BAB I PENDAHULUAN 1.1.

LATAR BELAKANG Sistem pentanahan adalah suatu metode pengamanan gedung beserta peralatan, yaitu apabila terjadi arus lebih akan dialirkan ke tanah. Dalam sistem pentanahan, semakin kecil nilai resistansi pentanahan maka kemampuan mengalirkan arus ke tanah semakin besar sehingga arus gangguan tidak merusak peralatan, ini berarti semakin baik sistem pentanahan tersebut. Untuk mengamankan gedung beserta peralatan yang ada disekitarnya dibutuhkan tahanan pentanahan sekecil mungkin. Tahanan pentanahan untuk gedung diharapkan < 5 ohm dan tahanan pentanahan untuk peralatan diharapkan < 3 ohm (PUIL, 2000). Tahanan pentanahan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti : jenis tanah, lapisan tanah, kandungan elektrolit tanah. Oleh karena itu, agar mendapatkan tahanan pentanahan sekecil mungkin tidak cukup hanya dilakukan dengan menanam pasak saja, karena kandungan elektrolit pada tanah juga berpengaruh terhadap tahanan pentanahan. Kandungan elektrolit tanah dapat diubah dengan mengkondisikan tahanan jenis tanah yaitu melalui penambahan zat aditif pada tanah. Zat aditif tersebut dapat berupa garam, air, bentonit dan lain-lain. Masing-masing zat aditif tersebut memiliki kandungan kimia yang berbeda-beda yang berakibat nilai tahanan pentanahannya berbeda pula. Penambahan zat aditif pada tanah tersebut justru cukup besar mempengaruhi tahanan pentanahan. Namun zat aditif tersebut memiliki keterbatasan umur. Zat aditif tidak dapat berfungsi dengan baik pada waktu yang cukup lama. Sebuah sistem pentanahan harus dievaluasi setiap 6 bulan untuk mengetahui kelayakan operasi sistem pentanahan untuk dapat dilanjutkan (PUIL, 2000) akibat penurunan kualitas tahanan pentanahan. Pengkondisian tanah dengan bahan kimia di sekitar elektroda batang atau di dalam sebuah elektroda berbahan kimia terkadang dipertimbangkan. Karena menurut penelitian oleh Bell Telephone Laboratoires hanya efektif selama 3 sampai 6 tahun [C.L. Hallmark, 2000]. Selain itu penggunaan zat aditif pada dosis tertentu cenderung bersifat korosif yang sangat dihindari dalam sistem pentanahan [A.R. Ihsan,2002]. Menurut Kerasta, (2003) terdapat perbedaan yang signifikan antara pentanahan tanpa penambahan zat aditif berupa garam dengan penambahan garam. Sedangkan pada penelitian IGN Janardana, (2005) menunjukkan nilai tahanan pentanahan yang lebih rendah pada pentanahan yang menggunakan volume zat aditif yang lebih banyak.
1

Dengan kata lain, penambahan volume atau konsentrasi zat adiktif pada pentanahan elektroda batang diharapkan dapat mengurangi nilai resitivitas tanah dan memperbaiki kualitas pentanahan. Dalam skripsi ini akan dilakukan pengkondisian tanah dengan menggunakan larutan garam di sekitar elektroda jenis batang untuk mendapatkan nilai resistansi pentanahan yang lebih kecil dan diharapkan dengan penambahan konsentrasi pada jenis larutan garam tertentu sebagai media pengkondisian tahanan jenis (resitivitas) tanah dapat memperbaiki kualitas pentanahan. 1.2. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pengaruh jenis larutan garam terhadap resistansi pentanahan

elektroda batang. 2. Bagaimana pengaruh konsentrasi larutan garam terhadap resistansi pentanahan elektroda batang. 1.3. BATASAN MASALAH Adapun batasan-batasan masalah dalam penyusunan skripsi ini adalah sebagai berikut : 1.
2.

Pemilihan jenis tanah yang digunakan adalah tanah lempung, karena sesuai dengan lokasi yang digunakan sebagai obyek penelitian. Metode pentanahan yang digunakan adalah metode pentanahan elektroda batang (grounding rod) dengan elektroda batang (rod) tunggal yang terbuat dari baja yang disepuh tembaga.

3. 4. 5. 6.
7. 8.

Jari-jari elektroda batang pentanahan dibuat tetap. Kedalaman penanaman elektroda batang dibuat tetap. Letak penempatan elektroda batang disusun simetris terhadap obyek uji. Metode pengukuran resistansi pentanahan menggunakan metode 3 titik. Variabel dalam penelitian ini adalah jenis dan konsentrasi larutan garam. Larutan garam yang digunakan dalam pengkondisian tanah pada penelitian ini adalah larutan garam Natrium Klorida (NaCl), Magnesium Sulfat (MgSO4) dan Calcium Cloride (CaCl2).

9.

Parameter konsentrasi larutan garam masing-masing sebesar 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50%.

10. Radius penyiraman larutan garam 50 cm di sekitar elektroda batang.
11. Air yang digunakan sebagai media pelarut garam sebanyak masing-masing 10 L.

2

12. Resitivitas tanah dalam satu area (lapangan yang digunakan untuk penelitian) sebelum pengkondisian tanah diasumsikan sama. 1.4. RUANG LINGKUP Ruang lingkup dalam pembahasan skripsi ini adalah sebagai berikut:
1. Menganalisis pengaruh jenis larutan garam terhadap resistansi pentanahan

elektroda batang.
2. Menganalisis pengaruh konsentrasi larutan garam terhadap resistansi pentanahan

elektroda batang. 1.5. TUJUAN PENELITIAN 1. Untuk mengkaji pengaruh jenis larutan garam terhadap resistansi pentanahan elektroda batang. 2. Untuk mengkaji pengaruh konsentrasi larutan garam terhadap nilai tahanan pentanahan elektroda batang. 1.6. MANFAAT Adapun manfaat dari penulisan skripsi adalah sebagai berikut: 1. Bagi penulis, mampu memberikan pembelajaran tentang pengaruh penggunaan larutan garam pada elektroda pentanahan jenis batang. 2. Bagi pembaca, mampu memberikan wawasan tentang sistem pentanahan yang bisa memberikan nilai resistansi pentanahan yang lebih rendah.
3. Bagi dunia industri, memberikan suatu bentuk alternatif atau pertimbangan

dalam perencanaan pembuatan sistem pentanahan yang efektif menggunakan elektroda batang dengan memanfaatkan larutan garam sebagai media pengkondisian tanah pada konsentrasi tertentu. 1.7. SISTEMATIKA PENYUSUNAN Skripsi ini disusun dengan urutan sebagai berikut : BAB I BAB II Berisi judul skripsi, latar belakang, rumusan masalah, tujuan, dan batasan masalah Berisi tinjauan pustaka atau dasar teori yang digunakan untuk dasar penelitian yang dilakukan dan untuk mendukung permasalahan yang diungkapkan.

3

BAB III BAB IV

Berisi metode penelitian yang akan dilakukan, meliputi obyek penelitian dan teknik pengumpulan data. Berisi pembahasan, analisa terhadap masalah yang diajukan dalam skripsi dengan memperhatikan hasil pengujian dan data yang diperoleh

BAB V

Berisi kesimpulan dari tujuan skripsi yang akan dibuat serta saran dari penulis.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penelitian Terdahulu
4

Penelitian mengenai pentingnya sistem pentanahan telah dilakukan beberapa penelitian, diantaranya T.S. Hutauruk (1991), dalam bukunya menerangkan bagaimana pentingnya sistem pentanahan yang bertujuan untuk memadamkan terjadinya busur tanah pada sistem yang besar yang tidak diketanahkan sehingga arus gangguan yang terjadi relatif besar (lebih besar dari 5A) dan untuk membatasi tegangan-tegangan fasa sehat yang sehat agar tidak ikut terjadi gangguan. Roy B. Carpenter (1997), melakukan penelitian mengenai cara untuk memperkecil resistansi pentanahan. Apabila pelebaran diameter batang dan pembuatan jaring pentanahan yang lebih besar di daerah yang luas sudah tidak bisa memperkecil nilai resistansi pentanahan, maka dapat dilakukan dengan cara mengubah resistansi tanah di suatu lokasi tertentu dengan mengubah sifat-sifat kimia dari tanah dengan treatment khusus, membuat jaring pentanahan tipis yang dihubungkan ke sistem pentanahan, menanam elektroda batang pentanahan hingga menyentuh bagian dalam tanah dengan resistansi rendah atau yang mengandung air serta melakukan pengendalian kondisi tanah agar memiliki resistansi tetap seperti yang telah direncanakan. I G N Janardana (2005), melakukan penelitian tentang pengaruh umur pada beberapa volume zat aditif bentonit terhadap nilai tahanan pentanahan. Dari penelitian selama 24 minggu dihasilkan bahwa nilai tahanan pentanahan pada sistem pentanahan ditambah zat aditif bentonit terjadi peningkatan. Peningkatan nilai tahanan pentanahan selama 24 minggu dari masing-masing volume zat aditif pada sistem pentanahan yang diteliti memiliki peningkatan nilai yang berbeda-beda. Selama 24 minggu tersebut, pentanahan dengan penambahan zat aditif berupa bentonit seberat 5 kg terjadi peningkatan 38,46%, pentanahan dengan penambahan zat aditif berupa benonit seberat 10 kg terjadi peningkatan 31,82%, pentanahan dengan penambahan zat aditif berupa bentonit seberat 15 kg terjadi peningkatan 11,11%. Peningkatan nilai tahanan pentanahan terebut berarti terjadinya penurunan kualitas pentanahan selama 24 minggu. Yudistiro Yanuarianto (2008), melakukan penelitian pemanfaatan arang kayu sebagai media pentanahan elektroda jenis batang. Dalam penelitian yang mengkaji mengenai faktor yang mempengaruhi sistem pentanahan dengan memanfaatkan arang kayu, diantaranya adalah pengaruh peletakan arang kayu disekitar elektroda batang, pengaruh volume arang kayu yang ditanam konsentris elektroda batang, dan pengaruh konsentrasi air dalam arang memperoleh kesimpulan bahwa posisi peletakan arang kayu dalam tanah sangat berpengaruh terhadap besarnya nilai resistansi pentanahan. Volume arang kayu yang dicampurkan dalam tanah sangat berpengaruh terhadap nilai resistansi pentanahan. Semakin besar volume arang kayu yang ditambahkan dalam suatu medium
5

tanah dapat memperkecil nilai resistansi pentanahan. Pemberian air pada arang kayu dapat memperbesar kerapatan partikel arang kayu dan memperkecil nilai resistivitasnya sehingga arang kayu bersifat lebih konduktif. Resistansi pentanahan yang dicampurkan dengan arang setelah pemberian air menjadi jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan resistansi pentanahan dengan arang sebelum pemberian air. Made Budi Ugiantara (2010), telah melakukan treatment terhadap tanah dengan menggunakan semen konduktif sebagai lapisan elektroda batang. Penelitiannya bertujuan untuk mencari karakteristik pengaruh penggunaan semen konduktif pada elektroda pentanahan jenis batang terhadap perubahan nilai resistansi pentanahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elektroda batang yang dilapisi semen konduktif menghasilkan nilai resistansi pentanahan yang lebih kecil dibandingkan dengan menggunakan elektroda batang biasa. Elektroda batang yang dilapisi semen konduktif secara menyeluruh memiliki nilai resistansi pentanahan yang lebih rendah dibandingkan dengan elektroda batang yang diberikan jarak ujung terhadap lapisan semen konduktif. Penambahan ketebalan lapisan semen konduktif sebesar 0,9 cm memberikan penurunan nilai resistansi pentanahan sebesar 85%. Kedalaman penanaman elektroda batang memiliki pengaruh terhadap nilai resistansi pentanahan. Dari segi biaya, dengan selisih biaya yang tidak begitu jauh elektroda batang yang dilapisi semen konduktif memiliki keunggulan untuk menghasilkan nilai resistansi pentanahan yang lebih kecil. 2.2. Kimia Dasar 2.2.1 Larutan Larutan adalah campuran yang bersifat homogen atau serba sama. Zat yang jumlahnya banyak disebut pelarut dan zat yang jumlahnya sedikit disebut zat terlarut. Larutan = pelarut + zat terlarut Pelarut : biasanya air, jumlahnya banyak. Zat terlarut : jumlahnya lebih sedikit. 2.2.2. Satuan Konsentrasi 1. Persentase (%) : jumlah gram zat terlarut dalam tiap 100 gram larutan. % = gram zat terlarut x 100 % gram larutan 2. Fraksi mol (X) : perbandingan jumlah mol suatu zat dalam larutan terhadap jumlah mol seluruh zat dalam larutan. X = mol suatu zat : mol seluruh zat (2.2) 3. Kemolaran (M) : jumlah mol zat terlarut dalam tiap liter larutan.
6

(2.1)

M = mol : liter = mmol : ml m = (1000 : p) X (gram : BM) 2.2.3. Perbedaan Larutan Berdasarkan Daya Hantar Listrik

(2.3) (2.4)

4. Kemolalan (m) : jumlah mol zat terlarut dalam tiap 1000 gram pelarut.

Berdasarkan daya hantar listriknya, larutan terbagi menjadi 2 golongan yaitu larutan elektrolit dan larutan non elektrolit. Sedangkan elektrolit dapat dikelompokkan menjadi larutan elektrolit kuat dan elektrolit lemah sesuai skema penggolongan berikut.

Gambar 2.1. Penggolongan larutan Sumber : Modul 4 Kimia “Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit” Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik. Sedangkan larutan non elektrolit tidak dapat menghantarkan listrik. a) Elektrolit Kuat Larutan elektrolit kuat adalah larutan yang mempunyai daya hantar listrik yang kuat, karena zat terlarutnya didalam pelarut (umumnya air), seluruhnya berubah menjadi ion-ion (alpha (α) = 1). Karakteristik elektrolit kuat adalah : - terionisasi sempurna
7

- menghantarkan arus listrik - lampu menyala terang - terdapat gelembung gas Larutan elektrolit kuat dapat berupa :
1. Asam Kuat : HCl, H2SO4, HNO3, HClO4 2. Basa Kuat : NaOH, KOH, Ca(OH)2 3. Garam : NaCl, K2SO4, CaCl2, dll.

Garam adalah senyawa yang terbentuk dari sisa asam dan basa dengan reaksi sebagai berikut : Asam + Basa misal, 2HCl + Ca(OH)2 CaCl2 + 2H2O Dari reaksi di atas terlihat garam tersusun dari gabungan Cl- sebagai ion negatif (anion) dan Ca2+ sebagai ion positif (kation), contoh ion-ion lain yang dapat membentuk garam yakni : Kation Anion : Na+, L+, K+, Mg2+, Ca2+, Sr2+, Ba2+, NH4+ : Cl-, Br-, I-, SO42-, NO3-, ClO4-, HSO-, CO32-, HCO32Garam + H2O

b) Elektrolit Lemah Larutan elektrolit lemah adalah larutan yang daya hantar listriknya lemah dengan harga derajat ionisasi sebesar 0 < α < 1. Karakteristik elektrolit lemah adalah : - terionisasi sebagian - menghantarkan arus listrik - lampu menyala redup - terdapat gelembung gas Daya hantar larutan elektrolit lemah buruk dan memiliki derajat ionisasi (kemampuan mengurai menjadi ion-ionnya) kecil. Makin sedikit yang terionisasi, makin lemah elektrolit tersebut. Contoh larutan elektrolit lemah adalah semua asam lemah dan basa lemah. Kekuatan elektrolit lemah ditentukan oleh derajad dissosiasinya yang dirumuskan :

(2.5) Elektrolit kuat : α = 1 Elektrolit lemah : 0 < α < 1
8

Non Elektrolit : α = 0 Semakin besar harga derajat dissosiasinya maka semakin banyak konsentrasi larutan yang terurai menjadi ion-ionya (mengion). c) Non Elektrolit Larutan non elektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik, karena zat terlarutnya di dalam pelarut tidak dapat menghasilkan ion-ion (tidak mengion). Karakteristik non elektrolit adalah : - tidak terionisasi. - tidak menghantarkan arus listrik. - lampu tidak menyala. Tergolong ke dalam jenis larutan non elektrolit diantaranya : larutan urea, Larutan sukrosa, larutan glukosa, larutan alcohol, dan lain-lain.

Gambar 2.2 Perbandingan daya hantar larutan Sumber : Modul 4 Kimia “Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit”

2.2.4 Penyebab Larutan Elektrolit dapat Menghantarkan Listrik Sebagai contoh larutan elektrolit adalah HCl. Larutan HCl di dalam air mengurai menjadi kation (H+) dan anion (Cl-). Terjadinya hantaran listrik pada larutan HCl disebabkan ion H+ menangkap elektron pada katoda dengan membebaskan gas Hidrogen (H2). Sedangkan ion-ion Cl- melepaskan elektron pada anoda dengan menghasilkan gas klorin (Cl2).

9

Gambar 2.3. Larutan elektrolit Sumber : http://mediabelajaronline.blogspot.com/2010/03/larutan-elektrolit-dan-nonelektrolit.html 2.2.5 Hubungan Elektrolit dengan Jenis Ikatan Kimia Jika diperhatikan lebih teliti dari jenis ikatannya, larutan elektrolit ada yang berasal dari ikatan ionik dan ada juga yang berasal dari ikatan kovalen polar. Sebagai contoh larutan NaCl dan NaOH berasal dari senyawa ion, sedangkan HCl, CH3COOH, NH4Cl berasal dari senyawa kovalen. 2.2.6 Daya Hantar Listrik Senyawa Ion NaCl adalah senyawa ion, jika dalam keadaan kristal sudah sebagai ion-ion, tetapi ion-ion itu terikat satu sama lain dengan rapat dan kuat, sehingga tidak bebas bergerak. Jadi dalam keadaan kristal (padatan) senyawa ion tidak dapat menghantarkan listrik, tetapi jika garam yang berikatan ion tersebut dalam keadaan lelehan atau larutan, maka ion-ionnya akan bergerak bebas, sehingga dapat menghantarkan listrik. Pada saat senyawa NaCl dilarutkan dalam air, ion-ion yang tersusun rapat dan terikat akan tertarik oleh molekul-molekul air dan air akan menyusup di sela-sela butirbutir ion tersebut (proses hidasi) yang akhirnya akan terlepas satu sama lain dan bergerak bebas dalam larutan. NaCl (s) + air Na+(aq) + Cl-(aq)

10

Gambar 2.4. Proses pelarutan padatan Kristal Sumber : Modul 4 Kimia “Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit” 2.2.7 Cara Menentukan Kekuatan Larutan Elektrolit Kekuatan larutan elektroit ditentukan oleh beberapa faktor :

Jenis larutan elektrolit, elektrolit kuat dalam konsentrasi yang sama atau hampir sama mempunyai kekuatan jauh lebih besar jika dibandingkan larutan nonelektrolit. Sebab dalam larutan non elektrolit lemah hanya sebagian kecil larutan yang terurai menjadi ion-ionnya (misal dengan derajat dissosiasi = 0,00001 berarti yang terurai hanya 0,001% dari total konsentrasinya), sedangkan larutan elektrolit kuat hampir semuanya terurai (100% dari konsentrasi terurai).

Kadar/Konsentrasinya, apabila sama jenisnya (sama-sama elektrolit lemah atau sama-sama elektrolit kuat) kekuatan larutan elektrolit ditentukan oleh konsentrasinya. Semakin besar konsentrasi maka semakin besar kekuatannya karena semakin banyak yang mengion.

Jumlah ion yang terbentuk per molekul, konsentrasi larutan bukan satusatunya faktor yang mempengaruhi kekuatan larutan elektrolit. Jumlah ion yang terbentuk permolekul pun juga berpengaruh. Sebagai contoh reaksi penguraian KCl dan CaCl2. Dalam reaksi tersebut tiap satu molekul KCl menghasilkan 2 ion yaitu satu ion K+ dan satu ion Cl- sedangkan dalam reaksi penguraian CaCl2 menghasilkan satu ion Ca+ dan dua ion Cl- sehingga total KCl menghasilkan 2 ion dan CaCl menghasilkan 3 ion.

2.3. Garam Dalam ilmu kimia, garam adalah senyawa ionik yang terdiri dari ion positif (kation) dan ion negatif (anion), sehingga membentuk senyawa netral (tanpa

11

bermuatan). Garam terbentuk dari hasil reaksi asam dan basa. Natrium klorida (NaCl), bahan utama garam dapur adalah salah satu contoh garam. Larutan garam dalam air merupakan larutan elektrolit, yaitu larutan yang dapat menghantarkan arus listrik. Cairan dalam tubuh makhluk hidup mengandung larutan garam, misalnya sitoplasma dan darah. Reaksi kimia untuk menghasilkan garam antara lain :
1. Reaksi antara asam dan basa, misalnya HCl + NH3 → NH4Cl. 2. Reaksi antara logam dan asam kuat encer, misalnya Mg + 2HCl → MgCl2 + H2

Keterangan: logam mulia umumnya tidak bereaksi dengan cara ini. 2.4 Garam Natrium Klorida (NaCl), Magnesium Sulfate (MgSO4) dan Calsium Chloride (CaCl2) 2.4.1. Garam Natrium Klorida (NaCl) Natrium klorida juga dikenal dengan istilah sodium klorida, garam dapur, garam meja, atau garam karang. NaCl merupakan senyawa ionik dengan rumus NaCl. Natrium klorida adalah garam yang paling bertanggung jawab atas salinitas dari laut dan dari cairan ekstraselular dari multisel banyak organisme. Natrium klorida membentuk kristal dengan wajah berpusat kubik simetri. Dalam hal ini, semakin besar klorida ion, ditunjukkan di sebelah kanan sebagai bola berwarna hijau, disusun dalam kubik close-packing , sementara yang lebih kecil natrium ion, ditunjukkan di sebelah kanan sebagai bola perak, mengisi semua celah kubik di antara mereka. Setiap ion dikelilingi oleh enam ion dari jenis lainnya dan ion sekitarnya terletak pada titik dari reguler segi delapan. Struktur dasar yang sama ditemukan dalam banyak mineral dan umumnya dikenal sebagai garam karang atau struktur kristal garam batu. Hal ini dapat digambarkan sebagai wajah berpusat kubik (fcc) kisi dengan dasar atom dua. Atom pertama terletak pada setiap titik kisi, dan atom kedua terletak setengah jalan antara titik kisi di sepanjang tepi sel satuan fcc. Hal ini diselenggarakan bersama oleh ikatan ion yang dihasilkan oleh gaya elektrostatik timbul dari perbedaan muatan antara ion-ion.

Tabel 2.1. Karakteristik Natrium Klorida (NaCl)

12

Gambar

Nama IUPAC Nama lain Molecular formula Massa molar Penampilan Kepadatan Titik lebur Kelarutan dalam air Struktur kristal

Natrium Klorida Garam dapur, halit NaCl 58,443 g / mol Tak berwarna / putih kristal padat 2,165 g / cm 3 801 ° C, 1074 K, 1474 ° F 356 g / L (0 ° C) 359 g / L (25 ° C) 391 g / L (100 ° C) Kubik berpusat muka, cF8

Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Sodium_chloride 2.4.2. Garam Magnesium Sulfate (MgSO4) Magnesium sulfat (atau magnesium sulfat) adalah merupakan salah satu jenis garam dan juga merupakan senyawa kimia yang mengandung magnesium, sulfur dan oksigen, dengan rumus MgSO4. Dalam bentuk terhidrasi, pH-nya adalah 6,0 (5,5-6,5). Hal ini sering dijumpai sebagai heptahydrate, MgSO4·7H2O, yang biasa disebut garam Epsom. Anhidrat magnesium sulfat digunakan sebagai bahan pengeringan. Oleh karena bentuk anhidrat adalah higroskopis (mudah menyerap air dari udara). Dalam pertanian dan berkebun, magnesium sulfat digunakan untuk memperbaiki kekurangan magnesium dalam tanah, karena magnesium merupakan elemen penting dalam klorofil molekul. Keuntungan dari magnesium sulfat magnesium lainnya atas perubahan tanah (seperti dolomitic kapur ) adalah kelarutan yang tinggi.
13

Garam Epsom adalah Salah satu jenis Magnesium Sulfat yang dianggap potensial . Garam ini dikenal sebagai salah satu jenis garam yang sangat penting dan dapat digunakan dalam industri-industri, seperti: dalam pewarnaan anilin, untuk produksi pakaian dari bahan katun. Seiring dengan perkembangan industri terutama dalam bidang farmakologi, aplikasi lain yang ditemukan dalam kegunaan garam Epsom ini adalah sebagai obat pencahar (pengobatan konstipasi fungsional dan tidak dapat mengatasi konstipasi yang disebabkan keadaan patologis usus sebelum pemeriksaan radiologi, pemeriksaan rektum dan opersai usus dan untuk menghilangkan racun pada penderita keracunan). Dalam proses pembuatannya, Magnesium Sulfat dibuat dari bahan baku Magnesium Karbonat dan Asam Sulfat. (Asril dkk, 1986). Reaksinya sebagai berikut : MgCO3 + H2SO4 → MgSO4 + CO2 + H2O Secara umum pemakaian atau kegunaan dari Magnesium Sulfat Heptahydrate yang dikenal dengan garan Epsom (MgSO4.7H2O) dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Dalam skala besar digunakan dalam industri tekstil yaitu sebagai bahan celupan dengan warna anilin, pada pakaian dari bahan katun. 2. Digunakan sebagai koagulan dan bahan pengendap pada proses pengolahan air, baik air minum maupun air buangan. 3. Digunakan sebagai bahan analgesik yaitu suatu obat yang dapat menghilangkan rasa nyeri. 4. Dalam pertanian garam Epsom dapat digunakan sebagai pupuk. (Nurhaida, 1997). 5. Sebagai bahan purgatif yaitu dapat digunakan sebagai obat pencahar atau obat pencuci perut.

Tabel 2.2. Karakteristik Magnesium Sulfate

14

Gambar

Nama IUPAC Nama lain Molecular formula Massa molar Penampilan Kepadatan Titik lebur Kelarutan dalam air

Magnesium sulfat Garam Epsom, Bitter salts Bitter garam MgSO4 120,366 g / mol (anhidrat), 246.47 g/mol (heptahydrate) kristal putih solid 2,66 g / cm 3 (anhidrat), 2.445 g/cm 3 (monohydrate), 1.68 g/cm 3 (heptahydrate) 1,68 g / cm 3 (heptahydrate) 1124 °C (anhidrat, decomp), 200 °C (monohydrate, decomp), 150 °C (heptahydrate, decomp) anhidrat 26.9 g/100 mL (0 °C) 25.5 g/100 mL (20 °C) heptahydrate

71 g/100 mL (20 °C) Struktur kristal monoklinik (hidrat) Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Magnesium_sulfate 2.4.3. Garam Calsium Chloride (CaCl2) Kalsium Kloride adalah garam campuran dari kalsium dan klorin yang memiliki sifat higroskopik yaitu mudah menyerap air. Kalsium klorida (CaCl2) dikenal efektif dalam berbagai aplikasi di berbagai industri. Kalsium klorida dibuat dari campuran antara larutan asam klorida dengan kalsium hidroksida. Reaksinya, Ca(OH)2 + HCl Reaksinya : CaCO3 + HCl CaCl2 + H2CO3 Fungsi CaCl2, antara lain sebagai pelebur es di jalan raya pada musim dingin, untuk menurunkan titik beku pada mesin pendingin, sebagai pengenyal dan pengawet makanan. Kalsium klorida anhidrat adalah contoh yang mempunyai kemampuan menyerap air yang kuat sehingga digunakan sebagai pengering.
15

CaCl2 + H20

Kalsium klorida dapat juga dibuat dari kalsium karbonat dan asam klorida.

Tabel 2.3 Karakteristik Calsium Chloride Gambar

Nama IUPAC Nama lain Molecular formula Massa molar

Calcium chloride Calcium (II) chloride, Calcium dichloride, E509 CaCl2 110.98 g/mol (anhydrous) 128.999 g/mol (monohydrate) 147.014 g/mol (dihydrate) 183.045 g/mol (tetrahydrate) 219.08 g/mol (hexahydrate) putih solid (white solid) 2.15 g/cm3 (anhydrous) 1.835 g/cm3 (dihydrate) 1.83 g/cm3 (tetrahydrate) 1.71 g/cm3 (hexahydrate) 772 °C (anhydrous) 260 °C (monohydrate) 176 °C (dihydrate) 45.5 °C (tetrahydrate) 30 °C (hexahydrate) 74.5 g/100mL (20 °C) 59.5 g/100 mL (0 °C)

Penampilan Kepadatan

Titik lebur

Kelarutan dalam air

Struktur kristal Orthorhombic (deformed rutile),oP6 Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Calcium_chloride 2.5. Ilmu Tanah Ilmu tanah adalah pengkajian terhadap tanah sebagai sumber daya alam. Dalam ilmu ini dipelajari berbagai aspek tentang tanah, seperti pembentukan, klasifikasi, pemetaan, berbagai karakteristik fisik, kimiawi, biologis, kesuburannya, sekaligus mengenai pemanfaatan dan pengelolaannya. Tanah adalah lapisan yang menyelimuti bumi antara litosfer (batuan yang membentuk kerak bumi) dan atmosfer.
16

Ilmu tanah dipelajari oleh berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti ilmu-ilmu keteknikan(rekayasa),agronomi/pertanian, kimia, geologi, geografi, ekologi, biologi (ter masuk cabang-cabangnya), ilmusanitasi, arkeologi, dan perencanaan wilayah. Akibat banyaknya pendekatan untuk mengkaji tanah, ilmu tanah bersifat multidisiplin dan memiliki sisi ilmu murni maupun ilmu terapan. 2.5.1. Sifat Fisik Tanah Sifat fisik tanah meliputi tekstur, struktur, kepadatan tanah, porositas, konsistensi, warna, air tanah, temperatur, dan aerasi. Tanah terdiri dari 3 komponen :
1. Komponen padatan terdiri atas mineral anorganik dan bahan organik. 2. Komponen cair (liquid) terdiri atas air, ion yang terlarut, molekul, gas yang

secara kolektif disebut : cairan tanah (soil solution).
3. Komponen gas tanah seperti gas atmosfer di atas tanah tetapi berbeda

proporsinya. 2.5.2. Porositas Tanah Beberapa poin yang perlu diperhatikan seputar porositas tanah diantaranya :
 

Distribusi, kontinuitas pori menentukan aliran air dan udara. Persen pori 50% merupakan kondisi ideal tanah dimana setengahnya makro pori untuk meneruskan air karena adanya gravitasi dan setengahnya mikropori untuk menahan air dari tarikan gravitasi.

Tanah mineral normalnya 30-60%.

Jumlah pori ditentukan oleh tekstur dan tipe lempungnya. 2.6. Tanah Sebagai Konduktor Dalam perkembangan sistem tenaga listrik, tanah digunakan sebagai konduktor listrik. Pada prakteknya tanah digunakan sebagai konduktor baik, meskipun tanah memiliki banyak kelemahan jika digunakan sebagai konduktor. Karena dimensi lintasan arus yang melalui tanah sangat besar, resistansi beberapa lintasan diabaikan. Bentuk elektroda yang digunakan akan sangat menentukan besarnya resistansi tanah yang dilewati arus keluar dan masuk tanah.

17

Gambar 2.5 Grafik fungsi resistivitas terhadap kadar air dalam tanah Sumber: G.F. Tagg, 1964: 5 Sifat listrik tanah sangat penting dan menarik khususnya resistansi spesifik atau resistivitas. Resistivitas merupakan suatu faktor yang menentukan resistansi elektroda pentanahan. Sebagian besar tanah dan batu ketika sangat kering bukan merupakan konduktor listrik. Namun jika tanah dan batu mengandung mineral tertentu, maka manjadi bersifat konduktor listrik karena kandungan metaliknya. Pasir dan batu memiliki resistivitas yang tinggi, sehingga bukan merupakan suatu konduktor yang baik. Ketika mengandung air, resistivitasnya akan sangat turun sehingga tanah bersifat
18

konduktor, meskipun merupakan konduktor yang buruk bila dibandingkan dengan bahan metal. Sebagai contoh, resistivitas baja sepuhan tembaga adalah 1,6 mikroohmcm, sedangkan tanah pada umumnya mempunyai resistivitas sekitar 10000 ohm-cm. Gambar 3 menunjukkan hubungan resistivitas tanah dengan kadar air yang dikandungnya untuk beberapa jenis tanah. Pada persentase air yang besar, kelembaban tinggi, maka resistivitasnya kecil. Dari gambar dapat dilihat bahwa resistivitas akan turun dengan cepat ketika terjadi penambahan kelembaban/kadar air. Dan untuk mengkondisikan tanah menjadi lebih konduktif perlu dilakukan treatment khusus terhadap tanah, treatment khusus tersebut bertujuan untuk memeperbaiki sifat-sifat kimia dasar dari tanah [Roy, 1997]. Resistivitas tanah ditentukan oleh kadar air dalam tanah serta perlakuan terhadap tanah. 2.7. Resistansi dan Resistivitas Tanah Resistansi dalam sistem pentanahan merupakan komposisi dari: [IEEE std 142-1991] a. b. c. Resistansi elektroda batang Resistansi kontak antara permukaan elektroda batang dan tanah disekitarnya Resistansi bagian tanah di sekitar elektroda batang pentanahan Umumnya resistansi elektroda batang dan resistansi kontak nilainya kecil dan dapat diabaikan dengan resistansi bagian tanah disekitar elektroda pentanahan [katalog, 1986]. Hal tersebut dapat diabaikan apabila elektroda batang pentanahan bebas dari minyak maupun cat dan kontak antara tanah dan elektroda pentanahan adalah sempurna (tidak ada rongga udara). Dengan demikian resistansi yang paling menentukan harga resistansi sistem pentanahan adalah resistivitas tanah itu sendiri. Komponen yang mempengaruhi resisitivitas tanah adalah jenis tanah, komposisi kimia yang terkandung dalam tanah, konsentrasi garam yang terlarut dalam air yang berada di tanah, kelembaban udara, tempertur tanah, ukuran partikel tanah serta penyebaran partikel tersebut didalam tanah, kepadatan dan tekanan tanah [G.F. Tagg, 1964; 4].

19

Gambar 2.6. Sel-Sel Tanah Sebagai Elektroda Pentanahan Sumber: Mil-HDBK-419A, 1987 Arus yang mengalir dari pentanahan tersebut akan melintasi sel-sel ini ke semua arah. Sel tanah yang terdekat dengan batang pentanahan mempunyai permukaan paling kecil sehingga memberikan resistansi paling besar. Bila jarak dari elektroda bertambah, maka luasan ini juga akan membesar. Pada beberapa titik yang menentukan jarak tertentu, penambahan sel secara signifikan tidak menambah resistansi tanah sekitar elektroda batang pentanahan. Hal ini diketahui sebagai daerah resistansi efektif dan jarak ini ditentukan oleh kedalaman penanaman dan diameter elektroda batang pentanahan yang dipakai. Agar pengukuran sifat resistansi elektroda pentanahan sederhana maka elektroda tanah dianggap berbentuk hemisphere (setengah bola) seperti diperlihatkan pada Gambar 2.6.

I r + dx

Gambar 2.7. Distribusi arus didalam tanah Sumber: G.F Tagg, 1964: 90

20

Pada Gambar 2.7 mengandaikan arus I mengalir ke tanah melalui elektroda hemisphere. Arus I mengalir ke semua arah dan jika elektroda kembali sepanjang jalur yang jauh, maka arus akan mengalir secara seragam pada semua arah. Semua permukaannnya tersusun secara seri. Jarak dari elektroda bertambah sehingga elemennya juga bertambah, sedangkan nilai resistansinya perlahan berkurang. Kurva resistansi terhadap jarak diperlihatkan pada Gambar 2.8.

Je Resistansi rarak Rfektif

21

Gambar 2.8. Grafik fungsi resistansi terhadap jarak Sumber: G.F Tagg, 1964: 91 Jika sel individual pada radius x, mempunyai lapisan tipis setebal dx, mempunyai resistansi dR yang dinyatakan: (2.6)
dR =

ρdx 2πx 2

Integrasi dari r menuju titik r1 menghasilkan : (2.7)

R=

ρ 2π

1 1   −  r r   1 

Bila r1 berada dijauh tak berhingga (r1 =

), maka rumusan di atas menjadi : (2.8)

R =

ρ 2π r

yang menyatakan resistansi efektif sistem pentanahan. Persamaan (2-8) pada dasarnya adalah suatu kasus yang khusus dari persamaan lainnya yang lebih umum. Mempertimbangkan dua elektroda yang ditanam dalam sebuah medium konduksi yang homogen dan dianggap terjadi aliran arus dari satu elektroda ke elektroda lainnya. Maka: V1 V2 V = potensial elektroda pertama = potensial elektroda kedua = potensial di titik manapun pada medium

Selanjutnya, persyaratan yang harus dipenuhi oleh potensial mirip dengan yang didiskusikan pada permasalahan resistivitas, yaitu: V harus berkurang sampai V1 pada elektroda pertama V harus berkurang sampai V2 pada elektroda kedua V harus hilang pada suatu titik tak terhingga
22

∇ 2 V = 0 di semua titik pada medium Pada saat yang sama, pertimbangkan pula masalah analogi pada elektrostatis. Medium homogen akan digantikan oleh udara, sedangkan elektroda-elektroda akan tetap sebagai konduktor. Dengan membiarkan kedua elektroda tersebut mencapai keseimbangan dan perubahan berlawan dari listrik pada suatu besaran, maka perbedaan potensial antara kedua elektroda adalah V1 - V2. Sekarang biarkan ψ menjadi potensial elektrostatis pada titik manapun di lapangan dan ψ 1, ψ pada kedua elektroda, sehingga ψ
1 2

menjadi nilai-nilai dari ψ

- ψ

2

= V1 - V2. Akan ada suatu konstanta C

sedemikian hingga ψ + C mengasumsikan nilai-nilai V1 dan V2 di sepanjang kedua elektroda. Sangat penting bahwa ∇ 2 ψ = 0 di seluruh lapangan, sehingga ∇ 2 (ψ + C) = 0 dan ψ = 0 pada jarak tak hingga. Konsekuensinya ψ + C memenuhi persyaratan yang harus dipenuhi oleh potensial V pada kasus sekarang dan hal ini cukup untuk menentukan V. V dan ψ + C harus sama. Oleh karena itu, jalur aliran arus pada permasalahan saat ini identik dengan jalur tekanan ketika kedua elektroda diubah perbedaan potensialnya di udara. Aliran arus normal pada permukaan di titik manapun dari permukaan elektroda adalah:
1ρ.∂V∂n

(2-9) (2-10)

Sehingga aliran total yang keluar dari elektroda adalah:
-1ρ∂V∂n.dS=-1ρ∂ψ∂n.dS

dimana dS adalah suatu bagian pada permukaan elektroda. Jika Q adalah perubahan pada elektroda dalam permasalahan analogi elektrostatis, maka menurut teorema Gauss:
-∂ψ∂ndS=4πQ

(2-11) (2-12)

Sehingga aliran total arus adalah:
I=4πQρ

Sekali lagi, jika kapasitas diantara elektroda di udara pada kasus elektrostatis adalah C, maka:
ψ1-ψ2=V1-V2=QC

(2-13) (2-

Jika R adalah resistansi diantara elektroda, maka:
R=V1-V2I=QC.ρ4πQ=ρ4πC

14)

23

Gambar 2.9. Bidang bola (Sphere) Sumber: G.F Tagg, 1964: 93 Pada kasus untuk elektroda tunggal, misalnya kembalinya elektroda yang berada pada jarak yang jauh bernilai R dan C, maka diaplikasikan menjadi elektroda tunggal. Andaikan elektroda adalah bidang bola (sphere) seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.5, maka kapasitas bidang bulat di udara sebanding dengan jari-jarinya. Sehingga resistansi dari elektroda bidang bulat pada media tak hingga dapat dinyatakan sebagai berikut:
R= ρ4πr

(2-15)

Pada prakteknya elektroda merupakan setengah bola (hemisphere) yang dipendam pada permukaan ab (Gambar 2.7) dan terbukti bahwa pada kasus ini nilai resistansi akan menjadi dua kali lipat, seperti Persamaan (2-8). Persamaan (2-8) merupakan persamaan umum yang dapat digunakan untuk bentuk elektroda, seperti persamaan berikut:
R= ρ2πC

(2-16)

dengan R ρ C = tahanan satu batang elektroda (ohm) = resistivitas tanah (ohm-cm) = kapasitansi elektroda (farad)

Salah satu bentuk elektroda yang paling sederhana adalah elektroda batang (rod) seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.10. Pada Gambar 2.10 menunjukkan penanaman elektroda batang dengan bayangannya. Tidak ada rumusan kapasitansi silinder di udara.

Gambar 2.10. Elektroda batang dan bayangannya
24

Sumber: G.F Tagg, 1964: 94 Pendekatan yang paling bagus diperoleh dengan menganggap elektroda sebagai setengah putaran elipsoida dimana sumbu mayor lebih besar dibandingkan sumbu minor, maka dapat dinyatakan kapasitansi sebuah elipsoid adalah [G.F Tagg, 1964: 94]: (2-17)
C= a 2 loge 2a b

Dimana a adalah panjang sumbu mayor dan b adalah panjang sumbu minor dari ellips Jika Persamaan (2-12) diterapkan untuk elektroda batang, maka: (2-18)
C= 2l 2 log 4l e d = l loge 4l d

Dengan mensubstitusikan Persamaan (2-18) ke Persamaan (2-16), maka besar resistansi dari suatu elektroda batang yang ditanam tegak lurus dengan tanah dapat ditentukan dengan Persamaan (2-19) [G.F Tagg, 1964:96]: (2-19)
R=

ρ 4l loge 2π l d

dengan R = tahanan satu batang elektroda (ohm) = tahanan jenis elektroda batang (ohm-cm) = panjang elektroda batang dalam tanah (cm) = diameter konduktor pembumian (cm)

ρ
l d

2.8. Syarat-syarat Sistem Pentanahan yang efektif 1. Tahanan pentanahan harus memenuhi syarat yang di inginkan untuk suatu keperluan pemakaian. 2. Elektroda yang ditanam dalam tanah harus : ○ Bahan Konduktor yang baik ○ Tahan Korosi

25

○ Cukup Kuat 3. Jangan sebagai sumber arus galvanis 4. Elektroda harus mempunyai kontak yang baik dengan tanah sekelilingnya.
5. Tahanan pentanahan harus baik untuk berbagai musim dalam setahun.

6. Biaya pemasangan serendah mungkin. 2.9. Faktor-Faktor yang Menentukan Tahanan Pentanahan Tahanan pentanahan suatu elektroda tergantung pada tiga faktor : 1. Tahanan elektroda itu sendiri dan penghantar yang menghubungkan ke peralatan yang ditanahkan. 2. Tahan kontak antara elektroda dengan tanah. 3. Tahanan dari massa tanah sekeliling elektroda. Namun demikian pada prakteknya tahanan elektroda dapat diabaikan, akan tetapi tahanan kawat penghantar yang menghubungkan keperalatan akan mempunyai impedansi yang tinggi terhadap impuls frekuensi tinggi seperti misal pada saat terjadi lightningdischarge. Untuk menghindarinya, sambungan ini di usahakan dibuat sependek mungkin. Dari ketiga faktor tersebut diatas yang dominan pengaruhnya adalah tahanan sekeliling elektroda atau dengan kata lain tahanan jenis tanah (ρ). 2.10. Tahanan Jenis Tanah (ρ) Dari rumus untuk menentukan tahanan tanah dari statu elektroda yang hemispherical R = ρ/2πr terlihat bahwa tahanan pentanahan berbanding lurus dengan besarnya ρ. Untuk berbagai tempat harga ρ ini tidak sama dan tergantung pada beberapa faktor : 1. sifat geologi tanah 2. Komposisi zat kimia dalam tanah 3. Kandungan air tanah 4. Temperatur tanah 5. Selain itu faktor perubahan musim juga mempengaruhinya.

2.11. Sifat Geologi Tanah

26

Jenis tanah sangat menentukan resistivitas tanah tersebut. Terkait dengan pentanahan tanah dibagi dalam beberapa jenis. Tanah liat dapat terdiri dari beberapa jenis. Karena alasan ini sungguh mustahil untuk menyatakan bahwa tanah liat, atau tanah lain sebetulnya mempunyai suatu resistivitas yang sangat tinggi. Lagipula jenis tanah yang sama terdapat dalam berbagai tempat berbeda dari tempat lain. Resistivitas dalam (ohm-cm) 500 – 5.000 800 – 5.000 4.000 – 25.000 6.000 – 10.000 1.000 – 50.000 20.000 – 1.000.000

Jenis Tanah Tanah liat, tanah kebun, dll Tanah liat Campuran tanah liat, pasir dan kerikil Pasir dan kerikil Batu tulis, pasir berbatu, dll Batu karang

Tabel 2.4. Nilai resistivitas beberapa jenis tanah Sumber: G.F. Tagg, 1964: 4 Nilai resistivitas dalam Tabel 2.4 adalah suatu perkiraan untuk resistivitas yang diharapkan. Sejumlah peneliti dari waktu ke waktu mengukur resistivitas berbagai jenis tanah baik melalui pengambilan contoh dan mengukurnya dalam piranti khusus maupun dengan pengukuran yang tak terpengaruh massa tanah. Keduanya bukan pengukuran gampang tetapi lebih memungkinkan untuk memberi hasil akurat. Sangat sulit untuk memastikan bahwa contoh yang diambil dari tanah dalam kondisi yang sama ketika diukur sebagaimana ia ditempatkan. Jenis tanah merupakan faktor utama yang menentukan tahanan jenis tanah. Bahan dasar dari pada tanah relatif bersifat bukan penghantar. Tanah liat umumnya mempunyai tahanan jenis terendah, sedang batu-batuan dan quartz bersifat sebagai insulator. Tabel di bawah ini menunjukkan harga-harga ( ρ ) dari berbagai jenis tanah.

Tabel. 2.5. Tahanan jenis tanah

27

Sumber : http://surindoelektra.com/tahanan-pentanahan/ 2.12. Komposisi Zat-zat Kimia Dalam Tanah Kandungan zat – zat kimia dalam tanah terutama sejumlah zat organik maupun anorganik yang dapat larut perlu untuk diperhatikan pula. Di daerah yang mempunyai tingkat curah hujan tinggi biasanya mempunyai tahanan jenis tanah yang tinggi disebabkan garam yang terkandung pada lapisan atas larut. Pada daerah yang demikian ini untuk memperoleh pentanahan yang efektif yaitu dengan menanam elektroda pada kedalaman yang lebih dalam dimana larutan garam masih terdapat. 2.13. Kandungan Air Tanah Kandungan air tanah sangat berpengaruh terhadap perubahan tahanan jenis tanah (ρ) terutama kandungan air tanah sampai dengan 20%. Dalam salah satu test laboratorium untuk tanah merah penurunan kandungan air tanah dari 20% ke 10% menyebabkan tahanan jenis tanah naik samapai 30 kali.Kenaikan kandungan air tanah diatas 20% pengaruhnya sedikit sekali. 2.14. Temperatur Tanah Temperatur bumi pada kedalaman 5 feet (1,5 m) biasanya stabil terhadap perubahan temperatur permukaan. Bagi Indonesia daerah tropic perbedaan temperatur selama setahun tidak banyak, sehingga faktor temperatur boleh dikata tidak ada pengaruhnya.
28

2.15. Elektroda Pentanahan Pada dasarnya ada tiga jenis elektroda yang digunakan pada sistem pentanahan: a. Elektroda Batang Elektroda batang terbuat dari batang atau pipa logam yang ditanam vertikal di dalam tanah. Biasanya dibuat dari bahan tembaga, stainless steel atau galvanised steel. Perlu diperhatikan pula dalam pemilihan bahan agar terhindar dari galvanic couple yang dapat menyebabkan korosi. Elektroda batang ini mampu menyalurkan arus discharge petir maupun pemakaian pentanahan yang lainnya.

Gambar 2.11. Elektroda batang Sumber : http://surindoelektra.com/tahanan-pentanahan/ Sistem pentanahan memiliki tujuan untuk mendapatkan resistansi yang rendah sehingga memungkinkan arus gangguan dengan cepat terdistribusi ke tanah. Elektroda pentanahan yang digunakan untuk melewatkan arus gangguan ke tanah adalah elektroda pentanahan jenis batang. Elektroda batang adalah elektroda yang terbuat dari tembaga, besi baja profil atau pipa yang dipancangkan kedalam bumi. Dalam penggunaan elektroda batang sangat dipengaruhi oleh ukuran, dimensi serta bahan pembuatan elektroda batang tersebut, karena pada dasarnya pentanahan dengan elektroda batang perlu memperhatikan panjang dan ukuran elektrodanya agar dalam melakukan instalasi pentanahan bisa diperoleh hasil dan nilai yang baik, meskipun pengaruh ukuran diameter terhadap resistansi pentanahannya adalah kecil yang hanya berpengaruh sekitar 10% [Roy, 1997].
29

Dimensi standar elektroda batang yang umum dipakai tersebut dapat dilihat di dalam Tabel 2.6. Tabel 2.6. Dimensi standar elektroda batang T Diameter (inchi) Panjang (ft) Elektroda Batang Diameter (mm) Panjang (m) Ukuran Klem* (mm2)

1 3/8 9,53 6-10 2 ½ 12,7 6-16 5-40 1,5-12,2 3 5/8 15,88 6-16 4 ¾ 19,05 25-50 5 1 25,4 25-50 Sumber: IEEE Green book Std 142-1991: 184 (* Sesuai SPLN 102, 1993: 9) Pada umumnya elektroda batang menggunakan silinder yang terbuat dari tembaga murni, batang tembaga telanjang dan berlapis (copper-clad steel), batang besi tahan karat (stainless rod), kawat tembaga yang dimasukkan ke dalam batang pipa yang digalvanisasi dan dapat berupa baja yang sudah disepuh oleh tembaga.

Tabel 2.7. Luas penampang minimum elektroda batang pentanahan standar berdasarkan jenis bahan Jenis elektroda Baja berlapis seng dengan proses pemanasan Bahan Baja berlapis tembaga

Tembaga

30

Elektroda batang

Pipa baja berdiameter 1 inchi: Baja profil: L 65x65x7 U6½ T6 X 50x3 atau batang profil lain yang setara

Baja bulat: Berdiameter 15 mm dilapisi tembaga setebal 2,5 mm

Pipa tembaga: Luas penampang: 50 mm2 Tebal : 2 mm Hantaran pilin: (bukan kawat halus) Luas penampangnya: 35 mm2

Sumber: Pedoman Pengawasan Instalasi Listrik (Disnaker-RI), 1987: 18 Kalau tanahnya sangat korosif sebaiknya digunakan ukuran-ukuran minimum 1,5x ukuran yang diberikan pada Tabel 2.7. Kalau elektroda yang dimaksudnya untuk mengatur gradient tegangan, luas penampang minimum yang boleh digunakan adalah sebagai berikut [DISNAKER RI, 1987: 18]:
1. Untuk baja berlapis tembaga 2. Untuk tembaga

: minimum 16 mm2 : minimum 10 mm2

Untuk memancangkan elektroda-elektroda ini sering digunakan palu lantak. Elektroda-elektroda tersebut dapat juga dimasukkan ke dalam tanah dengan getaran, dengan menggunakan palu kango. Kalau tanahnya kering, kadang-kadang sangat sulit untuk mencapai resistansi penyebaran yang cukup rendah. Dalam hal ini, ada kalanya sifat-sifat tanah itu dapat diperbaiki dengan mengolahnya dengan bahan-bahan kimia. Adapun beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam pemilihan elektroda batang dalam suatu sistem pentanahan antara lain:
1. Memiliki daya hantar jenis (conductivity) yang cukup baik sehingga tidak

akan memperbesar beda potensial lokal yang bisa sangat membahayakan. 2. Memiliki kekuatan secara mekanis pada tingkat yang tinggi terutama bila digunakan pada daerah yang tidak terlindung terhadap kerusakan fisik.
3. Tahan terhadap peleburan dari keburukan sambungan listrik, walaupun

konduktor tersebut akan terkena magnitude arus gangguan dalam waktu yang lama. 4. Tahan terhadap korosi.

31

a.

Elektroda Pelat Bentuk elektroda pelat biasanya empat perseguí atau empat persegi panjang

yang tebuat dari tembaga, timah atau pelat baja yang ditanam didalam tanah. Cara penanaman biasanya secara vertical, sebab dengan menanam secara horizontal hasilnya tidak berbeda jauh dengan vertical. Penanaman secara vertical adalah lebih praktis dan ekonomis.

Gambar 2.12. Elektroda Pelat Sumber : http://surindoelektra.com/tahanan-pentanahan/ b. Elektroda Pita Elektroda pita jenis ini terbuat dari bahan metal berbentuk pita atau juga kawat BCC yang ditanam di dalam tanah secara horizontal sedalam ±2 kaki. Elektroda pita dapat dipasang pada struktur tanah yang mempunyai tahanan jenis rendah pada permukaan dan pada daerah yang tidak mengalami kekeringan. Hal ini cocok untuk daerah-daerah pegunungan dimana harga tahanan jenis tanah makin tinggi dengan kedalaman.

Gambar 2.13. Elektroda pita Sumber : http://surindoelektra.com/tahanan-pentanahan/ Elektroda-elektroda ini dapat digunakan secara tunggal maupun multiple dan juga secara gabungan dari ketiga jenis dalam suatu sistem. 2.16. Pengkondisian Tanah Bagi daerah–daerah yang mempunyai struktur tanah dengan tahanan jenis tanah yang tinggi untuk memperoleh tahanan pentanahan yang diinginkan seringkali sukar
32

diperoleh. Ada tiga cara untuk mengkondisikan tanah agar pada lokasi elektroda ditanam tahanan jenis tanah menjadi rendah, yaitu : 1. Dengan membuat lubang penanaman elektroda yang lebar dan dimasukkan mengelilingi elektroda tersebut bahan – bahan seperti tanah liat atau cokas. 2. Mengelilingi elektroda pada statu jarak tertentu diberi zat-zat kimia yang mana akan memperkecil tahanan jenis tanah di sekitarnya. Zat-zat kimia yang biasa dipakai adalah sodium chloride, calsium chloride, magnesium sulfat, dan coper sulfat. 3. Dengan bentonite. Bubuk bentonite bersifat menyerap air, karena itu dengan mencampur bubuk bentonite, garam dapur dan air maka campuran bentonite tersebut dapat menghasilkan tahanan jenis tanah yang rendah. Dengan menanamkan campuran bentonite tersebut disekeliling elektroda maka tahanan pentanahan dapat diperkecil 1/10-1/15 kali. Komposisi campuran bentonite menurut perbandingan Bentonite : garam dapur : air = 1 : 0,2 : 2. 2.17. Diameter Konduktor Pentanahan Pemilihan ukuran diameter konduktor pentanahan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu (Nugraha, 1999) : 1. Tidak melebur atau rusak apabila dialiri arus kesalahan yang mungkin terjadi. 2. Tahan secara mekanis terhadap tekanan-tekanan yang mungkin timbul. 3. Mempunyai konduktivitas yang baik dan merata. 2.18. Macam-Macam Susunan Elektroda Pentanahan Jenis - jenis elektroda pembumian dan penggunaannya :
1)

Pembumian batang vertikal (grounding rod) Grounding rod adalah pembumian yang dilakukan dengan cara menanam batang elektroda pembumian tegak lurus dengan permukaan tanah.

2)

Pembumian kisi-kisi (grounding grid) Grounding grid adalah pembumian yang dilakukan dengan cara menanam batang elektroda pembumian sejajar dengan permukaan tanah dan elektroda pembumian tersebut dihubungkan satu dengan yang lain sehingga berbentuk mesh/jaring. Kegunaan elektroda pembumian dalam sistem tenaga misalnya untuk :
33

 

Pembumian peralatan Pembumian titik netral, dll.

2.19. Pengaruh Ketidak Seragaman Lapisan Tanah Terhadap Nilai Resistansi Pentanahan Kandungan mineral tanah akan sangat menentukan sifat-sifat kelistrikan dari tanah tersebut. Sifat kelistrikan itu menyangkut nilai resistivitas. Faktor luar tanah yang ikut menentukan harga resistivitas (ρ) adalah campuran bahan lain seperti air, garam, larutan kimia, arang dan lain-lain. Adanya perbedaan unsur kimia penyusun lapisan tanah mengakibatkan ketidak seragaman lapisan tanah [Roy, 1997]. Akibat dari ketidak seragaman lapisan tanah terhadap nilai resistansi tanah adalah perbedaan nilai resistansi tanah dari setiap lapisan tanah. Sehingga tidak mengherankan, apabila terkadang nilai resistivitas tanah bagian dalam yang seharusnya semakin kecil karena semakin banyak mengandung air, menjadi sama bahkan menjadi lebih besar jika dibandingkan dengan nilai resistivitas tanah bagian atas. Perbedaan nilai resistansi tanah pada setiap lapisan tanah dapat mempengaruhi nilai resistansi pentanahan. Analisis kuantitatif untuk pengaruh heterogenitas tanah ditunjukkan pada Persamaan (2-20) sampai (2-23) dengan mengacu pada Gambar 2.14.
ρ2

ρ1
l1 l2

h r1 r2

Gambar 2.14. Heterogenitas lapisan tanah Sumber: Carpenter, 1997

34

Distribusi arus ke tanah adalah tegak lurus terhadap tanah, sehingga nilai resistansi tanah untuk setiap lapisan tanah yang heterogen dapat dirumuskan dengan Persamaan (2-20) dan (2-21). (2-20)

R1 =

ρ1 . l1 ρ1 . l1 = A1 (2π r1 h + 2π r12 )
(2-21)

R2 =

ρ 2 . l2 ρ 2 . l2 = A2 (2π r2 h + 2π r22 )

Heterogenitas untuk setiap lapisan tanah jenis –n sesuai dengan Gambar 11 dapat dirumuskan dengan persamaan (2-22). (2-22)

Rn =

ρ n . ln ρ n . ln = An (2π rn h + 2π rn2 )

Sehingga nilai resistansi pentanahan dengan mengabaikan nilai resistansi elektroda batang dan resistansi kontak antara elektroda batang dengan tanah dapat dinyatakan sebagai berikut : (2-23) Re = R1 + R2 .......... + Rn dengan, Re R = resistansi pentanahan (ohm) = resistansi tanah (ohm) = resistivitas tanah (ohm-cm) = tebal lapisan tanah (cm) = jari-jari lapisan tanah (cm) = luas rata-rata permukaan lapisan tanah (cm2) = kedalaman penanaman elektroda batang (cm) = jenis tanah –n = 1,2,3..........dst. 2.20. Metode Pengukuran Resistivitas dan Resistansi Tanah 2.20.1 Pengukuran Resistivitas Tanah
35

ρ
l r A h n

Resistivitas tanah dapat diketahui dengan menggunakan metode empat titik, yaitu menyusun empat buah elektroda batang pada satu garis dengan jarak yang sama antara elektroda batang yang satu dengan elektroda batang yang lainnya. Dengan syarat bahwa diameter dari elektroda batang yang dimasukkan ke tanah tidak boleh lebih dari 10 persen dari jarak antara elektroda, dan semua elektroda batang yang dimasukkan ke tanah harus memiliki kedalaman yang sama, seperti yang ditunjukkan Gambar 2.15.

Gambar 2.15. Pengukuran resistivitas tanah dengan menggunakan metode empat titik (Sumber: T.S Hutauruk, 1987:142) Arus I dapat mengalir dan dapat terbaca pada Ampermeter karena adanya lebih dari satu buah elektroda batang yang dimasukkan ke tanah sehingga membentuk loop tertutup, arus masuk ke tanah melalui salah satu elektroda batang dan kembali melalui elektroda batang yang lain. Pengukuran resistivitas tanah dengan menggunakan metode empat titik tidak dipengaruhi oleh diameter dari elektroda batang dan komponen penghantarnya, tetapi sangat dipengaruhi oleh jarak antara elektroda batang yang dimasukkan ke tanah. Mengacu pada gambar 2.15 maka dapat dihitung nilai efektif dari resistivitas tanah, yang ditunjukkan pada Persamaan (2-17) [G.F Tagg, 1964:14]: (2-17)

ρ=

4π a U   2a 2a 1 + I − 2 2 2 2   (a + 4b ) (4a + 4b )  

=

4π a U nI

dengan, a b = jarak antara elektroda batang yang dimasukkan ke tanah (cm) = kedalaman penanaman elektroda batang (cm)
36

ρ
U I n

= resistivitas tanah (ohm-cm) = tegangan yang terukur pada Voltmeter (volt) = arus yang terukur pada Amperemeter (ampere) = memiliki nilai antara 1 sampai 2 tergantung oleh perbandingan b/a apabila b=a, maka n= 1,187; b=2a, maka n= 1,038.

Dengan kasus yang sama apabila nilai a jauh lebih besar jika dibandingkan dengan b, maka nilai resistivitas tanah menjadi: (2-18)

ρ=

2π aU I

apabila nilai b jauh lebih besar jika dibandingkan dengan a, maka nilai resistivitas tanah menjadi: (2-19)

ρ=

4 π aU I

2.20.2. Pengukuran Resistansi Tanah Untuk mengetahui besar resistansi tanah dapat menggunakan metode tiga titik, yaitu dengan memasang tiga buah elektroda batang yang terdiri satu buah elektroda batang utama dan dua buah elektroda batang bantu dengan jarak tertentu. Dengan memberikan sumber arus yang dipasang antara elektroda batang utama dengan elektroda batang bantu 2, serta memasang Voltmeter yang dipasang antara elektroda batang utama dengan elektroda batang bantu 1, seperti yang ditunjukkan Gambar 2.16.

37

Gambar 2.16. Pengukuran resistansi tanah dengan menggunakan metode tiga titik (Sumber: T.S Hutauruk, 1987:144) Pada gambar 2.16, a adalah jarak antara elektroda batang utama dengan elektroda batang bantu 2, dan elektroda batang bantu 1 dimasukkan ke tanah dengan jarak minimal ½ a dari elektroda batang utama. Setelah menetapkan besar arus yang dialirkan ke tanah dan didapatkan hasil pengukuran pada Voltmeter, lalu untuk mendapatkan nilai resistansi tanahnya dapat dihitung dengan memakai Persamaan (2-20):
U = R.I

(2-20)
R= U I

dengan, U I R = tegangan yang terukur oleh Voltmeter (volt) = besar arus yang diinjeksikan oleh sumber arus (ampere) = resistansi tanah (ohm)

38

BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metode penelitian dalam penyusunan skripsi ini adalah metode perhitungan dimana data-data yang didapatkan akan dihitung dan kemudian di analisa, adapun metode ini meliputi: 3.1. Studi Literatur Skripsi ini dibuat dengan memanfaatkan beberapa literatur baik dari buku referensi maupun dari hasil penelitian sebelumnya. Studi literatur ini mempelajari: a. Penelitian terdahulu. b. Larutan elektrolit
c. Garam Natrium Klorida (NaCl), Magnesium Sulfat (MgSO4) dan Calcium

Cloride (CaCl2). d. Ilmu tanah. e. Tanah sebagai konduktor. f. Jenis tanah. g. Resistansi pentanahan. h. Sistem pentanahan. i. Jenis elektroda pentanahan.
j. Sistem pentanahan menggunakan elektroda batang (rod).

k. Penanaman satu elektroda batang pentanahan tegak lurus dengan permukaan tanah. l. Pengaruh ketidak seragaman lapisan tanah terhadap nilai resistansi pentanahan. m. Metode pengukuran resistivitas dan resistansi tanah. 3.2. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di lahan kosong di Perumahan Sigura-gura selama beberapa minggu pada bulan September 2010 sampai Oktober 2010. 3.3. Perencanaan Penelitian Perencanaan penelitian ini diarahkan untuk menjawab permasalahan dalam skripsi ini, yaitu untuk mendapatkan hasil penelitian tentang pengaruh penggunaan larutan garam terhadap resistansi pembumian untuk elektroda jenis batang. Perencanaan penelitian ini meliputi:
39

3.3.1. Variabel Penelitian Variabel yang diamati dan dikaji adalah resistansi pentanahan elektroda batang bersama larutan garam dengan dua variabel penentunya. Mengacu pada Gambar 3.4, variabel pertama adalah jenis larutan garam yang digunakan sebagai zat kimia pengkondisi tahanan pentanahan. Variabel kedua adalah konsentrasi larutan garam yang berbeda-beda yaitu larutan garam dengan konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50%. . 3.3.2. Objek Uji Obyek uji untuk mengamati dan mengkaji pengaruh jenis dan konsentrasi larutan garam terhadap tahanan pentanahan elektroda batang adalah elektroda batang (rod) dengan siraman larutan garam di sekitarnya seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.1.

10 1m 30 m 0.5 cm Tanah lempung Elektroda batang treatment + siraman larutan garam

Gambar 3.1. Penanaman Elektroda batang dengan menggunakan garam sebagai media pengkondisian tanah Sumber : Perencanaan

40

30 Penampang Samping 10 cm LempungAtas disiram larutan 10 Penampang 0.5 cm Tanah treatment yang garam Elektroda m

Gambar 3.2. Penanaman Elektroda batang dengan menggunakan garam sebagai media pengkondisian tanah Sumber : Perencanaan 30 0.5 cm 2 Penampang Samping Penanaman 5 Elektroda 1 mm 1m

0.5 m

Gambar 3.3. Penanaman 5 buah Elektroda batang dengan menggunakan garam yang berbeda konsentrasi. Sumber : Perencanaan

41

10 mm 2 Larutan MgSOAtas Penanaman 15 Elektroda (1 sampel) 0.5 cm m 10 cm NaCl 2 m 0.5Penampang Penyiraman dengan : CaCl2
4

Gambar 3.4. Penanaman 15 buah Elektroda batang dengan menggunakan garam yang berbeda konsentrasi. Sumber : Perencanaan Keterangan gambar 3.4. :
42

Pengkondisian tanah dengan 10 % konsentrasi larutan garam Pengkondisian tanah dengan 20 % konsentrasi larutan garam Pengkondisian tanah dengan 30 % konsentrasi larutan garam Pengkondisian tanah dengan 40 % konsentrasi larutan garam Pengkondisian tanah dengan 50 % konsentrasi larutan garam 3.3.3. Rangkaian Pengujian 3.3.3.1. Rangkaian Pengukuran Resistivitas garam Natrium Klorida (NaCl), Magnesium Sulfat (MgSO4) dan Calcium Cloride (CaCl2). Larutan garam Natrium Klorida (NaCl), Magnesium Sulfat (MgSO4) dan Calcium Cloride (CaCl2) yang akan digunakan sebagai media untuk memperkecil nilai resistansi pentanahan dimasukkan ke tabung reaksi dan diukur tahanannya, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 15.

r Larutan MgSO4 Larutan Ohmmete NaCl r l Ohmmete

r Larutan CaCl2 l Ohmmete

l

r

Gambar 3.5. Pengukuran resistivitas garam Natrium Klorida (NaCl), Magnesium Sulfat (MgSO4), dan Calcium Cloride (CaCl2)
43

Sumber : Perencanaan Dari rangkaian pada Gambar 3.5. maka diperoleh nilai resistansinya dengan ohmmeter. Resistansi Garam Natrium Klorida (NaCl), Magnesium Sulfat (MgSO4) dan Calcium Cloride (CaCl2) yang terukur selanjutnya digunakan untuk menghitung resistivitas garam Natrium Klorida (NaCl), Magnesium Sulfat (MgSO4), dan Calcium Cloride (CaCl2) yang ditunjukkan dengan menggunakan Persamaan (3-1) [G.F. Tagg.1964: 16] : (3-1)
R=

ρ. l ohm A
(3-2)

A. R l π r2 .R ρ= ohm − cm l

ρ=

dengan : R l A r ρ = nilai resistansi semen konduktif hasil pengukuran (ohm) = tinggi semen konduktif yang terisi dalam pipa (cm) = luas penampang pipa (cm2) = jari-jari pipa (cm) = nilai resistivitas semen konduktif (ohm-cm)

3.3.3.2. Rangkaian Pengukuran Resistivitas Tanah Rangkaian pengukuran resistivitas tanah dapat diketahui menggunakan empat buah elektroda batang yang dihubungkan dengan Earth Resistance Tester, seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 16.

44

Gambar 3.6. Pengukuran resistivitas tanah menggunakan metode empat titik dengan Analog Earth Resistance Tester Sumber : Perencanaan Earth Resistance Tester selain digunakan untuk mengukur nilai resistansi pentanahan, dapat juga digunakan untuk menghasilkan sumber tegangan, yang dibutuhkan dalam pengukuran resistivitas tanah. Arus I dapat mengalir dan dapat terbaca pada Ampermeter karena adanya lebih dari satu buah elektroda batang yang dimasukkan ke tanah sehingga membentuk loop tertutup, arus masuk ke tanah melalui salah satu buah elektroda batang dan kembali ke elektroda batang yang lain. Setelah itu dapat diketahui nilai tegangan dan arus yang terbaca pada masing-masing alat ukur Voltmeter dan Ampermeter. 3.3.3.3. Rangkaian Pengukuran Resistansi Tanah dan Jari-jari Efektif Elektrik Pengukuran resistansi pentanahan jenis elektroda batang untuk berbagai perubahan variabel menggunakan metode 3 titik dengan menggunakan alat ukur resistansi pentanahan yaitu ”Analog Earth Resistance Tester” yang rangkaiannya ditunjukkan pada Gambar 17. Pengukuran dilakukan secara bertahap yaitu sebanyak tiga tahap untuk setiap pengkondisian tanah di sekitar elektroda batang. Untuk pengukuran tahap pertama dilakukan sebelum pengkondisian tanah.

45

Y Elektroda Bantu 2 Tanah 1 m lempung 1 r x

Gambar 3.7.1. Pengukuran resistansi pentanahan dengan menggunakan Analog Earth Resistance Tester (pengukuran tahap pertama) Sumber : Perencanaan Pengukuran tahap kedua dilakukan setelah tanah diperlakukan khusus (tanah treatment), yaitu tanah yang digali pada radius 0,5 m dari elektroda batang sedalam 30 cm, lebar 10 cm, dan disaring untuk mendapatkan porositas tanah yang lebih baik sebelum dikembalikan ke asalnya yaitu parit galian.

46

Elektroda Bantu 10 1m 30 m 0.5 cm lempung 2 Tanah treatment 1

Gambar 3.7.2. Pengukuran resistansi pentanahan dengan menggunakan Analog Earth Resistance Tester (pengukuran tahap kedua) Sumber : Perencanaan Pengukuran tahap ketiga dilakukan setelah pengkondisian tanah yaitu setelah penyiraman larutan garam pada tanah yang diperlakukan khusus (tanah treatment) tersebut. Sedangkan untuk pengukuran jari-jari efektif elektrik dilakukan sebelum dan sesudah tanah dikondisikan dengan larutan garam.

47

Y Elektroda Bantu + 10 1m 30 m 0.5 cm lempung 2 Tanah treatment 1 siraman larutan r x garam

Gambar 3.7.3 Pengukuran resistansi pentanahan dengan menggunakan Analog Earth Resistance Tester (pengukuran tahap ketiga) Sumber : Perencanaan 3.3.4. Langkah Pengujian 3.3.4.1. Pengukuran resistivitas larutan garam Pengukuran resistivitas larutan garam Natrium Klorida (NaCl), Magnesium Sulfat (MgSO4) dan Calcium Cloride(CaCl2) yang akan digunakan dalam penelitian seperti yang ditujukkan pada Gambar 3.5. 3.3.4.2. Pengukuran resistivitas tanah
48

Pengukuran resistivitas tanah menggunakan metode 4 titik dengan menggunakan ”Analog Earth Resistance Tester” yang rangkaiannya ditunjukkan pada Gambar 3.6. Pengukuran resitivitas tanah dilakukan pada setiap pengujian sampel elektroda. 3.3.4.3. Pengujian Resistansi Pentanahan Elektroda Batang Tahap Pertama Pengujian resistansi pentanahan elektroda batang tahap pertama dimulai setelah penanaman elektroda batang dengan menggunakan alat bantu berupa martil dan alat bantu pendukung lainnya. Setelah penanaman elektroda, dilakukan pengukuran tahap pertama yaitu sebelum tanah diperlakukan khusus (tanah treatment) seperti yang ditunjukkan pada gambar 3.7.1. 3.3.4.4. Pengukuran Jari-jari Efektif sebelum pengkondisian tanah. Pengukuran jari-jari efektif dilakukan dengan memindahkan jarak penanaman elektroda bantu 1 yang diberikan dengan simbol ‘X’ terhadap letak penanaman elektroda utama. Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.7.1. Jarak ‘r’ akan diubah secara bertahap kemudian dicatat perubahan nilai resistansi pembumian terhadap jarak ‘r’. Untuk mengetahui jari-jari efektif elektrik elektroda batang dapat dengan mengubah jarak pengukuran, yaitu dengan memindahkan jarak penanaman elektroda bantu 1 yang diberikan dengan simbol ‘X’ terhadap letak penanaman elektroda utama (obyek uji). Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.7.1. Jarak elektroda bantu ‘Y’ terhadap elektroda utama (obyek uji) yaitu lebih besar atau sama dengan 20 meter. Sedangkan jarak elektroda bantu ‘X’ terhadap elektroda utama (obyek uji) sekitar 10 meter. Jarak ‘r’ pada elektroda bantu ‘X’ akan diubah-ubah secara bertahap dengan kelipatan 20 cm sampai 10 meter. Kemudian dicatat perubahan nilai resistansi pembumian terhadap jarak ‘r’ sehingga diperoleh nilai perubahan resistansi yang diukur tidak mengalami perubahan yang besar dari posisi yang satu dengan posisi yang lain. Pengukuran jari-jari efektif dilakukan pada elektroda tanpa pengkondisian tanah menggunakan larutan garam dan elektroda dengan pengkondisian tanah menggunakan larutan garam untuk masing-masing perubahan variabel jenis larutan garam dan konsentrasinya. 3.3.4.5 Perbaikan Porositas Tanah Perbaikan porositas tanah dilakukan dengan penggalian parit pada radius 50 cm, lebar 10 cm, dalam 30 cm mengelilingi elektroda batang seperti yang ditunjukkan gambar 3.1, 3.2, 3.3, dan 3.4. Penggalian parit hanya dilakukan untuk elektroda batang (15 elektroda batang) yang akan dikondisikan resitivitas tanahnya sedangkan untuk
49

sebuah elektroda batang yang lain digunakan sebagai referensi tanpa pengkondisian resitivitas tanahnya. Setelah parit digali dilakukan suatu perlakuan khusus (treatment) pada tanah galian parit tersebut dengan menyaringnya untuk mendapatkan porositas tanah yang lebih baik sebelum dikembalikan ke asalnya (parit). 3.3.4.6. Pengujian Resistansi Pentanahan Elektroda Batang Tahap Kedua Pengujian resistansi pentanahan elektroda batang tahap kedua dilakukan setelah pengembalian tanah galian yang telah ditreatment ke asalnya (parit) seperti yang ditunjukkan pada gambar 3.7.2. 3.3.4.7. Pengujian Resistansi Pentanahan Elektroda Batang Tahap Ketiga Pengujian resistansi pentanahan elektroda batang tahap ketiga dilakukan setelah pengkondisian tanah dengan penyiraman larutan garam secara merata pada tanah yang telah diperlakukan khusus (tanah treatment) seperti yang ditunjukkan pada gambar 3.7.3. Pengukuran pada tahap ini dilakukan setiap 2 jam sampai 3 kali pengukuran. Pengukuran tahanan pentanahan (Resistansi Pentanahan) selanjutnya dilakukan rutin setiap hari pada pukul 08.00 WIT dan pada pukul 16.00 WIT selama 7 hari. 3.3.4.8. Pengukuran Jari-jari Efektif sesudah pengkondisian tanah. Untuk mengetahui jari-jari efektif elektrik elektroda batang dapat dengan mengubah jarak pengukuran, yaitu dengan memindahkan jarak penanaman elektroda bantu 1 yang diberikan dengan simbol ‘X’ terhadap letak penanaman elektroda utama (obyek uji). Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.7.3. Jarak elektroda bantu ‘Y’ terhadap elektroda utama (obyek uji) yaitu lebih besar atau sama dengan 20 meter. Sedangkan jarak elektroda bantu ‘X’ terhadap elektroda utama (obyek uji) sekitar 10 meter. Jarak ‘r’ pada elektroda bantu ‘X’ akan diubah-ubah secara bertahap dengan kelipatan 20 cm sampai 10 meter. Kemudian dicatat perubahan nilai resistansi pembumian terhadap jarak ‘r’ sehingga diperoleh nilai perubahan resistansi yang diukur tidak mengalami perubahan yang besar dari posisi yang satu dengan posisi yang lain. Pengukuran jari-jari efektif dilakukan pada elektroda tanpa pengkondisian tanah menggunakan larutan garam dan elektroda dengan pengkondisian tanah menggunakan larutan garam untuk masing-masing perubahan variabel jenis larutan garam dan konsentrasinya. 3.3.4.9. Pengolahan Data Pengujian
50

Pengolahan data pengujian, dilakukan dengan menganalisis hasil pengujian berdasarkan metode yang diperoleh dari literatur yang ada untuk mengetahui karakteristik pengaruh penggunaan larutan garam terhadap perubahan nilai resistansi pentanahan elektroda jenis batang. Sehingga dari pengujian tersebut dapat diketahui dan dikaji tentang :
1. Pengaruh jenis larutan garam pada pentanahan elektroda batang.

2. Pengaruh konsentrasi larutan garam pada pentanahan elektroda batang. 3. Jari-jari efektif elektrik dari penanaman elektroda batang. 3.4. Diagram Alir Penelitian MULAI

m : Natrium Klorida (NaCl), Magnesium Sulfat (MgSO4) dan Calcium Cloride(CaCl2); konsentrasi larutan garam : 10%

Mengukur resitivitas larutan garam

Mengukur jari-jari efektif sebelum pengkondisian tanah Mengukur secara bertahap (3 tahap pengukuran) resistansi pentanahan elektroda batang. Mengukur jari-jari efektif setelah pengkondisian tanah

Analisis dan interpretasi

Data keluaran : Karakteristik jenis dan konsentrasi larutan garam terhadap nilai resistansi pentanahan elektroda batang.

51

SELESAI

52

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful