Sebelum tenaga kesehatan dapat mematuhi prosedur kewasapadaan standar, otoritas nasional dan lembaga pelayanan kesehatan harus

menjamin bahwa semua pedoman dan kebijakan mereka cocok diterapkan di lokasi dan bahwa peralatan dan persediaannya mencukupi.

Untuk memudahkan tenaga kesehatan mematuhi praktek pengendalian infeksi, kebijakan dan pedoman tingkat nasional dan lembaga pemerintah harus: Memastikan bahwa stafnya telah dididik untuk memperlakukan semua zat/substansi tubuh sebagai bahan yang infeksius. Tenaga kesehatan harus dididik mengenai risiko pekerjaannya dan harus memahami kebutuhan menggunakan kewaspadaan standar bagi semua orang, di setiap waktu, tanpa memandang diagnosisnya. Pendidikan selama pelayanan secara reguler harus disediakan bagi semua tenaga medis maupun nonmedis di lingkungan perawatan kesehatan. Sebagai tambahan, pendidikan pra-pelayanan untuk semua tenaga kesehatan harus juga mengagendakan aspek kewaspadaan standar. Memastikan bahwa tersedia para staf, pasokan dan sarana yang memadai. Sementara pendidikan bagi tenaga kesehatan adalah esensial, hal itu tidak cukup untuk menjamin bahwa kewaspadaaan standar telah diperhatikan dengan baik. Untuk mencegah bahaya dan infeksi kepada pasien dan karyawan, sarana kesehatan harus menyediakan bahan-bahan yang diperlukan perawatan klinis. Sebagai contoh, pasokan yang steril dan bersih, harus tersedia dengan cukup, walau di lingkungan dengan sumber daya yang terbatas.
y

y

y

Penggunaan peralatan injeksi sekali pakai, yang langsung dibuang harus tersedia dalam jumlah yang cukup bagi setiap obat-obat injeksi yang ada dalam persediaan. Air, sarung tangan, bahan-bahan pencuci, alat-alat untuk disinfeski dan sterilisasi termasuk alatalat untuk memantau dan mengawasi proses ulang yang harus dilakukan. Persediaan air yang cukup dan mudah didapat adalah kunci bagi upaya pencegahan infeksi yang berkaitan dengan tempat pelayanan kesehatan. (Walaupun air mengalir tidak tersedia di semua tempat, tetapi semua cara untuk mendapatkan air yang cukup harus terjamin). Alat-alat untuk pembuagan yang aman bagi limbah medis dan laboratorium, dan tinja harus tersedia. Mengadopsi standar-standar lokal yang cocok untuk menjamin keselamatan pasien dan karyawan, merupakan upaya yang berdasarkan bukti dan efektif. Penggunaan yang tepat dari

y

persediaan, kebutuhan pendidikan dan pengawasan staf, harus digambarkan dengan jelas dalam kebijakan dan pedoman lembaga. Lebih lanjut, kebijakan dan pedoman harus didukung oleh ketersediaan pasokan dan standar untuk memantau dan mengawasi upaya yang telah ditetapkan. (Pengawasan reguler pada lingkungan perawatan kesehatan dapat membantu menghambat atau mengurangi risiko bahaya yang berhubungan dengan perawatan kesehatan di tempat kerja). Jika terjadi cedera atau kontaminasi yang mengakibatkan terpajan dengan bahan yang telah terinfeksi HIV, konseling, pengobatan, tindak lanjut dan perawatan pasca pajanan, harus tersedia. Mencari upaya untuk mengurangi prosedur-prosedur yang tidak diperlukan. Sarana kesehatan harus menentukan kapan prosedur berisiko telah terlihat, dan tenaga kesehatan butuh untuk dilatih untuk menjalankan prosedur yang hanya dilakukan saat benar-benar diperlukan. Sebagai contoh, pekerja harus menghindari transfusi darah saat tidak diperlukan dan harus mengganti dengan prosedur yang lebih aman jika memungkinkan (seperti penggunaan larutan pengganti). Injeksi yang tidak perlu harus juga dihilangkan. Bilamana pengobatan dibutuhkan, pedoman harus merekomendasikan penggunaan obat oral bila sesuai. Kepatuhan terhadap pedoman ini tetap harus dipantau.
y

y

y

Membentuk suatu kelompok multidisiplin untuk menilai dan mengagendakan penggunaan kewaspadaan standar. Sebuah kelompok multidisiplin harus disusun untuk menyampaikan masalah pencegahan, menilai cara dan sumber daya yang ada sekarang untuk pencegahan, membangun sistem surveilen untuk mendeteksi pasien dan tenaga kesehatan dari akuisisi infeksi, membangun kebijakan dan prosedur, mendidk personil dan memantau kepatuhan. Menciptakan tuntutan konsumen terhadap praktek perawatan kesehatan yang lebih aman. Tuntutan untuk prosedur kerja yang aman, seperti penggunaan peralatan injeksi yang baru, langsung dibuang, sekali pakai dan pengobatan oral, dapat membantu memepercepat pelembagaan kewaspadaan standar.

y

Sumber daya manusia, infrastuktur dan pasokan yang dibutuhkan

Sebagai tambahan bagi pedoman institusional dalam pengendalian infeksi, persediaan dan sarana yang dijelaskan diatas harus tersedia: tempat mencuci tangan, penigkatan persediaan air, peningkatan sistem ventilasi, sarana sterilisasi, persediaan pencucian, obat-obat oral, jarum dan spuit steril sekali pakai, wadah benda tajam, desinfektan, kapasitas leboratorium, peralatan dan reagen laboratorium, dan obat anti-retroviral. Pengelolaan limbah pelayanan kesehatan mungkin membutuhkan konstruksi khusus, seperti inienerator dan pilihan lain dari insinerator. Mengangkat seorang spesialis pengendalian infeksi atau seorang staf administratif untuk mengurangi angka infeksi yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan akan sangat menguntungkan. Upaya-upaya pencegahan infeksi harus menjadi bagian dari pelatihan tenaga kesehatan tersebut, yang harus diawasi secara rutin dalam pekerjaannya. Usaha-usaha khusus harus dibuat untuk memantau dan mengurangi prosedur invasif yang tidak diperlukan. Sebagai tambahan, asosiasi profesi, termasuk asosiasi perawat nasional dan asosiasi kedokteran nasional, harus bersatu dalam melindungi tenaga kesehatan dan mendukung prinsip kerjakan sejak pertama tanpa membahayakan .

Informasi biaya Biaya peralatan yang dibutuhkan untuk memastikan kewaspadaan standar (sarung tangan, sabun, desinfektan, dll) secara pasti akan menambahkan dalam biaya operasional pelayanan perawatan kesehatan dan akan berbeda-beda sesuai dengan persediaan dan peralatan yang perlu ditambahkan, besarnya institusi dan populasi pasien yang dilayani. Bagaimanapun juga, keuntungan bagi keduanya baik pegawai dan pasien dapat mengizinkan pengeluaran ini. Memastikan kewaspadaan standar harus dilihat sebagai tanggungjawab institusi pelayanan kesehatan yang tidak perlu dinegosiasikan untuk pegawai kesehatan tersebut dan pasiennya. Dimana tingkat prevalensi infeksi HIV, hepatitis dan penyakit infeksi menular lainnya tinggi, keefektifan biaya karena melakukan kewaspadaan standar juga akan bertambah besar.

LATAR BELAKANG: Bahwa pembangunan kesehatan ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 Rumah Sakit Penyakit Infeks Prof. Dr. Sulianti Saroso Jakarta adalah unit organik dilingkungan Departemen Kesehatan Republik Indonesia yang merupakan Pusat Rujukan Nasional Penyakit Infeksi dan Penyakit Menular. Dalam memberikan dan menjelaskan fungsi sebagai Pusat Rujukan Nasional untuk Penyakit Infeksi RSPI - SS senantiasa berusaha meningkatkan mutu pelayanan, salah satu upaya adalah mengurangi angka kejadian Infeksi Nosokomial di seluruh Rumah Sakit dan Sarana Pelayanan kesehatan di Indonesia.

Infeksi merupakan interaksi antara mikroorganisme dengan pejamu rentan yang terjadi melalui kode transmisi kuman yang tertentu. Cara transmisi mikroorganisme dapat terjadi melalui darah,

misalnya tuberkulosis yang resisten terhadap pengobatan. dalam upaya mencegah transmisi mikroorganisme melalui darah dan cairan tubuh. mulai dari peran pimpinan sampai petugas kesehatan sendiri. Dengan berpedoman pada perlunya peningkatan mutu pelayanan di Rumah Sakit dan sarana kesehatan lainnya. dapat juga terjadi pada para petugas Rumah Sakit tersebut. maka perlu dilakukan pelatihan yang menyeluruh untuk meningkatkan kemampuan petugas dalam pencegahan ineksi di Rumah Sakit. dan pendukung lainnya. Resiko infeksi nosokomial selain terjadi pada pasien yang dirawat di Rumah Sakit. Dengan berbekal pengetahuan tentang patogenesis infeksi yang meliputi interaksi mikroorganisme dan pejamu. Pengetahuan tentang pencegahan ineksi sangat penting untuk petugas Rumah Sakit dan sarana kesehatan lainnya merupakan sarana umum yang sangat berbahaya. Secara keseluruhan berarti daya tahan pasien lebih rendah dan pasien cenderung untuk mengalami berbagai tindakan invasif yang akan memudahkan masuknya mikroorganisme penyebab infeksi nosokomial. Di Rumah Sakit dan sarana kesehatan lainnya. Dasar KU adalah cuci tangan secara benar. Peran petugas adalah sebagai pelaksana langsung dalam upaya pencegahan infeksi. Sementara itu jenis infeksi yang dialami dapat berupa berbagai jenis infeksi yang baru diketahui misalnya infeksi HIV / AIDS atau Ebola dan infeksi lama yang semakin virulen. sehingga perlu perawatan yang lebih lama yang juga berarti pasien dapat memerlukan tindakan invasif yang lebih banyak. sarana. penggunaan alat pelindung. Tenaga penunjang 3. dari petugas ke petugas. maka segala bentuk infeksi dapat dicegah. Untuk seorang petugas kesehatan. Tenaga Medis dan Paramedis. serta cara transmisi atau penularan infeksi. Salah satu strategi yang sudah terbukti bermanfaat dalam pengendalian infeksi nosokomial adalah peningkatan kemampuan petugas kesehatan dalam metode Universal Precautions atau dalam bahasa Indonesia Kewaspadan Universal ( KU ) yaitu suatu cara penanganan baru untuk meminimalkan pajanan darah dan cairan tubuh dari semua pasien. desinfeksi dan mencegah tusukan alat tajam. Berbagai prosedur penanganan pasien memungkinkan petugas terpajan dengan kuman yang berasal dari pasien.udara baik droplet maupun airbone. Mutu pelayanan di Rumah Sakit dapat berpengaruh karena pasien bertambah sakit akibat infeksi nosokomial. dari petugas ke pasien dan antar petugas. Upaya pencegahan penularan infeksi di Rumah Sakit melibatkan berbagai unsur. Kemampuan untuk mencegah transmisi infeksi di Rumah Sakit. untuk terjadi infeksi. dalam artian rawan. termasuk laboratorium 2. Peran pimpinan adalah penyediaan sistem. tanpa memperdulikan status infeksi. untuk penyebarluasan pengetahuan tentang KU melalui pelatihan diperlukan pengembangan pedoman pelatihan yang dapat digunakan di seluruh Indonesia. Untuk seorang petugas pertama dalam pemberian pelayanan yang bermutu. dan dengan kontak langsung. Infeksi petugas juga berpengaruh pada mutu pelayanan karena petugas menjadi sakit sehingga tidak dapat melayani pasien. dari pasien ke petugas. Indikasi rawat pasien akan semakin ketat. Strategi inti meningkatkan kemampuan petugas kesehatan dalam KU adalah dengan pelatihan KU di seluruh Indonesia sehingga merupakan langkah strategis dalam peningkatan kemampuan petugas / SDM. pasien akan datang dalam keadaan yang semakin parah. dan dengan kemampuan memutuskan interaksi antara mikroorganisme dan pejamu maka segala kemampuan memutuskan interaksi antara mikoorganisme dan pejamu. SASARAN Setiap petugas kesehatan yang kontak langsung dengan pasien dan atau bahan yang berasal dari pasien yaitu : 1. dan upaya pencegahan infeksi adalah tingkatan pertama dalam pemberian pelayanan yang bermutu. Kebutuhan untuk pengendalian infeksi nosokomial akan semakin meningkat terlebih lagi dalam keadaan sosial ekonomi yang kurang menguntungkan seperti yang telah dihadapi Indonesia saat ini. karena mencakup setiap aspek penanganan pasien. infeksi dapat terjadi antar pasien. kemampuan mencegah infeksi memiliki keterkaitan yang tinggi dengan pekerjaan. Petugas Sanitasi .

pasien yang masuk rumah sakit dan menunjukkan tanda infeksi yang kurang dari 72 jam menunjukkan bahwa masa inkubasi penyakit telah terjadi sebelum pasien masuk rumah sakit.KOMPETENSI width=254> Petugas kesehatan yang selesai mengikuti pelatihan diharapkan memahami dasar Kewaspadaan Universal dan dapat menilai keadaan yang potensial untuk terjadi penularan infeksi bagi pasien. Tindakan prophylaxis pada kecelakaan kerja 8. Secara umum. menggunakan alat pelindung ) dan tes laboratorium 3. Berbagai masalah infeksi di Sarana Kesehatan 2.1 Definisi Infeksi adalah adanya suatu organisme pada jaringan atau cairan tubuh yang disertai suatu gejala klinis baik lokal maupun sistemik. Kewaspadaan Universal di Unit tertentu 7. Selesai mengikuti pelatihan. Infeksi endogen disebabkan oleh mikroorganisme yang semula memang sudah ada didalam tubuh dan berpindah ke tempat baru yang kita sebut dengan self infection atau auto infection. Kewaspadaan Universal pada pengelolaan alat tajam 5. dirinya dan lingkungan kerja terhadap infeksi nosokomial dengan penerapan Kewaspadaan Universal secara bak. Infeksi yang muncul selama seseorang tersebut dirawat di rumah sakit dan mulai menunjukkan suatu gejala selama seseorang itu dirawat atau setelah selesai dirawat disebut infeksi nosokomial. Seorang petugas yang telah mengikuti pelatihan diarahkan untuk menjadi agen perubahan sehingga dapat menjamin tersedianya tempat kerja yang sehat dan aman.2.PERAN DAN FUNGSI PELATIHAN Setelah pelatihan diharapkan seorang petugas kesehatan mampu mengubah sikap dalam bekerja sehingga dapat melindungi pasien. Pengelolaan limbah dan lingkungan 6. dan infeksi yang baru menunjukkan gejala setelah 72 jam pasien berada dirumah sakit baru disebut infeksi nosokomial 1. Antiseptik dan Dekontaminasi 4. MATERI YANG DIBAHAS 1. sarana dan penunjang lainnya sehingga dapat menyediakan tempat kerja yang aman terhadap infeksi. dirinya dan orang lain.3. Sterilisasi. Desinfeksi. sementara I . petugas juga diharapkan dapat merencanakan kebutuhan sistem. Kewaspadaan Universal ( Cuci tangan.4 Infeksi nosokomial ini dapat berasal dari dalam tubuh penderita maupun luar tubuh. Kewaspadaan Universal pada tindakan intravaskular 9. Surveilance METODE ° Ceramah ° Diskusi ° Peragaan ° Pre-post test ° Kunjungan lapangan PESERTA ° Pengelola Pengendalian Infeks Nosokomial / Kewaspadaan Universal ° Dokter ° Perawat ° Penanggung Jawab unit penunjang / unit pelayanan ° Kepala Ruangan Perawatan ° Setiap pelatihan peserta jumlahnya : 30 Peserta BAB PENDAHULUAN I.

air.3 Walaupun ilmu pengetahuan dan penelitian tentang mikrobiologi meningkat pesat pada 3 dekade . penyakit autoimun dan penggunaan imuno supresan atau steroid didapatkan bahwa resiko terkena infeksi lebih besar.5 Sumber penularan dan cara penularan terutama melalui tangan dan dari petugas kesehatan maupun personil kesehatan lainnya.. terutama di bagian penyakit dalam dalam. kondisinya justru sangat memprihatinkan. Tetapi. Infeksi nosokomial ini pun tidak hanya mengenai pasien saja. kasa pembalut atau perban.0% hingga 12.2 hari.7 Di beberapa bagian. dan cara yang keliru dalam menangani luka. seperti.4 I.3 Epidemiologi Infeksi nosokomial banyak terjadi di seluruh dunia dengan kejadian terbanyak di negara miskin dan negara yang sedang berkembang karena penyakit-penyakit infeksi masih menjadi penyebab utama.infeksi eksogen (cross infection) disebabkan oleh mikroorganisme yang berasal dari rumah sakit dan dari satu pasien ke pasien lainnya.5 I. terdapat banyak prosedur dan tindakan yang dilakukan baik untuk membantu diagnosa maupun memonitor perjalanan penyakit dan terapi yang dapat menyebabkan pasien cukup rentan terkena infeksi nosokomial. Pasien dengan umur tua.7% dari 55 rumah sakit dari 14 negara yang berasal dari Eropa. kateter urin. dan dibeberapa negara.8 Selama 10-20 tahun belakang ini telah banyak perkembangan yang telah dibuat untuk mencari masalah utama terhadap meningkatnya angka kejadian infeksi nosokomial di banyak negara. tetapi juga dapat mengenai seluruh personil rumah sakit yang berhubungan langsung dengan pasien maupun penunggu dan para pengunjung pasien.26%. kateter iv. Asia Tenggara dan Pasifik tetap menunjukkan adanya infeksi nosokomial dengan Asia Tenggara sebanyak 10. serta penggunaan jasa di luar rumah sakit. diabetes. Setelah diteliti lebih lanjut maka didapatkan bahwa angka kuman lantai ruang perawatan mempunyai hubungan bermakna dengan infeksi nosokomial. juga merupakan depot bagi berbagai macam penyakit yang berasal dari penderita maupun dari pengunjung yang berstatus karier. jarum injeksi. Keadaan ini justru memperlama waktu perawatan dan perubahan pengobatan dengan obat-obatan mahal. anemia. rumah sakit selain untuk mencari kesembuhan. infus yang lama dan kateter urin yang lama. dinegara-negara miskin dan berkembang. 1.2. dengan penyakit yang sangat parah. makanan dan benda-benda medis maupun non medis.3 ± 11. berbaring lama.3.2 Rumah Sakit Rumah sakit merupakan suatu tempat dimana orang yang sakit dirawat dan ditempatkan dalam jarak yang sangat dekat.7 hari. pencegahan infeksi nosokomial lebih diutamakan untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan pasien dirumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.2. Timur Tengah.06%. atau beberapa tindakan seperti prosedur diagnostik invasif.0%. Di tempat ini pasien mendapatkan terapi dan perawatan untuk dapat sembuh. penyakit keganasan. Kuman penyakit ini dapat hidup dan berkembang di lingkungan rumah sakit. Suatu penelitian yang yang dilakukan oleh WHO menunjukkan bahwa sekitar 8. udara. dengan rata-rata keseluruhan 6. Untuk rerata lama perawatan berkisar antara 4. dengan rata-rata keseluruhan 4. lantai. atau pasien dengan penyakit tertentu yaitu penyakit yang memerlukan kemoterapi. A di semua rumah sakit di Yogyakarta tahun 1999 menunjukkan bahwa proporsi kejadian infeksi nosokomial berkisar antara 0. Karena itulah. antara lain : ‡ lama hari perawatan bertambah panjang ‡ penderitaan bertambah ‡ biaya meningkat Dari hasil studi deskriptif Suwarni. Terjadinya infeksi nosokomial akan menimbulkan banyak kerugian.

5 BAB ISI II II. Kemungkinan terjadinya infeksi tergantung pada:3 ‡ karakteristik mikroorganisme. Klebsiella.1. tetapi semakin meningkatnya pasien-pasien dengan penyakit immunocompromised. Kebanyakan infeksi yang terjadi di rumah sakit ini lebih disebabkan karena faktor eksternal.1 Agen Infeksi Pasien akan terpapar berbagai macam mikroorganisme selama ia rawat di rumah sakit. . ‡ dan banyaknya materi infeksius. Infeksi ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme yang didapat dari orang lain (cross infection) atau disebabkan oleh flora normal dari pasien itu sendiri (endogenous infection). jamur dan parasit dapat menyebabkan infeksi nosokomial. Semua kondisi ini dapat meningkatkan resiko infeksi kepada si pasien.3 1.4 Selain itu. Contohnya Escherichia coli paling banyak dijumpai sebagai penyebab infeksi saluran kemih. Contohnya : ‡ Anaerobik Gram-positif. Proteus. Penyakit yang didapat dari rumah sakit saat ini kebanyakan disebabkan oleh mikroorganisme yang umumnya selalu ada pada manusia yang sebelumnya tidak atau jarang menyebabkan penyakit pada orang normal. bakteri yang resisten antibiotik. karena itu diperlukan antibiotik yang lebih poten atau suatu kombinasi antibiotik. Kontak antara pasien dan berbagai macam mikroorganisme ini tidak selalu menimbulkan gejala klinis karena banyaknya faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial. masih menyebabkan infeksi nosokomial menimbulkan kematian sebanyak 88. yaitu penyakit yang penyebarannya melalui makanan dan udara dan benda atau bahanbahan yang tidak steril. Clostridium yang dapat menyebabkan gangren ‡ Bakteri gram-positif: Staphylococcus aureus yang menjadi parasit di kulit dan hidung dapat menyebabkan gangguan pada paru.3.2. contohnya Escherichia coli. ‡ Bakteri gram negatif: Enterobacteriacae. Bakteri Bakteri dapat ditemukan sebagai flora normal dalam tubuh manusia yang sehat. Tetapi pada beberapa kasus dapat menyebabkan infeksi jika manusia tersebut mempunyai toleransi yang rendah terhadap mikroorganisme. mikroorganisme yang berada di rumah sakit lebih berbahaya dan lebih resisten terhadap obat. ‡ tingkat virulensi. Bakteri patogen lebih berbahaya dan menyebabkan infeksi baik secara sporadik maupun endemik. Semua mikroorganisme termasuk bakteri. virus. jantung dan infeksi pembuluh darah serta seringkali telah resisten terhadap antibiotika.1 Faktor Penyebab Perkembangan Infeksi Nosokomial II. Keberadaan bakteri disini sangat penting dalam melindungi tubuh dari datangnya bakteri patogen. super infeksi virus dan jamur.000 kasus setiap tahunnya walaupun. jika kita bandingkan kuman yang ada di masyarakat.terakhir dan sedikit demi sedikit resiko infeksi dapat dicegah. ‡ resistensi terhadap zat-zat antibiotika. pulang. dan prosedur invasif.

Banyak jamur dan parasit dapat timbul selama pemberian obat antibiotika bakteri dan obat immunosupresan. penyakit kulit dan dari darah. paru.11 3. Respiratory syncytial virus (RSV).1.2 Respon dan toleransi tubuh pasien Faktor terpenting yang mempengaruhi tingkat toleransi dan respon tubuh pasien dalam hal ini adalah: 3. endoskopi. (5 µm. dan diphtheria memerlukan hal sebagai berikut. diabetes mellitus. Keadaan-keadaan ini akan meningkatkan toleransi tubuh terhadap infeksi dari kuman yang semula bersifat opportunistik.3. Hepatitis dan HIV ditularkan melalui pemakaian jarum suntik. Cryptosporidium. Contohnya bacterial meningitis. gagal ginjal. Ruangan tersendiri untuk tiap pasiennya. ‡ Serratia marcescens. Aspergillus spp. rotavirus. infeksi traktus respiratorius. influenza virus. intubasi dan tindakan pembedahan juga meningkatkan resiko infeksi. dialisis. Resiko terjadinya infeksi nosokomial pada pasien Resiko infeksi Tipe pasien Minimal Tidak immunocompromised. juga dapat ditularkan.Enterobacter.3. termasuk virus hepatitis B dan C dengan media penularan dari transfusi. Bakteri gram negatif ini bertanggung jawab sekitar setengah dari semua infeksi di rumah sakit. Usia muda dan usia tua berhubungan dengan penurunan resistensi tubuh terhadap infeksi kondisi ini lebih diperberat bila penderita menderita penyakit kronis seperti tumor.9 ‡ Umur ‡ status imunitas penderita ‡ penyakit yang diderita ‡ Obesitas dan malnutrisi ‡ Orang yang menggunakan obat-obatan immunosupresan dan steroid ‡ Intervensi yang dilakukan pada tubuh untuk melakukan diagnosa dan terapi. contohnya infeksi dari Candida albicans. Ebola. anemia. tidak ditemukan terpapar suatu penyakit Sedang Pasien yang terinfeksi dan dengan beberapa faktor resiko Berat Pasien dengan immunocompromised berat. Parasit dan Jamur Beberapa parasit seperti Giardia lamblia dapat menular dengan mudah ke orang dewasa maupun anak-anak. Banyaknya prosedur pemeriksaan penunjang dan terapi seperti biopsi. Cryptococcus neoformans. kateterisasi. Masker . Virus lain yang sering menyebabkan infeksi nosokomial adalah cytomegalovirus. Virus Banyak kemungkinan infeksi nosokomial disebabkan oleh berbagai macam virus. suntikan dan endoskopi. dan enteroviruses yang ditularkan dari kontak tangan ke mulut atau melalui rute faecal-oral. Obat-obatan yang bersifat immunosupresif dapat menurunkan pertahanan tubuh terhadap infeksi. leukemia. 2. dan peritoneum. Infeksi gastrointestinal. dapat menyebabkan infeksi serius pada luka bekas jahitan. dan transfusi darah. Pseudomonas sering sekali ditemukan di air dan penampungan air yang menyebabkan infeksi di saluran pencernaan dan pasien yang dirawat. herpes simplex virus. dan varicella-zoster virus.9 Tabel 1. II. SLE dan AIDS. Rute penularan untuk virus sama seperti mikroorganisme lainnya.

5 Ekstravasasi infiltrat : cairan infus masuk ke jaringan sekitar insersi kanula . infeksi nosokomial tertama disebabkan infeksi dari kateter urin. staphylococci. diperkirakan 20-25% pasien memerlukan terapi infus. Penggunaan antibiotika secara besar-besaran untuk terapi dan profilaksis adalah faktor utama terjadinya resistensi. Meningkatnya resistensi bakteri dapat meningkatkan angka mortalitas terutama terhadap pasien yang immunocompromised. begitu juga klebsiella dan pseudomonas aeruginosa juga telah bersifat multiresisten.5 Faktor alat Dari suatu penelitian klinis. seperti golongan staphylococcus aureus. Bagaimana pun juga. mengakibatkan timbulnya multiresistensi kuman terhadap obat-obatan tersebut. Diruang penyakit dalam. pengobatan atau umur ‡ Mikororganisme yang baru (mutasi) ‡ Meningkatnya resistensi bakteri terhadap antibiotika II. Makanan yang tidak steril. banyak penyakit yang serius dan fatal ketika itu dapat diterapi dan disembuhkan.1.untuk petugas kesehatan. infeksi dari luka operasi dan septikemia. Pemakaian infus dan kateter urin lama yang tidak diganti-ganti. Penularan infeksi ini dapat melalui tangan.9 II. Banyak strains dari pneumococci. fisis dan kimiawi. Keadaan ini sangat nyata terjadi terutama di negara-negara berkembang dimana antibiotika lini kedua belum ada atau tidak tersedia. Peralatan dan instrumen kedokteran. tidak dimasak dan diambil menggunakan tangan yang menyebabkan terjadinya cross infection. Resitensi dari bakteri di transmisikan antar pasien dan faktor resistensinya di pindahkan antara bakteri. Penyebab utamanya karena: ‡ Penggunaan antibiotika yang tidak sesuai dan tidak terkontrol ‡ Dosis antibiotika yang tidak optimal ‡ Terapi dan pengobatan menggunakan antibiotika yang terlalu singkat ‡ Kesalahan diagnosa Banyaknya pasien yang mendapat obat antibiotika dan perubahan dari gen yang resisten terhadap antibiotika. infeksi kulit. dan menjadi sangat penting karena: ‡ Meningkatnya jumlah penderita yang dirawat ‡ Seringnya imunitas tubuh melemah karena sakit.1. keberhasilan ini menyebabkan penggunaan berlebihan dan pengunsalahan dari antibiotika. Infeksi nosokomial sangat mempengaruhi angka morbiditas dan mortalitas di rumah sakit. hepatitis dan HIV.3. 4 Infection by direct or indirect contact Infeksi yang terjadi karena kontak secara langsung atau tidak langsung dengan penyebab infeksi. pasien harus memakai masker jika meninggalkan ruangan. infeksi jarum infus. enterococci. Pembatasan area bagi pasien. infeksi saluran nafas. Banyak mikroorganisme yang kini menjadi lebih resisten. kulit dan baju. Dapat juga melalui cairan yang diberikan intravena dan jarum suntik. dan tuberculosis telah resisten terhadap banyak antibiotikaa.4 Resistensi Antibiotika Seiring dengan penemuan dan penggunaan antibiotika penicillin antara tahun 1950-1970. Penggunaan antibiotika yang terus-menerus ini justru meningkatkan multipikasi dan penyebaran strain yang resistan. Komplikasi tersebut berupa:3. Komplikasi kanulasi intravena ini dapat berupa gangguan mekanis.

Kolonisasi kuman pada ujung kateter merupakan awal infeksi tempat infus dan bakteremia. terutama pasien yang menggunakan ventilator. para influenza virus. Dapat juga karena sterilisasi yang gagal dan teknik septik dan aseptik. intubasi. kemerahan dan nyeri sepanjang vena Trombosis : Terdapat pembengkakan di sepanjang pembuluh vena yang menghambat aliran infus Kolonisasi kanul : Bila sudah dapat dibiakkan mikroorganisme dari bagian kanula yang ada dalam pembuluh darah Septikemia : Bila kuman menyebar hematogen dari kanul Supurasi : Bila telah terjadi bentukan pus di sekitar insersi kanul Beberapa faktor dibawah ini berperan dalam meningkatkan komplikasi kanula intravena yaitu: jenis kateter. sedangkan infeksi yang terjadi setelah beberapa waktu yang lama biasanya karena mikroorganisme eksogen. pemasangan melalui venaseksi.1 Infeksi saluran kemih Infeksi ini merupakan kejadian tersering.2 Pneumonia Nosokomial Pneumonia nosokomial dapat muncul. II. ukuran kateter. Organisme yang biaa menginfeksi biasanya E. adeno virus.Coli.11 Sangat sulit untuk dapat mencegah penyebaran mikroorganisme sepanjang uretra yang melekat dengan permukaan dari kateter.9. enterovirus dan corona virus. hidung. Kebanyakan pasien akan terinfeksi setelah 1-2 minggu pemasangan kateter. atau air yang digunakan untuk membesarkan balon kateter.dan Pseudomonas. Pseudomonas.2. tindakan trakeostomi.4. 11 Faktor resiko terjadinya infeksi ini adalah:9 ‡ Tipe dan jenis pernapasan ‡ Perokok berat ‡ Tidak sterilnya alat-alat bantu ‡ Obesitas ‡ Kualitas perawatan .Penyumbatan : Infus tidak berfungsi sebagaimana mestinya tanpa dapat dideteksi adanya gangguan lain Flebitis : Terdapat pembengkakan. dan terapi inhalasi.2 Macam penyakit yang disebabkan oleh infeksi nosokomial II. 80% infeksinya dihubungkan dengan penggunaan kateter urin. manipulasi terlalu sering pada kanula. tetapi dapat menyebabkan terjadinya bakteremia dan mengakibatkan kematian. sekitar 40% dari infeksi nosokomial. atau Enterococcus. Keberadaan organisme ini dapat menyebabkan infeksi karena adanya aspirasi oleh organisme ke traktus respiratorius bagian bawah.3. Organisme ini sering berada di mulut. kerongkongan. Klebsiella. Penyebab paling utama adalah kontaminasi tangan atau sarung tangan ketika pemasangan kateter. peralatan tambahan pada tempat infus untuk pengaturan tetes obat.9 II. influenza virus.2. Proteus. pemasangan NGT. tidak mengindahkan pronsip anti sepsis. Walaupun tidak terlalu berbahaya. kateter yang terpasang lebih dari 72 jam. dan perut. Kuman penyebab infeksi ini tersering berasal dari gram negatif seperti Klebsiella. cairan infus yang hipertonik dan darah transfusi karena merupakan media pertumbuhan mikroorganisme.9 Dari kelompok virus dapat disebabkan olehcytomegalovirus. Infeksi yang terjadi lebih awal lebih disebabkan karena mikroorganisme endogen. kateter yang dipasang pada tungkai bawah.

Vibrio Cholerae dan Clostridium. Salmonella. Pada pasien dengan sistem imun yang rendah.drugs resisten. terutama disebabkan oleh bakteri yang resistan antibiotika seperti Staphylococcus dan Candida. Infeksi dapat muncul di tempat masuknya alat-alat seperti jarum suntik. II. dan pengobatan serta tekanan negatif dalam ruangan. Infeksi ini dibagi menjadi dua kategori utama: ‡ Infeksi pembuluh darah primer. ‡ Faktor intrinsik: o abnormalitas dari pertahanan mukosa. diarrhea dan gastroenteritis11 Mikroorganisme tersering berasal dari E. virus hepatitis C. dan hepatitis A. rotavirus.4 Infeksi Nosokomial lainnya 1. kateter jantung dan suntikan. seperti achlorhydria o lemahnya motilitas intestinal. memproduksi endotoksin yang . muncul sebagai akibat dari infeksi dari organisme yang sama dari sisi tubuh yang lain. Kontrol terpenting untuk penyakit ini adalah identifikasi yang baik.3 Bakteremi Nosokomial Infeksi ini hanya mewakili sekitar 5 % dari total infeksi nosokomial. isolasi. Bedakan antara diarrhea dan gastroenteritis.2. dari gologan virus lebih banyak disebabkan oleh golongan enterovirus.2. Sedangkan dinegara dengan prevalensi penderita tuberkulosis yang tinggi. ‡ Faktor ekstrinsik: Pemasangan nasogastric tube dan mengkonsumsi obat-obatan saluran cerna. Infeksi pembuluh darah11 Infeksi ini sangat berkaitan erat dengan penggunaan infus. muncul tanpa adanya tanda infeksi sebelumnya. tetanus dan pertusis11 ‡ Corynebacterium diptheriae. 3. dan o perubahan pada flora normal.coli. pneumonia lebih disebabkan karena Legionella dan Aspergillus. 2. Faktor utama penyebab infeksi ini adalah panjangnya kateter. gram negatif pleomorfik. II. Faktor resiko dari gastroenteritis nosokomial dapat dibagi menjadi faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. 4. dan perawatan dari pemasangan kateter atau infus. dan berbeda dengan organisme yang ditemukan dibagian tubuhnya yang lain ‡ Infeksi sekunder. kebersihan udara harus sangat diperhatikan. Tuberkulosis11 Penyebab utama adalah adanya strain bakteri yang multi. adenovirus. suhu tubuh saat melakukan prosedur invasif. tetapi dengan resiko kematian yang sangat tinggi.‡ Penyakit ‡ Penyakit ‡ Beratnya kondisi ‡ Tingkat ‡ Penggunaan ‡ Penurunan kesadaran pasien jantung paru pasien dan penggunaan ventilator kegagalan dan kronis kronis organ antibiotika intubasi Penyakit yang biasa ditemukan antara lain: respiratory syncytial virus dan influenza. dan HIV. kateter urin dan infus. Dipteri. Selain itu. Virus yang dapat menular dari cara ini adalah virus hepatitis B.

II. karena banyaknya alasan seperti kurangnya peralatan. ‡ Membatasi resiko infeksi endogen dengan meminimalkan prosedur invasif. nutrisi yang cukup.3. perikarditis dan mediastinitis ‡ Infeksi sistem saraf pusat Meningitis atau ventrikulitis. necrotizing enterocolitis. perbedaan fasilitas yang dimiliki dan perbedaan negara yang didiami. Selain itu. otitis media. hidung. ‡ Clostridium tetani. monitoring dan program yang termasuk: ‡ Membatasi transmisi organisme dari atau antar pasien dengan cara mencuci tangan dan penggunaan sarung tangan.3 Pencegahan terjadinya Infeksi Nosokomial Pencegahan dari infeksi nosokomial ini diperlukan suatu rencana yang terintegrasi. endokarditis. Tetapi pada kenyataannya. hepatitis. Infeksi kulit dan jaringan lunak. bekas terbakar. dan infeksi lainnya ‡ Infeksi pada sistem reproduksi Endometriosis dan luka bekas episiotomi II. yang menyebabkan batuk rejan. Siklus tiap 3-5 tahun dan infeksi muncul sebanyak 50 dalam 100% individu yang tidak imun. dan rubella. infeksi intra abdominal ‡ Infeksi sistem pernafasan bawah Bronkhitis. sedikitnya pengetahuan mengenai pentingnya hal ini. Organisme yang menginfeksi akan berbeda pada tiap populasi karena perbedaan pelayanan kesehatan yang diberikan. gram positif anaerobik yang menyebabkan trismus dan kejang otot. Dari golongan virus yaitu herpes simplek. dan mulut Konjunctivitis.1 Dekontaminasi tangan Transmisi penyakit melalui tangan dapat diminimalisasi dengan menjaga hiegene dari tangan. Luka terbuka seperti ulkus. tindakan septik dan aseptik. miokarditis. otitis interna. ‡ Mengontrol resiko penularan dari lingkungan. sinusitis. ‡ Bordetella Pertusis. alergi produk pencuci tangan. telinga. penggunaan sarung tangan sangat dianjurkan bila akan melakukan tindakan atau pemeriksaan pada pasien dengan penyakitpenyakit infeksi. sterilisasi dan disinfektan. dan infeksi saluran nafas atas. infeksi mata. trakeobronkhitis. mastoiditis. Infeksi ini termasuk:1 ‡ Infeksi pada tulang dan sendi Osteomielitis. ‡ Infeksi pada saluran pencernaan Gastroenteritis. dan luka bekas operasi memperbesar kemungkinan terinfeksi bakteri dan berakibat terjadinya infeksi sistemik. ‡ Pengawasan infeksi. trakeitis. varicella zooster. ‡ Melindungi pasien dengan penggunaan antibiotika yang adekuat. dan vaksinasi. hal ini sulit dilakukan dengan benar. penularan terutama melalui sistem pernafasan.menyebabkan timbulnya penyakit. infeksi tulang atau sendi dan discus vertebralis ‡ Infeksi sistem Kardiovaskuler Infeksi arteri atau vena. identifikasi penyakit dan mengontrol penyebarannya. dan waktu mencuci tangan yang lama. otitis eksterna. Hal yang perlu diingat adalah: Memakai sarung tangan ketika akan mengambil . absess spinal dan infeksi intra kranial ‡ Infeksi mata.

mereka harus menggunakan masker saat keluar dari kamar penderita. Harus ada waktu yang teratur untuk membersihkan dinding. tabung atau keduanya yang dipakai berulangulang) dan banyaknya suntikan yang tidak penting (misalnya penyuntikan antibiotika). tirai. Permukaan toilet harus selalu bersih dan diberi disinfektan. terutama bagi penderita dengan status imun yang rendah atau bagi penderita yang dapat menyebarkan penyakit melalui udara. Sarung tangan. Setelah membalut luka atau terkena benda yang kotor. rumah sakit harus membangun suatu fasilitas penyaring air dan menjaga kebersihan pemrosesan serta filternya untuk mencegahan terjadinya pertumbuhan bakteri.11 Disinfektan akan membunuh kuman dan mencegah penularan antar pasien. Pengaturan udara yang baik sukar dilakukan di banyak fasilitas kesehatan. dan segera mencuci tangan setelah melepas sarung tangan. atau tidak berbau tak enak . membran mukosa dan bahan yang kita anggap telah terkontaminasi. sebaiknya digunakan terutama ketika menyentuh darah. Begitupun dengan pasien yang menderita infeksi saluran nafas. jendela. urin dan feses. lantai. II. Kamar dengan pengaturan udara yang baik akan lebih banyak menurunkan resiko terjadinya penularan tuberkulosis.2 Instrumen yang sering digunakan Rumah Sakit Simonsen et al (1999) menyimpulkan bahwa lebih dari 50% suntikan yang dilakukan di negara berkembang tidaklah aman (contohnya jarum.3. cairan tubuh. Usahakan adanya pemakaian penyaring udara. kamar mandi. terutama pada unit perawatan pasien diare untuk mencegah terjadinya infeksi antar pasien. ‡ Tidak sulit digunakan ‡ Tidak mudah menguap ‡ Bukan bahan yang mengandung zat yang berbahaya baik untuk petugas maupun pasien ‡ Efektif ‡ tidak berbau. urin. Disinfeksi yang dipakai adalah: ‡ Mempunyai kriteria membunuh kuman ‡ Mempunyai efek sebagai detergen ‡ Mempunyai efek terhadap banyak bakteri. Selain itu. feses maupun urine. cairan tubuh. Masker.3 Mencegah penularan dari lingkungan rumah sakit Pembersihan yang rutin sangat penting untuk meyakinkan bahwa rumah sakit sangat bersih dan benar-benar bersih dari debu. minyak dan kotoran. Sterilisasi air pada rumah sakit dengan prasarana yang terbatas dapat menggunakan panas matahari. atau keringat. tempat tidur.3. sanrung tangan harus segera diganti.11 Toilet rumah sakit juga harus dijaga. Perlu diingat bahwa sekitar 90 persen dari kotoran yang terlihat pasti mengandung kuman. sebagai pelindung terhadap penyakit yang ditularkan melalui udara.11 II. cairan tubuh. dan alat-alat medis yang telah dipakai berkali-kali. tinja. Sarung tangan harus selalu diganti untuk tiap pasiennya.7 Untuk mencegah penyebaran penyakit melalui jarum suntik maka diperlukan: ‡ Pengurangan penyuntikan yang kurang diperlukan ‡ Pergunakan jarum steril ‡ Penggunaan alat suntik yang disposabel. dapat melarutkan minyak dan protein. pintu.11 Baju khusus juga harus dipakai untuk melindungi kulit dan pakaian selama kita melakukan suatu tindakan untuk mencegah percikan darah.atau menyentuh darah.

3. contohnya DHF dan HIV. selain ada bakteri yang patogen oportunis. obesitas dan malnutrisi. yang mengakibatkan kontaminasi berat.4 Perbaiki ketahanan tubuh Di dalam tubuh manusia. Biasanya. resistensi antibiotika. dihubungkan dengan penggunaan kateter urin. dipengaruhi oleh pemakaian infus dan kateter urin lama yang tidak diganti-ganti. Infeksi ini merupakan kejadian tersering. pemasangan NGT. kontaminasi benda. dan faktor alat. dan banyaknya materi infeksius.faktor yang menyebabkan perkembangan infeksi nosokomial tergantung dari agen yang menginfeksi.II. Nosokomial bakteremi yang memiliki resiko kematian yang sangat tinggi. Faktor alat. terapi dan pengobatan menggunakan antibiotika yang terlalu singkat. intervensi yang dilakukan pada tubuh untuk melakukan diagnosa dan terapi. dan terapi inhalasi. tetapi bila sedang terjadi kejadian luar biasa dan penderita melebihi kapasitas. dan kesalahan diagnosa. Nosokomial pneumonia. Respon dan toleransi tubuh pasien dipengaruhi oleh: Umur. misalnya seperti apa yang terjadi di dalam saluran cerna manusia. Dengan demikian bahaya infeksi dengan bakteri oportunis pada penderita penyakit berat dapat diatasi tanpa harus menggunakan antibiotika. dan membantu ketahanan tubuh melawan invasi jasad renik patogen serta menjaga keseimbangan di antara populasi jasad renik komensal pada umumnya. beberapa pasien dalam satu ruangan tidaklah apa-apa selama mereka menderita penyakit yang sama. contohnya tuberkulosis. dan materi yang sering digunakan tidak hanya pada satu orang pasien. dosis antibiotika yang tidak optimal. Ruang isolasi sangat diperlukan terutama untuk penyakit yang penularannya melalui udara. . dan SARS. resistensi terhadap zat-zat antibiotika. peralatan kesehatan di dalam ruang isolasi juga sangat penting. faktor lingkungan. terutama karena pemakaian ventilator. misalnya Infeksi saluran kemih. orang yang menggunakan obat-obatan immunosupresan dan steroid. Faktor lingkungan dipengaruhi oleh padatnya kondisi rumah sakit. ‡ Agen Infeksi yang kemungkinan terjadinya infeksi tergantung pada: karakteristik mikroorganisme. pasien yang mempunyai resistensi rendah eperti leukimia dan pengguna obat immunosupresan juga perlu diisolasi agar terhindar dari infeksi. Resistensi Antibiotika disebabkan karena: Penggunaan antibiotika yang tidak sesuai dan tidak terkontrol. Tetapi menjaga kebersihan tangan dan makanan. Pengetahuan tentang mekanisme ketahanan tubuh orang sehat yang dapat mengendalikan jasad renik oportunis perlu diidentifikasi secara tuntas.9 BAB KESIMPULAN DAN SARAN III III.3. penyakit yang diderita. alat. banyaknya pasien yang keluar masuk. tindakan trakeostomy. Penularan yang melibatkan virus.1 Kesimpulan ‡ Faktor. ada pula bakteri yang secara mutualistik yang ikut membantu dalam proses fisiologis tubuh. Ruang isolasi ini harus selalu tertutup dengan ventilasi udara selalu menuju keluar. sehingga dapat dipakai dalam mempertahankan ketahanan tubuh tersebut pada penderita penyakit berat. penggabungan kamar pasien yang terkena infeksi dengan pengguna obatobat immunosupresan. intubasi. 6 II. ‡ Macam penyakit yang disebabkan oleh infeksi nosokomial. status imunitas penderita. respon dan toleransi tubuh.5 Ruangan Isolasi Penyebaran dari infeksi nosokomial juga dapat dicegah dengan membuat suatu pemisahan pasien. Sebaiknya satu pasien berada dalam satu ruang isolasi. tingkat virulensi.

World Health Organization. 2nd edition. 2001 9. anonymus. 2001 5. www. agussur@hotmail. Jakarta. dkk. jendela. HT. 1995 10. pintu. Pohan. Ducel. Cleveland Street. Pusat Informasi dan Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. identifikasi penyakit dan mengontrol penyebarannya.2 Saran ‡ Eliminasi dan kurangi perkembangan agen penyebab infeksi dan faktor lainnya yang menyebabkan perkembangan infeksi nosokomial. Suwarni. III. 2002 8. et al. ‡ Mengurangi prosedur-prosedur invasif untuk menghindari terjadinya infeksi nosokomial. Soeparman.oph. 2002 Profilaksis Pascapajanan Apa Profilaksis Pascapajanan Itu? Unduh versi PDF . Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. kamar mandi. Prevention of hospital-acquired infections. Yogyakarta.Louisiana. Infection control in the hospital. dan alat-alat medis yang telah dipakai berkali-kali. noscomial infection.2004 11. tirai. Olmsted RN. Science Press limited. DAFTAR PUSTAKA 1. St Louis. Badan Litbang Kesehatan Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial. Current Diagnosis and Treatment in Internal Medicine. AJ. tempat tidur. second ed. 2001 6. Department of Communicable disease. JR.in International society for infectious diseases. Surveillance and Response. G. Jakarta. ‡ Pencegahan terjadinya Infeksi Nosokomial memerlukan suatu rencana yang terintegrasi. Preventing Nosocomial Infection.dhh. Redaksi Intisari. Infectious Disease Epidemiology Section. London. Harrison¶s Principle of Internal Medicine 15 Edition. 2002 4. Surono. Pocket Reference to Hospital Acquired infection. Boston. Wenzel.com 7. monitoring dan program untuk mengawasi kejadian infeksi. Liffe. Babb.gov 3. A. A. A practical guide. Mosby. 1996 2. Infectious disease. Anonymus.louisiana. Studi Diskriptif Pola Upaya Penyehatan Lingkungan Hubungannya dengan Rerata Lama Hari Perawatan dan Kejadian Infeksi Nosokomial Studi Kasus: Penderita Pasca Bedah Rawat Inap di Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta Provinsi DIY Tahun 1999. Light RW. ‡ Penybaran infeksi nosokomial terutama dari udara dan air harus menjadi perhatian utama agar infeksi tidak meluas. APIC Infection Control and Applied Epidemiology: Principles and Practice. Balai Penerbit FKUI. lantai.-CD Room.‡ Mencegah penularan dari lingkungan rumah sakit terutama dari dinding.

. Desinfeksi luka dan daerah sekitar kulit dengan betadine selama lima menit atau alkohol selama tiga menit. Pajanan ini biasa terjadi dalam sarana medis. Apa yang Harus Dilakukan Setelah Pajanan? Jangan panik! Namun segera lakukan tindakan. ada tiga macam pajanan itu: Pajanan di tempat kerja. air mani. Jangan dihisap dengan mulut. Pajanan mata: bilas selama beberapa menit dengan air bersih. risikonya lebih tinggi. Pajanan hidung: hembuskan keluar dan bersihkan dengan air. Luka tusuk: bilas dengan air mengalir dan sabun atau antiseptik. atau jika darah atau cairan lain pasien kena luka terbuka. Pajanan mulut: ludahkan dan berkumur.3%. Pajanan adalah peristiwa yang menimbulkan risiko penularan. Peristiwa yang termaksud biasanya kecelakaan akibat tertusuk jarum suntik bekas pakai secara tidak sengaja pada petugas. dan berasal jika darah. cairan vagina atau ASI dari seorang yang terinfeksi HIV masuk ke aliran darah orang lain. Tambahannya. Risiko lebih tinggi jika: y y y y tusukan dalam. Pajanan akibat hubungan seks berisiko. Pemerkosa hampir pasti tidak memakai kondom. hidung atau mata petugas atau orang lain. Terkait dengan PPP. darah dapat terlihat pada alat yang menyebabkan luka. jarum atau alat sebelumnya ditempatkan pada pembuluh darah pasien. misalnya bila kondom pecah atau lepas saat seorang Odha berhubungan seks dengan pasangan HIV-negatif. atau pasien sumber mempunyai viral load HIV yang tinggi. Risiko Penularan Akibat Pajanan di Tempat Kerja Kemungkinan terjadinya penularan akibat tertusuk jarum suntik adalah rendah: rata-rata 0. Pajanan akibat perkosaan. Kurang lebih satu dari 300 kasus akan menghasilkan infeksi HIV pada petugas kesehatan. dalam hal ini biasanya petugas perawatan kesehatan. yang sering disertai kekerasan. Pajanan juga dapat terjadi dengan pisau bedah.Profilaksis berarti pencegahan infeksi dengan obat. Jadi profilaksis pascapajanan (atau PPP) berarti penggunaan obat untuk mencegah infeksi setelah terjadi peristiwa yang berisiko. dan jangan ditekan karena ini tidak berguna. jika hubungan seks terjadi secara paksa. atau mulut. bila tidak dilakukan tindakan pencegahan.

beberapa pakar mengusulkan dipakai tenofovir + 3TC/FTC. laporkan pajanan agar dapat segera diselidiki. dan setelah 4. Namun rejimen ini belum disetujui dalam pedoman nasional. Nevirapine dan efavirenz tidak diusulkan untuk PPP. PPP harus dilangsungkan selama empat minggu. Bagaimana PPP Dipakai? PPP dilakukan dengan penggunaan obat antiretroviral (ARV) ± lihat Lembaran Informasi (LI) 403. Jika pasien sumber pajanan ternyata HIV-negatif. sebaiknya dalam 1-2 jam dan tidak lebih dari 72 jam. berdasarkan hasil penyelidikan. dan konseling harus tersedia lagi selama masa memakai PPP. Penelitian menunjukkan penurunan 79% pada risiko tertular dengan penggunaan obat tunggal ini. tetapi boleh dihentikan jika ada efek samping yang berat. misalnya lopinavir/r (Kaletra/Aluvia). Diusulkan orang yang terpajan melakukan tes HIV pada awal (tidak lebih dari 24 jam). ditambah Aluvia untuk yang berisiko tinggi. 12. kerahasiaannya harus dijamin. PPP dapat dihentikan. PPP harus dimulai secepatnya setelah pajanan. air mani atau cairan vagina seseorang dengan viral load yang tinggi.Hubungan seks: jangan bilas vagina. biasanya protease inhibitor. Terakhir ini. dan tidak ada kemungkinan dia masih dalam masa jendela. Namun tes HIV pada pasien sumber harus dilaksanakan sesuai dengan peraturan ± lihat LI 102. Jelas. diusulkan ditambah satu jenis obat lagi. Saat ini di Indonesia. Keadaan yang dianggap cukup berat untuk mulai PPP termasuk: y y y y pajanan pada banyak darah. Orang yang terpajan harus segera diberi konseling. darah dapat terlihat pada jarum yang menusuk. dan 24 minggu. atau pajanan pada darah. darah bersentuh pada luka yang terbuka. yaitu AZT. dua jenis obat (AZT + 3TC) biasanya dipakai. hanya satu jenis obat. Dahulu. Efek Samping PPP . PPP hanya disediakan untuk petugas layanan kesehatan yang mengalami kecelakaan kerja. Setelah dibersihkan. dipakai. Namun sekarang. dan jika risiko dianggap sangat tinggi. Kapan PPP Diusulkan? Keputusan harus diambil apakah PPP akan dimulai.

yang sering menyertai HIV pada orang yang terinfeksi melalui penggunaan jarum suntik bergantian. 1. Infeksi ini termasuk virus hepatitis B dan C. obat bius. Pajanan pada Infeksi Lain Harus diingat bahwa ada beberapa infeksi lain yang diangkut darah. dengan daya menular yang jauh lebih tinggi dibandingkan HIV.1 Apakah hepatitis C itu ? Istilah 'hepatitis' berarti radang hati. Karena ARV dapat menyebabkan efek samping yang cukup berat. Hepatitis C. Anda bisa mendapatkan vaksinasi untuk pencegahan hep A dan hep . 1.Efek samping yang paling umum termasuk mual dan rasa tidak nyaman.2 Apakah hep C itu sama dengan hep A dan hep B ? Hep A. berarti PPP tidak menjamin pajanan pada HIV tidak akan menghasilkan infeksi. Cara penularannya juga berbeda. Hanya 0. Kewaspadaan ini termasuk penggunaan sarung tangan lateks dan pelindung lain waktu melaksanakan tindakan yang berisiko pada semua pasien. Cara terbaik untuk mencegah terjadinya penularan pada sarana medis adalah melaksanakan kewaspadaan universal pada semua pasien. atau "hep C". Semua infeksi ini dapat dicegah dengan penggunaan kewaspadaan universal (lihat LI 811). terlalu banyak minum alkohol atau beberapa jenis virus. sebaiknya PPP hanya dipakai jika benar-benar dibutuhkan. PPP dapat mengurangi risiko terinfeksi hingga 79%. Garis Dasar Profilaksis pascapajanan (PPP) adalah penggunaan ARV secepatnya setelah terjadi peristiwa yang berisiko penularan HIV. PPP terdiri dari dua atau tiga obat yang dipakai dua kali sehari selama empat minggu. hep B dan hep C adalah virus yang berlainan yang menyebabkan peradangan hati. Peradangan ini bisa disebabkan oleh zat kimia. PPP tidak 100% efektif. bukan hanya mereka yang diketahui terinfeksi penyakit tersebut.3% pajanan menghasilkan infeksi HIV. PPP hanya dipakai setelah penyelidikan menunjukkan ada risiko pada orang yang terpajan. Efek samping lain dapat dilihat pada lembaran informasi masing-masing obat. untuk mencegah infeksi HIV. disebabkan oleh virus hepatitis C.

demikian juga di negara anda dan negara lainnya. ‡ Hubungan darah ke darah selama hubungan seks. berciuman atau berpelukan. Banyak mitos tentang bagaimana penularannya hep C. dan banyak orang tidak tahu bahwa mereka terinfeksi. maka sangat penting untuk diingat bahwa: Hep C DAPAT ditularkan dengan: Resiko tinggi ‡ Alat-alat medis yang tidak steril atau alat-alat medis di dokter gigi dan pengobatan tradisional dengan cara menindik tubuh. contohnya pisau cukur dan sikat gigi. vaksinasi. ‡ Kolam renang. dan prosedur medis sudah aman di Australia. ‡ Tato dan menindik tubuh yang tidak steril. Ada kemungkinan terjangkit virus hepatitis yang berlainan pada waktu yang bersamaan. Donor darah. termasuk juga steroid. Resiko rendah ‡ Luka tertusuk jarum bagi petugas kesehatan. Sampai saat ini di Australia masih beresiko. ‡ Penularan dari Ibu ke anak mungkin bisa terjadi selama mengandung atau setelah melahirkan jika Ibu terinfeksi hep C. ‡ Gigitan nyamuk atau serangga lainnya. ‡ Batuk. Walaupun jumlah darahnya sangat kecil untuk dilihat dengan mata biasa. Hep C TIDAK DAPAT ditularkan melalui: ‡ Pemakaian toilet secara bersama. 1.3 Bagaimanakah hep C ditularkan ? Hep C ditularkan sewaktu darah yang terinfeksi masuk ke aliran darah orang yang belum terinfeksi.B. bersin. ‡ Transfusi dan produk darah di Australia sebelum tahun 1990. 1. Cara penularan hep C yang disebut diatas pada umumnya terjadi di banyak negara. Satu dari seratus orang di Australia dan diseluruh dunia terinfeksi hep C. Hep C terjadi di semua Negara di dunia.4 Apa akibat dari hep C? . masih bisa menularkan virus. ‡ Di Australia kasus penularan Hep. ‡ Pemakaian bersama alat makan dan alat minum . ‡ Menggunakan barang orang lain yang mungkin ada darah yang tertinggal. Seseorang bisa terinfeksi hep C tanpa mengetahuinya karena gejalanya bisa memakan waktu bertahun-tahun. tetapi belum ada vaksin pencegahan untuk hep C. ‡ Luka tertusuk jarum dari jarum bekas obat bius yang dibuang ditempat umum.C lebih banyak disebabkan oleh penggunaan alat-alat suntik obat bius yang sudah dipakai orang lain.

yang akan dirasakan dalam waktu 10 sampai 15 tahun. 5 dari mereka akan terkena kanker hati. 1. atau membantu seseorang menggunakan suntikan narkoba (termasuk steroid) ‡ Pernah di penjara dan menggunakan narkoba yang disuntikan. tetapi kemungkinan penderita tidak merasakan gejalanya. mendapatkan tato atau menindik tubuh. dan mungkin secara tidak steril di negara lain. atau pemakaian bersama alat-alatnya.6 Hep C dan kesehatan pribadi Sangat penting bagi penderita hep C melakukan pemeriksaan rutin oleh dokter. tanpa adanya pengobatan . kira-kira 30 dari mereka akan terlihat gejalanya. Jika penderita mengalami gejala. setidaknya 1 dari 4 orang dapat disembuhkan secara bertahap. Anda bisa mendapatkan tes secara gratis dan rahasia di klinik kesehatan seksual. dan menjaga kesehatannya sebaik mungkin. Kebanyakan penderita tidak mengalami gejala hep C. tanpa kartu kesehatan ("medicare card"). ‡ Pernah mendapatkan perawatan tradisional. ‡ Sisa yang 75% lagi masih terjangkit virus pada tubuhnya. 1. yang akan menjaga kerahasiaan.‡ Dari 100 orang penderita hep C. Page 2 1. rasa mual dan rasa sakit di bagian perut bawah. Dewan Hepatitis C di daerah Anda (Hepatitis C Council) akan memberikan dukungan dan informasi tentang hidup dengan hep C. ‡ Pernah menggunakan narkoba yang disuntikan. ‡ Setelah 20 tahun.5 Tes hep C Tes hep C perlu dijalankan apabila: ‡ Anda telah menerima tranfusi atau produk darah. Bisa juga menanyakan ke dokter tentang hep C dan tes hep C. vaksinasi atau prosedur medis. kira-kira 10 akan terserang kegagalan hati tanpa adanya pengobatan.7 Perawatan hep C . atau pemakaian bersama alat-alatnya . biasanya gejala yang lazim ialah: selalu lelah. dalam masa kurun waktu 12 bulan. Anda bisa meminta dokter untuk menjalani tes ini. menggunakan pisau cukur dan pemakaian bersama sikat gigi. Anda berhak meminta penterjemah. termasuk steroid. tato atau menindik tubuh secara tidak steril. Satu-satunya cara untuk menentukan apakah anda mempunyai hep C adalah menjalani tes darah. ‡ Apabila mereka terinfeksi hep C. ‡ Kurang pasti bahwa alat-alat tato dan menindik tubuh tidak steril ‡ Menerima transfusi atau produk darah sebelum Februari 1990 di Australia.

Masalah terbesar bagi penderita hep C adalah kepada siapa kita bisa mengatakannya (menyingkapkan). Dukungan dan pengertian untuk penyandang hep C.Ada perawatan untuk hep C. Untuk keterangan lebih lanjut anda bisa menghubungi Dewan Hepatitis C di daerah Anda ("Hepatitis C Council") atau ahli medis tradisional yang terdaftar untuk obat-obatan tradisional. . Dokter anda atau Dewan hep C juga dapat memberikan keterangan mengenai lokasi daerah tersedianya klinik.9 Dukungan dan pengertian Hep C bisa membawa aib dan salah pengertian. teman. Beberapa tempat ahli hati juga menyediakan ruangan khusus pribadi.. ada beberapa kondisi yang memerlukan pemeriksaan untuk perawatan.8 Pencegahan hep C di kalangan masyarakat. jangan memberi tahu orang lain kecuali jika Anda diizinkandari penderita. Tidak semua penderita hep C memerlukan perawatan. ‡ Praktek medis umum dan traditional yang steril. dan masyarakat kita.klinik ini hanya tersedia di beberapa Rumah Sakit pilihan dan pusat layanan khusus masyarakat. Termasuk juga pekerjaan. Perawatan kombinasi ini hanya terdapat di dokter ahli bagian klinik ("specialist") hati. Di Australia diskriminasi terhadap penyandang hep C dianggap melanggar hukum. yaitu perawatan kombinasi ("Combination Therapy'). Klinik. ‡ Menyediakan alat-alat suntikan yang steril dan pendidikan bagi pemakai suntikan narkoba ( mengurangi resiko). 1.* 1. Jika seseorang mengatakan kepada anda bahwa dia menyandang hep C. Di seluruh dunia. akan memudahkan bagi keluarga. ‡ Tempat praktek tato dan menindik tubuh yang steril. Untuk keterangan lebih lanjut anda bisa menghubungi dokter anda atau dari Dewan Hepatitis C di daerah Anda ("Hepatitis C Council"). penularan hep C dapat dicegah melalui: ‡ Donasi darah yang sudah di seleksi ("screening"). Membuat orang merasa malu dan terkucil. yang bisa menyembuhkan infeksi hep C yang kira-kira melingkupi -50-80% kasus. Merusak kepercayaan seseorang mengakibatkan tekanan batin yang berat bagi penderita. Program jarum dan alat-alat semprot ("Needle and Syringe Programs" atau "NSP') membantu mengurangi bahaya dari pengguna suntikan narkoba di Australia dan di seluruh dunia. Program tersebut mengurangi pengaruh buruk bagi pribadi. Sudah terbukti "NSP" di Australia cukup sukses dalam pencegahan penularan hep C. . Ada beberapa penderita hep C yang menggunakan obat-obatan tradisional untuk mengurangi gejala-gejala dan efek samping dari perawatan. keluarga dan masyarakat yang disebabkan oleh penyakit ini dan juga menghemat milyaran dolar bagi masyarakat.

Dewan Hepatitis C di daerah Anda ("Hepatitis C Council") dapat memberi Anda informasi secara rahasia dan dukungan tentang pengungkapan. Kuman penyakit ini dapat hidup dan berkembang di lingkungan rumah sakit. seperti. kecuali untuk pengajuan asuransi hidup atau kalau Anda menyumbangkan darah.5 I. Terjadinya infeksi nosokomial akan menimbulkan banyak kerugian. Dengan bantuan penterjemah anda bisa disambungkan ke nomor telpon yang anda minta. Pekerja pelayanan kesehatan tidak diperbolehkan mengungkapkan keadaan kesehatan anda kepada siapapun tanpa persetujuan anda. bisa menelepon penterjemah atau "Translating and Interpreting Service" ("TIS") di nomor 131 450 (sama ongkos lokal).4 Infeksi nosokomial ini dapat berasal dari dalam tubuh penderita maupun luar tubuh. 1. antara lain : ‡ lama hari perawatan bertambah panjang ‡ penderitaan bertambah .2. Di tempat ini pasien mendapatkan terapi dan perawatan untuk dapat sembuh. rumah sakit selain untuk mencari kesembuhan. pasien yang masuk rumah sakit dan menunjukkan tanda infeksi yang kurang dari 72 jam menunjukkan bahwa masa inkubasi penyakit telah terjadi sebelum pasien masuk rumah sakit. Tetapi. air. Infeksi yang muncul selama seseorang tersebut dirawat di rumah sakit dan mulai menunjukkan suatu gejala selama seseorang itu dirawat atau setelah selesai dirawat disebut infeksi nosokomial. dan infeksi yang baru menunjukkan gejala setelah 72 jam pasien berada dirumah sakit baru disebut infeksi nosokomial 1.2. sementara infeksi eksogen (cross infection) disebabkan oleh mikroorganisme yang berasal dari rumah sakit dan dari satu pasien ke pasien lainnya. udara. 1.1 Definisi Infeksi adalah adanya suatu organisme pada jaringan atau cairan tubuh yang disertai suatu gejala klinis baik lokal maupun sistemik. diskriminasi dan pekerjaan.2 Rumah Sakit Rumah sakit merupakan suatu tempat dimana orang yang sakit dirawat dan ditempatkan dalam jarak yang sangat dekat. I. juga merupakan depot bagi berbagai macam penyakit yang berasal dari penderita maupun dari pengunjung yang berstatus karier. lantai. Infeksi endogen disebabkan oleh mikroorganisme yang semula memang sudah ada didalam tubuh dan berpindah ke tempat baru yang kita sebut dengan self infection atau auto infection.Penyandang hep C tidak perlu memberi tahu keadaannya kepada siapapun juga. Dan anda bisa berbicara dengan pelayanan yang anda inginkan.10 Informasi lebih lanjut Jika Anda ingin menghubungi pelayanan tersebut dalam bahasa Indonesia.3. makanan dan benda-benda medis maupun non medis. Secara umum.

4 I.26%. Karena itulah.. masih menyebabkan infeksi nosokomial menimbulkan kematian sebanyak 88. infus yang lama dan kateter urin yang lama. Infeksi nosokomial ini pun tidak hanya mengenai pasien saja. dan dibeberapa negara. dengan rata-rata keseluruhan 4. jika kita bandingkan kuman yang ada di masyarakat. Timur Tengah. Pasien dengan umur tua.7% dari 55 rumah sakit dari 14 negara yang berasal dari Eropa. Keadaan ini justru memperlama waktu perawatan dan perubahan pengobatan dengan obat-obatan mahal. anemia.2.3. Semua kondisi ini dapat meningkatkan resiko infeksi kepada si pasien.3.2 hari.3 Epidemiologi Infeksi nosokomial banyak terjadi di seluruh dunia dengan kejadian terbanyak di negara miskin dan negara yang sedang berkembang karena penyakit-penyakit infeksi masih menjadi penyebab utama. Untuk rerata lama perawatan berkisar antara 4. pencegahan infeksi nosokomial lebih diutamakan untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan pasien dirumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.5 Sumber penularan dan cara penularan terutama melalui tangan dan dari petugas kesehatan maupun personil kesehatan lainnya.5 BAB II ISI .0%. tetapi juga dapat mengenai seluruh personil rumah sakit yang berhubungan langsung dengan pasien maupun penunggu dan para pengunjung pasien. dinegara-negara miskin dan berkembang. kateter iv.‡ biaya meningkat Dari hasil studi deskriptif Suwarni. penyakit autoimun dan penggunaan imuno supresan atau steroid didapatkan bahwa resiko terkena infeksi lebih besar. A di semua rumah sakit di Yogyakarta tahun 1999 menunjukkan bahwa proporsi kejadian infeksi nosokomial berkisar antara 0.0% hingga 12. terdapat banyak prosedur dan tindakan yang dilakukan baik untuk membantu diagnosa maupun memonitor perjalanan penyakit dan terapi yang dapat menyebabkan pasien cukup rentan terkena infeksi nosokomial. penyakit keganasan.7 Di beberapa bagian. atau beberapa tindakan seperti prosedur diagnostik invasif. mikroorganisme yang berada di rumah sakit lebih berbahaya dan lebih resisten terhadap obat.000 kasus setiap tahunnya walaupun.3 Walaupun ilmu pengetahuan dan penelitian tentang mikrobiologi meningkat pesat pada 3 dekade terakhir dan sedikit demi sedikit resiko infeksi dapat dicegah. Asia Tenggara dan Pasifik tetap menunjukkan adanya infeksi nosokomial dengan Asia Tenggara sebanyak 10. dengan rata-rata keseluruhan 6. Suatu penelitian yang yang dilakukan oleh WHO menunjukkan bahwa sekitar 8. kateter urin. dan cara yang keliru dalam menangani luka. bakteri yang resisten antibiotik. tetapi semakin meningkatnya pasien-pasien dengan penyakit immunocompromised.3 ± 11. kasa pembalut atau perban.2.8 Selama 10-20 tahun belakang ini telah banyak perkembangan yang telah dibuat untuk mencari masalah utama terhadap meningkatnya angka kejadian infeksi nosokomial di banyak negara. jarum injeksi. karena itu diperlukan antibiotik yang lebih poten atau suatu kombinasi antibiotik. dan prosedur invasif. Setelah diteliti lebih lanjut maka didapatkan bahwa angka kuman lantai ruang perawatan mempunyai hubungan bermakna dengan infeksi nosokomial. berbaring lama. diabetes.06%.7 hari. super infeksi virus dan jamur. terutama di bagian penyakit dalam dalam. serta penggunaan jasa di luar rumah sakit. dengan penyakit yang sangat parah. atau pasien dengan penyakit tertentu yaitu penyakit yang memerlukan kemoterapi.4 Selain itu. kondisinya justru sangat memprihatinkan.

termasuk virus hepatitis B dan C dengan media penularan dari transfusi. 2. ‡ Serratia marcescens.1 Agen Infeksi Pasien akan terpapar berbagai macam mikroorganisme selama ia rawat di rumah sakit. contohnya Escherichia coli. Contohnya Escherichia coli paling banyak dijumpai sebagai penyebab infeksi saluran kemih. dan peritoneum. suntikan dan endoskopi.1. rotavirus. Hepatitis dan HIV ditularkan melalui pemakaian jarum suntik. Infeksi ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme yang didapat dari orang lain (cross infection) atau disebabkan oleh flora normal dari pasien itu sendiri (endogenous infection). Bakteri Bakteri dapat ditemukan sebagai flora normal dalam tubuh manusia yang sehat. paru.3 1. virus. dapat menyebabkan infeksi serius pada luka bekas jahitan. Tetapi pada beberapa kasus dapat menyebabkan infeksi jika manusia tersebut mempunyai toleransi yang rendah terhadap mikroorganisme. Proteus. Rute penularan untuk virus sama seperti mikroorganisme . jamur dan parasit dapat menyebabkan infeksi nosokomial. Enterobacter. Bakteri gram negatif ini bertanggung jawab sekitar setengah dari semua infeksi di rumah sakit. dialisis. ‡ tingkat virulensi. Penyakit yang didapat dari rumah sakit saat ini kebanyakan disebabkan oleh mikroorganisme yang umumnya selalu ada pada manusia yang sebelumnya tidak atau jarang menyebabkan penyakit pada orang normal. Klebsiella. Keberadaan bakteri disini sangat penting dalam melindungi tubuh dari datangnya bakteri patogen. Semua mikroorganisme termasuk bakteri. ‡ dan banyaknya materi infeksius. ‡ resistensi terhadap zat-zat antibiotika.II. yaitu penyakit yang penyebarannya melalui makanan dan udara dan benda atau bahanbahan yang tidak steril. jantung dan infeksi pembuluh darah serta seringkali telah resisten terhadap antibiotika. Pseudomonas sering sekali ditemukan di air dan penampungan air yang menyebabkan infeksi di saluran pencernaan dan pasien yang dirawat. dan transfusi darah. Clostridium yang dapat menyebabkan gangren ‡ Bakteri gram-positif: Staphylococcus aureus yang menjadi parasit di kulit dan hidung dapat menyebabkan gangguan pada paru. pulang. dan enteroviruses yang ditularkan dari kontak tangan ke mulut atau melalui rute faecal-oral. ‡ Bakteri gram negatif: Enterobacteriacae. Virus Banyak kemungkinan infeksi nosokomial disebabkan oleh berbagai macam virus. Kemungkinan terjadinya infeksi tergantung pada:3 ‡ karakteristik mikroorganisme. Kebanyakan infeksi yang terjadi di rumah sakit ini lebih disebabkan karena faktor eksternal. Kontak antara pasien dan berbagai macam mikroorganisme ini tidak selalu menimbulkan gejala klinis karena banyaknya faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial. Respiratory syncytial virus (RSV). Bakteri patogen lebih berbahaya dan menyebabkan infeksi baik secara sporadik maupun endemik.1 Faktor Penyebab Perkembangan Infeksi Nosokomial II. Contohnya : ‡ Anaerobik Gram-positif.

Banyaknya prosedur pemeriksaan penunjang dan terapi seperti biopsi. tidak dimasak dan diambil menggunakan tangan yang menyebabkan terjadinya cross infection. seperti golongan staphylococcus aureus. SLE dan AIDS. Makanan yang tidak steril. Ebola. herpes simplex virus. Masker untuk petugas kesehatan. Obat-obatan yang bersifat immunosupresif dapat menurunkan pertahanan tubuh terhadap infeksi. influenza virus. infeksi traktus respiratorius.1. anemia.3. dan varicella-zoster virus. Virus lain yang sering menyebabkan infeksi nosokomial adalah cytomegalovirus. Ruangan tersendiri untuk tiap pasiennya.9 Tabel 1. Cryptococcus neoformans. kulit dan baju. dan diphtheria memerlukan hal sebagai berikut. Penularan infeksi ini dapat melalui tangan. Dapat juga melalui cairan yang diberikan intravena dan jarum suntik.9 II. hepatitis dan HIV. Infeksi gastrointestinal. (5 µm. penyakit kulit dan dari darah.3. Keadaan-keadaan ini akan meningkatkan toleransi tubuh terhadap infeksi dari kuman yang semula bersifat opportunistik.3. Contohnya bacterial meningitis. Aspergillus spp. juga dapat ditularkan.1.2 Respon dan toleransi tubuh pasien Faktor terpenting yang mempengaruhi tingkat toleransi dan respon tubuh pasien dalam hal ini adalah: 3. gagal ginjal. Pembatasan area bagi pasien. diabetes mellitus. II.11 3. leukemia. banyak . intubasi dan tindakan pembedahan juga meningkatkan resiko infeksi. 4 Infection by direct or indirect contact Infeksi yang terjadi karena kontak secara langsung atau tidak langsung dengan penyebab infeksi. Peralatan dan instrumen kedokteran.4 Resistensi Antibiotika Seiring dengan penemuan dan penggunaan antibiotika penicillin antara tahun 1950-1970. pasien harus memakai masker jika meninggalkan ruangan. Banyak jamur dan parasit dapat timbul selama pemberian obat antibiotika bakteri dan obat immunosupresan. endoskopi. Resiko terjadinya infeksi nosokomial pada pasien Resiko infeksi Tipe pasien Minimal Tidak immunocompromised.lainnya. Usia muda dan usia tua berhubungan dengan penurunan resistensi tubuh terhadap infeksi kondisi ini lebih diperberat bila penderita menderita penyakit kronis seperti tumor. tidak ditemukan terpapar suatu penyakit Sedang Pasien yang terinfeksi dan dengan beberapa faktor resiko Berat Pasien dengan immunocompromised berat. contohnya infeksi dari Candida albicans. kateterisasi.9 ‡ Umur ‡ status imunitas penderita ‡ penyakit yang diderita ‡ Obesitas dan malnutrisi ‡ Orang yang menggunakan obat-obatan immunosupresan dan steroid ‡ Intervensi yang dilakukan pada tubuh untuk melakukan diagnosa dan terapi. Parasit dan Jamur Beberapa parasit seperti Giardia lamblia dapat menular dengan mudah ke orang dewasa maupun anak-anak. Cryptosporidium.

infeksi jarum infus.penyakit yang serius dan fatal ketika itu dapat diterapi dan disembuhkan. diperkirakan 20-25% pasien memerlukan terapi infus. Infeksi nosokomial sangat mempengaruhi angka morbiditas dan mortalitas di rumah sakit. kateter yang dipasang pada tungkai bawah. Penyebab utamanya karena: ‡ Penggunaan antibiotika yang tidak sesuai dan tidak terkontrol ‡ Dosis antibiotika yang tidak optimal ‡ Terapi dan pengobatan menggunakan antibiotika yang terlalu singkat ‡ Kesalahan diagnosa Banyaknya pasien yang mendapat obat antibiotika dan perubahan dari gen yang resisten terhadap antibiotika. cairan . infeksi kulit. Diruang penyakit dalam. Resitensi dari bakteri di transmisikan antar pasien dan faktor resistensinya di pindahkan antara bakteri. mengakibatkan timbulnya multiresistensi kuman terhadap obat-obatan tersebut. tidak mengindahkan pronsip anti sepsis. begitu juga klebsiella dan pseudomonas aeruginosa juga telah bersifat multiresisten.1. Komplikasi tersebut berupa:3. Pemakaian infus dan kateter urin lama yang tidak diganti-ganti. kemerahan dan nyeri sepanjang vena Trombosis : Terdapat pembengkakan di sepanjang pembuluh vena yang menghambat aliran infus Kolonisasi kanul : Bila sudah dapat dibiakkan mikroorganisme dari bagian kanula yang ada dalam pembuluh darah Septikemia : Bila kuman menyebar hematogen dari kanul Supurasi : Bila telah terjadi bentukan pus di sekitar insersi kanul Beberapa faktor dibawah ini berperan dalam meningkatkan komplikasi kanula intravena yaitu: jenis kateter. Komplikasi kanulasi intravena ini dapat berupa gangguan mekanis. keberhasilan ini menyebabkan penggunaan berlebihan dan pengunsalahan dari antibiotika. fisis dan kimiawi. infeksi dari luka operasi dan septikemia.5 Faktor alat Dari suatu penelitian klinis. Meningkatnya resistensi bakteri dapat meningkatkan angka mortalitas terutama terhadap pasien yang immunocompromised. dan menjadi sangat penting karena: ‡ Meningkatnya jumlah penderita yang dirawat ‡ Seringnya imunitas tubuh melemah karena sakit. pemasangan melalui venaseksi. infeksi saluran nafas. Bagaimana pun juga. Banyak strains dari pneumococci. staphylococci. Penggunaan antibiotika secara besar-besaran untuk terapi dan profilaksis adalah faktor utama terjadinya resistensi. enterococci.5 Ekstravasasi infiltrat : cairan infus masuk ke jaringan sekitar insersi kanula Penyumbatan : Infus tidak berfungsi sebagaimana mestinya tanpa dapat dideteksi adanya gangguan lain Flebitis : Terdapat pembengkakan. dan tuberculosis telah resisten terhadap banyak antibiotikaa. kateter yang terpasang lebih dari 72 jam. Banyak mikroorganisme yang kini menjadi lebih resisten. ukuran kateter. infeksi nosokomial tertama disebabkan infeksi dari kateter urin. Penggunaan antibiotika yang terus-menerus ini justru meningkatkan multipikasi dan penyebaran strain yang resistan. Keadaan ini sangat nyata terjadi terutama di negara-negara berkembang dimana antibiotika lini kedua belum ada atau tidak tersedia. pengobatan atau umur ‡ Mikororganisme yang baru (mutasi) ‡ Meningkatnya resistensi bakteri terhadap antibiotika II.

Penyebab paling utama adalah kontaminasi tangan atau sarung tangan ketika pemasangan kateter. II. Pseudomonas. Pada pasien dengan sistem imun yang rendah.9 Dari kelompok virus dapat disebabkan olehcytomegalovirus. Klebsiella. dan perut. atau Enterococcus.9 II. adeno virus. terutama pasien yang menggunakan ventilator.2.2. para influenza virus.9. Organisme ini sering berada di mulut. 80% infeksinya dihubungkan dengan penggunaan kateter urin.4. Kuman penyebab infeksi ini tersering berasal dari gram negatif seperti Klebsiella. atau air yang digunakan untuk membesarkan balon kateter. 11 Faktor resiko terjadinya infeksi ini adalah:9 ‡ Tipe dan jenis pernapasan ‡ Perokok berat ‡ Tidak sterilnya alat-alat bantu ‡ Obesitas ‡ Kualitas perawatan ‡ Penyakit jantung kronis ‡ Penyakit paru kronis ‡ Beratnya kondisi pasien dan kegagalan organ ‡ Tingkat penggunaan antibiotika ‡ Penggunaan ventilator dan intubasi ‡ Penurunan kesadaran pasien Penyakit yang biasa ditemukan antara lain: respiratory syncytial virus dan influenza. sekitar 40% dari infeksi nosokomial. Infeksi yang terjadi lebih awal lebih disebabkan karena mikroorganisme endogen.2 Pneumonia Nosokomial Pneumonia nosokomial dapat muncul. influenza virus. hidung. .Coli. pemasangan NGT. Walaupun tidak terlalu berbahaya. Proteus. Kolonisasi kuman pada ujung kateter merupakan awal infeksi tempat infus dan bakteremia.11 Sangat sulit untuk dapat mencegah penyebaran mikroorganisme sepanjang uretra yang melekat dengan permukaan dari kateter.1 Infeksi saluran kemih Infeksi ini merupakan kejadian tersering.infus yang hipertonik dan darah transfusi karena merupakan media pertumbuhan mikroorganisme. dan terapi inhalasi.3. intubasi. Kebanyakan pasien akan terinfeksi setelah 1-2 minggu pemasangan kateter. Keberadaan organisme ini dapat menyebabkan infeksi karena adanya aspirasi oleh organisme ke traktus respiratorius bagian bawah. tetapi dapat menyebabkan terjadinya bakteremia dan mengakibatkan kematian. Organisme yang biaa menginfeksi biasanya E. kerongkongan.dan Pseudomonas. Sedangkan dinegara dengan prevalensi penderita tuberkulosis yang tinggi. peralatan tambahan pada tempat infus untuk pengaturan tetes obat. kebersihan udara harus sangat diperhatikan. tindakan trakeostomi. manipulasi terlalu sering pada kanula.2 Macam penyakit yang disebabkan oleh infeksi nosokomial II. pneumonia lebih disebabkan karena Legionella dan Aspergillus. enterovirus dan corona virus. Dapat juga karena sterilisasi yang gagal dan teknik septik dan aseptik. sedangkan infeksi yang terjadi setelah beberapa waktu yang lama biasanya karena mikroorganisme eksogen.

Infeksi kulit dan jaringan lunak. tetanus dan pertusis11 ‡ Corynebacterium diptheriae. Vibrio Cholerae dan Clostridium. terutama disebabkan oleh bakteri yang resistan antibiotika seperti Staphylococcus dan Candida. dan luka bekas operasi memperbesar kemungkinan terinfeksi bakteri dan berakibat terjadinya infeksi sistemik. gram positif anaerobik yang menyebabkan trismus dan kejang otot. varicella zooster.3 Bakteremi Nosokomial Infeksi ini hanya mewakili sekitar 5 % dari total infeksi nosokomial. Bedakan antara diarrhea dan gastroenteritis. Dipteri. Virus yang dapat menular dari cara ini adalah virus hepatitis B. kateter urin dan infus. isolasi. dari gologan virus lebih banyak disebabkan oleh golongan enterovirus.II. diarrhea dan gastroenteritis11 Mikroorganisme tersering berasal dari E. II. Faktor utama penyebab infeksi ini adalah panjangnya kateter. kateter jantung dan suntikan. Infeksi ini termasuk:1 ‡ Infeksi pada tulang dan sendi . virus hepatitis C. memproduksi endotoksin yang menyebabkan timbulnya penyakit.2. muncul tanpa adanya tanda infeksi sebelumnya.4 Infeksi Nosokomial lainnya 1. tetapi dengan resiko kematian yang sangat tinggi. Selain itu. Tuberkulosis11 Penyebab utama adalah adanya strain bakteri yang multi. Dari golongan virus yaitu herpes simplek. muncul sebagai akibat dari infeksi dari organisme yang sama dari sisi tubuh yang lain. 3. 2. Salmonella. dan HIV. Organisme yang menginfeksi akan berbeda pada tiap populasi karena perbedaan pelayanan kesehatan yang diberikan. ‡ Bordetella Pertusis. dan hepatitis A.2. Luka terbuka seperti ulkus. Infeksi dapat muncul di tempat masuknya alat-alat seperti jarum suntik. dan rubella. yang menyebabkan batuk rejan. Faktor resiko dari gastroenteritis nosokomial dapat dibagi menjadi faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. dan berbeda dengan organisme yang ditemukan dibagian tubuhnya yang lain ‡ Infeksi sekunder. ‡ Faktor intrinsik: o abnormalitas dari pertahanan mukosa. dan perawatan dari pemasangan kateter atau infus. Kontrol terpenting untuk penyakit ini adalah identifikasi yang baik. rotavirus.coli. perbedaan fasilitas yang dimiliki dan perbedaan negara yang didiami. adenovirus. Infeksi pembuluh darah11 Infeksi ini sangat berkaitan erat dengan penggunaan infus. ‡ Clostridium tetani. 4. Siklus tiap 3-5 tahun dan infeksi muncul sebanyak 50 dalam 100% individu yang tidak imun.drugs resisten. bekas terbakar. penularan terutama melalui sistem pernafasan. gram negatif pleomorfik. suhu tubuh saat melakukan prosedur invasif. Infeksi ini dibagi menjadi dua kategori utama: ‡ Infeksi pembuluh darah primer. seperti achlorhydria o lemahnya motilitas intestinal. ‡ Faktor ekstrinsik: Pemasangan nasogastric tube dan mengkonsumsi obat-obatan saluran cerna. dan pengobatan serta tekanan negatif dalam ruangan. dan o perubahan pada flora normal.

identifikasi penyakit dan mengontrol penyebarannya. Masker. penggunaan sarung tangan sangat dianjurkan bila akan melakukan tindakan atau pemeriksaan pada pasien dengan penyakitpenyakit infeksi. dan segera mencuci tangan setelah melepas sarung tangan.3 Pencegahan terjadinya Infeksi Nosokomial Pencegahan dari infeksi nosokomial ini diperlukan suatu rencana yang terintegrasi. tinja. infeksi mata. ‡ Infeksi pada saluran pencernaan Gastroenteritis. Hal yang perlu diingat adalah: Memakai sarung tangan ketika akan mengambil atau menyentuh darah. necrotizing enterocolitis. mereka harus menggunakan masker saat keluar dari . membran mukosa dan bahan yang kita anggap telah terkontaminasi. otitis media. Begitupun dengan pasien yang menderita infeksi saluran nafas. dan mulut Konjunctivitis. nutrisi yang cukup. ‡ Pengawasan infeksi. miokarditis. mastoiditis. trakeobronkhitis. sedikitnya pengetahuan mengenai pentingnya hal ini. alergi produk pencuci tangan. trakeitis. karena banyaknya alasan seperti kurangnya peralatan. Selain itu.3. infeksi intra abdominal ‡ Infeksi sistem pernafasan bawah Bronkhitis. perikarditis dan mediastinitis ‡ Infeksi sistem saraf pusat Meningitis atau ventrikulitis.Osteomielitis. atau keringat. urin. cairan tubuh. hidung. dan waktu mencuci tangan yang lama. otitis interna.2 Instrumen yang sering digunakan Rumah Sakit Simonsen et al (1999) menyimpulkan bahwa lebih dari 50% suntikan yang dilakukan di negara berkembang tidaklah aman (contohnya jarum. monitoring dan program yang termasuk: ‡ Membatasi transmisi organisme dari atau antar pasien dengan cara mencuci tangan dan penggunaan sarung tangan. Tetapi pada kenyataannya.7 Untuk mencegah penyebaran penyakit melalui jarum suntik maka diperlukan: ‡ Pengurangan penyuntikan yang kurang diperlukan ‡ Pergunakan jarum steril ‡ Penggunaan alat suntik yang disposabel. II. otitis eksterna. dan infeksi lainnya ‡ Infeksi pada sistem reproduksi Endometriosis dan luka bekas episiotomi II. hal ini sulit dilakukan dengan benar. infeksi tulang atau sendi dan discus vertebralis ‡ Infeksi sistem Kardiovaskuler Infeksi arteri atau vena. endokarditis. tindakan septik dan aseptik. dan vaksinasi.1 Dekontaminasi tangan Transmisi penyakit melalui tangan dapat diminimalisasi dengan menjaga hiegene dari tangan. sinusitis. II. ‡ Membatasi resiko infeksi endogen dengan meminimalkan prosedur invasif. ‡ Mengontrol resiko penularan dari lingkungan. tabung atau keduanya yang dipakai berulangulang) dan banyaknya suntikan yang tidak penting (misalnya penyuntikan antibiotika). sterilisasi dan disinfektan.3. hepatitis. absess spinal dan infeksi intra kranial ‡ Infeksi mata. ‡ Melindungi pasien dengan penggunaan antibiotika yang adekuat. dan infeksi saluran nafas atas. sebagai pelindung terhadap penyakit yang ditularkan melalui udara. telinga.

Pengaturan udara yang baik sukar dilakukan di banyak fasilitas kesehatan. jendela. cairan tubuh. ada pula bakteri yang secara mutualistik yang ikut membantu dalam proses fisiologis tubuh. sehingga dapat dipakai dalam mempertahankan ketahanan tubuh tersebut pada penderita penyakit berat. Dengan demikian bahaya infeksi dengan bakteri oportunis pada penderita penyakit berat dapat diatasi tanpa harus menggunakan antibiotika. sanrung tangan harus segera diganti. Kamar dengan pengaturan udara yang baik akan lebih banyak menurunkan resiko terjadinya penularan tuberkulosis. minyak dan kotoran. selain ada bakteri yang patogen oportunis. Pengetahuan tentang mekanisme ketahanan tubuh orang sehat yang dapat mengendalikan jasad renik oportunis perlu diidentifikasi secara tuntas.5 Ruangan Isolasi Penyebaran dari infeksi nosokomial juga dapat dicegah dengan membuat suatu pemisahan . misalnya seperti apa yang terjadi di dalam saluran cerna manusia. tempat tidur.11 Disinfektan akan membunuh kuman dan mencegah penularan antar pasien.3. lantai.3 Mencegah penularan dari lingkungan rumah sakit Pembersihan yang rutin sangat penting untuk meyakinkan bahwa rumah sakit sangat bersih dan benar-benar bersih dari debu. dan membantu ketahanan tubuh melawan invasi jasad renik patogen serta menjaga keseimbangan di antara populasi jasad renik komensal pada umumnya. Sterilisasi air pada rumah sakit dengan prasarana yang terbatas dapat menggunakan panas matahari. pintu. Setelah membalut luka atau terkena benda yang kotor. urin dan feses.3.11 Toilet rumah sakit juga harus dijaga. terutama pada unit perawatan pasien diare untuk mencegah terjadinya infeksi antar pasien. atau tidak berbau tak enak II.11 II. Sarung tangan. rumah sakit harus membangun suatu fasilitas penyaring air dan menjaga kebersihan pemrosesan serta filternya untuk mencegahan terjadinya pertumbuhan bakteri. Selain itu. terutama bagi penderita dengan status imun yang rendah atau bagi penderita yang dapat menyebarkan penyakit melalui udara. ‡ Tidak sulit digunakan ‡ Tidak mudah menguap ‡ Bukan bahan yang mengandung zat yang berbahaya baik untuk petugas maupun pasien ‡ Efektif ‡ tidak berbau. cairan tubuh. 6 II. kamar mandi. sebaiknya digunakan terutama ketika menyentuh darah.kamar penderita. Perlu diingat bahwa sekitar 90 persen dari kotoran yang terlihat pasti mengandung kuman. dan alat-alat medis yang telah dipakai berkali-kali. Sarung tangan harus selalu diganti untuk tiap pasiennya. dapat melarutkan minyak dan protein.11 Baju khusus juga harus dipakai untuk melindungi kulit dan pakaian selama kita melakukan suatu tindakan untuk mencegah percikan darah. feses maupun urine. tirai. Usahakan adanya pemakaian penyaring udara.3. Harus ada waktu yang teratur untuk membersihkan dinding.4 Perbaiki ketahanan tubuh Di dalam tubuh manusia. Disinfeksi yang dipakai adalah: ‡ Mempunyai kriteria membunuh kuman ‡ Mempunyai efek sebagai detergen ‡ Mempunyai efek terhadap banyak bakteri. Permukaan toilet harus selalu bersih dan diberi disinfektan.

contohnya DHF dan HIV. Resistensi Antibiotika disebabkan karena: Penggunaan antibiotika yang tidak sesuai dan tidak terkontrol.9 BAB III KESIMPULAN DAN SARAN III. intubasi. dan SARS. ‡ Agen Infeksi yang kemungkinan terjadinya infeksi tergantung pada: karakteristik mikroorganisme. Respon dan toleransi tubuh pasien dipengaruhi oleh: Umur. terapi dan pengobatan menggunakan antibiotika yang terlalu singkat. dan faktor alat. Ruang isolasi ini harus selalu tertutup dengan ventilasi udara selalu menuju keluar. monitoring dan program untuk mengawasi kejadian infeksi. Ruang isolasi sangat diperlukan terutama untuk penyakit yang penularannya melalui udara. Faktor lingkungan dipengaruhi oleh padatnya kondisi rumah sakit. Biasanya.pasien. Infeksi ini merupakan kejadian tersering.1 Kesimpulan ‡ Faktor. yang mengakibatkan kontaminasi berat. tempat tidur. dipengaruhi oleh pemakaian infus dan kateter urin lama yang tidak diganti-ganti. dan kesalahan diagnosa. ‡ Mengurangi prosedur-prosedur invasif untuk menghindari terjadinya infeksi nosokomial. respon dan toleransi tubuh. dan terapi inhalasi. Penularan yang melibatkan virus. jendela. dan alat-alat medis yang telah dipakai berkali-kali. resistensi antibiotika. ‡ Mencegah penularan dari lingkungan rumah sakit terutama dari dinding. beberapa pasien dalam satu ruangan tidaklah apa-apa selama mereka menderita penyakit yang sama. tindakan trakeostomy. banyaknya pasien yang keluar masuk. Nosokomial pneumonia. kontaminasi benda. ‡ Pencegahan terjadinya Infeksi Nosokomial memerlukan suatu rencana yang terintegrasi. pemasangan NGT. kamar mandi. intervensi yang dilakukan pada tubuh untuk melakukan diagnosa dan terapi. pintu. status imunitas penderita. terutama karena pemakaian ventilator. ‡ Penybaran infeksi nosokomial terutama dari udara dan air harus menjadi perhatian utama agar infeksi tidak meluas. dan banyaknya materi infeksius. Tetapi menjaga kebersihan tangan dan makanan.2 Saran ‡ Eliminasi dan kurangi perkembangan agen penyebab infeksi dan faktor lainnya yang menyebabkan perkembangan infeksi nosokomial. faktor lingkungan. ‡ Macam penyakit yang disebabkan oleh infeksi nosokomial. tetapi bila sedang terjadi kejadian luar biasa dan penderita melebihi kapasitas. dan materi yang sering digunakan tidak hanya pada satu orang pasien. dihubungkan dengan penggunaan kateter urin. dosis antibiotika yang tidak optimal. orang yang menggunakan obat-obatan immunosupresan dan steroid. peralatan kesehatan di dalam ruang isolasi juga sangat penting. pasien yang mempunyai resistensi rendah eperti leukimia dan pengguna obat immunosupresan juga perlu diisolasi agar terhindar dari infeksi. Nosokomial bakteremi yang memiliki resiko kematian yang sangat tinggi. lantai. identifikasi penyakit dan mengontrol penyebarannya. alat. Sebaiknya satu pasien berada dalam satu ruang isolasi. penggabungan kamar pasien yang terkena infeksi dengan pengguna obatobat immunosupresan. penyakit yang diderita. tirai. contohnya tuberkulosis. resistensi terhadap zat-zat antibiotika. obesitas dan malnutrisi. Faktor alat. . III.faktor yang menyebabkan perkembangan infeksi nosokomial tergantung dari agen yang menginfeksi. misalnya Infeksi saluran kemih. tingkat virulensi.

Terjadinya infeksi nosokomial akan menimbulkan banyak kerugian. Tetapi. bisa berasal dari dokter. pasien. air. Rantai penularan dalam rumah sakit. Di tempat ini pasien mendapatkan terapi dan perawatan untuk dapat sembuh. berbagai jenis mikroorganisme terdapat dalam lingkungan rumah sakit. makanan dan benda-benda medis maupun non medis. petugas kebersihan. Infeksi Nosokomial adalah Infeksi yang secara potensial dapat dicegah atau sebaliknya dapat juga merupakan infeksi yang tidak dapat dicegah. Beberapa kejadian Infeksi Nosokomial mungkin tidak menyebabkan kematian pasien akan tetapi menjadi penyebab penting bagi pasien yang dirawat lebih lama di Rumah Sakit. Rumah sakit merupakan suatu gudang dari berbagai jenis bakteri pathogen. Rumah sakit merupakan suatu tempat dimana orang yang sakit dirawat dan ditempatkan dalam jarak yang sangat dekat. perawat. pengunjung. antara lain : lama hari perawatan bertambah panjang penderitaan bertambah biaya meningkat Ada tiga faktor ataupun hal yang saling berinteraksi yaitu : Mikroorganisme di dalam lingkungan rumah sakit Keadaan pasien yang lemah. juga merupakan depot bagi berbagai macam penyakit yang berasal dari penderita maupun dari pengunjung yang berstatus karier. Bagi pasien yang dirawat di Rumah Sakit ini merupakan persoalan serius yang dapat menjadi penyebab langsung atau tidak langsung terhadap kematian pasien. petugas laboratorium. Kuman penyakit ini dapat hidup dan berkembang di lingkungan rumah sakit. petugas bagian gizi. seperti.Infeksi Nosokomial Infeksi Nosokomial adalah Infeksi yang didapat atau timbul pada waktu pasien dirawat di Rumah Sakit. serta alat-alat kedokteran dan perawatan. berhubungan dengan system imun pasien serta kulit ataupun membrane yang rusak. rumah sakit selain untuk mencari kesembuhan. Beberapa cara pencegahan dari infeksi nosokomial yaitu : Melalui teknik sterilisasi dan disinfeksi yang harus benar-benar diperhatikan . lantai. udara.

dan bakteri P. dan infeksi kulit dengan presentase yang jarang. seperti halnya pada komite pengendalian infeksi (Infection Control Committee) Semua mikroorganisme termasuk bakteri. bakteri S. Mutu pelayanan di Rumah Sakit dapat . Infeksi saluran kemih menduduki presentase paling besar yaitu 50%.aureus dengan presentase 11%. yaitu penyakit yang penyebarannya melalui makanan dan udara dan benda atau bahan-bahan yang tidak steril.aeruginosa dengan presentase 9%. Kebutuhan untuk pengendalian infeksi nosokomial akan semakin meningkat terlebih lagi dalam keadaan sosial ekonomi yang kurang menguntungkan seperti yang telah dihadapi Indonesia saat ini. Kebanyakan infeksi yang terjadi di rumah sakit ini lebih disebabkan karena faktor eksternal. bakteri Enterococcus dengan presentase 10%. infeksi saluran nafas bawah. yang merupakan penyebab paling sering dari infeksi nosokomial adalah bakteri jenis Enterobacteriaceae. pasien akan datang dalam keadaan yang semakin parah. Berbagai tipe dari infeksi nosokomial yaitu infeksi saluran kemih. bakteremia. sehingga perlu perawatan yang lebih lama yang juga berarti pasien dapat memerlukan tindakan invasif yang lebih banyak.- Pemakaian antibiotic harus sesuai indikasi Apabila dimungkinkan menghindari prosedur invasive Meminimalisasi pemakaian obat imunosupresif Pemanfaatan kamaar ataupun ruanagn isolasi Melengkapi rumah sakit dengan tenaga khusus yang menangani infeksi nosokomial. Sementara itu jenis infeksi yang dialami dapat berupa berbagai jenis infeksi yang baru diketahui misalnya infeksi HIV / AIDS atau Ebola dan infeksi lama yang semakin virulen. Infeksi ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme yang didapat dari orang lain (cross infection) atau disebabkan oleh flora normal dari pasien itu sendiri (endogenous infection). Penyakit yang didapat dari rumah sakit saat ini kebanyakan disebabkan oleh mikroorganisme yang umumnya selalu ada pada manusia yang sebelumnya tidak atau jarang menyebabkan penyakit pada orang normal. Secara keseluruhan berarti daya tahan pasien lebih rendah dan pasien cenderung untuk mengalami berbagai tindakan invasif yang akan memudahkan masuknya mikroorganisme penyebab infeksi nosokomial. dan infeksi kulit. infeksi luka operasi. misalnya tuberkulosis yang resisten terhadap pengobatan. Dari jenis bakteri tersebut. virus. Jenis bakteri yang dapat menyebabkan infeksi nosokomial adalah bakteri Enterobakteriaceae dengan presentase sebesar >40%. Indikasi rawat pasien akan semakin ketat. jamur dan parasit dapat menyebabkan infeksi nosokomial.

terutama bagi penderita dengan status imun yang rendah atau bagi penderita yang dapat menyebarkan penyakit melalui udara. tindakan septic dan aseptic seperti yang telah dijelaskan sebelumnya dan tindakan sterilisasi maupun disinfektan. mulai dari peran pimpinan sampai petugas kesehatan sendiri. dan pendukung lainnya. Mengontrol resiko penularan dari lingkungan Melindungi pasien dengan menggunakan antibiotic yang adekuat serta nutrisi yang cukup maupun dengan vaksinasi Membatasi resiko infeksi endogen dengan meminimalkan prrosedur invasive Pengawasan infeksi. pintu. jendela. kamar mandi. tempat tidur. pada hakikatnya ditujukan pada tindakan pencegahan. Peran petugas adalah sebagai pelaksana langsung dalam upaya pencegahan infeksi. Dengan berpedoman pada perlunya peningkatan mutu pelayanan di Rumah Sakit dan sarana kesehatan lainnya. Namun untuk tindakan pencegahannya terdapat beberapa kendala antara lain faktor biaya baik yang disediakan oleh rumah sakit maupun yang ditanggung oleh pasien itu sendiri. Selain itu. Usahakan adanya pemakaian penyaring udara. dan alat-alat medis yang telah dipakai. Pengaturan udara yang baik sukar dilakukan di banyak fasilitas kesehatan. Kamar dengan pengaturan udara yang baik akan lebih . minyak dan kotoran. Pengendalian infeksi nosokomial. tirai. lantai. Perlu diingat bahwa sekitar 90 persen dari kotoran yang terlihat pasti mengandung kuman. Harus ada waktu yang teratur untuk membersihkan dinding. terutama mengenai pengetahuan tentang tindakan septic dan aseptic. identifikasi penyakit dan mengontrol penyebarannya. sarana. faktor petugas ataupun perawat juga perlu mendapatka perhatian dalam menjalankan tugasnya.berpengaruh karena pasien bertambah sakit akibat infeksi nosokomial. maka perlu dilakukan pelatihan yang menyeluruh untuk meningkatkan kemampuan petugas dalam pencegahan ineksi di Rumah Sakit. Pencegahan penularan infeksi nosokomial di rumah sakit yaitu dengan Pembersihan yang rutin sangat penting untuk meyakinkan bahwa rumah sakit sangat bersih dan benar-benar bersih dari debu. Pencagahan dari infeksi nosokomial ini diperlukan suatu rencana yang terintegrasi dengan memonitoring melalui program yang termasuk : Membatasi transmisi organism dari ataupun antar pasien dengan cara mencuci tangan dan menggunakan sarung tangan. Upaya pencegahan penularan infeksi di Rumah Sakit melibatkan berbagai unsur. Peran pimpinan adalah penyediaan sistem.

Cuci tangan dilakukan . Permukaan toilet harus selalu bersih dan diberi disinfektan. Cuci tangan Cuci tangan 1) Melakukan cuci tangan dengan menggunakan sabun biasa pada cuci tangan rutin/social 2) Melakukan cuci tangan dengan menggunakan antiseptik pada cuci tangan prosedural 3) Pada kondisi tertentu cuci tangan dapat dilakukan dengan menggunakan ³handrubs´ ( kontak diantara pasien) b. Adherence to Precaution (Ketaatan terhadap tindakan pencegahan) Secara periodic menilai ketaatan terhadap tindakan pencegahan dan adanya perbaikan langsung B. petugas. Pendidikan. dan pengunjung rumah sakit untuk meyakinkan mereka dan bertanggung jawab dalam menjalankan nya 2. Mengembangkan sistem pendidikan tentang tindakan pencegahan kepada pasien. a.banyak menurunkan resiko terjadinya penularan tuberkulosis. Sterilisasi air pada rumah sakit dengan prasarana yang terbatas dapat menggunakan panas matahari. rumah sakit harus membangun suatu fasilitas penyaring air dan menjaga kebersihan pemrosesan serta filternya untuk mencegahan terjadinya pertumbuhan bakteri. Administrative Controls 1. terutama pada unit perawatan pasien diare untuk mencegah terjadinya infeksi antar pasien. Standard Precautions Laksanakan Standard Precaution untuk semua pasien yang masuk ke rumah sakit 1. Toilet rumah sakit juga harus dijaga. Selain itu.

Memakai gaun selama melakukan tindakan atau perawatan pasien yang memungkinkan terkena percikan darah atau cairan tubuh pasien b. Ganti sarung tangan diantara prosedur pada pasien yang sama Melepaskan sarung tangan segera setelah dipakai. Memakai masker selama melakukan tindakan atau perawatan pasien yang memungkinkan terkena percikan darah atau cairan tubuh pasien b. cairan tubuh.1) Setelah menyentuh darah. Gaun/apron a. Segera setelah melepas sarung tangan Jika kontak diantara satu pasien dengan pasien lainnya Diantara prosedur berbeda pada pasien yang sama Sebelum dan sesudah kontak dengan pasien Sebelum dan sesudah melakukan tindakan Setelah tiba di rumahsakit dansebelum meninggalkanrumah sakit Sarung tangan a. cairan tubuh dan peralatan yang terkontaminasi dan saat menangani peralatan yang habis dipakai b. Segera melepas gaun dancuci tangan untuk mencegah berpindahnya mikroorganisme ke pasien dan lingkungannya . ekskresi dan peralatan yang terkontaminasi. c. Memakai sarung tangan bersih/non steril pada saat menyentuh darah. Pelindung mata dan wajah a. Melepaskan masker setelah dipakai dan segera mencuci tangan 4. sebelum menyentuh peralatan atau permukaan lingkungan yang tidak terkontaminasi dan sebelum ke pasien berikutnya 3. walaupun menggunakan sarung tangan 2) 3) 4) 5) 6) 7) 2. sekresi. Masker.

Peralatan yang sekali pakai segera dibuang sesuai prosedur pembuangan limbah. Memisahkan linen ternoda darah atau cairan tubuh dengan linen kotor tanpa noda. Memisahkan linen kotor pasien terinfeksi dengan pasien non infeksi. Penanganan limbah Pemisahan limbah sesuai jenisnya diawali sejak limbah tersebut dihasilkan . 6. c. Membatasi jumlah personil pada waktu yang sama di ruangan perawatan 7. tempat tidur. Segera melakukan dekontaminasi peralatan yang dipakai setelah dibersihkan dahulu dari noda darah atau cairan tubuh pasien b. Melakukan pembersihan dengan cairan desinfektan setiap hari atau bila perlu pada semua permukaaan lingkungan seperti meja pasien. Tidak melakukan ³fogging´ untuk tujuan menurunkan rate infeksi nosokomial pengendalian lingkungan. Linen a. b. Peralatan perawatan pasien a. b. peralatan samping tempat tidur pasien. Tidak meletakkan linen dilantai dan mengibas-ngibaskan linen 8.5. d. Membersihkan dan memproses kembali peralatan yang dipakai ulang sesuai prosedur sebelum digunakan ke pasien berikutnya c. meja petugas. c. Pengendalian lingkungan a. Membersihkan dan mengepel lantai dengan cairan desinfektan dua kali sehari atau bila perlu. e. Membatasi jumlah pengunjung pada waktu yang bersamaan. standard infus. pegangan pintu.

Penempatan pasien Tempatkan pasien yang dapat menkontaminasi lingkungan atau yang tidak dapat memelihara kebersihan lingkungannya di ruangan tersendiri. b. Limbah padat terkontaminasi dengan darah . dan tempatkan pada area yang mudah dijangkau dari area tindakan. Jangan pernah membengkokkan atau mematahkan jarum Buanglah benda tajam atau jarum bekas pakai kedalam wadah yang tahan tusuk dan air. . e.a. resussitasi bags atau peralatan ventilasi lain sebagai alternatif mulut ke mulut. instrumen yang tajam atau alat kesehatan lainnya dengan permukaaan tajam. Kesehatan karyawan dan darah yang terinfeksi patogen Untuk mencegah luka tusuk benda tajam: a. Limbah benda tajam atau jarum dibuang ke kontainer yang berwarna kuning tahan tusuk dan tahan air 9. c. Gunakan mouthpieces. Jika ruangan tersendiri tidak ada konsultasikan dengan petugas pengendalian infeksi mengenai penempatan pasien tesebut untuk mencari alternatif. cairan tubuh dibuang ke tempat sampah kantong plastik hitam c. 10. scapel. d. Berhati-hati saat menangani jarum. Jangan pernah menutup kembali jarum bekas pakai atau memanipulasinya dengan kedua tangan. cairan tubuh dibuang ke tempat sampah kantong plastik kuning b. Limbah padat tidak terkontaminasi dengan darah.

Jika orang yang rentan harus memasuki ruangan pasien yang diketahui atau di duga mempunyai measles (rubeola) atau varicella. Patient Trasnport . Orang yang immune terhadap measles rubeola) atau varicella tidak perlu memakai perlindungan pernapaasan 3. Orang yang rentan tidak dibenarkan memasuki ruangan pasien yang diketahui atau diduga mempunyai measles ( rubeola) atau varicella ( Chickenpox) c. Penempatan pasien a. mereka harus memakai respiratory proctection( N 95) respirator d. Tempatkan pasien di kamar tersendiri yang mempuyai persyaratan sebagai berikut: 1) 2) 3) Tekanan udara kamar negatif dibandingkan dengan area sekitarnya Pertukaran udara 6-12 kali/jam Pengeluaran udara keluar yang tepat atau mempunyai penyaringan udara yang efisien sebelum udara dialirkan ke area lain di rumah sakit 4) 5) Selalu tutup pintu dan pasien berada di dalam kamar Bila kamar tersendiri tidak ada. tempatkan pasien dalam satu kamar dengan pasien lain dengan infeksi mikroorganisme yang sama atau ditempatkan secara kohort. Respiratory Protection a.C. Gunakan perlindungan pernapasan (N 95 respirator) ketika memasuki ruangan pasien yang diketahui infeksi pulmonary tuberculosis b. Airborne Precaution 1. 6) Tidak boleh menempatkan pasien satu kamar dengan infeksi yang berbeda 2.

1. Droplet Precaution Penempatan pasien a. Jika harusppindah atau transportasi gunakan masker bedah pada pasien D. Tempatkan pasien di kamar tersendiri Bila tidak ada kamar tersendiri tempatkan pasien secara kohort 2. Tempatkan pasien di kamar tersendiri Bila pasien tidak mungkin di kamar tersendiri tempatkan pasien secara kohort Bila hal ini tidak memungkinkan tempatkan pasien dengan jarak 3 ft dengan pasien lainnya. Batasi pemindahan dan transportasi pasien dari kamar pasien. Pemindahan pasien a. Batasi area gerak pasien dan transportasi pasien dari kamar . Sarung tangan dan cuci tangan . Gunakan masker bila bekerja dengan jarak 3 ft Beberapa rumah sakit menggunakan masker jika memasuki ruangan 3. Masker a. c. hanya tujuan yang penting saja. b. b.a. Contact Precaution Penempatan pasien a. Untuk meminimalkan penyebaran droplet selama transporasi pasien dianjurkan pakai masker E. 1. kecuali untuk tujuan yang perlu b. b. 2. b.

Jika pasien harus pindah atau keluar dari kamarnya pastikan bahwa tindakan pencegahan di pelihara untuk mencegah atau meminimalkan resiko transmisi mikroorganisme ke pasien lain atau permukaan lingkungan dan peralatan 5. hanya untuk tujuan yang penting saja. untuk mencegah berpindahnya mikroorganisme ke pasien atau lingkungan lain 3. Gaun a. d. c.a. Gunakan sarung tangan sesuai prosedur Ganti sarung tangan jika sudah kontak dengan paralatan yang terkontaminasi dengan mikroorganisme c. e. Peralatan perawatan pasien . Lepas gaun setelah meninggalkan ruangan Setelah melepas gaun pastikan bahwa pakaian tidak mungkin kontak dengan permukaan lingkungan untuk menghindari berpindahnya mikroorganisme ke pasien atau lingkungan lain 4. ileostomy. Pakai gaun bersih/non steril bila memasuki kamar pasien bila diantisipasi bahwa pakaian akan kontak dengan pasien. luka terbuka b. b. Transport pasien Batasi pemindahan dan transportasi pasien dari kamar. colonostomy. Lepaskan sarung tangan sebelum meningalkan ruangan Segera cuci tangan dengan antiseptik/antimikrobial atau handsrub Setelah melepas sarung tangan dan cuci tangan yakinkan bahwa tangan tidak menyentuh peralatan atau lingkungan yang mungkin terkontaminas. diare. permukaan lingkungan atau peralatan pasien didalam kamar atau jika pasien menderita inkontenensia.

misalnya dermatitis basah. Bila dipakai lebih dari 20 menit. membuang sampah atau ketika membereskan peralatan setelah berlangsungnya prosedur/tindakan. Harus menggunakan sarung tangan bila : menyentuh darah atau cairan tubuh. satu masker untuk satu pasien. Jika memungkinkan gunakan peralatan non kritikal kepada pasein sendiri atau secara kohort b. selaput lendir atau kulit yang tidak utuh. 2. Masker dipakai hanya dalam waktu 20 menit. c. Semua petugas kesehatan harus memakai sarung tangan khusus (heavy duty) untuk mencegah kemungkinan tertusuk jarum. Petugas yang mempunyai luka atau lesi yang mengeluarkan cairan. Tangan harus segera dicuci segera setelah melepas sarung tangan.a. Tangan dan bagian tubuh lainnya harus dicuci sebersih mungkin dengan sabun antiseptik bila tercemar darah atau cairan tubuh lainnya. b. 3. permukaan luar masker akan menjadi tempat perlekatan bakteri patogen dan tidak lagi berfungsi sebagai barrier. serta harus terjamin aman untuk dibawa ke tempat pemrosesan alat atau ke tempat pemusnahannya (incinerator). pada saat membersihkan peralatan. Menggunakan masker dan pelindung mata (kacamata) atau pelindung wajah (face shield) bila mengerjakan prosedur yang memungkinkan terjadinya percikan darah atau cairan tubuh agar mukosa mulut. pisau dan benda tajam lainnya selama pelaksanaan tindakan. Semua benda tajam yang telah selesai digunakan harus ditempatkan di suatu wadah khusus yang tahan tusukan dan dimasukkan ke dalam kantung khusus (Bio Hazzard Bag). memakai baju praktek khusus pada waktu melakukan tindakan yang dapat menimbulkan percikan darah atau cairan tubuh lainnya. sehingga perlu disediakan alat resusitasi di setiap tempat yang mungkin memerlukan tindakan resusitasi. Jika tidak memungkinkan pakai sendiri atau kohort lakukan pembersihan atau disinfeksi sebelum dipakai kepada pasien lain Pedoman pencegahan tersebut adalah sebagai berikut : 1. hidung dan mata terhindar dari percikan. Sarung tangan harus diganti setiap selesai kontak dengan seorang pasien. Semua petugas kesehatan harus rutin menggunakan sarana yang dapat mencegah kontak kulit dan selaput lendir dengan darah atau cairan tubuh lainnya dari setiap pasien. mengerjakan semua prosedur yang menyangkut pembuluh darah. a. mengelola alat kedokteran/kedokteran gigi yang tercemar darah atau cairan tubuh. . 4. 5. Tindakan resusitasi dari mulut ke mulut harus dihindarkan.

Pengendalian Infeksi Nosokomial merupakan suatu upaya penting dalam meningkatkan mutu pelayanan medis rumah sakit.Kontak langsung antara petugas rumah sakit yang tercemar kuman dengan pasien. Diperlukan adanya prosedur baku untuk setiap tindakan yang berkaitan dengan pengendalian infeksi nosokomial.Penggunaan alat / peralatan medis yang tercemar oleh kuman. Kerugian yang ditimbulkan sangat membebani rumah sakit maupun pasien. Prosedur baku yang dituangkan dalam tata laksana pengendalian infeksi nosokomial ini merupakan prosedur maksimal yang harus diupayakan untuk dilaksanakan seluruhnya sesuai dengan situasi pada saat dan tempat pelaksanaannya. . Hal ini hanya dapat dicapai dengan keterlibatan secara aktif semua personil rumah sakit. Hasil akhir yang diharapkan adalah peningkatan mutu pelayanan kesehatan secara menyeluruh oleh RS. mulai dari petugas kebersihan sampai dengan dokter dan mulai dari pekarya sampai dengan jajaran Direksi. . . Islam Klaten memiliki sikap dan perilaku yang sama dalam mengendalikan infeksi nosokomial.Kondisi pasien yang lemah akibat penyakit yang dideritanya. . Terjadinya infeksi nosokomial dipengaruhi oleh beberapa factor.Banyaknya pasien yang dirawat yang menjadi sumber infeksi bagi lingkungan dan pasien lainnya. . Kegiatannya dilakukan secara baik dan benar di semua sarana rumah sakit. Mengingat kegiatan yang penting ini melibatkan berbagai disiplin dan tingkatan personil rumah sakirt.harus menghindari tugas yang bersifat kontak langsung dengan peralatan yang telah digunakan untuk pasien. ruang perawatan dan prosedur serta lingkungan.Kontak langsung antara pasien yang menjadi sumber infeksi dengan pasien lainnya. antara lain : . Bila dokter gigi/perawat gigi memiliki luka pada jarinya. BAB I PENDAHULUAN Infeksi Nosokomial merupakan masalah serius bagi semua rumah sakit. . maka luka tersebut harus ditutup dengan plester sebelum memakai sarung tangan. Diharapkan dengan adanya tata laksana pengendalian infeksi nosokomial yang merupakan pelengkap dari pedoman pengendalian infeksi nosokomial ini seluruh personil RS. peralatan medis dan non medis. Islam Klaten terhadap pasien.

BAB II PENCEGAHAN INFEKSI NOSOKOMIAL Pencegahan terhadap terjadinya infeksi nosokomial di rumah sakit dimaksud untuk menghindari terjadinya infeksi selama pasien dirawat di rumah sakit.Menyentuh darah atau cairan tubuh.Mengelola berbagai peralatan dan sarana kesehatan / kedokteran yang tercemar darah atau cairan tubuh. selaput lender atau kulit yang tidak utuh. . Sarung tangan harus selalu diganti setiap selesai kontak dengan seorang pasien. kebijaksanaan pelaksanaan UP adalah seperti apa yang dikemukakan dibawah ini : 1. HBV dan berbagai penyakit lain yang ditularkan melalui darah. . Semua petugas kesehatan harus rutin menggunakan sarana yang dapat mencegah kontak kulit dan selaput lender dengan darah atau cairan tubuh lainnya dari setiap pasien yang dilayani. Dengan demikian setiap petugas kesehatan harus : Menggunakani sarung tangan bila : . Adapun konsep yang dianut adalah bahwa semua darah dan cairan tubuh tertentu harus dikelola sebagai sumber yang dapat menularkan HIV.Mengerjakan fungsi vena atau segala prosedur yang menyangkut pembuluh darah. Pelaksanaan upaya pencegahan infeksi nosokomial terdiri atas : Kewaspadaan Universal Tindakan Invasif Tindakan Non invasive Tindakan terhadap anak dan neonatus Sterilisasi dan Desinfeksi KEWASPADAAN Definisi : Universal Precautions atau Kewaspadaan Universal adalah suatu pedoman yang ditetapkan oleh Centers for Disease Cotrol ( CDC ) ( 1985 ) untuk mencegah penyebaran dari berbagai penyakit yang ditularkan melalui darah di lingkungan rumah sakit maupun sarana pelayanan kesehatan lainnya. Menggunakan masker dani pelindung mata atau pelindung wajah bila mengerjakan prosedur . Pelaksanaan Kewaspadaan Universal. Secara singkat.

Oleh karena itu. khususnya infeksi virus seperti HIV. Wadah ini harus berada sedekat mungkin atau mudah dicapai disekitar arena tindakan. perlu disediakan alat resusitasi. Dengan menerapkan KU setiap petugas kesehatan dapat terlindung semaksimal mungkin dari kemungkinan terpapar oleh infeksi penyakit yang ditularkan melalui darah atau cairan tubuh baik dari kasus yang terdiagnosis maupun yang tidak terdiagnose. jangan melepaskan jarum suntik dari tabungnya atau melakukan apapun pada jarum suntik dengan menggunakan tangan. penting peranannya dalam manajemen kasus. pisau dan benda / alat tajam lainnya selama pelaksanaan tindakan. Tangan dan bagian tubuhlainnya harus segera dicuci sebersih mungkin bila terkontaminasi oleh darah dan cairan tubuh lainnya. Semua petugas harus selalu waspada terhadap kemungkinan tertusuk jarum. Untuk mencapai tujuan ini. tangan harus segera dicuci. Sebagai keuntungan tambahan. Akan tetapi atas dasar berbagai pertimbangan sampai saat ini penapisan ( . maka jangan menutup kembali jarum suntik setelah selesai dipakai. 2. maka harus ditempatkan di suatu wadah khusus yang tahan / anti tusukan. jangan sengaja membengkokkan atau mematahkan jarum suntik dengan tangan. Setelah segala benda tajam digunakan. Memakai jubah ( pakaian kerja ) khususi selama melaksanakan tindakan yang mungkin akan menimbulkan cipratan darah atau cairan tubuh ainnya. 6. Beberapa petunjuk khusus dalam pelaksanaan KU Kita menyadari bahwa diagnosis dini adanya infeksi oleh berbagai mikroorganisme pada seorang pasien. Walaupun air liur belum terbukti menularkan HIV. 3. saat membuang sampah atau ketika membenahi peralatan setelah berlangsungnya prosedur / tindakan. saat membersihkan / mencuci peralatan. Namun demikian bila terjadi infeksi HIV selama kehamilan. Petugas kesehatan yang sedang hamil tidak mempunyai resiko lebih besar untuk tertular HIV bila dibandingkan dengan petugas kesehatan yang tidak hamil. Setiap saat setelah melepaskan sarung tangan. 5. tindakan resusitasi dengan cara dari mulut ke mulut harus dihindari.yang memungkinkan terjadinya cipratan darah atau cairan tubuh guna mencegah terpaparnya selaput lender pada mulut. Hepatitis B dll. 4. Petugas kesehatan yang sedang mengalami perlukaan atau ada lesi yang mengeluarkan cairan misalnya menderita dermatitis basah harus menghindari tugas tugas yang bersifat kontak langsung dengan pasien ataupun kontak langsung dengan peralatan bebas pakai pasien. Kemudian wadah kumpulan benda tajam tersebut harus menjamin aman untuk transportasi ke tempat pemrosesan alat ataupun dalam proses pengenyahan. petugas kesehatan yang sedang hamil harus lebih memperhatikan pelaksanaan segala prosedur yang dapat menghindari penularan HIV. hidung dan mata. janin yang dikandungnya mempunyai resiko untuk mengalami transmisi perinatal. Dengan demikian di setiap tempat yang mungkin akan kedapatan kasus yang memerlukan resusitasi. transmisi dari kebanyakan infeksi yang ditularkan dengan cara lainpun terhadap petugas kesehatan dan pasiennya akan dikurangi pula.

pembuangan sampah / limbah secara aman dan menjamin kebersihan ruangan tindakan dan lingkungan sekitarnya. Masker penutup pelindung hidung dan mulut untuk mencegah percikan pada mukosa hidung dan mulut. b. Kegiatan di Unit Gawat Darurat Unit Gawat Darurat yang umumnya melayani kasus kecelakaan maupun kasus emergensi lainnya harus menyediakan segala peralatan yang berkaitan dengan pelaksanaan KU. Kegiatan di Kamar Operasi a. pembuluh darah. Untuk memutuskan rantai penularan diperlukan barier berupa : a. Oleh karena itu instrument yang tajam jangan diberikan secara langsung ked an dari operator oleh asisten atau instrumentator. mudah dicapai dan mudah dipakai. sudah dapat menularkan infeksi akan tetapi HIV belum dapat terdeteksi melalui pemeriksaan laboratorium. Dalam Prosedur Operasi Selain oleh darah secara kontak langsung tertusuknya bagian dari tubuh oleh benda benda tajam merupakan kecelakaan yang harus dicegah. . c. Penutup kaki untuk melindungi kaki dari kemungkinan terpapar cairan yang infektis. Kewaspadaan dalam tindak medik Sebagai prosedur pembedahan yang membuka jaringan organ. masker dan gaun khusus harus selalu ada. e. 3. Di bawah ini disampaikan langkah langkah yang perlu diperhatikan sebagai prosedur pencegahan infeksi. Bahkan pada infeksi oleh HIV terdapat masa jendela yang mana pada masa tersebut darah atau cairan tubuh penderita. Untuk memudahkan hal ini dipakai nampan guna menyerahkan instrument tajam tersebut ataupun mengembalikannya. Oleh karena itu prinsip KU dalam upaya pencegahan infeksi merupakan kunci utama keberhasilan memutuskan rantai transmisi penyakit yang ditularkan melalui darah maupun cairan lainnya. Sarung tangan yang tepat untuk melindungi tangan yang aktif melakukan tindak medik invasive. 2. khususnya infeksi HIV. d. 1. pertolongan persalinan maupun tindakan abortus prosedur hemodialisis dan prosedur operasi gigi mulut termasuk dalam tindak medik invasive beresiko tinggi untuk menularkan HIV bagi tenaga dokter atau pelaksana lainnya. Plastik penutup badan ( skort ) untuk mencegah kontak cairan tubuh pasien dengan penolong. Sarana seperti sarung tangan.screening ) terhadap berbagai infeksi virus tidak mungkin dilakukan secara rutin. Disetiap tempat tindakan pelayanan emergency harus tersedia wadah khusus untuk mengelola peralatan tajam. Kacamata pelindung untuk menghindari persikan cairan tubuh pada mata. Perlu diingatkan bahwa langkah langkah di bawah ini tidak mengabaikan pentingnya pelaksanaan prosedur standar dalam tiap tiap tindakan pemrosesan alat / instrument secara tepat. Operator bertanggung jawab untuk menempatkan benda tajam secara aman. Alat resusitasi harus tersedia dalam keadaan siap pakai dan ada petugas yang terlatih untuk menggunakannya.

b. Potonglah tali pusat bayi segera setelah lahir. e. Pencucian instrument bekas pakai sebaiknya secara mekanik. 5. d. Lokasi kagiatan lainnya yang memerlukan perhatian adalah di mobil ambulan. Penolong bayi baru lahir harus menggunakan sarung tangan. 6. Kegiatan di Kamar Bersalin yang membutuhkan lengan / tangan untuk manipulasi instrauterin tentunya harus menggunakan skor dan sarung tangan yang mencapai siku. Pada saat menjahit dilakukan prosedur sedemikian rupa sehingga jari / tangan terhindar dari tusukan. Memisahkan jaringan Jangan menggunakan tangan untuk memisahkan jaringan karena tindakan ini akan menambah resiko. Pakailah obat obatan sedapat dapatnya untuk dosis dengan 1 kali pemberian. laboratorium serta kamar jenazah. Prosedur Anesthesi Prosedur Anasthesi merupakan salah satu aktifitas yang dapat memaparkan HIV pada tenaga kesehatan pula. c. akan tetapi tidak beresiko untuk tenaga kesehatan. c. d. e.5% selama 10 menit. Perlu disediakan nampan /troli untuk alat alat yang sudah dipergunakan. 4. Bila mencuci instrument secara manual. c. petugas harus menggunakan sarung tangan rumah tangga dan instrument tersebut sebelumnya telah mengalami proses dekontaminasi dengan merendam dalam larutan clorin 0. b. ruang emergency. Operasi Sulit. f. perlu diingatkan bahwa : a. . Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah : a. Menutup spuit adalah prosedur resiko tinggi. ASI dari ibu yang terinfeksi HIV mempunyai resiko untuk bayi baru lahir. Pada saat menjahit. Untuk operasi operasi yang membutuhkan waktu lebih dari 60 menit dan lapangan kerjanya sulit ( sempit ) dianjurkan untuk menggunakan sarung tangan ganda. Melepaskan baju operasi dilakukan sebelum membuka sarung tangan agar tidak terpapar oleh darah / cairan tubuh dari baju operasi tersebut. d. g. Sangat dianjurkan agar petugas anasthesi melewati uji kelayakan terlebih dahulu untuk meminimalkan resiko terluka oleh jarum suntik dan alat lain yang tercemar darah dan cairan tubuh. Seorang dokter yang akan melakukan prosedur pembedahan sebaiknya telah diuji kelayakannya untuk melakukan tindakan tersebut secara khusus sebelumnya. b. Kegiatan di Kamar Bersalin Disamping memperhatikan kebutuhan barier yang telah disebutkan diatas. hindari terjadinya cipratan darah. Cara pengisapan lender bayi dengan mulut penolong harus ditinggalkan. Jarum harus dibuang sesegera mungkin setelah pemakaian ke dalam wadah yang aman. e.

cuci dengan sabun dan air atau dengan air saja sebanyak banyaknya. Paparan pada membrane mukosa melalui cipratan kemata : Cuci mata secara gentle dengan mata dalam keadaan terbuka menggunakan air cairan NaCL. 6. 1. A. Pejamu pun harus terus dimonitor kemungkinan infeksinya. Tindakan Invasif Operasi. 2. TINDAKAN INVASIF A. Membuat perencanaan ( menyusun proposal ). Selanjutnya mereka yang terpapar ini perlu mendapatkan pemantauan pemeriksaan HIV yang adekuat dan kondisi kesehatannya pun harus diperhatikan. 7. Paparan secara parenteral melalui tusukan jarum. 5 kali / hari selama 6 minggu. Tindakan Invasif Sederhana Tindakan invasive sederhana adalah suatu tindakan memasukkan alat kesehatan kedalam tubuh . Meninjau kembali kebijakan dan prosedur yang telah ada. Dibeberapa Negara seperti Australia. tenaga kesehatan yang terpapar tersebut memerlukan konseling mengenai resiko infeksi dan pencegahan transmisi selanjutnya. Paparan pada mulut : Keluarkan cairan infektif tersebut dengan cara berludah kemudian kumur kumur dengan air beberapa kali. Selama pemantauan. Identitas unsure unsure yang terkait. 4. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu diselenggarakan langkah langkah sebagai berikut : 1. 5. 3. B. menilai fasilitas dan kebiasaan yang berlangsung. terpotong dan lain lain : Keluarkan darah sebanyak banyaknya. Sebagai petugas kesehatan khususnya yang bekerja di lingkungan rumah sakit sudah selayaknya kita menerapkan UP dalam melaksanakan tugas kita sehari hari. mengadakan pendidikan dan pelatihan. menjalankan rencana yang telah disusun. melakukan hubungan seksual yang aman dan mencegah kehamilan. 2. diberikan zidovudine ( AZT ) profilaksis 200 mg oral. 4. Pemantauan dan supervise pelaksanaan KU secara berkala. Upaya untuk melaksanakan KU di lingkungan kita. Tindakan Invasif Sederhana. Tentunya individu tersebut diingatkan untuk tidak menjadi donor darah ataupun jaringan. lecet atau dermatitis : cucilah sebersih mungkin dengan air dan sabun antiseptic. 3. Paparan pada kulit yang utuh maupun kulit sedang mengalami perlukaan.Manajemen untuk tenaga kesehatan yang terpapar darah atau cairan tubuh.

Tidak memperhatikan kebersihan perorangan. B.Tidak mematuhi tata tertib yang berlaku di kamar operasi. . . pacu jantung ). . . . .Kuku panjang .Tidak memperhatikan hygiene perorangan. . lumbal. .Tidak memperhatikan hygiene perorangan.Mempunyai penyakit infeksi / menular / karier.Mencuci tangan dengan cara yang tidak benar.Menderita penyakit menular / infeksi / karier. . bronkoskopi. pemasangan alat ( kontrasepsi. . . pipa nasogastrik.Tidak mematuhi tata tertib di kamar operasi. pungsi ( vena. pericardial. Alat . pipa endotrakeal.Tidak mencuci tangan. . . kateter intravena.Ceroboh dalam bekerja. .Bekerja ceroboh dan masa bodoh terhadap lingkungan.Tidak steril. . Petugas umum adalah semua petugas yang bekerja sekitar ruang tindakan . Tindakan Invasif Operasi Tindakan invasive oeprasi adalah suatu tindakan yang melakukan penyayatan pada tubuh pasien dan dengan demikian memungkinkan mikroorganisme masuk kedalam tubuh dan menyebar.pasien sehingga memungkinkan mikroorganisme masuk kedalam tubuh dan menyebar ke jaringan.Tidak memahami cara penularan / penyebaran kuman pathogen. . Petugas khusus adalah semua petugas yang bekerja didalam kamar tindakan. Contoh : Suntikan.Tidak memperhatikan tehnik aseptic / antiseptic.Untuk pemakaian berulang tanpa disterilkan lagi. .Penyimpanan tidak baik.Kotor. . pleura suprapubik ).Bekerja tanpa memperhatikan tehnik aseptic dan antiseptic. . kateter jantung. .Diluar batas waktu yang ditetapkan ( kadaluwarsa ) tanpa disterilkan lagi.Rusak / karatan. Sumber Infeksi pada Tindakan Invasive a. angiografi. .Tidak menguasai tindakan yang dilakukan.Tidak memperhatikan tehnik aseptic / antiseptic. b.

. Sumber Infeksi pada tindakan non invasif Infeksi pada tindakan non invasive dapat terjadi karena kontak langsung antara : 1.Tempat sampah selalu dalam keadaan tertutup. .Menderita penyakit infeksi / menular / karier. .Ruangan bersih.Dijaga kebersihannya.Sedang menapatkan pengobatan imunosupresif. . .Daerah sekitarnya terdapat tanda tanda infeksi. d. .Mencegah air tergenang. pemasangan holter dan lain lain. .Permukaan lantai harus rata dan tidak berlubang. . pemeriksaan reflek tonus treadmill tes. . TINDAKAN NON INVASIF Tindakan non invasive adalah suatu tindakan medis dengan menggunakan alat kesehatan tanpa memasukkan kedalam tubuh pasien yang memungkinkan mikroorganisme masuk ke dalam jaringan.Penerangan / sinar matahari tidak cukup. Contoh : Tindakan EKG. .Menderita penyakit kronis. . USG. mingguan atau pada kasus infeksi tertentu.Menghindari serangga. . Pasien . 2.Sudut ruangan tidak tajam.Mengatur system sirkuasi udara dalam kamar operasi.Ruangan dibersihkan secara rutin. . 1. Pasien dengan petugas.Cahaya cukup terang. missal : sakit kulit. Lingkungan . . pengukuran nadi.Dinding kamar operasi harus licin mudah dibersihkan.Dipisahkan lalu lintas untuk petugas. .Jumlah petugas yang keluar masuk ke kamar operasi dibatasi. . barang bersih dan kotor. tidak lembab dan berdebu. . . dsb. .Persiapan pasien dari ruang rawat tidak baik.c. kering dan tidak berbau.Sirkulasi udara harus cukup. pasien. . .Tidak ada serangga. pengukuran suhu tubuh.Higiene pasien tidak baik. . pengukuran tekanan darah.Keadaan gizi tidak baik. Pasien yang menderita penyakit infeksi / menular / karier dapat menularkan penyakit yang diderita kepada pasien lain.

6. . Pasien dengan Alat . Pengunjung .Tempat sampah selalu dalam keadaan tertutup.Pasien dapat menularkan penyakit yang dideritanya kepada pengunjung atau sebaliknya. . Pasien dengan lingkungan. .Yang terkontaminasi oleh pasien dengan penyakit tertentu ( misalnya gas gangrene ) dimusnahkan. Alat .Pasien dapat menularkan kuman penyakit yang dideritanya ke air yang dipergunakan atau sebaliknya. . 2.Petugas yang menderita penyakit infeksi / menular / karier dapat menularkan penyakit yang diderita kepada pasien atau sebaliknya.Lingkungan pasien / kamar dijaga selalu dalam keadaan bersih dan kering.2. Pencegahan Infeksi pada Tindakan Non Invasif 2. 2..Yang digunakan harus bersih dan kering.3. . .1.Pasien dapat menularkan kuman penyakit yang dideritanya ke lingkungan sekitarnya atau sebaliknya.Pasien dapat menularkan kuman penyakit yang diderita ke alat alat yang telah digunakan atau sebalikya.Mencuci tangan lebih dahulu sebelum dan sesudah kontak dengan pasien (lampiran 1 ). 2. Petugas . 4. 5. Air. 2. . . . Pasien dengan makanan . .Menggunakan barrier nursing sewaktu mengunjungi pasien yang berpenyakit infeksi / menular.Untuk penyakit tertentu ( misalnya gas gangrene ) ruangan dihapus hamakan sebelum dipakai kembali.4.Pasien dapat menularkan kuman penyakit yang diderita ke makanan atau sebaliknya. Lingkungan . 2.Isolasi pasien yang diduga menderita penyakit infeksi atau menular.5.Jumlah dibatasi.Yang telah terkontaminasi segera dibersihkan dengan bahan desinfektan dan kemudian disterilkan.Petugas dapat menjadi perantara penularan penyakit. 3. 2.Sirkulasi udara dalam kamar harus lancar.Tidak ada serangga didalam kamar pasien. Pasien . Pasien dengan pengunjung . Pasien dengan air. . 7. 6.Yang sedang menderita sakit tidak diperkenankan mengunjungi pasien. .Penerangan / sinar matahari dalam kamar harus cukup. .

. .. Tempat tidur / incubator dibersihkan setiap bayi / anak dipulangkan / dipindah / meninggal. . Petugas . Penyakit gastro intestinal. . tidak berbau. penyakit saluran nafas lainnya.Jumlah air yang tersedia memenuhi kebutuhan pasien. kateterisasi umbilical / jantung. TINDAKAN TERHADAP ANAK DAN NEONATUS Tindakan terhadap anak / neonatus dapat berupa tindakan invasive. jernih dan bersih.Pemberian dari luar rumah sakit harus dicegah. .Diberikan sesuai dengan diet yang dianjurkan. topi. .Tidak menderita penyakit menular seperti tuberkulosa.7.Inkubator / tempat tidur bersih dan kering kalau mungkin disterilkan dengan desinfektan / detergen. .Kuku harus pendek. .Kualitas air tersedia memenuhi syarat kesehatan yaitu batas bebas kuman. memperhatikan kebersihan diri dan lingkungan. . . . . . 1. masker dan sarung tangan hanya dipakai pada waktu melakukan tindakan invasive seperti fungsi lumbal. . invasive operasi maupun tindakan non invasive. 2.Harus dalam keadaan sehat.Yang sudah rusak / terkontaminasi dibuang. Pencegahan infeksi pada tindakan terhadap anak / neonatus meliputi : 1. ganti darah.Khusus bila kontak dengan neonatus tangan harus dicuci sampai ke siku dengan sabun dan air mengalir serta digosok dengan sikat ( pertama kali masuk bangsal ) kemudian dapat dipakai larutan antiseptic. . .Bak tempat penampungan air dibersihkan secara rutin minimal 2 kali seminggu.Semua alat yang dipakai selalu dalam keadaan bersih dan kering.Pakaian petugas yang bekerja dibangsal anak / neonatus berlengan pendek agar mudah untuk mencuci tangan.Dicegah adanya genangan air limbah.Harus dalam keadaan steril kalau mungkin alat disterilkan dengan autoklaf atau dapat juga dengan menggunakan desinfektan setelah alat dibersihkan. Makanan .Bayi / anak hanya boleh disatu tempat tidur selama 1 minggu. Alat .Sebelum masuk ke bangsal neonatus.Sebelum dan sesudah kontak dengan pasien harus mencuci tangan dengan antiseptic atau sabun serta air mengalir. penyakit kulit atau mukokutaneus seperti herpes dan lain lain. . tidak berwarna.Air minum harus dimasak sampai mendidih.Selalu dalam keadaan tertutup.

oleh sebab itu perlu : Mencuci tangan sebelum dan sesudah : .Tempat tidur tidak boleh dibersihkan selama anak berada ditempat tidur. .Kamar / ruang harus ada penerangan / sinar yang diperlukan untuk menghangatkan ruangan. Urine merupakan sumber infeksi.Isolasi / memisahkan bayi yang sehat dari bayi yang diduga ada infeksi. selimut bayi / anak sebaiknya disediakan setiap 8 jam untuk sekali pakai. dot.Bayi / anak masing masing harus mempunyai perlengkapan sendiri dan sebaliknya dicuci dibangsal bayi. STERILISASI DAN DESINFEKSI STERILISASI 1. Pengertian . dinding dan jendela dibersihkan dengan desinfektan / detergen atau penghisap debu kering yang diikuti dengan wet vaccum pick up machine.Pakaian kotor harus dikumpulkan dalam plastic tertutup dan diganti dengan yang bersih setiap 8 jam. . . . Pasien anak / neonatus .Penyediaan air bersih untuk keperluan pasien.Lantai.Susu. .Bahan / zat yang dipakai untuk membersihkan pakaian bayi harus diketahui oleh dokter ruangan bayi / anak untuk mencegah kelainan yang mungkin timbul terhadap bayi. botol susu sebaiknya disetrilkan diautoklaf sub atmospheric pressure ( proses pasteurisasi ) yang khusus dipkai di dapur susu. . inmfus. .Perlengkapan bayi / anak harus dibawa ketempat perawatan dalam keadaan steril dan tertutup.Penyediaan air bersih untuk keperluan pasien. . demikian juga tali pusat.Kamar / ruang peralatan cukup sinar matahari yang masuk ketempat perawatan sehingga secara tidak langsung bayi yang kuning mendapatkan terapi sinar. lumbal pungsi ) harus dibersihkan dulu dengan zat antiseptic. Bagian yang harus dibersihkan adalah sekitar pasien dan lingkungan tempat perawatan. . . . 4.Pemakaian alat prosedur.Kulit harus dalam keadaan bersih dan kering. .. 2.Pemeriksaan genital. .Memeriksa pasien.Pakaian / alas tempt tidur. Lingkungan .Kulit tempat tindakan invasive ( pengambilan darah. .Menampung / memeriksa urine. Khusus untuk neonatus sebaiknya pakaiannya dipakai yang disposibel. .

Tehnik sterilisasi ada beberapa cara : 1. Sumber kontaminasi dapat berasal dari : 1. 3. Sterilisasi bahan dan alat yang disterilkan dapat dipertanggung jawabkan. Efisiensi tenaga.1. 5. pemberian tanda steril penyusunan dan pengeluaran barang barang hasil sterilisasi ke unit pemakaian di RS. rambut dan saluran nafas yang terinfeksi ). Ruang yang tidak dibersihkan dan di desinfektan. Sterilisasi dengan pemanasan : a. Pasien yang telah terinfeksi. instalasi dan pemeliharaannya. Personalia yang di rumah sakit ( kulit. Tehnik Sterilisasi Sebelum memilih tehnik sterilisasi yang tepat dan efisien diperlukan pemahaman terhadap kemungkinan adanya kontaminasi dari bahan dan alat yang akan disterilkan. 2.Sterilisasi adalah proses pengolahan suatu alat atau bahan dengan tujuan mematikan semua mikroorganisme termasuk endospora pada suatu alat / bahan. Air yang tidak disuling dan tidak disterilkan. Menghemat biaya investasi. 2. Udara yang lembab atau uap air. Mulai dari penerimaan. Keberhasilan usaha tersebut akan tercermin pada kualitas dan kuantitas mikroorganisme yang terdapat bahan. pengawasan. Untuk kerja yang bertanggung jawab terhadap proses sterilisasi di rumah sakit adalah Instalasi Sterilisasi Sentral. Pemanasan basah dengan Autoklaf . pencucian. Sterilisasi dimaksudkan untuk membunuh atau memisahkan semua mikroorganisme ditetntukan oleh daya mikroorganisme terhadap tehnik sterilisasi. pengadaan. Sebaiknya proses sterilisasi di RS dilaksanakan secara sentralisasi dengan tujuan agar tercapainya : 1. 4. Kontaminasi terjadi karena adanya perpindahan mikroorganisme yang berasal dari berbagai macam sumber kontaminasi. alat serta lingkungan kerja rumah sakit. 3. 2. tangan. Penyederhanaan dalam pengembangan prosedur kerja. Efisiensi dalam menggunakan peralatan dan sarana. Proses sterilisasi di rumah sakit sangat penting sekali dalam rangka pengawasan pencegahan infeksi nosokomial. Perlengkapan dan peralatan di rumah sakit. 5. 6. standarisasi dan peningkatan pengawasan mutu. 4. Instalasi Sterilisasi Sentral mempunyai kegiatan mengelola semua kebutuhan peralatan dan perlengkapan tindakan bedah serta non bedah.

b. Sterilisasi dengan penyinaran. Waktu kadaluwarsa suatu bahan steril sangat tergantung kepada tehnik sterilisasi. Sterilisasi dengan menggunakan zat kimia.3. 4. Pemanasan kering dengan pemijatan dan udara panas.b. Jaminan hasil penguian dapat dicapai jika pengawasan dimulai semenjak pemilihan bahan dan alat yang akan disterilkan. 3. Hasil yang diperoleh benar benar steril. Pemanasan sample langsung pada media pembenihan. 1. Pembilasan penyaring. c. DESINFEKSI 1. c. 1. b. 1. Penambahan media pembenihan paket ke dalam larutan yang akan diuji kemudian diinkubasi. Pengujian Ada tiga pilihan yang dapat digunakan sebagai tehnik dalam pengujian sterilisasi : a. Bahan yang disterilkan tidak boleh mengalami perubahan. 3.4.2. Pengertian Desinfeksi adalah suatu proses baik secara kimia atau secara fisika dimana bahan yang patogenik atau mikroba yang menyebabkan penyakit dihancurkan dengan suatu desinfeksi dan antiseptic. Sterilisasi dengan penyaringan. Antiseptik adalah zat zat yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan hidup. Pengawasan terhadap proses sterilisasi dapat dilakukan dengan cara mentest bahan atau alat yang dianggap masih steril dengan memakai indicator fisika. Tehnik sterilisasi yang akan dipakai sampai dengan proses penyimpanan dan pendistribusian bahan / alat yang sudah steril. hasil pembilasan diinkubasikan setelah ditanam dalam media pembenihan. . c. Tehnik yang murah. Pengawasan Suatu bahan steril yang dihasilkan selama dalam penggunaan harus dapat dijamin kualitas dan kuantitasnya. Desinfektan adalah senyawa atau zat yang bebas dari infeksi yang umumnya berupa zat kimia yang dapat membunuh kuman penyakit atau mikroorganisme yang membahayakan menginaktifkan virus. cepat dan sederhana. kimia dan biologi tergantung pada tehnik sterilisasi yang digunakan waktu mensterilkan bahan / alat tersebut. Pemanasan dengan bactericid. Pemilihan tehnik sterilisasi berdasarkan pertimbangan a.

Biaya murah dan persediaannya tetap ada dipasaran. Pengawasan Desinfeksi Pengawasan desinfeksi dilakukan terhadap penggunaan desinfeksi sangat tergantung kepada pengaruh suhu. d. penyusunan dan penyaluran desinfektan / antiseptic ke unit pemakai di rumah sakit. f. jumlah mikroorganisme dan adanya zat zat yang mengganggu pada waktu mempergunakan desinfektan. Macam macam desinfektan yang dapat dipakai dalam tehnik desinfeksi digolongkan berdasarkan struktur kimia senyawa : LIHAT LEMBAR DESINFEKSI 2. Tidak mengeluarkan bau yang mengganggu. c. Tidak merusak bahan yang didesinfeksi. Spektrum luas. Instalasi Farmasi mempunyai kegiatan mulai dari perencanaan. Pemilihan desinfetan yang tepat seharusnya memenuhi criteria berikut : a. pH dan bentuk formulasinya disamping itu kepekaan mikroorganisme terhadap kerja zat kimia serta lingkungan dimana desinfektan tersebut akan digunakan. pengadaan. b. Tehnik Desinfeksi Tehnik desinfeksi yang dilakukan tidak mutlak bebas dari mikroorganisme hidup seperti pada sterilisasi karena desinfektan / antiseptic tidak menghasilkan sterilisasi. Daya bunuh kuman yang tinggi dengan toksisitas yang rendah. dapat mematikan berbagai macam mikroorganisme. Desinfektannya sederhana dan tidak sulit pemakaiannya. e. pembuatan. g.Unit kerja yang bertanggung jawab terhadap penyediaan desinfektan dan antiseptic di rumah sakit adalah Instalasi Farmasi. pencemaran. 2. aktifitas permukaan. temperature. Stabil selama dalam penyimpanan. Faktor yang mempengaruhi pemilihan desinfektan yaitu sifat sifat zat kimia yang akan digunakan seperti konsentrasi. h. BAB III SURVEILANS . pH. Dalam waktu singkat dapat mendesinfeksi dengan baik.

Salah satu dari criteria berikut : .Biarkan mikroorganisme positif dari cairan luka. Luka operasi profunda . Luka operasi superficial : . Infeksi Luka Operasi Infeksi luka operasi nosokomial adalah infeksi yang terjadi pada operasi bersih atau operasi bersih tercemar. atau pada infeksi dapat di kultur kuman yang berasal dari rumah sakit. perlu dilaksanakan surveilans infeksi nosokomial di rumah sakit. .Pus dari luka atau dren diatas fasia. MERUMUSKAN KASUS / KRITERIA DIAGNOSTIK Kasus yang akan disurvei perlu dirumuskan atau dibuat suatu criteria diagnostic yang jelas dan teliti yang perlu ditaati secar konsisten dalam proses pengumpulan data terutama beberapa jenis penyakit infeksi yang sering terjadi di rumah sakit.Meskipun berbagai upaya pencegahan infeksi nosokomial di rumah sakit telah dilaksanakan secara optimal.Meliputi kulit. Analisa data dan penyebaran data yang teratur merupakan bagian penting dalam prose situ. . . Oleh karena itu.1. Ada beberapa rumusan kasus / criteria diagnostic yang akan dibicarakan dibawah ini : 1.Infeksi ada hubungannya dengan operasi tersebut. . Surveilans adalah pengamatan yang sistematis aktif dan terus menerus terhadap timbulnya penyebaran penyakit pada suatu populasi serta keadaan atau peristiwa yang menyebabkan meningkat atau menurunnya resiko untuk terjadinya penyebaran penyakit. subkutan atau otot diatas fasia.Infeksi terjadi dalam waktu 30 hari setelah operasi. .Salah satu criteria berikut : . .. . . untuk mengadakan evaluasi terhadap keberhasilan program pengendalian infeksi nosokomial serta upaya penanggulangannya bila terjadi wabah atau kejadian luar biasa. namun demikian jumlah kejadian yang lebih sedikit.Dan Infeksi terjadi pada luka insisi.Ahli bedah membuka luka operasi karena ada tanda inflamasi. Infeksi luka operasi dibedakan menjadi : 1.Infeksi terjadi dalam waktu 30 hari setelah operasi bila tak ada implant / protheses atau infeksi terjadi dalam satu tahun bila dipasang implant. agaknya infeksi nosokomial di rumah sakit akan tetap terjadi.Meliputi jaringan atau rongga dibawah fasia. Kegiatan surveilans eliputi : A.

- Pus dari drain dibawah fasia. - Luka operasi dihisensi secara spontan atau dibuka oleh ahli bedah sewaktu pasien demam 380C dan atau terdapat nyeri local. - Abses atau tanda infeksi lain yang langsung terlibat waktu pemeriksaan, waktu operasi atau secara histopatologis. 1.3. Infeksi luka operasi pada neonatus - Gejala timbul dalam 1 2 minggui berupa tanda tanda radang ditempat / disekitar luka operasi seperti panas, merah, bengkak, bernanah dan disertai gejala umum : malas minum,, hipotermi / hipertermi, takikardia / apnea, hipoglikemia, muntah dan sebagainya. - Tanda tanda infeksi terdapat dipermukaan atau lebih dalam sehingga menimbulkan gejala sepsis. - Biakan dari nanah didapat Gram positif atau Gram negative. 1.4. Infeksi luka operasi pada anak - Ada tanda radang seperti panas, bengkak, merah dan adanya pus ditempat operasi, selulitus atau sepsis pada infeksi yang lebih dalam dengan gejala panas, muntah, anak gelisah. - Biakan kuman : Gram positif atau Gram negative. Jenis Operasi : a. Operasi Bersih : - Operasi pada kasus non trauma. - Operasi yang tak mengenal daerah dengan tanda infeksi. - Operasi yang tak membuka respiratori, urinarius. - Umumnya luka operasi ditutup primer dan tak dipasang drain. Mis : FAM, hernia, lipoma, tiroid, internal fixasi pada fraktur fraktur tertutup.

b. Operasi bersih tercemar : - Operasi membuka disgestivus dengan pencemaran nyata. - Operasi membuka biliair dengan empedu yang terinfeksi. - Operasi membuka urinarius dengan urine yang terinfeksi. - Operasi membuka respiratorius dengan infeksi respiratoris. - Operasi pada luka karena trauma yang bersih dan kurang dari 6 jam. Mis : Appendektomi akut dan kronis, kholesistektomi, section alta. c. Operasi Tercemar : - Operasi membuka getivus dengan pencemaran nyata. - Operasi membuka billiard dengan empedu yang terinfeksi. - Operasi membuka urinarius dengan urine yang terinfeksi. - Operasi membuka respiratorius dengan infeksi respiratoris.

- Operasi pada luka karena trauma yang bersih dan kurang dari 6 jam. Mis : Kholesistektomi pada empyeme KE, operasi membuka kolon dengan pencemaran isi usus luka tusuk tanpa menembus. d. Operasi kotor : - Operasi perforasi digestivus, billair, urinarius, respiratosius. - Operasi yang mengenai daerah inflamaasi bakteriel. - Operasi melalui daerah bersih untuk membuka bases. - Operasi luka trauma dengan ada jaringan yang non vital / benda asing / kontaminasi feces, kejadian ditempat yang kotor, pertolongan / operasi dilakukan 6 jam setelah trauma. Mis : Traimatic mputasi, trauma tumpul abdomen dengan perforasi usus, trauma kotor dengan korpus alineum. 2. Infeksi Saluran Kemih ( ISK ) Infeksi saluran kemih nosokomial ialah infeksi saluran kemih yang pada pasien masuk rumah sakit belum ada atau tidak dalam masa inkubasi dan didapat sewaktu dirawat atau sesudah dirawat. Infeksi saluran kemih dapat disebabkan : a. Endogen : - perubahan flora normal. b. Eksogen : - prosedur yang tidak bersih / steril - tangan yang tidak dicuci sebelum prosedur. 2.1. Infeksi Saluran Kemih Simtomatik. Dengan salah satu kriteria dibawah ini : * Salah satu gejala ini : - Demam > 380C - Disuria - Nikuria ( urgency ) - Polakisuria - Nyeri Suprapubik. Dan biakan urin > 100.000 kuman / ml dengan tidak lebih dari dua jenis mikroorganisme : * Dua dari gejala : - Demam 380C - Disuria - Nikuria - Polakisuria - Nyeri Suprapubik * dan salah satu tanda :

- Tes carik celup ( dipstick ) positif untuk leukosit esterase dan atau nitrit. - Pluria ( 10 lekosit/ml atau > 3 lekosit /LPB pada urine yang tidak disentrifus. - Mikroorganisme positif pada pewarnaan gram pada urine yang tidak disentlifus. - Biakan urine dua kali dengan hasil kuman uropatogen yang sama dengan jumlah > 100.000 kuman/ml dari urin yang diambil secara steril. - Biakan urin dengan hasil satu jenis kuman uropatogen dengan jumlah 100.000 kuman/ml dan pasien diberi antibiotic yang sesuai. - Diagnosis oleh dokter. - Dokter memberikan terapi antibiotika yang sesuai. 2.2. Infeksi saluran kemih asimtomatik Dengan salah satu criteria dibawah ini : * memakai kateter dower selama 7 hari sebelum biakan urin dan tak ada gejala : - Demam 380C - Disuria - Nikuria - Polakisuria - Nyeri suprapubik Biakan urin dengan jumlah > 100.000 kuman/ml urin dengan tak lebih dari dua jenis kuman. * tidak memakai kateter dower selama 7 hari sebelum biakan urin dengan dua kali hasil biakan > 100.000/ml dengan mikroorganisme yang sama yang tak lebih dari dua jenis dan tak ada gejala : - Demam 380C - Disuria - Nikuria - Polakisuria - Nyeri Suprapubik 2.3. Infeksi Saluran Kemih lain. ( dari ginjal, ureter, kandung kemih, uretra atau jaringan retroperito neal atau rongga perinefrik ) dengan salah satu criteria dibawah ini : Biakan positif dari cairan atau jaringan yang diambil dari lokasi yang dicurigai. Ditemukan abses atau tanda infeksi pada pemeriksaan atau operasi atau secara hispatologis. Dua dari gejala : - Demam 380C - Nyeri local pada daerah yang dicurigai. - Nyeri tekan pada daerah yang bersangkutan. Dan salah satu dari tanda : - Drenase purulen dari daerah yang dicurigai. - Biakan darah positif

Gejala : panas.Apabila biakan kuman dalam urin pada waktu masuk dan saat diperiksa berbeda.Radiologi terdapat tanda infeksi . hipertermi/ hipotermi.Dapat dengan atau tanpa gejala.Apneu . .Laboratorik : hasil biakan urin yang diambil melalui suprapubik dikatakan positif apabila jumlah kuman sama atau lebih dari 200/ml urin. . Pada anak yang lebih besar gejala spesifik makin jelas seperti ngompol. kuning. kateterisasi buli buli.Bradikardi .Gejala infeksi timbul sesudah dilakukan punksi suprapubik. .Diagnosis dokter .1.Biakan darah positif .Disuria . Dan apabila melalui urin pancaran tengah atau kateterisasi kandung kemih maka jumlah kuman dalam urin 100. 2. 3. .Dokter memberikan terapi antibiotika yang sesuai Pasien berumur < 12 bulan dengan salah satu gejala : . Biakan urin positif kalau ditemukan kuman lebih dari 100. Infeksi Saluran Kemih pada Anak . gangguan pertumbuhan.Muntah Dan salah satu dari tanda : .. Infeksi Saluran Kemih pada neonatus .Radiologi terdapat tanda infeksi . .Pada usia prasekolah gejala klinis berupa sakit perut. Definisi Infeksi Aliran Darah Primer .Drenase purulen dari daerah yang dicurigai.Letargi .Bayi tampak tidak sehat. panas. Infeksi Aliran Darah Primer ( IADP ) 3.Demam 380C . 2.Hipotermia .Laboratorium : pemeriksaan mikroskopik dan biakan urin dari punksi suprapubik.Dokter memberikan terapi antibiotika yang sesuai. .Diagnosis dokter . muntah. gagal tumbuh ( gejala sama dengan sepsis ). Makin muda usia anak makin tidak khas. . muntah. sering kencing dan ngompol. kadang kadang diare atau kencing yang sangat berbau.5. nafsu makan berkurang. .Diagnosis : Klinik dan laboratorik. .Pemeriksaan lainnya : sediment urin terdapat piuria. sakit waktu kencing atau nyeri pinggang. sering kencing.000 atau lebih/ml urin. .4.000/ml urin.Infeksi ini dapat pula disebabkan oleh sepsis.

. .Manifestasi hematology antara lain : pucat.Tidak ada tanda tanda infeksi di tempat lain. Ditemukan salah satu diantara gejala berikut tanpa penyebab lain : .Hipotermi < 370C . Oliguri.Tidak terdapat tanda tanda infeksi ditempat lain. Ditemukan salah satu gejala / tanda berikut tanpa penyebab lain : . 160/mnt atau bradikardi.Diberikan terapi antimikroba sesuai dengan sepsis.Sistem pernafasan antara lain : nafas tak teratur. sesak.Demam > 380C . . .Suhu > 380C. . .1.Sistem pencernaan antara lain : distensi lambung.1. Untuk Dewasa dan anak > 12 bulan. splenomegali dan perdarahan. sistolik < 90 mmHg. 3) Untuk Neonatus Dinyatakan menderita infeksi aliran darah primer apabila terdapat 3 atau lebih diantara enam gejala berikut : .Infeksi Aliran Darah Primer adalah infeksi aliran darah yang timbul tanpa ada organ atau jaringan lain yang dicurigai sebagai sumber infeksi.Hipotesi. mencret. suhu tubuh diukur secara oral atau rectal.Suhu badan diukur secara aksiler selama 5 menit dan diulang setiap 3 jam.Apabila pasien menunjukkan gejala. Dan .Telah diberikan antimikroba sesuai dengan sepsis. CATATAN : . jumlah urin < 0. hipotermi (< 370C) hipertermi ( 380C ) dan sklerema.Bradikardi < 100x/mnt Dan Semua gejala / tanda di bawah ini : .5 cc/kbBB/jam Dan Semua gejala / tanda yang disebut dibawah ini : . muntah dan hepatomegali.Apnea . Criteria infeksi aliran darah primer dapat ditetapkan secara klinis dan laboratories dengan gejala / tanda berikut : 3. kejang dan letargi. 2).Sistem saraf dan pusat antara lain : hipertermi otot. iritabel. apnea dan takipnea. Klinis 1). . kuning. bertahan minimal 24 jam dengan atau tanpa pemberian antipiretika. Untuk bayi umur 12 bulan. .Keadaan umum menurun antara lain : malas minum. 100/mnt dan sirkulasi perifer buruk. .Sistem kardiovaskuler antara lain : tanda renjatan yaitu takikardi.

Biakan darah tidak dikerjakan atau dikerjakan tetapi tidak ada pertumbuhan kuman. Pada partus normal di rumah sakit infeksi terjadi setelah lebih dari 3 hari.Terdapat kontaminan kulit dari 2 biakan berturut turut dan kuman tersebut tidak ada hubungannya dengan infeksi ditempat ( organ / jaringan lain ) .Terdapat kontaminan kulit dari biakan darah pasien yang menggunakan alat intravaskuler ( kateter intravena ) dan dokter telah memberikan antimikroba yang sesuai dengan infeksi CATATAN : Untuk neonatus digolongkan infeksi nosokomial apabila : 1. 3. Untuk bayi < 12 bulan. Kuman pathogen dari biakan darah dan kuman tersebut tidak ada hubungannya dengan infeksi ditempat lain. 2. PENGUMPULAN DATA SURVEILANS INFEKSI NOSOKOMIAL .Hipotensi . Ditemukan satu diantara gejala klinis berikut : .2. 2).Bradikardi < 100/mnt Dan Satu diantara tanda berikut : . Pintu masuk kuman jelas misalnya luka infuse.Demam > 380C.Diberikan terapi antimikroba sesuai dengan sepsis. .Terdapat kontaminan kulit dari 2 biakan berturut turut dan kuman tersebut tidak ada hubungannya dengan infeksi ditempat ( organ / jaringan ) lain.Hipotermi < 370C . tanpa didapatkan pintu masuk kuman. . ditemukan satu diantara gejalaberikut : . .Semua gejala / tanda di bawah ini : .Oliguri Dan Satu diantara tanda berikut : . .Apnea .Menggigil .Demam > 380C .1. Terjadi 3 hari setelah partus patologik. Ditemukan satu diantara 2 kriteria berikut : 1). 3. B.Terdapat kontaminan kulit dari biakan darah pasien yang menggunakan alat intravascular ( kateter intravena ) dan dokter telah memberikan antimikroba yang sesuai dengan sepsis. Laboratorik Untuk orang dewasa dan anak umur > 12 bulan.Tidak terdapat tanda tanda infeksi ditempat lain.

Manajer sistem rawat inap melaporkan kepada Direktur untuk menjadi laporan sasaran mutu. Perawat mencatat kejadian decubitus pada format yang tersedia . Perawat ruangan memonitor tanda tanda infeksi yang terjadi pada luka operasi bersih selama dirawat di rumah sakit. tembusan kepada ketua PPMK / Bidang Keperawatan dan Panitia Dalin RS. Perawat pelaksana mencatat pasien yang terpasang infus dan setiap mengganti infus pada format cek list monitoring infeksi pasien rawat inap . 6. Kepala ruang melaporkan kepada manajer sistem rawat inap. 2. Ketua PPMK / Ka. 3. Ketua PPMK / Ka. 6. nomor rekam medik. 2. SKF mengarsip laporan tersebut. Manajer Sistem Rawat Inap melapokan kepada Direktur untuk menjadi laporan sasaran mutu. 5. Pelaksanaan pengumpulan data untuk angka kejadian decubitus : 1. Panitia Dalin mengevaluasi dan menganalisa serta membuat laporan kepada Direktur. nama ruang. 5. Perawat IBS / ruangan mempunyai pengetahuan tentang Operasi Bersih. Tiap awal bulan kepala ruang / anggota panitia Dalin yang ditunjuk merekap kejadian decubitus. 5. Pelaksanaan pengumpulan data untuk infeksi luka operasi : 1. Kepala ruangan melaporkan kepada panitia Dalin. 6. Data lain dapat dikumpulkan hanya apabila akan dilakukan analisis. Panitia Dalin mengevaluasi dan menganalisa serta membuat laporan kepada Direktur. Perawat IBS mengisi check list monitoring infeksi pasien rawat inap terhadap semua pasien yang dilakukan tindakan operasi. 3.Data minimal yang perlu dikumpulkan antara lain adalah nama pasien. Pengumpulan data monitoring pengendalian infeksi nosokomial Pelaksanaan pengumpulan data untuk infeksi luka infus ( infeksi jarum infus ) : 1. SKF mengarsip laporan tersebut. 4. 1. 7. 7. Tiap awal bulan kepala ruang / anggota panitia Dalin yang ditunjuk merekap kejadian infeksi luka infus. 4. Perawat mencatat kejadian infeksi luka infus pada format yang tersedia. Tiap awal bulan kepala ruang / anggota panitia Dalin yang ditunjuk merekap kejadian infeksi luka operasi bersih. tembusan kepada ketua PPMK / Bidang Keperawatan dan Panitia Dalin RS. 3. Kepala ruang melaporkan kepada manajer sistem rawat inap. Perawat mencatat kejadian infeksi luka operasi bersih pada format yang tersedia. tanggal kejadian. Perawat pelaksana mencatat pasien yang tirah baring pada format check list monitoring infeksi pasien rawat inap . 2. 4. umur. . kadang kadang dicatat juga diagnosis primer invasive yang dilakukan sebelum terjadi infeksi dan antibiotika yang diberikan. Operasi Bersih Terkontaminasi dan operasi kotor. jenis kelamin.

Ketua. b. C. 2. . e. meneliti. Membuat laporan rekapitulasi infeksi nosokomial setiap 6 bulan. PENYEBARAN DATA / INFORMASI Data infeksi nosokomial yang sudah tersedia dan di analisa oleh Ketua Panitia Pengendalian Infeksi Nosokomial di lakukan evaluasi setiap bulan dan di analisis dalam 2 tahun sekali. c. Membuat kesimpulan terjadinya infeksi kepada Direktur melalui Komite Medis. Mengevaluasi laporan / data monitoring pengendalian infeksi yang sudah tersedia. Setelah ada tindak lanjut dari Direktur. Panitia Dalin mengevaluasi dan menganalisa serta membuat laporan kepada Direktur. menganalisa terjadi infeksi nosokomial bersama sama dengan perawat dan dokter. Direktur menerima laporan dari Panitia Pengendalian Infeksi Nosokomial melalui Komite Medis dan menindak lanjuti laporan tersebut. Untuk KLB ( Kejadian Luar Biasa ) dilaporkan setiap saat / setiap kejadian. sekretaris dan anggota Panitia Pengendalian Infeksi Nosokomial : a.7. 3. Mencari penyebab. laporan di sebarluaskan atau di informasikan ke panitia pengendalian infeksi nosokomial. instalasi terkait dan semua SMF. d.

super infeksi dan harga yang terjangkau. oleh akrena itu antibiotic masih tetap diperlukan. efektifitas. Atas dasar semuanya ini perlu ada kebijakan rumah sakit tentang pengaturan penggunaan antibiotic agar dapat menekan serendah rendahnya efek yang merugikan dalam pekamaian / penggunaan antibiotic. kemungkinan terjadinya resistensi kuman. Perkembangan yang pesat di bidang Farmasi mengingkatkan produksi obat obatan baru khususnya antibiotic. Produksi antibiotic yang meningkat menyebabkan banyaknya antibiotic yang beredar dipasaran baik dalam jumlah. meningkatnya kejadian efek samping obat.BAB IV PENGGUNAAN ANTIBIOTIK Penyakit infeksi masih merupakan penyakit yang banyak dijumpai di Indonesia sampai saat ini. keamanan. jenis maupun mutu. . biaya pelayanan kesehatan menjadi tinggi yang pada gilirannya akan merugikan pasien. pengalaman klinik sebelumnya. Oleh karena penggunaan antibiotic yang tidak rasional akan menyebabkan timbulnya dampak negative seperti terjadinya kekebalan kuman terhadap beberapa antibiotic. PRINSIP PENGGUNAAN ANTIBIOTIK Pemilihan antibiotic hendaknya didasarkan atas pertimbangan berbagai factor yaitu spectrum antibiotic. TUJUAN Untuk membudayakan penggunaan antibiotic secara rasional di rumah sakit sebagai upaya dalam meningkatkan mutu pelayanan sesuai dengan fungsi rumah sakit dengan tidak mengurangi tanggung jawab professional dari dokter dan apoteker dalam pengobatan terhadap pasien. sifat sifat farmakokinetik. Untuk mencegah pemakaian antibiotic yang tidak tepat sasaran. atau kurang rasional maka perlu dibuat suatu pedoman pemakai antibiotic.

Arti penting dari pertimbangan factor factor ini tergantung dari derajat penyakit dan tujuan pemberian antibiotic apakah untuk profilaksis atau untuk terapi. kultur kuman dan uji kepekaannya untuk menunjang diagnose klinis dan pemberian pengobatan yang tepat. ISPA. Syarat pemberian profilaksis adalah antibiotic yang tepat. Kemungkinan terjadinya infeksi sistemik yang berat pada pasien yang beresiko tinggi. Dalam hal uji biakan dan uji kepekaan kuman belum ada hasilnya atau tidak bisa dikerjakan. pemilihan antibiotika ditentukan berdasarkan penilaian klinik penderita. sigelosis. Terapetik Secara Empirik ( educated guess ) Secara definitive ( pasti) Pada antibiotic profilaksis bedah tujuan utama adalah untuk mengurangi terjadinya ILO dengan mengupayakan konsentrasi antibiotic yang mematikan mikroorganisme pada saat sayatan dimulai sampai operasi selesai. Profilaksis Bedah Medik 3. meningitis. protesis vaskuler ). salmonelosis. Kemungkinan resistensi Cara pemberian dan penyerapannya. . keracunan makanan karena bakteri. tuberculosis dan kandidiasis. PEMBERIAN ANTIBIOTIK 1. Antibiotik haus diberikan dengan cara yang tepat tidak boleh mengganggu pasien atau lingkungannya. Dalam memilih antibiotic profilaksis hendaknya diperhatikan hal hal sebagai berikut : Spektrum bakterisida. peritonitis. jadi bukan semata mata atas dasar hasil biakan kuman. Kemungkinan infeksi fatal ( operasi penggantian katup jantung ). Pengambilan spesiman pemeriksaan mikrobiologis dilakukan sebelum pengobatan. harus diberikan dalam jangka waktu yang tepat pada lokasi yang tepat dan konsentrasi yang tepat. Kultur kuman dan uji kepekaan terhadap antibiotic harus dilakukan pada penyakit penyakit berikut : sepsis. Terjadi infeksi local yang berat ( pada protesis sendi. tidak boleh menyebabkan kekebalan dan harganya murah. Idealnya setiap pasien infeksi perlu dilakukan pemeriksaan mikrobiologis yaitu pembuatan sediaan Gram. Diagnose penyebab infeksi sedapat mungkin ditegakkan melalui tata laksana pemeriksaan mikrobiologi klinik yang relevan beserta interprestasi antibiogram yang memadai dan informasi klinik / farmasi klinik mengenai jenis jenis antibiotic yang tersedia. Secara spesifik antibiotic profilaksis bedah adalah untuk mencegah : Infeksi yang sering terjadi.

Disadari bahwa keterbatasan sarana dan prasarana serta sumber daya dan dana masih merupakan kendala di RS. Sekarang atau kapanpun. diharapkan semua personil Rumah Sakit akan memeiliki perilaku dan kemampuan yang memadai pula dalam memanfaatkan sarana dan prasarana yang tersedia secara bertepat guna dan berhasil guna dalam pengendalian infeksi nosokomial secara berencana dan terorganisir dengan baik merupakan suatu keharusan bagi setiap rumah sakit. BAB V PENUTUP Tata laksana yang dicantumkan merupakan prosedur baku maksimal yang harus diupayakan untuk dilaksanakan seluruhnya oleh setiap personil Rumah Sakit yang terlibat dan berlaku sietiap ruang terkait... (Voluntary Counselling and Testing) VCT (Konseling dan Tes HIV Sukarela) merupakan layanan konseling dan test HIV secara sukarela dan konfidensial kepada individu sehubungan dengan permasalahan HIV/AIDS dengan menempatkan individu/Klien sebagai pusat pelayanan berdasarkan kebutuhannya. jika kita memiliki perilaku resiko tinggi atau ketika kita mengalami kecelakaan kerja yang memungkinkan terinfeksi HIV. Namun keterbatasan ini tidak dapat dipergunakan sebagai alas an untuk menurunkan baku prosedur pelayanan kesehatan yang harus dberikan kepada pasien.. Lama bekerja Metabolisme Bukti klinis yang baik Toksisitas yang rendah Efek samping Harga.... disarankan untuk melakukan tes HIV Kenapa Harus Tahu Status HIV Saya?.... Islam Klaten. Dengan mengetahui status HIV kamu. Dengan memiliki pengetahuan dan sikap yang memadai. Mampu mengambil keputusan-keputusan pribadi yang berkaitan dengan HIV/AIDS Kapan Harus Tes HIV ?.. Jika positif kamu bisa membuat komitmen untuk menjaga hidupmu tetap sehat selamanya Tujuan VCT Membuat Klien agar mampu menghadapi isu-isu yg berkaitan dengan HIV/AIDS dan membuat rencana-rencana yg berkaitan dengan HIV/AIDS Memfasilitasi perilaku-perilaku pencegahan .Konsentrasi pada lokasi infeksi. dapat membantu membuat keputusan tentang hidupmu..

.. VCT memfasilitasi rujukan dini ke layanan klinik yang komprehensif dan layanan berbasis masyarakat. maka sampel darah anda akan diambil untuk keperluan tes di laboratorium Konseling pasca tes: Setelah hasil tes didapat (bisa ditunggu kurang dari 1 jam) Andadan konselor akan mengambil hasilnya. mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap ODHA (orang dengan HIV/AIDS) dan dengan VCT kita dapat mengurangi atau menghilangkan perilaku beresiko untuk terkena HIV/AIDS . hasil tes bisa positif atau negatif dan meragukan. pencegahan penularan IMS.Peranan VCT VCT dalam hal HIV merupakan jembatan yang sangat penting antara pencegahan HIV dengan perawatan dan dukungan. VCT mendorong perubahan perilaku dan mempertahankannya dan menjembatanai intervensi seperti.. Lembaga Swadaya Masyarakat. atau menunda pelaksanaan tes dilain waktu Penandatangan: Lembar persetujuan tes jika anda memutuskan tetap melakukan tes. tato. dll. Konseling Tindak Lanjut: Jika hasilnya positif konselor pun dapat merujuk anda ke pusat layanan kesehatan lain yang dianggap lebih memadai untuk klien Keuntungan dalam melakukan VCT Secara umum dapat memutus mata rantai penularan HIV dalam masyarakat... sifilis. bisa di Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta. vaginal atau oral tanpa kondom dengan seseorang yang mungkin atau diketahui status HIV positif Anda memakai jarum suntik. Konselor akan memberikan penjelasan selengkap-lengkapnya makna dari hasil tes. Anda mengikuti survai penelitian perkiraan resiko HIV atau IMS.. maka anda akan diminta menandatangani sebuah lembar persetujuan sebagai tanda bahwa anda telah mengerti dan setuju dilakukannya tes HIV Pengambilan sampel darah: Jika anda tetap akan tes. Prinsip VCT Kerahasiaan = Terjamin Kerahasiaan proses dan hasil tes.C atau HTLV-I/II (virus-virus ini menular dengan cara yang sama dengan HIV).. serta pencegahan dan penanganan TB maupun infeksi oportunistik lainnya.. pencegahan penularan ibu ke bayi. Konseling Pra Tes: Anda akan bertemu dengan konselor.. kencing nanah. diketahui oleh klien dan konselor serta orang lain yang dikehendaki klien Sukarela = Klien melakukan VCT berdasarkan kesadaran dan keinginan pribadi Konseling = VCT tidak boleh dilakukan tanpa konseling atau dilakukan secara diam-diam Persetujuan = Harus diadakan persetujuan antara klien dengan konselor dalam bentuk ³lembar persetujuan´ (Informed consent) Siapa yang menyediakan layanan VCT?. dll bersama dengan seseorang yang mungkin atau diketahui terinfeksi HIV positif Anda didiagnosis IMS seperti Klamedia. Dan didiagnosis Hepatitis B. layanan perawatan dan dukungan. Anda berhubungan dengan seks anal. dll Tahapan dalam VCT. VCT dilakukan oleh Konselor layanan VCT. termasuk akses terapi antiretroviral (ARV) VCT memperbaiki kualitas hidup dan memainkan peran yang menentukan dalam penurunan stigma dan diskriminasi Secara umum VCT dianjurkan Bila. Klinik. dan hasil survey mengesankan anda mungkin beresiko terinfeksi HIV dan IMS Anak yang lahir dari ibu yang diketahui terinfeksi HIV atau diketahui beresiko HIV Anda terpajan darah pada waktu bekerja (contoh: petugas perawat kesehatan tertusuk jarum suntik bekas) Dokter mengatakan pada anda bahwa anda mempunyai infeksi opportunistik Dokter mengatakan pada anda bahwa gejala anda mengesankan adanya HIV/AIDS (harus diingat ada kemungkinan penyakit lain juga bisa menimbulkan gejala serupa). tindik. Laboratorium.. Konselor akan mengajak anda melakukan proses tanyajawab dan meberikan informasi selengkap-lengkapnya tentang test ini dan informasi seputar HIV/AIDS Keputusan Tes: Anda akan diberi waktu untuk memutuskan apakah tetap tes setelah proses konseling atau tidak.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful