampah di suatu tempat akan tergantung pada ketinggian sampah tersebut. tambah kecil rasio tersebut. namun kenyataan di lapangan mungkin akan berbeda terutama bila pengelola TPA tidak disiapkan untuk itu. yaitu untuk mengontrol emisi gas-gas yang terbuang dan untuk memanfaatkan biogas yang dihasilkan. Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 92 . kepadatan pada alat transportasi akan ditentukan oleh jenis truk dan mekanisme pemadatannya. Sedang kepadatan sampah di truk pengangkut sekitar 0. dan memisahkan gas-gas yang tidak diinginkan. Demikian pula kepadatan di urugan akan ditentukan oleh aplikasi alat berat serta jenisnya. satuan volume (basah). Secara praktis kepadatan di urugan dapat dihitung berdasarkan angka 3 3 0.6). Proses pemurnian ini mempunyai sasaran untuk menghilangkan uap air dalam gas. kandungan air (optimum 45-60%). Konsekuensinya. Struktur geologi (litologi) perlu mendapat perhatian. Tentunya diinginkan sebuah landfill yang bila telah ditutup akan menyatu dengan lingkungannya serta sesuai dengan fungsinya. Prasarana lain perlu dipertimbangkan seperti : area pengolah lindi. struktur geologi. Ketersediaan tanah penutup memegang peranan sangat penting agar landfilling tersebut dapat beroperasi secara baik. namun hendaknya dirancang dari awal disesuaikan dengan kondisi lanskap sekitarnya atau kegunaan lahan tersebut setelah pasca operasi. Dengan demikian estimasi kebutuhan site landfilling yang langsung dihitung dari timbulan di sumber akan menghasilkan prakiraan yang berlebihan bila landfill tersebut dioperasikan secara lapis per lapis dan dipadatkan dengan alat berat. sehingga memudahkan pengelolaan lindi. sistem vertikal. Biasanya sebuah landfill yang dirancang secara baik akhimya menjadi open dumping akibat masalah tanah penutup yang tidak diterapkan karena berbagai alasan. Selanjutnya. Selain memiliki nilai ekonomis untuk menghemat pemakaian bahan bakar utama. pengupasan yang kurang sistematis akan mengubah rancangan dari dasar landfill sehingga dapat menimbulkan masalah dalam mengalirkan lindi.7 Pengoperasian Landfill di TPA Lahan yang tersedia di sebuah TPA tidak semua dapat digunakan untuk pengurugan atau penimbunan sampah. Di atas kertas memang tidak ada masalah untuk mengupas lahan rencana sampai kedalaman berapapun. maka pengukuran ini membutuhkan dibedakannya kepadatan (bulk density) sampah dalam berbagai keadaan. Pengamatan di landfill TPA Sukamiskin pada tahun pertama aplikasi lahan-urug saniter dengan tanah penutup harian menghasilkan rasio tanah penutup antara 19-31 % dari volume sampah yang masuk (untuk kapasitas 3 operasi 500-1000 m per hari). Lapisan tersebut harus mempunyai kelulusan minimum sebesar 10 cm/detik. temperatur (optimum 35-55ºC). dan sebagainya.60-0. jalan akses dan operasi. Beberapa pertimbangan yang membutuhkan observasi lapangan terlebih dahulu guna menentukan seberapa dalam dasar sebuah TPA boleh dikupas. ketinggian maksimurn juga hendaknya mempertimbangkan kemampuan operasi penimbunan sampah serta kestabilan dari timbunan tersebut. Kepadatan sampah pada bak sampah di rumah adalah tidak sama dengan kepadatan sampah di gerobak (yang kadangkala diperpadat dengan penginjakan oleh petugas). Grading final dari sebuah landfill tidak ditentukan secara sembarang. khususnya bakteri metanogene. Oleh karena pengukuran timbulan sampah yang diterapkan di Indonesia adalah dengan.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) mikroorganisme. Ketinggian maksimum timbunan sampah akan menentukan lanskap akhir dari landfill tersebut kelak. sehingga memungkinkan adanya zone penyangga dari tanah tersebut andaikata lindi dari sampah di -6 atasnya merembes ke bawah. Pengupasan dinding dan dasar lahan jelas akan menambah kapasitasnya di samping akan diperoleh tanah penutup. Aplikasi penangkapan gas bio dari suatu landfill bersasaran ganda. di luar kebutuhan untuk pengurugan dan penimbunan. sehingga dibutuhkan waktu yang relatif lama bagi lindi tersebut untuk mencapai air tanah.30-0. Diperkirakan sekitar 20-30 % dari luas lahan yang ada akan terpakai untuk kebutuhan tersebut. 9. jalur hijau/area penyangga. Sistem penangkapan gas bio terdiri atas 3 (tiga)jenis. Jarak yang dipersyaratkan antara dasar landfill dengan muka air tanah adalah 3. − Terdapatnya lapisan yang tidak diinginkan. dan sistem gabungan horizontal dan vertikal. Angka tersebut masih terlalu tinggi mengingat di sektor inilah biaya operasi sebuah TPA banyak terserap.0 meter atau lebih.6-7. Tambah tinggi kapasitas operasi. Namun pengupasan tanah dasar memerlukan kehati-hatian. Keuntungan lain yang diperoleh dengan pengupasan dasar adalah tersedianya slope dasar dengan besar dan arah kemiringan yang diinginkan. pemanfaatan gas bio pada insinerator dari penelitian yang ada ternyata dapat juga mengurangi potensi terjadinya pencemaran udara pada proses insinerasi. yaitu: sistem horizontal.35 ton/m . antara lain : pH (optimum 6. gas bio harus melalui proses pemurnian agar didapatkan hasil yang memuaskan.65 ton/m .

sehingga akan mempercepat stabilitas sampah. lahan penghijauan. kualitas lingkungan lainnya sekitar lokasi TPA. aplikasi timbunan sampah semacarn itu akan memungkinkan berlangsungnya fase aerobik yang lebih larna. paling tidak selama 10 tahun terhadap leachate. namun pula bagaimana daerah yang kebetulan terpilih untuk lokasi tempat pembuangan akhir (TPA) tidak mengalami degradasi kualitas lingkungan akibat adanya TPA tersebut. akan menambah kapasitas lahan sehingga memperlama masa layan. khususnya masalah bau. Andaikata terjadi akan mernbutuhkan waktu yang sulit diukur. Pemantauan juga perlu dilaksanakan setela pasca operasi. Keberadaan area ini dapat difungsikan menjadi berbagai macam kegunaan.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) Penelitian di pilot skala kecil di TPA Bogor menghasilkan angka sekitar 15-20 %. taman. maka tanah penutup disarankan untuk tidak terlalu kedap agar proses penguraian sampah secara aerobik masih bisa berlangsung dengan baik pada sel timbunan teratas. Penelitlan sekala pilot menunjukkan bahwa settlement mekanis maksimum adalah sebesar 15-25% dari tinggi awal. Angka ini akan mengecil lagi pada lahan urug terkendali yang mengaplikasikan tanah penutup tidak setiap hari [65]. dan tanah penutup juga sudah banyak diterapkan sehingga lahannya dapat dijadikan lahan TPA lagi. Konsep timbunan aerobik tersebut sebetulnya dapat pula dikembangkan lebih jauh misalnya dengan mengatur agar suatu timbunan sampah dibiarkan sampai sekitar 10-15 hari sebelum di atasnya ditimbun sampah baru. karena [65]: Degradasi yang terjadi belurn tentu diikuti oleh settlement. dan pemadatan sampah secara lapis per lapis akan menambah kepadatan sampah dibandingkan bila dilakukan sekaligus sampai ketinggian tertentu. Pemantauan dan Pemanfaatan Lahan TPA Pasca Operasi Selama pengoperasian. Namun sebaiknya asumsi settlement karena proses biologis tidak diperhitungkan dalam perancangan. Penurunan ini terjadi akibat konsolidasi sampah. Peranan pengurugan. yang terjadi pada minggu pertama. namun aplikasi pengurugan sampah ke dalam tanah tersebut agaknya akan tetap merupakan pilihan bagi kota-kota di Indonesia pada masa mendatang. gasbio dan settelement. kuantitas dan kualitas gasbio dan penyebarannya. Pembagian lahan menjadi beberapa area kerja akan memudahkan dalam pengelolaan lahan secara keseluruhan. Operasi penambangan kembali sampah yang sudah tua dalam urugan (landfill mining) untuk diolah dijadikan kompos.8 Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah Kota di Indonesia [67] Sampah perkotaan akan tetap merupakan salah satu persoalan yang rumit yang dihadapi oleh pengelola kota dalam menyediakan sarana dan prasarana perkotaannya. Pemadatan sampah di timbunan dengan mengandalkan alat berat dozer atau loader yang biasa 3 digunakan di TPA Indonesia akan menghasilkan kepadatan timbunan sampai 0. Di samping itu agar tanah penutup tidak retak pada saat panas.cm/det cukup baik untuk itu.70 ton/m . diantaranya area rekreasi. perlu dilakukan pemantauan terus menerus. Setelah itu tinggi permukaan landfill relatif stabil. bila dalam sebuah lahan-urug belum dapat mensyaratkan aplikasi tanah penutup harian. Kegiatan umum yang dilaksanakan di sebuah TPA adalah pengurugan atau penimbunan sampah di lahan yang tersedia. Untuk mendapatkan lokasi TPA yang cocok dari sudut biaya dan teknis memang terasa makin sulit.0 meter yang ditutup tanah penutup setebal 20 cm terungkap bahwa timbunan tersebut akan tetap 0 memungkinkan fase aerobik yang ditandai dengan panas timbunan di sekitar 50 C. kualitas lindi hasil pengolahan. Nilai -4 5 kelulusan antara 10 sampal 10. maka Indeks Plastisitas (IP) tanah yang baik adalah lebih kecil dari 40%. maka sebaiknya tanah tersebut dicampur dengan tanah tertentu (seperti pasir) agar memperkecil IP tersebut. Di samping itu. fasilitas komersial. baik secara mekanis maupun biologis. air sungai. khususnya terhadap kualitas sampah yang masuk. Penelitian pada timbunan sampah setinggi 2. Oleh karena itu. 9. Di samping alasan bahwa landfilling adalah relatif Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 93 . lahan pertanian atau perkebunan. maka paling tidak aplikasi tanah penutup dilaksanakan setidak-tidaknya sebelum 5 hari. Tanah penutup antara lain efektif untuk mencegah adanya lalat. penyebaran. kuantitasi kualitas lindi yang dihasilkan. Lahan TPA setelah pengoperasian akan berupa suatu areal kosong yang cukup luas. Penelitian yang dilaksanakan di Bogor menunjukkan bahwa populasi lalat akan turun dengan sendirinya di timbunan yang telah berumur lebih dari 7 hari. Penanganan sampah yang baik di area penimbunan akan meningkatkan masa layan lahan. Di samping persoalan bagaimana menyingkirkan sampah secara baik agar kota tersebut menjadi bersih dan tidak mengganggu lingkungan. air tanah dan sumur-sumur penduduk. Berbeda halnya dengan liner. dsb. kemungkinan terjadinya longsor. Bila tidak. di sarnping dapat mendata jumlah dan jenis sampah yang masuk ke dalam area kerja tersebut. Adanya penurunan permukaan (settlement) timbunan sampah. Masalah ketersediaan liner dan tanah penutup merupakan kendala yang berkaitan dengan biaya OM.

Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010)

mudah, luwes, dan murah, maka alasan lainnya adalah bahwa cara ini dianggap tuntas dalam menangani sampah. Masyarakat luas di lndonesia agaknya sampai sekarang masih menganggap sebuah TPA yang aktivitas utamanya adalah landfilling selalu identik dengan open dumping, sehingga metode yang lebih baik, semacam sanitary landfill akan dicurigai sebagai open dumping. Hal ini tidak mengherankan, karena sampai saat ini masih banyak pengelola persampahan yang menganggap bahwa sebuah TPA hanyalah sekedar tempat untuk menyingkirkan sampah agar kotanya menjadi bersih. Banyak dijumpai bahwa sebuah TPA hanya dioperasikan oleh seorang sopir bulldozer, atau hanya mengandalkan sopir truk sampah dalam menuang sampahnya. Tidak terdapat rencana pengelolaan lahan yang baik dan sistematis agar TPA tersebut bisa berfungsi dengan baik dan tidak mengganggu Iingkungan. Alasan yang biasa terdengar adalah karena tingginya biaya dari sebuah TPA yang baik. Kontrol terhadap aplikasi inipun masih sangat lemah. Tidak jarang dijumpai, bahwa sebuah TPA sampah kota menerima buangan industri, atau bahkan dari jenis limbah B-3 yang berkatagori infectious misalnya dari rurnah sakit, yang tentunya akan dapat mendatangkan dampak yang tidak diinginkan. Sebuah TPA yang telah dirancang dan disiapkan sebagai lahan-urug saniter akan dengan mudah berubah menjadi sebuah open dumping bila pengelola TPA tersebut tidak secara konsekuen menerapkan aturan-aturan yang berlaku. TPA tersebut akan menjadi semrawut, bau, berasap, dan lindinya menyebar ke arah yang tidak diinginkan. Pencemaran sumber air minum penduduk sekitarnya oleh lindi merupakan salah satu masalah yang paling serius dalam aplikasi pengurugan sampah ke dalam tanah. Pada awal tahun 1990-an metode transisi yaitu lahan-urug terkendali (controlled landfill) diperkenalkan oleh Dept PU terutama untuk kota-kota kecil dan sedang, antara lain dengan menunda kriteria waktu penutupan harian menjadi 5 – 7 hari sesuai dengan siklus lalat. Tetapi ternyata sampai saat ini metode inipun tetap dianggap mahal oleh pengelola kota atau pengelola persampahan. Pilihan lain yang saat ini banyak menarik perhatian adalah mengaitkan pengelolaan sampah yang berada di TPA dengan mekanisme pembangunan bersih, atau dikenal sebagai clean mechanisme development (CDM) yang dikaitkan dengan Kyoto Protocol dalam upaya global mereduksi emisi gas rumah kaca. Indonesia telah meratifikasi protocol ini sehingga dapat memanfaatkan peluang ‘perdagangan’ karbon yang saling menguntungkan. Prinsip umum dalam CDM adalah, negara-negara industri yang termasuk dalam negara ‘Annex’ dari protokol tersebut mempunyai komitmen pengurangan emisi CO2 di negara masing-masing. Namun penurunan CO2 berarti akan terkait dengan upaya peningkatan efisiensi industri di negara tersebut atau melalui pengurangan aktivitas ekonomi yang mungkin sulit dilakukan. Oleh karenya, negara berkembang yang meratifikasi protokol tersebut dapat melaksanakan penurunan emisi gas rumah kaca di negaranya, yang dapat ‘dijual’ kepada negara inustri tersebut. Salah satu kegiatan yang dianggap berpotensi dalam upaya tersebut adalah bila gas metan yang dihasilkan di sebuah TPA tidak dibiarkan terlepas tanpa kontrol ke udara bebas. Dengan perbaikan TPA dan pemasangan sistem penangkap gas, maka gas bio yang dihasilkan akan dapat diarahkan untuk dimanfaatkan, atau paling tidak melalui pembakaran sehingga terkonversi menjadi CO2. Gas CH4 dikenal mempunyai potensi gas rumah kaca 21 kali dibandingkan CO2. Banyaknya CH4 yang dapat dikonversi menjadi CO2 inilah yang di ‘hargai’ dengan harga tertentu oleh negara pembeli. Tentu saja, proses ini membutuhkan sebuah mekanisme verifikasi yang panjang untuk sampai pada kesepakatan perdagangan CO2 tersebut. Sampai saat diktat ini ditulis, maka terdapat 4 TPA di Indonesia yang sedang dalam proses kelayakan teknis yang dilaksanakan oleh calon investor masing-masing untuk mendapatkan sertifikat emisi karbon dari PBB, yaitu: − TPA Suwung di Denpasar: status potensinya telah terdaftar pada badan dunia (UN-FCCC No. 0938), sehingga menunggu persetujuan metodologi dan verivikasi untuk mendapatkan sertifikat − TPA Pontianak, TPA Kota Bekasi dan TPA Palembang: potensinya sedang dalam proses verivikasi secara intensif Secara finansial, bila ‘perdagangan’ emisi gas rumah kaca ini akhirnya disepakati oleh pembeli, maka untuk setiap ton ekivalen CO2 tersebut akan mendapatkan kompensasi, yang menurut perhitungan akan dapat menutup biaya operasional TPA tersebut, disamping adanya keuntungan bagi investor/operator yang melaksanakan kegiatan tersebut sesuai dengan kaidah bisnis komersial biasa.

Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB

94

Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010)

DAFTAR
REFERENSI
 
 

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

E.
 Damanhuri
 (Editor):
 Teknik
 Pengelolaan
 Persampahan
 –
 Modul
 A
 dan
 Modul
 B,
 Disiapkan
 untuk
PT
Freeport
Indonesia,
Teknik
Lingkungan
ITB,
Agustus
1999
 Pemerintah
Indonesia:
Undang‐Undang
Pengelolaan
Sampah,
7
Mei
2008
 E.
 Damanhuri:
 Pengelolaan
 Limbah
 
 dalam
 Life
 Cycle
 Analysis
 (LCA)
 ‐
 Tinjauan
 Limbah
 Cair,
 Limbah
Padat
dan
B3,
Pelatihan
Product
Life
Cycle
Analysis,
PPLH
ITBH,
3–15Mei
1999

 G.H.
 Tchobanoglous,
 H.
 Theissen,
 S.A.
 Vigil:
 Integrated
 Solid
 Waste
 Management,
 McGraw
 Hill,
1993

 D.G.
 WILSON
 (Editor):
 Handbook
 of
 Solid
 Waste
 Management,
 Van
 Nostrand
 Reinhold
 Company,
1977


 BPPT:
 Model
 Pengelolaan
 Persampahan
 Perkotaan,
 Deputi
 Pengkajian Kebijakan Teknologi,

Oktober 2002 SK SNI 19-2454-1991 dan SNI 19-3242-1994 : Tata Cara Pengelolaan Sampah Perkotaan Kementrian Lingkungan Hidup: Statistik Pengelolaan Sampah Tahun 2008. E. Damanhuri: Permasalahan dan Alternatif Teknologi Pengelolaan Sampah
Kota
di
Indonesia,
 Seminar Teknologi untuk Negeri – BPPT, Jakarta 20-22 Mei 2003 10. E. Damanhuri: Pembahasan tentang Pedoman Pengelolaan Sampah, Workshop Pembahasan Rancangan Keputusan Menteri Negara Pekerjaan Umum 10-8-2001 di Jakarta.
 11. E.
 Damanhuri:
 Pengelolaan
Sampah
 di
Kawasan
Metropolitan
‐
 Minimasi
Sampah
Terangkut


dan
Optimasi
TPA
,
Workshop
Pengelolaan
Sampah
Jakarta,
Jakarta
15‐11‐2001

12. E.
 Damanhuri:
 Solid
 and
 Hazardous
 Waste
 Management
 in
 Indonesia,
 Proceedings
 on


Environmental
Technology
&
Management
Seminar,
January
9‐10,

2002


13. H.
 Poerbo:
 Konsep
 Kawasan
 Industri
 Terpadu
 Sampah
 sebagai
 Sistem
 Pengelolaan
 Sampah


14. 15. 16. 17. 18.

Terpadu,
Seminar
Konsep
Alternatif
Pengelolaan
Sampah
Mencari
Jawaban
untuk
Kota‐kota
di
 Indonesia,
PPT
–
PPLH
ITB,
1991
 Departemen
 Permukiman
 dan
 Prasarana
 Wilayah:
 Pedoman
 Pengelolaan
 Persampahan
 Perkotaan
bagi
Pelaksana,
2003

 E.
 Damanhuri,
 
 T.
 Padmi,
 N.
 Azhar,
 L.T.
 Meilany
 :
 Pengkajian
 Laju
 Timbulan
 Sampah
 di
 Indonesia,
Pus.Lit.Bang.Pemukiman
Dept
PU
‐
LPM
ITB,
1989
 SNI
 S
 04‐1993‐03
 Standar
 Spesifikasi
 Timbulan
 Sampah
 untuk
 Kota
 Kecil
 dan
 Kota
 Sedang
 di
 Indonesia

 E.
Damanhuri
dan
Tri
Padmi:
Probleme
de
Dechets
Urban
en
Indonesie,
TFE
ENTPE
(Perancis),
 1982


 LIPI:
Komposisi
dan
Karakteristik
Sampah
Bandung,
PD.
Kebersihan
Bandung,
LIPI
dan
Jurusan
 TL‐
ITB,
1994



19. E. Damanhuri, W. Handoko, T. Padmi: Municipal Solid Waste Management in Indonesia, in Municipal Solid Waste Management in Asia and the Pacific Islands - Editors: Agamuthu P, Masaru Tanaka, Penerbit ITB, 2010
 20. S.
J.

Cointreau:
Environmental
Management
 of
Urban
Solid
 Wastes
 in
 Developing
 Countries,


the
World
Bank,
June
1982


21. SNI
 19‐3964‐1995
 
 dan
 SNI
 M
 36‐1991‐03
 Metode
 Pengambilan
 dan
 Pengukuran
 Contoh


Timbulan
dan
Komposisi
Sampah
Perkotaan
 nd 22. N.C.
Thanh
(Editor):
Waste
Disposal
and
Resource
Recovery,
Proceedind
2 
Regional
Seminar
 on
Solid
Waste
,
Bangkok,
1979
 23. A.
 Hasbul:
 Pengaruh
 Timbulan
 dan
 Karakteristik
 Sampah
 terhadap
 Sistem
 Pewadahan
 dan
 Pengangkutannya,
Tugas
Akhir
pada
Jurusan
TL
ITB,
1988

24. E. Damanhuri, I Made Wahyu, T. Padmi: Evaluation of waste recycling potential in Bandung Municipal Solid Waste, World Review of Science, Technology and Sust. Development, Vol. 7, No. 3, 2010 , Copyright © 2010 Inderscience Enterprises Ltd., pp 282-295
 25. T.
Padmi,
E.
Rachmawati
:
Timbulan
dan
Karakteristik
Sampah
Kota
Bandung,
Jurusan
Teknik


Lingkungan
ITB
–
PD
Kebersihan
Kodya
Bandung,
1988

26. US‐EPA:
 SWM
 in
 Residential
 Complexes,
 Greenleaf/Teleska
 ‐
 Planners,
 Engineers
 and


Architect,

Washington
DC,
USEPA,
SW
35C,
1971



27. E.
 Damanhuri:
 Diktat
 Kuliah
 Pengelolaan
 Limbah
 B3
 TL‐352,
 
 Teknik
 Lingkungan
 ITB,
 Edisi


Semeter
II
1993/1994



Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB

95

Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010)

28. E.
 Damanhuri:
 Minimasi
 Limbah
 Domestik,
 
 Pelatihan
 Minimasi
 Limbah
 B3
 PPLH
 ITB,
 
 4‐11‐ 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38.

39. 40. 41. 42.

43.

44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54.

1997
 Minsitry
of
Environment:
Japan’s
Experience
in
Promotion
of
the
3Rs,
Japan,
April
2005
 CRC
Mohanty:
3R
Initiative
in
Asia
and
Best
Practice,
UNCRD,
6‐7
September
2006,
Jakarta
 A.F.M.
Barton:
Resource
Recovery
and
Recycling,
John
Wiley
&
Sons,
1979

 nd G.
Tchobanoglous,
F.
Kreith:
Handbook
of
Solid
Waste
Management
,
McGrawHill,
2 
Edition;
 2002
 P.A.
 Vesilind,
 A..E.
 Rimer:
 Unit
 Operations
 in
 Resource
 Recovery
 Engineering,
 Prentice‐Hall
 Inc.,1981
 H.F.
Lund:
The
McGraw‐Hill
Recycling
Handbook,
McGraw‐Hill,
1993
 Yayasan
 Waskita
 Dian
 Persada:
Perumusan
 Konsep
 Integrasi
 Sistem
 Informal
 Daur‐ulang
 Sampah
ke
Dalam
Sistem
Manajemen
Persampahan
Formal,
Laporan
Interim,
Bandung,
1998
 State
Ministry
for
Environment
RI:
Agenda
21
Indonesia
‐
A
national
Strategy
for
Sustainable
 Development,
UNDP,
1997
 M.
Oepen:
Waste
Recycling
in
Indonesia,
Seminar
on
Waste
and
Sustainable
Development
‐
a
 Challenge
to
Environmental
Education,
Goethe‐Institut
–
BPPT,
Dec.
1992
 R.
Ismaria:
Studi
 Mekanisme
 dan
 Interaksi
Daur‐ulang
terhadap
Sistem
 Pengelolaan
Sampah
 dengan
 Pengembangan
 Model
 Dinamik
 ‐
 Studi
 Kasus
 Kotamadya
 Bandung,
 Tesis
 Program
 Magister
pada
Teknik
Lingkungan
ITB,
2000
 L.T.
 Meilany
 :
 Studi
 Kinetika
 Degradasi
 Komponen
 Sampah
 Organik,
 Tesis
 Program
 Magister
 pada
Teknik
Lingkungan
ITB,
2000
 E.
Damanhuri,
T.
Padmi
:
Pengolahan
Sampah
Secara
Individual
dan
Kajian
Potensi
Enersi
yang
 Dikandungnya,
Lembaga
Penelitian
ITB,
1993
 Damanhuri
E.
et
al.
:
Uji
Coba
Pemusnahan
Sampah
dengan
Vermi‐Kompos
Skala
Lingkungan,
 LPM
ITB
–
Departemen
Pekerjaan
Umum,
1999
 E.
Damanhuri,
T.
Padmi:
Reuse
and
Recycling
as
a
Solution
to
Urban
Solid
Waste
Problems
in
 Indonesia,
 ISWA
 International
 Symposium
 on
 Waste
 Management
 in
 Asia
 Cities,
 
 
 Hongkong
 23–26
Oktober
2000
 E.
Damanhuri:

Waste
Minimization
as
Solution
of
Municipal
Solid
Waste
Problem
in
Indonesia,

 th the
6 
ASIAN
Symposium
on
Academic
Activities
for
Waste
Management,
Padang
–
Indonesia,
 11‐13
Sept
2004
 W.
Handoko,
E.
Damanhuri,
 E.
Setyaningrum:
Draft
 
Panduan
 Pengelolaan
Sampah,
 Laporan
 untuk
Kementerian
LH,
2004


 E.
 Damanhuri:
 Pedoman
 Aspek
 Teknis‐Operasional
 Pengelolaan
 TPA,
 Usulan
 Draft
 pada
 Penyusunan
SK
MenLH
,
26‐4‐2004
 P.A.
 Vesilind,
 W.
 Worrell,
 D.
 Reinhart:
 Solid
 Waste
 Engineering,
 Brooks/Cole
 –
 Thomson
 Learning,
2002
 I
 .M.
 Wahyu
 Widyarsana:
 Kajian
 Integrasi
 Sistem
 Pembuangan
 Akhir
 Sampah
 di
 Wilayah
 Sarbagita,
Tugas
Akhir,
Departemen
Teknik
Lingkungan
ITB,
2004
 BPLHD
Jawa
Barat:
Rumusan
Workshop‐1
Greater
Bandung
Waste
Management
Corporation,
 BPLHD
–
Jawa
Barat,
Bandung,
28
April
2004
 Departemen
Pekerjaan
Umum:
Petunjuk
Umum
Perencanaan
Tehnis
Persampahan,
Direktorat
 PLP
‐
Direktorat
Jendral
Cipta
Karya
–
PU,
1987
 _________________
 :
Kriiteria
 Perencanaan
 Persampahan,
 Direktorat
 PLP
 –
 Direktorat

 Jendral
Cipta
Karya
–
PU,

1989
 F.
 Flintoff:
 Management
 of
 Solid
 Waste
 in
 Developing
 Countries,
 Regional
 Publication
 South
 East
Asia
Series
no
1,
WHO,
New
Delhi
1976
 Departemen
 Pekerjaan
 Umum:
 Desiminasi
 Petunjuk
 Teknis
 Persampahan,
 Diklat
 PU
 Binamarga,
Kanwil
Jawa
Barat,
1998
 Gotaas
 H.B
 ,:
 Composting
 :
 Sanitary
 Disposal
 and
 Reclamation
 of
 Organic
 Waste,
 WHO,
 Geneve,1973
 R.
 Gillet:
 Traite
 de
 Gestion
 des
 Dechets
 Solides
 –
 et
 son
 Application
 aux
 Pays
 en
 Voie
 de
 Developpement,
WHO
–
UNDP,
Copenhage,
1983


55. Purwasmita, M. et al .: Teknik Pengelolaan Sampah Terpadu dengan Konsep KIS, Pusat Penelitian Teknologi ITB, 1989 56. ANRED
:
 Guide
 pour
 l'Elimination
 de
 Dechets
 Menageres
 et
 la
 Valorisation
 des
 Dechets


Industriels,
Ministere
de
l'Environnement
–
ANRED,
1982

Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 96


BPK
SARBAGITA.com/seeaplant.
John
Wiley
&
Sons.
Studi
Kasus
 Calon
Lokasi
di
 Cinangsi.
2002
 World
Bank
:
Municipal
Solid

Waste
Incineration.

World
Bank
Technical
Guidance
Report.
Washington
State
Department
of
 Ecology.
Second
Asian
‐
 Pasific
Landfill
Symposium.
Farquhar
:
Solid
Waste
Landfill
Engineering
and
Design.
Bahan
Kuliah

Jurusan
Teknik
Lingkungan. Dialog
Publik.
1980
 Matsufuji:
Semi‐Aerpobic
Landfill
Fukuoka
Methode. 65.
 Gunung
 Masigit
 dan
 Cileungsi
–
Bandung.E.
 1981
 Ebara
 Hatakeyama
 Memorial
 Fund
 :
 Solid
 Waste
 Landffill
 Sites
 and
 Leachate
 Treatment.
.E. 67.
 ITB. 64.
Teknik
Lingkungan
ITB.
4
–
6
Maret
1997
 SK
 SNI
 91
 dan
 SNI
 19‐3241‐1994
 
 Tata
 Cara
 Pemilihan
 Lokasi
 Tempat
 Pembuangan
 Akhir
 Sampah
 H.
Inc. 66. 72. 71. D. 70.
Wantilan
 DPRD
Propinsi
Bali.J.
 Hester
 and
 R.
Inc.
 Damanhuri:
 Beberapa
 Catatan
 tentang
 Usulan
 Calon
 Investor
 untuk
 IPST
 Sarbagita
 dalam
 59.
2001
 E.
 PusLitBang
Pemukiman
PU
‐
LPM
ITB. 62.
 Harrison
 (Editors):
 Environmental
 and
 health
 impact
 of
 Solid
 Waste
 Management
Activities.
McBean..
Marcel
Dekker.
WB
 Washington
DC.
2002
 T. 75.
Padmi
:
Analisa
dan
Pengolahan
Buangan
Padat.
2001
 77.
Teknik
Lingkungan
ITB
1995/1966
 ANRED
:
 La
 Decharge
 Controlee
 de
 Residus
 Urbains.html:
 The
 complete
 recovery
 of
 energy
 from
 waste
 using
current
technologies
including
plasma
gasification
 Waste‐to‐energy‐‐‐dari:
Integrated
waste
services
association
(IWSA‐USA)
 E.
1995

 E.
June
1987
 H. World Bank Technical Guidence Report: Municipal Solid Waste Incineration. Japan.
G.C. 74.
LeGrand.
Damanhuri
:
Landfills
as
Mainstay
for
Solid
Waste
Management
in
Indonesia. Volume 1: Waste Characterization and Quantification with Projection for Future...
National
Water
 Well
Association. 61.
 Seminar
Pengelolaan
Limbah
Padat. the World Bank. Compiled by UNEP. Washington.
Alte
:
Materials
Recovery
from
Municipal
Waste.
F.
Bagchi
:
Design.
JICA.A.
Jurnal
ITENAS
Vol
.
H. 73.
 Damanhuri
 et
 al:
 Pengkajian
 Pemilihan
 Lokasi
 dan
 Pengelolaan
 TPA
 yang
 Tepat
 Guna.A...
1989
 Parametrix
Inc
:
Solid
Wastes
Landfill
Design
Manual. Training Manual. 69. 60.M.
Prentice
 Hall
PTR.
Seoul
Sept.

the
Royal
Society
of
Chemistry. E.
Damanhuri
:

Diktat
Kuliah
TPA.
BHESG.
Rovers.
 Ministere
 de
 l'Environnement.
1983
 R. 2009 
 Enri Damanhuri – Tri Padmi: Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITB 97 . 63.
24
Desember
2003


 http://recoveredenergy.
1999

 E.
 ANRED.
2002
 A.Diktat Kuliah TL-3104 (Versi 2010) 57.
Yayasan
GUS.
Construction
and
Monitoring
of
Landfills. Osaka/Shiga.
1994
 E. Anonymous: Developing Integrated Solid Waste Management Plant. 1999
 58. 76.
JALA
–
SAMPAH.
Clean
–
Up
Bali.E
:
A
Standardized
System
for
Evaluating
Waste
Disposal
Sites.
25
–
27. 68.
 Damanhuri:
 Perbandingan
 antara
 Metode
 Hagerty
 dengan
 Metode
 LeGrand
 dalam
 Penentuan
Lokasi
 Landfill
Limbah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful