1

Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim

KATA PENGANTAR
Pencemaran laut diartikan sebagai adanya kotoran atau hasil buangan aktivitas makhluk hidup yang masuk ke daerah laut. Sumber dari pencemaran laut ini antara lain adalah tumpahan minyak, sisa damparan amunisi perang, buangan dan proses di kapal, buangan industri ke laut, proses pengeboran minyak di laut, buangan sampah dari transportasi darat melalui sungai, emisi transportasi laut dan buangan pestisida dari pertanian. Namun sumber utama pencemaran laut adalah berasal dari tumpahan minyak baik dari proses di kapal, pengeboran lepas pantai maupun akibat kecelakaan kapal. Polusi dari tumpahan minyak di laut merupakan sumber pencemaran laut yang selalu menjadi fokus perhatian dari masyarakat luas, karena akibatnya akan sangat cepat dirasakan oleh masyarakat sekitar pantai dan sangat signifikan merusak makhluk hidup di sekitar pantai tersebut. Pada umumnya kegiatan industri di daerah, menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan seperti aktifitas industri di sektor perindustrian, pertambangan dan sumberdaya mineral, pariwisata, kehutanan, pekerjaan umum, perhubungan, pertanian, kelautan dan perikanan, riset dan teknologi, dan perumahan rakyat, serta sektor kesehatan. Untuk lingkup permasalahan pencemarannya terhadap lingkungan terdiri dari bermacam kegiatan seperti kebocoran gas, tumpahan minyak dari tanker (oil spil), limbah pertambangan ke laut, kecelakaan kapal pengangkut bahan tambang mineral, pencemaran PLTN, illegal mining, penambangan tanpa ijin (PETI), pengeboran minyak lepas pantai, penambangan pasir laut untuk reklamasi pantai atau pulau, industri yang berada di pantai/pesisir, penggunaan bahan kimia pada aktivitas usaha tani di hulu, illegal loging, penggunaan kawasan hutan untuk pelabuhan, pengambilan terumbu karang untuk diekspor, pembuatan kapal yang menggunakan kayu, operasional kapal, kecelakaan kapal, kegiatan kepelabuhanan, illegal fishing, industri perikanan, tambak, pembangunan tempat rekreasi di pantai/pesisir, reklamasi pantai, wisata bahari, bahan beracun dari laboratorium, dan limbah domestik. Kegiatan-kegiatan yang menyebabkan pencemaran lingkungan seperti terangkum di atas menghasilkan limbah yang menyebabkan pencemaran air laut yang memberikan dampak pada kehidupan di laut seperti berdampak pada ekosistem laut kerusakan terumbu karang, mangrove, padang lamun, estuaria dan lain-lain, yang membutuhkan waktu yang sangat lama dan teknologi yang memadai serta dana yang sangat besar dalam menyelesaikan permasalahan pencemaran limbah ini. 2
Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim

Dalam penyusunan Draft Perumusan Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan pada Aktivitas Industri Maritim, dimaksudkan untuk membuka wawasan kepada masyarakat dan bangsa Indonesia dan pemahaman akan lingkungan hidup khususnya di lingkungan laut yang ramah lingkungan. Laporan pembahasan dari perumusan draft kebijakan ini masih jauh dari sempurna dan mengharapkan saran-saran konstruktif guna penyempurnaannya. Jakarta, Juli 2006 Ketua Tim Penyusun/ Sekretaris Bidang Lingkungan Hidup

Dr. Elly Rasdiani Soedibjo, M.Sc, P.hD

3
Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim

........................................................................................ 4........................................3 Dampak Pencemaran Laut…………………………………………………………….........4 1......................... IV PENGELOLAAN LINGKUNGAN LAUT………………………………………………….......... 2.5 Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan secara Terpadu………………………………...................................................…………………………………………………………………………………… Keluaran…........................ 4 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim .................... Metodologi…..............………. 4..5 PENDAHULUAN................ 2......6 Governance dalam Pengelolaan Kelautan………………………………………………….........................1.............................. Daftar Tabel ..... Daftar Isi ..... II LINGKUNGAN LAUT ........3 Tumpahan Minyak……………………………………………………………………..........................……………………………………………………………………….......... Lingkup Kegiatan………………………………………………….....................1......... 2........ 4.............2 Efektivitas Pengelolaan dan Pemberdayaan Laut....................... BAB.. I 1.…………………………… i ii iii iv 1 1 2 2 3 3 4 7 8 8 11 19 20 27 27 32 35 37 37 39 43 44 47 47 BAB......1...............................2 Potensi Konflik Peraturan Perundang – undangan………………………………………… 3... III AKTIVITAS INDUSTRI DI DAERAH…………………………………………………………... 3........ 4...……………………………………..........................................................................................3 Kebijakan Pemerintah Pusat dan Daerah……………...........…...1 Pengelolaan Potensi Laut……………………………………………………………………....1 Kondisi Industri Daerah………………………………………………………………...................................................2 Sumber Pencemaran ...DAFTAR ISI Hal Kata Pengantar..........1 1....... Latar Belakang……................ 2.............1 Batasan dan Sifat – sifat Wilayah Pesisir.........................3 1............... Tujuan dan Sasaran……...................................................................………………………………………………………………………...........................4 Pemanfaatan Sumber Daya Pesisir dan Lautan…………………………………………..... 4.......... .....2 1..........................1 Klasifikasi Wilayah Pesisir........................ 2.............................……… BAB..............3 Konsep Tata Ruang Terpadu Darat dan Laut……………………………………………… 4...... 2........................................ BAB.............2 Proses Masuknya Bahan Pencemar ke Dalam Ekosistem Laut………………………....……………………………......…………………………………………………………..... 3..................... Daftar Gambar.........

........................................... 10 Beberapa Kasus Tumpahan Minyak Di Perairan Indonesia ...................... 18 5 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim ...............................DAFTAR TABEL Hal Tabel 1 Tabel 2 Jenis Dan Sumber Bahan Pencemar Di Laut .

.................. Pemukiman di pesisir ………………………………………………………………… 9 Tumpahan Minyak di Laut……………………………………………………………............. Gambar 7......... Gambar 4.. 16 Pemukiman Padat Penduduk.................... 25 BAB 1 PENDAHULUAN 6 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim ....... 13 Terminal Bongkar Muat………………………………………………………………..... 15 Pengeboran Lepas Pantai……………………………………………………………... 11 Peta Alur Laut Kepulauan Indonesia………………………………………………… 12 Aktivitas Kapal Tangker………………………………………………………………. Gambar 6.......... Gambar 5.DAFTAR GAMBAR Hal Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3..

Pembangunan maritim Indonesia merupakan segala sesuatu yang berkaitan dengan pembangunan wilayah perairan Indonesia sebagai wilayah kedaulatan dan yurisdiksi nasional untuk didayagunakan dan dimanfaatkan bagi kesejahteraan dan ketahanan bangsa Indonesia. Akan tetapi jika diperhatikan. Hal ini antara lain disebabkan karena rendahnya koordinasi antar sektor yang berkaitan. pertambangan. pembangkit energi. akuntabilitas. Hal ini tentu saja menyebabkan aktifitas industri maritim yang ada cenderung tidak memperhatikan kelestarian lingkungan. dan partisipatif dalam pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) dan Lingkungan Hidup (LH) masih belum berjalan dengan baik. kebijakan pembangunan nasional yang ada lebih berorientasi ke wilayah darat.1 Latar Belakang Pembangunan maritim Indonesia merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang berkesinambungan. Selain tumpang tindih ada indikasi masih banyak yang tidak saling menunjang. Namun perhatian dan investasi yang telah dilakukan terhadap potensi laut belum merupakan upaya yang optimal. Padahal majunya industri maritim sangat tergantung dengan lingkungan. dan lingkungan laut juga tergantung pada penanganan lingkungan darat. Dilihat dari sisi lingkungan hidup. transportasi. lingkungan laut sangat rentan (vulnerable) dibandingkan dengan lingkungan darat hal ini karena lingkungan laut terdiri dari air sebagai massa yang senantiasa bergerak. sebagai lapangan kerja. Keharusan membangun kembali potensi kemaritiman didasari oleh kekhawatiran terhadap implikasi negatif pengurasan sumber daya lautan secara besarbesaran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang sangat kompleks. 7 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Dalam memajukan pembangunan maritim.1. Industri maritim yang saat ini sedang terpuruk harus segera dibangkitkan kembali. Penerapan tata kelola yang baik (good governance) melalui pelaksanaan prinsip-prinsip transparansi. tetapi masih banyak indikasi tentang terjadinya tumpang-tindih dalam pelaksanaannya. berbagai jenis komoditi dan usaha yang dapat digali dari sumber daya laut telah dilakukan di antaranya pemanfaatan laut untuk perikanan. wilayah hukum dan lain-lain. Sampai saat ini sudah cukup banyak undang-undang (UU) maupun peraturan mengenai lingkungan hidup dan kelautan yang sudah dihasilkan.

sehingga tidak tumpang tindih dan dapat diimplementasikan tanpa merugikan salah satu sektor.2 Tujuan dan Sasaran Tujuan dari kegiatan ini adalah: 1. Tersusunnya naskah akademis di lapangan dalam rangka penyempurnaan kebijakan lingkungan di sektor industri maritim. baik dari segi jumlah maupun kualitas sumber daya manusia (SDM). Terlaksananya penerapan tata pemerintahan yang baik (good governance) melalui pelaksanaan prinsip-prinsip transparansi. dapat diketahui bahwa pengaturan pendayagunaan kelautan telah tersebar dalam berbagai peraturan perundang-undangan secara sektoral. Oleh karena itu. Mengkaji peraturan daerah yang berkaitan dengan kebijakan lingkungan di industri martim. Mengumpulkan data-data dari departemen-departemen dan instansi-instansi terkait diberbagai daerah. khususnya yang berkaitan dengan sektor lingkungan. 2. dengan cara mengisi kuisioner yang merupakan instrumen survei yang dibuat untuk mendapatkan data rill dan masukan. dan partisipatif dalam pengelolaan SDA dan LH. Tercapainya keserasian antara peraturan daerah dengan peraturan nasional.3 Lingkup Kegiatan Lingkup kegiatan pekerjaan ini adalah sebagai berikut: 1. Dengan perumusan kebijakan ini diharapkan dapat memberikan masukan-masukan kepada pemerintah pada sektor terkait mengenai permasalahan atau gap kebijakan yang terjadi antar sektor terkait. 2. Mensinergikan kebijakan-kebijakan antar sektor yang ada. Sedangkan sasaran yang ingin dicapai adalah: 1. Dalam kegiatan pemanfaatan laut. perlu dikaji lebih jauh apa yang menjadi tujuan pengkajian juga mengenai dampaknya terhadap industri maritim. untuk ditetapkan sebagai Peraturan Pemerintah (PP). akuntabilitas. 2. dimana dalam perumusan kebijakan industri maritim ini yang akan dihasilkan telah mencakup berbagai kepentingan sektor terkait. 1.Dengan lingkungan hidup serta kualitas aparat penegak hukum dalam bidang lingkungan belum optimal. Inventarisasi permasalahan yang berkaitan dengan lingkungan pada aktifitas industri 8 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . 1. 3.

3. Melakukan rapat-rapat pertemuan dengan berbagai instansi terkait. serta dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan. 2. Kuisioner ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai aktifitas industri maritim yang ada di daerah tersebut. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan survei langsung ke beberapa daerah dan memberikan kuisioner kepada instansi terkait. serta langkah-langkah apa saja yang telah dilakukan oleh Pemda dalam rangka menangani pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh industri tersebut. sehingga dapat diketahui kebijakan atau peraturan-peraturan antar sektor yang tumpang-tindih. Dari data yang diperoleh juga dapat diketahui apakah di daerah yang bersangkutan sudah tersedia kebijakan. analisis kualitatif. Matriks akan disusun berdasarkan subyek dan kategori yang berbeda. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). 1. 4. dan penyajian hasil secara deskriptif. Matriks ini berbentuk matriks analisis perbandingan peraturan perundang-undangan terkait pengelolaan lingkungan dalam bentuk interaktif.4 Metodologi 1. prasarana dan kelembagaan yang dapat mendukung industri maritim sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. dalam hal ini adalah Pemerintah Daerah (Pemda). Karena dari data-data tersebut dapat diketahui kebijakan atau peraturan-peraturan yang dalam pengimplementasiannya masih tumpang-tindih dan belum sinergis. Menganilasa data-data (gap analysis) yang terkumpul. Studi pustaka terhadap seluruh peraturan perundang-undangan yang terkait dalam pengelolaan wilayah pesisir. atau dapat dibuat suatu kebijakan yang belum mengakomodir masalah pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh industri maritim. 9 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Perguruan Tinggi serta berbagai Asosiasi yang ada di daerah maupun pusat. diambil juga data maupun informasi dari berbagai departemen terkait. seperti konservasi laut dan sanksi yang diatur. 3. Matriks akan memudahkan para peneliti atau pembaca dalam mencari keterkaitan antar peraturan perundang-undangan yang ada.maritim melalui pembuatan matriks. sarana. Selain data dari berbagai daerah. Matrik ini merupakan materi yang digunakan untuk melakukan kegiatan selanjutnya.

lembaga nonpemerintah. 5.5 Keluaran Keluaran yang diharapkan adalah suatu Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim. pakar teknis. 10 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . 6. dan tim konsultasi dari berbagai institusi pemerintah terkait. dan akademisi. baik melalui pertemuan terbatas maupun dalam skala yang lebih besar.4. 1. Melakukan penulisan laporan sebagai bentuk rekomendasi publik dalam melakukan reformasi hukum di bidang pengelolaan lingkungan. Membentuk kelompok kerja (pokja) atau tim yang terdiri atas pakar hukum. Diskusi dan konsultasi publik yang mendalam dengan pakar dan pemangku kepentingan untuk mendapatkan konsensus dan penyempurnaan hasil.

misalnya limbah industri yang langsung dibuang ke lingkungan pesisir. seperti mineral. Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan sebuah benda. Dapat dikatakan 11 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . jadi tampak bahwa sumber daya alam wilayah pesisir indonesia telah dimanfaatkan secara beranekaragam.1 Kondisi Dan Sifat Lingkungan Laut Permasalahan lingkungan hidup adalah merupakan hubungan makhluk hidup. daya. 1991). Salah satu akibat samping dari kegiatan pembangunan diberbagai sektor dan daerah adalah dihasilkannya limbah yang semakin banyak.BAB 2 LINGKUNGAN LAUT 2. Suatu kegiatan dapat menghasilkan hasil samping yang dapat merugikan kegiatan lain. yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia. khususnya manusia dengan lingkungan hidup. yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup (Bappedal. tanpa mengalami pengolahan tertentu sebelumnya dapat merusak sumber daya hayati akuatik. Daerah pesisir merupakan salah satu dari lingkungan perairan laut yang mudah terpengaruh dengan adanya buangan limbah dari darat. Di daratan pesisir. Wilayah pesisir yang meliputi daratan dan perairan pesisir sangat penting artinya bagi bangsa dan ekonomi Indonesia. Wilayah ini bukan hanya merupakan sumber pangan yang diusahakan melalui kegiatan perikanan dan pertanian. dan dengan demikian merugikan perikanan. Limbah tersebut telah menimbulkan pencemaran yang merusak fungsi lingkungan hidup (Tandjung. keadaan. terutama di sekitar muara sungai besar. dan pengembangan industri juga banyak dilakukan di daerah pesisir. dan makhluk hidup. termasuk manusia dan perilakunya. 1997). Kerusakan lingkungan dapat terjadi karena adanya kegiatan (aktifitas) yang dilakukan oleh manusia maupun karena pengaruh alam. Namun perlu diperhatikan agar kegiatan yang beranekaragam dapat berlangsung secara serasi. Lingkungan pesisir terdiri dari dari berbagai ekosistem yang berbeda kondisi dan sifatnya. tetapi juga merupakan lokasi bermacam sumber daya alam. baik jumlah maupun jenisnya. gas dan minyak bumi serta pemandangan alam yang indah. Pada umumnya ekosistem kompleks dan peka terhadap gangguan. perairan pesisir juga penting artinya sebagai alur pelayaran. berkembang pusat-pusat pemukiman manusia yang disebabkan oleh kesuburan sekitar muara sungai besar dan tersedianya prasarana angkutan yang relatif mudah dan murah.

bahwa setiap kegiatan pemanfaatan dan pengembangannya dimana pun juga di wilayah pesisir secara potensial dapat merupakan sumber kerusakan bagi ekosistem di wilayah tersebut. apabila terjadi konflik antara pemanfaatan sumberdaya untuk tujuan jangka pendek dengan tujuan jangka panjang. Rusaknya ekosistem berarti rusak pula sumber daya didalamnya. mulai dari kawasan permukiman (real estate). 12 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Dari sisi manusia. 2. Permasalahan akan timbul bila tidak ada atau ekosistem alamiah yang tersisa dalam suatu kawasan pembangunan terlalu kecil. Pengrusakan ekosistem alamiah. pemanfaatan dan pengembangan wilayah perlu berlandaskan perencanaan menyeluruh dan terpadu yang didasarkan atas prinsip-prinsip ekonomi dan ekologi. secara garis besar permasalahan pembangunan pesisir bersumber dari masalah sebagai berikut: 1. seperti yang terjadi pada kasus reklamasi Pantai Indah Kapuk. pengelolaan. pemukiman) tanpa mempertimbangkan keuntungan jangka panjang (konservasi). Padahal sumber daya yang dimiliki oleh sektor kelautan tidak hanya hutan mangrove saja. hingga tambak. hutan mangrove. padang lamun dan rumput laut. Orientasi keuntungan ekonomi jangka pendek. seperti hutan hujan tropis. terutama disebabkan oleh konservasi segenap ekosistem menjadi berbagai peruntukan pembangunan. sektor kelautan sepertinya masih dipandang sebelah mata oleh pemerintah dan dunia swasta. sebenarnya pengalihan fungsi ekosistem alamiah menjadi peruntukan pembangunan tidak menjadi masalah. maka seringkali pembangunan yang bertujuan jangka panjang tersisihkan. sepanjang masih pada batas-batas yang dapat ditolerir oleh ekosistem alamiah dalam suatu kawasan pembangunan. dan terumbu karang. Kesadaran akan nilai strategis sumber daya yang dapat diperbaharui dan jasa lingkungan bagi pembangunan ekonomi masih rendah. Dari sisi nilai strategis sumber daya hayati laut. namun masih terdapat terumbu karang. serta mencegah kerusakan ekosistem di wilayah pesisir. karena dianggap nilai strategisnya masih kurang menarik dibandingkan nilai ekonomi jangka pendek dan menengah. Selama ini pembangunan yang dilakukan lebih banyak berorientasi untuk meraih keuntungan ekonomi jangka pendek (seperti industri. Dari sudut pandang pembangunan. kawasan industri. Agar akibat negatif dari pemanfaatan beranekaragam dapat dipertahankan sekecil-kecilnya dan untuk menghindari pertikaian antar kepentingan. Akibatnya. sebagai pengguna sumber daya alam dan jasa lingkungan pesisir.

Tindakan destruktif yang dilakukan oleh masyarakat terhadap sumberdaya pesisir dan lautan disebabkan oleh tiga hal. yaitu: pertama. (2) Aktivitas manusia di dalam ekosistem pesisir itu sendiri seperti konversi mangrove ke tambak. dan perubahan secara drastis regim aliran air tawar) yang terjadi di ekosistem daratan (lahan atas) pada akhirnya akan berdampak terhadap ekosistem pesisir. Tingkat pengetahuan dan kesadaran tentang implikasi kerusakan lingkungan terhadap kesinambungan pembangunan ekonomi masih rendah. pengeboman ikan. kedua tidak adanya alternatif matapencaharian. Rendahnya tingkat pengetahuan dan kesadaran akan implikasi kerusakan lingkungan terhadap kesinambungan pembangunan ekonomi disebabkan karena pelaku kerusakan lingkungan tidak menyadari akan bahaya jangka panjang yang ditimbulkan dari kegiatan pembangunan. Kurangnya pengawasan dan penegakkan terhadap pelaksanaan hukum baik di tingkat bawah (masyarakat) maupun tingkat atas (pemerintah) membuat kecenderungan kerusakan lingkungan lebih parah. Meskipun di Indonesia telah banyak hukum dan peraturan yang mengatur tentang pengelolaan sumber daya pesisir dan lautan yang berkelanjutan.3. terdapat keterkaitan ekologi (hubungan fungsional) antar ekosistem di dalam kawasan pesisir maupun antara kawasan pesisir dengan daratan (lahan atas) dan laut lepas. 4. Tidak adanya alternatif pemecahan masalah lingkungan. ketidaktahuan dan ketidaksadaran bahwa kegiatan yang dilakukan telah mengancam kesinambungan sumberdaya pesisir dan lautan. dan penegakkan hukum masih lemah. industri. setiap perubahan bentang alam daratan dan dampak negatif lainnya (seperti pencemaran. pembinaan. secara umum bersumber dari: (1) Aktivitas manusia di darat atau lahan atas seperti penebangan hutan. Pengawasan. Namun pada kenyataannya hukum dan peraturan-peraturan tersebut banyak yang tidak diimplementasikan. (3) Aktivitas yang ada di laut bebas seperti tumpah minyak dan pembuangan limbah cair (Bengen 2002). dan lain-lain. Oleh karena itu. dan lain-lain. 13 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . 5. erosi. Hal ini disebabkan oleh lemahnya penegakkan hukum (law enforcement). Hal ini dapat dilihat dari tidak adanya suatu lembaga khusus yang independen dengan otoritas penuh melakukan pengawasan dan penegakan hukum yang mengatur pengelolaan sumberdaya alam. Kerusakan ekosistem di kawasan pesisir. egoisme sektoral (sectoral egoism) dan lemahnya koordinasi antara sektor. Secara empiris. dan ketiga adanya peluang untuk melakukan kegiatan yang bersifat destruktif. kegiatan pertanian.

dengan batas ke arah darat meliputi bagian daratan. mangrove. Selain menyediakan dua sumber daya tersebut di atas. Penurunan kualitas lingkungan kawasan pesisir terjadi apabila jumlah limbah telah melebihi kapasitas daya dukungnya. perembesan air laut yang dicirikan oleh jenis vegetasi yang khas. Wilayah pesisir juga merupakan suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan. Sumber daya pesisir dan lautan memiliki berbagai sumber daya alam di dalamnya. Pada umumnya wilayah pesisir. pasang surut. yaitu: a. Wilayah pesisir merupakan suatu wilayah yang unik karena merupakan tempat pertemuan pengaruh antara darat. Batas wilayah pesisir ke arah laut mencakup bagian atau batas terluar dari daerah paparan benua (continental shelf). dimana ciri-ciri perairan ini masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar. wilayah pesisir dan laut memiliki berbagai fungsi lainnya. jasa lingkungan. pariwisata.Sebagian besar permasalahan lingkungan yang menyebabkan kerusakan kawasan pesisir dan laut merupakan akibat dari kegiatan-kegiatan di darat. 2. maupun proses yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran. Apabila ditinjau dari garis pantai (coastline) maka suatu wilayah pesisir memiliki 2 macam batas (boundaries). laut dan udara (iklim). seperti: transportasi dan pelabuhan. Sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable resources). kawasan industri. dan terumbu karang. baik kering maupun terendam air yang masih mendapat pengaruh sifat-sifat laut seperti angin laut. kaya akan unsur hara 14 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . kawasan pemukiman serta tempat pembuangan limbah. b. yang terbagi atas dua jenis. misalnya: sumber daya perikanan (perikanan tangkap dan budidaya). gas dan mineral.2 Batasan dan Sifat-sifat Wilayah Pesisir Wilayah pesisir adalah daerah pertemuan antara darat dan laut. Kerusakan lingkungan di kawasan pesisir tersebut disebabkan oleh akumulasi limbah yang dialirkan dari daerah hulu melalui Daerah Aliran Sungai (DAS). Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (non-renewable resources). serta bahan tambang lainnya. yaitu batas sejajar garis pantai (long shore) dan batas tegak lurus terhadap garis pantai (cross shore). khususnya perairan estuaria. mempunyai tingkat kesuburan yang tinggi. misalnya: minyak bumi. agribisnis dan agroindustri.

Namun demikian.dan menjadi sumber zat organik yang penting dalam rangkai makanan di laut. seperti pencemaran minyak hasil kegiatan eksploitasi tambang minyak di lepas pantai serta transportasi minyak.2.1 Klasifikasi Wilayah Pesisir Wilayah pesisir terbagi menjadi dua subsistem. 2. Akibat pengaruh aktifitas manusia yang meningkat. pantai lumpur. dan terjadi pula percampuran yang masih dapat diukur antara air laut dengan air tawar yang berasal dari drainasi daratan (Odum. (2) Hutan 15 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . dan perairan pesisir (coastal water). Perairan estuaria adalah suatu perairan pesisir yang semi tertutup. daratan pesisir sangat kompleks dan mempunyai nilai sumber daya yang tinggi. Perairan pantai meliputi laut mulai dari batas estuaria ke arah laut sampai batas paparan benua atau batas teritorial. dimana keduanya berbeda tapi saling berinteraksi. Sedangkan perairan samudera meliputi semua perairan ke arah laut terbuka dari batas paparan benua atau batas teritorial. oleh karena itu merupakan wilayah yang peka terhadap gangguan akibat adanya perubahan lingkungan dengan fluktuasi di luar normal. Secara ekologis. perlu dipahami bahwa sebagai tempat peralihan antara darat dan laut. yang berhubungan bebas dengan laut. yang mengarah pada menurunnya kualitas lingkungan wilayah pesisir karena terganggu keseimbangan alami. Dari segi fungsi. Apalagi ditambah dengan penangkapan ikan yang berlebihan (over fishing) dan pengrusakan ekosistem koral secara fisik. dan perairan samudera (oceanic regime). buangan limbah pemukiman dan industri. pantai batu. pantai karang. wilayah pesisir merupakan zona penyangga (buffer zone) bagi hewanhewan migrasi. wilayah pesisir ditandai oleh adanya gradient perubahan sifat ekologi yang tajam. sehingga dengan demikian estuaria dipengaruhi oleh pasang surut. 1971). yaitu daratan pesisir (shoreland). Perairan pesisir secara fungsional terdiri dari perairan estuaria (estuaria regime). Klasifikasi wilayah pesisir menurut komunitas hayati yaitu: (1) Ekosistem litoral yang terdiri dari pantai dangkal. perairan pesisir akan mengalami tekanan (stress). Namun demikian yang perlu diperhatikan adalah sistem perairan pesisir dan pengaruhnya terhadap perairan pesisir dan pengaruhnya terhadap daya dukung (carrying capacity) ekosistem wilayah pesisir. Pengaruh daratan pesisir terhadap perairan pesisir terutama terjadi melalui aliran air (run off).

dan (5) Hutan rawa gambut. Dampak pencemaran ini mempengaruhi kehidupan manusia. Tetapi konsentrasi akumulasi bahan pencemar yang semakin tinggi mengakibatkan daya asimilatif laut sebagai “gudang sampah” menjadi menurun dan menimbulkan masalah lingkungan. (3) Vegetasi terna rawa payau.payau. Oleh karena itu pencemaran harus dikendalikan secara dini. 16 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . (4) Hutan rawa air tawar. Secara normal. gangguan terhadap kegiatan di laut. organisme lain serta lingkungan sekitarnya. laut memiliki daya asimilasi untuk memproses dan mendaur ulang bahan-bahan pencemar yang masuk kedalamnya. Laut merupakan tempat pembuangan langsung sampah atau limbah dari berbagai aktifitas manusia dengan cara yang murah dan mudah.2. secara langsung maupun tidak langsung oleh kegiatan manusia ke dalam lingkungan laut termasuk daerah pesisir pantai. 2. kesehatan manusia. 1991). menurunkan keanekaragaman hayati dan tidak mengganggu keseimbangan ekosistem laut. sehingga dapat menimbulkan akibat yang merugikan baik terhadap sumber daya alam hayati. sehingga di laut dapat ditemukan berbagai jenis sampah dan bahan pencemar.2 Sumber Pencemaran Pencemaran laut adalah masuknya zat atau energi. sehingga tidak merusak lingkungan laut. termasuk perikanan dan penggunaan lain-lain yang dapat menyebabkan penurunan tingkat kualitas air laut serta menurunkan kualitas tempat tinggal dan rekreasi (Kantor Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup.

cat. Air pendingin mesin dari Pembangkit listrik Tenaga Diesel / Pembangkit Listrik Tenaga Uap / Kapal / Pabrik Rumah tangga. dan lain-lain.suarapublik. sisa makanan. 1. Serbuk gergaji. insektidsida. arsen. diketahui ada berbagai jenis bahan pencemar di laut beserta sumbernya. Erosi. Pabrik tekstil. Penangkapan ikan karang. Bahan Pencemar Pestisida Sulfaktan Logam – semi logam Buangan thermis Contoh Herbisida. Sampah rumah tangga dan industri Limbah organik industri Sedimentasi Minyak Zat kimia Plastik. dan lain-lain.Gambar 1. 9. Merkuri. seperti terlihat pada tabel 1 berikut ini: Tabel 1. raksa. baterai. Jenis dan Sumber Bahan Pencemar di Laut No. kaleng. penambangan. pasar. botol. dan lain-lain. Rumah tangga. fungisida Deterjen. Pemukiman di pesisir (Sumber: : www. kapal (water ballast). 6. Pengeboran minyak. kotoran manusia. Industri meubel. restoran. dan lain-lain. semprotan nyamuk. 2. 8. Air panas Sumber Lahan pertanian. playwood. 3. kulit kayu Lumpur / pasir Tumpahan / buangan minyak Sianida 17 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . dan lainlain. dan lain-lain. industri. 7. air sisa cucian.org) Berdasarkan review dari berbagai sumber. 4. cadmium. 5. tembaga. scelenium.

ditinjau dari daya uraiannya maka bahan pencemar pada perairan laut dapat dibagi atas dua jenis yaitu: 1. yaitu sumber pencemar yang tidak dapat diketahui secara pasti keberadaannya. pestisisda. lemak dan protein yang mudah terlarut menjadi zat-zat anorganik oleh mikroba. Lebih lanjut Dahuri dan Damar (1994) mengatakan bahwa sumber bahan pencemar perairan laut dapat dibagi atas dua jenis yaitu: 1. Point sources. 2. 2. proses pengeboran minyak di laut. Senyawa-senyawa non konservatif.3 Tumpahan Minyak Pencemaran laut diartikan sebagai adanya kotoran atau hasil buangan aktivitas makhluk hidup yang masuk ke daerah laut. buangan dan proses di kapal. contoh: buangan rumah tangga. Sumber dari pencemaran laut ini antara lain adalah tumpahan minyak. contoh: logam-logam berat. contoh: pencemar yang bersumber dari hasil buangan pabrik atau industri. Namun sumber utama pencemaran laut adalah berasal dari tumpahan minyak baik dari proses di kapal. dan deterjen. Senyawa-senyawa konservatif. Polusi dari tumpahan minyak di laut merupakan sumber pencemaran laut yang selalu menjadi fokus perhatian dari masyarakat luas. merupakan senyawa yang mudah terurai dan berubah bentuk di dalam suatu badan perairan. 18 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . limbah pertanian. buangan industri ke laut. yaitu sumber pencemar yang dapat diketahui dengan pasti keberadaannya. buangan sampah dari transportasi darat melalui sungai. sedimentasi serta bahan pencemar lain yang sulit dilacak sumbernya.Dahuri dan Damar (1994) menyatakan.2. 2. sisa bahan amunisi perang. Non point sources. pengeboran lepas pantai maupun akibat kecelakaan kapal. merupakan senyawa-senyawa yang dapat bertahan lama di dalam suatu badan perairan sebelum akhirnya mengendap ataupun terabsorbsi oleh adanya berbagai reaksi fisik dan kimia perairan. contoh: senyawa-senyawa organik seperti karbohidrat. karena akibatnya akan sangat cepat dirasakan oleh masyarakat sekitar pantai dan sangat signifikan merusak makhluk hidup di sekitar pantai tersebut. emisi transportasi laut dan buangan pestisida dari pertanian.

Tumpahan Minyak di Laut (Sumber: www. dan yang terakhir alur laut kepulauan yang menerobos Nusa Tenggara Timur. alur laut Selat Sunda. melintas ke Laut Flores. Laut Banda menuju utara sampai Lautan Pasifik.edu) Sebagai lintasan pelayaran internasional. Indonesia memiliki empat alur laut kepulauan (ALKI). Masalahnya adalah bahwa disamping memberi keuntungan ekonomi karena menjadi daerah lintasan pelayaran internasional. posisi unik tersebut juga sangat rawan terhadap kerusakan lingkungan. terutama karena tumpahan minyak di laut nusantara.Gambar 2. alur laut Selat Lombok terus melintasi Selat Makassar menuju arah Utara. yaitu alur laut Selat Malaka.clarkson. 19 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim .

Aktifitas Transportasi Tumpahan minyak yang berasal dari pengangkut minyak. Karena lingkungan laut Indonesia beserta segenap sumber daya didalamnya merupakan potensi besar bagi pembangunan. karena lalu-lalangnya kapal-kapal niaga termasuk kapal-kapal tanker minyak. antara lain yaitu: a. Pelayaran kapal-kapal tersebut mengandung resiko terjadinya kecelakaan yang dapat mengakibatkan keadaan darurat tumpahan minyak yang dapat merugikan lingkungan laut. biasanya memiliki resiko memiliki resiko yang besar dalam hal pencemaran laut. kandas. baik yang bersumber dari laut itu sendiri maupun yang bersumber dari daratan.Gambar 3. sehingga menjadi paling rawan terhadap pencemaran akibat tumpahan minyak. kemudian disusul oleh Selat Lombok dan Selat Makassar. maka harus dijaga dari berbagai kerusakan dan pengrusakan. Tumpahan minyak (oil spills) di laut disebabkan oleh aktifitas manusia. adalah wilayah yang terdapat pada alur laut kepulauan nusantara. 20 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Peta Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) Dari keseluruhan perairan Indonesia. yang paling rawan terhadap tumpahan minyak. Selat Malaka memiliki kepadatan tertinggi. Hal ini terjadi misalnya karena faktor kesalahan navigasi yang mengakibatkan: tabrakan.

co. 21 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . bagian air dalam tangki slop harus dikosongkan dengan memompakannya ke tangki penampungan limbah di terminal atau dipompakan ke laut dan diganti dengan air ballast yang baru. Disamping itu. Tidak dapat disangkal buangan air yang dipompakan ke laut masih mengandung minyak dan ini akan berakibat pada pencemaran laut tempat terjadi bongkar muat kapal tanker. Gambar 4. setelah proses bongkar selesai sisa muatan minyak dalam tangki dan juga air ballast yang kotor disalurkan ke dalam tangki slop. Sampai di pelabuhan bongkar.tenggelam dan terbakar. kapal pun membawa air ballast (sistem kestabilan kapal menggunakan mekanisme bongkar-muat air) yang biasanya ditempatkan dalam tangki slop. Sebelum kapal berlayar. proses pembersihan tangki ini ditujukan untuk menjaga agar tangki diganti dengan air ballast baru untuk kebutuhan pada pelayaran selanjutnya.jp) Hasil buangan dimana bercampur antara air dan minyak ini pun dialirkan ke dalam tangki slop. Sehingga di dalam tangki slop terdapat campuran minyak dan air. selain memuat minyak kargo. Tangki muatan yang telah kosong tadi dibersihkan dengan water jet.ja.ican. Aktivitas Kapal Tangker (Sumber: www. sehingga kapal tanker pengangkut minyak itu menumpahkan muatannya dan mencemari laut dan pesisirnya.

com) 22 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim .b. Diperkirakan sekitar 1. bocor maupun kecelakaan karena kesalahan manusia. Terminal Bongkar Muat Proses bongkar muat tanker bukan hanya dilakukan di pelabuhan. Dalam proses docking semua sisa bahan bakar yang ada dalam tangki harus dikosongkan untuk mencegah terjadinya ledakan dan kebakaran. Gambar 5. Docking (Perbaikan / Perawatan kapal) Semua kapal secara periodik harus dilakukan reparasi termasuk pembersihan tangki dan lambung. Terminal Bongkar Muat (Sumber: www. Proses bongkar muat di terminal laut ini banyak menimbulkan resiko kecelakaan seperti pipa yang pecah. Dalam aturannya semua galangan kapal harus dilengkapi dengan tangki penampung limbah. Akibat proses ini banyak kandungan metal dan lainnya termasuk kandungan minyak yang terbuang ke laut.500 ton/tahun minyak yang terbuang ke laut akibat proses ini yang menyebabkan kerusakan lingkungan setempat. namun pada kenyataannya banyak galangan kapal tidak memiliki fasilitas ini. sehingga buangan minyak langsung dipompakan ke laut.members. Selain itu juga di Docking dilakukan proses scrapping kapal (pemotongan badan kapal untuk menjadi besi tua) ini banyak dilakukan di industri kapal di India dan Asia Tenggara termasuk Indonesia. namun banyak juga dilakukan di tengah laut. c.bumn-ri.

allposter. Selain air ballast. sehingga ceceran minyak akan langsung masuk ke laut. juga dipompakan keluar adalah air bilga yang juga bercampur dengan minyak. namun pada kenyataannya banyak buangan bilga illegal yang tidak memenuhi aturan Internasional dibuang ke laut. dan pelumas hasil proses mesin yang merupakan limbah. Gambar 6. pemisah minyak dan air. Pengeboran minyak lepas pantai Tumpahan minyak dari pengeboran minyak lepas pantai biasanya disebabkan oleh kebocoran peralatan pengeboran yang kurang sempurna. Aturan internasional mengatur bahwa buangan air bilga sebelum dipompakan ke laut harus masuk terlebih dahulu ke dalam separator. Bila ceceran minyak ini berlangsung terus-menerus. jumlah minyak yang mencemari lingkungan laut tidak boleh diabaikan. Pengeboran Lepas Pantai (Sumber: www. Saat cuaca buruk maka air ballast tersebut dipompakan ke laut sementara air tersebut sudah bercampur dengan minyak. minyak.com) 23 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Karena umumnya tangki ballast kapal digunakan untuk memuat kargo maka biasanya pihak kapal menggunakan juga tangki bahan bakar yang kosong untuk membawa air ballast tambahan. apalagi jika terjadi kecelakaan di tempat-tempat pengeboran maka jumlah minyak yang masuk mencemari laut menjadi lebih besar.d. Bilga dan tangki bahan bakar Umumnya semua kapal memerlukan proses ballast saat berlayar normal maupun saat cuaca buruk. e. Bilga adalah saluran buangan air.

f. 3. 2. Pengilangan minyak Kegiatan di kilang minyak merupakan sumber yang dapat menimbulkan pencemaran minyak di perairan. memberikan dampak negatif ke berbagai organisme laut. yang disebabkan karena absorpsi minyak bumi (cahaya matahari diserap oleh tumpahan minyak) atau cahaya dipantulkan kembali oleh minyak ke 24 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . desalter. Hutan mangrove yang hidup disepanjang pantai beradaptasi di dalam air laut dengan cara desalinasi melalui proses ultra-filtrasi. Setelah digunakan di kilang. 2002): 1. Tumpahan minyak menghambat atau mengurangi transmisi cahaya matahari ke dalam air laut. sebagian besar air dibuang kembali ke lingkungan sebagai limbah. 4. dan treating process. terumbu karang. radang paru dan ginjal pada burung-burung tersebut. misalnya air drain yang berasal dari stripping. Jika pantai tercemar minyak. Kondisi ini merupakan bencana besar bagi kehidupan di perairan karena fitoplankton merupakan dasar bagi semua kehidupan perairan. Pencemaran air laut dari tumpahan minyak berdampak pada beberapa jenis burung laut. hutan mangrove dan rusaknya pantai wisata. yang disebut dengan breathing roots. Beberapa dampak ekologis akibat dari tumpahan minyak adalah sebagai berikut (Laode M. pembesaran limpa. berfungsi untuk menyerap oksigen melalui suatu jaringan aerasi yang kontak dengan udara. sehingga mengganggu keseimbangan ekosistem di laut. karena tumpahan minyak tersebut menyebabkan degradasi lemak dalam hati. Laut yang tercemar oleh tumpahan minyak. Tumpahan minyak dapat mengganggu keseimbangan berbagai organisme aquatik pantai. Kamaluddin. Akar mangrove. kerusakan saraf. lumpur akan tertutup oleh deposit minyak yang dapat merusak sistem akar mangrove. karena air limbah proses pengilangan bercampur minyak. dimana limbah ini banyak mengandung minyak yang dapat mencemari badan air dan pada akhirnya menuju ke laut. yang pada akhirnya akan merugikan kehidupan manusia. yang tumbuh di dalam lumpur. sehingga difusi oksigen dari udara ke dalam jaringan aerasi terhambat. seperti berbagai jenis ikan. Lapisan tumpahan minyak mempengaruhi tingkat intensitas fotosintesis fitoplankton yang dapat menurunkan atau memusnahkan populasi fitoplankton.

maka pencemaran tersebut menurunkan kualitasnya. pengoperasian slick-lickers. 6. Di lain pihak. Pencegahan pencemaran minyak di perairan ditujukan untuk berbagai sumber penyebab pencemaran. Untuk bidang pariwisata. polutan minyak di perairan mengurangi minat wisatawan. 5. sehingga merugikan para nelayan karena tidak dapat menjual ikan tangkapan mereka. adanya fasilitas yang memungkinkan untuk bergerak dinamis. dan floating boom. Perlu ada aturan yang jelas untuk diberikan sanksi kepada pemerintah yang memberikan izin tidak sesuai dengan aturan sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan. Para produsen 25 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . karena keindahan laut tertutup oleh lapisan minyak. UU No. kedua. dalam hal ini mencari dan mengumpulkan data lapangan tentang penyebab terjadinya suatu kasus pencemaran lingkungan akibat tumpahan minyak di laut. Aspek Perlengkapan Beberapa teknik yang dapat direkomendasikan untuk penanggulangan minyak adalah: penggunaan spraying chemical dispersants. Aspek Legalitas Suatu peraturan yang baik adalah peraturan yang tidak saja memenuhi persyaratan formal sebagai suatu perturan. Untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan polusi laut akibat tumpahan minyak ini terdapat 3 (tiga) faktor yang dapat dijadikan landasan yaitu: a. serta dilaksanakan atau ditegakan dalam kenyataan. Hal ini berhubungan dengan kemampuan hewan-hewan laut untuk mengakumulasi minyak di dalam tubuhnya. Jika tumpahan minyak tersebut tidak mematikan sumber daya laut. ketersediaan sumber daya manusia yang memadai.udara. tugas pemerintah ini juga harus diimbangi dengan dua faktor yaitu: pertama. Akumulasi ini sering menyebabkan daging ikan berbau minyak. Menjadi tugas pemerintah dan seluruh komponen masyarakat untuk menegakan peraturan-peraturan yang ada. 21 tahun 1992 juga menyebutkan tentang perlengkapan kapal baik dalam operasi maupun penanggulangan kecelakaan (termasuk tumpahan minyak). Berkaitan dengan perlengkapan kapal. Semakin tebal lapisan minyak maka pelarutan oksigen dari udara semakin terganggu dan akan merugikan biota-biota laut. tapi juga dapat menimbulkan rasa keadilan dan kepatuhan. b.

minyak dan gas bumi pun sudah memiliki produsedur kerja dan fasilitas penanggulangan tumpahan minyak yang cukup memadai untuk digunakan dalam penerapan Tier 1 (penanggulangan bencana tumpahan minyak yang terjadi dalam lingkup pelabuhan) dan Tier 2 (penanggulangan bencana tumpahan minyak yang terjadi di luar lingkungan pelabuhan) yang dilakukan secara inerconnection di bawah koordinasi Administrasi Pelabuhan (Adpel). 2. Beberapa kasus pencemaran laut akibat tumpahan minyak yang terjadi di Indonesia dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini: Tabel 2. tumpahan ini merusak terumbu karang tempat pengasuhan ikan-ikan milik masyarakat sekitar. Tumpahan minyak mentah dari Pertamina UP VI Balongan. September 2004 Cilacap 5. Beberapa Kasus Tumpahan Minyak di Perairan Indonesia No 1. Tahun Agustus 2005 2004 Lokasi Teluk ambon Balikpapan Keterangan Meledaknya kapal ikan MV Fu Yuan Fu F66 yang menyebabkan tumpahnya minyak ke perairan. Kapal tanker Vista Marine tenggelam akibat cuaca buruk dan menumpahkan limbah minyak dalam tangki slop sebanyak 200 ton Tabrakan antara tongkang PLTU-I/PLN yang mengangkut 363 kiloliter IDF dengan kapal kargo An Giang. Aspek Koordinasi Seluruh departemen.2005 Kepulauan Seribu 26 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Tumpahan Minyak oleh MT Lucky Lady yang memuat Syria Crude Oil sebanyak 625044 barel. instansi terkait serta masyarakat harus dapat berkoordinasi untuk menanggulangi pencemaran ini. Oktober 2004 Pantai Indramayu 4. 2003 . c. Menyebabkan sungai Musi di sekitar kota Palembang tercemar. Volume minyak yang tumpah ke perairan adalah sekitar 8000 barel dan menyebar 5 km sepanjang pantai. Tumpahan minyak dari Perusahaan Total E dan P Indonesia. Hal yang penting untuk diperhatikan pada aspek ini adalah pentingnya penguasan prosedur dan teknik-teknik penanggulangan tumpahan minyak oleh pelaksana lapangan. Tergenangnya tumpahan minyak di perairan Kepulauan Seribu. membuat nelayan sekitar tidak dapat melaut dalam beberapa waktu. 3. Juli 2003 Palembang 7. Juli 2004 Kepulauan Riau 6.

14. dan melalui proses fisik dan kimiawi dengan cara absorbsi. Tabrakan kapal Isugawa Maru dengan Silver Palace. Tabrakan kapal tanker Ocean Blessing dan MT Nagasaki Spirit yang menumpahkan 13000 ton minyak. 3. dan arus laut. Kecelakaan kapal tanker Choya Maru pada Desember menumpahkan 300 ton bensin. pengendapan dan pertukaran ion. Tabrakan kapal tanker MV Bandar Ayu dengan Kapal Ikan Tanjung Permata III. 18.2000 1998 Oktober 1997 1996 April 1994 Januari 1993 September 1992 Februari 1979 Desember 1979 Januari 1975 1975 Sumber: Agung Sudrajad. Kandasnya kapal Pertamina Supply No 27 yang memuat solar. Bocornya kapal tanker Golden Win yang mengangkut 1500 kilo liter minyak tanah. Kapal Orapin Global bertabrakan dengan kapal tanker Evoikos. 11. masuknya bahan pencemar ke dalam perairan laut.4 Proses Masuknya Bahan Pencemar Ke Dalam Ekosistem Laut Secara umum. Dipekatkan melalui proses biologi dengan cara diserap oleh ikan. 16. Kandasnya Kapal Tanker Maersk Navigator. Terbawa langsung oleh arus dan biota laut (ikan). 10. Oktober 2000 1999 . Bahan pencemar ini akhirnya akan mengendap di dasar laut. 9. 2001 Tahun Lokasi Tegal . 12. 2. Kandasnya kapal tanker Showa Maru yang menumpahkan minyak sebesar 1 juta barel minyak solar. 17. Kandasnya MT Natuna Sea dan menumpahkan 4000 ton minyak mentah. Bali Selat Malaka Selat Malaka Keterangan Tenggelamnya tanker Stedfast yang mengangkut 1200 ton limbah minyak. 13. 19. Tenggelamnya KM Batamas II yang memuat MFO. 15. berasal dari industri dan domestik kemudian dialirkan ke tingkat-tingkat tropik yang terdapat pada lingkungan laut dipicu oleh: 1. Robeknya kapal tanker MT King Fisher dengan menumpahkan sekitar 4000 barel. 20. Disebarkan melalui adukan atau turbulensi. 27 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . plankton nabati atau ganggang.No 8.Cirebon Batam Cilacap Tanjung Priok Selat Singapura Natuna Pelabuhan Cilacap Selat Malaka Selat Malaka Pelabuhan Lhokseumawe Pelabuhan Buleleng. 2006 2.

bahan pencemar akan diabsorbsi. sehingga terjadi konflik kepentingan yang memicu kerusakan lingkungan. Untuk wilayahwilayah laut yang luas dan terbuka dengan pola arus dan turbulensi yang aktif. diendapkan dan melakukan proses pertukaran ion. Sedangkan sisa bahan pencemar yang tidak dicencerkan dan disebarkan serta terbawa ke wilayah-wilayah laut yang luas dan terbuka. pertambangan. fisik dan kimiawi. bahan pencemar akan mudah sekali terakumulasi di dalam suatu badan perairan. Sebagian dari bahan pencemar akan terbawa oleh arus laut atau biota yang sementara melakukan migrasi ke wilayah laut lainnya. bahan-bahan pencemar akan terurai dan terbuang ke perairan laut yang lebih luas. khususnya yang berdomisili di sekitar DAS akan diikuti oleh peningkatan kebutuhan hidup yang dipenuhi melalui pemanfaatan sumberdaya alam. sehingga tindakan pengelolaan dan pengendalian yang dilakukan tidak hanya bersifat parsial dan sektoral. perikanan. industri. 2. sehingga dapat meminimalkan konsentrasi akumulasinya dalam suatu badan perairan. dimana dalam proses biologi. dan akan lebih menguntungkan apabila terbawa ke perairan laut terbuka. Sedangkan dalam proses fisik dan kimiawi. Kedua hal tersebut akan mempengaruhi perubahan perilaku manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Akan tetapi pada wilayah-wilayah laut yang sempit dan tertutup.Sebagian bahan pencemar yang masuk ke dalam ekosistem laut dapat diencerkan dan disebarkan ke seluruh wilayah laut melalui adukan turbulensi dan arus laut. akan dipekatkan melalui proses biologi. Pemahaman dalam permasalahan daerah aliran sungai (DAS) dilakukan melalui suatu pengkajian komponen-komponen DAS dan penelusuran hubungan antar komponen yang saling berkaitan. tetapi sudah terarah pada penyebab utama kerusakan dan akibat yang ditimbulkan. dan lain-lain). bahan pencemar biasanya diserap oleh organisme laut seperti ikan. Perubahan perilaku yang bersifat negatif akan menimbulkan tekanan 28 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Peningkatan jumlah penduduk. fitoplankton maupun tumbuhan laut untuk kemudian diserap lagi oleh plankton nabati kemudian akan berpindah ke tingkat-tingkat tropik selanjutnya seperti avertebrata dan zooplankton dan kemudian ke ikan dan mamalia. pariwisata.4 Dampak Pencemaran Laut Semakin besar intensitas kegiatan pembangunan. maka terjadi pula peningkatan eksploitasi sumberdaya alam yang bersifat multi-use (pertanian.

Akibatnya adalah meningkatnya kepekaan sumber daya air terhadap fluktuasi dan goncangan iklim. Akibat pengelolaan lahan dan hutan yang kurang bijaksana. dan lain-lain. pembawa sedimentasi. industri dan pemukiman. juga berperan sebagai pemelihara keseimbangan ekologis untuk sistem penunjuang kehidupan. Kemampuan 29 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . tetapi tidak semuanya dapat dimanfaatkan. sehingga pencemaran di kawasan hulu akan berdampak pada kawasan hilir. daerah hulu merupakan faktor produksi dominan yang sering mengalami konflik kepentingan penggunaan lahan untuk kegiatan pertanian. pemukiman dan lain-lain). Oleh karena itu. analisis neraca air dan water demand-supply wilayah menunjukkan bahwa ada kecendrungan semakin tidak meratanya sebaran dan ketersediaan air menurut waktu atau musim dan sepanjang antara lokasi sumber dengan pusat-pusat kebutuhan air meningkat. pertanian. Supriadi (2000) menyatakan bahwa kawasan hulu mempunyai peran penting yaitu selain sebagai tempat penyedia air untuk dialirkan ke daerah hilirnya bagi kepentingan pertanian. air. Dalam suatu ekosistem DAS terjadi berbagai proses interaksi antar berbagai komponen yaitu tanah. vegetasi dan manusia. pemikiman dan lain-lain. pariwisata. pengelolan DAS ditujukan untuk memperbesar pemanfaatannya dan sekaligus memperkecil dampak negatifnya. Secara fisik sengketa dan persaingan kebutuhan air akan meningkatkan intervensi manusia terhadap tatanan hidrologi dan sumber daya air. dkk 1996). Dalam terminologi ekonomi. Daerah aliran sungai merupakan penghubung antara kawasan hulu dengan kawasan hilir. energi. Secara nasional ketersediaan sumber daya air memang masih sangat besar. pertambangan. Hal tersebut selain meningkatkan frekuensi dan luas ancaman kekeringan dan banjir juga meningkatkan sengketa dan persaingan dalam pemanfaatan sumber daya air (Pawitan. pembawa limbah (polutan dari industri. Dari uraian di atas menunjukkan bahwa aktivitas penggunaan lahan dapat mempengaruhi kualitas lingkungan dalam hal ini adalah kualitas sumber daya air.terhadap lingkungan fisik. serta turunnya kualitas air akibat pencemaran oleh berbagai kegiatan. Jika tekanan semakin besar maka daya dukung lingkunganpun akan menurun. Sungai sebagai komponen utama DAS mempunyai potensi seimbang yang ditunjukkan oleh daya guna sungai tersebut antara lain untuk pertanian. air dan sumberdaya biotik yang merupakan suatu unit ekologi dan mempunyai keterkaitan antar komponen. yang memiliki keterbatasan dikenal sebagai daya dukung lingkungan (DDL). Sungai juga mampu mengakibatkan banjir. DAS meliputi semua komponen lahan.

Pencemaran laut merupakan salah satu bentuk tekanan terhadap lingkungan laut maupun sumber daya yang didalamnya dapat menyebabkan kerugian bagi sistem alami (ekosistem) maupun bagi manusia yang merupakan bagian dari sistem alami tersebut. kawasan pengamanan sumber air permukaan. jika dihubungkan dengan penataan ruang wilayah. laut juga mengandung berbagai jenis sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan kesejahteraan manusia. sehingga kesalahan pemanfaatan akan berdampak negatif pada daerah hilir. maka alokasi ruang dalam rangka menjaga dan memenuhi keberadaan air. Beberapa jenis bahan pencemar yang sering menyebabkan terjadinya pencemaran di laut yaitu limbah domestik dan pertanian. industri dan pertanian. Konservasi daerah hulu perlu mencakup aspek-aspek yang berhubungan dengan produksi air dan konservasi itu sendiri. hotel. pencemaran laut tidak hanya merusak habitat organisme laut serta proses biologi dan fisiologinya saja. hutan produksi atau tanaman keras. Air limbah domestik Sumber domestik terdiri dari air limbah yang berasal dari perumahan dan pusat perdagangan maupun perkantoran. dan lain-lain. dll.pemanfaatan lahan hulu sangat terbatas. a.macam limbah cair terdiri dari: rumah tangga (domestik). Macam . tapi secara tidak langsung dapat membahayakan kesehatan dan kehidupan manusia. Dengan kata lain. aliran air dan sungai. kawasan pengamanan mata air. maka minimal 30 % dari luas wilayah harus diupayakan adanya tutupan tegahan pohon yang dapat berupa hutan lindung. Hasil penelitian Deutsch and Busby (2000) menunjukkan bahwa total suspended solid (TSS) dapat meningkat secara tiba-tiba apabila suatu sub daerah aliran sungai mengalami penurunan penutupan hutan dibawah 30% dan apabila terjadi pembukaan lahan pertanian lebih dari 50%. tempat rekreasi. COD (chemical 30 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . kawasan resapan air. Menurut Sugandhy 1999. Padahal selain sebagai sumber bahan pangan. hutan wisata. Secara ekologis. Limbah jenis ini sangat mempengaruhi tingkat kekeruhan. rumah sakit. BOD (biological oxygen demand). karena terakumulasi oleh bahan-bahan pencemar melalui konsumsi bahan pangan laut yang telah terakumulasi sebelumnya. hal tersebut berkaitan dengan ekosistem tangkapan air yang merupakan rangkaian proses alami suatu siklus hidrologi yang memproduksi air permukaan dalam bentuk mata air.

Gejala ini akan menyebabkan menurunnya kadar oksigen terlarut akibat meledaknya populasi organisme tertentu sehingga dapat menimbulkan kematian beberapa organisme perairan. Limbah jenis ini bukan saja mempengaruhi tingkat kekeruhan. Dampak yang diberikan oleh limbah industri akan sangat tergantung dari jenis kegiatan industri dan bahan baku yang digunakan. Kondisi perairan yang mengalami “eutrofikasi”. Misalnya logam Pb (Timbal) dan Hg (Merkuri) 31 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Penanganan pada proses produksi (penerapan produksi bersih). dan kemudian disaring. Limbah domestik berupa limbah rumah tangga dan kotoran manusia yang terbuang ke perairan apabila melebihi kemampuan asimilasi perairan sungai dan terbawa ke laut dapat mencemari perairan dan menimbulkan penyuburan berlebihan (eutrofikasi). organisme makro-zoobenthos yang menjadi indikator lingkungan jarang sekali ditemukan. tetapi juga mengubah struktur kimia air akibat masuknya zat-zat anorganik yang mencemari. Penanganan limbah ini diiakukan dengan cara memasang instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sebelum dibuang ke lingkungan atau badan air.oxygen demand) dan kandungan organik sistem pasokan air. yang meliputi pembersihan grit. penggilingan dan sedimentasi. Keadaan ini menunjukan kondisi perairan yang tidak stabil dimana terjadi penurunan kualitas perairan sehingga organisme laut akan mati atau tidak dapat melangsungkan aktifitas hidupnya untuk proses pertumbuhan dan perkembangbiakan. penyaringan. BOD. di samping metode kimia maupun fisika seperti penyaringan granular dan absorbsi karbon. Terdapat beberapa pilihan dalam mengendalikan air limbah industri yaitu: Pengendalian secara end of pipe. (2) Pengolahan kedua (secondary treatment) menyertakan proses oksidasi larutan materi organik melalui media lumpur yang secara biologis aktif. yaitu pada titik pembuangan dari sumbernya pabrik). COO maupun kandungan organiknya. Limbah Industri Sifat-sifat air limbah industri relatif bervariasi tergantung dari sumbernya. dan penanganan sistem pembuangan limbah domestik itu sendiri. b. Metoda dasar penanganan limbah domestik pada dasarnya terdiri dari tiga tahap: (1) Pengolahan dasar (primary treatment). (3) Penanganan tersier. di mana metode biologis canggih diterapkan untuk menghilangkan nitrogen. Sedangkan kadar NH3 perairan meningkat dan pH-nya menjadi rendah (asam).

Pb(Timbal). Kondisi itu lebih diperburuk lagi dengan adanya pembuangan minyak secara rutin dari kapal dan perahu kecil di kawasan itu. Kandungan kimia sludge dapat menurunkan DO dan BOD serta meningkatkan COD. Logam berat lain yang kandungannya tinggi dan dinyatakan jauh melebihi batas aman. fenol. dan industri pengolahan logam di kawasan Pantai Marunda. Disamping itu sludge mengeluarkan pula bahan beracun berbahaya seperti sulfida. Keduanya sudah melebihi ambang batas yang diperbolehkan. minyak goreng.yang dihasilkan dari penambangan liar (senyawa yang dipakai pada penambangan emas) seperti di daerah Provinsi Kalimantan Barat dan Sulawesi Utara. juga dapat menimbulkan keracunan.5 ppb. yaitu maksimum 0. bahan pencemar ini akan menjadi sludge yang menimbulkan bau busuk. kadmium (Cd). tembaga (Cu). Dalam jumlah tertentu yang melebihi kapasitas daya asimilatif perairan. Pencemaran logam berat seperti di atas dapat terlihat di kawasan Teluk Jakarta saat ini memang sudah dalam tahap memprihatinkan. Pencemaran ini diakibatkan pembuangan limbah industri kertas. dan timbal (Pb). fosfat. yang mencapai rata-rata 9 ppb PCB dan 13 ppb DDT. antara lain seng (Zn). selain dapat menurunkan kualitas dan produktivitas perairan laut. 32 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . khususnya merkuri dan pestisida. penanganan limbah cair domestik dan tinja dengan membangun septiktank untuk setlap perumahan atau septiktank komunal di pemukiman padat penduduk secara kolektif. Karena unsur Pb dan Hg merupakan unsur logam berbahaya yang dapat menimbulkan penyakit pada apabila terakumulasi pada organisme perairan yang dimakan manusia. c. Ini terlihat dari tingginya angka pencemaran. yang ditemukan dalam pencemaan Teluk Jakarta ini. bagi daerah yang beium mempunyai pengolahan limbah cair domestik secara terpadu. termasuk juga limbah rumah tangga dan industri dari 13 sungai yang ada di DKI Jakarta. Limbah cair domestik dan tinja Secara sederhana. dan Cd (Cadmium) yang dapat terakumulasi dalam organisme perairan tertentu dan secara tidak langsung merupakan acaman bagi kehidupan manusia. Cr (Heksavalen). yang merupakan salah satu jenis bahan pencemar di laut. Limbah industri lainnya yang umumnya terbuang ke badan sungai dan dialirkan ke laut atau yang langsung terbuang ke laut akan terakumulasi.

Air limbah pertanian Berasal dari sedimen akibat erosi lahan. dan sistem pemupukan dan pemberantasan hama/penyakit dengan komposisi yang tepat. Proses kekeruhan dan 33 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Keadaan ini tidak hanya mengancam kehidupan organisme yang hidup di habitat yang terkena kontaminasi bahan beracun saja. unsur kimia limbah hewan atau pupuk (umumnya fosfor dan nitrogen). Akibat tidak langsung dari kegiatan pertanian berupa perladangan berpindah dan penebangan hutan secara serampangan juga dapat menimbulkan pencemaran berupa sedimentasi dan pendangkalan sungai yang disebabkan oleh erosi. Sedangkan limbah pertanian selain dapat menimbulkan eutrofikasi yang disebabkan akumulasi bahan-bahan organik sisa tumbuhan yang membusuk. pengendalian dapat dilakukan dengan membuat penampungan di samping melakukan penanganan baik dalam kolam terbuka maupun tertutup.peopleandplanet. akumulasi residu dari pestisida terutama bahan kimia beracun chlorine dan organo-chlorine juga dapat menimbulkan keracunan bagi organisme perairan yang pada akhirnya akan membawa kematian. tetapi dapat mengancam kehidupan organisme lain yang secara ekologis mempunyai kaitan erat dengan organisme tersebut melalui aliran rantai makanan. Unsur pencemar ini meliputi balk sedimen dari erosi lahan tanaman perkebunan maupun larutan fosfor dan nitrogen yang dihasilkan oleh limbah hewani serta pupuk.net) d. dan unsur kimia dari pestisida. Pemukiman Padat Penduduk (Sumber: www.Gambar 7.

Pengaruh buangan atau tumpahan minyak terhadap ekosistem perairan laut dapat menurunkan kualitas air laut secara fisik. sedangkan secara biologi adanya buangan atau tumpahan minyak dapat mempengaruhi kehidupan organisme laut. emulsi atau mengendap dan diabsorbsi oleh sedimen-sedimen yang berada di dasar perairan laut.sedimentasi ini bisa mencapai perairan estuaria dan perairan pantai. Secara fisik dengan adanya tumpahan atau buangan minyak maka permukaan air laut akan tertutup oleh minyak. kimia dan biologis. Sedangkan minyak yang terabsorbsi oleh sedimen-sedimen di dasar perairan akan akan menutupi lapisan atas sedimen tersebut sehingga akan mematikan organisme-organisme penghuni dasar laut dan juga meracuni daerah-daerah pemijahan. e. Hal ini menyebabkan kadar oksigen dalam perairan menjadi menurun diikuti oleh kematian organisme laut. Kematian organisme laut yang pada akhirnya akan menurunkan kualitas perairan karena proses pembusukan pada perairan yang telah mengalami pendangkalan dan penumpukan bahan organik akan menimbulkan racun. Secara ekologis proses kekeruhan karena sedimentasi dapat menyebabkan terganggunya penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan. Buangan dan tumpahan minyak bumi akibat kegiatan penambangan dan pengangkutannya dapat menimbulkan pencemaran laut yang lebih luas karena terbawa arus dan gelombang laut. sementara minyak yang teremulsi dalam air akan mempengaruhi epitelial insang ikan sehingga mengganggu proses respirasi. Secara kimia. lokasi kejadian dan waktu kejadian. Tumpahan Minyak Akibat Kegiatan Penambangan dan Pengangkutannya Pengaruh spesifik dari peristiwa tumpahan minyak terhadap lingkungan perairan laut dan pantai tergantung pada jumlah minyak yang tumpah. Akibat terganggunya proses fotosintesa maka populasi plankton akan menurun yang akan diikuti oleh penurunan populasi organisme pemakan plankton (misalnya: ikan). Menurunya populasi burung akan mengakibatkan guano (penghasil fosfat) akan berkurang sehingga akan terjadi penurunan 34 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Minyak yang membentuk lapisan film pada permukaan laut akan menyebabkan terganggunya proses fotosintesa dan respirasi organisme laut. sehingga kegiatan fotosintesa plankton maupun organisme laut lainnya menjadi terhenti. yang diikuti pula dengan penurunan populasi burung pemakan ikan. Tumpahan minyak bumi pada perairan laut akan membentuk lapisan film pada permukaan laut. karena minyak bumi tergolong senyawa aromatik hidrokarbon maka dapat bersifat racun.

rusaknya tempat-tempat pemijahan (spawning ground) dari organisme laut. Selain itu. 35 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . buangan atau tumpahan minyak yang menyebar dengan cepat ke wilayah laut yang lebih luas akan menyebabkan rusaknya ekosistem hutan mangrove sehingga mengakibatkan terjadinya abrasi dan intrusi air laut.hasil perikanan.

kehutanan. pertambangan dan sumberdaya mineral. penambangan tanpa ijin (PETI). Untuk mengetahui pencemaran lingkungan. Untuk lingkup permasalahan pencemarannya terhadap lingkungan terdiri dari bermacam kegiatan seperti kebocoran gas. padang lamun. tumpahan minyak dari tanker (oil spil). penggunaan kawasan hutan untuk pelabuhan. dan perumahan rakyat. kelautan dan perikanan.1 Kondisi Industri Daerah Pada umumnya kegiatan industri di daerah. tambak. limbah pertambangan ke laut. illegal fishing. kecelakaan kapal pengangkut bahan tambang mineral. illegal mining. pekerjaan umum. serta sektor kesehatan. perhubungan. bahan beracun dari laboratorium.BAB 3 AKTIVITAS INDUSTRI DI DAERAH 3. kecelakaan kapal. mangrove. reklamasi pantai. penggunaan bahan kimia pada aktivitas usaha tani di hulu. industri perikanan. wisata bahari. pencemaran PLTN. dan limbah domestik. operasional kapal. estuaria dan lain-lain. dapat terlihat seperti di bawah ini yang merupakan hasil penelitian yang didapatkan dari pengumpulan data tentang kegiatan industri di daerah-daerah (lihat lampiran 3) seperti dikemukakan sebagai berikut: a. illegal loging. penambangan pasir laut untuk reklamasi pantai atau pulau. industri yang berada di pantai/pesisir. Daerah Provinsi Kalimantan Barat Terdapat beberapa aktifitas industri maritim antara lain: 36 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . pengeboran minyak lepas pantai. kegiatan kepelabuhanan. pembuatan kapal yang menggunakan kayu. riset dan teknologi. pertanian. Kegiatan-kegiatan yang menyebabkan pencemaran lingkungan seperti terangkum di atas menghasilkan limbah yang menyebabkan pencemaran air laut yang memberikan dampak pada kehidupan di laut seperti berdampak pada ekosistem laut kerusakan terumbu karang. pembangunan tempat rekreasi di pantai/pesisir. yang membutuhkan waktu yang sangat lama dan teknologi yang memadai serta dana yang sangat besar dalam menyelesaikan permasalahan pencemaran limbah ini. menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan seperti aktivitas industri di sektor perindustrian. pengambilan terumbu karang untuk diekspor. pariwisata.

-

Industri perkapalan seperti pembuatan galangan kapal dan kapal nelayan dengan menggunakan bahan baku kayu dan sebagian menggunakan bahan penolong besi. Pada kegiatan industri ini, sejauh ini belum mencemari lingkungan karena industri ini dikerjakan di luar daerah bantaran Sungai Kapuas.

-

Industri perikanan seperti pengambilan hasil laut (ikan, ubur-ubur, dan lain-lain), budidaya perikanan (pengolahan hasil laut: udang air payau dan asin, ikan beku). Aktifitas industri ini mencemari lingkungan, contoh pada industri pengolahan hasil laut tidak memiliki pengolahan limbah dan untuk budidaya perikanan tidak sesuai dengan tata ruang pesisir/laut sehingga merusak ekosistem dan lingkungan.

-

Industri parawisata bahari seperti industri wisata pantai, pulau dan hotel, pada kegiatan industri ini tidak mencemari lingkungan justru rentan terhadap pencemaran, karena jika terjadi pencemaran maka aktifitas pariwisata akan terganggu wisatawan yang berkunjung akan berkurang.

-

Industri kayu seperti kayu hulu dan playwood, kegiatan industri ini menyebabkan pencemaran perairan Sungai Kapuas karena pemakaian bahan kimia dan juga mengakibatkan pendakalan maritim sehingga dapat mengganggu lalu lintas maritim.

-

Industri pertambangan seperti penambangan liar, pada kegiatan ini menyebakan pencemaran perairan karena diakibatkan oleh senyawa kimia (merkuri) yang digunakan oleh penambangan emas. Kebijakan lokal yang telah dikeluarkan Pemerintah Daerah dalam menanggulangi

pencemaran lingkungan seperti: Dinas Perindag Kop dan UKM, Kota Pontianak antara lain: Keputusan Walikota Pontianak No. 446 dan 447 tahun 2002, tentang Pembentukan Komisi AMDAL, UKL dan UPL. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata antara lain: Peraturan Gubernur Kalimantan Barat No. 137 tahun 2004, tentang Rencana Strategis (RENSTRA) Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Kalimantan Barat, dan Keputusan Gubernur No. 83 tahun 2006, tentang Pembentukan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Provinsi Kalimantan Barat.

b. Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur 37
Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim

Terdapat beberapa aktifitas industri maritim antara lain: Industri perikanan seperti usaha perikanan, budidaya mutiara, dan budidaya rumput laut. Pada aktifitas penangkapan ikan masih menggunakan bahan peledak sehingga menyebabkan kerusakan ekosistem dan biota laut. Industri pertanian seperti usaha pertanian, pada kegiatan ini menimbulkan erosi yang mengakibatkan sedimentasi. Industri pariwisata bahari seperti perhotelan dan restaurant di pinggir pantai. Aktifitas dari industri ini menghasilkan limbah domestik dari perhotelan di pinggir pantai, tercemarnya air yang dapat mengakibatkan punahnya ekosistem laut dan juga menghasilkan limbah cair dan padat sehingga menimbulkan dampak yaitu kerusakan hutan bakau. Industri transportasi laut seperti transportasi perhubungan laut. Pada aktifitas industri ini menyebabkan pencemaran walaupun dalam skala kecil, terlihat ada penurunan produktifitas pada masyarakat, seperti: keramba, rumput laut yang berdekatan dengan alur pelayaran. c. Daerah Provinsi Riau Terdapat beberapa aktifitas industri maritim antara lain: Industri kepelabuhanan seperti pelabuhan perikanan (pelabuhan modern dan pelabuhan tangkapan tradisional). Pada aktifitas industri ini menyebabkan kualitas air menurun, dan juga menghasilkan limbah cair yang melebihi standar baku mutu, dan dapat mengakibatkan dampak pada kesehatan manusia, dan biota laut selain itu juga negara dirugikan karena harus merehabilitasi kembali lingkungan yang rusak. Industri pertambangan di lepas pantai seperti minyak dan gas, pertambangan pasir laut. Pada kegiatan industri migas ini menghasilkan limbah berupa tumpahan minyak, buangan air terproduksi (salin water), dan menyebabkan perubahan/kenaikan temperatur air laut di sekitar pembangunan, sedangkan kegiatan pertamabangan pasir di laut menyebabkan kerusakan lingkungan (pulau) yang sangat parah (oleh kegiatan eksport pasir laut) sehingga menyebabkan tenggelamnya pulau. Industri Perkayuan/Perkebunan seperti: pemotongan kayu menyebabkan sedimentasi karena penggundulan hutan dan menyebabkan erosi di darat. Industri perkapalan seperti pembuatan galangan kapal perikanan dan tradisional. Industri Rumah Tangga menghasilkan limbah rumah tangga. 38
Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim

Kebijakan lokal yang telah dikeluarkan Pemerintah Daerah dalam menanggulangi pencemaran lingkungan seperti: Dinas Budaya Seni dan Pariwisata antara lain: Perda tentang Rencana Induk Pengembangan Pariwisata. Badan Perencana Pembangunan Daerah (BAPPEDA) antara lain: Perda (Naskah Akademik) Pengelolaan Wilayah Pesisir. Dinas Kehutanan antara lain: Perda tentang Baku Mutu Air Sungai Siak

d. Daerah Provinsi Sulawesi Tengah Terdapat beberapa aktifitas industri maritim antara lain: Industri perikanan, aktifitas industri ini seperti penangkapan ikan dengan bahan peledak, pada aktifitas ini jelas memberikan dampak terhadap kerusakan dan pencemaran lingkungan sedangkan penangkapan ikan dengan kapal-kapal yang menggunakan pukat cincin dalam operasinalnya tidak/belum memberikan dampak terhadap pencemaran lingkungan. Industri wisata bahari, secara umum kegiatan ini telah mencemari lingkungan, namun besarnya potensi tersebut serta ada tidaknya pencemaran di laut sebagai dampak aktifitas tersebut dan berapa besarnya masih diperlukan penelitian. Industri pertambangan seperti penambangan pasir laut, penambangan terumbu karang, dan pengeboran migas lepas pantai; industri kepelabuhanan seperti pembangunan pelabuhan besar dan kecil; dan industri Pelayaran seperti transportasi kapal nelayan dan kapal kargo. secara umum kegiatan ini telah mencemari lingkungan, namun besarnya potensi tersebut serta ada tidaknya pencemaran di laut sebagai dampak aktifitas tersebut dan berapa besarnya masih diperlukan penelitian. Kebijakan lokal yang telah dikeluarkan Pemerintah Daerah dalam menanggulangi pencemaran lingkungan seperti dari: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata antara lain: Kebijakan tentang aktifitas maritim masih berbentuk naskah akademik/draft.

e. Daerah Provinsi Kepulauan Riau (Batam) 39
Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim

pelumas atau minyak yang berasal dari kapal sehingga menyebabkan pencemaran perairan. pada aktifitas ini menghasilkan kotoran (kerak). Selain itu juga pencemaran ini meyebabkan menurunnya kualitas lingkungan wilayah pesisir. namun pasir darat. g. f. Daerah Provinsi Sulawesi Utara Terdapat beberapa aktifitas industri maritim antara lain: Industri kepelabuhanan seperti aktivitas pelabuhan kontainer. granit dan gabro) lainnya masih bebas diekspor. basal. dan lain-lain). dan belum mencemarkan lingkungan sekitar. barang elektronik. Industri penambangan pasir seperti eksploitasi pasir untuk diekspor. kaolin. phosphate. sehingga mengakibatkan tergganggunya keseimbangan ekosistem seperti rusaknya ekosistem bakau dan terumbu karang yang merupakan tempat bernaung dan hidup berbagai jenis biota laut (ikan. Banyaknya aktifitas transportasi laut antar pulau dengan menggunakan speedboat dan kapal ferry. bentonite. mika.Terdapat beberapa aktifitas industri maritim antara lain: Industri transportasi laut. andesit. masih di bawah ambang batas. sehingga masih terjadi penambangan yang berpotensi merusak ekosistem pesisir dan laut. alat transportasi laut tersebut menghasilkan air limbah yang banyak mengandung minyak yang sangat berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan perairan. Industri perikan seperti penangkapan dan pengolahan ikan Industri galangan kapal Pada umumnya kegiatan industri di atas terjadi pencemaran yang ada. kebutuhan pangan). tanah dan golongan C (bahan galian yang tidak termasuk golongan strategis dan vital yaitu: batu kapur. Daerah Provinsi Sumatera Utara Terdapat beberapa aktifitas industri maritim antara lain: 40 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Pasir laut memang sudah dilarang untuk diekspor. Pencemaran masih bisa diatasi. kerang. pelabuhan kapal pengangkut (minyak. benih-benih ikan. Industri pelayaran seperti aktivitas jasa transportasi laut Industri rumah tangga yang menghasilkan limbah masyarakat (sisa konsumsi rumah tangga).

dan bahan kimia) serta sisa-sisa kegiatan atau limbah dari shore base facilities. - Industri pelayaran. limbah padat & cair (khusus jenis plastik). pelayaran penumpang. menghasilkan sedimentasi oleh muara sungai. industri tepung ikan) dan pengalengan ikan serta Processing/perikanan (cold storage). perikanan longline tuna (penangkapan dan pengelohan). Lambongan) maupun jarak jauh (Moyo. Industri wisata bahari seperti Snorkling. 41 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . dan untuk operasional kapal-kapal niaga (misalnya: bahan baker. Daerah Provinsi Bali Terdapat beberapa aktifitas industri maritim antara lain: Industri perikanan tangkap. sisa-sisa muatan minyak. pembuatan perahu nelayan. diving. Untuk penangkapan ikan di Pantai Barat Sumatera Utara dan Kepulauan Nias sering menggunakan bahan peledak dan racun sehingga merusak terumbu karang. Boating. Komodo) dan Atraksi wisata (snorkling. perdagangan hasil laut antar negara (seperti Taiwan. perikanan lemuru (penangkapan. dan Usaha angkutan laut khusus industri pariwisata dan tambang. Industri pelayaran seperti pelayaran antar pulau/niaga.- Industri kepelabuhanan seperti pelabuhan niaga. Bangkai kapal. Pada kegiatan industri ini salah satunya menghasilkan limbah industri dan juga menyebabkan pencemaran udara (bau) oleh aktifitas pengolahan tepung ikan dan aktifitas kapal-kapal ikan yang belum mempunyai kesadaran dalam hal lingkungan. Paracyling. dan lain-lain) Industri perkapalan seperti galangan kapal. pada kegiatan industri ini menghasilkan limbah dari kapal yang dibuang langsung ke laut tanpa pengelahan sehingga merusak biota laut dan juga menyebabkan menurunya kualitas air. h. Industri kepelabuhanan seperti perawatan/perbaikan perahu (boat). limbah dari darat yang terbawa melalui aliran sungai. Pada aktivitas industri ini menghasilkan sisa-sisa kegiatan operasional kapal-kapal ikan (misalnya: bahan baker dan oli pelumas). Fishing. dan lain-lain) - Industri rumah tangga seperti limbah domestik (cair/padat). Docking kapal-kapal ikan. deterjen. melihat LumbaLumba dan Pariwisata cruise baik jarak dekat (N. - Industri perikanan seperti penangkapan dan pengolahan ikan. pengalengan.

Cabang Benoa antara lain: Perda ttg : Baku Mutu Budidaya. 38 thn 1990 ttg Pencegahan Pencemaran oleh Wilayah.Kebijakan lokal yang telah dikeluarkan Pemerintah Daerah dalam menanggulangi pencemaran lingkungan seperti: Dinas Perikanan dan Kelautan antara lain: Perda No. Bali & JaTim ttg Pembatasan Jumlah Purseseine di Selat Bali. Daerah Provinsi Nangroe Aceh Darussalam Terdapat beberapa aktifitas industri maritim antara lain: Industri perikanan seperti cold storage (saat ini tidak beroperasi karena terkena bencana gempa dan tsunami). 3 thn 1985 ttg Perlindungan Ikan. & telah dibentuknya AMDAL DepHub di Tingkat Pusat. COD. Pelabuhan Indonesia. 367 & 604 tahun 1992 Gub. jumlah biotic dan bakteri sehingga menyebabkan perubahan kualitas perairan dan dapat merusak ekosistem. 151 thn 2000 ttg Standar Baku Mutu Lingkungan. mengakibatkan menurunya kualitas lingkungan dan menyebabkan rendahnya kesehatan masyarakat setempat dan akan menyebabkan konflik sosial. dan Perda No. Pada kegiatan industri ini menghasilkan limbah tetapi belum mencemari lingkungan karena masih dapat dikelola secara domestik. dan Keputusan Menhub yang menetapkan bahwa setiap Pelabuhan Umum DUICS. Industri transportasi laut. 42 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . juga menyebabkan perubahan BOD. menyebabkan peningkatan kekeruhan air. dan Pengelolaan Lingkungan. SKB No. Kantor Administrator Pelabuhan Benda antara lain: Keputusan Menhub No. Pelsus diwajibkan Pembuatan AMDAL. dan DO. PT. i. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (BAPEDALDA) antara lain: Keputusan Gub. 3 thn 1985 ttg Perlindungan Ikan. pada aktifitas ini menghasilkan kotoran (kerak) dan pelumas yang bersal dari kapal. No. antara lain menetapkan baku mutu air laut untuk kegiatan budidaya & industri pariwisata. Baku Mutu Pariwisata.

serta konflik horizontal antar masyarakat. Langkah yang ditempuh 43 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Negara dan masyarakat di pesisir dan kepulauan Riau. persoalan di laut dan pesisir akan menjadi tumpang tindih dan bermuara pada kerusakan lingkungan dan kemiskinan dalam masyarakat. Oleh karenanya dibutuhkan perangkat hukum dan peraturan yang dapat menjamin interaksi antar sektor yang saling menguntungkan. Kasus penambangan ilegal pasir laut. institusi dan aparat pemerintah. lingkungan. Tumpang tindih peraturan itu membuat kegiatan penambangan membawa berbagai implikasi negatif bagi ekonomi. sehingga untuk menyelesaikan permasalahan ini diperlukan suatu badan hukum (badan khusus) yang menangani keselamatan dan keamanan di laut yang terdapat di wilayah yuridis dan untuk wilayah ZEE sudah menjadi tanggung jawab TNI AL. terutama nelayan yang menyandarkan diri pada kegiatan perikanan hampir selama 32 tahun menderita kerugian. Selama ini persoalan penegakan hukum dan peraturan di laut senantiasa tumpang tindih dan cenderung menciptakan konflik antar sektor pembangunan. kejaksaan.BAB 4 PERMASALAHAN DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN LAUT 4. Tanpa itu semua. sosial. dan pengadilan dalam pembangunan kelautan sangat penting dan strategis. Contoh muktahir dari pentingnya peran hukum dalam pembangunan kelautan adalah kasus pencurian pasir laut dan pencurian ikan di wilayah laut Indonesia. seperti TNI. Polri.1 Implementasi dan Penegakan Hukum (law enforcement) Bidang Kelautan Harus diakui dalam pengimplementasian dan penegakkan hukum (law enforcement) bidang kelautan di Indonesia masih lemah. Pemerintah telah mengambil langkah-langkah strategis untuk meminimalkan sisi kerugian akibat kegiatan penambangan pasir yang tidak terkendali itu. merupakan contoh kasus dari persoalan tumpang tindihnya peraturan dan kebijakan. Hal ini mengingat banyak kasus yang terjadi dalam pembangunan kelautan dilatarbelakangi oleh persoalan hukum. dan politik. Untuk penegakan hukum lingkungan laut belum jelas dan terjadi carut marut . seperti yang ada di negara USA dan Jepang terdapat suatu badan yang bertugas yaitu Coast Guard yang sesuai dengan aturan internasioanal (TZMKO). Peran aparatur penegak hukum. Terdapatnya perangkat hukum membutuhkan aparatur penegak hukum yang memiliki komitmen untuk menegakkan peraturan.

Pemangkat. TP4L secara bertahap berhasil meminimalkan praktik ilegal dalam penambangan pasir melalui koordinasi dengan aparat penegak hukum seperti TNI AL dan polisi. Proses tersebut selanjutnya dilakukan dengan membawa pelaku pencurian ke pengadilan melalui bekerja sama dengan pihak kejaksaan agar tuntutan hukum atas perkara pelanggaran di bidang perikanan dapat diberikan sanksi yang setimpal dan prosesnya cepat.KP.33 Tahun 2002 tentang pengendalian dan pengawasan pengusahaan pasir laut. Dalam keppres itu disebutkan pula tentang pembentukan Tim Pengendali dan Pengawas Pengusahaan Pasir Laut (TP4L) yang diketuai oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI. Dalam mengemban tugas yang diamanatkan. Inpres ini kemudian diperkuat dengan Keppres No. Pemasangan alat komunikasi dilakukan di pusat-pusat perikanan seperti Pekalongan. melainkan juga harus melibatkan masyarakat.oleh pemerintah adalah menerbitkan Inpres No. Kapal-kapal yang ditangkap kemudian dibawa ke pengadilan. mengingat hampir 22 tahun kegiatan ilegal ini tidak tersentuh oleh hukum. Tugas dari TP4L ini adalah mengawasi dan pengendali pengusahaan pasir laut. dan TNI-AL. Begitu pula halnya dengan masalah praktek penangkapan ikan secara ilegal. Kendar yang dihubungkan ke pusat pemantauan Dep. Tentunya kegiatan pengendalian penangkapan ikan tidak dapat dilakukan oleh aparat pemerintah saja. telah terpasang 15 set alat 44 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . DKP telah mengembangkan Sistem Pengawasan Masyarakat (SISWASMAS) yang disosialisasikan ke beberapa daerah. khususnya yang beroperasi di perairan ZEEI. Sehingga informasi pelanggaran terutama oleh kapal penangkap ikan ilegal dapat diketahui dan diteruskan kepada aparat penegak hukum di laut. meski pada tahapan ini. Belitung. Pemerintah telah mengantisipasi praktek tersebut lewat penegakan hukum di wilayah laut. Garis besar Inpres tersebut menginstruksikan kepada pejabat negara terkait untuk berkoordinasi dalam pengawasan dan pengendalian penambangan pasir.2 Tahun 2002. proses peradilan belum optimal memberikan sanksi yang berat bagi kegiatan illegal ini. Dalam rangka penegakan hukum ini dilakukan koordinasi dengan pihak aparat hukum seperti kepolisian. Berkaitan dengan hal itu. Namun kemampuan membawa pelaku ini merupakan langkah yang baik sekali. Pada tahun 2001.

Begitu pula sanksi hukum bagi perusak lingkungan terlalu ringan. dan juga aktivitas penambangan karang untuk bahan bangunan. Selain itu akibat kebijakan sektor-sektor perekonomian tersebut tidak berorientasi atau tidak berkoordinasi dengan sektor kelautan. 4. Memang. Fakta ini merupakan bukti lemahnya penegakan hukum. tetapi juga nelayan-nelayan modern. baik pemerintah. Beberapa contoh dapat dilihat seperti terjadi benturan kepentingan antara pemanfaatan sumberdaya kelautan dengan kegiatan konservasi lingkungan. Lemahnya koordinasi ini diakibatkan oleh belum adanya sistem atau lembaga yang mampu mengkoordinasikan setiap kegiatan pengelolaan sumberdaya kelautan. Akibatnya.komunikasi. serta perangkat sistem komputer database yang dioperasikan secara Wide dan Local Area Net. swasta. reklamasi pantai. dan seterusnya. dan nelayan-nelayan asing yang banyak melakukan pencurian ikan di perairan nusantara. yang tidak hanya dilakukan oleh nelayan tradisional. sektor kelautan yang memiliki keterkaitan ke depan (forward linkage) dan ke belakang (backward linkange) dengan sektor-sektor perekonomian lainnya tidak tumbuh dan berkembang secara optimal. Kurangnya koordinasi antar pelaku pengelola terlihat dalam berbagai kegiatan pembangunan di kawasan pesisir dan laut yang dilakukan secara sektoral oleh masing-masing pihak. Masih maraknya kegiatan bersifat destruktif. permasalahan lain yang dihadapi dalam pengelolaan sumberdaya kelautan adalah kurangnya koordinasi dan kerja sama antarpelaku pembangunan dan sekaligus pengelola di kawasan tersebut. antara pemanfaatan sumberdaya secara optimal dan lestari dengan pemanfaatan sumberdaya secara maksimal untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Sehingga sektor-sektor perekonomian lain yang terkait tersebut juga tidak tumbuh dan berkemban secara optimal dan berkelanjutan. seperti bagi pengguna bahan-bahan peledak. dan masyarakat. kegiatan pariwisata yang kurang bertanggungjawab. bahan beracun (cyanida).2 Permasalahan Konflik Pemanfaatan dan Kewenangan 45 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim .

Sektor pariwisata bertujuan meningkatkan jumlah wisatawan yang melakukan snorkelling dan scuba diving. Penyebab utama dari konflik tersebut. Perbedaan tujuan. Setiap pihak yang berkepentingan mempunyai tujuan. Fenomena konflik tersebut sebenarnya sudah lama ada. Tumpang-tindih perencanaan dan kompetisi pemanfaatan sumber ini memicu munculnya konflik pemanfaatan antar berbagai pelaku dan konfik kewenangan antar instansi yang berkepentingan. dilakukan observasi di Sulawesi Utara. Untuk melihat fenomena tersebut menjadi kenyataan. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut. Di perairan Taman Nasional Bunaken. sasaran dan rencana tersebut mendorong terjadinya konflik pemanfaatan sumberdaya (user conflict) dan konflik kewenangan (jurisdictional conflict). sektor perikanan bertujuan meningkatkan produksi ikan tangkap. adalah karena tidak adanya aturan yang jelas tentang penataan ruang pesisir dan lautan dan alokasi sumberdaya yang terdapat di kawasan pesisir dan lautan. tetapi makin lama makin banyak jumlahnya dan makin besar skala konfliknya. dan rencana untuk mengeksploitasi sumberdaya pesisir. target. konflik antara kepentingan untuk konservasi dengan pariwisata di Taman Laut Kepulauan Seribu. sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.Dalam banyak kasus. konflik nelayan tradisional dengan trawl. untuk melihat apakah ada tumpang tindih 46 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Pengembang bertujuan membangun kota pantai Manado yang bisa menikmati keindahan Pulau Manado Tua dan Bunaken. Perencanaan dari berbagai sektor ini sering tumpang-tindih dan masing-masing berkompetisi memanfaatkan ruang yang sama. Pada dasarnya hampir di seluruh wilayah pesisir dan lautan Indonesia terjadi konflik-konflik antara berbagai kepentingan. sehingga berkembang konflik penggunaan ruang di wilayah pesisir dan lautan karena belum adanya tata ruang yang mengatur kepentingan berbagai sektor yang dapat dijadikan acuan oleh segenap sektor yang berkepentingan. pendekatan pembangunan sektoral tidak mempromosikan penggunaan sumberdaya pesisir secara terpadu dan efisien. masing-masing pihak menyusun perencanaan sendiri-sendiri. Sebagai contoh adalah konflik penggunaan ruang yang terjadi di Pantai Indah Kapuk Jakarta yaitu ruang untuk konservasi mangrove dengan pembangunan lapangan golf dan pemukiman mewah. sementara Balai Pengelola Taman Nasional Laut Bunaken ingin mengkonservasi keanekaragaman hayati lautnya (Manado Post 1997). Penekanan sektoral hanya memperhatikan keuntungan sektornya dan mengabaikan akibat yang timbul dari atau terhadap sektor lain.

Sehingga timbul kerancuhan (ambiguity) bahwa disatu sisi SD pesisir dianggap milik kelompok penduduk (common property). pengelola TNL Bunaken. seperti dikucilkan dari pergaulan hidup sehari-hari. nelayan serta pengembang reklamasi pantai di Teluk Manado. 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia. Konflik antara nelayan tradisional dengan pengusaha budidaya mutiara di perairan Pulau Talise. Dalam kesadaran nelayan. Dalam skala tertentu pemerintah membiarkan kelompok masyarakat pesisir untuk mengelolanya. di lokasi yang diperkirakan konflik terjadi dan korelasinya dengan kondisi SD pesisir sekitarnya.atau kesenjangan antara maksud. Demikian juga ketika ditanyakan mengenai cara penyelesaian konflik. Diikuti dengan in depth interview terhadap key respondents. Kerancuan pemilikan dan penguasaan sumberdaya pesisir (ambiguity of property regimes) ini mendorong timbulnya konflik kewenangan ( jurisdictional conflict) dan konflik pemanfaatan (user conflict). sasaran dan rencana masing-masing instansi swasta dan masyarakat. UU No. Konflik pemanfaatan lain pernah terjadi di Makassar antara nelayan dengan pemerintah kota. Tetapi secara dejure. Ketika kepada mereka diajukan pertanyaan-pertanyaan hipotetis tentang hukum yang akan dijadikan dasar penyelesaian konflik. Memang belum ada pengalaman bagaimana sanksi dijatuhkan apabila ada di antara nelayan yang melanggar kebiasaan turuntemurun tersebut. pihak yang berkepentingan sering kurang jelas dalam menjabarkan konsep pemilikan dan penguasaan SD pesisir dan kurang memperhatikan sistem pengelolaan yang bersifat tradisional. meskipun tidak ada ketentuan hukum tertulis yang mengatur mereka dalam hubungannya dengan bagang. penduduk pesisir setempat merasa bahwa lahan dan SDK kelautan disekitarnya adalah milik mereka. segenap responden menjawab bahwa dasar itu adalah kebiasaan turun-temurun. termasuk pada aktivitas di laut. Berdasarkan studi tersebut dapat ditemukan bahwa konflik pemanfaatan SD pesisir dan jasa lingkungan ( marine resources and environmental amenities) muncul di Teluk Manado dan daerah pesisir lainnya di Sulawesi Utara. tujuan. Salah satu masalah mendasar. mereka berpendapat bahwa pertama-tama akan diusahakan diselesaikan di antara mereka yang berkonflik. yang dikelola secara tradisional turun temurun. jika konfliknya 47 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Konflik antara pengelola pariwisata. Secara defacto. tetapi disisi lain dianggap milik pemerintah (state property). tetapi secara hipotetik mereka yakin si pelanggar kebiasaan akan menerima sanksi dari masyarakat. menyatakan seluruh sumber kekayaan alam yang terdapat dalam perairan Indonesia adalah milik pemerintah pusat. baru kemudian melibatkan pihak lain sebagai juru damai. tetapi kebiasaan turuntemurun merupakan sesuatu yang pantang untuk dilanggar.

Secara konseptual. Dalam kasus ini Pemerintah Daerah merasa bahwa daratan pulau-pulau di perairan Bunaken serta masyarakatnya di bawah kewenangan Pemda Sulut. Jika tidak maka pihak lain (intruders) yang mengangap sumberdaya tersebut open access akan mengeksploitasinya. 4. Investor tersebut mengeksploitasi sumberdaya wilayah pesisir ini untuk memenuhi kepentingannya atau mendapatkan keuntungan jangka pendek.berlanjut.q. dapat disebut negosiasi dan mediasi. Lebih jauh. Konflik kewenangan muncul antara pemerintah Pusat c. terutama sejak ditetapkannya perairan pulau-pulau Bunaken menjadi Taman Nasional Laut (TNL) tahun 1991. Seterusnya. maka kewenangan pengelolaan sumberdaya hayati lautnya berada di bawah Departemen Kehutanan. setelah pulau-pulau Bunaken ditetapkan sebagai Taman Nasional. Tidak 48 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . mengindikasikan bahwa dalam benak para nelayan. 5/1974. para responden berkeyakinan bahwa konflik akan selesai. ternyata tidak berarti otomatis dapat tergantikan oleh institusi formal dari negara. Meskipun institusi tradisional sudah runtuh.3 Permasalahan Ketidakpastian Hukum Ketidakpastian hukum sering terjadi karena adanya ambiguitas pemilikan dan penguasaan sumberdaya pesisir.q. Jawaban hipotetik tersebut. Ditjen PHPA dengan Pemerintah Daerah c. Dinas Pariwisata di TNL Bunaken. sehingga Pemerintah memberikan izin pemanfaatan kepada pihak investor yang memenuhi persyaratan. tetapi berdasarkan UUD 45 pasal 33 menyatakan bahwa semua sumberdaya termasuk sumberdaya perairan Indonesia adalah milik pemerintah (state property). penyelesaian melalui pengadilan merupakan suatu alternatif yang hampir tak terpikirkan. jawaban hipotetik itu dapat juga diberi makna bahwa masyarakat nelayan secara kultural sesungguhnya memiliki cara tersendiri dalam mengelola dan menyelesaikan konflik yang muncul di tengah-tengah mereka. Biasanya sumberdaya pesisir dianggap tanpa pemilik (open access property resources). paling jauh pada tingkat kedua (melibatkan juru damai). sesuai dengan UU RI No. Konflik kewenangan semakin berkembang di propinsi Sulawesi Utara dan derah lainnya. Negosiasi merupakan salah satu bentuk penyelesaian konflik melalui pembicaraan langsung. sedang mediasi melalui pembicaraan tidak langsung atau dengan bantuan pihak ketiga. Namun di pihak lain. cara penyelesaian konflik yang dikemukakan responden tersebut.

propinsi. kewenangan penataan ruang laut harus diatur dengan UU (Pasal 9) dengan kewenangan terbesar ada pada pemerintah pusat (sentralistik). 22 Tahun 1999 serta merta menyerahkan kewenangan penataan ruang laut (sejauh 12 mil) sepenuhnya ke daerah (Pasal 10). masyarakat lokal di berbagai wilayah pesisir. Konflik antara UU versus hukum adat terjadi pada persoalan status wilayah perairan pesisir dan laut. Di dalam UU No. Sebaliknya. konflik antara berbagai tingkatan pemerintahan (pusat. 24 Tahun 1992 dan UU No.ada insentif bagi investor untuk melestarikannya. Ketidakpastian pemilikan dan penguasaan sumberdaya ini melemahkan mekanisme pengelolaan yang bersifat tradisional dan mendorong terjadinya pemanfaatan sumberdaya yang bersifat open access. 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia. Sebaliknya. Sebagai contoh dapat disebut UU No. secara substansial. Salah satu contoh dari peraturan pelaksanaan yang tidak konsisten itu adalah peraturan yang berkaitan dengan 49 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . di antaranya. yang seharusnya memberikan kepastian bagi instansi-instansi pemerintah dan masyarakat. tetapi juga mengakui hak-hak ulayat (common property) atau memberikan konsesi pengelolaan kepada masyarakat adat yang melestarikan sumberdaya pesisir dan mereka berhak untuk mendapatkan incremental benefit dari upaya mereka melestarikannya. 22 Tahun 1999. 24 Tahun 1992. Untuk itu pemerintah perlu mengatur mekanisme pemanfaatan sumberdaya pesisir di wilayah yang menjadi state property. Ironisnya pemberlakuan berbagai undang-undang lainnya yang memberikan mandat bagi instansi pemerintah dan izin pengelolaan bagi swasta membuat sumberdaya tersebut diklaim sebagai milik pribadi (quasy private property). dan kabupaten/kota) serta konflik pemanfaatan antara pengguna sumberdaya dari daerah yang berbeda (misalnya. Di dalam UU No. yang terjadi justru sebaliknya. Selanjutnya dalam pasal 11 penataan ruang menjadi kewenangan wajib pemerintah kabupaten/kota. menganggap sumberdaya di sekitar desanya sebagai hak ulayat (common property) berdasarkan hukum adat yang telah ada jauh sebelum berdirinya Negara Indonesia. status perairan pesisir dan laut. Perubahan yang terlalu ekstrim tersebut berpotensi besar menimbulkan konflik kewenangan baru. konflik antara nelayan Jawa Tengah dan Jawa Timur). UU No. merupakan milik negara (state property). Selain itu norma-norma hukum yang ada dalam berbagai undang-undang. Bentuk ketidakpastian hukum yang lain adalah peraturan pelaksanaan yang tidak konsisten dan ketiadaan peraturan hukum sama sekali (kekosongan hukum). sehingga dalam pemanfaatan sumberdaya pesisir terjadi the tragedy of commons.

Di dalam UU No. sementara substansi dari peraturan tersebut adalah desentralisasi pemberian perijinan tambang kepada daerah. yang menuangkan tentang tata cara memperoleh perijinan pertambangan di era otonomi. Produk peraturan perundang-undangan yang dihasilkan sekarang ini. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dinyatakan bahwa di kawasan hutan lindung dilarang melakukan penambangan dengan pola pertambangan terbuka. yang sifatnya masih sentralistik belum dicabut. hak ulayat (termasuk hak ulayat laut) diakui eksistensinya (Pasal 3).hak ulayat. 11 tahun 1967) beserta peraturan organik lainnya. sebab KepMen tersebut juga memuat UU No. seperti Kepmen 1453 tahun 2001 tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan Tugas Pemerintahan di Bidang Pertambangan Umum. KepMen tersebut terasa ganjil karena masih menggunakan UU No. sebab selain mempunyai nilai ekonomi yang relatif tinggi juga berkaitan dengan kelestarian sumberdaya wilayah pesisir. Sementara itu. penguasaan bagian-bagian tertentu dari wilayah pesisir untuk usaha budidaya laut dan pengelolaan pulau-pulau kecil. Disisi lain UU Tentang Pertambangan (UU No. Kekhawatiran ini sebetulnya tidak perlu terjadi jika konsisten dalam membuat kebijakan-kebijakannya. Kemudian dilanjutkan dengan keluarnya PP No No 75 tahun 2001 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah No 32 Tahun 1969 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang No 11 tahun 1967 Tentang 50 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . 22 tahun 1999 sebagai dasar hukum. yang hingga saat ini belum ada peraturannya sama sekali. 24 Tahun 1998). pada pasal 18 memegang peran yang penting dalam pengelolaan perikanan. masih banyak terdapat over lap/tumpang tindih pada sektor-sektor terkait dalam kewenangannya menjalankan tugas pokok dan fungsinya. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. 11 tahun 1967 sebagai dasar hukum. Misalnya. Padahal. Perundang-undangan yang ada seperti dapat dikemukakan di bawah ini: a. pada kenyataannya. tetapi peraturan pelaksanaannya justru mengingkarinya (PP No. 5 Tahun 1960. Sebagaimana diketahui dalam pasal 38 ayat (4) UU No. Saat ini masih terlihat ketidakjelasan pengaturan masalah hukum di Indonesia. kedua kegiatan tersebut sangat memerlukan perlindungan hukum. kekosongan hukum juga telah menyebabkan ketidakpastian hukum.

dilaksanakan dalam rangka tercapainya kepastian dan perlindungan hukum serta keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam pasal 42 pada PP tersebut dinyatakan bahwa setiap orang dilarang membuang limbah padat. termasuk tailing ke dalam air dan atau sumber air. Mereka menanggapi 51 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . para pelaku tambang yang tergabung dalam Asosiasi Pertambangan Indonesia (IMA) menyambut dengan penuh antusias. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. pemilikan. Ironisnya. 41 Tahun 2004 belum menjawab masalah tumpang tindih kegiatan pertambangan terbuka di kawasan hutan lindung.Ketentuan . Dengan keluarnya Perpu No. b. Sebuah kebijakan untuk melegitimasi dan mempercepat investor tambang melanjutkan operasinya yang sempat terganjal oleh UU No. ditengah hujan kritik atas keluarnya Perpu itu tiba-tiba pemerintah mengeluarkan Keppres No. Kebijakan yang dihasilkan saat ini lebih mengedepankan kepentingan investasi sementara keberlanjutan lingkungan diabaikan. oleh karena itu IMA mendesak pemerintah segera merevisi PP tersebut. Seperti tailing yang dikeluarkan oleh PT. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. penguasaan. 41 tahun 2004.Ketentuan Pokok Pertambangan. Keberadaan PP No. 1 Tahun 2004 dan Keppres No. Padahal tailing belum tentu mengandung bahan berbahaya atau beracun. 11 tahun 1967 dengan UU No 22 tahun 1999. Kasus terakhir adalah keluarnya Perpu No 1 tahun 2004. baik berwujud lumpur atau slurry. Setali tiga uang dengan Kepmen 1453 terdahulu PP ini juga dibuat sebagai tali penyambung antara UU No. Padahal dengan adanya TAP MPR No IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam telah mengamanatkan perlunya penataan kembali. penggunaan dan pemanfaatan sumber daya agraria. Freeport Indonesia yang ternyata malah bisa ditanami berbagai macam tumbuhan. 82 tahun 2001 akan menghambat masuknya investasi di sektor pertambangan. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Air dan Pengendalian Pencemaran Air Indonesia Mining Association (IMA) mengecam lahirnya PP No. Keluarnya Keppres tersebut. Tentu kebijakan-kebijakan kontroversial yang dikeluarkan selama ini sangat bertolak belakang dengan “propaganda” bahwa upaya untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi harus sejalan dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.

41/1999 tentang Kehutanan yaitu mendesak untuk dimasukkan klausul diperbolehkannya menambang di kawasan hutan lindung ataupun konservasi. IX/MPR/2001. 8/1971 tentang Pertamina. Dalam kaitan dengan pengelolaan sumber daya alam. maka pemerintah memandang perlu untuk segera membuat RUU Pertambangan Umum. c. Rantap Rancangan Undang-Undang Pengeloaan Sumber Daya Alam Salah satu keputusan penting yang dihasilkan dalam sidang tahunan MPR RI tanggal 1-10 Nopember 2001 adalah ditetapkannya rantap RUU PSDA melalui Ketetapan MPR No. dimana UU Pertambangan termasuk salah satu yang harus dirubah. 15 Tahun 1962 tentang Penetapan PP Pengganti UU No. Meskipun begitu beberapa pihak menyayangkan karena pada keputusan Rantap PSDA 52 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . yaitu UU No. d. Indonesia Mining Association (IMA) juga menentang Pasal 38 UU No. ketimpangan dan ketidakadilan sosial ekonomi. 41/2004 itu. Demikian juga masalah kebijakan pengelolaan SDA yang tumpang tindih. 44 Prp Tahun 1960 tentang Pertambangan Migas dan UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. "Keppres tersebut membuat iklim investasi di sektor pertambangan kita jadi menggairahkan kembali. serta kerusakan sumber daya alam yang selama ini terjadi. Paling tidak diperlukan pembentukan banyak peraturan perundangundangan yang bersifat baru maupun penyempurnaan sebagaimana dapat dilihat dalam matriks UU No. Tap ini dimaksudkan sebagai jawaban untuk mengatasi masalah kemiskinan. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional. 22 tahun 1999 menjadi kebutuhan mendesak karena UU tersebut telah merubah sistem pemerintahan yang sentralistik menjadi desentralistik. 2/1962 tentang Kewajiban Perusahaan Minyak Memenuhi Kebutuhan Dalam Negeri.positif keluarnya Perpu No. UU migas baru pun menggantikan satu lagi UU. Rancangan Undang-Undang Pertambangan Setelah dikeluarkannya UU No. dan UU No. 8/1971 tentang Pertamina. Permasalahan lain juga dapat terlihat pada UU No. 22 Tahun 2001 tentang Migas yang terbit 23 November 2001 membuka pintu liberalisasi bisnis migas di hilir yang selama ini terproteksi oleh privilege Pertamina yang diberikan oleh UU No. maka pembuatan peraturan perundangundangan di Indonesia setelah keluarnya UU No. 1/2004 yang ditindaklanjuti dengan Keppres No.

Departemen Kehutanan berwenang melakukan pengelolaan pada sebagian besar kawasan lindung dan spesies langka. Contohnya. dengan hukuman sampai 5 tahun penjara atau maksimal Rp 100 juta. UU 24/1992 pasal 3 ayat 2 menyebutkan bahwa tujuan rencana tata ruang adalah untuk meningkatkan pemanfaatan sumberdaya alam dan buatan. Hal ini menunjukkan dua hal yang sangat bertolak belakang. UU 41/1999 menghalalkan pemanfaatan sumberdaya mangrove. Di satu pihak. dan untuk kelalaian dengan hukuman satu tahun atau denda Rp 50 juta. Sebagai contoh. UU 5/1990 memberikan serangkaian tindakan untuk pelanggaran yang dilakukan secara sengaja dalam mengambil atau melukai satwa liar. konflik peraturan-perundangan juga kerap ditemukan. Kekuatan sanksi dalam undangundang ini lebih besar dibandingkan yang dilakukan dalam UU 5/1990. Pengelolaan tata ruang pun ditemukan tidak konsisten dalam dua peraturan perundangan. UU 5/1994. Contohnya. tujuan rencana tata ruang disebutkan untuk meningkatkan penggunaan sumberdaya. sedangkan Departemen Kelautan dan Perikanan bertanggung jawab terhadap keberadaan spesies laut. Contoh permasalahan lain dapat terlihat dalam kewenangan dan peran institusi dengan jelas dapat ditemukan pada pembagian kewenangan sumberdaya laut dan konservasinya. Penafsiran terminologi yang berbeda-beda juga sering ditemukan. sedangkan UU 23/1997 pasal 4 menegaskan bahwa tujuan pengelolaan lingkungan hidup adalah melakukan pengawasan terhadap eksploitasi terhadap sumberdaya secara bijaksana. sementara pihak lainnya mengisyaratkan tindakan pengawasan. Tidak ada integrasi konseptual yang memadai antara keduanya. UU 41/1999. 53 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Dalam pengelolaan secara sektoral. Ketidakjelasan penegakan hukum yang berbeda juga kerap terjadi. yaitu UU 23/1997 dan UU 24/1992. Sementara UU 9/1985 pasal 24 menjatuhkan denda sebesar Rp 100 juta atau hukuman penjara 10 tahun untuk segala bentuk pelanggaran pasal 6 ayat 1 atau 7 ayat 1 tentang pelarangan memancing dengan peralatan atau metode yang dapat melukai ikan dan larangan pengerusakan habitat sumberdaya ikan. pengertian tentang kawasan lindung ditemukan berbeda-beda dalam UU 5/1990. dan UU 24/1992. Sementara UU 9/1985 justru melarang pengrusakan habitat yang menjadi sumberdaya ikan ini. UU 9/1985.masih terdapat kekurangan seperti penyatuan Agraria dan PSDA.

Pemerintah Daerah: a. untuk memudahkan dan agar dapat dijadikan acuan hukum yang berlaku maka perlu penjabaran Konvensi-konvensi Internasional ke dalam kebijakan atau peraturan nasional. untuk kelembagaan yang terlibat langsung pada penanganan masalah lingkungan (selain Kementerian Lingkungan Hidup) perlu penindakan yang tegas dari pemerintah apabila terdapat suatu lembaga yang tidak menjalankan program kegiatannya yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku sehingga mengakibatkan pencemaran lingkungan. Sumberdaya manusia belum mencukupi. b. 54 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim .1 Kebijakan Pemerintah Pusat dan Daerah Faktor yang perlu mendukung dalam menyelesaikan masalah pencemaran ini antara lain perlu keterpaduan dan keselarasan pada kebijakan/peraturan yang sudah ada dan perlu ketegasan dari pemerintah untuk menyelesaikan masalah kebijakan/peraturan yang over lap atau yang bersinggungan antara instansi-instansi terkait pada pengelolaan sektor kelautan. Pada UNCLOS 1982 terdapat Bab mengenai Negara Kepulauan yang sangat penting bagi Indonesia tetapi tidak disebutkan pada UU RI Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan UNCLOS. Sumberdaya manusia yang ada belum/tidak sesuai dengan bidangnya. dan belum siap untuk menangani pencemaran lingkungan. Selain faktor di atas. Dalam menangani masalah pencemaran lingkungan yang masih terjadi. SDM Sumberdaya manusia dan laboratorium belum memadai Sumberdaya manusia yang ada masih kurang. Masyarakat Kesadaran masyarakat untuk melestarikan lingkungan dan pembangunan yang berkelanjutan masih rendah. seperti batasan waktu untuk klaim batas landas kontinen Indonesia. terdapat kendala yang dihadapi oleh Pemerintah Pusat dan Daerah antara lain: I. dalam hal ini pasal-pasal yang perlu dijabarkan adalah pasal-pasal yang mempunyai pengertian khusus atau mensyaratkan jangka waktu untuk dipenuhinya bagi kepentingan negara. baik kualitas maupun kuantitasnya.BAB 5 KEBIJAKAN STRATEGIS PENGELOLAAN LINGKUNGAN LAUT 5.

atau rawa): KLH: Masih banyak kawasan konservasi yang tidak dikelola dengan baik. II. e. masih terjadi dan sulit untuk ditertibkan di kawasan konservasi darat. Reklamasi (termasuk pembuatan tempat-tempat rekreasi di wilayah pesisir. yaitu dengan menggunakan bom. Potensi SDA pulau-pulau kecil masih banyak yang belum dimanfaatkan secara optimal. seperti taman nasional. Tidak adanya koordinasi antar instansi terkait dalam pengelolaan keanekaragaman hayati laut. pengangkutan limbah B3 dan zat radioaktif / perpindahan lintas batas limbah B3): KLH: Alamat importir & eksportir B3 dan limbah B3 tidak diketahui (illegal) sehingga sulit dilacak Penyimpanan dan pengangkutan B3 tidak mengikuti tata cara dan persyaratan yang diatur Lokasi pengelolaan B3 tidak sesuai dengan persyaratan yang diatur c. Illegal mining / Penambangan Tanpa Izin (PETI) : Departemen Kehutanan: Kegiatan PETI. dan lain-lain. cagar alam. c. serta fasilitas yang berkaitan dengan pencemaran lingkungan masih kurang. Arogansi daerah dalam mengurus perizinan. PAD rendah ini disebabkan karena rendahnya ekonomi masyarakat sehingga banyak nelayan yang mengambil jalan pintas untuk menangkap ikan. dan lain-lain. Daerah Aliran Sungai / DAS. batu bara. Kurangnya dana yang ada untuk menangani pencemaran lingkungan. Pemerintah Pusat: a. seperti emas. Kegiatan pelayaran / angkutan laut (termasuk wisata bahari / kapal pesiar. d. Sarana dan prasarana. f.Masyarakat belum mengetahui tentang Perda yang berlaku yang terkait dengan lingkungan. hutan lindung. b. walaupun ada sebagian potensi SDA pulau-pulau kecil yang telah 55 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . nikel.

hotel. dan Pembangunan kawasan industri di wilayah pantai umumnya kurang memperhatikan status lahan yang merupakan kawasan hutan. sehingga sering berbenturan dengan DepHut. d.dimanfaatkan (eksploitasi bahan tambang dan mineral) tapi masih sangat kurang memperhatikan pertimbangan unsur pengelolaan lingkungan dan keberlanjutan pulau Pembangunan infrastruktur ekonomi dan social baik di wilayah pesisir dan khususnya pulau-pulau kecil masih sangat kurang diperhatikan Kurangnya komitmen pemerintah dalam pembangunan pulau-pulau kecil Kegiatan penambangan pasir laut dilarang di dalam kawasan konservasi laut (Taman Nasional Laut. tapi pembangunan industri tersebut kurang memperhatikan status kawasan konservasi laut. sehingga sering berbenturan dengan DepHut. perkantoran. Limbah domestik (domestic waste yang masuk ke perairan melalui saluran air atau sungai) yang antara lain berasal dari permukiman. Kegiatan reklamasi pada daerah pantai yang berstatus kawasan hutan harus mengacu pada UU No. Kegiatan reklamasi pantai tidak diperkenankan dilakukan di dalam kawasan konservasi laut dan perlu dikaji secara mendalam karena akan berpengaruh terhadap ekosistem terumbu karang. 41 thn 1999. 56 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim Departemen Kehutanan: - . dan limbah industri dan limbah rumah sakit / laboratorium: Departemen Kehutanan: Pembangunan kawasan industri di wilayah pantai umumnya kurang memperhatikan status lahan yang merupakan kawasan hutan. Kegiatan reklamasi pantai untuk perumahan tidak diperbolehkan di kawasan konservasi. Pemerintah daerah saat ini sedang berambisi untuk membangun kawasan industri perikanan. restaurant dan tempat rekreasi. sehingga sering berbenturan dengan fungsi konservasi kawasan. Taman Wisata Laut. Suaka Margasatwa Laut dan Cagar Alam Laut).

Pembangunan pelabuhan banyak terkait dengan kawasan hutan pantai yang berfungsi sebagai kawasan lindung. Kegiatan tambak secara komersial tidak diizinkan di dalam kawasan konservasi. f. termasuk limbah dari tambak. Eksploitasi hutan (Illegal logging. penggunaan kawasan hutan untuk pelabuhan): Departemen Kehutanan: Pembangunan kawasan industri di wilayah pantai umumnya kurang memperhatikan status lahan yang merupakan kawasan hutan. Limbah pertanian / perkebunan (dari penggunaan bahan kimia pada aktifitas tani di hulu). Kawasan konservsi yang berdekatan dengan main land sering mendapat kiriman sampah domestik/sampah seperti Taman Nasional Bunaken dari Kodya Manado. sehingga berbenturan dengan konsep konservasi. sehingga sering berbenturan dengan DepHut. 57 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Departemen Kehutanan: Kegiatan pembangunan tambak kurang memperhatikan status kawasan hutan yang berada di wilayah pesisir (hutan lindung maupun kawasan lindung. Kegiatan tambak di dalam kawasan hutan dikembangkan secara silvo fisheries (tambak empang parit). Bahan baku untuk pembuatan kapal masih sering dengan mengambil kayu dari dalam kawasan hutan secara illegal. pembukaan lahan hutan untuk pertambangan. e. termasuk kawasan konservasi lahan basah dan kawasan konservasi laut). Kawasan konservsi yang berdekatan dengan main land sering mendapat kiriman sampah domestik/sampah seperti Taman Nasional Bunaken dari Kodya Manado.- Kawasan konservasi yang berdekatan dengan main land sering mendapat kiriman sampah domestik/sampah seperti Taman Nasional Bunaken dari Kodya Manado.

Taman Wisata Laut. Perlu aparat yang memiliki integrasi dan tanggung jawab. Perdagangan hewan dan tumbuhan laut yang langka yang tidak terkendali Tidak adanya koordinasi antar instansi terkait dalam pengelolaan keanekaragaman hayati laut. dan Masih didapati izin penangkapan ikan dan penyu di dalam kawasan konservasi oleh pemerintah daerah. Pengambilan terumbu karang untuk ekspor masih dimungkinkan di alam dengan kuota.g. Pengambilan soft coral masih untuk diizinkan mangambil di alam karena teknologi transplantasi belum berhasil dengan baik. pengambilan terumbu karang untuk diekspor. Diperlukan penyusunan Undang-undang/peraturan tentang pencemaran lingkungan yang komprehensif. terdapat beberapa strategi yang perlu dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah: a. Kecepatan laju penurunan hutan mangrove dan kerusakan terumbu karang. penambangan pasir laut: KLH: Masih banyak kawasan konservasi yang tidak dikelola dengan baik. b. Dalam menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan yang terjadi. tapi diwajibkan untuk transplantasi koral. Departemen Kehutanan: Pengambilan terumbu karang tidak diperbolehkan di dalam kawasan konservasi laut (Taman Nasional Laut. Di dalam kawasan konservasi tidak diperbolehkan dilakukan izin penangkapan ikan maupun budidaya (komersial). 58 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Suaka Margasatwa Laut dan Cagar Alam Laut). Eksploitasi perikanan (illegal fishing/penangkapan ikan dengan pukat harimau/pemboman ikan/penangkapan ikan dengan racun). Perdagangan hewan dan tumbuhan laut yang langka yang tidak terkendali. Kegiatan reklamasi pantai tidak diperkenankan dilakukan di dalam kawasan konservasi laut dan perlu dikaji secara mendalam karena akan berpengaruh terhadap ekosistem terumbu karang.

e. Perlu adanya koordinasi dengan instansi terkait secara terpadu dan kontinyu.terbatasnya sarana prasarana sosial dan ekonomi (transportasi. Sedangkan faktor eksternal yang ikut mempengaruhi lambatnya pembangunan kelautan dan perikanan adalah khususnya yang terkait dengan kebijakan moneter. 5. i. terjadinya kerusakan lingkungan ekosistem laut yang disebabkan oleh pengeboman dan penambangan pasir. penegakan hukum masih lemah.2 Pengelolaan Potensi Laut Beberapa permasalahan yang selama ini dianggap sebagai faktor penghambat pelaksanaan pembangunan kelautan dan perikanan yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Perlu ada sosialisasi dari pemerintah kepada semua stakeholders yang terkait dengan indutri maritim. Perlu adanya penetapan zonasi pemanfaatan wilayah laut yang ditatapkan oleh daerah dan sesuai denga RUTW Propinsi / Kabupaten / Kota.c. sebagian besar struktur armada yang dimiliki masih didominasi struktur skala kecil dan tradisional (berteknologi rendah). Perlu penerapan industri yang ramah lingkungan f. harga dan pesaing. Perlu optimalisasi lembaga atau badan hukum yang ada di daerah berkaitan dengan pengelolaan lingkungan. d. h. Faktor Internal antara lain sebagian besar nelayan merupakan nelayan tradisional dengan karaktersitik sosial budaya yang belum kondusif untuk kemajuan usaha. pendidikan dan perumahan) dan lemahnya market intelligence yang meliputi penguasaan informasi tentang segmen pasar. masih banyaknya praktek illegal. Perlu adanya pendidikan khusus masalah lingkungan hidup. komunikasi. j. kesehatan. fiskal dan investasi seperti suku bunga pinjaman dan penyediaan kredit perikanan. Perlu deprogram melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk mengatasi pencemaran lingkungan. unregulated dan unreported fishing. Pelaksanaan pembangunan kelautan dan perikanan masa depan tentunya harus dapat menjawab 59 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Perlu adanya penegakan hukum / sangsi (law enforcement) bagi para pelanggarnya. Perlu ada peraturan/perundangan kemaritiman di Indonesia yang berpihak kepada masyarakat kecil. g. k. ketimpangan tingkat pemanfaatan stok ikan antara kawasan satu dengan kawasan lainnya.

baik asing maupun dalam negeri. program dan kebijaksanaan sendiri sehingga terjadi benturan kepentingan. pelatihan dan kemampuan khusus SDM. Masih kurang menarik minat penanam modal. tumpang tindih dan sering tidak searah. c. b. pembangkit energi. masing-masing departemen dan lembaga tersebut mempunyai perencanaan. Pemberdayaan kelautan saat ini dikelola oleh berbagai departemen dan lembaga yang berkaitan dengan potensi kelautan. sebagai lapangan kerja. pertambangan. transportasi. Melibatkan berbagai departemen dan instansi secara lintas sektoral yang memerlukan adanya koordinasi yang sebaik-baiknya. Laut di wilayah Indonesia tidak berdiri sendiri namun merupakan bagian laut seluruh dunia. Oleh karena itu Indonesia tidak dapat lepas dari peraturan-peraturan internasional mengenai kelautan. sarana khusus untuk menghadapi resiko alam dan keterlibatan masyarakat internasional dalam penggunaan laut untuk pemanfaatan ekonomi bersama. Dihadapkan kepada hambatan-hambatan teknis eksplorasi dan pengelolaannya. Terbatasnya sumberdaya manusia yang mampu memanfaatkan dan mendayakan potensi kelautan sesuai dengan perkembangan iptek mutakhir. investasi besar. pada pelaksanaannya di lapangan tidak semudah yang direncanakan. Di samping belum sebanding perhatian kita terhadap potensi laut yang kita miliki. Hal tersebut merupakan kendala dan peluang yang harus kita menangkan untuk kesejahteraan bangsa. Permasalahan lain yang ditemukan dalam pengelolaan potensi laut adalah pada kebijakan pemerintah yang telah dicanangkan. karena kita yakin laut menyimpan sumber alam sebagai sumber kehidupan bangsa pada masa mendatang.permasalahan permasalahan yang selama ini dianggap sebagai faktor yang menghambat proses pembangunan kelautan dan perikanan secara berkelanjutan. berkeadilan dan merata. kita juga masih menghadapi berbagai kendala dalam melaksanakan pembangunan di sektor kelautan di antaranya adalah: a. d. Namun perhatian dan investasi yang telah dilakukan terhadap potensi laut belum merupakan upaya yang optimal. 60 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Pengelolaan dan pemberdayaan laut memiliki ruang lingkup yang luas karena sarana dan prasarana untuk mengelola potensi laut memerlukan teknologi tinggi. wilayah hukum dan lain-lain. Berbagai jenis komoditi dan usaha yang dapat digali dari sumber daya laut telah dilakukan di antaranya pemanfaatan laut untuk perikanan.

Maka kepadatan penduduk sepanjang pantai ini pada gilirannya akan menyebabkan pengambilan kekayaan alam yang intesif dengan tingkat degradasi lingkungan yang tinggi dan masalahnya bertambah parah dengan meningkatkatnya pencemaran baik yang berasal dari darat maupun dari kapal atau kegiatan anjungan lepas pantai. industri maritim dan jasa maritim mempunyai ciri-ciri kelautan yang sama yaitu kegiatan bermedia kelautan yang seyogyanya mempunyai landasan kebijaksanaan yang saling mengait dan mendukung. cara penangkapan ikan yang merusak. Pengelolaan mempunyai pengertian yang berbeda dengan eksploitasi kekayaan laut karena di dalam kegiatan pengelolaan mencakup unsur pelestarian dalam arti bahwa pengambilan kekayaan laut itu dapat dilakukan secara berkesinambungan.Pengelolaan potensi laut yang meliputi pengelolaan hasil penangkapan ikan dan biota laut.2. Wilayah laut dengan pantai merupakan kawasan yang sangat menarik tempat konsentrasi hasil produk hasil bumi/daratan dan hasil laut yang paling produktif. Manifestasi dari ketidak seimbangan ini diwujudkan dalam pengambilan kekayaan laut yang berlebihan. 5. karena terletak di sepanjang garis khatulistiwa beriklim tropis yang panas. Dengan demikian pengelolaan tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri yang mungkin dapat terjadi perbenturan antar instansi dengan instansi lain. sumber daya alam. pengrusakan habitat. oleh karena itu untuk menghindari kewenangan sektoral yang mengkotak-kotakkan pembangunan kelautan dan menghindarkan pemborosan yang mungkin terjadi perlu adanya pengelolaan secara terpadu. konservasi dari pada jenis makhluk laut yang langka dan terancam serta pencemaran laut. lembab dengan curah hujan yang tinggi menjadikan pertemuan darat dan laut yaitu disepanjang pantai nusantara terbentang terumbu karang dan hutan bakau yang luas. Dengan ekosistem laut yang relatif terjaga kelestariannya menjadikan kawasan pantai menjadi kaya akan sumber daya untuk kehidupan manusia dan membawa manfaat ekonomi kepada penduduknya. Kawasan pantai dengan desa pesisir adalah kawasan dengan degradasi lingkungan yang tinggi perlu dipertahankan kelestarian lingkungan laut dan pesisirnya agar tetap bisa mendukung pengambilan kekayaan laut secara berkesinambungan. transportasi laut.1 Efektifitas Pengelolaan dan Pemberdayaan Laut Uraian permasalahan yang ditemukan dalam pengelolaan dan pemberdayaan potensi kelautan wilayah Indonesia dapat dikelompokkan sebagai berikut: 61 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Disini terdapat ketidakseimbangan antara kebutuhan untuk pembangunan di satu pihak dengan keperluan untuk melindungi kelestarian lingkungan di pihak lain.

Pengelolaan laut untuk pertahanan dan keamananan negara (hankamneg). industri dan jasa maritim. Kekuatan. kelemahan. d. peluang dan ancaman dapat diuraikan sebagai berikut: a. Peluang. laut Indonesia mengandung kekayaan alam beraneka ragam yang belum dikelola secara optimal untuk dimanfaatkan sebagai lahan mata pencaharian dan sumber kehidupan bangsa Indonesia pada masa mendatang. b. Ancaman. weakness (kelemahan). Pengelolaan transportasi laut. pemukiman pantai pesisir dan penelitian ilmiah kelautan. d. Pengelolaan sumberdaya ikan dan biota laut dilakukan dengan: 1) Memanfaatkan sumber daya penghasilan ikan dari usaha penangkapan maupun budidaya tidak melampaui kapasitas (overfishing). 62 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . kegiatan pembangunan laut menjanjikan terbukanya lapangan kerja bagi penduduk Indonesia yang jumlah tenaga kerjanya cukup besar sekali sekaligus diberdayakan untuk mengelola potensi laut untuk kesejahteraan bangsa. c. b. Pengelolaan sumber daya ikan dan biota laut. c. Pengelolaan laut untuk pelestarian lingkungan. e. posisi silang geografi negara kepulauan nusantara Indonesia menjadi lalu lintas komoditi kebutuhan manusia hidup didunia.a. Pengelolaan sumber daya minyak bumi dan mineral. Berdasarkan analisis terhadap permasalahan yang timbul dalam pembangunan kelautan dihadapkan kepada strengths (kekuatan). Sehingga perairan nusantara menjadi pengamatan / perhatian banyak negara karena kepentingan lalu lintas perdagangan dan ekonominya maka landas benua untuk menentukan batas wilayah laut juga merupakan sumber konflik di masa mendatang. Kelemahan. Bila tidak dikelola dengan baik akan berbalik menjadi media yang penuh dengan ancaman khususnya media Hankam sebagai jalan masuknya infiltrasi dan kerusakan lingkungan laut. Sejauh mana potensi laut merupakan kekuatan. opportunities (peluang) dan threats (ancaman) maka kelompok-kelompok pengelolaan potensi kelautan tersebut dapat diantisipasi effektifitasnya sebagai berikut: a. untuk mengelola laut sebagai perekat persatuan bangsa membutuhkan sarana dan prasarana berteknologi dan SDM dengan biaya tinggi.

8) Meningkatkan kemampuan industri pembuat peralatan penangkap ikan seperti pembuat jaring alat tangkap ikan. waktu dan lokasi untuk menetukan daya saing dalam sistem perdagangan dunia. 10) Meningkatkan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) perikanan dan sumber daya manusia dan memperpendek birokrasi perijinan penangkapan ikan. 5) Menggunakan teknologi pengawetan ikan atau pengalengan ikan dan lemari pendingin penyimpan ikan agar tetap segar karena ikan merupakan bahan makanan yang mudah busuk. karena perairan nusantara Indonesia memiliki ribuan spesies biota laut seperti jenis kerang-kerang laut. untuk menghindari perairan yang telah melampaui daya dukung lingkungan guna menjaga kelestarian sumberdaya ikan dari ancaman kepunahan. 9) Meningkatkan kinerja dan manajemen pelabuhan ikan nasional dalam kualitas pelayanan. ukuran komoditas. 7) Meningkatkan kemampuan galangan kapal penangkap ikan nasional agar bersaing dipasaran global. 3) Mengfokuskan usaha penangkapan ikan dan budidaya tidak hanya pada komoditas konvensional seperti jenis ikan tuna. 4) Memperbaiki kondisi lingkungan yang telah rusak kelestariannya seperti menghidupkan kembali (reboisasi) hutan bakau yang telah punah. konservasi daerah terumbu karang dan mencegah serta memperbaiki lingkungan yang telah tercemar. 6) Mengumpulkan informasi mengenai kebutuhan pasar dan pesaing ikan untuk memperinci kebutuhan pasar domestik dan global menurut jenis. rumput laut dan biota laut lainnya yang permintaan dunia semakin meningkat untuk bahan baku industri bioteknologi laut pembuat obatobatan. 63 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . cakalang dan udang.2) Mengalihkan operasional penangkapan ikan dan budidaya ikan ke daerah yang masih sama sekali belum dimanfaatkan. kosmetika termasuk pangan. sehingga sering ditolak oleh konsumen. pancing. pelampung dan tali temali yang masih kalah bersaing dengan produk luar negeri mengakibatkan ketergatungan hasil penangkapan terhadap luar negeri.

b. industri dan jasa maritim dilaksanakan dengan: 1) Memanfaatkan potensi pelayaran nasional dalam percaturan muatan dalam negeri dengan menggunakan kapal nasional yang memiliki daya saing dan efisiensi tinggi termasuk harga kapal. sarana dan prasarana penunjang. biaya operasi. beban pajak dan bea pabean. 5) Menambah fasilitas dermaga pelabuhan untuk mengimbangi kunjungan kapal yang pada waktu-waktu tertentu kekurangan tempat bersandar beserta 64 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . modal kerja. keagenan dan pengenaan jasa pelabuhan. Pengelolaan transportasi laut. 3) Melakukan intensifikasi terus menerus dalam menawarkan proyek-proyek pertambangan dan energi ke negara maju (sebagai investor) terhadap suasana kompetitif dari negara-negara berkembang di Asia dan Amerika Latin yang menawarkan kondisi kontrak dan sistem insentif yang lebih baik dari Indonesia. Pengelolaan sumberdaya tambang minyak dan mineral dilakukan dengan: 1) Melaksanakan pendidikan tenaga ahli yang terampil dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan untuk menghadapi resiko tinggi ekploitasi / ekploirasi. Perlakuan single tax tariff terhadap penghasilan pengangkutan orang dan atau barang termasuk penyewaan tetap dilaksanakan. jual beli kapal. 2) Mempertahankan tingkat suku bunga pada sekitar 18% pertahun sehingga dapat memperkuat daya saing kapal nasional Indonesia dan menambah investasi armada nasional. 3) Mengharapkan kebijaksanaan pemerintah untuk menyederhanakan tata cara pengadaan dan pendaftaran kapal serta mempertahankan secara konsisten mengenai ditanggungnya oleh pemerintah atas pajak pertambahan nilai (PPN) impor kapal. data based yang lengkap dengan akurasi yang tinggi. 4) Membatasi pendirian perusahaan pelayaran yang selama ini dapat diperoleh dengan mudah tetapi tidak diimbangi dengan penambahan armada yang mengakibatkan timbulnya persaingan yang tajam karena pemenuhan kebutuhan jasa pelayaran cederung lebih besar dari permintaannya. c. charter kapal. keterbatasan dalam permodalan. 2) Menyelesaikan batas landas yang belum mendapat kesepakatan dengan negara tetangga yang potensial menjadi konflik masa mendatang.

5) Melengkapi sarana dan prasara pemukiman untuk kelestarian lingkungan seperti tersedianya air bersih (mandi.dukungan peralatan bongkar muat. pencegah banjir karena pasang surut air laut (pintu air dan 65 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . 4) Menetapkan tata ruang pantai dan pesisir khususnya pada daerah yang padat penduduknya. 6) Menambah fasilitas dok dan galangan perbaikan kapal yang tidak merata dikota-kota pelabuhan di Indonesia khususnya di luar Pulau Jawa untuk mengindari lamanya perbaikan kapal sehingga menyebabkan tidak tercapainya commision days kapal. 2) Mengevaluasi masalah lingkungan hidup di lapangan untuk mendapatkan solusi penyelesaiannya. 7) Pembangunan industri perkapalan untuk membuat kapal-kapal baru sangat diperlukan untuk pengembangan armada nasional guna melaksanakan “azaz cabotage” dengan lebih efektif. dukungan aksesibilitas dari pelabuhan ke gudang atau sebaliknya untuk menghindari biaya operasional tidak effektif. meningkatnya penggunaan kapal berbendera asing untuk angkutan dalam negeri disebabkan “azaz cabotage” yang merupakan prinsip yang dianut oleh sebagian besar negara maritim dunia yang menyatakan bahwa angkutan di dalam suatu negara hanya dapat diangkut oleh kapal yang berbendera dari negara yang bersangkutan ternyata di Indonesia tidak berjalan. pemukiman pantai penelitian ilmiah dilakukan dengan: 1) Pelaksanaan dan pengawasan secara konsisten UU No. treatment (pengolahan) limbah cair agar limbah layak dibuang ke laut. dan penjabarannya ke daerah / lapangan. Sebagai infomasi. 23 tahun 1997. Hal tersebut mengantisifasi laju pertumbuhan ekonomi yang tidak seimbang baik dalam negeri maupun luar negeri atas pertumbuhan kemampuan / kapasitas angkut armada pelayaran nasional yang ada. kakus / MCK). pembuangan sampah / limbah padat di darat. d. 3) Melaksanakan sosialisasi tentang pentingnya lingkungan hidup di pantai dan pesisir untuk dipahami oleh masyarakat Indonesia. Pengelolaan laut untuk pelestarian lingkungan laut. tentang pengelolaan Lingkungan Hidup. cuci.

Keterpaduan (integrated) yang dimaksud meliputi (DKP 2002): 1.penahan ombak). penataan kabel listrik. kabel telepon dan lain-lain. manusia. saluran pembuangan.3 Konsep Tata Ruang Terpadu Darat dan Laut Secara umum. seperti sektor pertanian dan sektor konservasi yang berada di hulu. Keunikan wilayah pesisir serta beragam sumber daya yang ada. 3) Meningkatkan pembangunan industri maritim dan galangan kapal karena kemampuan Hankamneg di laut tidak dapat lepas dari kemampuan industri maritim dan galangan kapal di Indonesia. 2000). 6) Membuat suatu lembaga atau institusi yang khusus menangani pembangunan kelautan mencakup didalamnya untuk menyelenggarakan pengawasan dan penelitian ekosistem dengan disiplin (ilmiah). Perencanaan tata ruang tersebut dilakukan melalui proses proses dan prosedur penyusunan serta penetapan rencana tata ruang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. e. Integrasi Perencanaan Sektor Secara Horisontal. serta mengikat semua pihak (Darwanto. yaitu memadukan perencanaan dari berbagai sektor. 5. 4) Menyelesaikan dan segera batas landas benua yang belum disepakati melalui diplomasi luar negeri dan melaksanakan evaluasi hukum laut internasional sesuai perkembangan globalisasi. perencanaan ruang adalah suatu proses penyusunan rencana tata ruang untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup. 2) Meningkatkan dan mengembangkan kemampuan Hankamneg di laut secara bertahap sesuai dengan kemampuan ekonomi negara. Pengelolaan Laut untuk Hankamneg dilakukan dengan: 1) Mempertahankan kemampuan tempur TNI AL melalui komponen Sistem Senjata Armada Terpadu untuk dapat beroperasi di perairan Indonesia sepanjang tahun. pipa air. 5) Menentukan posisi tiga Alur Laut utama Kepulauan Indonesia (ALKI) dan mensosialisasikan kepada dunia pelayaran. 66 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . mengisyaratkan pentingnya pengelolaan wilayah tersebut secara terpadu demi keberlanjutan sumber daya untuk masa yang akan datang. dan kualitas pemanfaatan ruang.

Kecamatan. pariwisata. Pengelolaan Pesisir Terpadu perlu didasarkan pada input data dan informasi ilmiah yang valid untuk memberikan berbagai alternatif dan rekomendasi bagi pengambil keputusan dengan mempertimbangkan kondisi. pertambangan lepas pantai. konservasi laut. yaitu: 1. industri maritim. Sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable resources). 2. kabupaten/kota. Pengelolaan wilayah pesisir yang berbatasan dengan negara tetangga perlu mengintegrasikan kebijakan dan perencanaan pemanfaatan sumberdaya pesisir masing-masing negara. Kabupaten/Kota. Integrasi antar Negara. dan kecamatan sebagai basis perencanaan.perikanan. dan sektor pengembangan kota. Sehingga dampak dari suatu kegiatan di DAS. yang terbagi atas dua jenis. dan terumbu karang. Kondisi ini mendorong timbulnya disparitas antar wilayah yang semakin luas. karakteristik sosial-ekonomi budaya. meliputi integrasi kebijakan dan perencanaan mulai dari tingkat Desa. Sumber daya pesisir dan lautan memiliki berbagai sumber daya alam didalamnya. 5. kelembagaan dan bio-geofisik lingkungan setempat. Provinsi. 67 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . adil dan sejahtera. Perencanaan pengelolaan pesisir terpadu diprioritaskan dengan menggunakan kombinasi pendekatan batas ekologis misalnya daerah aliran sungai (DAS). sampai Nasional. Integrasi Sains dengan Manajemen. seperti kegiatan pertanian dan industri perlu diperhitungkan dalam pengelolaan pesisir. tetapi wilayah pesisir dan lautan belum menjadi prioritas utama bagi pertumbuhan ekonomi secara nasional. Integrasi Ekosistem Darat dengan Laut. Integrasi Perencanaan Secara Vertikal. 5. seperti di antar Pulau Batam dengan Singapura. mangrove. Integrasi kebijakan ataupun perencanaan antar negara antara lain mengendalikan faktor-faktor penyebab kerusakan sumberdaya pesisir yang bersifat lintas negara.4 Pemanfaatan Sumber Daya Pesisir dan Lautan Pemanfaatan sumber daya pesisir dan lautan sudah selayaknya dikelola dengan baik dan optimal untuk menunjang pembangunan ekonomi nasional sehingga dapat menjadikan negara Indonesia makmur. 4. karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki potensi sumber daya pesisir dan laut yang cukup berlimpah. misalnya: sumber daya perikanan (perikanan tangkap dan budidaya). perhubungan laut. Karena meskipun pemanfataan sumber daya pesisir dan lautan telah dilakukan berabad-abad lamanya. 3. dan wilayah administratif propinsi.

jasa lingkungan. wilayah pesisir memiliki beberapa karakteristik yang khas. agribisnis dan agroindustri. laut dan udara. Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (non-renewable resources). sehingga bentuk wilayah pesisir merupakan keseimbangan dinamis dari proses pelapukan (weathering) dan pembangunan. Selain menyediakan dua sumber daya tersebut di atas. seperti: transportasi dan pelabuhan. Faktor internal: 1. Keterbatasan kemampuan modal usaha. dan dapat dikategorikan ke dalam faktor internal (berkaitan dengan kondisi internal sumber daya masyarakat pesisir dan nelayan) dan eksternal (Dra.2. 2. gas dan mineral. 68 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . tapi memiliki tingkat kesuburan yang tinggi dan sumber zat organik penting dalam rantai makanan dan kehidupan darat dan laut: 4. karena menurut RUU Pesisir. serta mempunyai dimensi internasional. Jika diamati dengan seksama. Hal ini tidak sepenuhnya benar. Rendahnya tingkat pemanfaatan sumber daya. 2004). Kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat pesisir dan nelayan. Wilayahnya sempit. wilayah pesisir dan laut memiliki berbagai fungsi lainnya. 4. pariwisata. a. 3. Wahyuningsih Darajati. kawasan permukiman serta tempat pembuangan limbah. Selama ini pembangunan wilayah pesisir dan laut masih dilihat seperti pembangunan wilayah terestrial lainnya dengan kondisi yang analogi dengan wilayah perdesaan. yaitu: 1. Wilayah pertemuan antara berbagai aspek kehidupan yang ada di darat. Tempat bertemunya berbagai kepentingan pembangunan baik pembangunan sektoral maupun regional. Berfungsi sebagai habitat dari berbagai jenis ikan. persoalan pemanfaatan sumber daya pesisir dan lautan selama ini tidak optimal dan berkelanjutan disebabkan oleh beberapa factor kompleks yang saling berkaitan. Memiliki gradian perubahan sifat ekologi yang tajam dan pada kawasan yang sempit akan dijumpai kondisi ekologi yang berlainan. 2. Pola usaha tradinsional dan subsistem (hanya cukup memenuhi kehidupan jangka pendek). serta bahan tambang lainnya. misalnya: minyak bumi. pemijahan dan mencari makan. teknologi dan manajemen usaha. 5. kawasan industri. mamalia laut. 3. dan unggas untuk tempat pembesaran.

Sulit memberikan tapal batas sehingga ikan-ikan tidak mengenal pemilikan Negara. b. parsial dan kurang memihak nelayan tradisional. Memiliki sifat penggunaan ganda (multipurpose) laut untuk angkutan. Faktor eksternal: 1. 6. Rendahnya kesadaran akan arti penting dan nilai strategis pengelolaan sumber daya wilayah pesisir dan lautan secara terpadu bagi kemajuan dan kemakmuran bangsa. Pelumpuran (sedimentasi) yang berasal dari darat dan dibawa sungai ke muara. Pencemaran laut akibat pembuangan balast oleh kapal. Jika dilihat dari sudut lingkungan hidup. karena: 1. 4. tenaga energi gelombang. Kerusakan ekosistem pesisir dan laut karena pencemaran dari wilayah darat. c. lingkungan laut lebih rentan (vulnerable) daripada lingkungan darat. pertambangan minyak lepas pantai. 69 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . praktek penangkapan ikan dengan bahan kimia. pembuangan minyak oleh eksploitasi minyak lepas pantai. Lingkungan laut terdiri dari air sebagai massa yang senantiasa bergerak. 4. disertai implementasinya yang lemah. Merupakan muara dari sungai yang menampung buangan dan berbagai aktifitas darat. Kebijakan pembangunan pesisir dan lautan yang lebih berorientasi pada produktifitas untuk menunjang pertumbuhan ekonomi. 5. Eksploitasi secara berlebihan sumber daya hayati ikan. habitat ikan.b. 2. serta belum adanya program kredit lunak yang diperuntukan bagi sektor kelautan. 2. suku bunga yang masih tinggi. Beberapa permasalahan utama yang dihadapi oleh laut karena memiliki potensi penggunaan secara berganda adalah: a. dan birokrasi yang beretos kerja rendah serta sarat KKN. 5. Belum adanya kondisi kebijakan ekonomi makro (political economy). 3. bersifat sektoral. 3. pencemaran yang berasal dari darat. dan lain-lain. serta penggunaan peralatan tangkap yang tidak ramah lingkungan. pariwisata. eksploitasi dan perusakan terumbu karang. Perilaku pengusaha yang hanya memburu keuntungan dengan mempertahankan sistem pemasaran yang menguntungkan pedagang perantara dan pengusaha. Merupakan milik umum (common property) sehingga sulit diberikan hak pemilikan dan sulit diawasi. Sistem hukum dan kelembagaan yang belum memadai.

Bidang ekosistem. Padahal karakteristik dan alamiah ekosistem pesisir dan lautan saling terkait satu sama lain secara ekologis dengan ekosistem lahan atas. harus segera diwujudkan. dan dinamik (interaksi obyek di laut) pesisir dan laut. 3. Sedangkan dalam pelaksanaannya diperlukan keterpaduan dalam melaksanakan pengendalian pengelolaan sumber daya kelautan. dan lain-lain. prosedur. Oleh karena itu konsep perencanaan mengenai pengelolaan sumber daya pesisir dan laut secara terpadu. Keterpaduan antar sektor pembangunan terkait. dan mekanisme kerja. Aspek keterpaduan yang perlu dipertimbangkan adalah: 1.d. terdapat tiga bidang utama dapat dijadikan dasar melaksanakan pengelolaan wilayah pesisir dan laut berkelanjutan. serta beraneka sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan sebagai potensi pembangunan. 70 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Bidang kewilayahan. Keterpaduan wilayah garapan. e. Keterpaduan hukum dan penegakkannya.5 Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan secara Terpadu Upaya pengelolaan sumber daya pesisir dan laut di Indonesia cenderung bersifat sektoral dan terkesan ekslusif. 4. diperlukan suatu penataan ruang pesisir laut terpadu. yang berbasis pengorganisasian. Ini terjadi karena pelaksanaan pengelolaannya selama ini dilakukan secara terpisah oleh instansi-instansi berwenang. Pembuangan air panas dari tenaga listrik dan industri yang merubah suhu laut dengan berbagai dampaknya pada habitat laut. Dalam kaitannya dengan pengendalian wilayah pesisir dan laut. yaitu: 1. Keterpaduan multi-disiplin ilmu. 5. 2. 2. 5. Keterpaduan antar Pemerintah Pusat dan Daerah. 6. Bidang fisik (geologi/geografi/geomorfologi laut). diperlukan suatu keseimbangan ekosistem di laut. Keterpaduan produk dan teknologi. 3. Reklamasi laut untuk memperoleh lahan bagi pembangunan dan perubahan pulau kecil bagi kepentingan pariwisata.

Pengalaman bangsa Indonesia membangun sumber daya pesisir dan lautan selama kurun waktu Pembangunan Jangka Panjang (PJP) I telah menghasilkan sejumlah keberhasilan (seperti dalam bentuk peningkatan perolehan devisa. sesungguhnya Indonesia memiliki potensi pembangunan yang masih besar dan terbuka lebar untuk berbagai pilihan pembangunan. spesies. 5. Oleh karena itu. dari sisi permintaan kebutuhan manusia akan produk dan jasa pesisir dan lautan. jika dikelola dengan tepat dan benar. Dengan perkataan lain. Pola pembangunan pesisir dan lautan dalam kurun PJP I cenderung bersifat ekstraktif. Sementara itu. Indonesia juga dikenal sebagai negara mega-biodiversity dalam hal keanekaragaman genetik. dan ekosistem pesisir dan lautan. Kecenderungan pembangunan sumberdaya pesisir ke arah yang tidak berkelanjutan (unsustainable development). Keterpaduan pelaksanaan dan kewenangan. pada dasarnya disebabkan karena paradigma dan praktek pembangunan yang selama ini diterapkan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development). yang antara lain seharusnya bersifat partisipatif. diyakini akan berlipat ganda di masa-masa mendatang. kepentingan ekonomi pusat lebih diutamakan daripada ekonomi masyarakat setempat (pesisir). dan penuh kesenjangan. yaitu: jumlah penduduk dunia yang terus meningkat.6 Governance dalam Pengelolaan Kelautan Dengan jumlah pulau sekitar 17.508 dan garis pantai sepanjang 81. dari sisi kemampuan memproduksi (supply capacity) barang dan jasa pesisir dan lautan.7. sumberdaya pesisir dan lautan sesungguhnya dapat merupakan tumpuan dan sumber pertumbuhan baru bagi pembangunan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan guna mewujudkan masyarakat yang maju dan mandiri serta adil dan makmur. dan penyerapan tenaga kerja). kesadaran umat manusia akan arti penting produk makanan laut (seafood) bagi kesehatan dan kecerdasan. 71 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Hal ini berdasarkan pada beberapa alasan utama. Akan tetapi peningkatan devisa melalui melalui sumberdaya pesisir dan lautan tersebut juga menyisakan berbagai permasalahan mendasar yang dikhawatirkan dapat mengancam kesinambungan (sustainability) pembangunan itu sendiri. pendapatan asli daerah. Kecenderungan ini tercermin pada praktek pengaturan penyelenggaraan pembangunan sumber daya pesisir dan lautan yang jauh dari kebaikan (good governance).000 km. dan semakin berkurangnya sumberdaya alam di darat bagi keperluan pembangunan.

pemerataan. efisiensi dan efektifitas dalam pemanfaatan anggaran pembangunan pesisir dan lautan. partisipasi. sedikitnya. Kriteria keberhasilan pembangunan. Berkaitan dengan karakteristik ini. Dalam praktek pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan yang telah dan kini sedang berlangsung di Indonesia. masing-masing instansi sektoral terkesan tidak peduli dengan pihak-pihak lain. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). selama ini kriteria keberhasilan pembangunan suatu wilayah masih berdasarkan pada pertumbuhan ekonominya. seperti DPR. effektivitas dan efisiensi. Pertama. Efisiensi dan efektifitas merupakan salah satu karakteristik good governance dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan. pelaksanaan dan evaluasi kebijakan tersebut. Untuk sampai kepada suatu good governance dalam sektor kelautan harus ada perubahan yang mendasar dalam beberapa hal. Namun di sisi lain. berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya daya alam. dan mendukung supremasi hukum. Kedua.transparan. pemerataan (equity) dan tanggung jawab (accountibility). efisiensi dan efektifitas dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) di bidang kelautan. 72 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Ketiga. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). di sisi lain ada pihak-pihak yang mestinya terlibat dalam pengelolaan tersebut justru tidak diikutsertakan secara proporsional. prinsip partisipasi sebagaimana dikehendaki oleh good governance tidak berjalan dengan baik. Instansi-instansi tersebut merupakan instansi sektoral utama yang paling banyak berkecimpung dan berkepentingan dengan sumberdaya pesisir dan lautan. terdapat sejumlah instansi pemerintah sesuai dengan sektornya melakukan berbagai kebijakan pengelolaan. yaitu: a. ada tiga hal yang perlu dicermati. Analisis kualitas governance dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan di Indonesia mengacu pada karakteristik umum good governance yang dikembangkan oleh United Nations Development Programme (UNDP) yaitu. Perubahan tata aturan (governance) dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan merupakan suatu keharusan. Pemerintah Daerah (Pemda). Di satu sisi. sedangkan kriteria berdasarkan lingkungan mempunyai porsi penilaian sangat kecil. dapat dipertanggungjawabkan (accountable). efektif dan efisien. implementasi peraturan dan perundang-undangan. transparansi. tidak diikutsertakan. Bahkan. yang seharusnya juga ikut terlibat dalam berbagai pengambilan.

g. sehingga perlu dipelihara kelestariannya perlu terus disebarluaskan ke berbagai kalangan. dimana peran media juga sangat penting. h. kalangan pengambil keputusan di pemerintahan maupun swasta. Perubahan peraturan dan perundang-undangan yang lebih memihak kepada kepentingan rakyat kebanyakan. d. e. bukan hanya melindungi kepentingan segelintir orang atau pengusaha. swasta dan pihak-pihak yang berkepentingan harus berperan aktif dan terlibat dalam segenap proses kebijakan yang dilindungi oleh UU. i. dan kepedulian akan arti penting dan strategis sumber daya pesisir dan lautan bagi pembangunan nasional. serta memberikan perimbangan keuangan yang adil. efisien dan bertanggung jawab. Pengetahuan. yaitu masyarakat. c. Komponen bangsa lainnya. peraturan tentang pemanfaatan sumberdaya hayati secara optimal dan lestari. f. pemahaman. Perlu dibangun sistem informasi kelautan yang terpercaya dan sesuai dengan kebutuhan para pengguna (users’ needs). dan peraturan mengenai pengendalian pencemaran serta pengendalian perusakan fisik habitat pesisir. Masing-masing daerah harus membuat suatu rencana tata ruang untuk menghindari terjadinya konflik kepentingan. khususnya para anggota legislatif. 73 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . adil. Pemerintah harus memiliki keberanian politik melakukan dan membuat berbagai kebijakan secara transparan. sesuai dengan kewenangan yang dimiliki. Hukum sebagai institusi tertinggi harus benar-benar ditegakan dan semua pihak harus tunduk dan berada di bawah hukum tersebut.b. Perlu UU Pemda yang memberikan kewenangan lebih besar kepada daerah dalam hal pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut.

d. Kriminalisasi atas kebebasan berekspresi bagi masyarakat korban yang menuntut hakhak keadilan sosial dan ekologi. Banyak orang berpandangan pesimistik melihat sejumlah kebijakan yang telah disahkan oleh parlemen periode 1999-2004.IX/2001 tentang Reforma Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam. Lahirnnya Kebijakan-kebijakan. UU No 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air serta UU perkebunan. Keterlibatan aparat militer dalam bisnis Sumberdaya Alam. kelahirannya karena kepentingan politik serta didominasi oleh semangat liberalisasi dan privatisasi. UU Perikanan. UU SDA. juga disebabkan oleh: a. Rekomendasi 74 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . b. ada tiga peraturan dan perundangundangan yang akan menambah parahnya kerusakan lingkungan hidup di Indonesia. c. Kebijakan yang dijalankan masih tumpang tindih dan bersifat egosentrisme. sekalipun telah dibungkus dengan berbagai konsep yang partisipatif dan karitatif dari perusahaan telah memicu sejumlah kasus lingkungan di level masyarakat dalam dua dekade belakangan ini. Krisis ekologi dan kerusakan lingkungan yang mengarah pada ecocide di Indonesia. Pengelolaan lingkungan hidup untuk kehidupan kenyataannya lebih didominasi oleh kepentingan mendapatkan keuntungan dan meletakkan kepentingan publik dan generasi mendatang dalam urutan terakhir. 2. B. Kesimpulan 1.BAB 6 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Paling tidak. seperti UU Perkebunan. Wacana dan praktek pertumbuhan dan pembangunan. Perpu 1/2004. Indikator lain adalah banyaknya persoalan dan kerusakan lingkungan hidup di Indonesia. karena tidak adanya prinsip pengelolaan yang berkesinambungan serta sikap yang mengingkari TAP MPR No. yaitu Perpu No 1/ 2004 pengganti undang-undang tentang pertambangan di hutan lindung. karena tidak terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat dan penyangkalan hak lingkungan rakyat.

3. seperti yang pernah diajukan pada tahun 1994 di PBB. kemiskinan struktural serta kejahatan lingkungan di Indonesia. untuk diberikan sanksi kepada pemerintah yang memberikan izin tidak sesuai dengan aturan sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan.1. Diperlukan peradilan lingkungan hidup yang independen dan berkeadilan. 4. dan nasional. HAL (Hak Atas Lingkungan) penting dimasukan sebagai prisip di dalam semua kebijakan dan perundang-undang di tingkat internasional. regional. sebagaimana pula dapat terimplementasikan sampai pada tahap pelaksanaan. agar menjadi norma baru dalam penegakan HAL sebagai hak asasi rakyat. 5. Pemerintah harus membuat visi dalam bentuk cetak biru lingkungan hidup sebagai pijakan praksis dalam pengimplementasian pembangunan lingkungan hidup yang dapat diakses oleh rakyat. yang sifatnya ad hoc bagi para penjahat lingkungan yang selama ini telah menyebabkan berbagai bencana. 75 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Perlu juga ada aturan yang jelas. 6. yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup dan sumberdaya alam. Diperlukan suatu badan hukum (badan khusus) yang menangani keselamatan dan keamanan di laut yang terdapat di wilayah yuridis. Perlu diperjuangkan dan diupayakan pengesahan deklarasi HAM dan Lingkungan hidup. 2.

B. 1996. Jogja. R. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Terpadu Berbasis Masyarakat. 2000. Kerjasama PSL-Undana. Jakarta. Materi Kuliah pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Program Pascasarjana IPB. Rokhmin.G. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Kupang dan Bapedal Kupang. Suratmo. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor. 1994. dan A. Jakarta. Bengkulu. Pencemaran Lingkungan. Bengkulu Utara. Damar. 1990. 2000. Keanekaragaman Hayati Laut: Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. Tresna. Kamaluddin. Gramedia Pustaka Utama. Buku 2: Makalah Utama dan Makalah Penunjang. Gramedia Pustaka Utama. Sastrawijaya dan A. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB. Makalah Falsafah Sains. Karakteristik dan Dinamika Sumberdaya Fisik dan Lingkungan Pesisir dan Lautan. Rokhmin. Gadjah Mada University Press. 2003. Metode dan teknik Analisis Kualitas Air. Departemen Kelautan dan Perikanan. 2004. Laura. Penentuan dan Pengelolaan Kawasan Lindung di Pesisir. 2004. Pradnya Paramita. G. Dalam Prosiding Pelatihan untuk Pelatih Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu. 2001. N.go.depnakertrans. PT. Rencana Aksi Terpadu Pengembangan Pulau Enggano Kab. 1991. Dampak dan Penanggulanggannya. Kupang.G. PT. Zamani. PT.DAFTAR PUSTAKA Bengen. 2002. D. 2000. Dahuri. Laut dan Pulaupulau Kecil. Jakarta. Wiryawan. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan secara Terpadu. Rineka Cipta. Siahainenia. Dahuri. Rencana Strategi Pembangunan Jangka Menengah Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup. Jakarta. Laporan Penyelenggaraan Sarasehan Nasional Dewan Maritim Indonesia. Institut Pertanian Bogor. D.id Direktorat Pemberdayaan Pulau-pulau Kecil Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Sekretariat Dewan Maritim Indonesia. 2001. Homepage Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Dahuri. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Program Pasca Sarjana/S3: Pencemaran Laut. dalam Kumpulan Makalah Kursus Amdal Tipe B. Bengen. F. 76 Naskah Akademis Dalam Rangka Menuju Perbaikan Kebijakan Lingkungan Pada Aktivitas Industri Maritim . Jakarta. Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut. http://www. dkk. Pembangunan Ekonomi Maritim di Indonesia. 2002. Jakarta. Laode M.P dan Darmawan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful