Arus Balik

Karya : Pramoedya Ananta Toer

Ebook pdf oleh : Dewi KZ http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/ http://kang-zusi.info/ http://cerita_silat.cc/

Di Bawah Bulan Malam Ini Tiada setitik pun awan di langit. Dan bulan telah terbit bersamaan dengan tenggelamnya matari. Dengan cepat ia naik dari kaki langit, menguningi segala dan semua yang tersentuh cahayanya. Juga hutan, juga laut, juga hewan dan manusia. Langit jernih, bersih dan terang. Di atas bumi Jawa lain lagi keadaannya: gelisah, resah, seakan-akan manusia tak membutuhkan ketenteraman lagi. 0o-dw-o0 1. Abad ke enambelas Masehi Bahkan juga laut Jawa di bawah bulan purnama sidhi itu gelisah. Ombak-ombak besar bergulung-gulung memanjang terputus, menggunung, melandai, mengejajari pesisir pulau Jawa. Setiap puncak ombak dan riak, bahkan juga busanya yang bertebaran seperti serakan mutiara – semua – dikuningi oleh cahaya bulan. Angin meniup tenang. Ombak-ombak makin menggila. Sebuah kapal peronda pantai meluncur dengan kecepatan tinggi dalam cuaca angin damai itu. Badannya yang panjang langsing, dengan haluan dan buritan meruncing, timbul-tenggelam di antara ombak-ombak purnama yang menggila. Layar kemudi di haluan menggelembung membikin lunas menerjang serong gununggunung air itu – serong ke baratlaut. Barisan dayung pada dinding kapal berkayuh berirama seperti kaki-kaki pada ular naga. Layarnya yang terbuat dari pilinan kapas dan benang sutra, mengkilat seperti emas, kuning dan menyilaukan.

Pada puncak tiang utama, di bawah lentera, berkibar bendera panjang merah dan putih – bendera kadipaten Tuban. Di bawahnya lagi, duduk di atas tali-temali, seperti titik kelam, adalah jurutinjau. Tepat di bawah layar utama berdiri nakhoda yang sebentar-sebentar meninjau pada jurutinjau di atas. Di sampingnya berdiri Patragading, bertolak pinggang. “Tetap tak ada yang mengejar, Tuanku!” seru juru tinjau. “Kita akan selamat sampai di tempat,” bisik nakhoda pada Patragading sambil menyembah dada. “Tak ada yang mengejar kita.” Patragading mengangkat kain dan diikatkannya pada pinggang sehingga seluarnya dari sutera itu mengerjapngerjap terkena cahaya bulan. Kerisnya tertutup oleh kainnya – suatu gaya pembesar yang kehilangan kesabaran. “Silakan mengaso. Sebentar lagi Tuban akan nampak.” “Lihat yang perompak.” baik, barangkali ada iring-iringan

“Tak pernah ada perompak berani mendekati kapal sahaya.” “Lihat yang baik,” gertak Patragading. Tangannya membetulkan kain penutup dadanya. “Ahoo! Bagaimana dengan depan dan samping?” “Tiada sesuatu. Tuanku,” nakhoda itu meneruskan laporan jurutinjau sambil menyembah dada. “Sebaiknya Tuanku mengaso sebelum mendarat tengah malam ini.” Patragading melepas kain lagi sehingga seluar sutranya tertutup kembali. Ia tinggalkan tiang utama dan berjalan mondar-mandir di geladak, kemudian pergi ke haluan, memeriksa sendiri senjata cetbang. Sebentar. Ia menjenguk

” ‘Tengah malam ini tugas keparat ini akan selesai. “Ya. bulan pun tersenyum melihat kita. . “Mati semua awak kapal kalau orang darat ikut campur begini.” “Apa lagi yang hendak kau tinjau? Angin?” Jurutinjau pergi. Dengan tinju ia memukul-mukul dinding kapal. “Ahoi! Turun!” perintah nakhoda pada jurutinjau. hanya agar tidak berada di dekat Patragading. Juga tak lama. jurutinjau itu menghembuskan nafas besar.” “Lebih gampang menumpas perompak.” “Ts-te-ts. Begitu kakinya sampai ke geladak. Tuanku.ke bawah. Nakhoda itu naik ke atas tiang utama. putra ke dua ratus empat puluh satu. Tuanku.” “Boleh jadi ada perintah kembali. biarpun putra ke dua ratus empat puluh satu!” “Uh.” sambut nakhoda.” “Tapi sahaya jurutinjau. memandangi lunas yang menerjang ombak. Akhirnya ia menuruni tangga geladak dan hilang dari pemandangan.” “Dewa Batara!” sebut nakhoda.” “Coba lihat jurumudi. “Itu berarti akan terkapar ditelan hiu. begitulah bila Tuanku majikan ada di kapal. kemudian berjalan lagi mondar-mandir tanpa tujuan. apakah dia masih ada di tempat.” “Pada putra Gusti Adipati tak ada nakhoda berani membantah.

Semua memanjangkan leher mendengarkan baung ratusan anjing di tengah hutan. Lehernya memanjang.Juga di bawah bulan purnama sidhi itu pula. Kepalanya terangkat-angkat. melolong. Badannya tetap tenang duduk di atas tikar menghadapi para pendengarnya. Alisnya yang putih terangkat. Suaranya melayang. memasuki balai-desa. jantan betina dan anak-anaknya. Bulan itu takkan menanggapi mereka. Ratusan sumbu damarsewu yang menyala di sepanjang dan seputar rumah umum itu bergoyanggoyang terkena angin silir. “Apakah gerangan yang akan terjadi. Hutan yang senyap itu berubah jadi hiruk. “Dengar anjing-anjing membaung!” orang tua itu menuding ke arah atap. kupingnya berdiri dan buntutnya berkibas-kibas pelahan ke kiri dan kanan. Hanya anjinganjing pada menangis. Tapi bulan penuh. Ia memanggil bulan dan yang dipanggilnya tak mau datang. Dari mulutnya keluar suara keras. membaung. “Tak pernah anjing hutan membaung seperti itu. kaki belakangnya bersimpuh. memanggil-manggil sang bulan. Yang datang justru berpuluh-puluh yang lain. di sebuah botakan hutan seekor anjing hutan merenungi langit. Sejak dahulu pun tidak. Semua itu memandang ke atas. Matanya semakin sayu. membaung. menua . Kaki depannya berdiri. Kepala itu diangkat lagi. melolong. Rama?” kepala desa yang duduk agak di belakang orang tua itu bertanya. meraung. pelahan.” Sunyi-senyap di ruangan balai-desa. Menusuk lebih dalam ke tengah-tengah desa. “Bulan purnama begini. kemudian menunduk pelan sambil mengeluarkan suara tenggorokan. Semua indah. mengambang dalam cahaya bulan mencapai desa perbatasan kadipaten Tuban: Awis Krambil.

dan hilang. Rama. “Bukan begitu Rama Guru. Lihat.” bantah kepala desa gopohgapah dan menebarkan pandang minta sokongan hadirin.” Ia tertawa sengit. Lama-lama jadi sebutan resmi di Tuban. Sawah belum ada.” “Apa saja kalian kerjakan dalam tujuh tahun ini maka sebuah desa bisa kekurangan kelapa?” orang tua itu tak menoleh pada kepala desa. bahwa kesejahteraan desa nampak dari puncakpuncak pohon kelapanya?” Para hadirin berhenti mengunyah sirih mendengar perselisihan sudah dimulai itu. “Kau belum pernah tenggelam. gadis. adalah karena ada apa-apa kecuali kelapa di dalam kepala-kepala desanya. Kau pun belum pernah terbit. Kita – kita pernah terbit. melengking. Kami hanya mengikuti. Kalian semua belum lagi lahir.” . tapi bukan purnama untuk kalian.” orang tua itu meneruskan dengan tubuh tetap tidak bergerak dalam silanya. “Kalian biarkan desa ini di hina oleh orang kota. “Apakah di mandala kalian sudah tak pernah diajarkan tentang kelapa dan tentang desa. gadis. Kita sedang tenggelam.” “Kita belum pernah tenggelam. Ingat-ingat itu! Ada apa-apa kecuali kelapa. “Nama itu diberikan sebagai ucapan ikut prihatin terhadap sulitnya kelapa di sini. Hanya huma. Bulan purnama sekarang. Untuk kita. “Desa yang kekurangan kelapa…. Dulu desa ini dinamai Sumber Raja…” Tiba-tiba suaranya terangkat naik. dan sekarang sedang tenggelam.” protes seorang gadis di tengah-tengah hadirin. Rama. “Dengarkan kata-kata Rama Cluring ini. Hutan dan alang-alang masih berjabat-jabatan. sebagai bayi aku dilahirkan di sini. dan kalian sendiri setuju dengan nama Awis Krambil.

Tak seorang pun mentertawakan keputihannya.“Apakah apa-apa dalam kepalaku. “Aku dan kami mungkin memang bebal. “Bukankah kau tahu juga dari orangtuamu. berlidah pedang dan berludah api itu. Maka kelapa pun tak kunjung berbiak. berkain dan berkalung kain batik pula. “Dengar. berjanggut dan bermisai putih. berdestar putih. barangkali anjing-anjing itu akan membaung sepanjang malam. seperti kepala Anoman dalam Ramayana.” tiba-tiba orang tua itu menetak kejam. Mereka menghormati orang tua yang terkenal sebagai pemuja Ken Arok Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi. Mereka mendengarkan dengan diam-diam sambil mengunyah sirih. Sekarang. tua dan muda. Rama . cipta kalian yang merosot sampai ke telapak kaki. bukan karena kelapa itu tidak tumbuh. gadis dan perjaka memperhatikan tubuh pembicara yang pendekkecil. laki dan perempuan.” seseorang di tengah-tengah hadirin membantah. ‘Tapi para dewa. desa ini dahulu mencukupi buat semua? Memang lain.” Kembali orang mendengarkan baung yang sayup-sayup dari tengah hutan. tinggal hanya peninggalan nenek-moyang. Dengan lunak ia mulai bercerita tentang kelapa di desa-desa lain yang lebih tandus. “Nenek-moyang kalian tidak sebebal kalian sekarang.” Tak ada yang menyanggah. Namanya tetap Sumber Raja sebagaimana diberikan oleh leluhur para pendiri. Para hadirin. Rama Guru?” tanya kepala desa tersiksa. Dahulu penduduk desa masih punya harga diri.

sampai jadi hewan yang tak mengubah sesuatu pun. Tapi macam cinta apa kau kandung dalam hatimu? Cinta pada . Semua kalian melewatkan masa kanak-kanak dan remaja di bawah petunjuk dan ajaran Sang Guru. pertanda masih ada hati. Rama. terus merosot sampai ke telapaknya sendiri. maka bocah yang belum terpanggil oleh Sang Buddha pun tahu. Lupakah kau pada ajaran. Padaku ada wewenang menamai kalian bebal.” “Puah!” seru Rama Cluring. Kemudian menutup dengan nada tinggi meledak: “Guru-gurumu takkan lupa menyampaikan: yang buruk datang pada manusia yang salah menggunakan nalar. Tubuhnya tetap tak bergerak. merangkak. Yang ditunggu tiada kunjung datang. Tak ada seorang pun menghinakan keadaannya.” “Kata-kata itu menyakitkan hati.” Sebentar ia diam. karena manusia diciptakan dalam keadaan sempurna. Dagunya tertarik ke depan seperti sedang menunggu tantangan. melata. dan ada cinta di dalamnya. sehingga nalar yang buruk memanggil keburukan untuk dirinya. bumi ini diberikan oleh Hyang Tunggal pada manusia dalam keadaan sebaik-baiknya. hewan takkan mengubah apalagi alamnya? Tetapi manusia tanpa cipta merosot.” seseorang nenek memprotes. Dan ia meneruskan. Untuk mempunyai ekor pun manusia demikian tidak berdaya. pada kami tak diberikan tanah yang cukup baik untuk kelapa. Tak ada penghujatan semacam itu. tentang alam dan kemungkinan-kemungkinannya. mengulangi ajaran Buddha dan Syiwa tentang manusia dan kebajikannya sebagai makhluk dewa.Guru. Mandala masih berwibawa dan guru-guru dihormati. “Sewaktu kecilku takkan ada orang menyalahkan para dewa. “Berbahagialah kau yang bisa bersakit hati.

Nah. “Tak ada seorang pun di antara pemuda desa ini pernah menginjakkan kaki di bumi Atas Angin. Malagasi. Upeti demi upeti. sampai di Tanjung Selatan Wulungga sana? Tak pernahkah orangtua kalian bercerita semacam itu maka hatimu jadi sakit karena kebebalan sendiri?” Rama Cluring berhenti bicara. Kalian. Dan ia menyentakkan mereka dengan lidah parangnya: “Ha! Mengantuk kalian terayun oleh keenakan-keenakan masa-la lu. Ia bercerita tentang kebesarankebesaran Majapahit. Orang sana juga menggemari cerita-cerita Panji dari Jenggala seperti kalian. Ngabesi. Kembali baung beraturan anjing mengisi suasana. orang-orang yang telah kehilangan harga diri dan tak punya cipta.kebebalan adalah juga kebebalan.” Orangtua itu mulai bercerita tentang negeri-negeri jauh yang pernah dikunjunginya. Bahkan membiakkan pohon kelapa pun kalian tak mampu!” . sekarang coba ikuti kata-kataku: telah kalian ubah nama ini dari Sumber Raja jadi Awis Krambil. juga seperti kalian di desa ini. barang jadi dan barang gubal. Tak seorang di antara kalian menyaksikan jauh-jauh di seberang sana bagaimana Dewa Ruci dan Arjuna Wiwaha didengarkan orang. Sang Adipati tidak memberikan kesempatan pada kalian. Mereka juga mencintai Panji Semirang. Di sana pun dahulu kalian akan dengar gamelan kalian sendiri. Tapi kalian terus juga membayar upeti. Segala keenakan dan kebanggaan itu bukan hak kalian. di Benggal. Para pendengarnya mulai terbuai. hanya karena desa ini tak mampu membayar upeti kelapa untuk pasukan gajah Tuban. Apa sudah kalian terima dari Sang Adipati? Siapa di antara anak-anak desa ini mendapat kesempatan merajai lautan seperti di jaman Majapahit dulu? Menyaksikan dunia besar? Dihormati dan disegani di manamana? Di Tumasik.

semua tahu sebabnya kecuali binatang dan tumbuh-tumbuhan. laki dan perempuan. Sekarang dalam usia tuanya. Orang tua itu sendiri tetap tenang bersila di atas tikarnya. “Benar. “Itu pemberontakan!” ia menuduh. Suasana tak terkendali. waktu Sang Adipati masih muda. jadi pembesar berkuasa di Wilwatikta. berselisih satu dengan yang lain. “Katakan itu di Tuban!” seseorang meraung. silir yang “Dulu. Para hadirin mulai gelisah. pemberontakan. “Mengapa raja kalian tak berbuat sesuatu untuk kalian?” “Rama!” seorang lagi berseru tegang. Semua mengenakan kain dada. dan semua terdiam. Namun ada juga perawan yang membiarkan buah dadanya dipermain-mainkan sinar damar sewu dan angin mengentalkan darah. menutup perawanterbuka.” Orangtua itu menoleh ke belakang dan tertawa. “Paling tidak menghasut pembangkangan.” dua-tiga orang mulai berseru-seru. apakah yang bisa diperbuatnya? Untuk desa pinggiran ini pun tidak sesuatu! Kalian ini kawula Sang Adipati ataukah budaknya yang ditangkap di medan perang?” “Kawula!” seseorang memberikan jawaban.Malam itu dingin. tak ada sesuatu yang berharga telah dipersembahkannya pada Majapahit. semua. Matanya berbeliak menyemburkan api kemarahan. hasutan. Tidak lain dari Rama sendiri yang lebih mengerti aturan darmaraja. Di tangannya juga Majapahit padam sinarnya. “Rama telah…. . Orang tua itu mengangkat telunjuknya. “Kalau aku tidak bicara di Tuban.” “Rama!” tegur kepala desa di belakangnya.

juga para dewa: sekali diucapkan. membawa pedang dan tombak meneliti setiap sudut dan lapangan.” Juga di bawah bulan purnama itu beratus-ratus sampan membawa penduduk dewasa pesisir sedang menyisiri seluruh pantai Jepara. memekik: “Mengaku sudah Islam. karena kebenaran selalu datang dari Hyang Widhi sendiri. ke bandar-bandar seberang…. Juga kata-kataku akan sampai ke Tuban.” . Seorang prajurit lain datang. Tak ada yang tahu ke mana mereka melarikan diri. Dalam sebuah rumpun bakau yang lebat orang menemukan sebuah arca Ganesya yang belum lagi selesai. berkembang biak dalam hati manusia waras. Seorang prajurit berpedang menghardik: “Mengapa raguragu menangkap?” ia lari menghampiri. Rombongan penduduk pesiar Jepara itu terkesima oleh pemandangan itu. gulingkan. Ia sendiri terkejut melihat arca belum jadi itu. kebenaran meluncur turun dari ketinggian. Empat ratus sampan telah mendarat di pulau Panjang. pulau Kelor dan pulau Panjang. sambung menyambut berkait-kaitan. Seorang prajurit bertombak meraung: “Semua penduduk nelayan pulau Panjang supaya menghadap!” Di tempat-tempat lain suara itu diteruskan. Dan tak ada seorang nelayan pun datang menghadap. Ceburkan ke laut. Mengapa pada batu takut? Ayoh. Empat buah besi pahat dan dua penohok tergeletak pada alas kaki arca. menjalar ke mana-mana.juga Hyang Widhi. menyisiri Teluk Awur.

Hanya sepuluh orang maju.Tapi penduduk pesisir Jepara dan prajurit pertama itu ragu-ragu. gulingkan!” perintahnya kemudian. Di dalam gubuk itu sendiri hanya dapat ditemukan sebuah tempayan kecil berisi abu jenazah. Ia tak berani. Tak dapat dikenali lagi arca apa. Prajurit kedua bersorak. di pesisir selatan Jepara. Dengan langkah goyah ia mendekati Ganesya belum selesai itu dan dengan takut-takut menyentuh belalainya dengan tulunjuknya. Tak lama kemudian terdengar batu itu tercebur ke laut dan hilang dari pandangan bulan dan manusia. juga tidak membuktikan diri punya sakti. Pada puncaknya terpahat sebuah arca yang telah rusak.” kemudian ia menggoyang-goyang kepala gajah yang belum jadi itu. “Ludahi dia!” perintah prajurit kedua. penduduk kota yang dikerahkan hanya menemukan sebuah gubuk. . dia diam saja aku ludahi. ayoh bantu aku gulingkan batu ini!” pekik prajurit kedua. Mereka mendorong kepala arca itu sampai terguling ke tanah. “Lihat. “Guling-gulingkan sampai ke teluk!” Makin lama makin banyak orang yang ikut serta. dia sama sekali tak ada kekuatan untuk melawan. Prajurit ke dua itu mendekati arca itu dan meludahinya. pengikutnya juga bersorak. Prajurit pertama melengos. Ayoh. “Barangsiapa masih mengaku Islam. Prajurit pertama itu nampak malu dalam cahaya bulan. “lihatlah. Di depannya berdiri tunggul kayu setinggi sepuluh depa. Dan belalai Ganesya itu tidak hangat. pecahpecah kepalanya terkena panas dan hujan. Di Tegalsambi.

Alat-alat yang telah berjamur itu bergelatakan dalam cahaya bulan. merah-putih.” ‘Tentu. Dengan mata pedangnya ia hancurkan lukisan itu berkeping-keping. tidak bergerak lagi. diam. Di Jepara sendiri. Gambar kupu-tarung di tengah-tengahnya kelihatan hanya sebagai setumpukan garis sambung-putus. kemudian menyepaknya berantakan.” “Seluruh merah-putih majapahitan itu akan tumpas dari muka bumi. Seorang prajurit menghancurkan tempayan itu dengan punggung pedangnya sehingga abu itu buyar berhamburan. Pada sebuah dinding tergantung papan kayu nangka dengan lukisan seorang wanita cantik dengan dua jari tangan membelai dagunya sendiri dan dengan tangan kiri memegangi pergelangan tangan kanan. Payung kuning dari sutera itu mengkilat bermain-main dengan cahaya bulan. Begitu turun ke darat seorang di antaranya menengok ke belakang pada tiang utama kapal. “Kupu-tarung lebih bagus daripada seseorang memberikan tanggapan. Juga bendera itu dari sutera.terletak di atas para-para. Tapi orang itu tidak mengindahkan.” “Semua ikut memandangi bendera putih yang berkibar malas dalam angin silir lemah itu.” . Seorang pembawa payung berlari-lari mendekati dan memayunginya. di muara kali Wiso serombongan pembesar sedang turun dari sebuah kapal Tuban yang kena sergap. Sebuah kotak kayu tempat alat-lukis yang didapatkan di atas para-para dilemparkan keluar gubuk. Ia bergumam: “Lebih bagus dengan bendera kita.

pindah ke Gresik atau kota-kota bandar lainnya. Seluruh dunia seakan dalam keadaan tenang dan damai. seakan tak ada lagi setetes darah memerahi medan perang. Mereka bergandengan satu dengan yang lain. bekas ibukota Majapahit. Juga di bawah bulan purnama itu di tanah lapang di ibukota kerajaan Blambangan ribuan bocah sedang bernyanyi bersama seperti di Wilwatikta. Antara sebentar semua bertepuk-tepuk dan bersoraksorai. Di tengah-tengahnya berdiri seorang anak yang memimpin permainan. Pasuruan. Mereka sedang menyampaikan puji-pujian kepada sang bulan sebelum memulai dengan permainan malam. beratus-ratus melingkari bocah-bocah yang sedang menyampaikan pujibulan.Dengan sendirinya rombongan itu mengalihkan pandang pada sang bulan. Setiap minggu ada saja yang meninggalkan Wilwatikta untuk selama-lamanya. raja Blambangan membariskan pasukannya memasuki Majapahit yang telah runtuh. merupakan lingkaran. Malam purnama ini jumlah mereka semakin sedikit. sedang bernyanyi bersama di tanah lapang Wilwatikta. Hanya bukan seorang nenek memimpin mereka. karena cuaca seindah itu menjanjikan kemakmuran dan perdamaian. untuk membuktikan pada dunia. Perawan dan perjaka. Nampak semakin besar dan semakin kuning…. ibukota kerajaan Blambangan. Juga di bawah bulan purnama itu beberapa puluh anakanak. tapi seorang pedanda pria setengah baya. bahwa tak ada . Juga seluruh Dahanapura. laki dan perempuan. kedudukan Dahanapura. semakin lama semakin besar setelah Sri Baginda Ranawijaya Girindrawardhana. mengelu-elukan bulan yang memerangi langit tanpa noda itu.

Anak-anak dapat bermain-main damai setiap hari.kekuatan lain berhak menjamah bekas kerajaan Majapahit dan ibukotanya selama darah Sri Baginda Kretarajasa. “tidak lain dari Rama Guru sendiri yang lebih tahu tentang darmaraja. kita teteskan di atasnya dan panen pun jadi. Tiga tahun setelah menduduki Wilwatikta. Aman. Rama. tak dapat dipindahkannya ke Pasuruan. sehingga tak ada musuh datang menyerbu kami. Namun orang tak meneteskan darah di wilayah Blambangan karena perang. untuk mengalihkan perhatian orang dari Majapahit ke Blambangan. Di balai-desa Awis Krambil antara Rama Cluring dan para hadirin ketegangan semakin menjadi-jadi. Aku dapat lihat. 1489 M. dirampas dengan parang dan tombak dari tangan musuh-musuhnya dan dibenarkan oleh para dewa. Kemudian: “Indah sekali kata-kata itu. Ia mendengarkan tanpa menggerakkan badan. Dari Tuban datang pengayoman. yang sekarang masih berdiri di Blambangan. Hal itu tidak pernah terjadi dengan guru pembicara lain yang pernah datang ke desa ini. tidak pernah ikut . Dan keringat jatuh membawa kesejahteraan. damai dan kemakmuran melimpah.. Itulah harga dari semua upeti kita. setiap jengkal tanah yang kita pacul adalah milik Gusti Adipati. hanya karena bandar Majapahit. “Betul!” orang memekik di tengah-tengah hadirin. Kalau ada yang masih dirusuhkan oleh Sri Baginda Ranawijaya Girindra wardhana dan Patih Udara. Hujan jatuh membawa kesuburan.” Rama Cluring tak pernah memotong kata-kata orang. Keringat kita. Pengayoman. pasukannya ditarik kembali ke Blambangan. Gresik. kau tidak pernah ikut meneteskan keringat. Pengayoman itu yang membuat Rama tidak tahu. Ia berhasil dan Pasuruan menjadi bandar besar.

Balatentara Tuban tidak. perlihatkan mukamu. yang hidup dari penyisihan upeti. apa maunya?” “Dengarkan saja. bukan pengayoman yang datang. Rama Cluring berkomat-kamit dan mengocok mata. “Sayang kau tak berani muncul. berbisik: “Jadi.” kata Galeng. maka haknya pun sama di hadapan para dewa dan manusia. Kemudian ia tegakkan dada. apalagi kalian. Di sebelah pinggir di antara para hadirin. tak seorang pun di antara kalian mendapat pengayoman. Kalau perang datang. Galeng. “Dari mana?” Rama Cluring menjawab. Pacarnya mencubit sengit.” Pembicara itu tidak menampakkan mukanya. menghimpun kekuatan dari seluruh alam ke dalam paru-paru untuk disalurkan ke dalam sikapnya. Petani tidak seperti itu kata-katanya. sama halnya dengan perempuan pemalas yang merasa lebih beruntung jadi selir atau gundik di bandar-bandar daripada mendampingi seorang suami di sawah dan ladang. “Kalau upeti tak muncul. orangmuda. sama sekali tak bisa berbuat apa-apa . Berbahagialah suami-istri yang sama-sama bekerja. Sebaliknya kalianlah yang diwajibkan mengayomi dia!” ia tertawa menunggu tantangan. “Dengarkan kalian semua punggawa desa yang hidup dari keringat orang lain. nampak menarik nafas panjang. tapi balatentara Tuban akan menumpas dan menghancurkan kalian dan desa kalian. tapi pemuda itu tak peduli. “Dari mana datangnya pengayoman kalau bukan dari upeti?” seseorang bertanya ragu-ragu. Kalian. Kau. Putra ke berapa ratus kau dari Sang Adipati? Coba sini. gadis Idayu menyikut pacarnya.mencangkul.

Di waktu damai kalian bersorak-sorai tentang pengayoman demi sang sisa upeti. lebih ketakutan. Mangayomi diri sendiri pun tak bisa. Sekarang dengarkan: di jaman Majapahit tak ada perang yang tidak selesai.” Ia diam. Kalau kalian sudah seperti itu. “Rama Guru.kalau perang datang. Kemerosotan jaman dan kemerosotan kalian sendiri yang akan menumpas kalian selama kalian tak mampu menahan kemerosotan besar ini. Sama sekali tanpa guna. Perempuan akan dijarah-rayah dan kanak-kanak akan terlantar. Mari aku ceritai: jaman ini adalah jaman kemerosotan. Apalagi upeti-upeti ke Tuban itu. Raja-raja kecil bermunculan pada berdiri sendiri. “Apa kalian takuti? Akan datang masanya kalian akan lebih. Kakek-kakek mereka telah lama meramalkan akan datangnya perang yang tiada kan habishabisnya bila dewa-dewa telah berganti dan bila berbagai bangsa dengan berbagai warna kulit telah mulai berdatangan menjamah bumi Jawa. Bukan karena kata-kataku. tak ada kekacauan tak . bukankah akan sia-sia semua yang sudah kami kerjakan dan usahakan?” “Jelas. Kalian takkan ditumpas karena kata-kataku. karena rajadiraja tiada. bagaimana pula macam rajamu?” Ketegangan sekaligus berubah jadi ketakutan. “bila kekacauan dan perang akan memburu-buru kami silih berganti. Lelaki akan pada mati di medan perang. Kekacauan dan perang akan memburu kalian silih-berganti. Mereka telah terbiasa terpengaruh oleh ramalan orang tua-tua pengembara yang telah jauh langkah.” seorang wanita dengan suara mendayudayu memohon. apalagi mengayomi rakyatmu. Para pendengar terdiam.

Sekarang ulat sutra pun tumpas. Setiap orang boleh belajar mengecor besi dan mencetaknya. mendeham dan membersihkan “Tak ada orang hidup sampai dua ratus. Di jaman Majapahit para punggawa disebarkan ke seluruh negeri bukan untuk memata-matai kawula. baik kepala desa mau pun bapa-bapa mandala kena teguran. Rama Guru. Setiap orang boleh mendirikan candi keluarga. Tidak seperti sekarang. “Di masa itu semua orang boleh membikin bata. kecuali atas perintah. Bila anak-anak itu tak dapat menjawab pertanyaan mereka. Di mana-mana nampak pakaian gemerlapan bermain dengan sinar matari. tahu akan dewa-dewa dan hafal akan banyak lontar.” ia mulai mengubah nada suaranya menjadi lunak dan ramah. Mereka bicara dengan bocah-bocah. Dengan demikian setiap bocah dapat membaca dan menulis. Orang hanya menenun kapas.diatasi. Saluran yang dulu dibikin di mana-mana sekarang sudah pada mendangkal.” “Berapa umurmu. “Dua ratus?” Rama Cluring kerongkongan. Tak lagi sungaisungai dipelihara. Lebih beberapa puluh tahun dari seratus. Menempa besi dan baja pun tidak diperkenankan. Menurut perhitungan surya. Dahulu perawan-perawan pada menenun sutra. Tak lagi riam dan sangkrah dibersihkan oleh pasukan-pasukan laut. Kapal besar tak lagi dapat masuk ke pedalaman. maka tahu banyak tentang jaman kejayaan Majapahit?” seorang gadis bertanya. tempat menyimpan abu para mendiang. . Ulat sutra yang tinggal hanya ditenun untuk layar perahu dan kapal besar dan untuk pengantin.” “Mengapa menurut perhitungan surya?” seorang lain bertanya.

Mereka petualang-petualang dari Atas Angin. tidak menginjakkan kaki di sawah ataupun ladang. kain khasa. sudah mulai muncul tulisan yang sama sekali tidak berbunyi…” “Adakah Rama Cluring pernah lihat tulisan itu?” Orang tua pendek kecil itu tiba-tiba mengangkat telunjuk. boleh jadi…. Barangkali. jaman gila. Yang paling tidak hormat pada para dewa juga yang paling mula jadi korban wabah dari Atas Angin ini. tembikar. Mereka hanya memerlukan harta dan kekayaan. Baung dan salak dan lolong anjing. Kemerosotan jaman. sutra. lupa pada Baginda Kaisar di Majapahit. Rama Guru?” “Aku belum lagi tahu. Mereka mempunyai dewa lain dari kita. orangtua tak tahu sesuatu kecuali kesenangan sendiri…. Mereka tak memerlukan surya. Mereka pengaruhi bupati dan adipati pesisir supaya tak membikin kapal-kapal lagi. “Dengar!” perintahnya. di mana mandala tidak berdaya. Boleh jadi akan datang banjir – banjir air. tulisan kita yang sempurna sandang dan sukunya…. Mereka menyuap dengan mas. kembali menggelombang. Orang mulai tak dapat memilih apa yang baik untuk dirinya. Mereka hidup hanya dari berdagang. Mereka tak memerlukan gunung. permadani…. Bahkan tulisan kita. banjir . Mereka itu yang membikin para bupati dan adipati pesisir hanya mengingat pada harta-kekayaan.” “Mereka penyembah rembulan.“Di bandar-bandar ada orang yang mulai menggunakan perhitungan rembulan – orang-orang gila itu. Perhitungan rembulan menjalar seperti wabah. Di pesisir Atas Angin sana mereka sama saja tingkahnya. Mereka hanya hidup dari pantai dan dari laut. ‘Tak pernah binatang itu membaung selama itu. Tak heran. seramai itu. ratusan di tengah hutan. Semua terdiam.

” “Ditumbangkan. malah tetap mengukuhi wilayah kekuasaan yang didapatnya dari darmaraja. memerintahkan dilaksanakannya gaya baru dalam bangunan-bangunan suci.bencana. dan sendiri marak jadi raja. “karena hanya dengan karunia Hyang Widhi saja seseorang bisa bertahta! Bukankah Rama Guru dengan demikian menghujat Hyang Widhi?” “Uah! Seperti kau tidak mengenal anak tani bernama Ken Arok.” “Maka juga Ken Arok Rajasanagara ditumbangkan.” Ia menoleh kepada kepala desa.” “Dan Majapahit pun tumbang. memerintahkan menjawakan kitab-kitab suci. Bertanya: “Darmaraja? Pengayoman? Apakah yang sudah diperbuat oleh Sang Adipati Tuban Tumenggung Wilwatikta waktu para bupati pesisir mulai membangkang mempersembahkan upeti? Bukankah Sang Adipati itu rajamu sekarang? Bukankah sebagai Tumenggung Wilwatikta. malapetaka yang membikin semua lebih merosot tersedot lumpur. membentang dari Tuban sampai Jepara – sebuah kadipaten dengan tidak kurang dari lima buah bandar?” ‘Tak pernah ada yang menggugat seorang raja!” bantah kepala desa.” “Tumbangnya gajah yang meninggalkan gading. membangkang mempersembahkan upeti. Hyang Widhi tidak pernah salah memilih wakilnya di atas bumi. penguasa tertinggi atas keamanan dan kesejahteraan ibukota Majapahit. Ditumbangkannya akuwu dan raja. Wilwatikta. telah bangunkan . Tapi darahnya kekaisaran Majapahit yang tiada tara. justru ia bergabung dengan yang lain-lain.

tak mampu memikul kebesaran-Nya. Mereka tahu Rama CIuring sedang menggugat Sang Adipati.” “Negarakertagama dan Pararaton tak bilang begitu. Dan ketegangan menarik otot-otot muka mereka sehingga seperti terbuat daripada kayu jati. lolong dan gonggong anjing-anjing hutan itu? Tak tahukah kau itu pesta untuk haridepanku yang bakal cepat tiba. di langit.Hanya kaki yang kuat. lebih cepat daripada yang kau sangka?” Untuk menghindari pertengkaran kepala desa terdiam. demi Hyang Widhi. mampu memikul pilihan Hyang Widhi. Tulikah kau? Tiada kau dengar baung. manusia pertama yang berani lakukan itu. bantuan dan simpati. Hadirin sendiri sedang tercengkam. ‘Tak lain dari Hyang Widhi juga yang menggulingkan raja-rajanya sendiri yang kaki dan bahunya lemah. karena tugasku hanya mengatakan tentang kebenaran. Ia meminta pengertian. bulan purnama bertahta tanpa tandingan dalam kebeningan. bahu yang kukuh.” “Maka akulah yang mengatakan. Di luar. tak mampu menyumambrahkan dengan jari-jarinya yang kaku – karena . Ia hanya tersenyum melihat ratusan anjing yapg menggonggonginya dalam kebotakan hutan.” “Dan apa katanya tentang Adipati pembangkang yang bersekutu dengan pedagang-pedagang Atas Angin yang berdewa lain?” “Waktu itu belum ada Sang Adipati. Dan keseraman mewarnai wajah-wajah itu oleh berpuluh mata sumbu damar-sewu yang selalu berayun tak pernah tenang dan menggeletarkan semua bayang-bayang. Matanya berpendar-pendar dari wajah ke wajah di antara hadirin.

biar yang terpandai di antara kalian menuliskannya. tapi budak! .” pembicara itu meneruskan. balatentara Tuban paling tidak membutuhkan satu-dua hari. Masih belum mengerti? Tak ada keadilan mengikat antara sang Adipati dengan kawulanya di sini. Kalian semua ini bukan kawula. ikatan perbudakan. Rama Guru. yang ada hanya ikatannya saja. Kalian tidak akan ditumpas. kurang kehormatan.jari-jari itu hanya pandai mengambil untuk dirinya sendiri dan tidak bisa memberikan sesuatu untuk kawulanya. “Rama. Sebaliknya. Kalau ikatan keadilan tidak ada. kata-kata Rama sendiri yang menempatkan kami semua dalam bahaya kemusnahan. menyeberang perbatasan. Tapi kami hidup dalam kesejahteraan. mungkin juga memang bebal. “Memang belum perlu. memohon perlindungan Sang Bupati Bojonegara. Suaranya enteng mengambang di udara malam yang hangat itu. Lembah kebinasaan itu kalian galang sendiri di atas kedunguan. Rama Guru.” seorang di antara hadirin angkat bicara. Setiap saat setiap orang di antara kalian yang tidak dungu bisa tinggalkan desa ini. Rama. “Untuk mencapai desa ini. “Apa kau akan bilang kalau aku membubuhkannya pada lontar? Ambilkan lontar. kami nampak memang kurang harga diri. Masih juga kau tidak mengerti. besi penggurit dan jelaga. Rama Guru.” kepala desa itu menegah.” “Belum perlu. keamanan dan perdamaian. Aku tidak menjerumuskan kalian.” “Kata-kata itu tidak terdapat dalam lontar. tidak lain dari Rama!” Rama CIuring mendengus meremehkan. kepala desa? Penduduk desa ini terusmenerus membayar upeti dan memikulnya sendiri ke Tuban Kota.

dia memanggil Sang Hyang Kala. Katakan pada kami.” Ia tersenyum dan mengangguk-angguk. karena dialah pengadilan tertinggi di bawah Hyang Widhi. Kejahatan selalu jadi bagian mereka yang mengingkari kebenaran maka melanggar keadilan. dua-duanya sumber keonaran di atas bumi ini….” dan ia teruskan wejangannya tentang kebenaran dan keadilan dan kedudukannya di tengah-tengah kehidupan manusia dan para dewa. Kepala desa! Kurang tepat jawabanku. Bukankah mandala kalian pernah mengajarkan: kebenaran tak dapat diadili. bagaimana agar kami tidak jadi budak?” “Rama Cluring yang bijaksana. Ditaklukkan tanpa perang!” “Baiklah kami ini budak tanpa dikalahkan dengan perang. setiap saat datang pengawal perbatasan berkuda?” “Dia juga perlu mendengarkan kata-kataku ini.Budak Tuban. “bukankah Rama Guru lebih dari tahu. Dua-duanya busuk. “Juga Sang Adipati Tuban Arya Teja Tumenggung Wilwatikta tidak bebas dari ketentuan Maha Dewa. Jangan kuatir. kiranya? Ketakutan selalu jadi bagian mereka yang tak berani mendirikan keadilan. dia akan dilupakan orang kecuali kedunguannya. budak Sang Adipati sama dengan musuhmusuhnya yang telah ditaklukkannya. Sang Hyang Widhi merestui barangsiapa punya kebenaran dalam hatinya. Rama Guru. Kalian tahu kelanjutannya: Barangsiapa mengadili kebenaran.” seorang lain lagi menyerondol.” “Tidakkah Rama Guru akan dibawanya ke Tuban dan diadili?” “Bukan pertama terjadi kebenaran diadili. .

bergerak hanya dengan kekuatan dayung. Lunas itu menerjang alun dan ombak pada sudut lebih besar daripada semula. ke tiadaan. Waktu lampu menara bandar Tuban mulai hilangmuncul di atas kepala ombak terdengar pekikan aba-aba. Puluhan pendayung yang seirama membelah permukaan memercikkan air dan semburannya menari dengan cahaya bulan. bahkan lebih depan dari haluan itu sendiri. Ledakan itu menyebabkan permukaan laut gemerlapan beberapa detik. Layar kemudi yang menggembung di atas haluan. Api menyemburat melontarkan bunga api yang membuat lonjakan ke atas. kemudian ke bawah. berebut dulu untuk menghantam pesisir utara pulau Jawa. Layar-layar mulai diturunkan. Kapal itu terus melaju. Dengan cepat membelok ke kanan. dan peluru itu meledak di langit. Juga layar kemudi tidak nampak lagi. Beberapa bagian dari detik.Kapal peronda pantai dengan layarnya yang berkilat-kilat itu menyeberangi malam dan menyeberangi Laut Jawa dengan cepat. Peluru cetbang meluncur ke udara dengan buntut api yang kuning merah meninggalkan asap yang segera lenyap. Dari kejauhan nampak seperti naga laut yang tak kelihatan buntutnya. 0o-dw-o0 . kemudian kembali jadi manis bermain-main dengan cahaya bulan kembali. melengkung seperti busur yang sedang ditarik. Ledakan di langit yang sebentar tadi menandingi bulan kini lenyap tanpa bekas. Tak lama kemudian menyusul ledakan di belakang layar kemudi. Dan semua alun dan ombak terus juga berkejar-kejaran.

” Ia rendahkan cawan. Ia baru habis menceritakan tentang kebesaran Majapahit dengan angkatan lautnya. berpaling cepat pada kepala desa. dengan ilmu dan ketrampilan membikin kapal-kapal samudra. dia telah racun aku!” Cepat ia tarik mukanya dan berseru pada para hadirin: “Dia telah racun aku! Dan kalian kenal siapa aku. mati untuk raja-raja kecil yang tak pernah berbuat apa-apa untuk kalian. “Dewa Batara!” sebutnya keras. . Sebelumnya. Kalian sendiri yang mengatakan: hanya sembilan hari dibutuhkan untuk mengedari seluruh wilayah Tuban – itu pun hasil pengkhianatannya terhadap Majapahit. dengan wilayah kekuasaannya.” Cawan itu dibantingnya pecah di hadapannya. memperlihatkan pada semua hadirin. Dengan kedua bolah tangan ia menekan perutnya. Dari desa dan kota petani-petani akan digiring. Ia angkat tinggi.Rama Cluring segera mengambil cawan tanah yang diletakkan oleh anak gadis Kepala desa. ia hendak meminumnya. Ingat kata-kataku: Kalau kemerosotan ini tak dapat dicegah. takut pada kebenaran. dengarkan: jangan bandingkan Majapahit dengan Tuban ini. takkan lama lagi. menaruhnya pada bibir dan meneguknya sekali habis. tak selembar daun dapat kalian jadikan pengayoman. Kalau perang sudah pecah. agar dia tetap jadi kepala desa. Pahami pergantian jaman. biar kalian tidak didera oleh perang. pada keadilan. Tinggalkan kebebalan. “Sekarang aku hendak teguk lagi tuak desa ini. Bibirnya ia gigit. Dengarkan kebijaksanaan. dan perang akan pecah di mana-mana. Mukanya pucat. kemudian menudingnya: “Lihatlah ini tampang kepala desamu. hanya seorang pembicara yang menggaungkan kebenaran milik Maha Dewa.

Ia tak menoleh. Tak pernah terjadi seorang guru-pembicara mengalami penganiayaan di desa mana pun. Rama Cluring bangkit berdiri dengan susah-payah. . Kami semua menghormati Rama. berseru lantang: “Tak ada seorang pun meracun Rama. Di belakang mereka serombongan orang berseru-seru memohon ampunnya sambil berlari-lari kecil. kalian. Diam-diam mereka bertiga berjalan cepat. semua penduduk Awis Krambil!” Ia lepaskan diri dari pegangan kepala desa. Galeng dan Idayu merasai gigilan pada tubuh tua itu. Setiap guru-pembicara punya gaya dan cara sendiri dalam usaha mempengaruhi dan mengetahui sampai di mana pengaruhnya bekerja.” “Dengar si mulut palsu ini! Dengarkan. Yang menganggap benar-benar Rama Cluring terkena racun cepat-cepat bangkit dan lari memburu. Kepala desa menolongnya dari belakang.“Rama!” seseorang berteriak dan lari ke depan hendak menolongnya. Galeng dan Idayu ikut lari memburu. Setengah hadirin menganggap tingkahnya juga bagian dari gaya dan cara. melompat keluar dari balai desa. Ia menolak tuntunan orang. Orang tua itu terus juga berjalan sambil menekan perutnya dengan kedua belah tangan. Tanpa mengindahkan protes Rama Cluring mereka berdua menunjangnya pada bahu dan pinggangnya. Mereka masih terpaku pada tempatnya bersila.

cepatnya mengangkatnya dan membawanya ke rumah Idayu. “Air kelapa muda. tapi air kelapa biasa. Dalam cawan itu bukan air kelapa hijau.” Galeng memperingatkan. membungkuk dan muntah. “Cepat!” “Memang terkena racun!” di belakang orang memberi komentar. “Diam! Diam semua. kelapa hijau. Ia muntah lagi. “Rama! Rama!” bisik Galeng. Dan Rama tidak menolak.Idayu melepas kain dada dari bahu dan menyelimutkan pada dada Rama setelah menyembah meminta ampun. Tiba-tiba guru berhenti. kembali lagi dan menuangkan minyak kelapa ke mulut orang tua itu. “Beri aku minyak kelapa!” pinta Rama Cluring. Dituangkan seluruhnya ke mulut sang guru. Orang duduk berdesak-desak di lantai untuk menyatakan prihatin. Dan setiap orang menyembah sambil mengucapkan permohonan ampun. .” seru seseorang. Idayu pergi keluar rumah dan datang lagi membawa cawan tanah besar. itu meliuk-liuk gelisah pada Ruangan sempit rumah Idayu segera jadi penuh. Guru-pembicara pinggangnya. Idayu lari ke dapur. membaringkannya di atas ambin bambu. Tak ada pohon kelapa hijau di seluruh Awis Krambil. menguaki punggung orang banyak. Galeng menyembahnya. Rama sedang sakit. Ia tekan-tekan perut orang tua itu agar muntah.

Rama?” Galeng menghampiri orang banyak.” “Tak ada guna cinta dan hormat. Dewa Batara.” bisik Idayu. mengapa tak mengusirnya saja? Atau memberinya kecubung? Mengapa mesti diracun?” “Rama Guru juga salah.” “Mereka mencintai dan menghormati Rama. “Kalau kata-kataku bisa hidup dalam hati mereka.” “Mereka masih haus akan kata-katamu.” Matanya terbuka dan disapukan pandangnya pada mereka yang duduk berdesak di atas lantai. pulang kalian semua. Idayu menyeka mulut.” seseorang membantah.” “Siapa kiramu yang meracun?” seseorang bertanya. “Pulang. “Bagaimana bisa diam? Dia telah membahayakan kita semua: balatentara Tuban itu…. cukup sudah. Air kelapa campur minyak keluar dari mulut berjalurkan dengan benang darah hidup.” Ia muntah. gadis. “Batara!” sahut Idayu. bergumam mengancam: “Kalau tidak suka pada kata-katanya. leher dan bahunya yang basah dengan selembar kain.” Rama meliuk-liuk dan meringis kesakitan. Mati aku.Mengetahui bukan kelapa hijau. “Siapa lagi?” . “Mengapa jadi begini. Ampuni mereka yang jahil. “Diam kau!” bentaknya. “Terlambat. Rama bergumam: “Semua air adalah air kehidupan.

berseru: “Butakah kalian tak melihat siapa aku?” . Warnanya merah seluruhnya.” katanya sambil menurunkan sembahnya.” orang menyesali. bulan sudah mulai menggeser ke titik tertinggi dan kini mulai agak condong. Beberapa bentar hanya dan sampai ia di hadapan prajuritprajurit pengawal yang menahannya. “Terlalu. Gandarwa pun lebih baik. menempuh jalanan yang diterangi bulan purnama. Baung anjing dari botakan hutan telah berkurang. jangan sumpahi kami. jangan tulah kami. Rama…” 0o-dw-o0 Begitu kapal peronda pantai itu merapat pada dermaga bandar Tuban kota. Minyak dan air kelapa tidak mempan. hanya orang melakukannya. kemudian padam sama sekali.” panggil Idayu. Rama.” keparat Rama muntah lagi. Waktu telah didapatkan Rama Cluring telah tergolek pingsan. Patragading melompat ke punggung kuda. “Rama. berdiri di atas jagang bambu berkaki. demi desa Rama sendiri. “Dirgahayu. berpacu. demi Hyang Widhi. Penuntun kuda itu bersimpuh kemudian menyembah. “jangan kutuki kami. terlalu. Orang berlarian mencari lagi di rumah-rumah. turun. Ia tak jadi memasuki halaman rumah itu. berayun-ayun cepat. Patragading melompat turun. ya Rama. Dan pelita di tengah-tengah ruangan itu. Seorang dengan menuntun kuda menghampiri kapal.“Meracun seorang guru…. demi kesejahteraan kami semua.

Pasti ada sesuatu keluarbiasaan. Kalung dan gelang masnya berkilat-kilat. Tuanku.” . dekat pada damarsewu.” Patragading melompat lagi ke atas kudanya.“Tuanku Patragading Jepara. “Anakanda Patragading!” Sang Patih memasuki pendopo. berdestar batik dan berkerudung kain batik pula pada dadanya. Patragading segera menghadap ke pendopo. kemudian mengambil-alih kuda tunggangannya. memasuki halaman luas tertutup rumput pendek dengan pinggiran ditanami bunga-bungaan. Mata-mata sumbu itu menyala berkibar-kibar dalam barisan seperti prajurit baris.” Patragading berdiri bertolak pinggang tanpa mempedulikan prajurit yang diperintahnya lari menjauh darinya. Ampuni kami.” “Bangunkan Sang Patih. bersimpuh di atas lantai tanah. bersimpuh dan menyembah: “Menunggu titah. Kumisnya yang tebal berkilat-kilat. Jelas benar telah diminyaki dengan minyak katel! Kain batiknya terbeber di selingkaran kaki. Pendopo yang gelap itu kini diterangi dengan damarsewu pada tengah-tengahnya. Mendekat sini. Seorang prajurit lain datang. Sampai di pendopo seseorang berlarian datang padanya dan menyembah. sembah. Patragading mengangkat membetulkan letak kerisnya. menegur “Dingin-dingin begini anakanda datang. anakanda. Ia menunduk dalam. juga cambang dan jenggot. Ia berpakaian kain batik. Kemudian Sang Patih berhenti di tengah-tengah pendopo. melalui samping gedung besar itu dan hilang dari pemandangan. sekarang juga.

” “Dari mana Demak dapat mengumpulkan brandal sebanyak itu?” “Patik tidak tahu. Satu regu prajurit berlarian datang.” “Bagaimana Bupati Jepara?” “Tewas enggan menyerah Paduka. Balatentara Demak di bawah Adipati Kudu^ memasuki Jepara tanpa diduga-duga. 0o-dw-o0 .” “Allah Dewa Batara!” sahut Sang Patih. Jepara penuh dengan balatentara Demak. merebahkan diri pada kaki Sang Patih. [1] Minyak kelapa direbus dengan laba-laba tanah jenis besar berwarna dan berbulu hitam untuk penghitam rambut. membangunkan Paduka pada malam buta begini Kabar duka. menyalahi aturan perang. “Ampuni patik. Paduka. Paduka.” “Apa saja kau kerjakan sampai tidak tahu? Bukankah Demak dukuh tidak berarti selama ini?”1 “Inilah patik menyerahkan hidup dan mati patik.” Sang Patih bertepuk tangan tigakali. 2. “Sisa balatentara Tuban mundur ke timur kota.Dan Patragading berjalan mendekat dengan lututnya sambil mengangkat sembah.” Patragading mengangkat sembah. Paduka. bersenjata tombak dan perisai. Lebih dari tiga ribu orang. Setelah itu biasa disebut adipati Unus. setelah meninggal disebut Pangeran Sabrang Lor. “Itu bukan aturan raja-raja! Itu aturan brandal!” “Balatentara Tuban tak sempat dikerahkan.

Tuban “Tahan dia ini. coklat lagi. timur dan utara. gula garam. Dari timur orang membongkar rempah-rempah dari kepulauan yang belakangan ini mulai disebut bernama Mameluk (Nama yang diberikan oleh pedagang-pedagang Arab.2. kuning. Dari laut bandar Tuban Kota nampak seperti sepotong balok. minyak kelapa. kulit binatang hutan. . itulah kampung-kampung nelayan. minyak tanah dan minyak-minyak nabati lainnya. di sana-sini agak hijau. dan itulah bandar Pasukan Laut dan galangan kapal. Ia menggalang pelahan. Paduka!” perintah kepala regu. Dari barat. bergumam: “Apakah masih patut aku membawa mukaku sendiri?” “Jalan ke kiri. kemudian berbalik dan masuk ke dalam rumah. Sang Patih masih tegak berdiri di tempatnya. Hijau lagi. Itulah perbukitan kapur bernama Kendeng. dan berbarislah mereka meninggalkan halaman kepatihan. kemudian berobah jadi Maluku. Hijau lagi.” Patragading digiring keluar pendopo.) dan cendana dari Nusa Tenggara. Bila lumut hijau hilang dan muncul coklat baru. Begitu turun ke tanah ia memandangi bulan. pepohonan dan taman-taman. Di atas balok coklat bermulut berdiri barisan perbukitan tebal. Ayahandanya sendiri yang akan menentukan hidup dan matinya. putra Sang Adipati. Dari Tuban sendiri orang memunggah beras. coklat lagi. memukul dadanya. Paling tidak telah seribu tahun perahu dan kapal-kapal berlabuh di bandar Tuban Kota. dan itulah bandar alam lainnya yang dimiliki negeri Tuban. Patragading.

Grobak beroda kayu utuh berasal dari pedalaman. semua saja jalanan besar yang dilaluinya. Kalau orang datang untuk pertama kali. ia akan berhenti di satu tempat beberapa puluh langkah dari dermaga. mengapa tak ditarik oleh kuda? Dan dengan senang hati orang akan menerangkan: tak diperkenankan menggunakan kuda atau diri sendiri untuk penarik grobak Kalau pendatang itu bertanya: mengapa terlalu sedikit kereta di sini? Ia akan mendapat jawaban: memang. Lautnya dalam dan dermaganya kokoh. sebuah tugu batu berpahat dengan prasasti peninggalan Sri Airlangga. Dan bila orang mendarat dari pelayaran. . Ia akan selalu berpapasan dengan pribumi yang berjalan tenang tanpa gegas. Seorang pendatang boleh jadi akan bertanya. apalagi yang beruji kayu. Pasukan Gajah dan Pasukan Laut.Dan di atas perbukitan adalah langit para dewa. sepotong jalur karang yang menjorok ke laut. Pasukan Kaki. Lebih banyak lagi grobak beruji. dan milik para panglima Pasukan Pengawal. dengan pikulan atau grobak beroda bulat dari potongan batang kayu. yang beruji dari kota sendiri. Ia akan mengangkat sembah – di hadapannya berdiri Sela Baginda. Bila ia meneruskan langkahnya. juga bikinan alam. sekalipun di bawah matari terik. Penariknya adalah sapi atau kerbau. Orang tak henti-hentinya mengangkuti barang dari dan ke bandar. segera ia akan terpikat melihat lalu lalang. Bandar Tuban adalah bikinan alam yang pemurah. jalanan ekonomi sekaligus militer. disempurnakan oleh tangan manusia selama paling tidak seribu tahun. Kereta sangat sedikit. entah dari jauh entahlah dekat. indah. tuan jumlahnya taklah lebih dari dua puluh – semua milik para pembesar negeri dan praja. Pedagang-pedagang Atas Angin menamai bandar ini Permata Bumi Selatan.

Benggala. dan hampir selalu berkain batik atau wulung. tetapi berkain tenun genggang atau polos tanpa belahan. Juga mereka berkain batik seperti kaum pria. Dan bila rambut panjang mereka tergulung dalam destar. Dari jauh telah terdengar gerincing giring-giringnya dari kuningan berkilat-kilat dan nampak umbul-umbul beraneka warna. Orang takkan melihat adanya suami-istri berjalan-jalan bersama di siang hari. juga penduduk asing harus menyembah dengan caranya masing-masing. bekerja di bawah capil bambu anyaman. menyibakkan diri untuk memberi penghormatan. Arab. Namun wanita nampak di manamana. Tionghoa. bendera jabatan dan kesatuan. bergaya dengan pakaian negeri masing-masing. Dan bila kereta Sang Adipati sendiri yang lewat. Mereka tidak berkain batik. Juga orang-orang asing diwajibkan berhenti bila kereta lewat. Parsi. Dan mereka bekerja sambil berdendang. tak mengenakan wiron atau dodot. itulah pertanda mereka pedagang pedalaman yang berurusan dengan pedagangpedagang beragama Islam. di pinggir jalan. adalah mereka yang telah menanggalkan agama leluhur. Abah-abahnya berkilat-kilat dengan hiasan dari tembaga. lalu lintas berhenti. di pasar kota dan bandar sendiri.Bila kereta berkuda empat semacam itu lewat. bahkan gundul tak berdestar atau berkopiah. Pria berambut pendek. kuningan. Pribumi sendiri juga beraneka. di pelataran rumah. Mereka melakukan segala macam pekerjaan yang juga dikerjakan oleh pria. Lalu lalang di bandar beraneka ragam. perunggu dan perak. . Orang-orang asing. Kuda-kuda penarik itu pun dihias dengan gombak dan limbai aneka warna. penduduk berlutut menyembah. bangsa-bangsa Nusantara. kadang juga dari mas. Pria berambut panjang berdestar batik pertanda masih mengukuhi Buddha atau Shiwa atau Wisynu.

Bupati yang . damai. Sejak jaman-jaman yang tidak dapat diingat lagi Tuban terlalu sering dihembalang bencana perang dan kerusuhan. Pertama oleh balatentara Kublai Khan. Lima tahun yang lalu jarang terjadi yang demikian. Orang bilang ini terjadi pada 1292 Masehi. sejahtera. Maka sekarang mereka tak bertelanjang dada lagi seperti halnya dengan kaum pria Pribumi. Namun buminya tak juga jenuh tersiram darah putra dan putrinya. Negeri ini terinjakinjak balatentara yang bersepatu itu. pribumi dan asing menghadap Tuanku Penghulu Negeri agar membatasi penghajaran kafir pada kanak-kanak. keadaan aman. asrama-asrama mulai ditinggalkan oleh mereka. menyapu Tuban yang sama sekali tak mampu bertahan terhadap senjata api. Sejak itu semua wanita yang keluar dari rumah diharuskan mengenakan kemban. memohon agar para wanita menutup buahdadanya. cicit Jengis Khan yang bertahta di Khan Baliqr Seperti air bah prajurit-prajurit Tartar mendarat dari laut. Perang besar kedua dan ternyata kelak bukan yang terakhir terjadi pada awal abad ke XIY Masehi. tawa dan sorak-sorainya. Dua kali negeri ini dilanda perang besar. mengisi udara pagi dan sore dengan cericau.Lima tahun yang lalu sidang para pedagang Islam telah menghadap Tuanku Penghulu Negeri. Tetapi semua itu semu belaka. Ke mana pun mata ditebarkan. Anak-anak kecil bermain-main dalam rombongan besar di setiap lapangan terbuka. juga darah musuh-musuhnya yang datang menyerbu. dan meninggalkannya lagi untuk meneruskan penyerbuannya ke Singasari. Setelah sidang para pedagang Islam. dan mulai mereka bergentayangan tanpa penggembala.

diperbesar. tanpa ada yang berani mengangkat diri jadi Kaisar. Penataran dan galangan kapal dipulihkan. yang tertinggal setengah utuh hanya Sela Baginda. didirikan pada awal abad ke XI Masehi. Dua puluh tahun lamanya pembangunan kembali kota Tuban dilaksanakan. menyebabkan balatentara Majapahit datang menyerbu. Dan kota. Tak sebuah rumah tinggal berdiri. Majapahit jatuh. Para gubernur pesisir telah memunggungi Majapahit sehingga runtuh dan berdiri sendiri-sendiri. Seluruh kota dihancurkan. Setelah perang besar kedua selesai. Sekarang tidak demikian lagi. tak lain dari Sang Adipati juga yang memprakarsai dan memimpin persekutuan rahasia ini. Adipati Ranggalawe sendiri gugur. salah seorang pendiri Majapahit. sampai menjadi penghasil kapalperang dan niaga terbesar di seluruh Jawa. yang menjadi inti kekuatan darat balatentara Majapahit. Dan Sri Baginda membebani gubernur baru itu dengan tanggungan pasukan Gajah. jadi raja-raja kedi. seluruh Nusantara. Juga bupati Tuban Sang Adipati Arya Teja Tumenggung Wilwatikta.memerintahTuban waktu itu adalah Adipati Ranggalawe. raja pertama Majapahit. rata dengan tanah. Orang tua-tua hanya dengan berbisik-bisik berani membicarakan dengan sesama tua. yang dibangun pada awal abad ketujuh Masehi itu binasa. Pada awal abad ke XYI sekarang kekuatan pemersatu kekaisaran Majapahit telah patah. seluruh dunia peradaban. Pertentangannya tentang kebijaksanaan praja dengan Sri Baginda Kartarajasa. . Baginda Sri Kartarajasa mengangkat seorang bupati baru. termasuk bangunan-bangunan suci dan galangan kapal.

Di depannya berderap pasukan pengawal berkuda. Sang Adipati Arya Teja Tumenggung Wilwatikta. Dalam usia tua ia hanya ingin bertenang-tenang. ke Campa ataupun ke Tiongkok. keamanan. Ia menyokong diperbesamya armada dagang ke Maluku. Ia merasa puas dengan pekerjaan Syahbandar Tuban: Ishak Indrajit. berperisai. Di belakangnya berderap pasukan pengawal lagi. serta melindungi pantai dari gangguan mereka. Dagang! Dagang saja. . ke Atas Angin. Gemerincing “giring-giring mereka serta kepulan debu menyebabkan orang dari jauh-jauh telah bersimpuh di tanah dan mengangkat sembah kepala. dengan pedang tergantung pada pinggang. agama baru. Sebaliknya arus dari utara semakin deras. Ia tak menghendaki Tuban jadi kekaisaran benua seperti Majapahit dengan terlalu banyak urusan. Jumbai dan pitamerah menghiasi tombak mereka. Hampir setiap bulan Sang Adipati datang berkuda ke pelabuhan. sekedar cukup jadi penghalau bajak dan perompak. membawa barang-barang baru. Arus kapal dari selatan semakin tipis. Gubernur Tuban. menjadi pusat penumpukan rempah-rempah dari Mameluk dan Nusa Tenggara. Di bawah pemerintahan dan kebijaksanaannya bandar Tuban berkembang mendesak bandar Gresik.Sekarang makin lama makin sedikit kapal-kapal Jawa belayar kentara. Bandar Tuban Kota adalah buahhati Sang Adipati. ketenteraman dan kesejahteraan sekarang dengan mengembangkan perdagangan antarpulau. bertekad mempertahankan kedamaian itu. pikiran-pikiran baru. Juga ke Tuban. bertombak. Ia tak berminat meluaskan kekuatan ke laut. Angkatan Laut tidak diperlukannya.

Sekali ada yang menyerbu. dilaksanakan oleh satuan-satuan berkuda yang terus-menerus bergerak. Ia telah letakkan dasar jaringan pengawasan daerah-daerah perbatasan. kalau dia mau. Pertahanan negeri Tuban sendiri dianggapnya mudah. sebenarnya ia mampu menaklukkan tetangga-tetangganya dan sendiri marak jadi kaisar. Bandar harus makin banyak disinggahi kapal-kapal Atas Angin. Ia sendiri tak pernah merasa terhina dengan segala julukan dan ejekan. Rangga dikerat dari nama Ranggalawe yang perkasa dan Demang adalah pangkat rendah dalam kepunggawaan praja. Maka para bupati tetangga semakin yakin. kata salah seorang di antara mereka.Karena semakin tua ia semakin mengutamakan perniagaan oleh para bupati tetangga. Padahal. Dirasani begitu ia hanya tertawa. Dengan Pasukan Gajah Tuban yang masyhur ia percaya akan dapat memukul mundur setiap dan semua penyerbu. hanya jadi beban kawula. . Sekali waktu Sang Adipati mempersembahkan ada seorang bupati lain yang mengejeknya dengan nama Rangga Demang. ia dianggap telah kehilangan keksatriaannya. Apalah arti Pasukan Gajah. bupati-bupati yang mengiri akan kesejahteraan dan kekayaan Tuban suka merasani. jatuhlah negeri ini jadi jarahan. telah merosot jadi sudra. Pendirian dan sikapnya tetap: perniagaan antarpulau harus terus dan makin berkembang. ia menjawab tak peduli: Orang juga boleh menyebut seperti itu. Nusantara dan Tiongkok. dengan kekayaannya yang datang dari laut. dengan pasukan gajahnya yang berabad jadi perisai Majapahit. Sang Adipati memang bukan lagi seorang ksatria.

dan mengirimkan keturunannya kembali ke desa sebagai punggawa dengan gelar Raden Bambang dan menjadi pujaan desa. Semua lelaki dapat menghias dirinya dengan keris dengan pamor dan rangka sebagusbagusnya. Dengan demikian Sang Adipati telah menyebarkan ratusan dari anaknya di seluruh negeri. desa-desa dikenakan upeti sepersepuluh dari setiap dan semua macam penghasilan dengan tambahan khusus: jatah untuk umpah gajah serta pembuatan dan pemeliharaan jalanan umum. Segala yang berhubungan dengan bandar dan wilayahnya dibiayai dengan penghasilan bandar. Sang Adipati sudah puas dengan semua itu. Mereka tetap segan terhadap Pasukan Gajah. Dan Ishak Indrajit yang mengurus semua itu. untuk selamalamanya. Ia pergunakan . tak urung ia juga yang suka menebah dada sebagai pewaris kekaisaran benua yang sudah runtuh itu. Dan semua orang tahu. Walau ia membiarkan runtuhnya Majapahit. Dan nampaknya semua akan abadi seperti itu sampai ia mati dan juga setelah ia mati. Patih Tuban bertindak sebagai pengawas tertinggi dan pengatur tertinggi semua pekerjaan. Sedang binatang itu tak kenal kecut apalagi khianat. Ia telah berhasil menciptakan cara untuk mengikat kesetiaan desa-desa perbatasan dengan jalan mengambil hati penduduk: bunga-bunga tercantik diselir dengan gelar Nyi Ayu. Ia tak ingin terjadi suatu perubahan. Semua kawula mempunyai penghidupan yang layak.Tak juga ada yang berani menyerbu. Untuk pembiayaan praja. seekor gajah sama ampuhnya dengan dua ratus prajurit kaki yang tangguh. malah ikut mengambil prakarsa terjadinya persekutuan untuk itu.

Sang Adipati tak pernah punya kekuatiran akan timbulnya pertentangan karena agama. Aceh. Tuban tidak hanya panglima tetap. Parsi dan Arab. sedang keamanan desa-desa dilakukan oleh pagardesa yang terdiri atas pemuda-pemuda pilihan.bendera Majapahit untuk negeri dan kapal-kapalnya. ketenteraman dan kesejahteraan yang didambakan dan dipertahankan dengan segala macam kebijaksanaan kini mulai terancam dari sebelah barat: . Untuk mengambil hati rakyat di pesisir yang makin banyak yang memeluk Islam. Pecinan. merah-putih. Sang Adipati juga mengijinkan berdirinya sebuah klenting batu yang jadi pusat perkampungan penduduk Tionghoa. Yang baru didirikan di sebelah barat pelabuhan. Keamanan pantai dipegang oleh Pasukan Laut. merasa dewa sembahannya tidak menggubrisnya maka dicarinya dewa sembahan lain. Keselamatan praja dijaga oleh Pasukan Kuda. Dalam waktu pendek bangunan itu telah menjadi suatu perkampungan Islam dari orang-orang Melayu. Keamanan Tuban Kota dilakukan oleh Pasukan Pengawal yang tidak banyak jumlahnya. Gajah dan Kaki. kedamaian. Sejak purbakala penduduk Tuban tak punya prasangka keagamaan. ia telah perintahkan berdirinya sebuah mesjid di wilayah pelabuhan. Gujarat. Klenting yang lama telah dianggap terlalu kecil. hanya lebih panjang daripada yang lama. yang juga tidak banyak. Keamanan. Bugis. Orang berpindah agama karena kesulitan dalam penghidupan. Menurut tradisi Majapahit pula hanya di waktu perang seorang adipati atau menteri ditunjuk memegang jabatan itu. Setelah Majapahit jatuh dan Tuban jadi negeri bebas. kebiasaan tak berpanglima diteruskan.

daerah kekuasaan Tuban…. lebat ditumbuhi cambang.” “Ampun.” “Anak baru kemarin. Jubah putihnya berkibar-kibar. Gusti. Gelisah hati Sang Adipati yang telah lanjut usia itu. Kakang Patih?” menduduki Jepara… “Ampun. Sang Patih mengiringkan di belakangnya. Sore itu ia datang berkuda di pelabuhan. kemudian segera berjongkok dan menyembah. sekarang dari ayahandanya dibenarkan menggunakan gelar Adipati Unus. kaki lain diatas punggung seorang pengawal yang menungging. Ishak Indrajit. Tenang dan damai keadaan Tuban Kota. kumis dan jenggot yang mulai jadi kelabu. Gusti. Sebagian menghadap ke laut biru-kuning yang gelisah/Sebagian menghadap pada Sang Adipati yang sedang turun dari kuda dengan kaki sebelah di atas tanah. setelah Adipati Kudus Pangeran Sabrang Lor menguasai wilayah terbarat Gusti. langsung dari kuda. Sang Patih juga turun. belum lepas dari ingus sendiri. Sorbannya nampak terlalu besar dan berat bertengger pada kepalanya yang kecil. Para pengawal di depan sana telah berhenti di pasiran pantai. Syahbandar Tuban.” . “juga telah mendirikan galangan-galangan kapal besar.Demak mulai bergerak dan merampas Jepara.” Sang Patih mengangkat sembah. lari menuruni kesyahbandaran. Konon kabarnya Unus adalah nama dewa baru penguasa lautan. “Mereka bukan saja telah Bagaimana.” “Brandal-brandal itu mengimpi hendak menguasai laut. Sampai barang tujuh langkah dari Sang Adipati ia berdiri dan mengangkat sembah kepala.

Kakang Patih. Bukan untuk perang.“Patik. Namun semua itu tak menarik perhatian Sang Adipati.” . orang-orang Tionghoa itu. tidak hanya Jepara.” “Dewa lama dan Allah baru tidak bakal membenarkan. Hatinya tetap gelisah.” “Patik. Gusti. Tuban pun harus segera mengimbangi. sekali Gusti titahkan.” “Patik. Gusti. Perwira-perwiranya.” Sang Adipati masih juga berdiri.” “Bangunkan. Semua layarnya menggelembung seperti busur. Berkata pelan: “Makin lama makin sedikit kapal Atas Angin singgah. Mereka belum punya Pasukan Kuda. Tangannya yang bergelang mas tiga susun menuding pada pasir. Ia tarik pandangnya dari laut dan dilekatkan sebentar pada destar Sang Patih yang dihiasi dengan permata. Demak akan terus mendesak ke timur.” “Allah Dewa Batara. Demak sendiri dapat ditumpas dalam tiga hari Gusti. hanya untuk mengimbangi.” : “Demak sudah mendirikan galangan-galangan kapal besar di Jepara. Kalau dibiarkan. dan ia meninjau ke laut yang disebari perahu nelayan yang baru berangkat pulang. Pada dermaga tertambat tiga buah kapal asing. Kakinya yang sebelah ditariknya dan punggung pengawalnya. tidak punya Pasukan Gajah. Gusti tidak berkenan memukulnya dengan perang. Di kejauhan sana nampak sebuah kapal peronda pantai yang sedang belayar kearah ba rat. tidak akan mampu menahan balatentara kita. Gusti.

Sang Patih, jauh lebih muda, anak paman Sang Adipati, mengangkat sembah: “Keadaan di lautan Atas Angin sana sudah berubah, Gusti,” kemudian dengan jarinya menggaris-garis di atas pasir membuat gambar, “kapalkapal asing yang selama ini tidak pernah dikenal sekarang mulai berdatangan dari Ujung Selatan Wulungga – tanjung yang tak pernah dilewati nenek-moyang, Gusti.” Sang Adipati mengerutkan kening. Alisnya, kumis, jenggot dan cambangnya yang putih membikin wajah tuanya yang penuh kerut-mirut itu nampak semakin pucat. Matanya kini tersangkut pada pipa celana Sang Patih yang hitam kelam dengan ujung-ujung pipa dihiasi sulaman benang sutra kurung. “Ampun, Gusti sesembahan patik. Mereka, Gusti, menyusuri pantai Wulungga, memasuki jalan laut kapalkapal Atas Angin. Kapal-kapal mereka, kata orang, tidak lebih besar dari kapal-kapal Majapahit, agak lebih besar dari kapal-kapal Atas Angin dan Tuban, tetapi layarnya jauh lebih banyak dan lebih besar. Jalannya laju seperti cucut, dapat membelok cepat sambil miring, dengan lambung menepis permukaan laut seperti camar.” “Betapa indah, sebagai cerita, Kakang Patih,” Sang Adipati memberanikan. “Layar-layarnya, Gusti, digambari dengan salib raksasa.” “Salib?” “Ampun, Gusti, hanya dua buah garis bersilang. Orang bilang, garis yang datar melambangkan kerajaan manusia, garis dari atas ke bawah, kata orang, melambangkan karunia dewa di atas pada kerajaannya.” “Apa bedanya dengan swastika Buddha?”

“Kalau dibuang siripnya tentu dia akan sama, Gusti.” Sang Patih membikin salib di atas pasir. “Sebab itu besar, besar sekali, merah menyala, dapat dilihat sepemandangan dari atas gajah dan dari atas menara. Layar-layar putih sangat besar, dari ufuk nampak seperti kuntum melati.” “Kapal-kapal siapa yang muncul dari Ujung Selatan Wulungga yang keramat itu, Kakang Patih?” ‘Itulah kapal-kapal Peninggi, Gusti sesembahan patik,” jawabnya sambil mengangkat sembah, menunduk lagi dan meneruskan gurisannya di atas pasir, membuat gambar kirakira dari kapal-kapal baru itu. “Tentu mereka bajak yang menakutkan,” Sang Adipati memancing-mancing pendapat. Tenang dan damai keadaan Tuban Kota. Gelisah hati Sang Adipati yang telah lanjut usia itu. Sore itu ia datang berkuda di pelabuhan. Sang Patih mengiringkan di belakangnya. Para pengawal di depan sana telah berhenti di pasiran pantai. Sebagian menghadap ke laut biru-kuning yang gelisah/Sebagian menghadap pada Sang Adipati yang sedang turun dari kuda dengan kaki sebelah di atas tanah, kaki lain diatas punggung seorang pengawal yang menungging. Sang Patih juga turun, langsung dari kuda, kemudian segera berjongkok dan menyembah. Syahbandar Tuban, Ishak Indrajit, lari menuruni kesyahbandaran. Jubah putihnya berkibar-kibar. Sorbannya nampak terlalu besar dan berat bertengger pada kepalanya yang kecil, lebat ditumbuhi cambang, kumis dan jenggot yang mulai jadi kelabu. Sampai barang tujuh langkah dari Sang Adipati ia berdiri dan mengangkat sembah kepala.

“Mereka bukan saja telah Bagaimana, Kakang Patih?”

menduduki

Jepara…

“Ampun, Gusti,” Sang Patih mengangkat sembah, “juga telah mendirikan galangan-galangan kapal besar.” “Brandal-brandal itu mengimpi hendak menguasai laut.” “Ampun, Gusti, setelah Adipati Kudus Pangeran Sabrang Lor menguasai wilayah terbarat Gusti, sekarang dari ayahandanya dibenarkan menggunakan gelar Adipati Unus. Konon kabarnya Unus adalah nama dewa baru penguasa lautan.” “Anak baru kemarin, belum lepas dari ingus sendiri.” “Patik, Gusti. Gusti tidak berkenan memukulnya dengan perang. Kalau dibiarkan, Demak akan terus mendesak ke timur.” “Dewa lama dan Allah baru tidak bakal membenarkan.” “Allah Dewa Batara, sekali Gusti titahkan, tidak hanya Jepara, Demak sendiri dapat ditumpas dalam tiga hari Gusti. Mereka belum punya Pasukan Kuda, tidak punya Pasukan Gajah. Perwira-perwiranya, orang-orang Tionghoa itu, tidak akan mampu menahan balatentara kita.” : “Demak sudah mendirikan galangan-galangan kapal besar di Jepara.” “Patik, Gusti. Tuban pun harus segera mengimbangi.” “Bangunkan, Kakang Patih. Bukan untuk perang, hanya untuk mengimbangi.” “Patik, Gusti.” Sang Adipati masih juga berdiri. Kakinya yang sebelah ditariknya dan punggung pengawalnya, dan ia meninjau ke

Berkata pelan: “Makin lama makin sedikit kapal Atas Angin singgah. Namun semua itu tak menarik perhatian Sang Adipati. Gusti sesembahan patik. tidak lebih besar dari kapal-kapal Majapahit. Jalannya laju seperti cucut. Tangannya yang bergelang mas tiga susun menuding pada pasir. Di kejauhan sana nampak sebuah kapal peronda pantai yang sedang belayar kearah ba rat. Hatinya tetap gelisah. Kapal-kapal mereka. agak lebih besar dari kapal-kapal Atas Angin dan Tuban. Mereka. tetapi layarnya jauh lebih banyak dan lebih besar.laut yang disebari perahu nelayan yang baru berangkat pulang. kumis.” kemudian dengan jarinya menggaris-garis di atas pasir membuat gambar.” Sang Adipati mengerutkan kening. Gusti. menyusuri pantai Wulungga. kata orang. Ia tarik pandangnya dari laut dan dilekatkan sebentar pada destar Sang Patih yang dihiasi dengan permata.” Sang Patih. jauh lebih muda. “kapalkapal asing yang selama ini tidak pernah dikenal sekarang mulai berdatangan dari Ujung Selatan Wulungga – tanjung yang tak pernah dilewati nenek-moyang. Gusti. mengangkat sembah: “Keadaan di lautan Atas Angin sana sudah berubah. . “Ampun. Semua layarnya menggelembung seperti busur. Matanya kini tersangkut pada pipa celana Sang Patih yang hitam kelam dengan ujung-ujung pipa dihiasi sulaman benang sutra kuning. jenggot dan cambangnya yang putih membikin wajah tuanya yang penuh kerut-mirut itu nampak semakin pucat. Gusti. memasuki jalan laut kapalkapal Atas Angin. Alisnya. Pada dermaga tertambat tiga buah kapal asing. anak paman Sang Adipati.

dapat dilihat sepemandangan dari atas gajah dan dari atas menara. “Layar-layarnya. sebesar tiga kali gajah. Orang bilang. Gusti. Kakang Patih?” ‘Itulah kapal-kapal Peninggi.” Sang Adipati memberanikan. karena layarnya yang berlapis-lapis. Bukan saja karena kelajuannya.” “Salib?” “Ampun. dapat mekar menggelembung seperti melati. melambangkan karunia dewa di atas pada kerajaannya. Gusti. kata orang.” Sang Patih membikin salib di atas pasir. sebagai cerita.dapat membelok cepat sambil miring.” “Betapa indah. besar sekali. garis yang datar melambangkan kerajaan manusia. hanya dua buah garis bersilang. mereka bisa dihindari bahkan bisa dilawan. Gusti. dari ufuk nampak seperti kuntum melati. menunduk lagi dan meneruskan gurisannya di atas pasir. dengan lambung menepis permukaan laut seperti camar. ya Gusti…. membuat gambar kira-kira dari kapal-kapal baru itu. garis dari atas ke bawah.” . merah menyala.” “Apa bedanya dengan swastika Buddha?” “Kalau dibuang siripnya tentu dia akan sama. dapat cepat digulung…. “Tentu mereka bajak yang menakutkan.” “Kapal-kapal siapa yang muncul dari Ujung Selatan Wulungga yang keramat itu. “Sebab itu besar. “Kalau hanya sekedar bajak.”jawabnya sambil mengangkat sembah.” Sang Adipati memancing-mancing pendapat. Gusti. Kakang Patih. Mereka tak bisa dihindari. digambari dengan salib raksasa. dapat mengempis seperti kantong kosong. Gusti sesembahan patik. Layar-layar putih sangat besar.

kiranya?” Deburan ombak terdengar nyata. Gusti.“Maksudmu meriamnya?” “Benar. memuntahkan api dan…. Kapal-kapal Atas Angin pada gentar. meriamnya.” senjatanya itu. Gusti. Tak ada manusia bergerak dalam sepengelihatan penguasa Tuban itu. ”Teruskan.” “Lebih dahsyat!” Sang Adipati berseru menyepelekan.” “Ampun.” ia menuding pada langit tanpa mengangkat kepala. dapat “Adakah Patih sedang mengulangi dongeng kanak-kanak itu. Dongengan patik yang indah ini datang menghadap Gusti untuk jadi bahan periksa. Gusti. tertawa kosong.” “Kenyataan!” Sang Adipati terpekik. “Dari mana pula dongengan menarik itu berasal. Kakang Patih. Lebih dahsyat. Orang . beribu ampun. Dongengan kanak-kanak itu sekarang sudah jadi kenyataan. Gusti sesembahan patik. Bergumam: “Ada yang lebih dahsyat dari cetbang Majapahit. Dan di laut kapal dan perahu yang tertambat berayun-ayun dengan layar tergulung dan tiang-tiangnya menuding langit. Gusti. Ada bangsa jauh di Atas Angin sana punya semacam cetbang Majapahit. Gusti. “Memuntahkan api! Apakah Kakang Patih bermaksud mengatakan ada bangsa lain di atas bumi ini punya cetbang Majapahit? Ada di negeri Atas Angin sana? Kakang Patih tidak hendak mendongeng lagi?” “Ampun. Jauhjauh di darat nampak orang bersimpuh di atas tanah dengan kepala menunduk ke bumi.” “Ampun.

tapi maut belaka. Lambat-lambat kedua belah tangannya tertarik ke atas dan bertolak pinggang Sebentar dia berpaling dan menebarkan pandang pada laut. cetbang mereka bukan sekedar dapat menyemburkan api dan meledak.” “Maka datang?” makin berkurang kapal-kapal Atas Angin “Demikian adanya. Juga destarnya yang panjang-panjang itu sebentar menggelepar tertiup angin.” Adipati Tuban Arya Teja Tumenggung Wilwatikta terdiam. baiduri dan jamrud yang menghiasi bagian depan destar gemerlapan bermain-main dengan sinar surya. Gusti sesembahan patik.” Sang Adipati tercenung sebentar. Semua pedagang mengimpikan dan memburu keuntungan. maka benua dan lautan ditempuh. kata orang. Mengetahui. Gusti. kemudian pada langit. Apakah bedanya buah kelapa itu terkupas atau tidak? Besi sebesar tinju pun akan dapat remukkan setiap kapal. Bertanya seakan tak acuh: “Bangsa apa kata kakang tadi?” . Bertanya pelan: “Bagaimana bisa ada senjata lebih dahsyat dari cetbang?” “Beribu ampun.bilang banyak di antaranya telah mereka kirimkan ke dasar lautan. Gusti. bukan keuntungan yang teraih. maka mereka lebih suka tinggal tidur di tengah-tengah mewahan di rumah masing-masing di bandar sendiri. dengan munculnya kapal-kapal Peranggi. juga memuntahkan bola-bola besi sebesar. Intan. sebesar buah kelapa” “Sebesar buah kelapa! Terkupas atau tidak?” “Gusti Adipati berolok-olok. sebesar. Ia menunduk dan berpikir. Gusti.

Mereka itu putih seperti kapas. Mereka sudah berlarian cari selamat. Gusti.” “Ampun.” “Dalam rombongan seperti armada Majapahit?” “Benar. lain dari semua bangsa yang pernah datang di Tuban. Kakang Patih?” “Mereka lain dari orang-orang Arab. seperti dongeng tentang peri dan gandarwa. seperti dongengan orang Islam tentang jin. selalu dalam rombongan.” “Apa lagi ceritamu. Orang bilang. paling tidak dua atau tiga buah. Kapal-kapal Atas Angin pada ketakutan. Sekarang ternyata bangsa manusia berkulit putih sesungguhnya ada. Gusti. Ispanya namanya.” Sang Patih menurunkan nada suaranya dan meneruskan pelahan bercampur dengan tiupan angin… “Aku tak dengar. Keadaan dunia sungguh-sungguh sudah berubah. juga sama hebatnya. Gusti. seperti kapur. Dari dulu orang tua-tua sudah mendongeng tentang bangsa kulit putih.” .“Peranggi. ada bangsa lain. biarpun hanya melihat dari kejauhan. Gusti. seperti awan. seperti dongengan tentang dedemit para leluhur. Parsi atau Benggala. Gusti. tak pernah dalam rombongan. baik di laut mau pun di darat. Kakang Patih. lebih keras. Gusti. milik pedagang-pedagang itu. berlingsatan tunggang-langgang cari hidup.” “Barangkali sebangsa hantu laut?” “Gusti berolok-olok. Sedang kapal Peranggi itu. seperti bawang putih…. Gusti. Mereka punya negeri dan rajanya sendiri. Mohon apalah kiranya tidak berolok-olok. tak pernah belayar sendirian. Gusti. Karena persaingan satu dengan yang lain. iblis dan setan. Kapal-kapal Atas Angin itu.

Sedangkan orang Jawa pun bukan penyembah patung. Gusti.” “Auzubillah min zalik!” seru Syahbandar. maupun lspanya.” Sang Adipati memperbaiki letak keris. dan Buddha. Gusti.” “Lebih keras!” “Ampun. Gusti. barangkali pada suatu kali jin dan iblis dan setan orang-orang Islam juga punya negeri sendiri kapal dan cetbang. Tuan Syahbandar?” “Diampuni oleh Allah apalah kiranya… Baik Peranggi. tetap berdiri dan mengangkat sembah kepala. nyawanya. “Apa persembahanmu. “Apa pengetahuanmu tentang bangsa berkulit putih?” “Bangsa kafir itu. hitam. hitam seperti jelaga periuk.” “Kafir atau tidak apa salahnya? Penyembah patung atau tidak apa buruknya? Roh. dan Yahudi. dan Hindu. Mereka penyembah patung. Mereka mau merajai . nyawa atau hatinya hitam atau putih atau kelabu ataupun ungu seperti bunga kecubung. Selama mereka datang membawa kesejahteraan untuk bandar Tuban… siapa saja baik. kemudian dilambainya Syahbandar agar mendekat. Mereka penyembah patung. Gusti. Yang dilambainya bergerak. siapa tahu.Ia turunkan lagi nada suaranya sehingga hampir bergumam. kecuali pemeluk Buddha. bangsa berkulit putih. Gusti…. Gusti. Mereka tidak mengagungkan Allah Yang Maha Besar. tapi hatinya. apa peduli? Allah Maha Besar telah memberikan pada manusia berbagai macam warna. memusuhi semua bangsa. memusuhi semua orang Islam. semua bangsa manusia. rohnya. “Siapa tahu.

lebih jauh dari Parsi. Kalau semua bangsa tidak mau. dipimpin oleh setan. Tuhan akan mengenyahkan mereka dari muka bumi.” “Kapan Tuhan mengenyahkan mereka?” “Semua bangsa. Sang Adipati tak memperhatikan. Ia sedang bekerja keras memanggil kapal-kapal Peranggi dan lspanya dalam angan-angan. Negerinya ada di atas Atas Angin. Gusti. bagaimana bisa orang-orang Islam takut pada kafir?” “Senjata dari iblis!” Sang Adipati mengulangi.” “Kalau dongengan itu benar. tentu mereka bangsa yang pandai dan gagahberani. “dengan bimbingan Allah. Angin yang meniupi dadanya membikin bulu dada yang putih itu berombak.” “Di mana negerinya? Jauh atau dekat? Maka akan dapat mengenyahkan semua bangsa dari muka bumi?” “Jauh. Arabia ataupun Turki. “Tuan Syahbandar. pasti kapalnya banyak.” puji Sang Adipati pada bangsa yang belum dikenal itu. Gusti Adipati Tuban.” susul Syahbandar pada Sang Adipati tak senang. Mereka telah lewati Ujung Selatan Wulungga yang tak pernah dilalui oleh nenek-moyang.” tibatiba ia berpaling pada Syahbandar.segala-galanya. Pandangnya ditebarkan ke laut yang masih juga disebari perahu-perahu nelayan. kuat dan hebat. Tak dirasainya seekor lalat hinggap pada dagunya. . Gusti.” sembah Ishak Indrajit terus dalam Melayu. “Mereka diberanikan oleh iblis. “Bangsa-bangsa Atas Angin takut pada mereka. merekalah yang bakal menghalau kita semua….

dan terutama kapal-kapal berbendera bulan dan bintang. tak menemukan kata-kata jawaban. orang-orang… apa pula namanya tadi?” “Peranggi. Hai!” “Beribu ampun. . Gusti.” “Sihir!” Sang Adipati mengulangi. bila senjata mereka berdentum. juga sudah menduduki Goa.” “Jadi kapal?” sungguh-sungguh mereka memusuhi semua “Benar. “adapun senjata itu sama sekali bukan sihir.” sembah Sang Patih. terutama rempah-rempah. Kapal-kapal tak bisa lari dari tudingannya.” Sang Patih meneruskan. seperti yang selebihnya.” Syahbandar terdiam. “para nakhoda bilang mereka mulai kelihatan di Malagasi. Gusti. semua kapal Islam. justru cetbang yang lebih ampuh.” sela Sang Patih sambil menyembah. Gusti. semua yang mereka cari. Ya. Gusti. semua. Senjata itu dapat menenggelamkan kapal yang sebesar-besarnya dari jarak sepemandangan. juga kapal-kapal bukan Islam dari Benggala. Gusti. “Ampun. “Kalau begitu orang Islam pasti punya mantra-mantra penangkal. menunduk lebih dalam. “Semua. Tubuhnya yang tinggi jangkung nampak meriut kecil.” Tiba-tiba Sang Adipati tertawa senang dan bergumam pada angin mendesau: “Ha! Rempah-rempah! Seperti kapalkapal lain. Gusti sesembahan patik.” “Apa yang mereka cari.“Sihir namanya. Gusti. Kapal-kapal armada gabungan dari beberapa negeri dibabat lenyap ditelan laut… Sekarang mereka bukan hanya sudah mulai kelihatan di Benggala dan Langka. memasuki Teluk Parsi dan mengamuk tiada terlawan. Rempah-rempah. melecehkan.

Bolabola besi sebesar kelapa bersemburan. bergerak mengiringkan Sang Adipati. Berseru pelahan: “Ya-ya-ya. hampir-hampir tak dapat ditangkap oleh mata. memang. dikutuk oleh Allah apalah kiranya mereka itu.” Sang Adipati tersenyum. kemudian menungging untuk jadi anak tangga. mendesis di udara. Gusti. bersujud ke tanah. Bukan mereka sendiri yang menamainya.” Sang Adipati mulai bosan mendengar keterangan bertele. Mariam. Mereka namai senjata itu dengan nama Dewi Ibunda Nabi Isa. Api pun menyemburat dari moncong senjatanya dan bola besi itu melesit ke udara seperti peluru cetbang. Tumpaslah kapal yang terkena. Semua prajurit pengawal menyembah dan beringsut menjauhkan diri. dan dengan kaki lain melompat ke atas punggung kuda. Sang Patih juga naik ke atas kudanya. Kata orang sebelum mereka mendentumkan senjatanya. Tuan Syahbandar. Gusti. pastilah mereka memang bangsa-bangsa unggul. menyembah lagi. Ia bergerak dari tempatnya. Syahbandar tertinggal di tempatnya…. Gusti. Tanpa memperhatikan yang lain-lain Sang Adipati naik ke atas punggung orang dengan sebelah kaki. 0o-dw-o0 . meriam bukan nama senjata itu?” “Ampun.langit seperti belah dan hati yang mendengarnya jadi ciut. Prajurit pengawal pemegang kuda itu pun mengangkat sembah. beramai-ramai mereka memekikkan nama Ibunda Nabi Isa alaihissalaam. menyerahkan kendali padanya. Kemudian senjata itu dinamai Meriam. melangkah menuju pada kudanya. Burung-burung lumpuh sayap dan berjatuhan mati.

bangsa-bangsa dari atas Atas Angin. Orang takkan mati tanpa dia. Mereka pergi ke mana-mana untuk mengalahkan dan menaklukkan. Mungkin satu bangsa bisa menjadi unggul karena mencari rempah-rempah? Uh. jauh di baratlaut sana. . rempah-rempah. pertanyaan lucu. Ada suatu lembaga yang membikin mereka jadi unggul. Tuban punya rempah-rempah! Mereka akan datang kemari. Mereka juga bisa dikendalikan melalui kebutuhannya. Ia membutuhkan waktu untuk memikirkan semua itu. Orang harus mengenal lebih dulu bangsa-bangsa dari negeri terjauh ini. Bangsa-bangsa menjadi kaya karena berdagang rempahrempah. dialah si pembohong itu. bangsa-bangsa yang telah menaklukkan Ujung Selatan Wulungga yang belum pernah ditembus kapal-kapal Majapahit. pertanyaan bodoh. Salib itukah mungkin lambang lembaganya? Sekarang ini siapa yang tahu? Barang siapa bisa menjawab. sesuatu telah berubah di dunia yang tak dikenal di utara. Hanya yang dapat menahan dan mengalahkan mereka lebih unggul. maka segala yang ditanganinya juga jadi unggul: kapal dan senjata.Kapal unggul senjata unggul bangsa unggul kulit putih. Tapi mereka membutuhkan rempah-rempah! Mereka bangsa manusia biasa. Bangsa unggul saja bisa membikin dan menggunakan senjata unggul. Dan melalui kebutuhannya mereka akan aku kendalikan! 0o-dw-o0 Tanpa mereka semua ketahui. salib… semua menjadi masalah ganda yang berjubal dalam kepala Sang Adipati. Bangsa-bangsa mencarinya karena memang sudah unggul Mungkinkah suatu bangsa bisa jadi unggul hanya karena punya senjata unggul? Hhhh.

Senjata baru. Bersama dengan balatentara Kublai Khan yang melakukan expedisi penghukuman di Singasari. meriam itu. Seperti halnya dengan Majapahit. menaklukkan dan menjajah negeri.senjata-api bertolak dari Tiongkok. nenek-moyang cetbang Majapahit dibawa serta di samping kuda perang dari Mongolia dan Korea3. mengarungi samudra tanpa gangguan. Majapahit semasa Mahapatih Gajah Mada telah mengembangkan senjata api ini jadi cetbang. dibawa oleh Marco Polo dan diperkenalkan di Eropa. sesungguhnya sama nenekmoyangnya dengan cetbang Majapahit. Makin banyaknya orang Eropa berkunjung ke Tiongkok menyebabkan orang lebih mengerti dan mulai mencoba-coba membikin sendiri. Lawan-lawan Majapahit pada mulanya menamai senjata ini “sihir api petir”. semenanjung Iberia. dengan kapal dan senjatanya mereka mulai menguasai jalan laut dan musuh-musuhnya. Perkembangan selanjutnya melahirkan musket. Dengannya mereka mempersenjatai kapal-kapal. Pada tahun 1292 itu juga prinsip. Juga Spanyol dan Portugis akan musnah karenanya sekiranya Tahta Sua tidak segera turun tangan . Cetbang dan kapal unggul Majapahit pada suatu kali telah menghancurkan dirinya sendiri dalam Perang Paregreg. Orang mengetawakan dan mengejeknya. Setelah itu cetbang tidak berkembang lagi. Dengan cetbang. Tahun tolaknya dari Tiongkok pun sama: 1292 Masehi. juga setelah matinya. karena dari bawah ia memancarkan api dan di udara atau pada sasaran dia meledak. kekaisaran Asia Tenggara. dalam hanya dua puluh tahun Majapahit Gajah Mada berhasil dapat mempersatukan Nusantara menjadi kekaisaran Malasya. Musket dibikin dalam bentuk raksasa menjadi meriam. Dengannya Portugis dan Spanyol mengusir penjajahan Arab di negeri mereka.

Gusti. Apa sekarang? Kapal-kapal Islam takut pada kafir-kafir Peranggi dan Ispanya…. Gusti. bukankah telah Kakang ketahui sendiri bagaimana telah kami petaruhkan hari depan pada kejayaan Islam? Bukankah banyak di antara putra-putra kami telah menggunakan nama Islam yang diberikan oleh gurugurunya? Kami biarkan putra kami Raden Said mendalami agama Atas Angin ini. Dalam perjalanan Sang Adipati memerlukan menengok ke belakang. “Kakang Patih. “Bagaimana kira-kira jadinya semua ini nanti?” “Allah Dewa Batara!” sebut Sang Patih tak bisa menjawab.meleraikan dua negeri ini dengan Jus Patronatus atau Padroado. dan sekarang jadi pemuka Islam yang dihormati.” Sang Patih menunduk dan mengangkat sembah. Dan mulailah kapal-kapal mereka tanpa ragu-ragu menjelajahi dunia dengan salib sebagai panji-panjinya. Berapa sudah di antara putra-putra kami. berpakaian seperti orang tidak ber bangsa.” “Patik. yang membelah dunia non-Kristen jadi dua bagian. karena percaya Islamlah yang jaya kelak. Diberinya Sang Patih isyarat agar mendekat Suaranya sayup-sayup di antara gemerincing giring-giring dan derap kuda. sebagian untuk Portugis dan yang lain untuk Spanyol. terdengar ragu-ragu: “Kakang Patih. menaklukkan dan menguasai bangsa dan negeri-negeri yang dianggapnya dalam belah dunia bagiannya…. Tanahnya lebih tandus dari Tuban. .” “Kerajaan pedalaman. bagaimana warta putra mahkota Demak setelah merampas Jepara. wilayah kami?” “Belum banyak yang dapat dipersembahkan. kami sengajakan mengabdi pada raja Islam Demak. hidup sebagai pandita dan pertapa.

“Boleh jadi sudah terjadi perpecahan antara Semarang dan Demak. ya Gusti. untuk membangun sebuah Angkatan Laut?” “Demikian konon wartanya. Sesampainya di alun-alun tiba-tiba Sang Adipati menengok lagi ke belakang.” sembah Sang Patih. Jepara. hancurkan saja bandar itu. Jaraknya pun . keterangan itu harus didapatkan.” “Patik. Kakang Patih. Gusti. sejak kecil Adipati Unus. Setiap ada sesuatu yang mencurigakan. sudah memerintahkan pembikinan kapal perang?” “Baru pendirian galangan-galangan. Gusti. putra mahkota Demak. meneruskan dengan suara lebih keras: “Apakah ada dugaanmu putra mahkota Demak merampas wilayah kami. Sudah sejak lama. sekiranya tak ada lagi tenaga Cina membantu di Jepara. Adipati Unus.” “Patik Gusti. merajai kepulauan dan lautan. Lao Sam nampaknya tetap tenang.Tak punya laut. ditimangtimang oleh Ibundanya jadi Laksamana. Gusti. bertanya waktu menghentikan kudanya: “Apakah putra mahkota Demak. Gusti. Adakah kota Semarang sudah menolak memunggah barang-barangnya maka ia memberandali wilayah kami? Apakah Demak sudah bercekeok dengan Semarang?” “Rupa-rupanya perlu dikirimkan telik. tidak membentuk kekuatan seperti Semarang.” “Dan lebih berhati-hati terhadap Lao Sam.” Sang Adipati tak meneruskan pertanyaannya. Sang Patih melambatkan kudanya sehingga kembali tercecer di belakang. Selmrang membutuhkan bandar sendiri.” Sang Adipati tidak menanggapi.

Segera kirimkan telik. Nampaknya pula sedang ada persiapan membikin cetbang di sana. Juga para pengawal di depan dan belakang. langsung berkendara menuju ke pendopo.” “Apakah menurut dugaanmu Unus berani mengeluari Peranggi dan Ispanya?” “Kuda-kuda itu berhenti. “Brandal-brandal itu hendak beramin jadi satria.” “Pandai-pandai itu tentunya Hindu. bumi selatan. Gusti. Tombak dan perisai mereka bergeletakan damai di atas bumi. raja Islam itu sedang punya persiapan membikin yang berbahaya.sangat dekat dengan Tuban.” “Tidak bisa lain. . Gusti. Gusti. “Konon kabarnya.” “Patik. Dalam tiga hari pasukan Gusti Adipati sudah dapat mencapainya melewati pesisir. Adipati Unus.” “Kalau itu benar. Kudanya digerakkan lagi dan berjalan melewati gapura. Gusti sesembahan. Hancurlah dia! Yang agak mencurigakan justru Jepara. Sang Adipati tak memperhatikan.” Sang Adipati mengangguk-angguk. putra mahkota itu telah bersumpah akan membentengi Islam di belah bumi sini.” Para pengawal gerbang pada bersimpuh dan mengangkat sembah.” “Jadi Islam bisa kerjasama dengan Hindu?” “Nampaknya demikian. Konon putra mahkota Demak. mulai mendatangkan pandai cor dari Pasuruan.

” “Nyata Majapahit tak pernah berhasil melaluinya. jauh dari ujian Ujung Selatan Wulungga.” “Tentu Kakang Patih benar. Gusti.Seorang pengawal menerima kuda dan seorang lain menyediakan punggung untuk jadi anak tangga. nenek patik pernah bercerita tentang kapal-kapal Majapahit.” “Dan kapal-kapal mereka telah melewatinya. Gusti.” . tentulah karena banyak hal lain sedang jadi pikiran Gusti. Sang Patih mengerti masih diperlukan. dan menurut katanya pula Mahapatih Gajah Mada pernah bersembah pada Sri Baginda Kaisar Hayam Wuruk: hanya kapal-kapal yang bisa melalui Ujung Selatan Wulungga tertitahkan untuk menguasai buana. jatuh curam langsung ke neraka. Gusti. mereka telah datang dari balik Ujung Selatan. Nampaknya Gusti kurang mengkaruniakan perhatian. Apakah menurut dugaan Kakang. Ujung Selatan selama ini selalu dianggap jadi batas dunia. Setelah turun dari kuda ia datang menghadap dan langsung mendapat teguran: “Banyak nian yang tak Kakang persembahkan selama ini. Unus dapat mengalahkan mereka? Tanpa meriam dan hanya dengan cetbang bikinan pandai cor Blambangan?” “Ya. Ia turun tapi tak langsung masuk ke dalam.” “Ampun. Ampun. Patik telah persembahkan semua. Peranggi dan Ispanya bukan hanya melalui. bagaimana patik harus persembahkan? Waktu patik masih kecil. Tak ada daratan dan lautan lagi di sebaliknya. Datang langsung dari neraka itu! Kapal-kapal Unus barangkali masih dalam angan-angan. Gusti. ya Gusti.” “Tidak pernah.

Mengapa tidak mau berbagi?” “Konon wartanya. Mereka bukan sekedar mencari dagangan dan rempah-rempah. Ia dapati Sang Adipati sedang duduk berfikir dengan wajah menekuri lantai. seorang penunggang kuda telah menyusulnya. Mesir. Gusti. baru melihat dunia. kecuali orang-orang Tartar yang dibinasakan itu. Belum lagi sampai ke kepatihan. Mereka datang ke mana-mana untuk mencari negeri asal rempah-rempah.” “Mengapa musti mengalahkan. mereka tadinya bangsa miskin.” “Nampaknya Peranggi dan Ispanya lain daripada yang lain. mulai merabai dan merampasi semua barang apa yang baru . dan Melayu. Benggali dan Langka. Sekarang baru keluar dari kemiskinan. Mereka hendak merampas semua untuk dirinya sendiri.” “Gusti. “Mereka sudah lewati Ujung Selatan Wulungga. Kakang Patih? Bukankah kapal-kapal asing datang kemari bukan untuk mengalahkan kita? Tak pernah yang demikian terjadi sejak nenekmoyang. Gusti. Sang Patih. Sang Adipati sedang menunggunya di dalam kadipaten. Ia mengambil kudanya dari tangan seorang prajurit pengawal dan keluar meninggalkan kadipaten. mengangkat sembah. Jawa dan Tuban sendiri.” “Kerakusan tiada tara. Turki. juga semua yang tertinggal.Sang Adipati berbalik meninggalkan Sang Patih dan masuk ke dalam kadipaten. Ia berbalik menuju ke kadipaten. Arabia. Tentu mereka telah kalahkan kapal-kapal Parsi. Dan duduklah ia di bawah mengangkat sembah. Kakang Patih. Mereka akan kalahkan juga kapal-kapal Aceh.

” Suaranya menjadi pelahan mendekati bisikan: “Tapi Adipati Tuban tidak gentar.” “Kerakusan tidak mengenal kenyang. Sebaliknya. seperti si lapar melihat sajian. Kerakusan yang mau berkuasa dan memiliki untuk diri sendiri semata. Bagaimana harus memahami ini. Hanya awas-awas pada yang di barat sana: Semarang. Kakang Patih. Jepara.” “Sekarang rempah-rempah juga yang memanggil kerakusan yang tak mau berbagi.” Sang Adipati tersenyum. sepanjang sejarahnya selalu hidup dalam kemiskinan dan perbudakan.” Sebentar ia berhenti bicara. Lao Sam.dilihatnya. Mereka yang datang mencari rempah-rempah yang jaya dan kaya. yang mahal. Kadang-kadang memang memusingkan untuk memahami hal-hal baru. “Si lapar melihat sajian. wajahnya berseri: “Ya. padasuatu kali mereka. Gusti. hanya para pendita bijaksana dapat menerangkan. Kakang. matanya berkilau. Semoga mereka telah kenyang dalam perjalanan. Rasa-rasanya telah dapat kami dengar bunyi meriamnya. manusia berkulit putih lucu itu. Gusti. Kakang?” ”Itulah suratan tangan bangsa-bangsa. kelaparan unggul. Kapal unggul. memekakkan dan melumpuhkan burungburung di cakrawala. . mereka yang justru memiliki negeri yang menghasilkan rempah-rempah. Demak. tersenyum menimbangnimbang. Perbandingan yang indah. membunuh dan menenggelamkan.” “Kakang Patih benar. ya Gusti. Dan mereka akan datang ke sini juga akhir-akhir kelaknya. Ya barangkali benar begitu. Mereka makin mendekati Tuban. apa saja yang indah.

kejadian-kejadian besar telah datang silihberganti. jauh dari Tuban. Bukan sorak kemenangan. Pada 1492 Kristoforus Colombo telah menyeberangi samudra Atlantik. Kakang Patih. Angkut semua yang ada. semakin riang. Semua. 0o-dw-o0 Pada waktu ia tenggelam dalam pikirannya. “untuk Tuban. Ke Tuban. Kakang Patih. permata. Tak lama kemudian Ispanya dan Portugis merajai benua baru itu.seperti bawang. jauh.” “… mereka akan datang membawa kekayaan. anak bangsa unggul itu. akan berjatuhan. dengan panjipanji Jus Patronatus yang dikeluarkan oleh Tahta Suci pada . baik di negeri Portugis maupun Ispanya.” 1 Sang Adipati masuk ke peraduan dan memusatkan seluruh pikirannya untuk mendapatkan keuntungan dari perubahan baru tanpa harus mengurangi keuntungan yang bisa didapatkan dari kapal-kapal Islam. dari kapal-kapal mereka. pada 1498 pelaut Portugis Yasco da Gama mulai menjelajah dunia Timur. akan datang kemari. mereka tidak akan mendatangkan kebinasaan atau kehancuran…. Kapal-kapal mereka akan terikat pada patok dermaga Tuban.” “Allah Dewa Batara membimbing Gusti Adipati Sesembahan. perak. berhamburan di Tuban. kemakmuran melimpah. Itu perintah kami. menemukan benua baru Amerika. sutra. bukan sorak-sorai minta beli lebih banyak! Rempah-rempah! Rempah-rempah! Kerahkan semua armada niaga. tembaga. Nusantara dan Tiongkok. mas. intan. Ke Mamuluk. Sudah kudengar mereka bersorak-sorai.” Sekarang ia tertawa. Enam tahun kemudian.

Dahulu ia diangkat untuk mengurusi soal-soal agama . yang dilemparkan dan diarahkan dengan laras dengan tolakan ledakan. 0o-dw-o0 3. Sebuah istana Kaisar. Dari jalanan hanya nampak atapnya yang dari sirap jati. Sebuah adalah kadipaten. Sekarang gedung kayu besar megah itu tidak lagi ditinggali oleh Sang Penghulu. Melalui pagar setinggi tiga depa itu orang tak dapat meninjau ke dalam. kosong. Jalan laut kapal-kapal Islam mulai terdekat. Penghulu Negeri berasal dari seberang. penghulu agung ummat Buddha.4 Mei 1493. yang lain gedung penghulu negeri ummat Islam Tuban. terdapat dua istana. kelabu kehitaman. Tetapi beberapa hari belakangan seluruh pelatarannya dikelilingi pagar papan kayu tinggi. Penghuninya. yang lain istana Sang Dharmadhyaksa. telah dipecat oleh Sang Patih atas perintah Sang Adipati. Kapalnya memasuki Malabar dan Goa dan ikut serta pula kekuasaannya. Menjelang Pesta Lomba Seni dan Olahraga Dulu di Wilwatikta. ibukota Majapahit. Sekarang di Tuban Kota terdapat dua gedung utama. 0o-dw-o0 Turunan kuda Korea di Jawa kemudian disebut kuda Kore. Senjata ini didasarkan atas prinsip roket. Pangkalanpangkalan diambil-alih dengan meriam….

I dayu. Beberapa pemuda telah bermimpi akan melarikannya. Berita telah pecah ke seluruh kota: Bidadari Awis Krambil. Setelah pelataran dipagari tinggi orang justru pada datang dalam bondongan dan menggerombol. Dan tak lain dari kepala desa Awis Krambil sendiri yang merencanakan dan menitipkannya. Desas-desus meniup sejadi-jadinya: dia datang untuk takkan balik ke desanya lagi – sebagai bunga perbatasan pasti dia akan diselir oleh Sang Adipati. dibiayai oleh seluruh desa. Sebagai selir dia takkan dapat dipuja atau dikagumi lagi. Desas-desus telah datang mendahului. Sebelum bidadari itu jadi milik pribadi Sang Adipati orang memerlukan datang untuk membelainya dengan pandangnya. ia sendiri yang telah . Dengan keputusan sendiri ia telah meracuni guru-pembicara itu. Tapi rombongan seni dan olahraga dari Awis Krambil belum lagi tiba. Sekarang gedung utama kedua itu tertinggal kosong. terang-terangan ia menyesali wejangan ipendiang. mencoba dapat mengintip ke balik dinding pagar. juara tari dua kali berturut. Hanya mereka yang melaksanakan perintahnya tahu benar duduk-perkaranya: Wejangan terakhir Rama Cluring telah membawa desa Awis Krambil ke tepi kebinasaan. telah datang ke Tuban Kota untuk menggondol kejuaraan ketiga kalinya. Tetapi ia menyia-nyiakan agama-agama lain yang masih dipeluk oleh penduduk negeri Tuban. Seorang pengawal perbatasan berkuda ikut menyaksikan. Ia juga diangkat untuk jadi guru putra-putra Sang Adipati. memercik ke seluruh kota seperti kebakaran pada padang ilalang.penduduk dan mengajarkan Islam pada anak-anak pembesar. Dan pada upacara pembakaran jenasahnya. Rombongan yang belum datang itu tak tahu-menahu. Ia mengakui di depan umum.

Serulingnya melengking. mengkilat coklat kehitaman seperti kayu sawo muda. nenek. pada Rama Cluring. kekasih semua dewa. Dan desas-desus itu perlu untuk mengingatkan mereka pada Awis Krambil. membatalkan rencana perkawinan mereka. Gendangnya bertalu-talu menyampaikan berita. kakek. Ia tahu pasti segala sesuatu tentang Awis Krambil telah sampai pada Sang Patih dan Sang Adipati. Umbulumbulnya jelas turun-naikdi udara mengundang semua untuk senang menerima kedatangannya. tidak berkemben. Debuan jalanan mengepul tak kenal ampun. Rombongan Awis Krambil telah nampak dari kejauhan.meracunnya untuk menghindari murka Sang Adipati. Penyambut sepanjang jalan bersorak-sorai gegap-gempita. Wanita-wanita dalam rombongan juga tidak berbaju. Pria-pria tak berbaju dengan keris terselit pada pinggang. pertanda menempuh perjalanan jauh. Mereka berdua telah merawat Rama Cluring sampai matinya. Bocah-bocah terbang berlarian untuk menyatakan kegembiraan atas kedatangan juara negeri. dan: tindakannya yang bijaksana. Tubuh mereka. Awis Krambil! Dirgahayu Idayu!” Bocah-bocah pada berlarian menyongsong dengan tangan melambai-lambai. Galeng dan Idayu. perempuan. “Dirgahayu. Laki. biar Sang Adipati segera dapat menjatuhkan hukumannya. telanjang atau setengah telanjang. bertopi . destar terikat longgar. kanak-kanak. Dan umbul-umbul di kejauhan semakin cepat naik-turun. Mereka harus digiring ke Tuban Kota. Orang-orang kota yang menyambut pada gerbang pinggiran Kota ikut bersorak. menangguhkan sampai sehabis Lomba Seni dan Olahraga. Setelah itu ia datang pada Idayu dan Galeng.

“Tahukah kalian aturan masuk ke Kota?” tanya penyambut resmi itu. Penyambut resmi itu mengangkat tangan tanpa melambaikannya. mengagumi kecantikan. menurun semua diam mendengarkan: “Buka kuping. keindahan tubuh dan buahdadanya. Pemuda-pemuda penyambut segera mengepung rombongan. “Belum! Belum!” jawab rombongan seperti pada tahun yang lalu. Paling sedikit dengan kemban.” Dan seperti pada tahun-tahun sebelumnya juga sekarang pemuda-pemuda bersorak mengejek: “Ho-ho-ho. Penyambut resmi melambaikan tangan kanan. Gusti Bendoro Penghulu yang membuat aturan sudah dipecat!” . sekarang bertolak pinggang. pendatang dan penonton. harus menutup dadanya.caping. dengarkan tajam-tajam. Atas titah Sang Patih. Semua melambaikan tangan bersorak-sorai. Dengan suara berwibawa ia angkat bicara: “Dirgahayu Awis Krambil!” “Dirgahayuuuuuuu. Begitu sampai ke gerbang perbatasan Kota. kecuali pemuda-pemuda yang sedang menelan tubuh bidadari Awis Krambil. maju ke tengah jalan menghentikan rombongan. semua bunyibunyian meriuh gila. sedang destarnya disuntingi bunga kenanga. dadanya terhiasi selempang selendang sutra. kecuali anak-anak di bawah umur. Seorang punggawa kadipaten. juga seperti tahun-tahun yang sebelumnya. Soraksorai beku.” semua. merabai tubuhnya dengan pandang rakus. Semua bunyi-bunyian padam. meledak serentak. barangsiapa dari pedalaman memasuki Kota harus memperhatikan aturan ini: semua wanita. untuk lebih dahulu membelaikan pandang pada Idayu.

Serulingnya melengking. seakan-akan itu pun sudah jadi bagian dari upacara. mengkilat coklat kehitaman seperti kayu . Rombongan Awis Krambil telah nampak dari kejauhan. Dan orang-orang tua pada menekur mengenangkan masa mudanya. Gendangnya bertalu-talu menyampaikan berita. setelah keluarnya larangan. Semua wanita pendatang melakukan gerakan-gerakan membantah kehendak para pemuda. Gamelan semakin riuh dan tarian semakin indah. Tubuh mereka. “Jangan biarkan Sang Surya malu melihat kalian. telanjang atau setengah telanjang. karena seluruh Kota sudah menunggu.Begitu sorak ejekan padam. Umbulumbulnya jelas turun-naikdi udara mengundang semua untuk senang menerima kedatangannya. penyambut resmi menirukan: “Tetap berlaku! Ho-ho-ho!” ejekan semakin gemuruh. Maka terjadilah tarian untuk merebut dan mempertahankan kemban. Cepat.” Maka gerak-gerik perawan yang hendak berkemban dan pemuda-pemuda yang menghalangi berubah jadi tarian yang sesungguhnya. wanita-wanita Awis Krambil. Penyambut sepanjang jalan bersorak-sorai gegap-gempita. Kanak-kanak bersorak dan berjingkrak dan gamelan mulai ditabuh riuh. “Nah. “Dirgahayu. Ambil kemban dan pakailah!” Upacara selesai. Kalian sudah dengar peraturan ini. Pemuda-pemuda menghalangi mereka pemakaian kemban. Awis Krambil! Dirgahayu Idayu!” Bocah-bocah pada berlarian menyongsong dengan tangan melambai-lambai.

maju ke tengah jalan menghentikan rombongan. keindahan tubuh dan buahdadanya. sekarang bertolak pinggang. untuk lebih dahulu membelaikan pandang pada Idayu. nenek. . Semua melambaikan tangan bersorak-sorai. destar terikat longgar. tidak berkemben. Laki. juga seperti tahun-tahun yang sebelumnya. Dan umbul-umbul di kejauhan semakin cepat naik-turun. Dengan suara berwibawa ia angkat bicara: “Dirgahayu Awis Krambil!” “Dirgahayuuuuuuu. Bocah-bocah terbang berlarian untuk menyatakan kegembiraan atas kedatangan juara negeri. dadanya terhiasi selempang selendang sutra. Orang-orang kota yang menyambut pada gerbang pinggiran Kota ikut bersorak. pendatang dan penonton. Wanita-wanita dalam rombongan juga tidak berbaju. tanya “Belum! Belum!” jawab rombongan seperti pada tahun yang lalu. Debuan jalanan mengepul tak kenal ampun. Pemuda-pemuda penyambut segera mengepung rombongan. mengagumi kecantikan. kecuali pemuda-pemuda yang sedang menelan tubuh bidadari Awis Krambil. ‘Tahukah kalian aturan masuk ke Kota?” penyambut resmi itu. kekasih semua dewa. Pria-pria tak berbaju dengan keris terselit pada pinggang. sedang destarnya disuntingi bunga kenanga. kakek. merabai tubuhnya dengan pandang rakus. bertopi caping.” semua. Penyambut resmi itu mengangkat tangan tanpa melambaikannya.sawo muda. Soraksorai beku. semua bunyibunyian meriuh gila. Semua bunyi-bunyian padam. kanak-kanak. perempuan. meledak serentak. Begitu sampai ke gerbang perbatasan Kota. pertanda menempuh perjalanan jauh. Seorang punggawa kadipaten.

Semua wanita pendatang melakukan gerakan-gerakan membantah kehendak para pemuda.” Maka gerak-gerik perawan yang hendak berkemban dan pemuda-pemuda yang menghalangi berubah jadi tarian yang sesungguhnya.Penyambut resmi melambaikan tangan kanan. harus menutup dadanya. Kalian sudah dengar peraturan ini. seakan-akan itu pun sudah jadi bagian dari upacara. Rombongan Awis Krambil semakin tebal dan panjang. Maka terjadilah tarian untuk merebut dan mempertahankan kemban. wanita-wanita Awis Krambil. Bahkan kereta pembesar mengalah . Ambil kemban dan pakailah!” Upacara selesai. barangsiapa dari pedalaman memasuki Kota harus memperhatikan aturan ini: semua wanita. “Jangan biarkan Sang Surya malu melihat kalian. Pemuda-pemuda menghalangi mereka pemakaian kemban. karena seluruh Kota sudah menunggu. Jalanan penuh-sesak. Dan orang-orang tua pada menekur mengenangkan masa mudanya. Kanak-kanak bersorak dan berjingkrak dan gamelan mulai ditabuh riuh. Cepat. kecuali anak-anak di bawah umur. dengarkan tajam-tajam. setelah keluarnya larangan.” Dan seperti pada tahun-tahun sebelumnya juga sekarang pemuda-pemuda bersorak mengejek: “Ho-ho-ho. “Nah. Paling sedikit dengan kemban. Gusti Bendoro Penghulu yang membuat aturan sudah dipecat!” Begitu sorak ejekan padam. Atas titah Sang Patih. penyambut resmi menirukan: “Tetap berlaku! Ho-ho-ho!” ejekan semakin gemuruh. menurun semua diam mendengarkan: “Buka kuping. Gamelan semakin riuh dan tarian semakin indah.

iring-iringan berhenti. masukkan semua rombonganmu. Seorang penyambut berdiri di tengah-tengah pintu. kain itu tak mencapai matakaki. Ia berkain. Karena tubuhnya tinggi.” jawab kepala desa. Di tangannya ia membawa pedang terhunus.” jawab kepala desa yang melompat ke depan. “dari desa perbatasan Awis Krambil. Sepanjang jalan seruan dirgahayu berderai bersambutsambutan. Ia tak mengenakan selendang sutra yang menyelimpangi dada. Dan pintu pagar tertutup rapat. Pintu pagar terbuka lebar. pelancang?” gertak penyambut sambil mengamangkan pedangnya. Gerobak pada melarikan diri sebelum terseret dalam kepadatan manusia. Sampai di depan bekas gedung Penghulu Negeri yang terpagari papan kayu tinggi. memasang kuda-kuda dengan tombaknya. .tanpa menuntut simpuh dan sembah.” Dan dengan demikian rombongan Awis Krambil masuk. “Datang ke kota untuk merebut kejuaraan. “Dari mana semua ini. dan pergi nyah kau dari sini. Dadanya telanjang. Tidak semudah itu orang desa!” “Berilah kami kesempatan!” “Baik. bergalau memanggil-manggil Idayu. Penonton bersorak-sorai. maka membikin onar di Kota?” “Kami. Berikanlah pintu pada rombongan terbaik seluruh negeri ini. Dua orang pengawalnya maju.” “Apa keperluanmu. “Ahai! Datang untuk merebut kejuaraan. kecuali bukan peserta. Di kiri dan kanannya berdiri pengawal bertombak dan berperisai.

‘Desa kita telah dicemarkan oleh mendiang Rama Cluring’. Latihan pun sudah dimulai Di bandar saudagar-saudagar. Suasana hangat membubung di atas bumi dan kepala manusia Tuban Kota. Galeng dan Sang Adipati Penguasa Tuban itu masih juga sibuk menata pikiran menghadapi kemungkinan datangnya Portugis dan Spanyol. Seorang demi seorang dari punggawa desa itu mendatangi mereka. Datang berarti bidadari Awis Krambil akan terambil jadi selir. memaksa dengan segala macam alasan. Galeng pun sibuk melatih otot-ototnya. ‘Kehormatannya harus dipulihkan. Mereka tetap menolak. malahan kapalnya sendiri.0o-dw-o0 Dua hari rombongan peserta Awis Krambil telah diasramakan. kepala desa itu . Semua wakil desa-desa telah datang. wanita sebelah kiri. mereka hendak melangsungkan perkawinan. Kemudian tak lain dari kepala desa sendiri yang datang. Mereka turun ke kota dan memasuki asrama dengan hati berat. Taruhan itu sampai mencapai seluruh muatan kapal. asing dan Pribumi mengadakan taruhan satu sepuluh: datang-tidaknya Sang Adipati ke asrama untuk mengunjungi Idayu. katanya. Juga Idayu tak kurang sibuknya: berlatih dan melakukan pekerjaan untuk kepentingan bersama: memasak dan membersihkan asrama. Persiapan perkawinan mereka kembali harus disimpan di dalam lumbung. dan’. Dan hanya tiga orang saja sekarang tak tahu tentang itu: Idayu sendiri. Punggawa-punggawa desa Awis Krambil semakin giat meniup-niupkan desas-desus. Pria menempati bangunan sebelah kanan.

Kembalikan kehormatan Awis Krambil! Ia hanya bisa mendeham menerima paksaan kepala desa. Ia menyerah tanpa rela hatinya.” “Kau juga. mengancam akan menyerahkannya pada pengawal perbatasan. dan ia harus menggondol kemenangan. Tahulah ia: otot-otot yang perkasa sama sekali tanpa daya menghadapi kekuasaan kepala desa. Dalam segala ukuran Boris kalah daripadanya. Boris. seorang pengejek yang tajam menyayat kata-katanya. “Kau datang lagi ke Tuban Kota tahun ini.menuding Galeng. 0o-dw-o0 Galeng sedang menimba sumur asrama waktu didengarnya teguran seseorang: Ia menengok. ‘kau bertanggungjawab juga dalam pencemaran itu!’ Galeng membantah dan punggawa itu tetap menudingnya. Sebelum pergi kepala desa masih mengancam: ‘Kau harus menggondol kemenangan itu di Tuban Kota nanti. “Kang Galeng. namun semangatnya untuk menang memancar kemilau pada matanya. dikenal bernama Boris. Orang itu ternyata penantangnya dari desa lain. Nama lengkapnya Borisrawa. Galeng meletakkan timba dan menghampirinya. bibirnya tertarik kejang mengejek: “Kau datang untuk menang? Atau untuk kehilangan Idayu?” .” Boris milirik tajam.” katanya lagi.

Sumbang. Ia pun masih dapat mengingat penutupan perlombaan tahun lalu: semua gadis perbatasan diperintahkan menari di pendopo kadipaten. Satu dugaan telah mendorongnya ke pojok: bukan salah seorang dari para punggawa itu. Ia masih dapat mengingat waktu Idayu menolak. Tak ada penduduk desa diperkenankan hadir. Idayu. Kang – rupanya kau sudah relakan dia. dan rapat desa diadakan dengan terburu-buru. Dan kemudian desasdesus ini mata Sang Adipati tak lepas-lepas dari gadisnya. ya Kang?” Boris masih juga mencoba membakar dan menganiaya hatinya.” tetaknya. “Betapa indahnya kehidupan di desa sendiri. Sekarang jelas padanya arti sindiran-sindiran selama dalam perjalanan dan memuncak dalam asrama ini. Sekarang gelombang sindiran tentang kehilangan Idayu. Dan pesan kepala desa dan anggota-anggota majelisnya untuk turun lagi ke gelanggang perlombaan. pandang wanita yang mengagumi dan . Dua masalahnya belum lagi terpecahkan: menang dan lepas dari hukuman Sang Adipati. “Ya. Galeng mencoba tersenyum. tapi Sang Adipati sendiri bakal merampas kekasihnya. “Idayu.” jawabnya hambar. Siapa bakal mampu merampas kekasih daripadanya kalau bukan punggawa? Ia masih dapat mengingat kebencian Rama Cluring terhadap para punggawa – kebencian yang bukan tanpa alasan. Sebelum kepergian terakhir ke Tuban ia selalu merasa bangga melihat pandang pria yang memberahikan kekasihnya.Darah Galeng tersirap.

tentu juga Idayu. terutama Sang Adipati sendiri bukan sekedar gumpalan otot perkasa dan kecekatan menggunakannya. hendak berdamai dengan hati sendiri. “Gigimu masih putih. Dia dan majelisnya telah giring kami ke Tuban Kota. Jauh lebih dari itu: kekuasaan atas hidup dan mati. Hadapi aku nanti di gelanggang. Giginya kemudian muncul. itu pun beralasan. . ke hadapan Sang Adipati sendiri. Seorang pun takkan bakal mampu merampas kekasihnya selama otot-otot dan kecekatannya masih dapat diandalkannya. nampak dan gemerlapan putih. Sekiranya kau marah. Barangkali hanya aku yang berani menyatakan ini terang-terangan padamu. Kalau dia lepas dari tanganmu. Jangan di sumur sini. percuma. kang? Marah barangkali?” Begitu dilihatnya Galeng menjatuhkan pandang ke tanah basah berbatuan segera ia meneruskan: “Tak ada guna marah Kang. Sekarang ia tersedar. Kalau dia libatkan diriku pada Rama CIuring. Apa akan tetap kau biarkan putih seperti itu?” “Gigimu pun masih putih. Kang. Kapan kau hitamkan?” “Bagiku tidak soal. kaum punggawa. “Mengapa kau diam saja.mencemburui. Galeng tersenyum. apa gigimu akan tetap putih juga?” Galeng meninggalkan sumur dengan kesakitan dalam hatinya. masuk ke dalam asrama.” Tiba-tiba ia menetak lagi: “Aku tidak mengharapkan perawan atau jandanya Idayu. Sekali ini kemarahan memang membuncah. Boris.” Di luar dugaan Boris. Aku memang penantangmu. Dan ia tak ingin terjadi perkelahian. Apa lagi ia tahu Boris sengaja hendak mengganggunya. Tapi kembali ancaman kepala desa memasuki ingatannya. Kang. Ia tak jadi menimba.

Kau sendiri lebih tahu dari aku. pastilah nanti sehabis perlombaan.” ‘Teka-teki yang buruk. Mati.” “Apa maksudmu sesungguhnya?” ia tinggalkan periuk dan mendekati teman masaknya. tanpa tawa tanpa candanya. Harus! Kemenangan saja yang barangkali dapat melepaskan kami berdua dari hukuman. . Dia akan kehilangan dua: kejuaraan dan Idayu. tanpa dia. Dia tetap akan kehilangan. terhadap Sang Adipati. Tapi Rama CIuring tidak keliru. Kalau dia menang. dia . segala tingkah laku mereka tak boleh disalahkan. tapi Idayu? Mungkinkah dia bisa balik ke Awis Krambil bersama denganku? Betapa bakal sunyi hidup ini tanpa Idayu. Bebas! Bebas! Mungkin aku bisa bebas. mereka tak pernah berbuat sesuatu untuk kawula. dia akan kehilangan satu: Idayu saja. Hukuman. Tak ada tawaran lain. kau saja. sekalipun hanya dengan kata-kata.” Idayu menanggapi dan belum begitu menyedari duduk-perkara.benar. Maka aku dan Idayu harus menang. Ia pun tahu betul: ada aturan yang membebaskan setiap peserta perlombaan yang diasramakan dari segala tuntutan. Tidak sekarang.? 0o-dw-o0 Idayu sedang masak waktu mendengar berita itu: “Galeng bingung! Galeng bimbang! Dia akan kalah di gelanggang nanti. terhadap seorang raja. “Bukan teka-teki. Aku dan Idayu akan ditindak. Dan apa pula arti duka-cita seorang anak desa seperti kami bagi seorang Adipati yang berkuasa atas hidup dan mati….Setiap orang tahu akibat gugatan terhadap punggawa.

Matanya berpendaran pada langit-langit dapur. hitam diselaputi jelaga tipis. Temannya memungut centong dan mencucinya dalam jambang air. Idayu. Di desamu sana.“Maksudku. manis dan membujuk: ‘Kecakapan dan kecantikanmu.” katanya lagi sambil melewatinya. Tidak kurang tertarik. belum ada lagi Nyi Ayu…. di desa ataupun kota. mengejang jari-jarinya pada pipi. tinggi semampai seperti puncak gunung kapur. mencengkeram udara kosong.” Idayu menarik ke dua-dua lengannya jadi siku-siku. Juga semua orang tahu harga kecantikan dalam percaturan kekuasaan. Sampai sekarang kabarnya Awis Krambil belum juga mendapat tambahan Raden Bambang. Idayu. “Ya. Di sini orang melihat kau hanya pada wajahmu. Idayu.” Idayu membeliak. Idayu. Centong pada tangannya luruh ke tanah. “Tak ada pilihan lain bagimu. Satu . Dalam mata batin Idayu kini terpampang dirinya sendiri.” Teman masak itu mendekatkan bibir pada kuping Idayu: “Kau akan tinggal di keputrian. kemudian membetulkan letak kayu bakar. Idayu. semua orang melihat betapa indah dan bersinar kulitmu. agung kalau sudah menari. la mengerti betul kata-kata temannya itu. memikat. akan membantu kau mencapai segala yang jadi impianmu. Tidak lain dari kau sendiri yang lebih mengerti. Sebagai gantinya muncul kepala desa yang berkumis jarang dan kata-katanya yang lembut. Dan semua orang menilainya sebagai cantik dan tanpa tandingan dalam menari. Dan ia diam. Wajah temannya tak nampak olehnya. pemenang tunggal akhir-akhirnya Gusti Adipati juga.

Asrama itu sendiri terletak di tentang alun-alun. . Damarsewu pendek menerangi semua pojokan. Idayu masuk ke bangsal wanita. terutama Sang Adipati sendiri. Dan ia masih dapat menangkap sindiran dari sana-sini. berbisik-bisik. menggonggong dan melolong seperti anjing di musim kawin. Lebih dari itu: sedang tersenyum pada si pemilik hati masing-masing. Idayu! Idayu! Hati mereka berseru-seru. Dan malam itu setelah mengikuti pelajaran tatakrama kerajaan bagaimana harus berlaku di hadapan para punggawa. Hari semakin gelap. Kelelahan berlatih dan bekerja membikin mereka terlalu rindu pada bantal. Dan setiap orang di antaranya punya harapan: seorang dewa pemurah akan mengkaruniakan gadis perbatasan itu pada dirinya. tak seberapa jauh dari gedung kadipaten. Tanpa bicara ia rebahkan tubuhnya di antara kawan-kawannya wanita. Di depan asrama orang semakin banyak datang. Beduk mesjid Kota dan mesjid pelabuhan telah bertalu-talu. Di sela desau dan deru ombak yang mendesak daratan terdengar azan bilal. Hampir pada setiap kepala mereka hidup satu gambaran: Idayu yang sedang menari pada perlombaan tahun yang lalu. mencari para dewa yang masih punya persediaan kemurahan…. Di luar asrama orang-orang terus juga menggerombol dengan harapan pintu pagar sekali-sekali dibuka dan dapatlah pandang dilemparkan ke dalam. semua calon petanding menuju ke bangsal ketiduran masing-masing.doa kesejahteraan membubung dari dalam hatinya. senyum seorang bidadari pujaan.

berdiri sederhana di pinggir hutan. Dan kekasih yang dempal kuat itu muncul dalam perasaannya seperti seorang bayi seminggu yang membutuhkan perawatannya. . berkilauan tertimpa sinar damarsewu. Galeng sendiri yang mengusulkan pendirian pondok itu. Dan ia tak dapat memberikannya. Aku sudah temukan daerah enau. Segala keindahan masa kemarin serasa akan bubar-buyar dari angan-angan kekasihnya. Ia rasakan duka-cita yang sedang menerjang kekasihnya. ‘Ayam tak perlu banyak/ kekasihnya menyarani. dan membuka huma seluas-luasnya untuk gogo dan palawija.“Siapa seminggu kemudian akan memasuki keputrian?” dan tawa terkikik-kikik menyusul berpantulan dari bibir ke bibir. Deburan laut terdengar semakin nyata dan semakin nyata. Dayu! Kita akan bikin gula dan tuak sebanyak-banyaknya! Ia simpan gambaran itu sebagai suatu yang terlalu mahal sekarang ini. Idayu diam saja dan hanya dapat berdoa. Yang tertinggal akan hanya sampahnya yang berhamburan tak menentu. Kadang berlomba dengan desah angin yang merobosi sirap. Dan sepasang anjing yang cerdas. Tanpa disadarinya matanya telah melepas mutiaramutiara. Seorang demi seorang telah mulai tertidur. Dan mereka berdua akan membuka hutan di pinggiran desa itu. Tiga ekor induk dan seekor jago sudah cukup untuk permulaan. Akhirnya tenang. Sudah aku ketahui ada daerah enau. Kelak atap ilalang akan kuganti dengan injuk. ‘kecuali kalau hutan itu sudah terbuka luas. Sampai dengan kemarin ia masih terbiasa membayangkan sebuah pondok bambu beratap ilalang.

Kalau nanti. mendadak telah berdiri di hadapannya dan menyentuh dirinya. tegap. semua rambutnya telah putih. Tiba-tiba ia tersedan pelan. Idayu. Destarnya saja menyangkal keningratannya. Kekasihnya itu merangkak pergi bersama dengan impian dan kesakitan sendiri. terpasang pada bibir – ia memberi isyarat agar tak ada sesuatu bunyi. orangtuanya sendiri pun tidak. Ia menggeragap bangun. Ah. Gelang mas menghiasi lengan. lebar. sangat pelan. Kang Galeng! Bahkan kekasihnya itu tak berani menengok untuk memandangi buat terakhir kali. Ia pandangi anak itu dari balik selaputan air mata. dan Galeng dihalau dari hadapannya. Dirinya sendiri tidak dapat berbuat apa-apa. Galeng. tetapi dalam hatiku kekuatiran yang merajalela. Telunjuknya. berkilauan dengan hiasan perak. Apa pula arti air mata bagi Sang Adipati? Sedang nyawa orang pun miliknya? Ia tahu. Gadis Awis Krambil itu melangkah ke sebuah damarsewu dan membacanya: “Idayu. di tangan Sang Adipati tak ada orang boleh menyentuh dirinya. kekasih si Kakang. Idayu. Dan sebelum Idayu sempat bertanya ia telah keluar dari bangsal wanita. gagah. Sudah terlalu banyak cerita tentang raja yang menghendaki perawan cantik dan menikam kekasih perawan dengan tangan dan keris sendiri. menang . bertolak pinggang. yang bercincin mas. Seorang bocah lelaki. Di luar sana malam. Ikat pinggangnya dari kulit. karena ujung-ujung pengikatnya terkanji kaku. Masih dilihatnya bocah itu berpakaian ningrat. kekasih si Kakang. Galeng tidak. Jangan kaget karena datangnya lontar ini.Kemudian Sang Adipati muncul dalam mata batinnya. berumur empat belasan. Dengan sikap rahasia si bocah menyerahkan secarik lontar.

Memang semua orang sudah bicara. ia tekuk. Apa kau dan aku bisa perbuat. Idayu. kepala di pintu. Hyang Widhi mengabulkan.atau kalah dalam pertandingan. tahu-tahu Gusti Adipati menghendaki dirimu…. Kang. Dari dalamnya ia keluarkan selembar lontar dan sepotong besi menggurit. Gerombolan orang di luar asrama sudah lama bubar dengan menyemaikan harapan untuk hari esok. kakang si adik. Kang. Ia merangkak ke ambin dan turun lagi mengambil kantong tipis dari anyaman bambu. Kelak kau akan terpilih jadi kepala desa. “Kakang Galeng.” . Kang? Gusti Adipati tak dapat kita hadapi. Dengan penggurit itu ia mulai menulis. Si bocah menongolkan menyerahkan lontar balasan. Setelah selesai disekanya dengan jelaga pelita dan muncul tulisannya. Lontar itu diciumnya. Semua orang sudah tahu. Dalam bangsal pria. Ia lepaskan subang kiri dari kuping dan membuka cepuknya. Idayu Damarsewu tetap menyala. pujaan si Kakang. Kang. lampu harus tetap menyala dari surya tenggelam sampai terbit…. Jangan malukan aku dengan kekalahan. kepala desa Awis Krambil. bagaimana akan jadinya?” Perawan perbatasan itu menghela nafas panjang. si bocah Pada menyerahkan lontar balasan pada Galeng. Aku akan jadi si embok lurah. Semoga yang ini tidak akan terjadi. Juara gulat tahun lalu itu tanpa sabarnya segera membacanya. Menurut aturan asrama. kemudian ia gulung kecil. ya Kang? Jangan pikirkan yang lain-lain kecuali pertandingan. Gulungan kecil lontar itu dimasukkan ke dalamnya subang itu dikenakannya kembali.

Lengannya yang bergelang mas diangkatnya semakin tinggi untuk memamerkan perhiasannya. “Para mbokayu calon juara!” katanya lantang tanpa ragu-ragu. Pada berdiri tegak. Kedua untuk membangunkan para pekerja pelabuhan. Dan yang . Cepat-cepat ia masuk ke ruangan tidur.” “Mengapa dipukul terus seperti panggilan perang?” seseorang bertanya. jangan ribut. Ia angkat lengan. Apalagi di malam hari seperti ini. jangan gaduh. terbakar. Canang itu memang belum ada pada tahun yang lalu. para mbokayu calon juara! Artinya. Bocah itu lebih suka berada di bangsal wanita. Juara gulat itu mengangguk. dan bocah itu pergi menghindar. Aturan baru. Baru dua tiga langkah ia masuk terdengar canang bertalu tiada hentinya. Tidak ada kerusuhan. Pertama-tama sebagai pemberitahuan pada para pedagang pelabuhan supaya siap-siap dengan barang dagangannya. memberi isyarat agar semua tenang kembali. Ke sana pula ia pergi. bertanya satu pada yang lain: bunyi canang tak pernah masuk dalam acara. meneruskan kewajibannya meronda ke sekeliling asrama. jadi abu. Kemudian terjadi yang diduganya: keributan terbit di dalam bangsal itu. ‘Tidak ada perang. seperti pembesar berpengalaman. Ia berhenti dan mendengarkan. pada malam ini kelihatan datangnya kapal asing akan memasuki pelabuhan. Ia pandangi Pada yang masih berdiri di sampingnya. Para penghuni telah terbangun semua. “jangan kaget jangan terkejut. para mbokayu calon juara. Mata terarah pada Idayu yang juga berdiri bertanya-tanya.Galeng menyorong lontar itu pada api damarsewu.

“Jangan katakan pada siapa pun tentang lontar tadi. Tentang yang sama itu bukankah Mbokayu sendiri yang tinggal pilih? Kang Galeng sendiri bisa apa? Memilih seorang di antara dua tidaklah sulit. para mbokayu calon juara: warta itu tertuju pada kadipaten. bukan pada asrama ini!” ‘Taluan canang itu lebih mirip dengan panggilan perang. Bukankah semua orang . Percayalah pada Pada ini. “Tidur.” “Bukannya aku tidak percaya.” Gadis-gadis itu terlampau mudah diyakinkan dengan gerak gelang dan cincin Pada. mbokayu. ”Kalau betul ada kapal asing datang. tentulah kapal Demak.terpenting. “Apakah ada nampak olehmu Pada ini tak dapat dipercaya?” si bocah berbisik kembali. Aku lebih celaka lagi. Tidurlah lagi semua mbokayu calon juara. Beberapa hari lagi pertandingan dimulai. “Percintaan memang dilarang di sini mbokayu. Mereka kembali merangkak ke ambinnya masing-masing dan meneruskan tidurnya.” Idayu menuding ke arah kadipaten.” bisik gadis perbatasan itu tanpa mengindahkan teguran.” seseorang membantah. Idayu justru mendekati Pada.” tegur Pada sebagai pejabat. Kalau sampai terdengar ke sana…. Kau begitu pucat. “apa bakal?” “Apa bakal jadinya?” ia mencibir.” “Demak?” “Demak menyerbu dari laut?” “Tidak. “Mbokayu celaka. Kang Galeng celaka.

menyala-nyala memberahikannya. Mbokayu calon juara. yang beberapa tahun lebih muda daripadanya itu. Bukankah Mbokayu seorang wanita di negeri sendiri?” “Kau benar. tidurlah. “Hanya Mbokayu sendiri yang bisa menentukan. ‘Tak ada orang bisa membantu. Pada. Para calon petanding dan pengawasnya pada duduk-duduk di atas tikar menghadapi sebuah meja rendah panjang yang belum lagi berisi sarapan.” bisiknya berwibawa. “Akhir-akhirnya aku bukan satu-satunya yang pernah menghadapi soal seperti ini.” ia mengalah setelah mengherani kebijaksanaannya. Tubuh mereka yang dipenuhi oleh gumpalan otot kuat sejak leher sampai betis seakan . Si Mira dulu lebih suka menyobek perutnya. Si Dama lari ke negeri Atas Angin dengan Parta.sudah tahu soal Mbokayu dan Kang Galeng.” dan ia pergi. Si lancang mulut itu ke luar dari ruang tidur. Mereka sedang memikirkan sesuatu.” ”Sudah. dan semua akan selesai.” “Kalau kau sudah memutuskan. Tak ada terniat dalam hatimu untuk membantu aku dan Kakang?” Untuk pertama kali dalam asrama gadis itu melihat mata si bocah. Pada. tentu mudah untuk membantu. Tapi memang tidak semudah itu. Kau harus membantu. Makin banyak melanggar aturan makin tidak baik. dan soal Mbokayu dengan yang sana?” “Kalau bicara semaumu sendiri. Pada. 0o-dw-o0 Pagi itu di ruangan latihan gulat tak ada seorang pun berlatih.

rambutnya sama hitamnya dengan kita. Pengawas?” “Aku tak segagah tidak sedempal kalian.” Galeng diam-diam mendengarkan untuk mengetahui duduk perkara. kau. Keling pun tidak. juga tidak lebih besar daripada kita.” . Badannya tidak lebih dempal.” “Husy!” pengawas mendiamkan. tidak lebih tinggi. “Kongso – seperti nama orang sebelah barat sana. Kongso Dalbi… orang Peranggi. “Kau. Memang tidak patut tidak mengetahuinya. kalian. Apa guna ototmu kalau tak pernah dengar nama Kongso Dalbi? Dasar tolol perbatasan! Hanya Idayu saja tahu. juara tahun lalu. itu pun bakal tak kau ketahui juga. “Peranggi. “Kongso Dalbi!” seseorang menyebut nama dengan dihembuskan. Boris pun tidak “Di mana negeri Peranggi. Peranggi pun kau tidak tahu barangkali?” Galeng menggeleng dan Boris mentertawakannya. Rasanya sudah sepatutnya kalau aku pun tidak tahu.bongkahan batu-batuan gunung yang terhempas di pinggir jalan. siapa tahu tentang negeri Peranggi? Ayoh katakan siapa yang tahu. Juga bukan turunan Jawa.” Tak ada yang menjawab. Galeng wajib tahunama itu. “Ayoh. “Dasar tolol perbatasan.” pengawas mengulangi. Kata orang kulitnya putih. Untuk selama-lamanya. Barangkali dia punya darah Jawa dari sebelah sana.” “Jadi siapa Kongso Dalbi?” akhirnya Galeng bertanya juga. “Dia bukan Jawa.

“ketahuilah. perhatikan mulutmu. daripada kalah untuk kedua kalinya di gelanggang ada baiknya dia diberi kemenangan di luar gelanggang.” “Betul.” “Betul. Sebuah negeri bandar. Kau tak bakal bisa mendekat.” “Biar. Hanya mendekat! Tangan mereka terlalu panjang. “Kau pun sama saja. “Tidak. Boris? Petai hampa?” Galeng bertanya.” Galeng melepaskan anak panahnya. kau banting. mungkin juga tidak. kau hanya agar-agar belaka di tangan mereka. Dan Kang Galeng. calon bekas juara. “akan pulang.” jawab Boris gagah. Tak ada yang bisa mengalahkan kapaikapai mereka. Galeng. Di darat mungkin orang-orang Peranggi akan jadi pisang goreng di tanganmu. Kang Galeng. “Hanya agaragar.“Jadi apa sedang kita bicarakan ini? Petai hampa? Ya. kau kemah-kemah. betul sekali. uh. Bandar itu sekarang dipergunakan jadi pangkalan kapal-kapalnya. “Biar dia bebas menggetarkan bibirnya sebelum lehernya patah. pengawas. bukan berita kengerian. Kalian datang kemari untuk jadi petanding atau pembunuh? PUH! Kalian pulang ke desa masing-masing untuk membawa keharuman. Galeng. Kang. mungkin juga dengan membawa keharuman.” “Husy. sebesar sukun! Coba. Mereka bisa lemparkan bola-bola besi berapi padamu. Di laut. Jangan kalian lupa.” cegah pengawas. sebesar sukun! Dan kau. Yang jelas dia akan pulang . Goa namanya. bahwasanya ada negeri di Atas Angin yang telah jatuh di tangan Peranggi. Boris. Bagaimana bisa kalau mereka sudah bubar sebelum mencoba? Tapi kau jangan coba-coba. pengawas.” pengawas membenarkan. Jangan suka mengejek tidak sepatutnya. Anak perbatasan juga punya kehormatan dan harga diri.” kata Boris.

Mereka lari ke sana kemari mencari . Tak lama kemudian canang kadipaten menyahuti bertalu pula. Mereka tak mendapatkannya. Dan apa pun yang sedang terjadi. Canang kadipaten yang menyahuti menandakan: Gusti Adipati siap dihadap.lenggang-kangkung tak lagi bergandengan dengan seperti datangnya. Sekarang sudah siap menghadap Gusti Adipati Tuban. Hanya barang siapa ingin mengintip untuk melihat iring-iringan penghadap – kalau bisa mengintip – tapi jangan rusakkan pagar – jangan lewatkan kesempatan!” “Barangkali Kongso Dalbi!” Pengawas menyarani. mengambil kebijaksanaan untuk mengobrol sambil menunggu. tahun ini – dengarkan baik-baik. lari ke luar gedung.” Tiba-tiba percakapan mereka terputus oleh bunyi canang bertalu. Dari luar ruangan terdengar suara Pada berseru-seru seperti seorang pembesar “Para Mbokayu dan Kakang calon juara – sesuai dengan aturan. yang mengetahui pemuda-pemuda tani dan pekerja tak punya kekuatan sebelum sarapan. Jangan gaduh. menurut peraturan. Sebagaimana surya terbit pada hari ini…. bahwa kapalkapal Peranggi sudah mulai kelihatan berkeliaran melewati Singhala Dwipa. Tidak ada apa-apa. Pengawas. Dan justru karena canang yang ramai bersahut-sahutan pengawas tak jadi meneruskan ceritanya. Mereka berlompatan berebut dulu meninggalkan ruangan latihan. Percaya sajalah. Canang dari pelabuhan berarti: nakhoda dengan atau tanpa saudagar dari kapal semalam sudah berlabuh. jangan gelisah. yang berlatih tak diperkenankan berhenti sebelum sarapan pagi datang. Seperti dengan sendirinya baik gadis maupun perjaka mengisi pelataran depan dan bingung mencari lobang pada pagar.

Yang mendapatkan tangga berseri-seri dengan keunggulannya dan menebah dada dengan kemenangannya. Sebuah iring-iringan kecil menuju ke kadipaten. tetapi berhenti menonton. Benar ia seorang saudagar Arab.tumpukan batu atau kayu. Dan para pengintip meninggalkan tempat masing-masing dan berlarian kembali ke dalam asrama untuk mendapatkan sarapan. pertanda iringiringan melewati gapura kadipaten. Canang kadipaten bertalu satu-satu. berjubah dan bersorban coklat muda. Melewati pagar kayu tinggi itu orang melihat alun-alun yang lengang seperti biasa pada siang atau pagi hari. bukan nakhoda dan hanya bisa berbahasa Arab. yang lebih biasa disebut Rangga Ishak. Barang-barang yang dipikul selalu jadi pergunjingan. Di belakangnya menyusul para pemikul. Jalanjalan raya pun senyap. Sedikit di belakangnya berjalan seorang nakhoda berbangsa Arab. Beberapa orang yang sedang lewat tidak bersimpuh menghormati iring-iringan. Pada pergelangannya melingkar akar bahar besar. Ia berterompah seperti halnya dengan Syahbandar. 0o-dw-o0 Pada siang hari berita tentang kedatangan tamu itu meniup cepat. Langkahnya tenang sambil membelai-belai jenggot yang sangat tebal lebat dan kepalanya selalu menunduk seakan sedang menghitung setiap batu yang dilewatinya. Syahbandar yang . Dan orang bertaruh. Paling depan dalam iring-iringan itu berjalan Syahbandar Tuban Ishak Indrajit. Tubuhnya yang jangkung itu berjubah dan bersorban putih. Orang mendapat kesempatan menaksir-naksir berapa dan apa macam yang bakal dipersembahkan.

“Semestinya Kakang semua ini sudah senang . Barangkali kau sendiri yang menghabiskannya. Di dalam ruangan latihan Galeng berdiri di dekat sebuah meja rendah panjang yang kini telah ditaruhi cobek-cobek tanah berisi telur dan buah-buahan. tembikar. berdiri tegak menantang mata setiap orang: Ia tahu tak ada di antara pegulat-pegulat itu berani meletakkan tangan pada seorang pejabat: Dan ia seorang pejabat terpercaya dari Sang Adipati.” yang lain menambahi. tuak! Tuak!” yang lain-lain membenarkan. Pada.” tegur juara gulat dari Awis Krambil itu. Birma dan Singhala Dwipa.jadi penterjemah.” “Ya. madu Arabia yang tiada tandingan. Persembahannya berupa permadani terindah dari Bagdad dan Ashkhabad untuk peraduan Gusti Adipati Tuban dan untuk keputrian. Persoalan baru itu tidak menarik orang. kertas. kata warta yang datang meniup. Lebih dari itu orang tak tahu. kain khasaa dari Benggala. Pada. Para calon petanding pada memperhatikan gelang dan cincin mas Pada: Bocah yang punya gaya pembesar itu cekatan dalam mengatur letak makanan dan minuman: Hanya Galeng memperhatikan airmukanya. “Jadi dia bisa Melayu!” seseorang memberi komentar. Ia telah memohon diperkenankan mempersembahkan sesuatu tanpa dihadiri atau didengar oleh siapa pun. “Mungkin juga pintar Jawa. ‘Tuak tidak. Tuak. Kemudian: batu-batu permata dari Arabia. sutra Tiongkok. “Madu dan telor memang cukup. kasut sulaman putri-putri Mesir dan Alqur’an. “Tuak dilarang di sini!” Pada memekik sengit dan keras. Tamu itu agak aneh. penganan serta cawan minuman dan madu lebah. Juga tidak diperlukan penterjemah.

Gusti Adipati Tuban merasa segan terhadap putranya.” Galeng memprotes. juga daging anjing. “Kata orang.” Mereka tak menyedari.” “Nampaknya di Kota ini hanya larangan saja yang ada. Dan batu berukir dalam peraturan Islam. yang sudah jadi pandita besar Islam.” Galeng mengancam. katanya. Tiba-tiba ditariknya meja rendah panjang itu dan ditekuk-lipatnya dengan kedua belah tangan sampai gemertak patah. dengarkan sendiri nanti di alun-alun. Di asrama sini. Juga itu belum semua. Semua batu berukir di dalam kota harus dikumpulkan di alun-alun – besok sampai lusa. Dengan mata membelalak ia lemparan meja remuk itu pada dinding. . sebelum perlombaan dimulai.” “Dulu tak begitu banyak larangan. karena mereka berukir!” jawab Pada ketus. kataku.dengan pelayananku.” Dan suaranya meningkat keras. Bukankah ada juga tuak kumasukkan untuk para Kakang? Apa tak juga mencukupi layananku? Tuak dilarang. Boris dengan diam-diam mendengarkan dan mendekati mereka: Matanya menyalanyala berang. dulu – sekarang. Nanti sore akan diresmikan larangan baru: orang tak boleh lagi memahat batu. Cawan-cawan dan cobek beserta isinya jatuh pecah berhamburan di lantai. “Belum lagi semua aku katakan. Nanti sore. sekarang. Raden Said. jadi guru pembicara di mana-mana. “Kalau tidak percaya. Akan dibuang ke laut!” “Apa salahnya batu-batu itu? “Salahnya. barangbarang jahat. “Memang. Kang Galeng tidak keliru: Dulu. Daging babi pun sekarang sudah tak boleh dihidangkan di sini. kata orang. jadi Ulama.

Seluruh ototnya di dada. Boris. Tahun yang lalu ia belum sekuat itu. Boris?” Pada mencoba meredakan. Suatu kemurungan menggantikannya. “Mengapa marah. Lantas harus kerja apa aku?” “Itu baru warta. Pada. turun-temurun. Teruskan.” . pinggul dan punggung bermunculan tegang seakan bersiap hendak bertarung. Pegulat penantang itu berdiri di tengah-tengah ruangan. Kedua belah tangannya kini terangkat sampai bahu. Boris jadi pusat perhatian. Ia menunduk dalam. Tak ada orang datang menyerang.” Boris mengadu dengan suara tetap sendu. “bapakku mengajari aku memahat. siap hendak menerkam siapa saja yang datang. Lututnya ditariknya jadi siku-siku. Mengapa orang tak boleh memahat lagi? Mengapa? Apa jahatnya batu-batu berukir itu?” Galeng tak memperhatikan kata-kata itu. Keluarga kami hidup dari pahatan.Orang terkesimak. Ketegangan pada wajah dan otot Boris lambat-lambat jadi kendur. juga penuh bergumpalan otot. utuh bulat tiada retak tiada rekah. perut. Yang ada justru sesuatu yang tak nampak: kekuasaan Sang Adipati. “Sejak kecil. Boris berjalan mondar-mandir dalam berangnya. “Pada belum lagi selesai dengan wartanya. Ia terheranheran melihat kekuatan penantangnya. “Teduh! Teduh!” kata Galeng menghibur.” kata Pada lunak. Tanpa memandang pada siapa pun keluar kata-kata sendu: “Memahat batu dilarang. Kekuasaan mutlak seorang raja yang tak dapat ditawar tak dapat diketeng. Sungguh lawan bertanding yang bisa mematahkan lehernya.

” “Biadab! Disambar petirlah dia!” Boris meraung. Pada. “Dewa-dewa pun akan enggan turun ke bumi.“Bagaimana wajah dunia tanpa gapura?” Boris mengaum. Hancurkanlah gapura kahyangan. “Semua bangunan batu di atas wilayah Kota. kuil. seakan batu-batu itu bagian dari dirinya sendiri. juga terhadap diri sendiri. Suaranya keluar lagi. Dirinya dan Boris tak ubahnya seperti bayi tanpa daya. Teruskan. arca. Tak perlu dicari!” Meraung: “Biadaaaaab!” Ia lari keluar ruangan. Dikutuk dia oleh Batara Kala!” Tiba-tiba suaranya turun menghibahiba: “Apa lagi artinya pengabdian? Biadab! Aku pergi! Jangan dicari. candi. “Dia hendak cekik semua pernahat dan semua dewa di kahyangan. Dari balik pagar orang berseru-seru: “Lari dari asrama! Lari!” . gapura. Boris. tanpa daya: “Pindah entah ke mana para dewa itu. Ia dekati Boris. akan dibongkar. dan: ‘Teduh. Setiap batu berukir telah dijatuhi hukum buang ke laut! Tinggal hanya pengumumannya. pagoda. Diangkatnya tangga dan dengannya melangkahi pagar papan kayu.” “Begitulah kata warta. Ia rasai kesamaan nasib. Ia jadi iba terhadapnya. yang jelas. dan para dewa akan pindah ke tempat lain” Ia tutup mukanya dengan kedua belah tangan seperti sedang memanggil-manggil kekuatan dari luar dirinya.” Pada meneruskan dengan hatihati matanya tertuju pada Boris. seperti tangis bayi. Apakah Gusti Adipati sudah bertekad melawan para dewa?” Lambat-laun Galeng mengerti. pernahat penantangnya sama halnya dengan dirinya: sedang menghadapi kekuasaan yang tak dapat dilawan. Celakalah manusia bila para dewa tak mau tahu lagi. langsung menuju ke pelataran depan.

Melihat Sang Adipati masuk semua melompat turun.“Siapa? Siapa? Pegulat.” Seperti telah ada persetujuan bathin. Mereka yang tertinggal masih juga termangu-mangu. dengan iringan beberapa orang pengawal bertombak tanpa perisai. tak dapat ditangkap maksudnya. Suatu pertanda orang sudah mulai menggerombol lagi di depan asrama. “Mana Idayu Awis Krambil?” Alis. “Pergi. Ia juga ingin bebas. ya. bersimpuh di lantai dan mengangkat sembah. “Gila mendadak!” jawab Pengawas. kumis. pegulat?” “Boriiiiiis! Mau ke mana kau? Kembali!” Sebentar kemudian seruan-seruan terdengar menggelombang dan bergumul jadi satu. . lari seperti Boris. Itu lebih baik. Melalui pintu pagar samping. ‘Idayu! Mana Idayu!” panggil Sang Adipati. Hatinya terpaut pada Idayu…. jenggot dan cambangnya yang putih menyala tertimpa sinar damarsewu.” Galeng melemparkan pandang pada tangga. Keadaan tenang sampai malam turun pelahan-lahan langit dan menyelebungi bumi. Para calon petanding pada bergolek-golek di atas ambin sambil mengobrol. Damarsewu yang memancar di setiap pojokan tidak mengacuhkan kedatangannya. Gadis-gadis mulai menyerbu ke dalam ruangan latihan gulat. “Biar saja dia pergi. Sang Adipati memasuki asrama. Ia berjalan langsung menuju ke bangsal wanita. Dan itu tidak mungkin.

“Idayu, kekasih Tuban! Mendekat sini, kau, Gadis!” Sesosok tubuh merangkak beringsut-ingsut menghampiri kaki Sang Adipati. Tubuhnya menggigil seperti kucing habis tercebur dalam comberan. Dengan tangan menggigil ia mengangkat sembah untuk ke sekian kali, kemudian bersujud mencium kaki Sang Adipati sebagaimana diajarkan oleh tatakrama. “Bawalah keharuman dari Tuban, semua kalian! Kau juga, Idayu, kekasih Tuban. Jangan mengecewakan. Tidurlah kalian pada waktu yang sudah ditentukan. Beberapa hari lagi kau dan kalian akan bertanding. Dan kau, Idayu, kau bertekad jadi juara lagi tahun ini? Juara tiga kali berturut?” “Inilah patik, Gusti Adipati Tuban,” jawabnya gemetar. “Rupanya sudah cukup dewasa kau sekarang. Belum lagi cukupkah jadi juara dua kali berturut?” “Ampun, Gusti Adipati Tuban. Patik sekedar menjalankan putusan rapat desa,” suaranya masih juga gemetar. “Kalau sudah jadi putusan rapat desa, tak dapatlah orang menolaknya?” “Ampun, Gusti Adipati Tuban, sesembahan patik. Patik takkan sanggup hidup di luar desa patik, Gusti. Iagi pula apalah buruknya menjalankan keputusan rapat desa, Gusti?” Sang Adipati tertawa senang. “Kata-katamu sudah seperti orang kota. Gadis. Bagus. Bukankah Tuban Kota lebih baik daripada desamu? Pasti lambat-laun kau akan lebih suka tinggal di sini.”

Menurut tatakrama yang diajarkan, apa pun yang telah dititahkan oleh Sang Adipati, orang tak boleh membantah. Orang hanya mengiyakan sambil mengangkat sembah. Mendapat teguran saja dari seorang raja sama halnya dengan menerima karunia dari para dewa. Idayu bergulat dengan kata hatinya sendiri. Bumi yang ditundukinya menjadi pengap. Tak diketahuinya kaki penguasa sudah tak ada di hadapannya. Sang Adipati telah meninggalkan asrama dan memasuki kegelapan malam. 0o-dw-o0 Melalui jalan belakang Sang Adipati menuju ke sebuah taman di belakang kadipaten yang terletak di tentang kandang gajah pribadi Duduk ia di sana seorang diri dalam kerumunan nyamuk. Para pengawal bertugur di kejauhan Dan inilah waktu untuk menyendiri baginya. Waktu seperti ini dipergunakannya untuk mengingatingat Juga untuk merancang-rancang. Juga sekarang ini. Nama saudagar Arab yang memohon menghadap sendiri itu tak juga dapat diingatnya. Ia mencoba dan mencoba. Tanpa hasil. Nama itu terlalu sulit, terlalu panjang. Di antara deretan nama itu ia pun tak tahu, mana gelar mana tidak. Bahasa Melayunya lancar, indah dan paut. Alqur’anul Karim yang patik persembahkan, ya Gusti, adalah dari Mufti Besar Hayderabad, dengan harapan sudi apalah kiranya Gusti Adipati Tuban daiam berpegangan pada kitab suci ini serta memikirkan ummat Islam di Atas Angin sana. Tuban dimasyhurkan di Atas Angin sebagai

kerajaan terkuat di Jawa setelah Majapahit. Raja-raja Islam mempunyai harapan besar Gusti Adipati Tuban melimpahkan kesudian yang tiada keringnya. Ya, Gusti, armada Peranggi tak henti-hentinya berusaha menguasai dan menaklukkan kerajaan-kerajaan sekepercayaan sepanjang pantai. Bila kekuatan mereka tak dibendung bersamasama, ya Allah, pastilah Allah jua yang akan menghukum semua kita, karena tak berbuat sesuatu terhadap angkara si kafir. Bila mereka tidak dibendung, ya Gusti Adipati Tuban, entah kapan, jalan-jalan pelayaran akan dikuasai semua olehnya. Mereka takkan berhenti sekalipun sudah menguasai semua bandar. Bila mereka sampai ke Jawa, matilah sudah semua pelayaran, matilah perdagangan, matilah bandar-bandar. Yang tinggal hanya Peranggi dengan angkaranya. Seluruh ummat Islam bisa kehilangan perlindungan, kekafiran akan menang. Mereka akan menumpas ajaran Rasulullah s.a.w. Sang Adipati masih ingat setiap kata dari persembahan itu. Juga barang-barang persembahan yang berasal dari empat orang raja Atas Angin, semuanya Islam. Dari persembahan itu ia menarik dua hal, pertama Tuban diakui juga sebagai kerajaan terkuat di Jawa, dan kedua ia dianggap sebagai raja Islam. Ia tersenyum dalam kegelapan dan mengangguk-angguk senang. Mereka tidak tahu, satu wilayah Tuban telah dirampas oleh kerajaan Islam, Demak. Dan aku tidak mengerti, bagaimana banyak aturan aku titahkan untuk membuat penyesuaian dengan Demak. Ia semakin tenggelam dalam pikirannya. Jauh, jauh di sana, mereka sudah mengakui keislamanku. Dan karenanya mereka menuntut, berdasarkan keislamanku, agar aku ikut memikirkan dan bersumbang tangan. Ya-ya, Islam telah banyak menguntungkan kami selama ini. Tapi apakah itu sudah cukup

teringat pada persembahan Sang Patih. Dan Sang Adipati bertanya. lebih mematikan’ Sang Adipati senang mendengarkan setiap pikiran. ‘Bergabung dengan negeri-negeri lain. Jepara jatuh. mengangguk dan tersenyum seakan-akan menyatakan . Gusti. Dia harus diganti. Rempah-rempah dari Tuban takkan memasuki Jepara dan Semarang! Dan apa yang terjadi di Atas Angin sana. Tidak menguntungkan! Demak masih harus diemong untuk tidak jadi binal. Menurut patik. bukan saja Jepara akan kembali di tangan. ‘Juga dengan Demak?’ Sang Patih menjawab. Jelas itu bukan Rangga Iskak. Ishak Indrajit alias Rangga Iskak tak pandai berbahasa Peranggi dan Ispanya. bukan urusan Tuban untuk mencampuri. Perang tidak menguntungkan. Bangsa dan kapal unggul yang digentari harus dilayani oleh seorang yang bijaksana dan tahu segala.banyak untuk peperangan? mempertaruhkan Tuban dalam suatu Ia mengggeleng lemah. tapi dalam hidupku. dengan semua kerajaan Islam. Kemudian ia mulai pikirkan untuk kesekian kalinya keadaan baru yang menggelombang di Atas Angin. bersama-sama menghancurkan Peranggi dan Ispanya. Peranggi dan Ispanya lebih berbahaya. Syahbandar harus seorang yang pandai melayaninya. Dalam kegelapan itu terdengar ia mendengus tertawa. Gusti. Keadaan baru harus dihadapi dengan persiapan baru. aku bersumpah. ‘Sementara Demak harus dilupakan. juga seluruh Demak. ampunilah patik. Tidak dengan perang. Bandar tetap jadi inti persoalan. ya Gusti Adipati sesembahan patik. itulah satu-satunya jalan menyelamatkan Tuban. Peranggi dan Ispanya pasti akan datang.

Hari ini ia telah dijengkelkan oleh tamu yang seorang itu. juga tak tahu kebenaran. Tapi dengan diam-diam ia lebih suka mencari jalan sendiri. ia berpendirian. Syahbandar harus diganti. . orang menjadi berbangsa karena justru punya kehormatan. 0o-dw-o0 Pada waktu Sang Adipati sedang mengukuhkan kebijaksanaannya dalam kegelapan taman. Kejatuhannya disebabkan oleh kelicikan seorang Arab. tanpa terimakasih. Malahan laporan dari para punggawa yang berasal dari rakyat kebanyakan hampir tak pernah ia gubris. Ishak Indrajit alias Rangga Iskak Ia sedang gelisah di kesyahbandaran. Dari semuanya paling banyak ia ambil separoh sebagai kebenaran. lain lagi yang terjadi pada diri Syahbandar Tuban. Setiap orang Arab mengingatkannya pada abangnya yang telah jatuh sebagai Syahbandar Malaka. terpaksa merantau dan mati dalam perantauan. Dan itulah keputusannya malam ini. Menurut pendapatnya.terimakasih. Sebagian dari ketulusan mereka hanya bea untuk keselamatan diri dan kepunggawaannya. Dengan demikian baginya berdikari menjadi semacam olahraja. Saudagar Arab! Kecuali yang berhubungan dengan agama ia seorang pembend Arab. Sebaliknya setiap laporan ia dengarkan sungguh-sungguh tanpa senyum tanpa tawa. apa pun biayanya. dan rakyat kebanyakan itu bukan saja tidak punya. Tak ada punggawa yang tulus sepenuhnya.

Dan sekarang Abud. licin seperti muka belut. Raden Said. membungkuk dan beruluk salam: “Assalamu alaikum. tapi lidah Jawanya memang lidah kafir terkutuk: Bukankah kali itu yang dimaksudkannya Kholik?” ‘ Rangga Iskak bertanya tajam: “Bukankah kau tahu bukan itu yang kutanyakan?” . Kemudian: “Apa yang bisa kau katakan. Memang orang bilang. Dan sekarang ia sudah berdiri di pintu. berumur sekira dua puluh delapan menurut perhitungan bulan. putranya sendiri memesan itu. Tuan.” jawabnya dalam Melayu juga. “Sang Adipati sudah memerintahkan penyingkiran peninggalan Hindu. sekarang sudah mengenakan gelar aneh Ki Aji Kalijaga. tak berkumis. Ia mengangguk memerintahkan Yakub mendekat. Yakub berperawakan kecil. dan: kurangajar. saudagar Arab itu. Ternyata ia bukan tidak bisa berbahasa Melayu! Tadi ia telah panggil Yakub agar datang menghadap padanya. Yakub?” tanyanya tajam dalam Melayu. Ia tertawa. dan ia sudah menimbulkan kecurigaan: mohon menghadap sendiri tanpa penterjemah. Ia tak pernah menyilakannya duduk. tak berjenggot. ya Tuan Syahbandar!” Ia bergumam menjawabi dan melambaikan tangan menyuruh masuk. harus ia layani kebutuhannya selama tinggal di Tuban. juga di Tuban Kota. Orang Jawa memang sulit Tuan Syahbandar. “Tuan Syahbandar sendiri semestinya sudah tahu. Kursi adalah benda kebesaran. maksud menggunakan gelar berbahasa Arab. Baru saja datang. tanpa saksi. Dan tawanya selalu mengesani mengentengkan segala perkara. terutama di kesyahbandaran.

Tuan.” ia menjauhkan kepala dari tuan rumah untuk dapat menatap nya dengan . Ujung hidungnya yang mancung bercahaya bergemuk memantulkan sinar lilin. Tapi sekalipun ia sudah bersitinjak dengan kaki dan mendongakkan muka. Keterangan penting patut dihargai satu dinar. berputar membalikkan badan dan meneruskan tawanya. “Tak pernah kau nampak setolol sekarang. Tak pernah aku menyalahkan keteranganmu.“Yang tadi itulah. jarak antara mulutnya dan kuping Syahbandar masih terpaut sejengkal. “Ada sesuatu yang lebih penting. Ditarik-tariknya ujungujung bajunya yang kombor putih. Sungguh mati. Apa lagi yang dapat kau katakan sekarang?” Yakub memperbaiki sikapnya. Sedinar saja. Rangga Iskak menelengkan kepala ke atas. Ada keanehan dalam pesanan itu: Klenteng dan Pecinan tidak boleh diganggu!” Sekarang Syahbandar yang tertawa. “Apa yang lucu padamu?” Rangga Iskak tertawa di antara tawanya. Tuan Syahbandar. “Ada sesuatu yang lebih penting. seperti seekor ayam sedang melirik pada elang di langit. “Tuan mengetawakan Yakub?” tanyanya menuduh.” bisiknya sambil mendekatkan mulutnya pada kuping Rangga Iskak. Dengan kedua belah tangan ia menepuk-nepuk dadanya sendiri.” “Laporan Yakub salah?” ‘Tidak. Nampaknya ia sedang menguasai suasana dan bersikap resmi. Tuan Syahbandar. Terkena sinar tiga batang lilin yang menyala pada kandil kelihatan Yakub terheran-heran.

dan ia muak pada sikapnya yang kurang-ajar dan menantang. pembikin dinar? Apa kau kira satu dinar sedikit? Empat kali belayar belum tentu kau memperolehnya. Dengan berat hati ia keluarkan mata uang mas dari pundi-pundinya. Ia tatap mata pewarung tuak dan ciu-arak itu. mengujinya di bawah lampu. tersenyum. Tuan Syahbandar. pikirnya bukan lagi minta upah.pandang menuntut “Apa kau kira aku nenekmu sendiri. “Satu dinar tidaklah banyak untuk keterangan penting. Tuan. tapi ini lebih penting dari segalagalanya. sama sekali tidak membawa atau mengambil barang dagangan. saudagar Arab itu. Sekarang juga kukeluarkan. apa boleh buat. Pasti dia bukan saudagar.” Syahbandar nampak ragu: Pandangnya ditebarkannya ke seluruh ruangan. dan karenanya lebih penting dari segala-galanya. Satu dinar. Yakub menangkapnya. “Bukankah aku tak perlu menunggu begini lama?” Pertahanan Rangga Iskak patah. Dan biar bagaimanapun sedinar terlalu mahal. mengikatnya dan memasukkannya ke dalam ikat .” Yakub merajuk. dia akan menjadi-jadi. penipu. Selama ini keterangan Yakub selalu benar. kau. Dilemparkannya pada orang muda yang menjijikkan itu sambil menyumpah. Kalau keterangan itu tentang pembicaraan saudagar Abud dengan Sang Adipati. Abud.” “Jangan coba-coba bohongi aku.” “Sayang tidak. Kalau dibiarkan.” “Tidak. Ini sudah pemerasan. Yang belum kukatakan ini justru yang terpenting. dan memasukkannya dalam pundi-pundinya sendiri.

. Orang itu keluar dan hilang ke dalam kegelapan. dengarkan sungguh-sungguh. mungkin tahu-tahu Tuan sudah kehilangan jabatan Tuan.” “Husy!” bentak Rangga Iskak tersinggung. Tuan. memperbaiki letak baju itu dan menebah pinggang.” dengan bisiknya Yakub meminta perhatian sambil mencoba mencari kuping tuanrumah dengan mulutnya. Pemeriksaan atas anak buah sudah dimulai sejak jatuhnya perintah.” “Dalam berapa lama cetbang harus selesai?” “Tidak jelas. Tuan.pinggang di balik baju kombornya. Tuan. Rangga Iskak berkecap-kecap menyesali dinarnya yang berpindah tangan. Bertanya: “Adakah Sang Adipati sudah berkunjung ke asrama wanita?” “Ada. baru sebentar tadi. Perwira-perwira telah mendapat perintah untuk bersiap-siap. Mengerti Yakub takkan bicara lagi ia mengalah. “Katakan” “Baik. seakan setiap kata yang keluar daripadanya telah diperhitungkan harganya. Tapi bibir itu sudah tak bergerak lagi. Sang Adipati telah mengirimkan utusan ke Trantang. Tuan. “Pada sore hari ini juga.” “Itu beritamu yang terpenting?” “Betul.” Syahbandar mengawasi bibir Yakub. Aku sudah tahu sesungguhnya isi perintah itu: mulai besok harus sudah dipersiapkan pembikinan delapan belas cetbang baru.” Ia sorong Yakub. Perang akan terjadi. kemudian duduk termenung di atas bangku bantal kulit onta dan tak henti-hentinya bergumam: “Penipu yang tertipu itu telah jual dagangannya padaku. “Kalau Tuan lebih sayang pada dinar yang satu ini. Dengan kecewa ia kunci pintu dari dalam.

Kau tetap kafir. Rangga Demang! Yakub bisa. Kau hanya menghendaki dibenarkan keislamanmu. Rangga Demang! Pesan Raden Said alias Ki Aji Kalijaga itu pasti juga tidak ada. dia lari sebagai protes. Dan mengapa kelenting dan Pecinan tak boleh dirusak? Tulisan cina itu juga sama dengan Hindu.Tuhan akan kutuki kau. Adipati Tuban.” Dengan lemas ia masih juga berkecap-kecap menyesal setelah mengetahui Sang Adipati berkunjung ke rumah asrama wanita. Ya-ya. Runtuhnya Majapahit juga karena kecerdikanmu! Tiba-tiba ia terdiam. terutama saudagar Arab si Abud keparat itu diharapkannya terbawa ke Atas Angin…. sesuatu yang bersungguh-sungguh tidak akan mungkin keluar dari pikirannya. Sengaja dibuat demikian rupa agar semua orang tahu. tapi hanya Pribumi kawulamu yang bisa percaya! Ha. dengan cetbang-cetbangmu itu sekaligus kau hendak menggertak Demak. pikirnya. Pikiran iblis! Laknat! Pikiran licik! Tapi aku tak bisa kau tipu. Ishak Indrajit ini tak bisa kau tipu! Kau boleh berlagak cerdik. mengapa tak boleh dirusak? Ia berdiri untuk . Tapi siapa pun tahu kau lebih suka berdagang daripada berperang. Tapi kau memang cerdik seperti selama ini. Tapi kau jangan anggap dapat mudah untuk kelabui aku. Yakub! Apa yang kau dapatkan dari dinar itu jadilah tuba dalam tubuhmu. Siapa tak kenal Boris pernahat terkenal itu? Peninggalan Hindu harus disingkirkan. Ia punya pedoman: Apabila Sang Adipati masih mempunyai perhatian pada wanita baru. Cetbang-cetbang itu pastilah bukan sesuatu yang dirahasiakan. Si pernahat jadilah seperti Syahbandar kehilangan bandar. Tua bangka tak tahu diri! Sekarang aku baru mengerti mengapa si Boris itu lari dari asrama. tapi aku tidak.

Tak jadi. “Bagaiman sikap Tuan Syahbandar kalau musuh Islam. Namun setelah itu ia tetap sulit memicingkan mata. Waktu Demak merampas Jepara untuk berkokok pada dunia dia tidak takut pada Tuban. ya Abud?” “Bagaimana tidak mungkin? Goa jatuh. disebut Lasem. Mereka terus mendesak ke timur. menyerang Tuban?” tanyanya dalam Arab. menggelincir tanpa guna. Beberapa bentar kemudian saudagar Abud muncul untuk minta diri. Rangga Demang! Anak-anakmu pada mengabdi pada Demak. Dan karena semua itu aku kehilangan satu dinar! Keparat si Yakub! Malam itu Rangga Iskak lebih banyak menggiliri istriistrinya di kamar-kamar belakang. Sedang kita bicara begini Singhala pun sudah jatuh. Dan Semarang yang mendirikan kerajaan Demak untuk menjadi bentengnya terhadap Tuban. Dinar yang satu itu juga yang terbayang-bayang.” Abud meneruskan dalam rembang fajar di depan pintu gedung. yang oleh penduduk. . Ia mengangguk-angguk mengerti.mengambil kitab catatannya.” jawabnya tak acuh. semua anakmu yang di Demak diam. Pecinan Tuban Kota bersetia pada Lao Sam. Setelah sembahyang subuh baru ia mendapat ketenangan sedikit. Ia telah berdoa memohon rezeki yang berlimpahan Ketenangan itu tiada lama umurnya. Dan Malabar. Lasem bersetia pada Sampo Toalang. “Mana mungkin. Kau benar-benar cerdik. Peranggi dan Ispanya. ‘Tuban terlalu jauh. ya Abud. dan duduk kembali. yang oleh penduduk disebut Semarang.

Dipunggunginya pelabuhan. “Arab.” “Aku hanya Syahbandar.“Benggala pun jauh dari Peranggi. “Dia sedang menikmati dinarku. . Terkutuk bapaknya. setiap… semua menutupi tangannya yang merogo pundi-pundi orang. Diangkatnya kaki kanannya. Ditebarkan pandangnya pada kapalkapal yang sedang berlabuh.” “Setiap Syahbandar yang cerdik bisa lebih dari raja. kerajaan Islam. “Demi Allah. “Si keparat itu tentu sudah mendapat dinar lagi. Tuan Syahbandar mampu mempengaruhi Sang Adipati untuk sudi bergabung dengan kerajaan-kerajaan lain. bedebah!” Tak dapat ia menahan amarahnya. Terompahnya yang tua itu membikin ia ragu-ragu. kau. Samarsamar nampak olehnya kedai tuak dan ciu-arak Yakub yang masih tutup.” Pandangnya tertebar ke mana-mana.” Kemudian ia berjalan menuju ke menara pelabuhan dan naik. iblis keparat itu. “Setiap gerak. Awas. Kaki itu turun cepat menumbuk perut penjaga menara berganti-ganti. melawan mereka. Allah memberkahi Tuan” Pembicaraan pendek itu selesai dengan kepergian Abud ke jurusan pelabuhan. Dan ia lihat Yakub sedang turun dari kapal si Abud.” katanya menyarani. jih!” Rangga Iskak meludah ke tanah. Matari pun mulai terbit. setiap omongan. Cepat ia alahkan keraguannya. bukan raja. Dilihatnya penjaga-penjaga menara dua orang itu sedang tidur nyenyak. menembusi halimun tipis pagi hari. terkutuk Pribumi ibunya.

“Kafir!” makinya dan turun lagi. 0o-dw-o0 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful