1

COASTAL ZONE MANAGEMENT: RESOURCES UTILIZATION
Oleh: Prof Dr Ir Soemarno M.S., dkk. I. PENDAHULUAN
Latar Belakang Wilayah pesisir didefinisikan sebagai daerah pertemuan antara darat dan laut; kearah darat, wilayah pesisir meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin, sedangkan ke arah laut wilayah pesisir mencakup wilayah dengan ciri-ciri yang dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di darat, seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran. Definisi diatas memberikan suatu pengertian bahwa ekosistem pesisir merupakan ekosistem yang dinamis dan mempunyai kekayaan habitat yang beragam dan saling berinteraksi antara habitat tersebut. Selain mempunyai potensi yang besar, wilayah pesisir juga merupakan ekosistem yang paling mudah terkena dampak kegiatan manusia. Umumnya kegiatan pembanguna secara langsung maupun tidak langsung berdampak merugikan terhadap ekosistem pesisir. Dalam sautu wilayah pesisir terdapat satu atau lebih sistem lingkungan (ekosistem) dan sumber daya pesisir. Ekosistem pesisir bersifat alami ataupun buatan. Ekosistem alami yang terdapat di wilayah pesisir antara lain adalah terumbu karang (coral reefs), hutan mangroves, padang lamun, pantai berpasir (sandy beach), formasi pascaprea, formasi baringtonia, estuaria, laguna dan delta. Sedangkan ekosistem buatan antara lain berupa : tambak, sawah pasang surut, kawasan pariwisata, kawasan industri, agroindustri dan kawasan pemukiman. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kawasan pesisir pantai merupakan suatu kawasan yang mempunyai kerawanan dan sekaligus potensi strategis ditinjau dari aspek penataan ruang, yaitu suatu kawasan yang secara geografis spasial penting, namun belum banyak dilakukan upaya penataan permanfaatan ruangnya secara terintegrasi/ terpadu, baik antar kawasan dalam suatu wilayah administratif maupun antar wilayah administratif. Kerawanan yang

2

terdapat pada kawasan pesisir berkaitan dengan fungsi lindung/ekologis, dimana posisi geografisnya merupakan peralihan antara ekosistem daratan dan ekosistem perairan/ lautan, sehingga seringkali dijumpai sumberdaya alam yang spesifik, seperti terumbu karang, hutan bakau, resting area, untuk berbagai satwa dan sebagainya. Potensi strategis yang dimiliki oleh kawasan pesisir berkaitan dengan nilai ekonomis yang terdapat di kawasan ini, baik yang berbasis pemanfaatan sumber daya alam, seperti perikanan budidaya (tambak), kehutanan, pariwisata, dan sebagainya, maupun yang tidak berbasis pada sumber daya alam seperti perhubungan (pelabuhan). Beberapa pemanfaatan yang berhubungan dengan fungsi budidaya ini cenderung bersifat ekspansif sehingga kawasan ini rentan/ rawan terhadap terjadinya perubahan penggunaan lahan, khususnya konflik penggunaan lahan (landuse conflicts) antara fungsi lindung dengan fungsi budi daya Permasalahan Beberapa permasalahan penting yang dapat di ungkapkan dalam penelitianini diantaranya adalah seperti berikut: a) Sumber daya alam dan lingkungan hidup Keadaan geografis perairan pantai dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu wilayah pantai utara dan wilayah pantai selatan. Perairan selat Madura dan pantai utara merupakan daerah selasar benua yang dangkal dan landai,dengan komoditi yang dominan adalah iakan dasar dan ikan permukaan. Perairan pantai selatan merupakan perairan dalam dengan komoditi yang dominan adalah ikan pelagis seperti Lemuru dan Tuna. Perairan pantai utara Jawa Timur masih sangat dipengaruhi oleh “Musim Barat” yang berlangsung sekitar bulan Desember hingga Maret. Selama musim ini gelombang laut sangat besar sehingga aktivitas penangkapan ikan berkurang dan akibatnya produksi ikan rendah. Perairan pantai, khususnya di tempat-tempat pendaratan ikan, telah mengalami pendangkalan dan pencamaran bahan organik yang berasal dari limbah rumah tangga dan limbah industri pengolhan hasil ikan. Situasi perkampungan nelayan pantai umumnya tampak kumuh, rumahrumah penduduk berhempitan satu sama lain. Sumber air bersih relatif terbatas, sehingga memenuhi kebutuhan sehari-hari biasanya penduduk membeli air bersih (air PDAM atau air sumur) dari penjualan air. b) Teknologi Alat Tangkap Dan Penangkapan Sistem perikanan demersal elah berkembang di perairan pantai utara Jawa Timur dengan alat tangkap berupa purse-seine, dogol, gil-nen dan trammel-

3

net. Jenis ikan tangkapan yang dominan adalah iakan layang, llemuru/tembang, udang dan teri. Sistem perikanan samudera telah berkembang di perairan pantai selatan dengan alat tangkap yang dominan berupa purseseine, gillnet permukaan, dan pancing prawe. Jenis ikan tangkapan yang dominan adalah tuna (tongkol), lemuru, cucut. Ditinjau dari kelayakan ekonominya dan dengan mempetimbangkan pendapatan pendeganya, ternyata alat tankap yang layak untuk dikembangkan ialah purse-seine, gillnet, dan payang sangat layak untuk dikembangkan disemua lokasi. Pengenalan tipe alat yang sama dengan desain baru merupakan jalur invasi yang prospektif. Respon nelayan terhadap inovasi teknologi penangkapan umumnya cukup besar, baik terhadap sumber teknololgi pemerintah maupun swasta malaui para pedagang ikan. Dalam proses adopsi tekhnologi diperlukan “efek demonstratif” yang bisa diamati dan dialami lansung oleh nelayan. c) Teknologi Pascatangkap Secara umum teknologi pascatangkap dapat dibedakan menjadi dua, yaitu (i)tradsional dengan aneka komoditi ikan kering, terasi, ikan asap, ikan pindang, dan (ii) modren dengan komoditi andalannya tepung ikan dan kalengan. Tradisional dilakukukan oleh para pengolah dengan skala kecil hingga menengah, sedangkan tenologi modern dilakukan oleh para pengusah besar. Berkembangnya teknololgi modern di suatu lokasi ternyata sangat ditentukan oleh tesedianya bahan baku. Teknololgi pengawetan ikan dengan menggunakan “proses rantai dingin” dilakukan khusus untuk komoditi ekspor ikan segar. Industri pengolahan ikan dipedesaan pantai umumnya mampu memberikan nilai tambah sekitar 9 – 45% terhadap komoditi ikan basah. Akan tetapi sebagian besar usaha pengolahan ikan oleh nelayan masih belum dilakukan secara baik dan bersifat sambilan. Usaha pengolahan ikan yang mempunyai prospek bagus di wilayah perairan pantai selatan adalah tepung ikan dan minyak ikan, sedanglkan di wilayah perairan pantai utara umumnya adalah ikan kering. d) Sosial Ekonomi Distribusi pendapatan nelayan diwilayah pedesaan pantai umumnya tidak merata diantara kelompok fungsional masyarakat. Pendapatan nelayan pemilik perahu (juragan darat) dengan alat tangkap purse-seine, gillnet, dan payang rata-rata cukup tinggi, jauh berada diatas kriteria garis kemiskinan yang berlaku sekarang. Sementara itu rataan pendapatan nelayan kecil

(2) sarana pelayanan sosial yang masih terbatas.(5) kualitas kehidupan rata-rata masih rendah. Dalam rangka untuk meningkatkan pendapatan nelayan secara proposional maka usaha penangkapan secara berkelompok yang melibatkan nelayan kecil dan pendega patut direkayasa. Rata-rata tingkat pendidikan formal warga pedesaan pantai masih rendah umumnya hanya berpendidikan sekolah dasar atau yang sederajat. e) Kendala Perkembangan Wilayah Pesisir Pantai Tiga faktor utama yang menyebabkan lambatnya perkembangan teknologi yang dapat berdampak pada perbaikan kesejahteraan nelayan pendega adalah (i) faktor ekonomi. Pada musim paceklik rataan pendapatannya berada dibawah garis kemiskinan sedangkan pada musim panen raya ikan rataan pendapatannya bisa melonjak diatas garis kemiskinan. modal dan teknologi oleh nelayan sangat terbatas. (ii) faktor sosial budaya.(4) prasarana penunjang perekonomian di pedesaan yang masih terbatas. (5) hampir seluruh komoditi perikanan yang dihasilkan dipasarkan keluar daerah sehingga sebagian besar nilai tambah komoditi dinikmati oleh lembaga perantara yang terlibat dalam pemasaran.(4) tingkat pengangguran musiman yang cukup besar. Kendala yang dihadapi adalah keterbatasan kemampuan lembaga Madrasah tersebut untuk melakukan transfer teknologi kepada anak didik. Beberapa kendala yang termasuk faktor ekonomi adalah (1) sektor perekonomian wilayah yang masih didominasi oleh sektor primer penangkapan ikan. Dalam hal pendidikan ini ternyata respon nelayan terhadap lembaga Madrasah sangat besar. (2) penguasaan skill.(iii) faktor sosial politik. (2) . Peranan para kyai dan santri di wilayah pedesaan pantai pada umumnya sangat besar dalam kehidupan bermasyarakat. Beberapa kendala sosial politik adalah (1) partisipasi masyarakat pedesaan pantai di dalam pembangunan belum dapat tersalurkan secara lugas (pendekatan top down masih lebih kuat dibandingkan dengan bottom up). Beberapa kendala sosial budaya adalah (1) struktur dan poal perilaku sosial budaya yang masih berorientasi kepada kebutuhan “subsisten”. Dalam hubungan ini inovasi kredit disarankan melalui sistem kredit bagi hasil antara nelayan dengan lembaga sumber kredit. (3) proporsi penduduk usia muda cukup besar dengan tingkat pendidikan yang relatif rendah. (3) distribusi pendapatan yang relatif tidak merata.4 pemilik sampan/jukung dan pendega berada pada batas ambang kemiskinan denagn fluktuasi musiman yang sangat besar. Akses nelayan terhadap fasilitas pendidikan formal diatas tingkat sekolah dasar rata-rata masih sangat terbatas.

baik yang terjadi secara alamiah maupun hasil rekayasa masyarakat setempat. Secara ringkas beberapa permasalahan yang dihadapi kawasan pesisir pantai antara lain : (1) Kondisi sumber daya pesisir yang semakin terbatas dan mengalami penurunan kualitas dan kuantitas.5 birokrasi pembangunan masih belum mampu menyentuh kepentingan nelayan pendega dan sektor tradisional. Intrusi air laut akibat pemanfaatan air bawah tanah di kawasan pesisir yang tidak terkendali. Berdasarkan kondisi seperti di atas maka diperlukan disaign-disaign khusus untuk mengembangkan pedesaan pantai dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan dasar atau kebutuhan fisik. Pendangkalan pantai akiobat tingginya sedimentasi. (2) Tekanan pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi. d. bahkan beban limbah di perairan pantai Jawa . khususnya di wilayah Surabaya dan Gresik. Terjadinya abrasi pantai akibat berkurangnya hutang mangrove di sepanjang pantai utara Jawa Timur dan P. Degradasi kualitas ekossitem mangrove akibat kegiatan budidaya tambak dan kegiatan raklamasi pantai untuk pengembangan kawasan terbangun sebagai perumahan. industri dan pelabuhan. (3) Perkembangan kawasan pesisir saat ini sudah sedemikian pesat namun disisi lain perkembangan tersebut tanpa pedoman pada aspek tata ruang (4) Pendayagunaan sumber daya pesisir dan pantai masih kurang mencerminkan adanya pembagian fungsi kawasan (5) Aktifitas manusia di kawasan pesisir dan pantai telah menimbulkan permasalahan antara lain : a. e. Madura. minimum segenap warga masyarakat dan sekaligus melestarikan sumber daya yang tersedia. dimana tingka pencemaran sungai di Surabaya telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. yang dapat mengancam keberadaan desa-desa pantai dan jaringan jalan regional. Kerusakan karang laut (terumbu karang) dan biota laut serta kerusakan karena penambangan dan penangkapan ikan menggunakan bahan peledak. c. f. b.(3) keterbatasan akses nelayan pendega untuk berperan serta dalam kegiatan-kegiatan ekonomi yang lebih luas. sehingga kurang layak untuk dikonsumsi sebagai sumber air bersih. Pencemaran pantai dari limbah industri dan limbah kota.

Oleh karena itu. yang memuat: (1) Macam Bentuk pengelolaan. TUJUAN DAN SASARAN PERENCANAAN 2. Tujuan Kegiatan dilakukannya kegiatan ini ialah memberikan arahan pengelolaan pemanfaatan ruang daratan dikawasan pesisir pantai. .2.untuk menghindari pengelolaan yang terpisah-pisah antar instansi yang berkepentingan maupun antar kab/kota. pembatasan dan pengurangan kegiatan-kegiatan yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kelestarian lingkungan dan sumberdaya alam. II. dalam upaya mengurangi dan mencegah terjadinya konflik pemanfaatan ruang (land use Conflicts) di kawasan pesisir .3. upaya penataan kawasan ini perlu dilakukan secara terpadu/terintegrasi dengan kontinuitas fisik kawasan tanpa memandang batas wilayah administratif. serta memerlukan perlakuan khusus terhadap wilayah-wilayah yang memiliki karakteristik tertentu.1 Maksud Kegiatan ini dimaksudkan seabagai salah satu upaya untuk menjaga kelestarian di kawasan pesisir dengan merumuskan dan melakukan strategistrategi berupa langkah-langkah pencegahan. Sungai tersebut berperan sebagai tempat pembuangan limbah industri dan rmah tangga ke wilayah pesisir dimana terdapat sumber daya perairan yang penting bagi perikanan dan akua kultur.6 Timur tergolong sangat tinggi. Memantapkan fungsi lindung kawasan pesisir pantai untuk mengurangi peningkatan dan perluasan dampak lingkungan akibat adanya kegiatan dikawasan pesisir pantai. 2. Sasaran Adapun sasarannya adalah tersedianya Pedoman Pengaturan Ruang Kawasan Pesisir Pantai. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menyusun suatu pedoman pengarutan ruang di Kawasan Pesisir Pantai. perlu dikembangkan suatu model pengelolaan lingkungan yang terpadu dengan kawasan pesisir pantai sebagai satuan unit pengelolaan. 2.

pariwisata. Mengingat permasalahan yang timbul akibat penetrasi kegiatan budidaya terhadap kawasan lindung (land use conflict) lebih banyak terjadi di kawasan perumahan dan pengembangan industri maka lingkup studi ini dibatasi pada kawasan permukiman dan kawasan pengembangan industri yang berlokasi di wilayah pesisir pantai. mengingat bahwa dalam usaha pengelolaan kawasan pesisir pantai harus dilakukan secara terintegrasi maka perlu dirumuskan pedoman Pengelolaan kawasan ini. 3. pesisir selat Bali dan pesisir Selatan Jawa Timur. Ruang daratan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan daratan termasuk perairan darat dan sisi darat dari sisi darat dari garis laut terendah. pelabuhan dan industri minyak.2 Lingkup Kegiatan Pengelolaan kawasan pesisir perlu dilakukan secara terpadu Pengelolaan secara sektoral. (3) Kewenangan pengelolaan. LINGKUP ANALISIS Ruang Lingkup Wilayah Dari definisi di atas dapat diartikan bahwa ruang kawasan pesisir merupakan ruang kawasan di antara ruang daratan dengan ruang lautan yang saling berbatasan.7 (2) Kriteria teknis pengelolaan yang mencakup ukuran-ukuran yang menyatakan bahwa pemanfaatan ruang suatu kawasan pesisir pantai secara teknis sesuai dengan daya dukungnya dan secara ruang bersama-sama dengan kegiatan di sekitarnya memberikan sinergi optimal terhadap pemanfaatan ruang. pesisir Selat Madura. seperti perikanan tangkap.Lokasi studi adalah diwilayah Jawa Timur (Pantura). seringkali menimbulkan konflik kepentingan antar sektor yang berkepentingan yang melakukan aktivitas pembangunan pada kawasan pesisir yang sama. tambak. III. Ruang lautan adalah ruang yang terletak di atas dan dibawah permukaan laut dimulai dari sisi laut pada garis laut terendah termasuk dasar laut dan bagian bumi di bawahnya. Untuk itu perlu dilakukan pengelolaan secara terpadu dengan tujuan . Sesuai dengan tujuan dan sasaran tersebut maka kegiatan ini dibatasi pada ruang daratan yang berada di kawasan pesisir.

. sehingga tujuan kegiatan ini adalah sebagai upaya untuk mencegah dan mengurangi konflik pemanfaatan ruang dapat tercapai.8 untuk mengharmoniskan dan mengoptimalkan antara kepentingan untuk melihat lingkungan. pemerintah propinsi maupun pemerintah kabupaten/kota. pemerintah pusat. (6) Menyusun rancangan Pedoman Pengaturan Ruang Kawasan Pesisir Pantai. (5) Melakukan kajian identifikasi teknologi yang perlu diterapkan dalam upaya pengelolaan kawasan pesisir pantai. keterlibatan masyarakat dan pembangunan ekonomi. terutama yang menyangkut pengelolaan kawasan lindung dan budidaya. (2) Mengkaji berbagai peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan dalam pemanfaatan ruang yang dikeluarkan. Mengingat lingkup pengelolaan kawasan pesisir secara terpadu begitu luas dan melibatkan banyak aspek dan adanya keterbatasan pada penugasan ini maka kegiatan ini dibatasi pada upaya-upaya pengaturan ruang di kawasan pesisir. Untuk itu lingkup kegiatan yang akan dilakukan ini adalah : (1) Melakukan identifikasi permasalahan pemanfaatan ruang yang timbul sebagai akibat dari pemanfaatan ruang yang belum terarah di kawasan pesisir pantai. (3) Melakukan indentifikasi aspek teknis sektoral yang harus diperhatikan dalam setiap langkah pemanfaatan ruang. (4) Melakukan kajian terhadap aspek kelembagaan yang mencakup instansi pelaksana dan kaitannya dengan instansi lain. baik oleh.

yaitu : (a) Laut Jawa (TP) Bulu Tuban dan Weru Kompleks Lamongan. yaitu meliputi gambaran umum dan proses perubahan yang terjadi. Berikut ini akan diuraikan secara lebih terperinci masing-masing desa. Perpecahan kelompok tersebut terutama diakibatkan oleh perselisihan sesama pendega di dalam menentukan pemilikan alat tangkap tersebut. Pembentukan kelompok antar pendega dalam suatu usaha perikanan sangat lemah.9 IV. . Desa-desa pantai telah terbuka dari isolasi. 4.1.2 Wilayah Pedesaan Pantai Madura – Selatan : Bandaran (i) Karakteristik Penduduk Sebagian besar penduduk Bandaran ( ± 95 %) bekerja sebagai nelayan dan sisanya bekerja di bidang pertanian. pegawai negeri dan jasa. Secara umum pendidikan formal nelayan adalah SD atau tidak tamat SD. (b) Wilayah Selat Madura (Bandaran-Pamekasan dan Lekok Pasuruan) dan Wilayah Samudra Indonesia (Laut Selatan Jawa Timur.1 Potensi Wilayah Pedesaan Pantai Potensi Umum Wilayah Pedesaan Pantai Wilayah pedesaan pantai Jawa Timur terletak pada tiga wilayah perairan laut. (ii) Lingkup Sosial Posisi pendega di dalam bagi hasil lebih tinggi (60 %) bila dibanding denga tempat lain yang sebesar 50 %. Muncar Banyuwangi dan Puger Jember.1. KERANGKA KONSEP 4. lepas pantai (Laut Jawa) dan laut dalam (Laut Selatan Jawa Timur). Beberapa isteri pendega membantu bekerja sebagai “bakul” ikan di pasar Bandaran. Sebagian besar anggota rumah tangga tidak bekerja. Latar belakang menjadi pendega ini disebabkan oleh ketrampilan yang diajarkan dari orang tuanya. Sendangbiru Malang) ketiga wilayah laut tersebut pada dasarnya mewakili wilayah penangkapan ikan perairan pantai (Selat Madura). Peranan tambak di wilayah pedesaan pantai tidak merata dan hampir keseluruhannya telah dikelola sebagai tambak udang intensif. sehingga interaksi antar masyarakat di lokasi dengan masyarakat diluarnya telah cukup lancar. Kelompok pendega yang dibentuk saat menerima kredit telah mengalami bubar.1 4.

239 orang (12.10 Kredit yang diberikan oleh pemerintah kadangkala masih dipandang sebagai barang bantuan atau pinjaman yang tidak harus dikembalikan. Setiap hari Jumat diadakan penarikan dana sosial dari para nelayan secara sukarela dengan jumlah berdasarkan kemampuan. Pekerjaan juragan payang sebelumnya adalah sebagai pendega sedangkan nelayan pyang alet sebelumnya bukan sebagai nelayan.1. Sejumlah 95-100% nelayan di Lekok berpendidikan formal SD tamat atau tidak tamat. bekerja ditambak dan mendirikan warung. Nelayan payang alit mulai mengoperasi alat tangkapnya setelah tahun 1980-an. Didaerah ini terdapat kelompok nelayan dan petani tambak yang anggotanya terdiri dari 15-40 orang. Juragan jaring dan pancing lebih dari 50% adalah bekas pendega sedangkan yang lain adalah bukan nelayan. (iii) Lingkungan Sosial-Budaya Nelayan. Dana sosial ini . payang alet. (ii) Karakteristik Responden Responden nelayan juragan di Lekok adalah payang. Jumlah tanggungan keluarga responden antara 3 sampai 5 orang. Mata pencaharian di sektor perikanan dapat diuraikan sebagai berikut : Nelayan 917 RTP. penyakap 9 RTP dan pengolah 196 RTP. jaring dan pancing. mingguan dan ada yang bulanan. (iii) Ketergantungan Ketergantungan nelayan pada pedagang pengumpu ikan basah dan ikan kering cukup besar. 4. Mereka mengadakan arisan hairan. Hasil tangkapan nelayan secara umum langsung dibeli oleh pedagang dari desa tetangga (Desa Tanjung) yang berfungsi sebagai pedagang pengumpul.3 Wilayah Pedesaan Pantai Pasuruan – Situbondo : Lekok (i) Karakteristik Penduduk Jumlah penduduk Kecamatan Lekok 47. Sebagaian kecil isteri mereka (<25%) bekerja sebagai pengolah/pedagang. petani tambak 136 RTP. Sebagian besar nelayan payang telah bekerja sebagai nelayan pada tahun 1970-an. Dalam bayak kasus penunggakan hutang kredit nelayan ada kaitannya dengan masalah ini.220 pria dan 25. petani tambak dan pengolahan ikan pada umumnya melakukan usahanya berdasarkan warisan yang diterima dari generasi pendahulunya.541 KK).019 wanita. terdiri dari 22. Sedangkan juragan jaring antara tahun 1970 dan 1980.

Para nelayan umumnya tidak suka menabung. Untuk mengatasi penyakit tersebut umumnya mereka berobat ke Puskesmas.per orang. antara lain ialah : . sepeda dan sebagainya.11 pada masa paceklik atau muslim laib disumbangkan kepada mereka yang tidak mampu (redistribusi). 4. Sebenarnya di bidang kesehatan dan kebersihan lingkungan hampir 90% penduduk telah mendapatkan penyuluhan tentang rumah sehat. Perkampungan umumnya merupakan pemukiman kumuh dan kurang memperhatikan kebersihan lingkungan..1. hanya ada sebagian kecil jalan kampung yang terbuat dari semen (beton). gizi masyarakat dan KB. beras atau pakaian seharga Rp2. Alasan mereka adalah kemudahan prosedur dan tidak ada bunga atau sangsi yang lain. Keadaan jalan desa/kampung kebanyakan masih tanah atau batu (belum aspalan). Desa pantai umumnya padat penduduk sebagai nelayan. Perjanjian dibuat secara lisa atas dasar saling mempercayai. sehingga penyakit yang sering dialami adalah sakit perut (diare). Apabila hasil tangkapan berjumlah banyak langsung dibelikan barang-barang berharga. Keadaan yang demikian sudah dapat dikatakan layak walaupun belum memenuhi syarat sebagai rumah sehat.500. radio.4. pengolah ikan dan pedagang. jadi jarang sekali penduduk yang menyimpan uang. Hampir semua anak telah mendapatkan imunisasi. Namun karena rendahnya tingkat pendidikan dan tradisi yang kuat. beratap genting dan berlantai semen. sekitar 70-80% penduduk lebih suka membuang limbah dan sampah rumah tangga bahkan sampah pasar kelaut atau sungai. tidak memiliki jamban dan di sekitar rumah masih ada yang memiliki comberan karena tidak adanya saluran pembuangna yang sempurna. Keadaan rumah nelayan dan pengolahan ikan umumnya sudah berdinding tembok atau papan. (i) Kendala Pengelolaan Lingkungan Desa Pantai Beberapa permasalahan yang terjadi pada lingkungna perairan. seperti TV. bahkan sudah ada yang memanfaatkan dokter. biasanya pada desa yang sudah maju atas prakarsa pemerintah desa dengan dana swadaya masyarakat setempat. Modal usaha adalah modal sendiri dan sesuai dengan yang dimiliki atau dipinjam dari kerabatnya. Lingkungan Hidup Pedesaan Pantai Pada umumnya desa pantai menggambarkan suatu desa yang panas dan gersang serta bau yang kurang sedap. Karena kurangnya kebersihan. karena tidak berventilasi. kepada Mantri Kesehatan. Sumbangan dapat berupa uang.

Dengan adanya pembuangan tinja yang tidak higienik. telah membuka peluang terjadinya perubahan lingkungan yang berdampak pada kualitas dan produktivitas perairan.12 (a) Pada musim barat masyarakat nelayan kebanyakan tidak melaut dengan alasan takut terhadap ombak yang besar dan menurunnya produksi perairan. yaitu sebagai sumber makanan. dkk (1984). sehingga kadar garam menjadi rendah. sebagai penahan gelombang. Menurut soedarmo. (b) Pertambahan penduduk yang masih relatif besar berdampak pada banyaknya produksi sampah domestik yang dibuang ke perairan pantai. Tanaman tersebut di tanam di sepanjang jalan desa maupun di halaman rumah penduduk. penahanan instrusi laut. tempat berbiak (spawning ground). misalnya adanya pencemaran dari limbah industri pengolahan ikan dan limbah tampak intensif. angin sangat kencang dan ombak sangat besar. maka gangguan diare dan muntah-berak pada (ii) . dan (iii) ikan-ikan yang suka pada kadar garam tinggi akan bermigrasi ke timur atau ke lapisan bawah. Permasalahan Lingkungan Hidup Pedesaan Pantai (a) Keadaan cuaca di pedesaan pesisir pantai pada umumnya panas. Secara fisik dan kimiawi. pengendali banjir dan pelindung terhadap pencemaran. (b) Menurunnya produksi nener/benur di pantai utara Jawa dan perairan Selat Madura yang dianggap memiliki potensi yang perlu dikembangkan dapat diatasi dengan penanaman kembali pengaturan jalur hijau hutan bakau. berdebu dan berbau yang kurang sedap. Untuk mengatasi hal ini dapat diusahakan dengan mengadakan penghijuan. Untuk mengatasi hal tersebut maka diperlukan perahu yang lebih baik dengan alat tangkap khusus untuk menangkap ikan-ikan yang mungkin bermigrasi vertikal ke lapisan bawah yang lebih dalam. (ii) bagian barat Indonesia curah hujannya tinggi. nursery ground. tempat perlindungan (shelter). yaitu penanaman pohon atau tanaman yang bisa hidup di daerah pantai. Karena hutan bakau mempunyai peranan penting bagi perikanan. musim barat yang terjadi pada bulan Desember-Maret menyebabkan (i) mengalirnya arus yang kuat dari barat ke timur. penahanan erosi tanah. (c) Kemajuan dan perkembangan teknologi yang pesat seperti di Muncar.

armada penangkapan dan modal kerja yang diperlukan. . layar dan/atau motor tempel. Ciri teknologi penangkapan oleh nelayan kecil ini adalah nelayan tanpa perahu menggunakan perahu dayung. alat tangkap yang dipakai. (c) penambahan jumlah unit penangkapan. dan (c) laut lepas (samudera). sampai saat ini masih didominasi oleh usaha nelayan skala kecil. Daerah-daerah penangkapan ini pada kenyataaan tidak dapat dipisahkan secara tegas. Beberapa ciri penting dari usaha kecil ini menurut Sawit dan Sumiono (1986) antara lain: (a) kegiatan kerja lebih padat kerja dengan alat tangkap sederhana. Potensi dan Kendala Pengembangan Teknologi Penangkapan Pemanfaatan sumberdaya perairan oleh nelayan telah semakin intensif sejalan dengan penerapan teknologi penangkapan ikan yang lebih modern. daerah-daerah penangkapan ini. yiatu (a) nelayan yang bekerja di pantai. (b) Teknologi penangkapan yang dipakai masih juga sederhana dan. Secara ringkas nelayan Jawa Timur berdasarkan pada jangkauan daerah penangkapannya dapat dibedakan menjadi tiga kelompok.13 (iii) umumnya merupakan masalah yang sering melanda masyarakat desa pantai. Perahu motor tempel adalah perahu dengan mesin yang dipasang di luar tubuh perahu (out board). Disamping itu. Dalam hal ini inovasi teknologi meliputi : (a) Peningkatan mutu teknologi alat tangkap dan armada penangkapan. (b) diversifikasi penggunaan alat tangkap dan. (b) lepas pantai. Perubahan teknologi yang terjadi selama 20 tahun terakhir di perairan laut Jawa Timur berkaitan erat dengan keadaan lingkungan perairan. (c) tingkat pendidikan dan ketrampilan juga rendah. Sedangkan perairan pantai selatan merupakan wilayah perairan dalam dengan potensi sumberdaya perikanan pelagis dan terpengaruh oleh perairan laut dalam (samudera). eksploitasi sumberdaya perairan pantai pada umumnya masih terbatas pada perairan yang tidak begitu jauh dari tempat tinggal mereka. Perairan laut utara merupakan wilayah selasar benua (continental shelf) yang dangkal dengan potensi sumberdaya perikanan demersial (dasar) dan pelagis (permukaan). Disamping itu. Pengelompokan ini berkaitan erat dengan kedalaman perairan. baik teknologi armada perikanan (perahu/kapal) maupun alat penangkapan (jaring). yang kemudian mempengaruhi jenis ikan yang diburu pada masing-masing unit kerja.

sesuai dengan sumberdaya yang ada atau dengan berpindah daerah penangkapan perairan lain. Pada umumnya kapal motor ini berpangkalan dikota pelabuhan di sepanjang pantai. Keluwesan seorang nelayan untuk pindah sistem penangkapan tergantung pada berbagai hal. Musim panen dicirikan oleh munculnya jenis ikan buruan pada daerah penangkapan. Bila paceklik terjadi karena sebab “hilangnya ikan” yang menjadi buruan. Dalam hubungan ini. Sebagai contoh. dimana para nelayan yang menggunakan kapal motor dari berbagai ukuran kapal dan kekuatan mesin. para nelayan umumnya membagi musim penangkapan menjadi dua. Hal ini berbeda dengan umumnya perahu motor tempel yang berpangkalan di pusat-pusat pendaratan ikan (bukan pelabuhan) yang berada di dekat tempat tinggal mereka. musim panen merupakan saat para nelayan memperoleh puncak penghasilan. Adapun bulan paceklik terjadi bila sumberdaya yang menjadi buruan menghilang dari daerah penangkapan atau bila laut berombak besar. Keragaman alat tangkap memungkinkan para nelayan skala kecil untuk berpindah dari satu sistem kerja ke sub sistem kerja lainnya dalam musim yang berbeda sebagai upaya untuk tetap bisa menangkap ikan.14 Selain itu juga terdapat pula usaha penangkapan ikan dengan skala menengah. (c) ketersediaan tenaga kerja yang mampu melaksanakan operasi penangkapan ikan yang tersedia. yaitu jenis ikan yang sedang musim dan keadaan perairan dan. Sesuai dengan namanya. baik ketrampilan maupun kemungkinan keragaman alat tangkap yang bisa digunakan untuk skala kapal dan mesin yang dimilikinya. diantaranya: (a) Kemampuan nelayan. pada bulan DesemberPebruari seorang nelayan mengoperasikan jaring gondrong (jaring kantong. yaitu musim panen dan musim paceklik. Sebaiknya musim paceklik merupakan saat para nelayan kurang/tidak berpenghasilan. para nelayan mencoba mengatasinya dengan mengganti alat tangkap lain. di Puger. Bila paceklik terjadi karena musim ombak. Kapal motor adalah kapal/perahu dengan pemasangan mesin di dalam tubuh (in board). trammel net). (b) kondisi lingkungan. dan di bulan-bulan berikutnya mereka (nelayan) bisa saja mengoperasikan pancing prawe. biasanya bertepatan dengan musim teduh (laut tidak berombak besar). para nelayan mengatasinya dengan berpindah daerah . Oleh karena itu sub sistem kerja yang ada pada nelayan tidak bisa dianggap sebagai sub sistem yang saling terpisah. kabupaten Jember.

Kedua kejadian tersebut diatas telah berdampak positif terhadap perkembangan teknologi penangkapan ikan di Jawa Timur. Kegiatan andon bisa diduga hanya dapat dilakukan oleh nelayan yang memiliki perahi baik (baik berlayar jauh mencari daerah penangkapan lain) dan/atau memiliki alat tangkap yang beragam. Program pemerintah. Kejadian pertama . Disamping program KIK / KMKP untuk eks ABK trawi. atau kemudian menetap di desa nelayan lainnya disebut andon. (b) variasi alat tangkap yang dimiliki dan. masing-masing kelompok terdiri dari 12 orang anggota.1. Perkembangan Teknologi Penangkapan Ikan Perkembangan teknologi penangkapan ikan di Jawa Timur sudah dimulai sejak lama.5. Yang selanjutnya diikuti dan diakhiri dengan Kepres No. Dengan demikian strategi eksploitasi penangkapan ikan yang dilakukan para nelayan skala kecil tergantung pada berbagai hal. seperti Bimas. yang selanjutnya diikuti program kredit purse saine untuk kelompok nelayan di Muncar sebanyak 30 kelompok. konflik terbuka antara nelayan jaring dan nelayan trawi di pantai utara jawa (Laut Utara dan Selat Madura) sepanjang tahun 1975 – 1979. kredit KIK/KMKP atau bentuk kredit yang lain selama 15 tahun terakhir ini. (c) mutu perahu. Selanjutnya motorisasi perikanan berupa motor tempel berkembang teknologi penangkapan ikan di Jawa Timur. telah memungkinkan banyak nelayan memperbaiki mutu perahu dengan menganekaragaman alat tangkapnya. payang (boat seine). Alat tangkap yang sudah lama mereka kenal berupa pancing (rawai). 4. Pada awal dekade 1970-an dikawasan ini mulai dikenal kapal trawi tipe cungking dari bagansiapi-api yang menggunakan kapal motor.15 penangkapan (migrasi) ke perairan lain yang tenang dan tersedia sumberdaya yang menjadi sasaran penangkapan. b) Kedua. Kegiatan melakukan migrasi mencari daerah penangkapan lain jauh dari tempat tinggalnya melakukan penangkapan ikan di laut. sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan kestabilan pendapatnya dalam musim-musim yang berbeda. diantaranya : (a) potensi sumberdaya. 39 tahun 1980 kemudian diikuti dengan program Bimas Perikanan Tahun 1981 dan 1982. konflik antara nelayan payang dan purse seine di Muncar pada tahun 1974. jaring insang (gill – net) pijer (bottom gill net) dan payang alet (danish seine). Hanya saja pada sisi lain juga membawa implikasi bertambahnya intensitas eksploitasi sumberdaya perikanan laut. yaitu : a) Pertama.

c) Mengingat kondisi perairan yang berbeda antara perairan Laut Utara dan Selatan Jawa Timur. seperti pengenalan kapal penangkapan (kapal purse seine) dan macam-macam gillnet. Persamaannya adalah : ukuran kapal.16 telah mendorong nelayan Muncar mengalihmkan unit kerja penangkapan dari alat payang ke alat tangkap purse seine. seperti gill net dan pancing prawe. Dengan diperkenakannya listrik untuk alat bantu penangkapan. .Kasus perkembangan gardanisasi jaring dogol (danish seine) di Selat Madura. maka perkembangan teknologi yang dimiliki beberapa perbedaan disamping terdapat persamaan. sedangkan di Laut Jawa posisi payang makin marginal. maka kecepatan perubahan nampak sangat tinggi. Mengingat wilayah Muncar telah dikenakan teknologi sejak tahun 1974/1975.Program pemerintah : kasus pemilihan purse seine oleh nelayan sendiri. atau peningkatan kemampuan alat bantu seperti lampu dan rumpon. bahkan semakin memberi arah pada perubahan-perubahan teknologi yang lain. sedang diperairan utara cenderung berkembang macam-macam ukuran gil net kecil sesuai dengan jenis . (2) Di Wilayah Utara (Laut Jawa dan Selat Madura) mengarah pada pengembangan perikanan demersal. Sedangkan kejadian kedua telah mendorong hampir seluruh wilayah perikanan di Jawa Timur terkena dampak pengenalan teknologi penangkapan baru. dan purse seine perkembangan alat tangkap gill net. baik melalui kredit maupun tanpa kredit. Perubahan yang ada mengarah pada penggunaan alat yang makin efisien. seperti gearbox. sehingga motorisasi perikanan berupa motor tempel berkembang sangat pesat dalam dekade 1980-an. telah membuka peluang lain untuk memasuki modernisasi penangkapan ikan lebih luas. disamping diterapkannya alat yang lebih efisien. mesin dan alat tangkap meningkat. Proses persaingan antara payang dan purse seine di Selat Madura. Gambaran tentang tahap-tahap perbaikan teknologi penangkapan yang pernah dilakukan nelayan Jawa Timur adalah sebagai berikut : a) Pada dasarnya nelayan Jawa Timur secara keseluruhan sangat responsif terhadap perbaikan teknologi b) Perubahan struktur pemilihan alat tangkap atau pengganti alat tangkap lain dapat terjadi karena kemungkinan : . Sedangkan perbedaannya meliputi hal-hal yang berkenaan dengan sistem penangkapan : (1) Di Wilayah Selatan mengarah pada perluasan alat tangkap untuk perairan Samudera. khususnya pengembangan gardanisasi payang dogol (danish seine). terjadi keadaan keduannya bertahan pada lokasi penangkapan yang berdekatan (konsistensi).

dan cucut.1. Beberapa kelemahan dan ancaman untuk mendorong dan meningkatkan penerapan teknologi maju selanjutnya antara lain adalah : (a) Tingkat pendidikan dan ketrampilan rendah.6. d) Ditinjau dari segi waktu. baik antar lokasi penelitian. dari pengalaman selama 20 tahun terakhir. maupun juga adanya . (c) kesenjangan ekonomi yang ada juga berdampak terhadap kesenjangan memperoleh informasi teknologi antara jenis alat tangkap maupun antar wilayah masih sangat nampak. tongkol. khususnya pasca larangan penggunaan jaring trawl sejak tahun 1981. bahkan terkesan lnelayan jauh lebih terampil dari pada para penyuluh yang ada. Sementara itu. secara geografis potensi sumberdaya alam yang tersedia di wilayah utara tersedia potensi ikan-ikan demerial belum dimanfaatkan secara maksimal. Beberapa peluang yang mungkin bisa dimanfaatkan nelayan selanjutnya antara lain : (a) Keberhasilan penerapan teknologi yang ada sekarang menumbuhkan optimisme para nelayan. Kesenjangan nampak antara nelayan purse seine dan payang dengan nelayan gill net. Sementara itu peranan penyuluh perikanan masih terasa terlalu rendah. mengingat potensi ikan tuna yang memiliki peluang ekspor. Di bagian utara Jawa Timur banyak berkembang jenis gill net baru. khususnya di wilayah perairan selatan. (d) kelembagaan koperasi (KUD) hampir seluruhnya belum berfungsi. (b) Kesenjangan ekonomi diantara para nelayan tradisional dengan nelayan maju dilingkungan masyarakat nelayan skala kecil itu sendiri makin besar. dan kurang mampu mengatasi permasalahan ekonomi yang dihadapi oleh nelayan. maka keadaan teknologi yang ada sekarang telah maju dari gambaran besarnya investasi terlihat besarnya potensi sumber dana milik nelayan. 4. maka dekade 1980-an adalah merupakan tahap perbaikan adopsi teknologi secara internal yang telah menyiapkan nelayan Jawa Timur memasuki tahap pengembangan teknologi modern selanjutnya. Adapun di wilayah perairan selatan tersedia potensi sangat besar ikan-ikan pelagis seperti ikan tuna. Disamping itu. Di semua lokasi penelitian diperoleh informasi bahwa KUD masih lebih dikenal sebagai pemungut retribusi saja. maupun di lingkungan lokasi penelitian itu sendiri. dan hanya sebagian kecil nelayan yang telah memperoleh modal dari Bank. juga masih dimanfaatkan sangat rendah.17 ikan yang menjadi buruan. rata-rata pendidikan Sekolah Dasar. Pada umumnya sumber dana tersebut merupakan modal sendiri. Menurut perkiraan Dinas Perikanan Propinsi Jawa Timur pemanfaatan potensi perikanan di wilayah perairan laut selatan di bawah 10% dari potensi lestari. Teknologi Penangkapan dan Peluang Pengembangannya Setelah melewati perkembangan teknologi penangkapan ikan di Jawa Timur selama 20 tahun.

kelemahan. sedangkan pada daerah lain perbedaannya tidak begitu menonjol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan hari kerja menurut jenis kapal maupun alat tangkapnya disebabkan keadaan musim (antara musim paceklik dan bukan). peluang dan ancaman yang ada. kemudian payang dan Glinet. Hasil penelitian bahwa hari kerja nelayan tidak penuh 30 hari. misalnya penerapan lampu bawah air. udang barong. antara lain : (a) Wilayah Selatan : perluasan usaha perikanan dengan menggunakan alat tangkap gill net dan pancing prawe. 4. (c) Baik untuk wilayah utara maupun selatan Jawa Timur untuk dikaji lebih dalam adanya penggunaan teknologi lampu di bawah air. Adanya perbedaan pendapatan berdasarkan wilayah penelitian disebabkan karena adanya perbedan teknologi dan fisling . maupun proyek-proyek pelabuhan yang sedang dibangun oleh pemerintah.18 peluang ekspor beberapa jenis ikan dasar seperti ikan kerapu. sarana komunikasi. Hanya lterjadi pada wilayah Puger. gear box untuk mesin kapal maupun pengembangan alternatif purse seine khususnya di Puger Perhitungan kelayakan ekonomi disajikan di lampiran. Aspek Ekonomi Usaha Penangkapan Ikan 4. (b) Cukup tersedia pilihan teknologi baru.2 Tingkat Pendapatan dan Kelayakan Teknologi Tingkat pendapatan usaha penangkapan ikan ada pada jenis Purse Seine. dikarenakan memperbaiki alat tangkapnya. Hal ini disebabkan karena pada wilayah Puger dan musim tersebut terjadi angin barat yang menyebabkan gelombang laut cukup besar. Sehubungan dengan adanya faktor kekuatan.1 Hari Kerja Usaha Penangkapan Ikan Hari kerja usaha penangkapan ikan di Jawa Timur 17-26 hari. sehingga perbaikan teknologi yang berhasil disuatu lokasi perikanan akan segera tersebar ke seluruh wilayah. (c) Adanya efek demonstratif dari perbaikan teknologi antar wilayah cukup besar untuk mengurangi adanya wilayah yang belum terjangkau oleh pengenalan teknologi. (b) Wilayah utara perluasan usaha perikanan dengan menggunakan alat tangkap dogol (danish seine) bergardan yang ditujukan untuk memanfaatkan potensi perikanan dasar (demersal) di Laut Jawa dan Selat Madura. maka pengembangna teknologi penangkapan masa depan di Jawa Timur ada beberapa pilihan layak secara teknis. Penyebaran teknologi tersebut lebih dipercepat mengingat daya migrasi dan andon para nelayan antar wilayah cukup besar.2.2. udang dan lainnya untuk wilayah perairan utara Jawa Timur.2. 4. Disamping itu pada waktu terang bulan juga nelayan tidak bekerja dikarenakan tidak ada ikan.

yaitu (a) wilayah Timur-selatan (Muncar dan Puger). Ditinjau dari segi pendapatan pendega (ABK) Gilnet yang tertinggi. Pekerjaan istri rata-rata adalah berjualan . Jenis Dogol yang dikombinasikan antara pancing perawe permukaan tampaknya dapat dilakukan. Potensi dan Kendala Sumberdaya Manusia dan Sosial Budaya Uraian ini akan menggambarkan kondisi umum nelayan dan pengolah serta penduduk lainnya yang terdapat di keenam daerah penelitian. misal pedagang skala kecil. tampaknya relatif lebih stabil. sedangkan para juragan darat umumnya memiliki pendidikan yang lebih tinggi. a) Karakteristik Penduduk Alokasi waktu anggota keluarga pendega membantu kegiatan produktif bervariasi. Jenis Gilnnet dan Purseine. gill net. pancing dan payang. Dengan demikian apabila nelayan dapat mengoperasi diluar wilayah (andon). b) Karakteristik Responden Nelayan juragan responden di Muncar terdiri dari empat alat tangkap. Sedangkan di wilayah utara tampaknya pengembangan pada penggunaan “alet” yang lebih beragam.2. Pendidikan pendega pada umumnya sampai pada tingkat SD atau tidak tamat SD.3. pembuat ikan olahan (tepung ikan) dan warung makan skala kecil. Variasi pendapatan permusim tampaknya terjadi perbedaan. (b) Wilayah utara /Selat Madura (Lekok dan Bandaran) dan (3) Wilayah utara/Laut Jawa (Bulu dan Weru). yaitu purse seine. sedangkan untuk nelayan gill net dan payang antara 6 sampai 8 orang.19 gronnd purse seine di Muncar (Banyuwangi) pendapatan tertinggi dibanding lain dengan wilayah lain. 4. Rata-rata jumlah keluarga juragan purse seine dan pancing adalah 4 sampai 5 orang. Sebagian kecil saja yang memanfaatkan waktunya untuk kegiatan produktif. Usaha pembuatan tepung ikan skala rumahtangga dan dijual di pasar muncar. Ditinjau dari segi kelayakannya ternyata gill net pantas dikembangkan untuk peningkatan golongan nelayan kecil (pendega). dikenalkan etimologis sudah maju dengan fisling groundnya lebih jauh. Namun hasil penelitian menunjukkan juga ditentukan oleh wilayah (Potensi Sumber Daya Ikan). Keenam daerah tersebut dikategorikan ke dalam tiga satuan wilayah. hal ini dikemukakan karena disamping teknologinya semi maju. juga disebabkan jumlah ABK lebih sedikit. pendapatannya cenderung stabil hal ini banyak dilakukan oleh nelayan di Muncar. Pengetahuan dan ketrampilan nelayan tentang aspek penangkapan ikan rata-rata lebih tinggi dari pada para tugas lapangan dari TPI/KUD dan PPL.

(termasuk TPI) asal para pembeli (Pengolahan Ikan) ikut melakukan lelang di TPI. Peranan Camat dan Lurah/Kepala Desa dihadapi secara netral. . Pendega berasal dari dalam dan luar desa nelayan. Secara umum respon masyarakat nelayan pada program pemerintah “positif”. c) Lingkungan Sosial Latar belakang menjadi pendega bervariasi. tatapi kredit tidak harus dibayar. Hal ini berlangsung pada tahun 1974-1979. Ketika peranan KUD dominan dalam pengelolaan kredit kelompok pendega. Penentu respon ini masih selalu dikaitkan dengan keuntungan ekonomi nyata yang diperoleh oleh para pendega. Hal ini dapat diamati dari hasrat untuk mencari informasi dan memperbaiki teknologi yang dimiliki yang terus berubah semakin intensif. sebab tidak bisa ditentukan penanggung jawab tunggal. Nelayan lokal cenderung memilih pendega karena tidak ada alternatif pekerjaan lain. dan ada yang asal luar daerah seperti. apalagi kredit kelompok. Arahan pejabat ini akan dituruti jika “menguntungkan” dan akan tidak ditanggapi bila “tidak menguntungkan”. pelabuhan perikanan dan proyek pemerintah lainnya. Kasus konflik di Muncar 1974 berakar pada peranan “juragan yang kuat” dan mereka dirugikan oleh pihak tertentu di masyarakat. maka respon mereka sangat positif. Probolinggo. Hal demikian ini menjadi berbeda.20 “Mracangan”. Demikian pula nelayan sangat setuju bila diadakan lelang murni. Sebagian besar nelayan Muncar ini bekerja sebagai nelayan pada tahun 1970-an. Bila kebijaksanaan pejabat tersebut dianggap “merugikan” maka nelayan pendega diorganisir oleh juragan untuk menentangnya. Pengembalian kredit lancar dan bahkan nelayan dapat melunasi pinjamannya kepada KUD. Bondowoso dan Jember. Hal demikian ini tidak diikuti pada pemberian kredit Bimas I dan Bimas II tahun 1981/1982 (gill net dan payang). d) Respon Masyarakat terhadap Kredit dan Program Pemerintah. sehingga ada kecenderungan tidak melunasi pinjaman. Respon terhadap perkembangan teknologi nelayan Muncar sangat positif. Hutang harus dibayar. Panutan nelayan di Muncar adalah juragan yang sekaligus “mengerti agama”. Serta Teknologi. Alat tangkap tersebut tidak segera menguntungkan nelayan dan pengembaliannya hanya mencapai sekitar 15-25%. Masyarakat nelayan menilaikan bahwa “kredit pemerintah” merupakan fasilitas yang menjadi hak mereka. terlebih lagi vila alat tangkap mereka cepat mengalami kerusakan. Madura. bila mereka mempunyai hutang kepada tetangga atau kepada kerabatnya. Disamping itu juga ada yang digunakan untuk meniti profesi ke arah juragan laut dan kemudian menjadi juragan darat. Sebagian besar pendidikan mereka adalah SD atau SD tidak tamat. Pendega luar desa nelayan ada yang dekat desa nelayan dan biasanya bekerja sebagai buruh tani.

Kedatangan pendega yang andon ke desa nelayan menyebabkan “harga” tenaga kerja menjadi lebih murah. Penerimaan bagi hasil yang rendah ini tidak menggairahkan pada semangat kerja pendega. sosial budaya masyarakat di seluruh wilayah. Penyusunan rencana tata ruang bertujuan untuk menumbuhkan ekonomi wilayah dan memeratakan perkembangan ekonomi.. mengintegrasikan wilayah dalam rangka memantapkan ketahanan nasional serta mengoptimalkan pendayagunaan . 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah Pasal 4 (1) Dalam rangka pelaksanaan asas desentralisasi dibentuk dan disusun daerah propinsi. dan kecamatan wilayah studi. POTENSI SUMBERDAYA DAN PERATURAN PERUNDANGAN 5.Pendega dapat pindah ke juragan lain dengan cara melunasi pinjamannya. Rencana Tata Ruang Wilayah Kotamadia/Kabupaten (Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan. V. (2) Daerah-daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) masing-masing berdiri-sendiri dan tidak mempunyai hubungan hicrarkhi satu sama lain. Rencana Tata Ruang Kawasan Perdesaan dan Rencana Tata Ruang Kawasan Tertentu). 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang bahwa Rencana Tata Ruang berdasarkan hicrarkhi atas Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. maksimal Rp. Berdasarkan Undang-Undang No.1. Hal demikian ini digunakan oleh juragan darat dan juragan laut untuk menurunkan bagian hasil tangkap. Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi. 50. Sihingga untuk perencanaan tata ruang yang ada di kabupaten bukan merupakan penjabaran dari Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi tetapi merupakan sinkronisasi dari Rencana Tata Ruang yang ada di wilayah propinsi.000. Kebijakan tersebut adalah rencana tata ruang. daerah kabupaten dan daerah kota yang berwewenang dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasar aspirasi masyarakat. kebijakan sektoral terkait. Berdasarkan Undang-Undang No.21 e) Ketergantungan Nelayan Untuk mempertahankan pendega agar tetap bekerja kepada juragan maka juragan memberikan pinjaman kepada pendega. Pendahuluan Studi penyusunan pedoman pengaturan ruang kawasan pesisir pantai pada dasarnya tidak terlepas dari kebijakan pemerintah propinsi Jawa Timur. kabupaten.

6. Wilayah pesisir pantai merupakan wilayah peralihan antara daratan dan perairan laut. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria Undang-Undang No. termasuk dasar laut dan bagian bumi di bawahnya. XV1999 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara Undang-Undang No. Dasar Penyusunan Studi Pedoman Pengaturan Ruang Kawasan Pesisir Pantai di Jawa Timur adalah : Undang-Undang Dasar 1945 TAP MPR No. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan PokokPertambangan 1. . 7. dengan lebar yang ditentukan oleh kelandaian (% lereng) pantai dan dasar laut. serta dibentuk oleh endapan lempung hingga pasir yang bersifat lepas. 4. Ruang kawasan pesisir merupakan ruang wilauah diantara ruang daratan dengan ruang lautan yang saling berbatasan. Ditinjau dari garis pantai (coastline). maka suatu wilayah pesisir memiliki dua macam batas (boundaries). 5. dan kadang materinya berupa kerikil. Ruang daratan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah ermukaan daratan termasuk perairan darat dan sisi darat dari garis laut terendah. yaitu: batas yang sejajar garis pantai (longshore) dan batas yang lurus terhadap garis pantai (crosshore). 3. ditetapkan berdasarkan penentuan batas Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) kewewenangan Indonesia untuk mengelola wilayah kelautan adalah sejauh 200 mil dari pasang surut terendah. Berdasarkan kebijakan dan stategi pembangunan wilayah pesisir dan kelautan. 4 Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia Undang-Undang No. 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan Undang-Undang No. Secara fisiografis didefinisikan sebagai wilayah antara garis pantai hingga ke arah daratan yang masih dipengaruhi pasang surut air laut. IV/MPR/1993 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara TAP MPR No. Sedangkan berdasarkan Undang-Undang No.2. 2. Wilayah pesisir daat diartikan suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan. 5. 22 Tahun 1999 dijelaskan bahwa wewenang pengelolaan wilayah kelautan bagi propinsi adalah 12 mil. Ruang lautan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan laut dimulai dari sisi laut pada garis laut terendah.22 sumberdaya alam secara serasi dengan sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan. dan bagi kabupaten/kota kewenangan pegelolaan wilayah kelautannya adalah 4 mil.

5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya 21. Undang-Undang No. Undang-Undang No. Undang-Undang No. 12 Tahun 1985 tentang Perikanan 15. 17 Tahun 1985 tentang Pengeshahan United Nations Convertion on the Law of the Sea (Konversi PBB tentang Hukum Laut) 16. 13 Tahun 1980 tentang Jalan 10. Undang-Undang No. Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran 22. Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan hidup 19.23 8. Peraturan Pemerintah No. Undang-Undang No. Peraturan Pemerintah No. 5 Tahun 1985 tentang Perindustrian 14. Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan hidup 12. Undang-Undang No. Undang-Undang No. Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan Undangundang tahun 1967 Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan 26. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah 24. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang 23. Undang-Undang No. 27 Tahun 1991 tentang Rawa 32. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom . 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan 18. 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan 31. Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air 28. 5 Tahun 1967 tentang Landas Kontinen Indonesia 9. 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia 11. 5 Tahun 1990 tentang Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya 17. 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekslusif Indonesia (ZEE) 13. Undang-Undang No. Undang-Undang No. Undang-Undang No. 23 Tahun 1982 tentang Irigasi 29. Peraturan Pemerintah No. Undang-Undang No. Undang-Undang No. 35 Tahun 1991 tentang Sungai 33. Undang-Undang No. Undang-Undang No. Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 1990 tentang Perumahan dan Pemukiman 20. 26 Tahun 1985 tentang Jalan 30. Undang-Undang No. 69 Tahun 1996 tentang Peran serta Masyarakat dalam Kegiatan Penataan Ruang 34. 33 Tahun 1970 tentang Perencanaan Hutan 27. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah 25. Peraturan Pemerintah No. Undang-Undang No.

14 Tahun 1988 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau 42.3. Dampak penting terhadap ekosistem tergantung pada tipe pemukiman pesisir. 8 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Budaya 39. Pemendagri No. Pembinaan desa pantai tersebut akan dilaksanakan secara terpadu. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. karena pada tahap ini akan dilakukan pembukaan wilayah dan pengubahan ekosistem (konversi). Pemendagri No. dimana dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut dipengaruhi oleh sifat alam kawasan pesisir. Kebijaksanaan Pemukiman Kawasan pemukiman pesisir merupakan suatu lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Kebijaksanaan yang akan dilaksanakan dalam Pembinaan Desa Pantai ialah : a. Sedangkan hal yang penting lagi adalah pada tahap konstruksi. 33 Tahun 1989 tentang Pengelolaan Kawasan Budaya 38. Keputusan Presiden Republik Indonesia No.24 35. Pemendagri No. Keputusan Gubernur KDH Tingkat I Jawa Timur No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Hutan Lindung 37. 53 Tahun 1989 tentang Kawasan Industri 36. Pengembangan kawasan pesisir untuk kawasan pemukiman penting memperhatikan keadaan ekosistem sekelilingnya. Memperbaiki tingkat kehidupan masyarakat desa pantai yang kondisinya jauh tertinggal dibandingkan dengan desa-desa lainnya . Keputusan Presiden Republik Indonesia No. Konsep pengembangan pemukiman di kawasan pesisir yang dapat diterapkan adalah pengembangan desa pantai. 2Tahun 1998 tentang Pedoman Penyususnan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Dati II 41. Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 9 Tahun 1998 tentang Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Proses Perencanaan Tata Ruang di Daerah 40. 59 Tahun 1990 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Jawa Timur 5. Upaya yang harus dilakukan antara lain adalah membina masyrakat desa pantai untuk lebih aktif dan berperan dalam pembangunan desa.

nyata dan bertanggung jawab kepada pemerintah daerah. Membina kelembagaan desa pantai f. pariwisata. Pedoman Pengaturan Ruang Kawasan Pesisir Pantai Sejalan dengan kebijakan pemerintah yang tertuang dalam TAP MPR No. Penyuluhan konservasi lingkungan desa pantai untuk menunjang kelestarian sumberdaya alam dipesisir dan lautan g. Tujuannya adalah untuk memberikan arahan zonasi kawasan budaya dan kawasan lindung. termasuk dalam pengelolaan sumberdaya alam. XV/1999 pasal 1 dan 2. Diharapkan faktor keutuhan peranan sumberdaya alam dalam tatanan lingkungan menjadi penting untuk dilestarikan. Rekayasa teknologi tepat guna dan tepat tingkungan untuk daerah desa pantai 5. Peningkatan peran serta masyarakat dan swasta h. pertanian. Sehingga keutuhan peranan sumberdaya alam dalam tatanan lingkungan menjadi penting untuk dilestarikan. yang mempunyai peranan strategis dalam pembangunan nasional dan regional. Sedangkan kawasan lindung meliputi kawasan yang memberikan perlindungan . Kawasan budaya meliputi kawasan pemukiman. Memperbaiki tingkat pendapatan masyarakat desa pantai melalui upaya-upaya pemanfaatan sumberdaya laut dengan teknologi siap pakai c. Pengaturan tersebut selanjutnya diterjemahkan menjadi pola pengelolaan raung kawasan pesisir pantai. Pedoman kebijakan pemanfaatan ruang kawasan pesisir pantai meruapakan kebijakan penetapan kawasan berdasarkan keseuaian pemanfaatan ruangnya. menyatakan bahwa pemerintah daerah berwenang mengelolan sumberdaya nasional dan bertanggung jawab memelihara kelestarian lingkungan. bahwa penyelenggaraan otonomi daerah dengan memberikan kewenangan yang laus. Penyediaan infrastruktur dan fasilitas sosial e.4.XV/1999.25 b. Memperbaiki kualitas pemukiman d. Pasal 5 TAP MPT No. Pedoman pengaturan ruang kawasan pesisir pantai secara terpadu yang dimaksud adalah pengelolaan secara terpadu antar lintas sektoral. Pedoman pengaturan tersebut merupakan landasan bagi penyusunan perencanaan taktis dan perencanaan operasional. Pedoman pengaturan ruang kawasan pesisir pantai dilakukan secara terpadu antar sektoral harus ada keterpaduan antar lintas sektoralnya. perikanan.

78 Ha dan sebagian kecil berada pada kelerengan 0 – 2 % yaitu 52.787 Ha. Gedangan. Ngajum. Tajinan. Luas wilayah darat Kabupaten Malang ialah 334. antara lain kawasan hutan lindung. Donomulyo.11” – 80 26’ 34. sebagian besar berada pada kelerengan 2 – 15 %. Kondisi Topologi Kondisi Topologi yang dimaksud adalah kondisi kelerengan dan ketinggian.030. sebagian Kecamatan Singosari. Kabupaten Malang ditinjau dari kondisi fisik dasar.625 Km. Bantur. curah hujan dan kondisi klimatologi.78 Ha dan sebagian kecil berada pada kelerengan 0 – 2 % yaitu 119. 837/KPTS/UM/1980. Dau. Turen. daerah yang berada pada kondisi landai hingga pegubungan berada pada kecamatan Bululawang. Lawang. kondisi geologi.5. Sedangkan daerah bergelombang berada pada Kecamatan Sumbermanjing Wetan.45” LS. kondisi jenis tanah.26 kawasan bawahannya. kawasan sempadan pantai. 22 tahun 1999). Kriteria tata cara penetapan kawasan lindung dan kawasan budaya ini telah diatur dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian No. Kabupaten Malang merupakan wilayah yang cukup luas. drainase.0” BT dan 70 44’ 55. a. kawasan rawan bencana. Pagak. Pakis.030. 5. Gondanglegi.78 Ha. pantai dan laut. yang terdiri dari wilayah darat. Kromengan. Sedangkan wilayah laut adalah 4 mil (berdasarkan UU No. Sumber Pucung. Kabupaten Malang ditinjau dari kondisi kelerengannya. Kalipare. Kondisi ketingginan Kabupaten Malang berada pada ketinggian 0 – 200 m di atas permukaan laut. Karangploso. sempadan sungai. terdiri dari kondisi topografi (keterangan dan ketinggian). Wagir dan Wonosari.9”-1120 57’ 0.607. erosi. dengan garis pantai sepanjang 102. Dampit. . Ditinjau dari kondisi morfologinya. Gambaran Wilayah Kabupaten Malang Kabupaten Malang ditinjau dari posisi koordinat Bujur dan Lintang berada pada posisi 120 17’ 10. Kepanjen dan Pakisaji. yaitu 119. kedalaman efektif tanah.

Diagram Evaluasi Sumberdaya Lahan .27 Analisis Kesesuaian Pemanfaatan Lahan Penentuan zona-zona penggunaan lahan Menggunakan unit lahan sebagai unit analisa Karakteristik Lahan Yang Dianalisa Keadaan iklim Kondisis tanah SKOR Kemiringan lahan < 75 kawasan budidaya tanaman semusim/ pemukiman 75 – 125 kawasan budidaya tanaman tahunan 125 – 175 tamanan penyangga < 175 Kawasan lindung Gambar 2.

52 Ha (44.220 Ha (4 %). Kondisi Fisik Kondisi fisik yang mendukung gambaran umum daratan adalah keadaan topografi. miosen facies sediman dan alivium. erosi dan bahan galian.260.5. klimatologi.2. Sedangkan luas terkecil struktur geologi adalah miosen facies sedimen yaitu 12. Gambaran Umum Wilayah Pesisir A. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.142.834 Ha (3. Sedangkan yang terkecil luasannya adalah jenis tanah brown forest yaitu 6. brown forest.83 %).152.5. 5.186 Ha atau sekitar (26 %) dari luas keseluruhan. Penggunaan Tanah Penggunaan tanag di Kabupaten Malang didominasi kawasan tegal/kebun seluas 117.528 Ha (0. yaitu 86. Adapun uraian masing . hasil gunung api kwarter tua.36 Ha (25.160 Ha atau 36 % dari luas keseluruhan. Lahan permukiman 44. c. 5.83 %). yaitu : Jenis tanah andosol. Struktur geologi terluas adalah hasil gunung api kwarter muda yaitu 145. regosol.56 Ha (83.01 %).1. alluvial. padang rumput 41 (Ha) (0. Untuk lahan sawah seluas 48385 Ha (15 %).31 %) dan sebagian kecil berada kedalaman efektif tanah < 30 cm.28 b.masing kondisi fisik tersebut adalah sebagai berikut : . Kondisi Geologi Kondisi geologi di Kabupaten Malang terdiri dari 5 struktur geologi yaitu hasil gunung api kwarter muda.76 %).925.06 %).25 %). jenis tanah.859 Ha (14 %). d. Kawasan terluas kedua berupa hutan seluas 86. Kondisi Jenis Tanah Jenis tanag di Kabupaten malang terdiri dari 7 jenis tanah. Jenis tanah terluas adalah latosol. kedalaman efektif tanah.77 %). mediteran. tekstur tanah. miosen facies gamping. litosol. latosol. Lahan dengan penggunaan lainnya seluas 12.25 Ha (1. hidrologi. Kedalaman Efektif Tanah Kedalaman efektif tanah di Kabupaten Malang sebagian besar berada pada kedalaman > 90 cm. yaitu 278. yaitu 2.4. tambak 188 Ha (0.

Tamban.5 Tirtoyudo 230 2996. Wonogoro dan Kondang Merak.5 9607.5 9156 Sumber : Revisi RTRW Kabupaten Malang 15 – 40 % 5336. Kondisi muara sungai pada musim kemarau pada umumnya tertutup pasir.25 11097. Muara sungai yang terletak di pantai licin dipenuhi oleh pasir yang berasal dari Gunung Semeru. Lenggosono.5 Bantur 316.75 Donomulyo 96. kali Duron. Selama Gunung Semeru masih aktif diperkirakan sungai dan muaranya akan terus penuh dengan pasir.5 Kelerengan Wilayah Pesisir Kecamatan 0–2% 2 – 15 % Ampel Gading 1273. sehingga aliran sungai terhenti di mulut muara dan baru terbuka pada musim penghujan.25 4089 5004. Sipelot. Hal ini bisa diindikasikan bahwa pada wilayah perencanaan kondisi lahannya bergelombang sampai terjal. Bopakang.5 Gedangan 347. Tingkat kelerengan wilayah berkisar diantara kelerengan 2 – 15 %.5 5839.5 3942. Kali sumberbulus bermuara di .5 5130.75 1019. Topografi Berdasarkan kondisi topografinya wilayah perencanaan memiliki ketinggian kirang lebih dari 0 – 2000 meter di atas permukaan laut dan keadaan yang bervariasi yaitu kondisi terjal sampai pegunungan. Kali Bambang (Kecamatan Sumbermanjing Wetang).29 a.75 412 1414 b. Adapun sungai-sungai yang melewati wilayah perencanaan yaitu kali Giok yang bermuara di Pantai Licin. Bopak dan Sumber bulus. Kondisi air permukaan yang dimaksud adalah air sungai dan kondisi air tanah adalah sumber/mata air yang berasal dari dalam tanah. Semakin mendekati daerah pantai umumnya memiliki karakteristik daerah pegunungan kapir dan kemiringannya sangat besar. Hidrologi Kondisi hidrologi yang dilihat di pantai Kabupaten Malang meliputi kondisi air permukaan dan kondisi air tanah. Tabel 5.33 Sbermanjing Wetan 987 5437. 15 – 40 % dan 40 %.5 > 40 % 10781.33 10929. Untuk kelerengan > 40 % yang sebagian besar meliputi Kecamatan Ampelgading dan Tirtoyudo merupakan daerah yang harus dihutankan karena mempunyai fungsi sebagai perlindungan terhadap tanah dan air dan menjaga ekosistem lingkungan hidup. Pasir inilah yang mengakibatkan pasir di pantai Licin yang semula putih menjadi kehitaman. Pantai-pantai yang memiliki sumber air permukaan atau aliran sungai adalah pantai Licin.75 5090.34 6595.

Dalam suatu kawasan yang terdapat budidaya pertanian.85 per tahun.25 0C sampai dengan 31. Cara memperoleh dilakukan dengan cara mengebor dengan kedalaman 40 – 60 meter disamping sumber air dalam tanah. kemudahan erosi. porositas dan sebagainya. Untuk kawasan pesisir daerah Malang Selatan menurut Tabel Hasil Perhitungan Kemampuan Tanah Kabupaten Malang adalah tergolong jenis Latosol dan Andosol walaupun ada jenis Alluvial akan tetapi jumlahnya relatif lebih sedikit lebih sedikit dibandingkan dengan jenis Latosol dan Andosol. Jenis Tanah Berdasarkan jenis tanah ini dapat diketahui sifat-sifat tanah yang bisa menginformasikan tingkat kesuburan.012.70. Menurut Budi Santoso (1989). pendekatan yang dilakukan pada pengertian tanah adalah lapisan dan teratas dari kerak bumi yang terdiri dari tiga fase yaitu bahan padat. Dengan pendekatan pengertian tersebut diatas. Sumber air tanah sebagai sumber air tawar diperoleh dari dalam tanah.45 0C (suhu rata-rata dari empat stasiun pengamat cuaca antara 23 0C sampai 25 0C). Dari jenis tanah ini juga bisa diketahui potensi suatu wilayah untuk pengembangan dalam berbagai sektor. Diantara kedua musim tersebut ada musim peralihan antara bulan April – Mei dan Oktober – November.596 mm dan hari hujan 84. Tekanan udara dibawah 1. Curah hujan turun antara bulan April – Oktober. Iklim menentukan setiap macam/tipe vegetasi yang terbentuk pada suatu wilayah. Kali Balekambang (Kecamatan Bantur) dan Kali Sumbermanjing (Kecamatan Donomulyo).30 Pantai Wonorogo. Sedangkan tanah . Curah hujan rata-rata per tahun 1. Pada wilayah dengan curah hujan tinggi terbentuk vegetasi hutan. Apabila ketiga bahan tersebut adalam keadaan optimum merupakan media tumbuh bagi tanaman. d. tanah latosol memiliki merah karena meningkatnya konsentrasi Fe dan Al yang keluar dari solum. Klimatologi Keadaan cuaca di wilayah perencanaan seperti umumnya cuaca di Kabupaten Malang memiliki iklim tropis dengan suhu 18. tergantung pada panjang bulan basah dan panjang bulan kering. bahan cair dan bahan gas. sehingga memerlukan pengelolaan teknis dan mekanis dengan sebaik-baiknya. sumber air utama penduduk adalah mata air yang lokasinya tersebar di seluruh wilayah. tanah dapat diekspresikan sebagai bahan/media tumbuh tanaman yang sangat marginal. sedang pada pada suatu wilayah yang mempunyai curah hujan rendah akan terbentuk vegetasi semak belukar ataupun padang rumput. c.

g. Kegiatan/perlakuan manusia. Dilihat dari faktor fisik yang meliputi topografi. Tanah dengan tingkat kedalaman yang besar biasanya banyak ditumbuhi tanaman-tanaman besar dengan perakaran yang dalam. Kondisi-kondisi seperti ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena akibat adanya erosi menyebabkan terjadinya sedimentasi. Tanaman penutup tanah (vegetasi) e. Kemungkinan besar faktor-faktor lain yang menjadi penyebabnya. mudah erosi dan sesuai untuk tanaman tahunan. Kedalaman Efektif Tanah Kedalaman efektif tanah sangat berkaitan dengan kesuburan dan kesesuian jenis yanaman. gedangan dan Bantur tingkat erosinya cukup tinggi. Iklim b. sebenarnya merupakan proses penghayutan tanah oleh desakan-desakan atau kekuatan air dan angin. e. Tekstur Tanah Tekstur tanah merupakan sifat tanah untuk mengetahui berbagai sifat lainnya. termasuk kelompok tekstur tanah SEDANG HINGGA KASAR. f. Karena tingkat kedalaman efektif tanah berpengaruh pada kedalaman akar. . Erosi Erosi dapat disebut juga pengikisan atau kelongsoran. Tanah c. Bentuk kewilayahan atau topografi d. Terjadinya erosi dipengaruhi oleh lima faktor yaitu : a.31 Andosol memiliki ciri tanah subur. Kesalahan dalam pengelolaan tanah. Pada wilayah perencanaan tingkat erosinya tergolong rendah namun pada Kecamatan Ampelgading. pemilihan jenis tanaman yang kurang tepat atau mungkin tidak dilakukan pengelolaan tanagh sama sekali dan tanah sendiri tidak tertutup vegetasi barangkali menjadi penyebabnya. baik yang berlangsung secara alamiah ataupun sebagai akibat tindakan/perbuatan manusia. iklim dan tanah sebenarnya tidak ada masalah.

perkebunan. Tirtoyudo 1753 3. terdapat keterkaitan ekologis (hubungan fungsional) baik antar ekosistem di dalam kawasan pesisir maupun antara kawasan pesisir dengan lahan di atas dan laut lepas . Sawah Proporsi luas lahan sawah sangat kecil dibandingkan dengan penggunaan tanah untuk jenis pertanian yang lain dan jenis penggunaan tanah pada umumnya. breksi. Lahan pertanian khusunya untuk .9. Bantur 6740 6. hutan. tambak dan lainnya (antara lain makam. Sb. B. batu gamping. Pemukiman Pemukiman tersebar pada daerah-daerah yang relatif datar dan menyebar pada jalan-jalan yang ada. kaolin. tegalan serta lahan kosong. Bahan-bahan galian tersebut meliputi : pasir. Lokasi sekitar kawasan pemukiman masih didominasi lahan pertanian. a. jalan dan sebagainya). Karena secara empiris. lempung. b. tras. kebun.32 Tabel 5. Manjing Wetan 4360 4. Donomulyo 3553 Sumber : Revisi RTRW Kabupaten Malang No Kecamatan Tidak Erosi (Ha) 14636 12443 19590 8879 9175 12118 Jumlah (Ha) 21344 14196 23950 16065 15915 15671 h. Erosi Tanah Di Wilayah Pesisir Ada Erosi (Ha) 1. mengakibatkan pertanian kurang berkembang. Kondisi tanah yang cenderung kering dan padas serta topografi yang relatif terjal. perkebunan. Pemukiman lebih terpusat di ibukota Kecamatan dan sekitarnya. tegalan. Gedangan 7186 5. Bahan Galian Pada wilayah perencanan mempunyai kekayaan alam berupa sumber mineral yang cukup potensial untuk dikembangkan. fosfat. Pemanfaatan Lahan Daratan Pemanfaatan dan pengelolaan lahan di daeratan secara tidak langsung akan mempengaruhi kondisi di wilayah pesisir. Ampel Gading 6698 2. Aksesibilitas umumnya kurang bagus dan prasarana penunjang terbatas dan hampir tidak ada . sawah. oker dan batu pasir. Pemanfaatan lahan di daratan meliputi pemukiman.

Jenis-jenis tanaman semusim yaitu jagung. Akibat terjadinya penjarahan pada lahan perkebunan mengakibatkan lahan tegalan dan kebun ini semakin luas. Fungsi hutan sendiri terbagi menjadi 2 yaitu hutan produksi dan hutan produksi terbatas. Mengingat kondisi fisik wilayah terutama topografinya yang cenderung curam. Kondisi perkebunan pada saat ini sangat memprihatinkan akibat adanya pengrusakan dan penjarah oleh masyarakat. kopi dan coklat. ketela pohon. Kondisi ini pada sebagian wilayah terutama di bagian barat makin diperparah dengan sistem irigasi yang juga kurang baik. Sedangkkan pada bagian Timur lebih banyak banyak diusahakan tanaman kebun yaitu kebun kelapa. Kawasan hutan yang termasuk dalam hutan produksi terbatas tersebar mulai dari Timur ke Barat yaitu Kecamatan Ampelgading sampai dengan Kecamatan Donomulyo. Perkebunan Proporsi lahan perkebunan lebih banyak terletak di bagian Timur wilayah perencanaan jenis tanaman yang dikelola adalah cengkeh. cabe dan sebagainya. Namun pada saat ini sebagian besar tanaman cengkeh. kacang-kacangan. Hutan yang terletak pada kawasan budidaya adalah hutan produksi tetap dan kawasan hutan produksi yang terletak pada kawasan non budidaya adalah hutan produksi terbatas. e. maka hutan ini memiliki fungsi yang sangat vital bagi keseluruhan ekonsistem baik di darat maupun di laut. Tegalan/Kebun Dibandingkan dengan lahan persawahan. lahan untuk tegalan dan kebun memiliki proporsi yang lebih besar. Geomorfologi yang kurang subur ini menyebabkan pertanian basah seperti tanaman padi dan sistem gilir tidak bisa berkembang dengan baik. Posisi lahan perkebunan sebagian besar terletak pada kemiringan yang besar. Lahan tegalan banyak diusahakan di bagian barat dari wilayah perencanaan. kopi dan coklat semakin berkurang jumlahnya. c. cengkeh. . Sedangkan yang termasuk hutan produksi tetap terdapat di Kecamatan Sumber manjing Wetan dan Kecamatan Bantur. d. kopi dan coklat.33 tanaman padi terbatas pada lahan yang relatif datar. karet. Hutan Hutan memiliki wilayah terluas diantara penggunaan tanah yang lain. tales. Beberapa kawasan hutan yang lainnya tidak dapat digunakan sebagai hutan produksi sebab lokasi hutan terletak pada kawasan lindung yaitu sebagai hutan lindung yaitu sebagai hutan lindung terbatas.

Profil Kawasan Pesisir Pantai di Kabupaten Malang Kawasan pesisir pantai di Kabupaten Malang terdiri dari 6 kecamatan dengan luas wilayah perencanaan darat adalah 107. keadaan gelombang dan arus sangat besar. Karena arus ini membawa serta air permukaan ke luar menjahui pantai. Jenis upwelling di Selatan Jawa yaitu jenis berkala (periodic tipe) yang terjadi pada musim Timur.012.625 km mempunyai kedalam hingga mencapai 200 m. Tetapi pada musim Barat terdapat jalur sempit yang menyusur pantai Selatan Jawa dengan arus menuju ke Timur. Pada musim Timur di atas perairan lautan ini berhembus kuat angin Tenggara yang membuat arus katulistiwa Selatan ini makin melebar ke Utara. kondisi lahannya bervariasi yaitu terjal sampai pegunungan. berlawanan dengan arus katulistiwa Selatan. Perairan laut di Kabupaten Malang berada di sebelah Selatan dan merupakan Samudra Indonesia.625 -4. diawali sekitar bulan Mei dan berakhir sekitar bulan September. Semakin mendekati daerah pantai umumnya memiliki karateristik daerah pegunungan kapur dan kemiringannya sebagian besar > 40%.34 C. Curah hujan rata-rata per-tahun 1. Arus tersebut dikenal dengan arus pantai Jawa (java coastal Current).85 pertahun. Daerah yang memiliki kelerengan >40% adalah Kecamatan Ampelgading dan Tirtoyudo.45° C (suhu rata-rata dari empat stasiun pengamat cuaca antara 23° C sampai 25° C).7.1. sedangkan luas wilayah perairannya adalah 4 mil. yang mempunyai ciri gelombang dan arus yang besar. Kecepatan air naik ini sekitar 0. Air naik di sini terjadi kira-kira dari Selatan Jawa hingga ke sebelah Selatan Sumbawa. maka akan terjadi kekosongan yang berakibat naiknya air dari bawah (upwe//ing).375 km. bahwa ketinggian wilayah perencanaan berada pada ketinggi 0-2000 meter di atas permukaan laut. mempunyai kedalamam mencapai 3000 m. Gambaran wilayah dapat dilihat pada peta 3.575. Tekanan udara di bawah 1.131 Ha. Kedalaman laut Selatan Jawa sejauh 1. menggeser sepanjang pantai Selatan Jawa hingga Sumbawa. Jadi saat itu arus permukaan di daerah ini menunjukkan pola sirkulasi anti siklonik atau berputar ke kiri. Kawasan pesisir pantai Kabupaten Malang ditinjau dari kondisi fisik daratnya menunjukkan.42% dari luas wilayah pesisir Kabupaten Malang). Keadaan cuaca di wilayah perencanaan seperti umumnya cuaca di Kabupaten Malang memiliki iklim tropis dengan suhu antara 18.596 mm dan hari hujan 84. kemudian memaksanya membelok ke arah Barat Daya. Ciri khas laut pantai Selatan merupakan lautan bebas. Curah hujan turun antara bulan April- . Arus yang besar di pantai Selatan dikenal dengan nama arus katulistiwa Selatan (Shout eauatorial current) yang sepanjang tahun menuju ke Barat.0005 Cm/detik. Kemudian sejauh 2. sebagian besar wilayahnya berada pada kelerangan 5 -15% (39.25° C sampai dengan 31.2.

Bopakang. Sumber air tanah di wilayah ini diperoleh dengan cara mengebor dengan kedalaman 40. tanah latosol memiliki ciri subur. Sipelot. Kondisi hidrologi di kawasan pesisir Kabupaten Malang meliputi kondisi air permukaan dan kondisi air tanah. Kali Duron. Kali Sumberbulus bermuara di Pantai Wonogoro. Dilihat dari faktor fisik yang meliputi topografi.35 Oktober. Kondisi muara sungai pada musim kemarau pada umumnya tertutup pasir. Wonogoro dan Kondang Merak. Tamban. Menurut Budi Santoso (1989). iklim dan tanah sebenamya tidak ada masalah. Kesalahan dalam pengelolaan tanah. tegalan. mudah erosi dan sesuai untuk tanaman tahunan. dan lainnya (misal : makam. Jenis tanah yang ada di wilayah perencanaan adalah Latosol. Andosol dan Aluvial Oumlahnya relatif lebih sedikit). Tingkat erosinya tergolong rendah namun pada kecamatan Ampelgading. kebun. pemilihan jenis tanaman yang kurang tepat atau mungkin tidak dilakukan pengelolaan tanah sama sekali dan tanah sendiri tidak tertutup vegetasi barangkali menjadi penyebabnya. Disamping sumber air dalam tanah. Selama Gunung Semeru masih aktif diperkirakan sungai dan muaranya akan terus penuh dengan pasir. jalan). sehingga aliran sungai terhenti di mulut muara dan baru terbuka pada musim penghujan. Kali Bambang (Kecamatan Sumbermanjing Wetan). Adapun sungai-sungai yang melewati wilayah perencanaan yaitu Kali Giok yang bermuara di Pantai Licin. LenggoksonfJ. Pantai -pantai yang memiliki sumber air permukaan atau aliran sungai dan bermuara sampai lautan adalah Pantai Licin. Diantara kedua musim tersebut ada musim peralihan antara bulan AprilMei dan Oktober-November. dan mudah erosi karena keeratan antara partikel tanah rendah. Muara sungai yang terletak di Pantai Licin dipenuhi oleh pasir yang berasal dari Gunung Semeru. Kali Balekambang (Kecamatan Bantur) dan Kali Sumbermanjing (Kecamatan Donomulyo). Sedangkan tanah Andosol memiliki ciri tanah subur. Pasir inilah yang mengakroatkan pasir di Pantai Licin yang semula putih menjadi kehitaman. Pemanfaatan lahan di daratan meliputi pemukiman. terdapat keterkaitan ekologis (hubungan fungsional) baik antar ekosistem di dalam kawasan pesisir maupun antara kawasan pesisir dengan lahan di atas dan laut lepas. Kemungkinan besar faktor-faktor lain yang menjadi penyebabnya.60 meter. Karena secara empiris. Bopak dan Sumberbulus. sawah. hutan. sumber air utama penduduk adalah mata air yang lokasinya tersebar di seluruh wilayah. Gedangan dan Bantur tingkat erosinya cukup tinggi. . Pemanfaatan dan pengelolaan lahan di daratan secara tidak langsung akan mempengaruhi kondisi di wilayah pesisir. berwama merah karena meningkatnya konsentrasi Fe dan AI yang keluar dari solum.

maka kebijaksanaan pembangunan perikanan di kawasan pesisir Kabupaten Malang dapat ditempuh sebagai berikut: (1) Meningkatkan pemanfaatan sumberdaya ikan. kegiatan pasca tangkap atau industri perikanan dan sumberdaya manusia yang ada.36 D.066. pengembangan desa pantai miskin dan pengembangan wisata bahari. 2. seperti penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan dan kegiatan 'ain yang dapat mengakibatkan perubahan lingkungan (kekeruhan dan pencemaran). Melakukan pengawasan terhadap pembuangan 'imbah pertanian dan tambak. (3) Meningkatkan kualitas penanganan pasca tangkap. Memperhatikan hasil penelitian terhadap kondisi dan pentingnya ekosistem terumbu karang. Melakukan pengawasan ekosistem terumbu karang terhadap kegiatan yang dapat mempengaruhinya. E. (2) Mengoptimalkan pemanfaatan lahan tambak yang sudah ada dan diversifikasi komoditi yang dibudidayakan. Mengingat sumberdaya ikan yang ada di wilayah perairan laut Kabupaten Malang baru dimanfaatan sekitar 15. (1) Pengelolaan keanekaragaman hayati laut . Program Laut Lestari Program laut lestari dijabarkan dalam beberapa bentuk rencana kegiatan yaitu : pengelolaan keanekaragaman hayati laut. (4) Meningkatkan kua1itas sumberdaya manusia perikanan dan pendapatan nelayan melalui upaya optimalisasi pemanfaatan sumberdaya perikanan dan kegiatan pasca tangkap dengan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memadai serta peningkatan nilai tambah hasil perikanan. pengelolaan dan konservasi ekosistem terumbu karang. Kebijakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Malang Memperhatikan hasil penelitian terhadap potensi sumberdaya ikan.9 % dari potensi lestari sebesar 26. Melakukan pengawasan pemanfaatan lahan atas termasuk penebangan hutan yang tidak terkendali. pencegahan dan penanggula'ngan pencemaran laut. baik berupa industri pengolahan maupun penangana ikan segar. maka kebijaksanaan pembangunan perikanan di kawasan pesisir Malang Selatan dapat ditempuh sebagai berikut: 1. keberadaan dan pengelolaan tambak. pengelolaan ekosistem hutan mangrove. khususnya ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.198 ton. kondisi dan pentingnya ekosistem terumbu karang. 3. melalui penerapan ilmu pengetahuan dan pemanfaatan teknologi penangkapan.

Manfaatkan Secara Berkelanjutan (yaitu memanfaatkan keanekaragaman hayati untuk menyediakan makanan.Undang Lingkungan untuk melindungi spesies laut (dengan cara meningkatkan kepedulian. Yaitu dengan mempublikasikan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang relevan secara aktif . ikan dan berbagai biota laut. Yaitu dengan memperkuat koordinasi antar lembagajembaga dan badan pemerintah untuk memperbaiki kapasitas dalam mengelola sumberdaya laut dalam pembangunan berkelanjutan. obat-obatan dan keperluan lainnya). Menetapkan pusat data dan informasi keanekaragaman hayati taut dan mengelola pusat data ini bersama-sama dengan pemerintah. LSM dan perguruan tinggi. untuk mengurangi kerusakan dan memperbaiki sumberdaya hayati. insekta dan lainnya. peningkatan eksport dan keuntungan.biodiversity' (keanekaragaman hayati). yang di tingkat internasional dicuatkan permasalahannya dengan gerakan . reptilia. promosikan cara-cara penggunaan tumbuhan dan bjnatang secara berkelanjutan untuk menyediakan gizi. .Selamatkan (lindungi keanekarangan hayati untuk generasi mendatang). juga sebagai habitat satwa burung. tapangan pekerjaan. sehingga secara ekologi dan ekonomis dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. dukungan dan peran serta masyarakat melalui peningkatan pajak untuk pengelola produk-produk yang menggunakan binatang dan tumbuhan laut. ser1a melibatkan masyarakat setempat dalam proses pengambilan keputusan. tempat berlindungnya dan memijah berbagai jenis udang. primata.keuntungan lain dari pengelolaan sumberdaya laut. . (ii) Pengetolaan Ekosistem Hutan Mangrove Hutan mangrove mempunyai suatu ekosistem peralihan antara darat dan laut yang merupakan mata rantai yang sangat penting dalam memelihara keseimbangan siklus biologi di suatu perairan. Strategi nasional dalam pengelolaan keanekaragaman hayati laut di Indonesia adalah rencana penetapan kawasan konservasi laut. Yaitu dengan menetapkan kawasan konservasi laut dan mengelola kawasan ini dengan pendekatan terpadu yang melibatkan berbagai lembaga untuk bekerja sama mendukung pengelolaan kawasan konservasi. Tujuan dan sasaran strategi pengelolaan keanekaragaman hayati laut ialah: . meningkatkan penegakan Undang.Pelajari (cari cara-cara untuk memanfaatkan sumberdaya secara berkelanjutan). .37 Salah satu modal yang dimanfaatkan untuk pembangunan nasional Indonesia adalah sumberdaya hayati.

. . bahan untuk farmasi.Program pelatihan dan pendidikan baik formal dan non formal. yaitu memanfaatkan ekosistem hutan mangrove secara lestari dan seimbang. penangkapan ikan hias dengan kalium cianida (KCN).Terkoordinasinya pengelolaan terumbu karang secara nasional. yang meliputi : .Identifikasi luas dan lokasi kawasan terumbu karang potensia' dan bermasalah.Use it. (iii) Pengelolaan dan Konservasi Ekosistem Kawasan Terumbu Karang Terumbu karang merupakan salah satu sumberdaya alam yang sangat penting. penambangan karang. . daya tarik bagi pariwisata khususnya (eco marine tourism) yang dapat menambah devisa negara dan secara fisik karang dapat melindungi pantai dari degradasi dan abrasi. struktur. mengamankan ekosistem hutan mangrove dengan melindungi genetik. komposisi. (iv) Pencegahan dan Penanggulangan Pencemaran Laut . cagar alam laut) maupun areal non konservasi (perikanan.Terkendalinya dampak kegiatan pembangunan di darat dan di laut terhadap ekosistem terumbu karang. maka diperlukan adanya strategi pengelolaan ekosistem terumbu karang yang berwawasan lingkungan.38 Strategi yang dilakukan untuk melindungi dan melestarikan potensi sumberdaya hutan mangrove dan memanfaatkannya berdasarkan azas pelestarian. yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan pemanfaatan masyarakat dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya terumbu karang.Save it. pembangunan fasilitas.Study it. limbah industri.Pemanfaatan kawasan terumbu karang sebagai obyek wisata. distribusi dan kegunaannya. penggunaan bahan peledak. spesies dan ekosistem. Pemanfaatan terumbu karang yang kurang bijaksana dapat berakibat menurunnya kualitas terumbu karang. Agar ekosistem terumbu karang dapat dimanfaatkan secara maksimal dan lestari. yang mempunyai nilai yang tinggi karena pada kawasan ini terdapat kawasan perikanan yang subur. pariwisata). Kegiatan manusia yang dapat merusak terumbu karang antara lain ialah : sedimentasi yang berasal dari penebangan hutan. koleksi biota laut untuk hiasan. penangkapan ikan dengan muroami. . pestisida dan buangan minyak. . baik yang areal konservasi (taman laut. yaitu : . . penelitian dan pendidikan secara maksimal tanpa menggangu kelestariannya. yaitu mempelajari ekosistem hutan mangrove yang meliputi biologi.

pendidikan formal yang diterima masyarakat desa pantai secara umum jauh lebih rendah dari pendidikan masyarakat non pantai lainnya. Dampak positif pengembangan wisata bahari ialah : dapat meningkatkan devisa negara.Penyuluhan konservasi lingkungan desa pantai untuk menunjang kelestarian sumberdaya alam di pesisir dan lautan.Peningkatan peran serta masyarakat dan swasta. Pengembangan wisata bahari secara ideal diharapkan mampu menciptakan saling keterkaitan dan saling menjaga secara harmonis antara unsur-usur lingkungan fisik.Penentuan lokasi pengembangan yang tepat.Memperbaiki tingkat pendapatan masyarakat desa melalui upaya-upaya pemanfaatan sumberdaya laut dengan teknologi siap pakai. Untuk menunjang keberhasilan program pembinaan desa pantai.Membina kelembagaan desa pantai. . (v) Pengembangan Desa Pantai Pengembangan desa pantai di wilayah negara kepulauan Indonesia sangat perlu. komunikasi). Minimnya sarana dan prasarana (pendidikan.39 Pencemaran laut di Indonesi antara lain disebabkan oleh : kegiatan-kegiatan di darat dan di laut. . termasuk kegiatan-kegiatan kapal asing yang menyinggahi dan melewati perairan Indonesia.Memperbaiki tingkat kehidupan masyarakat desa pantai yang kondisinya jauh tertinggal dibandingkan dengan desa-desa lainnya. (vi) Pengembangan Wisata Bahari Pengembangan wisata bahari di Indonesia merupakan hal baru. dimana kegiatan kapal tanker paling sering mengalami kecelakaan pada waktu melewati perairan Indonesia. maka perlu adanya :. Sehingga upaya penanggulangan pencemaran laut sangat perlu dilakukan yaitu dengan menyusun . yaitu perlu ditingkatkan pencegahan pencemaran laut melalui pembinaan serta peningkatan pengawasan dan penegakan hukum.Rekayasa teknologi tepat guna dan tepat lingkungan untuk daerah desa pantai. sosial dan ekonomi. . . Meningkatnya jumlah penduduk dan berbagai kegiatan ekonomi yang berlangsung di darat dan di laut. karena diperkirakan 60% penduduk hidup dan tinggal di daerah pantai.Strategi Perlindungan Lingkungan Laut Akibat Pencemaran. mampu meningkatkan . budaya masyarakat setempat. perhubungan. Pada umumnya masyarakat desa pantai lebih merupakan masyarakat tradisional dengan kondisi sosial dan ekonomi yang sangat rendah. . mendorong pengembangan usaha baru. yang mulai mendapat perhatian dan sangat menarik banyak peminat. perluasan tenaga kerja. . . kesehatan.

karena pada desa tersebut beberapa infrastruktur telah terlayani misalnya : listrik dan kebutuhan air bersih. Kondisi pemukiman yang cukup memadai berada di desa intinya. Namun kegiatan pengembangan wisata bahari belum didukung oleh tenaga profesional untuk pengelolaan sumber daya alam dan ekosistemnya. Lokasi sekitar kawasan pemukiman masih didominasi lahan pertanian.jalan yang ada. kerusakan sumberdaya alam. Desa Tambakrejo (Pantai Sendangbiru). (vi) Sawah Proporsi luas lahan sawah sangat kecil dibandingkan dengan penggunaan tanah untuk jenis pertanian yang lain dan jenis penggunaan tanah pada umumnya. Geomorfologi yang kurang subur ini menyebabkan pertanian basah seperti tanaman padi dan sistem gilir tidak bisa berkembang dengan baik. Sedangkan kondisi pemukiman pantai di kawasan pesisir Kabupaten Malang sebagian besar kondisi bangunan dan lingkungannya rendah dan belum mendapatkan infrastruktur yang memadai. Aksesibilitas umumnya kurang bagus dan prasarana penunjang terbatas dan hampir tidak ada. Pemukiman lebih terpusat di Ibukota Kecamatan dan sekitamya.40 (vi) kesadaran masyarakat terutama wisatawan. (vii) Hutan Hutan memiliki wilayah terluas diantara penggunaan tanah yang lain. Desa inti tersebut antara lain ialah : Desa Pujiharjo (Pantai Sipelot). khususnya kawasan pelestarian alam. Desa Tumpakrejo (Pantai Wonogoro). tegalan serta lahan kosong. Permukiman Pemukiman tersebar pada daerah-daerah yang relatif datar dan menyebar pada jalan. perkebunan. maka hutan ini memiliki fungsi yang sangat vital bagi keseluruhan ekosistem baik di darat maupun di laut. Dampak negatifnya adalah terjadinya degradasi lingkungan (erosi. Kondisi ini pada sebagian wilayah terutama di bagian Barat makin diperparah dengan sistem irigasi yang juga kurang baik. dan lainya). vandalisme. Mengingat kondisi fisik wilayah terutama topografinya yang cenderung curam. Sehingga perlu adanya strategi pengembangan wisata bahari berdasarkan pada kaidah-kaidah pembangunan berkelanjutan. serta munculnya kesenjangan sosial ekonomi dan perubahan budaya masyarakat setempat. Desa Pulwodadi (Pantai Lenggoksono). mengakibatkan pertanian kurang berkembang. Lahan pertanian khususnya untuk tanaman padi terbatas pada lahan yang relatif datar. sehingga dalam pelaksanaanya di lapangan masih belum terarah secara jelas. Fungsi hutan sendiri terbagi menjadi . Kondisi tanah yang cenderung kering dan padas serta topografi yang relatif terjal. tentang konservasi sumber daya alam.

Sedangkan pada bagian Timur lebih banyak diusahakan tanaman kebun yaitu kebun kelapa. dsb. Jenisjenis tanaman yang diusahakan di atas tanah tegalan adalah jenis-jenis tanaman semusim yaitu jagung. (ix) Tegalan/kebun Dibandingkan dengan lahan persawahan. cengkeh. Kondisi terumbu karang saat ini relatif masih bagus. ketela pohon.41 2 yaitu hutan produksi dan hutan produksi terbatas. Sedang habitat perairan ditunjukkan oleh keberadaan terumbu karangnya. tales. Kondisi hutan di kawasan pesisir kondisinya rusak. Beberapa kawasan hutan yang lainnya tidak dapat digunakan sebagai hutan produksi sebab lokasi hutan terletak pada kawasan lindung yaitu sebagai hutan lindung terbatas. terutama di daerah-daerah yang mempunyai aktifitas perikanan tinggi. Kawasan hutan yang termasuk dalam hutan produksi terbatas tersebar mulai dari Timur ke Barat yaitu Kecamatan Ampelgading sampai dengan Kecamatan Donomulyo. Keadaan dan perkembangan usaha perikanan di pantai Malang Selatan. kopi dan coklat. Lahan tegalan banyak diusahakan di bagian Barat dari wilayah perencanaan. ditandai masih banyaknya ikan-ikan karang yang tertangkap seperti Lobster. cabe. Terjadinya penggundulan hutan tersebut hampir sebagian tejadi disepanjang kawasan pesisir Kabupaten Malang. Pada saat ini sebagian besar tanaman cengkeh. Akibat teradinya penjarahan pada lahan perkebunan mengakibatkan lahan tegalan dan kebun ini semakin luas. Kerapu . Habitat terumbu karang ditemukan hampir di sepanjang pantai di kabupaten Malang. Kakap. Jenis tanaman yang dikelola adalah cengkeh. lahan untuk tegalan dan kebun memiliki proporsi yang lebih besar. Posisi lahan perkebunan sebagian besar lertelak pada kemiringan yang besar. kacang-kacangan. karet. kopi dan coklat. (x) Perkebunan Proporsi lahan perkebunan lebih banyak terletak di bagian Timur wilayah perencanaan. berhubungan erat dengan kondisi lingkungan dan habitat yang melingkupinya. Kualitas terumbu karang sangat menentukan kuantitas sumberdaya ikan yang ada. Hutan yang terletak pada kawasan budidaya adalah hutan produksi tetap dan kawasan hutan produksi yang terletak pada kawasan non budidaya adalah hutan produksi terbatas. kopi dan coklat semakin menuru. Sedangkan yang termasuk hutan produksi tetap terdapat di Kecamatan Sumbermanjing Wetan dan Kecamatan Bantur. Kondisi lingkungan yang dimaksud meliputi substrat. sehingga sebagian besar lahan hutan menjadi gundul. Kondisi perkebunan pada saat ini sangat memprihatinkan akibat adanya pengrusakan dan penjarahan oleh masyarakat. akibat penebangan hutan yang tidak terkontrol. kemiringan dan bentuk pantai.

Habitat mangrove di daerah pantai selatan relatif sedikit dan tidak ditemukan di setiap pantai.42 dan ikan-ikan hias. 04 . tempat berlindung dan memijah berbagai jenis udangt ikan dan berbagai biota laut. Namun demikian tanda-tanda akan kerusakan Terumbu Karang telah terjadi. 01 . 10 . Malang No . Sehingga secara ekologis dan ekonomis dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia. yang disebabkan oleh aktifitas penangkapan Lobster yang tidak ramah lingkungan (menggunakan potas). Pantai Lokasi Baik Licin Sipelot Lenggosono Tamban Sendang Biru Tambaksari Bajulmati Wonogoro Kondang Merak Kondang Iwak V V V V V Sedan g V V V Kondisi Rusa k V V Bom V V V V V Permasalahan Potas V V V V V Bunga karang V V V - Hutan mangrove merupakan suatu ekosistem peralihan antara darat dan laut yang merupakan mata rantai yang sangat penting dalam memelihara keseimbangan siklus biologi di suatu perairan. 02 . 09 .13.13. Kondisi Terumbu karang di Kawasan Pesisir Kab. pengambi!an bunga karang untuk assesoris dan cemaran minyak dari aktifitas transportasi laut yang menggunakan mesin. Pantai . 06 . Kondisi terumbu karang untuk masing-masing kawasan perairan pantai dapat dilihat pada Tabel 6. 08 . Tabel 5. 03 . 05 . 07 .

Hal ini dikarenakan substrat berpasir. 06. Luas areal tambak dan tingkat pengoperasiannya di masing-masing lokasi dapat dilihat pada Tabel 5. dapat dilihat pada Tabel 5. yaitu Pantai Sipelot dan Lenggoksono berada di Kecamatan Tirtoyudo. dan Pantai Bajulmati dan Wonogoro berada di Kecamatan Gedangan. 05. 01.14. Kondisi dan keberadaan mangrove di masing-masing kawasan pantai. 09. 08.14. 07.15. salinitas tinggi dan gelombang besar.) <1 Licin Sipelot Lenggoson o V 13 Jumlah Unit > 3 Avecen nia V Pola Usaha Sonnerat ia Tingkat Operasi Nipah V - . Wilayah pertambakan di Kabupaten Malang terdapat di beberapa pantai. Luas dan Jenis Hutan Mangrove di Kawasan Pesisir Kabupaten Malang No. 04. 03.43 yang mempunyai habitat mangrove adalah Sipelot dan Tamban yang didominasi oleh jenis-jenis pioner yaitu Avicenia dan Sonneratia dan dibelakang rawa ditemukan nipah.15. 10. Pantai Licin Sipelot Lenggosono Tamban Sendang Biru Tambaksari Bajulmati Wonogoro Kondang Merak Kondang Iwak Lokasi <1 1-3 V V V Luasan (Ha) > 3 Avece nnia V V V Sonneratia V V Jenis Nipah V V - Tabel 5. 02. Pantai Tambakasri dan Tamban berada di Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Tabel 5. Luas Areal Tambak dan Tingkat Pengoperasian Pantai Luas (Ha.

Sedangkan di pantai-pantai lain hanya sekitas 5 % dari jumlah penduduk di . Pelabuhan merupakan penghubung kunci dalam sistem perhubungan menyediakan kontak antara transportasi darat dan laut. Keberadaan berbagai jenis ikan di perairan pantai Malang Selatan tidak selalu bersamaan. dengan lebar selat antara 600 m sampai dengan 1500 m dan panjang selat: 4 km. Sepanjang pesisir Kabupaten Malang terdapat satu pelabuhan alam yang terletak di Pantai Sendangbiru. perkapalan dan sistem pelabuhan sangat penting untuk pengembangan sumberdaya alam laut dan pesisir. ada beberapa jenis ikan yang muncul pada waktu-waktu yang lain dan ada jenis ikan yang muncul sepanjang tahun. ada beberapa jenis ikan yang muncul pada waktu-waktu tertentu. pada waktu musim sedang fishing ground berada agak jauh dari pantai dan pada waktu musim paceklik fishing ground jauh dari pantai bahkan sampai ke lepas pantai. Pada waktu musim puncak ikan. Kapasitas pelabuhan bisa untuk berlabuh kapal ukuran 5-50 GT sebanyak 20 buah. secara umum fishing ground berada di dekat pantai.44 Tamban Sendang Biru Tambaksar i Bajulmati Wonogoro Kondang Merak Kondang Iwak V V V V V V V - Perkembangan laut sangat penting bagi negara kepulauan. Jumlah nelayan di Kabupaten Malang terkonsentrasi di daerah Pantai Sendang Baru. Kerapu dan lainIain yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Sedangkan pada musim penghujan (bulan Oktober sampai Maret) jenis-jenis ikan pelagis jarang ditemukan dan bersamaan dengan itu terjadi musim barat dengan gelombang dan angin besar sehingga nelayan tidak turun ke laut. Musim ikan di pantai Malang Selatan adalah musim puncak bulan Mei -Oktober Musim sedang pada bulan Maret -April dan bulan Nopember -Desember dan musim paceklik pada bulan januari -Februari. Pelabuhan ini berfungsi sebagai tempat pendaratan ikan untuk Pantai Sendangbiru dan sekitarnya. mengurangi biaya perdagangan dan meningkatkan ekspor. Daerah operasi penangkapan ikan di perairan Malang Selatan tergantung kepada musim atau keberadaan jenis ikan yang mau ditangkap. Kakap merah. Memiliki kedalaman laut rata-rata 20 m. Di lain pihak pada saat itu muncul jenis-jenis ikan karang seperti Lobster. mendorong pembangunan ekonomi.

yang mempunyai kontribusi dan pergerakan yang tinggi. kriteria fisik tersebut yang akan menentukan ciri-ciri wilayah yang ada berbagai kawasan Kabupaten Banyuwangi. juga sebagai salah satu pintu gerbang menuju ke wilayah tersebut.056 (46. Topografi Wilayah Kabupaten Banyuwangi rata-rata memiliki keadaan topografi relatif datar. Kabupaten Banyuwangi terletak diwilayah paling ujung (timur) wilayah propinsi Jawa Timur terletak pada koordinat 70430 60460 Lintang Selatan dan 113051 .masing desa yang ada. Dalam lingkup yang lebih luas (regional).6. Genteng. selain sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan wilayah Samudera Indonesia dan Selat Bali serta Propinsi Bali. Ketinggian tempat dari permukaan laiut ikut mempengaruhi jenis suatu tanaman yang dapat tumbuh baik. Kondisi ini dipengaruhi oleh adanya beberapa gunung yang seolah-olah membatasi wilayah Banyuwangi dengan wilayah sekitarnya. Songgon. a. 5. Blenmore dan Kalibaru. Berdasarkan jumlah armada yang ada di masingmasing pantai. Dataran rendah yang sedikit miring dari arah barat laut ke arah tenggara.10 %) dari luas wilayah kabupaten. ketinggian ini terdapat di seluruh wilayah .114038 Bujur Timur.45 masing.714 Ha (38.01 %) dari luas wilayah kabupaten. Kondisi wilayah Kecamatan Muncar dan Kecamatan Purworejo Kabupaten Banyuwangi dilihat dari aspek fisik wilayah dapat diindentifikasi atas beberapa kriteria fisik. ketinggian ini terdapat diseluruh wilayah kecamatan di kabupaten Banyuwangi kecuali kecamatan Singojuruh. hal ini membawa konsekwensi pada pola transportasi dan penyediaan sarana transportasi dari dan kearah Kabupaten Banyuwangi dengan jalan darat dan laut. Ketinggian tempat tersebut dapat dibedakan atas : (1) Ketinggian 0 . Profil Ruang Kawasan Pesisir Pantai Kecamatan Muncar dan Purworejo Kabupaten Banyuwangi Wilayah Kecamatan Muncar dan Kecamatan Purworejo Kabupaten Banyuwangi dilihat dari konstelasi regional Banyuwangi mempunyai beberapa keuntungan strategis.100 meter dpl meliputi luas wilayah 131.500 meter dpl meliputi luas wilayah 159. Kabupaten Banyuwangi terleyak pada ketinggian 0 sampai dengan > 200 meter dpl. Sempu. (2) Ketinggian 100 . tanaman dataran rendah misalnya tidak akan menghasilkan dengan baik apabila ditanam di dataran tinggi.

45 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi. Kecamatan yang memiliki lereng 0 . Songgon.47 %) dari luas wilayah kabupaten. Sempu.1. kedalaman efektif. Glemore.56 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi. (3) Ketinggian 500 . unsur-unsur tersebut meliputi : lereng.2 % merupakan wilayah yang datar dan meliputi 35. Giri.500 meter dpl meliputi luas wilayah 10. Giri. Glagah. Wilayah kecamatan yang mempunyai lereng 2 .2 % paling luas adalah kecamatan Bangorejo dan yang tidak memiliki lereng 0 . .96 %) dari luas wilayah kabupaten. Kalipuro. ketinggian terdapat di kecamatan Wongsorejo.000 meter dpl meliputi luas wilayah 36. Songgon.15 % paling luas adalah Kecamatan Glenmore yaitu kurang lebih 17. Genteng.191 (10. Muncar dan Purwoharjo. Yang dinyatakan dalam persen ( % ) dan kemiringan tanah sangat berperan dalam setiap langkah untuk menentukan kemudahan penggunaan tanah. sedangkan wilayah yang tidak memiliki lereng 2 . Oleh sebab itu tindakan pada tanah harus selalu memperhatikan kemiringan tanah. Kalipuro.5 Ha (2.500 .2. Glagah. Kemampuan Tanah Kemampuan tanah adalah kualitas unsur-unsur fisik tanah yang berpengaruhnterhadap penggunaan tanah diatasnya. daerah tersebut baik untuk usaha pertanian dengan tetap memperhatikan usaha pengawetan tanah dan air. (5) Ketinggian 1.15 % adalah Kecamatan Muncar dan Cluring.46 kecamatan di kabupaten Banyuwangi kecamatan Banyuwangi. Glagah.034 Ha atau kurang lebih 18. Kalipuro.15 %. ketinggian terdapat di kecamatan Wongsorejo. Giri. Glemore dan Kalibaru.000 . (1) Lereng Lereng/kemiringan tanah adalah sudut yang dibentuk oleh permukaan tanah dengan bidang horizontal.000 meter dpl meliputi luas wilayah 5.Lereng 0 . tekstur tanah. . b. Songgon. Genteng.15 % merupakan wilayah yang landai sampai yang bergelombang dan meliputi 26.48 %) dari luas wilayah kabupaten. Genteng. Sempu.Lereng 2 . .075 Ha (1.226.2 % adalah Kecamatan Glagah dan Songgon. ketinggian terdapat di kecamatan Wongsorejo. drainase dan erosi. daerah tersebut baik untuk usaha pertanian tanaman semusim. (4) Ketinggian 1.1.55 % dari luas wilayah yang berlereng 2 . Sempu. Glemore dan Kalibaru.

Glenmore dan Kalibaru.67 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi. sawah dan permukiman.000 . Cluring. bangorejo dan Gambiran. tanah rusak. Glagah. Sempu. tanah rusak dan tegal.500 meter dpl meliputi luas wilayah 2. tegal. Sedangkan yang paling rendah adalah lapisan andesit yaitu seluas 20. meliputi 22. Gambiran dan Genteng.96 % dari luas total hasil gunung api kwarter muda. Lapisan batuan ini paling tinggi terdapat di kecamatan Glenmore yaitu seluas 26. perkebunan.Ketinggian lebih dari 2. Glenmore dan Kalibaru. ketinggian ini terdapat di kecamatan Wongsorejo. Cluring. sedangkan wilayah kecamatan yang tidak memiliki kelerengan diatas 40 % adalah kecamatan Banyuwangi. Geologi Kondisi geologi di wilayah Kabupaten Banyuwangi menunjukkan bahwa hasil gunung api kwarter muda memiliki angka yang paling tinggi yaitu seluas 131.Lereng 15 . daerah tersebut merupakan areal yang harus dihutankan sehingga dapat berfungsi sebagai perlindungan hidrologi serta menjaga keseimbangan ekosistem dan lingkungan hidup. Wilayah kecamatan yang memiliki kelerengan diatas 40 % paling luas adalah Kecamatan Pesanggaran. Kalipuro. Tabel : 5.Lereng diatas 40 % merupakan wilayah yang bergelombang sampai berbukit. .153 Ha (0.17.40 % paling luas adalah Kecamatan Tegaldlimo dan wilayah yang tidak memiliki lereng 15 . .2. Songgon. Kalipuro.94 % dari luas wilayah dan tersebar di Kecamatan Pesanggaran. Giri. Wilayah kecamatan yang memiliki kelerengan 15 . daerah tersebut sebaiknya untuk usaha pertanian dengan jenis tanaman keras atau tahunan.Ketinggian 2. oleh karena disebabkan daerah tersebut sudah terkena erosi. Songgon. Glagah. Genteng.65 %) dari luas wilayah kabupaten. c. Luas Wilayah Berdasarkan Struktur Geologi Di Kabupaten Banyuwangi .40 % adalah Kecamatan Rogojampi.547 Ha atau 38. Srono. perkebunan.33 %) dari luas wilayah kabupaten. . Glenmore dan Kalibaru. Muncar.32 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi. Rogojampi. poada daerah tersebut umumnya penggunaan tanahnya adalah berupa hutan. sehingga tercapai usaha pengawetan tanah dan air.05 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi.500 meter dpl meliputi luas wilayah 1.235 Ha (0.260 Ha atau 19. pada umumnya daerah ini penggunaan tanahnya adalah berupa hutan. Muncar.47 .40 % merupakan wilayah yang bergelombang dan meliputi 15.520 Ha atau 5. Kabat. ketinggian ini terdapat di kecamatan Wongsorejo.

oleh sebab itu kedalaman efektif tanah sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan perakaran tanaman.762 Hasil Gunung Api Kwarter Muda 131.17. pada umumnya ditumbuhi tanaman berupa hutan belukar dan regosol mempunyai kandungan organik relatif rendah sehingga untuk meningkatkan produktivitasnya harus dengan pengorbanan yang cukup besar. ☻ Kedalaman lebih dari 90 cm sebagian besar Kabupaten Banyuwangi memiliki kedalaman efektif tanah lebih dari 90 cm. Luas wilayah berdasarkan jenis tanah di Kabupaten Banyuwangi dapat dilihat pada tabel 5. Kedalaman Efektif Tanah Kedalaman efektif tanah adalah tebal lapisan tanah dari permukaan sampai bahan induk atau sampai suatu lapisan dimana perakaran tanaman tidak dapat atau tidak mungkin menembusnya.58 11.520 Andesit 8. pada umumnya bertekstur agak kasar. solum tanah dangkal.547 Hasil Gunung Api Kwarter Muda 20.70 38. Jenis Tanah Jenis yang terdapat di Kabupaten Banyuwangi terdiri dari : .23 d. .654 Miosen Falses 50.529 Ha atau . .414 Miosen Falses Batu Gamping 38. yaitu 277. podsolik berasal dari bahan tufvulkan asam dan pasir kwarsa pada topografi datar dan ketinggian di bawah 2.05 5.772 Sumber : Penjelasan Data Pokok Kabupaten Banyuwangi Jenis Tanah % 27.Podsolik Podsolik berkembang pada musim basah dan curah hujan lebih dari 2.Regosol Bahan induknya berupa abu vulkan dan pasir pantai.500 mm/tahun. biasanya terdapat pada topografi bergelombang. 1 2 3 4 5 6 Luas Ha Alluvium 95.Lithosol Bahan induknya berupa batuan beku dan batuan endapan pejal. struktur lepas dilapisan atas dan pejal lapisan bawah terdapat di daerah bergelombang sampai berbukit. tekstur tanah kasar dan kandungan organik rendah dan kepekaan erosi kasar.50 14.48 No. berbukit hingga bergunung.95 2. terdapat pada topografi yang bervariasi dan ketinggian yang berbeda-beda.000 meter dpl.

Dari kelas tekstur tanah dapat dibedakan dalam beberapa kelas yaitu : ☻ Tanah bertekstur halus seluas 309. pada daerah ini pada umumnya tanahnya cukup baik untuk tanaman semusim dan tanaman keras atau tanaman tahunan.348 Ha atau 6. .667 Ha atau 9.84 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi.90 cm paling luas adalah Kecamatan Wongsorejo.60 cm seluas 44.75 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi. sedangkan kecamatan yang sebagian besar bertekstur halus adalah Kecamatan Pesanggaran sedangkan kecamatan yang paling sedikit bertekstur halus adalah Kecamatan Purwoharjo.050 Ha atau 89. ☻ Kedalaman kurang dari 30 cm seluas 416 Ha atau 0. ☻ Tanah bertekstur sedang seluas 31. terutama dalam mentaur kendungan udara dalam rongga tanah dan persediaan serta kecepatan peresapan air di daerah tersebut. Kecamatan yang memiliki kedalaman efektif tanah diatas 90 cm paling luas adalah Kecamatan Pesanggaran.41 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi. pada daerah ini tanahnya masih memungkinkan ditanami tanaman semusim dan tanaman dan berakar dangkal. lempung. Wilayah kecamatan yang memiliki kedalaman efektif tanah diatas 30 cm paling luas adalah Kecamatan Pesanggaran. tetapi kurang baik untuk tanaman berakar dalam.29 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi. pada daerah ini pada umumnya tanahnya cukup baik untuk tanaman semusim berakar dangkal. ☻ Kedalaman antara 60 . ☻ Kedalaman antara 30 .16 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi. teksturtanah ini berperan pula terhadap mudah atau tidaknya lapisan tanah tersebut tererosi.12 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi. sehingga daerah tersebut tidak menjadi hambatan bagi tumbuhan perakaran tanaman.90 cm seluas 23.376 Ha atau 12. Tekstur Tanah Tekstur tanah adalah keadaan kasar dan seharusnya bahan padat organik tanaman yang ditentukan berdasarkan perbandingan fraksi-fraksi pasir. tekstur tanah sangat berpengaruh terhadap pengolahan tanah dan pertumbuhan tanaman. debu dan air. Wilayah kecamatan yang memiliki kedalaman efektif tanah diatas 60 . Wilayah kecamatan yang memiliki kedalaman efektif tanah diatas 30 . e.60 cm paling luas adalah Kecamatan Tegaldlimo.49 80. sedangkan kecamatan yang sebagian besar bertekstur sedang adalah Kecamatan Bangorejo sedangkan kecamatan yang paling sedikit bertekstur halus adalah Kecamatan Tegaldlimo.

September dan Oktober. Kalibaru.43 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi. Glenmore dan sebagian Wongsorejo. Drainase Drainase tanah menunjukkan lamanya serta seringnya suatu tanah jenuh terhadap kandungan air atau menunjukkan kecepatan meresapnya air dari permukaan tanah dan pada umumnya daerah ini menunjukkan drainase yang cukup baik sehingga unsur ini dapat diabaikan dalam menentukan kelas kemampuan tanahnya di Kabupaten Banyuwangi. Giri.72 % dari luas wilayah kabupaten.64 mm/bulan dengan bulan kering yaitu bulan April. Erosi Erosi adalah peristiwa pengikisan atau berpindahnya tanah lapisan atas yang disebabkan oleh adanya aliran air permukaan. Tegaldlimo.984 Ha atau 0. sedangkan wilayah lain di Kabupaten Banyuwangi yang dapat digolongkan tidak ada erosi seluas 343. Kalipura.511 Ha atau 0. g. Pesanggaran. Iklim Kabupaten Banyuwangi terletak dibawah equator yang dikelilingi oleh laut Jawa. Glagah. Selat Bali dan Samudera Indonesia dengan ilim tropis yang terbagi menjadi 2 musim yaitu : (a) Musim penghujan pada bulan Oktober sampai April.43 % dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi. Muncar. h.685 Ha atau 99. sedangkan kecamatan yang sebagian besar bertekstur kasar adalah Kecamatan Wongsorejo sedangkan kecamatan yang paling sedikit bertekstur kasar adalah Kecamatan Purwoharjo.952 Ha atau 1. (b) Musim kemarau pada bulan April sampai Oktober Diantara kedua musim ini terdapat musim peralihan pancaroba yaitu sekitar bulan April/Mei dan Oktober/Nopember. Hidrologi Di Kabupaten Banyuwangi terdapat beberapa sungi besar dan sungai kecil. adapun nama-nama sungai dan panjang sungai dapat diperinci sebagai berikut : . sedangkan kecamatan yang memiliki daerah tergenang adalah Kecamatan Banyuwangi. Songgon dan Wongsorejo. g.28 % dari luas wilayah kabupaten dan terdapat di kecamatan Genteng. rata-rata curah hujan sebesar 7. di Kabupaten Banyuwangi wilayah yang terkena erosi seluas 1.50 ☻ Tanah bertekstur kasar seluas 4. f. kecuali ada beberapa kecamatan yang selalui tergenang yaitu seluas kurang lebih 1. Pesanggaran. Purwoharjo dan Tegaldlimo.

namun demikian tidak semua wilayah ini tersedia air.76 mm. Kali bango panjangnya kurang lebih 18 Km. Kali Porolinggo panjangnya kurang lebih 30. melewati Kecamatan Glagah dan Kabat. Kali Bomo panjangnya kurang lebih 7. tertinggi pada tahun 1995 yaitu 1. Berdasarkan perbandingan antara bulan kering dengan bulan basah. melewati Kecamatan Kalipuro Kali Sukowidi panjangnya kurang lebih 15.173 Km. melewati Kecamatan Pesanggaran. melewati Kecamatan Bangorejo dan Pesanggaran.51 - Kali Selogiri panjangnya kurang lebih 6.6. maka tipe iklim daerah ini adalah beriklim sedang yaitu tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering.826 Km.7 Km. melewati Kecamatan Genteng.043 Km. Purwoharjo dan Muncar. Kali Baru panjangnya kurang lebih 80. Kali Bajulmati panjangnya kurang lebih 20 Km. Kali Kalibarumanis panjangnya kurang lebih 18 Km. melewati Kecamatan Kalipuro Kali Ketapang panjangnya kurang lebih 10.7 Km. melewati Kecamatan Wongsorejo. Dengan ketinggian tersebut terdapat daerah-daerah yang rawan terhadap longsoran. dengan rata-rata curah hujan 8. 5. selain itu terdapat . Selain itu keadaan curah hujan sangat berpengaruh terhadap kegiatan usaha khususnya bidang pertanian. melewati Kecamatan Kalipuro Kali Bendo panjangnya kurang lebih 15.000 meter dpl.260 Km.417 Km. Kali Setail panjangnya kurang lebih 73.1. Curah hujan di Kabupaten Banyuwangi periode tahun 1994 .818 Km. melewati Kecamatan Gambiran. melewati Kecamatan Rogojampi. Kali Karangtambak panjangnya kurang lebih 25 Km. Dengan banyaknya sungai tersebut menyatakan bahwa Kabupaten Banyuwangi mempunyai banyak persediaan air. melewati Kecamatan Banyuwangi. Kali Binau panjangnya kurang lebih 21. Wilayah Peka Bencana Alam Dan Wilayah Kritis Wilayah peka bencana sebagian besar karena adanya wilayah yang mempunyai ketinggian diatas 500 .826 Km. melewati Kecamatan Glagah dan Banyuwangi.1. melewati Kecamatan Kalibaru dan Glenmore. melewati Kecamatan Genteng. Kali Wagud panjangnya kurang lebih 44. Kali Pakis panjangnya kurang lebih 7. melewati Kecamatan Kalibaru dan Pesanggaran. melewati Kecamatan Glagah Kali Sobo panjangnya kurang lebih 13. Cluring dan Muncar. karena hal ini dipengaruhi oleh banyaknya hari hujan dan besarnya curah hujan.35 Km. melewati Kecamatan Rogojampi.1997.279 Km.6 Km.347 Km. Daerah yang memiliki curah hujan rendah terjadi di wilayah bagian utara dibandingkan dengan wilayah bagian selatan. Kali Tambong panjangnya kurang lebih 24.531 mm.

Perkembangan Fungsi Kawasan A. Saat ini pola perkembangan permukiman cenderung untuk menempati lahan dikawasan pinggiran kota yang tidak terlalu jauh dengan daerah pusat kota. Kondisi penggunaan tanah yang ada di suatu daerah. waduk dan penangkapan di laut.2. yang mana masih banyak lahan pertanian yang telah berubah penggunaan pada lahan permukiman. perikanan umum. kolam. Sejalan dengan perkembangan kota. lahan di kawasan perkotaan semakin besar kegunaannya. hal ini sangat berpengaruh terhadap nilai tanah yang ada di kawasan pusat kota. kondisi fisik serta jumlah manusia yang ada di wilayah tersebut. B. Secara keseluruhan pola perkembangan perumahan di Kabupaten Banyuwangi masih mengikuti pola perkembangan jaringan jalan khususnya jaringan jalan yang menghubungkan antar Kabupaten serta perkembangannya menyebar ke wilayah luar batas wilayah kota.6. tambak. 5.52 wilayah yang mempunyai daerah dengan ketinggian 0 . dimana kawasan tersebut rawan terhadap resiko banjir. dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan kesejahteraan masyarakat disuatu wilayah tersebut. Pola Perkembangan Kawasan Permukiman Pola perkembangan kawasan permukiman pada mulanya berkembang karena adanya tarikan kegiatan perdagangan dan jasa di sepanjang jaringan jalan arteri primer serta keberadaan kawasan pelabuhan dan industri serta kegiatan disektor perikanan. meskipun sampai dengan saat ini belum terjadi banjir atau genangan yang lama. karena pola penggunaan tanah pada hakekatnya merupakan gabungan antara aktivitas manusia sesuai dengan tingkat teknologi jenis usaha.25 meter dpl. sejalan dengan semakin terbatasnya lahan disekitar jaringan jalan arteri primer tersebut maka masyarakat cenderung untuk menempati lahanlahan disekitar jaringan jalan utama kota yang mempunyai akses yang baik ke pusat kegiatan perdagangan dan kawasan aktifitas lainnya. Searah dengan tujuan pembangunan perikanan dalam rangka meningkatkan produuksi dan produktifitas melalui sapta usaha perikanan untuk . Pola Perkembangan Kawasan Pesisir Pantai Pola perkembangan kawasan pesisir pantai banyak dipengaruhi oleh adanya peningkatan potensi sub sektor perikanan di Kabupaten Banyuwangi yang diarahkan I budidaya perikanan air tawar.

200 Ha yang tersebar di beberapa kecamatan antara lain kecamatan Bangorejo (150 Ha). Singojuruh (16 Ha).014 Ha). sarana produksi dan permodalan harus disukseskan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup danekosistem pantai. Pola Perkembangan Kawasan Hutan I Lindung dan Kritis Pembangunan sektor kehutanan masih merupakan sektor yang sangat penting dalam menunjang perekonomian Jawa Timur khususnya Kabupaten Banyuwangi. walaupun kegiatan RLKT/penghijauan telah dilaksanakan dari tahun ke tahun upaya pencegahan dan penanggulangan terus ditingkatkan dengan berbagai kegiatan rehabilitasi khususnya diluar kawasan hutan. Srono dan Muncar. G1enmore (225 Ha).53 memenuhi kebutuhan pangan yang lebih merata dan perbaikan gizi masyarakat.904 ton dan untuk sektor budidaya ikan kolam yang terbesar berada di wilayah kecamatan Muncar dengan produksi sebesar 79. Rogojampi. sedangkan di wilayah kecamatan Muncar juga terdapat industri pengalengan Jenis produksi perikanan terbagi menjadi 3 bagian yaitu sektor perikanan umum. berdasarkan perkembangan untuk sektor perairan umum produksi perikanannya mengalami penurunan dari tahun 4 sebesar 145. Rogojampi (1. Muncar (19 Ha). yang terbesar berada di wilayah kecamatan Muncar dengan produksi sebesar 1.106 ton pada tahun 1998 dan untuk sektor idaya ikan kolam mengalami kenaikan dari tahun 1994 sebesar 96. ditinjau dari sumberdaya alamnya masih banyak digunakan berbagaj kegiatan pertanian maupun perkebunan. Wongsorejo (12.014 Ha). Songgon (1.116.835. Perkembangan kawasarn pesisir pantai di wilayah Kabupaten Banyuwangi terletak awasan sepanjang pantai selat Bali yang merupakan kawasan Tambak yang terletak di wilayah kecamatan Wongsorejo. Kabat (620 Ha).250 Ha).1881Ha). .195 ton menjadi 2. Luas lahan kritis di kabupaten Banyuwangi adalah seluas 17. oleh karena itu untuk menjaga hasil produksi aagar tjdak merosot. perikanan sektor perairan umum yang terbesar berada di wilayah kecamatan Kalibaru dengan produksi sebesar 41. Produksi. G/agah (636 Ha).395 ton. Giri dan Kalipuro (2. maka dengan diikuti udahan segi perkreditan. budidaya ikan kolam dan budidaya tambak. Gambiran (9 Ha). Bannyuwangi (63 Ha). Banyuwangi.165 ton sedangkan untuk sektor perikanan budidaya tambak.396. maka perlu dipertahankan keutuhan kondisi tanah serta menjaga dari meluasnya lahan kritis yang ada saat ini.735 ton C.407 ton jadi 118.436 ton menjadi 120.787 ton pada tahun 1998 sedangkan untuk sektor budidaya tambak juga ngalami penurunan dari tahun 1994 sebesar 2.

8 Ha) suaka alam (2.799 Ha yang terdiri dari hutan produksi (72. yaitu : . Untuk itu informasi dan data-data regional yang dikumpulkan dan disusun akan menyangkut seluruh aspek yangterkait. 5.8 ha) dan tanaman banjar harian jati (186. tanaman tumpang sari non jati (124.Surabaya – Malang . reboisasi non jati (361. Data-data regional yang disusun ini diperoleh melalui sumber informasi sekuner. hutan lindung (38.54 Kawasan hutan yang ada diwilayah Kabupaten Banyuwangi seluas 132. Profil Wilayah Pesisir Kabupaten Pasuruan Gambaran umum Kabupaten Daerah Pasuruan dimaksudkan untuk mendapatkan deskripsi tentang wilayah regional dari kota yang hendak direncanakan.6 Ha). Data tersebut dapat berupa data kualitatif maupun data kuantitatif.474 Km2 atau 3 % dari luas Wilayah Propinsi Jawa Timur. Letak wilayah daerah Kabupaten Pasuruan. Secara administrasi wilayah kabupaten Pasuruan berada dalam wilayah Pembantu Gubenur di Malang. dengan wilayah Kota bangil yang direncanakan. . yaitu dari buku-buku statistik. baik secara langsung maupun tidak langsung.Malang – Probolinggo/Banyuwangi/Bali Luas wilayah seluruhnya dalah 1. dan Sebalah Barat : kabupaten Mojokerto.7. Sebelah Timur : Kabupaten Probolinggo.569 Ha). taman nasional (68.420 Ha).6 Ha). reboisasi jati (82.1 Kondisi fisik dasar a.5 Ha). 5.505 Ha).7. dilihat dari segi ekonomi sangat strategis. karena terletak pada simpul pergerakan ekonomi yang intensif.7 Ha). laporan-laporan ataupun kebijakankebijakan yang tertuang dalam buku Repelita daerah. tanaman tumpang sari jati (82.Surabaya – Probolinggo/Banyuwangi/Bali . dengan batas-batas sebagai berikut : Sebelah Utara : kabupaten Sidoarjo dan Selat Madura. Letak geografis Kabupaten Pasuruan terletak pada posisi 112030’ – 113030’ Bujur Timur dan 7030’ – 8030’ Lintang Selatan.469. Sebelah Selatan : Kabupaten Malang .

dan Bangil.000 meter diatas permukaan laut. drainase dan erosi. membentang dari wilayah Kecamatan Grati terus ke barat Gempol. datar dan sedikit bergelombang yaitu 0 % . ♦ Bagian tengah terdiri dari dataran rendah yang berbukit dengan ketinggian permukaan tanah antara 6 meter sampai 91 meter.55 b. Lereng Lereng yang ada di Kabupaten Pasuruan sebagian besar adalah rendah. Dataran Kabupaten Pasuruan terbagi menjadi tiga bagian. Jenis dan kemampuan Tanah Kemampuan tanah adalah identifikasi unsur-unsur tanah yang sngat berpengaruh. ♦ Bagian Utara terdiri dari dataran rendah pantai yang tanahnya kurang subur. Unsur-unsur fisik tanah tersebut meliputi lereng. Tanah yang nampak minus adalah di Kecamatan Rembang. menunjukkan bahwa keadaan dataran Kabupaten Pasuruan miring ke utara. yaitu : ♦ Bagian selatan terdiri dari pegunungan dan berbukit dengan ketinggian permukaan tanah antara 186 meter sampai 1. Purwodadi dan Prigen. . Geologi Dari segi fisiografi. Jenis tanah yang dibentuk tergolong jenis batuan gunung api kwater muda yang realtif subur dan terdapat banyaj bahan tambang.970 Ha) sedang sisanya adalah berupa bukit dan pegunungan. Daerah ini umumnya subur (kecuali beberapa daerah yang tanahnya relatif tandus).2% atau (seluas 45.580 Ha) dan 3 % 15% (seluas 52. kedalaman efektif tanah. c. Kraton. d. terutama untuk menentukan jenis-jenis penggunaan tanah yang ada diatasnya. Rejoso. sebagian daratan merupakan hasil gunung berapi. Jika dilihat dari struktur geologi. Topografi Kabupaten Pasuruan terletak berada pada ketinggian 0 meter . tekstur tanah. e. dengan ketinggian oermukaan tanah antara 2 meter sampai 8 meter di atas permukaan laut. Daerah ini membentang dari wilayah Kecamatan Nguling di sebelah timur ke barat yakni Lekok.161 meter di atas permukaan laut. Keadaan ke-tinggian suatu daerah merupakan salah satu faktor yang menentukan jenis kegiatan penduduk.+ 1. membentang dari wilayah Kecamatan Tosari dan Puspo ke arah barat yakni Kecamatan Tutur.

Pandaan. Pasrepan. Drainase Tanah Diwilayah Kabupaten Pasuruan sangat sedikit daerah yang tergenang air. Erosi Sebagimana kecamatan yang terkena erosi adalah Kecamatan Purwodadi. Prigen dan Lekok (seluas 18. 28 % dari seluruh wilayah.711 17.73 25. hanya terdapat di 4 Kecamatan saja yaitu (Bangil.65 Ha) dan sisanya 0. Puspo. regosol. Kejayan. Rejoso.43 Letak/Kawasan Pohjentrek. lapisan tanah relatif masih utuh. Prigen. wonorejo.Grati. 38 Ha atau 43. Gempol dan deji .080. 1 2 3 Jenis Tanah Alluvial Andosol Regosol Luas Ha % 23.387 Ha) bertekstur kasar. Lumbang. Tabel 5.5 0 35.933. Beji dan Gempol Tosari. alluvial. sehingga baik untuk lahan pertanian.5 15.801 Ha). Bangil.04 24. Kraton.192. Struktur jenis Tanah Sebagian besar jenis tanah yan terdapat di Kabupaten Pasuruan adalah litosol.94 % (1.73 % (65.26 Struktur Jenis Tanah di Kabupaten Pasuruan No.Rejoso) sedangkan daerah lainnya yang kdang-kadang tergenang adalah Kecamatan Bangil. g. Untuk kecamatan yang lainnya tidak erosi. Andosol. h.799. Sukorejo. j. Tekstur Tanah Tekstur tanah halus menduduki prosentase yang paling tinggi yaitu 54. Purwodadi. Prigen. i. Hal ini dapat menentukan jenis tanaman yang bisa dibudidayakan di atas tersebut.33 % (seluas 80. dan Tutur Pasrepan. mediteran dan grumosol.85 Ha) terdapat di semua kecamatan kecuali Kecamatan Puspo dan Kecamatan Prigen.Kraton. Lumbang. Sedangkan yang bertekstur sedang 44.56 Kedalaman efektif Tanah Kedalaman efektif tanah yang paling banyak adalah 60 cm – 90 cm seluas 63.414.

yang berilkim tropis dan terbagi menjadi 2 musim yaitu musim hujan antara bulan Oktober – April dan musim kemarau antara bulan April – Oktober. Tutur. Kondisi ini akan berpengaruh pada persediaan air untuk irigasi pertanian maupun untuk kebutuhan minum.000 meter 3 dengan debit air + 250 liter/detik). Di wilayah ini mengalir enam buah sungai besar yang bermuara di selat Madura. Klimatologi dan Hidrologi Kondisi iklim di Kabupaten Pasuruan. Lumbang. Curah hujan tertinggi selama bulan April (874mm) dan terendah terjadi pada bulan September (1 mm). umumnya mengalir ke arah utara dan bermuara di Selat Madura.26 k. antara lain Ranu grati (seluas + 190. yaitu : ♦ Sungai Lawean : bermuara di desa Penunggul Kecamatan Nguling ♦ Sungai Rejoso : bermuara di wilayah Kotamadya Pasuruan ♦ Sungai gombong : bermuara di wilayah Kotamadya Pasuruan ♦ Sungai Welang : bermuara di desa Pulokerto.5 24. rata-rata adalah 181 mm tiap bulan dalam satu tahun. yang berarti akan mempenagruhi pola intensitas penggunaan tanah dan tersedianya air pengairan. Pasrepan. Selain itu terdapat 310 sumber air yang berupa telaga/danau. Purwosari. Kabupaten Pasuruan terletak di daerah equator. Kecamatan Bangil ♦ Sungai kedunglarangan : bermuara di desa Kalianyar. Prigen dan Winongan Sumber : Repelita V Kabupaten Pasuruan Mediteran 21.882 3. Grati.55 Purwodadi. Kecamatan Kraton ♦ Sungai Masangan : bermuara di desa Raci. banyubiru (debit air 337 liter/detik). Kejayan.99 Kraton dan Rembang Litosol 36. terutama curah hujan sangat besar peranannya terhdap berbagai kegiatan usaha. Diantara 2 musim tersebut terdapat musim peralihan sekitar bulan-bulan April/Mei dan Oktober/Nopember.183.516. Puspo. Purwosari. dengan sumber airnya dari Gunung penanggungan. karena keadaan tanah di Kabupaten Pasuruan sebagian besar miring ke utara. Nguling dan Lekok Grumosol 5. Kecamatan Bangil. Gempol. umbulan (debit . volume air sebesar 2.017 14. Curah hujan di Kabupaten Pasuruan. Semua sungai yang ada.57 4 5 6 Purwodadi. Kondisi seperti ini merupakan potensi yang cukup besar untuk dimanfaatkan bagi usaha pertanian tanaman pangan dan perikanan. khususnya dibidang pertanian yaitu mengenai jenis dan pola tanaman.1 ha. Diantara sungai-sungai tersebut yang terpanjang adalah Sungai Kedunglarangan dengan panjang + 15 Km.

1 0.93 9 Lain-lain (jalan.103.501.13 7 Tanah Rusak/Kritis 1. Pola penggunaan dominan kedua berupa kawasan hutan (19.806. Tabel 5.7 1.1 32. Kedudukan Wialayah Perencanaan . yang berpengaruh terhdapap berkurangnya luas lahan pertanian. l.292.93%). Pola Penggunaan Tanah Pola penggunaan tanah di Kabupaten Pasuruan mayoritas berupa lahan pertanian (32.634. Klasifikasi ketiga dari pola penggunaan tanah adalah pemukiman meliputi 8. sebagai kawasan penyangga dari daerah yang ada di bawahnya terhdap bencana banjir maupum kekurangan air karena fungsi hidrologisnya.7 100.7 1.6 19.08 %) yang umumnya dijumpai pada wilayah dengan kemiringan 0 – 15 %.72 4 Perkebunan (Swasta/Rakyat) 3. 115 liter/detik diantaranya digunakan untuk memenuhi kebutuhan air minum Kotamadya Surabaya dan Pasuruan 40 liter/detik) serta Plitahan (debit air + 250 liter/detik). Hal ini berarti sebagian besar wilayah digunakan untuk penyediaan pangan yang merupakan sektor utama dalam perekonomian masyarakat. Jenis Penggunaan Tanah 5.00 Sumber : Kabupaten Pasuruan Dalam Angka Data Pokok untuk Pembangunan Daerah.375.08 3 Tegalan 43. Setiap tahunnya luas perkampungan cenderung berkembang sejalan dengan berkembangnya jumlah penduduk.012.83 2 Sawah 47. Pemerintah Pasuruan No.2 2.25 8 Hutan 29. Semua itu berdampak pada peningkatan kebutuhan tanah atau tempat.66 Jumlah 147.37 6 Danau 190. fasilitas yang tersedia dan kemajuan pembangunan itu sendiri.849.47 5 Tambak 3.83 % dari luas wilayah.kuburan) 2.3 2.325 liter/detik.8.4 8.sungai. pendapatan perkapita penduduk.4 29.27 Luas Penggunaan Tanah di Kabupaten Pasuruan Luas Ha % 1 Perkampungan 13.401. pada ketinggian 0 – 500 meter diatas permukaan laut. Gambaran Umum Wilayah Kota Pasuruan 1.58 +5.

drainase terhambat. dan K2O tinggi sekali. Tingkat keasaman tanah netral samapi agak basin dengan kadar unsur hara P. kadar N rendah. kedap udara. perkebunan dan kehutanan. tata erasi kurang lancar. drainase sangat lambat. Lahan ini dapat dibudidayakan dengan syarat sistem pembuangan air relatif lancar. bertekstur liat. mengerut dalam keadaan kering.35’ – 7 . P2O5 sedang. Sebagian besar tersebar di sepanjang wilayah pantai kota Pasuruan. Jenis tanah Tanah di Kota Pasuruan terdiri dari 2 jenis tanah yaitu : . Karena tingginya kadar Na dan Ca. Kota Pasuruan memiliki wilayah selauas 3678 Ha. kecuali tanaman yang toleran terhadap kadar Na dan Ca tinggi misalnya Bakau. mengembang dan melekat dalam keadaan basah. namum demikian masih layak untuk budidaya tambak dan penggaraman. b. 2. Wilayah kota Pasuruan empunyai letak geografis pada koodinat 112. Ketinggian Wilayah Kota Pasuruan secara keseluruhan mempuna keadaan topografi yang relatif datar. bertekstur liat berdebu sampai berliat karat. . pH 6. adanya lapisan reduksi di seluruh penampang.Sebelah Barat : Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan.Jenis tanah Hidromorfik Kelabu merupakan tanah yang terbentuk dari bahan batuan induk campuran endapan baru yang berasal dari sungai dan laut dengan ciri-ciri. mengerut dan keras dalam keadaan kering. Pasuruan . Gondang Wetan Kab.Sebelah Selatan : Kec.Jenis tanah Alluvial mempunyai konsistensi berwarna kelabu tua. tanah mengembang atau melekat dalam keadaan basah. maka tanah ini relatif tidka sesuai untuk lahan pertanian tanaman pangan dan hortikultura.55’ bujur timur dan 7 .6 – 7. serta bersifat keras. Pohjentrek Kab. K. dilihat dari ketinggiannya rata-rata mempunyai angkat ketinggian 2 meter diatas permukaan air laut.45’ lintang selatan dengan batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut : . Karakteristik Fisik Dasar a. . Pasuruan dan Kec.45’ – 112.5. Ca dan Mg yang cukup tinggi.59 Wilayah kota untuk penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kota adalah wilayah adminitratif Kota Pasuruan.Sebelah Timur : Kecamatan Rejoso Kabuoaten Pasuruan . Keasaman tanah netral.Sebelah Utara : Selat Madura .

pada bagian barat terdapat sungai Welang. Tekstur tanah di wilayah kota Pasuruan merupakan tekstur tanah sedang samapi kasar meliputi hingga 75 % dari selutuh wilayah kota Pasuruan. Semakin ke arah Selatan mempunyai ketinggian yang paling besar yaitu pada wilayah kelurahan Kebonagung yang mempunyai angkat ketinggian tanah sebesar 4 meter di atas permukaan laut. bukit lipatan dan endapan batuan berkapur raci di bagian barat serta wilayah grati di bagian timur.5o C dan minimum 23o C.337 mm dengan musim kemarau (100 mm/bulan) selama tujuh bulan yang jatuh pada bulan Mei s/d nopember dan meusim penghujan (200 mm/bulan) selama tiga buan pada bulan Januari sampai bulan Maret dengan iklim agak kering meskipun mash dalam skala iklim tropis dengan suhu rata-rata maksimum 31.60 c. kali Kepel. Kedalaman efektif tanah Kondisi kedalaman efektif tanah di wilayah kota Pasuruan berada di bawah angka 90 cm sehingga relatif menggangu terhadap perakaran tanaman dan kegiatan pembangunan gedung. dan kali Calung di wilayah kecamatan Bugul Kidul. Sungai lain yang melintasi wilayah kota Pasuruan yaitu kali Sodo. g. Klimatologi Keadaan iklim di kota Pasuruan termasuk tipe iklim D2 dengan curah hujan rata-rata pertahun 1. Geologi wilayah Keadaan geologi tanah di wilayah Kota Pasuruan merupakan dataran Alluvium yang terbentuk dari campuran bahan endapan yang berasal dari daerah Stuf Vulkanis Intermedier Pegunungan Tengger di Kawasan sebelah selatan. Kelerengan Selaras dengan apa yang dijelaskan di atas bahwa wilayah kota Pasuruan mempunyai lahan yang relatif datar dan cenderung landai. e. sungai Gembong di bagian tentah kota. d. Ketiga sungai yang melintasi wilayah kota Pasuruan ini bermuara di selat Madura. . sedangkan pada bagian timur mengalir sungai Pelung. Kondisi daerah alirah di ketiga sungai tersebut mempunyai kondisi yang sempit sehingga sering terjadi banjir yang besar. Hidrologi Keadaan hidrologi di wilayah Kota Pasuruan yang terletak di Selat Madura. hal ini karena masih perlu ditingkatkan nya volume saluran-saluran penatusan dalam kota serta saluran penatusan di kanan dan kiri jaringan jalan yang ada. f. demikian juga pada tingkat kelerengannya yang mempunyai rata-rata kemiringan di bawah 3 0.

Formasi Tawun (Tmt). Profil Kecamatan Bancar 1. Kecamatan Bancar termasuk Kabupaten Tuban dan merupakan berada di perbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah. Formasi Bulu (Tmb). yaitu : Batuan Sedimen. 2. perselingan batupasir dan batuliat berpasir dengan sisipan batuliat karbonan dan setempat batugamping 3). Formasi Ngrayong (Tmn). Umur batuan Lajur Rembang adalah Miosen Tengah. Secara umum batuan penyusun tanah di wilayah ini tersusun atas 1macam batuan. Profil Wilayah Pesisir Kabupaten Tuban 5. 3. 5. Malang dan Pasuruan. maka kota Pasuruan dalam petumbuhan wilayahnya cenderung untuk mengikuti oila radial konsentris dengan orientasi kegiatan pada sepanjang jaringan koridor jalan tersebut. Pada bagian lain berkembang pola konsentris terutama pada kawasan pusat kota.61 sisanya merupakan tekstur tanah antara sedang samapi kasar yang sifatnya kurang mampu mengikat air. Morfologi permukaan sangat dipengaruhi oleh proses pembentukan dan batuan penyusunnya. Keadaan Umum Kecamatan Bancar terletak di pantai utara Jawa Timur. Formasi Geologi yang dijumpai adalah: 1). hal ini didorong oleh ketersefiannya sarana dan prasarana yang terkonsentrasi pada beberapa bagian pusat kota menjadi kawasan dengan tingkat pertumbuhan kegiatan tinggi. kalkarenit .9. Perkembangan pola konsentris ini juga karena adanya pemusatan perkampungan nelayan yang tumbuh dan berkembang pada bagian Utara wilayah kota Pasuruan. Secara umum fisiografi Kecamatan termasuk Lajur Rembang.9. batuliat berpasir dengan sisipan batupasir dan batugamping.. 2). Pola Penggunaan Lahan Wilayah Kota Pasuruan karena posisinya dilewati oleh tiga koridor regional yang menuju pusat SWP seperti Surabaya. Fisiografi dan Stratigrafi.1.

muncul terangkat agak miring Punggung bukit karstik yang sangat curam di atas batu gamping Ustorthent. batuliat. 7). Sistem dataran. Batugamping terumbu. AAR.28. Rendoll . setempat bersisipan batupasir dan batugamping. batupasir dan sisipan napal. 5). Tabel 5. Sistem Karst. dan MKS. Anggota Dander. napal dengn sisipan kalkarenit dan batuliat Formasi Ledok (Tml).28). wilayah Kecamatan Bancar terdiri atas 5 landsystem (Tabel 5. perselingan kalkarenit. SISTEM KARST 2. napal Formasi Paciran (Tpp). 8). Bentuk lahan Berdasarkan Peta Landsystem (RePPProT. Jawa Timur Landsystem I.62 4). P1112 MKS II. 5 landsystem tersebut terbagi dalam 2 sistem lahan (Dessaunettes. Ustropept Eutropept. Formasi Wonocolo Tmw). 1989). 1977). merupakan dataran agak miring dan bergelombang. muncul terangkat agak miring) merupakan dataran dengan singkapan batuan batugamping koral. Landsystem BRN (Dataran bergelombang di atas napal) dijumpai di kawasan pantai bagian tengah. merupakan dataran endapan gabungan muara dan sungai. SISTEM DATARAN 1. 6). Calciustoll. Ustropept Teras berkarang yang bergelombang. Formasi Lidah (Qtdl). 9). Formasi Lidah (Qtl). dan endapan sungai Fluvaquent. terumbu dan batugamping berlapis 3. perselingan batugamping berpasir dan batupasir bergamping. Daftar Landform yang terdapat di Kecamatan Bancar. KLG Kalung No Landform Deskripsi Tanah Dataran gabungan endapan muara Tropaquent. Landsystem AAR (Teras berkarang yang bergelombang. Kabupaten Tuban. Kawasan pantai didominasi oleh landsystem BRN. K111 AAR 3. setempat batu kapur Formasi Selorejo (Tps). dan 2). Formasi Mundu (Tpm). yang dalam klasifikasi lain termasuk landform angkatan mirng dan kompleks cuesta. Lansystem MKS (Dataran gabungan endapan muara dan endapan sungai) dijumpai pantai wilayah Kecamatan Bancar bagian timur. 10). yaitu : 1).

tetapi hantaman ombak yang terus menerus tampaknya mengikis pantai secara perlahan. Tanah Tanah di Kecamatan Bancar berkembang sesuai dengan bahan induk. 8 sob ordo dan 13 great group (Tabel 5. Berdasarkan atas landsystem yang ada. 4. Batuan gatugamping koral sebagai bahan induk tanah tampaknya cukup mengurangi pengaruh abrasi laut ini. dengan lereng datar sampai 30 %. Jenis Tanah (Taksonomi) Ordo Entisol Inceptisol Mollisol Alfisol Sub Ordo Aquent Orthent Tropept Rendoll Ustol Ustalf Great Group Fluvaquent Tropaquent Ustorthent Eutropept Ustropept Rendoll Calciustoll Haplustalf a. Dipihak lain. terlihat bahwa Gelombang di sepanjang pantai tidak terlalu besar (< 100 dari pantai). Meskipun tidak begitu besar. Wilayah pantai umumnya memiliki relief yang datar (0-3%). Ustropept Calciustoll. Entisol merupakan tanah-tanah muda. BRN BRU Bogoran Beru Dataran bergelombang di atas napal Punggung bukit karstik yang sangat curam di atas batu gamping Haplustalf. Tabel 5. tanah dangkal karena proses . umumnya berupa endapan pantai atau tanah dangkal. Ustropept Berdasarkan hasil interpretasi foto udara secara lebih detil pada kawasan pantai Bancar.29). Relief Kecamatan Bancar bervariasi dari datar sampai berbukit kecil. Endapan pantai yang masih muda menyebabkan tanah yang ada belum berkembang.29. Entisol.63 4. terliat dari tebing pantai yang cukup curam pada lahan dataran. kecuali pada dataran pantai di bagian timur wilayah kecamatan ini. topografi dan iklim yang bekerja pada wilayah tersebut. 5. tanah yang dijumpai ada 4 ordo.

e. Lahan sawah menempati kawasan di belakangnya dan / atau kawasan sekitar sungai. 8. Umumnya dijumpai dalam asosiasi dengan tanah yang lain. Dijumpai hampir di seluruh wilayah. ditandai dengan adanya penumpukan liat pada penampang tanahnya. meskipun pembentukan strukturnya sudah cukup baik. lain penyebarananya cukup luas hampir di seluruh wilayah. khususnya yang memiliki landform dataran bergelombang. khususnya di tidak atau kurang dikelola secara intensif (lahan hutan atau semak belukar). dan d). Mollisol Merupakan tanah yang berwarna hitam dengan struktur remah di bagian atas. 6. Penggunaan Lahan Pola penggunaan lahan tidak terlalu banyak variasi. Bahaya alam. Ombak laut tidak terlalu besar. Pola penggunaan lahan yang banyak dijumpai di Kecamatah antara lain adalah: a) sawah.64 erosi di teras marin menyebabkan tanah tersebut terpaksa harus dimasukkan ke Ordo Entisol. b. c). Pemukiman. Bahaya alam yang bisa dijumpai di wilayan pantai utara ini tampaknya tidak begitu besar. batuan keras yang berupa batugamping koral sebagai bahan induk tanah cukup kuat untuk melawan aksi ombak laut. Alfisol. Merupakan tanah-tanah yang sedang berkembang. Tanaman semusim seperti jagung dan ketela diusahaan pada lahan ini. Inceptisol. b) tegal. Untungnya. d. antara lain : . Kawasan hutan menampati lahan dengan kemiringan curam dan atau berbatu. Kawasan pantai didominasi oleh lahan tegal dan pemukiman. Untuk membuat kawasan pemukiman. disamping itu tanaman tahunan berupa mangga atau kayu-kayuan. Umumnya berasosiasi dengan tanah-tanah yang lain. Meskipun berasosiasi dengan tanah. 7. meskipun demikian hantaman ombak yang terjadi secara terus menerus menyebabkan terkikisnya sebagian besar taanah di wilayah pantai.. Merupakan tanah yang sudah dewasa. Hutan Jati. pemukiman. perlu penilaian terhadap beberapa parameter..

Morfologi permukaan sangat dipengaruhi oleh proses pembentukan dan batuan penyusunnya. kerikil. Endapan permukaan terdiri atas Aluvium dan Endapan Pantai (Qal). dan terlalu dekat dengan pantai karena ncaman abrasi air laut. Secara umum fisiografi Kecamatan Jenu termasuk Lajur Rembang. organik dengan fragmen alga. Bentuk lahan Berdasarkan Peta Landsystem (RePPProT. koral dan molusca. Secara umum batuan penyusun tanah di wilayah ini tersusun atas 2 macam batuan. 3 landsystem tersebut terbagi dalam 3 sistem lahan . Fisiografi dan Stratigrafi.9. asalkan tidak bertingkat lebih dari 3 karena kedalaman hamparan batuan yang dangkal. Kecamatan Jenu termasuk Kabupaten Tuban 2. yaitu: Endapan permukaan dan Batuan Sedimen. batugamping berdolomit dan dolomit. Keadaan Umum Kecamatan Jenu terletak di pantai utara Jawa Timur.2. pasir dan lumpur. kerakal. kerakal berlempung berwarna coklat. 1989). 3. Menempati wilayah dataran sepanjang pantai timur Batuan sedimen yang menyusun lahan di wilayah kecamatan ini adalah: Formasi Kalibeng (Tpk). 5. Kecamatan Jenu 1.65 a) Subsidensi b) Bahaya banjir c) Kondisi air tanah d) Potensi mengembang-mengkerut e) Kelas Unified f) Lereng g) Kedalaman hamparan batuan h) Kedalaman padas i) Batu/kerikil dalam penampang tanah j) Bahaya longsor Untuk digunakan sebagai kawasan pemukiman wilayah Kecamatan Bancar tampaknya tidak menjadi masalah. putih sampai kemeraan. wilayah Kecamatan Jenu terdiri atas 3 landsystem.

tetapi hantaman ombak yang terus menerus tampaknya mengikis pantai secara perlahan. Sistem Marin. Meskipun tidak begitu besar. merupakan dataran endapan gabungan muara dan sungai. Daftar Landform yang terdapat di Kecamatan Jenu. Landystem ini mendominasi wilayah Kecamatan Jenu. Tropaquent Dataran gabungan endapan Tropaquent. yaitu : 1). Landsystem AAR (Teras berkarang yang bergelombang. Sistem dataran.30). (Gambar 9) . Jika melihat kejernihan air laut. muara dan endapan sungai Fluvaquent. MARIN UPG Beting pantai dan cekungan Ustipsamment antara beting pantai . Batuan gatugamping koral sebagai bahan induk tanah tampaknya cukup mengurangi pengaruh abrasi laut ini. SISTEM DATARAN P1112 MKS II. dan 3). Landsystem UPG (Beting pantai dan cekungan antara beting pantai) dijumpai di pantai bagian timur dengan luasan yang tidak begitu banyak yaitu dengan lebar seikiat 100 m dan panjang 2 km. kecuali pada dataran pantai di bagian timur wilayah kecamatan ini. barangkali karena proses pengendapan bahan yang lebih besar dibanding pantai yang lain. terlihat dari tebing pantai yang cukup curam pada lahan dataran. sebagian berupa dataran berombak atau bergelombang. Kabupaten Tuban. SISTEM KARST K111 AAR 3 Berdasarkan hasil interpretasi foto udara secara lebih detil pada kawasan pantai Jenu.30. muncul Calciustoll. Lansystem MKS (Dataran gabungan endapan muara dan endapan sungai) dijumpai pantai wilayah Kecamatan Jenu bagian timur dan barat. terangkat agak miring Ustropept I. muncul terangkat agak miring) merupakan dataran dengan singkapan batuan batugamping koral. 1977). bergelombang.66 (Dessaunettes. Jawa Timur No Landform Landsystem Deskripsi Tanah 1 2 M1 I. Ustropept Teras berkarang yang Ustorthent. Sistem Karst (Tabel 5. 2). Tabel 5. Relief Kecamatan Jenu umumnya berupa dataran. terlihat bahwa Gelombang di sepanjang pantai tidak terlalu besar (< 100 dari pantai). tampaknya pantai sebelah timur lebih keruh.

Inceptisol. khususnya yang berada dekat dengan pantai. Entisol. . Tabel 5. tanah dangkal karena proses erosi di teras marin menyebabkan tanah tersebut terpaksa harus dimasukkan ke Ordo Entisol. Endapan baru di wilayah rawa pasang surut memiliki sub ordo aquent (Fluvaquent dan Tripaquent) Endapan pada pesisir pasir termasuk sub-ordo psamment. khususnya di lahan kering. Tropaquent. Entisol merupakan tanah-tanah muda. Tanah Tanah di Kecamatan Jenu berkembang sesuai dengan bahan induk.31 Jenis Tanah Ordo Entisol Sub Ordo Aquent Orthent Psamment Tropept Ustoll Great Group Fluvaquent.. Merupakan tanah-tanah yang sedang berkembang. khususnya di tidak atau kurang dikelola secara intensif (lahan hutan atau semak belukar). dimana lereng pemiringan cuesta lbih dominan daripada gawir cuestanya.67 Klasifikasi landform belum dilaksanakan secara detil. topografi dan iklim yang bekerja pada wilayah tersebut. Kompleks Cuesta menempati bagian yang lain. Ustorthent. Berdasarkan atas landsystem yang ada. Kompleks hogbak juga ditemukan di wilayah ini meskipun tidak terlalu luas. 5 sob ordo dan 6 great group. Dipihak lain. Mollisol Merupakan tanah yang berwarna hitam dengan struktur remah di bagian atas. b. Ustipsamment Ustropept Calciustoll Inceptisol Mollisol a. tanah yang dijumpai ada 3 ordo. Umumnya dijumpai dalam asosiasi dengan tanah yang lain. meskipun pembentukan strukturnya sudah cukup baik. Endapan pantai yang masih muda menyebabkan tanah yang ada belum berkembang. umumnya berupa endapan pantai atau tanah dangkal. 4. e. Umumnya berasosiasi dengan tanah-tanah yang lain. Dijumpai hampir di seluruh wilayah. tetapi melihat hasil interpretasi sementara dari foto udara terlihat bahwa pada dasarnya landform di wilayah ini adalah termasuk angkatan miring .

disamping itu tanaman tahunan berupa mangga atau kayu-kayuan. Pemukiman. 8. 7.3. Pola penggunaan lahan yang banyak dijumpai di Kecamatah antara lain adalah: a) sawah. antara lain : a) Subsidensi b) Bahaya banjir c) Kondisi air tanah d) Potensi mengembang-mengkerut e) Kelas Unified f) Lereng g) Kedalaman hamparan batuan h) Kedalaman padas i) Batu/kerikil dalam penampang tanah j) Bahaya longsor Untuk digunakan sebagai kawasan pemukiman wilayah Kecamatan Jenu tampaknya tidak menjadi masalah. Bahaya alam.68 6. Kawasan hutan menampati lahan dengan kemiringan curam dan atau berbatu. perlu penilaian terhadap beberapa parameter.9. Tanaman semusim seperti jagung dan ketela diusahaan pada lahan ini. meskipun demikian hantaman ombak yang terjadi secara terus menerus menyebabkan terkikisnya sebagian besar taanah di wilayah pantai. Bahaya alam yang bisa dijumpai di wilayan pantai utara ini tampaknya tidak begitu besar. b) tegal. 5. asalkan tidak bertingkat lebih dari 3 karena kedalaman hamparan batuan yang dangkal. Penggunaan Lahan Pola penggunaan lahan tidak terlalu banyak variasi. Keadaan Umum . Untuk membuat kawasan pemukiman. Kawasan pantai didominasi oleh lahan tegal dan pemukiman. Kecamatan Merakurak 1. dan d). pemukiman. batuan keras yang berupa batugamping koral sebagai bahan induk tanah cukup kuat untuk melawan aksi ombak laut. Kawasan pantai sebelah timur tampaknya justru terjadi sedimentasi. sehingga pengaruh air laut tidak terlalu besar. dan terlalu dekat dengan pantai karena ancaman abrasi air laut. c). Hutan Jati (Gambar 10). Ombak laut tidak terlalu besar. Lahan sawah menempati kawasan di belakangnya dan / atau kawasan sekitar sungai. Untungnya.

69

Kecamatan Merakurak terletak di pantai utara Jawa Timur. Kecamatan Merakurak termasuk wilayah Kabupaten Tuban 2. Fisiografi dan Stratigrafi. Secara umum fisiografi Kecamatan Merakurak termasuk Lajur Rembang. Morfologi permukaan sangat dipengaruhi oleh proses pembentukan dan batuan penyusunnya. Secara umum batuan penyusun tanah di wilayah ini tersusun atas 2 macam batuan, yaitu: Endapan permukaan dan Batuan Sedimen. Endapan permukaan terdiri atas Aluvium dan Endapan Pantai (Qal), kerakal, kerikil, pasir dan lumpur. Menempati wilayah dataran sepanjang pantai timur Batuan sedimen yang menyusun lahan di wilayah kecamatan ini adalah: Formasi Kalibeng (Tpk), batugamping berdolomit dan dolomit, putih sampai kemeraan, organik dengan fragmen alga, koral dan molusca, kerakal berlempung berwarna coklat. 3. Bentuk lahan Berdasarkan Peta Landsystem (RePPProT, 1989), wilayah Kecamatan Merakurak terdiri atas 2 landsystem . 2 landsystem tersebut terbagi dalam 2 sistem lahan (Dessaunettes, 1977), yaitu : 1). Sistem dataran, dan 2). Sistem Karst. Landsystem AAR (Teras berkarang yang bergelombang, muncul terangkat agak miring) merupakan dataran dengan singkapan batuan batugamping koral. Landystem ini mendominasi wilayah Kecamatan Merakurak. Lansystem MKS (Dataran gabungan endapan muara dan endapan sungai) dijumpai di dekat pantai (wilayah Kecamatan Merakurak bagian timur), merupakan dataran endapan gabungan muara dan sungai. Hasil interpretasi foto udara secara lebih detil pada kawasan pantai Merakurak, menunjukkan bahwa kecamatan ini tidak terlalu terpengaruh oleh aktivitas laut (Mungkin batas kecamatan yang telah didapat tidak tepat, perlu dicari yang lebih tepat). Kecamatan ini masih dibatasi oleh Kecamatan Jenu. Wilayah yang paling dekat dengan pantai adalah wilayah kecamatn bagian timur (Desa Sumberrejo dan Bogorejo). Oleh karena itu, pengaruh laut terhadap lingkungan kecamatan ini tidak jelas. Mungkin sebagian masyarakatnya bermatapencaharian di laut (sebagai nelayan). Relief Kecamatan Merakurak umumnya berupa dataran, sebagian berupa dataran berombak atau bergelombang.

70 Tabel 5.32. Daftar Landform yang terdapat di Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, Jawa Timur Deskripsi Tanah

No

1

Landsyste m I. SISTEM DATARAN P1112 MKS II. SISTEM KARST K111 AAR

Landform

Dataran gabungan endapan Tropaquent, muara dan endapan sungai Fluvaquent, Ustropept Teras berkarang yang Ustorthent, bergelombang, muncul Calciustoll, terangkat agak miring Ustropept

2

Klasifikasi landform belum dilaksanakan secara detil, tetapi melihat hasil interpretasi sementara dari foto udara terlihat bahwa pada dasarnya landform di wilayah ini adalah termasuk angkatan miring , khususnya yang berada dekat dengan pantai. Kompleks Cuesta menempati bagian yang lain, dimana lereng pemiringan cuesta lebih dominan daripada gawir cuestanya. Kompleks hogbak juga ditemukan di wilayah ini meskipun tidak terlalu luas. Dataran pantai dijumpai di wilayah bagian timur Kecamatan Merakurak. 5. Tanah Tanah di Kecamatan Merakurak berkembang sesuai dengan bahan induk, topografi dan iklim yang bekerja pada wilayah tersebut. Berdasarkan atas landsystem yang ada, tanah yang dijumpai ada 3 ordo, 4 sob ordo dan 5 great group. Tabel 5.33. Jenis Tanah (Taksnomi) Ordo Entisol Inceptisol Mollisol Entisol. Sub Ordo Aquent Orthent Tropept Ustoll Great Group Fluvaquent, Tropaquent, Ustorthent, Ustropept Calciustoll

71

Entisol merupakan tanah-tanah muda, umumnya berupa endapan pantai atau tanah dangkal. Endapan pantai yang masih muda menyebabkan tanah yang ada belum berkembang. Endapan baru di wilayah rawa pasang surut memiliki sub ordo aquent (Fluvaquent dan Tripaquent) Endapan pada pesisir pasir termasuk sub-ordo psamment. Dipihak lain, tanah dangkal karena proses erosi di teras marin menyebabkan tanah tersebut terpaksa harus dimasukkan ke Ordo Entisol, meskipun pembentukan strukturnya sudah cukup baik. Inceptisol.. Merupakan tanah-tanah yang sedang berkembang. Dijumpai hampir di seluruh wilayah, khususnya di lahan kering. Umumnya berasosiasi dengan tanah-tanah yang lain. Mollisol Merupakan tanah yang berwarna hitam dengan struktur remah di bagian atas. Umumnya dijumpai dalam asosiasi dengan tanah yang lain, khususnya di tidak atau kurang dikelola secara intensif (lahan hutan atau semak belukar). 6. Penggunaan Lahan Pola penggunaan lahan tidak terlalu banyak variasi. Pola penggunaan lahan yang banyak dijumpai di Kecamatah antara lain adalah: a) sawah, b) tegal, c). pemukiman, dan d). Hutan Jati (Gambar 12). Lahan sawah tadah hujan menempati kawasan / bagian utara Kecamatan Merakurak yang memiliki relief fatar sampai berombak. Lahan tegalan menempati separuh wilayah kawasan sebelah selatan. Kawasan hutan jati berasosisi dengan lahan tegal menempati lahan dengan kemiringan curam dan atau berbatu di bagian selatan wilayah kecamatan, dan sedikit di sebelah barat. 7. Bahaya alam. Bahaya alam di wilayah ini belum terdeteksi, tampaknya tidak banyak bencana yang diakibatkan oleh kondisi alam. 8. Pemukiman. Untuk membuat kawasan pemukiman, perlu penilaian terhadap beberapa parameter, antara lain : a. Subsidensi b. Bahaya banjir c. Kondisi air tanah

5. Endapan permukaan terdiri atas Aluvium dan Endapan Pantai (Qal). Batu/kerikil dalam penampang tanah j. batugamping berdolomit dan dolomit. abu-abu-abu-abu kehijauan. yaitu: Endapan permukaan dan Batuan Sedimen. dengans elingan batugamping.. Secara umum batuan penyusun tanah di wilayah ini tersusun atas 2 macam batuan. Potensi mengembang-mengkerut e.9.72 d. Formasi Kujung. Kedalaman hamparan batuan h. kerikil. Formasi Kalibeng (Tpk). setempat dijumpai batupasir bergamping berbutir halus. putih sampai kemeraan. anggauta bawah (Toml). Keadaan Umum Kecamatan Palang terletak di pantai utara Jawa Timur. Lereng g. sebagian bergamping dengan selingan batulanau berlempung abu-abu mudam lapisan tipis napal abu-abi muda. 2). organik dengan fragmen alga. kerakal berlempung berwarna coklat. Batuliat. 3). Formasi Kujung.4. Menempati wilayah dataran sepanjang pantai timur Batuan sedimen yang menyusun lahan di wilayah kecamatan ini adalah: 1). . Batuliat. Kedalaman padas i. selain kemungkinan kurangnya air tanah. Bahaya longsor Untuk digunakan sebagai kawasan pemukiman wilayah Kecamatan Merakurak tampaknya tidak menjadi masalah. kerakal. Kecamatan Palang 1. 2. setempat bergamping. Secara umum fisiografi Kecamatan termasuk Lajur Rembang. koral dan molusca. Kecamatan Palang termasuk Kabupaten Tuban dan merupakan berada di perbatasan dengan Kabupaten Lamongan. Fisiografi dan Stratigrafi. anggauta tengah (Tomm). pasir dan lumpur. Kelas Unified f. napal dan batupasir. Morfologi permukaan sangat dipengaruhi oleh proses pembentukan dan batuan penyusunnya.

73

3. Bentuk lahan Berdasarkan Peta Landsystem (RePPProT, 1989), wilayah Kecamatan Palang terdiri atas 5 landsystem (Tabel 5.33). 5 landsystem tersebut terbagi dalam 3 sistem lahan (Dessaunettes, 1977), yaitu : 1). Sistem dataran, dan 2). Sistem Alluvial, dan 3). Sistem Karst. Kawasan pantai didominasi oleh landsystem AAR, dan MKS. Landsystem AAR (Teras berkarang yang bergelombang, muncul terangkat agak miring) merupakan dataran dengan singkapan batuan batugamping koral, dijumpai di wilayah pantai bagian barat. Lansystem MKS (Dataran gabungan endapan muara dan endapan sungai) dijumpai pantai wilayah Kecamatan Palang bagian timur, merupakan dataran endapan gabungan muara dan sungai.

Tabel 5.33. Daftar Landform yang terdapat di Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur
No Landform Landsyste m Deskripsi Tanah

6.

I. SISTEM DATARAN P1112 MKS II. LEMBAH ALLUVIAL A23 NGR III. SISTEM KARST K111 AAR OMB K BRU

Dataran gabungan endapan Tropaquent, muara dan endapan sungai Fluvaquent, Ustropept Dataran banjir pada sungai Tropaquept, kecil di antara perbukitan pada Ustifluvent, daerah kering (A23) Ustropept Teras berkarang yang bergelombang, muncul terangkat agak miring Dataran berombak di atas napal dan batugamping pada daerah kering Punggung bukit karstik yang sangat curam di atas batu gamping Ustorthent, Calciustoll, Ustropept Ustropept, Haplustalf Calciustoll, Ustropept

7.

8. 9. 10.

74

Berdasarkan hasil interpretasi foto udara secara lebih detil pada kawasan pantai Palang sebalah timur air laut tampak lebih keruh, menandakan adanya material yang terbawa oleh erosi. Dengan demikian, sedimentasi terjadi di wilayah ini disertai tumbunya hutan bakau di sepanjang pantai ini. Pada sebagian kawasan pantai tampaknya tidak terjadi sedimentasi, air laut tamak lebih jernih dengan gelombang yang tidak begitu besar. Bahaya abrasi air laut meskipun kecil tetap perlu diperhatikan. Batuan gatugamping koral sebagai bahan induk tanah tampaknya cukup mengurangi pengaruh abrasi laut ini, kecuali pada dataran pantai di bagian barat wilayah kecamatan ini. Relief Kecamatan Palang umumnya datar bervariasi dari datar sampai berbukit kecil, dengan lereng datar sampai lemih darei 60 %. Wilayah pantai umumnya memiliki relief yang datar (0-3%). Wilayah perbukitan dijumpai di bagian tengah dan selatan yang berbatuan batu gamping-dolomitik. 4. Tanah Tanah di Kecamatan Palang berkembang sesuai dengan bahan induk, topografi dan iklim yang bekerja pada wilayah tersebut. Berdasarkan atas landsystem yang ada, tanah yang dijumpai ada 4 ordo, 7 sob ordo dan 8 great group (Tabel 5.34).
Tabel 5.34. Jenis Tanah (Taksonomi) Ordo Entisol Sub Ordo Aquent Fluvent Orthent Aquept Tropept Ustoll Ustalf Great Group Fluvaquent Tropaquent Ustifluvent Ustorthent Tropaquept Ustropept Calciustoll Haplustalf

Inceptisol Mollisol Alfisol

a. Entisol. Entisol merupakan tanah-tanah muda, umumnya berupa endapan pantai atau tanah dangkal. Endapan pantai yang masih muda menyebabkan tanah yang ada belum berkembang. Dipihak lain, tanah dangkal karena proses erosi di teras marin menyebabkan tanah tersebut terpaksa harus dimasukkan ke Ordo Entisol, meskipun pembentukan strukturnya sudah cukup baik.

75

b. Inceptisol.. Merupakan tanah-tanah yang sedang berkembang. Dijumpai hampir di seluruh wilayah. Umumnya berasosiasi dengan tanah-tanah yang lain. d. Alfisol. Merupakan tanah yang sudah dewasa, ditandai dengan adanya penumpukan liat pada penampang tanahnya. Berasosiasi dengan tanah, lain penyebarananya tanah ini menduduki sekitar 50 % dari luas kecamatan, khususnya yang memiliki landform bergelombang – berbukit di bagian selatan wilayah kecamatan. e. Mollisol Merupakan tanah yang berwarna hitam dengan struktur remah di bagian atas. Umumnya dijumpai dalam asosiasi dengan tanah yang lain, khususnya di tidak atau kurang dikelola secara intensif pada lahan berbahan induk batugamping (lahan hutan atau semak belukar). 6. Penggunaan Lahan Pola penggunaan lahan tidak terlalu banyak variasi. Pola penggunaan lahan yang banyak dijumpai di Kecamatah antara lain adalah: a) sawah, b) tegal, c). pemukiman, d). tambak ikan e). padang rumput, dan f). Hutan Jati (Gambar 14). Kawasan pantai yang sebelah barat didominasi oleh lahan tegal dan pemukiman. Tanaman semusim seperti jagung dan ketela diusahaan pada lahan ini, disamping itu tanaman tahunan berupa mangga, siwalan atau kayu-kayuan. Kawasan pantai sebelah timur didominasi oleh tambak ikan. Lahan ini merupakan lahan yang terpengaruh oleh pasang surut air laut. Lahan sawah menempati kawasan di belakangnya dan / atau kawasan sekitar sungai. Kawasan hutan menampati lahan dengan kemiringan curam dan atau berbatu. 7. Bahaya alam. Bahaya alam yang bisa dijumpai di wilayan pantai utara ini tampaknya tidak begitu besar. Ombak laut tidak terlalu besar, meskipun demikian hantaman ombak yang terjadi secara terus menerus menyebabkan terkikisnya sebagian besar taanah di wilayah pantai, khususnya di kawasan pantai sebelah barat. Untungnya, batuan keras yang berupa batugamping koral sebagai bahan induk tanah cukup kuat untuk melawan aksi ombak laut. Kawasan pantai di sebelah timur tidak terancam oleh abrasi air laut, tetapi ada ancaman bajir atau genangan air pasang.

VI. Ekosistem Pesisir Pantai: Potensi dan Pengelolaannya Wilayah perairan pantai di Jawa Timur mempunyai peranan yang sangat penting bagi kesejahteraan masyarakat pantai dan pembangunan ekonomi wilayah secara keseluruhan. KONSEP PENGATURAN RUANG KAWASAN PESISIR 6. 6. mineral. pangan. perlu penilaian terhadap beberapa parameter. asalkan tidak bertingkat lebih dari 3 karena kedalaman hamparan batuan yang dangkal. obyek wisata dan geografis yang mendukung jalur lalulintas angkutan laut. Selain daripada itu wilayah pantai ini secara ekologis sangat kompleks dan rumit serta peka terhadap berbagai macam gangguan alam dan gangguan oleh manusia.2. Nilai-nilai Sosial Ekonomi .1.76 8. Untuk membuat kawasan pemukiman. Pemukiman. dan terlalu dekat dengan pantai karena ncaman abrasi air laut. antara lain : a) Subsidensi b) Bahaya banjir c) Kondisi air tanah d) Potensi mengembang-mengkerut e) Kelas Unified f) Lereng g) Kedalaman hamparan batuan h) Kedalaman padas i) Batu/kerikil dalam penampang tanah j) Bahaya longsor Untuk digunakan sebagai kawasan pemukiman wilayah Kecamatan Palang tampaknya tidak menjadi masalah. Wilayah ini mengandung berbagai sumberdaya dan potensi ekonomi seperti minyak dan gas bumi.

Perikanan tangkap dan aqua-kultur. bakau. hamparan lumpur pantai. Sebagian potensi wisata pantai dan wisata bahari masih belum dikembangkan. terumbu karang. Perkampungan di kawasan pantai di huni oleh para nelayan penangkap ikan. dan pendatang. menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat dari tahun ke tahun. dan feeding grounds bagi berbagai jenis ikan yang bernilai ekonomis tinggi. Hutan bakau tersebar di berbagai lokasi pantai nilai ekonomi dan nilai ekologi dari hutan bakau ini telah banyak dirasakan oleh masyarakat sekitarnya dan secara tidak langsung juga oleh perekonomian wilayah. Kondisi ekologis zone pantai juga sangat penting bagi kegiatan wisata. Dalam rangka untuk melestarikan hutan bakau ini harus dilaksanakan berbagai program khusus seperti penghijauan kawasan hutan bakau yang telah rusak. Nilai keunggulan lokasi pantai in iadalah kemudahan akses terhadap angkutan laut dan ketersediaan air dalam jumlah besar. pulau-pulau kecil. Hutan bakau dan estuaria mempunyai signifikansi ekologis yang spesifik sebagai spawning grounds. Beberapa obyek wisata pantai mempunyai potensi yang cukup besar untuk dikembangkan lebih lanjut. Terumbu karang mengkonsentrasikan hara untuk mendukung ekosistem produktif dan produksi ikan yang tinggi di perairan sekitarnya. Beberapa problem dan issue pembangunan pantai . Obyek wisata. Hasil tangkapan ikan di perairan pantai berfluktuasi dari tahun ke tahun. petani tambak. Sedangkan produksi perikanan tambak termasuk udang. dan garam. Industri. 2. Terumbu karang mengkonsentrasikan hara untuk mendukung ekosistem tinggi. Sejumlah aktivitas industri dan pembangkit tenaga listrik berlokasi di kawasan pantai. Nilai Ekosistem Pesisir-Pantai Ekosistem pesisr-pantai (tambak ikan. 6.2. Pesisir. dan lainnya) menyediakan habitat bagi organisme yang berhubungan dengan laut. Hasil mineral yang penting dari perairan pantai adalah garam yang dihasilkan oleh petani tambak garam. Sektor ekonomi sangat tergantung pada lingkungan alami yang tidak terganggu. nursing. Pemukiman nelayan. tempat bersarang dan bereproduksi atau keperluan lainnya. hutan bakau dan terumbu karang juga menjadi penyangga alamiah terhadap gelombang laut.77 Sumberdaya hutan.2. Mineral.1. 6. baik untuk memenuhi kebutuhan pangan. Dune. Estuartia. udang. erosi dan badai.

terumbu karang. Terumbu karang di beberapa lokasi menunjukkan gangguan akibat siltasi dan sedimentasi atau penurunan kualitas air laut akibat aktivitas-aktivitas yang membuang limbah keperairan pantai. Kawasan hutan bakau ini dibuka untuk pemukiman. dan perairan pantai. Pencemaran terutama dapat disebabkan oleh pembuangan limbah domestik cair dan padat dari daratan. (b) Air merupakan gaya integrator utama dalam sistem sumberdaya pantai. Statistik menunjukkan bahwa luas hutan bakau ini menunjukkan kecenderungan yang menurun dari tahun ke tahun. Sumberdaya pantai seperti hutan bakau. over-eksploitasi. serta problematika yang berhubungan dengan aktivitas pembangunan di sepanjang kawasan pantai yang mengakibatkan berbagai dampak buruk terhadap sumberdaya pantai. Beberapa spesies karang yang eksotik dipanen untuk pasar akuarium. mengorganisir. 3. lokasi industri. wisata pantai. dan penggunaan yang tidak ekonomis. Kunjungan wisata ke ekosistem terumbu karang ini juga dapat berdampak buruk melampaui batas kongestinya. dan mengendalikan penggunaan sumberdaya pantai untuk memenuhi kebutuhan pembangunan. Selain itu meningkatnya kebutuhan kayu bakar juga mendorong over-eksploitasi hutan bakau.2. Dalam situasi seperti ini habitat dasar dan fungsi ekologisnya akan hilang dan kehilangan ini seringkali nilainya lebih besar dibandingkan dengan nilai yang dihasilkan oleh aktivitas subsitutenya. Aktivitas-aktivitas ini secara tidak langsung juga berdampak pada penurunan produksi perikanan tangkap dan budidaya. pelabuhan dan dermaga di sepanjang pantai secara langsung dan tidak langsung juga mempunyai sumbangan terhadap penurunan kualitas ekosistem pantai. Perkembangan perkampungan nelayan. 6. aktivitas penanaman kembali sangat terbatas. Bentuk-bentuk pengelolaan tradisional berbasis-lahan dan berbasis-laut harus dimodifikasi menjadi bentuk pengelolaan yang efektif bagi daerah transisi laut dan darat. Sebagian hutan bakau dikonversi dan sebagian lainnya mengalami degradasi akibat over-eksploitasi. budidaya tambak dan lainnya. Beberapa Prinsip Penglolaan Pengelolaan dan pengembangna sumberdaya pantai mengandung makna mengembangkan. . Setiap aspek dari kegiatan pengelolaan pantai berhubungan dengan air sehingga memerlukan ltatanan kelembagaan yang spesifik dan rumit. (a) Zone pantai adalah unik dan mempunyai kebutuhan khusus untuk managemen dan perencanaan dan perencanaan.78 Problem utama dalam pembangunan wilayah pantai adalah kerusakan sumberdaya pantai oleh destruksi. pesisir. industri. mengalami kemerosotan kualitas atau degradasi dan memerlukan penanganan yang serius.

(d) Pembangunan sumberdaya pantai secara berkelanjutan merupakan tujuan utama dari pengelolaan pantai. . (e) Manfaat ganda dari sumberdaya pantai yang renewable diperoleh dengan jalan manajemen pantai. (f) Fokus dari pengelolaan pantai adalah pada sumberdaya common-property.79 (c) Penggunaan lahan dan air di zone pantai harus dilakukan secara terpadu. Sumberdaya renewable harus dikelola untuk menyediakan benefit sosial-ekonomi yang optimum.

80 Beberapa aktivitas pembangunan yang dapat berdampak buruk terhadap ekosistem pesisir-pantai adalah sebagai berikut : Aktivitas Pembangunan Pertanian/Perika nan Kehutanan Aqua-kutur dan Marikutur Penangkapan Ikan Pengerukan Pelabuhan Pelayaran Pembangkit Listrik Industri Pertambangan Minyak & gas bumi Pemukiman Pembuangan limbah Pemanfaatan air Manajemen garis pantai Penggunaan sumberdaya pantai Rawa Del -ta Estu -aria = = = = Bakau = Tipe Ekosistem Pete Sea. 4. Oleh karena itu strategi pembangunan selama ini bertumpu kepada Trilogi Pembangunan. pemerataan. = : dampak sangat besar 6.: dampak besar. yaitu pertumbuhan ekonomi.2. Wilayah Pesisir-Pantai dengan Sistem Perikanan Tangkap Hakekat pembangunan adalah pembangunan manusia seutuhnya dari pembangunan bagi seluruh masyarakat.Trb rnak Gra karn an ss g Pesi Sir Pulau Kecil - - - - Keterangan : . dan stabilitas nasional. . Berbagai sarana fisik penunjang perekonomian telah berhasil dibangun dan diharapkan akan mampu mendorong akselari pencapaian tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih baik secara menyeluruh.

Sub-sistem Sumberdaya Perairan Pantai dan Lingkungan Hidup Pedesaan Pantai Dalam sistem wilayah pedesaan pantai. dan (5) Komponen sarana dan prasarana fisik. Output-output inilah yang pada hakekatnya merupakan tujuan dan sasaran dari upaya-upaya pembinaan/pengembangan wilayah pedesaan pantai. hingga batas-batas tertentu dapat dikendalikan/ dikelola oleh “manusia” untuk mendapatkan output yang diinginkan upaya pengelolaan ini dapat dilakukan melalui tiga cara. yaitu sebagai produsen input bagi sub-sistem ekonomi. produsen jasa amenitas bagi manusia. Wilayah pedesaan pantai dipandang sebagai suatu sistem yang secara struktural terdiri atas lima komponen (sub-sistem) yang saling berinteraksi secara dinamis. melibatkan banyak faktor yang saling kait-mengkait satu sama lain.81 Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan dapat dipahami bahwa permasalahanyang ada diwilayah pedesaan pantai sangat rumit. A. sumber perairan pantai dan lingkungan hidup pedesaan mempunyai peranan ganda. (4) Komponen perekonomian pedesaan. Sehubungna dengan hal ini maka kegiatan ekonomi dapat dibedakan menjadi kegiatan sektor bisnis yang menghasilkan produk untuk pasar domestik. Sub-sistem Ekonomi Wilayah Pedesaan Perkembangan suatu wilayah ditentukan oleh kemampuannya menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan domistiknya dan/atau dipasarkan keluar daerah dengan keuntungna kompetitif. Sistem Pedesaan Pantai. (2) Komponen Sumberdaya manusia (nelayan). baik secara sendirian maupun interaksinya dengan komponen lain. Dua macam sasaran akhir dari upaya-upaya pembinaan yang seringkali dikemukakan adalah kesejahteraan masyarakat nelayan dan kelestarian sumberdaya perairan pantai. (3) Komponen sosial budaya dan kelembagaan pedesaan. B. khususnya di wilayah Jawa mempunyai lima macam komponen utama (subsistem) yaitu : (1) Komponen sumberdaya perairan pantai dan lingkungan hidup pedesaan pantai. Perilaku interaksi dari subsistem-subsistem ini bersifat dinamis dan menghasilkan outputoutput tertentu. (ii) dengan merekayasa kelembagaan yang mengatur interaksi antar komponen tersebut sehingga perilakunya dapat lebih baik memanfaatkan input yang ada. Di wilayah pedesaan pantai umumnya kegiatan ekonomi di sektor basis sangat dominan. dan (iii) kombinasi antara (i) dan (ii). Dalam ketiga hal ini potensi dan kemampuan sumberdaya alam ditentukan oleh karakteristik dan kualitas. produk-produk dari kegiatan ekonomi di sektor ini berupa komoditi primer dan sekunder dari . Perilaku komponen-komponen tersebut diatas. input kebijakan. dan sebagai tempat pembuangan limbah. yaitu (i) material/teknologi.

Ketiga ciri ini akan menentukan perilaku sektor basis dan pada akhirnya akan berdampak pada bentuk kelembagaan non-format yang berkembang di pedesaan pantai. (ii) operasi penangkapan memerlukan tenaga kerja yang banyak dan koperatif.82 perikanan tangkap yang dipasarkan ke luar daerah. Dengan demikian pembinaan pada sektor ini diharapkan dapat mengangkat sub-sistem perekonomian secara keseluruhan. pengolah ikan dan pedagang ikan (dari dalam atau luar daerah) kelembagaan operasional penangkapan ini ternyata berdampak pada kelembagaan bagi hasil yang berlaku. dan rendahnya nilai tambah yang dapat dinikmati oleh masyarakat pedesaan pantai. Besarnya peluang tersebut ditentukan oleh kesiapan kelembagaan yang ada (formal dan nonformal) untuk mengakomodasi gaya-gaya perubahan yang berasal dari dalam dan luar. dan (iii) hasil tangkapan harus dipasarkan ke luar daerah dalam bentuk segar dan/atau olahan. juragan darat. Sub-sistem Kelembagaan Sosial Sebagaimana disinggung sebelumnya. Selanjutnya tingkat kesiapan tersebut oleh (i) Efektifitas mekanisme kerja kelembagaan untuk menggalang partisipasi segenap masyarakat secara proposional sesuai dengan kepentingannya. Tiga ciri penting dari kegiatan ekonomi sektor basis di pedesaan pantai adalah (i) kegiatan penangkapan memperlakuan yang mahal dan biaya operasi yang banyak. Sub-Sistem Sarana dan Prasarana Fisik Sub-sistem ini secara langsung berkaitan dengan sub-sistem kelembagaan sosial (format dan non formal) secara fungsional sub-sistem ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu (i) sarana dan prasarana ekonomi. Suatu teladan bentuk kelembagaan non-formal ini dapat ditemukan dalam hal penangkapan dengan purse seine atau penangkapan dengan payang. diwilayah pedesaan pantai telah berkembang kelembagaan non-formal yang spesifik sebagai akibat dari kegiatan ekonomi yang ada. Sarana dan prasarana produksi menjadi salah satu prasyarat penting dalam menentukan perilaku sub-sistem ekonomi. Kelembagaan armada penangkapan ini ditandai oleh eratnya hubungan antara nelayan pendega. Pada kenyataan tingkat . Hingga batas-batas tertentu kelembagaan seperti di atas bersama dengan kelembagaan-kelembagaan lainnya akan menentukan peluang-peluang transformasi struktural di wilayah pedesaan pantai. juragan laut. C. dan selanjutnya akan menentukan distribusi pendapatan dalam masyarakat pedesaan pantai. (ii) sarana dan prasarana penunjang aktivitas kehidupan manusia. D. Permasalahan yang sering di jumpai adalah rendahnya keunggulan kompetitif produk dipasaran bebas.

Di wilayah tertentu telah terjadi kelangkaan sumberdaya ikan akibat penangkapan yang berlebih. 6. Sebagai subyek manusia lebih berperan sebagai produsen sehingga kualitas ditentukan oleh (i) Peubahpeubah skill manageral dan (ii) peubah-peubah skill ketenaga kerjaan. Disamping kaya akan sumberdaya hayati wilayah pesisir dan lautan. Sub-Sistem Sumberdaya Manusia Sumberdaya manusia di wilayah pedesaan pantai menjadi subyek/pelaku yang mengendalikan sebagian besari perilaku sistem wilayah. Pengguna Pertanian Daerah pesisir pantai sangat menarik untuk dua tipe aktivitas pertanian. dan sekaligus menjadi obyek/sasaran dari perilaku tersebut. Hal ini selanjutnya ditentukan oleh (i) produktivitas tenaga kerja. 5. Akan tetap berbagai permasalahan dapat muncul oleh pemanfaatan pesisir pantai dan lautan yang mengabaikan prinsip-prinsip lingkungan. Selain itu. E. Laut sering diperlakukan sebagai penampung sampah. Arahan Pengelolaan Ekosistem Pesisir-Pantai Usaha peningkatan pendayagunaan sumberdaya laut berperan ganda. meningkatnya permintaan sebagai bahan makanan energi dan bahan baku untuk industri dan laitan membawa tekanan tersendiri. dan (ii) perilaku konsumtifnya.83 penguasaan sarana produksi ini akan menentukan posisi dalam kelembagaan bagi hasil dalam penangkapan. Yaitu lahan kering dan sawah. Mereka biasanya terdiri atas jenis-jenis yang toleran salinitas.2. yang kualitasnya ditentukan oleh tingkat pemenuhan kebutuhan fisik minum. Tampaknya pola perilaku konsumtif di kalangan masyarakat pedesaan pantai menjadi salah satu ciri budaya yang serius dalam rangka pola pembinaan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat pedesaan pantai. A. Padi sawah sangat sesuai karena tahan terhadap genangan air dan mempunyai toleransi moderat terhadap salinitas. limbah industri dan limpasan bahan kimia pertanian. Sebagai objek manusia lebih berperan sebagai konsumen. Di daerah ini biasanya pohon ditanam pada guludan dengan saluran yang lebar diantaranya (semacam sistem surjan). Tanaman padi sawah terutama ditanam di kawasan pantai dan estuaria di belakang tambak garam atau tambak udang. (1) Problematik . juga menyimpan mineral dan energi yang mempunyai peranan penting dalam meningkatkan devisa negara.

84 (a) Konversi lahan pesisir pantai untuk penggunaan pertanian tentu akan mengganggu aliran air permukaan yang diperlukan bagi kesehatan sistem sumberdaya disekitarnya. (e) Merancang pertanian lahan kering untuk meminimumkan altersi pola drainase alamiah. dan (d) kontrol polusi/pencemaran air oleh limbah buangan. Peningkatan input air tawar yang berhubungan dengan penyaluran sungai dapat mengubah regim hidrologis pantai. (g) Jangan membuka lahan tanah masam dan membiarkan ekosistem hutan bakau. (c) Kontrol permukaan air. logam yang terakumulasi dalam sedimen bakau dapat meracun tanaman pertanian. Selain itu erosi pada lahan pertanian juga berdampak pada besarnya muatan sedimen yang memasuki perairan pantai. (c) Problem lain yang berhubungan dengan pertanian lahan kering berhubungan dengan efek pestisida yang memasuki ekosistem pantai. (2) Arahan Pengelolaan (a) Pengembangan varietas tanaman yang toleran salintas (b) Sarana pengendalian air dan drainase harus memenuhi empat fungsi (a) Pengendalian Banjir. (b) pengendalian intrusi air salin. (f) Menggunakan pupuk dan pestisida dengan cara yang aman dan akan meminimumkan kehilangan dan transportnya memasuk wilayah pantai kalau mungkin digunakan pestisida non-persisten. (i) Mengembangkan sistem pengelolaan irigasi yang harmonis aliran air tawar mampu melestarikan tanaman pertanian dan mencegah rembesan . (d) Mengembangkan ekosistem pertanian sawah pada habitat yang sesuai. gangguan nama dan penyakit. menurunkan salintas dan mengakibatkan degradasi ekosistem yang peka salintas. (c) Menghindari reklamasi habitat pantai yang penting untuk pertanian lahan kering. (b) Pertanian lahan kering. Problem lain yang berhubungan dengan penggunaan pertanian pada lahan bakau adalah tanah sulfat masam. (h) Pembukaan lahan pertanian dibatasi pada lahan di atas rataan muka air laut untuk menghindari problem salinitas dan asiditasi. Selanjutnya akan tinggal sedikit peluang keberhasilan dalam megkon versi sedimen pantai menjadi tanah pertanian karena bahaya genangan dan intrusi garam. pembuangan atau penyakuran air tawar untuk penggunaan pertanian secara langsung akan mereduksi input air tawar ke perairan pantai dan menimbulkan problem terus menurunnya produksi ikan dan meningkatnya salintas.

B. (1) Metode penambangan Penambangan pasir melibatkan tiga tahapan dasar ekskavasi pasir.85 air asin dalam tanah pertanian dan dijaga untuk mencegah intrusi ke dalam groundwater. Dua macam teknis dasar yang lazim digunakan dalam operasinya ialah (a) sistem penambangan kering dan (b) sistem pengeruk-hisapan. C. Mineral pasir berasal dari pelapukan batuan yang menghasilkan pasir kuarsa dan mineral asosiasinya. (3) Arahan pengelolaan (a) Meminimumkan dampak negatif pengerukan terhadap ekosistem zone pantai (b) Larangan terhadap pengerukan di dalam radius 100 m dari terumbu karang (c) Pengakuan pasir karang dari daerah hamparan karang harus dikendalikan dan dibatasi. dan pembuangan pasir kuarsa.Kehilangan nilai estetika . Semakin tinggi bobot mineral juga membantu ekstraksinya selama penambangan dan pengolahan deposit pasir.Pengerukan pasir di sekitar ekosistem terumbu karang akan berdampak negatif terhadap organisme dan komunitas karang. Penambangan Pasir Pasir terdiri atas mineral-mineral dan pasir kuarsa. Perbedaan bobot memainkan peranan sangat penting dalam konsentrasi material mineral berat di beberapa lokasi tertentu. (2) Problematik . pemisahan mineral dari kuarsa. Aktivitas Sumber energi.Sedimen yang dilepaskan ke perairan laut dan erosi pesisir (beach) . dan air irigasi. Operasi minyak dan gas bumi Eksplorasi dan bongkar-muat bahan bakar minyak dan gas bumi dan kapal tentu akan semakin meningkatkan pencemaran minyak di perairan pantai : (1) Problematik .

Kemudian dalam periode evaporasi yang panjang. Lokasi tambak ini biasanya didekat garis pantai sehingga mudah memperoleh air laut yang segar. komponen lainnya seperti karbonat disingkirkan melalui presiptasi. bahan organik dan garam-garam lain yang harus dimurnikan. perikanan dan hewan-hewan marine. (1) Problematik . Garan NaClll murni diekstraks dari air laut dalam tiga tahapan pengendapan. (c) Semua operasi pengapaian harus menghindar pembuangan limbah minyak ke perairan pantai/laut. pasir pantai. (2) Arahan (a) Kalau tumpahan minyak dari kapal merupakan sebab utama pencemaran minyak maka harus dilakukan pemantauan dan pengetatan terhadap lalulintas kapal. Kemudian evaporasi selanjutnya akan menghasilkan kristalisasi gara yang kalau dikeringkan akan menjadi garam murni. (e) Semua aktivitas pemboran dan produksi minyak di laut harus dirancang dan dipantau sedemikian rupa untuk menghindari ledakan dan tumpahan bahan minyak. D. Operasi produksi tambak garam biasanya pada musim kering. rumput laut.86 Dua tipe tumpahan minyak yang mengancam kelestarian sumberdaya pantai adalah tumpahan akut akibat kecelakaan transportasi. presipitasi dan kristalisasi. ledakan sumur dan pipa-pipa dasar laut. dan tumpahan kronis yang berkaitan dengan operasioperasi penyulingan dan lainnya. Pada tahap pertama sedimen dan partikel besar lainnya disingkirkan melalui setting selama awal evaporasi. Pembangunan Industri Garam Garam (NaCl) merupakan komponen penting dalam diet manusia dan mempunyai berbagai aplikasi lainnya seperti kegunaannya sebgai preservatif (Pengawet) dan suplemen pakan ternak. terutama dalam hal pembuangan limbah minyak. (d) Semua operasi minyak dan gas dan penempatannya harus tetap memperhatikan integrasi bidang batas darat-laut. Garam dari air laut biasanya mengandung campuran sedimen. terumbu karang. Kebanyakan tambak garam dibangun pada tanah-tanah yang drainasenya buruk di kawasan pantai. (b) Pemerintah harus mampu memformulasikan dan mengamankan peraturan mengenai operasi pengapalan lepas pantai maupun operasi di pelabuhan. Kerusakan dapat diderita oleh bakau.

E. Petani tambak juga harus menyadari adanya manfaat ganda dari tambaknya. Pengembangan wisata-bahari Kegiatan wisata sekarang telah menjadi salah satu sektor ekonomi yang penting di Selat Madura. (1) Problematik (a) Pencemaran air oleh buangan limbah domestik (b) Problem yang diakibatkan loleh adanya bangunan-bangunan sipil gangguan pemandangan alam. (c) Problematik pembuangan limbah padat (d) Problematik yang timbul akibat pengambilan karang pantai dan kerusakan terumbu karang (2) Arahan pengelolaan (a) Pembangunan obyek wisata pantai harus merupakan bagian integrall dari sistem pembangunan wilayah. kongesti. termasuk ekosistem bakau.87 Problematik yang serius sehubungan dengan produksi garam adalah konversi (irreversibel habitat pantai. sebagian obyek wisata terletak di zone pantai dengan berbagai macam ekosistem yang unik. (2) Arahan pengelolaan Tambak garam merupakan penggunaan zone pantai yang signifikan di Jawa Timur. Dengan semakin meningkatnya pengetahuan maka tambak-tambak garam diperbaiki dengan arahan berikut ini : (a) Pembangunan tambak garam yang baru harus dirancang untuk meminimumkan dampak keseluruhan terhadap ekosistem pantai (b) Pengembangan teknologi penggaraman harus diarahkan untuk mendapatkan teknik-teknik produksi yang efisien. pembuangan limbah padat. pencemaran air. (b) Daerah pantai yang dicadangkan untuk pembangunan obyek wisata harus dilengkapi dengan tataruang yang memadai dengan mempertimbangkan geografis alamiah dan kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitanya . menjadi sistem tambak garam. Produksi garam paling baik dilakukan pada lingkungan arid dimana ekosistem hutan pantai jarang ditemukan dalam kaitannya dengan pembangunan kawasa tambak garam. (c) Kalau tambak garam telah ditinggalkan maka pematang-pematang harus dihancurkan supaya dapat pulih kembali sebagai daerah genangan. Jawa Timur. dengan tetap memperhatikan kepentingan kelestarian lingkungan. jarang dipertimbangkan fungsi-fungsi lalami dan nilai-nilai jasa ekologis.

88 (c) Pembukaan lahan (Kalau diperlukan) harus benar-benar terkendali. ukuran dan tipe infrastruktur harus tepat dan sesuai (e) Sistem pengelolaan limbah perlu mendapatkan prioritas penanganan. . untuk meminimumkan dampak terhadap ekosistem pantai (d) Pembangunan fasilitas akomodasi harus terkonsentrasi dengan mensisakan sebanyak mungkin lingkungan alam tetap tidak terganggu sekala.

Kondisi Perinakanan Tambak dan Perairan Umum Perairan umum sebagai salah satu sumberdaya perikanan memiliki andil yang sangat besar dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduk. Pemanfaatan sumberdaya perinakan ini dapat dilakukan dengan jalan usaha penangkapan dan usaha budidaya perikanan.1.89 5. khususnya kebutuhan protein hewani. Penurunan populasi biota perairan. dan hilangnya beberapa spesies endemik serta menurunnya daya dukung lingkungan perairan. Intensitas penangkapan di perairan umum menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat demikian juga usaha budidayanya.3. dan pestisida. perubahan struktur komunitas perairan. Dampak negatif dari gangguan-gangguan seperti diatas dapat berupa rendahnya tingkat produksi ikan di perairan umum dan tambak. Eksosietm Tambak: Potensi dan Pengelolaannya 5.3. misalnya dengan penebaran benih diperairan umum yang dianggap sudah kritis. Proses-proses degradasi Gangguan lingkungan perairan dapat berupa meluasnya perkembangan gulma air dan sedimentasi/pendangkalan. meliputi perairan umum. pencemaran oleh limbah industri. 5. domestik. dan kolam + mina padi. serta gangguan-gangguan alami.2. Sumberdaya ini dikelola dengan teknologi yang beraneka ragam dan tingkat intensitas yang berbeda-beda pula salah satu cara untuk mengukur tingkat pengelolaan sumberdaya perikanan adalah penggunaan sarana produksi dan tenagakerja. tambak sawah tambak.3. 5. Untuk mengembalikan fungsi perairan umum sebagai ekosistem akuatik yang seimbang diperlukan upayaupaya penanggulangan berupa rehabilitasi sumberdaya perikanan.3. .3. Makna Ekonomis Budidaya Air Tawar dan Ekologis Tambak dan Di kawasan pesisir pantai Jawa Timur terdapat beberapa sumberdaya perikanan yang potensinya cukup besar.

Tujuan pengelola reservat adalah agar supaya fungsi utamanya dapat berjalan. memijah.4. meningkatkan . mencari makan bagi ikan dan biota air lainnya (3) Pengawetan keaneka-ragaman plasma nutfah (4) Sumber cadangan benih ikan bagi pengembangan perikanan dan kawasan perairan umum di sekitarnya (5) Sebagai perlindungan bagi ekosistem akuatik yang memiliki nilai. B. yaitu : (1) Meningkatkan fungsi dan peranan perairan umum mulau dan pengelolaan hingga pemanfaatnya (2) Mempertahankan dan melestarikan habitat perairan sebagai tempat berlindung asuhan. Program Intensifikasi Tambak (INTAM) Dalam kaitannya dengan upaya meningkatkan produksi dan produktivitas usaha budidaya tambak. Dengan adanya program INTAM sejak tahun 1984/1985 selain dapat meningkatkan penghasilan petani tambak juga akan memperluas lapangan kerja. Pengelolaan Reservat Salah satu cara pengelolaan sumberdaya perairan umum adalah dengan pembangunan reservat. Usaha budidaya udang dan bandeng merupakan salah satu pendapatan pokok masyarakat desa pantai dan melibatkan petani-petani dalam jumlah besar. sifat. Pemanfaatan reservat dilakukan secara terkendali untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan dan memulihkan kembali daya dukung perairan umum. dan jenis yang khas (spesies endemik) (6) Pelestarian pemanfaatan jenis dan ekosistemnya dengan mengendalikan caracara pemanfaatannya. Kebijakan Pengelolahan A. maka mulai tahun 1984/1985 telah diprogramkan Intensifikasi Tambak (INTAM) sebagai tindak lanjut keputusan Menteri Pertanian No. maka produktivitas udang dan bandeng menjadi rendah. Keterbatasan di atas disebabkan antara lain kurangnya pengetahuan dan ketrampilan serta permodalan untuk mencapai penerapan teknologi budidaya tambak yang dianjurkan.3. yaitu kawasan perairan umum yang dilindungi secara terbatas dengan fungsi sebagai penyangga bagi suatu ekosistem akuatik yang sudah kritis atau yang terancam kelestariannya. 05/SK/MENTAN/Bimas/VI/1984 serta disusul peraturanperaturan yang lain sampai dengan tahun anggaran 1993/1993. Dengan adanya beberapa faktor pembatas pada petani tambak.90 5.

5. mendorong berkembangnya potensial tanah sulfat masam. Sejalan dnegan pekembangan sektor usaha budidaya ini ternyata juga timbul berbagai masalah dan secara potensial dapat mengancam kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan perairan pantai.91 konsumsi protein hewani asal ikan dan meningkatkan devisa negara melalui ekspor komoditi non migas yaitu udang. (b) Manajemen tambak Predasi merupakan problem serius kalau tambak tidak betul-betul dibersihkan pada saat panen. terutama semenjak dilancarkannya program intensifikasi tambak. Program Pengembangan Usaha Budidaya Udang dan Ikan Kegiatan yang telah Dilaksanakan adalah : (1) Pembangunan panti pembenihan udang di Situbondo (2) Pembangunan tambak percontohan di Sidoarjo dan Pasuruan. flushing tambak yang buruk atau tidak memadai degradasi lokal organisme juvenillle dan larva untuk benih pembukaan hutan bakau mengakibatkan hilangnya fungsi penyangga dan selama hujan lebat tambak ini terancam oleh bahaya banjir. (1) Problematik (a) Tataruang Tambak Secara langsung merusak wetlands. Aqua Kultur Perairan Pantai Aqua kultur atau manikultur dengan komoditi udang merupakan sektor ekonomi yang penting bagi Jawa Timur. Program Pengembangan INMINDI Intensifikasi Mina Padi (INMINDI) merupakan suatu kegiatan intensifikasi usaha tani terpadu antara perikanan dan padi di lahan sawah yang berpengairan teknis.3. C. Tujuan dari program INMINDI ini adalah: (1) Meningkatkan pemanfaatan potensi Sumberdaya alam dan sumberdaya manusia secara optimal dalam rangka meningkatkan kesempatan berusaha dan terciptanya lapangan kerja di pedesaan (2) Meningkatkan pendapatan petani melalui usaha budidaya campuran sehingga diperoleh hasil ganda dalam satu musim yaitu ikan dan padi (3) Penyediaan ikan sebagai bahan pangan sumber protein hewan. sehingga memungkinkan predator tertinggal . 5. D.

Ekosistem Hutan Bakau: Potensi dan Pengelolaannya Makna Ekonomis dan Ekologis Hutan Bakau Batasanl pengertian hutan bakau (mangrove) adalah hutan yang terutama tumbuh pada tanah aluvial di daerah pantai dan sekitar muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. ekosistem bakau ialah ekosistem pantai yang komponen tumbuhan ialah hutan. bagian terlindung daru tanjung. selat yang terlindung dari ombak serta tempat-tempat lain yang serupa. beserta fauna dan habitatnya yang khas. Bruguiera. Exoecaria. tambak harus ditempatkan jauh di sebelah atas hutan bakau. Dengan demikian. (d) Pengaturan tata letak tambak yang melibatkan persyaratan performansi untuk perlindungan habitat alam di sekitarnya tambak. (f) Dalam sistem budidaya tambak. maka hasil maksimum dapat dicapai. Xyloccarpus Aegiceras Scyphyphora dan Nypa. (2) Arahan pengelolaan (a) Preferensi harus diberikan kepada usaha marikultur yang dikelola secara intensif profesional dengan menggunakan cages atau pens daripada usaha yang mendorong konversi bakau menjadi sistem tambak lokasi tambak harus sesuai untuk dapat berproduksi secara lestari. Kalau ada area yang disebut salt flats atau salt pan harus dipilih. peningkatan populasi benih biasanya layak. Pengalaman menunjukkan bahwa produktivitas tambah lebih besar dilokasi seperti ini daripada di daerah konversi hutan bakau.4. 5. Ceriops.4. lempung. Tanahnya bervariasi dari lumpur. (b) Pengembangan aktivitas manikultur harus didasarkan pada perencanaan seksama dengan mempertimbangkan alternatif penggunaan lainnya. . delta. Lokasi ekosistem bakau ini umumnya adalah pantai-pantai dengan teluk dangkal.1. dan dicirikan oleh jenis-jenis pohon anggota genera : Avicenia. Kalau hal ini dibarengi dengan pengaturan kualitas air dan suplai pakan. 5. Rhizophora.92 dalam kolam. estuari. Lumnitzera. (c) Kalau sistem tambak akan ditinggalkan maka pematang-pematang harus dibongkar sehingga area dapat pulih kembali seperti semula. gambut dan pasir. Fenomena ini dapat mengakibatkan gangguan serius pada pertumbuhan benih. Sonneratia. (e) Di daerah bakau. Pola aliran air permukaan harus tidak boleh terganggu.

kontruksi.obat dan bahan minuman. (b) Kisaran pasang surut merupakan faktor sangat penting bagi hutan bakau karena salinitas akan terintegrasi dalam zone-zone yang mempengaruhi pertumbuhan bakau. bahan kayu bakar. Karakteristik struktural bakau ini beragam dengan lokasi dan sangat ditentukan oleh kondisi geografis.l. dan lainlain. Di Indonesia dan Jawa Timur khususnya sesungguhnya pertentangan ini dapat terhindari apabila semua pihak dapat menyadari peran lindung hutan bakau tersebut sesungguhnya juga mencakup perlindungan terhadap kualitas lingkungan yang menjamin kelestarian usaha-usaha produksi seperti hasil hutan. (e) Penyaring dan pembersih air limbah. (a) Sebagai sumber energi dan bahan pakan yang sangat penting. tingkat salintas merupakan determinan utama terhadap tipe dan kelimpahan spesies. kayu bakar. tersusun atas banyak varietas tumbuhan dan aneka satwa air dan darat. limbah pertanian/perikanan. sedimentasi dan dispersi minyak akan mempengaruhi bakau dan sumberdaya lkehidupan akuatik (d) Hutan bakau pantai merupakan sumberkayu yang penting untuk kepentingan domestik dan komersial.l. Secara ekonomis. Fungsi ekologis dari ekosistem bakau : a. areng. tambak dan perikanan pada umumnya. Hal ini sering membawa pada pertentangan kepentingan dalam pemanfaatannya. kotak. tanah dan air. relief topografis dan kondisi iklim. Tekstil. (f) Barier melawan ombak pasang dari badai laut. (b) kehidupan satwa liar. dan Pangan. (d) Pengendali erosi oleh air laut. . karton. (c) Polusi di kawasan pantai sebagai akibat dari buangan limbah industri.93 Penggunaan ekonomi yang utama :a. Ekosistem ini sangat kompleks dan bersifat fragile. limbah domestik. suplai bahan kertas. dl. Faktor pengelolaam (a) Input air tawar mengencerkan air laut. mendukung upaya budidaya perikanan. Secara rinci peran lindung hutan bakau adalah sebagai berikut : a) Bersifat khas dan strategis untuk menyangga kelestarian kehidupan biota darat dan perairan baik laut maupun tawar. Bakau perupakan ekosistem hutan yang toleran garam di daerah intertidal tropis. Hasil dari hutan bakau menjadi sumber utama material bangunan dan bahan bakar bagi masyarakat pantai Ekosistem hutan bakau sangat unik dan sangat potensial. Hutan bakau mempunyai banyak spesies dan famili yang mana biasanya spesies-spesies Rhizopora berasosiasi dengan pohon dan perdu lainnya. Secara ekologis hutan bakau mempunyai fungsi penting karena menjadi tempat lindung bagi banyak jenis flora maupun fauna. hutan bakau merupakan penghasil berbagai bahan baku industri. Hasil kayu. (c) Pelindung garis pantai. bahan penyamak.

berlumpur dengan ombak yang relatif tenang dan arus air lambat. maka upaya konservsai serta pengolaan yang tepat dan terencana dengan baik untuk kawasan hutan bakau di Jawa Timur merupakan suatu keharusan. Sebagai kawasan tropis. Atas dasar alasan-alasan tersebut di atas. Kerusakan ekosistem bakau selain merusak ekosistem estuari dan delta serta kawasan pantai. kerusakan hutan bakau umumnya berpengaruh luas terhadap ekosistem lainnya yang terkait dengannya. Indonesia khususnya Jawa Timur mempunyai keragaman jenis fauna maupun flora hutan bakau yang sangat besar. Kelompok pertama umumnya berada di kawasan pantai selatan Jawa Timur yang mempunyai pantai terjal. Bahkan beberapa jenis flora maupun fauna sering dianggap sebagai jenis langka yang sebaran tempat hidupnya hanya terpusat di kawasan Nusantara. c) Berperan besar untnuk melindungi pantai dan menghambat lepasnya butirbutir tanah ke lautan bebas serta mempercepat pengendapan pantai. sehigga sering dapat dengan lebih mudah dipulihkan apabila mengalami kerusahakan terutama bila dibandingkan dengan kawasan ekologis lainnya sepertu terumbu karang. Selain dari itu. berbatu dengan ombak yang besar menghantam pantai setiap saat. Berdasarkan atas nilai indeks sensitivitas lingkungan yang ditetapkan oleh Kantor Menteri Lingkungan Hidup (Anonymous. pada umumnya juga berpengaruh luas ke kawasan daerah aliran sungai. berlumpur dengan ombak yang relatif landai. Secara teoritis daya regenerasi hutan bakau cukup kuat.4. Hal ini dapat dimengerti karena sebagai bagian dari sisi peralihan teritorial benua kuno Gonwana. kawasan bakau Indonesia mewariskan jenis flora dan fauna hasil perkembangan evolusi yang khas dan tidak dijumpai di tempat lain di dunia.2 Kondisi Hutan Bakau Serta Proses Degradasi Hutan Bakau Pada dasarnya kondisi ekosistem pantai di Jawa Timur dapat dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan atas ciri-ciri fisik pantainya. Kondisi fisik seperti inilah yang menjadi alasan mengapa kawasan bakau lebih banyak dipakai di pantai Utara dibandingkan pantai selatan Jawa Timur. 1987). sesuai dengan perannya seperti tersebut di atas. Namun demikian apabila sampai muncul kerusakan di kawasan hutan bakau yang mungkin sulit dikembalikan adalah hilangnya beberapa jenis flora dan fauna langka dari kawasan hutan yang rusak tersebut. dengan kriteria fisik seperti tersebut. 5. dan mempunyai bagian arti penting bagi pemeliharaan kualitas lingkungan hidup manusia Jawa Timur baik untuk skala jangka pendek maupun jangka panjang.94 b) Sebagai penyangga produktivitas wilayah usaha perairan pantai dan laut. Kelompok kedua umumnya berada di sepanjang pantai utara Jawa Timur yang relatif landai. pantai utara .

perindustrian dan lain-lain kegiatan ekonomi terhadap laju . pertumbuhan budidaya tambak. Hasil penelitian tersebut juga menampakkan secara jelas sekali berdasarkan pengaruh laju tekanan pemukiman penduduk. Trenggalek. et. Selanjutnya dari hasil survey kasar. Lebar areal hutang paling panjang adalah 175 m dan umumnya berkisar antara 50 – 60 m. Hasil pengamatannya dikawasan pantai Probolinggo dan sekitarnya menunjukkan bahwa umumnya hutang mengrove merupakan jalur sempit sejajar dengan jalan raya Surabaya – Banyuwangi yang terputus-putus di berbagai tempat oleh karena pemukiman atau peruntukan lainnya. Situbondo.al. jember. usaha penanaman kembali sering tidak bertujuan untuk menghutankan kembali kawasan bakau.95 dapat dianggap lebih sensitif terhadap pengaruh faktor pencemaran dibandingkan pantai selatan. 1992). Dari sini dapat dipahami mengapa banyak kawasan bakau di pantai Utara Jwa Timur yang telah rusak. Tampaknya kawasan pantai utara Jawa Timur sudah tidak lagi mempunyai kawasan hutan bakau perawan kecuali di kawasan-kawasan konservasi seperti baluran. termasuk perhutani dan Badan Konservasi Sumber Daya Alam Daerah (BKSDA). Menurut hasil sigi di Jawa Timur. Usaha penanaman kembali pohon bakau ternyata telah banyak dilakukan di sepanjang pantai utara dan pantai Madura termasuk Madura Kepulauan umumnya penghijauan dilakukan oleh instansi di bawah Departemen Kehutanan. menunjukkan bahwa dari kurang lebih 859 km hutan bakau sepanjang pantai Jawa Timur. dengan pemilihan tempat secara acak di kawasan pantai Utara Jawa Timur tida dijumpai hutan bakau (Sumitro. Manun demikian. 230 Ha dinyatakan rusak berat dan dari 700 ha rusak ringan. Lokasi Penghijauan meliputi beberapa daerah di Kabupatenkabupaten Banyuwangi. Data tahun 1991 yang berhasil dikumpulkan oleh Marsoedi. tetapi sekedar menghijaukan kawasan bakau dan sering dikaitkan dengan kepentingan pertambakan baik yang modern maupun tradisional. Hal ini tentu tidak bersesuaian lagi dengan status mereka yang merupakan hutang lindung milik perum perhutani. Malang. secara umum kawasan hutan bakau tersebut tidak lagi sebagai hutan lindung melainkan telah bergeser ke fungsi produksi. dan berubah fungsi seiring dengan pesatnya perkembangan sosial-ekonomi. Hasil pengamatan visual menunjukkan pohon-pohon bakau pada umumnya hanya terdapat pada galengan atau saluran irigasi atau dalam bentuk gerubul-gerumbul kecil di sekitar pemukiman penuduk. Blitar. 1992). Hal serupa juga di jumpai di kawasan Blambangan – Banyuwangi (Soebiantoro. Pacitan. Pada hal justru pantai utara Jawa Timur yang mempunyai perkembangan sosial ekonomi pesat. Sumenep dan Bangkalan. total usaha penghijauan di luar usaha konservasi dan pengamanan hutan bakau tersebut telah dilakukan pada kawasan bakau seluas kurang lebih 1250 ha.

Seperti halnya laju penyusutan hutan bakau. Suksesi ekosistem bakau di lahan baru ini terlihat sering terganggu oleh aktivitas perambahan untuk tujuan-tujuan pertambakan atau ladang pembuatan garam. Kebijakan Pembangunan/Pengelolaan Bakau a) b) c) d) e) Konflik penggunaan penambangan tin dan pertambakan udang peluang pemanfaatan yang lestari . Dinas perikanan. dinas kehitanan dan Pemerintah Daerah (BAPPEDA) setempat. dikawasan pantai utara yang landai adanya kemunculan lahan atau daratan baru seiiring dengan laju sedimentasi di daerah Estuari. menunjukkan ada dua puluh tujuh jenis tumbuhan bakau umumnya dari genus Rhizopora. Avicenia.96 penyusutan kawasan bakau ini disepanjang pantai Utara Jawa Timur dan Madura.4. tannis. Sayangnya data rinci dalam skala yang lebih teliti mengenai laju perluasan wilayah tambak dan penyusutan hutan bakau di Jawa Timur sampai saat ini amat sulit didapatkan meskipun dari hasil kuwesener dan wawancara terhadap instansi terkait seperti. Exoecaria dan Acanthus selain itu juga dapat dengan mudah terlihat. erosi dan sedimentasi. Data hasil investarisasi kasar yang telah dilakukan di beberapa kawasan pantai Jawa Timur. produk kayu.2. penebangan kayu bakau dan lainnya Menjaga topografi dan karakter substrat uhutan bakau dan saluran air tawar Manjaga pola alamiah temmporer dan spatial dari salinitas air permukaan dan ground water Mempertahankan pola alamiah dan siklus aktivitas pasang surut dan run off air tawar Menjaga keseimbangan alamiah antara okresi. 5. Dengan demikian pengelolaan hutan . umumnya mereka mengkategorikan masalah penyusutan luasan hutan bakau dan usaha penghijauan kembali kawasan bakau sebagai masalah yang mendesak untuk ditangani. data akurat mengenai laju pertambahan daratan baru disertai aktivitas perambahan oleh penduduk tidak pernah ada. suplay fry bebas tindakan pengelolaan yang diperlukan antara lain : Pengendalian pembukaan tambak udang. Kebijakan atau rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pembangunan/pengelolaan hutan bakau di Jawa Timur seyogyanya mempertimbangkan dua kepentingan pokok yaitu kepentingan sosial-ekonomi dan kepentingan konservasi-ekologis dengan mengacu pada landasan kebijakan nasional tentang arah dan kebijakan umum sumber daya alam yang telah ditetapkan dalam GBHN.

Pariwisata dan kependudukann yang tidak memperhatikan adanya bahaya kerusakan hutan lindung di Pulau Sempu dan sekitarnya. Undang-Undang RI No. Contoh konkrt mengenai hal ini terjadi di kawasan Sendang Biru. UndangUndang RI No. 9 tahun 1990 tentang kepariwisataan sampai dengan sederetan Peraturan Pemerintah. Tumpang tindih pemanfaatan kawasan bakau seperti itu banyak terjadi di Jawa Timur. 9 tahun 1985 tentang perikanan. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber daa Alam Hayati dan Ekosistemnya. Agenda 21 Global Biodiversity Strategy (GBS) than 1992 dan Strategi Nasional Pengelolaan Keanekaragaman hayati sehingga setiap kebijakan yang ditetapkan harus mempunyai makna : a) Perlindungan terhadap proses ekologis dan sistem penyangga kehidupan dalam ekosistem bakau b) Pelestarian sumberdaya bakau dan keanekaragaman sumber plasma nutfah yang terkandung didalamnya c) Pemanfaatan secara lestari sumber daya bakau dan lingkungannya d) Konsistensi kebijakan dan penanganan keanekaragaman hayati dan masalah ekologis hutan bakau. II. hal ini ternyata masih berlanjut sampai saat ini dan merupakan warna pengelolaan lingkungan hidup di skala nasional. sampai dengan SK Gubernur Pemerintah daerah Jawa Timur. Undang-Undang RI No. Landasan hukum tindakan operasioanal yang berkenaan dengan pengelolaan hutan bakau sudah ada. . e) Mencermati aliran perdagangan flora maupun fauna langka di hutan bakau. misalnya sering berbentukan dengan Dinas Pariwisata atau pihak Peruhatani maupun Pemda Tk. Undang-Undang RI No. Program pengembangan fasilitas perikanan. Malang Selatan. Pelaksanaan kebijakan yang ditetapkan oleh Dinas Perikanan. mulai dari Undang-Undang RI No.97 bakau harus diarahkan agar segala pendaya gunaan sosio-ekonominya tetap memperhatikan keseimbangan lingkungan serta kelestarian fungsi dan kemampuannya sehingga tetap dapat menjamin kemanfaatannya bagi generasi mendatang. Secara umum hal ini disebabkan oleh lemahnya koordinasi antara instansi serta manajemen pelaksana di setiap instansi yang berwenang. keputusan Presiden. Permasalahan yang muncul justru pada tingkat operasional pelaksanaan pengelolaan di lapangan. Hal ini berarti pula berseuaian dengan deklarasi World Conservation Startegy (WCS) tahun 1979 dan strategi konservasi alam Indonesia. Undang-Undang RI No. 4 tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Mereka umumnya menggarap satu kawasan yang sama dengan program yang erbeda. 5 tahun 1992 tentang penataan ruang. 5 tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan pokok kehutanan. keputusan Menteri.

Permasalahan terakhir ini lebih terkait dengan kondisi sosial ekonomis dan budaya masyarakat sekitar hutan bakau secara lestari. 1992). Surabaya. sumberdaya manusis. sesungguhnya usaha penghijauan masih dapat diharapkan dapat merehabilitasi kawasan bakau menjadi kawasan hutan bakau. permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan kawasan bakau di Jawa Timur diduga juga berhubungan dengan terjadinya degradasi hutan bakau akibat pencurian kayu. Gresik dan Tuban yang mempunyai tingkat pencemaran logam yang cukup tinggi akibat limbah industri. Bila ditinjau dari kualitas fisik dan kimiawi lingkungan. perencanaan pengorganisasian/pelembagaan. tentunya lebih bermanfaat bagi orang banyak dan lebih beresiko kecil . Analisis Dan Evaluasi Secara umum kawasan bakau di Jawa Timur menunjukkan penyusutan dari waktu ke waktu. Dari sini terlihat bahwa pengelolaan hutan bakau secara lestari harus terkait dengan pendidikan kesadaran berkonservasi. Probolinggo. karena lebar lajurnya kurang dari 220 m (Fandeli. Hal ini tentu amat menyulitkan dalam pelaksanaan tata ruang. Ciri dari kelemahan manajemen tersebut antara lain adalah data luasan kawasan hutan bakau yang tidak akurat. Pengelolaan hutan mengrrove hendaknya dimulai dari kesepakatan mengenai pentingnya kawasan ini bagi semua pihak yang disertai dengan analisis untung rugi (analisis resiko dan manfaat). 5. Di Jawa Timur data luasan hutan bakau tersebut sering bervariasi menyolok antar instansi terkait satu dengan lainnya.5. Hambatan utama dalam penghijauan ini justru dari bidang sosial ekonomi. pemanfaatan maupun rehabilitasinya selain dalam hal manajemen.4. kesadaran berkonservasi masyarakat sekitar serta lemahnya manajemen (koordinasi) pengelolaan dari pihak yang berwenang atas kawasan bakau ini. pelaksanaan program kerja dan pengawasan. Sidoarjo. Bahkan kawasan hutan bakau yang tersisa dengan status sebagai hutan lindung banyak yang tidak memenuhi ketetapan Keputusan Presiden No.98 Satu hasil kajian menunjukkan bahwa secara umum kelemahan manajemen hutan bakau menyangkut banyak hal meliputi sistem sivikultur. perambahan yang tidak terkendali serta pemanfaatan yang melebihi daya dukung. peningkatan lapangan kerja dan sarana produksi bagi penduduk di sekitar kawasan bakau dan penduduk Jawa Timur pada umumnya. 32 / 1990. Sebagai contoh misalnya : kawasankawasan pantai Banyuwangi. Usaha penghijauan yang dilakukan belum dapat diharapkan untuk memulihkan kawasan bakau menjadi kawasan perlindungan dan keseimbangan lingkungan.

peta dan data lainnya) yang digunakan adalah yang meliputi seluruh wilayah contoh ini. 5.000.000 untuk wilayah Jawa Timr sejumlah 168 lembar hasil pemotretan bulan Agustus sampai September 1983 diperoleh di Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakorsutanal) Cibinong – Bogor.000 • Peta Administrasi. Foto udara nfra merah hitam putih berskala 1 : 50. sampai tingkat kecamatan Publikasi BPN Foto udara yang diperlukan untuk pemetaan sumberdaya ini adalah foto udara pankromatik hitam putih skala 1 : 50. . maka tidak ada pilihan lain bagi Pemda Jawa Timur untuk secara terus menerus menyadarkan masyarakat tentang bahaya pencemaran logam berat sehingga dapat mendorong masyarakat pemilik/petambak merekalnnya untuk dirubah menjadi hutan produksi. Analisis dan Interprestasi Peta Pemetaan kondisi pesisir-pantai dilakukan dengan menggunakan pendekatan fisiografik yang mendasarkan pada proses geomorfik di muka bumi.000 terbitan Bakosurtanal • Peta Penggunaan Lahan sekala 1 : 50. Dengan demikian. a) Peta-Peta Sebagai bahan acuan dalam interpretasi foto udara dan atau pengujian di lapangan digunakan peta besar dan berbagai peta bantu lainnya : • Peta Topogradi Skala 1 : 50.99 apabila dihutankan dibandingkan untuk pertambakan. apabila memang telah ditetapkan untuk kawasan industri. untuk kawasan-kawasan bakau di sekitar tempat-tempat tersebut.000 oleh karena itu bahan-bahan penunjang (foto udara. Pemetaan ini dilakukan beberapa lokasi contoh di wilayah pesisir pantai propinsi Jawa Timur pada skala 1 : 50. Pengumpulan data dilaksanakan dengan metode survey yang diawali dengan kerja laboratorium untuk mempersiapkan peta kerja lapangan.5.

Diagram Alir interprestasi foto udara untuk mendapatkan peta.0 0 0 P e ta A c u a n : 1 . . L a n d s y s te m 3.100 F o to U d a ra P a n k ro m a t ik H it a m P u t ih S k a la 1 : 5 0 . Laut 4 . G e o lo g i 2 . 0 0 0 P lo tt in g H a s il In te rp r e t a s i F o t o U d a ra P e n g u ji a n L a p a n g a n In te rp r e t a s i F o t o U d a r a U la n g a n P E T A A K H IR Gambar 1. P a n ta i P a s ir P ro s e s I n t e rp re t a s i F o to U d a ra T e rh a d a p L a n d f o r m P e t a T o p o g ra f i S k a la 1 : 5 0 .

lereng dan torehan sebagai elemen landform. relief. Selanjutnya dilakukan orientasi lapangan untuk mendapatkan kunci-kunci interpretasi melalui foto udara.000. Delineasi dilakukan pada foto udara mengikuti sebaran karakteristik foto bagi masing-masing vegetasi dan atau penggunaan yang ada. Sehingga delineasi pada foto udara menghasilkan keseragaman dalam prose intrepretasi sebelum mendelineasi batas satuan peta perlu mendeteksi mengidentifikasi. tinggi. Analisis klasifikasi parameter peta mengikuti klasifikasi yang berlaku sesuai dengan ciri ekosistem yang dikaji klasifikasi menggunakan proses geomorfik sebagai dasar pengelompokka. . pola. misalnya lereng curam singkapan dan sebagainya. situs dan asosianya.000. pembagian lebih lanjut menggunakan parameter lainnya. Hasil interpretasi foto udara diplot pada peta dasar yang dibuat dari peta topografi skala 1 : 50. Unsur-unsur yang disajikan pada peta dasar merupakan unsur terpilih yang erat kaitannya dengan tujuan pemetaan c) Interpretasi foto udara Sebagai bahan acuan sebelum melaksanakan interpretasi foto udara dilakukan identifikasi skala 1 : 50… dan peta-peta lain yang terkait. Kuncikunci interpretasi diperoleh melalui orientasi lapangan sebelum dilaksanakan interpretasi.101 b) Penyiapan Peta dasar Peta dasar dibuat berdasarkan format dan isi yang mengacu pada peta topografi skala 1 : 50. ukuran. Anotasi tambahan yang terkait dengan landform juga digambarkan pada foto udara. tekstur. bayangan. menganalisa dan menklsifikasi prose geometrik. Analisis landuse menggunakan analisis elemen dengan menggunakan rona. bentuk.

Rendahnya kualitas sumber daya manusia k. yang menjelaskan bahwa kewenangan pengelolaan wilayah kelautan bagi Kabupaten adalah 4 mill. Rencana Pengembangan dan Pengelolaan Ruang Kawasan Pesisir Pantai (a) Rencana Penetapan Zona Kawasan Pesisir dan Kelautan Rencana penetapan zona kawasan pesisir dan kelautan adalah: penetapan kawasan budidaya dan non budidaya di wilayah darat dan perairan laut. Kerusakan hutan akibat penebangan hutan secara liar f. Minimnya infrastruktur j. . Penetapan berdasarkan pada Undang-undang No. Rendahnya penataan dan penegakan hukum B. Arahan penetapan zona kawasan pesisir dan kelautan Kabupaten adalah perlindungan terhadap habitat terumbu karang dan mangrove. Pencemaran wilayah pesisir pantai c.22 Tahun 1999. 3. 837/KPTS/UM/1980 dan Perda Pemerintah Propinsi Jawa Timur No 11 tahun 1991 tentang Penetapan Kawasan Lindung. Minimnya sarana dan prasarana transportasi i. perikanan dan pariwisata) h. Belum optimalnya pengelolaan wilayah pesisir pantai g. pelabuhan pendaratari ikan (PPI).102 VII. REKOMENDASI DALAM PENGATURAN KAWASAN PESISIR Dalam rangka pengaturan ruang kawasan pesisir pantai yang harus diperhatikan antara lain sebagai berikut: A. Arahan penetapan zona kawasan pesisir pantai berdasarkan pada : 1. 2. antara lain adalah: pariwisata. Beberapa kegiatan manusia pada kawasan pesisir dan kelautan. daerah penelitian. Penetapan zona kawasan berdasarkan pada kegiatan manusia yang prospek pengembanganya baik dan mempunyai potensi untuk dikembangkan. berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. pemukiman nelayan. Rawan bencana alam (longsor. tambak. gelombang stunami) e. Degradasi Habitat wilayah pesisir pantai b. Ancaman intrusi air laut (masuknya air laut ke areal darat) d. Kesesuaian pemanfaatan ruang. Bahaya alam yang bisa dijumpai di wilayah pesisir pantai adalah: a. Belum optimalnya pemanfaatan potensi sumberdaya alam (baik pertanian.

Pada kawasan hutan yang mengalami kerusakan baik karena penebangan ataupun karena kekurangtepatan dalam pengelolaan maka diarahkan untuk dikelola secara teknis dan vegetatif maupun pengelolaannya bersama masyarakat. Pada daerah pesisir yang telah mengalami terjadinya pergeseran fungsj lahan berdasarkan zona fungsional yang telah ditetapkan. Akan berakibat: Semakin besar air limpasan permukaan. hal Ini akan mengakibatkan penimbunan lumpur dl daerah hilir sehingga mengancam rusaknya ekosistim di daerah pantai. Pada kawasan ini maka diperlukan pengelolaan tegalan yang mampu memberikan fungsi perlindungan melalui memperbanyak tanaman keras dan tanaman tahunan. maka semakin kecil air yang merembes ke dalam tanah sebagai air tanah atau air infiltrasi. (7) Semakin besar air limpasan yang menuju ke pantai akan membawa jutaan ton tanah subur hasil erosi. (4) Pada wilayah pantai yang memiliki terumbu karang. maka pada wilayah pantai yang saat ini merupakan kawasan hutan diarahkan untuk tidak diubah pola penggunaan tanahnya. bahkan harus dipelihara keasriannya. Karena semakin berkurang vegetasi yang berfungsi sebagai penahan laju air limpasan. maka pengelolaannya harus dilakukan secara terpadu. (6) Pelaksanaan agroforestry pada lahan-Iahan yang telah ditetapkan sebagai kawasan penyangga. dimana pariwisata yang dikembangkan hanya sebatas menikmati pemandangan alam dan melakukan penelitian saja. Besarnya limpasan ini akan mengakibatkan air sebagai sumber kehidupan untuk masa mendatang akan sulit ditemukan karena persediaan air dalam tanah sangat sedikit. Adapun secara garis besar arahan pengelolaan wilayah daratan diarahkan pada: (1) Di wilayah darat mengingat kondisi pantai umumnya merupakan pantai berpasir dan wilayah dengan topografi yang terjal.103 4. maka diperlukan penyuluhan dan pemberian informasi pada masyarakat tentang manfaat terumbu karang dan upaya pengelolaannya. . (2) Beberapa kawasan yang diperuntukkan sebagai tegalan ternyata menurut kesesuaian lahannya adalah untuk kawasan penyangga. (5) Khusus untuk wilayah konservasi yang memi'iki aset wisata. Berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa di wilayah pesisir telah terjadi perubahan fungsi penggunaan tanah ataupun perusakan terumbu karang karena kesalahan pengelolaan. maka diperlukan peningkatan intensitas kegiatan dengan titik berat peningkatan nilai ekonomi komoditas. (3) Pada kawasan yang telah bersesuaian peruntukannya.

maka di bagian hilir (laut) juga perlu kegiatan serupa sehingga program keberlanjutan pembangunan dapat dilaksanakan secara menerus.104 (8) (9) Pengelolaan wiiayah pantai ini pada dasarnya merupakan pengelolaan antara wilayah daratan dan lautan secara terpadu. Berdasarkan kondisi yang ada di wilayah daratan (atas) telah dilakukan upaya pengelolaan untuk mengarahkan pada pemanfatan nilai ekonomis lahan baik pada kawasan lindung maupun kawasan budidaya. (2) Penyadaran hukum terhadap kegiatan masyarakat yang berdampak terhadap kelangsungan hidup ekosistem dan mata pencaharian. Pengelolaan pesisir pesisir pantai ini pada dasarnya merupakan upaya untuk pemanfaatan dalam jangka panjang yang berlanjut. Misalnya penebangan hutan di daerah atas. Misalnya penangkapan ikan dengan menggunakan bahan beracun dan bom (3) Memberikan altematif kegiatan terhadap kegiatan yang bersifat merusak lingkungan. Untuk itu maka sangat diperlukan pemahaman masyarakat terhadap fungsi dan petingnya suatu ekosistem yang memberikan kehidupan sumberdaya peisisir. dengan arahan-arahan yang ditempuh sebagai berikut: (1) Penyadaran hukum terhadap kegiatan masyarakat yang mengakibatkan terjadinya kerusakan berdampak luas. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful